.

.

.

7. . Tanah merupakan fokus utama dalam pembahasan kesuburan tanah. Iklim. daun. 6.docstoc. trubus. bunga. naungan atau penampilan. Perombakan bahan organik tanah. gipsum. buffering capacity. 8. erosi. jumlah dan nisbah]. Sumber hara dalam tanah 1. Produk tanaman tersebut dapat berupa: buah. biosolid. 8. pada lingkungan tempat tanah itu berada. yaitu: Bahan induk. serta retensi lengas]. 3. biomassa. 5. Humus yang cukup [penyimpanan C-organik dalam tanah. Struktur tanah yang optimum [mengatur imbangan air-udara dan kemudahan ditembus akar]. Pengendapan udara: N. 4. Komponen Kesuburan Tanah 1. Hara dapat mengalami alih rupa dan alih tempat. berfungsi dalam khelasi. greensand. 4. Penambatan N : legum.http://www.com/docs/21957544/KESUBURAN-TANAH Tanah yang subur lebih disukai untuk usaha pertanian. 2. Pengendapan air: sedimen. Bebas bahan meracun [berupa senyawa toksin dan limbah]. Relief. 2. umbi. Pemupukan. Hara cukup dan seimbang [macam. karena menguntungkan. Organisme. batang. kompos. Sebaliknya terhadap tanah yang kurang subur dilakukan usaha untuk menyuburkan tanah tersebut sehingga keuntungan yang diperoleh meningkat. sedangkan tanaman merupakan indikator utama mutu kesuburan tanah. biji. pelaku aktif daur hara dan materi]. merupakan daerah jelajah akar. Pelapukan mineral tanah. akar. eksudat. banjir. getah. S. Bentuk hara dalam tanah ika tanah digambarkan selaku sistem. atau Waktu. perlu dikonservasi menghadapi erosi]. Kesuburan Tanah adalah kemampuan suatu tanah untuk menghasilkan produk tanaman yang diinginkan. Buangan industri: kapur. Batuan: batuan fosfat. 3. Reaksi tanah yang optimum [mencerminakan ketersediann/kelarutan unsur hara serta dominansi mikrobia]. Tanah memiliki kesuburan yang berbeda-beda tergantung faktor pembentuk tanah yang merajai di lokasi tersebut. Jeluk mempan perakaran yang memadai [nama lain solum. Penyimpanan dan penyediaan hara dan lengas yang optimum [berkaitan dengan Kapasitas Pertukaran Kation. maka dapat dipilahkan adanya komponen masukan dan komponen keluaran. 6. Pembenah organik: rabuk. Di dalam tanah unsur hara memiliki berbagai bentuk dan kelincahan untuk bergerak. Mikrobia bermanfaat [melakukan sinergisme. 5. 7. sebagai sumber materi dan energi bagi mikrobia]. 9.

Unsur hara berinteraksi dengan sifat fisik. 4. 2. 3. Permukaan jerapan: hara dipegang permukaan tanah oleh berbagai mekanisme.com/2010/06/12/pengertian-kesuburan-tanah/ . sehingga mengalami imobilisasi sementara.wordpress. kemudian diserap tanaman atau berpindah antar pangkalan hara dalam tanah. Pangkalan hara dalam tanah adalah: 1. Bahan organik: selalu mengalami proses perombakan dan oleh karena itu akan melepaskan hara. Mineral tanah: hara yang berada dalam pangkalan ini memeiliki sifat antara cukup terlarut sampai sedikit terlarut. Larutan tanah: bentuk hara terlarut dalam lengas tanah dan sifatnya tersedia segera untuk diserap oleh akar bagi tanaman. 6. Pertukaran kation: tipe yang sangat penting dari jerapan permukaan tanah. http://nasih. 5. kimia dan biologi tanah. berkisar antara cepat tersedia sampai sangat lambat tersedia. Organisme tanah: hara diambil untuk metabolisme atau menjadi komponen penyusun tubuhnya. semua hara akan mengelompok dalam pangkalan yang tertentu.Pangkalan hara (nutrient pool) Tanpa melihat darimana asalnya.

.

.

\ .

Asam Fulvat dan Humin Humus terdiri dari beberapa komponen. meliputi: 1. karbon organik yang menyusun jaringan organisme yang sudah mati tetapi belum terdekomposisi atau masih utuh. karbon organik yang menyusun bahan hasil dekomposisi yang bersifat lebih resisten yang disebut humus. Perbedaan Asam Humat. asam fulvat dan humin. . bahwa warna dari asam fulvat berkisar warna coklat kekuning-kuningan sampai berwarna kuning cerah. asam humat dan humin. sedangkan asam humat berwarna coklat gelap sampai berwarna abu-abu hitam. karbon organik yang menyusun organisme hidup (makro. 3. 2.Komponen Penyusun Bahan Organik Bahan organik terbentuk dari beberapa bentuk karbon organik. karbon organik yang menyusun bahan organik yang sedang dalam proses dekomposisi aktif. Sedangkan humin tidak larut baik dalam basa kuat maupun dalam asam kuat. Humus terdiri dari zat humat dan zat bukan humat. Asam Humat dan Humin Berdasarkan warna larutannya seperti terlihat pada gambar dibawah ini. Zat humat terdiri dari asam fulvat. dan humin berwarna hitam pekat. dan 4. meso dan makro organisme). Asam fulvat bersifat larut baik dalam Basa Kuat seperti KOH atau NaOH maupun dalam asam kuat seperti HCl. Asam humat hanya larut dalam basa kuat dan tidak larut dalam asam kuat. Perbedaan Warna antara Asam Fulvat. Ketiga komponen penyusun humus ini dibedakan berdasarkan kelarutannya dalam asam kuat dan basa kuat. yaitu: asam humat.

Oksigen (O).Berdasarkan intensitas warna antar Model Struktur Kimia Struktur kimia dari asam humat dan asam fulvat diilustrasikan dalam model struktur kimia berikut ini. Komposisi Kimia Kandungan unsur karbon (C). Hidrogen (H). Kandungan unsur karbon (C) dan Nitrogen (N) pada asam . Nitrogen (N) dan Sulfur (S) dari asam humat dan asam fulvat disajikan dalam tabel dibawah ini. Model struktur kimia dari asam humat lebih kompleks dibandingkan model struktur kimia asam fulvat.

Definisi tanah menurut ilmu pertanian juga mengalami pengembangan dari waktu ke waktu. Banyaknya kandungan oksigen tersebut berkaitan erat dengan gugus fungsional karboksilat pada asam fulvat yang lebih banyak daripada pada asam humat. Gugus Fungsional Kandungan gugus fungsional yang ada dalam asam humat dan asam fulvat. Tanah yang dekat jalan atau dekat pusat pengembangan memiliki nilai ekonomi yang lebih tinggi daripada tanah yang berlokasi jauh dari akses jalan atau jauh dari pusat pengembangan. Asam fulvat lebih reaktif dibandingkan asam humat. Berbeda dengan pengertian tanah menurut ibu rumah tangga yang selelu mengingatkan anak-anaknya agar jangan bermain tanah dan selalu mengingatkan anak-anaknya tidak lupa mencuci tangan dan kaki apabila kena tanah. Pengertian tanah berdasarkan ahli hukum akan berbeda dengan pengertian tanah menurut ahli ekonomi. Tanah menurut ahli hukum dinilai berdasarkan status tanah atau hak kepemilikan terhadap tanah. akan tetapi kandungan oksigen (O) pada asam fulvat lebih banyak daripada asam humat. dan ibu rumah tangga. Berdasarkan tabel diatas diketahui bahwa pada asam humat lebih banyak kandungan gugus fenol daripada asam fulvat. fenol. PENDAHULUAN Pengertian tanah sangatlah beragam dan tergantung bidang ilmu yang menilainya. quinon. sedangkan pada asam fulvat lebih banyak kandungan gugus karboksil daripada asam humat.humat lebih banyak daripada asam fulvat. MS Dasar-Dasar Ilmu Tanah (1 dari 25) I. Tanah menurut ahli ekonomi dan lembaga keuangan perbankan dipahami berdasarkan kedekatan lokasi tanah dengan akses dan kelancaran akses serta kedekatan dengan pusat pengembangan. Posted by Dr. keton dan metoksil. Perubahan definisi tersebut disajikan sebagai berikut: . meliputi gugus: karboksil. Abdul Madjid. alkohol. lembaga keuangan / perbankan. Pengertian tanah yang dipelajari dalam mata kuliah Dasar Dasar Ilmu Tanah berdasarkan ilmu pertanian. Ir. seperti tanah berstatus hak milik berbeda dengan tanah berstatus hak guna usaha (HGU) dan hak pakai serta sangat berbeda sekali dengan tanah garapan. Jumlah mol dari setiap gugus fungsional tersebut dalam setiap kg asam humat dan asam fulvat disajikan dalam tabel berikut.

B. industri perkebunan. Zn. 2. dan unsur-unsur hara). K. proteksi) bagi tanaman. dan Cl). udara. 2. FUNGSI TANAH Lima fungsi utama tanah adalah: (1) tempat tumbuh dan berkembangnya perakaran tanaman. secara kimiawi berfungsi sebagai gudang hara dan sumber penyuplai hara atau nutrisi (meliputi: senyawa organik dan anorganik sederhana dan unsur-unsur essensial seperti N. Cu. Mg. tanaman obat-obatan. PENGERTIAN TANAH Definisi tanah dari waktu ke waktu mengalami pengembangan pengertian.3 Definisi Tanah Berdasarkan Pendekatan Edaphologi Seorang ahli edaphologi dari Inggris bernama Dr. L. III. toksin anti hama. antibiotik. (2) penyedia kebutuhan primer tanaman (air.II. asam-asam organik. Ca.1 Definisi Tanah Berdasarkan Pendekatan Ahli Geologi Ahli geologi akhir abad XIX mendefinisikan tanah sebagai lapisan permukaan bumi yang berasal dari bebatuan yang telah mengalami serangkaian pelapukan oleh gaya-gaya alam. Fe. Mn. Saat ini terdapat 4 pengertian tentang tanah yang diuraikan lebih rinci sebagai berikut. (3) organisme. dan (4) sebagai habitat biota tanah.4 Definisi Tanah Berdasarkan Pendekatan Ilmu Tanah Terkini Pada tahun 2005 seorang doktor ilmu tanah dari Indonesia bernama Hanafiah mendefiniskan tanah secara lebih komperhensif bahwa tanah adalah lapisan permukaan bumi yang secara fisik berfungsi sebagai tempat tumbuh dan berkembangnya perakaran penopang tumbuh tegaknya tanaman dan menyuplai kebutuhan air dan udara. Jones mendefiniskan tanah sebagai media tumbuh tanaman. H. maupun kehutanan. yang ketiganya secara integral mampu menunjang produktivitas tanah untuk menghasilkan biomass dan produksi baik tanaman pangan. 2. vitamin. 2.2 Definisi Tanah Berdasarkan Pendekatan Pedologi Pada tahun 1870 seorang ahli pedologi yaitu Dokuchaev mendefinisikan tanah sebagai bahan padat (bahan mineral atau bahan organik) yang terletak dipermukaan. P. (2) iklim. (4) topografi. S. dan secara biologi berfungsi sebagai habitat biota (organisme) yang berpartisipasi aktif dalam penyediaan hara tersebut dan zatzat aditif (pemacu tumbuh. dan (5) waktu. hormon. sehingga membentuk regolit yaitu lapisan partikel halus. dan enzim yang dapat meningkatkan ketersediaan hara) dan siklus hara. (3) penyedia kebutuhan sekunder tanaman (zat-zat pemacu tumbuh. baik yang berdampak positif . yang telah dan sedang serta terus menerus mengalami perubahan yang dipengaruhi oleh faktor-faktor: (1) bahan induk.

MS Reactions: Dasar-Dasar Ilmu Tanah (2 dari 25) IV. supermarket. pemetaan tanah. Gambar 1. kantor. biologi tanah. klasifikasi tanah.1 Kajian Pedologi Kajian pedologi mendefinisikan tanah berdasarkan dinamika dan evolusi tanah secara alamiah atau berdasarkan pengetahuan alam murni. Lima fungsi utama tanah yang terintegrasi secara utuh. survei tanah. Dua Pemahaman Penting Tentang Tanah Dua pemahaman utama yang sangat mendasari pengertian tentang tanah berdasar-kan ilmu pertanian adalah: (1) Tanah sebagai tempat tumbuh dan penyedia kebutuhan tanaman. (5) lokasi pembangunan berbagai infrastruktur. maupun yang berdampak negatif karena merupakan hama dan penyakit tanaman. Integrasi kelima fungsi utama tanah disajikan dalam Gambar 1 berikut. PERBEDAAN PENGERTIAN TANAH Perbedaan pemahaman pengertian tanah antara pendekatan pedologi dan edaphologi adalah sebagai berikut: 4. (2) Tanah berfungsi sebagai pelindung tanaman dari serangan hama dan penyakit serta dampak negatif pestisida dan limbah industri yang berbahaya Posted by Dr. seperti bangunan rumah. stasiun dan bandara. . terminal. kimia tanah. morfologi tanah. jalan.karena terlibat langsung atau tak langsung dalam penyediaan kebutuhan primer dan sekunder tanaman tersebut. Abdul Madjid. Beberapa contoh kajian lebih lanjut tentang tanah dengan landasan pendekatan pedologi adalah: fisika tanah. Ir.

tata guna lahan. 4. Harisonisasi dalam profil tanah secara pemodelan disajikan dalam Gambar 2. MS Reactions: Dasar-Dasar Ilmu Tanah (3 dari 25) V. (4) horison B. (3) horison Eluviasi. Abdul Madjid. agrohidrologi. sebagai penciri tingkat perkembangan sistem tanah. Pengertian dari beberapa istilah penamaan horison dalam profil tanah adalah sebagai berikut: .2 Kajian Edaphologi Kajian edaphologi mendefinisikan tanah berdasarkan peranan tanah tersebut sebagai media tumbuh tanaman. evaluasi kesesuaian lahan. PROFIL TANAH Pengertian profil tanah adalah irisan vertikal tanah dari lapisan paling atas hingga ke batuan induk tanah. Posted by Dr. konservasi tanah dan air. pengelolaan tanah rawa. Ir. dan bioteknologi tanah. Gambar 2.analisis bentang lahan.3 Paduan antara Pedologi dan Edaphologi Kajian ilmu tanah tingkat lanjut yang dilandasi kedua pendekatan yaitu pedologi dan edaphologi adalah: pengelolaan tanah dan air. pengelolaan sumber daya alam dan lingkungan. dan (6) bahan induk tanah (R). yaitu terdiri dari: (1) horison O. Pemodelan dari profil tanah dengan deferensiasi horison yang lengkap. dan ilmu ukur tanah. (2) horison A. 4. ekologi tanah. pupuk dan pemupukan. Beberapa contoh kajian tanah tingkat lanjut yang dilandasi pendekatan edaphologi adalah: kesuburan tanah. Tanah yang telah mengalami perkembangan lanjut akan memiliki horisonisasi yang lengkap. (5) lapisan C.

(2) batas horison dikategorikan jelas apabila peralihan terjadi dengan jarak berkisar antara 2. sehingga berwarna agak terang. (3) batas horison dikategorikan berangsur apabila peralihan terjadi dengan jarak berkisar antara 6.5 cm. yaitu: (1) batas horison dikategorikan nyata apabila peralihan kurang dari 2. dan (2) horison B. .5 cm sampai 6. (3) Lapisan Eluviasi atau Horison Eluviasi adalah horison yang telah mengalami proses eluviasi (pencucian) sangat intensif sehingga kadar bahan organik tanah.5 cm.5 cm sampai 12. (6) Batuan induk tanah (R) merupakan bagian terdalam dari tanah dan masih berupa batuan. Solum tanah meliputi: (1) lapisan tanah atas. (5) Horison C adalah lapisan tanah yang bahan penyusunnya masih serupa dengan batuan induk (R) atau belum terjadi perubahan. (3) tidak teratur. dan (2) lapisan tanah bawah. Contoh gambaran dari batas horison dan bentuk topografi dari batas tersebut disajikan dalam Gambar 3 dan Gambar 4 berikut. 5.2 Bentuk Topografi Batas Horison Bentuk topografi dari batas harison dalam profil tanah yang terlihat secara visual dibagi dalam 4 kategori. 5. dan (2) horison A.1 Batas Peralihan Horison Batas peralihan horison pada profil tanah terlihat secara visual dalam beberapa kategori. yaitu: (1) bentuk topografi datar. Fe dan Al rendah tetapi kada pasir dan debu kuarsa (seskuoksida) serta mineral resisten lainnya tinggi.(1) Horison O adalah horison tanah yang tersusun dari serasah atau sisa-sisa tanaman (Oi) dan bahan organik tanah (BOT) hasil dekomposisi serasah (Oa).5 cm. Lapisan tanah atas (top soil) terdiri dari: (1) horison O. dan (4) batas horison dikategorikan baur apabila peralihan terjadi dengan jarak lebih dari 12. (2) berombak. (2) Horison A adalah horison yang tersusun dari bahan mineral berkandungan bahan organik tinggi sehingga berwarna agak gelap.5 cm. dan (4) terputus. Lapisan tanah bawah (sub soil) terdiri dari: (1) horison E. (4) Horison B adalah horison illuvial atau horison pengendapan sehingga terjadi akumulasi dari bahan-bahan yang tercuci dari horison diatasnya. liat silikat.

Kumpulan pedon-pedon yang sama sifatnya yang . Ir. Kedua batas terswebut bertopografi datar. dan batas horison yang jelas terjadi pada peralihan antara horison B ke horison C. Bentuk topografi bergelombang dari batas horison yang terjadi antara horison B dengan horison C dalam sistem tanah. Gambar 4. Posted by Dr.Gambar 3. MS at 06:13 0 comments Kirimkan Ini lewat EmailBlogThis!Berbagi ke TwitterBerbagi ke Facebook Labels: Ilmu Tanah Reactions: Selasa. Abdul Madjid. Batas horison yang nyata terjadi pada peralihan dari horison A ke horison B.3 Pedon dan Polipedon Sistem tanah tersusun dari unit-unit terkiecil yang disebut pedon. 07 Desember 2010 Dasar-Dasar Ilmu Tanah (4 dari 25) 5.

deselectBloggerImageGracefully(). dan (4) udara. sehingga diketahui tingkat kesuburan tanah. yaitu: (1) bahan padatan berupa bahan mineral. Tanah mineral yang subur tersusun dari 45% bahan tanah mineral. seperti yang disajikan dalam Gambar 6 berikut. kedelai. sehingga membantu dalam menetapkan jenis tanaman yang sesuai untuk ditanam pada tanah tersebut. 25 % air dan 25% udara. lapisan dalam tanah (sub soil) dan solum tanah. 5% bahan organik tanah.4 Kegunaan Profil Tanah Pemahaman yang mendalam mengenai profil tanah akan membantu dalam pemanfaatan berikut: (1) mengetahui kedalaman lapisan olah tanah (top soil). (2) bahan padatan berupa bahan organik. tetapi tidak sesuai untuk ditanaman dengan tanaman perkebunan yang berakar dalam.bp. (2) kelengkapan atau differensiasi horison-horison pada profil yang mencirikan tingkat perkembangan tanah dan umur tanah. Sistem tanah yang tersusun dari tiga polypedon yang berbeda. (3) air. . VI. 5.membentu suatu hamparan disebut polipedon. a onblur="try {parent.com/_dpPjAcpKgtE/TP8L9zGEc5I/AAAAAAAABPA/HCCu5dkqz30/s1600/DDIT%2BTGS%2B AA%2BG005. kacang tanah dan jagung. (3) warna tanah yang menunjukkan kondisi aerob (warna terang) atau anaerob (berwarna kelabu) dan tngginya kadar kadungan bahan organik tanah (berwarna hitam/gelap). KOMPONEN PENYUSUN TANAH Suatu tanah tersusun dari 4 komponen utama.} catch(e) {}" href="http://1.blogspot. Begitu juga sebaliknya. Gambaran dari tiga dimensi tanah yang tersusun dari tiga polypedon yang berbeda disajikan dalam Gambar 5 berikut. Tanah dengan kedalaman lapisan olah berkisar 20 cm sesuai untuk ditanaman tanaman padi.jpg"> Gambar 5.

(3) kandungan air tanah.Gambar 6. Tanah yang berada pada lahan berlereng curam lebih peka terhadap terjadinya erosi. Ir. sehingga daya rusak air hujan dan aliran permukaan lebih tinggi. dan (4) arah pergerakan air yang membawa bahan-bahan terlarut dari tempat yang tinggi ke tempat yang lebih rendah. Faktor kecuraman lereng ini mempengaruhi proses pembentukan tanah dengan 4 cara. Tanah yang terbentuk pada lereng yang lebih curam akan lebih dangkal. sehingga membentuk profil tanah yang lebih dalam. dan (2) bentuk lereng. . (2) kedalaman air tanah. karena terkikis secara terus menerus saat terjadi hujan. air dan udara) yang menempati volume dari sistem tanah. (3) besarnya erosi yang dapat terjadi. karena infiltrasi yang terjadi lebih rendah dan aliran permukaan (run off) lebih besar. Abdul Madjid. karena memiliki laju infiltrasi dan laju perkolasi yang lebih besar serta proses pembentukan horison berkembang lebih lanjut. (2) ketebalan dan kandungan bahan organik horison A. MS at 20:21 0 comments Kirimkan Ini lewat EmailBlogThis!Berbagi ke TwitterBerbagi ke Facebook Labels: Ilmu Tanah Reactions: Dasar-Dasar Ilmu Tanah (7 dari 25) 7. bahan organik. yaitu: (1) jumlah air hujan yang dapat meresap atau disimpan massa tanah. Komposisi keempat komponen tanah (bahan mineral. Sedangkan tanah yang berada pada lahan yang berlereng landai sampai datar terbentuk lebih dalam.5 Topografi atau Relief atau Kelerengan Lahan Faktor topografi atau relief yang mempengaruhi proses pembentukan tanah adalah: (1) kecuraman lereng. Posted by Dr. Interaksi keempat mekanisme ini mempengaruhi proses pembentukan tanah antara lain: (1) ketebalan solum tanah.

. (6) reaksi tanah atau pH (pada tanah dengan air tanah dangkal mengalami salinisasi sehingga pH tanah netral sampai basa. (5) tingkat perkembangan horison (pada tanah tergenang dan tanah berlereng terjal membentuk solum dangkal. Sketsa bentuk permukaan lahan disajikan dalam Gambar 9 dan gambaran visual dari permukaan lahan disajikan dalam Gambar 10 berikut. (3) berbentuk cekungan dan datar pada kaki dan dasar bukit. Gambar 9. Relief atau bentuk permukaan tanah dapat dikelompokkan menjadi: (1) berbentuk cembung yang terdapat pada puncak bukit atau gunung. Sketsa bentuk permukaan tanah atau relief yang mempengaruhi proses pembentukan tanah. (7) kejenuhan basa tanah. Perbedaan relief atau bentuk permukaan tanah mempengaruhi proses pembentukan tanah. sedangkan pada tanah dengan air tanah dalam mengalami proses pencucian intensif sehingga pH tanah rendah atau bereaksi asam). sedangkan pada tanah cekungan dan datar membentuk solum dalam) . dan (8) kandungan garam mudah larut. (2) berbentuk lereng yang curam yang terdapat pada punggung bukit dan gunung.(4) warna tanah.

dan horison C. dan Oxisol atau Laterit. Fase viril atau disebut tanah dewasa. Contoh tanah muda adalah Entisol atau Aluvial atau Regosol. Berdasarkan lamanya waktu dalam proses pembentukan tanah.6 Waktu Faktor waktu juga mempengaruhi tingkat perkembangan tanah dan umur tanah. horison A2. dan horison C. (2) tanah dewasa dengan lamanya waktu pembentukan berkisar antara 1. 7. dan (3) tanah tua dengan lamanya waktu pembentukan lebih dari jutaan tahun. horison B.000 tahun. Contoh dari tanah tua adalah Ultisol atau Podsolik Merah Kuning. horison B2. (2) juvenil. dan bagian kaki dan dasar bukit yang cekung dan datar. Fase akhir atau disebut tanah sangat tua dicirikan dengan mulai berkurangnya proses pelapukan dari system tanah tersebut. yaitu: . Vertisol. Fase senil atau disebut tanah tua. maka tanah dikelom-pokkan menjadi: (1) tanah muda dengan lamanya waktu pembentukan berkisar 100 tahun. dicirikan dengan sudah terbentuknya horison A.000 tahun sampai dengan 10. Kenampakan visual dari bentuk permukaan tanah atau relief yang terdiri dari bagian puncak yang berbentuk cembung. Fase awal ditandai baru terbentuk horison C. dicirikan proses pembentukan horison yang lengkap. bagian punggung yang curam. dan Mollisol. pada fase ini sering disebut tanah muda. dan (5) fase akhir. VIII. Waktu juga mempengaruhi tingkat perkembangan tanah. meliputi: horison A1. horison B1. Fase juvenil ditandai dengan sudah terbentuk horison A diatas horison C. yaitu mulai dari fase: (1) awal.Gambar 10. Contoh dari tanah dewasa adalah Inceptisol. (3) viril. (4) senil. PROSES PELAPUKAN Proses pelapukan batuan terjadi akibat tiga mekanisme.

sehingga volume meningkat dan kekuatan melemah serta menjadi mudah mengalami proses pelapukan. Ketiga proses ini saling terintegrasi satu sama lain sehingga mempercepat proses pelapukan batuan. Proses pelapukan kimia merupakan proses pelapukan yang diikuti terjadinya perubahan sifat kimia. dan pengasaman akibat asam sulfat hasil dekomposisi protein. dan (7) asidifikasi atau proses pengasaman bebatuan. dan (3) proses pelapukan biologi.(1) proses pelapukan fisik. makin gelap warna bebatuan akan memiliki daya menyerap cahaya yang lebih banyak dan mempercepat proses pemuaian atau kontraksi dan ekspansi. (6) karbonatasi atau proses yang menyebabkan bereaksinya asam karbonat dengan basa-basa membentuk basa karbonat. dan (3) hewan. makin kasar permukaan bebatuan akan mengalami proses pelapukan yang lebih cepat. kedua asam ini mempercepat proses pelapukan. Proses pelapukan biologi senantiasa mengiringi dari kedua proses sebelumnya. Proses pelapukan biologi dapat diakibatkan oleh aktivitas kehidupan: (1) mikroorganisme tanah. (2) akar tumbuhan. sehingga memicu proses pecah dan hancurnya bebatuan. Proses ini terjadi akibat dari: (1) perubahan suhu yang drastis seperti sangat dingin atau sangat panas. Perbedaan kecepatan proses pelapukan fisik dipengaruhi: (1) tingkat kontraksi dan ekspansi dari komponen penyusun batuan. dan (3) warna gelap dan terangnya bebatuan. (2) hantaman air hujan. (2) hidrasi atau proses pengikatan molekul air. Beberapa proses kimia dari pelapukan adalah: (1) pelarutan atau solubilitas. (4) oksidasi atau terjadinya penambahan muatan positif. sehingga mudah mengalami proses pelapukan. sehingga mempercepat proses pelapukan. seperti: pengasaman akibat asam nitrat yang terkandung dalam air hujan. (3) penetrasi akar. (2) tingkat kekasaran permukaan bebatuan. dan (5) reduksi atau peristiwa penurunan muatan positif. (2) proses pelapukan kimia. Sebagai contoh: bebatuan yang mengalami proses suhu ektrim (sangat panas atau sangat dingin) sehingga mulai . dan (4) aktivitas makhluk hidup lainnya. (3) hidrolisis atau proses pergantian kation-kation dengan ion hidrogen dan saat terjadi ionisasi menyebabkan kondisi melemah. sehingga mudah mengalami proses pelapukan. seoperti perubahan besi dalam batuan dari bentuk ferro menjadi bentuk ferri dan ukurannya bertambah. sehingga mempercepat proses pelapukan. Proses pelapukan fisik merupakan proses mekanik yang menyebabkan bebatuan masif pecah dan hancur serta terfragmentasi menjadi partikel-partikel kecil tanpa ada perubahan sifat kimia.

Gambar proses pelapukan fisik batuan disajikan dalam Gambar 11. dan ion hara disajikan dalam Gambar 12. oksida besi. MS at 19:10 0 comments . yaitu dari vegetasi yang berakar dangkal sampai ke vegetasi berakar dalam.terjadi retakan-retakan. Tiga proses pelapukan tersebut satu sama lain saling terintegrasi secara utuh dan saling berintekasi dalam mempercepat proses pelapukan bebatuan menjadi tanah. selain itu biasanya diiringi juga dengan mulai tumbuhnya tanaman tingkat rendah dan mulai berkembangnya mikroorganisme tanah sehingga lebih mempercepat proses pelapukan. Abdul Madjid. Gambar 11. Sketsa proses pelapukan bahan induk tanah sampai menjadi mineral liat. Makin hari tanah yang terbentuk makin dalam dan selalu diikuti dengan perubahan vegetrasi yang tumbuh diatasnya yang dikenal dengan istilah suksesi vegetasi. Gambar 12. Ir. Sketsa proses pelapukan bahan induk tanah menjadi tanah. Posted by Dr. oksida aluminium. Proses pelapukan fisik batuan induk yang mengalami retakan-retakan akibat pengaruh suhu dingin yang ekstrim dan suhu panas yang ekstrim. Selanjutnya saat terjadi hujan maka air hujan akan masuk ke dalam retakan-retakan tersebut dan makin mempercepat proses pelapukan.

Gumpalan-gumpalan kecil (struktur tanah) ini mempunyai bentuk. (5) Lempeng (platy). . struktur ini terdapat pada horison B pada tanah iklim kering. dengan sumbu horisontal setara dengan sumbu vertikal. dan lain-lain. yaitu struktur tanah dengan sumbu vertical lebih besar daripada sumbu horizontal dengan bagian atasnya rata. bentuknya menyerupai kubus dengan sudut-sudut membulat untuk gumpal membulat dan bersudut tajam untuk gumpal bersudut. yaitu struktur tanah yang berbentuk granul. yaitu struktur tanah dengan sumbu vertikal lebih kecil daripada sumbu horizontal. struktur ini ditemukan di horison A2 atau pada lapisan padas liat. struktur ini terdapat pada horizon A. struktur ini terdapat pada horison B pada tanah iklim basah. struktur ini terdapat pada horison B pada tanah iklim kering. dan liat terikat satu sama lain oleh suatu perekat seperti bahan organik. Struktur tanah dikelompokkan dalam 6 bentuk seperti yang disajikan dalam Gambar 15. Struktur Tanah Struktur tanah merupakan gumpalan kecil dari butir-butir tanah. dan kemantapan (ketahanan) yang berbeda-beda. yaitu struktur tanah yang berbentuk gumpal membuat dan gumpal bersudut. bulat dan porous. debu. (2) Gumpal (blocky). (6) Remah (single grain). ukuran. struktur ini terdapat pada horison A. yaitu struktur tanah dengan sumbu vertical lebih besar daripada sumbu horizontal dengan bagian atasnya membuloat. Gumpalan struktur tanah ini terjadi karena butirbutir pasir. (3) Prisma (prismatic). oksida-oksida besi. Keenam bentuk tersebut adalah: (1) Granular.Kirimkan Ini lewat EmailBlogThis!Berbagi ke TwitterBerbagi ke Facebook Labels: Ilmu Tanah Reactions: Dasar-Dasar Ilmu Tanah (10 dari 25) 2. (4) Tiang (columnar). yaitu struktur tanah dengan bentuk bulat dan sangat porous.

Akan tetapi. (4) tiang (colum-nar). sedangkan yang bertekstur kasar memiliki bobot isi antara 1. biasanya tanah mempunyai kerapatan partikel 2.0 gram cm-3 sampai dengan 1.6 gram cm-3. yaitu: (1) granular. Beberapa bentuk struktur tanah. Tanah lapisan atas yang bertekstur liat dan berstruktur granuler mempunyai bobot isi (BI) antara 1. makin kasar akan makin berat. MS at 10:29 0 comments Kirimkan Ini lewat EmailBlogThis!Berbagi ke TwitterBerbagi ke Facebook Labels: Ilmu Tanah Reactions: Dasar-Dasar Ilmu Tanah (11 dari 25) 3. (2) gumpal (blocky). pada tanah yang terbentuk di daerah Posted by Dr.3 gram cm-3. Ir. Abdul Madjid. Nilai kerapatan massa tanah berbanding lurus dengan tingkat kekasaran partikel-partikel tanah. Bobot Isi Tanah Menurut Hanafiah (2005) bahwa bobot tanah merupakan kerapatan tanah per satuan volume yang dinyatakan dalam dua batasan berikut ini: (1) Kerapatan partikel (bobot partikel = BP) adalah bobot massa partikel padat per satuan volume tanah.Gambar 15. dan (6) remah (single grain).8 gram cm-3. . (5) lempeng (platy). Tanah yang terbentuk di daerah dengan curah hujan tinggi umumnya ditemukan struktur remah atau granular di tanah lapisan atas (top soil) yaitu di horison A dan struktur gumpal di horison B atau tanah lapisan bawah (sub soil). dan (2) Kerapatan massa (bobot isi = BI) adalah bobot massa tanah kondisi lapangan yang dikering-ovenkan per satuan volume.3 gram cm-3 sampai dengan 1. (3) prisma (prismatic) .

Abdul Madjid. Penyebab perbedaan warna permukaan tanah umumnya dipengaruhi oleh perbedaan kandungan bahan organik. warna tanah banyak dipengaruhi oleh bentuk dan banyaknya senyawa Fe dalam tanah. sedangkan karatan berwarna gelap terbentuk apabila besi dan mangan tersebut mengalami presipitasi. putih. kelabu.0 gram cm-3 )} = {(2. Posted by Dr. warna tanah makin gelap.. Warna tanah berhubungan langsung secara proporsional dari total campuran warna yang dipantulkan permukaan tanah. yaitu . Kuarsa umumnya berwarna putih.2 m) x (1. Hal ini terutama dipicu oleh terjadinya: (a) reduksi besi dan mangan ke bentuk larutan. Warna humus. sehingga sangat mempengaruhi warna tanah.000 ton Apabila tanah tersebut mengandung 1% bahan organik. Menurut Hardjowigeno (1992) bahwa warna tanah berfungsi sebagai penunjuk dari sifat tanah. Warna Tanah Warna tanah merupakan gabungan berbagai warna komponen penyusun tanah. karena warna tanah dipengaruhi oleh beberapa faktor yang terdapat dalam tanah tersebut. Contoh perhitungan dalam menentukan bobot tanah dengan menggunakan bobot isi adalah sebagai berikut: 1 hekar tanah yang diasumsikan mempunyai bobot isi (BI) = 1. yang kemudian mengalami presipitasi (pengendapan) dan deposisi (perubahan posisi) ketika tanah mengalami pengeringan. terutama besi dan mangan. Besi oksida berwarna merah. sehingga warna butir koloid tanah (koloid anorganik dan koloid organik) yang memiliki luas permukaan spesifik yang sangat luas. Ir.Sebagai contoh pembanding adalah bobot isi air = 1 gram cm-3 = 1 ton gram cm-3 . dan (b) oksidasi yang menyebabkan terjadinya presipitasi. Karatan-karatan yang terbentuk ini tidak segera berubah meskipun telah dilakukan perbaikan drainase.000 m3) x (1 ton m-3)} = 2. Warna tanah sangat ditentukan oleh luas permukaan spesifik yang dikali dengan proporsi volumetrik masing-masing terhadap tanah. Besi tereduksi berwarna biru hijau. dimana kandungan bahan organik umumnya rendah. bahkan merah. akan mempunyai bobot tanah sebesar: = {(volume 1 hektar tanah dengan kedalaman 20 cm) x (BI)} = {(100 m x 100 m x 0. Feldspar berwarna merah. Karatan merupakan warna hasil pelarutan dan pergerakan beberapa komponen tanah. yang terjadi selama musim hujan. ini berarti terdapat 20 ton bahan organik per hektar. Sedangkan dilapisan bawah. Batu kapur berwarna putih. MS at 10:18 0 comments Kirimkan Ini lewat EmailBlogThis!Berbagi ke TwitterBerbagi ke Facebook Labels: Ilmu Tanah Reactions: Dasar-Dasar Ilmu Tanah (12 dari 25) 4. Liat berwarna kelabu. Karatan berwarna terang hanya sedikit terjadi pada tanah yang rendah kadar besi dan mangannya. Di daerah berdrainase buruk. dan ada kala berwarna olive-hijau. agak kecoklatan atau kuning yang tergantung derajat hidrasinya. besi oksida dan besi hidroksida menentukan warna tanah.0 gram cm-3 dengan kedalaman 20 cm. Makin tinggi kandungan bahan organik. Makin luas permukaan spesifik menyebabkan makin dominan menentukan warna tanah. Selain warna tanah juga ditemukan adanya warna karatan (mottling) dalam bentuk spot-spot. ini tergantung proporsi tipe mantel besinya.

(2) intensitas pelindihan (pencucian dari horison bagian atas ke horison bagian bawah dalam tanah) dari ion-ion hara pada tanah tersebut. dan hitam. Secara umum dikatakan bahwa: makin gelap tanah berarti makin tinggi produktivitasnya. (2) kandungan bahan organik tanah. Keberadaan jenis mineral kwarsa dapat menyebabkan warna tanah menjadi lebih terang. (2) indikator kondisi iklim untuk tanah yang sudah berkembang lanjut. Pada tanah yang berdrainase baik. makin intensif proses pelindihan menyebabkan warna tanah menjadi lebih terang. (8) BG (grown-gray).0.5 . Menurut Wirjodihardjo dalam Sutedjo dan Kartasapoetra (2002) bahwa intensitas warna tanah dipengaruhi tiga faktor berikut: (1) jenis mineral dan jumlahnya. Chroma menunjukkan kemurnian atau kekuatan dari warna spektrum. Kondisi ini merupakan integrasi dari pengaruh: (1) kandungan bahan organik yang berwarna gelap. Hue dibedakan menjadi 10 warna. kapur. Nilai hue ini dalam buku hanya ditulis: 2. kaolin.5 YR. coklat. kelabu.di daerah yang selalu tergenang air. (8) 2. Tanah yang mengandung mineral feldspar. dan (9) 5 Y. (5) P (purple = ungu). (9) G (gray = kelabu). dan (3) kadar air tanah dan tingkat hidratasi. 7. (5) 5 YR. Value menunjukkan gelap terangnya warna.5 YR. sesuai dengan banyaknya sinar yang dipantulkan. kuarsa dapat menyebabkan warna putih pada tanah. yaitu: (1) Y (yellow = kuning). maka selain berwarna abu-abu (daerah yang tereduksi) didapat pula becak-becak karatan merah atau kuning.0 – 7.0 . Diagram warna baku ini disusun tiga variabel.5. (4) 2. Hanafiah (2005) mengungkapkan bahwa warna tanah merupakan: (1) sebagai indikator dari bahan induk untuk tanah yang beru berkembang. selain itu juga sering ditambah untuk warna-warna tanah tereduksi (gley) . coklat-kemerahan. (4) RP (redpurple). Chroma didefiniskan juga sebagai gradasi kemurnian dari warna atau derajat pembeda adanya perubahan warna dari kelabu atau putih netral (0) ke warna lainnya (19). seperti pada horison eluviasi.5 . dan (3) indikator kesuburan tanah atau kapasitas produktivitas lahan. 5. makin tinggi kandungan bahan organik suatu tanah maka tanah tersebut akan berwarna makin gelap. seluruh tanah berwarna abu-abu karena senyawa Fe terdapat dalam kondisi reduksi (Fe2+).5 – 10. Sedangkan tingkat hidratasi berkaitan dengan kedudukan terhadap permukaan air tanah. (3) hue = 5. (3) R (red = merah). selain ada berbagai pengecualian. sehingga terjadi oksidasi besi ditempat tersebut. Sedangkan pada tanah yang kadang-kadang basah dan kadang-kadang kering.5 R. (4) hue = 7. Tanah dengan kadar air yang lebih tinggi atau lebih lembab hingga basah menyebabkan warna tanah menjadi lebih gelap (kelam). dan (3) chroma. yaitu mujlai dari spektrum dominan paling merah (5 R) sampai spektrum dominan paling kuning (5 Y). yang ternyata mengarah ke warna reduksi (gleisasi) yaitu warna kelabu biru hingga kelabu hijau. merah.5 – 5. yaitu: (1) hue. Selain itu. Hue adalah warna spektrum yang dominan sesuai dengan panjang gelombangnya. Hematit dapat menyebabkan warna tanah menjadi merah sampai merah tua. (2) hue = 2. Jenis mineral feldspar menyebabkan beragam warna dari putih sampai merah. (6) PB (purple-brown). Fe terdapat dalam keadaan oksidasi (Fe3+) misalnya dalam senyawa Fe2O3 (hematit) yang berwarna merah. 3 H2O (limonit) yang berwarna kuning cokelat. (7) B (brown = coklat).5.5 Y. Warna tanah ditentukan dengan membandingkan warna tanah tersebut dengan warna standar pada buku Munsell Soil Color Chart. kuning. (3) 10 R. (2) YR (yellow-red). yaitu tanah yang tidak pernah terendam air. Berdasarkan buku Munsell Saoil Color Chart nilai Hue dibedakan menjadi: (1) 5 R. yaitu di tempat-tempat dimana udara dapat masuk. atau Fe2O3. dan 10. coklat-kekelabuan. (7) 10 YR. dan (10) GY (gray-yellow). (2) value. Selanjutnya setiap warna ini dibagi menjadi kisaran hue sebagai berikut: (1) hue = 0 – 2. (2) 7. namun secara berurutan sebagai berikut: putih. Makin tinggi kandungan bahan organik maka warna tanah makin gelap (kelam) dan sebaliknya makin sedikit kandungan bahan organik tanah maka warna tanah akan tampak lebih terang. (6) 7. dan (3) kandungan kuarsa yang tinggi menyebabkan tanah berwarna lebih terang.

sehingga dalam menentukan warna tanah perlu dicatat apakah tanah tersebut dalam keadaan basah. Value dibedakan dari 0 sampai 8. maka semua warna harus disebutkan dengan menyebutkan juga warna tanah yang dominannya. 6. 3. dimana makin tinggi chroma menunjukkan kemurnian spektrum atau kekuatan warna spektrum makin meningkat. Nama warna tersebut dapat dilihat dari Buku Munsell Soil Color Chart yang disajikan dalam Gambar 16 dan foto detil halaman buku tersebut disajikan dalam Gambar 17. (11) 5 GY. yang berarti bahwa warna tanah tersebut mempunyai nilai hue =10 R. 8. Nilai chroma pada lembar buku Munsell Soil Color Chart dengan rentang horisontal dari kiri ke kanan dengan urutan nilai chroma: 1.yaitu: (10) 5 G. value =4 dan chroma = 6. sebagai contoh: (1) Tanah berwarna 7. yang secara keseluruhan disebut berwarna merah. lembab. Warna tanah akan berbeda bila tanah basah. yaitu makin tinggi value menunjukkan warna makin terang (makin banyak sinar yang dipantulkan). Selanjutnya. Pencatatan warna tanah dapat menggunakan buku Munsell Soil Color Chart. chroma = 4. yang secara keseluruhan disebut berwarna coklat. Angka 1 warna tidak murni dan angka 8 warna spektrum paling murni. lembab. yang berarti bahwa warna tanah mempunyai nilai hue = 7.5 YR. atau kering. 4. 5.5 YR 5/4 (coklat). 7. Nilai Value pada lembar buku Munsell Soil Color Chart terbentang secara vertikal dari bawah ke atas dengan urutan nilai 2. Chroma juga dibagi dari 0 sampai 8. value = 5. jika ditemukan tanah dengan beberapa warna. . (12) 5 BG. Gambar 16. dan (13) N (netral). Angka 2 paling gelap dan angka 8 paling terang. 2. 6. atau kering. 4. Buku Munsell Soil Color Chart yang digunakan sebagai standar warna untuk penetapan warna tanah. (2) Tanah berwarna 10 R 4/6 (merah). 3. dan 8.

Pada kondisi lembab. Penetapan konsistensi tanah dapat dilakukan dalam tiga kondisi. Nilai hue tertera sebelah kanan paling atas (10 YR). sedangkan konsistensi tanah teguh . Konsistensi Tanah Konsistensi tanah menunjukkan integrasi antara kekuatan daya kohesi butir-butir tanah dengan daya adhesi butirbutir tanah dengan benda lain. Konsistensi lembab merupakan penetapan konsistensi tanah pada kondisi kadar air tanah sekitar kapasitas lapang. Tingkatan kelekatan ditetapkan dari tidak lekat. 6. Konsistensi tanah gembur berarti tanah tersebut mudah diolah. dan ekstrim teguh. Tingkatan plastisitas ditetapkan dari tingkatan sangat plastis. lembab. Abdul Madjid. dan 8 dari kiri ke kanan. Ir. 2. dan penggaruan. Pada kondisi basah. Nilai value tertera secara vertical disebelah kiri dengan nilai: 2. dan kering. dan tidak plastis (kaku). value. 4. Posted by Dr. agak plastis. 3. agak lekat. Konsistensi basah merupakan penetapan konsistensi tanah pada kondisi kadar air tanah di atas kapasitas lapang (field cappacity). Gaya yang akan mengubah bentuk tersebut misalnya pencangkulan. pembajakan.Gambar 17. plastis. 4. sangat gembur. konsistensi tanah dibedakan ke dalam tingkat kegemburan sampai dengan tingkat keteguhannya. 3. yaitu: basah. Menurut Hardjowigeno (1992) bahwa tanah-tanah yang mempunyai konsistensi baik umumnya mudah diolah dan tidak melekat pada alat pengolah tanah. 6. teguh. Konsistensi kering merupakan penetapan konsistensi tanah pada kondisi kadar air tanah kering udara. dan chroma. dan sangat lekat. 5. dan 8 dari bawah ke atas. konsistensi tanah dibedakan berdasarkan tingkat plastisitas dan tingkat kelekatan. MS at 10:05 0 comments Kirimkan Ini lewat EmailBlogThis!Berbagi ke TwitterBerbagi ke Facebook Labels: Ilmu Tanah Reactions: Dasar-Dasar Ilmu Tanah (13 dari 25) 5. Konsistensi lembab dinilai mulai dari: lepas. gembur. sangat teguh. lekat. Keadaan tersebut ditunjukkan dari daya tahan tanah terhadap gaya yang akan mengubah bentuk. Nilai chroma tertera secara horisontal paling bawah dengan nilai: 1. Lembaran warna standar dari buku Munsell Soil Color Chart yang terdiri dari tiga variable. 7. yaitu: hue.

ini dibagi 4 kategori berikut: (1) Tidak Plastis (Nilai 0): yaitu dicirikan tidak dapat membentuk gulungan tanah. 1.berarti tanah tersebut agak sulit dicangkul. konsistensi tanah dibedakan berdasarkan tingkat kekerasan tanah. Secara lebih terinci cara penentuan konsistensi tanah dapat dilakukan sebagai berikut: (1) Konsistensi Basah 1. maka tanah dinyatakan berkonsistensi gembur untuk kondisi lembab atau lunak untuk kondisi kering. (2) Agak Plastis (Nilai 1): yaitu dicirikan hanya dapat dibentuk gulungan tanah kurang dari 1 cm. dan ekstrim keras. yaitu menunjukkan kemampuan tanah membentuk gulungan. Apabila gumpalan tersebut mudah hancur. keras. Dalam keadaan basah ditentukan mudah tidaknya melekat pada jari. (3) Lekat (Nilai 2): yaitu dicirikan melekat pada jari tangan atau benda lain. ini dibagi 4 kategori: (1) Tidak Lekat (Nilai 0): yaitu dicirikan tidak melekat pada jari tangan atau benda lain. (4) Sangat Plastis (Nilai 3): yaitu dicirikan dapat membentuk gulungan tanah lebih dari 1 cm dan diperlukan tekanan besar untuk merusak gulungan tersebut. sangat keras. lunak. yaitu menyatakan tingkat kekuatan daya adhesi antara butir-butir tanah dengan benda lain. (3) Plastis (Nilai 2): yaitu dicirikan dapat membentuk gulungan tanah lebih dari 1 cm dan diperlukan sedikit tekanan untuk merusak gulungan tersebut. Konsistensi kering dinilai dalam rentang lunak sampai keras.2 Tingkat Plastisitas. . dapat pula berdasarkan mudah tidaknya membentuk bulatan. Apabila gumpalan tanah sukar hancur dengan cara remasan tersebut maka tanah dinyatakan berkonsistensi teguh untuk kondisi lembab atau keras untuk kondisi kering. (4) Sangat Lekat (Nilai 3): yaitu dicirikan sangat melekat pada jari tangan atau benda lain. Cara penetapan konsistensi untuk kondisi lembab dan kering ditentukan dengan meremas segumpal tanah. yaitu kategori: melekat atau tidak melakat. dan kemampuannya mempertahankan bentuk tersebut (plastis atau tidak plastis). (2) Agak Lekat (Nilai 1): yaitu dicirikan sedikit melekat pada jari tangan atau benda lain. yaitu: mudah membentuk bulatan atau sukar membentuk bulatan. Selain itu. Pada kondisi kering.1 Tingkat Kelekatan. agak keras. yaitu meliputi: lepas.

(4) Teguh / Kokoh (Nilai 3): yaitu dicirikan dengan diperlukan tekanan agak kuat saat meremas tanah tersebut agar dapat menghancurkan gumpalan tanah. sehingga jika ditekan sedikit saja akan mudah hancur. (3) Agar Keras (Nilai 2): yaitu dicirikan gumpalan tanah baru akan hancur jika diberi tekanan pada remasan atau jika hanya mendapat tekanan jari-jari tangan saja belum mampu menghancurkan gumpalan tanah.(2) Konsistensi Lembab Pada kondisi kadar air tanah sekitar kapasitas lapang. (5) Sangat Teguh / Sangat Kokoh (Nilai 4): yaitu dicirikan dengan diperlukannya tekanan berkali-kali saat meremas tanah agar dapat menghancurkan gumpalan tanah tersebut. (6) Sangat Keras Sekali / Luar Biasa Keras (Nilai 5): yaitu dicirikan dengan diperlukannya tekanan yang sangat besar sekali agar dapat menghancurkan gumpalan tanah atau gumpalan tanah baru bisa hancur dengan menggunakan alat bantu (pemukul). ini dibagi 6 kategori sebagai berikut: (1) Lepas (Nilai 0): yaitu dicirikan butir-butir tanah mudah dipisah-pisah atau tanah tidak melekat satu sama lain (misalnya tanah bertekstur pasir). (5) Sangat Keras (Nilai 4): yaitu dicirikan dengan diperlukan tekanan yang lebih kuat lagi untuk dapat menghancurkan gumpalan tanah atau gumpalan tanah makin sangat sulit ditekan dan sangat sulit untuk hancur. (3) Konsistensi Kering Penetapan konsistensi tanah pada kondisi kadar air tanah kering udara. (4) Keras (Nilai 3): yaitu dicirikan dengan makin susah untuk menekan gumpalan tanah dan makin sulitnya gumpalan untuk hancur atau makin diperlukannya tekanan yang lebih kuat untuk dapat menghancurkan gumpalan tanah. (2) Sangat Gembur (Nilai 1): yaitu dicirikan gumpalan tanah mudah sekali hancur bila diremas. (3) Gembur (Nilai 2): yaitu dicirikan dengan hanya sedikit tekanan saat meremas dapat menghancurkan gumpalan tanah. . konsistensi dibagi 6 kategori sebagai berikut: (1) Lepas (Nilai 0): yaitu dicirikan tanah tidak melekat satu sama lain atau antar butir tanah mudah terpisah (contoh: tanah bertekstur pasir). (6) Sangat Teguh Sekali / Luar Biasa Kokoh (Nilai 5): yaitu dicirikan dengan tidak hancurnya gumpalan tanah meskipun sudah ditekan berkali-kali saat meremas tanah dan bahkan diperlukan alat bantu agar dapat menghancurkan gumpalan tanah tersebut. (2) Lunak (Nilai 1): yaitu dicirikan gumpalan tanah mudah hancur bila diremas atau tanah berkohesi lemah dan rapuh.

(6) sebagai stabilisator temperatur tanah. yaitu dari hara tidak tersedia menjadi hara yang tersedia bagi akar tanaman. Air Tanah dan Kadar Air Tanah Menurut Hanafiah (2005) bahwa air merupakan komponen penting dalam tanah yang dapat menguntungkan dan sering pula merugikan. Selain beberapa peranan yang menguntungkan diatas. yaitu: (1) mempercepat proses pemiskinan hara dalam tanah akibat proses pencucian (perlin-dian/leaching) yang terjadi secara intensif. Posted by Dr. (4) sebagai penopang aktivitas mikrobia dalam merombak unsur hara yang semula tidak tersedia menjadi tersedia bagi akar tanaman. Abdul Madjid. dan (4) kadar air tanah. (7) mempermudah dalam pengolahan tanah. (2) sifat dan jumlah koloid organik dan anorganik tanah. dan differensi horison. MS at 09:56 0 comments Kirimkan Ini lewat EmailBlogThis!Berbagi ke TwitterBerbagi ke Facebook Labels: Ilmu Tanah Reactions: Dasar_Dasar Ilmu Tanah (14 dari 25) 6. Beberapa peranan yang menguntungkan dari air dalam tanah adalah: (1) sebagai pelarut dan pembawa ion-ion hara dari rhizosfer ke dalam akar tanaman. (2) sebagai agen pemicu pelapukan bahan induk. air tanah juga menyebabkan beberapa hal yang merugikan. (3) sebagai pelarut dan pemicu reaksi kimia dalam penyediaan hara. (2) mempercepat proses perubahan horizon dalam tanah akibat terjadinya eluviasi dari lapisan tanah atas ke lapisan tanah bawah. (5) sebagai pembawa oksigen terlarut ke dalam tanah. perkembangan tanah. Ir. (3) sruktur tanah.Beberapa faktor yang mempengaruhi konsistensi tanah adalah: (1) tekstur tanah. .

dan sebaliknya tanah bertekstur pasir atau sandy soil (C) memiliki daya menahan air yang jauh lebih rendah daripada tanah bertekstur optimum (A). adalah air yang diserap tanah sangat kuat sehingga tidak dapat digunakan tanaman. dan gravitasi. atau karena keadaan drainase yang kurang baik. kohesi. serta menyebabkan perubahan reaksi tanah dari reaksi aerob menjadi reaksi anaerob. Air ini dapat bergerak secara horisontal (ke samping) atau . tertahan oleh lapisan kedap air. Menurut Hardjowigeno (1992) bahwa air terdapat dalam tanah karena ditahan (diserap) oleh massa tanah. Kapasitas menahan air yang berbeda dari tanah dengan kelas tekstur berbeda. (2) Air kapiler. kondisi ini terjadi karena adanya gaya adhesi antara tanah dengan air. Tanah bertekstur liat atau clay soil (B) memiliki daya menahan air lebih banyak dibandingkan dengan tanah dengan kondisi optimum atau optimum soil (A). Hubungan tekstur tanah dan kadar air Tekstur tanah yang berbeda mempunyai kemampuan menahan air yang berbeda pula. Gambar 18. sehingga berkemampuan menahan air lebih banyak. Sketsa yang menggambarkan hubungan antara tekstur tanah dengan kemampuan tanah dalam menahan air disajikan dalam Gambar 18 berikut. contohnya: tanah bertekstur liat. memiliki ruang pori halus lebih sedikit.(3) kondisi jenuh air menjadikan ruang pori secara keseluruhan terisi air sehingga menghambat aliran udara ke dalam tanah. Tanah bertekstur halus. Karena adanya gaya-gaya tersebut maka air dalam tanah dapat dibedakan menjadi: (1) Air hidroskopik. sehingga mengganggu respirasi dan serapan hara oleh akar tanaman. memiliki ruang pori halus yang lebih banyak. adalah air dalam tanah dimana daya kohesi (gaya tarik menarik antara sesama butir-butir air) dan daya adhesi (antara air dan tanah) lebih kuat dari gravitasi. Air dapat meresap atau ditahan oleh tanah karena adanya gaya-gaya adhesi. Air hidroskopik merupakan selimut air pada permukaan butir-butir tanah. contohnya: tanah bertekstur pasir. Sedangkan tanah bertekstur kasar. sehingga kemampuan manahan air lebih sedikit pula.

Kandungan air pada kapasitas lapang ditunjukkan oleh kandungan air pada tegangan 1/3 bar. Tegangan diukur dalam bar atau atmosfir atau cm air atau logaritma dari cm air yang disebut pF. sedangkan kandungan air pada titik layu permanen adalah pada tegangan 15 bar. yaitu: (1) Kapasitas Lapang: adalah keadaan tanah yang cukup lembab yang menunjukkan jumlah air terbanyak yang dapat ditahan oleh tanah terhadap gaya tarik gravitasi. Kemampuan tanah menahan air dipengaruhi antara lain oleh tekstur tanah. Sebagian besar dari air kapiler merupakan air yang tersedia (dapat diserap) bagi tanaman. . Banyaknya kandungan air dalam tanah berhubungan erat dengan besarnya tegangan air (moisture tension) dalam tanah tersebut. Besarnya tegangan air menunjukkan besarnya tenaga yang diperlukan untuk menahan air tersebut di dalam tanah. Dalam menentukan jumlah air tersedia bagi tanaman beberapa istilah dibawah ini perlu dipahami. (2) Titik Layu Permanen: adalah kandungan air tanah dimana akar-akar tanaman mulai tidak mampu lagi menyerap air dari tanah. Oleh karena itu. Kondisi kelebihan air ataupun kekurangan air dapat mengganggu pertumbuhan tanaman. yaitu selisih antara kadar air pada kapasitas lapang dikurangi dengan kadar air pada titik layu permanen. (3) Air Tersedia: adalah banyaknya air yang tersedia bagi tanaman. Pada suatu saat akar tanaman tidak mampu lagi menyerap air tersebut sehingga tanaman menjadi layu (titik layu permanen).vertikal (ke atas) karena gaya-gaya kapiler. Satuan bar dan atmosfir sering dianggap sama karena 1 atm = 1. (3) sebagai bagian dari sel-sel tanaman: Air merupakan bagian dari protoplasma sel tanaman. Tanaman akan tetap layu baik pada siang ataupun malam hari. Tanah-tanah bertekstur kasar mempunyai daya menahan air lebih kecil daripada tanah bertekstur halus. Air yang dapat ditahan oleh tanah tersebut terus menerus diserap oleh akar-akar tanaman atau menguap sehingga tanah makin lama semakin kering. (2) sebagai pelarut unsur hara: Unsur-unsur hara yang terlarut dalam air diserap oleh akar-akar tanaman dari larutan tersebut. tanaman yang ditanam pada tanah pasir umumnya lebih mudah kekeringan daripada tanah-tanah bertekstur lempung atau liat. Beberapa fungsi air bagi pertumbuhan tanaman adalah: (1) sebagai unsur hara tanaman: Tanaman memerlukan air dari tanah bersamaan dengan kebutuhan CO2 dari udara untuk membentuk gula dan karbohidrat dalam proses fotosintesis. Air yang tersedia bagi tanaman adalah air yang terdapat pada tegangan antara 1/3 bar sampai dengan 15 bar.0127 bar. sehingga tanaman menjadi layu.

(5) kadar bahan organik tanah. Posted by Dr. Ir. partikel liat adalah komponen tanah yang paling aktif terhadap reaksi kimia.2 Beberapa Sifat Kimia Tanah Beberapa sifat kimia tanah yang penting untuk diketahui dan dipahami serta tergolong analisis sifat kimia tanah secara rutin yaitu: (1) pH tanah. (6) senyawa kimiawi atau kandungan garam-garam. . debu dan liat. Makin halus ukuran partikel penyusun tanah tersebut akan memiliki luas permukaan partikel per satuan bobot makin luas. yaitu: pasir. MS at 09:42 0 comments Kirimkan Ini lewat EmailBlogThis!Berbagi ke TwitterBerbagi ke Facebook Labels: Ilmu Tanah Reactions: Dasar-Dasar Ilmu Tanah (15 dari 25) XI.1 Komponen Aktif Tanah Tekstur tanah tersusun dari tiga komponen. Partikel liat persatuan bobot memiliki luas permukaan yang lebih luas dibandingkan dengan kedua partikel penyusun tekstur tanah lain (seperti: debu dan pasir). Mempelajari kimia tanah perlu dilandasi dengan pemahaman terhadap bagian fraksi yang reaktif dalam tanah yang disebut dengan koloid tanah. (2) kandungan karbon organik. Partikel pasir berukuran antara 200 mikrometer sampai dengan 2000 mikrometer. sehingga sangat menentukan sifat kimia tanah dan mempengaruhi kesuburan tanah. Partikel tanah yang memiliki permukaan yang lebih luas memberi kesempatan yang lebih banyak terhadap terjadinya reaksi kimia.Ketersediaan air dalam tanah dipengaruhi: (1) banyaknya curah hujan atau air irigasi. Dengan demikian. KIMIA TANAH Sifat kimia tanah sangat penting karena mempengaruhi dan menentukan kondisi kesuburan suatu tanah. reaksi tanah (pH). Partikel debu berukuran antara 2 mikrometer sampai dengan kurang dari 200 mikrometer. dan kandungan hara tanah. serta status ketersediaan hara bagi tanaman. Reaksi-reaksi kimia yang terjadi pada permukaan patikel liat lebih banyak daripada yang terjadi pada permukaan partikel debu dan pasir persatuan bobot yang sama. 11. (3) besarnya evapotranspirasi (penguapan langsung melalui tanah dan melalui vegetasi). (2) kemampuan tanah menahan air. Abdul Madjid. Partikel liat berukuran kurang dari 2 mikrometer. (4) tingginya muka air tanah. Ketiga komponen tersebut dibedakan berdasarkan ukurannya yang berbeda. dan (7) kedalaman solum tanah atau lapisan tanah. 11.

KTK muatan permanen dan KTK muatan tergantung pH tanah. mencakup: KTK liat. dan KTK Tanah Berdasarkan pada jenis koloid yang bermuatan negatif.3. Abdul Madjid. terdiri dari: P-tersedia dan P-total tanah. 11.1. MS at 09:35 0 comments Kirimkan Ini lewat EmailBlogThis!Berbagi ke TwitterBerbagi ke Facebook Labels: Ilmu Tanah Reactions: Dasar-Dasar Ilmu Tanah (16 dari 25) 11. dan 3. Ir. (7) kandungan kation asam. memiliki nilai KTK = 10 s/d 40 me/100 g. yaitu: 1. memiliki nilai KTK = 80 s/d 150 me/100 g.1 KTK Koloid Anorganik (KTK Liat) KTK liat adalah jumlah kation yang dapat dipertukarkan pada permukaan koloid anorganik (koloid liat) yang bermuatan negatif. Liat Montmorillonit. (4) rasio karbon dan nitrogen (C/N). 3. serta (10) kejenuhan aluminium. sebagai contoh: 1. Satuan hasil pengukuran KTK adalah milliequivalen kation dalam 100 gram tanah atau me kation per 100 g tanah. dan (9) kapasitas tukar kation (KTK). KTK total atau KTK tanah. 2. memiliki nilai KTK = 100 s/d 150 me/100 g. 11. Liat Vermikullit.1 KTK Liat. 11. 2.3 Pengertian Kapasitas Tukar Kation Salah satu sifat kimia tanah yang terkait erat dengan ketersediaan hara bagi tanaman dan menjadi indikator kesuburan tanah adalah Kapasitas Tukar Kation (KTK) atau Cation Exchangable Cappacity (CEC). KTK koloid organik atau dikenal sebagai KTK organik tanah. Posted by Dr. (8) kejenuhan basa (KB). KTK Organik. KTK merupakan jumlah total kation yang dapat dipertukarkan (cation exchangable) pada permukaan koloid yang bermuatan negatif. KTK dapat dikelompok-kan menjadi tiga. Liat Illit dan Liat Klorit.(3) kandungan nitrogen. KTK tanah. Liat Kaolinit memiliki nilai KTK = 3 s/d 5 me/100 g. (6) kandungan kation basa dapat dipertukarkan.1.3. KTK efektif.3. (5) kandungan fosfor tanah. 4. Nilai KTK liat tergantung dari jenis liat.2 KTK Koloid Organik KTK koloid organik sering disebut juga KTK bahan organik tanah adalah jumlah kation yang dapat dipertukarkan pada . KTK koloid anorganik atau dikenal sebagai KTK liat tanah.

3.dari larutan tanah. 11. Substitusi isomorf adalah mekanisme pergantian posisi antar kation dengan ukuran atau diameter kation hampir sama tetapi muatan berbeda. Nilai KTK koloid organik berkisar antara 200 me/100 g sampai dengan 300 me/100 g. juga terjadi muatan negatif satu. 11. digantikan oleh Mg yang bermuatan 2+. sehingga terjadi kelebihan muatan negatif satu. sehingga tergantung pada kadar H+ dan OH. Substitusi isomorf ini terjadi dari kation bervalensi tinggi dengan kation bervalensi rendah di dalam struktur lempeng liat. sehingga terbentuk muatan negatif dua pada lempeng liat Si-tetrahedron tersebut. dan (c). KTK muatan permanen. Contoh peristiwa terjadinya muatan negatif diatas adalah: (a).2 KTK Muatan Tidak Permanen KTK muatan tidak permanen atau KTK tergantung pH tanah adalah jumlah kation yang dapat dipertukarkan pada permukaan koloid liat dengan sumber muatan negatif liat bukan berasal dari mekanisme substitusi isomorf tetapi berasal dari mekanisme patahan atau sembulan di permukaan koloid liat. nilai KTK tanah dibedakan menjadi 2.2.3. KTK tanah yang terukur adalah KTK muatan permanen.3 KTK Total atau KTK Tanah KTK total merupakan nilai KTK dari suatu tanah adalah jumlah total kation yang dapat dipertukarkan dari suatu tanah. (b). maka nilai KTK dikelompokkan menjadi 2. KTK muatan tidak permanen.3. baik lempeng liat Sitetrahedron maupun Al-oktahedron. yaitu: .3.1. Nilai KTK koloid organik lebih tinggi dibandingkan dengan nilai KTK koloid anorganik.3.permukaan koloid organik yang bermuatan negatif. 11.2. maka terjadi lagi penambahan muatan negatif satu. yaitu: 1.1 KTK Muatan Permanen KTK muatan permanen adalah jumlah kation yang dapat dipertukarkan pada permukaan koloid liat dengan sumber muatan negatif berasal dari mekanisme substitusi isomorf. terjadinya substitusi isomorf dari posisi Al yang bermuatan 3+ pada struktur liat Al-oktahedron oleh Mg yang bermuatan 2+. Muatan negatif yang terbentuk ini tidak dipengaruhi oleh terjadinya perubahan pH tanah. terjadi substitusi isomorf dari posisi Al yang bermuatan 3+ dari hasil substitusi isomorf terdahulu pada lempeng liat Si-tetrahedron yang telah bermuatan neatif satu.3 Hasil Pengukuran KTK Tanah Berdasarkan teknik pengukuran dan perhitungan KTK tanah di laboratorium. dan 2. 11. 11. terjadi substitusi isomorf dari posisi Si dengan muatan 4+ pada struktur lempeng liat Si-tetrahedron oleh Al yang bermuatan 3+.2 Perbedaan KTK Tanah Berdasarkan Sumber Muatan Negatif Berdasarkan sumber muatan negatif tanah. baik kation-kation pada permukaan koloid organik (humus) maupun kation-kation pada permukaan koloid anorganik(liat).

1 s/d 0.9.5.9. dan (5) sangat tinggi untuk nilai Na-dd (mg/100g) > 1.8 s/d 1. 11.0. Posted by Dr. (3) sedang untuk nilai K-dd (mg/100 g) berkisar antara 0.1 Kalium Dapat Dipertukarkan Nilai Kalium dapat ditukar atau K-dd (me/100g) dalam tanah dikelompokkan dalam lima kategori berikut: (1) sangat rendah untuk nilai K-dd (mg/100 g) < 0. Ir.4. KTK Total.7. dan Ca-dd. dan 2.0. (4) tinggi untuk nilai Na-dd (mg/100 g) berkisar antara 0.1. Abdul Madjid. (3) sedang untuk nilai Na-dd (mg/100 g) berkisar antara 0. Na-dd.4. MS at 09:30 0 comments Kirimkan Ini lewat EmailBlogThis!Berbagi ke TwitterBerbagi ke Facebook Labels: Ilmu Tanah Reactions: Dasar-Dasar Ilmu Tanah (18 dari 25) 11.3 s/d 0. 11. Keempat kation basa ini dikelompokkan dalam lima kategori.2 Natrium Dapat Dipertukarkan Nilai Natrium dapat ditukar atau Na-dd (me/100g) dalam tanah dikelompokkan dalam lima kategori berikut: (1) sangat rendah untuk nilai Na-dd (mg/100 g) < 0.4.1 s/d 0. Mg-dd.0. KTK Efektif.3 Magnesium Dapat Dipertukarkan .9.1.4.6 s/d 1. (4) tinggi untuk nilai K-dd (mg/100 g) berkisar antara 0.2.0.3. Uraian setiap kation basa dengan kelima kategorinya disajikan sebagai berikut. (2) rendah untuk nilai K-dd (mg/100 g) berkisar antara 0.9 Kation-Kation Basa Tanah Kation basa tanah yang dapat dipertukarkan secara rutin dianalisis meliputi: K-dd. (2) rendah untuk nilai Na-dd (mg/100 g) berkisar antara 0.1.4 s/d 0. dan (5) sangat tinggi untuk nilai K-dd (mg/100g) > 1. 11.

MS at 09:01 0 comments Kirimkan Ini lewat EmailBlogThis!Berbagi ke TwitterBerbagi ke Facebook Labels: Ilmu Tanah Reactions: Dasar-Dasar Ilmu Tanah (19 dari 25) 11. Basa (%) berkisar antara 20 s/d 35.10 Kejenuhan Basa Nilai prosentase kejenuhan basa tanah dikelompokkan dalam lima kategori berikut: (1) sangat rendah untuk Kej. (3) sedang untuk nilai Mg-dd (mg/100 g) berkisar antara 1. Abdul Madjid. (4) tinggi untuk Kej. Basa (%) lebih dari 70.1.0.4. (4) tinggi untuk nilai Ca-dd (mg/100 g) berkisar antara 11 s/d 20 dan (5) sangat tinggi untuk nilai Ca-dd (mg/100g) > 20. Posted by Dr.4. Ir.0 dan (5) sangat tinggi untuk nilai Mg-dd (mg/100g) > 8.1 s/d 2.4 s/d 0.Nilai Magnesium dapat ditukar atau Mg-dd (me/100g) dalam tanah dikelompok-kan dalam lima kategori berikut: (1) sangat rendah untuk nilai Mg-dd (mg/100 g) < 0. (2) rendah untuk nilai Mg-dd (mg/100 g) berkisar antara 0.4.0. 11. (3) sedang untuk Kej.1 s/d 8.11 Kejenuhan Aluminium .4 Kalsium Dapat Dipertukarkan Nilai Kalsium dapat ditukar atau Ca-dd (me/100g) dalam tanah dikelompokkan dalam lima kategori berikut: (1) sangat rendah untuk nilai Ca-dd (mg/100 g) < 2. Basa (%) < 20. (3) sedang untuk nilai Ca-dd (mg/100 g) berkisar antara 6 s/d 10.9. (4) tinggi untuk nilai Mg-dd (mg/100 g) berkisar antara 2. Basa (%) berkisar antara 36 s/d 50. (2) rendah untuk Kej. 11. (2) rendah untuk nilai Ca-dd (mg/100 g) berkisar antara 2 s/d 5. Basa (%) berkisar antara 51 s/d 70 dan (5) sangat tinggi untuk Kej.4.

(3) populasi organisme dan (4) aktivitas metabolisme organisme tanah.12 Kemasaman Tanah (pH) Pengelompokan kemasaman tanah berbeda dengan pengelompokkan terhadap sifat kimia tanah lain. (3) sedang untuk Kej. Ir. MS at 08:54 0 comments Kirimkan Ini lewat EmailBlogThis!Berbagi ke TwitterBerbagi ke Facebook Labels: Ilmu Tanah Reactions: Dasar-Dasar Ilmu Tanah (20 dari 25) XII.5 (5) agak alkalis untuk pH tanah berkisar antara 7. Al (%) berkisar antara 31 s/d 60 dan (5) sangat tinggi untuk Kej. . SIFAT BIOLOGI TANAH Beberapa sifat biologi tanah utama yang perlu dipelajari adalah: (1) keragaman jenis organisme yang hidup dalam tanah. Al (%) berkisar antara 21 s/d 30.6 s/d 8.5 (6) alkalis untuk pH tanah > 8. Al (%) < 10. Posted by Dr.6 s/d 7.4. 12.5 (2) masam untuk pH tanah berkisar antara 4. (2) rendah untuk Kej. karena untuk kemasaman tanah (pH) dikelompokkan dalam enam kategori berikut: (1) sangat masam untuk pH tanah < 4.5. Al (%) berkisar antara 10 s/d 20.Nilai prosentase kejenuhan aluminium tanah dikelompokkan dalam lima kategori berikut: (1) sangat rendah untuk Kej. Abdul Madjid.5 (4) netral untuk pH tanah berkisar antara 6.6 s/d 6. (4) tinggi untuk Kej.5 s/d 5. 11.5 (3) agak masam untuk pH tanah berkisar antara 5. (2) keberadaan jenis organisme tanah yang bermanfaat. Al (%) lebih dari 60.1 Pengertian Organisme tanah Organisme tanah atau disebut juga biota tanah merupakan semua makhluk hidup baik hewan (fauna) maupun tumbuhan (flora) yang seluruh atau sebagian dari fase hidupnya berada dalam sistem tanah.

2 Berdasarkan Ukuran Verstrade tahun 1980 mengelompokkan organisme yang hidup dalam tanah berdasarkan ukuran menjadi tiga kelompok.2 mm  10 mm (3) Mikro : <> . dan (c) organisme yang tidak menguntungkan dan tidak merugikan. yaitu: (1) Makro : > 10 mm (2) Meso : antara 200 mm  10. yaitu: bakteri pelarut fosfat (Pseudomonas) dan fungi pelarut fosfat. Beberapa contoh organisme tanah yang menguntungkan bagi pertumbuhan dan hasil tanaman adalah: 1.2. 3. yaitu: (a) organisme yang menguntungkan bagi pertumbuhan dan perkembangan tanaman.12.1 Berdasarkan peranannya bagi tanaman Berdasarkan peranan organisme tanah terhadap pertumbuhan dan hasil tanaman.000 mm atau 0.2. 4. Azosphirillum. organisme tanah dibagi menjadi 3 kelompok. 12. dll). organisme tanah yang dapat melarutkan fosfat. yaitu: cacing tanah. yaitu: mikoriza. sebagai berikut: 12. Azotobacter. 2. organisme tanah yang dapat meningkatkan ketersediaan hara bagi tanaman. organisme tanah yang dapat menyumbangkan nitrogen ke tanah dan tanaman. organisme tanah yang dapat meningkatkan jangkauan akar terhadap hara tanah dan meningkatkan transfortasi hara P dari tanah ke akar tanaman. (b) organisme yang merugikan tanaman. yaitu: bakteri pemfiksasi nitrogen (Rhizobium.2 Pengelompokan Organisme Tanah Organisme yang hidup dalam tanah dikelompokan berdasarkan berbagai kategori.

2.4 Berdasarkan Kebutuhan Oksigen Alexander tahun 1978 mengelompokkan organisme tanah berdasarkan kebutuhan oksigen (O2) menjadi tiga kelompok. (3) Organisme Chemotrophik.3 Berdasarkan Sumber Karbon dan Sumber Energi Dawes dan Sutherland tahun 1976 mengelompokkan organisme tanah berdasar-kan sumber karbon dan sumber energi yang digunakan oleh organisme tersebut dan dibagi menjadi empat kelompok. dan (4) Organisme Fhototrophik. yaitu organisme tanah yang memperoleh energi bersumber dari energi cahaya matahari.2. yaitu: (1) organisme aerob. yaitu organisme tanah yang semasa hidupnya membutuhkan oksigen atau organisme yang dapat hidup dalam kondisi aerob (ada oksigen). Organisme tanah yang memperoleh karbon dari perobakana bahan organik yang ada dalam tanah dengan sumber energi dari cahaya matahari disebut sebagai organisme fotoheterotrop. (3) organisme mikroaerofilik.5 Berdasarkan pH Optimum Pertumbuhan Organisme Alexander tahun 1978 mengelompokkan organisme tanah berdasarkan pH optimum bagi pertumbuhan dan perkembangan organisme tersebut. 12. yaitu organisme yang memperoleh karbon bersumber dari perombakan bahan organik. yaitu organisme yang dapat hidup dalam kondisi oksigen yang sangat sedikit. yaitu menjadi tiga kelompok sebagai berikut: (1) kelompok organisme yang tumbuh optimum pada pH rendah (< style=""> fungi. yaitu organisme tanah yang memperoleh energi bersum-ber dari energi yang dibebaskan dalam reaksi kimia dalam tanah.12.2. yaitu: (1) Organisme Autotrophik. 12. (2) organisme anaerob. . Organisme tanah yang memperoleh karbon bersumber dari dekomposisi bahan bahan organik dalam tanah dengan sumber energi dari energi hasil reaksi kimia dalam tanah disebut sebagai organisme chemoheterotrop. (2) Organisme Heterotrophik. yaitu organisme tanah yang memperoleh karbon bersumber dari udara melalui proses fotosintesis. Organisme tanah yang memperoleh karbon dari udara melalui proses fotosintesis dengan sumber energi dari cahaya matahari disebut sebagai organisme fotoautotrop. yaitu organisme tanah yang semasa hidupnya tidak membu-tuhkan oksigen bebas atau organisme yang dapat hidup dalam kondisi tergenang tanpa oksigen dan tidak dapat hidup (mati) apabila ada oksigen.

12. Arachnida (lebah. Posted by Dr. Makro fauna tanah terdiri dari: (a) hewan-hewan besar pelubang tanah seperti: tikus dan kelinci.5.1 Makro Fauna Makro fauna adalah semua hewan tanah yang dapat dilihat langsung dengan mata tanpa bantuan mikroskop dan berukuran lebih dari 10 mm.3. Diplura.5 s/d 7. yaitu: (1) makro fauna.2 Meso Fauna Meso fauna adalah semua hewan tanah yang berukuran lebih kecil berkisar antara 0.3 Klasifikasi Organisme Tanah Secara umum organisme tanah diklasifikasikan menjadi dua kelompok sebagai berikut: (1) Fauna (hewan) tanah. Ir. (3) kelompok organisme yang tumbuh optimum pada pH netral berkisar 6.3. (2) meso fauna.2 mm s/d 10 mm.(2) kelompok organisme yang tumbuh optimum pada pH tinggi (> 7. Enchytraeida.1.1.5). Acari. Penjelasan lebih rinci disajikan sebagai berikut. dan rayap). 12. Abdul Madjid. 12. jangkrik.3. (b) cacing tanah. semut. Makro fauna tanah terdiri dari: Collembola. (d) Moluska. (c) Arthropoda. . contohnya pada tanah dengan pH alkali didominasi bakteri dan aktinomicetes. Protura. kutu. dll. Chilopoda (kelabang). Diplopoda (kaki seribu). MS Reactions: Dasar-Dasar Ilmu Tanah (21 dari 25) 12. dan kalajengking) dan Insekta (belalang. meliputi: Crustacea (kepiting tanah dan udang tanah). sehingga dapat dilihat jelas dengan bantuan kaca pembesar.1 Fauna Tanah Hewan atau fauna tanah diklasifikasikan menjadi tiga. dan (2) Flora (tumbuhan) tanah. Paraupoda. dan (3) mikro fauna.

(2) bakteri: populasinya berkisar antara 3 milyar/gram sampai dengan 4 milyar/gram tanah. Ir. . dan (d) algae. populasi: 800. hidup dekat permukaan tanah. Abdul Madjid.1. bobot sekitar 400 kg/hektar sampai dengan 500 kg/hektar. (2) Mikro Flora.3 Mikro Fauna Mikro fauna adalah hewan tanah yang berukuran sangat kecil yaitu kurang dari 0.000/gram tanah.2 Flora Tanah Tumbuhan atau flora tanah diklasifikasikan menjadi dua kelompok. dan beberapa contoh algae tanah adalah: Algae Hijau (Green Algae) dan Alga Hijau Biru (Blue Green Algae).2 ton/hektar. Mucor. populasi berkisar antara 15 juta/gram tanah sampai dengan 20 juta/gram tanah. Mikro fauna terdiri dari: (a) Protozoa.000/gram tanah. dan ciliata. Bejerinkia.3. dll. mampu merombak lignin atau berperan dalam merombak bahan organik. Beberapa karakteristik utama dari masing-masing mikroflora disajikan sebagai berikut: (1) Fungi: tidak berklorofil. salah satu contoh aktinomicetes tanah adalah Streptomices. bakteri bentuk batang > coccus > spiral.3.12. seperti: amoeba. yaitu: akar dari tumbuhan tingkat tinggi yang berada dalam tanah.000. (c) actinomycetes.1 Fungi Tanah Secara umum berdasarkan sifat hubungan antara fungi dengan akar tanaman. maka fungi tanah dikelompokkan menjadi tiga. yaitu flora tanah yang dapat dilihat lebih jelas dan rinci dengan bantuan mikroskop.2 mm. populasi: 1. yaitu: (1) Parasit. flagelata. seperti: penyakit bercak akar kapas. Rhizobium.3. Trichoderma. beberapa contoh bakteri tanah adalah: Bacillus. yaitu: (1) Makro Flora. (b) bakteri. bobot: 1 s/d 1. MS Reactions: Dasar-Dasar Ilmu Tanah (22 dari 25) 12. Posted by Dr. Pseudomonas. yaitu: fungi tanah yang sebagian atau seluruh hidupnya dapat menyebabkan penyakit pada akar tanaman. 12. dan (b) Nematoda. beberapa contoh fungi tanah adalah: Penecillium. Azotobacter. bobot berkisar 500 kg/hektar sampai dengan 600 kg/hektar. (3) Aktinomicetes: mimiliki miselia tetapi lebih kecil. Aspergillus dan Mikoriza. seperti: omnivorous dan Predaceus.2. tetapi bermiselia (hyfa). (4) Algae: berklorofil. terdiri dari: (a) fungi.

dan (3) Ektendomycorhiza. (3) Simbiotik. (3) Acaulospora. (2) Ektomycorhiza.(2) Saprofit. (2) Glomus. . Fungi kelompok ini tidak menyebabkan penyakit pada akar tanaman. yaitu: Mikoriza yang perkembangan hifanya tidak memasuki sel-sel akar tanaman tetapi hanya menyebar pada permukaan akan dan memasuki ruang antar sel-sel akar tanaman. seperti: mikoriza atau jamur akar. yaitu: Mikoriza yang perkembangan hifanya dapat memasuki sel-sel akar tanaman. Mikoriza Mikoriza (Mycorhiza) adalah fungi yang hidup pada permukaan akar tanaman dan bersifat saling menguntungkan antara Mikoriza dengan akar tanaman. Gambar preparat irisan melintang dari sel akar tanaman yang terinfeksi mikoriza disajikan dalam Gambar 19 (B). yaitu: (1) Endomycorhiza. Berdasarkan perkembangan hifanya pada akar tanaman. mycorhiza dikelompokkan menjadi tiga. yaitu: Mikoriza yang perkembangan hifanya menyerupai kedua kelompok Mikoriza diatas. Beberapa genus dari Endomycorhiza yang telah banyak diteliti oleh para ahli ilmu tanah dan agronomi adalah: (1) Gigaspora. (4) dll Gambar 19 (A) merupakan gambar akar tanaman yang bersimbiosis dengan fungi dan sebaran hifa fungi tersebut menjalar ke volume tanah yang lebih luas sehingga memperluas dan memperpanjang jangkauan akar oleh hifa fungi dalam penyerapan hara. yaitu: fungi tanah yang semasa hidupnya mendapatkan makanan (energi) dari dekomposisi bahan organik tanah. yaitu: fungi tanah yang semasa hidupnya berada pada akar-akar tanaman dan hubungannya dengan akar tanaman membentuk hubungan yang saling mengun-tungkan.

II. bakteri pengoksidasi belerang.3. Bakteri autotroph ini dikelompokkan lagi berdasarkan sumber energi yang diperlukan.Gambar 19. yaitu: (a) Bakteri Photoautotroph atau Bakteri Foto Lithotropik: adalah bakteri yang menghasilkan makanan sendiri dan sumber energi yang digunakan berasal dari Sinar Matahari. Sebaran hifa fungi yang bersimbiosis dengan akar tanaman berfungsi mem-perluas dan memperpanjang jangkauan akar untuk memperoleh hara tanah (A).2 Bakteri Tanah Bakteri yang hidup dalam tanah dapat dikelompokkan dalam beberapa kriteria sebagai berikut: I. baik fauna maupun flora. dll. dan (b) Bakteri Khemoheterotroph atau Bakteri Khemoorganotropik: bakteri yang mendapatkan makanan dari bahan organik atau sisa-sisa makhluk hidup lain dan sumber energi yang digunakan dari hasil oksidasi bahan organik. Berdasarkan Sumber Makanan Bakteri tanah berdasarkan sumber karbon yang digunakan dikelompokkan menjadi dua. bakteri denitrifikasi. dan (2) Bakteri Heterotroph atau Bakteri Organotropik. Bakteri heterotroph ini pun dikelompokkan lagi berdasarkan sumber makanan.2. dan baik yang makro maupun yang mikro.Gambar preparat irisan melintang akar tanaman yang terinfeksi mikoriza yang terlihat adanya vesikel dan arbuskul (B). yaitu: bakteri yang mendapatkan makanan dari bahan organik atau sisa-sisa dari makhluk hidup lain. Dasar-Dasar Ilmu Tanah (23 dari 25) 12. yaitu: bakteri yang dapat menghasilkan makanan sendiri. yaitu: (1) Bakteri Autotroph atau Bakteri Lithotropik . bakteri pereduksi sulfat. menjadi dua kelompok. dan (b) Bakteri Khemoautotroph atau Bakteri Khemolithotropik: adalah bakteri yang menghasilkan makanan sendiri dan sumber energi yang digunakan dari hasil oksidasi bahan organik. yaitu: (a) Bakteri Photoheterotroph atau Bakteri Fotoorganotropik: bakteri yang mendapatkan makanan dari bahan organik atau sisa-sisa makhluk hidup lain dan sumber energi yang digunakan berasal dari Sinar Matahari. contohnya: bakteri nitrifikasi. Berdasarkan Kebutuhan Oksigen .

Bila kepekatan ion hidrogen di dalam tanah terlalu tinggi maka tanah akan bereaksi asam. Program Pascasarjana. Propinsi Sumatera Selatan. yaitu bakteri yang selama hidupnya membutuhkan oksigen (O2). Palembang. 18. (2) Bakteri Anaerob. Program Magister (S2). Program Magister (S2). 1996). Indonesia. Luasnya tanah masam tersebut sebenarnya mempunyai potensi yang besar untuk pengembangan usaha pertanian.4.5. Abdul Madjid. Palembang. Propinsi Sumatera Selatan.0 dan 56. Keasaman tanah ditentukan oleh kadar atau kepekatan ion hidrogen di dalarn tanah tersebut. yaitu: (1) Bakteri Aerob.1. oxisols dan spodosol. Sebaliknya. Universitas Sriwijaya.Tanah ordo lain yang bersifat masam adalah inseptisol dan entisol.Bakteri yang hidup dalam tanah berdasarkan kebutuhan terhadap oksigen (O2) dikelompokkan menjadi tiga. yaitu bakteri yang selama hidupnya tidak membutuhkan oksigen. Indonesia. Program Studi Ilmu Tanaman. *** : Dosen Mata Kuliah Pengelolaan Kesuburan Tanah. dan (3) Bakteri Mikroaerofilik. bahkan bila terdapat oksigen bakteri ini mati.4 juta ha atau seluruhnya sekitar 67% dari luas total tanah di Indonesia (Nursyamsi et al. Universitas Sriwijaya. ultisol. Posted by Dr. bila kepekatan ion hidrogen . Luas areal tanah bereaksi asam seperti podsolik. MS Pengelolaan Kesuburan Tanah Pada Lahan Kering (Bagian 1) Pengelolaan Kesuburan Tanah Mineral Masam untuk Pertanian* Oleh: Ida Nursanti** dan Abdul Madjid Rohim*** (Bagian 1 dari 5 Tulisan) Keterangan: * : Makalah Pengelolaan Kesuburan Tanah. masing-masing sekitar 47. Palembang. (Bagian 1 dari 5 Tulisan) I. Program Pascasarjana. ** : Program Studi Ilmu Tanaman. Program Magister (S2). yaitu bakteri yang selama hidupnya hanya membutuhkan oksigen dalam jumlah yang sedikit. 5. Program Pascasarjana. Propinsi Sumatera Selatan. Tanah Mineral Masam dan Penyebarannya Tanah mineral masam banyak dijumpai di wilayah beriklim tropika basah. Indonesia. termasuk Indonesia. Ir. Universitas Sriwijaya. PENDAHULUAN 1. Program Studi Ilmu Tanaman. tetapi sampai sekarang masih belum dapat dimanfaatkan secara maksimal mengingat beberapa kendala yang terdapat pada tanah masam.

terIalu rendah maka tanah akan bereaksi basa. Pada kondisi ini kadar kation OH- lebih tinggi dari ion H+. Tanah masam adalah tanah dengan pH rendah karena kandungan H+ yang tinggi. Pada tanah masam lahan kering banyak ditemukan ion Al3+ yang bersifat masam karena dengan air ion tersebut dapat menghasilkan H+. Dalarn keadaan tertentu, yaitu apabila tercapai kcjenuhan ion Al3+ tertentu, terdapat juga ion Al-hidroksida ,dengan demikian dapat menimbulkan variasi kemasaman tanah (Yulianti, 2007). Di daerah rawa-tawa, tanah masam umumnya disebabkan oleh kandungan asam sulfat yang tinggi. Di daerah ini sering ditemukan tanah sulfat masam karena mengandung, lapisan cat clay yang menjadi sangat masarn bila rawa dikeringkan akibat sulfida menjadi sulfat. Kebanyakan partikel lempung berinteraksi dengan ion H+. Lempung jenuh hidrogen mengalami dekomposisi spontan. Ion hidrogen menerobos lapisan oktahedral dan menggantikan atom Al. Aluminium yang dilepaskan kemudian dijerap oleh kompleks lempung dan suatu kompleks lempung-Al-H terbentuk dengan cepat ion. Al3+ dapat terhidrolisis dan menghasilkan ion H. Reaksi tersebut menyumbang pada peningkatan konsentrasi ion H+ dalam tanah. Sumber keasaman atau yang berperan dalam menentukan keasaman pada tanah gambut adalah pirit (senyawa sulfur) dan asam-asam organik. Tingkat keasaman gambut mempunyai kisaran yang sangat lebar. Keasaman tanah gambut cendrung semakin tinggi jika gambut semakin tebal. Asam-asam organik yang tanah gambut terdiri dari atas asam humat, asam fulvat, dan asam humin. Pengaruh pirit yaitu pada oksida pirit yang akan menimbulkan keasaman tanah hingga mencapai pH 2 3. Pada keadaan ini hampir tidak ada tanaman budidaya yang dapat tumbuh baik. Selain menjadi penghambat pertumbuhan tanaman, pirit menyebabkan terjadinya karatan (corrosion) sehingga mempercepat kerusakan alat-alat pertanian yang terbuat dari logam. Terdapat dua jenis reaksi tanah atau kemasaman tanah, yakni kemasaman (reaksi tanah) aktif dan potensial. Reaksi tanah aktif ialah yang diukurnya konsentrasi hidrogen yang terdapat bebas dalam larutan tanah. Reaksi tanah inilah yang diukur pada pemakaiannya sehari-hari. Reaksi tanah potensial ialah banyaknya kadar hidrogen dapat tukar baik yang terjerap oleh kompleks koloid tanah maupun yang terdapat dalam larutan (Hanafiah, 2007). Selanjutnya dijelaskan juga oleh Hanafiah (2007) bahwa sejumlah senyawa menyumbang pada pengembangan reaksi tanah yang asam atau basa. Asam-asam organik dan anorganik, yang dihasilkan oleh penguraian bahan organik tanah , merupakan konstituen tanah yang umum dapat mempengaruhi kemasaman tanah. Respirasi akar tanaman menghasilkan C02 yang akan membentuk H2CO3 dalam air. Air merupakan sumber lain dari sejumlah kecil ion H+. Suatu bagian yang besar dari ion-ion H+ yang dapat dipertukarkan. H H---Lempung ---> Lempung + 3 H+ H Ion-ion H+ tertukarkan tersebut berdisosiasi menjadi ion-ion H+ bebas. Dcrajat ionisasi dan disosiasi ke dalam larutan tanah menentukan khuluk kemasaman tanah. Ion-ion H+ yang dapat dipertukarkan merupakan penyebab terbentuknya kemasaman tanah potensial atau cadangan. Besaran dari kemasaman potensial ini dapat ditentukan dengan titrasi tanah. Ion-ion H+ bebas menciptakan kemasaman aktif. Kemasaman aktif diukur dan dinyatakan sebagai pH tanah. Tipe kemasaman inilah yang sangat menentukan dan mempengaruhi pertumbuhan dan

perkembangan tanaman. Ada beberapa alat ukur reaksi tanah yang dapat digunakan. Alat yang murah ialah kertas lakmus yang bentuknya berupa gulungan kertas kecil memanjang. Alat lain yang harganya sedikit mahal tetapi dapat dipakai berulang kali dengan hasil pengukuran lebih terjamin adalah pH tester dan soil tester. Pemakaian kertas lakmus sangat mudah, caranya yaitu : mengambil tanah lapisan dalam, lalu larutkan dengan air murni (aquadest) dalam wadah. Biarkan tanahnya terendam di dasar wadah sehingga airnya menjadi bening kembali. Setelah bening, air tersebut dipindahkan ke wadah lain secara hati-hati agar tidak keruh. Selanjutnya, ambil sedikit kertas lakmus dan celupkan ka dalam air tersebut. Dalam beberapa saat kertas lakmus akan berubah warna. Cocokan warna pada kertas lakmus dengan skala yang ada pada kemasan kertas lakmus. Skala tersebut telah dilengkapi dengan angka pH masing-masing Warna. Angka pH tanah tersebut adalah angka dari warna pada kemasan yang cocok dengan warna kertas lakmus Misalnya, angka yang cocok adalah 6 maka pH-nya 6. Pemakaian soil tester untuk mendapat pH tanah agak berbeda dengan kertas lakmus. Bentuknya seperti pahat dan berukuran pendek. Oleh karena berbentuk padatan, ada bagian yang runcing. Bagian runcing inilah yang ditancapkan ke tanah hingga pada batas yang dianjurkan. Setelah ditancapkan, sekitar tiga menit kernudian jarum skala yang terletak di bagian atas alat ini akan bergerak. Angka yang ditunjukkan jarum tersebut merupakan pH dari tanah tersebut. Pemakaian pH tester lebih sederhana dan soil tester penggunaannya untuk megukur nilai pH tanah di lahan yang tidak terlalu luas, sekitar 1-2 ha. Walaupun demikian, alat ini masih bisa diandalkan. Bagian yang menunjukkan angka pH berbentuk kotak dengan jarum penunjuk angka. Bagian kotak tersebut dihubungkan dengan besi sepanjang 25 cm yang ujungnya runcing dan dilapisi logam elektroda. Besi inilah vang ditancapkan ke tanah. Jumlah besi bisa 1-2 buah. Penetapan pH tanah sekarang ini dilakukan dengan elektroda kaca. Elektroda ini terdiri dari suatu bola kaca tipis yang berisi HCL. encer, dan di dalamnya disisipkan kawat Ag-AgCl, yang berfungsi sebagai elektrodanya dengan tegangan (voltase) tetap. Pada waktu bola kaca tersebut itu dicelupkan ke dalam suatu larutan, timbul suatu perbedaan antara larutan di dalam bola dan larutan tanah di luar bola kaca. Sebelum pengukuran pH dilakukan, kedua elektroda pertama-tama harus dimasukkan ke dalam suatu larutan yang diketahui pH-nya (misalnya konsentrasi ion H+ = 1 g/L). Kegiatan ini disebut pembakuan elektroda dan petunjuk pH (pH meter). Dalam pengukuran pH, elektroda acuan dan elektroda indikator dicelupkan ke dalam suspensi tanah yang heterogen yang terdiri atas partikel-partikel padat terdispersi dalam suatu larutan aquadest. Jika partikel-partikel padat dibiarkan mengendap, pH dapat diukur dalam cairan supernatant atau dalam endapan (sedimen). Penempatan pasangan elektroda dalam supernatant biasanya memberikan bacaan pH yang lebih tinggi dari pada penempatan dalam sedimen. Perbedaan dalam bacaan pH ini disebut pengaruh suspensi. Pengadukan suspensi tanah sebelum pengukuran tidak akan memecahkan masalah tersebut, karena prosedur ini memberikan bacaan yang tidak stabil (Hanafiah, 2007). Jenis tanah masam diantaranya terdapat pada tanah ordo Ultisol. Ultisol dibentuk oleh proses pelapukan dan pembentukan tanah yang sangat intensif karena berlangsung dalam lingkungan iklim tropika dan subtropika yang bersuhu panas dan bercurah hujan tinggi dengan vegetasi klimaksnya hutan rimba. Dalam lingkungan semacam ini reaksi hidrolisis dan asidolisis serta proses pelindian (leaching) terpacu sangat cepat dan kuat. Asidolisis berlangsung

kuat karena air infiltrasi dan perkolasi mengambil CO2 hasil mineralisasi bahan organik berupa serasah hutan dan hasil pernafasan akar tumbuhan hutan (Yulnafatmawita, 2008). Pelapukan masam tanah membebaskan basa dari mineral tanah secara cepat apabila didukung dengan daya lindi yang kuat maka akan terbentuk tanah yang miskin hara dan Al Fe serta Mn yang tinggi dapat meracun tanaman. Persoalan akan bertambah berat jika bahan induk tanah sudah bersifat masam kondisi inilah yang dijumpai di Sumatera. Tanah ultisol memiliki ciri-ciri sebagai berikut ; 1. pH rendah 2. Kejenuhan Al , Fe dan Mn tinggi 3. Daya jerap terhadap fosfat kuat 4. Kejenuhan basa rendah ; kadar Cu rendah dalam tanah yang berasal dari bahan induk masam (feksil) atau batuan pasir, Zn cukup namun tereluviasi. 5. Kadar bahan organik rendah dan kadar N rendah 6. Daya simpan air terbatas 7. Kedalaman efektif terbatas 8. Derajat agregasi rendah dan kemantapan agregat lemah baik pada lahan berlereng maupun datar. Kerentanan terhadap erosi membuat tanah akan semakin cepat berkurang kesuburannya terutama pada lapisan atas dan akan terakumulasi di bagian yang lebih rendah (Notohadiprawiro, 2006). Kekahatan fosfor merupakan salah satu kendala terpenting bagi usaha tani di lahan masam. Hal ini karena sebagian besar koloid dan mineral tanah yang terkandung dalam tanah Ultisol mempunyai kemampuan menyemat fosfat cukup tinggi, sehingga sebagian besar fosfat dalam keadaan tersemat oleh Al dan Fe, tidak tersedia bagi tanaman maupun biota tanah (Hasanudin dan Ganggo, 2004). Menurut Subandi (2007) Tanah Ultisol umumnya mempunyai pH rendah yang menyebabkan kandunganAl, Fe, danMn terlarut tinggi sehingga dapat meracuni tanaman. Jenis tanah ini biasanya miskin unsur hara esensial makro seperti N, P, K, Ca, dan Mg; unsur hara mikro Zn, Mo, Cu, dan B, serta bahan organik. Meskipun secara umum tanah Ultisol atau Podsolik Merah Kuning banyak mengandung Al dapat ditukar (Al-dd) (20-70%), namun hasil penelitianmenunjukkan bahwa beberapa contoh tanah tersebut mengandung Al-dd relatif rendah (< 20%). Tanah di KP. Kayu Agung, Indralaya, dan Prabumulih Sumatera Selatan, misalnya, mempunyai kejenuhan Al-dd berturut-turut 11,08%, 1,01%, dan 17,26%, di Jawa Barat 13,40% dan 11 dari 28 contoh tanah lapisan atas yang berasal dari Lampung Tengah jugamemiliki kejenuhanAl-dd yang rendah . Tekstur tanah ultisol bervariasi, berkisar dari pasiran (sandy) sampai dengan lempungan (clayey) .Fraksi lempung tanah ini umumnya didominasi oleh mineral silikat tipe 1:1 serta oksida dan hidroksida Fe danAl , sehingga fraksi lempung tergolong beraktivitas rendah dan dayamemegang lengas juga rendah. Karena umumnya memiliki kandungan bahan organik rendah dan fraksi lempungnya beraktivitas rendah maka kapasitas tukar kation tanah (KTK) tanah Podsolik juga rendah, sehingga relatif kurang kuatmemegang hara tanaman dan karenanya unsur haramudah tercuci. Tanah Podsolik atau Ultisol termasuk tanah bermuatan terubahkan (variable charge), sehingga nilai KTK dapat berubah bergantung nilai pH-nya, peningkatan pH akan diikuti oleh peningkatan KTK ,lebih mampu mengikat hara K dan tidak mudah tercuci.

dan Riau (2. Batas bawah pada kedalaman 25 cm atau lebih. skeletal berlempung. Kalimantan Barat (5. Tanah-tanah ini mendominasi lahan kering yang ada di Sumatera.79 juta ha atau 24.14 juta). Spodosol merupakan tanah mineral yang mempunyai horizon spodik. dan Lampung (1. dan oksidasi aluminium (Al) dengan atau tanpa oksidasi besi (Fe). Vegetasi alami yang tumbuh biasanya spesifik jenisnya. Apabila kelas besar butirnya berpasir. Air perkolasi membawa asam-asam itu kebagian profil tanah yang lenig dalam. Terletak langsung dibawah horizon albik. Kalimantan dan Jawa. biasanya suatu horizon albik (berwarna merah muda. dibawah vegetasi hutan basah dan berkembang dari bahan endapan dan batuan sediment kaya kuarsa yang dipercepat oleh adanya vegetasi yang menghasilkan serasah asam. Total luas adalah sekitar 45. dipindahkan kebagian lebih dalam. Batas atas berada dalam kedalaman <50 cm. becak-becak pada horizon albik dan terbentuknya semacam lapisan keras (duripan) pada horizon albik. Tanah Oxisols (oxide. Irian Jaya (2. termsuk bagian utara michigan dan winconsin yang dulunya digolongkan sebagai podsol.27 juta ha). mereka mendominasi lahan kering dengan intensitas curah hujan yang tinggi. iv. seperti akumulasi bahan organik yang tinggi.3 % dari lahan Indonesia dan menyebar di Kalimantan Timur (10. Dalam hal ini Spodosol mencakup Tanah-tanah yang disebut : Podzol dan Podzol Air Tanah. seperti pinus.79 juta). dengan demikian memadai bila disebut abu kayu). Kalimantan Tengah (2.82 juta ha). Senyawa – senyawa organic tercuci kebawah bersama air perkolasi sehingga tanah permukaan menjadi berwarna terang. sedang horizon bawah menjadi berwarna gelap karena terjadinya selaput organic pada butir-butir tanah.11 juta ha atau 7. Jambi (1. karena tanah ini selama musim tertentu jenuh dengan air dan mempunyai ciri-ciri yang berasosiasi dengan kebasahan.71 juta).62 juta). pada 50 % atau lebih dari setiap pedonnya. dari permukaan tanah. Sebagian dari mereka adalah orthod. Spodosol adalah Tanah – tanah yang secara unik berkembang dari endapan pasir kuarsa. Umumnya terbentuk diwilayah iklim humid. sehingga menghasilkan profil spodosol yang menarik. oksida) adalah tanah-tanah yang telah mengalami pencucian yang intensif dan miskin hara.06 juta). suatu horizon dalam dengan akumulasi bahan organic. Banyak tanah dari timur laut amerika serikat. suatu spodosol umum.41 juta). tanah diklasifikasi sebagai spodosol. kelihatannya merangsang pertumbuhan spodosol. Sebagian besar mineral. . dan/atau batu sedimen berupa batu pasir kuarsa. Kalimantan Barat (1.04 juta ha). atau lebih halus atau <200 cm. apabila memiliki horizon dengan semua sifat berikut : i. podsolik coklat dan podsol air tanah termasuk dalam spodosol. Tersementasi dengan kelembaban minimum 10 cm. Akan tetapi beberapa adalah aquod. Irian Jaya (7. Tanah-tanah ini sudah tua. Horizon iluvial ini dijumpai dibawah horizon eluviasi. tinggi kandungan AL dan Fe.Ultisols (ultimus-selesai) adalah tanah-tanah yang berwarna kuning merah dan telah mengalami pencucian yang sudah lanjut. Seperti halnya Ultisols. Yaitu vegetasi yang mampu berkembang subur di Tanah masam. Total luas tanah ini sekitar 14. Daerah-daerah dari aquod adalah Florida.81 juta). ii. iii. Mengikuti definisi kuantitatif taksonomi tanah. Dengan membusuknya daun-daun yang rendah kadar ion logamnya. Kalimantan Tengah (4. Horizon atas hancur karena pencucian intensif oleh asam. Species tumbuhan yang berkadar ion-ion logam rendah. dan. seperti kantung Semar dan Paku-pakuan. kemasaman tinggi akan terbentuk. Dikenal luas sebagai podsolik merah kuning.01 juta ha). apabila kelas besar butirnya berlempung kasar.5% dari total lahan Indonesia dan menyebar di Sumatera Selatan (2. Oksida aluminium dan besi serta bahan organic akan diendapkan di horizon bagian bawah.

Di Indonesia sendiri penyebaran endapan pasir dan batu pasir kuarsa yang secara geologis sangat luas, terdapat di kalimantan tengah, serta setempat-setempat di kalimantan barat dan kalimantan timur. Di pulau lain nampaknya tidak luas penyebaranya dan setempat – setempat terdapat disulawesi dan sumatra. Landform – nya dimasukkan sebagai dataran tektonik. Lanscape luas tanah spodosol seluruhnya diperkirakan 2,16 juta ha atau 1,1 % wilayah dataran indonesia. Penyebaranya paling luas terdapat di kalimantan tengah sekitar 1,51 juta ha, kemudian dikalimantan barat 0,42 juta dan kalimantan Timur 0,15 juta ha. Di silawesi tengah, tengah, selatan dan tenggara dipearkirakan terdapat antara 11-25 ribu ha (Himatan, 2006). Dari empat sub-ordo dalam kelompok spodosol, yang sering kali dibuka untuk pertanian adalah Haplorthods yaitu spodosol yang terbentuk diwilayah beriklim basah, dengan curah hujan tunggi dan rezim kelembaban tanah udik dan aquods yaitu spodosol basah atau jenuh air dengan drainase sangat terhambat dan sering kali mempunyai permukaan air tanah berada dekat dengan permukaan tanah. Data dari analisis tanah dari beberapa pedon Spodosol dari kalimantan tengah dan kalimantan barat menunjukkan bahwa, Spodosol termasuk tanah dengan kelas besar butir berpasir, dengan kandungan fraksi pasir tinggi (65-96 %). Reaksi tanah menunjukkan masam ekstrem sampai sangat masam (pH 3,3 – 4,9) di seluruh lapisan tanah, cenderung menaik kelapisan bawah. Pada permukaan tanah, bisasanya terdapat lapisan bahan organik (Oi dan Oe) tipis (5-10) cm dan dibawahnya terdapat Horizon Al dengan kandungan bahan organik termasuk sedang sampai tinggi (3,1 – 9,5)%. Langsung dibawah horizon ini terdapat horizon E, berwarna putih dan putih kekelabuan, dengan kandungan bahan organik dangat rendah (0,2 – 0,95) %. Rasio C/N tergolong tinggi (16-35). Kandungan P dan K-potensial di lapisan atas dan dilapisan bawah, sangat rendah sampai rendah. Jumlah basa-basa dapat ditukar termasuk sangat rendah (0,2-1,2 cmol (+)/kg tanah). Kandungan kedua unsur hara ini dilapisan serasah, selalu lebih tinggi dari pada lapisan bawah yang berpasir. KTK tanah sebagian besar sangat rendah dilapisan pasir, dan agak tinggi sampai tinggi pada lapisan serasah dan di horizon Bs (sesquioksida). KB semuanya sangat rendah sampai. Potensi Kesuburan alami Spodosol dengan demikian disimpulkan sangat rendah sampai rendah penggunaan tanah (Himatan, 2006)

1.2. Tinjauan Umum Kesuburan Tanah Sebagai sumberdaya alam untuk budidaya tanaman, tanah mempunyai dua fungsi, yaitu : (1) sebagai sumber penyedia unsur hara dan air, dan (2) tempat akar berjangkar. Salah satu atau kedua fungsi ini dapat menurun, bahkan hilang. Hilangnya fungsi inilah yang menyebabkan produkvitas tanah menurun menjadi Tanah Marjinal. Dengan demikian, Tanah Marjinal untuk budidaya tanaman merupakan tanah yang mempunyai sifat-sifat fisika, kimia, dan biologi yang tidak optimal untuk kebutuhan pertumbuhan tanaman. Kalau tanah ini diusahakan untuk budidaya tanaman memerlukan masukan teknologi, sehingga menambah biaya produksi. Selain itu, tanah ini juga tidak mempunyai fungsi ekologis yang baik terhadap lingkungan. Tanah Marjinal dapat terbentuk secara alami dan antropogenik (ulah manusia). Secara alami (pengaruh lingkungan) yang disebabkan proses pembentukan tanah terhambat atau tanah yang terbentuk tidak sesuai untuk pertumbuhan tanaman. Misalnya, bahan induk yang keras dan asam, kekurangan air, suhu yang dingin/membeku, tergenang dan akumulasi bahan gambut, fraksi tanah yang dihasilkan didominasi oleh pasir, pengaruh salinisasi/penggaraman.

Tanah Marjinal yang dimaksudkan adalah tanah yang terbentuk secara alami, bukan tanah yang menjadi marjinal karena antropogenik. Dari 12 ordo tanah di dunia (Alfisols, Andisols, Aridisols, Entisols, Gelisols, Histosols, Inceptisols, Mollisols, Oxisols, Spodosols, Ultisol, dan Vertisols) yang tergolong Tanah Marjinal antara lain adalah : Aridisols, Entisols, Gelisols, Histosols, Inceptisols, dan Ultisols. Secara antropogenik adalah karena ulah manusia yang memanfaatkan sumberdaya alam yang tidak terkendali, sehingga terjadi kerusakan ekosistem. Misalnya, deforestasi dan degradasi hutan, eksploitasi deposit bahan tambang, terungkapnya unsur atau senyawa beracun bagi tanaman, pengeringan ekstrem pada tanah gambut, serta kebakaran. Deforestasi dan degradasi hutan menyebabkan terjadinya erosi yang dipercepat dan punahnya organisme yang berperan dalam pembentukan tanah T = ƒ (i, b, r, o, w). Aliran permukaan yang berasal dari curah hujan akan mengikis lapisan permukaan yang merupakan bagian tersubur dari tanah. Fraksi tanah yang dahulu diangkut adalah yang halus dan ringan yaitu liat dan humus. Kedua fraksi ini sangat berperan dalam menentukan kesuburan tanah, karena merupakan kompleks petukaran ion dan penahan unsur hara. Dalam sedimen yang terangkut pada peristiwa erosi terdapat juga berbagai unsur hara dan bahan organik. Oleh karena itu, tanah yang mengalami erosi akan menurun produktivitasnya menjadi tanah marjinal yang kalau erosi selanjutnya tidak dikendalikan, tanah tersebut akan menjadi lahan kritis. Luas lahan kritis di Indonesia dari tahun ke tahun meningkat, sejalan dengan semakin mengganasnya deforestasi dan degradasi hutan serta belum diterapkannya teknologi konservasi tanah yang memadai, terutama pada areal budidaya tanaman pada lahan berlereng. Dari hasil survei Direktorat Kehutanan tahun 1985 pada 75 DAS (sebagian dari jumlah DAS di Indonesia) jumlah lahan kritis telah mencapai 16 juta ha dan meningkat 2,5 % / tahun. Sedangkan dari laporan Suranggajiwa (1975) luas lahan kritis pada seluruh DAS di Indonesia mencapai 30 juta ha dan meningkat 2 % / tahun. Dapat diprediksi betapa luasnya lahan kritis di Indonesia saat ini. Produktivitas tanah merupakan kemampuan suatu tanah untuk menghasilkan produk tertentu suatu tanaman dibawah suatu sistem pengelolaan tanah tertentu. Suatu tanah atau lahan dapat menghasilkan suatu produk tanaman yang baik dan menguntungkan maka tanah dikatakan produktif. Produktivitas tanah merupakan perwujudan darifaktor tanah dan non tanah yang mempengaruhi hasil tanaman.

Tanah produktif harus mempuyai kesuburan yang menguntungkan bagi pertumbuhan tanaman. Akan tetapi tanah subur tidak selalu berarti produktif. Tanah subur akan produktif jika dikelaola dengan tepat, menggunakan jenis tanaman dan teknik pengelolaan yang sesuai. Kesuburan tanah adalah kemampuan atau kualitas suatu tanah menyediakan unsur hara tanaman dalam jumlah yang mencukupi kebutuhan tanaman, dalam bentuk senyawasenyawa yang dapat dimanfaatkan tanaman dan dalam perimbangan yang sesuai untuk pertumbuhan tanaman tertentu dengan didukung oleh faktor pertumbuhan lainnya (Yuwono dan Rosmarkam 2008). Tanah yang sehat akan memberikan sumbangan yang besar tehadap kualitas tanah. Kualitas tanah dapat sebagai sifat atau atribut inherent tanah yang dapat digambarkan dari sifat-sifat tanah atau hasil observasi tidak langsung, dan sebagai kemampuan tanah untuk menampakkan fungsi-fungsi produktivitas lingkungan dan kesehatan. Winarso (2005) menjelaskan bahwa pengukuran kualitas tanah merupakan dasar untuk penilaian keberlanjutan pengelolaan tanah yang dapat diandalkan untuk masa-masa yang akan datang, karena dapat dipakai sebagai alat

untuk menilai pengaruh pengelolaan lahan. Pada umumnya proses degradasi tanah dalam sistem pertanian dapat disebabkan oleh erosi, pemadatan, penurunan ketersediaan hara atau penurunan kesuburan, kehilangan bahan organik tanah dan lain lain. Aryantha (2002) menjelaskan ada tiga konsep untuk memperbaiki kesuburan tanah yaitu yang berwawasan lingkungan atau berkelanjutan adalah Low External Input Agriculture (LEIA) dan Low Ezternal Input Sustainable Agriculture (LEISA), dan pertanian modren yang tergantung dengan bahan kimia adalah High External Input Agriculture (HEIA) LEIA adalah sistem yang memanfaatkan sumberdaya lokal yang sangat intensif dengan sedikit atau sama sekali tidak menggunakan masukan dari luar sehingga tidak terjadi kerusakan sumberdaya alam. Pendauran hara di dalam usahatani dengan sumber-sumber yang berasal dari luar usaha tani. Kegiatan ini berguna untuk menambahkan hara kepada tanah dari luar usaha tani. Bahan-bahan yang digunakan: sampah, kompos, limbah, dll. Pendauran hara di dalam usaha tani dengan sumber-sumber yang berasal dari usaha tani itu sendiri. Pendauran ini dapat dilewatkan dengan ternak atau pengembalian sisa-sisa biomassa hasil panen. Cara ini tidak menambahkan hara kepada tanah, tetapi hanya mengembalikan hara yang tidak terangkut ke luar bersama dengan hasil panen . Pendauran hara di dalam petak pertanaman. Kegiatan ini biasanya melibatkan tanaman legum (cover crop) untuk memenuhi sebagian besar kebutuhan N pada tanaman pokok. HEIA adalah Merupakan sistem pertanian yang menggunakan masukan dari luar (secara berlebihan). Umumnya berupa bahan-bahan agrokimia konvensional yang memang disengaja dibuat untuk input produksi. Sistem ini sangat tergantung senyawa kimia sintetis (pupuk, pestisida, zat pengatur tumbuh). Dapat berpengaruh buruh pada keseimbangan lingkungan dan kesehatan manusia . LEISA adalah Pertanian dengan masukan rendah tetapi mengoptimalkan pemanfaatan sumberdaya alam (tanah, air, tumbuhan dan hewan), manusia (tenaga, pengetahuan dan keterampilan) yang tersedia ditempat dan layak secara ekonomis, mantap secara ekologis, adil secara sosial dan sesuai dengan budaya lokal. Ciri-ciri sitem ini (a) berusaha mengoptimalkan pemanfaatan sumberdaya lokal dengan mengkombinasikan berbagai komponen sistem usahatani (tanaman, hewan, tanah, air, iklim dan manusia) sehingga saling melengkapi dan memberikan efek sinergi yang luar biasa,(b) berusaha mengoptimalkan pemanfaatan sumberdaya lokal dengan mengkombinasikan berbagai komponen sistem usahatani (tanaman, hewan, tanah, air, iklim dan manusia) sehingga saling melengkapi dan memberikan efek sinergi yang luar biasa. Prinsip dasar LEISA adalah menjamin kondisi tanah yang mendukung pertumbuhan tanaman, khususnya dengan mengelola bahan organik dan meningkatkan kehidupan mikroorganisme di dalam tanah (soil regenerator), mengoptimalkan ketersediaan dan menyeimbangkan aliran unsur hara, khususnya melalui penambatan Nitrogen, pendaur ulangan unsur hara dan pemanfaatan pupuk luar sebagai pelengkap,, meminimalkan kerugian sebagai akibat radiasi matahari, udara dan air dengan pengelolaan iklim mikro, pengelolaan air dan pengendalian erosi, saling melengkapi dan sinergi dalam penggunaan sumberdaya genetik yang mencakup penggabungan dalam sistem pertanian terpadu dengan tingkat keanekaragaman fungisonal tinggi .

1.3. Kualitas dan Karekteristik Lahan Kualitas lahan adalah sifat-sifat pengenal atau attribute yang bersifat kompleks dari sebidang lahan. Setiap kualitas

yaitu topografi. Demikian pula dengan radiasi matahari cenderung menurun dengan semakin tinggi dari permukaan laut. unsur hara dan radiasi (b) Kualitas yang berhubungan dengan kualitas pengelolaan normal. Misalnya tanaman teh dan kina lebih sesuai pada daerah dingin atau daerah dataran tinggi. Dalam kaitannya dengan tanaman. menyukai dataran tinggi atau suhu rendah. semakin rendah suhu udara rataratanya dan hubungan ini dapat dihitung dengan menggunakan rumus Braak (1928): 26. tetapi pada umumnya ditetapkan berdasarkan karakteristik lahan (FAO. Iklim sebagai salah satu faktor lingkungan fisik yang sangat penting dapat mempengaruhi pertumbuhan tanaman. Di daerah tropika umumnya radiasi tinggi pada musim kemarau dan rendah pada musim penghujan. kemungkinan untuk irigasi dan lain-lain (d) Kualitas konservasi yang berhubungan dengan erosi.). Sedangkan secara . Namun dalam kesesuaian tanaman terhadap ketinggian tempat berkaitan erat dengan temperatur dan radiasi matahari. Namun demikian mengingat sifat saling berkaitan antara unsur iklim satu dengan yang lainnya. Ketinggian tempat dapat dikelaskan sesuai kebutuhan tanaman. maka temperatur semakin menurun. Bebrapa unsur iklim yang penting adalah curah hujan. Sitorus (1985) menjelaskan ada empat kelompok kualitas lahan utama : (a) Kualitas lahan ekologis yang berhubungan dengan kebutuhan tumbuhan seperti ketersediaan air. Semakin tinggi tempat di atas permukaan laut. yang kemudian dijumlahkan menjadi bulanan dan seterusnya tahunan. sedangkan karet. tanah dan iklim. sawit. suhu udara diperkirakan berdasarkan ketinggian tempat dari permukaan laut. 1976).lahan mempunyai keragaan ( performance) yang berpengaruh terhadap kesesuaiannya bagi penggunaan tertentu dan biasanya terdiri atas satu atau lebih karakteristik lahan (land characteristics ). Sedangkan faktor ketinggian tempat di atas permukaan laut berkaitan dengan persyaratan tumbuh tanaman yang berhubungan dengan temperatur udara dan radiasi matahari.6 C) Suhu udara rata-rata di tepi pantai berkisar antara 25-27 C. maka dalam uraian iklim ini akan diuraikan unsur-unsur iklim yang yang berkaitan dengan pertumbuhan tanaman. Karakteristik lahan tersebut terutama topografi dan tanah) merupakan unsur pembentuk satuan peta tanah (Ritung. Data curah hujan diperoleh dari hasil pengukuran stasiun penakar hujan yang ditempatkan pada suatu lokasi yang dianggap dapat mewakili suatu wilayah tertentu. Pada daerah yang data suhu udaranya tidak tersedia. Topografi yang dipertimbangkan dalam evaluasi lahan adalah bentuk wilayah (relief) atau lereng dan ketinggian tempat di atas permukaan laut. suhu. Ketinggian tempat diukur dari permukaan laut (dpl) sebagai titik nol. seperti kemungkinan untuk mekanisasi pertanian (c) Kualitas yang berhubungan dengan kemungkinan perubahan. Semakin tinggi tempat. Relief erat hubungannya dengan faktor pengelolaan lahan dan bahaya erosi. misalnya. Tanaman kina dan kopi. kelapa sawit dan kelapa sesuai untuk dataran rendah. Secara manual biasanya dicatat besarnya jumlah curah hujan yang terjadi selama 1(satu) hari. Karakteristik lahan yang erat kaitannya untuk keperluan evaluasi lahan dapat dikelompokkan ke dalam 3 faktor utama. Kualitas lahan ada yang bisa diestimasi atau diukur secara langsung di lapangan.01 x elevasi dalam meter x 0.2003). Sedangkan tanaman karet. dan kelapa lebih sesuai di daerah dataran rendah. Pengukuran curah hujan dapat dilakukan secara manual dan otomatis. dan kelembaban. oksigen. secara umum sering dibedakan antara dataran rendah (<700> 700 m dpl. seperti respon terhadap pemupukan.3 C (0.

atau berdasarkan data hasil analisis di laboratorium dan menggunakan segitiga tekstur . Sedang (s) : Lempung berpasir sangat halus.Ciri yang dapat diketahui di lapangan. Berdasarkan kriteria tersebut Oldeman (1975) membagi zone agroklimat kedalam 5 kelas utama (A. liat. sedangkan bulan kering mempunyai curah hujan <100 mm. Tekstur merupakan komposisi partikel tanah halus (diameter 2 mm) yaitu pasir. sedangkan kelas 5. lempung liat berdebu. drainase tanah. serta beberapa sifat lainnya diantaranya alkalinitas. Agak kasar (ak) : Lempung berpasir. Kelas drainase tanah disajikan pada Tabel 5. bahaya erosi. debu dan liat. C. Pengelompokan kelas tekstur adalah: Halus (h) : Liat berpasir. Cepat (excessively drained): Tanah mempunyai konduktivitas hidrolik tinggi sampai sangat tinggi dan dayamenahan air rendah. Agak halus (ah) : Lempung berliat. Oldeman (1975) mengelompokkan wilayah berdasarkan jumlah bulan basah dan bulan kering berturut-turut. Tanah demikian tidak cocok untuk tanaman tanpa irigasi. Data jenis tanah dapat di lihat melalui peta satuan lahan khusus jenis tanah. terutama untuk padi. dan banjir/genangan. pasir berlempung. 6 dan 7 kurang sesuai untuk tanaman tahunan karena kelas 1 dan 2 sangat mudah meloloskan air. D dan E). B. liat berdebu. misalnya setiap menit. Untuk keperluan penilaian kesesuaian lahan biasanya dinyatakan dalam jumlah curah hujan tahunan. Bahan kasar adalah persentasi kerikil. 6 dan 7 sering jenuh air dan kekurangan oksigen. lempung. dibedakan menjadi: sedikit : <> 60 %. Drainase tanah menunjukkan kecepatan meresapnya air dari tanah atau keadaan tanah yang menunjukkan lamanya dan seringnya jenuh air. kedalaman tanah dan retensi hara (pH. Sangat halus (sh) : Liat (tipe mineral liat 2:1). terutama tanaman tahunan atau perkebunan berada pada kelas 3 dan 4. . yaitu tanah berwarna homogen tanpabercak atau karatan besi dan aluminium serta warna gley (reduksi). lempung liat berpasir. Sedangkan Schmidt & Ferguson (1951) membuat klasifikasi iklim berdasarkan curah hujan yang berbeda. setiap jam. Kasar (k) : Pasir. tekstur. Faktor tanah dalam evaluasi kesesuaian lahan ditentukan oleh beberapa sifat atau karakteristik tanah di antaranya jenis tanah. Karakteristik Kelas Drainase Tanah 1. Kriteria yang terakhir lebih bersifat umum untuk pertanian dan biasanya digunakan untuk penilaian tanaman tahunan. seperti contoh peta jenis tanah propinsi Jambi Kabupaten Muaro Jambi. Ketebalan gambut. Bulan basah adalah bulan yang mempunyai curah hujan >200 mm. lempungberdebu. Tekstur dapat ditentukan di lapangan seperti disajikan pada Tabel 4. dan seterusnya. Kriteria ini lebih diperuntukkan bagi tanaman pangan. KTK). debu. dibedakan menjadi: tipis : <> 400 cm. kerakal atau batuan pada setiap lapisan tanah. Kelas drainase tanah yang sesuai untuk sebagian besar tanaman. yakni bulan basah (>100 mm) dan bulan kering (<60 mm).otomatis menggunakan alat-alat khusus yang dapat mencatat kejadian hujan setiap periode tertentu. Drainase tanah kelas 1 dan 2 serta kelas 5. jumlah bulan kering dan jumlah bulan basah.

lembab. yaitu tanah berwarna homogen tanpa bercak atau karatan besi dan/atau mangan serta warna gley(reduksi) pada lapisan 0 sampai 25 cm. 7. Pendekatan lain untuk memprediksi tingkat bahaya erosi yang relatif lebih mudah dilakukan adalah dengan memperhatikan permukaan . Ciri yang dapat diketahui di lapangan. tapi tidak cukup basah dekat permukaan. yaitu tanah mempunyai warna gley (reduksi) permanen sampai pada lapisan permukaan. Terhambat (poorly drained): Tanah mempunyai konduktivitas hidrolik rendah dan daya menahan air (pori air tersedia) rendah sampai sangat rendah. 6. Agak baik (moderately well drained): Tanah mempunyai konduktivitas hidrolik sedang sampai agak rendah dan daya menahan air (pori air tersedia) rendah. yaitu tanah mempunyai warna gley (reduksi) dan bercak atau karatan besidan/atau mangan sedikit pada lapisan sampai permukaan.2. 5. 4.Tanah demikian hanya cocok untuk sebagian tanaman kalau tanpa irigasi. dan erosi parit (gully erosion). Ciri yang dapat diketahui di lapangan. Tanah demikian cocok untuk berbagai tanaman. Tanah demikian cocok untuk berbagai tanaman. Agak cepat (somewhat excessively drained): Tanah mempunyai konduktivitas hidrolik tinggi dan daya menahan air rendah. Agak terhambat (somewhat poorly drained): Tanah mempunyai konduktivitas hidrolik agak rendah dan daya menahan air (pori air tersedia) rendah sampai sangat rendah. Ciri yang dapat diketahui di lapangan. erosi alur (rill erosion). tanah basah dekat permukaan. Tanah demikian cocok untuk padi sawah dan sebagian kecil tanaman lainnya. Ciri yang dapat diketahui di lapangan. yaitu tanah berwarna homogen tanpa bercak atau karatan besi dan/atau mangan serta warna gley (reduksi) pada lapisan 0 sampai 100 cm. yaitu dengan cara memperhatikan adanya erosi lembar permukaan (sheet erosion). Baik (well drained): Tanah mempunyai konduktivitas hidrolik sedang dan daya menahan air sedang. Tingkat bahaya erosi dapat diprediksi berdasarkan kondisi lapangan. tanah basah secara permanen dan tergenang untuk waktu yang cukup lama sampai ke permukaan. Tanah demikian cocok untuk padi sawah dan sebagian kecil tanaman lainnya. yaitu tanah berwarna homogen tanpa bercak atau karatan besi dan/atau mangan serta warna gley (reduksi) pada lapisan 0 sampai 50 cm. tanah basah sampai ke permukaan. Ciri yang dapat diketahui di lapangan. tanah basah untuk waktu yang ke cukup lama sampai permukaan. Sangat terhambat (very poorly drained): Tanah dengan konduktivitas hidrolik sangat rendah dan daya menahan air (pori air tersedia) sangat rendah. Ciri yang dapat diketahui di lapangan. Tanah kemikian cocok untuk padi sawah dan sebagian kecil tanaman lainnya. yaitu tanah berwarna homogen tanpa bercak atau karatan besi dan aluminium serta warna gley (reduksi). 3.

Palembang. Universitas Sriwijaya. 2009. Permasalahan Pada Tanah Mineral Masam Tanah masam di Indonesia memiliki ciri-ciri tekstur lempungan. Universitas Sriwijaya. Program Magister (S2). KPK rendah. Program Pascasarjana. struktur gumpal. Ir. R. (Bagian 2 dari 5 Tulisan) II. MS at 21:27 3 comments Kirimkan Ini lewat EmailBlogThis!Berbagi ke TwitterBerbagi ke Facebook Labels: Kesuburan Tanah Reactions: Pengelolaan Kesuburan Tanah Pada Lahan Kering (Bagian 2) Pengelolaan Kesuburan Tanah Mineral Masam untuk Pertanian* Oleh: Ida Nursanti** dan Abdul Madjid Rohim*** (Bagian 2 dari 5 Tulisan) Keterangan: * : Makalah Pengelolaan Kesuburan Tanah. Abdul Madjid. Indonesia. Program Studi Ilmu Tanaman. Posted by Dr. Program Magister (S2). (2) Kesuburan Tanah. Program Pascasarjana. gibsit dan atau goetit (Ismail et al. fraksi lempung didominasi oleh mineral-mineral bermuatan terubahkan seperti kaolinit. stabilitas agregat baik. P. Program Magister (S2). Mg sangat rendah. Palembang. Palembang. Propinsi Sumatera Selatan.com. aras N. (3) Teknologi Pupuk Hayati. Bersambung ke bagian 2 yang dapat dilihat pada pustaka dibawah ini: Pustaka: Madjid.tanah yang hilang (rata-rata) pertahun. Propinsi Sumatera Selatan.blogspot. pH rendah. dan (4) Pengelolaan Kesuburan Tanah Lanjut. Universitas Sriwijaya. Indonesia. vegetasi alami alang-alang (Imperata cylindrica) dan hutan (Hardjowigeno.. Program Studi Ilmu Tanaman. *** : Dosen Mata Kuliah Pengelolaan Kesuburan Tanah. Ca. Bahan Ajar Online untuk mata kuliah: (1) Dasar-Dasar Ilmu Tanah. Horizon A biasanya dicirikan oleh warna gelap karena relative mengandung bahan organik yang lebih tinggi. http://dasar2ilmutanah. Dasar-Dasar Ilmu Tanah. permeabilitas rendah. Propinsi Sumatera Selatan. 1993). Indonesia. Tanah ini di Indonesia terbentuk di daerah yang bercurah . ** : Program Studi Ilmu Tanaman. dibandingkan tanah yang tidak tererosi yang dicirikan oleh masih adanya horizon A. Fakultas Pertanian Unsri & Program Pascasarjana Unsri. A. Program Pascasarjana. 1993).

dan atau Mg dan Mo .08%. Fe..6 juta hektar dan tersebar di Kalimantan. dan Mn terlarut tinggi sehingga dapat meracuni tanaman. Mo. Ca. K. Ditinjau dari luasnya.Tanah Ultisol umumnya mempunyai pH rendah yang menyebabkan kandunganAl. terdapat dua pendekatan pokok yakni pemilihan jenis komoditas atau varietas yang adaptif serta perbaikan kesuburan tanah dengan ameliorasi dan pemupukan. dan Mg. maka dalam pengelolaannya untuk pertanaman. mempunyai kejenuhan Al-dd berturut-turut 11. Jawa dan Nusa Tenggara (Soebagyo. Papua. Lahan masam pada umumnya miskin bahan organik dan hara makro N. misalnya. dan K merupakan kunci untuk memperbaiki kesuburan lahan kering masam. P. Kayu Agung.et al. serta kekahatan unsur-unsur hara penting seperti N. Mn. Hidayat dan Mulyani. peningkatan pH akan diikuti oleh peningkatan KTK.01%. Pemberian bahan ameliorasi kapur. namun hasil penelitianmenunjukkan bahwa beberapa contoh tanah tersebut mengandung Al-dd relatif rendah (< 20%). Salah satu ordo tanah yang cukup luas penyebarannya adalah Ultisols. Maluku. 1. sehingga relatif kurang kuatmemegang hara tanaman dan karenanya unsur haramudah tercuci. 1990). Sumatera. Fe. 2003). bereaksi masam.40% dan 11 dari 28 contoh tanah lapisan atas yang berasal dari Lampung Tengah jugamemiliki kejenuhanAl-dd yang rendah (Taufiq et al. sehingga fraksi lempung tergolong beraktivitas rendah dan dayamemegang lengas juga rendah. Indonesia memiliki lahan kering masam cukup luas yaitu sekitar 99. lebih mampu mengikat hara K dan tidak mudah tercuci (Subandi. batuan induk granit. pemanfaatan lahan ini menghadapi kendala karakteristik tanah yang dapat menghambat pertumbuhan tanaman terutama tanaman pangan . Jenis tanah ini biasanya miskin unsur hara esensial makro seperti N. Fraksi lempung tanah ini umumnya didominasi oleh mineral silikat tipe 1:1 serta oksida dan hidroksida Fe danAl. Karena umumnya memiliki kandungan bahan organik rendah dan fraksi lempungnya beraktivitas rendah maka kapasitas tukar kation tanah (KTK) tanah Podsolik juga rendah. Tanah Podsolik atau Ultisol termasuk tanah bermuatan terubahkan (variable charge). Teknologi ini mencakup segala upaya untuk memanipulasi jasad renik dalam tanah dan proses metabolik mereka untuk mengoptimumkan produktivitas pertanaman. Indralaya. mengandung Al. dan pemupukan N. dan Prabumulih Sumatera Selatan. Pengelolaan tanah-tanah mineral masam untuk kepentingan pertanian menghadapi kendala pH yang rendah. 2005). Ca. keracunan Al. dan/atau Fe. Tekstur tanah ultisol bervariasi. P. Ultisol mempunyai potensi yang besar untuk pengembangan pertanian lahan kering. abu vulkan atau andesit . Lahan kering tergolong suboptimal karena tanahnya kurang subur. serta bahan organik . Meskipun secara umum tanah Ultisol atau Podsolik Merah Kuning banyak mengandung Al dapat ditukar (Al-dd) (20-70%). P. P. berkisar dari pasiran (sandy) sampai dengan lempungan (clayey). Memperhatikan permasalahan yang dihadapi pada lahan kering masam seperti yang disebutkan di depan. Sulawesi. Upaya untuk mengatasi persoalan kesuburan tanah-tanah masam adalah dengan mengkombinasikan antara praktek usaha tani dengan penerapan bioteknologi tanah yang menekankan pada komponen mengamankan suplai N di dalam sistem tanah-tanaman dengan pengayaan fiksasi N2 secara biologis (Notohadiprawiro. 2004. Ca. dan B. unsur hara mikro Zn. dan Mg. topografi berombak hingga berbukit dengan ketinggian 50-350 mm di atas muka air laut. sehingga nilai KTK dapat berubah bergantung nilai pH-nya.hujan tinggi (2500-3000 mm per tahun).26% di Jawa Barat 13. secara teknis. dan 17. 2007). dan atau Mn dalam jumlah tinggi sehingga dapat meracuni tanaman. Tanah di KP. bahan organik. Cu. Namun demikian. Usaha pertanian di tanah Ultisol akan menghadapi sejumlah permasalahan. K.

1994). Wild (1950) melakukan penelitian tentang reaksi fosfat dengan lempung alumino-silikat dan berkesimpulan bahwa montmorillonit dan kaolinit menjerap P dalam jumlah yang hampir sama apabila ukuran partikelnya serupa. KTK dan kejenuhan basahnya umumnya rendah. kandungan bahan organik yang memadai. Hal ini karena sebagian besar koloid dan mineral tanah yang terkandung dalam tanah Ultisol mempunyai kemampuan menyemat fosfat cukup tinggi. Di samping itu. tidak tersedia bagi tanaman maupun biota tanah (Notohadiprawiro. Oleh karena itu. Kandungan bahan organik. Muljadi et al. erosi tanah merupakan salah satu penyebab degradasi lahan yang dominan disamping penyebab lain seperti pencucian hara dan akumulasi unsurunsur beracun. Lahan kering Podzolik Merah Kuning beriklim basah didominasi oleh tanah masam PMK dengan bahan induk yang miskin unsur hara (Partohardjono et al. Sedangkan pembuatan teras dan galengan memerlukan biaya yang tinggi dan petani tidak memiliki cukup biaya. Ia mengusulkan dua mekanisme retensi P oleh mineral-mineral lempung. dan bila lapisan ini tererosi maka tanah menjadi miskin hara dan bahan organik. Beberapa kendala sifat fisik tanah yang sering dijumpai antara lain adalah kemantapan agregat yang rendah. Kesuburan tanah ini secara alamiah sangat tergantung pada lapisan atas yang kaya bahan organik tetapi bersifat labil. Tanaman yang dibudidayakan pada lahan kering PMK yang krits tidak mampu berproduksi secara optimal jika dikelola secara konvensional (Hakim et al. 1997).bila tidak dikelola dengan baik. 1997). yang dicirikan oleh kapasitas tukar kation (KTK) dan kemampuan memegang/menyimpan air yang rendah. (1966) berkesimpulan bahwa isotherm retensi P adalah sama untuk kaolinit. tanah mudah menjadi padat dan permeabilitas tanah yang lambat. Mineral liat umumnya didominasi oleh kaolinit yang tidak banyak memberikan sumbangan terhadap kesuburan tanah serta sebagian besar tanah ini mempunyai kapasitas memegang air yang rendah dan peka terhadap erosi (Arief dan Irman. produktivitas lahan cepat pula menurun dan akhirnya menjadi lahan kritis. yaitu pertukaran ion fosfat dengan gugus hidroksil pada lapisan gibbsite dan/atau sebagai anion tertukarkan yang mengimbangi muatan positif hasil protonasi ion. kesuburan tanah Ultisol sering kali hanya ditentukan oleh kadar bahan organik pada lapisan atas. . karena kaolin merupakan mineral lempung yang merajai terutama pada tanah-tanah mineral masam seperti Ultisols. Mineral Kaolin telah lama dikenal akan reaktivitasnya terhadap fosfat. Di daerah tropika basah yang topografinya bervariasi dari datar. Kandungan dan kejenuhan aluminiumnya tinggi yang dapat meracuni tanaman dan daya fiksasi yang tinggi terhadap Phospor. Pada umumnya lahan kering masam didominasi oleh tanah Ultisol. Kendala pengembangan lahan Podzolik Merah Kuning beriklim basah dengan topograsi bergelombang cukup kompleks. gibbsite dan pseudoboehmite. Alfisols dan Oxisols maka reaktivitasnya terhadap fosfat perlu dipertimbangkan sebagai landasan pengelolaan P pada tanah-tanah ini. Dampak langsung dari wilayah yang mengalami erosi adalah terjadinya suatu areal yang secara bertahap menjadi tandus dengan konsekuensi penduduk yang tinggal disekitarnya akan menjadi miskin (Pandang dan Subandi. Kesalahan dalam pengelolaan merupakan penyebab degradasi lahan yang mendasar. sehingga sebagian besar fosfat dalam keadaan tersemat oleh Al dan Fe. Sifat kimia dan fisika tanah PMK yang jelek merupakan kendala misalnya tanah yang bereaksi masam sampai sangat masam. Oleh karena itu lahan ini tergolong lahan marginal yang tingkat produktivitasnya rendah. Kalau lahan ini diolah untuk budidaya. bergelombang hingga bergunung. kekahatan fosfor merupakan salah satu kendala terpenting bagi usaha tani di lahan masam. 2006). tetapi kadar Al dan Mn tinggi. 1997).

A. dan hanya sedikit mengandung kation Ca dan Mg. Perbedaan ini akan menimbulkan perilaku dan tanggapan yang berbeda terhadap perlakuan pemberian fosfat ke dalam tanah sebagai pupuk. (3) Teknologi Pupuk Hayati. Masalah tersebut erat kaitannya dengan bahan induk tanah yang miskin K.blogspot. mampu menjerap P. yang merupakan komponen utama fraksi lempung tanah-tanah mineral masam. Abdul Madjid. (2) Kesuburan Tanah. Upaya untuk meningkatkan produksi kedelai di tanah masam dapat dilakukan melalui pengelolaan tanaman yang sesuai dan manipulasi tanah yang tepat. Dasar-Dasar Ilmu Tanah. dan (4) Pengelolaan Kesuburan Tanah Lanjut. Oksida-oksida besi dan aluminium maupun lempung aluminosilikat. Penelitian ini dilakukan untuk menentukan kemampuan retensi P dari kaolin dan oksida-oksida besi yang diperoleh dari tanah-tanah mineral masam di Indonesia. Pemupukan kalium memegang peranan yang sangat penting dalam meningkatkan produksi kedelai di tanah Ultisol. http://dasar2ilmutanah.. Bahan Ajar Online untuk mata kuliah: (1) Dasar-Dasar Ilmu Tanah. jumlah basa-basa dapat ditukar tergolong rendah hingga sedang dengan komplek adsorpsi didominasi oleh Al.com. dan curah hujan yang tinggi di daerah tropika basah sehingga K banyak yang tercuci.perbedaannya adalah pada jumlah tapak retensi. Meskipun demikian perlu disadari bahwa terdapat perbedaan kekuatan ikatan retensi yang bersumber pada perbedaan sifat ikatan antara anion fosfat dengan oksidaoksida besi dan lempung alumino silikat. Posted by Dr. Fakultas Pertanian Unsri & Program Pascasarjana Unsri. Umumnya tanah tersebut mempunyai pH yang sangat masam hingga agak masam.1-5. Kapasitas tukar kation (KTK) dan kejenuhan basa (KB) lapisan atas tanah umumnya rendah hingga sedang (Subagyo et al. Kekahatan kalium merupakan kendala yang sangat penting dan sering terjadi di tanah Ultisol. yaitu sekitar 4. Ir. R.2006) Bersambung ke bagian 3 yang dapat dilihat pada pustaka dibawah ini: Pustaka: Madjid. Tanaman kedelai mempunyai prospek yang cukup besar untuk dikembangkan di tanah Ultisol asal dibarengi dengan pengelolaan tanaman dan tanah yang tepat. MS Pengelolaan Kesuburan Tanah Pada Lahan Kering (Bagian 3) Pengelolaan Kesuburan Tanah Mineral Masam untuk Pertanian* Oleh: Ida Nursanti** dan Abdul Madjid Rohim*** (Bagian 3 dari 5 Tulisan) Keterangan: .5. 2009. Dalam hubungan ini nisbah antara oksida besi dan lempung silikat perlu dipertimbangkan sebagai dasar pengelolaan P terutama pada tanah-tanah mineral masam. hara kalium yang mudah tercuci karena KTK tanah rendah. Hara kalium merupakan hara makro bagi tanaman yang dibutuhkan dalam jumlah banyak setelah N dan P (Nursyamsi. 2000).

Selanjutnya dijelaskan pula bahwa perlakuan bakteri pelarut fosfat (BPF) mampu meningkatkan pertumbuhan tanaman jagung pada tanah masam. *** : Dosen Mata Kuliah Pengelolaan Kesuburan Tanah. . Indonesia. Pengapuran dengan dolomit meningkatkan pH tanah lebih tinggi dibandingkan pengapuran dengan kalsit. Perkembangan Penelitian Tanah Mineral Masam Hasil penelitian Arimurti et al (2006) menunjukkan bahwa tanah tersebut mempunyai sifat yang sangat masam (pH 4. Program Pascasarjana. Penelitian Siradz (2003) memperlihatkan bahwa baik mineral lempung golongan kaolin maupun oksida-oksida besi mampu menjerap P. ** : Program Studi Ilmu Tanaman. Program Studi Ilmu Tanaman.alam akan menurunkan kandungan Al-dd tanah. Efek peningkatan takaran P-alam juga berpengaruh terhadap peningkatan kandungan Ptersedia tanah pada setiap level pengapuran. Program Magister (S2). Palembang. berat kering akar. Propinsi Sumatera Selatan. Meningkatnya nilai pH tanah menyebabkan penurunan kandungan Aldd tanah sedangkan penurunan nilai Al-dd tanah akan meningkatkan kandungan P-tersedia tanah. Program Magister (S2). semakin tinggi pula nilai pH tanah. Program Pascasarjana. Palembang. baik kalsit maupun dolomit. Universitas Sriwijaya. 1976). Semua kombinasi perlakuan jenis pupuk P dengan BPF sama baiknya dalam meningkatkan berat kering trubus pada tanah masam. P tersedia dan P total yang sangat rendah. Hasil penelitian Joy (2005) bahwa pada tanah masam terjadi penurunan kandungan Al-dd tanah dan peningkatan kandungan P-tersedia tanah dipengaruhi oleh interaksi antara takaran P-alam dengan jenis kapur. Program Pascasarjana. Palembang. Secara umum. Universitas Sriwijaya. Indonesia. luas daun serta kadar P trubus. Program Magister (S2). yang tampak pada parameter tinggi tanaman 10 dan 45 HST. Propinsi Sumatera Selatan. berat basah akar. N sangat rendah. Perlakuan masing-masing SP-36 maupun rock fosfat sama baiknya dalam meningkatkan tinggi tanaman 10 dan 17 HST serta kadar P trubus. Hasil analisis juga menunjukkan bahwa tanah ini mempunyai sifat berikut: C tinggi. tetapi keberadaan kaolin di dalam tanah-tanah mineral masam sekitar 18 kali lipat dibandingkan dengan oksida besi. sedangkan peningkatan nilai pH tanah dipengaruhi oleh efek mandiri P-alam dan jenis kapur. Perlakuan dengan pupuk P ternyata mampu meningkatkan pertumbuhan hanya pada parameter tinggi tanaman 10 dan 17 HST serta kadar P trubus. Perlakuan kombinasi pupuk P dengan BPF dapat meningkatkan pertumbuhan yang tampak pada parameter berat kering trubus. Oleh karena itu sebenarnya jumlah P yang dijerap oleh kaolin jauh lebih besar dibandingkan dengan oksida-oksida besi. Peningkatan takaran P. (Bagian 3 dari 5 Tulisan) III. berat basah trubus. Universitas Sriwijaya. Indonesia. Propinsi Sumatera Selatan. hal ini dapat disebabkan tanah tersebut mempunyai kapasitas tukar kation yang tinggi dan mempunyai kejenuhan basa rendah dan bereaksi masam (Sanchez. Kapasitas retensi P dari oksida-oksida besi sekitar 10 kali lipat lebih besar dari kaolin. semakin tinggi takaran Palam. terutama jika dikombinasikan dengan kapur.* : Makalah Pengelolaan Kesuburan Tanah. Hasanudin (2003) melakukan penelitian tentang ketersediaan dan serapan P pada tanaman jagung di tanah ultisol melalui inokulasi mikoriza dan pemberian bahan organik. Terlihat bahwa ketersediaan P dan serapan P meningkat dengan perlakuan tersebut diikuti pula peningkatan pada ketersediaan N serta hasil tanaman jagung.2). berat kering trubus. Program Studi Ilmu Tanaman.

Tanah Latosol merupakan tanah yang telah mengalami pelapukan yang intensif. kadar N total rendah. serapan fosfor tanah ultisol dan hasil jagung. demikian pula dengan pemberian kapur sampai 2xAldd. Diberi perlakuan dengan inokulasi mikoriza dan rhizobia indigeneus pada beberapa varietas kedelai . glioksilat. Penelitian Bertam et al (2005) pada tanah masam di Bengkulu dengan seri tanah Kandanglimun Bengkulu yang memiliki pH sangat masam. glutamat. P tersedia. Mg2+. Nilai tertinggi terdapat pada perlakuan mikrobia pelarut fosfat 15 ml tanaman-1 dan mikoriza 20 g tanaman-1 terhadap serapan P dan hasil jagung masing-masing sebesar 0. KTK . Ca tertukar rendah. Ultisol merupakan tanah terluas dari seluruh lahan kering yang ada di Propinsi Jambi yang mempunyai potensi besar untuk untuk dijadikan lahan pertanian produktif yang berkelanjutan dan menunjang program ketahan pangan nasional. suksinat. Hasanudin dan Gonggo (2004) meneliti tentang pemanfaatan mikrobia pelarut fosfat dan mikoriza untuk perbaikan fosfor tersedia. Hasil penelitian Sumaryo dan Suryono (2000) tentang pengaruh pupuk P dan Dolomit pada hasil tanaman kacang tanah di tanah latosol menunjukkan bahwa pengaruh sangat nyata dari dosis pupuk dolomit pada semua parameter yang diamati dikarenakan pemberian dolomit dapat menambah unsur hara Ca dan Mg yang di dalam tanah Latosol sangat rendah sampai rendah serta dimungkinkan dapat memperbaiki sifat fisik dan kimia tanah. kadar P tersedia sangat rendah. Pemberian kompos jerami padi 20 ton-1 ha masih mampu meningkatan permeabilitas tanah. Mg dan K tertukar rendah . pengkelat dan memungkinkan asam-asam organik tersebut membentuk senyawa kompleks dengan kationkation Ca2+. Fe2+. pH meningkat ke arah netral. Penelitian Junedi (2008) menunjukkan bahwa untuk memperbaiki permeabilitas tanah dapat dilakukan dengan penambahan kompos jerami padi saja. KTK rendah dan tekstur silt loam .3881 ppm dan 280. Dari hasil penelitiannya terdapat pengaruh tunggal dan interaksi dari pemberian mikrobia pelarut fosfat dan mikoriza terhadap serapan P dan hasil jagung. memperlihatkan bahwa terjadi peningkatan kesuburan tanah yang ditandai dengan meningkatnya N total. jumlah dan bobot kering bintil akar dan bobot kering tanaman kedelai. Noor (2003) meneliti tentang pengaruh fosfat alam dan kombinasi bakteri pelarut fosfat dengan pupuk kandang terhadap P tersedia dan pertumbuhan kedelai pada ultisol. Hasil penelitian Wulandari (2001) pada tanah ultisol menjelaskan bahwa inokulasi bakteri pelarut fosfat jenis Pseudomonas diminuta dan Pseudomonas cepaceae yang diikuti dengan pemberian pupuk fosfat dapat meningkatkan ketersediaan fosfat dan meningkatkan produksi tanaman kedelai serta meningkatkan efisiensi pupuk P yang digunakan. bereaksi asam dan terjadi pencucian yang kuat terutama basabasa K. laktat. oksalat. kadar bahan organik rendah sampai sedang. fumarat.15 g tanaman-1. serta terjadi peningkatan pertumbuhan dan produksi kedelai jika dibandingkan dengan kontrol. Ca dan Mg. Dari hasil penelitiannya di dapat bahwa fosfat alam dan kombinasi bakteri pelarut fosfat dengan pupuk kandang mampu meningkatkan P tersedia tanah . Pemberian bakteri pelarut fosfat dan pupuk kandang secara . diantaranya asam sitrat. Salah satu kendala adalah permeabilitas tanah yang lambat. kapur saja maupun diberikan secara bersama-sama. Akan tetapi jika kompos jerami padi diberikan bersama sama dengan kapur maka pemberian 10 ton-1 hakompos jerami padi dan 1xAldd kapur sudah mampu meningkatkan permeabilitas tanah. malat. Pelarutan fosfat oleh Pseudomonas didahului dengan sekresi asam-asam organik. Kendala lain untuk budidaya pertanian adalah kekurangan unsur hara P akibat terjadinya fiksasi oleh mineral lempung kaolinit dan ion-ion Fe dan A1 akibat pH yang rendah. Hasil sekresi tersebut akan berfungsi sebagai katalisator. dan Al3+ sehingga terjadi pelarutan fosfat menjadi bentuk tersedia yang dapat diserap oleh tanaman.

Megaterium sebagai inokulan padat. dan berat tanaman segar seluruh tanaman per pot (daun + batang + akar) sebesar 139. Dari hasil penelitiannya didapat bahwa Empat isolat BPF jenis Bacillus pantotheticus. 208.blogspot. Program Studi Ilmu Tanaman.23% dari tanaman kontrol 2/Q = tanaman dengan pupuk kompos. Chromobacterium lividum dan B. dan B. Abdul Madjid.81%. Klebsiella aerogenes. Program Magister (S2). 2009. dan 606. megaterium merupakan inokulan terbaik sebagai biofertilizer dan menghasilkan berat daun segar 1 tanaman terbesar dari 4 tanaman perpot (g). http://dasar2ilmutanah. Sejalan dengan pemikiran Sufiadi (1999). Dasar-Dasar Ilmu Tanah.63%.87% dari tanaman yang diinokulasi dengan isolat BPF tunggal maupun campuran 2-3 isolat BPF. R. Fakultas Pertanian Unsri & Program Pascasarjana Unsri. Semakin besar dosis perlakuan pupuk organik yang diberikan. 207.com. (2) Kesuburan Tanah. Widawati dan Suliasih (2005) meneliti tentang Augmentasi Bakteri Pelarut Fosfat (BPF) Potensial sebagai Pemacu Pertumbuhan Caysin (Brasica caventis Oed. Posted by Dr. 354. Bersambung ke bagian 4 yang dapat dilihat pada pustaka dibawah ini: Pustaka: Madjid.sendiri-sendiri maupun kombinasinya meningkatkan P tersedia berturut-turut 26%. Ada kenaikan pada tanaman segar seluruh tanaman per pot (daun + batang + akar) sebesar 32. 575. Penelitian Sudirja et al (2006) menunjukkan bahwa respon pemberian kompos kulit buah kakao. Inokulan yang berisi 4 isolat BPF jenis Bacillus pantotheticus.67%. (3) Teknologi Pupuk Hayati. 34% dan 48% dibandingkan dengan kontrol.63 dari tanaman kontrol 3/R = tanaman tanpa pupuk/inokulan.48 g.42 g atau ada kenaikan 877. 903. mampu memacu pertumbuhan tanaman caysin. Bahan Ajar Online untuk mata kuliah: (1) Dasar-Dasar Ilmu Tanah.84% dari tanaman kontrol 1/P = tanaman dipupuk kimia. maka pH tanah pun semakin meningkat. sehingga cukup untuk meningkatkan pH dan akibatnya muatan permukaan negatif menjadi lebih besar.) di Tanah Marginal dengan pH rendah. Klebsiella aerogenes. dan (4) Pengelolaan Kesuburan Tanah Lanjut. dan 61. Kombinasi bakteri pelarut fosfat dengan pupuk kandang meningkatkan bobot kering tanaman kedelai 29% dibandingkan kontrol. 930. Ir.67%. Chromobacterium lividum. kascing. MS Reactions: Pengelolaan Kesuburan Tanah Pada Lahan Kering (Bagian 4) Pengelolaan Kesuburan Tanah Mineral Masam untuk Pertanian* Oleh: Ida Nursanti** dan Abdul Madjid Rohim*** (Bagian 4 dari 5 Tulisan) Keterangan: * : Makalah Pengelolaan Kesuburan Tanah.22 g. berat daun segar 4 tanaman per pot. A. 203. pemberian bahan organik dengan dosis yang meningkat akan meningkatkan pelepasan kation ke dalam larutan tanah.75%.30%. Program . 217. dan pupuk kandang ayam berpengaruh terhadap pH tanah.

Pascasarjana. juga dapat memperbaiki sifat fisik tanah. Propinsi Sumatera Selatan.perdu dan pohon. dapat menambah unsur hara dalam tanah . Hara yang berasal dari bahan organik diperlukan untuk kegiatan mikrobia tanah untuk dirubah dari bentuk organik komplek yang tidak dapat dimanfaatkan tanaman menjadi bentuk senyawa organik dan anorganik yang sederhana yang dapat diabsorpsi oleh tanaman. Ketersediaan unsur hara lambat. Program Pascasarjana. semak . mempertahankan kelengasan tanah . Program Studi Ilmu Tanaman. limbah pertanaman dan limbah agroindustri. Kandungan hara rendah. plastisitas dan daya pegang air. Pada umumnya pupuk organik mengandung hara makro yang rendah. Pemberian pupuk kandang selain dapat menambah tersedianya unsur hara. Pupuk susulan diberikan 3 minggu setelah tanam berupa Urea 100 kg / ha. Program Pascasarjana. . TSP 100 kg / ha. *** : Dosen Mata Kuliah Pengelolaan Kesuburan Tanah. total ruang pori. untuk pupuk organic ( pupuk kandang / kompos ) 20 ton / ha. KCI 50 kg / ha. tetapi mengandung hara mikro yang cukup sangat diperlukan oleh tanaman. Palembang. bobot volume. 100 kg TSP. terdiri dari kotoran padat dan cair dari hewan ternak yang bercampur sisa makanan. Pengelolaan Kesuburan Tanah Mineral 4. Universitas Sriwijaya. Beberapa sifat fisik tanah yang dapat dipengaruhi pupuk kandang antara lain kemantapan agregat. Kandungan hara pupuk organik pada umumnya rendah tetapi bervariasi tergantung jenis bahan dasarnya. misalnya . Sedangkan untuk pupuk an organik : Urea 300 kg / ha. mencegah pengerakan permukaan tanah (crusting)dan retakan tanah. Pupuk dasar diberikan sebelum tanam atau bersamaan tanam sejumlah 20 ton / ha pupuk organic. Universitas Sriwijaya. Indonesia. (Bagian 4 dari 5 Tulisan) IV. Kandungan unsur hara pupuk kandang akan berbeda dengan berbedanya jenis dan wujud bahan pupuk kandang . Program Magister (S2).1. ** : Program Studi Ilmu Tanaman.2007). bahan tanaman dan limbah. Program Magister (S2). Karekteristik umum yang dimiliki oleh pupuk organik adalah : 1. Pemakaian Pupuk Organik dan Anorganik Sumber pupuk organik dapat berasal dari kotoran hewan. diteruskan pupuk susulan kedua pada tanaman berumur 5 minggu sejumlah 100 kg Urea / ha (Dinas Pertanian Jember. dan 50 kg / ha KCl dengan membuat larikan atau ditugalkan kemudian ditutup kembali dengan tanah dengan jarak 10 cm dari garis tanam / lubang tanam. Propinsi Sumatera Selatan. Penggunaan pupuk organik sebaiknya harus diikuti dengan pupuk anorganik yang lebih cepat tersedia untuk menutupi kekurangan hara dari pupuk organik . 2. Pemupukan yang dianjurkan pada budidaya tanaman jagung . 3. pupuk kandang. Universitas Sriwijaya. 100 kg / ha Urea. hijauan tanaman rerumputan. sebagai bahan pembenah tanah pupuk organik dapat mencegah erosi. Pupuk kandang merupakan hasil samping yang cukup penting dari budidaya hewan peliharaan baik unggas maupun non unggas. Palembang. Indonesia. Indonesia. Propinsi Sumatera Selatan. Tanah yang dibenahi dengan pupuk organik mempunyai struktur yang baik dan sifat menahan air yang lebih besar dari pada tanah yang kandungan bahan orgaiknya rendah. Palembang.

(1) Pengambilan contoh tanah yang mewakili lokasi berdasarkan hasil survey terdahulu. 4.2. Fosfor berperan pada berbagai aktivitas metabolisme tanaman dan merupakan komponen klorofil. Oleh sebab itu pemberian yang etrus menerus dalam jumlah berlebih akan terakumulasi dalam tanah dan dapat merubah status P tanah dari rendah ke tinggi sehingga tanaman tidak lagi tanggap terhadap pemupukan P (Barus. 2003). Pemupukan P juga memegang peranan penting dalam meningkatkan pertumbuhan dan produksi tanaman. Sebagian besar hara P dari pupuk P yang diberikan difiksasi di dalam tanah sehingga hanya 10-20% pupuk P yang diberikan diserap tanaman. Pemberian pupuk P yaitu pupuk SP36 dan pupuk Rock fosfat mampu meningkatkan pertumbuhan tanaman jagung terlihat darai parameter tinggi tanaman 10 dan 17 hari setelah tanam serta kadar P trubus (Arimurti et al . Pemberian bahan organik pada tanah masam dapat meningkatkan serapan P dan hasil tanaman jagung karena setelah bahan organik terdecomposisi akan menghasilkan beberapa unsur hara seperti N. tetapi hanya sebatas memenuhi kebutuhan tanaman. Peningkatan pH diikuti dengan peningkatan P tersedia tanah . Pada dasarnya tahapan kegiatan uji tanah meliputi . seterusnya tanah masih perlu terus dipupuk. 2006). Barus (2005) menjelaskan bahwa efisiensi penggunan pupuk dapat ditingkatkan dengan melakukan serangkaian uji tanah untuk suatu sistem hara-tanah-tanaman. sedangkan untuk tanaman nonlegum takarannya lebih tinggi. Pupuk N (urea) untuk tanaman legum diperlukan sebagi stater sehingga diberikan pada saat tanam dengan takaran 15-20 kg/ha. bukan untuk meningkatkan pHtanah maupun mengurangi kadar Al tanah. Takaran pupuk anorganik secara tepat perlu diteliti lebih lanjut. P. Pengapuran Salah satu kegiatan reklamasi lahan untuk memperbaiki atau memulihkan kembali tanah –tanah yang tidak subur agar secara optimal dapat mendukung pertumbuhan tanaman adalah dengan penambahan amelioran seperti pemberian kapur pertanian. P dan K serta menghasilkan asam humat dan fulvat yang memegang peranan penting dalam pengikatan Fe dan Al yang larut dalam tanah sehingga ketersediaan P akan meningkat (Hasanudin. Secara tidak langsung kapur dapat mengurangi keracunan Al. meningkatkan ketersediaan P. Pengapuran mungkin diperlukan.03% bila dokombinasikan dengan jarak tanam 50 x 40 cm. dan K. pemakaian pupuk anorganik hanya diperlukan untuk memenuhi kebutuhan minimum hara tertentu seperti N. Pengapuran hendaknya dipandang hanya untuk menetralisasikan tanah secara cepat dan seterusnya jangan . sehingga diberkan pada takaran yang rendah. Hasil penelitian Hasanudin et al (2007) menunjukkan bahwa pemberian pupuk kandang pada berbagai dosis mampu menurunkan Al-dd sekaligus meningkatkan pH tanah walaupun peningkatan pH tanah tidak sedrastis penurunan Aldd. Pengapuran ditekankan kepada penggunaan kapur biasa CaCO3 . Seperti halnya pupuk organik.Hasil penelitian Mayadewi (2007) pupuk kandang ayam meningkatkan pertumbuhan hasil tanaman jagung manis sebesar 47. (2) Analisa kimia tanah di laboratorium dengan metode yang tepat dan teruji. demikian pula pupuk KCl dengan takaran 60-90 kg/ha. Pemakaian pupuk P (P-alam) minimal 60 kg P/ha untuk dua musim tanam. meningkatkan pH tanah dan secara langsung kapur dapat meningkatkan ketersediaan hara Ca. 2005). (3) Interpretasi hasil analisis dan (4) Rekomendasi pemupukan.

Azospirillum dan Azootobacter. 2007). Dari beberapa hasil penelitian menunjukkan bahwa bakteri pelarut fospat dapat meningkatkan ketersediaan P di dalam tanah dan dapat meningkatkan efisiensi penggunaan pupuk P serta dapat meningkatkan pertumbuhan dan produksi tanaman. Oleh karena itu pengapuran pada tanah masam sebaiknya diikuti dengan pemberian pupuk organik agar stabilitas tanah terjaga dan pertumbuhan serta produksi tanaman akan terjamin (Kuswandi. Peningkat ketersediaan hara 3. Pengontrol organisme pengganggu tanaman 4.yang selanjutnya Al menjadi tidak larut dan Al-dd semakin berkurang (Hasanudin et al. 4. Menurut Yuwono (2006) secara garis besar fungsi menguntungkan tersebut dapat dibagi menjadi beberapa : 1.3. maka dengan pengapuran saja hanya memungkinkan pertumbuhan tanaman yang normal. Kapur dapat menetralisir Al melalui ion OH. Ordo (Order) 2. 1999. Subordo (Sub-Order) 3. lingkungan edapik. 2003). yang ditandai dengan tingkat kesuburan rendah. tetapi daya kerjanya lebih cepat dari pada kerja bahan organik. Grup (Great group) 4. .1993). Sebaliknya penggunaan bahan organik tanpa didahului dengan pengapuran menghasilkan pemantapan stabilitas tanah secara lambat. Mikroorganisme tersebut sering disebut sebagai biofertilizer atau pupuk hayati (Sutanto. Mikoriza. Bakteri pelarut fosfat. Soil Survey Satff. lasifikasi Tanah Salah satu sistem klasifikasi tanah yang telah dikembangkan Amerika Serikat dikenal dengan nama: Soil Taxonomy (USDA. Famili (Family) 6. Kapur berfungsi memantapkan stabilitas tanah. Selanjutnya dijelaskan juga bahwa untuk meningkatkan pH tanah dari 4. 1975. Sub-grup (Subgroup) 5. Kelemahannya adalah bila tanah berkualitas rendah. Sehingga akan dapat diperoleh pertumbuhan dan produksi tanaman yang optimal dan hasil panen yang lebih sehat. Pengurai bahan organik dan pembentuk humus 5. bila dimanfaatkan secara tepat dalam system pertanian akan membawa pengaruh yang positif baik bagi ketersediaan hara yang dibutuhkan tanaman. Perombak persenyawaan agrokimia Beberapa mikroorganisme tanah seperti Rhizobium. Sistem klasifikasi ini menggunakan enam (6) kateori.8 diperlukan dosis kapur 2x Al-dd. Seri. Penggunaan pupuk hayati berupa inokulan bakteri fospat dengan tanpa pemberian pupuk TSP dapat meningkatkan hasil jagung yang setara dengan pemberian TSP (Prihartini. 2003). Pemantap agregat tanah 6. Pupuk Hayati Penyedia Hara Tanaman Mikrobia tanah yang menguntungkan dapat dikategorikan sebagai biofertilizer atau pupuk hayati. walaupun kualitas lahan cepat menurun kembali.membentuk Al(OH)3 tidak aktif yang dihasilkan dari pelepasan CO32. Penyedia hara 2. tetapi dampak positifnya berlangsung jangka panjang. yaitu: 1. 2002). maupun upaya pengendalian beberapa jenis penyakit.tergantung lagi pada banyaknya kapur.6 menjadi 5.

(b) sub ordo lain. sehingga ditambahkan singkatan kata dari Fragipan. yaitu: Fragi. menjadi kata untuk tata nama kategori great group. serta (7) ada tidaknya lapisan-lapisan penciri lain. Contoh tata nama tanah kategori Great Group: Fragiudult.Ciri Pembeda Setiap Kategori: Kategori Ordo Tanah: Ordo tanah dibedakan berdasarkan ada tidaknya horison penciri serta jenis (sifat) dari horison penciri tersebut. menjadi kata untuk tata nama kategori sub-ordo. (2) tingkat perkembangan. (Keterangan: tanah memiliki horison argilik dan berkejenuhan basa kurang dari 35% serta telah mengalami perkembangan tanah tingkat akhir = Ultus). Kategori Great Group Tanah: Great Group tanah dibedakan berdasarkan perbedaan: (1) jenis. yaitu: Fragiudult) Kategori Sub Group Tanah: Sub Group tanah dibedakan berdasarkan: (1) sifat inti dari great group dan diberi nama Typic. dan (6) kelembaban. (2) regim kelembaban. seperti: plinthite. (4) kejenuhan basa. Sebagai contoh: suatu tanah yang memiliki horison argilik dan berkejenuhan basa lebih besar dari 35% termasuk ordo Alfisol. yaitu: Udult). (Keterangan: tanah tersebut memiliki lapisan padas yang rapuh yang disebut Fragipan. dan (c) ordo lain. Kategori Sub-ordo Tanah: Sub-ordo tanah dibedakan berdasarkan perbedaan genetik tanah. Kata Ud ditambahkan pada nama Ordo tanahUltisol yang telah disingkat Ult. Contoh tata nama tanah kategori Sub Group: Aquic Fragiudult. (5) regi suhu. Kategori Famili Tanah: . Nama ordo tanah Ultisol pada tata nama untuk kategori sub ordo akan digunakan singkatan dari nama ordo tersebut. (Keterangan: tanah berordo Ultisol yang memiliki regim kelembaban yang selalu lembab dan tidak pernah kering yang disebut: Udus. dan duripan. (3) bahan iduk utama. Kata Fragi ditambahkan pada Sub Ordo: Udult. dan safris. misalnya: ada tidaknya sifat-sifat tanah yang berhubungan dengan pengaruh: (1) air. yaitu: Ult merupakan singkatan dari ordo Ultisol). Sedangkan tanah lain yang memiliki horison argilik tetapi berkejenuhan basa kurang dari 35% termasuk ordo Ultisol. (2) sifat-sifat tanah peralihan ke: (a) great group lain. (3) susunan horison. Sedangkan pembeda sub-ordo untuk tanah ordo histosol (tanah organik) adalah tingkat pelapukan dari bahan organik pembentuknya: fibris. serta (d) ke bukan tanah. (keterangan: tanah tersebut memiliki sifat peralihan ke sub ordo Aquult karena kadang-kadang adanya pengaruh air. Contoh tata nama tanah kategori Sub Ordo: Udult. sehingga termasuk sub group Aquic). fragipan. dan (4) vegetasi. Contoh tata nama tanah kategori Ordo: Ultisol. sehingga digunakan singkatan kata penciri kelembaban ini yaitu: Ud. hemis.

Sistem klasifikasi ini memiliki keistimewaan terutama dalam hal: 1. (3) regim temperatur pada kedalaman 50 cm. (2) susunan mineral liat adalah didominasi oleh mineral liat kaolinit. isohipertermik. Entisol --> disingkat: Ent 4. Mollisol --> disingkat: Oll 7.1 penciri khusus. isohipertermik. Menurut Hardjowigeno (1992) terdapat 10 ordo tanah dalam sistem Taksonomi Tanah USDA 1975 dengan disertai singkatan nama ordo tersebut. sistem klasifikasi tanah ini telah berkembang dari 10 ordo pata tahun 1975 menjadi 12 ordo tahun 2003 (Rayes. kaolinitik.Famili tanah dibedakan berdasarkan sifat-sifat tanah yang penting untuk pertanian dan atau engineering. Inceptisol --> disingkat: Ept 6. Penetapan pertama kali kategori Seri tanah dapat digunakan nama lokasi tersebut sebagai penciri seri. Sitiung. Aridisol --> disingkat: Id 3. Ultisol --> disingkat: Ult 10. Kategori Seri Tanah: Seri tanah dibedakan berdasarkan: (1) jenis dan susunan horison. . Oxisol --> disingkat: Ox 8. Penamaan atau Tata Nama atau cara penamaan.Sistem klasifikasi tanah terbaru ini memberikan Penamaan Tanah berdasarkan sifat utama dari tanah tersebut. Definisi-definisi horison penciri. (5) konsistensi. (2) jenis horison penciri. dan (3) sifat-sifat tanah lain yang merupakan hasil dari proses pembentukan tanah. berliat halus.2 penciri lainnya. (Keterangan: Sitiung merupakan lokasi pertama kali ditemukan tanah pada kategori Seri tersebut). 2. (2) warna. (7) sifat-sifat kimia tanah lainnya. dan (8) sifat-sifat mineral dari masingmasing horison. dan 3. meliputi: 3. Vertisol --> disingkat: Ert Selanjutnya. Kedua-belas ordo tersebut dibedakan berdasarkan: (1) ada atau tidaknya horison penciri. kaolinitik. 3. (6) reaksi tanah dari masing-masing horison. adalah sebagai berikiut: 1. (3) regim temperatur adalah isohipertermik. Sistem klasifikasi tanah ini berbeda dengan sistem yang sudah ada sebelumnya. (keterangan: Penciri Famili dari tanah ini adalah: (1) susunan besar butir adalah berliat halus. Contoh tata nama tanah pada kategori Seri: Aquic Fragiudult. Histosol --> disingkat: Ist 5. yaitu suhu tanah lebih dari 22 derajat celsius dengan perbedaan suhu tanah musim panas dengan musim dingin kurang dari 5 derajat celsius). Contoh tata nama tanah pada kategori Famili: Aquic Fragiudult. 2007). Beberapa sifat penciri lainnya. berliat halus. (3) tekstur. (2) susunan mineral liat. Alfisol --> disingkat: Alf 2. Spodosol --> disingkat: Od 9. (4) struktur. meliputi sifat tanah: (1) sebaran besar butir.

Horizon Penciri terdiri dari dua bagian: (a) horizon atas (permukaan) atau epipedon. Epipedon atau horison atas / permukaan penciri dibedakan dalam 8 kategori (Soil Survey Staff. (e) horizon oksik. (h) kontak paralithik. (e) epipedon melanik. (d) Plintit. yiatu: (a) horizon argilik. (l) horizon albik. (c) epipedon okrik. (f) selaput liat. yaitu: (a) epipedon mollik. (b) rezim lengas tanah. (i) horizon plakik. adalah: (a) konkresi. dan (c) sifat-sifat tanah Andik. Endopedon atau horizon bawah penciri dibedakan menjadi 13 (Soil Survey Satff. (f) epipedon anthropik. Beberapa Sifat Penciri Khusus. (k) horizon sulfuric. (j) horizon spodik. (c) horizon kandik. dan (b) horizon bawah atau endopedon. (g) epipedon folistik. (b) padas (pan). (b) epipedon umbrik. Rezim suhu tanah dibedakan dalam 3 kategori. 2003). dan (h) epipedon plagen. (duripan). 2003). (d) horizon kalsik. (c) fraipan. Beberapa Sifat Penciri Lain. (d) epipedon histik. (b) horizon kambik. (h) horizon natrik. (g) kontak litik. (f) horison gipsik. (e) slickenside. yaitu: . (g) horizon petrokalsik. adalah: (a) rezim suhu tanah.

Tidak ada horison penciri lain kecuali epipedon ochrik. kejenuhan basa lebih dari 50%. Rezim lengas tanah dibedakan dalam 4 kategori. Pengertian 10 ordo tanah menurut Hardjowigeno (1992) adalah sebagai berikut: Alfisol: Tanah yang termasuk ordo Alfisol merupakan tanah-tanah yang terdapat penimbunan liat di horison bawah (terdapat horison argilik)dan mempunyai kejenuhan basa tinggi yaitu lebih dari 35% pada kedalaman 180 cm dari permukaan tanah. Kata Inceptisol berasal dari kata Inceptum yang berarti permulaan. yaitu: (a) aquic: tanah hampir selalu jenuh air. tetapi lebih berkembang daripada Entisol. Regosol. Entisol: Tanah yang termasuk ordo Entisol merupakan tanah-tanah yang masih sangat muda yaitu baru tingkat permulaan dalam perkembangan. sehingga terjadi reduksi dan ditunjukkan oleh adanya karatan dengan chroma rendah (chroma < 2 dan value < 4). Aridisol: Tanah yang termasuk ordo Aridisol merupakan tanah-tanah yang mempunyai kelembapan tanah arid (sangat kering). Padanan dengan sistem klasifikasi lama adalah termasuk tanah Organik atau Organosol. sehingga tanah . (b) thermic: merupakan suhu tanah rata-rata tahunan 15oC s/d 22oC. Agregasi tanah baik. sehingga kebanyakan dari tanah ini cukup subur. Inceptisol: Tanah yang termasuk ordo Inceptisol merupakan tanah muda. iso-thermic. Latosol. Istilah iso (iso-mesic. (d) ustic: tanah setiap tahunnya kering lebih dari 90 hari (kumulatif) tetapi kurang dari 180 hari. (c) udic: tanah tidak pernah kering selama 90 hari (kumulatif) setiap tahunnya. Padanan dengan sistem klasifikasi lama adalah termasuk tanah Aluvial. iso-hyperthermic) digunakan untuk menunjukkan perbedaan suhu tanah rata-rata musim panas dan musim dingin < 6oC). Tanah ini belum berkembang lanjut. Mollisol: Tanah yang termasuk ordo Mollisol merupakan tanah dengan tebal epipedon lebih dari 18 cm yang berwarna hitam (gelap). albik atau histik. kadang-kadang juga Podzolik Merah Kuning. kadang-kadang dengan horison penciri lain. Andosol. Gleihumus. Padanan dengan sistem klasifikasi lama adalah termasuk tanah Aluvial atau Regosol. dll. Umumnya mempunyai horison kambik. kandungan bahan organik lebih dari 1%. Padanan dengan klasifikasi lama adalah termasuk Desert Soil. Kata Histos berarti jaringan tanaman.(a) mesic: merupakan suhu tanah rata-rata tahunan 8oC s/d 15oC. (c) hyperthermic: merupakan suhu tanah rata-rata tahunan > 22oC. Lapisan yang mengandung bahan organik tinggi tersebut tebalnya lebih dari 40 cm. Mempunyai epipedon ochrik. Liat yang tertimbun di horison bawah ini berasal dari horison di atasnya dan tercuci kebawah bersama dengan gerakan air. (b) perudic: curah hujan setiap bulan selalu melebihi evapotranspirasi. Histosol: Tanah yang termasuk ordo Histosol merupakan tanah-tanah dengan kandungan bahan organik lebih dari 20% (untuk tanah bertekstur pasir) atau lebih dari 30% (untuk tanah bertekstur liat). Padanan dengan sistem klasifikasi yang lama adalah termasuk tanah Mediteran Merah Kuning. Kata Ent berarti recent atau baru.

S. 1992. 1993. Klasifikasi Tanah dan Pedogenesis. S. Metode Inventarisasi Sumber Daya Lahan. Oxisol: Tanah yang termasuk ordo Oxisol merupakan tanah tua sehingga mineral mudah lapuk tinggal sedikit. Http://dasar2ilmutanah. Dasar-Dasar Ilmu Tanah. MS Padanan Beberapa Nama Tanah Padanan Beberapa Nama Tanah Padanan nama tanah antara Soil Taxonomy tahun 1999 (A) dengan berbagai sistem klasifikasi tanah lain. Bahan Ajar online. atau Podzolik Merah Kuning. Hardjowigeno. Posted by Dr. Kandungan liat tinggi tetapi tidak aktif sehingga kapasitas tukar kation (KTK) rendah. Berdasarkan pengamatan di lapang. dilapisan atas terdapat horison eluviasi (pencucian) yang berwarna pucat (albic). yaitu kurang dari 16 me/100 g liat. Lateritik. 233 halaman. 274 Halaman. Dudal dan Supraptohardjo tahun 1957 (C) dan Thorp and Smith tahun 1949 (D) adalah sebagai berikut: . Padanan dengan sistem klasifikasi lama adalah termasuk tanah Podzolik Merah Kuning. Madjid. Jurusan Tanah. dan Hidromorf Kelabu. Abdul Madjid. Padanan dengan sistem kalsifikasi lama adalah termasuk tanah Chernozem. Ilmu Tanah. Spodosol: Tanah yang termasuk ordo Spodosol merupakan tanah dengan horison bawah terjadi penimbunan Fe dan Al-oksida dan humus (horison spodik) sedang. Universitas Sriwijaya. Yogyakarta. Ultisol: Tanah yang termasuk ordo Ultisol merupakan tanah-tanah yang terjadi penimbunan liat di horison bawah. Padanan dengan sistem klasifikasi lama adalah termasuk tanah Latosol (Latosol Merah & Latosol Merah Kuning). Vertisol: Tanah yang termasuk ordo Vertisol merupakan tanah dengan kandungan liat tinggi (lebih dari 30%) di seluruh horison. kejenuhan basa pada kedalaman 180 cm dari permukaan tanah kurang dari 35%. Fakultas Pertanian. 2009. Banyak mengandung oksida-oksida besi atau oksida Al. Padanan dengan sistem klasifikasi lama adalah termasuk tanah Grumusol atau Margalit. Jakarta. PT. Rendzina. dll. Kalau kering tanah mengkerut sehingga tanah pecah-pecah dan keras. Latosol. bersifat masam. 2007. Akademika Pressindo. tanah ini menunjukkan batasbatas horison yang tidak jelas. Mediyatama Sarana Perkasa. Jakarta. Edisi ketiga. yaitu: FAO Unesco tahun 1974 (B). Kata Mollisol berasal dari kata Mollis yang berarti lunak. 298 halaman.blogspot. L. Kalau basah mengembang dan lengket. Padanan dengan sistem klasifikasi lama adalah termasuk tanah Podzol.com. Brunize4m. Daftar Pustaka: Hardjowigeno. Ir. M.tidak keras bila kering. A. Rayes. Penerbit Andi Yogyakarta. mempunyai sifat mengembang dan mengkerut.

Latosols. Greyzems.. Solonetz. . (C) Alluvials. Humic-Glei Soils. Alluvial Soils. (C) Rendzina (Calcisols). Regosols. Gleysols. . Degraded Chernozem.. Solonetz Soils. (D) Ando Soils. Solonetz Soils.. Aluvials. . (7) Mollisol: (A) Mollisol. . Arenosols. Regosols. (D) . Laterite Soils (Latosol). (B) Fluvisols. . . (2) Entisol: (A) Entisol. . . (C) Organic Soils. Chernozems.. (5) Andisol: (A) Andisol. Chernozems. Planosols. Latosols. Cambisols.. Kastanozemz. Regosols. Humic Gley Soils (Hydrosols). . Regosols.. (B) Andosols. Laterit Soils (Latosols). Brown Forest Soils (Calcisols). (8) Ultisol: .. (B) Rendzinas. Gleysols. Solonchaks. (C) Lithosols.. .. Planosols (Hydrosols). (C) Andosols. (C) Red Yellow Mediterranean Soils. (3) Inceptisol: (A) Inceptisol. Cambisols. Prairie Soils. . Luvisols.. Hall Bog Soils. Phaeozems. Solonchak.(1) Histosol: (A) Histosol. (D) Bog Soils. (B) Vertisols. Low-Humic Glei Soils. (D) Lithosols. Chesnut Soils. Latosols. (D) Rendzina Soils. Noncalcic Brown. Gleysols. Regosols. Low Humic Gley Soils (Hydrosols). (D) Black Cotton SoilsJRegur. . Laterit Soils (Latosols). Luvisols. ... Solonchaks.. Low-Humic Gley Soils. Rankers. (6) Alfisol: (A) Alfisol. (B) Luvisols. Solonchaks. Regosols. Fluvisols. Nilosols. Brown Forest Soils (Braunerde). Humic-Glei Soils. -. (D) Alluvial Soils.. Planosols. Humic Gley Soils (Hydrosols).. . (4) Vertisol: (A) Vertisol. (B) Lithosols. (C) Regur Soils. Solonetz. (B) Histosols.

Tanah-tanah Pertanian di Indoensia. MS Klasifikasi Tanah USDA 1975 Salah satu sistem klasifikasi tanah yang telah dikembangkan Amerika Serikat dikenal dengan nama: Soil Taxonomy (USDA. (10) Spodosol: (A) Spodosol. Beberapa sifat penciri lainnya. Sistem klasifikasi ini menggunakan enam (6) kateori. . 2007. . 1992. 3. Gray Podsolic Soils. Laterite Soils (Latosols). Penerbit Andi Yogyakarta. H. Penamaan atau Tata Nama atau cara penamaan. Podsols. Acrisols. Subordo 3. 1975). (B) Nitosols. N. Ground-Water Laterite Soils. . Metode Inventarisasi Sumber Daya Lahan. Ordo 2. PT.. (D) Red-Yellow Podsolic Soils. Pusat Penelitian dan Pengembangan Tanah dan Agroklimat. Daftar Pustaka: Hardjowigeno. Sistem klasifikasi ini memiliki keistimewaan terutama dalam hal: 1. Planosols. Great group 4.(A) Ultisol. yaitu: 1. 298 halaman.. S. Subgroup 5. Latosols. . Yogyakarta. (D) Podsols Soils. L. Family 6. M. 2004.. B. Abdul Madjid. (B) Podsols. Ground-Water Podsol Soils. Suharta dan A. dan Siswanto (2004) dalam Rayes (2007). Mediyatama Sarana Perkasa. (9) Oxisol: (A) Oxisol. seri Sistem klasifikasi tanah ini berbeda dengan sistem yang sudah ada sebelumnya.. Gray Hidromorphic Soils (Hydrosols). Posted by Dr. (D) Laterite Soils (Latosols). (B) Ferralsols.. (C) Podsols. 233 halaman. . Jakarta. Dalam: Sumber Daya Lahan Indonesia dan Pengelolaannya. Ground-Water Laterite Soils (Hydrosols). Planosols. Siswanto. Rayes. Subagyo. .. Definisi-definisi horison penciri. Edisi ketiga. Planosols (Hydrosols). (C) Red Yellow Podsolic Soils. 2. Bogor. (C) Latosols ?. Ground-Water Podsols. Ir. Ilmu Tanah. Suharta. Sumber: Subagyo.

Histosol: Tanah yang termasuk ordo Histosol merupakan tanah-tanah dengan kandungan bahan organik lebih dari 20% (untuk tanah bertekstur pasir) atau lebih dari 30% (untuk tanah bertekstur liat). Inceptisol 6. Padanan dengan klasifikasi lama adalah termasuk Desert Soil. Spodosol 9. Andosol. Entisol 4. Latosol. Kata Ent berarti recent atau baru. kadang-kadang juga Podzolik Merah Kuning. Padanan dengan sistem klasifikasi lama adalah termasuk tanah Aluvial atau Regosol. Histosol 5. tetapi lebih berkembang daripada Entisol. Lapisan yang mengandung bahan organik tinggi tersebut tebalnya lebih dari 40 cm. Kata Histos berarti jaringan tanaman. Gleihumus. yaitu: 1. Menurut Hardjowigeno (1992)terdapat 10 ordo tanah dalam sistem Taksonomi Tanah USDA 1975. Ultisol 10. Mempunyai epipedon ochrik. Padanan dengan sistem klasifikasi lama adalah termasuk tanah Organik atau Organosol. Entisol: Tanah yang termasuk ordo Entisol merupakan tanah-tanah yang masih sangat muda yaitu baru tingkat permulaan dalam perkembangan. Liat yang tertimbun di horison bawah ini berasal dari horison di atasnya dan tercuci kebawah bersama dengan gerakan air. albik atau histik. Padanan dengan sistem klasifikasi yang lama adalah termasuk tanah Mediteran Merah Kuning. Vertisol Alfisol: Tanah yang termasuk ordo Alfisol merupakan tanah-tanah yang terdapat penimbunan liat di horison bawah (terdapat horison argilik)dan mempunyai kejenuhan basa tinggi yaitu lebih dari 35% pada kedalaman 180 cm dari permukaan tanah. kadang-kadang dengan horison penciri lain. Aridisol 3. Kata Inceptisol berasal dari kata Inceptum yang berarti permulaan. Tidak ada horison penciri lain kecuali epipedon ochrik. Umumnya mempunyai horison kambik. Inceptisol: Tanah yang termasuk ordo Inceptisol merupakan tanah muda. Regosol.Sistem klasifikasi tanah terbaru ini memberikan Penamaan Tanah berdasarkan sifat utama dari tanah tersebut. Oxisol 8. dll. Tanah ini belum berkembang lanjut. Mollisol: Tanah yang termasuk ordo Mollisol merupakan tanah dengan tebal epipedon lebih dari 18 cm yang berwarna hitam . sehingga kebanyakan dari tanah ini cukup subur. Padanan dengan sistem klasifikasi lama adalah termasuk tanah Aluvial. Mollisol 7. Aridisol: Tanah yang termasuk ordo Aridisol merupakan tanah-tanah yang mempunyai kelembapan tanah arid (sangat kering). Alfisol 2.

Latosol. Kandungan liat tinggi tetapi tidak aktif sehingga kapasitas tukar kation (KTK) rendah. Padanan dengan sistem klasifikasi lama adalah termasuk tanah Latosol (Latosol Merah & Latosol Merah Kuning). S.com/search/label/Klasifikasi%20Tanah Hasil penelitian Arimurti et al (2006) pada perlakuan bakteri pelarut fosfat (BPF) mampu meningkatkan pertumbuhan tanaman jagung pada tanah masam. berat kering trubus. 233 halaman.net/?id=AB148 Posted by Dr. Aeruginosa atau gabungan keduanya dalam meningkatkan tinggi tanaman 10 dan 45 HST. Untuk meningkatkan berat basah. PT. Kalau basah mengembang dan lengket. Ir. Berdasarkan pengamatan di lapang. yang tampak pada parameter tinggi tanaman 10 dan 45 HST. Padanan dengan sistem kalsifikasi lama adalah termasuk tanah Chernozem. dan Hidromorf Kelabu. Kalau kering tanah mengkerut sehingga tanah pecah-pecah dan keras. kandungan bahan organik lebih dari 1%.(gelap). atau Podzolik Merah Kuning. Agregasi tanah baik.blogspot. Padanan dengan sistem klasifikasi lama adalah termasuk tanah Podzol. Padanan dengan sistem klasifikasi lama adalah termasuk tanah Grumusol atau Margalit. Daftar Pustaka: Hardjowigeno. tanah ini menunjukkan batasbatas horison yang tidak jelas. Asosiasi ini akan dapat . Edisi ketiga. berat kering akar. Pemberian BPF P. Ultisol: Tanah yang termasuk ordo Ultisol merupakan tanah-tanah yang terjadi penimbunan liat di horison bawah. Vertisol: Tanah yang termasuk ordo Vertisol merupakan tanah dengan kandungan liat tinggi (lebih dari 30%) di seluruh horison. Ilmu Tanah. Penghasilan Online: http://klikdynasis. bersifat masam. Rendzina. berat basah akar. Dalam fenomena ini jamur menginfeksi dan mengkoloni akar tanpa menimbulkan nekrosis sebagaimana biasa terjadi pada infeksi jamur patogen. sehingga tanah tidak keras bila kering. Abdul Madjid. Brunize4m. Mediyatama Sarana Perkasa. Lateritik. dilapisan atas terdapat horison eluviasi (pencucian) yang berwarna pucat (albic). Oxisol: Tanah yang termasuk ordo Oxisol merupakan tanah tua sehingga mineral mudah lapuk tinggal sedikit. Spodosol: Tanah yang termasuk ordo Spodosol merupakan tanah dengan horison bawah terjadi penimbunan Fe dan Al-oksida dan humus (horison spodik) sedang. putida. kejenuhan basa pada kedalaman 180 cm dari permukaan tanah kurang dari 35%. berat kering trubus dan akar paling baik menggunakan P. Jakarta. dll. kejenuhan basa lebih dari 50%. putida sama baiknya dengan P. mempunyai sifat mengembang dan mengkerut. Padanan dengan sistem klasifikasi lama adalah termasuk tanah Podzolik Merah Kuning. yaitu kurang dari 16 me/100 g liat. Banyak mengandung oksida-oksida besi atau oksida Al. 1992. berat basah trubus. dan mendapat pasokan nutrisi secara teratur dari tanaman. Asosiasi simbiotik anatara jamur dan sistem perakaran tanaman tinggi diistilahkan dengan mikoriza. Kata Mollisol berasal dari kata Mollis yang berarti lunak. luas daun serta kadar P trubus. MS http://dasar2ilmutanah.

Oleh karena itu. Mikroba ini ada yang hidup bebas di dalam tanah atau hidup di daerah perakaran (rhizobakteri). 2002). Hal ini dimungkinkan karena CMA mempunyai kemampuan menyerap hara dan air lebih tinggi dibanding akar tanaman. budi daya tanaman legum (kacang-kacangan) dapat menggunakan Rhizobium spp. maka Azospirillum lebih efektif dalam meningkatkan hasil tanaman. mikroba pelarut fosfat. artinya satu spesies Rhizobium hanya dapat bersimbiose dengan spesies legum tertentu. Rhizobium mampu mencukupi 80% kebutuhan nitrogen tanaman legum dan meningkatkan produksi antara 10-25%. 2002). Tanggapan tanaman sangat bervariasi tergantung pada kondisi tanah dan efektifitas populasi asli (Sutanto. terong dan kubis. Rhizobium yang berasosiasi dengan tanaman legum mampu menfiksasi 100-300 Kg N/Ha dalam satu musim tanam dan meninggalkan sejumlah N untuk tanaman berikutnya. bersimbiose dengan tanaman legum. . Namun. Azospirillum menyebabkan kenaikan hasil cukup besar pada tanaman jagung. Cendawan mikoriza arbuskula (CMA). Azospirillum. dan sorgum. 2007). perlu diperhatikan bahwa hubungan antara tanaman legum dan Rhizobium bersifat sangat spesifik. Oleh karena itu. Permasalahan yang perlu diperhatikan adalah efisiesnsi inokulan Rhizobium untuk tanaman tertentu. Bakteri penambat N2. Pupuk hayati meliputi bakteri penambat N. CMA merupakan suatu bentuk asosiasi cendawan dengan akar tanaman tingkat tinggi. MVA membantu pertumbuhan tanaman dengan memperbaiki ketersediaan hara fosfor dan melindungi perakaran dari serangan patogen (Hadiyanto dan Hairiyah. Keunggulan kemampuan CMA dalam pengambilan hara. Selanjutnya dijelaskan juga oleh Tim Peneliti Pengembangan Sumberdaya Lahan Pertanian (2008) bahwa pemakaian pupuk hayati pada lahan kering masam sebaiknya yang telah terbukti dapat menjalankan fungsi ekologis. Mikroba pelarut fosfat. padi. dan secara tidak langsung melalui perbaikan struktur tanah. Hasil penelitian Hasanudin dan Gonggo (2004) menjelaskan pemberian inokulasi mikrobia pelarut fosfat 15 ml tanaman-1 dan inokulasi mikoriza 20 g tanaman-1 dapat meningkatkan serapan P dan hasil jagung. terutama hara yang bersifat tidak mobil seperti P. harus disesuaikan dengan spesies legum yang akan dibudidayakan. tomat. Kemampuan asosiasi tanaman. cantel. disebabkan CMA memiliki struktur hifa yang mampu menjelajah daerah di antara partikel tanah. dan cendawan mikoriza arbuskula. Bakteri ini mencakup bakteri yang membentuk bintil akar. jagung. Mikroba tersebut dapat menghasilkan senyawa organik yang dapat melarutkan P-tanah. bawang putih. Bakteri penambat N yang hidup bebas seperti Azotobacter.meningkatan ketersediaan hara P dan lainnya serta meningkatkan serapannya. Telah banyak dihasilkan pupuk hayati yang mengandung mikroba pelarut fosfat. Apabila Azotobacter dan Azospirillum diinokulasi secara bersama-sama. penggunaan Rhizobium sp. dan Beijerinckia dapat digunakan pada tanaman dari famili Gramineae (rumput-rumputan) seperti padi. merupakan mikroba hasil seleksi yang benar-benar unggul dalam membantu pertumbuhan tanaman.CMA ini memungkinkan tanaman memperoleh hara dan air yang cukup pada kondisi lingkungan yang miskin unsur hara dan kering. dan Cu. Kenaikan hasil tanaman setelah diinokulasi Azotobacter terjadi pada tanaman jagung. gandum dan cantel (Sutanto. sehingga ketersediaan P bagi tanaman meningkat dan mengurangi takaran penggunaan pupuk P. perlindungan terhadap patogen tanah maupun unsur beracun. Zn. dan bakteri penambat N yang hidup bebas di dalam tanah.

bahan organik tanah rendah. kecepatan translokasi hara enam kali kecepatan rambut akar. dan nilai ambang batas konsentrasi hara yang dapat diserap CMA lebih rendah (setengah ambang batas konsentrasi hara yang dapat diserap akar). Beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam pembuatan teras gulud (Gambar 8) menurut Sinukaban (1994): (1) Teras gulud cocok diterapkan pada lahan dengan kemiringan 10-40%. 4.4. CMA juga berperan dalam membantu pemenuhan kebutuhan air pada saat kekeringan karena bertambahnya luas permukaan penyerapan air oleh hifa eksternal. Satu spesies CMA dapat berasosiasi dengan berbagai tanaman sehingga satu macam CMA dapat digunakan untuk berbagai jenis tanaman. dan Acaulospora. Konservasi tanah secara mekanik adalah semua perlakuan fisik mekanis dan pembuatan bangunan yang ditujukan untuk mengurangi aliran permukaan guna menekan erosi dan meningkatkan kemampuan tanah mendukung usahatani secara berkelanjutan. Teras biasanya dibangun di ekosistem lahan sawah tadah hujan. dan miring keluar (bidang olah miring ke arah lereng asli). tumpang sari atau penanaman budidaya lorong. guludan dibuat miring terhadap kontur.umumnya dari spesies Glomus.melampaui jarak yang dapat dicapai akar (rambut akar). Secara mekanik pembuatan teras misalnya teras gulud. Pada saat ini telah dihasilkan berbagai inokulan CMA. . teras bangku atau teras individu dan pembuatan saluran drainase. membentuk sudut 0o dengan bidang horizontal). (3) meningkatkan laju infiltrasi. (2) menampung dan menyalurkan aliran permukaan dengan kekuatan yang tidak sampai merusak. Pada tanah yang permeabilitasnya rendah. Gigaspora. ketersediaan hara rendah. Teras bangku dapat dibuat datar (bidang olah datar. fungsi utama teras bangku adalah: (1) memperlambat aliran permukaan. Teras bangku atau teras tangga dibuat dengan cara memotong panjang lereng dan meratakan tanah di bagian bawahnya. dan berbagai sistem wanatani. Pada usahatani lahan kering. guludan dapat dibuat menurut arah kontur. Hal ini ditujukan agar air yang tidak segera terinfiltrasi ke dalam tanah dapat tersalurkan ke luar ladang dengan kecepatan rendah. dan tanah memiliki slope tertentu serta berada pada daerah dengan intensitas hujan tinggi. maka secara teknik pengolahan tanah yang dilakukan harus berprinsip peningkatan kesuburan tanah dan adanya pelaksanaan konservasi tanah dan air. CMA secara tidak langsung juga dapat meningkatkan ketersediaan Ptanah melalui produksi enzim fosfatase oleh akartanaman. tidak lebih dari 1% ke arah saluran pembuangan. Pada prinsipnya untuk meningkatkan atau mempertahankan kemampuan tanah dapat dilakukan teknik pengelolaan tanah secara mekanik dan vegetatif. lahan tegalan. dan (4) mempermudah pengolahan tanah. Sedangkan secara vegetatif adalah penerapan pola tanam yang menutup permukaan tanah sepanjang tahun baik dengan hijauan maupun vegetasi misalnya dengan pergiliran tanaman . Teknik Pengelolaan Tanah Apabila dihadapkan pada kondisi tanah masam. sehingga terjadi deretan bangunan yang berbentuk seperti tangga. (2) Pada tanah yang permeabilitasnya tinggi. miring ke dalam/goler kampak (bidang olah miring beberapa derajat ke arah yang berlawanan dengan lereng asli).

b. Bermanfaat dalam menyuburkan tanah maupun sebagai penghasil makanan ternak.. Di Filipina. Salah satu cara untuk memperbaiki struktur tanah. Tanam bersisipan atau tumpang sari adalah sistem penanaman lebih dari satu macam tanaman pada lahan yang sama secara simultan. Menambah tanaman penguat teras. padi gogo ditanam secara tumpang sari dengan jagung. Selain itu. Beberapa hasil penelitian menunjukkan bahwa sistem ini sangat efektif mengendalikan erosi. Pada musim pertama di awal musim hujan. terutama tanaman tahunan. dengan umur tanaman yang relatif sama dan diatur dalam barisan atau kumpulan barisan secara berselang-seling seperi: padi gogo + jagung . (2) penutupan lahan oleh seresah dan tajuk mengurangi evaporasi. Leucaena leucocephala yang pertama diuji dalam sistem Alley cropping ini dan menyusul kemudian Glinsidia sepium. Contohnya adalah tumpang gilir antara tanaman jagung yang ditanam pada awal musim hujan dan kacang tanah yang ditanam beberapa minggu sebelum panen jagung. Pengelolaan tanah secara vegetatif dapat menjamin keberlangsungan keberadaan tanah dan air karena memiliki sifat : (1) memelihara kestabilan struktur tanah melalui sistem perakaran dengan memperbesar granulasi tanah. rumput gajah dan rumput benggala. Alley . Salah satu teknologi yang tersedia adalah sistem pertanaman lorong atau Alley cropping. Anonimous (2009) menjelaskan bahwa alley cropping merupakan salah satu sistem agroforestry yang menanam tanaman semusim atau tanaman pangan diantara lorong-lorong yang dibentuk oleh pagar tanaman pohonan atau semak (Kang et al. c. 2006). Mempunyai sistem perakaran intensif. mudah dilaksanakan. Tahan pangkas sehingga tidak menaungi tanaman utama. Dengan cara ini penguapan air tanah dapat diperkecil sehingga air tanah tetap tersedia bagi tumbuhnya tanaman. Teknologi yang diintroduksikan ke lahan kering masam DAS bagian hulu haruslah teknologi yang mampu mengendalikan erosi. Sistem ini bertujuan untuk meningkatkan intensitas penggunaan lahan dan menjaga agar permukaan tanah selalu tertutup tanaman.Teras individu adalah teras yang dibuat pada setiap individu tanaman. mempertinggi kemampuan tanah dalam menyerap air yaitu dengan menggunakan pupuk organik berupa pupuk hijau atau pupuk kandang serta penggunaan sisa-sisa tanaman yang diletakkan di atas tanah sebagai serasah (mulsa) sehingga dapat mempertahankan kelembaban tanah. Tanaman pagar dipangkas secara periodik selama pertanaman untuk menghindari naungan dan mengurangi kompetisi hara dengan tanaman pangan/semusim. (3) disamping itu dapat meningkatkan aktifitas mikroorganisme yang mengakibatkan peningkatan porositas tanah. akasia. kaliandra. gamal. 1984). murah dan dapat diterima oleh petani. tanaman musim kedua ditanam sebelum panen tanaman musim pertama. Tanaman penguat teras yang dianjurkan ditanam antara lain lamtorogung. sistem ini juga dimaksudkan untuk mempercepat penanaman tanaman pada musim kedua.jagung + kacang tanah. Jenis teras ini biasa dibangun di areal perkebunan atau pertanaman buah-buahan. sehingga mampu mengikat air. Pergiliran tanaman atau tanam berurutan adalah sistem bercocok tanam dengan menanam dua atau lebih jenis tanaman pada sebidang tanah selama satu tahun. sehingga masih mendapatkan air hujan dengan jumlah yang cukup untuk pertumbuhan dan produksinya. sehingga memperbesar jumlah infiltrasi dan mencegah terjadinya erosi (Rahim.tanaman yang memenuhi syarat sebagai penguat teras adalah: a.

sehingga tanah terlindung dari air hujan dan pemadatan tanah karena ulah pekerja selama operasi di lapangan. 2009.16 . A. Bahan Ajar Online untuk mata kuliah: (1) Dasar-Dasar Ilmu Tanah.Contoh kondisi pertanaman alley cropping.08 m3 masing-masing pada bagin bawah. penelitian-penelitian terdahulu juga memperlihatkan bahwa Alley cropping dapat meningkatkan unsur hara di dalam tanah . Dasar-Dasar Ilmu Tanah. Kandungan air tanah dan tekanan air tanah menurun pada bagian lorong yang dekat pada tanaman pagar. 8% disebabkan oleh perubahan profil tanah dan 4% oleh penanaman secara kontour . kemiringan lahan.49 mm/detik pada bagian bawah menjadi 0. Sistem ini dapat memperbaiki sifat fisik tanah yaitu menurunkan BD (bulk density) dan meningkatkan konduktivitas hidraulik tanah. 0. tengah dan atas dari lorong. Hasil penelitian Agas et al. mempengaruhi distribusi air. Selain perbaikan sifat fisik tanah. Rendahnya erosi disebabkan oleh hasil pangkasan yang sukar melapuk yang berfungsi sebagai mulsa. Alegre dan Rao (1995) menunjukkan bahwa Alley cropping menahan kehilangan tanah 93% dan air 83% dibandingkan dengan pertanaman tunggal semusin. Beberapa hasil penelitian yang dilakukan telah menunjukkan bahwa Alley cropping sangat efektif dalam mengendalikan erosi. (2) . Alley cropping juga ternyata dapat meningkatkan produktivitas tanah dan tanaman. Efektivitas pengendalian erosi ini selain karena hal yang telah disebutkan diatas juga karena terbentuknya teras secara alami dan perlahan-lahan setinggi 25-30 cm pada dasar tanaman pagar. yang terdiri atas 48% disebabkan oleh pengaruh penutupan tanah oleh mulsa. jarak antara tanaman pagar dan pada saat awal. Air tersedia pada kedalaman 10-15 cm adalah 0. Bersambung ke bagian 5 yang dapat dilihat pada pustaka dibawah ini: Pustaka: Madjid. Selanjutnya tanaman pagar menyebabkan air tanah selalu berkurang untuk kebutuhan pertumbuhannya selama musim kemarau sehingga sistem ini menyerap lebih banyak air hujan ke dalam tanah dan akhirnya menurunkan erosi.13 dan 0. Efektivitas pengendalian erosi tersebut sangat tergantung kepada jenis tanaman pagar yang digunakan. Hal ini akan menyebabkan kompetisi air antara tanaman pagar dengan tanaman pangan pada lorong. Efektivitas pengendalian erosi dapat mencapai >95% dibanding apabila tidak menggunakan Alley cropping. Transmisivitas air menurun dari 0.Di Indonesia sistem ini sudah diyakini efektif mengendalikan erosi (Sukmana and Suwardjo. R. tetapi dipengaruhi oleh posisi dalam lorong. Selain efektif mengendalikan erosi.cropping dapat menurunkan erosi sebanyak 69%. 1991) dapat meningkatkan produktivitas tanah dan tanaman serta dapat diadopsi oleh petani di lahan kering. Lebih dekat pada barisan tanaman pagar.12 mm/detik pada bagian atas dari lorong. Barisan tanaman pagar menurunkan kecepatan aliran permukaan sehingga memberikan kesempatan pada air untuk berinfiltrasi. (1997) tentang sifat-sifat tanah dan air di bawah Alley cropping pada tanah oxilos miring menunjukkan bahwa pada umumnya sifat-sifat tanah tidak dipengaruhi oleh jenis legum/taman pagar.

Propinsi Sumatera Selatan. Universitas Sriwijaya. Kesimpulan 1. Program Studi Ilmu Tanaman. Prosiding Simposium Penelitian Tanaman Pangan III. Fakultas Pertanian Unsri & Program Pascasarjana Unsri. Ca. A. Geografi tanah Indonesia. serta kekahatan unsur-unsur hara penting seperti N. (Bagian 5 dari 5 Tulisan) V. 2.com. Program Magister (S2). Indonesia. Indonesia. Arief. Palembang. Abdul Madjid. Indonesia. Posted by Dr. dan/atau Fe. Balitbangtan Deptan. Universitas Sriwijaya.files. Setyati. 1665-1675. oxisols dan spodosol serta inseptisol . Propinsi Sumatera Selatan. Universitas Jember Jurusan FMIPA . keracunan Al. Karekteristik tanah mineral masam adalah pH rendah . 2006. Dan Irman. dan atau Mg dan Mo 3. Pengelolaan tanah-tanah mineral masam untuk kepentingan pertanian menghadapi kendala pH yang rendah. Program Pascasarjana. Puslitbang Tanaman Pangan. 2008.blogspot. Palembang. ** : Program Studi Ilmu Tanaman. Program Magister (S2). Universitas Sriwijaya.D dan Mujib. Propinsi Sumatera Selatan. Arief. Alternatif yang dapat dilakukan untuk mengatasi tanah masam guna mendukung pertumbuhan dan produksi tanaman adalah pemberian pupuk organik dan anorganik. Tanah mineral masam yang terdapat pada iklim tropik adalah jenis tanah ultisol. pengapuran. Ir. dan (4) Pengelolaan Kesuburan Tanah Lanjut.com (diakses Mei 2009) . pemberian pupuk hayati dan pengelolaan tanah yang berazas peningkatan kesuburan tanah dan melakukan tindakan konservasi tanah dan air . DAFTAR PUSTAKA Arimurti. Efettivitas bakteri pelarut fosfat dan pupuk P terhadap pertumbuhan tanaman jagung (Zea mays) pada tanah masam.Kesuburan Tanah.M. Program Pascasarjana. Program Magister (S2).S. (3) Teknologi Pupuk Hayati. Program Studi Ilmu Tanaman. Palembang. 1997. *** : Dosen Mata Kuliah Pengelolaan Kesuburan Tanah. Mn. Ameliorasi Lahan Kering Masam untuk Tanaman Pangan. http://dasar2ilmutanah. Program Pascasarjana. Hal. feiraz.wordpress. P. bahan organik rendah dan kahat unsur hara makro maupun mikro serta tingginya kandungan Al dan Fe. MS Pengelolaan Kesuburan Tanah Mineral Masam untuk Pertanian* Oleh: Ida Nursanti** dan Abdul Madjid Rohim*** (Bagian 5 dari 5 Tulisan) Keterangan: * : Makalah Pengelolaan Kesuburan Tanah.

Pustaka Adipura. Peningkatan ketersediaan dan serapan N dan P serta hasil tanaman jagung melalui inokulasi mikoriza. H.com (diakses Mei 2009) Bertam. N.65. 8(2): 52-55. Al-dd. kalsit dan dolomite. Hiatan06.B.. Hal. Dasar Dasar Ilmu Tanah. B. http://warintek. serta P tersedia dari tanah masam akibat aplikasi P-alam. Hidayat. 1993. 2005. 273 p. 5(2): 83-89.Biologi Tanah Landasan Pengelolaan Tanah Sehat.files. Himpunan Ilmu Tanah Universitas Padjajaran. Muchtar. .C. G. Junedi. Universitas Lampung 17-18 November 2008. 2003.2007. Jurnal Ilmu Pertanian Indonesia. Deptan. bebasbanjir2025. Respon tanaman padi terhadap pemupukan P pada tingkat status hara P tanah yang berbeda. Introduksi pasangan CMA dan Rhizobia Indigenous untuk peningkatan pertumbuhan dan hasil kedelai di ultisol Bengkulu. Allevation of SoilAcidity in Ultisol and Oxisol for Corn Growth. 1997. Puslitbang Tanah dan Agroklimat.id (diakses 8 April 2009).Ganggo. 1656-1664. Puslitbangtan..Proseding Seminar Nasional Sains dan Teknologi II.com (di akses Mei 2009). 4(2) : 97-103. Perbaikan Lahan Kritis dengan Rotasi Tanaman dalam Budidaya Lorong. H. 7(2):94-103.K. Lahan Kering untuk Pertanian.Anonimous.D. 2005.J. 2008. Klasifikasi Tanah dan Pedogenesis. Dan A. Edisi 2. pp 8-35. Jurnal Akta Agrosia . Pembentukan dan Profil Tanah.. S.Universitas Bengkulu. Departemen Pertanian. Hasanudin.E.go. Jurnal Ilmu Pertanian Indonesia.wordpress. Raja Gravindo Persada. Kusuma. Mulyani.Mansur. Himatan. Ismail. Budidaya Tanaman Jagung. Jakarta.Jakarta . Dinas Pertanian Jember..2007.AK. Pemanfaatan kompos dan jerami padi dan kapur guna memperbaiki permeabelitas tanah ultisol dan hasil kedelai. Syed Oman.2004. Mitriani dan Barchia F. pp 139-165.Serapan Fospor Tanah Ultisol dan Hasil Jagung. Prosiding Simposium Penelitian Tanaman Pangan III. 2006. Hasanudin. 2005. Mardinus dan H. Handayanto.Jurnal Bionatura 7(3): 249-258. Shamshuddin & S.2009. Joy. Hanafiah.R. Barus. 1993.Setiadi.wordpress.YH. Hasanudin. Ismail. 2007. A.Y. Pengaruh pengapuran dan pupuk kandang terhadap ketersediaan hara P pada timbunan tanah pasca tambang batubara.I dan Sopandie. Akademika Pressindo. J. Pemanfaatan Mikrobia Pelarut Fospat dan Mikoriza untuk Perbaikan Fospor tersedia.Budidaya Lorong. Plant & Soil 151: 55. Teknologi Pengelolaan Lahan Kering: Menuju Pertanian Produktif dan Ramah Lingkungan. 2007. Edisi khusus No 1: 1-4. 2005. azotobacter dan bahan organic pada ultisol.Hairiyah. Hakim. . Perbedaan respon keterkaitan pH. Jurnal Ilmu Pertanian Indonesia . Hardjowigeno.bantul.files. Jurnal Akta Agrosia . Badan Litbang Pertanian.

T. 1994.. Sunaryo dan Suryono. 2006. 1993. 31 (3): 100-106. Rachman S. Sutisni dan I P. Puslitbangtan Deptan. Ismail.. "Erapan P dan Kebutuhan Pupuk P Untuk Tanaman Pangan pada Tanah-tanah Asam".R. D. Membangun Pertanian Menjadi Lestari dengan Konservasi.O. Pp 177-184. Siswanto. Sinukaban. Kanisus Yogyakarta. NA. Peranan Sistem Usahatani Terpadu dalam Upaya Pengentasan Kemiskinan di Berbagai Agroekosistem. Bogor. Subandi.) Aciar Monograph 13: 62-68. Tanah-tanah pertanian di Indonesia.pp 91-106.. Pengaruh jenis pupuk kandang dan jarak tanam terhadap pertumbuhan gulma dan hasil jagung manis. . Puslitbangtan.Kuswandi. M. Pengaruh fosfat alam dan kombinasi bakteri pelarut fosfat dengan pupuk kandang terhadap P tersedia dan pertumbuhan kedelai pada ultisol. Nursyamsi. Hal. Teknologi Produksi dan Strategi Pengembangan. Sutanto. Noor A. Bogor. H. 2003. D.In: Management of Acid Soils in the Humid Tropics of Asia E. Farming Acid Soils for Food Crop: An Indonesian Experience.G.2002. 1994. 2006. Suharta.Edisi 3.dan Subandi.. 28(4): 163-169. Bumi Aksara Jakarta. Notohadiprawiro. Hal 143-182. Pusat Penelitian Tanah dan Agroklimat.T. I. Rahim. Prosiding Simposium Penelitian Tanaman Pangan III Buku 6.S. 6(2) : 71-81. dan A.Edisi 3 . Edisi 5. 1676-1686. 1997. Kanisus Jakarta. T. Croswell & E. 1990. Kebutuhan hara kalium tanaman kedelai di tanah ultisol. Deptan. Adnyana dan D. M.. Pengendalian Erosi Tanah.Edisi 1.2. 1996. Nursyamsi. Mikroorganisme Meningkatkan Efisiensi Pemupukan Fospat. 2000. 2006. Pusparajah (Eds.G.2002. S.Agrosains 2(2):54-58. Hal. Mayadewi.2003. Subagyo. S.. Nanan. 21-66 dalam Sumber Daya Lahan Indonesia dan Pengelolaannya. Notohadiprawiro. Pandang. Dalam Jurnal Tanah Tropika. Buletin Pusat Penelitian Marihat .M. Buletin Agronomi. Prosiding Simposium Panelitian Tanaman Pangan III. 2006.Penerapan Pertanian Organik. Tahun II No. N.Bogor Partohardjono.Bogor. Penerapan Pertanian Organik .6. Pengapuran Tanah Pertanian.Pusat Penelitian dan Pengembangan Tanah dan Agroklimak. Faperta IPB.. Kanisus Jakarta.No.A. ES. Prihartin. Pusat Penelitian Tanah dan Agroklimat. N. Fakta dan Implikasi Pertaniannya. Widjaja-Adhi. Ultisol. Darmawan. 2007. 2000. Pengaruh dosis pupuk dolomit dan pupuk P terhadap jumlah bintil akar dan hasil tanaman kacang tanah di tanah latosol. 2007. Jurnal Agritrop.. Iptek Tanaman Pangan 2(1) :12 -25. Jurnal Ilmu Tanah dan Lingkungan. Sistem Usahatani Konservasi Menunjang Pendapatan Petani Lahan Kering.B. Subandi.

Yulianti. Perbaikan dan peningkatan efisiensi produksi kedelai di lahan keringmasam. Palembang.S. pp 23 -32. Program Studi Ilmu Tanaman.A.) di Tanah Marginal. Jurnal Nature Indonesia. Indonesia.Biodiversitas. Efektifitas bakteri pelarut fosfat Pseudomonas sp pada pertumbuhan tanaman kedelai pada tanah podsolik merah kuning.2(5) : 23 – 43. Taufiq. H. Propinsi Sumatera Selatan. Augmentasi Bakteri Pelarut Fosfat (BPF) Potensial sebagai Pemacu Pertumbuhan Caysin (Brasica caventis Oed. Yogyakarta. 2005. (Bagian 1 dari 5 Tulisan) .MA dan Rosniawati.Pupuk Hayati . Indonesia. Laporan teknis BalaiPenelitianTanaman Kacangkacangan dan Umbi-umbian (tidak dipublikasi). Universitas Sriwijaya. 2007. Yuwono NW dan Rosmarkam A. Kuntyastuti. 2008. Widawati. dan C. Reaksi Tanah . Program Pascasarjana. 1950. Wild. Program Pascasarjana. Program Studi Ilmu Tanaman.Universitas Padjajaran. N. Sudaryono. Tim Peneliti Pengembangan Sumberdaya Lahan Pertanian. 2003. Triwardani. The retention of phosphate by soils.NW. Program Magister (S2). ** : Program Studi Ilmu Tanaman. A. Propinsi Sumatera Selatan.Jurnal Hijau. Pengelolaan Kesuburan Tanah Pada Lahan Gambut (Bagian 1) Pemanfaatan Lahan Gambut untuk Pertanian* Oleh: Novriani** dan Abdul Madjid Rohim*** (Bagian 1 dari 5 Tulisan) Keterangan: * : Makalah Pengelolaan Kesuburan Tanah. Program Magister (S2).. Pengembangan Inovasi Pertanian 1(2):157-163. Program Pascasarjana. 2001.2006. Ilmu Kesuburan Tanah. Wulandari. S dan Suliasih . 4(1) : 1-5.Solihin. Palembang. Program Magister (S2).G. Indonesia.Manshuri. UGM.A. J.Sudirja. *** : Dosen Mata Kuliah Pengelolaan Kesuburan Tanah. Pemanfaatan Biota Tanah untuk keberlanjutan produktivitas pertanian lahan kering masam. Soil Sci. Palembang. Universitas Sriwijaya. S. 2008.Yogyakarta. 7(1):10-14. 2006. Edisi 4. Respon beberapa sifat kimia fluventic eutrudepts melalui pendayagunaan limbah kakao dan berbagai jenis pupuk organik. Universitas Sriwijaya. Suryantini. 1: 221-238 Yuwono. Prahoro.R. Propinsi Sumatera Selatan.

danau atau daerah pantai yang selalu tergenang dan produksi bahan organik yang melimpah dari vegetasi hutan mangrove atau hutan payau. Tanah gambut merupakan tanah hidromorfik yang bahan asalnya sebagian besar atau seluruhnya terdiri atas bahan organik sisa-sisa tumbuhan. dimana proses dekomposisinya berlangsung tidak sempurna sehingga terjadi penumpukan dan akumulasi bahan organik membentuk tanah gambut yang kedalamannya di beberpa tempat dapat mencapai 16 meter. Papua serta beberapa pulau Kecil.1 g ml -1 atau lebih.16 juta hektar. seorang pejabat Belanda pada tahun 1860an yang menyatakan bahwa 1/6 areal wilayah Sumatera ditempati gambut (Notohadiprawiro. kandungan organik lebih dari 30% untuk tanah tekstur lempung dan lebih dari 20% untuk tanah tekstur pasir.0) kandungan unsur hara rendah (Paungkas P. Tanah gambut terbentuk karena laju ak umulasi bahan organik melebihi proses mineralisasi yang biasanya terjadi pada kondisi jenuh air yang hampir terus menerus . Sumatera.48 juta hektar.61 juta ha. Dengan penyebaran seluas sekitar 18 juta ha maka luas lahan gambut Indonesia menempati urutan ke-4 dari luas gambut dunia setelah Kanada. 1.70 juta hektar dan 1. Uni Sovyet dan Amerika Serikat. umumnya bersifat sangat asam (pH 4. Kalimantan Barat merupakan propinsi yang memiliki luas lahan gambut terbesar di Indonesia yaitu seluas 4. ketebalan lebih dari 0. Di daerah tropis khususnya Indonesia menurut Driesen (1978) terbentuknya gambut pada umumnya terjadi dibawah kondisi dimana tanaman yang telah mati tergenang air secara terus menerus. misalnya pada cekungan atau depresi. (2) 40 cm atau lebih : (a) dengan lapisan bahan organik jenuh air lebih dari 6 bulan atau telah ada perbaikan drainase. Riau dan Kalimantan Selatan dengan luas masing-masing 2. konsistensi tidak lekat-agak lekat. dengan ciri dan sifat: tidak terjadi deferensiasi horizon secara jelas. Menurut Soekardi dan Hidayat (1988) penyebaran gambut di Indonesia meliputi areal seluas 18. dalam keadaan yang selalu tergenang. 2006). Tanah gambut dapat terbentuk di daerah rawa pasang surut dan di daerah rawa -rawa pedalaman yang tidak dipengaruhi oleh air pasang surut (Hardjowigeno. tersebar pada pulau-pulau besar Kalimantan. Istilah gambut sendiri pertama kali muncul dan kemudian umum digunakan oleh di kalangan ilmiawan dan menjadi kosa kata Indonesia sejak tahun 1970 an (Radjaguguk.5 m. 1997). Soil Survey Staff (1990) menyatakan bahwa yang dimaksud dengan tanah organik (Histosol) adalah tanah yang mempunyai ketebalan sebagai berikut : (1) 60 cm atau lebih dengan kandungan serat (bahan organik kasar) meliputi 3/4 volume atau lebih dan kerapatan jenis dalam keadaan lembab kurang dari 0. diikuti oleh Kalimantan Tengah. Jenis tanah Organosol atau tanah gambut atau tanah organik berasal dari bahan induk organik seperti dari hutan rawa atau rumput rawa. warna coklat hingga kehitaman. (b) dengan bahan organik terdiri atas bahan organik halus (saprik) atau bahan organik sedang (hemik) atau bahan fibrik (kasar) kurang dari 2/3 volume dan kerapatan jenis dalam keadaan lembab 0.480 ribu hektar. tidak berstruktur. Pendahuluan Lahan gambut dikenal dan ditemukan pertama kali oleh Kyooker. tekstur debu lempung.1 g ml-1. 2001).I. 1996).

dimana gerakan naik turunnya air tanah dipengaruhi pasang surut harian air laut. 2000). Kriteria penggolongan tanah gambut dengan tanah mineral secara kuantitatif ditentukan oleh kandungan fraksi bahan tanah mineral dan C-organik. tanah gambut mempunyai lapisan organik setebal 50 cm atau lebih dari permukaan tanah. dan (3) mempunyai 12% sampai 18% C-organik jika fraksi mineral mengandung liat antara 0% sampai 60 %. Kandungan air yang tinggi dan kapasitas memegang air 15 sampai 30 kali dari bobot kering. Tanah disebut sebagai tanah gambut apabila memenuhi salah satu persyaratan berikut (Soil Survey Staff .1 jika kandungan liatnya antara 0-60 %. Dapat juga digolongkan pada tanah gambut bila kedalaman tanah tersebut besar dari 50 cm dan kandungan bahan organiknya besar 65%. Menurut Suhardjo dan Soepraptohardjo (1981). Apabila dalam keadaan jenuh air mempunyai kandungan C –organik paling sedikit 18% jika kandung liatnya >60 % atau mempunyai kandungan C-organik 2% jika tidak mempunyai liat (O %) atau mempunyai kandungan C–organik lebih dari 12% + % liat x 0. Gambut tropis umumnya berwarna coklat tua (gelap). Fibreists. Hemists. kerikil atau pasir yang ruang antaranya telah diisi oleh bahan organik. suatu tanah digolongkan pada tanah gambut jika (1) mempunyai 18 % atau lebih C-organik jika fraksi mineral terdiri atas 60% atau lebih kadar liat. Saprists.4 g cm-3). Sifat lain yang merugikan adalah jika gambut mengalami pengeringan yang berlebihan sehingga koloid gambut menjadi rusak. (2) mempunyai 12% atau lebih kecil C-organik jika fraksi mineral tidak mengandung liat.sehingga sirkulasi oksigen dalam tanah terhambat. Apabila tidak jenuh air mempunyai kandungan C-organik minimal 2O %. bergantung pada tahapan dekomposisinya. Tanah gambut terdapat di cekungan.1990): 1. bobot isi rendah (0. Lahan gambut mempunyai penyebaran di lahan rawa. yaitu lahan yang menempati posisi peralihan diantara daratan dan sistem perairan. Hal tersebut akan memperlambat proses dekomposisi bahan organik dan akhirnya bahan organik itu akan menumpuk.  Folist merupakan lapisan tanah yang tersusun oleh tumpukan daun-daun. Yang paling dominan dan sangat luas adalah lahan gambut yang terdapat di lahan rawa di dataran rendah sepanjang pantai. Menurut Soil Taxonomi gambut digolongkan kedalam order Histosol yang dibedakan menjadi 4 sub order masing-masing Folists. Lahan gambut sangat luas umumnya menempati menyebar diantara aliran bawah sungai besar dekat muara. Gejala kering tak balik (irreversible drying) terjadi dan gambut berubah sifat seperti arang sehingga tidak mampu lagi menyerap hara dan menahan air (Subagyo et al. gambut sering bercampur dengan tanah liat. Menurut Everret (1983). dan porositas total antara 75% sampai 95% menyebabkan terbatasnya penggunaan mesin -mesin pertanian dan pemilihan komoditas yang akan diusahakan (Ambak dan Melling.  Fibrists merupakan tumpukan dari bahan organik yang berserat yang belum atau baru mengalami proses dekomposisi. 2. . Gambut akan kehilangan air tersedia setelah 4 sampai 5 minggu pengeringan dan hal itu mengakibatkan gambut mudah terbakar. depresi atau bagian-bagian terendah di pelimbahan dan menyebar di dataran rendah sampai tinggi. ranting dan cabang yang tertimbun diatas batuan. Lahan ini sepanjang tahun/selama waktu yang panjang dalam setahun selalu jenuh air (water logged) atau tergenang air. 1996). Di alam.05-0.

hampir selalu tergenang air.300 cm 4. Diberbagai tempat dewasa ini telah dilakukan pemanfaatan tanah gambut itu terutama untuk lahan pasang surut dan pembukaan lahan lain baik untuk perkebunan maupun untuk lahan pemukiman transmigrasi. Misalnya kasus kebakaran hutan yang menyebabkan protes dari negara-negara tetangga. yaitu: 1. Contoh penyebarannya di daerah dataran pantai Sumatra. Rawa Lakbok (Ciamis. Wilayah lahan-lahan gambut merupakan potensi karbon dan juga sebagai penyimpan air perlu didorong sehingga pemanfaatannya bisa maksimal dan tidak keliru lagi. Menurut pengamatan di lapangan. Hemists adalah gambut yang tingkat dekomposis bahan organik tengah berlangsung. yaitu lahan dengan ketebalan gambut 100 . ketebalan 0. Lahan gambut dangkal. Contoh penyebarannya di Rawa Pening (Jawa Tengah). Tanah gambut secara alami terdapat pada lapisan paling atas. Contoh penyebarannya di Dataran Tinggi Dieng. hampir tidak berserabut. Lahan gambut sangat dalam. bersifat sangat asam. terbentuk dari sisa tumbuhan hutan dan rumput rawa. tanah gambut dibedakan menjadi tiga yaitu: a.5 – 16 meter. bersifat agak asam. gambut topogen: terbentuk di daerah cekungan (depresi) antara rawa-rawa di daerah dataran rendah dengan di pegunungan. gambut ombrogen: terletak di dataran pantai berawa. Pemanfaatan gambut yang tidak bijaksana justru membawa bencana bagi kehidupan masyarakat setempat dan bangsa. b. 2. yaitu lahan dengan ketebalan gambut 50 . mempunyai ketebalan 0. Jawa Barat).100 cm.200 cm 3. berasal dari sisa tumbuhan rawa.5 – 6 meter. yaitu lahan dengan ketebalan gambut lebih dari 300 cm.  Saprists adalah gambut yang tingkat dekomposisinya telah lanjut. dimana separuh dari bahan organik tersebut telah terdekomposisi. yaitu lahan dengan ketebalan gambut 200 . . Dalam kondisi alami. sehingga menghasilkan tanah gambut yang variasi dan sebarannya heterogen. kandungan unsur hara relatif lebih tinggi. berat jenisnya besar dari 0. berasal dari sisa tumbuhan yang hidupnya di daerah sedang (vegetasi spagnum). material berserat ini tidak terdistribusi secara merata dalam lapisan tanah. lapisan tanah gambut terdiri atas bahan material berserat dan tanaman yang terdekomposisi belum sempurna. Dengan demikian. dan c. Lahan dengan ketebalan tanah gambut kurang dari 50 cm disebut sebagai lahan atau tanah bergambut disebut sebagai lahan gambut apabila ketebalan gambut lebih dari 50 cm. Berdasarkan kedalamnya.2 dan biasanya berwarna hitam atau coklat kelam. gambut pegunungan: terbentuk di daerah topografi pegunungan. Lahan gambut sedang.lahan gambut adalah lahan rawa dengan ketebalan gambut lebih dari 50 cm. Lahan gambut dalam. Berdasarkan penyebaran topografinya. Jawa Tengah). Di bawahnya terdapat lapisan tanah alluvial pada ke dalaman yang bervariasi. lahan gambut dibagi menjadi empat tipe. dan Segara Anakan (Cilacap. Dari sekian luas penyebaran di Indonesia beberapa bagian dipengaruhi oleh pasang. Tanah gambut di daerah tropika basah seperti Indonesia berkembang dari vegetasi hutan tropis. Kalimantan dan Irian Jaya (Papua).

1974) memilah gambut menjadi tiga golongan. dan kadar abunya seperti yang disajikan pada Tabel 1. emisi karbon. Penggolongan tersebut didasarkan pada kandungan nitrogen (N). agak dalam (100-200 cm). Komposisi bahan penyusun gambut berkaitan erat dengan asam-asam organik yang dihasilkan selama proses dekomposisi. Bobot volume fibrik lebih kecil dari 0. fosfor (P). Tabel 1.50 0.075 sampai 0. dikutip Driessen dan Soepraptohardjo. dan oligotropik menurut Fleischer Tingkat Kesuburan Kriteria Penilaian (%) N K2O 2. Berdasarkan tingkat kesuburan alami. pasir kuarsa. peningkatan stabilitas dan penurunan sifat toksik bahan gambut dan pengembangan tanaman yang sesuai dengan karakteristik lahan. Pengertian taraf dekomposisi bahan organik tanah yang lebih jelas dikemukakan Widjaja dan Adhi (1988). (1996) membagi gambut dalam 4 kelas.075 g cm -3 dan kandungan air tinggi jika tanah dalam keadaan jenuh air. atau endapan liat nonmarin.195 g cm -3. gambut dibagi dalam 3 kelompok yakni eutrofik (kandungan mineral tinggi. Subagyo et al. Tanah gambut yang berkembang di atas pasir kuarsa miskin hara esensial dibandingkan dengan tanah gambut yang berkembang di atas tanah lempung dan liat.Pasalnya. Kriteria kimia gambut eutropik.195 g cm -3. dan (3) gambut oligotropik sebagai gambut miskin. yaitu dangkal (50-100 cm). Ketebalan atau kedalaman gambut juga menentukan tingkat kesuburan alami dan potensi kesesuaiannya untuk tanaman. Berdasar sifat dari bahan gambut dan hasil pembelajaran dalam pengelolaan lahan gambut. kalsium (Ca). mesotropik. Yang dimaksud dengan fibrik adalah bahan organik tanah yang sangat sedikit terdekomposisi yang mengandung serat sebanyak 2/3 volume.00 Eutropik .25 CaO 4. di kawasan hutan gambut tropika. kalium (K). sedangkan hemik adalah bahan organik yang mempunyai tingkat dekomposisi antara fibrik dengan saprik dengan bobot isi 0. dan pengaruhnya terhadap proses perubahan iklim dunia. Fleisher (1965. (1996).00 Abu 10. pendekatan pengembangan berdasarkan karakteristik bahan tanah mineral di bawah lapisan gambut. kandungan basa sedang). Berdasarkan status hara. tanah bawah gambut dapat terdiri atas liat endapan marin. maka pengembangan lahan gambut Indonesia ke depan dituntut menerapkan beberapa kunci pokok pengelolaan yang meliputi aspek legal yang mendukung pengelolaan lahan gambut. Menurut Subagyo et al. pengelolaan air. yaitu (1) gambut eutropik yang subur. terutama Ca rendah dan reaksi masam) dan mesotrofik ( terletak diantara keduanya dengan pH sekitar 5.10 P2O5 0. Saprik adalah bahan organik yang terdekomposisi paling lanjut yang mengandung serat kurang dari 1/3 volume dan bobot isi saprik adalah 0. dalam (200-300 cm) dan sangat dalam (lebih dari 300 cm). (2) gambut mesotropik dengan kesuburan sedang. penataan ruang berdasarkan satuan sistem hidrologi gambut sebagai wilayah fungsional ekosistem gambut. Stevenson (1994) menjelaskan bahwa lignin akan mengalami proses degradasi menjadi senyawa humat dan selama proses degradasi tersebut akan dihasilkan asam-asam fenolat. reaksi gambut netral atau alkalin). oligotrofik (kandungan mineral. vegetasi maupun gambut di bawahnya menyimpan kandungan karbon yang besar. Terdapat hubungan sangat jelas antara cadangan karbon. Tingkat dekomposisi bahan organik ditunjukkan oleh kandungan serat. Isu perubahan iklim dunia sudah menjadi isu global yang perlu dicarikan solusinya.

(2) sedang. R.00 0.25 5. banyak terbentuk senyawasenyawa asam organik sehingga derajat kemasaman tanah gambut tinggi. MS . pH kurang dari 4. Posted by Dr.03 0. Bahan Ajar Online untuk mata kuliah: (1) Dasar-Dasar Ilmu Tanah. 2009. kategori kemasaman tanah gambut dibedakan atas : (1) tinggi.05 1. http://dasar2ilmutanah.80 0. pH berkisar antara 4 sampai 5.00 2. A.00 0.blogspot.10 0. dan (3) Pengelolaan Kesuburan Tanah Lanjut. Bersambung ke bagian 2 yang dapat dilihat pada pustaka dibawah ini: Pustaka: Madjid. Dasar-Dasar Ilmu Tanah.20 0. pH lebih dari 5.com. Fakultas Pertanian Unsri & Program Pascasarjana Unsri. (3) rendah. Menurut Halim dan Soepardi (1987). Ir.Mesotropik Oligotropik 2.00 Sumber : Driessen dan Soepraptohardjo (1974). Abdul Madjid. (2) Kesuburan Tanah. Sebagai akibat akumulasi bahan organik dan tanah dalam lingkungan tergenang air.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful