PATOFISIOLOGI Apendik belum diketahui fungsinya, merupakan bagian dari sekum.

Peradangan pada apendik dapat terjadi oleh adanya ulserasi dinding mukosa atau obstruksi lumen (biasanya oleh fecolif/faeses yang keras). Penyumbatan pengeluaran sekret mukus mengakibatkan perlengketan, infeksi dan terhambatnya aliran darah. Dari keadaan hipoksia menyebabkan gangren atau dapat terjadi ruptur dalam waktu 24-36 jam. Bila proses ini berlangsung terusmenerus organ disekitar dinding apendik terjadi perlengketan dan akan menjadi abses (kronik). Apabila proses infeksi sangat cepat (akut) dapat menyebabkan peritonitis. Peritonitis merupakan komplikasi yang sangat serius. Infeksi kronis dapat terjadi pada apendik, tetapi hal ini tidak selalu menimbulkan nyeri di daerah abdomen.

Asuhan Keperawatan Pada Pasien Dengan Apendiksitis, Asuhan Keperawatan Klien Dengan Apendiksitis, askep Apendiksitis, Laporan pendahuluan LP askep Apendiksitis, contoh askep Apendiksitis, laporan kasus Apendiksitis, diagnosa keperawatan askep Apendiksitis, kumpulan asuhan keperawatan, makalah askep Apendiksitis, pengertian Apendiksitis, patofisiologi askep Apendiksitis informasi tentang penyakit usus buntu atau Apendiksitis akan dibahas berikut ini: A. Pengertian Apendiksitis adalah peradangan dari apendiks dan merupakan penyebab abdomen akut yang paling sering (Mansjoer,2000). Apendiksitis adalah radang apendiks, suatu tambahan seperti kantung yang tak berfungsi terletak pada bagian inferior dzri sekum. Penyebab yang paling umum dari apendisitis adalah abstruksi lumen oleh feses yang akhirnya merusak suplai aliran darah dan mengikis mukosa menyebabkan inflamasi (Wilson & Goldman, 1989). Apendiksitis merupakan penyakit prototip yang berlanjut melalui peradangan, obstruksi dan iskemia di dalam jangka waktu bervariasi (Sabiston, 1995). Apendiksitis akut adalah penyebab paling umum inflamasi akut pada kuadran bawah kanan rongga abdomen, penyebab paling umum untuk bedah abdomen darurat (Smeltzer, 2001). B. Etiologi 1. Menurut Syamsyuhidayat, 2004 :

o Benda asing. striktur karena fibrosis akibat peradangan sebelumnya. submukosa. dan ulserasi mukus. Menurut Markum. 3. diapedesis bakteri. lapisan muskularisa. muntah. o Cacing ascaris. dan bakteri akan . o Erosi mukosa apendiks karena parasit E.Suhu tubuh mulai naik. tekanan akan terus meningkat. Hal tersebut akan menyebabkan obstruksi vena. namun elastisitas dinding apendiks mempunyai keterbatasan sehingga menyebabkan peningkatan tekanan intralumen. Obstruksi yang terjadi tersebut menyebabkan mukus yang diproduksi mukosa mengalami bendungan. 2000 : o Hiperflasia folikel limfoid. 2. invasi kuman E Coli dan spesibakteroides dari lumen ke lapisan mukosa. nausea. Sumbatan menyebabkan nyeri sekitar umbilicus dan epigastrium. Feses yang terperangkap dalam lumen apendiks akan menyebabkan obstruksi dan akan mengalami penyerapan air dan terbentuklah fekolit yang akhirnya sebagai kausa sumbatan. Semakin lama mukus semakin banyak. dan akhirnya ke peritoneum parietalis terjadilah peritonitis lokal kanan bawah. o Fekalit. atau neoplasma. benda asing. 2000: Apendiksitis biasa disebabkan oleh adanya penyumbatan lumen apendiks oleh hyperplasia folikel limfoid. Tekanan tersebut akan menghambat aliran limfe yang mengakibatkan edema. Histolytica. Patofisiologi Menurut Mansjoer. Menurut Mansjoer . 1996 : o Fekolit o Parasit o Hiperplasia limfoid o Stenosis fibrosis akibat radang sebelumnya o Tumor karsinoid o C.Bila sekresi mukus terus berlanjut. o Hiperplasia jaringan limfe. fekalit. edema bertambah. o Striktur karena fibrosis akibat peradangan sebelumnya. o Tumor apendiks.Fekalit/massa fekal padat karena konsumsi diet rendah serat. Pada saat ini terjadi apendisitis akut fokal yang ditandai oleh nyeri epigastrium. o Neoplasma.

karena dinding apendiks sebenarnya sudah terjadi mikroperforasi) D.(tanda awal yang umum. omentum dan usus yang berdekatan akan bergerak ke arah apendiks hingga timbul suatu massa lokal yang disebut infiltrate apendikularis. o Nyeri lepas. kuramg umum pada anak yang lebih besar). o Demam ringan di awal penyakit dapat naik tajam pada peritonotis. Tahapan Peradangan Apendisitis 1. Stadium ini disebut dengan apendisitis gangrenosa. kram di daerah periumbilikus menjalar ke kuadran kanan bawah o Anoreksia o Mual o Muntah. Cecily. o Bising usus menurun atau tidak ada sama sekali. Apendisitis akuta perforate ( termasuk apendisitis gangrenosa. Bila dinding yang telah rapuh pecah. Bila kemudian aliran arteri terganggu akan terjadi infark diding apendiks yang diikuti dengan gangren. Manifestasi Klinik 1. tanpa perforasi) 2. Keadaan ini yang kemudian disebut dengan apendisitis supuratif akut. Sedangkan pada orang tua perforasi mudah terjadi karena telah ada gangguan pembuluh darah. 2000 : o Sakit.menembus dinding. Pada anak-anak karena omentum lebih pendek dan apendiks lebih panjang. dinding apendiks lebih tipis. akan menyebabkan apendisitis perforasi. . o Konstipasi. Apendisitis akuta (sederhana. Keadaan demikian ditambah dengan daya tahan tubuh yang masih kurang memudahkan terjadinya perforasi. Peradangan yang timbul meluas dan mengenai peritoneum setempat sehingga menimbulkan nyeri di area kanan bawah. Peradangan apendiks tersebut akan menyebabkan abses atau bahkan menghilang. Bila proses tersebut berjalan lambat. Menurut Betz.

Namun dalam beberapa jam nyeri abdomen bawah akan semakin progresif. Setelah beberapa jam. o Gejala berkembang cepat. Jika dokter menekan daerah ini. mual. o Apendisitis memiliki gejala kombinasi yang khas.8-38. Pada permulaan timbulnya penyakit belum ada keluhan abdomen yang menetap. Nyeri lepas dan spasme biasanya juga muncul. di semua bagian perut. tetapi kadang-kadang terjadi diare. Diare. Bila tanda Rovsing. Bila usus buntu pecah. yang akan menetap dan diperberat bila berjalan atau batuk. rasa mual hilang dan nyeri berpindah ke perut kanan bagian bawah. muntah dan nyeri yang hebat di perut kanan bagian bawah. malaise. Manifestasi klinis menurut Mansjoer. dan muntah. lalu timbul mual dan muntah. Biasanya juga terdapat konstipasi. dan denghan pemeriksaan seksama akan dapat ditunjukkan satu titik dengan nyeri maksimal. Pada bayi dan anak-anak. o Disuria. akan semakin meyakinkan diagnosa klinis. kondisi dapat didiagnosis dalam 4 sampai 6 jam setelah munculnya gejala pertama. Perkusi ringan pada kuadran kanan bawah dapat membantu menentukan lokasi nyeri. psoas. nyeri dan demam bisa menjadi berat. nyeri bisa bertambah tajam. nyerinya bersifat menyeluruh. o Iritabilitas. 2000 : Keluhan apendiks biasanya bermula dari nyeri di daerah umbilicus atau periumbilikus yang berhubungan dengan muntah. Pada orang tua dan wanita hamil. Demam bisa mencapai 37. dan obturatorpositif. Nyeri bisa secara mendadak dimulai di perut sebelah atas atau di sekitar pusar. yang terdiri dari : Mual.2. Dalam 2-12 jam nyeri akan beralih ke kuadran kanan bawah. o o o o o E Coli Abdomens Free Logo Hiperplasia Neoplasma . Infeksi yang bertambah buruk bisa menyebabkan syok. Terdapat juga keluhan anoreksia. dan demam yang tidak terlalu tinggi. nyerinya tidak terlalu berat dan di daerah ini nyeri tumpulnya tidak terlalu terasa.8° Celsius. penderita merasakan nyeri tumpul dan jika penekanan ini dilepaskan.

o Infeksi luka. Bila terjadi peritonitis umum terapi spesifik yang dilakukan adalah operasi untuk menutup asal perforasi. observasi aman untuk dilakukan dalam masa tersebut. o Obstruksi intestinum. Bila perforasi dengan peritonitis umum atau pembentukan abses telah terjadi sejak klien pertam akali datang. spasme otot dinding perut kuadran kanan bawah dengan tanda peritonitis umum atau abses yang terlokalisasi. Menurut Mansjoer. tetapi peyakit ini tidak dapat diramalkan dan mempunyai kecenderungan menjadi progresif dan mengalami perforasi. pemasangan NGT. o Abses intra abdomen. pemberian . Sedangkan tindakan lain sebagai penunjang : tirah baring dalam posisi fowler medium. Menurut Hartman. Karena perforasi jarang terjadi dalam 8 jam pertama. malaise. Komplikasi 1. ileus. koreksi cairan dan elektrolit. puasa. 1994 : o Perforasi. o Peritonitis. Tanda-tanda perforasi meliputi meningkatnya nyeri. demam. diagnosis dapat ditegakkan dengan pasti.o Umbilicus Tag Cloud o o o o o Abdomens Online Shop Oranges Stadiums Quick weight loss diet o o o Diet Pills E Coli Free antivirus download E. 2000 : Apendiksitis adalah penyakit yang jarang mereda dengan spontan. dikutip dari Nelson. leukositosis semakin jelas. 2.

Pada keadaan ini diindikasikan pemberian antibiotik kombinasi dengan drainase. Hal ini harus dicurigai bila ditemukan demam sepsis. Hartman(1994). Pada abses yang tetap progresif harus segera dilakukan drainase.penenang. transfusi utnuk mengatasi anemia. Abses daerah pelvis yang menonjol ke arah rektum atau vagina dengan fruktuasi positif juga perlu dibuatkan drainase. 2. antara lain : 1. Catzel(1995). Terapi dini dapat diberikan kombinasi antibiotik (misalnya ampisilin. ada 4 hal yang penting adalah : o Nyeri mula-mula di epigastrium (nyeri viseral) yang beberapa waktu kemudian menjalar ke perut kanan bawah. di perut terasa nyeri. atau klindamisin). metronidazol. Pemeriksaan Radiologi Pemeriksaan radiologi pada foto tidak dapat menolong untuk . menghindarkan pergerakan. Bila terbentuk abses apendiks akan teraba massa di kuadran kanan bawah yang cenderung menggelembung ke arah rektum atau vagina. Tromboflebitis supuratif dari sistem portal jarang terjadi tetapi merupakan komplikasi yang letal. o Muntah oleh karena nyeri viseral. hepatomegali. bila ada. penderita nampak sakit. Pemeriksaan Pemeriksaan menurut Betz(2002). Komplikasi lain yang terjadi ialah abses subfrenikus dan fokal sepsis intraabdominal lain. menggigil. gentamisin. Anamnesa Gejala apendisitis ditegakkan dengan anamnese. Dengan sediaan ini abses akan segera menghilang. dan ikterus setelah terjadi perforasi apendiks. pemberian antibiotik berspektrum luas dilanjutkan dengan pemberian antibiotik yang sesuai dengan kultur. o Panas (karena kuman yang menetap di dinding usus). Obstruksi intestinal juga dapat terjadi akibat perlengketan. F. o Gejala lain adalah badan lemah dan kurang nafsu makan. dan penanganan syok septik secara intensif. dan apendiktomi dapat dilakaukan 612 minggu kemudian.

tapi kadang kala dapat ditemukan gambaran sebagai berikut: Adanya sedikit fluid level disebabkan karena adanya udara dan cairan. Kadang ada fecolit (sumbatan). harus diturunkan sebelum diberi anestesi. Laboratorium Pemeriksaan darah : lekosit ringan umumnya pada apendisitis sederhana lebih dari 13000/mm3 umumnya pada apendisitis perforasi. phenergan sebagai anti menggigil. o Apendiks dibuang. Laju endap darah (LED) meningkat pada keadaan apendisitis infiltrat. jika apendiks mengalami perforasi bebas. 3. Sebelum operasi o Pemasangan sonde lambung untuk dekompresi o Pemasangan kateter untuk control produksi urin. o Bila demam. o Obat-obatan penurun panas. Pemeriksaan laboratorium Leukosit meningkat sebagai respon fisiologis untuk melindungi tubuh terhadap mikroorganisme yang menyerang. Penatalaksanaan Penatalaksanaan apendiksitis menurur Mansjoer. . Hitung jenis: terdapat pergeseran ke kiri. 2. Hb (hemoglobin) nampak normal. 2000 : 1.menegakkan diagnosa apendisitis akut. o Rehidrasi o Antibiotic dengan spectrum luas. G. Tidak adanya lekositosis tidak menyingkirkan apendisitis. largaktil untuk membuka pembuluh – pembuluh darah perifer diberikan setelah rehidrasi tercapai. kecuali bila terjadi peritonitis. pada keadaan perforasi ditemukan adanya udara bebas dalam diafragma. dosis tinggi dan diberikan secara intravena. Operasi o Apendiktomi.maka abdomen dicuci dengan garam fisiologis dan antibiotika. Pada apendisitis akut dan perforasi akan terjadi lekositosis yang lebih tinggi lagi. Urine rutin penting untuk melihat apa ada infeksi pada ginjal. Pemeriksaan urin : sediment dapat normal atau terdapat lekosit dan eritrosit lebih dari normal bila apendiks yang meradang menempel pada ureter atau vesika.

o Satu hari pasca operasi pasien dianjurkan untuk duduk tegak di tempat tidur selama 2×30 menit. selama pasien dipuasakan.massanya mungkin mengecil.Abses apendiks diobati dengan antibiotika IV. Persiapan dan pembedahan harus dilakukan sebaik-baiknya mengingat penyulit infeksi luka lebih tiggi daripada pembedahan pada apendisitis sederhana tanpa perforasi.atau abses mungkin memerlukan drainase dalam jangka waktu beberapa hari. o Berikan minum mulai15ml/jam selama 4-5 jam lalu naikan menjadi 30 ml/jam. puasa dilanjutkan sampai fungsi usus kembali normal. karena dikuatirkan akan terjadi abses apendiks dan peritonitis umum. . Pasca operasi o Observasi TTV. misalnya pada perforasi. o Hari ke-7 jahitan dapat diangkat dan pasien diperbolehkan pulang. o Bila tindakan operasilebih besar. Sebaiknya dilakukan tindakan pembedahan segera setelah klien dipersiapkan. Apendiktomi dilakukan bila abses dilakukan operasi elektif sesudah 6 minggu sampai 3 bulan. o Pada keadaan massa apendiks dengan proses radang yang masih aktif yang ditandai dengan : o o o Keadaan umum klien masih terlihat sakit. 3. suhu tubuh masih tinggi Pemeriksaan lokal pada abdomen kuadran kanan bawah masih jelas terdapat tanda-tanda peritonitis Laboratorium masih terdapat lekositosis dan pada hitung jenis terdapat pergeseran ke kiri. o Pasien dikatakan baik bila dalam 12 jam tidak terjadi gangguan. o Pada hari kedua pasien dapat berdiri dan duduk di luar kamar. o Baringkan pasien dalam posisi semi fowler. Keesokan harinya berikan makanan saring dan hari berikutnya diberikan makanan lunak. o Angkat sonde lambung bila pasien telah sadar sehingga aspirasi cairan lambung dapat dicegah.

kebiasaan makan makanan rendah serat. o Riwayat kesehatan masa lalu biasanya berhubungan dengan masalah. o Diet. Pemeriksaan lokal abdomen tidak terdapat tanda-tanda peritonitis dan hanya teraba massa dengan jelas dan nyeri tekan ringan. lebih-lebih bila massa apendiks telah terbentuk lebih dari satu minggu sejak serangan sakit perut. Wawancara Dapatkan riwayat kesehatan dengan cermat khususnya mengenai : o Keluhan utama klien akan mendapatkan nyeri di sekitar epigastrium menjalar ke perut kanan bawah. Betz (2002). kesehatan klien sekarang ditanyakan kepada orang tua. Doenges (1999).Pada keadaan massa apendiks dengan proses radang yang telah mereda ditandai dengan : o o o o Umumnya klien berusia 5 tahun atau lebih. dapat hilang atau timbul nyeri dalam waktu yang lama.Sifat keluhan nyeri dirasakan terusmenerus. Keluhan yang menyertai biasanya klien mengeluh rasa mual dan muntah. Laboratorium hitung lekosit dan hitung jenis normal. Pengkajian Pengkajian menurut Wong (2003). Pemeriksaan Fisik . 2. antara lain : 1. Tindakan bedah apabila dilakukan lebih sulit dan perdarahan lebih banyak. Keadaan umum telah membaik dengan tidak terlihat sakit. o Kebiasaan eliminasi.Pembedahan dilakukan segera bila dalam perawatan terjadi abses dengan atau tanpa peritonitis umum. Asuhan Keperawatan Anak dengan Apendiksitis A. Tindakan yang dilakukan sebaiknya konservatif dengan pemberian antibiotik dan istirahat di tempat tidur. Timbul keluhan Nyeri perut kanan bawah mungkin beberapa jam kemudian setelah nyeri di pusat atau di epigastrium dirasakan dalam beberapa waktu lalu. panas. suhu tubuh tidak tinggi lagi. Catzel (1995).

meningkat karena berjalan. bersin. o Berat badan sebagai indicator untuk menentukan pemberian obat. nyeri tekan/nyeri lepas. o Respirasi : Takipnoe. Gambaran perselubungan mungkin terlihat “ileal atau caecal ileus” (gambaran garis permukaan cairan udara di sekum atau ileum). diare kadang-kadang. 3. o Peningkatan leukosit. o Aktivitas/istirahat : Malaise. o Laju endap darah (LED) meningkat pada keadaan apendisitis infiltrat. batuk. Pemeriksaan Penunjang o Tanda-tanda peritonitis kuadran kanan bawah. o Urine rutin penting untuk melihat apa ada infeksi pada ginjal. o Distensi abdomen. Nyeri akut berhubungan dengan proses penyakit. o Data psikologis klien nampak gelisah. Burney.Pemeriksaan fisik keadaan umum klien tampak sakit ringan/sedang/berat. neutrofilia. Nyeri pada kuadran kanan bawah karena posisi ekstensi kaki kanan/posisi duduk tegak. o Pada enema barium apendiks tidak terisi. o Sirkulasi : Takikardia. atau napas dalam. o B. o Nyeri/kenyamanan. tanpa eosinofil. nyeri abdomen sekitar epigastrium dan umbilicus. o Demam lebih dari 380C. o Ada perubahan denyut nadi dan pernapasan. o Ultrasound: fekalit nonkalsifikasi. o Eliminasi : Konstipasi pada awitan awal. apendiks nonperforasi. penurunan atau tidak ada bising usus. Diagnosa Keperawatan Diagnosa yang muncul pada anak dengan kasus apendiksitis berdasarkan rumusan diagnosa keperawatan menurut NANDA (2006) antara lain : Pre Operasi 1. pernapasan dangkal. kekakuan. abses apendiks. yang meningkat berat dan terlokalisasi pada titik Mc. . o Pada pemeriksaan rektal toucher akan teraba benjolan dan penderita merasa nyeri pada daerah prolitotomi.

Post Operasi kebutuhan tubuh 1. dan hasil yang diharapkan menurut Johnson (2000) Nursing Outcome Classification ( NOC) . C. Kolaborasi medis dalam pemberian analgesic. Kriteria Hasil : • • • • • Nyeri berkurang Ekspresi nyeri lisan atau pada wajah Kegelisahan atau keteganganotot Mempertahankan tingkat nyeri pada skala 0-10. keparahan. Nyeri berhubungan dengan terputusnya kontinuitas jaringan.Closkey (1996) Nursing Intervention Classsification (NIC). Tujuan :Nyeri dapat berkurang atau hilang. Menunjukkan teknik relaksasi yang efektif untuk mencapai kenyamanan. Libatkan keluarga dalam pengendalian nyeri pada anak. secara komprhensif meliputi lokasi. Resiko kekurangan volume cairan berhubungan dengan asupan cairan yang tidak adekuat. Intervensi Keperawatan Intervensi menurut Mc. 2. Nyeri akut berhubungan dengan proses penyakit. Intervensi • • • • • • • Lakukan pengkajian nyeri. Kendalikan factor lingkungan yang dapat mempengaruhi respon pasien terhadap ketidaknyamanan. perubahan posisi. hadir dekat pasien untuk memenuhi kebutuhan rasa nyamannya dengan cara: masase. Observasi ketidaknyamanan non verbal.muntah. anoreksia. Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari berhubungan dengan mual. Gunakan pendekatan yang positif terhadap pasien. antara lain : Pre Operasi Dx I. . Anjurkan pasien untuk istirahat.2. berikan perawatan yang tidak terburu-buru. factor presipitasinya.

I. Kriteria Hasil : • • • • Mempertahankan berat badan. berikan perawatan yang tidak terburu-buru. Toleransi terhadap diet yang dianjurkan. Berikan informasi yang tepat tentang kebutuhan nutrisi dan bagaimana memenuhinya. anoreksia. Pantau kandungan nutrisi dan kalori pada catatan asupan. Intervensi • • • • • Tentukan kemampuan pasien untuk memenuhi kebutuhan nutrisi. Minimalkan faktor yang dapat menimbulkan mual dan muntah. Observasi ketidaknyamanan non verbal Gunakan pendekatan yang positif terhadap pasien. Tujuan : Setelah dilakukan tindakan keperawatan diharapkan nutrisi pasien adekuat.muntah. Kriteria Hasil : • • • • Nyeri berkurang Ekspresi nyeri lisan atau pada wajah Mempertahankan tingkat nyeri pada skala 0-10. Turgor kulit baik. . Post Operasi Dx. Intervensi • • • Lakukan pengkajian nyeri. perubahan posisi. keparahan. Nyeri berhubungan dengan terputusnya kontinuitas jaringan.Dx II. secara komprhensif meliputi lokasi. Menunjukkan teknik relaksasi yang efektif untuk mencapai kenyamanan. Menunjukan tingkat keadekuatan tingkat energi. pertahankan higiene mulut sebelum dan sesudah makan. hadir dekat pasien untuk memenuhi kebutuhan rasa nyamannya dengan cara: masase. Tujuan : Setelah dilakukan tindakan keperawatan diharapkan nyeri dapat berkurang atau hilang. Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan mual.

• • • • Kendalikan factor lingkungan yang dapat mempengaruhi respon pasien terhadap ketidaknyamanan. membran mukosa lembab. Buku Saku Keperawatan Pediatri.1995. Nursing Outcome Classification (NOC). Jakarta : Penerbit Buku Kedokteran EGC. Kolaborasikan pemberian cairan intravena sesuai terapi. Cecily L. Resiko kekurangan volume cairan berhubungan dengan asupan cairan yang tidak adekuat. Kolaborasi medis dalam pemberian analgesic. Rencana Asuhan Keperawatan Pedoman Untuk Perencana Pendokumentasian Perawatan Klien. seperti Hb/Ht. Pincus. elastisitas. 2002. BJ urine normal. Tujuan : Setelah dilakukan tindakan keperawatan diharapkan keseimbangan cairan pasien normal dan dapat mempertahankan hidrasi yang adekuat. Anjurkan pasien untuk istirahat dan menggunakan tenkik relaksai saat nyeri. HT normal. Marilyn. Tekanan darah. Dx II. nadi. Libatkan keluarga dalam pengendalian nyeri pada anak. Johnson. Marion. St. Atur kemungkinan transfusi darah. turgor kulit. suhu tubuh dalam batas normal. Dongoes. dkk. Jakarta: EGC Catzel. Na+ albumin dan waktu pembekuan.dkk. . Monitor status nutrisi Awasi nilai laboratorium. Louis. Tidak ada rasa haus yang berlebihan. Intervensi • • • • • • Pertahankan catatan intake dan output yang akurat. Kriteria Hasil : • • • • Mempertahankan urine output sesuai dengan usia dan BB.dkk 1999. Daftar Pustaka Betz. Kapita Selekta Pediatri. Jakarta: EGC. Monitor vital sign dan status hidrasi. Tidak ada tanda-tanda dehidrasi. Edisi 3. E.

2003.C. Nelson.Inc. Joanne. Mc.com diakses tanggal 1 Juni 2008.Inc. Louis. Syamsuhidayat. Jakarta: EGC ____. Jakarta : EGC. St. Edisi 4.Ilmu Kesehatan Anak.1991. Markum. harnawatiarjwordpress.Jakarta: EGC. R & De Jong W. 1996. A. Buku Ajar Ilmu Bedah. 2004. Dkk. . D. Missouri: Mosby Yearbook. Pedoman Klinis Keperawtan Pediatrik. Jilid 2. Edisi 2 . Edisi 3. Nursing Intervention Classsification (NIC). terdapat pada:www. 1995. Mansjoer. Sabiston. Jakarta : Media Aesculapius. Buku Ajar Bedah. Jakarta: FKUI. Kapita Selekta Kedokteran.1994.Jakarta : EGC. apendisitis.Vol 2. 2000. Donna L. Wong.Missouri: Mosby Yearbook. Closkey. 2007.Ilmu Kesehatan Anak.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful