BAB I PENDAHULUAN 1.

1 Latar Belakang

Memasuki abad ke 21 yang semakin maju, sudah seharusnya bahwa pendekatan paripurna yang berorientasi pada kepuasan pelanggan atau pasien menjadi strategi utama bagi organisasi pelayanan kesehatan di Indonesia, agar supaya tetap eksis di tengah persaingan yang semakin ketat. Kawasan Asia

Tenggara akan menjadi kawasan perdagangan bebas dan tahun-tahun selanjutnya negara–negara maju di kawasan Asia Pasifik akan membuka pintu lebar-lebar bagi komoditi dan jasa yang dihasilkan. Sebaliknya kita harus membuka lebar-lebar pasar kita untuk menerima komoditi dan jasa dari negara lain. Hal ini berarti bahwa pada saat ini, kita harus mampu bersaing khususnya dalam bidang pelayanan kesehatan, tidak hanya dengan sesama sejawat dalam negeri namun benar-benar mampu bersaing dengan sejawat dari negara lain (Depkes, 2006). Kondisi persaingan yang ketat tersebut hal utama yang perlu diprioritaskan oleh jasa pelayanan adalah kepuasan pelanggan agar dapat bertahan, bersaing, mempertahankan pasar yang sudah ada, dan jika memungkinkan bahkan menguasai pasar. Untuk memenangkan persaingan rumah sakit harus mampu memberikan kepuasan kepada pelanggannya, misalnya dengan memberikan pelayanan yang mutunya lebih baik dibanding pesaing dengan harga yang layak, waktu

penyampaian jasa lebih cepat (Pohan, 2007). Penelitian Rosenstein (2005), dengan responden sebagian pasien yang sedang menjalani rawat inap di salah satu rumah sakit di negara maju yaitu AS

1

2 (Amerika Serikat), sejumlah 150 pasien ditemukan bahwa sekitar 65% pasien memberikan persepsi negatif terhadap pelayanan perawat di rumah sakit dan 53% pasien mengatakan puas dengan pelayanan perawat dan sisanya mengatakan tidak puas. Di Indonesia perkembangan rumah sakit dari tahun ke tahun semakin meningkat yaitu terjadi peningkatan jumlah rumah sakit sebesar 13,1% dan peningkatan jumlah tempat tidur sebesar 9,8 % dalam waktu tujuh tahun. Di sisi lain masalah yang dihadapi rumah sakit semakin komplek termasuk masalah yang berkaitan dengan sumber daya manusia, lebih khusus lagi tenaga keperawatan utamanya yang berkaitan dengan pelayanan pada pasien. Pelayanan pada pasien khususnya dalam berkomunikasi antara perawat dengan pasien dapat menyebabkan kepuasan pada pasien (Depkes RI, 2007). Penelitian Wirawan (2007) tentang tingkat kepuasan pasien rawat inap terhadap asuhan keperawatan di sebuah rumah sakit di Jawa Timur. Diperoleh informasi, hanya 17% dari seluruh pasien rawat inap yang mengatakan puas terhadap asuhan keperawatan yang diterima, sedangkan 83% mengatakan tidak puas. Penelitian tersebut juga memberikan informasi bahwa keluhan utama adalah terhadap pelayanan perawat, yakni perawat tidak mau berkomunikasi dengan pasien (80%), kurang perhatian (66,7%) dan tidak ramah (33,3%) (Dinas Infokom Jatim, 2008). Penelitian Pardani di rumah sakit pemerintah klas A di Surabaya tahun 2001, dengan menggunakan 100 orang pasien rawat inap, diperoleh informasi bahwa 50% mengatakan puas terhadap pelaksanaan asuhan keperawatan, cukup puas 25% dan tidak puas 25%. Damayanti melakukan studi tentang harapan dan kepuasan pasien di sebuah rumah sakit pemerintah di Surabaya pada tahun 2002.

3 Diperoleh hasil bahwa terhadap dokter pasien lebih mengharapkan keterampilan teknik mediknya (oleh pesien disebut "kepandaian dokter mengobati atau menyembuhkan") sedangkan terhadap perawatnya, pasien lebih mengharapkan kesabaran dan perhatian. Sebanyak 48 orang responden diambil secara proporsional di ruang interna dan Paviliun. Hasil menunjukkan bahwa 41% responden mengatakan kurang puas dengan pelayanan rumah sakit dan sebanyak 59% sisanya mengatakan puas. Khusus terhadap kinerja perawat, keluhan terbesar adalah bahwa perawat jarang menengok pasien bila tidak diminta dan bila dipanggil perawat tidak segera datang (perawat datang sekitar 10 menit) (Arief, 2008). Berdasarkan survei awal di dapatkan Laporan rawat inap di Puskesmas Arjasa Kangean tahun 2009 didapat jumlah klien asma yang dirawat sebanyak 375 pasien dan hasil studi pendahuluan pada 8 penderita asma di Puskesmas Arjasa Kangean pada tanggal 12 Pebruari 2010 secara wawancara didapatkan bahwa 6 (75%) pasien mengatakan tidak puas dengan pelayanan perawat dan 2 (25%) pasien mengatakan puas dengan pelayanan perawat. Kurangnya kepuasan pasien terjadi karena dinamika tuntutan pasien yang demikian cepat berubah namun tidak diimbangi dengan kecepatan perubahan pola kerja dan tindakan perawat. Perawat lebih banyak berfokus pada kinerja medik atau teknik keperawatan (pelaksanaan fungsi dependent atau fungsi pelimpahan dari dokter) padahal pasien nampaknya justru mengharapkan kinerja perawat sesuai normatifnya yaitu lebih berfokus pada aspek yang berkaitan dengan dimensi non teknik keperawatan (pelaksanaan fungsi independent) (Potter dan Perry, 2005). Kualitas layanan kesehatan dan kepuasan pelanggan menjadi indikator keberhasilan penyelenggaraan layanan di rumah sakit. Disisi lain, dalam bentuk

4 pelayanan yang berkembang sekarang ini, pelayanan menjadi semakin rumit dan cukup sulit diukur, karena hasil yang terlihat merupakan dari berbagai faktor yang berpengaruh. Oleh sebab itu, tercapainya pelayanan kesehatan yang baik memerlukan upaya yang sungguh-sungguh dari berbagai pihak, dalam hal ini kerjasama dari setiap unit yang terkait mengambil peran yang sangat penting (Pohan, 2007). Memahami pelayanan keperawatan yang diterimanya berhubungan dengan kepuasan pasien di rumah sakit yang bersangkutan, maka penelitian ini bermaksud untuk menganalisis adakah hubungan antara pelayanan keperawatan dengan kepuasan pasien asma di Puskesmas Arjasa Kangean.

1.2

Identifikasi Masalah

Puskesmas Arjasa Kangean merupakan salah satu pelayanan kesehatan masyarakat di lingkungan Kangean dengan pelayanan yang diberikan misalnya poli umum, poli kesehatan ibu dan anak, poli kesehatan gigi dan mulut, poli kusta dan TB, pojok gizi, klinik peduli remaja dan sanitasi, rawat jalan dan rawat inap. Adapaun pasien yang paling banyak saat ini adalah penderita asma yang dirawat di Puskesmas Arjasa Kangean. Seiring meningkatnya pasien yang dirawat di Puskesmas Arjasa maka pelayanan kepada pasien perlu ditingkatkan yang merupakan tujuan dalam memberikan pelayanan keperawatan di rumah sakit. Kepuasan pasien merupakan indikator terhadap pelayanan keperawatan, oleh

karena itu perawat harus bisa memberikan pelayanan keperawatan yang optimal sehingga meningkatkan kepercayaan pasien kepada perawat, dan juga memberikan kepuasan pasien terhadap pelayanan rumah sakit.

5

1.3

Rumusan Masalah.

Dari latar belakang yang telah diuraikan di atas, maka dapat dirumusakan permasalahan sebagai berikut : Apakah ada hubungan antara pelayanan keperawatan dengan kepuasan pasien asma rawat inap di Puskesmas Arjasa Kangean?

BAB II TUJUAN DAN MANFAAT PENELITIAN II.1 Tujuan umum Menganalisis hubungan antara pelayanan keperawatan dengan kepuasan pasien asma rawat inap di Puskesmas Arjasa Kangean

II.2 Tujuan khusus 1. Mengidentifikasi pelayanan keperawatan di Puskesmas Arjasa Kangean 2. Mengidentifikasi kepuasan pasien asma rawat inap di Puskesmas Arjasa Kangean 3. Menganalisis hubungan antara pelayanan keperawatan dengan kepuasan pasien asma rawat inap di Puskesmas Arjasa Kangean

II.3 Manfaat Penelitian 1. Bagi Profesi Sebagai bahan pertimbangan dalam upaya meningkatkan profesi

keperawatan

6 2. 2002). . Sebagai bahan evaluasi atas mutu asuhan keperawatan yang diberikan kepada pasien selama dan ini.1.1 Definisi Pelayanan Hakekat dasar dari pelayanan adalah untuk memenuhi kebutuhan dan tuntutan para pemakai jasa pelayanan kesehatan yang apabila berhasil dipenuhi akan dapat menimbulkan rasa puas terhadap pelayanan kesehatan. Makin sempurna kepuasan tersebut maka makin baik pula mutu pelayanan kesehatan. Memberi masukan kepada manajemen di Puskesmas Arjasa Kangean dalam meningkatkan mutu pelayanan keperawatan. Bagi Peneliti Selanjutnya Hasil penelitian ini dapat memberikan masukan bagi pihak yang akan melakukan penelitian lebih lanjut. b. apabila pelayanan kesehatan tersebut dapat menimbulkan rasa puas pada diri setiap pasien (Azwar. BAB III TINJAUAN PUSTAKA III.1 Konsep Dasar Pelayanan III. Bagi Puskesmas a. 3. Sedangkan mutu pelayanan kesehatan yang menunjuk pada tingkat kesempurnaan pelayanan kesehatan dalam menimbulkan rasa puas pada diri setiap pasien. strategi untuk mengembangkan mengimplementasikan meningkatkan kepuasan pasien secara terus menerus. sehingga dapat memperbaiki. Dengan perkataan lain pelayanan kesehatan dinilai baik.

7 Pelayanan berarti suatu empati. penyandang dana.1. III. diberikan dengan cara yang ramah pada waktu mereka berkunjung. ketidakmampuan dan kekurangan gizi (Eko IR. ataupun pemilik sarana layanan kesehatan. sehingga mereka beserta keluarganya sehat dan dapat melaksanakan tugas mereka sehari-hari tanpa gangguan fisik. baik pasien/klien. kemauan dan kemampuan yang dimiliki sehingga individu tersebut dapat melakukan kegiatan sehari-hari secara mandiri dan optimal (Zaidin. 2001). pelayanan harus sesuai dengan kebutuhan mereka. 2001). dari lahir sampai meninggal dalam bentuk peningkatan pengetahuan. yang dapat memberikan hasil kepada masyarakat yang bersangkutan dan yang telah mempunyai kemampuan untuk menghasilkan dampak pada kematian. Pelayanan adalah pemberian jasa perawatan yang memperhatikan penampilan yang pantas dan sesuai (yang berhubungan dengan standar-standar) dari suatu intervensi yang diketahui aman. . pemberi layanan kesehatan (Provider). Salah satu kesulitan dalam merumuskan pengertian pelayanan kesehatan yang baik adalah karena pelayanan kesehatan itu sangat melekat dengan faktor-faktor subyektif orang yang berkepentingan. kesakitan. respek dan tanggap akan kebutuhannya.2 Pengertian Pelayanan Keperawatan Pelayanan keperawatan adalah suatu upaya untuk membantu individu baik yang sehat maupun sakit. Setiap orang akan menilai layanan kesehatan berdasarkan standar dan kriteria yang berbeda-beda. masyarakat. Pada umumnya mereka ingin pelayanan yang mengurangi gejala secara efektif dan mencegah penyakit.

e.8 Ruang lingkup kebutuhan dasar manusia yang menjadi subyek dan obyek kajian utama seorang perawat profesional menyangkut bidang yang amat luas pula. Ditinjau dari tenaga pelaksana Pada bentuk ini pelayanan dibedakan atas dua macam. dalam arti dapat dikenali serta dipenuhi semua kebutuhan dasar manusia baik dalam keadaan sehat dan terlebih-lebih lagi dalam keadaan sakit. Kedua. Pertama. pelayanan keperawatan solo (solo practice). d. antara lain: a. Kedua. Ditinjau dari keahlian tenaga pelaksana Pada bentuk ini pelayanan keperawatan dibedakan atas dua macam. III. pelayanan keperawatan di dalam rumah sakit (Hospital Based Nursing Service). pelayanan keperawatan klien sehat (Healthy Client Nursing Service). pelayanan keperawatan klien sakit (Sick Client Nursing Service). pelayanan keperawatan umum (general nursing service). Pertama. c. pelayanan keperawatan spesialis (specialise nursing service). Apabila pelayanan keperawatan dapat diselenggarakan dengan baik.3 Bentuk-Bentuk Pelayanan (Asuhan) Keperawatan Secara teoritis pelayanan keperawatan dapat diselenggarakan dalam berbagai bentuk. Pertama. Pertama. Kedua. Kedua. Jika ditinjau dari jumlah klien . akan banyak manfaat yang diperoleh. Jika ditinjau dari jenis klien Pada bentuk ini pelayanan keperawatan dibedakan atas dua macam. Ditinjau dari keterkaitannya dengan rumah sakit Pada bentuk ini pelayanan keperawatan dibedakan atas dua macam. pelayanan berkelompok (group practice).1. b. pelayanan keperawatan di luar rumah sakit (Community Based Nursing Service).

proses dan outcome dari organisasi pelayanan kesehatan tersebut (Wijono. mutu barang yang dihasilkan ditentukan oleh standar baku dan harga. Penilaian pelayanan di rumah sakit diperumit lagi dengan berbagai faktor lain. Bila ditinjau dari orientasi pelayanan Pada bentuk ini pelayanan keperawatan dibedakan atas dua macam. pelayanan keperawatan medis (Medical Nursing Service). 2006) III.1. . Kedua. 2002:173-174). Bila mutu di bawah standar. maka konsumen “pasien” tidak dalam posisi yang mampu menilai secara pasti mutu pelayanan klinik yang diterimanya (baik dan standar).4 Mengukur Pelayanan Kesehatan yang Baik Suatu organisasi pelayanan kesehatan dapat diukur dengan memperhatikan atau memantau dan menilai indikator. atau bila harganya di atas standar untuk barang itu. Ditambah lagi kenyataan bahwa bila ada pelayanan yang tidak bermutu maka kesehatan pasien dan mungkin juga jiwanya menjadi taruhannya (Aditama. 2000:43). Pada industri manufaktur. (Muslihat. dan standar yang diasumsikan relevan dan berlaku sesuai dengan aspek-aspek stuktur. Pertama. pelayanan keperawatan kesehatan masyarakat (Public Health Nursing Service).9 Pada bentuk ini pelayanan keperawatan dibedakan atas empat macam yaitu: 1) Pelayanan keperawatan individual (Individual Nursing Service) 2) 3) 4) 5) Pelayanan keperawatan keluarga (Family Nursing Service) Pelayanan keperawatan kelompok (Group Nursing Service) Pelayanan keperawatan komunitas (Community Nursing service) Bila ditinjau dari pelayanan f. kriteria.

3) Jaminan (assurance) Mencangkup kemampuan. cepat memperhatikan dan mengatasi kebutuhan-kebutuhan. jujur. . melayani konsumen dengan ramah dan menarik. pengetahuan. 2) Ketanggapan (responsiveness) Yaitu keinginan para pegawai atau karyawan membantu konsumen dan memberikan pelayanan itu dengan tanggap terhadap kebutuhan konsumen. 4) Empati atau kepedulian (emphaty) Meliputi kemudahan dalam melakukan hubungan komunikasi yang baik dan memahami kebutuhan konsumen yang terwujud dalam penuh perhatian terhadap setiap konsumen. percaya diri dan menimbulkan keyakinan kebenaran (obyektif). bebas dari bahaya.5 Aspek-Aspek Pelayanan Keperawatan Menurut Wahyuddin (2009) aspek-aspek mutu pelayanan adalah : 1) Keandalan (reliability) Yaitu kemampuan memberikan pelayanan yang dijanjikan dengan segera.10 III. tepat waktu. kesopanan dan sifat dapat dipercaya yang dimiliki pada karyawan. resiko. Keseluruhan ini berhubungan dengan kepercayaan terhadap pelayanan dalam kaitannya dengan waktu.1. memiliki kompetensi. ketersediaan. akurat dan memuaskan. keragu-raguan. aman.

3) Kesinambungan adalah tingkat dimana perawatan atau tindakan bagi pasien terkoordinasi dengan baik setiap saat. 5) Bukti langsung atau berujud (tangibles) Meliputi fasilitas fisik. dalam rangka memenuhi harapan pasien. III.6 Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Pelayanan Faktor-faktor yang menentukan pelayanan keperawatan yaitu: 1) Kelayakan adalah tingkat dimana perawatan atau tindakan yang dilakukan relevan terhadap kebutuhan klinis pasien dan memperoleh pengetahuan yang berhubungan dengan keadaannya.11 memahami aspirasi konsumen. penampilan karyawan atau peralatannya dan alat komunikasi. peralatan pegawai. ruangan baik teratur rapi. serta mendapat penjelasan dan pengetahuan sesuai dengan keadaannya. diantara tim kesehatan dalam organisasi 4) Efektifitas adalah tingkat dimana perawatan atau tindakan terhadap pasien dilakukan dengan benar. 5) Kemanjuran adalah tingkat dimana perawatan atau tindakan yang diterima pasien dapat diwujudkan atau ditunjukkan untuk menyempurnakan hasil sesuai harapan pasien. 2) Kesiapan adalah tingkat dimana kesiapan perawatan atau tindakan yang layak dapat memenuhi kebutuhan pasien sesuai keperluannya. kebersihan (kesehatan). 6) Efisiensi adalah ratio hasil pelayanan atau tindakan bagi pasien terhadap sumber-sumber yang dipergunakan dalam memberikan layanan bagi pasen. . berkomunikasi yang baik dan benar serta bersikap dengan penuh simpati. berpakaian rapi dan harmonis.1.

keuangan. organisasi dan manajemen. yaitu : 1. termasuk petugas kesehatan. biaya. Memperbaiki metode atau penerapan teknologi yang dipergunakan dalam kegiatan pelayanan Ada tiga Pendekatan evaluasi (penilaian) pelayanan. Struktur Struktur meliputi sarana fisik perlengkapan dan peralatan.1. perlengkapan dan material 2. Baik tidaknya struktur sebagai input dapat diukur dari : a. Meningkatkan mutu dan kualitas sumber daya. 9) Ketepatan waktu adalah tingkat dimana perawatan atau tindakan diberikan kepada pasien tepat waktu sangat penting dan bermanfaat. Berkaitan dengan hal tersebut perhatian terhadap pemenuhan kebutuhan pasien serta harapanharapannya dihargai. (Febriyanti. 2009) III. Jumlah. 8) Keamanan adalah tingkat dimana bahaya lingkungan perawatan diminimalisasi untuk melindungi pasien dan orang lain. besarnya input . tenaga. sumber daya manusia lainnya di fasilitas kesehatan.12 7) Penghormatan dan perhatian adalah tingkat dimana pasien dilibatkan dalam pengambilan keputusan tentang perawatan dirinya. peralatan.7 Penilaian Pelayanan Kesehatan Pada umumnya untuk meningkatkan pelayanan ada dua cara: 1.

Outcomes Outcome adalah hasil akhir kegiatan dan tindakan tenaga kesehatan profesional terhadap pasien. c. rencana pengobatan. tidak kurang dan tidak berlebihan. perawat dan tenaga profesi lain) dan interaksinya dengan pasien. Proses mencakup diagnosa.2 Konsep Tentang Pasien III.2. Outcome jangka panjang adalah status kesehatan dan kemampuan fungsional pasien III. Outcome jangka pendek adalah hasil dari segala suatu tindakan tertentu atau prosedur tertentu. Dapat berarti adanya perubahan derajat kesehatan dan kepuasan baik positif maupun negatif. 3. indikasi tindakan. d. prosedur dan penanganan kasus. Relevan tidaknya proses itu bagi pasien Fleksibilitas dan efektifitas Mutu proses itu sendiri sesuai dengan standar pelayanan yang semestinya Kewajaran.1 Pengertian Pasien . Baik tidaknya proses dapat diukur dari : a. b. c.13 b. d. Proses Proses merupakan semua kegiatan yang dilaksanakan secara profesional oleh tenaga kesehatan (dokter. Mutu struktur atau mutu input Besarnya anggaran atau biaya Kewajaran 2.

3 Konsep Kepuasan Pasien / klien III.2. hubungan perkawinan atau pengangkatan dan mereka hidup dalam suatu rumah tangga. Masyarakat Masyarakat adalah suatu organisasi yang terbentuk karena adanya interaksi antara manusia dan budaya dalam lingkungannya.1 Definisi Kepuasan Kepuasan menurut Kamus Bahasa Indonesia adalah puas yang berarti merasa senang.RI. psikologi. rasa senang dan . bersifat dinamis dan terdiri dari individu.3. keluarga. kelompok dan komunitas yang mempunyai tujuan dan norma sebagai sistem nilai (Zaidin. 1. Kepuasan dapat diartikan sebagai perasaan puas. Individu adalah anggota keluarga yang unik sebagai kesatuan utuh dari aspek biologi. kelegaan dan sebagainya). III. sosial dan spiritual (Zaidin.14 Pasien sebagai individu yang memiliki masalah kesehatan .2 Hakekat Pasien Terdiri dari individu. Keluarga Keluarga adalah dua atau lebih dari dua individu yang bergabung karena hubungan darah. kesenangan. 2004:15). 3. III. perihal (hal yang bersifat puas.kesakitan (Depkes. berinteraksi satu sama lain dan didalam peranannya masing–masing menerapkan dan mempertahankan (Zaidin. keluarga dan masyarakat. 2002:45). 2002:40 ) 2. 2002:46). Individu Individu adalah makhluk biopsikososial sebagai satu kesatuan yang utuh.

III. Upaya untuk mewujudkan kepuasan pelanggan total bukanlah hal yang mudah. maka dapat disimpulkan bahwa kepuasan adalah perasaan senang. Kepuasan adalah tingkat kepuasan seseorang setelah membandingkan kinerja atau hasil yang dirasakan dibandingkan dengan harapannya. Pelanggan yang puas akan setia lebih lama. 2001). komentar dari kerabatnya serta janji dan informasi dari berbagai media. Bila kinerja sesuai harapan. . Jadi kepuasan atau ketidakpuasan adalah kesimpulan dari interaksi antara harapan dan pengalaman sesudah memakai jasa atau pelayanan yang diberikan. maka pelanggan akan sangat kecewa.3. Sedangkan bila kinerja melebihi harapan pelanggan akan sangat puas harapan pelanggan dapat dibentuk oleh pengalaman masa lampau. maka pelanggan akan sangat puas.15 kelegaan seseorang dikarenakan mengkonsumsi suatu produk atau jasa untuk mendapatkan pelayanan suatu jasa (Poerwodarminto. Berdasarkan uraian dari beberapa ahli tersebut diatas. puas individu karena antara harapan dan kenyataan dalam memakai dan pelayanan yang diberikan terpenuhi (Kotler. Tingkat kepuasan merupakan fungsi dari perbedaan antara kinerja yang dirasakan dengan harapan. Apabila kinerja dibawah harapan. Kepuasan sebagai tingkat perasaan seseorang setelah membandingkan kinerja atau hasil yang dirasakannya dengan harapannya.2 Definisi Kepuasan Pasien / Klien Kepuasan pasien yaitu memahami kebutuhan dan keinginan konsumen dalam hal ini pasien adalah hal penting yang mempengaruhi kepuasan pasien. kurang sensitive terhadap harga dan memberi komentar yang baik tentang perusahaan tersebut (Supranto. 2008). 2001).

maka dapat disimpulkan bahwa kepuasan pasien adalah perasaan senang. puas individu karena terpenuhinya harapan atau keinginan dalam menerima jasa pelayanan kesehatan. Jika layanan yang diberikan pada konsumen kurang atau tidak sesuai dengan kebutuhan atau harapan konsumen maka konsumen menjadi tidak puas. tetapi jika pasien merasa tidak puas mereka akan memberitahukan dua kali lebih hebat kepada orang lain tentang pengalaman buruknya. Berdasarkan apa yang disebut di atas pengertian kepuasan .16 Pasien yang puas merupakan aset yang sangat berharga karena apabila pasien puas mereka akan terus melakukan pemakaian terhadap jasa pilihannya. Kepuasan konsumen merupakan perbandingan antara harapan yang dimiliki oleh konsumen dengan kenyataan yang diterima oleh konsumen dengan kenyataan yang diterima oleh konsumen. Untuk menciptakan kepuasan pasien suatu perusahaan atau rumah sakit harus menciptakan dan mengelola suatu system untuk memperoleh pasien yang lebih banyak dan kemampuan untuk mempertahankan pasiennya. 2002). Indarjati (2001) yang menyebutkan adanya tiga macam kondisi kepuasan yang bisa dirasakan oleh konsumen berkaitan dengan perbandingan antara harapan dan kenyataan. yaitu jika harapan atau kebutuhan sama dengan layanan yang diberikan maka konsumen akan merasa puas. Namun upaya untuk perbaikan atau kesempurnaan kepuasan dapat dilakukan dengan berbagai strategi oleh perusahaan untuk dapat merebut pelanggan (Junaidi. ketidakpuasan atau kekecewaan pasien akan muncul apabila kinerja layanan kesehatan yang diperoleh tidak sesuai dengan yang diharapkan. Pasien baru merasa puas apabila kinerja layanan kesehatan yang diperoleh sama atau melebihi harapannya dan sebaliknya. Berdasarkan uraian dari beberapa ahli tersebut diatas.

Dengan demikian tingkat kepuasan adalah suatu fungsi dari perbedaan antara penampilan yang dirasakan dan harapan (Wiyono. mengemukakan ada empat aspek yang dapat diukur yaitu: Kenyamanan. pengukuran tingkat kepuasan pasien ini mutlak diperlukan. 2000: 13). III. Kepuasan Pasien adalah suatu tingkat perasaan pasien yang timbul sebagai akibat dari kinerja layanan kesehatan yang diperolehnya setelah pasien membandingkan dengan apa yang diharapkan (Pohan. dalam seminar survai kepuasan pelanggan di RS. Seperti kita ketahui saat ini.3 Mengukur Tingkat Kepuasan Pasien / Klien Jika kita akan melakukan upaya peningkatan pelayanan kesehatan. Berbagai pengalaman pengukuran kepuasan pasien menunjukan bahwa upaya untuk mengukur tingkat kepuasan pasien tidak mudah. Hubungan pelanggan dengan petugas.3. yaitu terdapatnya suatu kecenderungan masyarakat yang enggan atau tidak mau mengemukakan kritik apalagi terhadap fasilitas layanan kesehatan milik pemerintah. Bentuk kongkret untuk mengukur kepuasan pelanggan rumah sakit. dapat diketahui sejauh mana dimensi-dimensi pelayanan kesehatan yang telah diselenggarakan telah memenuhi harapan pasien. karena upaya untuk memperoleh informasi yang diperlukan untuk mengukur tingkat kepuasan pasien akan berhadapan dengan suatu kendala kultural.17 pasien dapat dijabarkan sebagai berikut. kompetensi petugas dan biaya. Junadi tahun 2007. sebagian besar fasilitas layanan kesehatan yang digunakan oleh masyarakat adalah fasilitas layanan kesehatan milik pemerintah. 2007:156). Melalui pengukuran tersebut. .

responsi. keteraturan pemberian meal. pengalaman petugas medis. kenyamanan ruangan. informasi yang diberikan. perbandingan dengan rumah sakit yang sejenis lainnya. seberapa tanggap dokter/perawat di ruangan IGD. 3. kesegaran ruangan dll. terkenal. rawat inap. keberanian mengambil tindakan. support. sejauh mana tingkat komunikasi. obat. 2.3. pembuangan sampah. Hubungan pelanggan dengan petugas Rumah Sakit. ada tidaknya keringan bagi masyarakat miskin dan sebagainya. III. dapat dijabarkan dengan pertanyaan yang menyangkut keramahan.4 Faktor Yang Mempengaruhi Tingkat Kepuasan Pasien / Klien Menurut pendapat Budiastuti (2002) mengemukakan bahwa pasien dalam mengevaluasi kepuasan terhadap jasa pelayanan yang diterima mengacu pada beberapa faktor. makanan dan minuman. keterampilan dalam penggunaan teknologi. biaya pelayanan. dsb. kebersihan WC. peralatan ruangan. farmasi. penerangan. pengukuran suhu dsb. dapat dijabarkan dalam pertanyaan kecepatan pelayanan pendaftaran.18 1. Kenyaman. kemudahan dokter/perawat dihubungi. aspek ini dijabarkan dalam pertanyaan tentang lokasi rumah sakit. kejelasan komponen biaya. kebersihan. antara lain : a. Faktor internal 1. Kompetensi teknis petugas. dapat dijabarkan dalam pertanyaan kewajaran biaya. Faktor Kebudayaan . gelar medis yang dimiliki. tata letak. rawat jalan. Biaya. tingkat masyarat yang berobat.

sub-budaya dan kelas sosial. dan daerah geografi. pengetahuan. peran dan status. ras. Faktor budaya terdiri dari beberapa komponen yaitu budaya . Sub-budaya terdiri atas nasionalitas. pekerjaan. Kelas sosial tidak hanya ditentukan oleh satu faktor melainkan diukur sebagai kombinasi dari pekerjaan. minat dan tingkah laku. dan kepribadian/konsep diri. status ekonomi. dan variabel lainnya.19 Faktor budaya memberi pengaruh yang paling luas dan mendalam terhadap perilaku pelanggan/klien. Orang ini biasanya menjadi panutan karena pengaruhnya amat kuat. Usia merupakan tanda perkembangan . Dikatakan berdimensi kronologis karena bersifat progres berjalan terus dan tidak akan kembali sedangkan usia berdimensi intelektual berkembang melalui pendidikan dan pelatihan. Faktor Sosial Faktor sosial terbagi atas kelompok kecil. Budaya merupakan penentu keinginan dan perilaku yang mendasar dalam mempengaruhi keinginan atau kepuasan orang. Orang yang berpengaruh kelompok/lingkungannya biasanya orang yang mempunyai karakteristik. Sedangkan kelas sosial adalah sebuah kelompok yang relatif homogen mempunyai susunan hirarki dan anggotanya memiliki nilai. 2. keluarga. Faktor Pribadi Faktor pribadi merupakan keputusan seseorang dalam menerima pelayanan dan menanggapi pengalaman sesuai dengan tahap-tahap kedewasaannya. pendidikan. 3. jenis kelamin. kelompok. Faktor pribadi klien dipengaruhi oleh usia dan tahap siklus hidup. agama. pendapatan. gaya hidup. kepribadian. keterampilan. Usia mempunyai dimensi kronologis dan intelektual.

Status perkawinan sementara diduga ada kaitannya dengan gaya hidup dan kepribadian . persepsi. 4. 2003). Ada kebutuhan biologis seperti lapar dan haus. Kebutuhan akan menjadi motif untuk mengarahkan seseorang mencari kepuasan. Faktor Psikologi Faktor psikologi yang berperan dengan kepuasan yaitu motivasi. Pekerjaan merupakan aktifitas jasa seseorang untuk mendapat imbalan berupa materi dan non materi. Jenis kelamin merupakan sifat jasmani/fisik seseorang dan berkaitan dengan sistem reproduksi yaitu : laki-laki dan perempuan. Usia juga dapat meningkatkan kemungkinan terjadinya penyakit misal penyakit kardio vaskuler dengan peningkatan usia. . Seseorang yang tingkat pendidikannya tinggi akan mengharapkan pelayanan yang lebih baik dan lebih tinggi. Jenis kelamin juga berhubungan dengan emosi. Pekerjaan dapat mejadi faktor risiko kesehatan seseorang dan berdampak pada sistem imunitas tubuh. pengetahuan.20 kematangan/kedewasaan seseorang untuk memutuskan sendiri atas suatu tindakan yang diambilnya. keyakinan dan pendirian. Persepsi klien terhadap kualitas sebelum membeli produk dipengaruhi oleh citra merek dan pengalaman masa lalu (Sutojo. Motivasi mempunyai hubungan erat dengan kebutuhan. Pendidkan berkaitan dengan harapan. Hasilnya akan mempengaruhi sikap dan perilaku seseorang dalam mendewasakan diri. Ada kebutuhan psikologis yaitu adanya pengakuan. Pekerjaan ada hubungannya dengan penghasilan seseorang untuk berperilaku dalam menentukan pelayanan yang diinginkan. dan penghargaan. Pendidikan merupakan proses pengajaran baik formal maupun informal yang dialami seseorang.

3. Harga Harga merupakan aspek penting. biasanya semakin mahal harga perawatan maka pasien mempunyai harapan yang lebih besar. Sedangkan rumah sakit yang berkualitas sama tetapi berharga murah. cenderung memiliki tingkat kepuasan yang lebih tinggi. memberi nilai yang lebih tinggi pada pasien. namun yang terpenting dalam penentuan kualitas guna mencapai kepuasan pasien. Meskipun demikian elemen ini mempengaruhi pasien dari segi biaya yang dikeluarkan. Pelanggan dalam hal ini pasien akan merasa puas jika mereka memperoleh pelayanan yang baik atau sesuai dengan yang diharapkan. 2. Kualitas produk atau jasa Pasien akan merasa puas bila hasil evaluasi mereka menunjukkan bahwa produk atau jasa yang digunakan berkualitas. Biaya . b. Faktor eksternal 1. Kualitas pelayanan Memegang peranan penting dalam industri jasa.21 Pasien yang merasa bangga dan yakin bahwa orang lain kagum terhadap konsumen bila dalam hal ini pasien memilih rumah sakit yang sudah mempunyai pandangan “rumah sakit mahal”. 4. Persepsi konsumen terhadap kualitas poduk atau jasa dipengaruhi oleh dua hal yaitu kenyataan kualitas poduk atau jasa yang sesungguhnya dan komunikasi perusahaan terutama iklan dalam mempromosikan rumah sakitnya.

6. kemudahan. Kinerja (performance). kemudahan dalam memenuhi kebutuhan pasien dan kenyamanan yang diberikan yaitu dengan memperhatikan kebersihan. Wujud dari kinerja ini misalnya : kecepatan. Hal ini dipengaruhi oleh kemampuan yang dimiliki oleh perawat didalam memberikan jasa keperawatannya yaitu dengan kemampuan dan pengalaman yang baik terhadap memberikan pelayanan keperawatan dirumah sakit. Keandalan (reliability). berpendapat pasien terhadap karakteristik operasi dari pelayanan inti yang telah diterima sangat berpengaruh pada kepuasan yang dirasakan. merupakan karakteristik sekunder atau karakteristik pelengkap yang dimiliki oleh jasa pelayanan. yaitu sejauh mana karakteristik pelayanan memenuhi standart-standart yang telah . 7. sound system. 5. pasien yang tidak perlu mengeluarkan biaya tambahan atau tidak perlu membuang waktu untuk mendapatkan jasa pelayanan. cenderung puas terhadap jasa pelayanan tersebut. Ciri-ciri atau keistimewaan tambahan (features). dan sebagainya.22 Mendapatkan produk atau jasa. keramahan dan kelengkapan peralatan rumah sakit. AC. 8. sejauhmana kemungkinan kecil akan mengalami ketidakpuasan atau ketidaksesuaian dengan harapan atas pelayanan yang diberikan. dan kenyamanan bagaimana perawat dalam memberikan jasa pengobatan terutama keperawatan pada waktu penyembuhan yang relatif cepat. Kesesuaian dengan spesifikasi (conformance to spesification). misalnya : kelengkapan interior dan eksterior seperti televisi.

berkaitan dengan beberapa lama produk tersebut digunakan. Bagaimana keluhan-keluhan dari pasien dengan cepat diterima oleh penyedia jasa terutama perawat dalam memberikan bantuan terhadap keluhan pasien. 9. Misalnya adanya tombol panggilan didalam . dekorasi kamar. Misalnya : keramahan perawat. misalnya : peralatan bedah. citra dan reputasi rumah sakit serta tanggung jawab rumah sakit. Dimensi ini mencakup umur teknis maupun umur ekonomis dalam penggunaan peralatan rumah sakit.Kualitas yang dipersepsikan (perceived quality). yaitu tata cara informasi yang diberikan pihak penyedia jasa dan keluhan-keluhan dari pasien. 13. Service ability. merupakan daya tarik rumah sakit yang dapat ditangkap oleh panca indera. Daya tahan (durability). dan sebagainya 10. alat transportasi. desain arsitektur rumah sakit. dan sebagainya. meliputi kecepatan. Misalnya : standar keamanan dan emisi terpenuhi seperti peralatan pengobatan. Bagaimana kesan yang diterima pasien terhadap rumah sakit tersebut terhadap prestasi dan keunggulan rumah sakit daripada rumah sakit lainnya dan tangggung jawab rumah sakit selama proses penyembuhan baik dari pasien masuk sampai pasien keluar rumah sakit dalam keadaan sehat. kenyamanan ruang tunggu.Estetika.23 ditetapkan sebelumnya.Komunikasi. Pelayanan yang diberikan oleh perawat dengan memberikan penanganan yang cepat dan kompetensi yang tinggi terhadap keluhan pasien sewaktu-waktu. serta penanganan keluhan yang memuaskan. 12. peralatan rumah sakit yang lengkap dan modern. 11. taman yang indah dan sejuk. kompetensi.

harga. karakteristik produk. emosional. adanya ruang informasi yang memadai terhadap informasi yang akan dibutuhkan pemakai jasa rumah sakit seperti keluarga pasien maupun orang yang bekunjung di rumah sakit. Maka dapat ditarik kesimpulan bahwa faktor-faktor kepuasan pasien adalah : kualitas jasa. estetika. kinerja. pelayanan.24 ruang rawat inap.3. III. fasilitas. komunikasi. suasana. lokasi. dan desain visual.5 Tingkat Kepuasan Pasien Tingkat kepuasan menurut Wiyono (2000) adalah suatu fungsi dari perbedaan antara penampilan yang dirasakan dan harapan. .

. rasa dada tertekan atau berbagai kombinasi dari gejala tersebut. mengi. antara lain mengkerutnya saluran napas (Vasokontriksi). 3. Serangan asma biasanya mencerminkan gagalnya tatalaksana asma jangka panjang. Serangan asma adalah episode perburukan yang progresif dari gejala-gejala batuk. Bila penampilan sebanding dengan harapan. Gejala tersebut terjadi berhubungan dengan obstruksi jalan nafas yang luas (Maramis.4 Konsep Asma III. atau adanya pajanan dengan pencetus. 2. sesak napas. dan serangan asma merupakan kegawatan medis yang lazim dijumpai di ruang gawat darurat. pelanggan tidak puas. pelanggan amat puas atau senang. Bila penampilan kurang dari harapan. dada terasa berat dan batuk-batuk terutama malam menjelang dini hari. sesak nafas. pembengkakan (odema). Asma adalah penyakit inflamasi (radang) kronik saluran napas menyebabkan peningkatan hiperesponsif jalan nafas yang menimbulkan gejala episodik berulang berupa mengi (nafas berbunyi ngik-ngik). Bila penampilan melebihi harapan. Penyakit asma ditandai dengan tiga hal. 2009). 2009). III. pelanggan puas.1 Pengertian asma Penyakit asma berasal dari kata 'asthma' yang diambil dari bahasa Yunani yang berarti 'sukar bernapas'. dan pengeluaran lendir yang berlebih pada saluran napas (hiper sekresi) (Sulistia.25 Adapun 3 tingkat kepuasan yaitu: 1.4.

dapat makin mempersempit atau menyebabkan penutupan dini saluran nafas. menyebabkan tidak padunya ventilasi dengan perfusi (ventilation-perfusion mismatch).26 III. Hiperinflasi paru menyebabkan penurunan compliance paru. D4 dan E4. Peningkatan tekanan intratorakal mungkin mempengaruhi arus balik vena dan mengurangi curah jantung yang bermanisfestasi sebagai pulsus paradoksus. untuk mengkompensasi hipoksia terjadi hiperventilasi sehingga kadar PaCO2 yang akan turun dan dijumpai alkalosis respiratorik.4. netrofil. Pada awal serangan. edema mukosa dan penumpukan mukus yang kental dalam lumen saluran nafas. hipoventilasi alveolar. dan peningkatan kerja nafas menyebabkan perubahan dalam gas darah. Atelektasis segmental atau subsegmental dapat terjadi. harus diwaspadai .2 Patofisiologi Proses patologi pada serangan asma termasuk adanya konstriksi bronkus. Ventilasi perfusi yang tidak padu. Karena itu jika dijumpai kadar PaCO2 yang cenderung naik walau nilainya masih dalam rentang normal. sehingga terjadi peningkatan kerja nafas. Peningkatan tekanan intrapulmonal yang diperlukan untuk ekspirasi melalui saluran nafas yang menyempit. odema mukosa dan infiltrasi dengan sel-sel inflamasi (eosinofil. lekotriene C4. Selanjutnya pada obstruksi jalan nafas yang berat. makrofag) dan deskuamasi sel-sel epitel.A. basofil. sehingga meningkatkan resiko terjadinya pneumotoraks. Dilepaskannya berbagai mediator inflamasi seperti histamin. P.F yang mengakibatkan adanya konstriksi bronkus. Sumbatan yang terjadi tidak seragam / merata di seluruh paru. Sumbatan jalan nafas menyebabkan peningkatan tahanan jalan nafas yang tidak merata di seluruh jaringan bronkus. akan terjadi kelelahan otot nafas dan hipoventilasi alveolar yang berakibat terjadinya hiperkapnia dan asidosis respiratorik.

Hipoksia dan asidosis dapat menyebabkan vasokontriksi pulmonal. ketegangan emosi. serta faktor anatomi dan fisiologi. Derajat hiperreaktivitas bronkus bisa menetap atau makin berat bila terpajan pada faktor pencetus dalam jangka waktu lama.4. walaupun demikian dapat diprovokasi tiap 6 bulan.27 sebagai tanda kelelahan dan ancaman gagal nafas. 2006:362). seperti bahan iritan. obat dan bahan kimia. III. rinitis alergi. Selain itu dapat terjadi pula asidosis metabolik akibat hipoksia jaringan dan produksi laktat oleh otot nafas. kacang tanah dan nuts dan penyebabnya ini sering menetap. Besar kecilnya intensitas faktor pencetus untuk menimbulkan serangan asma sangat tergantung pada hiperreaktivitas bronkus. yaitu: a.3. namun jarang terjadi komplikasi cor pulmonale. endokrin. Pada bayi dan anak berumur di bawah 3 tahun terutama adalah alergi susu sapi. Pada anak besar dan dewasa penyebab utama adalah ikan. Makin berat derajat hiperreaktivitasnya. keletihan. . infeksi. refluks gastroesofagal. serta faktor lain. makin kecil intensitas faktor pencetus yang diperlukan untuk timbulnya serangan asma (Wilson. Hipoksia dan vasokontriksi dapat merusak sel alveoli sehingga produksi surfaktan berkurang atau tidak ada. Alergen makanan Makanan sebagai penyebab atopi khususnya dermatitis atopik dan serangan asma banyak ditemukan pada masa bayi dan anak yang masih muda. dan meningkatkan resiko terjadinya atelektasis. yaitu faktor alergen. Penyebab serangan asma. asap rokok. Faktor Pencetus Beberapa faktor pencetus yang erat hubungannya dengan serangan asma. kerangkerangan. telur dan kedelai yang umumnya dapat mentolerir kembali sebelum anak berumur 3 tahun.

jamur pada musim panas dan gugur. udara dan air dingin. dan menghambat aktivasi fagosit serta efek bakterisid makrofag. sehingga terjadi hiperreaktivitas bronkus. Iritan sebagai pencetus asma mencakup bau cat. bulu kucing. Asap rokok atau asap obat nyamuk bakar dapat menyebabkan kerusakan epitel bersilia. d.28 b. parfum. e. bulu anjing atau binatang peliharaan lainnya. . grass pollen pada musim panas. juga terdapat di negara-negara dengan 4 musim. menurunkan klirens mukosiliar. dan akrolein. Asap rokok Asap rokok mengandung beberapa partikel yang dapat dihirup. Alergen ini banyak dijumpai di negara-negara tropis. nitrogen dioksida. 2) Alergen di luar rumah (outdoors). seperti hidrokarbon polisiklik. seperti serbuk sari (pollen) khususnya di negara-negara 4 musim. Bahan iritan. yaitu: 1) Alergen di dalam rumah (indoors) seperti tungau. tree pollen pada musim semi. hair spray. c. Alergen Hirup Dibagi atas 2 kelompok. Refluks gastroesofagus Refluks isi lambung ke saluran napas dapat memperberat asma pada anak dan merupakan salah satu penyebab asma nokturnal. debu rumah. karbonmonoksida. nikotin. juga ozon dan bahan industri kimia yang dapat menimbulkan hiperreaktivitas bronkus dan inflamasi.

4 Klasifikasi Asma Penyakit asma dibagi menjadi dua menurut berat ringannya. yaitu: 1. 2. Klasifikasi derajat serangan asma Asma yang dinilai berdasarkan derajat serangan dan dibagi atas serangan ringan. Seorang penderita asma persisten sedang atau berat dapat mengalami serangan ringan saja. Pemakaian pil KB. mempunyai kemungkinan besar juga alergi terhadap bahan-bahan kimia seperti tartrazin (pewarna kuning untuk kapsul obat) dan sodium benzoat sebagai pengawet makanan atau minuman. Bagi penderita yang alergi terhadap aspirin. Hormon. tetapi jarang pada anak. Asma dapat timbul atau diperberat oleh menstruasi. g. dan persisten berat. asam mefenamat. ibuprofen. terkadang dapat memperberat asma. segera sebelum atau setelah menstruasi. yaitu asma episodik jarang. Obat dan bahan kimia. dan berat. III. Aspirin dapat sebagai pencetus serangan asma melalui proses alergi dan non alergi. dan b-bloker.4. Angka kejadiannya pada orang dewasa adalah antara 4-28%. sebaliknya seorang penderita tergolong episodik jarang (asma ringan) dapat mengalami serangan berat. .29 f. persisten sering. sedang. Obat lain yang perlu diperhatikan sebagai pencetus serangan asma adalah obat antiiflamasi seperti indometasin. fenilbutason. Klasifikasi derajat penyakit asma Konsensus Internasional Penanggulangan Asma Anak membagi asma berdasarkan keadaan klinis dan keperluan obat menjadi 3 golongan.

laboratorium Aktivitas Berjalan Bayi: menangis keras Bicara Kesadaran Sianosis Mengi Kalimat Mungkin teragitasi Tidak ada Sedang.30 bahkan ancaman henti napas. kebutuhan obat dan faal paru 1. Tabel III. Obat pengendali (anti inflamasi) 6. non steroid Asma persisten (Asma berat) Sering Hampir sepanjang tahun (tidak ada remisi) Biasanya berat Gejala siang & malam Sangat terganggu Tidak pernah normal Perlu. terdengar tanpa stetoskop Ya Kebingungan Nyata Sulit/ terdengar Ancaman henti nafas tidak Otot bantu nafas Gerakan . steroid ditemukan kelainan) (ditemukan kelainan) Sumber: Smeltzer (2005) Tabel III. hanya pada akhir ekspirasi Biasanya tidak Sedang Berbicara Bayi: tangis pendek dan lemah Penggal kalimat Biasanya teragitasi Tidak ada Nyaring. Di antara serangan 3. Ringan fungsi paru. sepanjang ekspirasi +inspirasi Biasanya ya Berat Istirahat Bayi: berhenti makan Kata-kata Biasanya teragitasi Ada Sangat nyaring. Frekwensi serangan 2.1 Pembagian derajat penyakit asma Parameter klinis. Pemeriksaan fisis di luar serangan 5. Lama serangan 1. tetapi umumnya anak dengan asma persisten sering akan mengalami serangan asma berat atau sebaliknya. Variabilitas faal paru (bila ada serangan) Variabilitas < 20% variabilitas 20-30% variabilitas > 30% PEF / FEV1 >80% PEF/ FEV1 60-80% PEF / FEV1 < 60% Asma episodik jarang (Asma ringan) < 1 x / bulan < 1 minggu Biasanya ringan Tanpa gejala Tidak terganggu Normal (tidak Tidak perlu Asma episodik sering (Asma sedang) > 1 x / bulan > 1 minggu Biasanya sedang Sering ada gejala Sering terganggu Mungkin terganggu Perlu.2 Penilaian derajat serangan asma Parameter klinis. Uji faal paru (di luar serangan) 7. Intensitas serangan 2. Tidur dan aktivitas 4.

atau pasien berisiko tinggi. retraksi interkostal Meningkat Normal Tidak ada Sedang. ditambah retraksi suprasternal Meningkat Takikardia 10-20 mm Hg Dalam.31 paradoks torakoabdominal Dangkal/ hilang Retraksi Dangkal. atau serangan memburuk dengan cepat. Penilaian tingkat awal harus diberikan jika pasien kurang memberikan respons terhadap terapi awal. . ditambah nafas cuping hidung Meningkat Takikardia > 20 mm Hg Laju napas Laju nadi Pulsus paradoksus PEFR atau FEV1 -pra bronkodilator -pasca bronko Dilator Sa O2 % Pa O2 Pa CO2 Menurun Bradikardia Tidak ada (kelelahan otot napas) (% nilai dugaan / % nilai terbaik) >60% >80% >95% Normal < 45 mm Hg 40-60% 60-80% 91-95% >60 mmHg <45 mm Hg <40% <60% < 90% < 60 mmHg > 45 mm Hg Sumber: Smeltzer (2005) Butir-butir penilaian dalam tabel ini tidak harus lengkap ada pada setiap pasien.

Uji fungsi paru dengan spirometri atau peak flow meter.4.32 Tabel III.5 Pemeriksaan Penunjang a.3 Sistem Skoring Pernafasan Sianosis Aktifitas otot-otot pernafasan tambahan Pertukaran udara Keadaan mental Pulsus paradoksus (Torr) PaO2 (Torr) PaCO2 (Torr) Sumber: Smeltzer (2005) Skor : 0-4 5-6 ≥7 : tidak ada bahaya : akan terjadi gagal nafas → siapkan UGD : gagal nafas 0 (-) (-) Baik Normal < 10 70-100 < 40 1 (+) pada udara kamar Sedang Sedang Depresi/gelisah 10-40 ≤ 70 pada udara kamar 40-65 2 (+) pada 40% O2 Nyata Jelek Koma > 40 ≤ 70 pada 40%O2 > 65 III. Pemeriksaan Ig E dan eosinofil total. Diagnosis asma dapat ditegakkan bila didapatkan : 1) Variasi pada PFR (peak flow meter = arus puncak ekspirasi) atau FEV1 (forced expiratory volume 1 second = volume ekspirasi paksa pada detik pertama) ≥ 15% 2) Kenaikan ≥ 15% pada PFR atau FEV1 setelah pemberian inhalasi bronkodilator 3) Penurunan ≥ 20% pada PFR atau FEV1 setelah provokasi bronkus. b. Bila terjadi peningkatan dari nilai normal akan menunjang diagnosis .

Pada saat serangan lakukan prediksi derajat serangan (Lampiran 2). Tata laksana asma dibagi menjadi dua kelompok besar yaitu pada saat serangan (asma akut) dan di luar serangan (asma kronik). Berikan oksigen b. Koreksi asidosis. tiap 6-8 jam e. Medikamentosa yang digunakan dibagi menjadi 2 kelompok besar yaitu pereda (reliever) dan pengendali (controller). Foto toraks untuk melihat adanya gambaran emfisematous atau adanya komplikasi pada saat serangan.33 c. Di luar serangan. Berikan steroid intra vena secara bolus. Pada serangan asma akut yang berat : a. Foto sinus para nasal perlu dipertimbangkan pada anak > 5 tahun dengan asma persisten atau sulit diatasi.6 Penanganan Tatalaksana asma mencakup edukasi terhadap pasien dan atau keluarganya tentang penyakit asma dan penghindaran terhadap faktor pencetus serta medikamentosa. dehidrasi dan gangguan elektrolit bila ada d. tidak diperlukan controller. Berikan aminofilin intra vena : 1) Bila pasien belum mendapatkan amonifilin sebelumnya. pemberian obat controller tergantung pada derajat asma. kemudian di tata laksana sesuai dengan derajatnya (lampiran 5). berikan aminofilin dosis awal 20-30 menit 6 mg/kgBB dalam dekstrosa atau NaCl sebanyak 20 ml dalam . III. sedangkan pada asma episodik sering dan asma persisten memerlukan obat controller.4. Pada asma episodik jarang. Agonis ± antikolinergik dengan oksigen dengan 4-6 kali pemberian.βNebulasi dengan c.

Meredakan penyempitan jalan napas secepat mungkin b. Sesedikit mungkin absen sekolah g. tidak ada variasi diurnal (PEFR) yang mencolok i.bila dalam 24 jam pasien tetap stabil. dosis diberikan separuhnya. nebulasi diteruskan tiap 6 jam hingga 24 jam. .4.7 Tujuan tatalaksana serangan a. pasien dapat dipulangkan dengan dibekali obat III. Mengembalikan fungsi paru ke keadaan normal secepatnya d. termasuk bermain dan berolah raga f. Pasien dapat menjalani aktivitas normal. Mengurangi hipoksemia c.5-1 mg/kgBB/jam f. Uji fungsi paru senormal mungkin. dan pemberian steroid dan aminofilin dapat per oral g. Kebutuhan obat seminimal mungkin j. Efek obat dapat dicegah seminimal mungkin. Rencanakan tatalaksana untuk mencegah kekambuhan e.34 2) Bila pasien telah mendapatkan aminofilin (kurang dari 4 jam). Bila terjadi perbaikan klinis. terutama yang menghambat tumbuh kembang anak.β. 3) Bila mungkin kadar aminofilin diukur dan dipertahankan 10-20 mcg/ml 4) Selanjutnya berikan aminofilin dosis rumatan 0. Gejala tidak timbul siang atau malam hari h. Agonis (hirupan atau oral) yang diberikan tiap 4-6 jam selama 24-48 jam. Selain itu steroid oral dilanjutkan hingga pasien kontrol ke klinik rawat jalan dalam 24-48 jam untuk reevaluasi tatalaksana.

Tabel III.35 Beratnya derajat serangan menentukan terapi yang akan diterapkan.4 Tatalaksana serangan asma di klinik atau IGD Serangan berat • Nebuliser b2. uji fungsi paru.4. interval jadi 4-6 jam Jika dengan steroid dan aminofilin parenteral tidak membaik. pemeriksaan fisik.agonis • Kortikosteroid iv Gagal nafas Ruang Rawat Inap Oksigen teruskan Atasi dehidrasi dan asidosis jika ada Steroid iv tiap 6-8 jam Nebulisasi tiap 1-2 jam Aminofilin IV awal. teruskan • Dapat diberikan steroid oral Sumber: Smeltzer (2005) • • • • • • • III.8 Pengobatan Asma Obat asma dibagi 2 kelompok. dan pemeriksaan laboratorium. bahkan timbul ancaman henti nafas. . yaitu: a.agonis • Oksigen • Prednison oral • Nebuliser 1-3 kali • Prednison oral bila sebelumnya minum / tidak ada kemajuan • Intubasi + ventilator • O2 100% • Nebuliser b2. National Asthma Education and Prevention Program (NAEP) melakukan pembagian derajat serangan asma berdasarkan gejala. lanjutkan rumatan Jika membaik dalam 4-6x nebulisasi. alih rawat ke Ruang Rawat Intensif • Bekali obat ß-agonis (hirupan / oral) • Jika sudah ada obat pengendali. Obat pereda (reliever) Digunakan untuk meredakan serangan atau gejala asma yang timbul.

36 b. theophylline sustained-release atau Kortikosteroid/Prednisone 2mg/kg/hari (max 60 mg perhari) Anti inflamasi: kortikosteroid inhalasi (dosis rendah atau dosis tinggi) Terapi harian: Anti inflamasi: salah satu dari kortikosteroid inhalasi (dosis rendah) atau cromolyn atau nedokromil (anak-anak biasanya dimulai dari kromolin atau nedokromil).9 Upaya pencegahan . theophylline sustained-release atau leukotriene receptor antagonist (LRA) Tidak diperlukan terapi harian Pereda (Reliever) Bronkodilator kerja cepat: ß2 agonis inhalasi Intensitas terapi tergantung pada seringnya eksaserbasi Persisten sedang Bronkodilator kerja cepat: ß-2 agonis inhalasi untuk mengatasi gejala. Meski demikian. yaitu inflamasi kronik saluran napas. bergantung pada derajat penyakit asma dan responsnya terhadap pengobatan. Obat pengendali (controller) Digunakan untuk mengatasi masalah dasar asma. cro-molyn sebelum olahraga Sumber: Smeltzer (2005) III. Pemakaian obat ini terus menerus dalam jangka waktu yang relatif lama.4. Intensitas terapi tergantung pada seringnya eksaserbasi ß2 agonis inhalasi. penggunaan ß-2 agonis lebih dari 3-4 kali perhari atau penggunaan teratur setiap hari mengindikasikan perlunya pengobatan tambahan Episodik ringan Bronkodilator kerja cepat: ß2 agonis inhalasi untuk mengatasi gejala.5 Tatalaksana asma jangka panjang Derajat asma Persisten berat Pengendali (Controller) Terapi harian: Anti inflamasi: kortikosteroid inhalasi (dosis tinggi) dan Bronkodilator kerja panjang: ß2 agonis inhalasi/tablet kerja panjang. Dan jika diperlukan: Bronkodilator jangka panjang: salah satu dari b2-agonis inhalasi atau tablet kerja panjang. Tabel III.

berdasarkan kondisi asma. Gejala tidak timbul siang ataupun malam hari. tetapi manifestasinya dipengaruhi faktor lingkungan. Tindakan pencegahan pada pasien yang belum bermanifestasi: a. walau faktor genetik adalah faktor penting.37 Pencegahannya dapat dilakukan dengan dua metode. . c. bahan iritan. yaitu pada pasien yang asmanya belum bermanifestasi dan yang telah bermanifestasi. Hindari latihan fisik yang berat. perubahan cuaca dan emosi sebagai faktor pencetus. c.4. Sesedikit mungkin angka absensi sekolah. Mencegah terjadinya kepekaan pada anak. f. 2005) III. infeksi virus/bakterial. d. Pemberian ASI eksklusif selama bayi untuk memberikan kekebalan dan efek imun pada anak. seperti alergi makanan. Penghindaran terhadap makanan-makanan yang mempunyai tingkat alerginitis tinggi baik pada ibu hamil dan yang menyusui maupun sang anak. (WHO. Hindari makanan-makanan yang mempunyai tingkat alergi tinggi baik pada ibu hamil dan yang menyusui maupun sang anak. inhalan. b. Anak dapat menjalani aktivitas normalnya.10 Tata Laksana Asma Jangka Panjang a. Hindari faktor pencetus. tetapi manifestasinya dipengaruhi faktor lingkungan. Mencegah terjadinya sensitisasi pada pasien walau faktor genetik merupakan faktor penting. e. termasuk bermain dan berolahraga. Bagi orang tua terutama sang ibu dianjurkan untuk tidak merokok. b.

Faktor pribadi 4.1 Kerangka Konsep Kerangka konsep penelitian pada dasarnya adalah kerangka hubungan antara konsep-konsep yang ingin diamati diukur melalui penelitian-penelitian yang akan dilakukan. (Ngastiyah.Biaya 5. Komunikasi Dimensi kualitas pelayanan: 1) Tangible 2) Realibility 3) Responsiveness 4) Assurance 5) Empaty Tingkat Kepuasan Pasien Gambar 2. Efek samping obat dapat dicegah agar tidak atau sesedikit mungkin timbul.1 Kerangka Teori .Harga 4. Perceived quality 13.Conformance to spesification 9.38 d. tidak ada variasi diurinal (dalam 24 jam) yang mencolok dan kebutuhan obat seminimal mungkin dan tidak ada serangan. Faktor psikologi Faktor internal: Faktor-faktor yang mempengaruhi kepuasan: 1. Durability 10. e. Uji fungsi paru senormal mungkin. terutama yang mempengaruhi tumbuh kembang anak. Kualitas pelayanan 3.Reliability 8.Kinerja 6. Estetika 12. Adapun kerangka konsep dalam penelitian ini adalah sebagai berikut: Faktor-faktor yang mempengaruhi pelayanan: 1) Kelayakan 2) Kesiapan 3) Kesinambungan 4) Efektifitas 5) Kemanjuran 6) Efisiensi 7) Penghormatan dan perhatian 8) Keamanan 9) Ketepatan waktu 1.Kualitas pelayanan 2. Kebudayaan keluarga 2.Kualitas produk atau jasa 2. 2005) BAB IV KERANGKA KONSEP DAN HIPOTESIS PENELITIAN IV. Service ability 11. Faktor sosial 3.Features 7.

39 Pelayanan keperawatan Keterangan Diteliti Tidak diteliti IV.1 Jenis dan Rancang Bangun Penelitian Desain penelitian adalah sesuatu yang vital dalam penelitian. Sedangkan menurut Soekidjo Notoatmodjo adalah hasil suatu penilitian pada hakekatnya adalah suatu jawaban atas pertanyaan penelitian yang telah dirumuskan di dalam perencanaan penelitia. BAB V METODE PENELITIAN V.2 Hipotesis PenelitianGambar IV. H1 : Ada hubungan antara pelayanan keperawatan dengan kepuasan pasien asma rawat inap di Puskesmas Arjasa Kangean. kesimpulan yang diperoleh dari pembuktian atau analisis data dalam menguji rumusan sementara atau hipotesis itulah hasil akhir suatu penelitian. yang memungkinkan suatu kontrol beberapa faktor yang bisa mempengaruhi validity . 2003:57).1 Kerangka Konseptual Hipotesis adalah jawaban sementara dari rumusan masalah atau 40 pertanyaan penelitian (Nursalam.

. Desain penelitian sebagai petunjuk peneliti dalam penemuan dan pelaksanaan penelitian untuk mencapai suatu tujuan atau menjawab suatu pertanyaan (Nursalam & Siti pariani 2001). Dalam penelitian ini jenis penelitian yang digunakan adalah “Analitik Korelasi” yaitu suatu metode penelitian yang dilakukan dengan tujuan membuat gambaran tentang suatu keadaan secara objektif (Notoatmodjo. 2007). 2002). Sedangkan rancangan penelitian yang digunakan adalah cross sectional yaitu rancangan penelitian dengan melakukan pengukuran atau pengamatan pada saat bersamaan (sekali waktu) antara kedua variabel (Hidayat.40 suatu hasil.

1 : Kerangka Kerja .2 Kerangka Kerja POPULASI Keseluruhan pasien asma yang dirawat di Puskesmas Arjasa Kangean SAMPEL pasien asma yang dirawat di Puskesmas Arjasa Kangean TEKNIK SAMPLING Purposive Sampling METODE PENGUMPULAN DATA Angket Menggunakan Kesioner Pelayanan Keperwatan Dengan Kepuasan Pasien Asma Rawat Inap ANALISIS DATA Spearman Rank Corelation p< 0.05 p> 0.41 V.05 Ada Hubungan Tidak Ada Hubungan Gambar V.

q n= d ( N − 1) + zpq n= 36.96.96 2 0. jika tidak diketahui dianggap 50% q = 1 – p (100% .5.p) d = Tingkat kesalahan yang dipilih (0.5 . 2006:130).5.05) N .05 (1.0.3 Populasi Penelitian Populasi adalah keseluruhan subjek yang akan diteliti (Arikunto.0. dan Cara Pengambilan Sampel V.4 Sampel. di V. 2005:79). Penelitian ini menggunakan 1 jenis sampel yakni klien asma yang sedang di rawat di Puskesmas Arjasa Kangean sebanyak 16 orang.05(36 − 1) + 1.q d ( N − 1) + zpq Keterangan: n = Perkiraan jumlah sampel N = Perkiraan besar populasi z = Nilai standar normal untuk α = 0.z 2 p.1. Cara Penentuan Sampel.4.1 Sampel Sampel adalah sebagian atau wakil populasi yang diambil dari keseluruhan obyek yang akan diteliti (Notoatmodjo.42 V.5 0. Populasi yang akan diteliti yaitu klien asma yang sedang dirawat inap Puskesmas Arjasa Kangean sebanyak 36 orang (rata-rata tiap bulan). Penghitungan besar sampel jika populasinya tidak diketahui: n= N .z 2 p.96) p = Perkiraan proporsi.0.

5744 = 15. Kriteria Inklusi Kriteria inklusi adalah criteria di mana subjek penelitian mewakili sampel penelitian yang memenuhi syarat sebagai sampel (Hidayat. 2003) .5744 1. 2007:36). sehingga sampel tersebut dapat mewakili populasinya.75 + 0.24 n= n= V.2 Cara Penentuan Sampel Adapun kriteria sampel dalam penelitian ini adalah : 1. Kriteria Eksklusi Kriteria Eksklusi adalah subjek yang tidak dapat mewakili sampel penelitian karena tidak memenuhi syarat sebagai sampel penelitian (Hidayat.4. Pada penelitian ini menggunakan purposive Sampling yaitu pemilihan sampel dengan menetapkan subjek sesuai dengan kriteria penelitian yang sudah ditentukan (Nursalam.49 34. 2007:63).43 34.4.3 Cara Pengambilan Sampel Tehnik Sampling adalah cara atau tehnik-tehnik tertentu. Kriteria inklusi pada penelitian ini adalah: a) Pasien asma yang menjalani rawat inap minimal 2 hari atau lebih di Puskesmas Arjasa Kangean b) Pasien yang bisa baca – tulis 2.4 = 16 2. Kriteria eksklusi pada penelitian ini adalah: a) Sakit mendadak atau kritis b) Mengundurkan diri V.

V.1 Lokasi Penelitian Tempat penelitian ini di Puskesmas Arjasa Kangean.1.44 V. dan diukur untuk diketahui hubungannya (pengaruhnya) terhadap variabel lain. karena adanya variabel bebas (Sugiyono.1. V.5. V. 2008).2 Waktu Penelitian Penelitian pada bulan Mei – Juni 2010. V.6. Sedangkan menurut (Nursalam. 2003) variabel independen adalah variabel yang biasanya dimanipulasi.2 Variabel Dependen Variabel dependen merupakan variabel yang dipengaruhi atau yang menjadi akibat.5 Lokasi dan Waktu Penelitian V. Pada penelitian ini variabel independennya adalah pelayanan keperawatan. diamati. 2003) Variabel dependen adalah variabel respon atau output akibat dari . Sedangkan menurut (Nursalam. 2001:41).6.1 Variabel Independen Variabel independen (bebas) adalah merupakan variabel yang mempengaruhi atau yang menjadi sebab perubahannya atau timbulnya variabel dependen (terikat) (Sugiyono. benda.1 Identifikasi Variabel Variabel adalah suatu ukuran atau ciri yang dimiliki oleh anggota satu kelompok (orang. situasi) yang berbeda yang dimiliki oleh kelompok tersebut (Nursalam dan Siti Pariani.6 Identifikasi Variabel dan Definisi Operasional V.6. 2008).5.

.45 manipulasi suatu variabel.6.2 Definisi Operasional Definisi Operasional adalah unsur penelitian yang menjelaskan bagaimana caranya menentukan variabel dan mengukur suatu variabel sehingga definisi operasional ini merupakan suatu informasi ilmiah yang akan membantu peneliti lain yang ingin menggunakan variabel yang sama (Setiadi. 2007). Sedangkan variabel dependennya adalah tingkat kepuasan pasien V. Definisi operasional mendefinisikan variabel secara operasional berdasarkan karakteristik yang diamati ketika melakukan pengukuran secara cermat terhadap suatu objek atau fenomena dengan menggunakan parameter yang jelas.

46 Tabel V. Sangat tidak puas = (< 26%) V. 2005). Puas = (56% 76%) 2. Baik = (67% -100%) 2. Dalam penelitian ini tehnik pengumpulan data dengan menggunakan angket yaitu kuesioner yang diisi oleh responden.7 Tehnik dan Instrumen Pengumpulan Data V.33%) 1) Perasaan atau keadaan depen pasien / keluarga den: pasien asma yang Tingka telah mengalami t kepuasan suatu tindakan pasien asma terhadap pelayanan keperawatan yang diberikan oleh perawat el Variab an 2) Kesiapan 3) Kesinambung an 4) Efiktifitas 5) Kemanjuran 6) Efisiens i 7) Penghormata n dan perhatian 8) Keaman an 9) ketepata n Kepuasan Kues dengan: ioner 1) Kepercayaan 2) Jaminan 3) Empati 4) Kenyataan 5) Tanggung jawab Or dinal 4. Sangat puas = (76% 100%) 3. Kurang = (0% .7. Paramete r Kelayak Ala t ukur Kues ioner S kala Or dinal Skor 3. Adapun proses pengumpulan datanya dilakukan dengan cara sebagai berikut : .1 Tehnik pengumpulan data Pengumpulan data merupakan kegiatan penelitian untuk melakukan pengumpulan data yang akan digunakan untuk penelitian (Notoatmodjo. 1 Definisi Operasinal Varia bel Variab el independent: Pelaya nanan keperawatan Definis Operasional suatu upaya untuk membantu indi vidu baik yang sehat maupun yang sakit. Tidak Puas = (26% 55%) 1. Cukup = (34 66%) 1.

tingkat efektifitas terdiri dari 3 pertanyaan. tingkat penghormatan dan perhatian terdiri dari 3 pertanyaan dan tingkat keamanan yang terdiri dari 3 pertanyaan. Kuesioner untuk mutu pelayanan terdiri dari beberapa tingkat yaitu tingkat kesiapan yang terdiri dari 3 pertanyaan. Memberikan penjelasan pada responden cara menjawab angket 5. Responden diberikan penjelasan tentang tujuan dari peneliti.47 1. kemudian dilakukan pengolahan data. lalu kuesioner dibagikan sendiri oleh peneliti. informasi dan sebagainya (Notoatmodjo. Quesioner adalah suatu cara pengumpulan data yang dilakukan dengan mengedarkan suatu daftar pernyataan yang berupa formulir-formulir kepada sejumlah subjek (responden) untuk mendapatkan jawaban. Mengadakan pendekatan dan memberikan penjelasan kepada calon responden dan responden dipersilahkan untuk mengisi surat persetujuan.1 Instrumen pengumpulan data Berbicara tentang jenis-jenis metode dan instrumen pengumpulan data sebenarnya tidak ubahnya berbicara masalah evaluasi. Mengevaluasi adalah memperoleh data tentang status sesuatu dibandingkan dengan standar atau ukuran yang telah ditentukan karena mengevaluasi adalah juga mengadkan pengukuran.7. 2. Membagikan kuesioner kepada responden dan dipersilahkan untuk mengisinya. 6. 2003). . Meminta surat Ijin penelitian dari STIKES ABI Surabaya dan Kepala Puskesmas Arjasa Kangean. 3. Pada penelitian ini menggunakan instrumen kuesioner yang dikutip dari (Nursalam. Responden diberi penjelasan tentang cara pengisian kuesioner . 2005: 112). tingkat kemanjuran dari 3 pertanyaan. V. 4. Setelah kuesioner sudah dijawab semua.

66%) = (0% -33%) .48 V. Kepuasan Pasien Kemudian data diperiksa kembali kelengkapannya dan dianalisis menggunakan tehnik deskriptif kualitatif dengan prosentase. = (67% . lalu hasilnya dikonversikan sebagai berikut Baik Cukup Kurang 2. Skala Likert yang dikutip oleh S Pohan dengan graduasi penilaian kepuasan yaitu sangat puas diberi bobot 4. Sn x 100% Sn : Jumlah bobot yang didapat Sm : Total bobot Aspek yang dinilai Dari data tersebut kemudian ditabulasi dan diberi skor dengan menggunakan skala penilaian kualitatif. Pelayanan Keperawatan Pelayanan keperawatan dianalisa data dengan menggunakan : Rumus : P = Sm Keterangan : P : Prosentase. Ada dua macam analisis data yaitu : 1. puas diberi bobot 3.8 Tehnik Analisis data Dalam mengolah data yang terkumpul diperlukan suatu teknik analisis data yang sesuai dengan jenis data yang didapat. dan sangat tidak puas diberi bobot 1. tidak puas diberi bobot 2.100%) = (34 .

Kemudian melakukan pendekatan kepada klien sebagai subyek penelitian. peneliti mengajukan permohonan ijin kepada Kepala Puskesmas Arjasa Kangean untuk mendapatkan persetujuan penelitian. : Nilai < 26% 3. dengan derajat kemaknaan α = 0.76%.100%.55%. Sn : Jumlah bobot yang didapat Sm : Total bobot Aspek yang dinilai Dari data tersebut kemudian ditabulasi dan diberi skor dengan menggunakan skala penilaian kualitatif. Hubungan Pelayanan Keperawatan Dengan Kepuasan Pasien Dalam penelitian ini untuk membuktikan adakah hubungan pelayanan keperawatan dengan kepuasan pasien asma di ruang rawat inap puskesmas arjasa kangean. : Nilai 56% . lalu hasilnya dikonversikan sebagai berikut : Sangat Puas Puas Kurang Puas Tidak Puas : Nilai 76% . peneliti menggunakan Uji Spearman Rank Corelation dengan menggunakan alat bantu komputer berupa SPSS. . : Nilai 26 .9 Etika Penelitian Dalam melakukan penelitian. V.49 Sn x 100% Sm Rumus : P = Keterangan : P : Prosentase. P-value < α maka H0 ditolak atau H1 diterima artinya ada hubungan pelayanan keperawatan dengan kepuasan pasien asma.05.

V.9. Semua informasi yang telah dikumpulkan dijamin kerahasiaannya oleh peneliti (Hidayat.1 Informed Consent (Lembar Persetujuan) Lembar persetujuan diberikan kepada responden untuk mengetahui maksud dari penelitian serta dampak yang diteliti selama pengumpulan data. Jika responden menyetujui maka harus memberikan tandatangan dan jika responden menolak maka peneliti tidak akan memaksa dan tetap menghormati hak-haknya.9.2 Anonimity (Tanpa Nama) Untuk menjaga kerahasiaan identitas responden maka peneliti tidak mencantumkan nama pada lembar alat ukur dan hanya diberi kode pada lembar pengumpulan data atau hasil penelitian yang akan disajikan. baik informasi maupun masalah-masalah lainnya.50 V.9. V. 2009). .3 Confidentiality (Kerahasiaan) Masalah ini merupakan masalah etika dengan memberi jaminan kerahasiaan hasil penelitian.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful