BAB I PENDAHULUAN

Penyebab utama kematian ibu adalah perdarahan, sepsis, eklampsia dan partus lama. Perdarahan post partum merupakan penyebab kematian ibu terbesar dan diperkirakan mencapai 40–50%. Perdarahan yang terjadi saat persalinan merupakan akibat banyaknya darah yang keluar dari tempat perlekatan plasenta, trauma traktus genitalia dan struktur yang berdekatan atau keduanya. Meskipun demikian, perdarahan post partum merupakan gambaran suatu kejadian, dan bukan suatu diagnosis. Ketika perdarahan yang banyak terjadi, penyebab yang spesifik harus ditemukan. Frekuensi kejadian pasti dari perdarahan post partum sulit ditentukan. Perdarahan post partum memiliki angka morbiditas dan mortalitas yang tinggi. Berdasarkan data CDC, 17% kematian maternal karena perdarahan, sepertiga hingga setengahnya merupakan perdarahan post partum. Beberapa penelitian menunjukkan bahwa insiden perdarahan post partum tinggi pada wanita ras Asia dan Hispanik. Menurut Departemen Kesehatan R.I. pada tahun 2007 angka kematian ibu di Indonesia diperkirakan adalah 248 per 100.000 kelahiran hidup, dan 40-50% di antaranya disebabkan oleh perdarahan post partum. Jumlah kehilangan darah sulit untuk diperkirakan karena darah bercampur dengan urin, cairan ketuban ataupun merembes pada kain atau handuk. Terkadang perdarahan yang terjadi tidak keluar dari vagina, tetapi menumpuk di vagina dan di dalam uterus, yang dapat diketahui dari adanya kenaikan tinggi fundus uteri setelah uri keluar. Oleh karena itu perdarahan post partum harus mendapat perhatian yang lebih serius terutama penatalaksanaannya. Tujuannya adalah agar ibu selamat melewati proses persalinan sehingga mencegah terjadinya kematian maternal dan melahirkan bayi yang sehat.

1

Keluhan Tambahan Keluar darah dari jalan lahir Lemas dan pusing 2 . Kabupaten Karawang. Keluhan Utama P4+2A0 datang ke RSUD Karawang atas rujukan bidan.15 WIB. Agama Suku Status perkawinan : Islam : Sunda : Menikah Pendidikan terakhir : SLTP Pekerjaan Masuk RS tanggal : Ibu Rumah Tangga : 18 September 2011 II. dengan P3A1 dengan retensio plasenta. Kecamatan Rawamerta. IDENTITAS Nama Umur Jenis kelamin Alamat : Ny. J : 34 tahun : Perempuan : Dusun Kamurangjati RT 001/003 Desa Panyingkiran. ANAMNESIS Dilakukan auto dan alloanamnesa pukul 08.BAB II LAPORAN KASUS I.

perempuan. 18 tahun. asma. usia 2 jam. meninggal usia 2 bulan. lahir di bidan. BB: 3500 gr 3. Os juga mengeluh badannya lemas dan pusing. lahir di bidan. lahir di paraji. lahir di bidan. tapi belum dilakukan tindakan. dengan P4+2A0 dengan retensio plasenta. alergi dan penyakit jantung disangkal Riwayat Penyakit Keluarga Riwayat hipertensi. BB 3000 gr 4. BB: 3100 gr 2. lalu os segera dibawa ke RSUD Karawang. meninggal usia 9 bulan.Riwayat Penyakit Sekarang P4+2A0 datang ke RSUD Karawang atas rujukan bidan. BB: 2900 gr 3 . 2 jam yang lalu dibantu oleh paraji dan mengatakan ari-ari masih belum keluar sejak melahirkan.. asma. laki-laki. kencing manis. Riwayat Penyakit Dahulu Riwayat hipertensi. sebanyak 3 kain sejak setelah melahirkan. laki-laki. laki-laki. lalu os di bawa ke bidan oleh keluarganya. Os mengaku melahirkan bayi perempuan dengan berat badan 2900 gr. alergi dan penyakit jantung disangkal Riwayat Menstruasi menarche pada usia 12 tahun Riwayat Pernikahan menikah usia 17 tahun Riwayat Obstetri 1. Os juga mengatakan keluar darah dari jalan lahir berwarna merah segar. kencing manis.

PEMERIKSAAN FISIK Keadaan umum Kesadaran Tanda vital : tampak sakit sedang : compos mentis : Tekanan darah : 100/70 mmHg Suhu Nadi Pernapasan : 36°C : 104 x/m : 24 x/m Kepala Mata Leher : normocephali : CA +/+. ronkhi -/- Abdomen Inspeksi Auskultasi Palpasi Perkusi : : datar. lendir (+). oedem -/- 4 . Pemeriksaan dalam : pembukaan 2-3 cm Ekstremitas atas : akral hangat +/+. murmur (-).III. TFU setinggi pusat : timpani Genitalia vulva/vagina : : tidak ada kelainan. simetris : bising usus (+) normal : supel. darah (+). terlihat tali pusat menggantung. SI -/: KGB dan tiroid tidak tampak membesar Thoraks Jantung Paru : : Bunyi Jantung I dan II regular. oedem -/- Ekstremitas bawah : akral hangat +/+. gallop (-) : Suara napas vesikuler. wheezing -/-. NT (-).

9 : 27. DIAGNOSIS KERJA P4+2A0 post partum 2 jam + Kala III retensio plasenta + anemia VI.800 : 260.000 : 19 : 2’/13’ : (-) : A+ V. PEMERIKSAAN PENUNJANG Tanggal 18 september 2011 laboratorium:        Hb Leukosit Trombosit Ht BT/CT HBsAg Gol. darah : 5.IV. PROGNOSIS ad vitam ad sanasionam ad fungsionam : dubia ad bonam : dubia ad bonam : dubia ad bonam VII. PENATALAKSANAAN      Manual plasenta infus 2 jalur Traansfusi PRC 4 kolf ceftriaxone 1 gr rencana USG 5 .

Dipasang kassa di dalam vagina sebanyak 3 buah 8. perdarahan ± 100 cc 7. Pasien dalam posisi litotomi dengn anastesi umum 2. Dilakkan sondase sedalam ± 10 cm 6. bila kurang dari 8 gr/dl lakukan transfusi medikamentosa: cefadroxil 3x500mg Asam Mefenamat 3x500 mg pospargin 3x0. Operasi selesai Instruksi post op:    Observasi tanda vital sampai stabil Cek Hb post kuretase. sisa plasenta dikeluarkan. Portio ditampakkan.Laporan kuretase: (23-09-2011) Jenis anastesi : umum Diagnosis preoperasi : P4+2A0 partus maturus spontan + retensio plasenta + post manual plasenta + NH5 Diagnosis postoperasi : post kuretase atas indikasi sisa plasenta Tindakan operasi : kuretase 1. Dipasang spekulum bawah vagina 4. dijepit dengan klem ovum pada jm 12 5. Dilakukan kuretase secara sistematis searah jarum jam.125 mg 6 . Dilakukan tindakan aseptik dan antiseptik pada daerah vulva dan sekitarnya 3.

murmur (-).a. oedem -/A P4+2A0 partus maturus spontan dengan retensio plasenta + post manual plasenta + N hari 1 + anemia + post transfusi PRC 1 kolf. SI -/T: 100/70 N: 100x/m S: 36. P RL 20 tpm Ceftriaxone 2x1 gr Rencana kuret besok Perbaiki keadaan umum rencana transfusi lanjutkan 20 September 2011 S O Kelur darah dari jalan lahir sedikit TSS/CM Kepala: CA+/+. Retraksi -/7 . gallop (-) P: SN Vesikuler. Retraksi -/Abdomen: I: datar P: supel.2 reguler.5°C Thoraks: C: BJ1. lochia (+) Ekkstremitas: atas: akral hangat -/-. gallop (-) P: SN Vesikuler.FOLLOW UP 19 September 2011 S O Kelur darah dari jalan lahir sedikit TSS/CM Kepala: CA+/+. Wheezing -/-.5°C P: 20x/m Thoraks: C: BJ1.k. TFU 2 jari di bawah pusat USG: sisa plasenta P: timpani A: BU (+) normal Genitalia: v/v: t. SI -/T: 140/90 N: 100x/m S: 36.2 reguler. oedem -/Bawah : akral hangat -/-. murmur (-). NT (-). Wheezing -/-. Rhonki -/M: ASI -/-. Rhonki -/M: ASI -/-.

oedem -/Bawah : akral hangat -/-. oedem -/- A P4+2A0 partus maturus spontan dengan retensio plasenta + post manual plasenta + N hari 2 + anemia + post transfusi PRC 1 kolf.k.2 reguler.a.7 Ht: 22 P: timpani A: BU (+) normal Genitalia: v/v: t. NT (-). Rhonki -/M: ASI -/-. Wheezing -/-. gallop (-) P: SN Vesikuler. P - RL 20 tpm Ceftriaxone 2x1 gr Rencana kuret ditunda Perbaiki keadaan umum Rencana transfusi lanjutkan 21 September 2011 S O Kelur darah dari jalan lahir sedikit TSS/CM Kepala: CA+/+. TFU 3 jari bawah pusat Lab: Hb: 6.a.P: 20x/m Abdomen: I: datar P: supel. oedem -/A P4+2A0 partus maturus spontan dengan retensio plasenta + post manual plasenta + N hari 3 + anemia + post transfusi PRC 2 kolf. oedem -/Bawah : akral hangat -/-. NT (-). lochia (+) Ekkstremitas: atas: akral hangat -/-. murmur (-). 8 .k. TFU 2 jari di bawah pusat P: timpani A: BU (+) normal Genitalia: v/v: t. Retraksi -/Abdomen: I: datar P: supel. SI -/T: 150/80 N: 80x/m S: 36. lochia (+) Ekkstremitas: atas: akral hangat -/-.8°C P: 20x/m Thoraks: C: BJ1.

gallop (-) P: SN Vesikuler. Wheezing -/-. Rhonki -/M: ASI +/+. oedem -/A P4+2A0 partus maturus spontan dengan retensio plasenta + post manual plasenta + N hari 4 + anemia + post transfusi PRC 3 kolf. murmur (-). oedem -/Bawah : akral hangat -/-.2 reguler. P RL 20 tpm Ceftriaxone 2x1 gr rencana kuret besok cek Hb ulang 9 .P - RL 20 tpm Ceftriaxone 2x1 gr Rencana kuret ditunda Perbaiki keadaan umum Rencana transfusi lanjutkan 22 September 2011 S O Keluar darah dari jalan lahir sedikit TSS/CM Kepala: CA+/+.a. NT (-). TFU 4 jari di bawah pusat P: timpani A: BU (+) normal Genitalia: v/v: t. SI -/T: 160/90 N: 96x/m S: 36 °C P: 22x/m Thoraks: C: BJ1. lochia (+) Ekkstremitas: atas: akral hangat -/-.k. Retraksi -/Abdomen: I: datar P: supel.

a.9 Ht: 27 P: timpani A: BU (+) normal Genitalia: v/v: t. oedem -/Bawah : akral hangat -/-. NT (-).2 reguler. TFU 4 jari di bawah pusat Lab: Hb: 7. SI -/T: 140/90 N: 80x/m S: 36°C P: 20x/m Thoraks: C: BJ1. gallop (-) P: SN Vesikuler. Retraksi -/Abdomen: I: datar P: supel. Wheezing -/-. Rhonki -/M: ASI +/+. gallop (-) P: SN Vesikuler. SI -/T: 140/90 N: 84x/m S: 36. oedem -/A P4+2A0 partus maturus spontan dengan retensio plasenta + post manual plasenta + N hari 5 + anemia + post transfusi PRC 3 kolf. Rhonki -/M: ASI +/+.k. murmur (-). P RL 20 tpm Ceftriaxone 2x1 gr rencana kuret hari ini 24 September 2011 S O TSS/CM Kepala: CA+/+. lochia (+) Ekkstremitas: atas: akral hangat -/-. Wheezing -/-. NT (-).4°C P: 20x/m Thoraks: C: BJ1.2 reguler.23 September 2011 S O Keluar darah dari jalan lahir sedikit TSS/CM Kepala: CA+/+. TFU 4 jari di bawah pusat P: timpani A: BU (+) normal 10 . murmur (-). Retraksi -/Abdomen: I: datar P: supel.

Genitalia: v/v: t. oedem -/A P4+2A0 partus maturus spontan dengan retensio plasenta + post manual plasenta + N hari 5 + anemia + post transfusi PRC 3 kolf + post kuretase hari 1 a/i sisa plasenta.a. oedem -/Bawah : akral hangat -/-. P BLPL cefadroxil 3x500mg Asam Mefenamat 3x500 mg Zegavit 2x1 pospargin 3x1 11 .k. lochia (+) Ekkstremitas: atas: akral hangat -/-.

2 1.1. yang menurut tingkat perlekatannya dibagi menjadi:     Plasenta adhesiva.BAB III TINJAUAN PUSTAKA RETENSIO PLASENTA Retensio plasenta adalah suatu keadaan di mana plasenta belum lahir 30 menit setelah bayi lahir. yang melekat pada desidua endometrium lebih dalam Plasenta akreta: jonjot menembus desidua sampai berhubungan dengan miometrium Plasenta inkreta: jonjot sampai ke dalam lapisan miometrium Plasenta perkreta: jonjot menembus miometrium hingga mencapai perimetrium 12 .2 Penyebab retensio plasenta:1. Plasenta belum terlepas dari dinding uterus karena kontraksi uterus kurang kuat untuk melepaskan plasenta dan dapat juga karena plasenta tumbuh melekat lebih dalam.

Tetapi kita tidak dapat mencegah plasenta tidak dapat dilahirkan seluruhnya melainkan sebagian masih harus dikeluarkan dengan tangan. kira-kira pada perbatasan segmen bawah dan badan rahim. Plasenta sudah lepas tetapi belum keluar karena atonia uteri dan akan menyebabkan perdarahan yang banyak. Tehnik Plasenta Manual Sebelum dikerjakan penderita disiapkan pada posisi litotomi. Cara lain untuk membantu pengeluaran plasenta adalah cara Brandt. uterus harus dieksplorasi dan potongan plasenta dikeluarkan khususnya jika kita menghadapi perdarahan post partum lanjut. Jika plasenta belum lepas sama sekali. atau diinfus Ringer Laktat. Apabila plasenta telah lepas maka tali pusat tidak tertarik ke atas. ke arah vulva.2 Penanganan:1. Dapat dicoba dulu perasat Crede. Tekanan yang keras akan menyebabkan perlukaan pada otot uterus dan rasa nyeri keras dengan kemungkinan syok. Jika lepas sebagian terjadi perdarahan dan merupakan indikasi untuk mengeluarkannya. jika ada plasenta yang hilang. Pengeluaran plasenta dengan tangan kini dianggap cara yang paling baik. yaitu salah satu tangan penolong memegang tali pusat dekat vulva. Kemudian tekanan di atas simfisis diarahkan ke bawah belakang. Operator berdiri atau duduk dihadapan 13 .2 Inspeksi plasenta segera setelah bayi lahir. Dengan melakukan penekanan ke arah atas belakang. Plasenta mungkin pula tidak keluar karena kandung kemih atau rektum penuh. tidak terjadi perdarahan. Keadaan umum penderita diperbaiki sebesar mungkin.1. maka badan rahim akan terangkat. Jika plasenta belum lahir. karena itu keduanya harus dikosongkan. Tehnik ini kita kenal sebagai plasenta manual. harus diusahakan mengeluarkannya. Pada saat ini dilakukan tarikan ringan pada tali pusat untuk membantu mengeluarkan plasenta. yang akan menghalangi plasenta keluar (plasenta inkarserata). Tangan yang lain diletakkan pada dinding perut di atas simfisis sehingga permukaan palmar jari-jari tangan terletak di permukaan depan rahim. tetapi saat ini tidak digunakan lagi karena memungkinkan terjadinya inversio uteri.2. Atau karena adanya lingkaran konstriksi pada bagian bawah rahim akibat kesalahan penanganan kala III.

dan perlahan-lahan plasenta sedikit demi sedikit ditarik ke bawah melalui tempat sempit itu.Setelah plasenta terlepas seluruhnya. Kemudian dengan sisi tangan sebelah kelingking. Banyak kesulitan dialami dalam pelepasan plasenta pada plasenta akreta. Henrich and co-workers (2002) menjelaskan sebuah kasus yang mirip di mana plasenta ditinggalkan in situ. Kayem and colleagues (2002) menjelaskan sebuah kasus di mana plasenta tetap dibiarkan melekat pada tempatnya dan juga melakukan embolisasi arteri uterina sebagai profilaksis delayed hemorrhage. lalu dilakukan histerektomi. tangan kiri penolong masuk ke dalam vagina dan ke bagian bawah uterus dengan dibantu oleh anestesia umum untuk melonggarkan konstriksi. akan tetapi terhalang untuk dilahirkan karena lingkaran konstriksi (inkarserasio plasenta).1 Penatalaksanaan alternatif untuk pasien yang tidak mengalami perdarahan masif adalah meninggalkan seluruh plasenta tetap melekat pada tempatnya. dan 3 tahun kemudian pasien tersebut dapat hamil lagi tanpa komplikasi. Kemudian labia dibeberkan dan tangan kanan masuk secara obstetris ke dalam vagina. lakukan desinfeksi pada genitalia eksterna begitu pula tangan dan lengan bawah si penolong (setelah menggunakan sarung tangan). Walaupun cara ini belum dipelajari secara mendalam. dan post partum diberikan terapi methotrexate setiap minggu. Dengan tangan tersebut sebagai petunjuk dimasukkan cunam ovum melalui lingkaran konstriksi untuk memegang plasenta. Pada plasenta yang sudah lepas. Plasenta hanya dapat dikeluarkan sepotong demi sepotong dan bahaya perdarahan serta perforasi mengancam. Tangan luar menahan fundus uteri. sebaiknya usaha mengeluarkan plasenta secara bimanual dihentikan. maka tangan pergi ke pinggir plasenta dan sedapat-dapatnya mencari pinggir yang sudah terlepas. Apabila berhubungan dengan kesulitan-kesulitan tersebut di atas akhirnya diagnosis plasenta inkreta dibuat. Plasenta tersebut diabsorbsi secara spontan dalam jangka waktu 6 bulan. Setelah tangan dalam sampai ke plasenta. Tangan dalam sekarang menyusuri tali pusat yang sedapat-dapatnya diregangkan oleh asisten.1 14 . Plasenta tersebut lahir pervaginam secara spontan 4 minggu kemudian.vulva. plasenta dipegang dan dengan perlahan-lahan ditarik keluar. plasenta dilepaskan ialah antara bagian plasenta yang sudah terlepas dengan dinding rahim dengan gerakan yang sejajar dengan dinding rahim.

analgetik asam mefenamat 3x500 mg serta pospargin 3x0.BAB IV ANALISA KASUS Retensio plasenta ditegakkan dari plasenta yang belum lahir lebih dari 30 menit. dan pada pemeriksaan dalam terdapat pembukaan 2-3 cm. Tindakan kuretase ini dilakukan setelah keadaan umum pasien bagus. Keputusan untuk melakukan manual plasenta diambil segera setelah pasien dating.v.125 mg untuk merangsang kontraksi uterus dan mencegah perdarahan. sehingga dilakukan tindakan kuretase. karena pada manual plasenta memiliki resiko infeksi sehingga pemberian antibiotik sudah tepat. Hasil USG menunjukan terdapat sisa plasenta. pada inspeksi vulva/vagina tampak tali pusat menggantung serta perdarahan (+). Lalu direncanakan USG untuk melihat apakah masih ada sisa plasenta yang tertinggal. dan pemeriksaan konjungtiva yang anemis serta pemeriksaan laboratorium yang menunjukan hasil Hb 5. Os juga mengatakan keluar darah dari jalan lahir berwarna merah segar.9. Anemia ditegakkan dari anamnesis os mengatakan keluar darah dari jalan lahir berwarna merah segar. 15 . Penatalaksanaan post manual plasenta pada pasien ini mengunakan antibiotik berupa ceftriaxon 2 x 1 gr i. hal ini dilakukan untuk segera melepaskan dan mengeluarkan plasenta agar perdarahan tidak terus berlanjut. Penatalaksaanaan post kuretase pada pasien ini menggunakan antibiotik cefadroxil 3x500 mg. sebanyak 3 kain sejak setelah melahirkan. 2 jam yang lalu dibantu oleh paraji dan mengatakan ari-ari masih belum keluar sejak melahirkan. Pada penatalaksanaan dipasang infus 2 jalur untuk mencegah terjadinya syok akibat kehilangan darah yang banyak atau syok hipovolemik. sebanyak 3 kain sejak setelah melahirkan. Pada pemeriksaan abdomen teraba TFU setinggi pusat. Selain itu rencana transfusi PRC 4 kolf dilakukan untuk mengganti kehilangn darah dan mencapai Hb > 8 gr/dl. Pada pemeriksaan genitalia. dari anamnesis oss mengaku melahirkan bayi perempuan dengan berat badan 2900 gr.

Jakarta: Yayasan Bina Pustaka Sarwono Prawiharjo. 2002. 1998. Obstetri Patologi. editor. 2. p 298-306 16 . Obstetri Fisiologi. Rachimhadhi T. Saifuddin AB.DAFTAR PUSTAKA 1. Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran EGC. Wiknjosastro H. Ilmu Kebidanan. p 653-9. Sinopsis Obstetri. Edisi 2. Mochtar R.