You are on page 1of 10

TB HIV

Perkembangan epidemi Human Immunodeficiency Virus (HIV) di Indonesia termasuk yang tercepat di kawasan Asia meskipun secara Nasional angka prevalensinya masih termasuk rendah, diperkirakan pada tahun 2009 sekitar 0,2% pada orang dewasa. Dengan estimasi ini maka pada tahun 2009 di Indonesia diperkirakan terdapat 142.187 (97652 – 187.029) Orang dengan HIV/AIDS (ODHA). Penggunaan jarum suntik merupakan cara transmisi HIV yang terbanyak (53%) diikuti dengan transmisi heteroseksual (42%). Salah satu masalah dalam epidemiologi HIV di Indonesia adalah variasi antar wilayah baik dalam hal jumlah kasus maupun faktor-faktor yang mempengaruhi. Epidemi HIV di Indonesia berada pada kondisi epidemi terkonsentrasi dengan potensi menjadi epidemi meluas pada beberapa Provinsi. Diperkirakan sepertiga dari 40 juta ODHA di seluruh dunia terinfeksi oleh Tuberkulosis (TB). Di Asia Tenggara sekitar 40-50% dari sekitar 6 juta orang ODHA dewasa memiliki kemungkinan terinfeksi TB. Orang dengan HIV/AIDS mempunyai risiko menjadi sakit TB sebesar enam kali lebih besar dari pada mereka yang tanpa HIV. Tingkat kematian ODHA dengan TB mencapai 20% sedangkan pada TB tanpa HIV hanya 5%. Di Indonesia, TB merupakan tantangan bagi pengendalian Acquired Immune Deficiency Syndrome (AIDS) karena merupakan infeksi oportunistik terbanyak (49%) pada ODHA. Sebaliknya diperkirakan sekitar 3% pasien TB dengan status HIV positif. Pada tingkat Dunia, berbagai upaya pengendalian dilakukan untuk merespons dampak ko-infeksi TB-HIV bagi kedua program. World Health Organization bekerja sama dengan Stop TB Partnership telah mengembangkan pedoman untuk pelaksanaan kegiatan kolaborasi TB-HIV yang disusun berdasarkan tingkat prevalens HIV. Di banyak negara yang telah melaksanakan kegiatan perawatan, dukungan dan pengobatan (PDP) HIV, kegiatan kolaborasi ini dimulai sebagai bagian dari upaya pengendalian TB dan upaya meningkatkan keberhasilan Program Pengendalian AIDS. Di Indonesia, kegiatan kolaborasi TB-HIV mulai diujicobakan di Provinsi DKI Jakarta (2004), di Kabupaten Merauke Provinsi Papua dan di Kota Denpasar Provinsi Bali (2006) yang merupakan wilayah dengan epidemi HIV AIDS yang terkonsentrasi. Kegiatan ini dikembangkan ke 9 Provinsi lainnya (2008) dan pada tahun 2010 diperluas ke 12 Provinsi (Sumatera Utara, Kepulauan Riau, Kalimantan Barat, DKI Jakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah, DIY, Jawa Timur, Bali, Sulawesi Selatan, Papua Barat dan Papua) sedangkan sosialisasi kegiatan kolaborasi TB-HIV kepada stakeholder telah dilakukan di 33 Provinsi. Pada tahun 2012 akan dilakukan inisiasi kegiatan pemberian Isoniazid Preventive Therapy (IPT) pada ODHA di 2 Provinsi (DKI Jakarta dan Jawa Barat) di 4 fasilitas pelayanan kesehatan (Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo, Rumah Sakit Persahabatan, Rumah Sakit Hasan Sadikin dan Rumah Sakit Marzuki Mahdi)

buffer-stock. Farmasi dan GFK. dan 30% Rumah Sakit/BP. pengembangan cakupan. Indonesia mengadopsi strategi DOTS (directly observed treatment shortcourse) untuk penanggulangan TB. Pengadaan OAT dilakukan setiap tahun melalui APBN. dan pada tahun 2004/2005 dalam rangka percobaan penggunaan OAT FDC pengadaannya melalui bantuan hibah luar negeri. dan pada tahun 2003 dipergunakan OAT untuk penderita dewasa dalam dua bentuk yaitu OAT dalam bentuk Kombipaks dan OAT dalam bentuk Fixed Dose Combination (FDC). Untuk mendukung ketersediaan Obat Anti Tuberkulosis Pemerintah Pusat (Departemen Kesehatan) saat ini menjadi Kementerian Kesehatan menerbitkan Surat Keputusan Nomor 1190/Menkes/SK/2004 tentang Pemberian Gratis Obat Anti Tuberkulosis (OAT) dan Obat Anti Retro Viral (ARV) untuk HIV/AIDS. Tingkat Propinsi . Sisa stock OAT yang ada. dan pada tahun 2001 seluruh propinsi dan lebih dari 95 % Puskesmas. perkiraan waktu perencanaan dan waktu distribusi. disediakan secara gratis paket OAT (Obat Anti TB) bagi penderita dewasa maupun anak. Tingkat Kabupaten/Kota Perencanaan kebutuhan OAT di kabupaten/kota dilakukan oleh Tim Perencanaan Obat Terpadu daerah kabupaten/kota yang dibentuk dengan keputusan Bupati / Walikota yang anggotanya minimal terdiri dari unsur Program.Pada tahun 1994. Dalam mendukung penerapan strategi DOTS. Pengelolaan OAT dalam menjamin ketersediaan dilaksanakan sebagai berikut : Perencanaan Kebutuhan Obat Rencana kebutuhan Obat TB dilaksanakan dengan pendekatan bottom up planning oleh kabupaten/kota. dan mulai tahun 2005/2006 secara bertahap semua daerah akan menggunakan OAT FDC.4 telah mengadopsi strategi DOTS. Perencanaan kebutuhan OAT dilakukan terpadu dengan perencanaan obat lainnya yang berpedoman pada :     Pencapaian penemuan semua penderita TBC pada tahun sebelumnya berdasarkan kategori OAT dan sisipan). (perinci Tingkat Unit Pelayanan Kesehatan Unit pelayanan kesehatan membuat perencanakan kebutuhan tahunan dan triwulan sebagai dasar permintaan ke Kabupaten/Kota.

artinya. Pengadaan OAT Pengadaan OAT menjadi tanggungjawab pusat mengingat OAT merupakan Obat yang sangatsangat esensial (SSE). Agar penyediaan obat lebih terkendali maka daftar obat untuk pelayanan kesehatan di kabupaten/kota dibagi dalam 3 (tiga) kelompok. Kabupaten/Kota maupun propinsi yang akan mengadakan OAT perlu berkoordinasi dengan pusat (Dirjen PPM & PL Depkes RI) sesuai dengan peraturan yang berlaku. perencanaan ini diteruskan ke pusat.Propinsi merekapitulasi seluruh usulan kebutuhan masing-masing Kabupaten/Kota dan memhitung kebutuhan buffer stock untuk tingkat propinsi. Demikian juga pendistribusian buffer stock OAT yang tersisa di propinsi dilakukan untuk menjamin berjalannya system distribusi yang baik. nomor batch dan bulan serta tahun kadaluarsa. kemasan. Penyimpanan obat harus disusun berdasarkan FEFO (First Expired First Out). Pengiriman OAT disertai dengan dokumen yang memuat jenis. Distribusi OAT dari GFK ke UPK dilakukan sesuai permintaan yang telah disetujui oleh Dinas Kesehatan. OAT disimpan di GFK maupun Gudang Obat Propinsi sesuai persyaratan penyimpanan obat. sulit didapat di daerah dan obat program yang harus dijamin ketersediaannya secara tepat waktu. jumlah. sebagai berikut:    Obat Sangat Sangat Esensial (SSE) yaitu obat yang berisiko tinggi apabila tidak tersedia atau terlambat disediakan. dikirim langsung oleh pusat sesuai dengan rencana kebutuhan masing-masing daerah. obat yang kadaluarsanya lebih awal harus diletakkan didepan agar dapat didistribusikan lebih dulu. Tingkat Pusat Pusat menyusun perencanaan kebutuhan OAT berdasarkan usulan dan rencana :    Kebutuhan kabupaten/kota Buffer stock propinsi Buffer stock ditingkat pusat. penerimaan OAT dilakukan oleh Panitia Penerima Obat tingkat kabupaten/ kota maupun tingkat propinsi. maka Depkes menggolongkan OAT kedalam obat SSE. tepat jenis dengan mutu terjamin untuk menjamin kesinambungan pelayanan kesehatan di kabupaten / kota. Penyimpanan dan pendistribusian OAT OAT yang telah diadakan. Obat Sangat Esensial (SE) yaitu obat yang diperlukan dan sering digunakan serta masih mengandung risiko dalam hal kemampuan suplainya di daerah. Obat Esensial (E) yaitu obat yang diperlukan dan sering digunakan serta mudah di suplai di daerah kabupaten. Monitoring dan Evaluasi .

Dinas Kesehatan kabupaten/kota bersama GFK mencatat persediaan OAT yang ada dan melaporkannya ke propinsi setiap triwulan dengan menggunakan formulir TB-13. Pemantauan Mutu melalui fisik OAT oleh petugas. Tindak lanjut dapat berupa : 1.Pemantauan OAT dilakukan dengan menggunakan Laporan Pemakaian dan Lembar Permintan Obat (LPLPO) yang berfungsi ganda. Pemantauan mutu melalui uji laboratorium dilaksanakan oleh Balai POM.22 . Pengawasan Mutu Pengawasan dan pengujian mutu OAT dimulai dengan pemeriksaan sertifikat analisis pada saat pengadaan. Dalam mendukung penerapan strategi DOTS. 2. merekap laporan TB-13 kabupaten/kota dan menyampaikannya ke pusat setiap triwulan. Secara umum proses sistem pengendalian ketersediasan OAT dapat digambarkan sbb : Obat Anti TB (OAT) 0 Comment Mar . OAT tersebut rusak bukan karena penyimpanan dan distribusi.4 telah mengadopsi strategi DOTS.2012 Haziq Pada tahun 1994. Pengelola program bersama Farmakmin Propinsi. 3. pengawasan dan pengujian mutu OAT dilakukan oleh Program bersama dengan Ditjen Yanfar dan Badan/Balai POM. dan pada tahun 2001 seluruh propinsi dan lebih dari 95 % Puskesmas. disediakan secara gratis paket OAT (Obat Anti TB) bagi penderita dewasa maupun anak. maka akan dilakukan recall atau batch tersebut akan ditarik dari peredaran. untuk menggambarkan dinamika logistik dan merupakan alat pencatatan / pelaporan. Secara fungsional pelaksana program TBC propinsi dan daerah kabupaten / kota juga melakukan pembinaan pada saat supervisi. dan 30% Rumah Sakit/BP. Dilakukan tindakan sesuai kontrak. Setelah OAT sampai di daerah. 2. Indonesia mengadopsi strategi DOTS (directly observed treatment shortcourse) untuk penanggulangan TB. dan pada tahun 2003 dipergunakan OAT untuk . Pembinaan teknis dilaksanakan oleh Tim Pembina Obat Propinsi. Dimusnahkan. Pemantauan mutu OAT dilakukan dalam dua tahapan yaitu : 1.

dan mulai tahun 2005/2006 secara bertahap semua daerah akan menggunakan OAT FDC. perencanaan ini diteruskan ke pusat. Tingkat Kabupaten/Kota Perencanaan kebutuhan OAT di kabupaten/kota dilakukan oleh Tim Perencanaan Obat Terpadu daerah kabupaten/kota yang dibentuk dengan keputusan Bupati / Walikota yang anggotanya minimal terdiri dari unsur Program. pengembangan cakupan.penderita dewasa dalam dua bentuk yaitu OAT dalam bentuk Kombipaks dan OAT dalam bentuk Fixed Dose Combination (FDC). Sisa stock OAT yang ada. Perencanaan kebutuhan OAT dilakukan terpadu dengan perencanaan obat lainnya yang berpedoman pada :     Pencapaian penemuan semua penderita TBC pada tahun sebelumnya (perinci berdasarkan kategori OAT dan sisipan). Pengadaan OAT dilakukan setiap tahun melalui APBN. Tingkat Unit Pelayanan Kesehatan Unit pelayanan kesehatan membuat perencanakan kebutuhan tahunan dan triwulan sebagai dasar permintaan ke Kabupaten/Kota. Untuk mendukung ketersediaan Obat Anti Tuberkulosis Pemerintah Pusat (Departemen Kesehatan) saat ini menjadi Kementerian Kesehatan menerbitkan Surat Keputusan Nomor 1190/Menkes/SK/2004 tentang Pemberian Gratis Obat Anti Tuberkulosis (OAT) dan Obat Anti Retro Viral (ARV) untuk HIV/AIDS. dan pada tahun 2004/2005 dalam rangka percobaan penggunaan OAT FDC pengadaannya melalui bantuan hibah luar negeri. Farmasi dan GFK. Tingkat Pusat Pusat menyusun perencanaan kebutuhan OAT berdasarkan usulan dan rencana : . buffer-stock. Pengelolaan OAT dalam menjamin ketersediaan dilaksanakan sebagai berikut : Perencanaan Kebutuhan Obat Rencana kebutuhan Obat TB dilaksanakan dengan pendekatan bottom up planning oleh kabupaten/kota. Tingkat Propinsi Propinsi merekapitulasi seluruh usulan kebutuhan masing-masing Kabupaten/Kota dan memhitung kebutuhan buffer stock untuk tingkat propinsi. perkiraan waktu perencanaan dan waktu distribusi.

untuk menggambarkan dinamika logistik dan merupakan alat pencatatan / pelaporan. artinya. obat yang kadaluarsanya lebih awal harus diletakkan didepan agar dapat didistribusikan lebih dulu. Dinas Kesehatan kabupaten/kota bersama GFK mencatat persediaan OAT yang ada dan melaporkannya ke propinsi setiap triwulan dengan menggunakan formulir TB-13. Penyimpanan obat harus disusun berdasarkan FEFO (First Expired First Out). Demikian juga pendistribusian buffer stock OAT yang tersisa di propinsi dilakukan untuk menjamin berjalannya system distribusi yang baik. maka Depkes menggolongkan OAT kedalam obat SSE. Obat Esensial (E) yaitu obat yang diperlukan dan sering digunakan serta mudah di suplai di daerah kabupaten. merekap laporan TB-13 kabupaten/kota dan menyampaikannya ke pusat setiap triwulan. jumlah. Agar penyediaan obat lebih terkendali maka daftar obat untuk pelayanan kesehatan di kabupaten/kota dibagi dalam 3 (tiga) kelompok. sebagai berikut:    Obat Sangat Sangat Esensial (SSE) yaitu obat yang berisiko tinggi apabila tidak tersedia atau terlambat disediakan. Pengadaan OAT Pengadaan OAT menjadi tanggungjawab pusat mengingat OAT merupakan Obat yang sangatsangat esensial (SSE). sulit didapat di daerah dan obat program yang harus dijamin ketersediaannya secara tepat waktu. Monitoring dan Evaluasi Pemantauan OAT dilakukan dengan menggunakan Laporan Pemakaian dan Lembar Permintan Obat (LPLPO) yang berfungsi ganda. Distribusi OAT dari GFK ke UPK dilakukan sesuai permintaan yang telah disetujui oleh Dinas Kesehatan. . dikirim langsung oleh pusat sesuai dengan rencana kebutuhan masing-masing daerah. Pengiriman OAT disertai dengan dokumen yang memuat jenis.   Kebutuhan kabupaten/kota Buffer stock propinsi Buffer stock ditingkat pusat. Kabupaten/Kota maupun propinsi yang akan mengadakan OAT perlu berkoordinasi dengan pusat (Dirjen PPM & PL Depkes RI) sesuai dengan peraturan yang berlaku. Obat Sangat Esensial (SE) yaitu obat yang diperlukan dan sering digunakan serta masih mengandung risiko dalam hal kemampuan suplainya di daerah. OAT disimpan di GFK maupun Gudang Obat Propinsi sesuai persyaratan penyimpanan obat. penerimaan OAT dilakukan oleh Panitia Penerima Obat tingkat kabupaten/ kota maupun tingkat propinsi. Penyimpanan dan pendistribusian OAT OAT yang telah diadakan. Pengelola program bersama Farmakmin Propinsi. kemasan. tepat jenis dengan mutu terjamin untuk menjamin kesinambungan pelayanan kesehatan di kabupaten / kota. nomor batch dan bulan serta tahun kadaluarsa.

Pemantauan mutu melalui uji laboratorium dilaksanakan oleh Balai POM. pengawasan dan pengujian mutu OAT dilakukan oleh Program bersama dengan Ditjen Yanfar dan Badan/Balai POM. Secara fungsional pelaksana program TBC propinsi dan daerah kabupaten / kota juga melakukan pembinaan pada saat supervisi. Dilakukan tindakan sesuai kontrak. Pengawasan Mutu Pengawasan dan pengujian mutu OAT dimulai dengan pemeriksaan sertifikat analisis pada saat pengadaan. maka akan dilakukan re-call atau batch tersebut akan ditarik dari peredaran. Pemantauan mutu OAT dilakukan dalam dua tahapan yaitu : 1. Tindak lanjut dapat berupa : 1. 2.Pembinaan teknis dilaksanakan oleh Tim Pembina Obat Propinsi. 3. Setelah OAT sampai di daerah. OAT tersebut rusak bukan karena penyimpanan dan distribusi. 2. Dimusnahkan. Pemantauan Mutu melalui fisik OAT oleh petugas. Secara umum proses sistem pengendalian ketersediasan OAT dapat digambarkan sbb : .

Puskemas Rujukan Mikroskopis (PRM) dan Unit Pelayanan Kesehatan swasta. Dalam struktur Program Penanggulangan Tuberkulosis Nasional. Puskesmas dibagi menjadi tiga kategori menurut fungsi yang berbeda-beda. kecuali di Puskesmas Satelit. yaitu:    Puskesmas Rujukan Mikroskopis (PRM): melatih para staf laboratorium dan melakukan pembacaan sediaan apus dahak untuk beberapa Puskesmas Satelit (PS): tidak memiliki fasilitas laboratorium sendiri. Puskesmas Pelaksana Mandiri (PPM): menyediakan layanan diagnosis dan pengobatan TBC. Pelayanan TB di Kabupaten/Kota Pelayanan kesehatan di tingkat kabupaten/kota merupakan unit dasara dalam upaya penanggulangan TBC di Indonesia. Pelayanan TB di Propinsi Tim TB di tingkat propinsi memiliki peran untuk memantau dan memberikan dukungan teknis bagi dinas kesehatan di kabupaten/kota. maka akan dilakukan kunjungan langsung ke rumah pasien tersebut. Provincial Training Coordinator (PTC). dan hanya membuat sediaan apus dahak dan difiksasi. Seorang WASOR seharusnya mengawasi tidak lebih dari 20 Puskesmas agar dapat menjalankan semua tugasnya dengan maksimal. Puskesmas Satelit akan menentukan rencana pengobatan. serta Provincial Technical Officer (PTO) . memastikan terjadinya koordinasi antar berbagai fasilitas pelayanan kesehatan serta memastikan persediaan obat cukup. Penderita bisa melakukan pemeriksaan diagnosis di unit pelayanan kesehatan manapun untuk mendapatkan diagnosis. yaitu Puskesmas. Jika seorang pasien TB tidak datang sesuai jadwal berobatnya. dan tiap PRM memiliki satu petugas laboratorium yang terlatih. WASOR juga mempersiapkan laporan berkala. kemudian dikirim ke PRM untuk dibaca hasilnya. Program Penanggulangan Tuberkulosis Nasioanal menggunakan fasilitas yang ada dalam struktur pelayanan kesehatan nasional. Oleh karena itu di tingkat propinsi dibentuk tim DOTS diperkuat dengan penambahan tenaga yang terdiri dari Provincial Project Officer (PPO).Dalam menjalankan fungsinya. Fasilitas Mikroskopis tersedia di Rumah Sakit Umum Daerah. Pengawasan menelan obat biasanya dilakukan oleh anggota keluarga penderita TB setelah menerima obat yang diberikan setiap minggu. Pengobatan TB di tingkat kabupaten/kota disupervisi oleh Wakil Supervisor (WASOR) dari Dinas Kesehatan. tanpa bekerja sama dengan Puskesmas Satelit. sehingga di kabupaten/kota yang luas diperlukan lebih dari satu WASOR. Setelah mendapatkan hasil. Setiap RS dan Puskesmas setidaknya memiliki satu dokter dan satu staf poliklinik yang bertugas menangani TB. WASOR akan mengunjungi semua sarana pelayanan kesehatan untuk mendapatkan data mengenai kasus baru.

belum ada satu negara pun yang bebas TB. . dimana penderita tidak sakit namun akibat daya tahan tubuh menurun. masalah TB diperberat dengan adanya peningkatan infeksi HIV/AIDS yang berkembang cepat dan munculnya permasalahan TB-MDR (Multi Drugs Resistant=kebal terhadap bermacam obat). Mortalitas. Afrika Selatan dan Nigeria. Indonesia telah mencapai angka 73.3 juta diantaranya perempuan). yaitu 91% pada tahun 2009. Angka kematian dan kesakitan akibat kuman Mycobacterium tuberculosis ini pun tinggi. Peringkat ini turun dibandingkan tahun 2007 yang menempatkan Indonesia pada posisi ke-3 kasus TB terbanyak setelah India dan China. dari 92/100. Hingga saat ini.000 diantaranya perempuan) sementara ada 9. Tjandra Yoga. Masalah lain adalah adanya penderita TB laten. Selain itu.000 penduduk menjadi 46/100. Penemuan kasus dan Keberhasilan pengobatan. Dari ke-4 indikator tersebut 3 indikator sudah dicapai oleh Indonesia.TBC MASALAH KESEHATAN DUNIA Tuberkulosis (TB) adalah penyakit menular yang masih menjadi perhatian dunia. yaitu Prevalensi. Angka Penemuan kasus (case detection rate) kasus TB BTA positif mencapai lebih 70%. Dunia telah menempatkan TB sebagai salah satu indikator keberhasilan pencapaian MDGs.4 juta kasus baru TB (3. Tjandra Yoga Aditama pada acara temu media di kantor Kemkes. Tjandra. seseorang yang menderita TB diperkirakan akan kehilangan pendapatan rumah tangganya sekitar 3 – 4 bulan.000 penduduk pada tahun 2009. “Dari sini dapat dihitung kerugian ekonomi yang diakibatkan oleh TB.7 juta orang meninggal karena TB (600. penyakit TB akan muncul. 18 Februari. Angka ini akan terus ditingkatkan agar mencapai 90% pada tahun 2015 sesuai target RJPMN. Acara ini dilakukan sebagai rangkaian Hari TB Sedunia (HTBS) yang diperingati setiap tanggal 24 Maret. China. Waktu pengobatan TB yang relatif lama (6 – 8 bulan) menjadi penyebab penderita TB sulit sembuh karena pasien TB berhenti berobat (drop) setelah merasa sehat meski proses pengobatan belum selesai. Demikian penjelasan Dirjen Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan Prof. Penyakit TB juga berkaitan dengan economic lost yaitu kehilangan pendapatan rumah tangga Menurut WHO. angka kematian yang harus turun separuhnya pada tahun 2015 dibandingkan dengan data dasar (baseline data) tahun 1990. Sementara tema Nasional HTBS adalah Terobosan Melawan Tuberkulosis menuju Indonesia Bebas TB. dr. Angka keberhasilan pengobatan (success rate) telah mencapai lebih dari 85%.000 penduduk. Bila meninggal akan kehilangan pendapatan rumah tangganya sekitar 15 tahun. Berdasarkan laporan WHO dalam Global Report 2009. Tahun 2009. Tema Global HTBS adalah On the Move Against Tuberculosis. sedikitnya ada 3 faktor yang menyebabkan tingginya kasus TB di Indonesia. begitu sebaliknya orang terkena TB akan mengurangi pendapatannya. TB sangat erat dengan program pengentasan kemiskinan. Transforming the Fight Towards Elimination. Orang yang miskin akan menyebabkan kekurangan gizi dan penurunan daya tahan tubuh sehingga rentan tertular dan sakit TB.3% pada tahun 2010. pada tahun 2008 Indonesia berada pada peringkat 5 dunia penderita TB terbanyak setelah India.1% pada tahun 2009 dan mencapai 77. Sepertiga dari populasi dunia sudah tertular dengan TB dimana sebagian besar penderita TB adalah usia produktif (15-55 tahun). Menurut Prof. Secara umum ada 4 indikator yang diukur.” ujar Prof. 1. Indonesia telah mencapai angka 39/100.

publik@yahoo. penguatan sistem kesehatan.co. serta konsisten dengan Rencana Global Penanggulangan TB yang diarahkan untuk mencapai Target Global TB 2005 dan Tujuan Pembangunan Milenium 2015. persediaan obat TB yang rutin dan tidak terputus. Sementara Acara Puncak Peringatan HTBS.id . TB terkait HIV. Strategi nasional pengendalian TB telah sejalan dengan petunjuk internasional (WHO DOTS dan strategi baru Stop TB). Strategi yang direkomendasikan untuk mengendalikan TB (DOTS = Directly Observed Treatment Shortcourse) terdiri dari 5 komponen yaitu komitmen pemerintah untuk mempertahankan control terhadap TB.id . keterlibatan seluruh penyedia layanan kesehatan dan masyarakat. dan tetap menjadi komponen utama dalam strategi penanggulangan TB yang terus diperluas. Tjandra Yoga. memberdayakan pasien TB dan masyarakat serta mewujudkan dan mempromosikan penelitian DOTS sangat penting untuk penanggulangan TB selama lebih dari satu dekade. deteksi kasus TB di antara orang-orang yang memiliki gejala-gejala melalui pemeriksaan dahak. 30413700. Pada peringatan HTBS 2011 dilaksanakan beberapa acara diantaranya Kongres Nasional TB tanggal 25-26 Maret 2011. Untuk informasi lebih lanjut dapat menghubungi melalui nomor telepon: 021-52907416-9. menangani kasus ko-infeksi TB-HIV. Call Center: 021-500567. faks: 52921669.go. kontak@depkes.id . dan Senam Akbar di Monas tanggal 27 Maret 2011. tanggal 24 Maret 2011 diselenggarakan di Istana Wakil Presiden. Program TB Nasional telah mencapai target dunia sejak tahun 2005 dengan penemuan kasus TB BTA (Basil Tahan Asam) positif sekitar 70% dan mencapai keberhasilan pengobatan lebih dari 85% bahkan sejak tahun 2000. atau alamat e-mail puskom. info@depkes. menyamakan persepsi semua penyedia pelayanan. Selain itu. termasuk pengelolaan kasus kekebalan obat anti TB. kekebalan ganda terhadap obat anti TB dan tantangan lainnya. Penemuan dengan lebih dari 70% dan keberhasilan pengobatan >85% secara berurut lebih dari 5 tahun akan menurunkan prevalensi dan penurunan insidens.go. dan sistem laporan untuk monitoring dan evaluasi perkembangan pengobatan dan program. pengobatan teratur selama 6-8 bulan yang diawasi. rencana global penanggulangan TB didukung oleh 6 komponen dari Strategi Penanggulangan TB baru yang dikembangkan WHO. Sekretariat Jenderal Kementerian Kesehatan RI. berkontribusi dalam penguatan sistem kesehatan. Berita ini disiarkan oleh Pusat Komunikasi Publik. Pameran Kesehatan dan Bazar Kelompok Masyarakat Peduli TB. serta promosi penelitian.Menurut Prof. yaitu mengejar peningkatan dan perluasan DOTS yang berkualitas tinggi.