ANALISIS FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI PRAKTIK PERATAAN LABA (INCOME SMOOTHING) PADA PERUSAHAAN MANUFAKTUR DAN KEUANGAN

YANG TERDAFTAR DI BURSA EFEK JAKARTA
26 10 2007 ANALISIS FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI PRAKTIK PERATAAN LABA (INCOME SMOOTHING) PADA PERUSAHAAN MANUFAKTUR DAN KEUANGAN YANG TERDAFTAR DI BURSA EFEK JAKARTA

Oleh: Frinta Pratamasari 0110230059

Dosen Pembimbing: Drs. Ali Djamhuri, SE, M.Com, Ak.

ABSTRAKSI

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi praktik perataan laba pada perusahaan manufaktur dan keuangan yang terdaftar di Bursa Efek Jakarta (BEJ). Faktor-faktor yang diuji adalah ukuran perusahaan, profitabilitas, financial leverage, sektor industri dan status kepemilikan saham. Indeks Eckel (1981) digunakan untuk mengukur praktik perataan laba dengan laba bersih setelah pajak sebagai obyek perataan laba. Sampel penelitian ini diseleksi berdasarkan purposive/judgement sampling. Sampel penelitian ini adalah 98 yang terdaftar di BEJ selama periode 4 tahun (20012004), terdiri dari 72 perusahaan manufaktur dan 26 perusahaan keuangan dengan total sub sampel sebanyak 392 laporan keuangan. Pengujian univariate (independent t-test,

Hasil pengujian multivariate menunjukkan bahwa ukuran perusahaan. Kata Kunci : praktik perataan laba. THE ANALYSIS OF FACTORS INFLUENCING THE INCOME SMOOTHING PRACTICE OF MANUFACTURING AND FINANCIAL COMPANIES LISTED AT JAKARTA STOCK EXCHANGE By: Frinta Pratamasari 0110230059 Counselor Lecture: Drs. ABSTRACT . SE. financial leverage. sektor industri dan status kepemilikan saham secara serentak berpengaruh signifikan terhadap praktik perataan laba. Hasil pengujian secara parsial menunjukkan bahwa hanya profitabilitas dan sektor industri yang berpengaruh signifikan terhadap praktik perataan laba.Com. hanya variabel profitabilitas dan sektor industri yang mempengaruhi praktik perataan laba. M. Hasil pengujian univariate menunjukkan bahwa variabel profitabilitas dan sektor industri berpengaruh signifikan terhadap praktik perataan laba. profitabilitas. Hasil perhitungan indeks Eckel (1981) menunjukkan bahwa praktik perataan laba juga dilakukan oleh perusahaan manufaktur dan keuangan yang terdaftar di BEJ.Man-Whitney test dan chi-square test) serta pengujian multivariate (regresi logistik) digunakan untuk mengidentifikasi faktor-faktor yang mempengaruhi praktik perataan laba. sektor industri dan status kepemilikan saham. profitabilitas. Ak. sehingga dapat disimpulkan bahwa dari lima variabel bebas yang diuji. Ali Djamhuri. financial leverage. ukuran perusahaan.

Untuk itu. Partial test showed that only profitability and industrial sector influencing income smoothing practice. profitability. financial leverage. Man-Whitney test and chi-square test) and multivariate test (logistic regression) were used to identify the factors affecting the income smoothing practice. Akhirnya. Latar Belakang Ketatnya persaingan dalam dunia bisnis menjadi pemicu yang kuat bagi manajemen perusahaan untuk menampilkan performa terbaik dari perusahaan yang dipimpinnya. BAB I PENDAHULUAN I. profitability. from five independent variables being examined. Eckel’s Index (1981) was used to determine the incidence of income smoothing practice with net profit after tax as the object of income smoothing. only profitability and industrial sector are affecting the income smoothing practice. The result of Eckel’s Index (1981) showed that income smoothing is also practiced by manufacturing and financial companies listed at JSX. Laporan keuangan merupakan sarana utama melalui mana informasi keuangan dikomunikasikan kepada pihak-pihak di luar perusahaan. The samples of this research selected by purposive/ judgement sampling. in conclusion. The result of univariate test showed that profitability and industrial sector are having significance influence on income smoothing practice. with total sub samples of 392 financial statements. Selain bertanggung jawab untuk menampilkan performa terbaik perusahaan.The objective of this research is to examine factors that influencing income smoothing practice among manufacturing and financial companies listed at Jakarta Stock Exchange (JSX). industrial sector and ownership status. laporan . hal ini mempengaruhi ketersediaan dan besarnya dana yang bisa dimanfaatkan perusahaan beserta tinggi rendahnya Cost Of Capital (COC) yang harus ditanggungnya. consist of 72 manufacturing companies and 26 financial companies. size. manajemen juga bertanggung jawab untuk menyediakan laporan keuangan bagi semua pihak yang berkepentingan dengan informasi akuntansi perusahaan. Univariate test (independent t-test. financial leverage. industrial sector and ownership status. The factors being examined were size. The samples were 98 companies listed at JSX for four years period (2001-2004).1. Key Words : income smoothing practice. industrial sector and ownership status simultaneously having a significance influence on income smoothing practice. profitability. financial leverage. karena baik buruknya performa perusahaan akan berdampak terhadap nilai pasar perusahaan di pasar dan juga mempengaruhi minat investor untuk menanam atau menarik investasinya dari sebuah perusahaan. The multivariate test showed that size.

Pentingnya informasi laba ini disadari oleh manajemen.keuangan harus mampu menggambarkan posisi keuangan dan hasil-hasil usaha perusahaan pada saat tertentu secara wajar (Dwiatmini dan Nurkholis. 2003). 2004). Informasi laba secara umum menjadi perhatian utama dalam penaksiran kinerja atau pertanggungjawaban manajemen. Praktik perataan laba merupakan fenomena yang umum terjadi sebagai usaha manajemen untuk mengurangi fluktuasi laba yang dilaporkan (Narsa. 2001). sehingga manajemen cenderung melakukan disfunctional behaviour ( perilaku tidak semestinya ). penjelasan konsep perataan laba juga menggunakan pendekatan teori keagenan (agency theory). manajer mempunyai asimetri informasi terhadap pihak eksternal perusahaan. Asimetri informasi antara agent dan principal dapat memicu manajer umtuk melakukan disfuctional behaviour. Konflik keagenan akan muncul apabila masing-masing pihak mempunyai perbedaan kepentingan dan ingin memperjuangkan kepentingan masing-masing. yaitu dengan melakukan perataan laba untuk mengatasi berbagai konflik yang timbul antara manajemen dengan berbagai pihak yang berkepentingan dengan perusahaan (Sugiarto.2000). Topik perataan penghasilan (income smoothing) terkait erat dengan konsep manajemen laba (earnings management). 2000). Informasi laba ini juga membantu pemilik atau pihak lain untuk melakukan penaksiran atas kekuatan laba perusahaan di masa yang akan datang (Harahap..1976). seringkali tidak penting untuk melaporkan laba maksimal. manajer dapat menggunakan informasi yang diketahuinya untuk memanipulasi laporan keuangan sebagai usaha untuk memaksimalkan kemakmurannya (Salno dan Baridwan. 1989). . Bagi manajemen. 2000). Laporan keuangan yang diterbitkan oleh perusahaan adalah salah satu sumber informasi mengenai posisi keuangan perusahaan. 2003). Hubungan keagenan muncul ketika seorang individu atau lebih yang disebut pemilik (principal) memperkerjakan individu yang lain atau organisasi (agent) untuk melaksanakan pekerjaan dan kemudian mendelegasikan otoritas pengambilan keputusan kepada agen tersebut (Jensen dan Meckling. Tindakan perataan penghasilan bersih atau laba merupakan tindakan yang umum atau rasional (Jatiningrum. Seperti halnya manjemen laba. Asimetri informasi terjadi ketika manajer memiliki informasi internal perusahaan relatif lebih banyak dan mengetahui informasi tersebut relatif lebih cepat dibandingkan dengan pihak eksternal. 2003). 2000). Dalam hubungan keagenan. 1995). Salah satu informasi yang sangat penting untuk pengambilan keputusan adalah informasi atas laba. seperti kreditur dan investor. kinerja serta perubahan posisi keuangan perusahaan yang sangat berguna untuk pengambilan keputusan yang tepat (Almilia dan Kristiaji. Tindakan perataan laba adalah suatu sarana yang dapat digunakan manajemen untuk mengurangi fluktuasi pelaporan penghasilan dan memanipulasi variabel-variabel (akuntansi) semu atau dengan melakukan transaksitransaksi riil (Brayshaw dan Eldin. Dalam kondisi tersebut. dkk. Teori ini menyatakan bahwa manajemen laba dipengaruhi oleh konflik kepentingan antara manjemen (agent) dengan pemilik (principal) yang timbul ketika setiap pihak berusaha untuk mencapai atau mempertahankan tingkat kemakmuranya (Salno dan Baridwan. Disfunctional behaviour tersebut dipengaruhi oleh adanya asimetri informasi (information asymetry) dalam konsep teori keagenan ( agency theory ). Kesenjangan informasi antara kedua belah pihak memicu munculnya perataan penghasilan (Fudenberg dan Tirole. bahkan manajemen lebih cenderung melaporkan laba yang dianggap normal bagi perusahaan untuk beberapa periode (Samlawi dan Sudibyo.

Samlawi dan Sudibyo. Di Indonesia penelitian sejenis telah dilakukan oleh Jin dan mahfoedz (1998). Perbedaan penelitian ini dengan penelitian tersebut adalah : 1. Perataan laba tidak akan terjadi jika laba yang diharapkan tidak terlalu berbeda dengan laba yang sesungguhnya (Prasetio. Murtanto (2004). 2. Selain itu. terbukti bahwa kedua sektor perusahaan tersebut paling banyak melakukan praktik perataan laba (Salno dan Baridwan. Faktor-faktor pendorong perataan laba dapat dibedakan atas faktor konsekuensi ekonomi dari pilihan akuntansi dan faktor-faktor laba. 3. Perataan laba dalam laporan keuangan merupakan hal yang biasa dan dianggap masuk akal (Bartov. Penelitian tentang faktor-faktor yang mempengaruhi praktik perataan laba telah dilakukan baik di luar negeri maupun di Indonesia. (2003). 2002 ). Leverage operasi dan status perusahaan.(1994) dalam Jatiningrum (2000) di Singapura. Penelitian ini merupakan replikasi dan pengembangan (expand replicant) dari penelitian Yusuf dan Soraya (2004).Tindakan perataan laba ini menyebabkan pengungkapan informasi mengenai penghasilan bersih/laba menjadi menyesatkan. Sedangkan faktor-faktor laba adalah pengaruh dari angka-angka laba periodik yang dengan sendirinya juga mendorong perilaku perataan laba. berdasarkan hasil penelitian terdahulu. antara lain oleh Ashari dkk. Sampel penelitian tidak hanya terbatas pada perusahaan manufaktur. praktik perataan laba dan faktor-faktor yang mempengaruhinya tetap menarik untuk diteliti mengingat tidak konsistennya hasil-hasil penelitian sebelumnya. dkk. 2001). Jatiningrum (2000). Faktor-faktor konsekuensi dari pilihan akuntansi merupakan kondisi yang dipengaruhi oleh angka-angka akuntansi . Penelitian ini menambahkan variabel sektor industri sebagai salah satu variabel yang diduga dapat mempengaruhi praktik perataan laba. Tindakan perataan laba mengakibatkan pengungkapan dalam laporan keuangan menjadi tidak memadai (Dwiatmini dan Nurkholis. Perataan laba menjadi suatu hal yang merugikan investor. Variabel leverage dalam penelitian ini diukur dengan financial leverage bukan operating leverage. Hutang yang besar berarti rasio leverage yang . Praktik perataan laba didorong oleh berbagai faktor. yaitu : ukuran perusahaan. Michelson et al. 1993). sehingga perubahan akuntansi yang mempengaruhi angka-angka akuntansi akan mempengaruhi kondisi itu. serta Yusuf dan Soraya (2004). karena investor tidak akan memperoleh informasi yang akurat mengenai laba untuk mengevaluasi tingkat pengembalian dari portofolionya. Narsa. khususnya pihak eksternal (Jatiningrum. 2004). serta Lidenbergh dan Andersson (2001) di Swedia. 200 ). 2000. sehingga akan mengakibatkan terjadinya kesalahan dalam pengambilan keputusan oleh pihak-pihak yang berkepentingan dengan perusahaan. profitabilitas. Dascher dan Malcom (1970). Hal ini berdasarkan alasan bahwa financial leverage menunjukkan seberapa efisien perusahaan memanfaatkan ekuitas pemilik dalam rangka mengantisipasi hutang jangka panjang dan jangka pendek perusahaan sehingga tidak akan mengganggu operasi perusahaan secara keseluruhan dalam jangka panjang (Andhini. (1995) di Amerika Serikat. Namun. 2005). Hal ini berdasarkan pertimbangan bahwa jumlah perusahaan publik yang termasuk dalam sektor manufaktur dan keuangan terlihat mendominasi keseluruhan perusahaan yang terdaftar di BEJ (Murtanto. Albrecht dan Richardson (1990). Salno dan Baridwan (2000). tetapi juga perusahaan keuangan (Finansial). 2000). Hal ini berbeda dengan penelitian Yusuf dan Soraya (2004) yang hanya menguji 4 variabel.. Fenomena ini merupakan dampak negatif asimetri informasi dalam konsep teori keagenan. Samlawi dan Sudibyo (2000).dkk.

Perumusan Masalah 1. maka risiko yang ditanggung oleh pemilik modal juga akan semakin meningkat (Widyaningdyah. 1.4. yaitu sejak tahun 2001 sampai dengan tahun 2004. 2001).besar. . Apakah status kepemilikan saham berpengaruh secara signifikan terhadap praktik perataan laba? 1. Jadi semakin besar leverage. Apakah ukuran perusahaan berpengaruh secara signifikan terhadap praktik perataan laba? 3. Penelitian ini menggunakan periode pengamatan yang berbeda dengan penelitian sebelumnya. Apakah profitabilitas berpengaruh secara signifikan terhadap praktik perataan laba? 4. 1. Penelitian ini dilakukan karena adanya hasil-hasil yang tidak konsisten dari penelitian-penelitian sebelumnya mengenai faktor-faktor yang mempengaruhi .dkk. 4. sektor industri dan status kepemilikan saham berpengaruh signifikan terhadap praktik perataan laba. Hutang yang besar mengakibatkan risiko semakin meningkat. profitabilitas. penelitian ini terbatas untuk mengetahui ada tidaknya praktik perataan laba pada perusahaan-perusahaan yang termasuk dalam kedua sektor tersebut. Batasan Masalah Penelitian ini hanya terbatas pada perusahaan yang termasuk dalam sektor manufaktur dan keuangan yang telah go public di Bursa Efek Jakarta (BEJ) selama kurun waktu pengamatan dari tahun 2001 sampai dengan tahun 2004.3. Motivasi Penelitian 1. Selain itu. sehingga dapat memicu adanya tindakan perataan laba (Narsa. Rasio leverage yang besar menyebabkan turunnya minat investor untuk menanamkan modalnya pada perusahaan tersebut.2. Apakah sektor industri berpengaruh secara signifikan terhadap praktik perataan laba? 6.2003). serta untuk menguji apakah faktor-faktor ukuran perusahaan. financial leverage. Apakah financial leverage berpengaruh secara signifikan terhadap praktik perataan laba? 5. Apakah perusahaan manufaktur dan keuangan yang terdaftar di BEJ melakukan praktik perataan laba? 2.

Dunia penelitian dan akademis Dapat menambah literatur mengenai faktor-faktor yang mempengaruhi praktik perataan laba pada perusahaan publik di Indonesia. Selain itu. sehingga isu mengenai praktik perataan laba dan faktorfaktor yang mempengaruhinya masih menjadi topik yang menarik untuk diteliti. financial leverage. sektor industri dan status status kepemilikan saham berpengaruh secara signifikan terhadap praktik perataan laba.6. Investor dan masyarakat Dapat memberikan gambaran mengenai praktik perataan laba pada perusahaan sektor manufaktur dan keuangan yang terdaftar di BEJ. penelitian ini juga bertujuan untuk mengetahui apakah variabel ukuran perusahaan. penelitian ini diharapkan dapat memacu penelitian yang lebih baik mengenai praktik perataan laba pada masa yang akan datang. Sehingga investor maupun masyarakat dapat membuat keputusan investasi yang tepat. 1. Peneliti Menambah pengetahuan mengenai faktor-faktor yang mempengaruhi praktik perataan laba pada perusahaan-perusahaan publik di Indonesia. Faktor-faktor yang mempengaruhi praktik perataan laba perlu terus diteliti agar dapat memberikan petunjuk dan dasar pertimbangan bagi para stakeholder untuk mengambil berbagai keputusan bisnis. khususnya perusahaan yang termasuk dalam sektor Manufaktur dan sektor Keuangan. Selain itu. 2. 3. . Manfaat Penelitian Hasil penelitian ini diharapkan dapat bermanfaat bagi : 1.praktik perataan laba.smoothing).5. 1. profitabilitas. Tujuan Penelitian Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui apakah perusahaan-perusahaan sektor manufaktur dan keuangan yang terdaftar di BEJ melakukan praktik pertaan laba (income. 2.