PERAN SERTA MASYARAKAT DALAM PENDIDIKAN

Pendidikan adalah tanggungjawab bersama antara pemerintah, orangtua, dan masyarakat. Tanpa dukungan masyarakat, pendidikan tidak akan berhasil dengan maksimal. Sekarang hampir semua sekolah telah mempunyai komite sekolah yang merupakan wakil masyarakat dalam membantu sekolah, sebab masyarakat dari berbagai lapisan sosial ekonomi sudah sadar betapa pentingnya dukungan mereka untuk keberhasilan pembelajaran di sekolah. Sebetulnya banyak sekali jenis-jenis dukungan masyarakat pada sekolah. Namun sampai sekarang dukungan tersebut lebih banyak pada bidang fisik dan materi, seperti membantu pembangunan gedung, merehab sekolah, memperbaiki genting, dan lain sebagainya. Masyarakat juga dapat membantu dalam bidang teknis edukatif antara lain menjadi guru bantu, sumber informasi lain, guru pengganti, mengajar kebudayaan setempat, ketrampilan tertentu, atau sebagai pengajar tradisi tertentu. Namun demikian, hal tersebut belumlah terwujud karena berbagai alasan. Pada dasarnya masyarakat baik yang mampu maupun yang tidak mampu, golongan atas, menengah maupun yang bawah, memiliki potensi yang sama dalam membantu sekolah yang memberikan pembelajaran bagi anak-anak mereka. Akan tetapi hal ini bergantung pada bagaimana cara sekolah mendekati masyarakat tersebut. Oleh karena itu, sekolah harus memahami cara mendorong peran serta masyarakat agar mereka mau membantu sekolah. Tulisan ini berikhtiar membicarakan tiga hal antara lain; pentingnya peran serta masyarakat utamanya peran stakeholder bagi pengembangan madrasah; jenis-jenis peran serta masyarakat, serta cara mendorong peran serta masyarakat. Dari sini diharapkan muncul pokok-pokok gagasan setelah melalui proses diskusi dan simulasi yang mencakup munculnya identifikasi stakeholder (baca: kelompok masyarakat) dalam dalam membantu pendidikan; terinventarisasinya jenis-jenis PSM; serta teridentifikasinya beberapa cara mendorong peran serta masyarakat. Mengapa PSM itu perlu? • Pendidikan adalah tanggungjawab bersama keluarga, masyarakat, dan negara; • Keluarga bertanggungjawab untuk mendidik moralitas/agama, menyekolahkan anaknya, serta membiayai keperluan pendidikan anaknya; • Anak berada di sekolah antara 6-9 jam, selebihnya berada di luar sekolah (rumah dan lingkungannya). Dengan demikian, tugas keluarga amat penting untuk menjaga dan mendidik anaknya; • Pendidikan adalah investasi masa depan anak. Oleh karena itu, memerlukan biaya, tenaga dan perhatian. Keberatankah orang tua membayar SPP yang sifatnya bulanan, sedang mereka saja tidak berat untuk membeli rokok setiap hari? Mungkinkah anak menjadi pandai tanpa biaya? Harusnya kita sadar, kita sedang memasuki era globalisasi, dan jika anak kita tidak terdidik, kita akan kalah bersaing dengan bangsa lain. • Anak perempuan perlu mendapat pendidikan setinggi anak laki-laki mengingat mereka akan menjadi ibu dari bayi-bayinya. Ibu lebih dekat kepada anak dan mendidik anak perlu pengetahuan yang memadai agar anak tidak salah asuhan/didik; • Masyarakat berhak dan berkewajiban untuk mendapatkan dan mendukung pendidikan yang baik. Kewajiban mereka tidak sebatas pada bantuan dana, lebih dari itu juga pemikiran dan

• Pemerintah berkewajiban membuat gedung sekolah. Karena kemampuan pemerintah terbatas . menjamin kualitas buku paket.gagasan. dan lain sebagainya. menyediakan tenaga/guru. alat peraga. melakukan standarisasi kurikulum.

2002). maka masyarakat lalu hanya ditempatkan sebagai saluran mempercepat program-program pembangunan itu. dan eksternal seperti kekuatan besar misalnya lembaga (keuangan) internasional (Karsidi. 1984). pengelompokan sosial yang mencakup mulai dari rumah tangga (household). baik secara institusional maupun perseorangan anggota masyarakat (Karsidi. 2002). Pembangunan seharusnya mengandung arti bahwa manusia ditempatkan pada posisi pelaku dansekaligus penerima manfaat dari proses mencari solusi dan meraih hasil pembangunan untuk dirinya dan lingkungannya dalam arti yang lebih luas. tidak akan dapat diterima jika satu golongan mendiktekan keinginan dan kepentingannya dalam isi dan prioritas agenda pengambilan keputusan pembangunan. Peranserta masyarakat harus lebih dimaknai sebagai hak daripada sekadar kewajiban. Reaktualisasi Partisipasi Masyarakat dalam Pengembangan Pendidikan di Indonesia Seperti dijelaskan sebelumnya bahwa bergesernya paradigmapembangunan yang sentralistik ke desentralistik telah mengubah cara pandang penyelenggara negara dan masyarakat dalam penyelenggaraan pembangunan. organisasi-organisasi sukarela (termasuk partai politik). mengatakan bahwa titik pusat perhatian masa pasca industri adalah pada pendekatan ke arah pembangunan yang lebih berpihak kepada rakyat. Terasuk di dalamnya adalah jejaring. maka akan bermakna sebagai upaya pemberdayaan atau penguatan masyarakat. lebih-lebih dalam era globalisasi. Individu bukanlah sebagai . 1993). apakah itu golongan di dalam negeri seperti pejabat pemerintah atau usahawan. tetapi melayani kepentingan masyarakat yaitu sebagai perantara dari negara di satu pihak dengan individu dan masyarakat di pihak lain (Hikam. Korten (1980. Namun dalam kenyataannya. arti pembangunan mengalami gelombang pasang sesuai kebutuhan dan tuntutannya. maka masyarakat justru akan terpinggirkan dari proses pembangunan itu sendiri. Dengan demikian. Penguatan partisipasi masyarakat haruslah menjadi bagian dari agenda pembangunan itu sendiri. Sebaliknya. Pembangunan harus dipandang sebagai bagian dari kebutuhan masyarakat itu sendiri dan bukan semata kepentingan negara. baik secara individual maupun secara kolektif. apabila kemudian peran masyarakat kuat dan ditempatkan sebagai subjek. Kontrol rakyat (anggota masyarakat) terhadap isi dan prioritas agenda pengambilan keputusan pembangunan harus dimaknai sebagai hak masyarakat untuk ikut mengontrol agenda dan urutan prioritas pembangunan untuk dirinya atau kelompoknya. Oleh karena itu. sampai organisasi-organisasi yang mungkin pada awalnya dibentuk oleh negara. Belajar dari pengalaman bahwa ketika peran pemerintah sangat dominan dan peranserta masyarakat hanya dipandang sebagai kewajiban.D. Penguatan masyarakat secara institusional bisa diartikan sebagai pengelompokan anggota masyarakat sebagai warga negara mandiri yang dapat dengan bebas dan egaliter bertindak aktif dalam wacana dan praksis mengenai segala hal yang berkaitan dengan masalah kemasyarakatan pada umumnya. Pada saat di mana suatu program pembangunan didominasi oleh peran pemerintah dan peran masyarakat lemah. masyarakat harus mampu meningkatkan kualitas kemandirian mengatasi masalah yang dihadapinya.

Penyadaran diri masyarakat merupakan satu di antara argumen-argumen yang paling telak dan tajam diajukan oleh Paulo Freire (1984). Kesempitan pandangan dan cakrawala rakyat diubah ke arah suatu keinsyafan. Melalui kelompok akan dibina solidaritas.objek. dan mengarahkan proses yang mempengaruhi hidupnya sendiri. Musyawarah dapat merupakan cara analisis kebutuhan (needs) dan tidak sekadar keinginan (wants) yang bersifat superfisial demi pemenuhan kebutuhan sesaat. Oleh karena itu. Dalam kelompok primordial itu. serta bias merasakan adanya perkembangan dan kemajuan sebagai hasil kegiatan mereka. Dengan bertolak dari kelompok primordial. Langkah lain dalam proses partisipasi masyarakat itu adalah pembentukan kelompok. Hal yang mendasar dalam kelompok adalah perlunya penyadaran warga masyarakat untuk . dan bekerja secara sistematis. Musyawarah adalah sebuah pendekatan kultural khas Indonesia yang dapat dimasukkan dalam proses eksplorasi kebutuhan dan identifikasi masalah. para anggota kelompok akan memperoleh referensi yang sama. maka pembangunan seperti itu mementingkan sistem swa-organisasi yang dikembangkan di sekitar satuan-satuan organisasi berskala manusia dan masyarakat yang berswadaya. musyawarah. Musyawarah juga merupakan bentuk sarana untuk meningkatkan partisipasi dan rasa memiliki atas keputusan dan rencana pembangunan. perasaan. Ini akan menimbulkan keasyikan dan motivasi tersendiri. maka para anggota akan merasakan adanya hal-hal baru jika mereka bersedia membandingkannya dengan situasi lama. yang menentukan tujuan. Pembangunan yang memihak rakyat menekankan nilai pentingnya prakarsa dan perbedaan lokal. Oleh karena itu pemilihan orangorang yang mewakili sebagai peserta musyawarah untuk suatu keperluan seperti merumuskan kebutuhan masyarakat haruslah benar-benar yang mampu menyalurkan aspirasi masyarakat yang diwakilinya. Pembentukan dan pengembangan kelompok masyarakat dapat dikatakan sebagai basis dari strategi pembangunan dari bawah. melainkan berperan sebagai pelaku. mengontrol sumber daya. 2001). Bentuk aktualisasi dan pernyataan penyadaran diri masyarakat secara kolektif dapat berupa partisipasinya dalam proses pengambilan keputusan yang berhubungan dengan kebutuhan dirinya dan kelompoknya dalam komunitas yang melingkupinya. Melalui kelompok. para anggota akan menyusun program. Salah satu cara yang efektif untuk membentuk kelompok adalah melalui pendekatan kepentingan yang sama secara primordial. Kesejahteraan dan realisasi diri manusia merupakan jantung konsep pembangunan yang memihak rakyat. Perasaan berharga diri adalah sama pentingnya bagi pencapaian mutu hidup yang tinggi. Cara-cara kolektif berpartisipasi oleh masyarakat bisa teraktualisasikan dalam bentuk musyawarah dan juga terbentuknya institusi lokal oleh masyarakat itu sendiri. Dari kelompok-kelompok itu diharapkan akan timbul dinamika dari bawah. kerja sama. dan ini adalah inti dari usaha bagaimana bias mengangkat rakyat dari kelemahannya selama ini. rasa aman dan percaya kepada diri sendiri (Karsidi. Masyawarah harus dipandang sebagai bentuk dari community needs analysis. pemikiran. dan gagasan bahwa hal-ihwal dapat menjadi lain dan tersedia alternatif-alternatif jika dirinya terlibat langsung menyelesaikan masalah-masalahnya.

partisipasi masyarakat telah terjadi di sekolah dalam praktik penyelenggaraan musyawarah maupun pembentukan institusi lokal. maka perlu segera dilakukan upaya pemulihan dan pengembalian tanggung jawab masyarakat terhadap pengembangan pendidikan baik dalam skala mikro maupun skala makro. Demikian pula di lembaga-lembaga pendidikan lainnya nonsekolah. pemanfaatan hasil dan evaluasinya. Mengacu pada lingkup partisipasi masyarakat. Selama ini keterwakilan dalam suatu organisasi atau forum biasanya diserahkan kepada warga negara yang digolongkan sebagai tokoh masyarakat atau elit. Cara untuk penyaluran partisipasi dapat diciptakan dengan berbagai variasi cara sesuai dengan kondisi masing-masing wilayah atau komunitas tempat masyarakat dan lembaga pendidikan itu . atau kelompok-kelompok masyarakat lainnya di luar sekolah. Tanggung jawab tersebut tidak pernah lepas tetapi pernah mengendor. Namun cara seperti ini terkadang justru menyebabkan warga biasa (yang bukan tokoh) tidak akan mampu menjadi bagian dari forum dan pada gilirannya tidak tersalurkan pula aspirasinya. Inilah yang saya sebut sebagai reaktualisasi partisipasi masyarakat. kegiatan-kegiatan nonkurikuler sampai pada pengadaan kebutuhan sumber daya untuk suatu sekolah agar dapat berjalan lancar. karena sebenarnya yang bertanggung jawab dalam hal ini adalah justru masyarakat itu sendiri. ruang partisipasi tersebut harus dibuka lebar agar tanggung jawab pengembangan pendidikan tidak tertumpu pada lembaga pendidikan itu sendiri. Dua jenis kebijakan pemerintah tentang Manajemen Berbasis Sekolah (MBS) di sekolah-sekolah tingkat dasar dan menengah serta Majelis Wali Amanah (MWA) di perguruan tinggi BHMN adalah contoh dari bentuk perwujudan mekanisme dan struktur kelembagaan untuk menyalurkan partisipasi masyarakat dalam penyelengaraan pendidikan. Pada dasarnya. Oleh karena paradigma tersebut telah bergeser menuju kepada peluang yang lebar bagi teraktualisasikannya kembali partisipasi masyarakat. Dalam hal apa saja seharusnya mereka berpartisipasi? Sebagaimana telah diuraikan sebelumnya bahwa tanggung jawab pengembangan pendidikan sebagai proses sosialisasi adalah berada pada orang tua dan kelompok-kelompok masyarakat yang berkepentingan. apakah lembaga-lembaga tersebut telah menjalankan fungsi penyaluran partisipasi masyarakat dari yang seharusnya disalurkan. pelaksanaan. seharusnya mempunyai tanggung jawab mengembangkan pendidikan secara mikro yaitu dalam lingkup pendidikan di sekolah dan secara makro adalah untuk pengembangan sumber daya manusia bangsa. Lebih dari itu. Masalahnya adalah apakah kedua contoh kelembagaan tersebut telah mampu menjadi saluran partisipasi yang benar-benar mewakili masyarakat yang seharusnya diwakilinya. masyarakat harus dilibatkan sejak dari proses perencanaan. Program-program pembelajaran di sekolah berupa desain kurikulum dan pelaksanaannya. Komponenkomponen masyarakat baik orang tua siswa.mau dan mampu berpartisipasi sehingga dalam kelompok terjadi dinamika sebagai institusi masyarakat. tampaknya harus sudah mulai diberikan ruang partisipasi bagi pihak-pihak yang berkepentingan. lebih-lebih pada pemerintah sebagai penyelenggara negara. sejalan dengan dominannya paradigm pembangunan sentralistik. maka dalam pengembangan pendidikan.

lalu menggunakannya jika menghasilkan output yang baik dan mengkritiknya jika terdapat output yang tidak baik. Dengan cara demikian. Kondisi ini menuntut kesigapan para pemegang kebijakan dan manajer pendidikan untuk mendistribusi peran dan kekuasaannya agar bisa menampung sumbangan partisipasi masyarakat. Di kemudian hari sekolah tidak lagi akan menjadi satu-satunya pusat pembelajaran karena aktivitas belajar tidak lagi terbatasi oleh ruang dan waktu. Adanya opini masyarakat bahwa tanggung jawab utamapembangunan (dalam bidang pendidikan) hanya terletak ditangan pemerintah. sebenarnya peluang bagi orang tua/warga dan kelompok masyarakat masih sangatlah luas. Kondisi ini telah merugikan pengembangan pendidikan itu sendiri dan semakin memberatkan pemerintah sebagai penyelenggara negara. Perkembangan teknologi (terutama di bidang teknologiinformasi) menyebabkan peranan sekolah sebagai lembaga pendidikan mulai bergeser. menyebabkan masyarakat merasa hanya ditempatkan sebagai “bukan pemain utama” dan berakibat melemahkan kemauan berpartisipasi warga dan kelompok-kelompok masyarakat dalam pengembangan pendidikan. Mereka tidak bisa tinggal diam menunggu dari suatu lembaga pendidikan/sekolah sampai dapat meluluskan alumninya. membantu. termasuk orang tua siswa.berada. Lebih dari itu. Untuk itu. serta berkewajiban memberikan layanan dan kemudahan penyelenggaraan pendidikan yang bermutu bagi setiap warga negara tanpa diskriminasi. Pemerintah dan pemerintah daerah juga wajib menjamin tersedianya dana guna terselenggaranya pendidikan bagi setiap warga negara dari usia tujuh sampai usia lima belas tahun. Partisipasi dunia usaha/industri terhadap lembaga pendidikan harus ikut bertanggung jawab untuk menghasilkan output yang baik sesuai dengan rumusan harapan bersama. Sebaliknya. . E. maka dalam kondisi kualitas layanan dan output pendidikan sedang banyak dipertanyakan mutu dan relevansinya. 2. Lebih dari itu. dan mengawasi penyelenggaraan pendidikan. maka mutu pendidikan suatu lembaga pendidikan menjadi tanggung jawab bersama antara lembaga pendidikan dan komponen-komponen lainnya di masyarakat tersebut. maka pemerintah seharusnya memberikan peluang yang luas bagi partisipasi masyarakat. Kesimpulan 1. Sebagai contoh adalah tanggungjawab dunia usaha/industri. dari pihak masyarakat (termasuk orang tua dan kelompok-kelompok masyarakat) juga harus belajar untuk kemudian bisa memiliki kemauan dan kemampuan berpartisipasi dalam pengembangan pendidikan. 2003 bahwa pemerintah dan pemerintah daerah berhak mengarahkan. Demikian juga kelompok-kelompok masyarakat lain. pemerintah perlu menyusun mekanisme sehingga orang tua dan kelompok-kelompok masyarakat dapat berpartisipasi secara optimal dalam pengembangan pendidikan di Indonesia. membimbing. Sebagaimana diamanatkan oleh UU Sisdiknas. Bagaimana dengan tanggungjawab negara terhadap pengembangan pendidikan? Uraian di atas bukan bermaksud untuk mengurangi tanggung jawab pemerintah sebagai penyelenggara negara dalam bidang pendidikan.

maupun tingkat penyelenggara pendidika maka peran serta masyarakat sanga diperlukan. pagar. Peran serta dengan menggunakan jasa yang tersedia. 6. seperti: menyediakan diri menjadi tenaga pengajar. yang dimulai dari tingkat terendah ke tingkat tertinggi. • Bantuan teknis edukatif juga sangat mungkin diberikan. Diperlukan adanya peraturan perundangan yang mengatur mekanisme partisipasi masyarakat terhadap pengembangan pendidikan baik dalam skala nasional. membantu anak berkesulitan membaca. Peranan orang tua dan kelompok-kelompok masyarakat menjadi sangat penting untuk mengisi kekosongan peran yang tidak lagi mampu diambil oleh sekolah/lembaga pendidikan. lokal. terutama di wilayah atau komunitas tempat sekolah/lembaga pendidikan berada. Masyarakat hanya memanfaatkan jasa sekolah dengan memasukkan anak ke sekolah.Peran guru juga tidak akan menjadi satu-satunya sumber belajar karena banyak sumber belajar dan sumber informasi yang mampu memfasilitasi seseorang untuk belajar. daerah. • Kemampuan pemerintah terbatas sehingga mungkin tidak mampu untuk mengetahui secara rinci nuansa perbedaan di masyarakat yang berpengaruh pada bidang pendidikan. serta membicarakan pelaksanaan kurikulum dan kemajuan belajar. Tingkatan tersebut terinci sebagai berikut: 1. 4. pembuatan gedung. Jadi masyarakat berkewajiban membantu penyelenggaraan pendidikan. pemanfaatan hasil dan evaluasinya. • Masyarakat dapat terlibat dalam memberikan bantuan dana. Bergesernya paradigma pembangunan sentralistik ke desentralistik telah membuka peluang yang lebar bagi teraktualisasikannya kembali partisipasi masyarakat dalam pengembangan pendidikan. dan lain sebagainya. Media dan forum yang dapat dimanfaatkan untuk penyaluran partisipasi masyarakat dalam pengembangan pendidikan antara lain adalah media musyawarah dan pembentukan institusi masyarakat yang mampu menampung aspirasi masyarakat. Peran serta tersebut dapat diklasifikasikan dalam 7 tingkatan. 3. Orang tua dan kelompok-kelompok masyarakat harus dilibatkan dalam pengembangan pendidikan sejak dari proses perencanaan. Jenis PSM ini merupakan jenis paling umum. • Idealnya sekolah bertanggungjawab kepada pemerintah dan juga kepada masyarakat sekitarnya. Masyarakat juga dapat terlibat dalam bidang teknis edukatif. . pelaksanaan. Jenis-jenis PSM Ada bermacam-macam tingkatan peran serta masyarakat dalam pembangunan pendidikan. menentukan dan memelihara guru baru yang mempunyai kualifikasi. 5.

(Pasal 56. Peran serta dalam pelayanan. dengan jalan membentuk Komite Sekolah (KS) pada setiap sekolah dan Dewan Pendidikan (DP) di setiap . 5. dan akuntabilitas pendidikan. sarana dan prasarana. Peran serta secara pasif. karena mereka adalah pembayar pendidikan. dan masyarakat adalah pelaku utama dan terdepan dalam penyelenggaraan pendidikan di sekolah sehingga segala keputusan mengenai penanganan persoalan pendidikan pada tingkatan mikro harus dihasilkan dari interaksi dari ketiga pihak tersebut. dan tenaga. Peran serta melalui adanya konsultasi. sehingga sekolahsekolah seharusnya bertanggungjawab terhadap masyarakat. serta pengawasan pendidikan pada tingkat satuan pendidikan”. partisipasi. orangtua/masyarakat terlibat dalam pembahasan masalah pendidikan (baik akademis maupun non akademis) dan ikut dalam proses pengambilan keputusan dalam rencana pengembangan sekolah. gizi dan lain sebagainya. Namun demikian. baik melalui uang sekolah maupun pajak.2. Misalnya. konsep masyarakat itu perlu disederhanakan (simplified) agar menjadi mudah bagi sekolah melakukan hubungan dengan masyarakat itu. Orangtua datang ke sekolah untuk berkonsultasi tentang masalah pembelajaran yang dialami anaknya. entitas yang disebut “masyarakat” itu sangat kompleks dan tak berbatas (borderless) sehingga sangat sulit bagi sekolah untuk berinteraksi dengan masyarakat sebagai stakeholder pendidikan. guru. satu-satunya jalan masuk yang terdekat menuju peningkatan mutu dan relevansi adalah demokratisasi. Menuju Otonomi pada Tingkat Sekolah. misalnya orangtua ikut membantu sekolah ketika ada studi banding. Ikhtiar Memberdayakan Komite Sekolah sebagi Bentuk Peran Serta Masyarakat dalam Pendidikan “Komite Sekolah/Madrasah sebagai lembaga mandiri dibentuk dan berperan dalam peningkatan mutu pelayanan dengan memberikan pertimbangan. Masyarakat berpartisipasi dalam perawatan dan pembangunan fisik sekolah dengan menyumbangkan dana. Kepala sekolah. ayat 3 UU Nomor 20 Tahun 2003) Paradigma MBS beranggapan bahwa. kegiatan keagamaan. kegiatan pramuka. Artinya menyetujui dan menerima apa yang diputuskan oleh sekolah (komite sekolah). Peran serta dengan memberikan kontribusi dana. bahan. dan lain sebagainya. Peran serta dalam pengambilan keputusan. Peran serta sebagai pelaksana kegiatan yang didelegasikan/dilimpahkan. 7. misalnya komite sekolah memutuskan agar orang tua membayar iuran bagi anaknya yang bersekolah dan orangtua menerima keputusan tersebut dengan mematuhinya. masalah gender. barang dan atau tenaga. sekolah meminta orangtua/masyarakat untuk memberikan penyuluhan tentang pentingnya pendidikan. Penyederhanaan konsep masyarakat itu dilakukan melalui “perwakilan” fungsi stakeholder. 3. Untuk penyelenggaraan pendidikan di sekolah. arahan dan dukungan tenaga. Masyarakat adalah stakeholder pendidikan yang memiliki kepentingan akan berhasilan pendidikan di sekolah. 4. Orantua/masyarakat terlibat dalam kegiatan sekolah. 6.

tetapi dari kepuasan masyarakat atau stakeholder. tetapi harus dilakukan secara simultan dengan konsep yang jelas dan transparans. DP-KS sedapat mungkin bisa merepresentasikan keragaman yang ada agar benarbenar dapat mewakili masyarakat. tetapi akan menempuh jalan terjal yang penuh dengan onak dan duri.kabupaten/kota. Fungsi pemerintah adalah fasilitator untuk mendorong sekolah-sekolah agar berkembang menjadi lembaga profesional dan otonom sehingga mutu pelayanan mereka memberi kepuasan terhadap komunitas basisnya. jangankan “iuran” bahkan . Melalui strategi “desentralisasi pemerintahan di bidang pendidikan”. Dengan demikian. yaitu masyarakat. dan interaksi antara para pejabat pendidikan di pemerintah kabupaten/kota dengan Dewan Pendidikan. Keberhasilan pendidikan di sekolah tidak diukur dari pendapat para birokrat. Jalan panjang ini tidak selalu mulus. bukanlah kelanjutan apalagi “kemasan baru” dari Badan Pembantu Pelaksanaan Pendidikan (BP3). karena “penarikan iuran” yang dilakukan oleh BP3 terbukti tidak berhasil memobilisasi partisipasi dan tanggungjawab masyarakat. pengembangan demokratisasi pendidikan tidak harus menunggu birokrasinya menjadi demokratis dulu. dan dengan MBS. akan sangat dibantu jika dibuka kesempatan bagi masyarakat luas untuk ikut memikirkan pendidikan di sekolah-sekolah. Bukti tanggungjawab masyarakat terhadap pendidikan diwujudkan dalam fungsi yang melekat pada DP dan KS. Perlu juga difahami bahwa pengembangan paradigma MBS. Pelaksanaan desentralisasi pendidikan sebaiknya tidak dilakukan melalui suatu mekanisme penyerahan “kekuasaan birokrasi” dari pusat ke daerah. Namun tentu saja. fungsi kontrol dan akuntabilitas publik. Depdiknas memiliki keleluasaan untuk membangun kapasitas setiap penyelenggara pendidikan. dibuka kesempatan seluas-luasnya bagi masyarakat untuk ikut serta memikirkan pendidikan di sekolah. Jika ini dapat diwujudkan. tetapi sebagai lembaga profesional yang bertanggung jawab terhadap klien atau stakeholder yang diwakili oleh Komite Sekolah dan Dewan Pendidikan. interaksi antara sekolah dan masyarakat dapat diwujudkan melalui mekanisme pengambilan keputusan antara sekolah-sekolah dengan Komite Sekolah. serta fungsi mediator antara sekolah dengan masyarakat yang diwakilinya. pergeseran menuju sekolah-sekolah yang otonom adalah jalan panjang sehingga memerlukan berbagai kajian serta perencanaan yang hati-hati dan mendalam. Orang bisa saja mengatakan bahwa paradigma baru untuk mewujudkan pengelolaan pendidikan yang demokratis dan partisipatif. Sekolah yang sangat tertutup bagi kontribusi pemikiran dari masyarakat harus kita akhiri. karena kekuasaan telah terbukti gagal dalam mewujudkan pendidikan yang bermutu. Sesuai dengan strategi ini sekolah bukan bawahan dari birokrasi pemerintah daerah. tidak dapat dilaksanakan di dalam suatu lingkungan birokrasi yang tidak demokratis. Sekolah yang hanya terbatas personalianya. tetapi juga berkepentingan dsalam mewujudkan otonomi satuan pendidikan. Dengan konsep MBS. Kemandirian setiap satuan pendidikan adalah salah satu sasaran dari kebijakan desentralisasi pendidikan sehingga sekolah-sekolah menjadi lembaga yang otonom dengan sendirinya. Namun. yaitu sekolah-sekolah. yaitu fungsi pemberi pertimbangan dalam pengambilan keputusan. masyarakat akan merasa memiliki dan mereka akan merasa tanggungjawab untuk keberhasilan pendidikan di dalamnya. fungsi pendukungan (supports). Adalah keliru jika DP dan KS adalah alat untuk “penarikan iuran”. MBS mengembangkan satuan-satuan pendidikan secara otonom karena mereka adalah pihak yang paling mengetahui operasional pendidikan. Depdiknas tidak hanya berkepentingan dalam mengembangkan kabupaten/kota dalam mengelola pendidikan. Tetapi yang harus lebih difahami adalah fungsi Dewan dan Komite sebagai jembatan antara sekolah dan masyarakat.

dalam era otonomi daerah ini sekolah harus telah memiliki kesadaran untuk menentukan jalan hidupnya sendiri. sekolah harus menjalin kerjasama sebaik mungkin dengan orangtua dan masyarakat sebagai mitra kerjanya.apapun yang mereka miliki (uang. dan tujuan sekolah tersebut. jumlah guru. Dalam kaitannya dengan penetapan kegiatan ekstrakurikuler. memiliki kewenangan dalam penerimaan siswa baru sesuai dengan ruang kelas yang tesedia. Jika masa lalu sekolah lebih dipandang sebagai lembaga birokrasi yang selalu menunggu perintah dan petunjuk dari atas. dengan mempertimbangkan kepentingan daerah dan masa depan lulusannya. dan persyaratan lain yang terkait. termasuk resiko anggaran yang diperlukkan untuk itu. tujuan. Oleh kaarena itu praktik birokrasi yang menghambat kegiatan sekolah harus dikurangi. logo. sekolah secara bertanggung jawab harus dapat menentukan sendiri jumlah siswa yang akan diterima. Setiap sekolah seyogyanya telah dapat menyusun dan menetapkan sendiri visi. strategi. Berdasarkan sumber daya pendukung yang dimilikinya. misalnya dalam mengambil kebijakan untuk menambah mata pelajaran seperti Bahasa Inggris dan bahasa asing lainnya. menetapkan kegiatan intrakurikuler dan ekstrakurikuler yang akan diadakan dan dilaksanakan oleh sekolah. fasilitas yang ada. logo. lagu. Untuk mendukung program sekolah yang telah disepakati oleh Komite Sekolah diperlukan ketepatan waktu dalam pencairan dana dari pemerintah kabupaten/kota. dsb. strategi. Urusan ini amat penting sebagai modal dasar yang harus dimiliki sekolah. sebagai penjabaran lebih lanjut dari visi. serta seluruh warga sekolah harus dilibatkan secara aktif dalam menyusun program kerja sekolah. sekolah perlu diberikan kewenangan untuk melaksanakan kurikulum nasional dengan kemungkinan menambah atau mengurangi muatan kurikulum dengan meminta pertimbangan kepada Komite Sekolah. misi. Sudah barang tentu. tenaga. menetapkan visi. Kurikulum muatan lokal. Beberapa aspek manajemen yang secara langsung dapat diserahkan sebagai urusan yang menjadi kewenangan tingkat sekolah adalah sebagai berikut. beberapa ketentuan yang ditetapkan oleh dinas pendidikan kabupaten/kota perlu mendapatkan pertimbangan secara bijak. Sudah barang tentu. Bahkan dalam menyusun program kerjanya. baik yang bersumber dari pemerintah Kabupaten/Kota maupun dari masyarakat secara mandiri. Pertama. dan sekaligus lengkap dengan Rencana Anggaran Pendapatan dan Belanja Sekolah (RAPBS). fikiran bahkan kesempatan) akan mereka abdikan untuk kepentingan pendidikan anak-anak bangsa yang berlangsung di sekolah-sekolah. Ketiga. strategi. syarat siswa yang akan diterima. misi. komputer. kebijakan itu diambil setelah meminta pertimbangan dari Komite Sekolah. dan tata tertib sekolah. barang. . tujuan. Ini merupakan bukti kemandirian awal yang harus ditunjukkan oleh sekolah. Sudah barang tentu. lagu. dan tenaga administratif yang dimiliki. Kedua. orangtua dan masyarakat yang tergabung dalam Komite Sekolah. sekolah juga harus meminta pendapat siswa dalam menentukan kegiatan ekstrakurikuler yang akan diadakan oleh sekolah. Dalam hal ini. dan tata tertib sekolah. Pengelolaan Pendidikan pada tingkat Sekolah Peran dan fungsi Dewan Pendidikan dan Komite Sekolah tidak dapat dipisahkan dari pelaksanaan manajemen pendidikan di tingkat sekolah. Oleh karena itu sekolah dapat melakukan pengelolaan biaya operasio-nal sekolah. misi.

diharapkan para guru tidak akan terpasung lagi kreativitasnya dalam melaksanakan dan mengembangkan kurikulum. Yang biasa terjadi justru. dalam rangka pemberdayaan dan peningkatan peran serta masyarakat perlu dibentuk Dewan Pendidikan di tingkat kabupaten/kota. Amanat rakyat ini sejalan dengan konsepsi desentralisasi pendidikan. urusan teknis edukatif yang lain sejalan dengan konsep manajemen peningkatan mutu berbasis sekolah (MPMBS) merupakan urusan yang sejak awal harus menjadi tanggung jawab dan kewenagan setiap satuan pendidikan. pemantauan dan penilaian. baik di tingkat kabupaten/kota maupun di tingkat sekolah. Kepala sekolah dan guru secara bersama-sama merancang proses pengajaran dan pembelajaran yang memungkinkan peserta didik dapat belajar dengan lancar dan berhasil. Ketujuh. Kelima. proses pengajaran dan pembelajaran. Pemilihan dan pengadaan sarana dan prasarana pendidikan di sekolah dapat dilaksanakan oleh sekolah. Pemberdayaan Komite Sekola Desentralisasi pendidikan di tingkat sekolah merupakan satu bentuk desentraliasasi yang langsung sampai ke ujung tombak pendidikan di lapangan. Amanat rakyat dalam undang-undang tersebut telah ditindaklanjuti dengan Keputusan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 044/U/2002 tanggal 2 . Hal ini disebabkan karena proses interaksi edukatif di sekolah merupakan inti dari proses pendidikan yang sebenarnya. termasuk buku pelajaran dapat diberikan kepada sekolah. Pada masa sentralisasi pendidikan. dengan memperhatikan standar dan ketentuan yang ada.Keempat. Dalam era otonomi daerah. pengadaan sarana dan prasana pendidikan. dengan menggunakan Komite Sekolah sebagai wadah pemberdayaan peran serta masyarakat. pelaksanaan. dsb. Misalnya. Berdasarkan Undang-undang Nomor 25 Tahun 2000 tentang Program Pembangunan Nasional (Propenas) 2000-2004. pengarahan. dan kabupaten. efektif dan menyenangkan direkomendasikan sebagai model pembelajaran yang akan dilaksanakan oleh sekolah. Dengan KBK ini. kreatif. bentuk desentralisasi pendidikan yang paling mendasar adalah yang dilaksanakan oleh sekolah. kurikulum nasional sedang dalam proses penyempurnaan menjadi kurikulum berbasis kompetensi (KBK). karena kewenangan penghapusan itu tidak jelas. Jika kantor cabang dinas pendidikan kecamatan. dan Komite Sekolah di tingkat satuan pendidikan. provinsi. dan dinas pendidikan kabupaten/kota lebih memiliki peran sebagai failitator dalam proses pembinaan. maka sekolah seharusnya diberikan peran nyata dalam perencanaan. dan dengan menerapkan manajemen berbasis sekolah (MBS) sebagai proses pelaksanaan layanan pendidikan secara nyata di dalam masyarakat. Oleh karena itu. barang dan jasa yang ada di sekolah justru tidak pernah dihapuskan. dengan mengikuti pedoman yang ditetapkan oleh Pemerintah. meskipun ternyata barang dan jasa itu sama sekali telah tidak berfungsi atau malah telah tidak ada barangnya. dan pelaporan. dengan tetap mengacu kepada standar dan pedoman yang ditetapkan oleh Pemerintah Pusat atau provinsi dan kabupaten/kota. proses pembelajaran pun diatur secara rinci dalam kurikulum nasional. Proses pembelajaran yang aktif. Keenam. Ini merupakan kewenangan profesional sejati yang dimiliki oleh lembaga pendidikan sekolah. buku murid tidak seenaknya diganti setiap tahun oleh sekolah. atau buku murid yang akan dibeli oleh sekolah adalah yang telah lulus penilaian. penghapusan barang dan jasa dapat dilaksanakan sendiri oleh sekolah.

(3) controlling agency (pengontrol kegiatan layanan pendidikan).April 2002 tentang Dewan Pendidikan dan Komite Sekolah. Penyusunan Rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Sekolah (RAPBS). dan (4) mediator atau penghubung atau pengait tali komunikasi antara masyarakat dengan pemerintah Untuk dapat memberdayakan dan meningkatkan peran masyarakat. propinsi dan kabupaten. sekolah harus dapat membina kerjasama dengan orangtua dan masyarakat. Atas nama masyarakat yang diwakilinya. untuk mencapai keberhasilan bersama. prinsip kemandirian dalam MBS adalah kemandirian dalam nuansa kebersamaan. Komite Sekolah menjadi “pendamping” bahkan “penyeimbang” bagi sekolah-sekolah. Komite Sekolah dapat menyatakan “setuju” atau “tidak setuju” terhadap rencana dan program pendidikan yang disusun oleh sekolah. Dalam Kepmendiknas tersebut disebutkan bahwa peran yang harus diemban Dewan Pendidikan dan Komite Sekolah adalah (1) sebagai advisory agency (pemberi pertimbangan). menciptakan suasa kondusif dan menyenangkan bagi peserta didik dan warga sekolah. Mekanisme yang mungkin dapat dilakukan adalah melalui rapat Komite Sekolah dengan sekolah yang dilaksanakan setiap semester atau tahunan. dan hal ini merupakan aplikasi dari prinsip-prinsip yang disebut sebagai total quality management. sehingga semua kebijakan dan keputusan yang diambil adalah kebijakan dan keputusan bersama. memperbaiki serta menyesuaikan rencana dan program untuk semester berikutnya. Komite Sekolah dapat membantu sekolah-sekolah untuk mengumpulkan fakta-fakta mengenai kebutuhan serta potensi sumberdaya yang tersedia di dalam masyarakat untuk diterjemahkan ke dalam program pendidikan “life skills” yang dapat dilaksanakan oleh sekolah. Pertama. Setiap rencana dan program yang disusun serta dilaksanakan di sekolah harus mengacu pada standar pelayanan minimum (SPM) yang diterapkan untuk pemerintahan kabupaten/kota serta standar teknis yang diterapkan untuk masing-masing satuan pendidikan. Untuk dapat memerankan fungsi ini. yaitu peningkatan mutu dan kesesuaian pendidikan dengan pengembangan masyarakat. Kedua. untuk menyusun. sekolah berperan dalam menyusun RAPBS . semesteran serta tahunan yang sesuai dengan arah kebijakan serta kurikulum yang telah ditetapkan baik pada tingkat pusat.kota. sekolah bertanggungjawab dalam menentukan kebijakan sekolah dalam melaksanakan kebijakan pendidikan sesuai dengan arah kebijakan pendidikan yang telah ditentukan oleh pemerintah. Program-program tersebut terdiri dari penyusunan dan pelaksanaan rencana kegiatan mingguan. Dengan demikian. Sebagai penyelenggara dan pelaksana kebijakan pendidikan nasional. (2) supporting agency (pendukung kegiatan layanan pendidikan). Dalam penyusunan program pendidikan “life skills”. sekolah-sekolah dapat juga menyusun program pendidikan life skills yang sesuai dengan keadaan dan kebutuhan pada masyarakat sekitar. Selain melaksanakan kurikulum yang telah ditetapkan dari pusat. sehingga setiap rencana dan program yang disusun oleh sekolah dapat diberikan masukan yang sesuai dengan aspirasi masyarakat yang diwakili oleh Komite sekolah dimaksud. propinsi maupun kabupaten/kota. Itulah sebabnya maka paradigma MBS mengandung makna sebagai manajemen partisipatif yang melibatkan peran serta masyarakat. bulanan. Penyusunan Rencana dan Program. dalam fungsinya sebagai pelaksana pendidikan yang otonom. melalui suatu mekanisme yang dikenal dengan konsepsi total football dengan menekankan pada mobilisasi kekuatan secara sinergis yang mengarah pada satu tujuan. sekolah-sekolah bertugas untuk menjabarkan kebijakan pendidikan nasional menjadi program-program operasional penyelenggaraan pendidikan di masing-masing sekolah. sebagai ujung tombak dalam pelaksanaan pendidikan.

pelaksanaan pendidikan di sekolah termasuk persiapan mengajar. maka pendekatan pembelajaran juga dimungkinkan berbeda untuk masingmasing murid yang berlainan. Dalam masa desentralisasi pendidikan ke depan. Dari sisi belanja sekolah. pemerintah propinsi. . melalui paradigma MBS sekolah-sekolah diberikan kesempatan seluas-luasnya untuk mengurus dan mengatur pelaksanaan pendikdikan pada masing-masing sekolah. sampai kepada penilaian pendidikan. guru-guru. Kepada guruguru juga tidak diberikan kesempatan untuk berinisiatif atau berinovasi dalam melaksanakan pengajaran atau mengelola kegiatan belajar murid secara maksimal karena metoda mengajar dan teknik evaluasi juga diatur secara langsung melalui juklak dan juknis yang dibuat dari pusat. daerah bahkan sampai tingkat satuan pendidikan. maupun sumber-sumber lain yang diperoleh secara langsung oleh sekolah-sekolah. Kedua sisi anggaran tersebut dituangkan ke dalam suatu neraca tahunan sekolah yang disebut dengan RAPBS yang harus disyahkan atas dasar persetujuan bersama antara pihak sekolah dan Komite Sekolah yang ditandatangani oleh kepala sekolah dan ketua Komite Sekolah. sehingga anggaran resmi pendidikan di sekolah menjadi bertambah serta pendayagunaannya semakin efisien. Dari sisi pendapatan. sehingga menjadi APBS pendidikan di tingkat sekolah yang resmi. Kepala sekolah diberikan keleluasaan untuk mengelola pendidikan dengan jalan mengadakan serta memanfaatkan sumber-sumberdaya pendidikan sendiri-sendiri asalkan sesuai dengan kebijakan dan standar yang ditetapkan oleh pusat. Pada waktu itu sekolahsekolah adalah bagian dari sistem birokrasi yang haru tunduk terhadap ketentuan birokrasi. metodologi dan pendekatan mengajar. Dengan demikian. Dengan kata lain. pemerintah kabupaten/kecamatan. seluruh jenis pengeluaran untuk kegiatan pendidikan di sekolah harus diketahui bersama baik oleh pihak sekolah maupun oleh pihak Komite Sekolah. Mekanisme ini diperlukan untuk memperkecil penyalahgunaan baik dalam pendapatan maupun dalam pengeluaran sekolah. sistem pendidikan pada masa orde baru. pegawai. kepada sekolah-sekolah tidak diberikan kesempatan untuk mengurus dan mengatur dirinya sendiri dalam pelaksanaan pendidikan. sesuai dengan rencana dan program yang telah disusun bersama oleh kedua pihak tersebut.setiap akhir tahun ajaran untuk digunakan dalam tahun ajaran berikutnya. setiap rupiah yang diperoleh sekolah dari sumber-sumber tersebut harus sepenuhnya diperhitungkan sebagai pendapatan resmi sekolah dan diketahui bersama baik oleh pihak sekolah (kepala sekolah. baik yang bersumber dari pemerintah pusat. Pelaksanaan pendidikan di sekolah-sekolah dalam tempat yang berlainan dimungkinkan untuk menggunakan sistem dan pendekatan pembelajaran yang berlainan. Kepala sekolah tidak diberikan kesempatan untuk mengambil keputusan mereka sendiri dalam mengelola sistem pendidikan untuk memecahkan berbagai permasalahan pendidikan yang sesuai dengan kondisi sekolahnya masing-masing. Pengaturan penyelenggaraan pendidikan pada masa birokrasi dilakukan secara uniform (one fits for all) atau dilakukan secara baku dengan pangaturan dari pusat. Program-program yang sudah dirumuskan untuk satu semester atau satu tahun ajaran kedepan perlu dituangkan ke dalam kegiatan-kegiatan serta anggarannya masing-masing sesuai dengn pos-pos pengeluaran pendidikan di tingkat sekolah. Ketiga. Oleh karena karakteristik setiap murid juga berbeda-beda secara individual. pelaksanaan pendidikan secara langsung dikendalikan oleh sistem birokrasi dengan mata rantai yang panjang sejak tingkat pusat. pelaksanaan program pendidikan. sejak perencanaan pendidikan. buku dan sarana pendidikan. seluruh jenis dan sumber pendapatan yang diperoleh sekolah setiap tahun harus dituangkan dalam RAPBS. serta para siswa) maupun oleh Komite Sekolah sebagai wakil stakeholder pendidikan.

maka Dewan Pendidikan dan Komite Sekolah akan dapat melaksanakan peran dan fungsinya sebagai penunjang dalam pelaksanaan proses pembelajaran yang sejalan dengan kondisi dan permasalahan lingkungan masing-masing sekolah. sehingga pembelajaran menjadi semakin efektif. Dewan Pendidikan pada tingkat Kabupaten/Kota perlu menempatkan fungsinya sebagai wakil dari masyarakat untuk meminta pertanggungjawaban atas hasil-hasil pendidikan dalam mencapai prestasi belajar murid-murid pada setiap jenis dan jenjang pendidikan. akuntabilitas pendidikan tidak hanya terletak pada pemerintah. penilalaian tersebut lebih banyak diberikan terhadap proses administrasi pendidikan dan hampir tidak pernah ada sanksi (punishment) atau “ganjaran” (rewards) kepada guru-guru atau kepala sekolah atas dasar hasil-hasil yang dicapai dalam pembelajaran murid atau lulusan. akuntabilitas pendidikan. diperlukan suatu mekanisme akuntabilitas pendidikan yang dibentuk melalui suatu Peraturan Daerah di bidang pendidikan. dalam masa orde baru. penundaan kenaikan pangkat dsan sejenisnya. Dewan Pendidikan pada setiap Kabupaten/Kota dapat melaksanakan program pendukungan dalam bentuk studi atau penelitian terhadap berbagai permasalahan pendidikan di sekolah-sekolah agar dapat memberikan masukan kepada Dinas Kabupaten/Kota untuk menerapkan suatu kebijakan yang tepat dan kena sasaran.Dalam keadaan seperti itu. maka kepada mereka diberikan sanksi administratif. Dewan Pendidikan juga dapat memberikan penilaian kepada berbagai kebijakan pendidikan yang diterapkan terutama menyangkut berbagai dampak yang sudah atau mungkin terjadi dalam penerapaan suatu kebijakan baru. Jika terdapat “penyimpangan adminisgtratif” yang dilakukan oleh kepala sekolah atau guru-guru. pengawas atau para penilik sekolah untuk mengawasi dan meminta pertanggungjawaban sekolah-sekolah menganai proses pendidikan yang berkangsung di sekolahsekolah. Komite Sekolah bisa ikut serta untuk meneliti dan berbagai permasalahan belajar yang dihadapi oleh murid secara kelompok maupun secara individual sehingga dapat membantu guru-guru untuk menerapkan pendekatan belajar yang tepat bagi muridmuridnya. pemerintah pusat telah menempatkan “kaki tangan”nya di seluruh pelosok tanah air melalui pemeriksa. Komite Sekolah dapat menyampaikan ketidakpuasan para orangtua murid akan rendahnya prestasi yang dicapai oleh suatu sekolah. [ . Dengan demikian. seperti teguran resmi. Namun. Sama halnya. Pada waktu itu. Dalam era demokrasi dan partisipasi. penundaan kenaikan gaji berkala. tetapi cukup dengan menggunakan datadata yang tersedia atau hasil-hasil penilaian yang sudah ada sebagai bahan untuk menyampaikan kepuasan atau ketidakpuasan masyarakat terhadap Dinas Pendidikan atau kepada masing-masing sekolah. Dewan Pendidikan atau Komite Sekolah tidak perlu melaksanakan kegiatan studi atau penilaian pendidikan. tetapi bahkan harus lebih banyak pada masyarakat sebagai stakeholder pendidikan. Komite sekolah dapat melaksanakan fungsinya sebagai partner dari kepala sekolah dalam mengadakan sumbersumberdaya pendidikan dalam rangka melaksanakan pengelolaan pendidikan yang dapat memberikan fasilitasi bagi guru-guru dan murid untuk belajar sebanyak munghkin. Keempat. Dewan Pendidikan perlu diberikan kesempatan untuk menyampaikan masukan bahkan “protes” kepada Dinas Pendidikan jika hasil-hasil pendidikannya tidak memuaskan masyarakat sebagai klien pendidikan. penilaian melalui DPK. satu-satunya pihak yang berwenang untuk meminta pertanggungjawaban pendidikan ke sekolah-sekolah adalah pemerintah pusat.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful