NAMA NIM

: HABIBI SAHID : 114704008

PRODI/JURUSAN : S1 ILMU HUKUM/2011/A

MACAM-MACAM PERIKATAN
A. Perikatan Bersyarat Perikatan bersyarat adalah suatu perikatan yang digantungkan pada suatu kejadian dikemudian hari, yang masih belum tentu akan atau tidak terjadi. pertama mungkin untuk memperjanjikan, bahwa perikatan itu barulah akan lahir, apabila kejadian yang belum tentu itu timbul. Konsekuensi : • Jika perikatan tesebut bertentangan dengan kesusilaan atau bertentangan dengan undang-undang yang telah ditentukan, maka itu batal. • • Jika perikatan tersebut semata-mata tergantung pada orang yang terikat saja. Semua syarat harus dipenuhi sesuai kesepakatan pihak yang bersangkutan.

B. Perikatan Dengan Ketetapan Waktu Perbedaan antara suatu syarat dengan suatu ketetapan waktu ialah yang pertama berupa suatu kejadian atau peristiwa yang belum tentu atau tidak akan terlaksana, sedangkan yang kedua adalah suatu hal yang pasti akan datang , meskipun mungkin belum dapat ditentukan kapan datangnya, misalnya meninggalkan seseorang. Contohnya suatu perikatan yang digantungkan pada suatu ketetapan waktu , banyak selaki dalam prakteknya, seperti perjanjian perburuhan, suatu hutanf wesel yang dapat ditagih suatu waktu setelahnya dipertunjukan dan lain sebagainya. Konsekuensi : • Debitur tidak dapat lagi menarik manfaat dan suatu ketetapan waktu, jika ia telah dinyatakan pailit, atau jika jaminan yang diberikannya kepada kreditur telah merosot karena kesalahannya sendiri. • • Jika debitur telat dalam memenuhi tuntutannya, maka itu adalah kesalahan debitur, Kreditur : menuntut haknya pada waktu yang ditentukan itu, artinya dia tidak dapat menuntut haknya sebelum waktu itu tiba • Debitur : yang telah dibayarkan, tidak dapat diminta kembali.

kreditur harus memperoleh barang yang masih ada. atau sebaliknya. jika salah satu dari barang yang dijanjikan hilang. maka bila hilangnya barang itu. Perikatan alternatif adalah suatu perikatan. dia harus membayar harga barang yang paling akhir hilang. terjadi karena kesalahan debitur. Beberapan orang sama-sama berhak menagih suatu piutang dari satu orang. • Dalam perikatan dengan pilihan. D. sedikit sekali terdapat dalm praktek. maka kreditur dapat menuntut penyerahan barang yang masih ada atau harga barang yang telah hilang. maka para kreditur lainnya tidak bebas dari kewajiban untuk membayar harga barang itu. . kreditur boleh menuntut pembayaran harga salah satu barang itu rnenurut pilihannya. kerugian dan bunga. Misalnya ia boleh memiliki apakah ia akan memberikan kuda atau mobilnya atau uang satu juta rupiah. maka jika hal itu terjadi di luar kesalahan debitur. Konsekuensi : • Jika barang yang harus diberikan musnah karena kesalahan seorang debitur tanggung renteng atau lebih. jika hilangnya salah satu barang tadi terjadi karena salahnya debitur. Jika kedua barang lenyap. baik dari debitur yang menyebabkan lenyapnya barang itu maupun dari mereka yang lalai memenuhi perikatan. salah satu saja pun. Tetapi perikatan semacam yang belakangan ini. Konsekuensi : • Jika dalam hal-hal yang disebutkan dalam pasal lalu pilihan diserahkan kepada kreditur dan hanya salah satu barang saja yang hilang. sedangkan kepada si berhutang diserahkan yang mana ia akan lakukan. tetapi ia tidak dapat memaksa kreditur untuk menerima sebagian dari barang yang satu dan sebagian dari barang yang lain. atau setelah debitur itu dinyatakan lalai. • Suatu perikatan dengan pilihan adalah murni dan sederhana. tetapi mereka tidak wajib untuk membayar penggantian biaya. Harga dari barang itu tidak dapat ditawarkan sebagai ganti salah satu barang. Kreditur hanya dapat menuntut penggantian biaya. atau karena kesalahan debitur tidak dapat diserahkan lagi. Perikatan Tanggung-Menanggung Suatu perikatan di mana beberapa orng bersama-sama sebagai pihak yang berhutang berhadapan dengan satu orang yang menghutang.C. di mana terdapat dua atau lebih macam prestasi. debitur dibebaskan jika ia menyerahkan salah satu dari dua barang yang disebut dalam perikatan. kerugian dan bunga.

tergantung pada kemungkinan tidaknya membagi prestasi. maupun karena sifat barang yang menjadi pokok perikatan. Dalam ketiga hal yang pertama. atau menerima harga barang yang bersangkutan. ahli waris yang menguasai barang yang harus diserahkan atau barang yang menjadi tanggungan hipotek. • Tiap ahli waris kreditur dapat menuntut pelaksanaan suatu perikatan yang tak dapat dibagi-bagi secara keseluruhan. Persoalan tentang dapat atau tidaknya dibagi suatu perikatan. tanpa mengurangi hak mereka untuk minta ganti rugi dari ahli waris yang lain. Pada hakekatnya tergantung pula dari kehendak atau maksud kedua belah pihak yang membuat suatu perjanjian. Ahli waris yang dibebani dengan utang dalam hal yang keempat. Tntutan pembayaran bunga yang diajukan terhadap salah satu di antara para debitur yang menyebabkan lenyapnya barang itu. Suatu perikatan dapat dibagi atau tidak. Hal mana biasanya terjadi karena meninggalnya satu pihak yang menyebabkan ia digantikan dalam segala hak-haknya oleh sekalian ahliwarisnya. maupun dari mereka yang lalai memenuhi perikatan. barulah tampil ke muka. Perikatan Dapat Dibagi dan Tidak Dapat Dibagi. maka . dapat dituntut membayar seluruh utangnya. pembayaran mana dapat dilakukan atas barang yang harus diserahkan itu atau atas barang yang dijadikan tanggungan hipotek. • Tiap orang yang bersama-sama wajib memikul suatu utang yang dapat dibagi. tanpa mengurangi haknya untuk menuntut penggantian biaya kepada ahli waris lainnya.• Kreditur dalam suatu perikatan tanggung-menanggung dapat menagih piutangnya dari salah satu debitur yang dipilihnya. dan tiap ahli waris dalam hal yang kelima. bertanggung jawab untuk seluruhnya. atau karena maksud yang terkandung persetujuan itu. baik karena sifat perikatan. jika salah satu pihak dalam perjanjian telah digantikan oleh beberapa orang lain. • E. bahwa maksud kedua belah pihak adalah bahwa utangnya tidak dapat diangsur. dapat pula dituntut untuk seluruh utang. Konsekuensi : • Jika ternyata dengan jelas. dan debitur ini tidak dapat meminta agar utangnya dipecah. Jika hanya salah satu ahli waris memberi pembebasan dari utang yang bersangkutan. meskipun perikatan tidak dibuat secara tanggung-menanggung. Tiada seorang pun di antara mereka diperbolehkan sendirian memberi pembebasan dari seluruh utang maupun menerima harganya sebagai ganti barang.

. tetapi tanpa mengurangi hak mereka untuk menuntut kembali siapa yang menyebabkan hukuman harus dibayar. dan hanya untuk jumlah yang tidak melebihi bagiannya dalam perikatan pokok. Dalam praktek banyak dipakai perjanjian di mana si berhutang dikenakan suatu hukuman.para ahli waris lainnya tidak dapat menuntut barang tak dapat dibagi-bagi itu. maka hukuman harus dibayar kalau terjadi pelanggaran oleh salah satu ahli waris debitur. maka hukuman terhadap ahli waris debitur diganti dengan pembayaran penggantian biaya. kecuali dengan memperhitungkan bagian dari ahli waris yang telah memberikan pembebasan dari utang atau yang telah menerima harga barang itu. • Kreditur dapat juga menuntut pemenuhan perikatan pokok sebagai pengganti pelaksanaan hukuman terhadap kreditur. apabila ia tidak menetapi kewajibannya. biasanya ditetapkan dalam suatu jumlah uang tertentu yang sebenarnya merupakan suatu pembayaran kerugian yang sejak semula sudah ditetapkan sendiri oleh para pihak yang membuat perjanjian itu. Hukuman ini. dalam praktek banyak dipakai perjanjian di mana si berhutang dikenakan suatu hukuman. kerugian dan bunga. • Jika perikatan pokok dengan penetapan hukuman itu adalah mengenai suatu barang yang dapat dibagi-bagi. Perikatan Dengan Ancaman Hukuman Untuk mencegah jangan sampai si berhutang dengan mudah saja melalaikan kewajibannya. segala sesuatu tidak mengurangi hak-hak kreditur hipotek. tanpa ada tuntutan terhadap mereka yang telah memenuhi perikatan. apabila ia tidak menepati kewajibannya. • Jika perikatan pokok yang memuat penetapan hukuman adalah mengenai suatu barang yang tak dapat dibagi-bagi. baik untuk seluruhnya dari siapa yang melakukan pelanggaran terhadap perikatan maupun dari masing-masing ahli waris untuk bagiannya. F. Konsekuensi : • Jika suatu perikatan pokok yang dapat dibagi-bagi dan memakai penetapan hukuman yang tak dapat dibagi-bagi hanya dipenuhi untuk sebagian. maka hukuman hanya harus dibayar oleh ahli waris debitur yang melanggar perikatan. dan hukuman ini dapat dituntut.