Cover dalam

GEMPA BUMI
Bahan Pengayaan Bagi Guru SMP/MTs
Penulis: Dra. Etty Sofyatiningrum, M.Ed
Nara Sumber: Dr. Ir. Eko Teguh Paripurno M
PUSAT KURIKULUM
BADAN PENELITIAN DAN PENGEMBANGAN
KEMENTERIAN PENDIDIKAN NASIONAL
JAKARTA, 2009
Modul Ajar
Pengintegrasian Pengurangan Risiko
Modul Ajar Pengintegrasian
Pengurangan Risiko Gempa Bumi
Bahan Pengayaan Bagi Guru SMP/MTs
Penulis: Dra. Etty Sofyatiningrum, M.Ed
Nara Sumber: Dr. Ir. Eko Teguh Paripurno M
Editor: Ninil R Miftahul Jannah dan Dian Afriyanie
Ilustrator Sampul : Nandana Y (SD Muhammadiyah Bausasran I Yogyakarta)
Ilustrator Isi:
Rizki Goni, Feri Rahman, Antan Juliansyah, Feri Fauzi, Rigan A.T.
Lay Out Isi:
Galang Gumilar, Antan Juliansyah, Feri Fauzi, Rudini Rusmawan, Ardi H, Agusbobos.
ISBN : 978-979-725-226-7
Program Safer Communities through Disaster Risk Reduction (SCDRR)
Jl. Tulung Agung No. 46, Jakarta 10310, INDONESIA
Telp : +62 21 390 5484 (hunting)
Fax : +62 21 391 8604
E-mail : secretariat@sc-drr.org
Website : www.sc-drr.org
Program masyarakat yang lebih aman melalui pengurangan risiko bencana (Safer Communities through
Disaster Risk Reduction disingkat SCDRR), merupakan proyek kerja sama antara United Nations Development
Programme (UNDP), BAPPENAS, BNPB dan Kementerian Dalam Negeri, dengan dukungan dana UNDP,
Departement for International Development (DFID) Pemerintah Inggris dan Australian Agency For International
Development (AusAID)
SAMBUTAN
I
ndonesia yang merupakan salah satu negara kepulauan terbesar di dunia
berada di kawasan yang disebut cincin api, dimana risiko untuk terjadi
bencana alam seperti tsunami, gempa bumi, letusan gunung api, banjir dan
longsor sangat tinggi. Bencana alam ini telah menimbulkan ribuan korban
jiwa, kerugian materil dan meninggalkan banyak orang untuk berjuang
membangun kembali tempat tinggal dan mata pencahariannya.
Kesiapsiagaan merupakan hal yang penting dan harus dibangun pada setiap tingkat
kelompok di masyarakat. Pengalaman menunjukkan bahwa kehancuran akibat
bencana dapat secara drastis dikurangi jika semua orang lebih siap menghadapi
bencana. Sekolah adalah pusat pendidikan yang tidak hanya memberikan kita
ilmu pengetahuan tetapi juga bekal untuk kelangsungan hidup kita, kesiapsiagaan
terhadap bencana merupakan bagian dari ketrampilan untuk kelangsungan
hidup kita. Sekolah juga seringkali menjadi tempat penghubung dan tempat
belajar bagi seluruh masyarakat. Anak-anak merupakan peserta ajar yang paling
cepat dan mereka tidak hanya mampu memadukan pengetahuan beru ke dalam
kehidupan sehari-hari, tetapi juga menjadi sumber pengetahuan bagi keluarga
dan masyarakatnya dalam hal prilaku yang sehat dan aman, yang mereka dapatkan
di sekolah. Oleh karenanya, menjadikan pencegahan bencana menjadi salah satu
fokus di sekolah dengan memberdayakan anak-anak dan remaja untuk memahami
tanda-tanda peringatan bencana dan langkah-langkah yang dapat diambil untuk
mengurangi risiko dan mencegah bencana, merupakan suatu langkah awal yang
penting dalam membangun ketangguhan bencana seluruh masyarakat. Jadi
kesiapsiagaan haruslah menjadi bagian dari materi yang diberikan dalam dunia
pendidikan khususnya pendidikan dasar dan menengah.
Pusat Kurikulum sebagai lembaga yang bertanggung jawab dalam
pengembangan model-model kurikulum sebagai referensi satuan pendidikan
dalam pengembangan kurikulumnya, telah berhasil dalam menyusun
serangkaian modul ajar dan modul pelatihan untuk pengintegrasian
pengurangan risiko bencana ke dalam tingkat satuan pendidikan. Secara
keseluruhan modul ini terdiri atas 15 modul ajar dan 3 modul pelatihan, yaitu:
Modul Ajar Pengintegrasian Pengurangan Risiko Gempa untuk SD.
Modul Ajar Pengintegrasian Pengurangan Risiko Gempa untuk SMP.
Modul Ajar Pengintegrasian Pengurangan Risiko Gempa untuk SMA.
Modul Ajar Pengintegrasian Pengurangan Risiko Tsunami untuk SD.
Modul Ajar Pengintegrasian Pengurangan Risiko Tsunami untuk SMP.
Modul Ajar Pengintegrasian Pengurangan Risiko Tsunami untuk SMA.
KEPALA
PUSAT KURIKULUM
Modul Ajar Pengintegrasian Pengurangan Risiko Longsor untuk SD.
Modul Ajar Pengintegrasian Pengurangan Risiko Longsor untuk SMP.
Modul Ajar Pengintegrasian Pengurangan Risiko Longsor untuk SMA.
Modul Ajar Pengintegrasian Pengurangan Risiko Kebakaran untuk SD.
Modul Ajar Pengintegrasian Pengurangan Risiko Kebakaran untuk SMP.
Modul Ajar Pengintegrasian Pengurangan Risiko Kebakaran untuk SMA.
Modul Ajar Pengintegrasian Pengurangan Risiko Banjir untuk SD.
Modul Ajar Pengintegrasian Pengurangan Risiko Banjir untuk SMP.
Modul Ajar Pengintegrasian Pengurangan Risiko Banjir untuk SMA.
Modul Pelatihan Pengintegrasian Pengurangan Risiko Bencana untuk SD,
SMP dan SMA.
Penyusunan modul-modul tersebut merupakan hasil kerjasama antara Pusat
Kurikulum dengan Direktorat Kawasan Khusus dan Daerah Tertinggal BAPPENAS
dalam sebuah Program Safer Community Through Disaster Risk Reduction (SCDRR)
In Development yang didanai oleh United Nations Development Program (UNDP)
yang bertujuan untuk membangun masyarakat yang aman dari ancaman melalui
berbagai upaya pengurangan risiko bencana.
Setiap modul ajar dilengkapi dengan contoh-contoh silabus, rencana pelaksanaan
pembelajaran dan model bahan ajar. Sedangkan modul pelatihan terdiri dari
panduan fasilitasi dan bahan bacaan bagi pelatih mengenai penyelenggaraan
penanggulangan bencana, pengurangan risiko bencana, sekolah siaga bencana,
pendidikan PRB, dan strategi pengintegrasian pendidikan PRB ke dalam kurikulum
satuan pendidikan.
Diharapkan modul-modul tersebut dapat bermanfaat dan dijadikan bahan acuan
bagi para pihak yang berkepentingan dalam kesiapsiagaan di sekolah.
Jakarta, Desember 2009
Kepala Pusat Kurikulum
Dra. Diah Harianti, M.Psi
SAMBUTAN
I
ndonesia sebagai negara kepulauan dengan letak geografsnya pada posisi
pertemuan 4 lempeng tektonik, merupakan wilayah yang rawan bencana.
Selain itu dengan kompleksitas kondisi demograf, sosial dan ekonomi di
Indonesia yang berkontribusi pada tingginya tingkat kerentanan masyarakat
terhadap ancaman bencana, serta minimnya kapasitas masyarakat dalam
menangani bencana menyebabkan risiko bencana di Indonesia menjadi
tinggi. Pada tahun 2005, Indonesia menempati peringkat ke-7 dari sejumlah
negara yang paling banyak dilanda bencana alam (ISDR 2006-2009, World
Disaster Reduction Campaign, UNESCO).
Berangkat dari hal tersebut dan guna mendukung paradigma pengurangan
risiko bencana di sektor pendidikan, maka Pusat Kurikulum-sebuah unit eselon
II di bawah Badan Penelitian dan Pengembangan pada Kementerian Pendidikan
Nasional bekerjasama dengan Direktorat Kawasan Khusus dan Daerah Tertinggal
BAPPENAS tengah melaksanakan kegiatan Program Safer Community Through
Disaster Risk Reduction (SCDRR) In Development melalui dana hibah UNDP. Kegiatan
ini bertujuan membangun masyarakat yang aman dari ancaman melalui berbagai
upaya pengurangan risiko bencana.
Dalam kerjasama ini, Pusat Kurikulum telah mengembangkan kurikulum khususnya
dalam mengintegrasikan materi-materi dan kompetensi Pengurangan Risiko
Bencana (PRB) ke dalam mata pelajaran IPA, IPS, Bahasa Indonesia dan Pendidikan
Jasmani yang ada di sekolah mulai dari jenjang SD atau yang sederajat sampai
SMA atau yang sederajat. Model pengintegrasian materi dan kompetensi PRB
dengan mata pelajaran-mata pelajaran ini bertujuan agar muatan kurikulum dan
beban belajar tidak menjadi lebih berat. Disamping mengintegrasikan ke mata
pelajaran yang sudah ada PRB juga bisa dijadikan muatan lokal (Mulok) serta ekstra
kurikuler.
Modul Pengintegrasian Pengurangan Risiko Bencana ini disusun dalam rangka
untuk meningkatkan kesadaran akan pentingnya pengetahuan tentang bencana
dan mensosialisasikan langkah-langkah preventif untuk mengurangi risiko bencana
yang dapat menimpa di wilayah Indonesia. Tanpa adanya upaya terus-menerus
untuk mendiseminasikan informasi tentang ancaman dan langkah-langkah yang
dapat diambil untuk mengurangi risiko-risiko yang dapat ditimbulkannya, sulit bagi
kita untuk mewujudkan guru dan peserta didik yang tangguh dalam menghadapai
bencana.
Modul ini dapat menjadi salah satu solusi yang memungkinkan bagi para guru untuk
mengajarkan peserta didik dari hari ke hari di sekolah secara berkesinambungan,
sehingga proses, internalisasi pengetahuan kebencanaan bukan hanya dipahami
KEPALA BADAN PENELITIAN
DAN PENGEMBANGAN
KEMENTERIAN PENDIDIKAN NASIONAL
Materi Pembelajaran Pengurangan Risiko Bencana Gempa Bumi untuk SD/MI
vi
dan diketahui dalam ingatan belaka tapi juga mendorong munculnya respon cepat
penyelamatan yang benar dari peserta didik ketika menghadapi bencana.
Diharapkan modul ini dapat dimanfaatkan, antara lain:
Sebagai alat pemandu dalam membantu para guru dalam melakukan
pengajaran tentang pengurangan risiko bencana kepada peserta didik di
sekolah sebagai upaya membangun kesiapsiagaan dan keselamatan dari
bencana di sekolah.
Membuka peluang dan membangun kreatiftas guru dalam menerapkan
pengetahuan tentang pengurangan risiko bencana yang disesuaikan
dengan konteks sekolah yang dibinanya
Memberikan gambaran secara lebih sistematis dan komprehensif cara
pengintegrasian pengetahuan tentang pengurangan risiko bencana
ke dalam mata pelajaran, muatan lokal dan pengembangan diri di
Sekolah.
Mendorong inisiatif para guru, sekolah dan gugus dalam mengupayakan
pengurangan risiko bencana dan membangun budaya keselamatan di
sekolah, lingkungan rumah dan lingkungan sekitar.
Semoga Modul Pengintegrasian Pengurangan Risiko Bencana ini menjadi
bermanfaat dan membantu bagi semua guru untuk meningkatkan pengetahuan,
meningkatkan ketrampilan dan membentuk sikap anak untuk menjadi lebih
tanggap terhadap ancaman bencana.
Jakarta, Desember 2009
Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan
Kementerian Pendidikan Nasional
Prof. Dr. H. Mansyur Ramly
SAMBUTAN
M
enyikapi situasi kejadian bencana dan kenyataan luasnya cakupan wilayah
tanah air yang memiliki berbagai ancaman bencana, pemerintah Indonesia
telah melakukan sejumlah inisiatif guna mengurangi risiko bencana ditanah
air. Pada akhir tahun 2006 Bappenas meluncurkan buku Rencana Aksi Nasional
Pengurangan Risiko Bencana (RAN PRB) 2006 – 2009, sebagai komitmen dalam
mengarusutamakan pengurangan risiko bencana dalam pembangunan nasional,
yang merupakan pelengkap dari Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional
(RPJMN) 2005 – 2009 yang telah ada. Berdasarkan RAN PRB 2006 – 2009 tersebut,
Pemerintah telah mengalokasikan anggaran untuk program pencegahan dan
pengurangan risiko bencana, sebagaimana tertuang dalam Rencana Kerja Pemerintah
(RKP) mulai tahun 2007. Lebih lanjut pada April 2007, Pemerintah menerbitkan Undang
– Undang Nomor 24 Tahun 2007 tentang Penanggulangan Bencana, yang menjadi
tonggak sejarah dalam upaya penanggulangan risiko bencana di Indonesia, dan diikuti
dengan peraturan turunannya, serta dibentuknya Badan Nasional Penanggulangan
Bencana (BNBP) melalui Peraturan Presiden Nomor 8 Tahun 2008.
Untuk mendukung prakarsa – prakarsa yang telah dimulai oleh Pemerintah Indonesia
tersebut, UNDP bekerjasama dengan Bappenas, BNPB dan kementrian dalam negeri
telah menginisiasi sebuah program yang ditujukan untuk mewujudkan masyarakat
yang lebih aman melalui pengurangan risiko bencana dalam pembangunan atau
yang dikenal dengan Program Safer Communities Through Disaster Risk Reduction in
Development (SCDRR in Development). Program SCDRR ini kan berlangsung selama 5
tahun (2007 – 2012) dan dirancang untuk mendorong agar pengurangan risiko bencana
menjadi sesuatu yang lazim dalam proses pembangunan yang terdesentralisasi. Untuk
mewujudkan hal itu maka upaya pengarusutamaan pengurangan risiko bencana
kedalam proses pembangunan mutlak harus dijalankan. Upaya tersebut dilaksanakan
melalui 4 pilar sasarna program SCDRR, yaitu : (1) Diberlakukannya kebijakan, peraturan
dan kerangka kerja regulasi pengurangan risiko bencana; (2) Diperkuatnya kelembagaan
pengurangan risiko bencana dan kemitraan diantara mereka; (3) Dipahaminya risiko
bencana dan tindakan yang dapat diambil untuk mengurangi risiko tersebut oleh
masyarakat dan pengambil kebijakan melalui pendidikan dan penyadaran publik;
(4) Didemonstrasikannya pengurangan risiko bencana sebagai bagian dari program
pembangunan.
Terkait dengan sasaran ketiga mengenai perlunya pendidikan dan penyadaran
publik terhadap pengurangan risiko bencana, selama beberapa tahun ini pemerintah
bersama-sama beberapa Lembaga Swadaya Masyarakat, dan institusi pendidikan di
tingkat nasional maupun daerah telah melakukan berbagai upaya dalam pendidikan
kebencanaan, termasuk memasukkan materi kebencanaan kedalam muatan lokal,
pelatihan untuk guru, kampanye dan advokasi, hingga school road show untuk kegiatan
simulation drill di sekolah-sekolah. Namun demikian, kegiatan-kegiatan tersebut belum
terkoordinasi dengan baik dan belum terintegrasi dalam satu kerangka yang dapat
DIREKTUR KAWASAN KHUSUS
DAN DAERAH TERTINGGAL, BAPPENAS
SELAKU NATIONAL PROJECT
DIRECTOR SCDRR
disepakati bersama. Dilain pihak, pemetaan aktivitas pendidikan diberbagai wilayah rawan
bencana di Indonesia serta intervensi dan dukungan peningkatan kapasitas untuk pendidikan
masih sangat minim dan terpusat, khususnya di wilayah Jawa dan Sumatera. Kajian kesiapsiagaan
masyarakat terhadap bencana yang telah dilakukan di berbagai wilayah menunjukkan rendahnya
tingkat kesiapsiagaan komunitas sekolah dibanding masyarakat serta aparat (LIPI, 2006 – 2007).
Hal ini sangat ironis, karena sekolah adalah basis dari komunitas anak-anak, yang merupakan
kelompok rentan yang perlu dlindungi dan secara bersamaan perlu ditingkatkan pengetahuan
dan keterampilannya.
Di sisi lain, tantangan dalam mengintegrasikan upaya-upaya pengurangan risiko bencana
kedalam sistem pendidikan juga telah banyak dikaji, seperti : (1) Beratnya beban kurikulum siswa;
(2) Kurangnya pemahaman guru mengenai bencana ; (3) Kurangnya kapasitas dan keahlian guru
dalam integrasi PRB kedalam kurikulum; (4) Minimnya panduan, silabus dan materi ajar yang
terdistribusi dan dapat diakses oleh guru; (5) Terbatasnya sumberdaya (tenaga, biaya dan sarana);
dan (6) Kondisi bangunan fsik sekolah, sarana dan prasarana pada ummnya memprihatinkan,
tidak berorientasi pada AMDAL dan konstruksi tahan gempa.
Untuk menjawab tantangan tersebut dan guna melaksanakan integrasi pengurangan risiko
bencana ke dalam sistem pendidikan, dalam rangka mewujudkan budaya aman dan siaga
bencana, maka SCDRR telah mendukung Kementerian Pendidikan Nasional dalam menyusun
Strategi Pengarusutamaan Pengurangan Risiko Bencana kedalam Sistem Pendidikan Nasional.
Strategi ini akan disahkan melalui suatu bentuk kebijakan ditingkat nasional yang diharapkan
dapat menjadi acuan bagi pelaksanaan integrasi PRB ke dalam sistem pendidikan baik intra
maupun ekstrakurikuler secara nasional.
Untuk mendukung implementasi kebijakan tesebut, maka SCDRR mendukung Pusat Kurikulum,
Kementerian Pendidikan Nasional dalam menyusun modul ajar dan modul pelatihan
pengintegrasian pengurangan risiko bencana ke dalam intra dan ekstrakurikuler. Modul-modul
ini berisi model pembelajaran, materi ajar lengkap dengan panduan pengajarannya, dalam hal
integrasi PRB kedalam intra dan ekstrakurikuler.
Diharapkan modul-modul yang disusun oleh Pusat Kurikulum Kementerian Pendidikan Nasional
ini dapat menjadi acuan standar dan/atau memperkaya bahan-bahan yang sudah ada dan sudah
disusun oleh berbagai pihak lainnya, sehingga dapat bermanfaat dan digunakan oleh praktisi
pendidikan dan pemangku kepentingan lainnya dalam rangka peningkatan kesiapsiagaan
sekolah terutama didaerah rawan bencana. Terima Kasih.
Jakarta, 31 Desember 2009
Direktur Kawasan Khusus dan Daerah Tetinggal, Bappenas
Selaku National Project Director SCDRR
Dr.Ir Suprayoga Hadi, MSP
DAFTAR ISI
SAMBUTAN KEPALA PUSAT KURIKULUM III
SAMBUTAN KEPALA BADAN PENELITIAN DAN PENGEMBANGAN,
KEMENTERIAN PENDIDIKAN NASIONAL V
SAMBUTAN DIREKTUR KAWASAN KHUSUS DAN DAERAH TERTINGGAL,
BAPPENAS SELAKU NATIONAL PROJECT DIRECTOR SCDRR VII
DAFTAR ISI IX
DAFTAR TABEL XI
DAFTAR GAMBAR XIII
DAFTAR KOTAK XV
BAB I PENDAHULUAN 1
1.1 Landasan dan Pedoman 1
1.1.1 Landasan Filosofs 3
1.1.2 Landasan Sosiologis 4
1.1.3 Landasan Yuridis 4
1.1.4 Pedoman Pengembangan Produk 5
1.1.5 Pengintegrasian Pengurangan Risiko Bencana ke dalam
Sistem Pendidikan Nasional 6
1.2 Kerangka Kerja Pendidikan untuk Pengurangan Risiko Bencana 7
1.2.1 Pendidikan untuk Pengurangan Risiko Bencana
dan Pendidikan untuk Pembangunan Berkelanjutan 7
1.2.2 Konsep Pendidikan untuk Pengurangan Risiko Bencana 8
BAB II FENOMENA DAN PERISTIWA GEMPA BUMI 10
2.1 Fenomena Gempa Bumi di Indonesia 10
2.2 Peristiwa Gempa Bumi di Indonesia 14
BAB III PENGURANGAN RISIKO GEMPA BUMI 18
3.1 Pengurangan Risiko Bencana 18
3.1.1 Bencana 19
3.1.2 Risiko Bencana, Konstruksi dari Ancaman, Kerentanan
dan Kapasitas 21
3.1.3 Pengurangan Risiko Bencana 23
Daftar Isi
x
3.1.4 Upaya Pengurangan Risiko Bencana 23
3.2 Kesiapsiagaan Gempa Bumi 28
3.2.1 Tindakan Sebelum Terjadi Gempa Bumi 28
3.2.2 Tindakan Saat Terjadi Gempa Bumi 34
3.2.3 Tindakan Setelah Terjadi Gempa Bumi 36
BAB IV MATERI PEMBELAJARAN PENGURANGAN RISIKO GEMPA BUMI 39
4.1 Identifkasi Materi Pembelajaran Pengurangan Risiko Gempa Bumi 39
4.2 Pemetaan Indikator Siswa 41
4.3 Pendekatan Kegiatan Belajar Mengajar 43
BAB V PENGINTEGRASIAN MATERI POKOK PENGURANGAN RISIKO GEMPA
BUMI KE DALAM KURIKULUM TINGKAT SATUAN
PENDIDIKAN MENENGAH PERTAMA (SMP/MTS) 44
5.1 Pengintegrasian Pengurangan Risiko Gempa Bumi
ke dalam Mata Pelajaran 44
5.1.1 Identifkasi Mata Pembelajaran tentang
Pengurangan Risiko Bencana 46
5.1.2 Analisis Kompetensi Dasar (KD) yang dapat diintegrasikan 49
5.1.3 Penyusunan Silabus Mata Pelajaran Terintegrasi 65
5.1.4. Penyusunan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP)
Mata Pelajaran Terintegrasi 80
5.1.5. Model Bahan Ajar 102
5.2. Pengembangan Model Muatan Lokal
Pengurangan Risiko Gempa Bumi 112
5.2.1 Analisis Konteks Mata Pelajaran Muatan Lokal 112
5.2.2 Penyusunan Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar
Muatan Lokal Pengurangan Risiko Gempa Bumi 116
5.2.3 Penyusunan Silabus dan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran
Muatan Lokal Pengurangan Risiko Gempa Bumi 118
5.3. Pengintegrasian Pengurangan Risiko Bencana Sebagai
Pada Kegiatan Pengembangan Diri 132

DAFTAR ISTILAH 140
DAFTAR PUSTAKA 144
DAFTAR TABEL
Tabel 2.1 Kejadian Gempa bumi di Indonesia dalam kurun waktu
200 tahun serta jumlah Korban Jiwa. 15
Tabel 3.1 Skala Richter (SR). 30
Tabel 3.2 Skala MMI Kekuatan Gempa Bumi. 31
Tabel 3.3 Hubungan antara Skala Richter dengan MMI. 32
Tabel 4.1 Materi Pembelajaran Pengurangan Risiko Gempa Bumi 39
Tabel 4.2 Indikator Perilaku Siswa untuk Pembelajaran
Pengurangan Risiko Gempa Bumi 41
Tabel 5.1 Identifkasi Mata Pembelajaran Tentang PRB 46
Tabel 5.2 Format Analisis KD dari Beberapa Mata Pelajaran 50
Tabel 5.3 Silabus Integrasi Pengurangan Risiko Gempa Bumi
Untuk Mata Pelajaran IPS Kelas VII Semester 1 66
Tabel 5.4 Silabus Integrasi Pengurangan Risiko Gempa Bumi
Untuk Mata Pelajaran IPS Kelas VII Semester 2 68
Tabel 5.5 Silabus Integrasi Pengurangan Risiko Gempa Bumi
Untuk Mata Pelajaran IPS Kelas VIII Semester 1 69
Tabel 5.6 Silabus Integrasi Pengurangan Risiko Gempa Bumi
Untuk Mata Pelajaran IPS kelas IX Semester 2 70
Tabel 5.7 Silabus Integrasi Pengurangan Risiko Gempa Bumi
Untuk Mata Pelajaran Pendidikan Jasmani, Olahraga dan
Kesehatan kelas VII Semester 1 71
Tabel 5.8 Silabus Integrasi Pengurangan Risiko Gempa Bumi
Untuk Mata Pelajaran Pendidikan Jasmani, Olahraga dan
Kesehatan kelas VII Semester 1 72
Tabel 5.9 Silabus Integrasi Pengurangan Risiko Gempa Bumi
Untuk Mata Pelajaran Pendidikan Jasmani, Olahraga dan
Kesehatan kelas VII Semester 1 73
Tabel 5.10 Silabus Integrasi Pengurangan Risiko Gempa Bumi
Untuk Mata Pelajaran Pendidikan Jasmani, Olahraga dan
Kesehatan kelas IX Semester 2 74
Tabel 5.11 Silabus Integrasi Pengurangan Risiko Gempa Bumi
Untuk Mata Pelajaran Pendidikan IPA Terpadu
kelasVII Semester 1 75
Daftar Tabel
xii
Tabel 5.12 Silabus Integrasi Pengurangan Risiko Gempa Bumi
Untuk Mata Pelajaran Pendidikan IPA Terpadu
kelasVIII Semester 1 76
Tabel 5.13 Silabus Integrasi Pengurangan Risiko Gempa Bumi
Untuk Mata Pelajaran Pendidikan Bahasa Indonesia
Terpadu kelas VII Semester 1 77
Tabel 5.14 Silabus Integrasi Pengurangan Risiko Gempa Bumi
Untuk Mata Pelajaran Pendidikan Bahasa Indonesia
Terpadu kelas VIII Semester 1 78
Tabel 5.15 Silabus Integrasi Pengurangan Risiko Gempa Bumi
Untuk Mata Pelajaran Pendidikan Bahasa Indonesia
Terpadu kelas IX Semester 1 79
Tabel 5.16 Pengintegrasian Pendidikan Pengurangan Resiko
sebagai pelajaran Muatan Lokal 116
Tabel 5.17 Silabus Integrasi Pendidikan Pengurangan Risiko
Gempa Bumi dalam Muatan Lokal
(SK : Memahami Peristiwa Gempa Bumi dan Dampaknya). 119
Tabel 5.18 Silabus Integrasi Pendidikan Pengurangan Risiko
Gempa Bumi dalam Muatan Lokal
(SK : Siap Siaga Terhadap Ancaman Bencana). 120
Tabel 5.19 Silabus Integrasi Pendidikan Pengurangan Risiko
Gempa Bumi dalam Muatan Lokal
(SK : Memahami hubungan Risiko, bahaya,
kerentanan dan kapasitas ). 121
Tabel 5.20 Silabus Integrasi Pendidikan Pengurangan Risiko
Gempa Bumi dalam Muatan Lokal
(SK : Memahami jenis ketahanan gedung dan
fasilitas sekolah terhadap ancaman bencana). 122
Tabel 5.21 Contoh Kegiatan PMR yang dapat diintegrasikan PRB 135
Tabel 5.22 Contoh Kegiatan Pramuka yang dapat diintegrasikan PRB 136
Tabel 5.23 Silabus Integrasi PRB dalam Kegiatan PMR 137
Tabel 5.24 Silabus Integrasi PRB dalam Kegiatan Pramuka 138
DAFTAR GAMBAR
Gambar 2.1 Potensi Gempa di Indonesia. 12
Gambar 2.2 Enam Wilayah Gempa di Indonesia. 12
Gambar 2.3 Daerah Sebaran Bencana Gempa Bumi 14
Gambar 3.1 Model Hubungan antara Risiko Bencana,
Kerentanan dan Bahaya. 19
Gambar 3.2 Gempa bumi di Yogya,27 Mei 2006. 20
Gambar 3.3 Persentase Orang Terkena Bencana
Berdasarkan jenis Bencana. 21
Gambar 3.4 Bangunan yang rusak akibat goncangan gempa
(Ground Motion). 24
Gambar 3.5 Bangunan yang mengalami liquefaction akibat gempa bumi
di aceh pada tahun 2005. 25
Gambar 3.6 Longsor akibat gempa. 25
Gambar 3.7 Struktur Bangunan Tahan Gempa. 25
Gambar 3.8 Penyusunan Perabot. 29
Gambar 3.9 Beberapa bentuk simulasi penyelamatan diri saat gempa. 29
Gambar 3.10 Seismograf Horizontal. 34
Gambar 3.11 Seismograf Vertikal. 34
Gambar 3.12 seismogram. 34
Gambar 5.1. penyelamatan diri saat gempa. 103
Gambar 5.2. Contoh berita di Surat Kabar 105
Gambar 5.3. Yang Harus Dikerjakan Sebelum, Saat Dan
Sesudah Gempa Bumi 106
Gambar 5.4. gambar kliping berita dari surat kabar nasional 107
Gambar 5.5. Proses terjadinya gempa bumi 108
Gambar 5.6. Proses Terjadinya Gempa Tektonik 109
Gambar 5.7. Bentukan kawah 110
Gambar 5.8. Akibat gempa 111

Daftar Gambar
xiv
DAFTAR KOTAK
Kotak 5.1 Contoh Rencana Pembelajaran Mata Pelajaran, IPS. 85
Kotak 5.2 Contoh Rencana Pembelajaran Mata Pelajaran Penjaskes IX 88
Kotak 5.3 Contoh Rencana Pembelajaran Mata Pelajaran IPA Terpadu
Kelas VII 90
Kotak 5.4 Contoh Rencana Pembelajaran Mata Pelajaran IPA Terpadu
Kelas VIII 93
Kotak 5.5 Contoh Rencana Pembelajaran Mata Pelajaran
Bahasa Indonesia Kelas VII 95
Kotak 5.6 Contoh Rencana PembangunanMata Pelajaran
Bahasa Indonesia Kelas VIII 97
Kotak 5.7 Contoh Rencana Pembelajaran Mata Pelajaran
Bahasa Indonesia Kelas IX 100
Kotak 5.8 Contoh Rencana Pembelajaran Mata Pelajaran 123
Kotak 5.9 ontoh RPP Mata Pelajaran Mulok PRB 125
Kotak 5.10 Contoh RPP Mata Pelajaran Mulok PRB 127
Daftar Kotak
xvi
1.1 Landasan dan Pedoman
Berdasarkan hasil Konferensi Sedunia tentang Pengurangan Risiko Bencana
yang diselenggarakan pada tanggal 18-22 Januari 2005 di Kobe, Hyogo, Jepang;
dan dalam rangka mengadopsi Kerangka Kerja Aksi 2005-2015 dengan tema
‘Membangun Ketahanan Bangsa dan Komunitas Terhadap Bencana’ memberikan
suatu kesempatan untuk menggalakkan suatu pendekatan yang strategis dan
sistematis dalam meredam kerentanan dan risiko terhadap bahaya. Konferensi
tersebut menekankan perlunya mengidentifkasi cara-cara untuk membangun
ketahanan bangsa dan komunitas terhadap bencana.
Pada bulan Januari 2005, lebih dari 4.000 perwakilan pemerintah, organisasi non-
pemerintah, institusi akademik, dan sektor swasta berkumpul di Kobe, Jepang,
pada World Conference on Disaster Reduction (WCDR) kesebelas. Konferensi tersebut
mengakhiri perundingan-perundingan tentang Kerangka Kerja Aksi Hyogo
2005-2015 (Hyogo Framework For Action/HFA) : Membangun Ketahanan Bangsa
dan Komunitas terhadap Bencana. Kerangka Aksi ini diadopsi oleh 168 negara dan
menetapkan tujuan yang jelas – secara substansiil mengurangi kerugian akibat
bencana, baik korban jiwa maupun kerugian terhadap aset-aset sosial, ekonomi,
dan lingkungan suatu masyarakat dan negara – dan merinci seperangkat prioritas
untuk mencapai tujuan setindaknya pada tahun 2015.
HFA menekankan bahwa pengurangan risiko bencana adalah isu sentral kebijakan
pembangunan, selain juga menjadi perhatian berbagai bidang ilmu, kemanusiaan,
dan lingkungan. Bencana merusak hasil-hasil pembangunan, memelaratkan rakyat
dan negara. Tanpa usaha yang serius untuk mengatasi kerugian akibat bencana,
bencana akan terus menjadi penghalang besar dalam pencapaian Sasaran
Pembangunan Milenium. Untuk membantu pencapaian hasil yang diinginkan, HFA
mengidentifkasi lima Prioritas Aksi yang spesifk: (1) Membuat pengurangan risiko
bencana sebagai prioritas; (2) Memperbaiki informasi risiko dan peringatan dini;
(3) Membangun budaya keamanan dan ketahanan; (4) Mengurangi risiko pada
sektor-sektor utama; (5) Memperkuat kesiapan untuk bereaksi.
BAB I PENDAHULUAN
Pendahuluan
2
HFA memberikan suatu kesempatan untuk menggalakkan suatu pendekatan yang
strategis dan sistematis dalam meredam kerentanan dan risiko terhadap bahaya.
Konferensi tersebut menekankan perlunya mengidentifkasi cara-cara untuk
membangun ketahanan bangsa dan komunitas terhadap bencana. Karena bencana
dapat diredam secara berarti jika masyarakat mempunyai informasi yang cukup dan
didorong pada budaya pencegahan dan ketahanan terhadap bencana, yang pada
akhirnya memerlukan pencarian, pengumpulan, dan penyebaran pengetahuan
dan informasi yang relevan tentang bahaya, kerentanan, dan kapasitas.
Oleh karena itu diperlukan usaha-usaha antara lain: (1) menggalakkan dimasuk-
kannya pengetahuan tentang pengurangan risiko bencana sebagai bagian
yang relevan dalam kurikulum pendidikan di semua tingkat dan menggunakan
jalur formal dan informal lainnya untuk menjangkau anak-anak muda dan anak-
anak dengan informasi; menggalakkan integrasi pengurangan risiko bencana
sebagai suatu elemen instrinsik dalam dekade 2005–2014 untuk Pendidikan bagi
Pembangunan Berkelanjutan (United Nations Decade of Education for Sustainable
Development); (2) menggalakkan pelaksanaan penjajagan risiko tingkat lokal
dan program kesiapsiagaan terhadap bencana di sekolah-sekolah dan lembaga-
lembaga pendidikan lanjutan; (3) menggalakkan pelaksanaan program dan
aktivitas di sekolah-sekolah untuk pembelajaran tentang bagaimana meminimalisir
efek bahaya; (4) mengembangkan program pelatihan dan pembelajaran tentang
pengurangan risiko bencana dengan sasaran sektor-sektor tertentu, misalnya: para
perancang pembangunan, penyelenggara tanggap darurat, pejabat pemerintah
tingkat lokal, dan sebagainya; (5) menggalakkan inisiatif pelatihan berbasis
masyarakat dengan mempertimbangkan peran tenaga sukarelawan sebagaimana
mestinya untuk meningkatkan kapasitas lokal dalam melakukan mitigasi dan
menghadapi bencana; (6) memastikan kesetaraan akses kesempatan memperoleh
pelatihan dan pendidikan bagi perempuan dan konstituen yang rentan; dan (7)
menggalakkan pelatihan tentang sensitivitas gender dan budaya sebagai bagian tak
terpisahkan dari pendidikan dan pelatihan tentang pengurangan risiko bencana.
‘Kampanye Pendidikan tentang Risiko Bencana dan Keselamatan di Sekolah’ yang
dikoordinir oleh UN/ISDR (United Nations/International Strategy for Disaster Reduction)
hingga penghujung tahun 2007 dengan didasari berbagai pertimbangan. Anak-
anak adalah kelompok yang paling rentan selama kejadian bencana, terutama
yang sedang bersekolah pada saat berlangsungnya kejadian. Pada saat bencana,
gedung sekolah hancur, mengurangi usia hidup murid sekolah dan guru yang
sangat berharga dan terganggunya hak memperoleh pendidikan sebagai dampak
bencana. Pembangunan kembali sekolah juga memerlukan waktu yang tidak
sebentar dan pastilah sangat mahal.
Kampanye ditujukan kepada murid sekolah dasar dan menengah, para guru,
pembuat kebijakan pendidikan, orangtua, insinyur dan ahli bangunan. Selain
itu juga ditujukan kepada lembaga pemerintah yang bertanggung-jawab atas
isu manajemen bencana, mendiknas, para pemimpin politik di tingkat nasional,
pembuat keputusan di masyarakat, dan otoritas lokal. Pesan yang bisa disampaikan
antara lain: (1) pendidikan tentang risiko bencana menguatkan anak-anak dan
Modul Ajar Pengintegrasian Pengurangan Risiko Gempa Bumi untuk SD/MI
3
membantu membangun kesadaran yang lebih besar isu tersebut di dalam
masyarakat; (2) fasilitas bangunan sekolah yang bisa menyelamatkan hidup dan
melindungi anak-anak sebagai generasi penerus bangsa dari suatu kejadian
bencana alam; dan (3) pendidikan tentang risiko bencana dan fasilitas keselamatan
di sekolah akan membantu negara-negara menuju ke arah pencapaian Tujuan
Pembangunan Millenium.
Sekolah dipercaya memiliki pengaruh langsung terhadap generasi muda,
yaitu dalam menanamkan nilai-nilai budaya dan menyampaikan pengetahuan
tradisional dan konvensional kepada generasi muda. Untuk melindungi anak-
anak dari ancaman bencana alam diperlukan dua prioritas berbeda namun tidak
bisa dipisahkan aksinya yaitu pendidikan untuk mengurangi risiko bencana dan
keselamatan dan keamanan sekolah.
Sekolah juga harus mampu melindungi anak-anak dari suatu kejadian bencana
alam. Investasi dalam memperkuat struktur gedung sekolah sebelum suatu
bencana terjadi, akan mengurangi biaya/anggaran jangka panjang, melindungi
generasi muda penerus bangsa, dan memastikan kelangsungan kegiatan belajar-
mengajar setelah kejadian bencana. Pendidikan di sekolah dasar dan menegah
membantu anak-anak memainkan peranan penting dalam penyelamatan hidup dan
perlindungan aset/milik masyarakat pada saat kejadian bencana. Menyelenggarakan
pendidikan tentang risiko bencana ke dalam kurikulum sekolah sangat membantu
dalam membangun kesadaran akan isu tersebut di lingkungan masyarakat.
Mengurangi risiko bencana dimulai dari sekolah. Seluruh komponen, dalam hal
ini anak-anak sekolah, para guru, para pemimpin masyarakat, orangtua, maupun
individu yang tertarik dengan pendidikan tentang risiko bencana dan keselamatan
di sekolah, lembaga swadaya masyarakat, organisasi kemasyarakatan, institusi lokal/
regional/nasional/ internasional, sektor swasta dan publik untuk dapat berpartisipasi
secara aktif. Keterlibatan media juga diperlukan untuk mendorong sebuah budaya
ketahanan terhadap bencana dan keterlibatan komunitas yang kuat dalam rangka
kampanye pendidikan publik secara terus-menerus dan dalam konsultasi publik di
segenap lapisan masyarakat. Bencana?! Jika Siap Kita Selamat.
Padatnya kurikulum pendidikan nasional tidak boleh kita jadikan alasan untuk tidak
melakukan kegiatan pengurangan risiko bencana di sekolah secara berkelanjutan.
Pembelajaran tentang pengurangan risiko bencana di sekolah-sekolah bisa
dilaksanakan dengan mengintegrasikan materi pembelajaran pengurangan
risiko bencana ke dalam (1) mata pelajaran pokok/paket, (2) muatan lokal, dan (3)
ekstrakurikuler dan pengembangan diri. Atau secara khusus mengembangkan dan
menyelenggarakan kurikulum muatan lokal dan ektrakurikuler/pengembangan
diri yang didedikasikan khusus untuk pendidikan pengurangan risiko bencana.
1.1.1 Landasan Filosofs
Bencana merupakan suatu bentuk gangguan terhadap kehidupan dan
penghidupan masyarakat, oleh karena itu, secara flosofs, pengurangan risiko
bencana merupakan bagian dari pemenuhan tujuan bernegara Republik
Pendahuluan
4
Indonesia, yaitu melindungi segenap rakyat dan bangsa, serta seluruh
tumpah darah Indonesia, memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan
kehidupan bangsa dan ikut melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan
kemerdekaan, perdamaian abadi, dan keadilan sosial.
Upaya melindungi segenap rakyat dan bangsa dikuatkan pula dengan hak
setiap orang atas perlindungan diri pribadi, keluarga, kehormatan, martabat,
dan harta benda yang dibawah kekuasaannya, serta berhak atas rasa aman
dari ancaman ketakutan untuk untuk berbuat atau tidak berbuat sesuatu yang
merupakan hak asasi, hak hidup sejahtera lahir batin, bertempat tinggal, dan
mendapatkan lingkungan hidup yang baik dan sehat serta berhak memperoleh
pelayanan kesehatan (Pasal 28G ayat (1) dan Pasal 28 H ayat (1) UUD 1945.
1.1.2 Landasan Sosiologis
Ada tiga pertimbangan sosiologis yang patut diketengahkan, yaitu Pertama
secara geografs, demografs dan geologis, Indonesia merupakan negara
rawan bencana, baik bencana alam dan bencana akibat ulah manusia, seperti
kegagalan atau mala praktik teknologi. Kedua, adalah bahwa perkembangan
ilmu pengetahuan dan teknologi, serta kondisi sosial masyarakat, telah
menimbulkan dampak negatif terhadap lingkungan yang berakibat pada
terjadinya bencana. Ketiga, adalah kondisi struktur manajemen bencana
itu sendiri. Kematian, cidera dan kerugian materi, serta masalah lingkungan
dan ekonomi dapat dikurangi apabila penyelenggaraan penanggulangan
bencana telah dilakukan secara komprehensif yang mencakup pendekatan
yang bersifat pencegahan, pengurangaan risiko, tindakan kesiapsiagaan
tindakan tanggap terhadap bencana, serta upaya pemulihan. Disamping itu,
pendekatan yang mengedepankan pentingnya partisipasi dari semua tingkat
pemerintahan, baik pemerintah pusat dan daerah, mengambil peran yang
aktif dalam menciptakan manajemen bencana yang efektif. Serta pentingnya
partisipasi publik dan pemangku kepentingan dalam penanganan bencana.
1.1.3 Landasan Yuridis
Pertimbangan yuridis adalah menyangkut masalah-masalah hukum serta peran
hukum dalam penanganan bencana. Hal ini dikaitkan dengan peran hukum
dalam pembangunan, baik sebagai pengatur perilaku, maupun instrumen
untuk penyelesaian masalah. Hukum sangat diperlukan, karena hukum atau
peraturan perundang-undangan dapat menjamin adanya kepastian dan
keadilan dalam penanganan bencana. Undang-Undang No.24 Tahun 2007
tentang Penanggulangan Bencana ditempatkan guna memberikan jawaban
atau solusi terhadap permasalahan yang berkaitan dengan penangan
bencana, merupakan landasan yuridis paling dekat untuk pelaksanaan usaha-
usaha pengurangan risiko bencana di Indonesia.
Modul Ajar Pengintegrasian Pengurangan Risiko Gempa Bumi untuk SD/MI
5
1.1.4 Pedoman pengembangan produk
Program pendidikan pengurangan risiko bencana (PRB) bertujuan untuk
meminimalisir risiko bencana dan meningkatkan kapasitas sekolah dalam
melaksanakan pengurangan risiko bencana, kesiapsiagaan, mitigasi, dan
peringatan dini. PRB oleh satuan pendidikan dapat dilakukan dengan cara
mengintegrasikan materi pendidikan pengurangan risiko bencana dalam
kurikulum yang berlaku di sekolah, mata pelajaran, muatan lokal, kegiatan
pengembangan diri dan ekstrakurikuler, dan bahan ajar.
Dasar hukum yang menjadi pedoman perancangan dan pengembangan serial
modul dan modul pelatihan adalah:
1. Undang-undang No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional.
2. Undang-undang No. 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak.
3. Undang-undang No. 24 Tahun 2007 tentang Penanggulangan Bencana.
4. Undang-undang No. 17 Tahun 2007 tentang Rencana Pembangunan
Jangka Panjang Nasional Tahun 2005 - 2025.
5. Peraturan Presiden No. 7 Tahun 2005 tentang Rencana Pembangunan
Jangka Menengah Nasional Tahun 2004 - 2009.
6. Peraturan Pemerintah No. 19 Tahun 2005 tentang Standar Nasional
Pendidikan.
7. Peraturan Presiden No. 8 Tahun 2008 tentang Badan Nasional
Penanggulangan Bencana.
8. Peraturan Presiden No. 32 Tahun 2008 tentang Pengesahan ASEAN
Agreement on Disaster Management and Emergency Response (Persetujuan
ASEAN mengenai Penanggulangan Bencana dan Penanganan Darurat).
9. Peraturan Pemerintah No. 21 Tahun 2008 tentang Penyelenggaraan
Penanggulangan Bencana.
10. Peraturan Mendiknas No. 22 Tahun 2006 tentang Standar Isi.
11. Peraturan Mendiknas No. 23 Tahun 2006 tentang Standar Kompetensi
Lulusan.
12. Peraturan Mendiknas No. 24 Tahun 2006 tentang Pelaksanaan Standar Isi
dan Standar Kompetensi Lulusan, yang disempurnakan dengan Peraturan
Mendiknas No. 6 Tahun 2007.
13. Peraturan Mendiknas No. 40 Tahun 2006 tentang Organisasi dan Tata Kerja
Balitbang Depdiknas.
14. Peraturan Mendiknas No. 50 Tahun 2007 tentang Standar Pengelolaan
Pendidikan oleh Pemerintah Provinsi.
15. Peraturan Mendiknas No. 24 Tahun 2007 tentang Standar Sarana dan
Prasarana untuk SD/MI, SMP/MTs, dan SMA/MA.
16. Surat Edaran Mendiknas No. 33/MPN/SE/2007 tentang Sosialisasi KTSP.
Pendahuluan
6
1.1.5 Pengintegrasian pengurangan risiko bencana ke dalam Sistem
Pendidikan Nasional
UU No.20/2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional Pasal 38 Ayat (2):
Kurikulum pendidikan dasar dan menengah dikembangkan sesuai dengan
relevansinya oleh setiap kelompok atau satuan pendidikan dan komite
sekolah/madrasah dibawah koordinasi dan supervisi dinas pendidikan atau
kantor departemen agama kabupaten/kota untuk pendidikan dasar dan
provinsi untuk pendidikan menengah
Kebijakan yang tertuang dalam Peraturan Pemerintah Nomor 19 Tahun
2005 tentang Standar Nasional Pendidikan menyatakan bahwa penyusunan
kurikulum merupakan tanggung jawab setiap satuan pendidikan (sekolah
dan madrasah). Oleh karena itu tidak lagi dikenal apa yang disebut dengan
kurikulum nasional, yang pada periode sebelumnya menjadi tanggung jawab
pemerintah pusat.
Dalam PP No. 19 Tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan Pasal 17
menyebutkan:
1 Kurikulum tingkat satuan pendidikan SD/MI/SDLB, SMP/MTs/SMPLB, SMA/
MA/SMALB, SMK/MAK, atau bentuk lain yang sederajat dikembangkan
sesuai dengan satuan pendidikan, potensi daerah/karakteristik daerah,
sosial budaya masyarakat setempat, dan peserta didik
2 Sekolah dan komite sekolah, atau madrasah dan komite madrasah,
mengembangkan kurikulum tingkat satuan pendidikan dan silabusnya
berdasarkan kerangka dasar kurikulum dan standar kompetensi lulusan,
dibawah supervisi dinas kabupaten/kota yang bertanggung jawab di
bidang pendidikan untuk SD, SMP, SMA, dan SMK dan departemen yang
mengurusi urusan pemerintahan di bidang agama untuk MI, MTs, MA, dan
MAK
Penjabaran kurikulum dilakukan dengan penyusunan silabus dan bahan ajar
sesuai dengan kondisi geografs dan demografs untuk daerah, kebutuhan,
potensi dan karkateristik satuan pendidikan dan peserta didik, yang selanjutnya
diimplementasikan dalam kegiatan pembelajaran. Dalam Permendiknas No.
24 Tahun 2006 tentang Pelaksanaan Standar Isi dan Standar Kompetensi
Lulusan Pasal 1:
1 Satuan pendidikan dasar dan menengah mengembangkan dan
menetapkan kurikulum tingkat satuan pendidikan dasar dan menengah
sesuai kebutuhan satuan pendidikan.
2 Satuan pendidikan dasar dan menengah dapat mengembangkan
kurikulum dengan standar yang lebih tinggi dari standar isi dan standar
kompetensi lulusan.
3 Kurikulum satuan pendidikan dasar dan menengah ditetapkan oleh
kepala satuan pendidikan dasar dan menengah setelah memperhatikan
pertimbangan dari Komite Sekolah atau Komite Madrasah.
Modul Ajar Pengintegrasian Pengurangan Risiko Gempa Bumi untuk SD/MI
7
Dalam Undang-Undang No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan
Nasional Pasal 32 Ayat 1, juga telah mengakomodasi kebutuhan pendidikan
bencana dalam terminologi ‘pendidikan layanan khusus’. Yakni “pendidikan
bagi peserta didik di daerah terpencil atau terbelakang, masyarakat adat
yang terpencil, dan/atau mengalami bencana alam, bencana sosial, dan tidak
mampu dari segi ekonomi”.
1.2 Kerangka Kerja Pendidikan Untuk Pengurangan Risiko
Bencana
1.2.1 Pendidikan Untuk Pengurangan Risiko Bencana dan Pendidikan Untuk
Pembangunan Berkelanjutan
Pada bulan Desember 2002, Majelis Umum PBB mengadopsi resolusi 57/254
untuk menempatkan Dekade Pendidikan Bagi Pembangunan Berkelanjutan,
mulai 2005-2014, dibawah koordinasi UNESCO. Pendidikan untuk
pengurangan bencana (alam) telah diidentifkasi sebagai masalah inti yang
akan dibahas di bawah DESD. Pendidikan dipandang dalam konsep yang lebih
luas. Sebagaimana didefnisikan dalam Bab 36 dalam Agenda 21, “Pendidikan
sangat penting untuk mencapai perlindungan lingkungan dan kesadaran
etika, nilai-nilai dan sikap, keterampilan dan perilaku yang konsisten dengan
pembangunan berkelanjutan. Baik formal dan pendidikan non-formal sangat
diperlukan untuk pembangunan berkelanjutan “. Pendidikan dan pengetahuan
berkontribusi untuk meningkatkan kesadaran tentang bahaya (alam) serta
kerentanan dan ancaman yang ada yang dihadapi oleh masyarakat. Juga
memberikan kontribusi untuk menumbuhkembangkan keterampilan hidup.
Dasawarsa ini didukung oleh Kerangka Aksi Hyogo 2005 – 2015 yang
menyoroti pentingnya pendidikan dan pembelajaran sebagai bagian dari
prioritas aksi, menggunakan pengetahuan, inovasi dan pendidikan untuk
membangun sebuah budaya keselamatan dan ketahanan di semua tingkat.
Inisiatif pengurangan risiko bencana harus berakar di semua lembaga-
lembaga pendidikan, khususnya di sekolah-sekolah dan memasukkan dalam
program pendidikan. Pendidikan pengurangan risiko bencana yang mencakup
semua aspek peningkatan kesadaran publik, pendidikan dan pelatihan yang
bertujuan untuk menciptakan dan atau meningkatkan budaya pencegahan
melalui identifkasi dan pemahaman risiko, serta belajar mengenai langkah-
langkah pengurangan risiko bencana, dan tanggap bencana.
Oleh karena itu Pendidikan untuk Pengurangan Risiko Bencana - sebagai
bagian dari Pengurangan Risiko Bencana (PRB) - harus melekat dengan
Pendidikan untuk Pembangunan Berkelanjutan, dan mendukung kerangka
ESD yang mencakup 3 aspek, yaitu:
1 Pendidikan untuk pengurangan risiko bencana adalah interdisipliner.
Oleh karena itu, pertimbangan penting diberikan kepada dampak, dan
hubungan antara, masyarakat, lingkungan, ekonomi dan budaya.
Pendahuluan
8
2 Pendidikan untuk pengurangan risiko bencana dan meningkatkan
pemikiran kritis dan pemecahan masalah, dan ketrampilan hidup sosial dan
emosional untuk pemberdayaan kelompok rentan atau terkena bencana.
3 Pendidikan untuk pengurangan risiko bencana mendukung Tujuan
Pembangunan Milenium. Tanpa mempertimbangkan Pengurangan Risiko
Bencana dalam perencanaan pembangunan, semua upaya pembangunan
termasuk inisiatif DESD dihancurkan dalam hitungan detik.
Kerangka kerja Pendidikan untuk pengurangan risiko bencana atau pendidikan
pengurangan risiko bencana dikembangkan mengikuti arahan UN-ISDR
sebagai berikut: “Pendidikan pengurangan risiko bencana adalah sebuah
proses pembelajaran bersama yang bersifat interaktif di tengah masyarakat
dan lembaga-lembaga yang ada. Cakupan pendidikan pengurangan risiko
bencana lebih luas daripada pendidikan formal di sekolah dan universitas.
Termasuk di dalamnya adalah pengakuan dan penggunaan kearifan tradisional
dan pengetahuan lokal bagi perlindungan terhadap bencana alam.”
HFA pada PRIORITAS AKSI 3, Poin Aktivitas kunci termaktub rekomendasi
bahwa PRB dimasukkan dalam kurikulum sekolah, pendidikan formal dan
informal.
“Menggalakkan dimasukkannya pengetahuan pengurangan risiko bencana
dalam bagian yang relevan dalam kurikulum sekolah di semua tingkat dan
menggunakan jalur formal dan informal lainnya untuk menjangkau pemuda
dan anak-anak; menggalakkan integrasi pengurangan risiko bencana sebagai
suatu elemen intrinsik Dekade Pendidikan untuk Pembangunan Berkelanjutan
(2005-2015) dari PBB “.
1.2.2 Konsep Pendidikan Untuk Pengurangan Risiko Bencana
Pendidikan Pengurangan Risiko Bencana adalah usaha sadar dan terencana
dalam proses pembelajaran untuk memberdayaan peserta didik dalam upaya
untuk pengurangan risiko bencana dan membangun budaya aman serta
tangguh terhadap bencana. Pendidikan PRB lebih luas dari penddidikan
bencana, bahkan lebih dari pendidikan tentang pengurangan risiko bencana.
Tetapi mengembangkan motivasi, ketrampilan, dan pengetahuan agar
dapat tertindak dan mengambil bagian dari upaya untuk pengurangan risiko
bencana.
Tujuan pendidikan untuk pengurangan risiko bencana adalah:
1 Menumbuhkembangkan nilai dan sikap kemanusiaan.
2 Menumbuhkembangkan sikap dan kepedulian terhadap risiko bencana.
3 Mengembangkan pemahaman tentang risiko bencana, pemahaman tentang
kerentanan sosial, pemahaman tentang kerentanan fsik, serta kerentanan.
prilaku dan motivasi.
4 Meningkatkan pengetahuan dan ketrampilan untuk pencegahan dan
pengurangan risiko bencana, pengelolaan sumberdaya alam dan lingkungan
yang bertanggungjawab, dan adaptasi terhadap risiko bencana.
Modul Ajar Pengintegrasian Pengurangan Risiko Gempa Bumi untuk SD/MI
9
5 Mengembangkan upaya untuk pengurangan risiko bencana diatas, baik secara
individu maupun kolektif.
6 Meningkatkan pengetahuan dan ketrampilan siaga bencana.
7 Meningkatkan kemampuan tanggap darurat bencana.
8 Mengembangkan kesiapan untuk mendukung pembangunan kembali
komunitas saat bencana terjadi dan mengurangi dampak yang disebabkan
karena terjadinya bencana.
9 Meningkatkan kemampuan untuk beradaptasi dengan perubahan besar dan
mendadak.
2.1. Fenomena Gempa Bumi di Indonesia
Bencana merupakan fenomena yang terjadi karena komponen-komponen pemicu,
ancaman, dan kerentanan bekerja bersama secara sistematis, sehingga menyebabkan
terjadinya risiko pada komunitas. Bencana secara sederhana didefnisikan sebagai
suatu gangguan serius terhadap keberfungsian suatu masyarakat sehingga
menyebabkan kerugian yang meluas pada kehidupan manusia dari segi materi,
ekonomi atau lingkungan dan yang melampaui kemampuan masyarakat tersebut
untuk mengatasi dengan menggunakan sumberdaya-sumberdaya mereka sendiri
Pemicu merupakan faktor-faktor luar yang menjadikan potensi ancaman yang
tersembunyi muncul ke bermukaan sebagai ancaman nyata. Ancaman adalah
kejadian-kejadian, gejala alam atau kegiatan manusia yang berpotensi untuk
menimbulkan kamatian, luka-luka, kerusakan harta benda, gangguan sosial
ekonomi atau kerusakan lingkungan.
Di antara sekian banyak jenis bencana alam, gempa bumi termasuk yang paling
dahsyat. Gempa bumi adalah getaran permukaan bumi atau sentakan asli dari
bumi yang bersumber di dalam bumi yang merambat melalui permukaan bumi
dan menembus bumi. Gempa bumi terjadi karena pergesekan antara lempeng-
lempeng tektonik yang berada jauh di bawah permukaan bumi.
Gempa bisa terjadi kapan saja sepanjang tahun, siang atau malam, dengan dampak
buruk yang terjadi secara mendadak dan hanya memberikan sedikit isyarat bahaya.
Gempa dapat menghancurkan bangunan hanya dalam waktu beberapa detik saja,
menewaskan atau melukai orang-orang yang berada di dalamnya. Gempa bumi
bukan hanya mampu meluluh-lantakkan kota-kota sampai hampir tak tersisa lagi,
namun juga bisa menggoyahkan kestabilan pemerintahan, perekonomian, dan
struktur sosial suatu negara.
Bencana alam gempa bumi akan terus berulang karena Indonesia merupakan
daerah sangat rawan gempa bumi, baik vulkanik maupun tektonik. Daerah itu
sering disebut sebagai daerah sabuk api Pasifk. Di bawah ini diperlihatkan gambar
posisi Indonesia yang berada pada pertemuan lempeng-lempeng kerak bumi
yang bergerak. Indonesia dilalui tiga lempeng aktif, yaitu lempeng Indo-Australia,
lempeng Eurasia dan lempeng Pasifk. Lempeng Australia begerak dari arah selatan
mendorong lempeng Eurasia dengan kecepatan kurang lebih 7 cm/tahun ke arah
FENOMENA DAN PERISTIWA
GEMPA BUMI
BAB II
Modul Ajar Pengintegrasian Pengurangan Risiko Gempa Bumi untuk SD/MI
11
selatan. Sedangkan lempeng Pasifk bergerak dari arah timur menuju barat dengan
kecepatan kurang lebih 11 cm/tahun.
Kerak bumi terdiri dari lapisan batuan (litosfera) yang berbeda-beda ketebalannya. Di
bawah samudra, dalamnya sampai 10 kilometer, dan dibawah benua kedalamannya
mencapai 65 kilometer. Kerak bumi itu sendiri tidak berbentuk benda tunggal,
melainkan berupa bagian-bagian yang dinamakan lempeng. Ukuran lempeng
bermacam-macam, ada yang beberapa puluh, beberapa ratus, bahkan beberapa
ribu kilometer. Teori tektonik lempeng menyatakan bahwa lapisan kerak bumi itu
berada di atas lapisan lain yang lebih mampu bergeser atau bergerak, namanya
mantle atau lapisan pengantara (di bawah litosfera ). Lapisan pengantara bisa
bergerak berkat mekanisme tertentu yang hingga kini belum bisa diketahui pasti
ataupun dibuktikan, namun para ahli memperkirakan gerakan itu dimungkinkan
oleh arus konveksi panas. Ketika lapisan-lapisan saling bergeserkan, tekanan pada
bumi pun meningkat. Tekanan-tekanan ini bisa digolong-golongkan menurut corak
gerakan sepanjang batas-batas wilayah setiap lempeng: Gerakan saling menjauh,
Gerakan meluncur miring secara relatif ke arah lapisan-lapisan lain, Gerakan saling
mendorong.
Semua gerakan itu dihubungkan dengan terjadinya gempa bumi yang mencapai
daerah permukaan. Batas–batas wilayah setiap lempeng yang mengeluarkan
energi yang telah tersimpan, dengan cara mengalirkannya atau memuntahkannya,
adalah bagian rapuh, patahan/sesar, lipatan, atau patahan yang dalam istilah asing
disebut retakan. Teori pengikatan ulang secara elastis menyatakan bahwa kerak
bumi terus-menerus ditekan gerakan-gerakan lapisan-lapisan tektonik, sehingga
akhirnya melampaui titik tegangan tertinggi yang dapat ditahannya. Lantaran itulah
terjadi ledakan atau muntahan sepanjang patahan/sesar, dan selama itu lapis-lapis
bebatuan melakukan pengikatan ulang dengan tekanan-tekanan elastisnya sendiri
sampai tegangan mereda. Biasanya, batu-batu itu melakukan pengikatan ulang di
kedua sisi patahan / sesar dengan arah yang berlawanan
Ada beberapa faktor kunci yang turut mengakibatkan kerapuhan kita dalam
menghadapi gempa bumi : (1) Lokasi pemukiman ada di sekitar daerah seismik,
terutama di atas tanah yang rapuh, sepanjang lereng yang sangat riskan kelongsoran,
atau pada jalur–jalur patahan/sesar. (2) Struktur–struktur bangunan, misalnya
rumah, jembatan, bendungan, dan sebagainya, tidak tahan terhadap gerakan atau
bahkan getaran tanah.
Bangunan–bangunan bata yang tanpa rangka dan pondasi yang kuat, dengan
atap yang berat, lebih rawan kerusakan akibat gempa jika dibandingkan dengan
bangunan–bangunan dari kayu yang ringan. (3) Kelompok–kelompok bangunan
padat/berdesakan, dan banyak sekali penghuninya. (4) Kurang akses terhadap
informasi tentang risiko-risiko gempa bumi. (5) Gempa bumi punya ‘aturan ketat’
yang selalu dipatuhinya sendiri : tiap 1 korban tewas ; ada 3 yang selamat tapi
mengalami luka-luka.
Sejumlah wilayah di Indonesia berulang kali dilanda gempa bumi. Dalam rentang
waktu yang singkat gempa mengguncang Tasikmalaya, Yogyakarta, Aceh, Nusa
Tenggara Barat, Toli-Toli, Sulawesi Tengah, Sumatera Barat, Sumatera Utara, Jambi,
Fenomena dan peristiwa Gempa Bumi
12
Bengkulu dan hingga kini Lampung juga dihantui dengan gempa. Akibat gempa
tidak hanya merusakan bangunan, namun banyak menelan korban jiwa.
Potensi gempa di Indonesia memang terbilang besar, hal ini disebabkan lokasi
Indonesia yang terletak pada pertemuan empat lempeng tektonik utama, yaitu
lempeng Eurasia, Indo-Australia, Pasifk, dan Fhilipine sebagaimana terlihat pada
gambar di bawah ini :
Gambar 2.1 Potensi Gempa di Indonesia
Berdasarkan SNI-1726 2002 Indonesia dibagi menjadi 6 wilayah gempa, seperti
pada gambar dibawah ini:
Gambar 2.2 Enam Wilayah Gempa di Indonesia

Dimana wilayah gempa 1 adalah wilayah dengan kegempaan yang paling rendah
dan wilayah gempa 6 adalah wilayah dengan kegempaan paling tinggi. Pembagian
wilayah gempa ini, didasarkan atas percepatan puncak batuan dasar akibat
pengaruh gempa rencana dengan periode ulang 500 tahun, yang nilai rata-ratanya
untuk setiap wilayah gempa ditetapkan dalam tabel. Gempa yang bekerja pada
suatu struktur menyebabkan struktur tersebut akan mengalami pergerakan secara
vertikal maupun secara lateral. Dalam hal ini konstruksi bangunan yang tahan
gempa juga perlu diperhatikan.
Modul Ajar Pengintegrasian Pengurangan Risiko Gempa Bumi untuk SD/MI
13
Besarnya dampak gempa bumi terhadap bangunan tergantung pada beberapa
hal diantaranya adalah skala gempa, jarak episenter, mekanisme sumber, jenis
lapisan tanah di lokasi bangunan dan kualitas bangunan. Sampai sekarang kita
belum mampu secara tuntas menghilangkan risiko bencana akibat fenomena itu.
Tetapi perbedaan kemampuan kita mengenali, memahami dan menyikapi bahaya
fenomena yang berisiko itulah yang membuat besaran risiko yang mengena pada
diri kita berbeda. Semakin kita mengenali dan memahami fenomena bahaya itu
dengan baik, maka kita semakin dapat menyikapinya dengan lebih baik. Sikap dan
tanggap yang didasarkan atas pengenalan dan pemahaman yang baik akan dapat
memperkecil risiko bencana yang mengena pada kita.
Oleh karena itu, untuk mengurangi hilangnya kehidupan manusia dan alam
sekitarnya serta harta benda, penderitaan manusia, kerusakan ekonomi, diperlukan
tenaga dan dana yang tidak sedikit, serta penanganan yang tepat pada kapasitas
manusia.
A. Kondisi Geografs
Dari aspek geologis, geografs, dan morfologis, Indonesia merupakan salah satu
wilayah yang rawan terhadap bencana. Kepulauan Indonesia termasuk dalam
wilayah deretan gunung berapi Pasifk, yang bentuknya melengkung dari utara
Pulau Sumatera-Jawa-Nusa Tenggara hingga ke Sulawesi Utara.
Meskipun kepulauan Nusantara mempunyai sifat iklim tropis, namun secara mikro
tiap pulau mempunyai karakteristik tersendiri, mulai dari Sumatera hingga ke Papua
sifat iklimnya semakin kering. Musim di Indonesia dipengaruhi oleh letak kepulauan
yang berada di antara Samudera Hindia dan Pasifk dan Benua Asia dan Australia.
Angin muson barat yang bertiup dari Asia dan Pasifk mengakibatkan terjadinya
musim penghujan, sementara agin muson timur yang bertiup dari Australia
mengakibatkan musim kemarau. Pada saat kondisi iklim global berpengaruh
terhadap iklim di Indonesia, maka perubahan musim dapat menjadi pemicu
terjadinya bencana banjir, kekeringan dan kebakaran hutan.
Indonesia terletak pada pertemuan tiga lempeng tektonik yaitu lempeng Eurasia,
lempeng Pasifk dan lempeng Indo Australia yang bergerak saling menumbuk. Akibat
tumbukan antara lempeng itu maka terbentuk daerah penunjaman memanjang di
sebelah barat Sumatera, sebelah selatan Pulau Jawa hingga ke Bali dan Kepulauan
Nusa Tenggara, sebelah utara Kepulauan Maluku dan sebelah utara Papua.
Akibat lain dari adanya tumbukan itu adalah terbentuknya palung samudera,
lipatan, punggungan, dan patahan di busur kepulauan, sebaran gunung api, dan
sebaran sumber gempa bumi. Gunung api yang berada di Indonesia berjumlah 129
dan 13% dari gunung api aktif dunia berada di negara kita. Sehingga Indonesia
merupakan kawasan rawan terhadap bencana letusan gunung api dan gempa
bumi.
Fenomena dan peristiwa Gempa Bumi
14
Jenis tanah pelapukan yang banyak dijumpai di Indonesia adalah hasil letusan
gunung api. Tanah ini memiliki komposisi sebagian besar lempung dan sedikit
pasir. Tanah jenis ini menjadikan sebagian besar Indonesia merupakan tanah yang
subur. Sebaliknya, tanah pelapukan yang berada di atas bantuan kedap air pada
perbukitan atau punggungan dengan kemiringan sedang hingga terjal berpotensi
mengakibatkan tanah longsor pada musim hujan dengan curah hujan berkuantitas
tinggi. Jika di perbukitan tersebut tidak ada tanaman keras berakar kuat dan dalam,
maka kawasan tersebut rawan bencana tanah longsor. Selain longsor, tanah
perbukitan yang gundul juga akan menyebabkan terjadinya banjir di daerah-daerah
sekitarnya yang berkedudukan lebih rendah. Curah hujan yang cukup tinggi yang
seringkali terjadi di berbagai kawasan di Indonesia semakin memicu terjadinya
banjir.
Dengan demikian Indonesia selain merupakan negara yang menempati posisi yang
strategis dengan kekayaan alam yang begitu melimpah dan beraneka ragam, juga
merupakan negara dengan
tingkat kerentanan bencana
yang sangat tinggi. Jajaran
gunung api memunculkan
ancaman erupsi gunung api,
sementara lempeng bumi yang
terus bergerak memunculkan
ancaman gempa dan tsunami.
Sebagai kawasan tropis,
Indonesia juga memiliki risiko
terhadap ancaman banjir,
tanah longsor dan berbagai macam wabah penyakit. Saat musim kemarau, datang
ancaman kekeringan. Kondisi ini telah terjadi pada setiap musim kemarau sekitar
10 tahun belakangan ini, dan dapat diprediksikan akan terus berlanjut karena
kerusakan sebagian besar Daerah Aliran Sungai di Indonesia ini.
2.2. Peristiwa Gempa Bumi Di Indonesia
Selama ini, tindakan dalam usaha penanggulangan bencana dilakukan oleh
pemerintah yang pelaksanaanya kemudian dilakukan bersama antara pemerintah
daerah dengan organisasi-organisasi terkait dan masyarakat yang tertimpa
bencana. Pada saat mengahadapi bencana, masyarakat yang belum mampu untuk
menanganinya sendiri harus menunggu bantuan yang kadang-kadang tidak segera
datang.
Perlu disadari bahwa pada detik-detik pertama saat bencana terjadi adalah saat
yang paling penting dalam usaha mengurangi dampak bencana yang lebih besar.
Dengan terulangnya bencana gempa bumi yang terjadi di Yogyakarta, Sumatera
Barat, Jawa Barat maupun di wilayah Indonesia lainnya dan didasari oleh pemikiran
tersebut dan sejalan dengan program pengembanagan masyarakat yang mandiri,
Gambar 2.3. Daerah Sebaran Bencana Gempa Bumi
Sumber : BMG dalam Bakornas PB 2007
Modul Ajar Pengintegrasian Pengurangan Risiko Gempa Bumi untuk SD/MI
15
masyarakat sendiri perlu mengetahui secara menyeluruh semua upaya tindakan
penanggulangan bencana supaya bisa segera mengambil tindakan yang tepat
pada waktu bencana terjadi.
Untuk mengurangi kemungkinan bencana disuatu wilayah, tindakan pencegahan
bencana perlu dilakukan oleh masyarakat. Pada saat bencana terjadi, korban yang
timbul umumnya disebabkan oleh kurangnya persiapan. Persiapan yang baik akan
bisa membantu masyarakat untuk melakukan tindakan yang tepat guna dan tepat
waktu.
Bencana bisa menimbulkan kerusakan dan korban jiwa. Dengan mengetahui cara
pencegahannya masyarakat bisa mengurangi risiko ini. Penangulangan bencana
ini hendaknya menjadi tanggung jawab bersama antara masyarakat dan pihak-
pihak yang terkait. Kerjasama ini sangat penting untuk memperlancar proses
penanggulangan bencana.

30 September 1899
14 Agustus 1968
26 Juni 1976
19 Agustus 1977
12 Desember 1992
2 Juni 1994
17 Februari 1996
4 Juni 2000
12 November 2004
26 Desember 2004
27 Mei 2006
13 September 2007
17 November 2008
4 Januari 2009
2 September 2009
30 September 2009
1Oktober 2009
7,8 SR
7,8 SR
7,1 SR
8,0 SR
7,5 SR
7,2 SR
8,1 SR
7,3 SR
7,3 SR
9,1 SR
5,9 SR
7,7 SR
7,7 SR
7,2 SR
7,3 SR
7,6 SR
7.0 SR
Laut Banda/Ambon
Sulawesi Utara
Papua
Kepulauan Sunda
Flores
Banyuwangi,
Jawa Timur
Biak, Papua
Bengkulu
Alor, NTT
Aceh
Yogyakarta
Padang, Bengkulu,
Jambi
Sulawesi Tengah
Manokwari,
Papua Barat
Tasikmalaya,
Jawa Barat
Sumatera Barat
Bengkulu, Jambi
3.280
392
9.000
189
2.200
200
108
93
26
220.000
6.223
10
4
2
77
529
2
KEKUATAN
(SKALA RICHTER)
TANGGAL KEJADIAN TEMPAT
KORBAN
TEWAS (JIWA)
Sumber: Kompas, 5 Oktober 2009
Tabel 2.1: Kejadian gempa bumi di Indonesia dalam
kurun waktu 200 tahun serta jumlah korban jiwa.
Dengan terulangnya bencana gempa bumi yang terjadi di Indonesia, yang telah
menimbulkan korban jiwa dan harta benda, serta masih menyisakan masalah relokasi
pengungsi dan penyediaan akses dan ruang belajar untuk anak adalah suatu fakta
bahwa kita belum banyak belajar dari peristiwa bencana sebelumnya. Berbagai
bencana itu semestinya menjadi pelajaran bagi masyarakat bahwa siapa pun tanpa
terkecuali harus selalu siap siaga dalam menghadapi bencana. Kesiapsiagaan ini
merupakan suatu kemampuan dalam mengantisipasi dan mengurangi dampak
yang diakibatkan bencana.
Fenomena dan peristiwa Gempa Bumi
16
Adapun stakeholders yang terlibat dan sangat berpengaruh dalam upaya
mengurangi dampak terjadinya bencana antara lain individu, keluarga/rumah
tangga, pemerintah, dan lembaga pendidikan.
Individu dan rumah tangga merupakan ujung tombak, subjek dan objek dari
kesiapsiagaan, karena berpengaruh secara langsung terhadap risiko bencana.
Pemerintah juga mempunyai peran dan tanggung jawab yang sangat penting,
terutama dalam kondisi social ekonomi masyarakat yang masih memerlukan
peran pemerintah, terutama yang berkaitan dengan pendidikan masyarakat yang
berkaitan dengan bencana, penyediaan fasilitas, sarana dan prasarana publik
untuk keadaan darurat. Sedangkan komunitas sekolah mempunyai potensi yang
sangat besar sebagai sumber pengetahuan, penyebarluasan pengetahuan tentang
bencana dan petunjuk praktis apa yang harus dipersiapkan sebelum terjadinya
bencana dan apa yang harus dilakukan pada saat dan setelah terjadinya bencana
(Hidayati, dkk, 2006).
Masyarakat sekolah merupakan salah satu stakeholders yang penting dalam
meningkatkan kesiapsiagaan masyarakat dalam bencana. Dengan peningkatan
kesiapsiagaan sekolah, maka akan meingkatkan kesiapsiagaan masyarakat secara
umum. Kesiapsiagaan tersebut perlu dimiliki oleh warga sekolah dan lingkungan.
Kesiapsiagaan merupakan salah satu bagian dari upaya peningkatan kapasitas.
Peningkatan kapasitas tersebut dapat melalui pendidikan yang berlangsung di
sekolah yaitu melalui pendidikan pengurangan risiko bencana (PRB).
Adapun tujuan dari pendidikan pengurangan risiko bencana (PRB) adalah
mengurangi risiko bencana dengan cara mengurangi kerentanan dan meningkatkan
kapasitas individu/rumah tangga/komunitas dalam menghadapi dampak bencana,
termasuk dampak bencana yang tidak dapat dihindarkan, sehingga berkelanjutan
dan kemandirian dapat terwujud. Pendidikan ini dapat diselenggarakan dengan
terintegrasi pada kurikulum yang telah dilaksanakan oleh sekolah dan yang
disesuaikan dengan parameter kesiapsiagaan.
Model pendidikan terkait kebencanaan yang meluas adalah pendidikan
kesiapsiagaan. UN/ISDR (International Strategy for Disaster Reduction) menyatakan
pendidikan kesiapsiaagaan adalah aktivitas-aktivitas dan langkah-langkah yang
diambil sebelumnya untuk memastikan respon yang efektif terhadap dampak
bahaya, termasuk dengan mengeluarkan peringatan dini yang tepat waktu dan
efektif dan dengan memindahkan penduduk dan harta benda untuk sementara
dari lokasi yang terancam.
Dalam kaitan dengan kondisi geografs Indonesia yang rawan bencana alam, peserta
didik perlu dibekali dengan pengetahuan tentang kesiapsiagaan menghadapi
bencana secara rutin agar mereka mampu beradaptasi dengan kondisi tersebut
dan mengetahui secara tepat apa yang harus dilakukan saat bencana datang,
mengetahui bagaimana menyelamatkan diri secara tepat sehingga sewaktu
bencana datang mereka dapat menghadapi bencana secara tenang. Peserta didik
juga perlu diajarkan tentang kondisi geografs dan sosial wilayah Indonesia dan
diajarkan secara rinci mengenai panduan-panduan praktis dan tepat yang mesti
mereka lakukan saat bencana terjadi.
Modul Ajar Pengintegrasian Pengurangan Risiko Gempa Bumi untuk SD/MI
17
Pembelajaran tidak mesti harus dalam mata pelajaran tersendiri tetapi dapat
diintegrasikan dalam mata pelajaran yang sesuai.
3.1. Pengurangan Risiko Bencana
Pengelolaaan yang tidak baik dalam sumber daya alam dan sumber daya manusia
akan mengakibatkan terjadi bencana. Selain itu, kondisi alam dan keanekaragaman
penduduk dan budaya di Indonesia dapat juga menyebabkan terjadinya bencana
alam, bencana akibat ulah manusia, dan kedaruratan kompleks. Pada umumnya
risiko bencana alam meliputi bencana akibat faktor geologi (gempa bumi, tsunami
dan letusan gunung api), bencana akibat hidrometeorologi (banjir, tanah longsor,
kekeringan, angin topan), bencana akibat faktor biologi (wabah penyakit manusia,
penyakit tanaman/ternak, hama tanaman) serta kegagalan teknologi (kecelakaan
industri, kecelakaan transportasi, radiasi nuklir, pencemaran bahan kimia). Bencana
akibat ulah manusia terkait dengan konfik antar manusia akibat perebutan
sumberdaya yang terbatas, alasan ideologi, religius serta politik. Sedangkan
kedaruratan kompleks merupakan kombinasi dari situasi bencana pada suatu
daerah.
Bencana alam dapat terjadi secara tiba-tiba maupun melalui proses yang
berlangsung secara perlahan. Beberapa jenis bencana seperti gempa bumi, hampir
tidak mungkin diperkirakan secara akurat kapan, dimana akan terjadi dan besaran
kekuatannya. Sedangkan beberapa bencana lainnya seperti banjir, tanah longsor,
kekeringan, letusan gunung api, dan tsunami masih dapat diramalkan sebelumnya.
Meskipun demikian kejadian bencana selalu memberikan dampak kejutan dan
menimbulkan banyak kerugian baik jiwa maupun materi. Kejutan tersebut terjadi
karena kurangnya kewaspadaan dan kesiapan dalam menghadapi ancaman
bahaya.
Secara umum terdapat peristiwa bencana yang terjadi berulang setiap tahun.
Bahkan sekarang ini peristiwa bencana menjadi lebih sering dan terjadi silih
berganti, misalnya dari kekeringan, kemudian kebakaran, lalu diikuti banjir.
Akibatnya muncul anggapan bahwa bencana tersebut sebagai sesuatu hal yang
memang harus terjadi. Padahal semua itu merupakan fenomena alamiah yang
melekat pada bumi dan timbulnya korban dan kerugian disebabkan oleh beberapa
faktor ketidaksiapan. Beberapa faktor tersebut adalah :
1. Kurangnya pemahaman terhadap karakteristik bahaya.
2. Sikap atau perilaku yang mengakibatkan penurunan kualitas sumberdaya alam.
BAB
BAB III
PENGURANGAN RISIKO
GEMPA BUMI
Modul Ajar Pengintegrasian Pengurangan Risiko Gempa Bumi untuk SD/MI
19
3. Kurangnya informasi/peringatan dini yang menyebabkan ketidaksiapan.
4. Ketidakberdayaan/ketidakmampuan dalam menghadapi ancaman bahaya.
3.1.1. Bencana
Bencana merupakan fenomena yang terjadi karena komponen-komponen,
ancaman, dan kerentanan bekerja bersama secara sistematis, sehingga
menyebabkan terjadinya risiko pada komunitas. Ancaman merupakan
kejadian-kejadian, gejala alam atau kegiatan manusia yang berpotensi untuk
menimbulkan kematian, luka-luka, kerusakan harta benda, gangguan sosial
ekonomi atau kerusakan lingkungan. Kerentanan adalah kondisi-kondisi yang
ditentukan oleh faktor-faktor atau proses-proses fsik, sosial ekonomi dan
lingkungan hidup yang meningkatkan kerawanan suatu komunitas terhadap
dampak ancaman bencana. Risiko merupakan suatu peluang dari timbulnya
akibat buruk, atau kemungkinan kerugian dalam hal kematian, luka-luka,
kehilangan dan kerusakan harta benda, gangguan kegiatan matapencaharian
dan ekonomi atau kerusakan lingkungan yang ditimbulkan oleh interaksi
antara ancaman bencana dan kondisi kerentanan.
Dalam Undang-undang Nomor 24 Tahun 2007 tentang Penanggulangan
Bencana menyebutkan bahwa bencana merupakan suatu peristiwa atau
rangkaian peristiwa yang mengancam dan mengganggu kehidupan dan
penghidupan masyarakat yang disebabkan baik oleh faktor alam dan/atau
faktor non alam maupun faktor manusia sehingga mengakibatkan timbulnya
korban jiwa, kerusakan lingkungan, kerugian harta benda, dan dampak
psikologis.
Menurut ISDR bencana adalah suatu gangguan serius terhadap keberfungsian
suatu masyarakat sehingga menyebabkan kerugian yang meluas pada
kehidupan manusia dari segi materi, ekonomi atau lingkungan dan yang
melampaui kemampuan masyarakat yang bersangkutan untuk mengatasi
dengan menggunakan sumberdaya mereka sendiri.
Terjadinya Bencana
Bahaya
Kerentanan
Kejadian
RISIKO
BENCANA
BENCANA
Gambar 3.1 Model hubungan antara risiko bencana,
kerentanan dan bahaya
Pengurangan Risiko Gempa Bumi
20
Adapun komponen yang berpengaruh terhadap besar kecilnya dampak suatu
bencana antara lain sebagai berikut: bahaya, kerentanan, risiko bencana, dan
kapasitas.
Berdasarkan sumber bencananya, terdapat tiga jenis bencana: (1) bencana
alam, yaitu bencana yang murni yang disebabkan oleh peristiwa alam,
contohnya gempa bumi, gunung meletus, angin puting beliung. (2) bencana
akibat ulah manusia, yaitu bencana yang disebabkan oleh kekhilafan manusia
seperti kebakaran dan kornsleting listrik. (3) bencana kompleks, yaitu bencana
yang diakibatkan oleh gabungan antara perilaku alam dan ulah manusia
sebagai contoh banjir akibat hujan diluar normal dan penggundulan hutan.
Bahaya
Dilihat dari potensi bencana yang ada, Indonesia merupakan negara dengan
potensi bencana yang sangat tinggi. Beberapa potensi bencana yang ada
antara lain adalah bencana alam seperti gempa bumi, gunung meletus, banjir,
tanah longsor, dan lain-lain. Potensi bencana yang ada di Indonesia dapat
dikelompokkan menjadi 2 kelompok utama, yaitu potensi bahaya utama
dan potensi bahaya ikutan. Potensi bahaya utama ini dapat dilihat antara lain
pada peta potensi bencana gempa di Indonesia yang menunjukkan bahwa
Indonesia adalah wilayah dengan zona-zona gempa yang rawan, peta potensi
bencana tanah longsor, peta potensi bencana letusan gunung api, peta potensi
bencana tsunami, peta potensi bencana banjir, dan lain-lain.
Gambar 3.2. Gempa bumi di Yogya, 27 Mei 2006
Dari indikator-indikator di atas dapat disimpulkan bahwa Indonesia
memiliki potensi bahaya utama yang tinggi. Hal ini tentunya sangat tidak
menguntungkan bagi negara Indonesia.
Disamping tingginya potensi bahaya utama, Indonesia juga memiliki potensi
bahaya ikutan yang sangat tinggi. Hal ini dapat dilihat dari beberapa indikator
misalnya likuifaksi, persentase bangunan yang terbuat dari kayu, kepadatan
bangunan, dan kepadatan industri berbahaya. Potensi bahaya ikutan ini sangat
tinggi terutama di daerah perkotaan yang memiliki kepadatan, persentase
bangunan kayu (utamanya di daerah pemukiman kumuh perkotaan), dan
jumlah industri berbahaya, yang tinggi. Dengan indikator diatas, perkotaan
Indonesia merupakan wilayah dengan potensi bencana yang sangat tinggi.
Modul Ajar Pengintegrasian Pengurangan Risiko Gempa Bumi untuk SMP/MTs
21
3.1.2. Risiko Bencana, Konstruksi dari Ancaman, Kerentanan dan Kapasitas
Kejadian bencana di Indonesia terus meningkat sepanjang tahun. Ini mem-
buktikan bahwa Indonesia merupakan negara yang rapuh dalam menghadapi
ancaman bencana.
Banjir, 38 %
Gempa,
31 %
Kebakaran,
17 %
Epidemik,
4 %
Mass
movwet,
2 %
Letusan
Gunung Api,
3 %
Kekeringan,
6 %
Gambar 3.3. Persentase Orang Terkena Bencana
Berdasarkan Jenis Bencana
Gambar di atas menunjukkan persentase orang terkena bencana berdasarkan
jenis bencana di Indonesia antara kurun waktu 1980 – 2008.
Perbedaan kemampuan dalam mengenali karakteristik bahaya membuat
besaran risiko yang mengena pada situasi bencana juga akan berbeda. Semakin
mampu untuk mengenali dan memahami fenomena bahaya itu dengan baik,
maka manusia akan semakin dapat mensikapinya dengan lebih baik. Sikap dan
tanggap yang didasarkan atas pengenalan dan pemahaman yang baik akan
dapat memperkecil risiko bencana. Kehancuran dahsyat yang terjadi akibat
gempa dan tsunami di Aceh dan Sumatra Utara, serta DI Yogyakarta dan Jawa
Tengah, juga memunculkan kebingungan bagaimana harus mensikapinya;
hiruk pikuk di Alor dan Palu saat terjadi gempa menunjukkan betapa bangsa
Indonesia belum mampu dengan baik menghadapi ancaman bahaya yang
melingkupi.
Ancaman Bencana
Ancaman bencana seperti yang tertuang dalam UU No. 24 Tahun 2007 tentang
Penanggulangan Bencana adalah suatu kejadian atau peristiwa yang bisa
menimbulkan bencana. Sedangkan menurut Dr. Krishna S. Pribadi ancaman
bencana merupakan:
Suatu peristiwa besar yang jarang terjadi, dalam lingkungan alam atau
lingkungan binaan, yang mempengaruhi kehidupan, harta atau kegiatan
manusia, sedemikian rupa sehingga dapat menimbulkan bencana.
Pengurangan Risiko Gempa Bumi
22
Suatu fenomena alam atau buatan manusia yang dapat menimbulkan
kerugian fsik dan ekonomi atau mengancam jiwa manusia dan
kesejahteraannya, bila terjadi di suatu lingkungan permukiman, kegiatan
budi daya atau industri.
Ancaman bencana dapat bersifat membahayakan bagi suatu lingkungan
akibat kondisi lingkungan yang rentan.
Kerentanan
Kerentanan adalah seberapa besar suatu masyarakat, bangunan, pelayanan
atau suatu daerah akan mendapat kerusakan atau terganggu oleh dampak
suatu bahaya tertentu, bergantung kepada kondisinya, jenis konstruksi dan
kedekatannya kepada suatu daerah yang berbahaya atau rawan bencana.
Faktor-faktor yang dapat menyebabkan kerentanan tersebut adalah :
Institusi lokal yang lemah dalam membuat kebijakan dan peraturan serta
penegakan kebijakan tersebut, terutama terkait dengan penanggulangan
bencana dan upaya pengurangan risiko bencana, termasuk di dalamnya
adalah lemahnya aparat penegak hukum;
Kurangnya penyebaran informasi mengenai kebencanaan, baik melalui
penyuluhan, pelatihan serta keahlian khusus yang diperlukan dalam
upaya-upaya pengurangan risiko bencana;
Penduduk terkait dengan pertumbuhan penduduk yang sangat cepat.
Kenyataan menunjukkan kerentaan cukup tinggi dari masyarakat, infrastruktur
serta elemen-elemen di dalam kota/kawasan yang berisiko bencana. Karena
kurangnya pemahaman adanya bahaya sekitarnya, maka masyarkat dikatakan
rentan terhadap bencana. Bangunan dibantaran sungai, bangunan tepat di
lereng tempat mengairnya lahar gunung berapi, bangunan di tepi pantai,
bangunan yang permanen dan tidak tahan gempa dan lain-lain merupakan
contoh kerentaan suatu lingkungan.
Kapasitas.
Kapasitas adalah kemampuan dari masyarakat dalam menghadapi bencana.
Misalnya pengetahuan rendah, maka kapasitasnya rendah, contohnya:
Tidak tahu kalau di dekat rumahnya terdapat ancaman tanah longsor,
Tidak tahu kalau membangun rumah di bantaran kali dapat menyebabkan
banjir,
Tidak tahu kalau mengikis tebing untuk diambil tanahnya dapat
menyebabkan longsor,
Tidak tahu kalau menebang pohon tanpa mengganti dengan pohon baru
dapat menyebabkan banjir dan tanah longsor,
Tidak memiliki keterampilan bagaimana membuat rumah tahan gempa,
Tidak memiliki keterampilan bagaimana mengevakuasi ketika terjadi
gempa,
Tidak memiliki keterampilan bagaimana menyelamatkan diri dan orang
lain ketika terjadi bencana, dan lain-lain.
Modul Ajar Pengintegrasian Pengurangan Risiko Gempa Bumi untuk SMP/MTs
23
3.1.3. Pengurangan Risiko Bencana
Pengurangan risiko bencana adalah konsep dan praktik mengurangi risiko
bencana melalui upaya sistematis untuk menganalisa dan mengelola faktor-
faktor penyebab dari bencana termasuk dengan dikuranginya paparan
terhadap ancaman, penurunan kerentanan manusia dan properti, pengelolaan
lahan dan lingkungan yang bijaksana, serta meningkatkan kesiapsiagaanan
terhadap kejadian yang merugikan.
3.1.4. Upaya Pengurangan Risiko Bencana
1. Mitigasi Bencana.
Tujuan dari mitigasi bencana gempa bumi adalah untuk mengembangkan
strategi mitigasi yang dapat mengurangi hilangnya kehidupan dari alam
sekitarnya serta harta benda, penderitaan manusia, kerusakan ekonomi dan
biaya yang diperlukan untuk menangani korban bencana yang dihasilkan
oleh bencana gempa bumi. Rencana mitigasi bencana gempa bumi dapat
meningkatkan cara pandang yang luas dan terintegrasi terhadap sistem
pengurangan risko bencana yang meliputi elemen-elemen berikut :
 Identifkasi bencana dan kerentanannya serta evaluasi risiko bencana
tersebut.
 Strategi pengurangan bencana yang bersumber dari wilayah dan
dimiliki oleh pemegang kebijakan.
 Seperangkat peraturan, perundang-undangan dan regulasi yang
menyediakan kerangka kerja yang komprehensif untuk interaksi antara
berbagai organisasi dan institusi yang berbeda.
 Mekanisme koordinasi institusi yang kuat.
 Sistem yang solid untuk mengendalikan pemenuhan dan penguatan
code dan standar untuk konstruksi bangunan yang aman.
 Perencanaan dan tataguna lahan dan pemukiman yang menggabungkan
kepedulian akan bencana dan pengurangan risiko.
 Penggunaan peralatan komunikasi untuk pengurangan risiko akibat
bencana yang bertujuan untuk meningkatkan kesadaran masyarakat
akan bencana, pendidikan, pelatihan dan penilaian.
 Manajemen kesiapsiagaan dan kedaruratan berdasarkan pemahaman
risiko.
 Kerjasama dan koordinasi antar instansi, antar kota, antar organisasi.
Dalam upaya mengurangi risiko bencana maka diperlukan kesiapsiagaan
yang lebih baik. Oleh karena itu siswa juga harus harus memahami
pengertian dari gempa, sebab-sebab terjadinya, dampaknya, serta hal-
hal apa saja yang harus diperhatikan sebelum, saat dan setelah terjadinya
gempa tersebut.
Pengurangan Risiko Gempa Bumi
24
2. Dampak Gempa
Gempa bisa terjadi kapan saja sepanjang tahun, siang atau malam, dengan
dampak buruk yang terjadi secara mendadak dan hanya memberikan
sedikit isyarat bahaya. Gempa dapat menghancurkan bangunan hanya
dalam waktu beberapa detik saja, menewaskan atau melukai orang-orang
yang berada di dalamnya. Gempa bumi bukan hanya mampu meluluh-
lantakkan kota-kota sampai hampir tak tersisa lagi, namun juga bisa
menggoyahkan kestabilan pemerintahan, perekonomian, dan struktur
sosial suatu negara.
Faktor kunci yang turut mengakibatkan kerapuhan Indonesia dalam
menghadapi gempa bumi: (1) Lokasi pemukiman ada di sekitar daerah
seismik, terutama di atas tanah yang rapuh, sepanjang lereng yang sangat
riskan kelongsoran, atau pada jalur- jalur patahan/sesar; (2) Struktur-struktur
bangunan, misalnya rumah, jembatan, bendungan, dan sebagainya, tidak
tahan terhadap gerakan atau bahkan getaran tanah. Bangunan-bangunan
bata yang tanpa rangka dan pondasi yang kuat, dengan atap yang berat,
lebih rawan kerusakan akibat gempa jika dibandingkan dengan bangunan-
bangunan dari kayu yang ringan; (3) Kelompok-kelompok bangunan padat/
berdesakan, dan banyak sekali penghuninya; (4) Kurang akses terhadap
informasi tentang risiko-risiko gempa bumi; dan (5) Gempa bumi punya
“aturan ketat” yang selalu dipatuhinya sendiri: tiap 1 korban tewas; ada 3
yang selamat tapi mengalami luka-luka.
Berdasarkan analisa ancaman gempa tersebut maka kemungkinan dampak
bahaya gempa bumi yang akan melanda diantaranya adalah:
Ground motion, yakni goncangan yang menyebabkan struktur
bangunan rusak.
Gambar 3.4. Bangunan yang rusak akibat goncangan
gempa (Ground Motion)
Modul Ajar Pengintegrasian Pengurangan Risiko Gempa Bumi untuk SMP/MTs
25
 Liquefaction, yakni perubahan stabilitas tanah menjadi massa yang
lebih encer.
Gambar 3.5. Bangunan yang mengalami
liquefaction akibat gempa bumi
 Landslides, yakni gempa memicu terjadinya gerakan tanah (longsor).
Gambar 3.6 Longsor akibat gempa
 Kebakaran yang terjadi akibat rusaknya sistem listrik dan gas.
 Tsunami yakni gelombang impulsif yang ditimbulkan oleh adanya
perubahan formasi batuan sesaat akibat gempa pada dasar lautan.
3. Strategi Mitigasi dan Upaya Pengurangan Bencana Gempa Bumi
 Harus dibangun dengan konstruksi tahan getaran/gempa khususnya di
daerah rawan gempa, Perkuatan bangunan dengan mengikuti standar
kualitas bangunan.
Gambar 3.7. Struktur Bangunan Tahan Gempa
Pengurangan Risiko Gempa Bumi
26
Pembangunan fasilitas umum yang sesuai dengan kaidah-kaidah
konstruksi bangunan tahan gempa yang telah ditetapkan.
Perkuatan bangunan-bangunan vital yang telah ada.
Rencanakan penempatan pemukiman untuk mengurangi tingkat
kepadatan hunian di daerah rawan gempa bumi.
Zonasi daerah rawan gempa bumi dan pengaturan pemanfaatan
lahan.
Pendidikan dan penyuluhan kepada masyarakat tentang bahaya gempa
bumi dan cara - cara penyelamatan diri jika terjadi gempa bumi.
Ikut serta dalam pelatihan program upaya penyelamatan, kewaspadaan
masyarakat terhadap gempa bumi, pelatihan pemadam kebakaran dan
pertolongan pertama.
Persiapan alat pemadam kebakaran, peralatan penggalian, dan
peralatan perlindungan masyarakat lainnya.
Rencana kontinjensi/kedaruratan untuk melatih anggota keluarga
dalam menghadapi gempa bumi.
 Pembentukan kelompok aksi penyelamatan bencana dengan pelatihan
pemadaman kebakaran dan pertolongan pertama.
 Persiapan alat pemadam kebakaran, peralatan penggalian, dan
peralatan perlindungan masyarakat lainnya.
 Rencana kontinjensi/kedaruratan untuk melatih anggota keluarga
dalam menghadapi gempa bumi.
4. Penanggulangan Bencana
Dalam Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 24 Tahun 2007 Tentang
Penanggulangan Bencana, pasal 33-38, dinyatakan, bahwa:
Penyelenggaraan penanggulangan bencana terdiri atas 3 (tiga) tahap
meliputi:
prabencana;
saat tanggap darurat; dan
pasca bencana.
Penyelenggaraan penanggulangan bencana pada tahapan prabencana
meliputi:
dalam situasi tidak terjadi bencana; dan
dalam situasi terdapat potensi terjadinya bencana.
Penyelenggaraan penanggulangan bencana dalam situasi tidak terjadi
bencana sebagaimana dimaksud meliputi:
perencanaan penanggulangan bencana;
pengurangan risiko bencana;
Modul Ajar Pengintegrasian Pengurangan Risiko Gempa Bumi untuk SMP/MTs
27
 pencegahan;
 pemaduan dalam perencanaan pembangunan;
 persyaratan analisis risiko bencana;
 pelaksanaan dan penegakan rencana tata ruang;
 pendidikan dan pelatihan; dan
 persyaratan standar teknis penanggulangan bencana.
Perencanaan penanggulangan bencana meliputi:
 pengenalan dan pengkajian ancaman bencana;
 pemahaman tentang kerentanan masyarakat;
 analisis kemungkinan dampak bencana;
 pilihan tindakan pengurangan risiko bencana;
 penentuan mekanisme kesiapan dan penanggulangan dampak
bencana; dan
 alokasi tugas, kewenangan, dan sumber daya yang tersedia.
Pengurangan risiko bencana , dilakukan untuk mengurangi dampak buruk
yang mungkin timbul, terutama dilakukan dalam situasi sedang tidak
terjadi bencana. Kegiatan meliputi:
 pengenalan dan pemantauan risiko bencana;
 perencanaan partisipatif penanggulangan bencana;
 pengembangan budaya sadar bencana;
 peningkatan komitmen terhadap pelaku penanggulangan bencana;
dan
 penerapan upaya fsik, nonfsik, dan pengaturan penanggulangan
bencana.
Pencegahan meliputi:
 identifkasi dan pengenalan secara pasti terhadap sumber bahaya atau
ancaman bencana;
 kontrol terhadap penguasaan dan pengelolaan sumber daya alam
yang secara tiba-tiba dan/atau berangsur berpotensi menjadi sumber
bahaya bencana;
 pemantauan penggunaan teknologi yang secara tiba-tiba dan/atau
berangsur berpotensi menjadi sumber ancaman atau bahaya bencana;
 penataan ruang dan pengelolaan lingkungan hidup; dan
 penguatan ketahanan sosial masyarakat.
Pengurangan Risiko Gempa Bumi
28
Berdasarkan informasi dari Undang-undang tersebut, banyak hal yang
dapat diidentifkasi, dijadikan bahan pengayaan bagi guru, yang tidak
diajarkan ke siswa. Selain kompetensi yang harus dikuasai siswa tentu harus
dikuasai guru, sebaiknya kepala sekolah dan guru menambah kompetensi
lainnya seperti:
menyusun program untuk meningkatkan keamanan sekolah terhadap
Bencana.
menyusun rencana aksi sekolah;
perencanaan penanggulangan bencana;
pengurangan risiko bencana;
pencegahan;
pemaduan dalam perencanaan pembangunan;
persyaratan analisis risiko bencana;
pelaksanaan dan penegakan rencana tata ruang;
Perencanaan penanggulangan bencana meliputi:
- pengenalan dan pengkajian ancaman bencana;
- pemahaman tentang kerentanan masyarakat;
- analisis kemungkinan dampak bencana;
- pilihan tindakan pengurangan risiko bencana;
- penentuan mekanisme kesiapan dan penanggulangan dampak
bencana; dan
- alokasi tugas, kewenangan, dan sumber daya yang tersedia.
Pengurangan risiko bencana , dilakukan untuk mengurangi dampak
buruk yang mungkin timbul, terutama dilakukan dalam situasi sedang
tidak terjadi bencana. Kegiatan meliputi:
- pengenalan dan pemantauan risiko bencana;
- perencanaan partisipatif penanggulangan bencana;
- pengembangan budaya sadar bencana;
- peningkatan komitmen terhadap pelaku penanggulangan bencana;
dan
- penerapan upaya fsik, nonfsik, dan pengaturan penanggulangan
bencana.
3.2. Kesiapsiagaan Gempa Bumi
3.2.1. Tindakan Sebelum Terjadi Gempa Bumi
1. Hal yang harus dilakukan sebelum terjadi gempa
Adapun yang harus kita lakukan sebelum terjadi gempa adalah:
Perabot sekolah atau rumah tangga (seperti lemari, dan lain-lain) diatur
menempel pada dinding (dipaku/diikat) untuk menghindari jatuh,
roboh, & bergeser pada saat terjadi gempa.
Modul Ajar Pengintegrasian Pengurangan Risiko Gempa Bumi untuk SMP/MTs
29
Gambar 3.8. Penyusunan Perabot
 Atur benda yang berat sedapat mungkin berada pada bagian bawah.
 Cek kestabilan benda yang tergantung yang dapat jatuh pada saat
gempabumi terjadi (misalnya: lampu, dan lain-lain)
 Matikan aliran air, gas dan listrik apabila sedang tidak digunakan
 Simpan bahan yang mudah terbakar pada tempat yang aman dan tidak
mudah pecah, untuk menghindari kebakaran
 Perhatikan letak pintu, lift serta tangga darurat, apabila terjadi
gempabumi, dapat mengetahui jalan keluar bangunan atau tempat
paling aman untuk berlindung.
2. Merencanakan Siaga Gempa Bumi
 Sederhana : Rencana darurat yang baik hanya berisi beberapa rincian
saja.
 Tentukan Jalan Melarikan Diri : Pastikan anda tahu jalan yang paling
aman untuk meninggalkan rumah setelah gempa.
 Tentukan tempat bertemu : Jika teman atau anggota keluarga terpencar,
tentukan dua tempat bertemu. Pertama semestinya lokasi yang aman
dekat rumah dan tempat kedua dapat berupa bangunan atau taman di
luar desa.
 Adakan latihan cara melindungi diri dari gempa bumi, seperti berlindung
di bawah meja, berlari sambil melindungi diri, dan lainnya.
Gambar 3.9. Beberapa bentuk simulasi penyelamatan diri disaat gempa
Pengurangan Risiko Gempa Bumi
30
3. Kekuatan Gempa.
Kekuatan gempa dinyatakan dalam Skala Richter (SR). Skala Richter
merupakan indeks angka dalam angka Latin yang menerangkan tingkat
kekuatan gempa. Skala Richter dimulai dari 1 hingga 9.
Tabel 3.1. Skala Richter (SR)
1 – 3

3 – 4

5
6
7
8
9
Tercatat oleh seismograf setempat, tetapi umumnya tidak
terasa.
Kadang-kadang terasa namun tidak ada kekuatan.
Terasa cukup luas dan terjadi kerusakan ringan
di dekat pusat gempa (episentrum).
Kerusakan bangunan (bangunan dengan struktur konstruksi
buruk) pada jarak kurang dari 10 km dari episentrum.
Skala gempa cukup besar yang menyebabkan kerusakan
cukup serius samapai jarak 100 km.
Skala gempa besar yang menyebabkan kerusakan cukup
serius hingga jarak 100 km.
Skala gempa sangat besar yang menyebabkan
kerusakan parah hingga 1000 km.
KETERANGAN
KEKUATAN
(MAGNITUDE)
Sedangkan untuk mengukur intensitas gempa di suatu tempat adalah
dengan melihat dampak yang terjadi di daerah tersebut, seperti kerusakan
pada bangunan, topograf, reaksi manusia, dan hal lainnya yang teramati.
Intensitas tersebut diukur dengan skala intensitas dengan Skala MMI
(Modifed Mercally Intensity).
Modul Ajar Pengintegrasian Pengurangan Risiko Gempa Bumi untuk SMP/MTs
31
Tabel 3.2. Skala MMI Kekuatan Gempa Bumi
Umumnya getaran tidak terasa.
Getaran dirasakan oleh beberapa orang terutama yang
berada di dalam bangunan yang tinggi. Benda-benda
ringan yang bergantung bergoyang-goyang.
Getaran dirasakan nyata di dalam rumah.
Getaran terasa seakan ada truk yang sedang lewat.
Pada siang hari dirasakan oleh orang banyak di dalam r
umah. Barang berat yang digantung bergoyang, gelas-gelas
gemirincing, daun pintu berderik dan dinding atau rangka
rumah berbunyi.
Getaran dirasakan hampir oleh semua penduduk, orang
tidur terbangun, barang pajangan jatuh dan pecah,
barang-barang terpelanting, daun pintu bergerak terbuka
tertutup, pigura dinding bergerak.
Getaran dirasakan oleh semua penduduk, banyak yang
terkejut dan lari ke luar rumah, plester dinding jatuh dan
cerebong asap pabrik rusak, buku-buku berjatuhan.
Kerusakan ringan pada rumah dengan konstruksi baik,
sedangkan pada ruangan konstruksi kurang baik dinding
retak, cerobong asap pabrik pecah. Terasa oleh orang yang
naik kendaraan dan orang yang sedang berjalan kaki jatuh.
Retak-retak pada bangunan yang kuat, dinding dapat lepas
dari rangka rumah cerobong asap dan menara roboh. Air
menjadi keruh. Tanah mengalami retak, bergeser atau
terjadi pelongsoran di daerah curam.
Bangunan yang tidak kuat hancur, banyak bangunan kuat
retak, rangka bangunan menjadi tidak lurus, pipa-pipa
dalam rumah putus. Rumah seperti berpindah dari pondasi
bangunan.
Bangunan dari kayu yang kuat rusak, rangka rumah lepas
dari pondasinya. Tanah terbelah, tanah longsor di tiap-tiap
pinggir sungai dan di lereng yang curam. Jembatan dapat
rusak. Terjadi likuifaksi.
Bangunan-bangunan hanya sedikit yang tetap berdiri.
Pipa dalam tanah tidak dapat dipakai kembali,
tanah terbelah. Rel kereta api melengkung.
Hancur sama sekali. Permukaan tanah nampak
bergelombang. Benda-benda terlempar ke udara.
I
II
III
IV
V
VI
VII
VIII
IX
X
XI
XII
KETERANGAN INTENSITAS
Tabel 2. Skala MMI Kekuatan Gempa Bumi
Pengurangan Risiko Gempa Bumi
32
Tabel 3.3. Hubungan Antara Skala Richter dengan MMI
3,0 – 3,9

4,0 – 4,9

5,0 – 5,9
6,0 – 6,9
7,0 – 7,9
8,0 – 8,9
MAGNITUDE(SR)
II – III
IV – V
VI – VII
VII – VIII
IX – X
XI – XII
Intensitas (MMI)
1.800
7.200
39.000
125.000
500.000
1.600.000
Luas (km2)
24
48
112
200
400
720
Jarak
(km)
Tabel 3. Hubungan Antara Skala Richter dengan MMI
4. Cara Mengukur Gempa
Mengukur kekuatan gempa dapat menggunakan pendekatan kuantitatif
dan kualitatif. Maka berdasarkan pendekatannya, skala pengukuran
gempa dapat dibagi menjadi dua, yaitu 1) magnitudo (magnitude) yang
merupakan skala kuantitatif, dan 2) intensitas (intensity) yang merupakan
skala kualitatif.
Ada bermacam-macam jenis magnitudo gempa, diantaranya adalah:
Magnitudo lokal ML (local magnitude)
Magnitudo gelombang badan MB (body-wave magnitude)
Magnitudo gelombang permukaan MS (surface-wave magnitude)
Magnitudo momen MW (moment magnitude)
Magnitudo gabungan M (unifed magnitude)
Namun yang paling populer adalah magnitudo lokal ML yang tak lain
adalah Magnitudo Skala Richter (SR). Magnitudo ini dikembangkan
pertama kali pada tahun 1935 oleh seorang seismologis Amerika, Charles F.
Richter, untuk mengukur kekuatan gempa di California. Richter mengukur
magnitudo gempa berdasarkan nilai amplitudo maksimum gerakan tanah
(gelombang) pada jarak 100 km dari episenter gempa. Besarnya gelombang
ini tercatat pada seismograf. Seismograf dapat mendeteksi gerakan tanah
mulai dari 0,00001 mm (1x10-5 mm) hingga 1 m. Untuk menyederhanakan
rentang angka yang terlalu besar dalam skala ini, Richter menggunakan
bilangan logaritma berbasis 10. Ini berarti setiap kenaikan 1 angka pada
skala Richter menunjukkan amplitudo 10 kali lebih besar.
Modul Ajar Pengintegrasian Pengurangan Risiko Gempa Bumi untuk SMP/MTs
33
Letak episentrum gempa bumi dapat ditentukan dengan tiga cara yaitu:
(1) metode homeoseista, yaitu dengan menggunakan tiga tempat yang
terletak pada suatu homeoseista. Homeoseista adalah gari pada peta yang
menghubungkan tempat-tempat yang mengalami/mencatat gelombang
primer pada waktu yang sama; (2) metode episentral, yaitu dengan
menggunakan rumus laksa; (3) jika diketahui tiga stasiun, dapat ditentukan
dimana letak pusat gempa itu.
Kekuatan gempa antara satu tepat dengan tempat lainnya berbeda-beda.
Kekuatan gempa itu dapat diklasifkasikan dengan menggunakan skala.
Ada beberapa skala yang biasa digunakan, antara lain:
 Skala mercalli, disusun berdasarkan derajat kerusakan akibat gempa,
dengan skala I-XII
 Skala omori, disusun berdasarkan derajat kerusakan akibat gempa,
dengan skala I-VII
 Skala derossiferol, disusun berdasarkan derajat kerusakan akibat gempa,
dengan skala I-X
 Skala cancani, disusun berdasarkan derajat kerusakan akibat gempa,
dengan skala I-XII
 Skala richter, disusun berdasarkan skala magnitudonya (ukuran
besarnya gempa), dengan skala 0-8.
Karena perambatan gelombang gempa merupakan gelombang seismik
maka alat untuk merekamnya disebut seismograf dan hasil rekaman disebut
seismogram. Dari rekaman tersebut maka dapat disimpulkan penyebab
terjadinya, lokasi asalnya, kekuatannya, jenisnya serta sifat-sifatnya. Bahkan
dari gelombang gempa tersebut dapat diketahui struktur bagian bumi.
Gelombang seismik sendiri adalah gelombang mekanis yang muncul akibat
adanya gempa bumi. Adapun pengertian gelombang secara umum adalah
femomena perambatan gangguan (usikan) dalam medium sekitarnya.
Gangguan ini mula-mula terjadi secara lokal yang menyebabkan terjadinya
osilasi (pergeseran) kedudukan partikel-partikel medium, osilasi tekanan
ataupun osilasi rapat.
Gempa bumi dapat dirasakan oleh tubuh manusia namun manusia tidak
dapat mengukur kekuatan gempa. Kekuatan gempa dapat diukur dengan
alat tertentu yang disebut dengan seismograf. Seismograf mencatat lama
dan intensitas gelombang gempa. Seismograf modern dapat menangkap
gelombang gempa dari berbagai arah (vertikal dan horizontal). Bentuk
visualsasi hasil perekaman seismograf terhadap gempa yang terjadi disebut
seismogram.
Pengurangan Risiko Gempa Bumi
34
Gambar 3.10. Seismograf Horizontal Gambar 3.11. Seismograf Vertikal
Gambar 3. 12. Seismogram
3.2.2. Tindakan Saat Terjadi Gempa Bumi
Saat terjadinya gempa, biasanya kita dalam kondisi panik dan terpana,
serta kaget dengan kejadian yang baru saja menimpa kita. Hal ini biasanya
menjadikan kita tidak bisa berbuat apa-apa. Namun untuk meminimalisir
adanya korban, maka kita melakukan tanggap darurat. Tanggap darurat
adalah upaya yang dilakukan segera pada saat kejadian bencana, untuk
menanggulangi dampak yang ditimbulkan, terutama berupa penyelamatan
korban dan harta benda, evakuasi, dan pengungsian.
Adapun tindakan penyelamatan diri saat terjadi gempa adalah :
Bila berada di ruangan, maka:
Lindungi kepala dan badan dari reruntuhan bangunan dengan tas, papan,
atau bantal atau bersembunyi di bawah meja, dll.
Jangan menggunakan lift atau tangga berjalan
Hindari benda-benda yang mudah jatuh, misalnya lemari, lampu gantung,
kaca ruangan, genting/atap rumah, dll.
Menunduk di bawah meja atau di sudut ruangan
Berdiri menempel pada dinding bagian dalam berdiri dibawah kusen
pintu
Berdiri menempel pada dinding bagian dalam
Berlari keluar apabila masih bisa dilakukan
Di luar bangunan
Hindari objek yang mudah roboh, seperti papan reklame, tiang listrik,
jembatan, gedung, sehingga lebih baik berkumpul di lapangan terbuka,
jongkok dan lindungi kepala di lapangan terbuka.
Modul Ajar Pengintegrasian Pengurangan Risiko Gempa Bumi untuk SMP/MTs
35
Perhatiakn tempat anda berpijak hindari jika terjdai rekahan tanah
Hindari daerah yang mungkin terjadi longsoran
Jika tampak tanda tsunami segera lari menuju ketempat yang lebih tinggi,
ikuti jalur evakuasi.
Di dalam kendaraan
Jauhi persimpangan, jembatan dan bangunan lainnya
Hentikan mobil, keluar, turun, dan menjauhi dari mobil, hindari jika terjadi
pergeseran atau kebakaran
Jika getaran gempa telah berhenti
Jangan masuk kedalam bangunan jika kondisinya terdapat kerusakan,
gempa susulan walaupun berkekuatan kecil dapat merobohkan bangunan
yang kondisisnya sudah parah.
Periksa lingkungan sekitar anda dari kebocoran pipa gas, kebakaran, terjadi
arus pendek listrik, dll.
Perkecil segala hal yang dapat membahayakan (mematikan listik, tidak
menyalakan api, dll)
Mendengarkan informasi mealui radio atau media komunikasi lainnya
untuk informasi gempa susulan, dll.
Adapun hal-hal yang sebaiknya dilakukan saat gempa bumi terjadi adalah:
Bila anda berada di dalam bangunan, dan bila ada kesempatan, segera
keluar menuju tempat terbuka, hati-hati terhadap pecahan kaca atau benda
yang jatuh. Jika tidak, jongkok atau tiarap di lantai. Gunakan bangku, meja,
atau perlengkapan rumah tangga yang kuat sebagai perlindungan
Menjauhlah dari jendela kaca, perapian, kompor, atau peralatan rumah
tangga yang mungkin akan jatuh
Jika malam hari dan anda di tempat tidur, cari tempat yang aman di bawah
tempat tidur atau meja yang kuat. Lampu senter sebaiknya selalu tersedia
di dekat tempat tidur.
Jika anda di luar, cari tempat terbuka, jauh dari bangunan, pohon tinggi,
dan jaringan listrik. Hindari rekahan akibat gempa yang dapat sangat
berbahaya.
Jika anda mengemudi, berhentilah jika aman, tapi tetap dalam mobil.
Menjauhlah dari jembatan, jembatan layang, atau terowongan.
Jika anda di pegunungan, dekat dengan lereng atau jurang yang rapuh,
waspadalah dengan batu atau tanah longsor yang runtuh akibat gempa.
Jika anda di pantai, segeralah berpindah ke daerah yang agak tinggi atau
beberapa ratus meter dari pantai. Gempa bumi dapat menyebabkan
tsunami.
Adapun hal-hal yang harus dilakukan saat anda dan keluarga terlepas dari
bahaya akibat gempa awal :
Periksa adanya luka. Setelah menolong diri sendiri, bantu menolong
mereka yang terluka atau terjebak.
Pengurangan Risiko Gempa Bumi
36
Periksa keamanan. Periksa hal-hal berikut setelah gempa: api atau bahaya
kebakaran, kebocoran gas, kerusakan saluran listrik dlsb.
Lindungi diri anda dari bahaya tidak langsung.
Bantu tetangga yang memerlukan bantuan. Orang tua dan orang cacat
mungkin perlu bantuan tambahan.
Pembersihan. Singkirkan barang-barang yang mungkin berbahaya,
termasuk obat-obatan yang tumpah.
Waspada dengan gempa susulan.
Tetaplah berada jauh dari bangunan. Biarkan jalan bebas rintangan untuk
mobil darurat
3.2.3. Tindakan Sesudah Terjadinya Gempa
Setelah terjadi bencana, harus dilakukan upaya-upaya untuk menormalkan
kembali kehidupan yang mengalami kerusakan. Adapun hal-hal yang harus
dilakukan setelah terjadinya bencana gempa bumi ini, antara lain adalah:
a. Rehabilitasi
Merupakan upaya langkah yang dilakukan setelah kejadian bencana untuk
membantu masyarakat memperbaiki rumahnya, fasilitas umum, fasilitas sosial
penting, dan menghidupkan kembali roda perekonomian. Rehabilitasi ini
dilakukan melalui pemulihan semua aspek pelayanan publik atau masyarakat
di wilayah bencana dengan sasaran utama normalisasi atau berjalannya secara
wajar semua aspek pemerintahan dan
kehidupan social ekonomi masyarakat
pada wilayah bencana. Misalnya,
pembersihan jalan yang terisolasi atau
tertutup lumpur banjir dan reruntuhan,
pembersihan kantor, sekolahan, dan
lain-lain.
Gambar 4.1 Rehabilitasi Korban Gempa Bumi
b. Rekonstruksi
Merupakan program jangka menengah
dan jangka panjang guna perbaikan fsik, sosial, dan ekonomi untuk
mengembalikan masyarakat pada kondisi yang sama atau lebih baik dari
sebelumnya.
Pembangunan kembali ini dilakukan pada semua aspek, baik sarana dan prasarana,
kelembagaan pada wilayah bencana, baik pada tingkat pemerintahan maupun
masyarakat dengan sasaran utama tumbuh dan berkembangnya kegiatan
perekonomian, sosial, udaya, tegaknya hukum dan ketertiban dan bangkitnya
peran serta masyarakat dalam segala aspek kehidupan bermasyarakat pada
wilayah bencana.
Kegiatan rekonstruksi yang efektif dan efsien memerlukan lima hal;
Modul Ajar Pengintegrasian Pengurangan Risiko Gempa Bumi untuk SMP/MTs
37
adanya pengakuan
pemerintah terhadap
kerugian proses
pembangunan nasional
yang diakibatkan oleh
bencana,
adanya penanggung jawab,
alokasi dana, dan koordinasi
instansi terkait dalam
melaksanakan berbagai
kegitan rekonstruksi yang
diperlukan,
pembangunan saran dan
prasarana yang lebih
aman sehingga ketahanan
terhadap bencana dimasa
depan lebih meningkat,
penerapan rancangan bangunan yang tepat dan pembangunan
infrastruktur yang lebih baik dan tahan terhadap bencana, serta
pembangunan sarana dan prasaran peredam bencana dimasa
mendatang.
c. Pemulihan
Pemulihan adalah proses pengembalian kondisi masyarakat yang terkena
bencana, dengan memfungsikan kembali sarana dan prasaran pada keadaan
semula dengan melakukan upaya memperbaiki prasaran dan pelayanan dasar
(jalan, listrik, air bersih, pasar, puskesmas, dan lain-lain).
d. Bantuan darurat
Bantuan darurat merupakan upaya untuk memerikan bantuan berkaitan
dengn pemenuhan kebutuhan dasar berupa pangan, sandang, tempat tinggal
sementara, perlindungan, kesehatan, sanitasi, dan air bersih.
e. Tindakan penyelamatan diri
Tindakan untuk penyelamatan diri setelah terjadi gempa bumi adalah:
1. Keluar dengan tertib dan hati-hati menuju lokasi yang aman.
2. Hindari benda-benda yang berbahaya (runtuhan, pecahan, saluran listrik,
gas, dan lain-lain.
3. Periksa jika ada yang terluka (P3K)
4. Periksa lingkungan sekitar, waspada terhadap bahaya kebakaran, dan
retakan tanah.
5. Dengarkan instruksi dari instansi terkait (via radio)
6. Waspadalah terhadap: Gempa susulan, Isu-isu yang menyesatkan, dan
Lingkungan sekitar yang berpotensi menimbulkan bahaya.
Gambar 4.2 Rekonstruksi
Pengurangan Risiko Gempa Bumi
38
f. Perlakuan khusus untuk anak-anak
Usahakan agar keluarga tetap berkumpul,
tenangkan anak-anak, biarkan anak-
anak bercerita tentang pengalaman dan
perasaan mereka selam gempa, serta
libatkan anak-anak dalam kegiatan pasca
gempa.
Goncangan gempa yang sangat dahsyat
dapat mengakibatkan gangguan kece-
masan pascatrauma (PTSD) yang merujuk
pada gangguan psikologis dan luka
emosional yang dialami oleh individu
yang mengalami suatu peristiwa tragis
dan luar biasa (Schiraldi, 2000). Gangguan
kecemasan pascatrauma bagi anak yang
mengalami bencana gempa bumi dapat
dikategorikan sebagai suatu gangguan
kecemasan dengan indikator dan ciri-ciri diagnostik tertentu yang berbeda
dengan kecemasan biasa.
Gangguan kecemasan pascatrauma pada anak-anak jika tidak dikelola dengan
baik akan menimbulkan gangguan:
1. Aspek fsik antara lain: suhu badan meninggi, menggigil, badan terasa
lesu, mual-mual, pening, ketidakmampuan menyelesaikan masalah, sesak
napas, panik. Aspek emosi, antara lain: hilangnya gairah hidup, ketakutan,
dikendalikan emosi, dan merasa rendah diri.
2. Aspek mental antara lain: kebingungan, tidak dapat berkonsentrasi, tidak
mampu mengingat dengan baik, tidak dapat menyelesaikan masalah.
3. Aspek perilaku antara lain: sulit tidur, kehilangan selera makan, makan
berlebihan, banyak merokok, minum alkohol, menghindar, sering menangis,
tidak mampu berbicara, tidak bergerak, gelisah, terlalu banyak gerak,
mudah marah, ingin bunuh diri, menggerakkan anggota tubuh secara
berulang-ulang, rasa malu berlebihan, mengurung diri, menyalahkan
orang lain.
4. Aspek spiritual antara lain: putus asa, hilang harapan, menyalahkan Tuhan,
berhenti ibadah, tidak berdaya, meragukan keyakinan, dan tidak tulus, dll.
Gambar 4.3 Perlakuan khusus
4.1. Identifkasi Materi Pembelajaran Pengurangan Risiko Gempa
Bumi
Muatan pendidikan PRB untuk siswa SMP/MTs disusun dengan mempertimbangkan
hal-hal sebagai berikut:
1. Kepentingan dan kemampuan peserta didik dan lingkungannya
Muatan pendidikan PRB dikembangkan berdasarkan prinsip bahwa peserta
didik memiliki peluang atau kesempatan untuk selamat dan membantu orang
lain agar selamat ketika gempa bumi terjadi. Untuk mendukung pencapaian
tujuan tersebut perlu peningkatan kompetensi/kapasitas peserta didik
disesuaikan dengan potensi, perkembangan, kebutuhan, dan kepentingan
peserta didik serta tuntutan lingkungan, termasuk kearifan lokal yang dimiliki
masyarakat dalam lingkungan tersebut. Kegiatan pembelajaran PRB berpusat
pada peserta didik.
2. Keragaman risiko bahaya dan karakteristik daerah dan lingkungan
Setiap daerah memiliki risiko, kebutuhan, tantangan, dan keragaman
karakteristik lingkungan. Masing-masing daerah memerlukan pendidikan PRB
sesuai dengan karakteristik daerah dan pengalaman hidup sehari-hari. Oleh
karena itu, kurikulum harus mengakomodir keragaman tersebut yang relevan
dengan kebutuhan pendidikan PRB.
3. Kondisi sosial budaya masyarakat setempat
Pengembangan muatan pendidikan PRB dilakukan dengan memperhatikan
karakteristik sosial budaya masyarakat setempat dan menunjang kelestarian
keragaman budaya. Penghayatan dan apresiasi pada budaya setempat
diperlukan, termasuk kearipan lokal yang ada.
4. Peningkatan kesadaran akan adanya risiko bencana akibat gempa bumi
Muatan pendidikan PRB dimaksudkan untuk menumbuhkembangkan
kesadaran siswa akan adanya risiko bahaya gempa. Untuk itu diperlukan
pengetahuan dan pemahaman terjadinya gempa bumi, zona gempa bumi,
hal-hal yang terjadi ketika dan setelah gempa bumi.
Materi Pembelajaran Pengurangan
Risiko Gempa Bumi
BAB IV
Materi Pembelajaran Pengurangan Risiko Gempa Bumi
40
5. Peningkatan kompetensi/kapasitas diri agar dapat mengurangi bahaya
bencana yang diakibatkan gempa bumi
Pendidikan PRB dilakukan secara sistematik dan terpadu dengan pendidikan
mata pelajaran lain, untuk meningkatkan kompetensi siswa secara holistik
yang memungkinkan potensi diri (afektif, kognitif, psikomotor) berkembang
secara optimal, agar selamat ketika gempa terjadi. Sejalan dengan itu,
kurikulum disusun dengan memperhatikan potensi, tingkat perkembangan,
minat, kecerdasan intelektual, emosional, sosial, spritual, dan kinestetik peserta
didik.
6. Menyeluruh dan berkesinambungan
Substansi muatan pendidikan PRB mencakup keseluruhan dimensi kompetensi
yang diperlukan, dimensi kognitif, psikomotor dan afektif.
7. Belajar sepanjang hayat
Pengembangan muatan pendidikan PRB diarahkan kepada proses
pengembangan, pembudayaan, dan pemberdayaan peserta didik yang
berlangsung sepanjang hayat.
Berdasarkan pertimbangan tersebut, dirumuskan kompetensi yang nantinya
dirumuskan ke dalam indikator, yang harus dikuasai siswa SMP/MTs adalah :
1. Memahami peristiwa gempa bumi dan dampaknya.
2. Memahami risiko, bahaya, kerentanan dan kapasitas dirinya.
3. Siap siaga terhadap ancaman gempa bumi Rencana Darurat.
4. Mengidentifkasi ancaman, kerentanan dan kapasitas di lingkungan gempa
bumi.
5. Memahami jenis ketahanan gedung dan fasilitas sekolah terhadap ancaman
bencana.
6. Memahami upaya tanggap darurat sebelum, disaat, setelah gempa bumi
terjadi.
7. Memahami kondisi psikologi anak sebelum, sesaat dan setelah terjadi
bencana.
Adapun materi pembelajaran pengurangan risiko gempa untuk setiap jenjang kelas
adalah sebagai berikut:
Tabel 4.1 Materi Pembelajaran Pengurangan Risiko Gempa Bumi
MATERI PEMBELAJARAN KELAS
< Peristiwa gempa bumi
< Resiko dan bahaya gempa bumi
< Dampak gempa bumi
< Kerentanan dan kapasitas bencana
< Siap siaga terhadap ancaman gempa bumi
sebelum gempa bumi
< Siap siaga terhadap ancaman sesaat gempa bumi
< Pengertian resiko, kerentanan, dan kapasitas
bencana
< Peran fasilitas sekolah yang dapat dimanfaatkan
untuk melindungi diri
< Siap siaga terhadap ancaman setelah gempa bumi
< Hubungan antara resiko, bahaya, kerentanan,
dan kapasitas
< Konstruksi bengunan tahan gempa
< Tanda bahaya bencana
< Terampil menanggapi tanda bahaya gempa bumi
< Siap siaga terhadap ancaman setelah gempa bumi
I SMP
II SMP
III SMP
Modul Ajar Pengintegrasian Pengurangan Risiko Bencana Bumi untuk SMP/MTs
41
MATERI PEMBELAJARAN KELAS
< Peristiwa gempa bumi
< Resiko dan bahaya gempa bumi
< Dampak gempa bumi
< Kerentanan dan kapasitas bencana
< Siap siaga terhadap ancaman gempa bumi
sebelum gempa bumi
< Siap siaga terhadap ancaman sesaat gempa bumi
< Pengertian resiko, kerentanan, dan kapasitas
bencana
< Peran fasilitas sekolah yang dapat dimanfaatkan
untuk melindungi diri
< Siap siaga terhadap ancaman setelah gempa bumi
< Hubungan antara resiko, bahaya, kerentanan,
dan kapasitas
< Konstruksi bengunan tahan gempa
< Tanda bahaya bencana
< Terampil menanggapi tanda bahaya gempa bumi
< Siap siaga terhadap ancaman setelah gempa bumi
I SMP
II SMP
III SMP
MATERI PEMBELAJARAN KELAS
< Peristiwa gempa bumi
< Resiko dan bahaya gempa bumi
< Dampak gempa bumi
< Kerentanan dan kapasitas bencana
< Siap siaga terhadap ancaman gempa bumi
sebelum gempa bumi
< Siap siaga terhadap ancaman sesaat gempa bumi
< Pengertian resiko, kerentanan, dan kapasitas
bencana
< Peran fasilitas sekolah yang dapat dimanfaatkan
untuk melindungi diri
< Siap siaga terhadap ancaman setelah gempa bumi
< Hubungan antara resiko, bahaya, kerentanan,
dan kapasitas
< Konstruksi bengunan tahan gempa
< Tanda bahaya bencana
< Terampil menanggapi tanda bahaya gempa bumi
< Siap siaga terhadap ancaman setelah gempa bumi
I SMP
II SMP
III SMP
4.2. Pemetaan Indikator Siswa
Kompetensi tersebut dapat dielaborasi ke dalam indikator-indikator sebagai
berikut:
Tabel 4.2 Indikator Perilaku Siswa untuk Pembelajaran Pengurangan Risiko Gempa Bumi
KELAS MATERI PEMBELAJARAN INDIKATOR PERILAKU SISWA
KELAS MATERI PEMBELAJARAN INDIKATOR PERILAKU SISWA
- Perlstlwa gempa buml
- Peslko dan bahaya gempa buml
- Dampak gempa buml
- Kerentanan dan kapasltas bencana
- Slap slaga terhadap ancaman
gempa buml sebelum gempa buml
- Slap slaga terhadap ancaman
sesaat gempa buml
- Pengertlan reslko, kerentanan,
dan kapasltas bencana
- Peran fasllltas sekolah yang dapat
dlmanfaatkan untuk mellndungl
dlrl.
- Slap slaga terhadap ancaman
setelah gempa buml
- Hubungan antara reslko, bahaya,
kerentanan, dan kapasltas
 Men[elaskan struktur buml dan
proses gempa buml
 Men[elaskan [enls (penyebab)
gempa buml
 Men[elaskan reslkorlslko gempa
buml
 Men[elaskan bahaya dan
kerentanan gempa buml
 Men[elaskan dampak gempa buml
 Memahaml cara mengurangl
dampak gempa buml
 Men[elaskan artl kertentanan
 Men[elaskan artl kapasltas
 Men[elaskan hubungan antara
reslko, bahaya, kerentanan, dan
kapasltas
 Men[elaskan hakekat gempa buml
 Men[elaskan slaga [lka gempa buml
ter[adl.
 Mahlr melakukan slmulasl
 Mampu mellndungl dlrl darl reslko
gempa buml
 Men[elaskan pengertlan reslkorlslko
 Men[elaskan pengertlan rentan
 Men[elaskan manfaat penlngkatan
kapasltas dlrl
 Mengldentlñkasl fasllltas sekolah
yang berdaya guna dlsaat gempa
 Memanfaatkan fasllltas sekolah
dlsaat gempa tlba
 Mampu mellndungl dlrl darl reslko
gempa buml
 Mampu mengatasl trauma paska
gempa buml
 Men[elaskan pengertlan reslko
 Men[elaskan pengertlan rentan
 Men[elaskan manfaat penlngkatan
kapasltas dlrl
 Memanfaatkan kapasltas dlrl dalam
mengurangl reslkorlslko aklbat
gempa buml
l SMP
|| SMP
Materi Pembelajaran Pengurangan Risiko Gempa Bumi
42
KELAS MATERI PEMBELAJARAN INDIKATOR PERILAKU SISWA
KELAS MATERI PEMBELAJARAN INDIKATOR PERILAKU SISWA
- Perlstlwa gempa buml
- Peslko dan bahaya gempa buml
- Dampak gempa buml
- Kerentanan dan kapasltas bencana
- Slap slaga terhadap ancaman
gempa buml sebelum gempa buml
- Slap slaga terhadap ancaman
sesaat gempa buml
- Pengertlan reslko, kerentanan,
dan kapasltas bencana
- Peran fasllltas sekolah yang dapat
dlmanfaatkan untuk mellndungl
dlrl.
- Slap slaga terhadap ancaman
setelah gempa buml
- Hubungan antara reslko, bahaya,
kerentanan, dan kapasltas
 Men[elaskan struktur buml dan
proses gempa buml
 Men[elaskan [enls (penyebab)
gempa buml
 Men[elaskan reslkorlslko gempa
buml
 Men[elaskan bahaya dan
kerentanan gempa buml
 Men[elaskan dampak gempa buml
 Memahaml cara mengurangl
dampak gempa buml
 Men[elaskan artl kertentanan
 Men[elaskan artl kapasltas
 Men[elaskan hubungan antara
reslko, bahaya, kerentanan, dan
kapasltas
 Men[elaskan hakekat gempa buml
 Men[elaskan slaga [lka gempa buml
ter[adl.
 Mahlr melakukan slmulasl
 Mampu mellndungl dlrl darl reslko
gempa buml
 Men[elaskan pengertlan reslkorlslko
 Men[elaskan pengertlan rentan
 Men[elaskan manfaat penlngkatan
kapasltas dlrl
 Mengldentlñkasl fasllltas sekolah
yang berdaya guna dlsaat gempa
 Memanfaatkan fasllltas sekolah
dlsaat gempa tlba
 Mampu mellndungl dlrl darl reslko
gempa buml
 Mampu mengatasl trauma paska
gempa buml
 Men[elaskan pengertlan reslko
 Men[elaskan pengertlan rentan
 Men[elaskan manfaat penlngkatan
kapasltas dlrl
 Memanfaatkan kapasltas dlrl dalam
mengurangl reslkorlslko aklbat
gempa buml
l SMP
|| SMP
KELAS MATERI PEMBELAJARAN INDIKATOR PERILAKU SISWA
KELAS MATERI PEMBELAJARAN INDIKATOR PERILAKU SISWA
- Perlstlwa gempa buml
- Peslko dan bahaya gempa buml
- Dampak gempa buml
- Kerentanan dan kapasltas bencana
- Slap slaga terhadap ancaman
gempa buml sebelum gempa buml
- Slap slaga terhadap ancaman
sesaat gempa buml
- Pengertlan reslko, kerentanan,
dan kapasltas bencana
- Peran fasllltas sekolah yang dapat
dlmanfaatkan untuk mellndungl
dlrl.
- Slap slaga terhadap ancaman
setelah gempa buml
- Hubungan antara reslko, bahaya,
kerentanan, dan kapasltas
 Men[elaskan struktur buml dan
proses gempa buml
 Men[elaskan [enls (penyebab)
gempa buml
 Men[elaskan reslkorlslko gempa
buml
 Men[elaskan bahaya dan
kerentanan gempa buml
 Men[elaskan dampak gempa buml
 Memahaml cara mengurangl
dampak gempa buml
 Men[elaskan artl kertentanan
 Men[elaskan artl kapasltas
 Men[elaskan hubungan antara
reslko, bahaya, kerentanan, dan
kapasltas
 Men[elaskan hakekat gempa buml
 Men[elaskan slaga [lka gempa buml
ter[adl.
 Mahlr melakukan slmulasl
 Mampu mellndungl dlrl darl reslko
gempa buml
 Men[elaskan pengertlan reslkorlslko
 Men[elaskan pengertlan rentan
 Men[elaskan manfaat penlngkatan
kapasltas dlrl
 Mengldentlñkasl fasllltas sekolah
yang berdaya guna dlsaat gempa
 Memanfaatkan fasllltas sekolah
dlsaat gempa tlba
 Mampu mellndungl dlrl darl reslko
gempa buml
 Mampu mengatasl trauma paska
gempa buml
 Men[elaskan pengertlan reslko
 Men[elaskan pengertlan rentan
 Men[elaskan manfaat penlngkatan
kapasltas dlrl
 Memanfaatkan kapasltas dlrl dalam
mengurangl reslkorlslko aklbat
gempa buml
l SMP
|| SMP
Modul Ajar Pengintegrasian Pengurangan Risiko Bencana Bumi untuk SMP/MTs
43
4.3.Pendekatan Kegiatan Belajar Mengajar
Terapan pendidikan kesiapsiagaan bencana maupun pendidikan bencana, bermuara
pada (1) Pemahaman tentang bencana, (2) Pemahaman tentang kerentanan, (3)
Pemahaman tentang kerentanan fsik dan fasilitas-fasilitas penting untuk keadaan
darurat bencana, dan (4) Sikap dan kepedulian terhadap risiko bencana.
Tujuan pendidikan pengurangan risiko bencana, dalam pelaksanaan di sekolah
perlu dijabarkan menjadi indikator perilaku siswa. Penetapan indikator perilaku
siswa dalam pengurangan risiko bencana mempertimbangan beberapa aspek,
yaitu:
1. Perkembangan psikologis anak, diperlukan terutama dalam menentukan isi/
materi yang diberikan kepada anak agar tingkat keluasan dan kedalamannya
sesuai dengan tahap perkembangan anak dan peristiwa bencana yang dialami
oleh anak.
2. Berbasis lingkungan, dengan mengutamakan nilai-nilai kearifan lokal. Ini
mempunyai makna bahwa siswa diajak untuk bersahabat dengan alam
lingkungan sekitar yang sarat dengan nilai-nilai kearifan lokal.
3. Mempunyai nilai aplikatif yang tinggi, karena siswa bisa langsung menerapkan
pengetahuan dan keterampilan dasar yang benar-benar diperlukan pada saat
bencana maupun tanggap darurat.
Adapun pendekatan yang dapat dilaksanakan pada kegiatan pembelajaran PRB, agar
lebih menyenangkan siswa, sebaiknya digunakan pendekatan cooperative learning
dan simulasi, serta pendekatan dan metode lainnya jika diperlukan. Pendidikan
pengurangan risiko bencana adalah sebuah proses pembelajran bersama yang
bersifat interakitf di tengah masyarakat dan lembaga-lembaga yang ada. Cakupan
pendidikan pengurangan risiko bencana lebih luas daripada pendidikan formal di
sekolah dan universitas. Termasuk di dalamnya adalah pengakuan dan penggunaan
kearifan tradisional dan pengetahuan terhadap bencana (UN-ISMP/MTsR).
Pengintegrasian materi ajar PRB di dalam kurikulum harus dikembangkan
berdasarkan prinsip-prinsip pengembangan KTSP. Oleh karena itu perlu adanya
kajian terhadap mata pelajaran-mata pelajaran yang dapat dikembangkan dengan
materi ajar PRB gempa bumi.
5.1. Pengintegrasian Pengurangan Risiko Gempa Bumi ke dalam
Mata Pelajaran.
Tahapan dalam pengintegrasian materi PRB terhadap mata pelajaran di tingkat
SMP/MTs sebagai berikut :
1. Identifkasi Materi Pembelajaran tentang Pengurangan Risiko Bencana
Konsep mengenai pendidikan Pengurangan Risiko Bencana (PRB) dapat
diintegrasikan ke dalam mata pelajaran pokok dalam kurikulum, diantaranya:
IPA Terpadu, IPS Terpadu, Bahasa Indonesia, Muatan Lokal, dan Penjas Orkes.
2. Analisis Kompetensi Dasar (KD) yang Memungkinkan dapat diintegrasi
dengan PRB
Kompetensi-kompetensi dasar yang terdapat pada KTSP dapat diintegrasikan
dengan materi PRB dalam bentuk model KTSP daerah bencana. Model ini
disusun sesuai dengan kondisi, kebutuhan, potensi, dan karakteristik satuan
pendidikan dan peserta didik di daerah bencana yang diharapkan dapat
digunakan sebagai acuan atau referensi bagi satuan pendidikan di daerah lain
yang punya karakteristik yang sama.
Setelah kurikulum, bahan ajar sebagai acuan yang lebih operasional dalam
melaksanakan pembelajaran di sekolah, merupakan komponen yang sangat
berperan dalam memberikan pengetahuan dan pemahaman mengenai
bencana dan kesiapsiagaan bencana terhadap warga negara, khsusnya
peserta didik.
Melalui bahan ajar yang disusun pada pembelajaran tematik dan di setiap
mata pelajaran dapat diintegrasikan mengenai jenis-jenis bencana beserta
penyebabnya, usaha-usaha yang dapat dilakukan dalam menghindari
terjadinya beberapa bencana, apa yang harus dilakukan ketika terjadi
bencana, dampak yang ditimbulkan oleh bencana dan usaha-usaha yang
dalam mengurangi dampak tersebut, apa yang dilakukan setelah bencana itu
terjadi, dan lain-lain.
Pengintegrasian Materi Pokok
Pengurangan Risiko Gempa Bumi
ke dalam Kurikulum Tingkat Satuan
Pendidikan Menengah Pertama (SMP/MTs)
BAB V
Modul Ajar Pengintegrasian Pengurangan Risiko Gempa Bumi untuk SMP/MTs
45
3. Menyusun Silabus yang Terintegrasi PRB
Silabus adalah rencana pembelajaran pada suatu dan/atau kelompok mata
pelajaran/tema tertentu yang mencakup standar kompetensi, kompetensi
dasar, materi pokok/pembelajaran, kegiatan pembelajaran, indikator,
penilaian, alokasi waktu, dan sumber/bahan/alat belajar yang diintegrasikan
dengan nilai-nilai pengurangan risiko bencana (PRB).
Silabus merupakan penjabaran standar kompetensi dan kompetensi dasar
ke dalam materi pokok/pembelajaran, kegiatan pembelajaran, dan indikator
pencapaian kompetensi untuk penilaian.
Silabus Integrasi PRB dapat dikembangkan sesuai dengan kebutuhan masing-
masing sekolah dan jenis ancaman bencana yang rentan di wilayahnya.
Langkah-langkah penyusunan silabus yang mengintegrasikan PRB diantaranya
adalah sebagai berikut:
 Mengkaji dan menentukan standar kompetensi (SK) yang dapat
diintegrasikan dengan PRB.
 Mengkaji dan menentukan kompetensi dasar (KD) yang sesuai dengan SK
yang diintegrasikan.
 Merumuskan Indikator Pencapaian Kompetensi (dengan mengacu pada
SK dan KD).
 Mengidentifkasi Materi Pokok/Pembelajaran yang sesuai dengan PRB
gempa bumi.
 Mengembangkan kegiatan pembelajaran berintegrasi PBR gempa bumi,
seperti penyampaian informasi bahaya gempa, simulasi penyelamatan
diri, pertolongan pertama, dan lainnya.
 Menentukan Jenis Penilaian.
 Menentukan Alokasi Waktu.
 Menentukan Sumber Belajar yang berhubungan dengan PRB gempa
bumi.
4. Menyusun Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP)
Rencana pembelajaran merupakan langkah awal dari suatu menejemen
pembelajaran yang berisi kebijakan strategic tentang pelaksanaan
pembelajaran yang akan dilakukan. Dalam rencana pembelajaran selalu
terdapat komponen yang saling berkaitan yaitu tujuan, bahan ajar, metode/
teknik, media, alat evaluasi, dan penjadwalan setiap langkah kegiatan.
Komponen-komponen tersebut saling berkaitan dan diintegrasikan dengan
nilai-nilai usaha pengurangan risiko bencana (PRB).
RPP disusun untuk setiap KD yang dapat dilaksanakan dalam satu kali
pertemuan atau lebih. Guru merancang penggalan RPP untuk setiap
pertemuan yang disesuaikan dengan penjadwalan di satuan pendidikan. RPP
yang terintegrasi PRB gempa disusun sesuai dengan KD yang relevan dengan
materi ajar PRB gempa bumi.
Pengintegrasian Materi Pokok Pengurangan Risiko Gempa Bumi
Ke Dalam Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan Menengah Pertama (SMP/MTs)
46
5.1.1. Identifkasi Mata Pembelajaran tentang Pengurangan Risiko Bencana
Setelah dianalisis, ternyata PRB dapat diintegrasikan pada mata pelajaran IPA
Terpadu, IPS Terpadu, Bahasa Indonesia dan Pendidikan Jasmani. Pemetaan
pelajaran dan nomor KD yang dapat diintegrasikan dengan PRB sebagai
berikut.
Tabel 5.1. Identifkasi Mata Pembelajaran Tentang PRB
KELAS MATERI PEMBELAJARAN
Sebelum Bencana
 Keselamatan kerja.
 Pencemaran dan kerusakan lingkungan hubungannya dengan
aktivitas manusia.
 Saat Terjadi Bencana
 Keselamatan kerja
Sebelum Bencana:
 Tenaga endogen dan tenaga eksogen
 Faktor-faktor penyebab terjadinya gempa bumi
Struktur bumi dan proses gempa bumi
 Pola pemukiman penduduk
Saat Terjadi Bencana:
 Gejala diastrisme dan vulkanisme
 Kaitan bentang lahan dengan persebaran pemukiman penduduk
Setelah Terjadi Bencana:
 Kaitan interaksi sosial dengan proses sosial
 Dampak positif dan negatif dari tenaga endogen dan eksogen bagi
kehidupan serta upaya penanggulanggannya
Sebelum Bencana
 Sepak Bola
 Bola Voli
 Bola Basket
Saat Terjadi Bencana
-
Setelah Terjadi Bencana
 Pendidikan luar kelas
Sebelum Bencana
 Cara menemukan makna kata secara cepat dan implementasinya.
 Penulisan pengumuman.
 Penemuan gagasan utama teks.
 Cara menjelaskan hubungan latar cerpen dengan realitas
kehidupan sosial dan implementasinya.
Saat Terjadi Bencana
 Penyampaian pengumuman
Setelah Terjadi Bencana
 Penyimpulan berita.
 Penulisan berita (yang didengarkan).
 Penyimpulan pikiran, pendapat, dan gagasan seorang tokoh/narasumber
yang disampaikan dalam wawancara.
 Penulisan hal penting/isi wawancara
 Cara mengubah teks wawancara ke bentuk narasi dan implementasinya.
 VII SMP
Modul Ajar Pengintegrasian Pengurangan Risiko Gempa Bumi untuk SMP/MTs
47
KELAS MATERI PEMBELAJARAN
Sebelum Bencana
 Cara menemukan makna kata secara cepat dan implementasinya.
 Penulisan pengumuman.
 Penemuan gagasan utama teks.
 Cara menjelaskan hubungan latar cerpen dengan realitas
kehidupan sosial dan implementasinya.
Saat Terjadi Bencana
 Penyampaian pengumuman
Setelah Terjadi Bencana
 Penyimpulan berita.
 Penulisan berita (yang didengarkan).
 Penyimpulan pikiran, pendapat, dan gagasan seorang tokoh/narasumber
yang disampaikan dalam wawancara.
 Penulisan hal penting/isi wawancara
 Cara mengubah teks wawancara ke bentuk narasi dan implementasinya.
Sebelum Bencana
 Gaya dan pengaruhnya pada benda yang dikenai gaya.
 Bentuk energi.
 Hubungan antara tekanan dan luas daerah yang dikenai gaya.
 Getaran dan gelombang.
Saat Terjadi Bencana
 Getaran dan gelombang.
Setelah Terjadi Bencana
-
Sebelum bencana
 Letak geogras Indonesia
 Kaitan letak geogras dengan iklim dan waktu di Indonesia
 Unsur-unsur lingkungan biotik, abiotik, dan sosial budaya
Saat bencana
 Bentuk kerusakan lingkungan hidup dan faktor penyebabnya
Setelah bencana
 Pengelolaan masalah lingkungan
Sebelum bencana
 Gempa dan Kesehatan
Saat bencana

Setelah bencana
 Dampak gempa terhadap kesehatan
 VII SMP
 VIII SMP
Pengintegrasian Materi Pokok Pengurangan Risiko Gempa Bumi
Ke Dalam Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan Menengah Pertama (SMP/MTs)
48
KELAS MATERI PEMBELAJARAN
Sebelum Bencana
 Pendeskripsikan tempat atau arah dalam konteks yang sebenarnya
sesuai dengan yang tertera dalam denah.
 Menyimpulkan isi suatu teks dengan membaca cepat 250 kata per menit.
 Cara menanggapi unsur-unsur pementasan drama dan implementasinya.
 Bermain peran.
 Penulisan naskah drama.
Saat Terjadi Bencana
 Penulisan bahasa petunjuk.
 Bermain peran.
Setelah Terjadi Bencana
 Cara berwawancara dan implementa-sinya.
 Cara menemukan pokok-pokok berita dan implementasinya.
 Cara mengemukakan kembali berita dan implementasinya.
Sebelum Bencana
 Peta tentang pola dan bentuk-bentuk muka bumi
 Diagram bentuk muka bumi daratan dan dasar laut
 Unsur-unsur sik dan sosial kawasan asia tenggara
Saat Terjadi Bencana
-
Setelah Terjadi Bencana
 Pola dan bentuk objek geogras sesuai dengan bentang alamnya
Sebelum Bencana
 Bencana alam
Saat Terjadi Bencana
 Bencana alam
Setelah Terjadi Bencana
 Budaya hidup sehat
Sebelum Bencana
 Penyimpulan dialog interaktif.
 Cara membedakan fakta dan opini serta implementa-sinya.
 Penulisan iklan baris.
 Cara meresensi buku pengetahuan dan implementa-sinya.
 Cara menemukan gagasan dalam wacana dan implementa-sinya.
 Penyimpulan teks bacaan dengan membaca cepat 300 kata per menit.
 Penulisan karya tulis
Saat Terjadi Bencana
 Cara menemukan informasi secara cepat dan implementa-sinya.
 Menulis cerita pendek bertolak dari peristiwa yang pernah dialami.
Setelah Terjadi Bencana
 Penyimpulan dialog interaktif.
 Cara mengomentari pendapat dalam dialog dan implementa-sinya.
 Pelaporan berbagai peristiwa.
 Cara membedakan fakta dan opini serta implementasinya.
 Menulis cerita pendek bertolak dari peristiwa yang pernah dialami.
 Cara menemukan gagasan dalam wacana dan implementasi-nya.
 Penulisan surat pembaca.
 Penulisan naskah drama berdasarkan peristiwa nyata.
 VIII SMP
 IX SMP
Modul Ajar Pengintegrasian Pengurangan Risiko Gempa Bumi untuk SMP/MTs
49
KELAS MATERI PEMBELAJARAN
Sebelum Bencana
 Penyimpulan dialog interaktif.
 Cara membedakan fakta dan opini serta implementa-sinya.
 Penulisan iklan baris.
 Cara meresensi buku pengetahuan dan implementa-sinya.
 Cara menemukan gagasan dalam wacana dan implementa-sinya.
 Penyimpulan teks bacaan dengan membaca cepat 300 kata per menit.
 Penulisan karya tulis
Saat Terjadi Bencana
 Cara menemukan informasi secara cepat dan implementa-sinya.
 Menulis cerita pendek bertolak dari peristiwa yang pernah dialami.
Setelah Terjadi Bencana
 Penyimpulan dialog interaktif.
 Cara mengomentari pendapat dalam dialog dan implementa-sinya.
 Pelaporan berbagai peristiwa.
 Cara membedakan fakta dan opini serta implementasinya.
 Menulis cerita pendek bertolak dari peristiwa yang pernah dialami.
 Cara menemukan gagasan dalam wacana dan implementasi-nya.
 Penulisan surat pembaca.
 Penulisan naskah drama berdasarkan peristiwa nyata.
 IX SMP
5.1.2. Analisis Kompetensi Dasar (KD) yang dapat diintegrasikan
Standar kompetensi yang harus dimiliki oleh setiap orang dalam mengantisipasi
bahaya gempa adalah mampu mengantisipasi sebelum gempa terjadi,
bertindak tepat pada saat dan setelah setelah gempa terjadi. Berkaitan dengan
hal tersebut, siswa harus dilatih agar memiliki kemampuan dalam melakukan
tindakan praktis untuk (1) menyelamatkan diri dari bencana gempa; (2)
Berpartisipasi dalam membantu upaya mitigasi bencana gempa.
Di bawah ini terdapat contoh format analisis KD dari beberapa mata pelajaran
yang dapat diintegrasikan dengan pendidikan pengurangan risiko bencana
gempa bumi.
K
E
L
A
S
M
A
T
E
R
I

P
E
M
B
E
L
A
J
A
R
A
N
I
N
D
I
K
A
T
O
R

P
E
R
I
L
A
K
U

S
I
S
W
A
M
A
T
A

P
E
L
A
J
A
R
A
N
S
K
K
D
V
I
I

S
M
P
S
e
b
e
l
u
m

B
e
n
c
a
n
a


K
e
s
e
l
a
m
a
t
a
n

k
e
r
j
a
.


P
e
n
c
e
m
a
r
a
n

d
a
n





k
e
r
u
s
a
k
a
n

l
i
n
g
k
u
n
g
a
n





h
u
b
u
n
g
a
n
n
y
a

d
e
n
g
a
n





a
k
t
i
v
i
t
a
s

m
a
n
u
s
i
a
S
a
a
t

T
e
r
j
a
d
i

B
e
n
c
a
n
a

K
e
s
e
l
a
m
a
t
a
n

k
e
r
j
a
S
e
t
e
l
a
h

T
e
r
j
a
d
i

B
e
n
c
a
n
a

S
e
b
e
l
u
m

B
e
n
c
a
n
a


M
e
m
a
h
a
m
i

l
a
n
g
k
a
h
-
l
a
n
g
k
a
h





p
e
n
y
e
l
a
m
a
t
a
n

d
i
r
i

s
a
a
t

g
e
m
p
a
.


M
e
n
y
a
d
a
r
i

p
e
n
t
i
n
g
n
y
a






m
e
n
j
a
g
a

l
i
n
g
k
u
n
g
a
n
.
S
a
a
t

T
e
r
j
a
d
i

B
e
n
c
a
n
a


M
e
n
s
i
m
u
l
a
s
i
k
a
n





k
e
s
e
l
a
m
a
t
a
n

d
i
r
i

s
a
a
t





t
e
r
j
a
d
i

g
e
m
p
a
S
e
t
e
l
a
h

T
e
r
j
a
d
i

B
e
n
c
a
n
a

I
P
A

T
e
r
p
a
d
u
5
.

M
e
m
a
h
a
m
i

g
e
j
a
l
a
-
g
e
j
a
l
a





a
l
a
m

m
e
l
a
l
u
i

p
e
n
g
a
m
a
t
a
n
.
7
.

M
e
m
a
h
a
m
i

s
a
l
i
n
g





k
e
t
e
r
g
a
n
-
t
u
n
g
a
n

d
a
l
a
m





e
k
o
s
i
t
e
m
.
5
.

M
e
m
a
h
a
m
i

g
e
j
a
l
a
-
g
e
j
a
l
a





a
l
a
m

m
e
l
a
l
u
i

p
e
n
g
a
m
a
t
a
n

5
.
4

M
e
n
e
r
a
p
k
a
n

k
e
s
e
l
a
-







m
a
t
a
n

k
e
r
j
a

d
a
l
a
m








m
e
l
a
k
u
k
a
n

p
e
n
g
a
-







m
a
t
a
n

g
e
j
a
l
a
-
g
e
j
a
l
a








a
l
a
m
.
7
.
4

M
e
n
g
a
p
l
i
-
k
a
s
i
k
a
n








p
e
r
a
n

m
a
n
u
s
i
a








d
a
l
a
m

p
e
n
g
e
l
o
l
a
a
n








l
i
n
g
k
u
n
g
a
n

u
n
t
u
k








m
e
n
g
a
t
a
s
i

p
e
n
c
e
-







m
a
r
a
n

d
a
n

k
e
r
u
s
a
-







k
a
n

l
i
n
g
k
u
n
g
a
n
.
5
.
4

M
e
n
e
r
a
p
k
a
n

k
e
s
e
l
a
-







m
a
t
a
n

k
e
r
j
a

d
a
l
a
m











m
e
l
a
k
u
k
a
n

p
e
n
g
a
-







m
a
t
a
n

g
e
j
a
l
a
-
g
e
j
a
l
a








a
l
a
m
.
T
a
b
e
l

5
.
2

F
o
r
m
a
t

A
n
a
l
i
s
i
s

K
D

d
a
r
i

B
e
b
e
r
a
p
a

M
a
t
a

P
e
l
a
j
a
r
a
n
K
E
L
A
S
M
A
T
E
R
I

P
E
M
B
E
L
A
J
A
R
A
N
I
N
D
I
K
A
T
O
R

P
E
R
I
L
A
K
U

S
I
S
W
A
M
A
T
A

P
E
L
A
J
A
R
A
N
S
K
K
D
S
e
b
e
l
u
m

B
e
n
c
a
n
a
:


T
e
n
a
g
a

e
n
d
o
g
e
n

d
a
n







t
e
n
a
g
a

e
k
s
o
g
e
n



F
a
k
t
o
r
-
f
a
k
t
o
r

p
e
n
y
e
b
a
b







t
e
r
j
a
d
i
n
y
a

g
e
m
p
a

b
u
m
i



S
t
r
u
k
t
u
r

b
u
m
i

d
a
n

p
r
o
s
e
s






g
e
m
p
a

b
u
m
i



P
o
l
a

p
e
m
u
k
i
m
a
n






p
e
n
d
u
d
u
k
S
a
a
t

T
e
r
j
a
d
i

B
e
n
c
a
n
a
:



G
e
j
a
l
a

d
i
a
s
t
r
i

s
m
e

d
a
n







v
u
l
k
a
n
i
s
m
e



K
a
i
t
a
n

b
e
n
t
a
n
g

l
a
h
a
n






d
e
n
g
a
n

p
e
r
s
e
b
a
r
a
n






p
e
m
u
k
i
m
a
n

p
e
n
d
u
d
u
k
S
e
t
e
l
a
h

T
e
r
j
a
d
i

B
e
n
c
a
n
a
:



K
a
i
t
a
n

i
n
t
e
r
a
k
s
i

s
o
s
i
a
l






d
e
n
g
a
n

p
r
o
s
e
s

s
o
s
i
a
l



D
a
m
p
a
k

p
o
s
i
t
i
f

d
a
n
n
e
g
a
t
i
f






d
a
r
i

t
e
n
a
g
a
e
n
d
o
g
e
n

d
a
n






e
k
s
o
g
e
n

b
a
g
i

k
e
h
i
d
u
p
a
n






s
e
r
t
a

u
p
a
y
a






p
e
n
a
n
g
g
u
l
a
n
g
g
a
n
n
y
a
S
e
b
e
l
u
m

B
e
n
c
a
n
a

:



M
e
n
j
e
l
a
s
k
a
n

p
e
r
b
e
d
a
a
n






t
e
n
a
g
a

e
n
d
o
g
e
n

d
a
n






e
k
s
o
g
e
n
.



M
e
n
y
e
b
u
t
k
a
n

f
a
c
t
o
r
-
f
a
k
t
o
r







t
e
r
j
a
d
i
n
y
a

g
e
m
p
a

b
u
m
i



M
e
n
j
e
l
a
s
k
a
n

s
t
r
u
k
t
u
r

d
a
n







p
r
o
s
e
s

g
e
m
p
a

b
u
m
i



M
e
n
e
n
t
u
k
a
n

p
o
l
a







p
e
m
u
k
i
m
a
n

p
e
n
d
u
d
u
k







y
a
n
g

b
a
i
k
S
a
a
t

T
e
r
j
a
d
i

B
e
n
c
a
n
a
:



M
e
n
y
e
b
u
t
k
a
n

g
e
j
a
l
a






d
i
a
s
t
r
o
v
i
s
m
e

d
a
n

v
u
l
a
k
n
i
s
m
e



M
e
n
e
n
t
u
k
a
n

p
o
l
a






p
e
m
u
k
i
m
a
n

y
a
n
g

s
e
s
u
a
i





d
e
n
g
a
n

b
e
n
t
a
n
g

l
a
h
a
n
.
S
e
t
e
l
a
h

T
e
r
j
a
d
i

B
e
n
c
a
n
a
:



M
e
n
j
e
l
a
s
k
a
n

k
a
i
t
a
n

i
n
t
e
r
a
k
s
i






s
o
c
i
a
l

d
e
n
g
a
n

p
r
o
s
e
s

s
o
c
i
a
l
.



M
e
n
y
e
b
u
t
k
a
n

d
a
m
p
a
k







p
o
s
i
t
i
f

d
a
n

n
e
g
a
t
i
v
e

d
a
r
i







p
e
n
g
a
r
u
h

t
e
n
a
g
a

e
k
s
o
g
e
n







d
a
n

e
n
d
o
g
e
n

s
e
r
t
a

u
p
a
y
a







p
e
n
a
n
g
g
u
l
a
n
g
a
n
n
y
a
I
P
S
1
.

M
e
m
a
h
a
m
i

l
i
n
g
k
u
n
g
a
n





k
e
h
i
d
u
p
a
n

m
a
n
u
s
i
a
.
6
.

m
e
m
a
h
a
m
i

k
e
g
i
a
t
a
n





e
k
o
n
o
m
i

m
a
s
y
a
r
a
k
a
t
.
1
.
1

M
e
n
d
e
s
k
r
i
p
s
i
k
a
n








k
e
r
a
g
a
m
a
n

b
e
n
t
u
k







m
u
k
a

b
u
m
i
,

p
r
o
s
e
s







p
e
m
b
e
n
t
u
k
a
n
,

d
a
n







d
a
m
p
a
k
n
y
a









t
e
r
h
a
d
a
p

k
e
h
i
d
u
p
a
n
6
.
1

M
e
n
d
e
s
k
r
i
p
s
i
k
a
n








p
o
l
a

k
e
g
i
a
t
a
n








e
k
o
n
o
m
i

p
e
n
d
u
d
u
k
,








p
e
n
g
g
u
n
a
a
n

l
a
h
a
n
,








d
a
n

p
o
l
a

p
e
r
m
u
k
i
-







m
a
n

b
e
r
d
a
s
a
r
k
a
n








k
o
n
d
i
s
i

s
i
k

p
e
r
m
u
-







k
a
a
n

b
u
m
i
.
V
I
I

S
M
P
K
E
L
A
S
M
A
T
E
R
I

P
E
M
B
E
L
A
J
A
R
A
N
I
N
D
I
K
A
T
O
R

P
E
R
I
L
A
K
U

S
I
S
W
A
M
A
T
A

P
E
L
A
J
A
R
A
N
S
K
K
D
S
e
b
e
l
u
m

b
e
n
c
a
n
a


G
e
m
p
a

d
a
n

K
e
s
e
h
a
t
a
n
S
a
a
t

b
e
n
c
a
n
a
-
S
e
t
e
l
a
h

b
e
n
c
a
n
a


D
a
m
p
a
k

g
e
m
p
a

t
e
r
h
a
d
a
p





k
e
s
e
h
a
t
a
n
S
e
b
e
l
u
m

b
e
n
c
a
n
a


M
a
c
a
m

p
e
n
y
a
k
i
t


P
e
n
y
e
b
a
b

p
e
n
y
a
k
i
t


G
e
j
a
l
a

p
e
n
y
a
k
i
t


M
e
l
a
k
u
k
a
n

p
e
n
c
e
g
a
h
a
n





p
e
n
y
a
k
i
t
S
a
a
t

b
e
n
c
a
n
a
-
S
e
t
e
l
a
h

b
e
n
c
a
n
a


M
e
l
a
k
u
k
a
n

p
e
n
c
e
g
a
h
a
n





t
e
r
h
a
d
a
p

p
e
n
y
a
k
i
t

y
a
n
g





m
u
n
g
k
i
n

d
i
a
k
i
b
a
t
k
a
n

p
a
s
c
a





g
e
m
p
a

b
u
m
i
P
E
N
J
A
S
K
E
S
1
3
.

M
e
n
e
r
a
p
k
a
n

b
u
d
a
y
a








h
i
d
u
p

s
e
h
a
t
6
.

M
e
m
p
r
a
k
t
i
k
a
n





p
e
r
k
e
m
a
h
a
n

d
a
n

d
a
s
a
r
-




d
a
s
a
r

p
e
n
y
e
l
a
m
a
t
a
n

d
i





l
i
n
g
k
u
n
g
a
n

s
e
k
o
l
a
h
,

d
a
n





n
i
l
a
i
-
n
i
l
a
i

y
a
n
g

t
e
r
k
a
n
d
u
n
g





d
i

d
a
l
a
m
n
y
a
1
3
.
1
M
e
l
a
k
u
k
a
n

i
d
e
n
-








t
i

k
a
s
i

b
e
r
b
a
g
a
i









p
e
n
y
a
k
i
t

m
e
n
u
l
a
r









y
a
n
g

b
e
r
s
u
m
b
e
r









d
a
r
i

l
i
n
g
k
u
n
g
a
n









t
i
d
a
k

s
e
h
a
t
1
3
.
2

M
e
l
a
k
u
k
a
n

c
a
r
a










m
e
n
g
h
i
n
d
a
r
i










p
e
n
y
a
k
i
t

m
e
n
u
l
a
r









y
a
n
g

b
e
r
s
u
m
b
e
r










d
a
r
i

l
i
n
g
k
u
n
g
a
n










y
a
n
g

t
i
d
a
k

s
e
h
a
t
6
.
1
.

M
e
m
p
r
a
k
t
i
k
k
a
n









p
e
m
i
l
i
h
a
n

t
e
m
p
a
t









y
a
n
g


t
e
p
a
t

u
n
t
u
k









m
e
n
d
i
r
i
k
a
n

t
e
n
d
a









p
e
r
k
e
m
a
h
a
n
,

m
e
m
-








p
r
a
k
t
e
k
k
a
n

t
e
k
n
i
k









d
a
s
a
r

p
e
m
a
s
a
n
g
a
n









t
e
n
d
a

u
n
t
u
k









p
e
r
k
e
m
a
h
a
n

d
i









l
i
n
g
k
u
n
g
a
n

s
e
c
a
r
a









b
e
r
e
g
u
,

s
e
r
t
a

n
i
l
a
i









k
e
r
j
a
s
a
m
a
,

t
a
n
g
g
u
-








n
g
j
a
w
a
b

d
a
n

t
e
n
g








g
a
n
g

r
a
s
a


6
.
2
.
M
e
m
p
r
a
k
t
i
k
k
a
n








p
e
n
y
e
l
a
m
a
t
a
n

d
a
n








P
3
K

t
e
r
h
a
d
a
p

j
e
n
i
s







l
u
k
a

r
i
n
g
a
n

s
e
r
t
a








n
i
l
a
i

k
e
r
j
a
s
a
m
a
,








t
a
n
g
g
u
n
g
j
a
w
a
b








d
a
n

t
e
n
g
g
a
n
g

r
a
s
a
V
I
I

S
M
P
K
E
L
A
S
M
A
T
E
R
I

P
E
M
B
E
L
A
J
A
R
A
N
I
N
D
I
K
A
T
O
R

P
E
R
I
L
A
K
U

S
I
S
W
A
M
A
T
A

P
E
L
A
J
A
R
A
N
S
K
K
D
S
e
b
e
l
u
m

B
e
n
c
a
n
a


C
a
r
a

m
e
n
e
m
u
k
a
n





m
a
k
n
a

k
a
t
a

s
e
c
a
r
a





c
e
p
a
t

d
a
n





i
m
p
l
e
m
e
n
t
a
-
s
i
n
y
a


P
e
n
u
l
i
s
a
n





p
e
n
g
u
m
u
m
a
n
.


P
e
n
e
m
u
a
n





g
a
g
a
s
a
n





u
t
a
m
a

t
e
k
s
.


C
a
r
a

m
e
n
j
e
l
a
s
k
a
n





h
u
b
u
n
g
a
n





l
a
t
a
r

c
e
r
p
e
n





d
e
n
g
a
n

r
e
a
l
i
t
a
s





k
e
h
i
d
u
p
a
n





s
o
s
i
a
l

d
a
n





i
m
p
l
e
m
e
n
t
a
-
s
i
n
y
a
.
S
a
a
t

T
e
r
j
a
d
i

B
e
n
c
a
n
a


P
e
n
y
a
m
p
a
i
a
n





p
e
n
g
u
m
u
m
a
n
S
e
b
e
l
u
m

B
e
n
c
a
n
a


M
e
n
j
e
l
a
s
k
a
n

m
a
k
n
a





k
a
t
a

y
a
n
g

b
e
r
h
u
b
u
n
g
a
n





d
e
n
g
a
n

g
e
m
p
a

(
s
k
a
l
a





R
i
c
h
t
e
r
,




S
e
i
s
m
o
g
r
a
f
,

K
e
r
e
n
t
a
n
a
n
,





d
l
l
)
.


M
e
m
b
u
a
t

p
e
n
g
u
m
u
m
a
n





g
e
m
p
a
.


M
e
n
g
u
n
g
k
a
p
-
k
a
n

g
a
g
a
s
a
n





d
a
r
i

t
e
k
s

g
e
m
p
a
.


M
e
n
j
e
l
a
s
k
a
n

h
u
b
u
n
g
a
n





k
o
n
d
i
s
i

g
e
o
g
r
a

s

s
u
a
t
u





d
a
e
r
a
h

d
e
n
g
a
n

k
o
n
d
i
s
i





k
e
h
i
d
u
p
a
n

m
a
s
y
a
r
a
k
a
t
.
S
a
a
t

T
e
r
j
a
d
i

B
e
n
c
a
n
a


M
e
n
s
i
m
u
l
a
-
s
i
k
a
n





p
e
n
g
u
m
u
m
a
n





m
e
n
g
e
n
a
i

g
e
m
p
a
B
a
h
a
s
a

I
n
d
o
n
e
s
i
a
3
.

M
e
m
a
h
a
m
i

r
a
g
a
m

t
e
k
s





n
o
n
s
a
s
t
r
a

d
e
n
g
a
n





b
e
r
b
a
g
a
i

c
a
r
a

m
e
m
b
a
c
a
.

4
.

M
e
n
g
u
n
g
-
k
a
p
k
a
n

p
i
k
i
r
a
n






d
a
n

p
e
n
g
a
l
a
m
a
n

d
a
l
a
m






b
u
k
u

h
a
r
i
a
n

d
a
n






s
u
r
a
t

p
r
i
b
a
d
i
.
1
1
.

M
e
m
a
h
a
m
i

w
a
c
a
n
a








t
u
l
i
s







m
e
l
a
l
u
i

k
e
g
i
a
t
a
n







m
e
m
b
a
c
a







i
n
t
e
n
s
i
f

d
a
n

m
e
m
b
a
c
a







m
e
m
i
n
d
a
i
3
.
1

M
e
n
e
m
u
k
a
n

m
a
k
n
a







k
a
t
a

t
e
r
t
e
n
t
u

d
a
l
a
m







k
a
m
u
s

s
e
c
a
r
a

c
e
p
a
t







d
a
n

t
e
p
a
t

d
e
n
g
a
n








k
o
n
t
e
k
s

y
a
n
g







d
i
i
n
g
i
n
k
a
n

m
e
l
a
l
u
i







k
e
g
i
a
t
a
n

m
e
m
b
a
c
a







m
e
m
i
n
d
a
i
.
4
.
3

M
e
n
u
l
i
s

t
e
k
s








p
e
n
g
u
m
u
m
a
n








d
e
n
g
a
n

b
a
h
a
s
a








y
a
n
g

e
f
e
k
t
i
f
,

b
a
i
k
,








d
a
n

b
e
n
a
r
.
1
1
.
2

M
e
n
e
m
u
k
a
n










g
a
g
a
s
a
n

u
t
a
m
a










d
a
l
a
m

t
e
k
s
.
V
I
I

S
M
P
K
E
L
A
S
M
A
T
E
R
I

P
E
M
B
E
L
A
J
A
R
A
N
I
N
D
I
K
A
T
O
R

P
E
R
I
L
A
K
U

S
I
S
W
A
M
A
T
A

P
E
L
A
J
A
R
A
N
S
K
K
D
S
e
t
e
l
a
h

T
e
r
j
a
d
i

B
e
n
c
a
n
a


P
e
n
y
i
m
p
u
l
a
n

b
e
r
i
t
a
.


P
e
n
u
l
i
s
a
n

b
e
r
i
t
a





(
y
a
n
g





d
i
d
e
n
g
a
r
k
a
n
)
.


P
e
n
y
i
m
p
u
l
a
n

p
i
k
i
r
a
n
,





p
e
n
d
a
p
a
t
,

d
a
n





g
a
g
a
s
a
n

s
e
o
r
a
n
g





t
o
k
o
h
/
n
a
r
a
s
u
m
b
e
r





y
a
n
g





d
i
s
a
m
p
a
i
k
a
n

d
a
l
a
m





w
a
w
a
n
c
a
r
a
.


P
e
n
u
l
i
s
a
n

h
a
l





p
e
n
t
i
n
g
/
i
s
i





w
a
w
a
n
c
a
r
a
.


C
a
r
a

m
e
n
g
u
b
a
h





t
e
k
s

w
a
w
a
n
c
a
r
a





k
e

b
e
n
t
u
k

n
a
r
a
s
i

d
a
n





i
m
p
l
e
m
e
n
t
a
s
i
-
n
y
a
.
S
e
t
e
l
a
h

T
e
r
j
a
d
i

B
e
n
c
a
n
a


M
e
n
y
i
m
p
u
l
k
a
n

b
e
r
i
t
a





t
e
n
t
a
n
g

g
e
m
p
a
.


M
e
n
u
l
i
s
k
a
n

b
e
r
i
t
a

g
e
m
p
a
.


M
e
n
y
i
m
p
u
l
k
a
n

p
i
k
i
r
a
n
,





p
e
n
d
a
p
a
t
,

d
a
n

g
a
g
a
s
a
n





s
e
o
r
a
n
g

t
o
k
o
h
/
n
a
r
a
s
u
m
b
e
r





y
a
n
g

d
i
s
a
m
p
a
i
k
a
n

d
a
l
a
m




w
a
w
a
n
c
a
r
a

m
e
n
g
e
n
a
i




g
e
m
p
a
.


M
e
n
u
l
i
s
k
a
n

h
a
l

p
e
n
t
i
n
g





m
e
n
g
e
n
a
i

g
e
m
p
a
.


M
e
n
y
u
s
u
n

n
a
r
a
s
i

m
e
n
g
e
n
a
i





g
e
m
p
a

b
e
r
d
a
s
a
r
k
a
n

t
e
k
s




w
a
w
a
n
c
a
r
a
.
B
a
h
a
s
a

I
n
d
o
n
e
s
i
a
1
4
.

M
e
n
g
u
n
g
-
k
a
p
k
a
n







t
a
n
g
g
a
p
a
n







t
e
r
h
a
d
a
p

p
e
m
b
a
c
a
a
n







c
e
r
p
e
n
.
2
.

M
e
n
g
u
n
g
-
k
a
p
k
a
n





p
e
n
g
a
l
a
m
a
n





d
a
n

i
n
f
o
r
m
a
s
i

m
e
l
a
l
u
i





k
e
g
i
a
t
a
n





b
e
r
c
e
r
i
t
a

d
a
n





m
e
n
y
a
m
p
a
i
-
k
a
n





p
e
n
g
u
-
m
u
m
a
n
.
1
.

M
e
m
a
h
a
m
i

w
a
c
a
n
a

l
i
s
a
n






m
e
l
a
l
u
i

k
e
g
i
a
t
a
n





m
e
n
d
e
n
g
a
r
-




k
a
n

b
e
r
i
t
a
.
9
.

M
e
m
a
h
a
m
i

w
a
c
a
n
a





l
i
s
a
n

d
a
l
a
m






k
e
g
i
a
t
a
n

w
a
w
a
n
c
a
r
a
.
1
2
.

M
e
n
g
u
n
g
-
k
a
p
k
a
n








b
e
r
b
a
g
a
i








i
n
f
o
r
m
a
s
i

d
a
l
a
m








b
e
n
t
u
k

n
a
r
a
s
i







d
a
n

p
e
s
a
n

s
i
n
g
k
a
t
.
1
4
.
2

M
e
n
j
e
l
a
s
k
a
n










h
u
b
u
n
g
a
n

l
a
t
a
r










s
u
a
t
u

c
e
r
p
e
n











d
e
n
g
a
n










r
e
a
l
i
t
a
s

s
o
s
i
a
l
.
2
.
2

M
e
n
y
a
m
p
a
i
k
a
n








p
e
n
g
u
m
u
m
a
n








d
e
n
g
a
n

i
n
t
o
n
a
s
i








y
a
n
g

t
e
p
a
t

s
e
r
t
a







m
e
n
g
g
u
n
a
k
a
n







k
a
l
i
m
a
t
-
k
a
l
i
m
a
t







y
a
n
g

l
u
g
a
s

d
a
n







s
e
d
e
r
h
a
n
a
.
1
.

1

M
e
n
y
i
m
p
u
l
k
a
n









i
s
i

b
e
r
i
t
a

y
a
n
g








d
i
b
a
c
a
k
a
n

d
a
l
a
m








b
e
b
e
r
a
p
a








k
a
l
i
m
a
t
.
1
.
2

M
e
n
u
l
i
s
k
a
n








k
e
m
b
a
l
i


b
e
r
i
t
a








y
a
n
g

d
i
b
a
c
a
k
a
n








k
e

d
a
l
a
m








b
e
b
e
r
a
p
a

k
a
l
i
m
a
t
.
9
.
1

M
e
n
y
i
m
p
u
l
k
a
n








p
i
k
i
r
a
n
,

p
e
n
d
a
p
a
t
,








d
a
n

g
a
g
a
s
a
n








s
e
o
r
a
n
g

t
o
k
o
h
/







n
a
r
a
s
u
m
b
e
r

y
a
n
g








d
i
s
a
m
p
a
i
k
a
n

d
a
l
a
m








w
a
w
a
n
c
a
r
a
.
9
.
2
.

M
e
n
u
l
i
s
k
a
n

d
e
n
g
a
n








s
i
n
g
k
a
t

h
a
l
-
h
a
l








p
e
n
t
i
n
g

y
a
n
g








d
i
k
e
m
u
k
a
k
a
n








n
a
r
a
s
u
m
b
e
r

d
a
l
a
m








w
a
w
a
n
c
a
r
a
.
1
2
.
1

M
e
n
g
u
b
a
h











t
e
k
s

w
a
w
a
n
c
a
r
a










m
e
n
j
a
d
i

n
a
r
a
s
i
.
V
I
I

S
M
P
K
E
L
A
S
M
A
T
E
R
I

P
E
M
B
E
L
A
J
A
R
A
N
I
N
D
I
K
A
T
O
R

P
E
R
I
L
A
K
U

S
I
S
W
A
M
A
T
A

P
E
L
A
J
A
R
A
N
S
K
K
D
V
I
I
I

S
M
P
S
e
b
e
l
u
m

B
e
n
c
a
n
a


G
a
y
a

d
a
n

p
e
n
g
a
r
u
h
n
y
a






p
a
d
a

b
e
n
d
a

y
a
n
g






d
i
k
e
n
a
i

g
a
y
a
.


B
e
n
t
u
k

e
n
e
r
g
i
.


H
u
b
u
n
g
a
n

a
n
t
a
r
a

t
e
k
a
n
a
n





d
a
n

l
u
a
s

d
a
e
r
a
h

y
a
n
g





d
i
k
e
n
a
i

g
a
y
a
.


G
e
t
a
r
a
n

d
a
n

g
e
l
o
m
b
a
n
g
.
S
a
a
t

T
e
r
j
a
d
i

B
e
n
c
a
n
a


G
e
t
a
r
a
n

d
a
n

g
e
l
o
m
b
a
n
g
.
S
e
t
e
l
a
h

T
e
r
j
a
d
i

B
e
n
c
a
n
a
S
e
b
e
l
u
m

B
e
n
c
a
n
a


M
e
m
a
h
a
m
i

g
a
y
a

d
a
n





p
e
n
g
a
r
u
h
n
y
a

p
a
d
a

d
a
e
r
a
h




y
a
n
g

d
i
k
e
n
a
i

g
a
y
a
.


M
e
m
a
h
a
m
i

b
e
n
t
u
k

e
n
e
r
g
i






y
a
n
g

t
e
r
k
a
n
d
u
n
g

d
a
l
a
m






b
u
m
i

(
y
a
n
g

m
e
m
u
n
g
k
i
n
k
a
n






t
e
r
j
a
d
i
n
y
a

g
e
m
p
a
)
.


M
e
n
e
m
u
k
a
n

h
u
b
u
n
g
a
n





a
n
t
a
r
a

t
e
k
a
n
a
n

d
a
n

l
u
a
s





d
a
e
r
a
h

y
a
n
g

d
i
k
e
n
a
i

g
a
y
a





m
e
l
a
l
u
i

p
e
r
c
o
b
a
a
n
.


M
e
m
a
h
a
m
i

b
a
h
w
a

g
e
m
p
a





m
e
r
u
p
a
k
a
n

c
o
n
t
o
h

d
a
r
i





g
e
t
a
r
a
n

d
a
n

g
e
l
o
m
b
a
n
g
.
S
a
a
t

T
e
r
j
a
d
i

B
e
n
c
a
n
a


M
e
m
b
u
a
t

a
l
a
t

g
e
m
p
a

m
i
n
i





b
e
r
d
a
s
a
r
k
a
n

p
r
i
n
s
i
p

g
e
t
a
r
a
n




d
a
n

g
e
l
o
m
b
a
n
g
.
S
e
t
e
l
a
h

T
e
r
j
a
d
i

B
e
n
c
a
n
a
I
P
A

T
e
r
p
a
d
u
5
.
M
e
m
a
h
a
m
i

p
e
r
a
n
a
n

u
s
a
h
a
,




g
a
y
a
,

d
a
n

e
n
e
r
g
i

d
a
l
a
m




k
e
h
i
d
u
p
a
n

s
e
h
a
r
i
-
h
a
r
i
.
6
.

M
e
m
a
h
a
m
i

k
o
n
s
e
p

d
a
n





p
e
n
e
r
a
p
a
n

g
e
t
a
r
a
n
,





g
e
l
o
m
b
a
n
g

d
a
n

o
p
t
i
k
a





d
a
l
a
m

p
r
o
d
u
k

t
e
k
n
o
l
o
g
i





s
e
h
a
r
i
-
h
a
r
i
.
6
.

M
e
m
a
h
a
m
i

k
o
n
s
e
p

d
a
n





p
e
n
e
r
a
p
a
n

g
e
t
a
r
a
n
,





g
e
l
o
m
b
a
n
g

d
a
n

o
p
t
i
k
a





d
a
l
a
m

p
r
o
d
u
k

t
e
k
n
o
l
o
g
i





s
e
h
a
r
i
-
h
a
r
i
.

5
.
1

M
e
n
g
i
d
e
n
t
i

k
a
s
i








j
e
n
i
s
-
j
e
n
i
s

g
a
y
a
,








p
e
n
j
u
m
l
a
h
a
n

g
a
y
a








d
a
n

p
e
n
g
a
r
u
h
n
y
a








p
a
d
a

s
u
a
t
u

b
e
n
d
a








y
a
n
g

d
i
k
e
n
a
i

g
a
y
a
.
5
.
3

M
e
n
j
e
l
a
s
k
a
n








h
u
b
u
n
g
a
n

b
e
n
t
u
k








e
n
e
r
g
i

d
a
n

p
e
r
u
b
a
-







h
a
n
n
y
a
,

p
r
i
n
s
i
p









u
s
a
h
a

d
a
n

e
n
e
r
g
i









s
e
r
t
a

p
e
n
e
r
a
p
a
n
n
y
a








d
a
l
a
m

k
e
h
i
d
u
p
a
n








s
e
h
a
r
i
-
h
a
r
i
.
5
.
5

M
e
n
y
e
l
i
d
i
k
i

t
e
k
a
n
a
n







p
a
d
a

b
e
n
d
a

p
a
d
a
t
,







c
a
i
r
,

d
a
n

g
a
s

s
e
r
t
a







p
e
n
e
r
a
p
a
n
n
y
a







d
a
l
a
m

k
e
h
i
d
u
p
a
n







s
e
h
a
r
i
-
h
a
r
i
.
6
.
1


M
e
n
d
e
s
-
k
r
i
p
s
i
k
a
n









k
o
n
s
e
p

g
e
t
a
r
a
n

d
a
n








g
e
l
o
m
b
a
n
g

s
e
r
t
a








p
a
r
a
m
e
t
e
r
-







p
a
r
a
m
e
t
e
r
n
y
a
6
.
1

M
e
n
d
e
s
k
r
i
p
s
i
k
a
n








k
o
n
s
e
p

g
e
t
a
r
a
n

d
a
n








g
e
l
o
m
b
a
n
g

s
e
r
t
a








p
a
r
a
m
e
t
e
r
-







p
a
r
a
m
e
t
e
r
n
y
a

K
E
L
A
S
M
A
T
E
R
I

P
E
M
B
E
L
A
J
A
R
A
N
I
N
D
I
K
A
T
O
R

P
E
R
I
L
A
K
U

S
I
S
W
A
M
A
T
A

P
E
L
A
J
A
R
A
N
S
K
K
D
S
e
b
e
l
u
m

b
e
n
c
a
n
a

L
e
t
a
k

g
e
o
g
r
a

s

I
n
d
o
n
e
s
i
a


K
a
i
t
a
n

l
e
t
a
k

g
e
o
g
r
a

s





d
e
n
g
a
n

i
k
l
i
m

d
a
n

w
a
k
t
u





d
i

I
n
d
o
n
e
s
i
a


U
n
s
u
r
-
u
n
s
u
r

l
i
n
g
k
u
n
g
a
n





b
i
o
t
i
k
,

a
b
i
o
t
i
k
,

d
a
n

s
o
s
i
a
l





b
u
d
a
y
a
S
a
a
t

b
e
n
c
a
n
a

B
e
n
t
u
k

k
e
r
u
s
a
k
a
n




l
i
n
g
k
u
n
g
a
n

h
i
d
u
p

d
a
n




f
a
k
t
o
r

p
e
n
y
e
b
a
b
n
y
a
S
e
t
e
l
a
h

b
e
n
c
a
n
a

P
e
n
a
n
g
g
u
l
a
n
g
a
n

m
a
s
a
l
a
h





l
i
n
g
k
u
n
g
a
n
S
e
b
e
l
u
m

b
e
n
c
a
n
a


M
e
n
j
e
l
a
s
k
a
n

l
e
t
a
k

g
e
o
g
r
a

s





I
n
d
o
n
e
s
i
a


M
e
n
y
e
b
u
t
k
a
n

h
u
b
u
n
g
a
n






l
e
t
a
k

g
e
o
g
r
a

s

d
e
n
g
a
n

i
k
l
i
m





d
a
n

w
a
k
t
u

I
n
d
o
n
e
s
i
a


M
e
n
u
l
i
s
k
a
n

u
n
s
u
r
e
-
u
n
s
u
r





b
i
o
t
i
c

d
a
n

a
b
i
o
t
i
k

d
a
n





s
o
s
i
a
l

b
u
d
a
y
a
.
S
a
a
t

b
e
n
c
a
n
a


M
e
n
u
l
i
s
k
a
n

b
e
n
t
u
k
-
b
e
n
t
u
k





k
e
r
u
s
a
k
a
n

l
i
n
g
k
u
n
g
a
n

h
i
d
u
p





d
a
n

f
a
c
t
o
r

p
e
n
y
e
b
a
b
n
y
a
.
S
e
t
e
l
a
h

b
e
n
c
a
n
a


M
e
n
y
e
b
u
t
k
a
n

c
a
r
a





p
e
n
a
n
g
g
u
l
a
n
g
a
n

d
a
n





p
e
n
g
u
r
a
n
g
a
n

r
e
s
i
k
o
r
i
s
i
k
o





a
k
i
b
a
t

k
e
r
u
s
a
k
a
n

d
a
n





b
e
n
c
a
n
a

a
l
a
m
.
I
P
S
1
.

m
e
m
a
h
a
m
i

p
e
r
m
a
s
a
l
a
h
a
n





s
o
s
i
a
l

b
e
r
k
a
i
t
a
n

d
e
n
g
a
n





p
e
r
t
u
m
b
u
h
a
n

j
u
m
l
a
h





p
e
n
d
u
d
u
k
.
1
.
1

M
e
n
d
e
s
k
r
i
p
s
i
k
a
n








k
o
n
d
i
s
i

s
i
k

w
i
l
a
y
a
h








d
a
n

p
e
n
d
u
d
u
k
1
.
3

M
e
n
d
e
s
k
r
i
p
s
i
k
a
n








p
e
r
m
a
s
a
l
a
h
a
n








l
i
n
g
k
u
n
g
a
n

h
i
d
u
p








d
a
n

u
p
a
y
a








p
e
n
a
n
g
g
u
l
a
n
g
a
-







n
n
y
a

d
a
l
a
m








p
e
m
b
a
n
g
u
n
a
n








b
e
r
k
e
l
a
n
j
u
t
a
n
V
I
I
I

S
M
P
K
E
L
A
S
M
A
T
E
R
I

P
E
M
B
E
L
A
J
A
R
A
N
I
N
D
I
K
A
T
O
R

P
E
R
I
L
A
K
U

S
I
S
W
A
M
A
T
A

P
E
L
A
J
A
R
A
N
S
K
K
D
S
e
b
e
l
u
m

b
e
n
c
a
n
a

G
e
m
p
a

d
a
n

K
e
s
e
h
a
t
a
n
S
a
a
t

b
e
n
c
a
n
a
- S
e
t
e
l
a
h

b
e
n
c
a
n
a


D
a
m
p
a
k

g
e
m
p
a

t
e
r
h
a
d
a
p





k
e
s
e
h
a
t
a
n
S
e
b
e
l
u
m

b
e
n
c
a
n
a


M
a
c
a
m

p
e
n
y
a
k
i
t

P
e
n
y
e
b
a
b

p
e
n
y
a
k
i
t


G
e
j
a
l
a

p
e
n
y
a
k
i
t

M
e
l
a
k
u
k
a
n

p
e
n
c
e
g
a
h
a
n




p
e
n
y
a
k
i
t
S
a
a
t

b
e
n
c
a
n
a
- S
e
t
e
l
a
h

b
e
n
c
a
n
a

M
e
l
a
k
u
k
a
n

p
e
n
c
e
g
a
h
a
n




t
e
r
h
a
d
a
p

p
e
n
y
a
k
i
t

y
a
n
g




m
u
n
g
k
i
n

d
i
a
k
i
b
a
t
k
a
n




p
a
s
c
a

g
e
m
p
a

b
u
m
i
P
E
N
J
A
S
K
E
S
1
3
.

M
e
n
e
r
a
p
k
a
n

b
u
d
a
y
a








h
i
d
u
p

s
e
h
a
t
1
3
.
1

M
e
l
a
k
u
k
a
n

i
d
e
n
-









t
i

k
a
s
i

b
e
r
b
a
g
a
i










p
e
n
y
a
k
i
t

m
e
n
u
l
a
r









y
a
n
g

b
e
r
s
u
m
b
e
r










d
a
r
i

l
i
n
g
k
u
n
g
a
n










t
i
d
a
k

s
e
h
a
t
1
3
.
2

M
e
l
a
k
u
k
a
n

c
a
r
a










m
e
n
g
h
i
n
d
a
r
i










p
e
n
y
a
k
i
t

m
e
n
u
l
a
r










y
a
n
g

b
e
r
s
u
m
b
e
r










d
a
r
i

l
i
n
g
k
u
n
g
a
n










y
a
n
g

t
i
d
a
k

s
e
h
a
t
V
I
I
I

S
M
P
K
E
L
A
S
M
A
T
E
R
I

P
E
M
B
E
L
A
J
A
R
A
N
I
N
D
I
K
A
T
O
R

P
E
R
I
L
A
K
U

S
I
S
W
A
M
A
T
A

P
E
L
A
J
A
R
A
N
S
K
K
D
S
e
b
e
l
u
m

B
e
n
c
a
n
a


P
e
n
d
e
s
k
r
i
p
-
s
i
k
a
n

t
e
m
p
a
t





a
t
a
u

a
r
a
h

d
a
l
a
m

k
o
n
t
e
k
s





y
a
n
g

s
e
b
e
n
a
r
n
y
a

s
e
s
u
a
i




d
e
n
g
a
n

y
a
n
g

t
e
r
t
e
r
a

d
a
l
a
m




d
e
n
a
h
.


M
e
n
y
i
m
p
u
l
k
a
n

i
s
i

s
u
a
t
u





t
e
k
s

d
e
n
g
a
n

m
e
m
b
a
c
a





c
e
p
a
t

2
5
0

k
a
t
a

p
e
r

m
e
n
i
t
.

C
a
r
a

m
e
n
a
n
g
g
a
p
i

u
n
s
u
r
-



u
n
s
u
r

p
e
m
e
n
t
a
s
a
n

d
r
a
m
a




d
a
n

i
m
p
l
e
m
e
n
t
a
-
s
i
n
y
a
.

B
e
r
m
a
i
n

p
e
r
a
n
.


P
e
n
u
l
i
s
a
n

n
a
s
k
a
h

d
r
a
m
a
.
S
e
b
e
l
u
m

B
e
n
c
a
n
a


M
e
n
d
e
s
k
r
i
p
-
s
i
k
a
n

p
o
t
e
n
s
i





g
e
m
p
a

d
i

d
e
n
a
h
.


M
e
n
y
i
m
p
u
k
a
n

t
e
k
s





m
e
n
g
e
n
a
i

g
e
m
p
a
.


M
e
m
p
e
l
a
j
a
r
i

p
r
o
s
e
d
u
r





p
e
n
y
e
l
a
m
a
t
a
n

d
i
r
i

s
a
a
t





g
e
m
p
a

b
e
r
d
a
s
a
r
k
a
n





p
e
m
e
n
t
a
s
a
n

d
r
a
m
a
.


M
e
m
a
h
a
m
i

p
r
o
s
e
d
u
r





p
e
n
y
e
l
a
m
a
t
a
n

d
i
r
i

s
a
a
t





g
e
m
p
a

m
e
l
a
l
u
i

p
e
r
a
n
.


M
e
n
u
l
i
s
k
a
n

n
a
s
k
a
h

d
r
a
m
a





t
e
n
t
a
n
g

g
e
m
p
a

d
a
n

p
r
o
s
e
d
u
r





p
e
n
y
e
l
a
m
a
t
a
n

d
i
r
i
.
B
a
h
a
s
a

I
n
d
o
n
e
s
i
a
3
.

M
e
m
a
h
a
m
i

r
a
g
a
m





w
a
c
a
n
a

t
u
l
i
s

d
e
n
g
a
n





m
e
m
b
a
c
a





m
e
m
i
n
d
a
i
,

m
e
m
b
a
c
a





c
e
p
a
t
.
5
.

M
e
n
g
a
p
r
e
-
s
i
a
s
i





p
e
m
e
n
t
a
s
a
n

d
r
a
m
a
.
6
.

M
e
n
g
u
n
g
-
k
a
p
k
a
n





p
i
k
i
r
a
n

d
a
n

p
e
r
a
s
a
a
n





d
e
n
g
a
n

b
e
r
m
a
i
n

p
e
r
a
n
.
3
.
2

M
e
n
d
e
s
k
r
i
p
s
i
k
a
n








t
e
m
p
a
t

a
t
a
u

a
r
a
h








d
a
l
a
m

k
o
n
t
e
k
s

y
a
n
g








s
e
b
e
n
a
r
n
y
a

s
e
s
u
a
i








d
e
n
g
a
n

y
a
n
g








t
e
r
t
e
r
a

d
a
l
a
m








d
e
n
a
h
.
3
.
3

M
e
n
y
i
m
p
u
l
k
a
n

i
s
i








s
u
a
t
u

t
e
k
s

d
e
n
g
a
n








m
e
m
b
a
c
a

c
e
p
a
t







2
5
0

k
a
t
a

p
e
r

m
e
n
i
t
.
5
.
1

M
e
n
a
n
g
g
a
p
i

u
n
s
u
r







p
e
m
e
n
t
a
s
a
n

n
a
s
k
a
h






d
r
a
m
a
6
.
1

B
e
r
m
a
i
n

p
e
r
a
n







s
e
s
u
a
i

d
e
n
g
a
n







n
a
s
k
a
h

y
a
n
g

d
i
t
u
l
i
s







s
i
s
w
a
.
6
.
2

B
e
r
m
a
i
n

p
e
r
a
n








d
e
n
g
a
n

c
a
r
a








i
m
p
r
o
v
i
s
a
s
i

s
e
s
u
a
i







d
e
n
g
a
n

k
e
r
a
n
g
k
a







n
a
s
k
a
h

y
a
n
g

d
i
t
u
l
i
s







o
l
e
h

s
i
s
w
a
.
V
I
I
I

S
M
P
K
E
L
A
S
M
A
T
E
R
I

P
E
M
B
E
L
A
J
A
R
A
N
I
N
D
I
K
A
T
O
R

P
E
R
I
L
A
K
U

S
I
S
W
A
M
A
T
A

P
E
L
A
J
A
R
A
N
S
K
K
D
S
a
a
t

T
e
r
j
a
d
i

B
e
n
c
a
n
a


P
e
n
u
l
i
s
a
n

b
a
h
a
s
a

p
e
t
u
n
j
u
k
.


B
e
r
m
a
i
n

p
e
r
a
n
.
S
a
a
t

T
e
r
j
a
d
i

B
e
n
c
a
n
a

M
e
n
u
l
i
s
k
a
n

p
e
t
u
n
j
u
k
-




p
e
t
u
n
j
u
k

p
e
n
y
e
l
a
m
a
t
a
n





g
e
m
p
a
.

M
e
m
a
i
n
k
a
n

p
e
r
a
n





p
e
n
y
e
l
a
m
a
t
a
n

d
i
r
i

d
a
r
i





g
e
m
p
a

b
u
m
i
.
6
.

M
e
n
g
u
n
g
k
a
p
k
a
n

p
i
k
i
r
a
n





d
a
n

p
e
r
a
s
a
a
n

m
e
l
a
l
u
i





k
e
g
i
a
t
a
n

m
e
n
u
l
i
s

k
r
e
a
t
i
f





n
a
s
k
a
h

d
r
a
m
a
.
2
.

M
e
n
g
u
n
g
-
k
a
p
k
a
n





i
n
f
o
r
m
a
s
i

d
a
l
a
m

b
e
n
t
u
k





l
a
p
o
r
a
n
,

s
u
r
a
t

d
i
n
a
s
,




d
a
n

p
e
t
u
n
j
u
k
6
.

M
e
n
g
u
n
g
-
k
a
p
k
a
n





p
i
k
i
r
a
n

d
a
n

p
e
r
a
s
a
a
n





d
e
n
g
a
n

b
e
r
m
a
i
n

p
e
r
a
n
.
2
.


M
e
g
u
n
g
k
a
p

b
e
r
b
a
g
a
i






i
n
f
o
r
m
a
s
i

m
e
l
a
l
u
i






w
a
w
a
n
c
a
r
a

d
a
n






p
r
e
s
e
n
t
a
s
i

l
a
p
o
r
a
n
.
8
.
1

M
e
n
u
l
i
s

k
r
e
a
t
i
f







n
a
s
k
a
h

d
r
a
m
a

s
a
t
u






b
a
b
a
k

d
e
n
g
a
n

m
e
m
-






p
e
r
h
a
t
i
k
a
n







k
e
a
s
l
i
a
n

i
d
e
.
8
.
2

M
e
n
u
l
i
s

k
r
e
a
t
i
f








n
a
s
k
a
h

d
r
a
m
a

s
a
t
u








b
a
b
a
k

d
e
n
g
a
n








m
e
m
p
e
r
h
a
t
i
k
a
n








k
a
i
d
a
h

p
e
n
u
l
i
s
a
n








n
a
s
k
a
h

d
r
a
m
a
.
4
.
3

M
e
n
u
l
i
s

p
e
t
u
n
j
u
k







m
e
l
a
k
u
k
a
n

s
e
s
u
a
t
u








d
e
n
g
a
n

u
r
u
t
a
n

y
a
n
g








t
e
p
a
t

d
a
n








m
e
n
g
g
u
n
a
k
a
n








b
a
h
a
s
a

y
a
n
g

e
f
e
k
t
i
f
V
I
I
I

S
M
P
B
a
h
a
s
a

I
n
d
o
n
e
s
i
a
K
E
L
A
S
M
A
T
E
R
I

P
E
M
B
E
L
A
J
A
R
A
N
I
N
D
I
K
A
T
O
R

P
E
R
I
L
A
K
U

S
I
S
W
A
M
A
T
A

P
E
L
A
J
A
R
A
N
S
K
K
D


C
a
r
a

b
e
r
w
a
w
a
n
c
a
r
a

d
a
n





i
m
p
l
e
m
e
n
t
a
-
s
i
n
y
a
.


C
a
r
a

m
e
n
e
m
u
k
a
n

p
o
k
o
k
-




p
o
k
o
k

b
e
r
i
t
a

d
a
n





i
m
p
l
e
m
e
n
t
a
-
s
i
n
y
a
.


C
a
r
a

m
e
n
g
e
m
u
k
a
k
a
n





k
e
m
b
a
l
i

b
e
r
i
t
a

d
a
n





i
m
p
l
e
m
e
n
t
a
s
i
n
y
a
.
S
e
t
e
l
a
h

T
e
r
j
a
d
i

B
e
n
c
a
n
a

M
e
n
y
u
s
u
n

w
a
w
a
n
c
a
r
a




b
e
r
d
a
s
a
r
k
a
n

p
e
r
i
s
t
i
w
a




g
e
m
p
a

y
a
n
g

t
e
r
j
a
d
i
.


M
e
n
g
u
n
g
k
a
p
-
k
a
n

p
o
k
o
k
-




p
o
k
o
k

b
e
r
i
t
a

m
e
n
g
e
n
a
i





g
e
m
p
a
.


M
e
n
g
e
m
u
k
a
-
k
a
n

k
e
m
b
a
l
i





b
e
r
i
t
a

m
e
n
g
e
n
a
i

g
e
m
p
a
9
.

M
e
m
a
h
a
m
i

i
s
i

b
e
r
i
t
a






r
a
d
i
o
/
t
e
l
e
v
i
s
i
6
.
1

B
e
r
m
a
i
n

p
e
r
a
n








s
e
s
u
a
i

d
e
n
g
a
n

n
a
s
-







k
a
h

y
a
n
g

d
i
t
u
l
i
s








s
i
s
w
a
.
6
.
2

B
e
r
m
a
i
n

p
e
r
a
n








d
e
n
g
a
n

c
a
r
a








i
m
p
r
o
v
i
s
a
s
i

s
e
s
u
a
i







d
e
n
g
a
n

k
e
r
a
n
g
k
a







n
a
s
k
a
h

y
a
n
g

d
i
t
u
l
i
s







o
l
e
h

s
i
s
w
a
.
2
.
1

B
e
r
w
a
w
a
n
c
a
r
a








d
e
n
g
a
n








n
a
r
a
s
u
m
b
e
r

d
a
r
i








b
e
r
b
a
g
a
i

k
a
l
a
n
g
a
n








d
e
n
g
a
n

p
e
r
h
a
t
i
k
a
n








e
t
i
k
a








b
e
r
w
a
w
a
n
c
a
r
a
.
9
.
1

M
e
n
e
m
u
k
a
n

p
o
k
o
k
-







p
o
k
o
k

b
e
r
i
t
a

(
a
p
a
,







s
i
a
p
a
,

m
e
n
g
a
p
a
,







d
i

m
a
n
a
,

k
a
p
a
n
,

d
a
n







b
a
g
a
i
m
a
n
a
)

y
a
n
g







d
i
d
e
n
g
a
r

a
t
a
u







d
i
t
o
n
t
o
n

m
e
a
l
u
i







r
a
d
i
o
/
t
e
l
e
v
i
s
i
.
9
.
2

M
e
n
g
e
m
u
k
a
k
a
n







k
e
m
b
a
l
i

b
e
r
i
t
a

y
a
n
g






d
i
d
e
n
g
a
r
/
d
i
t
o
n
t
o
n






m
e
l
a
l
u
i

r
a
d
i
o
/

t
e
l
e
v
i
s
i
V
I
I
I

S
M
P
B
a
h
a
s
a

I
n
d
o
n
e
s
i
a
K
E
L
A
S
M
A
T
E
R
I

P
E
M
B
E
L
A
J
A
R
A
N
I
N
D
I
K
A
T
O
R

P
E
R
I
L
A
K
U

S
I
S
W
A
M
A
T
A

P
E
L
A
J
A
R
A
N
S
K
K
D
I
X

S
M
P
S
e
b
e
l
u
m

B
e
n
c
a
n
a
S
a
a
t

T
e
r
j
a
d
i

B
e
n
c
a
n
a
S
e
t
e
l
a
h

T
e
r
j
a
d
i

B
e
n
c
a
n
a
S
e
b
e
l
u
m

B
e
n
c
a
n
a
S
a
a
t

T
e
r
j
a
d
i

B
e
n
c
a
n
a
S
e
t
e
l
a
h

T
e
r
j
a
d
i

B
e
n
c
a
n
a
I
P
A

T
e
r
p
a
d
u
S
e
b
e
l
u
m

B
e
n
c
a
n
a


P
e
t
a

t
e
n
t
a
n
g

p
o
l
a

d
a
n





b
e
n
t
u
k
-
b
e
n
t
u
k

m
u
k
a

b
u
m
i


D
i
a
g
r
a
m

b
e
n
t
u
k

m
u
k
a





b
u
m
i

d
a
r
a
t
a
n

d
a
n





d
a
s
a
r

l
a
u
t

U
n
s
u
r
-
u
n
s
u
r

s
i
k

d
a
n




s
o
s
i
a
l

k
a
w
a
s
a
n




a
s
i
a

t
e
n
g
g
a
r
a
S
a
a
t

T
e
r
j
a
d
i

B
e
n
c
a
n
a
- S
e
t
e
l
a
h

T
e
r
j
a
d
i

B
e
n
c
a
n
a


P
o
l
a

d
a
n

b
e
n
t
u
k

o
b
j
e
k





g
e
o
g
r
a

s

s
e
s
u
a
i

d
e
n
g
a
n





b
e
n
t
a
n
g

a
l
a
m
n
y
a
S
e
b
e
l
u
m

B
e
n
c
a
n
a


M
e
n
u
l
i
s
k
a
n

p
e
t
a

t
e
n
t
a
n
g





p
o
l
a

d
a
n

b
e
n
t
u
k
-
b
e
n
t
u
k





m
u
k
a

b
u
m
i


M
e
n
g
g
a
m
b
a
r
k
a
n

d
i
a
g
r
a
m





b
e
n
t
u
k

m
u
k
a

b
u
m
i

d
a
r
a
t
a
n




d
a
n

d
a
s
a
r

l
a
u
t
S
a
a
t

T
e
r
j
a
d
i

B
e
n
c
a
n
a
- S
e
t
e
l
a
h

T
e
r
j
a
d
i

B
e
n
c
a
n
a


M
e
n
y
e
b
u
t
k
a
n

p
o
l
a

d
a
n





b
e
n
t
u
k

o
b
j
e
k

g
e
o
g
r
a

s





s
e
s
u
a
i

d
e
n
g
a
n

b
e
n
t
a
n
g

a
l
a
m
I
P
S
5
.

M
e
m
a
h
a
m
i

h
u
b
u
n
g
a
n





m
a
n
u
s
i
a

d
e
n
g
a
n

b
u
m
i
,
5
.
3

M
e
n
d
e
s
k
r
i
p
s
i
k
a
n








p
e
m
b
a
g
i
a
n








p
e
r
m
u
k
a
a
n

b
u
m
i








a
t
a
s

b
e
n
u
a

d
a
n








s
a
m
u
d
e
r
a
.

K
E
L
A
S
M
A
T
E
R
I

P
E
M
B
E
L
A
J
A
R
A
N
I
N
D
I
K
A
T
O
R

P
E
R
I
L
A
K
U

S
I
S
W
A
M
A
T
A

P
E
L
A
J
A
R
A
N
S
K
K
D
I
X

S
M
P
S
e
b
e
l
u
m

B
e
n
c
a
n
a
B
e
n
c
a
n
a

a
l
a
m
S
a
a
t

T
e
r
j
a
d
i

B
e
n
c
a
n
a
B
e
n
c
a
n
a

a
l
a
m
S
e
t
e
l
a
h

T
e
r
j
a
d
i

B
e
n
c
a
n
a

B
u
d
a
y
a

h
i
d
u
p

s
e
h
a
t
S
e
b
e
l
u
m

B
e
n
c
a
n
a


M
e
l
a
k
u
k
a
n

i
d
e
n
t
i

k
a
s
i

j
e
n
i
s





b
e
n
c
a
n
a


M
e
l
a
k
u
k
a
n

i
d
e
n
t
i

k
a
s
i






p
e
n
y
e
b
a
b

b
e
n
c
a
n
a


M
e
l
a
k
u
k
a
n

p
e
n
c
e
g
a
h
a
n






d
a
n

p
e
n
a
n
g
g
u
l
a
n
g
a
n





b
e
n
c
a
n
a

a
l
a
m
S
a
a
t

T
e
r
j
a
d
i

B
e
n
c
a
n
a


M
e
m
p
r
a
k
t
i
k
k
a
n

c
a
r
a





m
e
n
g
h
a
d
a
p
i

b
e
r
b
a
g
a
i





b
e
n
c
a
n
a

t
e
r
u
t
a
m
a

g
e
m
p
a





b
u
m
i

m
e
l
a
l
u
i

s
i
m
u
l
a
s
i
S
e
t
e
l
a
h

T
e
r
j
a
d
i

B
e
n
c
a
n
a


M
e
l
a
k
u
k
a
n

t
r
a
u
m
a

h
e
a
l
i
n
g




d
a
n

r
e
k
o
n
s
t
r
u
k
s
i

p
a
s
c
a




g
e
m
p
a

b
u
m
i
P
E
N
J
A
S
K
E
S
1
3
.

M
e
n
e
r
a
p
k
a
n

b
u
d
a
y
a








h
i
d
u
p

s
e
h
a
t
1
3
.
1

M
e
m
p
r
a
k
t
i
k
a
n










i
d
e
n
t
i

k
a
s
i

b
a
h
a
y
a










b
e
n
c
a
n
a

a
l
a
m
1
3
.
2

M
e
m
p
r
a
k
t
i
k
a
n









c
a
r
a

m
e
n
g
h
a
d
a
p
i









b
e
r
b
a
g
a
i








b
e
n
c
a

a
l
a
m
S
e
b
e
l
u
m

B
e
n
c
a
n
a


P
e
n
y
i
m
p
u
l
a
n

d
i
a
l
o
g





i
n
t
e
r
a
k
t
i
f
.


C
a
r
a

m
e
m
b
e
d
a
k
a
n






f
a
k
t
a

d
a
n

o
p
i
n
i

s
e
r
t
a





i
m
p
l
e
m
e
n
t
a
-
s
i
n
y
a
.


P
e
n
u
l
i
s
a
n

i
k
l
a
n

b
a
r
i
s
.


C
a
r
a

m
e
r
e
s
e
n
s
i

b
u
k
u





p
e
n
g
e
t
a
h
u
a
n

d
a
n





i
m
p
l
e
m
e
n
t
a
-
s
i
n
y
a
.


C
a
r
a

m
e
n
e
m
u
k
a
n

g
a
g
a
s
a
n




d
a
l
a
m

w
a
c
a
n
a

d
a
n





i
m
p
l
e
m
e
n
t
a
-
s
i
n
y
a
.


P
e
n
y
i
m
p
u
l
a
n

t
e
k
s

b
a
c
a
a
n




d
e
n
g
a
n

m
e
m
b
a
c
a

c
e
p
a
t



3
0
0

k
a
t
a

p
e
r

m
e
n
i
t
.


P
e
n
u
l
i
s
a
n

k
a
r
y
a

t
u
l
i
s
S
e
b
e
l
u
m

B
e
n
c
a
n
a



M
e
n
y
i
m
p
u
l
k
a
n

d
i
a
l
o
g






i
n
t
e
r
a
k
t
i
f

t
e
n
t
a
n
g

g
e
m
p
a
.



M
e
m
b
e
d
a
k
a
n

f
a
k
t
a

d
a
n






o
p
i
n
i

m
e
n
g
e
n
a
i

p
e
r
i
s
t
i
w
a






g
e
m
p
a
.


M
e
n
u
l
i
s
k
a
n

i
k
l
a
n

b
a
r
i
s





m
e
n
g
e
n
a
i

p
o
t
e
n
s
i

d
a
n





d
a
m
p
a
k

b
e
n
c
a
n
a

g
e
m
p
a





d
a
e
r
a
h

y
a
n
g

d
i
t
i
n
g
g
a
l
i
.


M
e
n
u
l
i
s
k
a
n

r
e
s
e
n
s
i

b
u
k
u





p
e
n
g
e
t
a
h
u
a
n

m
e
n
g
e
n
a
i





g
e
m
p
a
.


M
e
n
u
l
i
s
k
a
n

g
a
g
a
s
a
n

d
a
l
a
m




w
a
c
a
n
a

g
e
m
p
a
.


M
e
n
y
i
m
p
u
l
k
a
n

t
e
k
s





m
e
n
g
e
n
a
i

g
e
m
p
a
.


M
e
m
b
u
a
t

k
a
r
y
a

t
u
l
i
s





b
e
r
t
e
m
a
k
a
n

g
e
m
p
a
B
a
h
a
s
a

I
n
d
o
n
e
s
i
a
1
.

M
e
m
a
h
a
m
i

d
i
a
l
o
g





i
n
t
e
r
a
k
t
i
f

p
a
d
a

t
a
y
a
n
g
a
n





t
e
l
e
v
i
s
i
/

s
i
a
r
a
n

r
a
d
i
o
.
3
.

M
e
m
a
h
a
m
i

r
a
g
a
m

w
a
c
a
n
a





t
u
l
i
s

d
e
n
g
a
n

m
e
m
b
a
c
a





i
n
t
e
n
s
i
f

d
a
n

m
e
m
b
a
c
a





m
e
m
i
n
d
a
i
.
4
.

M
e
n
g
u
n
g
k
a
p
k
a
n





i
n
f
o
r
m
a
s
i

d
a
l
a
m

b
e
n
t
u
k





i
k
l
a
n

b
a
r
i
s
,

r
e
s
e
n
s
i
,

d
a
n





k
a
r
a
n
g
a
n
1
.
1

M
e
n
y
i
m
p
u
l
k
a
n

i
s
i








d
i
a
l
o
g

i
n
t
e
r
a
k
t
i
f







b
e
b
e
r
a
p
a







n
a
r
a
s
u
m
b
e
r

p
a
d
a







t
a
y
a
n
g
a
n

t
e
l
e
v
i
s
i
/






s
i
a
r
a
n

r
a
d
i
o
.
3
.
1

M
e
m
b
e
d
a
k
a
n







a
n
t
a
r
a

f
a
k
t
a

d
a
n







o
p
i
n
i

d
a
l
a
m

t
e
k
s







i
k
l
a
n

d
i

s
u
r
a
t

k
a
b
a
r







m
e
l
a
l
u
i

k
e
g
i
a
t
a
n







m
e
m
b
a
c
a

i
n
t
e
n
s
i
f
.
4
.
1

M
e
n
u
l
i
s

i
k
l
a
n

b
a
r
i
s







d
e
n
g
a
n

b
a
h
a
s
a

y
a
n
g







s
i
n
g
k
a
t
,

p
a
d
a
t

d
a
n







j
e
l
a
s
.
4
.
2

M
e
r
e
s
e
n
s
i

b
u
k
u







p
e
n
g
e
t
a
h
u
a
n
.
K
E
L
A
S
M
A
T
E
R
I

P
E
M
B
E
L
A
J
A
R
A
N
I
N
D
I
K
A
T
O
R

P
E
R
I
L
A
K
U

S
I
S
W
A
M
A
T
A

P
E
L
A
J
A
R
A
N
S
K
K
D
S
a
a
t

T
e
r
j
a
d
i

B
e
n
c
a
n
a


C
a
r
a

m
e
n
e
m
u
k
a
n





i
n
f
o
r
m
a
s
i

s
e
c
a
r
a

c
e
p
a
t




d
a
n

i
m
p
l
e
m
e
n
t
a
-
s
i
n
y
a
.


M
e
n
u
l
i
s

c
e
r
i
t
a

p
e
n
d
e
k





b
e
r
t
o
l
a
k

d
a
r
i

p
e
r
i
s
t
i
w
a





y
a
n
g

p
e
r
n
a
h

d
i
a
l
a
m
i
S
e
t
e
l
a
h

T
e
r
j
a
d
i

B
e
n
c
a
n
a


P
e
n
y
i
m
p
u
l
a
n

d
i
a
l
o
g





i
n
t
e
r
a
k
t
i
f
.


C
a
r
a

m
e
n
g
o
m
e
n
t
a
r
i





p
e
n
d
a
p
a
t

d
a
l
a
m

d
i
a
l
o
g




d
a
n

i
m
p
l
e
m
e
n
t
a
-
s
i
n
y
a
.


P
e
l
a
p
o
r
a
n

b
e
r
b
a
g
a
i





p
e
r
i
s
t
i
w
a
.


C
a
r
a

m
e
m
b
e
d
a
k
a
n


f
a
k
t
a





d
a
n

o
p
i
n
i

s
e
r
t
a





i
m
p
l
e
m
e
n
t
a
s
i
n
y
a
.


M
e
n
u
l
i
s

c
e
r
i
t
a

p
e
n
d
e
k





b
e
r
t
o
l
a
k

d
a
r
i

p
e
r
i
s
t
i
w
a





y
a
n
g

p
e
r
n
a
h

d
i
a
l
a
m
i
.


C
a
r
a

m
e
n
e
m
u
k
a
n

g
a
g
a
s
a
n





d
a
l
a
m

w
a
c
a
n
a

d
a
n





i
m
p
l
e
m
e
n
t
a
s
i
-
n
y
a
.


P
e
n
u
l
i
s
a
n

s
u
r
a
t

p
e
m
b
a
c
a
.

P
e
n
u
l
i
s
a
n

n
a
s
k
a
h

d
r
a
m
a




b
e
r
d
a
s
a
r
k
a
n

p
e
r
i
s
t
i
w
a

n
y
a
t
a
S
a
a
t

T
e
r
j
a
d
i

B
e
n
c
a
n
a


M
e
n
y
a
d
a
r
i

i
n
f
o
r
m
a
s
i





m
e
n
g
e
n
a
i

g
e
m
p
a

d
a
n





m
e
n
g
i
n
f
o
r
m
a
s
i
k
a
n
n
y
a
.


M
e
n
u
l
i
s
k
a
n

c
e
r
i
t
a

p
e
n
d
e
k





m
e
n
g
e
n
a
i

g
e
m
p
a





b
e
r
d
a
s
a
r
k
a
n

p
e
r
i
s
t
i
w
a





y
a
n
g

p
e
r
n
a
h

d
i
a
l
a
m
i
.
S
e
t
e
l
a
h

T
e
r
j
a
d
i

B
e
n
c
a
n
a



M
e
n
y
i
m
p
u
l
k
a
n

d
i
a
l
o
g






i
n
t
e
r
a
k
t
i
f

m
e
n
g
e
n
a
i

p
e
r
i
s
t
i
w
a






g
e
m
p
a

d
a
n

d
a
m
p
a
k
n
y
a






p
a
d
a

l
i
n
g
k
u
n
g
a
n
.


M
e
n
g
o
m
e
n
t
a
r
i

p
e
n
d
a
p
a
t





m
e
n
g
e
n
a
i

g
e
m
p
a
.


M
e
l
a
p
o
r
k
a
n

p
e
r
i
s
t
i
w
a

g
e
m
p
a
.


M
e
m
b
e
d
a
k
a
n

f
a
k
t
a

d
a
n

o
p
i
n
i





p
e
r
i
s
t
i
w
a

g
e
m
p
a
.


M
e
n
u
l
i
s
k
a
n

c
e
r
i
t
a

p
e
n
d
e
k





m
e
n
g
e
n
a
i

d
a
p
a
k

p
e
r
i
s
t
i
w
a





g
e
m
p
a

b
e
r
t
o
l
a
k

d
a
r
i

p
e
r
i
s
t
i
w
a





y
a
n
g

p
e
r
n
a
h

d
i
a
l
a
m
i
.


M
e
n
u
l
i
s
k
a
n

g
a
g
a
s
a
n

w
a
c
a
n
a





m
e
n
g
e
n
a
i

d
a
m
p
a
k

g
e
m
p
a
.


M
e
n
u
l
i
s
k
a
n

s
u
r
a
t

p
e
m
b
a
c
a





y
a
n
g

b
e
r
h
u
b
u
n
g
a
n

d
e
n
g
a
n




p
e
r
i
s
t
i
w
a

g
e
m
p
a
.


M
e
n
u
l
i
s
k
a
n

n
a
s
k
a
h

d
r
a
m
a





b
e
r
d
a
s
a
r
k
a
n

p
e
r
i
s
t
i
w
a

g
e
m
p
a
.
B
a
h
a
s
a

I
n
d
o
n
e
s
i
a
1
2
.

M
e
n
g
u
n
g
k
a
p
k
a
n

p
i
k
i
r
a
n
,








p
e
r
a
s
a
a
n
,

d
a
n

i
n
f
o
r
m
a
s
i








d
a
l
a
m

b
e
n
t
u
k

k
a
r
y
a








i
l
m
i
a
h

s
e
d
e
r
h
a
n
a
,

t
e
k
s








p
i
d
a
t
o
,

s
u
r
a
t

M
e
m
a
h
a
m
i

r
a
g
a
m

w
a
c
a
n
a





t
u
l
i
s

d
e
n
g
a
n

m
e
m
b
a
c
a





i
n
t
e
n
s
i
f

d
a
n

m
e
m
b
a
c
a





m
e
m
i
n
d
a
i
.
8
.

M
e
n
g
u
n
g
k
a
p
k
a
n

k
e
m
b
a
l
i





p
i
k
i
r
a
n
,

p
e
r
a
s
a
a
n
,

d
a
n





p
e
n
g
a
l
a
m
a
n

d
a
l
a
m

c
e
r
i
t
a





p
e
n
d
e
k
.
1
.

M
e
m
a
h
a
m
i

d
i
a
l
o
g





i
n
t
e
r
a
k
t
i
f

p
a
d
a

t
a
y
a
n
g
a
n





t
e
l
e
v
i
s
i
/

s
i
a
r
a
n

r
a
d
i
o
.
2
.

M
e
n
g
u
n
g
k
a
p
k
a
n

p
i
k
i
r
a
n
,





p
e
r
a
s
a
a
n
,

d
a
n

i
n
f
o
r
m
a
s
i





d
a
l
a
m

b
e
n
t
u
k

k
o
m
e
n
t
a
r





d
a
n

l
a
p
o
r
a
n
.
3
.

M
e
m
a
h
a
m
i

r
a
g
a
m

w
a
c
a
n
a





t
u
l
i
s

d
e
n
g
a
n

m
e
m
b
a
c
a





i
n
t
e
n
s
i
f

d
a
n

m
e
m
b
a
c
a





m
e
m
i
n
d
a
i
.
8
.

M
e
n
g
u
n
g
k
a
p
k
a
n

k
e
m
b
a
l
i





p
i
k
i
r
a
n
,

p
e
r
a
s
a
a
n
,

d
a
n





p
e
n
g
a
l
a
m
a
n

d
a
l
a
m

c
e
r
i
t
a





p
e
n
d
e
k
1
2
.
1

M
e
n
u
l
i
s

k
a
r
y
a

t
u
l
i
s











s
e
d
e
r
h
a
n
a

d
e
n
g
a
n










m
e
n
g
g
u
n
a
-
k
a
n










b
e
r
b
a
g
a
i

s
u
m
b
e
r
.
1
2
.
3

M
e
n
u
l
i
s


s
u
r
a
t










p
e
m
b
a
c
a

t
e
n
t
a
n
g










l
i
n
g
k
u
n
g
a
n










s
e
k
o
l
a
h
.
3
.
2

M
e
n
e
m
u
k
a
n








i
n
f
o
r
m
a
s
i

y
a
n
g








d
i
p
e
r
l
u
k
a
n

s
e
c
a
r
a








c
e
p
a
t

d
a
n

t
e
p
a
t








d
a
r
i

i
n
d
e
k
s

b
u
k
u








m
e
l
a
l
u
i

k
e
g
i
a
t
a
n








m
e
m
b
a
c
a








m
e
m
i
n
d
a
i
.
8
.
2

M
e
n
u
l
i
s

c
e
r
i
t
a








p
e
n
d
e
k

b
e
r
t
o
l
a
k








d
a
r
i

p
e
r
i
s
t
i
w
a

y
a
n
g








p
e
r
n
a
h

d
i
a
l
a
m
i
.
I
X

S
M
P
K
E
L
A
S
M
A
T
E
R
I

P
E
M
B
E
L
A
J
A
R
A
N
I
N
D
I
K
A
T
O
R

P
E
R
I
L
A
K
U

S
I
S
W
A
M
A
T
A

P
E
L
A
J
A
R
A
N
S
K
K
D
B
a
h
a
s
a

I
n
d
o
n
e
s
i
a
1
1
.

M
e
m
a
h
a
m
i

r
a
g
a
m








w
a
c
a
n
a

t
u
l
i
s

e
n
g
a
n








m
e
m
b
a
c
a

e
k
s
t
e
n
s
i
f
,








m
e
m
b
a
c
a

i
n
t
e
n
s
i
f
,

d
a
n








m
e
m
b
a
c
a

c
e
p
a
t
.
1
2
.

M
e
n
g
u
n
g
-
k
a
p
k
a
n

p
i
k
i
r
a
n
,








p
e
r
a
s
a
a
n
,

d
a
n

i
n
f
o
r
m
a
s
i








d
a
l
a
m

b
e
n
t
u
k

k
a
r
y
a








i
l
m
i
a
h

s
e
d
e
r
h
a
n
a
,

t
e
k
s








p
i
d
a
t
o
,

s
u
r
a
t
.
1
6
.

M
e
n
u
l
i
s

n
a
s
k
a
h

d
r
a
m
a
.
1
.
1

M
e
n
y
i
m
p
u
l
k
a
n

i
s
i








d
i
a
l
o
g

i
n
t
e
r
a
k
t
i
f








b
e
b
e
r
a
p
a








n
a
r
a
s
u
m
b
e
r

p
a
d
a








t
a
y
a
n
g
a
n

t
e
l
e
v
i
s
i
/







s
i
a
r
a
n

r
a
d
i
o
.
1
.
2

M
e
n
g
o
m
e
n
t
a
r
i







p
e
n
d
a
p
a
t







n
a
r
a
s
u
m
b
e
r

d
a
l
a
m







d
i
a
l
o
g

i
n
t
e
r
a
k
t
i
f







p
a
d
a

t
a
y
a
n
g
a
n







t
e
l
e
v
i
s
i
/
s
i
a
r
a
n

r
a
d
i
o
.
2
.
2

M
e
l
a
p
o
r
k
a
n


s
e
c
a
r
a








l
i
s
a
n

b
e
r
b
a
g
a
i








p
e
r
i
s
t
i
w
a

d
e
n
g
a
n








m
e
n
g
g
u
n
a
k
a
n








k
a
l
i
m
a
t

y
a
n
g

j
e
l
a
s
.
3
.
2

M
e
n
e
m
u
k
a
n








i
n
f
o
r
m
a
s
i

y
a
n
g







d
i
p
e
r
l
u
k
a
n

s
e
c
a
r
a







c
e
p
a
t

d
a
n

t
e
p
a
t

d
a
r
i







i
n
d
e
k
s

b
u
k
u

m
e
l
a
l
u
i







k
e
g
i
a
t
a
n

m
e
m
b
a
c
a







m
e
m
i
n
d
a
i
.
8
.
2

M
e
n
u
l
i
s

c
e
r
i
t
a








p
e
n
d
e
k








b
e
r
t
o
l
a
k

d
a
r
i








p
e
r
i
s
t
i
w
a








y
a
n
g

p
e
r
n
a
h








d
i
a
l
a
m
i
.
1
.
1

M
e
n
y
i
m
p
u
l
k
a
n

i
s
i








d
i
a
l
o
g

i
n
t
e
r
a
k
t
i
f








b
e
b
e
r
a
p
a








n
a
r
a
s
u
m
b
e
r








p
a
d
a

t
a
y
a
n
g
a
n








t
e
l
e
v
i
s
i
/







s
i
a
r
a
n

r
a
d
i
o
.
1
2
.
3

M
e
n
u
l
i
s


s
u
r
a
t










p
e
m
b
a
c
a

t
e
n
t
a
n
g









l
i
n
g
k
u
n
g
a
n

s
e
k
o
l
a
h
.
1
6
.
2

M
e
n
u
l
i
s

n
a
s
k
a
h










d
r
a
m
a

b
e
r
a
s
a
r
k
a
n










p
e
r
i
s
t
i
w
a

n
y
a
t
a
.
I
X

S
M
P
Modul Ajar Pengintegrasian Pengurangan Risiko Gempa Bumi untuk SMP/MTs
65
5.1.3. Penyusunan Silabus Mata Pelajaran Terintegrasi
Silabus sebagai acuan pengembangan RPP memuat komponen yang harus
dikembangkan sesuai dengan kondisi dan kebutuhan peserta didik dan
lingkungannya. Komponen tersebut terdiri atas Standar Kompetensi (SK),
Kompetensi Dasar (KD), materi pembelajaran, kegiatan pembelajaran, indikator
pencapaian kompetensi, penilaian, alokasi waktu, dan sumber belajar.
Silabus dikembangkan oleh satuan pendidikan berdasarkan Standar Isi (SI)
dan Standar Kompetensi Lulusan (SKL), serta panduan penyusunan Kurikulum
Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP). Silabus harus menjawab pertanyaan
kompetensi apa yang harus dicapai anak? Bagaimana cara mencapainya? Dan
bagaimana cara menilai ketercapaian kompetensi itu?
Dalam pelaksanaannya, pengembangan silabus dapat dilakukan oleh para
guru secara mandiri atau berkelompok dalam sebuah sekolah/madrasah atau
beberapa sekolah, kelompok Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP) atau
Pusat Kegiatan Guru (PKG), dan Dinas Pendidikan. Pengembangan silabus
disusun di bawah supervisi dinas kabupaten/kota yang bertanggung jawab
di bidang pendidikan. Tabel dibawah ini merupakan contoh-contoh silabus
integrasi pengurangan risiko gempa bumi untuk beberapa mata pelajaran.
T
a
b
e
l

5
.
3

S
i
l
a
b
u
s

I
n
t
e
g
r
a
s
i

P
e
n
g
u
r
a
n
g
a
n

R
i
s
i
k
o

G
e
m
p
a

B
u
m
i

U
n
t
u
k

M
a
t
a

P
e
l
a
j
a
r
a
n

I
P
S

K
e
l
a
s

V
I
I

S
e
m
e
s
t
e
r

1
M
o
d
e
l

S
i
l
a
b
u
s

I
n
t
e
g
r
a
s
i

P
e
n
d
i
d
i
k
a
n

P
e
n
g
u
r
a
n
g
a
n

R
i
s
i
k
o

G
e
m
p
a

B
u
m
i

D
a
l
a
m

M
a
t
a

P
e
l
a
j
a
r
a
n

S
e
k
o
l
a
h



:

S
M
P

K
e
l
a
s




:

V
I
I

(
t
u
j
u
h
)
M
a
t
a

P
e
l
a
j
a
r
a
n


:

I
l
m
u

P
e
n
g
e
t
a
h
u
a
n

S
o
s
i
a
l
S
e
m
e
s
t
e
r



:

1

(
s
a
t
u
)
K
O
M
P
E
T
E
N
S
I
D
A
S
A
R
M
A
T
E
R
I
P
O
K
O
K
K
E
G
I
A
T
A
N
P
E
M
B
E
L
A
J
A
R
A
N
I
N
D
I
K
A
T
O
R
P
E
N
I
L
A
I
A
N
S
U
M
B
E
R
/
B
A
H
A
N
/
A
L
A
T
A
L
O
K
A
S
I
W
A
K
T
U
1
.
1

M
e
n
d
e
s
k
r
i
p
s
i
k
a
n








k
e
r
a
g
a
m
a
n








b
e
n
t
u
k

m
u
k
a








b
u
m
i
,

p
r
o
s
e
s








p
e
m
b
e
n
t
u
k
a
n
,








d
a
n

d
a
m
p
a
k
n
y
a








t
e
r
h
a
d
a
p








k
e
h
i
d
u
p
a
n
T
e
n
a
g
a

E
n
d
o
g
e
n

d
a
n

T
e
n
a
g
a
E
k
s
o
g
e
n
G
e
j
a
l
a

d
i
a
s
t
r
o
p
i
s
m
e

d
a
n

v
u
l
k
a
n
i
s
m
e
F
a
k
t
o
r
-
f
a
k
t
o
r

p
e
n
y
e
b
a
b

t
e
r
j
a
d
i
n
y
a

g
e
m
p
a

b
u
m
i
J
e
n
i
s
-
j
e
n
i
s

b
a
t
u
a
n
P
r
o
s
e
s

p
e
l
a
p
u
k
a
n
t

.
F
O
H
B
N
B
U
J

H
B
N
C
B
S

C
F
O
U
V
L
B
O

b
e
n
t
u
k
a
n

d
i

m
k
a

b
u
m
i

y
a
n
g


m
e
r
u
p
a
k
a
n

h
a
s
i
l

d
a
r
i

t
e
n
a
g
a



g
e
o
l
o
g
i
t

.
F
O
H
B
N
B
U
J

H
B
N
C
B
S

U
F
O
U
B
O
H

g
e
j
a
l
a
-
g
e
j
a
l
a

d
i
a
s
t
r
o
p
i
s
m
e




d
a
n

v
u
l
k
a
n
i
s
m
e
t

.
F
O
H
B
N
B
U
J

Q
F
U
B

T
F
C
B
S
B
O

U
J
Q
F

g
u
n
u
n
g

a
p
i

d
i

I
n
d
o
n
e
s
i
a
t

.
F
O
H
L
B
K
J

G
B
L
U
P
S

G
B
L
U
P
S

p
e
n
y
e
b
a
b

t
e
r
j
a
d
i
n
y
a

g
e
m
p
a



b
u
m
i
t

.
F
O
H
B
N
B
U
J

D
P
O
U
P
I

K
F
O
J
T

C
B
U
V
B
O


m
e
l
a
l
u
i

g
a
m
b
a
r

d
a
n

b
a
t
u
a
n



y
a
n
g

a
d
a

d
i

l
i
n
g
k
u
n
g
a
n

s
e
k
i
t
a
r
t

5
V
M
J
T
t

-
J
T
B
O

t

1
F
S
G
P
S
N
B
O
T
t

1
S
P
E
V
L
1
2

J
P
t

.
F
O
E
F
T
L
S
J
Q
T
J
L
B
O

Q
S
P
T
F
T

B
M
B
N

e
n
d
o
g
e
n

y
a
n
g

m
e
n
y
e
b
a
b
k
a
n



t
e
r
j
a
d
i
n
y
a

b
e
n
t
u
k

m
u
k
a

b
u
m
i
t

.
F
O
E
F
T
L
S
J
Q
T
J
L
B
O

H
F
K
B
M
B

d
i
a
s
t
r
o
p
i
s
m
e

d
a
n

v
u
l
k
a
n
i
s
m
e



s
e
r
t
a

s
e
b
a
r
a
n

t
i
p
e

g
u
n
u
n
g

a
p
i
t

.
F
O
E
F
T
L
S
J
Q
T
J
L
B
O

G
B
L
U
P
S

G
B
L
U
P
S

p
e
n
y
e
b
a
b

t
e
r
j
a
d
i
n
y
a

g
e
m
p
a



b
u
m
i

d
a
n

a
k
i
b
a
t

y
a
n
g



d
i
t
i
m
b
u
l
k
a
n
n
y
a
t

.
F
O
H
J
O
E
F
O
U
J
ö
L
B
T
J

K
F
O
J
T

C
B
U
V
B
O

b
e
r
d
a
s
a
r
k
a
n

p
r
o
s
e
s



p
e
m
b
e
n
t
u
k
a
n
n
y
a
t

.
F
O
E
F
T
L
S
J
Q
T
J
L
B
O

Q
S
P
T
F
T

p
e
l
a
p
u
k
a
n
t

1
F
U
B
t

"
U
M
B
T
t

(
M
P
C
F
t

-
,
4
t

$
%
t

#
V
L
V

*
1
4
t

E
M
M



S
t
a
n
d
a
r

K
o
m
p
e
t
e
n
s
i





:

1
.


M
e
m
a
h
a
m
i

l
i
n
g
k
u
n
g
a
n

k
e
h
i
d
u
p
a
n

m
a
n
u
s
i
a
.
K
O
M
P
E
T
E
N
S
I
D
A
S
A
R
M
A
T
E
R
I
P
O
K
O
K
K
E
G
I
A
T
A
N
P
E
M
B
E
L
A
J
A
R
A
N
I
N
D
I
K
A
T
O
R
P
E
N
I
L
A
I
A
N
S
U
M
B
E
R
/
B
A
H
A
N
/
A
L
A
T
A
L
O
K
A
S
I
W
A
K
T
U
1
.
1

M
e
n
d
e
s
k
r
i
p
s
i
k
a
n








k
e
r
a
g
a
m
a
n








b
e
n
t
u
k

m
u
k
a








b
u
m
i
,

p
r
o
s
e
s








p
e
m
b
e
n
t
u
k
a
n
,








d
a
n

d
a
m
p
a
k
n
y
a








t
e
r
h
a
d
a
p








k
e
h
i
d
u
p
a
n
P
r
o
s
e
s

e
r
o
s
i

d
a
n

p
e
n
y
e
b
a
b
n
y
a
P
r
o
s
e
s

s
e
d
i
m
e
n
t
a
s
i
D
a
m
p
a
k

p
o
s
i
t
i
f

d
a
n

n
e
g
a
t
i
f

d
a
r
i

t
e
n
a
g
a

e
n
d
o
g
e
n

d
a
n

e
k
s
o
g
e
n

b
a
g
i

k
e
h
i
d
u
p
a
n

s
e
r
t
a

u
p
a
y
a


p
e
n
a
n
g
-
g
u
l
a
n
g
a
n
n
y
a
.

t

.
F
O
H
B
N
B
U
J

H
B
N
C
B
S

E
B
O

l
i
n
g
k
u
n
g
a
n

s
e
k
i
t
a
r

t
e
n
t
a
n
g



p
r
o
s
e
s

p
e
l
a
p
u
k
a
n
t

.
F
O
H
B
N
B
U
J

P
C
Z
F
L

E
B
O

H
B
N
C
B
S

t
e
n
t
a
n
g

e
r
o
s
i
.
t

.
F
O
F
M
B
B
I

D
P
O
U
P
I

L
F
O
B
N
Q
B
L
B
O

h
a
s
i
l

p
r
o
s
e
s

s
e
d
i
m
e
n
t
a
s
i
t

.
F
N
C
B
D
B

C
V
L
V

T
V
N
C
F
S

t
e
n
t
a
n
g

d
a
m
p
a
k

p
o
s
i
t
i
f

d
a
n



n
e
g
a
t
i
f

t
e
n
a
g
a

e
n
d
o
g
e
n

d
a
n



e
k
s
o
g
e
n

b
a
g
i

k
e
h
i
d
u
p
a
n

s
e
r
t
a



u
p
a
y
a

p
e
n
a
n
g
g
u
l
a
n
g
a
n
n
y
a
t

5
V
M
J
T
t

-
J
T
B
O

t

1
F
S
G
P
S
N
B
O
T
t

1
S
P
E
V
L
1
2

J
P
t

.
F
O
E
F
T
L
S
J
Q
T
J
L
B
O

Q
S
P
T
F
T

F
S
P
T
J

d
a
n

f
a
k
t
o
r
-
f
a
k
t
o
r

p
e
n
y
e
b
a
b
n
y
a
,



d
a
m
p
a
k
n
y
a
t

.
F
N
C
F
S
J
L
B
O

D
P
O
U
P
I

C
F
O
U
V
L
B
O

y
a
n
g

d
i
h
a
s
i
l
k
a
n

o
l
e
h

p
r
o
s
e
s



s
e
d
i
m
e
n
t
a
s
i
.
t

.
F
O
H
J
E
F
O
U
J
ö
L
B
T
J

E
B
N
Q
B
L

p
o
s
i
t
i
f

d
a
n

n
e
g
a
t
i
f

d
a
r
i

t
e
n
a
g
a



e
n
d
o
g
e
n

d
a
n

e
k
s
o
g
e
n

b
a
g
i



k
e
h
i
d
u
p
a
n

s
e
r
t
a

u
p
a
y
a



p
e
n
a
n
g
g
u
l
a
n
g
a
n
n
y
a
.
t

1
F
U
B
t

"
U
M
B
T
t

(
M
P
C
F
t

-
,
4
t

$
%
t

#
V
L
V

*
1
4
t

E
M
M
K
O
M
P
E
T
E
N
S
I
D
A
S
A
R
M
A
T
E
R
I
P
O
K
O
K
K
E
G
I
A
T
A
N
P
E
M
B
E
L
A
J
A
R
A
N
I
N
D
I
K
A
T
O
R
P
E
N
I
L
A
I
A
N
S
U
M
B
E
R
/
B
A
H
A
N
/
A
L
A
T
A
L
O
K
A
S
I
W
A
K
T
U
6
.
1

M
e
n
d
e
s
k
r
i
p
s
i
k
a
n








p
o
l
a

k
e
g
i
a
t
a
n








e
k
o
n
o
m
i








p
e
n
d
u
d
u
k
,








p
e
n
g
g
u
n
a
a
n








l
a
h
a
n
,

d
a
n

p
o
l
a








p
e
r
m
u
k
i
m
a
n








b
e
r
d
a
s
a
r
k
a
n








k
o
n
d
i
s
i

s
i
k








p
e
r
m
u
k
a
a
n

b
u
m
i
P
e
n
g
g
u
n
a
a
n

l
a
h
a
n
M
a
c
a
m
-
m
a
c
a
m

m
a
t
a

p
e
n
c
a
h
a
r
i
a
n

p
e
n
d
u
d
u
k
K
a
i
t
a
n

b
e
n
t
u
k

m
u
k
a

b
u
m
i

d
e
n
g
a
n

p
e
n
g
g
u
n
a
a
n

l
a
h
a
n
B
e
n
t
u
k

p
e
n
g
g
u
n
a
a
n

l
a
h
a
n

d
i

p
e
d
e
s
a
a
n

d
a
n

p
e
r
k
o
t
a
a
n
.
P
o
l
a

p
e
r
m
u
k
i
m
a
n

p
e
n
d
u
d
u
k

(
m
e
n
g
i
k
u
t
i

a
l
u
r

s
u
n
g
a
i
,

j
a
l
a
n

d
a
n

p
a
n
t
a
i
)
.
K
a
i
t
a
n

b
e
n
t
a
n
g

l
a
h
a
n

d
e
n
g
a
n

p
e
r
s
e
b
a
r
a
n

p
e
r
m
u
k
i
m
a
n

p
e
n
d
u
d
u
k
.
-

M
e
n
c
a
r
l

l
n
f
o
r
m
a
s
l

d
a
r
l

b
u
k
u



s
u
m
b
e
r

a
t
a
u

m
e
d
i
a

b
e
l
a
j
a
r

l
a
i
n



t
e
n
t
a
n
g

m
a
c
a
m
-
m
a
c
a
m

m
a
t
a



p
e
n
c
a
h
a
r
i
a
n

p
e
n
d
u
d
u
k
.
-

T
a
n
y
a

[
a
w
a
b

k
a
l
t
a
n

b
e
n
t
u
k



m
u
k
a

b
u
m
i

d
e
n
g
a
n



p
e
n
g
g
u
n
a
a
n

l
a
h
a
n
.
-

M
e
n
g
a
m
a
t
l

p
e
t
a

t
a
t
a

g
u
n
a



l
a
h
a
n

d
a
n

t
a
n
y
a

[
a
w
a
b

t
e
n
t
a
n
g



p
e
n
g
g
u
n
a
a
n

l
a
h
a
n

d
i

p
e
d
e
s
a
a
n



d
a
n

p
e
r
k
a
o
t
a
a
n
.
-

M
e
n
g
a
m
a
t
l

g
a
m
b
a
r

d
a
n

t
a
n
y
a



[
a
w
a
b

t
e
n
t
a
n
g

p
o
l
a



p
e
r
m
u
k
i
m
a
n

p
e
n
d
u
d
u
k



(
m
e
n
g
i
k
u
t
i

a
l
u
r

s
u
n
g
a
i
,

j
a
l
a
n
,



p
a
n
t
a
i
)
.
-

T
a
n
y
a

[
a
w
a
b

t
e
n
t
a
n
g

k
a
l
t
a
n



b
e
n
t
a
n
g

l
a
h
a
n

d
e
n
g
a
n



p
e
r
s
e
b
a
r
a
n

p
e
r
m
u
k
i
m
a
n



p
e
n
d
u
d
u
k
.
s
e
r
t
a

a
l
a
s
a
n



p
e
n
d
u
d
u
k

b
e
r
m
u
k
i
m

d
i



s
u
a
t
u

l
o
k
a
s
i
.
-

M
e
n
g
l
d
e
n
t
l
ñ
k
a
s
l

m
a
t
a



p
e
n
c
a
h
a
r
i
a
n

p
e
n
d
u
d
u
k



(
p
e
r
t
a
n
i
a
n
,

n
o
n

p
e
r
t
a
n
i
a
n
)
.
-

M
e
n
d
e
s
k
r
l
p
s
l
k
a
n

b
e
n
t
u
k



p
e
n
g
g
u
n
a
a
n

l
a
h
a
n

d
i



p
e
d
e
s
a
a
n

d
a
n

p
e
r
k
o
t
a
a
n
.
-

M
e
n
d
e
s
k
r
l
p
s
l
k
a
n

p
o
l
a



p
e
r
m
u
k
i
m
a
n

p
e
n
d
u
d
u
k



(
m
e
n
g
i
k
u
t
i

a
l
u
r

s
u
n
g
a
i
,

j
a
l
a
n
,



p
a
n
t
a
i
)
.
-

M
e
n
d
l
s
k
r
l
p
s
l
k
a
n

p
e
r
s
e
b
a
r
a
n



(
a
g
i
h
a
n
)

p
e
r
m
u
k
i
m
a
n



p
e
n
d
u
d
u
k

d
i

b
e
r
b
a
g
a
i



b
e
n
t
a
n
g

l
a
h
a
n

d
a
n



m
e
n
g
u
n
g
k
a
p
k
a
n

a
l
a
s
a
n



p
e
n
d
u
d
u
k

m
e
m
i
l
i
h

b
e
r
m
u
k
i
m



d
i

l
o
k
a
s
i

t
e
r
s
e
b
u
t
.
-

M
e
n
d
e
s
k
r
l
p
s
l
k
a
n

b
e
n
t
a
n
g



l
a
h
a
n

d
e
n
g
a
n

p
e
r
s
e
b
a
r
a
n



p
e
r
m
u
k
i
m
a
n

p
e
n
d
u
d
u
k
.
-

T
u
l
l
s
-

L
l
s
a
n

-

P
e
r
f
o
r
m
a
n
s
-

P
r
o
d
u
k

6
x
4
5

-

G
a
m
b
a
r

k
a
l
t
a
n



b
e
n
t
u
k

m
u
k
a
-

P
e
t
a
-

L
K
S
-

C
D
-

8
u
k
u

g
e
o
g
r
a
ñ

y
a
n
g



r
e
l
e
v
a
n




S
e
k
o
l
a
h




:


S
M
P
.
K
e
l
a
s





:

v
|
|

(
t
u
[
u
h
)
M
a
t
a

P
e
l
a
[
a
r
a
n



:


|
l
m
u

P
e
n
g
e
t
a
h
u
a
n

S
o
s
l
a
l
S
e
m
e
s
t
e
r




:


2

(
D
u
a
)
S
t
a
n
d
a
r

K
o
m
p
e
t
e
n
s
l



:


6
.

m
e
m
a
h
a
m
l

k
e
g
l
a
t
a
n

e
k
o
n
o
m
l

m
a
s
y
a
r
a
k
a
t
.
M
o
d
e
l

S
l
l
a
b
u
s

|
n
t
e
g
r
a
s
l

P
e
n
d
l
d
l
k
a
n

P
e
n
g
u
r
a
n
g
a
n

P
l
s
l
k
o

G
e
m
p
a

8
u
m
l

D
a
l
a
m

M
a
t
a

P
e
l
a
[
a
r
a
n

T
a
b
e
l

5
.
4

S
i
l
a
b
u
s

I
n
t
e
g
r
a
s
i

P
e
n
g
u
r
a
n
g
a
n

R
i
s
i
k
o

G
e
m
p
a

B
u
m
i

U
n
t
u
k

M
a
t
a

P
e
l
a
j
a
r
a
n

I
P
S

K
e
l
a
s

V
I
I

S
e
m
e
s
t
e
r

2









S
e
k
o
l
a
h




:


S
M
P

K
e
l
a
s








:


V
I
I
I

(
d
e
l
a
p
a
n
)
M
a
t
a

P
e
l
a
j
a
r
a
n



:


I
l
m
u

P
e
n
g
e
t
a
h
u
a
n

S
o
s
i
a
l
S
e
m
e
s
t
e
r




:


1

(
S
a
t
u
)
.
K
O
M
P
E
T
E
N
S
I
D
A
S
A
R
M
A
T
E
R
I
P
O
K
O
K
K
E
G
I
A
T
A
N
P
E
M
B
E
L
A
J
A
R
A
N
I
N
D
I
K
A
T
O
R
P
E
N
I
L
A
I
A
N
S
U
M
B
E
R
/
B
A
H
A
N
/
A
L
A
T
A
L
O
K
A
S
I
W
A
K
T
U
1
.
2

M
e
n
d
e
s
k
r
i
p
s
i
k
a
n







k
o
n
d
i
s
i

s
i
k







w
i
l
a
y
a
h

d
a
n







p
e
n
d
u
d
u
k
L
e
t
a
k

g
e
o
g
r
a

s

I
n
d
o
n
e
s
i
a

(
p
o
s
i
s
i

g
e
o
g
r
a

s

d
a
n

l
e
t
a
k

g
e
o
g
r
a

s
)
.
K
a
i
t
a
n

l
e
t
a
k

g
e
o
g
r
a

s

d
e
n
g
a
n

i
k
l
i
m

d
a
n

w
a
k
t
u

d
i

I
n
d
o
n
e
s
i
a
M
u
s
i
m

d
i

I
n
d
o
n
e
s
i
a
.
P
e
r
s
e
b
a
r
a
n

o
r
a

d
a
n

f
a
u
n
a

I
n
d
o
n
e
s
i
a

d
a
n

k
a
i
t
a
n
n
y
a

d
e
n
g
a
n

p
e
m
b
a
g
i
a
n

w
i
l
a
y
a
h


W
a
l
l
a
c
e
a

d
a
n

W
e
b
e
r
.
P
e
r
s
e
b
a
r
a
n

j
e
n
i
s

t
a
n
a
h

d
i

I
n
d
o
n
e
s
i
a
.
P
e
m
a
n
f
a
t
a
n

b
e
r
b
a
g
a
i

j
e
n
i
s

t
a
n
a
h

d
i

I
n
d
o
n
e
s
i
a
t

.
F
O
H
B
N
B
U
J

Q
F
U
B

U
F
O
U
B
O
H

Q
P
T
J
T
J

g
e
o
g
r
a

s

d
a
n

l
e
t
a
k

g
e
o
g
r
a

s




I
n
d
o
n
e
s
i
a
.
t

5
B
O
Z
B

K
B
X
B
C

U
F
O
U
B
O
H

L
B
J
U
B
O

l
e
t
a
k

g
e
o
g
r
a

s

d
e
n
g
a
n

i
k
l
i
m



d
i

I
n
d
o
n
e
s
i
a
.

t

.
F
O
H
L
B
K
J

L
B
J
U
B
O

M
F
U
B
L

H
F
P
H
S
B
ö
T

d
e
n
g
a
n

w
a
k
t
u

d
a
n

p
e
r
u
b
a
h
a
n



m
u
s
i
m

d
i

I
n
d
o
n
e
s
i
a
.
t

.
F
N
C
V
B
U

Q
F
U
B

Q
F
S
T
F
C
B
S
B
O

o
r
a

d
a
n

f
a
u
n
a

I
n
d
o
n
e
s
i
a
t

.
F
O
H
B
N
B
U
J

Q
F
U
B

U
F
O
U
B
O
H

p
e
r
s
e
b
a
r
a
n

j
e
n
i
s

t
a
n
a
h

d
i



I
n
d
o
n
e
s
i
a
.
t

%
J
T
L
V
T
J

U
F
O
U
B
O
H

Q
F
N
B
O
G
B
B
U
B
O

b
e
r
b
a
g
a
i

j
e
n
i
s

t
a
n
a
h

d
i



I
n
d
o
n
e
s
i
a
t

.
F
O
V
O
K
V
L
L
B
O

M
F
U
B
L

H
F
P
H
S
B
ö
T

(
p
o
s
i
s
i

g
e
o
g
r
a

s
,

l
e
t
a
k



g
e
o
g
r
a

s
)

I
n
d
o
n
e
s
i
a
t

.
F
O
H
B
O
B
M
J
T
J
T

I
V
C
V
O
H
B
O

Q
P
T
J
T
J

g
e
o
g
r
a

s

d
e
n
g
a
n

p
e
r
u
b
a
h
a
n



m
u
s
i
m

d
i

I
n
d
o
n
e
s
i
a
t

.
F
O
H
J
E
F
O
U
J
ö
L
B
T
J

Q
F
O
Z
F
C
B
C

t
e
r
j
a
d
i
n
y
a

p
e
r
u
b
a
h
a
n

m
u
s
i
m



d
a
n

m
e
n
e
n
t
u
k
a
n

b
u
l
a
n



b
e
r
l
a
n
g
s
u
n
g
n
y
a

m
u
s
i
m

h
u
j
a
n



d
a
n

m
u
s
i
m

k
e
m
a
r
a
u

d
i

w
i
l
a
y
a
h



I
n
d
o
n
e
s
i
a
.

t

.
F
O
Z
B
K
J
L
B
O

J
O
G
P
S
N
B
T
J

p
e
r
s
e
b
a
r
a
n

o
r
a

d
a
n

f
a
u
n
a




t
i
p
e

A
s
i
a
,

t
i
p
e

A
u
s
t
r
a
l
i
a


s
e
r
t
a



k
a
i
t
a
n
n
y
a

d
e
n
g
a
n

p
e
m
b
a
g
i
a
n



w
i
l
a
y
a
h

W
a
l
l
a
c
e
a

d
a
n

W
e
b
e
r
t

.
F
O
E
F
T
L
S
J
Q
T
J
L
B
O

Q
F
S
T
F
C
B
S
B
O

j
e
n
i
s

t
a
n
a
h

d
a
n



p
e
m
a
n
f
a
a
t
a
n
n
y
a

d
i

I
n
d
o
n
e
s
i
a

t

5
V
M
J
T
t

-
J
T
B
O

t

1
F
S
G
P
S
N
B
O
T
t

1
S
P
E
V
L

6
x
4
5

t

1
F
U
B

*
O
E
P
O
F
T
J
B
t

"
U
M
B
T
t

-
,
4
t

#
V
L
V

H
F
P
H
S
B
ö

Z
B
O
H



r
e
l
e
v
a
n
S
t
a
n
d
a
r

K
o
m
p
e
t
e
n
s
i





:

1
.

m
e
m
a
h
a
m
i

p
e
r
m
a
s
a
l
a
h
a
n

s
o
s
i
a
l

b
e
r
k
a
i
t
a
n

d
e
n
g
a
n

p
e
r
t
u
m
b
u
h
a
n

j
u
m
l
a
h

p
e
n
d
u
d
u
k
.
P
E
F
M

4
J
M
B
C
V
T

*
O
U
F
H
S
B
T
J

1
F
O
E
J
E
J
L
B
O

1
F
O
H
V
S
B
O
H
B
O

3
J
T
J
L
P

(
F
N
Q
B

#
V
N
J

%
B
M
B
N

.
B
U
B

1
F
M
B
K
B
S
B
O

T
a
b
e
l

5
.
5

S
i
l
a
b
u
s

I
n
t
e
g
r
a
s
i

P
e
n
g
u
r
a
n
g
a
n

R
i
s
i
k
o

G
e
m
p
a

B
u
m
i

U
n
t
u
k

M
a
t
a

P
e
l
a
j
a
r
a
n

I
p
s

K
e
l
a
s

V
I
I
I

S
e
m
e
s
t
e
r

1
S
e
k
o
l
a
h



:

S
M
P

K
e
l
a
s




:

I
X

(
s
e
m
b
i
l
a
n
)
M
a
t
a

P
e
l
a
j
a
r
a
n


:

I
l
m
u

P
e
n
g
e
t
a
h
u
a
n

S
o
s
i
a
l
S
e
m
e
s
t
e
r



:

2

(
d
u
a
)
K
O
M
P
E
T
E
N
S
I
D
A
S
A
R
M
A
T
E
R
I
P
O
K
O
K
K
E
G
I
A
T
A
N
P
E
M
B
E
L
A
J
A
R
A
N
I
N
D
I
K
A
T
O
R
P
E
N
I
L
A
I
A
N
S
U
M
B
E
R
/
B
A
H
A
N
/
A
L
A
T
A
L
O
K
A
S
I
W
A
K
T
U
1
5
.
3

M
e
n
d
e
s
k
r
i
p
s
i
k
a
n










p
e
m
b
a
g
i
a
n










p
e
r
m
u
k
a
a
n










b
u
m
i

a
t
a
s










b
e
n
u
a

d
a
n










s
a
m
u
d
e
r
a
.

t

5
V
M
J
T
t

-
J
T
B
O

t

1
F
S
G
P
S
N
B
O
T
t

1
S
P
E
V
L

6
x
4
5

t

.
F
O
H
B
N
B
U
J

H
B
N
C
B
S

Q
S
P
T
F
T

t
e
r
b
e
n
t
u
k
n
y
a

b
e
n
u
a
.
t

.
F
O
H
B
N
B
U
J

Q
F
U
B

U
F
O
U
B
O
H

p
o
s
i
s
i

b
e
n
u
a
-
b
e
n
u
a

d
a
n



s
a
m
u
d
e
r
a
t

%
J
T
L
V
T
J

U
F
O
U
B
O
H

L
B
S
B
L
U
F
S
J
T
U
J
L

b
e
n
u
a
,

m
e
l
i
p
u
t
i

b
e
n
t
a
n
g

a
l
a
m



d
a
n

p
e
n
d
u
d
u
k

m
a
s
i
n
g
-
m
a
s
i
n
g



b
e
n
u
a
.
t

.
F
O
H
B
N
B
U
J

Q
F
U
B

O
F
H
B
S
B

n
e
g
a
r
a

d
i

m
a
s
i
n
g
-
m
a
s
i
n
g



k
a
w
a
s
a
n

b
e
n
u
a
.
t

.
F
O
H
B
N
B
U
J

Q
F
U
B

U
F
O
U
B
O
H

p
o
s
i
s
i
,

l
u
a
s
,

d
a
n

k
e
d
a
l
a
m
a
n


m
a
s
i
n
g
-
m
a
s
i
n
g

s
a
m
u
d
e
r
a
.
t

%
J
T
L
V
T
J

U
F
O
U
B
O
H

G
V
O
H
T
J

s
a
m
u
d
e
r
a

t

#
F
O
V
B

E
B
O

S
a
m
u
d
e
r
a

:


P
r
o
s
e
s



p
e
m
b
e
n
t
u
k
a
n



b
e
n
u
a
-
b
e
n
u
a
.

P
o
s
i
s
i

b
e
n
u
a
-

b
e
n
u
a

d
a
n


s
a
m
u
d
e
r
a
K
a
r
a
k
t
e
r
i
s
t
i
k

b
e
n
t
a
n
g

a
l
a
m

d
a
n

p
e
n
d
u
d
u
k

d
i

b
e
n
u
a
-
b
e
n
u
a
.
C
o
n
t
o
h

n
e
g
a
r
a
-
n
e
g
a
r
a

d
i

m
a
s
i
n
g
-
m
a
s
i
n
g

k
a
w
a
s
a
n

b
e
n
u
a
.
K
a
r
a
k
t
e
r
i
s
t
i
k

m
a
s
i
n
g
-
m
a
s
i
n
g

s
a
m
u
d
e
r
a
.
F
u
n
g
s
i

s
a
m
u
d
e
r
a
t

1
F
U
B

%
V
O
J
B

t

1
F
U
B

"
T
J
B

t

1
F
U
B

&
S
P
Q
B

t

1
F
U
B

"
G
S
J
L
B

t

1
F
U
B

"
N
F
S
J
L
B

t

(
M
P
C
F

t

-
,
4

t

#
V
L
V

(
F
P
H
S
B
ö


y
a
n
g

r
e
l
e
v
a
n
.
t

.
F
O
E
F
T
L
S
J
Q
T
J
L
B
O

Q
S
P
T
F
T

p
e
m
b
e
n
t
u
k
a
n

b
e
n
u
a
.
t

.
F
O
H
J
O
U
F
S
Q
S
F
U
B
T
J

Q
F
U
B

E
V
O
J
B

d
a
n

a
t
a
u

g
l
o
b
e

u
n
t
u
k

N
F
O
E
B
Q
B
U
L
B
O

J
O
G
P
S
N
B
T
J

t
e
n
t
a
n
g

p
o
s
i
s
i

b
e
n
u
a
-
b
e
n
u
a



d
a
n

s
a
m
u
d
e
r
a
.
t

.
F
O
E
F
T
L
S
J
Q
T
J
L
B
O

L
B
S
B
L
U
F
S
J
T
U
J
L

m
a
s
i
n
g
-
m
a
s
i
n
g

b
e
n
u
a
.

t

.
F
N
C
F
S
J

D
P
O
U
P
I

O
F
H
B
S
B

n
e
g
a
r
a

d
i

m
a
s
i
n
g
-
m
a
s
i
n
g



k
a
w
a
s
a
n

b
e
n
u
a
.
t

.
F
O
H
J
O
U
F
S
Q
S
F
U
B
T
J

Q
F
U
B

E
V
O
J
B

V
O
U
V
L

N
F
O
E
B
Q
B
U
L
B
O

J
O
G
P
S
N
B
T
J

t
e
t
a
n
g

k
a
r
a
k
t
e
r
i
s
t
i
k

m
a
s
i
n
g
-


m
a
s
i
n
g

s
a
m
u
d
e
r
a
.
t

.
F
N
C
B
D
B

C
V
L
V

T
V
N
C
F
S

U
F
O
U
B
O
H

G
V
O
H
T
J

T
B
N
V
E
F
S
B
S
t
a
n
d
a
r

K
o
m
p
e
t
e
n
s
i

:

5
.

M
e
m
a
h
a
m
i

h
u
b
u
n
g
a
n

m
a
n
u
s
i
a

d
e
n
g
a
n

b
u
m
i
.
P
E
F
M

4
J
M
B
C
V
T

*
O
U
F
H
S
B
T
J

1
F
O
E
J
E
J
L
B
O

1
F
O
H
V
S
B
O
H
B
O

3
J
T
J
L
P

(
F
N
Q
B

#
V
N
J

%
B
M
B
N

.
B
U
B

1
F
M
B
K
B
S
B
O

T
a
b
e
l

5
.
6

S
i
l
a
b
u
s

I
n
t
e
g
r
a
s
i

P
e
n
g
u
r
a
n
g
a
n

R
i
s
i
k
o

G
e
m
p
a

B
u
m
i

U
n
t
u
k

M
a
t
a

P
e
l
a
j
a
r
a
n

I
P
S

k
e
l
a
s

I
X

S
e
m
e
s
t
e
r

2
T
a
b
e
l

5
.
7

S
i
l
a
b
u
s

I
n
t
e
g
r
a
s
i

P
e
n
g
u
r
a
n
g
a
n

R
i
s
i
k
o

G
e
m
p
a

B
u
m
i

U
n
t
u
k

M
a
t
a

P
e
l
a
j
a
r
a
n

P
e
n
d
i
d
i
k
a
n

J
a
s
m
a
n
i
,

O
l
a
h
r
a
g
a

d
a
n

K
e
s
e
h
a
t
a
n

k
e
l
a
s

V
I
I

S
e
m
e
s
t
e
r

1
S
e
k
o
l
a
h



:

S
M
P

K
e
l
a
s




:

V
I
I

(
t
u
j
u
h
)
M
a
t
a

P
e
l
a
j
a
r
a
n


:

P
e
n
d
i
d
i
k
a
n

J
a
s
m
a
n
i
,

O
l
a
h
r
a
g
a

d
a
n

K
e
s
e
h
a
t
a
n
S
e
m
e
s
t
e
r



:

1

(
s
a
t
u
)
K
O
M
P
E
T
E
N
S
I
D
A
S
A
R
M
A
T
E
R
I
P
O
K
O
K
K
E
G
I
A
T
A
N
P
E
M
B
E
L
A
J
A
R
A
N
I
N
D
I
K
A
T
O
R
P
E
N
I
L
A
I
A
N
S
U
M
B
E
R
/
B
A
H
A
N
/
A
L
A
T
A
L
O
K
A
S
I
W
A
K
T
U
1
.
3

M
e
m
p
r
a
k
t
i
k
k
a
n

t
e
k
n
i
k

d
a
s
a
r

a
t
l
e
t
i
k

s
e
r
t
a

n
i
l
a
i

t
o
l
e
r
a
n
s
i
,

p
e
r
c
a
y
a

d
i
r
i
,

k
e
b
e
r
a
n
i
a
n
,

m
e
n
j
a
g
a

k
e
s
e
l
a
m
a
t
a
n

d
i
r
i

d
a
n

o
r
a
n
g

l
a
i
n
,

b
e
r
s
e
d
i
a

b
e
r
b
a
g
i

t
e
m
p
a
t

d
a
n

p
e
r
a
l
a
t
a
n

*
*
)
t

5
V
M
J
T
t

-
J
T
B
O

t

1
F
S
G
P
S
N
B
O
T
t

,
V
J
T

2
x
4
5

t

#
F
S
M
B
S
J

E
F
O
H
B
O

N
F
O
F
L
B
O
L
B
O

p
a
d
a

g
e
r
a
k
a
n

k
a
k
i
,

l
e
n
g
a
n
,



p
o
s
i
s
i

b
a
d
a
n

d
a
n

p
e
n
d
a
r
a
t
a
n




t
e
l
a
p
a
k

k
a
k
i
t

-
P
N
C
B

M
B
S
J

E
F
O
H
B
O

Q
F
S
B
U
V
S
B
O

y
a
n
g

d
i
m
o
d
i

k
a
s
i
t

.
F
O
P
M
B
L

U
B
O
Q
B

B
X
B
M
B
O

Q
P
T
J
T
J

d
i

u
d
a
r
a

d
a
n

m
e
n
d
a
r
a
t
t

-
P
N
C
B

M
P
N
Q
B
U

K
B
V
I

E
F
O
H
B
O

p
e
r
a
t
u
r
a
n

y
a
n
g

d
i
m
o
d
i

k
a
s
i



u
n
t
u
k


m
e
n
a
n
a
m
k
a
n

n
i
l
a
i



p
e
r
c
a
y
a

d
i
r
i

d
a
n

k
e
b
e
r
a
n
i
a
n
t

1
P
T
J
T
J

B
X
B
M
B
O

N
F
N
F
H
B
O
H

E
B
O



m
e
n
o
l
a
k

p
e
l
u
r
u
t

-
P
N
C
B

U
P
M
B
L

Q
F
M
V
S
V

E
F
O
H
B
O

p
e
r
a
t
u
r
a
n

y
a
n
g

d
i
m
o
d
i

k
a
s
i



u
n
t
u
k

m
e
n
a
n
a
m
k
a
n

s
i
k
a
p



m
e
n
j
a
g
a

k
e
s
e
l
a
m
a
t
a
n



d
i
r
i

d
a
n

o
r
a
n
g

l
a
i
n
t

1
P
T
J
T
J

B
X
B
M
B
O

N
F
N
F
H
B
O
H

d
a
n

m
e
l
e
m
p
a
r

c
a
k
r
a
m
t

-
P
N
C
B

M
F
N
Q
B
S

D
B
L
S
B
N

E
F
O
H
B
O

p
e
r
a
t
u
r
a
n

y
a
n
g

d
i
m
o
d
i

k
a
s
i



u
n
t
u
k

m
e
n
a
n
a
m
k
a
n

s
i
k
a
p



m
e
n
j
a
g
a

k
e
s
e
l
a
m
a
t
a
n



d
i
r
i

d
a
n

o
r
a
n
g


l
a
i
n
-
B
S
J

+
B
S
B
L

P
e
n
d
e
k

5
0
M
-
P
N
Q
B
U

+
B
V
I

G
a
y
a

J
o
n
g
k
o
k
5
P
M
B
L

1
F
M
V
S
V

"
X
B
M
B
O

M
e
n
y
a
m
p
i
n
g
-
F
N
Q
B
S

$
B
L
S
B
N

"
X
B
M
B
O
M
e
n
y
a
m
p
i
n
g
t

#
V
L
V

U
F
L
T

t

C
V
L
V

S
F
G
F
S
O
T
J

t

M
B
Q
B
O
H
B
O

T
U
B
S
U

b
l
o
c
k
,

p
e
l
u
r
u
,



c
a
k
r
a
m
,

l
e
m
b
i
n
g



(
y
a
n
g

d
i
m
o
d
i

k
a
s
i

)
t

.
F
M
B
L
V
L
B
O

U
F
L
O
J
L

M
B
S
J

(
g
e
r
a
k
a
n

k
a
k
i
,

l
e
n
g
a
n
,



p
o
s
i
s
i
s

b
a
d
a
n
,

p
e
n
d
a
r
a
t
a
n



t
e
l
a
p
a
k

k
a
k
i
)
t

-
P
N
C
B

M
B
S
J

E
H

Q
F
S
B
U
V
S
B
O

y
a
n
g

d
i
m
o
d
i

k
a
s
i
t

.
F
M
B
L
V
L
B
O

U
F
L
O
J
L

E
B
T
B
S

N
F
O
P
M
B
L

U
B
O
Q
B

B
X
B
M
B
O
t

5
F
L
O
J
L

E
B
T
B
S

E
J

V
E
B
S
B
t

5
F
L
O
J
L

E
B
T
B
S

N
F
O
E
B
S
B
U
t

.
F
M
B
L
V
L
B
O

M
P
N
C
B

M
P
N
Q
B
U

j
a
u
h

d
e
n
g
a
n

p
e
r
a
t
u
r
a
n

y
a
n
g



d
i
m
o
d
i

k
a
s
i
t

.
F
M
B
L
V
L
B
O

Q
P
T
J
T
J

B
X
B
M
B
O
t

.
F
M
B
L
V
L
B
O

U
F
L
O
J
L

E
B
T
B
S

m
e
m
e
g
a
n
g


p
e
l
u
r
u

d
a
n



m
e
n
o
l
a
k
t

.
F
M
B
L
V
L
B
O

M
P
N
C
B

N
F
O
P
M
B
L

p
e
l
u
r
u

d
e
n
g
a
n

p
e
r
a
t
u
r
a
n



y
a
n
g

d
i
m
o
d
i

k
a
s
i
t

.
F
M
B
L
V
L
B
O

Q
P
T
J
T
J

B
X
B
M
B
O
t

.
F
M
B
L
V
L
B
O

U
F
L
O
J
L

E
B
T
B
S

m
e
m
e
g
a
n
g

d
a
n

m
e
l
e
m
p
a
r



c
a
k
r
a
m
t

.
F
M
B
L
V
L
B
O

M
P
N
C
B

M
F
N
Q
B
S

c
a
k
r
a
m

d
e
n
g
a
n

p
e
r
a
t
u

r
a
n



y
a
n
g

d
i
m
o
d
i

k
a
s
i
S
t
a
n
d
a
r

K
o
m
p
e
t
e
n
s
i



:
1
.

M
e
m
p
r
a
k
t
i
k
a
n

b
e
r
b
a
g
a
i

t
e
k
n
i
k

d
a
s
a
r

p
e
r
m
a
i
n
a
n

d
a
n

o
l
a
h
r
a
g
a

s
e
r
t
a

n
i
l
a
i
-
n
i
l
a
i

y
a
n
g

t
e
r
k
a
n
d
u
n
g

d
i

d
a
l
a
m
n
y
a
.
P
E
F
M

4
J
M
B
C
V
T

*
O
U
F
H
S
B
T
J

1
F
O
E
J
E
J
L
B
O

1
F
O
H
V
S
B
O
H
B
O

3
J
T
J
L
P

(
F
N
Q
B

#
V
N
J

%
B
M
B
N

.
B
U
B

1
F
M
B
K
B
S
B
O

S
e
k
o
l
a
h



:

S
M
P

K
e
l
a
s




:

V
I
I

(
t
u
j
u
h
)
M
a
t
a

P
e
l
a
j
a
r
a
n


:

P
e
n
d
i
d
i
k
a
n

J
a
s
m
a
n
i
,

O
l
a
h
r
a
g
a

d
a
n

K
e
s
e
h
a
t
a
n
S
e
m
e
s
t
e
r



:

1

(
s
a
t
u
)
K
O
M
P
E
T
E
N
S
I
D
A
S
A
R
M
A
T
E
R
I
P
O
K
O
K
K
E
G
I
A
T
A
N
P
E
M
B
E
L
A
J
A
R
A
N
I
N
D
I
K
A
T
O
R
P
E
N
I
L
A
I
A
N
S
U
M
B
E
R
/
B
A
H
A
N
/
A
L
A
T
A
L
O
K
A
S
I
W
A
K
T
U
6
.
1
.
M
e
m
p
r
a
k
t
i
k
k
a
n

p
e
m
i
l
i
h
a
n

t
e
m
p
a
t

y
a
n
g


t
e
p
a
t

u
n
t
u
k

m
e
n
d
i
r
i
k
a
n

t
e
n
d
a

p
e
r
k
e
m
a
h
a
n
,

m
e
m
p
r
a
k
t
e
k
k
a
n

t
e
k
n
i
k

d
a
s
a
r

p
e
m
a
s
a
n
g
a
n

t
e
n
d
a

u
n
t
u
k

p
e
r
k
e
m
a
h
a
n

d
i

l
i
n
g
k
u
n
g
a
n

s
e
c
a
r
a

b
e
r
e
g
u
,

s
e
r
t
a

n
i
l
a
i

k
e
r
j
a
s
a
m
a
,

t
a
n
g
g
u
n
g
j
a
w
a
b

d
a
n

t
e
n
g
g
a
n
g

r
a
s
a
6
.
2
.
M
e
m
p
r
a
k
t
i
k
k
a
n

p
e
n
y
e
l
a
m
a
t
a
n

d
a
n

P
3
K

t
e
r
h
a
d
a
p

j
e
n
i
s

l
u
k
a

r
i
n
g
a
n

s
e
r
t
a

n
i
l
a
i

k
e
r
j
a
s
a
m
a
,

t
a
n
g
g
u
n
g
j
a
w
a
b

d
a
n

t
e
n
g
g
a
n
g

r
a
s
a
·

T
u
l
l
s
·

L
l
s
a
n

·

P
e
r
f
o
r
m
a
n
s
·

K
u
l
s

2
x
4
5

·
M
e
l
a
k
u
k
a
n

l
d
e
n
t
l
ñ
k
a
s
l

t
e
m
p
a
t




u
n
t
u
k

m
e
n
d
i
r
i
k
a
n

t
e
n
d
a



p
e
r
k
e
m
a
h
a
n

s
e
c
a
r
a



k
e
l
o
m
p
o
k

a
t
a
u

r
e
g
u
·

M
e
l
a
k
u
k
a
n

p
e
r
t
o
l
o
n
g
a
n

(
P
3
K
)



t
e
r
h
a
d
a
p

l
u
k
a

l
e
c
e
t
,
i
r
i
s
,
m
e
m
a
r
,



d
a
n

t
u
s
u
k

s
e
c
a
r
a

b
e
r
p
a
s
a
n
g
a
n



a
t
a
u

k
e
l
o
m
p
o
k
P
e
n
d
i
d
i
k
a
n

l
u
a
r

k
e
l
a
s
B
u
k
u

t
e
k
s
,


b
u
k
u

r
e
f
e
r
e
n
s
l
,
p
e
r
a
l
a
t
a
n

P
3
K

d
a
n

l
i
n
g
k
u
n
g
a
n
·
M
e
l
a
k
u
k
a
n

l
d
e
n
t
l
ñ
k
a
s
l

t
e
m
p
a
t



y
a
n
g

t
e
p
a
t

u
n
t
u
k

m
e
n
d
i
r
i
k
a
n



t
e
n
d
a

p
e
r
k
e
m
a
h
a
n
·

M
e
l
a
k
u
k
a
n

p
e
r
t
o
l
o
n
g
a
n

(
P
3
K
)



t
e
r
h
a
d
a
p

l
u
k
a

l
e
c
e
t
,

i
r
i
s
,



m
e
m
a
r

d
a
n

t
u
s
u
k
S
t
a
n
d
a
r

K
o
m
p
e
t
e
n
s
i



:

6
.

M
e
m
p
r
a
k
t
i
k
a
n

p
e
r
k
e
m
a
h
a
n

d
a
n

d
a
s
a
r
-
d
a
s
a
r

p
e
n
y
e
l
a
m
a
t
a
n

d
i

l
i
n
g
k
u
n
g
a
n

s
e
k
o
l
a
h
,

d
a
n

n
i
l
a
i
-
n
i
l
a
i

y
a
n
g

t
e
r
k
a
n
d
u
n
g

d
i

d
a
l
a
m
n
y
a
M
o
d
e
l

S
i
l
a
b
u
s

I
n
t
e
g
r
a
s
i

P
e
n
d
i
d
i
k
a
n

P
e
n
g
u
r
a
n
g
a
n

R
i
s
i
k
o

G
e
m
p
a

B
u
m
i

D
a
l
a
m

M
a
t
a

P
e
l
a
j
a
r
a
n

T
a
b
e
l

5
.
8

S
i
l
a
b
u
s

I
n
t
e
g
r
a
s
i

P
e
n
g
u
r
a
n
g
a
n

R
i
s
i
k
o

G
e
m
p
a

B
u
m
i

U
n
t
u
k

M
a
t
a

P
e
l
a
j
a
r
a
n

P
e
n
d
i
d
i
k
a
n

J
a
s
m
a
n
i
,

O
l
a
h
r
a
g
a

d
a
n

K
e
s
e
h
a
t
a
n

k
e
l
a
s

V
I
I

S
e
m
e
s
t
e
r

1
T
a
b
e
l

5
.
9

S
i
l
a
b
u
s

I
n
t
e
g
r
a
s
i

P
e
n
g
u
r
a
n
g
a
n

R
i
s
i
k
o

G
e
m
p
a

B
u
m
i

U
n
t
u
k

M
a
t
a

P
e
l
a
j
a
r
a
n

P
e
n
d
i
d
i
k
a
n

J
a
s
m
a
n
i
,

O
l
a
h
r
a
g
a

d
a
n

K
e
s
e
h
a
t
a
n

k
e
l
a
s

V
I
I

S
e
m
e
s
t
e
r

1
S
e
k
o
l
a
h



:

S
M
P

K
e
l
a
s




:

V
I
I
I

(
d
e
l
a
p
a
n
)
M
a
t
a

P
e
l
a
j
a
r
a
n


:

P
e
n
d
i
d
i
k
a
n

J
a
s
m
a
n
i
,

O
l
a
h
r
a
g
a

d
a
n

K
e
s
e
h
a
t
a
n
S
e
m
e
s
t
e
r



:

2

(
D
u
a
)
K
O
M
P
E
T
E
N
S
I
D
A
S
A
R
M
A
T
E
R
I
P
O
K
O
K
K
E
G
I
A
T
A
N
P
E
M
B
E
L
A
J
A
R
A
N
I
N
D
I
K
A
T
O
R
P
E
N
I
L
A
I
A
N
S
U
M
B
E
R
/
B
A
H
A
N
/
A
L
A
T
A
L
O
K
A
S
I
W
A
K
T
U
1
3
.
1

M
e
l
a
k
u
k
a
n

i
d
e
n
t
i

k
a
s
i

b
e
r
b
a
g
a
i

p
e
n
y
a
k
i
t

m
e
n
u
l
a
r

y
a
n
g

b
e
r
s
u
m
b
e
r

d
a
r
i

l
i
n
g
k
u
n
g
a
n

t
i
d
a
k

s
e
h
a
t
1
3
.
2

M
e
l
a
k
u
k
a
n

c
a
r
a

m
e
n
g
h
i
n
d
a
r
i

p
e
n
y
a
k
i
t

m
e
n
u
l
a
r

y
a
n
g

b
e
r
s
u
m
b
e
r

d
a
r
i

l
i
n
g
k
u
n
g
a
n

y
a
n
g

t
i
d
a
k

s
e
h
a
t
t

5
V
M
J
T
t

-
J
T
B
O

t

1
F
S
G
P
S
N
B
O
T
t

,
V
J
T

1
x
4
5

t

.
F
M
B
L
V
L
B
O

J
E
F
O
U
J
ö
L
B
T
J

N
B
D
B
N

p
e
n
y
e
b
a
b

d
a
n

g
e
j
a
l
a

p
e
n
y
a
k
i
t
t

.
F
M
B
L
V
L
B
O

Q
F
O
D
F
H
B
I
B
O

t
e
r
h
a
d
a
p

p
e
n
y
a
k
i
t
K
e
s
e
h
a
t
a
n
B
u
k
u

t
e
k
s
,


C
V
L
V

S
F
G
F
S
F
O
T
J

p
e
r
a
l
a
t
a
n

P
3
K

d
a
n

l
i
n
g
k
u
n
g
a
n
t

.
B
D
B
N

Q
F
O
Z
B
L
J
U
t

1
F
O
Z
F
C
B
C

Q
F
O
Z
B
L
J
U
t

(
F
K
B
M
B

Q
F
O
Z
B
L
J
U
t

$
B
S
B

Q
F
O
D
F
H
B
I
B
O

U
F
S
I
B
E
B
Q

p
e
n
y
a
k
i
t
S
t
a
n
d
a
r

K
o
m
p
e
t
e
n
s
i



:

1
3
.

M
e
n
e
r
a
p
k
a
n

b
u
d
a
y
a

h
i
d
u
p

s
e
h
a
t
.
P
E
F
M

4
J
M
B
C
V
T

*
O
U
F
H
S
B
T
J

1
F
O
E
J
E
J
L
B
O

1
F
O
H
V
S
B
O
H
B
O

3
J
T
J
L
P

(
F
N
Q
B

#
V
N
J

%
B
M
B
N

.
B
U
B

1
F
M
B
K
B
S
B
O

S
e
k
o
l
a
h



:

S
M
P

K
e
l
a
s




:

I
X

(
s
e
m
b
i
l
a
n
)
M
a
t
a

P
e
l
a
j
a
r
a
n


:

P
e
n
d
i
d
i
k
a
n

J
a
s
m
a
n
i
,

O
l
a
h
r
a
g
a

d
a
n

K
e
s
e
h
a
t
a
n
S
e
m
e
s
t
e
r



:

2

(
D
u
a
)
K
O
M
P
E
T
E
N
S
I
D
A
S
A
R
M
A
T
E
R
I
P
O
K
O
K
K
E
G
I
A
T
A
N
P
E
M
B
E
L
A
J
A
R
A
N
I
N
D
I
K
A
T
O
R
P
E
N
I
L
A
I
A
N
S
U
M
B
E
R
/
B
A
H
A
N
/
A
L
A
T
A
L
O
K
A
S
I
W
A
K
T
U
1
3
.
1

M
e
m
p
r
a
k
t
i
k
a
n

i
d
e
n
t
i

k
a
s
i

b
a
h
a
y
a

b
e
n
c
a
n
a

a
l
a
m
1
3
.
2

M
e
m
p
r
a
k
t
i
k
a
n

c
a
r
a

m
e
n
g
h
a
d
a
p
i

b
e
r
b
a
g
a
i

b
e
n
c
a
n
a

a
l
a
m
t

5
V
M
J
T
t

-
J
T
B
O

t

1
F
S
G
P
S
N
B
O
T
t

,
V
J
T

2
x
4
5

t

.
F
M
B
L
V
L
B
O

J
E
F
O
U
J
ö
L
B
T
J

K
F
O
J
T

b
e
n
c
a
n
a

s
e
c
a
r
a

k
e
l
o
m
p
o
k
t

.
F
M
B
L
V
L
B
O

J
E
F
O
U
J
ö
L
B
T
J

p
e
n
y
e
b
a
b

b
e
n
c
a
n
a

s
e
c
a
r
a



k
e
l
o
m
p
o
k
t

.
F
M
B
L
V
L
B
O

Q
F
O
D
F
H
B
I
B
O

E
B
O

p
e
n
a
n
g
g
u
l
a
n
g
a
n

b
e
n
c
a
n
a



a
l
a
m

s
e
c
a
r
a

k
e
l
o
m
p
o
k

a
t
a
u

r
e
g
u
B
u
d
a
y
a

h
i
d
u
p

s
e
h
a
t
B
u
k
u

t
e
k
s
,


C
V
L
V

S
F
G
F
S
F
O
T
J

p
e
r
a
l
a
t
a
n

P
3
K

d
a
n

l
i
n
g
k
u
n
g
a
n
t

.
F
M
B
L
V
L
B
O

J
E
F
O
U
J
ö
L
B
T
J

K
F
O
J
T

b
e
n
c
a
n
a
t

.
F
M
B
L
V
L
B
O

J
E
F
O
U
J
ö
L
B
T
J

p
e
n
y
e
b
a
b

b
e
n
c
a
n
a
t

.
F
M
B
L
V
L
B
O

Q
F
O
D
F
H
B
I
B
O

E
B
O

p
e
n
a
n
g
g
u
l
a
n
g
a
n

b
e
n
c
a
n
a

a
l
a
m
S
t
a
n
d
a
r

K
o
m
p
e
t
e
n
s
i



:

1
3
.

M
e
n
e
r
a
p
k
a
n

b
u
d
a
y
a

h
i
d
u
p

s
e
h
a
t
M
o
d
e
l

S
i
l
a
b
u
s

I
n
t
e
g
r
a
s
i

P
e
n
d
i
d
i
k
a
n

P
e
n
g
u
r
a
n
g
a
n

R
i
s
i
k
o

G
e
m
p
a

B
u
m
i

D
a
l
a
m

M
a
t
a

P
e
l
a
j
a
r
a
n

T
a
b
e
l

5
.
1
0

S
i
l
a
b
u
s

I
n
t
e
g
r
a
s
i

P
e
n
g
u
r
a
n
g
a
n

R
i
s
i
k
o

G
e
m
p
a

B
u
m
i

U
n
t
u
k

M
a
t
a

P
e
l
a
j
a
r
a
n

P
e
n
d
i
d
i
k
a
n

J
a
s
m
a
n
i
,

O
l
a
h
r
a
g
a

d
a
n

K
e
s
e
h
a
t
a
n

k
e
l
a
s

I
X

S
e
m
e
s
t
e
r

2
T
a
b
e
l

5
.
1
1

S
i
l
a
b
u
s

I
n
t
e
g
r
a
s
i

P
e
n
g
u
r
a
n
g
a
n

R
i
s
i
k
o

G
e
m
p
a

B
u
m
i

U
n
t
u
k

M
a
t
a

P
e
l
a
j
a
r
a
n

P
e
n
d
i
d
i
k
a
n

I
P
A

T
e
r
p
a
d
u

k
e
l
a
s
V
I
I

S
e
m
e
s
t
e
r

1
S
e
k
o
l
a
h



:

S
M
P

K
e
l
a
s




:


V
I
I

(
T
u
j
u
h
)
M
a
t
a

P
e
l
a
j
a
r
a
n


:

I
P
A

T
e
r
p
a
d
u
S
e
m
e
s
t
e
r



:

1
(

S
a
t
u
)
K
O
M
P
E
T
E
N
S
I
D
A
S
A
R
M
A
T
E
R
I
P
O
K
O
K
K
E
G
I
A
T
A
N
P
E
M
B
E
L
A
J
A
R
A
N
I
N
D
I
K
A
T
O
R
P
E
N
I
L
A
I
A
N
S
U
M
B
E
R
/
B
A
H
A
N
/
A
L
A
T
A
L
O
K
A
S
I
W
A
K
T
U
5
.
4

M
e
n
e
r
a
p
k
a
n

k
e
s
e
l
a
m
a
t
a
n

k
e
r
j
a

d
a
l
a
m

m
e
l
a
k
u
k
a
n

p
e
n
g
a
m
a
t
a
n

g
e
j
a
l
a
-
g
e
j
a
l
a

a
l
a
m
.
J
e
n
i
s

t
a
g
i
h
a
n
:
·

t
u
g
a
s



k
e
l
o
m
p
o
k
·

u
l
a
n
g
a
n



h
a
r
i
a
n
B
e
n
t
u
k

i
n
s
t
r
u
m
e
n

·

l
a
p
o
r
a
n




t
e
r
t
u
l
i
s
·

p
e
n
l
l
a
l
a
n



s
i
k
a
p
·

p
e
n
l
l
a
l
a
n



p
e
r
f
o
r
m
e
n
4

J
P
·

M
e
n
c
a
r
l

l
n
f
o
r
m
a
s
l

m
e
l
a
l
u
l



r
e
f
e
r
e
n
s
i

t
e
n
t
a
n
g

k
e
s
e
l
a
m
a
t
a
n



k
e
r
j
a
.
·

S
t
u
d
l

p
u
s
t
a
k
a

t
e
n
t
a
n
g

a
l
a
t



b
a
h
a
n
-
b
a
h
a
n

y
a
n
g

b
e
r
b
a
h
a
y
a



d
a
l
a
m

p
e
n
g
a
m
a
t
a
n

g
e
j
a
l
a

a
l
a
m
.
K
e
s
e
l
a
m
a
t
a
n

k
e
r
j
a
·

8
u
k
u

p
e
l
a
[
a
r
a
n



k
e
l
a
s

V
I
I
.
·

M
e
[
a

d
a
n

k
u
r
s
l

k
e
l
a
s
.
·

P
e
n
u
n
[
u
k

a
r
a
h



e
v
a
k
u
a
s
i
.
·

M
l
k
r
o
s
k
o
p

d
a
n

a
l
a
t



s
e
r
t
a

b
a
h
a
n

k
i
m
i
a
.
·

L
l
n
g
k
u
n
g
a
n
.
·

M
e
m
e
g
a
n
g
,

m
e
m
b
a
w
a

d
a
n



m
e
m
p
e
r
l
a
k
u
k
a
n

a
l
a
t

d
a
n

b
a
h
a
n



s
e
c
a
r
a

a
m
a
n
.
·

M
e
n
d
e
s
k
r
l
p
s
l
k
a
n

b
a
h
a
n
-
b
a
h
a
n



y
a
n
g

b
e
r
b
a
h
a
y
a

d
a
n

y
a
n
g

d
a
p
a
t



m
e
n
i
m
b
u
l
k
a
n

p
e
n
y
a
k
i
t
.
·

M
e
n
g
l
n
d
e
n
t
l
ñ
k
a
s
l

s
l
m
b
o
l
-


s
l
m
b
o
l

d
a
l
a
m

L
a
b
o
r
a
t
o
r
l
u
m
.
·

M
e
m
a
h
a
m
l

l
a
n
g
k
a
h
-
l
a
n
g
k
a
h



p
e
n
y
e
l
a
m
a
t
a
n

d
i
r
i

s
a
a
t

g
e
m
p
a
.
·

M
e
n
s
l
m
u
l
a
s
l
k
a
n

k
e
s
e
l
a
m
a
t
a
n



d
i
r
i

s
a
a
t

t
e
r
j
a
d
i

g
e
m
p
a
.
S
t
a
n
d
a
r

K
o
m
p
e
t
e
n
s
i


:

5
.

M
e
m
a
h
a
m
i

g
e
j
a
l
a
-
g
e
j
a
l
a

a
l
a
m

m
e
l
a
l
u
i

p
e
n
g
a
m
a
t
a
n
.
M
o
d
e
l

S
i
l
a
b
u
s

I
n
t
e
g
r
a
s
i

P
e
n
d
i
d
i
k
a
n

P
e
n
g
u
r
a
n
g
a
n

R
i
s
i
k
o

G
e
m
p
a

B
u
m
i

D
a
l
a
m

M
a
t
a

P
e
l
a
j
a
r
a
n

S
e
k
o
l
a
h



:

S
M
P

K
e
l
a
s




:


V
I
I
I

(
D
e
l
a
p
a
n
)
M
a
t
a

P
e
l
a
j
a
r
a
n


:

I
P
A

T
e
r
p
a
d
u
S
e
m
e
s
t
e
r



:

1
(

S
a
t
u
)
M
o
d
e
l

S
i
l
a
b
u
s

I
n
t
e
g
r
a
s
i

P
e
n
d
i
d
i
k
a
n

P
e
n
g
u
r
a
n
g
a
n

R
i
s
i
k
o

G
e
m
p
a

B
u
m
i

D
a
l
a
m

M
a
t
a

P
e
l
a
j
a
r
a
n

K
O
M
P
E
T
E
N
S
I
D
A
S
A
R
M
A
T
E
R
I
P
O
K
O
K
K
E
G
I
A
T
A
N
P
E
M
B
E
L
A
J
A
R
A
N
I
N
D
I
K
A
T
O
R
P
E
N
I
L
A
I
A
N
S
U
M
B
E
R
/
B
A
H
A
N
/
A
L
A
T
A
L
O
K
A
S
I
W
A
K
T
U
6
.
1

M
e
n
d
e
s
k
r
i
p
s
i
k
a
n

k
o
n
s
e
p

g
e
t
a
r
a
n

d
a
n

g
e
l
o
m
b
a
n
g

s
e
r
t
a

p
a
r
a
m
e
t
e
r
-
p
a
r
a
m
e
t
e
r
n
y
a
.
J
e
n
i
s

t
a
g
i
h
a
n
:
t

U
V
H
B
T

k
e
l
o
m
p
o
k
t

V
M
B
O
H
B
O

h
a
r
i
a
n
t

Q
S
P
E
V
L

B
e
n
t
u
k

i
n
s
t
r
u
m
e
n

t

M
B
Q
P
S
B
O

t
e
r
t
u
l
i
s
t

Q
F
O
J
M
B
J
B
O

s
i
k
a
p
t

Q
F
O
J
M
B
J
B
O

p
e
r
f
o
r
m
e
n
6

J
P
t

.
F
O
D
B
S
J

J
O
G
P
S
N
B
T
J

N
F
M
B
M
V
J

r
e
f
e
r
e
n
s
i

t
e
n
t
a
n
g

p
e
n
g
e
r
t
i
a
n



g
e
t
a
r
a
n
t

.
F
M
B
L
V
L
B
O

Q
F
S
D
P
C
B
B
O

V
O
U
V
L

N
F
O
D
B
S
J

Q
F
S
C
F
E
B
B
O

Q
F
S
J
P
E
F

d
a
n

f
r
e
k
w
e
n
s
i

s
u
a
t
u

g
e
t
a
r
a
n
t

.
F
O
F
O
U
V
L
B
O

C
F
T
B
S
O
Z
B

Q
F
S
J
P
E
F

E
B
S
J

I
B
T
J
M

Q
F
S
D
P
C
B
B
O
t

.
F
M
B
L
V
L
B
O

Q
F
S
D
P
C
B
B
O

V
O
U
V
L

N
F
O
D
B
S
J

Q
F
S
C
F
E
B
B
O

Q
F
S
J
P
E
F

d
a
n

f
r
e
k
w
e
n
s
i

s
u
a
t
u

g
e
t
a
r
a
n
t

.
F
O
F
O
U
V
L
B
O

C
F
T
B
S
O
Z
B

Q
F
S
J
P
E
F

E
B
S
J

I
B
T
J
M

Q
F
S
D
P
C
B
B
O
t

.
F
O
D
B
S
J

J
O
G
P
S
N
B
T
J

N
F
M
B
M
V
J

r
e
f
e
r
e
n
s
i

t
e
n
t
a
n
g

p
e
n
g
e
r
t
i
a
n



g
e
l
o
m
b
a
n
g
t

.
F
M
B
L
V
L
B
O

Q
F
S
D
P
C
B
B
O

V
O
U
V
L

N
F
O
D
B
S
J

Q
F
S
C
F
E
B
B
O

L
B
S
B
L
U
F
S
J
T
U
J
L


g
e
l
o
m
b
a
n
g

l
o
n
g
i
t
u
d
i
n
a
l

d
a
n



g
e
l
o
m
b
a
n
g

t
r
a
n
s
v
e
r
s
a
l
t

.
F
N
C
V
B
U

B
M
B
U

H
F
N
Q
B

N
J
O
J

b
e
r
d
a
s
a
r
k
a
n

p
r
i
n
s
i
p

g
e
t
a
r
a
n

d
a
n



g
e
l
o
m
b
a
n
g
.
G
e
t
a
r
a
n

d
a
n

g
e
l
o
m
b
a
n
g
.
t

#
V
L
V

Q
F
M
B
K
B
S
B
O

k
e
l
a
s

V
I
I
.
t

"
M
B
U

E
B
O

C
B
I
B
O

u
n
t
u
k

m
e
m
b
u
a
t




g
e
m
p
a

j
e
l
l
y

.
t

-
J
O
H
L
V
O
H
B
O

t

.
F
O
H
J
E
F
O
U
J
ö
L
B
T
J

H
F
U
B
S
B
O

Q
B
E
B

k
e
h
i
d
u
p
a
n

s
e
h
a
r
i
-
h
a
r
i
t

.
F
O
H
V
L
V
S

Q
F
S
J
P
E
B

E
B
O



f
r
e
k
u
e
n
s
i

s
u
a
t
u

g
e
t
a
r
a
n


t

.
F
N
C
F
E
B
L
B
O

L
B
S
B
L
U
F
S
J
T
U
J
L

g
e
l
o
m
b
a
n
g

l
o
n
g
i
t
u
d
i
n
a
l

d
a
n



g
e
l
o
m
b
a
n
g

t
r
a
n
s
v
e
r
s
a
l
t

.
F
O
E
F
T
L
S
J
Q
T
J
L
B
O

I
V
C
V
O
H
B
O

B
O
U
B
S
B

L
F
D
F
Q
B
U
B
O

S
B
N
C
B
U

g
e
l
o
m
b
a
n
g
,

f
r
e
k
u
e
n
s
i

d
a
n



p
a
n
j
a
n
g

g
e
l
o
m
b
a
n
g
t

.
F
N
C
V
B
U

B
M
B
U

H
F
N
Q
B

N
J
O
J

b
e
r
d
a
s
a
r
k
a
n

p
r
i
n
s
i
p

g
e
t
a
r
a
n



d
a
n

g
e
l
o
m
b
a
n
g
.
S
t
a
n
d
a
r

K
o
m
p
e
t
e
n
s
i


:

6
.

M
e
m
a
h
a
m
i

k
o
n
s
e
p

d
a
n

p
e
n
e
r
a
p
a
n

g
e
t
a
r
a
n
,

g
e
l
o
m
b
a
n
g

d
a
n

o
p
t
i
k
a

d
a
l
a
m

p
r
o
d
u
k

t
e
k
n
o
l
o
g
i

s
e
h
a
r
i
-
h
a
r
i
.

T
a
b
e
l

5
.
1
2

S
i
l
a
b
u
s

I
n
t
e
g
r
a
s
i

P
e
n
g
u
r
a
n
g
a
n

R
i
s
i
k
o

G
e
m
p
a

B
u
m
i

U
n
t
u
k

M
a
t
a

P
e
l
a
j
a
r
a
n

P
e
n
d
i
d
i
k
a
n

I
P
A

T
e
r
p
a
d
u

k
e
l
a
s
V
I
I
I

S
e
m
e
s
t
e
r

1
T
a
b
e
l

5
.
1
3

S
i
l
a
b
u
s

I
n
t
e
g
r
a
s
i

P
e
n
g
u
r
a
n
g
a
n

R
i
s
i
k
o

G
e
m
p
a

B
u
m
i

U
n
t
u
k

M
a
t
a

P
e
l
a
j
a
r
a
n

P
e
n
d
i
d
i
k
a
n

B
a
h
a
s
a

I
n
d
o
n
e
s
i
a

T
e
r
p
a
d
u

k
e
l
a
s

V
I
I

S
e
m
e
s
t
e
r

1
S
e
k
o
l
a
h



:

S
M
P

K
e
l
a
s




:


V
I
I

(
T
u
j
u
h
)
M
a
t
a

P
e
l
a
j
a
r
a
n


:

B
a
h
a
s
a

I
n
d
o
n
e
s
i
a
S
e
m
e
s
t
e
r



:

1
(

S
a
t
u
)
M
o
d
e
l

S
i
l
a
b
u
s

I
n
t
e
g
r
a
s
i

P
e
n
d
i
d
i
k
a
n

P
e
n
g
u
r
a
n
g
a
n

R
i
s
i
k
o

G
e
m
p
a

B
u
m
i

D
a
l
a
m

M
a
t
a

P
e
l
a
j
a
r
a
n

K
O
M
P
E
T
E
N
S
I
D
A
S
A
R
M
A
T
E
R
I
P
O
K
O
K
K
E
G
I
A
T
A
N
P
E
M
B
E
L
A
J
A
R
A
N
I
N
D
I
K
A
T
O
R
P
E
N
I
L
A
I
A
N
S
U
M
B
E
R
/
B
A
H
A
N
/
A
L
A
T
A
L
O
K
A
S
I
W
A
K
T
U
1
.

1

M
e
n
y
i
m
p
u
l
k
a
n


i
s
i

b
e
r
i
t
a

y
a
n
g

d
i
b
a
c
a
k
a
n

d
a
l
a
m

b
e
b
e
r
a
p
a

k
a
l
i
m
a
t
.
J
e
n
i
s

t
a
g
i
h
a
n
:
·

t
u
g
a
s


k
e
l
o
m
p
o
k
·

u
l
a
n
g
a
n


h
a
r
i
a
n
·

p
r
o
d
u
k
.
B
e
n
t
u
k

i
n
s
t
r
u
m
e
n

·

l
a
p
o
r
a
n




t
e
r
t
u
l
i
s
·

p
e
n
l
l
a
l
a
n



s
i
k
a
p
2
t

J
P
·

M
e
n
d
e
n
g
a
r
k
a
n

b
e
r
l
t
a



(
g
e
m
p
a

b
u
m
i
)
·

M
e
n
u
l
l
s
k
a
n

p
o
k
o
k
-
p
o
k
o
k

b
e
r
l
t
a
·

M
e
m
b
e
r
l
k
a
n

t
a
n
g
g
a
p
a
n



t
e
r
h
a
d
a
p

i
s
i

b
e
r
i
t
a

l
e
w
a
t

d
i
s
k
u
s
i
·

M
e
n
y
a
r
l
k
a
n

p
o
k
o
k
-
p
o
k
o
k



b
e
r
i
t
a

m
e
n
j
a
d
i

i
s
i

b
e
r
i
t
a
·

M
e
n
y
l
m
p
u
l
-
k
a
n

l
s
l

b
e
r
l
t
a



d
a
l
a
m

s
a
t
u

a
l
i
n
e
a
.
P
e
n
y
i
m
p
u
l
a
n

b
e
r
i
t
a

·

T
v
/
P
a
d
l
o
·

K
a
s
e
t
/
C
D

b
e
r
l
t
a
·

T
e
k
s

8
e
r
l
t
a
·

M
e
n
u
n
[
u
k
k
a
n

p
o
k
o
k
-
p
o
k
o
k



b
e
r
i
t
a

y
a
n
g

d
i
d
e
n
g
a
r
k
a
n
·

M
e
n
y
a
r
l
k
a
n


p
o
k
o
k
-
p
o
k
o
k




b
e
r
i
t
a

m
e
n
j
a
d
i

i
s
i

b
e
r
i
t
a
·

M
e
n
y
l
m
p
u
l
k
a
n

l
s
l

b
e
r
l
t
a

d
a
l
a
m



s
a
t
u

a
l
i
n
e
a
.
·

M
e
n
[
e
l
a
s
k
a
n

b
a
h
a
y
a

b
e
n
c
a
n
a



g
e
m
p
a

b
u
m
i

d
a
r
i

b
e
r
i
t
a



m
e
n
g
e
n
a
i

g
e
m
p
a

b
u
m
i
.
S
t
a
n
d
a
r

K
o
m
p
e
t
e
n
s
i


:

M
e
n
d
e
n
g
a
r
k
a
n


1
.

M
e
m
a
h
a
m
i

w
a
c
a
n
a

l
i
s
a
n


m
e
l
a
l
u
i

k
e
g
i
a
t
a
n

m
e
n
d
e
n
g
a
r
k
a
n

b
e
r
i
t
a
.

S
e
k
o
l
a
h



:

S
M
P

K
e
l
a
s




:


V
I
I
I

(
D
e
l
a
p
a
n
)
M
a
t
a

P
e
l
a
j
a
r
a
n


:

B
a
h
a
s
a

I
n
d
o
n
e
s
i
a
S
e
m
e
s
t
e
r



:

1
(

S
a
t
u
)
M
o
d
e
l

S
i
l
a
b
u
s

I
n
t
e
g
r
a
s
i

P
e
n
d
i
d
i
k
a
n

P
e
n
g
u
r
a
n
g
a
n

R
i
s
i
k
o

G
e
m
p
a

B
u
m
i

D
a
l
a
m

M
a
t
a

P
e
l
a
j
a
r
a
n

K
O
M
P
E
T
E
N
S
I
D
A
S
A
R
M
A
T
E
R
I
P
O
K
O
K
K
E
G
I
A
T
A
N
P
E
M
B
E
L
A
J
A
R
A
N
I
N
D
I
K
A
T
O
R
P
E
N
I
L
A
I
A
N
S
U
M
B
E
R
/
B
A
H
A
N
/
A
L
A
T
A
L
O
K
A
S
I
W
A
K
T
U
4
.
3

M
e
n
u
l
i
s

p
e
t
u
n
j
u
k

m
e
l
a
k
u
k
a
n

s
e
s
u
a
t
u

d
e
n
g
a
n

u
r
u
t
a
n

y
a
n
g

t
e
p
a
t

d
a
n

m
e
n
g
g
u
n
a
k
a
n

b
a
h
a
s
a

y
a
n
g

e
f
e
k
t
i
f
.
J
e
n
i
s

t
a
g
i
h
a
n
:
·

t
u
g
a
s


k
e
l
o
m
p
o
k
·

u
l
a
n
g
a
n


h
a
r
i
a
n
·

p
r
o
d
u
k
.
B
e
n
t
u
k

i
n
s
t
r
u
m
e
n

·

l
a
p
o
r
a
n




t
e
r
t
u
l
i
s
·

p
e
n
l
l
a
l
a
n



s
i
k
a
p
2
t

J
P
·

M
e
m
b
a
c
a

p
e
t
u
n
[
u
k

(
m
o
d
e
l
)
·

M
e
n
d
l
s
k
u
s
l
k
a
n

u
r
u
t
a
n
-
u
r
u
t
a
n
·

M
e
m
b
a
n
d
l
n
g
-
k
a
n

b
a
h
a
s
a


p
e
t
u
n
j
u
k

d
e
n
g
a
n

b
a
h
a
s
a


d
e
s
k
r
i
p
t
i
f
·

M
e
n
y
l
m
p
u
l
k
a
n

c
l
r
l
-
c
l
r
l

b
a
h
a
s
a


p
e
t
u
n
j
u
k
·

T
a
n
y
a

[
a
w
a
b

t
e
n
t
a
n
g


p
e
n
y
u
n
t
i
n
g
a
n


b
a
h
a
s
a

p
e
t
u
n
j
u
k



(
m
o
d
e
l
)

y
a
n
g

b
e
l
u
m

e
f
e
k
t
i
f
·

M
e
n
u
l
l
s

p
e
t
u
n
[
u
k
·

M
e
n
y
u
n
t
l
n
g

b
a
h
a
s
a



p
e
t
u
n
j
u
k

t
e
m
a
n
.
·

M
e
m
b
u
a
t

p
e
t
u
n
[
u
k
-
p
e
t
u
n
[
u
k



p
e
n
y
e
l
a
m
a
t
a
n

g
e
m
p
a

s
e
c
a
r
a



b
e
r
k
e
l
o
m
p
o
k
.
P
e
n
u
l
i
s
a
n

b
a
h
a
s
a

p
e
t
u
n
j
u
k
.
·

8
u
k
u

t
e
k
s



B
a
h
a
s
a

I
n
d
o
n
e
s
i
a
·

G
a
m
b
a
r

p
e
t
u
n
[
u
k



s
e
b
e
l
u
m
,

s
a
a
t
,

d
a
n



s
e
t
e
l
a
h

p
e
r
l
s
t
l
w
a



g
e
m
p
a
.
·

M
a
m
p
u

m
e
n
d
a
t
a

u
r
u
t
a
n


m
e
l
a
k
u
k
a
n

s
e
s
u
a
t
u
·

M
a
m
p
u

m
e
n
y
l
m
p
u
l
k
a
n

c
l
r
l
-
c
l
r
l



b
a
h
a
s
a

p
e
t
u
n
t
u
k

·

M
a
m
p
u

m
e
n
u
l
l
s

p
e
t
u
n
[
u
k



d
e
n
g
a
n

b
a
h
a
s
a

y
a
n
g

e
f
e
k
t
i
f
·

M
e
n
y
u
n
t
l
n
g

b
a
h
a
s
a

p
e
t
u
n
[
u
k
·

M
e
n
u
l
l
s
k
a
n

p
e
t
u
n
[
u
k
-
p
e
t
u
n
[
u
k




p
e
n
y
e
l
a
m
a
t
a
n

g
e
m
p
a
.
S
t
a
n
d
a
r

K
o
m
p
e
t
e
n
s
i


:

M
e
n
u
l
i
s

4
.

M
e
n
g
u
n
g
k
a
p
k
a
n

i
n
f
o
r
m
a
s
i

d
a
l
a
m

b
e
n
t
u
k

l
a
p
o
r
a
n
,

s
u
r
a
t

d
i
n
a
s
,

d
a
n

p
e
t
u
n
j
u
k
.

T
a
b
e
l

5
.
1
4

S
i
l
a
b
u
s

I
n
t
e
g
r
a
s
i

P
e
n
g
u
r
a
n
g
a
n

R
i
s
i
k
o

G
e
m
p
a

B
u
m
i

U
n
t
u
k

M
a
t
a

P
e
l
a
j
a
r
a
n

P
e
n
d
i
d
i
k
a
n

B
a
h
a
s
a

I
n
d
o
n
e
s
i
a

T
e
r
p
a
d
u

k
e
l
a
s

V
I
I
I

S
e
m
e
s
t
e
r

1
T
a
b
e
l

5
.
1
5

S
i
l
a
b
u
s

I
n
t
e
g
r
a
s
i

P
e
n
g
u
r
a
n
g
a
n

R
i
s
i
k
o

G
e
m
p
a

B
u
m
i

U
n
t
u
k

M
a
t
a

P
e
l
a
j
a
r
a
n

P
e
n
d
i
d
i
k
a
n

B
a
h
a
s
a

I
n
d
o
n
e
s
i
a

T
e
r
p
a
d
u

k
e
l
a
s

I
X

S
e
m
e
s
t
e
r

1
S
e
k
o
l
a
h



:

S
M
P

K
e
l
a
s




:


I
X

(
S
e
m
b
i
l
a
n
)
M
a
t
a

P
e
l
a
j
a
r
a
n


:

B
a
h
a
s
a

I
n
d
o
n
e
s
i
a
S
e
m
e
s
t
e
r



:

1
(

S
a
t
u
)
M
o
d
e
l

S
i
l
a
b
u
s

I
n
t
e
g
r
a
s
i

P
e
n
d
i
d
i
k
a
n

P
e
n
g
u
r
a
n
g
a
n

R
i
s
i
k
o

G
e
m
p
a

B
u
m
i

D
a
l
a
m

M
a
t
a

P
e
l
a
j
a
r
a
n

K
O
M
P
E
T
E
N
S
I
D
A
S
A
R
M
A
T
E
R
I
P
O
K
O
K
K
E
G
I
A
T
A
N
P
E
M
B
E
L
A
J
A
R
A
N
I
N
D
I
K
A
T
O
R
P
E
N
I
L
A
I
A
N
S
U
M
B
E
R
/
B
A
H
A
N
/
A
L
A
T
A
L
O
K
A
S
I
W
A
K
T
U
1
1
.
1

M
e
n
e
m
u
k
a
n

g
a
g
a
s
a
n

d
a
r
i

b
e
b
e
r
a
p
a

a
r
t
i
k
e
l

d
a
n

b
u
k
u

m
e
l
a
l
u
i

k
e
g
i
a
t
a
n

m
e
m
b
a
c
a

e
k
s
t
e
n
s
i
f
.
J
e
n
i
s

t
a
g
i
h
a
n
:
t

U
V
H
B
T

k
e
l
o
m
p
o
k
t

V
M
B
O
H
B
O

h
a
r
i
a
n
t

Q
S
P
E
V
L

B
e
n
t
u
k

i
n
s
t
r
u
m
e
n

t

M
B
Q
P
S
B
O

t
e
r
t
u
l
i
s
t

Q
F
O
J
M
B
J
B
O

s
i
k
a
p
2
t

J
P
t

.
F
N
C
B
D
B

B
S
U
J
L
F
M

N
F
O
H
F
O
B
J

g
e
m
p
a

u
n
t
u
k

m
e
n
e
m
u
k
a
n



b
e
r
b
a
g
a
i

g
a
g
a
s
a
n

y
a
n
g



t
e
r
d
a
p
a
t

d
i

d
a
l
a
m
n
y
a
.
t

.
F
N
C
B
D
B

B
S
U
J
L
F
M

N
F
O
H
F
O
B
J

g
e
m
p
a

d
e
n
g
a
n

c
a
r
a

m
e
n
g
u
t
i
p



p
e
r
n
y
a
t
a
a
n
-
p
e
r
n
y
a
t
a
a
n

y
a
n
g



t
e
r
d
a
p
a
t

d
i

d
a
l
a
m
n
y
a

d
a
n



m
e
m
a
n
f
a
a
t
k
a
n
n
y
a

d
a
l
a
m



p
e
n
u
l
i
s
a
n

k
a
r
y
a

i
l
m
i
a
h
C
a
r
a

m
e
n
e
m
u
k
a
n

g
a
g
a
s
a
n

d
a
l
a
m

w
a
c
a
n
a

d
a
n

i
m
p
l
e
m
e
n
t
a
t
s
i
n
y
a
.
t

"
S
U
J
L
F
M

C
F
S
J
U
B
t

#
V
L
V

U
F
L
T
t

.
F
O
F
N
V
L
B
O

H
B
H
B
T
B
O

E
B
S
J

a
r
t
i
k
e
l
t

.
F
O
F
N
V
L
B
O

H
B
H
B
T
B
O

E
B
S
J

C
V
L
V
t

.
F
O
H
V
U
J
Q

Q
F
S
O
Z
B
U
B
B
O

E
B
S
J

a
r
i
k
e
l

a
t
a
u

b
u
k
u

s
e
b
a
g
a
i



r
e
f
e
r
e
n
s
i


d
a
l
a
m

p
e
n
u
l
i
s
a
n



k
a
r
y
a

t
u
l
i
s
.
t

.
F
O
V
M
J
T
L
B
O

H
B
H
B
T
B
O

E
B
M
B
N

w
a
c
a
n
a

g
e
m
p
a
S
t
a
n
d
a
r

K
o
m
p
e
t
e
n
s
i


:

M
e
m
b
a
c
a
1
1
.

M
e
m
a
h
a
m
i

r
a
g
a
m

w
a
c
a
n
a

t
u
l
i
s

d
e
n
g
a
n

m
e
m
b
a
c
a

e
k
s
t
e
n
s
i
f
,

m
e
m
b
a
c
a

i
n
t
e
n
s
i
f
,

d
a
n

m
e
m
b
a
c
a

c
e
p
a
t
.

Pengintegrasian Materi Pokok Pengurangan Risiko Gempa Bumi
Ke Dalam Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan Menengah Pertama (SMP/MTs)
80
5.1.4. Penyusunan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) Mata Pelajaran
Terintegrasi
RPP dijabarkan dari silabus untuk mengarahkan kegiatan belajar peserta didik
dalam upaya mencapai KO. Setiap guru pada satuan pendidikan berkewajiban
menyusun RPP secara lengkap dan sistematis agar pembelajaran berlangsung
secara interaktif, inspiratif, menyenangkan, menantang, memotivasi peserta
didik untuk berpartisipasi aktif, serta memberikan ruang yang cukup bagi
prakarsa, kreativitas, dan kemandirian sesuai dengan bakat, minat, dan
perkembangan fsik serta psikologis peserta didik. RPP disusun untuk setiap
KO yang dapat dilaksanakan dalam satu kali pertemuan atau lebih. Guru
merancang penggalan RPP untuk setiap pertemuan yang disesuaikan dengan
penjadwalan di satuan pendidikan.
Komponen RPP adalah :
1. Identitas mata pelajaran
Identitas mata pelajaran, meliputi:
satuan pendidikan, kelas,
semester,
program/program keahlian,
mata pelajaran atau tema pelajaran,
jumlah pertemuan.
2. Standar kompetensi
Standar kompetensi merupakan kualifkasi kemampuan minimal peserta
didik yang menggambarkan penguasaan pengetahuan, sikap, dan
keterampilan yang diharapkan dicapai pada setiap kelas dan/atau semester
pada suatu mata pelajaran.
3. Kompetensi dasar
Kompetensi dasar adalah sejumlah kemampuan yang harus dikuasai
peserta didik dalam mata pelajaran tertentu sebagai rujukan penyusunan
indikator kompetensi dalam suatu pelajaran.
4. Indikator pencapaian kompetensi
Indikator kompetensi adalah perilaku yang dapat diukur dan/atau
diobservasi untuk menunjukkan ketercapaian kompetensi dasar tertentu
yang menjadi acuan penilaian mata pelajaran. Indikator pencapaian
kompetensi dirumuskan dengan menggunakan kata kerja operacional
yang dapat diamati dan diukur, yang mencakup pengetahuan, sikap, dan
keterampilan.
5. Tujuan pembelajaran
Tujuan pembelajaran menggambarkan proses dan hasil belajar yang
diharapkan dicapai oleh peserta didik sesuai dengan kompetensi dasar.
6. Materi ajar
Materi ajar memuat fakta, konsep, prinsip, dan prosedur yang relevan,
dan ditulis dalam bentuk butir-butir sesuai dengan rumusan indikator
pencapaian kompetensi.
Modul Ajar Pengintegrasian Pengurangan Risiko Gempa Bumi untuk SMP/MTs
81
7. Alokasi waktu
Alokasi waktu ditentukan sesuai dengan keperluan untuk pencapaian KO
dan beban belajar.
8. Metode pembelajaran
Metode pembelajaran digunakan oleh guru untuk mewujudkan suasana
belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik mencapai kompetensi
dasar atau seperangkat indikatoryang telah ditetapkan. Pemilihan metode
pembelajaran disesuaikan dengan situasi dan kondisi peserta didik, serta
karakteristik dari setiap indikator dan kompetensi yang hendak dicapai
pada setiap mata pelajaran. Pendekatan pembelajaran tematik digunakan
untuk peserta didik kelas 1 sampai kelas 3 SMP/MTs/MI
9. Kegiatan pembelajaran
Pendahuluan
Pendahuluan merupakan kegiatan awal dalam suatu pertemuan
pembelajaran yang ditujukan untuk membangkitkan motivasi dan
memfokuskan perhatian peserta didik untuk berpartisipasi aktif dalam
proses pembelajaran.
Inti
Kegiatan inti merupakan proses pembelajaran untuk mencapai
KO. Kegiatan pembelajaran dilakukan secara interaktif, inspiratif,
menyenangkan, menantang, memotivasi peserta didik untuk
berpartisipasi aktif, serta memberikan ruang yang cukup bagi
prakarsa, kreativitas, dan kemandirian sesuai dengan bakat, minat, dan
perkembangan fsik serta psikologis peserta didik. Kegiatan ini dilakukan
secara sistematis dan sistemik melalui proses eksplorasi, elaborasi, dan
konfrmasi.
Penutup
Penutup merupakan kegiatan yang dilakukan untuk mengakhiri aktivitas
pembelajaran yang dapat dilakukan dalam bentuk rangkuman atau
kesimpulan, penilaian dan refeksi, umpan balik, dan tindak lanjut.
10. Penilaian hasil belajar
Prosedur dan instrumen penilaian proses dan hasil belajar disesuaikan
dengan indikator pencapaian kompetensi dan mengacu kepada Standar
Penilaian.
11. Sumber belajar
Penentuan sumber belajar didasarkan pada estándar kompetensi dan
kompetensi dasar, serta materi ajar, kegiatan pembelajaran, dan indikator
pencapaian kompetensi.
Prinsip-prinsip Penyusunan RPP
1. Memperhatikan perbedaan individu peserta didik
RPP disusun dengan memperhatikan perbedaan jenis kelamin, kemampuan
awal, tingkat intelektual, minat, motivasi belajar, bakat, potensi, kemampuan
Pengintegrasian Materi Pokok Pengurangan Risiko Gempa Bumi
Ke Dalam Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan Menengah Pertama (SMP/MTs)
82
sosial, emosi, gaya belajar, kebutuhan khusus, kecepatan belajar, latar
belakang budaya, norma, nilai, dan/atau lingkungan peserta didik.
2. Mendorong partisipasi aktif peserta didik
Proses pembelajaran dirancang dengan berpusat pada peserta didik untuk
mendorong motivasi, minat, kreativitas, inisiatif, inspirasi, kemandirian, dan
semangat belajar.
3. Mengembangkan budaya membaca dan menulis
Proses pembelajaran dirancang untuk mengembangkan kegemaran
membaca, pemahaman beragam bacaan, dan berekspresi dalam berbagai
bentuk tulisan.
4. Memberikan umpan balik dan tindak lanjut
RPP memuat rancangan program pemberian umpan balik positif,
penguatan, pengayaan, dan remedi.
5. Keterkaitan dan keterpaduan
RPP disusun dengan memperhatikan keterkaitan dan keterpaduan
antara SK, KD, materi pembelajaran, kegiatan pembelajaran, indikator
pencapaian kompetensi, penilaian, dan sumber belajar dalam satu
keutuhan pengalaman belajar. RPP disusun dengan mengakomodasikan
pembelajaran tematik, keterpaduan Iintas mata pelajaran, lintas aspek
belajar, dan keragaman budaya.
6. Menerapkan teknologi informasi dan komunikasi
RPP disusun dengan mempertimbangkan penerapan teknologi informasi
dan komunikasi secara terintegrasi, sistematis, dan efektif sesuai dengan
situasi dan kondisi
Pelaksanaan Pembelajaran
Pelaksanaan pembelajaran merupakan implementasi dari RPP. Pelaksanaan
pembelajaran meliputi kegiatan pendahuluan, kegiatan inti dan kegiatan
penutup.
1. Kegiatan Pendahuluan
Dalam kegiatan pendahuluan, guru:
menyiapkan peserta didik secara psikis dan fsik untuk mengikuti proses
pembelajaran;
mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang mengaitkan pengetahuan
sebelumnya dengan materi yang akan dipelajari;
menjelaskan tujuan pembelajaran atau kompetensi dasar yang akan
dicapai;
menyampaikan cakupan materi dan penjelasan uraian kegiatan sesuai
silabus.
2. Kegiatan Inti
Pelaksanaan kegiatan inti merupakan proses pembelajaran untuk mencapai
Modul Ajar Pengintegrasian Pengurangan Risiko Gempa Bumi untuk SMP/MTs
83
KD yang dilakukan secara interaktif, inspiratif, menyenangkan, menantang,
memotivasi peserta didik untuk berpartisipasi aktif, serta memberikan
ruang yang cukup bagi prakarsa, kreativitas, dan kemandirian sesuai
dengan bakat, minat dan perkembangan fsik serta psikologis peserta didik.
Kegiatan inti menggunakan metode yang disesuaikan dengan karakteristik
peserta didik dan mata pelajaran, yang dapat meliputi proses eksplorasi,
elaborasi, dan konfrmasi.
 Eksplorasi
Dalam kegiatan eksplorasi, guru:
- melibatkan peserta didik mencari informasi yang luas dan dalam
tentang topik/tema materi yang akan dipelajari dengan menerapkan
prinsip alam takambang jadi guru dan belajar dari aneka sumber;
- menggunakan beragam pendekatan pembelajaran, media
pembelajaran, dan sumber belajar lain;
- memfasilitasi terjadinya interaksi antar peserta didik serta antara
peserta didik dengan guru, lingkungan, dan sumber belajar lainnya;
- melibatkan peserta didik secara aktif dalam setiap kegiatan
pembelajaran;
- memfasilitasi peserta didik melakukan percobaan di laboratorium,
studio, atau lapangan.
 Elaborasi
Dalam kegiatan elaborasi, guru:
- membiasakan peserta didik membaca dan menulis yang beragam
melalui tugas-tugas tertentu yang bermakna;
- memfasilitasi peserta didik melalui pemberian tugas, diskusi, dan
lain-lain untuk memunculkan gagasan baru baik secara lisan maupun
tertulis;
- memberi kesempatan untuk berpikir, menganalisis, menyelesaikan
masalah, dan bertindak tanpa rasa takut;
- memfasilitasi peserta didik dalam pembelajaran kooperatif dan
kolaboratif;
- memfasilitasi peserta didik berkompetisi secara sehat untuk
meningkatkan prestasi belajar;
- memfasilitasi peserta didik membuat laporan eksplorasi yang dilakukan
baik lisan maupun tertulis, secara individual maupun kelompok;
- memfasilitasi peserta didik untuk menyajikan hasil kerja individual
maupun kelompok;
- memfasilitasi peserta didik melakukan pameran, turnamen, festival,
serta produk yang dihasilkan;
- memfasilitasi peserta didik melakukan kegiatan yang menumbuhkan
kebanggaan dan rasa percaya diri peserta didik.
Pengintegrasian Materi Pokok Pengurangan Risiko Gempa Bumi
Ke Dalam Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan Menengah Pertama (SMP/MTs)
84
Konfrmasi
Dalam kegiatan konfrmasi, guru:
- memberikan umpan balik positif dan penguatan dalam bentuk lisan,
tulisan, isyarat, maupun hadiah terhadap keberhasilan peserta didik,
- memberikan konfrmasi terhadap hasil eksplorasi dan elaborasi peserta
didik melalui berbagai sumber,
memfasilitasi peserta didik melakukan refeksi untuk memperoleh
pengalaman belajar yang telah dilakukan,
memfasilitasi peserta didik untuk memperoleh pengalaman yang
bermakna dalam mencapai kompetensi dasar:
- berfungsi sebagai narasumber dan fasilitator dalam menjawab
pertanyaan peserta didik yang menghadapi kesulitan, dengan
menggunakan bahasa yang baku dan benar;
- membantu menyelesaikan masalah;
- memberi acuan agar peserta didik dapat melakukan pengecekan
hasil eksplorasi;
- memberi informasi untuk bereksplorasi lebih jauh;
- memberikan motivasi kepada peserta didik yang kurang atau belum
berpartisipasi aktif.
3. Kegiatan Penutup
Dalam kegiatan penutup, guru:
bersama-sama dengan peserta didik dan/atau sendiri membuat
rangkuman/simpulan pelajaran;
melakukan penilaian dan/atau refeksi terhadap kegiatan yang sudah
dilaksanakan secara konsisten dan terprogram;
memberikan umpan balik terhadap proses dan hasil pembelajaran;
merencanakan kegiatan tindak lanjut dalam bentuk pembelajaran
remedi, program pengayaan, layanan konseling dan/atau memberikan
tugas baik tugas individual maupun kelompok sesuai dengan hasil
belajar peserta didik;
menyampaikan rencana pembelajaran pada pertemuan berikutnya.
Penilaian Hasil Pembelajaran
Penilaian dilakukan oleh guru terhadap hasil pembelajaran untuk mengukur
tingkat pencapaian kompetensi peserta didik, serta digunakan sebagai
bahan penyusunan laporan kemajuan hasil belajar, dan memperbaiki
proses pembelajaran. Penilaian dilakukan secara konsisten, sistematik, dan
terprogram dengan menggunakan tes dan nontes dalam bentuk tertulis atau
lisan, pengamatan kinerja, pengukuran sikap, penilaian hasil karya berupa
tugas, proyek dan/atau produk, portofolio, dan penilaian diri. Penilaian hasil
pembelajaran menggunakan Standar Penilaian Pendidikan dan Panduan
Penilaian Kelompok Mata Pelajaran.
Modul Ajar Pengintegrasian Pengurangan Risiko Gempa Bumi untuk SMP/MTs
85
Kotak 5.1 Contoh Rencana Pembelajaran Mata Pelajaran, IPS.
Rencana Pelaksanaan Pembelajaran
Nama Sekolah : SMP/MTs .................................
Mata Pelajaran : Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS)
Kelas : VI
Semester : 2
Alokasi Waktu : 4 x 35 menit
Standar Kompetensi:
Memahami lingkungan kehidupan manusia
Kompetensi Dasar :
Mendeskripsikan keragaman bentuk muka bumi, proses pembentukan, dan
dampaknya terhadap kehidupan
Indikator :
 Mendeskripsikan proses alam endogen yang menyebabkan terjadinya bentuk
muka bumi
 Mendeskripsikan gejala diastrofsme dan vulkanisme serta sebaran tipe
gunung api
 Mendeskripsikan faktor-faktor penyebab terjadinya gempa bumi dan akibat
yang ditimbulkannya
Tujuan Pembelajaran :
Setelah selesai melakukan kegiatan pembelajaran, siswa diharapkan mampu:
 Menjelaskan proses terbentuknya muka bumi.
 Membedakan gejala diastrofsme dan vulkanisme
 Menyebutkan faktor-faktor terjadinya gempa bumi
 Menyebutkan hal-hal apa sajakah yang harus dilakukan sebelum, saat dan
setelah terjadinya bencana gempa bumi
Materi pokok
 Tenaga endogen dan tenaga eksogen
 Gejala diastrofsme dan vulkanisme
 Faktor-faktor penyebab terjadinya gempa bumi
Alat/bahan/sumber belajar
Alat/bahan:
 Peta
Pengintegrasian Materi Pokok Pengurangan Risiko Gempa Bumi
Ke Dalam Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan Menengah Pertama (SMP/MTs)
86
 Atlas
 Globe
 LCD, Komputer
 Lembar kerja siswa
Sumber :
 Internet
 Buku IPS
Skenario pembelajaran
1. Pendahuluan(10 menit)
 Prasyarat pengetahuan:
Siswa dapat membedakan pengertian tenaga endogen dan eksogen serta
menjelaskan proses diastrofsme dan vulkanisme.
 Guru memberikan motivasi kepada siswa tentang kejadian gempa yang
menimpa wilayah Indonesia dan sekitarnya.
Contohnya: apakah yang harus kita lakukan ketika sebelum, sesaat, dan setelah
terjadi bencana gempa bumi jika bencana gempa bumi itu menimpa wilayah
kita?
2. Kegiatan inti (60 menit)
a. Guru memberikan lembar kerja kepada siswa untuk mencari dan membuat
makalah tentang proses terjadinya muka bumi dan terjadinya bencana
gempa bumi
b. Masing-masing kelompok membuat makalah dan mempresentasikannya
dalam bentuk peta konsep di dalam kelas secara bergantian
c. Anggota kelompok lain bertanya atau menanggapi setiap makalah yang
dipresentasikan oleh tiap-tiap kelompok secara bergantian.
d. Guru menjadi fasilitator dan membimbing jalannya diskusi
3. Penutup (20 menit)
a. Guru meminta setiap perwakilan kelompok untuk menyimpulkan materi
yang telah dipelajari
b. Guru menguatkan kesimpulan yang diberikan siswa
c. Guru memberikan kuis
d. Berdoa
Penilaian
Dilakukan penilaian individual pada aspek kognitif, afektif, dan
psikomotorik.
Modul Ajar Pengintegrasian Pengurangan Risiko Gempa Bumi untuk SMP/MTs
87
a. Penilaian kognitif
Nilai dapat dilihat dari hasil ulangan harian dan kuis
b. Penilaian afektif
Nilai didapat dari pengamatan guru terhadap siswa selama proses
pembelajaran berlangsung.
NAMA
SISWA
JUMLAH
SKOR
KET
INDIKATOR / SKOR
1 2 3 4 5 6
NO
1. Aliyudin
2.
3.
Keterangan:
1= bekerja sama 3= kerajinan 5= teliti
2= kejujuran 4= aktif 6=bertanggung jawab
Jumlah skor maksimal= 6x4 = 24

Nilai siswa= x 100

Nilai afektif:
86-100 = A
71-85 = B
50-70 = C
<50 = D
Contoh:
jumlah skor
24
NAMA
SISWA
JUMLAH
SKOR
KET
INDIKATOR / SKOR
1 2 3 4 5 6
NO
1. Aliyudin
2.
3.
Keterangan:
1= bekerja sama 3= kerajinan 5= teliti
2= kejujuran 4= aktif 6=bertanggung jawab
Jumlah skor maksimal= 6x4 = 24

Nilai siswa= x 100

Nilai afektif:
86-100 = A
71-85 = B
50-70 = C
<50 = D
Contoh:
jumlah skor
24
Pengintegrasian Materi Pokok Pengurangan Risiko Gempa Bumi
Ke Dalam Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan Menengah Pertama (SMP/MTs)
88
Kotak 5.2 Contoh Rencana Pembelajaran Mata Pelajaran Penjaskes IX
Rencana Pelaksanaan Pembelajaran
Mata pelajaran : Penjaskes
Satuan pendidikan : SMP …
Kelas/semester : IX/2
Alokasi Waktu : 2x45 menit
Standar kompetensi
Menerapkan budaya hidup sehat
Kompetensi dasar
13.1 Mempraktikkan identifkasi bahaya bencana alam
13.2 Mempraktikan cara menghadapi berbagai bencana alam
Indikator
 Melakukan identifkasi jenis bencana
 Melakukan identifkasi penyebab bencana
 Melakukan pencegahan dan penanggulangan bencana alam
 Mendeskripsikan faktor-faktor penyebab terjadinya gempa bumi dan akibat
yang ditimbulkannya
Tujuan pembelajaran
Setelah mengikuti kegiatan pembelajaran ini siswa diharapkan mampu:
 Menjelaskan jenis-jenis, sebab-sebab, dan akibat bencana alam.
 Menyebutkan faktor-faktor terjadinya gempa bumi
 Menyebutkan hal-hal apa sajakah yang harus dilakukan sebelum, saat dan
setelah terjadinya bencana gempa bumi
Materi pokok
 Budaya hidup sehat
 Jenis, faktor penyebab, dan akibat terjadinya gempa bumi serta
penanggulangannya.
Alat/bahan/sumber belajar
Alat/bahan:
 Peralatan P3K
 LCD, Komputer
 Lembar kerja siswa
Modul Ajar Pengintegrasian Pengurangan Risiko Gempa Bumi untuk SMP/MTs
89
Sumber :
 Internet
 Buku Penjaskes
Skenario pembelajaran
Pendahuluan (10 menit)
1. Prasyarat pengetahuan:
Siswa dapat menyebutkan jenis-jenis bencana alam yang sering terjadi di
Indonesia.
2. Guru memberikan motivasi kepada siswa tentang kejadian gempa yang
menimpa wilayah Indonesia dan sekitarnya.
Contohnya: apakah yang harus kita lakukan ketika sebelum, sesaat, dan
setelah terjadi bencana gempa bumi jika bencana gempa bumi itu menimpa
wilayah kita?
Kegiatan inti (60 menit)
1. Guru memberikan lembar kerja kepada siswa untuk membuat kreasi dan
simulasi tentang hal-hal apa saja yang harus dilakukan ketika terjadi gempa
di wilayahnya.
2. Masing-masing kelompok membuat simulasi atau games kemudian
mempraktikannya di dalam atau di luar kelas secara bergantian
3. Anggota kelompok lain bertanya atau menanggapi setiap simulasi yang
dipresentasikan oleh tiap-tiap kelompok secara bergantian.
4. Guru menjadi fasilitator dan membimbing jalannya simulasi dan games
Penutup (20 menit)
1. Guru meminta setiap perwakilan kelompok untuk menyimpulkan materi
yang telah dipelajari
2. Guru menguatkan kesimpulan yang diberikan siswa
3. Guru memberikan kuis
4. Berdoa
Penilaian
Dilakukan penilaian individual pada aspek kognitif, afektif, dan psikomotorik.
1. Penilaian kognitif
Nilai dapat dilihat dari hasil ulangan harian dan kuis
2. Penilaian afektif
Nilai didapat dari pengamatan guru terhadap siswa selama proses
pembelajaran berlangsung
Pengintegrasian Materi Pokok Pengurangan Risiko Gempa Bumi
Ke Dalam Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan Menengah Pertama (SMP/MTs)
90
NAMA
SISWA
JUMLAH
SKOR
KET
INDIKATOR / SKOR
1 2 3 4 5 6
NO
1. Aliyudin
2.
3.
Keterangan:
1= bekerja sama 3= kerajinan 5= teliti
2= kejujuran 4= aktif 6=bertanggung jawab
Jumlah skor maksimal= 6x4 = 24

Nilai siswa= x 100

Nilai afektif:
86-100 = A
71-85 = B
50-70 = C
<50 = D
Contoh:
jumlah skor
24
Kotak 5.3 Contoh Rencana Pembelajaran Mata Pelajaran IPA Terpadu Kelas VII
Rencana Pelaksanaan Pembelajaran
Sekolah : SMP…
Mata Pelajaran : IPA Terpadu
Kelas : VII
Alokasi Waktu : 4 × 40 menit
Standar Kompetensi :
Memahami gejala-gejala alam melalui pengamatan.
Kompetensi Dasar :
Menerapkan keselamatan kerja dalam melakukan pengamatan gejala-gejala
alam.
Modul Ajar Pengintegrasian Pengurangan Risiko Gempa Bumi untuk SMP/MTs
91
Indikator :
 Memegang, membawa dan memperlakukan alat dan bahan secara aman.
 Mendeskripsikan bahan-bahan yang berbahaya dan yang dapat menimbulkan
penyakit.
 Mengindentifkasi simbol-simbol dalam Laboratorium.
 Memahami langkah-langkah penyelamatan diri saat gempa.
 Mensimulasikan keselamatan diri saat terjadi gempa.
I. Tujuan Pembelajaran
Setelah mengikuti pembelajaran ini diharapkan siswa dapat:
Pertemuan 1:
 Memegang, membawa dan memperlakukan alat dan bahan secara aman.
 Mendeskripsikan bahan-bahan yang berbahaya dan yang dapat
menimbulkan penyakit.
 Mengindentifkasi simbol-simbol dalam Laboratorium.
Pertemuan 2:
 Memahami langkah-langkah penyelamatan diri saat gempa.
 Mensimulasikan keselamatan diri saat terjadi gempa.
II. Materi Pembelajaran
Keselamatan kerja.
III. Metode Pembelajaran
Penyampaian Informasi
Diskusi
Tanya jawab
Simulasi (role playing)
IV. Langkah-langkah Pembelajaran
Pertemuan 1
 Kegiatan awal (5 menit)
- Siswa mengucapkan salam yang dilanjutkan dengan doa bersama.
- Siswa dimotivasi dengan pertanyaan: “Bagaimana cara membawa
mikroskop?”
 Kegiatan inti (65 menit)
- Siswa menyimak penjelasan guru mengenai bagaimana cara memegang,
membawa dan memperlakukan alat dan bahan secara aman.
Pengintegrasian Materi Pokok Pengurangan Risiko Gempa Bumi
Ke Dalam Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan Menengah Pertama (SMP/MTs)
92
- Siswa menyimak penjelasan guru mengenai bahan-bahan yang berbahaya
dan yang dapat menimbulkan penyakit serta mengindentifkasi simbol-
simbol dalam Laboratorium.
- Siswa melakukan tanya jawab seputar keselamatan kerja.
 Kegiatan akhir (10 menit)
- Guru dan siswa menyimpulkan hasil pembelajaran.
- Siswa menyimak penguatan dari guru.
Pertemuan 2
 Kegiatan awal (5 menit)
- Siswa mengucapkan salam yang dilanjutkan dengan doa bersama.
- Siswa dimotivasi dengan pertanyaan: “Apa yang harus anda kerjakan
sebelum, saat, dan setelah gempa?”
 Kegiatan inti (65 menit)
- Siswa menyimak penjelasan guru mengenai langkah-langkah
penyelamatan diri saat peristiwa gempa.
- Siswa secara berkelompok mensimulasikan penyelamatan diri saat
gempa.
- Siswa melakukan tanya jawab seputar gempa bumi.
 Kegiatan akhir (10 menit)
- Guru dan siswa menyimpulkan hasil pembelajaran.
- Siswa menyimak penguatan dari guru.
V. Sumber dan Alat Bantu
 Buku IPA kelas VII Semester 1.
 Buku pelajaran kelas VII.
 Mikroskop dan alat serta bahan kimia.
 Meja dan kursi kelas.
 Penunjuk arah evakuasi.
 Lingkungan.
VI. Penilaian
Bentuk penilaian : pengamatan kinerja dan sikap (afektif ) tugas
Jenis penilaian : penilaian proses dan penilaian hasil
Instrumen penilaian : lembar pengamatan dan soal
Aspek yang dinilai : kognitif, afektif dan psikomotorik
Modul Ajar Pengintegrasian Pengurangan Risiko Gempa Bumi untuk SMP/MTs
93
NAMA
SISWA
JUMLAH
SKOR
KET
INDIKATOR / SKOR
1 2 3 4 5 6
NO
1. Aliyudin
2.
3.
Keterangan:
1= bekerja sama 3= kerajinan 5= teliti
2= kejujuran 4= aktif 6=bertanggung jawab
Jumlah skor maksimal= 6x4 = 24

Nilai siswa= x 100

Nilai afektif:
86-100 = A
71-85 = B
50-70 = C
<50 = D
Contoh:
jumlah skor
24
NAMA
SISWA
JUMLAH
SKOR
KET
INDIKATOR / SKOR
1 2 3 4 5 6
NO
1. Aliyudin
2.
3.
Keterangan:
1= bekerja sama 3= kerajinan 5= teliti
2= kejujuran 4= aktif 6=bertanggung jawab
Jumlah skor maksimal= 6x4 = 24

Nilai siswa= x 100

Nilai afektif:
86-100 = A
71-85 = B
50-70 = C
<50 = D
Contoh:
jumlah skor
24
Kotak 5.4 Contoh Rencana Pembelajaran Mata Pelajaran IPA Terpadu Kelas VIII
Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP)
Sekolah : SMP…
Mata Pelajaran : IPA Terpadu
Kelas : VIII
Alokasi Waktu : 2 × 40 menit
Standar Kompetensi :
Memahami konsep dan penerapan getaran, gelombang dan optika dalam produk
teknologi sehari-hari.
Kompetensi Dasar :
Mendeskripsikan konsep getaran dan gelombang serta parameter-parameter-nya.
Indikator :
 Melakukan percobaan untuk mencari perbedaan karakteristik gelombang
longitudinal dan gelombang transversal
 Membuat alat gempa mini berdasarkan prinsip getaran dan gelombang.
Pengintegrasian Materi Pokok Pengurangan Risiko Gempa Bumi
Ke Dalam Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan Menengah Pertama (SMP/MTs)
94
I. Tujuan Pembelajaran
Setelah mengikuti pembelajaran ini diharapkan siswa dapat:
 Melakukan percobaan untuk mencari perbedaan karakteristik gelombang
longitudinal dan gelombang transversal
 Membuat alat gempa mini berdasarkan prinsip getaran dan gelombang.
II. Materi Pembelajaran
Getaran dan gelombang
III. Metode Pembelajaran
Penyampaian Informasi
Diskusi
Tanya jawab
Praktikum
IV. Langkah-langkah Pembelajaran
 Kegiatan awal (5 menit)
- Siswa mengucapkan salam yang dilanjutkan dengan doa bersama.
- Siswa dimotivasi dengan pertanyaan: “Apa yang terjadi jika bumi diberi
gelombang seperti gempa?”
 Kegiatan inti (65 menit)
- Siswa menyimak penjelasan guru mengenai bagaimana cara membuat
gempa jelly berdasarkan pada LKS (Lembar Kinerja Siswa) yang
diberikan.
- Siswa menyimak penjelasan guru mengenai cara kerja gelombang pada
gempa jelly.
- Siswa melakukan praktikum.
- Siswa secara berkelompok mendemostrasikan hasil kerjanya.
- Siswa melakukan tanya jawab seputar gempa.
 Kegiatan akhir (10 menit)
- Guru dan siswa menyimpulkan hasil pembelajaran.
- Siswa menyimak penguatan dari guru.
V. Sumber dan Alat Bantu
 Buku IPA kelas VII Semester 1.
 Dua jenis agar-agar.
 Tusuk gigi 10 buah
 Benang jahit 20 cm
 Alat tulis.
Modul Ajar Pengintegrasian Pengurangan Risiko Gempa Bumi untuk SMP/MTs
95
 Lingkungan.
VII. Penilaian
Bentuk penilaian : pengamatan kinerja dan sikap (afektif ) tugas
Jenis penilaian : penilaian proses dan penilaian hasil
Instrumen penilaian : lembar pengamatan dan soal
Aspek yang dinilai : kognitif, afektif dan psikomotorik
NAMA
SISWA
JUMLAH
SKOR
KET
INDIKATOR / SKOR
1 2 3 4 5 6
NO
1. Aliyudin
2.
3.
Keterangan:
1= bekerja sama 3= kerajinan 5= teliti
2= kejujuran 4= aktif 6=bertanggung jawab
Jumlah skor maksimal= 6x4 = 24

Nilai siswa= x 100

Nilai afektif:
86-100 = A
71-85 = B
50-70 = C
<50 = D
Contoh:
jumlah skor
24

Kotak 5.5 Contoh Rencana Pembelajaran Mata Pelajaran Bahasa Indonesia Kelas VII
Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP)
Sekolah : SMP…
Mata Pelajaran : Bahasa Indonesia
Kelas : VII
Alokasi Waktu : 2 × 40 menit
Standar Kompetensi:
Mendengarkan
Memahami wacana lisan melalui kegiatan mendengarkan berita
Pengintegrasian Materi Pokok Pengurangan Risiko Gempa Bumi
Ke Dalam Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan Menengah Pertama (SMP/MTs)
96
Kompetensi Dasar
Menyimpulkan isi berita yang diba¬cakan dalam beberapa kalimat.
Indikator :
 Menunjukkan pokok-pokok berita yang didengarkan
 Menyarikan pokok-pokok berita menjadi isi berita
 Menyimpulkan isi berita dalam satu alinea.
 Menjelaskan bahaya bencana gempa bumi dari berita mengenai gempa bumi.
I. Tujuan Pembelajaran
Setelah mengikuti pembelajaran ini diharapkan siswa dapat:
 Menunjukkan pokok-pokok berita yang didengarkan
 Menyarikan pokok-pokok berita menjadi isi berita
 Menyimpulkan isi berita dalam satu alinea.
 Menjelaskan bahaya bencana gempa bumi dari berita mengenai gempa bumi.
II. Materi Pembelajaran
Penyimpulan Berita
III. Metode Pembelajaran
Penyampaian Informasi
Diskusi
Tanya jawab
IV. Langkah-langkah Pembelajaran
 Kegiatan awal (5 menit)
- Siswa mengucapkan salam yang dilanjutkan dengan doa bersama.
- Siswa dimotivasi dengan pernyataan: “Kalian pasti pernah mendengar
atau membaca berita mengenai bencana gempa bumi yang terjadi di
Indonesia.”
 Kegiatan inti (65 menit)
- Siswa menyimak penyampaian berita melalui radio/televisi atau salah
seorang dari siswa membacakan berita mengenai gempa bumi.
- Siswa secara berkelompok mendiskusikan mengenai pokok-pokok
isi berita yang dibacakan dan menyimpulkan bahaya bencana gempa
bumi.
- Siswa melakukan tanya jawab seputar isi berita gempa bumi.
 Kegiatan akhir (10 menit)
- Guru dan siswa menyimpulkan hasil pembelajaran.
- Siswa menyimak penguatan dari guru.
Modul Ajar Pengintegrasian Pengurangan Risiko Gempa Bumi untuk SMP/MTs
97
V. Sumber dan Alat Bantu
 Buku Bahasa Indonesia kelas VII semester 1
 Teks Berita
 Radio/Televisi/CD rekaman berita
VIII. Penilaian
Bentuk penilaian : pengamatan kinerja dan sikap (afektif ) tugas
Jenis penilaian : penilaian proses dan penilaian hasil
Instrumen penilaian : lembar pengamatan dan soal
Aspek yang dinilai : kognitif, afektif dan psikomotorik
NAMA
SISWA
JUMLAH
SKOR
KET
INDIKATOR / SKOR
1 2 3 4 5 6
NO
1. Aliyudin
2.
3.
Keterangan:
1= bekerja sama 3= kerajinan 5= teliti
2= kejujuran 4= aktif 6=bertanggung jawab
Jumlah skor maksimal= 6x4 = 24

Nilai siswa= x 100

Nilai afektif:
86-100 = A
71-85 = B
50-70 = C
<50 = D
Contoh:
jumlah skor
24
Kotak 5.6 Contoh Rencana PembangunanMata Pelajaran Bahasa Indonesia Kelas VIII
Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP)
Sekolah : SMP…
Mata Pelajaran : Bahasa Indonesia
Kelas : VIII
Alokasi Waktu : 2 × 40 menit
Pengintegrasian Materi Pokok Pengurangan Risiko Gempa Bumi
Ke Dalam Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan Menengah Pertama (SMP/MTs)
98
Standar Kompetensi :
Menulis
Mengungkapkan informasi dalam bentuk laporan, surat dinas, dan petunjuk.
Kompetensi Dasar:
Menulis petunjuk melakukan sesuatu dengan urutan yang tepat dan menggunakan
bahasa yang efektif
Indikator:
Mampu mendata urutan melakukan sesuatu
 Mampu menyimpulkan ciri-ciri bahasa petunjuk
 Mampu menulis petunjuk dengan bahasa yang efektif
 Menyunting bahasa petunjuk
 Menuliskan petunjuk-petunjuk penyelamatan gempa.
I. Tujuan Pembelajaran
Setelah mengikuti pembelajaran ini diharapkan siswa dapat:
 Mampu mendata urutan melakukan sesuatu
 Mampu menyimpulkan ciri-ciri bahasa petuntuk
 Mampu menulis petunjuk dengan bahasa yang efektif
 Menyunting bahasa petunjuk
 Menuliskan petunjuk-petunjuk penyelamatan gempa.
II. Materi Pembelajaran
Penulisan bahasa petunjuk.
III. Metode Pembelajaran
Penyampaian Informasi
Diskusi
Tanya jawab
Penugasan
IV. Langkah-langkah Pembelajaran
 Kegiatan awal (5 menit)
- Siswa mengucapkan salam yang dilanjutkan dengan doa bersama.
- Siswa dimotivasi dengan pernyataan: “Kalian pasti pernah mendengar
atau membaca berbagai petunjuk lalu lintas di jalan. Pada gempa bumi
ada tahapan prosedur atau petunjuk untuk melakukan penyelamatan
diri.”
Modul Ajar Pengintegrasian Pengurangan Risiko Gempa Bumi untuk SMP/MTs
99
 Kegiatan inti (65 menit)
- Siswa menyimak penyampaian guru mengenai pengertian petunjuk:
bagaimana mendata urutan melakukan sesuatu, menyimpulkan cirri-ciri
bahasa petunjuk, menuliskan petunjuk dengan bahasa yang efektif pada
bahasan gempa.
- Siswa secara berkelompok membuat petunjuk penyelamatan diri saat
gempa terjadi.
- Siswa melakukan tanya jawab seputar petunjuk gempa bumi.
3) Kegiatan akhir (10 menit)
- Guru dan siswa menyimpulkan hasil pembelajaran.
- Siswa menyimak penguatan dari guru.
V. Sumber dan Alat Bantu
 Buku Bahasa Indonesia kelas VII semester 1
 Contoh petunjuk gempa
 Lingkungan
IX. Penilaian
Bentuk penilaian : pengamatan kinerja dan sikap (efektif ) tugas
Jenis penilaian : penilaian proses dan penilaian hasil
Instrumen penilaian : lembar pengamatan dan soal
Aspek yang dinilai : kognitif, afektif dan psikomotorik
NAMA
SISWA
JUMLAH
SKOR
KET
INDIKATOR / SKOR
1 2 3 4 5 6
NO
1. Aliyudin
2.
3.
Keterangan:
1= bekerja sama 3= kerajinan 5= teliti
2= kejujuran 4= aktif 6=bertanggung jawab
Jumlah skor maksimal= 6x4 = 24

Nilai siswa= x 100

Nilai afektif:
86-100 = A
71-85 = B
50-70 = C
<50 = D
Contoh:
jumlah skor
24
Pengintegrasian Materi Pokok Pengurangan Risiko Gempa Bumi
Ke Dalam Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan Menengah Pertama (SMP/MTs)
100
Kotak 5.7 Contoh Rencana Pembelajaran Mata Pelajaran Bahasa Indonesia Kelas IX
Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP)
Sekolah : SMP…
Mata Pelajaran : Bahasa Indonesia
Kelas : IX
Alokasi Waktu : 2 × 40 menit
Standar Kompetensi:
Membaca
Memahami ragam wacana tulis dengan membaca ekstensif, membaca intensif, dan membaca cepat.
Kompetensi Dasar:
Menemukan gagasan dari beberapa artikel dan buku melalui kegiatan membaca ekstensif.
Indikator:
Menemukan gagasan dari artikel
 Menemukan gagasan dari buku
 Mengutip pernyataan dari arikel atau buku sebagai referensi dalam penulisan karya tulis.
 Menuliskan gagasan dalam wacana gempa
I. Tujuan Pembelajaran
Setelah mengikuti pembelajaran ini diharapkan siswa dapat:
 Menemukan gagasan dari artikel
 Menemukan gagasan dari buku
 Mengutip pernyataan dari arikel atau buku sebagai referensi dalam penulisan karya tulis.
 Menuliskan gagasan dalam wacana gempa
II. Materi Pembelajaran
Cara menemukan gagasan dalam wacana dan implementasinya.
III. Metode Pembelajaran
Penyampaian Informasi
Diskusi
Tanya jawab
IV. Langkah-langkah Pembelajaran
 Kegiatan awal (5 menit)
Siswa mengucapkan salam yang dilanjutkan dengan doa bersama.
Modul Ajar Pengintegrasian Pengurangan Risiko Gempa Bumi untuk SMP/MTs
101
 Kegiatan inti (65 menit)
- Siswa menyimak penjelasan guru mengenai bagaimana cara menemukan
gagasan dalam wacana dan implementasinya.
- Siswa secara berkelompok mendiskusikan mengenai bagaimana cara
menemukan gagasan dalam wacana.
- Siswa melakukan tanya jawab seputar gagasan artikel tentang kondisi
geografs Indonesia.
3) Kegiatan akhir (10 menit)
- Guru dan siswa menyimpulkan hasil pembelajaran.
- Siswa menyimak penguatan dari guru.
V. Sumber dan Alat Bantu
 Buku Bahasa Indonesia kelas VII semester 1
 Artikel koran
X. Penilaian
Bentuk penilaian : pengamatan kinerja dan sikap (afektif ) tugas
Jenis penilaian : penilaian proses dan penilaian hasil
Instrumen penilaian : lembar pengamatan dan soal
Aspek yang dinilai : kognitif, afektif dan psikomotorik
NAMA
SISWA
JUMLAH
SKOR
KET
INDIKATOR / SKOR
1 2 3 4 5 6
NO
1. Aliyudin
2.
3.
Keterangan:
1= bekerja sama 3= kerajinan 5= teliti
2= kejujuran 4= aktif 6=bertanggung jawab
Jumlah skor maksimal= 6x4 = 24

Nilai siswa= x 100

Nilai afektif:
86-100 = A
71-85 = B
50-70 = C
<50 = D
Contoh:
jumlah skor
24
NAMA
SISWA
JUMLAH
SKOR
KET
INDIKATOR / SKOR
1 2 3 4 5 6
NO
1. Aliyudin
2.
3.
Keterangan:
1= bekerja sama 3= kerajinan 5= teliti
2= kejujuran 4= aktif 6=bertanggung jawab
Jumlah skor maksimal= 6x4 = 24

Nilai siswa= x 100

Nilai afektif:
86-100 = A
71-85 = B
50-70 = C
<50 = D
Contoh:
jumlah skor
24
Pengintegrasian Materi Pokok Pengurangan Risiko Gempa Bumi
Ke Dalam Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan Menengah Pertama (SMP/MTs)
102
5.1.5. Model Bahan Ajar
Bahan ajar merupakan informasi, alat, dan teks yang diperlukan guru/instruktur
untuk perencanaan dan penelaahan implementasi pembelajaran. Bahan
ajar adalah segala bentuk bahan yang digunakan untuk membantu guru/
instruktur dalam melaksanakan kegiatan belajar mengajar di kelas. Bahan
yang dimaksud bisa berupa bahan tertulis maupun bahan tidak tertulis. Jadi
dapatlah dikatakan bahwa bahan ajar adalah seperangkat materi yang disusun
secara sistematis baik tertulis maupun tidak sehingga tercipta lingkungan/
suasana yang memungkinkan siswa untuk belajar.
Sedangkan fungsi bahan ajar adalah :
Pedoman bagi guru
Pedoman bagi siswa
Alat evaluasi
Tujuan bahan ajar adalah:
Membantu siswa
Memberikan banyak pilihan
Memudahkan guru
Lebih menarik
Langkah-langkah Menyusun Bahan Ajar yang Mengintegrasikan PRB Gempa
Bumi
Memahami Teknik Penyusunan Bahan Ajar
Mengidentifkasi Materi Pembelajaran tentang PRB Tsunami
Menganalisis Kompetensi Dasar yang Dapat Diintegrasikan materi PRB
Gempa Bumi
Menyusun Silabus dan RPP yang mengintegrasikan Materi PRB gempa
bumi
Menyusun Bahan Ajar yang Mengintegrasikan Materi PRB gempa bumi
Contoh bahan ajar IPA Terpadu VII SMP
Modul Ajar Pengintegrasian Pengurangan Risiko Gempa Bumi untuk SMP/MTs
103
Gambar 5.1. penyelamatan diri saat gempa.
Contoh bahan ajar IPA Terpadu VIII SMP
Untuk melihat pengaruh gelombang terhadap dampak gempa dapat dilakukan
percobaan “gempa jelly”.
Alat dan Bahan.
Dua jenis agar-agar (agar-agar lunak dan agar-agar keras, perhatikan cara
membuat pada langkah selanjutnya).
Tusuk gigi sebanyak 10 buah (sebagai tiang listrik)
Benang jahit 20 cm (sebagai kabel listrik)
Alat tulis: pulpen/pensil
Membuat agar-agar
Tiga bungkus bahan agar-agar (2 bungkus warna merah dan satu bungkus
warna putih).
Kompor
Panci
Sendok
Dua buah cetakan agar-agar diameter 20 cm dan tinggi 8 cm.
Piring dua buah
Gula pasir ¼ kg
Air putih 2 Liter
Gelas plastik 1 buah ukuran 250 mL untuk menakar
Pengintegrasian Materi Pokok Pengurangan Risiko Gempa Bumi
Ke Dalam Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan Menengah Pertama (SMP/MTs)
104
Cara membuat permukaan bumi dengan agar-agar:
Agar-agar keras
- Masukkan dua bungkus agar-agar merah ke dalam 5 gelas air, 1 gelas
gula pasir ke dalam panci.
- Masak dan aduk perlahan hingga mendidih
- Tuangkan ke dalam cetakan dan tunggu hingga dingin
Agar-agar lunak
- Masukkan satu bungkus agar-agar putih, tambahkan lima gelas air dan
satu gelas gula pasir ke dalam panci
- Masukkan adonan dan aduk hingga mendidih
- Tuang ke dalam cetakan dan tunggu hingga dingin
Melihat pengaruh gelombang gempa
Tuang kedua agar-agar yang telah mengeras ke dalam dua piring yang
terpisah
Tancapkan tusuk gigi yang telah diikat ujung-ujungnya dengan benang ke
atas kedua agar-agar tersebut. Tusuk gigi menggambarkan tiang listrik dan
benang menunjukkan kabel listrik.
Untuk melihat pengaruh resonansi gempa, pukullah perlahan sisi kedua
piring secara bersamaan. Perhatikan dari goyangan tusuk gigi. Tusuk gigi
bergerak karena gelombang dari getaran piring merambat melalui agar-
agar tersebut.
Pertanyaan.
Apakah getaran pada kedua jenis agar-agar tersebut sama?
Mana yang bergetar lebih besar? Agar-agar yang padat atau yang lunak?
Mengapa hal ini bisa terjadi?
Modul Ajar Pengintegrasian Pengurangan Risiko Gempa Bumi untuk SMP/MTs
105
Contoh bahan ajar Bahasa Indonesia VII SMP
Gambar 5.2. Contoh berita di Surat Kabar
Secara berkelompok, siswa diminta untuk menjawab pertanyaan berikut,
kemudian dipresentasikan, ditanggapi, dan dibetulkan.
Tuliskan minimal tiga pokok berita yang terdapat dalam berita yang
dibacakan!
Berdasar pada pokok-pokok berita yang kalian dapatkan, tuliskan simpulan
isi berita tersebut dalam satu alinea!
Jelaskan bahaya bencana gempa bumi berdasarkan isi berita yang kalian
buat!
Pengintegrasian Materi Pokok Pengurangan Risiko Gempa Bumi
Ke Dalam Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan Menengah Pertama (SMP/MTs)
106
Contoh bahan ajar Bahasa Indonesia VIII SMP
Gambar 5.3. Yang Harus Dikerjakan Sebelum, Saat Dan Sesudah Gempa Bumi
Modul Ajar Pengintegrasian Pengurangan Risiko Gempa Bumi untuk SMP/MTs
107
Contoh bahan ajar Bahasa Indonesia IX SMP
Gambar 5.4. gambar kliping berita dari surat kabar nasional
Pengintegrasian Materi Pokok Pengurangan Risiko Gempa Bumi
Ke Dalam Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan Menengah Pertama (SMP/MTs)
108
Contoh bahan ajar IPS
Gambar: 5.5. Proses terjadinya gempa bumi
Keberagaman bentuk muka bumi disebabkan oleh kekuatan besar yang bekerja
pada bumi yang disebut Tenaga Geologi. Tenaga geologi pada dasarnya dibedakan
atas dua macam, yaitu Tenaga Endogen dan Tenaga Eksogen. Tenaga Endogen ialah
tenaga yang berasal dari dalam bumi dan mempunyai sifat membangun. Tenaga
Endogen digolongkan menjadi Tektonisme, Vulkanisme dan Seisme.
Tenaga Tektonik (Tektonisme) adalah tenaga yang berasal dari dalam bumi yang
mengakibatkan terjadinya pergeseran dan perubahan letak lapisan batuan, baik
secara horizontal (gerak orogenetik) maupun secara vertikal (gerak epirogenetik).
Gerak Orogenetik (Orogenesa). Gerak pembentukkan gunung meliputi daerah yang
sempit dan dalam waktu yang relatif singkat. Gerak itu dapat menimbulkan,
 Lipatan
 Patahan
 Retakan
Gerak Epirogenetik (Orogenesa)
Gerak naik atau turun dari permukaan bumi, meliputi daerah yang luas dan
berlangsung lambat. Gerak epirogenetik dibedakan menjadi,
 Gerak Epirogenetik Positif, bila permukaan bumi turun atau seolah-olah
permukaan air laut naik.
 Gerak Epirogenetik Negatif, bila permukaan bumi naik atau seolah-olah
permukaan air laut turun.
Gempa Bumi (Seisme), adalah pergeseran lapisan batuan yang menyebabkan
terjadinya getaran yang hebat. Gempa bumi pada umumnya dapat merusak
Modul Ajar Pengintegrasian Pengurangan Risiko Gempa Bumi untuk SMP/MTs
109
permukaan bumi. Gempa adalah getaran bumi yang terasa di permukaan, akibat
terjadinya pelepasan energi yang cepat, karena adanya pergeseran pada kerak
bumi. Kondisi daerah pragempa, di sebagian kerak bumi terdapat retakan berupa
sesar / patahan. Apabila, terjadi penimbunan energi sepanjang bidang sesar.
Mendapat tekanan Setelah tertimbun relatif lama, akumulasi energi cukup kuat
untuk mengeser bidang sesar, menghasilkan pusat gempa. Energi terlepas secara
cepat sebagai gelombang gempa yang menjalar ke segala arah.
Berdasarkan penyebabnya, gempa dibedakan menjadi:
1. Gempa Tektonik (gempa dislokasi)
Terjadi karena pergeseran letak lapisan kulit bumi (gempa dislokasi). Gempa
ini sering menimbulkan bencana yang cukup besar, karena efeknya pada
wilayah yang cukup luas.
Sesar aktif bergerak sedikit demi sedikit kear-
ah yng saling berlawanan Pada tahap ini terjadi
akumulasi energi elastis.
Pada tahap ini mulai terjadi deformasi sesar,
karena energi elastis makin besar.
Pada tahap ini terjadi pelepasan energi secara
mendadak sehingga terjadi peristiwa yang dis-
ebut gempa bumi tektonik.

Pada tahap ini sesar kembali mencapai tingkat
kese-imbangannya kembali. Pergeseran ini kian
lama menimbulkan energi-energi stress yang
sewaktu waktu terjadi pelepasan energi yang
mendadak. Peristiwa inilah yang disebut gempa
tektonik yaitu peristiwa pelepasan energi secara
tiba-tiba di dalam batuan sepanjang sesar atau
patahan seperti terlihat dalam gambar.

Gambar 5.6. Proses Terjadinya Gempa Tektonik
2. Gempa Vulkanis (gempa gunung berapi),
Terjadi bersamaan dengan meletusnya gunung berapi atau dapat juga
terjadinya sebelum atau sesudahnya. Gempa ini terasa di sekitar gunung
berapi yang sedang dalam proses vulkanisme.
3. Gempa runtuhan
Terjadi pada saat terjadinya runtuhan tanah dalam volumen yang cukup besar
seperti longsoran dan gempa ini pada sifatnya merupakan gempa lemah dan
hanya terasa pada radius kecil lokasi reruntuhan terjadi.
Pengintegrasian Materi Pokok Pengurangan Risiko Gempa Bumi
Ke Dalam Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan Menengah Pertama (SMP/MTs)
110
Gambar 5.7. Bentukan kawah
Alat Pengukur Gempa
Seismograf adalah alat pengukur dan pencatat getaran gempa bumi, seismograf
berasal dari kata seismos yang berarti getaran gempa dan graphein yang berarti
menulis atau mencatat. Seismograf ada berbagai macam, diantaranya:
 Seismograf horizontal, merupakan alat pencatat getaran gempa yang
mencatat gempa bumi arah mendatar.
 Seismograf vertical, merupakan alat pencatat getaran gempa yang mencatat
getaran gempa arah tegak.
Klasifkasi Gempa Berdasarkan Kedalaman
Adapun menurut Fowler, 1990 mengklasifkasikan gempa berdasarkan kedalaman
fokus (hiposentrum) sebagai berikut:
 Gempa dangkal : < 70 km di bawah permukaan laut
 Gempa menengah : < 300 km dibawah permukaan laut
 Gempa dalam : > 300 km (kadang-kadang > 450 km) di bawah permukaan
laut.
Pertanyaan:
1. Apakah yang anda ketahui tentang perbedaan tenaga endogen dan tenaga
eksogen?
2. Peristiwa apa sajakah yang disebabkan oleh tenaga eksogen?
3. Sebutkan macam-macam gempa bumi berdasarkan penyebabnya! Sebutkan
pula hal apa sajakah yang harus dilakukan sebelum, saat, dan ketika gempa
bumi terjadi!
Modul Ajar Pengintegrasian Pengurangan Risiko Gempa Bumi untuk SMP/MTs
111
Contoh bahan ajar PENJASKES
Macam-macam bencana alam yang telah terjadi di Indonesia
Gambar 5.8. Akibat gempa
Sebenarnya kita harus banyak belajar dari setiap kejadian yang menimpa kita.
Apapun kejadian tersebut, bagaimanapun kejadian tersebut, baik kejadian yang
menyenangkan ataupun yang menyedihkan. Salah satunya adalah bencana alam.
Maksud bencana atau musibah adalah pergiliran kepada manusia, dan sebagai
batas agar manusia tidak menyombongkan diri dan membanggakan diri (QS. Al
Hadiid: 23). Menghadapi bencana alam adalah sebuah tindakan baik tindakan pra-
bencana, tindakan saat bencana, dan tindakan pasca bencana.
Tindakan pra-bencana
Adalah tindakan yang diupayakan untuk menghindari bencana, sebelum terjadi
bencana. Caranya adalah dengan adanya peringatan awal (early warning) akan
terjadinya bencana. Kemudian masyarakat juga harus disosialisasikan bagaimana
menghadapi bencana (gempa, banjir, gunung meletus, badai dsb). Banyak artikel
atau tips tentang bagaimana menghadapi musibah. Ini dilakukan agar masyarakat
mengerti apa yang akan dilakukan (tindakan preventif ) apabila kalau-kalau terjadi
bencana.
Tindakan saat bencana
Adalah tindakan yang dilakukan saat bencana, bila bencana memang benar-benar
terjadi. Cara ini bergantung pada usaha-usaha yang dilakukan pada point pertama
(tindakan pra bencana). Minimal, sosialisasi bagaimana menghadapi bencana sudah
dilakukan dengan baik dan masyarakat dapat melalukannya saat terjadi bencana.
Misal, bagaimana seharusnya yang dilakukan apabila terjadi gempa, segera keluar
dari bangunan dsb.
Pengintegrasian Materi Pokok Pengurangan Risiko Gempa Bumi
Ke Dalam Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan Menengah Pertama (SMP/MTs)
112
Perlindungan Bencana Gempa Bumi
Dewasa ini semakin banyak kota besar berpenduduk puluhan juta orang dibangun
di kawasan kegempaan aktif. Karena itu perlindungan terhadap ancaman bencana
harus menjadi prioritas. Bencana gempa bumi dewasa ini amat ditakuti, karena
sering menimbulkan korban jiwa dan memusnahkan harta benda. Padahal, gempa
bumi adalah gejala alam yang memang akan terus menerus terjadi di bumi yang
dinamis ini. Hanya saja pertumbuhan penduduk amat pesat, serta konsentrasi
populasi di kawasan tertentu yang sebetulnya rawan gempa Bumi, menyebabkan
jatuhnya korban jiwa cukup banyak. Pemetaan lempeng tektonik menunjukan,
potensi ancaman bencana berbeda-beda tergantung dari struktur dan kedalaman
zone subduksi lempeng tektoniknya. Namun dalam tema pencegahan bencana,
terdapat standar yang relatif sama, baik di negara berkembang maupun di negara
maju. Di kawasan rawan gempa misalnya, aturan mengenai konstruksi bangunan dan
tatalaksana lahan harus dipatuhi. Sekolah dan rumah sakit tidak boleh dibangun di
dekat patahan aktif. Serta penyuluhan terus menerus mengenai ancaman bencana
alam.
Akan tetapi, semua juga harus menyadari, bencana selalu datang secara tidak
terduga, juga di kawasan yang sudah tergolong relatif siap menghadapi bencana
alam. Dan sekarang ini harus juga diperhitungkan jumlah korban jiwa cukup
besar. Karena semakin banyak kota besar berpenduduk puluhan juta orang, yang
dibangun di kawasan rawan gempa.
Setelah mengetahui tentang bahaya dan akibat dari bencana, khususnya gempa
bumi maka:
1. Buatlah makalah tentang upaya mitigasi gempa secara berkelompok!
2. Buatlah simulasi atau permainan dengan kreasi sendiri tentang hal-hal yang
harus dilakukan sebelum, saat, dan ketika terjadi gempa bumi! Kemudian
presentasikan bersama kelompokmu!
5.2. Pengembangan Model Muatan Lokal Pengurangan Risiko
Gempa Bumi.
Mata Pelajaran Muatan lokal pengembangannya sepenuhnya ditangani oleh sekolah
dan komite sekolah yang membutuhkan penanganan secara profesional dalam
merencanakan, mengelola, dan melaksanakannya. Dengan demikian di samping
mendukung pembangunan daerah dan pembangunan nasional, perencanaan,
pengelolaan, maupun pelaksanaan muatan lokal memperhatikan keseimbangan
dengan kurikulum tingkat satuan pendidikan. Penanganan secara profesional
muatan lokal merupakan tanggung jawab pemangku kepentingan (stakeholders)
yaitu sekolah dan komite sekolah.
5.2.1 Analisis Konteks Mata Pelajaran Muatan Lokal
Pengembangan Mata Pelajaran Muatan Lokal oleh sekolah dan komite sekolah
dapat dilakukan dengan langkah-langkah sebagai berikut:
Modul Ajar Pengintegrasian Pengurangan Risiko Gempa Bumi untuk SMP/MTs
113
1. Mengidentifkasi keadaan dan kebutuhan daerah
Kegiatan ini dilakukan untuk menelaah dan mendata berbagai keadaan
dan kebutuhan daerah yang bersangkutan. Data tersebut dapat diperoleh
dari berbagai pihak yang terkait di daerah yang bersangkutan seperti
Pemda/Bappeda, Instansi vertikal terkait, Perguruan Tinggi, dan dunia
usaha/industri. Keadaan daerah seperti telah disebutkan di atas dapat
ditinjau dari potensi daerah yang bersangkutan yang meliputi aspek sosial,
ekonomi, budaya, dan kekayaan alam. Kebutuhan daerah dapat diketahui
antara lain dari:
Rencana pembangunan daerah bersangkutan termasuk prioritas
pembangunan daerah, baik pembangunan jangka pendek,
pembangunan jangka panjang, maupun pembangunan berkelanjutan
(sustainable development);
Pengembangan ketenagakerjaan termasuk jenis kemampuan-
kemampuan dan keterampilan-keterampilan yang diperlukan;
Aspirasi masyarakat mengenai pelestarian alam dan pengembangan
daerahnya, serta konservasi alam dan pemberdayaannya
2. Menentukan fungsi dan susunan atau komposisi muatan lokal
Berdasarkan kajian dari beberapa sumber seperti di atas dapat
diperoleh berbagai jenis kebutuhan. Berbagai jenis kebutuhan ini dapat
mencerminkan fungsi muatan lokal di daerah, antara lain untuk:
Melestarikan dan mengembangkan kebudayaan daerah;
Meningkatkan keterampilan di bidang pekerjaan tertentu;
Meningkatkan kemampuan berwiraswasta;
Meningkatkan penguasaan bahasa Asing untuk keperluan sehari-hari;
3. Menentukan bahan kajian muatan lokal
Kegiatan ini pada dasarnya untuk mendata dan mengkaji berbagai
kemungkinan muatan lokal yang dapat dijadikan sebagai bahan kajian
sesuai dengan dengan keadaan dan kebutuhan sekolah. Penentuan bahan
kajian muatan lokal didasarkan pada kriteria berikut:
Kesesuaian dengan tingkat perkembangan peserta didik;
Kemampuan guru dan ketersediaan tenaga pendidik yang diperlukan;
Tersedianya sarana dan prasarana
Tidak bertentangan dengan agama dan nilai luhur bangsa
Tidak menimbulkan kerawanan sosial dan keamanan
Kelayakan berkaitan dengan pelaksanaan di sekolah;
Lain-lain yang dapat dikembangkan sendiri sesuai dengan kondisi dan
situasi daerah.
4. Menentukan Mata Pelajaran Muatan Lokal
Berdasarkan bahan kajian muatan lokal tersebut dapat ditentukan kegiatan
pembelajarannya. Kegiatan pembelajaran ini pada dasarnya dirancang
agar bahan kajian muatan lokal dapat memberikan bekal pengetahuan,
Pengintegrasian Materi Pokok Pengurangan Risiko Gempa Bumi
Ke Dalam Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan Menengah Pertama (SMP/MTs)
114
keterampilan dan perilaku kepada peserta didik agar mereka memiliki
wawasan yang mantap tentang keadaan lingkungan dan kebutuhan
masyarakat sesuai dengan nilai-nilai/aturan yang berlaku di daerahnya dan
mendukung kelangsungan pembangunan daerah serta pembangunan
nasional. Kegiatan ini berupa kegiatan kurikuler untuk mengembangkan
kompetensi yang disesuaikan dengan ciri khas, potensi daerah, dan prospek
pengembangan daerah termasuk keunggulan daerah, yang materinya
tidak dapat dikelompokkan ke dalam mata pelajaran yang ada.
Serangkaian kegiatan pembelajaran yang sudah ditentukan oleh sekolah
dan komite sekolah kemudian ditetapkan oleh sekolah dan komite sekolah
untuk dijadikan nama mata pelajaran muatan lokal. Substansi muatan lokal
ditentukan oleh satuan pendidikan.
5. Mengembangkan Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar, Silabus, dan
Rencana Pelaksanaan Pembelajarannya dengan mengacu pada Standar Isi
yang ditetapkan oleh BSNP.
Pengembangan Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar adalah
langkah awal dalam membuat mata pelajaran muatan lokal agar
dapat dilaksanakan di sekolah. Adapun langkah-langkah dalam
mengembangkan standar kompetensi dan kompetensi dasar adalah
sebagai berikut:
- Pengembangan Standar Kompetensi
Standar kompetensi adalah menentukan kompetensi yang
didasarkan pada materi sebagai basis pengetahuan.
- Pengembangan Kompetensi Dasar
Kompetensi dasar merupakan kompetensi yang harus dikuasai
siswa. Penentuan ini dilakukan dengan melibatkan guru, ahli bidang
kajian, ahli dari instansi lain yang sesuai dan ahli lain yang relevan
Pengembangan silabus secara umum mencakup:
- Mengidentifkasi materi pembelajaran,
- Mengembangkan kegiatan pembelajaran,
- Mengembangkan indikator,
- Pengembangan penilaian,
- Pengalokasian waktu,
- Menentukan Sumber Belajar.
Dalam implementasinya, silabus dijabarkan dalam rencana pelaksanaan
pembelajaran, dilaksanakan, dievaluasi, dan ditindaklanjuti oleh
masing-masing guru. Silabus harus dikaji dan dikembangkan secara
berkelanjutan dengan memperhatikan masukan hasil evaluasi hasil
belajar, evaluasi proses (pelaksanaan pembelajaran), dan evaluasi
rencana pembelajaran.
Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP)
Setelah silabus selesai dibuat, maka guru perlu merencanakan
pelaksanaan pembelajaran untuk satu kali tatap muka. Adapun
Modul Ajar Pengintegrasian Pengurangan Risiko Gempa Bumi untuk SMP/MTs
115
komponen dari RPP minimal memuat:
- Tujuan pembelajaran,
- Indikator,
- Materi Ajar/Pembelajaran,
- Kegiatan Pembelajaran,
- Metode Pengajaran,
- Sumber Belajar
Penilaian
Penilaian merupakan serangkaian kegiatan untuk memperoleh,
menganalisis, dan menafsirkan data tentang proses dan hasil belajar
peserta didik yang dilakukan secara sistematis dan berkesinambungan,
sehingga menjadi informasi yang bermakna dalam pengambilan
keputusan.
Penilaian pencapaian kompetensi dasar peserta didik dilakukan
berdasarkan indikator. Penilaian dilakukan dengan menggunakan tes
dan non tes dalam bentuk tertulis maupun lisan, pengamatan kinerja,
pengukuran sikap, penilaian hasil karya berupa tugas, proyek dan/atau
produk, penggunaan portofolio, dan penilaian diri.
Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam penilaian:
- Penilaian diarahkan untuk mengukur pencapaian kompetensi.
- Penilaian menggunakan acuan kriteria; yaitu berdasarkan apa
yang bisa dilakukan peserta didik setelah mengikuti proses
pembelajaran, dan bukan untuk menentukan posisi seseorang
terhadap kelompoknya.
- Sistem yang direncanakan adalah sistem penilaian yang
berkelanjutan. Berkelanjutan dalam arti semua indikator ditagih,
kemudian hasilnya dianalisis untuk menentukan kompetensi
dasar yang telah dimiliki dan yang belum, serta untuk mengetahui
kesulitan siswa.
- Hasil penilaian dianalisis untuk menentukan tindak lanjut. Tindak
lanjut berupa perbaikan proses pembelajaran berikutnya, program
remedi bagi peserta didik yang pencapaian kompetensinya di
bawah kriteria ketuntasan, dan program pengayaan bagi peserta
didik yang telah memenuhi kriteria ketuntasan.
- Sistem penilaian harus disesuaikan dengan pengalaman belajar yang
ditempuh dalam proses pembelajaran. Misalnya, jika pembelajaran
menggunakan pendekatan tugas observasi lapangan maka evaluasi
harus diberikan baik pada proses (keterampilan proses) misalnya
teknik wawancara, maupun produk/hasil melakukan observasi
lapangan yang berupa informasi yang dibutuhkan.
Pengintegrasian Materi Pokok Pengurangan Risiko Gempa Bumi
Ke Dalam Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan Menengah Pertama (SMP/MTs)
116
5.2.2 Penyusunan Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar
Muatan Lokal Pengurangan Risiko Gempa Bumi
Standar kompetensi merupakan kemampuan yang meyeluruh mencakup
tiga ranah kemampuan (kognitif, psikomotor, dan afektif ). Kompetensi dasar
merupakan bagian atau dapat juga disebut tahapan dari pencapaian standar
kompetensi. Indikator, merupakan ciri atau bukti bahwa kompetensi tersebut
dikuasai oleh siswa.
Adapun langkah-langkah dalam mengembangkan standar kompetensi dan
kompetensi dasar adalah sebagai berikut:
1. Pengembangan Standar Kompetensi
Standar kompetensi adalah menentukan kompetensi yang didasarkan
pada materi sebagai basis pengetahuan.
2. Pengembangan Kompetensi Dasar
Kompetensi dasar merupakan kompetensi yang harus dikuasai siswa.
Penentuan ini dilakukan dengan melibatkan guru, ahli bidang kajian, ahli
dari instansi lain yang sesuai
Di bawah ini merupakan pengintegrasian pendidikan pengurangan risiko
(PRB) sebagai pelajaran muatan lokal (MULOK):
Tabel 5.16 Pengintegrasian Pendidikan Pengurangan Resiko sebagai pelajaran Muatan Lokal
KELAS INDIKATOR STANDAR KOMPETENSI
KOMPETENSI
DASAR
VII
SMP
Memahami peristiwa
gempa bumi dan
dampaknya.
Memahami
peristiwa
gempa bumi
Memahami risiko, bahaya,
kerentanan dan kapasitas
dirinya
Memahami
dampak
gempa bumi.
r.FOKFMBTLBOTUSVLUVS
bumi dan proses
gempa bumi
r.FOKFMBTLBOKFOJT
(penyebab)
gempa bumi
r.FOKFMBTLBOEBNQBL
gempa bumi
r.FNBIBNJDBSB
mengurangi dampak
gempa bumi
Memahami risiko
dan, bahaya
gempa bumi.
r.FOKFMBTLBOSJTJLP
gempa bumi
r.FOKFMBTLBOCBIBZB
dan keremtanan
gempa bumi
Memahami
kerentanan
dan kapasitas
r.FOKFMBTLBOBSUJ
kerentanan
r.FOKFMBTLBOBSUJ
kapasitas
r.FOKFMBTLBOIVCVOHBO
antara risiko, bahaya,
kerentanan,
dan kapasitas
Modul Ajar Pengintegrasian Pengurangan Risiko Gempa Bumi untuk SMP/MTs
117
KELAS INDIKATOR STANDAR KOMPETENSI
KOMPETENSI
DASAR
VIII
SMP
IX
SMP
Siap siaga terhadap
ancaman bencana sebelum,
sesaat, sesudah gempa
bumi.
Siap siaga terhadap
ancaman
gempa bumi
sebelum
gempa bumi.
· Men[elaskan hakekat
gempa bumi
· Men[elaskan
bagalmana berslkap
[lka gempabuml ter[adl.
· Mahlr melakukan
simulasi
Siap siaga terhadap
ancaman
sesaat dan
setelah
gempa bumi
· Mampu mellndungl dlrl
darl rlslko gempa buml
· Mampu mengatasl
trauma paska gempa
bumi
Memahami hubungan
rlslko, bahaya, kerentanan,
dan kapasltas.
Memahami
pengertian
rlslko
dan kerentanan.
· Men[elaskan
pengertlan rlslko
· Men[elaskan
pengertian rentan
Mengldentlñkasl
kapasltas
individu.
· Men[elaskan manfaat
penlngkatan
kapasltas dlrl
· Memanfaatkan
kapasltas dlrl dalam
mengurangl rlslko
aklbat gempa buml
Memahaml [enls
ketahanan gedung
dan fasllltas sekolah
terhadap ancaman
bencana
Memahami
konstruksl
bangunan tahan
gempa
· Mengldentlñkasl
bangunan tahan gempa
· Menyadarl manfaat
bangunan tahan gempa
Memahaml fasllltas
sekolah yang dapat
dlmanfaatkan untuk
melindungi diri
· Mengldentlñkasl
fasllltas sekolah yang
berdaya guna
disaat gempa
· Memanfaatkan fasllltas
sekolah dlsaat
gempa tiba
Memahaml upaya
tanggap darurat disaat
bencana buml ter[adl
Mengldentlñkasl
tanda
bahaya bencana
· Mengenal tanda bahaya
gempa bumi.
· Menter[emahkan tanda
bahaya gempa buml.
· Tanggap terhadap
tanda bahaya gempa
· Mampu mengkomunl-
kaslkan ke orang laln
[lka ada tanda
bahaya gempa
Terampll
menanggapi
tanda bahaya
gempa bumi
Pengintegrasian Materi Pokok Pengurangan Risiko Gempa Bumi
Ke Dalam Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan Menengah Pertama (SMP/MTs)
118
5.2.3 Penyusunan Silabus dan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran Muatan
Lokal Pengurangan Risiko Gempa Bumi
Silabus Mulok harus memenuhi prinsip-prinsip pengembangan silabus yaitu:
ilmiah, relevan, sistematis, konsisten, memadai, aktual dan kontekstual,
feksibel, dan menyeluruh
Pengembangan silabus meliputi:
1. Pengkajian SK dan KD,
2. Identifkasi Materi Pembelajaran,
3. Pengembangan Kegiatan Pembelajaran,
4. Perumusan indikator pencapaian kompetensi,
5. Penentuan jenis penilaian,
6. Penentuan alokasi waktu,
7. Penentuan sumber belajar
Pengembangan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP)
RPP mulok pengurangan risiko gempa bumi disusun dan dikembangkan
berdasarkan silabus yang telah dibuat dengan mengikuti kaidah yang benar.
Dalam mulok pengurangan risiko gempa bumi hendaknya dalam metode
pembelajaran lebih menekankan pada demonstrasi dan simulasi.
Penilaian
Penilaian pencapaian Standar Kompetensi maupun Kompetensi Dasar
dilakukan berdasarkan indikator, menggunakan tes dan non tes dalam bentuk
tertulis maupun lisan, pengamatan kinerja, pengukuran sikap, portofolio, dan
penilaian diri, sesuai dengan jenis mulok pengurangan risiko gempa bumi.
S
e
k
o
l
a
h


:

S
M
P

.
.
.
M
a
t
a

P
e
l
a
j
a
r
a
n

:

M
u
l
o
k

P
e
n
g
u
r
a
n
g
a
n

R
e
s
i
k
o
R
i
s
i
k
o

B
e
n
c
a
n
a

(
P
R
B
)
K
e
l
a
s
/
S
e
m
e
s
t
e
r

:

V
I
I
/
1
K
O
M
P
E
T
E
N
S
I
D
A
S
A
R
M
A
T
E
R
I
P
O
K
O
K
K
E
G
I
A
T
A
N
P
E
M
B
E
L
A
J
A
R
A
N
I
N
D
I
K
A
T
O
R
P
E
N
I
L
A
I
A
N
S
U
M
B
E
R
/
B
A
H
A
N
/
A
L
A
T
A
L
O
K
A
S
I
W
A
K
T
U
(
6
)
(
1
)
(
8
)
(
7
)
(
9
)
(
1
0
)
(
1
1
)
M
e
m
a
h
a
m
i

k
o
n
s
t
r
u
k
s
i

b
a
n
g
u
n
a
n

t
a
h
a
n

g
e
m
p
a

G
e
m
p
a

B
u
m
i
t

.
F
N
Q
F
S
I
B
U
J
L
B
O

T
U
S
V
L
U
V
S

C
V
N
J

d
i
l
i
h
a
t

d
a
r
i

p
e
n
y
u
s
u
n

l
a
p
i
s
a
n



b
u
m
i
.
t

.
F
O
H
B
O
B
M
J
T
J
T

C
B
H
J
B
O

E
B
F
S
B
I

E
J

I
n
d
o
n
e
s
i
a

y
a
n
g

b
e
r
p
o
t
e
n
s
i



g
e
m
p
a

m
e
l
a
l
u
i

p
e
t
a

p
o
t
e
n
s
i



g
e
m
p
a

s
e
c
a
r
a

b
e
r
k
e
l
o
m
p
o
k
.
t

.
F
O
D
B
S
J

J
O
G
P
S
N
B
T
J

N
F
M
B
M
V
J

S
F
G
F
S
F
O
T
J

U
F
O
U
B
O
H

T
U
S
V
L
U
V
S

C
V
N
J

s
e
r
t
a

j
e
n
i
s

p
e
n
y
e
b
a
b

g
e
m
p
a



b
u
m
i
.
t

4
U
V
E
J

Q
V
T
U
B
L
B

U
F
O
U
B
O
H

H
F
N
Q
B

b
u
m
i
.
t

.
F
O
K
F
M
B
T
L
B
O

T
U
S
V
L
U
V
S

C
V
N
J

d
a
n

p
r
o
s
e
s

g
e
m
p
a

b
u
m
i
t

.
F
O
K
F
M
B
T
L
B
O

K
F
O
J
T

(
p
e
n
y
e
b
a
b
)

g
e
m
p
a

b
u
m
i

J
e
n
i
s

t
a
g
i
h
a
n
:
t

U
V
H
B
T

k
e
l
o
m
p
o
k
B
e
n
t
u
k

i
n
s
t
r
u
m
e
n

:

t

M
B
Q
P
S
B
O

t
e
r
t
u
l
i
s
t

Q
F
O
J
M
B
J
B
O

s
i
k
a
p
t

Q
F
O
J
M
B
J
B
O

Q
F
S
G
P
S
N
F
O
2

J
P
t

#
V
L
V

Z
B
O
H

S
F
M
F
W
B
O

t

(
B
N
C
B
S

T
U
S
V
L
U
V
S

b
u
m
i
.
t

1
F
U
B

1
P
U
F
O
T
J

(
F
N
Q
B

t

-
J
O
H
L
V
O
H
B
O

S
t
a
n
d
a
r

K
o
m
p
e
t
e
n
s
i


:

M
e
m
a
h
a
m
i

p
e
r
i
s
t
i
w
a

g
e
m
p
a

b
u
m
i

d
a
n

d
a
m
p
a
k
n
y
a
.
M
o
d
e
l

S
i
l
a
b
u
s

I
n
t
e
g
r
a
s
i

P
e
n
d
i
d
i
k
a
n

P
e
n
g
u
r
a
n
g
a
n

R
i
s
i
k
o

B
e
n
c
a
n
a

G
e
m
p
a

B
u
m
i
T
a
b
e
l

5
.
1
7

S
i
l
a
b
u
s

I
n
t
e
g
r
a
s
i

P
e
n
d
i
d
i
k
a
n

P
e
n
g
u
r
a
n
g
a
n

R
i
s
i
k
o

G
e
m
p
a

B
u
m
i

d
a
l
a
m

M
u
a
t
a
n

L
o
k
a
l

(
S
K

:

M
e
m
a
h
a
m
i

P
e
r
i
s
t
i
w
a

G
e
m
p
a

B
u
m
i

d
a
n

D
a
m
p
a
k
n
y
a
)
.
S
e
k
o
l
a
h


:

S
M
P

.
.
.
M
a
t
a

P
e
l
a
j
a
r
a
n

:

M
u
l
o
k

P
e
n
g
u
r
a
n
g
a
n

R
e
s
i
k
o
R
i
s
i
k
o

B
e
n
c
a
n
a

(
P
R
B
)
K
e
l
a
s
/
S
e
m
e
s
t
e
r

:

V
I
I
I
/
1
M
o
d
e
l

S
i
l
a
b
u
s

I
n
t
e
g
r
a
s
i

P
e
n
d
i
d
i
k
a
n

P
e
n
g
u
r
a
n
g
a
n

R
i
s
i
k
o

B
e
n
c
a
n
a

G
e
m
p
a

B
u
m
i
K
O
M
P
E
T
E
N
S
I
D
A
S
A
R
M
A
T
E
R
I
P
O
K
O
K
K
E
G
I
A
T
A
N
P
E
M
B
E
L
A
J
A
R
A
N
I
N
D
I
K
A
T
O
R
P
E
N
I
L
A
I
A
N
S
U
M
B
E
R
/
B
A
H
A
N
/
A
L
A
T
A
L
O
K
A
S
I
W
A
K
T
U
(
6
)
(
1
)
(
8
)
(
7
)
(
9
)
(
1
0
)
(
1
1
)
S
i
a
p

s
i
a
g
a

t
e
r
h
a
d
a
p

a
n
c
a
m
a
n

g
e
m
p
a

b
u
m
i

s
e
b
e
l
u
m

g
e
m
p
a

b
u
m
i
.
S
i
a
p

s
i
a
g
a

t
e
r
h
a
d
a
p

a
n
c
a
m
a
n

s
e
s
a
a
t

d
a
n

s
e
t
e
l
a
h

g
e
m
p
a

b
u
m
i
.

M
i
t
i
g
a
s
i

G
e
m
p
a
t

.
F
O
D
B
S
J

J
O
G
P
S
N
B
T
J

N
F
O
H
F
O
B
J

p
r
o
s
e
s

t
e
r
j
a
d
i
n
y
a

g
e
m
p
a

b
u
m
i
.
t

.
F
O
D
B
S
J

J
O
G
P
S
N
B
T
J

N
F
O
H
F
O
B
J

h
a
l

a
p
a

s
a
j
a

y
a
n
g

h
a
r
u
s



d
i
l
a
k
u
k
a
n

k
e
t
i
k
a

s
e
b
e
l
u
m
,



s
e
s
a
a
t
,

d
a
n

s
a
a
t

t
e
r
j
a
d
i

g
e
m
p
a



b
u
m
i
.
t

.
F
M
B
L
V
L
B
O

T
J
N
V
M
B
T
J

U
F
O
U
B
O
H

g
e
m
p
a

b
u
m
i

s
e
c
a
r
a



b
e
r
k
e
l
o
m
p
o
k
.
t

.
F
O
K
F
M
B
T
L
B
O

I
B
L
F
L
B
U

H
F
N
Q
B

b
u
m
i
.
t

.
F
O
K
F
M
B
T
L
B
O

C
B
H
B
J
N
B
O
B

b
e
r
s
i
k
a
p

j
i
k
a

g
e
m
p
a

b
u
m
i



t
e
r
j
a
d
i
.
t

.
B
I
J
S

N
F
M
B
L
V
L
B
O

T
J
N
V
M
B
T
J

t

.
B
N
Q
V

N
F
M
J
O
E
V
O
H
J

E
J
S
J

E
B
S
J

r
e
s
i
k
o
r
i
s
i
k
o

g
e
m
p
a

b
u
m
i
.
t

.
B
N
Q
V

N
F
O
H
B
U
B
T
J

U
S
B
V
N
B

p
a
s
k
a

g
e
m
p
a

b
u
m
i
J
e
n
i
s

t
a
g
i
h
a
n
:
t

U
V
H
B
T

k
e
l
o
m
p
o
k
t

Q
S
P
E
V
L
B
e
n
t
u
k

i
n
s
t
r
u
m
e
n

:

t

M
B
Q
P
S
B
O

t
e
r
t
u
l
i
s
t

Q
F
O
J
M
B
J
B
O

Q
F
S
G
P
S
N
F
O
2

J
P
t

#
V
L
V

Z
B
O
H

S
F
M
F
W
B
O

t

"
M
B
U

E
B
O

#
B
I
B
O

s
i
m
u
l
a
s
i
.
t

-
J
O
H
L
V
O
H
B
O

S
t
a
n
d
a
r

K
o
m
p
e
t
e
n
s
i


:

S
i
a
p

s
i
a
g
a

t
e
r
h
a
d
a
p

a
n
c
a
m
a
n

b
e
n
c
a
n
a

s
e
b
e
l
u
m
,

s
e
s
a
a
t
,

s
e
s
u
d
a
h

g
e
m
p
a

b
u
m
i
T
a
b
e
l

5
.
1
8

S
i
l
a
b
u
s

I
n
t
e
g
r
a
s
i

P
e
n
d
i
d
i
k
a
n

P
e
n
g
u
r
a
n
g
a
n

R
i
s
i
k
o

G
e
m
p
a

B
u
m
i

d
a
l
a
m

M
u
a
t
a
n

L
o
k
a
l

(
S
K

:

S
i
a
p

S
i
a
g
a

T
e
r
h
a
d
a
p

A
n
c
a
m
a
n

B
e
n
c
a
n
a
)
.
T
a
b
e
l

5
.
1
9

S
i
l
a
b
u
s

I
n
t
e
g
r
a
s
i

P
e
n
d
i
d
i
k
a
n

P
e
n
g
u
r
a
n
g
a
n

R
i
s
i
k
o

G
e
m
p
a

B
u
m
i

d
a
l
a
m

M
u
a
t
a
n

L
o
k
a
l

(
S
K

:

M
e
m
a
h
a
m
i

h
u
b
u
n
g
a
n

R
i
s
i
k
o
,

b
a
h
a
y
a
,

k
e
r
e
n
t
a
n
a
n

d
a
n

k
a
p
a
s
i
t
a
s

)
.
S
e
k
o
l
a
h


:

S
M
P

.
.
.
M
a
t
a

P
e
l
a
j
a
r
a
n

:

M
u
l
o
k

P
e
n
g
u
r
a
n
g
a
n

R
e
s
i
k
o
R
i
s
i
k
o

B
e
n
c
a
n
a

(
P
R
B
)
K
e
l
a
s
/
S
e
m
e
s
t
e
r

:

V
I
I
I
/
2
M
o
d
e
l

S
i
l
a
b
u
s

I
n
t
e
g
r
a
s
i

P
e
n
d
i
d
i
k
a
n

P
e
n
g
u
r
a
n
g
a
n

R
i
s
i
k
o

B
e
n
c
a
n
a

G
e
m
p
a

B
u
m
i


.

K
O
M
P
E
T
E
N
S
I
D
A
S
A
R
M
A
T
E
R
I
P
O
K
O
K
K
E
G
I
A
T
A
N
P
E
M
B
E
L
A
J
A
R
A
N
I
N
D
I
K
A
T
O
R
P
E
N
I
L
A
I
A
N
S
U
M
B
E
R
/
B
A
H
A
N
/
A
L
A
T
A
L
O
K
A
S
I
W
A
K
T
U
(
6
)
(
1
)
(
8
)
(
7
)
(
9
)
(
1
0
)
(
1
1
)
M
e
m
a
h
a
m
i

p
e
n
g
e
r
t
i
a
n

r
e
s
i
k
o
r
i
s
i
k
o

d
a
n

k
e
r
e
n
t
a
n
a
n
.
M
e
n
g
i
d
e
n
t
i

k
a
s
i

k
a
p
a
s
i
t
a
s

i
n
d
i
v
i
d
u
.

R
i
s
i
k
o
,


k
e
r
e
n
t
a
a
n
,

d
a
n

k
a
p
a
s
i
t
a
s

i
n
d
i
v
i
d
u
J
e
n
i
s

t
a
g
i
h
a
n
:
-

t
u
g
a
s



k
e
l
o
m
p
o
k
-

p
r
o
d
u
k
B
e
n
t
u
k

i
n
s
t
r
u
m
e
n

:

-

l
a
p
o
r
a
n




t
e
r
t
u
l
i
s
-

p
e
n
l
l
a
l
a
n



p
e
r
f
o
r
m
e
n
2

J
P
-

8
u
k
u

y
a
n
g

r
e
l
e
v
a
n
.
-

A
l
a
t

d
a
n

8
a
h
a
n




s
i
m
u
l
a
s
i
.
-

L
l
n
g
k
u
n
g
a
n
.
-

M
e
n
y
e
b
u
t
k
a
n

p
e
n
g
e
r
t
l
a
n


r
i
s
i
k
o

d
a
n

k
e
r
e
n
t
a
n
a
n
.
-

M
e
n
y
e
b
u
t
k
a
n

m
a
n
f
a
a
t



k
a
p
a
s
i
t
a
s

d
i
r
i

d
a
l
a
m



m
e
n
g
u
r
a
n
g
i

r
i
s
i
k
o

g
e
m
p
a

b
u
m
i
.
-

M
e
l
a
k
u
k
a
n

s
l
m
u
l
a
s
l
-

M
e
n
[
e
l
a
s
k
a
n

p
e
n
g
e
r
t
l
a
n


r
i
s
i
k
o
.
-

M
e
n
[
e
l
a
s
k
a
n

p
e
n
g
e
r
t
l
a
n


r
e
n
t
a
a
n
.
-

M
e
n
[
e
l
a
s
k
a
n

m
a
n
f
a
a
t


p
e
n
i
n
g
k
a
t
a
n

k
a
p
a
s
i
t
a
s

d
i
r
i
.
-

M
e
m
a
n
f
a
a
t
k
a
n

k
a
p
a
s
l
t
a
s

d
l
r
l


d
a
l
a
m

m
e
n
g
u
r
a
n
g
i

r
i
s
i
k
o

a
k
i
b
a
t


g
e
m
p
a

b
u
m
i
.
S
t
a
n
d
a
r

K
o
m
p
e
t
e
n
s
l


:

M
e
m
a
h
a
m
l

h
u
b
u
n
g
a
n

r
l
s
l
k
o
,

b
a
h
a
y
a
,

k
e
r
e
n
t
a
n
a
n
,

d
a
n

k
a
p
a
s
l
t
a
s
.
S
e
k
o
l
a
h


:

S
M
P

.
.
.
M
a
t
a

P
e
l
a
j
a
r
a
n

:

M
u
l
o
k

P
e
n
g
u
r
a
n
g
a
n

R
e
s
i
k
o
R
i
s
i
k
o

B
e
n
c
a
n
a

(
P
R
B
)
K
e
l
a
s
/
S
e
m
e
s
t
e
r

:

I
X

/
1
M
o
d
e
l

S
i
l
a
b
u
s

I
n
t
e
g
r
a
s
i

P
e
n
d
i
d
i
k
a
n

P
e
n
g
u
r
a
n
g
a
n

R
i
s
i
k
o

B
e
n
c
a
n
a

G
e
m
p
a

B
u
m
i


.

K
O
M
P
E
T
E
N
S
I
D
A
S
A
R
M
A
T
E
R
I
P
O
K
O
K
K
E
G
I
A
T
A
N
P
E
M
B
E
L
A
J
A
R
A
N
I
N
D
I
K
A
T
O
R
P
E
N
I
L
A
I
A
N
S
U
M
B
E
R
/
B
A
H
A
N
/
A
L
A
T
A
L
O
K
A
S
I
W
A
K
T
U
(
6
)
(
1
)
(
8
)
(
7
)
(
9
)
(
1
0
)
(
1
1
)
M
e
m
a
h
a
m
i

k
o
n
s
t
r
u
k
s
i

b
e
n
g
u
n
a
n

t
a
h
a
n

g
e
m
p
a
K
o
n
s
t
r
u
k
s
i

b
a
n
g
u
n
a
n

t
a
h
a
n

g
e
m
p
a
J
e
n
i
s

t
a
g
i
h
a
n
:
t

U
V
H
B
T

k
e
l
o
m
p
o
k
t

Q
S
P
E
V
L
B
e
n
t
u
k

i
n
s
t
r
u
m
e
n

:

t

M
B
Q
P
S
B
O

t
e
r
t
u
l
i
s
t

Q
F
O
J
M
B
J
B
O

p
e
r
f
o
r
m
e
n
2

J
P
t

#
V
L
V

Z
B
O
H

S
F
M
F
W
B
O

t

"
M
B
U

E
B
O

#
B
I
B
O

s
i
m
u
l
a
s
i
.
t

-
J
O
H
L
V
O
H
B
O

t

.
F
N
Q
F
S
I
B
U
J
L
B
O

Q
F
O
H
F
S
U
J
B
O

b
a
n
g
u
n
a
n

t
a
h
a
n

g
e
m
p
a
t

4
F
D
B
S
B

C
F
S
L
F
M
P
N
Q
P
L

N
F
N
C
V
B
U

m
i
n
i
a
t
u
r

r
u
m
a
h

t
a
h
a
n

g
e
m
p
a
.
t

.
F
O
H
J
E
F
O
U
J
ö
L
B
T
J

C
B
O
H
V
O
B
O

t
a
h
a
n

g
e
m
p
a
t

.
F
O
Z
B
E
B
S
J

N
B
O
G
B
B
U

C
B
O
H
V
O
B
O

t
a
h
a
n

g
e
m
p
a
S
t
a
n
d
a
r

K
o
m
p
e
t
e
n
s
i


:

M
e
m
a
h
a
m
i

j
e
n
i
s

k
e
t
a
h
a
n
a
n

g
e
d
u
n
g

d
a
n

f
a
s
i
l
i
t
a
s

s
e
k
o
l
a
h

t
e
r
h
a
d
a
p

a
n
c
a
m
a
n

b
e
n
c
a
n
a
T
a
b
e
l

5
.
2
0

S
i
l
a
b
u
s

I
n
t
e
g
r
a
s
i

P
e
n
d
i
d
i
k
a
n

P
e
n
g
u
r
a
n
g
a
n

R
i
s
i
k
o

G
e
m
p
a

B
u
m
i

d
a
l
a
m

M
u
a
t
a
n

L
o
k
a
l

(
S
K

:

M
e
m
a
h
a
m
i

j
e
n
i
s

k
e
t
a
h
a
n
a
n

g
e
d
u
n
g

d
a
n

f
a
s
i
l
i
t
a
s

s
e
k
o
l
a
h

t
e
r
h
a
d
a
p

a
n
c
a
m
a
n

b
e
n
c
a
n
a
)
.
Modul Ajar Pengintegrasian Pengurangan Risiko Gempa Bumi untuk SMP/MTs
123
Adapun contoh Rencana Pelakssanaan Pembelajaran (RPP) mata pelajaran
MULOK PRB untuk materi gempa adalah sebagai berikut:
Kotak 5.8 Contoh Rencana Pembelajaran Mata Pelajaran
Rencana Pelakssanaan Pembelajaran (RPP)
Sekolah : SMP…
Mata Pelajaran : Mulok Pengurangan Risiko Bencana (PRB)
Kelas : VII
Alokasi Waktu : 2 × 40 menit
Standar Kompetensi:
Memahami peristiwa gempa bumi dan dampaknya.
Kompetensi Dasar :
Memahami konstruksi bengunan tahan gempa.
Indikator :
Menjelaskan struktur bumi dan proses gempa bumi
Menjelaskan jenis (penyebab) gempa bumi
I. Tujuan Pembelajaran
Setelah mengikuti pembelajaran ini diharapkan siswa dapat:
 Menjelaskan struktur bumi dan proses gempa bumi
 Menjelaskan jenis (penyebab) gempa bumi
II. Materi Pembelajaran
Gempa Bumi
III. Metode Pembelajaran
Penyampaian Informasi
Diskusi
Tanya jawab
IV. Langkah-langkah Pembelajaran
 Kegiatan awal (5 menit)
- Siswa mengucapkan salam yang dilanjutkan dengan doa bersama.
- Siswa dimotivasi dengan pertanyaan: “Apa yang dimaksud dengan
peristiwa gempa bumi?”
Pengintegrasian Materi Pokok Pengurangan Risiko Gempa Bumi
Ke Dalam Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan Menengah Pertama (SMP/MTs)
124
 Kegiatan inti (65 menit)
- Siswa menyimak penjelasan guru mengenai pengertian bangunan tahan
gempa
- Secara berkelompok membuat miniatur rumah tahan gempa.
 Kegiatan akhir (10 menit)
- Guru dan siswa menyimpulkan hasil pembelajaran.
- Siswa menyimak penguatan dari guru.
V. Sumber dan Alat Bantu
 Buku yang relevan
 Gambar struktur bumi.
 Peta Potensi Gempa.
 Lingkungan.
VI. Penilaian
Bentuk penilaian : pengamatan kinerja dan sikap (afektif ) tugas
Jenis penilaian : penilaian proses dan penilaian hasil
Instrumen penilaian : lembar pengamatan dan soal
Aspek yang dinilai : kognitif, afektif dan psikomotorik
NAMA
SISWA
JUMLAH
SKOR
KET
INDIKATOR / SKOR
1 2 3 4 5 6
NO
1. Aliyudin
2.
3.
Keterangan:
1= bekerja sama 3= kerajinan 5= teliti
2= kejujuran 4= aktif 6=bertanggung jawab
Jumlah skor maksimal= 6x4 = 24

Nilai siswa= x 100

Nilai afektif:
86-100 = A
71-85 = B
50-70 = C
<50 = D
Contoh:
jumlah skor
24
NAMA
SISWA
JUMLAH
SKOR
KET
INDIKATOR / SKOR
1 2 3 4 5 6
NO
1. Aliyudin
2.
3.
Keterangan:
1= bekerja sama 3= kerajinan 5= teliti
2= kejujuran 4= aktif 6=bertanggung jawab
Jumlah skor maksimal= 6x4 = 24

Nilai siswa= x 100

Nilai afektif:
86-100 = A
71-85 = B
50-70 = C
<50 = D
Contoh:
jumlah skor
24
Modul Ajar Pengintegrasian Pengurangan Risiko Gempa Bumi untuk SMP/MTs
125
Kotak 5.9 Contoh RPP Mata Pelajaran Mulok PRB
Rencana Pelakssanaan Pembelajaran (RPP)
Sekolah : SMP…
Mata Pelajaran : Mulok Pengurangan Risiko Bencana (PRB)
Kelas : VII
Alokasi Waktu : 2 × 40 menit
Standar Kompetensi :
Siap siaga terhadap ancaman bencana sebelum, sesaat, sesudah gempa bumi.
Kompetensi Dasar:
Siap siaga terhadap ancaman gempa bumi sebelum gempa bumi.
Indikator:
Menjelaskan hakekat gempa bumi
 Menjelaskan bagaimana bersikap jika gempa bumi terjadi
 Mahir melakukan simulasi
I. Tujuan Pembelajaran
Setelah mengikuti pembelajaran ini diharapkan siswa dapat:
 Menjelaskan penyebab, jenis, dan dampak terjadinya gempa bumi
 Terampil melakukan sikap jika gempa terjadi
 Mengambil tindakan yang tepat ketika sebelum, sesaat, maupun setelah
terjadinya gempa bumi
II. Materi Pembelajaran
Mitigasi gempa
III. Metode Pembelajaran
Penyampaian Informasi
Diskusi
Tanya jawab
IV. Langkah-langkah Pembelajaran
 Kegiatan awal (5 menit)
- Siswa mengucapkan salam yang dilanjutkan dengan doa bersama.
- Siswa dimotivasi dengan pertanyaan: “Apa yang akan kalian lakukan jika
diwilayah tempat tingaalmu terjadi gempa bumi?”
Pengintegrasian Materi Pokok Pengurangan Risiko Gempa Bumi
Ke Dalam Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan Menengah Pertama (SMP/MTs)
126
 Kegiatan inti (65 menit)
- Siswa menyimak penjelasan guru mengenai hal-hal apa saja yang harus
dilakukan sebelum, saat, dan setelah gempa terjadi
- Secara berkelompok melakukan simulasi tentang mitigasi gempa.
 Kegiatan akhir (10 menit)
- Guru dan siswa menyimpulkan hasil pembelajaran.
- Siswa menyimak penguatan dari guru.
V. Sumber dan Alat Bantu
 Buku yang relevan
 Gambar struktur bumi.
 Peta Potensi Gempa.
 Lingkungan.
VI. Penilaian
Bentuk penilaian : pengamatan kinerja dan sikap (afektif ) tugas
Jenis penilaian : penilaian proses dan penilaian hasil
Instrumen penilaian : lembar pengamatan dan soal
Aspek yang dinilai : kognitif, afektif dan psikomotorik
NAMA
SISWA
JUMLAH
SKOR
KET
INDIKATOR / SKOR
1 2 3 4 5 6
NO
1. Aliyudin
2.
3.
Keterangan:
1= bekerja sama 3= kerajinan 5= teliti
2= kejujuran 4= aktif 6=bertanggung jawab
Jumlah skor maksimal= 6x4 = 24

Nilai siswa= x 100

Nilai afektif:
86-100 = A
71-85 = B
50-70 = C
<50 = D
Contoh:
jumlah skor
24
Modul Ajar Pengintegrasian Pengurangan Risiko Gempa Bumi untuk SMP/MTs
127
Kotak 5.10 Contoh RPP Mata Pelajaran Mulok PRB
Rencana Pelakssanaan Pembelajaran (RPP)
Sekolah : SMP…
Mata Pelajaran : Mulok Pengurangan Risiko Bencana (PRB)
Kelas : IX
Alokasi Waktu : 2 × 40 menit
Standar Kompetensi :
Memahami jenis ketahanan gedung dan fasilitas sekolah terhadap ancaman
bencana.
Kompetensi Dasar :
Memahami konstruksi bengunan tahan gempa
Indikator :
Mengidentifkasi bangunan tahan gempa
 Menyadari manfaat bangunan tahan gempa
I. Tujuan Pembelajaran
Setelah mengikuti pembelajaran ini diharapkan siswa dapat:
 Mengidentifkasi bangunan tahan gempa
 Menyadari manfaat bangunan tahan gempa
II. Materi Pembelajaran
Konstruksi bangunan tahan gempa
III. Metode Pembelajaran
Penyampaian Informasi
Diskusi
Tanya jawab
Praktek membuat miniatur
IV. Langkah-langkah Pembelajaran
 Kegiatan awal (5 menit)
- Siswa mengucapkan salam yang dilanjutkan dengan doa bersama.
- Siswa dimotivasi dengan pertanyaan: “Gempa bumi dapat
meluluhlantakkan bangunan dalam waktu yang sangat singkat.
Dapatkah kita membuat teknologi bangunan tahan gempa?”
Pengintegrasian Materi Pokok Pengurangan Risiko Gempa Bumi
Ke Dalam Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan Menengah Pertama (SMP/MTs)
128
 Kegiatan inti (65 menit)
- Siswa menyimak penjelasan guru mengenai struktur bumi dilihat dari
penyusun lapisan bumi.
- Siswa menganalisis bagian/daerah di Indonesia yang berpotensi gempa
melalui peta potensi gempa secara berkelompok.
- Siswa diberi tugas untuk mencari informasi melalui referensi tentang
struktur bumi serta jenis penyebab gempa bumi.
- Siswa melakukan studi pustaka tentang gempa bumi.
 Kegiatan akhir (10 menit)
- Guru dan siswa menyimpulkan hasil pembelajaran.
- Siswa menyimak penguatan dari guru.
V. Sumber dan Alat Bantu
 Buku yang relevan
 Alat dan Bahan membuat minaitur rumah
 Lingkungan.
VI. Penilaian
Bentuk penilaian : pengamatan kinerja dan sikap (afektif ) tugas
Jenis penilaian : penilaian proses dan penilaian hasil
Instrumen penilaian : lembar pengamatan dan soal
Aspek yang dinilai : kognitif, afektif dan psikomotorik
NAMA
SISWA
JUMLAH
SKOR
KET
INDIKATOR / SKOR
1 2 3 4 5 6
NO
1. Aliyudin
2.
3.
Keterangan:
1= bekerja sama 3= kerajinan 5= teliti
2= kejujuran 4= aktif 6=bertanggung jawab
Jumlah skor maksimal= 6x4 = 24

Nilai siswa= x 100

Nilai afektif:
86-100 = A
71-85 = B
50-70 = C
<50 = D
Contoh:
jumlah skor
24
Modul Ajar Pengintegrasian Pengurangan Risiko Gempa Bumi untuk SMP/MTs
129
Adapun contoh bahan ajar mata pelajaran MULOK PRB untuk materi gempa
adalah sebagai berikut:
Contoh Bahan Ajar Mulok PRB Kelas VII
SMP
 Perhatikan gambar struktur bumi
berikut!
Sebutkan bagian-bagian dari penyusun
bumi?
Bagian manakah dari bumi yang dapat
menyebabkan gempa?
Perhatikan wilayah rawan gempa bumi di Indonesia!
Sebutkan daerah mana saja yang termasuk di dalamnya?
Apakah daerah yang Kamu tinggali termasuk diataranya?
Contoh Bahan Ajar Mulok PRB Kelas
VIII SMP
Waspada Gempa
Mitigasi.
Mitigasi adalah salah satu usaha untuk me-
ngurangi risiko dalam menghadapi bencana
(bahaya). Sudah banyak ditulis tentang
perlunya mitigasi bencana-bencana di
Indonesia ini. Dibawah ini salah satu contoh
Pengintegrasian Materi Pokok Pengurangan Risiko Gempa Bumi
Ke Dalam Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan Menengah Pertama (SMP/MTs)
130
panduan penge tahuan tentang mitigasi gempa yang diambil dari UNDP.
 Mekanisme kerusakan
Energi getaran yang dikirimkan lewat permukaan bumi dari kedalaman.
Getaran menyebabkan kerusakan dan menghancurkan bangunan-
bangunan, yang pada gilirannya bisa membunuh dan melukai orang-orang
yang bertempat tinggal di situ. Getaran juga mengakibatkan tanah longsor,
pencairan, runtuhnya bebatuan dan kegagalan-kegagalan daratan yang lain,
yang merusak tempat- tempat hunian di dekatnya. Getaran juga memicu
kebakaran berganda, kecelakaan industri atau transportasi dan bisa memicu
banjir lewat jebolnya bendungan-bendungan dan tanggul-tanggul penahan
banjir.
 Parameter kedahsyatan
Skala ukuran (Richter, Momen Seismik) menunjukkan jumlah energi yang
dikeluarkan pada episenter- ukuran dari satu daerah yang terlanda gempa bumi
secara kasar terkait dengan jumlah energi yang dikeluarkan. Skala intensitas
(Mercalli yang Dimodifkasi, MSK) menunjukkan kekuatan dari getaran bumi
pada satu lokasi-kekuatan getaran juga terkait dengan banyaknya energi
yang dikeluarkan, jarak dari episenter gempa bumi dan kondisi- kondisi tanah
setempat.
 Penyebab
Pelepasan energi oleh penyesuaian- penyesuaian geofsik jauh di kedalaman
bumi sepanjang daerah retakan yang terbentuk di dalam kerak bumi. Proses-
proses tektonis dari gerakan benua yang lamban di atas permukaan bumi.
Pergeseran-pergeseran geomorfologi setempat. Aktivitas vulkanis.
 Strategi-strategi mitigasi utama
- Rekayasa bangunan-bangunan untuk menahan kekuatan-kekuatan
getaran.
- Kepatuhan terhadap persyaratan-persyaratan undang-undang bangunan
dan dorongan akan standar kualitas bangunan yang lebih tinggi.
- Konstruksi dari bangunan-bangunan sektor umum yang penting menurut
standar tinggi dari rancangan teknik sipil.
- Memperkuat bangunan-bangunan penting yang sudah ada yang diketahui
rentan. Perencanaan lokasi untuk mengurangi kepadatan penduduk
di perkotaan di daerah- daerah geologi yang diketahui dapat melipat
gandakan getaran-getaran bumi. Asuransi, penetapan zona gempa dan
peraturan- peraturan tata guna tanah.
• Pertanyaan:
Cobalah buat simulasi tentang bagaimana yang harus dilakukan ketika
gempa terjadi engan kreasimu sendiri!
Modul Ajar Pengintegrasian Pengurangan Risiko Gempa Bumi untuk SMP/MTs
131
Contoh Bahan Ajar Mulok PRB Kelas IX SMP
Perhatikan gambar pembuatan rumah tahan gempa berikut!
Buatlah miniature yang mirip dengan susunan gambar berikut dan
presentasikan hasilnya di depan kelas!
Pengintegrasian Materi Pokok Pengurangan Risiko Gempa Bumi
Ke Dalam Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan Menengah Pertama (SMP/MTs)
132
5.3. Pengintegrasian Pengurangan Risiko Gempa Bumi ke
Dalam Kegiatan Pengembangan Diri.
Kegiatan ekstrakurikuler merupakan salah satu dari kegiatan pengembangan diri.
Pengembangan diri adlah kegiatan yang bertujuan memberikan kesempatan
kepada peserta didik untuk mengembangkan dan mengekspresikan diri sesuai
dengan kebutuhan, bakat, minat, setiap peserta didik sesuai dengan kondisi
sekolah. Kegiatan pengembangan diri difasilitasi dan/atau dibimbing oleh konselor,
guru, atau tenaga kependidikan yang dapat dilakukan dalam bentuk kegiatan
ekstrakurikuler.
Kegiatan pengembangan diri dapat dilakukan antara lain melalui kegiatan
pelayanan konseling yang berkaitan dnegna masalah diri pribadi dan kehidupan
sosial, belajar, dan pengembangan karier peserta didik serta kegiatan kepramukaan,
kepemimpinan, palang merah remaja (PMR) dan kelompok ilmiah remaja (KIR).
Pengembangan diri untuk satuan pendidikan khusus menekankan pada
peningkatan kecakapan hidup dan kemandirian sesuai dengan kebutuhan khusus
peserta didik. Pengembangan diri bukan merupakan mata pelajaran. Penilaian
kegiatan pengembangan diri diri dilakukan secara kualitatif.
Pola kesiagaan bencana sebagai bentuk pengurangan risiko bencana harus diawali
di lingkungan sekolah. Sekolah harus diposisikan sebagai pelaku utama pelaksana
pendidikan kesiapsiagaan bencana karena beberapa hal berikut.
 Populasi siswa sekolah yang sangat besar,
 Sekolah merupakan suatu komunitas yang terorganisir dengan baik,
 Anak-anak usia sekolah adalah kelompok yang rentan terhadap bencana,
 Siswa sangat peka dalam menerima perubahan-perubahan, termasuk
pendidikan siaga bencana, dan
 Sekolah merupakan perpanjang-tanganan keluarga dalam menentukan
perilaku, termasuk perilaku terkait siaga bencana.
Salah satu upaya sekolah dalam mengambil peran dari kesiapsiagaan bencana
adalah dengan membentuk dan/atau mengoptimalkan ekstrakulikuler Palang
Merah Remaja (PMR) yang berbasis siaga bencana. Tujuan umum yang diharapkan
adalah pembentukan Sekolah Siaga Bencana (SSB) untuk meningkatkan ketahanan
sekolah dalam menghadapi bencana dan risiko dari bencana itu sendiri. Sedangkan
tujuan khususnya adalah siaga bencana menjadi suatu institusi dalam dunia
pendidikan di masyarakat sekolah.
Kelompok sasaran dalam lingkungan sekolah yang memiliki kepentingan dan
kapasitas dalam melaksanakan upaya PBR diantaranya:
 Kelompok primer, yakni para siswa karena jumlah mereka yang paling
banyak daripada guru dan masyarakat sekolah lainnya.
 Kelompok sekunder, yakni para guru karena guru dapat menyampaikan
informasi dan materi terkait siaga bencana.
Modul Ajar Pengintegrasian Pengurangan Risiko Gempa Bumi untuk SMP/MTs
133
 Kelompok tersier, yakni kepala sekolah, yayasan maupun pemerintah
(Depdiknas).
Pemberdayaan kapasitas kelompok primer dapat diwakili dengan mengembangkan
PMR melalui dorongan dan pembinaan siaga bencana. PMR dapat difungsikan sebagai
peer-educator yakni teman sebaya bagi siswa di sekolah dalam menginformasikan
semua hal tentang bencana, dampak maupun cara penanganan bencana.
1. Menyusun program kegiatan ekskul yang mengintegrasikan PRB.
Di bawah ini merupakan salah satu contoh program kegiatan ekskul kelompok
ilmiah remaja (KIR) yang terintegrasi PRB:
 Mengadakan lomba pembuatan karya tulis tingkat sekolah menegah
tentang gempa bumi.
Mengadakan simulasi dan latihan siap siaga gempa.
Mengadakan bedah buku tentang gempa dan bencana alam
Mengadakan bakti sosial untuk membantu korban gempa seperti
bimbingan/trauma healing untuk anak-anak yang terkena bencana gempa,
mengumpulkan dan menyalurkan bantuan, dll.
Palang Merah Remaja atau PMR adalah organisasi kepemudaan binaan dari
Palang Merah Indonesia yang berpusat di sekolah-sekolah dan bertujuan
memberitahukan pengetahuan dasar kepada siswa sekolah dalam bidang
yang berhubungan dengan kesehatan umum dan pertolongan pertama
pada kecelakaan. Kegiatan utama dari ekstrakulikuler PMR didasarkan pada
Tribakti PMR, yakni: 1). Berbakti kepada masyarakat, 2). Mempertinggi mutu
ketrampilan dan memelihara kebersihan serta kesehatan, dan 3). Mempererat
persahabatan nasional dan internasional.
Materi ajar pendidikan pengurangan risiko bencana gempa bumi secara
umum dapat diintegrasikan dengan kegiatan PMR yang memuat topik-topik
berikut.
Topik 1 : Pengenalan kepada Ancaman Bencana Gempa Bumi di
Indonesia.
Topik 2 : Identifkasi Ancaman, Kerentanan dan Kapasitas di Lingkungan
Sekolah.
Topik 3 : Perlindungan Diri Saat Gempa Bumi.
Topik 4 : Pengenalan kepada Penanggulangan Bencana.
Topik 5 : Pertolongan Pertama pada Korban Gempa.
Topik 6 : Kesiapsiagaan Sekolah terhadap Ancaman Bencana (Rencana
Darurat/Emergency Plan).
Topik 7 : Penyusunan Rencana Aksi Sekolah Siaga Bencana Gempa Bumi.
Materi ajar tersebut dapat dikembangkan dengan melaksanakan berbagai
simulasi diantaranya: perlindungan diri saat gempa (duck and cover),
pertolongan pertama bagi korban gempa, evakuasi korban pasca gempa, dan
lain sebagainya.
Pengintegrasian Materi Pokok Pengurangan Risiko Gempa Bumi
Ke Dalam Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan Menengah Pertama (SMP/MTs)
134
Sekolah yang aman dari bencana tidak hanya melihat dari komponen fsik
atau struktur dari bangunan tersebut. Sebuah sekolah dianggap aman dari
bencana apabila sekolah tersebut (1) memperhatikan konteks lokal dan
ancaman-ancaman dari alam baik dari segi lokasi, struktur dan desain dari
bangunan sekolah, (2) memiliki akses terhadap klinik yang berfungsi dan
memiliki persediaan obat-obatan dan peralatan pada saat kejadian darurat,
(3) memahami dan siaga akan ancaman alam yang dihadapi di lingkungan
sekitarnya, (4) memiliki pemetaan akan ancaman dan kerentanan serta
kapasitas untuk menghadapai bencana, (5) memiliki kebijakan mengenai
rencana pengurangan risiko bencana dan untuk kesiapsiagaan bencana,
(6) memiliki manajemen evakuasi dan prosedur tindakan apabila terjadi
bencana, sesuai dengan karakteristik bencana yang dihadapi. Oleh karenanya
matei ajar PRB gempa bumi dapat diintegrasikan dengan materi pokok pada
ekstakulikuler PMR.
2 Materi Pembelajaran Pramuka, PMR yang dapat diintegrasikan dengan PRB
Materi PMR
Anggota PMR :
1. PMR MULA
Usia 7 – 12 tahun atau setingkat SD
2. PMR MADYA
Usia 12 – 16 tahun atau setingkat SLTP
3. PMR WIRA
Usia 16 – 20 tahun atau setingkat SLTA
Modul Ajar Pengintegrasian Pengurangan Risiko Gempa Bumi untuk SMP/MTs
135
Tabel 5.2.1: Contoh Kegiatan PMR yang dapat diintegrasikan PRB
TING-
KATAN
KELAS INDIKATOR
MATERI
KEGIATAN
MATERI PEMBELAJARAN
PRB
(12) (2) (1) (7) (13)
PMR
MADYA
VII
SMP
- Pengenalan kepada Ancaman
8encana Gempa 8uml dl
|ndonesla.
- |dentlñkasl Ancaman,
Kerentanan dan Kapasltas dl
Llngkungan Sekolah.
Perllndungan Dlrl Saat
Gempa 8uml.
- Pertolongan Pertama pada
Korban Gempa.
- Memahaml
ancaman gempa
buml dl
|ndonesla.
- Mengldentlñ-
kaslkan ancaman,
kerentanan dan
kapasltas dl
llngkungan
sekolah.
Perllndungan dlrl
saat gempa buml.
- Mengapllkaslkan
pertolongan
pertama
pada korban
gempa.
- Mendlskuslkan
mengenal
ancaman
gempa buml dl
|ndonesla.
- Studl pustaka
mengenal
ancaman
gempa buml dl
|ndonesla.
- Menganallsls
kerentanan
sekolah melalul
wawancara
dan observasl.
- Mendemon-
straslkan
pertolongan
pertama
pada korban
gempa.
VIII
SMP
- Pengenalan kepada
Penanggulangan 8encana.
- Pertolongan Pertama pada
Korban Gempa.
- Men[elaskan cara
penanggulangan
bencana.
- Mengapllkaslkan
pertolongan
pertama pada
korban gempa.
- Studl pustaka
mengenal
penanggu-
langan
bencana.
- Mendlskuslkan
mengenal
penang-
gulangan
bencana.
- Mendemon-
straslkan
pertolongan
pertama pada
korban gempa.
Pengintegrasian Materi Pokok Pengurangan Risiko Gempa Bumi
Ke Dalam Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan Menengah Pertama (SMP/MTs)
136
TING-
KATAN
KELAS INDIKATOR
MATERI
KEGIATAN
MATERI PEMBELAJARAN
PRB
(12) (2) (1) (7) (13)
IX
SMP
- Keslapslagaan Sekolah
terhadap
Ancaman 8encana (Pencana
Darurat/ Lmergency Plan).
- Penyusunan Pencana Aksl
Sekolah Slaga 8encana
Gempa 8uml.
- Melaksanakan
keslapslaagaan
(rencana darurat)
terhadap
ancaman
bencana.
- Menyusun
rencana
aksl sekolah slaga
bencana gempa
buml.
- Mendlskuslkan
dengan
guru dan
lnstansl terkalt
mengenal
melaksanakan
suatu keadaaan
slap slaga
ancaman
bencana.
- Menyusun
bersama suatu
rencana aksl
sekolah slaga
bencana
gempa buml.
Tabel 5.22 Contoh Kegiatan Pramuka yang dapat diintegrasikan PRB
TING-
KATAN
KELAS INDIKATOR
MATERI
KEGIATAN
MATERI PEMBELAJARAN
PRB
(12) (2) (1) (7) (13)
PRA-
MUKA
PENG-
GALANG
VII
SMP
- Pengenalan kepada Ancaman
8encana Gempa 8uml dl
|ndonesla.
- |dentlñkasl Ancaman,
Kerentanan dan Kapasltas dl
Llngkungan Sekolah.
Perllndungan Dlrl Saat
Gempa 8uml.
- Pertolongan Pertama pada
Korban Gempa.
- Memahaml
ancaman gempa
buml dl
|ndonesla.
- Mengldentlñ-
kaslkan ancaman,
kerentanan dan
kapasltas dl
llngkungan
sekolah.
Perllndungan dlrl
saat gempa buml.
- Mengapllkaslkan
pertolongan
pertama
pada korban
gempa.
- Mendlskuslkan
mengenal
ancaman
gempa buml dl
|ndonesla.
- Studl pustaka
mengenal
ancaman
gempa buml dl
|ndonesla.
- Menganallsls
kerentanan
sekolah melalul
wawancara
dan observasl.
- Mendemon-
straslkan
pertolongan
pertama
pada korban
gempa.
VIII
SMP
IX
SMP
- Pengenalan kepada
Penanggulangan 8encana.
- Pertolongan Pertama pada
Korban Gempa.
- Keslapslagaan Sekolah
terhadap
Ancaman 8encana (Pencana
Darurat/ Lmergency Plan).
- Penyusunan Pencana Aksl
Sekolah Slaga 8encana
Gempa 8uml.
- Men[elaskan cara
penanggulangan
bencana.
- Mengapllkaslkan
pertolongan
pertama pada
korban gempa.
- Melaksanakan
keslapslaagaan
(rencana darurat)
terhadap
ancaman
bencana.
- Menyusun
rencana
aksl sekolah slaga
bencana gempa
buml.
- Studl pustaka
mengenal
penanggu-
langan
bencana.
- Mendlskuslkan
mengenal
penang-
gulangan
bencana.
- Mendemon-
straslkan
pertolongan
pertama pada
korban gempa.
- Mendlskuslkan
dengan
guru dan
lnstansl terkalt
mengenal
melaksanakan
suatu keadaaan
slap slaga
ancaman
bencana.
- Menyusun
bersama suatu
rencana aksl
sekolah slaga
bencana
gempa buml.
Modul Ajar Pengintegrasian Pengurangan Risiko Gempa Bumi untuk SMP/MTs
137
TING-
KATAN
KELAS INDIKATOR
MATERI
KEGIATAN
MATERI PEMBELAJARAN
PRB
(12) (2) (1) (7) (13)
PRA-
MUKA
PENG-
GALANG
VII
SMP
- Pengenalan kepada Ancaman
8encana Gempa 8uml dl
|ndonesla.
- |dentlñkasl Ancaman,
Kerentanan dan Kapasltas dl
Llngkungan Sekolah.
Perllndungan Dlrl Saat
Gempa 8uml.
- Pertolongan Pertama pada
Korban Gempa.
- Memahaml
ancaman gempa
buml dl
|ndonesla.
- Mengldentlñ-
kaslkan ancaman,
kerentanan dan
kapasltas dl
llngkungan
sekolah.
Perllndungan dlrl
saat gempa buml.
- Mengapllkaslkan
pertolongan
pertama
pada korban
gempa.
- Mendlskuslkan
mengenal
ancaman
gempa buml dl
|ndonesla.
- Studl pustaka
mengenal
ancaman
gempa buml dl
|ndonesla.
- Menganallsls
kerentanan
sekolah melalul
wawancara
dan observasl.
- Mendemon-
straslkan
pertolongan
pertama
pada korban
gempa.
VIII
SMP
IX
SMP
- Pengenalan kepada
Penanggulangan 8encana.
- Pertolongan Pertama pada
Korban Gempa.
- Keslapslagaan Sekolah
terhadap
Ancaman 8encana (Pencana
Darurat/ Lmergency Plan).
- Penyusunan Pencana Aksl
Sekolah Slaga 8encana
Gempa 8uml.
- Men[elaskan cara
penanggulangan
bencana.
- Mengapllkaslkan
pertolongan
pertama pada
korban gempa.
- Melaksanakan
keslapslaagaan
(rencana darurat)
terhadap
ancaman
bencana.
- Menyusun
rencana
aksl sekolah slaga
bencana gempa
buml.
- Studl pustaka
mengenal
penanggu-
langan
bencana.
- Mendlskuslkan
mengenal
penang-
gulangan
bencana.
- Mendemon-
straslkan
pertolongan
pertama pada
korban gempa.
- Mendlskuslkan
dengan
guru dan
lnstansl terkalt
mengenal
melaksanakan
suatu keadaaan
slap slaga
ancaman
bencana.
- Menyusun
bersama suatu
rencana aksl
sekolah slaga
bencana
gempa buml.
TING-
KATAN
KELAS INDIKATOR
MATERI
KEGIATAN
MATERI PEMBELAJARAN
PRB
(12) (2) (1) (7) (13)
PRA-
MUKA
PENG-
GALANG
VII
SMP
- Pengenalan kepada Ancaman
8encana Gempa 8uml dl
|ndonesla.
- |dentlñkasl Ancaman,
Kerentanan dan Kapasltas dl
Llngkungan Sekolah.
Perllndungan Dlrl Saat
Gempa 8uml.
- Pertolongan Pertama pada
Korban Gempa.
- Memahaml
ancaman gempa
buml dl
|ndonesla.
- Mengldentlñ-
kaslkan ancaman,
kerentanan dan
kapasltas dl
llngkungan
sekolah.
Perllndungan dlrl
saat gempa buml.
- Mengapllkaslkan
pertolongan
pertama
pada korban
gempa.
- Mendlskuslkan
mengenal
ancaman
gempa buml dl
|ndonesla.
- Studl pustaka
mengenal
ancaman
gempa buml dl
|ndonesla.
- Menganallsls
kerentanan
sekolah melalul
wawancara
dan observasl.
- Mendemon-
straslkan
pertolongan
pertama
pada korban
gempa.
VIII
SMP
IX
SMP
- Pengenalan kepada
Penanggulangan 8encana.
- Pertolongan Pertama pada
Korban Gempa.
- Keslapslagaan Sekolah
terhadap
Ancaman 8encana (Pencana
Darurat/ Lmergency Plan).
- Penyusunan Pencana Aksl
Sekolah Slaga 8encana
Gempa 8uml.
- Men[elaskan cara
penanggulangan
bencana.
- Mengapllkaslkan
pertolongan
pertama pada
korban gempa.
- Melaksanakan
keslapslaagaan
(rencana darurat)
terhadap
ancaman
bencana.
- Menyusun
rencana
aksl sekolah slaga
bencana gempa
buml.
- Studl pustaka
mengenal
penanggu-
langan
bencana.
- Mendlskuslkan
mengenal
penang-
gulangan
bencana.
- Mendemon-
straslkan
pertolongan
pertama pada
korban gempa.
- Mendlskuslkan
dengan
guru dan
lnstansl terkalt
mengenal
melaksanakan
suatu keadaaan
slap slaga
ancaman
bencana.
- Menyusun
bersama suatu
rencana aksl
sekolah slaga
bencana
gempa buml.
M
A
T
E
R
I
K
E
G
I
A
T
A
N
T
U
J
U
A
N
K
E
G
I
A
T
A
N
M
E
T
O
D
E

K
E
G
I
A
T
A
N
/
B
E
L
A
J
A
R
P
R
O
S
E
S

K
E
G
I
A
T
A
N
B
E
L
A
J
A
R
A
L
O
K
A
S
I
W
A
K
T
U
A
L
A
T

D
A
N

B
A
H
A
N
K
E
G
I
A
T
A
N
S
U
M
B
E
R
/
B
A
H
A
N
-

S
l
s
w
a

d
a
p
a
t



m
e
n
g
e
n
a
l
l



a
n
c
a
m
a
n



g
e
m
p
a

b
u
m
l



d
l

|
n
d
o
n
e
s
l
a
.
-

S
l
s
w
a

d
a
p
a
t



m
e
n
g
e
t
a
h
u
l



k
e
r
e
n
t
a
n
a
n



s
e
k
o
l
a
h
.
-

S
l
s
w
a

d
a
p
a
t



m
e
l
a
k
u
k
a
n



p
e
r
t
o
l
o
n
g
a
n



p
e
r
t
a
m
a

p
a
d
a



k
o
r
b
a
n

g
e
m
p
a
.
-

D
l
s
k
u
s
l
-

T
a
n
y
a

[
a
w
a
b
-

S
t
u
d
l

p
u
s
t
a
k
a
-

D
e
m
o
s
t
r
a
s
l
-

S
l
m
u
l
a
s
l

2

1
P
-

8
u
k
u

m
e
n
g
e
n
a
l



p
e
r
t
o
l
o
n
g
a
n



p
e
r
t
a
m
a
.
-


M
e
n
d
l
s
k
u
s
l
k
a
n

m
e
n
g
e
n
a
l




a
n
c
a
m
a
n

g
e
m
p
a

b
u
m
l

d
l




|
n
d
o
n
e
s
l
a
.
-

S
t
u
d
l

p
u
s
t
a
k
a

m
e
n
g
e
n
a
l



a
n
c
a
m
a
n

g
e
m
p
a

b
u
m
l

d
l



|
n
d
o
n
e
s
l
a
.
-

M
e
n
g
a
n
a
l
l
s
l
s

k
e
r
e
n
t
a
n
a
n



s
e
k
o
l
a
h

m
e
l
a
l
u
l

w
a
w
a
n
c
a
r
a



d
a
n

o
b
s
e
r
v
a
s
l
.
-

M
e
n
d
e
m
o
n
s
t
r
a
s
l
k
a
n



p
e
r
t
o
l
o
n
g
a
n

p
e
r
t
a
m
a

p
a
d
a



k
o
r
b
a
n

g
e
m
p
a
.
-

A
l
a
t
-
a
l
a
t

P
3
K
.
-

P
o
s
t
e
r
-

P
e
t
a

w
l
l
a
y
a
h



r
a
w
a
n

g
e
m
p
a
-

M
e
n
d
l
s
k
u
s
l
k
a
n



m
e
n
g
e
n
a
l

a
n
c
a
m
a
n



g
e
m
p
a

b
u
m
l

d
l



|
n
d
o
n
e
s
l
a
.
-

S
t
u
d
l

p
u
s
t
a
k
a



m
e
n
g
e
n
a
l

a
n
c
a
m
a
n



g
e
m
p
a

b
u
m
l

d
l



|
n
d
o
n
e
s
l
a
.
-

M
e
n
g
a
n
a
l
l
s
l
s



k
e
r
e
n
t
a
n
a
n

s
e
k
o
l
a
h



m
e
l
a
l
u
l

w
a
w
a
n
c
a
r
a



d
a
n

o
b
s
e
r
v
a
s
l
.
-

M
e
n
d
e
m
o
n
s
t
r
a
s
l
k
a
n



p
e
r
t
o
l
o
n
g
a
n

p
e
r
t
a
m
a


p
a
d
a

k
o
r
b
a
n

g
e
m
p
a
(
1
3
)








S
e
k
o
l
a
h


:

S
M
P

.
.
.
P
e
n
g
e
m
b
a
n
g
a
n

D
l
r
l

:

P
a
l
a
n
g

M
e
r
a
h

P
e
m
a
[
a

(
P
M
P
)
K
e
l
a
s
/
S
e
m
e
s
t
e
r

:

v
|
|
/
l
P
e
n
y
u
s
u
n
a
n

S
l
l
a
b
u
s

|
n
t
e
g
r
a
s
l

P
P
8

d
a
l
a
m

k
e
g
l
a
t
a
n

e
k
s
t
r
a
k
u
r
l
k
u
l
e
r

T
a
b
e
l

5
.
2
3

S
i
l
a
b
u
s

I
n
t
e
g
r
a
s
i

P
R
B

d
a
l
a
m

K
e
g
i
a
t
a
n

P
M
R

T
a
b
e
l

5
.
2
4

S
i
l
a
b
u
s

I
n
t
e
g
r
a
s
i

P
R
B

d
a
l
a
m

K
e
g
i
a
t
a
n

P
r
a
m
u
k
a
M
A
T
E
R
I
K
E
G
I
A
T
A
N
T
U
J
U
A
N
K
E
G
I
A
T
A
N
M
E
T
O
D
E

K
E
G
I
A
T
A
N
/
B
E
L
A
J
A
R
P
R
O
S
E
S

K
E
G
I
A
T
A
N
B
E
L
A
J
A
R
A
L
O
K
A
S
I
W
A
K
T
U
A
L
A
T

D
A
N

B
A
H
A
N
K
E
G
I
A
T
A
N
S
U
M
B
E
R
/
B
A
H
A
N
(
1
3
)
-

M
e
n
d
l
s
k
u
s
l
k
a
n



m
e
n
g
e
n
a
l

a
n
c
a
m
a
n



g
e
m
p
a

b
u
m
l

d
l



|
n
d
o
n
e
s
l
a
.
-

S
t
u
d
l

p
u
s
t
a
k
a



m
e
n
g
e
n
a
l

a
n
c
a
m
a
n



g
e
m
p
a

b
u
m
l

d
l



|
n
d
o
n
e
s
l
a
.
-

M
e
n
g
a
n
a
l
l
s
l
s



k
e
r
e
n
t
a
n
a
n

s
e
k
o
l
a
h



m
e
l
a
l
u
l

w
a
w
a
n
c
a
r
a



d
a
n

o
b
s
e
r
v
a
s
l
.
-

M
e
n
d
e
m
o
n
s
t
r
a
s
l
k
a
n



p
e
r
t
o
l
o
n
g
a
n

p
e
r
t
a
m
a



p
a
d
a

k
o
r
b
a
n

g
e
m
p
a
.
-

S
l
s
w
a

d
a
p
a
t



m
e
n
g
e
n
a
l
l



a
n
c
a
m
a
n



g
e
m
p
a

b
u
m
l



d
l

|
n
d
o
n
e
s
l
a
.
-

S
l
s
w
a

d
a
p
a
t



m
e
n
g
e
t
a
h
u
l



k
e
r
e
n
t
a
n
a
n



s
e
k
o
l
a
h
.
-

S
l
s
w
a

d
a
p
a
t



m
e
l
a
k
u
k
a
n



p
e
r
t
o
l
o
n
g
a
n



p
e
r
t
a
m
a

p
a
d
a



k
o
r
b
a
n

g
e
m
p
a
.
-

D
l
s
k
u
s
l
-

T
a
n
y
a

[
a
w
a
b
-

S
t
u
d
l

p
u
s
t
a
k
a
-

D
e
m
o
s
t
r
a
s
l
-

S
l
m
u
l
a
s
l

-


M
e
n
d
l
s
k
u
s
l
k
a
n

m
e
n
g
e
n
a
l




a
n
c
a
m
a
n

g
e
m
p
a

b
u
m
l

d
l




|
n
d
o
n
e
s
l
a
.
-

S
t
u
d
l

p
u
s
t
a
k
a

m
e
n
g
e
n
a
l



a
n
c
a
m
a
n

g
e
m
p
a

b
u
m
l

d
l



|
n
d
o
n
e
s
l
a
.
-

M
e
n
g
a
n
a
l
l
s
l
s

k
e
r
e
n
t
a
n
a
n



s
e
k
o
l
a
h

m
e
l
a
l
u
l

w
a
w
a
n
c
a
r
a



d
a
n

o
b
s
e
r
v
a
s
l
.
-

M
e
n
d
e
m
o
n
s
t
r
a
s
l
k
a
n



p
e
r
t
o
l
o
n
g
a
n

p
e
r
t
a
m
a



p
a
d
a

k
o
r
b
a
n

g
e
m
p
a
.
2

1
P
-

A
l
a
t
-
a
l
a
t

P
3
K
.
-

P
o
s
t
e
r
.

-

P
e
t
a

w
l
l
a
y
a
h



r
a
w
a
n

g
e
m
p
a
.
-

T
e
n
d
a
.

-

8
u
k
u

r
e
l
e
v
a
n
.





S
e
k
o
l
a
h


:

S
M
P

.
.
.
P
e
n
g
e
m
b
a
n
g
a
n

D
l
r
l

:

P
P
A
M
U
K
A
K
e
l
a
s
/
S
e
m
e
s
t
e
r

:

v
|
|
P
e
n
y
u
s
u
n
a
n

S
l
l
a
b
u
s

|
n
t
e
g
r
a
s
l

P
P
8

d
a
l
a
m

k
e
g
l
a
t
a
n

e
k
s
t
r
a
k
u
r
l
k
u
l
e
r
Daftar Istilah
140
DAFTAR ISTILAH
Pengurangan Risiko Bencana
Pengurangan risiko bencana adalah konsep dan praktik mengurangi risiko bencana
melalui upaya sistematis untuk menganalisa dan mengelola faktor-faktor penyebab
dari bencana termasuk dengan dikuranginya paparan terhadap ancaman,
penurunan kerentanan manusia dan properti, pengelolaan lahan dan lingkungan
yang bijaksana, serta meningkatkan kesiapsiagaanan terhadap kejadian yang
merugikan.
Pendidikan
Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana
belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan
potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri,
kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia serta keterampilan yang diperlukan dirinya,
masyarakat dan Negara
Pengarusutamaan PRB
Proses dimana pertimbangan-pertimbangan pengurangan risiko bencana
dikedepankan oleh organisasi/individu yang terlibat di dalam pengambilan
keputusan dalam pembangunan ekonomi, fsik, politik, sosial-budaya suatu negara
pada level nasional, wilayah daerah dan/atau lokal; serta proses-proses dimana
pengurangan risiko bencana dipertimbangkan dalam pengambilan keputusan
tersebut
Pendidikan Siaga Bencana
Usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses
pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk
memiliki kecakapan hidup dalam mengantisipasi bencana melalui pengorganisasian
dan langkah-langkah yang tepat guna dan berdaya guna.
Komite Sekolah
Organisasi mandiri yang dibentuk dalam rangka meningkatkan mutu, pemerataan,
dan efsiensi pengelolaan pendidikan di satuan pendidikan. Ia menjadi ruang bagi
orangtua, masyarakat, dan pihak sekolah menyampaikan aspirasi dan merumuskan
kebijakan bagi peningkatan pendidikan di sekolah. Ia merupakan badan independen
yang tidak memiliki hubungan hirarkis dengan Kepala Sekolah. Ia menjadi mitra
kepala sekolah dalam menjalankan peran dan fungsinya dalam memajukan
sekolah.
KTSP
Kurikulum operasional yang disusun dan dilaksanakan oleh masing-masing satuan
pendidikan. Sekolah dan kepala sekolah mengembangkan KTSP dan silabus
berdasarkan a). Kerangka dasar kurikulum, b). Standar kompetensi, dibawah
supervisi Dinas Pendidikan Kabupaten/Kota atau Provinsi.
Kurikulum
Seperangkat rencana dan pengaturan mengenai tujuan, isi, dan bahanpelajaran serta
cara yang digunakan sebagai pedoman penyelenggaraan kegiatan pembelajaran
untuk mencapai tujuan pendidikan tertentu.
Modul Ajar Pengintegrasian Pengurangan Risiko Bencana Gempa Bumi untuk SMP/MTs
141
Ekstra kurikuler
adalah kegiatan pendidikan di luar mata pelajaran dan pelayanan konseling untuk
membantu pengembangan peserta didik sesuai dengan kebutuhan, potensi, bakat
dan minat mereka melalui kegiatan yang secara khusus diselenggarakan oleh
pendidik dan atau tenaga kependidikan yang berkemampuan dan berkewenangan
di sekolah/madrasah.
Standar Kompetensi
ukuran kompetensi minimal yang harus dicapai peserta didik setelah mengikuti
suatuproses pembelajaran pada satuan pendidikan tertentu.
Kompetensi
kemampuan bersikap, berpikir, dan bertindak secara konsisten sebagai
perwujudan dari pengetahuan, sikap, dan keterampilan yang dimiliki peserta didik.
Standar Nasional Pendidikan
Standar Nasional Pendidikan adalah kriteria minimal tentang sistem pendidikan
di seluruh wilayah hukum NKRI. Lingkup standar nasional pendidikan meliputi: a.
standar isi, b. standar proses, c. standar kompetensi lulusan, d. standar pendidik
dan tenaga kependidikan, e. standar sarana dan prasarana, f. standar pengelolaan,
g. standar pembiayaan, h. standar penilaian pendidikan.
Sumber/bahan belajar
adalah rujukan, objek dan/atau bahan yang digunakan untuk kegiatan
pembelajaran. Sumber belajar dapat berupa media cetak dan elektronik, nara
sumber, serta lingkungan fsik, alam, sosial, dan budaya.
Standar isi
adalah ruang lingkup materi dan tingkat kompetensi yang dituangkan dalam
kriteria tentang kompetensi tamatan, kompetensi bahan kajian, kompetensi mata
pelajaran, dan silabus pembelajaran yang harus dipenuhi oleh peserta didik pada
jenjang dan jenis pendidikan tertentu.
Standar proses
adalah standar nasional pendidikan yang berkaitan dengan pelaksanaan
pembelajaran pada satu satuan pendidikan untuk mencapai standar kompetensi
lulusan.
Standar kompetensi lulusan
adalah kualifkasi kemampuan lulusan yang mencakup sikap, pengetahuan, dan
keterampilan.
Standar pendidik dan tenaga kependidikan
adalah kriteria pendidikan prajabatan dan kelayakan fsik maupun mental, serta
pendidikan dalam jabatan.
Standar sarana dan prasarana
adalah standar nasional pendidikan yang berkaitan dengan kriteria minimal
tentang ruang belajar, tempat berolahraga, tempat beribadah, perpustakaan,
laboratorium, bengkel kerja, tempat bermain, tempat berkreasi dan berekreasi,
Daftar Istilah
142
serta sumber belajar lain, yang diperlukan untuk menunjang proses pembelajaran,
termasuk penggunaan teknologi informasi dan komunikasi.
Standar pengelolaan
adalah standar nasional pendidikan yang berkaitan dengan perencanaan,
pelaksanaan, dan pengawasan kegiatan pendidikan pada tingkat satuan pendidikan,
kabupaten/kota, provinsi, atau nasional agar tercapai efsiensi dan efektivitas
penyelenggaraan pendidikan.
Standar pembiayaan
adalah standar yang mengatur komponen dan besarnya biaya operasi satuan
pendidikan yang berlaku selama satu tahun; dan
Standar penilaian pendidikan
adalah standar nasional pendidikan yang berkaitan dengan mekanisme, prosedur,
dan instrumen penilaian hasil belajar peserta didik.
Bencana
adalah suatu peristiwa yang disebabkan oleh alam atau ulah manusia, yang
dapat terjadi secara tibatiba atau perlahan-lahan, yang menyebabkan hilangnya
jiwa manusia, kerusakan harta benda dan lingkungan, di mana masyarakat
setempat dengan segala kemampuan dan sumberdayanya tidak mampu untuk
menanggulanginya.
Bahaya
adalah situasi, kondisi, atau karakteristik biologis, geografs, sosial, ekonomi, politik,
budaya dan teknologi suatu masyarakat di suatu wilayah untuk jangka waktu
tertentu yang berpotensi menimbulkan korban dan kerusakan.
Kerentanan
adalah tingkat kekurangan kemampuan suatu masyarakat untuk mencegah,
menjinakkan, mencapai kesiapan, dan menanggapi dampak bahaya tertentu.
Kerentanan dapat berupa kerentanan fsik, ekonomi, sosial dan tabiat, yang dapat
ditimbulkan oleh beragam penyebab.
Kemampuan
adalah penguasaan sumberdaya, cara, dan kekuatan yang dimiliki masyarakat,
yang memungkinkan mereka untuk, mempersiapkan diri, mencegah, menjinakkan,
menanggulangi, mempertahankan diri serta dengan cepat memulihkan diri dari
akibat bencana
Risiko
adalah kemungkinan timbulnya kerugian pada suatu wilayah dan kurun waktu
tertentu yang timbul karena suatu bahaya menjadi bencana. Risiko dapat berupa
kematian, luka, sakit, hilang, jiwa terancam, hilangnya rasa aman, mengungsi,
kerusakan atau kehilangan harta dan gangguan kegiatan masyarakat.
Pencegahan
adalah upaya yang dilakukan untuk mencegah terjadinya bencana dan jika mungkin
dengan meniadakan bahaya.
Modul Ajar Pengintegrasian Pengurangan Risiko Bencana Gempa Bumi untuk SMP/MTs
143
Mitigasi
adalah upaya yang dilakukan untuk mengurangi dampak bencana, baik secara
fsik struktural melalui pembuatan bangunan-bangunan fsik, maupun non fsik-
struktural melalui perundang-undangan dan pelatihan.
Kesiapsiagaan
adalah upaya yang dilakukan untuk mengantisipasi bencana, melalui
pengorganisasian langkah-langkah yang tepat guna dan berdaya guna.
Peringatan Dini
adalah upaya untuk memberikan tanda peringatan bahwa bencana kemungkinan
akan segera terjadi, yang menjangkau masyarakat, segera, tegas tidak
membingungkan, resmi
Tanggap Darurat
adalah upaya yang dilakukan segera pada saat kejadian bencana, untuk
menanggulangi dampak yang ditimbulkan, terutama berupa penyelamatan korban
dan harta benda, evakuasi dan pengungsian.
Bantuan Darurat
merupakan upaya untuk memberikan bantuan berkaitan dengan pemenuhan
kebutuhan dasar berupa pangan, sandang, tempat tinggal sementara, perlindungan,
kesehatan, sanitasi dan air bersih
Pemulihan
adalah proses pengembalian kondisi masyarakat yang terkena bencana, dengan
memfungsikan kembali sarana dan prasarana pada keadaan semula dengan
melakukan upaya memperbaiki prasarana dan pelayanan dasar (jalan, listrik, air
bersih, pasar, puskesmas, dll).
Rehabilitasi
adalah upaya langkah yang dilakukan setelah kejadian bencana untuk membantu
masyarakat memperbaiki rumahnya, fasilitas umum dan fasilitas sosial penting, dan
menghidupkan kembali roda perekonomian.
Rekonstruksi
adalah program jangka menengah dan jangka panjang guna perbaikan fsik, sosial
dan ekonomi untuk mengembalikan kehidupan masyarakat pada kondisi yang
sama atau lebih baik dari sebelumnya.
Penanggulangan Bencana
adalah seluruh kegiatan yang meliputi aspek perencanaan dan penanggulangan
bencana, pada sebelum, saat dan sesudah terjadi bencana, mencakup tanggap
darurat, pemulihan, pencegahan, mitigasi dan kesiapsiagaan
Daftar Pustaka
144
DAFTAR PUSTAKA
Carolus Prasetya, dkk, Gempa Yogya dan Dinamika Palung Jawa, Yogyakarta: Pusat
Studi Bencana UPN Veteran Yogyakarta, 2007.
Diposaptotomo, Subandono, dkk, Menyiasati Perubahan Iklim di Wilayah Pesisir
dan Pulau-pulau Kecil, Bogor: Buku Ilmah Populer, 2009.
Diposaptotomo, Subandono, dkk, Hidup Akrab dengan Gempa dan Tsunami, Bogor:
Buku Ilmah Populer, 2008.
ET Paripurno, Gempa dan Tsunami, Yogyakarta: Pusat Studi Bencana UPN Veteran
Yogyakarta, 2007.
Hidayati, Sri, Kesiapsiagaan Msyarakat Menghadapi Bencana Gempa Bumi dan
Tsunami, Jakarta: Prosiding, 2009.
Muktaf Hanaf, Akhmad, Manajemen Resiko Bencana Gempa Bumi (Studi Kasus
Gempa Bumi Yogyakarta 27 Mei 2006), Jakarta: Batan, 2008.
SC-DRR/UNDP, Jakarta: Draf Nol Strategi Nasional Pengarusutamaan Pengurangan
Resiko Bencana
Teguh Peripurno, Eko, Modul Majemen Bencana Pengenalan Gempa Untuk
Penanggulangan Bencana, Yogyakarta: Pusat Studi Bencana UPN Veteran
Yogyakarta, 2007.
UN/ISDR, Terminology on Disaster Risk Reduction, 2009
UNESCO, Natural Disaster Preparedness and Education for Sustainable
Development, Bangkok: 2007.
UNESCO, Siap Menghadapi Bencana, Jakarta: DEPDIKNAS, 2007
Badan Meteorologi dan Geofsika, http://rekapuspa.wordpress.com/2009/10/08/
antisipasi-gempa-bumi/, November 2009.
Keuntungan dan Pengaruh Posisi Letak Geografs dan Geologi Indonesia, http://
bimly-se.blogspot.com/2009/08/keuntungan-dan-pengaruh-posisi-dan.html,
November 2009
Antisipasi Gempa Bumi http://rekapuspa.wordpress.com/2009/10/08/antisipasi-
gempa-bumi/
Fauzi, Keuntungan Dan Pengaruh Posisi Dan Letak Geografs Indonesia, http://
bimly-se.blogspot.com/2009/08/keuntungan-dan-pengaruh-posisi-dan.html
http://www.reindo.co.id/Gempa/Reference/Indore.htm
Kertapati, E. K., ”Aktivitas Gempabumi di Indonesia, Pusat Penelitian dan
Pengembangan Geologi”, Badan Penelitian dan Pengembangan, Kementerian
Energi dan Sumber Daya Mineral, Januari 2004.
Modul Ajar Pengintegrasian Pengurangan Risiko Bencana Gempa Bumi untuk SMP/MTs
145
Nugroho, Imam, Penyebaran Gempa Bumi Hubungannya dengan Tektonik Lempeng
Jogjakarta: Perpustakaan Geologi UGM, 2008.
Priyono, Juniawan - KPJ’94 (2007). Pengurangan Resiko Bencana Dimulai dari
Sekolah http://sutikno.org/index.php?option=com_content&task=view&id=37&It
emid=49

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful