ASKEP LIMFOMA MALIGNA

I. Konsep Dasar Penyakit a. Pengertian Limfoma maligna (kanker kelenjar getah bening) merupakan bentuk keganasan dari sistem limfatik yaitu sel-sel limforetikular seperti sel B, sel T dan histiosit sehingga muncul istilah limfoma maligna (maligna = ganas). Ironisnya, pada orang sehat sistem limfatik tersebut justru merupakan komponen sistem kekebalan tubuh. Ada dua jenis limfoma maligna yaitu Limfoma Hodgkin (HD) dan Limfoma non-Hodgkin (LNH). b. Epidemiologi Saat ini, sekitar 1,5 juta orang di dunia hidup dengan limfoma maligna terutama tipe LNH, dan dalam setahun sekitar 300 ribu orang meninggal karena penyakit ini. Dari tahun ke tahun, jumlah penderita penyakit ini juga terus meningkat. Sekadar gambaran, angka kejadian LNH telah meningkat 80 persen dibandingkan angka tahun 1970-an. Data juga menunjukkan, penyakit ini lebih banyak terjadi pada orang dewasa dengan angka tertinggi pada rentang usia antara 45 sampai 60 tahun. Sedangkan pada Limfoma Hodgkin (DH) relative jarang dijumpai, hanya merupaka 1 % dari seluruh kanker. Di negara barat insidennya dilaporkan 3,5/100.000/tahun pada laki-laki dan 2,6/100.000/tahun pada wanita. Di Indonesia, belum ada laporan angka kejadian Limfoma Hodgkin. Penyakit limfoma Hodgkin banyak ditemukan pada orang dewasa muda antara usia 18-35 tahun dan pada orang di atas 50 tahun. c. Etiologi Penyebab dari penyakit limfoma maligna masih belum diketahui dengan pasti..Empat kemungkinan penyebabnya adalah: faktor keturunan, kelainan sistem kekebalan, infeksi virus atau bakteria (HIV, virus human T-cell leukemia/lymphoma (HTLV), Epstein-Barr virus (EBV), Helicobacter Sp) dan toksin lingkungan (herbisida, pengawet dan pewarna kimia). d. Faktor Predisposisi 1. Usia Penyakit limfoma maligna banyak ditemukan pada usia dewasa muda yaitu antara 18-35 tahun dan pada orang diatas 50 tahun 2. Jenis kelamin Penyakit limfoma maligna lebih banyak diderita oleh pria dibandingkan wanita 3. Gaya hidup yang tidak sehat Risiko Limfoma Maligna meningkat pada orang yang mengkonsumsi makanan tinggi lemak hewani, merokok, dan yang terkena paparan UV 4. Pekerjaan Beberapa pekerjaan yang sering dihubugkan dengan resiko tinggi terkena limfoma maligna adalah peternak serta pekerja hutan dan pertanian. Hal ini disebabkan adanya paparan herbisida dan pelarut organik. e. Patofisiologi

hati. Modifikasi klasifikasi ini terus berlanjut hingga pada tahun 1982 muncul klasifikasi Working Formulation yang membagi limfoma maligna menjadi keganasan rendah. • Stadium III : Penyebaran Limfoma menyerang dua atau lebih kelompok kelenjar getah bening. Stadium I dan II sering dikelompokkan bersama sebagai stadium awal penyakit. Gejala pada Limfoma secara fisik dapat timbul benjolan yang kenyal. menengah dan tinggi berdasarkan klinis dan patologis. f. Stadium Limfoma Maligna Penyebaran Limfoma dapat dikelompokkan dalam 4 stadium. ketiak atau pangkal paha). • Stadium I : Penyebaran Limfoma hanya terdapat pada satu kelompok yaitu kelenjar getah bening. Namun tidak semua benjolan yang terjadi di sistem limfatik merupakan Limfoma. Klasifikasi Patologi Klasifikasi limfoma maligna telah mengalami perubahan selama bertahun-tahun. 3. Pada tahun 1956 klasifikasi Rappaport mulai diperkenalkan. serta pada seluruh dada atau perut. demam. Keduanya memiliki gejala yang mirip. Gejala Klinis Gejala klinis dari penyakit limfoma maligna adalah sebagai berikut : . Bisa saja benjolan tersebut hasil perlawanan kelenjar limfa dengan sejenis virus atau mungkin tuberkulosis limfa. Rappaport membagi limfoma maligna menjadi tipe nodular dan difus kemudian subtipe berdasarkan pemeriksaan sitologi. Perbedaannya dibedakan berdasarkan pemeriksaan patologi anatomi dimana pada PH ditemukan sel Reed Sternberg. • Stadium II : Penyebaran Limfoma menyerang dua atau lebih kelompok kelenjar getah bening. sementara stadium III dan IV dikelompokkan bersama sebagai stadium lanjut. • Stadium IV : Penyebaran Limfoma selain pada kelenjar getah bening setidaknya pada satu organ lain juga seperti sumsum tulang. Hal ini dapat segera dicurigai sebagai Limfoma. serta pada dada dan perut. Beberapa penderita mengalami demam Pel-Ebstein. dimana suhu tubuh meninggi selama beberapa hari yang diselingi dengan suhu normal atau di bawah normal selama beberapa hari atau beberapa minggu.Proliferasi abmormal tumor dapat memberi kerusakan penekanan atau penyumbatan organ tubuh yang diserang. Seiring dengan kemajuan imunologi dan genetika maka muncul klasifikasi terbaru pada tahun 1982 yang dikenal dengan Revised European-American classification of Lymphoid Neoplasms (REAL classification). Pembesaran kelenjar tadi dapat dimulai dengan gejala penurunan berat badan. atau otak g. Tumor dapat mulai di kelenjar getah bening (nodal) atau diluar kelenjar getah bening (ekstra nodal). Klasifikasi Penyakit Ada dua jenis penyakit yang termasuk limfoma malignum yaitu penyakit Hodgkin (PH) dan limfoma non Hodgkin (LNH). dan sifat LNH lebih agresif 2. keringat malam. paru-paru. Klasifikasi 1. Gejala lainnya timbul berdasarkan lokasi pertumbuhan sel-sel limfoma. tetapi hanya pada satu sisi diafragma. mudah digerakkan (pada leher.

Biopsi sumsum tulang di mana sumsum tulang diambil dari tulang panggul untuk melihat apakah Limfoma telah melibatkan sumsum tulang. k. terdapat angka yang relapse dini yang tinggi pada pasien yang dklasifikasikan sebagai stadium II dan III. teraba tumor masa suprapubic. ketiak dan pangkal paha Pada Limfoma secara fisik dapat timbul benjolan yang kenyal. • Radioterapi Walaupun beberapa pasien dengan stadium I yang benar-benar terlokalisasi dapat disembuhkan dengan radioterapi. Biopsi aspirasi jarum-halus. 3. biopsi sumsum tulang dan pemeriksaan darah. tidak terasa nyeri. j. jaringan diambil dari kelenjar getah bening dengan jarum suntik. Beberapa pasien dengan tumor keganasan tingkat rendah. Ada beberapa jenis biopsy untuk mendeteksi limfoma maligna yaitu : 1. tampak warna kencing campur darah. keletihan 7. Pemeriksaan Penunjang Untuk mendeteksi limfoma harus dilakukan biopsi dari kelenjar getah bening yang terkena dan juga untuk menemukan adanya sel Reed-Sternberg. 2. pembesaran suprapubic bila tumor sudah besar. Anemia. ketiak atau pangkal paha) 2. tidak membutuhkan pengobatan awal jika mereka tidak mempunyai gejala dan ukuran lokasi limfadenopati yang bukan merupakan ancaman. Penurunan nafsu makan 5. Pada pasien dengan limfoma keganasan tingkat rendah stadium III dan IV. Palpasi. Terapi • Cara pengobatan bervariasi dengan jenis penyakit. Limfodenopati superficial. Kelemahan. Demam 3. Kehilangan berat badan lebih dari 10 % selama 6 bulan (anorexia) 6. Sebagian besar pasien datang dengan pembesaran kelenjar getah bening asimetris yang tidak nyeri dan mudah digerakkan (pada leher. Untuk mendeteksi Limfoma memerlukan pemeriksaan seperti sinar-X. jaringan diambil dari kelenjar getah bening yang membesar.1. PET scan. dan pendarahan dapat dijumpai pada kasus yang mengenai sumsum tulang secara difus h. Radiasi local untuk tempat utama yang besar harus dipertimbangkan pada pasien yang menerima khemoterapi dan ini dapat bermanfaat khusus jika penyakit mengakibatkan sumbatan/ obstruksi anatomis. CT scan. Ini kadang-kadang dilakukan untuk memantau respon terhadap pengobatan. Pemeriksaan Fisik • Pemeriksaan fisik pada daerah leher. mudah digerakkan (pada leher. infeksi. Biopsi kelenjar getah bening. Biopsi atau penentuan stadium adalah cara mendapatkan contoh jaringan untuk membantu dokter mendiagnosis Limfoma. ketiak atau pangkal paha) • Inspeksi . pemeriksaan bimanual teraba tumor pada dasar buli-buli dengan bantuan general anestesi baik waktu VT atau RT. penyinaran seluruh tubuh . Sering keringat malam 4. khususnya golongan limfositik.

jalan lamban dan tanda lain yang menunjukkan kelelahan • SIRKULASI . II. Dengan khemoterapi intensif. kelemahan atau malaise umum Kehilangan produktifitasdan penurunan toleransi latihan Kebutuhan tidaur dan istirahat lebih bantak Tanda : Penurunan kekuatan. Bisa saja benjolan tersebut hasil perlawanan kelenjar limfe dengan sejenis virus atau mungkin tuberculosis limfa. Terapi kombinasi. pasien limfoma maligna tingkat tinggi yang tersebar luas mempunyai perpanjangan hidup lebih lama dan dapat disembuhkan. Konsep Dasar Asuhan Keperawatan a.Demam berkepanjangan dengan suhu lebih dari 38oC b.Mengeluh nyeri pada benjolan f. tidak terasa nyeri. 2.dosis rendah dapat membuat hasil yang sebanding dengan khemoterapi. keringat malam.Timbul benjolan yang kenyal. Banyak pasien dengan penyakit limfoma maligna tingkat tinggi yang terlokalisasi disembuhkan dengan radioterapi.Nafsu makan berkurang 2. Data subjektif a. dan prednisolon)) juga dapat digunakan pada pasien dengan tingkat rendah atau sedang berdasakan stadiumnya. Prognosis Kebanyakan pasien dengan penyakit limfoma maligna tingkat rendah bertahan hidup lebih dari 5-10 tahun sejak saat didiagnosis. Terapi obat tunggal Khlorambusil atau siklofosfamid kontinu atau intermiten yang dapat memberikan hasil baik pada pasien dengan limfoma maligna keganasan tingkat rendah yang membutuhkan terapi karena penyakit tingkat lanjut.Cepat merasa lelah d.Badan Lemah e. c.Kebutuhan dasar • AKTIVITAS/ISTIRAHAT Gejala : Kelelahan. oncovin.ketiak atau pangkal paha. Pembesaran kelenjar tadi dapat dimulai dengan gejala penurunan berat badan. Pengkajian Gejala pada Limfoma secara fisik dapat timbul benjolan yang kenyal. (misalnya COP (cyclophosphamide. b. Namun tidak semua benjolan yang terjadi di sistem limfatik merupakan Limfoma. Pada pengkajian data yang dapat ditemukan pada pasien limfoma antara lain: 1. Data Obyektif a.mudah digerakkan pada leher. demam. ketiak atau pangkal paha). bahu merosot.Sering keringat malam. mudah digerakkan (pada leher. l. Hal ini dapat segera dicurigai sebagai Limfoma. • Khemoterapi 1.Wajahpucat 3.

Sianosis wajah dan leher (obstruksi drainase vena karena pembesaran nodus limfa adalah kejadian yang jarang) Ikterus sklera dan ikterik umum sehubungan dengan kerusakan hati dan obtruksi duktus empedu dan pembesaran nodus limfa(mungkin tanda lanjut) Pucat (anemia). keringat malam. Riwayat Obstruksi usus. • INTEGRITAS EGO Gejala Faktor stress. misalnya marah. takut kehilangan pekerjaan sehubungan dengan kehilangan waktu kerja. leher. pasif • ELIMINASI Gejala Perubahan karakteristik urine dan atau feses. atau sindrom malabsorbsi (infiltrasi dari nodus limfa retroperitoneal) Tanda Nyeri tekan pada kuadran kanan atas dan pembesaran pada palpasi (hepatomegali) Nyeri tekan pada kudran kiri atas dan pembesaran pada palpasi (splenomegali) Penurunan haluaran urine urine gelap/pekat. Disfungsi usus dan kandung kemih (kompresi batang spinal terjadi lebih lanjut) • MAKANAN/CAIRAN Gejala Anoreksia/kehilangna nafsu makan Disfagia (tekanan pada easofagus) Adanya penurunan berat badan yang tak dapat dijelaskan sama dengan 10% atau lebih dari berat badan dalam 6 bulan sebelumnya dengan tanpa upaya diet. pengobatan mahal. misalnya sekolah. rahang atau tangan kanan (sekunder terhadap kompresi venakava superior oleh pembesaran nodus limfa) Ekstremitas : edema ekstremitas bawah sehubungan dengan obtruksi vena kava inferior dari pembesaran nodus limfa intraabdominal (non-Hodgkin) Asites (obstruksi vena kava inferior sehubungan dengan pembesaran nodus limfa intraabdominal) • NEUROSENSORI . Tanda Pembengkakan pada wajah. Status hubungan : takut dan ansietas sehubungan menjadi orang yang tergantung pada keluarga. angina/nyeri dada Tanda Takikardia. keluarga Takut/ansietas sehubungan dengandiagnosis dan kemungkinan takut mati Takut sehubungan dengan tes diagnostik dan modalitas pengobatan (kemoterapi dan terapi radiasi) Masalah finansial : biaya rumah sakit. Tanda Berbagai perilaku. anuria (obstruksi uretal/ gagal ginjal). menarik diri. contoh intususepsi. disritmia.Gejala Palpitasi. pekerjaan. diaforesis.

kurang minatumum terhadap sekitar. lebih pada sisi kiri daripada kanan. nyeri punggung (kompresi vertebra). nyeri tulang umum (keterlibatan tulang limfomatus). keterlibatan diskus pada kompresiegenerasi. Pembesaran tosil Pruritus umum. tak nyeri. atau kompresi suplai darah terhadap batng spinal) • NYERI/KENYAMANAN Gejala Nyeri tekan/nyeri pada nodus limfa yang terkena misalnya. stridor. lumbar. menarik diri. Paraplegia (kompresi batang spinaldari tubuh vetrebal. Tanda Status mental : letargi. nyeri dada. parestesia. • PERNAPASAN Gejala Dispnea pada kerja atau istirahat. Tanda Fokus pada diri sendiri. dan pada pleksus sakral Kelemahan otot. contoh peningkatan frekwensi pernapasan dan kedaalaman penggunaan otot bantu. nyeri dada. Parau/paralisis laringeal (tekanan dari pembesaran nodus pada saraf laringeal). toksoplasmosis atau infeksi bakterial) Riwayat monokleus (resiko tinggi penyakit Hodgkin pada pasien yang titer tinggi virus Epstein-Barr). Pola sabit adalah peningkatan suhu malam hari terakhir sampai beberapa minggu (demam pel Ebstein) diikuti oleh periode demam. • KEAMANAN Gejala Riwayat sering/adanya infeksi (abnormalitasimunitas seluler pwencetus untuk infeksi virus herpes sistemik. diskret dan dapat digerakkan.Gejala Nyeri saraf (neuralgia) menunjukkan kompresi akar saraf oleh pembesaran nodus limfa pada brakial. keringat malam tanpa menggigil. takikardia Batuk kering non-produktif Tanda distres pernapasan. Nodus limfe simetris. pada sekitar mediastinum. TB. sianosis. kemudian nodus aksila dan mediastinal) Nodus dapat terasa kenyal dan keras. Nyeri segera pada area yang terkena setelah minum alkohol. Tanda Dispnea. perilaku berhati-hati. Riwayat ulkus/perforasi perdarahan gaster. Sebagian area kehilangan pigmentasi melanin (vitiligo) • SEKSUALITAS . Kemerahan/pruritus umum Tanda : Demam menetap tak dapat dijelaskan dan lebih tinggi dari 38oC tanpa gejala infeksi.membengkak/membesar (nodus servikal paling umum terkena.

c.9-37. tetapi pengobatan mempengaruhi) Penurunan libido. suhu tubuh dalam batas normal (35. muntah 4. Nyeri b. Nyeri b. Ketidakseimbangan nutrisi .d tidak efektifnya termoregulasi sekunder terhadap inflamasi 3. Kurang pengetahuan b.d kurang terpajan informasi 5. Intervensi 1. Resiko tinggi bersihan jalan nafas tidak efektif b. Klien tidak memegang daerah nyeri Intervensi : 1.Gejala Masalah tentang fertilitas/ kehamilan (sementara penyakit tidak mempengaruhi. Hyperthermia b.d mual. Ajarkan klien teknik relaksasi dan distraksi R : teknik relaksasi dan distraksi yang diajarkan kepada klien. Kolaborasi dalam pemberian obat analgetik R : obat analgetik dapat mengurangi atau menghilangkan nyeri yang diderita oleh klien 2. Kaji skala nyeri dengan PQRST R : untuk mengetahui skala nyeri klien dan untuk mempermudah dalam menentukan intervensi selanjutnya 2. aksila. Diagnosa Keperawatan 1.d pembesaran nodus medinal / edema jalan nafas.d tidak efektifnya termoregulasi sekunder terhadap inflamasi Tujuan : Setelah diberikan asuhan keperawatan diharapkan suhu tubuh klien turun / dalam keadaan normal dengan kriteria hasil : 1. perut dan lipatan paha R : kompres dapat menurunkan suhu tubuh klien . dapat membantu dalam mengurangi persepsi klien terhadap nyeri yang dideritanya 3. kurang dari kebutuhan tubuh b.5 derajat celcius) Intervensi : 2. Hyperthermia b. • PENYULUHAN/PEMBELAJARAN Gejala Faktor resiko keluargaa (lebih tinggi insiden diantara keluarga pasien Hodgkin dari pada populasi umum) Pekerjaan terpajan pada herbisida (pekerja kayu/kimia) b. Wajah klien tidak meringis 3. Observasi suhu tubuh klien R : dengan memantau suhu tubuh klien dapat mengetahui keadaan klien dan juga dapat mengambil tindakan dengan tepat 3. Skala nyeri 0-3 2.d agen cedera biologi Tujuan : Setelah diberikan asuhan keperawatan diharapkan nyeri klien berkurang/hilang dengan KH : 1. Berikan kompres hangat pada dahi.d agen cedera biologi 2.

Timbang berat badan klien tiap hari R : mengawasi penurunan berat badan dan efektivitas intervensi nutrisi 4.4. Kolaborasi dalam pemberian suplemen nutrisi R : meningkatkan masukan protein dan kalori 4. Klien dan keluarga klien dapat memahami proses penyakit klien 2. Klien bebas dari dispnea. kedalaman. Klien dan keluarga klien dapat mematuhi proses terapiutik yang akan dilaksanakan Intervensi : 1. Ketidakseimbangan nutrisi . Kurang pengetahuan b. Kaji frekuensi pernafasan. Berikan makan sedikit namun frekuensinya sering R : meningkatkan pemasukan kalori secara total dan juga untuk mencegah distensi gaster 5. Tujuan : Setelah diberikan asuhan keperawatan selam 3 x 24 jam diharapkan bersihan jalan nafas klien efektif/normal dengan criteria hasil : 1. termasuk makanan yang disukai R : mengidentifikasi defisiensi nutrisi dan juga untuk intervensi selanjutnya 2. Klien dapat bernafas dengan normal/efektif 2. irama . muntah Tujuan : Setelah diberikan asuhan keperawatan selam 3 x 24 jam diharapkan kebutuhan nutrisi klien dapat terpenuhi dengan criteria hasil : 1. kurang dari kebutuhan tubuh b. Berikan komunikasi terapiutuk kepada klien dan keluarga klien R : memudahkan dalam melakukan prosedur terpiutuk kepada klien 2. Observasi dan catat masukan makanan klien R : mengawasi masukan kalori 3. Kolaborasi dalam pemberian antipiretik R : antipiretik dapat menurunkan suhu tubuh 3. Nafsu makan klien meningkat 3. Klien dan keluarga klien mendapatkan informasi yang jelas tentang penyakit yang diderita oleh klien 3. Berikan KIE mengenai proses penyakitnya kepada klien dan keluarga klien R : klien dan keluarga klien dapat mengetahui proses penyakit yang diderita oleh klien 5.d mual. Menunjukkan peningkatan berat badan/berat badan stabil 2. Klien menunjukkan perilaku perubahan pola hidup untuk mempertahankan berat badan yang sesuai Intervensi : 1. sianosis 3. Resiko tinggi bersihan jalan nafas tidak efektif b. Kaji riwayat nutrisi.d pembesaran nodus medinal / edema jalan nafas.d kurang terpajan informasi Tujuan : Setelah diberikan asuhan keperawatan sela 1 x 24 jam diharapkan diharapkan klien dan keluarganya dapat mengetahui tentang penyakit yang diderita oleh klien dengan criteria hasil : 1. Tidak terjadi tanda distress pernafasan Intervensi : 1. Anjurkan dan berikan minum yang banyak kepada klien (sesuai dengan kebutuhan cairan tubuh klien) R : dengan banyak minum diharapkan dapat membantu menjaga keseimbangan cairan dalam tubuh klien 5.

Ironisnya. jumlah penderita penyakit ini juga terus meningkat.5 derajat celcius) 3. Data juga menunjukkan. Ada dua jenis limfoma maligna yaitu Limfoma Hodgkin (HD) dan Limfoma non-Hodgkin (LNH). Bersihan jalan nafas klien efektif/normal BAB I PENDAHULUAN 1. . Saat ini.5/100. Kebutuhan nutrisi klien dapat terpenuhi 4. Abdomen bila diindikasikan R : membantu meningkatkan difusi gas dan ekspansi jalan nafas kecil.6/100. menurunkan kerja pernafasan. Sekadar gambaran. dan menurunkan resiko aspirasi 3. Evaluasi Setelah dilakukan tindakan keperawatan diharapkan : 1. Di negara barat insidennya dilaporkan 3. Suhu klien dalam batas normal suhu tubuh dalam batas normal (35.9-37. Dari tahun ke tahun. belum ada laporan angka kejadian Limfoma Hodgkin. membantu menurunkan ansietas 4.000/tahun pada wanita. penyakit ini lebih banyak terjadi pada orang dewasa dengan angka tertinggi pada rentang usia antara 45 sampai 60 tahun.5 juta orang di dunia hidup dengan limfoma maligna terutama tipe LNH.000/tahun pada laki-laki dan 2. hanya merupaka 1 % dari seluruh kanker. angka kejadian LNH telah meningkat 80 persen dibandingkan angka tahun 1970-an. Klien dan keluarganya dapat mengetahui tentang penyakit yang diderita oleh klien 5. dan dalam setahun sekitar 300 ribu orang meninggal karena penyakit ini. sekitar 1. Sedangkan pada Limfoma Hodgkin (DH) relative jarang dijumpai. Penyakit limfoma Hodgkin banyak ditemukan pada orang dewasa muda antara usia 18-35 tahun dan pada orang di atas 50 tahun. sel T dan histiosit sehingga muncul istilah limfoma maligna (maligna = ganas). Tempatkan pasien pada posisi nyaman.R : perubahan dapat mengindikasikan berlanjutnya keterlibatan/pengaruh pernafasn yang membutuhkan upaya intervensi 2. biasanya dengan kepala tempat tidur tinggi/atau duduk tegak ke depan kaki digantung R : memaksimalkan ekspansi paru. Nyeri klien berkurang/hilang 2. pada orang sehat sistem limfatik tersebut justru merupakan komponen sistem kekebalan tubuh.1 Latar Belakang Limfoma maligna (kanker kelenjar getah bening) merupakan bentuk keganasan dari sistem limfatik yaitu sel-sel limforetikular seperti sel B. memberikan klien beberapa kontrol terhadap pernafasan. Di Indonesia. Bantu dengan teknik nafas dalam dan atau pernafasan bibir /diafragma. Kaji respon pernafasan terhadap aktivitas R : penurunan oksigenasi selular menurunkan toleransi aktivitas d.

dalam implementasi ini haruslah dicatat semua tindakan keperawatan yang dilakukan terhadap klien dan setiap melakukan tindakan harus didokumentasikan sebagai data yang menentukan saat evaluasi. Pelaksanaan. Mengetahui konsep dasar asuhan keperawatan pada pasien dengn limfoma maligna Diagnosa Keperawatan Diagnosa keperawatan adalah tahap dari perumusan masalah yang menentukan masalah prioritas dari klien yang dirawat yang sekaligus menunjukkan tindakan prioritas sebagai perawat dalam mengahadapi kasus LNH. Bagaimanakah konsep dasar asuhan keperawatan pada pasien dengan limfoma maligna ? 1. 2. Bagaimanakah konsep dasar penyakit dari limfoma maligna ? 2. menulis tujuan dan perencanan tindakan keperawatan. Mengetahui konsep dasar penyakit dari limfoma maligna 2. .3 Tujuan Tujuan dari pada penulisan ini adalah : 1. Perencanaan Membuat rencana keperawatan dan menentukan pendekatan yang dugunakan untuk memecahkan masalah klien. Pelaksanaan merupakan realisasi dari rencana keperawatan yang merupakan bentuk riil yang dinamakan implementasi. Evaluasi Evaluasi adalaha merupakan tahapa akhir dari pelaksaan proses keperawatan dan asuhan keperawatan evaluasi ini dicatatat dalam kolom evaluasi dengana membandingkan data aterakhir dengan dengan data awal yang juga kita harus mencatat perkembangan pasien dalam kolom catatan perkembangan. 3. Ada 3 tahap dalam fase perancanaan yaitu menetukan prioritas. adapun rumusan permasalahan yang penulis angkat adalah sebagai berikut : 1.1.2 Rumusan Masalah Berdasarkan latar belakang di atas. 4.

Helicobacter Sp) dan toksin lingkungan (herbisida. virus human T-cell leukemia/lymphoma (HTLV). . Limfoma maligna (kanker kelenjar getah bening) merupakan bentuk keganasan dari sistem limfatik yaitu sel-sel limforetikular seperti sel B. Penyebab dari penyakit limfoma maligna masih belum diketahui dengan pasti. Epstein-Barr virus (EBV). sel T dan histiosit 2.. pengawet dan pewarna kimia).BAB III PENUTUP Simpulan Simpulan yang dapat diambil dalam pembuatan tulisan ini adalah : 1. Ada dua jenis penyakit yang termasuk limfoma malignum yaitu penyakit Hodgkin (PH) dan limfoma non Hodgkin (LNH). 3.Empat kemungkinan penyebabnya adalah: faktor keturunan. infeksi virus atau bakteria (HIV. kelainan sistem kekebalan.

Pengertian .KATA PENGANTAR Puja dan puji syukur kami panjatkan kehadapan Tuhan Yang Maha Esa karena berkat rahmat-Nyalah kami dapat menyelesaikan tugas dengan judul ”Asuhan Keperawatan pada Pasien dengan Limfoma Maligna” ini tepat pada waktunya. hal ini karena keterbatasan kemampuan yang kami miliki. Adapun tujuan dari penulisan ini adalah untuk memenuhi tugas mata kuliah Imunologi dan Hematologi. Kami menyadari bahwa tulisan ini masih belum sempurna adanya.Oleh karena itu kami sangat mengharapkan kritik dan saran dosen mata kuliah Imunologi dan Hematologi serta pembaca tulisan ini yang sifatnya membangun demi kesempurnaan tulisan ini dan kami harapkan tulisan ini ada manfaatnya bagi pembaca.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful