BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Invaginasi atau intususepsi merupakan salah satu penyebab terbanyak obstruksi usus pada bayi dan anak kecil.1 Invaginasi sering ditemukan pada anak dan jarang pada orang dewasa. Invaginasi pada anak biasanya bersifat idiopatik karena tidak diketahui penyebabnya. Kebanyakan pada kelompok usia 5-10 bulan dan lebih sering pada anak laki-laki.1,2 Insidens intususepsi paling banyak pada tahun pertama dan kedua kehidupan dan jarang dibawah 3 bulan atau di atas 3 tahun.1,3 Insidens bervariasi dari 1-4 per 1.000 kelahiran hidup. Laki-laki berbanding perempuan 4:1.3 Invaginasi pertama kali dikenal pada tahun 1674 oleh Paul Barbette dari Amsterdam dan didefinisikan oleh Treves pada tahun 1899 sebagai prolapsnya usus ke dalam lumen yang berdampingan dengannya. John Hutchinson melaporkan kesuksesan pertama operasi invaginasi pada tahun 1873. Hirschsprung melakukan reduksi hidrostatik sehingga dapat menurunkan angka kematian sebesar 23%. Ravitch memperkenalkan penggunaan reduksi kontras enema untuk invaginasi yang secara bertahap menjadi penanganan awal yang diterima untuk invaginasi anak yang stabil.1

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

1

2.6 Disebutkan 2 . Bagian usus yang masuk disebut intususeptum dan bagian yang menerima intususepturn dinamakan intususipiens. Oleh karena itu. invaginasi disebut juga intususepsi.1 A.2 Etiologi Intususepsi dapat bersifat idiopatik atau disebut juga intususepsi primer dan intususepsi sekunder.1. Usus normal B. Sebagian besar kasus intususepsi yang tidak memiliki lesi patologi diklasifikasikan sebagai intususepsi primer atau idiopatik.4 A Gambar 2.1 Definisi Invaginasi ialah suatu keadaan dimana segmen proksimal dari usus masuk ke dalam segmen usus berikutnya dengan membawa serta mesenterium yang berhubungan.1. Invaginasi5 B 2.

terjepit.3 2. seperti appendiks terbalik. dan menyebabkan obstruksi aliran vena dan edema dinding usus yang akan menyebabkan keluarnya feses berwarna kemerahan akibat darah bercampur mucus (red currant stool). Intususepsi sering terjadi setelah infeksi saluran napas bagian atas dan serangan episodik gastroenteritis yang menyebabkan pembesaran jaringan limfoid.1 Pada sekitar 5-10% penderita. terjadi insufisiensi arteri yang akan menyebabkan iskemik dan nekrosis dinding usus yang akan menyebabkan pendarahan. perforasi. dan peritonitis. divertikulum Meckel. dapat dikenali hal-hal pendorong untuk terjadinya intususepsi.4 Klasifikasi 3 . duplikasi atau limfosarkoma. polip usus.1. Intususepsi primer umumnya terjadi pada anak berusia 6 -36 bulan dimana pada usia tersebut mempunyai tingkat kerentanan yang tinggi terhadap virus.6 Jika reduksi intususepsi tidak dilakukan. Intususepsi juga dapat terjadi pada penderita kistik fibrosis yang mengalami dehidrasi.3 Patofisiologi Mesenterium usus proksimal tertarik ke dalam usus distal.7 2.1.bahwa hipertrofi Payer’s patch di ileum dapat meransang peristaltik usus sebagai upaya mengeluarkan massa tersebut sehingga menyebabkan intususepsi.5 Perjalanan penyakit yang terus berlanjut dapat semakin memburuk hingga menyebabkan sepsis.4.4 Adenovirus ditemukan hampir dalam 50% kasus intususepsi.

Intususepsi enterocolic melibatkan kedua usus. gelisah sewaktu serangan kolik. yaitu usus halus dan usus besar.8.8. bayi kelihatan sehat dan dapat bermain-main kembali.5 Diagnosis Anamnesis memberikan gambaran yang cukup mencurigakan bila bayi yang sehat dan eutrofis mendapatkan nyeri perut. yaitu sekitar 80-95% dimana masuknya ileum ke dalam cecum dan colon.9 Massa teraba di kuadran kanan atas dengan tidak ditemukannya sensasi kekosongan di kuadran kanan bawah karena masuknya sekum pada kolon ascenden (dance’s sign). Intususepsi enteroenteric hanya melibatkan usus halus dimana dapat lebih spesifik lagi diklasifikasikan menurut segmen usus halus yang terlibat. Serangan berlansung beberapa menit kemudian surut.7 Intususepsi enterocolic yang paling sering terjadi adalah tipe ileocolic. sigmoid. Intususepsi colocolic hanya berkembang di colon.4.Intususepsi dapat diklasifikasi ke dalam 3 tipe: enteroenteric.7 2.9 4 . biasanya keluar lendir bercampur darah (red currant jelly) per anum yang berasal dari intususeptum yang tertekan. terbendung. dan rektum. colocolic.1. dan enterocolic. tibatiba menjerit karena kesakitan atau tampak gelisah dan tidak dapat ditenangkan sambil mengangkat kedua kakinya seakan-akan melindungi perutnya yang sakit (craping pain). atau mungkin sudah mengalami strangulasi dan muntah warna hijau.2 Bayi yang menderita invaginasi.2. Pemeriksaan abdomen dapat diraba massa yang biasanya memanjang dengan batas yang jelas seperti sosis (sausage like sign).9 Serangan klasik terdiri atas nyeri perut.

tetapi tergantung dari letak ujung invaginasi. Ujung invaginatum teraba seperti porsio uterus pada pemeriksaan vaginal sehingga dinamakan pseudoporsio atau porsio semu. harus diingat kemungkinan terjadinya peritonitis setelah perforasi.2 Invaginasi pada orang muda atau orang dewasa jarang sekali idiopatik. Invaginatum yang masuk jauh dapat ditemukan pada pemeriksaan colok dubur. Umumnya ujung invaginatum pada orang dewasa merupakan polip atau tumor lain di usus halus. kelainan vaskuler.2 Pemeriksaan foto polos abdomen. Pada invaginasi didapatkan invaginatum bebas dari dinding usus. sedangkan prolapsus berhubungan secara sirkuler dengan dinding anus. digunakan sebagai diagnostik ataupun terapeutik. Invaginatum yang keluar dari rektum jarang ditemukan. duplikasi usus.2 5 . Diagnosis dapat ditegakkan dengan pemeriksaan jari sekitar penonjolan untuk menentukan ada tidaknya celah terbuka. Foto dengan pemberian barium enema dilakukan jika pasien ditemukan dalam kondisi stabil.Bila invaginasi disertai strangulasi. Keadaan tersebut harus dibedakan dari prolapsus mukosa rektum. Invaginasi juga disebabkan oleh pencetus seperti divertikulum Meckel yang terbalik masuk lumen usus. Gejalanya berupa gejala dan tanda obstruksi usus. atau limfoma. USG membantu menegakkan diagnosis invaginasi dengan gambaran target sign pada potongan melintang invaginasi dan pseudo kidney sign pada potongan longitudinal invaginasi. dijumpai tanda obstruksi dan massa di kuadran tertentu dari abdomen menunjukkan dugaan kuat suatu invaginasi. Sumbatan oleh invaginatum biasanya tampak jelas pada foto.

dilakukan reposisi operatif. Pengelolaan berhasil jika barium kelihatan masuk ileum. angka leukosit.10 Penatalaksanaan dapat berupa reposisi hidrostatik yang dapat dikerjakan sekaligus sewaktu diagnosis Rontgen ditegakkan.10 Sewaktu operasi akan dicoba reposisi manual dengan mendorong invaginatum dari oral ke arah sudut ileosekal: dorongan dilakukan dengan hati-hati 6 . menghilangkan peregangan usus dan muntah dengan selang nasogastrik.2. Tekanan hidrostatik tidak boleh melewati 1 mH2O dan tidak boleh dilakukan pengurutan atau penekanan manual di abdomen sewaktu dilakukan reposisi hidrostatik tersebut. anak tidak toksik. feses berdarah. pemberian antibiotik. Tindakan selama operasi tergantung dari penemuan keadaan usus.2 Reposisi pneumostatik dengan tekanan udara makin sering digunakan karena lebih aman dan hasilnya lebih baik daripada reposisi dengan enema barium. didapatkan peningkatan suhu. pasien segera dipersiapkan untuk suatu operasi. Pasien dengan keadaan tidak stabil. dan tidak terdapat obstruksi tingkat tinggi.2 Metode ini dengan cara memasukkan barium melalui anus menggunakan kateter dengan tekanan tertentu. Jika reposisi konservatif tidak berhasil. reposisi manual harus dilakukan dengan halus dan sabar. tidak ada gejala dan tanda ransangan peritoneum. gangguan sisterna usus yang berat sampai timbul syok atau peritonitis. mengalami gejala berkepanjangan atau ditemukan sudah lanjut yang ditandai dengan distensi abdomen. dan laparotomi eksplorasi.10 Syaratnya adalah keadaan umum mengizinkan.6 Penatalaksanaan Dasar penatalaksanaan adalah koreksi keseimbangan cairan dan elektrolit. juga bergantung kepada keterampilan operator dan pengalaman operator.

Angka rekurensi pasca reduksi intususepsi dengan enema barium adalah sekitar 10% dan dengan reduksi bedah sekitar 2-5%.10 2. dan edema. Oleh karena itu. reduksi tidak perlu dilakukan dan reseksi segera dikerjakan. tetapi jika ditemukan nekrosis. tidak ada yang perlu dilakukan selain reduksi. Pada intususepsi yang mengenai kolon sangat besar kemungkinan penyebabnya adalah suatu keganasan. Pada intususepsi dari usus halus harus dilakukan usaha reduksi dengan hati-hati.3 7 .10 Terapi intususepsi pada orang dewasa adalah pembedahan.7 Prognosis Intususepsi pada bayi yang tidak ditangani akan selalu berakibat fatal. ahli bedah dianjurkan untuk segera melakukan reseksi. Pada kasuskasus yang idiopatik. tidak pernah terjadi setelah dilakukan reseksi bedah. Mortalitas sangat rendah jika penanganan dilakukan dalam 24 jam pertama dan meningkat dengan cepat setelah waktu tersebut.2 Reseksi usus dilakukan pada kasus yang tidak berhasil direduksi dengan cara manual. terutama setelah hari kedua.tanpa tarikan dari bagian proksimal. bila viabilitas usus diragukan atau ditemukan kelainan patologis sebagai penyebab invaginasi. dengan tidak melakukan usaha reduksi. perforasi.

BAB III SIMPULAN DAN SARAN 3.1 Simpulan Invaginasi atau intususepsi merupakan salah satu penyebab terbanyak obstruksi usus pada bayi dan anak kecil. Penatalaksanaan dapat berupa reposisi hidrostatik yang dapat dikerjakan sekaligus sewaktu diagnosis ditegakkan ataupun reposisi pneumostatik. reposisi operatif dapat dilakukan. Angka mortalitas semakin meningkat jika penanganannya semakin lambat. Invaginasi paling sering mengenai daerah ileosaekal dan jarang terjadi pada orang dewasa dibandingkan anak-anak. Invaginasi ialah suatu keadaan dimana segmen proksimal dari usus masuk ke dalam segmen usus berikutnya dengan membawa serta mesenterium yang berhubungan. 8 . Jika reposisi konservatif gagal. Invaginasi dapat menyebabkan obstruksi usus sehingga jika tidak ditangani dengan segera dan tepat akan menimbulkan komplikasi lebih lanjut. Intususepsi pada bayi yang tidak ditangani akan selalu berakibat fatal.

htm. 5th edition. 2010 April 4 [cited 2011 March 11].asp. Kaneshiro NK. Intussusception-children.com/pteduc/Intussusception.2 Saran Perlunya pengetahuan dan pemahaman mengenai invaginasi untuk menegakkan diagnosis secara dini. 2010 June 15 [cited 2011 March 11]. Dalam Nelson ilmu kesehatan anak.pedisurg. Available from: URL: http://www. DAFTAR PUSTAKA 1. Spalding SC.2010.htm Texas Pediatric Surgical Associates. Buku Ajar Ilmu Bedah. 2006 [diakses 13 Maret 2011]. Fallat ME. Philadephia: Saunders Elsevier. Intususepsi. Intussusception. Evans B. 8. Wim de Jong. Available from: URL: http://emedicine. 3. editors. 119124. Sjamsuhidayat. 2004 [cited 2011 March 11]. 9 .emedmag. 5.nlm. Ignacio RC. Ranuh RG. Editor.3. Ashcraft’s pediatric surgery. 2. 2000. In: Holcomb GW. Fardah AA. Intussusception in emergency medicine. Intussusception.com/article/802424-media. Edisi ke 15.medscape. Arvin AM. Kliegman R. Wyllie R. Murphy JP. Sudarmo SM. 6.gov/medlineplus/ency/article/000958. Available from: URL: http://www. Behrman RE.com/html/pre/gic/consults/111504. 4. 2005.pediatrik.[cited 2011 March 11].htm. 7. Vol 2. Jakarta: EGC. Diunduh dari: http://www.nih.com/isi03. Intususepsi. Intussusception. King L. Jakarta: EGC.php?page=html&hkategori=pdt&direktori=pdt &filepdf=0&pdf=&html=07110-dzti231. sehingga dapat dilakukan penatalaksanaan dengan segera dan tepat. Available from: URL: http://www.

Diunduh dari: http://www. United Stated of America: The MacGraw-Hill Companies. Pollock RE. Invaginasi. Hunter JG. 2009 [diakses 27 Maret 2011]. Brunicardi FC. MR : 75 36 08 30-01- Tgl. 10. Hendro / Ny. Dun DL. Tumina : Jawa : Islam Tgl. 8th edition. Masuk : 10 . Schwartz’s principle of surgery. Anggara : 1 dari 1 bersaudara No.bedahugm. Billiar TR. 2007. Keluar :: An. Ilmu Bedah.net/bedah/bedah-anak/invaginasi. FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS RIAU KEPANITERAAN KLINIK SENIOR BAGIAN ILMU KESEHATAN ANAK IDENTITAS PASIEN Nama Anak ke 2012 Umur Jenis kelamin Ayah/Ibu Suku/bangsa Agama : 7 bulan : Laki-laki : Tn.9.Andersen DK.

Merokok (-). kedua kaki melipat dan teraba kaku. Tidak pernah mengkonsumsi obat selama kehamilan. kedua tangan mendekap dada. Penyinaran (-). Berat badan lahir 3200 gram. Jamu (-). Minuman keras (-)  Lahir cukup bulan. pasien tidak merespon ketika dipanggil.5 bulan  5 bulan . Kejang terjadi secara berkala dengan interval 3-5 hari sekali RIWAYAT PENYAKIT DAHULU  Diare 5 hari SMRS RIWAYAT PENYAKIT KELUARGA  Tidak ada anggota keluarga yang menderita penyakit yang sama seperti pasien RIWAYAT KEHAMILAN DAN KELAHIRAN  Selama hamil. RIWAYAT MAKANAN/MINUMAN  0 bulan . secara SC di RSUD AA atas indikasi plasenta previa. Nilai Apgar 7/9. mata mendelik ke atas. ibu pasien memeriksakan kehamilan setiap bulannya ke RSUD AA. Kejang terjadi 5-8 kali perhari.Alamat ANAMNESIS : Jl.sekarang : ASI OD : ASI OD + bubur milna : ASI OD + bubur milna + pisang/apel 11 .6 bulan  6 bulan . Lama kejang ± 1-2 menit. Hangtuah Ujung Tenayan Raya Pekanbaru Alloanamnesis yang diberikan oleh Ibu dan Ayah Kandung Pasien KELUHAN UTAMA BAB berdarah sejak 3 jam SMRS RIWAYAT PENYAKIT SEKARANG  Sejak 4 bulan SMRS pasien tiba-tiba kejang.

Polio 4x. : di jamban. jarak 10 meter dari sumber air. : air sumur bor. : dikumpulkan dibakar  Kesan lingkungan : cukup baik 12 . 1 kamar dihuni 3 orang  Sumber air minum  Sumber air MCK  Buang air besar  Buang sampah : air gallon isi ulang. Campak 1x RIWAYAT ORANG TUA AYAH   IBU    Pendidikan Pekerjaan Perkawinan : SMA : Ibu Rumah Tangga : pertama Pendidikan Pekerjaan : SMA : Swasta RIWAYAT PERUMAHAN DAN LINGKUNGAN  Rumah tempat tinggal : rumah kontrakan. DPT 3x. Hepatitis B 3x.Kesan makanan /minuman : cukup RIWAYAT TUMBUH KEMBANG Riwayat Tumbuh Kembang Miring Tengkurap Duduk Merangkak Kesan tumbuh : normal Usia 2 bulan 4 bulan 6 bulan 7 bulan RIWAYAT IMUNISASI • Pasien mendapatkan imunisasi sejak lahir  BCG.

diameter 2 mm kiri = kanan = 10. liang telinga ada serumen.Suhu (axilla) . tidak pucat.Pupil : tidak ikterik : tidak keruh : isokor. 13 .5 cm (normocefal) : 110/70 mmHg : tampak sakit sedang : composmentis : turgor baik. tidak sianosis : 48 x/menit : 37.Tidak cekung .Tekanan darah .Sklera .Nadi  Gizi Berat badan Tinggi badan LILA Lingkar Kepala : 9.Laju nafas . irama reguler.Kornea .Konjungtiva : tidak pucat .6/10.PEMERIKSAAN FISIK  Kesan umum  Kesadaran  Kulit  Tanda-tanda vital . tidak mudah dicabut.2 kg = 9.2 x 100% = 94. nyeri tekan preaurikuler tidak ada.4 0C : 120 x/menit. lebat.6 kg : 76 cm : : 16 cm 44. : . kuat.12% (Normal) . isian cukup Status gizi (standar CDC) BBi BB/TB %  Kepala Bentuk kepala bulat Rambut Mata : hitam. nyeri tekan mastoid tidak ada. tidak kering.Reflek cahaya : +/+ Telinga : bentuk normal.

Hidung sekret Mulut   : bentuk normal simetris. pembesaran KGB (-). hepar tidak teraba.(N) 14 . pitting edem pretibia dan dorsum pedis (+/+) Refleks Refleks fisiologis : Biseps +/+. venektasi (-) : dinding perut tegang. refilling kapiler kembali cepat. ronki (-).Lidah : tidak kering. gerakan nafas simetris. patella +/+(N) Reflek patologis : Babinsky -/. kaku kuduk (-) : bentuk normal. lien tidak teraba. tidak ada deviasi septum. lebar 1 jari teraba di RIC V LMCS . Alat Kelamin Rectal toucher : DBN   Ekstremitas : akral hangat. batas jantung kiri 2 jari medial LMCS Auskultasi : jenis abdominothorakal. wheezing(-). retraksi (-). simetris. suara nafas tambahan (-). ictus cordis tidak terlihat Palpasi : Ictus cordis kuat angkat(-). turgor kembali cepat Perkusi   : hipertimpani bunyi jantung reguler. fremitus ka=ki. tidak kotor Leher Dada Inspeksi : tortikolis (-). bising jantung (-). suara nafas bronkhial. tidak ada : .  Perut Inspeksi Palpasi : membuncit. Perkusi : Sonor.Bibir : tidak kering . Auskultasi : bising usus normal. nyeri tekan (-).

PEMERIKSAAN LABORATORIUM Darah: (30 Januari 2012) Hb Leukosit Trombosit Ht : 11.1 vol % 15 .2 gr% : 18.100 / mm3 : 663.000/ mm3 : 33.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful