STRATEGI PENGEMBANGAN INDUSTRI PERTAHANAN DALAM RANGKA MENDUKUNG KEMANDIRIAN ALAT UTAMA DAN SISTEM SENJATA (ALUTSISTA

)
Skripsi ini diajukan untuk melengkapi salah satu syarat menjadi Sarjana Teknik Program Studi Teknik Industri

Disusun Oleh : Nama Nomor Pokok : DEDEN EPENDI : 207. 415. 037

PROGRAM STUDI TEKNIK INDUSTRI (S-1) FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS PEMBANGUNAN NASIONAL “VETERAN” JAKARTA MEI, 2011

STRATEGI PENGEMBANGAN INDUSTRI PERTAHANAN DALAM RANGKA MENDUKUNG KEMANDIRIAN ALAT UTAMA DAN SISTEM SENJATA (ALUTSISTA)

Dipersiapkan dan disusun oleh : Nama Nomor Pokok : Deden Ependi : 207. 415. 037

Telah dipertahankan dihadapan komisi penguji jurusan Teknik Industri pada Tanggal 8 Juni 2011 dan dinyatakan telah memenuhi syarat untuk diterima

Persetujuan Komisi Penguji

No. 1. 2. 3.

Jabatan Ketua Anggota Anggota

Nama Ir. Sugeng Prayitno DR.Ir. Reda Rizal, M.Si Catur Kurniawan, S.Pd, MT

Tanda Tangan ........................ ........................ ........................

Jakarta,

Juni 2011

Universitas Pembangunan Nasional “Veteran” Jakarta Fakultas Teknik Industri Ketua Program Studi

(Ir. Sugeng Prayitno) iv

PERNYATAAN KEASLIAN SKRIPSI

Saya yang bertanda tangan di bawah ini menyatakan dengan sesungguhnya bahwa skripsi dengan judul :

STRATEGI PENGEMBANGAN INDUSTRI PERTAHANAN DALAM RANGKA MENDUKUNG KEMANDIRIAN ALAT UTAMA DAN SISTEM SENJATA (ALUTSISTA)

Yang dibuat untuk melengkapi persyaratan menjadi Sarjana Teknik pada Program Studi Teknik Industri Universitas Pembangunan Nasional “Veteran” Jakarta, sejauh yang saya ketahui bukan merupakan tiruan atau duplikasi dari skripsi yang sudah dipublikasikan atau pernah dipakai untuk mendapat gelar sarjana di lingkungan Universitas Pembangunan Nasional “Veteran” Jakarta maupun di perguruan tinggi atau instansi manapun, kecuali bagian yang sumber informasinya dicantumkan sebagaimana mestinya.

Jakarta,

Mei 2011

Deden Ependi Nomor Pokok : 207.415.037

ii

LEMBAR PERSETUJUAN

Telah diperiksa dan disetujui oleh Dosen Pembimbing Skripsi untuk diajukan Prasidang/Sidang

Nama

: Deden Ependi

Nomor Pokok : 207.415.037 Fakultas : Teknik

Program Studi : Teknik Industri Judul : Strategi Pengembangan Industri Pertahanan Dalam Rangka Mendukung Kemandirian Alat Utama dan Sistem Senjata (Alutsista) Jakarta, Mei 2011

Pembimbing

( Ir. Sulistiono, M.Sc)

Mengetahui : Kepala Program Studi

( Ir. Sugeng Prayitno)

iii

KATA PENGANTAR

Puji dan syukur kami panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa yang telah memberikan rahmat dan karunia serta berkat-Nya sehingga Skripsi yang berjudul“Strategi Pengembangan Industri Pertahanan Dalam Rangka Mendukung Kemandirian Alutsista” ini dapat kami selesaikan dengan baik. Skripsi ini merupakan salah satu syarat untuk menyelesaikan program Sarjana Strata-1 di Universitas Pembangunan Nasional “Veteran” Jakarta. Kami sungguhmenyadari bahwa banyak pihak yang telah turut serta dalam penyelesaian skripsi ini. Sebab tanpa bantuan banyak pihak, kami tidak akan dapat berbuat banyak dalam penyelesaian skripsi ini. Oleh karena itu pada kesempatan ini sudah selayaknya kami mengungkapkan terima kasih kami yang sebesar-besarnya kepada : 1. Bapak Ir. Sulistiyono, MSc selaku Dekan Fakultas Teknik UPN

“Veteran” Jakarta sekaligus pembimbing kami yang telah membimbing dan memberi masukan serta waktu luang yang diberikan dalam penyusunan Skripsi ini. 2. Ibu Ir. Lilik Zulaihah, M.Si selaku Wadek Fakultas Teknik UPN “Veteran” Jakarta 3. Bapak Ir. Sugeng Prayitno, selaku Ketua Program Studi Teknik Industri dan Pembimbing II yang telah memberikan dukungan dan fasilitas kepada kami sehingga Skripsi ini dapat diselesaikan dengan baik. 4. Prof. Dr. Ir. Eddy Sumarno Siradj, MSc selaku Kabalitbang Kemhan yang telah banyak membantu dan memberikan ijin serta fasilitas kepada kami dalam pengambilan data di Balitbang Kemhan.

v

5.

Brigjen TNI Slamet Hariyanto, Kapuslitbang Strahan Balitbang Kemhan sebagai pimpinan langsung yang telah memberikan arahan, petunjuk, moril dan materiil dalam penyusunan Skripsi ini.

6.

Para Dosen Pengajar Fakultas Teknik UPN “Veteran” Jakarta yang telah memberikan dorongan moril dalam rangka menyelesaikan studi di Fakultas Teknik Industri UPN “Veteran” Jakarta dan Staf Sekretariat.

7.

Orang Tua, Nining Suhartiningsih(Istri), Andini Pebrianti Nur Salehah dan Akhdan Yusron Khoeron (anak) tercinta yang telah memberikan doanya, semangat dan dukungan moril yang sangat penting bagi kamisehingga kami dengan bangga dapat menyelesaikan Skripsi ini.

8.

Terima kasih untuk semua yang tidak bisa kami sebutkan satupersatu, yang telah membantu kami dalam menyelesaikan Skripsi ini.

Kami menyadari dalam penulisan Skripsi ini masih banyak kekurangan mengingat keterbatasan pengetahuan dan kemampuan, kami mengharapkan saran dan kritik yang bersifat membangun sehingga tulisan ini dapat bermanfaat bagi pembaca dan juga semuanya.

Jakarta, Penulis,

2011

Deden Ependi Nomor Pokok : 207.415.037

DAFTAR ISI Halaman PERNYATAAN KEASLIAN SKRIPSI LEMBAR PERSETUJUAN
LEMBAR PERSETUJUAN KOMISI PENGUJI

ii iii
iv

KATA PENGANTAR DAFTAR ISI DAFTAR TABEL DAFTAR GAMBAR DAFTAR LAMPIRAN ABSTRAK

v vii x xi xii xiii

BAB I.

PENDAHULUAN 1.1.Latar Belakang 1.2.Identifikasi Masalah
1.3. Ruang Lingkup Masalah 1.4. Perumusan Masalah 1.5. Tujuan dan Kegunaan Penelitian

........................................... ........................................... ........................................... ........................................... ........................................... ...........................................

1 3 4 4 5 6

1.6. Sistematika Penulisan

BAB II.

LANDASAN TEORI 2.1.Konsep Pertahanan Negara 2.2.Kondisi Nyata Alutsista Saat ini 2.3.Konsep Awal Pendirian InduistriPertahanan vii ........................................... ........................................... ........................................... 8 21 24

2.4.Pembangunan Industri Pertahanan dan Kaitannya DenganKemandirian Alutsista 2.5.Kerangka Pemikiran 2.6.Instrumen Penelitian 2.7.MenentukanSampel (Responden) 2.8.Analisis SWOT

...........................................

28

........................................... ........................................... ...........................................

34 35 35

...........................................

36

BAB III. METODOLOGI PENELITIAN 3.1.Persiapan Penelitian 3.2. Studi Pendahuluan 3.3. Pengumpulan data 3.4. Pengolahan Data dan Analisa Data 3.5. Kesimpulan 3.6. Diagram Alir Penelitian ........................................... ........................................... 41 42 ........................................... ........................................... .......................................... .......................................... 37 38 39 40

BAB IV. HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1. Analisis Kebijakan Pengembangan Alat Utama dan Sistem Persenjataan (Alutsista) dan Pembangunan Industri Pertahanan ........................................... 43

4.2. Analisis Deskripsi Faktor-faktor PenyebabSulit Berkembangnya Industri Pertahanan Dalam Mendukung Kemandirian Alutsista 4.3 Strategi Pengembangan Industri Pertahanan Bagi Terwujudnya Kemandirian Alutsista 4.4. Pembahasan Hasil Penelitian

...........................................

49

...........................................

53

...........................................

61

BAB V

KESIMPULAN DAN SARAN 5.1. Kesimpulan 5.2. Saran ........................................... ........................................... 67 68

DAFTAR PUSTAKA LAMPIRAN

DAFTAR TABEL

Tabel 2.1 2.2 2.3 Kekuatan Personel TNI

Halaman ............................................................. 16 17

Pengorganisasian Kostrad ............................................................. Sistem Senjata Armada Terpadu TNI AL .............................................................

18

2.4 2.5

Kekuatan TNI AU Kondisi Alutsista Kritis

.............................................................

21

............................................................. Pada Tahun 2007 2.6 Alutsista TNI yang Diusulkan Untuk ............................................................. Dimodernisasi atau Diganti 4.1 Analisis SWOT Strategi Pengembangan Industri Pertahanan Bagi Terwujudnya Kemandirian Alutsista .............................................................

22

23

57

x

DAFTAR GAMBAR

Gambar 2.1. 3.1. 4.1. Kuadran SWOT Diagram Alir Posisi Strategi Pengembangan Alutsista dengan Alternatif Strategi yang Terpilih Berdasarkan hasil Analisis SWOT

Halaman ............................................................. ............................................................. 36 42

.............................................................

57

xi

ABSTRAK

Kemampuan dan kekuatan pertahanan Indonesia pada dekade terakhir semakin menurun, sehingga posisi tawar Indonesia di kawasan regional dan global melemah. Idealnya Indonesia memiliki kekuatan pertahanan negara yang handal. Hal ini didasarkan pada fakta bahwa Indonesia merupakan negara kepulauan terbesar, panjang pantai terpanjang kedua dunia, terletak pada posisi strategis jalur perdagangan dunia, memiliki kekayaan alam yang melimpah. Namum kondisinya saat ini berbanding terbalik, kondisi alutsista di bawah standar penangkalan sebagai akibat dari banyaknya alutsista yang berusia sangat tua dan jumlahnya yang terbatas, teknologinya juga ketinggalan zaman, juga diperparah dengan kualitas profesionalisme dan kesejahteraan prajurit yang tergolong rendah serta ketergantungan pada produk negara lain. Kondisi tersebut menyebabkan bahwa kekuatan pertahanan negara di bawah kekuatan pertahanan minimal. Penelitian ini disusun dengan menggunakan metode deskriptif analisi yang memaparkan data dan fakta. Strategi alternatif yang dapat dilakukan untuk pengembangan alutsista menuju kemadirian industri pertahanan dianalisis dengan menggunakan analisis SWOT Dari hasil penelitian didapatkan hasil bahwa faktor-faktor utama penghambat pengembangan industri pertahanan dalam rangka mendukung kemandirian Alutsista disebabkan oleh banyak kebijakan yang kurang tepat, tidak adannya sinergitas antara industri hulu ke hilir, keterbatasan modal dan mesin/fasilitas produksi yang dimiliki BUMNIP, biaya ekonomi tinggi akibat kebijakan pajak dan fiskal, transfer teknologi lambat, pengembangan SDM lemah, keterbatasan anggaran negara. Dari hasil analisis SWOT diperoleh hasil bahwa strategi yang dapat dilaksanakan adalah strategi konsolidasi (kuadran IV), artinya memanfaatkan peluang seefektif mungkin untuk meminimalkan kelemahan yang dimiliki. Hasil tersebut menunjukkan bahwa Indonesia masih memiliki peluang untuk membangun kemampuan dan kekuatan pertahanan yang kuat yang didukung oleh kesiapan alutsista yang handal, industri pertahanan yang kuat dan profesionalisme prajurit yang tinggi.

Kata kunci : Industri Pertahanan, Kemandirian Alutsista, BUMNIP, SWOT xiii

BAB I PENDAHULUAN

1.1.

Latar Belakang Kekuatan militer memiliki posisi strategis bagi pertahanan suatu negara bahkan untuk kepentingan mengamankan kepentingan nasional (national interest). Sejarah juga membuktikan bahwa kekuatan militer Sejak Pax Britannica, Pax

merupakan hal yang vital dalam diplomasi.

Romana dan bahkan Pax Americana sekarang, diplomasi yang baik selalu ditopang kekuatan senjata. Hubungan diplomasi dengan kekuatan senjata di atas jelas. Sebab kalau diplomasi diartikan sebagai conduct business by peacefull means (penyelesaian masalah dengan cara-cara damai) sekalipun, kualitas diplomasi akan tetap ditentukan oleh posisi tawar (bargaining position). Jika kekuatan militer tadi dipadukan dengan

kekuatan ekonomi sehingga makin meningkatkan wibawa dan pengaruh sekaligus menambah kekuatan untuk “menekan” dalam tawar-menawar, maka pemilikan militer dan kekuatan ekonomi adalah suatu keharusan. Penyelenggaraan pertahanan negara sampai saat ini belum mewujudkan sosok (postur) pertahanan yang kuat dan disegani dunia bahkan dalam lingkup regional sekalipun. Dalam beberapa tahun terakhir ini pembangunan nasional (pembangunan nasional) masih menempatkan kesejahteraan sebagai prioritas yang mengakibatkan perlambatan terhadap modernisasi pertahanan. Sampai dengan TA 2008, sektor pertahanan

negara belum menjadi prioritas dalam pembangunan nasional sehingga

1

berdampak terhadap kekuatan pertahanan Indonesia yang semakin memprihatinkan, bahkan di bawah kekuatan negara-negara tetangga di kawasan. Secara nominal memang menunjukkan adanya peningkatan,

namun sesungguhnya peningkatan anggaran tersebut terjadi pada belanja rutin, sementara kenaikan pada belanja modal sangat kecil sehingga tidak memberi dampak positif bagi modernisasi Alutsista dan profesionalisme prajurit. Pada hakekatnya pertahanan negara bertujuan untuk menjamin tetap tegaknya kedaulatan NKRI dari segala bentuk ancaman. Hal ini

dapat terwujud apabila kekuatan pertahanan memadai dan berada dalam posisi memiliki bargaining position dalam hubungan antar negara, terlebih dalam kondisi persaingan global yang menuntut adanya kemampuan kemandirian pertahanan. Dengan membangun kemandirian, perwujudan

postur pertahanan negara yang sesuai dengan keinginan dan kepentingan nasional dapat terbangun. Kemandirian pertahanan memerlukan tekad

dan keterpaduan upaya dari semua pihak, serta didukung oleh kebijakan pemerintah dalam pemberdayaan segenap potensi sumberdaya nasional, termasuk perangkat regulasi. Industri pertahanan merupakan suatu tatanan industri nasional yang menghasilkan sarana pertahanan. Sebagai komponen pertahanan,

kemampuan industri pertahanan perlu senantiasa disiapkan, dibina dan dikembangkan untuk mendukung kepentingan pertahanan negara dalam rangka mencapai kemandirian Alutsista. Melalui BUMNIS (sekarang

BUMNIP/Badan Usaha Milik Negara Industri Pertahanan), keberadaan

2

industri pertahanan di tahun 1980 sebenarnya merupakan langkah awal kemandirian yang pernah dilaksanakan Indonesia dalam memenuhi pemenuhan kebutuhan sarana pertahanan, namun perkembangan situasi negara yang terjadi mengakibatkan adanya perubahan kebijakan pemerintah terhadap keberadaan industri pertahanan tersebut. Disamping

itu, adanya mismanagement pengelolaan dan kurang mendukungnya kebijakan politik, mengakibatkan industri perahanan belum memiliki keunggulan komparatif dan keunggulan kompetitif di pasar regional maupun internasional. Penelitian ini mencoba menganalisis faktor-faktor penyebab yang mengakibatkan kemunduran industri nasional khususnya industri

pertahanan serta merumuskan strategi yang harus dilakukan dalam pengembangan industri tersebut dalam mendukung terwujudnya

kemandirian Alutsista. 1.2. Identifikasi Masalah Dari latar belakang di atas, beberapa permasalahan yang menonjol terkait kondisi industri nasional dalam mendukung kemandirian Alutsista saat ini antara lain : 1.2.1. Industri nasional kurang dibina dan dikembangkan dalam mendukung kepentingan pertahanan negara. 1.2.2. Banyaknya jumlah Alutsista/sarana pertahanan yang kondisinya tidak layak operasional (out of date) dan teknologi Alutsista yang kita miliki saat ini ketinggalan zaman.

3

1.2.3. Lemahnya komitmen (political will) yang kuat dari pemerintah untuk menggalakkan industri nasional, padahal sejumlah BUMNIP seperti PT. DI, PT. PINDAD dan PT. PAL dan lainnya yang sesungguhnya memiliki kemampuan untuk memproduk Alutsista yang dapat dihandalkan. 1.2.4. Kebijakan negara (pemerintah) belum menjadikan pertahanan negara sebagai prioritas 1.2.5. Keuangan negara terbatas sehingga anggaran pertahanan yang minim. 1.2.6. Banyak kebijakan pemerintah terkait optimalisasi penyelenggaraan pertahanan negara khususnya pengembangan Alutsista yang kurang terintegrasi. 1.2.7. Lemahnya koordinasi antar Kementerian/LPND, BUMNIP dan industri nasional lainnya dalam mendukung perkembangan industri pertahanan 1.2.8. Kemhan dan TNI terlihat lebih senang impor Alutsista dari luar negeri 1.3. Ruang Lingkup Masalah Dari latar belakang dan identifikasi masalah di atas, penelitian ini dibatasi pada permasalahan pengembangan industri pertahanan menuju kemandirian Alutsista guna optimalisasi penyelenggaraan negara 1.4. Perumusan Masalah Berdasarkan pada latar belakang dan identifikasi permasalahan di atas, dapat dirumuskan beberapa permasalahan penelitian ini sebagai berikut :

4

1.4.1. Faktor-faktor apa yang menyebabkan sulit berkembangnya industri pertahanan dalam mendukung kemandirian Alutsista? 1.4.2. Bagaimana strategi pengembangan industri pertahanan dalam mendukung kemandirian Alutsista dapat diwujudkan di masa mendatang ? 1.5. Tujuan dan Kegunaan Penelitian 1.5.1. Tujuan Penelitian Adapun tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui faktor-faktor penyebab yang mengakibatkan kemunduran industri pertahanan dalam mendukung kemandirian Alutsista serta

merumuskan strategi yang harus dilakukan dalam pengembangan industri tersebut dalam mendukung terwujudnya kemandirian. 1.5.2. Kegunaan Penelitian a. Bagi penulis untuk dapat lebih memahami kompleksitas permasalahan pengembangan industri pertahanan dalam mendukung upaya mewujudkan kemandirian Alutsista. b. Diharapkan dapat sebagai bahan masukan bagi pengambil keputusan khususnya Kementerian Pertahanan (Kemhan) dan TNI, Kementerian BUMN, Kementerian Perindustrian, Kementerian Keuangan, Bappenas, BUMNIP, DPR dan pihak-pihak terkait lainnya. c. Diharapkan penelitian ini dapat bagi memperkaya Sarjana hasil

penelitian dan bahan referensi Universitas Pembangunan

Strata-1 “Veteran”

Nasional

5

Jakarta, sekaligus sebagai bahan informasi bagi para pembaca, pemerhati bidang pertahanan dan sekaligus sebagai referensi bagi penelitian selanjutnya.

1.6.

Sistematika Penulisan Untuk mempermudah penyusunan skripsi ini, maka dibuat suatu sitematika penulisan yaitu sebagai berikut : BAB I. PENDAHULUAN Dalam pendahuluan ini yang dibahas adalah mengenai latar belakang masalah, tujuan penelitian, pembatasan masalah, metode penelitian dan sistematika penulisan. BAB II. LANDASAN TEORI Pada bab ini berisikan mengenai teori-teori yang digunakan sebagai dasar penentuan langkah-langkah pemecahan masalah yang akan dikerjakan dalam bab selanjutnya. BAB III. METODE PENELITIAN Dalam bab ini membahas mengenai langkah-langkah penelitian yang akan diterapkan dalam pemecahan masalah yaitu metode penelitian, pengumpulan data, pengolahan data serta teknik analisis data. BAB IV. ANALISIS DAN PEMBAHASAN Berisikan analisis data dari hasil pengumpulan data yang selanjutnya dilakukan interpretasi dan pembahasan dihadapkann dengan fakta dan referensi yang ada sehingga permasalahan penelitian diharapkan dapat terjawab.

6

BAB V . KESIMPULAN DAN SARAN Dalam bab ini memuat kesimpulan dari hasil analisis data dan saran.

DAFTAR PUSTAKA LAMPIRAN

7

BAB II LANDASAN TEORI

2.1.

Konsep Pertahanan Negara 2.1.1. Kepentingan Nasional Pada hakikatnya kepentingan nasional Indonesia adalah tetap tegak dan utuhnya NKRI yang berdasarkan Pancasila dan Undang-undang Dasar (UUD) 1945 serta terjaminnya kelancaran dan keamanan pembangunan nasional yang berkelanjutan.

Kepentingan nasional tersebut diwujudkan dengan memperhatikan tiga kaidah pokok, yakni tata kehidupan, upaya pencapaian tujuan serta sarana yang digunakan. Tata kehidupan masyarakat, bangsa dan negara Indonesia mencerminkan kesatuan tata nilai yang berdasarkan Pancasila dan UUD 1945 yang berKetuhanan Yang Maha Esa yang menjunjung tinggi kebhinekaan yang ditunjukkan dalam interaksi sosial yang harmonis. merupakan upaya untuk mencapai Pembangunan nasional tujuan nasional yang

pelaksanaannya secara berkelanjutan, berwawasan lingkungan dan berketahanan nasional berdasarkan Wawasan Nusantara.

Sebaliknya sarana yang dipergunakan dalam mewujudkan tujuan nasional adalah seluruh potensi dan kekuatan nasional yang didayagunakan secara menyeluruh dan terpadu. Lingkungan strategis baik global, regional maupun nasional yang terus berkembang dalam suatu dinamika yang sangat tinggi

8

menuntut penyesuaian diri dengan hakikat perubahan yang terjadi. Atas dasar itu, kepentingan nasional Indonesia disusun dalam tiga kategori : kepentingan nasional yang bersifat mutlak, kepentingan nasional yang bersifat vital dan kepentingan nasional yang bersifat penting. Kepentingan nasional yang bersifat mutlak adalah tetap tegaknya NKRI. Fungsi Pertahanan negara wajib menjaga dan melindungi kedaulatan negara, keutuhan wilayah NKRI serta keselamatan segenap bangsa dari segala bentuk ancaman. NKRI dengan wilayah terdiri dari 17.504 pulau sebagai satu kesatuan wilayah Indonesia yang harus tetap dijaga keberadaan dan keutuhannya. Posisi Indonesia yang strategis memiliki implikasi Keutuhan wilayah NKRI tidak saja

pertahanan yang besar.

menjadi kepentingan nasional Indonesia, tetapi juga menjadi bagian strategis yang mempengaruhi kepentingan nasional sejumlah negara di dunia. Wilayah NKRI yang utuh dan stabil akan

menjadi syarat mutlak terselenggaranya pembangunan nasional untuk menyejahterakan rakyat, sekaligus terwujudnya stabilitas kawasan yang mengitari Indonesia. Indonesia tidak akan

membiarkan setiap usaha yang akan mengganggu eksistensi dan integritas NKRI. NKRI yang berdasarkan Pancasila dan UUD

1945 yang wilayahnya dari Sabang sampai Merauke merupakan keputusan final yang harus dijaga dan dipertahankan.

9

Kepentingan nasional yang bersifat vital menyangkut pembangunan nasional untuk mewujudkan kesejahteraan yang Bhineka Tunggal Ika, sejahtera, adil dan makmur serta demokratis. Kondisi obyektif Indonesia sebagai negara dengan penduduk terbesar keempat di dunia merupakan tantangan untuk Dengan

mengembangkan pertahanan Indonesia ke depan.

penduduk yang sudah mencapai lebih dari 230 juta jiwa serta karakteristik yang sangat pluralistik dalam suku, agama, ras dan antar golongan (SARA) diperlukan upaya sungguh-sungguh untuk membangun kohesi dalam ikatan persatuan dan kesatuan bangsa. Indikator terwujudnya kohesi nasional serta persatuan dan kesatuan bangsa ditunjukkan dalam kehidupan sosial dan interaksi antar warga masyarakat yang harmonis. Kepentingan nasional yang bersifat utama atau penting adalah kepentingan yang terkait dengan perdamaian dunia dan stabilitas regional. Lingkungan strategis Indonesia adalah global Indonesia juga tidak Oleh karena itu,

dan regional dengan segala dinamikanya.

terlepas dari limpahan sejumlah konflik di dunia.

Indonesia akan tetap mengambil peran aktif bersama-sama dengan bangsa lain melalui usaha-usaha yang bermartabat untuk dunia berdasarkan kemerdekaan,

mewujudkan

perdamaian

perdamaian abadi dan keadilan sosial.1

1

Dephan RI, Buku Putih Pertananan Indonesia, 2008, hal 39-41

10

2.1.2. Kondisi Umum Pertahanan Negara Sejarah perjalanan bangsa Indonesia membuktikan bahwa Sistem Pertahanan Rakyat Semesta ampuh dan dapat diandalkan untuk terus dipertahankan dan dikembangkan dalam menjaga keutuhan wilayah negara dan menjamin keselamatan bangsa. Dalam menyelenggarakan pembangunan nasional,

pemerintah masih menempatkan aspek kesejahteraan sebagai prioritas. Dari alokasi APBN sampai dengan Tahun Anggaran

(TA) 2007, pertahanan negara belum menjadi prioritas dalam pembangunan nasional. Dalam APBN 2008, sektor pertahanan

negara masih berada pada urutan prioritas ke-empat di bawah fungsi pelayanan umum, pendidikan dan ekonomi. Sasaran pokok yang ingin dicapai dalam upaya meningkatkan kemampuan pertahanan negara pada TA. 2008 diarahkan pada kapabilitas pertahanan, peningkatan jumlah dan kondisi kesiapan operasional pertahanan, modernisasi alutsista serta teknologi dan industri pertahanan dalam negeri. Sampai pada TA. 2010 ini alokasi

anggaran pertahanan sedikit naik dan menduduki tiga besar, namun masih jauh dari alokasi anggaran untuk mendukung kemampuan kekuatan pertahanan negara minimum (Minimum Essential Forces/MEF). Hingga saat ini, selain jumlah maupun kandungan teknologi alutsista masih di bawah standar penangkalan, juga kualitas SDM dan tingkat kesejahteraannya masih rendah. Di

samping itu, kebutuhan pemenuhan, pemeliharaan maupun suku

11

cadang alutsista

masih bergantung pada negara-negara lain.

Tantangan pembangunan nasional, seperti digambarkan di atas berimplikasi terhadap pelaksanaan pembangunan sektor pertahanan negara yang hingga sekarang belum mampu mencapai kekuatan pertahanan minimum. Kondisi tersebut berdampak terhadap

kemampuan dan profesionalisme TNI dalam melaksanakan fungsinya sebagai kompoen utama sispertahanan negara. Perubahan menguatnya geopolitik global, yang ditandai dengan berdampak terhadap

pendekatan

unilateralisme

berkembangnya doktrin pertahanan serangan pre-emptive, yang dapat menembus batas-batas yurisdiksi suatu negara di luar kewajaran hukum internasional. Selain itu, menguatnya

kemampuan militer negara tetangga yang secara signifikan melebihi kemampuan pertahanan kita telah melemahkan posisi tawar dalam diplomasi internasional. Tantangan utama yang

harus dihadapi Indonesia pada masa yang akan datang adalah membangun kekuatan pertahanan negara di atas kekuatan pertahanan minimal sehingga memiliki nilai efek penangkalan di kawasan regional maupun internasional. Tantangan berikutnya dalam pembangunan pertahanan negara yaitu tuntutan kebutuhan untuk membangun TNI yang profesional sehingga menjadi kekuatan nasional yang mampu mengemban fungsinya di era globalisasi dengan hakikat ancaman yang semakin kompleks. Usaha pertahanan untuk menjaga

12

kedaulatan negara dan keutuhan wilayah NKRI serta menjamin keselamatan bangsa dari setiap ancaman akan sangat berat dilakukan tanpa didukung oleh alutsista yang modern. Oleh karena itu, tantangan dalam membangun TNI yang profesional pada hakikatnya adalah membangun kemampuan pertahanan negara dengan meningkatkan jumlah dan kondisi alutsista TNI untuk mencapai kekuatan pokok minimum sesuai dengan kemajuan teknologi. Kondisi riil TNI saat ini harus diakui masih berada di bawah standar profesionalisme. Kekuatan TNI dari segi alutsista masih diperhadapkan dengan kondisi keterbatasan dan kekurangan dari segi jumlah dan ketidaksiapan sebagai akibat alutsista yang ada saat ini umumnya merupakan aset yang sudah ketinggalan teknologi, sementara proses regenerasi berjalan sangat lambat. Dalam rangka itu, membangun TNI yang profesional bukan saja kebutuhan TNI semata, tetapi juga menjadi kebutuhan seluruh bangsa Indonesia dalam mengangkat posisi tawar Indonesia menghadapi ketatnya persaingan di era globalisasi.2

2.1.3. Hakikat dan Tujuan Pertahanan Negara Pertahanan negara pada hakikatnya merupakan segala upaya pertahanan yang bersifat semesta, yang penyelenggaraannya
2

Ibid, hal. 99-101

 

13

didasarkan pada kesadaran akan hak dan kewajiban seluruh warga negara serta keyakinan pada kekuatan sendiri untuk

mempertahankan kelangsungan hidup bangsa dan negara Indonesia yang merdeka dan berdaulat. Kesemestaan mengandung makna

pelibatan seluruh wilayah negara sebagai satu kesatuan pertahanan yang utuh dan menyeluruh. Upaya pertahanan yang bersifat semesta adalah model yang dikembangkan berdasarkan pertimbangan strategis bukan karena alasan ketidakmampuan modern. dalam membangun pertahanan yang

Meskipun Indonesia telah mencapai tingkat kemajuan

yang cukup tinggi, model tersebut tetap dikembangkan dengan menempatkan warga negara sebagai subyek pertahanan negara sesuai dengan perannya masing-masing. Sistem pertahanan negara yang bersifat semesta bercirikan kerakyatan, kesemestaan dan kewilayahan. Ciri kerakyatan mengandung makna bahwa orientasi pertahanan diabadikan oleh dan untuk kepentingan seluruh rakyat. Ciri kesemestaan mengandung makna bahwa seluruh sumber daya nasional didayagunakan bagi upaya pertahanan. Ciri kewilayahan

merupakan gelar kekuatan pertahanan yang tersebar di seluruh wilayah NKRI, sesuai dengan kondisi geografi sebagai satu kesatuan pertahanan. Pertahanan negara bertujuan untuk menjaga dan melindungi kedaulatan negara, keutuhan wilayah NKRI dan keselamatan segenap bangsa dari segala bentuk ancaman. Tujuan pertahanan

14

negara dalam menjaga kedaulatan negara mencakup upaya untuk menjaga sistem ideologi negara dan sistem politik negara. Dalam

menjaga sistem ideologi negara, upaya pertahanan negara diarahkan untuk mengawal dan mengamankan Pancasila sebagai dasar negara dan falsafah bangsa Indonesia. Sedangkan dalam

menjaga sistem politik negara, upaya pertahanan negara diarahkan untuk mendukung stabil, terwujudnya bersih dan pertahanan berwibawa negara yang

demokratis,

memungkinkan

terselenggaranya pembangunan nasional dengan baik.3 2.1.4. Postur Pertahanan Negara (Militer) Postur Pertahanan Negara meliputi Postur Militer (TNI) dan Postur Pertahanan Nirmiliter. Postur Militer secara organisasi

terdiri atas TNI AD, TNI AL, TNI AU, Mabes TNI dan Kemhan. Kelima kelompok organisasi tersebut dalam penganggaran pertahanan, masing-masing adalah unit organisasi (UO) yang mengelola anggaran pertahanan dalam sektornya masing-masing. Gambaran tentang kekuatan pertahanan militer yang disusun dalam kekuatan personel, organisasi dan alutsista. Kekuatan personel prajurit TNI pada tahun 2007 berjumlah 413.959 personel (lihat Tabel 2.1). Kekuatan pertahanan militer yang ada di Dephan berjumlah 1.117 personel TNI yang melaksanakan fungsi pemerintahan di bidang pertahanan negara bersama-sama dengan 4.292 personel PNS Kemhan.
3

Dalam

Ibid, hal 43-44

15

kerangka postur pertahanan negara, pencantuman Dephan dalam uraian postur pertahanan negara didasarkan atas penggunaan anggaran pertahanan, khususnya belanja personel (gaji dan tunjangan) serta biaya pemeliharaan dan operasional.

Sementara pencantuman Mabes TNI dalam postur pertahanan negara didasarkan pada statusnya sebagai pengguna anggaran pertahanan, yakni belanja personel (penghasilan dan tunjangan prajurit), biaya pemeliharaan dan operasional serta belanja modal untuk alutsista (khususnya Kohanudnas dan Bais TNI). Tabel 2.1.
ANGKATAN TNI AD JUMLAH 317.273

Kekuatan Personel TNI
KETERANGAN

Termasuk personel TNI AD di Dephan, Mabes TNI dan Dep/LPND Termasuk personel TNI AL di Dephan, Mabes TNI dan Dep/LPND Termasuk personel TNI AU di Dephan, Mabes TNI dan Dep/LPND

TNI AL

62.556

TNI AU Jumlah

34.130 413.959

Sumber : Dephan RI, Postur Pertahanan Negara (2007, 43)

a.

Kekuatan dan Kesiapan Alutsista TNI AD Pengorganisasian kekuatan TNI AD disusun dalam tiga kategori kekuatan, yakni kekuatan terpusat kekuatan kewilayahan dan satuan pendukung. Kekuatan terpusat

terdiri dari 1 komando Cadangan Strategis Angkatan Darat (Kostrad) dan 1 Komando Pasukan Khusus (Kopassus). Kostrad adalah keuatan terpusat TNI AD, yang terdiri dari Satuan Tempur (Satpur), Satuan Bantuan Tempur

16

(Satbanpur) dan Satuan Bantuan Administrasi (satbanmin) yang diorganisasikan ke dalam Satpur, Satbanpur dan Satbanmin. Selengkapannya pengorganisasian Kostrad

terinci pada Tabel 2.2. Kopassus adalah kekuatan terpusat TNI AD yang tersusun dalam kesatuan-kesatuan yang disebut Grup yang terdiri atas : 1 Markas Komando Pasukan Khusus (Makopassus); 2 Markas Grup (Magrup) Para Komando (Parako); 1 Magrup Sandi Yudha (Sanda); 1 Magrup Penanggulangan Teroris (Magrupgultor); 1 Pusdik

Koppassus; 6 batalyon Para Komando (Yon Parako); 3 Yon Sanda; 2 Batalyon Khusus (Yonsus) dan 1 Detasemen Teknik (Dennik). Tabel 2.2.
Satuan Satpur Satbanpur Divisi 2 Divif Brig/Men 6 Brigif 2 Menarmed

Pengorganisasian Kostrad
Yon 18 Yonif 6 Yonarmed 2 Yonkav 2 Yonarhanudri 2 Yonzipur 97 % 60 % Personel 97 % Materil/ Alutsista 60 %

Satbanmin

2 Yonbekang 1 Yonkes

97 %

60 %

Sumber : Dephan RI, Postur Pertahanan Negara (2007, 45)

Kondisi personel Kopassus terisi 100% TOP. Kondisi materiil (alutsista) Kopassus sekitar 60% (diukur dari ukuran ideal kelayakan materiil dalam mendukung pencapaian tugas pokok Kopassus. Apabila dihadapkan

17

dengan perkembangan teknologi militer, alutsista Kopassus banyak yang sudah ketinggalan (out of date). Sementara kekuatan satuan kewilayahan TNI AD (12 Kodam dan 43 Korem), kondisi personel berkisar 92% dan 97%, sedangkan kondisi kesiapan alutsista rata-rata 40%.4 b. Kekuatan dan Kesiapan Alutsista TNI AL Kekuatan TNI AL disusun dalam Sistem Senjata Armada Terpadu (SSAT) yang terdiri dari KRI, KAL, Pesawat udara, Marinir dan Pangkalan. Kekuatan SSAT

yang diawaki 62.556 personel TNI AL dan 8.840 PNS dengan kesiapan alutsista berkisar 52%-82% seperti tergambar dari Tabel 2.3. Tabel 2.3 .
SSAT

Sistem Senjata Armada Terpadu TNI AL
UNIT KESIAPAN (%) KETERANGAN

KRI

143

65

35% tidak layak operasional

KAL Pesawat udara

312 68

82 52 48% tidak layak terbang

Marinir

2 Pasmar 1 Brigif 1 Kolat 1 Denjaka

55

Dilengkapi dengan 429 Ranpur dan 42 pucuk meriam

Pangkalan

Lanal 11 Lantamal 60

(Lanal klas A) 22 Lanal klas B 20 Lanal klas C 60

4

Dephan RI, Postur Pertahanan Negara (2007, 47-48)

18

3 Lanal khusus Labudal 1 Klas “A” 7 Klas “B” 2 Klas “C” Fasharkan 6 Klas “A” 4 Klas “B” 2 klas “C” Pangkalan Mar 2 Pangkalan 60 60

KRI

KAL

PESAWAT UDARA

RANPUR MARINIR

1 Kapal MA 16 PK 12 PKR 2 SS 4 KCR 2 KCT 40 PC 6 PR 2 BR 28 AT 2 ASG 5 BCM 2 BTD 5 BHO 3 BU 5 BAP 5 CAP 1 BRS 2 LAT

KAL : 312 buah berbagai macam jenis dan ukuran

1 Buffalo DHC5D 13 Cassa NC212 3 Cassa NC212-200 22 Nomad N22/24 2 Bonanza F33A 3 Tampico TB-9 4 Tabago TB-10 5 N Bell-412 8 Bolcow BO105 3 Colibri EC120

68 Tank PT-76 54 Tank PTRecovery BREM-2 25 Pansam AMX10P 25 Pansam BTR50 P 69 Pansam BTR50P (M) 34 Pansam BTR50 PK 5 Kapa K-61 (R) 26 Kapa K-61 (R) 9 Kapa PTS 8 Pansrod BTR152 12 BTR-80A 29 KPR BM-14/17 1 Sizu NA-140 21 BVP-2 2 VPV/Rec 6 Rocket RM70/85 Grad long Cal 122 mm 22 Pintam BRDM

Sumber : Dephan, Postur Pertahanan Negara (2007; 49-50)

19

c.

Kekuatan dan Kesiapan Alutsista TNI AU TNI AU terdiri dari Skadron Udara, Satuan Radar, Satuan Rudal, Pasukan Khas (Paskhas), Pangkalan Udara (Lanud), Detasemen dan Pos. Skadron Udara terdiri atas

Skadron Tempur, Skadron Angkut, Skadron Intai, Skadron Helikopter dan Skadron Latih. TNI AU memiliki 18

Skadron Udara dengan berbagai tipe pesawat, 17 Skadron Radar Hanud, 1 Sat Rudal QW-3, Korpaskhas membawahi 3 Wing, 6 Skadron Flight, 1 Den Bravo dan 1 Den Walkol. Pangkalan Udara TNI AU terdiri dari : Komando Operasi Angkatan Udara (Koopsau I) meliputi 2 Lanud Tipe “A”, 5 Lanud Tipe “B”, 8 Lanud Tipe “C”, 4 Lanud Tipe “D”, 2 Wing Udara, 3 Skadron Teknik, 5 Detasemen dan 40 Pos TNI AU ; Koopsau II terdiri atas 3 Lanud

Lanud Tipe “A”, 1 Lanud Tipe “B”, 12 Lanud Tipe “C”, 4 Lanud Tipe “D”, 3 Wing Udara, 3 Skadron Teknik, 4 Detasemen dan 37 Pos TNI AU; Komando Pendidikan TNI AU (Kodikau) (1 Lanud Tipe “A”, 2 Lanud Tipe “B”, 2 Wing Dik, 1 Detasemen dan 1 Pos TNI AU.

20

Tabel 2.4.
JENIS UNIT

Kekuatan TNI AU
KEKUATAN KESIAPAN (%) KET

7 Skadron Tempur Skadron 5 Skadron Angkut 1 Skadron Intai 3 Skadron Heli 2 Skadron Ltaih Satrad 17 Satrad Hanud 3 Wing Korpaskhas 6 Skadron 6 Flight 2 Den 6 Tipe “A” Lanud 8 Tipe “B” 20 Tipe “C” 8 Tipe “D” Detasemen Pos 9 Den 78 Pos

74 psw 49 psw 3 psw 49 psw 57 psw

42 62 33 70 58 94 70 70 70 70 75 70 70 70 70 70

Sumber : Dephan, Postur Pertahanan Negara (2007; 51)

2.2.

Kondisi Nyata Alutsista Saat Ini Dari data yang ada diketahui bahwa sejumlah alutsista yang sampai sekarang dipakai oleh TNI diproduksi sejak akhir tahun 1950-an. Beberapa alutsista itu seperti kendaraan tempur (ranpur) jenis Saracen (1957) dan Ferret (1959) buatan Inggris, tank AMX-13 buatan Perancis (1958) atau senjata berat artileri medan Kal 76 mm M-48 buatan tahun 1958. Demikian pula halnya dengan sejumlah pesawat yang dimiliki TNI Dari

AU seperti OV-10 Bronco yang nyaris melampaui usia pakainya.

kondisi tersebut, alutsista yang kita miliki rata-rata sudah berusia di atas 40 tahun dengan kesiapan rata-rata 60 persen.

21

Tabel 2.5.

Kondisi Alutsista Kritis Pada Tahun 2007

Sumber : Dephan, Postur Pertahanan Negara (2007; 59)

KSAL Laksamana Somardjono pada Rapim TNI 2008 menjelaskan bahwa permasalahan utama yang dihadapi dalam pembinaan kekuatan dan kemampuan TNI AL adalah keterbatasan jumlah dan kemampuan alutsista yang dimiliki dihadapkan dengan konstelasi geografi dan luasnya wilayah perairan yurisdiksi nasional yang harus diamankan. Dalam rangka

mewujudkan visi TNI AL, pembinaan diarahkan kepada peningkatan kemampuan tempur alutsista TNI AL yang modern sesuai fungsi agar mampu menjaga keamanan, kedaulatan dan keutuhan wilayah perairan yurisdiksi nasional serta memiliki daya tangkal yang tinggi. Untuk

meningkatkan kesiapan satuan operasional telah dirumuskan setidaknya utuh 376 unit kapal perang, tetapi saat ini Indonesia baru memiliki 114 kapal perang.5
5

 Kompas edisi 18 September 2007 

22

Tabel 2.6. Alutsista TNI yang Diusulkan Untuk Dimodernisasi atau Diganti
Peralatan Buatan (tahun) TNI AD Saladin (Inggris) Saracen (Inggris) BTR 40 (Rusia) Feret (Inggris) AMX-13 (Perancis) Scorpion (Inggris) PT-76 (Rusia) BTR-50 (Rusia) Senjata Berat Armed Kal. 76 mm M-48 B-1 Arhanud MES-60/57 mm (Rusia) Helikopter Bell 205 AI (AS) TNI AL Korvet (Jerman) Kapal Selam (Jerman) Venspejk (Belanda) Parchim (Jerman) 1977 1980 1963-1967 1981-1982 1983-1984 Pesawat Nomad N-22 1975-1978 1976-1979 1980 PT-76 (Rusia) PT-76 (M) (Rusia) Pensam BTR-50 P (Rusia) TNI AU F-16 (AS) F-5 (AS) SU-27 (Rusia) SU-30 (Rusia) A-4 (AS) OV-10 Bronco 1980 2002 2002 1956 1975 1980 2003 2003 1980 1976 2020 dan diganti dg F-16 I/Block 65 2012 dan diganti dg Mig-31 2012 dan diganti dg F-21 Raptor SU-35 SU-35 2010 dan diganti dg L-150 MK 109-209 (PBR) MK 109-209 (SPO) C-130 B-737 VIP Radar Thompson Radar Plesey (Inggris) 1995 1995 1962 1981 1978 1962 1996 1999 1978 2005 1978/1990 1979/1992 AMX Eurofighter upgrade jd AN-22 2011 dan diganti dg B737600 diganti dg radar G site diganti dg radar G site 17 18 23 1 8 7 4 3 9 0 8 7 13 15 14 1 0 0 10 12 2 2 22 9 3 6 0 0 0 4 7 6 2 2 22 5 1961 1961 1961 1961 1961 1961 68 64 69 0 30 64 68 34 5 2005-2007 6 4 2 1979 1980 1986-1989 1994 2007 dan diganti dg Sigma 2010 1993-1997 2011-2014 4 2 6 16 4 1 1 12 0 1 5 4 1960 1957 1960 1959 1958 1993 1960 1960 1958 1962 1971-1976 1960 1960 1960 1960 1962 1997 1962 1962 1960 1963 1976-2002 2008-2032 2010 2010 2010-2019 2010 2010 69 84 108 55 632 100 8 13 217 201 9 42 60 64 34 431 90 4 0 145 155 2 27 24 44 21 201 10 4 13 72 46 7 Digunakan (tahun) Rencana dihapuskan/ digantikan Jumlah dimiliki Kondisi siap Kondisi Tdk siap

Sumber : Kompas edisi 18 September 2007

23

2.3.

Konsep Awal Pendirian Industri Pertahanan Pendirian industri pertahanan telah dimulai sejak tahun 1983 dengan dikelompokkannya industri nasional ke dalam suatu kelompok yang dikenal dengan Industri Strategis dan Industri Hankam yang terdiri dari 10 (sepuluh) industri. Kronologis pendirian tersebut dapat diuraikan sebagai berikut : 2.3.1. Melalui Keppres No. 59 tahun 1983 dibentuk 10 (sepuluh) industri strategis dan Hankam, untuk pembinaannya dibentuk Dewan Pembina Industri Strategis (DPIS). Dalam Keppres tersebut, yang dimaksud industri strategis mencakup PT Krakatau Steel, PT Industri Telekomunikasi Indonesia (INTI), PT Nurtanio, PT PAL Indonesia, PT Indonesia Kereta Api (INKA), PT. Pindad, Perum Dahana dan Unit Produksi (UP) Lembaga Elektroteknika LIPI. Selanjutnya dengan Keppres No. 44 tahun 1989, dibentuk Badan Pengelola Industri Strategis (BPIS). Melalui Keppres ini pula jumlah industri strategis berkembang menjadi 10 industri, yaitu tambah PT Boma Bisma Indra (BBI) dan PT Barata Indonesia, sedangkan PT Nurtanio menjadi PT Industri Pesawat Terbang Nusantara dan UP Lembaga Elektroteknika LIPI menjadi UP Lembaga Elektronika Nasional (LEN) LIPI. 2.3.2. DPIS dipimpin oleh Menristek sebagai Ketua merangkap Anggota, dengan anggota Menperin, Menhankam, Menhub, Menparpostel, Mensekneg dan Pangab. Setelah berubah menjadi BPIS, sebagai ketua tetap oleh Menristek, dibantu Wakil Ketua dan 4 Deputi

24

(Perencanaan,

Ekonomi

dan

Keuangan,

Teknologi

serta

Administrasi). Melalui Keppres No. 56 tahun 1989, BPIS ini diketuai langsung oleh Presiden, sedangkan Menristek/Ketua BPPT menjadi Wakil Ketua. Menristek/Ketua BPPT yang juga

menjadi Ketua BPIS, saat dijabat oleh Prof. Dr. B.J. Habibie telah meletakkan suatu konsep pembangunan industri di Indonesia melalui transformasi teknologi dalam 4 tahap a. Tahap pertama, yaitu tahap pengalihan seluruh teknologi yang telah ada di dunia untuk semua proses nilai tambah dalam rangka produksi barang-barang yang telah ada. b. Tahap kedua, yaitu tahap integrasi seluruh teknologi yang telah ada ke dalam desain dan produksi barang yang baru sama sekali dan belum ada di pasaran. c. Tahap ketiga, yaitu tahap pengembangan teknologi itu sendiri, dimana seluruh teknologi yang telah ada atau baru, dikembangkan lebih lanjut. Semua itu dilakukan dalam rangka merancang produkproduk masa depan. d. Tahap keempat, yaitu tahap pelaksanaan penelitian dasar secara besar-besaran dan hasil dari penelitian dasar yang dilakukan oleh negara maju dapat dimanfaatkan oleh negara berkembang melalui perjanjian-perjanjian kerjasama di bidang ilmu pengetahuan dan teknologi (Sudaryanto, 1993 : 35-36 seperti yang dikutip Balitbang Dephan, 2008).

25

2.3.3. Untuk melaksanakan transfer teknologi di dalam pembinaan industri strategis, wahananya adalah sebagimana ditetapkan oleh Keppres No. 44 tahun 1989 sebanyak 10 Badan Usaha Milik Negara Industri Strategis (BUMNIS), yang masing-masing memiliki kemampuan produksi sebagai pusat unggulan sebagai berikut : a. PT IPTN sebagai pusat keunggulan industri dirgantara memproduksi pesawat terbang berbagai tipe pesawat sayap tetap dan helikopter, melaksanakan program offset dan subcontract dengan perusahaan-perusahaan luar negeri,

memproduksi sistem senjata (torpedo dan roket) serta pelayanan jasa purna jual untuk pesawat, mesin-mesin pesawat dan mesin-mesin industri. b. PT Pindad sebagai pusat keunggulan industri persenjataan dan produk tempa, generator listrik, vacuum circuit breaker, mesin perkakas serta komponen sarana

transportasi. c. PT PAL sebagai pusat keunggulan industri terkait dengan kebutuhan pemeliharaan kapal kombatan TNI AL,

memproduksi peralatan engineering. d. Perum Dahana sebagai pusat keunggulan industri bahan peledak dan propelan.

26

e.

PT Krakatau Steel sebagai pusat keunggulan industri besi baja dengan macam produksinya besi spons, slab baja, billet dan kawat baja.

f.

PT INKA sebagai pusat keunggulan kereta api dengan produk andalan kereta penumpang, gerbong barang dan KRL serta KRD.

g.

PT INTI sebagai pusat keunggulan telkom dan informasi, mempunyai produksi andalan sentral telepon digital, produk switching dan terminal pesawat telepon elektronik, pesawat telepon umum dan perangkat transmisi.

h.

UP, LEN LIPI sebagai pusat keunggulan industri elektronika dan komponen dengan produk andalan TV dan radio, stasiun bumi kecil, persinyalan KA, terminal telepon, telex dan switching.

i.

PT Barata Indonesia sebagai pusat keunggulan industri pengecoran, alat berat dan peralatan industri dengan produk andalan manufaktur alat berat, pekerjaan konstruksi, permesinan, pengecoran besi dan baja serta jasa pemasaran dan rancang bangun.

j.

PT BBI sebagai pusat keunggulan industri motor (diesel) dan peralatan industri dengan produk andalan motor diesel, konstruksi pelat, mesin dan peralatan pabrik serta peralatan pertanian/barang tempa dan rekayasa pabrik.

27

2.3.4. Seiring dengan munculnya krisis ekonomi yang melanda Indonesia, badan usaha yang tergabung dalam industri strategis dan Hankam terkena dampaknya. Begitu pula pengelolaannya

mengalami perubahan, yaitu pada tahun 1999 BPIS berubah menjadi PT Prakarya Industri (Persero) dan berubah lagi menjadi PT Bahana Prakarya Industri Strategis (Persero). Sejalan dengan era reformasi pada tahun 2002 PT Bahana Prakarya Industri Strategis (Persero) dibubarkan, dan sejak saat itu industri-industri tersebut beralih status sebagai PT (Persero) di bawah pembinaan Kementerian Badan Usaha Milik Negara (BUMN). 2.4. Pembangunan Industri Pertahanan dan Kaitannya dengan

Kemandirian Alutsista 2.4.1. Pembangunan Industri Pertahanan Menuju Kemandirian Alutsista.6 Indonesia selama ini memiliki ketergantungan yang cukup tinggi terhadap luar negeri di bidang teknologi pertahanan sehingga sangat sulit untuk dapat menyusun rencana pembangunan pertahanan jangka panjang yang memiliki kepastian.

Ketergantungan terhadap produk luar negeri sangat rentan terhadap faktor politik, seperti restriksi dan embargo. Permasalahan lain

yang muncul dari ketidakmandirian pengadaan Alutsista adalah melemahnya kesiapan dan kemampuan penangkalan yang dimiliki
6

Buku Putih Pertahanan Indonesia 2008 hal. 156-159

 

28

oleh bangsa Indonesia.

Secara politik, kondisi tersebut akan

mengakibatkan Indonesia rentan terhadap tekanan politik negara lain, yang dapat berakibat pada kemungkinan terkena embargo atau pembatasan-pembatasan terhadap peralatan tertentu yang

menghambat pembangunan dan pemeliharaan Alutsista. Kemandirian pengembangan dan pengadaan Alutsista secara mutlak disadari tidak mungkin dilaksanakan. Bahkan tidak ada negara di dunia yang 100 persen bersandar pada

kemampuannya sendiri, selalu ada ketergantungan dari negara lain. Namun adanya industri pertahanan strategis untuk kepentingan pertahanan nasional tidak berarti bahwa Indonesia ambil bagian dalam perlombaan persenjataan, tetapi untuk mencapai

kemandirian dalam pengadaan Alutsista nasional demi kepentingan penyelenggaraan dalam rangka menjaga keutuhan wilayah dan integritas Indonesia. Pembangunan industri pertahanan nasional merupakan hal vital dalam upaya pemenuhan kebutuhan Alutsista yang mampu dioperasionalkan pertahanan. secara maksimal dalam penyelenggaraan

Kebutuhan Alutsista yang bergantung dari produksi

luar negeri akan menimbulkan permasalahan dan mempengaruhi kemampuan dan kesiapan TNI dalam menjalankan tugas-tugas operasional di masa yang datang. Untuk keadaan ini, sangat diperlukan pemberdayaan industri nasional untuk pengembangan dan penyedia Alutsista

29

nasional.

Namun perwujudan suatu industri pertahanan yang

sesungguhnya tidak dapat dilaksanakan oleh sektor pertahanan secara sepihak, tanpa keterlibatan sektor-sektor yang lain. Pemberdayaan industri pertahanan untuk pembangunan pertahanan memerlukan kerjasama diantara tiga pilar industri pertahanan yaitu Badan Penelitian dan Pengembangan serta Perguruan Tinggi, Industri dan pihak Kemhan/TNI, dengan dibentengi oleh kebijakan nasional yang jelas untuk menggunakan produk-produk hasil dari putra-putra terbaik bangsa. Sejauh ini industri strategis tersebut telah melahirkan berbagai produk alutsista bagi pembangunan kemampuan

pertahanan. PT. PINDAD telah memproduksi senjata ringan, senjata berat, amunisi kaliber kecil, amunisi kaliber besar, amunisi khusus bahkan mampu memproduksi kendaraan tempur. PT. PAL Indonesia telah mampu memproduksi kapal-kapal jenis korvet, kapal patroli, galangan pendaratan, tanker serta dok pemeliharaan kapal perang. PT. DI telah memproduksi pesawat transpor sayap tetap, helikopter, pesawat patroli maritim, pesawat pengintai, simulator pesawat serta pemeliharaan dan perbaikan pesawat. PT. LEN telah memproduksi sistem kendali peralatan militer, sistem deteksi, radar dan sonar serta berbagai peralatan komunikasi militer. Demikian pula, berbagai jenis bahan peledak. PT. DAHANA telah memproduksi

30

Kiprah industri-industri strategis dimaksud mengalami pasang surut sehingga perlu pembenahan secara komprehensif menyangkut kebijakan, kemampuan sumber daya serta dukungan anggaran yang memadai. Pembenahan di berbagai bidang

diharapkan akan meningkatkan kemampuan daya saing kualitas produk yang dihasilkan serta mendorong pemenuhan kebutuhan Alutsista dalam negeri sehingga tercipta kemandirian dalam pengembangan industri pertahanan. Salah satu ciri kemandirian industri pertahanan adalah adanya pola hubungan kerjasama industri yang kokoh dan kuat serta didukung oleh jaringan kemitraan yang luas. Sistem

pengelompokan industri yang saling berkaitan secara intensif dan seirama, baik sebagai industri vertikal maupun horizontal, sangat diperlukan untuk menumbuhkan dan tetap menjaga kemampuan berkompetisi dengan industri lainnya. 2.4.2. Mewujudkan Industri Pertahanan Dalam Negeri7 Upaya pengembangan industri pertahanan merupakan bagian dari penyelenggaraan pertahanan secara utuh serta juga bagian dari pembangunan nasional secara menyeluruh. Konsep pengembangan industri pertahanan melibatkan pihak pengguna (Kemhan dan TNI), pihak yang memproduksi, perancang, penguji, peneliti yang kompeten, serta perencana yang tepat dalam kerangka

7

 Ibid, hal 159‐160 

31

konsep Tiga Pilar Pelaku Industri Pertahanan. Konsep Tiga Pilar Pelaku Industri pertahanan memadukan pengembangan industri pertahanan, yakni antara perguruan tinggi dan komunitas litbang yang memiliki kemampuan untuk melakukan pengkajian dan pengembangan iptek pertahanan, industri strategis yang

mendayagunakan Iptek, serta Kemhan dan TNI sebagai pengguna. Kemhan dan TNI selaku pengguna tidak hanya menerima dan menggunakan hasil produksi dari industri strategis, tetapi juga terlibat dalam pengembangan desain sampai menghasilkan prototipe menurut kebutuhan. Keterlibatan pengguna dalam hal ini diemban oleh badan-badan Litbang yang dimiliki Kemhan dan TNI untuk meneliti dan mengembangkan Alutsista dan sarana prasarana yang tepat menurut kebutuhan pertahanan. Peran Litbang sebagai jembatan antara pengguna dan Industri sangat penting dalam mewujudkan kemandirian industri bidang pertahanan. Kemhan bertekad untuk mengembangkan industri

pertahanan di bidang daya gerak, daya tempur, Pendukung K4I(Komando, Kendali, Komunikasi, Komputer, dan Informasi) dan Bekal. Hal ini tertuang dalam kebijakan pembangunan industri pertahanan sebagai dasar hukum bagi perwujudan kemandirian pertahanan. Pengembangan industri pertahanan ini tidak berarti upaya pengembangan kekuatan persenjataan dalam rangka perlombaan persenjataan tetapi untuk lebih memberdayakan dan

32

menggiatkan industri pertahanan dalam pengadaan senjata secara mandiri.

2.4.3. Kerja Sama dalam Pengembangan Industri Pertahanan8 Sebagai penjabaran dari upaya pengembangan dimaksud, telah dijajaki beberapa kerja sama dengan berbagai pihak, baik di dalam maupun luar negeri. Dengan luar negeri, misalnya dengan Jerman sedangkan beberapa negara lain juga sudah menyampaikan keinginannya untuk membantu Indonesia. Kerja sama

pengembangan industri pertahanan dengan pihak luar negeri akan dilaksanakan dalam bidang riset dan pengembangan teknologi pengayaan sumber-sumber energi, bahan metal dan semi konduktor serta propelan maupun peningkatan kualitas sumber daya manusia. Pembahasan kerja sama ini diikuti juga oleh industri pertahanan dan beberapa universitas yang lebih banyak diisi oleh diskusi kerja sama di bidang riset dan teknologi serta kunjungan ke laboratorium dan fasilitas industri pertahanan, kemungkinan pemberian bea siswa pendidikan yang diprioritaskan pada pengembangan sumber energi, seperti bahan peledak yang risetnya direncanakan mulai dilaksanakan pada 2008. Untuk pengembangan sumber daya manusia akan diadakan juga program magang. Mereka akan dikirim ke beberapa fasilitas pemerintah asing dalam bidang pengayaan energi dan Litbang semi konduktor.
8

Ibid, hal 161-162

33

Kerja sama dengan pihak di dalam negeri juga terus dikembangkan. Kerja sama dengan pihak dalam negeri, selain untuk kepentingan pertahanan, juga sebagai bentuk kontribusi pertahanan dalam menggairahkan kemampuan dalam negeri, yakni dari segi pengembangan sains dan teknologi dalam negeri, perekonomian, perdagangan, dan ketenagakerjaan. Dalam rangka pengembangan industri pertahanan, Kemhan akan menyusun kebijakan pembinaan teknologi dan industri pertahanan untuk memenuhi kebutuhan pertahanan negara. Untuk mewujudkan sasaran tersebut, Kemhan akan melibatkan pihak di dalam negeri, meliputi perguruan tinggi, sektor swasta, maupun dengan BUMNIP, BPPT, TNI, atau lembaga lain yang memiliki kemampuan dalam bidang sains dan teknologi. 2.5. Kerangka Pemikiran Berdasarkan latar belakang dan permasalahan di atas terkait strategi pengembangan industri pertahanan dalam rangka mendukung kemandirian Alutsista, dengan menggali berbagai informasi dari sejumlah stakeholders yang meliputi faktor-faktor penyebab tidak optimalnya

industri pertahanan dalam mendukung kebutuhan Alutsista TNI selama ini agar dapat dirumuskan strategi yang tepat di masa mendatang bagi optimalisasi peran industri pertahanan dalam mendukung kemandirian Alutsista tersebut. Faktor-faktor yang diasumsikan menjadi penyebab kurang

optimalnya peran industri pertahanan selama ini meliputi faktor internal dan eksternal sehingga terpetakan kekuatan dan kelemahan, peluang dan

34

kendala, sehingga dapat diambil strategi dan upaya yang paling mungkin dilakukan bagi optimalisasi peran industri pertahanan tersebut. 2.6. Instrumen Penelitian Instrumen yang digunakan pada penelitian ini adalah wawancara (interview) mendalam kepada sejumlah stakeholders di lingkungan Kemhan dan TNI. Beberapa poin penting (substansi) pertanyaan yang

akan diajukan antara lain potensi, kemampuan dan kesiapan industri pertahanan saat ini, kendala-kendala apa selama ini yang sering menghambat peran industri pertahanan dalam mendukung kemandirian Alutsista tersebut, serta peluang dan kendala yang mungkin

mempengaruhi peran tersebut. Disamping menggunakan data primer melalui wawancara, penelitian ini juga didukung data-data sekunder kondisi, potensi, kemampuan dan kesiapan industri pertahanan tersebut dari berbagai dokumen, hasil-hasil penelitian yang pernah dilakukan oleh berbagai pihak, khususnya Kemhan dan TNI. 2.7. Menentukan Sampel (Responden) Teknik sampling yang digunakan pada penelitian ini adalah purpossive random sampling dari populasi stakeholders di lingkungan Kemhan dan TNI secara selektif. Teknik sampling diatas dipilih

didasarkan pada asumsi bahwa responden yang terpilih mereka-mereka yang mengetahui dengan baik permasalahan penelitian dan juga dalam kapasitasnya sebagai penentu dalam proses pengambilan kebijakan terkait pembinaan industri pertahanan dan kemandirian Alutsista TNI. Mengingat keterbatasan pada penulis, persyaratan jumlah sampel tidak menjadi prioritas utama tanpa mengabaikan keterwakilan data.

35

Artinya bahwa responden terpilih nantinya diyakini dapat memberikan informasi/data yang dapat menjadi kesimpulan umum (generalisasi). 2.8. Analisis SWOT
Sementara itu Analisis SWOT (Strength, Weakness, Opportunities

and Threat) Analysis adalah analisis yang dilakukan untuk dapat melakukan identifikasi terhadap kekuatan, kelemahan yang disebabkan oleh pengaruh internal, peluang dan ancaman yang berasal dari lingkungan eksternal. Manfaat analisis ini sebagai bahan acuan untuk memperkuat

dan memanfaatkan peluang serta meminimalkan kelemahan dan menetralkan ancaman.9 Analisis ini mencari masing-masing kekuatan dan kelemahan untuk disilangkan dengan peluang dan ancaman dalam rangka peningkatan peran industri pertahanan dalam mendukung kemandirian Alutsista TNI, kemudian hasilnya diarahkan menjadi strategi pertahanan yang diharapkan. Hasil SWOT disajikan dalam bagan berikut :  Peluang (Opportunities)

Gunakan peluang untuk menanggulangi Kelemahan (Konsolidasi )

Gunakan kekuatan untuk Meraih peluang yang ada (Ekspansi)

II Kelemahan (Weaknesses)

IV

I

I Kekuatan (Strengths)

Bertahan

Gunakan kekuatan untuk Menghadapi ancaman yang ada (Diversifikasi)

III II

Ancaman (Threats) Gambar 2.1.
9

Kuadran SWOT

 Siagian, Sondang P. 2008, Manajemen Stratejik, Edisi ke-8, Bumi Aksara, Jakarta hal. 56 

36

BAB III METODOLOGI PENELITIAN

Metodologi penelitian merupakan suatu proses dimana rangkaian langkah-langkah dilakukan secara terencana dan sistematis guna mengetahui permasalahan sesungguhnya sebagai potret data awal selanjutnya di analisa untuk mendapatkan pemecahan dari masalah yang diteliti menghasilkan suatu kondisi yang diharapkan dapat tercapai. Langkah-langkah yang dilakukan harus baik dan saling mendukung satu sama lainnya, agar penelitian mempunyai suatu nilai lebih dan bobot yang memadai serta memberikan suatu kesimpulan untuk menangani dan menjawab masalah yang diteliti.

3.1.

Persiapan Penelitian Persiapan penelitian dilakukan dengan mencari latar belakang masalah yang akan diteliti lalu mengidentifikasi masalah tersebut dan menetapkan tujuan, pembatasan dan perumusan masalah. 3.1.1. Latar belakang Dalam penelitian ini peneliti melakukan penetapan topik permasalahan yaitu dengan mencari latar belakang masalah peran industri pertahanan dalam mendukung kemandirian Alutsista TNI. Topik masalah yang akan diteliti perlu ditentukan terlebih dahulu agar peneliti dapat mengetahui latar belakang dari masalah yang akan diteliti dan penelitian dapat dilakukan lebih terarah.

37

3.1.2. Identifikasi masalah Setelah mengetahui latar belakang masalah maka langkah berikutnya adalah mengidentifikasi masalah yang ada pada populasi yang dituju (industri pertahanan dan Kemhan/TNI). Permasalahan yang diangkat pada penelitian ini adalah masalah peran industri pertahanan dalam mendukung kemandirian Alutsista TNI.

3.1.3. Tujuan penelitian Langkah selanjutnya adalah menetapkan tujuan penelitian. Penelitian dilakukan dengan tujuan untuk dapat menentukan strategi pengembangan peran industri pertahanan dalam

mendukung kemandirian Alutsista TNI Pembatasan masalah Dengan adanya pembatasan masalah ini diharapkan setiap tahap penelitian yang dilakukan oleh peneliti memiliki batasan dan arah yang jelas. Dalam penelitian ini peneliti membatasi masalah peran industri pertahanan dalam mendukung kemandirian

Alutsista TNI dan bagaimana strategi yang mungkin dapat dilakukan pada masa mendatang.

3.2.

Studi Pendahuluan Dalam studi pendahuluan ini peneliti melakukan studi pustaka dan studi lapangan serta melakukan pemilihan sampel dan mencari informasi

38

tentang Strategi Pengembangan Industri Pertahanan Dalam Rangka Mendukung Kemandirian Alutsista. 3.2.1. Studi pustaka Merupakan kegiatan yang dilakukan dengan cara membaca bukubuku dan referensi yang berhubungan dengan peran industri pertahanan dalam mendukung kemandirian Alutsista TNI. Rumusan-rumusan dan konsep-konsep teoritis dari berbagai literatur dipelajari agar diperoleh landasan teori yang baik dan tepat untuk dapat digunakan dalam mengembangkan konsep penelitian. Landasan teori ini memudahkan untuk

mengidentifikasi faktor-faktor yang mempengaruhi peran industri pertahanan dalam mendukung kemandirian Alutsista TNI.

3.2.2. Studi lapangan Merupakan kegiatan untuk mencari keterangan atau informasi mengenai gambaran umum populasi yang dituju yaitu dengan cara pengamatan langsung. Dari studi lapangan ini dapat diperoleh

gambaran yang jelas dari populasi penelitian ini dan berbagai informasi yang terkait dalam mendukung penelitian. 3.3. Pengumpulan Data Langkah selanjutnya adalah pengumpulan data, namun sebelum pengumpulan data dilakukan peneliti terlebih dahulu harus mengetahui data-data apa saja yang diperlukan dan bagaimana data tersebut diperoleh. Dalam penelitian ini peneliti terlebih dahulu menentukan faktor yang

39

mempengaruhi peran industri pertahanan dalam mendukung kemandirian Alutsista TNI, lalu menyusun daftar pertanyaan kepada responden (para stakeholders di lingkungan Kemhan dan TNI). 3.4. Pengolahan dan Analisis Data Penelitian ini menggunakan metode penelitian deskriptif-analitis dengan memaparkan fakta-fakta yang ditemukan dari lapangan dan dari sumber yang dihadapkaan pada permasalahan penelitian dan berupaya mengurai faktor-faktor yang relevan dengan substansi penelitian serta merumuskan strategi yang dapat dilakukan. Metode deskriptif adalah

metode penelitian untuk meneliti status sekelompok manusia, suatu obyek, suatu set kondisi, suatu sistem pemikiran atau suatu kelas peristiwa pada masa sekarang. Tujuan penelitian deskriptif ini adalah membuat

deskripsi, gambaran atau lukisan secara sistematis, faktual dan akurat mengenai fakta-fakta, sifat-sifat serta hubungan antar fenomena yang diselidiki dengan cara mengumpulkan data-data yang diperoleh kemudian dianalisis dengan menggunakan pendekatan kualitatif.10 Menurut Whitney11 metode deskriptif adalah pencarian fakta dengan interpretasi yang tepat. Penelitian deskriptif mempelajari

masalah-masalah dalam masyarakat serta tata cara yang berlaku dalam masyarakat serta situasi-situasi tertentu termasuk tentang hubungan kegiatan-kegiatan, sikap-sikap, pandangan-pandangan serta proses-proses

10 Wahono, RI, Jenis-jenis Penelitian, Bahan-bahan Kuliah Metodologi Penelitian. Program Pascasarjana UI, Pengkajian Ketahanan Nasional, 2000. 11

F.L. Whitney, The Elements of Research, Prentice Hall Inc, New York, 1960, hal. 204.

40

yang sedang berlangsung dan pengaruh-pengaruh dari suatu fenomenafenomena tertentu sehingga merupakan suatu studi yang komparatif. Adakalanya peneliti membuat klasifikasi serta penelitian terhadap fenomena-fenomena tertentu dengan menetapkan standar atau norma tertentu sehingga metode deskriptif ini juga dinamakan survei normatif. Penelitian ini menggunakan teknik analisa kualitatif.

Permasalahan pertama, dilakukan analisis deskriptif terhadap data-data primer dan sekunder (data dari dokumen, referensi dan sumber-sumber lainnya). Sedangkan untuk dapat menghasilkan alternatif strategi pengembangan alutsista sehingga kemandirian industri pertahanan dapat diwujudkan (permasalahan kedua) dalam rangka mendukung pertahanan negara dianalisis dengan menggunakan analisis SWOT. Analisis ini

mencari masing-masing kekuatan dan kelemahan untuk disilangkan dengan peluang dan ancaman dalam rangka pengembangan alutsista dan industri pertahanan, kemudian hasilnya diarahkan menjadi strategi pertahanan yang diharapkan.

3.5.

Kesimpulan Dari penelitian yang telah dilakukan maka dapat ditarik kesimpulan berdasarkan hasil analisis tersebut. Kesimpulan yang didapat berdasarkan hasil studi pendahuluan, pengumpulan data, pengolahan data dan analisis data sehingga dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah.

41

3.6.

Diagram Alir Penelitian

Persiapan Penelitian
Identifikasi Masalah Latar Belakang Landasan Teori

Tujuan Penelitian

Pembatasan Masalah

Studi Pendahuluan
Studi Lapangan Informasi Peran Industri Petahanan

Pengumpulan Data
Penentuan FaktorFaktor Peran Industri Pertahanan dan Kemandirian Alutsista Pengumpulan data Penyusunan Daftar Pertanyaan Wawancara

Pemilihan Sampel Penelitian

Pelaksanaan Wawancara

Pengolahan & Analisis Data
Analisis Deskriptif Strategi Pengembangan Industri Pertahanan Dalam Mendukung Kemandirian Alutsista

Analisis SWOT

Kesimpulan dan Saran

Kesimpulan

Gambar 3.1. Diagram Alir

42

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

Dari hasil pengumpulan data melalui wawancara kepada responden khususnya para stakeholders (pejabat di lingkungan Kemhan/TNI, anggota KKIP dan industri) terkait dengan faktor-faktor utama yang menghambat perkembangan industri pertahanan dan strategi yang mungkin dapat dilakukan pada masa mendatang dalam rangka mewujudkan kemandirian Alutsista diperoleh hasil seperti yang diuraikan pada sub-sub bab berikut ini : 4.1. Analisis Kebijakan Pengembangan Alat Utama dan Sistem

Persenjataan (Alutsista) dan Pembangunan Industri Pertahanan Pemerintah saat ini dihadapkan pada persoalan yang cukup berat, di tengah keterbatasan keuangan negara, tuntutan dan harapan masyarakat bagi peningkatan kesejahteraan dan kompleksitas permasalahan

pertahanan negara “memaksa” pemerintah untuk menaikkan alokasi anggaran bagi pertahanan negara, khususnya upaya memodernisasi Alutista. Beberapa kasus ketegangan Indonesia dengan Malaysia terkait

pelanggaran perbatasan seperti kasus “Ambalat” dan perlakuan Malaysia terhadap para TKI serta klaim terhadap sejumlah produk seni dan budaya nasional dianggap melecehkan nasionalisme dan martabat bangsa. Namun kita tidak bisa bersikap tegas terhadap pelanggaran perbatasan yang dilakukan Malaysia ataupun pihak asing, disebabkan kemampuan peralatan perang kita yang kalah “kelas” yang berimplikasi juga terhadap kemampuan diplomasi yang lemah dan posisi tawar yang rendah dengan

43

pihak musuh. Pada TA. 2011 ini anggaran pertahanan negara menduduki posisi ketiga setelah anggaran pendidikan nasional dan pembangunan infrastruktur. Dari perspektif analisis kebijakan dalam upaya mengatasi kompleksitas persoalan pertahanan dihadapkan dengan keinginan kuat untuk mengembangkan kekuatan pertahanan khususnya modernisasi Alutsista dan pembangunan industri pertahanan. Kasus PT. DI yang

merupakan salah satu industri strategis di bidang kedirgantaraan patut kita jadikan pelajaran berharga agar kita dapat lebih bijak dalam menetapkan kebijakan dan pengelolaan industri yang tergolong strategis. Secara umum dapat dijelaskan bahwa kebijakan yang baik ditentukan oleh banyak faktor diantaranya latar belakang pemikiran kebijakan tersebut, tujuan dan lingkup kebijakan, kelengkapan informasi yang diperoleh, siapa aktor-aktor yang terlibat dalam perumusan kebijakan, bagaimana dampak kebijakan tersebut. Dalam konteks kebijakan pertahanan negara, dalam banyak hal perlu adanya kesamaan persepsi antara state actors dan non-state actors. Masih banyak anggapan di masyarakat bahwa persoalan pertahanan negara merupakan tanggung jawab militer dan persoalan-persoalan militer. Anggapan tersebut jelas salah, tetapi amat sulit menemukan persamaan pandangan dan pemikiran yang sama tentang konsep pertahanan.. Konsep, sistem dan strategi pertahanan negara yang telah disepakati yaitu pertahanan semesta hendaknya perlu disosialisasikan sampai ke tingkat akar rumput. Pernyataan di atas sempat menjadi

44

pengalaman penulis ketika melakukan kunjungan kerja ke daerah, dimana terjadi mispersepsi dan miskomunikasi. Ketika penulis dan tim akan

melakukan koordinasi dengan pejabat sipil dan LSM di daerah untuk mendapatkan informasi dan data terkait dengan salah satu isu pertahanan, terdapat beberapa pandangan yang berseberangan. Mereka merasa bahwa tanggung jawab pembangunan pertahanan negara hanya domainnya Kemhan/TNI dan pemerintah pusat. Mereka cenderung melihat bahwa

terlibat dalam pembangunan pertahanan hanya akan menambah persoalan dan beban pemda dan masyarakat daerah. Saat itu, penulis

berkesimpulan bahwa terjadi pemahaman yang salah dalam menyikapi kebijakan Otonomi Daerah dan pertahanan negara merupakan salah satu bidang yang tidak dapat didesentralisasikan ke daerah. Penulis mengawali analisis kebijakan ini dari bagaimana kita bisa membangun persepsi yang sama dalam melihat dan menyikapi persoalan pertahanan negara. Hal ini merupakan entry point bagi bagaimana publik

dapat berperan serta dalam pembangunan dan penyelenggaraan pertahanan negara. Kita harus kembali kepada semangat sebelum kemerdekaan dan semangat mempertahankan kemerdekaan (era 1940-an s.d. 1950-an). Nilai-nilai nasionalisme itu harus tetap ditumbuh-kembangkan, terlebih saat sulit sekarang ini. kita semua anak bangsa. Persoalan-persoalan bangsa ini adalah persoalan Bangsa Indonesia harus mampu bangkit dari

keterpurukan, kita harus melihat bahwa perbedaan asal usul dan keragaman budaya sebagai modal dan nilai plus bangsa ini. Cita-cita yang

45

telah dirumuskan para founding fathers bangsa harus dapat diwujudkan oleh generasi sekarang dan generasi mendatang. Terkait dengan kebijakan-kebijakan pertahanan negara, khususnya upaya memodernisasi Alutsista dan membangun kemandirian industri pertahanan perlu terus dikaji ulang agar kita dapat merumuskan suatu kebijakan baru yang lebih komprehensif integral dan memberikan kemanfaatan yang optimal. Pembangunan pertahanan negara tidak bisa

dipandang dari aspek ekonomi semata, karena memang memodernisasi Alutsista dan mewujudkan kemandirian industri strategis tidak mampu mengembalikan nilai investasi dan meningkatkan laju pertumbuhan ekonomi dalam waktu singkat. Pembangunan pertahanan negara harus

dilihat dari seberapa besar manfaat yang dapat kita peroleh jika kita memiliki kekuatan pertahanan yang kuat. Bisa dibayangkan, jika kita

memiliki kemampuan Alutsista yang handal, industri pertahanan yang maju dan prajurit yang profesional mungkin saja pencurian kekayaan alam terutama kekayaan laut, perebutan wilayah, penyelundupan, terorisme dan banyak lagi persoalan pelik lainnya dapat diminimalkan. Berapa besar

kerugian negara yang bisa dikembalikan jika kita dapat menjaga wilayah laut kita dari pencurian dan penyelundupan. Belum lagi sikap negara-

negara tetangga dan pihak asing yang memiliki kepentingan di sekitar wilayah kedaulatan kita akan berubah menjadi lebih menghargai kita. Posisi tawar Indonesia akan semakin meningkat dan keberadaan kita semakin diperhitungkan dalam pergaulan dunia internasional.

46

Langkah-langkah yang dapat dilakukan negara (pemerintah) antara lain tetap berupaya menambah alokasi anggaran pertahanan negara, terutama bagi upaya memodernisasi Alutsista dan pengembangan industri pertahanan setiap tahunnya, sehingga pada masa mendatang paling tidak Indonesia memiliki besaran alokasi anggaran pertahanan bisa mencapai dua persen dari PDB. Kebijakan Kemhan/TNI yang menekankan pembangunan pertahanan negara yang bertumpu pada minimum essential force menggambarkan pada realitas kondisi negara saat ini. Keterbatasan anggaran menjadi alasan pokok bagi pembangunan bidang pertahanan, khususnya modernisasi Alutsista dan pembangunan industri pertahanan. Jika dikaji lebih dalam bahwa kebijakan tersebut adalah kebijakan yang pesimistis dan tidak kurang berani mengambil risiko. Pertanyaan

berikutnya yang mungkin bisa dikedepankan adalah sampai kapan bertahan pada kebijakan tersebut? Sampai kapan Alutsista yang dimiliki Apakah tidak

saat ini mampu mendukung tugas-tugas pokok TNI?

mungkin ada kebijakan baru yang lebih bijak dan berani menghadapi risiko? Pertanyaan-pertanyaan di atas patut dikemukakan, mengingat sesungguhnya kita memiliki potensi untuk dapat lebih baik dan bangkit untuk lebih maju. Indonesia memiliki sejumlah industri strategis dan

industri pendukung lainnya yang belum dikelolah dengan bijak; memiliki tenaga-tenaga ahli yang handal yang kurang dihargai di negeri sendiri (lebih dihargai di luar negeri); memiliki sumber-sumber kekayaan alam dalam jumlah melimpah yang dapat dikembangkan dalam mendukung

47

bahan baku industri pertahanan dan suku cadang Alutsista.

Teknologi

memang merupakan salah satu kata kunci persoalan ini, tetapi teknologi dapat dipelajari dan terbukti bahwa kita punya kemampuan untuk menguasai teknologi. Persoalan penting yang harus dipecahkan adalah bagaimana semua pihak dapat duduk berdampingan, menyamakan persepsi dan tujuan yang disertai dengan komitmen yang kuat, tidak mengedepankan kepentingan sektoral untuk membangunan kekuatan pertahanan negara yang handal. Peran serta publik amat dibutuhkan, pemerintah hanya sebagai fasilitastor dan katalisator. Penentuan kebijakan tidak harus selalu diserahkan

kepada pemerintah semata sebagai satu-satunya penentu setiap kebijakan, apalagi yang bersifat strategis. Pada era demokrasi saat ini, partisipasi publik juga sangat penting bagi keberhasilan sebuah kebijakan. Salah

satu kelemahan yang mungkin harus diperbaiki dan ditingkatkan dari sikap bangsa ini adalah sulitnya menerima perbedaan dan lemah dalam berkoordinasi. Manajemen negara yang baik menuntut hal itu, apalagi dalam menyelesaikan persoalan-persoalan yang kompleks. Khusus tentang modernisasi Alutsista dan pembangunan

kemandirian industri pertahanan, pemerintah khususnya Kemhan/TNI perlu segera memperbaiki kualitas penelitian dan pengembangan (litbang) pertahanan dan meningkatkan kerjasama secara intens kepada pihak Perguruan Tinggi (PT) dan Industri (kerjasama Tripartit). Upaya tersebut juga berarti bahwa perlu adanya peningkatan anggaran bagi litbang pertahanan. Kemudian mengkaji ulang semua prosedur pengadaan

48

sarana dan prasarana pertahanan, khususnya Alutsista TNI.

Pengadaan

Alutsista sepatutnya harus melalui proses litbang dan memberdayakan industri dalam negeri. Disamping itu perlu suatu keberanian untuk

mengurangi keinginan membeli Alutsista dari luar negeri; harus ada upaya untuk memulai dan mengembangkan industri pertahanan demi mengurangi ketergantungan dengan pihak luar. Langkah yang bisa ditempuh dimulai

dengan merumuskan suatu kebijakan baru tentang kemandirian industri pertahanan dengan berpegangan pada satu prinsip bahwa tidak ada pihak yang dirugikan; bila perlu pemerintah menyediakan insentif bagi litbang pertahanan maupun industri pertahanan dan pendukungnya.

4.2.

Analisis Deskripsi Faktor-faktor Penyebab Sulit Berkembangnya Industri Pertahanan Dalam Mendukung Kemandirian Alutsista Sebelum sampai kepada pembahasan faktor-faktor utama

penghambat berkembangnya industri pertahanan, terlebih dahulu perlu dipahami bahwa untuk membangun industri pertahanan membutuhkan investasi yang sangat besar dan pengembalian modal investasi tersebut (break event point) tidak akan perlu dapat diperoleh dalam waktu singkat. Namun membangun pertahanan negara yang kuat memberikan nilai manfaat (benefit values) yang sangat besar bagi pembangunan nasional bagi terselenggaranya kesinambungan pembangunan nasional. contoh manfaat tersebut diantaranya terjaminnya Beberapa dan

keutuhan

keselamatan bangsa dari berbagai ancaman, penegakan kedulatan negara khususnya terhadap pelanggaran di perbatasan negara, penegakan hukum

49

terhadap kekayaan alam dari berbagai pencurian yang dilakukan pihak asing baik , di daratan maupun perairan Nusantara, pengamanan obyek vital, pencegahan bahaya terorisme dan lain sebagainya. Beberapa dekade perjalanan roda pemerintahan telah terjadi miskebijakan dari pemerintahan yang berkuasa, dimana selalu meletakkan titik berat pembangunan nasional untuk mengutamakan pertumbuhan ekonomi makro, memprioritaskan kesejahteraan rakyat yang nyatanya hanya terkonsentrasi di wilayah-wilayah tertentu (tidak merata), namun mengabaikan pembangunan pertahanan negara. Selama ini peralatan

militer (Alutsista dan sarana pertahanan) hanya merupakan pengadaan dari luar negeri yang justru lebih menguntungkan negara produsen/principal. Perjanjian di awal-awal transaksi seperti jaminan transfer of technology (TOT) dan jaminan purna jual tidak seperti yang diharapkan. Kasus

embargo terhadap sejumlah komponen suku cadang Alutista yang pernah kita alami harus menjadi pelajaran yang berharga bahwa betapa pentingnya membangun kemandirian industri pertahanan. Dari aspek kebijakan pemerintah selama ini, terdapat sejumlah kebijakan yang justru kontraproduktif terhadap pembangunan industri pertahanan antara lain : 4.2.1 Pembangunan industri nasional tidak dirancang secara bersinergi antara industi hulu sampai dengan industri hilir. Industri nasional selama ini lebih kepada orientasi sektoral, sehingga ketika krisis ekonomi dan moneter terjadi di Indonesia 1997-1998 banyak industri besar kolaps, yang bertahan justru industri kecil dan

50

industri rumah tangga. antara Kementerian

Disamping itu juga terjadi miskebijakan BUMN, Kementerian Perindustrian, dengan

Kementerian

Perdagangan, yang

Kementerian dikeluarkan

Keuangan oleh

kebijakan-kebijakan

Kementerian

Pertahanan terkait dengan pengadaan dan modernisasi Alutsista, sehingga upaya membangun kemandirian Alutsista sulit untuk dilaksanakan. Pengadaan Alutsista dari luar negeri seperti

pembelian satu skuadron pesawat tempur Sukhoi dari Rusia dengan fasilitas kredit ekspor (KE) justru membebani keuangan negara. 4.2.2 Selama ini industri nasional khususnya industri pertahanan sering dijadikan “alat politik” para penguasa, dimana terjadi tarik-menarik kepentingan sehingga industri tersebut kurang dapat berkembang. 4.2.3 Kebijakan pajak, moneter dan fiskal yang diterapkan pemerintah terhadap keluar masuk barang justru menambah beban biaya produksi yang semakin tinggi. Pada masa mendatang diharapkan ada insentif dari pemerintah untuk mengurangi atau menghilangkan beban pajak dan bea fiskal bagi komponen dan suku cadang untuk Alutsista sehingga industri dalam negeri dapat lebih berkembang untuk mendukung produksi Alutsista. Dari aspek kesiapan mesin/fasilitas produksi, secara umum industri pertahanan yang ada saat ini banyak memiliki mesin/fasilitas produksi yang sudah ketinggalan zaman, sehingga kapasitas produksi tidak optimal. Untuk melakukan modernisasi terhadap mesin/fasilitas produksi tersebut, industri kesulitan modal karena membutuhkan investasi yang sangat besar.

51

Keterbatasan modal sejumlah industri pertahanan tersebut juga diperparah dengan kurangnya kejelasan order produk Alutsista dari Kemhan/TNI. Selama ini setiap kali pesanan produk Alutsista yang

dibutuhkan TNI tidak dapat jaminan kesinambungan order/proyek tersebut. Industri-industri tersebut mengharapkan adanya kerjasama multi years, sehingga perencanaan dan jaminan produksi Alutsista tersebut dapat menjamin keberlangsungan industri dan mampu menutupi biaya produksi dan operasional yang memang cukup besar. Ditambah lagi

minimnya dukungan pihak perbankan untuk mendukung industri dalam pemenuhan kebutuhan produksi Alutsista tersebut. Faktor lainnya juga cukup menonjol selama ini yakni masih lemahnya political will pemerintah dan komitmen TNI untuk

menggunakan produksi dalam negeri.

Hendaknya “cinta produk dalam

negeri” tidak hanya sebagai slogan ataupun retorika, tetapi harus menjadi sebuah kesadaran bersama dan sebagai gerakan nasional. Pilihan

pengadaan Alutsista dari luar negeri oleh TNI haruslah menjadi pilihan terakhir, dengan pertimbangan bahwa produk tersebut belum mampu diproduksi oleh industri dalam negeri. Kurang berkembangnya industri pertahanan dalam mendukung

pemenuhan kebutuhan Alutsista dan sarana pertahanan juga disebabkan oleh kemampuan teknologi yang dimiliki masih terganting kepada negara principal, mengingat sebagian besar industri pertahanan masih

menggunakan lisensi dalam produksinya.

52

4.3.

Strategi Pengembangan Industri Pertahanan Bagi Terwujudnya Kemandirian Alutsista Untuk merumuskan strategi yang tepat bagi pengembangan

Alutsista guna mewujudkan kemandirian industri pertahanan dalam mendukung optimalisasi penyelenggaraan pertahanan negara digunakan analisis SWOT. SWOT (Strengths, Weaknesses, Opportunities and Threats) Analysis adalah analisis yang dilakukan untuk dapat melakukan identifikasi terhadap kekuatan dan kelemahan yang disebabkan oleh pengaruh lingkungan internal serta peluang dan ancaman yang berasal dari lingkungan eksternal. Manfaat analisis ini sebagai bahan acuan untuk

memperkuat kekuatan dan memanfaatkan peluang serta meminimalkan kelemahan dan menetralkan ancaman. Sebagai langkah awal analisis dimulai dengan mengidentifikasikan berbagai faktor strategi internal dan eksternal yang menunjang pengembangan Alutsista guna mewujudkan kemandirian industri

pertahanan dalam mendukung optimalisasi penyelenggaraan pertahanan negara dan selanjutnya melakukan pembobotan atas berbagai faktor

strategi sesuai dengan tahap analisis SWOT. 4.3.1. Analisis Lingkungan Internal Analisis Lingkungan Internal (Internal Faktor Analisis Strategi-IFAS) merupakan sejumlah data berkaitan dengan

kekuatan (Strength) dan kelemahan (Weakness) yang berasal dari dalam keluar, terkait dengan IFAS, berdasarkan urgensinya adalah sebagai berikut :

53

4.3.1.1 Kekuatan (Strengths) 1) Doktrin dan strategi pertahanan negara yang menganut sistem pertahanan semesta menjadi kekuatan bersama serta mempererat kesatuan dan persatuan bangsa dalam upaya mewujudkan tujuan nasional dan tujuan pembangunan nasional 2) Salah satu prioritas program pemerintah saat ini yaitu melaksanakan revitalisasi industri pertahanan, yang ditandai dengan terbentuknya (KKIP) Komite sesuai

Kebijakan

Industri

Pertahanan

Perpres No. 42//2010 sebagai lembaga yang memiliki kewenangan dalam
mengoordinasikan

pelaksanaan dan pengendalian kebijakan nasional industri pertahanan.

3)

Potensi SDM Indonesia (tenaga ahli bidang engineering) cukup banyak dengan kemampuan yang handal..

4)

Potensi industri pertahanan (BUMNIP) yang cukup besar dan didukung oleh kemitraan yang kuat dengan UKM dalam mendukung kesinambungan suplai produksi komponen dan suku cadang pendukung.

54

4.3.1.2 Kelemahan (Weaknesses) 1) Masih banyak kebijakan terkait pemberdayaan industri pertahanan dan modernisasi Alutsista yang masih tumpang tindih dan benturan kepentingan antar pihak. 2) Keterbatasan mesin dan fasilitas produksi yang dimiliki oleh industri dalam negeri, khususnya BUMNIP. 3) Teknologi Alutsista yang dimiliki sudah ketinggalan zaman dan lisensi masih tergantung pada negara principal. 4) Masih lemahnya koordinasi antar lembaga

pemerintah terkait, industri dan PT. 5) Kemampuan finansial BUMNIP relatif rendah dan belum didukung dengan kemudahan insentif dari pemerintah dan kredit perbankan.

4.3.2. Analisis Lingkungan Eksternal Analisis Lingkungan Eksternal (Eksternal Faktor Analisis Strategi- EFAS) merupakan sejumlah data berkaitan dengan peluang (opportunity) dan ancaman (threat) yang berasal dari luar kedalam, terkait dengan EFAS, sebagai berikut: berdasarkan urgensinya adalah

55

4.3.2.1. Peluang (Opportunities) 1) Posisi strategis Indonesia dapat meningkatkan peran dan posisi tawar diplomasi LN jika kekuatan pertahanan kuat 2) Permintaan pasar nasional, regional dan global terhadap Alutsista cukup tinggi. 3) Industri pertahanan berpotensi meningkatkan

pertumbuhan ekonomi dan membuka lapangan pekerjaan. 4) BUMNIP dapat diandalkan dalam produksi Alutsista jika dikelola dengan baik dan mendapat dukungan penuh dari pemerintah dan PT serta swasta. 4.3.2.2 Tantangan/Ancaman (Threats) 1) Kompleksitas dan meningkatnya spektrum ancaman mengancam keutuhan wilayah, stabilitas keamanan dalam negeri dan kelangsungan pembangunan 2) Dampak globalisasi, krisis multidimensi dan

instabilitas keamanan dalam negeri melemahkan posisi tawar Indonesia 3) Meningkatnya pelanggaran lintas batas/kedaulatan, separatis, terorisme dan transnational crime di wilayah NKRI 4) Perimbangan kekuatan pertahanan (militer) di kawasan dapat memicu konflik antar negara.

56

Tabel 4 .1.

Analisis SWOT Strategi Pengembangan Industri Pertahanan Bagi Terwujudnya Kemandirian Alutsista
Bobot Skala Bobot x Skala Keterangan Doktrin dan strategi Pertahanaan Negara adalah pertahanan semesta dan pertahanan berlapis yang merupakan tanggung jawab segenap komponen bangsa, dengan TNI sebagai komponen utama Salah satu prioritas program kerja KabinetIndonesia Bersatu II Data menunjukkan bahwa banyak tenaga ahli Indoensia, khususnya engineering yang bekerja di luar negeri dan terbukti handal di sejumlah negara (fenomena brain drain). Sesungguh kemampuan SDM tersebut merupakan modal besar bagi pembangunan nasional jika keberadaan mereka lebih dihargai Ditengah-tengah keterbatasan modal BUMNIP, kemitraan yang dibangun dengan industri UKM terbukti sangat mendukung keberlangsungan produksi BUMNIP terutama dalam penyediaan komponen suku cadang

No A

Faktor Internal Kekuatan (Strengths)

1

Doktrin dan strategi pertahanan negara

0.30

3

0,90

2

Program revitalisasi industri pertahanan

0.25

4

1,00

3

Potensi SDM Indonesia dengan kemampuan engineering yang handal

0.20

3

0,60

4

Potensi industri pertahanan (BUMNIP) yang cukup besar dan didukung oleh kemitraan yang kuat dengan UKM

0.25

3

0,75

B

Total Nilai A Kelemahan (Weaknesses)

1,00

3,25 Selama ini banyak kebijakan pengembangan industri nasional yang tidak sinergis dan sektoral serta hanya mengakomodir kepentingan kelompok tertentu sehingga pertumbuhan industri (BUMNIP) menjadi stagnan Fakta menunjukkan bahwa sebagian besar mesin dan fasilitas produksi yang dimiliki BUMNIP sudah ketinggalan zaman. Ketika mengalami kerusakan sulit menemukan suku cadang pengganti

1

Overlap kebijakan dan benturan kepentingan

0,20

-4

- 0,80

2

Keterbatasan mesin dan fasilitas produksi

0,20

-3

- 0,60

57

3

Teknologi Alutsista TNI sudah ketinggalan zaman dan lisensi masih tergantung pada negara principal

0,20

-3

- 0,60

4

Masih lemahnya koordinasi antar lembaga pemerintah terkait, industri dan Perguruan Tinggi (PT)

0,20

-3

- 0,60

Umumnya Alutsista yang dimiliki TNI saat ini telah berusia lebih dari 30 tahun dan banyak lisensinya tergantung pada negara pembuat Karena paradigma yang masih mementingkan kepentingan sektoral , koordianasi menjadi sulit dilaksanakan Umumnya BUMNIP baru akan memproduksi Alutsista jika telah memperoleh order dari pengguna. Upaya melakukan pengembangan, inovasi produk dilaksanakan dalam skala terbatas

5

Kemampuan finansial BUMNIP relatif rendah dan belum didukung dengan kemudahan insentif dari pemerintah dan kredit perbankan Total Nilai B

0,20

-4

- 0,80

No.
C 1

1,00 - 3,40 Nilai A + Nilai B (3,25 - 3,40) = - 0.15 Bobot x Faktor Eksternal Bobot Skala Skala

Keterangan

Peluang (Opportunities)

Peran dan posisi tawar Indonesia meningkat jika kekuatan pertahanan kuat Permintaan pasar nasional, regional dan global terhadap Alutsista cukup tinggi

0.30

4

1,20

2

0.25

4

1,00

3

Industri pertahanan berpotensi meningkatkan pertumbuhan ekonomi dan membuka lapangan pekerjaan

0.25

3

0,75

4

Pengelolaan BUMNIP yang baik dan mendapat dukungan penuh dari pemerintah dan PT serta swasta.
Total Nilai C Ancaman (Threats)

0.25

3

0,75

Posisi tawar suatu negara akan meningkat jika memiliki keunggulan kompetitif dalam ekonomi, politik, teknologi dan pertahanan Order panser 6x6 Anoa produksi PT.Pindad oleh Malaysis dan pesawat CN 235produksi PT. DI oleh Korea Selatan sebagai bukti bahwa produksi Alutsista memiliki pasar yang potensial Data di banyak negara maju menunjukkan bahwa industri pertahanan mampu meningkatkan pertumbuhan ekonomi dan memperluas lapangan pekerjaan secara signifikan Pengelolaan BUMNIP dalam kerangka revitalisasi industri pertahanan merupakan tanggung jawab bersama dan meminimalkan ego sektoral

1,00

3,70 Pelanggaran perbatasan, pencurian kekayaan alam oleh pihak asing, terorisme dan konflik kekerasan di masyarakat meningkat Krisis multidimensi yang terjadi sejak 1997 belum pulih, pertumbuhan ekonomi belum stabil, inflasi tinggi dan jumlah masyarakat miskin meningkat,

D 1

2

Kompleksitas dan meningkatnya spektrum ancaman mengancam keutuhan wilayah, stabilitas keamanan dalam negeri dan kelangsungan pembangunan Dampak globalisasi, krisis multidimensi dan instabilitas keamanan dalam negeri melemahkan posisi tawar

0,30

-4

- 1,20

0,25

-3

- 0,75

58

Indonesia
3

penegakan hukum lemah, kemampuan pertahanan terbatas Pelanggaran ersebut sangat merugikan negara, kekayaan alam Indonesia justru dinikmati oleh pihak asing Kekuatan pertahanan kita di kawasan saat ini dibawah Singapura, Malaysia dan Thailand

4

Meningkatnya pelanggaran lintas batas/kedaulatan, separatis, terorisme dan transnational crime di wilayah NKRI Perimbangan kekuatan pertahanan (militer) di kawasan dapat memicu konflik antar negara
Total Nilai D

0,25

-3

- 0,75

0,25 1,00

-2

- 0,50 - 3,20

Nilai C + Nilai D Skala : Sangat baik = 4 Baik = 3 Untuk nilai negatif berlaku sebaliknya

(3,70 – 3,20)

= 0,50

Buruk = 2

Buruk Sekali = 1

Peluang (Opportunities)
Peluang (Opportunities)

Gunakan peluang untuk mengatasi Kelemahan (Konsolidasi ) Kuadran IV

0,50

Kelemahan (Weaknesses)

Kekuatan (Strengths)

- 0,15

Ancaman (Threats)

Gambar 4.1. Posisi Strategi Pengembangan Alutsista dengan Alternatif Strategi yang Terpilih Berdasarkan hasil Analisis SWOT

Adapun langkah untuk mencapai strategi tersebut dapat dilakukan dalam pengembangan industri pertahanan bagi kemandirian Alutsista sebagai berikut : 1) Mengkaji ulang semua kebijakan yang terkait dengan

pembangunan pertahanan negara, khususnya tentang modernisasi Alutsista dan pembangunan industri pertahanan agar dihasilkan

59

kebijakan-kebijakan tersebut komprehensif, terukur dan berhasil pada tataran implementasi. Keberadaan KKIP harus dijadikan titik balik kebangkitan industri pertahanan. 2) Mensosialisasikan setiap kebijakan-kebijakan strategis bidang pertahanan kepada publik, sehingga Kemhan/TNI memperoleh dukungan dan legitimasi yang kuat dari masyarakat sipil, sekaligus mempercepat terwujudnya demokrasi serta pelaksanaan good governance. 3) Memantapkan dan mempercepat terwujudnya kemandirian

Alutsista melalui program revitalisasi industri pertahanan, dengan melakukan koordinasi yang intens dan komit untuk

memberdayakan industri pertahanan serta komitmen Kemhan/TNI untuk menggunakan produk Alutsista yang diproduksi oleh BUMNIP. 4) Menggiatkan kegiatan riset produksi Alutsista untuk mempercepat prosedur penguasaan teknologi dan sekaligus sebagai peluang merebut pasar global produk Alutsista yang potensial untuk memacu pertumbuhan ekonomi nasional dan memperluas lapangan pekerjaaan. 5) Berupaya untuk memodernisasi mesin-mesin dan fasilitas produksi yang dimiliki oleh BUMNIP agar kapasitas produksi dapat ditingkatkan bagi upaya pemenuhan kebutuhan Alutsista. 6) Berupaya untuk meningkatkan alokasi anggaran pertahanan, termasuk anggaran bagi kegiatan litbang pertahanan sehingga

60

rencana modernisasi Alutsista dapat dihasilkan dari industri dalam negeri, agar kebijakan Minimum Essential Force (MEF) dapat segera terwujud 7) Memberikan insentif (bimbingan teknis, manajemen dan bantuan modal) kepada industri pertahanan, terutama UKM yang potensial mendukung pengembangan industri pertahanan 8) Meningkatkan kemampuan teknis tempur para prajurit, dengan menggiatkan pelatihan-pelatihan terhadap Alutsista yang padat teknologi, sehingga proses transfer teknologi dapat terwujud dan level profesionalisme prajurit memadai.

4.4.

Pembahasan Hasil Penelitian Dari hasil pengumpulan dan analisis data menunjukkann bahwa pemenuhan kebutuhan Alutsista yang modern untuk digunakan oleh TNI dalam mengoptimalkan tugas dan fungsinya menjaga keutuhan NKRI, menjaga kedaulatan negara dan keselamatan bangsa dari segala ancaman menjadi sebuah keharusan. Upaya pemenuhan tersebut harus diarahkan

dengan mengembangkan kemampuan industri dalam negeri, dengan alternatif pilihan terakhir pengadaan Alutsista dari luar negeri hanya akan diperkenan kalau kita benar-benar butuh dan industri dalam negeri belum mampu memproduksi. Pembinaan industri pertahanan hanya mungkin dilaksanakan apabila didukung oleh kebijakan pemerintah yang memadai. Selain upaya sinergitas dan integritas diantara industrinya, juga memerlukan

61

keterpaduan pengelolaan dengan stakeholders Industri Pertahanan, yakni pengguna (TNI), Pemerintah, institusi Litbang dan Perguruan Tinggi. Upaya mewujudkan pembinaan industri pertahanan ini, memerlukan suatu penataan dan pengaturan yang dapat lebih menjembatani keserasian dalam memprioritaskan kepentingan pertahanan dengan kepentingan nasional lainnya. Dengan menggunakan perangkat pengaturan yang sederhana, tegas dan kenyal, serta wujud pembangunan sistem industri yang solid, dapat meningkatkan efektifitas dan efisiensi pemberdayaan segenap kemampuan industri nasional dalam mendukung pemenuhan kebutuhan sarana pertahanan. Salah satu perangkat pengelola industri pertahanan yang dipandang perlu untuk mendorong industri nasional menjadi lebih profesional, inovatif, efektif dan efisien serta terintegrasi dalam memenuhi kebutuhan sarana pertahanan secara mandiri, adalah suatu perangkat lunak (regulasi) yaitu peraturan tentang Pembinaan Teknologi dan Industri Pertahanan didukung oleh Komite Kebijakan Industri Pertahanan sebagai pengambil kebijakan-kebijakan dalam upaya pembinaan. Langkah perbaikan yang harus segera dilakukan tentunya tidak hanya dari sisi teknis saja, namun dari berbagai aspek terkait dengan regulasi, pengembangan SDM, sarana prasarana serta pemberian insentif dalam pengembangan teknologi, misalnya counter trade dan offset road mapping teknologi (perdagangan timbal balik dalam kerangka transfer teknologi yang jelas) yang dibutuhkan oleh TNI dan kebijakan-kebijakan terkait dengan penggunaan produk dalam negeri.

62

Prioritas program yang perlu segera diupayakan oleh pemerintah dalam membangun industri pertahanan adalah menyusun suatu regulasi yang substansinya mengatur industri pertahanan yang diharapkan dapat memberikan iklim yang kondusif sekaligus mampu mengakselerasikan industri pertahanan yang kuat. Iklim yang harus diciptakan antara lain :

memadukan, mensinergikan dan menghilangkan kepentingan yang tumpang tindih, termasuk penetapan siapa yang akan menjadi industri pertahanan dan bagaimana struktur inndustri pertahanan yang kokoh antara lain dengan membangun sistem kluster.. Revitalisasi industri pertahanan merupakan upaya pemerintah yang tujuan pokoknya adalah untuk membangun kemandirian pertahanan negara. Agar industri pertahanan dapat mendukung sepenuhnya

kemandirian tersebut tentunya perlu adanya konsistensi dan komitmen dari pengguna (TNI) untuk senantiasa menggunakan produk hasil

pengembangan industru dalam negeri.

Kemandirian Alutsista merupakan

sebuah kondisi yang tidak bisa ditawar lagi. Hal ini didasarkan pada pertimbangan bahwa jika industri pertahanan berkembang banyak dampak positif yang dihasilkannya antara lain : terjadinya peningkatan kemampuan daya tolak (deterent effect), peningkatan posisi tawar, penegakan kedaulautan dan hukum nasional, pertumbuhan ekonomi dan perluasan lapangan pekerjaan. Untuk jangka pendek dan menengah, langkah yang perlu dilakukan terkait dengan keterbatasan anggaran antara lain : penetapan program untuk mendukung kebijakan Minimum Essential Force (MEF),

63

melanjutkan perbaikan regulasi industri pertahanan dan meningkatkan kerjasama bagi pengembangan produksi. Pengembangan industri pertahanan memerlukan pelibatan semua pemangku kepentingan (stakeholders). Unsur PT, industri dan pemerintah (ABG-Academic, Business, Government) merupakan tiga pilar pelaku pengembangan industri pertahanan. Ketiga pilar tersebut saat ini telah

terkoordinasiokan dengan terbentuknya Komite Kebijakan Industri Pertahanan (KKIP) yang berfungsi sebagai bridging (jembatan) untuk mempertemukan kepentingan antara pengguna-pengambil keputusanindustri. Pengguna menetapkan operational requirements dan technical requirements. Industri menyiapkan dan mengembangkan teknologi serta

perencanaan produksi serta pemerintah menentukan regulasi dan mengalokasikan pendanaan bagi pemenuhan kebutuhan Alutsista TNI. Kondisi ini merupakan awal yang baik dan ke depan diharapkan dapat membangun kemandirian sekaligus memberdayakan industri pertahanan, namun harus tetap menjaga komitmen bersama. KKIP merupakan wadah yang bertugas untuk merumuskan kebijakan nasional di bidang pengembangan industri pertahanan dan tentunya akan berpihak kepada industri pertahanan dalam negeri. Dalam

programnya telah disusun Grand Strategy KKIP dan Master Plan Pengembangan Industri Pertahanan sebagai upaya membangun

kemandirian bangsa.

Melalui kedua konsep tersebut, akan terjadi

sinkronisasi pemenuhan kebutuhan Alutsista melalui pemberdayaan segenap kemampuan industri dalam negeri. Konsep ini akan memberikan

64

akselerasi dalam proses alih teknologi untuk membangun infrastruktur dan meningkatkan kandungan lokal serta kerjasama produksi yang pada akhirnya akan mendorong pertumbuhan ekonomi dalam negeri.

Keberhasilan KKIP dalam melaksanakan program akan sangat tergantung pada komitmen segenap stakeholders, terutama pihak pemerintah untuk tetap menetapkan kebijakan penggunakan produk dalam negeri. Terkait dengan kerangka pendanaan bagi pengembangan industri pertahanan dalam mendukung kemandirian Alutsista perlu dibangun skema-skema pendanaan dalam negeri, misalnya dengan pelibatan perbaankan nasional. Dengan demikian mekanisme Kredit Ekspor yang

cenderung membuat ketergantungan terhadap negara principal dapat diminimalkan. Satu poin penting lainnya upaya untuk mempercepat upaya kemandirian Alutsista adalah mengedepankan peran serta litbang pertahanan. Litbang pertahanan ini harus dibangun dengan mensinergikan kemampuan tiga pilar (PT, Industri dan pemerintah, termasuk TNI sebagai pengguna) , membangun jaringan kerjasama (networking) dan komitmen bersama. Pada Konferensi Tingkat Tinggi para Menteri Pertahanan ASEAN (ASEAN Defence 2011) pertengahan Mei disepakati pembangunan industri pertahanan bersama antar negara ASEAN, seperti yang dilakukan negara Eropa Barat dalam NATO. Esensi kesepakatan ini adalah sesama negara ASEAN akan saling melengkapi kemampuan dalam memproduksi Alutsista dan tidak saling menjatuhkan (Kompas, 19 Mei 2011).

65

Kesepakatan ini juga disambut baik oleh BUMNIP seperti pernyataan Dirut PT. PAL bahwa Indonesia berpotensi sebagai pemain besar dalam produksi Alutsista di kawasan pada masa mendatang. Hal ini dibuktikan dengan beberapa produk Alutsista kita telah diekspor ke Malaysia dan Korea Selatan seperti pesawat CN-235, kendaraan angkut personil (Armored Personnel Carrier, APC) Anoa 6x6 dan senjata SS1-V2 produk PT. Pindad. PT. PAL sendiri sedang membuat desain prototipe Kapal

Patroli Cepat (Fast Patrol Boat) bekerjasama dengan Balitbang Kemhan dan kementerian Ristek (SINDO, 22 Mei 2011). Dari uraian di atas dan hasil analisis SWOT menunjukkan bahwa industri pertahanan Indonesia memiliki peluang dan potensi yang cukup besar untuk berkembang asalkan simpul-simpul penghambat

perkembangan industri tertsebut dapat diminimalkan seperti deregulasi terkait revitalisasi pertahanan, adanya insentif dari pemerintah bagi industri pertahanan berupa keringan pajak, fiskal terhadap komponen suku cadang Alutsista, bantuan modal dari perbankan dan kerjasama riset dan produksi.

66

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN

5.1.

Kesimpulan Dari hasil pengolahan dan analisis data terhadap permasalahan pengembangan industri pertahanan menuju kemandirian Alutisista guna optimalisasi penyelenggaraan pertahanan negara dapat diambil beberapa kesimpulan sebagai berikut: 5.1.1. Alutsista yang dimiliki TNI saat ini berada dalam kondisi kritis (kemampuan minimum, rata-rata hanya 60%), sangat riskan untuk dapat diharapkan mampu mendukung tugas-tugas pokok

pertahanan negara. 5.1.2. Keterbatasan anggaran pertahanan berdampak pada terhambatnya proses modernisasi Alutsista dan pembangunan kemandirian industri pertahanan, namun pemerintah memiliki potensi untuk melakukan upaya pengembangan industri pertahanan dengan meningkatkan kerjasama dengan berbagai pihak baik dalam maupun luar negeri (Perguruan Tinggi, Industri, lembaga-lembaga riset) secara lebih intens. 5.1.3. Faktor-faktor utama penghambat pemberdayaan industri

pertahanan dalam mendukung kemandirian Alutsista selama ini yaitu : belum adanya persamaan persepsi antar pihak memandang pembangunan pertahanan negara, banyaknya kebijakan yang tidak tepat dalam pengembangan industri pertahanan dan modernisasi

67

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN

5.1.

Kesimpulan Dari hasil pengolahan dan analisis data terhadap permasalahan pengembangan industri pertahanan menuju kemandirian Alutisista guna optimalisasi penyelenggaraan pertahanan negara dapat diambil beberapa kesimpulan sebagai berikut: 5.1.1. Alutsista yang dimiliki TNI saat ini berada dalam kondisi kritis (kemampuan minimum, rata-rata hanya 60%), sangat riskan untuk dapat diharapkan mampu mendukung tugas-tugas pokok

pertahanan negara. 5.1.2. Keterbatasan anggaran pertahanan berdampak pada terhambatnya proses modernisasi Alutsista dan pembangunan kemandirian industri pertahanan, namun pemerintah memiliki potensi untuk melakukan upaya pengembangan industri pertahanan dengan meningkatkan kerjasama dengan berbagai pihak baik dalam maupun luar negeri (Perguruan Tinggi, Industri, lembaga-lembaga riset) secara lebih intens. 5.1.3. Faktor-faktor utama penghambat pemberdayaan industri

pertahanan dalam mendukung kemandirian Alutsista selama ini yaitu : belum adanya persamaan persepsi antar pihak memandang pembangunan pertahanan negara, banyaknya kebijakan yang tidak tepat dalam pengembangan industri pertahanan dan modernisasi

67

DAFTAR PUSTAKA

Bakrie Connie Rahakundini, 2007, Pertahanan Negara dan Postur TNI Ideal, Yayasan Obor Indonesia, Jakarta. Business Review Edisi 10 Tahun 08 Januari 2010 Balitbang Dephan,, Naskah Akademik regulasi tentang Pembinaan teknologi & Industri Pertahanan, www.legalitas.org, Accessed 3rd July 2010. Central Inteligence Agency, 2006, The World Factbook 2006, Washington DC, USA Departemen Pertahanan RI, 2007, Doktrin Pertahanan Negara, Kemhan RI, Jakarta.

_____________________, 2007, Postur Pertahanan Negara, Kemhan RI, Jakarta. _____________________, 2007, Strategi Pertahanan Negara, Kemhan RI, Jakarta. _____________________, 2008, Buku Putih Pertahanan Indonesia, Kemhan RI, Jakarta. Harrison Lisa, 2007, Metodologi Penelitian Politik, Edisi 1 Cetakan 1, Kencana, Jakarta. Nawawi Hadari H. 2005, Metode Penelitian Bidang Sosial, Cetakan kesebelas Gadjah Mada Press, Yogyakarta. Propatria Institute, 2006, T. Hari Prihatono (editor), Penataan Kerangka Regulasi Keamanan Nasional, Cetakan Pertama, PROPATRIA Institute, Jakarta. Whitney F.L., The Elements of Research, Prentice Hall Inc, New York, 1960,

Koran Kompas edisi 19 Mei 2011 Koran SINDO edisi 22 Mei 2011

Lampiran

Daftar Pertanyaan Wawancara Penelitian “Strategi Pengembangan Industri Pertahanan Dalam Mendukung Kemandirian Alat Utama dan Sistem Senjata”

1.

Seperti diketahui bahwa Revitalisasi Industri Pertahanan dalam rangka mendukung upaya kemadirian Alutsista merupakan salah satu program prioritas dari kabinet sekarang. Menurut Bapak/Ibu esential point (poin penting) apa yang harus diupayakan untuk mewujudkan tujuan tersebut ? Mencermati kondisi terkini industri-industri pertahanan kita (Pindad, LEN, PAL dll) kurang mampu mendukung ketersediaan alat peralatan pertahanan yang sangat dibutuhkan TNI. Menurut pengamatan Bapak/Ibu, kelemahan pokok apa yang paling dominant yang menghambat perkembangan industri tersebut dan apa langkah-langkah yang harus segera dilakukan agar industri tersebut bias bangkit ? Dari sisi pengadaan Alutsista yang selama ini dilaksanakan umumnya kontraproduktif dengan upaya membangun industri pertahanan kita, karena kebanyakan Alutsista kita masih impor dari luar negeri, dimana hal tersebut amat rawan bagi kekuatan pertahanan kita. Dari aspek kebijakan tentang pengadaan Alutsista TNI, bagaimana idealnya kebijakan tersebut sehingga mampu mendorong tumbuh kembangnya industri pertahanan kita ? Dengan keterbatasan anggaran negara saat ini, harus disusun skala prioritas kebutuhan Alutsista yang akan digunakan TNI dan prioritas dalam merevitalisasi industri pertahanan. Menurut Bapak/Ibu poin-poin prioritas apa yang mendesak untuk dibenahi ? Dalam kondisi ideal diketahui bahwa banyak sekali manfaat yang dapat diperoleh jika industri pertahanan kita maju, antara lain kemandiarian dalam Alutsista, menghasilkan dan menghemat devisa Negara, menaikkan posisi tawar Indonesia di kawasan, menggiatkan roda perekonomian khususnya daerah sekitar industri tersebut, mengurangi angka pengangguran dan sebagainya. Bagaimana tanggapan Bapak/Ibu tentang kondisi tersebut ? Membangun industri pertahanan melibatkan peran serta dari banyak stakeholders, khususnya institusi terkait dengan meminimalkan ego sektoral, karena pembangunan industri pertahanan tersebut sangat kompleks dan memerlukan sinergitas semua pihak. Bagaimana Bapak/Ibu xii

2.

3.

4.

5.

6.

melihat kondisi tersebut diatas dan bagaimana gambaran perkembangan pada masa yang akan datang ? 7. Kemhan sedang/telah bekerjasama dengan Perguruan Tinggi, sektor Swasta, BPPT, TNI atau lembaga lain yang memiliki kemampuan dalam bidang sains dan teknologi. Menurut Bapak/Ibu sudah sejauh mana hubungan kerjasama tersebut ? BUMNIP kita umumnya memerlukan bantuan modal dari perbankan nasional untuk mendukung peningkatan kemampuan produksinya serta adanya insentif dan kemudahan pajak dari pemerintah. Langkah-langkah strategis apa yang harus dilakukan pemerintah dalam membantu industri pertahanan dalam permodalan ? Komite Kebijakan Industri Pertahanan sudah dibentuk untuk menata ulang dan membenahi semua kebijakan-kebijakan yang selama ini ada dan kontraproduktif bagi perkembangan industri pertahanan. Bagaimana Bapak/Ibu melihat keberadaan komite ini dan harapan apa yang bisa direkomendasikan bagi komite untuk memantapkan program-program kerjanya. Upaya-upaya pembenahan berkaitan dengan industri pertahanan sedang dilakukan oleh pemerintah dalam hal ini Kementerian Pertahanan (Kemhan), agar tercapainya kemandirian Alutsista melalui pengembangan industri pertahanan. Menurut Bapak/Ibu dalam kurun waktu berapa lama bisa tercapai kemandirian Alutsista ? Langkah-langkah apa yang akan diambil apabila dalam kurun waktu tersebut belum tercapai ?

8.

9.

10.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful