Manajemen Pengelolaan Limbah Padat di Perkotaan Studi Kasus : Pengelolaan Sampah Regional SARBAGITA Oleh : Komang Elva Equitari

(25411071) Abstrak Pengelolaan persampahan merupakan tantangan yang tidak mudah bagi pemerintah. Saat ini secara umum telah muncul konsep pengelolaan kota yang berkelanjutan, dimana salah satu bagiannya adalah konsep pengelolaan sampah seperti 3R+ (reduce, reuse and recycle) + Treatment & Dispose; Waste Fees System; dan pengembangan kemitraan dalam pengelolaan sampah. Dalam konteks pembangunan yang berkelanjutan, pemerintah dituntut berinisiatif dalam mengelola produksi sampahnya. Kawasan perkotaan di Bali yang terdiri dari Denpasar, Badung, Gianyar dan Tabanan (Sarbagita) telah melakukan kerjasama dalam menangani persoalan pengelolaan sampah regional. Tulisan ini ditujukan untuk mengevaluasi implementasi pengelolaan sampah di lokasi tersebut, dan instrument yang digunakan adalah 9 indikator pengelolaan sampah yang berkelanjutan yang ditentukan UNEP, 2004. Hasil analisis menunjukkan pengelolaan sampah regional di Sarbagita telah memenuhi 4 dari 9 indikator tersebut dan masih terkonsentrasi pada usaha reuse, recycle, dan dispose. Kombinasi antar konsep tersebut dapat dijadikan penyempurnaan pelaksanaan pengelolaan sampah regional guna menciptakan ruang yang lebih baik dan layak huni bagi masyarakatnya.

1.

Pendahuluan

Konsep pembangunan yang berkelanjutan terdiri dari 3 elemen utama yaitu : kelestarian lingkungan, kehidupan masyarakat dan pertumbuhan ekonomi yang saling berinteraksi guna mencapai tujuan pembangunan bagi masyarakat saat ini dan tetap terjaminnya pemanfaatan berkelanjutan oleh generasi yang akan datang. Hal ini disebabkan ekosistem yang ada saat ini mengalami penurunan kualitas dikarenakan telah menyokong kegiatan-kegiatan ekonomi yang berada didalamnya. Infrastruktur terutama air, limbah, energi, dan infrastruktur transportasi erat kaitannya dengan ketiga elemen tersebut. Pembangunan infrastruktur merupakan salah satu pendorong utama pertumbuhan ekonomi namun secara bersamaan juga memberikan tekanan pada kapasitas dukung lingkungannya. Infrastruktur dapat memberikan manfaat besar dalam pertumbuhan ekonomi, pengentasan kemiskinan, dan keberlanjutan lingkungan tapi hanya bila mampu yang merespon tuntutan secara efektif dan melakukannya secara efisien (world bank, 1994). Hal ini yang mendasari konsep green growth dan eco-efisiensi dimana diartikan bahwa penciptaan nilai lebih dengan sumber daya lebih sedikit dan tetap mengurangi dampak pada lingkungan (WBCSD, 2000: 9). Hubungan sektor infrastruktur dan lingkungan merupakan hal yang kompleks. Namun hal yang paling positif dari hubungan tersebut adalah dampak infrastruktur terhadap lingkungan menyangkut pemindahan dan pembuangan limbah cair dan padat. Tapi banyak tergantung pada bagaimana fasilitas pembuangan ini direncanakan dan dilaksanakan (Bank Dunia 1994: 21). Dalam

kesehatan dan sosial.sebagai bahan baku maupun sebagai sumber energi (reduce. dan the principle of prevention. dan daur ulang untuk dapat dimanfaatkan. . Kunci dari keberhasilan manajemen limbah padat perkotaan terkait dengan bagaimana meminimalkan jumlah sampah melalui konsep-konsep 3R (reduce. Pengelolaan sampah saat ini masih mengandalkan proses kumpul-angkut-buang yang justru menimbulkan berbagai permasalahan lingkungan. Lalu untuk peningkatakn produksi yang bersih diupayakan pula proses treatment dan dispose. agar memudahkan penanganan berikutnya. Oleh karena itu makalah ini akan difokuskan pada permasalahan limbah padat terkait dengan bagaimana mengelolanya dan tetap menciptakan lingkungan yang berkelanjutan. penggunaan kembali. Limbah padat atau sampah didefinisikan sebagai materi sampah organik dan inorganik yang dihasilkan rumah tangga. Konsep : Manajemen Limbah Padat Limbah padat (non-limbah cair) dapat membuat masalah kesehatan yang signifikan dan lingkungan hidup yang tidak menyenangkan jika tidak dibuang secara aman dan tepat. dalam Teguh Kurniawan 2003). aktivitas institusi dan industri yang telah kehilangan nilai dimata pemilik pertamanya (Cointreau. reuse dan recycle).faktor sosial-ekonomi dan budaya lainnya. limbah dapat memberikan tempat perkembangbiakan sumber penyakit yang meningkatkan kemungkinan penularan penyakit. Treatment mempunyai pengertian bahwa residu yang dihasilkan atau yang tidak dapat dimanfaatkan kemudiandiolah. 2006). Pengelolaan persampahan khususnya di kota-kota besar di Indonesia merupakan tantangan yang tidak mudah bagi pemerintah saat ini. komersial. kondisi geografis. Sedangkan dispose adalah residu/limbah yang tidak dapat diolah perlu dilepas ke lingkungan secara aman. Waste Fees System dan pengembangan kemitraan dalam pengelolaan sampah (Economic and Social Commision For Asia and The Pacific. Pertambahan penduduk dan peningkatan aktivitas kehidupan sehari-hari yang demikian pesat telah meningkatkan jumlah sampah. Mengaktualisasikan ePolluter-pays Principle. kepadatan penduduk. Konsep yang pertama : 3R merupakan usaha meminimalkan jumlah limbah melalui pengurangan di sumber. reuse and recycle) + Treatment & Dispose. yaitu melalui rekayasa yang baik dan aman seperti menyingkirkan pada sebuah lahan-urug (landfill) yang dirancang dan disiapkan secara baik. pemulihan material. gaya hidup perkotaan. Jumlah limbah yang terkait erat dengan aktivitas ekonomi dan konsumsi sumber daya. Hal ini diharapkan mampu mengurangi sampai di sumbernya. atau agar dapat secara aman dilepas ke lingkungan. permasalahan lingkungan perkotaan salah satunya dihadapkan dengan permasalah limbah cair dan padat. kebiasaan makanan. “Sustaiable Infrastructure in Asia”. the User-pays Principle. Konsep yang kedua waste fees system adalah usaha memberlakukan biaya yang berbeda ditentukan oleh jumlah limbah dihasilkan oleh masing-masing warga.konteks perkotaan. Jika tidak benar dibuang. 2. Selain itu juga dapat mencemari sumber air dan lingkungan. Produksi limbah padat tergantung pada status ekonomi. Selain itu sampah didefinisikan sebagai sisa kegiatan sehari-hari manusia dan/atau proses alam yang berbentuk padat” (UU18/2008).

Ketersediaan badan/institusi yang mengelola limbah padat (sampah) . Salah satu ilustrasi yang dapat dilakukan adalah seperti dalam gambar berikut : Sumber : disarikan dari beberapa sumber.Konsep yang terakhir adalah pengembangan kemitraan dalam pengelolaan sampah. yaitu : a. Institutional arrangement to handle/ manage wastes. Policy on Integrated Waste Management. Konsep manajemen limbah padat dapat dilakukan dengan mengkombinasikan berbagai konsep tersebut . Pembiayaan tinggi terutama mencakup pengumpulan dan transportasi sampah. Pengelolaan limbah. dengan memasukkan indikator dan target eko-efisiensi misalnya. Ketersediaan perangkat hukum yang terintegrasi secara keseluruhan mencakup manajemen lingkungan. Metodologi UNEP pada tahun 2004 mengembangkan 9 (sembilan) instrumen untuk mengevaluasi pengelolaan sampah di negara berkembang berdasarkan kajian literatur dan implementasinya yang masih dalam konteks penciptaan pembangunan yang berkelajutan. manajemen limbah berbahaya. kemitraan antara sektor publik dan swasta termasuk dengan stakeholder lainnya . yang umumnya ditanggung oleh sektor publik. b. selain hal diatas harus juga disusun instrument kebijakan yang menciptakan kondisi yang kondusif agar proses diatas dapat berjalan dengan baik.merupakan salah satu strategi kunci dalam mempromosikan pembiayaan dan infrastruktur yang berkelanjutan dalam hal ini pengelolaan sampah. 3. Kesehatan dan Sanitasi. Daur Ulang Limbah. 2012 Dalam pencapaian tujuan pembangunan berkelanjutan. Ketersediaan perangkat hukum yang terkait dengan pengelolaan limbah padat (sampah). Polusi kontrol.seperti LSM . Policy on Solid Waste Management. c. unit biaya rendah dari fasilitas pembuangan limbah yang tepat dan proses pengumpulan limbah yang lebih efisien.

dan Kabupaten Tabanan. Budget support for waste management. Usaha melibatkan masyarakat dalam mengurangi dan daur ulang limbah i.2/2868/Sekret. Information system. Indikator ini akan dipakai untuk mengevaluasi pengelolaan sampah di Bali dan memberikan masukan dalam penyempurnaannya guna mencapai tujuan pembangunan yang berkelanjutan. Restrukturisasi pembentukan institusi pengelolaan persampahan di Bali Selatan. Community participation. dan Kabupaten Tabanan. Institusi atau badan yang telah disepakati untuk dibentuk adalah : Badan Pengatur dan Pengendalian Kebersihan Sarbagita (BPPKS). Pembentukan Peraturan Pemerintah (Perda) yang mendukung pengelolaan sampah. tentang Pokok-Pokok KerjasamaPemerintahan. nomor 658. Kabupaten Badung. e.Kabupaten BAdung. Kabupaten GIanyar dan Kabupaten TAbanan atau SARBAGITA. Badan Pengelola Kebersihan Sarbagita (BPKS). Kabupaten Gianyar. b. Kabupaten Gianyar. Penetapan Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) sampah lintas kabupaten/kota. Pemenuhan indikator tersebut dapat menggambarkan usaha-usaha untuk melakukan manajemen pengelolaan sampah. Salah satu contohnya adalah pengelolaan sampah bersama antara Kota DenpaSAR. Institusi atau badan tersebut . 4. telah disepakati melalui Surat Keputusan Bersama (SKB) tanggal 16 April 2001 di antara keempat Pemerintah Daerah/Kota Sarbagita. yang kemudian disebut Sarbagita. Pembangunan. nomor 390. Pembentukan wadah pengawasan independen d. organisasi. Penyediaan informasi untuk masukan bagi proses manajemem limbah padat d. yang di dalam pelaksanaannya khusus menyangkut persampahan ditangani oleh Proyek Pengelolaan Sampah Bali (Solid Waste Menagement in Bali) mulai Tahun Anggaran 1997/1998 sampai dengan 2001/2002. Ketersediaan perangkat kebijakan untuk mengelola limbah padat (sampah) seperti ketersediaan instrumen ekonomi e. nomor 660. khususnya di Bali Selatan yang mengalami pertumbuhan urbanisasi yang sangat pesat. perencanaan. Private sector participation h.Regulatory framework for waste management. Training program for waste management g. Berdasarkan Peraturan Bersama antara Pemerintah Kota Denpasar.1/3367/Ek.B tahun 2000.B tahun 2000 tanggal 24 Juli 2000. pengawasan. Untuk meningkatkan kondisi lingkungan hidup daerah dan perkotaan di Propinsi Bali. seperti tarif. nomor 840. ditetapkan 4 (empat) program pokok atau disebut program strategis yang mencakup : a. Pemerintah Pusat mendapat Bantuan dari Bank Dunia (IBRD) melalui Program Bali Urban Infrastructure Project (BUIP)-P3KT. dan lain-lain. Ketersediaan pembiayaannya mengelola limbah padat (sampah) f. Pembentukkan wadah kerjasama dalam suatu badan pengelola kebersihan Bali bagian Selatan c. dan Badan Pengawas Pengelolaan Kebersihan Sarbagita (BP2KS). Kabupaten Badung. dan Kemasyarakatan dalam Pengelolaan Sampah antara PemerintahKota Denpasar. Bentuk Pengelolaan Sampah di Perkotaan : Studi Kasus Pengelolaan Sampah SARBAGITA Banyaknya permasalahan sampah yang dihadapi oleh sebuah kota memuncul idea pengelolaan sampah bersama dari daerah yang saling berdekatan atau beskala regional.

Sedangkan PT. Hal ini secara langsung membebani pemerintah kab/kota untuk biaya pengangkutan/transportasi dari sumber ke TPA. 7. Namun usaha pengurangan sampah di sumber masih dilakukan sektoral masing-masing kabupaten kota. 5. pemerintah kab/kota dan pihak swasta. Melalui PPP kerja sama BPKS dan PT. BP2KS BUIP. 3. 5. Revitalisasi TPA Suwung (TPA sisa diluar IPST) embiayaannya bersumber dari Direktorat PLP. Analisis dan Kesimpulan Pengelolaan sampah di Sarbagita telah memenuhi sekurang-kurangnya 4 indikator yang telah ditetapkan oleh UNEP. NOEI mempunyai kewajiban untuk berinvestasi untuk IPST. 2010). Pembiayan pengelolaan sampah ini dikerjasamakan antar pemerintah provinsi. dan menfasilitasi pembetukan BPKS (operasi awal kendaraan bermotor.mempunyai fungsi dan tugas pokok masing-masing yang sudah ditetapkan melalui Keputusan Bersama Pemerintah Daerah/Kota (Enri Damanhuri.5 – 1 MW. Departemen Pekerjaan Umum Jakarta. Kerjasama antara sektor swasta dan publik merupakan salah satu solusi yang diajukan untuk pengelolaan sampah regional. InstrumenSolid Waste Management Policy on Integrated Waste Management Policy on Solid Waste Management Institutional arrangement to handle Regulatory framework for waste management Budget support for waste management Training program for waste management Private sector participation C ommunity participation Information system Pemenuhan Kriteria v v v v - Penjelasan SKBBupati/walikota BPPKS. Pemerintah provinsi mempunyai kewajiban menfasilitasi kajian aspek legalitas dan teknis kerjasama antar pemda. dan besarnya sharing masing-masing pemda bersifat proposional atas perhitungan volume sampah dan PAD masing-masing kab/kota. Penerapan PPP untuk pengelolaan sampah IPST Sarbagita mengadakan kerja sama dengan Badan Pengelolaan Kebersihan Sarbagita (BPKS) dan PT. Hal ini juga mengakibatkan Kabupaten Giayar dan Tabanan tidak membawa sampahnya semua ke TPA karena pertimbangan biaya operasional dan biaya transportasi pengangkutan sampah yang belum memadai. 9. Pengolahan sampah di sumber pun masih sedikit sehingga sampah sebagian besar masih diangkut ke TPA tanpa pengolahan terlebih dahulu. Navigat Organic Energy Indonesia (NOEI). Dirjen Cipta Karya. NOEI telah berhasil menjual listrik yang dihasilkan kepada PT. biaya operasional dan biaya pemeliharaan. 2. seperti dalam tabel berikut : No 1. PLN dengan kisaran 0. 2012 . BPKS. 4. yang dituangkan dalam skema public private partnership (PPP). 8. 6. kantor). Diharapkan pasokan listrik ke PLN terus semakin meningkat dan pada Desember 2009 dapat mencapai 2-4 MW. PU sektoral sektoral sektoral Sumber : hasil analisis. Pemerintah Kab/Kota mempunyai kewajiban pembiayaan untuk operasional kelembagaan BPKS berdasarkan cost-sharing masing-masing pemda Sarbagita.

“Development of Waste Management Practices in Indonesia” 2010 − Enri Damanhuri. David (2006). Jika ketiga konsep ini dikombinasikan dengan tetap memperhatikan kearifan lokal di Bali. “Sustainable Infrastructure in Asia”. CSIRO Sustainability Newsletter No 62.au/susnetnl/netwl62E. Sehingga masih perlu dilakukan usaha untuk pengurangan sampah di sumber. 2006 − Ness. 2009 − Meidiana Christia. ‘Sustainable infrastructure: transport. dll. khususnya pengelolaan sampah dapat terselesaikan dan secara umum mampu menciptakan ruang yang lebih baik dan layak huni bagi masyarakatnya. energy and water – doing more with less by applying eco-efficiency principles’. 2003 − Strong W. Alan and Hemphill A. Paper for UNESCAP Seoul Forum on Green Growth. Hal ini bisa dikombinasikan dengan konsep waste fees system. polusi. salah satu permasalahan perkotaan Sarbagita.bml.pdf A sian Development Bank. “Diktat Kuliah : Pengelolaan Sampah”. funds for development. Referensi − Kurniawan. dan dispose. 201 − http://www. Pengelolaan sampah di Sarbagita jika dipandang dari 3 konsep manajemen limbah padat yang berkelanjutan masih terkonsentrasi pada usaha reuse. recycle. − Sutanto. Lesley. Seperti tersedianya peraturan daerah yang mencakup pengaturan sampah dan sektor lainnya secara terpadu seperti usaha penanggulangan limbah cair. “Manajemen Kota Berkelanjutan di Indonesia : Indikator dalam Upaya Pengembangan Kebijakan Kota yang Berkelanjutan Oleh Pemerintah Kota di Indonesia”. 2011 .Untuk keberlanjutan usaha pengelolaan sampah di Sarbagita perlu dilakukan usaha-usaha pemenuhan indikator lainnya. Teguh. Bambang. 6. Selain itu juga terdapat kerangka yang jelas dalam pengelolaan sampah mulai dari sumber sampai ke tempat pengelohan akhir. 2006 − Economic and Social Commissions For Asia and The Pacific. “Sustainable Development Policy Directory”. “Memacu Infrastruktur di Tengah Krisis”.csiro.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful