http://kolom-biografi.blogspot.com/2009/01/biografi-imam-hanafi.htmlhttp://kolombiografi.blogspot.

com/2009/01/biografi-imam-hanafi.html Biografi Imam Hanafi Imam Abu Hanifah yang dikenal dengan dengan sebutan Imam Hanafi bernama asli Abu Hanifah Nu‟man bin Tsabit Al Kufi, lahir di Irak pada tahun 80 Hijriah (699 M), pada masa kekhalifahan Bani Umayyah Abdul Malik bin Marwan. Beliau digelari Abu Hanifah (suci dan lurus) karena kesungguhannya dalam beribadah sejak masa kecilnya, berakhlak mulia serta menjauhi perbuatan dosa dan keji. dan mazhab fiqhinya dinamakan Mazhab Hanafi. Gelar ini merupakan berkah dari doa Ali bin Abi Thalib r.a, dimana suatu saat ayahnya (Tsabit) diajak oleh kakeknya (Zauti) untuk berziarah ke kediaman Ali r.a yang saat itu sedang menetap di Kufa akibat pertikaian politik yang mengguncang ummat islam pada saat itu, Ali r.a mendoakan agar keturunan Tsabit kelak akan menjadi orang orang yang utama di zamannya, dan doa itu pun terkabul dengan hadirnya Imam hanafi, namun tak lama kemudian ayahnya meninggal dunia.

Pada masa remajanya, dengan segala kecemerlangan otaknya Imam Hanafi telah menunjukkan kecintaannya kepada ilmu pengetahuan, terutama yang berkaitan dengan hukum islam, kendati beliau anak seorang saudagar kaya namun beliau sangat menjauhi hidup yang bermewah mewah, begitu pun setelah beliau menjadi seorang pedagang yang sukses, hartanya lebih banyak didermakan ketimbang untuk kepentingan sendiri. Disamping kesungguhannya dalam menuntut ilmu fiqh, beliau juga mendalami ilmu tafsir, hadis, bahasa arab dan ilmu hikmah, yang telah mengantarkannya sebagai ahli fiqh, dan keahliannya itu diakui oleh ulama ulama di zamannya, seperti Imam hammad bin Abi Sulaiman yang mempercayakannya untuk memberi fatwa dan pelajaran fiqh kepada murid muridnya. Keahliannya tersebut bahkan dipuji oleh Imam Syafi‟i ” Abu Hanifah adalah bapak dan pemuka seluruh ulama fiqh “. karena kepeduliannya yang sangat besar terhadap hukum islam, Imam Hanafi kemudian mendirikan sebuah lembaga yang di dalamnya berkecimpung para ahli fiqh untuk bermusyawarah tentang hukum hukum islam serta menetapkan hukum hukumnya dalam bentuk tulisan sebagai perundang undangan dan beliau sendiri yang mengetuai lembaga tersebut. Jumlah hukum yang telah disusun oleh lembaga tersebut berkisar 83 ribu, 38 ribu diantaranya berkaitan dengan urusan agama dan 45 ribu lainnya mengenai urusan dunia. Metode yang digunakan dalam menetapkan hukum (istinbat) berdasarkan pada tujuh hal pokok : 1. Al Quran sebagai sumber dari segala sumber hukum. 2. Sunnah Rasul sebagai penjelasan terhadap hal hal yang global yang ada dalam Al Quran. 3. Fatwa sahabat (Aqwal Assahabah) karena mereka semua menyaksikan turunnya ayat dan mengetahui asbab nuzulnya serta asbabul khurujnya hadis dan para perawinya. Sedangkan fatwa para tabiin tidak memiliki kedudukan sebagaimana fatwa sahabat. 4. Qiyas (Analogi) yang digunakan apabila tidak ada nash yang sharih dalam Al Quran, Hadis maupun Aqwal Asshabah. 5. Istihsan yaitu keluar atau menyimpang dari keharusan logika menuju hukum lain yang menyalahinya dikarenakan tidak tepatnya Qiyas atau Qiyas tersebut berlawanan dengan Nash. 6. Ijma‟ yaitu kesepakatan para mujtahid dalam suatu kasus hukum pada suatu masa tertentu. 7. „Urf yaitu adat kebiasaan orang muslim dalam suatu masalah tertentu yang tidak ada nashnya dalam Al Quran, Sunnah dan belum ada prakteknya pada masa sahabat. Karya besar yang ditinggalkan oleh Imam hanafi yaitu Fiqh Akhbar, Al „Alim Walmutam dan Musnad Fiqh Akhbar.

berwibawa. Ia punya garis keturunan Persia. di dalam Islam tidak mengenal perbedaan antara orang Arab dan bukan Arab. ia juga masyhur disebut Abu Hanifah. karena sejak kecil ia sangat tekun belajar dan menghayati setiap yang dipelajarinya sehingga ia dianggap seorang yang hanif (sikap yang lurus) pada agama.CO. para ahli sejarah punya beragam pandangan. ia juga dikenal dapat menyelesaikan masalah-masalah sosial keagamaan yang rumit. baik dalam pergaulan. tidak senang membicarakan hal-hal yang tak berguna.” Kalimat yang hampir sama juga terlontar dari Imam Syafi'i. cerdas. di samping ilmu kesusastraan dan hikmah. Pedagang Minyak Imam Hanafi lahir pada tahun 80 Hijriah bertepatan dengan 699 Masehi di sebuah kota bernama Kufah. Selalu tampil rapi dengan aroma harum yang menyerbak.republika. “Saya tidak melihat seorang pun yang lebih cerdas dari Imam Abu Hanifah. dan indah bagai mutiara. bertemu dengan Ali bin Ali Thalib. Bahkan dia memiliki toko untuk berdagang kain. “Mudah-mudahan di antara keturunan Tsabit ada yang menjadi orang baik-baik dan berderajat luhur. Pandangan lain menyebut. Ada yang menyatakan. Hanafi hidup dalam keluarga yang saleh. Saat masih kecil. ilmu hadits. Yazid bin Harun berujar. ia diberi julukan dengan Abu Hanifah. Sejatinya namanya adalah Nu’man bin Tsabit bin Marzaban Al-Farisi. Semua imam mazhab berjuang untuk menegakkan ajaran Alquran dan sunah Nabi SAW. ilmu kalam.id/berita/pendidikan/eduads/12/03/09/m0louo-pendiri-mazhab-imam-hanafi-daripedagang-menjadi-imam-besar-1 REPUBLIKA. Selain dikenal dengan nama Imam Hanafi. Postur tubuhnya ideal. Ucapannya sesuai apa yang datang dari Rasulullah SAW dan apa yang datang dari para sahabat. salah satu imam mazhab dalam dunia Islam. Ada pula yang menerjemahkan kata “hanifah” berarti tinta dalam bahasa Persia. Dalam perjalanan waktu. Begitulah gambaran sosok Imam Hanafi. kemasyhuran nama itu karena ia memiliki seorang anak lakilaki yang bernama Hanifah. .http://www. Hanafi biasa ikut rombongan pedagang minyak dan kain sutera. yang berarti satu-satunya imam mazhab yang bukan orang Arab. pemerintah kekhalifahan Islam dipimpin oleh Abdul Malik bin Marwan. Namun.co. Ketika lahir. Imam Hanafi pernah diajak oleh ayahnya. Tak sebatas menguasai banyak bidang ilmu. Doa Ali bin Ali Thalib ternyata terbukti. Sudah hafal Alquran sejak masih usia kanak-kanak dan merupakan orang pertama yang menghafal hukum Islam dengan cara berguru. keturunan kelima Bani Umaiyyah. bergelar Al-Imam Al-A'zham. Tsabit. jelas. “Tidak seorang pun mencari ilmu fikih kecuali dari Abu Hanifah. Penuh kasih sayang. yang berarti ayah dari si Hanifah.ID. Imam Hanafi kemudian menjadi seorang ahli dalam bidang ilmu fikih dan menguasai bebagai bidang ilmu agama lain. Ali bin Ali Thalib berdoa untuknya. Sebab itu. Tutur katanya santun. cucu Imam Hanafi. Soal nama ini. Ini berkaitan dengan kebiasaan beliau yang selalu membawa tinta ke manapun pergi. Sebelum Imam Hanafi kembali ke negerinya. Menurut riwayat.” Kisah ini juga pernah dituturkan Ismail bin Hamad bin Abu Hanifa. seperti ilmu tauhid.

Selaku pemimpin ia tentu dapat mengangkat dan memberhentikan pegawai yang berada di bawah kekuasaannya.kisah. dan juga ilmu hadith. kerana menurut Imam Hanafi kalau kemungkaran itu tidak dicegah.kisah. Nama yang sebenarnya ialah Nu‟man bin Tsabit bin Zautha bin Maha. Sampai berulang kali Gabenor Yazid menawarkan pangkat itu kepadanya. ilmu kalam. Sifat keberanian beliau adalah berani menegakkan dan mempertahankan kebenaran. . Untuk kebenaran ia tidak takut sengsara atau apa bahaya yang akan diterimanya. maka ia dianggap seorang yang hanif (kecenderungan/condong) pada agama. Pendirian beliau sama dengan pendirian imam yang lain.html Imam Hanafi dilahirkan pada tahun 80 Hijrah bertepatan tahun 699 Masehi di sebuah kota bernama Kufah. Kerana ia mempunyai seorang anak laki-laki yang bernama Hanifah. Walaupun demikian orang-orang yang berjiwa jahat selalu berusaha untuk menganiaya beliau. Imam Hanafi sangat rajin menulis hadith-hadith. Sifat Imam Hanafi yang lain adalah menolak kedudukan tinggi yang diberikan pemerintah kepadanya. Kerana itu ia dinamakan Abu Hanifah. namun tetap ditolaknya. Menurut bahasa Persia. Imam Abu Hanafih adalah seorang imam Mazhab yang besar dalam dunia Islam. iaitu sama-sama menegakkan Al-Quran dan sunnah Nabi SAW.web. Kemasyhuran nama tersebut menurut para ahli sejarah ada beberapa sebab: 1. ilmu tauhid. Kerana semenjak kecilnya sangat tekun belajar dan menghayati setiap yang dipelajarinya.http://www. Imam Hanafi adalah seorang hamba Allah yang bertakwa dan soleh. 2. Dalam empat mazhab yang terkenal tersebut hanya Imam Hanafi yang bukan orang Arab. dari keturunan Bani Umaiyyah kelima. Jika beliau berdoa matanya bercucuran air mata demi mengharapkan keredhaan Allah SWT. dipukul dan sebagainya.htmlhttp://www. Akibat dari penolakannya itu ia ditangkap dan dimasukkan ke dalam penjara. Kepandaian Imam Hanafi tidak diragukan lagi. bukan orang yang berbuat kejahatan itu saja yang akan merasakan akibatnya. Dengan keberaniannya itu beliau selalu mencegah orang-orang yang melakukan perbuatan mungkar. Di samping itu beliau juga pandai dalam ilmu kesusasteraan dan hikmah.id/tokoh-islam/imam-abu-hanifah-80-150-h. maka ia diberi julukan dengan Abu Hanifah. maka seluruh penghuni bahtera itu akan binasa.web. Di dalam penjara ia diseksa. Gubernur di Iraq pada waktu itu berada di tangan Yazid bin Hurairah Al-Fazzari. beliau mengerti betul tentang ilmu fiqih. Hanifah bererti tinta. Ia tidak mahu menerima kedudukan tinggi tersebut. tetapi pengangkatan itu ditolaknya. melainkan semuanya. ia pergi selalu membawa tinta. Itulah sebabnya ia masyhur dengan gelaran Abu Hanifah.id/tokoh-islam/imam-abu-hanifah-80-150h. 3. maka semuanya akan selamat. termasuk orang-orang yang baik yang ada di tempat tersebut Sebahagian dilukiskan dalam sebuah hadith Rasulullah SAW bahawa bumi ini diumpamakan sebuah bahtera yang didiami oleh dua kumpulan. ke mana. Waktu ia dilahirkan. Kumpulan pertama adalah terdiri orang-orang yang baik-baik sementara kumpulan kedua terdiri dari yang jahat-jahat. Kemudian masyhur dengan gelaran Imam Hanafi. pemerintahan Islam berada di tangan Abdul Malik bin Marwan. Ia menolak pangkat dan menolak wang yang dibelikan kepadanya. Beliau keturunan Persia atau disebut juga dengan bangsa Ajam. seluruh waktunya lebih banyak diisi dengan amal ibadah. Pernah pada suatu ketika Imam Hanafi akan diangkat menjadi ketua urusan perbendaharan negara (Baitul mal). Tetapi sebaliknya jika kumpulan yang baik itu mahu mencegah perbuatan orang-orang yang mahu membuat kerosakan di atas bahtera itu. Kalau kumpulan jahat ini mahu merosak bahtera dan kumpulan baik itu tidak mahu mencegahnya.

bahawa ia tidak mahu menjadi pegawai kerajaan dan tidak mahu campur tangan dalam urusan negara. Ibnu Syblamah. Kemudian ditangkap lagi dan dijatuhi hukuman dera sebanyak 110 kali. Imam Hanafi tetap menolak jawatan itu. Setiap hari didera sebanyak sepuluh kali pukulan. Lima belas hari kemudian baru dipukul sebanyak 14 kali pukulan. “Jika Abu Hanifah tidak menerima pangkat itu nescaya ia akan dihukum dengan pukulan. dari keturunan Umaiyyah ke tangan Abbasiyyah. Ulama ini sejak pemerintahan Abu Abbas as Saffah telah menjadi mufti kerajaan untuk kota Kufah. Kerana sikap Imam Hanafi itu. Sampai ia dilepaskan kembali setelah cukup 110 kali cambukan. “Hukuman dera di dunia lebih ringan daripada hukuman neraka di akhirat nanti.” Demikian beraninya Imam Hanafi dalam menegakkan pendirian hidupnya. Namanya masih tetap harum sebagai ulama besar yang disegani. Imam Hanafi juga menerima ujian. Ketika Imam Hanafi mendengar kata ancaman hukum dera itu Imam Hanafi menjawab: “Demi Allah. bahkan ia tetap tegas. Kemudian pada tahun 132 H sesudah dua tahun dari hukuman tadi terjadilah pergantian pimpinan negara. Namun demikian Imam Hanafi tetap dengan pendiriannya. akhirnya ditangkap oleh gabenor. Ketika itu gabenor menetapkan Imam Hanafi menjadi Pengetua jawatan Sekretari gabenor. Kerana sikapnya itu. sekalipun aku akan dibunuh oleh pihak kerajaan. Walaupun demikian ketika Imam Hanafi diseksa ia sempat berkata. Rupanya Yazid tidak senang melihat sikap Imam Hanafi tersebut. “Apakah engkau telah suka dalam keadaan seperti ini?” . salah seorang pegawai negara bertanya: “Adakah guru tetap akan menolak kedudukan baik itu?” Dijawab oleh Imam Hanafi “Amirul mukminin lebih kuat membayar kifarat sumpahnya daripada saya membayar sumpah saya. tetapi ia tetap menolak. Suatu hari Imam Hanafi mendapat panggilan dari baginda Al-Mansur di Baghdad. Pada saat itu para ulama yang terkemuka di Kufah ada tiga orang. Kepada mereka. setelah itu baru dibebaskan. ketua negaranya bernama Abu Abbas as Saffah. dengan tidak dipukul. Pada suatu hari Yazid memanggil para alim ulama ahli fiqih yang terkemuka di Iraq. Sesampainya ia di istana Baghdad ia ditetapkan oleh baginda menjadi kadi (hakim) kerajaan Baghdad. Daud bin Abi Hind dan lain-lain.” Ketika ia berusia lebih dari 50 tahun. supaya ia datang mengadap ke istana. aku tidak akan mengerjakan jabatan yang ditawarkan kepadaku. kemudian dimasukkan ke dalam penjara di Baghdad.” Kerana ia masih tetap menolak. Baginda bertanya. saudara muda dari Abul Abbas as Saffah. Beberapa hari sesudah itu gabenor menawarkan menjadi kadi. Tugasnya adalah bertanggungjawab terhadap keluar masuk wang negara. Pada suatu hari Imam Hanafi dikeluarkan dari penjara kerana mendapat panggilan dari Al-Mansur. Ketika itu Imam Abu Hanifah telah berumur 56 tahun. Imam Abi Laila pun dilarang memberi fatwa. masing-masing diberi kedudukan rasmi oleh Gabenor. Pada tahun 132 H sesudah Abu Abbas meninggal dunia diganti dengan ketua negara yang baru bernama Abi Jaafar Al-Mansur. Ahli fikir yang cepat dapat menyelesaikan sesuatu persoalan. Di antara mereka yang datang ketika itu adalah Ibnu Abi Laila.” Walaupun ada ancaman seperti itu. Gabenor dalam memutuskan jabatan itu disertai dengan sumpah. ketua negara ketika itu berada di tangan Marwan bin Muhammad. maka diperintahkan kepada pengawal untuk menangkapnya.Pada waktu yang lain Gabenor Yazid menawarkan pangkat Kadi (hakim) tetapi juga ditolaknya. juga ditolaknya. Salah satu di antaranya ialah Imam Ibnu Abi Laila. Dengan tawaran tersebut. Kemudian dimasukkan ke dalam penjara selama dua minggu. Seolah-olah Imam Hanafi memusuhi pemerintah. kerana itu timbul rasa curiganya. Oleh kerana itu ia diselidiki dan diancam akan dihukum dengan hukum dera. dikumpulkan di muka istananya.

kemudian ia melarikan diri ke Yaman. Imam Sufyan ats Tauri dan Imam Syarik an Nakhaei. sungguh baginda telah menetapkan sendiri. jika saya benar. sungguh saya tidak sepatutnya diberi jawatan itu. yang merupakan guru dari Imam Syafi‟iy. kamu patut dan sesuai memegang jawatan itu. Imam Hanafi wafat dalam keadaan menderita di penjara ketika itu ia berusia 70 tahun. Jika saya berdusta. baginda Abu Jaffar Al-Mansur memanggil tiga orang ulama besar ke istananya. beliau tidak dikenal dalam mengarang kitab. tetapi Imam Sufyan tidak mahu menerimanya. Adapun Imam Hanafi tidak mahu menerima pengangkatan itu di manapun ia diletakkan.com/Athens/Acropolis/9672/imam4. Setelah tiba di depan baginda.Dijawab oleh Imam Hanafi: “Wahai Amirul Mukminin semoga Allah memperbaiki Amirul Mukminin. sumber: http://www. takutlah kepada Allah. Setelah diminum air yang beracun itu Imam Hanafi kembali dimasukkan ke dalam penjara.geocities. Suatu kali Imam Hanafi dipanggil baginda untuk mengadapnya. Wahai Amirul Mukminin.” Baginda berkata lagi: “Kamu berdusta. Tetapi madzab beliau Imam Abu Hanifah atau madzab Hanafi disebar luaskan oleh murid-murid beliau. Bangsa Arab tidak akan rela diadili seorang golongan hakim seperti saya.” Pernah juga terjadi. masingmasing diberi surat pelantikan tersebut. Setiap pagi dipukul dengan cambuk sementara dileher beliau dikalung dengan rantai besi yang berat. Demi Allah saya bukanlah orang yang boleh dipercayai di waktu tenang. Imam Hanafi menolak semua tawaran yang diberikan oleh kerajaan daulah Umaiyyah dan Abbasiyah adalah kerana beliau tidak sesuai dengan corak pemerintahan yang mereka kendalikan. lalu diberinya segelas air yang berisi racun. maka ketiganya ditetapkan untuk menduduki pangkat yang cukup tinggi dalam kenegaraan. dan akhirnya mereka seksa hingga meninggal. janganlah bersekutu dalam kepercayaan dengan orang yang tidak takut kepada Allah. Imam Abu Hanifah juga tidak mahu menerimanya dan tidak pula berusaha melarikan diri. saya telah menyatakan bahawa saya tidak patut memegang jawatan itu. Ia dipaksa meminumnya. maka bagaimana baginda akan mengangkat seorang maulana yang dipandang rendah oleh bangsa Arab. Di antara murid beliau yang terkenal adalah Muhammad bin Al-Hassan Al-Shaibani. Imam Syarik menerima jawatan itu. Sepanjang riwayat hidupnya. Oleh sebab itu Imam Abu Hanifah dimasukkan kembali ke dalam penjara dan dijatuhi hukuman sebanyak 100 kali dera. lmam Syarik diangkat menjadi kadi di ibu kota.htm Popularity: 17% [?] . kerana Imam Hanafi menolak semua tawaran yang mereka berikan. Setelah mereka hadir di istana. Oleh sebab itu mereka berusaha mengajak Imam Hanafi untuk bekerjasama mengikut gerak langkah mereka. Demikian juga fatwa-fatwa beliau dituliskan dalam kitab-kitab fikih oleh para murid dan pengikut beliau sehingga madzab Hanafi menjadi terkenal dan sampai saat ini dikenal sebagai salah satu madzab yang empat.” Dijawab oleh Imam Hanafi: “Amirul Mukminin. Imam Sufyan ats Tauri diangkat menjadi kadi di Kota Basrah. iaitu Imam Abu Hanifah. Pengangkatan itu disertai dengan ancaman bahawa siapa saja yang tidak mahu menerima jawatan itu akan didera sebanyak l00 kali deraan. maka bagaimana saya akan dipercayai di waktu marah.

tepatnya khalifah Malik bin Marwan. nama Imam Abu Hanifah adalah Nu‟man bin Tsabit bin Zutha. sebab waktu itu beberapa Shahabat masih hidup. Bahkan beliau menyamakan posisi gurunya ini dengan orang tuanya. akhirnya Imam Abu Hanifah r. seperti Anas bin Malik r. Profil Imam Mazhab (Imam Abu Hanifah r. Imam Hammad sendiri waktu itu adalah salah seorang ulama besar kalangan Tabi‟in di Kufah. 2009 @ 4:24 pm } · { Pengantar Fiqh } a. Beliau termasuk kalangan Tabi‟in. Nafi‟ Maula Ibnu Umar dan Hammad bin Abi Sulaiman. MENUNTUT ILMU Seperti kebiasaan ulama lainya. namun beliau tidak pernah bertemu dengan seorangpun diantara mereka. bahkan dalam mengajar tidak sekali beliau menggunakan metode diskusi dengan murid-muridnya. Abu Thufail Amir bin Wailah di Makkah dan Sahal bin Sa‟ad bin Sa‟idi di Madinah.a) sekitar awal abad ke dua hijriyah. Alqamah (murid Ibnu Mas‟ud) dan Ibrahim an-Nakha‟i.a (murid Ibnu Mas‟ud r. sedang di Irak sendiri yang menjadi walinya adalah al-Hajjaj ats-Tsaqafi. sementara sebagaimana yang kita ketahui bahwa Fiqh Kufah secara umum bermuara pada metode beberapa orang tokoh seperti Ali bin Abi Thalib. mungkin dikarenakan kondisi masyarakat Irak yang saat itu banyak perbedaan dan perdebatan masalah akidah sehingga memberikan pengaruh terhadap kecenderungan Abu Hanifah muda. posisinya digantikan oleh Imam Abu Hanifah. lahir pada tahun 80 H di kota Kufah dan meniggal tahun 150 H (tahun lahirnya Imam Syafi‟i). Di waktu muda beliau juga merasakan keadilan khalifah Umar bin Abdul Aziz. dan hidup beliau terus berlanjut ketika Bani Umayyah jatuh dan digantikan oleh Bani Abbasiyah. ABU HANIFAH SEORANG GURU Paca meniggalnya Imam Hammad bin Abi Sulaiman pada tahun 120 H. metode mereka itu diistilahkan dengan Fiqh al-Qiyas wa at-Takhrij. Abdullah bin Abi Aufa di Kufah.. mashlahah dan masalah . masa kecilnya dilalui dengan menghafal al-Qur‟an kemudian beberapa hadits-hadits penting. Dalam belajar Fiqh.a mengambil sikap untuk belajar Fiqh secara khusus dari seorang ulama saja atau yang dikenal dengan istilah mulazamah. Inilah yang menjadi faktor asasi perubahan haluan ilmu beliau ke bidang Fiqh yang lebih nampak manfaatnya di tengah masyarakat. Dengan demikian mazhab ini adalah mazhab yang tertua diantara mazhab-mazhab Ahlu Sunnah. Ketika beliau lahir umat Islam berada dibawah kekhalifahan Bani Umayyah. Jadi bisa dikatakan bahwa beliau sangat mengetahui tentang polemik. Namun lama-kelamaan beliau menyadari bahwa selama ini ia telah mengikuti jalan yang tidak pernah diikuti para salafuna ashshalih dan sibuk dengan perdebatan-perdebatan yang tidak jelas manfaatnya. dan jika sebuah pembahasan sampai kepermasalahan adat.a di Basrah. Setelah beberapa lama mengembara mendengar dan belajar dari ulama-ulama Kufah. Ibnu Mas‟ud.a yang merupakan murid Alqamah bin Qais r. dalam hal ini beliau belajar kepada Hammad bin Abi Sulaiman r.a) Lengkapnya. Imam Abu Hanifah mengambil Fiqh ulama Kufah dari berbagai aliran dan metode yang ada di sana. Disamping itu beliau juga sempat mendengar pengajaran ulama besar Tabi‟in seperti Atha‟ bin Abi Rabah. Dan disebutkan dalam banyak buku bahwa Imam Abu Hanifah selalu menyertai gurunya ini sampai akhir hayatnya.MAZHAB HANAFI { Februari 13. Sedangkan ketika beliau wafat umat Islam berada dibawah kekhalifahan al-Manshur dari Bani Abbasiyah. Dalam mengajar beliau sering mengemukakan hal-hal baru dan sering juga mendebat banyak pendapat. yaitu selama 18 tahun. kemajuan dan kemunduran kekhalifahan Bani Umayyah. Sedang kehidupan ilmiyahnya dimulai dengan menekuni Ilmu Kalam.

baik dari yang sealiran maupun tidak. ahli ibadah. Al-Qur‟an. menguatkan ilmu murid dan guru dalam waktu yang bersamaan. seperti hubungan bapak dengan anak. Dan tujuan dari metode ini adalah untuk meluaskan wawasan. Yang berbeda adalah beliau menetapkan syarat-syarat khusus dalam penrimaan sebuah hadits (mungkin bisa dilihat di Ushul Fiqh). Sunnah/Hadits. . menghargai pendapat orang lain. dari khalifah sampai masyarakat biasa. Dengan demikian beliau menggabungkan dua dunia. Qiyas. kemudaian saya tidak akan mencari yang di luar perkataan mereka. Hanya saja beliau berbeda dengan sebagian mereka dalam menjelaskan maksud (dilalah) al-Qur‟an tersebut. Ibnu Sirin dan Sa‟id bin Musayyib (karena beliau menganggap mereka adalah mujtahid) maka saya akan berijtihad sebagaimana mereka berijtihad”. namun setelah meneliti kebenaran terjadinya Ijma‟ tersebut. semuanya terdiam. Metode yang dipakainya itu jika kita rincikan maka ada sekitar 7 Ushul Istinbath yang digunakan oleh Imam Abu Hanifah: al-Qur‟an. Beliau tidak sekedar menyampaikan ceramah. Sya‟bi. yang memperlihatkan bahwa Abu Hanifah bukan saja menilai sebuah hadits dari sisi Sanad (perawi). wara‟ dan tawadhu‟. jika tidak saya temukan saya mengambil dari Sunnah dan Atsar dari Rasulullah saw yang shahih dan saya yakini kebenarannya. 2. METODE FIQH ABU HANIFAH Adapun metodenya dalam Fiqh sebagaimana perkataan beliau sendiri: “Saya mengambil dari Kitabullah jika ada. jika tidak saya temukan di dalam Kitabullah dan Sunnah Rasulullah saw. Bahkan ketika Abu Yusuf terlambat menghadiri majlis beliau karena membantu orang tuanya dalam mencari nafkah hidup. bahkan lebih banyak mengemukakan masalah-masalah dan dilemparkan kepada murid-muridnya sembari memberikan dasar-dasar pijakan dalam menetapkan hukum. Dalam mengajar. tapi juga meneliti dari sisi Matan (isi) hadits dengan membandingkannya dengan hadits-hadits lain dan kaidah-kaidah umum yang telah baku dan disepakati. 1. dan hal ini tidak terjadi sekali saja!. zuhud. murid-muridnya merupakan orang-orang yang paling beliau cintai. karena ia satu saat akan berada di posisi murid dan di saat yang lain berada di posisi guru. Namun di saat yang sama beliau juga dikenal sebagai seorang guru yang banyak diam. Ijma‟. Dan tidak sedikit juga pujian datang baik itu secara terang-terangan disampaikan kepada beliau maupun yang tidak. 3. saya ambil yang saya butuhkan dan saya tinggalkan yang tidak saya butuhkan. dari dunia pasar beliau mendapatkan kekuatan berdebat dan logika. Perkataan Shahabat. al-Hasan. Abu Hanifah memandang al-Qur‟an sebagai sumber pertama pengambilan hukum sebagaimana imam-imam lainnya.keadilan. Sunnah. jika permasalahan berujung pada Ibrahim. kemudian mereka berdiskusi dan berdebat bersamanya. Istihsan dan „Urf (Adat). metode beliau mirip dengan metode yang dipakai Socrates. Imam Abu Hanifah juga memandang Sunnah sebagai sumber hukum kedua setelah alQur‟an sebagaimana imam-mam yang lain. Imam Abu Hanifah mengambil Ijma‟ secara mutlak tanpa memilah-milih. Ijma‟. dunia pasar dan dunia ilmu. beliau panggil dan setelah mengetahui alasannya beliau tidak sungkan-sungkan memberikan 100 dirham agar Abu Yusuf tidak lari lagi dari majlis beliau. dan dari dunia ilmu beliau mendapat sinar ke-tawadhu‟-an. Metode seperti ini tentunya hanya bisa dilakukan oleh orang-orang yang berjiwa besar dan memiliki kepribadian yang kuat. seperti dalam masalah mafhum mukhalafah. Dengan segala kelebihan yang dimilikinya menyebabkan banyak orang yang mengikuti majlis ilmu dan metodenya dalam Fiqh. Bagi Imam Abu Hanifah. saya cari perkataan Sahabat. dan di akhir beliau baru mengeluarkan pendapatnya.

Banyak ulama yang menganggap beliau adalah seorang mujtahid muthlaq.a. Disinilah nampak kelebihan Imam Abu Hanifah dalam mencari sebab (ilat) hukum. dan jika ada beberapa pendapat dari kalangan Tabi‟in beliau lebih cenderung berijtihad sendiri. Maka tidaklah mengherankan jika beliau dikatakan lebih faqih dari Abu Hanifah. kita saksikan sendiri bagaimana Imam Abu Yusuf mengambil ilmu dari dua aliran besar Fiqh ketika itu. Imam Zufar bin Hudzail bin Qais al-Kufi dan Imam Hasan bin Ziyad al-Lu‟lu‟i. setara dengan Imam Abu Hanifah. Guru yang paling berpengaruh dalam pembentukan dan pembinaan ilmu beliau adalah Imam Muhammad Ibnu Abi Laila al-Qadhi dan kemudian Imam Abu Hanifah sendiri.a. lafaz talak. dalam masalh ini Imam Abu Hanifah juga termasuk orang yang banyak memakai „urf dalam masalah-masalah furu‟ Fiqh. belaiu menggunakannya jika mendapatkan permasalahan yang tidak ada nash yang menunjukkan solusi permasalahan tersebut secara langsung atau tidak langsung (dilalah isyarah atau thadhammuniyah). sehingga kadang-kadang ada peringatan dari pemimpin negeri agar Imam Abu Hanifah tidak mengeluarkan Fatwa.4. terutama dalam masalah sumpah (yamin). dengan demikian Abu Yusuf telah mendapatkan Fiqh secara ilmu dan praktek sekaligus dari dua tokoh tersebut. yang waktu itu menjadi Qadhi di Kufah.a. disebutkan sekitar 17 tahun lamanya Abu Yusuf melakukan mulazamah dengan Abu Hanifah dan bisa dikatakan Abu Hanifahlah yang mengisi pundi-pundi ilmu Abu Yusuf sehingga menjadi seorang yang tidak kalah hebatnya dri Abu Hanifah sendiri. Abu Yusuf banyak belajar tentang Qadha‟ (hukum dan kehakiman). 7. Lahir kira-kira tahun 113 H dan meninggal tahun 182 H. Profil Rigkas Imam Abu Yusuf Lengkapnya beliau bernama Abu Yusuf Ya‟qub bin Ibrahim bin Habib al-Anshari. Imam Muhammad bin Hasan bin Farqad asy-Syaibani (kemudian dikenal sebagai shahiba Abi Hanifah ulama besar mazhab Hanafi).a (ulama Hadits). Muhammad bin Ishaq (pengarang al-Maghazi). dibandingkan imam-imam yang lain. Abu Yusuf juga belajar dari banyak ulama-ulama besar lainnya. sedang dari Ibnu Abi Laila. b. Abdullah bin Umar. kurang harmonis juga karena beliau sering mengeluarkan fatwa yang berbeda dengan Imam Ibnu Abi Laila r. al-Hajjaj bin Arthah. diantara muridnya yang terkenal adalah Imam Abu Yusuf Ya‟qub bin Ibrahim al-Anshari. akad dan syarat.Urf. pembebasan budak. 6. sementara dengan Imam Syarik r. 5. sedangkan dengan Imam Ibnu Abi Laila r. perbedaan antara Ahli Hadits dengan Ahli Ra‟yi berpengaruh kepada hubungan beliau dengan Imam ats-Tsauri r. Sufyan bin „Uyaynah.a tetap memiliki kharisma yang tinggi di kalangan masyarakat. IMAM ABU HANIFAH DAN ULAMA YANG SEMASA DENGANNYA Diantara ulama-ulama yang semasa dengannya di Kufah adalah Imam Sufyan ats-Tsauri r. Malik bin Anas.a ada sedikit persaingan karena satu masa. Imam Syarik bin Abdillah an-Nakha‟i (ulama Fiqh) dan Muhammad bin Abdurrahman bin Abi Laila (ulama Fiqh). Irak dan negeri-negeri lain. Istihsan. terbukti banyak sekali murid-muridnya yang menjadi ulama besar. Imam Abu Hanifah adalah orang yang paling seirng menggunakan istihsan dalam menetapkan hukum. Abdul Malik bin Juraih. Perkataan Shahabah. Imam Syafi‟i dan Imam Ahmad bin Hanbal. Meskipun demikian Imam Abu Hanifah r. seperti Abu Ishaq asy-Syaibani. Ubaidillah bin Umar. Madrasah ar-Ra‟yi dan Madrasah al- . Imam Malik. Disamping belajar khusus dari kedua Imam di atas. metode beliau adalah jika terdapat banyak perkataan Shahabah. Qiyas. dan ulama-ulama lainnya dari Hijaz. Abu Yusuf mengambil Fiqh dan belajar banyak dari Abu Hanifah. Namun demikian Imam Abu Hanifah tetap orang yang paling berpengaruh pada dirinya bahkan beliau menganggap Abu Hanifah lebih dari orang tua dan keluarganya sendiri. maka beliau mengambil yang sesuai dengan ijtihadnya tanpa harus keluar dari perkataan Shahabah yang ada itu. Hubungan antara Imam Abu Hanifah dengan mereka tidak terlalu baik.

paling kuat hafalan (ahfazh) dan paling shahih riwayatnya dari Abu Yusuf”. sehingga seorang yang bermazhab bisa memposisikan dirinya dan bisa melakukan pemilihan-pemilihan (tarjih) yang benar jika terjadi pertentangan pendapat di dalam satu mazhab. d. Imam Syafi‟i r.a. dan karangan monumental beliau al-Kharraj. Sedangkan diantara ulama-ulama yang pernah belajar kepada beliau seperti Imam Syafi‟i r. Imam Malik r. Zam‟ah bin Shalih. Umar bin Dzar.a. arRadd „Ala Siyar al-Auza‟i. karena mengikuti yang rajih (pendapat yang kuat) merupakan sebuah kemestian baik bagi mujtahid maupun muqallid. al-Auza‟i. Bakir bin Ammar dan Abu Yusuf. Tingkatan Mujtahid Mazhab yaitu ulama yang mampu mengolah dalil-dalil dan kemudian menghasilkan hukum dengan bantuan kaedah yang telah ditetapkan guru-guru mereka.a). terlebih lagi dalam menghukum dan berfatwa. Beliau termasuk ulama yang banyak mengarang buku. 2. Yahya bin Ma‟in berkomentar: “Saya tidak pernah melihat di kalangan ashhab ar-ra‟yi yang paling tsabit (kuat) dalam masalah hadits. Malik bin Anas. Buku-buku tersebut di kemudian hari dijadikan sebagai referensi utama Mazhab Hanafi sebagaimana yang diungkapkan Syeikh al-Kautsari . tanpa taqlid (mengikut) kepada siapapun. Imam Muhammad bin Sulaiman (Ibnu Kamal Basya) membagi Ahli Fiqh secara umum kepada tujuh tingkatan: 1. Beliau meninggal pada hari yang sama dengan Imam al-Kasa‟i tahun 189 H di Ray.Hadits. jadi meskipun di sebagian permasalahan mereka berbeda dengan sang guru. yang sampai saat ini banyak dipelajari pakar ekonomi dunia. akan tetapi meereka masih mengikut (taqlid) . Sufyan ats-Tsauri.a dan Imam Ahmad bin Hanbal r. dan disebutkan juga bahwa seorang ahli hikmah dari kalangan Ahli Kitab memeluk Islam setelah membaca buku ini. Abu Sulaiman al-Jauzjani (guru Imam Tirmidzi). Yang monumental adalah kitab al-Mabsuth. lahir di daerah Wasith (di Irak) tahun 132 H. Profil Ringkas Imam Muhammad bin Hasan asy-Syaibani Beliau adalah Muhammad bin al-Hasan bin Farqad asy-Syaibani. kemudian saya mendatangi orang banyak dan mereka berkata: ” Abu Yusuf lebih kami senangi dari Abu Hanifah dan Muhammad (Ibn Hasan)”. sehinga Khalifah Harun ar-Rasyid berkata: ” Telah pergi hari ini Lughah dan Fiqh”. c. Tingkatan Mujtahid Agama yaitu ulama yang mampu merumuskan kaedah-kaedah ushul dan mampu menetapkan hukum furu‟ dari empat sumber (dalil) utama secara independen.a. yang memang pantas memangku gelar Qadhi al-Qudhah untuk pertama kalinya di masa Harun al-Rasyid dan terus berlanjut sampai masa al-Mahdi dan al-Hadi. akan tetapi karangan beliau yang masih bertahan sampai saat ini hanya beberapa saja seperti buku al-Atsar. Imam Muhammad juga belajar dari Mus‟ir bin Kidam. Tingkatan Ahli Fiqh Mazhab Hanafi (Thabaqat Fuqaha’ al-Hanafiyah) Mengetahui tingkatan-tingkatan dalam sebuah mazhab sangat berguna dalam bermazhab. Ikhtilaf Ibni Abi Laila Wa Abi Hanifah. Malik bin Maghul. Dan tentang pengaruh beliau di kalangan masyarakat kita cukupkan dengan komentar Imam Ahmad bin Hanbal: ” Dalam menulis/mengambil hadits awalnya saya sering mendatangi Abu Yusuf dan saya menulis hadits darinya. Imam Muhammad bin Hasan banyak menulis buku dibanding ulama lain yang semasa dengannya dan buku-bukunya tersebut juga banyak yang masih ditemukan saat ini. Selain Abu Hanifah. Abu Ubaid al-Qasim bin Salam dan lan sebagainya. seperti para imam yang empat (Imam Abu Hanifah r. Banyak sekali kisah dan komentar dari para ulama yang menempatkan Abu Yusuf sebagai figur ulama besar umat ini. dan tumbuh di Kufah sehingga kemudian belajar dari Imam Abu Hanifah.

adh-dha‟if (yang lemah). dan mengenai kelompok ini Ibnu Kamal Basya mengomentari: “Celakalah siapa yang mengikuti mereka ini!”. 3. hanya saja mereka menetapkan hukum-hukum dengan menggunakan kaedah ushul yang ditetapkan Imam. 500 H). Inilah yang dikemudian hari menjadikan mereka membentuk satu aliran besar dalam bidang Ushul Fiqh. jadi yang diwariskan dari imam-imam mereka bukanlah kaidah-kaidah yang baku sebagaimana yang lazim di mazhab lain. Dan budaya ini juga yang menempatkan mereka sebagai perintis lahirnya Ilmu Qawaid Fiqhiyah. Tingkatan Pengikut (Muqallid) yang mampu membedakan antara al-aqwa (yang paling kuat). Tingkatan Muqallid yang tidak mampu melakukan hal-hal yang di atas. 4. Syamsul A‟immah alHelwani (w. pengarang kitab al-mukhtar. seperti pengarang kitab al-kanz. zhahir ar-riwayah. akan tetapi dengan kemampuan mereka menguasai permasalahan ushul dan kaedah ushul.a lainnya. Ulama tingkatan ini seperti al-Khashaf (w. Muhammad bin Hasan r. pengarang al-Hidayah (w. Syamsul A‟immah as-Sarkhasi (w.a dan murid-murid Abu Hanifah r. Tingkatan Jenis Permasalahan Dan Buku Referensi Dalam Mazhab Hanafi Salah satu ciri khas mazhab Hanafi adalah dalam metode pengajaran dan penulisan buku. Abu al-Hasan al-Karkhi (w. Contoh ulama Hanafi jenis ini seperti Imam Abu Hasan al-Qadduri dan Imam al-Marghinani. di beberapa kesempatan kadang juga memasukkan murid-murid . 593 H) 6. mereka biasa mengumpulkan masalah-masalah furu‟ untuk kemudian dicarikan hukumnya dan diwariskan disetiap generasi. Fakhrul Islam al-Bazdawi (w.dari sisi kaedah ushul. zhahir al-mazhab dan riwayah nadirah. Permasalahan Zhahir ar-Riwayah (masalah asasi/ushul). mereka mampu menjelaskan ungkapan atau istilah yang bersifat umum yang memiliki beberapa kemungkinan makna dan menjelaskan hukum yang memiliki dua kemungkinan. 340 H). e. pengarang Ahkam al-Qur‟an (w. namun mereka tidak mampu menyalahi pendapat Imam. Imam Abu Yusuf dan Imam Muhammad) atau yang dikenal juga dengan sebutan “Ulama yang tiga”. Tingkatan Mujtahid dalam permasalahan-permasalahan yang tidak ditemukan riwayat atau sumber langsung dari shahib al-madzhab (Imam Abu Hanifah r. Abu Ja‟far ath-Thahawi (w. Aliran Hanafiyah atau Aliran Fuqaha‟. dan kemudian mereka bisa menerapkannya ke dalam permasalahan furu‟ yang semisal atau tergolong kedalam kategorinya.dan pengarang kitab al-majma‟. al-qawi (yang kuat). Tingkatan Ashhab at-Takhrij dari golongan muqallidin (lawan mujtahid) yaitu ulama yang belum mampu berijtihad dalam masalah ushul. hadza audhah (ini yang paling jelas). Mereka adalah ulama-lama pengarang matan yang sering dipakai di kalangan mazhab. 261 H). 593 H) dan lain sebagainya. hadza aufaq lil qiyas (ini yang paling sesuai dengan qiyas) atau hadza arfaq lin nas (ini yang paling ringan bagi manusia). Tingkatan Ashhab at-Takhrij juga. hadza ashahur riwayah (ini riwayat yang paling benar).a. Dalam hal ini dalam mazhab Hanafi seperti Imam Abu Yusuf r. 370 H) 5.a). baik dalam segi ushul maupun furu‟. Terdapat 3 jenis permasalahan yang diriwayatkan dalam buku-buku referensi mazhab Hanafi: a. dari masalah-masalah itulah mereka menghasilkan kaidah-kaidah umum baik dalam bidang Ilmu Ushul maupun Ilmu Fiqh. pengarang kitab al-wiqayah. 7. biasanya mereka sering menggunakan kata-kata hadza aula (inilah yang lebih utama). 321 H). Fakhruddin Qadhikhan (w. biasanya mereka tidak mengutip perkataan-perkataan yang ditolak dalam mazhab dan riwayat-riwayat yang lemah. 482 H). namun tingkatan ini mereka hanya baru mampu memilih-milih riwayat-riwayat/perbedaan-perbedaan pendapat yang ada. apakah hukum ini dari shahib al-mazhab atau dari murid-muridnya. kemampuan mereka ini ditopang juga dengan kekuatan logika dan nalar mereka terhadap ushul dan kaedah-kaedah. Ulama tingkatan ini seperti Imam Ahmad bin Ali bin Abu Bakar ar-Razi yang lebih dikenal dengan Imam Jashash. yaitu masalah-masalah yang diriwayatkan dari Ashhab al-Madzhab (Imam Abu Hanifah. 448 H). melainkan sekumpulan permasalahan.

Tunis. alJami‟ al-Kabir. 4. yaitu masalah-masalah yang dihasilkan para mujtahid generasi belakangan ketika ditanya namun tidak mendapatkan jawaban pada riwayat-riwayat yang ada dari Ashhab al-Madzhab. Masalah-masalh ini dapat dijumpai dalam karangan-karangan Imam Muhammad bin Hasan asy-Syaibani seperti al-Mabsuth (al-Ashlu). Banyaknya murid Abu Hanifah dan perhatian mereka dalam menyebarkan dan menjelaskan pendapatpendapat Imam mereka. Cina.Abu Hanifah yang lainnya. al-Muhith karangan Radhiyuddin asSarkhasi dan lain-lain. Hal ini menjadi Mazhab ini selalu memiliki solusi-solusi dalam setiap permasalahan . Afghan. Parsi. adz-Dzakhirah al-Burhaniyah yang juga karangan beliau. al-Jurjaniyat dan ar-Riqqiyat c. 3. disamping buku-buku diatas. dan para hakim tersebut selalu memakai pendapat Imam Abu Yusuf dalam memutuskan perkara-perkara. Diantara buku-buku penting yang juga menjadi pegangan pokok seperti kitab al-Hidayah Syarh Bidayah al-Mubtadi karangan Syeikhul Islam al-Marghinani. Syam. maupun syuruh. Mazhab Hanafi dijadikan sebagai mazhab resmi negara semasa kekuasaan Abbasiyah. al-Haruniyat. dan Badai‟ ash-Shanai‟ karangan Imam al-Kasani. yaitu masalah-masalah yang diriwayatkan dari Ashhab al-Mazhab namun bukan dari buku-buku yang disebutkan di jenis pertama. 2. Albania dan di kawasan Balkan. Permasalahan ini disebut zhahir ar-Riwayah karena diriwayatkan dari Imam Muhammad secara yakin dan pasti. f. mutawatir atau paling kurang masyhur. az-Ziyadat. Pembagian jenis permasalahn tersebut sekaligus menjelaskan urutan buku dan referensi yang digunakan di dalam Mazhab Hanafi. Perhatian besar ulama-ulama Mazhab ini dalam percepatan pertumbuhan Mazhab Hanafi dengan mencurahkan kemampuan mereka dalam mencari ilat hukum dan sekaligus mempraktekkannya dalam banyak masalah-masalah baru yang timbul. Penyebaran Mazhab Hanafi Mazhab Hanafi banyak berkembang awalnya di Baghdad dan Kuffah. Diantara poin penting yang menjadikan penyebaran Mahzab ini ke banyak negeri adalah: 1. mukhtashar. as-Siyar ash-Shaghir dan as-Siyar al-Kabir. al-Waqi‟at karangan Abul Abbas Ahmad bin Ahmad ar-Razi. Contoh buku-buku yang tergolong jenis ini seperti an-Nawazil karangan Abu Laits asSamarqandi. khususnya yang pernah berada di bawah kekuasaan Abbasiyah. Syam/Syiria. Jazair. Turkistan bahkan Brazil. Turkistan. Tripoli. Majmu‟ an-Nawazil Wa al-Hawadits Wa al-Waqi‟at karangan Ahmad bin Musa al-Kasyi. al-Jami‟ ash-Shaghir. Jika terjadi pertentangan antara masalah-masalah tersebut maka didahulukanlah yang dahulu berdasarkan urutan di atas. Romawi. seperti Mesir. Permasalahan Nawadir. India. India. namun kemudian terus meluas sampai ke daerah-daerah lain. Permasalahan al-Fatawi wa al-Waqi‟at. buku ini merupakan buku referensi utama dalam mazhab. Akan tetapi. Turki. Sampai saat ini bisa dikatakan Mazhab Hanafi banyak dipakai di Irak. Pengangkatan Imam Abu Yusuf sebagai Qadhi al-Qudhah (hakim tertinggi) yang memiliki kekuatan dalam memilih qudhahi (hakim-hakim) di daerah-daerah. Bukhara. Yaman. negera-negara Kaukasia. masih banyak buku-buku lain yang menjadi referensi penting dalam Fiqh Hanafi. Ada satu buku lain yang juga dikenal sebagai buku asasi yaitu buku al-Kafi karangan Imam Muhammad bin Muhammad bin Ahmad al-Maruzi al-Balkhi. b. baik itu berupa mutun. bisa jadi di buku-buku karangan Imam Muhammad yang lain seperti al-Kisaniyat.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful