Aswedi NERS

Selasa, 08 Februari 2011
Perawatan Luka
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Dewasa ini perawatan luka telah mengalami perkembangan yang sangat pesat terutama dalam dua dekade terakhir ini. Teknologi dalam bidang kesehatan juga memberikan

kontribusi yang sangat untuk menunjang praktek perawatan luka ini. Disamping itu manajemen perawatan luka ini berkaitan dengan perubahan profil pasien, dimana pasien dengan kondisi penyakit degeneratif dan kelainan metabolik semakin banyak ditemukan. Kondisi tersebut biasanya sering menyertai kekompleksan suatu luka dimana perawatan yang tepat diperlukan agar proses penyembuhan bisa tercapai dengan optimal. Dengan demikian, perawat dituntut untuk mempunyai pengetahuan dan keterampilan yang adekuat terkait dengan proses perawatan luka yang dimulai dari pengkajian yang komprehensif, perencanaan intervensi yang tepat, implementasi tindakan, evaluasi hasil yang ditemukan selama perawatan serta dokumentasi hasil yang sistematis. Disamping itu perawat juga berkaitan dengan biaya perawatan luka yang efektif. Manajemen perawatan luka modern sangat mengedepankan hal tersebut. Hal ini ditunjang dengan semakin banyaknya inovasi terbaru dalam perkembangan produk-produk yang bisa dipakai dalam merawat luka. Dalam hal ini, perawat dituntut untuk memahami produk-produk tersebut dengan baik sebagai bagian dari proses pengambilan keputusan yang sesuai dengan kebutuhan pasien. B. Tujuan Tujuan dari pembuatan makalah ini adalah untuk memberikan pengetahuan kepada pembaca tentang perawatan luka dan aspek-aspek yang ada dalam perawatan luka

BAB II PEMBAHASAN A. Pengertian Kulit merupakan bagian tubuh paling luar yang berguna untuk melindungi diri dari trauma luar serta masuknya benda asing. Apabila kulit terkena trauma, maka dapat menyebabkan luka, yaitu suatu keadaan terputusnya kontinuitas jaringan tubuh, yang dapat menyebabkan terganggunya fungsi tubuh sehingga dapat mengganggu aktivitas sehari-sehari. [1]

tertutup atau terbuka. 1997). Mengabsorbsi drainase Meningkatkan kenyamanan fisik dan psikologis. Mencegah perdarahan d. Luka adalah terganggunya (disruption) integritas normal dari kulit dan jaringan di bawahnya yang terjadi secara tiba-tiba atau disengaja.Luka adalah suatu gangguan dari kondisi normal pada kulit (Taylor. 1995). Mencegah kontaminasi oleh kuman e. sengatan listrik atau gigitan hewan (R. Tujuan Perawatan Luka Tujuan dari perawatan luka adalah sebagai berikut: a. Sjamsu Hidayat. 1. Kontaminasi bakteri2 Perawatan luka adalah suatu penanganan luka yang terdiri atas membersihkan luka. Perdarahan dan pembekuan darah 4. zat kimia. Respon stres simpatis 3. Ketika luka timbul. mukosa membran dan tulang atau organ tubuh lain (Kozier. 1997). Jenis-jenis Luka Luka sering digambarkan berdasarkan bagaimana cara mendapatkan luka itu dan menunjukkan derajat luka (Taylor. ledakan. Imobilisasi luka c. superficial atau dalam. menutup dan membalut luka sehingga dapat membantu proses penyembuhan luka. perubahan suhu. beberapa efek akan muncul: 1.(Menurut Koiner dan Taylan). Hilangnya seluruh atau sebagian fungsi organ 2. Menjaga luka dari trauma b.3 C. f. Luka adalah hilang atau rusaknya sebagian jaringan tubuh yang disebabkan oleh trauma benda tajam atau tumpul. bersih atau terkontaminasi. 1997).3 B. Berdasarkan tingkat kontaminasi . Luka adalah kerusakan kontinyuitas kulit.

d. . b. Berdasarkan waktu penyembuhan luka a.a. Dirty or Infected Wounds (Luka kotor atau infeksi). Kemungkinan terjadinya infeksi luka sekitar 1% .5%. dermis dan fasia tetapi tidak mengenai otot. fresh. Contamined Wounds (Luka terkontaminasi). b. c. Stadium IV : Luka “Full Thickness” yang telah mencapai lapisan otot. termasuk luka terbuka. Clean Wounds (Luka bersih). genital dan urinari tidak terjadi. inflamasi nonpurulen. yaitu terdapatnya mikroorganisme pada luka. Stadium I : Luka Superfisial (“Non-Blanching Erithema) : yaitu luka yang terjadi pada lapisan epidermis kulit. Jackson – Pratt).11%.17%. Stadium III : Luka “Full Thickness” : yaitu hilangnya kulit keseluruhan meliputi kerusakan atau nekrosis jaringan subkutan yang dapat meluas sampai bawah tetapi tidak melewati jaringan yang mendasarinya. Kemungkinan infeksi luka 10% . Stadium II : Luka “Partial Thickness” : yaitu hilangnya lapisan kulit pada lapisan epidermis dan bagian atas dari dermis. c. luka akibat kecelakaan dan operasi dengan kerusakan besar dengan teknik aseptik atau kontaminasi dari saluran cerna. pencernaan. Luka akut : yaitu luka dengan masa penyembuhan sesuai dengan konsep penyembuhan yang telah disepakati. kemungkinan timbulnya infeksi luka adalah 3% . genital atau perkemihan dalam kondisi terkontrol. pencernaan. yaitu luka bedah takterinfeksi yang mana tidak terjadi proses peradangan (inflamasi) dan infeksi pada sistem pernafasan. Lukanya sampai pada lapisan epidermis. blister atau lubang yang dangkal. kontaminasi tidak selalu terjadi. Clean-contamined Wounds (Luka bersih terkontaminasi). Luka timbul secara klinis sebagai suatu lubang yang dalam dengan atau tanpa merusak jaringan sekitarnya. d. jika diperlukan dimasukkan drainase tertutup (misal. tendon dan tulang dengan adanya destruksi/kerusakan yang luas 3. Berdasarkan kedalaman dan luasnya luka a. Luka bersih biasanya menghasilkan luka yang tertutup. pada kategori ini juga termasuk insisi akut. merupakan luka pembedahan dimana saluran respirasi. Merupakan luka superficial dan adanya tanda klinis seperti abrasi. 2.

Vulnus morcum. Luka disengaja seperti luka radiasi atau bedah. atau sengatan listrik 6. 7. luka sobekan akibat terkena mesin atau benda lainnya yang menyebabkan robeknya jaringanrusak yang dalam. Luka accidental Penyebab b. . Vulnus seleveradum. yaitu luka disengaja dan luka tidak disengaja. Berdasarkan penyebabnya Luka dapat dibagi menjadi dua yaitu mekanik dan luka nonmekanik. Termik. Karakteristik : cidera yang tidak disengaja. luka bakar. Disebut luka tertutup jika tidak terjadi robekan sedangkan luka terbuka jika terjadi robekan atau kelihatan seperti luka abrasio (luka akibat gesekan). Vulnus laceratung. sedangkan luka tidak disengaja contohnya luka terkena trauma. luka tembak akibat tembakan peluru. Bagian tepi luka tampak kehitam – hitaman. Luka kronis yaitu luka yang mengalami kegagalan dalam proses penyembuhan. 5. 6. Pinggir luka kelihatan rapi 2. luka tembak. Berdasarkan kategori a.b. dapat karena faktor eksogen dan endogen. tidak steril. luka gigitan yang tidak jelas bentuknya pada bagian luka. Luka akibat zat kimia. Vulnus scissum atau luka sayat akibat benda tajam. radiasi. 4. Vulnus costusum. Berdasarkan sifat kejadian Luka dibagi menjadi dua. Vulnus punctum luka tusuk yang kecil dibagian luar (bagian mulut luka) akan tetapi besar di bagian dalam luka. berdarah. luka terkikis yang terjadi pada bagian luka dan tidak sampai ke pembuluh darah. Luka mekanik terdiri atas 1.4 4. luka memar dikarenakan cedera pada jaringan bawah kulit akibat benturan benda tumpul 3. Vulnus abrasio.1 Luka nonmekanik terdiri atas : 1. Luka bedah : pisau. tepi luka bergerigi. luka puncture (luka akibat tusukan) dan hautration (luka akibat alat perawatan luka) 5. Luka yang tidak disengaja (trauma) dapat dibagi menjadi luka tertutup dan luka terbuka.

: tepi luka kasar disertai sobekan jaringan. 8. Puncture Karakteristik c. Berdasarkan dercriptors a. perdarahan dibawah jaringan akibat pukulan tumpul. Luka tertutup Penyebab Karakteristik : karena benda tumpul : tidak terjadi kerusakan pada itegritas jaringan kulit tetapi terdapat : benda tajam. Klasifikasi luka bedah a. superficial. a. needle introduction. b. 7. memar 9. resiko infeksi kerusakan jaringan lunak mungkin cedera internal dan perdarahan. dikendalikan dengan Berdasarkan integrasi kulit Luka terbuka Penyebab Karakteristik b. atau benda tumpul : kerusakan melibatkan kulit atau membran mukosa. perdarahan terkontrol. d. kecelakaan mesin. : insisi bedah. objek mungkin terkontaminasi. resiko infeksi rendah. pernafasan atau sistem genitourinary. Aberasi Penyebab : jatuh Karakteristik : luka akibat gesekan kulit. Laserasi Penyebab Karakteistik resiko nfeksi. b. :trauma penetrasi yang terjadi secara disengaja atau tidak disengaja oleh akibat alat-alat yang tajam yang menusuk kulit dan jaringan dibawah kulit. tepi luka bersih. kemungkinan pendarahan disertai kerusakan jaringan. terjadi akibat prosedur dermatologik untuk pengangkatan jaringan skar. Kontusio Karakteristik : luka tertutup.Penyebab asepsi bedah. Bersih terkontaminasi : cedera traumatik berat. . Karakteristik : terapi yang direncanakan. Luka bersih Karakteristik : luka bedah tertutup yang tidak mengenai sistem gastrointestinal. Karena pisau.

seperti saraf. 4. jari tangan tangan. Punktur (Luka Tusuk) Luka tusuk merupakan cedera penetrasi. Apabila semua bagian tubuh seperti telinga.5 D. Kulit kepala dapat tersobek dari tengkorak pada cedera degloving. pernafasan atau sistem infeksi. disertai tanda-tanda infeksi. Hal ini seringkali menimbulkan perdarahan hebat dan kemungkinan bisa terdapat kerusakan pada struktur dibawahnya sedemikian rupa. Luka tersebut akan sangat nyeri dan mempunyai resiko tinggi terhadap infeksi. Tipe Luka 1. mengalaqmi sobekan maka pasien harus dikirim ke rumah sakit dengan segera untuk memungkinkan perbaikan (penyambungan kembali). luka bedah dengan asepsis yang buruk. luka traumatik. karena benda asing dapat masuk ke lapisan kulit yang lebih dalam dan dalam jaringan subkutan. 5. Penyebabnya berkisar dari paku sampai pisau atau peluru. kerusakan jaringan internal dan perdarahan dapat sangat meluas dan mempunyai resiko tinggi terhadap infeksi sehubungan adanya benda asing pada tubuh 3. Aberasi Aberasi adalah luka dimana lapisan terluar dari kulit tergores. Luka-luka ini harus dilindungi utuk menghambat terjadinya infeksi. Walaupun perdarahan nyata seringkali sedikit. jari kaki. Cedera dramatis seringkali dapat diperbaiki dengan scar-scar kecil.resiko c. Kontaminasi Karakteristik : luka terbuka. Avulsi Avulsi terjadi sebagai akibat jaringan tubuh tersobek. 2.Karakteristik : luka melibatkan sistem gastrointestinal. Avulsi seringkali dihubungkan dengan perdarahan yang hebat. Laserasi . genitourinary. Infeksi Karakteristik : area luka terdapat patogen. Perdarahan biasanya sedikit. otot atau tendon. resiko tinggi infeksi. bersamaan dengan pengontrolan perdarahan. d. Insisi (Luka sayatan) Insisi adalah terpotong dengan kedalaman yang bervariasi.

2 Dekubikus merupakan nekrosis jaringan lokal yang ketika jaringan lunak tertekan diantara tonjolan tulang dengan permukaan eksternal dalam jangka waktu yang lama. kondisi klinis. Faktor terjadinya dekubitus yaitu imobilisasi. hingga tampak tulang di dasar ulkus yang dapat mengakibatkan infeksi pada tulang atau sendi. spina ischianada superior-anterior bagian belakang tumit. yaitu pengetahuan. inkontensia. meliputi jaringan lemak subkutan dan menggaung. perluasan ulkus yang menembus otot. Derajat IV terjadi nekrosis jaringan. tampak sebagai ulkus yang dangkal. inkontinensia urin dan fekal. kursi roda. aktivitas. gesekan. sosial ekonomi. kulit tidak berwarna. nutrisi yang tidak adekurat. berkurangnya status mental. Derajat III Ulkus menjadi lebih dalam. dengan tepi yang jelas dan perubahan warna pigmen kulit. Mekanisme Luka . trochater mayor. Ulkus kulit. Faktor yang mempengaruhi pembentukan dekubitus. pembidaian atau benda keras lainnya dalam jangka panjang. gips. Dekubikus disebabkan oleh tekanan kelembaban. nutrisi. Seringkali meliputi kerusakan jaringan yang berat. Penolong pertama harus mempertimbangkan kondisi luka yang terjadi sepeti perlukaan itu dapat merupakan akibat cedera oleh dirinya sendiri. motivasi. Tanda dan gejala dekubitus: Derajat I Reaksi peradangan masih terbatas pada epidermis. penurunan status mental. Luka-luka ini seringkali menyebabkan perdarahan yang serius dan kemudian pasien akan mengalami syok hipovolemik. Lokas tempat terjadinya dekubitus berada di tonjolan tulang yang tak cukup ada bantalan lemak. usia lanjut dan kondisi kronis. hangat atau keras. 5 E. tampak sebagai daerah kemerahan/eritema indurasi atau lecet. seperti pada sakrum. Sudah mulai didapati infeksi dengan jaringan nekrotik yang berbau.Laserasi adalah luka bergerigi yang tidak teratur. peningkatan suhu tubuh berlebihan. siku. berbatasan dengan fascia daro otot-otot. kapula. Dekubitus Ulkus Dekubitus (Luka akibat penekanan. Bedsores) adalah kerusakan kulit yang terjadi akibat kekurangan aliran darah dan iritasi pada kulit yang menutupi tulang yang menonjol. Derajat II Reaksi yang lebih dalam lagi sampai mencapai seluruh dermis hingga lapisan lemah subkutan. dan pengetahuan. 6. dimana kulit tersebut mendapatkan tekanan dari tempat tidur. mobilitas.

Proses Penyembuhan Luka Proses penyembuhan luka melalui 4 tahap yaitu : 1. terjadi akibat benturan oleh suatu tekanan dan dikarakteristikkan oleh cedera pada jaringan lunak. Luka Bakar (Combustio) adalah suatu trauma yang disebabkan oleh panas.1. Faktor Yang Mempengaruhi Penyembuhan Luka Proses penyembuhan luka dipengaruhi oleh berbagai faktor. Tahap respon inflamasi akut terhadap cedera Tahap ini dimulai saat terjadi luka selanjutnya terjadi proses hemostasis yang ditandai dengan pelepasan histamin dan mediator lain lebih dari sel-sel lain yang rusak. Misal yang terjadi akibat pembedahan. seperti peluru atau pisau yang masuk kedalam kulit dengan diameter yang kecil. Luka gores (Lacerated Wound). 2. terjadi karena teriris oleh instrumen yang tajam. Luka bersih (aseptik) biasanya tertutup oleh sutura seterah seluruh pembuluh darah yang luka diikat (Ligasi) 2. kontstraksi luka dan organisasi jaringan ikat. Tahap maturasi Pada tahap ini terjadi reetitelisasi. Luka tusuk (Punctured Wound). Tahap poliferatif Pada tahap ini pembuluh darah baru diperkuat oleh jaringna ikat dan menginfiltrasi luka. Luka lecet (Abraded Wound). 4.1 G. 3. Tahap deskriptif Pada tahap ini terjadi pembersihan jaringan yang mati oleh leukosit polimorfonuklear dan makrofag. mukosa dan jaringan yang lebih dalam. 7. Luka tembus (Penetrating Wound). bahan kimia dan petir yang mengenai kulit. terjadi akibat kulit bergesekan dengan benda lain yang biasanya dengan benda yang tidak tajam. Luka insisi (Incised wounds). yaitu: . terjadi akibat benda yang tajam seperti oleh kaca atau oleh kawat. terjadi akibat adanya benda. 3. disertai proses peradangan dan migras sel darah putih kedaerah yang rusak. arus listrik. 4. perdarahan dan bengkak. Luka memar (Contusion Wound). yaitu luka yang menembus organ tubuh biasanya pada bagian awal luka masuk diameternya kecil tetapi pada bagian ujung biasanya lukanya akan melebar. 5. 6. F.

1. atau stres. baik panjang maupun kedalaman luka 8. Usia. memengaruhi proses penyembuhan luka. dan lemak. memengaruhi proses penyembuhan luka. seperti pasir atau mikroorganisme akan menyebabkan terbentuknya suatu abses sebelum benda tersebut diangkat. 2. Oleh sebab itu. kurangnya volume darah akan mengakibatkan vasokonstriksi dan menurunnya ketersediaan oksigen dan nutrisi untuk penyembuhan luka 9. Sebagai contoh. Orang yang terlalu gemuk. vitamin C dapat berfungsi sebagai fibrolas. 5. banyak mengonsumsi obat-obatan. Namun selanjutnya. 10. vitamin A diperlukan untuk membantu proses epitelisasi atau penutupan luka dan sintesis kolagen. Nutrisi. Adanya penyakit seperti diabetes melitus dan ginjal dapat memperlambat proses penyembuhan luka. obat-obatan. dan stres. proses penuaan dapat menurunkan sistem perbaikan sel sehingga dapat memperlambat proses penyembuhan luka. merokok. 6. Anemia. jaringan sel mati dan . akan mengalami proses penyembuhan luka. karbohidrat. 7. vitamin B kompleks sebagai kofaktor pada sistem enzim yang mengatur metabolisme protein. sehingga menghambat proses penyembuhan luka. 4. Infeksi. sehingga akan menambah ukuran dari luka itu sendiri. memperlambat proses penyembuhan luka mengingat perbaikan sel membutuhkan kadar proteinyang cukup. infeksi tidak hanya menghambat proses penyembuhan luka tetapi dapat juga menyebabkan kerusakan pada jaringan sel penunjang. orang yang mengalami kekurangan kadar hemoglobin dalam darah akan mengalami proses penyembuhan yang lebih lama. mencegah timbulnya infeksi. merupakan unsur utama dalam membantu perbaikan sel. Penyakit lain. memengaruhi luka karena luka membutuhkan peredaran darah yang baik untuk pertumbuhan atau perbaikan sel. Tetapi jika terdapat bekuan yang besar hal tersebut memerlukan waktu untuk dapat diabsorbsi tubuh. fibrin. terutama karena terdapat kandungan zat gizi di dalamnya. Vitamin K membantu sintesis protombin dan berfungsi sebagai zat pembekuan darah. Hipovolemia. dan membentuk kapiler-kapiler darah. 3. Benda asing. Kegemukan. Vaskularisasi. merokok. Hematoma merupakan bekuan darah. Abses ini timbul dari serum. kecepatan perbaikan sel berlangsung sejalan dengan pertumbuhan atau kematangan usia seseorang. Seringkali darah pada luka secara bertahap diabsorbsi oleh tubuh masuk kedalam sirkulasi.

Dehiscene. 6 H. takikardia. Iskemia. yaitu menonjolnya organ tubuh bagian dalam ke arah luar melalui luka. 2. ditandai dengan adanya perdarahan disertai perubahan tanda vital seperti kenaikan denyut nadi. Infeksi. 12. demam atau panas.lekosit (sel darah merah). serta adanya kenaikan leukosit. kekurangan nutrisi. Pengobatan dan Pencegahan . nutrisi tidak dapat masuk ke dalam sel. penyakit kudis atau gangguan lainnya akibat menggunakan kuku jari tangan yang kotor. serta keadaan kulit yang dingin dan lembab. Akibat hal tersebut juga akan terjadi penurunan protein-kalori tubuh. dan rasa nyeri pada daerah luka. 1 Luka Kecil yang Bernanah Peradangan kulit dalam bentuk luka-luka (borok) kecil yang bernanah seringkali terjadi akibat menggaruk gigitan serangga. 4. yang membentuk suatu cairan yang kental yang disebut dengan nanah (“Pus”) 11. terjadi trauma. Sering ditandai dengan kenaikan suhu tubuh (demam). 3. kehausan. terjadi bila terdapat tanda-tanda seperti kulit kemerahan. merupakan pecahnya luka sebagian atau seluruhnya yang dapat dipengaruhi oleh berbagai faktor. dan lain-lain. melemahnya kondisi tubuh. Hal ini dapat terjadi akibat dari balutan pada luka terlalu ketat. penurunan tekanan darah. rasa nyeri dan timbul bengkak. Hambatan terhadap sekresi insulin akan mengakibatkan peningkatan gula darah. jaringan di sekitar luka mengeras. Komplikasi Dari Luka Beberapa masalah yang dapat terjadi dalam proses penyembuhan luka adalah sebagai berikut: 1. Dapat juga terjadi akibat faktor internal yaitu adanya obstruksi pada pembuluh darah itu sendiri. Eviceration. kenaikan pernapasan. Hal ini dapat terjadi jika luka tidak segera menyatu dengan baik atau akibat proses penyembuhan yang lambat. Diabetes. Perdarahan. seperti kegemukan. merupakan suatu keadaan dimana terdapat penurunan suplai darah pada bagian tubuh akibat dari obstruksi dari aliran darah.

pembengkakan. BAB III ASUHAN KEPERAWATAN PADA PERAWATAN LUKA A. Pengkajian Keperawatan Pengkajian dilakukan dengan melihat penampilan luka (tanda penyembuhan luka) seperti adanya perdarahan. Jangan membiarkan anak yang menderita borok atau infeksi kulit bermain atau tidur dengan anak lain. Diagnosis Keperawatan Dalam diagnosis keperawatan. dan terlihat garis-garis merah yang berasal dan luka. proses granulasi jaringan (yaitu menurunnya reaksi inflamasi pada saat pembekuan berkurang). Resiko terjadi infeksi akibat berhubungan dengan kurangnya perawatan pada daerah luka. terdapat beberapa hal yang perlu diperhatikan. B. Lakukan tindakan ini setiap hari selama masih terdapat nanah. maka gunakanlah antibiotika – seperti tablet penicilin atau tablet sulfa. sehingga tidak dapat menggaruk-garuk. Balutlah luka-luka yang besar dan seringseringlah ganti pembalutnya. 4. bau yang kurang sedap. C. kemudian basahi dan bersihkan kerak yang terbentuk dengan hati-hati. Perencanaan Keperawatan . juga perlu dikaji adanya drainase. serta berkurangnya ukuran parut yang merupakan indikasi terbentuknya keloid. 2. Cucilah luka-lukanya dengan sabun dan air matang sampai benar-benar bersih. proses inflamasi (kemerahan dan pembengkakan). 3. Biarkan luka-luka kecil terbuka kena udara.1. Jangan menggaruk-garuk luka atau borok. Potonglah kuku jari tangan anak-anak kecil sependek mungkin – atau kenakan sarung tangan atau kaus kaki pada tangan mereka. dan nyeri pada daerah luka. 5. Nyeri akibat terputusnya kontinuitas jaringan. Jika kulit di sekitar luka tampak merah dan panas. atau jika suhu tubuh penderita meninggi. 2. adanya parut atau bekas luka (scar) akibat fibroblas dalam jaringan granulasi mengeluarkan folagen yang membentuknya. Infeksi ini mudah tertular. Selain itu. Tindakan ini akan membuat luka makin parah dan dapat menyebarkan infeksi ke bagian-bagian tubuh yang lain. yaitu: 1. serta ada pembengkakan kelenjar getah bening.

Mengurangi nyeri dan mempercepat proses penyembuhan luka Rencana Tindakan: 1. dan untuk menciptakan suatu lingkungna lokal yang optimal untuk rekonstruksi dan epitelialisasi vaskular dengan sebuah balutan. 1 D. melepaskan jaringan yang mengalami devitalisasi. kelembapan. untuk menyingkirkan penyebab aktual atau potensial yang memperlambat penyembuhan. Masalah pemilihan balutan yang ideal adalah terdapat begitu banyak macam balutan yang membingungkan untuk dipilih. yang dapat bertindak sebagai fokus infeksi. mengeluarkan benda asing. krusta yang tebal. Mengurangi nyeri dan mempercepat proses penyembuhan luka dengan cara melakukan perawatan luka secara aseptik.1 Prioritas dalam penatalaksanaan luka lokal Prioritas dalam pelaksanaan luka lokal pada dasarnya adalah sama dengan luka apapun juga.2 Balutan yang ideal Jika ada kulit yang rusak maka biasanya diperlukan balutan untuk melindungi jaringan yang berada di bawahnya dari kerusakan lebih lanjut dan untuk menggantikan sementara beberapa fungsi kulit yang utuh. yaitu: mengatasi perdarahan (hemostasis). dan pH yang optimal untuk selsel yang berperan dalam proses penyembuhan. dan melindungi luka dari trauma lebih lanjut serta terhadap masuknya mikroorganisme patogen. meningkatkan pembentukan jaringan granulasi dan epitelialisasi. 1. Tujuan adalah untuk melindungi individu dari kerusakan fisiologis lebih lanjut. Mencegah terjadinya infeksi dengan cara menjaga atau mepertahankan agar luka tetap dalam keadaan bersih 2. menyediakan temperatur. Pelaksanaan (Tindakan) Keperawatan 1. memilih balutan yang paling sesuai dengan kebutuhan masing-masing pasinen merupakan hal yang sangat penting. Mencegah terjadinya infeksi 2. Penatalaksanaan Luka Lokal 1. maka perlu adanya penilaian tidak hanya penilaian kondisi lokal pada tempat luka tetapi juga penilaian terhadap gaya hidup pasien dan di mana serta oleh siapa luka tersebut akan dibaluti lagi. Tidak ada balutan tunggal yang cocok untuk segala macam luka. Diperlukan pengetahuan . dan pus. Untuk itu.Tujuan : 1.

Karakteristik balutan luka yang paling ideal adalah: a. c. Awet dan tersedia di rumah sakit maupun di komunitas 1. Hemostasis Mengatasi perdarahan merupakan prioritas pertama dalam penatalaksanaan luka. Tidak perlu terlalu sering mengganti balutan h. pengguanaan. Debridemen bedah dengan anastesi umum ataupun lokal merupakn metode yang paling cepat untuk memperoleh lapisan luka yang bersih. d. Membuang jaringan mati dan devitalisasi Adanya jaringan nekrotik dapat memperlambat penyembuhan serta mendorong terjadinya infeksi. yang rapuh dan terus menerus berdarah. hemostasis secara umum dapat dicapai dengan penggunaan balutan alginat. seperti Kaltostat. dimana metode lain dapat dicoba dilakukan.3 Menciptakan lingkungan yang optimal untuk penyembuhan a.terperinci tentang karakteristik. Impermeabel terhadap bakteri g. dan seringkali menutupi luas yang sebenarnya dari kerusakan jaringan. kontraindikasi. f. b. tetapi di luar Bagian Kecelakaan dan Gawat Darurat atau di luar kamar periksa dokter hal tersebut merupakan masalah yang jarang dijumpai oleh perawat. Penatalaksanaan luka yang terinfeksi . d. Pengangkatan benda asing Benda asing dapat bertindak sebagai fokus infeksi pada luka-luka traumatik c. dan kewaspadaan terhadap berbagai macam balutan ketika hendak memilih balutan yang paling sesuai. Pasien penyakit dengan terminal dengan luka yang terbuka yang rapuh. misalnya pasien dengan karsinoma payudara seperti jamur. meski demikian tindakan tersebut tidak perlu bagi lansia atau pasien yang sangat lemah. Penyekat suhu e. Biaya ringan i. Non-toksik dan non-alergenik Mampu melindungi luka dari trauma lebih lanjut b. Tidak melekat Mampu mempertahankan kelembapan yang tinggi pada tempat luka sementara juga mengeluarkan eksudat yang berlebihan.

Penatalaksanaan luka dengan banyak eksudat Sekalipun jaringan nekrotik dan jaringan yang tampak jelas terinfeksi telah diangkat dari bidang luka. pus. seperti sinus pilonidal yang sudah dieksisi. hanya diperlukan pengambilan hapusan luka guna mengidentifikasi mikroorganisme dan menentukan sensitivitas mikroorganisme terhadap antibiotik apabila luka tersebut memperlihatkan tanda dan gejala klinis infeksi. dengan stent baru yang dibuat berdasarkan permintaan dari perawat komunitas . eksudat yang berlebihan. Oleh karenanya. penggunaannya yang kurang bijaksana dan mendorong timbulnya strain bakteri yang tahan terhadap antibiotik multipel dan penggunaan topikalnya dapat menyebabkan reaksi sensitivitas lokal. dan bau busuk. Eksudat juga dapat mengikis tepi luka jika jaringan sekitarnya menjadi terendam air. Volume eksudat berkurang pada waktunya. yang dapat . pasien atau yang memberi perawatan. seperti nyeri setempat dan eritema. Antibiotik sistemik dapat diresepkan oleh dokter bila pasien menderita selulitis. atau menderita gangguan imunologis yang berat. luka dapat terus menghasilkan eksudat dalam jumlah yang banyakn dapat menembus balutan non-oklusif dan menigkatkan resiko infeksi luka. Penatalaksanaan luka dalam yang bersih dengan sedikit eksudat Bila jumlah eksudat sudah berkurang.melakukan desinfeksi permukaan dua kali sehari dengan foam stent atau menutup luka tersebut. Begitu juga dengan semua luka. edema lokal. Penggunaan rutin dari antibiotik topikal perlu dikurangi. f. e. Untuk luka yang lebih kecil.Kebanyakan luka terbuka kronis didiami oleh mikroorganisme yang sabgat banyak yang tanpaknya tidak memperlambat proses penyembuhan. maka Silastic Foam merupakan suatu cara pembalutan yang sangat bermanfaat khususnya pada luka dalam yang bersih dan berbentuk cawan. pilihan balutan dapat dipengaruhi oleh: o Letak luka dan kemudahan atau kesulitan pemasangan balutan o Ukuran luka o Frekuensi penggantian balutan yang diperlukan o Pertimbangan kenyamanan dan kosmetika o Tersedianya balutan dengan ukuran yang diperlukan. infeksi yang menagncam kehidupan. dapat . tetapi sampai stadium tersebut diperlukan balutan yang bisa menyerap dan tidak melekat. di rumah. atau dekubitus luas didaerah sakrum.

. mata pancing. Menangani luka superfisial yang bersih dengan sedikit eksudat Banyak balutan yang sesuai untuk menangani luka superfisial yang bersih. debridemen perlu dilaksanakan dikamar operasi dengan anestesi umum.1 Pembersihan berbagai luka a. dan pasir serta minyak pelumas yang bersifat superficial dapat diserahkan pada perawat. Bukan hanya agak sulit ditangani. Luka traumatik yang terkontaminasi dan jaringan lunak yang mengalami devitalisasi Jika jaringan sangat terkontaminasi oleh kotoran dan bakteri atau mengalami devitalisasi. kasa juga sangat dapat merusak luka akibat pembalutan terlalu rapat. khususnya pada pasien-pasien dengan penyakit terminal. dan penerimaan pasien secara kosmetik tidak boleh diremehkan. Banyak faktor yang dapat mempengaruhi pemilihan balutan. Pada beberapa kasus. g. Dekontaminasi luka traumatik biasanya dilakukan dalam kecelakaan dan gawat darurat. berperan sebagai media kultur yang memprmudah perumbuhan bakteri dan menghalangi kemampuan sel darah putih untuk mencerna bakteri dan membunuhnya. Balutan yang ideal adalah balutan yang dapat dibiarkan takterganggu selama beberapa hari. Tujuan pe ngangkatan benda asing adalh untuk mengeluarkan kontaminan sebanyak mungkindengan rasa sakit seminimal mungkin bagi pasien dan trauma yang minimum pula terhadap jaringan. Memberikan lingkungan yang lembab dengan terus-menerus akan dapat mendorong epitelialisasi yang cepat dan mengurangi ras nyeri serta melindungi permukaan luka dari kerusakan mekanis lebih lanjut dan dari kontaminasi. kasa juga akan menempel dan bidang luka akan dengan mudah mengalami trauma saat lepasan balutan. Pengangkatan benda asing seperti pecahan batu. Pembersih Luka 2. Pentingnya kenyamanan. kemudahan. Dalam hal ini lebih disukai untuk membalut luka dengan menggunakan kasa pita. Lengkung kapiler darah cenderung untuk tumbuh menembus jaring-jaring kasa dan mengalami kerusakan san pengangkatan balutan. Jika kasa mengering. Metode pengobatan secara umum diputuskna oleh petugas yang menangani korban kecelakaan.memantau perkembangan luka. pengangkatan melalui tindakan bedah sering kali merupakan pengobatan pilihan jaringan lunak yang mengalami devitilisasi. dimana penyembuhan luka mungkin bukan merupakan suatu tujuan yang realistik8 2.

c. Untuk luka traumatis yang kecil tindakan asepsis tidak diperlukan sampai semua kontaminasi kasar dapat dikeluarkan. yang pada mulanya masih dalam keadaan bersih. Dalam hal ini. Oleh karena itu. tindakan asepsisi yang ketat diperlukan sejak awal untuk mencegah infeksi luka secara endogenus maupun eksogenus. Luka bedah tertutup Pendekatan yang berbeda diperlukan saat membersihkan luka bedah tertutup.8 3. yang man apada hal tersebut dapat membantu meredahkan rasa nyeri dan membantu meredahkan debris. khususnya bila tungkai pasien pernah dibalut denga perban kompresi selama satu minggu. Apabila menggunakan teknik bersih. membersihkan keseluruhan tungkai dalam sebuah mangkuk dapat menjadi tindakan terapeutik. b. sangat bijaksana apabila melakukan teknik aseptik yang sangat ketat pada saat membersihkan luka kronik dibangsal rumah sakit dan memperlakukan semua sampah secara khusus baik di rumah sakit maupun di komunitas. Rumah pasien mungkin jauh.Untuk cedera biasa pendekatan praktik yang terbaik adalah mencelupkan bagian yang cedera pada larutan garam atau dalam air fisiologis pada suhu tubuh. dimana pembersihan luka merupakan sesuatu yang esensial bagi higeinitas bagi pasien. Luka terbuka kronis Pada saat membersihkan luka tersebut. maka penyebabnya hampir selalu dapat ditelusuri kembali kepada saat pembedahan dilakukan. pada saat luka tertutup rapat maka pada umumnya dimungkinkan bagi pasien untuk mandi. seperti dekubitus dan ulkus tungkai terdapat kontroversi sekitar masalah kebutuhan asepsisi ketat khususnya dalam komunitas. Setelah dua sampai tiga hari. bukan teknik aseptik maka selalu terdapat resiko di mana perawat secara tidak sengaja dapat bertindak sebagai efektor untuk infeksi silang yamg dapat memberi konsekuensi serius jika organisme seperti streptokokus β – hemolitikus atau pseudomonas terlibat di dalamnya. Meskipun demikian apabila terjadi infeksi luka. Penatalaksanaan Kedaruratan 3.1 Perdarahan hebat . lebih aman dan lebih kurang patogen daripada lingkungan fisik bangsal di rumah sakit ! bagi seorang pasien dengan ulkus tungkai yang dirawat dirumah sendiri.

2 Luka Bakar Akses awal untuk pengkajian dan penatalaksanaan spesialis sangat mendesak bagi semua pasien tetapi yang terbanyak untuk luka bakar minor. prioritas yang segera dilakukan adalah: a. Ukuran luka mungkin sedikit berhubungan dengan tingkat keseriusan luka. Pada orang dewasa dengan luka bakar yang melibatkan lebih dari 15% area permukaan tubuh merek. Sudah dapat menyebabkan kerusakan hebat pada pembuluh darah internal. merupakan tanggungjawab dokter dan prinsip-prinsipnya telah dijelaskan oleh Evans (1979) dan Mansfield dan Bradley (1985). Pada saat sirkulasi perifer berhenti bekerja secara nyata. Ringkasnya.Perdarahan terbuka pada ateri memerlukan penatalaksanaan yang sangat mendesak. posisinya mungkin tidak dapat pulih kembali. Penatalaksanaan lebih lanjut terhadap luka yang mengenai pembuluh darah besar. mungkin diperlukan intubasi atau trakeotomi. Pengukuran denyut nadi dan tekanan darah dapat menjadi indikator yang sangat buruk bagi keparahan pendarahan. 3. Memeriksa pakaian dan balutan sementara secara seksama dapat berguna. Penekanan langsung pada bagian perdarahan serta meninggikannya lebih tinggi dari daerah tubuh yang lain seringkali merupakan seluruh tindakan yang diperlukan untuk menghentikan perdarahan dalam jangka pendek. karena tekanan darah dipertahankan sebagai prioritas utama oleh berbagai mekanisme autonom. Pada kasus-kasus edema berat pada wajah atau leher. Luka tembus yang terjadi akibat sebuah alat seperti belati kecil dan hanya memiliki luka terbuka bagian luar yang kecil saja. dan merupakan tindakanpenting kedua setelah tindakan pemiliharaan jalan napas. Pembacaan jalur tekanan vena sentral (CVP) memberikan perkiraan yang jauh lebih akurat mengenai volume darah pasien daripada pengukuran denyut nadidan tekanan darah. Pernapasan. dan pada anak-anak dengan lebih dari 10% luka bakar. b. hipovolomia merupakan hal yang sangat mungkin terjadi dan dapat menyebabkan syok hipovolemik kecuali jika penggantian cairan diberikan dengan segera. Mempertahankan jalan napas. untuk mendapatkan beberapa petunjuk mengenai kehilangan darah eksternal. untuk memperkecil komplikasi yang dapat dihindari dan kecacatan jangka panjang. Oksigen mungkin diperlukan bila terhirup asap. . dan jalur CVP tersebut sangat ideal untuk memberikan transfusi darah yang cepat.

Pincet cirulgin 3. Cara Merawat Luka Merupakan tindakan keperawatan untuk merawat luka dan melakukan pembalutan dengan tujuan mencegah infeksi silang (masuk melalui luka) dan mempercepat proses penyembuhan luka. d. Alat dan Bahan: 1. Bengkok 11. f. Mangkok kecil 13. Larutan boor water 7. Penggantian cairan. Buka plester dan balutan dengan menggunakan pincet . Debridemen luka. Handskon steril Prosedur Kerja: 1. Jelaskan prosedur yang akan dilaksanakan 3.c. Entonox ataupun morfin intravena mungkin dibutuhkan. Dukungan pasikologis8 4. Pencegahan infeksi g. Plester/pembalut 10. Larutan H2O2 6. Gunting steril 4. Gunting perban (gunting tidak steril) 9. Kapas sublimat/saflon dalam tempatnya 5. Gunakan regimen yang telah diketahui dan dilakukan pengawasan ketat terhadap keseimbangan cairan khususnya haluaran urine. Gunakan sarung tangan steril 4. Pincet anatomi 2.9 % 8. demikian pula dengan obat sedasi. Cuci tangan 2. seringkali pasien dibawah pengaruh anastesi umum. Menghilanhkan nyeri. Membuang kontaminan yang banyak dan jaringan lunak yang mengalami devitalisasi. Kasa steril 12. e. Nacl 0.

Berikan obat luka 7. H2O2. Bersihkan lukan dengan menggunakan saflon/sublimat. . Area dapat diakses untuk membersihkan luka dan kulit sekitar. Kondisi luka dapat mengindikasikan kerusakan jaringan progresif. Baringkan klien dengan nyaman dengan area luka dekubitus dan kulit sekitar mudah dilihat. 3. Tutup pintu ruangan atau gorden tempat tidur Mempertahankan privasi klien. Balut luka 9. o Ukur kedalaman luka dekubitus dengan menggunakan aplikator berujung kapas atau alat lain yang memungkinkan pengukuran kedalamluka. Dapat menentukan tipe balutan yang dipilih: area permukaan panjang atau lebar. boor water atau Nacl 0. Kaji kulitdekubitus dan kulitsekitar untuk menentukan derajat luka. dan penampilan kulit di sekitar luka Kelembapan terus menerus menyebabkan maserasi o Ukur diameter luka Memberikan hasil pengukuran objektif dari luka. Perawatan Dekubitus Perawatan luka yang terjadi karena tekananyang terus menerus pada bagian-bagian tubuh sehingga sirkulasi darah ke daerah tersebut terganggu dan mengakibatkan nekrosis jaringan tubuh. Tutup luka dengan menggunakan kasa sterril 8. Cuci tangan dan gunakansarung tangan Mengurangi transmisi pathogen yang berasal dari darah.1 5. o Perhatikan warna.9 % sesuai dengan keadaan luka. Catat perubahan keadaan luka 10. Prosedur pelaksanaan 1. kelembapan. Sarung tangan harus digunakan saat memegang bahan-bahan berair dari cairan tubuh. 2.5. Lakukan dengan hingga bersih 6. 4. Cuci tangan.

6. Untuk luka dalam. gunakan semprit irigasi. Gunakan sarung tangan steril. Cuci kulit sekitar luka dengan lembut dengan air hangat dan sabun. Agar salep lebih mudah dioleskan pada luka. 7. Sebelumnya dibutuhkan perendaman dengan enzim untuk pengangkatan. 8. meskipun permukaan area sangat adekuat menunjukkan kehilangan jaringan pada ulkus derajat satu dan dua.volume lebih adekuat menunjukkan kehilangan jaringan pada luka dengan derajat lebih dalam 3 sampai 4 o Ukur kedalam lubang kulit dengan nekrosis jaringan. Pembersih permukaan kulit mengurangi jumlah bakteri yang menetAP. Lapisan yang tipis engabsorpsi dan bekerja lebih efektif. Tidak memerlukan salep yang terlalu banyak. Lubang mengindikasikan nekrosis jaringan progresif 5. Sabun dapat mengiritasi kulit. Jangan oleskan enzim pada kulit sekitar luka. Lubang menunjukkan kehilangan jaringan dibawah kulit lebih besar. Menghilangkan debris yang terkelupas dari luka. Kelebihan obat dapat mengiritasi kulit sekitarnya. Kelembapan terus-menerus menyebabkan maserasi lapisan kulit. mengukur dan memasang balutan. o Oleskan salep secara tipis dan merata disekitar luka nekrotik. Bersihkan luka secara menyeluruh dengan cairan saling normal atau agens pembersih. . Gunakan agens topical jika diresepkan. o Ratakan obat dengan menggosok telapak tangan kuat-kuat. Gunakan hanya pada area nekrotik.Pengukuran kedalam penting untuk menentukan volume luka. Gunakan aplikatorberujung kapas steril dan dengan lembut tekan tepi luka. Cuci secara menyeluruh denga air. 9. Dengan prlahan keringkan luka secara menyeluruh denga handuk dengan cara ditekan-tekan. Oleskan sedikit salep enzim pada telapak tangan. Enzim o Pertahankan sarung tangan steril. Teknik aseptic harus dipertahankan selama membersihkan.

cuci tangan. balutan yang digunakan. Dokumentasikan adanya penyimpangan penampilan luka. o Tutup kasa yangbasa dengan kasa yang kering dan plester dengan baik. Lepaskan sarung tangan dan bereskan peralatan yang basah. Bungkus luka denga alginat dengan menggunakan aplikator atau sarung tangan. 13. Antiseptic o Luka dalam : berikan salep antiseptic pada tangan dengan sarung tangan dominan dan oleskan ecara merata salep di sekitar luka. Melindungi luka. Salep antiseptic menyebabkan iritasi jaringan minimal. Kalsium alginate. mempertahankan permukaan lembab. 10. Semua permukaan luka harus tertutup untuk mengontrol pertumbuhan bakteri dengan efektif. Observasi dasar dan inspeksi menunjukkan kemajuan penyembuhan. Melindungi luka dan mencegah hilangnya sale[ selama berbalik atau berubah posisi. o Absorben seperti kasa kering digunakan untuk menahan hidrogel diatas permukaan luka. Mempertahankan kelembapan luka saat mengabsorbsi kelembapan drainase. Mencegah transmisi mikroorganisme. Memepertahankan alginat diatas permukaan luka. Ubah posisi klien dengan nyaman tidak pada posisi luka dekubitus Menghindari lepasnya balutan tanpa disengaja. 12. Catat penampilan luka dan perawatan (tipe agens topikal yang digunakan. o Gunaka kasa kering ya ng halus atau hidrokoloid di atas alginat. Sel kulit pada daerah yang normal hidup dalam keadaan lembab.o Basahi kasa balutan dengan cairan garam fisiologis dan tempelkan langsung pada luka. o Pasang kasa kering yang halus diatas gel untuk menutupi lukaeengan sempurna. Mungkin digunakan secara karier untuk agens topical. o Mencegah bakteri yangmasuk dalam balutan yang lembab. . dan respon klien dalam catatan perawat). o Pasang bantalan kasa steril di atas luka dan plaster dengan kuat. Agens Hidrogel o Tutup permukaan luka dengan hidrogel menggunakan aplikator steril atau sarung tangan. mengurangi waktu dalam penyembuhan. 11. Mempertahankan kelembapan luka sambil mengabsorpsi kelebihan drainase.

Pincet antomi 2. Obat anatesi 10. Benang 7. Gunting verban 14. 12. Alkohol 10 % 9. Plester/pembalut 15. Jarum 6. Cara Menjahit Luka Merupakan tindakan keperawatan untuk menutup luka melalui jahitan. Handskun steril Prosedur Kerja 1. Mangkok kecil 18. Cuci tangan 2. bertujuan mencegah terjadinya perdarahan.3 6. Lakukan desinfeksi daerah yang akan dijahit kemudian lakukan anastesi yang akan dijahit . mencegah infeksi silang dan mempercepat proses penyembuhan Alat dan Bahan: 1. Gunakan sarung tangan steril 4.Penyimpangan kondisi dapat mengindikasikan kebutuhan untuk terapi tambahan. Pincet cirulgin 3. Bengkok 16. Duk steril. Gunting steril 4. Jelaskan prosedur yang akan dilaksanakan 3. Spuit 11. Pisau steril 13. Naald voerder 5. Kasa steril 17. Laruatan betadine 8.

Kasa steril 7. Cuci tangan . Gunting angkat jahitan steril 5. Gunting perban 14. Berikan betadine 7. Mangkok steril 8. Lakukan jahitan pada daerah yang dikehendaki dengan menggunakan tehknik menjahit sesuai dengan kondisi luka 6. Lakukan pembalutan 9. Obat luka 13.5. atau larutan lainnya sesuai dengan kebutuhan 12. Plester 10. Gunting pembalut 9. Pincet anatomi 2. Lidi kapas (lidi yang diberi/dilapisi kapas pada ujungnya) 6. Arteri klem 4. Larutan H2O2. saflon/ iso. 7. Alkohol 70 % 11. Cara Mengangkat atau Mengambil Jahitan Merupakan tindakan keperawatan yang dilakukan untuk mengangkat jahitan lukah bedah atau mengambil jahitan pada luka bedah dengan cara memotong simpul jahitan. Cuci tangan. Pincet cirulghin 3. Bengkok 15. Tutup luka dengan menggunkan kasa steril 8. Handscone steril Prosedur kerja : 1. Catat perubahan keadaan luka 10. bertujuan mencegah infeksi silang dan mempercepat proses penyembuhan luka. Alat Bahan: 1.

1 BAB IV PENUTUP A. mengabsorbsi drainase dan meningkatkan kenyamanan fisik dan psikologis. Tujuan dari perawatan luka adalah menjaga luka dari trauma. 7. Lakukan pembalutan 11. mencegah kontaminasi oleh kuman. lakukan hingga bersih. Buka plester dan balutan dengan menggunakan pinset 5. Cuci tangan. tidak ada perdarahan. kemudian gunting benagn dan tarik dengan hati – hati lalu dibuang pada kasa yang disediakan. E. Catat perubahan keadaan luka 12. mencegah perdarahan. Simpulan Perawatan luka adalah suatu penanganan luka yang terdiri atas membersihkan luka. H2O2. imobilisasi luka. Tekan daerah sekitar luka sehingga push/nanah/ seratus tidak ada 8. Gunakan sarung tangan steril 4. tidak ditemukan adanya tanda radang. Berikan obat luka 9. dan tidak ada keloid/ skiatrik. Saran Dalam penysunan makalah sebaiknya mahasiswa menggunakan minimal lima literatur untuk menghasilkan makalah yang isinya lengkap dan sebaiknya perlu ditambahkan lagi . B. Bersihkan luka dengan menggunakan saflon/sublimat. luka dalam keadaan bersih. menutup dan membalut luka sehingga dapat membantu proses penyembuhan luka.2. Jelaskan prosedur yang akan dilaksanakan 3. boorwater atau NaCl o. Tutup luka dengan menggunakan kasa steril 10. Evaluasi Keperawatan Evaluasi terhadap masalah luka secara umum dapat dinilai dari sempurnanya proses penyembuhan luka. 6. Angkat jahitan dengan menarik simpul jahitan sedikit ke atas.9 % sesuai dengan keadaan luka.

html Medika 6.multiplycontent.html 3. DAFTAR PUSTAKA 1.blogspot. 2006. A.multiply.blogspot. Pengantar Kebutuhan Dasar Manusia.2010. Kebutuhan Dasar Manusia. 2. Eni.mailmkes. Hidayat.com/2007/07/definisi-luka-adalah-rusaknya. LMI1/Merawat%20luka. http://askep-supriyono.2006.com/attachment/0/RDd@AoKCEMAADk5 Saryono dan Anggriyana Tri Widianti. Kusyati. Aziz Alimul. Yogyakarta: Nume http://irmanthea. . 6. http://images. Jakarta : Salemba Medika 2. 5 3. 4.buku-buku kesehatan lainnya yang belum tersedia di perpustakaan untuk menunjang penyelesaian tugas mahasiswa.com/2010/02/askep-perawatan-luka. Jakarta: EGC 4. 1.pdf?nmid=88915450 5.Keterampilan dan Prosedur Laboratorium.

Warner. 2003.7.Yogyakarta: Andi Yem 8. Morison. David dan Jane Maxwell. Apa yang Anda Kerjakan Bila tidak ada dokter. Manajemen Luka. 8. Jakarta: EGC Diposkan oleh Aswedi Ners di 18:59 Kirimkan Ini lewat Email BlogThis! Berbagi ke Twitter Berbagi ke Facebook Berbagi ke Google Buzz 0 komentar: Poskan Komentar Posting Lebih Baru Beranda Langgan: Poskan Komentar (Atom) Pengikut Arsip Blog • o   o  ▼ 2011 (4) ► April (2) Laporan Fisiologi FISIS JANTUNG Karsinoma Colon Rectum ▼ Februari (2) Konsep Teori dan Model Keperawatan . Moya J. 7.

. Lihat profil lengkapku Template Watermark. Indonesia orangnya simple aja. ... Didukung oleh Blogger... Perawatan Luka Mengenai Saya Aswedi Ners Makassar.. InsyaAllah gak nyesal kalo berteman dengan saya. Sulawesi Selatan.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful