Kamis, 14 Oktober 2010

STRATEGI PENERAPAN MBS DI INDONESIA MAKALAH Manajemen Berbasis Sekolah Dosen Pembimbing: Prof. Dr. Slameto, M.Pd

Disusun oleh : Kelas D Anggota : 1.Astri Yoda Arnaningrum 292008010 2.Tri Hartanti 292008026 3.Nurinayah 292008046 4.Aris Chandra Wibowo 292008061 5.Untari 292008104 6.Alfera Bekti Susanti 292008141

Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Kristen Satya Wacana Salatiga 2010

Abstraksi Dalam bidang pendidikan, pemerintah telah menetapkan delapan standar pendidikan. Salah satu isi standar itu adalah standar pengelolaan. Berhubungan dengan pengelolaan sekolah maka pemerintah juga membuat gagasan yang sudah diterapkan di negara lain yang di kenal dengan Manajemen Berbasis Sekolah. Manajemen pendidikan merupakan alternatif strategis untuk meningkatkan kualitas pendidikan. Hasil penelitian balitbang diknas menunjukkan bahwa manajemen sekolah merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi kualitas pendidikan. Manajemen pendidikan juga dapat diartikan sebagai segala sesuatu yang berkenaan dengan pengelolaan proses pendidikan untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan, baik tujuan jangka pendek, menengah, maupun tujuan jangka panjang. Dan sekolah diberikan kewenangan khusus untuk mengembangkannya. MBS merupakan paradigma baru pendidikan yang memberikan otonomi luas pada tingkat sekolah (perlibatan masyarakat ) dalam kerangka kebijakan pendidikan nasional. MBS menuntut perubahan tingkah laku kepala sekolah, guru, dan tenaga administrasi dalam mengoperasikan sekolah.

Pendahuluan 1.Latar Belakang Sebuah program yang direncanakan tidak akan berjalan dan berhasil secara maksimal apabila tidak tersedia berbagai faktor pendukung. Faktor pendukung bisa berasal baik dari internal maupun eksternal. Dalam implementasi MBS, secara luas dan mendasar yang amat diperlukan adalah dukungan politik baik itu sekedar political will maupun dalam bentuk peraturan dan perundang-undangan formal. Dukungan finansial, dukungan sumber daya manusia beserta pemikirannya, dan sarana dan prasarana lainnya juga menjadi faktor pendukung yang penting. Akhirnya, banyak waktu dan tenaga yang dicurahkan oleh para partisipan sekolah dalam implementasi MBS yang belum komplet tersebut. Konsekuensinya adalah munculnya kefrustasian, ketidakpuasan, menghabiskan tenaga dan akhirnya segera kembali kepada pola sebelumnya. Dampak dari kesalahan semacam ini adalah menurunkan kepercayaan lembaga untuk mengubah dirinya menuju masa depan. Oleh karena itu, pada tahap awal inisiasi MBS harus dipersiapkan program sosialisasi yang matang agar berbagai pihak yang terkait dengan pelaksanaan pendidikan di sekolah menyadari akan arti pentingnya implementasi MBS. Setelah timbul kesadaran itu maka langkah selanjutnya adalah memberikan pelatihan teknis implementasi MBS. Dalam suasana seperti ini tampaknya yang diperlukan adalah pengetahuan dan ketrampilan tentang perubahan organisasi atau dinamika organisasi. Perubahan organisasi itu menjadi penting untuk dikemukakan karena orang sering melupakannya dengan asumsi suatu program baru dapat langsung dilaksanakan tanpa mengubah kebiasaan individu, kelompok dan organisasinya. Tetapi, ketika program itu mencakup sesuatu hal yang amat mendasar dan menyeluruh maka akan menghadapi kendala bila tidak dilakukan perubahan organisasinya. 2.Masalah Strategi yang digunakan untuk mengorganisasi dan menyampaikan program dan pelayanan sekolah serta bagaimana cara mengelola sekolah yang dapat dikatakan sukses 3.Tujuan Meningkatkan keprofesionalan dan manajerial sekolah secara utuh. Dengan meningkatkan mutu dan sarana prasarana yang mendukung proses pembelajaran. 4.Manfaat Orangtua : Memberi pemahaman dan bimbingan pribadi di lingkungan rumah pada anak serta pengawasan terhadap anak dalam setiap aktivitas dan pendidikannya dilingkungan rumah. Guru : Meningkatkan motivasi guru untuk mengembangkan kreatifitas pengajaran. Dan mengembangkan pola pikir guru untuk meningkatkan daya minat siswa dalam proses belajar Kepala Sekolah : memperketat pengawasan terhadap semua aktifitas dan kinerja seluruh pengelola kelas. Dan menjalankan kebijakan-kebijakan yang sudah ditetapkan.

Pembahasan Penerapan MBS di berbagai negara yaitu Kanada, Hongkong, Amerika Serikat dan akhirnya membawa dampak penerapan MBS di Indonesia. Pertama penerapan MBS di Kanada Pendekatan yang digunakan yang dikenal sebagai ( school site Decision-Making ) telah

menghasilkan desentralisasi alokasi sumber daya, tenaga pendidik dan kependidikan, perlengkapan, layanan pendidikan dan sebagainya. Menurut nurcholis, kemunculan MBS di Kanada didasari oleh kelemahan manajerial pendekatan fungsional yang mengintrol dan membatasi partisipasi bawahan, yang artinya tidak adanya keseimbangan antara atasan dan bawahan karena kekuatan bawahan diabaikan. Agar kekuatan bawahan menjadi suatu kekuatan nyata maka perlu dilembagakan dalam bentuk MBS. School-site Decision Making dapat dilihat sebagai : solusi bagi ketidakseimbangan ( kekuasaan ) antara atasan dan bawahan, dalam konteks sosial, sebagai alternatif baru bagi sistem administrasi, strategi administratif untuk menyesuaikan dengan situasi dan kondisi lingkungan sekolah. Kedua MBS yang diterapkan di Hongkong. Di Hongkong memiliki 5 kelompok kebijakan SMI yaitu : 1.Peran dan hubungan baru bagi Departemen Pendidikan 2.Peran baru bagi komite manajemen sekolah, para sponsor, pengawas sekolah dan kepala sekolah 3.Fleksibilitas yang lebih besar dalam keuangan sekolah 4.Partisipasi alam pengambilan keputusan 5.Sebagai kerangka acuan dalam hal tingkatam individual dan tingkatan saekolah secara menyeluruh. Pilar SMI di Hongkong dipilah menjadi 2 bagian yaitu : sistem pelaporan dan akuntabilitas. Yang dimaksud disini, pelaporan atau penilaian direkomendasikan dan diminta untuk dikonsultasikan kepada dewan serta memperhatrikan penilaian yang dimiliki. Serta akuntabilitas sekolah yang dimaksud sebagai suatu keseluruhan perlu membuat raencana tahunan sekolah, menetapkan tujuan dan kegiatan yang ingin dicapai serta mempertanggungjawabkannya. Jadi SMI didasari oleh usaha untuk memperbaiki mutu pendidikan dengan memperluas kesempatan sekolah dan sistem pendidikan. Dalam penyelenggaraan sekolah menekankan partisipasi guru, orangtua, dan siswa tentunya. Penerapan MBS yang ketiga pada Negara Amerika Serikat. Site-based management dilatarbelakangi oleh munculnya pertanyaan diseputar relevansi dan korelasi hasil pendidikan dengan tuntutan kebutuhan masyarakat. Maksudnya kinerja sekolah-sekolah di AS tidak sesuai dengan tuntutan yang diperlukan siswa untuk terjun didunia kerja. Indikasinya adalah prestasi siswa untuk mata pelajaran matematika dan IPA tidak memuaskan. Oleh karena itu MBS di Amerika Serikat sedikit diperbaharui, kemudian Reynolds (1997) menyarankan perlunya restrukturisasi sekolah yang mencakup 4 area utama, yaitu: a.Bagaimana cara memandang siswa dan pembelajaran b.Bagaimana cara mendefinisikan program pengajaran dan pelayanan yang diberikan c.Bagaimana cara mengorganisasi dan menyampaikan program dan pelayanan d.Bagaimana cara mengelola sekolah Dari ketiga pandangan penerapan MBS diatas dapat lilihat bagaimana pengaruh yang besar hingga terlahirnya penerapan MBS di Indonesia. Dasar hukum penerapan MBS di Indonesia adalah UU No. 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional. MBS di Indonesia bertujuan untuk membuat sekolah menjadi lebih mandiri dan menigkatkan partisipasi masyarakat. Program ini menekankan pada tiga komponen, yaitu MBS, Peran Serta Masyarakat (PSM), dan PAKEM (Pembelajaran Aktif, Kreatif, Efektif, dan Menyenangkan). Ketiga komponen itu tertuang dalam Propenas 2000-2004 sebagai program untuk mengembangkan pola penyelenggaraan pendidikan berdasarkan MBS untuk meningkatkan efisiensi pemanfaatan sumber daya pendidikan dengan memperhatikan kondisi dan kebutuhan masyarakat setempat. Pada tahun 1999 dengan bekerjasama serta bantua dari UNESCO dan UNICEF, program MBS

telah dirintis di 124 SD/MI, yang tersebar di 7 kabupaten pada propinsi Jateng (Kab.Magelang, Banyumas, dan Wonosobo), Jatim (Kab.Probolinggo), Sulsel (Kab.Bontang), dan NTT (Kota Kupang). Pada tahun 2002 pemerintah New Zealand membantu pendanaan untuk memantapkan dan menyebarkan program tersebut ditujuh kabupaten/kota rintisan serta untuk mendiseminasikan program ditujuh kabupaten lainnya di Indonesia Timur, termasuk Papua dan NTB. Jumlah SD/MI berkembang menjadi 741 SD/MI. Diseminasi program oleh UNICEF di sejulah kabupaten di pulau Jawa juga dilakukan dengan menggunakan bantuan dana dari bank Niaga, BFI, Chef for Kids, dan City Bank. Beberapa bantuan juga diberikan oleh lembaga bantuan Australia (AusAID), sehingga pada tahun 2004 program tersebut telah berkembang ke 40 kabupaten di 9 propinsi dengan 1479 SD/MI. Replikasi program juga telah dilaksanakan oleh pemerintah pusat di 30 propinsi di Indonesia. USAID- lembaga bantuan dari pemerintah Amerika Serikat juga telah mengembangkan pragram MBS sejenis di Jawa Timur dan Jawa Tengah yaitu Managing Basic Education (MBE), serta pada tahun 2004 model MBS juga dilaksanakan di 3 kabupaten Jawa Timur dengan dukungan Indonesia-Australia Partnership in Basic Education (IAPBE). Mulai tahun 2005, USAID juga memberikan bantuan untuk model MBS ini di 7 propinsi di Indonesia melalui program Decentralized Basic Education (DBE). Dari paparan diatas kita dapat mengetahui motifmotif diterapkannya MBS di Indonesia. Ada 8 motif diterapkannya MBS : a.Motif ekonomi b.Motif profesional c.Motif politik d.Motik efisiensi administrasi e.Motif finansial f.Motif prestasi siswa g.Motif akuntabilitas h.Motif efektivitas sekolah Dari motif-motif tersebut diatas, motif terpenting dari penerapan MBS disatu sekolah adalah motif efektivitas sekolah karena dalam motif efektivitas sekolah sudah mencakup semua komponen yang memang harus ada dalam suaru sekolah. Komponen-komponen tersebut adalah a.Kepemimpinan yang kuat, apa bila sebuah sekolah dipimpin oleh seorang pemimpin yang kuat pasti para bawahanya juga akan kuat dan kegiatan sekolah dapat terorganisir dengan baik. b.Para guru yang terampil dan berkomitmen tinggi, apa bila sebuah sekolah dididik oleh seorang yang mempunyai keterampilan yang tinggi maka pembelajaran tidak akan membosankan karena para guru akan selalu membuat variasi dalam pembelajaran sehingga peserta didik tidak pernah merasa bosan dan lebih mudah menangkap materi yang diberikan. c.Mutu pembelajaran yang difokuskan untuk peningkatan prestasi siswa. Mutu pembelajaran sangat penting untuk meningkatkan pestasi belajar siswa karena dengan pelaksanaan pembelajaran yang baik dan tidak membosankan secara otomatis materi yang disampaikan akan lebih mudah ditangkap oleh peserta didik sehingga prestasi peserta didik sedikit demi sediket akan meningkat. d.Rasa tanggung jawab terhadap hasil. Sekolah yang yang berkulitas tinggi pasti meghasilkan lulusan yang baik oleh karena itu apa bila ingin menjadikan sekolah yang berkualitas maka harus diadakan penbelajaran yang mendukung atau menciptakan lulusan yang baik karena terciptanya lulusan yang baik dipengaruhi oleh proses yang baik pula.

Peranan para pengawas bergeser dari mengontrol menjadi mempengaruhi dan mengarahkan menjadi menfasilitasi dan dari menghindari resiko menjadi mengelola resiko.Tersedianya sumberdaya yang kompetitif dan berdedikasi. mulai dari pengambilan keputusan. 3. c.Manajemen sekolah akan lebih menggunakan pemberdayaan dan struktur organisasi akan lebih datar sehingga akan lebih sederhana dan efisien. output pendidikan. yaitu sebagai berikut : a.Tim kerja yang kompak dan dinamis.Proses pendidikan 1. 6. dan evaluasi pendidikan yang diharapkan dapat meningkatkan mutu pendidikan. 4. 8. kominikatif dan akuntabilitas. c.Transparansi . g. Dalam pelaksanaan MBS ada beberapa hal yang mensyaratkan harus adanya prinsip-prinsip dalam penerapan MBS .Memiliki harapan prestasi yang tinggi. antisipatif. karyawan. Ilustrasi penerapannya misalnya setiap 2 bulan sekali di sekolah diadakan rapat yang dihadiri oleh komite sekolah.Pengelolaan tenaga kependidikan yang efektif. d.Out put yang diharapkan Tujuan umum peyelenggaraan pendidikan dan konsep dasar manajemen berbasis sekolah. Karakteristik manajemen berbasis sekolah tentunya tidak terlepas dari pendekatan input. pelaksanaan. di antaranya sebagai berikut: a. 5. proses. 4.Akan mengalami peningkatan manajemen.Input Pendidikan 1.Partisipasi Partisipasi berarti memberikan kesempatan warga sekolah dan masyarakat untuk terlibat secara langsung dalam penyelenggaraan pendidikan.melalui penerapan MBS akan nampak karakteristik dari profil sekolah mandiri. b.Efektifitas yang tinggi dalam proses belajar mengajar 2.Evaluasi dan perbaikan secara berkelanjutan. Karakteristik Sekolah Mandiri Dengan MBS selanjutnya.Kemudian dari motif penerapan MBS dapat disimpulkan bagaimana karakter MBS yang harus diterapkan di Indonesia sehingga dapat menjadi sekolah yang mandiri.Responsif. a. 3. f.Regulasi pendidkan menjadi lebih sederhana.Pengelolaan sekolah akan lebih desentarlistik. orang tua murid atau wali murid jika merupakan suatu yayasan dapat juga ketua yayasan untuk memantau perkembangan sekolah serta evaluasi pendidikan serta memberikan solusi-solusi dalam setiap masalah yang dimiliki oleh sekolah. kepala sekolah. guru. h. e.Kepemimpinan yang kuat.Pengelolaan informasi akan lebih mengarah kesemua kelompok kepentingan sekolah. tujuan dan sasaran mutu yang jelas.Kemandirian. 2.Dalam bekerja. Perubahan sekolah akan lebih didorong oleh motivasi internal dari pada diatur oleh luar sekolah. b. partisipatif dan keterbukaan (transparansi) 7. akan menggunakan team work.Lingkungan sekolah yang nyaman.Memiliki kebijakan.Komitmen pada pelanggan b.

Prinsip Akuntabilitas Akuntabilitas dalam belajar dapat diwujudkan dikelas dengan cara guru menyelesaikan tanggungjawabnya sebagai guru. c. . pembiayaan.Prinsip Transparansi Dalam pembelajaran dikelas guru adil dan transparan dalam memberikan nilai. daerah. dan pemerintah. dan pemerintah mengenai hasil lulusan. Tidak memandang dari segi apapun kecuali dari potensi kemampuan siswa yang dimiliki. yaitu dalam bentuk prestasi dan nilai-nilai yang bagus. masyarakat. b. a. Selain itu guru harus membuat silabus yang benar sebagai bukti yang nyata untuk proses pembelajaran. pengelolaan. Selain itu.Kualitas layanan pendidikan menjadi lebih baik yang berdampak pada peningkatan prestasi akademik dan non akademik siswa. Jadi guru tidak selalu menggunakan metode ceramah. kepala sekolah mengadakan rapat terbuka bersama warga sekolah.Akuntabilitas Akuntabilitas berarti pertanggungjawaban sekolah kepada warga sekolahnya. b. Akuntabilitas tidak terlepas dari delapan standar nasioanl pendidikan. mencari materi sendiri dan berpartisipasif dalam proses belajar. Siswa aktif dan guru pasif. c.Jumlah siswa yang mendapat layanan pendidikan semakain meningkat. Ilustrasi penerapannya misalnya orang tua murid mendapatkan hak untuk mengakses nilai anak mereka melalui sebuah web sekolah atau mendapatkan laporan nilai siswa dari guru kelasnya. Sedang siswa bertanggungjawab atas semua dari hasil yang diperoleh. Dapat kita paparkan contoh penerapan prinsip partisipasi.Yang dimaksud dengan transparansi adalah keterbukaan dalam program dan keuangan. dan sekolah. transparansi dan akuntabilitas dalam pelaksanaan pembelajaran di kelas. Kerjasama yang dimaksud adalah adanya sikap dan perbuatan lahiriah kebersamaan untuk meningkatkan mutu sekolah. Contoh kriteria keberhasilan manajenen implementasi MBS dalam meningkatkan mutu sekolah: a.Prinsip Partisipasi Dalam pembelajaran dikelas siswa harus aktif. melalui pelaporan dan pertemuan yang dilakukan secara terbuka. Dengan demikian tingkat keberhasilannya pun akan berbeda pula. Menyelesaikan bahan ajar sesuai kurikulum. masyarakat. Latar belakang implementasi MBS salah satunya yaitu adanya perbedaan antara negara. sarana dan prasarana. Aktif bertanya. Harus mengajar sesuai jadwal dan kalender akademik. yaitu : Standar isi Standar proses Standar kompetensi lulusan Standar pendidikan dan tenaga kependidikan Standar sarana dan prasarana Standar pengeloolaan Standar pembiayaan Standar penilaian pendidikan Ilustrasi penerapannya misalnya setelah pembelajaran berlangsung selama 1 tahun atau 2 semester. Untuk itu ada implementasi MBS dan juga strategi MBS. dan standar penilaian sekolah. orang tua murid mendapatkan transparansi keuangan setiap pembayaran SPP.

tempat bermain. berdampak positif terhadap kualitas pendidikan. proses pembelajaran. keputusan intruksional maupun organisasional.Terjadinya keadilan dalam penyelenggaraan pendidikan karena penentuan biaya pendidikan tidak dilakaukan secara pukul rata. terbuka. termasuk penggunaan tekhnologi. e.Tingkat tinggal kelas menurun dan produktifitas sekolah semaki baik. Sebuah SD/MI sekurang-kurangnya memiliki sarana dan prasarana sebagai berikut : Ruang kelas Ruang perpustakaan Laboratorium IPA Ruang Pimpinan Ruang Guru Tempat ibadah Ruang UKS Jamban Gudang Ruang sirkulasi Penutup 1. f. Sedangkan pengertian pelayanan dasar adalah pelayanan pendidikan bagi siswa yang mutlak untuk dipenuhi. tetapi didasarkan pada kemampuan ekonomi masing-masing keluarga. Karena SPM pendidikan mencerminkan spesifikasi teknis layanan pendidikan dan merupakan bagian standar nasional. hasil dan memanfaatkan pelayanan pendidikan di sekolah.Iklim dan budaya kerja sekolah semakin baik. h.Kesejahteraan guru dan setaf sekolah membaik. SPM bersifat sederhana. . Kaitan SPM dengan MBS yaitu SPM digunakan sebagai alat ukur parameter yang berlaku secara nasional. informasi dan komunikasi. tempat berolahraga. tempat beribadah. i. laboratorium. Indikator pencapaian SPM pendidikan adalah kuantitatif dan kualilatif yang digunakan untuk menggambarkan besaran sasaran yang hendak dipenuhi. bengkel kerja. g.Meningkatnya keterlibatan orang tua dan masyarakat dalam pengambilan keputusan di sekolah. tempat berekreasi. yaitu berupa masukan. konkrit. d. Standar sarana dan prasarana adalah standar nasional pendidikan yang berkaitan dengan kriteria minimal tentang ruang belajar. proses.Terjadinya demokratisasi dalam penyelenggaraan pendidikan.c.Kesimpulan Sistem manajemen pendidikan yang sentralistis telah terbukti tidak membawa kemajuan yang berarti bagi peningkatan kualitas pendidikan pada umumnya.Relevansi pendidikan semakin baik karena program-program sekolah dibuat bersama-sama dengan warga masyarakat dan tokoh masyarakat yang disesuaikan dengan kebutuhan lingkungan masyarakat. terjangkau dan dapat dipertanggungjawabankan serta mempunyai batas waktu pencapaian. serta sumber belajar lain yang diperlukan untuk menunjang tempat bermain / berolahraga. mudah diukur. Bahkan dalam kasus-kasus tertehtu. perpustakaan.

b.efektif.manajemen yang sentralistis telah menyebabkan terjadinya pemandulan kreatifitas pada satuan pendidikan pada berbagai jenis dan jenjang pendidikan. Seiring dengan bergulirnya era otonomi daerah. M. guru-guru.Menumbuhkan kesadaran akan pentingnya manajemen berbasis sekolah yang memberikan kewenangan penuh (otonomi) kepada sekolah dan guru dalam mengatur pendidikan. c.Untuk memenuhi persyaratan pelaksanaan mbs. Jakarta: Universitas Terbuka http://hambatan manajemen berbasis sekolah.Saran Saran dari kelompok kami diantarannya yaitu : a. Fattah. kepedulian masyarakat untuk ikut serta mengontrol dan menjaga kualitas layanan pendidikan akan lebih terbuka untuk dibangkitkan. Peluang tersebut semakin tampak nyata setelah dikeluarkannya kebijakan mengenai otonomi pendidikan melaJui strategi pemberlakuan manajemen berbasis sekolah (MBS). Manajemen Berbasis Sekolah. 2. serta kebutuhan masyarakat setempat. 2009.51 . Melalui penerapan MBS.id Diposkan oleh S1 PGSD UKSW KELAS E di 00. sehingga segala keputusan yang diambil didasarkan atas pertimbangan-pertimbangan pendidikan Daftar Pustaka Depdiknas. Dengan demikian kemandirian sekolah akan diikuti oleh daya kompetisi yang tinggi akan akuntabilitas publik yang memadai. guru dan tenaga adm harus mempunyai dua sifat yaitu profesional dan manajerial mereka harus memiliki pengetahuan yang dalam tentang peserta didik dan prinsip-prinsip pendidikan. Nanang dan Ali. Untuk mengatasi terjadinya stagnasi di bidang pendidikan ini diperlukan adanya paradigma baru dibidang pendidikan. Karena tanpa manajemen tidak mungkin tujuan pendidikan dapat diwujutkan secara optimal. MBS bukan sekedar mengubah penedekatan pengelolaan sekolah dari yang sentralistis ke desentralistis. tetapi lebih dari itu melalui MBS diyakini akan muncul kemandirian sekolah. kepala sekolah.Mbs juga perlu disesuaikan dengan kebutuhan dan minat peserta didik.dan efisien. terbukalah peluang untuk melakukan reorientasi paradigma pendidikan menuju ke arah desentralisasi pengelolaan pendidikan. Manajemen Berbasis Sekolah. 2007.

Pendidikan menjadikan sumber daya manusia lebih cepat mengerti dan siap dalam menghadapi perubahan di lingkungan kerja. perbaikan sarana-sarana pendidikan. maupun pasar tenaga kerja sektor lainnya yang cenderung menggugat eksistensi sekolah. dan lain-lain. Pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa serta mengembangkan potensi peserta didik agar menjadi manusia yang . Berdasarkan fungsi dan tujuan pendidikan nasional yang tertuang dalam UU No. sosial. Upaya perbaikan dibidang pendidikan merupakan suatu keharusan untuk selalu dilaksanakan agar suatu bangsa dapat maju dan berkembang seiring dengan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi. dan budaya. Mereka terus mempertanyakan relevansi pendidikan dengan kebutuhan masyarakat dalam dinamika kehidupan ekonomi. bangsa maupun antar bangsa. pendidikan adalah sebuah proses transfer nilai-nilai dari orang dewasa (guru atau orang tua) kepada anak-anak agar menjadi dewasa dalam segala hal. telekomunikasi. Secara fungsional. 26 March 2010 13:54 administrator A. Beberapa upaya dilaksanakan antara lain penyempurnaan kurikulum. baik industri. atau cenderung tambal sulam. Akibatnya. dan jati diri bangsa dalam kemajemukan budaya bangsa. Pendahuluan Bagaimanapun sederhananya peradaban suatu masyarakat. peningkatan kompetensi guru melalui penataran-penataran. Namun saat ini dunia pendidikan kita belum sepenuhnya dapat memenuhi harapan mayarakat. seringkali hasil pendidikan mengecewakan masyarakat. Kualitas lulusan pendidikan kurang sesuai dengan kebutuhan pasar tenaga kerja dan pembangunan. pendidikan pada dasarnya ditujukan untuk menyiapkan manusia menghadapi masa depan agar hidup lebih sejahtera. moral. Pendidikan merupakan masalah yang penting bagi setiap bangsa yang sedang membangun. Oleh karena itu tidaklah heran apabila Negara yang memiliki penduduk dengan tingkat pendidikan yang tinggi akan mempunyai tingkat pertumbuhan ekonomi yang pesat. pasal 3). Bagi pemeluk agama. Karena itulah sering dinyatakan pendidikan telah ada sepanjang peradaban umat manusia. bahkan lebih berorintasi proyek. perbankan. politik . penyelesaian masalah pendidikan yang tidak tuntas.Upaya dan Strategi Peningkatan Mutu Pendidik dan Tenaga Kependidikan Friday. Dalam artian.20 Tahun 2003 (Sisdiknas. Fenomena itu ditandai dari rendahnya mutu lulusan. Pendidikan adalah usaha orang dewasa dalam pergaulan dengan anak-anak untuk memimpin jasmani dan rohani kearah kedewasaan. Hal ini dilaksanakan untuk meningkatkan mutu pendidikan bangsa dan terciptanya manusia Indonesia seutuhnya. Bahkan SDM yang disiapkan melalui pendidikan sebagai generasi penerus belum sepenuhnya memuaskan bila dilihat dari segi akhlak. masa depan mencakup kehidupan di dunia dan pandangan tentang kehidupan hari kemudian yang bahagia. di dalamnya terjadi atau berlangsung suatu proses pendidikan. baik sebagai individu maupun secara kolektif sebagai warga masyarakat.

beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa. secara terus terang mengakui bahwa pokok persoalan pendidikan yang sering dibahas dalam berbagai kesempatan selama ini lebih terfokus kepada masalah kurikulum ketimbang dengan masalah pendidik (Kompas. Tidak ada kata putus ada bagi orang yang masih percaya kepada kekuasaan-Nya. termasuk dunia pendidikannya. The Political dan Economics Risk Consultancy (PERC) yang berpusat di Hongkong telah meletakkan sistem pendidikan di Indonesia pada urutan ke-12 di antara 12 negara yang diteliti. Di lain pihak. Yang paling penting dalam hal ini adalah faktor guru. kompetensi dan manejemen pengembangan sumber daya manusianya. ketua umum Persyarikatan Muhammadiyah. perlu mendapat prioritas dalam era pasca reformasi kini. menyebut masalah pendidikan sebagai 'wajah bopeng pendidikan kita' (Republika. sebagai contoh. Saat ini. Padahal. apalagi oleh pengambil kebijakan pendidikan. Para ahli di bidang pendidikan. Oleh karena itu. Hak-hak tenaga pendidik sebagai pribadi. maka semua itu tidak akan membuahkan hasil yang maksimal. Sebab secanggih apapun suatu kurikulum dan sehebat apapun sistem pendidikan. berilmu. Untuk memecahkan masalah pendidikan tersebut diperlukan usaha ekstra keras dari semua pihak secara sinergis.sehat. Kemampuan guru dalam melakukan evaluasi merupakan kompetensi guru yang sangat penting. Para ahli lebih sering membahas kurikulum sebagai pokok permasalahan pendidikan di sekolah. yaitu tenaga pendidik. mandiri dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab.cakap. guru diharapkan memiliki kompetensi yang diperlukan untuk melaksanakan tugas dan fungsinya secara efektif dan efisien. 28 Februari 2006). kreatif. Dengan komptensi yang dimiliki. Pendek kata. Kompetensi merupakan salah satu kualifikasi guru yang terpenting. 9 Mei 2005). pemangku profesi keguruan. guru juga dituntut dapat melaksanakan evaluasi dan pengadministrasiannya. . Hal ini harus dibarengi dengan pengingkatan mutu tenaga pendidik dan pendidikan dalam segi rekruitmen. dalam segi kurikulum salah satu upaya yang dilakukan pemerintah untuk meningkatkan mutu pendidikan adalah dengan memberlakukan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP). Pernyataan tersebut memberikan gambaran bahwa masalah pendidik atau guru memang belum sepenuhnya mendapatkan perhatian yang memadai oleh para praktisi pendidikan. anggota masyarakat dan warga negara yang selama ini terabaikan. maka ia tidak akan berkompeten dalam melakukan tugasnya dan hasilnya pun tidak akan optimal. UNESCO meletakkan Indonesia dengan Human Development Index (HDI) pada urutan ke-112 di antara 174 negara yang diteliti. kondisi bangsa ini menang sedang tidak nyaman. mutu pendidikan di negeri ini memang masih rendah. Selama ini berbagai pandangan dan pemikiran kurang terpusat pada guru sebagai andalan utama pelaksana acara kurikuler. negeri ini menghadapi masalah pendidikan yang demikian rumit. selain menguasai materi dan dapat mengolah program belajar mengajar. telah menjadi pemahaman umum bahwa masalah pendidik jauh lebih penting daripada masalah kurikulum dan komponen pendidikan lain. yaitu sebagian besar keberhasilan agenda reformasi di bidang pendidikan pada akhirnya ditentukan oleh unsur yang berada di front terdepan. Ahmad Sjafii Maarif. Singkat kata. berakhlak mulia. Bila kompetensi ini tidak ada pada diri seorang guru. Sebagaimana diketahui. tanpa kualitas guru yang baik. Salah satu contoh nyata yang terjadi dalam era reformasi.

Dan strategi bagaimanakah meningkatkan mutu pendidik dan tenaga kependidikan. karena hitam-putihnya proses belajar mengajar di dalam kelas banyak dipengaruhi oleh mutu gurunya. kemampuan individual. sehingga guru dapat menentukan keputusan atau perlakuan terhadap siswa tersebut. bukan buku yang tebal dan biasanya disusun . dan mengevaluasi dari kompetensi siswa-siswanya sehingga mampu menetapkan kebijakan pembelajaran selanjutnya. Guru harus mampu mengukur kompetensi yang telah dicapai oleh siswa dari setiap proses pembelajaran atau setelah beberapa unit pelajaran. Oleh karena itu. atau kebijakan perlakuan terhadap siswa terkait dengan konsep belajar tuntas.3 Atau dengan kata lain tidak ada satupun usaha untuk memperbaiki mutu proses belajar mengajar yang dapat dilakukan dengan baik tanpa disertai langkah evaluasi. akan diterima oleh peserta didiknya sebagai rambu-rambu untuk diteladani atau dijadikan bahan pembelajaran. Sedemikian pentingnya evaluasi ini sehingga kelas yang baik tidak cukup hanya didukung oleh perencanaan pembelajaran. Fasilitas pendidikan berupa buku sudah demikian canggih disusun. Peningkatan Mutu Pendidikan dan Tenaga Kependidikan Upaya peningkatan mutu pendidikan dipengaruhi oleh faktor majemuk. Apakah perlu diadakannya perbaikan atau penguatan. tanpa diimbangi dengan kemampuan melakukan evaluasi terhadap perencanaan kompetensi siswa yang sangat menentukan dalam konteks perencanaan berikutnya. karena sikap dan tingkah laku. serta menentukan rencana pembelajaran berikutnya baik dari segi materi maupun rencana strateginya. dan juga tidak cukup dengan kemampuan guru dalam menguasai kelas.Evaluasi dipandang sebagai masukan yang diperoleh dari proses pembelajaran yang dapat dipergunakan untuk mengetahui kekuatan dan kelemahan berbagai komponen yang terdapat dalam suatu proses belajar mengajar. faktor yang paling penting adalah guru. melakukan pengukuran. guru setidaknya mampu menyusun instrumen tes maupun non tes. Guru dikenal sebagai 'hidden currickulum' atau kurikulum tersembunyi. Faktor yang satu saling berpengaruh terhadap faktor yang lainnya. Namun demikian. dan apa saja yang melekat pada pribadi sang guru. yakni Upayaupaya apa saja yang harus ditempuh pemerintah dan pihak-pihak yang terkait untuk meningkatkan mutu pendidik dan tenaga kependidikan. B. penampilan profesional. sosok pendidik atau guru masih dipandang sebagai wakil orangtua ketika anak-anaknya tidak berada di dalam keluarga. C. apakah telah dicapai harapan penguasaannya secara optimal atau belum. Bahkan banyak bahan ajar yang kini telah disusun dalam bentuk CD ROM. kemampuan guru mengembangkan proses pembelajaran serta penguasaannya terhadap bahan ajar. mampu membuat keputusan bagi posisi siswa-siswanya. Permasalahan Tulisan ini akan lebih memfokuskan pembahasan dari aspek guru atau pendidik. Kemampuan yang harus dimiliki oleh guru yang kemudian menjadi suatu kegiatan rutin yaitu membuat tes. Bagi sebagian besar orangtua siswa.

apa hubungan antara langkah yang satu dengan langkah yang lain. apakah peran pendidik masih diperlukan lagi? Pada era teknologi informasi. motivator. Kebijakan "upah minimun" boleh jadi telah menyebabkan pegawai bermental kuli. yang masih belum terpenuhi secara sempurna adalah gaji dan kompensasi dari pelaksanaan peran sebagai profesi. Peran guru telah berubah lebih menjadi fasilitator. Langkah pertama ini juga dinilai sebagai pemutus rantai dari serangkaian mata rantai masalah yang sering sebagai lingkaran setan (vicious circle) yang tidak diketahui mana pangkal dan ujungnya. maka langkah pertama peningkatan mutu pendidik dan tenaga kependidikan adalah memberikan kesejahteraan guru dengan gaji yang layak untuk kehidupannya. Kelima syarat pekerjaan sebagai profesi adalah. Itulah sebabnya. Untuk lebih jelasnya penulis uraikan sebagai berikut: 1. pemangku profesi keguruan. dan dinamisator bagi peserta didik. bukan 'upah minimum'. Ketiga. langkah pertama apakah yang dinilai sangat penting sebagai titik awal (starting point) untuk melakukan langkah-langkah berikutnya. perlu mendapat prioritas dalam reformasi". Pertanyaan besar yang akan dicoba dijawab dalam tulisan ini adalah tentang bagaimana skenario yang harus diikuti untuk meningkatkan mutu pendidik dan tenaga kependidikan? Keseluruhan skenario itu akan meliputi beberapa pertanyaan. pendidik dan tenaga kependidikan harus ditingkatkan mutunya dengan skenario yang jelas. menyatakan dengan tegas bahwa "semua keberhasilan agenda reformasi pendidikan pada akhirnya ditentukan oleh unsur yang berada di front terdepan. Hak-hak guru sebagai pribadi. Dengan kata lain. maka guru diharapkan dapat memberikan peran yang lebih besar untuk memberikan rambu-rambu etika dan moral dalam memilih informasi yang diperlukan. (1) bahwa pekerjaan itu memiliki fungsi dan signifikansi bagi masyarakat. serta dalam era apa saja. langkah-langkah besar apakah yang harus dilakukan dalam keseluruhan skenario itu. Kedua. Pertama. Untuk dapat melaksanakan peran tersebut secara efektif dalam proses pendidikan. guru memang tidak lagi dapat berperan sebagai satu-satunya sumber informasi dan ilmu pengetahuan. peran pendidik tidak dapat digantikan oleh apa dan siapa. yaitu guru. Nah. serta apa prasyarat yang harus dipenuhi untuk dapat mencapai langkah yang telah ditentukan. bukan pegawai yang mengejar prestasi. Hak utama pendidik yang harus memperoleh perhatian dalam kebijakan pemerintah adalah hak untuk memperoleh penghasilan dan kesejahteraan dengan standar upah yang layak. Langkah pertama ini dinilai amat vital dan strategis untuk meningkatkan mutu pendidik dan tenaga kependidikan. Sumber informasi dengan mudah dicari dengan cara 'surfing' melalui bahan ajar virtual melalui internet. Dengan demikian peserta didik memiliki pilihan lain berupa sumber informasi yang tinggal 'ngeklik' di komputer pribadinya. dalam kondisi seperti itu. anggota masyarakat dan warga negara yang selama ini terabaikan.tidak semenarik komik atau majalah. Pertama. Peningkatan Gaji dan Kesejahteraan Guru Mohammad Surya (Ketua Umum Pengurus Besar PGRI). Dalam era teknologi informasi peserta didik dengan mudah dapat mengakses informasi apa saja yang tersedia melalui internet. Mengapa? Setidaknya ada dua alasan. Dalam kondisi seperti itu. dari lima syarat pekerjaan dapat disebut sebagai profesi. .

uji kompetensi harus dilakukan dahulu secara jujur dan transparan. . Dari kelima syarat tersebut. Pengalihtugasa tersebut dilakukan dengan syarat sebagai berikut: (1) mereka telah diberikan kesempatan untuk mengikuti diklat dan pembinaan secara intensif. yakni gaji dan kompensasi yang memadai. karena peningkatan gaji dan kesejahteraan merupakan langkah yang memiliki dampak yang paling berpengaruh (multiplier effects) terhadap langkah-langkah lainnya. dan kemudian (5) bahwa pekerjaan tersebut memerlukan gaji atau kompensasi yang memadai agar pekerjaan itu dapat dilaksanakan secara profesional. atau kalau perlu dipensiundinikan. Yang akan diberikan kenaikan gaji adalah para pendidik dan tenaga kependidikan yang telah mencapai standar kompetensi yang telah ditetapkan. (3) bidang keahlian itu dapat dicapai dengan melalui cabang pendidikan tertentu (body of knowledge). (4) bahwa pekerjaan itu memerlukan organisasi profesi dan adanya kode etik tertentu. kenaikan gaji dapat dilakukan secara menyeluruh dan bertahap. maka secara otomatis akan dapat merusak seluruh komponen dalam sistem ini. Jika terjadi kecurangan dalam pelaksanaan uji kompetensi. Jangan ada kecurangan dalam proses uji kompetensi ini. misalnya tenaga administrasi. maka mereka harus rela dan pantas untuk dialihtugaskan dari profesi guru menjadi tenaga lain yang sesuai. Alih Tugas Profesi dan Rekruitmen Guru Untuk Menggantikan Guru atau Pendidik yang Dialihtugaskan ke Profesi Lain Upaya kedua ini merupakan konsekuensi dan kesinambungan dari langkah pertama. maka kenaikan gaji dapat dilakukan dengan standar kompetensi yang tinggi pula. Apa prasyarat yang harus dipenuhi untuk dapat melaksanakan langkah pertama ini dengan baik? Jika standar gaji yang akan dinaikkan itu cukup tinggi. yang masih belum terpenuhi sepenuhnya adalah syarat yang kelima. 2. Langkah pertama ini akan berjalan dengan lebih matap jika sistem pembayaran gajinya telah dilaksanakan dengan melalui bank. Para pendidik yang tidak memenuhi standar kompetensi harus dialihtugaskan kepada profesi lain. Jika syarat tersebut telah dilakukan. maka instrumen uji kompetensi harus disiapkan secara matang. Kalau perlu. tetapi tidak menunjukkan adanya perbagian yang signifikan. (2) guru tersebut memang tidak menunjukkan adanya perubahan kompetensi dan juga tidak ada indikasi positif untuk meningkatkan kompetensinya. agar langkah pertama tersebut tidak menjadikan iri bagi pekerjaan lainnya. Dengan demikian. Alasan kedua.(2) bahwa pekerjaan itu memerlukan bidang keahlian tertentu. Untuk itu. Hal ini terkait dengan maraknya tindak korupsi yang telah mencapai tingkat yang berbahaya seperti virus yang telah menjangkiti semua aspek kehidupan manusia. maka kenaikan gajinya juga diselaraskan dengan pangkat dan golongan pegawai tersebut. Oleh karena dewasa ini terdapat berbagai pangkat dan golongan pegawai.

Selain itu. Sedangkan yang menjadi tujuan diselenggarakannya rekrutmen yaitu mengemban keinginankeinginan tertentu atau memikat para pelamar kerja. terutama jika tidak mengelola program ini dengan baik. Crass program seperti guru bantu sebaiknya tidak dilakukan di masa-masa mendatang. untuk ikut rekruitmen guru seseorang harus melalui guru bantu. maupun pekerja yang melanggar aturan yang telah ditetapkan sekolah tersebut. Tujuan aktivitas rekrutmen dalam proses penyusunan pegawai jelas terlihat bahwa untuk mencapai tujuan-tujuan aktivitas rekrutmen membutuhkan pemahaman yang tidak hanya pelamar mengidentifikasi dan memilih tawaran pekerjaan. Selain itu untuk mendapatkan persediaan sebanyak mungkin calon-calon pelamar. Artinya. adanya pegawai yang berhenti karena ingin pindah kesekolah lain. dan juga karena adanya guru di sekolah yang berhenti karena pensiun atau yang sudah lanjut usia. Rekrutmen guru merupakan satu aktivitas manajemen yang mengupayakan didapatkannya seorang atau lebih calon pegawai yang betul-betul potensial untuk menduduki posisi tertentu di sebuah lembaga. karena program seperti ini sama dengan ibarat memasang bom waktu yang berbahaya. Program guru bantu dapat saja dimasukkan menjadi satu sistem dalam rekruitmen guru. dengan melalui proses rekrutmen sekolah akan mendapatkan sumber daya manusia (SDM) yang berkualitas. Sehingga sekolah membutuhkan guru baru untuk mengisi lowongan pekerjaan tersebut. . tetapi bagaimana mengelolanya serta selama proses rekrutmen pelamar mendapatkan informasi yang membantu mereka memutuskan apakah kesempatan kerja yang ditawarkan itu cocok untuk mereka dan membutuhkan interaksi antara individu dan organisasi yang memikat dan menyeleksinya. sehingga sekolah itu akan mempunyai kesempatan yang lebih besar untuk melakukan pilihan terhadap calon pegawai yang dianggap memenuhi standar yang ditetapkan. Pola atau metode rekrutmen yang dipakai untuk pelaksanaan rekrutmen guru baru selalu sama dan pelaksanaannya disesuaikan dengan kebutuhan di sekolah tersebut.Untuk mengganti tenaga pendidik yang telah dialihtugaskan ke profesi lain tersebut perlu diadakan seleksi (rekruitmen) secara jujur dan transparan. Sehingga tujuan aktivitas rekrutmen dapat berjalan dengan baik. Guru bantu yang tidak lulus tes secara otomatis menjadi masa akhir kontrak kerja untuk menjadi guru bantu. proses rekruitmen guru dilakukan dengan mekanisme melalui guru bantu. tidak mungkin untuk melanjutkan kegiatan proses belajar mengajar di sekolah.Untuk itu sekolah perlu melakukan proses rekrutmen guru baru karena rekrutmen merupakan hal yang sangat penting. sesuai standar kualifikasi yang telah ditetapkan. Implementasi rekrutmen guru yang dilaksanakan oleh sekolah bertujuan untuk mencari guru yang memiliki potensi dan kemampuan serta berkualitas sehingga dapat meningkatkan mutu pendidikan di sekolah. Alasan seperti itu karena terciptanya pekerjaan-pekerjaan dan kegiatan-kegiatan baru. Rekruitmen pendidik yang jujur dan transparan ini telah dilakukan oleh Paulo Freirie dalam rangka reformasi pendidikan di Brazilia. agar kegiatan belajar mengajar (KBM) pun dapat berjalan dengan lancar sebagaimana biasanya. yang harus dipenuhi agar sekolah tersebut dapat eksis. dimana sekolah mempunyai rancangan program baru dan diperlukan guru yang ditugaskan dalam program tersebut sehingga membutuhkan calon guru baru. Jadi.

Sehingga sekolah dapat mengetahui kendala. kompetensi dalam hal ini dapat dilihat dari kompetensi pedagogik yakni hal ini berkaitan dengan kemampuan guru dalam proses belajar mengajar yaitu persiapan mengajar yang mencakup merancang dan melaksanakan skenario pembelajaran. surat kabar dan sebagainya. Selain itu. sehat jasmani dan rohani. Kemudian tahap selanjutnya seleksi atau penyaringan terhadap semua pelamar. secara teoritis rekrutmen guru merupakan hal yang sangat penting . Selain itu. penetapan persyaratanpersyaratan untuk melamar menjadi guru baru dan penetapan prosedur pendaftaran guru baru dan lain-lain. kegiatan yang harus dilakukan panitia yaitu mengecek semua kelengkapan yang harus disertakan beserta surat lamaran. Mengkaji berbagai kendala umum yang ada dalam pelaksanaan rekrutmen memang perlu karena untuk mengetahui kendala-kendala penarikan pegawai yang terjadi. salah satunya yaitu dengan membuat perencanaan rancangan program yang sesuai dengan prosedur yang telah ditetapkan dan dijalankan dengan baik oleh lembaga pendidikan. dengan kualifikasi tersebut akhirnya akan mendapatkan sumber daya manusia yang berkualitas serta memiliki kemampuan untuk mewujudkan tujuan pendidikan nasional. sebagaimana tercantum dalam pengumuman. baik dalam kegiatan proses belajar mengajar maupun diluar jam pelajaran. Disamping itu. Kemudian kompetensi kepribadian seorang guru harus mempunyai kepribadian yang baik agar menjadi contoh untuk anak didiknya. Selanjutnya kompetensi profesional yang diperoleh melalui pendidikan profesi seorang guru harus menguasai sepenuhnya materi yang akan ia ajarkan kepada anak didiknya tentunya sesuai bidang yang ia geluti. sertifikat pendidik sebagaimana yang dimaksud disini yaitu yang diberikan kepada guru yang telah memenuhi persyaratan. serta alat evaluasi bagi anak didik agar tercapai tujuan pendidikan baik pada ranah kognitif. Dengan demikian. maupun psikomotorik siswa. Dalam tahapan kegiatan proses rekrutmen ini dapat mempermudah pihak sekolah untuk melaksanakan pekerjaan mereka menjadi lebih tersusun dengan baik. ada penerimaan guru baru disekolah. sebelum menjalankan proses rekrutmen karena pihak sekolah sudah merencanakan kegiatan proses rekrutmen ini. Mengetahui ada penerimaan guru baru itu lalu masyarakat yang berminat memasukkan lamarannya. Begitu pengumuman penerimaan lamaran guru baru telah disebarkan tentu masyarakat mengetahui bahwa dalam jangka waktu tertentu. memilih metode. kompetensi sosial disini adanya interaksi yang baik antara guru dan siswa. media. Begitu persiapan telah selesai dilakukan maka kegiatan berikutnya penyebaran pengumuman penerimaan guru baru yaitu dengan melalui media yang ada seperti brosur.kendala yang ada dan dapat mengatasinya dengan baik.Proses rekrutmen guru bisa dilakukan melalui empat kegiatan yaitu kegiatan pertama dalam proses rekrutmen guru baru adalah dengan melakukan Persiapan rekrutmen guru baru dimana kegiatan ini harus matang dengan melakukan pembentukan panitia rekrutmen guru baru. seperti kebijaksanaan promosi serta kebijaksanaan kompensasi dan lain sebagainya sekolah harus mampu mengatasi berbagai kendala tersebut. Dari kualifikasi tentang guru dan dosen juga dapat dipahami bahwa seorang guru wajib memiliki kualifikasi akademik yaitu telah menyelesaikan program sarjana. afektif.

Sementara itu. dan harus melalui proses pencapaian yang telah baku. karena terkait dengan anggaran belanja negara yang sangat besar. Prasyarat yang harus dipernuhi sebagai berikut. karena hanya akan menyebabkan terjadinya apa yang disebut dengan 'jual beli ijazah' yang juga dikenal dengan 'STIA' atau 'sekolah tidak ijazah ada'.tentunya rekrutmen yang dilakukan harus sesuai dengan kebutuhan dan persyaratan yang ditentukan oleh sekolah agar mendapatkan sumber daya manusia (SDM) yang berkualitas dan profesional di bidangnya di sebuah lembaga pendidikan. 5. Standar kualifikasi tersebut tidak dapat ditawar-tawar. Sementara bagi guru yang sudah memiliki pengalaman tidak perlu dituntut untuk memenuhi standar ijazah tersebut. yang juga sangat berat. 3. Sebagai contoh. Membangun Satu Standar Pembinaan Karir (Career Development Path) Seiring dengan pelaksanaan sertifikasi tersebut. pembangunan sistem sertifikasi pendidik dan tenaga Kependidikan serta sistem penjamin mutu pendidikan merupakan langkah yang amat besar. Standar pembinaan karir ini akan dapat dilaksanakan dengan matap apabila memenuhi prasyarat antara lain jika sistem sertifikasi pendidik dan tenaga kependidikan telah berjalan dengan lancar. dan dengan menggunakan standar kualifikasi yang telah ditetapkan. untuk pendidik yang akan diangkat menjadi PNS harus diterapkan standar minimal kualifikasi pendidikan. 4. . Kenaikan pangkat pendidik dan tenaga kependidikan bukan semata-mata sebagai proses administrasi semata-mata. proses rekruitmen guru baru harus dilaksanakan secara jujur dan transparan. langkah ketiga ini akan berjalan lancar jika sistem kenaikan pangkat pegawai berdasarkan sertifikasi sudah berjalan. Selain itu. Penataan sistem sertifikasi pendidik dan tenaga kependidikan tidak boleh tidak harus dilakukan untuk menjamin terpenuhinya berbagai standar nasional pendidikan yang telah ditetapkan. atau menjadi kepala sekolah. Selain itu. untuk menjadi instruktur. disusunlah satu standar pembinaan karier. Sistem itu harus dalam bentuk dokumen yang disyahkan dalam bentuk undang-undang atau setidaknya berupa peraturan pemerintah yang harus dilaksanakan oleh aparat otonomi daerah. Sebaliknya jika proses rekrutmen yang dilakukan tidak selektif maka akan menghasilkan sumber daya manusia (SDM)yang biasa saja. Serta Sistem Penjaminan Mutu Pendidikan Sebagaimana diamanatkan dalam PP Nomor 19 Tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan. atau pengawas. untuk para pendidik yang sudah berpengalaman perlu diberikan kesempatan untuk mengikuti penataran yang dilaksanakan oleh lembaga inservice training yang juga sudah terakreditasi. maka sistem kenaikan pangkat bagi pendidik dan tenaga kependidikan sudah waktunya disesuaikan. Membangun Sistem Sertifikasi Pendidik dan Tenaga Kependidikan. melainkan lebih merupakan proses penting dalam sertifikasi yang berdasarkan kompetensi. Yang diperlukan bagi mereka adalah pendidikan profesi dan sistem diklat berjenjang yang harus dihargai setara dengan kualifikasi pendidikan tertentu. Jika sistem sertifikasi ini telah mulai berjalan. Peningkatan Kompetensi Yang Berkelanjutan Sebagaimana dijelaskan pada langkah sebelumnya. yang akan memberikan dukungan bagi pelaksanaan langkah pertama. seorang pendidik harus memiliki standar kompetensi yang diperlukan.

Di antara kriteria-kriteria kompetensi guru yang harus dimiliki meliputi: 1) Kompetensi kognitif. yaitu kompetensi atau kemampuan bidang sikap. 2) Kompetensi afektif. sudah selayaknya guru mempunyai berbagai kompetensi yang berkaitan dengan tugas dan tanggungjawabnya. Guru yang terampil mengajar tentu harus pula memiliki pribadi yang baik dan mampu melakukan social adjustment dalam masyarakat. . Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP). yang dimulai dengan lingkungan belajar yang kondusif dan efektif. Oleh karena itu. Tujuan. Dalam proses belajar mengajar tersirat adanya satu kesatuan kegiatan yang tak terpisahkan antara siswa yang belajar dan guru yang mengajar. 3) Kompetensi psikomotorik. Agar tujuan pendidikan tercapai. Sudah tentu termasuk PGRI. Musyawarah Kerja Kepala Sekolah (MKKS). Upaya peningkatan kompetensi bagi pendidik dan tenaga kependidikan harus dilaksanakan secara terencana dan terprogram dengan sistem yang jelas. organisasi perjuangan para guru. Masalah kompetensi guru merupakan hal urgen yang harus dimiliki oleh setiap guru dalam jenjang pendidikan apapun. program pendidikan. sehingga belajar para siswa berada pada tingkat optimal16. maka guru mempunyai tugas dan peranan yang penting dalam mengantarkan peserta didiknya mencapai tujuan yang diharapkan. Kegiatan sinergis peningkatan mutu pendidik dan tenaga kependidikan harus melibatkan organisasi pembinaan profesi guru. yaitu kemampuan guru dalam berbagai keterampilan atau berperilaku.mereka juga disyaratkan untuk mengikuti pendidikan profesi yang dapat dilaksanakan oleh lembaga tenaga kependidikan (LPTK) yang juga harus terakreditasi. menghargai pekerjaan dan sikap dalam menghargai hal-hal yang berkenaan dengan tugas dan profesinya. Proses belajar mengajar dan hasil belajar para siswa bukan saja ditentukan oleh sekolah. Dengan kompetensi tersebut. yaitu kompetensi yang berkaitan dengan intelektual. inservice training. Dengan demikian diharapkan guru tersebut mampu menjalankan tugas dan tanggung jawab sebaik mungkin. maka akan menjadikan guru profesional. akan tetapi sebagian besar ditentukan oleh kompetensi guru yang mengajar dan membimbing para siswa. Proses belajar mengajar merupakan suatu proses yang mengandung serangkaian perbuatan guru dan siswa atas dasar hubungan timbal balik yang berlangsung dalam situasi edukatif untuk mencapai tujuan tertentu. Ini dikarenakan kurikulum pendidikan haruslah disusun berdasarkan kompetensi yang dimiliki oleh guru. dan Musyawarah Kerja Penilik Sekolah (MKPS). system penyampaian. maka guru harus melengkapi dan meningkatkan kompetensinya. struktur dan isi kurikulumnya. Agar proses pembelajaran dapat dilaksanakan secara efektif dan efisien. baik secara akademis maupun non akademis. Kompetensi guru sangat penting dalam rangka penyusunan kurikulum. dan sebagainya. Jumlah pendidik yang besar di negeri ini memerlukan penanganan secara sinergis oleh semua instansi yang terkait dengan preservice education. seperti Kelompok Kerja Guru (KKG). kompetensi guru berperan penting. Guru yang berkompeten akan lebih mampu mengelola kelasnya. hendaknya direncanakan sedemikian rupa agar relevan dengan tuntutan kompetensi guru secara umum. dan on the job training. Dalam hubungan dengan kegiatan dan hasil belajar siswa. evaluasi. pola.

Guru sebagai pendidik mengandung arti yang sangat luas. sehingga timbul komitmen bersama untuk meningkatkan mutu sense of quality. dan diikuti juga anggota komite sekolah. Perencanaan pengajaran tersebut erat kaitannya dengan berbagai unsur seperti tujuan pengajaran. dan tujuan . guru. tidak sebatas memberikan bahanbahan pengajaran tetapi menjangkau etika dan estetika perilaku dalam menghadapi tantangan kehidupan di masyarakat. Kemampuan guru dalam merencanakan dan melaksanakan proses pembelajaran merupakan faktor utama dalam mencapai tujuan pengajaran. dan evaluasi. kemajuan yang telah dicapai. bahan pengajaran. kegiatan belajar. Misi. Untuk memancing minat acara rapat dapat dimulai dengan pertanyaan seperti: Perlukah kita meningkatkan mutu? seperti apakah kondisi sekolah / madrasah kita dalam hal mutu pada saat ini? Mengapa sekolah kita tidak/belum bermutu? Kegiatan evalusi diri ini bertujuan untuk mengetahui kondisi sekolah saat ini dalam segala aspeknya (seluruh komponen sekolah). dan seluruh staf. Unsur-unsur tersebut merupakan bagian integral dari keseluruhan tanggung jawab guru dalam proses pembelajaran. melainkan dari kondisi yang dimiliki. Strategi Peningkatan Mutu Pendidik dan Tenaga Kependidikan Untuk meningkatkan kualitas dan kuantitas kegiatan belajar mengajar yang dilakukan oleh guru sebagai tenaga kependidikan. Secara umum terdapat beberapa langkah strategi yang dapat diimplementasikan dalam lingkungan kependidikan dengan tujuan bahwa peningkatan mutu pendidik dan tenaga kependidikan akan behasil melalui strategi. melaksanakan kegiatan yang direncanakan dan melakukan penilaian terhadap hasil dari proses belajar mengajar. maka profesi guru harus memiliki dan menguasai perencanaan kegiatan belajar mengajar. Titik awal ini penting karena sekolah yang sudah berjalan untuk memperbaiki mutu. untuk membangkitkan kesadaran / keprihatinan akan penting dan perlunya pendidikan yang bermutu.D. maupun masalah-masalah yang dihadapi ataupun kelemahan yang dialami. Kegiatan evaluasi diri ini juga merupakan refleksi/mawas diri.strategi berikut ini: 1) Evaluasi diri self assessment Evaluasi diri sebagai langkah awal bagi setiap sekolah yang ingin. Kegiatan ini dimulai dengan curah pendapat brainstorming yang diikuti oleh kepala sekolah. atau menerncanakan untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia. Keterampilan merencanakan dan melaksanakan proses belajar mengajar ini sesuatu yang erat kaitannya dengan tugas dan tanggung jawab guru sebagai pengajar yang mendidik. metode mengajar. Sebagai pengajar. guru hendaknya memiliki perencanaan (planing) pengajaran yang cukup matang. mereka tidak berangkat dari nol. 2) Perumusan Visi. serta merumuskan titik tolak point of departure bagi sekolah/madrasah yang ingin atau akan mengembangkan diri terutama dalam hal mutu. Prakarsa dan pimpinan rapat adalah kepala sekolah.

misi merupakan tugas-tugas pokok yang harus dilakukan untuk mewujudkan visi. 3) Perencanaan Perencanaan pada tingkat sekolah adalah kegiatan yang ditujukan untuk menjawab : apa yang harus dilakukan dan bagaimana melakukannnya untuk mewujudkan tujuan (tujuan-tujuan) yang telah ditetapkan / disepakati pada sekolah yang bersangkutan. merupakan jabaran dan visi atau merupakan komponenkomponen pokok yang harus direalisasikan untuk mencapai visi yang telah ditetapkan. Dengan kata lain. prosedurnya serta metode pelaksanaannya untuk mencapai suatu tujuan organisasi atau satuan organisasi. keadilan. Tujuan-tujuan jangka pendek (1 tahun) inilah yang rincian persiapannya dalam bentuk perencanaan. sedangkan visi dan misi (relatif/pada umumnya)masih tetap. Tujuan merupakan tahapan antara. Tujuan (jangka menengah). kemanusiaan. Tujuan-tujuan antara ini sebagai tujuan jangka menengah kalau tiba saatnya berakhir (tahun yang ditetapkan ) akan disusul dengan tujuan berikutnya. sejauh tidak bertentangan dengan tujuan pendidikan nasional seperti tercantum dalam UU Nomor 23 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional. serta hasil seperti apa yang diharapkan. Dengan kata lain perencanaan adalah kegiatan menetapkan lebih dulu tentang apa-apa yang harus dilakukan. seberapa besar lingkup cakupan kuantitatif dan kualitatif yang akan dikerjakan.Bagi pihak sekolah yang baru berdiri atau baru didirikan. 4) Pelaksanaan . keluhuran budi pekerti. Dikatakan teliti karena ia harus menjelaskan apa yang akan dilakukan. Dalam kasus sekolah/madrasah negeri kepala sekolah bersama guru mewakili pemerintah kab/kota sebagai pendiri dan bersama wakil masyarakat setempat ataupun orang tua siswa harus merumuskan kemana sekolah kemasa depan akan dibawa. atau tonggak tonggak penting antara titik berangkat (kondisi awal) dan titik tiba tujuan akhir yang rumusannya tertuang dalam dalam bentuk visi-misi. Keadaan yang diinginkan tersebut hendaklah ada kaitannya dengan idealisme dan mutu pendidikan . Sedangkan misi. Idealisme disini dapat berkaitan dengan kebangsaan. Kondisi yang diharapkan / diinginkan dan diimpikan dalam jangka panjang itu. dalam formulasi yang jelas baik secara kualitatif maupun kuantitatif. termasuk anggaran yang diperlukan untuk membiayai kegiatan yang direncanakan. kalau dirumuskan secara singkat dan menyeluruh disebut visi. dipenggal-penggal menjadi tujuan tahunan yang biasa disebut target/sasaran. ataupun kualitas pendidikan sebagaimana telah didefinisikan sebelumnya. perumusan visi dan misi serta tujuan merupakan langkah awal / pertama yang harus dilakukan yang menjelaskan kemana arah pendidikan yang ingin dituju oleh para pendiri/ penyelenggara pendidikan. kapan dan berapa perkiraan satuan-satuan biayanya. bagaimana. Perencanaan oleh sekolah merupakan persiapan yang teliti tentang apa-apa yang akan dilakukan dan skenario melaksanakannya untuk mencapai tujuan yang diharapkan. dalam bentuk tertulis.

penentuan aturan dan prosedur kerja disekolah /madrasah. bahkan mingguan). pengorganisasian. c. Peran dalam fungsi ini mencakup: penetapan tujuan dan standar. Sebagai perencana. dalam hal ini pada dasarnya menjawab bagaimana semua fungsi manajemen sebagai suatu proses untuk mencapai tujuan lembaga yang telah ditetapkan melalui kerjasama dengan orang lain dan dengan sumber daya yang ada. Peran masing-masing itulah yang juga perlu disoroti didalam implementasi strategi peningkatan mutu pendidik dan tenaga kependidikan. setiap guru memahami visi dan misi sekolah. hanya lingkupnya yang berbeda. Didalam pelaksanaan tentu masih ada kegiatan perencanaan-perencanaan yang lebih mikro (kecil) baik yang terkait dengan penggalan waktu (bulanan.semesteran. siswa. maka langkah pertama sampai dengan ketiga dapat digabungkan fungsi perencanaan yang secara keseluruhan (untuk sekolah) sudah dibahas. mensinergikan dengan metoda dan sumber belajar yang tepat yang ia kuasai). pembuatan rencana. Untuk melihat peran tersebut dapat dilihat sebagai berikut: a. atau kegiatan lainnya. (mengorganisasikan bahan. merencanakan proses pembelajaran. dapat berjalan sebagaimana mestinya (efektif dan efisien). Pelaksanaan juga dapat diartikan sebagai suatu proses kegiatan merealisasikan apa-apa yang telah direncanakan. serta melakukan evaluasi perkembangan setiap anak sebagai masukan bagi perbaikan pelaksanaan proses pembelajaran secara terus menerus. atau yang terkait erat dengan kegiatan khusus. Peran Guru dan Staf Sekolah Peran guru (staf pengajar) sebenarnya tidak jauh berbeda dengan peran kepala sekolah. Tahap pelaksanaan. pengarahan/penggerakkan atau pemimpinan dan kontrol/pengawasan serta evaluasi. dan peramalan apa yang akan terjadi untuk masa yang akan datang. misalnya menghadapi lomba bidang studi. kepala sekolah mengidentifikasi dan merumuskan hasil kerja yang ingin dicapai oleh sekolah dan mengidentifikasi serta merumuskan cara-cara (metoda) untuk mencapai hasil yang diharapkan. Dalam lingkup yang lebih kecil (mikro) yaitu mengelola proses pembelajaran sesuai kelompok belajar atau bidang studi yang dipegangnya. dengan kepala sekolah dan orang tua. Peran Orang Tua Siswa dan Masyarakat . menerapkan kepemimpinan yang demokratis dan memberdayakan siswa dengan mengambil keputusan sesuai kewenangan yang ia miliki dan menjalin hubungan komunikasi yang baik dengan guru lain. b. Ia juga memonitor kemajuan siswa. Guru juga memberi penghargaan bagi siswa yang menunjukkan kemajuan dalam belajar (berprestasi) serta memberikan semangat/dorongan (motivasi) serta membantu siswa yang prestasinya kurang/belum memuaskan.Apabila kita bertitik tolak dari fungsi-fungsi manajemen yang umumnya kita kenal sebagai fungsi perencanaan. dengan siswa. Peran kepala sekolah/Madrasah Dengan kedudukan sebagai manajer kepala sekolah/Madrasah bertanggung jawab atas terlaksananya fungsi-fungsi manajemen.

Pemerintah Peran Pemerintah untuk tujuan dalam jangka panjang. Orang tua siswa dan masyarakat harus aktif mengamati hasil yang diupayakan dan yang diajarkan oleh guru di sekolah. Di abad ke-21 perolehan peningkatan mutu tenaga kependidikan itu memerlukan pengembangan keahlian para pendidik karena beberapa alasan: (1) keahlian yang diperlukan untuk mencapai keberhasilan akan semakin tinggi dan berubah sangat cepat. sehingga para guru disekolah tetap aktif untuk mempertahankan dan bahkan mengembangkan kualitas pendidikan kepada para siswanya d. bidang sarana prasarana dan administrasi ketatalaksanaan sekolah. bidang ketenagaan. 6) Pelaporan Pelaporan disini diartikan sebagai pemberian atau penyampaian informasi tertulis dan resmi kepada berbagai pihak yang berkepentingan stake hokders. Sungguh pun demikian. Hanya perlu dicatat disini bahwa sesuai keperluan dan urgensinya tidak semua hasil evaluasi masuk kedalam laporan (pelaporan). merupakan kegiatan yang penting untuk mengetahui kemajuan ataupun hasil yang dicapai oleh sekolah didalam melaksanakan fungsinya sesuai rencana yang telah dibuat sendiri oleh masing-masing sekolah.Kedua peran tersebut akan sulit dilaksanakan tanpa keikutsertaan peran orang tua siswa dan masyarakat. maka banyak dari keahlian itu harus dikembangkan dan dilatih melalui pelatihan dalam pekerjaan. mengenai aktifitas manajemen satuan pendidikan dan hasil yang dicapai dalam kurun waktu tertentu berdasarkan rencana dan aturan yang telah ditetapkan sebagai bentuk pertanggung jawab atas tugas dan fungsi yang diemban oleh satuan pendidikan tersebut. bidang teknis edukatif harus menjadi sorotan utama dengan focus pada capaian hasil (prestasi belajar siswa). (2) Keahlian yang diperlukan sangat tergantung pada teknlogi dan inovasi baru. dan (3) kebutuhan akan keahlian itu didasarkan pada keahlian individu. yaitu dengan mengupayakan kebijakan yang memperkuat sumber daya tenaga kependidikan melalui cara dengan memperkuat sistem pendidikan dan tenaga kependidikan yang memiliki keahlian. Orang tua siswa dan masyarakat berperan dalam mengawasi mutu hasil pendidikan yang dilaksanakan oleh tenaga kependidikan di sekolah. Kegiatan pelaporan sebenarnya merupakan kelanjutan kegiatan evaluasi dalam bentuk mengkomunikasikan hasil evaluasi secara resmi kepada berbagai pihak sebagai pertanggung jawaban mengenai apa-apa yng telah dikerjakan oleh sekolah beserta hasilhasilnya. 5) Evaluasi Evaluasi sebagai salah satu langkah strategi dalam meningkatkan mutu pendidik dan tenaga kependidikan. bidang keuangan. Evaluasi pada tahap ini adalah evaluasi menyeluruh. Ada hasil evaluasi tertentu yang pemanfaatannya bersifat internal (untuk . menyangkut pengelolaan semua bidang dalam satuan pendidikan yaitu bidang teknis edukatif (pelaksanaan kurikulum/proses pembelajaran dengan segala aspeknya).

Baik yang antusias menerima. bahkan masing-masing stake holder mungkin memerlukan laporan yang berbeda fokusnya. mereka ingin segera memperoleh kepastian. akuntabilitas. agar tidak perlu mengulang kesalahan yang sama. sebagai dokumen tertulis resmi. 122/U/2001 tentang Rencana Strategis Pembangunan Pendidikan. desentralisasi dan pemberdayaan potensi masyarakat. bahkan menuntut adanya definisi/batasan pengertian yang pasti. demokratisasi. serta pengalaman-pengalaman masa lalu yang dapat digunakan sebagai guru terbaik disamping mengambil manfaat dari pengalaman negara lain. Disamping itu. ada yang untuk kepentingan eksternal (pihak luar). konsepsi manajemen pendidikan yang telah lama dipendam oleh para tokoh pendidikan untuk diaktualkan. keluarnya UU No. demokratisasi dan akuntabilitas. sistem pendidikan. apalagi yang akan diimplementasikan untuk membuat pusing sekolah. baik yang berlandaskan agama maupun budaya. Konkritnya. ingin memperoleh pedoman. petunjuk dan sebagainya. serta UU Sisdiknas Tahun 2003 memberikan landasan hukum yang kuat untuk diterapkannya peningkatan mutu pendidik dan tenaga kependidikan sebagai sebuah inovasi pendidikan untuk mencapai mutu tenaga kependidikan yang lebih baik dalam meningkatkan mutu pendidikan di Indonesia . serta dorongan peningkatan peran masyarakat dalam hampir semua kebijakan dan layanan publik. Strategi tersebut dalam esensi tertentu sebenarnya sudah diimplementasikan oleh beberapa sekolah yang berada di Indonesia sejak sebelum Indonesia merdeka yang terbukti dengan adanya berbagai lembaga pendidikan swasta (swadaya masyarakat) tumbuh besar. Elemen-elemen yang mendukung tersebut antara lain : iklim perubahan pemerintahan yang menghendaki transparansi. serta sebagian birokrat yang secara diam-diam konsisten ingin melakukan reform tanpa banyak publikasi. Upaya peningkatan mutu pendidik dan tenaga kependidikan di indonesia cukup mendapat respon/tanggapan yang positif.25 Tahun 2000 tentang Propenas. transparansi. termasuk pendidikan. UU No. dan olah raga tahun 2000-2004. 22 tahun 1999 tentang pemerintah daerah dan PP No. kebijakan yang mendukung. bahkan sebagian besar berbentuk lembaga pendidikan . Tidak kalah pentingnya dalam hal ini adalah suasana masyarakat (semua pihak) yang menghendaki desentralisasi (otonomi). ada yang pesimis bahkan sinis terhadap upaya peningkatan mutu pendidik dan tenaga kependidikan. Pemuda. sungguhpun isinya harus berdsarkan data dan informasi yang benar laporan memiliki tujuan tertentu sesuai dengan peran institusi yang dikirimi atau pembacanya. Keberhasilan upaya peningkatan mutu pendidik dan tenaga kependidikan indonesia (sungguhpun secara bertahap atau incremental) tidak lepas dari kondisi objektif yang mendukung pada saat (timing) yang tepat. 25 tahun 2000 tentang kewenangan pemerintah dan kewenangan propinsi sebagai Daerah Otonomi.tradisional. dan Kepmemdiknas No. Demikian juga penerapan skenario peningkatan mutu pendidik dan tenaga kependidikan di Indonesia sangat terkait dengan sistem pemerintahan (yang baru mengalami perubahan besar dan implementasinya masih terus berkembang). meskipun disana-sini ada pro dan kontra baik secara terus terang maupun secara diam-diam. yang menyangkut pertanggungjawaban serta reputasi lembaga pendidikan. Disisi lain.kalangan dalam sekolah sendiri).

1994 Uzer Usman.am.. Membangun Profesionalitas Guru. 19 Tahun 2005 Tentang Standar Nasional Pendidikan. (5) standar pembinaan karir. yang perlu diberdayakan. Jakarta: Prenada Media. (3) standar kompetensi dan upaya peningkatannya. www. . 2003.Kompetensi yang Harus Dimiliki Seorang Guru. (4) sistem sertifikasi pendidik dan tenaga kependiikan dan alih profesi yang tidak memenuhi standar kompetensi. (6) penyiapan calon pendidik dan tenaga kependidikan yang selaras dengan standar kompetensi. Oemar. DAFTAR BACAAN Hamalik. Upaya peningkatan mutu pendidik dan tenaga kependidikan tidak dapat dilepaskan dengan aspek-aspek penting sebagai berikut: (1) gaji dan standar kesejahteraan yang layak untuk kehidupannya. Menjadi Guru Profesional. Guru Profesional:Implementasi Kurikulum Tingkat Satuan Pendidkan Dan Sukses Dalam Sertifikasi Guru Jakarta: Raja Grafindo persada. Roestiyah Masalah-masalah Ilmu Keguruan. dan relevan untuk kebutuhan masyarakat global. MKKS. Pendidikan Guru Berdasarkan Pendekatan Kompetensi.1989 Ni. 2004 Samana. 2006 Undang-undang RI No. Azra. Tentang Sistem Pendidikan Nasional.. Jakarta: Bumi Aksara. MGMP. Edisi 01/Tahun 2003. Jakarta : eLSAS. Jakarta: Bumi Aksara. 2006 Kunandar. Jakarta: Bina Aksara.wordpress. 6 Januari 2007 Ibrahim Bafadal. 3 februari 2005 . Penutup Peningkatan mutu pendidikan tidak dapat dilepaskan dengan upaya peningkatan mutu pendidiknya dan tenaga kependidikannya. Peningkatan Profesionalisme Guru Sekolah Dasar. Inovasi Kurikulum. 2003 Peraturan Pemerintah RI No. Upaya peningkatan mutu pendidikan tidak akan memenuhi sasaran yang diharapkan tanpa dimulai dengan peningkatan butu pendidik dan tenaga kependidikannya.Bandung: PT. bermutu.com. (4) seleksi/rekruitmen yang jujur dan transparan. Kompas. Azyumardi.Yogyakarta:Kanisius. Com). dan lebih menekankan praktik dan dengan teori yang kuat.2007 N. Strategi Pengembangan Kurikulum Madrasah Aliyah Dalam Era Otonomi Daerah dan Desentralisasi Pendidikan. (2) standar kualifikasi.K.E. Asrorun. A. dan MKPS. Jakarta: Sinar Grafika.SaifulAdi. 2006 Rosyada. Membina Mutu Pendidikan.2005 Adi Saiful. 20 Tahun 2003.Dede Paradigma Pendidikan Demokratis: Sebuah Model Pelibatan Masyarakat Dalam Penyelenggaraan Pendidikan. (www. Mudahmudahan. dan (8) pemberdayaan organisasi pembinaan profesional seperti KKG. Profesionalisme Keguruan. Semoga melalui sumbangan pemikiran dalam peningkatann mutu pendidik dan tenaga kependidikan dapat terus ditingkatkan sehingga tercapai Insan Indonesia Cerdas dan Kompetitif melalui upaya mewujudkan pendidikan yang mampu membangun insan Indonesia yang cerdas dan kompetitif dengan adil. Remaja Rosdakarya. (7) sistem diklat di lembaga inservice training dan pendidikan profesi di LPTK. Moch. Jakarta: Sinar Grafika.

Dampak dari kesalahan semacam ini adalah menurunkan kepercayaan lembaga untuk mengubah dirinya menuju masa depan. secara luas dan mendasar yang amat diperlukan adalah dukungan politik baik itu sekedar political will maupun dalam bentuk peraturan dan perundang-undangan formal. Akhirnya. Namun.blogspot. Uwes Sanusi. Implementasi dan Peningkatan Mutu Pendidikan) Mohib asrori BAB I PENDAHULUAN Sebuah program yang direncanakan tidak akan berjalan dan berhasil secara maksimal apabila tidak tersedia berbagai faktor pendukung. Setelah timbul kesadaran itu maka langkah selanjutnya adalah memberikan pelatihan teknis implementasi MBS.1999. Oleh karena itu. ICW. dukungan sumber daya manusia beserta pemikirannya. 2002. Dalam implementasi MBS. menghabiskan tenaga dan akhirnya segera kembali kepada pola sebelumnya.com/2009/06/upaya-dan-strategi-peningkatanmutu. Manajemen Mutu Terpadu dalam Pendidikan. yogyakarta: Andioffset 1999 Sumber data : http://mitrakuliah. Dukungan finansial.dinaspendidikanparepare. Manajemen Kualitas. ketidakpuasan. Faktor pendukung bisa berasal baik dari internal maupun eksternal. Di banyak distrik dan sekolah yang menginisasi Site-Based Management memiliki asumsi bahwa penerapan strategi ini akan membimbing ke arah perbaikan kualitas keputusan dan meningkatkan program sekolah.html http://www. Jakarta: Logos wacana Ilmu.Soebagio Atmodiworo. Manajemen Pendidikan Indonesia Jakarta: PT. Sujanto. Konsekuensinya adalah munculnya kefrustasian.Ardadijaya. Doretea.php?option=com_content&view=article&id=133:upaya-dan-strategiapeningkatan-mutu-pendidik-dan-tenaga-kependidikan IMPLEMENTASI MBS DALAM MENINGKATKAN MUTU PENDIDIKAN (Kajian Faktor Pendukung. manfaatnya belum banyak dimengerti secara baik oleh para pelaku pendidikan. Wahyu Ariyani. Walupun Site-Based Management telah populer di Amerika Serikat. dan sarana dan prasarana lainnya juga menjadi faktor pendukung yang penting. faktor pendukung sumber daya manusia belum memadai. banyak waktu dan tenaga yang dicurahkan oleh para partisipan sekolah dalam implementasi MBS yang belum komplet tersebut. Dalam suasana seperti ini tampaknya yang diperlukan adalah pengetahuan dan ketrampilan tentang perubahan organisasi atau dinamika organisasi. Ketika MBS baru tahap-tahap awal dilaksanakan di Amerika Serikat. Grasindo. pada tahap awal inisiasi MBS harus dipersiapkan program sosialisasi yang matang agar berbagai pihak yang terkait dengan pelaksanaan pendidikan di sekolah menyadari akan arti pentingnya implementasi MBS. Syafarudin. Perubahan organisasi itu menjadi penting untuk . 2004. Mensiasati Manajemen Berbasis Sekolah Di Era Krisis Yang Berkepanjangan. banyak diantara mereka yang belum mengerti proses pencapaian tujuan MBS itu.info/index. Manajemen Pengembangan Mutu Dosen. Bedjo. 2000.

seperti pelajar dan mahasiswa Indonesia tidak dapat bersaing di taraf internasional. Kedua. yaitu isu-isu yang berkaitan dengan organisasi tim lokal dan upaya untuk mendefinisikan tujuannya. Sebagaimana dunia pendidikan dewasa ini memakai caranya dengan pilihan model MBS. yang paling memakan waktu adalah dalam membangun tim-tim lokal (building site-teams) yang terpusat pada tiga hal. Sementara itu desentralisasi pendidikan model MBS langsung ke tingkat sekolah. Rendahnya kualitas pendidikan ini ditandai dengan adanya beberapa indicator. Berdasarkan latar belakangnya. Tetapi. 22 tahun 1999.dikemukakan karena orang sering melupakannya dengan asumsi suatu program baru dapat langsung dilaksanakan tanpa mengubah kebiasaan individu. 22 tahun 1999 tersebut membawa dampak yang positif ataupun negative. Seiring dengan upaya reformasi di bidang pendidikan tersebut. Berdasarkan pengalaman Reynolds (1997) dalam menerapkan MBS di Amerika Serikat . karena desentralisasi berdasar UU itu hanya sampai pada tingkat pemerintah kabupaten atau kota. dampak negatifnya akan terjadi apabila bupati atau walikota menggunakan aji mumpung atas kekuasaannya dalam bidang pendidikan sehingga ingin menguasai sepenuhnya penyelenggaraan pendidikan di daerah tersebut. isu-isu yang berkaitan dengan manajemen di samping isu pengajaran. Pertama. dampak positif akan terjadi apabila walikota atau bupati kemudian mengerti desentralisasi model MBS ini sehingga bersedia melimpahkan kekuasaan dan kewenangannya kepada sekolah secara langsung. tidak sanggup berkompetisi dalam merebut pasaran kerja nasional ataupun internasional dan yang paling parah lagi lulusan pendidikan kita tidak dapat membentuk manusia yang bertanggungjawab. Munculnya UU No. Apabila hal itu terjadi maka penyelenggaraan dan pengaturan pendidikan akan dikendalikan pada tingkat kabupaten atau kota. . bukan dengan pemerintah pusat. ketika program itu mencakup sesuatu hal yang amat mendasar dan menyeluruh maka akan menghadapi kendala bila tidak dilakukan perubahan organisasinya. namun sebenarnya landasan hokum MBS bukanlah UU tersebut. MBS di Indonesia muncul karena fakta menunjukkan bahwa kualitas pendidikan di Indonesia rendah. dan usulan yang ditolak oleh tingkat yang lebih tinggi di dalam suatu distrik. yaitu sekolah dengan kabupaten atau kota saja. Dengan munculnya desakan dan kritikan dari masyarakat luas memaksa pemegang otoritas pendidikan untuk mereformasi dirinya sendiri. secara nasional juga sedang diupayakan reformasi system administrasi yang dikenal dengan system pemerintahan daerah melelui UU No. Bila demikian maka MBS tidakakan dapat berjalan secara efektif karena sekolah-sekolah tidak akan memiliki kekuasaan dan wewenang dalam mengatur dirinya sendiri. kelompok dan organisasinya. Dengan demikian birokrasi penyelenggara pendidikan akan semakin pendek.

Apabila para penguasa dan birokrat enggan untuk melakukan reformasi sistematik ini maka MBS tidak dapat berhasil dengan baik. prinsip desentralisasi memandang bahwa masalah yang muncul di sekolah akan dapat diselesaikan dengan sebaik-baiknya apabila penyelesaiannya diserahkan kepada pihak yang paling dekat dengan keberadaan masalah tersebut. Tujuan reformasi model MBS yaitu untuk meningkatkan kualitas pendidikan nasional. Hubungan guru. Kedua. Itulah yang dimaksud Mohrman dkk. Tidak ada cara tunggal terbaik untuk memecahkan setiap masalah yang muncul di sekolah dapat diselesaikan dengan berbagai cara. Bagian ini masih amat lemah sehingga orang tua dan masyarakat harus terus didorong agar makin peduli terhadap penyelenggaraan dan pengelolaan pendidikan. Artinya implementasi MBS bukan hanya dapat meningkatkan kualitas pendidikan. Ketiga. tujuan dan akuntabilitas. Teori yang Mendasari MBS Pertama. orang tua siswa dan masyarakat luas akan menjadi semakin erat. Bagian-bagian Reformasi dalam MBS Rich (1988) mengungkapkan bahwa reformasi memiliki dua karateristik. seperti rencana pemberlakuan kurikulum berbasis komptensi dan juga kurikulum tingkat satuan pendidikan. 25 tahun 2000 tentang Program Pembangunan Nasional 2000-2004 bahwa sekolah harus memiliki otonomi pengelolaan pendidikan. partisipasi masyarakat dan orang tua siswa adalah suatu keharusan. Hanya saja gaya hidup masyarakat kota yang mulai memiliki cara hidup individual harus mulai dibangun kembali rasa kebersamaan dan gotong royong. Keempat. Berbagai inovasi yang dilakukan sebelumnya gagal membawa kemajuan pendidikan di Indonesia karena tidak adanya dukungan karakteristik sistematik. yang paling . mempererat persaudaraan dan kesatuan bangsa.BAB II PEMBAHASAN A. batang reformasi adalah mandat dari pemerintah. Menurut Bacharach (1990) reformasi terdiri dari empat bagian. yaitu terprogram dan sistematik. Karateristik terprogram yang berupa inovasi berbagai aspek harus terus dilakukan. Artinya setiap personel yang terkait dengan pengambilan keputusan sekolah harus memiliki perspektif yang luas dan setiap permasalahan dapat didekati dari berbagai cara yang berlainan. akar reformasi adalah cara hidup masyarakatnya. implementasi MBS ini akan mendapatkan dukungan besar. prinsip ekuifinalitas menjadi landasan yang harus dimiliki oleh para pelaksana MBS di sekolah ataupun otoritas pendidikan diatasnya. Dalam menyelesaikan masalah pendidikan di sekolah. tetapi bersama-sama dengan sekolah dan masyarakat. bersahabat dan hangat. bahwa desentralisasi model MBS ini harus mendesentralisasikan pengetahuan dan ketrampilan kepada setiap personel yang berada di sekolah. yaitu melalui UU No. cabang reformasi adalah pemberdayaan dan peningkatan profesionalisme guru dan staf sekolah. daun reformasi adalah partisipasi orang tua siswa dan partisipasi masyarakat luas. Metode pelibatan partisipan ini telah diakui di berbagai praktik pengabilan keputusan akan menjadi efektif karena adanya rasa tanggung jawab dan rasa memiliki diantara mereka yang terlibat. melainkan justru dapat menjadi alat pemersatu bangsa. 2. Bila kita cermati maka cara hidup masyarakat tradisional kita yang sejak zaman nenek moyang memiliki cara hidup bergotong royong. Sebaiknya penetapan struktur dan akuntabilitas tidak dilakukan satu pihak oleh pemerintah. Pertama. Sekilas tentang Wacana MBS 1. yaitu adanya otonomi di tiap sekolah dengan mengacu pada struktur. Apapun model MBS yang dipakai. Kedua. Penetapan struktur dan akuntabilitas pendidikan itulah yang menjadi tugas dewan sekolah di tingkat paling bawah dengan dewan pendidikan di tingkat kabupaten atau kota. Mandatnya sudah jelas. Selanjutnya MBS memiliki potensi yang besar untuk mengurangi konflik social yang belakangan ini kian memanas di masyarakat kita.

pelayanan kepada masyarakat. ukuran keberhasilan implementasi MBS di Indonesia dapat dinilai setidaknya dari beberapa kriteria di bawah ini : Pertama. Keberhasilan harus berada dalam konsep yang lebih luas. MBS akan berhasil dengan baik apabila warga sekolah memiliki inisiatif dalam menjalankan pekerjannya dan inisiatif setiap individu dihargai. ekonomi dan politik. Jadi secara empiris dapat disimpulkan bahwa penerapan MBS bukan pekerjaan mudah. dan (d) penyandang cacat. pengetahuan dan ketrampilan. Desentralisasi dalam kekuasaan. Ketiga. pilihan dan kesuksesan pasca pendidikan menengah. Karena itu. informasi dan penghargaan. Sebagaimana Mohrman dkk bahwa otonomi secara luas menyangkut empat komponen penting yaitu kekuasaan atau kewengan. Keempat. budaya. pengetahuan dan ketrampilan. Ketidak merataan memperoleh kesempatan pendidikan terutama terjadi pada kelompok-kelompok : (a) masyarakat pedesaan dan atau masyarakat terpencil. Namun. sosial dan budaya. kepala sekolah dan orang tua siswa. sebagaimana dikemukakan Reynolds (1997) bahwa dalam konteks MBS. (b) keluarga yang kurang beruntung secara ekonomi. Semua persoalan itu pada gilirannya dapat menghambat pembanunan nasional menuju tercapainya cita-cita bangsa Indonesia dalam mewujudkan masyarakat madani yang adil dan makmur. diantaranya mencakup hal sebagai berikut : pola ketrampilan berfikir yang lebih baik. Karena layanan pendidikan tersebut berkualitas mengakibatkan prestasi akademik dan prestasi non akademik siswa juga meningkat. Persoalan itu berakibat lebih lanjut pada ketimpangan dalam kehidupan sosial. sementara itu sekolah memiliki peluang yang amat besar dalam menerapkan MBS. informasi dan penghargaan akan terlaksana bila sekolah diberi keleluasaan dalam pengelolaan sekolahnya secara mandiri. tenaga. 3. Berdasarkan beberapa analisis SWOT dari beberapa pakar tampak sekali bahwa kekuatan yang dimiliki sekolah untuk menerapkan MBS masih amat lemah. Hal terpenting agar sekolah dapat melakukan pengelolaan mandiri apabila para guru dan staf memiliki pengetahuan dan ketrampilan dalam menjalankan tugastugasnya. Ukuran Keberhasilan MBS Secara teoritis dan aplikasi praksis. pemahaman dan penghargaan pada multi budaya. dimilikinya konsep pribadi siswa dan kreativitas serta keindahan dalam seni. apa pun kriteria keberhasilan tersebut. Yang menjadi masalah di Indonesia adalah kurangnya inisiatif dari warga sekolah karena tidak adanya rasa memiliki terhadap sekolah tersebut. Kesempatan memperoleh pendidikan bagi sebagian rakyat Indonesia masih terbatas pada tingkat sekolah dasar sebagai hasil dari program Inpres SD yang dilaksanakan sejak tahun 1974. waktu dan usaha yang besar dan perlu adanya dukungan berbagai pihak.tahu adalah warga sekolah itu sendiri terutama guru. MBS dianggap berhasil apabila jumlah siswa yang mendapat layanan pendidikan semaikin meningkat. bukan semata-mata pada ukuran standar prestasi siswa. keberhasilan pendidikan harus didefinisikan ulang. partisipasi di dalam kelas matematika dan IPA yang lebih tinggi. Keberhasilan MBS harus dilihat kemampuannya dalam menangani masalah pemerataan kesempatan memperoleh pendidikan. Yang perlu diperhatikan adalah bagaimana meminimalisasi kelemahan dan menahan ancaman dari luar sekolah sehingga MBS dapat diterapkan dengan mulus. Kedua. prinsip inisiatif sumber daya manusia. terbukanya berbagai pilihan (mata pelajaran). . MBS dianggap berhasil apabila kualitas layanan pendidikan menjadi lebih baik. Masalah siswa yang tidak bisa mendaftar sekolah karena masalah ekonomi akan dipecahkan secara bersama-sama oelh warga sekolah melalui subsidi silang dari mereka yang ekonominya lebih mampu. prinsip sistem pengelolaan mandiri. menurunnya tingkat putus sekolah (drop out). pencapaiannya tergantung pada kualitas program pendidikan dan pelayanan yang diberikan. Di Indonesia sistem pengelolaan mandiri ini belum dimiliki karena banyak guru dan kepala sekolah yang belum memenuhi syarat untuk menjalankan pekerjaannya. melainkan memerlukan biaya. staf. (c) wanita.

Kedelapan. dan Wohlstetter dan Mohrman Wohlstetter dan Mohrman (1996) tentang Assessment of School-Based Management. Selanjutnya sekolah akan berubah dan berkembang lebih baik. Ketujuh. Selain itu yang menunjang lainnya adalah peningkatan efesiensi dalam penggunaan berbagai sumber daya di sekolah. kesejahteraan guru dan staf seolah membaik antara lain karena sumbangan pemikiran. Peterson (1991) tentang School-Based Management and Student Performance . Semakin profesional seorang guru dan staf sekolah maka masyarakat semakin berkeinginan untuk memberikan sumbangan dana lebih besar. Kelima. terjadinya keadilan dalam penyelenggaraan pendidikan karena penentuan biaya pendidikan tidak dilakukan secara pukul rata. Tingkat tinggal kelas menurun karena siswa semakin bersemangat untuk datang ke sekolah dan belajar di rumah dengan dukungan orang tua serta lingkungannya. Kubick (1988) tentang School-Based Management. orang tua siswa dan masyarakat akan semakin peduli dan rasa memiliki yang lebih besar pada sekolah. Setiap personil akan merasa aman dan nyaman dalam menjalankan tugasnya. karena program-program sekolah dibuat bersama-sama dengan warga masyarakat dan tokoh masyarakat maka relevansi penyelenggaraan pendidikan semakin baik. Strategi Sukses Implementasi MBS Studi literature ini diambil dari tulisan Oswald (1995) tentang School-Based Management. akses informasi ke segala bagian dan pemberian penghargaan kepada setiap pihak yang berhasil. Keenam. Dengan demikian. Keempat. Pada dasarnya. Secara umum dapat disimpulkan bahwa implementasi MBS akan berhasil melalui strategi-strategi berikut ini. tidak ada satu strategi khusus yang jitu dan bisa menjamin keberhasilan implementasi MBS di semua tempat dan kondisi. strategi implementasi MBS di suatu negara dengan negara lain bisa berlainan. tetapi didasarkan pada kemampuan ekonomi masing-masing keluarga. Ketiga. Kedua. Wohlstetter dan Mohrman (1993) tentang School-Based Management: Strategies for Succes . Iklim dan budaya kerja yang baik akan memberikan dampak positif terhadap peningkatan kualitas pendidikan. yaitu dimilikinya otonomi dalam kekuasaan dan kewenangan . adanya kepemimpinan sekolah yang kuat sehingga mampu menggerakkan dan mendayagunakan setiap sumber daya sekolah secara efektif terutama kepala sekolah harus menjadi sumber inspirasi atas pembangunan dan pengembangan sekolah secara umum. adanya peran serta masyarakat secara aktif dalam hal pembiayaan. Oleh karena itu. sekolah harus memiliki otonomi terhadap empat hal. Kesembilan. B. pengembangan pengetahuan dan ketrampilan secara berkesinambungan. Pertama. proses pengambilan keputusan terhadap kurikulum dan intruksional serta non-intruksional.Ketiga. tenaga dan dukungan dana dari masyarakat luas. bahkan antar sekolah dalam daerah yang sama pun bisa berlainan strateginya. antara satu daerah dengan daerah lain juga bisa berbeda. semakin meningkatnya keterlibatan orang tua dan masyarakat dalam pengambilan keputusan di sekolah baik yang menyangkut keputusan intruksional maupun organisasional. Kepala sekolah dalam MBS berperan sebagai . tingkat tinggal kelas menurun dan produktivitas sekolah semakin baik dalam arti rasio antara jumlah siswa yang mendaftar dengan jumlah siswa yang lulus menjadi lebih besar. Program yang diselenggarakan di sekolah baik kurikulum maupun sarana dan prasarana disesuaikan dengan situasi dan kebutuhan lingkungan masyarakat. apabila semua kemajuan pendidikan di atas telah tercapai maka dampak selanjutnya adalah akan terjadinya demokratisasi dalam penyelenggaraan pendidikan. Bila hal ini telah terjadi maka masyarakat akan dengan sukarela menyumbangkan tenaga dan hartanya untuk sekolah. salah satu indikator penting lain kesuksesan MBS adalah semakin baiknya iklim dan budaya kerja sekolah. Indikator keberhasilan implementasi berupa tercapainya demokratisasi pendidikan diletakkan pada posisi terakhir karena sasaran ini jangka panjang dan paling jauh dari jangkauan.

Namun. implementasi diawali dengan sosialisasi dari konsep MBS. dan lebih terkonsentrasi pada hal-hal yang sifatnya tersier dan bukan yang sifatnya primer. Ketujuh. Ketujuh. Keenam. Kedelapan. yakni tindakan yang diperlukan untuk mengubah fungsi yang tidak siap menjadi fungsi yang siap. motivator. Apakah penerapan MBS langsung bisa mencapai tujuan utamanya? Menurut Drury dan Levin (1994) MBS belum bisa secara langsung meningkatkan pencapaian prestasi belajar siswa. meningkatkan tingkat kehadiran siswa. pembangunan kelembagaan (capacity building) mengadakan pelatihan-pelatihan terhadap peran barunya. diskusi. Keenam. penerapan MBS harus diarahkan untuk pencapaian kinerja sekolah dan lebih khusus lagi adalah meningkatkan pencapaian belajar siswa. Tantangannya adalah selisih dari keadaan sekarang dengan keadaan yang diinginkan. demokratis dan terbuka terhadap segala bidang yang dijalankan dan kepada setiap pihak terkait. Artinya tidak perlu lagi petunjuk pelaksanaan dan petunjuk teknis dalam pelaksanaan MBS yang diperlukan adalah rambu-rambu yang membimbing. Akuntabilitas sebagai bentuk pertanggungjawaban sekolah terhadap semua stakeholder. Sementara itu. menentukan tingkat kesiapan setiap fungsi dan faktor-faktornya melalui analisis SWOT. Oswald (1995) menyatakan bahwa berdasarkan penelitian belum ada yang menunjukkan secara jelas pengaruh penerapan MBS terhadap pencapaian akademik siswa. adanya guidelines dari Departemen Pendidikan terkait sehingga mampu mendorong proses pendidikan di sekolah secara efektif dan efisien Guidelines itu jangan sampai berupa peraturanperaturan yang mengekang dan membelenggu sekolah. Perlu dikemukakan lagi bahwa MBS tidak bisa langsung meningkatkan kinerja belajar siswa namun berpotensi untuk itu. Ketiga. Kesembilan. dan meningkatkan kedisiplinan siswa. hasil nyata dari MBS adalah dalam mengurangi tingkat out put. sekolah harus memilki transparansi dan akuntabilitas yang minimal diwujudkan dalam laporan pertanggungjawaban setiap tahunnya. melakukan pemantauan terhadap proses dan . merumuskan tujuan situasional yang akan dicapai dari pelaksanaan MBS berdasarkan tantangan yang dihadapi. Kesembilan.designer. Keempat. (2001) karena pelaksanaan MBS merupakan proses yang berlangsung secara terusmenerus dan melibatkan semua unsure yang bertanggungjawab dalam penyelenggaraan pendidikan di sekolah. fasilitator dan liaison. memilih langkah-langkah pemecahan persoalan. forum ilmiah dan media massa. Kelima. Dalam pengambilan keputusan kepala sekolah harus mengembangkan iklim demokratis dan memperhatikan aspirasi dari bawah. Oleh karena itu. melakukan analisis situasi sekolah dan luar sekolah yang hasilnya berupa tantangan nyata yang harus dihadapi oleh sekolah dalam rangka mengubah manajemen berbasis pusat ke MBS. Untuk itu sekolah harus dijalankan secara transparan. namun memiliki “potensi” untuk meningkatkannya. mensosialisasikan konsep MBS ke seluruh warga sekolah melalui seminar. evaluasi atas pelaksanaan di lapangan dan dilakukan perbaikan-perbaikan. adanya proses pengambilan keputusan yang demokratis dalam kehidupan dewan sekolah yang aktif. menengah dan panjang beserta program-programnya untuk merealisasikan rencana tersebut. Pertama. semua pihak harus memahami peran dan tanggung jawabnya secara sungguh-sungguh. melaksanakan program-program untuk merealisasikan rencana jangka pendek MBS. usaha MBS harus lebih terfokus pada pencapaian prestasi belajar siswa.H. Keempat. membuat rencana jangka pendek. Kedua. identifikasi peran masing-masing. implementasi pada proses pembelajaran. Paterson (1991) juga menyatakan bahwa MBS belum berhasil meningkatkan prestasi belajar siswa karena kurangnya konsentrasi penerapan MBS pada kegiatan pembelajaran dan kurikulum. Menurut Slamet P. Kedelapan. strategi yang ditempuh adalah sebagai berikut . Untuk bisa memahami peran dan tanggung jawabnya masing-masing harus ada sosialisasi terhadap konsep MBS itu sendiri. Kelima. mengidentifikasi fungsi-fungsi yang perlu dilibatkan untuk mencapai tujuan situasional dan yang masih perlu diteliti tingkat kesiapannya.

Selain itu. pembangunan kelembagaan (capacity building). Menurut studi Bank Dunia terdapat beberapa faktor yang mempengaruhi kesuksesan implementasi MBS dalam upaya reformasi pendidikan. Menurut masyarakat mereka lebih mempercayai kepala sekolah dan memiliki pemahaman yang lebih terhadap peran aktor yang berbeda-beda. Seringkali implementasi MBS memerlukan perubahan budaya dari sebuah sistem. Evaluasi awal terhadap program ini menunjukkan dampak yang substansial. ketenaga kerjaan. masyarakat.evaluasi terhadap hasil MBS. yaitu pelanggan (customer) pendidikan dan berbagai pihak terkait (stackholder) dari sistem pendidikan. Wohlsetter (1992) menjelaskan akan pentingnya membangun kelembagaan karena (a) karyawan memerlukan pelatihan untuk mengembangkan ketrampilan kerja mereka dan meningkatkan keluasan wawasan sehingga mereka dapat menyumbangkan kemampuannya lebih banyak lagi kepada organisasi. dan oleh karena itu mereka telah mengembangkan rasa memiliki dan keterlibatan masyarakat. akuntabilitas dan sistem kontrol sehingga memungkinkan sekolah untuk meningkatkan dirinya sendiri. Schaeffer dan Govinda (1998) menyarankan bahwa implementasi reformasi memerlukan penerimaan dari kedua belah pihak. dan lebih mampu mengelola . yaitu parisipasi masyarakat. Pemerintah Kenya dengan bantuan United Kingdom DflD telah banyak menyelenggarakan program pelatihan dan dukungan terhadap komite sekolah pada pendidikan dasar. Di Spanyol tidak semua daerah mendapatkan otoritas desentralisasi sampai mereka mampu menunjukkan kemampuan administratifnya dan telah mendapatkan dukungan politik lokal. Dilaporkan bahwa lebih banyak lagi komite sekolah saat ini memiliki masukan dalam perencanaan pembangunan sekolah. (1997) menjelaskan bahwa kesuksesan dari pemerintah daerah (district) yang ia teliti secara berangsur-angsur menunjukkan adanya perubahan dalam hal informasi. kurikulum. dan budaya masyarakat. pembangunan kelembagaan dan masalah kepemimpinan. keuangan. (b) individu perlu ketrampilan kerja kelompok untuk berpartisipasi dalam manajemen yang tingkat partisipasinya tinggi (c) individu memerlukan pengetahuan keorganisasian yang mencakup penganggaran dan ketrampilan personel. 2. kemandirian dan kerjasama. Isu Sumber Daya Manusia Isu sumber daya manusia menyangkut beberapa hal seperti masalah partisipasi. para profesional perlu dukungan dalam mengembangkan ketrampilan untuk meningkatkan dan mentransformasikan budaya sekolah yang mendukung pembelajaran siswa. 1. masalah partisipasi. Oleh karena itu. MBS juga memerlukan jenis kepemimpinan baru. Kedua. Isu Waktu Telah banyak contoh sukses implementasi reformasi MBS yang mengejutkan. Tampaknya telah menjadi konsensus akan pentingnya penyediaan pelatihan dan dukungan kepada dewan sekolah. sarana prasarana dan strategi pelaksanaannya. Perubahan budaya memerlukan perubahan kepemimpinan. budaya pemerintah daerah. Beberapa isu yang menyangkut kesuksesan implementasi MBS adalah menyangkut sumber daya manusia. Hanson (2000) menjelaskan bahwa implementasi desentralisasi di Spanyol memerlukan waktu dua puluh tahun berjalan dan menunjukkan beberapa kesuksesan itu terjadi setelah masa waktu yang ditetapkan selesai. Ketiga. pemahaman tentang lingkungan dan strategi untuk merespons perubahan lingkungan. Wohlstetter dkk. budaya sekolah. pendanaan. penting untuk membuat koalisi dengan dunia usaha. Para kepala sekolah dan guru perlu mengembangkan ketrampilannya agar mampu melakukan kontrol. para pemimpin pendidikan dan pemimpin politik dan secara khusus untuk membangun koalisi yang kuat dengan serikat guru. Pendapat lain mengatakan bahwa terdapat unsur-unsur pokok yang merupakan prasyarat minimal bagi bagi MBS. Pertama. Hal ini dikarenakan antara lain kepala sekolah telah dilatih di dalam perencanaan dan prinsip-prinsip manajemen seperti konsultasi dan akuntabilitas. strategi dan monitoring serta evaluasi. kepemimpinan. waktu.

dan seberapa serius akan mengimplementasikan MBS amat tergantung pada pengetahuan dan pemahaman mereka tentang pentingnya MBS. Oleh karena itu dalam implementasi MBS ini diperlukan adanya usaha kolaboratif setiap orang pada setiap jenjang pekerjaan menuju tujuan yang sama. 5. Isu Keuangan Dana tambahan mungkin diperlukan selama periode implementasi untuk membantu sekolah dalam menciptakan kerangka kerja untuk melakukan tanggungjawab baru mereka. Program komunikasi yang berhasil memberi informasi yang jelas kepada orang tua. Prioritas apa yang akan ditetapkan oleh pemerintah daerah. Implementasi MBS akan dipengaruhi oleh isu-isu yang berkembang. Kepemimpinan adalah isu kunci dalam MBS. Kerangka kerja akuntabilitas harus menyediakan pengecekan secara jelas. 3. Keempat. yaitu pengadopsian suatu perspektif yang lebih luas akan suatu sistem. Ketiga. memahami konteks perubahan. rancangan dan implementasi dari reformasi. MBS juga juga untuk meningkatkan kualitas lingkungan kerja. Mereka juga memperkenalkan perubahan-perubahan kepada organisasi tingkat daerah guna mendorong dan menstimulasi perbaikan tingkat sekolah. Kondisi kerja mempunyai hubungan langsung . Fleksibilitas dan keadilan adalah kunci utama yang harus dipertimbangkan selama fase-fase reformasi MBS.Leadership digunakan sebagai pengganti Site-Based Management.dirinya secara lebih efektif. mengidentifikasi dan saling memberi contoh atas kesuksesan VEC. (1998) menyarankan bahwa dalam rangka mendukung desentralisasi penting untuk melakukan pembangunan kelembagaan (capacity building). mengembangkan ketrampilan strategi perencanaan. memperbaiki lingkungan kerja. Sementara itu. Reynolds (1997) juga mengemukakan bahwa terdapat sembilan kunci yang mendukung keberhasilan implementasi Site-Based Management di sekolah. Isu Strategi Berbagai bentuk reformasi desentralisasi memberi keuntungan dari strategi komunikasi yang didesain dengan baik. khususnya pada tahap-tahap awal perkembangannya. seimbang dan memberikan insentif kepada para professional. Lingkungan kerja adlah kondisi tempat karyawan bekerja dalam suatu organisasi seperti sekolah. 4. bahkan dalam beberapa terminologi Sit. Perlu kita ingat kembali bahwa disamping peningkatan program pendidikan dan pelayanan kepada siswa. Semua orang yang terlibat dalam Site-Based Managemant harus memilki gambaran yang lebih luas. pelatihan dan dukungan yang lebih baik kepada para guru baik melalui in-service training atau preservice training yang saat itu masih dipandang lemah dalam hal metode dan isinya. masyarakat dan sekolah untuk mengabdikan dirinya kepada reformasi. diarahkan ke masalah campur tangan dan perlindungan politik yang ada di desa atau tingkat pemerintah daerah. membentuk akuntabilitas eksternal yang diteliti dan menstimulasi untuk mencapai inovasi. Hal penting lain yang perlu diangkat ke permukaan adalah meningkatkan kualitas lingkungan kerja. pelatihan. guru dan administrator tentang tujuan. menciptakan visi bersama. mengembangkan perspektif dan ketrampilan kepemimpinan. meningkatkan rasa sensivitas local sebagai ganti dari isu top-down. mendefinisikan peran baru. Keenam. Kelima. Byrk dkk. dukungan dan penghargaan kepada kepala sekolah atas penghargaan terhadap usahanya. Kedua. berapa dana yang akan dialokasikan. pemahaman akan dinamika kelompok dan memperjelas akuntabilitasnya. Pertama. Isu Monitoring dan Evaluasi Untuk melanggengkan MBS agar efektif maka diperlukan adanya sistem akuntabilitas yang kuat.Base. Dalam implementasi MBS maka diperlukan perspektif dan ketrampilan kepemimpinan baik pada tingkat pemerintahan maupun di tingkat sekolah. monitoring yang ketat dan dukungan VEC. Farah dalam Watson (1999) memberikan contoh evaluasi terhadap VEC di India yang menyarankan beberapa hal. tantangan dan program dari distrik atau pemerintah daerah.

C. proses itu seharusnya mampu menjawab damba (harapan) murid dalam hal : (1) belajar untuk mengetahui. empat pilar tujuan pendidikan tidak terlaksana dengan baik karena sistem penyelenggaraan yang sentralistik. Menurut Taruna. Yang ada adalah saling memperhatikan kepentingan masing-masing pihak sehingga keputusan yang diambil bisa seimbang dan adil. Keempat damba murid dalam penyelenggaraan pendidikan yang sentralistik sulit terakomodasi di sekolah. kurangnya kepercayaan antar pihak. kurang efisien (dalam jangka pendek karena salah satu tujuan MBS adalah terjadinya efisiensi pendidikan). dan (4) belajar untuk kemandirian. kekuasaan pengambilan keputusan terpusat pada satu pihak dan cenderung semena-mena. Ke 45 sekolah itu tersebar di tiga kabupaten masing-masing lima bela sekolah (Sekolah Dasar Negeri. sekolah harus mengadopsi model MBS sesuai dengan kondisi sekolah dan lingkungannya masing-masing. artinya memberikan atau membuka peluang agar kepala sekolah. kesulitan dalam melakukan koordinasi dan masalah akuntabilitas. Konsep MBS rata-rata telah diterima oleh semua pihak untuk diimplementasikan di sekolah-sekolah (Kompas. Juga masalah kekurangan ketrampilan untuk mengambil keputusan. kepala sekolah bekerja berdasarkan agendanya sendiri tanpa memperhatikan aspirasi seluruh anggota dewan sekolah. Oleh karena itu. penerapan MBS hanya sekedar mengadopsi model apa adanya tanpa upaya kreatif. implementasi MBS memakan waktu. Wohlstetter dan Mohrman (1996) menyatakan terdapat empat macam kegagalan implementasi MBS. meningkatnya kebutuhan pengembangan staf. Sejak September 1999. Kesepakatan atas agenda yang akan dijalankan ini harus menjadi pegangan utama kepala sekolah dalam menjalankan dan menerapkan MBS. Di manapun kegiatan belajar mengajar itu berlangsung. Keempat. tenaga dan pikiran secara besar-besaran. Penghambat lain yang sering muncul adalah kurangnya pengetahuan berbagai pihak tentang bagaimana MBS dapat bekerja dengan baik. Tukiman Taruna menjadi pelaksanan dan penaggungjawab langsung penerapan MBS di 45 Sekolah Dasar/ Madrasah Ibtidaiyah di Wilayah Propinsi Jawa Tengah. ketidakmampuan dalam berkomunikasi. Ketiga. terjadinya kebimbangan karena peran dan tanggungjawab baru. Masalah dan Kegagalan dalam Implementasi MBS Dalam implementasi MBS juga dihadapi beberapa masalah seperti berbagai pihak terkait harus bekerja lebih banyak daripada sebelumnya. guru dan juga murid sebagai subjek kegiatan belajar mengajar. Pengalaman berbagai negara menunjukkan MBS akan bisa dinilai hasilnya setelah lebih dari empat tahun berjalan. Konsep MBS menawarkan desentralisasi berpikir. 6 Oktober 2000).C. Sekolah harus mengajak dewan sekolah dan seluruh stakeholder untuk membuat agenda. namun pemerintah pusat atau daerah sering kali tetap menginginkan otoritas keputusan berada di pihaknya. Madrasah Ibtidaiyah Negeri. menganggap bahwa MBS adalah hal biasa dengan tanpa usaha yang serius akan berhasil dengan sendirinya. Kedua. J. Padahal dalam kenyataan. Tidak ada satu pihak pun yang memilki kekuasaan lebih dibanding pihak lain dalam pengambilan keputusan model MBS ini.dengan kemampuan anggota organisasi untuk berfungsi secara efektif dalam kegiatan sehari-hari untuk memberikan program pengajaran dan pelayanan. (3) belajar untuk hidup bersama. Masalah lain yang muncul adalah pada otoritas pengambilan keputusan. (2) belajar untuk melaksanakan. Pertama. kinerja kepala sekolah yang tidak merata. Sekolah Dasar Swasta. ada empat pemicu mendorong pentingnya konsep MBS untuk dilaksanakan di sekolahsekolah. ketidak jelasan peraturan tentang keterlibatan masing-msing pihak dan keengganan para administrator dan guru untuk memberikan kepercayaan kepada pihak lain dalam mengambil keputusan. . Pertama. Sekolah menginginkan dimilikinya otoritas dalam pengambilan keputusan. MBS bukanlah model yang mati dan tidak ada satu model buku yang bisa diterapkan di semua sekolah dan semua daerah. Madrasah Ibtidaiyah Swasta). Sekolah Dasar Inpres.

tantangan lain adalah masalah keseimbangan keadilan. Konsep MBS ingin mengubah semua yang memberatkan/ menekan itu menjadi suatu kegiatan belajar mengajar yang aktif dan manyenangkan. akan terjadi masalah apabila pengambilan keputusan lokal hanya dipegang oleh sebagian elite maka kesejahteraan sosial tidak akan terjadi. Ketiga. pengembangan ketrampilan strategi perencanaan. (c) semakin berkembangnya otonomi kepala sekolah dan guru-guru di sekolahnya sendiri. tantangan terakhir adalah yang berkaitan dengan kurangnya bukti-bukti. sosial ekonomi dan etnik di dalam masyarakatnya. D. Kemerosotan mutu pendidikan menjadi sangat jelas seperti murid SD/MI kelas tiga belum lancar membaca/ menulis. akumulasi dari ketiga hal di atas tercermin dalam kualitas pendidikan yang cenderung rendah/ kurang baik. Impelmentasi MBS juga menghadapi sejumlah tantangan seperti dikemukakan Bank Dunia. Kedua. Penerapan konsep MBS dimaksudkan untuk mengembangkan otonomi kepala sekolah. mengembangkan perspektif dan ketrampilan kepemimpinan. (f) semakin terciptanya kegiatan belajar mengajar yang aktif-menyenangkan di semua kelas di sepanjang hari. tetapi berbuat sangat banyak untuk urusan administrasi dan kedinasan. yaitu (a) berkurang sebanyak mungkin angka tinggal kelas terutama di kelas rendah. memperbaiki lingkunagn kerja.Kedua. dan (b) kualitas pendidikan di seluruh negeri hampir sama baiknya berdasarkan geografis. Strategi Membentuk Akuntabilitas Sekolah . yang paling memakan waktu adalah dalam pembentukan tim-tim lokal (building site-teams) yang terpusat pada tiga hal. (b) berkurang sebanyak mungkin angkat putus sekolah. mengajar secara kaku dan buah dari semua itu adalah kegiatan belajar mengajar berlangsung dengan sangat berat/ menekan. Perlu disadari oleh banyak kementerian pendidikan bahwa masalah utama dalam mengimplementasikan MBS adalah untuk menyeimbangkan dan meningkatkan diversifikasi. Pertama. Menurut Taruna. Keempat. Selain itu. isu-isu yang berkaitan dengan manajemen disamping isu pengajaran dan usulan yang ditolak oleh tingkat yang lebih tinggi di dalam suatu distrik. kepala sekolah selama ini tidak berbuat banyak untuk kegiatan belajar mengajar. menciptakan visi bersama. Winker dan Gershberg (1999) menyebutkan bahwa MBS akan berjalan baik pada kondisi di mana demokrasi telah berjalan dengan baik dan faktor-faktor eksternal lokal juga mendukung. Namun. tantangan demokrasi. Penelitian hanya memotret kasus-kasus yang berhasil yang sudah berjalan dan hanya memberi sedikit gambaran bagaimana mencapai kesuksesan tersebut. Resiko ini akan lebih besar di masyarakat yang hanya memiliki sedikit pengalaman dalam demokrasi partisipatif pada tingkat lokal. Ketiga. memahami konteks perubahan. yaitu pengadopsian suatu perspektif yang lebih luas akan suatu sistem. Kepala sekolah banyak melakukan kegiatan di luar sekolahnya. Reynolds juga mengemukakan bahwa terdapat sembilan kunci yang mendukung keberhasilan implementasi Site-Based Management di sekolah. guru membuat kegiatan belajar mengajar di kelas menjadi sangat formal. (d) semakin seringnya BP3 rapat memikirkan peningkatan mutu partisipasi orang tua murid dan masyarakat. (e) semakin banyaknya dukungan (bukan pengawasan) oleh pihak aparat kecamatan dan kabupaten kepada sekolah. Fullan dan Watson (1999) memberi komentar bahwa walaupun penelitian terbaik dalam MBS mengidentifikasi faktor-faktor dan kondisi yang berkaitan dengan keberhasilan. pemahaman akan dinamika kelompok dan memperjelas akuntabilitasnya. yaitu isu-isu yang berkaitan dengan organisasi tim lokal dan upaya untuk mendefinisikan tujuannya. hal ini tidak menunjukkan kepada kita bagaimana menetapkan kondisi-kondisi tersebut ketika kondisi-kondisi tersebut tidak ada. ada enam tolok ukur keberhasilan MBS. Berdasarkan pengalaman Reynolds (1997) dalam menerapkan MBS di Amerika Serikat. fleksibelitas dan kontrol lokal dengan tanggungjawab untuk meyakinkan bahwa : (a) penyediaan pendidikan dilakukan secara baik di seluruh negeri. mendefinisikan peran baru.

bahkan antar sekolah dalam daerah yang sama pun bisa berlainan strateginya. bureaucratic. pendidikan memiliki akuntabilitas legal bila pendiriannya telah memenuhi persyaratan hukum sehingga bisa memenuhi tuntutan dan klaim berbagai pihak terkait. biaya yang murah dan pelayanan yang cepat. otonomi dan keterbukaan ini semua pihak sepakat bahwa akuntabilitas publik itu penting. teratur. Ketiga. professional. Dan ke depan hendaknya para praktisi memberikan peran dan andil nyata sehingga diharapkan MBS akan terwujud bukan sekedar wacana saja. Selanjutnya.Pada era desentralisasi. Kedua. fungsi dan wewenang. adanya partispasi untuk saling menciptakan susana kondusif dalam menciptakan pelayanan masyarakat dengan prosedur yang mudah. Dengan demikian. Sementara itu Darling-Hammond (1989) menguraikan aspek-aspek akuntabilitas pendidikan yang lebih mengarah pada akuntabilitas kelembagaan dan insfrastrukturnya yaitu political. lulus ujian sertifikasi dan memegang standar praktik profesi. legal. Menurut Deputi V Menteri Negara Pendayagunaan Aparatur Negara Bidang Akuntabilitas Aparatur. strategi yang diterapkan di suatu negara satu dengan negara lain bisa berbeda. Keempat. Pada dasarnya tidak ada satu strategi khusus yang jitu dan bisa menjamin keberhasilan implementasi MBS di semua tempat dan kondisi. Soemidihardjo bahwa dalam eara otonomi daerah masing-masing institusi harus dapat membangun akuntabilitas peran dan fungsinya untuk dipertanggungjawabkan kepada masyarakat (Kompas. pendidikan memilki akuntabilitas politik bila anggota dewan sekolah dan seluruh staf serta para pengambil kebijakan diangkat berdasarkan pemilihan secara demokratis. BAB III PENUTUP Demikian uraian beberapa faktor pendukung kesuksesan implementasi MBS beserta dengan beberapa kajiannya. pendidikan memilki akuntabilitas birokratik bila telah memenuhi prosedur yang digariskan pemerintah (baca Depdiknas) sehingga menjamin bahwa pendidikan memenuhi standar dan sesuai dengan prosedur yang ada. terkonsep dan terorganisir rapi. adanya standar kinerja yang dapat diukur dalam melaksanakan tugas. . Dalam bentuk apapun sistem manajemen yang teraplikasikan di lapangan tiada mungkin tercapai manakala semua pihak yang berkompeten di dalamnya tidak berperan secara aktif. Sistem manajemen entah MBS atau apapun nama konsepnya dalam implementasinya secara luas dan mendasar yang amat diperlukan adalah dukungan politik baik itu sekedar political will maupun dalam bentuk peraturan dan perundang-undangan formal. dan market. akuntabilitas profesional pendidikan diperoleh bila guru dan semua staf pendidikan memilki pengetahuan sesuai dengan spesifikasinya. Oleh karena itu. Soemidihardjo menyatakan bahwa terdapat tiga pilar utama yang menjadi prasyarat terbangunnya akuntabilitas. institusi pendidikan dan lembaga yang terkait dengan pelayanan publik juga dituntut untuk memilki akuntabilitas. Ketiga. adanya transparansi dalam menetapkan kebijakan dengan menerima masukan dan mengikutsertakan berbagai institusi. Pertama. 16 April 2001). Tiga pilar akuntabilitas tersebut juga penting untuk dimiliki lembaga penyelenggara pendidikan sehingga pelayanan pendidikan bisa dipertanggungjawabkan kepada masyarakat luas. Kedua. Pertama. Wajah dan wacana pendidikan kita ke depan harus ideal. Yang perlu ditegaskan adalah sejauhmana kita sebagai para pelaku pendidikan mampu mengaktualisasikan dalam dunia pendidikan kita.

ed. Bandung: PT Remaja Rosdakarya. Aan dan Cepi Triatna. Visionary Leadership Menuju Sekolah Efektif. Strategi dan Implementasi).). Surabaya: Usaha Nasional. Cetakan Kedua. Komariah.SMBQ&ASBM BAB I PENDAHULUAN Sebuah program yang direncanakan tidak akan berjalan dan berhasil secara maksimal apabila tidak tersedia berbagai faktor pendukung. Reformasi Pendidikan dalam Konteks Otonomi Daerah. Yogyakarta: Adicita Karya Nusa.gov/databases/ERIC-Digest/index Question and Answer for Web/Knowledge Nugget. Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (Sebuah Panduan Praktis). secara luas dan mendasar yang amat diperlukan adalah dukungan politik baik itu sekedar political will maupun dalam bentuk peraturan dan perundang-undangan formal. Eugene: ERIC Clearinghouse on Education Management Eugene OR. Oswald. 2006. ___________. Nurrawi. Fasli dan Dedi Supriadi (ed.http://www. Surabaya. E. School-Based Management. “Aplikassi MBS pada Madrasah” Dalam Iklhas Beramal VII (233): 33. School-Based management: ERIC Digest Number 99. 2003. Dalam implementasi MBS. 1973. Dukungan . Lori Jo. Pengantar Ilmu Pendidikan. Oswald.governancereform/06. Manajemen Berbasis Sekolah (Konsep. Faktor pendukung bisa berasal baik dari internal maupun eksternal.Wallahu ‘alamu. 1995.worldbank. Amir Daien. Cetakan Ketiga dan Keempat.ed. http://www. Jakarta: PT Bumi Aksara.gov/databases/ERIC-Digest/index Indrakusuma. Bandung: PT Remaja Rosdakarya.org/education/globaleducationreform/06. Arif. 2002. Jalal. DAFTAR PUSTAKA ERIC Digest –ERIC Clearinghouse on Education Management Eugene OR. 2006. Mulyasa. 02. 2001. Lori Jo.http://www1.

Dengan munculnya desakan dan kritikan dari masyarakat luas memaksa pemegang otoritas pendidikan untuk mereformasi dirinya sendiri. Berdasarkan pengalaman Reynolds (1997) dalam menerapkan MBS di Amerika Serikat . banyak diantara mereka yang belum mengerti proses pencapaian tujuan MBS itu. Dalam suasana seperti ini tampaknya yang diperlukan adalah pengetahuan dan ketrampilan tentang perubahan organisasi atau dinamika organisasi. MBS di Indonesia muncul karena fakta menunjukkan bahwa kualitas pendidikan di Indonesia rendah. Sementara itu desentralisasi pendidikan model MBS langsung ke tingkat sekolah. seperti pelajar dan mahasiswa Indonesia tidak dapat bersaing di taraf internasional. yaitu isu-isu yang berkaitan dengan organisasi tim lokal dan upaya untuk mendefinisikan tujuannya. Kedua. dampak positif akan terjadi apabila walikota atau bupati kemudian mengerti desentralisasi model MBS ini sehingga bersedia melimpahkan kekuasaan dan kewenangannya kepada sekolah secara langsung. 22 tahun 1999. Berdasarkan latar belakangnya. Setelah timbul kesadaran itu maka langkah selanjutnya adalah memberikan pelatihan teknis implementasi MBS. Oleh karena itu. menghabiskan tenaga dan akhirnya segera kembali kepada pola sebelumnya. dampak negatifnya akan terjadi apabila bupati atau walikota menggunakan aji mumpung atas kekuasaannya dalam bidang pendidikan sehingga ingin menguasai sepenuhnya penyelenggaraan pendidikan di daerah tersebut. Munculnya UU No. Pertama. Dengan demikian birokrasi penyelenggara pendidikan akan semakin pendek. dan sarana dan prasarana lainnya juga menjadi faktor pendukung yang penting. banyak waktu dan tenaga yang dicurahkan oleh para partisipan sekolah dalam implementasi MBS yang belum komplet tersebut. ketika program itu mencakup sesuatu hal yang amat mendasar dan menyeluruh maka akan menghadapi kendala bila tidak dilakukan perubahan organisasinya. Namun. Konsekuensinya adalah munculnya kefrustasian. Ketika MBS baru tahap-tahap awal dilaksanakan di Amerika Serikat. yaitu sekolah dengan kabupaten atau kota saja. namun sebenarnya landasan hokum MBS bukanlah UU tersebut. dan usulan yang ditolak oleh tingkat yang lebih tinggi di dalam suatu distrik. bukan dengan pemerintah pusat. Di banyak distrik dan sekolah yang menginisasi Site-Based Management memiliki asumsi bahwa penerapan strategi ini akan membimbing ke arah perbaikan kualitas keputusan dan meningkatkan program sekolah. manfaatnya belum banyak dimengerti secara baik oleh para pelaku pendidikan. Walupun Site-Based Management telah populer di Amerika Serikat. pada tahap awal inisiasi MBS harus dipersiapkan program sosialisasi yang matang agar berbagai pihak yang terkait dengan pelaksanaan pendidikan di sekolah menyadari akan arti pentingnya implementasi MBS. Sebagaimana dunia pendidikan dewasa ini memakai caranya dengan pilihan model MBS. ketidakpuasan. Seiring dengan upaya reformasi di bidang pendidikan tersebut. dukungan sumber daya manusia beserta pemikirannya.finansial. Tetapi. kelompok dan organisasinya. Akhirnya. karena desentralisasi berdasar UU itu hanya sampai pada tingkat pemerintah kabupaten atau kota. yang paling memakan waktu adalah dalam membangun tim-tim lokal (building site-teams) yang terpusat pada tiga hal. Apabila hal itu terjadi maka penyelenggaraan dan pengaturan pendidikan akan dikendalikan pada tingkat kabupaten . Perubahan organisasi itu menjadi penting untuk dikemukakan karena orang sering melupakannya dengan asumsi suatu program baru dapat langsung dilaksanakan tanpa mengubah kebiasaan individu. Rendahnya kualitas pendidikan ini ditandai dengan adanya beberapa indicator. secara nasional juga sedang diupayakan reformasi system administrasi yang dikenal dengan system pemerintahan daerah melelui UU No. tidak sanggup berkompetisi dalam merebut pasaran kerja nasional ataupun internasional dan yang paling parah lagi lulusan pendidikan kita tidak dapat membentuk manusia yang bertanggungjawab. 22 tahun 1999 tersebut membawa dampak yang positif ataupun negative. isu-isu yang berkaitan dengan manajemen di samping isu pengajaran. faktor pendukung sumber daya manusia belum memadai. Dampak dari kesalahan semacam ini adalah menurunkan kepercayaan lembaga untuk mengubah dirinya menuju masa depan.

Tujuan reformasi model MBS yaitu untuk meningkatkan kualitas pendidikan nasional. bersahabat dan hangat. Apabila para penguasa dan birokrat enggan untuk melakukan reformasi sistematik ini maka MBS tidak dapat berhasil dengan baik. 25 tahun 2000 tentang Program Pembangunan Nasional 2000-2004 bahwa sekolah harus memiliki otonomi pengelolaan pendidikan. Bagian-bagian Reformasi dalam MBS Rich (1988) mengungkapkan bahwa reformasi memiliki dua karateristik. mempererat persaudaraan dan kesatuan bangsa. Selanjutnya MBS memiliki potensi yang besar untuk mengurangi konflik social yang belakangan ini kian memanas di masyarakat kita. melainkan justru dapat menjadi alat pemersatu bangsa. seperti rencana pemberlakuan kurikulum berbasis komptensi dan juga kurikulum tingkat satuan pendidikan.atau kota. Metode pelibatan partisipan ini telah diakui di berbagai praktik pengabilan keputusan akan . Artinya implementasi MBS bukan hanya dapat meningkatkan kualitas pendidikan. Kedua. Sebaiknya penetapan struktur dan akuntabilitas tidak dilakukan satu pihak oleh pemerintah. Pertama. Hanya saja gaya hidup masyarakat kota yang mulai memiliki cara hidup individual harus mulai dibangun kembali rasa kebersamaan dan gotong royong. BAB II PEMBAHASAN A. yaitu terprogram dan sistematik. batang reformasi adalah mandat dari pemerintah. yaitu adanya otonomi di tiap sekolah dengan mengacu pada struktur. Bila demikian maka MBS tidakakan dapat berjalan secara efektif karena sekolah-sekolah tidak akan memiliki kekuasaan dan wewenang dalam mengatur dirinya sendiri. yaitu melalui UU No. implementasi MBS ini akan mendapatkan dukungan besar. Penetapan struktur dan akuntabilitas pendidikan itulah yang menjadi tugas dewan sekolah di tingkat paling bawah dengan dewan pendidikan di tingkat kabupaten atau kota. Bila kita cermati maka cara hidup masyarakat tradisional kita yang sejak zaman nenek moyang memiliki cara hidup bergotong royong. tujuan dan akuntabilitas. Mandatnya sudah jelas. tetapi bersama-sama dengan sekolah dan masyarakat. Hubungan guru. orang tua siswa dan masyarakat luas akan menjadi semakin erat. Sekilas tentang Wacana MBS 1. akar reformasi adalah cara hidup masyarakatnya. Karateristik terprogram yang berupa inovasi berbagai aspek harus terus dilakukan. Menurut Bacharach (1990) reformasi terdiri dari empat bagian. Berbagai inovasi yang dilakukan sebelumnya gagal membawa kemajuan pendidikan di Indonesia karena tidak adanya dukungan karakteristik sistematik.

keberhasilan pendidikan harus didefinisikan ulang. Ukuran Keberhasilan MBS Secara teoritis dan aplikasi praksis. yang paling tahu adalah warga sekolah itu sendiri terutama guru. 3. terbukanya berbagai pilihan (mata pelajaran). partisipasi di dalam kelas matematika dan IPA yang lebih tinggi. tenaga. diantaranya mencakup hal sebagai berikut : pola ketrampilan berfikir yang lebih baik. pengetahuan dan ketrampilan. Ketiga. MBS akan berhasil dengan baik apabila warga sekolah memiliki inisiatif dalam menjalankan pekerjannya dan inisiatif setiap individu dihargai. Itulah yang dimaksud Mohrman dkk. Keberhasilan harus berada dalam konsep yang lebih luas. sebagaimana dikemukakan Reynolds (1997) bahwa dalam konteks MBS. Dalam menyelesaikan masalah pendidikan di sekolah. prinsip ekuifinalitas menjadi landasan yang harus dimiliki oleh para pelaksana MBS di sekolah ataupun otoritas pendidikan diatasnya. pilihan dan kesuksesan pasca pendidikan menengah. Tidak ada cara tunggal terbaik untuk memecahkan setiap masalah yang muncul di sekolah dapat diselesaikan dengan berbagai cara. Apapun model MBS yang dipakai. Teori yang Mendasari MBS Pertama. Keempat. waktu dan usaha yang besar dan perlu adanya dukungan berbagai pihak. Jadi secara empiris dapat disimpulkan bahwa penerapan MBS bukan pekerjaan mudah. Hal terpenting agar sekolah dapat melakukan pengelolaan mandiri apabila para guru dan staf memiliki pengetahuan dan ketrampilan dalam menjalankan tugastugasnya. menurunnya tingkat putus sekolah (drop out). melainkan memerlukan biaya. pemahaman dan penghargaan pada multi budaya. Bagian ini masih amat lemah sehingga orang tua dan masyarakat harus terus didorong agar makin peduli terhadap penyelenggaraan dan pengelolaan pendidikan. prinsip inisiatif sumber daya manusia. Yang perlu diperhatikan adalah bagaimana meminimalisasi kelemahan dan menahan ancaman dari luar sekolah sehingga MBS dapat diterapkan dengan mulus. Desentralisasi dalam kekuasaan. Kedua. Karena itu. informasi dan penghargaan akan terlaksana bila sekolah diberi keleluasaan dalam pengelolaan sekolahnya secara mandiri. Berdasarkan beberapa analisis SWOT dari beberapa pakar tampak sekali bahwa kekuatan yang dimiliki sekolah untuk menerapkan MBS masih amat lemah. apa pun kriteria keberhasilan tersebut. prinsip sistem pengelolaan mandiri. pelayanan kepada masyarakat. staf. prinsip desentralisasi memandang bahwa masalah yang muncul di sekolah akan dapat diselesaikan dengan sebaik-baiknya apabila penyelesaiannya diserahkan kepada pihak yang paling dekat dengan keberadaan masalah tersebut. ukuran keberhasilan . cabang reformasi adalah pemberdayaan dan peningkatan profesionalisme guru dan staf sekolah. Di Indonesia sistem pengelolaan mandiri ini belum dimiliki karena banyak guru dan kepala sekolah yang belum memenuhi syarat untuk menjalankan pekerjaannya. informasi dan penghargaan. dimilikinya konsep pribadi siswa dan kreativitas serta keindahan dalam seni. Yang menjadi masalah di Indonesia adalah kurangnya inisiatif dari warga sekolah karena tidak adanya rasa memiliki terhadap sekolah tersebut. Ketiga. partisipasi masyarakat dan orang tua siswa adalah suatu keharusan. Namun. kepala sekolah dan orang tua siswa. Artinya setiap personel yang terkait dengan pengambilan keputusan sekolah harus memiliki perspektif yang luas dan setiap permasalahan dapat didekati dari berbagai cara yang berlainan. daun reformasi adalah partisipasi orang tua siswa dan partisipasi masyarakat luas. Sebagaimana Mohrman dkk bahwa otonomi secara luas menyangkut empat komponen penting yaitu kekuasaan atau kewengan. Keempat. sementara itu sekolah memiliki peluang yang amat besar dalam menerapkan MBS.menjadi efektif karena adanya rasa tanggung jawab dan rasa memiliki diantara mereka yang terlibat. pencapaiannya tergantung pada kualitas program pendidikan dan pelayanan yang diberikan. pengetahuan dan ketrampilan. bukan semata-mata pada ukuran standar prestasi siswa. 2. bahwa desentralisasi model MBS ini harus mendesentralisasikan pengetahuan dan ketrampilan kepada setiap personel yang berada di sekolah.

Ketidak merataan memperoleh kesempatan pendidikan terutama terjadi pada kelompok-kelompok : (a) masyarakat pedesaan dan atau masyarakat terpencil. Kubick (1988) . Selain itu yang menunjang lainnya adalah peningkatan efesiensi dalam penggunaan berbagai sumber daya di sekolah. tetapi didasarkan pada kemampuan ekonomi masing-masing keluarga. ekonomi dan politik. Kedua. semakin meningkatnya keterlibatan orang tua dan masyarakat dalam pengambilan keputusan di sekolah baik yang menyangkut keputusan intruksional maupun organisasional. tenaga dan dukungan dana dari masyarakat luas. Dengan demikian. Karena layanan pendidikan tersebut berkualitas mengakibatkan prestasi akademik dan prestasi non akademik siswa juga meningkat. salah satu indikator penting lain kesuksesan MBS adalah semakin baiknya iklim dan budaya kerja sekolah. Setiap personil akan merasa aman dan nyaman dalam menjalankan tugasnya. Keempat. MBS dianggap berhasil apabila jumlah siswa yang mendapat layanan pendidikan semaikin meningkat. Masalah siswa yang tidak bisa mendaftar sekolah karena masalah ekonomi akan dipecahkan secara bersama-sama oelh warga sekolah melalui subsidi silang dari mereka yang ekonominya lebih mampu. kesejahteraan guru dan staf seolah membaik antara lain karena sumbangan pemikiran. B. Ketujuh. Selanjutnya sekolah akan berubah dan berkembang lebih baik. MBS dianggap berhasil apabila kualitas layanan pendidikan menjadi lebih baik. terjadinya keadilan dalam penyelenggaraan pendidikan karena penentuan biaya pendidikan tidak dilakukan secara pukul rata. Tingkat tinggal kelas menurun karena siswa semakin bersemangat untuk datang ke sekolah dan belajar di rumah dengan dukungan orang tua serta lingkungannya. (b) keluarga yang kurang beruntung secara ekonomi. Kesembilan. Bila hal ini telah terjadi maka masyarakat akan dengan sukarela menyumbangkan tenaga dan hartanya untuk sekolah. Strategi Sukses Implementasi MBS Studi literature ini diambil dari tulisan Oswald (1995) tentang School-Based Management. orang tua siswa dan masyarakat akan semakin peduli dan rasa memiliki yang lebih besar pada sekolah. tingkat tinggal kelas menurun dan produktivitas sekolah semakin baik dalam arti rasio antara jumlah siswa yang mendaftar dengan jumlah siswa yang lulus menjadi lebih besar. sosial dan budaya. budaya. Kedelapan. Semakin profesional seorang guru dan staf sekolah maka masyarakat semakin berkeinginan untuk memberikan sumbangan dana lebih besar. Keenam. dan (d) penyandang cacat. Program yang diselenggarakan di sekolah baik kurikulum maupun sarana dan prasarana disesuaikan dengan situasi dan kebutuhan lingkungan masyarakat. (c) wanita. Keberhasilan MBS harus dilihat kemampuannya dalam menangani masalah pemerataan kesempatan memperoleh pendidikan. Kesempatan memperoleh pendidikan bagi sebagian rakyat Indonesia masih terbatas pada tingkat sekolah dasar sebagai hasil dari program Inpres SD yang dilaksanakan sejak tahun 1974. Iklim dan budaya kerja yang baik akan memberikan dampak positif terhadap peningkatan kualitas pendidikan. Indikator keberhasilan implementasi berupa tercapainya demokratisasi pendidikan diletakkan pada posisi terakhir karena sasaran ini jangka panjang dan paling jauh dari jangkauan. Kelima. Persoalan itu berakibat lebih lanjut pada ketimpangan dalam kehidupan sosial. Semua persoalan itu pada gilirannya dapat menghambat pembanunan nasional menuju tercapainya cita-cita bangsa Indonesia dalam mewujudkan masyarakat madani yang adil dan makmur. apabila semua kemajuan pendidikan di atas telah tercapai maka dampak selanjutnya adalah akan terjadinya demokratisasi dalam penyelenggaraan pendidikan. karena program-program sekolah dibuat bersama-sama dengan warga masyarakat dan tokoh masyarakat maka relevansi penyelenggaraan pendidikan semakin baik. Ketiga.implementasi MBS di Indonesia dapat dinilai setidaknya dari beberapa kriteria di bawah ini : Pertama.

Perlu dikemukakan lagi bahwa MBS tidak bisa langsung meningkatkan kinerja belajar siswa namun berpotensi untuk itu. bahkan antar sekolah dalam daerah yang sama pun bisa berlainan strateginya. yaitu dimilikinya otonomi dalam kekuasaan dan kewenangan . Artinya tidak perlu lagi petunjuk pelaksanaan dan petunjuk teknis dalam pelaksanaan MBS yang diperlukan adalah rambu-rambu yang membimbing. semua pihak harus memahami peran dan tanggung jawabnya secara sungguh-sungguh. Kedelapan. proses pengambilan keputusan terhadap kurikulum dan intruksional serta non-intruksional. tidak ada satu strategi khusus yang jitu dan bisa menjamin keberhasilan implementasi MBS di semua tempat dan kondisi. evaluasi atas pelaksanaan di lapangan dan dilakukan perbaikan-perbaikan. Kesembilan. penerapan MBS harus diarahkan untuk pencapaian kinerja sekolah dan lebih khusus lagi adalah meningkatkan pencapaian belajar siswa. pembangunan kelembagaan (capacity building) mengadakan pelatihan-pelatihan terhadap peran barunya. dan Wohlstetter dan Mohrman Wohlstetter dan Mohrman (1996) tentang Assessment of School-Based Management. usaha MBS harus lebih terfokus pada pencapaian prestasi belajar siswa. fasilitator dan liaison. adanya peran serta masyarakat secara aktif dalam hal pembiayaan. adanya kepemimpinan sekolah yang kuat sehingga mampu menggerakkan dan mendayagunakan setiap sumber daya sekolah secara efektif terutama kepala sekolah harus menjadi sumber inspirasi atas pembangunan dan pengembangan sekolah secara umum. Untuk itu sekolah harus dijalankan secara transparan. strategi implementasi MBS di suatu negara dengan negara lain bisa berlainan. Kedua. Akuntabilitas sebagai bentuk pertanggungjawaban sekolah terhadap semua stakeholder. Dalam pengambilan keputusan kepala sekolah harus mengembangkan iklim demokratis dan memperhatikan aspirasi dari bawah. adanya proses pengambilan keputusan yang demokratis dalam kehidupan dewan sekolah yang aktif. Secara umum dapat disimpulkan bahwa implementasi MBS akan berhasil melalui strategi-strategi berikut ini. Untuk bisa memahami peran dan tanggung jawabnya masing-masing harus ada sosialisasi terhadap konsep MBS itu sendiri. Kelima. hasil nyata dari MBS adalah dalam mengurangi tingkat out put. sekolah harus memiliki otonomi terhadap empat hal. implementasi diawali dengan sosialisasi dari konsep MBS. Ketujuh. Wohlstetter dan Mohrman (1993) tentang School-Based Management: Strategies for Succes . dan meningkatkan kedisiplinan siswa. Pada dasarnya. Ketiga. adanya guidelines dari Departemen Pendidikan terkait sehingga mampu mendorong proses pendidikan di sekolah secara efektif dan efisien Guidelines itu jangan sampai berupa peraturanperaturan yang mengekang dan membelenggu sekolah. implementasi pada proses pembelajaran. Keempat. Peterson (1991) tentang School-Based Management and Student Performance . akses informasi ke segala bagian dan pemberian penghargaan kepada setiap pihak yang berhasil. Oleh karena itu. Sementara itu. Oleh karena itu. namun memiliki “potensi” untuk meningkatkannya.tentang School-Based Management. Namun. antara satu daerah dengan daerah lain juga bisa berbeda. motivator. Pertama. meningkatkan tingkat kehadiran siswa. identifikasi peran masing-masing. pengembangan pengetahuan dan ketrampilan secara berkesinambungan. demokratis dan terbuka terhadap segala bidang yang dijalankan dan kepada setiap pihak terkait. Apakah penerapan MBS langsung bisa mencapai tujuan utamanya? Menurut Drury dan Levin (1994) MBS belum bisa secara langsung meningkatkan pencapaian prestasi belajar siswa. Kepala sekolah dalam MBS berperan sebagai designer. sekolah harus memilki transparansi dan akuntabilitas yang minimal diwujudkan dalam laporan pertanggungjawaban setiap tahunnya. Keenam. Oswald (1995) menyatakan bahwa berdasarkan penelitian belum ada yang menunjukkan secara jelas pengaruh penerapan MBS terhadap pencapaian akademik siswa. .

menentukan tingkat kesiapan setiap fungsi dan faktor-faktornya melalui analisis SWOT. melakukan pemantauan terhadap proses dan evaluasi terhadap hasil MBS. Menurut Slamet P. yakni tindakan yang diperlukan untuk mengubah fungsi yang tidak siap menjadi fungsi yang siap. dan oleh karena itu mereka telah mengembangkan rasa memiliki dan keterlibatan masyarakat. Evaluasi awal terhadap program ini menunjukkan dampak yang substansial. melakukan analisis situasi sekolah dan luar sekolah yang hasilnya berupa tantangan nyata yang harus dihadapi oleh sekolah dalam rangka mengubah manajemen berbasis pusat ke MBS. Schaeffer dan Govinda (1998) menyarankan bahwa implementasi reformasi memerlukan penerimaan dari kedua belah pihak. yaitu pelanggan (customer) pendidikan dan berbagai pihak terkait (stackholder) dari sistem pendidikan. merumuskan tujuan situasional yang akan dicapai dari pelaksanaan MBS berdasarkan tantangan yang dihadapi. Kedua. sarana prasarana dan strategi pelaksanaannya. Oleh karena itu. 1. memilih langkah-langkah pemecahan persoalan. Ketiga. pendanaan. Pertama. dan lebih terkonsentrasi pada hal-hal yang sifatnya tersier dan bukan yang sifatnya primer. diskusi. Dilaporkan bahwa lebih banyak lagi komite sekolah saat ini memiliki masukan dalam perencanaan pembangunan sekolah. strategi yang ditempuh adalah sebagai berikut . Kelima. masyarakat. mengidentifikasi fungsi-fungsi yang perlu dilibatkan untuk mencapai tujuan situasional dan yang masih perlu diteliti tingkat kesiapannya. Wohlsetter (1992) menjelaskan akan pentingnya membangun kelembagaan karena (a) karyawan memerlukan pelatihan untuk mengembangkan ketrampilan kerja mereka dan meningkatkan keluasan wawasan sehingga mereka dapat menyumbangkan kemampuannya lebih banyak lagi kepada organisasi. Isu Sumber Daya Manusia Isu sumber daya manusia menyangkut beberapa hal seperti masalah partisipasi. keuangan. Menurut studi Bank Dunia terdapat beberapa faktor yang mempengaruhi kesuksesan implementasi MBS dalam upaya reformasi pendidikan. Ketujuh. (2001) karena pelaksanaan MBS merupakan proses yang berlangsung secara terusmenerus dan melibatkan semua unsure yang bertanggungjawab dalam penyelenggaraan pendidikan di sekolah. strategi dan monitoring serta evaluasi. Beberapa isu yang menyangkut kesuksesan implementasi MBS adalah menyangkut sumber daya manusia.Paterson (1991) juga menyatakan bahwa MBS belum berhasil meningkatkan prestasi belajar siswa karena kurangnya konsentrasi penerapan MBS pada kegiatan pembelajaran dan kurikulum. yaitu parisipasi masyarakat. ketenaga kerjaan. forum ilmiah dan media massa. Kesembilan. Tantangannya adalah selisih dari keadaan sekarang dengan keadaan yang diinginkan. pemahaman tentang lingkungan dan strategi untuk merespons perubahan lingkungan. Keempat. pembangunan kelembagaan (capacity building). menengah dan panjang beserta program-programnya untuk merealisasikan rencana tersebut. penting untuk membuat koalisi dengan dunia usaha. Keenam. Pendapat lain mengatakan bahwa terdapat unsur-unsur pokok yang merupakan prasyarat minimal bagi bagi MBS. mensosialisasikan konsep MBS ke seluruh warga sekolah melalui seminar. waktu. Pemerintah Kenya dengan bantuan United Kingdom DflD telah banyak menyelenggarakan program pelatihan dan dukungan terhadap komite sekolah pada pendidikan dasar. melaksanakan program-program untuk merealisasikan rencana jangka pendek MBS. membuat rencana jangka pendek. pembangunan kelembagaan dan masalah kepemimpinan. Kedelapan. Kedua. Tampaknya telah menjadi konsensus akan pentingnya penyediaan pelatihan dan dukungan kepada dewan sekolah.H. para pemimpin pendidikan dan pemimpin politik dan secara khusus untuk membangun koalisi yang kuat dengan serikat guru. (b) individu perlu ketrampilan kerja kelompok untuk berpartisipasi dalam manajemen yang tingkat partisipasinya tinggi (c) individu memerlukan pengetahuan keorganisasian yang mencakup penganggaran dan ketrampilan personel. kurikulum. Hal ini dikarenakan antara lain kepala sekolah telah dilatih di dalam perencanaan dan prinsip-prinsip manajemen seperti konsultasi dan . Pertama. masalah partisipasi.

akuntabilitas. Selain itu. masyarakat dan sekolah untuk mengabdikan dirinya kepada reformasi. yaitu pengadopsian suatu perspektif . diarahkan ke masalah campur tangan dan perlindungan politik yang ada di desa atau tingkat pemerintah daerah. dan lebih mampu mengelola dirinya secara lebih efektif. Ketiga. Menurut masyarakat mereka lebih mempercayai kepala sekolah dan memiliki pemahaman yang lebih terhadap peran aktor yang berbeda-beda. kepemimpinan. pelatihan. guru dan administrator tentang tujuan. Kedua. seimbang dan memberikan insentif kepada para professional. Keempat. dan budaya masyarakat. para profesional perlu dukungan dalam mengembangkan ketrampilan untuk meningkatkan dan mentransformasikan budaya sekolah yang mendukung pembelajaran siswa. khususnya pada tahap-tahap awal perkembangannya. mengidentifikasi dan saling memberi contoh atas kesuksesan VEC. 4. rancangan dan implementasi dari reformasi. 2. (1997) menjelaskan bahwa kesuksesan dari pemerintah daerah (district) yang ia teliti secara berangsur-angsur menunjukkan adanya perubahan dalam hal informasi. Hanson (2000) menjelaskan bahwa implementasi desentralisasi di Spanyol memerlukan waktu dua puluh tahun berjalan dan menunjukkan beberapa kesuksesan itu terjadi setelah masa waktu yang ditetapkan selesai. Mereka juga memperkenalkan perubahan-perubahan kepada organisasi tingkat daerah guna mendorong dan menstimulasi perbaikan tingkat sekolah. Farah dalam Watson (1999) memberikan contoh evaluasi terhadap VEC di India yang menyarankan beberapa hal. budaya pemerintah daerah. akuntabilitas dan sistem kontrol sehingga memungkinkan sekolah untuk meningkatkan dirinya sendiri. Isu Monitoring dan Evaluasi Untuk melanggengkan MBS agar efektif maka diperlukan adanya sistem akuntabilitas yang kuat. Wohlstetter dkk. Isu Keuangan Dana tambahan mungkin diperlukan selama periode implementasi untuk membantu sekolah dalam menciptakan kerangka kerja untuk melakukan tanggungjawab baru mereka. meningkatkan rasa sensivitas local sebagai ganti dari isu top-down. Reynolds (1997) juga mengemukakan bahwa terdapat sembilan kunci yang mendukung keberhasilan implementasi Site-Based Management di sekolah. monitoring yang ketat dan dukungan VEC. Para kepala sekolah dan guru perlu mengembangkan ketrampilannya agar mampu melakukan kontrol. Fleksibilitas dan keadilan adalah kunci utama yang harus dipertimbangkan selama fase-fase reformasi MBS. membentuk akuntabilitas eksternal yang diteliti dan menstimulasi untuk mencapai inovasi. MBS juga memerlukan jenis kepemimpinan baru. pelatihan dan dukungan yang lebih baik kepada para guru baik melalui in-service training atau preservice training yang saat itu masih dipandang lemah dalam hal metode dan isinya. Program komunikasi yang berhasil memberi informasi yang jelas kepada orang tua. Byrk dkk. budaya sekolah. Seringkali implementasi MBS memerlukan perubahan budaya dari sebuah sistem. 3. Keenam. Di Spanyol tidak semua daerah mendapatkan otoritas desentralisasi sampai mereka mampu menunjukkan kemampuan administratifnya dan telah mendapatkan dukungan politik lokal. Pertama. Perubahan budaya memerlukan perubahan kepemimpinan. Isu Strategi Berbagai bentuk reformasi desentralisasi memberi keuntungan dari strategi komunikasi yang didesain dengan baik. 5. Isu Waktu Telah banyak contoh sukses implementasi reformasi MBS yang mengejutkan. Kelima. dukungan dan penghargaan kepada kepala sekolah atas penghargaan terhadap usahanya. kemandirian dan kerjasama. Sementara itu. Ketiga. Kerangka kerja akuntabilitas harus menyediakan pengecekan secara jelas. (1998) menyarankan bahwa dalam rangka mendukung desentralisasi penting untuk melakukan pembangunan kelembagaan (capacity building).

Dalam implementasi MBS maka diperlukan perspektif dan ketrampilan kepemimpinan baik pada tingkat pemerintahan maupun di tingkat sekolah. menciptakan visi bersama. MBS bukanlah model yang mati dan tidak ada satu model buku yang bisa diterapkan di semua sekolah dan semua daerah. ketidakmampuan dalam berkomunikasi.yang lebih luas akan suatu sistem. Kondisi kerja mempunyai hubungan langsung dengan kemampuan anggota organisasi untuk berfungsi secara efektif dalam kegiatan sehari-hari untuk memberikan program pengajaran dan pelayanan. tantangan dan program dari distrik atau pemerintah daerah.Leadership digunakan sebagai pengganti Site-Based Management. penerapan MBS hanya sekedar mengadopsi model apa adanya tanpa upaya kreatif. namun pemerintah pusat atau daerah sering kali tetap menginginkan otoritas keputusan berada di pihaknya. . memperbaiki lingkungan kerja. Perlu kita ingat kembali bahwa disamping peningkatan program pendidikan dan pelayanan kepada siswa. kinerja kepala sekolah yang tidak merata. Semua orang yang terlibat dalam Site-Based Managemant harus memilki gambaran yang lebih luas. kurang efisien (dalam jangka pendek karena salah satu tujuan MBS adalah terjadinya efisiensi pendidikan). dan seberapa serius akan mengimplementasikan MBS amat tergantung pada pengetahuan dan pemahaman mereka tentang pentingnya MBS. kepala sekolah bekerja berdasarkan agendanya sendiri tanpa memperhatikan aspirasi seluruh anggota dewan sekolah. Ketiga. Lingkungan kerja adlah kondisi tempat karyawan bekerja dalam suatu organisasi seperti sekolah. Masalah dan Kegagalan dalam Implementasi MBS Dalam implementasi MBS juga dihadapi beberapa masalah seperti berbagai pihak terkait harus bekerja lebih banyak daripada sebelumnya. Tidak ada satu pihak pun yang memilki kekuasaan lebih dibanding pihak lain dalam pengambilan keputusan model MBS ini. Kepemimpinan adalah isu kunci dalam MBS. meningkatnya kebutuhan pengembangan staf. Juga masalah kekurangan ketrampilan untuk mengambil keputusan. Pertama. mendefinisikan peran baru. Sekolah menginginkan dimilikinya otoritas dalam pengambilan keputusan. Sekolah harus mengajak dewan sekolah dan seluruh stakeholder untuk membuat agenda. kurangnya kepercayaan antar pihak. mengembangkan ketrampilan strategi perencanaan. Masalah lain yang muncul adalah pada otoritas pengambilan keputusan. Oleh karena itu. berapa dana yang akan dialokasikan. kekuasaan pengambilan keputusan terpusat pada satu pihak dan cenderung semena-mena. Penghambat lain yang sering muncul adalah kurangnya pengetahuan berbagai pihak tentang bagaimana MBS dapat bekerja dengan baik. memahami konteks perubahan. sekolah harus mengadopsi model MBS sesuai dengan kondisi sekolah dan lingkungannya masing-masing. MBS juga juga untuk meningkatkan kualitas lingkungan kerja. C. Implementasi MBS akan dipengaruhi oleh isu-isu yang berkembang. kesulitan dalam melakukan koordinasi dan masalah akuntabilitas. pemahaman akan dinamika kelompok dan memperjelas akuntabilitasnya. Hal penting lain yang perlu diangkat ke permukaan adalah meningkatkan kualitas lingkungan kerja. terjadinya kebimbangan karena peran dan tanggungjawab baru. bahkan dalam beberapa terminologi Sit. Kedua. Oleh karena itu dalam implementasi MBS ini diperlukan adanya usaha kolaboratif setiap orang pada setiap jenjang pekerjaan menuju tujuan yang sama. Yang ada adalah saling memperhatikan kepentingan masing-masing pihak sehingga keputusan yang diambil bisa seimbang dan adil. ketidak jelasan peraturan tentang keterlibatan masing-msing pihak dan keengganan para administrator dan guru untuk memberikan kepercayaan kepada pihak lain dalam mengambil keputusan.Base. mengembangkan perspektif dan ketrampilan kepemimpinan. Wohlstetter dan Mohrman (1996) menyatakan terdapat empat macam kegagalan implementasi MBS. Prioritas apa yang akan ditetapkan oleh pemerintah daerah. Kesepakatan atas agenda yang akan dijalankan ini harus menjadi pegangan utama kepala sekolah dalam menjalankan dan menerapkan MBS.

ada empat pemicu mendorong pentingnya konsep MBS untuk dilaksanakan di sekolahsekolah. yang paling memakan waktu adalah dalam pembentukan tim-tim lokal (building site-teams) yang terpusat pada tiga hal. mendefinisikan peran baru. menciptakan visi bersama. kepala sekolah selama ini tidak berbuat banyak untuk kegiatan belajar mengajar. Konsep MBS ingin mengubah semua yang memberatkan/ menekan itu menjadi suatu kegiatan belajar mengajar yang aktif dan manyenangkan. Ke 45 sekolah itu tersebar di tiga kabupaten masing-masing lima bela sekolah (Sekolah Dasar Negeri. (f) semakin terciptanya kegiatan belajar mengajar yang aktif-menyenangkan di semua kelas di sepanjang hari. akumulasi dari ketiga hal di atas tercermin dalam kualitas pendidikan yang cenderung rendah/ kurang baik. implementasi MBS memakan waktu. pemahaman akan dinamika kelompok dan memperjelas akuntabilitasnya.Keempat. Menurut Taruna. Pertama. Keempat damba murid dalam penyelenggaraan pendidikan yang sentralistik sulit terakomodasi di sekolah. Konsep MBS menawarkan desentralisasi berpikir. (3) belajar untuk hidup bersama. (2) belajar untuk melaksanakan. ada enam tolok ukur keberhasilan MBS. memperbaiki lingkunagn kerja. (d) semakin seringnya BP3 rapat memikirkan peningkatan mutu partisipasi orang tua murid dan masyarakat. (c) semakin berkembangnya otonomi kepala sekolah dan guru-guru di sekolahnya sendiri. Impelmentasi MBS juga menghadapi sejumlah tantangan seperti dikemukakan Bank Dunia. Sekolah Dasar Swasta. yaitu pengadopsian suatu perspektif yang lebih luas akan suatu sistem. Madrasah Ibtidaiyah Swasta). dan (4) belajar untuk kemandirian. Kemerosotan mutu pendidikan menjadi sangat jelas seperti murid SD/MI kelas tiga belum lancar membaca/ menulis. menganggap bahwa MBS adalah hal biasa dengan tanpa usaha yang serius akan berhasil dengan sendirinya. empat pilar tujuan pendidikan tidak terlaksana dengan baik karena sistem penyelenggaraan yang sentralistik. yaitu isu-isu yang berkaitan dengan organisasi tim lokal dan upaya untuk mendefinisikan tujuannya. mengajar secara kaku dan buah dari semua itu adalah kegiatan belajar mengajar berlangsung dengan sangat berat/ menekan. Menurut Taruna. tantangan demokrasi. Tukiman Taruna menjadi pelaksanan dan penaggungjawab langsung penerapan MBS di 45 Sekolah Dasar/ Madrasah Ibtidaiyah di Wilayah Propinsi Jawa Tengah. Selain itu. Padahal dalam kenyataan. Pertama. Keempat. Sekolah Dasar Inpres. guru membuat kegiatan belajar mengajar di kelas menjadi sangat formal. Madrasah Ibtidaiyah Negeri. memahami konteks perubahan. Berdasarkan pengalaman Reynolds (1997) dalam menerapkan MBS di Amerika Serikat. artinya memberikan atau membuka peluang agar kepala sekolah. Winker dan Gershberg (1999) menyebutkan bahwa MBS akan berjalan baik pada . 6 Oktober 2000). Penerapan konsep MBS dimaksudkan untuk mengembangkan otonomi kepala sekolah. J. yaitu (a) berkurang sebanyak mungkin angka tinggal kelas terutama di kelas rendah. isu-isu yang berkaitan dengan manajemen disamping isu pengajaran dan usulan yang ditolak oleh tingkat yang lebih tinggi di dalam suatu distrik. Kedua. proses itu seharusnya mampu menjawab damba (harapan) murid dalam hal : (1) belajar untuk mengetahui. Kepala sekolah banyak melakukan kegiatan di luar sekolahnya. (b) berkurang sebanyak mungkin angkat putus sekolah. Sejak September 1999. Konsep MBS rata-rata telah diterima oleh semua pihak untuk diimplementasikan di sekolah-sekolah (Kompas. pengembangan ketrampilan strategi perencanaan. Di manapun kegiatan belajar mengajar itu berlangsung. mengembangkan perspektif dan ketrampilan kepemimpinan. guru dan juga murid sebagai subjek kegiatan belajar mengajar. Ketiga.C. tetapi berbuat sangat banyak untuk urusan administrasi dan kedinasan. (e) semakin banyaknya dukungan (bukan pengawasan) oleh pihak aparat kecamatan dan kabupaten kepada sekolah. tenaga dan pikiran secara besar-besaran. Reynolds juga mengemukakan bahwa terdapat sembilan kunci yang mendukung keberhasilan implementasi Site-Based Management di sekolah. Pengalaman berbagai negara menunjukkan MBS akan bisa dinilai hasilnya setelah lebih dari empat tahun berjalan.

Namun. Strategi Membentuk Akuntabilitas Sekolah Pada era desentralisasi. Keempat. Dengan demikian. adanya partispasi untuk saling menciptakan susana kondusif dalam menciptakan pelayanan masyarakat dengan prosedur yang mudah. institusi pendidikan dan lembaga yang terkait dengan pelayanan publik juga dituntut untuk memilki akuntabilitas. pendidikan memilki akuntabilitas birokratik bila telah memenuhi prosedur yang digariskan pemerintah (baca Depdiknas) sehingga menjamin bahwa pendidikan memenuhi standar dan sesuai dengan prosedur yang ada. Selanjutnya. akan terjadi masalah apabila pengambilan keputusan lokal hanya dipegang oleh sebagian elite maka kesejahteraan sosial tidak akan terjadi. pendidikan memiliki akuntabilitas legal bila pendiriannya telah memenuhi persyaratan hukum sehingga bisa memenuhi tuntutan dan klaim berbagai pihak terkait. Kedua. Ketiga. adanya standar kinerja yang dapat diukur dalam melaksanakan tugas. biaya yang murah dan pelayanan yang cepat. Ketiga.kondisi di mana demokrasi telah berjalan dengan baik dan faktor-faktor eksternal lokal juga mendukung. bureaucratic. pendidikan memilki akuntabilitas politik bila anggota dewan sekolah dan seluruh staf serta para pengambil kebijakan diangkat berdasarkan pemilihan secara demokratis. tantangan terakhir adalah yang berkaitan dengan kurangnya bukti-bukti. tantangan lain adalah masalah keseimbangan keadilan. fleksibelitas dan kontrol lokal dengan tanggungjawab untuk meyakinkan bahwa : (a) penyediaan pendidikan dilakukan secara baik di seluruh negeri. Perlu disadari oleh banyak kementerian pendidikan bahwa masalah utama dalam mengimplementasikan MBS adalah untuk menyeimbangkan dan meningkatkan diversifikasi. Menurut Deputi V Menteri Negara Pendayagunaan Aparatur Negara Bidang Akuntabilitas Aparatur. adanya transparansi dalam menetapkan kebijakan dengan menerima masukan dan mengikutsertakan berbagai institusi. professional. fungsi dan wewenang. dan (b) kualitas pendidikan di seluruh negeri hampir sama baiknya berdasarkan geografis. legal. Resiko ini akan lebih besar di masyarakat yang hanya memiliki sedikit pengalaman dalam demokrasi partisipatif pada tingkat lokal. Tiga pilar akuntabilitas tersebut juga penting untuk dimiliki lembaga penyelenggara pendidikan sehingga pelayanan pendidikan bisa dipertanggungjawabkan kepada masyarakat luas. Sementara itu Darling-Hammond (1989) menguraikan aspek-aspek akuntabilitas pendidikan yang lebih mengarah pada akuntabilitas kelembagaan dan insfrastrukturnya yaitu political. Kedua. Pertama. Pertama. Soemidihardjo bahwa dalam eara otonomi daerah masing-masing institusi harus dapat membangun akuntabilitas peran dan fungsinya untuk dipertanggungjawabkan kepada masyarakat (Kompas. Fullan dan Watson (1999) memberi komentar bahwa walaupun penelitian terbaik dalam MBS mengidentifikasi faktor-faktor dan kondisi yang berkaitan dengan keberhasilan. akuntabilitas profesional pendidikan diperoleh bila guru dan semua staf pendidikan memilki pengetahuan sesuai dengan spesifikasinya. dan market. . Soemidihardjo menyatakan bahwa terdapat tiga pilar utama yang menjadi prasyarat terbangunnya akuntabilitas. Kedua. D. lulus ujian sertifikasi dan memegang standar praktik profesi. 16 April 2001). otonomi dan keterbukaan ini semua pihak sepakat bahwa akuntabilitas publik itu penting. Penelitian hanya memotret kasus-kasus yang berhasil yang sudah berjalan dan hanya memberi sedikit gambaran bagaimana mencapai kesuksesan tersebut. Ketiga. sosial ekonomi dan etnik di dalam masyarakatnya. hal ini tidak menunjukkan kepada kita bagaimana menetapkan kondisi-kondisi tersebut ketika kondisi-kondisi tersebut tidak ada.

Oleh karena itu. E. http://www. Dan ke depan hendaknya para praktisi memberikan peran dan andil nyata sehingga diharapkan MBS akan terwujud bukan sekedar wacana saja. Wajah dan wacana pendidikan kita ke depan harus ideal. 2006. 1973. DAFTAR PUSTAKA ERIC Digest –ERIC Clearinghouse on Education Management Eugene OR. Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (Sebuah Panduan Praktis). bahkan antar sekolah dalam daerah yang sama pun bisa berlainan strateginya. Manajemen Berbasis Sekolah (Konsep. Cetakan Ketiga dan Keempat. Pada dasarnya tidak ada satu strategi khusus yang jitu dan bisa menjamin keberhasilan implementasi MBS di semua tempat dan kondisi. terkonsep dan terorganisir rapi.BAB III PENUTUP Demikian uraian beberapa faktor pendukung kesuksesan implementasi MBS beserta dengan beberapa kajiannya. Bandung: PT Remaja Rosdakarya. Strategi dan Implementasi). Surabaya: Usaha Nasional. 2001. Jalal. Reformasi Pendidikan dalam Konteks Otonomi Daerah. Komariah. 2003. Sistem manajemen entah MBS atau apapun nama konsepnya dalam implementasinya secara luas dan mendasar yang amat diperlukan adalah dukungan politik baik itu sekedar political will maupun dalam bentuk peraturan dan perundang-undangan formal.). Yang perlu ditegaskan adalah sejauhmana kita sebagai para pelaku pendidikan mampu mengaktualisasikan dalam dunia pendidikan kita. Pengantar Ilmu Pendidikan. Fasli dan Dedi Supriadi (ed. Dalam bentuk apapun sistem manajemen yang teraplikasikan di lapangan tiada mungkin tercapai manakala semua pihak yang berkompeten di dalamnya tidak berperan secara aktif. Wallahu ‘alamu. Visionary Leadership Menuju Sekolah Efektif. Bandung: PT . Amir Daien. teratur. Mulyasa. Jakarta: PT Bumi Aksara. Cetakan Kedua. ___________.ed. strategi yang diterapkan di suatu negara satu dengan negara lain bisa berbeda.gov/databases/ERIC-Digest/index Indrakusuma. Yogyakarta: Adicita Karya Nusa. Aan dan Cepi Triatna. 2006.

Oswald. 27. 1992. 1993.worldbank. Wohlstetter./implementasi-mbs-dalam-meningkatkan.pdk. Arif. Bandung: PT Remaja Rosdakarya. Eugene: ERIC Clearinghouse on Education Management Eugene OR.e..H. Slamet P.gov/databases/ERIC-Digest/index Question and Answer for Web/Knowledge Nugget. School-Based Management. “Manajemen Berbasis Sekolah”. Bandung: Remaja Rosdakarya.ed. Jurnal Pendidikan dan Kebudayaan No. School-based Management: Strategies for Succes.blogspot. 02. Priscilla dan Susan Albers Mohrman. Surabaya. U.S. School-Based management: ERIC Digest Number 99. Lori Jo. Cetakan Pertama. Revised Edition. Analisis Kebijakan Pendidikan (Suatu Pengantar).SMBQ&ASBMReynolds.R. Tafsir.. Ilmu Pendidikan Dalam Perspektif Islam. Suryadi.go. 2001. http://ww.http://www1.com/. Priscilla dan Susan Albers Mohrman.A. Larry J.governancereform/06. Wohlstetter. California: Corwin Press.gov/pubs/cpre/fb5sbm. Succesful Site-Based Management: A Practical Guide. Ahmad. http://ww. Assesment of Schol-Based Management: Studies of Education Reform.ed. “Aplikassi MBS pada Madrasah” Dalam Iklhas Beramal VII (233): 33.gov/pubs/SER/SchBasedMgmt.html.Remaja Rosdakarya. Tilaar. 1997. Lori Jo. 1996.id/jurnal/27/manjemen-berbasis -sekolah. gurutrenggalek. http://www.http://www.html - .htm. Oswald. Inc. 1995. Departement of Education Office of Education Research dan Improvement. Nurrawi.org/education/globaleducationreform/06. Ace dan H. 2002.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful