You are on page 1of 22

Di samping alasan keilmuan yang tinggi dan kemampuan meneliti masyarakat desa

,
banyak pihak memposisikan Prof. Dr. Sajogyo menjadi patokan nilai-nilai kehidupan
yang luhur. Dalam ungkapan bahasa sehari-hari, seorang muda memilihnya untuk
memenuhi kebutuhan generasi muda akan panutan. Seorang ilmuwan (Wiradi, 1996)
juga menuliskan, komunitas ilmiah membutuhkan ilmuwan yang berkarakter.
Pilihan aksiologis tersebut tidak boleh dibiarkan mengambang, melainkan perlu
didaratkan pada serangkaian argumen etis. Dibutuhkan penjelasan yang mendalam
untuk mempertanggungjawabkan pilihan yang didasarkan contoh sikap Dr. Sajogyo,
sebagai suatu pilihan yang menumbuhkan etos bertindak luhur.
Argumen etis atau kategoris harus disampaikan, karena, memakai bahasa David
Hume (Scruton, 1986), kalimat deskriptif hasil penelitian sosiologi sekalipun tidak
masuk akal untuk diubah menjadi kalimat normatif atau posisi etis. Tidak bisa
menarik kesimpulan dari kalimat berita untuk menjadi kalimat perintah. Oleh karena
itu akal tidak bisa digunakan sebagai ukuran bagi cara untuk seharusnya bertindak.
Bertindak secara bertanggung jawab bukan berarti menguatkan akal, melainkan
memperdalam perasaan demi kesejahteraan orang lain.
Dalam konteks pembicaraan di sini, ilmu sosiologi pedesaan menyelesaikan tugasnya
dengan mendeskripsikan pola tindakan warga desa dan pihak lain yang berkaitan
dengannya. Langkah berikutnya menjadi tugas perasaan atau etika untuk menentukan
makna maupun kegunaan informasi sosiologi pedesaan itu bagi pihak lain: lapisan
bawah, lapisan atas, orang kota, pemerintah, atau lainnya.
Dalam wilayah inilah Dr. Sajogyo mengulurkan suluhnya. Dalam terang sikap atau
karakternya inilah kolega-kolega menemukan etos untuk mendidik, etos meneliti, dan
etos memberdayakan masyarakat. Trilogi dimensi etos tersebut sejajar tridharma
perguruan tinggi, yaitu pendidikan, penelitian dan pengabdian kepada masyarakat. Ini
bukanlah trilogi kognitif, melainkan trilogi etis yang benar-benar bisa dipraktekkan,
sebagaimana direfleksikan sebagai pengalaman hidup Dr. Sajogyo (2004).
Dirumuskan dari tulisan-tulisannya sendiri (Sajogyo, 1977; Tjondronegoro, 1996),
Dr. Sajogyo mengetengahkan posisi aksiologis untuk berpihak kepada lapisan bawah.
Dan ia bergeming pada posisi itu (Sajogyo, 2004).

Pendidikan untuk Lapisan Bawah

Aksiologi pemihakan kepada lapisan bawah memberikan terang akan ilmu
pengetahuan yang selalu bisa dipraktekkan di tengah masyarakat. Praktek dari ilmu
tersebut diarahkan kepada pemecahan masalah. Orientasi kepada pemecahan masalah
dapat dipautkan dengan pembelajaran seumur hidup. Dalam proses berkelanjutan ini,
pendidik juga belajar dari peserta didik atau murid. Dalam konteks yang diperluas,
pendidik selayaknya juga belajar dari lapisan terbawah di pedesaan.
Penting pula dicatat bahwa perumusan masalah sendiri menjadi areal etis. Oleh
karenanya rumusan masalah dalam sosiologi pedesaan sebaiknya berkisar pada
sejauhmana upaya untuk meningkatkan harkat dan martabat lapisan terbawah di
pedesaan, atau di perkotaan (migran dari desa).
Pola pemecahan masalah masyarakat tersebut dapat diwujudkan dalam bentuk
penyuluhan, atau kini boleh dinamakan juga pendampingan. Sehubungan dengan
upaya meningkatkan dimensi partisipatif lapisan bawah, maka pendidikan yang cocok
dengan aksiologi “berpihak kepada lapisan terbawah” lebih tepat berwujud
pendidikan untuk orang dewasa. Seluruh partisipan dalam proses belajar atau
mengajar itu berkedudukan setara. Semua tidak berangkat dari pengetahuan kosong,
melainkan saling mendiskusikan pola pandang yang berbeda sesuai dengan akumulasi
pengetahuan yang sudah pada masing-masing pihak.
Dalam bahasa Dr. Sajogyo (2004), pendidikan sosiologi pedesaan dirumuskan
sebagai
..... hubungan antara kerja “penyuluhan yang menyertakan peranan masyarakat (tani
dan desa)” dan dilain pihak pilihan “corak sosiologi dan lain cabang ilmu sosial”
yang lebih sesuai keperluan pembangunan yang lebih demokratis, dalam kerjasama
dan saling menghargai antara sejumlah pelaku (“stakeholders”) pembangunan,
terutama (dimulai dari) masyarakat lokal.

Penelitian untuk Lapisan Bawah

Aksiologi pemihakan kepada lapisan bawah lebih tepat dipraktekkan dalam ranah
metodologi partisipatif. Pengikat dari beragam paradigma partisipatif ialah
epistemologi pragmatisme. Di sini kebenaran diuji melalui kesepakatan oleh semua
pihak yang terlibat. Semakin banyak yang menyetujuinya maka kebenaran dari hasil
kegiatan penelitian tersebut juga meningkat. Jika dibandingkan dengan metodologi
lain yang bercirikan epistemologi korespondensi dan koherensi, dengan segera
paradigma partisipatif ini dikenali dari ciri kepraktisan penggunaannya untuk
mengembangkan masyarakat. Peneliti (seringkali lebih tepat dimaknai sebagai
pendamping) bekerja bersama masyarakat lokal untuk mengenali dunianya sendiri,
mendefinisikan dunia tersebut, kemudian meletakkan suatu tujuan ke depan yang
akan dicapai bersama (Heron, 1996). Paradigma metodologi positivisme dan pasca
positivisme tidak memberikan ruang partisipasi bagi responden secara politis (turut
berpikir dan menentukan desain penelitian) dan bagi peneliti secara epistemis
(melakukan aksi dalam proses penelitian). Berlainan dengan hal itu, paradigma
metodologi partisipatif memberikan ruang secara parsial maupun penuh bagi
responden (ko-peneliti) secara politis dan peneliti secara epistemis. Sementara itu,
paradigma kualitatif lainnya dicirikan oleh partisipasi parsial pada responden untuk
menentukan desain penelitian dan partisipasi parsial peneliti dalam aksi. Paradigma
partisipatif sendiri bercirikan partisipasi penuh informan (bersama peneliti) dalam
merumuskan desain penelitian, sekaligus partisipasi penuh peneliti (bersama
informan) dalam aksi-aksi sebagai konsekuensi penelitian.
Dr. Sajogyo mengambil eksemplar Siregar (2001) dalam membumikan metode
partisiaptif di bumi Indonesia. Terdapat perbedaan antara posisi Orang Luar (OL,
peneliti) dan Orang Dalam (OD, masyarakat). Keduanya harus berinteraksi, agar
menghasilkan kesepakatan tentang pengetahuan yang bermanfaat bagi semua pihak.
Peneliti juga perlu mengatasi tradisi Barat yang membedakan teori dari praktek.
Jamak dilakukan dalam paradigma partisipatif untuk menggunakan beragam metode,
karena kebutuhan untuk mengevaluasi realitas masyarakat yang kompleks. Hasil dari
analisis eklektik ini tetaplah menunjukkan pembedaan pengetahuan (yang sebenarnya
merupakan pengetahuan berbasis perbedaan pengalaman), antara Orang Luar (OL)
dan Orang Dalam (OD).
Oleh karena epistemologi pragmatis tersebut hanya mungkin berjalan melalui
interaksi dan kesepakatan bersama di antara semua pihak (peneliti, informan, dan
pihak lain) yang terlibat dalam penelitian, teori yang akan dibangun perlu diletakkan
atau dilegitimasi ke dalam definisi ilmu pengetahuan dan teori berbasis kesepakatan
bersama pula.

Pemberdayaan Masyarakat Lapisan Bawah

Dasar konseptual pemberdayaan (empowerment) ialah kekuasaan (power). Akan
tetapi konsep kekuasaan yang dianut tidaklah dalam pengertian tunggal selama ini,
bahwa kekuasaan sebagai kemampuan seseorang untuk mempengaruhi atau memaksa
pihak lain yang berkedudukan lebih rendah, agar bertingkah laku sesuai dengan
keinginan pihak yang lebih tinggi. Dalam konteks pemberdayaan masyarakat, konsep
kekuasaan klasik ini kini lebih tepat dibaca sebagai dominasi, yaitu suatu kekuasaan
yang meliputi (power over) pihak lain, sehingga biasa digunakan sebagai alat
strategis untuk mencapai tujuan (Stewart, 2001). Strategi utama yang dilakukan ialah
dengan memobilisasi sumberdaya dari pihak yang dikuasai menuju kepada pihak
yang menguasai.
Adapun konsep kekuasaan yang lebih tepat digunakan dalam program pembangunan
masa kini merupakan kebalikan dari dominasi, yaitu pemberdayaan (empowerment).
Dalam domain kekuasaan, pemberdayaan dimaknai sebagai kekuasaan yang
digunakan terhadap orang atau pihak lain (power to) sehingga lapisan yang terbawah
sekalipun dapat membuka peluang bagi kemandirian dirinya sendiri.
Arti baru terhadap kekuasaan ini tertuju kepada kekuatannya untuk meningkatkan
solidaritas di antara warga. Solidaritas tersebut dapat bersifat struktural. Mungkin
dalam konteks demikian akan muncul semacam revolusi, atau minimal perubahan
institusi yang radikal (Althusser, 2004). Institusi tersebut akan mengembalikan
alokasi sumberdaya secara adil kepada tiap pihak dalam suatu negara.
Solidaritas juga bisa dibentuk melalui dialog-dialog yang setara antar pihak
(Habermas, 1989). Di sini diciptakan ruang publik yang bebas dari penindasan.
Aturan-aturan kelembagaan yang hierarkis dan kaku di tingkat lebih tinggi, pada
arena dialogis ini dilupakan. Selanjutnya tiap pihak berkomunikasi dua arah pada
tataran yang sama.
Pembagian komponen sosial atas sektor negara (public), masyarakat (civil society)
dan swasta (private) relevan, disebabkan beragam paradigma pemberdayaan
masyarakat yang saat ini beradu, ternyata merupakan kaki dari ketiga sektor di atas.
Pemberdayaan yang bersifat desentralistis atau sebaliknya kompromistis terhadap
kekuasaan merupakan kaki dari negara. Pemberdayaan yang menekankan sifat
persaingan antar aktor menjadi perpanjangan kaki swasta. Adapun pemberdayaan
sebagai perubahan struktural beranjak dari kaki lapisan bawah.
Justru dengan menyadari perbedaan posisi dan kekuatan di antara ketiga sektor
tersebut, maka diajukan alternatif pembacaan atas hubungan di antara sektor negara,
swasta dan masyarakat. Solidaritas sosial merupakan bahasa ciptaan Dr. Sajogyo,
dalam kerangka menghubungkan dan mengikat ketiga sektor tersebut. Justru karena
menyadari ketidaksamaan sosial di antara ketiga sektor tersebut, maka yang
dibutuhkan ialah suatu upaya sosial untuk saling mendudukkan diri sejajar dengan
yang lain. Upaya sosial ini dapat dinyatakan sebagai reformasi dari konsep rekayasa
sosial. Adapun jalan reformasi konsep tersebut ialah melalui dialog (Habermas,
1989).
Oleh : Khairul Umam

Pendahuluan

Perkembangan ilmu pengetahuan tidak pernah terlepas dari sejarah peradaban manusia.
Ia selalu terkait berkelindan satu sama lainnya. Tidak terkecuali sejarah filsafat ilmu. Filsafat
itu sendiri telah muncul sejak ribuan tahun yang lalu di mana akal manusia masih dihadapkan
pada ruang dinamika pemikiran yang sederhana dan permasalahan yang tidak begitu komplek
seperti saat ini. Sejarah ilmu pengetahuan mencatat bahwa perkembangan awal yang
signifikan dalam ilmu pengetahuan dimulai sejak zaman Yunani Kuno (kurang lebih 600
SM). Di mana periode ini ditandai oleh pergeseran gugusan pemikiran (paradigm shift) dari
hal-hal yang berbau mistis ke yang logis. Dari kepercayaan mistis yang irrasional terhadap
fenomena alam menuju ke arah penjelasan logis yang berdasar pada rasio.

Persoalan sejarah ilmu pengetahuan tidak berhenti di situ saja, selanjutnya terjadi
semacam saling tarik-menarik yang saling mendominasi antar berbagai ide pemikiran dalam
memperjuangkan eksistensi ilmu pengetahuannya. Tujuan mulia ilmu yang beraras pada
pencapaian kebenaran yang hakiki demi kepentingan kemaslahatan manusia itu sendiri
menjadi semacam tonggak dasar dari munculnya perselisihan dinamika ilmu pengetahuan
selanjutnya. Hal tersebut dapat dilihat dari fenomena pertentangan yang bahkan saling
melemahkan dalam dunia filsafat Yunani kuno hingga zaman-zaman selanjutnya. Contoh hal
tersebut adalah perbedaan pandangan paham rasionalisme yang dianut Plato dengan paham
empirisme yang dianut Aristoteles dalam usaha mencapai kebenaran ilmu pengetahuan
kealaman.

Mendekati abad pertengahan masehi, fenomena dunia mitos yang telah diselimuti
kabut logis-rasionalis mulai muncul kembali. Sejarawan ilmu pun mencatat masa ini dengan
masa perkembangan ilmu pengetahuan yang bercirikan teosentris (berpusat pada kebenaran
wahyu). Para pemikir ini, seperti Thomas Aquinas (Gahral, 2002) mencoba membuktikan
kebenaran wahyu dengan tetap mengikutkan rasio. Tetapi posisi rasio atau akal saat itu
hanyalah sebatas sebagai hamba perempuan bagi teologi (ansilla teologia). Filsafat menjadi
abdi dari teologi di mana pemikiran filosofis digunakan untuk mendukung wahyu. Sementara
kebenaran yang didapat melalui teori ilmiah dibungkam apabila tidak sesuai dengan otoritas
ajaran wahyu. Masa inilah yang kemudian dikenal masa suramnya ilmu pengetahuan.

Sejak munculnya kembali paham teosentris, ilmuwan rasionalisme yang bersikukuh
dalam pendiriannya terus berjuang untuk membebaskan diri dari mitos dan berusaha
mengembalikan citra rasionalismenya. Pada zaman modern, semangat tersebut semakin
bangkit setelah Rene Descartes (1596-1650) menyampaikan diktumnya yang terkenal “cogito
ergo sum” yang artinya “aku berpikir maka aku ada”. Diktum itu mengisyaratkan bahwa
rasiolah satu-satunya pengetahuan, rasiolah sang raja pengetahuan dan ia harus terbebas dari
mitos-mitos keagamaan seperti wahyu, Tuhan, kredo, nilai dan lain sebagainya. Masa inilah
yang kemudian melahirkan “Renaisan” (yang berarti kelahiran kembali) dalam ilmu
pengetahuan serta diikuti “Aufklarung” (pencerahan) yang menandakan bangkitnya ilmu
pengetahuan dengan prinsip dasar rasionalisme, netralisme dan bebas nilai.

Ide netralisme ilmu pengetahuan ini semakin menunjukkan eksistensinya ketika para
filosof Inggris seperti David Hume (1711-1776) dan Jhon Locke (1632-1704)
memberikan reaksi kerasnya terhadap pemikiran rasionalisme. Mereka berpendapat
bahwa pengetahuan hanya didapatkan melalui pengalaman inderawi (empirisme),
bukan penalaran rasio. Pertentangan tersebut terus berlangsung hingga muncul
seorang filsuf Jerman, Immanuel Kant (1724-1804) yang membawa ide sintesis antara
rasionalisme dan empirisme. Ia berpendapat bahwa rasio dan empiri sama-sama
memiliki peran sebagai sumber pengetahuan di mana kesan-kesan empiri
dikontruksikan oleh rasio menjadi teori/konsep pengetahuan. Sementara di luar rasio
dan empiri tidak memberikan arti apa-apa bagi ilmu pengetahuan. Dengan begitu ide
sekularisasi tetap kokoh pada tempatnya semula. Sebaliknya ia seolah mendapat
kekuatan baru dalam mempertahankan eksistensinya.
Ide netralitas ilmu pengetahuan baru mendapat legitimasinya pada zaman modern
ketika muncul Filsafat Positivisme yang dimotori oleh Auguste Comte (1798-1857) di
mana pemikiran-pemikirannya tertuang dalam bukunya yang berjudul “The Course of
Positive Philosophy” yang berisi garis-garis besar prinsip positivisme-nya. Ia
berpendapat bahwa realitas ada (exist) dalam kenyataan yang berjalan sesuai dengan
hukum alam (natural law). Tanpa ada pengaruh apapun di luarnya (objektif) karena
realitas itu independen dari subjek. Dengan begitu paham ini juga mengenyampingkan
realitas metafisika, termasuk di dalamnya mitologi dan hal-hal yang bersifat esoteris
lainnya seperti nilai.

Diantara ciri-ciri posistivisme adalah bahwa ilmu pengetahuan dipandang sebagai
sesuatu yang ‘bebas nilai’ atau ‘netral’ atau ‘objektif’. Inilah yang menjadi dasar
prinsip filosofis pemikiran positivisme. Paham ini mencoba memberi garis demarkasi
antara fakta dan nilai. Fakta berdiri sendiri di luar nilai. Dengan begitu subjek peneliti
harus mengambil jarak dengan realita dengan bersikap imparsial-netral. Ciri lainnya
adalah ‘mekanisme’, yaitu paham yang mengatakan bahwa semua gejala alam dapat
dijelaskan secara mekanikal-determinis seperti layaknya mesin.

Paham posistivisme di atas telah menjadi wacana filsafat ilmu yang sangat
mendominasi pada abad ke-20. Hingga dari semakin pervasifnya dominasi tersebut,
positivisme bukan hanya menjadi bagian dari paham filsafat ilmu, menurut Ian
Hacking ia juga telah dianggap menjadi semacam agama baru karena ia telah
melembagakan pandangan-pandangan menjadi doktrin bagi berbagai bentuk
pengetahuan manusia, dengan tetap berpegang teguh pada prinsip bebas nilai, objektif,
dan sekularismenya.

Meski demikian paham ini mendapat sorotan tajam dari kalangan ilmuwan. Dari
beberapa pemikir yang mempermasalahkan tersebut adalah Karl R. Popper, para filsuf
Frankfurt Schule, Feyerabend, Withehead, Nashr, Al-Attas, Paul Illich dan lainnya.
Mereka menemukan fakta bahwa ilmu itu mesti terikat oleh nilai, subjek dan tidak
netral. Di balik klaim bebas nilai, tersemunyi nilai-nilai ideologis yang mempunyai
maksud tersendiri.

Perbincangan seputar paradigma ilmu bebas nilai, objektif dan netral yang diusung
positivisme inilah yang kemudian menarik minat penulis untuk mengkajinya lebih
mendalam. Penulis melihat realita yang ada di kalangan ilmuwan, baik barat maupun
muslim, masih saja berpegang teguh pada paradigma tersebut dengan berbagai alasan,
di samping juga ada yang menentangnya dengan beragam argumen yang melemahkan
ide tersebut.

Selain itu paradigma netralitas sain juga penting untuk dikaji karena pemahaman ini
terkait dengan dengan pemahaman sain, di mana banyak sekali aspek kehidupan
manusia yang diatur secara langsung oleh sain. Paham bahwa sain itu netral atau
terikat oleh nilai akan mempengaruhi hubungan cara kerja sain dan manusia itu
sendiri.

Ide Dasar Netralitas Ilmu

Kata “netral” biasanya diartikan tidak memihak atau imbang atau murni. Dalam isitilah
“ilmu netral” atau “sain netral” maupun “netralitas ilmu” berarti bahwa ilmu itu tidak
memihak pada apapun termasuk kebaikan dan tidak juga pada kejahatan. Ilmu berdiri sendiri
(independent) tidak terpengaruh oleh apapun. Kebaikan atau keburukan adalah hal lain di luar
permasalahan keilmuan. Keduanya adalah nilai yang sama sekali tidak boleh mempengaruhi
ilmu. Itulah sebabnya kemudian istilah “netralitas ilmu” atau semacamnya sering juga disebut
dan diganti dengan istilah ilmu yang bebas nilai (value free).
Di samping kedua istilah tersebut, yang secara jelas menunjukkan saling
keterkaitannya, juga dikenal dengan istilah lain berupa “ilmu objektif”. Artinya bahwa ilmu
pengetahuan terbentuk dari gugusan teori yang didapat dari objek pengetahuan yang berupa
data-data fakta empiri (semesta). Data-data tersebut harus sesuai dengan fakta empiri tanpa
melibatkan karakteristik tertentu di luar objek ilmu itu sendiri termasuk dari seorang
ilmuwan. Hal yang berada di luar objek ilmu berfungsi sebagai subjek. Ilmuwan misalnya
hanyalah sebagai subjek yang mengamati/meneliti objek dan menyimpulkan fakta-fakta
empiri darinya. Fakta-fakta tersebut disusun sebagai teori-teori pengetahuan yang independen
tanpa dipengaruhi oleh hal-hal yang bersifat subjektif. Teori-teori yang dikumpulkan dari
fakta objek terSebut kemudian disebut dengan ilmu. Karena ilmu itu terbentuk dari fakta-
fakta empiris dari objek maka kemudian ia disebut dengan ilmu yang objektif.

Kebenaran objektifitas ilmu hanya dapat dinilai ketika unsur-unsur subjektifitas ilmu
tersebut tidak mempengaruhinya atau tidak masuk sebagai salah satu unsur dari bangunan
teori-teorinya. Dalam hal ini berarti unsur-unsur subjektifitas ilmu dihilangkan. Unsur-unsur
tersebut dapat berupa keyakian-keyakinan, kepercayaan, paradigma, kepentingan, nilai dan
lain sebagainya.

Sampai di sini, jelas dapat dikatakan bahwa ilmu pengetahuan akan dikatakan objektif
apabila ia terlepas dari unsur-unsur lain di luar dirinya, termasuk nilai (value free). Begitu
ilmu terbebas dari nilai atau unsur-unsur lainnya, maka ilmu dalam keadaan posisi netral,
karena ia tidak memihak kepada sesuatu apapun kecuali pada dirinya sendiri (independent).

Netralitas ilmu menekankan pentingnya objektifitas ilmu pengetahuan, mencoba
meminimalisir subjektifitas di luarnya, bahkan berusaha untuk menghilangkan subjektifitas
itu sendiri. Paradigma netralitas ilmu ini meyakini bahwa semakin objektif (terbebas dari
nilai) ilmu pengetahuan semakin mendekati kebenaran (positif).

Paradigma netralitas ilmu atau bebas nilai ini pertama kali dianut serta dikembangkan
oleh paham positivisme dalam sejarah filsafat ilmu pengetahuan. Paham ini memandang
bahwa pengetahuan positif-ilmiah adalah pengetahuan yang pasti, nyata dan berguna. Objek-
objek fisik hadir independen dari subjek dan hadir secara langsung melalui data inderawi.
Data-data inderawi ini adalah satu. Apa yang dipersepsi adalah fakta sesungguhnya, tanpa
melibatkan unsur diluarnya.

Sebuah masalah keilmuan harus dirumuskan sedemikian sehingga pengumpulan data
dapat dilakukan secara objektif, bebas nilai dan netral. Objektif artinya bahwa data dapat
tersedia untuk penelaahan keilmuan tanpa ada hubungannya dengan karakterisktik individual
dari seorang ilmuwan (Senn). Bebas nilai berarti dikotomi yang tegas antara fakta dan nilai
mengharuskan subjek peneliti mengambil jarak dengan semesta dengan bersikap imparsial-
netral. Sedangkan netral berarti ilmu tidak memihak pada selain dirinya sendiri.

Untuk memperkokoh pandangannya tersebut, positivisme menetapkan syarat-syarat
bagi ilmu pengetahuan, yaitu : dapat di/ter-amati (observable), dapat di/ter-ulang
(repeatable), dapat di/ter-ukur (measurable), dapat di/ter-uji (testable) dan dapat di/ter-
ramalkan (predictable). Dengan begitu objek ilmu pengetahuan harus berupa fakta-fakta
empiri (semesta) yang hadir secara mandiri dan dapat diindera oleh subjek peneliti. Di mana
itu berarti bahwa hal-hal yang tidak dapat diindera oleh manusia – sebagai subjek utama dari
ilmu itu sendiri – tidak dapat dikatakan sebagai ilmu pengetahuan, termasuk didalamnya yang
menyangkut metafisika.

Karakteristik ilmu pengetahuan adalah bahwa ia harus didapat melalui metode ilmiah
yang sudah baku, yaitu metode logico-hyphotetico-verificatif. Metode ini terlebih dahulu
mencoba mengkaji pengetahuan dengan cara memikirkan sesuatu sesuai dengan aturan
berpikir yang logis, rasional atau masuk akal (logico), dan bukan melalui aturan kepercayaan
atau keyakinan-keyakinan mistis. Kemudian dengan aturan berpikir secara logis tadi dicoba
untuk dapat ditarik hipotesis (hypothetico). Dari hipotesis tersebutlah kemudian ilmu
pengetahuan harus dapat membuktikannya secara empiris (verificatif).
Aliran filsafat yang sependapat dengan positivisme ini adalah positivisme logis,
empirisme, realisme, essensialisme dan objektivisme. Aliran-aliran tersebut mendasarkan
pandangannya pada prinsip-prinsip tertentu. Realisme misalnya memiliki prinsip mutlak
sebagai barikut : 1) kita memersepsi objek fisik secara langsung, 2) Objek ini adanya tidak
tergantung pada diri kita dan menempati posisi tertentu di dalam ruang, 3) ciri khas objek ini
seperti apa adanya sebagaimana kita memersepsinya (Rand, 2003).

Pada tahap selanjutnya paham netralitas ilmu (sain) terus berkembang dan
dikembangkan oleh para ilmuwan sebagai ide dasar bagi pengembangan ilmu pengetahuan
itu sendiri. Meski kemudian sempat terjadi pertarungan yang sengit selama kurang lebih 250
tahun antara ilmuwan yang berpegang pada prinsip “ilmu bebas nilai dan netral” atau
objektif, dengan ilmuwan yang berkeyakinan bahwa ilmu itu terikat oleh nilai, tidak netral
dan penuh dengan keterkaitan subjektif, namun pandangan netralitas ilmu terus
memenangkan idenya tersebut.

Realitas sejarahpun kemudian mencatat bahwa ilmu pengetahuan mengalami
kemajuannya yang signifikan ketika paradigma “ilmu yang bebas nilai” tersebut benar-benar
menjadi prinsip para ilmuwan dalam mengembangkan pengetahuannya, terutama di bidang
ilmu pengetahuan alam.

Menyoal Netralitas Ilmu

Ilmu bebas nilai dalam artian ia tidak terikat oleh sesuatu apapun di luar objeknya
sendiri serta ilmu pengetahuan netral, seolah telah menjadi diktum resmi yang dijadikan aras
yang kokoh bagi pengembangan keilmuan modern.

Namun begitu, sejarahpun mencatat bahwa klaim ilmu bebas nilai kemudian ditentang
oleh banyak kalangan dalam komunitas keilmuan itu sendiri. Bahkan hingga saat ini
pertentangan itu semakin sengit terutama datang dari kalangan panganut paham etika,
estetika, agama, sosial, budaya dan lainnya.

Fenomena yang ada, sejak zaman Yunani kuno pun, di mana etika dan estetika
mendapat tempat kehormatannya yang tinggi, klaim bahwa ilmu pengetahuan terikat oleh
nilaipun sudah menggejala. Lihat misal ideal Aristoteles tentang ilmu pengetahuan yang
berasumsi bahwa ilmu itu tumbuh dengan nilai-nilai. Keduanya menyatu dan tak terpisahkan
satu sama lain. Realitas objek dan subjek saling berkaitan satu sama lain dan sulit untuk
dipisahkan.

Ilmuwan di zaman kontemporer pun berpendapat demikian. Mereka berasumsi dasar
bahwa; (Gahral, 2002) Pertama, fakta tidak bebas melainkan bermuatan teori. Kedua,
falibilitas teori. Tidak satu teori pun yang dapat sepenuhnya dijelaskan dengan bukti-bukti
empiris, kemugkinan muncul fakta anomali selalu ada. Ketiga, fakta tidak bebas melainkan
sarat nilai. Keempat, interaksi antara subjek dan objek penelitian. Hasil penelitian bukan
reportase objektif melainkan hasil interaksi manusia dan semesta yang sarat persoalan dan
senantiasa berubah.

Mereka juga mengatakan bahwa ilmuwan bekerja dalam kerangka sistem kepercayaan
atau paradigmanya masing-masing. Bahwa alam ini tidak menguraikan dirinya sendiri. Ia
terbentuk menjadi teori ilmu yang berangkat dari beberapa set cara pandang, pemikiran,
pengaruh personal, pertimbangan kekelompokan, sosial, nilai dan lainnya. Maka kemudian
ilmu tidaklah bebas meski diupayakan kearah itu. Objektifitas ilmu mesti berdampingan
dengan subjektifitasnya dan nilai-nilaipun selalu mendampinginya.

Terkait dengan ilmu yang terikat nilai itu, ilmuwan pun mengkaji tentang apa hakikat
nilai itu sendiri, yang kemudian meniscayakan mentalnya pendapat netralitas ilmu
pengetahuan oleh nilai. Menurut Paul Edwards dalam bukunya The Encyclopedia of
Philosophy, nilai dibagi menjadi tiga bentuk. Pertama, nilai yang digunakan sebagai kata
benda abstrak. Dalam pengertian yang lebih sempit seperti baik, menarik, dan bagus. Kedua,
nilai sebagai kata benda kongkrit. Contohnya ketika kita berkata sebuah nilai atau nilai-nilai,
ia seringkali dipakai untuk merujuk kepada sesuatu yang bernilai, seperti nilainya, nilai dia,
dan sistem nilai dia. Lebih lanjut maksudnya bahwa nilai kongkrit adalah nilai yang melekat
sendiri pada suatu benda hingga ia dapat dikatakan bernilai. Ketiga, nilai sebagai kata kerja,
di mana hal tersebut tercermin dari aktifitas atau ekpresi menilai, memberi nilai dan dinilai.

Louis O. Katstoff (2000) berpendapat bahwa nilai terbagi menjadi dua. Nilai intrinsik
dan nilai instrumental. Nilai instrinsik meniscayakan bahwa sebuah objek fakta telah
terkandung di dalamnya secara permanen sebuah nilai. Baik nilai itu baik atau buruk, benar
atau salah, bahaya atau berguna dan lainnya. Nilai instrumental adalah lebih kepada
bagaimana fakta yang ada diarahkan kepada sebuah nilai. Pisau misalnya akan memiliki nilai
baik atau buruk tergantung bagaimana menggunakannya.

Dari pendapatnya itu ia kemudian memberikan gambaran bahwa situasi nilai
setidaknya meliputi; (a) suatu subjek yang memberi nilai – yang sebaiknya kita namakan
‘segi pragmatis’; (b) suatu objek yang diberi nilai- yang sebaiknya diberi nama ‘segi
semantis’; (c) suatu perbuatan penilaian atau (d) suatu nilai ditambah perbuatan penilaian.

Dari pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa ada keterkaitan organik antara nilai dan
fakta alam yang kemudian mempengaruhi paradigma ilmu pengetahuan itu sendiri. Fakta
secara intrinsik memiliki nilainya tersendiri sementara di luar itu terdapat nilai-nilai lain yang
mencoba mempengaruhinya. Fakta tidak dapat menghindari nilai-nilai dari luar dirinya
karena ia tidak akan dikenal sebagai ilmu pengetahuan apabila hanya berdiri sendiri dan
sibuk dengan nilainya sendiri. Dengan kata lain ilmu itu bukan hanya demi kepentingan ilmu
sendiri tetapi ilmu juga demi kepentingan lainnya, sehingga tidak dapat dinafikan kalau ilmu
terikat dengan lainnya seperti nilai.

Permasalahan netralitas sain yang lain terus mendapat sorotan tajam dari berbagai ahli.
Karl Raimund Popper (1902-1994), seorang pemikir Jerman yang juga aktif dalam Lingkaran
Wina mempermasalahkan objektifitas ilmu dengan berpendapat bahwa kita tidak pernah bisa
memastikan secara logis bahwa kita telah mencapai kebenaran lewat verifikasi terhadap fakta
meski juga kita dapat semakin mendekati kepastian semacam itu lewat pengguguran teori-
teori yang terbukti salah (falsifikasi).

Lebih lanjut, menurutnya perkembangan ilmu pengetahuan dalam sejarahnya tidak
selalu melalui logika penemuan yang didasarkan pada metodologi objektivisme yang ketat.
Ide baru bisa saja muncul berupa kilatan intuisi atau refleksi religius, di mana netralitas ilmu
pengetahuan kemudian rentan terhadap permasalahan-permasalahan di luar objeknya sendiri.
Yaitu terikat dengan nilai-nilai subjektifitasnya seperti hal-hal yang berbau mitologi. Dengan
demikian netralitas ilmu semakin dipertanyakan.

Thomas S Kuhn, seorang ilmuwan fisika dan sejarawan filsafat ilmu berpendapat
bahwasanya ide netralitas ilmu atau bebas nilai hanyalah sekedar ilusi (Kuhn, 1962). Dia
menyatakan bahwa paradigmalah yang menentukan jenis-jenis eksperimen yang dilakukan
para ilmuwan, jenis-jenis pertanyaan yang mereka ajukan, dan masalah yang mereka anggap
penting. Tanpa paradigma tertentu, para ilmuwan bahkan tak bisa mengumpulkan ‘fakta’:
dengan tiadanya paradigma atau calon paradigma tertentu, semua fakta yang mungkin sesuai
dengan perkembangan ilmu tertentu tampaknya cenderung sama-sama relevan. Akibatnya
pengumpulan fakta tahap awal jauh lebih berupa kegiatan acak jika dibandingkan dengan
kegiatan yang telah diakrabi dalam perkembangan ilmu lebih lanjut.

Lebih sederhana dan jelas Kuhn membahas ketidaknetralan ilmu pengetahuan itu
karena memang ilmu dibangun berdasar pijakan seorang pakar yang mungkin berbeda
dengan pakar lainnya. Di mana pijakan tersebut telah memuat nilai ataupun kepentingan
berbentuk ‘paradigma’.

Secara lebih gamblang, Kuhn memperkuat pendapatnya dengan teori revolusi sain. Ia
menilai adanya prinsip ketidakberbandingan teori ilmu pengetahuan antar masa
eksistensinya. Prinsip itu hendak mengatakan bahwa kesinambungan antar teori adalah
mustahil karena masing-masing bekerja di bawah payung paradigmanya masing-masing.
Tentang hal ini Kuhn memberikan eksplanasi sebagai berikut :

Sain normal muncul dari paradigma, yaitu suatu pijakan, dari seorang pakar. Dalam
perkembangannya sain normal mengalami fenomena yang tidak dapat diterangkan oleh teori
sain yang ada, ini disebut anomali. Selanjutnya anomali ini menimbulkan krisis
(ketidakpercayaan para pakar terhadap teori itu) sehingga timbul paradigma baru atau
pijakan baru. Inilah perkembangan sain, berubah dari paradigma satu ke paradigma lain
dengan pijakan dasarnya sendiri-sendiri (prinsip ketidak berbandingan teori).

Lebih jauh dari itu Kuhn menolak asumsi sejarah bahwa perkembangan ilmu
pengetahuan lebih disebabkan karena ilmu itu telah berhasil mengesampingkan nilai dan
subjektivitasnya dari dirinya sendiri. Paham perkembangan ilmu pengetahuan adalah bahwa
kebebasannya dari segenap nilai yang bersifat dogmatik, dan posisinya yang netral
memungkinkannya dengan leluasa mengembangkan dirinya. Sebaliknya apabila ia terikat
dengan nilai atau kepentingan maka dia tidak akan berkembang.

Bagi Kuhn, kemajuan ilmu pengetahuan berawal dari perjuangan kompetitif berbagai
teori untuk mendapatkan legitimasi intersubjektif dari satu komunitas ilmu pengetahuan. ini
berarti perjuangan konpetitif dan legitimasi intersubjektif dari komunitas ilmu itu sendiri
telah sarat dengan kepentingan dan nilai. Tetapi meski begitu ilmu pengetahuan tetaplah
berkembang.

Reaksi keras terhadap ide netralitas sain datang dari Mazhab Frankfurt yang
menegaskan bahwa klaim bebas nilai itu menunjukkan vested interest. Di balik klaim bebas
nilai, tersembunyi nilai-nilai ideologis yang mempunyai maksud tersendiri. Para pemikir
Frankfurt seolah ingin menjelaskan bahwa ide rasionalisme dan empirisme untuk melepaskan
diri dari dunia mitos, dikotomi fakta dan nilai hanyalah bentuk upaya lain bagi pengurungan
manusia dan alam itu sendiri ke dalam mitologi rasio.

Senada dengan itu Kuhn pun berpendapat bahwa ilmu ‘normal’ adalah bagian dari
upaya dogmatis, jika kita menganggap teori-teori ilmiah yang sudah ketinggalan zaman
seperti dinamika Aristotelian, kimia, flogistis, atau termodinamika kalori sebagi mitos,
menurut Kuhn, kita bisa sama-sama bersikap logis untuk menganggap teori-teori saat ini
sebagai irasional dan dogmatis:

“Jika kepercayaan atau keyakinan yang sudah usang ini akan disebut mitos, maka
mitos itu dapat dihasilkan oleh jenis-jenis metode yang sama dan diakui oleh
jenis-jenis alasan yang sama yang sekarang menghasilkan pengetahuan ilmiah.
Jika di pihak lain kepercayaan-kepercayaan itu akan disebut sain, maka sain telah
mencakup kumpulan kepercayaan yang sangat bertentangan dengan apa yang kita
akui hari ini.” (Kuhn, 1962)

Mazhab Frankfurt menolak dikotomi fakta/nilai karena berpengaruh negatif baik
secara epistemologis maupun sosiologis. Mereka menilai bahwa dikotomi tersebut akan
membuat akal manusia menjadi akal instrumental. Akal yang sifatnya manipulatif, kalkulatif,
dominasi terhadap semesta yang hanya berurusan dengan perangkat teknologis dan lupa akan
tujuan hidup manusia itu sendiri. Maka, agar hal tersebut tidak terjadi, nilai-nilai harus
menjadi penyeimbang dominasi rasio. Dengan demikian kemudian ilmu akan terikat dengan
kepentingan, karena memang seharusnya begitu.

Habermas dalam bukunya Knowledge and Human Interest (1968) mengemukakan
bahwa ilmu pengetahuan dan kepentingan tidak dapat dipisahkan. Ide netralitas ilmu
pengetahuan yang tidak berpihak kepada apapun hanya akan membutakan ilmuwan terhadap
kepentingan atau tujuan yang mendasari sebuah penelitian ilmiah. Di mana kebutaan tersebut
akan menjadi-jadi, hingga timbul persoalan-persoalan sosial-etis bahkan hingga mencapai
proses dehumanisasi manusia itu sendiri sebagai pemilik ilmu dan teknologi.
Di samping itu ilmu yang bebas nilai juga akan berimplikasi terhadap lepasnya secara
otomatis tanggungjawab sosial para ilmuwan terhadap persoalan-persoalan tersebut, karena
mereka hanya disibukkan dengan kegiatan-kegiatan keilmuan yang sudah diyakini sebagai
bebas nilai alias tak bisa diganggu gugat. Dengan begitu jika ilmuwan cuci tangan terhadap
persoalan negatif yang ditimbulkannya, maka secara ilmiah mereka dianggap benar. Hal yang
sangat menggelikan menurut penulis.

Sosok filosof lain yang juga menentang ide netralitas ilmu adalah Paul Feyerabend
(1924-1994). Ia berpendapat bahwa sebenarnya tidak ada fakta yang netral. Fakta tidak
pernah bicara dengan sendirinya melainkan diinterpretasikan dalam suatu kerangka
konseptual tertentu. Ian Hacking pun menambahkan pendapat ini dengan mengemukakan
bahwa ilmu pengetahuan bukan hanya diinterpretasi malainkan juga diitervensi. Ketika
sebuah teori mengemuka dan mencoba melakukan konfirmasi empirisnya lewat eksperimen,
maka eksperimen tersebut mengintervensi fakta-fakta sehingga tidak lagi netral.

Setidaknya ada dua argumentasi Feyerabend yang dapat menggugurkan ide netralitas
ilmu (Gahral, 2002). Pertama, perkembangan ilmu pengetahuan diwarnai oleh banyak
penemuan-penemuan ilmu pengetahuan yang diperoleh dengan melanggar aturan metodologi
yang ketat, seperti intuisi, kebetulan dan imajinasi. Kedua, tidak ada fakta yang netral dan
terberi, fakta dilihat dalam suatu kerangka konseptual yang berbeda-beda dari satu teori-teori
lain. Dia pun kemudian bersiteguh – dengan tetap mengusung ide-ide radikalnya – bahwa
pengetahuan yang selama ini dipinggirkan dalam wacana ilmu pengetahuan harus kembali
diberi wewenang untuk menyuarakan kebenarannya sendiri-sendiri.

Hubungan Aksiologi Ilmu dan Netralitas Ilmu

Secara etimologis, Aksiologi berasal dari dari bahasa Yunani, axios, yang berarti nilai,
dan logos, yang berarti teori. Terdapat banyak pendapat tentang pengertian aksiologi.
Menurut Jujun S. Suriasumantri aksiologi adalah teori nilai yang berkaitan dengan kegunaan
dari ilmu pengetahuan yang diperoleh.

Menurut Bramel, aksiologi terbagi dalam tiga bagian. Pertama, moral product.yaitu
tindakan moral. Bidang ini melahirkan disiplin khusus, yakni etika.Kedua, esthetic
expression. Yaitu ekpresi keindahan. Bidang ini melahirkan disiplin khusus Estetika. Ketiga,
sosio-political life. Yakni kehidupan sosial politik, yang melahirkan filsafat sosio-politik.
Lebih dari itu ada yang berpendapat dengan menyamakan antara aksiologi dan ilmu.

Dari beberapa definisi aksiologi diatas, terlihat jelas bahwa permasalahan utama
aksiologi adalah nilai. Aristoteles berasumsi bahwa ilmu itu tumbuh dengan nilai-nilai.
Keduanya menyatu dan tak terpisahkan dari satu sama lain. Farncis Bacon pun menilai
bahwa aksiologi ilmu adalah terciptanya kemaslahatan manusia. Tujuannya yaitu
mengusahakan posisi yang lebih menguntungkan bagi manusia dalam menghadapi alam.

Ahmad Tafsir dalam bukunya berpendapat bahwa aksiologi ilmu sekurang-kurangnya
memiliki tiga garapan yaitu; 1) Ilmu sebagai alat eksplanasi, 2) Ilmu sebagai alat
memprediksi, 3) Ilmu sebagai alat pengontrol.

Sedangkan istilah netralitas ilmu diartikan sebagai upaya rasionalisasi ilmu-ilmu
pengetahuan dengan tanpa terpengaruh dan berkonotasi parokial seperti oleh ras, ideologi,
agama, nilai dan lainnya. Itu berarti netralitas ilmu tidak terlalu memperdulikan nilai-nilai
kebaikan ataupun keburukan. Ilmu hanyalah teori yang berdiri sendiri (independent) dan
diusahakan benar-benar tidak terpengaruh oleh apapun. Ilmu dibiarkan berbicara tentang
dirinya sendiri.

Dari pengertian singkat di atas, dapat dengan jelas terlihat bahwa antara aksiologi ilmu
dan netralitas ilmu terdapat perbedaan. Bila aksiologi ilmu mementingkan adanya nilai yang
dimuat oleh sebuah ilmu maka, sebaliknya netralitas ilmu mengusung ide pembebasan diri
dari nilai. Bila aksiologi ilmu condong ke arah pembahasan tujuan ilmu, maka netralitas ilmu
tidak demikian.
Sampai di sini penulis dapat menyimpulkan tidak adanya hubungan antara aksiologi
ilmu dengan ide netralitas ilmu, yaitu terletak pada permasalahan nilainya.

Penutup

Persoalan netralitas sain sebenarnya bukanlah persoalan sederhana yang dengan mudah
kita sudah menganggapnya mengerti (taken for granted). Persoalan ini penting sekali
dijelaskan karena menyangkut persoalan kehidupan manusia dalam berinteraksi secara
langsung dengan ilmu pengetahuan, di mana pengetahuannyalah yang akan mempengaruhi
kehidupannya. Kesalahan persepsi terhadap persoalan keilmuan terutama dasar-dasarnya
dapat memberikan pengaruh kesesatan pola berifikir termasuk proses kehidupannya.

Dari pembahasan terdahulu, penulis sependapat dengan ide bahwa ilmu itu tidaklah
netral atau bebas nilai atau objektif. Ilmu hakikatnya se
Rasa keingin tahuan manusia ternyata menjadi titik-titik perjalanan manusia yang
takkan pernah usai. Hal inilah yang kemudian melahirkan beragam penelitian dan
hipotesa awal manusia terhadap inti dari keanekaragaman realitas. Proses berfilsafat
adalah titik awal sejarah perkembangan pemikiran manusia dimana manusia berusaha
untuk mengorek, merinci dan melakukan pembuktian-pembuktian yang tak lepas dari
kungkunga

Kemudian dirumuskanlah sebuah teori pengetahuan dimana pengetahuan
menjadi terklasifikasi menjadi beberapa bagian. Melalui pembedaan inilah
kemudian lahir sebuah konsep yang dinamakan ilmu. Pengembangan ilmu terus
dilakukan, akan tetapi disisi lain. Pemuasan dahaga manusia terhadap rasa
keingintahuannya seolah tak berujung dan menjebak manusia ke lembah
kebebasan tanpa batas. Oleh sebab itulah dibutuhkan adanya pelurusan terhadap
ilmu pengetahuan agar tidak terjadi kenetralan tanpa batas dalam ilmu. Karena
kenetralan ilmu pengetahuan hanyalah sebatas metafisik keilmuan. Sedangkan
dalam penggunaannya diperlukan adanya nilai-nilai moral.

Sejak saat pertumbuhannya, ilmu sudah terkait dengan masalah moral. Satu
contoh ketika Copernicus (1473—1543) mengajukan teorinya tentang
kesemestaan alam dan menemukan bahwa “bumi yang berputar mengelilingi
matahari” dan bukan sebaliknya seperti yang dinyatakan dalam ajaran agama
maka timbullah interaksi antara ilmu dan moral (yang bersumber pada ajaran
agama) yang berkonotasi metafisik. Secara metafisik ilmu ingin mempelajari
alam sebagaimana adanya, sedangkan di pihak lain terdapat keinginan agar ilmu
mendasarkan kepada pernyataan-pernyataan (nilai-nilai) yang terdapat dalam
ajaran-ajaran di luar bidang keilmuan (nilai moral), seperti agama. Dari interaksi
ilmu dan moral tersebut timbullah konflik yang bersumber pada penafsiran
metafisik yang berkulminasi pada pengadilan inkuisisi Galileo pada tahun 1633.
Galileo oleh pengadilan agama dipaksa untuk mencabut pernyataan bahwa bumi
berputar mengelilingi matahari.

II Pembahasan

A. Pengertian Aksiologi dan Ilmu

1. Definisi Aksiologi

Aksiologi adalah istilah yang berasal dari kata Yunani yaitu; axios yang
berarti sesuai atau wajar. Sedangkan logos yang berarti ilmu. Aksiologi
dipahami sebagai teori nilai. Menurut John Sinclair, dalam lingkup kajian
filsafat nilai merujuk pada pemikiran atau suatu sistem seperti politik, social
dan agama. Sistem mempunyai rancangan bagaimana tatanan, rancangan dan
aturan sebagai satu bentuk pengendalian terhadap satu institusi dapat
terwujud.

2. Definisi Ilmu

Ilmu adalah istilah yang berasal dari kata Yunani yaitu scientia yang
berarti ilmu. Atau dalam kaidah bahasa Arab berasal dari kata ‘ilm yang
berarti pengetahuan. Ilmu atau sains adalah pengakajian sejumlah
penrnyataan-pernyataan yang terbukti dengan fakta-fakta dan ditinjau yang
disusun secara sitematis dan terbentuk menjadi hukun-hukum umum.

B. Perbedaan dan Fungsi Ilmu

1. Perbedan Ilmu, dan Pseudo Ilmu

Dari definisi diatas setidaknya kita bisa menarik satu kesimpulan bahwa ilmu
adalah pengetahuan yang dirumuskan secara sistematis, dapat diterima oleh
akal melalui pembuktian-pembuktian empiris.

Disisi lain ada sebuah kategori yaitu Pseudo Ilmu. Secara garis besar pseudo
ilmu adalah pengetahuan atau praktek-praktek metodologis yang di klaim
sebagai pengetahuan. Namun berbeda dengan ilmu, pseudo ilmu tidak
memenuhi persyaratan-persyaratan yang di

Keberadaaan ilmu timbul karena adanya penelitian-penelitian pada
objek- objek yang sifatnya empiris. Berbeda halnya dengan pseudo ilmu yang
lahir atau timbul dari pentelaahan objek-objek yang abstrak. Landasan dasar
yang dipakai dalam pseudo ilmu adalah keyakinan atau kepercayaan.

Perbedaan keduanya dapat kita ketahui dari penampakan yang menjadi
objek penelitian masing-masing bidang. Atau dengan kata lain perbedaan
tersebut ada pada sisi epistmologinya.

2. Fungsi Ilmu

Sebelumnya kita telah berbicara mengenai bagaimana perbedaan ilmu dan
pseudo ilmu dilihat dari karakter objek penelitiannya. Berikutnya kita akan
membicarakan apa sebenarnya fungsi dan kegunaan pegetahuan. Argumen-
argumen yang dikemukakan dalam pengetahuan kemudian menjadi satu
bentuk konsep yang terangkum dalam sebuah teori.

Menurut Ahmad Tafsir, teori mempunyai tiga fungsi dilihat dari kegunaan
teori tersebut dalam menyelesaikan masalah.

Pertama, Teori sebagai alat Eksplanasi. Dalam fungsi ini teori berusaha
menjelaskan melalui gejala-gejala yang timbul dalam satu permasalahan.
Misalnya: tragedi 11 september yang memakan banyak korban dan kerugian
secara materiil. Hal ini dipahami sebagai bentuk perlawanan terhadap
keangkuhan sebuah negara Adi Kuasa. Gejalanya dapat kita lihat dari
maraknya beberapa kelompok yang menamakan dirinya sebagai kelompok
anti Amerika. Al-Qaeda misalnya, sebuah oraganisasi rahasia yang menjadi
symbol perlawanan terhadap Amerika.

Kedua, Teori sebagai alat Peramal. Dalam fungsi ini teori memberikan benuk
prediksi-prediksi yang dilakukan oleh para ilmuwan dalan menyelesaikan
suatu masalah. Misalnya: isu global warming. Digambarkan dalam kasus ini
bahwa kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi ternyata disatu sisi
memberikan dampak buruk terhadap ekosistem alam. Prediksi yang dilakukan
oleh para ilmuwan yang menggambakan tentang keseimbangan alam yang
rusak oleh perilaku manusia itu sendiri.

Ketiga, Teori sebagai Alat pengontrol. Dalam fungsi ini ilmuwan selain
mampu membuat ramalan berdasarkan eksplanasi gejala, juga dapat membuat
kontrol terhadap masalah yang terjadi. Kita bisa melihat dari solusi yang
ditawarkan oleh para ilmuwan.

C. Teori tentang Nilai

1. Kebebasan Nilai dan Keterikatan Nilai

Perkembangan yang terjadi dalam pengetahuan ternyata melahirkan sebuah
polemik baru karena kebebasan pengetahuan terhadap nilai atau yang bisa kita
sebut sebagai netralitas pengetahuan (value free). Sebaliknya ada jenis
pengetahuan yang didasarkan pada keterikatan nilai atau yang lebih dikenal
sebagai value baound. Sekarang mana yang lebih unggul antara netralitas
pengetahuan dan pengetahuan yang didasarkan pada keterikatan nilai?
Bagi ilmuwan yang menganut faham bebas nilai kemajuan perkembangan
ilmu pengetahuan akan lebih cepat terjadi. Karena ketiadaan hambatan dalam
melakukan penelitian. Baik dalam memilih objek penelitian, cara yang
digunakan maupun penggunaan produk penelitian.

Sedangkan bagi ilmuwan penganut faham nilai terikat, perkembangan pengetahuan
akan terjadi sebaliknya. karena dibatasinya objek penelitian, cara, dan
penggunaan oleh nilai.

Kendati demikian paham pengetahuan yang disandarkan pada teori bebas nilai
ternyata melahirkan sebuah permasalahan baru. Dari yang tadinya
menciptakan pengetahuan sebagai sarana membantu manusia, ternyata
kemudian penemuannya tersebut justru menambah masalah bagi manusia.
Meminjam istilah carl Gustav Jung “bukan lagi Goethe yang melahirkan Faust
melainkan Faust-lah yang melahirkan Goethe”.

enis-jenis Nilai

Berikut adalah jenis-jenis nilai yang di kategorikan pada
perubahannya:

<!–[if mso & !supportInlineShapes & supportFields]> SHAPE \* MERGEFORMAT
<![endif]–>

Jenis-jenis Nilai
Baik dan Buruk
Sarana dan Tujuan
Penampakan dan Real
Subjektif dan Objektif
Murni dan Campuran
Aktual dan Potensial

<!–[if mso & !supportInlineShapes & supportFields]> <![endif]–>

3. Hakikat Nilai
Berikut adalah beberapa contoh dari hakikat nilai dilihat dari anggapan
atau pendapatnya:

a. Nilai berasal dari kehendak, Voluntarisme.

b. Nilai berasal dari kesenangan, Hedonisme

c. Nilai berasal dari kepentingan.

d. Nilai berasal dari hal yang lebih disukai (preference).

e. Nilai berasal dari kehendak rasio murni.

4. Kriteria Nilai

Standar pengujian nilai dipengaruhi aspek psikologis dan logis.

a. Kaum hedonist menemukan standar nilai dalam kuantitas kesenangan yang
dijabarkan oleh individu atau masyarakat.

b. Kaum idealis mengakui sistem objektif norma rasional sebagai kriteria.

c. Kaum naturalis menemukan ketahanan biologis sebagai tolok ukur.

5. Status Metafisik Nilai

a. Subjektivisme adalah nilai semata-mata tergantung pengalaman manusia.

b. Objektivisme logis adalah nilai merupakan hakikat logis atau subsistensi,
bebas dari keberadaannya yang dikenal.

c. Objektivisme metafisik adalah nilai merupakan sesuatu yang ideal bersifat
integral, objektif, dan komponen aktif dari kenyataan metafisik. (mis:
theisme).

6. Karakteristik Nilai

a. Bersifat abstrak; merupakan kualitas

b. Inheren pada objek

c. Bipolaritas yaiatu baik/buruk, indah/jelek, benar/salah.
d. Bersifat hirarkhis; Nilai kesenangan, nilai vital, nilai kerohanian, nilai
kekudusan.

III Penutup

Aksiologi membberikan jawaban untuk apa pengetahuan yang berupa ilmu itu di
pergunakan. Bagaimana kaitan antara cara penggunaan tersebut dengan kaidah-
kaidah nilai. Bagaimana penentuan objek yang ditelaah berdasarkan pilihan-pilihan
nilai. Bagaimana kaitan antara teknik prosedural yang merupakan operasionalisasi
metode ilmiah dengan norma-norma nilai

Jujun S Suriasumantri, filsafat ilmu, (Jakarta:Pustaka Sinar Harapan, 2003). 233.

Nor Hasidah Abu Bakar, e Bahan Pengajaran IPK 503, (Kuala Lumpur:Pusat
Pemikiran dan Kefahaman Islam, Unit ICT dan e Penerbitan, tt).

Aulia Ridwan CS, “ilmu dan mistik sebagai pseudo ilmu”, (Makalah, PPs IAIN
Sunan Ampel, Surabaya, 207), bb.

Ahmad Tafsir, filsafat ilmu, (Bandung:Rosdakarya, 2006). 37-41.

Ibid, 45.

Bahm, Archie, J., “What Is Science”, Reprinted from my Axiology; The Science Of
Values”, (Albuquerqe, New Mexico: World Books, 1984), 51.
AKSIOLOGI USHUL FIQH

Oleh: M. Alwy AG.

Pendahuluan

Dalam tahap perkembanganya ilmu lebih maju dan berkembang dari
pengetahuan-pengetahuan lain. Secara sistematis dan metodis aspek ontologi,
epistemologi, dan aksiologi dalam ilmu dilaksanakan secara konsekuen dan penuh
disiplin. Dari pemahaman inilah sebenarnya berkembang pengertian ilmu sebagai
disiplin yakni pengetahuan yang mengembangkan dan melaksanakan aturan-aturan
mainya dengan penuh tanggung jawab dan kesungguhanya. Meskipun tidak bisa
mengelak bahwa setiap pengetahuan memiliki tiga aspek landasan ini. Dengan
mengetahui dan mengenali tiga hal ini, seseorang dapat membedakan ilmu, seni,
agama dan lain sebagainya.

Melihat ilmu dari tiga hal ini berarti mendekatinya dari sudut pandang
filosofis. Aspek ontologi, epistemologi, dan aksiologi adalah grand sentral tema
bahasan dalam dunia filsafat. Berbicara ontologi berarti melihat hakikat sesuatu,
sedang epistemologi adalah cara memperoleh pengetahuan, dan teori nilai tentang
kegunaan pengetahuan yang diperoleh disebut dengan aksiologi.

Diskusi tentang aksiologi menjadi amat menarik, karena melibatkan peran dan
sumbangsih ilmu kepada masyarakat secara luas, berikut juga tanggung jawab
ilmuwan dalam mengejawentahkan kecenderungan keilmuan yang dimiliki. Dari sini
aksiologi merupakan tujuan utama dari segala sesuatu yang diperoleh. Sebab nilai
(aksiologi) menjadi pertimbangan utama bagi perkembangan lanjut sebuah ilmu
pengetahuan.

Istilah aksiologi sebenarnya berasal dari kata axios dan logos. Axios artinya
nilai atau sesuatu yang berharga, logos artinya akal, teori. Aksiologi artinya teori
nilai, penyelidikan mengenai kodrat, criteria, dan status metafisik dari nilai. Dalam
pemikiran Yunani studi mengenai nilai ini mengedepan dalam pemikiran Plato
mengenai idea tantang kebaikan, atau yang lebih dikenal dengan summon bonum
(kebaikan tertinggi). Diakui, bahwa dengan adanya ilmu pengetahuan, manusia
banyak mendapatkan manfaatnya, seperti kemajuan teknologi, kemudahan
komunikasi, kelancaran produksi, dan lainya. Pendek kata, ilmu mengabdi kepada
masyarakat sehingga menjadi sarana kemajuan guna menemukan harta-harta ciptaan
Tuhan. Berdasarkan perspektif filsafat, dapat dikatakan bahwa fungsi dan kegunaan
(aksiologi) suatu ilmu adalah untuk memecahkan persoalan yang dihadapi manusia.

Jujun S. Suriasumantri dalam bukunya "Filsafat Ilmu", mendefinisikan
aksiologi dalam dua tahap. Tahap pertama, ilmu yang otonom terbebas dari segenap
nilai yang bersifat dogmatic (bebas nilai) maka dengan leluasa ilmu dapat
mengembangkan dirinya (fungsi internal). Tahap kedua, ilmu juga bertujuan
memanipulasi factor-faktor yang terkait dalam gejala tersebut untuk mengontrol dan
mengarahkan proses yang terjadi. Berbekal konsep mengenai kaitan antara hutan
gundul dan banjir, umpamanya ilmu mengembangkan teknologi untuk mencegah
banjir.

Sebagai teori nilai tentang kegunaan pengetahuan yang diperoleh,
pembahasan aksiologi dalam perspektif ushul fiqh menemukan titik signifikansinya.
Bagaimana pun ushul fiqh hanyalah sebuah ilmu pengetahuan dalam Islam. Maka
melihatnya dari kaca mata aksiologi adalah keniscayaan agar diperoleh kemajuan dan
perkembangan sekaligus karakteristiknya, di samping melihatnya dari ontology dan
epistemology. Aksiologi ushul fiqh lantas mempertanyakan untuk apa pengetahuan
ushul fiqh dipergunakan? Bagaimana kaitan antara cara penggunaan tersebut dengan
kaidah-kaidah moral?

Aksiologi Ushul Fiqh

Berkaitan dengan ushul fiqh maka aksiologi atau fungsinya adalah mampu
menalar kalam Tuhan yang pada akhirnya menjadi pengkondisi ideal umat muslim.
Melalui ushul fiqh kita mampu merumuskan seperangkat tata nalar yang menjadikan
al-Qur'an sebagai landasan operasionalnya. Di samping al-Qur'an, kemampuan nalar
yang tertata dengan sistematis juga berlaku bagi sumber ke dua yaitu hadis. Melalui
seperangkat metodologi ushul fiqh, diharapkan mampu menghantarkan kebahagiaan
dan kesejahteraan umat muslim. Karena melalui usaha mencapai maksud teks-teks
keagamaan jaminan keadaan dalam koridor selamat ditanggung oleh Nabi melalui
sabdanya: "aku tinggalkan dua perkara, apabila kalian berpegang teguh terhadapnya
niscaya kalian tidak akan tersesat selamanya, yaitu al-Qur'an dan hadis". (al-hadis).

Ushul fiqh yang tersusun secara sistematis yang bersumber (epistemology) pada al-
Qur'an dan hadis tersebut terwujud dalam kaedah-kaedah, teori-teori, dan
pembahasan-pembahasan. Melalui itu semua nash-nash syari'ah bisa dipahami,
hukum-hukum bisa diketahui, dan kesamaran tentang makna teks dapat dihilangkan.
Para mujtahid yang telah melakukan penelitian dengan berbagai hasilnya akan
diketahui dan diperoleh, begitu pula berbagai madzhab dan aliran yang berbeda
tentang status sebuah hukum.

Wahbah al-Zuhaili dalam kitabnya Ushul al-Fiqhi al-Islami menyebutkan beberapa
nilai dari ushul fiqh, yaitu:

1. nilai histories. Melalui kaedah-kaedah ushul yang dicetuskan oleh para
mujtahid, dapat diketahui ruang lingkup dan arah gerak, metode
mengambil hukum dan cara yang menghantarkan pengetahuan hukum-
hukum syari'ah secara mendetail. Mengetahui nilai dari aspek histories
tidak diragukan lagi manfaatnya. Pengetahuan sejarah nyata
memberikan kontribusi besar bagi pelacakan data-data tentang masa
lalu. Pengetahuan sejarah seolah menjadi tali penyambung yang
menghubungkan umat satu dengan umat yang lainya. Maka dari masa
ke masa kita mengetahui pola dan corak setiap mujtahid dalam
beristinbath terhadap sumber primer al-Qur'an dan hadis.
2. nilai teoritis dan praksis. Yaitu diperolehnya kemampuan dalam
isntinbath hukum bagi mujtahid. Bagi muqallid, ilmu ushul fiqh
memberikan arti pentingnya berpegang atas arus gerak para imam
dalam hukum-hukum yang mereka susun, sehingga jiwa dan hati
meyakininya. Sikap yang mengarah kepada ketundukan jiwa ini
akhirnya membangkitkan untuk beramal, taat, dan tunduk terhadap
hukum-hukum syari'ah yang mana itu menjadi sumber kebahagiaan
dunia-akhirat.
3. nilai dalam ijtihad. Yaitu menentukan hukum melalui berbagai metode
yang dikembangkan para mujtahid, sehingga berbagai persoalan baru
yang secara gamblang belum ada dalam nash, dan belum ada ketetapan
hukumnya di kalangan ulama tedahulu dapat ditentukan.
4. nilai perbandingan. Yaitu dapat membandingkan cara istinbath dan
hasil hukumnya yang dilakukan oleh para mujtahid, sehingga
diketahui mana yang paling kuat di antara pendapat-pendapat yang
ada.
5. nilai sosial. Yaitu dapat menyusun kaidah-kaidah umum yang dapat
diterapkan guna menetapkan hukum dari berbagai persoalan sosial
yang terus berkembang.
6. nilai transcendental. Yaitu dengan memahami maksud yang
dikehendaki Allah, dapat menghangtarkan manusia mencapai
kebahagiaan dunia akhirat. Hal ini diketahui dengan praktek
menjalankan perintah dan menjauhi larangan yang dihasilkan dari
istinbath hukum.

Mengikuti penahapan dalam teori nilai (aksiologi) yang disampaikan Jujun S.
Suriasumantri, maka nilai dalam ushul fiqh juga bisa berjalan pada alur pemikiran ini.
Tahap pertama, berarti ushul fiqh dapat dengan leluasa dan otonom mengembangkan
teorinya mensinergikan teks dan konteks yang terus berkembang. Intervensi dari
sebuah madzab atau aliran dalam Islam pada tahap ini tidak diberikan celah untuk
memasukinya. Pada tahap ini fanatisme aliran atau madzhab dalam pedoman
istinbath, sekali lagi, hanya akan mencerabut nilai ilmu yang bebas dari penyempitan
wilayah kajianya; sebab terpaku oleh suatu madzhab an sich. Pembakuan ushul fiqh
yang dilakukan oleh Imam al-Syafi'I dengan klaim mengambil jalan tengah antara
ahli hadis dan ahli ra'yu yang berkembang saat itu dalam menghadapi teks,
sebenarnya masih dipertanyakan. Apakah beliau benar-benar berjalan di atas prinsip
obyektif dan menghindar dari pertarungan dua kubu ekstrem?

Tahap kedua, ilmu ushul fiqh memanipulasi factor-faktor yang terkait dengan
gejala untuk mengontrol dan mengarahkan proses yang terjadi. Misalnya, melalui
pertimbangan mashlahat, seorang mujtahid dapat mengabaikan sebuah kaedah.

Tanggung Jawab Sosial Ushuli

Jelaslah kiranya ushuli (ulama ahli ushul fiqh) mempunyai tanggung jawab sosial
yang terpikul dibahunya. Tanggung jawab yang diembankan bukan lagi memberikan
informasi namun memberi contoh. Dia harus tampil di depan bagaimana caranya
bersifat objektif, terbuka, menerima kritik, menerima pendapat orang lain, kukuh
dalam pendirian yang dianggapnya benar, dan kalau perlu berani mengakui
kesalahan. Imam Malik ra, suatu hari pernah dihadapkan pada beberapa persoalan
tentang hukum sesuatu sejumlah 40. Dari 40 pertanyaan yang disodorkan kepadanya
ia hanya mampu menjawab beberapa soal saja (5 soal). Hal ini merupakan justifikasi
bagi ulama-ulama agar mampu bersikap terbuka dan jujur dalam keilmuan.

Criteria ketat bagi orang boleh melakukan ijtihad sebagaimana tersebut dalam kitab-
kitab, tidak lain adalah karena disiplin keilmuan yang dimiliki tidak hanya berlaku
bagi dia sendiri, melainkan masyarakat luas menggunakanya karena kelebihan
intelektual yang dimilikinya. Moral tidak hanya dilekatkan pada disiplin sebuah ilmu,
melainkan ilmuan dalam hal ini ushuli juga harus mampu mengejawentahkan prinsip-
prinsip moral bagi dia sebagai seorang ushuli maupun moral di hadapan masyarakat.

Abdul Wahhab Khallaf menyebutkan beberapa syarat seorang boleh
berijtihad. Pertama, paham bahasa arab dan metode-metode dalam mengambil dalil
serta memiliki dzauq untuk memahami gaya bahasa dituturkan. Kedua, paham al-
Qur'an, artinya mengetahui dengan baik hukum-hukum syari'ah yang terdapat dalam
al-Qur'an. Ketiga, paham tentang sunah. Keempat, mengetahui qiyas dengan baik.

Terlepas dari syarat ketat bagi seorang mujtahid karena pertimbangan
tanggung jawab sosial, dalam konteks yang berlaku di pesantren aplikasi ilmu ushul
fiqh masih sangat minim. Terbukti dalam banyak kesempatan, bahsul masail yang
menjadi agenda pesantren kerap mengabaikan metodologi istinbat al-ahkam as-
syar'iyyah yang juga disebut dengan "ushul al- fiqh". Meskipun kitab ushul al-fiqh
diajarkan di pesantren, pada tataran praksis para santri "tidak bernyali"
mengaplikasikannya dalam penggalian diktum-diktum fiqh. Santri lebih at home
menggunakan rujukan "instan" dalam khazanah fiqh tanpa menggunakan nalar ushul
fiqh sebagai landasan moral-filosofisnya. Tak heran jika putusan bahtsul masa'il acap
kali tercerabut dari basis filosofisnya. Mereka lebih senang mengacu pada teks kitab
fiqh daripada yang kitab ushul al-fiqh.

Dengan demikian kita tidak hanya berbicara secara teoritis belaka, sementara
praktek enggan untuk menyentuh wilayah-wilayah yang teramat membutuhkan
pertimbangan logis melalui penalaran ushul fiqh. Di sini akan tampak nyata urgensi
ushul fiqh sebagai sebuah pisau analisis terhadap persoalan di masyarakat dengan
sumber al-Qur'an dan hadis. Wallahu a'lamu bi al-shawab.

DAFTAR PUSTAKA

Jujun S. Suriasumantri. Filsafat Ilmu; Sebuah Pengantar Populer, Jakarta: PT. Sinar
Harapan, 1995.

Rizal Mustansir dan Misbahul Munir. Filsafat Ilmu, Yogyakarta: Pustaka Pelajar,
2004.

Muhammad Roy. Ushul Fiqh Madzhab Aristoteles; Pelacakan Logika Aristoteles
dalam Qiyas Ushul Fiqh, Yogyakarta: Safiria Insania Press, 2004.

Fakhruddin Faiz. Hermeneutika al-Qur'an; Tema-tema Kontroversial, Yogyakarta:
eLSAQ, 2005.

Abdul Wahhab Khallaf. Ilmu Ushul al-Fiqh, Mesir: Darul Qalam, 1978.

Wahbah al-Zuhaili. Ilmu Ushul al-Fiqh, Damaskus: Darul Fikri, 2001.

Mn Harisudin.Tradisi Akademik "Bahtsul Masa'il", Kompas Amanat Hati Nurani
Rakyat.

Jujun S. Suriasumantri. Filsafat Ilmu; Sebuah Pengantar Populer, (Jakarta:
PT. Sinar Harapan, 1995), hal. 35.

Drs. Rizal Mustansir dan Misbahul Munir. Filsafat Ilmu, (Yogyakarta: Pustaka
Pelajar, 2004), hal. 26.

Muhammad Roy. Ushul Fiqh Madzhab Aristoteles; Pelacakan Logika
Aristoteles dalam Qiyas Ushul Fiqh, (Yogyakarta: Safiria Insania Press, 2004), hal.
28.

Jujun S. Suriasumantri… Hal. 234.

Fakhruddin Faiz. Hermeneutika al-Qur'an; Tema-tema Kontroversial,
(Yogyakarta: eLSAQ, 2005), hal. 157.

Abdul Wahhab Khallaf. Ilmu Ushul al-Fiqh, (Mesir: Darul Qalam, 1978), hal.
15.

Wahbah al-Zuhaili. Ilmu Ushul al-Fiqh, (Damaskus: Darul Fikri, 2001), hal.
30-31.
Muhammad Roy… hal. 43.

Jujun S. Suriasumantri… hal. 244.

Abdul Wahhab Khallaf… hal. 218-219.

Mn Harisudin.Tradisi Akademik "Bahtsul Masa'il", Kompas Amanat Hati Nurani Rakyat

Halaman judul
Kata pengantar
Daftar isi

BAB I PENDAHULUAN
1.1 LATAR BELAKANG
1.2 TUJUAN
1.3 PEMBATASAN MASALAH

BAB II PEMBAHASAN
2.1 PENGERTIAN AKSIOLOGI
2.2 LJ’LJF
2.3 GG

BAB II PENUTUP