You are on page 1of 12

http://kolom-biografi.blogspot.com/2009/01/biografi-imam-hanafi.htmlhttp://kolombiografi.blogspot.

com/2009/01/biografi-imam-hanafi.html Biografi Imam Hanafi Imam Abu Hanifah yang dikenal dengan dengan sebutan Imam Hanafi bernama asli Abu Hanifah Nu‟man bin Tsabit Al Kufi, lahir di Irak pada tahun 80 Hijriah (699 M), pada masa kekhalifahan Bani Umayyah Abdul Malik bin Marwan. Beliau digelari Abu Hanifah (suci dan lurus) karena kesungguhannya dalam beribadah sejak masa kecilnya, berakhlak mulia serta menjauhi perbuatan dosa dan keji. dan mazhab fiqhinya dinamakan Mazhab Hanafi. Gelar ini merupakan berkah dari doa Ali bin Abi Thalib r.a, dimana suatu saat ayahnya (Tsabit) diajak oleh kakeknya (Zauti) untuk berziarah ke kediaman Ali r.a yang saat itu sedang menetap di Kufa akibat pertikaian politik yang mengguncang ummat islam pada saat itu, Ali r.a mendoakan agar keturunan Tsabit kelak akan menjadi orang orang yang utama di zamannya, dan doa itu pun terkabul dengan hadirnya Imam hanafi, namun tak lama kemudian ayahnya meninggal dunia.

Pada masa remajanya, dengan segala kecemerlangan otaknya Imam Hanafi telah menunjukkan kecintaannya kepada ilmu pengetahuan, terutama yang berkaitan dengan hukum islam, kendati beliau anak seorang saudagar kaya namun beliau sangat menjauhi hidup yang bermewah mewah, begitu pun setelah beliau menjadi seorang pedagang yang sukses, hartanya lebih banyak didermakan ketimbang untuk kepentingan sendiri. Disamping kesungguhannya dalam menuntut ilmu fiqh, beliau juga mendalami ilmu tafsir, hadis, bahasa arab dan ilmu hikmah, yang telah mengantarkannya sebagai ahli fiqh, dan keahliannya itu diakui oleh ulama ulama di zamannya, seperti Imam hammad bin Abi Sulaiman yang mempercayakannya untuk memberi fatwa dan pelajaran fiqh kepada murid muridnya. Keahliannya tersebut bahkan dipuji oleh Imam Syafi‟i ” Abu Hanifah adalah bapak dan pemuka seluruh ulama fiqh “. karena kepeduliannya yang sangat besar terhadap hukum islam, Imam Hanafi kemudian mendirikan sebuah lembaga yang di dalamnya berkecimpung para ahli fiqh untuk bermusyawarah tentang hukum hukum islam serta menetapkan hukum hukumnya dalam bentuk tulisan sebagai perundang undangan dan beliau sendiri yang mengetuai lembaga tersebut. Jumlah hukum yang telah disusun oleh lembaga tersebut berkisar 83 ribu, 38 ribu diantaranya berkaitan dengan urusan agama dan 45 ribu lainnya mengenai urusan dunia. Metode yang digunakan dalam menetapkan hukum (istinbat) berdasarkan pada tujuh hal pokok : 1. Al Quran sebagai sumber dari segala sumber hukum. 2. Sunnah Rasul sebagai penjelasan terhadap hal hal yang global yang ada dalam Al Quran. 3. Fatwa sahabat (Aqwal Assahabah) karena mereka semua menyaksikan turunnya ayat dan mengetahui asbab nuzulnya serta asbabul khurujnya hadis dan para perawinya. Sedangkan fatwa para tabiin tidak memiliki kedudukan sebagaimana fatwa sahabat. 4. Qiyas (Analogi) yang digunakan apabila tidak ada nash yang sharih dalam Al Quran, Hadis maupun Aqwal Asshabah. 5. Istihsan yaitu keluar atau menyimpang dari keharusan logika menuju hukum lain yang menyalahinya dikarenakan tidak tepatnya Qiyas atau Qiyas tersebut berlawanan dengan Nash. 6. Ijma‟ yaitu kesepakatan para mujtahid dalam suatu kasus hukum pada suatu masa tertentu. 7. „Urf yaitu adat kebiasaan orang muslim dalam suatu masalah tertentu yang tidak ada nashnya dalam Al Quran, Sunnah dan belum ada prakteknya pada masa sahabat. Karya besar yang ditinggalkan oleh Imam hanafi yaitu Fiqh Akhbar, Al „Alim Walmutam dan Musnad Fiqh Akhbar.

Saat masih kecil. cerdas. tidak senang membicarakan hal-hal yang tak berguna. Ada yang menyatakan. Menurut riwayat.CO. . Imam Hanafi kemudian menjadi seorang ahli dalam bidang ilmu fikih dan menguasai bebagai bidang ilmu agama lain. seperti ilmu tauhid. Pedagang Minyak Imam Hanafi lahir pada tahun 80 Hijriah bertepatan dengan 699 Masehi di sebuah kota bernama Kufah. Hanafi hidup dalam keluarga yang saleh. karena sejak kecil ia sangat tekun belajar dan menghayati setiap yang dipelajarinya sehingga ia dianggap seorang yang hanif (sikap yang lurus) pada agama. di samping ilmu kesusastraan dan hikmah. pemerintah kekhalifahan Islam dipimpin oleh Abdul Malik bin Marwan.” Kisah ini juga pernah dituturkan Ismail bin Hamad bin Abu Hanifa. Ia punya garis keturunan Persia. “Tidak seorang pun mencari ilmu fikih kecuali dari Abu Hanifah. jelas. Hanafi biasa ikut rombongan pedagang minyak dan kain sutera.http://www. Tutur katanya santun. yang berarti ayah dari si Hanifah. cucu Imam Hanafi. Imam Hanafi pernah diajak oleh ayahnya. yang berarti satu-satunya imam mazhab yang bukan orang Arab. Ada pula yang menerjemahkan kata “hanifah” berarti tinta dalam bahasa Persia. di dalam Islam tidak mengenal perbedaan antara orang Arab dan bukan Arab. ilmu hadits. Dalam perjalanan waktu.id/berita/pendidikan/eduads/12/03/09/m0louo-pendiri-mazhab-imam-hanafi-daripedagang-menjadi-imam-besar-1 REPUBLIKA. Tak sebatas menguasai banyak bidang ilmu. ia juga masyhur disebut Abu Hanifah. Doa Ali bin Ali Thalib ternyata terbukti. bertemu dengan Ali bin Ali Thalib. para ahli sejarah punya beragam pandangan. Yazid bin Harun berujar. Selalu tampil rapi dengan aroma harum yang menyerbak. Begitulah gambaran sosok Imam Hanafi. ia juga dikenal dapat menyelesaikan masalah-masalah sosial keagamaan yang rumit. Sejatinya namanya adalah Nu’man bin Tsabit bin Marzaban Al-Farisi. salah satu imam mazhab dalam dunia Islam. berwibawa. bergelar Al-Imam Al-A'zham. baik dalam pergaulan. dan indah bagai mutiara. “Mudah-mudahan di antara keturunan Tsabit ada yang menjadi orang baik-baik dan berderajat luhur. Ketika lahir. Ini berkaitan dengan kebiasaan beliau yang selalu membawa tinta ke manapun pergi. Tsabit. Postur tubuhnya ideal.ID. Sebelum Imam Hanafi kembali ke negerinya. Ali bin Ali Thalib berdoa untuknya. Pandangan lain menyebut.republika. Sebab itu. ia diberi julukan dengan Abu Hanifah. Semua imam mazhab berjuang untuk menegakkan ajaran Alquran dan sunah Nabi SAW. ilmu kalam. kemasyhuran nama itu karena ia memiliki seorang anak lakilaki yang bernama Hanifah. Soal nama ini. Sudah hafal Alquran sejak masih usia kanak-kanak dan merupakan orang pertama yang menghafal hukum Islam dengan cara berguru. Ucapannya sesuai apa yang datang dari Rasulullah SAW dan apa yang datang dari para sahabat. Bahkan dia memiliki toko untuk berdagang kain. keturunan kelima Bani Umaiyyah. Selain dikenal dengan nama Imam Hanafi. Namun. Penuh kasih sayang. “Saya tidak melihat seorang pun yang lebih cerdas dari Imam Abu Hanifah.” Kalimat yang hampir sama juga terlontar dari Imam Syafi'i.co.

Kemudian masyhur dengan gelaran Imam Hanafi. kerana menurut Imam Hanafi kalau kemungkaran itu tidak dicegah. . Kerana ia mempunyai seorang anak laki-laki yang bernama Hanifah.id/tokoh-islam/imam-abu-hanifah-80-150h. Menurut bahasa Persia. Ia tidak mahu menerima kedudukan tinggi tersebut. Kumpulan pertama adalah terdiri orang-orang yang baik-baik sementara kumpulan kedua terdiri dari yang jahat-jahat. ilmu tauhid. 2. Sifat Imam Hanafi yang lain adalah menolak kedudukan tinggi yang diberikan pemerintah kepadanya. Kerana itu ia dinamakan Abu Hanifah. Waktu ia dilahirkan. beliau mengerti betul tentang ilmu fiqih. Gubernur di Iraq pada waktu itu berada di tangan Yazid bin Hurairah Al-Fazzari. Dengan keberaniannya itu beliau selalu mencegah orang-orang yang melakukan perbuatan mungkar. maka seluruh penghuni bahtera itu akan binasa. Kerana semenjak kecilnya sangat tekun belajar dan menghayati setiap yang dipelajarinya. bukan orang yang berbuat kejahatan itu saja yang akan merasakan akibatnya. namun tetap ditolaknya. seluruh waktunya lebih banyak diisi dengan amal ibadah. Dalam empat mazhab yang terkenal tersebut hanya Imam Hanafi yang bukan orang Arab. Walaupun demikian orang-orang yang berjiwa jahat selalu berusaha untuk menganiaya beliau.kisah. ia pergi selalu membawa tinta. maka ia dianggap seorang yang hanif (kecenderungan/condong) pada agama. Ia menolak pangkat dan menolak wang yang dibelikan kepadanya. Sampai berulang kali Gabenor Yazid menawarkan pangkat itu kepadanya. Imam Hanafi adalah seorang hamba Allah yang bertakwa dan soleh. Jika beliau berdoa matanya bercucuran air mata demi mengharapkan keredhaan Allah SWT. Itulah sebabnya ia masyhur dengan gelaran Abu Hanifah.html Imam Hanafi dilahirkan pada tahun 80 Hijrah bertepatan tahun 699 Masehi di sebuah kota bernama Kufah. tetapi pengangkatan itu ditolaknya. Kalau kumpulan jahat ini mahu merosak bahtera dan kumpulan baik itu tidak mahu mencegahnya. melainkan semuanya. Pernah pada suatu ketika Imam Hanafi akan diangkat menjadi ketua urusan perbendaharan negara (Baitul mal). Nama yang sebenarnya ialah Nu‟man bin Tsabit bin Zautha bin Maha. pemerintahan Islam berada di tangan Abdul Malik bin Marwan. Kemasyhuran nama tersebut menurut para ahli sejarah ada beberapa sebab: 1. Kepandaian Imam Hanafi tidak diragukan lagi.web.id/tokoh-islam/imam-abu-hanifah-80-150-h. 3. Pendirian beliau sama dengan pendirian imam yang lain.web. Imam Abu Hanafih adalah seorang imam Mazhab yang besar dalam dunia Islam.kisah. Imam Hanafi sangat rajin menulis hadith-hadith. Di dalam penjara ia diseksa. Akibat dari penolakannya itu ia ditangkap dan dimasukkan ke dalam penjara. ilmu kalam. Tetapi sebaliknya jika kumpulan yang baik itu mahu mencegah perbuatan orang-orang yang mahu membuat kerosakan di atas bahtera itu. termasuk orang-orang yang baik yang ada di tempat tersebut Sebahagian dilukiskan dalam sebuah hadith Rasulullah SAW bahawa bumi ini diumpamakan sebuah bahtera yang didiami oleh dua kumpulan. dan juga ilmu hadith. Hanifah bererti tinta.htmlhttp://www. Beliau keturunan Persia atau disebut juga dengan bangsa Ajam. dari keturunan Bani Umaiyyah kelima. maka semuanya akan selamat. Untuk kebenaran ia tidak takut sengsara atau apa bahaya yang akan diterimanya. dipukul dan sebagainya. Di samping itu beliau juga pandai dalam ilmu kesusasteraan dan hikmah. Sifat keberanian beliau adalah berani menegakkan dan mempertahankan kebenaran. maka ia diberi julukan dengan Abu Hanifah. Selaku pemimpin ia tentu dapat mengangkat dan memberhentikan pegawai yang berada di bawah kekuasaannya. ke mana. iaitu sama-sama menegakkan Al-Quran dan sunnah Nabi SAW.http://www.

Oleh kerana itu ia diselidiki dan diancam akan dihukum dengan hukum dera.Pada waktu yang lain Gabenor Yazid menawarkan pangkat Kadi (hakim) tetapi juga ditolaknya. Ketika itu Imam Abu Hanifah telah berumur 56 tahun. Seolah-olah Imam Hanafi memusuhi pemerintah. setelah itu baru dibebaskan. Kepada mereka. sekalipun aku akan dibunuh oleh pihak kerajaan. Kemudian ditangkap lagi dan dijatuhi hukuman dera sebanyak 110 kali. ketua negara ketika itu berada di tangan Marwan bin Muhammad. dengan tidak dipukul. dari keturunan Umaiyyah ke tangan Abbasiyyah. Beberapa hari sesudah itu gabenor menawarkan menjadi kadi. Sampai ia dilepaskan kembali setelah cukup 110 kali cambukan. Pada tahun 132 H sesudah Abu Abbas meninggal dunia diganti dengan ketua negara yang baru bernama Abi Jaafar Al-Mansur. Kemudian dimasukkan ke dalam penjara selama dua minggu. saudara muda dari Abul Abbas as Saffah. ketua negaranya bernama Abu Abbas as Saffah. Ibnu Syblamah. Dengan tawaran tersebut. Salah satu di antaranya ialah Imam Ibnu Abi Laila. masing-masing diberi kedudukan rasmi oleh Gabenor. Suatu hari Imam Hanafi mendapat panggilan dari baginda Al-Mansur di Baghdad. kerana itu timbul rasa curiganya. Pada suatu hari Imam Hanafi dikeluarkan dari penjara kerana mendapat panggilan dari Al-Mansur. Kerana sikapnya itu. Kemudian pada tahun 132 H sesudah dua tahun dari hukuman tadi terjadilah pergantian pimpinan negara. Pada suatu hari Yazid memanggil para alim ulama ahli fiqih yang terkemuka di Iraq.” Kerana ia masih tetap menolak. maka diperintahkan kepada pengawal untuk menangkapnya. Gabenor dalam memutuskan jabatan itu disertai dengan sumpah. Lima belas hari kemudian baru dipukul sebanyak 14 kali pukulan. Imam Hanafi juga menerima ujian. Namun demikian Imam Hanafi tetap dengan pendiriannya. Ketika Imam Hanafi mendengar kata ancaman hukum dera itu Imam Hanafi menjawab: “Demi Allah.” Ketika ia berusia lebih dari 50 tahun. “Apakah engkau telah suka dalam keadaan seperti ini?” . Ulama ini sejak pemerintahan Abu Abbas as Saffah telah menjadi mufti kerajaan untuk kota Kufah. akhirnya ditangkap oleh gabenor. dikumpulkan di muka istananya. salah seorang pegawai negara bertanya: “Adakah guru tetap akan menolak kedudukan baik itu?” Dijawab oleh Imam Hanafi “Amirul mukminin lebih kuat membayar kifarat sumpahnya daripada saya membayar sumpah saya.” Demikian beraninya Imam Hanafi dalam menegakkan pendirian hidupnya. bahkan ia tetap tegas. Walaupun demikian ketika Imam Hanafi diseksa ia sempat berkata. Daud bin Abi Hind dan lain-lain. Pada saat itu para ulama yang terkemuka di Kufah ada tiga orang. Di antara mereka yang datang ketika itu adalah Ibnu Abi Laila. kemudian dimasukkan ke dalam penjara di Baghdad. “Jika Abu Hanifah tidak menerima pangkat itu nescaya ia akan dihukum dengan pukulan. “Hukuman dera di dunia lebih ringan daripada hukuman neraka di akhirat nanti. Sesampainya ia di istana Baghdad ia ditetapkan oleh baginda menjadi kadi (hakim) kerajaan Baghdad. Setiap hari didera sebanyak sepuluh kali pukulan. Baginda bertanya. Ketika itu gabenor menetapkan Imam Hanafi menjadi Pengetua jawatan Sekretari gabenor. bahawa ia tidak mahu menjadi pegawai kerajaan dan tidak mahu campur tangan dalam urusan negara.” Walaupun ada ancaman seperti itu. Ahli fikir yang cepat dapat menyelesaikan sesuatu persoalan. tetapi ia tetap menolak. Tugasnya adalah bertanggungjawab terhadap keluar masuk wang negara. Imam Hanafi tetap menolak jawatan itu. Kerana sikap Imam Hanafi itu. juga ditolaknya. supaya ia datang mengadap ke istana. Namanya masih tetap harum sebagai ulama besar yang disegani. Imam Abi Laila pun dilarang memberi fatwa. Rupanya Yazid tidak senang melihat sikap Imam Hanafi tersebut. aku tidak akan mengerjakan jabatan yang ditawarkan kepadaku.

baginda Abu Jaffar Al-Mansur memanggil tiga orang ulama besar ke istananya. iaitu Imam Abu Hanifah.geocities. saya telah menyatakan bahawa saya tidak patut memegang jawatan itu. jika saya benar.com/Athens/Acropolis/9672/imam4. Demikian juga fatwa-fatwa beliau dituliskan dalam kitab-kitab fikih oleh para murid dan pengikut beliau sehingga madzab Hanafi menjadi terkenal dan sampai saat ini dikenal sebagai salah satu madzab yang empat. tetapi Imam Sufyan tidak mahu menerimanya. kamu patut dan sesuai memegang jawatan itu. Jika saya berdusta. Setelah tiba di depan baginda. takutlah kepada Allah. sungguh baginda telah menetapkan sendiri.” Pernah juga terjadi. Imam Syarik menerima jawatan itu. Suatu kali Imam Hanafi dipanggil baginda untuk mengadapnya. Setiap pagi dipukul dengan cambuk sementara dileher beliau dikalung dengan rantai besi yang berat. maka bagaimana saya akan dipercayai di waktu marah. yang merupakan guru dari Imam Syafi‟iy.” Dijawab oleh Imam Hanafi: “Amirul Mukminin. Oleh sebab itu Imam Abu Hanifah dimasukkan kembali ke dalam penjara dan dijatuhi hukuman sebanyak 100 kali dera.” Baginda berkata lagi: “Kamu berdusta. Imam Abu Hanifah juga tidak mahu menerimanya dan tidak pula berusaha melarikan diri. Pengangkatan itu disertai dengan ancaman bahawa siapa saja yang tidak mahu menerima jawatan itu akan didera sebanyak l00 kali deraan. Imam Sufyan ats Tauri dan Imam Syarik an Nakhaei. Wahai Amirul Mukminin. dan akhirnya mereka seksa hingga meninggal. sungguh saya tidak sepatutnya diberi jawatan itu. Bangsa Arab tidak akan rela diadili seorang golongan hakim seperti saya. kerana Imam Hanafi menolak semua tawaran yang mereka berikan. Imam Hanafi wafat dalam keadaan menderita di penjara ketika itu ia berusia 70 tahun. Imam Sufyan ats Tauri diangkat menjadi kadi di Kota Basrah. lmam Syarik diangkat menjadi kadi di ibu kota. lalu diberinya segelas air yang berisi racun. maka ketiganya ditetapkan untuk menduduki pangkat yang cukup tinggi dalam kenegaraan.htm Popularity: 17% [?] . Adapun Imam Hanafi tidak mahu menerima pengangkatan itu di manapun ia diletakkan. Oleh sebab itu mereka berusaha mengajak Imam Hanafi untuk bekerjasama mengikut gerak langkah mereka.Dijawab oleh Imam Hanafi: “Wahai Amirul Mukminin semoga Allah memperbaiki Amirul Mukminin. beliau tidak dikenal dalam mengarang kitab. Setelah mereka hadir di istana. Imam Hanafi menolak semua tawaran yang diberikan oleh kerajaan daulah Umaiyyah dan Abbasiyah adalah kerana beliau tidak sesuai dengan corak pemerintahan yang mereka kendalikan. maka bagaimana baginda akan mengangkat seorang maulana yang dipandang rendah oleh bangsa Arab. kemudian ia melarikan diri ke Yaman. sumber: http://www. Setelah diminum air yang beracun itu Imam Hanafi kembali dimasukkan ke dalam penjara. Di antara murid beliau yang terkenal adalah Muhammad bin Al-Hassan Al-Shaibani. Sepanjang riwayat hidupnya. Demi Allah saya bukanlah orang yang boleh dipercayai di waktu tenang. Tetapi madzab beliau Imam Abu Hanifah atau madzab Hanafi disebar luaskan oleh murid-murid beliau. Ia dipaksa meminumnya. janganlah bersekutu dalam kepercayaan dengan orang yang tidak takut kepada Allah. masingmasing diberi surat pelantikan tersebut.

namun beliau tidak pernah bertemu dengan seorangpun diantara mereka. kemajuan dan kemunduran kekhalifahan Bani Umayyah. Alqamah (murid Ibnu Mas‟ud) dan Ibrahim an-Nakha‟i. ABU HANIFAH SEORANG GURU Paca meniggalnya Imam Hammad bin Abi Sulaiman pada tahun 120 H. Beliau termasuk kalangan Tabi‟in. Dan disebutkan dalam banyak buku bahwa Imam Abu Hanifah selalu menyertai gurunya ini sampai akhir hayatnya.. tepatnya khalifah Malik bin Marwan. masa kecilnya dilalui dengan menghafal al-Qur‟an kemudian beberapa hadits-hadits penting. MENUNTUT ILMU Seperti kebiasaan ulama lainya.a di Basrah. Dengan demikian mazhab ini adalah mazhab yang tertua diantara mazhab-mazhab Ahlu Sunnah. Dalam mengajar beliau sering mengemukakan hal-hal baru dan sering juga mendebat banyak pendapat. sedang di Irak sendiri yang menjadi walinya adalah al-Hajjaj ats-Tsaqafi. nama Imam Abu Hanifah adalah Nu‟man bin Tsabit bin Zutha. mashlahah dan masalah . sebab waktu itu beberapa Shahabat masih hidup. Jadi bisa dikatakan bahwa beliau sangat mengetahui tentang polemik. Ketika beliau lahir umat Islam berada dibawah kekhalifahan Bani Umayyah. Dalam belajar Fiqh. dalam hal ini beliau belajar kepada Hammad bin Abi Sulaiman r.a) Lengkapnya.a) sekitar awal abad ke dua hijriyah.a yang merupakan murid Alqamah bin Qais r. yaitu selama 18 tahun.a mengambil sikap untuk belajar Fiqh secara khusus dari seorang ulama saja atau yang dikenal dengan istilah mulazamah. sementara sebagaimana yang kita ketahui bahwa Fiqh Kufah secara umum bermuara pada metode beberapa orang tokoh seperti Ali bin Abi Thalib. Nafi‟ Maula Ibnu Umar dan Hammad bin Abi Sulaiman. Bahkan beliau menyamakan posisi gurunya ini dengan orang tuanya. 2009 @ 4:24 pm } · { Pengantar Fiqh } a. Ibnu Mas‟ud. Imam Abu Hanifah mengambil Fiqh ulama Kufah dari berbagai aliran dan metode yang ada di sana. Inilah yang menjadi faktor asasi perubahan haluan ilmu beliau ke bidang Fiqh yang lebih nampak manfaatnya di tengah masyarakat. dan hidup beliau terus berlanjut ketika Bani Umayyah jatuh dan digantikan oleh Bani Abbasiyah. Imam Hammad sendiri waktu itu adalah salah seorang ulama besar kalangan Tabi‟in di Kufah. mungkin dikarenakan kondisi masyarakat Irak yang saat itu banyak perbedaan dan perdebatan masalah akidah sehingga memberikan pengaruh terhadap kecenderungan Abu Hanifah muda.MAZHAB HANAFI { Februari 13. bahkan dalam mengajar tidak sekali beliau menggunakan metode diskusi dengan murid-muridnya. metode mereka itu diistilahkan dengan Fiqh al-Qiyas wa at-Takhrij. lahir pada tahun 80 H di kota Kufah dan meniggal tahun 150 H (tahun lahirnya Imam Syafi‟i). akhirnya Imam Abu Hanifah r. Sedangkan ketika beliau wafat umat Islam berada dibawah kekhalifahan al-Manshur dari Bani Abbasiyah. posisinya digantikan oleh Imam Abu Hanifah. Di waktu muda beliau juga merasakan keadilan khalifah Umar bin Abdul Aziz. Sedang kehidupan ilmiyahnya dimulai dengan menekuni Ilmu Kalam. Setelah beberapa lama mengembara mendengar dan belajar dari ulama-ulama Kufah. Abu Thufail Amir bin Wailah di Makkah dan Sahal bin Sa‟ad bin Sa‟idi di Madinah. seperti Anas bin Malik r. Abdullah bin Abi Aufa di Kufah. Profil Imam Mazhab (Imam Abu Hanifah r. dan jika sebuah pembahasan sampai kepermasalahan adat. Disamping itu beliau juga sempat mendengar pengajaran ulama besar Tabi‟in seperti Atha‟ bin Abi Rabah. Namun lama-kelamaan beliau menyadari bahwa selama ini ia telah mengikuti jalan yang tidak pernah diikuti para salafuna ashshalih dan sibuk dengan perdebatan-perdebatan yang tidak jelas manfaatnya.a (murid Ibnu Mas‟ud r.

jika tidak saya temukan saya mengambil dari Sunnah dan Atsar dari Rasulullah saw yang shahih dan saya yakini kebenarannya. karena ia satu saat akan berada di posisi murid dan di saat yang lain berada di posisi guru. Imam Abu Hanifah mengambil Ijma‟ secara mutlak tanpa memilah-milih. Perkataan Shahabat. Istihsan dan „Urf (Adat). dan di akhir beliau baru mengeluarkan pendapatnya. Ijma‟. Metode seperti ini tentunya hanya bisa dilakukan oleh orang-orang yang berjiwa besar dan memiliki kepribadian yang kuat. Beliau tidak sekedar menyampaikan ceramah. Sunnah. namun setelah meneliti kebenaran terjadinya Ijma‟ tersebut. Abu Hanifah memandang al-Qur‟an sebagai sumber pertama pengambilan hukum sebagaimana imam-imam lainnya. semuanya terdiam. kemudian mereka berdiskusi dan berdebat bersamanya. al-Hasan. 3. seperti hubungan bapak dengan anak. Metode yang dipakainya itu jika kita rincikan maka ada sekitar 7 Ushul Istinbath yang digunakan oleh Imam Abu Hanifah: al-Qur‟an. metode beliau mirip dengan metode yang dipakai Socrates. Qiyas. Yang berbeda adalah beliau menetapkan syarat-syarat khusus dalam penrimaan sebuah hadits (mungkin bisa dilihat di Ushul Fiqh). Hanya saja beliau berbeda dengan sebagian mereka dalam menjelaskan maksud (dilalah) al-Qur‟an tersebut. METODE FIQH ABU HANIFAH Adapun metodenya dalam Fiqh sebagaimana perkataan beliau sendiri: “Saya mengambil dari Kitabullah jika ada. dari dunia pasar beliau mendapatkan kekuatan berdebat dan logika. Sunnah/Hadits. Dalam mengajar. kemudaian saya tidak akan mencari yang di luar perkataan mereka. ahli ibadah. menghargai pendapat orang lain. Bagi Imam Abu Hanifah. Dan tidak sedikit juga pujian datang baik itu secara terang-terangan disampaikan kepada beliau maupun yang tidak. dari khalifah sampai masyarakat biasa. dan hal ini tidak terjadi sekali saja!. jika tidak saya temukan di dalam Kitabullah dan Sunnah Rasulullah saw. Imam Abu Hanifah juga memandang Sunnah sebagai sumber hukum kedua setelah alQur‟an sebagaimana imam-mam yang lain. dunia pasar dan dunia ilmu. 1. Ijma‟. yang memperlihatkan bahwa Abu Hanifah bukan saja menilai sebuah hadits dari sisi Sanad (perawi). Bahkan ketika Abu Yusuf terlambat menghadiri majlis beliau karena membantu orang tuanya dalam mencari nafkah hidup. Al-Qur‟an. tapi juga meneliti dari sisi Matan (isi) hadits dengan membandingkannya dengan hadits-hadits lain dan kaidah-kaidah umum yang telah baku dan disepakati. zuhud.keadilan. bahkan lebih banyak mengemukakan masalah-masalah dan dilemparkan kepada murid-muridnya sembari memberikan dasar-dasar pijakan dalam menetapkan hukum. Ibnu Sirin dan Sa‟id bin Musayyib (karena beliau menganggap mereka adalah mujtahid) maka saya akan berijtihad sebagaimana mereka berijtihad”. dan dari dunia ilmu beliau mendapat sinar ke-tawadhu‟-an. saya ambil yang saya butuhkan dan saya tinggalkan yang tidak saya butuhkan. Sya‟bi. murid-muridnya merupakan orang-orang yang paling beliau cintai. beliau panggil dan setelah mengetahui alasannya beliau tidak sungkan-sungkan memberikan 100 dirham agar Abu Yusuf tidak lari lagi dari majlis beliau. seperti dalam masalah mafhum mukhalafah. jika permasalahan berujung pada Ibrahim. baik dari yang sealiran maupun tidak. Dengan segala kelebihan yang dimilikinya menyebabkan banyak orang yang mengikuti majlis ilmu dan metodenya dalam Fiqh. menguatkan ilmu murid dan guru dalam waktu yang bersamaan. Dan tujuan dari metode ini adalah untuk meluaskan wawasan. Dengan demikian beliau menggabungkan dua dunia. Namun di saat yang sama beliau juga dikenal sebagai seorang guru yang banyak diam. 2. saya cari perkataan Sahabat. wara‟ dan tawadhu‟. .

maka beliau mengambil yang sesuai dengan ijtihadnya tanpa harus keluar dari perkataan Shahabah yang ada itu. Abdullah bin Umar. Sufyan bin „Uyaynah. Madrasah ar-Ra‟yi dan Madrasah al- . Banyak ulama yang menganggap beliau adalah seorang mujtahid muthlaq. Meskipun demikian Imam Abu Hanifah r. sedangkan dengan Imam Ibnu Abi Laila r. Guru yang paling berpengaruh dalam pembentukan dan pembinaan ilmu beliau adalah Imam Muhammad Ibnu Abi Laila al-Qadhi dan kemudian Imam Abu Hanifah sendiri.a. Imam Abu Hanifah adalah orang yang paling seirng menggunakan istihsan dalam menetapkan hukum. perbedaan antara Ahli Hadits dengan Ahli Ra‟yi berpengaruh kepada hubungan beliau dengan Imam ats-Tsauri r. Abu Yusuf banyak belajar tentang Qadha‟ (hukum dan kehakiman). akad dan syarat. dan ulama-ulama lainnya dari Hijaz. kita saksikan sendiri bagaimana Imam Abu Yusuf mengambil ilmu dari dua aliran besar Fiqh ketika itu. Imam Muhammad bin Hasan bin Farqad asy-Syaibani (kemudian dikenal sebagai shahiba Abi Hanifah ulama besar mazhab Hanafi). kurang harmonis juga karena beliau sering mengeluarkan fatwa yang berbeda dengan Imam Ibnu Abi Laila r. Perkataan Shahabah. dan jika ada beberapa pendapat dari kalangan Tabi‟in beliau lebih cenderung berijtihad sendiri. belaiu menggunakannya jika mendapatkan permasalahan yang tidak ada nash yang menunjukkan solusi permasalahan tersebut secara langsung atau tidak langsung (dilalah isyarah atau thadhammuniyah). dalam masalh ini Imam Abu Hanifah juga termasuk orang yang banyak memakai „urf dalam masalah-masalah furu‟ Fiqh. sedang dari Ibnu Abi Laila. seperti Abu Ishaq asy-Syaibani. 7.a. Profil Rigkas Imam Abu Yusuf Lengkapnya beliau bernama Abu Yusuf Ya‟qub bin Ibrahim bin Habib al-Anshari. terbukti banyak sekali murid-muridnya yang menjadi ulama besar. Imam Malik. Imam Zufar bin Hudzail bin Qais al-Kufi dan Imam Hasan bin Ziyad al-Lu‟lu‟i. terutama dalam masalah sumpah (yamin).a. Muhammad bin Ishaq (pengarang al-Maghazi). yang waktu itu menjadi Qadhi di Kufah.a tetap memiliki kharisma yang tinggi di kalangan masyarakat.4. dibandingkan imam-imam yang lain. Irak dan negeri-negeri lain. Imam Syafi‟i dan Imam Ahmad bin Hanbal.a (ulama Hadits). sehingga kadang-kadang ada peringatan dari pemimpin negeri agar Imam Abu Hanifah tidak mengeluarkan Fatwa. disebutkan sekitar 17 tahun lamanya Abu Yusuf melakukan mulazamah dengan Abu Hanifah dan bisa dikatakan Abu Hanifahlah yang mengisi pundi-pundi ilmu Abu Yusuf sehingga menjadi seorang yang tidak kalah hebatnya dri Abu Hanifah sendiri. Namun demikian Imam Abu Hanifah tetap orang yang paling berpengaruh pada dirinya bahkan beliau menganggap Abu Hanifah lebih dari orang tua dan keluarganya sendiri. diantara muridnya yang terkenal adalah Imam Abu Yusuf Ya‟qub bin Ibrahim al-Anshari. Maka tidaklah mengherankan jika beliau dikatakan lebih faqih dari Abu Hanifah.Urf. Abdul Malik bin Juraih. Istihsan.a ada sedikit persaingan karena satu masa. b. 6. Malik bin Anas. Disamping belajar khusus dari kedua Imam di atas. 5. al-Hajjaj bin Arthah. IMAM ABU HANIFAH DAN ULAMA YANG SEMASA DENGANNYA Diantara ulama-ulama yang semasa dengannya di Kufah adalah Imam Sufyan ats-Tsauri r. sementara dengan Imam Syarik r. Abu Yusuf mengambil Fiqh dan belajar banyak dari Abu Hanifah. Disinilah nampak kelebihan Imam Abu Hanifah dalam mencari sebab (ilat) hukum. Lahir kira-kira tahun 113 H dan meninggal tahun 182 H. Qiyas. pembebasan budak. lafaz talak. Abu Yusuf juga belajar dari banyak ulama-ulama besar lainnya. setara dengan Imam Abu Hanifah. dengan demikian Abu Yusuf telah mendapatkan Fiqh secara ilmu dan praktek sekaligus dari dua tokoh tersebut. Imam Syarik bin Abdillah an-Nakha‟i (ulama Fiqh) dan Muhammad bin Abdurrahman bin Abi Laila (ulama Fiqh). Hubungan antara Imam Abu Hanifah dengan mereka tidak terlalu baik. metode beliau adalah jika terdapat banyak perkataan Shahabah. Ubaidillah bin Umar.

2. Abu Ubaid al-Qasim bin Salam dan lan sebagainya. Abu Sulaiman al-Jauzjani (guru Imam Tirmidzi). akan tetapi meereka masih mengikut (taqlid) . d. Tingkatan Mujtahid Agama yaitu ulama yang mampu merumuskan kaedah-kaedah ushul dan mampu menetapkan hukum furu‟ dari empat sumber (dalil) utama secara independen. Imam Muhammad bin Sulaiman (Ibnu Kamal Basya) membagi Ahli Fiqh secara umum kepada tujuh tingkatan: 1.a.a. Buku-buku tersebut di kemudian hari dijadikan sebagai referensi utama Mazhab Hanafi sebagaimana yang diungkapkan Syeikh al-Kautsari . karena mengikuti yang rajih (pendapat yang kuat) merupakan sebuah kemestian baik bagi mujtahid maupun muqallid. Tingkatan Ahli Fiqh Mazhab Hanafi (Thabaqat Fuqaha’ al-Hanafiyah) Mengetahui tingkatan-tingkatan dalam sebuah mazhab sangat berguna dalam bermazhab. Imam Malik r. Dan tentang pengaruh beliau di kalangan masyarakat kita cukupkan dengan komentar Imam Ahmad bin Hanbal: ” Dalam menulis/mengambil hadits awalnya saya sering mendatangi Abu Yusuf dan saya menulis hadits darinya. dan tumbuh di Kufah sehingga kemudian belajar dari Imam Abu Hanifah.a. paling kuat hafalan (ahfazh) dan paling shahih riwayatnya dari Abu Yusuf”. Imam Muhammad bin Hasan banyak menulis buku dibanding ulama lain yang semasa dengannya dan buku-bukunya tersebut juga banyak yang masih ditemukan saat ini. dan karangan monumental beliau al-Kharraj. Malik bin Anas. al-Auza‟i. Bakir bin Ammar dan Abu Yusuf.a dan Imam Ahmad bin Hanbal r. yang sampai saat ini banyak dipelajari pakar ekonomi dunia.Hadits. akan tetapi karangan beliau yang masih bertahan sampai saat ini hanya beberapa saja seperti buku al-Atsar. Imam Muhammad juga belajar dari Mus‟ir bin Kidam. Malik bin Maghul. Selain Abu Hanifah. arRadd „Ala Siyar al-Auza‟i. lahir di daerah Wasith (di Irak) tahun 132 H.a). Beliau termasuk ulama yang banyak mengarang buku. Banyak sekali kisah dan komentar dari para ulama yang menempatkan Abu Yusuf sebagai figur ulama besar umat ini. Sedangkan diantara ulama-ulama yang pernah belajar kepada beliau seperti Imam Syafi‟i r. sehinga Khalifah Harun ar-Rasyid berkata: ” Telah pergi hari ini Lughah dan Fiqh”. Beliau meninggal pada hari yang sama dengan Imam al-Kasa‟i tahun 189 H di Ray. Profil Ringkas Imam Muhammad bin Hasan asy-Syaibani Beliau adalah Muhammad bin al-Hasan bin Farqad asy-Syaibani. sehingga seorang yang bermazhab bisa memposisikan dirinya dan bisa melakukan pemilihan-pemilihan (tarjih) yang benar jika terjadi pertentangan pendapat di dalam satu mazhab. Ikhtilaf Ibni Abi Laila Wa Abi Hanifah. yang memang pantas memangku gelar Qadhi al-Qudhah untuk pertama kalinya di masa Harun al-Rasyid dan terus berlanjut sampai masa al-Mahdi dan al-Hadi. Imam Syafi‟i r. Umar bin Dzar. Zam‟ah bin Shalih. seperti para imam yang empat (Imam Abu Hanifah r. dan disebutkan juga bahwa seorang ahli hikmah dari kalangan Ahli Kitab memeluk Islam setelah membaca buku ini. Yahya bin Ma‟in berkomentar: “Saya tidak pernah melihat di kalangan ashhab ar-ra‟yi yang paling tsabit (kuat) dalam masalah hadits. Yang monumental adalah kitab al-Mabsuth. Tingkatan Mujtahid Mazhab yaitu ulama yang mampu mengolah dalil-dalil dan kemudian menghasilkan hukum dengan bantuan kaedah yang telah ditetapkan guru-guru mereka. jadi meskipun di sebagian permasalahan mereka berbeda dengan sang guru. terlebih lagi dalam menghukum dan berfatwa. tanpa taqlid (mengikut) kepada siapapun. c. Sufyan ats-Tsauri. kemudian saya mendatangi orang banyak dan mereka berkata: ” Abu Yusuf lebih kami senangi dari Abu Hanifah dan Muhammad (Ibn Hasan)”.

biasanya mereka tidak mengutip perkataan-perkataan yang ditolak dalam mazhab dan riwayat-riwayat yang lemah. mereka mampu menjelaskan ungkapan atau istilah yang bersifat umum yang memiliki beberapa kemungkinan makna dan menjelaskan hukum yang memiliki dua kemungkinan. hanya saja mereka menetapkan hukum-hukum dengan menggunakan kaedah ushul yang ditetapkan Imam. melainkan sekumpulan permasalahan. Dalam hal ini dalam mazhab Hanafi seperti Imam Abu Yusuf r. Ulama tingkatan ini seperti al-Khashaf (w. 4.a lainnya. 261 H). Muhammad bin Hasan r. apakah hukum ini dari shahib al-mazhab atau dari murid-muridnya.a. pengarang al-Hidayah (w. Tingkatan Ashhab at-Takhrij juga.dari sisi kaedah ushul. baik dalam segi ushul maupun furu‟. Syamsul A‟immah alHelwani (w. 370 H) 5. Tingkatan Muqallid yang tidak mampu melakukan hal-hal yang di atas. Dan budaya ini juga yang menempatkan mereka sebagai perintis lahirnya Ilmu Qawaid Fiqhiyah. pengarang kitab al-mukhtar. pengarang kitab al-wiqayah. 7. seperti pengarang kitab al-kanz. hadza ashahur riwayah (ini riwayat yang paling benar). hadza audhah (ini yang paling jelas). Imam Abu Yusuf dan Imam Muhammad) atau yang dikenal juga dengan sebutan “Ulama yang tiga”. 321 H). Mereka adalah ulama-lama pengarang matan yang sering dipakai di kalangan mazhab. Tingkatan Ashhab at-Takhrij dari golongan muqallidin (lawan mujtahid) yaitu ulama yang belum mampu berijtihad dalam masalah ushul. akan tetapi dengan kemampuan mereka menguasai permasalahan ushul dan kaedah ushul. Ulama tingkatan ini seperti Imam Ahmad bin Ali bin Abu Bakar ar-Razi yang lebih dikenal dengan Imam Jashash. Tingkatan Pengikut (Muqallid) yang mampu membedakan antara al-aqwa (yang paling kuat).dan pengarang kitab al-majma‟. 482 H). namun tingkatan ini mereka hanya baru mampu memilih-milih riwayat-riwayat/perbedaan-perbedaan pendapat yang ada. adh-dha‟if (yang lemah). namun mereka tidak mampu menyalahi pendapat Imam. Abu al-Hasan al-Karkhi (w.a). Syamsul A‟immah as-Sarkhasi (w. pengarang Ahkam al-Qur‟an (w. Tingkatan Mujtahid dalam permasalahan-permasalahan yang tidak ditemukan riwayat atau sumber langsung dari shahib al-madzhab (Imam Abu Hanifah r. 593 H) 6. Inilah yang dikemudian hari menjadikan mereka membentuk satu aliran besar dalam bidang Ushul Fiqh. Fakhrul Islam al-Bazdawi (w. jadi yang diwariskan dari imam-imam mereka bukanlah kaidah-kaidah yang baku sebagaimana yang lazim di mazhab lain. Terdapat 3 jenis permasalahan yang diriwayatkan dalam buku-buku referensi mazhab Hanafi: a. di beberapa kesempatan kadang juga memasukkan murid-murid . 593 H) dan lain sebagainya. e. 340 H). 448 H). biasanya mereka sering menggunakan kata-kata hadza aula (inilah yang lebih utama). dan mengenai kelompok ini Ibnu Kamal Basya mengomentari: “Celakalah siapa yang mengikuti mereka ini!”. Permasalahan Zhahir ar-Riwayah (masalah asasi/ushul). Aliran Hanafiyah atau Aliran Fuqaha‟. Fakhruddin Qadhikhan (w. kemampuan mereka ini ditopang juga dengan kekuatan logika dan nalar mereka terhadap ushul dan kaedah-kaedah. Contoh ulama Hanafi jenis ini seperti Imam Abu Hasan al-Qadduri dan Imam al-Marghinani. zhahir ar-riwayah. al-qawi (yang kuat). zhahir al-mazhab dan riwayah nadirah. hadza aufaq lil qiyas (ini yang paling sesuai dengan qiyas) atau hadza arfaq lin nas (ini yang paling ringan bagi manusia). 3.a dan murid-murid Abu Hanifah r. yaitu masalah-masalah yang diriwayatkan dari Ashhab al-Madzhab (Imam Abu Hanifah. Tingkatan Jenis Permasalahan Dan Buku Referensi Dalam Mazhab Hanafi Salah satu ciri khas mazhab Hanafi adalah dalam metode pengajaran dan penulisan buku. Abu Ja‟far ath-Thahawi (w. mereka biasa mengumpulkan masalah-masalah furu‟ untuk kemudian dicarikan hukumnya dan diwariskan disetiap generasi. 500 H). dari masalah-masalah itulah mereka menghasilkan kaidah-kaidah umum baik dalam bidang Ilmu Ushul maupun Ilmu Fiqh. dan kemudian mereka bisa menerapkannya ke dalam permasalahan furu‟ yang semisal atau tergolong kedalam kategorinya.

Pengangkatan Imam Abu Yusuf sebagai Qadhi al-Qudhah (hakim tertinggi) yang memiliki kekuatan dalam memilih qudhahi (hakim-hakim) di daerah-daerah. 2. Yaman. as-Siyar ash-Shaghir dan as-Siyar al-Kabir. Penyebaran Mazhab Hanafi Mazhab Hanafi banyak berkembang awalnya di Baghdad dan Kuffah. buku ini merupakan buku referensi utama dalam mazhab. Turki. Mazhab Hanafi dijadikan sebagai mazhab resmi negara semasa kekuasaan Abbasiyah. Tunis. Syam/Syiria. Hal ini menjadi Mazhab ini selalu memiliki solusi-solusi dalam setiap permasalahan . Bukhara. al-Jami‟ ash-Shaghir. negera-negara Kaukasia. Akan tetapi. al-Haruniyat. India. Permasalahan ini disebut zhahir ar-Riwayah karena diriwayatkan dari Imam Muhammad secara yakin dan pasti. Albania dan di kawasan Balkan. baik itu berupa mutun. maupun syuruh. b. al-Muhith karangan Radhiyuddin asSarkhasi dan lain-lain. Permasalahan al-Fatawi wa al-Waqi‟at. namun kemudian terus meluas sampai ke daerah-daerah lain. Parsi. Cina. disamping buku-buku diatas. masih banyak buku-buku lain yang menjadi referensi penting dalam Fiqh Hanafi. Ada satu buku lain yang juga dikenal sebagai buku asasi yaitu buku al-Kafi karangan Imam Muhammad bin Muhammad bin Ahmad al-Maruzi al-Balkhi. al-Jurjaniyat dan ar-Riqqiyat c. adz-Dzakhirah al-Burhaniyah yang juga karangan beliau. Romawi. Permasalahan Nawadir. al-Waqi‟at karangan Abul Abbas Ahmad bin Ahmad ar-Razi. khususnya yang pernah berada di bawah kekuasaan Abbasiyah. Masalah-masalh ini dapat dijumpai dalam karangan-karangan Imam Muhammad bin Hasan asy-Syaibani seperti al-Mabsuth (al-Ashlu). Sampai saat ini bisa dikatakan Mazhab Hanafi banyak dipakai di Irak. Banyaknya murid Abu Hanifah dan perhatian mereka dalam menyebarkan dan menjelaskan pendapatpendapat Imam mereka. Diantara buku-buku penting yang juga menjadi pegangan pokok seperti kitab al-Hidayah Syarh Bidayah al-Mubtadi karangan Syeikhul Islam al-Marghinani. dan para hakim tersebut selalu memakai pendapat Imam Abu Yusuf dalam memutuskan perkara-perkara. 4. Turkistan. Tripoli. seperti Mesir. yaitu masalah-masalah yang dihasilkan para mujtahid generasi belakangan ketika ditanya namun tidak mendapatkan jawaban pada riwayat-riwayat yang ada dari Ashhab al-Madzhab. Syam. yaitu masalah-masalah yang diriwayatkan dari Ashhab al-Mazhab namun bukan dari buku-buku yang disebutkan di jenis pertama. f. Jazair. Afghan. az-Ziyadat. Contoh buku-buku yang tergolong jenis ini seperti an-Nawazil karangan Abu Laits asSamarqandi. Jika terjadi pertentangan antara masalah-masalah tersebut maka didahulukanlah yang dahulu berdasarkan urutan di atas. India. mutawatir atau paling kurang masyhur.Abu Hanifah yang lainnya. dan Badai‟ ash-Shanai‟ karangan Imam al-Kasani. Pembagian jenis permasalahn tersebut sekaligus menjelaskan urutan buku dan referensi yang digunakan di dalam Mazhab Hanafi. Perhatian besar ulama-ulama Mazhab ini dalam percepatan pertumbuhan Mazhab Hanafi dengan mencurahkan kemampuan mereka dalam mencari ilat hukum dan sekaligus mempraktekkannya dalam banyak masalah-masalah baru yang timbul. alJami‟ al-Kabir. mukhtashar. bisa jadi di buku-buku karangan Imam Muhammad yang lain seperti al-Kisaniyat. Majmu‟ an-Nawazil Wa al-Hawadits Wa al-Waqi‟at karangan Ahmad bin Musa al-Kasyi. Diantara poin penting yang menjadikan penyebaran Mahzab ini ke banyak negeri adalah: 1. 3. Turkistan bahkan Brazil.