Nutrisi Pada Remaja

Fenomena pertumbuhan pada masa remaja menuntut kebutuhan nutrisi yang tinggi agar tercapai potensi pertumbuhan secara maksimal karena nutrisi dan pertumbuhan merupakan hubungan integral. Tidak terpenuhinya kebutuhan nutrisi pada masa ini dapat berakibat terlambatnya pematangan seksual dan hambatan pertumbuhan linear. Pada masa ini pula nutrisi penting untuk mencegah terjadinya penyakit kronik yang terkait nutrisi pada masa dewasa kelak, seperti penyakit kardiovaskular, diabetes, kanker dan osteoporosis. Sebelum masa remaja, kebutuhan nutrisi anak lelaki dan anak perempuan tidak dibedakan, tetapi pada masa remaja terjadi perubahan biologik dan fisiologik tubuh yang spesifik sesuai gender (gender specific) sehingga kebutuhan nutrienpun menjadi berlainan. Sebagai contoh, remaja perempuan membutuhkan zat besi lebih banyak karena mengalami menstruasi setiap bulan. Selain perubahan biologik dan fisiologik, remaja juga mengalami perubahan psikologik dan sosial. Terdapat variasi waktu dan lamanya berlangsung masa transisi dari anak menjadi manusia dewasa yang dipengaruhi oleh faktor sosio-kultural dan ekonomi. Selain itu, remaja bukanlah kelompok yang homogen walaupun berada dalam lingkungan sosio-kultural yang sama dengan variasi lebar dalam hal perkembangan, maturitas dan gaya hidup. Penelitian Blum (1991) pada remaja 15-18 tahun, didapatkan bahwa remaja lelaki lebih percaya diri, merasa lebih bahagia dan sehat serta lebih tidak rentan dibandingkan remaja perempuan yang cenderung merasa kurang puas akan keadaan tubuhnya, kepribadian serta kesehatannya. Masalah nutrisi utama pada remaja adalah defisiensi mikronutrien, khususnya anemia defisiensi zat besi, serta masalah malnutrisi, baik gizi kurang dan perawakan pendek maupun gizi lebih sampai obesitas dengan ko-morbiditasnya yang keduanya seringkali berkaitan dengan perilaku makan salah. Kebutuhan nutrisi Tingginya kebutuhan energi dan nutrien pada remaja dikarenakan perubahan dan pertambahan berbagai dimensi tubuh (berat badan, tinggi badan), massa tubuh serta komposisi tubuh sebagai berikut: Tinggi badan
 

Sekitar 15 – 20% tinggi badan dewasa dicapai pada masa remaja. Percepatan tumbuh anak lelaki terjadi lebih belakangan serta puncak ypercepatan lebih tinggi dibanding anak perempuan. Pertumbuhan linear dapat melambat atau terhambat bila kecukupan makanan / energi sangat kurang atau energy expenditure meningkat misal pada atlet.

Berat badan

Percepatan tumbuh pada remaja sangat rentan terhadap kekurangan energi dan nutrien sehingga . pemenuhan kebutuhan nutrisi merupakan hal yang mutlak dan hakiki. demikian pula massa tubuh tanpa lemak dibanding anak perempuan. diabetes. Mencegah awitan penyakit terkait makanan seperti penyakit kardiovaskular. 4.  Sekitar 25 – 50% final berat badan ideal dewasa dicapai pada masa remaja. Rumus IMT = BB/TB. Defisiensi energi dan nutrien yang terjadi pada masa ini dapat berdampak negatif yang dapat melanjut sampai dewasa. Memberikan cukup cadangan bila sakit atau hamil. Komposisi tubuh       Pada masa pra-pubertas proporsi jaringan lemak dan otot maupun massa ytubuh tanpa lemak (lean body mass) pada anak lelaki dan perempuan sama. Pada remaja yang sedang mengalami pertumbuhan fisik pesat serta perkembangan dan maturasi seksual. Sekitar 45% tambahan massa tulang terjadi pada masa remaja dan pada yakhir dekade kedua kehidupan 90% massa tulang tercapai. Mengandung nutrien yang diperlukan untuk pertumbuhan fisik dan perkembangan kognitif serta maturasi seksual. metabolisme basal dan peningkatan kebutuhan untuk menunjang percepatan tumbuh-kembang masa remaja. Anak lelaki yang sedang tumbuh pesat. 2. Kebutuhan nutrisi remaja dibahas berikut ini: Energi Kebutuhan energi remaja dipengaruhi oleh aktivitas. 3. Jumlah jaringan lemak tubuh pada orang dewasa normal adalah 23% pada yperempuan dan 15% pada lelaki. Mendorong kebiasaan makan dan gaya hidup sehat. penambahan jaringan otot lebih ybanyak daripada jaringan lemak secara proporsional. Pemantauan pertumbuhan selama pubertas dapat menggunakan indeks TB/U. maka perhitungan kebutuhan energi berdasarkan tinggi badan (TB) akan lebih sesuai. Terjadi kegagalan penambahan massa tulang pada perempuan dengan ypubertas terlambat sehingga kepadatan tulang lebih rendah pada masa dewasa. Metabolisme basal (MB) sangat berhubungan erat dengan jumlah massa tubuh tanpa lemak (lean body mass) sehingga MB pada lelaki lebih tinggi daripada perempuan yang komposisi tubuhnya mengandung lemak lebih banyak. BB/TB dan IMT/U (indeks massa tubuh menurut umur). Nutrisi merupakan salah satu faktor lingkungan yang turut menentukan awitan pubertas. osteoporosis dan kanker. Waktu pencapaian dan jumlah penambahan berat badan sangat dipengaruhi yasupan makanan / energi dan energy expenditure. Nutrisi pada masa remaja hendaknya dapat memenuhi beberapa hal di bawah ini: 1. Karena usia saat terjadinya percepatan tumbuh sangat bervariasi.

donat. menganjurkan konsumsi lemak tidak lebih dari 30% dari energi total dan tidak lebih dari 10% berasal dari lemak jenuh. lelaki 15-18 tahun) dan kekurangan asupan protein secara konsisten pada masa ini dapat berakibat pertumbuhan linear berkurang. selain juga sebagai sumber serat makanan.300 mg per hari. Sekitar 45% dari puncak pembentukan massa tulang berlangsung pada masa remaja. Angka kecukupan asupan kalsium yang dianjurkan untuk kelompok remaja adalah 1. Karbohidrat Karbohidrat merupakan sumber energi utama dalam makanan. disusul keju. keterlambatan maturasi seksual serta berkurangnya akumulasi massa tubuh tanpa lemak. Susu merupakan sumber kalsium terbaik. yogurt. keju. Kebutuhan protein tertinggi pada saat puncak percepatan tinggi terjadi (perempuan 11-14 tahun. sehingga masa remaja merupakan peluang (window of opportunity) untuk perkembangan optimal tulang dan kesehatan masa depan. Jumlah yang dianjurkan adalah 50% atau lebih dari energi total serta tidak lebih dari 10-25% berasal dari karbohidrat sederhana seperti sukrosa atau fruktosa. dan makanan seperti cake. Penelitian Josep di Jakarta (2010) pada remaja siswa SMP didapatkan bahwa siswa yang mengonsumsi minuman bersoda 3-4 kali per minggu berisiko untuk terjadi gizi lebih. Kebutuhan kalsium pada masa remaja merupakan yang tertinggi dalam kurun waktu kehidupan karena remaja mengalami pertumbuhan skeletal yang dramatis. Pada usia 17 tahun. Lemak Tubuh manusia memerlukan lemak dan asam lemak esensial untuk pertumbuhan dan perkembangan normal. Sumber utama lemak dan lemak jenuh adalah susu. Protein Kebutuhan protein pada remaja ditentukan oleh jumlah protein untuk rumatan masa tubuh tanpa lemak dan jumlah protein yang dibutuhkan untuk peningkatan massa tubuh tanpa lemak selama percepatan tumbuh. daging (berlemak). konsumsi minuman ringan (soft drinks) memasok lebih dari 12% kalori yang berasal dari karbohidrat dan konsumsinya meningkat 3 kali lipat pada dua dekade terakhir ini. Kini banyak makanan dan minuman yang difortifikasi dengan kalsium yang setara dengan kandungan . mentega / margarin. dan lain-lain.kekurangan energi dan nutrien kronik pada masa ini dapat berakibat terjadinya keterlambatan pubertas dan atau hambatan pertumbuhan. remaja telah mencapai hampir 90% dari masa tulang dewasa. sehingga kecukupan asupan kalsium menjadi sangat penting untuk kepadatan masa tulang serta mencegah risiko fraktur dan osteoporosis. es krim. Pedoman makanan di berbagai negara termasuk Indonesia (gizi seimbang). Mineral Kalsium (Ca). kue sejenis dan es krim. Di Amerika Serikat.

Seng berperan sebagai metalo-enzyme pada proses metabolisme serta penting pada pembentukan protein dan ekspresi gen. kerang dan biji-bijian utuh merupakan sumber seng yang baik. ubi jalar merah dan susu. Asupan serat yang cukup juga diduga dapat menurunkan kadar kolesterol darah. Pada remaja perempuan kebutuhan lebih banyak dengan adanya menstruasi. kekurangan seng dapat mengakibatkan hambatan pada pertumbuhan dan kematangan seksual. Daging merah.kalsium pada susu (300mg per saji). Preparat kalsium akan diabsorpsi lebih efisien bila dikonsumsi bersama makanan dengan dosis tidak lebih dari 500 mg. Terdapat pula kalsium dalam bentuk sediaan farmasi (dalam bentuk karbonat. Vitamin C . Besi dalam bentuk ‘heme’ yang terdapat pada sumber hewani lebih mudah diserap dibanding besi non-heme yang terdapat pada biji-bijian atau sayuran. Seperti halnya dengan kekurangan energi dan protein. Keterlibatannya dalam pembentukan kolagen dan jaringan ikat menyebabkan vitamin ini menjadi penting pada masa percepatan pertumbuhan dan perkembangan. Folat. Vitamin E dikenal sebagai antioksidan yang penting pada remaja karena pesatnya pertumbuhan. susu. bayam dan sayuran hijau lain. Vitamin Vitamin A. Meningkatnya konsumsi makanan yang mengandung vitamin E merupakan tantangan karena makanan sumber vitamin E umumnya mengandung lemak tinggi. Seperti halnya kalsium. Konsumsi seng yang adekuat penting untuk proses percepatan tumbuh dan maturasi seksual. tomat.karoten sebagai pro-vitamin A yang sering dikonsumsi remaja berupa wortel. Sumber vitamin A utama : serealia siap saji. Folat berperan pada sintesis DNA. Kekurangan vitamin A awal ditandai dengan adanya buta senja. sitrat. Sumber β. penyakit jantung koroner dan diabetes mellitus tipe-2. vitamin A juga diperlukan untuk pertumbuhan. Lain-lain Serat (fiber). laktat atau fosfat) dengan absorpsi sekitar 25-35%. margarin dan keju. Zat besi (Fe). Selain penting untuk fungsi penglihatan. Vitamin E. Kebutuhan pada remaja lelaki 10-12 mg/hari dan perempuan 15 mg/hari. kebutuhan zat besi pada remaja baik perempuan maupun lelaki meningkat sejalan dengan cepatnya pertumbuhan dan bertambahnya massa otot dan volume darah. Serat makanan penting untuk menjaga fungsi normal usus dan mungkin berperan dalam pencegahan penyakit kronik seperti kanker. wortel. Kekurangan folat menyebabkan terjadinya anemia megaloblastik dan kecukupan folat pada masa sebelum dan selama kehamilan dapat mengurangi kejadian spina bifida pada bayi. Status vitamin C pada remaja perokok lebih rendah walaupun telah mengonsumsinya dalam jumlah cukup dikarenakan stres oksidatif sehingga mereka memerlukan tambahan vitamin C hingga 35 mg per hari. Seng (Zn). reproduksi dan fungsi imunologik. . RNA dan protein sehingga kebutuhan folat meningkat pada masa remaja.

1% masing-masing pada anak sekolah lelaki dan perempuan usia 10-14 tahun. Laporan hasil beberapa penelitian di Amerika Serikat menunjukkan bahwa kebanyakan remaja kekurangan vitamin dan mineral dalam makanannya antara lain folat. Beberapa penelitian menunjukkan adanya hubungan defisiensi besi dengan gangguan proses kognitif yang membaik setelah mendapat suplementasi zat besi. garam dan gula) terjadi lebih banyak pada lelaki daripada perempuan. Karenanya pencegahan obesitas menjadi sangat penting dan remaja merupakan target utama. upaya untuk ketidaktergantungan dan diterima lingkungannya. sedangkan laporan Sunarno dan Untoro (2002) pada SKRT 1995 menunjukkan angka 45. Mg. Isu masalah nutrisi pada remaja 1. . serta masalah malnutrisi. anemia defisiensi besi dan defisiensi mikronutrien lain. baik gizi kurang dan perawakan pendek maupun gizi lebih sampai obesitas dengan ko-morbiditasnya yang keduanya seringkali berkaitan dengan perilaku makan salah dan gaya hidup. Perilaku dan pola makan remaja. dan pengobatan tidak saja memerlukan biaya tinggi tetapi seringkali juga tidak efektif. prevalensi berkisar antara 27 . maka faktor psikososial merupakan penentu dalam memilih makanan. Anemia merupakan masalah nutrisi utama pada remaja dan umumnya pola makan salah sebagai penyebabnya di samping infeksi dan menstruasi. 4.8% dan 57. Obesitas juga menimbulkan masalah besar kesehatan dan sosial. Bila tidak ada masalah ekonomi ataupun keterbatasan pangan. Obesitas Obesitas pada masa remaja cenderung menetap hingga dewasa dan makin lama obesitas berlangsung makin besar korelasinya dengan mortalitas dan morbiditas. 3. Kebutuhan serat per hari dapat dihitung dengan rumus : ( umur + 5 ) gram dengan batas atas sebesar ( umur + 10 ) gram. Sukarjo dkk di Jawa Timur (2001) mendapatkan prevalensi sebesar 25.65% pada 11 studi oleh ICRW (International Centre for Research on Women). memperbesar risiko obstetrik. lemak jenuh. Obesitas sentral (rasio lingkar pinggang dengan panggul) terbukti berkorelasi terbalik dengan profil lipid padal penelitian longitudinal Bogalusa. Masalah nutrisi pada remaja Masalah nutrisi utama pada remaja adalah defisiensi mikronutrien. Hal ini lebih nyata pada perempuan dibanding lelaki. dan berkurangnya kapasitas kerja. vitamin A dan E. Gizi kurang dan perawakan pendek Perawakan pendek pada remaja seringkali ditemukan pada populasi dengan kejadian malnutrisi tinggi. Defisiensi besi. kolesterol. Gambaran khas pada remaja yaitu : pencarian identitas. Prevalensi anemia pada remaja cukup tinggi. Zn. Pola makan remaja seringkali tidak menentu yang merupakan risiko terjadinya masalah nutrisi. Gizi kurang kronik yang mengakibatkan perawakan pendek merupakan penyebab terjadinya hambatan pertumbuhan dan maturasi. 2. kalsium dan serat. khususnya anemia defisiensi zat besi. Fe.8% pada remaja perempuan dan 12.1% pada remaja lelaki usia 12-15 tahun.menjaga kadar gula darah dan mengurangi risiko terjadinya obesitas. tetapi sebaliknya tentang asupan makanan yang berlebih (lemak total.

seperti penyakit kardiovaskular. jarang mengonsumsi sayur dan buah ataupun produk peternakan (dairy foods) serta diet yang salah pada remaja perempuan. WHO 2006. Stang J. Nutrition in pediatrics: basic science and applications. Story M (eds) Guidelines for Adolescent Nutrition Service (2005) diunduh dari http://www. Daftar Bacaan 1. serta masalah malnutrisi. Global trends in adolescent health. Pada masa ini pula nutrisi penting untuk mencegah terjadinya penyakit kronik yang terkait nutrisi pada masa dewasa kelak. Nutrition needs of adolescents.edu/let/pubs/adol_book. In: Stang J.epi.edu/let/pubs/adol_book.umn. Edisi ke-3. rentan terhadap masalah komersial dan tekanan dari teman sekelompok (peer group) serta kurang peduli akan masalah kesehatan. Masalah nutrisi utama pada remaja adalah defisiensi mikronutrien. waktu makan tidak teratur. 4.htm 5. J Amer Med Assoc 1991.265:2711-9 3. Kebiasaan makan yang sering terlihat pada remaja antara lain ngemil (biasanya makanan padat kalori). 2003. Tidak terpenuhinya kebutuhan nutrisi pada masa ini dapat berakibat terlambatnya pematangan seksual dan hambatan pertumbuhan linear. Watkins JB. Hal tersebut dapt mengakibatkan asupan makanan tidak sesuai kebutuhan dan gizi seimbang dengan akibatnya terjadi gizi kurang atau malahan sebaliknya asupan makanan berlebihan menjadi obesitas. Dalam: Walker WA. Kennedy E. Haider R. melewatkan waktu makan terutama sarapan pagi.umn. Story M. h. baik gizi kurang dan perawakan pendek maupun gizi lebih sampai obesitas dengan ko-morbiditasnya yang keduanya seringkali berkaitan dengan perilaku makan salah dan gaya hidup.htm 2. Vazquez IM. What are American children eating? Implication for public policy. Adolescence: healthy and disordered eating. Blum RW. Karenanya penting membangun body image dan self esteem yang positif pada remaja dalam upaya promosi kesehatan dan gizi serta pencegahan obesitas.kepedulian akan penampilan.epi. kanker dan osteoporosis. diabetes. 861-77 6. terlebih bila terjadi kehamilan. penyunting. Story M (eds) Guidelines for Adolescent Nutrition Service (2005) diunduh dari http://www. Blazar NE. Di negara berkembang. khususnya anemia defisiensi zat besi. sering makan fast foods. Adolescent Nutrition: A review of the Situation in Selected South-East Asian Countries. Stang J. Goldberg J. Remaja perempuan cenderung pada asupan makanan yang kurang. akan mendorong remaja kepada pola makan yang tidak menentu tersebut. Duggan C.53(5):111-26 . Ringkasan Fenomena pertumbuhan pada masa remaja menuntut kebutuhan nutrisi yang tinggi agar tercapai potensi pertumbuhan secara maksimal. Rome ES. London: Decker. Nutr Rev 1995. sering terjadi gangguan perilaku makan seperti anoreksia nervosa dan bulimia terutama pada perempuan yang berkorelasi dengan body image yang negatif.

Sunarno RW. Should adolescents be specifically targeted for nutrition in developing countries? To addresswhich problem and how? Diunduh dari http://www.pdf . Tugas penelitian di Divisi Nutrisi dan Penyakit Metabolik. Indonesia. The Role of Sugar-Sweetened Beverage Consumption in Adolescent Obesity: A Review of the Literature. 16-17 September 2002. Dept I. Paper dipresentasikan di WHO Regional Meeting on Adolescent Nutrition ln Chandigarh. The nutrition and lives of adolescents in developing countries: Findings from the nutrition of adolescent girls research program.7.idpas. Srinivasan SR. The Journal of School Nursing 2008. Bloem MW. et al.Kesehatan Anak. de Pee S.24(1):3-12 8. Untoro R.idpas. Freedman DS. 11. Dietz WH. Socio-economic status and puberty are the main factors detemining anaemia in adolescent girls and boys in East-Java. Johnson-Welch C.55(11):932-9 10. Delisle H.55:359-67 12. FKUI (2010) 9. The Relation of Overweight to Cardiovascular Risk Factors Among Children and Adolescents: The Bogalusa Heart Study Pediatrics 1999. 2001.org/pdf/1803ShouldAdolescentBeTargeted.pdf 13. Kurz KM. Should adolescents be specifically targeted for nutrition in developing countries? To addresswhich problem and how? Diunduh dari http://www. Harrington S. Eur J Clin Nutr. Nelson M. 1994. Josep R. Proc Nutr Soc 1996. Anaemia in adolescent girls: effects on cognitive function and activity. Dikutip dari Delisle H. Soekarjo DD. Hubungan antara indeks massa tubuh dengan perilaku konsumsi minuman manis pada siswa SMP : Sebuah survei di salah satu SMP swasta di Jakarta. ICRW .103(6):1175-82 14. India. Berenson GS.org/pdf/1803ShouldAdolescentBeTargeted.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful