CARSINOMA TESTIS

Pembimbing: Dr. Herry Setya Yudha Utama, Sp.B, MHKes, Finacs

Disusun oleh: Fitria Sartika Ita Liherty Vellyana Gustika 110.2006.106 110.2006.134 110.2006.264

KEPANITERAAN KLINIK ILMU BEDAH RSUD ARJAWINANGUN Maret 2012

I.

IDENTITAS
• • • • • •

Nama Jenis kelamin Usia Alamat Agama Masuk Tanggal

: Ny. T : Laki-laki : 34 tahun : Arjawinangun : Islam : 12 Maret 2012

II.

ANAMNESIS
a. Keluhan Utama b. Keluhan Tambahan

: Nyeri pada punggung : Lemas Nyeri perut Benjolan di leher kiri Benjolan di perut bagian kiri atas

c. Riwayat Penyakit Sekarang : Pasien datang ke RSUD Arjawinangun dengan keluhan nyeri punggung sejak ± 2 minggu SMRS. Punggung bagian tengah terasa panas dan nyeri. Pasien juga mengeluh lemas, dan nyeri perut. Pasien mengatakan terdapat benjolan pada leher sebelah kiri dan perut bagian kiri atas sejak ± 1 bulan SMRS. Benjolan tidak terasa nyeri. Keluhan mualmuntah disangkal pasien. BAB dan BAK lancar. Pasien riwayat post-operasi pada scrotum pada bulan Januari 2012 karena terdapat benjolan pada scrotum. Benjolan ini dirasakan ± 1 tahun yang lalu. Benjolan ini sebesar
2

Benjolan tidak terasa nyeri. dirasakan makin lama makin membesar dan tidak hilang timbul. Status Generalis • • • Keadaan Umum : Tampak sakit sedang Kesadaran GCS : Compos Mentis : E4 M6 V5 b.telur ayam. tidak terasa panas. Riwayat Penyakit Dahulu : - Riwayat post-operasi pada scrotum pada bulan Januari 2012 atas indikasi benjolan pada scrotum - Riwayat hipertensi disangkal Riwayat Diabetes Mellitus disangkal e. tidak berdarah dan bernanah. Riwayat adanya penyakit keganasan pada keluarga disangkal - III. Riwayat Penyakit Keluarga : - Riwayat keluhan yang sama pada keluarga disangkal. Pasien mengeluh tidak bergairah dan belum memiliki anak. PEMERIKSAAN FISIK a.7 oC 3 • • • . Tanda vital • Tekanan Darah : 120/70 mmHg RR Nadi Suhu : 20 x/menit : 84 x/menit : 36. d.

e. Mulut h. • Auskulutasi : BJ I-II regular. batas jantung kanan SIC V linea parasternal dextra. Mata : Normochephal : Conjungtiva anemis +/+. fixed. Telinga f. permukaan rata. Hidung g. Sklera ikterik -/: Tidak ada kelainan : Discharge (-) : Tidak ada kelainan : Terdapat massa pada leher kiri diatas supraclavicula dengan ukuran 5x4 cm. Abdomen 4 . wheezing -/- j. rhonki -/-. suhu sama dengan sekitar. murmur (-). batas jantung kiri SIC V 1 jari medial LMC sinistra. tidak terlihat massa : Fremitus vokal dan fremitus taktil simetris di kedua hemitoraks : Sonor di kedua hemitoraks dekstra dan sinistra : Vesikuler di seluruh lapang paru. Leher i. Gallop (-) Paru-paru • • • • Inspeksi Palpasi Perkusi Auskultasi : Simetris. keras.c. Thoraks Cor • • • Inspeksi Palpasi Perkusi : Iktus cordis tidak terlihat : Iktus cordis teraba pada SIC V LMC Sinistra : Batas atas jantung SIC III linea parasternalis sinistra. Kepala d. NT(-).

PEMERIKSAAN PENUNJANG Pemeriksaan Laboratorium: Hb Ht Leukosit Trombosit GDS : 8. tidak ada sianosis.000 /mm3 : 625. NT(+) • Perkusi • Auskulutasi k. testis kiri (-). NT (-) IV. Status Lokalis (Scrotum) Inspeksi Palpasi : terlihat testis kanan dan tidak terlihat adanya testis kiri : teraba testis kanan dalam scrotum. Ekstremitas : Timpani di seluruh kuadran abdomen : Bising usus normal : Tidak ada edema. teraba keras. Nyeri tekan (+) pada kuadran hipokondrium sinistra.• Inspeksi • Palpasi : Cembung.000 /mm3 : 96 mg/dl Hasil PA tanggal 25 Januari 2012 5 . tidak teraba pembesaran hepar. simetris.5 g/dL : 31 vol % : 11. permukaan licin. akral hangat l. pembesaran lien :Schuffner 3. tidak terlihat massa : Teraba supel.

Rujuk ke RSHS atau RSCM untuk Kemoterapi VII.IVFD RL 20 gtt/mnt .Transfusi sampai Hb 10g/dl . PROGNOSIS Quo ad vitam Quo ad functionam : dubia ad malam : ad malam 6 . PENATALAKSANAAN . DIAGNOSA KERJA Carsinoma testis sinistra dengan metastase intrapulmonal.Kesan: Teratokarsinoma testis Rontgen thorax PA: Tampak bayangan noduler opaq pada lapangan atas dan tengah paru kiri Kesan: Metastase intrapulmonal V. intraabdomen dan KGB VI.

pengobatan dengan regimen kemoterapi dan modifikasi tehnik operasi. perhatian pada tumor testis telah beralih pada penurunan morbiditas dengan menentukan protokol pengobatan selektif pada setiap pasien. Sperma 7 . berakibat pada penurunan angka mortalitas penderita kanker testis dari 50% pada 1970 menjadi kurang dari 5% pada 1997. merupakan keganasan tersering pada pria kelompok usia 15 – 35 tahun. Dengan mulai berkembangnya pengobatan yang efektif bahkan untuk pasien-pasien dengan keadaan lanjut. Perkembangan yang pesat dalam hal tehnik diagnosis.CARSINOMA TESTIS PENDAHULUAN Kanker testis meskipun kasus yang relatif jarang. Perubahan pada filosofi penatalaksanaan tumor testis ini didasarkan pada penegetahuan mengenai perlunya membuat metoda terapi lapis kedua setelah metode terapi pilihan pertama gagal. ANATOMI TESTIS Testis merupakan organ yang berperan dalam proses reproduksi dan hormonal. Fungsi utama dari testis adalah memproduksi sperma dan hormon androgen terutama testosteron. perkembangan pemeriksaan penanda tumor.

Pembuluh darah arteri ke testis berasal dari aorta yang beranastomosis di funikulus spermatikus dengan arteri dari vasa deferensia yang merupakan cabang dari arteri iliaka interna. Testis terdapat di dalam skrotum yang merupakan lapisan kulit yang tidak rata dimana dibawahnya terdapat suatu lapisan yang disebut tunika dartos yang terdiri dari serabut-serabut otot. Organ ini diliputi oleh suatu lapisan yang disebut dengan tunika albuginea. Aliran darah dari testis kembali ke pleksus pampiniformis di funikulus spermatikus. paracaval kiri dan iliaka kiri. Diantara tubulus seminiferus inilah terdapat jaringan stroma tempat dimana sel leydig berada. Testis normal berukuran rata-rata 4x3x2. Pada bagian anterior dan lateral testis dibungkus oleh suatu lapisan serosa yang disebut dengan tunika vaginalis yang meneruskan diri menjadi lapisan parietal. terutama pada pool atas dan bawahnya. Di sebelah posterolateral testis berhubungan dengan epididimis. lapisan ini langsung berhubungan dengan kulit skrotum. Saluran limfe yang berasal dari testis kanan mengalir ke kelenjar getah bening di daerah interaaortacaval. Pleksus ini di anulus inguinalis interna akan membentuk vena spermatika. oleh suatu septa-septa jaringan ikat testis dibagi menjadi 250 lobus. Peredarahan darah testis memiliki keterkaitan dengan peredarahan darah di ginjal karena asal embriologi kedua organ tersebut. Vena spermatika kanan akan masuk ke dalam vena cava inferior sedangkan vena spermatika kiri akan masuk ke dalam vena renalis kiri. INSIDENSI Kanker testis adalah salah satu dari sedikit neoplasma yang dapat didiagnosis secara akurat melalui pemeriksaan penanda tumor ( tumor marker ) pada serum tersangka penderita yaitu 8 . paracaval kanan dan iliaka komunis kanan. sedangkan saluran limfe testis kiri mengalirkan isinya ke kelanjar getah bening paraaorta kiri dan daerah hilus ginjal kiri.dibentuk di dalam tubulus seminiferus yang memiliki 2 jenis sel yaitu sel sertoli dan sel spermatogenik.5 cm.

Faktor kongenital Kriptokidisme Dari suatu penelitian yang dilakukan Grove ( 1954 ) memperlihatkan bahwa 7-10% pasien dengan tumor testis memiliki riwayat kriptokidisme sebelumnya. Sementara itu tindakan orchiopeksi tidak merubah potensi terjadinya keganasan testis pada kasus kriptokidisme. Saat ini angka survival pasien dengan tumor testis meningkat. Secara keseluruhan insiden tertinggi kasus tumor testis terjadi pada pria dewasa muda. adanya kelaianan herediter ataupun oleh karena paparan bahan kimia yang bersifat karsinogenik maka perkembangan normal sel germianl mengalami hambatan. orchitis. ETIOLOGI Saat ini belum diketahui faktor yang menjadi penyebab terjadinya tumor testis. ini berhubungan dengan lebih tingginya insidensi kriptoidosme pada testis kanan dibanding testis kiri. Puncak insiden kasus tumor testis terjadi pada usia-usia akhir remaja sampai usia awal dewasa ( 20-40 tahun ). Secara garis besar 2 faktor yang dianggap menjadi etiologi terjadinya tumor sel germial yaitu : (1) Faktor kongenital. Insiden kanker testis memperlihatkan angka yang berbeda-beda di tiap negara. Kanker testis sedikit lebih sering terjadi pada testis kanan dibanding testis kiri. adanya faktor bawaan dan didapat merupakan faktor yang dikaitkan dengan penyakit ini dan kriptokidisme merupakan faktor terkuat yang diduga menjadi penyebab kanker testis. Adanya bukti klinis dan eksperimental mendukung faktor kongenital sebagai etiologi dari tumor sel germinal. a. tetapi cenderung memiliki kesamaan jenis histologisnya. Dalam perkembangan embriologinya sel germinal primordial mengalami perubahan oleh karena faktor lingkungan yang menyebabkan terjadinya gangguan dalam proses diferensiasinya. Whiteker ( 1970 ) dan Mostofi ( 1973 ) mengemukakan 5 keadaan yang dianggap kriptokidisme menjadi penyebab terjadinya tumor testis 9 . (2) Faktor didapat. hal ini memperlihatkan perkembangan dan perbaikan dalam pengobatan dengan kombinasi kemoterapi yang efektif. disgenesis gonad. pada akhir usia dewasa ( Lebih dari 60 tahun ) dan pada anak ( 0-10 tahun ).pemeriksaan human chorionic gonadotropin (bhCG) dan α-fetoprotein (AFP). Oleh karena adanya kriptokidisme. begitu pula pada setiap ras dan tingkat sosioekonomi. hal ini membuat tumor ini menjadi noeplasma tersering mengenai pria usia 20-34 tahun dan tumor tersering kedua pada pria usia 35-40 tahun. Dari penelitian oleh Bach dkk ( 1983 ) di dapatkan seminoma merupakan tumor primer testis bilateral tersering ( 48 % ) sedangkan limfoma maligana adalah tumor testis sekunder bilateral tersering. Faktor resiko tertinggi terjadinya kanker testis adalah adanya testis intra abdomen yang diakibatkan oleh undescensus testis (1 kasus dari 20 kasus undescensus testis). Tumor primer testis bilateral dapat terjadi secara berbarengan ataupun tidak.

termasuk dalam kelompok ini adalah seminoma. Pemberian estrogen pada tikus yang sedang hamil menyebabkan tikus tersebut melahirkan anak-anak yang menderita kriptokidisme dan disgenesis kelanjar gonad ( Nomura dan Kanzak. 10 . karsinoma sel embrional. 2. termasuk di dalamnya adalah karsinoma sel embrional. tumor sel sertoli dan gonadoblastoma). Tumor sel germinal testis. 4) Kelainan fungsi endokrin. meliputi tumor sel leydig. Berdasarkan klasifikasi ini tumor sel germinal testis dapat dibagi menjadi: • Seminoma • Non seminoma germ cell tumor ( NSGCT ). Sejumlah sistem klasifikasi dikemukakan untuk membagi tumor sel germinal testis. b. Sistem klasifikasi berdasarkan tipe histologi dari tumor ini adalah sistem klasifikasi yang paling banyak digunakan. ini didasari oleh penelitian pada hewan dan manusia. Terdapat klasifikasi besar yang membagi tumor testis menjadi 2 yaitu : 1. koriokarsinoma dan mixed cell tumor. 3) Gangguan aliran darah. trratoma. Atrofi Terjadinya infeksi bakteri nonspesifik virus mump pada testis diduga menjadi penyebab terjadinya atrofi testis yang potensial menjadi penyebab terjadinya tumor testis. Pria dengan riwayat kriptokidisme memiliki resiko 3-14 kali untuk terkena tumor testis dibanding pria tanpa riwayat kriptokidisme. Faktor yang didapat Trauma Kemungkinan trauma sebagai penyebab terjadinya tumor testis belum secara jelas diketahui. tumor TUMOR SEL GERMINAL TESTIS Tumor sel germinal merupakan tumor testis yang paling sering ditemukan sebagi tumor primer dan sisanya adalah neoplasma non germinal ( tumor sel leydig. 2) Peningkatan temperatur tempat testis berada ( intraabdomen atau spermatic cord ). tumor yolk sac. 5) Disgenesis kelenjar gonad. Penelitian oleh Cosgrove ( 1977 ) memperlihatkan hal yang sama bahwa anak yang dilahirkan oleh ibu yang mendapatkan diethylstilbestrol atau kontrasepsi oral menderita kriptokidisme dan disgenesis kelenjar gonad.1977 ). Tumor non sel germinal testis. Hormon Terjadinya fluktuasi hormon seks memiliki kontribusi bagi perkembangan tumor testis.yaitu : 1) Morfologi sel germinal yang abnormal. Namun demikian peran atrofi testis sebagai faktor penyebab terjadinya tumor testis masih merupakan spekulasi.

(2) rate of invasion yang lebih tinggi. • Tipe infantil Dengan nama lain tumor yolk sac atau tumor sinus endodermal adalah tumor testis tersering pada bayi dan anak-anak.teratoma. Hal tersebut dapat dilihat bahwa seminoma jenis ini : (a) Memiliki aktifitas mitotik yang lebih besar. • Seminoma anaplastik Untuk mendiagnosis adanya seminoma anaplastik secara mikroskopis harus ditemukan 3 atau lebih sel mitosis perlapang pandang besar dan sel-selnya memperlihatkan adanya inti sel pleomorfisme dengan derajat yang lebih tinggi dari subtipe seminoma klasik. Jika ditemukan pada usia dewasa maka kemungkinan merupakan tipe 11 . Lebih dari setengah pasien dengan seminoma spermatositik berumur lebih dari 50 tahun. Nonseminoma Terdapat 5 tipe tumor yang merupakan bagian dari tumor sel germinal nonseminoma. Sejumlah tanda yang menunjukkan bahwa seminoma ini lebih agresif dan lebih memiliki potensi menyebabkan kematian dari pada jenis klasik. Karsinoma sel embrional Terdapat 2 varian / tipe dari karsinoma sel embrional yaitu : • Tipe dewasa Secara histologis memperlihatkan tanda pleomorfisme dan batas sel yang tidak jelas. (3) rate of metastase yang tinggi dan (4) Produksi tumor marker terutama hCG yang lebih tinggi. Secara makroskopis kemungkinan tampak terlihat adanya hemoragis yang luas dan jaringan yang nekrotik. Seminoma Terdapat 3 subtipe gambaran histologis dari tumor jenis ini yaitu : • Seminoma klasik Disebut juga dengan typical seminoma. sering terjadi pada dekade ke 4 kehidupan namun tidak jarang terjadi pada pria usia 40 atau 50 tahunan. koriokarsinoma dan tumor-tumor campuran ( mixed tumors ) 1. Seminoma anaplastik cenderung memperlihatkan staging yang lebih tinggi dari pada subtipe seminoma klasik. 2. Dapat terlihat sel-sel sinsitiotrofoblas dan ini sesuai dengan jumlah kasus seminoma yang disertai dengan adanya produksi hCG. Secara makroskopis tampak nodul berwarna abu-abu yang menyatu dan secara mikroskopis telihat lapisan yang monoton pada sel besar dengan sitoplasma yang jernih dengan inti sel padat. • Seminoma spermatositik Secara mikroskopis tampak variasi ukuran sel dan karakter sel berupa perbedaan pada kekeruhan sitoplasma sel dan terlihat adanya inti sel yang bulat dengan kromatin yang memadat. yaitu : a. Seminoma jenis ini meliputi sebagian besar dari seluruh kasus seminoma ( 85%).

endoderm oleh saluran cerna. selanjutnya tumor akan menyebar ke daerah precaval. paracaval. Sebaliknya sebuah lesi kecil pada testis dapat merupakan suatu metastase jauh dari keganasan di tempat lain. Koriokarsinoma Keganasan ini terlihat sebagai sebuah lesi yang kecil dan biasanya terdapat suatu pendarahan pada bagian tengahnya. c. pankreas dan jaringan teratoma jenis matur memiliki gambaran struktur yang jinak yang berasal dari ektoderm.campuran dan sangat mungkin jenis tumor yang menghasilkan AFP. POLA PENYEBARAN TUMOR Tumor testis hampir selalu bermetastasis secara limfogen kecuali koriokarsinoma yang menyebar secara hematogen sejak staging awal. Secara klinis. Tumor ini terdiri lebih dari satu lapisan sel germinal yang bervariasi dalam maturasi dan diferensiasinya. Tempat yang menjadi daerah penyebaran tumor testis kiri adalah paraaorta yang sejajar 12 . Secara mikroskopis. Teratoma Tumor ini dapat ditemukan pada anak-anak dan dewasa. Karsinoma in situ Pasien dengan tumor testis satu sisi memiliki karsinoma in situ pada testis sisi yang lainnya. Pengobatan untuk karsinoma mixed cell yang terdiri campuran antara seminoma dan nonseminoma sama dengan pengobatan untuk tumor nonseminoma saja. sedangkan teratoma jenis immatur terdiri dari jaringan primitif yang tidak terdiferensiasi pembentuk sistem respirasi sedangkan mesoderm ditunjukkan oleh otot polos atau otot lurik. Tampak pula terlihat badan embrioid dan terlihat seperti embrio berusia 1-2 minggu yang terdiri dari sebuah ruang yang dikelilingi oleh sinsitiotrofoblas dan sitotrofoblas. iliaka komunis kanan dan kelenjar getah bening iliaka eksterna kanan. Mixed cell tumor Yang termasuk dalam tumor jenis mixed cell adalah teratokarsinoma yang bercampur dengan teratoma dan karsinoma sel embrional. ektoderm mungkin ditunjukkan oleh jaringan neural dan epitel skuamosa. e. Secara mikroskopis terlihat adanya sitoplasma yang mengalami vakuolisasi oleh adanya deposit lemak dan glikogen. Secara makroskopis tumor ini tampak berlobus-lobus dan terdiri dari beragam ukuran kista-kista yang berisi materi gelatin dan musin. jaringan kartilago dan tulang. koriokarsinoma merupakan keganasan yang agresif karena tumor ini menyebar luas secara hematogen lebih awal. preaorta. Tumor testis kanan dapat menyebar ke kelenjar getah bening daerah interaortocaval yang terletak sejajar dengan hilus ginjal kanan. mesoderm dan endoderm. d. b.

selanjutnya tumor akan menyebar ke kelenjar getah bening preaorta. Masa biasanya keras dan tidak menimbulkan nyeri tekan dan dapat dengan mudah dipisahkan dari epididimis.mual dan muntah (penyebaran ke retroduodenal). dan pembengkakan pada ekstremitas inferior (oleh karena obstruksi vena cava) dan mungkin saja ditemukan massa di daerah leher (metastase ke kelenjar getah bening supraclavicula). anoreksia. gastrointestinal dan limpa. tempat lainnya yang juga menjadi lokasi penyebaran tumor testis adalah paru-paru. nyeri tulang (metastease ke tulang). otak. Adanya gejala nyeri akut pada testis ditemukan pada 10% kasus dan mungkin berhubungan dengan pendarahan intratestikuler atau oleh adanya proses iskemia/infark. Kadang keadaan umum merosot cepat dengan penurunan berat badan. Dari sebuah pengamatan oleh Donahue. ginjal. Keluhan nyeri punggung adalah keluhan tesering yang dirasakan penderita. GEJALA DAN TANDA Gejala yang paling sering muncul pada pasien dengan kanker testis adalah pembesaran testis yang berlangsung gradual yang tidak disertai dengan rasa nyeri. iliaka komunis kiri dan iliaka eksterna kiri. Seringkali kelainan ini ditemukan secara tidak sengaja karena tidak ada keluhan apapun. tulang. Seringkali tanda ini dikaburkan oleh adanya hidrocelle tapi dapat diatasi dengan pemeriksaan transluminasi pada skrotum.Terjadinya penyebaran ke kelenjar getah bening di iliaka eksterna distal dan obturator oleh karena invasi tumor ke epididimis dan funikulus spermatikus sedangkan penyebaran ke kelenjar getah bening inguinal disebabkan terjadi invasi tumor ke tunika albuginea dan ke kulit skrotum. Pada pemeriksaan fisik dengan melakukan pemeriksaaan bimanual ditemukannya masa atau pembesaran yang menyeluruh pada testis adalah tanda utama pada banyak kasus. 13 . hepar. Gejala lain adalah batuk atau sesak yang disebabkan metastase ke paru. sedangkan tumor testis kanan seringkali bermetastasis ke kelenjar getah bening pada sisi kiri. Penegakkan diagnnosis kanker testis diperlukan untuk memutuskan dilakukan terapi definitif ( orchidectomy ) dan sering kali pasien mengalami keterlambatan penegakkan diagnosis ( biasanya 3 – 6 bulan) dan ini berkaitan dengan insiden terjadinya metastase tumor. Gonadotropin yang mungkin disekresi oleh sel tumor dapat menyebabkan ginekomastia. Pasien mengeluh oleh suatu gejala yang diakibatkan penyebaran/metastase tumor. Tempat yang paling sering menjadi lokasi penyebaran tumor testis adalah daerah retroperitoneal. kelenjar adrenal. keluhan ini akibat penyebaran tumor ke retroperitoneal. Zachary dan Magnard ( 1982 ) memperlihatkan bahwa tumor testis kiri tidak pernah bermetastase ke kelenjar getah bening di sisi kanan.dengan daerah hilus ginjal kiri.

Human chorionic gonadotropin adalah suatu glikoprotein dengan berat molekul 38. meningkat dengan kadar yang bervariasi pada pasien dengan non seminoma germ cell tumor (NSGCT) dan tidak pernah ditemukan pada kasus seminoma. dan lactic acid dehydrogenase ( LDH ). waktu paruhnya 24 jam. ditemukan pada bayi usia kurang dari 1 tahun. yaitu α-fetoprotein ( AFP ). Perlu juga dilakukan pemeriksaan pada daerah supraclavucula. ginjal. Lactic acid dehydrogenase adalah enzim intrasel dengan berat molekul 134. KLASIFIKASI Pada tahun 1996 the American Joint Committee mengemukakan suatu klasifikasi TNM yang mencoba membuat standar staging secara klinis pada kanker testis. yaitu : • T ( Tumor primer ) Tx : Tumor primer tidak dapat di nilai T0 : Tidak ditemukan adanya tumor primer Tis : kanker intratubular ( karsinoma in situ ) T1 : Tumor terbatas pada testis dan epididimis. PEMERIKSAAN LABORATORIUM Sejumlah penanda biokomia sangat diperlukan untuk mendiagnosis dan penatalaksanaan karsinoma testis. Sekali kanker testis terdiagnosis setelah dilakukan orchiectomy inguinal maka staging harus dilakukan. Pemeriksaan foto rontgen dada dan CT-scan abdomen dan pelvis dilakukan untuk mengetahui adanya metastase ke paru dan retroperitoneal yang paling sering menjadi tempat penyebaran tumor testis. Alfa fetoprotein adalah suatu glikoprotein dengan berat molekul 70. axilla dan inguinal. tidak terdapat invasi ke 14 . dan otak. Enzim ini dalam keadaan normal ditemukan di otot (otot polos.Pemeriksaaan pada abdomen dapat ditemukan masa yang besar di daerah retroperitoneal. Pada orang normal hormon ini secar signifikan tidak dianggap ada namun meningkat pada pasien dengan NSGCT dan dapat meningkat pada pasien seminoma. Penanda lain yang juga dapat dipakai untuk menunjukkan adanya kanker testis adalah placental alkaline phospatase ( PLAP ) dan gamma-glutamyl transpeptidase (GGT) PEMERIKSAAN PENCITRAAN Tumor primer testis dapat dengan cepat dan tepat ditentukan dengan melakukan pemeriksaan ultrasonografi pada testis.000 dalton.000 dalton dan waktu paruh 4-6 hari. human chorionic gonadotropin ( hCG ). dan jantung). hati. Kadarnya meningkat baik pada pasien NSGCT dan seminoma.000 dalton. lurik. Magnetic resonance imaging (MRI) secara umum tidak memberikan informasi gambaran radiologis yang lebih baik daripada CT-scan pada kasus tumor testis.

Kelaianan yang paling sering membuat seorang klinisi melakukan kesalahan diagnosis 15 .000 mlU/ml atau AFP> 10.000ng/ml Stadium dan tingkat penyebaran karsinoma testis ( Peckham ).pembuluh darah T2 : Tumor melewati tunika albugenia atau terdapat invasi ke pembuluh darah T3 : Tumor mencapai funikulus spermatikus T4 : Tumor mencapai kulit skrotum • N ( Kelenjar getah bening regional ) Nx : Adanya metastase ke kelenjar getah bening tidak dapaditentukan N0 : Tidak terdapat metastase ke kelenjar getah bening N1 : Terdapat metastase ke kelenjar getah bening dengan ukuran lesi ≤ 2 cm dan melibatkan ≤ 5 kelenjar geatah bening N2 : Metastase > 5 kelenjar. ukuran massa 2-5 cm N3 : Ukuran massa > 5 cm • M ( metastase jauh ) Mx : Adanya metastase jauh tidak dapat ditentukan M0 : Tidak terdapat metastase jauh M1 : Ditemukan adanya metastase jauh • S ( Tumor marker pada serum ) Sx : Tumor marker tidak tersedia S0 : Nilai kadar tumor marker pada serum dalam batas normal S1 : Nilai kadar Lactic acid dehydrogenase (LDH) <> 10 x normal atau hCG > 50. Stadium Lokasi Tumor I Tumor terbatas pada testis dan rete testis IIA Tumor mengenai KGB retroperitoneal III Tumor mengenai KGB supraklavikula atau mediastinum IV Metastase ekstralimfatik DIAGNOSIS BANDING Kesalahan dalam membuat diagnosis pada pemeriksaan awal terjadi pada kira-kira 25 % pasien dengan tumor testis dan pada akhirnya menimbulkan keterlambatan dalam penatalaksanaanya dan kesalahan yang bersifat fatal berupa tindakan pembedahan melalui approach yang keliru (Insisi pada skrotum) untuk melakukan eksplorsi testis.

S0 ) seperti juga pada jenis nonseminoma. Merupakan hal yang sangat sulit untuk membedakan pembengkakan oleh radang tuberkolosis dengan massa tumor testis. Meskipun efek samping pemberian radiasi dosis rendah jarang terjadi tapi pada pemberian dalam jangka waktu lama pada beberapa laporan menunjukkan adanya infertilitas. tapi pada keadaan lanjut dengan peradangan yang menjalar ke testis maka gejala-gejala tadi akan melibatkan juga testis. nyeri tekan pada epididimis yang sangat jelas terpisah dari testis. Tuberkulosis pada testis hampir selalu berasal dari infeksi kuman ini pada epididimis. Penatalaksanaan selanjutnya tergantung pada hasil pemeriksaan histopatologi dan staging tumor secara patologi. Apabila dari serangkaian pemeriksaan adanya kanker testis tidak dapat di singkirkan maka tindakan ini dapat dikerjakan. Seminoma merupakan tumor yang radiosensitif. Adanya riwayat demam. Tindakan biopsi melalui skrotum atau membuka testis harus dihindari. Nonseminoma 16 . S0 ) Seminoma Pasien yang secara klinis menunjukkan gejala dan tanda tumor yang terbatas pada testis. Penatalaksanaan tumor dengan staging I ( T1-T3. Radiasi adjuvan masih merupakan terapi pilihan pada penderita seminoam stage I ( T1-T3. varikokel dan orchitis granulomatosis yang sering disebabkan oleh tuberkulosis. Tindakan orchiectomi radikal adalah tindakan bedah yang harus dilakukan. Kelainan kedua yang seringkali menyebabkan kekeliruan dalam membuat diagnosis tumor testis adalah hidrokel.adalah epididimitis atau epididimoorchitis. staging klinis dan efektifitas pengobatan. PENATALAKSANAAN Prinsip penanganan pasien dengan tumor sel germinal adalah merujuk pada riwayat alamiah dari tumor. paraaorta dan pelvis ipsilateral maka 95% seminoma stage I dapat sembuh. komplikasi pada saluran cerna dan kemungkinan radiasi menginduksi timblnya keganasan lain. hematokel oleh karena trauma. oleh karena itu jika pada pemberian OAT didapatkan respon yang lambat maka sebaiknya dilakukan eksplorasi testis. pemeriksaan transluminasi skrotum dapat dengan mudah membedakan antara adanya cairan pada hidrokel dengan masa padat pada tumor testis. discharge uretra dan gejala iritatif pada berkemih lebih memungkinkan untuk mendiagnosis epididimis. Pemerksaan dengan USG dapat menentukan bahwa pembesaran berasal dari epididimis dan bukan dari testis. N0. Pada keadaan awal epididimitis memperlihatkan gejala berupa pembesaran. A. M0. Dengan melakukan orchiektomi radikal dan radioterapi pada daerah retroperitoneal. N0. M0. massa kistik pada epididimis. pemberian radiasi adjuvant terhadap kelenjar getah bening retroperitoneal dan kemoterapi adalah pilihan terapi paska orchiektomi. Kelaianan lain yaitu spermatokel.

etoposide dan cisplatin (BEP). Perlu diperhatikan pasien-pasien dengan penyakit ginjal tapal kuda (hourse shoe kidney) dan inflammatory bowel disease maka terapi radiasi merupakan kontraindikasi dan kemoterapi adalah terapi pilihan pada pasien seminoma dengan kelainan ini.Tindakan orchiektomi inguinal saja mampu menyembuhkan 60-80% pasien nonseminoma. Sebagai terapi pilihan tumor pada staging II adalah radioterapi. jika terdapat peningkatan kadarnya dalam darah dan timbul gejala dan tanda adanya kelaianan sistemik akibat metastase tumor maka terapi yang harus dilakukan adalah pemberian kemoterapi primer yang terdiri dari bleomycin. Nonseminoma Retroperitoneal lymph node dissection (RPNLD) merupakan tindakan operasi yang standar dilakukan pada pasien dengan tumor nonseminoma stage IIA dan IIB yang pada hasil pemeriksaan tumor marker (AFP) normal. Pada pasien dengan ukuran tumor di retroperitoneal lebih dari 5 cm (N3) kira-kira setengahnya akan bermetastase keluar regio tersebut. vinblastin. Tindakan retroperitoneal lymph node dissection (RPLND) perlu dilakukan dengan tujuan terapi dan diagnostik. etoposide dan cisplatin (BEP). Tindakan RPLND dilakukan melalui thoracoabdominal approach. Termasuk dalam staging ini adalah pasien dengan tumor yang telah bermetastase ke daerah retroperitoneal yang berukuran tranversal kurang dari 5 cm dengan staging N1-N3. 17 . B. Penyebaran dapat terjadi pada kira-kira 30% pasien dengan nonseminoma yang secara klilnis masuk dalam staging I ( occult metastase ) sehingga pada klasifikasi patologi masuk dalam staging IIA. Penatalaksanaan tumor dengan staging II ( N1-N3 ) Seminoma Seminoma staging II ( stage IIA dan IIB ) memiliki angka kesembuhan (cure rate) 85 – 95 %. Obat-obat kemoterapi yang digunakan adalah bleomycin.

cyclophosphamide. • Adanaya tumor di luar kelenjar getah bening. N0-N3. Regimen obat yang diberikan berupa etoposide dan cisplatin sebanyak 4 siklus atau dapat diberikan BEP sebanyak 3 siklus. Cisplatin diberikan sebanyak dua siklus jika ditemukan : • Lebih dari 6 kelenjar getah bening terkena. bleomycin. walaupun hasil kemoterapi menunjukkan hasil yang sangat baik perlu dilaukan evaluasi kadar tumor marker selama pemberian kemoterapi untuk mengetahui respon tumor terhadap pengobatan. Kecurigaan ini harus dipastikan melalui 18 . S0-S3 ) pemberian cisplatin dapat mengobati 60-70% pasien. 40% adalah teratoma dan 40 % merupakan massa tumor yang mengalami fibrosis. M1-M2. terdapat metastase ke viseral dan kelenjar supradiafragma termasuk juga pasien yang masuk dalam staging IIC ( T1-T4. Penatalaksanaan tumor dengan staging III ( T1-T4. Jika hasil pemeriksan tumor marker normal dan pemeriksan radiologi terlihat adanya massa maka harus dilakukan tindakan reseksi karena massa tersebut 20% merupakan sisa massa tumor. Nonseminoma Pasien dengan massa tumor yang besar di daerah retroperitoneal (lebih dari 3 cm atau terdapat pada 3 slice CT-scan) atau terdapat metastase maka terapi dengan kemoterapi primer merupakan keharusan setelah dilakukan orchiektomi. tidak terdapat keluhan nyeri. Orchiektomi radikal Indikasi dilakukannya orchiektomi radikal adalah pasien dengan kecurigaan adanya tumor testis. dactinomicyn. N0N3. ukuran tumor yang besar. C. M1-M2. Beberapa ahli menganjurkan tetap perlu dilakukan RPNLD karena lebih dari 10% kasus tetap ditemukan massa tumor. S0-S3 ) Seminoma Penatalaksanaan seminoama staging tinggi (high tumor burden) yang meliputi pasien dengan tumor yang telah mengalami penyebaran yang luas. dan cisplatin ( VAB-6 ) dan cisplatin-etoptoside. • Seminoma dengan prognosis buruk Pasien dengan respon yang buruk terhadap kemoterapi memiliki respon rate sebesar 40% dan pasien ini dapat diberikan BEP sebanyak 4 siklus. Kecurigaan tumor testis apabila pada pemeriksaan fisik ditemukan adanya massa yang irreguler yang berasal dari testis. • Terdapat massa tumor yang berukuran lebih dari 2 cm. Jika terjadi kekambuhan maka pemberian cisplatin dapat dilakukan sebanyak 3-4 siklus. Terdapat pembagian seminoma pada staging ini berdasarkan respon terhadap pengobatan yaitu : • Seminoma dengan prognosis baik Pasien ini memiliki kemungkinan sembuh yang tinggi dengan respon terhadap terapi mencapai 88-95%.

pengeleluaran testis dari skrotum dilakukan sebelum membuka tunika vaginalis dan menginsisi jaringan testis. Dilakukan insisi oblique pada daerah inguinal kira-kira 2 cm di atas tuberculum pubicum dan dapat diperlebar sampai ke skrotum bagian atas untuk mengangkat tumor yang berukuran besar. Dilakukan irigasi pada luka dan skrotum dan hemostasis lalu dapat dilalukan pemasangan protease testis. Selanjutnya dilakukan penutupan aponeurosis muskulus obliqus eksternus dengan benang prolene 2-0. Orchiectomy radikal diakhiri dengan memasukkan funikulus spermatikus ke dalam anulus inguinalis internus dan meligasi pembuluh darah vas deferen dan funikulus spermatikus secara sendiri-sendiri. Tindakan ini dilakukan untuk menentukan diagnosis histopatologi dan staging T. Tindakan orchiectomy dilakukan dengan anestesi umum ataupun anestesi lokal dan dapat dilakukan pada pasien-pasien rawat jalan. Adanya tumor testis diperlihatkan oleh gambaran hipoekoik yang hipervaskuler pada lesi intratestikuler. Dressing dengan penekanan pada skrotum dapat meminimalisasi terjadinya udema paska operasi. Komplikasi yang dapat terjadi pada pasien yang telah menjalani orchiektomi radikal adalah : Pendarahan. jika akan dilakukan biopsa atau subtotal orchiectomy. Nonseminoma Pasien pada stag I yang menjalani orchiektomi radikal dan RPLND memiliki 5-years 19 . Insisi pada fasia Camper dan Scarpa sampai ke aponeurosis obliqus eksternus dilanjutkan dengan menginsisi aponeurosis sesuai dengan arah seratnya sampai mencapai anulus inguinalis internus. Tindakan ini pada sebagian besar kasus memiliki morbiditas dan mortalitas yang rendah serta mampu mengontrol perkembangan tumor lokal. Pada pasien dengan staging yang lebih tinggi yang telah menjalani orchiektomi radikal yang diikuti dengan pemberian kemoterapi maka 5-years disease-fre surviva ratenya 35-75%. yang terlihat dengan adanya hematoma di skrotum atau reroperitoneal.pemeriksaan Doppler ultrasonografi pada skrotum. HASIL DAN PROGNOSIS Seminoma Setelah dilakukan orchiektomi radikal dan pemberian radiasi eksterna. Testis dan kedua tunika pembungkusnya dikeluarkan dari skrotum secara tumpul dengan hati-hati.5 inchi. Trauma pada nervus ilioinguinal yang mengakibatkan terjadinya hipostesia pada tungkai ipsilateral dan permukaan lateral skrotum. Pasien dalam posisi supine dengan skrotum ditempatkan dalam medan operasi yang steril. Indentifikasi nervus ilioinguinalis dan funikulus spermatikus setinggi anulus inguinalis internus dibebaskan dan diisolasi dengan menggunakan klem atraumatik atau turniket penrose 0. fasia scarpa dijahit dengan benang absorble dan selanjutnya dilakukan penutupan kulit. Infeksi luka operasi. maka pada pasien seminoma stag I 5-years disease-fre surviva rate mencapai 95% dan 92-94% pada seminoma stag IIA.

Pada pasien stag II dengan massa tumor yang kecil dan telah menjalani orkoiektomi radikal dan kemoterapi 5-years disease-fre surviva rate nya mencapai 90% sedangkan pasien pada stag ini tapi dengan massa tumor yang besar yang telah dilakukan orchiektomi radikal diikuti dengan kmoterapi dan RPLND memiliki 5-years disease-fre surviva rate sebesar 55-80%. Terdapat jenis yang jinak dan ganas. Progonosis tumor sel leydig jenis jinak sangat baik sedangkan untuk jenis yang ganas prognosisnya buruk. tumor sel sertoli. 20 . Peran kemoterapi untuk tumor ini maih belum dapat ditentukan karena kasus tumor sel leydig sangatlah jarang. peningkatan 10-30 kali kadar enzim ini adalah pertanda untuk tumor ganas dan indikasi untuk dilakukan RPLND. abdomen dan kelenjar getah bening sekitarnya. Pada pasien dewasa biasanya tidak bergejala meskipun pada 20-25% kasus terdapat adanya ginekomastia dan tumor bersifat ganas pada 10% kasus. Temuan klinis yang dapat ditemukan pada penyakit ini berupa virilization pada pasien usia pra pubertas dan merupakan suatu tumor jinak. Pada pemeriksaan laboratorium terdapat peningkatan kadar 17-ketosteroid serumdan urin dan juga kadar estrogen. Tampak adanya lesi kecil yang berwarna kekuningan tanpa adanya gambaran hemoragi dan nekrosis. dan gonadoblastoma. Pemeriksaan 17-ketosteroid penting untuk membedakan jenis jinak dengan yang ganas. Terapi inisial dari tumor ini adalah orchiektomi radikal. lalu setiap 6 bulan selama 5 tahun selanjutnya setiap satu tahun. TUMOR TESTIS NON SEL GERMINAL Tumor testis non sel germinal hanya meliputi 5-6% dari seluruh kasus tumor testis. Tumor ini 25% terjadi pada anak-anak. Penyebab tumor jenis ini tidak diketahui dan tidak seperti pada tumor testis sel germinal yang dihubungkan dengan kriptokidisme maka tumor sel leydig tidak dikaitkan dengan kelainan tersebut.disease-fre surviva rate yang tinggi mencapai 96-100%. perlu pula dilakukan pemeriksaan laboratorium berupa pemeriksaan kadar AFP. Terdapat 3 tipe tumor testis non sel germinal yaitu tumor sel leydig. Terdapat sel-sel heksagonal yang granuler dengan sitoplasma yang berisi vakuola-vakuola lemak. dangan 5-10% merupakan tumor bilateral. hCG dan LDH. Pada setiap kunjungan haruslah dilakukan pemeriksaan fisik pada sisa testis. Tumor sel leydig Tumor sel leydig adalah tumor testis non sel germinal tersering yang dijumpai. 1. Selain itu perlu pula dilakukan pemeriksaan foto rontgen thorak dan abdomen. Pasien yang telah menjalani tindakan RPLND atau radioterapi memerlukan pengamatan lanjutan setiap 3 bulan selama 2 tahun. Tindak lanjut Semua pasien dengan kanker sel germinal memerlukan pengamatan secara teratur.

Pada lesi jinak terlihat sel-sel dengan gambaran yang baik seperti pada sel leydig normal sedangkan pada jenis ganas terlihat sel dengan batas-batas yang tidak jelas. hanya meliputi kurang dari 1% dari seluruh kasus tumor testis. Penderita tumor ini sebagian besar dijumpai pada usia dibawah 30 tahun. Tumor sel sertoli Tumor sel sertoli merupakan kasus yang sangat jarang. Pada pemeriksaan fisik ditemukan adanya massa tumor pada testis dan terjadi virilisasi pada penderita anak-anak. 3. Secara mikroskopis tampak sel-sel yang heterogen yang merupakan campuran dari sel epitel dan sel stroma. Gonadoblastoma Gonadoblastoma hanya meliputi 0. Jika ditemukan adanya disgenesis kelenjar gonad maka tindakan gonadektomi kontralateral selain dari pengangkatan kelenjar gonad yang terkena merupakan indikasi dari kelainan ini karena gonadoblastoma cenderung untuk mengenai kedua testis. Manifestasi klinis yang terlihat pada kelainan ini berkaitan dengan keadaan yang mendasari timbulnya gonadoblastoma yaitu adanya disgenesis kelenjar gonad.2. Peran kemoterapi dan radioterapi untuk tumor sel sertoli masih belum jelas. Terapi pilihan untuk gonadoblastoma adalah orchiektomi radikal. Tindakan orchiektomi merupakan terapi awal untuk tumor ini dan RPLND diindikasikan untuk jenis tumor ganas. Hal yang penting diperhatikan bahwa 4/5 pasien gonadoblasoma secara fenotip adalah wanita dan pada penderita pria murni biasanya menderita kriptokidisme dan hipospadia. Pada 30% kasus ditemukan adanya ginekomastia pada pasien dewasa.5% dari seluruh kasus tumor testis dan hampir selalu ditemukan pada pasien dengan disgenesis testis. Dari seluruh kasus tumor sel sertoli 10% nya merupakan jenis ganas sedangkan sisanya merupakan lesi jinak. 21 .

Doherty GM. 6. 2003. 3. Sjamsuhidajat R. Jakarta : CV. Current Surgical Diagnosis and Treatment. De Jong Wim. Jakarta : Penerbit Buku Kedokteran EGC. Basuki B Purnomo.2004. Jakarta : EGC 2000.com/imgres?imgurl=http://2. Sabiston D. Jakarta : Penerbit Buku Kedokteran EGC.com/view. Intisari Prinsip-prinsip Ilmu Bedah. http://images.1994. Dasar-dasar Urologi.bp.php?idartikel=30 7.urologi-dharmais. Hal 492494. Hal 791-792.blogspot. Hal 580-594.Buku Ajar Bedah. Oswari J. Page 10491051 4. Sagung Seto. Schwartz.2006. Buku Ajar Ilmu Bedah.com 22 .DAFTAR PUSTAKA 1. USA : McGraw Hill. Edisi ke-2. Hal 181186.google. http://www. 5. 2. Edisi ke-2.

Master your semester with Scribd & The New York Times

Special offer for students: Only $4.99/month.

Master your semester with Scribd & The New York Times

Cancel anytime.