Pengelolaan Sampah Terpadu Berbasis Masyarakat

Penanganan Sampah untuk Menuju Kota Bersih dan Sehat

Assalamualaikum Wr. Wb. Pertama-tama, marilah kita ucapkan puji syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa karena atas rahmatnya kita semua dapat berkumpul di sini. Hadirin yang saya hormati, pada kesempatan kali ini saya akan berpidato mengenai banjir di Jakarta. Seperti yang kita ketahui, banjir di ibu kota memang kerap kali terjadi, bahkan ada banjir tahunan yang sudah pasti terjadi, dan tentu saja lokasi yang terkena bencana banjir pun masih yang itu-itu saja. Tak dapat dipungkiri, wilayah Jakarta yang termasuk ke dalam dataran rendah memang meningkatkan potensi terjadinya banjir, entah banjir karena air pasang laut, atau pun banjir kiriman dari dataran yang lebih tinggi, seperti daerah puncak. Walau demikian, banjir yang terjadi tak hanya disebabkan oleh faktor alam, melainkan karena faktor manusia juga. Perilaku masyarakat Jakarta yang suka membuang sampah sembarangan mengakibatkan penumpukan sampah di mana-mana, mulai dari kali sampai jalanan. Juga pendirian rumah-rumah dibantaran kali yang mengakibatkan semakin kecilnya volume kali. Belum lagi pembangunan perumahan dan gedung-gedung yang tidak memperhatikan lingkungan, pembuangan limbah pabrik ke kali, serta eksploitasi terhadap air tanah yang berlebihan yang mengakibatkan semakin rendahnya dataran Jakarta. Akibat dari perilaku-perilaku tersebut adalah banjir yang kita alami. Banjir memiliki banyak dampak yang sangat merugian masyarakat, sementara banjir itu sendiri bukanlah hal yang mudah untuk ditanggulangi. Oleh karena itu mari kita lakukan upaya pencegahan terhadap banjir yang dapat dimulai dari hal-hal kecil dan dari diri sendiri, seperti membuang sampah pada tempatnya. Ingat, bahwa satu perubahan kecil memang tidak akan berarti apa-apa, tapi jutaan perubahan kecil akan memberi hasil yang menakjubkan. Sekian pidato yang dapat saya sampaikan, mohon maaf atas kekurangannya, dan terima kasih atas perhatiannya. Pengelolaan Sampah Terpadu Berbasis Masyarakat OPINI | 27 November 2010 | 23:16 691 7 1 dari 2 Kompasianer menilai Bermanfaat

Pola Se-Desentralisasi dalam Kelola Sampah (Konsep Bersih Mandiri)

desentralisasi serta sentralisasi-desentralisasi. Namun pada pola pengelolaan sampah yang baik bukan bentuk sentralisasi dan juga bukan desentralisasi (karena masyarakat belum terpola dalam mengelola sampah). Pemberdayaan TPS perlu ditingkatkan dengan pembuatan IPSO disana untuk mendampingi pengelolaan di tiap rumah tangga. Pada fase awal di tingkat rumah tangga setidaknya diupayakan untuk mengolah sampah organik menjadi kompos dan sampah anorganik dipilah serta dikumpul menurut jenisnya sehingga memungkinkan untuk di daur-ulang. masyarakat dengan bimbingan pemerintah membentuk Instalasi Pengelolaan Sampah Organik (IPSO) disetiap sumber sampah yang dominan (tahap awal) lalu pemerintah membentuk Industri Daur Ulang Sampah semacam Instalasi Pengelolaan Sampah Kota (IPSK) untuk menunjang dan membantu pemasaran dari IPSO yang telah didirikan oleh kelompok usaha bersama (KUB) oleh masyarakat.pasar tradisional/mall. Hasil . sebagaimana amanat UU. dll). merancang master plan pengelolaan sampah berbasis komunal. Pada umumnya proses pengelolaan sampah dengan basis komunal dari beberapa tahapan proses. antara lain : 1. Seharusnya pemda Kab/Kota persegera merealisir dengan “tegas dan disiplin”. (lihat gambar dibawah ini. membuat atau merevisi perda.Melalui UU No. Bentuk pengelolaan sampah yang kebanyakan dilaksanakan di Indonesia adalah pola sentralisasi. Berpijak dari kondisi yang ada.18/2008 Tentang Pengelolaan Sampah). dengan pelaksanaan system open dumping di TPA (pola ini harus ditinggalkan paling lambat tahun 2013. 2. misalnya sampah B3 (beracun. dipilah dan diproses tahap awal mulai dari tempat timbulan sampah itu sendiri (dalam hal ini mayoritas adalah lingkungan rumah tangga). Dalam pengelolaan sampah kota setidaknya dikenal ada tiga bentuk. Mengupayakan agar sampah dikelola. jadi yang ideal saat ini adalah bentuk atau pola sentralisasi-desentralisasi (se-Desentralisasi). ini kami sebut sebagai pola komunal atau “konsep bersih mandiri” dalam mensiasati problem persampahan di Indonesia. untuk memecahkan masalah sampah harus melihat pola penanganan yang ada saat ini. 18 Tahun 2008 tentang Pengelolaan Sampah. mengamanatkan untuk mengelola sampah ditingkat hulu>produsen sampah (masyarakat. Upaya ini setidaknya dapat mengurangi timbulan sampah yang harus dikumpulkan dan diangkut ke TPS sehingga bebannya menjadi berkurang. yaitu sentralisasi. kawasan industri. bagan alir solusi sampah) Penanganan Sampah dengan Peran Aktif Masyarakat Masalah sampah di berbagai kota di Indonesia dapat dipecahkan dengan baik apabila peran aktif masyarakat meningkat. Dengan demikian pada titik mana dari mata rantai pembuangan sampah tersebut dapat dilakukan perbaikan dan penyempurnaan sehingga sampah yang masuk ke TPA pada akhirnya hanya berupa sampah yang benar-benar tidak dapat diolah kembali. berbau dan berbahaya) yang langsung masuk ke pembakaran sampah (insenerator) yang ada di TPA.

karena pupuknya yang berbasis sampah kota dapat dengan mudah diperoleh (sustainable). seperti selama ini yang dilakukan pemerintah (akan terjadi pemubadziran anggaran saja) tapi dengan mengelola kebersihan untuk dijadikan sarana dan prasarana pupuk dan pemupukan agar tanaman menjadi hijau. 3.pengamatan kondisi TPS di beberapa kab/kota di Indonesia diketahui bahwa masing-masing sampah anorganik sangat memiliki nilai ekonomi. Sesungguhnya inilah inti dari program progreen. 4. Tahapan selanjutnya adalah pengolahan sampah yang tidak memungkinkan untuk diolah di setiap lingkungan rumah tangga yang mempunyai TPS. masyarakat tentu akan peduli menanam pohon dan tidak terlalu susah memeliharanya. Substansi Program Pro Green Secara holistic dalam mensukseskan program progreen. Menjadikan sampah organik dan anorganik yang tersisa dari pengelolaan di tingkat komunal menjadi bahan baku bahan pembangkit listrik dan biogas berbasis sampah kota. Cara penanganan seperti ini sebenarnya bertujuan untuk : 1. yang akhirnya akan memandirikan masyarakat dalam mengelola sampahnya sendiri. Yang melibatkan langsung masyarakat sebagai pengelola plus (pemilik home industri). Pada fase ini barulah proses penimbunan atau pembakaran sampah akhir dapat dilakukan dengan menggunakan incinerator. Berdasarkan tahapan proses di atas kunci penanganan sampah berbasis masyarakat (komunal) ini sebenarnya terletak pada rantai proses di tingkat rumah tangga dan di tingkat kelurahan/desa (yaitu di TPS). Bukan hanya menanam pohon saja. Diharapkan dengan pola komunal ini. 2. haruslah dimulai dengan program bersih lingkungan dengan mengelola sampah dengan bijaksana. 5. 4. bahan daur ulang dan sampah yang tidak dapat diolah lagi. Semakin sadar masyarakat dan pemerintah akan pentingnya kebersihan lingkungan akan semakin mudah . Tanpa system komunal ini mustahil sampah dapat diatasi dengan tuntas atau berkelanjutan (sustainable). 3. tentu didalanmnya akan tercipta sebuah proses kreatifitas dan aktivitas di tingkat masyarakat komunal (tercipta kemandirian). TPS yang ada dengan menggunakan pendekatan ini kemudian diubah fungsinya menjadi semacam pabrik pengolahan sampah terpadu. yang produk hasil olahnya adalah kompos. Implementasi model ini tergantung sikap dan kemauan keras pemerintah untuk meninggalkan cara lama dalam menangani persampahan di kab/kota di Indonesia serta dukungan serius dari masyarakat selaku produsen sampah dalam memperlakukan sampahnya sendiri. sampah yang tidak dapat didaur ulang atau tidak dapat dimanfaatkan lagi di TPS sekitar 10-20% sampah menuju TPA. Program pengelolaan sampah berbasis komunal ini secara pasti akan memotong mata rantai distribusi sampah dari TPS ke TPA. Menciptakan usaha baru di tingkat masyarakat. Membudayakan cara pembuangan sampah yang baik mulai dari lingkungan rumah tangga hingga ke TPS dengan menggunakan kresek/box sampah. Menata TPS menjadi pusat pemanfaatan sampah organik dan anorganik secara maksimal. Tahapan akhir adalah pengangkutan sisa akhir sampah.

Hirarki pengelolaan sampah tersebut bertujuan untuk mendorong produk kebijakan. bukan saja menekan jumlah timbulan sampah sedemikian drastis tetapi juga mampu menyelamatkan energi yang dibutuhkan dalam proses produksi barang yang kita butuhkan. Disamping itu. Kalau mau melihat lebih jauh ke depan lagi. .proses ini dapat dilaksanakan. dompet kita tetap tebal :nyengir2. Hirarki paling atas mendorong kita untuk sedapat mungkin mencegah timbulan sampah. Dengan melakukan perawatan maka kualitas produk atau barang kita menjadi semakin lama sehingga kita didorong untuk tidak membeli barang atau produk baru dikarenakan karena keteledoran kita. ada satu hirarki sebentuk piramida yang dapat membantu kita dalam upaya menyelesaikan persoalan sampah. pemerintah Kab/Kota harus mengikutinya dengan jalan membuat atau merevisi perda tentang pengelolaan sampah ini yang sifatnya lebih tegas dengan bernapas pada kedua undang-undang tersebut diatas. Mengharuskan kita untuk berhemat sebanyak mungkin terhadap setiap kegiatan yang dapat menimbulkan sampah. Hirarki yang letaknya di paling atas merupakan upaya yang menjadi target utama. teknologi dan karakter masyarakat yang dapat meminimumkan jumlah timbulan sampah dengan cara-cara yang ramah lingkungan –seminimal mungkin menghasilkan dampak terhadap lingkungan-. apakah itu mungkin dilakukan ditengah derasnya iklan dan pemasaran yang merangsang hati diri kita untuk sebuah produk. Untuk itu peran pemerintah.No. Sukses program progreen Indonesia. mau tak mau kita dituntut untuk mengarah kesana. dilakukan dengan cara menghentikan budaya konsumtif. LSM serta peran dunia usaha dalam mensosialisasikan hal ini serta harus didukung dengan penerapan dengan tegas dan bijak UU. Pertanyaannya. Hirarki pengelolaan sampah merupakan kondisi ideal berisi alternatif upaya. Pilihan kedua yaitu bagaimana meminimumkan jumlah timbulan sampah dengan cara melakukan perawatan secara rutin atas produk/barang yang kita miliki sehingga dapat memperpanjang umur dari sebuah produk. kita dapat menjaga dan menjamin agar lingkungan hidup yang berkelanjutan. Ini merupakan upaya yang sifatnya sangat radikal. pada akhirnya akan menentukan keberhasilan dalam penanggulangan masalah sampah khususnya di perkotaan dan termasuk pula mengantisipasi limbah pertanian dipedesaan. meminimalkan timbulan polusi udara dan ngirit. juga didalamnya akan tercipta sumber PAD baru bagi daerah itu sendiri. menyelamatkan rusaknya sumber daya alam yang menjadi bahan baku dalam proses produksi.32 Tahun 2009 Tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup. Namun. demi menuju hijaunya Indonesia. Banyak keuntungan dari upaya ini. 18 Tahun 2008 Tentang Pengelolaan Sampah serta UU. Piramida pengelolaan sampah terpadu ampah.

namun hal ini masih menjadi perdebatan panjang karena sampai saat ini masih belum ada teknologi incinerator yang dapat menjamin tidak menimbulkan dampak negatif bagi lingkungannya. 2008) I. Keseimbangan dampak positif pemanfaatan sumber daya alam dan dampak negatifnya bagi kesejahteraan manusia sangat dipengaruhi oleh penggunaan teknologi yang digunakan mengeksplorasi sumber daya alam. contohnya adalah dengan mengembangkan teknologi pembakaran sampah (incinerator) yang ramah terhadap lingkungan.Pilihan ketiga yaitu melakukan reuse. serta daya asimilasi atau daya dukung lingkungan. artinya limbah yang dihasilkan ditimbun dalam tempat dengan lapisan khusus sehingga tidak menimbulkan pencemaran bagi air tanah. misalnya menyumbangkan barang bekas yang masih bisa dipakai kepada mereka yang lebih membutuhkan atau mengambil barang yang tidak pernah digunakan oleh orang lain -nah kalau yang ini :dada. Detil pengelolaan menggunakan sistem sanitary landfill tidak saya jelaskan dalam tulisan ini. Contohnya adalah dengan melakukan pengomposan sampah organik. Pilihan pertama sampai dengan keempat merupakan sebuah keharusan yang mutlak diupayakan dalam melakukan pengelolaan sampah secara terpadu. daur ulang kertas bekas dan lainnya. Bagaimana membuat barang yang sudah tidak terpakai lagi menjadi produk baru yang dapat digunakan kembali untuk menunjang kebutuhan hidup manusia. biarlah saya saja yang melakukan:H-. karena hal ini bukan mulung tapi maling. SISTEM PENGELOLAAN SAMPAH TERPADU MUKTI AJI (Maret. itupun tidak menggunakan sistem sanitary landfill namun ditimbun begitu saja. mengolah buangannya. :aha) yaitu dengan cara memakai ulang barang yang masih bisa pakai. Pilihan yang terakhir adalah dengan melakukan pembuangan secara terkontrol (sanitary landfill). Pilihan keempat yaitu melakukan daur ulang. PENDAHULUAN Pada dasarnya apa yang dilakukan manusia adalah memanfaatkan sumberdaya alam yang berasal dari lingkungan. serta mengembalikan hasil aktifitas berupa buangan (waste) kembali ke lingkungan. Pilihan kelima yaitu denga mengubah timbulan sampah yang ada menjadi sumber energi terbarui. karena terlalu panjang ~malu . daur ulang plastik bekas. Berbicara tentang perkotaan di Indonesia sebenarnya sudah menerapkan piramida ini namun piramidanya dibalik. selain itu dalam jangka waktu tertentu sampah ditimbun dengan tanah untuk meminimalkan polusi udara. menjadi pemulung budiman. Meningkatnya aktivitas perkotaan seiring dengan laju pertumbuhan ekonomi masyarakat yang kemudian diikuti dengan tingginya laju pertumbuhan penduduk akan semakin terasa dampaknya . sehingga pencegahan atas kerusakan sumber daya alam untuk keberlanjutan kehidupan di masa depan dapat mewujud.

kimia maupun biologis sedemikian hingga tuntas penyelesaian seluruh proses. Di Era Globalisasi. Manusia sesuai kodratnya diberikan kelebihan ilmu pengetahuan yang secara alami (instinctive) dapat muncul dengan sendirinya tergantung kepada kepekaan dalam menanggapi atau pun membaca fenomena alam dan kemudian menerjemahkan ke dalam dunia nyata sebagai tindakan nyata manusia. umumnya melibatkan sejumlah tenaga yang mengumpulkan sampah setiap periode waktu tertentu. Untuk melakukan pengumpulan. sejahtera. 3. peti kemas sampah. Aboejoewono (1985) menggambarkan secara sederhana tahapan-tahapan dari proses kegiatan dalam pengelolaan sampah sebagai berikut : 1. bak sampah. 2. Secara umum pengelolaan sampah di perkotaan dilakukan melalui 3 tahapan kegiatan. Penurunan kualitas lingkungan secara terus menerus menyudutkan masyarakat pada permasalahan degradasi lingkungan. dan berkelanjutan. Budaya konsumerisme masyarakat saat ini mempunyai andil besar dalam peningkatan jenis dan kualitas sampah. . yakni : pengumpulan. terutama di kawasan perkotaan. Pada tahap pembuangan akhir/pengolahan. Pada tahapan ini digunakan sarana bantuan berupa tong sampah. para pelaku usaha dan pebisnis bersaing sekeras mungkin untuk memasarkan produknya. Pengumpulan diartikan sebagai pengelolaan sampah dari tempat asalnya sampai ke tempat pembuangan sementara sebelum menuju tahapan berikutnya. Salah satu permasalahan lingkungan yang berkaitan erat dengan pelayanan publik di wilayah perkotaan adalah pengelolaan sampah. kepedulian masyarakat (human behaviour) yang masih sangat rendah serta masalah pada kegiatan pembuangan akhir sampah (final disposal) yang selalu menimbulkan permasalahan tersendiri. Manusia selalu diuji kepekaannya dalam menanggapi tanda-tanda alam. Volume sampah yang meningkat dengan laju pertumbuhan eksponensial akan menghadapkan pada permasalahan kebutuhan lahan pembuangan sampah. Permasalahan-permasalahan tersebut meliputi tingginya laju timbulan sampah yang tinggi. mulai dari budaya yang hanya sekedar untuk mempertahankan hidup hingga budaya untuk membuat rekayasa menciptakan lingkungan hidup yang nyaman. sampah akan mengalami pemrosesan baik secara fisik. dewasa ini dihadapkan kepada berbagai permasalahan yang cukup kompleks. pengangkutan dan pembuangan akhir.terhadap lingkungan. Pengelolaan sampah. Tahapan pengangkutan dilakukan dengan menggunakan sarana bantuan berupa alat transportasi tertentu menuju ke tempat pembuangan akhir/pengolahan. tidak hanya itu tapi mereka memiliki strategi bisnis dengan mengemas produknya dengan kemasan yang menarik konsumen. serta semakin tingginya biaya pengelolaan sampah dan biaya-biaya lingkungan. untuk itu manusia selalu meningkatkan kemampuan budaya. gerobak dorong maupun tempat pembuangan sementara (TPS/Dipo). Pada tahapan ini juga melibatkan tenaga yang pada periode waktu tertentu mengangkut sampah dari tempat pembuangan sementara ke tempat pembuangan akhir (TPA). Bervariasinya kemasan produk tersebut menimbulkan peningkatan jenis dan kualitas sampah.

pengolahan dan pembuangan akhir (Kartikawan. pengumpulan sampah. bangunan umum. Berdasarkan komposisi kimianya.II. Penanganan di tempat (on site handling) Penanganan sampah pada sumbernya adalah semua perlakuan terhadap sampah yang dilakukan sebelum sampah di tempatkan di tempat pembuangan. Penanganan sampah ditempat. harus dilakukan dengan suatu studi. Tetapi untuk keperluan praktis.1993-03 tentang Spesifikasi timbulan sampah untuk kota kecil dan kota sedang. industri. Salah satunya adalah SK SNI S-04. Penimbulan sampah (solid waste generated) Dari definisinya dapat disimpulkan bahwa pada dasarnya sampah itu tidak diproduksi. Penelitian mengenai sampah padat di Indonesia menunjukkan bahwa 80% merupakan sampah organik. Secara garis besar. seringkali masih memiliki nilai ekonomis. Idealnya. Oleh karena itu dalam menentukan metode penanganan yang tepat. kantor. telah ditetapkan suatu standar yang disusun oleh Departemen Pekerjaan Umum. tetapi ditimbulkan (solid waste is generated. maka sampah dibagi menjadi sampah organik dan sampah anorganik.. dan diperkirakan 78% dari sampah tersebut dapat digunakan kembali (Outerbridge. Tujuan utama dan kegiatan di tahap ini adalah untuk mereduksi besarnya timbulan sampah (reduce) . transfer dan transport. Sumber sampah bisa bermacammacam. dapat memberikan pengaruh yang signifikan terhadap penanganan sampah pada tahap selanjutnya. ed. Pengelolaan sampah adalah semua kegiatan yang dilakukan dalam menangani sampah sejak ditimbulkan sampai dengan pembuangan akhir. TEKNIK PENGOLAHAN SAMPAH Sampah (refuse) adalah sebagian dari sesuatu yang tidak dipakai. not produced). 1991). 2.25 liter/orang/hari atau 0.8 kg/orang/hari.75-3. Kegiatan ini bertolak dari kondisi di mana suatu material yang sudah dibuang atau tidak dibutuhkan. yang umumnya berasal dari kegiatan yang dilakukan oleh manusia (termasuk kegiatan industri). Kegiatan pada tahap ini bervariasi menurut jenis sampahnya meliputi pemilahan (shorting). dan jalan. warung. diantaranya adalah : dari rumah tangga. 2007) sebagai berikut : 1. tidak disenangi atau sesuatu yang harus dibuang. 1990). penentuan besarnya timbulan sampah sangat ditentukan oleh jumlah pelaku dan jenis dan kegiatannya. kegiatan di dalam pengelolaan sampah meliputi pengendalian timbulan sampah. pemanfaatan kembali (reuse) dan daur ulang (recycle). Dimana besarnya timbulan sampah untuk kota sedang adalah sebesar 2. tetapi bukan biologis (karena human wastetidak termasuk didalamnya) dan umumnya bersifat padat (Azwar.7-0. pasar. untuk mengetahui besarnya timbulan sampah yang terjadi.

Pembakaran (incinerate). Kompos adalah pupuk alami (organik) yang terbuat dari bahan . Pembuatan kompos (composting). d. Pengangkutan (transfer and transport) Adalah kegiatan pemindahan sampah dan TPS menuju lokasi pembuangan pengolahan sampah atau lokasi pembuangan akhir. Teknik ini sangat berpotensi untuk menimbulkan gangguan terhadap lingkungan. meliputi pemisahan komponen sampah (shorting) dan pemadatan (compacting). 2004). Meski merupakan teknik yang efektif. sampah dapat diolah. Pengumpulan (collecting) Adalah kegiatan pengumpulan sampah dan sumbernya menuju ke lokasi TPS. tempat pembuatan maupun cara pembuatan dapat dilakukan oleh siapapun dan dimanapun. Pembuangan akhir Pada prinsipnya. c. merupakan teknik pengolahan sampah yang dapat mengubah sampah menjadi bentuk gas. di mana sampah yang ada hanya di tempatkan di tempat tertentu. 5. Hal ini disebabkan karena teknik tersebut sangat berpotensi untuk menimbulkan pencemaran udara.3. Energy recovery. Berbagai alternatif yang tersedia dalam pengolahan sampah. yang tujuannya adalah mempermudah penyimpanan dan pengangkutan. Umunmya dilakukan dengan menggunakan gerobak dorong dan rumah-rumah menuju ke lokasi TPS. Di mana pada lokasi TPA dilakukan kegiatan-kegiatan tertentu untuk mengolah timbunan sampah. 6. Transformasi fisik. misalnya kotoran ternak atau bila dipandang perlu.bahan hijauan dan bahan organik lain yang sengaja ditambahkan untuk mempercepat proses pembusukan. Metode ini telah banyak dikembangkan di Negara-negara maju yaitu pada instalasi yang cukup besar dengan kapasitas ± 300 ton/hari dapat dilengkapi dengan pembangkit listrik sehingga energi listrik (± 96. di antaranya adalah : a. yaitu tranformasi sampah menjadi energi. tetapi bukan merupakan teknik yang dianjurkan.000 MWH/tahun) yang dihasilkan dapat dimanfaatkan untuk menekan biaya proses pengelolaan. baik energi panas maupun energi listrik. disisi lain masyarakat tidak . Berbeda dengan proses pengolahan sampah yang lainnya. 4. hingga kapasitasnya tidak lagi memenuhi. sehingga volumenya dapat berkurang hingga 90-95%. b. maka pada proses pembuatan kompos baik bahan baku. pembuangan akhir sampah harus memenuhi syarat-syarat kesehatan dan kelestarian lingkungan. Teknik yang direkomendasikan adalah dengan sanitary landfill. Teknik yang saat ini dilakukan adalah dengan open dumping. Dewasa ini masalah sampah merupakan fenomena sosial yang perlu mendapat perhatian dari semua fihak. Pengolahan (treatment) Bergantung dari jenis dan komposisinya. bisa ditambahkan pupuk buatan pabrik. seperti urea (Wied. karena setiap manusia pasti memproduksi sampah.

. KERANGKA ANALISIS SISTEM PENGELOLAAN LINGKUNGAN Salah satu isu penting dalam globalisasi adalah masalah lingkungan. Seperti kita ketahui bersama bahwa sampah yang tidak ditangani dengan baik dapat menimbulkan berbagai dampak negatif pada lingkungan. Pembuangan akhir ke TPA dapat menimbulkan masalah. Kedudukan pemerintah sangat strategis dalam hal memberikan perlindungan terhadap lingkungan seperti pembuatan kebijakan serta berperan untuk memfasilitasi dan mendorong gerakan kepedulian terhadap lingkungan. 1997).Perlu lahan yang besar bagi tempat pembuangan akhir sehingga hanya cocok bagi kota yang masih mempunyai banyak lahan yang tidak terpakai. Keberadaan masyarakat juga sangat penting untuk turut serta berperan aktif menjaga. Karena segala dampak yang diakibatkan oleh lingkungan pihak masyarakatlah yang secara langsung merasakan. deklarasi tersebut tentang perlindungan lingkungan dalam pencegahan pencemaran dan ajakan dalam usaha koordinasi ke seluruh dunia lewat partisipasi global tidak hanya negara-negara maju tetapi juga negara-negara berkembang (Hadiwiardjo. bila kota menjadi semakin bertambah jumlah penduduknya. semua pihak mempunyai kewajiban untuk memberikan perlindungan terhadap lingkungan secara proporsional. maka sampah akan menjadi semakin bertambah baik jumlah dan jenisnya. Hal ini akan semakin bertambah juga luasan lahan bagi TPA. Beberapa permasalahan yang timbul dalam sistem penanganan sampah sistem yang terjadi selama ini adalah : a. sampah belum dipilah-pilah sehingga kalaupun akan diterapkan teknologi lanjutan berupa komposting maupun daur ulang perlu tenaga untuk pemilahan menurut jenisnya sesuai dengan yang dibutuhkan. penyebaran penyakit hingga terganggunya estetika lingkungan.ingin berdekatan dengan sampah. Oleh karena itu.Dapat menjadi lahan yang subur bagi pembiakan jenis-jenis bakteri serta bibit penyakit lain juga dapat menimbulkan bau tidak sedap yang dapat tercium dari puluhan bahkan ratusan meter yang pada akhirnya akan mengurangi nilai estetika dan keindahan lingkungan. dan hal ini akan memerlukan dana maupun menyita waktu. memelihara. b. Perlindungan lingkungan hidup adalah suatu masalah yang harus dipertimbangkan dari aspek global. Gangguan yang ditimbulkan meliputi bau. diantaranya : . Dari segi pengumpulan sampah dirasa kurang efisien karena mulai dari sumber sampah sampai ke tempat pembuangan akhir. III. . Masyarakat dunia telah bereaksi untuk turut serta memberikan kepedulian terhadap lingkungan melalui deklarasi yang dibuat oleh konferensi PBB di Stockholm pada bulan Juni 1972. dan melestarikan lingkungan.

yaitu : (1). Pemeriksaan dan tindakan koreksi. Seperti terlihat dalam gambar 1 sebagai berikut : . melaksanakan. Perencanaan. tanggung jawab. (5). prosedur. dan (6).Check . perencanaan.Action). proses dan sumber-sumber untuk mengembangkan. Kebijakan (dan komitmen) lingkungan. Penerapan dan Operasi. mereview dan memelihara kebijaksanaan lingkungan yang berprinsip pada aktivitas PDCA (Plan . sehingga elemenelemen utamaEMS akan mengikuti prinsip PDCA ini. (4).Menurut Kimberly (2002). mencapai. pelaksanaan. (2). (3).Do . Tinjauan manajemen. yang dikembangkan menjadi enam prinsip dasar EMS.Penyempurnaan menerus. Sistem Pengelolaan Lingkungan (Environmental Management System / EMS)adalah bagian dari keseluruhan sistem manajemen yang termasuk struktur organisasi.

Keberadaan subsistem air dengan kualitas tertentu sangat dibutuhkan oleh subsistem-subsistem lain. baik dalam sistem sosial maupun dalam sistem alami saling berinteraksi satu sama lain masing-masing membentuk subsistem-subsistem kecil dalam skala lokalitas yang saling mempengaruhi. Dalam hubungan antar unsur-unsur yang terkandung dalam sistem sosial maupun dalam sistem alam terdapat beberapa proses yang terjadi sebagai berikut : (1) Hubungan saling keterkaitan (interrelationships) Unsur-unsur yang terkandung. dan bukan yang mempunyai sifat dinamika tinggi. mengurangi/ menghilangkan keluhan masyarakat terhadap dampak lingkungan. Subsistem yang mempunyai sifat dinamika tinggi juga berinteraksi dengan subsistem dari ekosistem lain melalui proses aliran energi dan materi dan melalui tukar-menukar ataupun perkawinan.Gambar 1. Implementasi dari sistem pengelolaan lingkungan sebagai langkah dan strategi pengendalian penurunan(degradasi) kualitas lingkungan mendasarkan pada 3 unsur pokok atau sering disebut sebagai segitiga emas(golden triangle) yaitu unsur : EKONOMI. materi. Elemen utama Sistem Pengelolaan Lingkungan Manfaat dari EMS diantaranya adalah untuk : meningkatkan kinerja lingkungan. subsistem yang tidak banyak bergerak pun mempunyai hubungan saling ketergantungan. EKOLOGI dan MASYARAKAT (Gunawan. namun juga saling ketergantungan antar subsistem. (3) Aliran energi. dan informasi . (2) Hubungan saling ketergantungan (independency) Hubungan tersebut tidak hanya terbatas pada saling keterkaitan. 2007). mencegah polusi dan melindungi sumber daya alam dan secara umum mampu mengurangi resiko.

sistem manajemen lingkungan harus mencakup beberapa unsur utama sebagai berikut (Kimberly. Oleh karena itu penanganan sampah di perkotaan relatif lebih sulit dibanding sampah di desa-desa. air dan udara. Implementasi : mencakup struktur organisasi. dan lain- . Oleh karena itu untuk mengatasi masalah pencemaran tersebut diperlukan penanganan dan pengendalian terhadap sampah. Penanganan dan pengendalian akan menjadi semakin kompleks dan rumit dengan semakin kompleksnya jenis maupun komposisi dari sampah sejalan dengan semakin majunya kebudayaan.kemudian mampu mengadakan seleksi atau mencoba dengan cara adaptasi. komunikasi. training. (4) Proses Seleksi dan Adaptasi Manusia dalam menghadapi kondisi lingkungan sejak zaman dulu hingga sekarang bersifat dinamik mengikuti kemajuan budaya dan teknologi yang dikuasai. dokumentasi. kontrol dan tanggap darurat. b. Kajian manajemen : kajian tentang kesesuaian daan efektivitas sistem untuk mencapai tujuan dan perubahan yang terjadi diluar organisasi (Bratasida. pengukuran dan audit. SISTEM PENGEOLAAN SAMPAH TERPADU SEBAGAI IMPLEMENTASI DARI SISTEM PENGELOLAAN LINGKUNGAN Sampah dan pengelolaannya kini menjadi masalah yang kian mendesak di kota-kota di Indonesia. d. industri. IV. Pemeriksaan reguler dan Tindakan perbaikan : mencakup pemantauan. sebab apabila tidak dilakukan penanganan yang baik akan mengakibatkan terjadinya perubahan keseimbangan lingkungan yang merugikan atau tidak diharapkan sehingga dapat mencemari lingkungan baik terhadap tanah. 1996). 2002) : a. pasar. institusi. Kebijakan Lingkungan : pernyataan tentang maksud kegiatan manajemen lingkungan dan prinsip-prinsip yang digunakan untuk mencapainya. Hasil peningkatan budaya untuk memperbaiki sistem pengelolaan lingkungan meningkatkan informasi begitu terus sistem peningkatan budaya sehingga terbentuk aliran informasi (perbaikan budaya sistem usaha).Hasil pengelolaan sumberdaya ekosistem menghasilkan materi dan energi yang akhirnya kembali lagi ke manusia sebagai hasil pemanenan. mulai dari penghasil sampah (seperti rumah tangga. c. penentuan tujuan pencapaian dan program pengelolaan lingkungan. Pada awalnya manusia sangat tergantung pada kondisi fisik lingkungannya. wewenang dan tanggung jawab. Masalah sampah sebenarnya tidak melulu terkait dengan TPA. e. Perencanaan : mencakup identifikasi aspek lingkungan dan persyaratan peraturan lingkungan hidup yang bersesuaian. Agar dapat dilaksanakan secara efektif. seperti yang terjadi selama ini karena sistem manajemen sampah merupakan sistem yang terkait dengan dengan banyak pihak.

menajemen keuangan. . seperti aspek ekonomi. partisipasi masyarakat. Hal ini penting karena pada hakikatnya pada timbunan sampah itu kadang-kadang masih mengandung komponen-komponen yang sangat bermanfaat dan memiliki nilai ekonomi tinggi namun karena tercampur secara acak maka nilai ekonominya hilang dan bahkan sebaliknya malah menimbulkan bencana yang dapat membahayakan lingkungan hidup. Sejalan dengan prinsip yang ada dalam sistem manajemen lingkungan (Environmental Management System / EMS) Wilayah cakupan sistem pengelolaan sampah terpadu ini mempunyai prinsip yang secara umum dapat dirumuskan (Pasang. Perumusan Kebijakan dan Manajemen Pada wilayah ini mencakup beberapa aspek kegiatan yaitu : perencanaan strategis. sosial dan institusi. sektor informal. serta memberi peluang bagi semua pemangku kepentingan yang terlibat dalam proses perencanaan dan pengambilan keputusan (Damanhuri. serta penelitian dan pengembangan (termasuk di dalamnya pemeriksaan dan tindakan perbaikan). 1988). peningkatan aspek ekonomi yang mencakup upaya meningkatkan retribusi sampah dan mengurangi beban pendanaan pemerintah serta peningkatan aspek legal dalam pengelolaan sampah. Dalam sistem tersebut harus dapat melayani seluruh penduduk. peningkatan peran serta dari lembaga-lembaga yang terkait dalam meningkatkan efisiensi dan efektivitas pengelolaan sampah. Sistem Pengelolaan Sampah Terpadu adalah sistem manajemen yang mengintegrasikan aspek perencanaan pengelolaan sampah dengan pembangunan perkotaan. Untuk itu perlu dilakukan usaha untuk mengubah cara pandang “sampah dari bencanamenjadi berkah” (Murtadho dan Said. Sistem manajemen persampahan yang dikembangkan harus merupakan sistem manajemen yang berbasis pada masyarakat yang dimulai dari pengelolaan sampah di tingkat rumah tangga (Hadiwiardjo. kerangka peraturan dan kebijakan. meningkatkan standar kesehatan masyarakat dan memberikan peluang bagi masyarakat dan pihak swasta untuk berpartisipasi aktif. maupun masyarakat yang terkena dampak pengelolaan sampah tersebut sehingga penyelesaiannya pun membutuhkan keterlibatan semua pihak terkait dan beragam pendekatan. 2007). Para pemulung dapat ditingkatkan harkat dan martabatnya menjadi mitra tetap pada industri kecil pengolah bahan sampah menjadi bahan baku. Pendekatan yang digunakan dalam konsep rencana pengelolaan sampah ini adalah “meningkatkan sistem pengelolaan sampah yang dapat memenuhi tuntutan dalam paradigma baru pengelolaan sampah”. pengelola (dan kontraktor). mempertimbangkan semua aspek terkait. Konsep rencana pengelolaan sampah perlu dibuat dengan tujuan untuk mengembangkan suatu sistem pengelolaan sampah yang modern. Dalam rencana pengelolaan sampah perlu adanya metode pengolahan sampah yang lebih baik.lain). meningkatkan pemberdayaan masyarakat. politik. 2005) sebagai berikut : 1. pembuat peraturan. dapat diandalkan dan efisien dengan tehnologi yang ramah lingkungan. Perencanaan. lingkungan. 1997). pengembangan kapasitas institusi. Dana untuk membayar imbalan dari para pegawai/petugas yang terlibat dalam kebersihan kota dapat diperoleh dari : iuran warga (retribusi tetap dilakukan) ditambah dari hasil keuntungan dari pemrosesan bahan sampah. keuangan dan aspek teknis secara simultan.

reduce). meliputi : 1. Program Jangka Pendek (tahunan).Pembangunan incinerator skala kecil di kelurahan-kelurahan. pendaur ulang (pemulung. meliputi : . .Pengembangan program 3R (reuse. b. organisasi). recycle.Pengolahan sampah terpadu dengan pendekatan zero waste. Program Jangka Menengah (3 tahunan). 3. dan 4. penyedia layanan kebersihan (RT/RW. pemilik lapak dan pabrik pengguna bahan daur ulang). perusahaan swasta). . Secara riil pada aspek ini dapat dirumuskan program kerja yang akan dilaksanakan seperti : a. . . . Pembangunan unit pengolahan sampah dengan sistem pirolisis. industri. .Penyusunan studi paradigma baru pengelolaan sampah dari cost center menjadi profit center. 2.Pelaksanaan kerjasama dengan pihak swasta. tapi menjadi urusan dan kepentingan semua pihak.Pemain dan partner dalam pengelolaan sampah. dan produsen dan pengguna pupuk kompos. Pembangunan TPA dengan sistem sanitary landfill. membuat masalah sampah bukan hanya menjadi urusan Dinas Kebersihan atau instansi lainnya di daerah. dan .meliputi : .Pelaksanaan program sinergis sampah dan pasir.Pelaksanaan pemilahan sampah di dalam kawasan atau tempat penampungan sementara (TPS).Pembangunan calon TPA sebagai lokasi pengolahan sampah dengan tehnologi tinggi yang dlengkapi dengan sistem sanitary lanfill. . Pembangunan unit pengolahan sampah dengan sistem ATAD. . pemerintah.Pelaksanaan kerjasama dengan pihak swasta lainnya dengan penekanan kepada tehnologi yang mengolah sampah organik dan pembangunan unit-unit daur ulang. pasar. mulai dari pengguna jasa (rumah tangga. .Pembangunan prasarana guna mengamankan lokasi calon TPA baru.Optimalisasi pengoperasian TPA dan pembangunan TPA baru bila dibutuhkan. Pembangunan unit pengolahan sampah dengan sistem biomass product.

dan .Pelaksanaan kampanye massal mengenai 3R (reuse.Pengembangan korporasi pengolahan sampah dan kerjasama antar daerah yang lebih luas. . reuse and recycle) adalah target pertama yang dapat ditempuh.Pengembangan incinerator skala besar. Sosialisasi konsep 3R (reduce. . Program Jangka Panjang (5 tahunan). dan 2. Diperlukan kampanye sadar kebersihan untuk mendorong masyarakat agar mau mengumpulkan sampah di tempatnya.Pengembangan home composting di masyarakat. . recycle dan reduce) kepada masyarakat. . .Pelaksanaan penegakan hukum secara tegas terhadap pelanggaran-pelanggaran kebersihan. perlu diciptakan iklim yang kondusif untuk menunjang peran serta masyarakat dan swasta.Pelaksanaan restrukturisasi instansi teknis pengelola sampah. c. .Pengembangan kampanye massal mengenai 3R(reuse. .Penyusunan dan sosialisasi perangkat-perangkat hukum yang berkaitan dengan tata cara pengelolaan kebersihan.Pelaksanaan evaluasi total terhadap sistem pengelolaan retribusi sampah dalam rangka meningkatkan perolehan retribusi.Pelaksanaan pemilahan sampah sejak di sumber sampah. bukan membuang sampah di tempatnya.Pelaksanaan evaluasi terhadap kelembagaan instansi teknis pengelola sampah.Pendirian korporasi pengelola sampah antar daerah. meliputi : .Pelaksanaan evaluasi masterplan sampah pada daerah yang lebih luas/regional .. . Produksi Untuk memenuhi target kebutuhan pelayanan pengelolaan sampah yang memadai pada masyarakat. recycle dan reduce) kepada masyarakat. . .

Sedangkan sampah organik disatukan untuk kemudian dikomposkan untuk digunakan sebagai pupuk pertanian. Masing-masing diisi oleh sampah organik. seperti pemilahan sarnpah dan pengemasan sampah dengan benar. Idealnya setiap TPA harus memiliki jembatan timbang untuk memonitor laju timbulan sampah yang sebenarnya. Penanganan sampah Menurut Daniel. tempat pembuangan terisolasi. anorganik yang dapat didaur ulang.Konsep ini mendorong masyarakat untuk melakukan penanganan sampah di sumbernya. tempat pembuangan terkontrol. diharapkan dapat dicapai perubahan orientasi pelayanan dan kegiatan pengelolaan persampahan. Lebih lanjut. 3. bisa terdiri dari 1 kecamatan atau beberapa kecamatan. dibagi menjadi tempat pembuangan tipe aman. b. Sehingga kemudian dapat ditentukan jenis pengolahan sampah yang dibutuhkan. atau penggunaan kembali komponen-komponen sampah yang masih memiliki nilai ekonomi. Inventarisasi program dan data Membentuk suatu data base pengelolaan persampahan yang terpadu. Hal ini untuk memangkas jalur transportasi agar menjadi lebih efisien. misalnya pemulung. . Dan pola ini diharapkan akan didapatkan suatu solusi optimal yang transparan. Dilakukan dengan melakukan kajian yang mendalam tentang besarnya laju timbulan sampah yang terjadi sebagai dasar penentuan kebijakan pengelolaan sampah. Sampah plastik dikumpulkan kemudian dikirim ke industri yang mengolah sampah plastik. dapat diubah menjadi kegiatan yang berorientasi kepada kemandirian dalam melaksanakan kegiatan. Teknologi Pengolahan Sampah Terpadu menujuZero Waste harus merupakan teknologi yang ramah lingkungan. Industri pengolah bahan sampah menjadi bahan baku dibuat pada skala kawasan. Setiap rumah tangga memisahkan sampah mereka ke dalam tiga tempat (tong) sampah. Dalam jangka pendek. perlu dikaji lebih jauh komposisi dan karateristik sampah. perhitungan laju timbulan sampah dapat dilakukan dengan melakukan kerjasama dengan pihak dinas perhubungan dalam memanfaatkan jembatan timbang milik dinas perhubungan untuk memonitor sampah yang akan masuk ke TPA. Demikian halnya sampah kertas dikumpulkan kemudian dikirim ke industri pengolah kertas. Kendala-kendala pembiayaan dan teknologi yang ada. Untuk tempat pembuangan akhir. dkk (1985) langkah-langkah yang dapat dilaksanakan dalam penentuan strategi penanganan sampah adalah berikut : a. Lebih jauh hal ini dimaksudkan untuk mendorong penerapan konsep reuse. Penetapan Orientasi Pelayanan Dengan mengalihkan kegiatan pengelolaan sampah dan murni dilakukan pemerintah. kepada suatu badan pengelola yang dibentuk khusus untuk melaksanakan tugas tersebut. Pada tahap selanjutnya. Baik oleh sumber sampah ataupun oleh pihak lain.

belum adanya Undang – undang yang dipahami secara integral yaitu keterkaitannya dengan aspek lain seperti tata ruang. 1985). kesehatan. dan . DAFTAR PUSTAKA Aboejoewono. Transparansi (Transparency). sosial politik. ketenagakerjaan. Asrul. Regulasi pengelolaan sampah pun masih diatur secara parsial dan sektoral. pengelolaan sampah di Indonesia masih menggunakan paradigma lama: kumpul–angkut–buang. Kesetaraan dan Kemitraan(Equal Partnership). 1990. Demikian pula dengan jenis sampah sangat tergantung dengan material yang kita konsumsi. Pemberdayaan (Empowerment) dan Kerjasama (Cooperation). V. setiap aktifitas manusia pasti akan menyebabkan buangan atau sampah. teknologi dan lingkungan hidup.Kesetaraan Kewenangan (Sharing Power / Equal Powership). Pengelolaan Sampah Menuju ke Sanitasi Lingkungan Permasalahannya. tapi masih terbatas dan tidak sustainable. sehingga kebutuhan lahan untuk TPA dapat dibatasi dan kelestarian lingkungan dapat dijaga dan keberlanjutan dari lokasi dimaksud dapat dipertanggungjawabkan (Sidik dan Sutanto. Pembakaran sampah dengan insinerator pun dianggap hanya memindahkan masalah ke pencemaran udara. Pengantar Ilmu Kesehatan Lingkungan . Jakarta. Sistem pengelolaan sampah terpadu adalah sebuah sistem yang menerapkan prinsip dasar dari sistem manajemen lingkungan (Environmental Management System / EMS) akan dapat berjalan dengan baik jika mampu mengoptimalkan beberapa hal seperti :Keterlibatan stakeholders. Adanya sampah merupakan suatu konsekuensi dari aktifitas manusia. A. Wilayah DKI Jakarta Sebagai Suatu Kasus. Kesetaraan Tanggung Jawab (Sharing Responsibility).pembuangan sampah di TPA harus menggunakan metode sanitary landfill. Source reduction (reduksi mulai dari sumbernya) atau pemilahan sampah tidak pernah berjalan dengan baik. Meskipun telah ada upaya pengomposan dan daur ulang. investasi. 1985. peluang usaha . Jakarta. PENUTUP Sampai sekarang. Jumlah volume sampah akan berimbang dengan tingkat konsumsi kita terhadap material yang digunakan sehari hari. Oleh karena itu pengelolaan sampah tidak bisa lepas juga dari pengelolaan gaya hidup masyarakat. Azwar. Mutiara Sumber Widya. kemiskinan.

Bandung. Pendekatan ekosistem bentang lahan sebagai dasar pembangunan wilayah berbasis lingkungan. Jakarta. 2005. 1991. Pengelolaan Persampahan. Penanganan Pemanfaatan Limbah Padat. Yogyakarta.Bratasida. PPLH ITB. G. Jakarta. dan Vonny. S. Sarwono. Bambang. 1997. 1985. Bandung. Hasan. E. T.. Direktorat Riset Operasi Dan Manajemen. Herumartono. Sistem Manajemen Lingkungan di Damanhuri. Jakarta. A. Pengelolaan Sampah yang Regional dan Terintegrasi. Gunawan. Daniel. 2007. Pasang. J. Bogor. Thomas (ed). Kodrat.net. 1985. D. Murtadho. Lingkungan Hidup. Deputi Bidang Analisa Sistem Badan Pengkajian Dan Penerapan Teknologi. Hadiwiardjo. Haskarlianus. Pustaka Utama. S. 2007. 1988. Sistem Manajemen Lingkungan ISO 14001: makalah filsafat sains. B. Jakarta. Eri. P. Limbah Padat di Indonesia : Masalah atau Sumber Daya. http://www. Program Pasca Sarjana (S3) – IPB. Yayasan Obor Indonesia. H.BAPEDAL. Yogyakarta.Panduan Lingkungan. Prospek Pengembangan Indonesia. Kimberly F. Fakultas Geografi UGM. 2007. dan Sa’id. 1996. ISO 14001. M. Jakarta . D. Tehnologi Pemanfaatan Sampah Kota dan Peran Pemulung Sampah : Suatu Pendekatan Konseptual.. Sarana Perkasa. Outerbridge. Tekhnik Lingkungan ITB. dan Sutanto. Liana. Sidik. Sampah Indonesia .Tehnologi Pemusnahan Sampah denganIncinerator dan Landfill. T. Yudhi.Gramedia. Penerapan Sistem Manajemen Kartikawan. 2002.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful