You are on page 1of 3

(http://waspada.co.id/index.php?

option=com_content&view=article&id=198467:dinkes-sumutcegah-masuknya-bakteri-e-coli&catid=15:sumut&Itemid=28) prawira setyabudi_2011 Pengamat kesehatan Umar Zein, mengatakan, bakteri E Coli normalnya ada dalam usus manusia. Tetapi, ada bentuk pathogen yang menyebabkan diare akut, bisa disebabkan hemolitik uremik syndrom atau perdarahan dan gangguan ginjal. Gejala awalnya diare mengkontaminasi makanan atau tangan yang tidak dicuci, bisa juga melalui bungkus makanan seperti daun yang tercemar E Coli. Bisa juga melalui kotoran pupuk/ternak yang tertular melalui makanan dan sampai ke usus. “Masa inkubasinya tiga sampai tujuh hari.Gejala awalnya mencret, berlendir dan demam tinggi yang menyebabkan toxic dari toxic kuman itu. Diare akut kurang dari dua minggu yang bisa menyebabkan perdarahan dan bisa toxic dan kematian,” katanya. Menurut dia, salah satu antisipasi agar tidak terkena bakteri tersebut adalah selalu mencuci tangan pakai sabun, mencuci makanan atau buah-buahan mentah dan sayuran dengan air masak. Sementara mengenai penularannya, lanjut dia, bisa ditularkan dari orang yang sakit melalui kotoran yang mengkontaminasi makanan kepada orang yang sehat yang disebut dengan Fecal Oral Transmision. Untuk jenis yang pathogen disebut EHEC (Entero hemorrhagic e.coli), Entero invasive e.coli (EIEC), Komplikasi yang berat disebut hemolitic uremic syndrome yaitu perdarahan dan gangguan ginjal. “Dari penelitian kita tahun 2006 penyebab diare terbanyak yaitu e coli. Obatnya antibiotik dan pemberian cairan,” katanya.

Ratih Dewanti-Hariyadi http://health.kompas.com/read/2011/06/14/06382998/Bakteri.Penyebab.Diare.Mematikan Bagi kebanyakan akademisi dan praktisi di bidang pangan, Escherichia coli bukan merupakan bakteri yang dianggap serius dalam konteks keamanan pangan. Namun, dalam beberapa minggu ini di Jerman, Escherichia coli (E coli) diberitakan menyebabkan penyakit pada lebih dari 3.000 orang di 14 negara dan mengakibatkan tak kurang dari 33 orang meninggal dunia. Pada awalnya mentimun asal Spanyol diduga sebagai pembawa bakteri ini. Namun, hasil investigasi Pemerintah Jerman akhirnya mengindentifikasi kecambah (taoge) yang diproduksi suatu perusahaan pertanian organik yang menjadi pembawa bakteri. E coli adalah bakteri yang hidup dalam usus manusia. Karena itu, bakteri ini digunakan sebagai indikator sanitasi produk pangan. Artinya, keberadaan E coli bisa digunakan untuk

O45:H2. seperti E coli O157:H-. seperti ginjal dan otak. terjadi wabah penyakit akibat pangan (foodborne diseases) di dua negara bagian Amerika Serikat. yakni E coli enterohemoragik (EHEC). E coli enteropatogenik (EPEC). ada beberapa kelompok E coli yang belakangan diketahui dapat menyebabkan penyakit. Di samping E coli yang bersifat nonpatogen. ditemukan galur E coli baru yang sebelumnya pernah ditemukan sekali pada tahun 1975 dari pasien diare berdarah. Wabah ini sangat menarik perhatian karena terjadi dalam kurun waktu yang hampir bersamaan. yakni Michigan dan Oregon. EHEC ditengarai mendapatkan gen penyandi toksin ini melalui virus. O11:H-. di dalam tubuh penderita. melibatkan restoran waralaba besar yang sama. tidak seperti E coli lain. Bakteri ini adalah E coli O157:H7 yang kemudian dikelompokkan dalam golongan baru. Di samping itu. O111:H-. perubahan yang terjadi pada mikroorganisme. Pernah wabah di AS Pada tahun 1982. Setelah bakteri menginfeksi. menimbulkan banyak korban. yakni E coli O104:H4. Sejak kejadian itu. tetapi ditemukan juga EHEC lain. O111:H8. patogen yang secara historis terkait dengan suatu jenis pangan umumnya juga diuji dan dimasukkan ke dalam standar. kelompok EHEC mampu menimbulkan gejala penyakit yang lebih parah. O4:H-. O26:H11. Kasus yang sedang terjadi di Jerman dan sejumlah negara Eropa lain saat ini dilaporkan disebabkan oleh galur terbaru EHEC. . perkembangan teknologi. dan E coli enterotoksigenik (ETEC) adalah tiga kelompok E coli yang dikaitkan dengan penyakit diare pada bayi. Dengan kemampuan menghasilkan toksin shiga. Pada umumnya air merupakan pembawa E coli kelompok ini. O103:H2. dan O145:H-. serta perubahan iklim telah memunculkan galur-galur baru sehingga E coli yang bersifat patogen ditemukan. Keberadaan E coli dalam pangan kemungkinan disebabkan sanitasi yang rendah. O104:H2. Kajian ilmiah mengenai bakteri ini menyimpulkan bahwa EHEC memiliki kemampuan menghasilkan setidaknya dua jenis toksin shiga yang juga dihasilkan oleh bakteri Shigella dysenteriae. Secara spesifik makanan jarang dikaitkan. yakni hamburger. Konsep indikator sanitasi yang berkembang pada akhir abad ke-19 itu perlahan tergeser dengan meningkatnya kemudahan menguji patogen sehingga selain bakteri indikator sanitasi. E coli enteroinvasif (EIEC). toksin yang dihasilkan menyerang organ tubuh lain. dan pangan yang diimplikasikan sebagai makanan populer di negara tersebut.mengindikasikan adanya kontak dengan kotoran manusia sehingga digunakan sebagai perkiraan untuk menentukan apakah uji patogen harus dilakukan. kebiasaan makan manusia. berbagai keracunan karena EHEC telah dilaporkan (lihat tabel). Ternyata penyebabnya tidak hanya E coli O157:H7. Hasil investigasi menyebutkan. serupa disentri serta diare pada wisatawan.

dapat menurunkan risiko terinfeksi bakteri ini. Bakteri ini sesungguhnya sangat mudah dibunuh dengan pemanasan setara pasteurisasi (65 derajat celsius selama 30 menit) sehingga pada makanan olahan seharusnya bakteri patogen ini dapat dihindari. dan Campylobacter jejuni. dan bisa menimbulkan komplikasi. yakni gangguan yang menyebabkan penggumpalan darah di pembuluh darah halus dan penurunan jumlah keping darah. bakteri EHEC tidak memiliki ketahanan panas yang lebih daripada E coli lain. alat pemanggang tidak berfungsi dengan baik serta ukuran burger yang jumbo mengakibatkan patogen ini masih bertahan. blood only). serta thrombotic thrombocytopenic purpura. Sifat EHEC lain yang dapat mendukung keberadaan bakteri ini dalam pangan adalah kemampuannya bertahan dalam makanan beku sampai sembilan bulan dan daya tahan terhadap lingkungan asam. Meski demikian. dan Anggota The International Commission on Microbiological Specification for Foods (ICMSF) . RATIH DEWANTI-HARIYADI Ketua Program Studi Ilmu Pangan. Ditemukan di sapi EHEC adalah mikroorganisme yang lazim ditemukan pada sapi tanpa menyebabkan penyakit pada hewan tersebut. khususnya daging giling. di AS daging giling dipersyaratkan bebas dari E coli O157:H7. dan taoge. Kajian beberapa peneliti di Indonesia melaporkan. seperti tomat. selada. ditemui dalam persentase yang jauh lebih tinggi. diare berdarah (sering disebutkan sebagai no stool. Pencemaran bakteri ini pada daging. khususnya daging giling. serta bahan mentah lain. Salmonella spp. tidak ada salahnya mewaspadai konsumsi makanan mentah dengan mencuci bersih. mentimun. Kebiasaan memasak daging sampai matang. Kewaspadaan lebih tinggi harus dilakukan ketika seseorang mengonsumsi makanan tidak diolah. Shigella flexneri. seperti hemolytic uremic syndrome. Pencemaran lahan pertanian oleh kotoran sapi diduga sebagai penyebab ditemukannya bakteri ini dalam sayuran. sangat mungkin terjadi. sindrom yang ditandai anemia akibat terurainya sel darah merah dan gagal ginjal akut. memblansir dan menggunakan senyawa antimikroba yang diizinkan jika diperlukan. Patogen lain. Karena kesukaan mengonsumsi hamburger yang undercooked.Gejala penyakit yang ditimbulkan bakteri ini meliputi sakit perut yang sangat parah. bahkan kadang digambarkan setara dengan saat melahirkan. seperti Vibrio cholerae. E coli enterohemoragik diisolasi dari 1 persen penderita diare di Indonesia. Meski demikian. Sekolah Pascasarjana IPN. Investigasi wabah EHEC pada hamburger di AS menunjukkan. Keberadaan E coli enterohemoragik dalam beberapa pangan mentah di Indonesia telah dilaporkan dalam beberapa publikasi ilmiah.