BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah Hubungan antara etiologi, gejala, proses biokimia yang mendasarinya, respons terhadap terapi, dan akibat dari gangguan perasaan (mood) atau afek belum cukup dipahami dengan baik untuk memungkinkan klasifikasinya secara universal. Kelainan fundamental pada kelompok gangguan suasana perasaan (mood) atau afek, biasanya ke arah depresi (dengan atau tanpa anxietas yang menyertainya), atau ke arah elasi (suasana perasaan yang menigkat). Perubahan suasana perasaan ini biasanya disertai dengan suatu perubahan pada keseluruhan tingkat aktivitas, dan kebanyakan gejala lainnya adalah sekunder terhadap perubahan itu, atau mudah dipahami hubungannya dengan perubahan tersebut. Sebagian besar dari gangguan ini cenderung berulang, dan timbulnya episode tersendiri sering berkaitan dengan peristiwa atau situasi yang menegangkan. Gangguan neurosis, somatoform dan ganguan yang berkaitan dengan stress, dikelompokkan menjadi satu kelompok besar karena hubungan sejarahnya dengan konsep neurosis dan adanya hubungan yang luas dari gangguan ini dengan penyebab psikologis. Konsep neurosis tidak lagi dipertahankan sebagai suatu prinsip penggolongan utama, meskipun masih diberikan kemungkinan untuk mengenal dengan mudah gangguan yang oleh kelompok tertentu masih lebih suka menggunakan istilah neurosis dalam mengidentifikasi gangguan tersebut. Dengan diagnosa yang cepat dan penanganan sedini mungkin serta penatalaksanaan yang tepat, komplikasi dapat dicegah serta akan mendapatkan prognosis yang lebih baik. Oleh karena itu dalam laporan ini akan dibahas lebih mendalam mengenai stress, depresi, dan beberapa gangguan jiwa lainnya dan mencoba menganalisis skenario yang ada sebagai kendaraan untuk dapat memahami anatomi dan fisiologi yang berkaitan dengan psikiatri serta penyakit yang menyertainya.

B. Rumusan Masalah 1. Apakah definisi dari gangguan jiwa? 2. Pengertian dari Stres, Stressor, Distres dan Eustres? 3. Bagaimanakah Manajemen stress itu? 4. Apakah pengertian dari Psikotis? 5. Adakah penyakit gangguan jiwa yang diturunkan?

C. Tujuan Penulisan Mengidentifikasi dan menyusun diagnosis pasien atas berbagai gangguan di bidang psikiatri dalam tingkat individual, keluarga, dan masyarakat, dengan bekerja secara bersamasama dan holistik dengan perilaku yang profesional, bermoral, beretika, dan mengenali masalah-masalah etika serta aspek hukum kedokteran.

D. Manfaat Penulisan 1.Mampu menetapkan diagnosis banding serta diagnosis gangguan di bidang psikiatri berdasarkan anamnesis dan pemeriksaan status mental, investigasi tambahan sederhana yang diminta, seperti pemeriksaan laboratorium. 2.Mampu menjelaskan peranan faktor biologik, psikologik, sosial, dan spiritual pada gangguan jiwa. 3.Mampu melakukan pencegahan primer, sekunder, dan tersier pada gangguan jiwa.

E. Skenario Ingin Pergi dari Rumah Sdr. A, 18 tahun, laki-laki, pelajar SMU kelas III, dibawa ke UGD Rumah Sakit Jiwa oleh kedua orang tuanya karena 3 hari tidak tidur, bicara sendiri, mondar-mandir dan ingin pergi dari rumah. Dari autoanamnesis diketahui bahwa pasien mendengar suara seorang laki-laki yang menyuruhnya pergi dari rumah. Pasien juga merasa dimusuhi oleh teman-teman dan tetangganya. Menurut orang tuanya, saat ini pasien sedang mempersiapkan diri untuk menghadapi ujian akhir nasional, sehingga mereka menduga pasien mengalami stress yang berat. Dari riwayat keluarga diketahui bahwa adik laki-laki ibunya juga pernah mengalami gangguan serupa.

apakah ketidak mampuan itu berasal dari sebab organik. membentuk dan mempertahankan hubungan yang harmonis dengan orang lain dan ikut serta dalam penyusunan perubahan tatanan sosial dari lingkungan fisiknya (Sainsbury. B. Sainsbury (1980) mengatakan bahwa gangguan jiwa merupakan manifestasi tingkah laku yang menyimpang dari konsep kenormalan yang bisa diterima dan keadaan ini tidak diinginkan.BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Definisi lain dari gangguan jiwa adalah tingkah laku. Oleh sebab itu sering penyebab gangguan jiwa disebutkan multi faktorial yang berarti banyak faktor penyebab. Kesehatan Jiwa WHO tahun 1948 mendefinisikan Kesehatan Jiwa sebagai suatu kondisi yang memungkinkan perkembangan fisik. sering tidak bisa ditetapkan secara pasti karena banyaknya faktor yang berpengaruh terhadap terjadinya gangguan jiwa. intelektual dan emosional yang optimal dari seseorang dan perkembangan itu selaras dengan jalannya perkembangan individu lain (Ibrahim Nuhriawangsa. 1980). Di lain pihak WHO tahun 1951 menyebutkan bahwa Kesehatan Jiwa adalah suatu keadaan yang bergantung pada perubahan-perubahan yang disebabkan oleh faktor biologis dan sosial yang memungkinkan seorang individu mencapai suatu perpaduan yang memuaskan dari kemungkinan konflik dengan nalurinya. psikogenik atau sebab lain atau oleh kombinasi dari sebab-sebab tersebut (Solomon & Patch. Faktor-faktor penyebab sebagai pencetus gangguan (kesehatan) jiwa seseorang. 1984). Gangguan Jiwa 1. 1974). Meskipun demikian faktor yang banyak itu bisa disederhanakan menjadi tiga faktor penyebab yaitu : . 1980). Definisi Gangguan jiwa sendiri didefinisikan sebagai suatu ketidakmampuan untuk menyesuaikan tingkah laku yang diharapkan oleh budaya di mana dia berada atau ketidakmampuan menyesuaikan tingkah laku yang diharapkan dan ditentukannya sendiri atau kedua-duanya. kumpulan gejala atau pola psikologis yang terjadi pada individu yang khusus berhubungan dengan gejala kecemasan atau mengganggu salah satu atau beberapa fungsi penting (Goldman.

perinatal atau postnatal. tidak memenuhi syarat atau malnutrisi 4) kelelahan yang sangat oleh berbagai sebab 5) kekacauan fungsi biologik yang terjadi secara terus menerus. berperasaan dan bertindak) individu sebagai reaksi terhadap rangsang yang berasal dari dalam maupun dari luar dirinya.a. umpamanya : penampilan diri. 4) Berbagai kondisi perasaan bersalah atau berdosa. pekerjaan. permainan. Penyebab-penyebab itu diantaranya : 1) berbagai konflik dan frustrasi yang berhubungan dengan kehidupan modern maupun tradisional 2) berbagai kondisi kehilangan status dan perasaan diri cacat atau habis riwayatnya 3) berbagai kondisi kekurangan. yang dihayati sebagai cacat yang sangat menentukan kehidupan saat itu maupun selanjutnya. psikogenik) Penyebab ini bisa berasal dari dalam maupun luar individu yang akhirnya akan berpengaruh secara luas terhadap kepribadian (berfikir. hendaya dll. b. fisiogenik) dapat disebutkan disini beberapa di antaranya adalah : 1) infeksi berbagai organ tubuh terutama yang secara langsung mengenai otak atau akibatnya akan mengganggu fungsi otak 2) rudapaksa fisik yang mengenai organ-oragan terutama otak 3) gizi yang kurang. sekolah dan masyarakat . oleh berbagai sebab Hal-hal yang tersebut di atas tadi sering berhubungan dengan keadaan : 1) saraf pusat anatomis. Keadaan-keadaan tersebut biasanya bersumber dari : 1) interaksi antara orang tua dan anak 2) peranan ayah atau ibu 3) persaingan antara saudara sekandung 4) keadaan inteligensi dan intelek individu 5) hubungan dalam keluarga. fisiologis maupun kimiawi 2) tingkat kematangan dan perkembangan organik individu 3) faktor-faktor prenatal. Faktor psiko-edukatif (psikologis. Faktor organo-biologik Dari sekian banyak faktor organo-biologik (organik.

C. yang mengakibatkan kecemasan. termasuk identitas jenis kelamin 8) ketrampilan. dan aral melintang yang dihadapi oleh individu dalam mencapai tujuan hidupnya. c. bakat dan kreativitas individu 9) pola adaptasi dan pola pembelaan diri. kesukaran. Usaha penyesuaian diri untuk mengembalikan keseimbangan badan dan/atau jiwa yang terganggu disebut stres. Bila individu tidak dapat mengatasi stresor dengan baik. Keadaan di atas biasanya erat hubungannya dengan : 1) tingkat ekonomi keluarga atau individu 2) kestabilan keluarga 3) pola pengasuhan anak 4) perumahan. Faktor sosio-budaya (sosiologis. Stresor dan Stres Stresor dapat diartikan sebagai penghalang. keras atau tidak sehat diskriminasi dalam berbagai bentuk perubahan sosial yang terlalu cepat. umpanya : 1) 2) 3) 4) 5) 6) berbagai fluktuasi ekonomi dengan berbagai akibatnya kebahagiaan maupun kesengsaraan kehidupan keluarga kepuasan dalam pekerjaan persaingan yang tajam. sosiokultural) Penyebab di sini adalah segala keadaan atau perubahan yang terjadi di masyarakat dalam jangka waktu lama maupun secara mendadak ataupun bersifat menetap. maka akan muncul gangguan badani.6) kehilangan sesuatu / seseorang. rasa malu atau rasa bersalah 7) konsep diri. tempat kerja maupun sekolah di desa atau di kota 5) pengaruh rasial dan keagamaan 6) masalah kelompok minoritas / subkultur yang meliputi prasangka dalam hal fasilitas pendidikan. depresi. Stresor dapat muncul dari luar individu misalnya tidak lulus ujian. kesehatan dan kesejahteraan yang tidak memadai 7) nilai / norma yang ada di masyarakat di mana individu itu berada. pernikahan yang tidak harmonis. perilaku tidak sehat ataupun gangguan jiwa. sebagai reaksi terhadap bahaya yang mengancam 10) tingkat perkembangan emosi individu. dalam arti pengertian dari identitas diri sendiri dengan peranan yang tidak menentu. dan .

Sistem Limbik 1. Histologi Secara histologi system limbic dibagi menjadi: a. dan sebagainya. suatu sifat atau ciri yang terlalu menonjol. Hipokampus c. cara yang paling baik adalah mengubah sikap terhadap stresor. obsesif. Eustres memacu individu untuk berusaha lebih keras mencapai kebutuhan atau tujuan. D. Forniks menghubungkan hipokampus dan korpus mamilaris . akan semakin besar stres yang timbul sebagai akibatnya. misalnya terlalu lekas marah. Makin penting stresor itu dianggap. Setiap organisme. terutama manusia.sebagainya. Melakukan relaksasi dapat membantu mengurangi stres maupun mencegah timbulnya stres patologis. Langkah pertama dalam menghadapi dan mengatasi stres adalah mengakui bahwa sedang mengalami stres. mungkin sampai timbul gangguan jiwa ataupun badan. Stres patologis terjadi apabila dalam usaha mengatasi stres individu tidak dapat berfungsi dengan baik. dipacu oleh stres untuk berusaha lebih keras. Neokorteks merupakan jaringan korteks didaerah non limbic 3. Anatomi Secara anatomi sistem limbik dipakai untuk bagian otak yang terdiri dari jaringan kortek yang mengelilingi hilus hemisfer serebri beserta struktur dibawahnya yaitu: a. Jukstalokorteks antara alokorteks dan neokorteks. Nuklei septum 2. Memiliki 3-6 lapisan dan dapatditemukan pada gyrus singulata dan insula c. Alo korteks memiliki tiga lapisan dan mengelilingi hilum hemisfer b. Amigdala b. Sirkuit Papez Sirkuit papez adalah hubungan antara struktus sistem limbik yang membentuk sirkuit tertutup yang kompleks dan saling melengkapi. Untuk mencegah stres. tetapi semua ada batasnya. a. Stresor dapat juga muncul dari dalam individu itu sendiri.

HPA axis merupakan sistem komunikasi kompleks yang bertanggungjawab untuk menangani reaksi stress dengan mengatur produksi hormon kortisol yang merupakan mediator rangsang syaraf. Hal ini dapat menerangkan sebagian tentang fakta bahwa respon emosional cenderung berlangsung lama dan bukanya sesaat walaupun rangsang yang menimbulkanya telah tiada 5. kelenjar hormon pituitary. b.b. Hubungan HPA axis dengan HPT axis HPA axis adalah sistem neuroendokrin yang meliatkan hypothalamus. Nuklei anterior talamus bersambung dengan korteks singuli dan korteks singuli mempunyai hubungan dengan hipokampus 4. Kerusakan amigdala mungkin menimbulkan hiperfagia ringan dan kecenderungan untuk memakan segala makanan tanpa kecuali. E. termasuk di dalamnya proses . Korpus mamilaris berhubungan dengan nuklei anterior talamus dengan traktus mamilotalamikus c. sedikit sekali bukti yang menunjukkan lokasi yang menghasilkan respon otonom pada sistem limbik. Kegiatan neokorteks dapat memodifikasi perilaku emosional dan demikian pula sebaliknya. d. c. Respon otonom merupakan bagian dari fenomena yang lebih kompleks khususnya respon emosi dan perilaku.Salah satu sifat emosi adalah bahwa emosi tidak dapat ditimbulkan atau dihilangkan dengan kehendak. kelenjar hormon pituitary. HPA axis merupakan jalur interaksi kompleks antara tiga sistem yang terjadi dalam tubuh yang mengatur reaksi terhadap stress dan banyak proses dalam tubuh. Perangsangan nuklei amigdaloid menimbulkan gerakan mengunyah dan menjilat serta kegiatan lain yang berhubungan dengan makan. Begitu juga dengan HPT axis yang merupakan sistem neuroendokrin yang meliatkan hypothalamus. Hubungan sistem lombik dengan neo korteks. Respon ini timbul pada perangsangan di daerah sistem limbik. kemungkinan karena tidak adanya kemampuan untuk membedakan antara obyek yang dapat dimakan dan tidak dapat dimakan. Impuls ikutan dapat berlangsung lama setelah perangsangan. dan kelenjar adrenal. dan kelenjar tiroid. Sistem limbik dan syaraf otonom. a. Perangsangan sistem limbik menimbulkan efek otonom khususnya pada perubahan tekanan darah dan pernafasan.

Penghambatan pada jalur HPT axis mengakibatkan penurunan proses metabolisme dalam tubuh. dan cortisol itu sendiri. Jika umpan balik negatif ini sukses maka akan proses metabolik akan kembali ke keadaan fisiologis. 1994). tapi jika umpan balik ini gagal maka akan terjadi penurunan fungsi fisiologis sistem metabilik yang akan berakibat penurunan fungsi-fungsi fisiologis lainnya yang terkait misalnya sistem imun (Guyton. CRH dan cortisol akan memberikan respon inhibisi (penghambatan) jalur HPT axis pada pembentukan TSH yang mana TSH berperan penting dalam produksi hormon tiroid. ACTH. Produksi ACTH dan cortisol yang berlebihan akan memberikan umpan balik ke hipotalamus untuk menghentikan atau menurunkan produksi CRH. gairah seksual. Sumber gambar (http://www. penyimpanan energi dan penggunaannya (Guyton.pdf) Hubungan antara HPA axis dengan HPT axis adalah jika jalur HPA axis terstimulus rangsang dari luar (berupa stress) maka sedemikian sehingga pada jalur ini akan ada peningkatan produksi CRH. 1994). sistem ketahanan tubuh.pencernaan. Selain itu. dan glucocorticoids (cortisol). cortisol juga dapat memberikan respon inhibisi langsung terhadap poduksi T3 yang merupakan bentuk aktife dari hormon tiroid. mood dan tingkat emosi. ACTH.com/TechnicalCharts/HPA-HPTAxesChart. .biodia.

Daya kemampuan persepsi panca indera terganggu. Hendaya berat dalam RTA (Reality Testing Ability). dan melakukan kegiatan rutin. wahham. perubahan nafsu makan. Faktor resiko terjadinya psikosis antara lain: remaja dan dewasa muda. sehingga timbul berbagai gejala halusinasi dan ilusi e. penyalahgunaan obat. fase akut (munculnya beraneka ragam gejala). isi pikiran stereotipi. bermanifestasi dalam terganggunya awareness. Sedangkan tanda psikosis yaitu: a. halusinasi.F. remming. Definisi Psikosis adalah gangguan mental dengan ciri utama terganggunya kemampuan menilai realitas. judgment. Hendaya berat dalam fungsi mental. menarik diri. Terganggunya kemampuan untuk melakukan tugas umum yang tidak mempunyai keharusan khusus c. insight b. pasif. manifestasinya: 1) Positif : inkoherensi. Ciri khas perjalanan psikosis episode pertama adalah fase prodromal (fase prapsikotik). kecemasan. PSIKOSIS 1. perilaku aneh (disorganized) 2) Negatif : afek tumpul. tidak ada inisiatif c. blocking. Daya kemampuan untuk mengadakan hubungan dengan dunia luar tidak sesuai dengan taraf pendidikan dan kedudukan sosialnya d. merupakan gejala yang mengarah ke pra psikosis. serta adanya peristiwa kehidupan yang dianggap sebagai stress psikososial. adanya riwayat trauma kepala. bermanifestasi dalam gejala tidak mampu bekerja. dan perubahan fungsi secara subjektif pada seseorang. serta adanya kesukaran konsentrasi dan daya ingat. Terganggunya daya kemampuan berpikir dan berperasaan sehingga tidak bisa memberikan respon yang adekuat terhadap situasi yang ada di sekelilingnya. adanya riwayat keluarga psikosis. intelegensi rendah. abulia. kurangnya penyesuaian diri premorbid. hilangnya motivasi. fase penyembuhan (remisi). apatis. Hendaya berat dalam fungsi kehidupan. ketegangan. Sindrom psikosis di antaranya adalah : a. menjalin hubungan social. . mudah marah. kepribadian yang rentan (schizoid. gangguan perasaan. skizotipal). Penilaian terhadap realita terganggu atau tidak wajar b. Adanya tanda dan gejala yang menetap seperti : kecurigaan.

Psikosis pada gangguan mental organik Psikosis yang terjadi akibat adanya kelainan di otak: tumor. dan lain-lain. Macammacam skizofrenia yaitu: 1) Skizofrenia paranoid 2) Skizofrenia hebefrenik 3) Skizofrenia katatonik 4) Skizofrenia tak terinci (indefferentiated) 5) Depresi pasca skizofrenia 6) Skizofrenia residual 7) Skizofrenia simplek 8) Skizofrenia lainnya Penanganan dini pada pasien psikosis dapat dilakukan secara biologis. pekerjaan. dan pendidikan. encephalitis. waham kendali. Di samping waham dan halusinasi. psikologis dan sosial. depersonalisasi. SKIZOFRENIA 1. fisik. Secara sosial dapat melibatkan keluarga. trauma dan lain-lain. serta oleh afek yang tidak wajar (inappropriate) atau tumpul . Skizofrenia Merupakan gangguan mental yang berat.2003) Pada umunya ditandai oleh penyimpangan yang fundamental dan karakteristik dari pikiran dan persepsi. didapati gejala utama skizofrenia seperti waham bizar (sisip pikir. Secara biologis dapat dilakukan dengan memberikan antipsikosis. G. serta sejumlah akibat yang tergantung pada pertimbangan pengaruh genetik. syiar pikir. perasaan dan tingkah laku. b. meningkatkan kepatuhan pada antipsikotik dan lainlain. Psikosis akibat penggunaan NAPZA c. though of withdrawal). Secara psikologis dilakukan dengan untuk membangun kepercayaan pasien terhadap dirinya sendiri.2. Macam-macam psikosis: a. derealisasi. dan sosial budaya (PPDGJ III. sebab terganggunya pikiran. teman sebaya. Definisi Merupakan sindrom dengan variasi penyebab (banyak belum diketahui) dan perjalanan penyakit (tidak selalu bersifat kronis atau deteorating) yang luas.

misalnya penderita menjadi tak acuh terhadap hal yang penting bagi dirinya sendiri. 2) Parathimi. yang terganggu utama adalah asosiasi. Gangguan Afek 1) Kedangkalan respon emosi .2003) 2. pada penderita timbul rasa sedih atau marah. Gangguan Perilaku Salah satu gangguan aktivitas motorik pada pasien skizofrenia adalah gejala katatonik yang dapat berupa stupor atau gaduh gelisah (excitement). Kalimat-kalimatnya tidak saling berhubungan. Pada pasien dengan skozofrenia ketatonik sering tampak mutisme. walaupun kemunduran kognitif tertentu dapat berkembang kemudian (PPDGJ III. Yang penting dari skizofrenia adalah hilangnya kemampuan untuk mengadakan hubungan emosi yang baik (emotional rapport). Bentuk yang lebih parah adalah inkoherensi. Karena itu sering kita tidak dapat merasakan perasaan penderita. Gejala-gejala a.(blunted). Kesadaran yang jernih (clear consciusness) dan kemampuan intelektual biasanyan tetap terpelihara. Terdapat asosiasi longgar berarti tidak adanya hubungan antar ide. Tidak jarang terdapat asosiasi bunyi karena pikiran sering tidak mempunyai tujuan tertentu. Beberapa bahkan dapat berpenampilan dan berperilaku “normal”. e. Kadang-kadang pasien dengan skizofrenia membentuk kata-kata baru untuk menyatakan arti yang hanya dipahami oleh dirinya sendiri atau yang dikenal dengan neologisme. akan tetapi dia menangis. Gangguan perilaku lain adalah stereotipi (berulang-ulang melakukan suatu gerakan) dan manerisme (stereotipi tertentu pada skizofrenia yang dapat dilihat dalam bentuk grimas pada mukanya atau keanehan berjalan dan gaya berjalan). 3) Paramimi. Pasien dengan skizofrenia kronis cenderung menelantarkan penampilannya. Gangguan Pembicaraan Inti gangguan pada skizofrenia terdapat pada proses pikiran. Hal ini menyebabkan perjalanan pikiran pada pasien skizofrenia sulit untuk diikuti dan dimengerti. d. b. . penderita merasa senang dan gembira. apa yang seharusnya menimbulkan rasa senang dan gembira. c. Penampilan umum dan Perilaku Umum Tidak ada penampilan atau perilaku yang khas pada skizofrenia.

Gejala yang mencolok adalah gangguan kemauan dan adanya depersonalisasi atau double personality. g. b. neologism atau perilaku kekanak-kanakan sering terdapat pada skizofrenia hebefrenik. lebih sering pada psikosis akut yang berhubungan dengan sindrom otak organik. Pada skizofrenia waham sering tidak logis dan sangat bizar. Jenis skizofrenia ini sering muncul setelah umur 30 tahun. khususnya halusinasi pendengaran (auditorik atau akustik). Pada permulaan mungkin penderita .f. gangguan afek. Halusinasi penglihatan (optik) agak jarang pada skizofrenia. suka menyendiri. Kepribadian penderita sebelum sakit sering dapat digolongkan skizoid. d. Gangguan psikomotor seperti mannerism. Gangguan Pikiran Gangguan pikiran yang sering muncul adalah waham.2009) 3. (Maramis. Jenis-Jenis Skizofrenia a. Gangguan proses berpikir biasanya sukar ditemukan. Penderita tidak menginsafi hal ini dan baginya wahamnya merupakan fakta yang tidak dapat diubah oleh siapapun. Skizofrenia Simpleks Sering timbul pertama kali pada masa pubertas. Mereka mudah tersinggung. Skizofrenia Paranoid Gejala-gejala yang mencolok adalah waham primer. c. Skizofrenia Hebefrenik Permulaanya perlahan-lahan atau sub akut dan sering timbul pada masa remaja atau antara 15-25 tahun. Jenis ini timbulnya perlahan-lahan sekali. Terdapat waham dan halusinasi. Gejala utama pada jenis simpleks adalah kedangkalan emosi dan kemunduran kemauan. Dengan pemeriksaan yang teliti terdapat gangguan proses berpikir. tetapi mungkin juga akut. Permulaanya mungkin subakut. disertai dengan waham-waham sekunder dan halusinasi. Gangguan Persepsi Pada skizofrenia gangguan persepsi yang sering muncul adalah halusinasi. Skizofrenia Ketatonik Timbulnya pertama kali antara umur 15-30 tahun dan biasanya akut sering didahului oleh stress emosional. Waham dan halusinasi jarang sekali terdapat. emosi dan kemauan. Mungkin terjadi gaduh-gelisah katatonik atau stupor katatonik. agak congkak dan kurang percaya pada orang lain.

Thougth broadcasting (isi pikirannya tersiar keluar sehingga orang lain atau umum mengetahuinya) 2) Delusion of control (waham tentang dirinya dikendalikan oleh sesuatu dari luar). biasanya bersifat mistik atau mukjizat). yang menurut budaya setempat dinaggap tidak wajar dan sesuatu yang mustahil. Penegakan Diagnosis a.mulai kurang memperhatikan keluarganya atau mulai menarik diri dari pergaulan. namun kualitasnya berbeda). b. Delusion of influence (waham tentang dirinya dikendalikan oleh suatu kekuatan tertentu dari luar). Thought insertio/withdrawl (isi pikiran yang asing dari luar masuk ke dalam pikirannya atau isi pikirannya diambil keluar oleh sesuatu dari luar dirinya). Gejala negatif terdiri dari kelambatan psikomotor. serta buruknya perawatan diri dan fungsi sosial. (Maramis. Delusion of passivity (waham tentang dirinya tidak berdaya dan pasrah terhadap suatu kekuatan dari luar). ekpresi non verbal yang menurun. Delusional perception (pengalaman inderawi yang tidak wajar. Harus ada sedikitnya satu gejala berikut ini yang jelas : 1) Thougth echo (isi pikiran dirinya sendiri yang berulang dan bergema dalam kepalanya dan isi pikiran ulangan. yang bermakna sangat khas bagi dirinya. e. 2009) 4. kemiskinan pembicaraan. Atau paling sedikit dua gejala di bawah ini yang harus selalu ada secara jelas : 1) Halusinasi yang menetap dari panca-indera apa saja 2) Inkoherensi 3) Perilaku katatonik 4) Gejala-gajala negatif . penumpulan afek. penurunan aktivitas. 3) Halusinasi auditorik 4) Waham-waham lain yang menetap jenis lainnya. walaupun isinya sama. pasif dan tidak ada inisiatif. Skizofrenia Residual Jenis ini merupakan jenis kronis dari skizofrenia dengan riwayat sedikitnya satu episode psikotik yang jelas dan gejala-gejala berkembang ke arah gejala negatif yang lebih menonjol.

bermanifestasi sebagai hilangnya minat. (PPDGJ III. AP golongan I (klasik / konvensional) : antagonis reseptor dopamin b. kelompok dan psikoterapi individual Terapi Psikofarmaka : Antipsokotik (AP) a. sebagian besar karena perubahan kriteria untuk skizofrenia dan gangguan mood. bila gagal. tujuan hidup. Harus ada suatu perubahan yang konsisten dan bermakna dalam mutu keseleruhan dari beberapa aspek perilaku pribadi. Single drug f. keluarga. keamanan pasien dan lingkungan. Terapi Indikasi pemberian obat antipsikotik pada skizofrenia adalah : pertama untuk mengendalikan gejala aktif dan kedua mencegah kekambuhan (Maramis.2003) 5. SKIZOAFEKTIF 1. diagnosis ini tetap merupakan . Definisi Seperti yang diartikan oleh istilahnya. Clozapine . misal : Haloperidol.c. e.2009). Olanzapine H. AP golongan II (Atipik) : antagonis reseptor dopamin 2 (D2) dan serotonin 2 (5HT2). Terapi somatik Terapi psikososial : Psikofarmaka dan Non psikofarmaka : terapi perilaku. coba dengan AP lain. Terlepas dari sifat diagnosis yangdapat berubah. Gunakan AP yang minim efek samping d. sikap larut dalam diri sendiri dan penarikan diri secara sosial. Gunakan AP (antipsikotik) yang telah terbukti di masa lalu c. Indikasi rawat inap di RS : diagnostik. Pertahankan pada dosis efektif yang terendah. Prinsip-prinsip terapi : a. Kriteria diagnostik untuk gangguan skizoafektif telah berubah seiring dengan berjalannya waktu. Adanya gejala-gejala tersebut di atas telah berlangsung selama kurun waktu satu bulan atau lebih (tidak berlaku untuk setiap fase nonpsikotik prodromal) d. Lama uji coba AP : 4-6 minggu. tidak berbuat sesuatu. menstabilkan medikasi. gangguan skizoafektif memiliki cirri baik skizofrenia dan gangguan afektif (sekarang disebut gangguan mood). Tentukan target gejala b.

(Shadock.karena berbagai penelitian terhadap gangguan skizoafektif telah menggunakan kriteria diagnostik yang bervariasi. khususnya wanita yang menikah. Bila seseorang . Epidemiologi Prevalensi seumur hidup dari gangguan skizoafektif adalah kurang dari 1 persen.8 persen. atau dalam beberapa hari yang satu sesudah yang lain. Gejala Klinis Tanda dan gejala kinis gangguan skizoafektif adalah termasuk semua tanda dan gejala skizofrenia. Prevalensi gangguan telah dilaporkan lebih rendah pada laki-laki dibandingkan wanita. isi psikotik (yaitu halusinasi atau waham) adalah tidak konsisten dengan mood yang lebih kuat. sebagai konsekuensi dari ini. (Shadock.kemungkinan dalam rentang 0. dalam episode penyakit yang sama.2003) 3. Pada umumnya adanya ciri psikotik yang tidak sesuai dengan mood pada suatu gangguan mood kemungkinan merupakan indikator dari prognosis yang buruk.5 sampai 0. walaupun data-datanya terbatas. Gejala skizofrenik dan gangguan mood dapat ditemukan bersama-sama atau dalam cara yang bergantian. Banyak peneliti dan klinisi berspekulasi tentang ciri psikotik yang tidak sesuai dengan mood (mood-incongruent). Laki-laki dengan skizoafektif kemungkinan menunjukkan perilaku antisosial dan memiliki pendataran atau ketidaksesuaian afek yang nyata. bilamana. dan gangguan depresif. Usia onset untuk wanita adalah lebih lanjut daripada usia untuk laki-laki. Tetapi angka tersebut adalah angka pekiraan. Tidak dapat digunakan untuk pasien yang menampilkan gejala skizofrenia dan gangguan afektif tetapi dalam episode penyakit yang berbeda.diagnosis yang terbaik bagi pasien yang sindromaklinisnya akan terdistorsi jika hanya dianggap skizofrenia atau hanya suatu gangguan mood saja. Kriteria Diagnosis Diagnosis gangguan skizoafektif hanya dibuat apabila gejala-gejala definitif adanya skizofrenia dan gangguan afektif sama-sama menonjol pada saat yang bersamaan (simultaneously). episode penyakit tidak memenuhi kriteria baik skizofrenia maupun episode manik atau depresif. episode manik.2003) 2. (Shadock. Hubungan tersebut kemungkinan berlaku untuk gangguan skizoafektif.2003) 4. Perjalanan penyakit dapat bervariasi dari satu eksaserbasi dan remisi sampai satu perjalanan jangka panjang yang memburuk.

Hiperaktifitas fisik dan mental: 1) Hiperaktif 2) Percepatan dan banyak bicara 3) Kebutuhan tidur berkurang 4) Grandiose ideas (ide kebesaran) c. Gejala tambahan : 1) Konsentrasi dan perhatian kurang 2) Harga diri dan PD berkurang 3) Gagasan tentang rasa bersalah dan tidak berguna 4) Pandangan masa depan suram dan pesimis 5) Gagasan / perbuatan yang membahayakan diri /badan 6) Tidur terganggu 7) Nafsu makan berkurang. Sebagai suatu kelompok. Afek meningkat b. 5. Terlalu optimis Gejala depresi : a. Perjalanan Penyakit dan Prognosis Sebagai suatu kelompok. Gejala utama : 1) Afek depresif 2) Hilang minat dan gembira 3) Berkurangnya energi b. pasien dengan gangguan skizoafektif mempunyai prognosis di pertengahan antara prognosis pasien dengan skizofrenia dan pasien dengan gangguan mood. diberi diagnosis F20. pasien dengan gangguan skizoafektif mempunyai prognosis yang jauh lebih buruk dibandingkan pasien dengan . Gejala manik : a.2003) Skozoafektif dibagi menjadi 2 tipe yanitu tipe manik dan tipe depresif.4 (Depresi pasca-skizofrenia) (PPDGJ III.pasien skizofrenik menunjukkan gejala depresif setelah mengalami suatu episode psikotik.

perjalanan yang tidak mengalami remisi. GANGGUAN WAHAM MENETAP 1. Data penelitian tersebut menunjukkan bahwa pasien dengan gangguan skizoafektif. (PPDGJ III. Pasien dengan gangguan skizoafektif. Hal tersebut diatas telah dibuktikan dengan beberapa penelitian. tipe bipolar. Lawan dari masing-masing karakteristik tersebut mengarah pada hasil akhir yang baik. ciri-ciri kepribadian dan situasi kehidupan dalam pembentukan gangguan kelompok ini tidak pasti dan mungkin bervariasi. (Shadock.2003) .gangguan depresif. atau suatu kombinasi obat-obat tersebut jika satu obat saja tidak efektif. Jika protokol thymoleptic tidak efektif dalam mengendalikan gejala atas dasar berkelanjutan. onset yang perlahanperlahan. harus mendapatkan percobaan lithium. Pentingnya faktor genetik. atau gangguan afektif. medikasi. Terapi Modalitas terapi yang utama untuk gangguan skizoafektif adalah perawatan di rumah sakit.2003) 6. sebagai satu-satunya gangguan klinis yang khas atau yang paling mencolok dan tidak dapat digolongkan sebagai gangguan mental organik. menonjolnya gejala psikotik. valporate (Depakene). tidak ada factor pencetus. tipe bipolar. dan intervensi psikososial.2003) I.(Shadock. onset yangawal. Pasien dengan gangguan skizoafektif. skizofrenik. mempunyai prognosis yang mirip dengan pasien dengan gangguan bipolar I dan bahwa pasien dengan gangguan pramorbid yang buruk. Prinsip dasar yang mendasari farmakoterapi untuk gangguan skizoafektif adalah bahwa protokol antidepresan dan antimanik diikuti jika semuanya diindikasikan dan bahwa antipsikotik digunakan hanya jika diperlukan untuk pengendalian jangka pendek. carbamazepine (Tegretol). Adanya ataut idak adanya gejala urutan pertama dari Scheneider tampaknya tidak meramalkan perjalanan penyakit. tipe depresif. harus diberikan percobaan antidepresan dan terapiel ektrokonvulsan (ACT) sebelum mereka diputuskan tidak responsive terhadap terapi antidepresan. medikasi antipsikotik dapat diindikasikan. dan riwayat keluarga adanya skizofrenia. Definisi Kelompok ini meliputi serangkaian gangguan dengan waham-waham yang berlangsung lama. memiliki prognosis yang lebih buruk dari pasien dengan gangguan bipolar. dan memiliki prognosis yang lebih baik daripada pasien dengan skizofrenia. khususnya gejala deficit atau gejala negative.

Tidak boleh ada bukti-bukti tentang adanya penyakit otak. e. Gejala-gejala depresif atau ahkan suatu episode depresif yang lengkap / “fullblown” mungkin terjadi secara intermitten. siar pemikiran. c. Pedoman Diagnostik a. Gangguan waham menetap lainnya c. penumpukan afek. Macam-Macam Gangguan Waham Menetap : a. b. dsb (PPDGJ III. Tidak boleh ada halusinasi auditorik atau hanya kadang-kadang saja ada dan bersifat sementara.2. dengan syarat bahwa waham-waham tersebut menetap pada saat-saat tidak terdapat gangguan afektif itu. Gangguan waham b. Waham-waham erupakan satu-satunya ciri khas klinis atau gejala-gejala yang paling mencolok. d.2003) 3. Waham-waham tersebut (baik tunggal maupun sebagai suatu sistem waham) harus sudah ada sedikitnya 3 bulan lamanya dan harus bersifat khas pribadi (personal) dan bukan budaya setempat. Gangguan waham menetap YTT . Tidak ada riwayat gejala-gejala skizofrenia (waham-waham dikendalikan.

Pasien Sdr. d. ada gejala psikotik yang khas pada pasien. ditambah terapi kausal gangguan . KESIMPULAN. 4. 3. ECT(Electro Convulsive Therapy / TKL) Psikoterapi : Suportif Terapi Lingkungan : Manipulasi keluarga. 18 tahun laki-laki mengalami gangguan psikotik akut. 2. bila ada gejala manik:ditambah anti manik. pada gangguan mental organik : organiknya. 1. neuroleptika (obat anti psikotik). SARAN Pasien diberi terapi dan edukasi yang meliputi terapi psikotik yaitu: 1. a. Terapi biologis(psikofarmaka).A.BAB IV PENUTUP A. bila ada gejala depresi: ditambah anti depresi. b. 2. B. adanya stress akut yang terkait dan tidak terkait. c. Kriteria psikotik akut : onset akut kurang dari 2 minggu.

Jakarta: EGC di.DAFTAR PUSTAKA Sadock BJ. 2003 Maramis. Buku Ajar Fisiologi Kedokteran. Surabaya : Airlangga University Press Guyton. 2003. Catatan Ilmu Kedokteran Jiwa Edisi 2.1994. Rujukan Ringkas PPDGJ-III. Jakarta : Bagian Ilmu Kedokteran Jiwa FK-Unika Atmajaya .Maramis.Willy F dan Albert A. 9th ed . Kaplan HI. Philadelpia:Lippincott William & Wilkins. 2009.Grebb JA. Kaplan & Sadock’s Synopsis of Psychiatri. Diagnosis Gangguan Jiwa.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful