Makalah Perkawinan di Usia Muda

Hi guys yang pingin lihat & baca katya tulis ini silakan baca asal bisa baca klw g bisa baca ya g uasah baca!!!!!! hua ... ha..ha.....ha.......!!!!!!!!!!!!

KATA PENGANTAR

Puji dan syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT yang telah melimpahkan rahmatNya, sehingga penulis dapat menyelesaikan karya tulis isssslmiah dengan judul : “Dampak Perkawinan Usia Muda Terhadap Kesejahteraan Keluarga”. Penulisan ini ingin mengetahui bagaimana dampak perkawinan usia muda terhadap kesejahteraan keluarga. Seperti yang telah diketahui, bahwa sekarang ini banyak terjadi perkawinan dini atau perkawinan di usia muda. Mulai perencanaan sampai dengan penyelesaian karya ilmiah ini, penulis telah banyak mendapatkan bantuan-bantuan dari berbagai pihak, oleh karena itu dalam kesempatan ini penulis mengucapkan banyak terima kasih kepada pihak-pihak sebagai berikut : 1. Ibu Sri Suharini selaku Guru Bahasa Indonesia yang telah memberikan saran dan masukan guna penyelesaian karya tulis ilmiah ini. 2. Bapak dan Ibu Guru yang selama ini banyak membimbing, mengarahkan dan membekali penulis dengan berbagai ilmu pengetahuan.

.............. 3 ....... Latar Belakang Masalah Penelitian.. ii HALAMAN DAFTAR ISI......... 3 1.................................. Tujuan Penulisan................ sehingga penulis dengan senang hati menerima kritik demi perbaikan.........3........................................1............. iii BAB I : PENDAHULUAN 1................. Yosowilangun.... Penulisan ini tentu saja masih jauh dari sempurna........................................... Semoga Allah SWT senantiasa memberikan Rahmat dan Karunia-Nya kepada semua pihak yang telah memberikan bantuan................................................ 1 1.... i HALAMAN KATA PENGANTAR..................... Perumusan Masalah......................................................................................... Mei 2009 Penulis DAFTAR ISI HALAMAN JUDUL.........3.. Orang tua yang selalu mendo’akan dan memberikan dukungan baik materil maupun spiritual kepada penulis...........................2.............

.................. Pengertian Dampak Perkawinan Usia Muda............. 15 . 12 3............................2........ Faktor-faktor yang tidak mendukung Perkawinan Usia Muda ............... 14 3................................... Pengertian Usia Muda/Remaja......... Faktor-faktor yang Mendukung Perkawinan Usia Muda 12 3...... 4 BAB II : LANDASAN TEORI 2.......... 15 3.. 9 3................... 5 2.2...........2........................................... 10 3............1. Kegunaan Penulisan...........1........ Pengertian Dampak.....1.. 9 3....1.. Dampak negatif............. 7 BAB III : PEMBAHASAN 3.... 13 3..............2............................. Faktor Ekonomi.....1...........1....2.....2............... 15 3........................................................1 Dampak positif..........................................................................2.4.3..................4................................................................................................. 6 2................... Faktor Agama....................4. Pengertian Kesejahteraan Keluarga... 5 2..........3 Faktor Sosial...............2. Pengertian Perkawinan...1 Faktor Psikologis........................3............................. Faktor Lingkungan..............3...........

Saran-saran...............3.....3......... 16 BAB III : PENUTUP 4........ Kesimpulan.................... 17 4........ Untuk itu diperlukan perencanaan yang matang dalam mempersiapkan segala sesuatunya meliputi aspek fisik......... mental.2....... Perkawinan merupakan suatu peristiwa yang sangat penting dan tak pernah terlupakan dalam perjalanan hidup seseorang dalam membentuk dan membina keluarga bahagia. dan sosial ekonomi...3 Faktor Peraturan Pemerintah......1...................1........................................................ 16 3......... 18 DAFTAR PUSTAKA BAB I PENDAHULUAN 1.......... Perkawinan akan membentuk suatu keluarga yang merupakan unit terkecil yang menjadi sendi dasar utama bagi kelangsungan dan perkembangan suatu masyarakat bangsa dan negara......... ..3......2 Faktor Pengetahua tentang Kesehatan......... Latar Belakang Masalah Kehidupan remaja yang kawin diusia muda tidak jarang terjadi ketegangan antara suami-istri seperti tidak terkendalinya emosi yang dilatar-belakangi kekurangsiapan mental dari pasangan usia muda tersebut yang pada akhirnya dapat menimbulkan tekanan sosial maupun ekonomi dalam rumah tangga.

3. Biasanya penderita neurosis tidak mampu mengatasi ketegangan sarafnya karena mengalami ketidakdewasaan emosional. Tujuan Penulisan Tujuan penulisan karya tulis ilmiah ini adalah : a. Kegunaan Penulisan Kegunaan dari penulisan ini adalah sebagai berikut : a. Kenapa perkawinan bisa gagal? Salah satu penyebabnya. Untuk mengetahui faktor-faktor yang mendukung dan menghambat perkawinan usia muda. agar perkawinan menjadi “Surga Kehidupan” dan bukan sebaliknya. 1.4. Karena perkawinan adalah sakral dan tidak dapat dimanipulasikan dengan apa pun. a. mungkin suami atau istri terkena gangguan neurotik. perlu dipersiapkan dengan sungguh-sungguh. Karena perkawinan disyari’atkan oleh Islam mempunyai tujuan sangat agung dan mulia. Memasuki suatu perkawinan dituntut untuk melibatkan diri secara emosional atau batin. Rumusan Masalah Masalah dalam karya tulis ilmiah ini ditulis sebagai berikut. Bagaimana dampak perkawinan usia muda terhadap tingkat kesejahteraan keluarga? b. Faktor-faktor apa saja yang mendukung dan menghambat perkawinan usia muda? 1. Untuk mengetahui dampak perkawinan usia muda terhadap tingkat kesejahteraan keluarga. dalam hal ini bahwa individu yang telah memasuki lembaga perkawinan harus mampu mengendalikan dan mengembangkan kebutuhan emosional dengan pasangan hidupnya agar tercapai sebuah suasana rumah tangga yang bahagia. Sehingga perkawinan yang bahagia dan kekal. Berdasarkan uraian di atas maka penulis tertarik untuk mengambil judul karya tulis ilmiah : “Dampak Perkawinan Usia Muda Terhadap Tingkat Kesejahteraan Keluarga”. b. Bertitik tolak dari fenomena yang ada pada kehidupan remaja yang kawin di usia muda tidak jarang terjadi ketegangan antara suami-istri seperti tidak terkendalinya emosi yang dilatar-belakangi kekurangsiapan mental dari pasangan usia muda tersebut yang pada akhirnya dapat menimbulkan tekanan sosial maupun ekonomi dalam rumah tangga.2. yaitu untuk mewujudkan terbentuknya rumah tangga bahagia dan sejahtera yang diliputi oleh rasa cinta dan kasih sayang yang melahirkan generasi manusia yang sholeh dan sholehah.Perkawinan yang baik adalah perkawinan yang sah dan tidak di bawah tangan. sehingga tidak mampu lagi menoleransi kelemahan pasangannya. Bagi Penulis . 1. seperti yang menjadi tujuan dari dilaksanakan perkawinan.

2.Penulisan ini dapat digunakan sebagai sarana atau wadah untuk mengembangkan wawasan. Bagi Pihak Lain Hasil penulisan ini dapat digunakan sebagai referensi atau rujukan bagi pihak-pihak yang membutuhkan untuk penulisan karya ilmiah di masa yang akan datang. Bagi Sekolah/Lembaga Untuk menambah referensi atau kajian ilmu pengetahuan dalam upaya memperkaya karya ilmiah. (1997:69) mendefinisikan perkawinan adalah: melaksanakan Aqad (perikatan yang dijalin dengan pengakuan kedua belah pihak (antara seorang laki-laki dan seorang perempuan atas dasar keridhoan dan kesukaan kedua belah pihak. oleh seorang wali dari pihak perempuan menurut sifat yang telah ditetapkan syarat untuk menghalalkan hidup serumah dan menjadikan yang seorang condong kepada yang seorang lagi dan menjadikan masing-masing dari padanya sekutu (teman hidup).2.3. Pengertian Dampak Menurut Poerwadarminto (1992:24) dalam Kamus Bahasa Indonesia dampak adalah “akibat-akibat dari konsekuensi yang ditimbulkan dengan dilaksanakannya suatu kebijaksanaan”. c. Pengertian Usia Muda / Remaja . Pengertian Perkawinan Dalam UU Nomor 1 Tahun 1974 pasal 1 merumuskan pengertian perkawinan sebagai berikut : “Perkawinan ialah ikatan lahir antara seorang pria dengan seorang wanita sebagai suami istri dengan tujuan membentuk keluarga (rumah tangga) yang bahagia dan kekal berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa”. BAB II LANDASAN TEORI 2.1. 2. b. Menurut Ahmad A.

Bahkan perubahan fisik itulah merupakan gejala primer dari pertumbuhan usia muda. Menurut Elizabeth B. sikap dan cara berpikir dan bertindak. yang disebut juga dengan masa badai dan tekanan sebagai akibat dari perubahan fisik dan kelenjar yang mana sangat berpengaruh pada psikologi usia muda. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa perkawinan usia remaja adalah perkawinan yang dilakukan oleh seseorang yang pada hakekatnya kurang mempunyai persiapan atau kematangan baik secara biologis. terlebih dahulu akan diuraikan tentang pengertian kesejahteraan dan keluarga. tetapi bukan orang dewasa yang telah matang (Zakiah Daradjat. Menurut Sarlito Wirawan (1991:51) masa muda adalah masa peralihan dari anak-anak ke masa dewasa bukan hanya psikologisnya saja akan tetapi juga fisiknya. 15-18 tahun masa muda pertengahan. 18-21 tahun masa muda akhir.Usia muda adalah anak yang ada pada masa peralihan diantara masa anak-anak dan masa dewasa dimana anak-anak mengalami perubahan cepat di segala bidang. Berdasarkan beberapa pendapat di atas maka dapat disimpulkan bahwa masa muda adalah seseorang yang telah menginjak usia dua belas tahun dan kira-kira berakhir usia dua puluh satu tahun. Menurut Konopka (1976:241). Pengertian Kesejahteraan Keluarga Sebelum memberikan pengertian (batasan) tentang kesejahteraan keluarga.4. Hurlock (1994:212) menyatakan secara tradisional masa muda dianggap sebagai “badai dan tekanan” yaitu suatu masa dimana ketegangan emosi meninggi sebagai akibat dari perubahan fisik dan kelenjar. psikologis maupun sosial ekonomi. 2. baik bentuk badan. Mereka bukan lagi anak-anak. sedangkan perubahan-perubahan psikologis itu muncul sebagai akibat dari perubahan fisik. . 1997:33). menjelaskan bahwa masa muda dimulai pada usia dua belas tahun dan diakhiri pada usia lima belas tahun sama halnya dengan teori yang diungkapkan oleh Monks (1998:262) batasan usia secara global berlangsung antara umur 12 dan 21 tahun dengan pembagian 12-15 tahun masa muda awal.

kesusilaan. Keselamatan kesusilaan. Belajar bertanggung jawab . karena dengan dilakukannya perkawinan tersebut mempunyai implikasi dan tujuan untuk menghindari adanya perzinahan yang sering dilakukan para remaja yang secara tersirat maupun tersurat dilarang baik oleh agama maupun hukum. keluarga. Dalam UU No. 6 tahun 1974 kesejahteraan sosial adalah “Suatu tata kehidupan dan penghidupan sosial material maupun spiritual yang diliputi oleh rasa. dan ketentraman lahir batin yang memungkinkan bagi setiap warga negara untuk mengadakan usaha pemenuhan kebutuhan jasmaniah. BAB III PEMBAHASAN 3. Menghindari perzinahan Jika ditinjau dari segi agama perkawinan usia muda pada dasarnya tidak dilarang.1.1. material maupun spriritual di dalam suatu keluarga yang diliputi oleh rasa keselamatan.Dalam hal ini yang dimaksud kesejahteraan adalah kesejahteraan sosial. Keluarga merupakan kelompok golongan masyarakat yang kecil terdiri dari ayah (suami). rohaniah. a. rohaniah dan sosial sebaik-baiknya. ibu (istri) dan anak. Dampak Perkawinan Usia Muda 3. sosial sebaik-baiknya bagi diri. dan ketentraman lahir batin yang memungkinkan keluarga tersebut untuk mengadakan usaha pemenuhan kebutuhan jasmaniah. b. Dampak positif Dampak positif dari perkawinan usia muda sebagai berikut.1. serta masyarakat yang menjunjung tinggi hak asasi manusia juga kewajiban manusia sesuai dengan Pancasila”. Dengan demikian dapat ditarik kesimpulan bahwa yang dimaksud dengan kesejahteraan keluarga adalah suatu tata kehidupan dan penghidupan sosial.

dan ketulian. Mereka sering mengalami kegoncangan mental. 3. kebutaan. Ibu hamil usia 20 tahun ke bawah sering mengalami prematuritas (lahir sebelum waktunya) besar kemungkinan dapat menyebabkan terjadinya cacat bawaan. pada setiap apa saja yang merupakan tanggung jawabnya. maupun mental. Dampak negatif Dampak negatif dari perkawinan usia muda sebagai berikut. Oleh karena itu dalam kehidupannya suami/istri harus mempunyai konsekuensi serta komitmen agar perkawinan tersebut dapat dipertahankan. ditinjau dari segi kependudukan mempunyai tingkat fertilitas (kesuburan) yang tinggi. e. usia yang kecil resikonya dalam melahirkan adalah antara usia 20-35 tahun. Segi Kesehatan Dilihat dari segi kesehatan. Faktor ekonomi adalah salah satu faktor yang berperan dalam mewujudkan kesejahteraan dan kebahagiaan rumah tangga. Segi Kelangsungan Rumah Tangga . baik pada dirinya sendiri maupun pada orang lain (istrinya).1. Dengan demikian dapat di tarik suatu kesimpulan bahwa dilakukannya suatu perkawinan akan memberikan motivasi/dorongan kepada seseorang untuk bertanggung jawab. fisik. kematian bayi serta berpengaruh pada rendahnya derajat kesehatan ibu dan anak.2. Segi Fisik Pasangan usia muda belum mampu dibebani suatu pekerjaan yang memerlukan ketrampilan fisik. penyakit ayan. sehingga kurang mendukung pembangunan di bidang kesejahteraan. Segi Mental/Jiwa Pasangan usia muda belum siap bertanggung jawab secara moral. untuk mendatangkan penghasilan baginya. b. Rasa ketergantungan kepada orang tua harus dihindari. a. Utamanya bagi pria.Suatu perkawinan pada dasarnya yaitu untuk menyatukan dua insan yang berbeda baik secara fisik maupun psikologis. d. karena masih memiliki sikap mental yang labil dan belum matang emosionalnya. pasangan usia muda dapat berpengaruh pada tingginya angka kematian ibu yang melahirkan. Segi Kependudukan Perkawinan usia muda. dan mencukupi kebutuhan keluarganya. artinya melahirkan pada usia kurang dari 20 tahun dan lebih dari 35 tahun mengandung resiko tinggi. Menurut ilmu kesehatan. c.

3. tingkat kemandiriannya masih rendah serta menyebabkan banyak terjadinya perceraian. yaitu dimana mempelai laki-laki setelah menikah tinggal di rumah mertua serta anak laki-laki tersebut dapat dimanfaatkan sebagai bantuan tenaga kerja bagi mertuanya. Sebab menyelenggarakan perkawinan anak-anaknya dalam usia muda ini. Dimana perkawinan tersebut dilatar belakangi oleh pesan dari orang tua yang telah meninggal dunia (orang tua mempelai perempuan atau orang tua mempelai laki-laki) yang sebelumnya diantara mereka pernah mengadakan perjanjian sebesanan agar tali persaudaraan menjadi kuat. Faktor-faktor yang Mendukung Perkawinan Usia Muda Faktor-faktor yang mendukung perkawinan usia muda sebagai berikut.Perkawinan usia muda adalah perkawinan yang masih rawan dan belum stabil. a. 3. Untuk sekedar memenuhi kebutuhan atau kekurangan pembiayaan hidup orang tuanya.2.2. khususnya orang tua mempelai wanita. 3.2.1. akan diterima sumbangan-sumbangan berupa barang. Keinginan adanya ikatan tersebut akan membawa keuntungan-keuntungan bagi kedua belah pihak. Selain itu untuk memelihara kerukunan dan kedamaian antar kerabat dan untuk mencegah adanya perkawinan dengan orang lain yang tidak disetujui oleh orang tua atau kerabat yang bersangkutan dengan dilaksanakannya perkawinan tersebut. ataupun sejumlah uang dari handai taulannya yang dapat dipergunakan selanjutnya untuk menutup biaya kebutuhan kehidupan sehari-hari untuk beberapa waktu lamanya. Faktor Ekonomi Alasan orang tua menikahkan anaknya dalam usia muda dilihat dari faktor ekonomi adalah sebagai berikut. . Faktor Lingkungan Alasan orang tua segera menikahkan anaknya dalam usia muda adalah untuk segera mempersatukan ikatan kekeluargaan antara kerabat mempelai laki-laki dan kerabat mempelai perempuan yang mereka inginkan bersama. bahan.2.

3. b. Cakap untuk melakukan segala pergaulan dalam kehidupan kemasyarakatan serta mempertanggungjawabkan segala-galanya sendiri.2. di sini wanita tidak mengukur usia berapa dia dapat melangsungkan perkawinan. Sudah mampu untuk menjaga diri. Tuhan Yang Maha Esa menciptakan manusia juga disertai dengan pedoman agama. c. sedemikian rupa sehingga kedua cabang usaha tersebut berkembang menjadi satu usaha yang lebih besar. serta lingkungan sekitarnya. Faktor Agama Agama untuk mengatur seluruh aspek kehidupan manusia sepanjang zaman.3.1.4. Faktor Sosial Di dalam melangsungkan suatu perkawinan.b. Faktor-faktor yang Tidak Mendukung Perkawinan Usia Muda Faktor-faktor yang tidak mendukung perkawinan usia muda sebagai berikut. Hal ini berdasarkan pada suatu kriteria yaitu apakah dia sudah mencapai tingkat perkembangan fisik tertentu. 3. Untuk menjamin kelestarian ataupun perluasan usaha orang tua mempelai laki-laki dan orang tua mempelai perempuan sebab dengan diselenggarakannya perkawinan anaknya dalam usia muda dimaksudkan agar kelak si anak dari kedua belah pihak itu yang sudah menjadi suami istri. Hal ini menjelaskan bahwa individu yang telah memasuki lembaga perkawinan harus mampu . salah satunya aspek yang diatur oleh agama adalah lembaga perkawinan. dimana usaha-usaha tersebut merupakan cabang usaha yang saling membutuhkan serta saling melengkapi. Kenyataan tersebut disebabkan karena hukum adat itu tidak mengenal batas yang tajam antara seseorang yang sudah dewasa dan cakap hukum ataupun yang belum. Bahkan setelah perkawinan usia muda tersebut terjadi. lazimnya langkah-langkah pendekatan sudah mulai diambil. 3. hal ini untuk menjaga agar manusia tidak hancur ke dalam perbuatan maksiat.3. dapat menjamin kelestarian serta perkembangan usaha dari kedua belah pihak orang tuanya. dan disamping itu juga dibekali oleh akal sebagai alat untuk berpikir dan menalar segala permasalahan yang dihadapinya. Faktor Psikologis Dalam perkawinan seseorang dituntut untuk melibatkan diri secara emosional atau batin disamping adanya ikatan secara lahir. Di sini yang dimaksud sudah dewasa adalah mencapai suatu umur tertentu sehingga individu yang bersangkutan memiliki sifat-sifat atau ciri-ciri antara lain : a.2.3. Cakap untuk mengurus harta benda dan keperluan sendiri. tempat. Di mana hal tersebut berjalan sedikit demi sedikit menurut kondisi. 3.

mengendalikan dan menyeimbangkan emosional dengan pasangan hidupnya agar tercapai suasana rumah tangga bahagia seperti yang menjadi tujuan dari dilaksanakannya perkawinan. Dengan demikian maka kesiapan atau kematangan psikologis sangat menentukan tingkat keberhasilan dari sebuah rumah tangga yang ingin dibentuk. Padahal kesehatan sangatlah penting demi kelanjutan hidup dalam berumah tangga. 3. karena dengan kematangan psikologis inilah seseorang telah dapat meredam dan memecahkan setiap permasalahan yang timbul dalam rumah tangga kelak di kemudian hari. pengetahuan tentang kesehatan sangat kurang yang dipunyai oleh mereka. Dalam hal ini diharapkan seseorang telah memiliki kematangan psikologis sebelum memasuki jenjang perkawinan. Peraturan itu diberlakukan karena ditakutkan akan banyak terjadi perceraian dalam usia muda. BAB IV PENUTUP . Peraturan pemerintah dalam hal perkawinan menegaskan bahwa bagi orang yang akan menikah harus berusia minimal 17 tahun.2.3.3. Faktor Peraturan Pemerintah Peraturan pemerintah dalam perkawinan usia muda dilarang dikarenakan dalam perkawinan usia muda banyak terdapat perceraian yang diakibatkan usia kedua belah pasangan yang sangat terlalu muda dan kurangnya pegetahuan tentang peraturan pemerintah. Faktor Pengetahuan Tentang Kesehatan Banyak pasangan perkawinan usia muda yang tidak memperhatikan tentang kesehatan kedua belah pihak karena mereka berfikir perkawinan dalam usia muda sangatlah mudah padahal dalam kenyataannya tidak demikian. 3.3.

Perkawinan usia muda mempunyai dampak yang nyata terhadap tingkat kesejahteraan keluarga. Perlunya ditingkatkan penyuluhan yang intensif kepada semua lapisan masyarakat baik yang terkait dengan hukum. Kesimpulan 1. kesehatan maupun masa depan anak jika melakukan perkawinan diusia muda. Faktor ekonomi c.2. meliputi : a.1. Saran-Saran 1. Faktor lingkungan b. Faktor psikologis b.4. Faktor agama 3. Faktor-faktor yang mendukung perkawinan usia muda meliputi : a. Hal ini dapat ditinjau dari sisi keharmonisan dan ketentraman keluarga. perkawinan usia muda juga memberi dampak positif terhadap pasangan usia muda diantara adalah untuk menghindari perzinahan yang sering dilakukan para remaja dan memberikan suatu pelajaran kepada pasangan usia muda untuk bertanggung jawab. psikologis maupun sosial ekonomi. Faktor sosial d. keserasian dan keselarasan pasangan usia muda serta pemenuhan kebutuhan materiil dan spirituilnya masih kurang baik. Perkawinan usia muda adalah perkawinan yang dilakukan oleh seseorang yang pada hakekatnya kurang mempunyai persiapan atau kematangan baik secara biologis. Faktor kesehatan c. Meskipun cenderung memberikan dampak negatif. . Faktor-faktor yang tidak mendukung perkawinan usia muda. Peraturan pemerintah 4. 2.

1997. Wirawan. Yogyakarta. University Press. 1995. yaitu membina keluarga (rumah tangga) yang bahagia dan kekal berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa bagi yang hendak melangsungkan perkawinan dalam usia muda oleh masyarakat dipertimbangkan lebih dahulu dengan akal sehat dan pertimbangan segi keuntungan dan kerugian (manfaat dan mudhorot). 1994. Jakarta. 1991. Psikologis Perkembangan Sepanjang Rentang Kehidupan. Penerbit Pustaka Tinta Mas. Jakarta. Erlangga. Jakarta. DAFTAR PUSTAKA Ahmad. Guna mewujudkan tujuan perkawinan. University Press. 1997. Rajawali Press. Zakiah. Psikologi Perkembangan. E. Poerwadarminto 1992. BPK Gunung Mulia. Yogyakarta. Diposkan oleh belajar donk di 18:03 . Gajah Mada. Kamus Besar Bahasa Indonesia. Sarlito. Surabaya. Hurlock. Psikologi Remaja. Humries. A. Psikologi Remaja. Elizabeth B. Rineka Cipta. Gajah Mada. Psikologi Perkembangan Pengantar Dalam Berbagai Bagiannya. 1997. 1998. Konopka.2. Psikologis Perkembangan. D. Jakarta. Nasehat Perkawinan dan Keluarga. BP4 Pusat. Monks. CV. Tentang Perkawinan. Undang-Undang Republik Indonesia No. 1 Tahun 1974.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful