PENYELESAIAN SENGKETA ALTERNATIF : POSISI DAN POTENSINYA DI INDONESIA Adrianus Meliala

Universitas Indonesia, Jakarta

Abstrak Konflik, sengketa, pelanggaran atau pertikaian antara atau terkait dua individu atau lebih dewasa ini telah dan akan terus menjadi fenomena biasa dalam masyarakat. Situasi itu akan semakin merepotkan dunia hukum dan peradilan apabila semua konflik, sengketa atau pertikaian itu diproses secara hukum oleh peradilan. Dalam kaitan itu diperlukan mekanisme penyelesaian sengketa alternatif atau alternative dispute resolution yang tidak membuat masyarakat tergantung pada dunia hukum yang terbatas kapasitasnya, namun tetap dapat menghadirkan rasa keadilan dan penyelesaian masalah. Mekanisme tersebut sebenarnya telah memiliki dasar hukum dan telah memiliki preseden serta pernah dipraktikkan di Indonesia walau jarang disadari. Mekanisme tersebut juga memiliki potensi untuk semakin dikembangkan di Indonesia.

Pendahuluan Saat membicarakan hukum dan institusi negara yang melaksanakan hukum, maka kita kerap mengaitkannya dengan wacana tentang “keadilan formal” (formal justice) yang dijalankan dan dihasilkan oleh hukum maupun proses hukum yang juga formal. Mengapa dikatakan “formal”, mengingat proses hukum yang dilaksanakan oleh institusi negara di bidang hukum itu didasarkan pada hukum yang tertulis dan terkodifikasikan, dilakukan oleh aparat resmi negara yang diberi kewenangan, serta membutuhkan proses beracara yang juga standar dan mengabadi. Namun demikian, wajah lain dari hukum dan proses hukum yang formal tadi adalah terdapatnya fakta bahwa keadilan formal tadi, sekurang-kurangnya di Indonesia, ternyata mahal, berkepanjangan, melelahkan, tidak menyelesaikan masalah dan, yang lebih parah lagi, penuh dengan praktek korupsi, kolusi dan nepotisme. Salahsatu dari berbagai masalah yang menjadikan bentuk keadilan ini terlihat problematik adalah, mengingat terdapatnya dan dilakukannya satu proses yang sama bagi semua jenis masalah (one for all

1

di negara-negara seperti itu. dalam konteks ini. 10 April 2001 2 . pengenyampingan dilakukan guna mencapai suatu situasi “menang-menang” (win-win) antara pihak-pihak terkait. Selanjutnya. tindakan formal litigatif tersebut banyak bergantung pada upaya paksa dan kewenangan petugas hukum yang melakukannya. Adakah Model-Model Resolusi Konflik. Mabes Polri. kalaupun dilakukan suatu proses penegakan hukum terhadap suatu perbuatan melanggar hukum. Sebagaimana disadari. artikel. tidak terlalu tepat untuk mengatakan yang sebaliknya. Bila dikaitkan dengan cita-cita mendirikan Negara Kesatuan Republik Indonesia guna membentuk Negara Hukum (recht staat). Dalam situasi tersebut. Koran Tempo. Jakarta. Teguh Soedarsono. Dalam kenyataannya. kalaupun muncul suatu hasil. dalam presentasi mengenai ”Sosialisasi Penanganan Perkara Melalui Proses Alternative Dispute Resolutions Sebagai Tindak Lanjut Dalam Mewujudkan Strategi Community Policing dan Kultur Polisi Sipil Dalam Proses Reformasi Polri”. yang sering terjadi adalah suatu formalitas hukum atau bahkan pengenyampingan hukum sama sekali. maka salahsatu indikator capaiannya adalah terbentuknya kondisi dan kemampuan warga negara atau masyarakat untuk patuh hukum (citizen who abides the law). DR. Namun bedanya adalah. yang diperkirakan juga akan lebih menyembuhkan (healing) 1 Pikiran ini berasal dari buah pikir Irjen Pol. Kadiv Binkum Polri. maka umumnya akan berakhir dengan situasi “kalah-kalah” (lost-lost) atau “menang-kalah” (win-lost)1. proses penegakan hukum tidak seyogyanya sepenuhnya atau selamanya dilakukan dengan mempergunakan metode keadilan formal. bahwa dalam suatu negara kekuasaan atau macht staat tadi. sehingga mampu menghasilkan putusan yang tidak hanya bias dan diskriminatif tetapi justru malah tidak adil2. yang salahsatunya berupa tindakan kepolisian represif dan dilanjutkan dengan proses hukum litigatif (law enforcement process). maka semangat yang muncul dewasa ini adalah juga semangat pengenyampingan untuk tidak mempergunakan proses penegakan hukum via litigasi tersebut.mechanism). atau bahkan masyarakat yang patuh hukum (law abiding citizen). Adalah kooptasi besar-besaran pada elemen-elemen negara bidang hukum itulah (contoh terjelas adalah terhadap peradilan). dan bukan Negara Kekuasaan (macht staat). yang cenderung dilakukan adalah proses penegakan hukum formal via litigasi. Inilah yang mengakibatkan mulai berpalingnya banyak pihak guna mencari alternatif penyelesaian atas masalahnya. Memang. Dalam konteks kehadiran masyarakat yang mau untuk patuh pada hukum ataupun yang telah patuh hukum dalam suatu negara kesatuan tersebut. Desember 2006 2 Adrianus Meliala.

Alternatif terkait pengenyampingan tersebut adalah. makalah workshop. naskah presentasi. sekaligus (tidak dalam semua hal) dilanjutkan dengan permintaan kepada pelaku/pelanggar agar mengakomodasi kerugian 3 Mas Achmad Santosa & Wiwiek Awiati. Makalah ini untuk selanjutnya menguraikan pertama-tama tentang mekanisme penyelesaian sengketa alternatif itu sendiri sebagai suatu kajian yang telah berkembang. pengakhiran konflik atau sengketa bisa dilakukan tanpa ada pihak yang kehilangan muka atau elegant solution3. pertikaian atau pelanggaran. Alternative Dispute Resolution (Negosiasi & Mediasi). bahwa diperkirakan akan lebih tepat apabila dalam kondisi. serta lebih resolutif (sebagai suatu kata bentukan “re-solusi” yang dapat diartikan sebagai “tercapainya kembali solusi yang sebelumnya tidak lagi diperoleh”).terkait para pihak yang terlibat (khususnya korban). alasan dan atau perbuatan tertentu. Mekanisme Penyelesaian Sengketa Alternatif Yang pertama-tama perlu ditekankan adalah bahwa istilah “penyelesaian diluar pengadilan” tidak sama dengan istilah ADR. “Alternative Dispute Resolution (ADR) : Penyelesaian Perkara Pidana Dalam Sistem Peradilan Pidana Indonesia. Jakarta. umumnya dikenal sebagai kebijakan yang dilakukan oleh aparat penegak hukum yang memiliki wewenang untuk melakukan beberapa hal sebagai berikut: sebagai penentu keluaran akhir dari suatu kasus sengketa. Jakarta. akan diajukan sejumlah rekomendasi terkait aplikasinya di Indonesia. Dalam sub Penutup. Minimal. 18 Januari 2007 3 . tanpa tahun 4 Mudzakkir. namun juga memiliki wewenang melakukan diskresi/pengenyampingan perkara pidana yang dilakukan oleh pihak tertentu. negosiasi atau rekonsiliasi. tidak demikian halnya dengan penyelesaian perkara di luar pengadilan. bisa dilakukan mekanisme penyelesaian sengketa alternatif atau alternative dispute resolutions (selanjutnya disebut dengan ADR). meskipun terdapat kesamaan dimana suatu perkara pelanggaran pidana tidak diajukan ke pengadilan. arbitrase. Untuk yang kedua ini. dilanjutkan dengan pembahasan tentang posisinya dalam sistem hukum Indonesia dan potensi pengembangan masa depan. konflik. ICEL.4 Apabila ADR merupakan lembaga yang diakui secara hukum sebagai lembaga penyelesai perkara yang sah dan diatur dalam peraturan perundang-undangan melalui mekanisme mediasi.

Istilah umum yang populer adalah dilakukannya “perdamaian” dalam perkara pelanggaran hukum pidana. “Alternative Dispute Resolution (ADR): Penyelesaian Perkara Pidana Dalam Sistem Peradilan Pidana Indonesia. makalah workshop. yang hanya diancam dengan pidana denda pelanggaran hukum pidana tersebut termasuk tindak pidana di bidang hukum administrasi yang menempatkan sanksi pidana sebagai ultimum remedium Pelanggaran hukum pidana tersebut termasuk kategori ringan/serba ringan dan aparat penegak hukum menggunakan wewenangnya untuk melakukan diskresi Pelanggaran hukum pidana biasa yang dihentikan atau tidak diproses ke pengadilan (deponir) oleh Jaksa Agung sesuai dengan wewenang hukum yang dimilikinya Pelanggaran hukum pidana tersebut termasuk kategori pelanggaran hukum pidana adat yang diselesaikan melalui lembaga adat Sedangkan kelemahan dari penggunaan sistem ini adalah. bukan berdasarkan kalkulasi jaksa dan putusan hakim. 7. Sebelumnya perlu dikemukakan beberapa alasan bagi dilakukannya penyelesaian perkara pidana di luar pengadilan pidana sebagai berikut5: 1. juga 5 Mudzakkir. Keuntungan lain yang juga amat menonjol adalah biaya yang murah. dapatnya menjadi sumber penyalahgunaan wewenang dari para penegak hukum. Jakarta. khususnya apabila diskresi dibelokkan menjadi ”komoditi”. 5. 18 Januari 2007 4 . pihak pelaku dapat menawarkan kompensasi yang dirundingkan/disepakati dengan pihak korban. Terakhir. 6. 4. yaitu pihak korban dan pelaku. Keuntungan utama dari penggunaan ADR dalam menyelesaikan kasus-kasus pidana adalah bahwa pilihan penyelesaian pada umumnya diserahkan kepada pihak pelaku dan korban. Sebagai suatu bentuk pengganti sanksi.korban. 3. bukan “kejahatan”. Pelanggaran hukum pidana tersebut termasuk kategori delik aduan. Ketidakmauan menghukum juga dapat dipersepsi sebagai melunaknya hukum dimata para pelaku kejahatan atau pelanggar aturan. 2. keadilan menjadi buah dari kesepakatan bersama antar para pihak sendiri. Dengan demikian. baik aduan yang bersifat absolut maupun aduan yang bersifat relatif Pelanggaran hukum pidana tersebut memiliki pidana denda sebagai ancaman pidana dan pelanggar telah membayar denda tersebut (Pasal 80 KUHP) Pelanggaran hukum pidana tersebut termasuk kategori “pelanggaran”.

pihak-pihak yang terlibat lebih diutamakan untuk menyelesaikan masalahnya bukan semata-mata melalui penyelesaian hukum. Hubungan baik ini berguna untuk. makalah workshop. RJ merupakan salahsatu model ADR dimana lebih ditujukan pada kejahatan terhadap sesama individu/ anggota masyarakat daripada kejahatan terhadap negara. menekan residivisme6. antara lain Menteri Kehakiman dan HAM. khususnya melalui Presiden Megawati Soekarnoputri. Gayus Lumbuun. Kisnu Widagso dan Fikri Somyadewi. 8 Tahun 2002 tentang pemberian Jaminan Kepastian Hukum kepada Debitur yang Telah Menyelesaikan Kewajibannya atau Tindakan Hukum kepada Debitur yang Tidak Menyelesaikan Kewajibannya Berdasarkan Penyelesaian Kewajiban Pemegang Saham. Alternative Dispute Resolution Di Dalam Sistem Peradilan Pidana. korban dan masyarakat dimana terdapat tanggungjawab bersama antar para pihak dalam membangun kembali sistem sosial di masyarakat. Wikipedia 8 T. laporan. Santi Kusumaningrum. Kepala Kepolisian Negara Republik Indonesia dan Ketua Badan Penyehatan Perbankan Nasional8. Mamiek Sri Supatmi. Center for Restorative Justice. 18 Januari 2007 5 . College of Arts & Sciences. Singkatnya. RJ menekankan pendekatan yang seimbang antara kepentingan pelaku. salahsatunya. membangun rekonsiliasi demikian pula membangun hubungan yang baik antara korban dan pelaku. Salahsatu persoalan penting yang menjadi pertanyaan adalah. bagimana hubungan antara ADR dan Restorative Justice (selanjutnya disebut dengan RJ). 2004 7 Kutipan bebas dari materi yang terdapat dalam Suffolk University. Jaksa Agung Republik Indonesia. Inpres ini ditujukan kepada beberapa menteri/kepala lembaga pemerintahan. korban memainkan peran yang utama dalam proses penyelesaian masalah dan dapat mengajukan tuntutan sebagai kompensasi kepada pelaku7. menurut Gayus Lumbuun. Restorative Justice: Sistem Pembinaan Narapidana untuk Pencegahan Residivisme. Dalam RJ. yakni melalui Inpres No. 6 Adrianus Meliala. sesungguhnya telah memperkenalkan ADR dalam sistem hukum pidana.tidak semua kalangan setuju bahwa ADR dalam konteks pidana pada dasarnya sederajat atau ekuivalen satu sama lain. tetapi memberikan kesempatan kepada para pihak yang terlibat untuk menentukan solusi. AusAID & Departemen Kriminologi FISIP UI. Posisi Dalam Sistem Hukum Pemerintah. Dalam hal ini.

Itulah yang menjadikan penanganan masalah secara alternatif ini relevan untuk dikaitkan dengan proses penegakan hukum Polri. maka kelemahan dari kebijakan release and discharge (R &D) ini terlihat dari kurang kuatnya landasan hukum pelaksanaan R & D itu sendiri. 02 Tahun 2003 tentang Prosedur Mediasi di Pengadilan. yang pelaksanaannya tetap dilakukan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku. tahapan dan acaranya. di tingkat peradilan. Seharusnya. sebagai elemen awal dalam sistem peradilan pidana Indonesia. maka sekaligus juga dilakukan dengan proses penghentian penanganan aspek pidananya. Perma yang terdiri dari 18 pasal itu antara lain berdasarkan pertimbangan 6 . secara substantif. dalam hal perkara perselisihan yang termasuk bidang hukum non-hukum pidana sekalipun. ADR tidak terlepas dari pasal 130 HIR/154 Rbg yang memberi dasar hukum adanya Court Annexed Mediation (lembaga mediasi di pengadilan). Sebagaimana dapat terlihat. 8 Tahun 2002 tersebut dinyatakan bahwa. Hal ini penting untuk ditekankan mengingat konstruksi hukum pidana Indonesia sebenarnya tidak mengenal model penyelesaian perkara pidana melalui ADR. kebijakan R & D dituangkan dalam undangundang dan diatur secara komprehensif menjadi suatu bentuk alternatif penyelesaian perkara-perkara non-pidana. seyogyanya bersifat wajib untuk perkara kecil baik perdata maupun pidana. konsep R & D merupakan langkah maju dalam sistem hukum pidana yang mengarah kepada alternative dispute resolution system. penyidikan dan/atau penuntutan oleh instansi penegak hukum. yang masih dalam tahap penyelidikan. Selanjutnya. sebagai salahsatu bentuk ADR. Karena pasal 130 HIR/154 Rbg kurang jelas baik prosedur. model ADR ditempatkan sebagai alternatif terakhir. Betapapun demikian. “dalam hal pemberian kepastian hukum sebagaimana dimaksud dalam angka 1 menyangkut pembebasan debitur dari aspek pidana yang terkait langsung dengan program Penyelesaian Kewajiban Pemegang Saham. Terkait dengan kepolisian. dalam salahsatu kesimpulan terakhirnya antara lain disebutkan bahwa mediasi. Masih menurut Gayus Lumbuun. sebagai suatu kebijakan. maka Mahkamah Agung RI pada tanggal 11 September 2003 mengeluarkan Peraturan Mahkamah Agung (Perma) No. maka dapat disebutkan bahwa dalam Naskah Akademis mengenai Court Dispute Resolution dari Mahkamah Agung Republik Indonesia pada tahun 2003. khususnya menyangkut perkara pidana yang ringan.Dalam diktum pertama angka 4 Inpres No.

telah cukup lama terpengaruh oleh model berpikir liberal dalam rangka proses peradilan pidana. Maka. Jakarta. terdapat pula rencana Pemerintah untuk melakukan amandemen terhadap Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1981 tentang Hukum Acara Pidana. antara lain BANI (Badan Arbitrase Nasional Indonesia) yang memfokuskan diri pada dunia perdagangan dan ADR dalam penyelesaian sengketa jasa konstruksi (UU No. Di pihak lain. perburuhan. Khususnya diantara mereka yang berperspektif legal sosiologis. yang kemudian banyak dikenal dengan due process liberal model. Adapun beberapa prinsip utama dari model berpikir ini sebagai berikut 11: 9 Artidjo Alkostar. seperti menyangkut masalah hak cipta dan karya intelektual. makalah seminar. telah sejak beberapa lama dibentuk Pusat Mediasi Nasional yang berfungsi untuk menyebarluaskan kemampuan (skill) khususnya bagi para hakim dalam rangka melakukan mediasi antar para pihak dalam kasus yang memungkinkan hal itu terjadi. “Alternative Dispute Resolution Sebagai Salahsatu Bentuk Mekanisme Pemecahan dan Penanganan Masalah dalam Proses Penegakan Hukum Polri”. Program Penguatan Balai Mediasi Desa. Di Mahkamah Agung dewasa ini. 29 Tahun 2000) dengan yurisdiksi bidang keperdataan. 28 Februari 2007 10 LP3ES. ADR diluar pengadilan telah diatur dalam UU No. hakim dalam hal ini berperan aktif untuk mendamaikan para pihak yang bersengketa dalam waktu 22 hari. naskah proposal yang dibuat dalam rangka pencarian pendanaan. Salahsatunya adalah yang hingga kini ditumbuhkembangkan LP3S melalui program Balai Mediasi Desa di Nusa Tenggara Barat10. lingkungan hidup dan lain-lain. persaingan usaha. 30 Tahun 1999 tentang Arbitrase dan Alternatif Penyelesaian Sengketa. Rencana ini telah tertunda sekian lama. menurut Artidjo Alkostar. Begitu pula terdapat ADR-ADR yang lain.bahwa institusionalisasi proses mediasi ke dalam sistem peradilan dapat memperkuat dan memaksimalkan fungsi lembaga pengadilan dalam penyelesaian sengketa di samping proses pengadilan yang bersifat memutus (ajudikatif)9. yang salahsatu penyebabnya adalah adanya debat tak berkesudahan antara ahli hukum yang berperspektif legal-konvensional dan yang berperspektif legal-sosiologis. Secara yuridis pula. 18 Tahun 1999 jo UU No.m 29 Tahun 2000 jo PP No. Jakarta. Dalam hubungan ini telah terdapat beberapa lembaga pendorong metode ADR. dorongan melakukan mediasi terkait penyelesaian kasus juga dilakukan oleh berbagai pihak di berbagai tingkatan kewilayahan. konsumen. 2005 7 . Selanjutnya.

dapat pula diprioritaskan untuk tindak pidana yang termasuk kategori delik aduan sebagaimana telah dijelaskan di atas. model ini juga menekankan pentingnya memperhatikan hak-hak korban. Dalam kaitan itu. Jakarta. akan lebih mungkin untuk diteruskan dan berakhir dengan cara ADR pula ketimbang ADR dimunculkan di tengah (ketika perkara ditangani kejaksaan) atau diakhir proses peradilan pidana (maksudnya diputus oleh pengadilan). Titik berat adalah pada kualitas kasus. maka tak terhindarkan apabila pemanfaatan ADR dalam perspektif ini lebih dirasakan pentingnya untuk dikembangkan oleh kepolisian ketimbang kejaksaan ataupun pengadilan. tetapi memerlukan penyelesaian mengingat berdampak langsung kepada masyarakat. Gayus Lumbuun. demikian pula diprediksikan tidak akan memperbaiki hubungan dengan korban. Jika hukum dianggap memperburuk situasi tersangka serta korban. 18 Januari 2007 8 . maka sebaiknya tidak atau jangan dipergunakan Potensi Pengembangan Pertama-tama perlu dijelaskan bahwa kasus-kasus hukum yang memiliki preferensi untuk diselesaikan melalui ADR adalah sebagai berikut: Pertama. Dampak Proses ADR Dalam Penegakan Hukum Polri. mengingat peran kepolisian sebagai gerbang awal dari sistem peradilan pidana. tidak perlu mengejar jumlah 2. makalah seminar. 28 Februari 2007 12 T. Sumber daya perlu dikerahkan guna mengungkap kasus secara tuntas dan. Amat memelihara hak-hak individual dan juga memperhatikan situasi individual tersangka. Disamping itu. untuk tindak pidana di bidang ekonomi dimana negara mengharapkan adanya pengembalian dana negara dalam kasus-kasus korupsi12. Misalnya. 11 Adrianus Meliala.1. Jakarta. Atau. katakanlah demikian. makalah workshop. ADR juga dapat diperluas mencakup tindak pidana yang korbannya adalah masyarakat atau warga negara sehingga mereka sendiri yang mengungkapkan tingkat kerugian yang dialaminya. tindakan pidana yang walaupun melibatkan negara (sebagai tersangka pelaku). Alternative Dispute Resolution Di Dalam Sistem Peradilan Pidana. kasus-kasus yang pelaku (atau tersangka pelaku) tidak melibatkan negara. bukan kuantitasnya. 3. Kedua. olehkarenanya. Selanjutnya. Dapat diperkirakan bahwa suatu kasus yang telah dimulai secara ADR.

Salahsatu yang tertinggal adalah lembaga sosial Pecalang di Bali14. Bali: an open fortress. KITLV-Leiden. diyakini bahkan oleh ahli seperti teer Haar (1948) sebagai dimiliki oleh setiap masyarakat lokal dan dimanfaatkan untuk menyelesaikan konflik atau sengketa yang mereka hadapi13. Sayangnya. maka pada dasarnya proses yang harus dilalui dan berkas yang perlu dilengkapi terkait perkara besar atau kecil. 1948. tetua atau badan lain yang diakui dalam masyarakat. Dalam kaitan itu. Kapasitas itulah yang kita kenal dengan sebutan ”peradilan adat” atau village justice (dorpsrechtspraak) yang pada dasarnya merupakan upaya penduduk secara sukarela untuk menyelesaikan permasalahannya kepada suatu badan yang diketuai oleh kepala desa. kapital sosial ini telah sejak beberapa lama tertinggal atau bahkan dilupakan pengembangannya.Pasal 315 tentang penghinaan ringan Kembali pada perkara kecil atau ringan tersebut.Pasal 373 tentang penggelapan ringan .500 (tujuh ribu lima ratus rupiah) Kejahatan ringan (lichte musjdriven) sebagaimana diatur dalam KUHP sebagai berikut: . juga selaras dengan model kegiatan kepolisian ”perpolisian komunitas” (terjemahan bebas dari community policing) yang dalam konteks Polri dikembangkan dengan dua elemen 13 14 Lihat studi B teer Haar.Pasal 364 tentang pencurian ringan . belum diterbitkan 9 . New York: Institute of Pacific Relations. maka masyarakat (khususnya tingkat lokal) sebenarnya memiliki kapasitas tersendiri untuk menyelesaikan permasalahan perilaku seseorang atau beberapa orang warganya yang dianggap menyimpang atau melanggar pidana. Kebijakan untuk tidak lekas-lekas membawa kasus yang kecil ke jalur penyidikan. Adapun yang dimaksud dengan perkara kecil atau ringan mencakup sebagai berikut: Pelanggaran sebagaimana diatur dalam buku ketiga KUHP Tindak pidana ringan yang diancam dengan pidana penjara atau kurungan paling lama 3 (tiga) bulan atau denda sebanyak-banyaknya Rp 7.Dalam konteks kepolisian tersebut. sebenarnya sama saja. perkara kecil seyogyanya diselesaikan dengan cara lain guna menghindari tumpukan perkara (congestion).Pasal 302 tentang penganiayaan ringan terhadap hewan . Adat Law in Indonesia. hal 2 Pecalang dikaji secara khusus dalam draft buku karya Henk Schulte Nordholt.Pasal 482 tentang penadahan ringan .Pasal 379 tentang penipuan ringan . Setiap masyarakat. maka isyunya adalah sebagai berikut: Terkait sistem peradilan pidana Indonesia.Pasal 352 tentang penganiayaan ringan terhadap manusia .

diharapkan akan ada lebih banyak lagi terobosan yang dilakukan para pimpinan lembaga-lembaga hukum guna memungkinkan hidupnya ADR. Selain diskresi (sebagai suatu pengenyampingan hukum atas masalah hukum) maupun ADR (penggunaan cara lain atas masalah hukum). akurasi penanganan serta biaya yang murah sekaligus. Hal itu tercermin dalam Surat Keputusan Kapolri no 737/X/200515. Surat Keputusan ini kemudian telah melahirkan 3 Surat Keputusan terkait dengan implementasi model perpolisian tersebut 16 Adrianus Meliala. Jakarta. Dengan kata lain. maka diversi polisi juga sebenarnya telah sering dilakukan namun kerap tidak disadari oleh kepolisian sendiri.minimal (dari berbagai elemen yang secara teoritik dianjurkan oleh community policing) saja yakni kemitraan (partnership) dan pemecahan masalah (problem solving). kejaksaan dan peradilan. tetapi justru penyaring atau filter agar kasus yang benar-benar kompleks-lah yang kemudian ditangani para profesional di bidang hukum seperti kepolisian. justru dewasa ini hendak dipacu inisiatif maupun kemampuan masyarakat yang dibantu kepolisian setempat guna mengupayakan terjadinya pemecahan masalah terkait kasuskasus lokal dan bersifat ringan. 15 Surat Keputusan Kapolri tentang Kebijakan dan Strategi Penerapan Model Perpolisian Masyarakat dalam Penyelenggaraan Tugas Polri. pemberian peringatan secara informal (informal warning). Seperti juga dikresi dan ADR. Hampir semuanya menjanjikan masa depan yang cerah guna mengatasi problem hukum itu sendiri. 28 Februari 2007 10 . Ke depan. terutama dari sisi proses yang belum bisa menjanjikan kecepatan putusan. pemberitahuan bersifat pembatasan (infringement notice) hingga perintah kepolisian untuk melakukan atau tidak melakukan sesuatu (public address) Penutup Telah diperlihatkan berbagai penjelasan maupun perkembangan situasi terkait ADR sebagai suatu mekanisme terobosan dalam hukum dan perkembangannya di Indonesia. Adapun jenis-jenisnya mencakup mulai dari pengabaian pidana atau pelanggaran yang telah terjadi (offence ignored). maka sebenarnya masih terdapat satu lagi mekanisme bernuansa ADR dalam kepolisian. Dampak Proses ADR dalam Penegakan Hukum Polri. pemberian peringatan formal (formal warning). Mekanisme itu sering disebut dengan diversi (atau pembelokan non-penal oleh) polisi atau police diversion16. ADR tentu saja tidak seyogyanya dilihat sebagai kompetitor. makalah seminar.

makalah. T..=== Daftar Pustaka Alkostar. naskah proposal. Kebijakan dan Strategi Penerapan Model Perpolisian Masyarakat dalam Penyelenggaraan Tugas Polri. A. ”Alternative Dispute Resolution Di Dalam Sistem Peradilan Pidana”. Jakarta. Program Penguatan Balai Mediasi Desa. Jakarta..G. Surat Keputusan. “Alternative Dispute Resolution Sebagai Salahsatu Bentuk Mekanisme Pemecahan dan Penanganan Masalah dalam Proses Penegakan Hukum Polri”. 2007 11 . November 2005 LP3ES. 2007 Kapolri. 2005 Lumbuun. makalah. Jakarta..

A. makalah.. “Sosialisasi Penanganan Perkara Melalui Proses Alternative Dispute Resolutions Sebagai Tindak Lanjut Dalam Mewujudkan Strategi Community Policing dan Kultur Polisi Sipil Dalam Proses Reformasi Polri”.. MSi. Center for Restorative Justice.Meliala.. Kriminolog FISIP Universitas Indonesia Email : adrianus@ui.. ”Adakah Model-Model Resolusi Konflik”. Jakarta. Adat Law in Indonesia.. AusAID & Departemen Kriminologi FISIP UI. et. Koran Tempo. B. Bali: an open fortress. 2004 Meliala. Jakarta.D Prof. KITLV-Leiden Soedarsono. A. artikel. draft buku. Restorative Justice: Sistem Pembinaan Narapidana untuk Pencegahan Residivisme.. 2007 Nordholt. Jakarta. Jakarta. al. H. ”Dampak Proses ADR dalam Penegakan Hukum Polri”. 2001 Meliala. ”Alternative Dispute Resolution (Negosiasi & Mediasi)”. Wikipedia ================================= Adrianus Meliala. 1948 Santosa. MSc.A & Wiwiek A. makalah. College of Arts & Sciences. makalah. laporan. M.S. Ph. tanpa tahun Bahan Internet Suffolk University. 2006 teer Haar. A. T. 2007 Mudzakkir. New York: Institute of Pacific Relations. naskah presentasi. Drs.edu 12 . “Alternative Dispute Resolution (ADR): Penyelesaian Perkara Pidana Dalam Sistem Peradilan Pidana Indonesia”.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful