Cover dalam

KEBAKARAN
Bahan Pengayaan Bagi Guru SD/MI
Penulis: Drs. Suherman
Nara Sumber: Sardio Sardi
PUSAT KURIKULUM
BADAN PENELITIAN DAN PENGEMBANGAN
KEMENTERIAN PENDIDIKAN NASIONAL
JAKARTA, 2009
Modul Ajar
Pengintegrasian Pengurangan Risiko
Modul Ajar Pengintegrasian
Pengurangan Risiko Kebakaran
Bahan Pengayaan Bagi Guru SD/MI
Penulis: Drs. Suherman
Nara Sumber: Sardio Sardi
Editor: Ninil R Miftahul Jannah dan Dian Afriyanie
Ilustrator Sampul : Hastifah (SDN 3 Imogiri Yogyakarta)
Ilustrator Isi:
Rizki Goni, Feri Rahman, Antan Juliansyah, Feri Fauzi, Rigan A.T.
Lay Out Isi:
Galang Gumilar, Antan Juliansyah, Feri Fauzi, Rudini Rusmawan, Ardi H, Agusbobos.
ISBN : 978-979-725-228-1
Program Safer Communities through Disaster Risk Reduction (SCDRR)
Jl. Tulung Agung No. 46, Jakarta 10310, INDONESIA
Telp : +62 21 390 5484 (hunting)
Fax : +62 21 391 8604
E-mail : secretariat@sc-drr.org
Website : www.sc-drr.org
Program masyarakat yang lebih aman melalui pengurangan risiko bencana (Safer Communities through
Disaster Risk Reduction disingkat SCDRR), merupakan proyek kerja sama antara United Nations Development
Programme (UNDP), BAPPENAS, BNPB dan Kementerian Dalam Negeri, dengan dukungan dana UNDP,
Departement for International Development (DFID) Pemerintah Inggris dan Australian Agency For International
Development (AusAID)
SAMBUTAN
I
ndonesia yang merupakan salah satu negara kepulauan terbesar di dunia
berada di kawasan yang disebut cincin api, dimana risiko untuk terjadi
bencana alam seperti tsunami, gempa bumi, letusan gunung api, banjir dan
longsor sangat tinggi. Bencana alam ini telah menimbulkan ribuan korban
jiwa, kerugian materil dan meninggalkan banyak orang untuk berjuang
membangun kembali tempat tinggal dan mata pencahariannya.
Kesiapsiagaan merupakan hal yang penting dan harus dibangun pada setiap tingkat
kelompok di masyarakat. Pengalaman menunjukkan bahwa kehancuran akibat
bencana dapat secara drastis dikurangi jika semua orang lebih siap menghadapi
bencana. Sekolah adalah pusat pendidikan yang tidak hanya memberikan kita
ilmu pengetahuan tetapi juga bekal untuk kelangsungan hidup kita, kesiapsiagaan
terhadap bencana merupakan bagian dari ketrampilan untuk kelangsungan
hidup kita. Sekolah juga seringkali menjadi tempat penghubung dan tempat
belajar bagi seluruh masyarakat. Anak-anak merupakan peserta ajar yang paling
cepat dan mereka tidak hanya mampu memadukan pengetahuan beru ke dalam
kehidupan sehari-hari, tetapi juga menjadi sumber pengetahuan bagi keluarga
dan masyarakatnya dalam hal prilaku yang sehat dan aman, yang mereka dapatkan
di sekolah. Oleh karenanya, menjadikan pencegahan bencana menjadi salah satu
fokus di sekolah dengan memberdayakan anak-anak dan remaja untuk memahami
tanda-tanda peringatan bencana dan langkah-langkah yang dapat diambil untuk
mengurangi risiko dan mencegah bencana, merupakan suatu langkah awal yang
penting dalam membangun ketangguhan bencana seluruh masyarakat. Jadi
kesiapsiagaan haruslah menjadi bagian dari materi yang diberikan dalam dunia
pendidikan khususnya pendidikan dasar dan menengah.
Pusat Kurikulum sebagai lembaga yang bertanggung jawab dalam
pengembangan model-model kurikulum sebagai referensi satuan pendidikan
dalam pengembangan kurikulumnya, telah berhasil dalam menyusun
serangkaian modul ajar dan modul pelatihan untuk pengintegrasian
pengurangan risiko bencana ke dalam tingkat satuan pendidikan. Secara
keseluruhan modul ini terdiri atas 15 modul ajar dan 3 modul pelatihan, yaitu:
Modul Ajar Pengintegrasian Pengurangan Risiko Gempa untuk SD.
Modul Ajar Pengintegrasian Pengurangan Risiko Gempa untuk SMP.
Modul Ajar Pengintegrasian Pengurangan Risiko Gempa untuk SMA.
Modul Ajar Pengintegrasian Pengurangan Risiko Tsunami untuk SD.
Modul Ajar Pengintegrasian Pengurangan Risiko Tsunami untuk SMP.
Modul Ajar Pengintegrasian Pengurangan Risiko Tsunami untuk SMA.
KEPALA
PUSAT KURIKULUM
Modul Ajar Pengintegrasian Pengurangan Risiko Longsor untuk SD.
Modul Ajar Pengintegrasian Pengurangan Risiko Longsor untuk SMP.
Modul Ajar Pengintegrasian Pengurangan Risiko Longsor untuk SMA.
Modul Ajar Pengintegrasian Pengurangan Risiko Kebakaran untuk SD.
Modul Ajar Pengintegrasian Pengurangan Risiko Kebakaran untuk SMP.
Modul Ajar Pengintegrasian Pengurangan Risiko Kebakaran untuk SMA.
Modul Ajar Pengintegrasian Pengurangan Risiko Banjir untuk SD.
Modul Ajar Pengintegrasian Pengurangan Risiko Banjir untuk SMP.
Modul Ajar Pengintegrasian Pengurangan Risiko Banjir untuk SMA.
Modul Pelatihan Pengintegrasian Pengurangan Risiko Bencana untuk SD,
SMP dan SMA.
Penyusunan modul-modul tersebut merupakan hasil kerjasama antara Pusat
Kurikulum dengan Direktorat Kawasan Khusus dan Daerah Tertinggal BAPPENAS
dalam sebuah Program Safer Community Through Disaster Risk Reduction (SCDRR)
In Development yang didanai oleh United Nations Development Program (UNDP)
yang bertujuan untuk membangun masyarakat yang aman dari ancaman melalui
berbagai upaya pengurangan risiko bencana.
Setiap modul ajar dilengkapi dengan contoh-contoh silabus, rencana pelaksanaan
pembelajaran dan model bahan ajar. Sedangkan modul pelatihan terdiri dari
panduan fasilitasi dan bahan bacaan bagi pelatih mengenai penyelenggaraan
penanggulangan bencana, pengurangan risiko bencana, sekolah siaga bencana,
pendidikan PRB, dan strategi pengintegrasian pendidikan PRB ke dalam kurikulum
satuan pendidikan.
Diharapkan modul-modul tersebut dapat bermanfaat dan dijadikan bahan acuan
bagi para pihak yang berkepentingan dalam kesiapsiagaan di sekolah.
Jakarta, Desember 2009
Kepala Pusat Kurikulum
Dra. Diah Harianti, M.Psi
SAMBUTAN
I
ndonesia sebagai negara kepulauan dengan letak geografsnya pada posisi
pertemuan 4 lempeng tektonik, merupakan wilayah yang rawan bencana.
Selain itu dengan kompleksitas kondisi demograf, sosial dan ekonomi di
Indonesia yang berkontribusi pada tingginya tingkat kerentanan masyarakat
terhadap ancaman bencana, serta minimnya kapasitas masyarakat dalam
menangani bencana menyebabkan risiko bencana di Indonesia menjadi
tinggi. Pada tahun 2005, Indonesia menempati peringkat ke-7 dari sejumlah
negara yang paling banyak dilanda bencana alam (ISDR 2006-2009, World
Disaster Reduction Campaign, UNESCO).
Berangkat dari hal tersebut dan guna mendukung paradigma pengurangan
risiko bencana di sektor pendidikan, maka Pusat Kurikulum-sebuah unit eselon
II di bawah Badan Penelitian dan Pengembangan pada Kementerian Pendidikan
Nasional bekerjasama dengan Direktorat Kawasan Khusus dan Daerah Tertinggal
BAPPENAS tengah melaksanakan kegiatan Program Safer Community Through
Disaster Risk Reduction (SCDRR) In Development melalui dana hibah UNDP. Kegiatan
ini bertujuan membangun masyarakat yang aman dari ancaman melalui berbagai
upaya pengurangan risiko bencana.
Dalam kerjasama ini, Pusat Kurikulum telah mengembangkan kurikulum khususnya
dalam mengintegrasikan materi-materi dan kompetensi Pengurangan Risiko
Bencana (PRB) ke dalam mata pelajaran IPA, IPS, Bahasa Indonesia dan Pendidikan
Jasmani yang ada di sekolah mulai dari jenjang SD atau yang sederajat sampai
SMA atau yang sederajat. Model pengintegrasian materi dan kompetensi PRB
dengan mata pelajaran-mata pelajaran ini bertujuan agar muatan kurikulum dan
beban belajar tidak menjadi lebih berat. Disamping mengintegrasikan ke mata
pelajaran yang sudah ada PRB juga bisa dijadikan muatan lokal (Mulok) serta ekstra
kurikuler.
Modul Pengintegrasian Pengurangan Risiko Bencana ini disusun dalam rangka
untuk meningkatkan kesadaran akan pentingnya pengetahuan tentang bencana
dan mensosialisasikan langkah-langkah preventif untuk mengurangi risiko bencana
yang dapat menimpa di wilayah Indonesia. Tanpa adanya upaya terus-menerus
untuk mendiseminasikan informasi tentang ancaman dan langkah-langkah yang
dapat diambil untuk mengurangi risiko-risiko yang dapat ditimbulkannya, sulit bagi
kita untuk mewujudkan guru dan peserta didik yang tangguh dalam menghadapi
bencana.
Modul ini dapat menjadi salah satu solusi yang memungkinkan bagi para guru untuk
mengajarkan peserta didik dari hari ke hari di sekolah secara berkesinambungan,
sehingga proses, internalisasi pengetahuan kebencanaan bukan hanya dipahami
KEPALA BADAN PENELITIAN
DAN PENGEMBANGAN
KEMENTERIAN PENDIDIKAN NASIONAL
dan diketahui dalam ingatan belaka tapi juga mendorong munculnya respon cepat
penyelamatan yang benar dari peserta didik ketika menghadapi bencana.
Diharapkan modul ini dapat dimanfaatkan, antara lain:
Sebagai alat pemandu dalam membantu para guru dalam melakukan
pengajaran tentang pengurangan risiko bencana kepada peserta didik di
sekolah sebagai upaya membangun kesiapsiagaan dan keselamatan dari
bencana di sekolah.
Membuka peluang dan membangun kreatiftas guru dalam menerapkan
pengetahuan tentang pengurangan risiko bencana yang disesuaikan
dengan konteks sekolah yang dibinanya
Memberikan gambaran secara lebih sistematis dan komprehensif cara
pengintegrasian pengetahuan tentang pengurangan risiko bencana
ke dalam mata pelajaran, muatan lokal dan pengembangan diri di
Sekolah.
Mendorong inisiatif para guru, sekolah dan gugus dalam mengupayakan
pengurangan risiko bencana dan membangun budaya keselamatan di
sekolah, lingkungan rumah dan lingkungan sekitar.
Semoga Modul Pengintegrasian Pengurangan Risiko Bencana ini menjadi
bermanfaat dan membantu bagi semua guru untuk meningkatkan pengetahuan,
meningkatkan ketrampilan dan membentuk sikap anak untuk menjadi lebih
tanggap terhadap ancaman bencana.
Jakarta, Desember 2009
Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan
Kementerian Pendidikan Nasional
Prof. Dr. H. Mansyur Ramly
SAMBUTAN
M
enyikapi situasi kejadian bencana dan kenyataan luasnya cakupan wilayah
tanah air yang memiliki berbagai ancaman bencana, pemerintah Indonesia
telah melakukan sejumlah inisiatif guna mengurangi risiko bencana ditanah
air. Pada akhir tahun 2006 Bappenas meluncurkan buku Rencana Aksi Nasional
Pengurangan Risiko Bencana (RAN PRB) 2006 – 2009, sebagai komitmen dalam
mengarusutamakan pengurangan risiko bencana dalam pembangunan nasional, yang
merupakan pelengkap dari Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN)
2005 – 2009 yang telah ada. Berdasarkan RAN PRB 2006 – 2009 tersebut, Pemerintah
telah mengalokasikan anggaran untuk program pencegahan dan pengurangan risiko
bencana, sebagaimana tertuang dalam Rencana Kerja Pemerintah (RKP) mulai tahun
2007. Lebih lanjut pada April 2007, Pemerintah menerbitkan Undang – Undang Nomor
24 Tahun 2007 tentang Penanggulangan Bencana, yang menjadi tonggak sejarah
dalam upaya penanggulangan bencana di Indonesia, dan diikuti dengan peraturan
turunannya, serta dibentuknya Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNBP)
melalui Peraturan Presiden Nomor 8 Tahun 2008.
Untuk mendukung prakarsa – prakarsa yang telah dimulai oleh Pemerintah Indonesia
tersebut, UNDP bekerjasama dengan Bappenas, BNPB dan Kementerian Dalam Negeri
telah menginisiasi sebuah program yang ditujukan untuk mewujudkan masyarakat
yang lebih aman melalui pengurangan risiko bencana dalam pembangunan atau
yang dikenal dengan Program Safer Communities Through Disaster Risk Reduction in
Development (SCDRR in Development). Program SCDRR ini kan berlangsung selama 5
tahun (2007 – 2012) dan dirancang untuk mendorong agar pengurangan risiko bencana
menjadi sesuatu yang lazim dalam proses pembangunan yang terdesentralisasi. Untuk
mewujudkan hal itu maka upaya pengarusutamaan pengurangan risiko bencana
kedalam proses pembangunan mutlak harus dijalankan. Upaya tersebut dilaksanakan
melalui 4 pilar sasaran program SCDRR, yaitu : (1) Diberlakukannya kebijakan, peraturan
dan kerangka kerja regulasi pengurangan risiko bencana; (2) Diperkuatnya kelembagaan
pengurangan risiko bencana dan kemitraan diantara mereka; (3) Dipahaminya risiko
bencana dan tindakan yang dapat diambil untuk mengurangi risiko tersebut oleh
masyarakat dan pengambil kebijakan melalui pendidikan dan penyadaran publik;
(4) Didemonstrasikannya pengurangan risiko bencana sebagai bagian dari program
pembangunan.
Terkait dengan sasaran ketiga mengenai perlunya pendidikan dan penyadaran
publik terhadap pengurangan risiko bencana, selama beberapa tahun ini pemerintah
bersama-sama beberapa lembaga swadaya masyarakat, dan institusi pendidikan di
tingkat nasional maupun daerah telah melakukan berbagai upaya dalam pendidikan
kebencanaan, termasuk memasukkan materi kebencanaan kedalam muatan lokal,
pelatihan untuk guru, kampanye dan advokasi, hingga school road show untuk kegiatan
simulation drill di sekolah-sekolah. Namun demikian, kegiatan-kegiatan tersebut belum
terkoordinasi dengan baik dan belum terintegrasi dalam satu kerangka yang dapat
DIREKTUR KAWASAN KHUSUS
DAN DAERAH TERTINGGAL, BAPPENAS
SELAKU NATIONAL PROJECT
DIRECTOR SCDRR
disepakati bersama. Dilain pihak, pemetaan aktivitas pendidikan diberbagai wilayah rawan
bencana di Indonesia serta intervensi dan dukungan peningkatan kapasitas untuk pendidikan
masih sangat minim dan terpusat, khususnya di wilayah Jawa dan Sumatera. Kajian kesiapsiagaan
masyarakat terhadap bencana yang telah dilakukan di berbagai wilayah menunjukkan rendahnya
tingkat kesiapsiagaan komunitas sekolah dibanding masyarakat serta aparat (LIPI, 2006 – 2007).
Hal ini sangat ironis, karena sekolah adalah basis dari komunitas anak-anak, yang merupakan
kelompok rentan yang perlu dlindungi dan secara bersamaan perlu ditingkatkan pengetahuan
dan keterampilannya.
Di sisi lain, tantangan dalam mengintegrasikan upaya-upaya pengurangan risiko bencana
kedalam sistem pendidikan juga telah banyak dikaji, seperti : (1) Beratnya beban kurikulum siswa;
(2) Kurangnya pemahaman guru mengenai bencana ; (3) Kurangnya kapasitas dan keahlian guru
dalam integrasi PRB kedalam kurikulum; (4) Minimnya panduan, silabus dan materi ajar yang
terdistribusi dan dapat diakses oleh guru; (5) Terbatasnya sumberdaya (tenaga, biaya dan sarana);
dan (6) Kondisi bangunan fsik sekolah, sarana dan prasarana pada ummnya memprihatinkan,
tidak berorientasi pada AMDAL dan konstruksi tahan gempa.
Untuk menjawab tantangan tersebut dan guna melaksanakan integrasi pengurangan risiko
bencana ke dalam sistem pendidikan, dalam rangka mewujudkan budaya aman dan siaga
bencana, maka SCDRR telah mendukung Kementerian Pendidikan Nasional dalam menyusun
Strategi Pengarusutamaan Pengurangan Risiko Bencana kedalam Sistem Pendidikan Nasional.
Strategi ini akan disahkan melalui suatu bentuk kebijakan ditingkat nasional yang diharapkan
dapat menjadi acuan bagi pelaksanaan integrasi PRB ke dalam sistem pendidikan baik intra
maupun ekstrakurikuler secara nasional.
Untuk mendukung implementasi kebijakan tesebut, maka SCDRR mendukung Pusat Kurikulum,
Kementerian Pendidikan Nasional dalam menyusun modul ajar dan modul pelatihan
pengintegrasian pengurangan risiko bencana ke dalam intra dan ekstrakurikuler. Modul-modul
ini berisi model pembelajaran, materi ajar lengkap dengan panduan pengajarannya, dalam hal
integrasi PRB kedalam intra dan ekstrakurikuler.
Diharapkan modul-modul yang disusun oleh Pusat Kurikulum Kementerian Pendidikan Nasional
ini dapat menjadi acuan standar dan/atau memperkaya bahan-bahan yang sudah ada dan sudah
disusun oleh berbagai pihak lainnya, sehingga dapat bermanfaat dan digunakan oleh praktisi
pendidikan dan pemangku kepentingan lainnya dalam rangka peningkatan kesiapsiagaan
sekolah terutama didaerah rawan bencana. Terima Kasih.
Jakarta, Desember 2009
Direktur Kawasan Khusus dan Daerah Tertinggal, Bappenas
Selaku National Project Director SCDRR
Dr.Ir Suprayoga Hadi, MSP
DAFTAR ISI
SAMBUTAN KEPALA PUSAT KURIKULUM iii
SAMBUTAN KEPALA BADAN PENELITIAN DAN PENGEMBANGAN,
KEMENTERIAN PENDIDIKAN NASIONAL v
SAMBUTAN DIREKTUR KAWASAN KHUSUS DAERAH TERTINGGAL
SELAKU NPD SC-DRR vii
DAFTAR ISI ix
DAFTAR TABEL xi
DAFTAR GAMBAR xiii
DAFTAR KOTAK xv
BAB I PENDAHULUAN 1
1.1 Landasan & Pedoman 1
1.1.1 Landasan Filosofs 3
1.1.2 Landasan Sosiologis 4
1.1.3 Landasan Yuridis 4
1.1.4 Pedoman Pengembangan Produk 4
1.1.5 Pengintegrasian Pengurangan Risiko Bencana ke dalam
Sistem Pendidikan Nasional 5
1.2 Kerangka Kerja Pendidikan untuk Pengurangan Risiko Bencana 7
1.2.1 Pendidikan untuk Pengurangan Risiko Bencana dan
Pendidikan untuk Pembangunan Berkelanjutan 7
1.2.2 Konsep Pendidikan untuk Pengurangan Risiko Bencana 8
BAB II FENOMENA DAN PERISTIWA KEBAKARAN 9
2.1 Fenomena Kebakaran 9
2.2 Peristiwa Kebakaran di Indonesia 11
BAB III PENGURANGAN RISIKO KEBAKARAN 12
3.1 Pengurangan Risiko Bencana 12
3.1.1 Pencegahan 12
3.1.2 Mitigasi 12
3.1.3 Kesiapsiagaan 13
Daftar Isi
x
3.2 Kesiapsiagaan 15
3.2.1 Tindakan Sebelum Terjadi Kebakaran 15
3.2.2 Tindakan Saat Terjadi Kebakaran 27
3.2.3 Tindakan Setelah Terjadi Kebakaran 33
BAB IV MATERI PEMBELAJARAN PENGURANGAN RISIKO KEBAKARAN 37
4.1 Identifkasi Materi Pembelajaran Pengurangan Risiko Kebakaran 37
4.2 Pemetaan Indikator Prilaku Siswa 39
4.3 Pendekatan Kegiatan Belajar Mengajar 40
BAB V PENGINTEGRASIAN PENGURANGAN RISIKO KEBAKARAN
KE DALAM KURIKULUM TINGKAT SATUAN PENDIDIKAN DASAR
(SD/MI) 43
5.1 Pengintegrasian Materi Pembelajaran
Pengurangan Risiko Kebakaran Ke Dalam Mata Pelajaran 43
5.1.1 Peta Integrasi Materi Pembelajaran
Pengurangan Risiko Kebakaran 43
5.1.2 Analisis Kompetensi Dasar dan Standar Kompetensi 43
5.1.3 Penyusunan Silabus Pengurangan Risiko Kebakaran 48
5.1.4 Penyusunan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran 59
5.1.5 Penyusunan Bahan Ajar 62
5.2 Pengembangan Model Muatan Lokal
Pengurangan Risiko Kebakaran 64
5.2.1 Analisis Konteks Pengembangan Muatan Lokal 64
5.2.2 Penyusunan Standar Kompetensi dan
Kompetensi Dasar Muatan Lokal 66
5.2.3 Penyusunan Silabus dan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran 68
5.3 Pengintegrasian Pengurangan Risiko Kebakaran
Dalam Program Pengembangan Diri 68
DAFTAR ISTILAH 74
DAFTAR PUSTAKA 76
DAFTAR TABEL
Tabel 4.1 Identifkasi Materi Pembelajaran
Pengurangan Risiko Kebakaran 38
Tabel 4.2 Indikator Prilaku Siswa 39
Tabel 5.1 Pemetaan SK/SD ke dalam mata pelajaran IPA, IPS.
Bahasa Indonesia dan Penjasorkes 44
Tabel 5.2 Silabus Integrasi Pengurangan Risiko Bencana Kebakaran
ke dalam mata pelajaran IPA kelas IV/1 52
Tabel 5.3 Silabus Integrasi Pengurangan Risiko Bencana Kebakaran
ke dalam mata pelajaran Bahasa Indonesia kelas IV/1 53
Tabel 5.4 Silabus Integrasi Pengurangan Risiko Bencana Kebakaran
ke dalam mata pelajaran Bahasa Indonesia kelas IV/2 55
Tabel 5.5 Silabus Integrasi Pengurangan Risiko Bencana Kebakaran
ke dalam mata pelajaran Bahasa Indonesia kelas V/1 56
Tabel 5.6 Silabus Integrasi Pengurangan Risiko Bencana Kebakaran
ke dalam mata pelajaran Bahasa Indonesia kelas V/2 57
Tabel 5.7 Silabus Integrasi Pengurangan Risiko Bencana Kebakaran
ke dalam mata pelajaran Bahasa Indonesia kelas VI/1 58
Tabel 5.8 Contoh Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar
Muatan Lokal Sekolah Dasar 68
Tabel 5.9 Kegiatan terprogram berupa kegiatan Pengembangan Diri 71

Daftar Tabel
xii
DAFTAR GAMBAR
Gambar 2.1 Kebakaran di perumahan padat penduduk 9
Gambar 2.2 Proses terjadinya El Nino 9
Gambar 3.1 Diagram proses terjadinya api 15
Gambar 3.2 Korek api 20
Gambar 3.3 Latihan cara keluar menyelamatkan diri jika terjadi
kebakaran 22
Gambar 3.4 Menyimpan selimut api dan pemadam api di dalam dapur 22
Gambar 3.5 Racun Api 25
Gambar 3.6 Hidran 25
Gambar 3.7 Detektor Asap 26
Gambar 3.8 Titik Panggil Manual 26
Gambar 3.9 Sprinkler 27
Gambar 3.10 Kebakaran di bangunan tinggi 29
Gambar 3.11 Pertolongan pertama pada luka bakar 32
Gambar 5.1 Peta Integrasi Materi Pembelajaran
Pengurangan Risiko Kebakaran 43
Gambar. 5.2 Skema Pengembangan Silabus 49

Daftar Gambar
xiv
Kotak 5.1.1 Rencana Pelaksanaan Pembelajaran Materi
Pengurangan Risiko Kebakaran 60
Kotak 5.2.1 bahan ajar Pengurangan Risiko Bencana Kebakaran
sekolah dasar/madrash ibtidaiyan 62
Kotak 5.3.1 Contoh bahan ajar Pengurangan Risiko Kebakaran
pada Program Pengembangan Diri
yaitu pada kegiatan pramuka 72
DAFTAR KOTAK
Daftar Kotak
xvi
1.1 Landasan dan Pedoman
B
erdasarkan hasil Konferensi Sedunia tentang Pengurangan Risiko Bencana
yang diselenggarakan pada tanggal 18-22 Januari 2005 di Kobe, Hyogo,
Jepang; dan dalam rangka mengadopsi Kerangka Kerja Aksi 2005-2015
dengan tema ‘Membangun Ketahanan Bangsa dan Komunitas Terhadap Bencana’
memberikan suatu kesempatan untuk menggalakkan suatu pendekatan yang
strategis dan sistematis dalam meredam kerentanan dan risiko terhadap bahaya.
Konferensi tersebut menekankan perlunya mengidentifkasi cara-cara untuk
membangun ketahanan bangsa dan komunitas terhadap bencana.
Pada bulan Januari 2005, lebih dari 4.000 perwakilan pemerintah, organisasi non-
pemerintah , institusi akademik, dan sektor swasta berkumpul di Kobe, Jepang, pada
World Conference on Disaster Reduction (WCDR) kesebelas. Konferensi tersebut
mengakhiri perundingan-perundingan tentang Kerangka Kerja Aksi Hyogo 2005-
2015 : Membangun Ketahanan Bangsa dan Komunitas terhadap Bencana (HFA).
Kerangka Aksi ini diadopsi oleh 168 negara dan menetapkan tujuan yang jelas
secara substansiil mengurangi kerugian akibat bencana, baik korban jiwa maupun
kerugian terhadap aset-aset sosial, ekonomi, dan lingkungan suatu masyarakat
dan negara dan merinci seperangkat prioritas untuk mencapai tujuan setindaknya
pada tahun 2015.
HFA menekankan bahwa pengurangan risiko bencana adalah isu sentral kebijakan
pembangunan, selain juga menjadi perhatian berbagai bidang ilmu, kemanusiaan,
dan lingkungan. Bencana merusak hasil-hasil pembangunan, memelaratkan rakyat
dan negara. Tanpa usaha yang serius untuk mengatasi kerugian akibat bencana,
bencana akan terus menjadi penghalang besar dalam pencapaian Sasaran
Pembangunan Milenium. Untuk membantu pencapaian hasil yang diinginkan,
HFA mengidentifkasi lima Prioritas Aksi yang spesifk: (1) Membuat Pengurangan
Risiko Bencana sebagai prioritas; (2) Memperbaiki informasi risiko dan peringatan
dini; (3) Membangun budaya keamanan dan ketahanan; (4) Mengurangi risiko pada
sektor-sektor utama; (5) Memperkuat kesiapan untuk bereaksi.
BAB I
PENDAHULUAN
Pendahuluan
2
HFA memberikan suatu kesempatan untuk menggalakkan suatu pendekatan yang
strategis dan sistematis dalam meredam kerentanan dan risiko terhadap bahaya.
Konferensi tersebut menekankan perlunya mengidentifkasi cara-cara untuk
membangun ketahanan bangsa dan komunitas terhadap bencana. Karena bencana
dapat diredam secara berarti jika masyarakat mempunyai informasi yang cukup dan
didorong pada budaya pencegahan dan ketahanan terhadap bencana, yang pada
akhirnya memerlukan pencarian, pengumpulan, dan penyebaran pengetahuan
dan informasi yang relevan tentang bahaya, kerentanan, dan kapasitas.
Oleh karena itu diperlukan usaha-usaha antara lain: (1) menggalakkan
dimasukkannya pengetahuan tentang pengurangan risiko bencana sebagai bagian
yang relevan dalam kurikulum pendidikan di semua tingkat dan menggunakan
jalur formal dan informal lainnya untuk menjangkau anak-anak muda dan anak-
anak dengan informasi; menggalakkan integrasi pengurangan risiko bencana
sebagai suatu elemen instrinsik dalam dekade 2005–2014 untuk Pendidikan bagi
Pembangunan Berkelanjutan (United Nations Decade of Education for Sustainable
Development); (2) menggalakkan pelaksanaan penjajagan risiko tingkat lokal
dan program kesiapsiagaan terhadap bencana di sekolah-sekolah dan lembaga-
lembaga pendidikan lanjutan; (3) menggalakkan pelaksanaan program dan
aktivitas di sekolah-sekolah untuk pembelajaran tentang bagaimana meminimalisir
efek bahaya; (4) mengembangkan program pelatihan dan pembelajaran tentang
pengurangan risiko bencana dengan sasaran sektor-sektor tertentu, misalnya: para
perancang pembangunan, penyelenggara tanggap darurat, pejabat pemerintah
tingkat lokal, dan sebagainya; (5) menggalakkan inisiatif pelatihan berbasis
masyarakat dengan mempertimbangkan peran tenaga sukarelawan sebagaimana
mestinya untuk meningkatkan kapasitas lokal dalam melakukan mitigasi dan
menghadapi bencana; (6) memastikan kesetaraan akses kesempatan memperoleh
pelatihan dan pendidikan bagi perempuan dan konstituen yang rentan; dan (7)
menggalakkan pelatihan tentang sensitivitas gender dan budaya sebagai bagian tak
terpisahkan dari pendidikan dan pelatihan tentang Pengurangan Risiko Bencana.
‘Kampanye Pendidikan tentang Risiko Bencana dan Keselamatan di Sekolah’
yang dikoordinir oleh UN/ISDR (United Nations/International Strategy for
Disaster Reduction) hingga penghujung tahun 2007 dengan didasari berbagai
pertimbangan. Anak-anak adalah kelompok yang paling rentan selama kejadian
bencana, terutama yang sedang bersekolah pada saat berlangsungnya kejadian.
Pada saat bencana, gedung sekolah hancur, mengurangi usia hidup murid sekolah
dan guru yang sangat berharga dan terganggunya hak memperoleh pendidikan
sebagai dampak bencana. Pembangunan kembali sekolah juga memerlukan waktu
yang tidak sebentar dan pastilah sangat mahal.
Kampanye ditujukan kepada murid sekolah dasar dan menengah, para guru,
pembuat kebijakan pendidikan, orangtua, insinyur dan ahli bangunan. Selain
itu juga ditujukan kepada lembaga pemerintah yang bertanggung-jawab atas
isu manajemen bencana, mendiknas, para pemimpin politik di tingkat nasional,
pembuat keputusan di masyarakat, dan otoritas lokal. Pesan yang bisa disampaikan
antara lain: (1) pendidikan tentang risiko bencana menguatkan anak-anak dan
membantu membangun kesadaran yang lebih besar isu tersebut di dalam
Modul Ajar Pengintegrasian Pengurangan Risiko Kebakaran untuk SD/MI
3
masyarakat; (2) fasilitas bangunan sekolah yang bisa menyelamatkan hidup dan
melindungi anak-anak sebagai generasi penerus bangsa dari suatu kejadian
bencana alam; dan (3) pendidikan tentang risiko bencana dan fasilitas keselamatan
di sekolah akan membantu negara-negara menuju ke arah pencapaian Tujuan
Pembangunan Millenium.
Sekolah dipercaya memiliki pengaruh langsung terhadap generasi muda,
yaitu dalam menanamkan nilai-nilai budaya dan menyampaikan pengetahuan
tradisional dan konvensional kepada generasi muda. Untuk melindungi anak-
anak dari ancaman bencana alam diperlukan dua prioritas berbeda namun tidak
bisa dipisahkan aksinya yaitu pendidikan untuk mengurangi risiko bencana dan
keselamatan dan keamanan sekolah.
Sekolah juga harus mampu melindungi anak-anak dari suatu kejadian bencana
alam. Investasi dalam memperkuat struktur gedung sekolah sebelum suatu
bencana terjadi, akan mengurangi biaya/anggaran jangka panjang, melindungi
generasi muda penerus bangsa, dan memastikan kelangsungan kegiatan belajar-
mengajar setelah kejadian bencana. Pendidikan di sekolah dasar dan menegah
membantu anak-anak memainkan peranan penting dalam penyelamatan hidup dan
perlindungan aset/milik masyarakat pada saat kejadian bencana. Menyelenggarakan
pendidikan tentang risiko bencana ke dalam kurikulum sekolah sangat membantu
dalam membangun kesadaran akan isu tersebut di lingkungan masyarakat.
Mengurangi risiko bencana dimulai dari sekolah. Seluruh komponen, dalam hal
ini anak-anak sekolah, para guru, para pemimpin masyarakat, orangtua, maupun
individu yang tertarik dengan pendidikan tentang risiko bencana dan keselamatan
di sekolah, lembaga swadaya masyarakat, organisasi kemasyarakatan, institusi lokal/
regional/nasional/ internasional, sektor swasta dan publik untuk dapat berpartisipasi
secara aktif. Keterlibatan media juga diperlukan untuk mendorong sebuah budaya
ketahanan terhadap bencana dan keterlibatan komunitas yang kuat dalam rangka
kampanye pendidikan publik secara terus-menerus dan dalam konsultasi publik di
segenap lapisan masyarakat. Bencana?! Jika Siap Kita Selamat.
Padatnya kurikulum pendidikan nasional tidak boleh kita jadikan alasan untuk tidak
melakukan kegiatan Pengurangan Risiko Bencana di sekolah secara berkelanjutan.
Pembelajaran Pengurangan Risiko Bencana di sekolah-sekolah bisa dilaksanakan
dengan mengintegrasikan materi Pembelajaran Pengurangan Risiko Bencana ke
dalam (1) mata pelajaran pokok/paket, (2) muatan lokal, dan (3) ekstrakurikuler dan
pengembangan diri. Atau secara khusus megembangkan dan menyelenggarakan
kurikulum muatan lokal dan ektrakurikuler/pengembangan diri yang didedikasikan
khusus untuk pendidikan pengurangan risiko bencana.
1.1.1 Landasan Filosofs
Bencana merupakan suatu bentuk gangguan terhadap kehidupan dan
penghidupan masyarakat, oleh karena itu, secara flosofs, pengurangan risiko
bencana merupakan bagian dari pemenuhan tujuan bernegara Republik
Indonesia, yaitu melindungi segenap rakyat dan bangsa, serta seluruh
tumpah darah Indonesia, memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan
kehidupan bangsa dan ikut melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan
kemerdekaan, perdamaian abadi, dan keadilan sosial.
Pendahuluan
4
Upaya melindungi segenap rakyat dan bangsa dikuatkan pula dengan hak
setiap orang atas perlindungan diri pribadi, keluarga, kehormatan, martabat,
dan harta benda yang dibawah kekuasaannya, serta berhak atas rasa aman
dari ancaman ketakutan untuk untuk berbuat atau tidak berbuat sesuatu yang
merupakan hak asasi, hak hidup sejahtera lahir batin, bertempat tinggal, dan
mendapatkan lingkungan hidup yang baik dan sehat serta berhak memperoleh
pelayanan kesehatan (Pasal 28G ayat (1) dan Pasal 28 H ayat (1) UUD 1945.
1.1.2 Landasan Sosiologis
Ada tiga pertimbangan sosiologis yang patut diketengahkan, yaitu Pertama
secara geografs, demografs dan geologis, Indonesia merupakan negara
rawan bencana, baik bencana alam dan bencana akibat ulah manusia, seperti
kegagalan atau mala praktik teknologi. Kedua, adalah bahwa perkembangan
ilmu pengetahuan dan teknologi, serta kondisi sosial masyarakat, telah
menimbulkan dampak negatif terhadap lingkungan yang berakibat pada
terjadinya bencana. Ketiga, adalah kondisi struktur manajemen bencana
itu sendiri. Kematian, cidera dan kerugian materi, serta masalah lingkungan
dan ekonomi dapat dikurangi apabila penyelenggaraan penanggulangan
bencana telah dilakukan secara komprehensif yang mencakup pendekatan
yang bersifat pencegahan, pengurangaan risiko, tindakan kesiapsiagaan
tindakan tanggap terhadap bencana, serta upaya pemulihan. Disamping itu,
pendekatan yang mengedepankan pentingnya partisipasi dari semua tingkat
pemerintahan, baik pemerintah pusat dan daerah, mengambil peran yang
aktif dalam menciptakan manajemen bencana yang efektif. Serta pentingnya
partisipasi publik dan pemangku kepentinga dalam penanganan bencana.
1.1.3 Landasan Yuridis
Pertimbangan yuridis adalah menyangkut masalah-masalah hukum serta peran
hukum dalam penanganan bencana. Hal ini dikaitkan dengan peran hukum
dalam pembangunan, baik sebagai pengatur perilaku, maupun instrumen
untuk penyelesaian masalah. Hukum sangat diperlukan, karena hukum atau
peraturan perundang-undangan dapat menjamin adanya kepastian dan
keadilan dalam penanganan bencana. Undang-Undang No.24 Tahun 2007
tentang Penanggulangan Bencana ditempatkan guna memberikan jawaban
atau solusi terhadap permasalahan yang berkaitan dengan penangan
bencana, merupakan landasan yuridis paling dekat untuk pelaksanaan usaha-
usaha pengurangan risiko bencana di Indonesia.
1.1.4 Pedoman Pengembangan Produk
Program pendidikan pengurangan risiko bencana (PRB) bertujuan untuk
meminimalisir risiko bencana dan meningkatkan kapasitas sekolah dalam
melaksanakan pengurangan risiko bencana, kesiapsiagaan, mitigasi, dan
peringatan dini. PRB oleh satuan pendidikan dapat dilakukan dengan cara
mengintegrasikan materi pendidikan pengurangan risiko bencana dalam
kurikulum yang berlaku di sekolah, mata pelajaran, muatan lokal, kegiatan
pengembangan diri dan ekstrakurikuler, dan bahan ajar.
Modul Ajar Pengintegrasian Pengurangan Risiko Kebakaran untuk SD/MI
5
Dasar hukum yang menjadi pedoman perancangan dan pengembangan serial
modul dan modul pelatihan adalah:
1. Undang-undang No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional
2. Undang-undang No. 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak
3. Undang-undang No. 24 Tahun 2007 tentang Penanggulangan Bencana
4. Undang-undang No. 17 Tahun 2007 tentang Rencana Pembangunan
Jangka Panjang Nasional Tahun 2005 - 2025
5. Peraturan Presiden No. 7 Tahun 2005 tentang Rencana Pembangunan
Jangka Menengah Nasional Tahun 2004 - 2009
6. Peraturan Pemerintah No. 19 Tahun 2005 tentang Standar Nasional
Pendidikan
7. Peraturan Presiden No. 8 Tahun 2008 tentang Badan Nasional
Penanggulangan Bencana
8. Peraturan Presiden No. 32 Tahun 2008 tentang Pengesahan ASEAN
Agreement on Disaster Management and Emergency Response (Persetujuan
ASEAN mengenai Penanggulangan Bencana dan Penanganan Darurat)
9. Peraturan Pemerintah No. 21 Tahun 2008 tentang Penyelenggaraan
Penanggulangan Bencana
10. Peraturan Mendiknas No. 22 Tahun 2006 tentang Standar Isi
11. Peraturan Mendiknas No. 23 Tahun 2006 tentang Standar Kompetensi
Lulusan
12. Peraturan Mendiknas No. 24 Tahun 2006 tentang Pelaksanaan Standar Isi
dan Standar Kompetensi Lulusan, yang disempurnakan dengan Peraturan
Mendiknas No. 6 Tahun 2007
13. Peraturan Mendiknas No. 40 Tahun 2006 tentang Organisasi dan Tata Kerja
Balitbang Depdiknas
14. Peraturan Mendiknas No. 50 Tahun 2007 tentang Standar Pengelolaan
Pendidikan oleh Pemerintah Provinsi
15. Peraturan Mendiknas No. 24 tTahun 2007 tentang Standar Sarana dan
Prasarana untuk SD/MI, SMP/MTs, dan SMA/MA
16. Surat Edaran Mendiknas No. 33/MPN/SE/2007 tentang Sosialisasi KTSP
1.1.5 Pengintegrasian Pengurangan Risiko Bencana ke dalam Sistem
Pendidikan Nasional
UU No.20/2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional Pasal 38 Ayat (2):
Kurikulum pendidikan dasar dan menengah dikembangkan sesuai dengan
relevansinya oleh setiap kelompok atau satuan pendidikan dan komite
sekolah/madrasah dibawah koordinasi dan supervisi dinas pendidikan atau
kantor departemen agama kabupaten/kota untuk pendidikan dasar dan
provinsi untuk pendidikan menengah
Pendahuluan
6
Kebijakan yang tertuang dalam Peraturan Pemerintah Nomor 19 Tahun
2005 tentang Standar Nasional Pendidikan menyatakan bahwa penyusunan
kurikulum merupakan tanggung jawab setiap satuan pendidikan (sekolah
dan madrasah). Oleh karena itu tidak lagi dikenal apa yang disebut dengan
kurikulum nasional, yang pada periode sebelumnya menjadi tanggung jawab
pemerintah pusat.
Dalam PP No. 19 Tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan Pasal 17
menyebutkan:
1. Kurikulum tingkat satuan pendidikan SD/MI/SDLB, SMP/MTs/SMPLB, SMA/
MA/SMALB, SMK/MAK, atau bentuk lain yang sederajat dikembangkan
sesuai dengan satuan pendidikan, potensi daerah/karakteristik daerah,
sosial budaya masyarakat setempat, dan peserta didik
2. Sekolah dan komite sekolah, atau madrasah dan komite madrasah,
mengembangkan kurikulum tingkat satuan pendidikan dan silabusnya
berdasarkan kerangka dasar kurikulum dan standar kompetensi lulusan,
dibawah supervisi dinas kabupaten/kota yang bertanggung jawab di
bidang pendidikan untuk SD, SMP, SMA, dan SMK dan departemen yang
mengurusi urusan pemerintahan di bidang agama untuk MI, MTs, MA, dan
MAK
Penjabaran kurikulum dilakukan dengan penyusunan silabus dan bahan ajar
sesuai dengan kondisi geografs dan demografs untuk daerah, kebutuhan,
potensi dan karkateristik satuan pendidikan dan peserta didik, yang selanjutnya
diimplementasikan dalam kegiatan pembelajaran. Dalam Permendiknas No.
24 Tahun 2006 tentang Pelaksanaan Standar Isi dan Standar Kompetensi
Lulusan Pasal 1:
1. Satuan pendidikan dasar dan menengah mengembangkan dan
menetapkan kurikulum tingkat satuan pendidikan dasar dan menengah
sesuai kebutuhan satuan pendidikan.
2. Satuan pendidikan dasar dan menengah dapat mengembangkan
kurikulum dengan standar yang lebih tinggi dari standar isi dan standar
kompetensi lulusan.
3. Kurikulum satuan pendidikan dasar dan menengah ditetapkan oleh
kepala satuan pendidikan dasar dan menengah setelah memperhatikan
pertimbangan dari Komite Sekolah atau Komite Madrasah.
Dalam Undang-Undang No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan
Nasional Pasal 32 Ayat 1, juga telah mengakomodasi kebutuhan pendidikan
bencana dalam terminologi ‘pendidikan layanan khusus’. Yakni “pendidikan
bagi peserta didik di daerah terpencil atau terbelakang, masyarakat adat
yang terpencil, dan/atau mengalami bencana alam, bencana sosial, dan tidak
mampu dari segi ekonomi”.
Modul Ajar Pengintegrasian Pengurangan Risiko Kebakaran untuk SD/MI
7
1.2 Kerangka Kerja Pendidikan untuk Pengurangan Risiko
Bencana
1.2.1 Pendidikan untuk Pengurangan Risiko Bencana dan Pendidikan untuk
Pembangunan Berkelanjutan
Pada bulan Desember 2002, Majelis Umum PBB mengadopsi resolusi 57/254
untuk menempatkan Dekade Pendidikan Bagi Pembangunan Berkelanjutan,
mulai 2005-2014, dibawah koordinasi UNESCO. Pendidikan untuk pengurangan
bencana (alam) telah diidentifkasi sebagai masalah inti yang akan dibahas
di bawah DESD. Pendidikan dipandang dalam konsep yang lebih luas.
Sebagaimana didefnisikan dalam Bab 36 dalam Agenda 21, “Pendidikan
sangat penting untuk mencapai perlindungan lingkungan dan kesadaran
etika, nilai-nilai dan sikap, keterampilan dan perilaku yang konsisten dengan
pembangunan berkelanjutan. Baik formal dan pendidikan non-formal sangat
diperlukan untuk pembangunan berkelanjutan “. Pendidikan dan pengetahuan
berkontribusi untuk meningkatkan kesadaran tentang bahaya (alam) serta
kerentanan dan ancaman yang ada yang dihadapi oleh masyarakat. Juga
memberikan kontribusi untuk menumbuhkembangkan keterampilan hidup.
Dasawarsa ini didukung oleh Kerangka Aksi Hyogo 2005 – 2015 yang
menyoroti pentingnya pendidikan dan pembelajaran sebagai bagian dari
prioritas aksi, menggunakan pengetahuan, inovasi dan pendidikan untuk
membangun sebuah budaya keselamatan dan ketahanan di semua tingkat.
Inisiatif pengurangan risiko bencana harus berakar di semua lembaga-
lembaga pendidikan, khususnya di sekolah-sekolah dan memasukkan dalam
program pendidikan. Pendidikan pengurangan risiko bencana yang mencakup
semua aspek peningkatan kesadaran publik, pendidikan dan pelatihan yang
bertujuan untuk menciptakan dan atau meningkatkan budaya pencegahan
melalui identifkasi dan pemahaman risiko, serta belajar mengenai langkah-
langkah pengurangan risiko bencana, dan tanggap bencana.
Oleh karena itu Pendidikan untuk Pengurangan Risiko Bencana - sebagai
bagian dari Pengurangan Risiko Bencana (PRB) - harus melekat dengan
Pendidikan untuk Pembangunan Berkelanjutan (Education for Sustainable
Development - ESD), dan mendukung kerangka ESD yang mencakup 3 aspek,
yaitu:
1. Pendidikan untuk pengurangan risiko bencana adalah interdisipliner.
Oleh karena itu, pertimbangan penting diberikan kepada dampak, dan
hubungan antara, masyarakat, lingkungan, ekonomi dan budaya.
2. Pendidikan untuk pengurangan risiko bencana dan meningkatkan
pemikiran kritis dan pemecahan masalah, dan ketrampilan hidup sosial dan
emosional untuk pemberdayaan kelompok rentan atau terkena bencana.
3. Pendidikan untuk pengurangan risiko bencana mendukung Tujuan
Pembangunan Milenium. Tanpa mempertimbangkan Pengurangan Risiko
Bencana dalam perencanaan pembangunan, semua upaya pembangunan
termasuk inisiatif DESD dihancurkan dalam hitungan detik.
Pendahuluan
8
Kerangka kerja Pendidikan untuk pengurangan risiko bencana atau pendidikan
pengurangan risiko bencana dikembangkan mengikuti arahan UN-ISDR
sebagai berikut: “Pendidikan pengurangan risiko bencana adalah sebuah
proses pembelajaran bersama yang bersifat interaktif di tengah masyarakat
dan lembaga-lembaga yang ada. Cakupan pendidikan pengurangan risiko
bencana lebih luas daripada pendidikan formal di sekolah dan universitas.
Termasuk di dalamnya adalah pengakuan dan penggunaan kearifan tradisional
dan pengetahuan lokal bagi perlindungan terhadap bencana alam.”
HFA pada PRIORITAS AKSI 3, Poin Aktivitas kunci termaktub rekomendasi
bahwa PRB dimasukkan dalam kurikulum sekolah, pendidikan formal dan
informal.
“Menggalakkan dimasukkannya pengetahuan pengurangan risiko bencana
dalam bagian yang relevan dalam kurikulum sekolah di semua tingkat dan
menggunakan jalur formal dan informal lainnya untuk menjangkau pemuda
dan anak-anak; menggalakkan integrasi pengurangan risiko bencana sebagai
suatu elemen intrinsik Dekade Pendidikan untuk Pembangunan Berkelanjutan
(2005-2015) dari PBB “.
1.2.2 Konsep Pendidikan untuk Pengurangan Risiko Bencana
Pendidikan Pengurangan Risiko Bencana adalah usaha sadar dan terencana
dalam proses pembelajaran untuk memberdayaan peserta didik dalam upaya
untuk pengurangan risiko bencana dan membangun budaya aman serta
tangguh terhadap bencana. Pendidikan PRB lebih luas dari penddidikan
bencana, bahkan lebih dari pendidikan tentang pengurangan risiko bencana.
Tetapi mengembangkan motivasi, ketrampilan, dan pengetahuan agar
dapat tertindak dan mengambil bagian dari upaya untuk pengurangan risiko
bencana.
Tujuan pendidikan untuk pengurangan risiko bencana adalah:
1. Menumbuhkembangkan nilai dan sikap kemanusiaan
2. Menumbuhkembangkan sikap dan kepedulian terhadap risiko bencana
3. Mengembangkan pemahaman tentang risiko bencana, pemahaman tentang
kerentanan sosial, pemahaman tentang kerentanan fsik, serta kerentanan
prilaku dan motivasi,
4. Meningkatkan pengetahuan dan ketrampilan untuk pencegahan dan
pengurangan risiko bencana, pengelolaan sumberdaya alam dan lingkungan
yang bertanggungjawab, dan adaptasi terhadap risiko bencana
5. Mengembangkan upaya untuk pengurangan risiko bencana diatas, baik secara
individu maupun kolektif
6. Meningkatkan pengetahuan dan ketrampilan siaga bencana
7. Meningkatkan kemampuan tanggap darurat bencana
8. Mengembangkan kesiapan untuk mendukung pembangunan kembali
komunitas saat bencana terjadi dan mengurangi dampak yang disebabkan
karena terjadinya bencana
9. Meningkatkan kemampuan untuk beradaptasi dengan perubahan besar dan
mendadak
2.1 Fenomena Kebakaran
Kebakaran selalu menghantui warga di perkotaan dimana terdapat banyak
kelurahan rawan kebakaran di seluruh wilayah Indonesia. Umumnya kelurahan-
kelurahan itu padat penduduk, rumahnya berdempetan, akses jalan sempit, dan
banyak instalasi listrik yang tidak sesuai aturan.
Gambar 2.1 Kebakaran di perumahan padat penduduk
El Nino merupakan fenomena alam yang terjadi secara natural setiap tahun.
Terjadinya El Nino ini disebabkan temperatur di perairan tropis di bagian timur
Samudra Pasifk bertambah panas secara tidak wajar yang menyebabkan terjadinya
pergerakan uap air. Udara yang lebih panas tersebut pada akhirnya menimbulkan
kekeringan di sejumlah kawasan Asia Pasifk, seperti Indonesia.
Gambar 2.2 Proses terjadinya El Nino
FENOMENA DAN PERISTIWA
KEBAKARAN
BAB II
Fenomena dan Peristiwa Kebakaran
10
Pengaruh El Nino di Jawa Barat telah menyebabkan kelembapan udara di Kota
Bandung dan wilayah lainnya di Jabar sangat rendah. Jika biasanya saat musim
kemarau kelembapan udara Kota Bandung mencapai 75 persen, kini hanya sekitar
40 persen. Akibatnya, musibah kebakaran dan kesulitan air lebih rentan terjadi pada
masa ini.
Kebakaran pemukiman adalah sebuah risiko maka kita akan berupaya sekuat
tenaga untuk menghindari risiko kebakaran, kita semua akan berhati-hati dalam
menggunakan dan memperlakukan kompor, lilin, rokok, lampu tempel dan listrik
untuk menghindari risiko kebakaran, termasuk juga dalam menata ruangan, akses
masuk dan lain sabagainya.
Di Jakarta, listrik dan kompor merupakan penyebab utama kebakaran untuk rumah
tangga. Selama 10 tahun terakhir telah terjadi lebih dari 800 kebakaran setiap tahun
atau sekitar 2 hingga 3 kali kebakaran per hari, dengan korban meninggal mencapai
27 jiwa dan kerugian langsung mencapai nilai Rp 250 miliar setiap tahunnya.
Lebih dari 45 persen kebakaran terjadi di bangunan permukiman, dan lebih dari
25 persen terjadi di bangunan umum, seperti pasar tradisional, usaha kecil dan
menengah, dan industri manufaktur. Kebakaran telah memberikan dampak
kepada lebih dari 22.000 orang setiap tahunnya. Dengan demikian kebakaran
sangat berpotensi meninggalkan trauma pada masyarakat luas, dan menyebabkan
kerugian perekonomian masyarakat luas.
Dari berbagai penelitian yang dilakukan, tampak bahwa kecerobohan atau
ketidakdisiplinan, bersama dengan kegagalan peralatan, dan sistem proteksi
yang tidak memadai sering kali menjadi penyebab utama kecelakaan, termasuk
terjadinya kebakaran. Untuk itu, hal utama yang dapat dilakukan adalah dengan
melakukan upaya pencegahan dengan membangun disiplin teknik keselamatan
kebakaran yang memfokuskan upaya pencegahan dan penanganan kebakaran
sejak suatu bangunan dirancang dan dioperasikan.
Di Inggris disiplin ini dikenal sebagai fre engineering, dan di Amerika Serikat dikenal
sebagai fre protection engineering. Terminologi fre safety engineering relatif baru
digunakan untuk menjelaskan disiplin yang memanfaatkan prinsip-prinsip sains
(matematika, fsika, kimia, statistika) dan teknik (termodinamika, mekanika fuida,
perpindahan kalor dan massa, mekanika benda padat) untuk melindungi manusia,
lingkungan buatan dan lingkungan alamiah.
Fenomena kebakaran merupakan kejadian unik dan khas Indonesia yang
nampaknya sebagai konsekwensi dari meningkatnya perumahan atau permukiman
padal penduduk di perkotaan yang kerap kumuh sehingga kurang memperhatikan
ketentuan dan persyaratan keamanan terhadap bahaya kebakaran. Kebakaran
besar ini jelas berimplikasi luas menyangkut aspek sosial, ekonomi, psikologis
massa, politik dan lingkungan.
Kebakaran jenis ini (kebakaran gedung dan permukiman) pada dasarnya adalah
disebabkan oleh kalalian manusia, yaitu karena pemilihan bahan bangunan yang
mudah terbakar, pemasangan instalisi listrik yang tidak sesuai dengan aturan,
pemakaian alat elektronik yang tidak terpantau dengan baik.
Modul Ajar Pengintegrasian Pengurangan Risiko Kebakaran untuk SD/MI
11
2.2 Peristiwa Kebakaran Di Indonesia
Sementara itu, berkaitan dengan kebakaran pemukiman yang terjadi di Jakarta
berdasarkan data Dinas Pemadam Kebakaran dan Penanggulangan Bencana,
korsleting arus pendek listrik masih menjadi faktor tertinggi penyebab terjadinya
kebakaran. Sepanjang tahun 2009, ada sekitar 191 kebakaran yang disebabkan
karena korsleting listrik dari total kebakaran yang jumlahnya mencapai 316 kasus.
Sementara penyebab lain dari kebakaran seperti akibat ledakan kompor ada
sekitar 34 kasus, lampu tempel tiga kali dan rokok delapan kasus. Dari jumlah
kasus kebakaran tersebut, sedikitnya menyebabkan kerugian material sebesar Rp
83,2 miliar. Sedangkan luas areal yang terbakar mencapai 85.779 meter persegi.
Kebakaran juga menyebabkan 6.457 jiwa kehilangan tempat tinggal atau sekitar
1.724 Kepala Keluarga (KK). Adapun waktu terjadinya kebakaran, terjadi siang hari
99 kasus, malam hari 85 kasus, pagi hari 75 kasus, dan dini hari 57 kasus.
Berdasarkan data diatas untuk mengurangi risiko kebakaran maka perlu di sekolah-
sekolah diberikan Pendidikan Pengurangan Risiko Bencana dalam bentuk PRB
yang di integrasikan ke mata pelajaran, program pengembangan diri dan muatan
lokal. Dengan harapan sekolah (guru,karyawan,siswa) memiliki kompetensi yang
dapat digunakan untuk mengurangi risiko kebakaran baik kebakaran pemukiman
maupun kebarakan hutan.
Api kecil jadi sahabat api besar jadi lawan. Kata-kata ini mungkin dulu sering kita
dengar tetapi belum tentu benar karena api besar kita butuhkan untuk berbagai
keperluan kita yang bermanfaat. Api kecil juga bisa membuat masalah yang tidak
dikehendaki jika tidak sesuai dengan pemanfaatan yang kita inginkan. Api bisa
merusak semuanya dan apapun yang ia sentuh. Cobalah lihat data statistik di
daerah anda, bahkan dinegara kita berapa kali terjadi kebakaran dan berapa yang
terluka hingga kehilangan nyawa serta berapa kerugian yang diakibatkannya.
Upaya pemerintah sendiri dalam melakukan sosialisasi dan penyuluhan pencegahan
kebakaran kepada masyarakat dirasakan masih belum efektif. Media cetak dan
elektronik umumnya juga lebih tertarik meliput kebakaran sebagai kecelakaan
ketimbang mengungkap akar penyebabnya.
Indonesia sampai kini belum mempunyai angka statistik nasional tentang nilai
ekonomi kerugian kebakaran baik korban jiwa, luka-luka, maupun harta benda.
Dengan demikian persepsi kebakaran sebagai risiko belum dipahami dari aspek
nilai ekonomi.
Sedangkan pendidikan proteksi kebakaran yang ada masih sangat bersifat
sementara belum merupakan kebutuhan pokok. Saat ini belum ada sekolah
kebakaran terakreditasi. Yang ada, hanyalah diklat kebakaran milik pemerintah
DKI Jakarta dan Kursus kilat yang lebih diminati karena sertifkat yang diterbitkan
ketimbang kompetensinya. Di lain pihak sampai saat ini, perguruan tinggi yang
membuka program studi kebakaran masih sangat terbatas sekali.
Agar bangunan seperti rumah, kantor, sekolah, gudang dan lain sebagainya tidak
terbakar dan menimbulkan kebakaran, maka diperlukan pencegahan kebakaran
dengan cara memberikan pendidikan pengurangan risiko bencana (kebakaran)
kepada siswa dengan berbagai pengetahuan, tips dan trik untuk mencegah
terjadinya kebakaran.
BAB III
PENGURANGAN RISIKO
KEBAKARAN
3.1 Pengurangan Risiko Kebakaran
Langkah-langkah pengurangan Risiko bencana dipahami sebagai pengembangan
dan penerapan secara luas dari kebijakan-kebijakan, strategi-strategi dan praktek-
praktek untuk meminimalkan kerentanan dan risiko bencana di masyarakat yang
berbasis masyarakat. Upaya mengurangi risiko bencana dilakukan melalui tiga
langkah yaitu:
3.1.1 Pencegahan
Pencegahan adalah serangkaian kegiatan yang dilakukan sebagai upaya untuk
menghilangkan dan atau mengurangi ancaman bencana. Sebagai contoh,
untuk mencegah terjadinya kebakaran dilakukan tindakan pemasangan
instalasi listrik yang benar, pemilihan bahan bangunan yang tidak mudah
terbakar, jangan menempatkan bahan yang mudah terbakar di dekat sumber
dan sebagainya.
3.1.2 Mitigasi
Mitigasi adalah serangkaian upaya untuk mengurangi risiko bencana, baik
melalui pembangunan fsik maupun penyadaran dan peningkatan kemampuan
menghadapi ancaman bencana.Tindakan mitigasi disebut sebagai tindakan
struktural dan non struktural. Tindakan mitigasi yang bersifat struktural
contohnya adalah pemasangan instalasi listrik oleh orang yang propesinal,
bahan bangunan yang tidak mudah terbakar seperti kerangka baja ringan
untuk kap rumah. Tindakan mitigasi yang bersifat non struktural misalnya
pelatihan untuk membangun kepedulian masyarakat terhadap bahaya yang
dihadapi, pelatihan dan pengorganisasian sukarelawan bagi kegiatan bencana
kebakaran.
Tujuan pokok dari tindakan mitigasi adalah:
a. Mengurangi ancaman
Sebagian bencana tidak dapat dicegah agar tidak terjadi, tetapi ancamannya
dapat dikurangi. Misalnya: struktur bangunan yang tahan api.
Modul Ajar Pengintegrasian Pengurangan Risiko Kebakaran untuk SD/MI
13
b. Mengurangi kerentanan
Berbagai faktor seperti factor fsik, social, ekonomi maupun kondisi geografs
dapat menurunkan kemampuan masyarakat untuk mempersiapkan
diri maupun menanggulangi dampak akibat bahaya kebakaran. Hal
terpenting dalam kegiatan pengelolaan risiko bencana kebakaran adalah
menurunkan kerentanan sehingga masyarakat menjadi tahan terhadap
bencana kebakaran.
c. Meningkatkan kapasitas
Kapasitas merupakan kemampuan masyarakat dalam menghadapi bencana
pada semua tahapannya, melalui berbagai sistem yang dikembangkannya.
Contoh peningkatan kapasitas adalah dalam menghadapi kebakaran
yang bersifat musiman, kelompok masyarakat memiliki posko kebakaran
yang akan siap setiap kebakaran terjadi. Peningkatan kapasitas juga
bisa dilakukan dengan meningkatkan penyediaan sarana dan prasarana
penanggulangan kebakaran, pelatihan tanggap darurat, dan sebagainya.
3.1.3 Kesiapsiagaan
Kesiapsiagaan adalah serangkaian tindakan yang dilakukan untuk meng-
antisipasi bencana melalui pengorganisasian serta melalui langkah yang tepat
guna dan berdaya guna. Sebagai contoh: membangun system peringatan dini,
penyiapan jalur evakuasi bila terjadi bencana, laztihan simulasi bencana.
Kesiapsiagaan diri, keluarga dan sekolah akan sangat membantu dalam
mengurangi dampak bencana, baik kerugian harta maupun korban jiwa,
Kesiapsiagaan dimulai dengan langkah-langkah sebagai berikut:
1. Memahami potensi ancaman yang ada di daerah masing-masing
2. Memahami penyebab atau tanda-tanda akan terjadinya bencana
3. Memahami apa yang harus dipersiapkan dan yang harus dilakukan baik
sebelum, saat dan sesudah bencana.
Tingkat kerentanan perkotaan di Indonesia adalah suatu hal yang sangat
penting untuk diketahui sebagai salah satu hal yang berpengaruh terhadap
terjadinya bencana alam.
Tingkat kerentanan kota-kota besar di Indonesia dapat ditinjau dari kerentanan
fsik , sosial kependudukan, dan ekonomi. Kerentanan fsik menggambarkan
tingkat kerusakan terhadap fsik bila ada faktor berbahaya tertentu. Melihat dari
berbagai faktor seperti persentase kawasan terbanguin, kepadatan bangunan,
persentase bangunan konstruksi darurat, jaringan listrik, rasio panjang jalan,
jaringan telekomunikasi, jaringan PDAM, jaringan rel KA, maka perkotaan di
Indonesia dapat dikatakan berada pada kondisi yang sangat rentan karena
persentase di antara unsur-unsur tersebut sangat rendah.
Kerentanan sosial menunjukkan tingkat kerentanan terhadap keselamatan
jiwa/kesehatan penduduk apabila ada bahaya. Dari beberapa indikator antara
lain kepadatan pendusuk, laju pertumbuhan penduudk, persentase penduduk
usia tua-balita dan penduduk wanita, maka kota-kota bsar di Indonesia
Pengurangan Risiko Kebakaran
14
memiliki kerentanan sosial yang sangat tinggi. Belum lagi jika kita melihat
kondisi sosial saat ini yang semakin rentan terhadap bncana non-alam, seperti
rentannya kondisi sosial masyarakat terhadap kerusuhan, tingginya angka
pengangguran, instabilitas politik, dan tekanan ekonomi.
Kerentanan ekonomi menggambarkan besarnya kerugian atau rusaknya
kegiatan ekonomi (proses ekonomi) yang terjadi bila ada ancaman bahaya.
Indikator yang dapat kita lihat menunjukkan tingkat kerentanan ini misalnya
persentase rumah tangga yang bekerja pada sektor rentan (jasa dan distribusi)
dan persentase rumah tangga miskin.
Beberapa kerentana fsik, sosial, dan ekonomi tersebut di atas`menunjukkan
bahwa kota-kota besar di Indonesia memiliki kerentanan yang tinggi , sehingga
hal ini menyebabkan tingginya risiko terjadi bencana.
Tingginya risiko kebakaran gedung dan pemukinan pada berbagai fungsi atau
penggunaan bangunan dapat dinyatakan dengan analisis sebagai berikut:
1. Adanya risiko kebakaran karena hadirnya faktor-faktor penyebab
kebakarana di setiap tempat dalam kehidupan sehari-hari, seperti: listrik
dan peralatan rumah tangga yang menggunakan listrik, kompor (gas atau
listrik), lampu tempel/lilin, rokok, obat nyamuk bakar, membakar sampah,
dan kembang api/petasan. Kondisi ini apabila dipicu oleh tindakan yang
salah atau lalai dapat memunculkan terjadinya kebakaran.
2. Ketiadaan sarana pemadan kebakaran pada suatu lingkungan atau
bangunan. Atau kurang terawatnya sarana peringatan dini (sistem alarm
kebakaran) dan sarana pemadam kebakaran; sehingga dalam banyak
kasus ditemukan berbagai sarana pemadaman kebakaran yang tidak
berfungsi. Kondisi ini secara jelas berperan mengurangi atau melemahkan
kemampuan suatu lingkungan atau bangunan gedung dalam mencegah
dan menanggulangi kebakaran apabila suatu saat terjadi.
3. Perilaku orang-orang pada suatu lingkungan atau yang menghuni
bangunan yang cenderung ceroboh/lalai, rendahnya kesadaran menjaga
lingkungan, kurang pengetahuan tentang bahaya api, pembiaran
terhadap anak-anak yang bermain api, keterpaksaaan karena keterbatasan
ekonomi serta vandalisme. Kesemuanya ini merupakan faktor yang ikut
menyumbangkan tingkat kerawanan terhadap kebakaran pada suatu
bangunan atau lingkungan.
Upaya pengurangan risiko kebakaran di lingkungan sekolah dapat dilakukan
melalui tindakan-tindakan sebagai berikut:
a. Melengkapi bangunan sekolah dengan sarana proteksi kebakaran dan
sarana jalan keluar/penyelamatan jiwa
b. Memberikan penyuluhan atau pelatihan pencegahan dan penanggulangan
kebakaran kepada kepala sekolah, guru, dan tenaga pendidikan
c. Memberikan materi pembelajaran pengurangan risiko, termasuk risiko
kebakaran kepada siswa
d. Menyediakan panduan/prosedur tetap untuk menghadapi bencana
Modul Ajar Pengintegrasian Pengurangan Risiko Kebakaran untuk SD/MI
15
3.2 Kesiapsiagaan
3.2.1 Tindakan Sebelum Terjadi Kebakaran
Karakteristik ancaman
a. Pengertian Api
Api, adalah reaksi kimia yang terjadi secara berantai dan cepat antara
bahan bakar, zat asam, dan panas dalam perbandingan yang sesuai diikuti
dengan evolusi pengeluaran cahaya dan panas.
b. Pengertian Kebakaran
Adalah bentuk nyala api yang sudah tak terkendali
c. Pengertian Titik Nyala
Adalah tingkatan energi bahan untuk terbakar pada suhu bakarnya, yakni
suhu terendah saat bahan bakar mulai terbakar.
d. Terjadinya Api
Berikut ini diagram proses terjadinya api. Api terjadi ketika tiga unsur
penyebabnya tersedia.

Gambar 3.1 Diagram proses terjadinya api.
e. Bahan Bakar
Bahan bakar adalah materi atau zat yang dapat seluruhnya atau sebagian
mengalami perubahan secra kimia dan fsika bila terbakar. Bahan bakar
dapat berbentuk padat, cair maupun gas.
Gas: Gas alam, Acetylene, Propane, Hidrogen, Butan dll
Cairan: Bensin, Minyak tanah, Turpentine, cat, varnish, alkohol dll
Padat: Batubara, Kayu, kertas, kain, plastik dll
Pengurangan Risiko Kebakaran
16
f. Oksigen
Oksigen adalah unsur kimia pembakar, yang terdapat dalam jumlah yang
cukup di udara (sekitar 21 %). Oksigen merupakan unsur pembentuk api
karena reaksi pembakaran yang ditimbulkan.
Sebagian besar bahan bakar memerlukan paling sedikit 15% oksigen untuk
dapat menimbulkan api untuk serangkaian reaksi kimia. sementara udara
normal kita mengandung kurang lebih 21 % oksigen, suatu kadar yang
cukup untuk menimbulkan api/kebakaran. Oksigen yang ditambahkan
dengan bahan bakar dalam suatu reaksi kimia disebut oksidasi
g. Sumber Panas
Beberapa jenis sumber panas diantaranya:
Sinar matahari
Matahari merupakan sumber utama panas. Sinar matahari dapat
memanaskan permukaan atau uap/gas dan kalau uap itu mencapai
titik nyala sendiri dan terdapat oksigen maka nyala api / kebakaran bisa
terjadi.
Kobaran Api Terbuka
Penggunaan api pada tempat-tempat dimana terdapat bahan mudah
terbakar.
Gesekan)
Reaksi kimia penyebab kebakaran
Adanya dua zat kimia atau lebih, bila bercampur, dapat menimbulkan
reaksi. Beberapa reaksi kimia mengeluarkan panas (eksoterm). Panas
yang dikeluarakan oleh reaksi kimia tersebut dapat menyebabkan
timbulnya uap (gas) atau membakar uap yang sudah ada di dekatnya.
Penggabungan panas, uap dan Oksigen (dari reaksi atau yang
terdapat dalam atmosfr) dapat menyebabkan kebakarn. Kebakaran ini
disebabkan oleh reaksi kimia atau tidak adnya sumber panas dari luar,
disebut kebakaran spontan.
Listrik
Kebakaran paling banyak disebabkan panas sehingga dapat menyulut
bahan mudah terbakar.
Percikan listrik
Percikan listrik adalah suatu sentakan keluarnya arus yang secara tiba-
tiba mempunyai energi cukup tinggi untuk menyulut bahan mudah
terbakar yang terdapat disekitarnya.
Loncatan listrik
Loncatan listrik Adalah energi listrik yang meloncat diantara 2 titik.
Contoh : Busi
Tahanan listrik
Semua konduktor memiliki tahan tersendiri terhadap arus listrik. Energi
listrik yang hilang dalamtahanan diubah menjadi panas dan atau cahaya
Modul Ajar Pengintegrasian Pengurangan Risiko Kebakaran untuk SD/MI
17
(lampu, alat pemanas listrik dan kompor listrik). Semua memanfaatkan
tahanan listrik agar berfungsi).
Percikan listrik statis
Terjadi ketika dua zat berbeda muatan listrik mengalami kontak.
Kalaun kedua zat tersebut tidak dihubungkan ke tanah (bounded atau
grounded) untu mecegah timbulnya percikan listrik statis, penyalaan
uap mudah terbakar dapat terjadi.
Pemampatan / pemadatan
Bila udara atau gas yang dipadatkan/ditekan dengan suatu tekanan
yang melebihi tekanan normal, hal ini bisa menyebabkan panas atau
ledakan.
h. Jenis Pemindahan Panas
Konduksi
Perpindahan panas melalui zat perantara. Panas merambat melalui
dinding pemisah ruangan, bagian dinding pada ruangan berikutnya
menerima kalor atau panas yang dapat membakar permukaan benda-
benda yang terletak pada dinding-dinding tersebut.
Konveksi
Perpindahan panas dari tekanan tinggi ke tekanan rendah. Panas
merambat melalui bagian bangunan yang terbuka seperti tangga dan
koridor gang dengan media pengantar udara..
Radiasi
Perpindahan panas dalam bentuk pancaran. Panas merambat antara
ruang dan bangunan yang berdekatan. hal ini akan lebih cepat terjadi
jika sebaran api dibantu oleh tekanan udara atau angin kearah bangunan
lainnya.
i. Klasifkasi jenis kebakaran
Jenis kebakaran berdasarkan materi atau benda yang terbakar dapat dibagi
menjadi 4 (empat) kelas, sebagai berikut:
Kebakaran Klas A
Kebakaran dari bahan biasa yang mudah terbakar seperti: kayu, kertas,
pakaian dan sejenisnya. Jenis alat pemadam: yang menggunakan air
harus digunakan sebagai alat pemadam pokok.
Kebakaran Klas B
Kebakaran bahan cairan yang mudah terbakar seperti minyak bumi,
gas, lemak dan sejenisnya. Jenis alat pemadam yang digunakan adalah
jenis busa sebagai alat pemadam pokok.
Kebakaran Klas C
Kebakaran listrik (seperti kebocoran listrik, korsleting) termasuk
kebakaran pada alat-alat listrik. Jenis alat pemadam: yang digunakan
adalah jenis kimia dan gas sebagai alat pemadam pokok.
Pengurangan Risiko Kebakaran
18
Kebakaran Klas D
Kebakaran logam seperti Zeng, Magnesium, serbuk Aluminium, Sodium,
Titanium dan lain-lain. Jenis alat pemadam: yang harus digunakan
adalah jenis khusus yang berupa bubuk kimia kering.
j. Gas Beracun Hasil Pembakaran
Mengapa asap menjadi penyebab utama selain api itu sendiri?
Hal ini dikarenakan asap mengandung bermacam-macam gas beracun
yang dihasilkan oleh peristiwa pembakaran.
Beberapa gas beracun yang paling banyak dan selalu ada pada peristiwa
kebakaran dapat dilihat dibawah ini.
 Karbon monoksida

Karbon monoksida (CO) adalah pembunuh terbesar dalam peristiwa
kebakaran karena tingkat kehadirannya yang sangat tinggi dan
juga cepatnya ia mencapai konsentrasi mematikan pada peristiwa
kebakaran. Karbon monoksida adalah hasil produksi dari pembakaran
tidak sempurna yang dihasilkan dari pembakaran senyawa-senyawa
organic dan berbagai bentuk karbon. Sering juga kematian akibat
karbon monoksida terjadi akibat masuknya asap knalpot ke kabin
mobil.
Karbon monoksida berbahaya karena ia adalah gas yang tidak berbau,
tidak berwarna, dan tidak terlihat. Gas ini mematikan pada konsentrasi
1,28 persen volume dalam udara dalam 1 sampai 3 menit; 0,64 persen
mematikan dalam 10 sampai 15 menit; 0,32 persen mematikan dalam
30 sampai 60 menit, dan 0,16 persen mematikan dalam waktu 2 jam.
Pada konsentrasi 0,05 persen gas ini tetap menyimpan bahaya.
Karbon dioksida

Karbon dioksida adalah hasil dari pembakaran sempurna senyawa
organic atau senyawa karbon. Bertambahnya konsentrasi karbon
dioksida akan mengakibatkan meningkatnya kecepatan pernafasan;
sampai di mana tubuh tidak mampu lagi. Kegagalan pernafasan
akhirnya akan terjadi.
Karbon dioksida dalam jumlah yang sangat banyak dapat mengakibatkan
sesak nafas karena kekurangan oksigen dalam darah, selain itu juga
dapat berfungsi sebagai bahan pemadam api. Konsentrasi lebih dari
5 persen di lingkungan dapat merupakan tanda bahaya, bukan karena
keberadaannya akan tetapi karena kondisi tersebut adalah kondisi yang
jauh dari kondisi normal.
Hidrogen sianida

Walau Hidrogen sianida (HCN) jauh lebih beracun dari Karbon
monoksida tetapi dalam kebakaran,biasanya, jumlahnya sangat kecil.
Pada konsentrasi 100 ppm dapat menyebabkan kematian dalam waktu
30 sampai 60 menit. Hidrogen sianida dihasikan dari pembakaran
senyawan hirokarbon terklorinasi di udara, plastik, kulit karet, sutra,
Modul Ajar Pengintegrasian Pengurangan Risiko Kebakaran untuk SD/MI
19
wool, atau juga kayu. Seperti halnya karbon monoksida hydrogen
sianida lebih ringan dari udara sehingga tingkat bahayanya lebih tinggi
pada kebakaran dalam ruangan, dibanding kebakaran luar ruangan.
Phosgene

Phosgene juga dihasilkan pada dekomposisi atau pembakaran senyawa
hidrokarbon terklorinasi, seperti karbon tetraklorida, Freon, atau etilene
diklorida. Phosgene beracun dan berbahaya pada konsentrasi yang
sangat kecil sekalipun. Konsntrasi 25 ppm dapat mematikan dalam
waktu 30 sampai 60 menit.
Hidrogen klorida

Hidrogen klorida (HCl) dihasilkan oleh pembakaran bahan-bahan yang
mengandung klorin. Walau tidak beracun seperti hydrogen sianida
ataupun phosgene, HCl berbahaya apabila kita berada dalam waktu
yang cukup lama di lingkungan yang terdapat gas ini.
Kebanyakan kebakaran di rumah bermula di dapur
1. Dapur masak adalah menjadi pencetus utama kebakaran.
2. Jangan ditinggalkan makanan yang sedang dimasak.
3. Jangan dibiarkan dapur dan pemanggang berlumuran dengan minyak
dan lemak saat digunakan
4. Pakai baju berlengan tangan ketat apabila memasak.
5. Jangan dibiarkan api menyala semasa anda tidur atau keluar rumah.
6. Pastikan abu benar-benar sejuk sebelum dibuang.
7. Jangan dibiarkan anak-anak dekat api atau pemanas tanpa kehadiran
seorang dewasa.
8. Jauhkan lilin dari langsir dan lain-lain bahan yang mudah terbakar.
9. Tempatkan lilin di atas tempat yang tidak mudah terbakar.
Kerusakan instalisi/kabel listrik mendatangkan bahaya
1. Pastikan semua kabel-kabel listrik berada dalam keadaan baik, jangan
dibiarkan penutup kabel listrik terkelupas.
2. Gunakan juru elektrik yang telah bersartifkat atau dari PLN untuk
memperbaiki kerusakan, jangan dikerjakan sendiri.
3. Sambungan listrik jangan terlalu banyak, penggandanya tidak boleh lebih
dari Saturda. Penyesuai berganda yang lebih dari satu dan papan kuasa
boleh membebankan poin kuasa.
4. Jangan diletakkan sambungan kabel di bawah permadani/karpet atau
perabot.
Pengurangan Risiko Kebakaran
20
Penggunaan alat-alat elektrik
1. Pastikan semua alat elektrik digunakan mengikuti buku panduan pabrik
pembuat.
2. Pastikan alat-alat elektrik berada dalam keadaan baik. Jika anda merasa
ragu pada kondisi alat, panggil seorang juru elektrik supaya memeriksa
alat-alat tersebut.
3. Untuk memperbaiki alat-alat di rumah harus dengan orang yang ahlinya.
4. Jika terjadi kebakaran dirumah, lakukan pemutusan arus listrik dari skring
utama.
Peringatan Bagi Perokok
1. Jangan sekali-kali merokok di atas kasur.
2. Jangan buang abu rokok sembarangan.
3. Pastikan puntung rokok dipadamkan sebelum dibuang.
Kebakaran dapat disebabkan oleh anak-anak, maka;
1. Simpan semua korek api, pemetik api dan lilin di tempat tidak mudah
diambil anak-anak.
2. Gunakan pemetik api yang tidak mudah dinyalakan oleh kanak-kanak.
3. Ajar anak-anak kecil supaya menyerahkan semua mancis api dan pemetik
api kepada seorang dewasa.
4. Pastikan korek api boleh digunakan oleh anak-anak hanya jika seorang
dewasa ada bersama mereka.
5. Ajar anak-anak supaya memanggil 113 dalam keadaan darurat kebakaran.
6. Didik anak-anak supaya mereka tahu bagaimana keluar dari rumah jika
terjadi kebakaran.
7. Jalankan latihan kebakaran selalu bersama anak-anak supaya mereka tahu
dimana keluarga harus berkumpul sesudah keluar dari rumah.
8. Ajar anak-anak supaya merangkak dan cepat bergerak jika ada asap di
dalam rumah.
9. Ajar anak-anak supaya berhenti, merebahkan badan dan bergolek-golek
jika pakaian mereka terbakar.
Gambar 3.2 Korek api
Modul Ajar Pengintegrasian Pengurangan Risiko Kebakaran untuk SD/MI
21
k. Alarm Kebakaran
Pada saat kita tidur, kita tidak bisa mencium/memabui asap, untuk maka
di setiap rumah diperluakan system alarm asap. Dengan alat ini asap akan
terdeteksi dengan mengeluarkan bunyi yang dapat membangunkan anda
saat tidur apabila ada bahaya api/asap. Untuk mengurangi risiko bencana
kebakaran, maka dianjurkan setiap rumah penduduk memasang alarm
pendeteksi asap. Dan alarm pendeteksi asap yang mudah didapat adalah
alarm yang menggunakan batrai.
Untuk memastikan alarm kebakaran berfungsi dengan baik, maka anda
diharapkan:
Uji alat setiap minggu. Gunakan ujung tangkai sapu/kayu dan tekan
butang ujian untuk memastikan ada bunyi bip.
Bersihkan permjukaan alarem dengan kain kering/sapu.
Ganti bateri sekurang-kurangnya sekali setahun.
Ada dua jenis alarm asap – alarm terion yang mendeteksi asap yang sangat
kecil, dan alarm foto-elektrik yang lebih baru yang mendeteksi asap yang
dapat dilihat.
Alarm asap tidak boleh digunakan selama-lamanya dan biasanya masa
pakainya lebih-kurang 10 tahun sahaja. Jika alarm asap anda lebih tua dari
10 tahun, disarankan untuk diganti.
Cara pemasangan alarm pendeteksi asap
 pasang alarm asap diluar setiap kamar atau ruang tidur di rumah anda.
Jika anda tinggal di rumah yang bertingkat, pasang alarm asap di setiap
tingkat.
 Adalah lebih baik jika semua alarm asap berhubungan antara satu
dengan lain, supaya jika satu alarm berbunyi yang lain juga akan
berbunyi.
 Rumah-rumah yang memiliki kamar tidur anak-anak mesti menyediakan
alarm asap yang bersampung dengan alarm asap yang berdekatan
dengan kamar orang tuanya.
 Hasil penyelidikan menunjukkan bahwa 85% anak-anak yang tidur
tidak terjaga walaupun alarm asap berbunyi. Oleh karena itu perlu
diadakan latihan cara menyelamatkan diri jika kebakaran terjadi.
Pengurangan Risiko Kebakaran
22

Gambar 3.3 Latihan cara keluar menyelamatkan diri jika berlaku kebakaran
Terdapat juga alarm asap untuk orang-orang yang cacat pendengaran.
Alarm asap khusus ini boleh dibeli untuk orang-orang yang cacat
pendengaran. Alarm ini dicirikan oleh lampu strob yang memancar
dan/atau pad bergetar yang diletakkan di bawah bantal yang akan aktif
apabila alarm asap berbunyi.
Gambar 3.4 Menyimpan selimut api dan pemadam api di dalam dapur
Api yang kecil di rumah cepat merebak, maka setiap rumah perlu
memiliki alat-alat penjinak api yang diletakkan di di tempat yang mudah
diraih.
Pastikan rumah anda memiliki pemadam api dan selimut api yang
dijaga baik dan belajar bagaimana menggunakannya. Belilah alat-alat
yang memenuhi standar.
Sebaiknya alat penjinak api disimpan di dapur kerena pada umumnya
api bermula dari dapur
Modul Ajar Pengintegrasian Pengurangan Risiko Kebakaran untuk SD/MI
23
 Jika kebakaran itu kecil dan dapat dikendalikan sendiri maka sebaiknya
dipadamkan langsung menggunakan selimut api atau pemadam api.
Alat-alat ini dapat dibeli toko bangunan atau toko alat rumah tangga
Pencegahan Kebakaran
Prinsip-prinsip pencegahan kebakaran pada bangunan gedung meliputi hal-
hal sebagai berikut:
1. Identifkasi bahaya yang dapat mengakibatkan kebakaran pada
gedung
Identifkasi ini meliputi :
a. Bahan Mudah Terbakar, seperti karpet, kertas, karet, dan lain-lain;
b. Sumber Panas, seperti Listrik, Listrik statis, nyala api rokok, ruang dapur,
ruang laundry dan lain-lain.
2. Penilaian Risiko
Melakukan analisis risiko terjadinya kebakaran dan kemungkinan kerugian
yang ditimbulkan sebagai akibat kebakaran (harta-benda, citra/image
perusahaan, terhentinya kegiatan operasional perusahaan selama masa
rekonstruksi bangunan dan korban jiwa).
3. Pemeliharaan / Perawatan
Inspeksi utilitas bangunan seperti: instalasi kelistrikan, dan Instalasi
Peralatan proteksi/pemadam Kebakaran.
4. Latihan dan gladi pemadaman kebakaran dan evakuasi
Karyawan gedung, khususnya yang ditugaskan pada unit tanggap darurat
kebakaran harus mendapat latihan tentang prinsip-prinsip pencegahan
dan keselamatan kebakaran. Selain mereka, para penghuni gedung,
terutama pada gedung-gedung yang menampung banyak orang harus
juga mendapat latihan tentang cara-cara penyelamatan jiwa pada saat
terjadi kebakaran (gladi evakuasi). Pelaksanaan gladi evakuasi penghuni
ini dianjurkan minimal dua kali dalam setahun.
5. Rencana Tindakan Keadaan Darurat (RTDK)
Rencana Tindakan Tanggap Darurat adalah suatu rencana yang berisi
tentang hal-hal yang harus dilakukan oleh pengelola gedung apabila
terjadi suatu keadaan darurat, termasuk dalam keadaan kebakaran. Isi
RTDK meliputi diantaranya : susunan nama-mana Tim Tanggap Darurat,
struktur organisasi, uraian masing-masing regu (misalnya: Regu Pemadam,
Regu P3K, Regu Pengamanan, Regu Dokumen, Regu Evakuasi), Prosedur-
Prosedur, dan lain-lain.
Mencegah Kebakaran akibat Konsleting Listrik
Perlu diketahui bahwa hubungan arus pendek atau korsleting adalah kontak
langsung antara kabel positif dan negatif yang biasanya dibarengi dengan
percikan bunga api, dan bunga api inilah yang memicu kebakaran. PLN telah
memasang MCB yang terpadu dengan kWh dan OA Kast yang berfungsi
sebagai pembatas bila pemakaian beban melebihi kapasitas daya sekaligus
sebagai pengaman bila terjadi hubungan arus pendek.
Pengurangan Risiko Kebakaran
24
Hindari pemakaian listrik secara illegal karena disamping membahayakan
keselamatan jiwa, tindakan itu juga tergolong tindak kejahatan yang
dipidanakan. Jadi sebelum hal-hal yang tak diinginkan terjadi seperti musibah
kebakaran menimpa Anda, sebaiknya kita melakukan tindakan/upaya
pencegahan. Bukankah mencegah itu lebih baik daripada mengobati!
Ada beberapa cara untuk mencegah bahaya kebakaran akibat korsleting
listrik:
1. Percayakan pemasangan instalasi rumah/bangunan anda pada instalatir
yang terdaftar sebagai anggota AKLI (Assosiasi Kontraktor Listrik Indonesia)
dan terdaftar di PLN. Secara legal instalatir mempunyai tanggung jawab
terhadap keamanan instalasi.
2. Jangan menumpuk steker atau colokan listrik terlalu banyak pada satu
tempat karena sambungan seperti itu akan terus menerus menumpuk
panas yang akhirnya dapat mengakibatkan korsleting listrik.
3. Jangan menggunakan material listrik sembarangan yang tidak standar
walaupun harganya murah. Tetapi memiliki sertifkat Sistim Pengawasan
Mutu (SPM) yang berlabel tulisan Standar Nasional Indonesia (SNI) .
4. Jika sering putus jangan menyambungnya dengan serabut kawat yang
bukan fungsinya karena setiap sekring telah diukur kemampuan menerima
beban tertentu.
5. Lakukan pemeriksaan secara rutin terhadap kondisi isolasi pembungkus
kabel. bila ada isolasi yang terkupas atau telah menipis agar segera dilakukan
penggantian. Gantilah instalasi rumah/bangunan anda secara menyeluruh
minimal lima tahun sekali. pekerjaan pemeriksaan dan penggantian
sebaiknya dilakukan oleh instalatir anggota AKLI dan terdaftar di PLN.
6. Gunakan jenis dan ukuran kabel sesuai peruntukan dan kapasitas hantar
arusnya.
7. Bila terjadi kebakaran akibat korsleting listrik akibat pengaman Main Circuit
Breaker (MCB) tidak berfungsi dengan baik, matikan segera listrik dari kWh
meter. Jangan menyiram sumber kebakaran dengan air bila masih ada arus
listrik.
Peralatan Pencegahan Kebakaran
1. Racun Api
Peralatan ini merupakan peralatan reaksi cepat yang multi guna karena
dapat dipakai untuk jenis kebakaran A,B dan C. Peralatan ini mempunyai
berbagai ukuran beratnya, sehingga dapat ditempatkan sesuai dengan
besar-kecilnya risiko kebakaran yang mungkin timbul dari daerah tersebut,
misalnya tempat penimbunan bahan bakar terasa tidak rasional bila
di situ kita tempatkan racun api dengan ukuran 1,2 Kg dengan jumlah
satu tabung. Bahan yang ada dalam tabung pemadam api tersebut ada
yang dari bahan kinia kering, foam / busa dan CO2, untuk Halon tidak
diperkenankan dipakai di Indonesia. halon. Khusus alat pemadam jenis
Modul Ajar Pengintegrasian Pengurangan Risiko Kebakaran untuk SD/MI
25
Halon saat ini tidak diperkenankan lagi dipakai karena media pemadam ini
termasuk mengandung bahan yang dapat merusak ozon yang berpengaruh
terhadap terjadinya pemanasan global.
Gambar 3.5 Racun Api
2. Hidran
Ada 3 jenis hidran, yaitu hidran gedung, hidran halaman dan hidran kota.
Sesuai namanya, hidran gedung ditempatkan dalam gedung, hidran
halaman ditempatkan di halaman, sedangkan hidran kota biasanya
ditempatkan pada beberapa titik yang memungkinkan Unit Pemadam
Kebakaran suatu kota mengambil cadangan air.
Gambar 3.6 Hidran
Pengurangan Risiko Kebakaran
26
3 Detektor Asap
Salah satu jenis peralatan proteksi kebakaran pada bangunan gedung
adalah sistem instalasi alarm kebakaran. Di dalam sistem tersebut terdapat
suatu komponen, yakni pengindera (detector). Pada kebanyakan gedung
terpasang 3 (tiga) jenis pengindera, yakni pengindera asap, pengindera
panas dan pengindera nyala api.
Pengindera atau detektor dalam suatu sistem alarm kebakaran tersebut
mampu mengindera (mendeteksi) gejala kebakaran yang berbentuk asap,
panas dan nyala api. Cara bekerjanya, apabila terdapat sekumpulan asap
atau panas pada temperatur tertentu atau nyala api pada daerah di sekitar
detektor tersebut terpasang, maka detektor tersebut secara otomatis
merespons dan kemudian mengirim signal/tanda ke Panel Kontrol, dan
kemudian dari Panel Kontrol akan memproses signal tersebut untuk
kemudian membunyikan alarm dan atau lampu indikasi kebakaran di
lantai-lantai tertentu.
Gambar 3.7 Detektor Asap

4. Titik Panggil Manual
Adalah suatu komponen dalam sistem instalasi alarm kebakaran gedung,
yang terpasang pada setiap lantai pada suatu bangunan gedung yang
berfungsi untuk memberitahukan terjadinya keadaan darurat (kebakaran).
Cara mengaktifkannya adalah, apabila terjadi kebakaran maka alat ini
dipecahkan kemudian ditekan/ditarik tombolnya. Dengan menekan/
menarik tombol ini maka sistem alarm kebakaran gedung akan aktif, bel
alarm pada lantai-lantai akan berbunyi serentak – sebagai tanda terjadinya
suatu keadaan darurat.
Gambar 3.8 Titik Panggil Manual

Modul Ajar Pengintegrasian Pengurangan Risiko Kebakaran untuk SD/MI
27
5. Sprinkler
Peralatan yang dipergunakan khusus dalam gedung, yang akan
memancarkan air secara otomatis apabila terjadi pemanasan pada suatu
suhu tertentu pada daerah di mana ada sprinkler tersebut terpasang.
Gambar 3.9 Sprinkler
Prinsip Penangan Bahan Rawan Api
1. Kendalikan panas agar tidak melebihi suhu nyala bahan.
2. Kendalikan bahan-bahan agar tidak bereaksi yang memicu kenaikan
temperatur.
3. Kendalikan perjalaran panas, gas agar tidak masuk pada tempratur sumber
api.
Jenis Media Pemadam
1. Jenis Padat, misalnya pasir, tanah, selimut api, tepung kimia
2. Jenis Cair, misalnya air ,busa, cairan mudah menguap
3. Jenis Gas, misalnya Gas CO2, gas lemas (N2), argon dan sebagainya
3.2.2 Tindakan Saat Terjadi Kebakaran
Prinsip Pemadaman Kebakaran
Kebakaran adalah suatu nyala api, baik kecil atau besar pada tempat yang
tidak kita kehendaki, merugikan dan pada umumnya sukar dikendalikan. Api
terjadi karena persenyawaan dari:
1. Sumber panas, seperti energi elektron (listrik statis atau dinamis), sinar
matahari, reaksi kimia dan perubahan kimia.
2. Benda mudah terbakar, seperti bahan-bahan kimia, bahan bakar, kayu,
plastik dan sebagainya.
3. Oksigen (tersedia di udara)
Apabila ketiganya bersenyawa maka akan terjadi api.
Dalam pencegahan terjadinya kebakaran kita harus bisa mengontrol sumber
panas dan benda mudah terbakar, misalnya dilarang merokok ketika sedang
melakukan pengisian bahan bakar, pemasangan tanda-tanda peringatan, dan
sebagainya.
Pengurangan Risiko Kebakaran
28
Apabila sudah terjadi kebakaran maka langkah kita adalah menghilangkan
adanya oksigen dalam kebakaran tersebut, misalnya: seperti ketika kita
menghidupkan lilin, lalu coba kita tutup dengan gelas maka api pada lilin
tersebut akan mati karena oksigen yang berada di luar gelas tidak dapat masuk
dan oksigen yang berada dalam gelas berubah menjadi Karbon Dioksida (CO2)
yang mematikan api.
Ketika kita memadamkan kebakaran dengan mengunakan racun api, karung
goni yang basah atau pasir, maka yang terjadi adalah kita mengisolasi
adanya oksigen dalam api tersebut. Namun syaratnya, semua permukaan api
tersebut harus tertutupi oleh media pemadaman yang digunakan (air, karung
goni basah, atau pasir) tersebut. Bila kita menggunakan air sebagai media
pemadaman maka terjadi reaksi pendinginan panas dan isolasi oksigen dari
kebakaran tersebut.
Tindakan Penyelamatan Diri
Saat terjadi kebakaran, waktu sangatlah menentukan. Setiap detik sangat
berharga untuk menyelamatkan diri.
Berikut adalah hal-hal yang harus dilakukan saat terjadi kebakaran :
a. Jangan panik dan menangis. Usahakan untuk tetap tenang
b. Segeralah menyelamatkan diri dan jangan menunda-nunda. Jangan
membuang waktu untuk menyelamatkan barang-barang berharga
ataupun mencari hewan peliharaan.
c. Jika terdapat asap, jangan berdiam diri di dalam ruangan yang terbakar,
merangkaklah serendah mungkin dibawah asap dan usahakan untuk
menutup mulut.
d. Saat menyelamatkan diri, bukalah pintu yang diperlukan sebagai jalan
keluar dan tutup juga pintu-pintu yang telah anda lewati sepanjang jalan
menuju keluar. Sebelum membuka pintu keluar, rasakan pegangan atau
badan pintu terlebih dahulu. Jika pintu terasa panas, ada kemungkinan
terdapat api dibalik pintu. Carilah jalan keluar yang lain, missal melalui
jendela atau mengibarkan kertas atau kain berwarna mencolok untuk
mengundang perhatian orang.
e. Jangan bersembunyi di kamar mandi, karena jika api membesar dan air di
bak mandi akan mendidih dan mengering.
f. Apabila pakaian kita terkena api, yang harus dilakukan adalah :
 Berhenti, jangan berlari dengan pakaian yang terbakar karena akan
mengakibatkan api membesar.
 Berbaring, berbaringlah di lantai dan tutupi muka dengan tangan.
 Berguling, bergulinglah di lantai untuk memadamkan api.
g. Jangan kembali kedalam bangunan yang terbakar untuk alasan
apapun. Hal ini dapat mengancam keselamatan jiwa.
h. Setelah berhasil keluar rumah, segera hubungi pemadam
kebakaran.
Modul Ajar Pengintegrasian Pengurangan Risiko Kebakaran untuk SD/MI
29
Menyelamatkan Diri dari kebakaran di Bangunan Tinggi
Bangunan tinggi adalah
bangunan yang mempunyai
ketinggian dari permukaan
tanah atau lantai dasar lebih
dari 40 meter atau lebih dari
8 (delapan) lantai
Gambar 3.10 Kebakaran di bangunan tinggi
Karakteristik bangunan tinggi
 Jalan keluar terbatas
 Proses evakuasi kritis
 Bahaya jebakan asap
a. Pemadaman kebakaran hanya efektif dilakukan dari dalam gedung
Pemadaman kebakaran dalam bangunan tinggi efektif dilakukan dengan
sarana proteksi kebakaran yang tersedia di dalam bangunan seperti racun
api, Hidran dan Sprinker otomatis
b. Bangunan dikondisikan siap & mandiri dalam menanggulangi
kebakaran
Kemampuan suatu bangunan memadamkan kebakaran yang terjadi di
dalamnya secara mandiri menurut kesiapan dari peralatan proteksi yang
dipasang. Oleh sebab itu kesiapan sarana proteksi kebakaran yang tersedia
pada bangunan harus selalu di jaga dan dipaksa kesiapannya termasuk
kesediaan dari kapasitas air sebagai bahan pemadam utama
c. Penyelamatan jiwa efektif dilakukan melalui sarana jalan keluar dari
dalam gedung atau tangga darurat kebakaran.
Kendala yang sering dilakukan dalam penggunaan sarana jalan keluar
adalah sarana jalan keluar sering digunakan sebagai gudang penyimpan
barang bekas atau akses menuju jalan keluar terhalang oleh barang-
barang serta panah menuju arah lokasi pintu sarana jalan keluar tidak jelas.
Untuk efektifnya penggunaan sarana jalan keluar yang telah tersedia perlu
dilakukan pengawasan dan pemeriksaan secara harian
d. Evakuasi penghuni bangunan terbakar diarahkan ke bawah
Hal ini dimaksudkan agar tidak terperangkap oleh asap panas dan api yang
cenderung menjalar ke lantai atas.
Pengurangan Risiko Kebakaran
30
e. Menuju tenpat berhimpun sementara di luar bangunan
Pada saat kebakaran tidak dapat dikendalikan, seluruh penghuni gedung
diperintahkan untuk evakuasi (keluar gedung), tapi tidak boleh langsung
pergi ke sembarang tempat, melainkan harus langsung menuju tempat
berhimpun sementara (assembly area).
Mengapa harus berkumpul dulu di tempat ini, karena pengelola
(manajemen) gedung perlu memastikan apakah ada di antara penghuni
gedung yang mungkin terperangkap di dalam dan perlu pertolongan
segera. Kepastian tersebut dapat diperoleh setelah dilakukan pengecekan
terhadap seluruh penghuni yang selamat dan berada di tempat berhimpun
tersebut.
Menyelamatkan Diri dari kebakaran di Rumah
Berikut ini adalah tindakan yang perlu dilakukan sebagai upaya membangun
kesiapsiagaan menghadapi bahaya kebakaran di rumah:
a. Buatlah rencana penyelamatan rumah. Rencana penyelamatan diri berisi
denah rumah, rencana jalan keluar untuk menyelamatkan diri, serta tempat
berkumpul di luar rumah jika terjadi kebakaran.
b. Upayakan agar sedapat-dapatnya terdapat 2 (dua) jalan keluar pada
setiap rumah untuk menyelamatkan diri. Pastikan setiap anggota keluarga
mengetahui hal tersebut.
c. Pastikan seluruh anggota keluarga mengikuti latihan dan mengetahui
langkah-langkah yang harus dilakukan saat terjadi kebakaran serta rencana
penyelamatan diri yang telah dibuat.
d. Berlatih keluar dari rumah dengan cara merangkak dan upayakan untuk
menutup mulut.
e. Berlatih menajamkan intuisi untuk mencari jalan keluar dengan mata
tertutup. Saat terjadi kebakaran dan asap kebakaran semakin tebal,
kemungkinan kita tidak dapat melihat apapun.
f. Berlatih untuk berhenti, menjauhkan diri ke lantai, serta menggulingkan
badan di lantai jika pakaian kita terbakar.
g. Jika memugkinkan, pasanglah alarm kebakaran di setiap rumah.
Cara Memadamkan Api
Sebagaian besar api yang besar berasal dari api yang kecil. Api yang kecil dapat
dipadamkan dengan cara:
a. Menutup api dengan karung atau kain yang basah
b. Menimbun api dengan pasir dan tanah
c. Menggunakan racun api
d. Penggunaan selang pemadam kebakaran
Sebelum memutuskan untuk memadamkan api kecil sendiri dengan
menggunakan alat pemadam api yang tersedia, kita harus yakin mengenai:
1. Mengetahui apa yang terbakar sehingga dapat mengetahui jenis jenis
media pemadam kebakaran yang dinutuhkan.
Modul Ajar Pengintegrasian Pengurangan Risiko Kebakaran untuk SD/MI
31
2. Walaupun kita sudah memiliki alat pemadam kebakaran, kemungkinan
terjadinya ledakan dan gas beracunyang keluar dari kebakaran tetap dapat
terjadi. Jika kita tidak mengetahui apa yang terbakar, jangan memadamkan
api sendiri, serahkan pada petugas pemadam kebakaran.
3. Jika api telah membesar dan menyebar dengan cepat, segera selamatkan
diri dan jangan mencoba untuk memadamkan api sendiri.
Jangan memadamkan api sendiri jika:
1. Tidak memiliki alat untuk memadamkan api yang memadai:
2. Tercium bau menyengat yang diduga gas beracun. Material sintetik seperti
benang nilon yang berasal dari karpet atau busa kursi sofa yang terbakar
akan membentuk gas hydrogen sianida, amonia, dan karbon monoksida
yang berasap dan beracun. Kondisi seperti ini apabila terhirup akan sangat
berbahaya bagi saluran pernafasan dan paru-paru kita.
3. Tidak memiliki kemampuan dan pengetahuan yang cukup untuk
memadamkan api sndiri.
Jika terjadi kebakaran di dapur
1. Usahakan memadamkan api sebisa mungkin. Jika tersedia alat pemadam
apai. Jika tidak tersedia alat pemadam api ringan, soda kue dapat
digunakan untuk memadamkan api. Alat lain yang dapat digunakan untuk
memadamkan api adalah menggunakan karung goni atau kain yang telah
dibasahi air. Kain atau karung basah menutup pori-pori, sehingga memecah
udara masuk.
2. Jangan menyiram air pada kebakaran yang disebabkan oleh minyak.
Menyiram air keatas kompor yang terbakar justru akan memperluas daerah
yang terbakar.
3. Jika kebakaran disebabkan oleh listrik, segera putuskan aliran listrik lebih
dulu, baru kemudian padamkan percikan apinya.
4. Apabila panci terbakar, segera tutup panci tersebut. Jangan pindahkan
panci yang terbakar karena api akan menyambar.
5. Jika api tidak kunjung padam, segeralah menyelamatkan diri, hubungi Dinas
Pemadam Kebakaran setempat, dengan menekan nomor 113. Usahakan
memberi informasi yang benar dan jelas, seperti jati diri penelpon, apa
yang terbakar dan dimana lokasinya agar petugas pemadam kebakaran
dapat mengirim unit pemadam kebakaran yang sesuai kebutuhan.
6. Cara menggunakan alat pemedaman api ringan (racun api)
Tahapan yang harus dilakukan adalah :Tarik, Arahkan, Remas, Sapukan.
 Tarik
Tarik pen pengaman (pin) yang ada di sisi alat pemadam api ringan
kemudian tarik slangnya.
 Arahkan
Arahkan ke dasar/bagian bawah api, yakni mengenai bahan
bakarnya.
Pengurangan Risiko Kebakaran
32
 Tekan
Tekan handle pada bagian kepala tabung pemadam api, maka
bahan pemadam akan tersembur keluar dari dalam tabung.
 Sapukan.
Mulai dari jarak yang agak jauh, sapukan hose (slang) pemadam
kebakaran ke kiri dan kekanan, bergerak ke depan perlahan-lahan
sampai api padam.
Yang harus anda lakukan jika terjadi kebakaran di rumah anda
Semua keluarga harus tenang dan berlatih menyelamatkan diri.
1. Untuk dapat bersikap tenang, maka semua anggota keluarga harus tahu
jalan untuk menyelamat diri ke luar rumah dan mengetahui tempat
berkumpul yang aman
2. Sediakan nomor-nomor panggilan darurat untuk kejadian kebakaran yaitu
nomor 113
3. Letakkan nomor-nomor panggilan kebakaran, polisi, dan ambulan di dekat
telepon rumah
4. Jika ada asap di dalam rumah, cepat merangkakdan terus bergerak keluar
5. Sentuh handel/pegangan pintu dengan punggung tangan untuk
mengetahui apakah pegangan pintu panas, kemudian merangkak keluar.
6. Jika pintu panas, gunakan jalan keluar lain.
7. Keluarkan setiap anggota keluarga dari rumah secepat mungkin.
8. Beritahu petugas pemadam kebakaran apabila ada anggota keluarga
yang masih di dalam rumah saat rumah kebakaran.
9. Jangan masuk ke dalam rumah untuk mengambil benda apapun apabila
kobaran api telah besar
Sejukkan bahagian tubuh yang terbakar dengan air yang mengalir.
Gambar 3.11 Pertolongan pertama pada luka bakar
Modul Ajar Pengintegrasian Pengurangan Risiko Kebakaran untuk SD/MI
33
3.2.3 Tindakan Setelah Terjadi Kebakaran
Jika seorang terbakar
1. Berhentikan proses kebakaran atau padam api
2. Tanggalkan pakaian, kecuali jika pakaian melekat ke kulit
3. Sejukkan bahagain yang terbakar
4. Rendam atau siram bagian yang terbakar dengan air yang mengalir selama
15 hingga 20 menit. Jangan gunakan minyak, mentega atau salap.
5. Tutup bahagian yang terbakar dengan kain bersih atau ‘cling wrap’ dan
jangan dibiarkan korban kebakaran kedinginan.
Pengobatan Luka Bakar
Luka Bakar adalah cedera pada jaringan tubuh akibat panas, bahan kimia
maupun arus listrik.
1. Jenis Luka Bakar
 Luka bakar akibat panas
Yaitu luka bakar yang disebabkan oleh paparan panas yang merusak
kulit. Penyebabnya antara lain api, cairan panas,uap panas , atau benda-
benda panas lainnya.
 Luka bakar akibat bahan kimia
Yaitu luka bakar yang disebabkan oleh paparan bahan-bahan kimia
pada kulit, seperti cairan pembersih lantai, ammonia , pemutih, dan
pembersih kuku. Luka bakar jenis ini disebabkan oleh perubahan energi
kimia menjadi energi panas. Reaksi kimia dapat bersifat setempat
maupun sistemik (seluruh tubuh). Jika luka bersifat setempat, luka
ditandai dengan kulit yang kemerahan atau timbul ruam-ruam. Proses
terbakarnya kulit akan terus berlanjut sepanjang bahan kimia mengenai
kulit.
 Luka bakar akibat arus listik
Yaitu luka pada kulit atau organ internal akibat terpapar arus listrik.
Luka yang diakibatkan dapat terlihat kecil, tetapi kerusakan yang
diakibatkannya dapat cukup luas karena panas akan mengikuti aliran
arus listrik keseluruh tubuh melalui pembuluh darah dan syaraf.
 Luka bakar akibat radiasi
Yaitu luka yang disebabkan oleh paparan radiasi tinggi. Contohnya
adanya luka akibat terpapar sinar matahari.
 Luka bakar karena gesekan
Yaitu luka yang diakibatkan gesekan kulit dengan benda-benda, seperti
karpet, pakaian atau akibat aktivitas oleh raga, gesekan menghasilkan
panas yang menyebabkan kulit kemerahan, mengelupas, dan
melepuh.
Pengurangan Risiko Kebakaran
34
2. Tingkatan luka bakar
Beratnya luka bakar tergantung kepada jumlah jaringan yang terkena dan
kedalaman luka:
 Luka bakar tingkat I
Merupakan luka bakar yang paling ringan. Kulit yang terbakar menjadi
merah, nyeri, sangat sensitif terhadap sentuhan dan lembab atau
membengkak. Jika ditekan, daerah yang terbakar akan memutih; belum
terbentuk lepuhan.
 Luka bakar tingkat II
Menyebabkan kerusakan yang lebih dalam, kulit melepuh, dasarnya
tampak merah atau keputihan dan terisi oleh cairan kental yang jernih.
Jika disentuh warnanya berubah menjadi putih dan terasa nyeri.
 Luka bakar tingkat III
Menyebabkan kerusakan yang paling dalam, permukaannya bisa
berwarna putih dan lembut atau berwarna hitam, hangus dan kasar.
Kerusakan sel darah merah pada daerah yang terbakar bisa
menyebabkan luka bakar berwarna merah terang. Kadang daerah yang
terbakar melepuh dan rambut/bulu di tempat tersebut mudah dicabut
dari akarnya. Jika disentuh, tidak timbul rasa nyeri karena ujung saraf
pada kulit telah mengalami kerusakan.
3. Pengobatan luka bakar
Untuk membantu menghentikan luka bakar dan mencegah luka lebih
lanjut,
 Sebaiknya lepaskan semua pakaian penderita.
 Kulit segera dibersihkan dari bahan kimia (termasuk asam, basa dan
senyawa organik) dengan mengguyurnya dengan air.
Penderita perlu dirawat di rumah sakit jika:
1. Luka bakar mengenai wajah, tangan, alat kelamin atau kaki
2. Penderita akan mengalami kesulitan dalam merawat lukanya secara
baik dan benar di rumah
3. Penderita berumur kurang dari 2 tahun atau lebih dari 70 tahun
4. Terjadi luka bakar pada organ dalam.
Luka bakar ringan
1. Jika memungkinkan, luka bakar ringan harus segera dicelupkan ke
dalam air dingin.
2. Luka bakar kimia sebaiknya dicuci dengan air sebanyak dan selama
mungkin
Modul Ajar Pengintegrasian Pengurangan Risiko Kebakaran untuk SD/MI
35
3. Luka bakar dibersihkan secara hati-hati dengan sabun dan air untuk
membuang semua kotoran yang melekat.
4. Jika kotoran sukar dibersihkan, daerah yang terluka diberi obat bius
dan digosok dengan sikat.
5. Lepuhan yang telah pecah biasanya dibuang.
6. Jika daerah yang terluka telah benar-benar bersih, maka dioleskan
krim antibiotik (misalnya perak sulfadiazin).
7. Untuk melindungi luka dari kotoran dan luka lebih lanjut, biasanya
dipasang verban. Sangat penting untuk menjaga kebersihan di
daerah yang terluka, karena jika lapisan kulit paling atas (epidermis)
mengalami kerusakan maka bisa terjadi infeksi yang dengan mudah
akan menyebar. Jika diperlukan, untuk mencegah infeksi bisa
diberikan antibiotik,
8. Untuk mengurangi pembengkakan, lengan atau tungkai yang
mengalami luka bakar biasanya diletakkan/digantung
dalam posisi yang lebih tinggi dari jantung.Pembidaian harus
dilakukan pada persendian yang mengalami luka bakar derajat II
atau III, karena pergerakan bisa memperburuk keadaan persendian.
9. Mungkin perlu diberikan obat pereda nyeri selama beberapa
hari. Pemberian booster tetanus disesuaikan dengan status
imunisasi penderita.
Luka bakar berat
1. Luka bakar yang lebih berat dan membahayakan nyawa
penderitanya harus segera ditangani, sebaiknya dirawat di rumah
sakit.
2. Kepada korban kebakaran biasanya diberikan oksigen melalui
sungkup muka (masker) untuk membantu menghadapi
efek dari karbon monoksida (gas beracun yang sering terbentuk di
lokasi kebakaran).
3. Di ruang emergensi, dilakukan pemeriksaan terhadap fungsi
pernafasan, luka lainnya di tubuh serta dilakukan pengobatan
untuk menggantikan cairan yang hilang dan untuk mencegah
infeksi.
4. Untuk mengobati luka bakar yang berat kadang digunakan terapi
oksigen hiperbarik, dimana penderita ditempatkan dalam ruangan
khusus yang mengandung oksigen bertekanan tinggi.
5. Jika terjadi cedera pada saluran udara dan paru-paru akibat
kebakaran, untuk membantu fungsi pernafasan bisa dipasang
sebuah selang yang dimasukkan ke dalam tenggorokan.
6. Selang tersebut perlu dipasang jika cedera menimpa wajah atau
jika pembengkakan pada tenggorokan menyebabkan
terganggunya fungsi pernafasan.
Pengurangan Risiko Kebakaran
36
7. Jika tidak terjadi gangguan pada sistem pernafasan maka yang
perlu dilakukan hanya memberikan oksigen tambahan melalui
sungkup muka.
Membantu Korban Kebakaran
Kebakaran mendatangkan kerugian dan penderitaan bagi korbannya. Untuk
membantu korban bencana kebakaran, usaha-usaha yang bisa kita lakukan
adalah:
1. Mendirikan tenda-tenda pengungsian.
Tenda pengungsian ini dapat digunakan sebagai penampungan sementara
untuk para korban. Tenda-tenda ini didirikan di tempat-tempat yang
aman.
2. Mendirikan dapur-dapur umum
Dapur umum berfungsi untuk menyediakan makanan dan minuman bagi
para korban kebakaran. Keberadaan dapur umum ini memberikan
banyak manfaat bagi para korban.
3. Pos kesehatan
Pos kesehatan perlu didirikan di tempat-tempat pengungsian karena
sesudah terjadi kebakaran biasanya ada saja korban mengalami cedera atau
luka-luka, dari cedera ringan sampai berat. Pos kesehatan ini menyediakan
obat-obatan yang diperlukan.
4. Mengumpulkan bantuan dan membagikannya kepada korban. Sumbangan
dapat berupa: pakaian pantas pakai, makanan siap saji (mie instan, susu,
biskuit, minuman, dsb), obat-obatan, selimut, dan sebagainya.
5. Menyediakan air bersih
Para korban kebakaran sangat membutuhkan air bersih terutama untuk
minum, memasak dan mandi sementara air yang tersedia sudah tercemar
berbagai macam bakteri sehingga tidak layak untuk di konsumsi. Bantuan
dan penyediaan air bersih sangat dibutuhkan bagi para korban bencana.
4.1. IDENTIFIKASI MATERI PEMBELAJARAN PENGURANGAN
RISIKO KEBAKARAN
Materi pembelajaran adalah bahan yang diperlukan untuk pembentukan
pengetahuan, keterampilan, dan sikap yang harus dikuasai siswa dalam rangka
memenuhi standar kompetensi dan kompetensi dasar yang tertuang di dalam
standari isi pendidikan.
Materi pembelajaran dikembangkan berdasarkan prinsip-prinsip sebagai
berikut:
1. Prinsip relevansi:
Materi pembelajaran hendaknya relevan dengan pencapaian standar
kompetensi dan kompetensi dasar. Jika kemampuan yang diharapkan
dikuasai siswa berupa menghafal fakta, maka materi pembelajaran yang
diajarkan harus berupa fakta, bukan konsep atau prinsip ataupun jenis
materi yang lain.
2. Prinsip konsistensi:
Jika kompetensi dasar yang harus dikuasai siswa ada empat macam, maka
materi yang harus diajarkan juga harus meliputi empat macam.
3. Prinsip kecukupan:
Materi yang diajarkan hendaknya cukup memadai dalam membantu siswa
menguasai kompetensi dasar yang diajarkan. Materi tidak boleh terlalu
sedikit, dan tidak boleh terlalu banyak.
Materi pembelajaran tentang pengurangan risiko bencana dapat mencakup
tiga ranah sekaligus yaitu: ranah kognitif, afektif dan psikomotorik.
1. Ranah Kognitif jika kompetensi yang ditetapkan meliputi pengetahuan,
pemahaman, aplikasi, analisis, sintesis, dan penilaian.
2. Ranah Psikomotorik jika kompetensi yang ditetapkan meliputi gerak
awal, semi rutin, dan rutin.
3. Ranah Afektif (Sikap) jika kompetensi yang ditetapkan meliputi pemberian
respons, apresiasi, penilaian, dan internalisasi.
BAB IV
MATERI PEMBELAJARAN PENGURANGAN
RISIKO KEBAKARAN
Materi Pembelajaran Pengurangan Risiko Kebakaran
38
Identifkasi materi pembelajaran tentang PRB mempertimbangkan hal-hal
berikut:
1. Potensi peserta didik;
2. Relevansi dengan karakteristik daerah;
Daerah dengan karakteristik rawan bencana dapat menyesuaikan
materi pembelajaran sesuai dengan kebutuhan daerah dengan tetap
memperhatikan tuntutan kompetensi dasar. Pada saat mengidentifkasi
materi pembelajaran ini sudah harus ditetapkan dan dirumuskan materi
pembelajaran yang sesuai dengan jenis bencana yang ada di daerah
tersebut.
3. Tingkat perkembangan fsik, intelektual, emosional, sosial, dan spritual
peserta didik;
4. Kebermanfaatan bagi peserta didik
5. Struktur keilmuan;
6. Aktualitas, kedalaman, dan keluasan materi pembelajaran;
7. Relevansi dengan kebutuhan peserta didik dan tuntutan lingkungan;
Materi pembelajaran yang relevan dan dibutuhkan serta sesuai dengan
tuntutan lingkungan di daerah rawan bencana dapat dimasukkan ke dalam
silabus yang disusun.
Contoh:
Tanda-tanda bencana kebakaran akan terjadi
Tindakan penyelamatan disaat bencana kebakaran
Tindakan yang harus dilakukan setelah bencana kebakaran
8. Alokasi waktu.
Tabel berikut ini adalah identifkasi materi pembelajran pengurangan risiko
kebakaran yang dikelompokkan menurut kelas.

Tabel 4.1 Identifkasi Materi Pembelajaran Pengurangan Risiko Kebakaran
MATERI PEMBELAJARAN
PENGURANGN RISIKO KEBAKARAN
KELAS
· Teorl ter[adlnya apl
· Pencegahan Kebakaran
· Cara penyelamatan dokumen
· Penyebab kebakaran
· Kerentanan kebakaran
· 1enls ancaman kebakaran
· Tahap pengembangan apl
· Proses kebakaran
· Penyelamatan dlrl ketlka ter[adl kebakaran:
· Lokasl penyelamatan dlrl yang terdekat dan aman
· Pertolongan luka bakar rlngan
· Pengertlan luka bakar dan pembaglannya
· Langkah-langkah pertolongan luka bakar
· Alat dan bahan pertolongan pertama pada luka bakar
rlngan
· Pertolongan pertama
· Penyebab luka bakar
· Klaslñkasl luka bakar
|, ||, ||, |v, v, v|
|v, v, v|
Tabel |dentlñkasl Materl Pembela[aran Pengurangan Plslko Kebakaran
Modul Ajar Pengintegrasian Pengurangan Risiko Kebakaran untuk SD/MI
39
4.2 PEMETAAN INDIKATOR PRILAKU SISWA
Sebelum pendidikan pengurangan risiko bencana kebakaran diberikan kepada
siswa di sekolah, perlu dilakukan identifkasi terlebih dahulu sikap-sikap dan perilaku
yang bagaimana, yang diperlukan dan harus dimiliki siswa untuk mengurangi risiko
terjadinya bencana kebakaran.
Indikator sikap dan prilaku siswa yang diperlukan untuk mengurangi risiko atau
dampak bencana kebakaran dapat diidentifkasi sebagai berikut:

Tabel 4.2 Indikator Prilaku Siswa
Kondisi Materi Pembelajaran Indikator Perilaku Siswa
I, II, II, IV, V, VI Mengetahui teori terjadinya api
Memahami teori pencegahan
Mengetahui cara penyelamatan
dokumen
Mengetahui penyebab
kebakaran
Mengetahui kerentanan
kebakaran
Mengetahui jenis ancaman
kebakaran
Mengetahui tahap
pengembangan api
Mengetahui proses kebakaran
Upaya penyelamatan diri
ketika terjadi kebakaran:
Mencari lokasi penyelamatan
diri yang terdekat dan aman
Menerapkan pertolongan
luka bakar ringan
Dapat mengidentikasi
pengertian luka bakar dan
pembagiannya
Dapat mengidentikasi langkah-
langkah pertolongan luka bakar
Mengidentikasi alat dan bahan
pertolongan pertama pada luka
bakar ringan
Mengetahui tujuan
pertolongan pertama
Mengetahui sebab luka bakar
Dapat mengklasikasi
luka bakar
Menerapkan pertolongan
luka bakar ringan
Teori terjadinya api
Pencegahan Kebakaran
Cara penyelamatan dokumen
Penyebab kebakaran
Kerentanan kebakaran
Jenis ancaman kebakaran
Tahap pengembangan api
Proses kebakaran
Penyelamatan diri ketika
terjadi kebakaran
Lokasi penyelamatan diri
yang terdekat dan aman
Pertolongan luka bakar ringan
Pengertian luka bakar dan
pembagiannya
Langkah-langkah pertolongan
luka bakar
Alat dan bahan pertolongan
pertama pada luka bakar
ringan
Pertolongan pertama
Penyebab luka bakar
Klasikasi luka bakar
Pertolongan luka bakar ringan
IV, V, VI
Tabel Indikator Prilaku Siswa

Materi Pembelajaran Pengurangan Risiko Kebakaran
40
Kondisi Materi Pembelajaran Indikator Perilaku Siswa
I, II, II, IV, V, VI Mengetahui teori terjadinya api
Memahami teori pencegahan
Mengetahui cara penyelamatan
dokumen
Mengetahui penyebab
kebakaran
Mengetahui kerentanan
kebakaran
Mengetahui jenis ancaman
kebakaran
Mengetahui tahap
pengembangan api
Mengetahui proses kebakaran
Upaya penyelamatan diri
ketika terjadi kebakaran:
Mencari lokasi penyelamatan
diri yang terdekat dan aman
Menerapkan pertolongan
luka bakar ringan
Dapat mengidentikasi
pengertian luka bakar dan
pembagiannya
Dapat mengidentikasi langkah-
langkah pertolongan luka bakar
Mengidentikasi alat dan bahan
pertolongan pertama pada luka
bakar ringan
Mengetahui tujuan
pertolongan pertama
Mengetahui sebab luka bakar
Dapat mengklasikasi
luka bakar
Menerapkan pertolongan
luka bakar ringan
Teori terjadinya api
Pencegahan Kebakaran
Cara penyelamatan dokumen
Penyebab kebakaran
Kerentanan kebakaran
Jenis ancaman kebakaran
Tahap pengembangan api
Proses kebakaran
Penyelamatan diri ketika
terjadi kebakaran
Lokasi penyelamatan diri
yang terdekat dan aman
Pertolongan luka bakar ringan
Pengertian luka bakar dan
pembagiannya
Langkah-langkah pertolongan
luka bakar
Alat dan bahan pertolongan
pertama pada luka bakar
ringan
Pertolongan pertama
Penyebab luka bakar
Klasikasi luka bakar
Pertolongan luka bakar ringan
IV, V, VI
Tabel Indikator Prilaku Siswa
4.3 PENDEKATAN KEGIATAN BELAJAR MENGAJAR
Memberikan pengetahuan kepada siswa mengenai pendidikan pengurangan
risiko bencana mempunyai arti penting, karena siswa adalah sasaran yang
paling utama dalam pendidikan ini. Mendidik siswa dalam pengurangan risiko
bencana memerlukan pendekatan kegiatan belajar mengajar yang mampu
merangsang siswa untuk memahami dan memandang penting pengurangan
risiko bencana kebakaran ini. Di bawah ini beberapa metode yang disarankan
dalam pembelajaran pendidikan pengurangan risiko bencana kebakaran,
yaitu:
1. Gunakan metode yang menyenangkan dan sebisa mungkin menggunakan
media visual (bergambar).
Anak lebih tertarik jika melihat gambar secara langsung dan dapat lebih
fokus memperhatikan penjelasannya, serta lebih lama diingat.
2. Praktekkan!
Pengalaman praktek dapat membekas di ingatan dan bisa langsung
dipahami oleh anak-anak. Kalau hanya sekedar tahu dan tidak
mempraktekkan, mereka bisa lupa.
3. Lakukan pemeriksaan pemahaman!
Untuk mengetahi sejauh mana anak dapat memahami materi yang sudah
disampaikan, maka lakukan cek pemahaman. Caranya dengan menanyakan
Modul Ajar Pengintegrasian Pengurangan Risiko Kebakaran untuk SD/MI
41
langsung materi tersebut atau dengan menggunakan kartu permainan.
kartu permainan ini bisa dibuat sepasang, dengan menunjukkan mana
yang benar atau yang salah.
4. Berikan tugas yang harus dikerjakan di rumah, yang memungkinkan anak
bisa berdiskusi dengan anggota keluarga di rumah. Misal: anak diberi tugas
untuk membuat jalur evakuasi di rumah.
5. Lakukan praktek simulasi berulang-ulang sehingga anak benar-benar
paham dan dapat melakukan penyelamatan diri secara mandiri.
Pembelajaran Pengurangan Risiko Bencana Kebakaran menggunakan
beberapa prinsip yaitu:
1. Didasarkan pada potensi, perkembangan dan potensi peserta didik
untuk menguasai kompetensi yang berguna bagi dirinya. Dalam hal ini
peserta didik mendapatkan pelayanan pendidikan yang bermutu serta
memperoleh kesempatan untuk mengekspresikan dirinya secara bebas,
dinamis dan menyenangkan
2. Menerapkan lima pilar belajar yaitu
a) belajar untuk beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa;
b) belajar untuk memahami dan menghayati;
c) belajar untuk mampu melaksanakan dan berbuat secara efektif;
d) belajar untuk hidup bersama dan berguna bagi orang lain;
e) belajar untuk membangun dan menemukan jati diri melalui proses
pembelajaran yang aktif, kreatif, efektif dan menyenangkan
3. Memungkin peserta didik mendapat pelayanan yang bersifat perbaikan,
pengayaan, dan/atau percepatan sesuai dengan potensi, tahap
perkembangan, dan kondisi peserta didik dengan tetap memperhatikan
keterpaduan pengembangan pribadi peserta didik yang berdimensi ke
–Tuhanan, keindividuan, dan moral
4. Dilaksanakan dalam suasana hubungan peserta didik dan pendidik yang
saling menerima dan menghargai, akrab, terbuka, dan hangat dengan
prinsip Tut wuri handayani, ing madia mangun karsa, ing ngarsa sung tulada
(di belakang memberikan daya dan kekuatan, di tengah membangun
semangat dan prakarsa, di depan memberikan contoh dan teladan)
5. Dilaksanakan dengan mendayagunakan kondisi alam, sosial dan budaya
serta kekayaan daerah untuk keberhasilan pendidikan dengan muatan
seluruh bahan kajian secara optimal.
Materi Pembelajaran Pengurangan Risiko Kebakaran
42
Di sekolah, guru dapat memberikan latihan kesiapsiagaan bencana kebakaran
kepada siswa sebagai berikut:
1. Persiapan menghadapi kebakaran:
 Pahami gejala-gejala alam seperti: musim kemarau
 Menempatkan dokumen-dokumen agar aman dari kebakaran
 Tidak bermain dengan benda-benda yang dapat menyebabkan
kebakaran, seperti; korek api/macis, petasan, dan lilin
 Menyiapkan obat-obatan untuk luka bakar ringan.
 Memadamkan kompor dan aliran listrik di rumah
 Memahami jalur dan tempat evakuasi
 Melakukan koordinasi dengan sesame anggota masyarakat
 Menghubungi pihak-pihak yang berwenang untuk menanggulangi
kebakaran.
2. Simulasi situasi dan kondisi terburuk pada saat kebakaran. Persiapkan
rencana tindak penyelamatan diri berdasarkan kebutuhan untuk
situasi dan kondisi kebakaran.
Selain memberikan latihan kesiapsiagaan bencana, guru juga harus mampu untuk
memberikan latihan untuk meningkatkan kapasitas siswa dalam pengurangan risiko
bencana. Kapasitas merupakan kemampuan dalam menghadapi bencana pada
semua tahapannya termasuk kemampuan untuk menanggulangi dan bertahan
hidup akibat bencana yang terjadi. Penguatan atau peningkatan kapasitas siswa
sangat penting dalam upaya pengurangan risiko bencana. Peningkatan kapasitas
dapat dilakukan dengan memberikan pelatihan penyelamatan di air, pelatihan P3K,
simulasi evakuasi ancaman kebakaran, dan sebagainya.
5.1 PENGINTEGRASIAN MATERI PEMBELAJARAN PENGURANGAN
RISIKO KEBAKARAN KE DALAM MATA PELAJARAN
5.1.1 Peta Integrasi Materi Pembelajaran Pengurangan Risiko Kebakaran
Untuk mengintegrasikan materi pengurangan risiko kebakaran ke dalam mata
pelajaran perlu dilakukan dengan cara:
1. Mengklasifkasi materi pembelajaran dan pengurangan risiko kebakaran
berikut indikator prilaku siswa yang telah diidentifkasi
2. Mendeteksi kemungkinan dapat diintegrasikan ke dalam mata pelajaran
apa saja
3. Memilih atau menganalisis standar kompetensi dan kompetensi dasar
mata pelajaran yang telah terdeteksi
4. Mengkaitkan materi pembelajaran dan pengurangan risiko kebakaran
berikut indikator prilaku siswa yang telah diidentifkasi dengan Kompetensi
Mata Pelajaran
SK / KD
Indikator
PRB
Pendidikan
Kewarga
negaraan
Pendidikan
Agama
Pendidikan
Jasmani,
Olahraga,
dan
Kesehatan
Seni,
Budaya
dan
Keterampilan
IPS
IPA
Bahasa
Indonesia
Matematika
Gambar 5.1 Peta Integrasi Materi Pembelajaran Pengurangan Risiko Kebakaran
5.1.2 Analisis Kompetensi Dasar dan Standar Kompetensi
Berikut adalah beberapa Kompetensi Dasar untuk Mata Pelajaran di tingkat
satuang pendidikan dasar (SD/MI) yang dapat diintegrasikan dengan materi
Pengurangan Risiko Bencana Kebakaran.
BAB V
PENGINTEGRASIAN PENGURANGAN RISIKO
KEBAKARAN KE DALAM KURIKULUM
TINGKAT SATUAN PENDIDIKAN DASAR
(SD/MI)
K
E
L
A
S
M
A
T
E
R
I

P
E
M
B
E
L
A
J
A
R
A
N
P
R
B
I
N
D
I
K
A
T
O
R

P
R
I
L
A
K
U

S
I
S
W
A

(
I
n
d
i
k
a
t
o
r

P
e
m
b
e
l
a
j
a
r
a
n

P
R
B
)
M
A
T
A

P
E
L
A
J
A
R
A
N
S
t
a
n
d
a
r

K
o
p
e
t
e
n
s
i

(
S
K
)
K
o
p
e
t
e
n
s
i

D
a
s
a
r

(
K
D
)
I
K
l
s

I
/
2
I
P
A
K
l
s

I
I
/
2
K
l
s

I
V
/
1
K
l
s

V
/
1
K
l
s

V
I
/
1
-

P
e
n
y
e
b
a
b

k
e
b
a
k
a
r
a
n
-

T
e
o
r
l

t
e
r
[
a
d
l
n
y
a

a
p
l
-

M
e
n
g
e
t
a
h
u
l

p
r
o
s
e
s




k
e
b
a
k
a
r
a
n
-

T
e
o
r
l

t
e
r
[
a
d
l
n
y
a

a
p
l
-

M
e
n
g
e
t
a
h
u
l

p
r
o
s
e
s



k
e
b
a
k
a
r
a
n
-

T
e
o
r
l

t
e
r
[
a
d
l
n
y
a

a
p
l
-

M
e
n
g
e
t
a
h
u
l

p
r
o
s
e
s




k
e
b
a
k
a
r
a
n
-

T
e
o
r
l

p
e
n
c
e
g
a
h
a
n
-

P
a
s
e

s
e
b
e
l
u
m

k
e
b
a
k
a
r
a
n
-

k
e
r
e
n
t
a
n
a
n

k
e
b
a
k
a
r
a
n
-

M
e
n
g
e
t
a
h
u
l



k
e
r
e
n
t
a
n
a
n

k
e
b
a
k
a
r
a
n
-

M
e
n
g
e
t
a
h
u
l

t
e
o
r
l



t
e
r
[
a
d
l
n
y
a

a
p
l
-

M
e
n
g
e
t
a
h
u
l

t
e
o
r
l



t
e
r
[
a
d
l
n
y
a

a
p
l
-

M
e
n
g
e
t
a
h
u
l

t
e
o
r
l



t
e
r
[
a
d
l
n
y
a

a
p
l
-

M
e
n
g
e
t
a
h
u
l

t
a
h
a
p



p
e
n
g
e
m
b
a
n
g
a
n

a
p
l
-

M
e
m
a
h
a
m
l

t
e
o
r
l



p
e
n
c
e
g
a
h
a
n
B
u
m
i

d
a
n

A
l
a
m

S
e
m
e
s
t
a
5
.

M
e
n
g
e
n
a
l

b
e
r
b
a
g
a
l

b
e
n
d
a

l
a
n
g
l
t


d
a
n

p
e
r
l
s
t
l
w
a

a
l
a
m


(
c
u
a
c
a

d
a
n

m
u
s
l
m
)


s
e
r
t
a

p
e
n
g
a
r
u
h
n
y
a

t
e
r
h
a
d
a
p

k
e
g
l
a
t
a
n

m
a
n
u
s
l
a
.
E
n
e
r
g
i

d
a
n

P
e
r
u
b
a
h
a
n
n
y
a
3
.


M
e
n
g
e
n
a
l

b
e
r
b
a
g
a
l

s
u
m
b
e
r


e
n
e
r
g
l

y
a
n
g

s
e
r
l
n
g

d
l
[
u
m
p
a
l

d
a
l
a
m

k
e
h
l
d
u
p
a
n

s
e
h
a
r
l
-
h
a
r
l

d
a
n

k
e
g
u
n
a
a
n
n
y
a
B
e
n
d
a

d
a
n

S
i
f
a
t
n
y
a

6
.

M
e
m
a
h
a
m
l

b
e
r
a
g
a
m

s
l
f
a
t

d
a
n

p
e
r
u
b
a
h
a
n

w
u
[
u
d

b
e
n
d
a

s
e
r
t
a

b
e
r
b
a
g
a
l

c
a
r
a

p
e
n
g
g
u
n
a
a
n

b
e
n
d
a


b
e
r
d
a
s
a
r
k
a
n

s
l
f
a
t
n
y
a
B
e
n
d
a

d
a
n

S
i
f
a
t
n
y
a
4
.


M
e
m
a
h
a
m
l

h
u
b
u
n
g
a
n

a
n
t
a
r
a

s
l
f
a
t

b
a
h
a
n

d
e
n
g
a
n

p
e
n
y
u
s
u
n
n
y
a

d
a
n

p
e
r
u
b
a
h
a
n

s
l
f
a
t

b
e
n
d
a

s
e
b
a
g
a
l

h
a
s
l
l


s
u
a
t
u

p
r
o
s
e
s
M
a
k
h
l
u
k

H
i
d
u
p

d
a
n

P
r
o
s
e
s

K
e
h
i
d
u
p
a
n
3
.

M
e
m
a
h
a
m
l


p
e
n
g
a
r
u
h

k
e
g
l
a
t
a
n

m
a
n
u
s
l
a

t
e
r
h
a
d
a
p

k
e
s
e
l
m
b
a
n
g
a
n

l
l
n
g
k
u
n
g
a
n
5
.
3

M
e
m
b
e
d
a
k
a
n


p
e
n
g
a
r
u
h

m
u
s
l
m

k
e
m
a
r
a
u

d
e
n
g
a
n

m
u
s
l
m

h
u
[
a
n

t
e
r
h
a
d
a
p

k
e
g
l
a
t
a
n

m
a
n
u
s
l
a

B
e
n
d
a

d
a
n

S
i
f
a
t
n
y
a
3
.

l

M
e
n
d
e
s
k
r
l
p
s
l
k
a
n

p
e
r
u
b
a
h
a
n

s
l
f
a
t

b
e
n
d
a

(
u
k
u
r
a
n
,

b
e
n
t
u
k
,

w
a
r
n
a
,

a
t
a
u

r
a
s
a
)

y
a
n
g

d
a
p
a
t

d
l
a
m
a
t
l

a
k
l
b
a
t

d
a
r
l

p
e
m
b
a
k
a
r
a
n
,

p
e
m
a
n
a
s
a
n
,

d
a
n

d
l
l
e
t
a
k
k
a
n

d
l

u
d
a
r
a

t
e
r
b
u
k
a
3
.
2


M
e
n
g
l
d
e
n
t
l
ñ
k
a
s
l

[
e
n
l
s

e
n
e
r
g
l

y
a
n
g

p
a
l
l
n
g

s
e
r
l
n
g

d
l
g
u
n
a
k
a
n

d
l

l
l
n
g
k
u
n
g
a
n

s
e
k
l
t
a
r

d
a
n

c
a
r
a

m
e
n
g
h
e
m
a
t
n
y
a
6
.
2

M
e
n
d
e
s
k
r
l
p
s
l
k
a
n

t
e
r
[
a
d
l
n
y
a

p
e
r
u
b
a
h
a
n

w
u
[
u
d


c
a
l
r


p
a
d
a
t



c
a
l
r
,

c
a
l
r



g
a
s



c
a
l
r
,


p
a
d
a
t



g
a
s
4
.
l
M
e
n
y
l
m
p
u
l
k
a
n


h
a
s
l
l

p
e
n
y
e
l
l
d
l
k
a
n

t
e
n
t
a
n
g

p
e
r
u
b
a
h
a
n

s
l
f
a
t

b
e
n
d
a
,

b
a
l
k

s
e
m
e
n
t
a
r
a

m
a
u
p
u
n

t
e
t
a
p
3
.
l

M
e
n
g
l
d
e
n
t
l
ñ
k
a
s
l

k
e
g
l
a
t
a
n

m
a
n
u
s
l
a

y
a
n
g

d
a
p
a
t

m
e
m
p
e
n
g
a
r
u
h
l

k
e
s
e
l
m
b
a
n
g
a
n

a
l
a
m

(
e
k
o
s
l
s
t
e
m
)
6
.
l

M
e
m
b
a
n
d
l
n
g
k
a
n

s
l
f
a
t

k
e
m
a
m
p
u
a
n

m
e
n
g
h
a
n
t
a
r
k
a
n


p
a
n
a
s

d
a
r
l

b
e
r
b
a
g
a
l

b
e
n
d
a
T
a
b
e
l

P
e
m
e
t
a
a
n

S
K

K
D

k
e

d
a
l
a
m

m
a
t
a

p
e
l
a
[
a
r
a
n

|
P
A
,

|
P
S
,

8
a
h
a
s
a

|
n
d
o
n
e
s
l
a

d
a
n

P
e
n
[
a
s
o
r
k
e
s
T
a
b
e
l

5
.
1

P
e
m
e
t
a
a
n

S
K
/
S
D

k
e

d
a
l
a
m

m
a
t
a

p
e
l
a
j
a
r
a
n

I
P
A
,

I
P
S
.

B
a
h
a
s
a

I
n
d
o
n
e
s
i
a

d
a
n

P
e
n
j
a
s
o
r
k
e
s
K
E
L
A
S
M
A
T
E
R
I

P
E
M
B
E
L
A
J
A
R
A
N
P
R
B
I
N
D
I
K
A
T
O
R

P
R
I
L
A
K
U

S
I
S
W
A

(
I
n
d
i
k
a
t
o
r

P
e
m
b
e
l
a
j
a
r
a
n

P
R
B
)
M
A
T
A

P
E
L
A
J
A
R
A
N
S
t
a
n
d
a
r

K
o
p
e
t
e
n
s
i

(
S
K
)
K
o
p
e
t
e
n
s
i

D
a
s
a
r

(
K
D
)
K
l
s

I
V
/
1
K
l
s

I
I
I
/
2
K
l
s

I
I
/
1
-

M
o
d
e
l

r
u
m
a
h

a
m
a
n

d
a
r
l



a
n
c
a
m
a
n

k
e
b
a
k
a
r
a
n
-

1
e
n
l
s

a
n
c
a
m
a
n

k
e
b
a
k
a
r
a
n
-

M
o
d
e
l

r
u
m
a
h

a
m
a
n

d
a
r
l



a
n
c
a
m
a
n

k
e
b
a
k
a
r
a
n
-

P
e
n
y
e
l
a
m
a
t
a
n

d
o
k
u
m
e
n

-

M
e
n
g
e
t
a
h
u
l

m
o
d
e
l



r
u
m
a
h

a
m
a
n
-

M
e
n
g
e
t
a
h
u
l

m
o
d
e
l



r
u
m
a
h

a
m
a
n
-

M
e
n
g
e
t
a
h
u
l

c
a
r
a



p
e
n
y
e
l
a
m
a
t
a
n

d
o
k
u
m
e
n
8
a
h
a
s
a

|
n
d
o
n
e
s
l
a

K
e
s
e
n
l
a
n
|
P
S
M
e
n
d
e
n
g
a
r
k
a
n
-

M
e
n
d
e
n
g
a
r
k
a
n

p
e
n
[
e
l
a
s
a
n

t
e
n
t
a
n
g



p
e
t
u
n
[
u
k

d
e
n
a
h

d
a
n

s
l
m
b
o
l

d
a
e
r
a
h
/


l
a
m
b
a
n
g

k
o
r
p
s


9
.

M
e
n
g
e
k
s
p
r
e
s
l
k
a
n

d
l
r
l

m
e
l
a
l
u
l

k
a
r
y
a





s
e
n
l

r
u
p
a
l
.

M
e
m
a
h
a
m
l

p
e
r
l
s
t
l
w
a

p
e
n
t
l
n
g

d
a
l
a
m





k
e
l
u
a
r
g
a

s
e
c
a
r
a

k
r
o
n
o
l
o
g
l
s
l
.
l

M
e
m
b
u
a
t

g
a
m
b
a
r
/
d
e
n
a
h

b
e
r
d
a
s
a
r
-







k
a
n

p
e
n
[
e
l
a
s
a
n

y
a
n
g

d
l
d
e
n
g
a
r
9
.
l

M
e
n
g
e
k
s
p
r
e
s
l
k
a
n

d
l
r
l

m
e
l
a
l
u
l








g
a
m
b
a
r

l
m
a
[
l
n
a
t
l
f

m
e
n
g
e
n
a
l

a
l
a
m








s
e
k
l
t
a
r
l
.
l

M
e
m
e
l
l
h
a
r
a

d
o
k
u
m
e
n

d
a
n

k
o
l
e
k
s
l








b
e
n
d
a

b
e
r
h
a
r
g
a

m
l
l
l
k
n
y
a
T
a
b
e
l

P
e
m
e
t
a
a
n

S
K

K
D

k
e

d
a
l
a
m

m
a
t
a

p
e
l
a
[
a
r
a
n

|
P
A
,

|
P
S
,

8
a
h
a
s
a

|
n
d
o
n
e
s
l
a

d
a
n

P
e
n
[
a
s
o
r
k
e
s
K
E
L
A
S
M
A
T
E
R
I

P
E
M
B
E
L
A
J
A
R
A
N
P
R
B
I
N
D
I
K
A
T
O
R

P
R
I
L
A
K
U

S
I
S
W
A

(
I
n
d
i
k
a
t
o
r

P
e
m
b
e
l
a
j
a
r
a
n

P
R
B
)
M
A
T
A

P
E
L
A
J
A
R
A
N
S
t
a
n
d
a
r

K
o
p
e
t
e
n
s
i

(
S
K
)
K
o
p
e
t
e
n
s
i

D
a
s
a
r

(
K
D
)
K
l
s

I
V
/
1

K
l
s

I
V
/
2

K
l
s

V
/
1
K
l
s

V
I
/
1
K
l
s

V
I
/
1
K
l
s

I
I
I
/
2
-

S
a
a
t

t
e
r
[
a
d
l

b
e
n
c
a
n
a


U
p
a
y
a

p
e
n
y
e
l
a
m
a
t
a
n

d
l
r
l



k
e
t
l
k
a

t
e
r
[
a
d
l

k
e
b
a
k
a
r
a
n
:
-

8
e
r
l
a
r
l

m
e
n
[
a
u
h
l

s
u
m
b
e
r

a
p
l
-

M
e
m
a
n
g
g
l
l

t
e
t
a
n
g
g
a
-

M
e
n
g
h
u
b
u
n
g
l

p
e
m
a
d
a
m



k
e
b
a
k
a
r
a
n
-

M
e
n
y
e
l
a
m
a
t
k
a
n

d
l
r
l

(
u
t
a
m
a



a
d
a
l
a
h

m
e
n
y
e
l
a
m
a
t
k
a
n

[
l
w
a
)
-

M
e
n
c
a
r
l

l
o
k
a
s
l

p
e
n
y
e
l
a
m
a
t
a
n



d
l
r
l

y
a
n
g

t
e
r
d
e
k
a
t

d
a
n

a
m
a
n

-

U
p
a
y
a

y
a
n
g

d
l
l
a
k
u
k
a
n

s
a
a
t




k
e
b
a
k
a
r
a
n
U
p
a
y
a

p
e
n
y
e
l
a
m
a
t
a
n

d
l
r
l

k
e
t
l
k
a

t
e
r
[
a
d
l

k
e
b
a
k
a
r
a
n
:
-

M
e
n
c
a
r
l

l
o
k
a
s
l

p
e
n
y
e
-


l
a
m
a
t
a
n

d
l
r
l

y
a
n
g



t
e
r
d
e
k
a
t

d
a
n

a
m
a
n
-

U
p
a
y
a

y
a
n
g

d
l
l
a
k
u
k
a
n



s
a
a
t

k
e
b
a
k
a
r
a
n
8
a
h
a
s
a

|
n
d
o
n
e
s
l
a

P
e
n
[
a
s
o
r
k
e
s
M
e
m
b
a
c
a
3
.

M
e
m
a
h
a
m
l

t
e
k
s

a
g
a
k

p
a
n
[
a
n
g

(
l
5
0
-




2
0
0

k
a
t
a
)
,

p
e
t
u
n
[
u
k

p
e
m
a
k
a
l
a
n
,





m
a
k
n
a

k
a
t
a

d
a
l
a
m

k
a
m
u
s
/
e
n
s
l
k
l
o
p
e
d
l
7
.

M
e
m
a
h
a
m
l

t
e
k
s

m
e
l
a
l
u
l

m
e
m
b
a
c
a





l
n
t
e
n
s
l
f
,

m
e
m
b
a
c
a

n
y
a
r
l
n
g
,

d
a
n





m
e
m
b
a
c
a

p
a
n
t
u
n
2
.

M
e
n
g
u
n
g
k
a
p
k
a
n

p
l
k
l
r
a
n
,

p
e
n
d
a
p
a
t
,





p
e
r
a
s
a
a
n
,

f
a
k
t
a

s
e
c
a
r
a

l
l
s
a
n

d
e
n
g
a
n





m
e
n
a
n
g
g
a
p
l

s
u
a
t
u

p
e
r
s
o
a
l
a
n
,





m
e
n
c
e
r
l
t
a
k
a
n

h
a
s
l
l

p
e
n
g
a
m
a
t
a
n
,





a
t
a
u


b
e
r
w
a
w
a
n
c
a
r
a
5
.

M
e
m
a
h
a
m
l

w
a
c
a
n
a

l
l
s
a
n

t
e
n
t
a
n
g





b
e
r
l
t
a

d
a
n

d
r
a
m
a

p
e
n
d
e
k
l
.

M
e
m
p
r
a
k
t
l
k
k
a
n

b
e
r
b
a
g
a
l

g
e
r
a
k





d
a
s
a
r

p
e
r
m
a
l
n
a
n

d
a
n

o
l
a
h
r
a
g
a





d
e
n
g
a
n

p
e
r
a
t
u
r
a
n

y
a
n
g

d
l
m
o
d
l
ñ
k
a
s
l
,





d
a
n

n
l
l
a
l
-
n
l
l
a
l

y
a
n
g

t
e
r
k
a
n
d
u
n
g

d
l





d
a
l
a
m
n
y
a
6
.

M
e
m
p
r
a
k
t
l
k
k
a
n

b
e
r
b
a
g
a
l

g
e
r
a
k





d
a
s
a
r

d
a
l
a
m

p
e
r
m
a
l
n
a
n

s
e
d
e
r
h
a
n
a





d
a
n

n
l
l
a
l
-
n
l
l
a
l

y
a
n
g

t
e
r
k
a
n
d
u
n
g

d
l





d
a
l
a
m
n
y
a
3
.
l

M
e
n
e
m
u
k
a
n

p
l
k
l
r
a
n

p
o
k
o
k

t
e
k
s

a
g
a
k








p
a
n
[
a
n
g

(
l
5
0
-
2
0
0

k
a
t
a
)

d
e
n
g
a
n

c
a
r
a








m
e
m
b
a
c
a

s
e
k
l
l
a
s

7
.
l

M
e
n
e
m
u
k
a
n

k
a
l
l
m
a
t

u
t
a
m
a

p
a
d
a








t
l
a
p

p
a
r
a
g
r
a
p
h

m
e
l
a
l
u
l

m
e
m
b
a
c
a








l
n
t
e
n
s
l
f
2
.
l

M
e
n
a
n
g
g
a
p
l

s
u
a
t
u

p
e
r
s
o
a
l
a
n

a
t
a
u








p
e
r
l
s
t
l
w
a

d
a
n

m
e
m
b
e
r
l
k
a
n

s
a
r
a
n








p
e
m
e
c
a
h
a
n
n
y
a

d
e
n
g
a
n

m
e
m
p
e
r
-







h
a
t
l
k
a
n

p
l
l
l
h
a
n

k
a
t
a

d
a
n

s
a
n
t
u
n








b
e
r
b
a
h
a
s
a
5
.
l

M
e
n
y
l
m
p
u
l
k
a
n

l
s
l

b
e
r
l
t
a

y
a
n
g








d
l
d
e
n
g
a
r

d
a
r
l

t
e
l
e
v
l
s
l

a
t
a
u

r
a
d
l
o
l
.
3


M
e
m
p
r
a
k
t
l
k
k
a
n

k
o
o
r
d
l
n
a
s
l

g
e
r
a
k








d
a
s
a
r

d
a
l
a
m

t
e
k
n
l
k

l
a
r
l
,

l
e
m
p
a
r

d
a
n








l
o
m
p
a
t

d
e
n
g
a
n

p
e
r
a
t
u
r
a
n

y
a
n
g







d
l
m
o
d
l
ñ
k
a
s
l
,

s
e
r
t
a

n
l
l
a
l

s
e
m
a
n
g
a
t
,








s
p
o
r
t
l
v
l
t
a
s
,

p
e
r
c
a
y
a

d
l
r
l

d
a
n








k
e
[
u
[
u
r
a
n
6
.
l

M
e
m
p
r
a
k
t
l
k
k
a
n

k
o
m
b
l
n
a
s
l

g
e
r
a
k








d
a
s
a
r

[
a
l
a
n
,

l
a
r
l

d
a
n

l
o
m
p
a
t

d
e
n
g
a
n








k
o
o
r
d
l
n
a
s
l

y
a
n
g

b
a
l
k

d
a
l
a
m








p
e
r
m
a
l
n
a
n

s
e
d
e
r
h
a
n
a
,

s
e
r
t
a

n
l
l
a
l








k
e
r
[
a
s
a
m
a
,

t
o
l
e
r
a
n
s
l
,

k
e
[
u
[
u
r
a
n
,








t
a
n
g
g
u
n
g

[
a
w
a
b

d
a
n

m
e
n
g
h
a
r
g
a
l








l
a
w
a
n

a
t
a
u

d
l
r
l

s
e
n
d
l
r
l
T
a
b
e
l

P
e
m
e
t
a
a
n

S
K

K
D

k
e

d
a
l
a
m

m
a
t
a

p
e
l
a
[
a
r
a
n

|
P
A
,

|
P
S
,

8
a
h
a
s
a

|
n
d
o
n
e
s
l
a

d
a
n

P
e
n
[
a
s
o
r
k
e
s
K
E
L
A
S
M
A
T
E
R
I

P
E
M
B
E
L
A
J
A
R
A
N
P
R
B
I
N
D
I
K
A
T
O
R

P
R
I
L
A
K
U

S
I
S
W
A

(
I
n
d
i
k
a
t
o
r

P
e
m
b
e
l
a
j
a
r
a
n

P
R
B
)
M
A
T
A

P
E
L
A
J
A
R
A
N
S
t
a
n
d
a
r

K
o
p
e
t
e
n
s
i

(
S
K
)
K
o
p
e
t
e
n
s
i

D
a
s
a
r

(
K
D
)
K
l
s

V
/
1

K
l
s

V
I
/
2
S
e
t
e
l
a
h

t
e
r
j
a
d
i

b
e
n
c
a
n
a
-

M
e
n
e
r
a
p
k
a
n

p
e
r
t
o
l
o
n
g
a
n



l
u
k
a

b
a
k
a
r
-

D
a
p
a
t

m
e
n
g
l
d
e
n
t
l
ñ
k
a
s
l



p
e
n
g
e
r
t
l
a
n

l
u
k
a

b
a
k
a
r

d
a
n



p
e
m
b
a
g
l
a
n
n
y
a
-

D
a
p
a
t

m
e
n
g
l
d
e
n
t
l
ñ
k
a
s
l



l
a
n
g
k
a
h
-
l
a
n
g
k
a
h

p
e
r
t
o
-


l
o
n
g
a
n

l
u
k
a

b
a
k
a
r
-

D
a
p
a
t

m
e
m
p
r
a
k
t
e
k
k
a
n



l
a
n
g
k
a
h
-
l
a
n
g
k
a
h

p
e
r
t
o
l
o
n
a
n



l
u
k
a

b
a
k
a
r
-

M
e
n
e
r
a
p
k
a
n

p
e
r
t
o
l
o
n
g
a
n




c
e
d
e
r
a

[
a
r
l
n
g
a
n

l
u
n
a
k
-

M
e
n
g
l
d
e
n
t
l
ñ
k
a
s
l

p
e
n
g
e
r
t
a
l
n



c
e
d
e
r
a

[
a
r
l
n
g
a
n

l
u
n
a
k

d
a
n



p
e
m
b
a
g
l
a
n
n
y
a
-

M
e
n
g
l
d
e
n
t
l
ñ
k
a
s
l

a
l
a
t

d
a
n



b
a
h
a
n

p
e
r
t
o
l
o
n
g
a
n

c
e
d
e
r
a



[
a
r
l
n
g
a
n

l
u
n
a
k
-

M
e
n
g
l
d
e
n
t
l
ñ
k
a
s
l

l
a
n
g
k
a
h
-


l
a
n
g
k
a
h

p
e
r
t
o
l
o
n
g
a
n

c
e
d
e
r
a



[
a
r
l
n
g
a
n

l
u
n
a
k
-

M
e
m
p
r
a
k
t
e
k
k
a
n

l
a
n
g
k
a
h
-


l
a
n
g
k
a
h

p
e
r
t
o
l
o
n
g
a
n

c
e
d
e
r
a



[
a
r
l
n
g
a
n

l
u
n
a
k

-

M
e
n
g
e
t
a
h
u
l

t
u
[
u
a
n



p
e
r
t
o
l
o
n
g
a
n

p
e
r
t
a
m
a
-

M
e
n
y
e
l
a
m
a
t
k
a
n

[
l
w
a
-

M
e
n
c
e
g
a
h

c
a
c
a
t
-

M
e
m
b
e
r
l
k
a
n

r
a
s
a

n
y
a
m
a
n
-

M
e
n
u
n
[
a
n
g

p
r
o
s
e
s



p
e
n
y
e
m
b
u
h
a
n

-

M
e
n
g
e
t
a
h
u
l

s
e
b
a
b

l
u
k
a



b
a
k
a
r
-

K
l
a
s
l
ñ
k
a
s
l

l
u
k
a

b
a
k
a
r
-

M
e
n
e
r
a
p
k
a
n

p
e
r
t
o
l
o
n
g
a
n



l
u
k
a

b
a
k
a
r

r
l
n
g
a
n
-

D
a
p
a
t

m
e
n
g
l
d
e
n
t
l
ñ
k
a
s
l



p
e
n
g
e
r
t
l
a
n

l
u
k
a

b
a
k
a
r



d
a
n

p
e
m
b
a
g
l
a
n
n
y
a
-

D
a
p
a
t

m
e
n
g
l
d
e
n
t
l
ñ
k
a
s
l



l
a
n
g
k
a
h
-
l
a
n
g
k
a
h



p
e
r
t
o
l
o
n
g
a
n

l
u
k
a

b
a
k
a
r
-

M
e
n
g
l
d
e
n
t
l
ñ
k
a
s
l

a
l
a
t

d
a
n



b
a
h
a
n

p
e
r
t
o
l
o
n
g
a
n



p
e
r
t
a
m
a

p
a
d
a

l
u
k
a

b
a
k
a
r



r
l
n
g
a
n
-

M
e
n
g
e
t
a
h
u
l

t
u
[
u
a
n



p
e
r
t
o
l
o
n
g
a
n

p
e
r
t
a
m
a
-

M
e
n
g
e
t
a
h
u
l

s
e
b
a
b

l
u
k
a



b
a
k
a
r
-

D
a
p
a
t

m
e
n
g
k
l
a
s
l
ñ
k
a
s
l



l
u
k
a

b
a
k
a
r
B
a
h
a
s
a

|
n
d
o
n
e
s
l
a

I
P
S
3
.

M
e
m
a
h
a
m
l

t
e
k
s

d
e
n
g
a
n

m
e
m
b
a
c
a





t
e
k
s

p
e
r
c
a
k
a
p
a
n
,

m
e
m
b
a
c
a

c
e
p
a
t





7
5

k
a
t
a
/
m
e
n
l
t
,

d
a
n

m
e
m
b
a
c
a

p
u
l
s
l

3
.

M
e
m
a
h
a
m
l

t
e
k
s

d
e
n
g
a
n

m
e
m
b
a
c
a





l
n
t
e
n
s
l
f

d
a
n

m
e
m
b
a
c
a

s
e
k
l
l
a
s
l
.

M
e
m
a
h
a
m
l

g
e
[
a
l
a

a
l
a
m

y
a
n
g

t
e
r
[
a
d
l





d
l

|
n
d
o
n
e
s
l
a

d
a
n

s
e
k
l
t
a
r
n
y
a
3
.
2

M
e
n
e
m
u
k
a
n

g
a
g
a
s
a
n

u
t
a
m
a

s
u
a
t
u







t
e
k
s

y
a
n
g

d
l
b
a
c
a

d
e
n
g
a
n

k
e
c
e
p
a
t
a
n







7
5

k
a
t
a


p
e
r

m
e
n
l
t


8
a
h
a
s
a

|
n
d
o
n
e
s
l
a

K
l
s

v
|
/
l
3
.
l

M
e
n
d
e
s
k
r
l
p
s
l
k
a
n

l
s
l

d
a
n

t
e
k
n
l
k








p
e
n
y
a
[
l
a
n

s
u
a
t
u

l
a
p
o
r
a
n

h
a
s
l
l








p
e
n
g
a
m
a
t
a
n
2
.
l

M
e
n
g
e
n
a
l

c
a
r
a
-
c
a
r
a

m
e
n
g
h
a
d
a
p
l








b
e
n
c
a
n
a

a
l
a
m
T
a
b
e
l

P
e
m
e
t
a
a
n

S
K

K
D

k
e

d
a
l
a
m

m
a
t
a

p
e
l
a
[
a
r
a
n

|
P
A
,

|
P
S
,

8
a
h
a
s
a

|
n
d
o
n
e
s
l
a

d
a
n

P
e
n
[
a
s
o
r
k
e
s
Pengintegrasian Pengurangan Risiko Kebakaran
ke dalam Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan Dasar (SD/MI)
48
5.1.3 Penyusunan Silabus Pengurangan Risiko Kebakaran
Silabus adalah rencana pembelajaran pada suatu dan/atau kelompok mata
pelajaran/tema tertentu yang mencakup standar kompetensi, kompetensi
dasar, materi pokok/pembelajaran, kegiatan pembelajaran, indikator
pencapaian kompetensi untuk penilaian, penilaian, alokasi waktu, dan sumber
belajar.
Penyusunan silabus Integrasi SK/KD pada Standar Isi dengan PRB harus
memperhatikan beberapa prinsip sebagai berikut:
1. Ilmiah: keseluruhan materi dan kegiatan yang menjadi muatan dalam
silabus harus benar dan dapat dipertanggungjawabkan secara keilmuan
2. Relevan: Cakupan, kedalaman, tingkat kesukaran dan urutan penyajian
materi dalam silabus sesuai dengan tingkat perkembangan fsik, intelektual,
sosial, emosional, dan spritual peserta didik.
3. Sistematis: Komponen-komponen silabus saling berhubungan secara
fungsional dalam mencapai kompetensi.
4. Konsisten: Adanya hubungan yang konsisten (ajeg, taat asas) antara
kompetensi dasar, indikator, materi pokok/ pembelajaran, kegiatan
pembelajaran, sumber belajar, dan sistem penilaian.
5. Memadai: Cakupan indikator, materi pokok/ pembelajaran, kegiatan
pembelajaran, sumber belajar, dan sistem penilaian cukup untuk
menunjang pencapaian kompetensi dasar.
6. Aktual dan Kontekstual: Cakupan indikator, materi pokok/ pembelajaran,
kegiatan pembelajaran, sumber belajar, dan sistem penilaian memperhatikan
perkembangan ilmu, teknologi, dan seni mutakhir dalam kehidupan nyata,
dan peristiwa yang terjadi.
7. Fleksibel: Keseluruhan komponen silabus dapat mengakomodasi
keragaman peserta didik, pendidik, serta dinamika perubahan yang terjadi
di sekolah dan tuntutan masyarakat.
8. Menyeluruh: Komponen silabus mencakup keseluruhan ranah kompetensi
(kognitif, afektif, psikomotor)
Silabus mata pelajaran disusun berdasarkan seluruh alokasi waktu yang
disediakan untuk mata pelajaran selama penyelenggaraan pendidikan di
tingkat satuan pendidikan. Penyusunan silabus memperhatikan alokasi waktu
yang disediakan per semester, per tahun, dan alokasi waktu mata pelajaran
lain yang sekelompok.
Implementasi pembelajaran per semester menggunakan penggalan silabus
sesuai dengan Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar untuk mata
pelajaran dengan alokasi waktu yang tersedia pada struktur kurikulum.
Modul Ajar Pengintegrasian Pengurangan Risiko Kebakaran untuk SD/MI
49
Silabus terdiri dari beberapa komponen sebagai berikut:
Standar Kompetensi, Kompetensi Dasar, Materi Pokok/Pembelajaran,
Kegiatan Pembelajaran, Indikator, Penilaian, Alokasi Waktu, dan Sumber
Belajar. Silabus dikembangkan melalui mekanisme yang digambarkan pada
skema berikut ini,

Gambar. 5.2 Skema Pengembangan Silabus
Analisis
SI / SKL /
SK - KD
Materi Pokok /
Pembelajaran
Kegiatan
Pembelajaran
Alokasi Waktu
Sumber Belajar
Penilaian
KD - Indikator
Pengembangan Silabus dilakukan dengan langkah-langkah sebagai
berikut:
1. Mengkaji dan Menentukan Standar Kompetensi
Mengkaji standar kompetensi mata pelajaran dengan memperhatikan
hal-hal berikut:
 Urutan berdasarkan hierarki konsep disiplin ilmu dan/atau tingkat
kesulitan materi, tidak harus selalu sesuai dengan urutan yang ada di
SI;
 Keterkaitan antar standar kompetensi dan kompetensi dasar dalam
mata pelajaran;
 Keterkaitan standar kompetensi dan kompetensi dasar antarmata
pelajaran.
Pengintegrasian Pengurangan Risiko Kebakaran
ke dalam Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan Dasar (SD/MI)
50
2. Mengkaji dan Menentukan Kompetensi Dasar
Kompetensi dasar mata pelajaran dikaji dengan memperhatikan hal-hal
berikut:
 Urutan berdasarkan hierarki konsep disiplin ilmu dan/atau tingkat
kesulitan materi, tidak harus selalu sesuai dengan urutan yang ada
dalam SI;
 Keterkaitan antar standar kompetensi dan kompetensi dasar dalam
mata pelajaran;
 Keterkaitan standar kompetensi dan kompetensi dasar antar mata
pelajaran
3. Mengidentifkasi Materi Pokok/Pembelajaran
Cara mengidentifkasi materi pokok telah diuraikan pada bagian
sebelumnya.
4. Mengembangkan Kegiatan Pembelajaran
Untuk mengembangkan kegiatan pembelajaran perlu diperhatikan hal-
hal sebagai berikut:
 Kegiatan pembelajaran harus memuat rangkaian kegiatan yang harus
dilakukan peserta didik secara berurutan untuk mencapai kompetensi
dasar
 Penentuan urutan kegiatan pembelajaran harus sesuai dengan hierarki
konsep materi pembelajaran
 Rumusan pernyataan dalam kegiatan pembelajaran minimal
mengandung dua unsur penciri yang mencerminkan pengelolaan
pengalaman belajar peserta didik yaitu kegiatan siswa dan materi
pembelajaran.
5. Merumuskan Indikator Pencapaian Kompetensi
Indikator merupakan penanda pencapaian kompetensi dasar yang
ditandai oleh perubahan perilaku yang dapat diukur yang mencakup
sikap, pengetahuan, dan keterampilan. Indikator digunakan sebagai dasar
untuk menyusun alat penilaian. Indikator dikembangkan sesuai dengan
karakteristik peserta didik, satuan pendidikan, dan potensi daerah.
Pada rumusan indikator dapat diintegrasikan perubahan-perubaan perilaku
yang berhubungan kebencanaan sesuai dengan tuntutan kompetensi
dasar. Rumusan Indikator dengan menggunakan kata kerja operasional
yang dapat diukur atau diobservasi. Tingkatan kata kerja dalam indikator
lebih rendah atau setara dengan kata kerja dalam Kompetensi Dasar atau
Standar Kompetensi.
Modul Ajar Pengintegrasian Pengurangan Risiko Kebakaran untuk SD/MI
51
6. Menentukan Jenis Penilaian
Penilaian merupakan serangkaian kegiatan untuk memperoleh,
menganalisis, dan menafsirkan data tentang proses dan hasil belajar peserta
didik yang dilakukan secara sistematis dan berkesinambungan, sehingga
menjadi informasi yang bermakna dalam pengambilan keputusan.
Penilaian dilakukan dengan menggunakan tes dan non tes dalam bentuk
tertulis maupun lisan, pengamatan kinerja, sikap, penilaian hasil karya
berupa proyek atau produk, penggunaan portofolio, dan penilaian diri.
Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam menentukan penilaian:
 Untuk mengukur pencapaian kompetensi peserta didik, yang dilakukan
berdasarkan indikator
 Menggunakan acuan kriteria
 Menggunakan sistem penilaian berkelanjutan
 Hasil penilaian dianalisis untuk menentukan tindak lanjut
 Sesuai dengan pengalaman belajar yang ditempuh dalam kegiatan
pembelajaran
7. Menentukan Alokasi Waktu
Penentuan alokasi waktu pada setiap kompetensi dasar didasarkan pada
jumlah minggu efektif dan alokasi waktu mata pelajaran per minggu dengan
mempertimbangkan jumlah kompetensi dasar, keluasan, kedalaman,
tingkat kesulitan, dan tingkat kepentingan kompetensi dasar.
Alokasi waktu yang dicantumkan dalam silabus merupakan perkiraan
waktu rerata untuk menguasai kompetensi dasar yang dibutuhkan oleh
peserta didik yang beragam.
8. Menentukan Sumber Belajar
Sumber belajar adalah rujukan, objek dan/atau bahan yang digunakan
untuk kegiatan pembelajaran. Sumber belajar dapat berupa media cetak
dan elektronik, nara sumber, serta lingkungan fsik, alam, sosial, dan
budaya.
Penentuan sumber belajar didasarkan pada standar kompetensi dan
kompetensi dasar serta materi pokok/pembelajaran, kegiatan pembelajaran,
dan indikator pencapaian kompetensi.
S
t
a
n
d
a
r

K
o
m
p
e
t
e
n
s
i
K
o
m
p
e
t
e
n
s
i

D
a
s
a
r
M
a
t
e
r
i

P
o
k
o
k
K
e
g
i
a
t
a
n

P
e
m
b
e
l
a
j
a
r
a
n
I
n
d
i
k
a
t
o
r
P
e
n
i
l
a
i
a
n
A
l
o
k
a
s
i

W
a
k
t
u
S
u
m
b
e
r
/
b
a
h
a
n
/
B
e
n
d
a

d
a
n

S
i
f
a
t
n
y
a

6
.

M
e
m
a
h
a
m
i

b
e
r
a
g
a
m

s
i
f
a
t

d
a
n

p
e
r
u
b
a
h
a
n

w
u
j
u
d

b
e
n
d
a

s
e
r
t
a

b
e
r
b
a
g
a
i

c
a
r
a

p
e
n
g
g
u
n
a
a
n

b
e
n
d
a


b
e
r
d
a
s
a
r
k
a
n

s
i
f
a
t
n
y
a
6
.
2

M
e
n
d
e
s
k
r
i
p
s
i
-
k
a
n

t
e
r
j
a
d
i
n
y
a

p
e
r
u
b
a
h
a
n

w
u
j
u
d


c
a
i
r


p
a
d
a
t



c
a
i
r
;

c
a
i
r



g
a
s


c
a
i
r
;


p
a
d
a
t



g
a
s
P
e
r
u
b
a
h
a
n

w
u
j
u
d

b
e
n
d
a

a
k
i
b
a
t

p
e
m
b
a
k
a
r
a
n
S
i
s
w
a

m
e
n
g
i
d
e
n
t
i

k
a
s
i

b
e
n
d
a
-
b
e
n
d
a

p
a
d
a
t

y
a
n
g

d
a
p
a
t

b
e
r
u
b
a
h

w
u
j
u
d
S
i
s
w
a

d
i
t
u
g
a
s
k
a
n

m
e
l
a
k
u
k
a
n

p
e
r
c
o
b
a
a
n

p
e
m
b
a
k
a
r
a
n

k
e
r
t
a
s

d
a
n

m
e
m
b
u
a
t

l
a
p
o
r
a
n

h
a
s
i
l

p
e
n
g
a
m
a
t
a
n
t

.
F
O
Z
F
C
V
U
L
B
O

Q
F
O
Z
F
C
B
C

U
F
S
K
B
E
J
O
Z
B

p
e
r
u
b
a
h
a
n

w
u
j
u
d

b
e
n
d
a
t

.
F
O
Z
F
C
V
U
L
B
O

I
B
T
J
M

Q
F
S
V
C
B
I
B
O

w
u
j
u
d

b
e
n
d
a

p
a
d
a
t

t

.
F
N
C
F
E
B
L
B
O

Q
F
S
V
C
B
I
B
O

X
V
K
V
E

[
B
U

d
a
r
i

p
a
d
a

k
e

g
a
s
T
e
r
t
u
l
i
s
p
e
r
f
o
r
m
a
n
c
e
2

x

3
5

m
e
n
i
t
B
u
k
u

I
P
A

k
e
l
a
s

I
V
K
e
r
t
a
s

k
o
r
a
n

d
a
n

k
o
r
e
k

a
p
i
C
o
n
t
o
h
-
C
o
n
t
o
h

S
i
l
a
b
u
s

I
t
e
g
r
a
s
i

P
e
n
g
u
r
a
n
g
a
n

R
i
s
i
k
o

B
e
n
c
a
n
a

K
e
b
a
k
a
r
a
n
I
P
A

K
l
s

I
V
/
1
T
a
b
e
l

5
.
2

S
i
l
a
b
u
s

I
n
t
e
g
r
a
s
i

P
e
n
g
u
r
a
n
g
a
n

R
i
s
i
k
o

B
e
n
c
a
n
a

K
e
b
a
k
a
r
a
n

k
e

d
a
l
a
m

m
a
t
a

p
e
l
a
j
a
r
a
n

I
P
A

k
e
l
a
s

I
V
/
1
S
t
a
n
d
a
r

K
o
m
p
e
t
e
n
s
i
K
o
m
p
e
t
e
n
s
i

D
a
s
a
r
M
a
t
e
r
i

P
o
k
o
k
K
e
g
i
a
t
a
n

P
e
m
b
e
l
a
j
a
r
a
n
I
n
d
i
k
a
t
o
r
P
e
n
i
l
a
i
a
n
A
l
o
k
a
s
i

W
a
k
t
u
S
u
m
b
e
r
/
b
a
h
a
n
/
M
e
n
d
e
n
g
a
r
k
a
n
-

M
e
n
d
e
n
g
a
r
k
a
n

p
e
n
[
e
l
a
s
a
n

t
e
n
-
t
a
n
g

p
e
t
u
n
[
u
k

d
e
n
a
h

d
a
n

s
l
m
b
o
l

d
a
e
r
a
h
/
l
a
m
b
a
n
g

k
o
r
p
s


l
.
l

M
e
m
b
u
a
t

g
a
m
b
a
r
/
d
e
n
a
h

b
e
r
d
a
s
a
r
k
a
n

p
e
n
[
e
l
a
s
a
n

y
a
n
g

d
l
d
e
n
g
a
r
D
e
n
a
h

p
e
n
y
e
l
a
m
a
-
t
a
n

d
l
r
l

s
a
a
t

k
e
b
a
k
a
r
a
n
-

S
l
s
w
a

m
e
n
c
a
t
a
t

l
s
l
p
e
t
u
n
[
u
k

[
a
l
a
n

y
a
n
g

a
m
a
n

s
a
a
t

k
e
b
a
k
a
r
a
n

y
a
n
g

d
l
c
e
r
a
m
a
h
k
a
n

g
u
r
u
-

S
l
s
w
a

m
e
m
b
u
a
t

s
k
e
t
s
a

[
a
l
a
n

y
a
n
g

a
m
a
n

s
a
a
t

k
e
b
a
k
a
r
a
n
-

S
l
s
w
a

m
e
n
[
e
l
a
s
k
a
n

k
e
m
b
a
l
l

l
s
l

p
e
t
u
n
[
u
k

t
e
n
t
a
n
g

c
a
r
a

m
e
n
e
m
u
k
a
n

[
a
l
a
n

y
a
n
g

a
m
a
n

s
a
a
t

k
e
b
a
k
a
r
a
n

-

M
e
n
c
a
t
a
t

l
s
l

p
e
t
u
n
[
u
k

t
e
n
t
a
n
g

m
e
n
e
m
u
k
a
n

[
a
l
a
n

y
a
n
g

a
m
a
n

s
a
a
t

k
e
b
a
k
a
r
a
n
-

M
e
m
b
u
a
t

s
k
e
t
s
a

p
e
t
u
n
[
u
k

t
e
n
t
a
n
g

m
e
n
e
m
u
k
a
n

[
a
l
a
n

y
a
n
g

a
m
a
n

s
a
a
t

k
e
b
a
k
a
r
a
n

y
a
n
g

d
l
p
e
r
d
e
n
g
a
r
k
a
n
-

M
e
n
[
e
l
a
s
k
a
n

k
e
m
b
a
l
l

l
s
l

p
e
t
u
n
[
u
k

t
e
n
t
a
n
g

m
e
n
e
m
u
k
a
n

[
a
l
a
n

y
a
n
g

a
m
a
n

s
a
a
t

k
e
b
a
k
a
r
a
n
T
e
r
t
u
l
l
s

U
n
[
u
k

k
e
r
[
a
U
n
[
u
k

k
e
r
[
a
3
X
3
5

M
e
n
l
t
G
a
m
b
a
r

y
a
n
g

d
l
b
u
a
t

g
u
r
u
8
u
k
u

p
e
n
d
u
a
n

k
e
s
e
l
a
m
a
t
a
n


k
e
b
a
k
a
r
a
n
8
a
h
a
s
a

|
n
d
o
n
e
s
l
a
K
e
l
a
s

|
v
/
l
C
o
n
t
o
h
-
C
o
n
t
o
h

S
l
l
a
b
u
s

|
t
e
g
r
a
s
l

P
e
n
g
u
r
a
n
g
a
n

P
l
s
l
k
o

8
e
n
c
a
n
a

K
e
b
a
k
a
r
a
n
T
a
b
e
l

5
.
3

S
i
l
a
b
u
s

I
n
t
e
g
r
a
s
i

P
e
n
g
u
r
a
n
g
a
n

R
i
s
i
k
o

B
e
n
c
a
n
a

K
e
b
a
k
a
r
a
n

k
e

d
a
l
a
m

m
a
t
a

p
e
l
a
j
a
r
a
n

B
a
h
a
s
a

I
n
d
o
n
e
s
i
a

k
e
l
a
s

I
V
/
1
S
t
a
n
d
a
r

K
o
m
p
e
t
e
n
s
i
K
o
m
p
e
t
e
n
s
i

D
a
s
a
r
M
a
t
e
r
i

P
o
k
o
k
K
e
g
i
a
t
a
n

P
e
m
b
e
l
a
j
a
r
a
n
I
n
d
i
k
a
t
o
r
P
e
n
i
l
a
i
a
n
A
l
o
k
a
s
i

W
a
k
t
u
S
u
m
b
e
r
/
b
a
h
a
n
/
M
e
m
b
a
c
a
3
.

M
e
m
a
h
a
m
i

t
e
k
s

a
g
a
k

p
a
n
j
a
n
g

(
1
5
0
-
2
0
0

k
a
t
a
)
,

p
e
t
u
n
j
u
k

p
e
m
a
k
a
i
a
n
,

m
a
k
n
a

k
a
t
a

d
a
l
a
m

k
a
m
u
s
/
e
n
s
i
k
l
o
p
e
d
i

3
.
1

M
e
n
e
m
u
k
a
n

p
i
k
i
r
a
n

p
o
k
o
k

t
e
k
s

a
g
a
k

p
a
n
j
a
n
g

(
1
5
0
-
2
0
0

k
a
t
a
)

d
e
n
g
a
n

c
a
r
a

m
e
m
b
a
c
a

s
e
k
i
l
a
s

T
e
k
s

t
e
n
t
a
n
g

b
e
n
c
a
n
a

k
e
b
a
k
a
r
a
n

1
5
0
-
2
0
0

k
a
t
a
-

S
l
s
w
a

m
e
m
b
a
c
a

b
e
r
a
g
a
m

t
e
k
s

t
e
n
t
a
n
g

k
e
b
a
k
a
r
a
n

1
5
0
-
2
0
0

k
a
t
a

d
e
n
g
a
n

i
n
t
o
n
a
s
i

y
a
n
g

s
e
s
u
a
i

d
e
n
g
a
n

i
s
i

t
e
k
s

s
e
h
i
n
g
g
a

d
a
p
a
t

d
i
p
a
h
a
m
i

o
r
a
n
g

l
a
i
n
.
-

S
l
s
w
a

m
e
n
c
a
t
a
t

h
a
l
-
h
a
l

p
e
n
t
i
n
g
.
-

S
l
s
w
a

m
e
n
g
a
[
u
k
a
n

p
e
r
t
a
n
y
a
a
n

s
e
s
u
a
i

d
e
n
g
a
n

i
s
i

t
e
k
s
.
-

S
l
s
w
a

m
e
n
[
a
w
a
b

p
e
r
t
a
n
y
a
a
n

t
e
n
t
a
n
g

i
s
i

t
e
k
s
.
-

S
l
s
w
a

m
e
n
[
e
l
a
s
k
a
n

l
s
l

t
e
k
s

d
e
n
g
a
n

i
n
t
o
n
a
s
i

y
a
n
g

s
e
s
u
a
i
.
-

S
l
s
w
a

m
e
n
y
l
m
p
u
l
k
a
n

i
s
i

t
e
k
s

b
a
c
a
a
n
.
-

M
e
m
b
a
c
a

b
e
r
a
g
a
m

t
e
k
s

t
e
n
t
a
n
g

k
e
b
a
k
a
r
a
n
1
5
0
-
2
0
0

k
a
t
a

d
e
n
g
a
n

i
n
t
o
n
a
s
i

y
a
n
g

s
e
s
u
a
i

d
e
n
g
a
n

i
s
i

t
e
k
s

s
e
h
i
n
g
g
a

d
a
p
a
t

d
i
p
a
h
a
m
i

o
r
a
n
g

l
a
i
n
.
-

M
e
n
c
a
t
a
t

h
a
l
-
h
a
l

p
e
n
t
l
n
g
-

M
e
n
g
a
[
u
k
a
n

p
e
r
t
a
n
y
a
a
n

s
e
s
u
a
l

d
e
n
g
a
n

i
s
i

t
e
k
s
.
-

M
e
n
[
a
w
a
b

p
e
r
t
a
n
y
a
a
n

t
e
n
t
a
n
g

i
s
i

t
e
k
s
.
-

M
e
n
[
e
l
a
s
k
a
n

l
s
l

t
e
k
s

d
e
n
g
a
n

i
n
t
o
n
a
s
i

y
a
n
g

s
e
s
u
a
i
.
-

M
e
n
y
l
m
p
u
l
k
a
n

l
s
l

t
e
k
s

b
a
c
a
a
n
.
U
n
j
u
k

k
e
r
j
a
T
e
r
t
u
l
i
s

U
n
j
u
k

k
e
r
j
a
T
e
r
t
u
l
i
s
U
n
j
u
k

k
e
r
j
a
T
e
r
t
u
l
i
s

3
X
3
5

M
e
n
i
t
T
e
k
s

k
e
j
a
d
i
a
n

k
e
b
a
k
a
r
a
n
K
o
r
a
n
M
a
j
a
l
a
h

C
o
n
t
o
h
-
C
o
n
t
o
h

S
l
l
a
b
u
s

|
t
e
g
r
a
s
l

P
e
n
g
u
r
a
n
g
a
n

P
l
s
l
k
o

8
e
n
c
a
n
a

K
e
b
a
k
a
r
a
n
8
a
h
a
s
a

|
n
d
o
n
e
s
l
a
K
e
l
a
s

|
v
/
l
S
t
a
n
d
a
r

K
o
m
p
e
t
e
n
s
i
K
o
m
p
e
t
e
n
s
i

D
a
s
a
r
M
a
t
e
r
i

P
o
k
o
k
K
e
g
i
a
t
a
n

P
e
m
b
e
l
a
j
a
r
a
n
I
n
d
i
k
a
t
o
r
P
e
n
i
l
a
i
a
n
A
l
o
k
a
s
i

W
a
k
t
u
S
u
m
b
e
r
/
b
a
h
a
n
/
M
e
m
a
h
a
m
i

t
e
k
s

m
e
l
a
l
u
i

m
e
m
b
a
c
a

i
n
t
e
n
s
i
f
,

m
e
m
b
a
c
a

n
y
a
r
i
n
g
,

d
a
n

m
e
m
b
a
c
a

p
a
n
t
u
n
M
e
n
e
m
u
k
a
n

k
a
l
i
m
a
t

u
t
a
m
a

p
a
d
a

t
i
a
p

p
a
r
a
g
r
a
f

m
e
l
a
l
u
i

m
e
m
b
a
c
a

i
n
t
e
n
s
i
f
T
e
k
s

k
e
b
a
k
a
r
a
n

(
4
-
5

p
a
r
a
g
r
a
f
)
-

S
l
s
w
a

m
e
n
e
m
u
k
a
n

p
o
k
o
k
-
p
o
k
o
k

p
i
k
i
r
a
n

y
a
n
g

t
e
r
d
a
p
a
t

d
a
l
a
m

t
e
k
s
.
-

S
l
s
w
a

m
e
n
c
a
t
a
t

l
d
e

p
o
k
o
k

p
a
d
a

t
i
a
p

p
a
r
a
g
r
a
f
-

S
l
s
w
a

m
e
n
u
l
l
s
k
a
n

k
a
l
i
m
a
t

u
t
a
m
a

p
a
d
a

t
i
a
p

p
a
r
a
g
r
a
f
-

S
l
s
w
a

m
e
r
l
n
g
k
a
s

t
e
k
s

b
a
c
a
a
n

d
e
n
g
a
n

k
a
l
i
m
a
t

y
a
n
g

r
u
n
t
u
t
.
-

S
l
s
w
a

m
e
n
g
l
d
e
n
t
l
ñ
k
a
s
l

k
a
t
a
-
k
a
t
a

y
a
n
g

m
e
m
i
l
i
k
i

s
i
n
o
n
i
m

d
a
n

a
n
t
o
n
i
m

s
e
r
t
a

m
e
n
u
l
i
s
k
a
n

s
i
n
o
n
i
m

a
t
a
u

a
n
t
o
n
i
m
n
y
a
-

S
l
s
w
a

m
e
n
[
e
l
a
s
k
a
n

l
s
l

t
e
k
s

d
e
n
g
a
n

k
a
l
i
m
a
t

y
a
n
g

r
u
n
t
u
t
.
-

M
e
n
e
m
u
k
a
n

p
o
k
o
k
-
p
o
k
o
k

p
i
k
i
r
a
n

y
a
n
g

t
e
r
d
a
p
a
t

d
a
l
a
m

t
e
k
s

b
a
c
a
a
n

k
e
b
a
k
a
r
a
n
.
-

M
e
n
c
a
t
a
t

l
d
e

p
o
k
o
k

p
a
d
a

t
l
a
p

p
a
r
a
g
r
a
f
-

M
e
n
u
l
l
s
k
a
n

k
a
l
l
m
a
t

u
t
a
m
a

p
a
d
a

t
i
a
p

p
a
r
a
g
r
a
p
h
-

M
e
r
l
n
g
k
a
s

t
e
k
s

b
a
c
a
a
n

k
e
b
a
k
a
r
a
n

d
e
n
g
a
n

k
a
l
i
m
a
t

y
a
n
g

r
u
n
t
u
t
.
-

M
e
n
g
l
d
e
n
t
l
ñ
k
a
s
l

k
a
t
a
-
k
a
t
a

y
a
n
g

m
e
m
i
l
i
k
i

s
i
n
o
n
i
m

d
a
n

a
n
t
o
n
i
m

s
e
r
t
a

m
e
n
u
l
i
s
k
a
n

s
i
n
o
n
i
m

a
t
a
u

a
n
t
o
n
i
m
n
y
a
-

M
e
n
[
e
l
a
s
k
a
n

l
s
l

t
e
k
s

b
a
c
a
a
n

k
e
b
a
k
a
r
a
n

d
e
n
g
a
n

k
a
l
i
m
a
t

y
a
n
g

r
u
n
t
u
t
T
e
r
t
u
l
i
s

T
e
r
t
u
l
i
s

T
e
r
t
u
l
i
s

T
e
r
t
u
l
i
s
T
e
r
t
u
l
i
s
U
n
[
u
k

k
e
r
[
a
1
0
X
3
5

M
e
n
i
t
K
o
r
a
n
M
a
[
a
l
a
h
T
e
k
s

b
a
c
a
a
n

y
a
n
g

d
i
r
a
n
c
a
n
g

g
u
r
u
C
o
n
t
o
h
-
C
o
n
t
o
h

S
l
l
a
b
u
s

|
t
e
g
r
a
s
l

P
e
n
g
u
r
a
n
g
a
n

P
l
s
l
k
o

8
e
n
c
a
n
a

K
e
b
a
k
a
r
a
n
8
a
h
a
s
a

|
n
d
o
n
e
s
l
a
K
e
l
a
s

|
v
/
2
T
a
b
e
l

5
.
4

S
i
l
a
b
u
s

I
n
t
e
g
r
a
s
i

P
e
n
g
u
r
a
n
g
a
n

R
i
s
i
k
o

B
e
n
c
a
n
a

K
e
b
a
k
a
r
a
n

k
e

d
a
l
a
m

m
a
t
a

p
e
l
a
j
a
r
a
n

B
a
h
a
s
a

I
n
d
o
n
e
s
i
a

k
e
l
a
s

I
V
/
2
S
t
a
n
d
a
r

K
o
m
p
e
t
e
n
s
i
K
o
m
p
e
t
e
n
s
i

D
a
s
a
r
M
a
t
e
r
i

P
o
k
o
k
K
e
g
i
a
t
a
n

P
e
m
b
e
l
a
j
a
r
a
n
I
n
d
i
k
a
t
o
r
P
e
n
i
l
a
i
a
n
A
l
o
k
a
s
i

W
a
k
t
u
S
u
m
b
e
r
/
b
a
h
a
n
/
M
e
n
g
u
n
g
k
a
p
k
a
n

p
i
k
i
r
a
n
,

p
e
n
d
a
p
a
t
,

p
e
r
a
s
a
a
n
,

f
a
k
t
a

s
e
c
a
r
a

l
i
s
a
n

d
e
n
g
a
n

m
e
n
a
n
g
g
a
p
i

s
u
a
t
u

p
e
r
s
o
a
l
a
n
,

m
e
n
c
e
r
i
t
a
k
a
n

h
a
s
i
l

p
e
n
g
a
m
a
t
a
n
,

a
t
a
u


b
e
r
w
a
w
a
n
c
a
r
a

M
e
n
a
n
g
g
a
p
i

s
u
a
t
u

p
e
r
s
o
a
l
a
n

a
t
a
u

p
e
r
i
s
t
i
w
a

d
a
n

m
e
m
b
e
r
i
k
a
n

s
a
r
a
n

p
e
m
e
c
a
h
a
n
n
y
a

d
e
n
g
a
n

m
e
m
p
e
r
h
a
t
i
k
a
n

p
i
l
i
h
a
n

k
a
t
a

d
a
n

s
a
n
t
u
n

b
e
r
b
a
h
a
s
a
M
a
s
a
l
a
h

a
t
a
u

p
e
r
i
s
t
i
w
a

k
e
b
a
k
a
r
a
n
t

4
J
T
X
B

N
F
O
K
F
M
B
T
L
B
O

m
a
s
a
l
a
h

a
t
a
u

p
e
r
i
s
t
i
w
a

k
e
b
a
k
a
r
a
n
t

4
J
T
X
B

N
F
N
C
F
S
J
L
B
O

k
o
m
e
n
t
a
r

a
t
a
u

s
a
r
a
n


d
e
n
g
a
n

a
l
a
s

a
n

y
a
n
g

l
o
g
i
s


d
a
n

b
a
h
a
s
a

y
a
n
g

s
a
n
t
u
n
t

.
F
O
K
F
M
B
T
L
B
O

N
B
T
B
M
B
I

B
U
B
V

p
e
r
i
s
t
i
w
a

k
e
b
a
k
a
r
a
n
t

.
F
N
C
F
S
J
L
B
O

L
P
N
F
O
U
B
S

B
U
B
V

s
a
r
a
n


d
e
n
g
a
n

a
l
a
s
a
n

y
a
n
g

l
o
g
i
s


d
a
n

b
a
h
a
s
a

y
a
n
g

s
a
n
t
u
n
.
T
e
r
t
u
l
i
s
6
O
K
V
L

L
F
S
K
B
5

X

3
5

M
e
n
i
t
K
o
r
a
n
.
B
K
B
M
B
I
K
e
l
a
s

V
/
1
$
P
O
U
P
I

$
P
O
U
P
I

4
J
M
B
C
V
T

*
U
F
H
S
B
T
J

1
F
O
H
V
S
B
O
H
B
O

3
J
T
J
L
P

#
F
O
D
B
O
B

,
F
C
B
L
B
S
B
O
T
a
b
e
l

5
.
5

S
i
l
a
b
u
s

I
n
t
e
g
r
a
s
i

P
e
n
g
u
r
a
n
g
a
n

R
i
s
i
k
o

B
e
n
c
a
n
a

K
e
b
a
k
a
r
a
n

k
e

d
a
l
a
m

m
a
t
a

p
e
l
a
j
a
r
a
n

B
a
h
a
s
a

I
n
d
o
n
e
s
i
a

k
e
l
a
s

V
/
1
S
t
a
n
d
a
r

K
o
m
p
e
t
e
n
s
i
K
o
m
p
e
t
e
n
s
i

D
a
s
a
r
M
a
t
e
r
i

P
o
k
o
k
K
e
g
i
a
t
a
n

P
e
m
b
e
l
a
j
a
r
a
n
I
n
d
i
k
a
t
o
r
P
e
n
i
l
a
i
a
n
A
l
o
k
a
s
i

W
a
k
t
u
S
u
m
b
e
r
/
b
a
h
a
n
/
M
e
m
a
h
a
m
i

c
e
r
i
t
a

t
e
n
t
a
n
g

s
u
a
t
u

p
e
r
i
s
t
i
w
a

d
a
n

c
e
r
i
t
a

p
e
n
d
e
k

a
n
a
k

y
a
n
g

d
i
s
a
m
p
a
i
k
a
n

s
e
c
a
r
a

l
i
s
a
n
M
e
m
a
h
a
m
i

c
e
r
i
t
a

t
e
n
t
a
n
g

s
u
a
t
u

p
e
r
i
s
t
i
w
a

d
a
n

c
e
r
i
t
a

p
e
n
d
e
k

a
n
a
k

y
a
n
g

d
i
s
a
m
p
a
i
k
a
n

s
e
c
a
r
a

l
i
s
a
n
C
e
r
i
t
a

p
e
n
d
e
k

a
n
a
k

t
e
n
t
a
n
g

b
e
n
c
a
n
a

k
e
b
a
k
a
r
a
n
-

S
l
s
w
a

m
e
n
[
e
l
a
s
k
a
n

t
o
k
o
h
-
t
o
k
o
h

c
e
r
i
t
a

t
e
n
t
a
n
g

p
e
n
y
e
l
a
m
a
t
a
n

s
e
o
r
a
n
g

a
n
a
k

d
a
l
a
m

p
e
r
i
s
t
i
w
a

k
e
b
a
k
a
r
a
n
-

S
l
s
w
a

m
e
n
e
n
t
u
k
a
n

l
a
t
a
r

c
e
r
i
t
a

d
e
n
g
a
n

m
e
n
g
u
t
i
p

k
a
l
i
m
a
t

a
t
a
u

p
a
r
a
g
r
a
f

y
a
n
g

m
e
n
d
u
k
u
n
g
-

S
l
s
w
a

m
e
n
e
n
t
u
k
a
n

t
e
m
a

c
e
r
i
t
a
-

S
l
s
w
a

m
e
n
e
n
t
u
k
a
n

a
m
a
n
a
t

y
a
n
g

t
e
r
k
a
n
d
u
n
g

d
a
l
a
m

c
e
r
i
t
a

d
a
n

t
a
k
a
n

k
e
m
b
a
l
i

c
e
r
i
t
a

d
e
n
g
a
n

b
a
h
a
s
a

s
e
n
d
i
r
i
-

M
e
n
[
e
l
a
s
k
a
n

t
o
k
o
h
-
t
o
k
o
h

c
e
r
l
t
a

d
a
n

s
i
f
a
t
-
s
i
f
a
t
n
y
a
.
-

M
e
n
e
n
t
u
k
a
n

l
a
t
a
r

c
e
r
l
t
a

d
e
n
g
a
n

m
e
n
g
u
t
i
p

k
a
l
i
m
a
t

a
t
a
u

p
a
r
a
g
r
a
f

y
a
n
g

m
e
n
d
u
k
u
n
g
-

M
e
n
e
n
t
u
k
a
n

t
e
m
a

c
e
r
l
t
a
-

M
e
n
e
n
t
u
k
a
n

a
m
a
n
a
t

y
a
n
g

t
e
r
k
a
n
d
u
n
g

d
a
l
a
m

c
e
r
i
t
a
-

M
e
n
c
e
r
l
t
a
k
a
n

k
e
m
b
a
l
l

l
s
l

c
e
r
l
t
a

d
e
n
g
a
n

b
a
h
a
s
a

s
e
n
d
i
r
i
T
e
r
t
u
l
i
s
T
e
r
t
u
l
i
s
T
e
r
t
u
l
i
s
T
e
r
t
u
l
i
s
U
n
[
u
k

k
e
r
[
a
1
0
X
3
5

M
e
n
i
t
C
e
r
i
t
a

t
e
n
t
a
n
g

b
e
n
c
a
n
a

k
e
b
a
r
a
k
a
n
C
o
n
t
o
h
-
C
o
n
t
o
h

S
l
l
a
b
u
s

|
t
e
g
r
a
s
l

P
e
n
g
u
r
a
n
g
a
n

P
l
s
l
k
o

8
e
n
c
a
n
a

K
e
b
a
k
a
r
a
n
K
e
l
a
s

v
,

S
e
m
e
s
t
e
r


2
T
a
b
e
l

5
.
6

S
i
l
a
b
u
s

I
n
t
e
g
r
a
s
i

P
e
n
g
u
r
a
n
g
a
n

R
i
s
i
k
o

B
e
n
c
a
n
a

K
e
b
a
k
a
r
a
n

k
e

d
a
l
a
m

m
a
t
a

p
e
l
a
j
a
r
a
n

B
a
h
a
s
a

I
n
d
o
n
e
s
i
a

k
e
l
a
s

V
/
2
S
t
a
n
d
a
r

K
o
m
p
e
t
e
n
s
i
K
o
m
p
e
t
e
n
s
i

D
a
s
a
r
M
a
t
e
r
i

P
o
k
o
k
K
e
g
i
a
t
a
n

P
e
m
b
e
l
a
j
a
r
a
n
I
n
d
i
k
a
t
o
r
P
e
n
i
l
a
i
a
n
A
l
o
k
a
s
i

W
a
k
t
u
S
u
m
b
e
r
/
b
a
h
a
n
/
M
e
m
a
h
a
m
i

t
e
k
s

d
e
n
g
a
n

m
e
m
b
a
c
a

i
n
t
e
n
s
i
f

d
a
n

m
e
m
b
a
c
a

s
e
k
i
l
a
s
M
e
n
d
e
s
k
r
i
p
s
i
k
a
n

i
s
i

d
a
n

t
e
k
n
i
k

p
e
n
y
a
j
i
a
n

s
u
a
t
u

l
a
p
o
r
a
n

h
a
s
i
l

p
e
n
g
a
m
a
t
a
n
M
e
n
c
e
r
i
t
a
-
k
a
n

h
a
s
i
l

p
e
n
g
a
m
a
-
t
a
n

b
e
n
c
a
n
a

k
e
b
a
k
a
r
a
n
t

4
J
T
X
B

N
F
O
D
B
U
B
U

p
o
k
o
k
-
p
o
k
o
k

p
e
n
g
a
m
a
t
a
n
.
t

4
J
T
X
B

N
F
O
K
F
M
B
T
L
B
O

p
o
k
o
k
-
p
o
k
o
k

h
a
l

y
a
n
g

d
i
a
m
a
t
i
t

4
J
T
X
B

N
F
O
K
F
M
B
T
L
B
O

s
e
c
a
r
a

r
i
n
c
i

h
a
s
i
l

p
e
n
g
a
m
a
t
a
n

l
i
n
g
k
u
-
n
g
a
n

d
e
n
g
a
n

b
a
h
a
s
a

y
a
n
g

k
o
m
u
n
i
k
a
t
i
f
t

4
J
T
X
B

N
F
O
K
F
M
B
T
L
B
O

h
a
s
i
l

p
e
n
g
a
m
a
t
a
n
.
t

4
J
T
X
B

N
F
M
B
Q
P
S
L
B
O

h
a
s
i
l

p
e
n
g
a
m
a
t
a
n
.
t

.
F
O
D
B
U
B
U

Q
P
L
P
L

Q
P
L
P
L

Q
F
O
H
B
N
B
U
B
O

Q
F
S
J
T
U
J
X
B

L
F
C
B
L
B
S
B
O
t

.
F
O
K
F
M
B
T
L
B
O

Q
P
L
P
L

Q
P
L
P
L

I
B
M

y
a
n
g

d
i
a
m
a
t
i
t

.
F
O
K
F
M
B
T
L
B
O

T
F
D
B
S
B

S
J
O
D
J

I
B
T
J
M

p
e
n
g
a
m
a
t
a
n

b
e
n
c
a
n
a

k
e
b
a
k
a
r
a
n


y
a
n
g

k
o
m
u
n
i
k
a
t
i
f
t

.
F
M
B
Q
P
S
L
B
O

I
B
T
J
M

Q
F
O
H
B
N
B
U
B
O

b
e
n
c
a
n
a

k
e
b
a
k
a
r
a
n
.
T
e
r
t
u
l
i
s
U
n
j
u
k

k
e
r
j
a
U
n
j
u
k

k
e
r
j
a
t
e
r
t
u
l
i
s
1
0

X

3
5

M
e
n
i
t
H
a
s
i
l

p
e
n
g
a
m
a
t
a
n

K
o
r
a
n
R
a
d
i
o
T
e
l
e
v
i
s
i
K
e
l
a
s

V
I
/
1
$
P
O
U
P
I

$
P
O
U
P
I

4
J
M
B
C
V
T

*
U
F
H
S
B
T
J

1
F
O
H
V
S
B
O
H
B
O

3
J
T
J
L
P

#
F
O
D
B
O
B

,
F
C
B
L
B
S
B
O
T
a
b
e
l

5
.
7

S
i
l
a
b
u
s

I
n
t
e
g
r
a
s
i

P
e
n
g
u
r
a
n
g
a
n

R
i
s
i
k
o

B
e
n
c
a
n
a

K
e
b
a
k
a
r
a
n

k
e

d
a
l
a
m

m
a
t
a

p
e
l
a
j
a
r
a
n

B
a
h
a
s
a

I
n
d
o
n
e
s
i
a

k
e
l
a
s

V
I
/
1
Modul Ajar Pengintegrasian Pengurangan Risiko Kebakaran untuk SD/MI
59
5.1.4 Penyusunan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran
RPP (Rencana pelaksanaan Pembelajaran) adalah rencana yang
menggambarkan prosedur dan pengorganisasian pembelajaran untuk
mencapai satu kompetensi dasar yang ditetapkan dalam Standar Isi dan
telah dijabarkan dalam silabus. Lingkup Rencana Pembelajaran paling luas
mencakup 1 (satu) kompetensi dasar yang terdiri atas 1 (satu) atau beberapa
indikator untuk 1 (satu) kali pertemuan atau lebih.
ALUR RPP
SK dan KD
SILABUS
RPP
Setiap RPP minimal harus mencakup komponen berikut ini;
Tujuan Pembelajaran, Materi Pembelajaran, Metode Pembelajaran,
Sumber Belajar, serta Penilaian Hasil Belajar.
Rumusan Materi Pembelajaran, Kegiatan Pembelajaran, dan Indikator
pada silabus yang sudah mengintegrasikan materi tentang bencana dan
kesiapsiagaan bencana selanjutnya diikuti oleh rumusan Indikator, Tujuan
Pembelajaran, Materi Ajar, dan Langkah Pembelajaran di Rencana Pelaksanaan
Pembelajaran yang juga memperlihatkan pengintegrasian materi tentang
bencana dan kesiapsiagaan bencana.
Langkah-langkah menyusun RPP sebagai berikut:
1. Mengisi kolom identitas
2. Menentukan alokasi waktu yang dibutuhkan untuk pertemuan yang telah
ditetapkan
3. Menentukan SK, KD, dan Indikator yang akan digunakan ( terdapat pada
silabus yang telah disusun)
4. Merumuskan tujuan pembelajaran berdasarkan SK, KD, dan Indikator yang
telah ditentukan. (Lebih rinci dari KD dan Indikator, pada saat-saat tertentu
rumusan indikator sama dengan tujuan pembelajaran, karena indikator
sudah sangat rinci sehingga tidak dapat dijabarkan lagi.)
5. Mengidentifkasi materi ajar berdasarkan materi pokok/ pembelajaran
yang terdapat dalam silabus. Materi ajar merupakan uraian dari materi
pokok/pembelajaran
Pengintegrasian Pengurangan Risiko Kebakaran
ke dalam Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan Dasar (SD/MI)
60
6. Menentukan metode pembelajaran yang akan digunakan
7. Merumuskan langkah-langkah pembelajaran yang terdiri dari kegiatan
awal, inti, dan akhir.
8. Menentukan alat/bahan/ sumber belajar yang digunakan
9. Menyusun kriteria penilaian, lembar pengamatan, contoh soal, teknik
penskoran, dll.

Kotak 5.1.1 Rencana Pelaksanaan Pembelajaran Materi Pengurangan Risiko Kebakaran
Mata Pelajaran : Pengetahuan Alam
Kelas/Semester : IV
Alokasi Waktu : 2 jam pelajaran
Standar Kompetensi : Memahami hubungan antara sifat bahan dengan
penyusunnya dan perubahan sifat benda sebagai hasil
suatu proses
Kompetensi Dasar : Menyimpulkan hasil penyelidikan tentang perubahan
sifat benda, baik sementara maupun tetap
Indikator : Menyimpulkan hasil penyelidikan tentang perubahan
sementara sifat benda
Menyimpulkan hasil penyelidikan tentang perubahan
menetap sifat benda
TUJUAN PEMBELAJARAN :
Setelah mempelajari bab ini, diharapkan peserta didik dapat:
1. Siswa dapat menyimpulkan hasil penyelidikan tentang perubahan sementara sifat
benda
2. Siswa dapat menyimpulkan hasil penyelidikan tentang perubahan menetap sifat
benda
MATERI PEMBELAJARAN
Perubahan sifat benda
METODE PEMBELAJARAN
1. Ceramah
2. Percobaan
3. Diskusi
Modul Ajar Pengintegrasian Pengurangan Risiko Kebakaran untuk SD/MI
61
LANGKAH-LANGKAH PEMBELAJARAN
Kegiatan awal:
 Guru memperlihatkan arang batok/tempurung kelapa kepada peserta didik,
kemudia mengadakan tanya jawab : tentang nama, digunakan untuk apa,
bahan awalnya apa, dan bagaiman proses pembuatannya.
Kegiatan Inti
 Peserta didik dikelompokkan menjadi beberapa kelompok (satu kelompok
4 -5 peserta didik)
Percobaan I
 Peserta didik ditugaskan untuk mencari dan mengumpulkan rantin-ranting
kayu kering untuk percobaan.
 Setiap kelompok ditugaskan untuk membakar ranting kayu, dan mengamati
apa yang terjadi
 Peserta didik mencatat hasil pengamatannya dan mendiskusikan hasilnya
 Setiap kelompok ditugaskan untuk mempresentasikan hasil percobaannya.
Percobaan II
 Setiap kelompok ditugaskan membakar jarum yang dipegang alat tang
 Peserta didik mencatat hasil pengamatannya dan mendiskusikan hasilnya
 Setiap kelompok ditugaskan untuk mempresentasikan hasil percobaannya.
Kegiatan Akhir
 Guru bersama peserta didik membuat rangkuman hasil percobaan, yaitu;
benda yang dibakar ada mengalami perubahan bentuk sementara, misalnya
besi bila dipanaskan akan berubah bentuknya menjadi merah dan setelah
dingin kembali ke bentuk semula. Bendan seperti kayu apabila dibakar maka
perubahannya adalah menetap, yaitu majadi abu.
 Mengingformasikan kepada siswa bahwa untuk membangun rumah
sebaiknya menggunakan bahan yang terbuat dari besi/baja
Alat / Bahan / Sumber Belajar
 Lilin, korek api, piring, ranting pohon, minyak tanah
Penilaian
Pengamatan keaktifan dalam melakukan percobaan
Pengintegrasian Pengurangan Risiko Kebakaran
ke dalam Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan Dasar (SD/MI)
62
5.1.5 Penyusunan Bahan Ajar
Kotak 5.2.1 bahan ajar Pengurangan Risiko Bencana Kebakaran sekolah dasar/madrasah
ibtidaiyah
1. Permainan penyelamatan diri ketika pakaian
terbakar Integrasi mata pelajaran pendidikan jasmani,
olahraga dan kesehatan
Kelas : V
Tujuan : Peserta didik dapat menyelamat diri ketika
pakaiannya terbakar
Sarana : Pluit, air, kapur, potongan kertas kecil
Formasi : individual
Kegiatan :
 Kumpulkan seluruh peserta didik di lapangan permainan formasi
setengah lingkaran
 Guru memberikan penjelasan tentang cara penyelamatan diri ketika
pakaian terbakar, yaitu: berlari ke luar kobaran api dengan menekuk kedua
tangan di kepala untuk melindungi wajah, mencari tempat yang aman dan
berguling-guling sampai apinya padam
 Guru membuat sebuah lingkaran dengan serbuk kapur (sebagai lokasi
aman) di lapangan berumput/yang permukaannya rata.
 Peserta didik dibariskan formasi lingkaran lebih kurang 5 meter dari lingkaran
aman, dan minta satu orang sebagai mediator untuk memperagakan
cara menyelematkan diri, yaitu guru mencipratkan air agak banyak ke
baju mediator dan peserta didik yang lain menaburkan potongan kertas
(pengganti nyala api) ke baju yang basah, kemudian berlari dengan
menekuk kedua tangan di kepala, turus berlari ke arah tempat aman dan
berguling-guling hingga seluruh kertas yang menempel di pakaian lepas
dari pakaian.
 Permainan ini dilanjutkan hingga peserta peserta sudah puas dan
diperkirakan telah memiliki pengalaman yang dapat dijadikan sebagai
konsep yang mereka dapat aktualisasikan apabila terjadi kejadian serupa.
 Setelah permainan selesai, peserta didik membersihkan badan dan
mengganti pakaian dan siap kembali ke kelas.
 Di dalam kelas guru memberikan penjelasan tambahan bahwa apabila
pakaian terbakar jangan berlari untuk memadamkannya, karena jika berlari
kobaran api yang menempel di pakaian akan bertambah besar karena ada
reaksi dari udara, jadi untuk memadamkan api yang menempel di pakaian
cara yang paling efektif adalah dengan cara berguling-guling sambil
membekap kepala/wajah dengan tangan
 Peserta didik diminta menuliskan urutan kegiatan yang harus mereka
lakukan apabila pakaian mereka terbakar.
Modul Ajar Pengintegrasian Pengurangan Risiko Kebakaran untuk SD/MI
63
Catatan: untuk memadamkan api tidak boleh berlari , karena akan memperbesar
nyala api
2. Mencari lokasi yang aman saat terjadi kebakaran
Integrasi mata pelajaran pendidikan jasmani, olahraga dan
kesehatan
Kelas : V
Tujuan : Peserta didik dapat mencari jalan yang aman
saat terjadi kebakaran
Sarana : Pluit, bola kecil, kapur
Formasi : individual dan kelompok
Kegiatan :
 Buatlah tiga buah bangun geometri (segi tiga, segi empat, dan lingkaran)
dilapangan permainan dengan diameter 3 meter dengan serbuk kapur.
 Guru menjelaskan pada peserta didik arti tanda berarti tempat berbahaya,
tempat kurang aman, dan tanda sebagai tanda aman, cara permainannya
bila peserta didik mendengan aba-aba “pluit 1 kali”, itu berarti berlari
menyelamatkan diri ke tempat yang aman.
 Peserta didik dikelompokkan menjadi beberap kelompok, dan setiap
kelompok ditugaskan untuk melakukan kegiatan lempar – tangkap bola dan
tunggu beberapa saat.
 Ketika peserta didik asyik bermain lempar – tangkap, tiba-tiba guru
membunyikan pluit panjang 1 kali.
 Guru mengamati reaksi peserta didik saat mencari lokasi yang aman untuk
menyelamatkan diri, apakah berlari ke tampat yang aman, yang kurang
aman, atau ke tempat yang tidak aman.
 Apabila terdapat peserta didik yang berlari ke tempat yang tidak aman atau
yang kurang aman, maka kepadanya diberikan sangsi berupa bernyanyi
atau melakukan suatu tugas gerak.
 Dan bila banyak peserta didik lari ke tanda yang kurang aman atau tidak
bereaksi sama sekali, maka kumpulkan seluruh siswa dengan duduk bebas
di lapangan permainan, kemudian jelaskan pada siswa bahwa dimanapun
mereka berada, dianjurkan mengetahui peta jalan keluar bila berada di
dalam suatu gedung/mall, lokasi alat pemadam kebakaran, hal ini adalah
untuk menguragi risiko bencana kebakaran.
 Tugaskan peserta didik
Pengintegrasian Pengurangan Risiko Kebakaran
ke dalam Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan Dasar (SD/MI)
64
5.2 PENGEMBANGAN MODEL MUATAN LOKAL PENGURANGAN RISIKO
KEBAKARAN
Muatan Lokal merupakan kegiatan kulikuler untuk mengembangkan
kompetensi yang disesuaikan dengan ciri khas potensi daerah, termasuk
keunggulan daerah yang materinya tidak menjadi bagian dari mata pelajaran
yang ada. Substansi muatan lokal ditentukan oleh satuan pendidikan, tidak
terbatas pada ketrampilan. Setiap satuan pendidikan harus menyusun
Standar Kompetensi, Kompetensi Dasar, Silabus, dan Rencana Pelaksanaan
Pembelajaran (RPP) untuk setiap jenis muatan lokal yang diselenggarakan.
Sebelum satuan pendidikan melakukan penyusunan konten muatan lokal,
maka terlebih dahulu harus melakukan analisi konteks mata pelajaran
muatan lokal. Kegiatan ini bertujuan untuk menganalisis potensi kebutuhan
lingkungan, peluang dan tantangan daerah setempat, potensi lingkungan.
Berkaitan dengan penyusunan muatan lokal tentang pengurangan risiko
bencana kebakaran, maka disini akan lebih tepat dilihat dari sudut pandang
kebutuhan peserta didik agar terhindar dari bahaya kebakaran, daerah
pemukiman padat, dan daerah hutan serta pada daerah gambut.
Beranjak dari paparan tersebut di atas, maka sekolah menyusun standar
kompetensi dan kompetensi dasar muatan lokal tentang pengurangan risiko
bencana kebakaran.
5.2.1 Analisis Konteks Pengembangan Muatan Lokal
1. Acuan Pengembangan
Potensi dan kebutuhan lingkungan;
Kebutuhan, minat dan bakat peserta didik;
Ketersediaan daya dukung/potensi satuan pendidikan internal dan
eksternal.
2. Potensi Lingkungan
Sumber Daya Alam (SDA)
Sumber Daya Manusia
Geografs
Budaya
Historis
3. Ruang Lingkup
Lingkup Kondisi dan Kebutuhan Daerah
Kondisi daerah berkaitan dengan lingkungan alam, lingkungan sosial
ekonomi, dan lingkungan sosial budaya yang selalu berkembang.
Kebutuhan daerah yaitu segala sesuatu yang diperlukan oleh masyarakat,
khususnya untuk kelangsungan hidup dan peningkatan taraf kehidupan
masyarakat yang disesuaikan dengan arah perkembangan dan potensi
yang ada di daerah
Modul Ajar Pengintegrasian Pengurangan Risiko Kebakaran untuk SD/MI
65
 Lingkup Isi/Jenis Muatan Lokal
Dapat berupa bahasa asing, kesenian, keterampilan dan kerajinan, adat
istiadat, dan pengetahuan tentang berbagai ciri khas daerah.
4. Implementasi
Melalui implementasi Muatan Lokal yang dikembangkan di satuan
pendidikan, peserta didik diharapkan dapat:
 Mengenal dan menjadi lebih akrab dengan lingkungan
 Alam, sosial, dan budaya daerah;
 Mememiliki bekal kemampuan dan keterampilan serta pengetahuan
mengenai lingkungan yang berguna bagi dirinya dan masyarakat pada
umumnya;
 Memiliki sikap dan perilaku yang selaras dengan nilai-nilai/aturan-
aturan yang berlaku, serta melestarikan dan mengembangkan nilai-
nilai luhur budaya daerah;
 Berpartisipasi dalam pembangunan masyarakat dan pemerintah
daerah.
5. Langkah Awal Penyusunan Muatan Lokal
 Identifkasi keadaan dan kebutuhan lingkungan/daerah
 Identifkasi potensi satuan pendidikan
 Menentukan muatan lokal
 Menyiapkan perangkat dan sarana pendukung muatan lokal
 Kerjasama dengan pihak lain
6. Rambu-Rambu Penyusunan Muatan Lokal
Rambu-rambu yang perlu diperhatikan dalam penyusunan muatan lokal
 Dalam menyusun Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar serta
silabusnya dapat melaksanakan muatan lokal sendiri sesuai dengan
yang diprogramkan
 Bagi yang belum mampu menyusun Standar Kompetensi dan
Kompetensi Dasar serta silabus muatan lokal sendiri, dapat bekerjasama
dengan satuan pendidikan terdekat yang masih dalam satu kecamatan/
kotamadya. Bila beberapa sekolah dalam satu kecamatan/ kotamadya
belum mampu mengembangkan muatan lokal, dapat meminta bantuan
Tim Pengembang Kurikulum (TPK) dari Dinas atau LPMP
 Materi pembelajaran muatan lokal hendaknya sesuai dengan tingkat
perkembangan peserta didik yang mencakup perkembangan
pengetahuan dan cara berpikir, emosi, dan sosial. Pelaksanaan kegiatan
pembelajaran diatur agar tidak memberatkan peserta didik dan
tidak mengganggu penguasaan mata pelajaran lain. Oleh karena itu,
pelaksanaan muatan lokal menghindari adanya pekerjaan rumah (PR).
Pengintegrasian Pengurangan Risiko Kebakaran
ke dalam Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan Dasar (SD/MI)
66
Program pembelajaran muatan lokal hendaknya dikembangkan secara
kontekstual dengan melihat kedekatan dengan peserta didik yang
meliputi kedekatan secara fsik dan psikis. Dekat secara fsik maksudnya
materi pembelajaran muatan lokal terdapat dalam lingkungan tempat
tinggal dan sekolah peserta didik, sedangkan dekat secara psikis
maksudnya bahwa materi pembelajaran dan informasinya mudah
dipahami oleh peserta didik sesuai dengan perkembangan usianya.
Untuk itu, bahan pembelajaran muatan lokal hendaknya disusun
berdasarkan prinsip belajar yaitu bertitik tolak dari : (a) hal-hal konkret
ke abstrak; (b) yang diketahui ke yang belum diketahui; (c) pengalaman
lama ke pengalaman baru; (d) yang mudah/ sederhana ke yang lebih
sukar/ rumit. Selain itu materi pembelajaran/ pelajaran hendaknya
bermakna/ bermanfaat bagi peserta didik sebagai bekal mereka dalam
menghadapi kehidupan sehari-hari.
Materi pembelajaran hendaknya memberikan keluwesan bagi guru
dalam memilih metode pembelajaran dan sumber belajar seperti
buku, sarana lain dan nara sumber. Dalam kaitan dengan sumber
belajar, guru diharapkan dapat mengembangkan sumber belajar yang
sesuai dengan memanfaatkan potensi di lingkungan sekolah, misalnya
dengan memanfaatkan sarana dan prasarana sekolah, meminta
bantuan dari instansi terkait atau dunia usaha/ industri (lapangan kerja)
atau tokoh-tokoh masyarakat. Selain itu guru hendaknya dapat memilih
dan menggunakan strategi yang melibatkan peserta didik aktif dalam
proses pembelajaran, baik secara mental, fsik, maupun sosial.
Materi pembelajaran muatan lokal yang diajarkan harus bersifat utuh
dalam arti mengacu kepada suatu tujuan pembelajaran yang jelas
dan memberi makna kepada peserta didik. Namun demikian, materi
pembelajaran muatan lokal tertentu tidak harus secara terus-menerus
diberikan mulai dari I sampai dengan kelas VI. Setiap jenis muatan lokal
diberikan minimal satu semester.
Pengalokasian waktu untuk materi pembelajaran muatan lokal perlu
memperhatikan jumlah minggu efektif untuk muatan lokal pada setiap
semester.
5.2.2 Penyusunan Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar Muatan Lokal
Penyusunan SK dan KD Muatan Lokal
1. Satuan Pendidikan yang mampu mengembangkan SK dan KD
beserta silabusnya dapat melaksanakan Mulok sendiri. Penetapannya
oleh Satuan Pendidikan dan hasilnya dilaporkan kepada Dinas Pendidikan
setempat;
2. Satuan Pendidikan yang belum mampu menyusun SK dan KD serta silabus
Muatan Lokal sendiri, dapat bekerjasama dengan Satuan Pendidikan
terdekat yang masih dalam satu Kecamatan/ Kab/Kota. Apabila beberapa
Satuan Pendidikan dalam satu Kecamatan/Kab/Kota belum mampu
mengembangkan muatan lokal, mereka dapat meminta bantuan TPK
setempat, Dinas Pendidikan atau LPMP;
Modul Ajar Pengintegrasian Pengurangan Risiko Kebakaran untuk SD/MI
67
3. Materi pembelajaran disesuaikan dengan tingkat perkembangan peserta
didik (pengetahuan dan cara berpikir, emosional, dan sosial);
4. Pelaksanaan Mulok tidak mengganggu pelaksanaan komponen mata
pelajaran (komponen A dalam struktur kurikulum).
5. Kegiatan pembelajaran diatur sedemikian rupa agar tidak memberatkan
peserta didik, oleh karena itu dalam pelaksanaan Mulok diharapkan tidak
ada pekerjaan rumah (PR)
6. Program pembelajaran dikembangkan dengan melihat kedekatan secara
fsik dan secara psikis;
7. Bahan pembelajaran disusun berdasarkan prinsip (1) bertitik tolak dari
hal-hal konkret ke abstrak; (2) dikembangkan dari yang diketahui ke yang
belum diketahui; (3) dari pengalaman lama ke pengalaman baru; (4) dari
yang mudah/sederhana ke yang lebih sukar/rumit;
8. Bahan pembelajaran bermakna bagi peserta didik dan dapat membantu
peserta didik dalam kehidupan sehari-hari.
Rambu-Rambu Penyusunan SK dan KD:
1. Pengembangan SK dan KD Muatan Lokal ditentukan sekolah
berdasarkan hasil analisis kondisi dan kebutuhan daerah, potensi
peserta didik, dukungan internal dan eksternal
2. Sistematika pengembangannya:
Latar Belakang
Tujuan
Ruang Lingkup
Penentuan SK dan KD
Arah Pengembangan
SK dapat menunjukkan kemampuan umum yang diharapkan dapat
dimililiki peserta didik setelah melakukan proses pembelajaran
KD dijabarkan dari SK yang merupakan kemampuan minimal yang harus
dimiliki setiap peserta didik setelah melakukan proses pembelajaran
Indikator dijabarkan dari KD sebagai penanda bahwa kompetensi
dalam KD telah tercapai
SK, KD dan Indikator pada mulok penganggulangan kebakaran
hendaknya ditujukan untuk mencapai kompetensi kognitif, afektif dan
psikomotorik
Pengintegrasian Pengurangan Risiko Kebakaran
ke dalam Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan Dasar (SD/MI)
68
Tabel 5.8 Contoh Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar Muatan Lokal Sekolah Dasar
KELAS
IV
V
VI
STANDAR KOMPETENSI
1. Mengenal Macam-
Macam Bencana
2. Mengidentikasi
jenis kebakaran
1. Melakukan cara
penanggulangan
bencana kebakaran
1. Menerapkan
pertolongan
luka bakar
KOMPETENSI DASAR

1.1 Mengidentikasi penyebab terjadinya
bencana kebakaran
1.2 Mengidentikasi akibat bencana
kebakaran
2.1 Menjelaskan penyebab kebakaran
pemukiman
2.2 Menjelaskan penyebab kebakaran
hutan
2.3 Menjelaskan akibat kebakaran
pemukiman
1.1 Mengidentikasi daerah rawan
bencana kebakaran
1.2 Memahami cara penanggulangan
sebelum terjadi bencana
1.1 Dapat mengidentikasi pengertian
luka bakar
1.2 dapat mengidentikasi langkah-
langkah pertolongan luka bakar
1.3 dapat mempraktekkan langkah-
langkah pertolongan luka bakar.

5.2.3 Penyusunan Silabus dan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran
Penyusunan silabus untuk muatan lokal pada dasarnya sama dengan pola
dan sistem pengembangan silabus dan RPP pada mata pelajaran. Penyusunan
Rencana Pelaksanaan Pembelajaran untuk muatan lokal pada dasarnya sama
dengan pola dan sistem pengembangan silabus dan RPP pada mata pelajaran.
Pada akhirnya guru diharapkan dapat meyusun bahan ajar yang sesuai.
5.3 PENGINTEGRASIAN PENGURANGAN RISIKO KEBAKARAN
DALAM PROGRAM PENGEMBANGAN DIRI
Pengembangan diri merupakan kegiatan pendidikan di luar mata pelajaran
sebagai bagian integral dari kurikulum sekolah/madrasah. Kegiatan
pengembangan diri diklasifkasi ke dalam program bimbingan konseling
dan kegiatan ekstrakurikuler. Program bimbingan konseling merupakan
upaya pembentukan watak dan kepribadian peserta didik yang dilakukan
melalui kegiatan pelayanan konseling berkenaan dengan masalah pribadi
dan kehidupan sosial, kegiatan belajar, dan pengembangan karir, sedangkan
kegiatan ekstrakurikuler diarahkan untuk menyalurkan bakat, minat dan
potensi peserta didik.
Modul Ajar Pengintegrasian Pengurangan Risiko Kebakaran untuk SD/MI
69
Kegiatan pengembangan diri berupa pelayanan konseling difasilitasi/
dilaksanakan oleh konselor, dan kegiatan ekstra kurikuler dapat dibina oleh
konselor, guru dan atau tenaga kependidikan lain sesuai dengan kemampuan
dan kewenangnya. Pengembangan diri yang dilakukan dalam bentuk kegiatan
pelayanan konseling dan kegiatan ekstra kurikuler dapat mengembangkan
kompetensi dan kebiasaan dalam kehidupan sehari-hari peserta didik.
Kegiatan pengembangan diri secara tidak terprogram dapat dilaksanakan
sebagai berikut :
1. Rutin, yaitu kegiatan yang dilakukan terjadwal, seperti : upacara bendera,
senam, ibadah khusus keagamaan bersama, keberaturan, pemeliharaan
kebersihan dan kesehatan diri.
2. Spontan, adalah kegiatan tidak terjadwal dalam kejadian khusus seperti:
pembentukan perilaku memberi salam, membuang sampah pada
tempatnya, antri, mengatasi silang pendapat (pertengkaran).
3. Keteladanan, adalah kegiatan dalam bentuk perilaku sehari-hari seperti :
berpakaian rapi, berbahasa yang baik, rajin membaca, memuji kebaikan
dan atau keberhasilan orang lain, datang tepat waktu.
Untuk memasukkan Pendidikan Pengurangan Risiko Bencana ke dalam
kegiatan EkstraKurikuler ada beberapa hal yang harus dipertimbangkan yaitu
bahwa fungsi kegiatan ekstra kurikuler adalah:
1. Pengembangan, yaitu fungsi kegiatan ekstra kurikuler untuk
mengembangkan kemampuan dan kreativitas peserta didik sesuai dengan
potensi, bakat dan minat mereka.
2. Sosial, yaitu fungsi kegiatan ekstra kurikuler untuk mengembangkan
kemampuan dan rasa tanggung jawab sosial peserta didik.
3. Rekreatif, yaitu fungsi kegiatan ekstra kurikuler untuk mengembangkan
suasana rileks, mengembirakan dan menyenangkan bagi peserta didik
yang menunjang proses perkembangan.
4. Persiapan karir, yaitu fungsi kegiatan ekstra kurikuler untuk mengembangkan
kesiapan karir peserta didik.
Selain Fungsi, kegiatan ekstra kurikuler juga memiliki Prinsip-Prinsip, yaitu:
1. Individual, yaitu prinsip kegiatan ekstra kurikuler yang sesuai dengan
potensi, bakat dan minat peserta didik masing-masing.
2. Pilihan, yaitu prinsip kegiatan ekstra kurikuler yang sesuai dengan keinginan
dan diikuti secara sukarela peserta didik.
3. Keterlibatan aktif, yaitu prinsip kegiatan ekstra kurikuler yang menuntut
keikutsertaan peserta didik secara penuh.
4. Menyenangkan, yaitu prinsip kegiatan ekstra kurikuler dalam suasana yang
disukai dan mengembirakan peserta didik.
5. Etos kerja, yaitu prinsip kegiatan ekstra kurikuler yang membangun
semangat peserta didik untuk bekerja dengan baik dan berhasil.
6. Kemanfaatan sosial, yaitu prinsip kegiatan ekstra kurikuler yang dilaksanakan
untuk kepentingan masyarakat.
Pengintegrasian Pengurangan Risiko Kebakaran
ke dalam Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan Dasar (SD/MI)
70
Berkaitan dengan pengintegrasian muatan Pengurangan Risiko Bencana
Kebakaran ke dalam program pengembangan diri di sekolah/madrasah
dilaksanakam melalui kegiatan rutin dan kegiatan terprogram berupa kegiatan
ekstrakurikuler seperti Palang Merah Remaja, dan Pramuka.
1. Menyusun Program Kegiatan Ekskul yang mengintgrasikan PRB
Program kegiatan ekskul dapat disusun dengan mengacu pada jenis-jenis
kegiatan yang memuat unsur-unsur: (a) Sasaran kegiatan, (b) Substansi
kegiatan, (c) Pelaksana kegiatan dan pihak-pihak yang terkait, serta
keorganisasiannya, (d) Waktu dan tempat, (e) Sarana.
2. Penilaian Kegiatan
Hasil dan proses kegiatan ekstra kurikuler dinilai secara kualitatif
dan dilaporkan kepada pimpinan sekolah/madrasah dan pemangku
kepentingan lainnya oleh penanggung jawab kegiatan.
3. Pelaksana Kegiatan
Pelaksana kegiatan ekstra kurikuler adalah pendidik dan atau tenaga
kependidikan sesuai dengan kemampuan dan kewenangan pada substansi
kegiatan ekstra kurikuler yang dimaksud.
4. Pengawasan Kegiatan
Kegiatan ekstra kurikuler di sekolah/madrasah dipantau, dievaluasi,
dan dibina melalui kegiatan pengawasan.
Pengawasan kegiatan ekstra kurikuler dilakukan secara:4
- interen, oleh kepala sekolah/madrasah.
- eksteren, oleh pihak yang secara struktural/fungsional memiliki
kewenangan membina kegiatan ekstra kurikuler yang dimaksud.
Hasil pengawasan didokumentasikan, dianalisis, dan ditindaklanjuti
untuk peningkatan mutu perencanaan dan pelaksanaan kegiatan
ekstra kurikuler di sekolah/madrasah.
N
o
.
W
a
k
t
u

K
e
g
i
a
t
a
n
S
a
s
a
r
a
n
R
a
n
g
k
a
i
a
n

K
e
g
i
a
t
a
n
T
e
m
p
a
t

K
e
g
i
a
t
a
n
P
e
r
a
l
a
t
a
n

y
a
n
g

D
i
g
u
n
a
k
a
n
P
e
l
a
k
s
a
n
a
P
e
n
g
o
r
g
a
n
i
s
a
s
i
a
n

K
e
g
i
a
t
a
n
B
e
r
b
e
n
t
u
k


r
e
g
u
.
B
e
r
b
e
n
t
u
k


r
e
g
u
.
P
e
m
b
i
n
a

d
a
n

P
a
s
u
k
a
n

P
e
n
g
g
a
l
a
n
g

p
u
t
r
a

,
p
u
t
r
i
.
-

A
l
a
t

k
e
b
e
r
s
l
h
a
n
H
a
l
a
m
a
n

s
e
k
o
l
a
h
/

l
a
p
a
n
g
a
n
P
e
m
b
i
n
a

d
a
n

P
a
s
u
k
a
n

P
e
n
g
g
a
l
a
n
g

p
u
t
r
a

,
p
u
t
r
i
.
H
a
l
a
m
a
n

s
e
k
o
l
a
h
/

l
a
p
a
n
g
a
n
S
e
l
u
r
u
h

s
l
s
w
a

d
a
n

G
u
r
u

1

k
a
l
i

s
e
b
u
l
a
n
1
.
2
.
M
i
n
g
g
u

I
I

b
u
l
a
n

A
g
u
s
t
u
s
.
-

M
e
m
b
e
r
s
l
h
k
a
n

s
a
m
p
a
h



d
l

s
e
k
o
l
a
h
-

M
e
t
o
d
e

m
e
m
a
d
a
m
k
a
n



a
p
i

-

g
o
n
l

b
a
s
a
h
,

a
l
r
,




p
a
s
i
r
P
P
O
G
P
A
M

K
L
G
|
A
T
A
N

P
L
N
G
L
M
8
A
N
G
A
N

D
|
P
|

T
A
H
U
N

P
L
L
A
1
A
P
A
N

2
0
0
6

/

2
0
0
7

T
a
b
e
l

5
.
9


K
e
g
i
a
t
a
n

t
e
r
p
r
o
g
r
a
m

b
e
r
u
p
a

k
e
g
i
a
t
a
n

P
e
n
g
e
m
b
a
n
g
a
n

D
i
r
i
Pengintegrasian Pengurangan Risiko Kebakaran
ke dalam Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan Dasar (SD/MI)
72
Kotak 5.3.1 Contoh bahan ajar Pengurangan Risiko Kebakaran pada Program
Pengembangan Diri yaitu pada kegiatan pramuka
Memadamkan Api

Kelas : VI
Tujuan : Peserta didik dapat memadamkan api skala kecil
Sarana : kayu, goni basah, air, pasir, gelas, piring, dan lilin
Formasi : kelompok
Kegiatan : I
Peserta didik dikelompokkan menjadi tiga kelompok
Setiap kelompok dibaris membentuk formasi setengah lingkaran di lapangan
permainan dan letakkan onggokan kayu (jangan terlalu banyak) di depan setiap
kelompok, guru harus memperhatikan posisi berdiri harus benar-benar aman dari
kobaran api.
Pada setiap kelompok telah diletakkan bahan-bahan untuk memadamkan api:
kelompok I dangan 1 ember air, kelompok II dengan karung goni basah, dan
kelompok III dengan satu karung pasir.
Guru mencipratkan sedikit minyak tanah, sebagai fuel pemicu api.
Guru menyalakan api pada setiap kelompok
Setelah nyala api membesar, setiap kelompok disuruh memadamkan api dengan
benda-benda yang ada pada setiap kelompok (guru harus memperhatikan
keselamatan peserta didik dalam kegiatan ini).
Guru memastikan api betul-betul telah padam, kemudian seluruh peserta didik
dibawa masuk ke ruangan kelas.
Kegiatan : II
Peserta didik duduk di bangku masing-masing dan secara berapasangan melakukan
percobaan.
Peserta didik meletakkan menyalakan lilin dan meletakkannya di atas piring di asas
meja
Setelah api hidup dengan sempurna, salah satu peserta didik menutup lilin yang
menyala dengan gelas, dan akibatnya adalah nyala api padam
Lakukan pecobaan ini secara bergantian
Guru menugaskan peserta didik untuk menuliskan urutan langkah percobaan yang
telah dilakukan
Peserta didik ditugaskan untuk mendiskusikan “kenapa lilin yang menyala padam
bila apinya ditutup dengan gelas”.
Peserta didik ditugaskan untuk mempresentasikan hasil diskusi mereka.
Pada sesi terakhir guru memberikan penjelasan tentangn teori api dan anatomi
kebarakan, yaitu:
Modul Ajar Pengintegrasian Pengurangan Risiko Kebakaran untuk SD/MI
73
Api adalah raksi kimia eksotermik yang disertai timbulnya panas/kalor, cahaya
Ynyala), asap dan gas dari bahan yang terbakar. Proses terebut biasanya dianamakan
reaksi pembakaran. Agar api terjadi, diperlukan tiga unsur pembentuk apai, yaitu
bahan bakar, panas mula dan oksigen. Untuk memadamkan api dilakukan dengan
cara memutuskan hubungan simbiose antar unsur-unsur tersebut, yaitu melalui
panas ditiadakan yaitu dengan menyiram dengan air, bahan bakar dipindahkan,
oksigen ditiadakan, yaitu dengan mambatasi atau menghalangi kontak dengan
udara luar.
Daftar Istilah
74
DAFTAR ISTILAH
Alarm Kebakaran, adalah suatu sistem instalasi alarm kebakaran yang bekerja
secara otomatis, yang dipasang di dalam bangunan gedung yang dimaksudkan
sebagai peralatan peringatan dini / awal kepada para penghuni bangunan tentang
terjadinya kebakaran.
Alarm Bell, adalah suatu komponen dalam system alarm kebakaran gedung
yang akan berbunyi / berdering apabila sistem alarm aktif. Alarm bell biasanya
terpasang pada setiap lantai pada bangunan gedung yang telah dipersyaratkan
untuk dipasang sistem alarm kebakaran.
APAR, singkatan dari Alat Pemadam Api Ringan, ialah alat pemadam yang pada
umumnya dalam kemasan tabung logam dalam berbagai ukuran mulai 1,2 s.d 6 Kg.
Bahan pemadam ini bervariasi, misalnya: serbuk kimia kering, gas CO2, dan busa/
foam. APAR digunakan untuk memadamkan berbagai klasifkasi kebakaran sesuai
dengan isi/bahan pemadamnya.
Api, adalah reaksi kimia yang terjadi secara berantai dan cepat antara bahan bakar
(fuel), Oksigen (O2), dan panas dalam perbandingan yang sesuai diikuti dengan
evolusi pengeluaran cahaya, panas dan gas hasil pembakaran.
Dinas Pemadam Kebakaran, adalah suatu lembaga, pada umumnya lembaga
pemerintah yang ada pada suatu kota atau kabupaten yang dipersiapkann untuk
menanggulangi kebakaran.
Evakuasi, adalah tindakan keluar secara bersama-sama dari dalam bangunan
gedung, dengan panduan petugas pengelola gedung, menuju ke tempat yang
aman di bagian luar bangunan.
Hidran kebakaran, adalah alat pemadam api dalam bentuk sistem instalasi dengan
bahan dasar air. Terdapat 3 jenis hidran kebakaran, yakni instalasi hidran gedung,
instalasi hidran halaman, dan instalasi hidran kota.
Kebakaran, Adalah bentuk nyala api yang sudah tak terkendali. Kebakaran dapat
menimbulkan dampak kerugian yang tak diharapkan. Kerugian itu bisa berupa
harta benda maupun korban jiwa manusia.
Kebakaran Klas A, Kebakaran dari bahan biasa yang mudah terbakar seperti kayu,
kertas, pakaian dan sejenisnya. Jenis alat pemadam : yang menggunakan air harus
digunakan sebagai alat pemadam pokok.
Kebakaran Klas B, Kebakaran bahan cairan yang mudah terbakar seperti minyak
bumi, gas, lemak dan sejenisnya. Jenis alat pemadam : yang digunakan adalah jenis
busa sebagai alat pemadam pokok.
Kebakaran Klas C, Kebakaran listrik (seperti kebocoran listrik, korsleting) termasuk
kebakaran pada alat-alat listrik. Jenis alat pemadam : yang digunakan adalah jenis
kimia dan gas sebagai alat pemadam pokok.
Kebakaran Klas D, Kebakaran logam seperti Zeng, Magnesium, serbuk Aluminium,
Modul Ajar Pengintegrasian Pengurangan Risiko Kebakaran untuk SD/MI
75
Sodium, Titanium dan lain-lain. Jenis alat pemadam : yang harus digunakan adalah
jenis khusus yang berupa bubuk kimia kering.
Konduksi, Perpindahan panas melalui zat perantara. Panas merambat melalui
dinding pemisah ruangan, bagian dinding pada pada ruangan berikutnya menerima
kalor atau panas yang dapat membakar permukaan benda-benda yang terletak
pada dinding-dinding tersebut.
Konveksi, Perpindahan panas dari tekanan tinggi ke tekanan rendah. Panas
merambat melalui bagian bangunan yang terbuka seperti tangga dan koridor
gang dengan media pengantar udara.
Panel Kontrol Alarm, adalah suatu komponen dalam sistem alarm kebakaran
gedung yang berfungsi sebagai pusat/sentral dari seluruh sistem alarm. Pada Panel
Kontrol ini terdapat berbagai tanda/indikasi yang berfungsi memberi informasi
tentang lokasi lantai, zona, status pompa kebakaran, status stand-by, status trouble,
status general alarm dan lain-lain.
Pencegahan Kebakaran, adalah suatu upaya yang dilakukan untuk menghindari
atau mencegah terjadinya suatu kebakaran. Upaya-upaya tersebut diantaranya
meliputi: penyebaran pengetahuan dan pemahaman tentang benda dan sumber
panas, kondisi-kondisi serta perilaku yang dapat menyebabkan terjadinya kebakaran,
dan juga mengenai dampak yang merugikan sebagai akibat kebakaran. Kegiatan
Pencegahan kebakaran, diantaranya penyuluhan, pelatihan serta pembelajaran
tentang bahaya kebakaran.
Pemadaman kebakaran, adalah upaya yang dilakukan untuk memadamkan
kebakaran. Upaya memadamkan kebakaran dapat dilakukan dengan air, pasir,
karung goni atau handuk yang dicelupkan ke dalam air lebih dulu, dan dengan Alat
Pemadam Api, hidran dan sprinkler.
Pengindera/Detector, adalah suatu komponen dalam sistem alarm kebakaran yang
berfungsi mengindera/mendetaksi secara otomatis terhadap gejala kebakaran.
Terdapat 3 jenis detector, yakni detector panas, detector asap dan detector asap.
Radiasi, Perpindahan panas dalam bentuk pancaran. Panas merambat antara
ruang dan bangunan yang berdekatan. hal ini akan lebih cepat terjadi jika sebaran
api dibantu oleh tekanan udara atau angin kearah bangunan lainnya.
Sprinkler, adalah salah satu komponen pada sistem instalasi pemadam kebakaran
di dalam bangunan gedung yang bekerja secara otomatis apabila mendapat
rangsangan panas pada suhu tertentu.
Sumber-sumber Panas, adalah salah satu unsur yang dapat menyebabkan
timbulnya api dan kebakaran. Beberapa sumber panas itu adalah matahari, kimia,
listrik, mekanik dan nuklir.
Tempat Berhimpun Sementara, adalah suatu tempat di luar bangunan, yang akan
difungsikan sebagai tempat berkumpulnya para penghuni gedung, yang dinilai
aman dari paparan kebakaran.
Daftar Pustaka
76
DAFTAR PUSTAKA
Apotik online dan media informasi obat - penyakit ::
m e d i c a s t o r e . c o m
Biro Instalatir, Informasi Kelistrikan dan Panduan Pelayanan Pelanggan, PT
PLN, PLN Dis Jaya & Tangerang, 1996/1997, Jakarta.
Bush, Loren. S. & MeLaughlin, James H., Introduction to Fire Science,
Macmillan Publishing Co, Inc, New York, 1979, USA.
Hoover, Stephen R., Fire Protection for Industry, Van Nostrand Reinhold, 1991, New
York, USA.
Cote, Arthur, & Bugbee, Percy, Principles of Fire Protection, NFPA, Quincy
Park, 1988.
Buku Pegangan Guru Panduan Siaga Bencana Pusat Mitigasi Bencana Institut
Teknologi Bandung
Buku Panduan Guru Pendidikan Siaga Bencana. Muhammadiyah Disaster
Management Center
Deni Almanda, Penghantar Energi Listrik, Majalah Elektro Indonesia, No. 15, Tahun
III, April/Mei 1997, Jakarta.
Ir. Karel Pijpaert, Anggota Dewan Redaksi E.I. bekerja di PT Schneider
Indonesia
Listrik potensial penyebab kebakaran, waspadalah, Majalah Konstruksi, April 1998,
Jakarta.
Penaggulangan Kebakaran dan Bencana Di Lingkungan Padat Hunian Dinas
Pemadam Kebakaran Provinsi DKI Jakarta 2007.
Penaggulangan Bahaya Kebakaran Pada Bangunan Tinggi Dinas Pemadam
Kebakaran Provinsi DKI Jakarta 2007.
http://sains.kompas.com/read/xml/2009/09/08/15440098/Walhi..3.626 Ha.Hutan.
dan.
Medy Santoso, Liam Fogarty dan Bert Boorger Early Warning System And
Fire Danger Rating In Pt. Inhutani 1
http://www.cartenzadventure.com/pengendalian-bahaya-kebakaran.html
Concept Of Fire Control In Dense Settlement Case Study: Banyu Urip Distric, Surabaya
www.buildingcommission.com.au
Victorian Deaf Society www.vicdeaf.com.au Disability Information Online
www.disability.vic.gov.au
www.cfa.vic.gov.au/residents/home/equip.htm

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful