BAB I PENDAHULUAN

1.1 LATAR BELAKANG
Perilaku seks sebelum nikah pada umumnya lebih ditolerir bila dilakukan oleh pria dibandingkan wanita. Hal ini bisa mengakibatkan pria menjadi lebih permisif terhadap hubungan seks sebelum nikah dibanding wanita. Berdasarkan asumsi tersebut, dan didukung oleh beberapa hasil penelitian, penelitian ini menganalisis perbedaan sikap permisif antara pria dan wanita. Berda sarkan hasil pengumpulan data pada remaja di Bali yang berjumlah 327 diperoleh fakta bahwa pria secara signifikan lebih permisif dibanding wanita. Hasil lain menunjukkan bahwa ada standar ganda yang menyatakan bahwa pria lebih ditolerir bila melakukan hubungan seks sebelum nikah dibanding wanita. Standar ganda ini terutama ditemukan pada remaja pria. Hasil pengumpulan data juga menunjukkan bahwa masih sedikit (sekitar 5 persen) remaja yang melakukan hubungan seks sebelum nikah. Rendahnya persentase yang berhubungan seks ini sesuai dengan sikap mereka yang cenderung kurang permisif terhadap hubungan seks sebelum nikah. Hubungan seks sebelum pernikahan makin hari makin menjadi sorotan. Salah satu sebabnya adalah makin banyaknya kasus-kasus hubungan seks sebelum nikah di masyarakat. Sebab yang lebih mendasar lagi adalah masih belum bisa diterimanya perilaku seks sebelum nikah oleh sebagian besar anggota masyarakat. Norma yang berlaku hanya bisa mene rima perilaku seksual dalam wadah perkawinan. Hubungan seks pranikah tidak hanya belum diterima oleh masyarakat tetapi juga menimbulkan masalah lain. Kehamilan di luar nikah adalah salah satu masalah yang muncul akibat hubungan seks sebelum nikah. Kehamilan ini tidak saja menimbulkan masalah sosial, tetapi juga masalah kesehatan bagi yang bersangk utan, terutama bila yang mengalaminya adalah remaja yang masih muda usia. Kehamilan pada usia muda ditinjau dari segi kesehatan mengandung risiko tinggi, baik ketika masa kehamilan maupun saat melahirkan. Risiko tinggi yang dimaksud bukan hanya risiko sakit pada yang mengandung dan dikandung, tetapi juga risiko kematian. Secara psikologis, perilaku seks sebelum nikah juga membawa pelakunya mengalami perubahan- perubahan. Studi Billy dkk. (1988), misalnya, menunjukkan bahwa para pelaku hubungan seks sebelum menikah mengalami semacam penurunan aspirasi. Lebih lanjut lagi aspirasi ini menyebabkan menurunnya motivasi untuk belajar. Oleh karenanya tidak mengherankan bahwa banyak diantara mereka kemudian mengalami penurunan dalam prestasi akademik. Tentu saja masih ada beberapa efek psikologis1ain lagi. Beberapa penelitian yang dilakukan di Amerika (Bankcroft dan Reinisch, 1990; Hofferth dkk., 1987), Brasil (Morris dkk., 1988), Jamaika (Warren, dkk., 1988), dan negara-negara lainnya (lihat Faturochman, 1992) menunjukkan bahwa sikap dan perilaku seks sebelum menikah lebih menonjol pada kelo mpok pria dibanding wanita. Fenomena seperti itu antara lain disebabkan masih berlakunya standar ganda dalam hal hubungan seks sebelum nikah yaitu tuntutan yang berbeda pada laki- laki dan perempuan dalam hal seks (Reis, 1967; Siedlecky, 1979). Wanita dituntut berperilaku lebih hati- hati, sedangkan pria lebih bebas melakukan hubungan seksnya. 1

1991). kawan. 1987).Apa pengertian dari seks bebas? . Sikap sebagai predisposisi perilaku memang tidak selamanya akan manifes. Faktor-faktor lainnya dapat diidentif ikasi dari dalam individu. Menurut Ajzen (1988). Udry dan Billy. Clayton dan Bokemeier (1980) menyimpulkan bahwa perilaku seks sebelum nikah erat sekali kaitannya dengan sikap permisif terhadap perilaku seks sebelum nikah tersebut.Menjelaskan dampak dari melakukan seksual . Fishbein dan Ajzen (1975) serta Worchel dan Cooper (1983) sikap dan perilaku bisa konsisten apabila sikap dan perilaku yang dimaksud adalah spesifik dan ada relevansinya satu dengan yang lain.2 Rumusan Masalah .Apakah yang di maksud dengan perilaku seksual? . 1987. Faktor-faktor tersebut antara lain adalah tempat tinggal (Reschovsky dan Gerner.Menjelaskan karakteristik dari seks bebas 2 . Karena sikap permisif terhadap hubungan seks sebelum nikah dan perilaku seks sebelum nikah spesifik dan relevan satu dengan yang lain.hasil penelitian maupun textbook.Untuk mengarahkan remaja agar tidak terjerumus ke dunia seks .Jelaskan dampak dari perilaku seks bebas? 1. keluarga. Dari kajian berbagai literatur baik yang berupa hasil.3 TUJUAN . 1.Agar remaja mengetahui tentang bahaya nya melakukan seks .Sebutkan faktor-faktor dari seks bebas? .Jelaskan karakteristik seks bebas? .Menjadikan remaja berprilaku yang lebih baik lagi .Banyak faktor eksternal yang mempengaruhi perilaku seks sebelum menikah. dan komunitas (Thornton dan Camburn.

Seks untuk tujuan reproduksi. pelukan. saling membelai atau meraba (dengan tangan di dalam baju yang lain). bercumbu dan bersenggama. dan percumbuan (Jersild. Seks untuk kesenangan yaitu hubungan seks dengan menghayati hubungan yang lama dan mampu mengalami kenikmatan tanpa merugikan salah satu pihak. Seksualitas tidak bisa dihindari oleh makhluk hidup. Seks untuk pernyataan cinta. dimana hal ini merupakan rencana alamiah untuk meningkatkan gairah seksual bagi persiapan hubungan seksual yaitu : berpegangan tangan. PERILAKU SEKSUAL PADA REMAJA Perilaku seksual adalah segala tingkah laku yang didorong oleh hasrat. (c). orang dalam khayalan. Tipe hubungan seks yang dapat terjadi antara seorang pria dengan pria lain (homoseksual). saling memeluk (tangan di luar baju).2. berciuman. Hubungan seksual adalah suatu keadaan fisiologik yang menimbulkan kepuasan fisik. 1981) seks mempunyai fungsi : (a). ada beberapa tipe hubungan seksual yang dapat terjadi antara dua orang yang bersahabat yaitu : (a). Tipe hubungan seks seorang pria dengan seorang wanita. yaitu untuk memperoleh keturunan. baik dengan lawan jenis maupun dengan sesama jenis. Perilaku seksual merupakan segala tingkah laku yang didorong oleh hasrat baik dengan lawan jenis maupun sesama jenis. (c). karena dengan seks makhluk hidup dapat terus bertahan menjaga kelestarian keturunannya.BAB II PEMBAHASAN 2. 2. (b). Objek seksualnya bisa berupa orang lain. yaitu seks yang dilakukan berlandaskan cinta dan didukung oleh ikatan cinta. 1997). Hal ini dimungkinkan karena permasalahan seksual telah menjadi suatu hal yang sangat melekat pada diri manusia. 1978).1. atau diri sendiri (Wirawan. 3 . sesuatu yang tabu dan tidak patut dibicarakan secara terbuka. Pendidikan Seksual Pada Remaja Dalam memberikan pendidikan seks pada anak jangan Sampai saat ini masalah seksualitas selalu menjadi topik yang menarik untuk dibicarakan. Menurut Johan (1993). oleh kerena itu sebagian orang beranggapan bahwa seks adalah sesuatu yang suci. Tipe hubungan seks yang dapat terjadi antara seorang wanita dengan wanita lain (lesbian). bentuk tingkah laku ini bermacam-macam mulai dari perasaan tertarik sampai tingkah laku kencan. Menurut Reuben (Wirawan. Miller (1990) berpendapat bahwa terdapat empat tingkatan hubungan fisik dalam bercumbuan. (b). dimana keadaan ini merupakan respon dari bentuk perilaku seksual yang berupa ciuman.

suara membesar dan lain. penyakit kelamin. Sudah saatnya pandangan semacam ini harus diluruskan agar tidak terjadi hal-hal yang tidak diinginkan dan membahayakan bagi anak dan remaja sebagai generasi penerus bangsa. buku-buku tentang seks. Karakteristik Seksual Remaja Pengertian seksual secara umum adalah sesuatu yang berkaitan dengan alat kelamin atau hal-hal yang berhubungan dengan perkara-perkara hubungan intim antara laki-laki dengan perempuan. membahas dengan teman-teman. kulit menjadi kasar. Dari sumber informasi yang berhasil mereka dapatkan. media massa atau internet. Pemberian informasi masalah seksual menjadi penting terlebih lagi mengingat remaja berada dalam potensi seksual yang aktif. such as the larger breasts characteristic of women and the facial hair and deeper voices characteristic of men (Microsoft Encarta Encyclopedia 2002). misalnya seperti di sekolah atau perguruan tinggi. Padahal pada masa remaja informasi tentang masalah seksual sudah seharusnya mulai diberikan. Oleh karena itu remaja mencari atau mendapatkan dari berbagai sumber informasi yang mungkin dapat diperoleh. Fakta menunjukkan bahwa sebagian besar remaja kita tidak mengetahui dampak dari perilaku seksual yang mereka lakukan. karena berkaitan dengan dorongan seksual yang dipengaruhi hormon dan sering tidak memiliki informasi yang cukup mengenai aktivitas seksual mereka sendiri (Handbook of Adolecent psychology. yang berlangsung saat ini. Memasuki Milenium baru ini sudah selayaknya bila orang tua dan kaum pendidik bersikap lebih tanggap dalam menjaga dan mendidik anak dan remaja agar ekstra berhati-hati terhadap gejala-gejala sosial. pada umumnya hanya sedikit remaja yang mendapatkan seluk beluk seksual dari orang tuanya. dll. Tentu saja hal tersebut akan sangat berbahaya bagi perkembangan jiwa remaja bila ia tidak memiliki pengetahuan dan informasi yang tepat. maka remaja berusaha mencari berbagai informasi mengenai hal tersebut. Pandangan sebagian besar masyarakat yang menganggap seksualitas merupakan suatu hal yang alamiah. adalah contoh dari beberapa kenyataan pahit yang sering terjadi pada remaja sebagai akibat pemahaman yang keliru mengenai seksualitas. terutama yang berkaitan dengan masalah seksual.lain. 4 . tumbuh rambut kemaluan. agar remaja tidak mencari informasi dari orang lain atau dari sumbersumber yang tidak jelas atau bahkan keliru sama sekali. Secondary sexual characteristics are attributes other than the sex organs that generally distinguish one sex from the other but are not essential to reproduction. Remaja yang hamil di luar nikah. aborsi. Pendapat tersebut seiring dengan pendapat Hurlock (1991). 2. Karakter seksual masing-masing jenis kelamin memiliki spesifikasi yang berbeda hal ini seperti yang pendapat berikut ini : Sexual characteristics are divided into two types. seorang ahli psikologi perkembangan. pada remaja putra : tumbuh rambut kemaluan. yang mengemukakan tanda-tanda kelamin sekunder yang penting pada laki-laki dan perempuan. otot bertambah besar dan kuat. Seiring perkembangan yang terjadi sudah saatnya pemberian penerangan dan pengetahuan masalah seksualitas pada anak dan remaja ditingkatkan.Pada masa remaja rasa ingin tahu terhadap masalah seksual sangat penting dalam pembentukan hubungan baru yang lebih matang dengan lawan jenis. yang nantinya akan diketahui dengan sendirinya setelah mereka menikah sehingga dianggap suatu hal tabu untuk dibicarakan secara terbuka. Primary sexual characteristics are directly related to reproduction and include the sex organs (genitalia). Karena meningkatnya minat remaja pada masalah seksual dan sedang berada dalam potensi seksual yang aktif. seringkali remaja sangat tidak matang untuk melakukan hubungan seksual terlebih lagi jika harus menanggung resiko dari hubungan seksual tersebut. mulai mengalami haid. nampaknya secara perlahan-lahan harus diubah. 1980). Menurut Hurlock.3. Sedangkan pada remaja putri : pinggul melebar. dan lain-lain. payudara mulai tumbuh.

hal ini disebabkan rasa malu remaja dan penolakan sekolah menerima kenyataan adanya murid yang hamil diluar nikah. Berbagai perilaku seksual pada remaja yang belum saatnya untuk melakukan hubungan seksual secara wajar antara lain dikenal sebagai :  Masturbasi atau onani yaitu suatu kebiasaan buruk berupa manipulasi terhadap alat genital dalam rangka menyalurkan hasrat seksual untuk pemenuhan kenikmatan yang seringkali menimbulkan goncangan pribadi dan emosi. misalnya pada kasus remaja yang hamil di luar nikah. industri yang menghasilkan keuntungan ratusan juta US dolar dan disyahkan oleh undangundang. sepsis sampai kematian. Masalah ekonomi juga akan membuat permasalahan ini menjadi semakin rumit dan kompleks. pegangan tangan sampai pada ciuman dan sentuhan-sentuhan seks yang pada dasarnya adalah keinginan untuk menikmati dan memuaskan dorongan seksual. Sementara akibat psikososial yang timbul akibat perilaku seksual antara lain adalah ketegangan mental dan kebingungan akan peran sosial yang tiba-tiba berubah. depresi. baik sejenis maupun lawan jenis. Secara fisik tindakan aborsi ini memberikan dampak jangka pendek secara langsung berupa perdarahan. oleh karena itu bila tidak ada penyaluran yang sesuai (menikah) maka harus dilakukan usaha untuk memberi pengertian dan pengetahuan mengenai hal tersebut. Sebagian tingkah laku ini memang tidak memiliki dampak. Lebih dari 200 wanita mati setiap hari disebabkan komplikasi pengguguran (aborsi) bayi secara tidak aman. Apalagi jika dilakukan oleh tenaga tidak profesional (unsafe abortion). infeksi pasca aborsi. orang dalam khayalan atau diri sendiri. Selain itu resiko yang lain adalah terganggunya kesehatan yang bersangkutan. bercumbu dan senggama. Tetapi sebagian perilaku seksual (yang dilakukan sebelum waktunya) justru dapat memiliki dampak psikologis yang sangat serius. Belum lagi tekanan dari masyarakat yang mencela dan menolak keadaan tersebut.4. Perilaku Seksual Perilaku seksual adalah segala tingkah laku yang didorong oleh hasrat seksual. Berbagai kegiatan yang mengarah pada pemuasan dorongan seksual yang pada dasarnya menunjukan tidak berhasilnya seseorang dalam mengendalikannya atau kegagalan untuk mengalihkan dorongan tersebut ke kegiatan lain yang sebenarnya masih dapat dikerjakan. Bentuk-bentuk tingkah laku ini dapat beraneka ragam. Dorongan atau hasrat untuk melakukan hubungan seksual selalu muncul pada remaja. Obyek seksual dapat berupa orang.Seiring dengan pertumbuhan primer dan sekunder pada remaja ke arah kematangan yang sempurna. Hal tersebut merupakan suatu yang wajar karena secara alamiah dorongan seksual ini memang harus terjadi untuk menyalurkan kasih sayang antara dua insan. muncul juga hasrat dan dorongan untuk menyalurkan keinginan seksualnya. Meskipun tindakan aborsi dilakukan oleh tenaga ahlipun masih menyisakan dampak yang membahayakan terhadap keselamatan jiwa ibu. seperti rasa bersalah. Disamping itu tingkat putus sekolah remaja hamil juga sangat tinggi. resiko kelainan janin dan tingkat kematian bayi yang tinggi. 2. baik dengan lawan jenis maupun sesama jenis. terutama bila tidak menimbulkan dampak fisik bagi orang yang bersangkutan atau lingkungan sosial. mulai dari perasaan tertarik hingga tingkah laku berkencan. dan agresi. marah. Dampak jangka panjang berupa mengganggu kesuburan sampai terjadinya infertilitas. sebagai fungsi pengembangbiakan dan mempertahankan keturunan. Berpacaran dengan berbagai perilaku seksual yang ringan seperti sentuhan.       5 .

perasaan dihantui dosa. yang meliputi proses terjadinya pembuahan. majalah. perasaan takut hamil. kejiwaan dan kemasyarakatan. apa yang dilarang. buku stensilan. Secara psikologis seks pra nikah memberikan dampak hilangnya harga diri. Peningkatan hormon ini menyebabkan remaja membutuhkan penyaluran dalam bentuk tingkah laku tertentu Penyaluran tersebut tidak dapat segera dilakukan karena adanya penundaan usia perkawinan. dimana seseorang dilarang untuk melakukan hubungan seksual sebelum menikah. baik karena ketidaktahuannya maupun karena sikapnya yang masih mentabukan pembicaraan mengenai seks dengan anak. tingkah laku seksual.5. Untuk remaja yang tidak dapat menahan diri memiliki kecenderungan untuk melanggar hal-hal tersebut. dan aspek-aspek kesehatan. Masalah pendidikan seksual yang diberikan sepatutnya berkaitan dengan norma-norma yang berlaku di masyarakat. menurut Sarlito W. internet. baik secara hukum oleh karena adanya undang-undang tentang perkawinan. sehingga kedudukan wanita semakin sejajar dengan pria. pekerjaan. dan lain-lain) menjadi tidak terbendung lagi. 2. serta penghinaan terhadap masyarakat. lemahnya ikatan kedua belah pihak yang menyebabkan kegagalan setelah menikah. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Seksual pada Remaja Adapun faktor-faktor yang dianggap berperan dalam munculnya permasalahan seksual pada remaja. Photo. persiapan mental dan lain-lain) Norma-norma agama yang berlaku. 6 . Pendidikan Seksual Menurut Sarlito dalam bukunya Psikologi Remaja (1994). bahkan cenderung membuat jarak dengan anak dalam masalah ini. Sarwono (Psikologi Remaja.      2. Orangtua sendiri. karena pada umumnya mereka belum pernah mengetahui masalah seksual secara lengkap dari orangtuanya. secara umum pendidikan seksual adalah suatu informasi mengenai persoalan seksualitas manusia yang jelas dan benar. apa yang dilazimkan dan bagaimana melakukannya tanpa melanggar aturan-aturan yang berlaku di masyarakat. Remaja yang sedang dalam periode ingin tahu dan ingin mencoba. kehamilan sampai kelahiran. hubungan seksual. maupun karena norma sosial yang semakin lama semakin menuntut persyaratan yang terus meningkat untuk perkawinan (pendidikan. Kecenderungan pelanggaran makin meningkat karena adanya penyebaran informasi dan rangsangan melalui media masa yang dengan teknologi yang canggih (cth: VCD. sebagai akibat berkembangnya peran dan pendidikan wanita. menjadikan mereka tidak terbuka pada anak.1994) adalah sebagai berikut :  Perubahan-perubahan hormonal yang meningkatkan hasrat seksual remaja. akan meniru apa dilihat atau didengar dari media massa.6. Adanya kecenderungan yang makin bebas antara pria dan wanita dalam masyarakat.

7 . Memberikan pengetahuan tentang kesalahan dan penyimpangan seksual agar individu dapat menjaga diri dan melawan eksploitasi yang dapat mengganggu kesehatan fisik dan mentalnya. Beberapa ahli mengatakan pendidikan seksual yang baik harus dilengkapi dengan pendidikan etika. Dalam hal ini pendidikan seksual idealnya diberikan pertama kali oleh orangtua di rumah. sosial dan kesusilaan (Tirto Husodo. mengingat yang paling tahu keadaan anak adalah orangtuanya sendiri. Juga dikatakan bahwa tujuan dari pendidikan seksual adalah bukan untuk menimbulkan rasa ingin tahu dan ingin mencoba hubungan seksual antara remaja. disesuaikan dengan kebutuhan dan umur anak serta daya tangkap anak ( dalam Psikologi praktis. D. Pendidikan seksual yang benar harus memasukkan unsurunsur hak asasi manusia. Memberikan pengertian mengenai kebutuhan nilai moral yang esensial untuk memberikan dasar yang rasional dalam membuat keputusan berhubungan dengan perilaku seksual. Dengan demikian pendidikan seksual ini bermaksud untuk menerangkan segala hal yang berhubungan dengan seks dan seksualitas dalam bentuk yang wajar. 2. Tujuan Pendidikan Seksual Pendidikan seksual selain menerangkan tentang aspek-aspek anatomis dan biologis juga menerangkan tentang aspek-aspek psikologis dan moral. Gunarsa.7. Menurut Singgih. berkesinambungan dan bertahap. Menurut Kartono Mohamad pendidikan seksual yang baik mempunyai tujuan membina keluarga dan menjadi orang tua yang bertanggungjawab (dalam Diskusi Panel Islam Dan Pendidikan Seks Bagi Remaja. Penjabaran tujuan pendidikan seksual dengan lebih lengkap sebagai berikut :        Memberikan pengertian yang memadai mengenai perubahan fisik. Selain itu pendidikan seksual juga bertujuan untuk memberikan pengetahuan dan mendidik anak agar berperilaku yang baik dalam hal seksual. Dalam hal ini maka sebenarnya peran dunia pendidikan sangatlah besar. anak. agama dan adat istiadat serta kesiapan mental dan material seseorang. Untuk mengurangi prostitusi. tuntutan dan tanggungjawab) Membentuk sikap dan memberikan pengertian terhadap seks dalam semua manifestasi yang bervariasi Memberikan pengertian bahwa hubungan antara manusia dapat membawa kepuasan pada kedua individu dan kehidupan keluarga. 1991). mental dan proses kematangan emosional yang berkaitan dengan masalah seksual pada remaja. 1987). Juga nilai-nilai kultur dan agama diikutsertakan sehingga akan merupakan pendidikan akhlak dan moral juga. 1991). penyampaian materi pendidikan seksual ini seharusnya diberikan sejak dini ketika anak sudah mulai bertanya tentang perbedaan kelamin antara dirinya dan orang lain. Mengurangi ketakutan dan kecemasan sehubungan dengan perkembangan dan penyesuaian seksual (peran. tetapi ingin menyiapkan agar remaja tahu tentang seksualitas dan akibat-akibatnya bila dilakukan tanpa mematuhi aturan hukum. remaja dan keluarga. Seksualitet dalam mengenal dunia remaja. Selain itu tingkat sosial ekonomi maupun tingkat pendidikan yang heterogen di Indonesia menyebabkan ada orang tua yang mau dan mampu memberikan penerangan tentang seks tetapi lebih banyak yang tidak mampu dan tidak memahami permasalahan tersebut. ketakutan terhadap seksual yang tidak rasional dan eksplorasi seks yang berlebihan. Tetapi sayangnya di Indonesia tidak semua orangtua mau terbuka terhadap anak di dalam membicarakan permasalahan seksual.Pendidikan seksual merupakan cara pengajaran atau pendidikan yang dapat menolong muda-mudi untuk menghadapi masalah hidup yang bersumber pada dorongan seksual. sesuai dengan norma agama. pendidikan tentang hubungan antar sesama manusia baik dalam hubungan keluarga maupun di dalam masyarakat.

Beberapa hal penting dalam memberikan pendidikan seksual. Pendidikan seksual harus diberikan secara pribadi. Sebaiknya pada saat anak menjelang remaja dimana proses kematangan baik fisik. karena perkembangan dari seluruh aspek kepribadiannya memang belum mencapai tahap kematangan untuk dapat menyerap uraian yang mendalam mengenai masalah tersebut. misalnya sebagai istri atau suami. Jadi tujuan pendidikan seksual adalah untuk membentuk suatu sikap emosional yang sehat terhadap masalah seksual dan membimbing anak dan remaja ke arah hidup dewasa yang sehat dan bertanggung jawab terhadap kehidupan seksualnya. Sebaiknya pendidikan seks diberikan dengan terencana. seolah-olah bertujuan agar anak tidak akan bertanya lagi. Gunarsa (1995) berikut ini. mungkin patut anda perhatikan:      Cara menyampaikannya harus wajar dan sederhana. juga perlu untuk mengingatkan dan memperkuat (reinforcement) apa yang telah diketahui agar benar-benar menjadi bagian dari pengetahuannya. yang merupakan anugrah Tuhan dan berfungsi penting untuk kelanggengan kehidupan manusia. Memberikan pengertian dan kondisi yang dapat membuat individu melakukan aktivitas seksual secara efektif dan kreatif dalam berbagai peran. Beberapa Kiat Para ahli berpendapat bahwa pendidik yang terbaik adalah orang tua dari anak itu sendiri. Dengan pendekatan pribadi maka cara dan isi uraian dapat disesuaikan dengan keadaan khusus anak. kekakuan. Saya yakin pasti masih ada cara-cara lain yang dapat anda gunakan dalam mendidik anak remaja anda. Pendidikan yang diberikan termasuk dalam pendidikan seksual. Tetapi lebih sebagai bawaan manusia. sejauh diperhatikan bahwa uraiannya tetap rasional. terbuka dari hati ke hati antara orang tua dan anak. orang tua dan pendidik dalam 8 . namun jangan menerangkan yang tidak-tidak. maupun mentalnya mulai timbul dan berkembang kearah kedewasaan. Hal ini akan lebih mudah diciptakan antara ibu dengan anak perempuannya atau bapak dengan anak laki-lakinya. Isi uraian yang disampaikan harus obyektif. dan supaya anak-anak itu bisa belajar menghargai kemampuan seksualnya dan hanya menyalurkan dorongan tersebut untuk tujuan tertentu (yang baik) dan pada waktu yang tertentu saja. anggota masyarakat. Dalam membicarakan masalah seksual adalah yang sifatnya sangat pribadi dan membutuhkan suasana yang akrab. Dangkal atau mendalamnya isi uraiannya harus disesuaikan dengan kebutuhan dan dengan tahap perkembangan anak. boleh mempergunakan contoh atau simbol seperti misalnya : proses pembuahan pada tumbuh-tumbuhan. Akhir kata saya berharap semoga tulisan ini dapat bermanfaat bagi remaja. Pada akhirnya perlu diperhatikan bahwa usahakan melaksanakan pendidikan seksual perlu diulang-ulang (repetitif) selain itu juga perlu untuk mengetahui seberapa jauh sesuatu pengertian baru dapat diserap oleh anak. Kemudian usahakan jangan sampai muncul keluhan seperti tidak tahu harus mulai dari mana. Terhadap anak umur 9 atau 10 tahun belum perlu menerangkan secara lengkap mengenai perilaku atau tindakan dalam hubungan kelamin. sesuai dengan keadaan dan kebutuhan anak. karena luas sempitnya pengetahuan dengan cepat lambatnya tahap-tahap perkembangan tidak sama buat setiap anak. jangan terlihat ragu-ragu atau malu. seperti yang diuraikan oleh Singgih D. Hal ini dimaksudkan agar mereka tidak menganggap seks itu suatu yang menjijikan dan kotor. kebingungan danditunggu sampai anak bertanya mengenai seks. sekalipun tidak ditutup kemungkinan dapat terwujud bila dilakukan antara ibu dengan anak laki-lakinya atau bapak dengan anak perempuannya. orang tua.

lemahnya ikatan kedua belah pihak yang menyebabkan kegagalan setelah menikah.3 juta kasus aborsi di Indonesia dimana 20 persennya dilakukan remaja. Apalagi jika dilakukan oleh tenaga tidak profesional (unsafe abortion). 75 % gadis mengandung di luar nikah. Secara psikologis seks pra nikah memberikan dampak hilangnya harga diri. 2.membentuk remaja menjadi generasi penerus bangsa yang memiliki kualitas kehidupan yang lebih tinggi dalam menghadapi tantangan yang lebih berat di masa yang akan datang. perasaan dihantui dosa. Lebih dari 200 wanita mati setiap hari disebabkan komplikasi pengguguran (aborsi) bayi secara tidak aman. incest. bistiability. Meskipun tindakan aborsi dilakukan oleh tenaga ahlipun masih menyisakan dampak yang membahayakan terhadap keselamatan jiwa ibu. Yang paling menonjol dari kegiatan seks bebas ini adalah meningkatnya angka kehamilan yang tidak diinginkan. Setiap tahun ada sekitar 2. penyakit gonorhoe meningkat 170% dalam jangka waktu satu tahun. 1 dari 3 kehamilan berakhir dengan aborsi. Di Amerika. merupakan hal yang lumrah bahkan menjadi industri yang menghasilkan keuntungan ratusan juta US dolar dan disyahkan oleh undang-undang. Dampak Seks Bebas terhadap Kesehatan Fisik dan Psikologis Remaja Pengetahuan remaja mengenai dampak seks bebas masih sangat rendah. pelacuran.8. 1 dari 2 anak hasil perzinahan. orgy. sepsis sampai kematian. setiap hari terjadi 1. Secara fisik tindakan aborsi ini memberikan dampak jangka pendek secara langsung berupa perdarahan.5 juta hubungan seks dengan pelacuran. Dampak jangka panjang berupa mengganggu kesuburan sampai terjadinya infertilitas. dan sejak tahun 1996 penyakit syphillis meningkat hingga 486%. Di Perancis. 9 . 1 dari 2 pernikahan berujung pada perceraian. infeksi pasca aborsi. homoseksual/ lesbian. serta penghinaan terhadap masyarakat. Di negara liberal. perasaan takut hamil. Di Inggris 3 dari 4 anak hasil perzinahan.

karena ia tak mampu menghadapi atau memecahkan masalah yang ia hadapi. Masa praremaja biasanya berlangsung hanya dalam waktu relatif singkat. dengan cara melalui pendekatan kepada mereka dan memperhatikan pergaulan mereka. kurang suka bekerja. besar atau kecil masalah yang kita hadapi. 10 . Masa remaja termasuk masa yang sangat menentukan karena pada masa ini anak-anak mengalami banyak perubahan pada psikisnya dan fisiknya. Sebabnya mereka mengalami penuh gejolak emosi dan tekanan jiwa sehingga mudah menyimpang dari aturan dan norma-norma sosial yang berlaku di kalangan masyarakat. Secara garis besar sifat-sifat negative tersebut dapat diringkas. pesimisitik. terutama para remaja agar mereka tidak terjerumus kedalam hal yang tidak baik. KRITIK DAN SARAN Para orang tua sebaiknya memperhatikan anak-anak nya dari sejak dini. putus asa. dan sebagainya. stres. Seperti para orang tua harus memberikan pengarahan tentang bahaya nya melakukan seks bebas. semuanya harus dilalui dengan perjuangan yang berat. cemas dan bimbang. Remaja dan permasalahanya sangat berpengaruh pesat terhadap hubugan social masyarakat. baik dalam bentuk menarik diri dari masyarakat (negative positif) maupun dalam bentuk agresif terhadap masyarakat (negative aktif). tidak mampu mengenal siapa dirinnya sendiri. Terjadinya perubahan kejiwaan menimbulkan kebingungan di kalangan remaja sehingga masa ini disebut oleh orang barat sebagai periode strum und drang. Bahkan ada yang terjerusuh ke lorong hitam yang menyesatkan. kesenangan dan kesengsaraan. dimana berkecambuk harapan dan tantangan. yaitu a) negative dalam prestasi. baik prestasi jasmani maupun prestasi mental. menuju hari depan dan dewasa yang matang.BAB III PENUTUP KESIMPULAN Semakin umur bertambah maka semakin kompleks masalah yang di hadapi. dimana masa remaja merupakan masa dimana timbulnya berbagai kebutuhan dan emosi serta tumbuhnya kekuatan dan kemampuan fisik yang lebih jelas dan daya fakir menjadi matang. dan b) negative dalam sosial. Masa ini ditandai oleh sifat-sifat negative pada si remaja sehingga seringkali masa ini disebut masa negative dengan gejalanya seperti tidak senang. Namun masa remaja penuh dengan berbagai perasaan yang tidak menentu. Sehingga ketika ia mendapat musibah atau kegagalan ia menjadi linglung. Pada umumnya banyak sekali remaja yang prusrasi.

Jakarta: LDFEUI dan NFPCB. D. Jakarta. Moran Mills. D. Jakarta: Depkes-Binkesmas-Binkesga. A. Makalew. Juli 1999b. R." Makalah pada Lokakarya Penyusunan Rencana Pengembangan Media. Depok: Laboratorium Antropologi. Baseline Survey of Young Adult Reproductive Welfare in Indonesia 1998/1999 Book I. Kristanti. Jakarta: Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia. Haryanto B. dkk. Utomo.. the Ministry of Health RI. 1998. Meiwita B. Ch. Executive Summary and Recommendation Program. 20-21 Mei 1997. B. Hartono. M dan Depkes. diselenggarakan oleh PKBI. F. 1998:9-20. Status Kesehatan Remaja Propinsi Jawa Barat dan Bali: Laporan Penelitian 1995/1996. Rosdiana. LDFEUI dan NFPCB. Juli 1999a. Perilaku Seksual Remaja di Kota dan di Desa: Kasus Kalimantan Selatan. Baseline STD/HIV/Risk Behavioral Surveillance 1996: Result from the Cities of North Jakarta. LDFEUI dan NFPCB. 11 . Surabaya. Pokok-Pokok Pikiran Pendidikan Seks untuk Remaja.. Saifuddin. 1996. 1997. dan J. Jakarta: LDFEUI dan NFPCB.DAFTAR PUSTAKA Iskandar. Kesehatan Reproduksi Remaja. dan HAPP/Family Health International. Kollman (ed). Dharmaputra. Jakarta: Center for Health Research University of Indonesia. Dalam N. "Hasil Uji Coba Modul Reproduksi Sehata Anak & Remaja untuk Orang Tua. and Manado. Baseline Survey of Young Adult Reproductive Welfare in Indonesia 1998/1999. FISIP-UI.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful