You are on page 1of 22

LAPORAN PENDAHULUAN

Nama Mahasiswa NIM

: Fitria Chrusta Karlina : 0610723010

 MASALAH UTAMA : Spinal Cord Injury  DEFINISI Trauma spinal adalah injuri/cedera/trauma yang terjadi pada spinal, meliputi spinal collumna maupun spinal cord, dapat mengenai elemen tulang, jaringan lunak, dan struktur saraf pada cervicalis, vertebralis dan lumbalis akibat trauma berupa jatuh dari ketinggian, kecelakaan lalu lintas, kecelakaan olah raga, dan sebagainya. Trauma spinalis menyebabkan ketidakstabilan kolumna vertebral (fraktur atau pergeseran satu atau lebih tulang vertebra) atau injuri saraf yang aktual maupun potensial (kerusakan akar-akar saraf yang berada sepanjang medula spinalis sehingga mengakibatkan defisit neurologi).

 KLASIFIKASI Klasifikasi cedera medulla spinalis berdasarkan lokasi cedera, antara lain : a. Cedera Cervikal  Lesi C1-C4 Pada lesi C1-C4, otot trapezius, sternomastoideus, dan otot platisma masih berfungsi. Otot diafragma dan interkostal mengalami paralisis dan tidak ada gerakan volunter (baik secara fisik maupun

fungsional). Di bawah transeksi spinal tersebut. Kehilangan sensori pada tingkat C1-C3 meliputi oksipital, telinga dan beberapa daerah wajah. Pasien pada quadriplegia C1, C2 dan C3 membutuhkan perhatian penuh karena ketergantungan terhadap ventilator mekanis. Orang ini juga tergantung semua aktivitas kebutuhan sehari-harinya. Quadriplegia pada C4 mungkin juga membutuhkan ventilator mekanis tetapi dapat dilepas. Jadi penggunaannya secara intermitten saja.  Lesi C5 Bila segmenC5 medulla spinalis mengalami kerusakan, fungsi diafragma rusak sekunder terhadap edema pascatrauma akut. Paralisis intestinal dan dilatasi lambung dapat disertai dengan depresi pernafasan. Quadriplegia pada C5 biasanya mengalami ketergantungan dalam melakukan aktivitas seperti mandi, menyisir rambut, mencukur, tetapi pasien mempunyai koordinasi tangan dan mulut yang lebih baik.  Lesi C6 Pada lesi segmen C6, distress pernafasan dapat terjadi karena paralisis intestinal dan edema asenden dari medulla spinalis. Biasanya akan terjadi gangguan pada otot bisep, triep, deltoid dan pemulihannya tergantung pada perbaikan posisi lengan. Umumnya pasien masih dapat melakukan aktivitas higiene secara mandiri, bahkan masih dapat memakai dan melepaskan baju.  Lesi C7 Lesi medulla pada tingkat C7 memungkinkan otot diafragma dan aksesoris untuk mengkompensasi otot abdomen dan interkostal. Fleksi jari tangan biasanya berlebihan ketika kerja refleks kembali. Quadriplegia C7 mempunyai potensi hidup mandiri tanpa perawatan dan perhatian khusus. Pemindahan mandiri, seperti berpakaian dan melepas pakaian melalui ekstrimitas atas dan bawah, makan, mandi, pekerjaan rumah yang ringan dan memasak.  Lesi C8

melepaskan pakaian. seperti kehilangan sensori sentuhan. Jari tangan pasien biasanya mencengkram. Hipotensi postural biasanya muncul. Fungsi inspirasi paru meningkat sesuai tingkat penurunan lesi pada toraks.  Lesi T6-T12 Lesi pada tingkat T6 menghilangkan semua refleks adomen. segmen-segmen individual berfungsi. merawat rumah. Pasien dengan lesi pada tingkat torakal harus befungsi secara mandiri.Hipotensi postural bisa terjadi bila pasien ditinggikan pada posisi duduk karena kehilangan control vasomotor. mengemudikan mobil. T8 Margin kostal bawah  T10 Umbilikus  T12 Lipat paha c. dan otot lumrikal tangan. dan perawatan diri. Cedera Torakal  Lesi T1-T5 Lesi pada region T1-T5 dapat menyebabkan pernafasan dengan diafragmatik. mandiri dalam berpakaian. semua refleks abdominal ada. b. Ada paralisis spastik pada tubuh bagian bawah. dan suhu. Batas atas kehilangan sensori pada lesi torakal adalah:  T2 Seluruh tubuh sampai sisi dalam dari lengan atas  T3 Aksilla  T5 Putting susu  T6 Prosesus xifoid  T7. Hipotensi postural dapat diminimalkan dengan pasien berubah secara bertahap dari berbaring ke posisi duduk. Cedera Lumbal  Lesi L1-L5 Kehilangan sensori lesi pada L1-l5 yaitu: . interoseus. Timbul paralisis parsial dari otot adductor pollici. Dari tingkat T6 ke bawah. nyeri. Quadriplegia C8 harus mampu hidup mandiri. dan pada tingkat 12.

perineum. Klasifikasi Frankel : Grade A : motoris (-).  L5 Aspek luar kaki dan pergelangan kaki serta ekstrimitas bawah dan area sadel.  L1 Semua area ekstrimitas bawah. Kecelakaan lalu lintas/jalan raya adalah penyebab terbesar. tidak terdapat paralisis dari otot kaki. kecuali aspek anterior paha. L2 Ekstrimitas bagian bawah kecuali sepertiga atas aspek anterior paha  L3 Ekstrimitas bagian bawah dan daerah sadel. dan glans penis. dan sepertiga aspek posterior paha. d. sensoris (+) Grade D : motoris (+) dengan ROM 4. skrotum. Kehilangan sensasi meliputi area sadel. sensoris (+) Grade E : motoris (+) normal. Cedera Sakral  Lesi S1-S6 Pada lesi yang mengenai S1-S5. sensoris (+) 2. sensoris (-) Grade B : motoris (-). menyebar ke lipat paha & bagian belakang dari bokong. sensoris (+) Grade C : motoris (+) dengan ROM 2 atau 3. Klasifikasi berdasarkan keparahan 1. . e. Klasifikasi ASIA (American Spinal Injury Association) Grade A : motoris (-). sensoris (-) termasuk pada segmen sacral Grade B : hanya sensoris (+) Grade C : motoris (+) dengan kekuatan otot < 3 Grade D : Motoris (+) dengan kekuatan otot > 3 Grade E : motoris dan sensoris normal  ETIOLOGI 1. mungkin terdapat beberapa perubahan posisi dari telapak kaki. Dari S3-S5.  L4 Sama dengan L3. area anal.

5. yang menghasilkan saluran sempit dan mengakibatkan cedera progresif terhadap medulla spinalis dan akar. osteoporosis yang disebabkan oleh fraktur kompresi pada vertebrata. tembak pada daerah vertebra. distraksi (stretching berlebih). Pria 80 % sedangkan wanita hanya 20 %. stress lateral. tersering pada usia 16-30 tahun. mielitis akibat proses inflamasi infeksi maupun noninfeksi. pundak. Di bidang olahraga. tajam. Injuri atau jatuh dari ketinggian. penekanan. tumor infiltrasi maupun kompresi. d. Beberapa kegiatan olah raga seperti gulat. 6. tangan. Pergerakan yang berlebih: hiperfleksi. in-line skating.  FAKTOR RESIKO a. rotasi berlebih. b.2. hiperekstensi. Tidak lengkap pemeriksaan pada suatu cedera bila fungsi anggota gerak belum dinilai untuk menyingkirkan kerusakan akibat cedera tulang belakang. 3. Luka jejas. Deformitas klinis mungkin tidak jelas dan kerusakan neurologis mungkin tidak tampak pada pasien yang juga mengalami cedera kepala atau cedera berganda. Kecelakaan sering terjadi pada usia di bawah 65 tahun dibandingkan usia di atas 65 tahun. Kecelakaan karena olah raga. c. siringmielia. tersering karena menyelam pada air yang sangat dangkal 4. hockey. kaki Kelemahan/penurunan/kehilangan fungsi motorik (kelemahan. dan penyakit vaskuler. Usia 16-30 tahun. menyelam. berselancar di atas salju. rollerskating. Tanda dan gejala trauma spinal antara lain adalah:    Nyeri pada area spinal atau paraspinal Nyeri kepala bagian belakang. Gangguan lain yang dapat menyebabkan cedera medulla spinalis seperti spondiliosis servikal dengan mielopati. Memiliki kelainan tulang atau sendi seperti arthritis dan osteoporosis. berselancar. paralisis) .  MANIFESTASI KLINIS Cedera tulang belakang harus selalu diduga pada kasus di mana setelah cedera pasien mengeluh nyeri serta terbatasnya pergerakan leher dan pinggang.

Immobilisasi sederhana . vasomotor menurun. beberapa sensasi tetap utuh di bawah batas luka. inkontinensia urine dan retensi feses  jika berlangsung lama akan menyebabkan hiperreflek/paralisis spastic  Pemotongan sebagian rangsangan: tidak simetrisnya flaccid paralisis. melihat lebih jelas saraf spinal 3.        Penurunan/kehilangan sensasi (mati rasa/hilang sensasi nyeri. menurunnya bladder atau bowel.  PENATALAKSANAAN 1. hilangnya reflek-reflek spinal di bawah batas luka. berkurangnya keluarnya keringat satu sisi tubuh. Tidak ada keringat dibawah batas luka. tidak simetrisnya hilangnya reflek di bawah batas luka. CT Scan: melihat lebih jelas kelainan yang ditemukan pada hasil X-ray 4. Cidera pada cervikal . hilangnya tonus vasomotor (hipotensi). posisi. Myelogram: Lokasi obstuksi aliran CSF. MRI: membantu melihat spinal cord dan mengidentifikasi adanya pembekuan darah atau massa lain yang mungkin menekan spinal cord. meliputi: Flaccid paralisis di bawah batas luka. parestesis. hilangnya sensasi di bawah batas luka. hilang sensasi pada suhu. dan sentuhan) Paralisis dinding dada menyebabkan pernapasan diafrgma Shock dengan kecepatan jantung menurun Priapism Kerusakan kardiovaskuler Kerusakan pernapasan Kesadaran menurun Tanda spinal shock (pemotongan komplit rangsangan). kaku. Spinal X-ray: melihat fraktur / pergeseran vertebra 2.  POHON MASALAH (Terlampir)  PEMERIKSAAN PENUNJANG 1.

. Immobilisasi Tindakan UTAMA PENATALAKSANAAN TRAUMA immobilisasi harus sudah dimulai dari tempat kejadian/kecelakaan sampai ke unit gawat darurat. Periksa vital signs b. Cegah agar leher tidak terputar (rotation). Pemberian megadose Methyl Prednisolone Sodium Succinate dalam kurun waktu 6 jam setaleh kecelakaan dapat memperbaiki konntusio medula spinalis. Obat: adrenal corticosteroid untuk mencegah dan mengurangi edema medulla spinalis PRINSIP-PRINSIP SPINAL: 1. dengan menggunakan ’cervical collar’. Cidera pada thoracal dan lumbal .Traksi skeletal .Pembedahan untuk spinal dekompresi 2. Pasien diangkat/dibawa dengan cara ”4 men lift” atau menggunakan ’Robinson’s orthopaedic stretcher’. 2. bila perlu monitor AGD (analisa gas darah).. monitor produksi urin. dan periksa apa ada neurogenic shock. Segera normalkan ’vital signs’. Yang pertama ialah immobilisasi dan stabilkan leher dalam posisi normal. Stabilisasi Medis Terutama sekali pada penderita tetraparesis/etraplegia: a.Bed-rest 3. Berikan oksigen. Pasang ’nasogastric tube’ c.. Pertahankan tekanan darah yang normal dan perfusi jaringan yang baik.Immobilisasi pada lokasi fraktur . Baringkan penderita dalam posisi terlentang (supine) pada tempat/alas yang keras. Pasang kateter urin d.Hiperekstensi dan branching .

’bowel training’. Mempertahankan posisi normal vertebra (”Spinal Alignment”) Bila terdapat fraktur servikal dilakukan traksi dengan Cruthfield tong atau Gardner-Wells tong dengan beban 2. pencapaian optimal fungsi – fungsi neurologik dan program kursi roda bagi penderita paraparesis/paraplegia. 5. beban ditambah setiap 15 menit sampai terjadi reduksi. Termasuk dalam program ini adalah ’bladder training’.5 kg perdiskus. latihan otot pernafasan. Rehabilitasi fisik harus dikerjakan sedini mungkin.3. 4. Bila ’realignment’ dengan cara tertutup ini gagal maka dilakukan ’open reduction’ dan stabilisasi dengan ’approach’anterior atau posterior. Rehabilitasi. Dekompresi dan Stabilisasi Spinal Bila terjadi ’realignment’ artinya terjadi dekompresi. pneumonia o Kerusakan integritas kulit : dekubitus o Kontraktur Peningkatan resiko injuri pada bagian tubuh yang mati rasa Meningkatkan resiko gagal ginjal Meningkatkan resiko infeksi saluran kemih Hilangnya kontrol pada bladder Hilangnya kontrol pada bowel Kehilangan sensasi Disfungsi seksual (impoten pada pria) Spasme otot . Bila terjadi dislokasi traksi diberikan dengan beban yang lebih ringan.  KOMPLIKASI Perubahan tekanan darah. bisa menjadi ekstrim (autonomic hyperreflexia) Komplikasi akibat imobilisasi: o Deep vein thrombosis o Infeksi pulmonal : atelektasis.

Data subyektif Pengetahuan pasien tentang penyakit (cedera dan akibat dari gangguan neurologis) Inforasi tentang kejadian cidera. Temp. kekuatan motorik TTV (TD. quadriplegia) Shock  PROGNOSIS Pada awal tahun 1900. Pasien dengan trauma tulang belakang komplit berpeluang sembuh < 5 %.- Nyeri Paralysis otot pernapasan Paralysis (paraplegia. Prognosis trauma tulang belakang inkomplit lebih baik. Jika terjadi paralisis komplit dalam waktu 72 jam setelah trauma. Perbaikan yang terjadi dikaitkan dengan pemakaian antibiotik untuk mengobati pneumonia dan infeksi traktus urinarius.  PENGKAJIAN A. Integritas kuli Distensi bowel dan bladder . Namun kini. peluang pasien untuk dapat berjalan kembali > 50 %. Nadi). Jika fungsi sensoris masih ada. bagaimana sampai terjadi Adanya dyspnea Sensasi yang tidak biasannya (parasthesia) Riwayat hilangnya kesadaran Tidak adanya sensasi - gangguan sensorik B. peluang perbaikan adalah 0 %. waktu dan orang Sikap tubuh pasien. angka ketahanan hidup 5 tahun pada pasien dengan trauma quadriplegia mencapai 90 %. GCS. Data Obyektif Tingkat Kesadaran (Sadar/tidak sadar). angka kematian 1 tahun setelah trauma pada pasien dengan lesi komplit mencapai 100 %. pupil Status respirasi (Bervariasi) Orientasi tempat.

10. Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh yang berhubungan dengan ketidakmampuan menelan sekunder terhadap paralisis. Ketidakefektifan pola napas yang berhubungan dengan kerusakan tulang punggung. Bersihan jalan nafas inefektif berhubungan dengan ketidakmampuan untuk membersihkan sekret yang menumpuk. gigi. Kurang perawatan diri (mandi. disfungsi neurovaskular. 6. Risiko tinggi cidera berhubungan dengan stimulasi refleks sistem saraf simpatis sekunder terhadap kehilangan kontrol otonom. 8. 2. Nyeri berhubungan dengan pengobatan immobilitas lama. 12. Resiko terhadap kerusakan integritas kulit berhubungan dengan penurunan immobilitas. penurunan sensorik. berpakaian) yang berhubungan dengan paralisis. 7. Gangguan BAK berhubungan dengan penurunan isyarat kandung kemih atau kerusakan kemampuan untuk mengenali isyarat kandung kemih sekunder terhadap cedera medulla spinalis. 13. Cemas berhubungan dengan kurang pengetahuan tentang proses penyakit dan prosedur perawatan . Risiko tinggi aspirasi yang berhubungan dengan kehilangan kemampuan untuk menelan. Gangguan pertukaran gas berhubungan dengan ketidakseimbangan perfusi ventilasi dan perubahan membran alveolar kapiler. cedera psikis dan alat traksi 9. DIAGNOSA KEPERAWATAN 1. Konstipasi berhubungan dengan kurangnya kontrol sfingter volunter sekunder terhadap cedera medulla spinalis di atas T11 atau arkus refleks sakrum yang terlibat (S2-S4). kerusakan sistem muskuloskeletal. 11. 5. 3. 4. Kerusakan mobilitas fisik berhubungan dengan kerusakan fungsi motorik dan sesorik.

26-28 mEq (dewasa) PO2 (PaO2): 80-110 mmHg PCO2 (PaCO2): 35-45 mmHg .45 CO2 : 20-26 mEq (bayi). Gangguan pertukaran gas berhubungan dengan ketidakseimbangan perfusi ventilasi dan perubahan membran alveolar kapiler. Tujuan: Mengoptimalkan pertukaran gas pernafasan Kriteria hasil : . Kaji tanda-tanda pola nafas tidak efektif (penggunaan otot-otot bantu pernafasan. Ketidakefektifan pola napas yang berhubungan dengan kerusakan tulang punggung.Pernafasan cuping hidung (-) .RR = 12-20x/menit . Beri tambahan O2 sesuai indikasi 2. Beri posisi kepala netral.Nadi = 60-100x/menit . Tujuan: Mempertahankan pola nafas klien efektif Kriteria hasil : .35-7.BGA dalam batas normal : pH : 7. cyanosis) 5.Retraksi dinding dada (-) . Lakukan suction jika diperlukan 7.CRT < 2 detik Rencana Tindakan 1. disfungsi neurovaskular. pernafasan cuping hidung. Auskultasi suara nafas 4. kerusakan sistem muskuloskeletal. Observasi TTV 3. tinggikan sedikit kepala tempat tidur jika dapat ditoleransi klien 2. INTERVENSI KEPERAWATAN 1. Ajarkan teknik nafas dalam 6.Bunyi nafas vesikuler .Cyanosis (-) .

d. bunyi napas normal. c. Kaji kemampuan batuk dan reproduksi sekret R/ Hilangnya kemampuan motorik otot intercosta dan abdomen berpengaruh terhadap kemampuan batuk. pasien mampu mengeluarkan seket. Observasi TTV tiap jam atau sesuai respon klien.RR = 12-20x/menit . Monitor warna.5 – 37. Bersihan jalan nafas inefektif berhubungan dengan ketidakmampuan untuk membersihkan sekret yang menumpuk. bersihkan sekret) R/ Menutup jalan nafas. Berikan minum hangat jika tidak kontraindikasi .Suhu = 36. Pertahankan oksigenasi NRM 8-10 L/menit. 2. Lakukan latihan nafas R/ mengembangkan alveolu dan menurunkan prosuksi sekret.50 C Intervensi 1. irama dan jumlah pernapasan. jumlah dan konsistensi sekret. lakukan kultur R/ Hilangnya refleks batuk beresiko menimbulkan pnemonia.Cyanosis (-) . Rencana Tindakan a. 4.SaO2 : 95-99 % . Kolaborasi pemeriksaan BGA 3. respirasi normal. f. e. Istirahatkan klien dalam posisi semifowler. jalan napas bersih. Tujuan : jalan napas bersih Kriteria hasil : Batuk efektif.CRT < 2 detik . b. 3. Lakukan suction bila perlu R/ Pengambilan secret dan menghindari aspirasi. g. Auskultasi bunyi napas R/ Mendeteksi adanya sekret dalam paru-paru. Pertahankan jalan nafas (hindari fleksi leher.

handsplits R/ Mencegah terjadinya kontraktur. Beri papan penahan pada kaki R/ Mencegah terjadinya foodrop d. Ganti posisi pasien setiap 2 jam dengan memperhatikan kestabilan tubuh dan kenyamanan pasien. Monitor tanda vital setiap 2 jam dan status neurologi R/ Mendeteksi adanya infeksi dan status respirasi. mendemonstrasikan teknik /perilaku yang memungkinkan melakukan kembali aktifitas.R/ Mengencerkan sekret h. i. b. R/ Menetapkan kemampuan dan keterbatasan pasien setiap 4 jam. . Kerusakan mobilitas fisik yang berhubungan dengan kerusakan fungsi motorik dan sesorik. R/ Menunjukan adanya aktifitas yang berlebihan. footdrop. g. meningkatkan kekuatan bagian tubuh yang sakit /kompensasi. Berikan oksigen dan monitor analisa gas darah R/ Meninghkatkan suplai oksigen dan mengetahui kadar olsogen dalam darah. edar. e. 4. R/ Mencegah terjadinya dekubitus. f. c. Lakukan ROM Pasif setelah 48-72 setelah cedera 4-5 kali /hari R/ Meningkatkan stimulasi dan mencehag kontraktur. Monitor adanya nyeri dan kelelahan pada pasien. Gunakan otot orthopedhi. Konsultasikan kepada fisiotrepi untuk latihan dan penggunaan otot seperti splints R/ Memberikan pancingan yang sesuai. Tujuan : Memperbaiki mobilitas Kriteria Hasil : Mempertahankan posisi fungsi dibuktikan oleh tak adanya kontraktur. Rencana Tindakan a. Kaji fungsi-fungsi sensori dan motorik pasien setiap 4 jam.

5. R/ Lingkungan yang lembab dan kotor mempermudah terjadinya kerusakan kulit f. perubahan posisi meningkatkan sirkulasi darah. hilangnya sensasi. Gangguan BAK berhubungan dengan penurunan isyarat kandung kemih atau kerusakan kemampuan untuk mengenali isyarat kandung kemih sekunder terhadap cedera medulla spinalis. e. Gunakan tempat tidur khusus (dengan busa) R/ Mengurangi tekanan 1 tekanan sehingga mengurangi resiko dekubitas d. Resiko terhadap kerusakan integritas kulit yang berhubungan dengan penurunan immobilitas. Rencana Tindakan a. c. penurunan sensorik. Tujuan : Peningkatan eliminasi urine . b. Kaji status nutrisi pasien dan berikan makanan dengan tinggi protein R/ Mempertahankan integritas kulit dan proses penyembuhan h. Pertahankan kebersihan dan kekeringan tempat tidur dan tubuh pasien. bebas dari infeksi pada lokasi yang tertekan. Kaji faktor resiko terjadinya gangguan integritas kulit R/ Salah satunya yaitu immobilisasi. R/ Meningkatkan sirkulasi darah g. bebas dari kemerahan. Tujuan : Mempertahankan Intergritas kulit Kriteria Hasil : Keadaan kulit pasien utuh. Lakukan perawatan kulit pada daerah yang lecet / rusak setiap hari R/ Mempercepat proses penyembuhan 6. Kaji keadaan pasien setiap 8 jam R/ Mencegah lebih dini terjadinya dekubitus. Lakukan pemijatan khusus / lembut diatas daerah tulang yang menonjol setiap 2 jam dengan gerakan memutar. Inkontinensia bladder /bowel. Ganti posisi setiap 2 jam dengan sikap anatomis R/ Daerah yang tertekan akan menimbulkan hipoksia.

.. e. keadaan urine jernih... c. kultur dan sensitibilitas R/ Mengetahui adanya infeksi g. Kaji tanda-tanda infeksi saluran kemih R/ Efek dari tidak efektifnya bladder adalah adanya infeksi saluran kemih b. berbentuk. Rencana tindakan a. Cek bladder pasien setiap 2 jam R/ Mengetahui adanya residu sebagai akibat autonomic hyperrefleksia f. Berikan diet tinggi serat R/ Serat meningkatkan konsistensi feses c. keadaan feses yang lembek.. Tujuan : Memperbaiki fungsi usus Kriteria hasil : Pasien bebas konstipasi. kaji pola eliminasi bowel R/ Menentukan adanya perubahan eliminasi b.. Rencana tindakan a. Anjurkan pasien untuk minum 2-3 liter setiap hari R/ Mencegah urine lebih pekat yang berakibat timbulnya . 7. Kaji intake dan output cairan R/ Mengetahui adekuatnya gunsi gnjal dan efektifnya blodder. Monitor temperatur tubuh setiap 8 jam R/ Temperatur yang meningkat indikasi adanya infeksi. Berikan minum 1800 – 2000 ml/hari jika tidak ada kontraindikasi . Lakukan pemasangan kateter sesuai program R/ Efek trauma medulla spinalis adlah adanya gangguan refleks berkemih sehingga perlu bantuan dalam pengeluaran urine d. Lakukan pemeriksaan urinalisa. b. Konstipasi berhubungan dengan kurangnya kontrol sfingter volunter sekunder terhadap cedera medulla spinalis di atas T11 atau arkus refleks sakrum yang terlibat (S2-S4).. intake dan output cairan seimbang.Kriteria Hasil : Pasien dpat mempertahankan pengosongan blodder tanpa residu dan distensi. kultur urine negatif.

intensitas pada skala 0 – 1R/ Pasien biasanya melaporkan nyeri diatas tingkat cedera misalnya dada / punggung atau kemungkinan sakit kepala dari alat stabilizer b. Dorong penggunaan teknik relaksasi. misalnya. Evaluasi dan catat adanya perdarah pada saat eliminasi R/ Kemungkinan perdarahan akibat iritasi penggunaan suppositoria 8. pedoman imajinasi visualisasi. Berikan tindakan kenyamanan. tipe nyeri. . Nyeri yang berhubungan dengan pengobatan immobilitas lama.R/ Mencegah konstipasi d. Hindari penggunaan laktasif oral R/ Kebiasaan menggunakan laktasif akan tejadi ketergantungan f. misalnya lokasi. Rencana tindakan a. Auskultasi bising usus. perubahan posisi. c. latihan nafas dalam. R/ Tindakan alternatif mengontrol nyeri digunakan untuk keuntungan emosionlan. Berikan suppositoria sesuai program R/ Pelunak feses sehingga memudahkan eliminasi h. misalnya. bantu pasien mengidentifikasi dan menghitung nyeri. masase. selain menurunkan kebutuhan otot nyeri / efek tak diinginkan pada fungsi pernafasan. cedera psikis dan alt traksi Tujuan : Memberikan rasa nyaman Kriteria hasil : Melaporkan penurunan rasa nyeri /ketidak nyaman. kompres hangat / dingin sesuai indikasi. mendemonstrasikan penggunaan keterampilan relaksasi dan aktifitas hiburan sesuai kebutuhan individu. kaji adanya distensi abdomen R/ Bising usus menentukan pergerakan perstaltik e. mengidentifikasikan cara-cara untuk mengatasi nyeri. Kaji terhadap adanya nyeri. Lakukan mobilisasi jika memungkinkan R/ Meningkatkan pergerakan peritaltik g.

9. relaksasi otot. misalnya dontren (dantrium). Atur posisi tempat tidur klien sedekat mungkin dengan jangkauan pantauan perawat R/ memudahkan perawat dalam memberikan penanganan pada pasien 10.R/ Memfokuskan kembali perhatian. analgetik. Pertahankan tirah baring dan alat-alat imobilisasi tetap terpasang dengan paten R/ memastikan pasien aman dan menghindari terjadinya cedera 2. Pasang penghalang samping tempat tidur dan beri bantalan lunak R/ mencegah agar pasien tidak jatuh dari tempat tidur 3. kolaborasi pemberian obat sesuai indikasi. meningkatkan rasa kontrol.misalnya diazepam (valium) R/ Dibutuhkan untuk menghilangkan spasme /nyeri otot atau untuk menghilangkan-ansietas dan meningkatkan istrirahat. Resiko aspirasi berhubungan dengan kehilangan kemampuan untuk menelan. dan dapat meningkatkan kemampuan koping d. ketidakstabilan kolumna spinalis Tujuan: Membebaskan klien dari cidera karena menurunnya fungsi reflex Kriteria hasil: Cidera tidak terjadi Klien tidak terjatuh Ala-alat imobilisasi terpasang paten Intervensi 1. antiansietis. Risiko tinggi cidera berhubungan dengan stimulasi refleks sistem saraf simpatis sekunder terhadap kehilangan kontrol otonom. Tujuan : Tidak terjadi aspirasi Kriteria Hasil: . Atur posisi tempat tidur serendah mungkin R/ meminimalkan kemungkinan pasien jatuh dari tempat yang tinggi 4.

Kolaborasi: Pemberian oksigen R/ Memaksimalkan oksigen untuk kebutuhan tubuh dan membantu dalam pencegahan hipoksia. Pertahankan kepatenan jalan nafas dan bersihkan mulut. makan dan minuman yang masuk lewat mulut tidak kembali lagi melalui hidung. R/ Intake nutrisi yang seimbang dan adekuat akan mempertahankan kebutuhan nutrisi tubuh 2.5 mg% Intervensi: 1. 2. BB meningkat.Makanan dan minuman tidak lagi kembali keluar melalui hidung. pernafasan dangkal dan gerakan dada tak simetris sering terjadi karena adanya sekret. Tujuan: Status nutrisi terpenuhi Kriteria Hasil: Intake cukup. Kaji bising usus bila perlu R/ Bising usus membantu dalam menentukan respon untuk makan atau mengetahui kemungkinan komplikasi dan mengetahui penurunan obsrobsi air . 5. Pasang dan pertahankan NGT untuk intake makanan. lakukan suction R/ Menurunkan resiko aspirasi atau aspiksia dan osbtruksi. jalan nafas paten dari aspirasi makanan dan minuman Intervensi: 1. R/ Memaksimalkan fungsi pernafasan untuk memenuhi kebutuhan tubuh terhadap oksigen dan pencegahan hipoksia. 3. 4. Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh yang berhubungan dengan ketidakmampuan menelan sekunder terhadap paralisis. miringkan pasien untuk drainase R/ Memudahkan dan meningkatkan aliran sekret dan mencegah lidah jatuh yang menyumbat jalan nafas. kaji status pernapasan tiap jam R/ Takipnu. 11. protein atau albumin ≥ 3.

memenuhi BAB/BAK. Pasang dan pertahankan NGT untuk intake makanan. Timbang berat badan sesuai protokol Dx. bed rest (-). 2. Mengevalusai kefektifan atau kebutuhan 6. mempertahankan status kesehatan dan kebutuhan aktifitas kebersihan diri pasien. 8. 2. Rasional 1. Pemenuhan kebutuhan aktifitas seharihari. 7. membersihkan tempat . gigi bersih. Tujuan : Kebutuhan aktifitas sehari-hari/perawatan diri terpenuhi Kriteria Hasil:  Kejang (-). iritasi kulit (-). Suplai kalori dan protein yang adekuat mempertahankan metabolisme tubuh. Berikan nutrisi yang tinggi kalori dan protein.3. Intervensi 1. Timbang berat badan sesuai protokol R/ Intervensi 5. rambut bersih.7 Kurangnya perawatan diri berhubungan dengan tirah baring dan aktifitas kejang. Kaji bising usus bila perlu. tempat tidur bersih. mengubah pemberian nutrisi. dan hati-hati karena sentuhan dapat merangsang kejang. tidur dan 2. Bantu pasien dalam . Kebutuhan adekuat Rasional sehari-hari dapat terpenuhi secara proses membantu kesembuhan. R/ 4. 1. Berikan nutrisi yang tinggi kalori dan protein. bau badan (-).

Jakarta: EGC .html Diakses tanggal 31 Agustus 2009 Pukul 10:59 WIB.blogspot. Memberikan ketenangan rasa nyaman bagi pasien Andi. Tulus.wordpress. Jelaskan tentang aktifitas kejang yang terjadi dan semua prosedur tindakan yang akan dilakukan pada pasien 3. Gunakan komunikasi dan sentuhan terapeutik  DAFTAR PUSTAKA 2. tegang (-). 8 Cemas berhubungan dengan kurang pengetahuan pasien tentang penanganan penyakitnya dikarenakan kurangnya informasi. 3. Diagnosa Keperawatan. Asuhan Keperawatan Spinal Cord Injury (SCI). Kaji tingkat kecemasan pasien Rasional 1. Bedah Umum. Tujuan : pasien menunjukan rasa cemas berkurang atau hilang Kriteria Hasil:  Takut <<. 3. 2. pasien akan merasa lebih tenang dan rasa cemas berkurang 3. Diakses dari http://bedahumum. Keluarga dapat meningkatkan motivasi pasien untuk melakukan aktivitas kebersihan diri Dx. 2001.com/2009/03/04/penangananTanggal 9 september 2009 pukul konservatif-fraktur-kompresi-vertebra/ 13:42 WIB Carpenito. Penanganan Konservatif Fraktur Kompresi Vertebrae. gelisah (-). Dengan mengetahui semua prosedur dan kondisi tubuhnya. nadi 80-100 x/menit. Ajarkan pasien untuk mengekspresikan perasaannya 4. 2009.kebersihan diri juga oral hygiene. http://tulusandi.com/2009/06/asuhan-keperawatan-spinal-cord-injury. 2009. klien dan keluarga dapat mengulang informasi yang diberikan. Tingkat kecemasan yang berbeda butuh penanganan yang berbeda pula. RR 16-20x/menit. Libatkan keluarga dalam perawatan diri sehari-hari. Lynda Juall. Intervensi 1. Ekspresi perasaan secara verbal dapat membantu mengurangi rasa cemas 4.

Jilid 2.html. www.com/doc/29042954/Penatalaksanaan-Trauma-Spinal-DanCedera-Cervikal http://www.id/files/cdk/files. Mielopati Servical Traumatika: Telaah Pustaka terkini.usu. Marilyn E. 2000.com/health/spinal-cordinjury/DS00460/DSECTION=treatments-and-drugs http://repository.wordpress. EGC Doengoes. 2008. Ed : 4. 2007. WB.kalbe.45 WIB.mayoclinic. Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah. Asuhan Keperawatan Pasien dengan Trauma Medula Spinalis.pdf/154 _13_ mielopatiservicaltraumatika. J. 2000. Medical Surgical Nursing a Psychophysiologic approach.Diakses tanggal 31 Agustus 2009 Pukul 10:58 WIB http://www. 1993. E. Edisi 3 Jakarta : FKUI . Jakarta : EGC Pinzon. Philadelphia . 1996. Rizaldy.154_13_mielopatiservicaltraumatika.scribd.id/bitstream/123456789/18784/1/mkn-jun200740%20%287%29. Rencana Asuhan Keperawatan: Pedoman untuk perencanaan dan Pendokumentasian perawatan pasien. 2001. T. Mansjoer.com/2008/10/askep-pasien-dengantrauma-medspin. Jakarta: EGC Hudak. Edisi 6. and Sorensens R. Jakarta : EGC. 1998. http://nardinurses.co. Jakarta . L. Carpenito. Kapita Selekta Kedokteran.Doengoes. 2 Juni 2007 Penatalaksanaan Trauma Spinal Hafas Hanafiah Divisi Ilmu Bedah Orthopaedi dan Traumatologi Departemen Ilmu Bedah Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara Brunner & Suddarth. Keperawatan Kritis vol 2 Pendekatan Holistik. A.C. 1999.ppt. 3 . EGC Luckman.files.ac. carolyn M. Edisi 3. Jakarta . M. diakses tanggal 6 Nopember 2009 pukul 09. Buku Saku Diagnosa Keperawatan. Edisi 8 Vol. Sunardi. Rencana Asuham Keperawatan Pedoman untuk Perencanaan dan Pendokumentasian Perawatan Pasien.pdf Majalah Kedokteran Nusantara Volume 40 No. Souders Company.

Anatomi dan Fisiologi untuk Paramedis. 1997. Gramedia. Jakarta : PT. .Pearce Evelyn C.