Kasus I (osteosarkoma

)

BAB I PENDAHULUAN

1.1

Latar Belakang

Tumor (berasal dari bahasa Latin, secara harafiah berarti "bengkak, pembengkakan"), merupakan salah satu dari lima karakteristik inflamasi (respon pertama sistem kekebalan tubuh terhadap infeksi atau iritasi). Saat ini, istilah „tumor‟ sering digunakan untuk menggambarkan pertumbuhan jaringan biologis yang tidak normal. Tumor disebabkan oleh mutasi yang terjadi dalam DNA sel. Agar tumor dapat muncul dibutuhkan kombinasi lebih dari satu mutasi yang mengaktifkan oncogen (gen yang termodifikasi sehingga meningkatkan keganasan sel tumor) atau menekan gen penahan tumor. Perlu diketahui bahwa sel sendiri memiliki mekanisme untuk memperbaiki DNA dan juga mekanisme lain yang dapat menyebabkan sel tersebut menghancurkan dirinya melalui apoptosis (jika DNA rusak terlalu parah). Usia diketahui pula berpengaruh dalam mutasi DNA sel. Semakin tua usia seseorang, semakin banyak pula mutasi yang mungkin terjadi dalam DNA sel orang tersebut. Tumor dibagi menjadi 2 yaitu tumor jinak dan tumor ganas yang biasa disebut kanker. Perbedaan tumor jinak dan tumor ganas dilihat dari

pertumbuhannya (tumor ganas pertumbuhannya cepat sedangkan tumor jinak pertumbuhannya lambat), metastase ke tempat lain (tumor ganas dapat bermetastase ke tempat yang jauh sedangkan tumor jinak tidak bermetastase), dan batas (tumor ganas tidak berbatas jelas sedangkan tumor jinak berbatas tegas). Osteosarkoma merupakan salah satu tumor ganas yang menyerang tulang. Osteosarkoma ( sarkoma osteogenik ) merupakan tulang primer maligna yang paling sering dan paling fatal. Ditandai dengan metastasis hematogen awal ke paru. Tumor ini menyebabkan mortalitas tinggi karena

1

Kasus I (osteosarkoma)

sarkoma sering sudah menyebar ke paru ketika pasien pertama kali berobat. Tempat-tempat yang paling sering terkena adalah femur distal, tibia proksimal dan humerus proksimal. Tempat yang paling jarang adalah pelvis, kolumna, vertebra, mandibula, klavikula, skapula, atau tulangtulang pada tangan dan kaki. Lebih dari 50% kasus terjadi pada daerah lutut dan lebih sering terjadi pada pria dengan rentang usian 15-25 tahun. 1.2 Tujuan

1) Mahasiswa mengetahui konsep umum Tumor 2) Mahasiswa mengetahui gejala-gejala dari Tumor 3) Mahasiswa mengetahui asuhan keperawatan terhadap penderita 4) Mahasiswa mampu memberikan tindakan keperawatan dengan tepat

1.3

Metode

1) Studi pustaka 2) Mencari informasi melalui media elektronik 3) Diskusi kelompok

2

Kasus I (osteosarkoma)

BAB II SEVEN JUMP

Kasus I Tn.A (25 tahun) datang ke Rumah Sakit karena tiba-tiba terdapat benjolan di tungkai kanannya, terasa panas dan nyeri. Kemudian klien ke Rumah Sakit, kemudian dilakukan biopsi pada benjolan di kaki kanannya dengan hasil stage 2B dan sekarang klien dirawat di ruang ortopedi dengan keluhan tungakai bawah kanannya mengalami pembengkakan. Klien mengatakan nyerinya dirasakan terusmenerus pada skala 9 (0-10). Dari pemeriksaan fisik didapatkan massa sebesar bola tenis di tungkai kanan, kemerahan dan terdapat luka yang mengeluarkan cairan terus-menerus. Klien juga mengeluh akhir-akhir ini merasa lemas dan berat badan menurun drastis juga tidak nafsu makan. Pada pemeriksaan rontgen tampak sunburst pada OS Fibula. Klien mengatakan sangat sedih dengan kondisi tubuhnya dan sering merasa tidak bertanggung jawab sebagai seorang Bapak yang baru saja dikaruniai seorang anak. Akibat sakit klien tidak bekerja dan isterinyalah yang mencari kerja,

Step 1 1. Stage 2B : Stadium Osteokarsinoma dilihat dari TNM, yaitu T1 (tumor kurang dari 5 cm), N0 (tidak ada metastase ke KGB), M0 (tidak ditemukan metastase jauh). 2. OS Fibula : Tulang betis. 3. Sunburst : Gambaran radiologis tulang pada osteosarkoma seperti pecahan sinar matahari.

Step 2 1. Apakah komplikasi dari Osteosarkoma ?

3

Kasus I (osteosarkoma)

2. Mengapa terjadi benjolan dan bagaimana karakteristiknya? 3. Apakah benjolan dapat bermetastase? Cairan apa yang keluar dari luka? 4. Apakah intervensi untuk perubahan peran klien (Gg. Psikologis)? 5. Mengapa berat badan klien menurun dan klien lemas? 6. Apakah lukanya sudah bermetastase ke kulit? 7. Mengapa sakitnya terus-menerus? 8. Apakah etiologi dan faktor risiko penyakit ini? 9. Apa pemeriksaan diagnostik untuk penyakit ini? 10. Apakah penatalaksanaan untuk penyakit ini? 11. Apakah imobilisasi yang digunakan untuk penyakit ini? 12. Apakah penyakitnya sudah menyebar ke sistemik atau masih lokal? 13. Apakah diagnosa medis penyakit ini? 14. Keriteria skala nyeri? 15. Apakah mungkin timbul diagnosa keperawatan gg.nutrisi? 16. Apa penyebab terjadinya luka? 17. Apa saja stage dari penyakit ini? 18. Mungkinkan terjadi osteoporosis? 19. Bagaimana epidemiologi dari penyakit ini? 20. Apakah dapat terjadi deformitas? 21. Apakah penyakit ini bisa disembuhkan? Perlukah amputasi dilakukan? 22. Dapatkah terjadi atrofi atau distrofi? Mengapa? 23. Apakah manifestasi klinik penyakit ini? 24. Adakah hubungannya dengan riwayat kesehatan dan riwayat keluarga? 25. Bagaimana penanganan awal penyakit ini? 26. Mungkinkah terjadi resiko kekuarangan cairan? 27. Bagaimana patof penyakit ini? 28. Asuhan Keperawatan untuk kasus ini?

Step 3 1. Terlampir pd Bab III.

4

Kasus I (osteosarkoma)

2. Pertumbuhan sel abnormal dan sifat nitrogen trap tumor membuat nutrisi diambil oleh tumor sehingga terjadi benjolan dengan konsistensi keras, tidak berbatas tegas, dan sakit bila ditekan. 3. Benjolan itu merupakan sel abnormal dari tumor dan tumor ganas dapat bermetastase ke tempat lain. Cairan yang keluar dari luka tadinya cairan bening akibat inflamasi bening dan tidak berbau, tapi bila terinvasi mikroorganisme bisa timbul pus. 4. Terlampir pd Bab III. 5. Invasi jaringan lunak membuat terjadi inflamasi yang merangsang pengeluaran neurotransmitter nyeri (histamin, bradikinin) dan

merangsang aktivasi saraf simpatis yang membuat persitaltik usus menurun sehingga terjadi distensi lambung mengakibatkan sensasi kenyang, timbul anorexia dan berat badan pun menurun, energi menurun akhirnya klien lemas. 6. Belum. 7. Tumor yang semakin besar menekan jaringan sekitarnya menyebabkan terjadi proses inflamasi dalam tubuh yang mengakibatkan nyeri. 8. Terlampir pd Bab III. 9. Terlampir Bab III. 10. Terlampir pd Bab III. 11. Istirahat dan dressing. 12. Masih lokal. 13. Osteosarkoma. 14. Terlampir pd Bab III. 15. Mungkin, tapi karena data belum jelas jadi tidak bisa dipakai. 16. Luka karena penekanan tumor yang membesar. 17. Terlampir pd Bab III 18. Tidak, Ca meningkat pada osteosarkoma. 19. Terlampir pd Bab III. 20. Mungkin terjadi, besarnya tumor dapat menekan jaringan sekitar sehingga membuat perubahan pada tulang.

5

Kasus I (osteosarkoma) 21. Iya. 25. osteosarkoma dapat terjadi karena genetik dan penyakit sebelumnya. ROM 6 . Terlampir pd Bab III. Kemoterapi. 27. 5. Terlampir pd Bab III. Perbedaan kanker dan tumor. 24. Terlampir pd Bab III. Penyebab nyeri. 6. langkah terakhir adalah operasi. 3. 2. 23. Bisa. 26. etiologi. Mungkin bisa. 28. Skala nyeri. Terlampir pd Bab III. epidemiologi Patofisiologis Asuhan Keperawatan Penatalaksanaan Osteosarkoma Klasifikasi Stadium Manifestasi Klinis medis-nonmedis Komplikasi Pemeriksaan Fisik-Diagnostik Step 5/ LO 1. faktor risiko. pertumbuhan sel abnormal dapat mengganggu otot. 22. Step 4/ Mind map Definisi. tapi karena data tidak menunjang jadi tidak dimasukkan pada diagnosa keperawatan dalam kasus ini. Klasifikasi kanker dan tumor. Bisa dengan kemoterapi dan radioterapi. 4.

Pembengkakan pada tumor mungkin teraba hangat dan agak memerah. pembengkakan dan pergerakan yang terbatas. Osteosarkoma (Sarkoma Osteogenik) adalah tumor tulang ganas yang paling sering ditemukan pada umur 15 tahun. ginjal. tulang lengan atas (ujung atas) dan tulang kering (ujung atas). Ujung tulang-tulang tersebut merupakandaerah dimana terjadi perubahan dan kecepatan pertumbuhan yang terbesar. nyeri saat ditekan dan tampak pelebaran pembuluh darah pada kulit di permukaannya. Gejala yang paling sering ditemukan adalah nyeri. Pengertian Osteosarcoma adalah suatu kanker tulang yang tumbuh dari sel tulang di tulang yang masih dalam masa pertumbuhan. Osteosarcoma termasuk tumor ganas yang agresif. Patah tulang di tempat tumbuhnya tumor disebut fraktur patologis dan seringkali terjadi setelah suatu gerakan rutin 7 . terutama ditemukan pada masa remaja. dan hati yang mengakibatkan adanya pengaruh aktivitas hamateotik sum-sum tulang sehingga sel-sel plasma yang belum matang terus membelah dan terjadi penambahan jumlah sel yang tidak terkontrol lagi. Konsep Penyakit 1. Tidak jarang pula menimbulkan efusi pada sendi yang berdekatan. Osteosarkoma cenderung tumbuh di tulang paha (ujung bawah). Pada umumnya kanker (tumor ganas) ini tumbuh pada tungkai di sekitar sendi atau di lengan pada usia belasan tahun.Kasus I (osteosarkoma) BAB III PEMBAHASAN A. Tanda fisik terdapat benjolan pada daerah dekat sendi yang sering kali sangat besar. Tanda awal dari penyakit ini bisa merupakan patah tulang karena tumor bisa menyebabkan tulang menjadi lemah. Keganasan sel pada mulanya berawal pada sumsum tulang dari jaringan sel tulang ( sarcoma ) hingga sel-sel tulang pada nodul-nodul limfe.

Adapun faktor predisposisi yang dapat menyebabkan osteosarcoma antara lain : 1. Walaupun beberapa laporan menyatakan adanya partikel seperti virus pada sel osteosarcoma dalam kultur jaringan. dan faktor trauma. Salah satu contoh adalah radium. Bahan kimia. Trauma Osteosarcoma dapat terjadi beberapa bulan atau beberapa tahun setelah terjadinya injuri. sedangkan sejumlah usaha untuk menemukan oncogenik virus pada osteosarcoma manusia tidak berhasil. Virus Penelitian tentang virus yang dapat menyebabkan osteosarcoma baru dilakukan pada hewan. virus. Walaupun demikian trauma ini tidak dapat dianggap sebagai penyebab utama karena tulang yang fraktur akibat trauma ringan maupun parah jarang menyebabkan osteosarcoma. Ekstrinsik karsinogenik Penggunaan substansi radioaktif dalam jangka waktu lama dan melebihi dosis juga diduga merupakan penyebab terjadinya osteosarcoma ini.Kasus I (osteosarkoma) 2. setelah 3-40 tahun dapat mengakibatkan osteosarcoma. Radiasi yang diberikan untuk penyakit tulang seperti kista tulang aneurismal. Karsinogenik kimia Ada dugaan bahwa penggunaan thorium untuk penderita tuberculosis mengakibatkan 14 dari 53 pasien berkembang menjadi osteosarcoma 4. Pertumbuhan yang cepat dan besarnya ukuran tubuh dapat juga menyebabkan terjadinya osteosarcoma selama masa pubertas. 2. Hal ini menunjukkan bahwa hormon 8 . tetapi ada berbagai macam faktor predisposisi sebagai penyebab osteosarcoma. fibrous displasia. 3. radiasi. Etiologi Osteosarcoma belum diketahui secara pasti.

biasanya laki-laki lebih banyak menderita 4. Fibroblast / kolagenoblast. biasanya pada awal dekade ke-2 Jenis kelamin. Osteoclast. 3. Meiloblast Klasifikasi tumor didasarkan atas asal sel. Klasifikasi Klasifikasi keganasan didasarkan :  Luas penyebaran menurut TNM yaitu penyebaran setempat dan metastasis  Derajat keganasan secara histologik berdasar derajat deferensiasi sel. Chondroblast.Kasus I (osteosarkoma) sex penting walaupun belum jelas bagaimana hormon dapat mempengaruhi perkembanagan osteosarcoma. sehingga dibagi menjadi kelompok :     Osteogenik Chondrogenik Kolagenik Meilogenik 9 . aktivitas mitosis   Kecepatan perkembangan gambaran klinik Jaringan tulang berasal dari mesoderm yang dapat berdeferensiasi menjadi : Osteoblast. Faktor risiko          Metastasis kanker lainnya Fraktur terbuka Genetika Paget deases Diabetes melitus Bahan karsinogenek baik dari lingkungan maupun makanan Pekerjaan Usia.

Merupakan tumor jinak yang diselubungi oleh tulang rawan (menghasilkan tulang enkondrial). Sedangkan osteoma sentral tampak sebagai suatu masa berbatas jelas dengan tulang.  Osteokondroma Terdapat penonjolan permukaan metafisis tulang panjang. warna abu-abu merah dengan diameter < 1 cm. Oateoma berwujud sebagai suatu benjolan yang tumbuh dengan lambat dan tidak nyeri. Pada pemeriksaan radiografi osteoma perifer tampak sebagai lesi yang meluas pada permukaan tulang. 10 .  Osteoblastoma benigna Kolagenik   Defek kortikal subperiosteal Fibroma non-osteogenik Hamartoma Osteogenik  Osteoma Osteoma merupakan lesi tulang yang bersifat jinak dan ditandai oleh pertumbuhan tulang yang abnormal. Biasanya pada umur < 20 tahun dan skal resiko terkenanya pria=2x wanita. Prognosispenyakit sangat lambat dan kadang berhenti. Biasanya terjadi pada anak remaja. Tempat tumbuhnya ada dalam krteks tulangsehingga menimbulkan nodul berbatas jelas. Disekitarnya dibatasi oleh daerah padat. berupa jaringan tulang sklerotik.Kasus I (osteosarkoma) Kelainan Tulang Reaktif Osteogenik  Osteoma osteoid Neoplasma jinak yang kecil pada diafise tulang panjang. Dapat terjadi di semua tulang terutama femur dan tibia.

Kolagenik   Angioma Kista tulang aneurisma Neoplasma Tulang sejati Osteogenik  Osteosarkoma Sarkoma osteogenik ( Osteosarkoma ) merupakan neoplasma tulang primer yang sangat ganas.   Fibroma kondromiksoid Kondrosarkoma 11 . Gejala yang sering timbul adalah nyeri yang timbul pada tulang rawan. terutama lutut.Kasus I (osteosarkoma) Aksositos multiple muncul sebagai kelainan herediter. Potensial untuk menjadai ganas yaitu kondrosarkoma/osteosarkoma. berhenti pada saat remaja. Tumor ini tumbuh dibagian metafisis tulang tempat yang paling sering terserang tumor ini adalah bagian ujung tulang panjang. meningkat pada bayi.  Sarkoma periost Kondrogenik  Kondroblastoma benigna Konroblastoma adalah tumor jinak yang sering ditemukan pada tulang humerus. Kondrogenik  Enkondroma Enkondroma adalah tumor jinak sel –sel rawan displastik yang timbul pada metafisis tulang tubular. terutama pada tangan dan kaki.

N1 M M0 M1 = tumor induk = tumor tidak dapat dicapai = tidak ditemukan tumor primer = tumor terbatas didalam periost = tumor menembus periost = tumor masuk organ atau struktur sekitar tulang = kelenjar limfe regional = tidak ditemukan tumor dikelenjar limfe = tumor dikelenjar limfe regional = metastase = tidak ditemukan metastase jauh = metastase jauh 12 .Kasus I (osteosarkoma) Kondrosarkoma merupakan tumor tulang ganas yang terdiri dari kondrosit anaplastik yang dapat tumbuh sebagai tumor tulang perifer atau sentral. Kolagenik   Fibrosarkoma Angiosarkoma Meilogenik     Meiloma sel plasma Tumor Ewing Sarkoma sel retikulum Penyakit Hodgkin Osteoblastoma ( Tumor sel raksasa ) Klasifikasi Tumor Tulang berdasarkan TNM T TX T0 T1 T2 T3 N N0.

Bagian posterior dari distal femur merupakan daerah predileksi yang paling sering. (2) karakteristik morfologi. namun 75% dari osteosarkoma masuk kedalam kategori “klasik” atau konvensional. Biasanya terjadi pada umur lebih tua dari osteosarkoma klasik. chondroblastic.Kasus I (osteosarkoma) Klasifikasi Osteosarkoma Klasifikasi dari osteosarkoma merupakan hal yang kompleks. atau osteosarkoma epithelioid. dan fibroblastic. osteosarkoma small-cell. Periosteal Osteosarkoma Periosteal osteosarkoma merupakan osteosarkoma derajat sedang (moderate-grade) yang merupakan lesi pada permukaan tulang bersifat kondroblastik. Pengobatannya adalah dengan cara operasi. yaitu pada umur 20 sampai 40 tahun.35% terutama ke paru-paru. Sering juga terdapat pada diafise tulang panjang seperti pada femur 8 dan bahkan bisa pada tulang pipih seperti mandibula. osteosarkoma postradiasi. seperti pada osteosarkoma parosteal dan periosteal. yang termasuk osteosarkoma osteoblastic. seperti pada osteosarkoma telangiectatic. Sedangkan sisanya sebesar 25% diklasifikasikan sebagai “varian” berdasarkan (1) karakteristik klinik seperti pada kasus osteosarkoma rahang. Terjadi pada umur yang sama dengan pada klasik osteosarkoma. melakukan eksisi dari tumor dan survival ratenya bisa mencapai 80 . selain bisa juga mengenai tulang-tulang panjang lainnya. dengan terjadinya diferensiasi derajat rendah dari fibroblas dan membentuk woven bone atau lamellar bone. Derajat metastasenya lebih rendah dari osteosarkoma klasik yaitu 20% . 13 . Parosteal Osteosarkoma Parosteal osteosarkoma yang tipikal ditandai dengan lesi pada permukaan tulang. atau osteosarkoma paget.90%. dan (3) lokasi. dan sering terdapat pada daerah proksimal tibia. yang makin lama lesi ini bisa invasi kedalam korteks dan masuk ke endosteal. Tumor dimulai dari daerah korteks tulang dengan dasar yang lebar.

yang mengalami mutasi sekunder dan biasanya terjadi pada umur lebih tua. Diagnosis dengan biopsi sangat sulit oleh karena tumor sedikit jaringan yang padat. Telangiectasis Osteosarkoma Telangiectasis osteosarkoma pada plain radiografi kelihatan gambaran lesi yang radiolusen dengan sedikit kalsifikasi atau pembentukan tulang. dan sangat resposif terhadap adjuvant chemotherapy. Di Eropa merupakan 3% dari seluruh osteosarkoma dan terjadi pada umur tua. Perjalanan penyakit sampai mengalami degenerasi ganas memakan waktu cukup lama berkisar 15 Ð 25 tahun dengan mengeluh nyeri pada daerah inflamasi dari paget‟s disease. Terjadi pada umur yang sama dengan klasik osteosarkoma. kemudian di daerah pelvis dan femur. dan sangat vaskuler. osteoblastoma. Contoh klasik dari osteosarkoma sekuder adalah yang berasal dari paget‟s disease yang disebut pagetic osteosarcomas. Prognosis dari pagetic osteosarcoma sangat jelek dengan five years survival rate rata-rata hanya 8%. Pengobatannya sama dengan osteosarkoma klasik. 14 . Tumor ini mempunyai derajat keganasan yang sangat tinggi dan sangat agresif. Osteosarkoma Sekunder Osteosarkoma dapat terjadi dari lesi jinak pada tulang. misalnya bisa berasal dari Paget‟s disease. fibous dysplasia. Dengan gambaran seperti ini sering dikelirukan dengan lesi binigna pada tulang seperti aneurysmal bone cyst. Oleh karena terjadi pada orang tua. benign giant cell tumor.Kasus I (osteosarkoma) Pengobatannya adalah dilakukan operasi marginal-wide eksisi (widemargin surgical resection). maka pengobatan dengan kemoterapi tidak merupakan pilihan karena toleransinya rendah. Selanjutnya rasa nyeri bertambah dan disusul oleh terjadinya destruksi tulang. Lokasi yang tersering adalah di humerus. dengan didahului preoperative kemoterapi dan dilanjutkan sampai post-operasi.

dan derajat keganasannya sangat tinggi dengan prognosis jelek dengan angka metastasenya tinggi. osteosarkoma tipe ini mempunyai prognosis yang baik dengan hanya melakukan lokal eksisi saja. Multisentrik Osteosarkoma Disebut juga Multifocal Osteosarcoma. yaitu terdapat tumor pada tulang lain setelah beberapa waktu atau setelah pengobatan tumor pertama. Penderita biasanya mempunyai umur yang lebih tua yaitu antara 15 Ð 65 tahun. Osteosarkoma Akibat Radiasi Osteosarkoma bisa terjadi setelah mendapatkan radiasi melebihi dari 30Gy. Secara mikroskopik gambarannya mirip parosteal osteosarkoma. Ada dua tipe yaitu: tipe Synchronous dimana terdapatnya lesi secara bersamaan pada lebih dari satu tulang. Tipe lainnya adalah tipe Metachronous yang terdapat pada orang dewasa. Seperti pada parosteal osteosarkoma. Lokasinya pada daerah metafise tulang dan terbanyak pada daerah lutut. Pada pemeriksaan radiografi. tampak gambaran sklerotik pada daerah intrameduler metafise tulang panjang. Hal ini sangat sulit membedakan apakah sarkoma memang terjadi bersamaan pada lebih dari satu tempat atau lesi tersebut merupakan suatu metastase. Tipe ini sering terdapat pada anak-anak dan remaja dengan tingkat keganasannya sangat tinggi.35 tahun. Pada tipe ini tingkat keganasannya lebih rendah. 15 . Variasi ini sangat jarang yaitu terdapatnya lesi tumor yang secara bersamaan pada lebih dari satu tempat.Kasus I (osteosarkoma) Osteosarkoma Intrameduler Derajat Rendah Tipe ini sangat jarang dan merupakan variasi osseofibrous derajat rendah yang terletak intrameduler. mengenai laki-laki dan wanita hampir sama.2 Onsetnya biasanya sangat lama berkisar antara 3 .

"N" tingkat keterlibatan node limfatik. dan "M" gelar dari metastasis. Rincian sistem ini adalah pada grafik di bawah ini: AJCC tahap TNM tahap TNM tahap kriteria untuk kanker kolorektal Tahap 0 Tis N0 M0 Tis: Tumor terbatas pada mukosa. jumlah yang lebih tinggi menunjukkan kanker lebih maju dan kemungkinan hasil yang buruk. T1 atau 16 . Tahap yang lebih luas kanker biasanya dikutip sebagai angka I. II. Sistem TNM memberikan nomor berdasarkan tiga kategori. kanker-''in''-''situ'' Tahap I T1 N0 M0 T1: Tumor menyerang submucosa Tahap I T2: Tumor menginvasi propria muskularis Tahap II-A T3: Tumor menginvasi subserosa atau di luar (tanpa organ lain yang terlibat) Tahap II-B T4: organ Tumor yang menginvasi berdekatan atau perforates peritoneum visceral Tahap III-A T1-2 N1 M0 N1: Metastasis ke 1 sampai 3 kelenjar getah bening regional. IV berasal dari nilai TNM dikelompokkan oleh prognosis. "T" menunjukkan derajat invasi dinding usus. III. Stadium Sistem pementasan yang paling umum adalah TNM (untuk tumor / node / metastasis) sistem.Kasus I (osteosarkoma) 5. dari American Komite Bersama Kanker (AJCC).

d.Kasus I (osteosarkoma) T2. Tahap III-C setiap T. b. Tanda awal adalah nyeri. Patah tulang di tempat tumbuhnya tumor disebut fraktur patologis dan seringkali terjadi setelah suatu gerakan rutin. 17 . Tumor di tungkai menyebabkan penderita berjalan timpang. Terjadi penurunan berat badan. juga bisa terjadi pembengkakan dan pergerakan yang terbatas. e. h. Nafsu makan yang berkurang. j. g. Anemia. T3 atau T4. 6. N2 M0 N2: Metastasis ke 4 atau lebih kelenjar getah bening regional. Sejalan dengan pertumbuhan tumor. f. Tahap III-B T3-4 N1 M0 N1: Metastasis ke 1 sampai 3 kelenjar getah bening regional. Setiap T. Banyak pasien pertama mengeluh sakit yang mungkin lebih buruk pada malam hari. sedangkan tumor di lengan menimbulkan nyeri ketika lengan dipakai untuk mengangkat sesuatu benda. Pembengkakan dan disertai demam. Tanda awal dari penyakit ini bisa merupakan patah tulang karena tumor bisa menyebabkan tulang menjadi lemah. c. Batuk-batuk. Tanda dan gejala a. i. Pembengkakan pada tumor mungkin teraba hangat dan agak memerah.

Mengganggu asupan nutrisi otot dan menyebabkan atrofi otot. Onion skinning bengkak lokal. membuat perubahan pada tulang (deformitas). riwayat trauma Temuan radiologik Destruksi sunburst 8. sindrom Tidak diketahui Li-Fraumeni. Menekan jaringan sekitarnya. 18 . Nyeri. Komplikasi         Tumor ini dapat bermetastasis ke paru-paru dan menyebabkan gangguan respiratorik. demam sklerotik. Mengganggu fungsi ginjal karena hiperkalsemia. Konstipasi akibat gangguan nutrisi. Membuat fraktur patologis karena infiltrasi ke tulang. Osteomielitis bila terjadi infeksi. Meluas ke organ lain bila sudah bermetastase. bengkak lokal. Diagnosa banding Gambaran Umur Ras L:P Sel Osteosarkoma Dekade ke-2 Semua 2:1 Osteoid kumparan Predisposisi penghasil Sarkoma Ewing Dekade ke-1 Kulit putih 1. penyakit paget.Kasus I (osteosarkoma) 7.5 : 1 sel Sel bundar kecil yang tidak berdiferensiasi Retinoblastoma. tulang pipih Tanda-tanda Nyeri. radioterapi Lokasi Metafisis tulang panjang Diafisis tulang panjang.

komplikasi akibat pengobatan kemoterapi sering terjadi seperti kerontokan. Tumor kecil kemungkinan jinak tapi bila besar kemungkinan ganas. anemia dan lainlain. perdarahan. giant cell tumor jarang ditemukan pada usia 20 tahun. mual dan muntah. nyeri menunjukkan tanda ekspansi tumor yang cepat dan penekanan ke jaringan sekitarnya. dan sifat tumor. kondrosarkoma pada usia 40 tahun. lemas. Anamnesa Dilakukan untuk mengetahui riwayat kelainan atau trauma sebelumnya. Pengkajian a. bila berkembang secara perlahan berarti tumor jinak tapi bila perkembangannya cepat dan cepat menjadi besar berarti tumor ganas. diare. batas. atau degenerasi.  Keluhan nyeri. Bentuk tumor yang disertai pelebaran pembuluh darah atau ulkus merupakan karakteristik tumor ganas. Efusi sendi mungkin terjadi bila lokasi dekat dengan persendian. beberapa tumor memiliki kekhasan pada lokasi yang diserangnya. banyak tumor tulang yang memiliki kekhasan pada usia terjadinya. Pemeriksaan Fisik  Lokasi. 19 . bentuk. Perlu ditanyakan apakah ada riwayat keluarga yang menderita penyakit yang sama. seperti pada epifisis. 9.  Besar. Kadang muncul pembengakakan juga. b.  Perkembangan (progresivitas) tumor. Paling penting menanyakan :  Usia. metafisis atau pada tulangtulang tertentu (misal sarkoma ontogenik pada metafisis dan osteoblastoma di daerah vetebra).Kasus I (osteosarkoma)  Selain itu. misal sarkoma ontogenik terjadi pada anak sampai dewasa muda.

CT kurang sensitf bila dibandingkan dengan MRI untuk evaluasi lokal dari tumor namun dapat digunakan untuk menentukan metastase pada paru-paru. MRI digunakan untuk menentukan distribusi tumor pada tulang dan penyebaran pada jaringan lunak sekitarnya. tetapi kebanyakan menunjukkan campuran antara area litik dan sklerotik. Sangat 20 . X-ray Foto polos merupakan hal yang esensial dalam evaluasi pertama dari lesi tulang karena hasilnya dapat memprediksi diagnosis dan penentuan pemeriksaan lebih jauh yang tepat. Ketika dicurigai adanya osteosarkoma. bila terdapat gangguan neurologis perlu diperiksa apakah gangguan terjadi akibat penekanan tumor.  Pemeriksaan neurologis. bila tumor berada pada tulang belakang baik jinak maupun ganas dapat menimbulkan spasme atau kekakuan otot. tetapi MRI seluruh tubuh dapat menggantikan bone scan.  Fraktur patologis. Spasme otot dan kekakuan tulang belakang. Pemeriksaan Diagnostik Pemeriksaan X-ray merupakan modalitas utama yang digunakan untuk investigasi. Isotopic bone scanning secara umum digunakan untuk mendeteksi metastase pada tulang atau tumor synchronous. tumor yang berada disekitar sendi akan mengganggu pergerakan sendi. Gambaran foto polos dapat bervariasi.Kasus I (osteosarkoma)   Gangguan pergerakan sendi. c. tumor ganas menimbulkan komplikasi fraktur patologis karena kerapuhan pada tulang sehingga klien datang dengan gejala fraktur.

Kasus I (osteosarkoma) jarang hanya berupa lesi litik atau sklerotik. Dekat dengan persendian. Gambaran MRI menunjukkan kortikal destruksi dan adanya lunak dengan tepi tidak jelas atau kadangkala massa jaringan terdapat lubang kortikal multipel yang kecil. mineralisasi osteoid diantara jaringan lunak. Perubahan periosteal berupa Codman triangles (white arrow) dan masa jaringan lunak yang luas (black arrow). dapat berupa moth eaten 1. 21 . tulang disekelilingnya dapat membentuk tepi dengan batas jelas disekitar tumor. Penyebaran pada jaringan lunak sering terlihat sebagai massa jaringan lunak. 2. Area seperti awan karena sclerosis dikarenakan produksi osteoid yang maligna dan kalsifikasi dapat terlihat pada massa. Lesi terlihat agresif. Foto polos dari osteosarkoma dengan gambaran Codman triangle (arrow) dan difus. Setelah kemoterapi. penyebaran ini biasanya sulit dibedakan dengan efusi. 3.

terutama pada area dengan anatomi yang kompleks (contohnya pada perubahan di mandibula dan maksila pada osteosarkoma gnathic dan pada pelvis yang berhubungan dengan osteosarkoma sekunder). MRI MRI merupakan modalitas untuk mengevaluasi penyebaran lokal dari tumor karena kemampuan yang baik dalam interpretasi sumsum tulang dan jaringan lunak. 22 . CT terutama sangat membantu ketika perubahan periosteal pada tulang pipih sulit untuk diinterpretasikan. dan jika digunakan bersama kontras dapat membedakan dengan lesi pada aneurysmal bone cyst dimana setelah kontras diberikan maka akan terlihat peningkatan gambaran nodular disekitar ruang kistik.1 CT sangat berguna dalam evaluasi berbagai osteosarkoma varian. MRI merupakan tehnik pencitraan yang paling akurat untuk menentuan stadium dari osteosarkoma dan membantu dalam menentukan manajemen pembedahan yang tepat. Untuk tujuan stadium dari tumor. penilaian hubungan antara tumor dan kompartemen pada tempat asalnya merupakan hal yang penting. Gambaran cross-sectional memberikan gambaran yang lebih jelas dari destruksi tulang dan penyebaran pada jaringan lunak sekitarnya daripada foto polos. Tulang. sendi dan jaringan lunak yang tertutupi fascia merupakan bagian dari kompartemen. CT dapat memperlihatkan matriks mineralisasi dalam jumlah kecil yang tidak terlihat pada gambaran foto polos. Pada osteosarkoma telangiectatic dapat memperlihatkan fluid level. namun merupakan modalitas yang sangat berguna untuk menentukan metastasis pada paru.Kasus I (osteosarkoma) CT Scan CT dapat berguna secara lokal ketika gambaran foto polos membingungkan. CT jarang digunakan untuk evaluasi tumor pada tulang panjang.

Keterlibatan epifisis oleh tumor telah diketahui sering terjadi daripada yang diperkirakan. 23 . Skip metastase merupakan fokus synchronous dari tumor yang secara anatomis terpisah dari tumor primer namun masih berada pada tulang yang sama. Keterlibatan sendi dapat didiagnosa ketika jaringan tumor terlihat menyebar menuju tulang subartikular dan kartilago. Pasien dengan skip metasase lebih sering mempunyai kecenderungan adanya metastase jauh dan interval survival bebas tumor yang rendah. Hal ini penting untuk menghindari pasien mendapat reseksi yang melebihi dari kompartemen yang terlibat. Keterlibatan epifisis dapat didiagnosa ketika terlihat intensitas sinyal yang sama dengan tumor yang terlihat di metafisis yang berhubungan dengan destruksi fokal dari lempeng pertumbuhan. Fitur yang penting dari penyakit intraoseus adalah jarak longitudinal tulang yang mengandung tumor. dan adanya skip metastase. dan sulit terlihat dengan gambaran foto polos. keterlibatan epifisis. Deposit sekunder pada sisi lain dari tulang dinamakan transarticular skip metastase. Penilaian dari penyebaran tumor ekstraoseus melibatkan penentuan otot manakah yang terlibat dan hubungan tumor dengan struktur neurovascular dan sendi sekitarnya.Kasus I (osteosarkoma) Penyebaran tumor intraoseus dan ekstraoseus harus dinilai.

tersering ke paru-paru dan berlangsung terpisah atau pada stadium lanjut dari progresifitas penyakit. Komplikasi Komplikasi utama adalah rekuren lokal. Ultrasound Ultrasonography tidak secara rutin digunakan untuk menentukan stadium dari lesi. Tempat 24 . Bukti radiologis dari deposit metastase pada paru dan tempat lainnya ditemukan pada 10% sampai 20% pasien pada saat diagnosis. dengan 85% sampai 90% metastase berada pada paru-paru. Bone scan sangat berguna untuk mengeksklusikan penyakit multifokal. tetapi tidak bisa digunnakan untuk mengevaluasi komponen intermedula dari lesi. Ultrasonography mungkin merupakan modalitas pencitraan satu satunya yang dapat menemukan rekurensi dini secara lokal. Pada pasien dengan implant prostetik. skip lesion dan metastase paru-paru dapat juga dideteksi.1 Meskipun ultrasonography dapat memperlihatkan penyebaran tumor pada jaringan lunak. karena penggunaan CT atau MRI dapat menimbulkan artefak pada bahan metal. Metastasis umumnya jarang. Nuclear Medicine Osteosarcoma secara umum menunjukkan peningkatan ambilan dari radioisotop pada bone scan yang menggunakan technetium-99m methylene diphosphonate (MDP). namun skip lesion paling konsisten jika menggunakan MRI. Karena osteosarkoma menunjukkan peningkatan ambilan dari radioisotop maka bone scan bersifat sensitif namun tidak spesifik. Ultrasonography berguna sebagai panduan dalam melakukan percutaneous biopsi.Kasus I (osteosarkoma) Gambar hasil MRI.

dan terjadilah luka. Sindrom dari osteosarkoma multipel ditujukan pada adanya multipel tumor pada berbagai tulang. Pada kasus terdapat massa yang besar pada klien sehingga mungkin menyebabkan elastisitas kulit klien menjadi berkurang.Kasus I (osteosarkoma) metastase lainnya yang paling sering adalah pada tulang. Nuklir obat scintigraphy dapat gambar seluruh aksial dan appendicular kerangka untuk mendeteksi jauh dari situs yg berhubung dgn tulang metastases. polyostotic keterlibatan dan intraosseous sejauh mana yang bengkak. Beberapa kanker ditemukan secara tidak sengaja pada saat evaluasi medis dari masalah yang tak berhubungan. Mungkin juga mendeteksi melompat lesions. Penyebab luka Salah satu faktor yang dapat menyebabkan luka yaitu karena adanya kekuatan dari massa dan elastisitas kulit seseorang. dengan keterlibatan metafisis yang simetris. meskipun MRI lebih akurat untuk tujuan ini. metastase pada tulang lainnya dapat soliter atau multipel. yang biasanya membutuhkan sebuah biopsi. Bone Scintigraphy Triple-fase. Thallium Scintigraphy 25 . Tidak semua klien dengan osteosarkoma akan mengalami luka. Deteksi dini kanker Kebanyakan kanker dikenali karena tanda atau gejala tampak atau melalui "screening". tergantung dari seberapa besar massa tumor yang ada dalam tulangnya. seluruh tubuh-tulang scintigraphy dapat membantu menentukan lokasi dari penyakit metastatic. Kedua ini tidak menuju ke diagnosis yang jelas.

" biasanya mencerminkan giat Tumor. Perangkat tambahan ini. beberapa bedah dapat memutuskan untuk hidup Angiography. bersama dengan vascular mengungsi yang terjadi dengan besar komponen jaringan lunak. Thallium scintigraphy adalah berguna untuk memantau respon dari Tumor untuk induksi kemoterapi dan lokal untuk mendeteksi kambuh. di mana sebelumnya tibial arteri ligated secara rutin. Angiography adalah penyerbuan studi. 26 . yang kedua di akumulasi jinak dan ganas Tumor.Kasus I (osteosarkoma) Thallium Tl 201 adalah kalium analog yang aktif diangkut melalui sodium-potasium adenosine triphosphatase pompa. Vascular kejanggalan juga dapat terdeteksi. Biplanar Angiography secara akurat menentukan hubungan dari kapal ke Tumor. disebut sebagai "Tumor merah. Lengkap kehilangan Tumor vascularity setelah preoperative kemoterapi dengan perlakuan respons yang baik. terutama ketika MRI tidak berguna Angiography Angiography dapat membantu dalam perencanaan dan bedah di memperkirakan tanggapan Tumor untuk preoperative kemoterapi. Depen dgn bedah pada kompleksitas kasus dan pasien tanggapan untuk induksi kemoterapi lain seperti yang ditentukan oleh kurang penyerbuan studi. Radioisotope ini. Arteriography adalah penting untuk memastikan keberadaan dan kenyataan dari belakang tibial arteri sebelum ligation dari sebelumnya tibial arteri. yang sangat penting untuk resection dari proximal tibial Tumor. Tumor mencerminkan aktivitas metabolisme. 16 Tinggi-kelas osteosarcomas mempromosikan neovascularization dan luas sehingga meningkatkan kontras dengan media.

dan mereka mungkin memiliki pengaruh negatif terhadap kelangsungan hidup. amputation dan lokal kambuh.Kasus I (osteosarkoma) Biopsi Biopsi adalah langkah kunci dalam diagnosa yang osteosarcoma. karena invasif minimal. Benar dilakukan Biopsi-Biopsi yang sering terjadi adalah penyebab misdiagnosis. sebuah jarum biopsi percutaneous mungkin dianjurkan. Perubahan Foto Pengandaian Temuan Studi di Presentasi Konsisten Dengan Respon yang Baik untuk Induksi Kemoterapi Plain-film radiography Diferensial diagnosa Paling sering. Pementasan studi yang bermanfaat dalam perencanaan yang bedah pendekatan ke Tumor dan menetapkan wilayah yang Tumor yang kemungkinan besar akan menghasilkan bahan perwakilan pathologic. Dalam banyak kasus. dicampur Meningkat hal Tujuan sclerotic dan lytic jejas Periosteal bahan baru Dada nodules atau dan tulang sclerosis dari Memperkirak "peluru meriam" lesions Tumor an efek dari kemoterapi Berkenaan dgn paru parumeningkat perbatasan Menurun ukuran jaringan lunak massa 27 . tidak memerlukan penyembuhan luka dan terkait dengan risiko yang lebih rendah dari infeksi. Semua biopsi sampel harus diambil oleh ahli onkologi pembedahan tulang yang akan melakukan prosedur definitif atau langsung oleh dokter ahli onkologi di bawah pengawasan. kontaminasi dan postbiopsy retak.

terutama hadapan berlebihan tumoral busung di Campuran sclerotic dan Meningkat lytic jejas Rim dari hal proses menjadi terpengaruh ekstremitas mengeras kapur sekitar Tumor Pengurangan ukuran jaringan lunak massa Memvisualisa sikan kapal (menggunaka n kontras media) 28 . yang dengan karakteristik konsisten atau osteosarcoma periosteal baru tulang. namun MRI Mei kajian tebal.Kasus I (osteosarkoma) mendeteksi Metastasis MRI Menentukan Durasi sejauh mana terpengaruh Tumor Lunak mendeteksi jaringan massa tulang Tidak akurat. melompat jejas Menentukan hubungan antara Tumor untuk neurovascular bundel CT yang Tumor menentukan sejauh mana. sekitar Ukuran jaringan lunak menunjukkan massa Tidak khusus ada gelap di temuan pinggiran Tumor.

studi Thallium scintigraphy Memantau efek Peningkatan Tumor di Lengkapi hilangnya di uptake dari uptake kemoterapi lokal mendeteksi pengulangan dari Tumor Angiography Menentukan Neovascularization vascularity dari Tumor Lengkapi kehilangan merah neovascularity bengkak dan merah Tumor Vascular kejanggalan Mendeteksi vascular mengungsi dan menentukan hubungan dari kapal ke Tumor Identifikasi vascular kejanggalan 29 .kecil peluru meriam Penurunan atau lesions (tahap akhir) tumornodules Bone scintigraphy Menentukan Peningkatan situs tulang Metastasis Mendeteksi intraosseous ekstensi dari uptake bertulang Tidak tulang akurat. Arus menunjukkan penurunan vascularity.Kasus I (osteosarkoma) CT dari dada Berkenaan dgn paru mendeteksi Metastasis Nodules besar atau Meningkat hal ukuran kehilangan paru. baru Mei yieldincreased uptake.

Numeral Rating Scale adalah suatu alat ukur yang meminta pasien untuk menilai rasa nyerinya sesuai dengan level intensitas nyerinya pada skala numeral dari 0 – 10 atau 0 – 100. Pengukuran komponen sensorik Ada 3 metode yang umumnya digunakan untuk memeriksa intensitas nyeri yaitu Verbal Rating Scale (VRS). dan Numerical Rating Scale (NRS). kemudian digunakan untuk memberikan skore untuk intensitas nyeri pasien. range dari “no pain” sampai “nyeri hebat” (extreme pain). severe (nyeri keras) dengan skor “3”. VRS ini mempunyai keterbatasan didalam mengaplikasikannya. Beberapa keterbatasan VRS adalah adanya ketidakmampuan pasien untuk menghubungkan kata sifat yang cocok untuk level intensitas nyerinya. Angka 0 berarti “no pain” dan 10 atau 100 berarti “severe pain” (nyeri 30 . Visual Analogue Scala (VAS). Angka tersebut berkaitan dengan kata sifat dalam VRS. Sebagai contoh. very severe (nyeri yang sangat keras) dengan skore “4”. moderate (nyeri yang sedang) dengan skore “2”. VRS adalah alat ukur yang menggunakan kata sifat untuk menggambarkan level intensitas nyeri yang berbeda. Intensitas Nyeri a. mild (kurang nyeri) dengan skore “1”. VRS merupakan alat pemeriksaan yang efektif untuk memeriksa intensitas nyeri. VRS biasanya diskore dengan memberikan angka pada setiap kata sifat sesuai dengan tingkat intensitas nyerinya.Kasus I (osteosarkoma) Perkiraan efek dari kemoterapi 10. dengan menggunakan skala 5-point yaitu none (tidak ada nyeri) dengan skore “0”. dan ketidakmampuan pasien yang buta huruf untuk memahami kata sifat yang digunakan.

dan itulah skorenya yang menunjukkan level intensitas nyeri. dengan setiap ujungnya ditandai dengan level intensitas nyeri (ujung kiri diberi tanda “no pain” dan ujung kanan diberi tanda “bad pain” (nyeri hebat).al. Beberapa pasien mungkin sulit untuk menilai nyerinya pada VAS karena sangat sulit dipahami skala VAS sehingga supervisi yang teliti dari dokter/terapis dapat meminimalkan kesempatan error (Jensen et.al. Intensitas nyeri adalah gambaran tentang seberapa parah nyeri dirasakan oleh individu. VAS adalah alat ukur lainnya yang digunakan untuk memeriksa intensitas nyeri dan secara khusus meliputi 10-15 cm garis. 1984). Pasien diminta untuk menandai disepanjang garis tersebut sesuai dengan level intensitas nyeri yang dirasakan pasien. VAS lebih sensitif terhadap perubahan pada nyeri kronik daripada nyeri akut (Carlson. Kemudian jaraknya diukur dari batas kiri sampai pada tanda yang diberi oleh pasien (ukuran mm). 1986). Dengan skala NRS-101 dan skala NRS-11 point. Begitu pula. Secara potensial. 1986. pengukuran intensitas nyeri sangat 31 . jika memilih VAS sebagai alat ukur maka penjelasan yang akurat terhadap pasien dan perhatian yang serius terhadap skore VAS adalah hal yang vital (Jensen & Karoly.al. 1992).Kasus I (osteosarkoma) hebat). dokter/terapis dapat memperoleh data basic yang berarti dan kemudian digunakan skala tersebut pada setiap pengobatan berikutnya untuk memonitor apakah terjadi kemajuan. McGuire. Kemudian skore tersebut dicatat untuk melihat kemajuan pengobatan/terapi selanjutnya. Kremer et. 1981). Ada beberapa keterbatasan dari VAS yaitu pada beberapa pasien khususnya orang tua akan mengalami kesulitan merespon grafik VAS daripada skala verbal nyeri (VRS) (Jensen et. VAS lebih sensitif terhadap intensitas nyeri daripada pengukuran lainnya seperti VRS skala 5point karena responnya yang lebih terbatas. 1983 . Dengan demikian.

pengukuran dengan tehnik ini juga tidak dapat memberikan gambaran pasti tentang nyeri itu sendiri (Tamsuri.Kasus I (osteosarkoma) subjektif dan individual dan kemungkinan nyeri dalam intensitas yang sama dirasakan sangat berbeda oleh dua orang yang berbeda oleh dua orang yang berbeda.C bare B. Pengukuran nyeri dengan pendekatan objektif yang paling mungkin adalah menggunakan respon fisiologik tubuh terhadap nyeri itu sendiri.G (2002) adalah sebagai berikut : 1) skala intensitas nyeri deskritif 2) Skala identitas nyeri numerik 3) Skala analog visual 4) Skala nyeri menurut bourbanis 32 . 2007). Menurut smeltzer. S. Namun.

Kasus I (osteosarkoma) Keterangan : 0 :Tidak nyeri 1-3 : Nyeri ringan : secara obyektif klien dapat berkomunikasi dengan baik. dapat mengikuti perintah dengan baik. Dari waktu ke waktu informasi jenis ini juga sulit untuk dipastikan. sedang atau parah. Klien seringkali diminta untuk mendeskripsikan nyeri sebagai yang ringan. 4-6 : Nyeri sedang : Secara obyektif klien mendesis. memukul. 7-9 : Nyeri berat : secara obyektif klien terkadang tidak dapat mengikuti perintah tapi masih respon terhadap tindakan. tidak dapat diatasi dengan alih posisi nafas panjang dan distraksi 10 Nyeri sangat berat : Pasien sudah tidak mampu lagi berkomunikasi. dapat menunjukkan lokasi nyeri. tidak dapat mendeskripsikannya. dapat menunjukkan lokasi nyeri. dapat mendeskripsikannya. 33 . Namun. makna istilah-istilah ini berbeda bagi perawat dan klien. menyeringai. Karakteristik paling subyektif pada nyeri adlah tingkat keparahan atau intensitas nyeri tersebut.

Kasus I (osteosarkoma) Skala deskritif merupakan alat pengukuran tingkat keparahan nyeri yang lebih obyektif. 1992). Skala nyeri harus dirancang sehingga skala tersebut mudah digunakan dan tidak mengkomsumsi banyak waktu saat klien melengkapinya. Perawat menunjukkan klien skala tersebut dan meminta klien untuk memilih intensitas nyeri trbaru yang ia rasakan. Perawat juga menanyakan seberapa jauh nyeri terasa paling menyakitkan dan seberapa jauh nyeri terasa paling tidak menyakitkan. klien menilai nyeri dengan menggunakan skala 0-10. Skala ini memberi klien kebebasan penuh untuk mengidentifikasi keparahan nyeri. VDS) merupakan sebuah garis yang terdiri dari tiga sampai lima kata pendeskripsi yang tersusun dengan jarak yang sama di sepanjang garis. Skala paling efektif digunakan saat mengkaji intensitas nyeri sebelum dan setelah intervensi terapeutik. 2005). VAS adalah suatu garis lurus. maka direkomendasikan patokan 10 cm (AHCPR. maka deskripsi nyeri akan lebih akurat. Alat VDS ini memungkinkan klien memilih sebuah kategori untuk mendeskripsikan nyeri. Skala penilaian numerik (Numerical rating scales. VAS) tidak melebel subdivisi. Apabila klien dapat membaca dan memahami skala. Skala deskritif 34 . Apabila digunakan skala untuk menilai nyeri. Skala analog visual (Visual analog scale. NRS) lebih digunakan sebagai pengganti alat pendeskripsi kata. Skala pendeskripsi verbal (Verbal Descriptor Scale. Dalam hal ini. yang mewakili intensitas nyeri yang terus menerus dan pendeskripsi verbal pada setiap ujungnya. VAS dapat merupakan pengukuran keparahan nyeri yang lebih sensitif karena klien dapat mengidentifikasi setiap titik pada rangkaian dari pada dipaksa memilih satu kata atau satu angka (Potter. Pendeskripsi ini diranking dari “tidak terasa nyeri” sampai “nyeri yang tidak tertahankan”.

tapi juga. 2 Nyeri seperti meliiti atau terpukul. SKALA KETERANGAN 10 Sangat dan tidak dapat dikontrol oleh klien. 4-6 Tipe nyeri sedang. 3 Nyeri seperti perih atau mules. 35 .Kasus I (osteosarkoma) bermanfaat bukan saja dalam upaya mengkaji tingkat keparahan nyeri. mengevaluasi perubahan kondisi klien. 8. 9. 2005). 6 Nyeri seperti terbakar atau ditusuk-tusuk 5 Nyeri seperti tertekan atau bergerak. tersetrum atau nyut-nyutan 0 Tidak ada nyeri. 1 Nyeri seperti gatal. 4 Nyeri seperti kram atau kaku. 7 Sangat nyeri tetapi masih dapat dikontrol oleh klien dengan aktifitas yang bisa dilakukan. Perawat dapat menggunakan setelah terapi atau saat gejala menjadi lebih memburuk atau menilai apakah nyeri mengalami penurunan atau peningkatan (Potter. 7-9 Tipe nyeri berat. Tipe Nyeri 10 Tipe nyeri sangat berat.

A : 25 tahun : Laki-laki benjolan disentuh atau saat klien melakukan aktivitas) Quality Tidak teridentifikasi. 3) Riwayat Penyakit Saat ini 36 .(tanyakan pada klien bagaimana gambaran rasa nyeri : seperti terbakar. 11. Penatalaksanaan 1. Asuhan keperawatan a. Patofisiologi (terlampir) B.Kasus I (osteosarkoma) 1-3 Tipe nyeri ringan. disayat. atau ditusuk-tusuk beda tumpul atau benda tajam)    Region Nyeri pada tungkai bawah kanan Severity Scale Klien merasa nyeri pada skala 9 (0-10) Timing Nyeri dirasakan terus-menerus. Pengkajian 1) Data Biografi Nama Usia Jenis kelamin 2) Anamnesa  Keluhan Utama Terdapat benjolan disertai panas dan nyeri di tungkai kanannya  Paliatif Tidak teridentifikasi  (biasanya nyeri meningkat ketika : Tn.

Adapun pengkajian yang harus dilaksanakan meliputi lamanya tidur. Hal lain yang perlu dikaji adalah bentuk aktivitas klien terutama pekerjaan klien. keterbatasan gerak.  Pola Aktivitas Tidak teridentifikasi pada kasus di atas. takut. Kaji adanya kecemasan.  Sosial : tidak teridentifikasi (tanyakan pada klien apakah dengan keadaan ini dirinya menjadi menarik diri dari orang lain dan lingkungan di sekitar tempat tinggalnya) 6) Pola-pola Fungsi Kesehatan  Pola Tidur dan Istirahat Tidak terdentifikasi. ataupun depresi). maka semua bentuk kegiatan klien menjadi berkurang dan kebutuhan klien perlu banyak dibantu oleh orang lain. kebiasaan tidur.Kasus I (osteosarkoma) Klien dirawat di ruang orthopedi dengan keluhan tungkai bawah kanan mengalami pembengkakan disertai nyeri. suasana lingkungan. kegiatan yang dilakaukan sebelum tidur. 37 . dan kesulitan tidur akibat nyerinya serta penggunaan obat tidur. 4) Riwayat Penyakit Dahulu Tidak teridentifikasi (tanyakan pada klien apakah sebelumnya pernah mengalami fraktur atau patah tulang atau gangguan muskuloskeletal lainnya) 5) Riwayat Psikososial  Psikis : klien mengatakan sangat sedih dan merasa tidak bertanggung jawab sebagai seorang bapak yang baru memiliki anak( untuk tambahan dapat pula ditanyakan apakah klien merasa rendah diri. namun dapat ditemukan bahwa klien mengalami gangguan pola tidur karena nyeri terusmenerus. Catat dan amati tanda vital untuk konfirmasi diagnosa. namun bisa saja terjadi karena timbulnya nyeri.

kemerahan. 38 . Namun perawata harus tetap mengingatkan klien tentang pentingnya beribadah apalagi dengan kondisi klien yang seperti sekarang. sedang pada area lain tidak timbul gangguan.Kasus I (osteosarkoma)  Pola Persepsi dan Konsep Diri Klien merasa sedih dengan kondisinya sekarang (pada umunya dampak yang timbul pada klien osteosarcoma yaitu adanya ketakutan akan kecacatan pada tungkai kanan bawah akibat penyakit yang diderita.  Pola Tata Nilai dan Keyakinan Tidak teridentifikasi. dan pandangan terhadap dirinya yang salah)  Pola Sensori dan Kognitif Tidak teridentifikasi. mengkilap. Hal ini bisa disebabkan karena nyeri dan keterbatasan gerak klien. Mekanisme koping yang ditempuh klien bisa tidak efektif. rasa ketidakmampuan untuk melakukan aktivitas secara optimal. 7) Pemeriksaan Fisik  Inspeksi Terlihat adanya pembengkakan pada area tungkai kanan bawah. namun klien osteosarcoma tidak dapat melaksanakan kebutuhan beribadah dengan baik terutama frekuensi dan konsentrasi. rasa cemas. tampak massa sebesar bola tenis. namun pada klien osteosarcoma daya raba dan tekan sensitif akan menurun terutama pada area tungkai kanan bawah yang mengalami pembengkakan.  Pola Penggulangan Stress Pada klien osteosarcoma timbul rasa cemas tentang keadaan dirinya. yaitu ketakutan akan kecacatan pada diri dan fungsi tubuhnya.

DO : Terdapat luka yang mengeluarkan cairan terusmenerus Luka Terbuka ↓ Terpapar mikroorganisme Infeksi ↓ Mengelurkan cairan Perluasan Infeksi DS : - 39 . Analisa data No. b. 8) Pemeriksaan Laboratorium 9) Pemeriksaan Diagnostik Hasi Rontgen tampak sunburst pada OS Fibula. nyeri berada pada skala 9 (0-10).Kasus I (osteosarkoma)  Palpasi Teraba massa sebesar bola tenis di tungkai kanan bawah. Pada benjolan terasa panas dan nyeri dapat nutrisi ↓ Luka terbuka ↓ Nyeri Diagnosa Gangguan rasa nyaman : nyeri 2. DO : Data Etiologi Tumor ↓ Benjolan ↓ Sel sel ujung tidak DS : Klien mengeluh nyeri di tungkai kananya. 1. Biasanya terjadi kenaikan suhu di sekitar daerah trauma sehingga tersa hangat dan juga terjadinya edema.

tidak bertanggung jawab. DO : - fatique. istrinya yang bekerja 5.kelelahan ↓ ↓Tidak dapat bekerja ↓ Perubahan peran ↓ Gangguan psikologi Harga rendah diri DS : Klien mengatakan sedih dengan klien kondisi merasa tubuhnya.Kasus I (osteosarkoma) pus ↓ Perluasan infeksi 3. DO: - Tumor menginvasi jaringan lunak ↓ merangsang ↑ histamin ↓ ↑ saraf simpatis ↓ Risiko pemenuhan nutrisi kurang dari kebutuhan DS: klien merasa berat badanya turun drastis. DO : - Tumor ↓ ↓ Gangguan activity daily distropi dan artropi otot living DS : klien merasa lemas Takut bergerak ↓ Mobilisasi terganggu ↓ Aktivitas sehari hari terganggu 4. jlien tidak nafsu makan 40 .

Perluasan infeksi berhubungan dengan invasi mikroorganisme ditandai oleh luka perkembangan tumor 3. Gangguan rasa nyaman: Nyeri berhubungan dengan penekanan jaringan ditandai oleh skala nyeri 9 pada rentang 0-10 2. Harga diri rendah berhubungan dengan perubahan peran ditandai oleh sedih dan perasaan tidak bertanggung jawab 5.Kasus I (osteosarkoma) ↓ kerja peristaltik usus ↓ distensi lambung ↓ anorexia c. Diagnosa keperawatan 1. Gangguan activity daily living berhubungan dengan kelemahan otot ditandai oleh klien lemah 4. Rencanan asuhan keperawatan N o Diagnosa Tujuan Intervensi Rasional 41 . Risiko pemenuhan nutrisi klurang dari kebutuhan berhubungan dengan anorexia d.

ditandai oleh  skala nyeri 9 pada rentang 0-10 2. Penyebaran nyeri terjadi sebagai temuan pengkajian. ruangan 5.  Klien tidak mengalami gangguan tidur selama 3-4 jam di malam hari. Kaji tingkat nyeri dan beri rentang skala 110 2. intensitas. hipnotik. lama. Pemberian skala nyeri dapat membantu seberapa besar nyeri yang dirasakan klien. dan penyebaran. Imobilisasikan bagian yang terkena dengan bidai. misal: perubahan posisi. Gangguan Berkurangnya Mandiri: rasa nyaman: nyeri Nyeri berhubungan dengan penekanan jaringan setelah dilakukan tindakan klien 1. Dapat menurunkan ketidaknyamaa n fisik dan emosianal klien. 4. Catat karakteristik nyeri. 3. 42 . 3. Beri lingkungan yang nyaman dan tenang.Kasus I (osteosarkoma) 1. Lakukan teknik manajemen nyeri seperti massage.  Klien mengatakan dengan verbal nyeri berkurang. 5. Mengurangi nyeri dan spasme otot. 1. Mengurangi persepsi nyeri. distraksi. 4. relaksasi. keperawatan dengan kriteria: Tingkat nyeri berkurang pada skala 6 atau kurang dalam waktu 48 jam. lokasi.

43 . 8. Beri kesempatan klien berkomunikasi dengan keluarga. 7. dan kerabat dekat.Kasus I (osteosarkoma) yang tenang. Kolaborasi 9. 9. Mengarahkan kembali perhatian agar nyeri yang 7. rasa nyeri. tidak dirasakan. 6. sahabat. Menghilangkan nyeri dan menurunkan respon inflamasi. Beri obat analgesik. Keadaan emosional mempunyai dampak pada kemampuan klien untuk menangani nyeri. Berbicara dengan orangorang terdekat dapat membantu klien dalam proses penyembuhan dan mengalihkan 8. 6. Awasi respon emosional klien terhadap proses penyakit. Beri hiburan dan suasana gembira klien.

Kasus I (osteosarkoma) 2. Mengetahui kondisi nyata dari masalah klien. Mengurangi sumber infeksi yang ada dilingkungan 6. teratasi dengan kriteria:  Memakai antibiotika sesuai resep. apakah terapi antibiotik yang diberikan cocok dengan klien Kolaborasi 7. Mencegah perluasan infeksi ke tempat lainnya 5. Pemberian 7. Kaji patologi penyakit dan potensial perluasan infeksi. Antibiotik dapat 44 . Perluasan infeksi berhubungan dengan invasi mikroorganis me oleh ditandai Infeksi luka pada Mandiri: dapat 1. Menentukan intervensi selanjutnya luka  perkembanga n tumor 3. Perawatan luka dengan teknik steril 4. Pantau respons 6. 1. Nutrisi yang baik dapat mempertahanka n daya tubuh klien  Tidak ada pus. Tidak ada pembengkak an. 2. 2. 4. Pantau kesehatan urnum dan 3. Mengetahui pasien terhadap terapi antibiotika. nutrisi pasien. Pantau tandatanda infeksi. Anjurkan klien untuk menjaga personal hygien 5.

Masukan nutrisi yang adekuat perlu untuk memenuhi kebutuhan energy selama 45 . Dorong masukan nutrisi 4.Kasus I (osteosarkoma) antibiotik menghambat kerja mikroorganism e 3. Pantau respon fisiologis terhadap aktivitas yaitu TTV 3. keseimbangan cairan. dan reaksi terhadap aturan teraputik 4. status nutrisi. buang air kecil (BAK). air besar (BAB). makan dan 3. Kaji kekuatan otot klien daily 1. Dorong klien dengan kriteria: untuk Klien dapat melakukan apa saja yang mungkin klien lakukan Buang 2. Meningkatkan kekuatan atau stamina dan menjadikan klien aktif otot ditandai melaksanakan oleh lemah klien mandi. Gangguan Klien dapat 1. Mengetahui intervensi selanjutnya activity daily melakukan living berhubungan dengan kelemahan activity living mandiri 2. Toleransi klien berrvariasi bergsntung pada tahap proses penyakit.

Diskusikan dengan klien atau orang terdekat 2. lebih sehingga terjalin berhubungan dengan perubahan peran dengan kriteria Klien menerima keaadaanya bisa memudahkan perawat untuk menganalisis perasaan pasien. ditandai oleh Klien sedih perasaan tidak bertanggung jawab dan merasa sedih 2. Harga rendah diri Klien percaya merasa 1. Dorong klien untuk melakukan latihan gerak sendi (ROM) kontraktur sendi 6. Mencegah 5. Ajarkan klien bagaimana untuk memakai alat bantu/kursi roda dengan tepat 4. Penggunaan alat bantu atau kursi roda dapat membantu klien dalam melakukan aktivitas sendiri. 6. Dorong anak diri untuk mengungkapka n perasaannya. pikiran. atau pandangannya mengenai diri sendiri 1. terutama tentang tidak perasaannya.Kasus I (osteosarkoma) aktivitas 5. Membantu dalam memastikan masalah untuk 46 .

Kasus I (osteosarkoma) bagaimana diagnosis dan pengobatan yang mempengaruhi kehidupan pribadi dan aktivitas kerja memulai proses pemecahan masalah 3. Klien membutuhkan dukungan pada periode pengobatan 5. Dapat membantu menurunkan maslah yang mempengaruhi penerimaan 4. Gunakan sentuhan selama interaksi. Berikan dukungan dan motivasi emosi untuk klien atau orang terdekat selama fase pengobatan 4. bila dapat diterima klien dan pertahankan kontak mata 5. Memastikan individualitas dan penerimaan penting dalam menurunkan perasaan klien tentang kertidakamana dan keraguan diri 47 . Dorong klien mendiskusikan tentang masalah efek kanker 3.

Datangkan orang yang menderita penyakit yang sama 8. Mendekatkan diri kepada Tuhan Yang Maha Pengasih dan tabah menghadapi penyakit 8. Pantau intake makanan setiap hari. biarkan klien menyimpan buku harian tentang makanan sesuai indikasi 1. Membantu dalam 48 . Mengidentifika si kekuatan atau defisiensi nutrisi klurang dari dengan kriteria kebutuhan berhubungan dengan anorexia Berat badan tidak mengalami penurunan 2. Risiko pemenuhan nutrisi Kebutuhan nutria terpenuhi klien 1. berat 2. Ajarkan klien untuk melakukan tindakan spiritual 7. Ukur tinggi badan. Evaluasi struktur pendukung yang ada dan digunakan oleh klien atgau orang terdekat 6.Kasus I (osteosarkoma) 6. Klien tidak merasa hanya dirinya yang menderita kanker 5. Membantu merencanakan perawatan saat dirumah 7.

Dapat meningkatkan respon mual atau muntah 6. Berikan makan sedikit dan frekuensi sering dan/atau makan diantara waktu makan. missal bau atau tidak sedap atau bising. Observasi dan catat masukan makanan 6. 3. Untuk meningkatkan nafsu klien. Kontrol faktor lingkungan. khususnya bila BB pengukuran antropometi kurang normal dari dan 3.Hindari makanan terlalu manis. Makan sedikit dapat menurunkan kelemahan dan meningkatkan peamasukan juga mencegah distensi gaster. Mengawasi masukan kalori atau kualitas 49 . Sajikan makanan dalam tampilan menarik 4. 4. dan ketebalan lipatan kulit trissep atau dengan antropometrik lainya identifikasi malnutrisi protein-kalori.Kasus I (osteosarkoma) badan. berlemak atau maklanan pedas 5. makan 5.

Farmakologi-Nonfarmako a. 50 . klien tidak mungkin makan selama 2 minggu 2. Malnutrisi berat (Kehilangan berat badan 2530% dalam dua bulan). Berikan diet Tinggi Kalori Tinggi Protein 7.Kasus I (osteosarkoma) pasien. 7. Radioterapi Radiasi dengan energi tinggi merupakan suatu cara untuk eradikasi tumor ganas yang radio-sensitif dan dapat juga sebagai penatalaksanaan awal sebelum tindakan operasi dilakukan. Untuk memenuhi kebutuhan nutrisi klien 8. Radioterapi dilakukan pada keadaan yang in-operable. kekeurangan konsumsi Kolaborasi makanan. Untuk mennentukan diet yang tepat 9. Konsultasikan dengan ahli gizi 8. Pasang NGT 9. Kombinasi radioterapi dapat pula diberikan bersama dengan kemoterapi.

c. penanganan meliputi hidrasi dengan pemberian cairan salin normal. Pembedahan dapat diindikasikan pada fraktur tulang panjang. Pengembalian mobilitas fisik ROM (Range of Motion) Jenis-jenis ROM :  Latihan aktif : latihan yang dilakukan dengan tenanga pasien tanpa dibantu perawat. perawat hanya menginstruksikan cara latihan ROM.    Latihan pasif : latihan ROM yang dibantu oleh perawat. Penanganan kanker tulang metastasis adalah paliatif. 51 . siklofosfamid.Kasus I (osteosarkoma) misalnya adanya metastasis atau keadaan local yang tidak memungkinkan untuk tindakan operasi. Bila perlu. tulang besar dengan lesi metastasis dapat diperkuat dengan fiksasi internal profilaksis. dan sasaran terapeutiknya adalah mengurangi nyeri dan ketidaknyamanan klien sebanyak mungkin. Pemberian kemoterapi biasanya pada pra/pasca operasi. sisplatinum. vinkristin. Obat-obatan yang dipergunakan adalah metotreksat. Terapi tambahn disesuaikan dengan metode yang digunakan untuk menangani kanker asal. Latihan isometri : latihan dengan panjang otot tidak berubah tetapi otot tonus yang ditingkatkan. Biasanya bila skala otot 4-5. Kemoterapi Kemoterapi merupakan penatalaksanaan tambahan pada tumor ganas tulang dan jaringan lunak. Latihan resistif : latihan dengan pemendekan otot dan otot tonus ditingkatkan (angkat beban). Fiksasi internal fraktur patologis dapat mengurangi kecacatan dan nyeri yang timbul. b. Bila terdapat hiperkalsemia. Biasanya bila kekuatan otot skala 1-3. adriamisin.

ROM. melakukan dorongan sementara dalam posisi terlentang dan sit up ketika duduk akan memperkuat otot trisep. Klien belajar jalan dengan tongkat atau pun dengan kaki palsu.  Eksisi luas: tumor dikeluarkan secara utuh disertai jaringan di sekitar tumor. Biasanya pada pasien bedrest total. yaitu:   Intralesional atau intrakapsular Eksisi marginal: pengeluaran tumor diluar dari kapsulnya. paralisis sebagian atau total dengan instruksi perawat. 52 .Kasus I (osteosarkoma)  Latihan aktif asistif : latihan ROM dengan menggunakan bagian tubuh pasien yang sehat sebagai ROM aktif dan bagian tubuh pasien yang sehat sebagai ROM pasif.Pembentukan dan pengondisian sisa tungkai : Pembalutan dan masase. 3.  Operasi radikal: dilakukan seperti pada eksisi luas dan ditambah dengan pengeluaran seluruh tulang serta sendi dan jaringan sebagai satu bagian yang utuh. Terapi ini hanya untuk tumor jinak atau tumor ganas low grade malignancy. . Dilakukan pada tumor ganas dan biasanya dikombinasikan dengan pemberian kemoterapi atau radioterapi pada pra atau pasca operasi. Cara ini biasanya berupa amputasi anggota gerak diatasnya dan disertai pengeluaran sendi atasnya. dll. Pembedahan Eksisi tumor melalui operasi dapat dilakukan dengan beberapa teknik.Latihan pasca operasi : Latihan Rentang gerak. . serta posisi-posisi tang benar. Klien memfleksikan dan mengekstensikan lengan saat membawa beban berat.

Price. Nelson ilmu kesehatan anak ed. 2000. Jakarta : EGC. Robbins. Hlm : 123-136. Kamus Kedokteran : Arti dan Keterangan Istilah.7.edisi-2. Buku Ajar Patologi volum. A.15. Jakarta : EGC. Kliegmen & Arvin. Syaifuddin. Jakarta : EGC. Jakarta : EGC. A. Konsep dan penatalaksanaan nyeri. Buku 2 Patosifiologi.2 ed. Anatomi fisiologi untuk siswa perawat. Jakarta : EGC. Sylvia A. 1995. (2000). (1997).Kasus I (osteosarkoma) DAFTAR PUSTAKA Behrman. Jakarta : Djambatan. Ramali. (2007). Hlm 1-63 53 . 2007. Tamsuri.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful