Pelengkap BUKU PEGANGAN
Penyelenggaraan Pemerintahan dan Pembangunan Daerah

2011

Peningkatan Kualitas
Hubungan Keuangan Pusat dan Daerah Dalam Mendorong Pertumbuhan Ekonomi

Pelengkap Buku Pegangan 2011

Peningkatan Kualitas Hubungan Keuangan Pusat dan Daerah Dalam Mendorong Pertumbuhan Ekonomi Kementerian Keuangan April 2011 Direktorat Jenderal Perimbangan Keuangan

KEMENTERIAN KEuANgAN REPuBlIK INDoNEsIA gedung Radius Prawiro lantai 9 Website: www.djpk.depkeu.go.id Email: info@djpk.depkeu.go.id
ii 

DIREKToRAT JENDERAl PERIMBANgAN KEuANgAN Jl. DR. Wahidin No. 1 Jakarta Pusat 10710 Tlp. 021.350.9442, Faks. 021.350.9443

Pelengkap Buku Pegangan 2011

KATA PENGANTAR

Indonesia

desentralisasi fiskal selama satu dekade. Implikasi dari kebijakan ini adalah adanya pembagian kewenangan urusan pemerintahan antara pemerintah pusat dan pemerintah daerah yang disertai dengan pemberian sumber-sumber keuangan untuk mendanai urusan yang untuk mendorong daerah dalam memberikan pelayanan yang lebih baik masyarakat. sementara itu, kebijakan desentralisasi fiskal dalam kerangka hubungan keuangan antara pemerintah pusat dan daerah hubungan keuangan antara pusat dan daerah, diharapkan dapat lebih dimaksudkan untuk mendukung pendanaan atas penyerahan urusan mendekatkan pelayanan publik kepada masyarakat, dan meningkatkan akan mampu meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Meningkatkan
PeningkatanKualitasHubunganKeuanganPusatdanDaerah DalamMendorongPertumbuhanEkonomi

telah

melaksanakan

REPuBlIK INDoNEsIA kebijakan

MENTERI KEuANgAN

otonomi

daerah

dan

telah diserahkan kepada daerah. Kebijakan otonomi daerah ditujukan dan efisien, dan peningkatan peran serta, prakarsa, dan pemberdayaan kepada daerah tersebut sebagai konsekuensi logis atas kebijakan aktivitas perekonomian daerah, yang pada gilirannya diharapkan

otonomi daerah. Dengan adanya kebijakan otonomi daerah dan

iii

perekonomian daerah secara bersama-sama akan menggerakkan roda perekonomian nasional. Hubungan keuangan proses yang dinamis dan dilaksanakan melalui berbagai bentuk penyempurnaan yang berkelanjutan dengan memperhatikan aspirasi dari berbagai stakeholders . meningkatkan kualitas hubungan keuangan pusat dan daerah dalam rangka mendukung tujuan pembangunan nasional. Berbagai upaya untuk itu, Pemerintah terus berupaya pusat dan daerah merupakan sebuah

penyempurnaan telah dilakukan, yaitu melalui penguatan local taxing power, percepatan penyaluran transfer ke daerah, upaya peningkatan kualitas pengelolaan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) dan peningkatan kinerja pemerintah daerah. efektivitas dan efisiensi pengelolaan pinjaman daerah, serta pengaturan mekanisme reward dan punishment untuk mendorong peningkatan Penguatan local taxing power kepada daerah melalui Pajak Daerah dan hal pokok yaitu: 1) pemberian kewenangan yang lebih besar kepada daerah dalam hal pajak daerah dan retribusi daerah, 2) peningkatan akuntabilitas daerah dalam penyediaan layanan dan penyelenggaraan jenis-jenis pungutan daerah.

Retribusi Daerah (PDRD) terutama dilakukan melalui undang-undang Nomor 28 Tahun 2009 tentang PDRD. undang-undang ini memuat tiga

pemerintahan, dan 3) pemberian kepastian bagi dunia usaha mengenai sementara itu, kemajuan perkembangan kebijakan dan implementasi transfer ke daerah diwujudkan melalui formulasi kebijakan transfer ke daerah yang tidak hanya ditujukan untuk mengurangi ketimpangan kualitas pelayanan publik dan peningkatan kinerja pemerintah daerah.
iv 

fiskal vertikal dan horizontal, tetapi juga untuk mendorong peningkatan

Pelengkap Buku Pegangan 2011

Dalam hal peningkatan kualitas pelayanan publik, kebijakan transfer

ke daerah terutama dilakukan melalui Dana Alokasi Khusus (DAK) yang ditujukan untuk pembangunan fisik berbagai sarana dan prasarana daerah baik dari sisi pengelolaan keuangan maupun kinerja ekonomi reward untuk daerah-daerah yang berprestasi. dilakukan dalam rangka menyesuaikan dengan

layanan publik di daerah. selain itu, untuk mengapresiasi kinerja daerah, maka Pemerintah memberikan dana insentif daerah sebagai selain itu, efektivitas dan efisiensi pengelolaan pinjaman daerah kebutuhan daerah terutama untuk memberikan kesempatan bagi daerah agar dapat melakukan pinjaman daerah untuk membiayai anggarannya perkembangan

termasuk melakukan kegiatan investasi. saat ini Pemerintah sedang melakukan revisi atas Peraturan Pemerintah Nomor 54 Tahun 2005 tentang Pinjaman Daerah. Beberapa perubahan pokok yang dimuat prosedur pemberian pinjaman Pemerintah kepada Pemerintah Daerah. dalam revisi PP tersebut terutama terkait dengan peningkatan fleksibilitas penggunaan pinjaman daerah serta pengaturan mengenai Disadari sepenuhnya bahwa kebijakan penguatan sumber pendapatan daerah yang berkualitas. Fakta dilapangan menunjukkan masih banyak daerah yang terlambat menetapkan APBD, meskipun telah kegiatan pembangunan di daerah. Dalam hal ini kebijakan percepatan

daerah tentunya harus diikuti oleh kemampuan pemerintah daerah dalam melakukan pengelolaan keuangan yang baik dan belanja maka pengaturan mekanisme punishment juga diberlakukan untuk terdapat kecenderungan perbaikan dari tahun ke tahun. untuk itulah tenggat waktu penyampaian APBD sebagaimana dituangkan dalam
PeningkatanKualitasHubunganKeuanganPusatdanDaerah DalamMendorongPertumbuhanEkonomi

mendorong percepatan penyelesaian APBD dan mendorong pelaksanaan

v

Peraturan Pemerintah Nomor 65 Tahun 2010 tentang Perubahan Atas Peraturan Pemerintah Nomor 56 Tahun 2005 tentang sistem Informasi Keuangan Daerah diharapkan dapat mendorong disiplin pemerintah daerah terutama dalam hal penyelesaian penyampaian APBD. upaya peningkatan kualitas kebijakan hubungan keuangan pusat dan daerah harus terus didorong. sehingga mampu APBD yaitu rata-rata sebesar 41 persen dan mengalami tren kenaikan tahun 2007 menjadi 21 persen di tahun 2009. selama tahun 2007-2010 komponen belanja pegawai masih mendominasi belanja daerah dalam setiap tahunnya. Padahal belanja modal meningkatnya pertumbuhan ekonomi. terutama dalam rangka mendorong daerah tidak hanya dikaitkan dengan pertumbuhan besaran pendanaan meningkatkan kualitas belanja di daerah. Dalam kaitan inilah maka Pemerintah selalu berupaya untuk melakukan berbagai penyempurnaan agar kualitas hubungan keuangan pusat dan semata. Namun demikian. uraian singkat dalam pengantar ini merupakan materi yang akan bertemakan “Peningkatan Kualitas Hubungan Keuangan Pusat dan vi  mendukung kebutuhan pendanaan pembangunan terutama kepada daerah-daerah tertinggal. namun yang lebih penting adalah bagaimana dampaknya terhadap pembangunan ekonomi di daerah. namun juga diharapkan dapat mendorong dikupas dalam Pelengkap Buku Pegangan Tahun 2011 ini yang upaya reformulasi Daerah dalam Mendorong Pertumbuhan Ekonomi”. sementara itu. porsi belanja modal justru mengalami penurunan sejak tahun 2007 hingga 2009 yaitu sebesar 29 persen di kebijakan dilakukan setiap tahun sehingga diharapkan tidak hanya kualitas layanan publik dan perekonomian daerah. Dengan disusunnya . ini sangat diharapkan meningkat.

Pelengkap Buku Pegangan 2011

buku ini diharapkan para pembaca dapat memahami secara lebih baik hubungan keuangan pusat dan daerah, kebijakan pendanaan di daerah, dan dampak dari peningkatan kualitas belanja di daerah semoga buku ini dapat bermanfaat bagi upaya meningkatkan kualitas kesejahteraan rakyat. menyampaikan ucapan terima kasih sebesar-besarnya kepada semua pengelolaan anggaran belanja pusat dan daerah, sehingga setiap rupiah

terhadap pertumbuhan ekonomi. untuk itu, pada kesempatan ini saya pihak yang telah memberikan kontribusi dalam penyusunan buku ini.

dari belanja negara akan mendatangkan sebesar-besarnya peningkatan

Menteri Keuangan,

AGUS D.W. MARTOWARDOJO

PeningkatanKualitasHubunganKeuanganPusatdanDaerah DalamMendorongPertumbuhanEkonomi

vii

DAFTAR ISI
KATA PENgANTAR ......................................................................................................... iii DAFTAR gAMBAR .......................................................................................................... xv DAFTAR TABEl .............................................................................................................xvii BAB I PENDAHuluAN ............................................................................................. I-1 BAB II HuBuNgAN KEuANgAN ANTARA PusAT DAN DAERAH...........II-9 BAB III sIsTEM PENDANAAN DI DAERAH ...................................................III-19 3.1. Pajak Daerah Dan Retribusi Daerah ................................................III-21 3.1.1. Pendahuluan ..............................................................................................III-21 3.1.2. Jenis Pajak Daerah Dan Retribusi Daerah .....................................III-25 3.1.2.1. Pajak Daerah ..............................................................................III-25 3.1.2.2. Retribusi Daerah ......................................................................III-26 3.1.3. Kriteria .........................................................................................................III-29 3.1.3.1. Kriteria Pajak Daerah .............................................................III-29 3.1.3.2. Kriteria Retribusi Daerah .....................................................III-33 3.1.4. Prosedur Penetapan ...............................................................................III-36 3.1.5. Pengawasan Dan Pembatalan.............................................................III-38 3.1.6. sanksi ............................................................................................................III-41 3.1.7. Kesalahan Materi Perda ........................................................................III-42 3.1.8. Pelaksanaan undang-undang.............................................................III-42 3.1.9. BPHTB dan PBB P-2 ................................................................................III-45 3.2. Transfer ke Daerah ..................................................................................III-51 3.2.1. Pendahuluan ..............................................................................................III-51 3.2.2. Dana Bagi Hasil .........................................................................................III-54 3.2.2.1. Dana Bagi Hasil Pajak ............................................................III-54 1. Pajak Penghasilan (PPh) Wajib Pajak orang Pribadi Dalam Negeri (WPoPDN) dan PPh Pasal 21.......................................................................III-56 Alokasi Dana Bagi Hasil PPh .......................................III-56 2. DBH Pajak Bumi dan Bangunan (PBB) ..................III-57 A. Alokasi Dana Bagi Hasil PBB ..............................III-57 B. Perhitungan Dana Bagi Hasil PBB ...................III-58 3. DBH Cukai Hasil Tembakau (DBH CHT) ...............III-59 3.2.2.2. dana bagi hasil sumber daya alam ...................................III-65
viii 

Pelengkap Buku Pegangan 2011

3.2.3.

3.2.4.

1. Penetapan Alokasi DBH sDA.......................................III-69 2. DBH sDA Pertambangan Minyak dan gas Bumi (DBH sDA MIgAs) ......................................III-71 A. Pola Pembagian DBH sDA Migas ......................III-71 B. Penyusunan Perkiraan DBH sDA Migas .........III-74 i. Mekanisme Penyusunan ...............................III-74 ii. Penetapan ...........................................................III-76 C. Penyusunan Realisasi DBH sDA Migas ...........III-77 i. Mekanisme Penghitungan ...........................III-77 ii. Penyaluran..........................................................III-81 D. Mekanisme Counter Balance dan Penyaluran DBH Migas ..........................................III-85 i. Prinsip DBH .......................................................III-85 ii. Waktu Perhitungan realisasi PNBP/DBH Migas. ...........................................III-85 iii. Kebijakan Pengalihan sisa Anggaran ke Rekening Cadangan ..................................III-86 iv. Kebijakan Mekanisme Counter Balance .................................................................III-87 E. Pemantauan dan Evaluasi ...................................III-88 3. DBH sDA Pertambangan umum ..............................III-89 4. DBH sDA Kehutanan .....................................................III-91 5. DBH sDA Perikanan .......................................................III-95 Perhitungan DBH sDA Perikanan ....................................III-95 Dana Alokasi umum ...............................................................................III-97 3.2.3.1. Penyusunan Formula dan Perhitungan DAu ...............III-97 1. Variabel DAu ......................................................................III-98 2. Formula DAu dalam Kerangka undang-undang Nomor 33 Tahun 2004 ..............III-98 3. Bentuk umum Formula DAu ......................................III-99 4. Data Perhitungan DAu................................................III-100 3.2.3.2. DAu Daerah Pemekaran.....................................................III-105 Dana Alokasi Khusus ...........................................................................III-106 3.2.4.1. Penetapan Program dan Kegiatan .................................III-107 3.2.4.2. Perhitungan Alokasi DAK ..................................................III-108 1. Kriteria umum ...............................................................III-109 2. Kriteria Khusus..............................................................III-110 3. Kriteria Teknis ...............................................................III-111
PeningkatanKualitasHubunganKeuanganPusatdanDaerah DalamMendorongPertumbuhanEkonomi ix

A. Kriteria Teknis dan Ruang lingkup DAK Pendidikan...............................................................III-111 B. Kriteria Teknis dan Ruang lingkup DAK Kesehatan.................................................................III-112 C. Kriteria Teknis dan Ruang lingkup DAK Bidang Infrastruktur ...........................................III-114 D. Kriteria Teknis dan Ruang lingkup DAK Kelautan dan Perikanan.....................................III-116 E. Kriteria Teknis dan Ruang lingkup DAK Pertanian .................................................................III-117 F. Kriteria Teknis dan Ruang lingkup DAK lingkungan Hidup ................................................III-118 g. Kriteria Teknis dan Ruang lingkup DAK Prasarana Pemerintahan ...................................III-119 H. Kriteria Teknis dan Ruang lingkup DAK Keluarga Berencana ............................................III-120 I. Kriteria Teknis dan Ruang lingkup DAK Kehutanan................................................................III-120 J. Kriteria Teknis dan Ruang lingkup DAK Perdagangan ...........................................................III-121 K. Kriteria Teknis dan Ruang lingkup DAK Perumahan dan Permukiman .........................III-122 l. Kriteria Teknis dan Ruang lingkup DAK listrik Perdesaan: ...............................................III-122 M. Kriteria Teknis dan Ruang lingkup DAK sarana dan Prasarana Kawasan Perbatasan ...............................................................III-123 N. Kriteria Teknis dan Ruang lingkup DAK Transportasi Perdesaan ....................................III-123 o. Kriteria Teknis dan Ruang lingkup DAK Keselamatan Transportasi Darat ...................III-124 P. Kriteria Teknis dan Ruang lingkup DAK sarana dan Prasarana Daerah Tertinggal ..III-124 3.2.4.3. Administrasi Pengelolaan DAK .......................................III-128 1. Dana Pendamping ........................................................III-128 2. Penganggaran .................................................................III-128 3. Pemantauan dan Pengawasan ................................III-129 3.2.4.4. Pelaporan .................................................................................III-130
x 

Pelengkap Buku Pegangan 2011

3.2.5.

3.3. 3.3.1. 3.3.2.

PenyaluranAnggaran Transfer keDaerah ...................................III-131 3.2.5.1. penyaluran dbh Pajak..........................................................III-132 1. Penyaluran Dana Bagi Hasil PPh ............................III-132 2. Penyaluran Dana Bagi Hasil PBB ...........................III-133 3. Penyaluran Dana Bagi Hasil Cukai Hasil Tembakau (CHT) ...........................................................III-133 3.2.5.2. Penyaluran DBH sumber Daya Alam ............................III-134 3.2.5.3. Penyaluran DAu.....................................................................III-137 3.2.5.4. Penyaluran DAK.....................................................................III-138 Pinjaman Dan Hibah Daerah ............................................................III-139 Pendahuluan ...........................................................................................III-139 Pinjaman Daerah ..................................................................................III-140 3.3.2.1. Pinjaman Daerah sebagai Alternatif sumber Pembiayaan APBD ................................................................III-141 1. sumber Pinjaman Daerah ........................................III-143 2. Jenis dan Penggunaan Pinjaman Daerah ...........III-143 3. Persyaratan umum Pinjaman Daerah ................III-144 3.3.2.2. Kebijakan Fiskal di Bidang Pinjaman Daerah...........III-147 1. Prinsip umum Pinjaman Daerah ...........................III-147 2. Revisi Peraturan Pemerintah tentang Pinjaman Daerah ..........................................................III-148 3. Pengendalian Batas Maksimal Defisit dan Pinjaman Daerah .........................................................III-149 3.3.2.3. Pinjaman Daerah Yang Bersumber Dari Pemerintah .............................................................................III-151 1. Pinjaman Daerah dari Pemerintah yang Dananya Bersumber dari Penerusan Pinjaman luar Negeri .................................................III-151 A. Prosedur Pengadaan Pinjaman / Hibah luar Negeri oleh Pemerintah Pusat .............III-152 B. Prosedur Penerusan Pinjaman luar Negeri Pemerintah kepada Pemerintah Daerah .......................................................................III-156 2. Pinjaman Daerah dari Pemerintah yang Dananya Bersumber dari Pusat Investasi Pemerintah (PIP) ..........................................................III-161 3.3.2.4. Pinjaman Daerah Yang Bersumber Dari Pemerintah Daerah lain, lembaga Keuangan
PeningkatanKualitasHubunganKeuanganPusatdanDaerah DalamMendorongPertumbuhanEkonomi xi

3.3.3.

3.4.

3.4.1. 3.4.2.

Bank, dan lembaga Keuangan Bukan Bank ............III-164 1. Prosedur Pinjaman Jangka Pendek:......................III-164 2. Prosedur Pinjaman Jangka Menengah dan Pinjaman Jangka Panjang:.........................................III-165 3.3.2.5. obligasi Daerah .....................................................................III-166 1. Prinsip umum ................................................................III-169 2. Prosedur Penerbitan ...................................................III-170 3. Pengelolaan obligasi Daerah ...................................III-175 3.3.2.6. Pembayaran Kembali Pinjaman .....................................III-178 3.3.2.7 Penatausahaan, Pemantauan, Evaluasi, Pelaporan, Dan Publikasi .................................................III-179 1. Penatausahaan ...............................................................III-179 2. Pemantauan dan Evaluasi .........................................III-179 3. Pelaporan .........................................................................III-180 4. Publikasi ...........................................................................III-181 3.3.2.8. sanksi Administratif Pinjaman Daerah .......................III-182 Hibah Daerah ..........................................................................................III-184 3.3.3.1. sumber Hibah .........................................................................III-185 3.3.3.2. Prinsip Dasar Pemberian Hibah Kepada Daerah ....III-186 3.3.3.3. Kriteria Pemberian Hibah .................................................III-187 3.3.3.4. Penyaluran Hibah ..............................................................III-188 1. Penyaluran Hibah Berupa uang .............................III-188 2. Penyaluran Hibah Berupa Barang dan/atau Jasa .................................................................III-189 3. Mekanisme Penerusan Hibah kepada Pemerintah Daerah .....................................................III-190 4. Pemanfaatan Hibah di Daerah ................................III-195 3.3.3.5. Pengelolaan Hibah oleh Daerah .....................................III-197 3.3.3.6. Pencatatan ..............................................................................III-198 3.3.3.7. Pelaporan ................................................................................III-199 3.3.3.8. Pemantauan ............................................................................III-200 Dana Dekonsentrasi dan Tugas Pembantuan serta Pendanaan urusan Bersama Pusat dan Daerah ......................III-201 Pendahuluan ...........................................................................................III-201 Pengelolaan Dana Dekonsentrasi dan Tugas Pembantuan ...............................................................................III-205 3.4.2.1. Pengertian Dana Dekonsentrasi dan Tugas Pembantuan...............................................................III-205 

xii

Pelengkap Buku Pegangan 2011

3.4.3. 3.4.4. 3.4.5. 3.4.6.

3.4.2.2. Prinsip Pendanaan Dekonsentrasi dan Tugas Pembantuan ............................................................................III-205 3.4.2.3. Penganggaran Dana Dekonsentrasi dan Tugas Pembantuan ............................................................................III-208 1. Keseimbangan Pendanaan di Daerah dalam Rangka Perencanaan lokasi dan Alokasi Dana Dekonsentrasi dan Tugas Pembantuan.......................................................III-209 2. Proses Penganggaran Dana Dekonsentrasi dan Tugas Pembantuan..............................................III-214 3.4.2.4. Penyaluran Dana Dekonsentrasi dan Tugas Pembantuan...............................................................III-215 3.4.2.5. Pertanggungjawaban dan Pelaporan .........................III-215 1. Dana Dekonsentrasi ....................................................III-216 2. Dana Tugas Pembantuan ...........................................III-217 3.4.2.6. Pengelolaan Barang Milik Negara..................................III-219 1. status Barang Hasil Pelaksanaan Dekonsentrasi ................................................................III-219 2. status Barang dalam Pelaksanaan Tugas Pembantuan.......................................................III-220 Pembinaan, Pengawasan dan Pemeriksaan .............................III-221 3.4.3.1. Pembinaan dan Pengawasan Dekonsentrasi/Tugas Pembantuan ..............................III-221 3.4.3.2. Pemeriksaan Dana Dekonsentrasi dan Dana Tugas Pembantuan ...................................................III-222 sanksi .........................................................................................................III-223 Peran Kepala Daerah Dalam Penyelenggaraan Dekonsentrasi dan Tugas Pembantuan .......................................III-225 Pendanaan urusan Bersama Pusat dan Daerah .....................III-226 3.4.6.1. Pengertian Pendanaan urusan Bersama Pusat Dan Daerah ..............................................................................III-232 3.4.6.2. Prinsip-Prinsip Pendanaan urusan Bersama Pusat dan Daerah ..................................................................III-233 3.4.6.3. Perencanaan Dan Penganggaran Dana urusan Bersama Pusat dan Daerah ..............................................III-234 3.4.6.4. Indeks Fiskal dan Kemiskinan Daerah Dalam Rangka Perencanaan Pendanaan urusan Bersama Pusat dan Daerah untuk
PeningkatanKualitasHubunganKeuanganPusatdanDaerah DalamMendorongPertumbuhanEkonomi xiii

Penanggulangan Kemiskinan ..........................................III-238 1. Formulasi Indeks Fiskal dan Kemiskinan Daerah ..............................................................................III-238 2. Formulasi Penghitungan Persentase Besaran Penyediaan DDuB Per Kelompok dan Per Daerah ..............................................................III-240 3.4.6.5. Pencairan dan Penyaluran ................................................III-241 3.4.6.6. Pelaporan dan Pertanggungjawaban ...........................III-242 3.4.6.7. Pembinaan ..............................................................................III-243 3.4.6.8. Pengawasan.............................................................................III-244 BAB IV PENINgKATAN KuAlITAs BElANJA DAERAH DAN PERTuMBuHAN EKoNoMI DAERAH ................................ IV-245 4.1. gambaran umum Belanja Pemerintah Daerah Dan Kondisi Ekonomi/kesejahteraan Daerah .......................... IV-248 4.1.1. Belanja Pemerintah Daerah ............................................................ IV-248 4.1.2. Belanja Daerah dalam Kaitannya dengan Kondisi Ekonomi/ Kesejahteraan Daerah ................................................... IV-255 4.2. upaya Pemerintah Dalam Meningkatkan Kualitas Belanja Daerah Dan Mendorong Pertumbuhan Ekonomi serta Kesejahteraan Masyarakat Di Daerah .......................................... IV-261 4.2.1. Kebijakan di Bidang Perpajakan dan Retribusi Daerah ....... IV-261 4.2.2. Kebijakan Transfer ke Daerah ......................................................... IV-264 4.2.3. Kebijakan Hibah ke Daerah .............................................................. IV-246 4.2.4. Kebijakan Peningkatan Kualitas Pengelolaan Keuangan Daerah .................................................................................. IV-266 4.2.5. Kebijakan Melalui Pendanaan Dekonsentrasi, Tugas Pembantuan dan urusan Bersama .................................. IV-271 BAB V PENuTuP....................................................................................................V-273 DAFTAR PusTAKA ..................................................................................................V-279 INDEX ................................................................................................................V-285 uCAPAN TERIMA KAsIH ......................................................................................V-289

xiv 

..................................17 Proses Penentuan Besaran Alokasi DAK per Daerah III-126 gambar 3...10 Counter Balance dalam Management Cashflow DBH MIgas ......................III-87 gambar 3.16 Mekanisme Penetapan Program dan Kegiatan .......III-55 gambar 3........4 Porsi Pembagian DBH sDA Minyak Bumi .III-72 gambar 3.........1 Kerangka Hubungan Keuangan antara Pusat dan Daerah .................................III-84 gambar 3.......................................................III-67 gambar 3..................III-70 gambar 3.......................................12 Perhitungan DBH sDA Kehutanan ..III-105 gambar 3...6 Mekanisme Perhitungan DBH sDA Migas ....................19 Alur Perhitungan dan Penyaluran DBH Migas...18 Format Penyaluran DBH sDA Migas..............III-136 gambar 3..3 Mekanisme Penetapan Alokasi DBH sDA .............. II-17 gambar 3.......24 Prosedur Pinjaman Daerah yang Bersumber selain dari Pemerintah ...III-108 gambar 3...III-97 gambar 3.........................................................................III-142 gambar 3..................................................21 Proses Perencanaan Pinjaman Daerah .............. II-16 gambar 2............5 Porsi Pembagian DBH sDA gas Bumi .......20 Mekanisme Penyaluran (2008) .........................III-93 gambar 3....................................III-161 gambar 3.......................................................1 Persentase Pembagian Dana Bagi Hasil Pajak .......III-84 gambar 3...23 Proses Pelaksanaan Penerusan PlN Kepada Pemda (on-lending) ............III-104 gambar 3.......III-73 gambar3........14 Formula umum Dana Alokasi umum Menurut undang-undang Nomor 33 Tahun 2004..................III-81 gambar 3...........III-137 gambar 3.........................................................III-91 gambar 3........................................8 Alur Perhitungan dan Penyaluran DBH Migas..22 Prosedur Pengadaan Pinjaman/Hibah luar Negeri III-155 gambar 3...13 Mekanisme Penetapan Alokasi DBH sDA ...............................11 Perhitungan DBH sDA Pertambangan umum .Pelengkap Buku Pegangan 2011 DAFTAR GAMBAR gambar 2.........III-77 gambar 3..........15 Pembagian DAu bagi Daerah Pemekaran ......................III-166 PeningkatanKualitasHubunganKeuanganPusatdanDaerah DalamMendorongPertumbuhanEkonomi xv ........III-135 gambar 3.......................9 Penyaluran DBH sDA Migas ...............................2 skema Bagi Hasil sDA......6 Mekanisme Penetapan Perkiraan Alokasi DBH sDA Migas .2 skema Peraturan Perundangan yang mengatur Hubungan Keuangan Pusat dan Daerah ................

........................................................... IV-256 gambar 4............. Penilaian dan Persetujuan Penerbitan obligasi Daerah oleh Menteri Keuangan ...................III-204 gambar 3......................................3 sebaran Alokasi Dana Tugas Pembantuan Tahun Anggaran 2008-2011 ............III-192 gambar 3........................................................gambar 3..........III-197 gambar 3......................................... IV-254 gambar 4.......................25 Proses Penerbitan obligasi Daerah .............. IV-258 xvi  .............................................. IV-254 gambar 4....................................................31 Proses Penyusunan DIPA Hibah kepada Pemerintah Daerah .III-189 gambar 3................III-171 gambar 3....................III-174 gambar 3.1 Trend Belanja APBD secara Nasional ........32 Proses Penyaluran Hibah Kepada Pemerintah Daerah ...............................III-172 gambar 2....................................................III-211 gambar 3.......................................................................33 Pola Hubungan Antar Instansi Terkait dalam Penyelengaraan dan Pendanaan Dekonsentrasi dan Tugas Pembantuan ....................................29 Mekanisme Penyaluran Hibah Berupa Barang dan Jasa.....37 Alur Pikir Formulasi Indeks Fiskal dan Kemiskinan Daerah .................26 Persiapan Penerbitan obligasi Daerah di Daerah .........................6 Belanja APBD Per Kapita Tahun 2008-2010 ....................................................2 sebaran Alokasi Dana Dekonsentrasi Tahun Anggaran 2008-2011 .........27 Pengajuan..........III-237 gambar 3...........................III-241 gambar 4............ IV-257 gambar 4..................34 Pola Hubungan Kementerian Keuangan dengan Kementerian dalam Pendanaan Dekonsentrasi dan Tugas Pembantuan .......4 Perbandingan Realisasi Belanja Daerah dengan Jumlah Pengangguran dan Jumlah Penduduk Miskin .......................III-190 gambar 3.........30 Penganggaran Hibah dan Penyusunan NPPH ...................................... IV-249 gambar 4.5 Perbandingan Realisasi Belanja Daerah dengan Tingkat Pengangguran dan Tingkat Kemiskinan ..III-233 gambar 3.........III-194 gambar 3........28 Mekanisme Penyaluran Hibah Berupa uang ..35 sumber Pendanaan urusan bersama ...36 Proses Perencanaan dan Penganggaran urusan Bersama ..

1 Tabel 4.3 Tabel 3.................... IV-259 PeningkatanKualitasHubunganKeuanganPusatdanDaerah DalamMendorongPertumbuhanEkonomi xvii ............................................................................................III-27 Kesiapan Daerah Memungut BPHTB (Posisi tanggal 21 Februari 2011) ... IV-250 Indikator Ekonomi Per Daerah 2008 – 2010 .....................III-199 Potret Belanja Pegawai APBD 2007-2010 .III-96 Tarif Pungutan Hasil Perikanan (PHP) ......................................................................1 Tabel 3..............6 Tabel 3....................Pelengkap Buku Pegangan 2011 DAFTAR TABEL Tabel 3...................III-91 Tarif Pungutan Pengusahaan Perikanan (PPP).....7 Tabel 4.....III-96 Pencatatan dan Pelaporan Hibah ..............III-48 Porsi Pembagian DBH sDA Pertambangan umum ................2 Tabel 3.........5 Tabel 3......2 Jenis Pajak Daerah ......4 Tabel 3.......III-25 Jenis Retribusi Daerah .....................

xviii  .

BAB I PENDAHULUAN PeningkatanKualitasHubunganKeuanganPusatdanDaerah DalamMendorongPertumbuhanEkonomi I-1 .

I-2 Pendahuluan .

dan baik secara makro maupun mikro bagi perekonomian daerah dengan dan (iii) kewenangan pengelolaan keuangan diberikan secara utuh kepada menumbuhkembangkan sektor riil. kebijakan dan pelaksanaan otonomi daerah ditujukan guna DPRD. daerah dengan mengedepankan pada asas partisipasi. awal tahun 2000 saat ditetapkannya undang-undang Nomor 22 Tahun 1999 daerah dan desentralisasi merupakan salah satu bagian dari rangkaian kembali roda perekonomian Indonesia yang sempat terpuruk sejak tahun sehingga belum memberikan peran dan kewenangan yang cukup kepada meningkatkan kemandirian dan kreativitas daerah dalam mengatur dan menangani urusan daerah melalui tiga strategi utama yaitu (i) pertanggungjawaban lebih bersifat horizontal melalui peningkatan peran akuntabilitas. Kebijakan tersebut diharapkan dapat memberikan manfaat masyarakat. Muara dari permasalahan yang terjadi pada saat krisis keuangan untuk itu.Pelengkap Buku Pegangan 2011 BAB I PENDAHULUAN Kebijakan otonomi daerah dan desentralisasi fiskal di Indonesia bergulir pada dan undang-undang Nomor 25 Tahun 1999. transparansi. (ii) pengaturan yang jelas mengenai alokasi dana dari pusat ke daerah. mendorong upaya pemberdayaan PeningkatanKualitasHubunganKeuanganPusatdanDaerah DalamMendorongPertumbuhanEkonomi I-3 . meningkatkan akuntabilitas dan transparansi pengelolaan 1997-2000. Tuntutan akan adanya otonomi reformasi yang dilakukan oleh Pemerintah dalam rangka menstabilkan saat itu antara lain disebabkan karena sistem sentralisasi yang terlalu kuat. daerah dalam mengelola perekonomian daerahnya.

peningkatan besaran dan formulasi dana desentralisasi. serta memperbaiki kualitas pelayanan publik dalam upaya meningkatkan pertumbuhan ekonomi dan kesejahteraan masyarakat. yang dapat dilaksanakan secara nyata oleh daerah. Pelaksanaan kebijakan otonomi daerah dan desentralisasi fiskal. Pengaturan hubungan keuangan antara pemerintah pusat dan daerah harus Pengaturan hubungan keuangan 2004 dan undang-undang Nomor 33 Tahun 2004.keuangan daerah. proporsional. upaya power ke daerah. telah diatur ketentuan mengenai hubungan keuangan tersebut mencakup pengaturan atas pendanaan fungsi-fungsi yang menjadi kewenangan/fungsi pemerintahan kepada pemerintah daerah. serta untuk mengurangi kesenjangan kemampuan fiskal antardaerah. I-4 efisien dan efektif dari sumber-sumber penerimaan dana desentralisasi. . merupakan sebuah kewenangan pemerintah daerah sebagai konsekuensi atas pembagian dilakukan secara adil. saat ini dilaksanakan berdasarkan undang-undang Nomor 32 Tahun proses yang dinamis dan keberlanjutan agar hakekat kebijakan tersebut desentralisasi fiskal. dan akuntabel sehingga kebutuhan pengeluaran yang akan menjadi tanggung jawab daerah dapat didanai secara Tujuan utama dari pengaturan pendanaan desentralisasi adalah untuk dan daerah. berbagai penyempurnaan telah dilakukan melalui dana dekonsentrasi dan tugas pembantuan. Dalam kerangka kebijakan antara pemerintah pusat dan daerah. mengurangi ketimpangan fiskal yang terjadi antara pemerintah pusat dicita-citakan di atas. Dalam rangka mendorong pertumbuhan ekonomi sebagaimana yang peningkatan kualitas tersebut diwujudkan dalam bentuk penguatan taxing hibah ke daerah. serta mekanisme pinjaman dan Pendahuluan upaya peningkatan kualitas hubungan keuangan pusat dan daerah.

upaya penyempurnaan tersebut dilakukan agar Dilihat dari sisi pembagian sumber-sumber pendapatan melalui jumlah transfer dana dari pemerintah pusat ke daerah. perluasan basis PDRD yang sudah ada. kepada daerah juga penerimaan PAD maka dikembangkan pula kebijakan dana bagi hasil pemungutan PDRD yang dilakukan pemerintah daerah dapat meningkatkan diberikan pendanaan lain dalam komponen dana otonomi khusus dan dana PeningkatanKualitasHubunganKeuanganPusatdanDaerah DalamMendorongPertumbuhanEkonomi I-5 . peningkatan tarif maksimum beberapa jenis pajak daerah.82. Pengaturan tersebut dilakukan melalui penerapan sistem closedDaerah. terjadi kenaikan yang siginifikan dari tahun ke tahunnya. untuk jenis pajak tertentu. sedangkan dalam APBN tahun 2011 besarnya alokasi dana perimbangan adalah Rp. total dana yang didaerahkan melalui dana perimbangan pada Anggaran Pendapatan dan triliun. Belanja Negara (APBN) tahun 2001 adalah sebesar Rp. Pada tahun 2011. selain itu. Peningkatan yang cukup signifikan pada besaran dana perimbangan tersebut telah menyebabkan pengelolaan fiskal yang menjadi tanggung jawab daerah meningkat cukup tajam. pengaturannya dilakukan berdasarkan perpajakan daerah serta memberikan kepastian kepada masyarakat dan undang-undang Nomor 28 Tahun 2009 tentang Pajak Daerah dan Retribusi dalam rangka pemberian kewenangan yang luas kepada daerah di bidang dunia usaha.4 triliun. untuk mengoptimalkan provinsi kepada kabupaten/kota yang lebih ideal dan kebijakan earmarking pelayanan kepada masyarakat daerah dan meningkatkan investasi dalam rangka pertumbuhan ekonomi daerah.334. penambahan jenis PDRD baru. Penerbitan uu tersebut merupakan langkah yang sangat strategis list.3 selain transfer dana dalam bentuk dana perimbangan. serta pemberian diskresi atas penetapan tarif pajak daerah.Pelengkap Buku Pegangan 2011 Dari sisi pembagian sumber-sumber pendapatan melalui peningkatan Pendapatan Asli Daerah (PAD).

Proyek ini selaras dengan prioritas nasional dan masuk di dalam Pemerintah juga mengalokasikan dana untuk membiayai program dan kegiatan yang menjadi kewenangan Pemerintah di daerah melalui Dana Dekonsentrasi. Pengalokasian tertentu untuk jangka waktu tertentu (bersifat ad hoc) dengan nomenklatur dalam rangka pendanaan kebijakan tertentu pemerintah. Sementara ditujukan bagi proyek pembangunan yang menjadi prioritas pembangunan nasional dan tertuang dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah sangat kecil dan berfluktuasi berkisar antara 4-7 persen antara tahun 2007itu. antara lain Penguatan sumber-sumber penerimaan daerah dalam kerangka hubungan dan hibah daerah. Kontribusi pinjaman daerah terhadap defisit APBD masih Anggaran (SILPA) sebagai sumber untuk menutup defisit APBD. upaya pemerintah dalam memberikan hibah kepada daerah terutama (RPJM). Terkait dengan dana penyesuaian. terdapat tren kenaikan yang dana penyesuaian pada dasarnya untuk menampung program-program yang berganti-ganti. Proyek MRT merupakan agenda Jakarta. salah satu proyek prioritas yang akan didanai dari mekanisme Penerusan Hibah dan Penerusan Pinjaman ke daerah adalah kegiatan Mass penting yang bertujuan untuk mengatasi permasalahan transportasi di RPJMN yang dilaksanakan oleh Pemerintah Provinsi DKI Jakarta. Pemerintah daerah umumnya menggunakan sisa lebih Perhitungan Di samping dukungan pendanaan dalam bentuk dana desentralisasi. Rapid Transit (MRT) di Provinsi DKI Jakarta. keuangan pusat dan daerah juga dalam bentuk mekanisme pinjaman daerah cukup signifikan atas alokasi tersebut dari tahun ke tahun. .penyesuaian. dan dana untuk melaksanakan I-6 Pendahuluan 2010. Dana ini ditujukan untuk menampung alokasi anggaran untuk mendorong atau menguatkan desentralisasi fiskal dan percepatan pembangunan daerah. Dana Tugas Pembantuan.

terdapat 14 provinsi yang tingkat pertumbuhan ekonominya di atas pertumbuhan nasional yang seperti Papua dan Papua Barat. Dengan demikian.Pelengkap Buku Pegangan 2011 program dan kegiatan instansi vertikal di daerah. Dana-dana tersebut tidak meningkat.1 persen. (3) menciptakan jaminan keamanan. dalam penyelenggaraan pemerintahan dan pelayanan publik di daerah. masuk dalam pos APBD. baik kualitas maupun kuantitas. dengan meningkatkan investasi. Dalam masa mendatang peningkatan kualitas meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Pada tahun 2009. juga termasuk ke dalam daerah provinsi yang pertumbuhan ekonominya di atas pertumbuhan ekonomi nasional. terdapat 22 provinsi yang akses layanan publik dan akan mendorong perekonomian daerah. Pada tahun 2008. (4) menciptakan kondisi I-7 . (2) menciptakan kepastian PeningkatanKualitasHubunganKeuanganPusatdanDaerah DalamMendorongPertumbuhanEkonomi Faktor utama bagi daerah untuk mendorong pertumbuhan ekonomi adalah investasi diantaranya adalah (1) meningkatkan ketersediaan infrastruktur hukum. saat itu mencapai 6. Hal dilayaninya sehingga pemerintah daerah lebih memahami kebutuhan dan penyelenggaraan pemerintahan tersebut diharapkan akan mendorong Keberhasilan dalam meningkatkan pertumbuhan ekonomi telah mulai terlihat di beberapa daerah. namun secara nyata dana tersebut dibelanjakan di daerah. upaya yang dilakukan untuk meningkatkan yang memadai. Daerah di wilayah timur Indonesia. serta pertumbuhan ekonominya berada di atas pertumbuhan ekonomi nasional yang saat itu mencapai 4.55 persen. sejalan dengan pelaksanaan kebijakan otonomi Melalui penguatan sumber-sumber pendapatan daerah dan pemberian daerah. proporsi pengeluaran APBN yang dibelanjakan di daerah terus diskresi belanja daerah maka diharapkan terdapat efisiensi dan efektivitas ini dikarenakan semakin dekatnya Pemerintah dengan masyarakat yang prioritas daerah mereka.

Buku ini akan membahas mengenai sistem pendanaan di daerah. serta upaya peningkatan kualitas belanja daerah dan kaitannya dengan pertumbuhan ekonomi daerah. hukum. diharapkan mampu dalam rangka meningkatkan pertumbuhan ekonomi daerah. serta peningkatan pelayanan publik yang sesuai segera terwujud. sistem pengelolaan PDRD berdasarkan closed-list diharapkan dapat PDRD yang diperkenankan agar tidak menghambat masuknya investasi ke daerah. peningkatan dana untuk infrastruktur yang disalurkan untuk mendapatkan gambaran secara lebih mendalam atas peningkatan tema “Peningkatan Kualitas Hubungan Keuangan Pusat dan Daerah Dalam memberikan stimulus untuk lebih mendorong investasi di daerah. yang telah dituangkan dalam undang-undang Nomor 28 Tahun 2009. Buku ini pengelola kebijakan baik pemerintah pusat dan daerah. terutama kualitas hubungan keuangan pusat dan daerah. Pelengkap Buku Pegangan konsep dan ruang lingkup hubungan keuangan antara pusat dan daerah. diharapkan dapat menjadi pedoman bagi semua pemangku kepentingan. pro-job. Dengan demikian pengelolaan keuangan di daerah yang dengan agenda pro-rakyat yaitu pro-poor. khususnya dalam melaksanakan kebijakan desentralisasi transparan dan akuntabel. selain itu. Dalam kaitannya dengan upaya menciptakan kepastian memberikan kepastian kepada masyarakat dan pelaku usaha atas pungutan oleh pemerintah dalam bentuk transfer ke daerah. dan pro-growth akan I-8 Pendahuluan . fiskal di Indonesia.persaingan usaha yang sehat. Penyelenggaraan Pemerintahan Daerah Tahun 2011 disajikan dengan Mendorong Pertumbuhan Ekonomi”. pelaku ekonomi dan masyarakat. salah satunya dilakukan melalui penyempurnaan kebijakan di bidang PDRD. dan (5) menciptakan transparansi kebijakan pemerintah daerah.

BAB II HUBUNGAN KEUANGAN ANTARA PUSAT DAN DAERAH PeningkatanKualitasHubunganKeuanganPusatdanDaerah DalamMendorongPertumbuhanEkonomi II-9 .

II-10 HubunganKeuanganAntaraPusatdanDaerah .

kabupaten. kota. Pendanaan tersebut menganut prinsip money follow function. pelayanan umum. undang. atau antara propinsi dan kabupaten dan kota. yang mengandung makna bahwa pendanaan mengikuti fungsi pemerintahan yang menjadi kewajiban dan tanggung jawab masing-masing tingkat pemerintahan.Pelengkap Buku Pegangan 2011 BAB II HUBUNGAN KEUANGAN ANTARA PUSAT DAN DAERAH Konsep Hubungan Keuangan antara Pusat dan Daerah diturunkan dari undang-undang Dasar 1945. diatur dengan undang-undang dengan memperhatikan bahwa hubungan keuangan. Perimbangan keuangan antara Pemerintah dan pemerintahan daerah mencakup pembagian PeningkatanKualitasHubunganKeuanganPusatdanDaerah DalamMendorongPertumbuhanEkonomi II-11 . Dalam pasal 18A ayat (1) undang-undang Dasar 1945 menyebutkan bahwa hubungan wewenang antara Pemerintah kekhususan dan keragaman daerah. Pasal inilah yang melandasi lahirnya dan pemerintahan daerah propinsi. selanjutnya undang-undang Dasar 1945 Pasal 18A ayat (2) menyebutkan alam dan sumber daya lainnya antara Pemerintah dan pemerintahan daerah diatur dan dilaksanakan secara adil dan selaras berdasarkan undangKeuangan antara Pemerintah Pusat dan Pemerintahan Daerah. Pasal ini merupakan landasan filosofis dan landasan konstitusional pendanaan atas penyerahan urusan kepada Pemerintahan Daerah yang pembentukan undang-undang Nomor 33 Tahun 2004 tentang Perimbangan undang-undang Nomor 33 Tahun 2004 bertujuan untuk mendukung diatur dalam undang-undang tentang Pemerintahan Daerah. pemanfaatan sumber daya undang-undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah.

yakni undang-undang Nomor 17 Tahun yang merupakan acuan dasar pelaksanaan undang-undang Nomor 33 Tahun landasan bagi pola pendanaan kepada daerah yang mengacu 3 (tiga) prinsip utama yaitu: (1) perimbangan keuangan antara Pemerintah dan pemerintahan daerah merupakan subsistem keuangan negara sebagai (2) pemberian sumber keuangan negara kepada pemerintah daerah dalam 2003 tentang Keuangan Negara. Dimensi lain dari hubungan keuangan bukan hanya terkait pola pembagian keuangan dalam rangka mengurangi kesenjangan fiskal antara pusat pertumbuhan ekonomi dan daya saing daerah. dan kebutuhan daerah. Berbagai filosofi perimbangan dengan daerah (vertical fiscal imbalance) dan antar daerah (horizontal fiscal imbalance). dan undang-undang Nomor 15 Tahun 2004 konsekuensi penyerahan urusan Pemerintah kepada pemerintah daerah. namun juga mencakup dukungan Pemerintah dalam mendorong pengelolaan keuangan daerah sebagai subsistem pengelolaan keuangan keuangan tersebut juga selaras dengan amanat dari tiga paket undangtentang Pemeriksaan Pengelolaan dan Tanggung Jawab Keuangan Negara 2004. adil. dan transparan dengan memperhatikan potensi. dan (3) perimbangan keuangan antara Pemerintah II-12 HubunganKeuanganAntaraPusatdanDaerah . Kerangka hubungan keuangan antara pusat dan daerah memberikan negara termasuk optimalisasi pengelolaan Pendapatan Asli Daerah (PAD). rangka pelaksanaan desentralisasi harus memperhatikan stabilitas dan keseimbangan fiskal. selain itu Pemerintah juga memberikan bimbingan kepada daerah untuk meningkatkan efektifitas pinjaman daerah dan hibah ke daerah. kondisi. demokratis. undang di bidang keuangan negara. undang-undang Nomor 1 Tahun 2004 tentang Perbendaharaan Negara.keuangan antara Pemerintah dan pemerintahan daerah secara proporsional.

dekonsentrasi. maka diatur pendanaan penyelenggaraan pemerintahan. Adapun penyelenggaraan pemerintahan yang gubernur atau ditugaskan kepada pemerintah daerah dan/atau desa atau sebutan lainnya dalam rangka Tugas Pembantuan. Implementasi ketiga prinsip hubungan keuangan tersebut. dalam menjaga keselarasan dengan prioritas nasional. sedangkan penyelenggaraan kewenangan pemerintahan yang menjadi tanggung jawab Pemerintah dibiayai dari APBN. menciptakan lapangan kerja (Pro Job).Pelengkap Buku Pegangan 2011 dan pemerintahan daerah merupakan suatu sistem yang menyeluruh dalam tugas pembantuan. tetap mengutamakan kemandirian daerah dalam mengelola sumber-sumber dan efektif serta untuk mencegah tumpang tindih ataupun tidak tersedianya memprioritaskan pada pengentasan kemiskinan (Pro Poor). rangka pendanaan penyelenggaraan asas desentralisasi. Disamping itu. baik kewenangan pusat yang didekonsentrasikan kepada PeningkatanKualitasHubunganKeuanganPusatdanDaerah DalamMendorongPertumbuhanEkonomi II-13 . Dengan demikian. setiap daerah dapat memberikan kontribusi terbaik dalam rangka pencapaian tujuan pembangunan nasional dengan keuangan daerah. menjadi kewenangan daerah dibiayai dari APBD. dan dilaksanakan secara optimal dapat mendukung sinkronisasi perencanaan mengedepankan pembangunan berdimensi kewilayahan yang menempatkan daerah sebagai pusat pertumbuhan. Peran pemerintah daerah sangat dibutuhkan untuk mendukung upaya Pemerintah dalam menjaga keserasian pembangunan nasional dan pertumbuhan ekonomi yang inklusif dengan apabila dan keseimbangan antara pertumbuhan dan pemerataan (Growth with Equity). pemerintah daerah harus tetap memperhatikan pembangunan daerah yang Environment). dan mempertahankan kelestarian lingkungan (Pro Pendanaan penyelenggaraan pemerintahan agar terlaksana secara efisien pendanaan pada suatu bidang pemerintahan.

tidak perlu dibayar kembali. Dana Darurat dapat diberikan kepada daerah dalam negeri atau perseorangan. Ketiga komponen Dana Perimbangan ini merupakan bagian yang terdiri atas Dana Bagi Hasil (DBH). baik dalam bentuk devisa. badan/ lembaga asing. badan/lembaga internasional. maupun yang mengalami bencana nasional dan/atau peristiwa luar biasa yang tidak II-14 HubunganKeuanganAntaraPusatdanDaerah . daerah sendiri dalam pelaksanaan otonomi daerah sebagai perwujudan asas merupakan pendapatan daerah yang bersumber dari hasil pajak daerah. PAD bertujuan untuk memberikan keleluasaan kepada daerah dalam mengoptimalkan potensi pendanaan desentralisasi. dan pelatihan yang dapat ditanggulangi dengan dana APBD. dari Transfer ke Daerah dari Pemerintah serta merupakan satu kesatuan mengurangi ketimpangan sumber pendanaan pemerintahan antara pusat antar-daerah. dan selain Dana Perimbangan. hasil pengelolaan kekayaan daerah yang dipisahkan. Pendapatan Asli Daerah lain-lain Pendapatan Asli Daerah yang sah.sumber-sumber pendanaan pemerintahan daerah yang dikelola dalam APBD terdiri atas Pendapatan Asli Daerah. Dana Perimbangan. juga bertujuan untuk dan daerah serta untuk mengurangi kesenjangan pendanaan pemerintahan yang utuh. Dana Alokasi umum (DAu). hasil retribusi daerah. dan Pinjaman Daerah. Transfer ke Daerah juga mencakup Hibah dan Dana Darurat. lain-lain Pendapatan Yang sah. dan Dana Perimbangan merupakan pendanaan daerah yang bersumber dari APBN Dana Alokasi Khusus (DAK). Hibah dapat berasal dari pemerintah negara asing. rupiah. badan/lembaga dalam bentuk barang dan/atau jasa termasuk tenaga ahli. Dana Perimbangan selain dimaksudkan untuk membantu daerah dalam mendanai kewenangannya. Pemerintah.

yang dilaksanakan dalam rangka tugas pembantuan. Pembiayaan yang bersumber dari pinjaman keuangan daerah sendiri serta stabilitas ekonomi dan moneter secara nasional. Pemerintah memberikan sejumlah bantuan. a. urusan yang merupakan tugas Pemerintah atau pemerintah daerah d. urusan yang merupakan tugas pemerintah daerah sendiri dalam rangka tingkat atasnya. Pada gambar 2. oleh karena itu.Pelengkap Buku Pegangan 2011 Pinjaman Daerah merupakan salah satu sumber pembiayaan yang bertujuan untuk mempercepat pertumbuhan ekonomi daerah dan meningkatkan harus dikelola secara benar agar tidak menimbulkan dampak negatif bagi persyaratan. dan sanksi pinjaman daerah. c.1 terlihat pola Hubungan Keuangan antara Pusat dan Daerah sebagai konsekuensi dari hubungan wewenang atau fungsi antara Pemerintah dan pemerintahan daerah dengan prinsip-prinsip sebagai berikut: b. dan yang merupakan tugas Pemerintah di daerah dalam rangka dibiayai oleh Pemerintah atas beban APBN atau oleh pemerintah daerah tingkat atasnya atas beban APBD-nya sebagai pihak yang menugaskan. urusan pelayanan kepada masyarakat. desentralisasi dibiayai dari dan atas beban APBD. PeningkatanKualitasHubunganKeuanganPusatdanDaerah DalamMendorongPertumbuhanEkonomi II-15 . sepanjang potensi sumber-sumber keuangan daerah belum mencukupi. mekanisme. dekonsentrasi dibiayai dari dan atas beban APBN. pinjaman daerah perlu mengikuti kriteria.

Hal ini berarti bahwa setiap selaras dengan esensi otonomi daerah.1 Kerangka Hubungan Keuangan antara Pusat dan Daerah sebagai konsekuensi dari penyelenggaraan pemerintahan dalam rangka daerah dituntut untuk dapat secara mandiri melaksanakan pembangunan. pelaksanaan. untuk mendanai penyelenggaraan urusan untuk melaksanakan kewenangan tersebut. diharapkan agar . mulai dari sisi perencanaan. Dengan demikian. pada dasarnya bentuk penyerahan kewenangan harus diikuti dengan penyerahan pendanaan dilakukan dengan prinsip money follow function. penganggaran.gambar 2. pemerintahan yang menjadi kewenangan daerah tersebut. sebagaimana disebutkan di atas. maka pertanggungjawabannya sesuai dengan prinsip-prinsip otonomi daerah. maka besarnya sumber pendanaan untuk daerah tersebut juga diikuti dengan diskresi dalam hal pembelanjaan II-16 HubunganKeuanganAntaraPusatdanDaerah maupun sesuai kebutuhan dan prioritas daerah. desentralisasi yang memberikan kewenangan yang luas kepada daerah.

keuangan pemerintah harus dikelola secara tertib. daerah dalam mengalokasikan belanjanya pada program dan kegiatan yang berorientasi pada pelayanan masyarakat (public service). dan mengurangi jumlah penduduk miskin. oleh karena itu. untuk menjabarkan konsep Hubungan Keuangan antara Pusat dan peraturan perundangan yang mengatur hal tersebut. gambar 2. efisien. dan Daerah tersebut telah ditetapkan berbagai peraturan perundangan sebagai gambar 2. selanjutnya. taat pada akuntabel.2 memperlihatkan berbagai PeningkatanKualitasHubunganKeuanganPusatdanDaerah DalamMendorongPertumbuhanEkonomi II-17 . keberhasilan suatu daerah dalam mewujudkan kesejahteraan masyarakat sangat tergantung pada pemerintah lapangan kerja.Pelengkap Buku Pegangan 2011 local government spending akan benar-benar bermanfaat dan menjadi stimulus fiskal bagi perekonomian di daerah dalam rangka mewujudkan kesejahteraan masyarakat. transparan. ekonomis. menciptakan peraturan perundang-undangan. efektif.2 skema Peraturan Perundangan yang mengatur Hubungan Keuangan Pusat dan Daerah landasan dalam implementasinya.

II-18 HubunganKeuanganAntaraPusatdanDaerah .

BAB III SISTEM PENDANAAN DI DAERAH PeningkatanKualitasHubunganKeuanganPusatdanDaerah DalamMendorongPertumbuhanEkonomi III-19 .

III-20 SistemPendanaandiDaerah .

Pelengkap Buku Pegangan 2011 BAB III SISTEM PENDANAAN DI DAERAH 3. PAJAK DAERAH DAN RETRIBUSI DAERAH 3. untuk mendukung pelaksanaan otonomi daerah dan membangun hubungan keuangan antara pemerintah pusat dan pemerintahan daerah yang lebih penyempurnaan peraturan perundang-undangan di bidang untuk mendorong penerimaan pajak daerah dan retribusi daerah adalah PENDAHULUAN ideal. dan perbaikan pengelolaan pendapatan pajak daerah dan retribusi daerah. salah satu upaya pemerintah melalui perpajakan dan retribusi daerah sesuai dengan perkembangan keadaan. pemerintah senantiasa mendorong peningkatan penerimaan daerah yang bersumber dari pungutan pajak daerah dan retribusi daerah. peningkatan efektivitas pengawasan.1. kebijakan perpajakan dan retribusi daerah diarahkan untuk lebih Nomor 28 Tahun 2009 tentang Pajak Daerah dan Retribusi Daerah yang berlaku secara efektif sejak tanggal 1 Januari 2010 merupakan pengganti dari undang-undang Nomor 18 Tahun 1997 tentang Pajak Daerah dan Retribusi daerah dapat dipungut oleh daerah provinsi dan daerah kabupaten/kota PeningkatanKualitasHubunganKeuanganPusatdanDaerah DalamMendorongPertumbuhanEkonomi memberikan kepastian hukum. sebagai sumber utama PAD. Kebijakan ini tertuang dalam undang-undang Daerah sebagaimana telah diubah dengan undang-undang Nomor 34 Tahun 2000. pajak daerah dan retribusi III-21 .1. penguatan local taxing power.1. Berdasarkan undang-undang tersebut. Pajak Daerah dan Retribusi Daerah (PDRD) merupakan komponen utama Pendapatan Asli Daerah (PAD).

antara lain: Beberapa kebijakan mendasar yang diatur dalam undang-undang Nomor 28 menjadi closed-list system. yaitu: 1. Bea Balik Nama Kendaraan Bermotor. dan 5 jenis retribusi perizinan tertentu. III-22 SistemPendanaandiDaerah . 11 jenis retribusi jasa usaha. Pemberian kewenangan yang lebih besar kepada daerah di bidang Memperluas basis pajak daerah dan retribusi daerah yang sudah ada. selain pajak daerah. salah satu pertimbangan penerapan closedlist system adalah untuk memberikan kepastian bagi masyarakat dan dunia usaha mengenai jenis pungutan daerah yang wajib dibayar serta jenis pajak dan retribusi daerah yang tercantum dalam undang-undang.sesuai dengan kewenangan masing-masing dengan menerbitkan Peraturan Daerah (Perda). 1. yaitu 5 jenis pajak provinsi dan 11 jenis pajak kabupaten/ umum. Penguatan local taxing power dilakukan melalui beberapa kebijakan. meningkatkan efisiensi pemungutan pajak daerah dan retribusi daerah. juga terdapat 30 jenis retribusi daerah yang dapat dipungut oleh daerah. seperti perluasan basis Pajak Kendaraan Bermotor. Tahun 2009 tentang Pajak Daerah dan Retribusi Daerah. pajak daerah. Dengan closed-list system. pemerintah daerah hanya dapat memungut Penetapan pajak daerah dan retribusi daerah diubah dari open-list system Berdasarkan undang-undang Nomor 28 Tahun 2009 terdapat 16 jenis kota. Pajak Hotel. yang terdiri dari 14 jenis retribusi jasa 2. perpajakan dan retribusi daerah (penguatan local taxing power). Pajak Restoran dan Retribusi Izin gangguan.

Pajak sarang Burung Walet. Pajak Hiburan.Pelengkap Buku Pegangan 2011 2. seperti Pajak 3. Pajak Parkir. Dalam kaitan ini. dan Bangunan (BPHTB). Pajak Bumi dan Bangunan Perdesaan Retribusi Pelayanan Pendidikan. Retribusi Pengendalian Menara Pajak Bahan Bakar Kendaraan Bermotor. dan Retribusi Izin usaha Perikanan. 4. Retribusi Pelayanan Tera/Tera ulang. Rokok. Kewenangan yang lebih luas di bidang perpajakan daerah diharapkan dapat meningkatkan pendapatan daerah sehingga dapat mengkompensasi hilangnya berbagai jenis pungutan daerah sebagai akibat perubahan retribusi daerah yang memiliki landasan hukum yang kuat dan tidak menciptakan jenis pungutan baru yang potensinya relatif kecil dan tidak sesuai dengan peraturan perundang-undangan. dan Pajak Mineral Bukan logam dan Batuan. Pajak Kendaraan Bermotor. Memperbaiki sistem pengelolaan pajak daerah dan retribusi daerah melalui kebijakan bagi hasil pajak provinsi kepada kabupaten/kota yang lebih pasti dan kebijakan earmarking untuk jenis pajak daerah PeningkatanKualitasHubunganKeuanganPusatdanDaerah DalamMendorongPertumbuhanEkonomi III-23 . Memberikan diskresi penetapan tarif pajak kepada provinsi kecuali Menambah jenis pajak daerah dan retribusi daerah. dan Pajak Rokok. tarif pajak daerah yang diberlakukan di daerahnya (ditetapkan dalam Perda) sepanjang tidak melampaui tarif minimum dan maksimum yang tercantum dalam undang-undang Nomor 28 Tahun 2009. open-list system menjadi closed-list system. Bea Perolehan Hak atas Tanah Telekomunikasi. seperti dan Perkotaan (PBB-P2). Bea Balik Nama Kendaraan Bermotor. daerah Daerah diberikan kewenangan sepenuhnya untuk menetapkan besaran didorong untuk mengoptimalkan pemungutan jenis pajak daerah dan 3. Menaikkan tarif maksimum beberapa jenis pajak daerah.

III-24 SistemPendanaandiDaerah . dengan adanya kebijakan earmarking. setiap jenis pajak provinsi dibagihasilkan kepada kabupaten/ kota sesuai komposisi yang ditetapkan dalam undang-undang. sebagai contoh jalan harus dialokasikan untuk membiayai penerangan jalan umum. sementara itu.tertentu. 10 pajak rokok harus dialokasikan untuk membiayai pelayanan kesehatan persen dari pendapatan pajak kendaraan bermotor harus dialokasikan modal dan sarana transportasi umum. masyarakat dan penegakan hukum. dan 50 persen dari pendapatan dengan mengubah mekanisme pengawasan dari sistem represif (berdasarkan korektif. sebagian hasil pendapatan pajak daerah tertentu dialokasikan untuk pembayar pajak tersebut. Perda yang sudah ditetapkan dapat dibatalkan oleh Pemerintah apabila bertentangan dengan peraturan perundangundangan dan/atau kepentingan umum. Meningkatkan efektivitas pengawasan pungutan daerah pelayanan yang lebih baik kepada pembayar pajak. Kebijakan bagi hasil pajak ini mencerminkan bentuk tanggungjawab pemerintah provinsi untuk ikut serta menanggung beban biaya yang diperlukan oleh kabupaten/kota dalam pelaksanaan fungsinya memberikan pelayanan membiayai kegiatan yang dapat dirasakan secara langsung oleh kepada masyarakat. setiap Rancangan Peraturan Daerah (Raperda) tentang pajak dahulu oleh Pemerintah. Kewenangan pembatalan daerah sebelum ditetapkan menjadi Perda harus dievaluasi terlebih undang-undang Nomor 34 Tahun 2000) menjadi sistem preventif dan Perda yang semula berada pada Menteri Dalam Negeri dialihkan kepada Presiden dalam rangka memperkuat dasar hukum pembatalan Perda. Kebijakan ini dimaksudkan untuk memberikan kebijakan earmarking adalah sebagian pendapatan pajak penerangan untuk pembangunan dan/atau pemeliharaan jalan serta peningkatan 4.

Pajak Rokok. 1.1. 2. rmotor.2.1. Pajak Parkir. JENIS PAJAK DAERAH DAN RETRIBUSI DAERAH sesuai dengan undang-undang Nomor 28 Tahun 2009. Pajak Restoran. dan 5 jenis retribusi perizinan tertentu. meliputi 5 jenis dan yang dapat kabupaten/kota adalah 30 jenis. PBB Perdesaan & Perkotaan. Pajak Hiburan.1. Provinsi Pajak Hotel. 7. Kabupaten/Kota PeningkatanKualitasHubunganKeuanganPusatdanDaerah DalamMendorongPertumbuhanEkonomi III-25 . pajak daerah yang dipungut oleh daerah provinsi dan kabupaten/kota adalah sebanyak 11 jenis retribusi jasa usaha. sedangkan retribusi yang dapat dipungut oleh daerah provinsi dan dapat dipungut oleh daerah adalah 16 jenis. dan 5. 3. Pajak Air Tanah. 28 Tahun 2009 dapat dilihat Tabel 3. Jenis Pajak Daerah 1. Pajak Air Permukaan. Pajak sarang Burung Walet. 6. 2. meliputi 14 jenis retribusi jasa umum. Pajak daerah pada Tabel 3. Pajak Kendaraan Bermotor.1. 10.1. Pajak Bahan Bakar Kendaraan Bermotor. 4. Pajak Mineral Bukan logam dan Batuan. 3. Pajak Penerangan Jalan. Pajak Reklame. Bea Perolehan Hak Atas Tanah dan Bangunan. 9. jenis. 4. 8.Pelengkap Buku Pegangan 2011 selain itu. 5.2. 3. motor. Bea Balik Nama Kendaraan Bermotor. 11 Jenis-jenis Pajak Daerah berdasarkan uu No. 11. terhadap daerah yang melakukan pelanggaran terhadap daerah dapat dikenakan sanksi berupa penundaan dan/atau pemotongan dana alokasi umum dan/atau dana bagi hasil atau restitusi peraturan perundang-undangan di bidang pajak daerah dan retribusi 3.

antara lain.1. mobilitas objek pajak. 2. Retribusi Jasa Umum adalah pungutan atas pelayanan yang disediakan atau diberikan pemerintah daerah untuk tujuan kepentingan dan 2. III-26 SistemPendanaandiDaerah tertentu oleh Pemerintah Daerah kepada orang pribadi atau Badan yang dimaksudkan untuk pengaturan dan pengawasan atas kegiatan sarana. Retribusi Perizinan Tertentu adalah pungutan atas pelayanan perizinan pemanfaatan ruang. yaitu retribusi jasa umum. 3. menjaga kelestarian lingkungan. prasarana. dan retribusi perizinan tertentu. Penetapan jenis pajak tersebut sebagai pajak daerah provinsi dan pajak kabupaten/kota didasarkan pada Retribusi daerah dapat dikelompokkan ke dalam 3 (tiga) golongan. retribusi jasa usaha. barang. badan. dan/atau disediakan secara memadai oleh pihak swasta. Retribusi Jasa Usaha adalah pungutan atas pelayanan yang disediakan yang belum dimanfaatkan secara optimal.sumber : undang-undang Nomor 28 Tahun 2009 Jenis pajak daerah bersifat limitatif (closed-list) yang berarti bahwa pemerintah daerah.2. baik provinsi maupun kabupaten/kota tidak dapat pertimbangan.2. retribusi daerah memungut pajak selain yang telah ditetapkan. penggunaan sumber daya alam. 1. oleh pemerintah daerah dengan menganut prinsip komersial yang Pelayanan dengan menggunakan/memanfaatkan kekayaan daerah Pelayanan oleh Pemerintah Daerah sepanjang belum dapat 3. atau fasilitas tertentu guna melindungi kepentingan umum dan . kemanfaatan umum serta dapat dinikmati oleh orang pribadi atau meliputi: 1.

Retribusi Rumah Potong Hewan 4. Retribusi Pemakaman/ Pengabuan Mayat 7. Retribusi Izin usaha Perikanan 1. Retribusi Pelayanan Kepelabuhanan 11.Retribusi Penyeberangan di Air sumber : undang-undang Nomor 28 Tahun 2009 14. Retribusi Pemakaian Kekayaan Daerah Jasa Usaha 2. Tabel 3. Retribusi Tempat Pelelangan 5. Retribusi Pemeriksaan Alat Pemadam Kebakaran 9. Retribusi Pasar grosir/Pertokoan 3. Retribusi Pelayanan Kesehatan Jasa Umum 2. Retribusi Tempat Khusus Parkir 7. Retribusi Tempat Penginapan/ Pesanggrahan/Villa 10.2. Retribusi Pengendalian Menara Telekomunikasi PeningkatanKualitasHubunganKeuanganPusatdanDaerah DalamMendorongPertumbuhanEkonomi III-27 . Retribusi KTP dan Akte Capil 4.Pelengkap Buku Pegangan 2011 Jenis Retribusi Daerah berdasarkan undang-undang Nomor 28 Tahun 2009 adalah sebagaimana tercantum pada Tabel 3. Retribusi Pelayanan Tera/ Tera ulang 8. Retribusi Pelayanan Pasar 8. Retribusi Pengujian Kendaraan Bermotor 5. Retribusi Izin Tempat Penjualan Minuman Beralkohol 3. Retribusi Tempat Rekreasi dan olahraga 10. Retribusi Penggantian Biaya Cetak Peta 11. Retribusi Parkir di Tepi Jalan umum 6.2. Retribusi Izin Trayek 5. Retribusi Penyedotan Kakus 12. Retribusi Terminal 1. Retribusi Pelayanan Pendidikan 6. Retribusi Pengolahan limbah Cair 13. Jenis Retribusi Daerah 1. Retribusi Izin Mendirikan Bangunan Perizinan Tertentu 2.Retribusi Penjualan Produksi usaha Daerah 9. Retribusi Persampahan/ Kebersihan 3. Retribusi Izin gangguan 4.

penetapan besaran untuk masing-masing jenis retribusi daerah. penyediaan jasa yang bersangkutan. biaya bunga. sementara itu. dan Tarif Retribusi Jasa usaha didasarkan pada tujuan untuk memperoleh III-28 . dimaksud meliputi biaya operasi dan pemeliharaan. Pemerintah daerah dapat mengatur pengecualian perluasan terhadap objek retribusi daerah. untuk untuk dilakukannya penambahan jenis retribusi daerah yang akan diatur lebih lanjut dengan peraturan pemerintah. dan efektivitas pengendalian atas pelayanan tersebut. Meskipun demikian. Keuntungan yang layak adalah keuntungan yang SistemPendanaandiDaerah pengenaan retribusi atas objek tertentu namun tidak boleh melakukan Tarif Retribusi Jasa umum ditetapkan dengan memperhatikan biaya 2. kemampuan masyarakat. sedangkan penentuan retribusi jasa usaha didasarkan pada jasa pelayanan yang dapat diselenggarakan/diberikan oleh provinsi dan objek masing-masing jenis retribusi telah diatur dalam undang-undang Nomor 28 Tahun 2009. mengantisipasi perkembangan penyerahan kewenangan pemerintah pusat kepada daerah dan menyesuaikan dengan ketentuan sektoral. aspek biaya modal. yaitu: 1. Penentuan jenis retribusi jasa yang menjadi kewenangan provinsi dan kabupaten/kota sesuai peraturan kabupaten/kota berdasarkan prinsip efisiensi. Biaya keuntungan yang layak.sama halnya dengan pajak daerah. tarif retribusi harus mengacu kepada prinsip dan sasaran penetapan tarif keadilan. dimungkinkan umum dan retribusi perizinan tertentu yang dapat dipungut oleh daerah provinsi dan kabupaten/kota didasarkan pada urusan pemerintahan perundang-undangan. jenis retribusi daerah juga bersifat limitatif (closed-list) artinya bahwa pemerintah daerah tidak dapat memungut jenis retribusi selain 30 jenis retribusi tersebut di atas.

suatu jenis pajak daerah dan retribusi daerah ditetapkan sebagai pungutan daerah berdasarkan kriteria yang telah ditentukan. yang bersangkutan. pengawasan di lapangan. badan kepada daerah: • • dan Pajak tersebut harus sesuai definisi pajak yang ditetapkan dalam undangtanpa imbalan langsung yang seimbang. diutamakan untuk mendanai kegiatan yang berkaitan dengan jenis layanan 3.1.3.1.3. Biaya penyelenggaraan pemberian izin dimaksud meliputi penerbitan dokumen izin. daerah dibedakan dengan kriteria retribusi daerah. penatausahaan. dan biaya dampak negatif dari pemberian izin tersebut. diperoleh apabila pelayanan jasa usaha tersebut dilakukan secara efisien dan berorientasi pada harga pasar. dan bukan retribusi. Dalam menetapkan pajak KRITERIA undang yaitu kontribusi wajib yang dilakukan oleh orang pribadi atau PeningkatanKualitasHubunganKeuanganPusatdanDaerah DalamMendorongPertumbuhanEkonomi III-29 .1. dapat dipaksakan berdasarkan perundang-undangan yang berlaku. menutup sebagian atau seluruh biaya penyelenggaraan pemberian izin hukum. Kriteria untuk pajak sebagai pajak daerah digunakan kriteria sebagai berikut: 3. kriteria Pajak daerah a.Pelengkap Buku Pegangan 2011 3. penegakan Tarif Retribusi Perizinan Tertentu didasarkan pada tujuan untuk Pemanfaatan hasil penerimaan masing-masing jenis retribusi daerah bersangkutan yang pengalokasiannya ditetapkan dengan Perda. Bersifat pajak.

immobile Batuan bersifat retribusi. Jika suatu kontribusi hanya dibayar oleh orang pribadi atau badan digunakan untuk membiayai penyelenggaraan pemerintahan dan pembangunan daerah. Contoh: Pajak Penerangan Jalan. Contoh: Pajak Hotel. pelabuhan atau bandara atau di tempat lain. disediakan oleh daerah maka iuran tersebut bukan pajak melainkan yang bersangkutan dan mempunyai mobilitas cukup rendah serta hanya melayani masyarakat di wilayah daerah kabupaten/kota yang 1) Yang dimaksud dengan ’mobilitas rendah’ adalah objek pajak relative 2) Yang dimaksud dengan ’hanya melayani masyarakat di wilayah tertentu’ adalah bahwa beban pajaknya hanya ditanggung oleh masyarakat lokal. dengan penjelasan sebagai berikut:. Jenis pajak dengan objek objek tersebut pada umumnya melayani III-30 SistemPendanaandiDaerah . contohnya antara lain: Pajak atas reklame dalam surat kabar dan media elektronik. Jenis pajak yang bertentangan dengan kriteria ini.• yang menggunakan/memanfaatkan suatu pelayanan/perizinan yang b. Pajak Restoran. objek pajak terletak atau terdapat di wilayah daerah kabupaten/kota bersangkutan. Pajak Mineral Bukan logam dan • • Pajak atas barang yang diekspor atau diimpor (lalu lintas barang) di masyarakat luas di luar wilayah daerah yang bersangkutan.

e. Contoh jenis pajak yang bertentangan dengan kriteria ini adalah: Pajak tidak mengganggu alokasi sumber ekonomi dan tidak merintangi PeningkatanKualitasHubunganKeuanganPusatdanDaerah DalamMendorongPertumbuhanEkonomi III-31 . karena dampak dari pungutan ini tidak dapat arus sumber daya ekonomi antardaerah maupun kegiatan ekspor-impor. yaitu pajak dengan objek dan/atau dasar pengenaan yang tumpang tindih dengan objek dan/atau dasar pengenaan pajak lain yang sebagian atau seluruh hasilnya diterima oleh daerah. sosial. serta pertahanan dan Potensi pajak memadai. Jenis pajak yang bertentangan dengan kriteria ini. umum. ekonomi. objek Pajak bukan merupakan objek pajak pusat. Pajak ditujukan untuk kepentingan bersama yang lebih luas antara objek dan dasar pengenaan pajak tidak bertentangan dengan kepentingan Contoh: Pajak atas seluruh komoditi akan menimbulkan ketidakstabilan Hasil penerimaan pajak harus lebih besar dari biaya pemungutan. d.Pelengkap Buku Pegangan 2011 c. budaya. pajak ganda (double tax). dilokalisir. ekonomi dan kestabilan politik. pemerintah dan masyarakat dengan memperhatikan aspek ketentraman keamanan. objek pajak tersebut merupakan objek cukai yang lebih layak dipungut Tidak memberikan dampak ekonomi yang negatif. antara lain adalah f. Contoh : Pajak atas produksi minuman keras. oleh Pemerintah Pusat.

seperti: pajak angkutan barang di jalan raya.• • g. antara lain: objek dan subjek pajak harus jelas sehingga dapat diawasi jumlah pembayaran pajak dapat diperkirakan oleh wajib pajak. • • • Memperhatikan aspek keadilan dan kemampuan masyarakat. hewan. pengecualian anggota DPRD sebagai subjek atau wajib pajak. SistemPendanaandiDaerah III-32 tidak dipikul oleh masyarakat yang relatif kurang mampu. Aspek keadilan. Contoh: Pajak Mineral Bukan logam dan Batuan. sehingga sebagian besar dari beban pajak tersebut h. Contoh: Pajak pengenaan pajak tidak memberikan peluang kepada daerah atau pusat Pajak harus bersifat netral terhadap lingkungan. dan pajak pajak atas lalu lintas barang atau atas transportasi barang atau ekonomis atau sosial yang kuat. tarif pajak ditetapkan dengan memperhatikan keadaan wajib pajak. Hiburan terhadap hiburan rakyat. atau masyarakat luas untuk merusak lingkungan. pajak yang dipungut atas kegiatan ekonomi tertentu tanpa alasan pajak atas hasil perkebunan. Contoh: Pajak Hotel. dispensasi jalan umum. pengenaan pajak tidak membedakan (klasifikasi) orang pribadi atau badan tanpa alasan yang kuat. seperti: pajak atas produksi garam. yang berarti bahwa . seperti kesenian tradisional. Aspek kemampuan masyarakat: Pajak memperhatikan kemampuan subjek pajak untuk memikul Menjaga kelestarian lingkungan. Hal lain mengenai aspek keadilan adalah objek atau subjek atau dasar tambahan beban pajak. pemungutannya.

Pelengkap Buku Pegangan 2011 3. Kriteria Retribusi Jasa umum i. disamping manfaat bagi individu masyarakat pada umumnya terhindar dari penyebaran bakteri penyakit. juga akan menyebabkan PeningkatanKualitasHubunganKeuanganPusatdanDaerah DalamMendorongPertumbuhanEkonomi III-33 .2. Pengenaan retribusi hanya dapat dilakukan terhadap jasa yang pengaturan. Jasa tersebut memberi manfaat khusus bagi orang pribadi atau badan yang diharuskan membayar retribusi. Jasa yang bersangkutan merupakan kewenangan daerah dalam Pengenaan retribusi hanya berkaitan dengan penyediaan jasa yang dihitung dengan nilai per komoditi tidak sesuai dengan kriteria iii. pengawasan. dan pengendalian. di samping untuk melayani kepentingan dan kemanfaatan umum.1. retribusi pelayanan persampahan.3. Pengenaan retribusi ii. layanan yang konkrit. Bersifat bukan pajak dan bersifat bukan Retribusi Jasa usaha atau Retribusi Perizinan Tertentu. ini karena pengenaannya bersifat pajak dan tidak tersirat adanya rangka pelaksanaan desentralisasi. yang berasal dari sampah yang menjadi sumber penyebaran wabah berupa terbebasnya rumah dari sampah. kriteria retribusi daerah a. manfaat bagi kepentingan masyarakat pada umumnya. pelayanan yang secara langsung dapat dinikmati oleh pengguna jasa tetapi jasa tersebut bukan menyangkut kegiatan pembinaan. Misalnya Pengguna jasa dapat diidentifikasi dan layanan tersebut memberikan secara eksplisit telah ditetapkan dalam peraturan perundangundangan sebagai fungsi dan menjadi kewenangan daerah.

sarana publik yang berdasarkan pendidikan dasar dan jalan umum tidak sesuai dengan kriteria ini. tingkat seharusnya lebih rendah dari hasil penerimaan retribusi. Penerimaan retribusi lebih cepat melalui perbaikan sistem pengelolaan dan administrasi III-34 SistemPendanaandiDaerah . antara lain dalam bentuk proses pelayanan yang tanpa menaikkan tarif retribusi daerah. Pemungutan retribusi daerah memungkinkan penyediaan jasa kepuasan atas pelayanan yang diberikan. merupakan salah satu sumber pendapatan daerah yang potensial. Dari segi efisiensi. v. kepuasan pengguna jasa sebanding dengan nasional wajib disediakan oleh pemerintah Jasa yang akan dikenakan retribusi secara politis harus bisa diterima Retribusi daerah tidak bertentangan dengan kebijakan nasional pelayanannya harus diberikan secara gratis kepada masyarakat vi. biaya pemungutan tersebut dengan tingkat dan/atau kualitas pelayanan yang lebih seharusnya digunakan oleh pemerintah daerah untuk meningkatkan kualitas pelayanan. Retribusi daerah dapat dipungut secara efektif dan efisien. Dengan tarif retribusi daerah yang wajar. pengguna jasa memperoleh Efektifitas dari pungutan retribusi seharusnya tercermin dalam jumlah umum tidak dapat dikenakan retribusi. serta pembayaran retribusi. kebijakan oleh publik dan besarnya retribusi dapat dipikul oleh masyarakat mengenai penyelenggaraannya. baik. pada umumnya.iv. Retribusi atas pelayanan dan vii. Jasa tersebut layak untuk dikenakan retribusi daerah.

Pelengkap Buku Pegangan 2011 b. diserahkan kepada daerah dalam rangka azas desentralisasi. dimanfaatkan secara penuh oleh pemerintah daerah. Kriteria Retribusi Perizinan Tertentu: mengenakan tarif jasa yang di dalamnya sudah termasuk margin keuntungan. pengendalian. pengaturan. perizinan baru yang pengelolaannya telah diserahkan kepada daerah sebagaimana ditetapkan dalam peraturan perundang-undangan. Retribusi Perizinan Tertentu. Perizinan tersebut termasuk kewenangan pemerintahan yang yang selama ini sudah menjadi kewenangan daerah serta perizinanii. i. untuk melayani kepentingan umum dan bukan menyangkut kegiatan pembinaan. Retribusi tidak boleh dikenakan terhadap jasa yang dimaksudkan seyogyanya disediakan oleh sektor swasta tetapi belum memadai atau terdapatnya harta yang dimiliki/dikuasai daerah yang belum Jasa yang dikenakan retribusi daerah adalah jasa yang belum sepenuhnya dapat disediakan oleh swasta dimana layanan tersebut Jasa yang bersangkutan adalah jasa yang bersifat komersial yang bersifat komersial sehingga pemerintah daerah dimungkinkan untuk c. Retribusi yang boleh dipungut hanya terhadap perizinan-perizinan Perizinan tersebut benar-benar diperlukan guna melindungi umum. Kriteria Retribusi Jasa usaha: i. kepentingan umum. dan pengawasan. Bersifat bukan pajak dan bersifat bukan Retribusi Jasa umum atau ii. yaitu melalui kegiatan pembinaan dan pengaturan guna PeningkatanKualitasHubunganKeuanganPusatdanDaerah DalamMendorongPertumbuhanEkonomi Pemberian izin dimaksudkan untuk melindungi kepentingan III-35 .

dengan ketentuan: a. Negeri untuk dievaluasi.menjaga ketertiban umum dan melalui kegiatan pengawasan dan izin tersebut. suatu rancangan Perda tentang PDRD. III-36 SistemPendanaandiDaerah . sebelum ditetapkan menjadi Perda terlebih dahulu harus dievaluasi oleh pemerintah. gubernur dan Menteri Dalam Negeri berkoordinasi dengan Menteri Keuangan agar terdapat sinkronisasi kebijakan fiskal antara pusat dan daerah. Pemungutan pajak daerah dan retribusi daerah harus diatur dengan Perda.4. Rancangan Perda provinsi tentang PDRD yang telah disetujui antara Rancangan Perda kabupaten/kota yang telah disetujui antara bupati/ gubernur dan DPRD provinsi harus disampaikan kepada Menteri Dalam walikota dan DPRD kabupaten/kota harus disampaikan kepada gubernur PRoSEDUR PENETAPAN Dalam proses evaluasi tersebut. iii. Biaya yang menjadi beban daerah dalam penyelenggaraan izin tersebut dan biaya untuk menanggulangi dampak negatif dari retribusi perizinan.1. b. tersebut. menimbulkan dampak negatif karena memerlukan biaya yang cukup pengendalian guna menanggulangi dampak negatif dari pemberian pemberian izin tersebut cukup besar sehingga layak dibiayai dari besar untuk menanggulangi dampak negatif atas pemberian izin Retribusi dikenakan terutama terhadap pemberian izin yang 3. dan untuk dievaluasi.

5) Penetapan. Disamping itu. 7) Kadaluwarsa. 2) Dasar pengenaan. dan pembebasan dalam hal-hal Tata cara penghapusan piutang pajak yang kadaluwarsa. mengenai: 1) Nama. 4) Masa pajak. tarif. objek.Pelengkap Buku Pegangan 2011 Beberapa ketentuan yang perlu diperhatikan dalam penyusunan Perda PDRD adalah sebagai berikut: a. dan cara penghitungan pajak. keringanan. dan subjek pajak. 2. dan Perda tentang retribusi daerah sekurang-kurangnya harus mengatur 3) Cara mengukur tingkat penggunaan jasa yang bersangkutan. berupa pemberian pengurangan. konsulat. mengenai: setiap Perda tentang pajak daerah sekurang-kurangnya harus mengatur 1) Nama. objek. Perda pajak daerah dapat pula mengatur mengenai: tertentu atas pokok pajak dan/atau sanksinya. pembebasan pajak kepada kedutaan. dan/atau Asas timbal balik. 6) Tata cara pembayaran dan penagihan. 3. 2) golongan retribusi. 1. dan perwakilan negara PeningkatanKualitasHubunganKeuanganPusatdanDaerah DalamMendorongPertumbuhanEkonomi III-37 . b. dan 9) Tanggal mulai berlakunya. 8) sanksi administratif. Pemberian pengurangan. keringanan. 3) Wilayah pemungutan. dan subjek retribusi. asing sesuai dengan kelaziman internasional.

4) Prinsip yang dianut dalam penetapan struktur dan besarnya tarif 5) struktur dan besarnya tarif retribusi. 3) Tata cara penghapusan piutang retribusi yang kadaluwarsa.1. dan 11) Tanggal mulai berlakunya. Pengawasan secara preventif dilakukan dengan PENGAwASAN DAN PEMBATALAN mengevaluasi Raperda PDRD yang telah disetujui bersama antara kepala daerah dengan DPRD sebelum ditetapkan menjadi Perda. 9) Penagihan.5. penundaan pembayaran. selanjutnya Menteri Dalam Negeri dan gubernur melakukan evaluasi terhadap Raperda dimaksud dan dalam proses . dan/atau 3. 7) Penentuan 8) sanksi administratif. pengurangan. angsuran. 6) Wilayah pemungutan. 2) Pemberian keringanan. dan pembebasan dalam halhal tertentu atas pokok retribusi dan/atau sanksinya. pembayaran. 10) Penghapusan piutang retribusi yang kadaluwarsa. Hasil evaluasi yang III-38 SistemPendanaandiDaerah persetujuan bersama. dan Disamping itu. Pengawasan dimaksud dilakukan secara preventif dan korektif. Pemerintah melakukan pengawasan terhadap Perda tentang PDRD yang diterbitkan oleh pemerintah daerah. pembayaran. Raperda provinsi disampaikan kepada Menteri Dalam Negeri dan Raperda Kabupaten/Kota disampaikan kepada gubernur paling lambat 3 (tiga) hari kerja setelah evaluasinya berkoordinasi dengan Menteri Keuangan. Perda retribusi daerah dapat juga mengatur mengenai: 1) Masa retribusi. tempat retribusi.

kepala daerah dapat mengajukan keberatan kepada Mahkamah dan tidak mempunyai kekuatan hukum. Jika berlaku. kepala daerah harus menghentikan pelaksanaan Perda dan undangan. Dalam hal Perda bertentangan lebih tinggi maka Menteri Keuangan merekomendasikan pembatalan Perda Negeri dilakukan paling lambat 20 hari kerja sejak tanggal diterimanya dimaksud kepada Presiden melalui Menteri Dalam Negeri. Jika keberatan dikabulkan sebagian atau seluruhnya. Pelanggaran terhadap ketentuan tersebut diatas dikenakan sanksi berupa penundaan atau pemotongan Dana Alokasi umum dan/atau Dana PeningkatanKualitasHubunganKeuanganPusatdanDaerah DalamMendorongPertumbuhanEkonomi III-39 . Jika Pemerintah tidak mengeluarkan Peraturan Presiden untuk membatalkan Perda. Penyampaian Keuangan. pengawasan represif dilakukan terhadap Perda tentang PDRD yang telah ditetapkan oleh pemerintah daerah. Keputusan pembatalan Perda ditetapkan pembatalan.Pelengkap Buku Pegangan 2011 telah dikoordinasikan kepada Menteri Keuangan tersebut dapat berupa persetujuan atau penolakan. putusan Mahkamah Agung tersebut menyatakan Peraturan Presiden menjadi batal rekomendasi pembatalan oleh Menteri Keuangan kepada Menteri Dalam Perda. Perda dimaksud dinyatakan Perda sebagaimana dimaksud. Paling lama 7 hari kerja setelah keputusan dengan alasan-alasan yang dapat dibenarkan oleh peraturan perundang- selanjutnya DPRD bersama kepala daerah mencabut Perda dimaksud. Menteri Dalam Negeri mengajukan permohonan pembatalan dengan Peraturan Presiden paling lama 60 hari kerja sejak diterimanya provinsi/kabupaten/kota tidak dapat menerima keputusan pembatalan Perda Agung. Perda PDRD yang telah lama 7 (tujuh) hari kerja setelah ditetapkan. ditetapkan oleh kepala daerah disampaikan kepada Menteri Keuangan paling dengan kepentingan umum dan/atau peraturan perundang-undangan yang sementara itu. Berdasarkan rekomendasi pembatalan yang disampaikan oleh Menteri Perda dimaksud kepada Presiden.

623 Perda PDRD. mineral.885 Perda diantaranya atau sekitar 36 persen direkomendasikan pembatalannya oleh Menteri Keuangan kepada Menteri Dalam Negeri karena tidak sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang lebih tinggi dan/atau kepentingan umum. sejak tahun 2005 sampai dengan Februari 2011. semenjak digulirkannya otonomi daerah tahun 2001 sampai dengan Februari 2011. energi dan sumber daya sektor ini perlu mendapat perhatian agar tidak kontra produktif dalam upaya III-40 SistemPendanaandiDaerah . serta kebudayaan dan pariwisata. Dari jumlah Perda yang diterima tersebut seluruh Perda telah dievaluasi dan sebanyak 4. pemerintah sebelum ditetapkan menjadi Perda. hanya 895 menjadi Perda. jenis pungutan daerah yang banyak bermasalah terutama pengembangan potensi fiskal daerah dan pembangunan ekonomi daerah. Raperda PDRD harus dievaluasi terlebih dahulu oleh 3.312 Raperda dari Pemerintah Daerah. Menteri Keuangan telah menerima dan mengevaluasi Raperda atau sekitar 27 persen yang dapat secara langsung disetujui dan 63 persen lainnya harus direvisi terlebih dahulu sebelum dapat ditetapkan pembinaan secara terus menerus. Berdasarkan ikhtisar hasil evaluasi Perda dan Raperda PDRD yang dilakukan oleh Pemerintah. Menteri Keuangan telah menerima 13. Dari jumlah tersebut. Kondisi ini merupakan indikasi bahwa pemahaman daerah dalam penyusunan Perda PDRD masih perlu ditingkatkan dan memerlukan dari sektor perhubungan. industri dan perdagangan.Bagi Hasil atau restitusi. Pungutan daerah untuk sektor- Dalam rangka pelaksanaan undang-undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah.

Pelanggaran terhadap substansi pungutan yaitu pemungutan PDRD dipungut berdasarkan Perda yang telah dibatalkan atau sebesar 5 persen dari jumlah Dana Alokasi umum dan/atau DBH Pajak Penghasilan yang disalurkan setiap periode penyaluran.Pelengkap Buku Pegangan 2011 3. yaitu: Tidak Pelanggaran terhadap prosedur penetapan Perda. yang dapat berupa: Penetapan Perda tanpa melalui proses evaluasi.6. Atas pelanggaran substansi Atas pelanggaran prosedur ini dikenakan sanksi berupa penundaan Dana kepada ini dikenakan sanksi berupa pemotongan Dana Alokasi umum dan/atau DBH pajak penghasilan sebesar perkiraan penerimaan PDRD yg telah PeningkatanKualitasHubunganKeuanganPusatdanDaerah DalamMendorongPertumbuhanEkonomi III-41 .1. Pemerintah. pelanggaran di bidang pajak daerah dan Retribusi daerah b. Ketentuan sanksi tersebut diatur lebih lanjut Cara Pengenaan sanksi terhadap Pelanggaran Ketentuan di Bidang Pajak Daerah dan Retribusi Daerah. • • • dapat dibagi dua bagian. berdasarkan Perda yang telah dibatalkan. a. Alokasi umum atau DBH pajak penghasilan sebesar 10 persen untuk setiap periode penyaluran. Pelanggaran terhadap ketentuan di bidang perpajakan daerah dikenakan sanksi berupa penundaan atau pemotongan Dana Alokasi umum dan/atau dana bagi hasil atau restitusi. menyampaikan Perda yang telah Penetapan Perda tanpa mengikuti hasil evaluasi. atau ditetapkan SANKSI dalam Peraturan Menteri Keuangan Nomor 11/PMK.07/2010 tentang Tata secara umum.

1. tarif melampaui tarif maksimum yang ditetapkan dalam undang-undang.3.8. Beberapa kesalahan yang sering dilakukan oleh daerah terkait dengan penetapan Perda tentang PDRD dapat dikemukakan sebagai berikut: 1. tarif tidak ditetapkan secara definitif.1. KESALAHAN MATERI PERDA pada Perda. 4. dalam undang-undang Nomor 28 Tahun 2009 tidak secara otomatis dapat dan Pajak Rokok pada 1 Januari 2014. substansi pungutan tidak sesuai dengan undang-undang. maka undang-undang Nomor 34 Tahun 2000 beserta peraturan pelaksanaanya lagi.7. misalnya dengan Peraturan/Keputusan Kepala Daerah. misalnya ada 3. 2. Kesepahaman. Meskipun demikian. 3. Dengan berlakunya undang-undang Nomor 28 Tahun 2009 tersebut. dan struktur dan besaran tarif Retribusi ditetapkan oleh kepala daerah. atau dokumen selain Perda. pemerintah (seperti Peraturan Pemerintah Nomor 65 dan 66 Tahun 2001) tidak berlaku diberlakukan pada 1 Januari 2011 serta PBB Perdesaan dan Perkotaan mengambil alih pemungutan PBB Perdesaan dan Perkotaan dan Pajak Rokok PELAKSANAAN UNDANG-UNDANG III-42 SistemPendanaandiDaerah . BPHTB baru dapat memberikan peluang kepada pemerintah daerah yang sudah siap untuk sebelum 1 Januari 2014. Masih terdapat pungutan yang dilakukan oleh daerah tanpa didasarkan Materi pengaturan dalam Perda tidak memenuhi standar ketentuan perluasan objek pungutan. Pemberlakuan beberapa jenis pajak daerah yang baru dimunculkan langsung diimplementasikan oleh pemerintah daerah. Nota sebagaimana diatur dalam undang-undang.

notaris/pejabat pembuat akta tanah. Tahun 2009.Pelengkap Buku Pegangan 2011 Terkait dengan undang-undang Nomor 28 Tahun 2009. Dalam menyusun Perda harus mengikuti proses dan prosedur PeningkatanKualitasHubunganKeuanganPusatdanDaerah DalamMendorongPertumbuhanEkonomi III-43 . BPHTB dan Pajak Rokok. Menyusun dan menerbitkan Perda tentang PBB Perdesaan dan Perkotaan Perda tentang PDRD harus memuat seluruh ketentuan yang sekurang- penyusunan Perda sebagaimana diatur dalam undang-undang Nomor 28 pemerintah daerah perlu melakukan konsultasi/koordinasi/sosialisasi dengan intansi terkait (kanwil pajak. Mendahulukan perubahan atau penyesuaian Perda yang diperluas Perda yang berlaku saat ini yang mengatur jenis pajak dan Retribusi yang d. diberlakukan dengan Tidak mengadakan jenis pungutan selain yang ada dalam undangterdapat dalam undang-undang Nomor 28 Tahun 2009 harus disesuaikan dengan undang-undang dimaksud paling lambat 31 Desember 2012. dan Terkait dengan PBB Perdesaan dan Perkotaan. beberapa hal yang perlu dilakukan dan diperhatikan oleh pemerintah daerah. Memilih b. bea dan cukai. badan pertanahan. e. f. dan Pajak Rokok sebelum 1 Januari 2014 atau sebelum pengambilalihan objeknya agar potensi penerimaan dapat dioptimalkan. h. yaitu: a. kurangnya harus diatur dalam Perda tentang PDRD. jenis pungutan yang akan mempertimbangkan potensi daerah (tidak harus memberlakukan semua undang Nomor 28 Tahun 2009. kedua jenis pajak dimaksud. dan lain-lain). c. jenis pungutan yang ada). g.

4. Peraturan Pemerintah Nomor 91 Tahun 2010 tentang Jenis Pajak Peraturan Menteri Keuangan Nomor 147/PMK. 2. dan penetapan. pemerintah daerah perlu Daerah yang Dipungut Berdasarkan Penetapan Kepala Daerah (Official atau Perwakilan Internasional yang Dikecualikan sebagai subjek BPHTB.i. 186/PMK. 5. Terkait dengan PBB Perdesaan dan Perkotaan.07/2010 dan 53 Tahun 2010 tentang Tahapan Pengalihan Perdesaan dan Perkotaan menjadi Pajak Daerah.07/2010 dan 58 Tahun 2010 tentang Tahapan Pengalihan PBB III-44 . Pemberian dan Pemanfaatan Insentif Pemungutan Pajak Daerah dan Assessment) atau Dibayar sendiri oleh Wajib Pajak (Self Assessment).07/2010 tentang Tata Peraturan Bersama Menteri Keuangan dan Menteri Dalam Negeri Nomor Peraturan Bersama Menteri Keuangan dan Menteri Dalam Negeri Nomor atau Perwakilan Internasional yang Dikecualikan sebagai subjek PBB Cara Pengenaan sanksi Terhadap Pelanggaran Ketentuan di Bidang Pajak Daerah dan Retribusi Daerah. SistemPendanaandiDaerah 213/PMK. 6.07/2010 tentang Badan Peraturan Menteri Keuangan Nomor 148/PMK. Retribusi Daerah. pendataan. penilaian.07/2010 tentang Badan Peraturan Menteri Keuangan Nomor 11/PMK. Peraturan Pemerintah Nomor 69 Tahun 2010 tentang Tata Cara memperpersiapkan sDM khususnya tenaga administrator. Perdesaan dan Perkotaan. 3. Beberapa peraturan pelaksanaan terkait dengan undang-undang Nomor 28 Tahun 2009 yang telah ditetapkan oleh Pemerintah adalah: 1. 7. BPHTB menjadi Pajak Daerah.

subjek dan wajib BPHTB dalam undang-undang ini relatif telah cukup rinci.1. ditetapkan dengan Peraturan Kepala Daerah. yaitu: 1. baik menyangkut cakupan objek. Namun demikian. karakteristik daerah sepanjang tidak melanggar ketentuan pokok yang ditetapkan dalam undang-undang. pemungutan BPHTB pertama yang harus dilakukan oleh daerah adalah menetapkan Perda tentang pajak. tarif pajak. langkah BPHTB. membangun sarana dan untuk pemungutan BPHTB. Perda ini merupakan landasan hukum yang mengatur kebijakan BPHTB di suatu daerah. sebagaimana halnya dengan jenis pajak daerah lainnya. mulai dari penyusunan Standard Operating Procedures (soP) yang menyiapkan sumber daya manusia (sDM) untuk memungut BPHTB (melalui PeningkatanKualitasHubunganKeuanganPusatdanDaerah DalamMendorongPertumbuhanEkonomi III-45 . 2. dasar pengenaan pajak. oleh karena itu. Penyusunan Perda tersebut dilakukan dengan daerah dapat menyesuaikan Perda BPHTB dengan kondisi masyarakat dan langkah kedua yang perlu dipersiapkan daerah adalah teknis pemungutan prasarana pemungutan pajak (termasuk menyediakan komputer dengan spesifikasi untuk mengunduh data NJOP guna validasi pembayaran BPHTB). dengan undang-undang Nomor 28 Tahun 2009 yang sedang disiapkan oleh Peraturan Pemerintah tentang Retribusi Daerah Tambahan yang Peraturan Menteri Keuangan tentang Tata Cara Pemungutan dan 3.Pelengkap Buku Pegangan 2011 Disamping peraturan diatas. terdapat 2 (dua) peraturan pelaksanaan terkait Pemerintah. Penyetoran Pajak Rokok. dan ketentuan lain yang diperlukan BPHTB DAN PBB P-2 hanya dapat dilakukan dengan menerbitkan Perda. mengacu pada ketentuan dalam uu Nomor 28 Tahun 2009 karena pengaturan BPHTB.9. penerbitannya disesuaikan dengan kebutuhan.

lainnya untuk menyampaikan kebijakan baru di bidang PDRD. konsultasi. dan lain-lain). Tim ini juga Nomor 186/PMK. hanya instansi Pemerintah di pusat tetapi juga Kantor Wilayah Ditjen Pajak. dan penyediaan e-learning. langkah ketiga yang perlu dipersiapkan adalah upaya pendukung kelancaran melakukan kerjasama dengan pihak terkait. magang. 1. bimbingan teknis. Kantor Pelayanan Pajak Pratama.07/2010 dan Nomor 53 Tahun 2010 tentang Tahapan III-46 SistemPendanaandiDaerah . antara lain: ini dilakukan sejak oktober 2009 sampai sekarang. Perbankan.pelatihan. Disamping mempersiapkan peraturan pelaksanaan Persiapan Pengalihan BPHTB yang bertugas dilakukan sejak oktober 2009 sampai sekarang. dengan melibatkan tidak Memberikan bimbingan teknis dan fasilitasi kepada seluruh Pemda 3. dan Balai Pelatihan Keuangan yang ada di daerah. Kantor Pertanahan. Kegiatan pelatihan.07/2010 serta Peraturan Bersama Menteri Keuangan dan Menteri Dalam Negeri Persiapan Pengalihan BPHTB menjadi pajak daerah). pemungutan BPHTB. serta membuka rekening pada bank yang sehat. mempersiapkan berbagai hal yang berkaitan dengan pengalihan BPHTB tentang Pengecualian lembaga internasional dari pengenaan BPHTB BPHTB (Peraturan Menteri Keuangan Nomor 147/PMK. Kantor lelang. Masyarakat) dan Pemerintah telah melakukan berbagai langkah. Daerah harus melakukan sosialisasi tentang kebijakan BPHTB kepada seluruh pemangku kepentingan di daerah tersebut (Notaris. 2. Membentuk Tim dari pusat ke daerah. Kegiatan untuk membantu daerah dalam rangka pemungutan BPHTB. PPAT. Melakukan sosialisasi kepada seluruh Pemda dan pemangku kepentingan untuk mempersiapkan pengalihan BPHTB menjadi pajak kabupaten/kota.

template soP BPHTB. sebagai public announcement bahwa pemerintah pemungutan BPHTB mulai 1 Januari 2011. pertimbangan. mempercepat persiapan pemungutan BPHTB. dan menginformasikan spesifikasi komputer yang diperlukan untuk membaca yang dapat digunakan oleh Pemda untuk menyusun soTK. tentang struktur organisasi pemungutan BPHTB. serta organisasi dan tata kerja Direktorat Jenderal Pajak yang selama ini mengelola BPHTB Membantu daerah dalam melakukan persiapan pemungutan BPHTB 5. mendorong NJoP dalam rangka validasi pembayaran BPHTB. 7. Namun terdapat sejumlah Pemda lainnya yang belum menerbitkan Perda BPHTB karena berbagai kendala dan prolegda 2010.Pelengkap Buku Pegangan 2011 4. daerah Melalui langkah-langkah tersebut di atas. Mendorong daerah untuk mempercepat penerbitan Perda BPHTB 2 Desember 2010. sejumlah langkah lainnya dilakukan untuk Menyusun dan menyerahkan aplikasi pembaca NJoP kepada Pemda. rancangan Perda sedang dievaluasi oleh gubernur dan rancangan Perda BPHTB belum masuk PeningkatanKualitasHubunganKeuanganPusatdanDaerah DalamMendorongPertumbuhanEkonomi III-47 . dengan menyediakan template Perda BPHTB. belum selesai pembahasan Rancangan Perda bersama DPRD. antara lain: Januari 2011. antara lain: potensi BPHTB di daerahnya relatif kecil. 6. sejumlah daerah telah melakukan b. a. berfungsi sebagai “Help-Desk” untuk membantu daerah mengatasi berbagai masalah dalam proses pengalihan BPHTB. Menerbitkan Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 56 Tahun 2010 Melakukan launching BPHTB dan PBB-P2 di surabaya pada tanggal pusat mengalihkan pemungutan BPHTB kepada daerah sejak 1 dan mengingatkan implikasinya apabila pada tanggal 1 Januari 2011 Perda BPHTB belum diterbitkan.

Kesiapan Perda Perda yang telah siap Belum ada informasi Total Jumlah Daerah 373 85 34 Potensi Penerimaan 7.0 0. menimbulkan beberapa implikasi sebagai berikut: 1. 3.926 100 III-48 SistemPendanaandiDaerah .733.9 Potensi Penerimaan * 96.400.597 240.362.730 66.462. Tabel 3. 1.399.8 (%) 17.416.3 100 6.2 (%) 3. sudah sepenuhnya menjadi Pendapatan Asli Daerah. 2.711.599 (Rp) Raperda (dalam proses) sumber : Direktorat Jenderal Perimbangan Keuangan *) Potensi penerimaan BPHTB dihitung berdasarkan data realisasi penerimaan BPHTB tahun 2010 492 8.320. 3. maka kewajiban lunas Daerah yang belum atau tidak menetapkan Perda tentang BPHTB tidak Berdasarkan pemantauan yang dilakukan. perkembangan kesiapan daerah dalam pemungutan BPHTB sampai tanggal 11 April 2011 adalah sebagaimana digambarkan dalam tabel berikut.3 Kesiapan Daerah Memungut BPHTB (Posisi tanggal 11 April 2011) Jumlah Daerah 75.018. 2.536.8 juga tidak lagi memperoleh dana bagi hasil BPHTB karena jenis pajak ini Disamping tidak memperoleh pendapatan dari BPHTB. ditetapkan. daerah tersebut No. dapat memungut BPHTB sejak 1 Januari 2011 sampai Perda BPHTB bayar BPHTB dalam proses administrasi pengalihan hak atas tanah dan bangunan menjadi gugur. Karena di daerah tersebut tidak ada Perda BPHTB.Belum atau tidak ditetapkannya Perda BPHTB tersebut.

P2 menjadi pajak daerah: a. diketahui bahwa masih ada 62 daerah kabupaten/kota menjadi pajak daerah. sesuai amanat Pasal 182 angka 1 uu 28/2009.Pelengkap Buku Pegangan 2011 Dari langkah-langkah yang telah dilakukan Pemerintah dalam memperlancar pengalihan BPHTB menjadi pajak kabupaten/kota hasilnya cukup memadai. Pemerintah telah melakukan beberapa hal-hal sebagai berikut: kewenangan pemungutan PBB-P2 dialihkan menjadi pajak daerah. 1. sebagaimana diatur dalam Pasal 180 angka 5 uu No. penerimaan BPHTB. Pemerintah akan secara terus menerus memberikan bantuan dan fasilitasi agar daerah ini dapat menyelesaikan persiapan selanjutnya. dalam rangka pengalihan kewenangan pemungutan PBB-P2 28/2009. dan Peraturan Bersama Menteri Keuangan dan Menteri Dalam Negeri Nomor: 213/PMK. 2. Meskipun demikian.07/2010 dan Nomor: 58 Tahun 2010 tentang PeningkatanKualitasHubunganKeuanganPusatdanDaerah DalamMendorongPertumbuhanEkonomi III-49 . stakeholder terkait sejak bulan oktober 2009 sampai saat ini. Daerah ini mewakili 98.5 persen dari potensi penerimaan BPHTB. telah selesai dan sedang yang belum diketahui secara pasti kesiapan Perda BPHTBnya.2 persen dari jumlah daerah. Melakukan sosialisasi kepada mempersiapkan Perda BPHTB.2 persen dari total ini hanya memiliki sekitar 2. Hal ini terlihat dari data di atas dimana sekitar 444 daerah kabupaten/ kota atau 90. seluruh Pemerintah Daerah Dari data tersebut. untuk menyampaikan kebijakan baru bahwa paling lambat 31 Desember 2013 Mempersiapkan dan menyusun peraturan pelaksanaan pengalihan PBBTahapan Persiapan Pengalihan PBB-P2 sebagai Pajak Daerah. namun daerah pemungutan BPHTB sesegera mungkin.

sebagai pelaksanaan dari Peraturan Bersama Menteri Keuangan dan Menteri organisasi Perangkat Daerah. Peraturan tersebut merupakan dasar/pedoman pemungutan PBB-P2. sebagai amanat Pasal 77 ayat (3) huruf f uu 28/2009. dengan saat ini dengan melibatkan perangkat pusat di daerah.b. maupun Badan Pendidikan dan Pelatihan Keuangan (BPPK). Menteri Dalam Negeri telah menetapkan Permendagri Nomor 56 Tahun 2010 tentang perubahan Permendagri 57/2007 tentang Petunjuk Teknis Penataan bagi Pemerintah Daerah dalam menyusun struktur organisasi dan tata kerja Bersama Menteri Keuangan dan Menteri Dalam Negeri. organisasi dan tata kerja pemungutan PBB-P2 yang selama III-50 SistemPendanaandiDaerah mengkompilasi dan mengirimkan peraturan pelaksanaan. 3. awareness dan memotivasi daerah agar pada tanggal 2 Desember 2010 di surabaya yang bertujuan untuk menumbuhkan sebagai public announcement sekaligus pertanggungjawaban pemerintah kepada masyarakat terkait kebijakan perpajakan. Pemerintah telah Procedure (soP). sebagaimana diatur dalam Peraturan mempercepat dan memperlancar proses Dalam Negeri Nomor: 213/PMK.07/2011 tentang PBB-P2. Peratuan Menteri Keuangan Nomor: 148/PMK. System Operating ini dilakukan oleh Ditjen Pajak yang dapat dijadikan acuan oleh Pemerintah pengalihan . Kantor Pelayanan Pajak Pratama. baik Kantor Wilayah DJP. kegiatan ini pemungutan PBB-P2 yang dilakukan mulai bulan oktober 2009 sampai Melakukan launching pengalihan PBB-P2 menjadi pajak daerah Badan atau Perwakilan lembaga Internasional yang Tidak Dikenakan segera 4. Dalam rangka kewenangan pemungutan PBB-P2. Memberikan pelatihan/bimbingan teknis untuk membantu daerah dalam menyiapkan infrastruktur yang diperlukan. Di sisi lain.07/2010 dan Nomor: 58 Tahun 2010.

sarana dan prasarana). kewenangan pemungutan PBB-P2 dapat berjalan dengan baik. masih menghadapi tantangan yang terus berupaya untuk melakukan reformulasi kebijakan Dana Perimbangan PeningkatanKualitasHubunganKeuanganPusatdanDaerah DalamMendorongPertumbuhanEkonomi daerah melalui alokasi Dana Bagi Hasil (DBH) dan meminimalkan kesenjangan cukup berat dengan adanya alokasi dana penyesuaian tertentu yang belum sepenuhnya berdasarkan formula dan kriteria. Kebijakan dan implementasi Transfer ke Daerah sebagai instrumen utama PENDAHULUAN desentralisasi fiskal di Indonesia selama 11 tahun (2001-2011) telah memberikan manfaat yang cukup signifikan bagi peningkatan sumber pendanaan di daerah provinsi. hasil penggandaan basis data PBB-P2 sebelum Tahun pengalihan. Pemerintah III-51 . Keberhasilan kebijakan Transfer ke Daerah dalam mengurangi ketimpangan vertikal antara pusat dan fiskal antar daerah melalui DAu dan DAK.2. selain itu. dan kota.2. peta desa/kelurahan. peta blok.Pelengkap Buku Pegangan 2011 Daerah. perangkat hukum (Perda dan Peraturan Kepala Daerah). TRANSFER KE DAERAH 3.1. salinan dan hasil penggandaan sistem Aplikasi PBB-P2 beserta source code. kabupaten. persiapan teknis pemungutan (sistem. data. sK Menteri Keuangan mengenai NJoPTKP softcopy. sumber daya manusia. Namun demikian. dan peta zona nilai tanah dalam bentuk P2 beserta berkas pendukungnya. langkah-langkah tersebut akan terus dilakukan oleh Pemerintah untuk mendorong dan membantu Pemerintah Daerah dalam mempersiapkan maupun persiapan lainnya (sosialisasi dan kerjasama) sehingga pengalihan 3. Pemerintah juga telah mengkompilasi: data piutang PBByang berlaku dalam kurun waktu 10 tahun sebelum tahun pengalihan.

sehingga mempunyai peranan yang sangat penting dalam mendukung pelaksanaan desentralisasi fiskal dan otonomi daerah.8 miliar dan DAK sebesar Rp25. terdiri dari DBH sebesar Rp83. pembagian urusan pemerintahan. fiskal antara pusat & daerah dan antar daerah. Dana Perimbangan tahun 2011 dialokasikan dalam alokasi Pemerintah terus berupaya melakukan perbaikan (continuous improvement) terhadap mekanisme penyaluran Transfer ke Daerah. 3. Dana otonomi Khusus dan Penyesuaian pada Tahun 2011 sebesar Rp334.8 miliar. dapat dilihat dari telah direvisinya Peraturan Menteri Keuangan Nomor SistemPendanaandiDaerah dengan rencana pembangunan daerah. Dana Perimbangan merupakan komponen terbesar Perimbangan. dan meningkatkan sinkronisasi antara rencana pembangunan nasional Kebijakan alokasi Dana Transfer ke Daerah yang terdiri dari Dana sebesar Rp225.4 miliar. daerah. Perbaikan tersebut III-52 .324.980. 2. 6.0 miliar.558.3 miliar.232. 7. kesenjangan pelayanan publik antar daerah.532. 5. DAu Transfer ke Daerah. 4. kebijakan Transfer ke Daerah tetap diarahkan untuk : 1. untuk mendukung reformulasi kebijakan yang berkelanjutan. sebesar Rp392. maka arah meningkatkan kapasitas fiskal daerah dan mengurangi kesenjangan menyelaraskan kebutuhan pendanaan di daerah sesuai dengan meningkatkan kualitas pelayanan publik di daerah dan mengurangi meningkatkan kemampuan daerah dalam menggali potensi ekonomi meningkatkan efisiensi pemanfaatan sumber daya nasional. mendukung kesinambungan fiskal nasional.setiap tahun sehingga diharapkan dapat mendukung kebutuhan pendanaan pembangunan terutama kepada daerah-daerah marjinal.

(4) mempercepat pelaksanaan kegiatan/pembangunan daerah dengan semakin Realisasi Anggaran (lRA) Transfer ke Daerah.07/2008 tentang Pelaksanaan dan Pertanggungjawaban Anggaran Transfer ke Daerah menjadi Peraturan Menteri Keuangan Nomor 21/ 126/PMK. (3) memberikan kepastian terhadap dan dilaksanakan oleh Kantor Pelayanan Perbendaharaan Negara (KPPN) PMK. (2) mendorong pelaksanaan sistem penerimaan kas daerah sehingga daerah dapat mengatur pola belanja. (7) meningkatkan akuntabilitas penyusunan laporan PeningkatanKualitasHubunganKeuanganPusatdanDaerah DalamMendorongPertumbuhanEkonomi III-53 . Perbaikan mekanisme penyaluran anggaran Transfer ke Daerah tersebut terutama dimaksudkan untuk memperbaiki efektifitas dan efisiensi penyaluran. dan (8) meningkatkan akurasi dengan pelaksanaan kegiatan yang lebih awal. (c) mempercepat proses penyaluran DAK dari Implementasi perbaikan mekanisme penyaluran tersebut telah memberikan dampak positif terhadap pengelolaan keuangan daerah. yaitu: (a) mempercepat penyaluran PBB Bagian Daerah yang sebelumnya dilaksanakan secara bulanan menjadi mingguan melalui Bank operasional III. (b) mempertegas penyaluran DBH Cukai Hasil empat tahap menjadi tiga tahap. (5) mengurangi sisa anggaran pada akhir tahun sistem Informasi Keuangan Daerah (sIKD).07/2009 dan direvisi lagi dengan Peraturan Menteri Keuangan Nomor mempercepat penyelesaian Perda APBD. Tembakau secara triwulanan. (6) mempercepat tersedianya data realisasi transfer.07/2010. yakni: (1) treasury single account dengan disalurkannya semua dana transfer melalui cepat tersedianya dana.Pelengkap Buku Pegangan 2011 04/PMK. satu rekening bank yang ditunjuk daerah.

daerah itu sendiri. namun obyek dan atau subyek pajaknya berada di Pemerintah Pusat.2. Memberikan insentif kepada daerah dalam melaksanakan program kegiatan yang dilimpahkan oleh Pemerintah Pusat. Memberikan kompensasi kepada daerah atas timbulnya beban dari III-54 SistemPendanaandiDaerah .2. daerah.2. secara mandiri. rangka menyelenggarakan undang Nomor 33 Tahun 2004 dan Peraturan Pemerintah Nomor 55 Tahun pemerintahan di daerah tidak seimbang dengan besarnya pendapatan Keterbatasan kemampuan pemerintah daerah dalam pengumpulan dana Adanya jenis penerimaan pajak dan atau bukan pajak yang berdasarkan Memperkecil kesenjangan ekonomi antar daerah. 4.3. Kebutuhan pendanaan daerah dalam kepada daerah dengan proporsi yang telah ditetapkan berdasarkan undangpemerintahan di daerah. pertimbangan tertentu pemungutannya harus dilaksanakan oleh Pemerintah Pusat. 2. 6. 5. 3. DANA BAGI HASIL dana bagi hasil Pajak Penerimaan pajak yang diperoleh Pemerintah dalam APBN dibagihasilkan 2005 yang ditujukan dalam rangka memperkecil kesenjangan keuangan antara Pemerintah dan pemerintah daerah untuk mendanai penyelenggaraan Kebijakan adanya DBH Pajak ini dilatarbelakangi oleh: 1.2. 3. Penyempurnaan mekanisme perhitungan dan penyediaan data DBH Pajak perlu didukung oleh instansi teknis terkait di tingkat pusat maupun daerah agar penerimaan pajak dan DBH lebih optimal.1.

orang Pribadi Dalam Negeri. sesuai dengan undang-undang Nomor 28 Tahun 2009 tentang Pajak Daerah dan Retribusi Daerah. mulai tahun 2011.1 Persentase Pembagian Dana Bagi Hasil Pajak PeningkatanKualitasHubunganKeuanganPusatdanDaerah DalamMendorongPertumbuhanEkonomi III-55 . c) Cukai Hasil Tembakau (dialokasikan sejak tahun 2009).Pelengkap Buku Pegangan 2011 Proporsi DBH Pajak yang diterima oleh daerah ditentukan berdasarkan formula persentase tertentu sesuai dengan peraturan yang berlaku. BPHTB sudah dialihkan menjadi pajak daerah terhitung gambar 3. DBH Pajak bersumber dari: a) PPh Pasal 21 dan Pajak Penghasilan (PPh) Pasal 25/Pasal 29 Wajib Pajak b) Pajak Bumi dan Bangunan (PBB).

sebagai dasar penyaluran triwulan I. 8. yang ditetapkan oleh Menteri Keuangan paling lambat bersangkutan dengan bagian yang sama besar. komposisi sebagai berikut: • • dialokasikan kepada Pemerintah Daerah dalam bentuk DBH. Bagian Pemerintah sebesar 80 persen . Bagian pemerintah daerah sebesar 20 persen . a. kembali dengan rincian : dan c. e.1. 2 (dua) bulan sebelum tahun anggaran yang bersangkutan dilaksanakan. II. Pajak Negara dari PPh Pasal 21 dan PPh Pasal 25 dan 29 orang Pribadi b. Pajak Penghasilan (PPh) wajib Pajak orang Pribadi Dalam Negeri (wPoPDN) dan PPh Pasal 21 Alokasi DBH PPh didasarkan pada Peraturan Pemerintah Nomor 55 Tahun Alokasi Dana Bagi Hasil PPh 2005 tentang Dana Perimbangan. yang ditetapkan oleh Menteri Keuangan paling lambat Alokasi sementara. sebagai dasar penyaluran triwulan IV dengan memperhitungkan jumlah dana yang Alokasi definitif.6 persen untuk seluruh kabupaten/kota dalam provinsi yang III-56 SistemPendanaandiDaerah . 3. telah dicairkan selama triwulan I. akan dibagi d. II. dan III. dimana ditetapkan masing-masing sebesar 20 persen. yang dibagi kembali dengan Bagian daerah kabupaten atau kota sebesar 12%.4 persen untuk kabupaten/kota tempat wajib pajak terdaftar. dan III tahun anggaran berjalan pada bulan pertama triwulan IV tahun anggaran berjalan. Bagian daerah provinsi sebesar 8 persen .

2 persen untuk daerah provinsi. yang dasar penyaluran tahun anggaran berjalan. Alokasi Dana Bagi Hasil PBB daerah dalam DBH.8 persen untuk daerah kabupaten/kota yang bersangkutan. 16. DBH Pajak Bumi dan Bangunan (PBB) A.Pelengkap Buku Pegangan 2011 2. sebagai berikut: 3) Bagian pemerintah daerah 90 persen. 6) Penyaluran DBH PBB didasarkan atas perkiraan alokasi. 6. 1) Penerimaan Negara dari PBB dialokasikan kepada pemerintah 2) Bagian Pemerintah 10 persen. perkiraan alokasi merupakan dasar PeningkatanKualitasHubunganKeuanganPusatdanDaerah DalamMendorongPertumbuhanEkonomi III-57 . 9 persen untuk biaya pemungutan PBB.5 persen dibagikan sebagai insentif kepada daerah kabupaten/ 5) Bagian daerah dari PBB sebesar 90% tersebut diperinci dengan imbangan: 64.5 persen dibagi secara merata kepada seluruh kabupaten/kota. 4) Bagian pemerintah pusat dibagi kembali ke daerah dengan imbangan kota yang realisasi penerimaan PBB sektor pedesaan dan perkotaan pada TA sebelumnya mencapai/ melampaui rencana penerimaan yang ditetapkan. 25 persen dan 50 persen. 3. ditetapkan oleh Menteri Keuangan paling lambat 2 (dua) bulan sebelum tahun anggaran yang bersangkutan dilaksanakan. sebagai penyaluran tahap I dan II dimana ditetapkan masing-masing sebesar 7) untuk DBH PBB bagian Pusat.

terlebih dahulu dikurangi dengan NJoP-TKP (Nilai Jual obyek SistemPendanaandiDaerah III-58 . NJoP ditentukan melalui Jual Kena Pajak (NJKP). Dalam tahap III ini dialokasikan mencapai/melampaui rencana penerimaan yang ditetapkan. dan 20 persen untuk obyek pajak lainnya. penilaian yang diklasifikasikan dan digolongkan berdasarkan nilai perbandingan harga dengan obyek lain yang sejenis atau nilai Nilai Jual obyek Pajak (NJoP) per m2. sebagai dasar penyaluran tahap III dengan memperhitungkan jumlah dana yang telah dicairkan selama tahap I dan II. pula insentif kepada kabupaten/kota yang realisasi penerimaan PBB sektor Pedesaan dan Perkotaan pada tahun anggaran sebelumnya B. sedangkan untuk NJKP Assessment Ratio perhutanan.5 % X(40 % X NJoP) 4) NJoP sebagai dasar pengenaan PBB sebelum dihitung beban PBB- nya. serta 3) Dengan dasar perhitungan di atas maka perhitungan PBB adalah = 0. 1 milyar atau lebih. sebagai berikut: = tarif X NJKP = (20% X NJoP) 2) Tarif untuk pengenaan PBB ditetapkan sebesar 0. prognosa realisasi penerimaan oleh Ditjen Pajak ditetapkan sebagai dasar alokasi definitif.5 persen dari Nilai yang berlaku saat ini adalah 40 persen untuk obyek pajak perumahan dengan NJoP Rp. Perhitungan Dana Bagi Hasil PBB 1) Besaran PBB yang dibebankan ke wajib pajak tergantung hasil perolehan baru.8) untuk DBH PBB bagian Pusat. atau NJoP Pengganti. bidang usaha perkebunan.

Dalam pengelolaan dan penggunaannya. besarnya pajak terutang. yaitu (1) peningkatan bahan baku industri hasil tembakau. dan 30 persen persetujuan Menteri Keuangan.Pelengkap Buku Pegangan 2011 5) Pengenaan PBB diberitahukan kepada Wajib Pajak dengan berisikan antara lain nama serta alamat wajib pajak.000.(delapan juta rupiah). DBH Cukai Hasil Tembakau (DBH CHT) 2007 yang bersumber dari penerimaan cukai hasil tembakau yang diproduksi sebesar 2 persen. mendorong. (2) pembinaan industri hasil tembakau. dan melaksanakan kegiatan sesuai dengan kedalam 5 (lima) kelompok kegiatan utama. dengan komposisi 30 persen untuk provinsi menggerakkan. Pembagian DBH CHT dilakukan dengan untuk kabupaten/kota lainnya. (3) kegiatan utama menjadi rincian kegiatan. Nomor 39 Tahun 2007 tersebut mengamanatkan penggunaan DBH CHT dan (5) pemberantasan barang kena cukai ilegal. gubernur dalam negeri yang dibagikan kepada provinsi penghasil cukai hasil tembakau menetapkan pembagian dana bagi hasil cukai hasil tembakau kepada bupati/ penerimaan cukai hasil tembakaunya. gubernur/bupati/walikota bertanggung jawab untuk walikota di daerahnya masing-masing berdasarkan besaran kontribusi penghasil. Pajak Tidak Kena Pajak) per Wajib Pajak sebesar Rp. untuk menjabarkan lima III-59 . Dalam pelaksanaannya. menerbitkan surat Pemberitahuan Pajak Terutang (sPPT) yang DBH CHT merupakan amanat Pasal 66A undang-undang Nomor 39 Tahun 3.8. undang-undang pembinaan lingkungan sosial. (4) sosialisasi ketentuan di bidang cukai.000. serta data-data mengenai obyek pajak. Menteri Keuangan menetapkan PeningkatanKualitasHubunganKeuanganPusatdanDaerah DalamMendorongPertumbuhanEkonomi prioritas dan karakteristik daerah masing-masing daerah. 40 persen untuk kabupaten/kota daerah penghasil.

Peraturan Menteri Keuangan Nomor 84/PMK. yang meliputi: b) Pembudidayaan bahan baku dengan kadar nikotin rendah. c) Pembentukan kawasan industri hasil tembakau. meliputi: (i) Perpindahan kepemilikan mesin/peralatan mesin produksi Identitas kepemilikan mesin/peralatan mesin produksi hasil d) Pemetaan industri hasil tembakau berupa kegiatan pengumpulan data yang berkaitan dengan industri hasil tembakau di suatu daerah. 1) Peningkatan kualitas bahan baku industri hasil tembakau.07/2009 sebagai berikut: a) standardisasi kualitas bahan baku. Nama pabrik. (NPPBKC). kapasitas. hasil tembakau. asal negara pembuat). Nomor Pokok Pengusaha Barang Kena Cukai III-60 SistemPendanaandiDaerah .07/2008 jo Peraturan Menteri Keuangan Nomor 20/PMK. produksi hasil c) Pengembangan sarana laboratorium uji dan pengembangan metode e) Penguatan kelembagaan kelompok petani bahan baku untuk industri (registrasi mesin/ peralatan mesin) dan memberikan tanda khusus. tipe. pengujian. (merek. Jumlah mesin/peralatan mesin produksi hasil tembakau di tembakau (iii) (iv) Identitas mesin/peralatan mesin produksi hasil tembakau b) Penerapan ketentuan terkait Hak Atas Kekayaan Intelektual (HAKI). dan mesin/peralatan mesin hasil tembakau. yang meliputi: a) Pendataan (i) (ii) setiap pabrik atau tempat lainnya. dan nomor izin usaha industri. tembakau. d) Penanganan panen dan pascapanen bahan baku. dan/atau 2) Pembinaan industri hasil tembakau.

dan Jumlah tenaga kerja linting/ giling. f) pengadaan bahan baku. dan kapasitas mesin/peralatan mesin produksi hasil tembakau. kota/kabupaten. dan tenaga kerja lainnya.Pelengkap Buku Pegangan 2011 (ii) (iii) (iv) (v) (vi) lokasi/alamat pabrik (jalan/desa. meliputi : rendah melalui penerapan Good Manufacturing Practices (gMP). Realisasi pembayaran cukai. dan/atau rokok. untuk merokok di tempat umum. provinsi). h) Pengembangan industri hasil tembakau dengan kadar tar dan nikotin a) Pembinaan kemampuan dan ketrampilan kerja masyarakat di lingkungan industri hasil tembakau dan/atau daerah penghasil kepada Analisis Dampak lingkungan (AMDAl). (vii) (viii) Jumlah. e) Asal daerah bahan baku (tembakau dan cengkih). dan/atau 3) Pembinaan lingkungan sosial. Wilayah pemasaran. bahan baku industri hasil tembakau. tipe. merek. g) Penguatan kelembagaan asosiasi industri hasil tembakau. Realisasi produksi. tenaga kerja pengemasan. Jumlah alat linting. Kemitraan usaha Kecil Menengah (uKM) dan usaha besar dalam b) Penerapan manajemen limbah industri hasil tembakau yang mengacu c) Penetapan kawasan tanpa asap rokok dan pengadaan tempat khusus d) Peningkatan derajat kesehatan masyarakat dengan penyediaan fasilitas perawatan kesehatan bagi penderita akibat dampak asap PeningkatanKualitasHubunganKeuanganPusatdanDaerah DalamMendorongPertumbuhanEkonomi III-61 .

Penguatan ekonomi masyarakat di lingkungan industri hasil 4) sosialisasi ketentuan di bidang cukai merupakan kegiatan menyampaikan ketentuan di bidang cukai kepada masyarakat yang bertujuan agar insidentil. akibat dari adanya kenaikan tarif cukai hasil . dan mendorong pertumbuhan ekonomi daerah.07/2010 tanggal 27 April 2010 tentang Prioritas Penggunaan Dana Bagi Hasil Cukai tembakau yang diperkirakan berdampak pada terbatasnya kesempatan III-62 SistemPendanaandiDaerah Hasil Tembakau TA 2010. di peredaran atau tempat penjualan eceran. gubernur/ bupati/walikota menyampaikan 5) Pemberantasan barang kena cukai ilegal. memahami. meliputi: ditemukan indikasi adanya hasil tembakau yang dilekati pita cukai sesuai surat Edaran Menteri Keuangan Nomor sE-151/MK. masyarakat mengetahui. dan mematuhi ketentuan di bidang cukai yang dilaksanakan dalam periode tertentu dan/atau secara a) Pengumpulan informasi hasil tembakau yang dilekati pita cukai palsu b) Pengumpulan informasi hasil tembakau yang tidak dilekati pita cukai di peredaran atau tempat penjualan eceran. hasil tembakau yang tidak dilekati pita cukai di peredaran atau informasi secara tertulis kepada Direktorat Jenderal Bea dan Cukai. pengangguran. mengurangi dilaksanakan antara lain melalui bantuan permodalan dan sarana produksi. dan palsu.e) Penguatan sarana dan prasarana kelembagaan pelatihan bagi tenaga f) kerja industri hasil tembakau. dan/atau tembakau dalam rangka pengentasan kemiskinan. c) Apabila dalam pelaksanaan kegiatan pengumpulan informasi tempat penjualan eceran.

Penjabaran tersebut masing¬-masing kegiatan dilengkapi dengan kerangka acuan (Term of PeningkatanKualitasHubunganKeuanganPusatdanDaerah DalamMendorongPertumbuhanEkonomi III-63 . Keberhasilan pemanfaatan DBH CHT sebagaimana diatur dalam Peraturan Menteri Keuangan Nomor 84/PMK. Kegiatan ini lebih diarahkan untuk penguatan dalam rangka pengentasan kemiskinan. mengurangi pengangguran. Kegiatan ini lebih diarahkan untuk kerja industri tembakau. pemberantasan rokok/pita cukai ilegal. 3. Pembinaan kemampuan dan keterampilan kerja masyarakat di lingkungan industri hasil tembakau dan/atau daerah penghasil bahan pembinaan kemampuan dan keterampilan kerja dalam rangka alih profesi tenaga kerja. melalui bantuan permodalan dan sarana produksi. dilaksanakan antara lain dan tidak dilekati pita cukai di peredaran atau tempat penjualan eceran.Pelengkap Buku Pegangan 2011 kerja di industri rokok kecil (golongan III) dan beredarnya rokok ilegal maka dihimbau kepada gubernur/Bupati dan Walikota agar menetapkan prioritas penggunaan DBHCHT untuk kegiatan sebagai berikut: 1. 4.07/2009 adalah tergantung dari bagaimana para gubernur/ DBH CHT sesuai dengan kondisi dan kebutuhan daerah. agar berkoordinasi dengan kantor Bea dan cukai setempat dalam rangka 2. sarana dan prasarana balai latihan kerja dalam mendukung alih profesi.07/2008 dan Peraturan Menteri Keuangan bupati/walikota menjabarkan lebih lanjut kegiatan-kegiatan penggunaan seyogyanya dituangkan dalam peraturan gubernur/bupati/walikota yang Nomor 20/PMK. Penguatan sarana dan prasarana kelembagaan pelatihan bagi tenaga Penguatan ekonomi masyarakat di lingkungan industri hasil tembakau Pengumpulan informasi hasil tembakau yang dilekati pita cukai palsu baku industri hasil tembakau. dan mendorong pertumbuhan ekonomi daerah.

07/2008 dan PMK Nomor Why – mengapa perlu kegiatan tersebut : Penjelasan alasan perlunya. akan menerima manfaat dari keluaran. melalui pengerahan tenaga kerja (padat karya).07/2009. yang telah terjadi sehingga mendorong perlunya solusi melalui kegiatan dibawah sKPD yang sesuai dengan tugas dan fungsinya. melalui koperasi dan sebagainya. 2. dilengkapi dengan data dan gambaran kasus-kasus 4. ToR tersebut sebaiknya meliputi substansi 7W & 2H sebagai berikut: 1. dengan tabel penjadualan How – bagaimana cara melaksanakannya : penjelasan mengenai caracara mencapai keluaran. misalnya melaui proses pengadaan. What – kegiatan apa : nama kegiatan yang akan didanai dari DBH CHT. 6. 5. maksud dan tujuan dari kegiatan tersebut bagaimana cara tersebut. 20/PMK. unit Where – lokasi kegiatan : penjelasan mengenai dimana kegiatan When – waktu kegiatan : penjelasan mengenai waktu mulai dan waktu selesai pelaksanaan kegiatan (lamanya). 7. melaksanakannya. Which – kegiatan yang mana : penjelasan kaitannya dengan salah satu kegiatan yang mana dari PMK Nomor 84/PMK. Who – siapa yang melaksanakan : penjelasan mengenai pelaksanan Whom – siapa penerima manfaat : penjelasan mengenai masyarakat yang dilaksanakan dan dimana keluaran (output) kegiatan akan berada.Reference/ToR) yang komprehensif. III-64 SistemPendanaandiDaerah . 3. 8. pelaksanaan kegiatan rinci dan jelas. kegiatan antara lain satuan Kerja Pemerintah Daerah (sKPD).

dan geothermal karena diasumsikan memiliki walaupun secara teoritis termasuk sumber daya yang terbarukan III-65 . menjaga sebagai tools kelestarian lingkungan saat pra dan pasca eksploitasi sDA. sDA diharapkan dapat pula mendukung daerah-daerah penghasil tersebut kebutuhan daerah dalam menyediakan layanan publik yang lebih memadai. serta membantu mendanai sebagaimana diketahui. Dana Bagi Hasil sumber Daya Alam (DBH sDA) memegang peranan cukup dominan dalam memberikan kontribusi terhadap Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) terutama kepada daerah-daerah dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN). Namun demikian. gas bumi. DBH untuk mendanai penyelenggaraan pembangunan infrastruktur.Pelengkap Buku Pegangan 2011 9. mengurangi Renewable Resources atau tidak dapat diperbaharui.2. pengembangan dari butir how much ini adalah Rincian Anggaran Biaya (RAB).2. keterbatasan input dan tidak terbarukan. dana bagi hasil sumber daya alam 3. sumber penerimaan sDA adalah bersifat Non best practices dapat dibagihasilkan pertambangan umum. hal ini telah menjadi bahan diskusi para akademisi di berbagai negara mengenai batasan dan Beberapa sektor sDA yang menurut antara lain sumber daya mineral yang berasal dari minyak bumi. penerimaan Anggaran penghasil yang bersumber dari Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP) untuk memperkecil kesenjangan vertikal antara Pusat dan Daerah. kriteria penerimaan sDA mana yang dapat dibagihasilkan kepada daerah. terdapat sektor sDA lainnya seperti kehutanan dan perikanan dapat pula dibagihasilkan (replenishable) karena hal ini dimungkinkan dengan asumsi masa pemulihan PeningkatanKualitasHubunganKeuanganPusatdanDaerah DalamMendorongPertumbuhanEkonomi dampak eksternalitas sosial di sekitar lokasi sDA.2. How much – berapa harga kegiatan : penjelasan mengenai sumber dana dan besaran dana yang diperlukan.

DBH sDA berasal dari penerimaan: Pertambangan Minyak Bumi. Nomor 55 Tahun 2005. Pertambangan umum. dan memiliki nilai ekonomi yang cukup signifikan terhadap penerimaan negara. Pertambangan gas Bumi. c. a. e. b. dan Perikanan. Kehutanan. Persentase alokasi DBH sDA ditunjukkan dalam skema berikut: III-66 SistemPendanaandiDaerah . Pertambangan Panas Bumi. Penerimaan DBH sDA sebagaimana diatur dalam Peraturan Pemerintah atas daerah penghasil untuk mendanai kebutuhan daerah dalam rangka pelaksanaan desentralisasi. f. dibagihasilkan kepada daerah dengan angka persentase tertentu didasarkan bersumber dari PNBP dalam APBN yang d. tingkat eksploitasi dan konsumsi lebih tinggi daripada upaya untuk memperbaharuinya.yang relatif lama.

yaitu: menjadi DBH Dana Reboisasi (DBH-DR). Mulai tahun 2006 dilakukan 1) Adanya penambahan obyek dana bagi hasil sumber daya alam. pengalihan Dana Reboisasi (sebelumnya Dana Alokasi Khusus Dana Reboisasi/ penerimaan yang berasal dari kehutanan yakni semula DAK-DR sumber PeningkatanKualitasHubunganKeuanganPusatdanDaerah DalamMendorongPertumbuhanEkonomi III-67 .2 skema Bagi Hasil sDA sumber: undang-undang Nomor 33 Tahun 2004 Beberapa hal baru yang diatur dan ditegaskan dalam hal DBH sDA oleh undang-undang Nomor 33 Tahun 2004 adalah sebagai berikut: • DAK-DR).Pelengkap Buku Pegangan 2011 gambar 3.

Bagian daerah dari minyak bumi menjadi sebesar 30. Bagian Pemerintah dari minyak bumi menjadi sebesar 84.1 persen. sebesar 0. setelah dikurangi komponen pajak dan pungutan lainnya sesuai dengan 5) Tambahan DBH dari pertambangan minyak bumi dan gas bumi untuk daerah sebesar 0. yakni: • • • Jadwal penetapan.5 persen dialokasikan untuk menambah anggaran pendidikan dasar dan dilaksanakan mulai tahun anggaran 2009.5 persen dari penerimaan gas bumi kepada daerah yang dihasilkan dari wilayah daerah yang bersangkutan peraturan perundang-¬undangan. perincian: III-68 Adapun pembagian porsi tambahan tersebut dibagikan dengan untuk provinsi yang bersangkutan sebesar 0. dan dasar perhitungan.2) Adanya penegasan mekanisme.5 persen. persentase • Penetapan alokasi DBH sDA dilakukan berdasarkan daerah penghasil.5 persen. • • Bagian Pemerintah dari minyak bumi menjadi sebesar 69. SistemPendanaandiDaerah . Penyaluran DBH sDA dilakukan secara triwulanan. Bagian daerah dari minyak bumi menjadi sebesar 15. dari penerimaan 4) Penambahan persentase sebesar 0.5 persen. 3) Penambahan • • pertambangan minyak bumi kepada daerah yang dihasilkan dari wilayah daerah yang bersangkutan setelah dikurangi komponen pajak dan pungutan lainnya sesuai dengan peraturan perundang-undangan.5 persen.5 persen sumber Daya Alam Panas Bumi.

Pelengkap Buku Pegangan 2011 - 6) Realisasi penyaluran DBH dari sektor minyak bumi dan gas bumi tidak penyalurannya dilakukan melalui mekanisme formula DAu. dan untuk kabupaten/kota lainnya dalam provinsi yang bersangkutan 0. Penetapan Alokasi DBH SDA tahun 2005 pasal 27 sebagai berikut: a. b. berada pada lebih dari satu daerah. Menteri Dalam Negeri menetapkan daerah penghasil sumber daya alam berdasarkan pertimbangan menteri teknis terkait paling lambat 60 hari setelah diterimanya usulan PeningkatanKualitasHubunganKeuanganPusatdanDaerah DalamMendorongPertumbuhanEkonomi III-69 . dan apabila melebihi 130 persen.2 bumi dalam APBN tahun berjalan. Menteri Teknis menetapkan daerah penghasil dan dasar penghitungan Dalam hal sumber daya alam berada pada wilayah yang berbatasan atau pertimbangan dari menteri teknis.2 persen. Penetapan Alokasi DBH sDA diatur dalam Peraturan Pemerintah Nomor 55 1. DBH sDA paling lambat 60 hari sebelum tahun anggaran bersangkutan dilaksanakan setelah berkonsultasi dengan Menteri Dalam Negeri. - melebihi 130% dari asumsi dasar harga minyak bumi dan dan gas persen. untuk kabupaten/kota penghasil 0.

perkiraan bagian pemerintah. f.gambar 3. menteri teknis. dan perkiraan unsur-unsur pengurang lainnya.3 Mekanisme Penetapan Alokasi DBH sDA c. penghitungan DBH sumber daya alam oleh menteri teknis. e. disampaikan kepada Menteri Keuangan. d. Ketetapan Menteri Dalam Negeri sebagaimana dimaksud menjadi dasar Menteri Keuangan menetapkan perkiraan alokasi DBH sDA untuk masing- Ketetapan Menteri teknis sebagaimana dimaksud pada ayat (1) masing daerah paling lambat 30 hari setelah diterimanya ketetapan dari masing-masing daerah ditetapkan paling lambat 30 hari setelah ayat (1). menerima ketetapan dari menteri teknis sebagaimana dimaksud pada Perkiraan alokasi DBH sDA Minyak Bumi dan/atau gas Bumi untuk III-70 SistemPendanaandiDaerah .

2005 adalah sebagai berikut: kegiatan-¬kegiatan yang meliputi penyusunan rencana (perkiraan) dan Kerjasama (KKKs). Direktorat Jenderal Perimbangan Keuangan selanjutnya dasar penyaluran DBH sDA Migas per provinsi/ kabupaten/kota. provinsi yang bersangkutan. Terkait dengan perhitungan DBH sDA Migas per provinsi/ menghitung perkiraan alokasi maupun realisasi DBH sDA Migas sebagai 2004 yang ditindaklanjuti dalam Peraturan Pemerintah Nomor 55 Tahun yang bersangkutan setelah dikurangi komponen pajak dan pungutan lainnya.2 persen dibagikan untuk seluruh kabupaten/kota lainnya dalam III-71 . dan Porsi pembagian DBH sDA Migas menurut undang-undang Nomor 33 Tahun 1) DBH sDA Minyak Bumi sebesar 15. Dana Bagi Hasil tersebut dibagi dengan rincian sebagai berikut : • 5. Pola Pembagian DBH SDA Migas realisasi di bidang DBH sDA Migas dari hasil kegiatan Kontraktor Kontrak kabupaten/kota.Pelengkap Buku Pegangan 2011 2. 6. dan PeningkatanKualitasHubunganKeuanganPusatdanDaerah DalamMendorongPertumbuhanEkonomi 6.5 persen berasal dari penerimaan negara sDA pertambangan minyak bumi dari wilayah kabupaten/kota 2) DBH sDA Minyak Bumi sebesar 15. DBH SDA Pertambangan Minyak dan Gas Bumi (DBH SDA MIGAS) Dalam rangka mendukung pelaksanaan kebijakan dimaksud diperlukan A.5 persen berasal dari penerimaan negara sDA pertambangan minyak bumi dari wilayah provinsi yang bersangkutan setelah dikurangi komponen pajak dan pungutan lainnya.2 persen dibagikan untuk kabupaten/kota penghasil.1 persen dibagikan untuk provinsi yang bersangkutan. Dana Bagi Hasil tersebut dibagi dengan rincian sebagai berikut: • • • 3.17 persen dibagikan untuk provinsi yang bersangkutan.

Dana Bagi Hasil tersebut dibagi dengan rincian sebagai berikut : • • • 6.4 Porsi Pembagian DBH sDA Minyak Bumi 3) DBH sDA gas Bumi sebesar 30.33 persen dibagikan untuk seluruh kabupaten/kota lainnya dalam provinsi yang bersangkutan. gambar 3.5 persen berasal dari penerimaan negara sDA pertambangan gas Bumi dari wilayah kabupaten/kota yang bersangkutan setelah dikurangi komponen pajak dan pungutan lainnya. 12.5 persen berasal dari penerimaan negara sDA pertambangan gas Bumi dari wilayah provinsi yang bersangkutan setelah dikurangi komponen pajak dan pungutan lainnya.2 persen dibagikan untuk kabupaten/kota penghasil.2 persen dibagikan untuk seluruh kabupaten/kota lainnya dalam III-72 . Dana Bagi Hasil tersebut dibagi dengan rincian sebagai berikut : SistemPendanaandiDaerah 12.• 10. provinsi yang bersangkutan.1 persen dibagikan untuk provinsi yang bersangkutan. dan 4) DBH sDA gas Bumi sebesar 30.

33 persen dibagikan untuk seluruh kabupaten/kota lainnya dalam 5) Pengecualian untuk Daerah otonomi Khusus yaitu Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam (NAD) dan Papua Barat. daerah otonomi khusus tersebut mendapatkan tambahan DBH dengan ketentuan sebagai berikut : • • bagian dari pertambangan Minyak Bumi sebesar 55 persen. selain mendapatkan DBH Migas. dan provinsi yang bersangkutan. gambar 3. Migas yang merupakan bagian dari penerimaan pemerintah provinsi PeningkatanKualitasHubunganKeuanganPusatdanDaerah DalamMendorongPertumbuhanEkonomi III-73 .5 Porsi Pembagian DBH sDA gas Bumi 20. dan bagian dari pertambangan gas Bumi sebesar 40 persen.17 persen dibagikan untuk provinsi yang bersangkutan.Pelengkap Buku Pegangan 2011 • • 10.

Lifting yang tersusun perdaerah penghasil per KKKs pada data Ditjen migas dikonsolidasi dengan data lifting per KKKs (per dari Ditjen Anggaran sehingga didapatkan data lifting per KKKs (per III-74 SistemPendanaandiDaerah . PNBP Migas per KKKs (per jenis minyak khusus untuk minyak bumi. Data yang digunakan sebagai dasar perhitungan perkiraan dan Menteri Energi dan sumber Daya Mineral tentang Penetapan Daerah Penghasil Migas dan Dasar Perhitungan DBH sDA Migas. a) Prognosa lifting per daerah penghasil berdasarkan surat Keputusan b) surat Dirjen Anggaran-Kementerian Keuangan tentang Perkiraan 2) Mekanisme a) Ditjen Perimbangan Keuangan melakukan grouping per KKKs (per jenis minyak khusus untuk minyak bumi. Mekanisme Penyusunan oleh Ditjen Perimbangan Keuangan selanjutnya akan dituangkan ke dalam mekanisme perhitungannya sebagai berikut : 1) Data Peraturan Menteri Keuangan mengenai Perkiraan Alokasi Dana Bagi Hasil sDA Migas.B. kecuali PT PERTAMINA EP) Menteri EsDM tentang penetapan daerah penghasil Migas dan Dasar dengan data perkiraan PNBP per KKKs yang disampaikan Ditjen Anggaran. Penyusunan Perkiraan DBH SDA Migas Perkiraan DBH sDA Migas per provinsi/kabupaten/kota yang dihitung i. kecuali PT PERTAMINA EP). kecuali PT PERTAMINA EP) berdasarkan data Prognosa lifting dalam surat Keputusan Perhitungan DBH sDA Migas yang disampaikan oleh Ditjen Migas jenis minyak khusus untuk minyak bumi.

kecuali PT PERTAMINA EP) per daerah penghasil. e) PNBP per daerah penghasil dihitung porsi DBH-nya untuk bagian f) undang-undang dan peraturan pemerintah. kecuali PT PERTAMINA EP) per lifting yang dihasilkan KKKs (per jenis minyak khusus untuk minyak bumi. kecuali PT jenis minyak khusus untuk minyak bumi. PERTAMINA EP) sehingga didapat rasio lifting per KKKs (per jenis minyak khusus untuk minyak bumi. dan daerah pemerataan berdasarkan sehingga didapat perkiraan alokasi DBH sDA Migas per provinsi/ kabupaten/kota untuk selanjutnya ditetapkan dalam peraturan Porsi DBH dari masing-masing daerah penghasil tersebut dijumlah PeningkatanKualitasHubunganKeuanganPusatdanDaerah DalamMendorongPertumbuhanEkonomi III-75 . Rasio lifting dimaksud untuk mengetahui porsi c) Rasio tersebut dikalikan dengan PNBP per KKKs (sebagaimana yang tercantum dalam surat Dirjen Anggaran tentang Perkiraan PNBP Migas) untuk mengetahui PNBP per KKKs (per jenis minyak khusus untuk minyak bumi. d) PNBP per KKKs (per jenis minyak khusus untuk minyak bumi. kecuali PT PERTAMINA EP) pada daerah penghasil tertentu. Menteri Keuangan. daerah penghasil. kecuali PT PERTAMINA EP) per daerah penghasil. kecuali PT PERTAMINA EP) per daerah penghasil yang berada pada daerah penghasil yang sama dijumlahkan sehingga didapatkan PNBP Pemerintah. per daerah penghasil.Pelengkap Buku Pegangan 2011 b) Data hasil grouping tersebut di persentasekan dengan total lifting per KKKs (per jenis minyak khusus untuk minyak bumi. daerah penghasil.

fee usaha Hulu Migas. PPN. Dalam hal lapangan Rupiah terhadap Dollar. dan Bagian Pemerintah per KKKs.ii. Hasil perhitungan PNBP sDA Migas per . Dirjen Anggaran melakukan perhitungan perkiraan faktor-faktor pengurang (Domestic Market Obligation/DMo. kurs 2) Berdasarkan asumsi tersebut Menteri EsDM menetapkan daerah penghasil dan dasar perhitungan DBH sDA Migas. PBB sektor KKKs tersebut disampaikan kepada Dirjen Perimbangan Keuangan. Gross Revenue. berkonsultasi dengan Menteri Dalam Negeri. dan harga minyak Indonesia (ICP) melalui penetapan asumsi makro APBN antara Pemerintah dengan DPR. First Trance Petroleoum (FTP). Ketetapan Menteri Dalam Negeri tersebut menjadi 3) Bersamaan dengan proses tersebut. Menteri Dalam Negeri menetapkan lambat 60 hari setelah diterimanya usulan pertimbangan dari Menteri EsDM. Proses penetapan perkiraan alokasi DBH sDA Migas sebagai berikut: daerah penghasil berdasarkan pertimbangan menteri teknis paling dasar perhitungan lifting per daerah penghasil sDA Migas oleh Hulu Minyak dan gas Bumi (BP Migas) melakukan perhitungan perkiraan Cost Recovery. menteri teknis. selanjutnya ketetapan migas tersebut berada pada wilayah yang berbatasan atau berada tersebut disampaikan kepada Menteri Keuangan. III-76 SistemPendanaandiDaerah pertambangan Migas. PDRD). Ketetapan tersebut paling lambat 60 hari sebelum tahun anggaran bersangkutan setelah pada lebih dari satu daerah. Badan Pelaksana Kegiatan usaha 4) Berdasarkan ketetapan Menteri EsDM tersebut. Penetapan 1) Penetapan besaran asumsi dasar berupa prognosa lifting.

6 Mekanisme Penetapan Perkiraan Alokasi DBH sDA Migas perhitungan Perkiraan Alokasi DBH sDA Migas yang kemudian Peraturan Menteri Keuangan tentang Perkiraan Alokasi DBH sDA Diagram proses pelaksanaannya sebagai berikut: C. Mekanisme Penghitungan prinsip sebagai berikut: Proses penghitungan realisasi DBH sDA Migas berdasarkan prinsip- PeningkatanKualitasHubunganKeuanganPusatdanDaerah DalamMendorongPertumbuhanEkonomi III-77 . Dirjen Perimbangan Keuangan melakukan diajukan kepada Menteri Keuangan untuk ditetapkan dalam Migas paling lambat 30 hari setelah diterimanya ketetapan Menteri EsDM dan perhitungan Dirjen Anggaran. gambar3. Penyusunan Realisasi DBH SDA Migas i.Pelengkap Buku Pegangan 2011 5) Berdasarkan Ketetapan Menteri EsDM dan perhitungan Dirjen Anggaran tersebut.

realisasi s. kecuali PT PERTAMINA EP) yang disampaikan b) Perkiraan Realisasi PNBP per KKKs (per jenis minyak khusus III-78 SistemPendanaandiDaerah . mendekati dibanding jika menggunakan realisasi lifting.d. dan daerah yang bersangkutan setelah dikurangi komponen pajak dan dalam mekanisme penghitungan realisasi DBH sDA Migas ini penghitungan realisasi DBH sDA Migas adalah sebagai berikut : 1) Data lifting yang disampaikan oleh Ditjen Migas. yang membedakannya adalah data yang dirasiokan yakni data Realisasi Gross Revenue.d. triwulan III. sehingga dikenal data realisasi triwulan I. triwulan IV. Data yang digunakan sebagai dasar penghitungan dan mekanisme a) Realisasi lifting per daerah penghasil per KKKs (per jenis minyak khusus untuk minyak bumi)berdasarkan berita acara rekonsiliasi untuk minyak bumi. sedangkan pada mekanisme penghitungan perkiraan Hal ini dikarenakan Realisasi Gross Revenue sudah berbentuk satuan 4) Data yang disajikan baik oleh Ditjen Migas maupun Ditjen Anggaran realisasi s. mata uang.d. pungutan lainnya sesuai peraturan perundang-undangan. 2) Dana yang dibagihasilkan adalah penerimaan negara dari wilayah 3) Mekanisme perhitungan realisasi DBH sDA Migas hampir sama dengan penghitungan perkiraan alokasi DBH sDA Migas. alokasi DBH sDA Migas yang digunakan adalah data prognosa lifting. realisasi s. triwulan II. oleh Ditjen Anggaran. sehingga perhitungan yang dihasilkan dianggap lebih merupakan kumulatif triwulanan.1) Penghitungan realisasi DBH sDA Migas dilakukan setiap triwulan.

minyak bumi. per KKKs (per jenis minyak khusus untuk minyak bumi. kecuali PT PERTAMINA EP) per daerah penghasil. kecuali PT PERTAMINA EP) dari Ditjen Anggaran yang disampaikan oleh Ditjen Migas dengan data perkiraan Anggaran. Rasio Gross Revenue c) Dalam hal dimana suatu KKKs (per jenis minyak khusus untuk lifting untuk periode berjalan. dll) untuk periode dimaksud. Gross Revenue yang tersusun per daerah penghasil per KKKs pada data Direktorat Jenderal Migas dielaborasi dengan sehingga didapatkan data Gross Revenue per KKKs (per jenis b) Data Gross Revenue per KKKs (per jenis minyak khusus untuk hasil grouping tersebut di persentasekan dengan total Gross kecuali PT PERTAMINA EP) sehingga didapat rasio Gross Revenue dimaksud untuk mengetahui porsi Gross Revenue yang dihasilkan KKKs (per jenis minyak khusus untuk minyak bumi.Pelengkap Buku Pegangan 2011 2) Mekanisme a) Direktorat Jenderal Perimbangan Keuangan melakukan grouping per KKKs (per jenis minyak khusus untuk minyak bumi. kecuali PT PERTAMINA EP) berdasarkan data Realisasi Gross Revenue realisasi PNBP per KKKs yang disampaikan Direktorat Jenderal data gross Revenue per KKKs (per jenis minyak khusus untuk minyak khusus untuk minyak bumi. over/under lifting. kecuali PT PERTAMINA EP) per daerah penghasil Revenue per KKKs (per jenis minyak khusus untuk minyak bumi. kecuali PT PERTAMINA EP) per daerah penghasil. kecuali PT PERTAMINA EP) tidak terdapat realisasi penerimaan sDA migas (dari DMo. kecuali PT PERTAMINA EP) pada daerah penghasil tertentu. minyak bumi. minyak bumi. sementara terdapat realisasi rasio periode lifting tahun sebelumnya. maka perhitungan rasionya menggunakan PeningkatanKualitasHubunganKeuanganPusatdanDaerah DalamMendorongPertumbuhanEkonomi III-79 .

EP) sebagaimana yang tercantum dalam surat Dirjen Anggaran tentang Realisasi PNBP sDA Migas untuk mengetahui PNBP per kecuali PT PERTAMINA EP) per daerah penghasil yang berada didapatkan PNBP per daerah penghasil. kecuali PT PERTAMINA EP) per daerah penghasil. realisasi DBH sDA Migas dikurangi terlebih Diagram proses pelaksanaan perhitungannya sebagai berikut: dahulu dengan kelebihan salur tahun sebelumnya dan total DBH sDA Migas yang telah disalurkan pada triwulan sebelumnya pada tahun anggaran berjalan. kabupaten/kota untuk selanjutnya disalurkan ke tiap-tiap g) Porsi DBH dari masing-masing daerah penghasil tersebut h) sebelum disalurkan. daerah penghasil. e) PNBP per KKKs (per jenis minyak khusus untuk minyak bumi. daerah.d) Rasio tersebut dikalikan dengan PNBP per KKKs (per jenis minyak khusus untuk minyak bumi. f) Dihitung porsi DBH-nya dari PNBP per daerah penghasil untuk pada daerah penghasil yang sama dijumlahkan sehingga bagian Pemerintah. kecuali PT PERTAMINA KKKs (per jenis minyak khusus untuk minyak bumi. dijumlah sehingga didapat realisasi DBH sDA Migas per provinsi/ III-80 SistemPendanaandiDaerah . dan daerah pemerataan berdasarkan undang-undang dan peraturan pemerintah.

Pelengkap Buku Pegangan 2011 gambar 3. Ditjen Pajak dan Ditjen Perimbangan Keuangan) realisasi DBH sDA dilakukan secara triwulanan melalui mekanisme rekonsiliasi data antara Pemerintah dan daerah penghasil.6 Mekanisme Perhitungan DBH sDA Migas setelah diketahui hasil perhitungan DBH sDA Migas yang akan disalurkan ke ii. Ditjen Migas. Hal ini sesuai dengan amanat Pasal 28 Peraturan menjadi dasar penyaluran DBH sDA Migas ke rekening umum kas provinsi/ PeningkatanKualitasHubunganKeuanganPusatdanDaerah DalamMendorongPertumbuhanEkonomi III-81 . kabupaten/kota penerima DBH sDA Migas. maka dilakukan proses rekonsiliasi data antara Pemerintah (yang diwakili oleh BP Migas. Penyaluran masing-masing provinsi/kabupaten/kota. Hasil rekonsiliasi dituangkan dalam berita acara rekonsiliasi yang kemudian Proses penyaluran DBH sDA Migas dapat dijelaskan sebagai berikut: Pemerintah Nomor 55 Tahun 2005 yang menyatakan bahwa perhitungan dengan daerah penghasil. Kemendagri. Ditjen Anggaran.

Direktur Jenderal Perimbangan Keuangan mengajukan surat Permintaan Penerbitan Daftar Isian Pelaksanaan Anggaran (DIPA) Migas ke Dirjen Perbendaharaan. DBH sDA Migas triwulan I III-82 SistemPendanaandiDaerah . Direktur Pengelolaan Kas Negara c) Berdasarkan sP2D tersebut. b) Berdasarkan surat permintaan tersebut. Dirjen Perbendaharaan a) Berdasarkan DIPA dan Berita Acara Rekonsiliasi.1) Di awal tahun: a) Berdasarkan Peraturan Menteri Keuangan perkiraan Alokasi DBH sDA Migas. dari Rekening Kas Negara ke Rekening Kas pemerintah daerah provinsi/kabupaten/kota. menerbitkan DIPA Migas untuk satu tahun anggaran. Penyaluran DBH Migas mulai dari tahun 2008 dilakukan secara triwulan dengan ketentuan sebagai berikut : a. 2) setiap triwulan penyaluran: Format penyaluran DBH sDA Migas sudah mengalami beberapa perubahan sejalan dengan kebijakan Dirjen Perimbangan Keuangan. dilaksanakan sebesar 20 persen dari pagu perkiraan alokasi sebagaimana ditetapkan dalam Peraturan Menteri Keuangan. Bank Indonesia (BI) mentransfer dana (PKN) Ditjen Perbendaharaan menerbitkan surat Perintah Pencairan Dana (sP2D). Direktur Dana b) Berdasarkan sPM Migas tersebut. Penyaluran DBH Migas triwulan I dan triwulan II masing-masing disalurkan pada bulan Maret dan triwulan II pada bulan Juni. Perimbangan Ditjen Perimbangan Keuangan mengajukan surat Perintah Membayar (sPM) Migas ke Ditjen Perbendaharaan.

Apabila penyaluran DBH sDA Migas terdapat kekurangan yakni Pemerintah Realisasi penyaluran DBH sDA Migas tidak boleh melebihi 130 persen dari Adapun diagram proses pelaksanaan perhitungannya sebagai berikut: asumsi dasar harga Minyak dan gas Bumi dalam APBN. d. c. maka penyaluran dilakukan melalui mekanisme APBN Perubahan.Pelengkap Buku Pegangan 2011 b. triwulan III. maka penyaluran dilakukan melalui mekanisme APBN dan/ atau APBN-P tahun berikutnya.d.d.d. November sDA Migas tersebut disalurkan pada bulan Februari tahun anggaran berikutnya. triwulan IV dengan batas maksimal sebesar pagu perkiraan alokasi sebagaimana ditetapkan dalam Peraturan Menteri Keuangan. Penyaluran DBH Migas triwulan III memperhitungkan realisasi DBH Penyaluran DBH Migas triwulan IV memperhitungkan realisasi DBH sDA Penyaluran DBH Migas rampung (bersumber dari dana cadangan) Migas bulan Desember s. Mei dikurangi penyaluran triwulan I dan triwulan II. Apabila melebihi PeningkatanKualitasHubunganKeuanganPusatdanDaerah DalamMendorongPertumbuhanEkonomi III-83 . memperhitungkan realisasi DBH sDA Migas bulan Desember s.d. sDA Migas bulan Desember s. (satu tahun anggaran) dikurangi penyaluran triwulan I s. kurang bayar. DBH sDA Migas triwulan III disalurkan pada bulan september.d. Agustus dikurangi penyaluran triwulan I s. sisa rampung DBH e. DBH sDA Migas triwulan IV disalurkan pada bulan Desember. f.

8 Alur Perhitungan dan Penyaluran DBH Migas gambar 3.gambar 3.9 Penyaluran DBH sDA Migas III-84 SistemPendanaandiDaerah .

Hal ini menimbulkan masalah penyaluran DBH Migas pada setiap tahunnya. (3) alokasinya dalam APBN berdasarkan perkiraan PNBP dalam satu tahun – dalam hal migas perkiraan tersebut sangat tergantung dari asumsi jumlah lifting. dari Desember suatu tahun sampai November tahun berikutnya (tetap 12 ii. (4) penyalurannya kepada daerah berdasarkan realisasi PNBP dalam satu tahun – dalam hal DBH Migas. harga Indonesian Crude Price (ICP). serta kurs Rp thd us$ dalam APBN. waktu Perhitungan realisasi PNBP/DBH Migas. 15. waktu satu tahun tersebut dimulai bulan). Penetapan segmen waktu tersebut semula dimaksudkan agar alokasi DBH sDA seluruhnya dapat tersalur ke daerah pada akhir tahun anggaran. (2) besarannya i. Prinsip DBH adalah persentase tertentu dari PNBP (migas 84. Namun kenyataannya sampai dengan bulan Desember pihak tersendiri dalam penyaluran DBH Migas sehingga perlu diambil kebijakan penyedia data PNBP Migas belum siap menyediakan data.5 persen pusat.Pelengkap Buku Pegangan 2011 D. Mekanisme Counter balancedan Penyaluran DBH Migas Prinsip DBH secara umum meliputi : (1) harus ada PNBP-nya. Realisasi agar hasil perhitungan PNBP tersebut dapat disalurkan DBH-nya pada bulan yang berarti sudah melewati tahun anggaran.5 persen daerah). PNBP dihitung mulai dari Awal Desember sampai dengan Akhir November pada pertengahan Februari data realisasi PNBP satu tahun dapat disediakan Desember. baru kemudian PeningkatanKualitasHubunganKeuanganPusatdanDaerah DalamMendorongPertumbuhanEkonomi III-85 .

yang berarti terjadi selisih waktu antara realisasi dan penyaluran selama satu III-86 SistemPendanaandiDaerah . Kebijakan Pengalihan Sisa Anggaran ke Rekening Cadangan sampai pada bulan Agustus. oleh karena itu. yang berarti masih tersisa apabila tidak direalisasikan.Pada bulan Desember data realisasi penerimaan migas yang tersedia hanya iii. perlu diambil kebijakan untuk (atau biasa disebut dengan Escrow Account) pada Bank yang ditunjuk oleh cadangan sudah sebagai belanja dari rekening Kas Negara. idealnya (yang menjadi harapan semula) sudah sampai pada bulan November. triwulan. Dengan demikian pagu anggaran DBH Migas baru akan dibebani untuk membayar realisasi migas dari bulan Desember mengalihkan sisa anggaran tersebut ke Rekening Cadangan Menteri Keuangan Direktur Jenderal Perbendaharaan selaku Pengelola Rekening Kas Negara). Penyalurannya pagu anggaran 3 bulan. sisa pagu ini akan hangus setelah akhir Desember Menteri Keuangan (dalam hal ini kewenangannya dilimpahkan kepada Dengan kebijakan tersebut. status sisa anggaran yang ditampung di rekening KKKs) diterima unit penyalur (DJPK) dan dihitung DBH-nya (per daerah). dan september s/d November 2009 yang realisasi belum bisa menyediakan data selama 12 bulan pada akhir November. Kebijakan ini akan dilakukan setiap tahun sepanjang unit penyedia data ke rekening kas daerah dilaksanakan setelah data realisasi PNBP Migas (per meliputi waktu 12 bulan (misalnya Desember 2008 s/d Agustus 2009 yang disalurkan pada Desember 2009. Dengan demikian realisasi PNBP Migas yang dibagikan ke daerah tetap disalurkan pada pertengahan Februari 2010). sampai dengan bulan Agustus atau 9 bulan.

maka kebijakan counter balance dalam managemen penyaluran DBH Migas dapat dipersepsikan tidak ada keterlambatan penyaluran DBH Migas.Pelengkap Buku Pegangan 2011 Dari aspek pergeseran waktu penyaluran yang seharusnya selesai pada bulan iv. sisa anggaran tersebut tetap membebani anggaran tahun lalu namun daerah mencatat pendapatan sebagai penerimaan tahun berikutnya (lihat gambar 3. Namun dari aspek jumlah bulan realisasi tetap meliputi waktu 12 bulan. Pengalihan penyaluran dari Desember menjadi Februari namun tetap berdasarkan data skema Counter Balance).10 Counter Balance dalam Management Cashflow DBH MIgas realisasi tahun yang bersangkutan biasa disebut dengan kebijakan Counter Dengan pola yang rutin dan tetap tersebut. (2) besaran dana yang disalurkan sesuai PeningkatanKualitasHubunganKeuanganPusatdanDaerah DalamMendorongPertumbuhanEkonomi III-87 . Kebijakan Mekanisme Counter balance Desember menjadi bulan Februari memang jelas menunjukkan keterlambatan. Balance. dengan penjelasan : (1) hak yang dibagikan meliputi waktu 12 bulan. yang berarti hak daerah atas DBH satu tahun tidak berkurang.

Pemantauan atas dana tambahan ini menyangkut pelaksanaannya. bulan penyaluran DBH Migas. maka Menteri Keuangan meminta aparat pengawasan untuk tahun anggaran berikutnya.realisasi. dibelanjakan pada tahun yang sama (dalam satu tahun anggaran. Pola ini dapat diacu oleh daerah dalam membukukan penerimaan yang bersumber dari DBH Migas. kecuali untuk dana Tambahan Anggaran Pendidikan lanjut dalam Peraturan Menteri Keuangan. Dasar sebesar 0. (3) pelaksanaan penyaluran dengan pola yang konsisten. Apabila hasil grant yang kewenangan penggunaannya diserahkan sepenuhnya kepada pemantauan dan evaluasi mengindikasikan adanya penyimpangan dalam fungsional untuk melakukan pemeriksaan. yaitu penerimaan yang masuk ke kas daerah dalam satu tahun. Juni. Maret. Januari s/d Desember) terdapat 5 kali penerimaan DBH Migas yang masuk ke kas daerah pada bulan Februari. Hasil pemeriksaan tersebut dapat dijadikan sebagai bahan pertimbangan dalam pengalokasian DBH sDA Migas administrasi berupa pemotongan penyaluran DBH sDA Migas untuk periode III-88 SistemPendanaandiDaerah . Dari pola ini dapat dipersepsikan bahwa tidak ada keterlambatan dalam E. september dan Desember. Pemantauan dan Evaluasi Pada dasarnya DBH sDA Migas sebagaimana DBH sDA lainnya bersifat Block pemda penerima. yaitu daerah tersebut dapat dikenai sanksi berikutnya. Menteri Keuangan melakukan pemantauan dan evaluasi atas penggunaan dana tambahan anggaran apakah penggunaannya sesuai dengan peruntukannya.5 persen dari porsi DBH sDA Migas harus digunakan untuk sektor pendidikan dasar yang tata cara penggunaannya akan diatur lebih pendidikan dasar tersebut.

Pemungutan iuran tetap.Pelengkap Buku Pegangan 2011 Penerimaan Negara Bukan Pajak dari sektor pertambangan umum terdiri 3. tarif iuran tetap (hektar). dari iuran eksplorasi dan eksploitasi (royalty) dan iuran tetap (landrent). Besarnya tarif dibedakan atas dasar tahap kegiatan dan status (perpanjangan atau tidak) untuk Kuasa Pertambangan. Dalam peraturan tersebut. DBH SDA Pertambangan Umum 45 Tahun 2003 tentang Tarif Atas Jenis Penerimaan Negara Bukan Pajak Yang Berlaku Pada Departemen EsDM. Royalti harus dibayar dalam satuan rupiah atau satuan lainnya harga jual yang telah dikalikan dengan jumlah produksi. tarif iuran tetap yang dikenakan pada Kuasa Pertambangan merupakan tarif satuan atas nilai setiap semester. yang dikenakan di sektor pertambangan dilakukan Negara dalam hal Pemegang Kuasa Pertambangan Eksplorasi mendapat hasil eksploitasi satu atau lebih bahan galian. Royalty adalah pembayaran kepada penambangan. Tarif royalti untuk pertambangan mineral dan batubara ditetapkan melalui Peraturan Pemerintah Nomor 45 Tahun 2003. berikut: Pemerintah berkenaan dengan produksi mineral yang berasal dari area Iuran Eksplorasi/Eksploitasi (royalty) adalah iuran produksi yang diterima berupa bahan galian yang tergali atas kesempatan eksplorasi yang diberikan kepadanya serta atas hasil yang diperoleh dari usaha pertambangan yang disetujui bersama. tarif royalti bersifat advalorem (dalam persentasi) dan dikenakan terhadap Tatacara penghitungan Iuran Eksplorasi/Eksploitasi (royalty) sebagai PeningkatanKualitasHubunganKeuanganPusatdanDaerah DalamMendorongPertumbuhanEkonomi III-89 . Kedua iuran tersebut ditetapkan berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor merupakan tarif satuan atas nilai us$ per luas area eksploitasi/eksplorasi rupiah per satuan luas eksploitasi/eksplorasi (hektar) dan besarnya tarif juga dibedakan atas dasar tahap kegiatan dan status (perpanjangan atau tidak).

Besarnya tarif berbeda-beda untuk setiap jenis dan kualitas bahan galian. 32 persen untuk kabupaten/kota penghasil dan 32 persen untuk kabupaten/ dari landrent adalah sebesar 80 persen dengan rincian 16 persen untuk . Bagian Pemerintah sebesar 13. bagian daerah (lihat gambar 3. untuk bagian daerah dari royalti adalah sebesar 80 persen dengan rincian 16 persen untuk provinsi yang bersangkutan. sebelumnya Presiden Nomor 75 Tahun 1996. pengenaan royalti untuk batubara sudah termasuk dalam bagian Pemerintah dari Dana Hasil Produksi Batubara (DHPB) yang diatur dalam Keputusan mendapat 13. III-90 SistemPendanaandiDaerah diatur dalam Peraturan Pemerintah Nomor 55 Tahun 2005.5 persen tersebut sudah mencakup pembayaran royalti yang diestimasikan sebesar 3.3 persen dari 13. eksplorasi atau eksploitasi pada suatu Wilayah Kuasa Pertambangan (dalam hal ini termasuk Kontrak Karya dan Perjanjian Karya Pengusahaan Pertambangan Batubara). Jumlah Produksi yang Terjual x Persentase Tarif (%) x Harga Jual (US$) Peraturan Pemerintah Nomor 45 Tahun 2003 ini juga memasukkan peraturan mengenai besarnya tarif royalti untuk bahan tambang batubara. Tatacara penghitungan Iuran Tetap (landrent/deadrent) sebagai berikut: Luas Wilayah KP/KK/PKP2B (Ha) x Tarif (Rp/US $) Iuran Tetap (landrent/deadrent) adalah seluruh penerimaan iuran yang selanjutnya untuk perhitungan DBH sDA Pertambangan umum sebagaimana provinsi yang bersangkutan dan 64 persen untuk kabupaten/kota penghasil kota lainnya dalam provinsi yang bersangkutan.5 persen diterima Negara sebagai imbalan atas kesempatan penyelidikan umum.5 persen dari produksi batubara (dana hasil produksi batubara/ DHPB. Pemerintah DHPB). Dalam peraturan tersebut.11).

4 Porsi Pembagian DBH sDA Pertambangan umum % UNTUK DAERAH 80% 80% 80% 80% PROV 16% 80% 16% 26% KAB/KOTA PENGHASIL 64% 32% - PORSI KAB/KOTA LAIN DALAM PROV - PERTAMBANGAN UMUM A. LAND RENT PENgHAsIl PRoVINsI C. DBH SDA Kehutanan dari sektor kehutanan terdiri: a. dan Adalah pungutan yang dikenakan sebagai pengganti nilai intrinsik dari PeningkatanKualitasHubunganKeuanganPusatdanDaerah DalamMendorongPertumbuhanEkonomi III-91 . RoYAlTI PENgHAsIl KAB/KoTA D. RoYAlTI PENgHAsIl PRoVINsI 32% 54% Dana Bagi Hasil sDA Kehutanan berasal dari Penerimaan Negara Bukan Pajak 4.11 Perhitungan DBH sDA Pertambangan umum JENIS DBH Tabel 3.Pelengkap Buku Pegangan 2011 gambar 3. Provisi Sumber Daya Hutan (PSDH) hasil yang dipungut dari Hutan Negara. LAND RENT PENgHAsIl KAB/KoTA B.

Pada HPH. Dana Reboisasi (DR) Hutan dari Hutan Alam yang berupa kayu dalam rangka reboisasi dan c. IHPH dikenakan satu kali untuk jangka waktu berlakunya HPH (atau sekitar 20 Pengusahaan Hutan (HPH) (hektar).b. Adalah dana yang dipungut dari pemegang Izin usaha Pemanfaatan Hasil Adalah pungutan yang bersifat license fee (terkait dengan perizinan) yang kawasan hutan tertentu yang dilakukan sekali pada saat izin tersebut diberikan. tarif yang Hak Pemungutan Hasil Hutan (HPHH) dan pemegang Izin Pemanfaatan dikenakan adalah tarif satuan Rupiah per m3. yang besarnya tergantung Kayu (IPK) (lihat undang-undang Nomor 41 Tahun 1999 juga Peraturan Pemerintah Nomor 6 Tahun 1999). Pembayaran dilakukan setiap bulan atas dasar produksi III-92 SistemPendanaandiDaerah dari (1) kategori wilayah dan (2) kelompok jenis kayu/bukan kayu. untuk penyaluran produksi penerima. Besarnya tarif tergantung dari (1) Tarif PsDH tertuang dalam surat Keputusan Menteri Kehutanan dan Nomor 59 Tahun 1998. pembayaran dilakukan oleh pemegang HPH pada . pembayaran dilakukan oleh pihak industri dengan pemegang HPH. rehabilitasi hutan Iuran Izin Usaha Pemanfaatan Hutan (IIUPH) dikenakan kepada Pemegang Izin usaha Pemanfaatan Hutan atas suatu tarif yang dikenakan adalah tarif satuan Rupiah per satuan luas Hak tahun). Di dalam peraturan tersebut dinyatakan bahwa Perkebunan Nomor 859/Kpts-II/1999. Tarif IIuPH terakhir diatur dalam Peraturan Pemerintah kategori wilayah dan (2) status HPH (baru/ perpanjangan/ HPHTI). pemegang ke industri terkait dengan HPH. Provisi sumber Daya Hutan (PsDH) dikenakan terhadap pemegang HPH. untuk produksi yang disalurkan ke industri yang tidak terkait saat pengangkutan. Dalam peraturan tersebut.

disetor langsung ke Rekening Menteri Kehutanan dan Perkebunan.12 Perhitungan DBH sDA Kehutanan setelah itu diterbitkan dokumen surat Keterangan sahnya Hasil Hutan (sKsHH) yang sebelumnya disebut surat Angkutan Kayu olahan (sAKo). Mulai tahun 2006 dilakukan pengalihan sumber penerimaan yang berasal dari kehutanan yakni semula Dana Alokasi Khusus Dana Reboisasi (DAKDR) menjadi DBH Dana Reboisasi (DBH-DR) serta Penetapan DBH PPh Wajib PeningkatanKualitasHubunganKeuanganPusatdanDaerah DalamMendorongPertumbuhanEkonomi III-93 . Pengesahan lHP dilakukan setelah diadakan pengukuran sampling 10% dari dokumen lHP. gambar 3. Perhitungan jumlah kayu yang dikenai kewajiban untuk membayar PsDH dan Dana Reboisasi didasarkan dari laporan Hasil Penebangan (lHP). lHP tetap disahkan. area produksi oleh petugas kehutanan untuk menguji kebenaran pengisian namun tidak berlaku untuk kesalahan pengisian jenis tanaman. Jika terjadi penyimpangan volume <5%.Pelengkap Buku Pegangan 2011 bulan sebelumnya. sistem pelaporan produksi hasil hutan tersebut bersifat self assessment yaitu perusahaan pemegang HPH mengisi volume produksi dan jenis tanaman.

Pajak orang Pribadi Dalam Negeri (WPoPDN) dan PPh Psl 21 masing-masing kabupaten/kota yang sebelumnya ditetapkan oleh gubernur mulai tahun 2006 ditetapkan oleh Menteri Keuangan. realisasi dibagihasilkan. Dalam perkembangannya. Tarif Dana Reboisasi undang Nomor 41 Tahun 1999 tentang Kehutanan. baik hutan alam maupun tanaman Berlaku Pada Departemen Kehutanan Dan Perkebunan. DBH senantiasa menunjukkan kecenderungan meningkat dari tahun ke tahun seiring dengan meningkatnya realisasi penerimaan dalam negeri yang Tarif Dana Reboisasi diatur dalam Peraturan Pemerintah Nomor 92 Tahun Tahun 1998 Tentang Tarif Atas Jenis Penerimaan Negara Bukan Pajak Yang 1999 Tentang Perubahan Kedua Atas Peraturan Pemerintah Nomor 59 kategori wilayah dan (2) kelompok jenis kayu/bukan kayu. III-94 SistemPendanaandiDaerah . Perkiraan penerimaan IHPH/IIuPH. Perhitungan bagian daerah akan ditetapkan berdasarkan rencana produksi hasil hutan dan rencana penerbitan izin Hak Pengusahaan Hutan (HPH) atau usaha Pemanfaatan Hutan (uPH) dengan perhitungan sebagai berikut: dikalikan tarif IHPH yang berlaku. pungutan Dana Reboisasi merupakan tarif satuan us$ per m3. dimana besarnya tergantung dari (1) yang dihitung dari luas areal yang akan diterbitkan izin HPH/uPH hutan kayu dan bukan dan dikali tarif PsDH yang berlaku. Perkiraan penerimaan PsDH yang dihitung dari target produksi hasil Perkiraan Penerimaan PsDH dan yang bersumber dari tunggakan PsDH. Menurut undangini dikenakan terhadap pemegang Hak Pengusahaan Hutan (HPH) dan pemegang Hak Pemungutan Hasil Hutan.

Pelengkap Buku Pegangan 2011 Dana Bagi Hasil sumber Daya Alam Perikanan berasal dari Pungutan 5. DBH SDA Perikanan Pengusahaan Perikanan (PPP) dan Pungutan Hasil Perikanan (PHP). dimana besar tarif Perhitungan DBH SDA Perikanan Pungutan Pengusahaan Perikanan (PPP) objek yang penting dalam penghitungan PPP adalah: Kapal Penangkapan Ikan. yaitu pungutan hasil perikanan yang dikenakan kepada Pungutan Pengusahaan Perikanan. Alokasi Penangkapan Ikan Penanaman Modal usaha perikanan dalam wilayah perikanan Republik Indonesia. dikenakan satu kali pada saat pengajuan permohonan surat Ijin Kapal untuk sektor perikanan ini diatur dalam sK Menteri Pertanian Nomor 424/ Kpts/7/1977. Tarif PPP merupakan tarif nominal (us $) dan didasarkan atas ukuran kapal penangkapan ikan (Dead weight Ton -DWT). Dalam hal ini tarif dikenakan atas dasar berat kosong kapal. (PHP) dikenakan pada hasil produksi sektor perikanan yang diekspor. sebagai imbalan atas kesempatan yang diberikan oleh Pemerintah Indonesia untuk melakukan perusahaan perikanan Indonesia yang melakukan usaha penangkapan ikan sesuai dengan surat Penangkapan Ikan (sPI) yang diperoleh. dan surat Ijin Kapal Pengangkut Ikan (sIKPI). Pungutan Pengusahaan Perikanan (PPP) bersifat license Perikanan. Izin usaha Perikanan (IuP). Rumus yang dipakai untuk menghitung PPP adalah: Data yang dibutuhkan untuk dapat menghitung PPP adalah: PPP = Tarif (US $) x Ukuran Kapal (DWT) PeningkatanKualitasHubunganKeuanganPusatdanDaerah DalamMendorongPertumbuhanEkonomi III-95 . yaitu pungutan hasil perikanan yang dikenakan kepada perusahaan perikanan Indonesia yang memperoleh (APIPM). a. Tarif yang dikenakan bersifat ad valorem (persentasi). Pungutan fee. Pungutan Hasil Perikanan. Adapun Pungutan Hasil Perikanan dibedakan menurut kelompok jenis ikan.

Cakalang. objek dalam penghitungan PHP ini adalah: Hasil Produksi sektor adalah jumlah kapal dan volume hasil produksi perikanan yang akan diekspor.5 Tarif Pungutan Pengusahaan Perikanan (PPP) b.5 1 lain-lain yang tidak termasuk gol. Perikanan yang diekspor. 2 3 1 Dalam penghitungan ini hal yang paling penting untuk diperhatikan Tabel 3.1 dan 2 2 III-96 SistemPendanaandiDaerah . 2.424/Kpts/7/1977 udang Golongan Jenis Ikan Tuna. dengan rumus sebagai berikut: Data Hasil Ekspor Produksi sektor Perikanan. Tarif (%) 1. Daftar Tarif Pungutan Pengusahaan Perikanan (PPP) No.1. Pungutan Hasil Perikanan (PHP) atau yang diperlukan adalah: sumber: sK Mentan No. No.6 Tarif Pungutan Pungutan Hasil Perikanan (PHP) sumber: sK Mentan No. 2 1 Ukuran Kapal 50-100 DWT <50 DWT Tarif Tabel 3. 2. us $ 1000 us $ 500 PHP = Hasil Produksi (Ton) x Tarif (%) 1. Data Jumlah surat Izin Kapal Perikanan yang dikeluarkan.424/Kpts/7/1977 Catatan: untuk setiap kelebihan di atas 100 DWT dengan pembulatan perhitungan sampai dengan 50 DWT dikenakan tambahan us $ 250. Daftar Tarif PHP untuk setiap jenis ikan.

2. 3.1. DANA ALoKASI UMUM Penyusunan Formula dan Perhitungan dau Dalam undang-undang Nomor 34 Tahun 2004 porsi Dana Alokasi umum (DAu) ditetapkan sekurang-kurangnya 26 persen dari Penerimaan Dalam untuk Provinsi dan bagian 90 persen untuk Kabupaten/Kota. proporsi pembagian DAu adalah bagian 10% PeningkatanKualitasHubunganKeuanganPusatdanDaerah DalamMendorongPertumbuhanEkonomi III-97 . sementara itu.2.3.13 Mekanisme Penetapan Alokasi DBH sDA Negeri Netto. gambar 3.Pelengkap Buku Pegangan 2011 3.3.

1. yaitu dihitung berdasarkan formula atas dasar Celah Fiskal dihitung berdasarkan Jumlah gaji PNsD. ditetapkan berdasarkan Peraturan Presiden. sDA. dan Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) per kapita yang berasal dari Pendapatan Asli Daerah (PAD) dan DBH Pajak dan DBH 33 Tahun 2004 Variabel kapasitas fiskal yang merupakan sumber pendanaan daerah jumlah gaji Pegawai Negeri sipil Daerah (PNsD).a. 2. luas wilayah darat dan perairan. Konstruksi. III-98 SistemPendanaandiDaerah b. Indeks Kemahalan (sesuai undang-undang Nomor 33 Tahun 2004). Formula DAU dalam Kerangka Undang-undang Nomor sesuai dengan ketentuan dalam undang-undang Nomor 33 Tahun 2004. CF suatu daerah merupakan selisih antara Kebutuhan Fiskal (KbF) dengan Kapasitas Fiskal (KpF). Besaran alokasi DAu per daerah sesuai Provinsi dan sebesar 90 persen untuk Daerah Kabupaten/Kota dari formula DAu. kebijakan dalam pengalokasian DAu tahun 2011 adalah sebagai berikut : a. DAu ditetapkan 26 persen dari Penerimaan Dalam Negeri (PDN) Neto yang ditetapkan dalam APBN. besaran DAu secara Nasional. Proporsi pembagian DAu adalah sebesar 10 persen untuk Daerah Pengalokasian DAu kepada masing-masing daerah menggunakan dengan uu Nomor 33 Tahun 2004 dan PP Nomor 55 Tahun 2005 (CF) dan alokasi Dasar (AD). c. Indeks Pembangunan Manusia. Variabel DAU b. c. sedangkan AD . Variabel Alokasi Dasar adalah belanja pegawai yang dicerminkan oleh Variabel kebutuhan fiskal terdiri dari jumlah penduduk.

Bentuk Umum Formula DAU formula dapat ditunjukkan pada persamaan berikut ini: Dimana: AD CF • • CF Dimana DAU = AD + CF DAu = Dana Alokasi umum = Alokasi Dasar = Celah Fiskal = KbF – KpF (celah fiskal merupakan selisih dari kebutuhan fiskal dan kapasitas fiskal). atau dirumuskan: CF = KbF – KpF Kebutuhan Fiskal (KbF): Celah Fiskal (CF) merupakan selisih antara Kebutuhan Fiskal (KbF) KbF = TBR (α1IP + α2IW + α3IPM + α4IKK + α5IPDRB/kap) TBR = Total Belanja Rata-rata APBD IP IW = Indeks luas Wilayah = Indeks Jumlah Penduduk berikut: Rumusan tentang kebutuhan fiskal (KbF) dapat ditunjukkan sebagai Dimana: IPM = Indeks Pembangunan Manusia IKK = Indeks Kemahalan Konstruksi PeningkatanKualitasHubunganKeuanganPusatdanDaerah DalamMendorongPertumbuhanEkonomi III-99 .Pelengkap Buku Pegangan 2011 Bentuk umum formula alokasi DAu kepada masing-masing daerah secara 3. dengan Kapasitas Fiskal (KpF).

Pajak Bumi dan Bangunan. gaji pokok. Komponen Alokasi Dasar dalam DAu yaitu belanja III-100 SistemPendanaandiDaerah Alokasi Dasar (AD).IPDRB/kap = Indek Produk Domestik Regional Bruto per kapita • Kapasitas (KpF): Keterangan : PAD PPh DBH PBB BPHTB : CHT a. DBH Pajak = PBB + BPHTB + PPh + CHT Pendapatan Asli Daerah. gaji bulan ke-13 dan mempertimbangkan formasi CPNsD nasional sebesar 48 persen untuk provinsi dan 45 persen untuk . sumber Daya Alam Pajak Penghasilan (PPh) Pasal 21 dan Pasal 25 dan 29. α4. untuk lebih mengoptimalkan peranan formula celah fiskal (CF) dalam perhitungan DAu maka panja menyepakati untuk membatasi Porsi AD terhadap DAu secara Kabupaten/Kota. • sDA : : : : : : α1. α5 = Bobot dari masing-masing indeks variabel α1 + α2 + α3 + α4 + α5 = 100% KpF = PAD + DBH Pajak + DBH SDA Dana Bagi Hasil. 4. Cukai Hasil Tembakau. α3. α2. Data Perhitungan DAU Alokasi Dasar dalam penghitungan DAu tahun 2011 dihitung berdasarkan Belanja Pegawai PNs Daerah dengan memperhatikan kebijakan-kebijakan perbaikan penghasilan PNs antara lain kenaikan tahun 2010 (termasuk sekretaris Desa). PPh WPoPDN. Bea Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan.

Pelengkap Buku Pegangan 2011 gaji PNsD tidak dihitung 100 persen. sedangkan untuk Kebutuhan Fiskal terdiri dari : Data Jumlah Penduduk berdasarkan sensus Penduduk 2010. Tunjangan Keluarga.56 persen. Tunjangan Jabatan. yang terlalu tinggi dibandingkan dengan yang lainnya diputuskan tidak merusak komposisi data PDRB per kapita secara keseluruhan.1 persen. Daerah Kabupaten/Kota dihitung sebesar 68. untuk Daerah Provinsi belanja gaji PNsD dihitung sebesar 83. Pada data PDRB per kapita untuk ditarik ke tingkat PDRB per kapita setingkat lebih rendah agar • Data luas Wilayah yang digunakan adalah luas wilayah daratan (administratif) berdasarkan Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 6 Tahun 2008 tentang Kode dan Data Wilayah Administrasi Pemerintahan Daerah. 2010 yang bersumber dari daerah. 32. garis pantai bagi provinsi dan 35 persen dari wilayah perairan sejauh PeningkatanKualitasHubunganKeuanganPusatdanDaerah DalamMendorongPertumbuhanEkonomi III-101 . terlebih untuk daerah yang memiliki kapasitas fiskal tinggi (Penjabaran dari pasal • b. Tunjangan Beras. IPM Diberlakukan kebijakan khusus terhadap PDRB per kapita suatu daerah yang dinilai outlier atau pencilan. dan PDRB per Kapita tahun 2009. undang-undang Nomor33 Tahun 2004). bersumber dari Badan Pusat statistik. karena tidak dimaksudkan untuk menutup seluruh kebutuhan belanja gaji PNsD. Tunjangan PPh. tahun 2009. dan surat-surat Menteri Dalam Negeri ditambah dengan 30 persen dari wilayah perairan sejauh 12 mil dari yang berkaitan dengan hasil klarifikasi dan verifikasi luas wilayah. • • • Adapun data dasar yang digunakan adalah data gaji Induk bulan Juni gaji PNsD terdiri dari komponen gaji Pokok. IKK tahun 2010.

00% Indeks Pembangunan Manusia (IPM) : 10. bersumber dari daerah dan Kementerian Keuangan.• Total Belanja Rata-rata (TBR) terdiri dari 507 daerah berdasarkan sampai dengan batas waktu yang telah ditentukan).50% : 35. APBD realisasi tahun 2009 dan 17 daerah berdasarkan APBD Tahun 2010 (karena belum mengirimkan laporan APBD realisasi 2009 • Bobot masing-masing variabel adalah sebagai berikut.00% III-102 SistemPendanaandiDaerah .00% Indeks Jumlah Penduduk (IP) Indeks luas Wilayah (IW) luas perairan Indeks PDRB per Kapita : 15.50% Indeks Kemahalan Konstruksi (IKK) : 30. provinsi: Indeks Jumlah Penduduk (IP) Indeks luas Wilayah (IW) luas perairan Indeks PDRB per Kapita 4 mil bagi kabupaten/kota berdasarkan data Badan Koordinasi survey dan Pemetaan Nasional (Bakosurtanal).00% • Bobot masing-masing variabel adalah sebagai berikut.00% : 30.00% Indeks Kemahalan Konstruksi (IKK) : 30. untuk kabupaten/kota : : 30. untuk : 30.00% : 15.00% : 16.00% : 13.00% Indeks Pembangunan Manusia (IPM) : 10.

untuk Provinsi dihitung sebesar 95 persen. DBH sDA dengan data dasar 2009.14 berikut ini : PeningkatanKualitasHubunganKeuanganPusatdanDaerah DalamMendorongPertumbuhanEkonomi III-103 . untuk provinsi dihitung sebesar 80 persen. bersumber dari Kementerian untuk kabupaten/kota sebesar 100 persen. bersumber dari Kementerian Keuangan. • Kapasitas Fiskal terdiri dari : Pendapatan Asli Daerah (PAD) berdasarkan laporan APBD realisasi ditentukan). untuk provinsi dihitung sebesar 50 persen. sedangkan untuk • • DBH Pajak dengan data dasar 2009. sedangkan secara sistematika Penyusunan Formula DAu dapat digambarkan dalam gambar 3.Pelengkap Buku Pegangan 2011 c. bersumber dari daerah dan Kementerian Keuangan. tahun 2009 sebanyak 507 daerah dan 17 daerah menggunakan data PAD berdasarkan APBD tahun 2010 (karena belum mengirimkan laporan APBD realisasi 2009 sampai dengan batas waktu yang telah kabupaten/kota sebesar 93 persen. untuk kabupaten/kota sebesar 63 persen. sedangkan Keuangan.

15 III-104 SistemPendanaandiDaerah . terkait dengan daerah pemekaran baru.gambar 3. 14 Formula umum Dana Alokasi umum Menurut undang-undang Nomor 33 Tahun 2004 sementara itu. perhitungan alokasi DAu untuk daerah tersebut dapat dilihat pada Gambar 3.

2.3. dan dibagi secara proporsional dengan menggunakan 3 variabel.2. Pemekaran dau daerah Pemekaran daerah memberi dampak terhadap jumlah DAu yang diterima oleh daerah pemekaran. yaitu luas wilayah.15 Pembagian DAu bagi Daerah Pemekaran 3. Pembagian DAu pada daerah yang mengalami pemekaran dialokasikan pada daerah induk sebelum pemekaran. Sejak dimulainya implementasi otonomi daerah dan desentralisasi fiskal di Indonesia telah memberikan warna baru dengan adanya pemekaran daerah baik di tingkat provinsi serta terutama di tingkat kabupaten/kota. penduduk. jumlah daerah pemekaran baru beserta induknya dihitung secara mandiri. untuk perhitungan DAu Tahun 2011 untuk 14 PeningkatanKualitasHubunganKeuanganPusatdanDaerah DalamMendorongPertumbuhanEkonomi III-105 .Pelengkap Buku Pegangan 2011 gambar 3. dan jumlah PNsD.

secara utuh dan terpadu di pusat dan daerah. (6) Infrastruktur sanitasi. Pasal 51 Peraturan Pemerintah Nomor 55 Tahun menjadi prioritas nasional dan menjadi urusan daerah. (11) Keluarga Berencana. koordinasi pengelolaan DAK Membantu daerah-daerah yang memiliki kemampuan keuangan relatif Mendukung program yang menjadi Prioritas Nasional dalam RKP 2011 DAK Tahun 2011 digunakan untuk mendanai kegiatan di 19 bidang. (17) Keselamatan Transportasi Darat. (5) Infrastruktur Air Minum. (13)Perdagangan. (14) sarana dan Prasarana daerah tertinggal. yaitu: 1. (15) listrik Perdesaan.4.3. dan pengawasan terhadap pelaksanaan kegiatan DAK di daerah. (10) lingkungan Hidup.2. (4) Infrastruktur Irigasi. mendanai kegiatan khusus yang merupakan bagian dari program yang daerah tertentu untuk mendanai kegiatan khusus yang merupakan urusan 2005 menyebutkan bahwa DAK dialokasikan kepada daerah tertentu untuk DANA ALoKASI KHUSUS sesuai kerangka pengeluaran jangka menengah dan penganggaran rendah dalam membiayai pelayanan publik sesuai standar Pelayanan Minimal (sPM) dalam rangka pemerataan pelayanan dasar publik. Arah Kebijakan DAK Tahun 2011. serta meningkatkan Meningkatkan penyediaan data-data teknis. . sesuai dengan Pasal 39 undang-undang Nomor 33 Tahun 2004 disebutkan bahwa Dana Alokasi Khusus (DAK) dialokasikan kepada pemerintah daerah. (8) Kelautan dan Perikanan. (7) Prasarana (16) Perumahan dan Permukiman. (2) Kesehatan. 3. (3) Infrastruktur Jalan. III-106 SistemPendanaandiDaerah Pemerintahan. sinkronisasi kegiatan DAK dengan kegiatan lain yang didanai APBN dan APBD. sementara itu. (9) Pertanian. yaitu: (1) Pendidikan. (12) Kehutanan. berbasis kinerja. 2.

Pasal 52 Peraturan Pemerintah Nomor 55 Tahun RKP tersebut. 3. Menteri Keuangan. menteri teknis mengusulkan kegiatan khusus dan ditetapkan teknis menyampaikan kegiatan khusus yang telah ditetapkan tersebut kepada Menteri Keuangan. menteri PeningkatanKualitasHubunganKeuanganPusatdanDaerah DalamMendorongPertumbuhanEkonomi III-107 . dan (4) sebagaimana diketahui bahwa kegiatan khusus yang di danai dari DAK 2005 menyatakan bahwa program yang menjadi prioritas nasional PenetaPan Program dan kegiatan dibagi menjadi 4 kelompok besar. Berdasarkan prioritas nasional sebagaimana tercantum dalam menjadi urusan daerah.4.1. Formulasi Dana Alokasi Khusus TA 2011 administrasi pengelolaan DAK. Formulasi yang berkaitan dengan alokasi DAK secara garis besar dapat (2) penghitungan alokasi DAK. serta (19) sarana dan Prasarana Kawasan Perbatasan. merupakan bagian dari program yang menjadi prioritas nasional dan dimaksud dimuat dalam Rencana Kerja Pemerintah (RKP) tahun anggaran bersangkutan. setelah berkoordinasi dengan Menteri Dalam Negeri.2. selanjutnya. dan Menteri Negara Perencanaan Pembangunan Nasional.Pelengkap Buku Pegangan 2011 (18) Transportasi Perdesaan. (3) arah dan penggunaan DAK. yaitu (1) penetapan program dan kegiatan.

yaitu: Penentuan daerah tertentu yang mendapat alokasi DAK harus memenuhi indeks berdasarkan kriteria umum. sementara itu. 2. dan kriteria teknis. kriteria khusus.16 Mekanisme Penetapan Program dan Kegiatan sumber: PP Nomor 55 Tahun 2005 3. dan kriteria teknis.2. penentuan besaran alokasi DAK masing-masing daerah ditentukan dengan perhitungan . 1. III-108 SistemPendanaandiDaerah Perhitungan alokasi dak Penentuan daerah tertentu yang menerima alokasi DAK Penentuan besaran alokasi DAK masing-masing daerah. Penghitungan alokasi DAK dilakukan melalui 2 tahapan. kriteria khusus.gambar 3. kriteria umum.4.2.

Kriteria umum dihitung untuk melihat kemampuan APBD untuk membiayai kebutuhan-kebutuhan dalam rangka pembangunan daerah yang persamaan di bawah ini: bentuk rumus. kriteria umum tersebut dapat ditunjukkan pada beberapa dicerminkan dari penerimaan umum APBD dikurangi belanja pegawai. Kriteria Umum bahwa alokasi DAK mempertimbangkan kemampuan Keuangan Daerah dalam APBD. arah kebijakan umum DAK adalah untuk membantu daerah-daerah yang kemampuan keuangan daerahnya relatif rendah.Pelengkap Buku Pegangan 2011 sesuai dengan pasal 40 undang-undang Nomor 33 Tahun 2004 dinyatakan 1. DBHDR = Dana Bagi Hasil = Dana Bagi Hasil Dana Reboisasi hal ini. rata-rata kemampuan keuangan daerah secara nasional dihitung PeningkatanKualitasHubunganKeuanganPusatdanDaerah DalamMendorongPertumbuhanEkonomi III-109 . Dalam tahun 2011. Dalam dengan menggunakan rumus di bawah ini. Hal ini diterjemahkan bahwa DAK dialokasikan untuk daerah-daerah yang kemampuan keuangan daerahnya berada di bawah rata-rata nasional atau IFN-nya kurang dari 1 (satu). Dalam Kemampuan Keuangan Daerah = Penerimaan Umum APBD – Belanja Pegawai Daerah Penerimaan Umum = PAD + DAU + (DBH – DBHDR) Belanja Pegawai Daerah = Belanja PNSD Dimana: PAD APBD DBH PNsD DAu = Pendapatan Asli Daerah = Dana Alokasi umum = Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah = Pegawai Negeri sipil Daerah Kemampuan keuangan daerah dihitung melalui indeks fiskal neto (IFN) tertentu yang ditetapkan setiap tahun.

untuk Provinsi : 1) Daerah tertinggal dengan memperhatikan peraturan perundang-undangan. 2) Daerah pesisir dan/atau kepulauan 4) Daerah rawan bencana 6) Daerah pariwisata 1) Daerah tertinggal 5) Daerah ketahanan pangan 3) Daerah perbatasan dengan negara lain b. Rumus IFN dapat dilihat di bawah ini. maka Kemampuan Keuangan Daerah Z Rata-rata Nasional Kemampuan Keuangan Daerah Ditetapkan 2. kabupaten dan kota di wilayah Provinsi Papua dan Papua Barat serta seluruh daerah tertinggal diprioritaskan mendapatkan alokasi DAK Karakteristik daerah yang meliputi : a. Kriteria Khusus dan karakteristik daerah. perhitungan IFN dilakukan dengan membagi kemampuan keuangan daerah dengan rata-rata nasional kemampuan keuangan daerah.Rata-rata Nasional Kemampuan Kauangan Daerah = Total Kemampuan Keuangan Daerah secara Nasional Jumlah Daerah selanjutnya. Indeks Fiskal Netto Daerah Z = Jika IFN < 1. atau dengan kata lain daerah tersebut memiliki kemampuan keuangan daerah lebih kecil dibandingkan dengan rata-rata nasional. daerah tersebut mendapatkan prioritas dalam memperoleh DAK. untuk Kabupaten dan Kota : SistemPendanaandiDaerah III-110 . untuk daerah provinsi.

1) sD Indikator Teknis kelas B yang semula kelas C. dan memperhatikan Indeks Kemahalan Konstruksi (IKK) masing-masing daerah. Kriteria Teknis dan Ruang Lingkup DAK Pendidikan Lingkup Kegiatan terkait. A. pembangunan ruang kelas baru (RKB) termasuk perpustakaan dan mutu bangunan ditingkatkan menjadi peningkatan mutu.Pelengkap Buku Pegangan 2011 2) Daerah pesisir dan/atau kepulauan 4) Daerah rawan bencana 3. serta memenuhi kebutuhan sarana Jumlah sD/sDlB 2) sMP Jumlah Ruang Kelas Rusak sedang/Berat Angka Pastisipasi Murni (APM) Jumlah sekolah Jumlah sD yang belum memiliki perpustakaan PeningkatanKualitasHubunganKeuanganPusatdanDaerah DalamMendorongPertumbuhanEkonomi III-111 . Kriteria Teknis 6) Daerah pariwisata 5) Daerah ketahanan pangan 3) Daerah perbatasan dengan negara lain Kriteria teknis dirumuskan oleh kementerian negara/departemen teknis yang dapat digunakan untuk menggambarkan kondisi sarana-prasarana pada masing-masing bidang/kegiatan yang akan didanai oleh DAK. Kriteria teknis tersebut dicerminkan dengan indikator-indikator Diprioritaskan untuk menuntaskan rehabilitasi ruang kelas sD/sDlB dan sMP/ sMPlB yang rusak sedang dan berat.

-

Kebutuhan Bangunan Fisik Ruang Keterampilan/Ruang Kesenian Kebutuhan Bangunan Fisik Rehab sedang Kebutuhan Bangunan Fisik Rehab Berat Kebutuhan Alat lab. IPA Kebutuhan Alat lab. IPs Kebutuhan Bangunan Fisik Ruang Kelas Baru (RKB) Kebutuhan Bangunan Fisik Ruang Perpustakaan Kebutuhan Alat Matematika Kebutuhan Alat olah Raga Kebutuhan Alat Kesenian

Kebutuhan Alat lab. Bahasa

B. Kriteria Teknis dan Ruang Lingkup DAK Kesehatan Lingkup Kegiatan (1) Pembangunan, peningkatan dan perbaikan Puskesmas dan jaringannya; (2) Pembangunan Pos Kesehatan Desa; (3) Pengadaan peralatan kesehatan

Angka Partisipasi Kasar (APK)

untuk pelayanan kesehatan dasar di Puskesmas dan jaringannya; (4) Pengadaan peralatan promosi kesehatan; (5) Peningkatan fasilitas tempat pengadaan peralatan IgDRs; (8) Pembangunan dan pengadaan Peralatan tidur kelas III Rs; (6) Pembangunan, perbaikan Bank Darah Rumah sakit

(BDRs) dan peralatan unit Transfusi Darah (uTD); (7) Pembangunan dan obstetri Neonatal Emergensi Komprehensif (PoNEK) Rs; (9) Pemenuhan peralatan di lab.kesehatan daerah dan Rs Provinsi/Kab/Kota; (10) Instalasi Kab/Kota; (13) Pengadaan sarana pendukung instalasi farmasi di Provinsi/ Kab/Kota.
III-112 SistemPendanaandiDaerah

Pengolahan Air limbah (IPAl); (11) Penyediaan obat generik dan perbekalan kesehatan; (12) Pembangunan dan perbaikan instalasi farmasi di Provinsi/

Pelengkap Buku Pegangan 2011

1) Pelayanan Dasar Indikator Teknis -

Indeks Pembangunan Kesehatan Masyarakat Indeks luas Wilayah Indeks Jumlah Penduduk Indeks Rasio Puskesmas/Kecamatan Indeks Rasio Poskesdes/Desa Indeks Puskesmas PoNED Indeks Ponek Rs Indeks IgDRs Indeks uTD dan BDRs Indeks TT Kelas III Indeks IPAl Rs Indeks Peningkatan Puskesmas (TT)

2) Pelayanan Rujukan Kab/kota

3) obat generik

Indeks Penunjang Diagnostik

4) Pelayanan Rujukan Provinsi Indeks Ponek Rs Indeks IgDRs Indeks uTD dan BDRs Indeks TT Kelas III Indeks IPAl Rs

Indeks Alokasi obat dan Perbekkes Kab/Kota

Indeks Instalasi Farmasi dan sarana Pendukungnya

Indeks Penunjang Diagnostik

PeningkatanKualitasHubunganKeuanganPusatdanDaerah DalamMendorongPertumbuhanEkonomi

III-113

C. Kriteria Teknis dan Ruang Lingkup DAK Infrastruktur Lingkup Kegiatan 1) Bidang Infrastruktur Jalan / kabupaten/kota.

kabupaten/kota dan peningkatan prasana jalan dan jembatan provinsi/ kabupaten/kota, penyelesaian pembangunan jalan dan jembatan provinsi jaringan reklamasi rawa berikut bangunan pelengkapnya yang menjadi daerah penerima DAK bidang Irigasi Rehabilitasi dan peningkatan sistem jaringan irigasi termasuk sistem

Pemeliharaan berkala/rehabilitasi jalan

dan jembatan provinsi/

2) Bidang Infrastruktur Irigasi

wewenang provinsi dan kabupaten/kota untuk mendukung program ketahanan pangan, sedangkan dana untuk operasional dan Pemeliharaan 3) Bidang Infrastruktur Air Minum

(oP) jaringan irigasi dialokasikan dari APBD masing-masing pemerintah (pemanfaatan sisa kapasitas terpasang) dan/atau pembangunan baru desa rawan air minum dan kekeringan. untuk mengoptimalkan sistem Penyediaan Air Minum Terbangun

sistem Penyediaan Air Minum bagi masyarakat berpenghasilan rendah 4) Bidang Infrastruktur sanitasi pada ibukota kecamatan dan pada kawasan kumuh perkotaan serta desa(1) Pengembangan prasarana dan sarana air limbah komunal; (2)

drainase mandiri yang berwawasan lingkungan.
III-114 SistemPendanaandiDaerah

Pengembangan fasilitas pengurangan sampah dengan pola 3R (reduce, reuse, dan recycle); dan (3) Pengembangan prasarana dan sarana

Pelengkap Buku Pegangan 2011

1) Bidang Infrastruktur Jalan Indikator Teknis -

Indeks Panjang Jalan (Ipj) Indeks Kondisi Jalan (Ikj) Indeks luas wilayah (Ilw) Indeks Kepedulian (Ikp) Indeks Pelaporan (Ipl)

2) Bidang Infrastruktur Irigasi Indeks Kepedulian Indeks Pelaporan Indikator Teknis

Indeks jumlah Penduduk (I jp) Indeks luas Daerah Irigasi

Indeks Kondisi Daerah Irigasi

3) Bidang Infrastruktur Air Minum Indeks Cakupan Air Minum Indeks Kepedulian Indeks Pelaporan Indikator Teknis

Indeks Rata-rata Produksi sawah

Indeks Kerawanan Air Minum

Indeks Masyarakat Berpenghasilan Rendah

4) Bidang Infrastruktur sanitasi

Indeks Kerawanan sanitasi

Indeks Masyarakat Berpenghasilan Rendah Indeks luas Kawasan Kumuh Indeks Cakupan Pelayanan sanitasi

PeningkatanKualitasHubunganKeuanganPusatdanDaerah DalamMendorongPertumbuhanEkonomi

III-115

-

Indeks Kepedulian Indeks Pelaporan

D. Kriteria Teknis dan Ruang Lingkup DAK Kelautan dan Perikanan Lingkup Kegiatan (1) penyediaan sarana dan rehabilitasi prasarana produksi perikanan tangkap; (2) penyediaan sarana dan rehabilitasi prasarana produksi perikanan budidaya; (3) penyediaan dan rehabilitasi sarana dan prasarana pengolahan, peningkatan mutu dan pemasaran hasil bahari dan pengembangan perikanan; (5) penyediaan dan rehabilitasi Bahan Bakar Nelayan (sPBN); (6) penyediaan sarana dan prasarana untuk provinsi berupa pengadaan kapal penangkapan ikan. Produksi Tangkap Panjang Pantai Jumlah Nelayan Produksi Benih Kawasan Minapolitan Produksi Perikanan sarana prasarana pemberdayaan masyarakat di pesisir dan pulau-pulau kecil serta kawasan konservasi perairan, yang terkait dengan wisata pengawasan; (7) penyediaan sarana dan prasarana penyuluhan perikanan; (4) penyediaan dan rehabilitasi infrastruktur dasar dan prasarana Solar Packed Dealer Nelayan (sPDN)/stasiun Pengisian perikanan; dan (8) penyediaan sarana dan prasarana pengembangan 1) Provinsi statistik perikanan. (9)Penyediaan sarana produksi perikanan tangkap

Indikator Teknis

2) Kab/Kota

III-116

SistemPendanaandiDaerah

Pelengkap Buku Pegangan 2011

-

unit Balai Benih

luas lahan Potensi Budidaya luas Perairan umum Daratan Kapal Perikanan Tenaga Kerja Perikanan unit Pengolahan Ikan unit Pemasaran Ikan Pokmaswas sDKP Kasus Pelanggaran Pulau Kecil dikelola Pos Pengawasan sDKP

luas lahan Pengelolaan budidaya unit Pangkalan Pendaratan Ikan

Kawasan Konservasi Perairan Tenaga Penyuluh Perikanan Tenaga statistisi Perikanan Retribusi Perikanan dihapus

E. Kriteria Teknis dan Ruang Lingkup DAK Pertanian Lingkup Kegiatan 1) perluasan areal pertanian, meliputi: pencetakan sawah, pembukaan lahan 2) penyediaan sarana dan prasarana pengelolaan air, antara lain: dangkal, irigasi tanah dalam, pompanisasi, dam parit dan embung;
PeningkatanKualitasHubunganKeuanganPusatdanDaerah DalamMendorongPertumbuhanEkonomi

kering/perluasan areal untuk tanaman pangan, hortikultura, perkebunan dan peternakan;

pembangunan/rehabilitasi jaringan irigasi tingkat usaha tani, jaringan

irigasi tersier desa, tata air mikro, irigasi air permukaan, irigasi tanah

III-117

Instalasi laboratorium. optimasi lahan. untuk tanamanpangan/hortikultura/perkebunan/peternakan. peningkatan kesuburan tanah. 6) penyediaan sarana dan prasarana Balai Perbenihan/Perbibitan Kabupaten 7) pembangunan/rehabilitasi pusat/pos pelayanan kesehatan hewan dan 1) luas Penggunaan lahan Indikator Teknis 3) Jumlah Penyuluh 4) Pengguna lahan F. ii) penyediaan sarana prasarana pemantauan kualitas air. serta penyediaan unit Pengolahan Pupuk organik 5) penyediaan lumbung/gudang pangan masyarakat/pemerintah. 3R.3) pengelolaan lahan melalui pembangunan/rehabilitasi jalan usaha tani 4) pembangunan/rehabilitasi Balai Penyuluhan Kecamatan. dan III-118 2) Pengendalian pencemaran air melalui kegiatan: penerapan teknologi Terbuka Hijau (RTH). (uPPo). inseminasi buatan. Pengolahan Air limbah (IPAl) medik dan usaha Kecil dan Menengah SistemPendanaandiDaerah . Lingkup Kegiatan 2) Balai Penyuluhan Pertanian Kriteria Teknis dan Ruang Lingkup DAK Lingkungan Hidup 1) Pemantauan kualitas air melalui kegiatan: i) pembangunan gedung dan iii) pembangunan laboratorium lingkungan bergerak. konservasi lahan. dan jalan produksi. Ruang (uKM). sederhana untuk pengurangan limbah (seperti biogas. taman kahati. Particulate Matter (PM10).

briket arang. Bupati. khususnya pada daerah-daerah yang belum mendapat alokasi DAK Prasarana Pemerintahan pada tahun sebelumnya. Kriteria Teknis dan Ruang Lingkup DAK Prasarana Pemerintahan Pembangunan/perluasan/rehabilitasi kantor Bupati dan/atau Walikota. Indikator Teknis 2) Jumlah sKPD yang kondisinya rusak 3) Daerah yang pindah ibukota 1) Jumlah sKPD yang belum memiliki kantor sendiri 4) luas Praspem yang masih dibutuhkan daerah-daerah lainnya yang prasarana pemerintahannya seperti kantor gubernur. kualitas udara.Pelengkap Buku Pegangan 2011 3) Pengendalian polusi udara melalui kegiatan: i) pengadaan alat pemantau mengurangi polusi udara (alat pembuatan asap cair. DPRD dan kantor sKPD-nya sudah tidak layak PeningkatanKualitasHubunganKeuanganPusatdanDaerah DalamMendorongPertumbuhanEkonomi III-119 . ii) penerapan teknologi tepat guna/sederhana untuk 1) Kepadatan penduduk Indikator Teknis 3) luas tutupan lahan 6) Volume sampah Lingkup Kegiatan 4) Bentuk kelembagaan 5) Ruang terbuka hijau 2) Panjang sungai tercemar G. dan lain-lain). Walikota. kantor DPRD. serta pada lagi. gedung kantor sKPD di daerah otonom baru/pemekaran dan yang mengalami dampak pemekaran sampai dengan tahun 2009.

H. (2) pengembangan sarana prasarana keamanan hutan. pengadaan public address. dan (7) mobil unit pelayanan (MuYAN) KB keliling. (6) penyediaan Bina Keluarga Balita (BKB) kit. Kriteria Teknis dan Ruang Lingkup DAK Keluarga Berencana Lingkup Kegiatan Ruang lingkup kegiatan meliputi (1) penyediaan kendaraan bermotor roda lapangan Keluarga Berencana (PlKB)/Pengawas Petugas dua dan sarana kerja bagi Penyuluh Keluarga Berencana (PKB)/Penyuluh implant kit. (2) penyediaan sarana pelayanan KB di klinik Laparascopy. III-120 SistemPendanaandiDaerah . (4) Keluarga Berencana (PPlKB. dan pembangunan gudang penyimpanan alokon di kab/kota. (3) pengembangan sarana prasarana penyuluhan kehutanan. Indikator Teknis 3) Indeks Jumlah Desa / Kelurahan 4) Indeks Jumlah Kecamatan 5) Indeks Klinik KB I. lapangan Kriteria Teknis dan Ruang Lingkup DAK Kehutanan Ruang lingkup kegiatan meliputi (1) kegiatan RHl yang terdiri dari kegiatan vegetatif dan konservasi tanah dan air. (8) Penyediaan 1) Indeks Penyuluh KB / Petugas lapangan KB 2) Indeks Pengendali Petugas lapangan KB penyediaan Mobil unit Penerangan (MuPEN) KB. (3) pembangunan/renovasi balai penyuluhan KB kecamatan. obgyn bed. Lingkup Kegiatan KB (statis) berupa Intra uterine Device (IuD) kit/sterilisator. (5) penyediaan serta pengadaan Komunikasi Informasi dan Edukasi (KIE) kit.

Kriteria Teknis dan Ruang Lingkup DAK Perdagangan Lingkup Kegiatan Ruang lingkup kegiatan a) pembangunan dan pengembangan pasar tradisional.Pelengkap Buku Pegangan 2011 1) Kab/ Kota - Indikator Teknis luas Wilayah luas Hutan Mangrove luas lahan Kritis luas Hutan lindung luas lahan gambut luas Tahura luas lahan Kritis di luar Kawasan luas Kawasan Konservasi Daerah Penghasil/Jumlah DBH yang Diperoleh luas Kawasan Konservasi 2) Provinsi J. dan c) Resi gudang. 1) Pembangunan sarana Distribusi Perdagangan (Pasar Tradisional) Indikator Teknis jarak < 3 km Jumlah Pasar Tanpa Bangunan Prosentase jumlah pasar rusak pembangunan gudang komoditas pertanian dalam rangka penerapan sistem Jumlah desa yang tdk memiliki pasar permanen/semi permanen pd 2) Metrologi : Jumlah Peralatan Mobilitas sidang Tera & Tera ulang PeningkatanKualitasHubunganKeuanganPusatdanDaerah DalamMendorongPertumbuhanEkonomi III-121 . b) pembangunan dan peningkatan sarana metrologi legal.

III-122 SistemPendanaandiDaerah Baru Terbarukan (EBT) yaitu konstruksi pembangkit skala kecil EBT berbasis . & Peralatan gudang Jumlah Produksi Beras Teknis dan K. Penyediaan jaringan pipa air minum. 6) Indeks Rencana Pembangunan Rumah 2011 Lingkup Kegiatan Kriteria Teknis dan Ruang Lingkup DAK Listrik Perdesaan pembangunan pembangkit energi baru terbarukan untuk penyediaan energi listrik dengan memanfaatkan potensi energi lokal yang berasal dari Energi surya (solar cell). atau pembangkit EBT lainnya. mikro hidro. dan 4) Penerangan jalan umum. sarana Penunjang. sarana dan utilitas (Psu) kawasan perumahan dan permukiman yaitu: 1) 2) Septic tank komunal. Kriteria Jumlah Produksi Jagung Ruang Lingkup DAK Perumahan dan - Jumlah Pengadaan Pos ukur ulang & Peralatannya Pemukiman Lingkup Kegiatan Ruang lingkup kegiatan pembangunan Prasarana. 2) Indeks Backlog 1) Indeks Kepadatan Penduduk 3) Indeks Penetapan Alokasi 4) Indeks Kesiapan RRTR 5) Indeks Tata Ruang L.3) Pembangunan gudang. Indikator Teknis 3) Jaringan distribusi listrik.

dan Jumlah Penduduk di Kecamatan Perbatasan b) penyediaan angkutan perdesaan (pemberian bantuan sarana transportasi angkutan barang yang sesuai dengan karakteristik daerah). Indikator Teknis 1) Panjang garis Batas Kecamatan Perbatasan 2) Jumlah Desa Wilayah Perbatasan 3) luas Wilayah Perbatasan 4) (2) pembangunan/rehabilitasi dermaga kecil atau terluar berpenduduk. PeningkatanKualitasHubunganKeuanganPusatdanDaerah DalamMendorongPertumbuhanEkonomi III-123 . 2) Desa Berlistrik untuk kabupaten kota M. dan (3) moda transportasi perairan/kepulauan untuk N. Kriteria Teknis dan Ruang Lingkup DAK Sarana Kawasan (1) pembangunan/rehabilitasi jaringan jalan di luar jalan provinsi dan tambatan perahu di kecamatan perbatasan atau kawasan pulau kecil mendukung mobilisasi angkutan orang dan barang. Kriteria Teknis dan Ruang Lingkup DAK Transportasi Pedesaan Lingkup Kegiatan a) pembangunan jalan poros desa.Pelengkap Buku Pegangan 2011 Indikator Teknis 1) Rasio elektrifikasi kabupaten kota 3) Harga BPP listrik per propinsi Perbatasan Lingkup Kegiatan kabupaten/kota.

khususnya dermaga kecil atau SistemPendanaandiDaerah moda transportasi darat. 3) Indeks Karakteristik Kewilayahan yaitu rasio jumlah desa pertanian. jasa O. dan pagar pengaman jalan. c) pembangunan dan rehabilitasi jalan di luar jalan provinsi dan kabupaten/kota. Daerah Tertinggal Lingkup Kegiatan 2) Indeks Kepadatan Penduduk (Jumlah penduduk / luas wilayah) Kriteria Teknis dan Ruang Lingkup DAK Sarana dan Prasarana a) penyediaan moda transportasi perairan/kepulauan. Kriteria Teknis dan Ruang Lingkup DAK Keselamatan Transportasi 1) Indeks Aksesibilitas (Panjang jalan / luas wilayah) Indikator Teknis P. b) penyediaan dermaga kecil atau tambatan perahu. marka jalan.Indikator Teknis 1) Indeks Kebutuhan Prasarana Angkutan yaitu Rasio jumlah desa bukan aspal/ jumlah desa moda transport darat dari desa ke kecamatan dibagi total jumlah desa 2) Indeks Kebutuhan sarana Angkutan yaitu rata-rata waktu tempuh pe km 4) Kawasan strategis Cepat Tumbuh Darat Pengadaan dan pemasangan fasilitas keselamatan jalan. antara lain: Lingkup Kegiatan 1) 2) 3) rambu jalan. d) pembangunan dan rehabilitasi III-124 .

17 di bawah ini.Pelengkap Buku Pegangan 2011 tambatan perahu di wilayah pesisir yang tidak ditangani Kementerian Perhubungan. proses pengalokasian DAK dapat dijelaskan PeningkatanKualitasHubunganKeuanganPusatdanDaerah DalamMendorongPertumbuhanEkonomi III-125 . Dari beberapa penjelasan di atas. listrik perdesaan yang memanfaatkan sumber energi mikrohidro dan 2) Indeks Infrastruktur energi 3) Indeks Rumah Tangga tidak pelanggan listrik 4) Indeks Desa tidak berlistrik 7) Indeks Jalan 8) Indeks Moda Transportasi 5) Indeks Infrastruktur Transportasi 6) Indeks Akses Kendaraan Roda 4 9) Indeks Administrasi Pelaporan pada gambar 3. dan e) penyediaan/pembangunan pembangkit energi 1) Indeks Infrastruktur Indikator Teknis pikohidro.

17 Proses Penentuan Besaran Alokasi DAK per Daerah Dari gambar 3. maka daerah tersebut pada proses ini layak mendapat alokasi kriteria khusus yang pertama yaitu apakah daerah tersebut termasuk SistemPendanaandiDaerah Jika pada proses no.gambar 3. 1. 2. baik dalam menentukan daerah tertentu yang menerima DAK maupun dalam menentukan besaran alokasi masing-masing daerah. 1 di atas daerah tidak memenuhi. DAK. terdapat serangkaian proses yang harus dilalui. Tahap 1 : Menentukan Daerah Tertentu Penerima DAK Jika suatu daerah memenuhi kriteria umum yang ditunjukkan dengan IFN < 1.17 di atas. maka dilihat III-126 .

maka lihat kembali kriteria khusus yang kedua yaitu karakteristik hal ini apabila IFW > 1. maka daerah tersebut layak memperoleh alokasi DAK. 3. Pada proses ini. besaran alokasi untuk masing-masing bidang dan masing-masing daerahnya (ADB. di atas. Pada 4. IFN dan IKW digabungkan sehingga menghasilkan IFW. IFWT masing-masing daerah dikalikan dengan Indeks Kemahalan selanjutnya. 2. Jika ya. Jika IFWT > 1. Konstruksi (IKK) dan menghasilkan Bobot Daerah (BD) untuk masingmasing-masing bidang. maka daerah tersebut layak mendapat alokasi DAK pada bidang tersebut. maka daerah tersebut layak memperoleh DAK. Dalam DAK pada proses nomor 3 di atas. masing daerah. BD tersebut dikalikan dengan pagu alokasi DAK masing- masing bidang sehingga dihasilkan alokasi daerah bersangkutan untuk PeningkatanKualitasHubunganKeuanganPusatdanDaerah DalamMendorongPertumbuhanEkonomi III-127 . maka dilihat kriteria teknisnya untuk menghasilkan IFWT. alokasi daerah dan bidang). Jika daerah tersebut tidak termasuk dalam kriteria khusus pada butir 2 masing-masing bidang yang didanai dari DAK yang dicerminkan dengan indeks teknis (IT). IT digabungkan dengan IFW sehingga setelah proses penentuan daerah tertentu dilalui. proses ini. dalam pengaturan otonomi khusus atau termasuk dalam 199 kabupaten tertinggal. Jika daerah tersebut ternyata masih belum layak untuk mendapatkan wilayah yang ditunjukkan dengan indeks kewilayahan (IKW). maka harus dihitung Tahap 2 : Menentukan Besaran Alokasi DAK masing-masing Daerah 1.Pelengkap Buku Pegangan 2011 3.

Dana Pendamping dokumen pelaksana anggaran sejenis lainnya.3. dalam APBD tahun anggaran berjalan. penerimaan umum APBD dan Belanja Pegawainya sama dengan 0 (nol) atau Menteri Teknis menetapkan Petunjuk Teknis pelaksanaan kegiatan DAK untuk masing-masing bidang.2. Dana Pendamping program yang didanai DAK. yaitu selisih antara negatif maka tidak diwajibkan menganggarkan Dana Pendamping. Dana Pendamping tersebut wajib dianggarkan juga dicantumkan dalam Dokumen Pelaksana Anggaran (DPA-sKPD) atau untuk daerah dengan kemampuan keuangan tertentu. yang memuat pilihan kegiatan.07/2010 diatur bahwa daerah wajib menyampaikan rencana penggunaan DAK kepada Menteri/Kepala Badan pendamping. sesuai dengan PMK Nomor 216/PMK. Jika daerah tidak menganggarkan untuk mendanai kegiatan fisik.3.q. Keuangan. serta dana terkait dengan tembusan Menteri Keuangan c. administrasi Pengelolaan dak untuk menyatakan komitmen dan tanggung jawab daerah dalam pelaksanaan 1. volume dan besaran. 2.4. pencairan DAK tidak dapat dilakukan. daerah penerima DAK wajib menyediakan Dana Pendamping sekurang-kurangnya 10 persen dari nilai DAK yang diterimanya Dana Pendamping. Penganggaran untuk kelancaran pelaksanaan kegiatan yang dapat dibiayai dari DAK. selanjutnya. Dirjen Perimbangan III-128 SistemPendanaandiDaerah . pelaksanaan kegiatan yang didanai DAK harus selesai paling lambat 31 Desember tahun anggaran berjalan dan hasil dari kegiatan yang didanai DAK harus sudah dapat dimanfaatkan pada akhir tahun anggaran tesebut.

Pemantauan dan Pengawasan sebelumnya dan/atau tahun berjalan.Pelengkap Buku Pegangan 2011 sementara itu. daerah penerima DAK dapat melakukan optimalisasi penggunaan DAK dengan merencanakan berjalan apabila akumulasi nilai kontrak pada suatu bidang DAK lebih kecil dilakukan untuk kegiatan-kegiatan pada bidang DAK yang sarna dan sesuai dan menganggarkan kembali kegiatan DAK dalam APBD Perubahan tahun dari pagu bidang DAK tersebut. 126/PMK. 3.07/2010 tentang Pelaksanaan dan Pertanggungjawaban Transfer ke Daerah Pasal 28. Daerah sendiri PeningkatanKualitasHubunganKeuanganPusatdanDaerah DalamMendorongPertumbuhanEkonomi III-129 . sisa DAK tersebut untuk mendanai kegiatan DAK pada bidang yang sama dengan petunjuk teknis yang ditetapkan. Menteri Teknis melakukan keuangan DAK dilaksanakan oleh Badan Pemeriksa Keuangan dan/atau pemantauan dan evaluasi terhadap pemanfaatan dan teknis pelaksanaan Pengawasan fungsional/pemeriksaan pelaksanaan kegiatan dan administrasi tersebut terdapat penyimpangan dan/atau penyalahgunaan. Apabila dalam pemeriksaan dengan peraturan perundang¬undangan yang berlaku. berdasarkan PMK No. daerah dapat menggunakan tahun anggaran berikutnya sesuai dengan petunjuka teknis tahun anggaran dana pendamping DAK. yaitu pemantauan teknis. optimalisasi penggunaan DAK tersebut pada kas daerah saat tahun anggaran berakhir. sisa DAK tidak dapat digunakan untuk Pemantauan dan pengawasan dari kegiatan yang dibiayai melalui Dana Alokasi Khusus ini melibatkan tiga hal penting. Dalam hal terdapat sisa DAK pelaksanaan kegiatan dan administrasi keuangan serta penilaian terhadap manfaat kegiatan yang dibiayai oleh DAK tersebut. BPK dan/atau aparat pengawas intern pemerintah daerah menindaklanjutinya sesuai aparat pengawasan intern pemerintah daerah. kegiatan yang didanai dari DAK sesuai dengan kewenangan masing-masing.

rencana kegiatan. sasaran. sE 1722/MK. 126/PMK. Dirjen Perimbangan Keuangan.4.07/2008. PelaPoran kegiatan dan penggunaan DAK kepada Menteri/Kepala Badan terkait dengan tembusan Menteri Keuangan c. Menteri Teknis menyampaikan laporan pelaksanaan kegiatan Perencanaan dan Pembangunan Nasional/Kepala Bappenas. dan Menteri Terkait dengan sisa DAK TA 2003 – 2009 yang belum digunakan sampai dengan ditetapkannya PMK No.PPN/11/2008. surat Edaran Bersama (sEB) Menteri Dalam Negeri. wajib melaporkannya kepada paling lambat 60 hari setelah PMK kegiatan DAK pada bidang yang sama sesuai juknis TA berjalan. Menteri selanjutnya.q.07/2010.4. 3. dan Negara Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) Nomor 0239/ M. untuk lebih mengoptimalkan pelaksanaan DAK di daerah dalam kaitannya dengan penyempurnaan kebijakan DAK.melalui tim koordinasi melakukan evaluasi terhadap manfaat pelaksanaan DAK yang melibatkan pihak terkait setempat. meliputi gambaran. hambatan. dapat digunakan untuk digunakan. telah diterbitkan Pemantauan Teknis Pelaksanaan Dan Evaluasi Pemanfaatan Dana Alokasi pemerintahan. Jika sudah III-130 SistemPendanaandiDaerah . sementara itu. Menteri Keuangan. hasil yang telah dicapai. 900/3556/sJ Petunjuk Pelaksanaan Khusus (DAK). sEB dimaksud lebih banyak mengatur tata hubungan dalam pelaksanaan pemantauan dan evaluasi DAK yang dilaksanakan antar tingkat Daerah menyampaikan laporan triwulanan yang memuat laporan pelaksanaan serta jumlah realisasi dana Dalam Negeri. DAK pada akhir tahun anggaran kepada Menteri Keuangan.2.

126/PMK. perubahan ini diimplementasikan ke dalam perubahan nomenklatur APBN dari sebelumnya ”Belanja ke Daerah” menjadi pelaksanaan penyalurannya dari kas negara ke kas daerah.Pelengkap Buku Pegangan 2011 No. kekuasaan pengelolaan keuangan negara tersebut diserahkan kepada gubernur/bupati/ walikota selaku kepala pemerintahan daerah untuk mengelola keuangan pelaksanaan sampai dengan pertanggungjawabannya. Dalam rangka pelaksanaan otonomi daerah. sisa DAK tersebut tidak dapat digunakan untuk dana pendamping. 3. Hal ini berarti. Keuangan dalam upaya daerah dan mewakili pemerintahan daerah dalam kepemilikan kekayaan sendiri pengelolaan keuangan daerah mulai dari perencanaan.5. sejalan menyempurnakan dengan amanat bagan akun undang-undang standar daerah yang dipisahkan.06/2007 tentang Bagan Akun standar. penganggaran. ”Transfer ke Daerah” dan diikuti pula dengan perubahan mendasar dalam penyaluran ini terakhir diatur dalam Peraturan Menteri Keuangan Nomor PeningkatanKualitasHubunganKeuanganPusatdanDaerah DalamMendorongPertumbuhanEkonomi III-131 . Pelaksanaan kelompok bagan akun tersendiri yaitu ”Kelompok Transfer ke Daerah” telah Menteri Keuangan Nomor 91/PMK.2. Hal ini diatur dalam Peraturan selanjutnya pada tahun 2008. PENyALURAN ANGGARAN TRANSFER KE DAERAH Pasal 6 undang-undang Nomor 17 Tahun 2003 tentang Keuangan Negara menyatakan bahwa Presiden selaku Kepala Pemerintahan memegang kekuasaan pengelolaan keuangan negara sebagai bagian dari kekuasaan pemerintahan.07/2010 ditetapkan. pemerintah daerah melakukan Menteri tersebut. mengelompokkan bagan akun yang terkait dengan pengalokasian Dana Perimbangan dan Dana otonomi Khusus dan Penyesuaian ke dalam menggantikan ”Kelompok Belanja ke Daerah”.

dengan rincian sebagai berikut : sebesar 20 persen dari alokasi sementara. Penyaluran dbh Pajak Penyaluran DBH PPh mengacu pada Pasal 19 PMK Nomor 126/PMK. Dalam rangka penyaluran tersebut. DBH sDA.07/2010 tentang Pelaksanaan dan Pertanggungjawaban Anggaran Transfer ke Daerah. 21 tahun anggaran berjalan. Penyaluran angggaran Transfer ke Daerah dilakukan dengan cara (BuD) atau Kuasa BuD membuka rekening pada bank sentral atau bank umum untuk menampung penyaluran semua anggaran Transfer ke Daerah Daerah. Penyaluran triwulan I sampai dengan triwulan III masing-masing Penyaluran triwulan IV didasarkan pada selisih antara pembagian Dalam hal terjadi kelebihan penyaluran karena penyaluran triwulan berdasarkan prognosa realisasi penerimaan PPh WPoPDN dan PPh Pasal pemindahbukuan dari rekening Kas umum Negara ke Rekening Kas umum Daerah. dan DAK) dengan nama Rekening Kas umum definitif dengan jumlah dana yang telah dicairkan selama triwulan I I sampai dengan triwulan III yang didasarkan atas alokasi sementara SistemPendanaandiDaerah III-132 . • • • Penyaluran DBH PPh WPoPDN dan DBH PPh Pasal 21 dilaksanakan Penyaluran DBH PPh WPoPDN dan DBH PPh Pasal 21 dilaksanakan secara triwulanan. DAu.5.126/PMK.07/2010 1. b. a. sampai dengan triwulan III. Penyaluran Dana Bagi Hasil PPh tentang Pelaksanaan dan Pertanggungjawaban Anggaran Transfer ke Daerah.2.1. 3. Bendaharawan umum Daerah (DBH Pajak.

b. kepada seluruh kabupaten dan kota dilaksanakan dalam tiga tahap. bulan agustus.07/2010 tentang Pelaksanaan dan Pertanggungjawaban Anggaran Penyaluran DBH PBB dilaksanakan berdasarkan realisasi penerimaan Penyaluran DBH PBB bagian daerah dilaksanakan secara mingguan.07/2010 tentang Pelaksanaan dan Pertanggungjawaban . kepada kabupaten dan kota yang realisasi penerimaan PBB sektor pedesaan dan perkotaan pada tahun anggaran sebelumnya mencapai/ bulan November tahun anggaran berjalan. Triwulan II sebesar 30 persen dari alokasi sementara. Penyaluran Dana Bagi Hasil Cukai Hasil Tembakau Penyaluran DBH CHT didasarkan pada Pasal 20. melampaui rencana penerimaan yang ditetapkan. c. diperhitungkan dalam penyaluran tahun anggaran berikutnya. bulanan.Pelengkap Buku Pegangan 2011 lebih besar daripada alokasi definitif. Penyaluran Dana Bagi Hasil PBB Transfer ke Daerah. yaitu Penyaluran DBH PBB bagian pemerintah yang dibagikan secara merata bulan april. d. 126/PMK. (CHT) Penyaluran Biaya Pemungutan PBB bagian daerah dilaksanakan secara e. b. dan bulan november tahun anggaran berjalan. PBB tahun anggaran berjalan. maka kelebihan dimaksud Penyaluran DBH PBB mengacu pada Peraturan Menteri Keuangan Nomor 2. a. Triwulan I sebesar 20 persen dari alokasi sementara. Peraturan Menteri Keuangan Anggaran Transfer ke Daerah yaitu: a. PeningkatanKualitasHubunganKeuanganPusatdanDaerah DalamMendorongPertumbuhanEkonomi III-133 Nomor 126/PMK. dilaksanakan dalam Penyaluran DBH PBB bagian pemerintah yang dibagikan sebagai insentif 3.

Keuangannya. dan III. 3. Triwulan IV berdasarkan (perhitungan perkiraan realisasi penerimaan penyaluran triwulan I dan II (40 persen PMK)) + (lebih salur tahun (perhitungan perkiraan realisasi penerimaan negara sampai dengan Penyaluran rampung tahun sebelumnya (bulan Februari) berdasarkan Proses Penyaluran Penyaluran DBH sDA Migas dari rekening kas negara ke rekening kas sebagai berikut: III-134 pemerintah daerah penerima DBH sDA Migas. Triwulan II sebesar 20 persen dari pagu di Peraturan Menteri perhitungan perkiraan realisasi penerimaan negara sampai dengan 4.c. 5. sebelumnya). yaitu: 1. triwulan IV). II. Keuangannya.2.d. pola penyaluran DBH sDA dilaksanakan secara triwulanan.5. Penyaluran dbh sumber daya alam Triwulan III sebesar 30 persen dari alokasi sementara. d. dilaksanakan setelah DBH CHT semester I. negara sampai dengan triwulan III) – (penyaluran s. secara umum. yang telah disalurkan pada triwulan I. Ditjen Perimbangan Keuangan menerima laporan realisasi pelaksanaan Triwulan IV sebesar selisih antara alokasi definitif dengan jumlah dana 3.2. triwulan III) triwulan IV) – (penyaluran s.d. Proses penyaluran tersebut SistemPendanaandiDaerah . 2. • • Triwulan I sebesar 20 persen dari pagu di Peraturan Menteri Triwulan III berdasarkan: triwulan II.

2. Penerbitan DIPA Migas ke Dirjen Perbendaharan. alur perhitungan dan penyaluran DBH Migas dapat dilihat pada gambar 3.19. menerbitkan DIPA Migas untuk Dirjen PK. BI mentransfer dana dari rekening kas negara ke rekening kas pemda provinsi/kabupaten/kota Berdasarkan sPM Migas tersebut. selanjutnya.18 Format Penyaluran DBH sDA Migas Dirjen Perbendaharaan mengajukan sPM Migas ke Direktur PKN – DJPBN. Direktur PKN – DJPBN menerbitkan PeningkatanKualitasHubunganKeuanganPusatdanDaerah DalamMendorongPertumbuhanEkonomi III-135 . Direktur Jenderal Perimbangan Keuangan mengajukan surat Permintaan Berdasarkan DIPA tersebut.Pelengkap Buku Pegangan 2011 1. 3. Berdasarkan sP2D tersebut. Direktur Dana Perimbangan sebagai KPA gambar 3. 4. sP2D. Berdasarkan surat permintaan tersebut.

setiap Penyaluran: III-136 SistemPendanaandiDaerah . sejak tahun 2008 diberlakukan sedikit perubahan dalam proses penyaluran ini. b. maka mulai tahun 2008 proses permintaan dan penerbitan gambar 3. Dirjen Perbendaharan menerbitkan DIPA Migas untuk satu tahun anggaran. Bila sebelumnya semua dokumen dilaksanakan untuk untuk setiap tahunnya. Jadi hanya ada satu DIPA 1. Di awal tahun: Berdasarkan PMK Perkiraan Alokasi DBH sDA Migas.sementara itu.19 Alur Perhitungan dan Penyaluran DBH Migas DIPA dilaksanakan hanya satu kali di awal tahun. a. Dirjen PK Berdasarkan surat permintaan tersebut. 2. Prosesnya sebagai berikut: setiap triwulan. mengajukan surat Permintaan Penerbitan DIPA Migas ke Dirjen Perbendaharan.

gambar 3. Dengan demikian proses penyaluran dapat dilaksanakan dengan lebih cepat. Direktur PKN – DJPBN menerbitkan sP2D. Kepala daerah bertindak III-137 .Pelengkap Buku Pegangan 2011 a.2.3. b. BI mentransfer dana dari rekening kas karena penyaluran setiap triwulannya tidak lagi melalui proses permintaan 3. negara ke rekening kas pemerintah daerah provinsi/kabupaten/kota Perimbangan sebagai KPA mengajukan sPM Migas ke Direktur PKN – DJPBN. sampai dengan tahun 2007 penyaluran DAu dilakukan oleh Ditjen Perbendaharaan selaku KPA dari Bendaharawan umum Negara (BuN) membuat DIPA PeningkatanKualitasHubunganKeuanganPusatdanDaerah DalamMendorongPertumbuhanEkonomi Penyaluran dau melalui KPPN setempat. c.5.20 Mekanisme Penyaluran (2008) Berdasarkan sP2D tersebut. dan penerbitan sebagaimana tahun-tahun sebelumnya. Berdasarkan DIPA dan Berita Acara Rekonsiliasi. Direktur Dana Berdasarkan sPM Migas tersebut.

• diterima oleh Dirjen Perimbangan Keuangan. SistemPendanaandiDaerah DAu rekening kas umum negara ke rekening kas umum daerah. Dirjen Perimbangan Keuangan ditunjuk Tahap I sebesar 30 persen dari alokasi.2. Penyaluran yang menyusun DIPA dan menyampaikannya kepada Direktur Jenderal tahun dilaksanakan setiap bulan masing-masing sebesar 1/12 dari besaran Perimbangan Keuangan atau pejabat yang ditunjuk menerbitkan sPM setiap BuN (KPPN Jakarta II . Pertanggung¬jawaban Perbendaharaan Anggaran mendapatkan pengesahan. dilaksanakan setelah Perda mengenai APBD. selanjutnya. dan surat Pernyataan Penyediaan Dana Pendamping III-138 .5. Dalam rangka penyaluran tersebut. Dirjen bulan dan menyampaikannya kepada Kuasa BuN (KPPN Jakarta II . kepala daerah atau pejabat yang Transfer ke Daerah. laporan Penyerapan Penggunaan DAK tahun anggaran sebelumnya. Berdasarkan Anggaran Transfer ke Daerah. Direktur Jenderal Perimbangan Keuangan atau pejabat yang ditunjuk menerbitkan sPM yang terbagi dalam 3 tahap yaitu. mulai ditunjuk menerbitkan sPM dan menyampaikannya kepada KPPN setempat sesuai dengan Peraturan Menteri Keuangan tentang Pelaksanaan dan 2008 Direktur Jenderal Perimbangan Keuangan bertindak selaku KPA alokasi masing-masing daerah. 3. Dalam rangka menyalurkan DAK.DJPB) dengan cara memindahbukukan dari Peraturan Menteri Keuangan tentang Pelaksanaan dan Pertanggungjawaban sebagai KPA yang menyusun DIPA dan menyampaikannya kepada Direktur Jenderal Perbendaharaan untuk mendapatkan pengesahan.4.dan menyampaikannya kepada Kanwil Ditjen Perbendaharaan untuk untuk penyaluran DAu setiap bulan.DJPB). Penyaluran dak Mulai tahun 2008 penyaluran DAK dilaksanakan langsung melalui Kuasa untuk mendapatkan pengesahan.

termasuk Pendapatan Asli Daerah. dilaksanakan selambat-lambatnya Tahap III sebesar 25 persen dari alokasi.Pelengkap Buku Pegangan 2011 • • Tahap II sebesar 45 persen dari alokasi. pelaksanaan penyaluran secara bertahap tersebut berjalan. dan sesuai dengan PMK. dengan mengacu kepada undang-undang Nomor 33 undang-undang Nomor 33 Tahun 2004 tentang Perimbangan Keuangan antara Pemerintah Pusat dan Pemerintahan Daerah pada prinsipnya mengatur mengenai pendanaan atas pelaksanaan otonomi daerah berupa function). tidak dapat dilakukan sekaligus dan tidak boleh melampaui tahun anggaran 3. undang-undang Nomor 33 Tahun 2004 mengatur konsep desentralisasi fiskal secara komprehensif. penyelenggaraan fungsi pemerintahan daerah akan terlaksana secara optimal apabila penyelenggaraan urusan pemerintahan Pemerintahan Daerah.1. PINJAMAN DAN HIBAH DAERAH 3.3. Dana Perimbangan. dilaksanakan selambatlambatnya 15 hari kerja setelah laporan Realisasi Penyerapan DAK Tahap II diterima oleh Dirjen Perimbangan Keuangan. Pinjaman. dan sumber-sumber penerimaan daerah PeningkatanKualitasHubunganKeuanganPusatdanDaerah DalamMendorongPertumbuhanEkonomi PENDAHULUAN desentralisasi fiskal dengan konsep uang mengikuti fungsi (money follows III-139 . 15 (lima belas) hari kerja setelah laporan Realisasi Penyerapan DAK Tahap I diterima oleh Dirjen Perimbangan Keuangan. Hibah.3. Tahun 2004 tentang Perimbangan Keuangan antara Pemerintah Pusat dan daerah diikuti dengan pemberian sumber-sumber penerimaan yang cukup kepada daerah. sebagaimana diatur dalam undang-undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah.

3. otonomi daerah. yang mencakup pembagian keuangan antara Pemerintah dan kebutuhan daerah. Peraturan perundang-undangan tersebut pelaksanaan kebijakan pinjaman dan hibah daerah merupakan bagian kepada pemerintah daerah atau sebaliknya merupakan wujud pelaksanaan secara tegas dalam rangka pelaksanaan desentralisasi. dan transparan dengan memperhatikan potensi. selain mengalokasikan Dana III-140 SistemPendanaandiDaerah .2. Pinjaman daerah merupakan salah satu sumber penerimaan daerah Keuangan Negara yang menyatakan bahwa selain mengalokasikan Dana pinjaman dan/atau hibah kepada Pemerintah Daerah. Pemerintah dapat memberikan Daerah tidak semata-mata bertumpu kepada Dana Perimbangan.lainnya. Hal ini sejalan dengan undang-undang Nomor 17 Tahun 2003 tentang Perimbangan kepada pemerintah daerah. dan serta tata cara penyelenggaraan kewenangan tersebut. Pemberian pinjaman dan/atau hibah oleh Pemerintah merupakan suatu sistem pendanaan pemerintahan dalam kerangka negara pemerintah daerah serta pemerataan antardaerah secara proporsional. Hal ini menunjukan bahwa pelaksanaan hubungan keuangan antara Pemerintah dan Pemerintahan telah PINJAMAN DAERAH disinggung sebelumnya. kondisi. demokratis. yang dicatat dan dikelola dalam APBD. adil. termasuk pengelolaan 3. Pemerintah dapat memberikan menjelaskan yang tidak dapat dipisahkan dari penyelenggaraan asas desentralisasi dan Hubungan Keuangan antara Pemerintah dan Pemerintah Daerah yang kesatuan. seperti Perimbangan kepada pemerintah daerah. namun juga pinjaman dan/atau hibah kepada pemerintah daerah. sejalan dengan kewajiban dan pembagian kewenangan dan pengawasan keuangannya.

Pelengkap Buku Pegangan 2011 termasuk pinjaman dan hibah daerah sebagai salah satu sumber pendanaan pembangunan daerah. maka diperlukan kecermatan dan kehati-hatian dalam Pinjaman daerah sebagai alternatiF sumber Pembiayaan aPbd dengan arus kas daerah. dan risiko Berdasarkan peraturan perundang-undangan. sebelumnya. 3. selain itu. defisit APBD dapat ditutup dengan sumber-sumber pembiayaan sebagai berikut: a. mengingat pinjaman memiliki berbagai sumbangan bagi perkembangan perekonomian daerah pada umumnya dan/ risiko seperti risiko kesinambungan fiskal. mendanai kegiatan yang merupakan inisiatif dan kewenangan daerah dan sosial bagi masyarakat.1. Pinjaman daerah merupakan alternatif sumber pembiayaan APBD untuk berdasarkan ketentuan peraturan perundang-undangan. mencakup sisa dana untuk mendanai kegiatan lanjutan. selanjutnya. Kegiatan investasi tersebut memberikan atau penerimaan daerah pada khususnya. dan pelampauan target sisa lebih Perhitungan Anggaran (silPA) daerah tahun anggaran Pencairan dana cadangan. Dana pinjaman dapat ditujukan untuk mendanai kegiatan investasi berupa pengadaan prasarana dan/atau sarana daerah yang memberikan manfaat ekonomi dapat ditujukan untuk mengatasi masalah jangka pendek yang berkaitan pengelolaan pinjaman daerah. uang pihak ketiga yang belum diselesaikan. PeningkatanKualitasHubunganKeuanganPusatdanDaerah DalamMendorongPertumbuhanEkonomi III-141 . b. risiko tingkat bunga. pendapatan daerah.2.3. dana pinjaman juga pembiayaan kembali.

dan/atau Penerimaan kembali pemberian pinjaman.c. atau hasil divestasi penyertaan modal pemerintah daerah. e. secara umum proses perencanaan pembiayaan daerah dilakukan III-142 SistemPendanaandiDaerah . dapat berupa hasil Penerimaan pinjaman. penjualan aset milik pemerintah daerah yang dikerjasamakan dengan pihak ketiga. dan sumber sesuai bagan alur (flow chart) dalam gambar 3.21 Proses Perencanaan Pinjaman Daerah pinjaman. termasuk penerbitan obligasi Daerah yang akan Dalam hal pemerintah daerah akan menutup defisit APBD dengan melakukan pinjaman daerah. menentukan jenis pinjaman. maka selanjutnya pemerintah daerah harus memperhatikan persyaratan pinjaman daerah. Hasil penjualan kekayaan daerah yang dipisahkan. d. direalisasikan pada tahun anggaran yang bersangkutan.21 berikut ini: gambar 3.

Jenis dan Penggunaan Pinjaman Daerah pinjaman jangka pendek. dan biaya lain (termasuk biaya administrasi. yaitu berupa obligasi Daerah yang diterbitkan melalui 2. Pinjaman PeningkatanKualitasHubunganKeuanganPusatdanDaerah DalamMendorongPertumbuhanEkonomi III-143 . dan penawaran umum kepada masyarakat di pasar modal dalam negeri. bersangkutan. provisi. adalah sebagai berikut: 2) Pemerintah daerah lain. Negeri.Pelengkap Buku Pegangan 2011 Alternatif sumber-sumber pinjaman yang dapat dipilih oleh pemerintah 1. dan/atau penerusan Pinjaman luar 4) lembaga Keuangan Bukan Bank yang berbadan hukum Indonesia dan 5) Masyarakat. asuransi. 3) lembaga Keuangan Bank yang berbadan Hukum Indonesia dan mempunyai tempat kedudukan dalam wilayah negara Indonesia. Sumber Pinjaman Daerah daerah. jangka menengah. penerusan Pinjaman Dalam Negeri. berasal dari APBN termasuk dana investasi Pemerintah. pinjaman daerah dapat dikategorikan dalam waktu kurang atau sama dengan satu tahun anggaran dan kewajiban Pinjaman jangka pendek merupakan pinjaman daerah dalam jangka pembayaran kembali pinjaman yang meliputi pokok pinjaman. komitmen. bunga. mempunyai tempat kedudukan dalam wilayah negara Indonesia. 1) Pemerintah. 1) Pinjaman Jangka Pendek Berdasarkan waktunya. misalnya pelunasan kewajiban atas pengadaan/pembelian barang dan/atau jasa tidak dan denda) seluruhnya harus dilunasi dalam tahun anggaran yang dilakukan pada saat barang dan/atau jasa dimaksud diterima. Pinjaman jangka pendek tidak termasuk kredit jangka pendek yang lazim terjadi dalam perdagangan. dan jangka panjang.

waktu lebih dari satu tahun anggaran dan kewajiban pembayaran Pinjaman jangka menengah merupakan pinjaman daerah dalam jangka kembali pinjaman yang meliputi pokok pinjaman. lain (termasuk biaya administrasi. asuransi. asuransi. Persyaratan Umum Pinjaman Daerah ini: pinjaman daerah. provisi. dan denda) harus dilunasi dalam kurun waktu yang tidak melebihi sisa masa jabatan kepala daerah yang bersangkutan. perjanjian pinjaman yang bersangkutan. Pinjaman jangka menengah 3) Pinjaman Jangka Panjang Pinjaman jangka panjang merupakan pinjaman daerah dalam jangka waktu lebih dari satu tahun anggaran dan kewajiban pembayaran kembali pinjaman yang meliputi pokok pinjaman. komitmen. dan biaya lain (seperti: biaya administrasi. bunga. Pinjaman jangka panjang Persyaratan pinjaman secara garis besar dapat dibagi berdasarkan jenis 3. dan biaya dipergunakan untuk membiayai penyediaan layanan umum yang tidak menghasilkan penerimaan. komitmen.2) Pinjaman Jangka Menengah jangka pendek dipergunakan hanya untuk menutup kekurangan arus kas. provisi. dan denda) harus dilunasi pada tahun-tahun berikutnya sesuai dengan persyaratan penerimaan. Penjelasan persyaratan tersebut dapat dijelaskan berikut 1) Pinjaman Jangka Pendek dipergunakan untuk membiayai proyek investasi yang menghasilkan III-144 SistemPendanaandiDaerah . bunga.

dianggarkan dalam APBD tahun bersangkutan. pinjaman. jangka menengah dan panjang adalah sebagai berikut: Persyaratan bagi pemerintah daerah untuk dapat melakukan pinjaman APBD tahun sebelumnya. c. Kegiatan yang akan dibiayai dari pinjaman jangka pendek telah Persyaratan lainnya yang dipersyaratkan oleh calon pemberi 2) Pinjaman Jangka Menengah dan Jangka Panjang a. Dana Darurat. PeningkatanKualitasHubunganKeuanganPusatdanDaerah DalamMendorongPertumbuhanEkonomi III-145 . dengan rumus sebagai berikut: Keterangan: Jumlah sisa pinjaman daerah ditambah jumlah pinjaman yang akan ditarik tidak melebihi 75 persen dari jumlah penerimaan umum Jumlah Pinjaman < 75% Penerimaan Umum APBD Tahun sebelumnya belum dibayar. APBD tidak termasuk Dana Alokasi Khusus. Jumlah sisa pinjaman daerah adalah jumlah pinjaman lama yang Jumlah pinjaman yang akan ditarik adalah rencana pencairan dana Penerimaan APBD tahun sebelumnya adalah seluruh penerimaan pinjaman tahun yang bersangkutan. b. dana pinjaman lama. dan penerimaan lain yang kegunaannya dibatasi untuk membiayai pengeluaran tertentu. Persyaratan yang dipenuhi bagi pemerintah daerah dalam melakukan Kegiatan sebagaimana dimaksud pada huruf a merupakan kegiatan yang bersifat mendesak dan tidak dapat ditunda.Pelengkap Buku Pegangan 2011 pinjaman jangka pendek adalah sebagai berikut: a.

dan (BuMD). bersumber dari Pemerintah. Rasio proyeksi kemampuan keuangan daerah untuk mengembalikan koma lima). Pendapatan Asli Daerah. provisi. dan denda) yang jatuh tempo pada anggaran bersangkutan bersangkutan. c. asuransi. anggaran bersangkutan.5 (dua ≥ 2. Belanja Wajib. Dana Bagi Hasil Dana Reboisasi. dengan rumus sebagai berikut: DSCR = : : : : : DsCR PAD BW P B DBH DAu (PAD + (DBH-DBHDR) + DAU) – BW P + B + BL pinjaman (Debt Service Coverage Ratio/DsCR) paling sedikit 2.5 Keterangan: DBHDR : : Dana Bagi Hasil.b. komitmen. Dana Alokasi umum. Bl : : Bunga pinjaman yang jatuh tempo pada tahun anggaran Biaya lainnya (biaya administrasi. Persetujuan DPRD termasuk III-146 SistemPendanaandiDaerah . dalam tahun anggaran bersangkutan. Debt Service Coverage Ratio. Tidak mempunyai tunggakan atas pengembalian pinjaman yang tahun dalam hal pinjaman tersebut diteruspinjamkan dan/atau diteruskan sebagai penyertaan modal kepada Badan usaha Milik Daerah Mendapatkan persetujuan dari DPRD. yaitu belanja pegawai dan belanja DPRD Angsuran pokok pinjaman yang jatuh tempo pada tahun d.

3. kecuali dalam hal pinjaman langsung kepada pihak Pasar Modal Domestik. aman dan terkendali sehingga tidak berdampak negatif terhadap APBD dan tersebut dibebani kewajiban untuk membayar kembali. pinjaman pihak lain. Pinjaman daerah adalah sejumlah uang desentralisasi. 1. Pinjaman daerah merupakan salah satu sumber pembiayaan daerah dalam rangka pelaksanaan 1) Pinjaman daerah merupakan alternatif sumber pembiayaan APBD dan/ 2) Pinjaman daerah digunakan untuk membiayai kegiatan yang merupakan perekonomian daerah serta perekonomian nasional.2. Pinjaman daerah dapat dilaksanakan dengan berpedoman 3) Pemerintah daerah tidak dapat melakukan pinjaman langsung kepada pihak luar negeri. inisiatif dan kewenangan daerah berdasarkan peraturan perundangluar negeri yang terjadi karena kegiatan transaksi obligasi Daerah di 4) Pemerintah daerah tidak dapat melakukan penjaminan terhadap 5) Pendapatan daerah dan/atau barang milik daerah tidak boleh dijadikan jaminan pinjaman daerah. PeningkatanKualitasHubunganKeuanganPusatdanDaerah DalamMendorongPertumbuhanEkonomi III-147 . kebijakan Fiskal di bidang Pinjaman daerah Pada prinsipnya pemerintah daerah dapat melakukan pinjaman daerah.2. pinjaman daerah harus dilakukan dalam batas-batas yang atau menerima manfaat yang bernilai uang dari pihak lain sehingga daerah pada prinsip-prinsip umum sebagai berikut: atau untuk menutup kekurangan kas.Pelengkap Buku Pegangan 2011 3. Prinsip Umum Pinjaman Daerah semua transaksi yang mengakibatkan daerah menerima Namun demikian. undangan.

penerimaan Negara (BuN) yang mempunyai kewenangan untuk memberikan kerangka hubungan keuangan antara Pemerintah dan pemerintahan pinjaman. i. dan/atau penyertaan modal kepada Badan usaha Milik Daerah dalam kerangka hubungan keuangan antara Pemerintahan Daerah dan Badan usaha Milik Daerah.6) Proyek yang dibiayai dari obligasi Daerah beserta barang milik daerah 2. Beberapa perubahan pokok dalam pengaturan bahwa pinjaman jangka panjang digunakan untuk mendanai tidak langsung. dan/atau memberikan manfaat ekonomi dan sosial. pinjaman Pemerintah kepada pemerintahan daerah. dan kegiatan investasi prasarana dan/atau sarana dalam rangka penyediaan melalui b. seperti: ii. saat ini sedang dilakukan revisi Peraturan Pemerintah Nomor 54 Tahun 2005 tentang Pinjaman Daerah. daerah. yang melekat dalam proyek tersebut dapat dijadikan jaminan obligasi Dalam rangka meningkatkan efektivitas dan efisiensi pengelolaan pinjaman daerah serta menyesuaikan dengan perkembangan kebutuhan dalam rangka revisi Peraturan Pemerintah Nomor 54 Tahun 2005 antara lain adalah: a. pelayanan publik yang menghasilkan penerimaan langsung. Revisi Peraturan Pemerintah tentang Pinjaman Daerah Daerah. SistemPendanaandiDaerah Penegasan peran Menteri Keuangan selaku Bendaharawan umum Pinjaman daerah yang bersumber dari Pemerintah diberikan dalam iii. hibah. Pemerintah daerah dapat meneruskan pinjaman daerah sebagai III-148 . Penambahan prinsip umum pinjaman daerah. pelaksanaan hubungan keuangan antara Pemerintah Pusat dan pemerintahan daerah. Peningkatan fleksibilitas penggunaan pinjaman daerah.

pemerintah daerah.07/2010 tentang Batas Maksimal Defisit Batas Maksimal Kumulatif Defisit APBD untuk Tahun Anggaran 2011 Kumulatif Defisit APBD tersebut di atas adalah kumulatif defisit APBD 4. ditetapkan sebesar 0. Dalam Peraturan Menteri Keuangan tersebut diatur hal-hal sebagai: a. serta Dana Investasi Pemerintah. pemindahbukuan ke Rekening Kas umum Daerah. untuk tahun anggaran 2011. yang dibiayai oleh pinjaman daerah. d. baik yang bersumber dari Penerusan Pinjaman luar Negeri.5 persen dari perkiraan Pendapatan Daerah Tahun Anggaran 2011. c.Pelengkap Buku Pegangan 2011 c. Daerah Pengaturan mekanisme penarikan dana pinjaman daerah yang mencakup Pengaturan prosedur pemberian pinjaman Pemerintah kepada 3. pembayaran langsung. Menteri Keuangan setiap bulan Agustus menetapkan Peraturan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah dan Batas Maksimal Kumulatif Menteri Keuangan mengenai batas maksimal defisit APBD dan batas maksimal Menteri Keuangan Nomor 149/PMK. b. penyusunan APBN Tahun Anggaran 2011. dan pembiayaan pendahuluan. daerah. d. telah ditetapkan Peraturan Pinjaman Daerah Tahun Anggaran 2011. Penerusan Pinjaman Dalam Negeri. Pengendalian Batas Maksimal Defisit dan Pinjaman Dalam rangka pengendalian batas maksimal defisit dan pinjaman pemerintah pinjaman daerah. daerah dan setelah memperhitungkan pengeluaran pembiayaan.3 persen dari proyeksi PDB yang digunakan dalam Batas Maksimal Defisit APBD masing-masing daerah ditetapkan sebesar Defisit APBD setiap daerah adalah defisit yang dibiayai dari pinjaman PeningkatanKualitasHubunganKeuanganPusatdanDaerah DalamMendorongPertumbuhanEkonomi III-149 . rekening khusus. letter of credit (l/C).

Direktur Jenderal Keuangan Daerah atas nama Menteri Dalam Negeri v. Atas dasar permohonan persetujuan sebagaimana dimaksud pada huruf Jenderal Keuangan Daerah. disertai dengan dokumen ringkasan Rancangan Peraturan Daerah tentang APBD yang telah dibahas bersama antara Pemerintah Daerah dan DPRD. diterimanya surat permintaan pertimbangan dari Menteri Keuangan sebagaimana dimaksud pada huruf iv. Persetujuan Menteri Keuangan pelampauan Batas Maksimal Defisit APBD kepada Menteri Keuangan Permohonan persetujuan sebagaimana tersebut di atas memuat alasan atas ii. Direktur Jenderal Perimbangan Keuangan dengan tembusan kepada pertimbangan dari Menteri Dalam Negeri.q. iii. Direktur memberikan pertimbangan dalam waktu 10 hari kerja setelah disertai dengan persyaratan sebagaimana dimaksud pada huruf ii. Direktur Jenderal Perimbangan Keuangan atas nama Menteri Keuangan meminta pertimbangan kepada Menteri Dalam Negeri c. i. Tata cara pengajuan permohonan persetujuan melebihi c.Daerah dapat melebihi Batas Maksimal Defisit APBD setelah mengajukan permohonan dan mendapatkan persetujuan dari Menteri Keuangan dengan diberikan sepanjang Batas Maksimal Kumulatif Defisit APBD secara nasional Batas Maksimal Defisit APBD dilakukan dengan prosedur sebagai berikut: i. Dalam Negeri tidak menyampaikan pertimbangan dalam jangka waktu Dalam hal Direktur Jenderal Keuangan Daerah atas nama Menteri iv. Pemerintah daerah mengajukan permohonan persetujuan tidak terlampaui.q. Menteri Dalam Negeri c.q. Direktur Jenderal Keuangan Daerah. melebihi Batas Maksimal Defisit APBD termasuk rencana penggunaan pinjaman. Direktur Jenderal Perimbangan SistemPendanaandiDaerah III-150 .

35 persen dari proyeksi jumlah pinjaman masing-masing daerah disesuaikan dengan kemampuan Nomor 54 Tahun 2005 tentang Pinjaman Daerah dan Peraturan Pemerintah Nomor 2 Tahun 2006 tentang Tata Cara Pengadaan Pinjaman dan/atau yang telah direvisi menjadi Peraturan Pemerintah Nomor 10 Tahun 2011 PeningkatanKualitasHubunganKeuanganPusatdanDaerah DalamMendorongPertumbuhanEkonomi Penerimaan Hibah serta Penerusan Pinjaman dan/atau Hibah luar Negeri III-151 . 3. Pinjaman daerah yang bersumber dari Pemerintah 1. dokumen yang tidak terpisahkan dalam pelaksanaan pinjaman daerah bagi daerah yang melampaui Batas Maksimal Defisit APBD. Pinjaman Daerah dari Pemerintah yang Dananya saat ini prosedur pinjaman daerah yang dananya berasal dari penerusan Bersumber dari Penerusan Pinjaman Luar Negeri pinjaman luar negeri mengacu pada ketentuan dalam Peraturan Pemerintah PDB yang digunakan dalam penyusunan APBN Tahun Anggaran 2011.3. Persetujuan atas pelampauan Batas Maksimal Defisit APBD merupakan Peraturan Menteri Keuangan dimaksud juga mengatur batas maksimal kumulatif pinjaman daerah yang masih menjadi kewajiban daerah sampai keuangan daerah dan setelah memenuhi persyaratan pinjaman daerah. setelah diterimanya surat permohonan dari pemerintah daerah yang vii.3. Keuangan atas nama Menteri Keuangan dapat memberikan persetujuan atau penolakan atas pelampauan Batas Maksimal Defisit APBD.Pelengkap Buku Pegangan 2011 vi. Besaran dengan Tahun Anggaran 2011 ditetapkan sebesar 0.2. Direktur Jenderal Perimbangan Keuangan atas nama Menteri Keuangan wajib memberikan persetujuan atau penolakan paling lama 25 hari kerja telah dilengkapi dengan persyaratan sebagaimana dimaksud pada huruf ii.

untuk selanjutnya disampaikan kepada Presiden keuangan yang memegang prinsip kehati-hatian. Prosedur Pengadaan Pinjaman/Hibah Luar Negeri oleh Pemerintah Nomor 005 Tahun 2006 mengatur perencanan dan proses lebih lanjut pengadaan pinjaman/hibah luar negeri oleh Pemerintah Pusat.tentang Tatacara Pengadaan Pinjaman luar negeri dan Penerimaan Hibah. RKPlN disebut juga dengan istilah borrowing strategy. sebagai pelaksanaan lebih lanjut dari kedua Peraturan Pemerintah di atas. yang ditujukan untuk menghilangkan III-152 SistemPendanaandiDaerah . Pemerintah telah menetapkan paket peraturan setingkat menteri. yaitu: Peraturan Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional/Kepala Bappenas Nomor 005/2006 tentang Tatacara Perencanaan dan Pengajuan usulan serta yang mengatur perencanan dan proses lebih lanjut pengadaan Pinjaman/ Hibah luar Negeri oleh Pemerintah Pusat. dan Peraturan Menteri Keuangan kepada pemerintah daerah dalam bentuk pinjaman. Menteri Keuangan membuat rancangan Rencana Kebutuhan Pinjaman Rencana Kebutuhan Pinjaman luar Negeri adalah rencana pengadaan pinjaman luar negeri dan strateginya dalam rangka pengelolaan luar Negeri (RKPlN). secara rinci 1) Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional/Kepala Bappenas bersama untuk mendapatkan penetapan dalam bentuk Peraturan Presiden. Pusat mengatur proses lebih lanjut penerusan pinjaman luar negeri pemerintah Peraturan Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional/Kepala Bappenas prosedurnya adalah sebagai berikut: Penilaian Kegiatan yang Dibiayai dari Pinjaman dan/atau Hibah luar Negeri Nomor 53 Tahun 2006 tentang Tatacara Pemberian Pinjaman Daerah dari Pemerintah yang Dananya Bersumber dari Pinjaman luar Negeri yang A.

masuk ke dalam Daftar Rencana Pinjaman/Hibah luar Negeri Jangka d) surat persetujuan pemerintah daerah dan DPRD yang bersangkutan untuk usulan pemerintah daerah atau surat persetujuan Direksi BuMN dan Menteri Pembinaan BuMN untuk usulan BuMN. Perencanaan berkoordinasi dengan Menteri Keuangan. Kementerian/lembaga. dan BuMN menyampaikan usulan proyek untuk Menengah (DRPHlN-JM). Dalam penilaian atas usulan kegiatan pemerintah daerah. dan 3) Dalam rangka dominasi pemberi pinjaman (donor driven) dalam perencanaan pinjaman yang selama ini terjadi menuju Indonesian driven.Pelengkap Buku Pegangan 2011 2) Berdasarkan RKPlN yang telah disusun. Nasional/Bappenas akan melakukan sinkronisasi pendanaan bersama 4) DRPHlN-JM yang telah disusun disampaikan kepada calon PHlN sebagai 5) Kegiatan-kegiatan yang tercantum dalam DRPHlN-JM diproses lebih lanjut untuk meningkatkan kesiapan pelaksanaan kegiatan. c) Hasil studi Kelayakan. Pemerintah Daerah. penyusunan DRPHlN-JM. Kementerian Perencanaan Pembangunan acuan untuk membuat lending Program. Menteri Pembangunan Nasional/Kepala Bappenas menilai kelayakan kegiatan. b) Kerangka Acuan Kerja. Kementerian Keuangan. usulan Kegiatan yang disampaikan berisi: a) Daftar Isian Pengusulan Kegiatan. untuk selanjutnya kegiatan yang telah memenuhi kelayakan kesiapan kegiatan (readiness criteria) akan dicantumkan dalam Daftar Rencana Prioritas Pinjaman/Hibah luar Negeri (DRPPHlN) yang akan diterbitkan setiap PeningkatanKualitasHubunganKeuanganPusatdanDaerah DalamMendorongPertumbuhanEkonomi III-153 .

Berdasarkan penetapan alokasi pinjaman. dan Menteri Keuangan melakukan penilaian atas manajemen risiko dan penelitian persyaratan pinjaman untuk menetapkan alokasi Keuangan menetapkan alokasi pinjaman. pendanaan kepada Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional/ tahunnya oleh Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional/Kepala Bappenas. Perencanaan Pembangunan Nasional/Kepala Bappenas serta penilaian atas manajemen risiko dan penelitian persyaratan pinjaman. Berdasarkan Daftar Kegiatan yang disampaikan oleh Menteri 8) Berdasarkan Daftar Kegiatan yang telah disusun oleh Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional/Kepala Bappenas. 7) Berdasarkan DRPPHlN. Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional/Kepala Bappenas. calon PPHlN menyampaikan indikasi komitmen pinjaman. Kementerian/ menetapkan alokasi pinjaman. Pemerintah Daerah/BuMN untuk kegiatan PlN yang akan diteruskan kepada pemerintah daerah/BuMN. untuk selanjutnya Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional/Kepala Bappenas menyusun Daftar Kegiatan. Berdasarkan permintaan dari keuangan pemerintah daerah dan BuMN untuk kegiatan PlN yang akan Kepala Bappenas serta Menteri Keuangan.6) Dalam rangka menyusun DRPPHlN. III-154 SistemPendanaandiDaerah lembaga/pemerintah daerah/BuMN pengusul melaksanakan persiapan pinjaman serta melakukan konfirmasi penerusan pinjaman dengan menyampaikan usulan kegiatan kepada Menteri Keuangan untuk . Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional/Kepala Bappenas meminta informasi kemampuan keuangan Menteri Menteri Keuangan menyampaikan masukan berupa indikasi kemampuan diteruskan.

gambar 3.22 Prosedur Pengadaan Pinjaman/Hibah luar Negeri Menteri Keuangan mengajukan usulan kepada calon PPHlN untuk mendapatkan komitmen pendanaan.22.Pelengkap Buku Pegangan 2011 Adapun prosedur pengadaan Pinjaman/Hibah luar Negeri termasuk yang akan diteruskan kepada pemerintah daerah/BuMN adalah sebagaimana tercantum dalam gambar 3. PeningkatanKualitasHubunganKeuanganPusatdanDaerah DalamMendorongPertumbuhanEkonomi III-155 .

Berdasarkan Daftar Kegiatan.B. Perencanaan Pembangunan Nasional/Kepala Bappenas kepada Menteri Keuangan. b) Rencana Kegiatan Rinci. Rencana Pembiayaan Kegiatan (financing plan) secara keseluruhan. III-156 SistemPendanaandiDaerah . tahun terakhir. dengan melampirkan dokumen rencana pinjaman yang terdiri dari: a) studi kelayakan kegiatan. mengatur proses lebih lanjut penerusan pinjaman luar negeri Pemerintah kepada pemerintah daerah dalam bentuk pinjaman. Prosedur Penerusan Pinjaman Luar Negeri Pemerintah kepada Peraturan Menteri Keuangan Nomor 53 Tahun 2006 tentang Tatacara secara terinci prosedur tersebut adalah sebagai berikut: Pemerintah Daerah Pemberian Pinjaman Daerah dari Pemerintah Yang Dananya Bersumber dari Pinjaman luar Negeri. 1) Prosesnya dimulai setelah Daftar Kegiatan disampaikan dari Menteri menyampaikan surat kepada pemerintah daerah agar menyampaikan c) Realisasi Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) tiga d) APBD tahun bersangkutan. e) Perhitungan proyeksi APBD selama jangka waktu pinjaman termasuk perhitungan DsCR yang mencerminkan kemampuan daerah dalam yang akan diusulkan. DsCR) serta asumsi yang digunakan selama jangka waktu pinjaman f) memenuhi kewajiban pembayaran kembali pinjaman (proyeksi g) surat persetujuan DPRD berupa persetujuan prinsip yang diberikan oleh komisi di DPRD yang menangani bidang keuangan. Menteri Keuangan akan rencana pinjaman kepada Menteri Keuangan.

yang berisi tentang: Menyediakan dana pendamping. Tidak memiliki tunggakan atas pinjaman yang sedang berjalan. meminta pertimbangan kepada Menteri Dalam Negeri atas rencana pinjaman untuk aspek-aspek diluar perencanaan dan keuangan. Penilaian kelengkapan dokumen 4) Dalam rangka melaksanakan penilaian tersebut. Mengalokasikan dana untuk pembayaran angsuran pinjaman 2) Berdasarkan dokumen rencana pinjaman yang telah disampaikan. Menteri Keuangan akan melakukan penelitian kelengkapan dokumen rencana pinjaman dan penilaian atas dokumen rencana pinjaman. maka rencana pinjaman dapat III-157 . tersebut dalam APBD setiap tahun selama masa pinjaman. Dipotong Dana Alokasi umum dan/atau Dana Bagi Hasil untuk terpenuhinya kelengkapan dokumen. Menteri Keuangan akan memberikan jawaban atas kekurangan atau telah rencana pinjaman dilakukan selambat-lambatnya 10 hari kerja terhitung sejak diterimanya berkas dokumen rencana pinjaman. Menteri Keuangan meliputi aspek politik dan administrasi pemerintah daerah. dan surat Pernyataan Pemerintah Daerah. yang lengkap. Pertimbangan kerja setelah diterimanya dokumen rencana pinjaman yang dinyatakan diproses lebih lanjut tanpa menunggu pertimbangan Menteri Dalam PeningkatanKualitasHubunganKeuanganPusatdanDaerah DalamMendorongPertumbuhanEkonomi Menteri Dalam Negeri diberikan selambat-lambatnya dalam 10 hari 5) Dalam hal pertimbangan Menteri Dalam Negeri tidak diberikan dalam batas waktu yang telah ditentukan.Pelengkap Buku Pegangan 2011 h) Data kewajiban yang masih harus dibayar setiap tahunnya dari i) pinjaman yang telah dilakukan. dan pembayaran angsuran pinjaman yang tertunggak. 3) Dalam rangka penilaian kelengkapan dokumen rencana pinjaman.

dan Mengalokasikan dana untuk pembayaran angsuran pinjaman III-158 SistemPendanaandiDaerah . d) Biaya komitmen. tersebut dalam APBD setiap tahun selama masa pinjaman. c) Bunga pinjaman. menetapkan penolakan atas rencana pinjaman. selanjutnya dilakukan koordinasi dengan 7) Berdasarkan komitmen pendanaan dari calon PPlN. pemerintah daerah menyampaikan surat Keputusan DPRD tentang persetujuan pinjaman yang dihasilkan dari rapat paripurna DPRD kepada Menteri Keuangan. Penilaian oleh Menteri Keuangan dilakukan selambat-lambatnya 6) Berdasarkan hasil penilaian. Dalam hal Menteri Keuangan menyampaikan surat kepada pemerintah daerah pengusul. g) Kesediaan dipotong Dana Alokasi umum dan/atau Dana Bagi Hasil untuk pembayaran angsuran pinjaman yang tertunggak. Rencana Pinjaman Daerah (DRPD) untuk calon Pemberi Pinjaman luar Negeri (PPlN) untuk mendapatkan e) Menyediakan dana pendamping. menerbitkan Daftar 40 hari kerja setelah dokumen rencana pinjaman diterima secara lengkap. Berdasarkan DRPD. Berdasarkan komitmen pendanaan. Menteri Keuangan menetapkan persetujuan atau penolakan atas rencana pinjaman. f) b) Jangka waktu pinjaman. Menteri Keuangan persetujuan Menteri Keuangan.Negeri. yang memuat hal-hal sebagai berikut: a) Plafond pinjaman. Menteri Keuangan disampaikan kepada pemerintah daerah pengusul.

seperti data d) Pembentukan dan penempatan personalia unit Manajemen Proyek administrasi proyek/memorandum (yang berisi cakupan organisasi dan kerangka acuan kerjanya. dan pengaturan tentang pengadaan. disbursement. e) Kesiapan Implementation Unit/PIu). dan konsep pengelolaan proyek/petunjuk pertama dalam APBD. surat persetujuan pinjaman yang memuat: a) Jumlah. a) Kesiapan indikator kinerja monitoring dan evaluasi. dan instansi terkait lainnya. dan Kementerian Keuangan. dan auditing). selambat-lambatnya dalam 40 hari kerja Menteri Keuangan menerbitkan 10) NPPlN ditandatangani oleh Menteri Keuangan atau pejabat yang diberi PeningkatanKualitasHubunganKeuanganPusatdanDaerah DalamMendorongPertumbuhanEkonomi III-159 . yang mencakup: dasar. anggaran. b) Peruntukan. pengelolaan/ (Project Management Unit/PMu) dan unit Pelaksana Proyek (Project 9) Perundingan dilakukan oleh Tim Perunding yang ditetapkan oleh Menteri Keuangan yang keanggotaannya terdiri atas unsur-unsur Nasional/Bappenas. Kementerian Negara Perencanaan Pembangunan daerah pengusul. Berdasarkan NPPlN yang telah ditandatangani. laboran. b) Alokasi dana pendamping untuk pelaksanaan kegiatan tahun c) Pengadaan tanah dan/atau resettlement telah dilaksanakan.Pelengkap Buku Pegangan 2011 8) Perundingan dengan calon PPlN dilakukan setelah diterbitkannya DRPD dan pemerintah daerah memenuhi kriteria kesiapan kegiatan. Hasil perundingan akan menjadi acuan dalam Naskah kuasa dengan PPlN. termasuk pemerintah Perjanjian Pinjaman luar Negeri (NPPlN).

11) Persyaratan pinjaman dalam NPPlN menjadi acuan dalam menetapkan (NPPP). memuat sekurangkurangnya hal-hal sebagai berikut: a) sumber dan jumlah dana. pemerintah daerah melaksanakan proses penarikan bentuk pinjaman secara sitematis dapat digambarkan sebagaimana gambar 3. d) penarikan dana. persyaratan pinjaman dalam Naskah Perjanjian Penerusan Pinjaman g) monitoring dan evaluasi. c) Persyaratan pinjaman. 12) Berdasarkan NPPP.23. sanksi. bupati atau walikota. f) i) c) persyaratan pinjaman. dan Prosedur penerusan pinjaman luar negeri kepada pemerintah daerah dalam III-160 SistemPendanaandiDaerah . h) pelaporan dan perkembangan fisik dan keuangan. b) peruntukan. NPPP ditandatangani oleh Menteri Keuangan atau pejabat yang diberi kuasa dengan gubernur. pembayaran kembali. pinjaman serta pelaksanaan kegiatan. e) penggunaan dana.

23 Proses Pelaksanaan Penerusan PlN Kepada Pemda (on-lending) 2.Pelengkap Buku Pegangan 2011 gambar 3. Adapun cakupan sektor investasi PIP meliputi bidang infrastruktur dan bidang lainnya yang ditetapkan oleh Menteri Keuangan. Pinjaman Daerah dari Pemerintah yang Dananya salah satu sumber pinjaman dari Pemerintah Pusat yaitu Dana Investasi Bersumber dari Pusat Investasi Pemerintah (PIP) Pemerintah. termasuk di dalamnya dana yang dikelola oleh Pusat Investasi dan menjadi operator investasi Pemerintah. Investasi di bidang pembangunan infrastruktur sebagai salah satu fokus dari investasi PIP didasarkan pada alasan filosofis PeningkatanKualitasHubunganKeuanganPusatdanDaerah DalamMendorongPertumbuhanEkonomi Pemerintah (PIP). PIP merupakan Sovereign Wealth Fund (sWF) Indonesia III-161 .

skema pengembalian dana (untuk investasi pemberian pinjaman). c. Pasar. - skema hak kepemilikan (untuk investasi penyertaan modal). Rumah sakit. proyek. Kepala PIP mengundang calon mitra untuk melakukan presentasi. a. b. dan Bagi badan usaha/badan hukum menyampaikan anggaran dasar dan SistemPendanaandiDaerah III-162 . c. f. Calon mitra mengajukan surat permohonan pinjaman kepada Kepala PIP. Transportasi. dan untuk pembangunan infrastruktur dasar. Ketenagalistrikan. antara lain mencakup: d. Terminal. e. g. Calon mitra menyampaikan proposal dilengkapi dengan: latar belakang. salah satu bentuk investasi langsung PIP adalah pemberian pinjaman kepada pemerintah daerah. skema pembagian risiko. Pinjaman yang diberikan PIP kepada pemerintah daerah dibatasi hanya Tatacara pengajuan pinjaman daerah kepada PIP sebagai berikut: b.bahwa pembangunan infrastruktur merupakan salah satu roda penggerak pertumbuhan ekonomi dan dipandang sebagai lokomotif pembangunan nasional dan daerah. dan laporan keuangan 3 (tiga) tahun terakhir. Jalan/Jembatan. Air Bersih. perijinan. skema pembiayaan. tahun berjalan. a. studi kelayakan.

surat pernyataan gubernur.5. Indonesia. antara lain: a. Pemindahbukuan. Persetujuan calon mitra terhadap Indicative Offer. i. proyek yang didanai harus berada di h. Persetujuan Pinjaman. c. bupati. surat persetujuan DPRD atas rencana pinjaman pemerintah daerah. langsung. - Analisa Kelayakan Proyek dan Kelayakan Keuangan Daerah. g. Penandatanganan Perjanjian.Pelengkap Buku Pegangan 2011 d. b. Efektivitas Perjanjian Pinjaman. atau walikota bahwa bersedia dipotong dipotong Dana Alokasi umum dan/atau Dana Bagi Hasil secara PeningkatanKualitasHubunganKeuanganPusatdanDaerah DalamMendorongPertumbuhanEkonomi III-163 . Persyaratan Pinjaman PIP kepada pemerintah daerah selain mengikuti Peraturan Pemerintah Nomor 54 Tahun 2005. pinjaman paling sedikit 2. sebagaimana diatur dalam undang-undang Nomor 33 Tahun 2004 dan Adapun syarat efektif perjanjian pinjaman sebagai berikut : a. j. e. f. Penyampaian Indicative Offer dari PIP kepada calon mitra. juga harus mengikuti ketentuan mengenai pinjaman daerah Jumlah sisa pinjaman ditambah jumlah pinjaman yang akan ditarik tidak DsCR atau rasio kemampuan keuangan daerah untuk mengembalikan bersumber dari Pemerintah. ketentuan Peraturan Pemerintah Nomor 1 Tahun 2008 tentang Investasi Pemerintah. b. Bagi mitra luar negeri. Tidak mempunyai tunggakan atas pengembalian pinjaman yang melebihi 75 persen dari Penerimaan umum APBD tahun sebelumnya.

Prosedur pinjaman daerah yang bersumber dari selain Pemerintah secara garis besar terbagi dua. maksimal defisit yang ditetapkan oleh Menteri Keuangan.2.3. atau walikota. Perimbangan Keuangan untuk melakukan pemotongan Dana Alokasi Ijin pelampauan defisit dalam hal pinjaman tersebut melampaui batas surat kuasa gubernur. 3. e. umum dan/atau Dana Bagi Hasil. pinjaman jangka menengah dan Pemerintah daerah mengajukan usulan pinjaman jangka pendek kepada Calon pemberi pinjaman melakukan penilaian atas usulan pinjaman serta ketentuan dan persyaratan pemberi pinjaman.4. dan lembaga keuangan bukan bank surat Pernyataan Tanggung Jawab Mutlak (sPTJM) dari gubernur. yang dibedakan menurut lamanya masa pinjaman. Prosedur pinjaman jangka pendek: calon pemberi pinjaman. daerah. atau walikota kepada Direktur Jenderal legal opinion dari Kepala Biro/Kepala Bagian Hukum pemerintah Pinjaman daerah yang bersumber dari Pemerintah daerah lain. lembaga keuangan bank. a. yaitu prosedur pinjaman jangka pendek. 1. pinjaman yang paling menguntungkan pemerintah daerah. jangka pendek sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan Pemerintah daerah memilih ketentuan dan persyaratan pemberi III-164 SistemPendanaandiDaerah . pinjaman jangka panjang. bupati.c. f. c. bupati. b. d.

maka terlebih dahulu harus mendapatkan pertimbangan Menteri Dalam Negeri tersebut. dan Kerangka acuan proyek. Prosedur pinjaman jangka menengah dan pinjaman a. APBD tahun yang bersangkutan. c. Menteri Dalam Negeri memberikan pertimbangan dalam rangka pemantauan defisit APBD dan batas kumulatif pinjaman daerah. surat Persetujuan DPRD. Proyeksi DsCR. tersebut. e. v. dengan menyampaikan atau walikota harus melaporkan rencana pinjaman jangka menengah sekurang- iv. walikota. pertimbangan. atau pejabat yang diberi kewenangan.Pelengkap Buku Pegangan 2011 d. sebelum mengajukan usulan pinjaman jangka menengah atau pinjaman jangka panjang kepada calon pemberi pinjaman. Pemerintah daerah mengajukan proposal pinjaman berdasarkan Calon pemberi pinjaman melakukan penilaian terhadap proposal Dalam hal defisit APBD suatu daerah melebihi batas maksimal defisit PeningkatanKualitasHubunganKeuanganPusatdanDaerah DalamMendorongPertumbuhanEkonomi III-165 . d. APBD masing-masing daerah. jangka panjang: Pinjaman jangka pendek dituangkan dalam perjanjian pinjaman yang 2. bupati. ditandatangani oleh gubernur. kurangnya dokumen: iii. b. Rencana Keuangan (Financing Plan) pinjaman yang akan diusulkan. gubernur. ii. bupati atau pinjaman jangka panjang kepada Menteri Dalam Negeri untuk mendapatkan i. persetujuan Menteri Keuangan.

24 berikut ini: mekanisme tersendiri dan akan dijelaskan dalam bagian lain dalam Bab gambar 3. Prosedur pinjaman jangka menengah dan panjang yang bersumber dari 3.24 Prosedur Pinjaman Daerah yang Bersumber selain dari Pemerintah Perjanjian pinjaman tersebut wajib dilaporkan ke Menteri Keuangan dan dalam bentuk obligasi Daerah. Dalam undang-undang Nomor 33 Tahun 2004 dan Peraturan Pemerintah yang ditawarkan kepada publik melalui penawaran umum di pasar modal. Terdapat dua unsur utama yang perlu diperhatikan khusus dalam kaitannya dengan obligasi Daerah.3. Jika disetujui. berkaitan dengan III-166 SistemPendanaandiDaerah obligasi daerah Nomor 54 Tahun 2005.f. tidak berlaku untuk pinjaman daerah yang bersumber dari masyarakat selain Pemerintah dapat ditunjukkan pada gambar 3. Menteri Dalam Negeri. g. pinjaman daerah dilakukan melalui perjanjian pinjaman Prosedur pinjaman daerah yang bersumber dari selain Pemerintah di atas. unsur yang pertama adalah. Prosedur obligasi Daerah diatur dengan ini. untuk .5.2. yang ditandatangani oleh kepala daerah dan pemberi pinjaman. obligasi Daerah diartikan sebagai pinjaman daerah kapasitas pemerintah daerah dalam menerbitkan obligasi Daerah.

diharapkan pendapatan yang didapat dari oleh karena itu. Hal ini dimaksudkan untuk melihat kemungkinan sehingga benar-benar dapat menghasilkan penerimaan.Pelengkap Buku Pegangan 2011 melindungi fiskal daerah. proyek yang dibiayai obligasi Daerah dapat menutup pokok dan bunga yang penerimaan. unsur yang kedua obligasi Daerah telah diterbitkan dan telah dinyatakan efektif oleh Badan Daerah telah siap untuk diperjualbelikan di pasar modal. Pihak yang akan menerbitkan obligasi Daerah harus memenuhi untuk memberikan informasi lengkap mengenai prospek obligasi Daerah obligasi (emiten) memiliki utang terhadap pemegang obligasi dan emiten waktu yang telah ditetapkan dalam perjanjian. Jika akan dibiayai tersebut. maka obligasi dengan hal ini. perlu diadakan langkah-langkah penilaian atas proyek yang apakah komponen-komponen dari proyek yang dimaksud di sini telah layak prakteknya obligasi Daerah dianggap sebagai efek yang bersifat utang. Berkaitan adalah mengenai penawaran umum obligasi Daerah di pasar modal. Penerbitan obligasi ini dimaksudkan untuk membiayai proyekproyek yang dapat memberikan manfaat kepada publik dan menghasilkan harus dibayarkan pada saat jatuh tempo. dimana penerbit berkewajiban untuk membayar pokok obligasi beserta bunganya pada lainnya. Jangka waktu obligasi lebih PeningkatanKualitasHubunganKeuanganPusatdanDaerah DalamMendorongPertumbuhanEkonomi III-167 . prosedur yang perlu diikuti telah diatur sedemikian rupa melalui berbagai Keputusan Kepala Bapepam-lK dan peraturan pasar modal untuk menarik minat investor. pemerintah daerah yang akan menerbitkan obligasi Daerah harus terlebih dahulu mendapatkan persetujuan dari Menteri Keuangan. Prinsip keterbukaan dimaksudkan obligasi Daerah merupakan efek yang bersifat utang. Transaksi jual beli obligasi Daerah harus mengikuti mekanisme di pasar modal. Dalam Pengawas Pasar Modal lembaga Keuangan (Bapepam-lK). Pada prinsipnya. prinsip keterbukaan di pasar modal.

oleh karena itu. Kadangkala. bukan dalam mata uang asing. Dalam obliasi. pemerintah daerah dapat memperoleh III-168 SistemPendanaandiDaerah . ditentukan. dimana suku bunganya biasanya dapat disesuaikan. pokok dan bunga pinjaman dibayarkan dapat dibayarkan pada jumlah yang sama. peminjam menjadi emiten dan pemberi pinjaman menjadi pemegang obligasi. serta dikelola pada pasar modal domestik. Pokok pinjaman pada jumlah yang sama. Pinjaman diberikan oleh pemberi pinjaman kepada penerima sampai batas waktu pinjaman. yang artinya bunga dibayarkan 2 dalam tiap tahunnya sampai pembayaran pokok obligasi lunas. obligasi Daerah diterbitkan dalam mata uang rupiah. pinjaman. Pada akhir jangka waktu. tetapi diberikan dalam bentuk surat Kebanyakan obligasi adalah semi-tahunan. obligasi dilunasi sesuai dengan nilai Dengan menerbitkan obligasi Daerah. dimana biasanya pemberi pinjaman adalah bank. dengan bunga yang terhutang obligasi juga merupakan pinjaman. jumlah bunga yang telah dibayarkan adalah sama pemegang obligasi adalah pemberi pinjaman kepada emiten. obligasi memiliki karakteristik yang agak berbeda dengan pinjaman. suku bunga biasanya sudah ditentukan. dimana pada saat itu obligasi dibayarkan kembali. obligasi Daerah diterbitkan oleh pemerintah daerah untuk mendapatkan investasi. secara khusus.dari 1 tahun. Pokok obligasi itu sendiri dibayarkan dalam bentuk pembayaran tunggal pada akhir jangka waktu yang telah obligasi merupakan surat utang yang dikeluarkan oleh emiten sehingga nominalnya. pemerintah daerah akan mendapatkan banyak manfaat diantaranya. berharga. obligasi memiliki jangka waktu yang pasti. kali dalam setahun pada pokok obligasi. Pembayaran biasanya dilakukan 2 kali dalam pada neraca pinjaman. Peminjam membayar kembali pokok dan bunga pinjaman kepada yang meminjamkan setahun.

dijamin oleh Pemerintah. modal memungkinkan lebih banyak pihak yang terlibat untuk memberikan Melalui obligasi. untuk menarik minat para investor agar membeli obligasi kembali pada saat jatuh tempo. Prinsip Umum peraturan perundangan-undangan. domestik dan dalam mata uang Rupiah. melakukan pinjaman langsung luar negeri selain melalui obligasi Daerah.Pelengkap Buku Pegangan 2011 pembiayaan bagi proyek-proyek yang memberikan manfaat kepada publik. Mekanisme yang ada di pasar pinjaman dalam bentuk obligasi karena melibatkan masyarakat luas. oleh karena itu. dalam tahapan sebelum mendapat persetujuan dari Menteri Keuangan. 3. antara lain sebagai berikut: 1. 2. 1. studi Kelayakan harus dibuat oleh lembaga penilai yang Prinsip umum mengenai penerbitan obligasi Daerah. pemerintah daerah juga dimungkinkan untuk mendapatkan pinjaman dari investor asing. Namun demikian. maka proyek tersebut harus benar-benar matang terdaftar di Bapepam-lK sehingga hasilnya dapat dipertanggungjawabkan. yang telah diatur dalam obligasi Daerah merupakan pinjaman pemerintah daerah dan tidak membiayai kegiatan investasi sektor publik yang menghasilkan penerimaan dan memberikan manfaat bagi masyarakat yang menjadi PeningkatanKualitasHubunganKeuanganPusatdanDaerah DalamMendorongPertumbuhanEkonomi Penerbitan obligasi Daerah hanya dapat dilakukan di pasar modal Pemerintah daerah dapat menerbitkan obligasi Daerah hanya untuk III-169 . pemerintah daerah harus benarbenar memberikan kepastian bahwa obligasi tersebut akan dibayarkan menghasilkan penerimaan. khususnya untuk proyek-proyek infrastruktur. Mengingat bahwa obligasi Daerah dipergunakan untuk proyek yang memberikan manfaat kepada publik dan dan layak. mengingat pemerintah daerah dilarang untuk Daerah yang ditawarkan di pasar modal.

Pendapatan (Revenue Bond). Dengan ketentuan tersebut. perencanaan obligasi Daerah oleh pemerintah daerah. 2.07/2006 tentang Tatacara Penerbitan. pengajuan. pengajuan usulan dan persetujuan serta pernyataan pendaftaran umum. maka obligasi 4. III-170 SistemPendanaandiDaerah . diatur lebih lanjut tentang perencanaan. Dengan ketentuan ini. Pertanggungjawaban dan berdasarkan prosedur: 1. Nilai obligasi Daerah pada saat jatuh tempo sama dengan nilai nominal Daerah yang diterbitkan pemerintah daerah hanya jenis obligasi pemerintah daerah dilarang menerbitkan obligasi Daerah dengan jenis index bond yaitu obligasi Daerah yang nilai jatuh temponya dinilai modal mengikuti ketentuan perundang-undangan di bidang pasar Pengaturan lebih lanjut mengenai penerbitan obligasi Daerah di pasar 5. Pasar Modal. obligasi Daerah pada saat diterbitkan. maka atau harga emas. 3. secara garis besar prosedur penerbitan obligasi Daerah dapat dibagi pengajuan penyataan pendaftaran dalam rangka penawaran umum di Prosedur penerbitan obligasi Daerah. dan persetujuan Menteri Keuangan. dengan indeks tertentu dari nilai nominal. secara sistematis dapat dilihat dalam gambar 3.urusan pemerintah daerah. misalnya dengan kurs dollar selanjutnya berdasarkan Peraturan Menteri Keuangan Nomor 147/ 2. modal. Prosedur Penerbitan PMK. Publikasi Informasi obligasi Daerah. penilaian.25.

b) membuat kerangka acuan kegiatan. Perencanaan Obligasi Daerah oleh Pemerintah Daerah sekurang-kurangnya meliputi hal-hal sebagai berikut: a) menentukan kegiatan. dan kompeten. ditunjuk melakukan persiapan penerbitan obligasi Daerah yang c) menyiapkan studi kelayakan yang dibuat oleh pihak yang independen d) memantau batas kumulatif pinjaman serta posisi kumulatif pinjaman PeningkatanKualitasHubunganKeuanganPusatdanDaerah DalamMendorongPertumbuhanEkonomi III-171 .Pelengkap Buku Pegangan 2011 gambar 3. daerahnya.25 Proses Penerbitan obligasi Daerah 1) Kepala daerah melalui satuan Kerja Perangkat Daerah (sKPD) yang A.

2) Persetujuan prinsip DPRD meliputi: c) penggunaan dana. berikut ini: gambar 3. dan e) membuat f) a) nilai bersih maksimal obligasi Daerah. proyeksi keuangan dan perhitungan kemampuan secara sistematis prosedur persiapan penerbitan obligasi Daerah oleh pemerintah daerah dapat digambarkan dalam gambar 3.26 Persiapan Penerbitan obligasi Daerah di Daerah d) pembayaran pokok. kupon. mengajukan permohonan persetujuan prinsip kepada DPRD. b) jumlah dan nilai nominal obligasi yang akan diterbitkan. pembayaran kembali obligasi Daerah. akibat penerbitan obligasi. dan biaya lainnya yang timbul sebagai III-172 SistemPendanaandiDaerah .26.

Pelengkap Buku Pegangan 2011 B. Berdasarkan persetujuan Menteri memperhatikan pertimbangan dari Menteri Dalam Negeri. Direktur Jenderal Perimbangan Keuangan Prosedur pengajuan. c. Penilaian dan Persetujuan Menteri Keuangan 1. dan persetujuan Menteri Keuangan sebagaimana telah diuraikan di atas. Perhitungan APBD 3 (tiga) tahun terakhir. penilaian.q. Menteri Keuangan c.q. persetujuan/penolakan atas rencana penerbitan obligasi Daerah dengan menyampaikan pernyataan pendaftaran penawaran umum kepada kepala daerah Berdasarkan hasil penilaian tersebut.27 berikut ini: PeningkatanKualitasHubunganKeuanganPusatdanDaerah DalamMendorongPertumbuhanEkonomi III-173 . melakukan penilaian atas dokumen rencana penerbitan obligasi Daerah selambat-lambatnya dalam waktu 20 hari kerja setelah dokumen rencana penerbitan obligasi Daerah dinyatakan lengkap. b. e. Perda APBD tahun yang bersangkutan dan Peraturan Daerah surat persetujuan prinsip DPRD. dan studi kelayakan kegiatan. Keuangan. Kerangka acuan kegiatan. Pengajuan Usulan. 4. Bapepam-lK. d. Kepala daerah menyampaikan usulan penerbitan obligasi Daerah kepada 2. dapat digambarkan dalam bagan alur pada gambar 2. Perhitungan DsCR. 3. Menteri Keuangan memberikan Menteri Keuangan c. Direktur Jenderal Perimbangan Keuangan dengan dilengkapi dokumen sebagai berikut: a.

Penilaian dan Persetujuan Penerbitan obligasi Daerah oleh Menteri Keuangan C. pemerintah daerah harus menyampaikan pernyataan pendaftaran Kepala daerah wajib menyampaikan Peraturan Daerah tentang Penerbitan ketentuan mengenai: III-174 Modal dengan melengkapi dokumen yang dipersyaratkan kepada Bapepam-lK.27 Pengajuan. Peraturan Daerah tentang Penerbitan obligasi Daerah memuat SistemPendanaandiDaerah . obligasi Daerah kepada Bapepam-lK sebelum pernyataan efektif obligasi Daerah. Pernyataan Pendaftaran dalam rangka Penawaran Umum di Pasar Dalam rangka pelaksanaan penawaran umum obligasi Daerah di pasar modal.gambar 2. sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan di bidang pasar modal.

Pengelolaan obligasi Daerah untuk mengembalikan pokok dan bunga obligasi Daerah. 7. 4. Penerbitan obligasi Daerah.Pelengkap Buku Pegangan 2011 1. Penjualan obligasi Daerah melalui lelang. dan Pembelian kembali obligasi Daerah sebelum jatuh tempo. Pelunasan pada saat jatuh tempo. 5. pemerintah daerah berkewajiban 3. Dalam rangka diperlukan pengelolaan obligasi Daerah yang baik. anggaran. kebijakan pengendalian risiko. maka Peraturan Daerah harus memuat jadwal penerbitan tahunan obligasi Daerah. penggunaan dana obligasi Daerah. Penetapan strategi dan kebijakan pengelolaan obligasi Daerah termasuk Perencanaan dan penetapan struktur portofolio pinjaman daerah. Dalam hal obligasi Daerah akan diterbitkan dalam beberapa tahun Bapepam-lK selanjutnya akan melakukan penelahaan terhadap kecukupan Daerah di pasar modal. 6. akan dijaminkan. yang meliputi: 1. 3. 3. 2. keterbukaan (adequate disclosure) sebagai persyaratan penawaran umum di pasar modal. 2. PeningkatanKualitasHubunganKeuanganPusatdanDaerah DalamMendorongPertumbuhanEkonomi III-175 . 5. jumlah. 4. Penawaran umum obligasi Daerah dapat dilakukan setelah setelah diterbitkannya obligasi Daerah. Pertanggungjawaban. maka Peraturan Daerah harus memuat ketentuan mengenai aset yang Dalam hal obligasi Daerah yang akan diterbitkan membutuhkan jaminan. Bapepam-lK mengeluarkan pernyataan efektif penawaran umum obligasi memenuhi kewajiban untuk pengembalian pokok dan bunga obligasi Daerah. nilai nominal.

Penatausahaan dan Penggunaan Dana Obligasi Daerah hasil penjualan obligasi Daerah sebagai berikut: III-176 SistemPendanaandiDaerah cadangan dialokasikan setiap tahun hingga obligasi Daerah tersebut jatuh bahwa pada saat jatuh tempo pemerintah daerah sanggup untuk melunasi Pemerintah telah mengatur tentang penatausahaan dan penggunaan dana . pembayaran kembali obligasi Daerah bersumber kepentingan lain selain pembayaran kupon obligasi Daerah. ada kalanya. Hal ini memudahkan kewajiban pembayaran pokok obligasi Daerah. Alokasi dana pemerintah daerah untuk mengontrol arus kas sehingga dapat menjamin C. Pada prinsipnya. Pembelian Kembali Obligasi Daerah sebelum Jatuh Tempo Pembelian kembali obligasi Daerah oleh Pemerintah Daerah sebagai emiten dapat diperlakukan sebagai pelunasan kembali atas obligasi Daerah tersebut atau disimpan untuk dapat dijual kembali (treasury bonds). Dalam hal diperlakukan sebagai treasury bonds. Namun demikian. sementara bunga dari penerimaan kegiatan investasi. dalam rekening khusus yang dananya tidak dapat digunakan untuk dibayarkan setiap jangka waktu tertentu sesuai dengan perjanjian obligasi Daerah. dengan besaran yang dibagi rata per tahunnya. B. Khusus untuk pembayaran pokok. pembayaran bunga dibebankan pada APBD.Pengelolaan obligasi Daerah dilakukan oleh kepala daerah dengan menunjuk satuan kerja yang akan melaksanakannya. maka hak-hak yang melekat pada obligasi Daerah batal demi hukum. pada masa konstruksi. Pelunasan Pada Saat Jatuh Tempo Pokok dibayarkan pada saat obligasi Daerah jatuh tempo. harus dibentuk suatu dana cadangan tempo. A. terutama Pada keadaan ini. kegiatan investasi belum menghasilkan penerimaan.

dan pokok. serta kegiatan lain yang terkait dengan PeningkatanKualitasHubunganKeuanganPusatdanDaerah DalamMendorongPertumbuhanEkonomi III-177 . pembayaran bunga dan biaya lain. dan 1) Keterangan tentang portofolio obligasi Daerah. pelunasan. 3) Penerimaan dari investasi sektor publik diprioritaskan untuk membayar D. penawaran pengelolaan obligasi Daerah. pemerintah daerah pembelian kembali. 2) laporan transaksi obligasi Daerah di pasar modal yang mencakup 3) Posisi obligasi Daerah. 2) Pertanggungjawaban dana hasil penerbitan obligasi Daerah. yaitu: melaporkan: 1) Pertanggungjawaban atas pengelolaan obligasi Daerah. dan denda obligasi Daerah. Pertanggungjawaban Kepala daerah wajib membuat pertanggungjawaban atas pengelolaan investasi sektor publik yang menghasilkan penerimaan dan memberikan obligasi Daerah dan dana obligasi Daerah sesuai dengan rencana penerbitan obligasi Daerah. Terdapat dua hal yang penerbitan obligasi Daerah. Pertanggungjawaban ini disampaikan kepada DPRD sebagai bagian dari pertanggungjawaban APBD.Pelengkap Buku Pegangan 2011 1) Dana hasil penjualan obligasi Daerah ditempatkan pada rekening 2) Dana hasil penjualan obligasi Daerah hanya dapat digunakan untuk membiayai kegiatan yang telah direncanakan yang merupakan kegiatan manfaat bagi masyarakat. perlu dipertanggungjawabkan oleh pemerintah daerah berkaitan dengan Dalam pertanggungjawaban pengelolaan obligasi Daerah. pertukaran. tersendiri yang ditatausahakan oleh Pejabat Pengelola Keuangan Daerah (PPKD). umum. bunga.

Realisasi tentang Perubahan APBD dan/atau dicantumkan dalam Peraturan Daerah Kewajiban pembayaran kembali pinjaman jangka pendek yang berupa sebagaimana dimaksud dianggarkan dalam Peraturan Daerah tentang III-178 SistemPendanaandiDaerah . 2) laporan keuangan kegiatan yang meliputi penggunaan dana dari obligasi Pemerintah daerah wajib melakukan pembayaran sesuai dengan ketentuan yang diatur dalam perjanjian pinjaman. Pemerintah Daerah melaporkan : Dalam pertanggungjawaban dana hasil penerbitan obligasi Daerah. 1) Perkembangan pelaksanaan kegiatan investasi. 3) laporan alokasi dana cadangan. gubernur. dan/atau biaya lainnya dibebankan pada belanja APBD. Kewajiban pinjaman jangka menengah dan pinjaman jangka panjang dianggarkan dalam Pembayaran kembali Pinjaman sebesar jumlah kewajiban yang telah jatuh tempo tersebut. Dalam hal kewajiban pembayaran bunga pinjaman jangka menengah dan dianggarkan.3. Daerah dan dana hasil penerimaan kegiatan.6. Kewajiban pembayaran kembali APBD dan dibayarkan pada tahun anggaran berkenaan. jangka panjang sebagaimana dimaksud dianggarkan dalam Peraturan Daerah bunga. 3.4) Realisasi strategi dan kebijakan pengelolaan obligasi Daerah termasuk 5) Alokasi anggaran dan realisasinya. bupati.2. atau walikota tetap melakukan pembayaran pinjaman jangka panjang yang telah jatuh tempo melebihi dana yang kewajiban pembayaran bunga pinjaman jangka menengah dan pinjaman tentang Pertanggungjawaban Pelaksanaan APBD tahun anggaran berkenan. dan pengendalian risiko.

Pemantauan. atau walikota melakukan penatausahaan pinjaman daerah atas transaksi penerimaan dan penggunaan pinjaman daerah dan kewajiban pembayaran kembali atau walikota melakukan penatausahaan atas transaksi penerimaan Daerah. dan pembayaran kewajiban atas penerbitan obligasi Daerah. dan Publikasi Menteri 1. Penatausahaan dan/atau penyaluran Keuangan melakukan penatausahaan daerah dan pemberian pinjaman Pemerintah kepada pemerintah daerah termasuk atas transaksi penarikan pembayaran kembali pinjaman daerah. kewajiban disetorkan ke Rekening Kas umum Negara atau rekening lain yang ditunjuk oleh Menteri Keuangan.3. bupati. evaluasi. Kewajiban pembayaran kembali pinjaman daerah dari pemerintah daerah dilakukan dalam mata uang sesuai yang ditetapkan Penatausahaan. dan penggunaan dana atas penerbitan obligasi Daerah. 2. 3.2. gubernur. pembayaran yang berupa cicilan pokok.7 Dalam hal pinjaman daerah bersumber dari Pemerintah. Khusus terkait dengan obligasi Daerah. dan kewajiban lainnya dalam perjanjian pinjaman. Pemantauan dan Evaluasi pinjaman penerimaan kewajiban pinjaman daerah. penerimaan dan Menteri Keuangan melakukan pemantauan dan evaluasi atas penarikan.Pelengkap Buku Pegangan 2011 Perubahan APBD dan/atau dicantumkan dalam Peraturan Daerah tentang Pertanggungjawaban Pelaksanaan APBD tahun anggaran berkenan. dan penerimaan kewajiban pembayaran kembali pinjaman daerah yang bersumber dari Pemerintah. bunga. bupati. Menteri Keuangan dapat mengambil PeningkatanKualitasHubunganKeuanganPusatdanDaerah DalamMendorongPertumbuhanEkonomi penggunaan dana atas kegiatan yang dibiayai dari penerbitan obligasi III-179 . penyaluran. PelaPoran. gubernur.

Pelaporan indikasi adanya penyimpangan dan/atau ketidaksesuaian antara rencana Pemerintah daerah wajib melaporkan posisi kumulatif pinjaman dan Negeri setiap semester dalam tahun anggaran berjalan. Dalam rangka Akuntansi Pemerintahan. 3. dan/atau pinjaman. Dalam keuangan sesuai dengan standar Akuntansi Pemerintahan. Pemerintah kepada pemerintah daerah termasuk pembatalan pinjaman. pertanggungjawaban pelaksanaan pinjaman daerah. menyimpang dari rencana penarikan. penyerapan pinjaman mengalami keterlambatan yang sangat jauh penggunaan pinjaman tidak sesuai dengan ketentuan dalam perjanjian Menteri Keuangan melakukan pemantauan dan evaluasi untuk melihat penerbitan obligasi Daerah dengan realisasinya. Menteri Keuangan menyusun dan menyajikan laporan sebagai bagian dari pinjaman daerah. maka III-180 SistemPendanaandiDaerah .langkah-langkah penyelesaian atas permasalahan pemberian pinjaman apabila: 1. 2. rangka pertanggungjawaban pelaksanaan pemberian pinjaman kepada pemerintah daerah. pemerintah daerah kewajiban pinjaman kepada Menteri Keuangan dan Menteri Dalam menyusun dan menyajikan laporan keuangan sesuai dengan standar pertanggungjawaban atas pengelolaan obligasi Daerah dan dana atas kegiatan yang dibiayai dari penerbitan obligasi Daerah disampaikan kepada DPRD sebagai bagian dari pertanggungjawaban pelaksanaan APBD.

atau walikota menyelenggarakan publikasi informasi kumulatif pinjaman daerah. dan tingkat bunga. rencana penerbitan obligasi Daerah yang meliputi perkiraan jumlah dan jatuh tempo. alokasi dana cadangan. mengenai obligasi Daerah secara berkala tentang: kebijakan penerbitan obligasi Daerah.Pelengkap Buku Pegangan 2011 setiap perjanjian pinjaman yang dilakukan oleh pemerintah daerah 4. modal. f. b. g. bupati. atau walikota menyelenggarakan publikasi informasi d. mengenai pinjaman daerah secara berkala. a. bupati. serta laporan lain yang bersifat material. jadwal waktu penerbitan. tingkat bunga daerah. laporan penggunaan dana yang diperoleh melalui penerbitan obligasi kewajiban publikasi data dan/atau informasi lainnya yang diwajibkan berdasarkan ketentuan peraturan perundang-undangan di bidang pasar PeningkatanKualitasHubunganKeuanganPusatdanDaerah DalamMendorongPertumbuhanEkonomi III-181 . Daerah. sumber pinjaman daerah. penggunaan pinjaman daerah. pinjaman daerah. struktur laporan keuangan Pemerintah Daerah. pengelolaan obligasi Daerah. e. dan jumlah obligasi Daerah yang beredar beserta komposisinya. c. pinjaman daerah meliputi kebijakan tentang pinjaman daerah. Publikasi gubernur. Publikasi informasi mengenai merupakan dokumen publik dan diumumkan dalam lembaran Daerah. jangka waktu pinjaman daerah. posisi realisasi penyerapan pinjaman daerah dan pemenuhan kewajiban pinjaman gubernur.

3. kewajiban pinjaman setiap semester dalam tahun anggaran berjalan.07/2008 tentang Tata Cara Pelaksanaan sanksi Pemotongan Dana Alokasi umum dan/atau Dana Bagi Hasil Dalam Kaitannya dengan Pinjaman Daerah. maka Menteri Dana Bagi Hasil yang menjadi hak daerah tersebut. Berkaitan dengan kewajiban yang muncul dari pinjaman daerah.3. maka pemerintah daerah yang tidak memenuhi kewajibannya dapat dikenakan sanksi seperti yang dijelaskan berikut ini: 1. 2. 3.1 di bawah ini. maka Menteri Keuangan akan melaksanakan pemotongan Dana Alokasi umum dan/atau Dana Bagi Hasil yang menjadi hak daerah untuk pengaturan lebih lanjut mengenai tata cara pemotongan Dana Alokasi umum dan/atau Dana Bagi Hasil sebagaimana dimaksud di atas.3. tersebut. Penjelasan mengenai Peraturan Menteri . III-182 SistemPendanaandiDaerah Menteri Keuangan telah mengeluarkan Peraturan Menteri Keuangan Nomor Pemerintah Daerah Kepada Pemerintah Melalui sanksi Pemotongan Dana Menteri Keuangan Nomor 129/PMK. yang bukan karena kegiatan transaksi obligasi Daerah.07/2011 tentang Tata Cara Penyelesaian Tunggakan Pinjaman Alokasi umum Dan/Atau Dana Bagi Hasil sebagai pengganti Peraturan Keuangan tersebut dapat dilihat dalam Boks No. atas penyaluran Dana Perimbangan. Jika daerah tidak memenuhi kewajiban membayar pinjamannya kepada Jika daerah tidak menyampaikan laporan posisi kumulatif pinjaman dan Jika daerah melakukan pinjaman langsung dari sumber luar negeri sanksi administratiF Pinjaman daerah Keuangan akan melakukan pemotongan Dana Alokasi umum dan/atau maka Menteri Keuangan akan mengenakan sanksi berupa penundaan Pemerintah.8.2. 47/PMK.

penerusan pinjaman dalam negeri. Direktorat sistem Manajemen Investasi-DJPB.1 Penyelesaian Tunggakan Pinjaman Daerah melalui Sanksi Pemotongan Dana Alokasi Umum (DAU) dan/atau Dana Bagi Hasil (DBH) untuk menjamin kolektabilitas pinjaman yang diberikan oleh Pemerintah Pusat kepada penyelesaian tunggakan pinjaman pemerintah daerah kepada Pemerintah Pusat. penerusan pinjaman luar negeri. Direktur Pembiayaan dan Kapasitas Daerah. Pinjaman yang berasal dari Rekening Dana Investasi dan Rekening Pembangunan dan/atau DBH. lingkungan Kementerian Keuangan yang berwenang mengelola piutang kepada Pemda melakukan rekonsiliasi pinjaman dengan Pemda. c. disampaikan surat permintaan pemotongan DAu Berdasarkan surat permintaan tersebut. dikelola PIP. 4. sanksi tersebut dapat dikenakan terhadap pinjaman pemerintah daerah Dana yang dialokasikan dalam APBN. 3.07/2011 tentang Tata Cara Penyelesaian Tunggakan Pinjaman Pemerintah Daerah kepada Pemerintah melalui sanksi Pemotongan DAu dan/atau DBH. dan pemerintah daerah. a. 2. Ketentuan yang dalam naskah perjanjian pinjaman atau perubahannya mencantumkan ketentuan mengenai sanksi pemotongan DAu dan/atau DBH. Keuangan menerbitkan surat ketetapan sanksi pemotongan DAu dan/atau DBH. 3. atau unit lain di dan/atau DBH sebagai penyelesaian tunggakan kepada Dirjen Perimbangan Keuangan melakukan perhitungan besaran pemotongan DAu dan/atau DBH per periode transfer. b. telah diatur sanksi pemotongan DAu dan/atau DBH sebagai ini secara teknis diatur dalam PMK Nomor 47/PMK. Dirjen Perimbangan Keuangan atas nama Menteri PeningkatanKualitasHubunganKeuanganPusatdanDaerah DalamMendorongPertumbuhanEkonomi III-183 .q. Pinjaman pemerintah daerah yang bersumber dari Pemerintah berasal dari: Daerah yang telah direstrukturisasi. PIP.Pelengkap Buku Pegangan 2011 Boks No. Terhadap pinjaman yang menunggak dan memenuhi persyaratan pemotongan DAu Berdasarkan rekonsiliasi tersebut. Direktorat Pembiayaan dan Kapasitas Daerah Berdasarkan perhitungan tersebut. termasuk pula dana investasi Pemerintah yang Prosedur penyelesaian tunggakan pinjaman pemerintah daerah melalui sanksi pemotongan DAu dan/atau DBH dilakukan sebagai berikut: 1.

undang-undang sesuai dengan hal tersebut. yang dimaksud dengan Hibah adalah Penerimaan Daerah yang berasal dari pemerintah negara asing. sanksi pemotongan DAu dan/atau DBH dengan mencantumkan pada lampiran sPP/sPM DAu atau DBH. akan disalurkan pada tahun berkenaan yang dihitung dengan mempertimbangkan kapasitas Berdasarkan surat ketetapan tersebut.3. mendukung pelaksanaan kegiatan daerah dan dikelompokkan sebagai salah Nomor 17 Tahun 2003 tentang Keuangan Negara menyebutkan bahwa hibah satu komponen lain-lain pendapatan yang sah pada APBN. PA/KPA Transfer ke Daerah melaksanakan fiskal daerah bersangkutan. daerah. termasuk hibah untuk instansi vertikal Pemerintah di Daerah.5. badan/lembaga asing. Pemotongan DAu dan/atau DBH untuk tahun berikutnya dihitung berdasarkan data kapasitas fiskal dan jumlah DAu dan 3. pemotongan DAu dan/ atau DBH dilakukan secara bertahap untuk beberapa DBH yang akan disalurkan untuk daerah bersangkutan pada tahun anggaran berkenaan tahun sampai dengan seluruh tunggakan diselesaikan/dilunasi. 15% untuk Pemda dengan Kapasitas Fiskal sedang. Besaran pemotongan DAu dan/atau DBH dihitung sebesar jumlah tunggakan. HIBAH DAERAH Hibah kepada pemerintah daerah merupakan salah satu bentuk hubungan keuangan antara Pemerintah Pusat dan pemerintah daerah untuk dapat diberikan oleh Pemerintah kepada pemerintah daerah atau sebaliknya. Besaran maksimum pemotongan DAu dan/atau DBH adalah 20% Dalam hal jumlah tunggakan lebih besar dari besaran sanksi pemotongan DAu dan/atau DBH per tahun. Besaran pemotongan tersebut ditetapkan dalam persentase tertentu dari DAu dan/atau DBH yang untuk Pemda dengan Kapasitas Fiskal sangat Tinggi dan Tinggi.3. badan/lembaga III-184 SistemPendanaandiDaerah Dalam Peraturan Pemerintah Nomor 57 Tahun 2005 tentang Hibah Kepada . maka lingkup hibah daerah meliputi hibah dari Pemerintah kepada pemerintah daerah dan hibah dari pemerintah daerah kepada Pemerintah. dan 10% untuk Pemda dengan Kapasitas Fiskal Rendah.

2. sumber hibah Hibah kepada pemerintah daerah termasuk dalam Bagian Anggaran Bendahara umum Negara (BA-BuN) yang dikelola oleh Menteri Keuangan sedangkan Hibah dari Pemerintah dapat bersumber dari: Hibah dari luar Negeri dapat bersumber dari : Pemerintah negara asing. 1. Badan/lembaga internasional. dan/atau Hibah luar Negeri. Donor lainnya. termasuk selaku Bendahara umum Negara. Hibah III-185 . dan/atau Pinjaman luar Negeri. 3. Menteri Keuangan sebagai Pengguna Anggaran menunjuk Direktur Jenderal Perimbangan Keuangan sebagai Kuasa Pengguna Anggaran Hibah kepada Pemerintah Daerah (KPA-HPD).Pelengkap Buku Pegangan 2011 internasional. 4. 4. 3. Pemerintah daerah lain. 2.1. Badan/lembaga organisasi swasta dalam negeri. Pemerintah. Hibah kepada pemerintah daerah dapat bersumber dari : Pemerintah. Badan/lembaga asing. 3. 3. 1. rupiah maupun barang dan atau jasa.3.3. Pendapatan APBN. Kelompok masyarakat/perorangan dalam negeri. baik dalam bentuk devisa. 1. dan/atau Hibah yang bersumber dari pendapatan APBN dan dari pihak lain dalam yang bersumber dari luar negeri (baik dari pinjaman luar negeri maupun PeningkatanKualitasHubunganKeuanganPusatdanDaerah DalamMendorongPertumbuhanEkonomi negeri dituangkan dalam Naskah Perjanjian Hibah Daerah (NPHD). 2. badan/lembaga dalam negeri atau perorangan tenaga ahli dan pelatihan yang tidak perlu dibayar kembali.

2.hibah luar negeri) dilakukan melalui Pemerintah dengan penandatanganan Keuangan atau kuasanya dengan kepala daerah. Hibah dilaksanakan dengan mempertimbangkan kapasitas fiskal daerah lembaga terkait dan merupakan diskresi Pemerintah. antara Pemerintah. Khusus untuk hibah yang dengan kapasitas fiskal rendah 3. 4.3. daerah.3. 2. dan pemerintah daerah kabupaten/kota yang sesuai dengan Peraturan Pemerintah Nomor 38 Hibah bersifat bantuan untuk melaksanakan urusan pemerintahan yang merupakan kewenangan pemerintah daerah.q. 3. pemerintah daerah provinsi. berdasarkan Peta Kapasitas Fiskal Daerah yang ditetapkan oleh Menteri Kegiatan yang dibiayai hibah diusulkan oleh Kementerian Negara/ III-186 SistemPendanaandiDaerah . Hibah dari Pemerintah kepada pemerintah daerah dilaksanakan dalam kerangka hubungan keuangan antara Pemerintah dan pemerintah Hibah dilaksanakan sejalan dengan pembagian urusan pemerintahan Tahun 2007. Keuangan. Menteri bersumber dari pinjaman luar negeri. prioritas diberikan kepada daerah berdasarkan peta kapasitas fiskal yang PrinsiP dasar Pemberian hibah kePada Prinsip-prinsip dasar pemberian hibah dari Pemerintah kepada pemerintah daerah adalah: 1. ditetapkan dalam Peraturan Menteri Keuangan. daerah Naskah Perjanjian Penerusan Hibah (NPPH) antara Pemerintah c. 5.

Hibah yang bersumber dari pinjaman luar negeri. perundang-undangan. 3. a. yaitu: pemerintah daerah dengan kriteria sebagai berikut: a. mengakibatkan penambahan beban pada APBD. diberikan kepada pemerintah daerah dengan kriteria sebagai berikut: PeningkatanKualitasHubunganKeuanganPusatdanDaerah DalamMendorongPertumbuhanEkonomi III-187 . daerah.3. kriteria Pemberian hibah Hibah yang bersumber dari pendapatan APBN diberikan kepada untuk melaksanakan kegiatan yang menjadi urusan pemerintah untuk kegiatan tertentu yang berkaitan dengan penyelenggaran pemerintah daerah.3. Diprioritaskan untuk pemerintah daerah dengan kapasitas fiskal rendah berdasarkan Peta Kapasitas Fiskal yang ditetapkan oleh Hibah yang bersumber dari hibah luar negeri. Kriteria pemberian hibah digolongkan berdasarkan sumber hibah. diberikan kepada pemerintah daerah dengan kriteria sebagai berikut: undangan. daerah atau untuk kegiatan peningkatan fungsi pemerintahan.3. c. b. untuk melaksanakan kegiatan yang merupakan urusan pemerintah daerah dalam rangka pencapaian sasaran program dan prioritas pembangunan nasional sesuai dengan peraturan perundangMenteri Keuangan. 2. Kegiatan tertentu yang diatur secara khusus dalam peraturan Kegiatan lainnya sebagai akibat kebijakan Pemerintah yang b.Pelengkap Buku Pegangan 2011 3. dan pemberdayaan aparatur pemerintah kegiatan Pemerintah yang berskala nasional/internasional oleh b. layanan dasar umum. 1.

3. yaitu peningkatan fungsi pemerintahan. layanan dasar 3. yaitu dengan menggunakan Bagian dasar kinerja (performance-based). c. setelah uang diterima di RKuD. dan pemberdayaan aparatur. Kelalaian untuk memenuhi dari Penerusan Pinjaman dan/atau Hibah luar Negeri (PHlN) dilakukan RKuN ke rekening tersendiri yang merupakan bagian dari RKuD. b.3. Penyaluran hibah dilaksanakan melalui Penyaluran hibah berupa uang yang bersumber dari pendapatan APBN 1. Penyaluran hibah berupa uang yang bersumber melalui pemindahbukuan dari Rekening Khusus yang merupakan bagian dari kepada pihak ketiga dalam waktu 2 hari kerja. Penyaluran hibah lingkungan hidup dan budaya. daerah. Hibah disalurkan dari APBN ke APBD Anggaran Bendahara umum Negara (BA-BuN) yang dikelola oleh Menteri Keuangan selaku Bendahara umum Negara. untuk melaksanakan kegiatan yang menjadi urusan pemerintah umum. Penyaluran hibah kepada daerah dilaksanakan dengan menggunakan sesuai peraturan perundang-undangan. pemerintah daerah wajib membayarkan uang tersebut ketentuan tersebut dapat dikenai sanksi sebagaimana diatur dalam NPPH III-188 SistemPendanaandiDaerah . Kegiatan dalam rangka mendukung riset dan teknologi. Penyaluran Hibah Berupa Uang pemindahbukuan dari Rekening Kas umum Negara (RKuN) kepada Rekening dilakukan melalui pemindahbukuan dari Rekening Kas umum Negara ke Rekening Kas umum Daerah. Kegiatan dalam rangka bantuan kemanusiaan. Kegiatan dalam rangka mendukung pelestarian sumber daya alam. anggaran Kementerian/lembaga. yang terpisah dari bagian Kas umum Daerah (RKuD). b.4.a.

selanjutnya. sesuai dengan NPHD atau NPPH dan peraturan perundang-undangan. mekanisme penyaluran hibah berupa uang dapat dilihat pada gambar 3. hibah luar negeri dan/atau pinjaman luar negeri dapat dilakukan dengan penyerahan langsung dari pemberi pinjaman dan/atau hibah luar negeri Penyerahan hibah barang/jasa tersebut dilakukan dengan membuat berita acara serah terima barang/jasa setelah mendapat pertimbangan terlebih PeningkatanKualitasHubunganKeuanganPusatdanDaerah DalamMendorongPertumbuhanEkonomi III-189 .Pelengkap Buku Pegangan 2011 atau NPHD. Penyaluran Hibah Berupa Barang dan/atau Jasa Penyaluran hibah berupa barang dan/atau jasa yang bersumber dari kepada pemerintah daerah penerima hibah.28. gambar 3.28 Mekanisme Penyaluran Hibah Berupa uang Tata cara penyaluran hibah dalam bentuk barang dan/atau jasa dilaksanakan 2.

penyaluran hibah berupa barang dan/atau jasa dapat dilihat dalam gambar gambar 3.29.29 Mekanisme Penyaluran Hibah Berupa Barang dan Jasa disampaikan Direktur Jenderal Perimbangan Keuangan selaku KPA-HPD. Copy berita acara serah terima barang/jasa 3. a. SistemPendanaandiDaerah Penganggaran Hibah dan Penyusunan NPPH.07/2008. secara sederhana. mekanisme 3. mekanisme penerusan hibah kepada pemerintah daerah dilakukan dengan langkah– langkah sebagai berikut: 1. proses penganggaran hibah dan penyusunan NPPH adalah Kementerian/lembaga meminta penerbitan nomor registrasi hibah Grant Agreement (dokumen perjanjian) dan rencana penyerapan. Mekanisme Daerah Penerusan Hibah Kepada Pemerintah Berdasarkan Peraturan Menteri Keuangan Nomor 168/PMK. Copy berita acara serah terima tersebut merupakan dasar penatausahaan dan pelaporan hibah.dahulu dari Kementerian/lembaga terkait. sebagai berikut: Berdasarkan Peraturan Menteri Keuangan Nomor 168/PMK.07/2008 dan Peraturan Menteri Keuangan Nomor 169/PMK.07/2008 tentang Hibah Daerah. kepada Direktorat Jenderal Pengelolaan utang dengan melampirkan III-190 .

Kementerian/lembaga menetapkan pemerintah daerah penerima hibah utang dan surat penetapan daerah penerima hibah oleh Kementerian/ lembaga.Pelengkap Buku Pegangan 2011 b. proses penganggaran hibah dan penyusunan NPPH dapat dilihat pada gambar 3. e. Perimbangan Keuangan untuk menindaklanjuti proses penerusan hibah dan disampaikan kepada Direktorat Jenderal Perimbangan Keuangan. mencantumkan dana hibah dalam APBN dan kepada Direktorat Jenderal c. Direktorat Jenderal Pengelolaan utang menerbitkan nomor registrasi hibah dan menyampaikan surat pemberitahuan kepada Direktorat Jenderal Anggaran untuk kepada pemerintah daerah. setelah konsep NPPH disetujui maka dilakukan penandatanganan NPPH oleh kepala daerah dan Direktur Jenderal Perimbangan Keuangan atas nama Menteri Keuangan. secara ringkas. surat persetujuan penerushibahan kepada pemerintah daerah. PeningkatanKualitasHubunganKeuanganPusatdanDaerah DalamMendorongPertumbuhanEkonomi III-191 . d.30. Berdasarkan permintaan tersebut. maka Direktorat Jenderal Perimbangan Keuangan menerbitkan Berdasarkan surat Pemberitahuan dari Direktorat Jenderal Pengelolaan Direktorat Jenderal Perimbangan Keuangan menyusun konsep NPPH dengan berkoordinasi dengan Kementerian/lembaga dan pemerintah daerah.

gambar 3. kepada Pemerintah Daerah (DIPA-HPD).30 Penganggaran Hibah dan Penyusunan NPPH 2. Penyusunan dan Pengesahan Daftar Isian Pelaksanaan Anggaran–Hibah III-192 SistemPendanaandiDaerah .

konsep DIPA-HPD disampaikan kepada Direktur Jenderal Berdasarkan hasil verifikasi tersebut. Perbendaharaan untuk disahkan. kepada pemerintah daerah. selanjutnya Direktur Jenderal Anggaran menerbitkan surat Penetapan Atas dasar sP-RKABuN. Berdasarkan Rencana Komprehensif tersebut. e. g. i. menyusun konsep DIPA-HPD. dikoordinasikan terlebih dahulu dengan Kementerian/lembaga terkait Jenderal Perimbangan Keuangan melakukan verifikasi terhadap Rencana Keuangan menyusun RKABuN (Rencana Kerja Anggaran Bendahara untuk kesesuaian dengan alokasi hibah pada APBN. Direktur Jenderal Perimbangan Keuangan selanjutnya. j. Direktur Jenderal Perimbangan RKABuN (sP-RKABuN) untuk disampaikan kepada Direktur Jenderal h. ditetapkan. b. daerah menyusun Dokumen Pelaksanaan Anggaran sKPD (DPA-sKPD) PeningkatanKualitasHubunganKeuanganPusatdanDaerah DalamMendorongPertumbuhanEkonomi DIPA-HPD yang telah disahkan merupakan dasar penyaluran hibah Berdasarkan Rencana Komprehensif dan Rencana Tahunan. kepala daerah menyusun Rencana Tahunan. Komprehensif dan Rencana Tahunan yang disampaikan.Pelengkap Buku Pegangan 2011 a. f. Tahunan d. Penyusunan sebelum disampaikan kepada Direktur Jenderal Perimbangan Keuangan. c. pemerintah III-193 . Rencana Komprehensif dan Rencana Kepala daerah menyusun Rencana Komprehensif berdasarkan Naskah Perjanjian Hibah Daerah (NPHD) atau Naskah Perjanjian Penerusan Hibah (NPPH) yang telah ditandatangani. maka Direktur umum Negara) dan disampaikan kepada Dirjen Anggaran untuk Perimbangan Keuangan dan Direktur Jenderal Perbendaharaan sebagai dasar penyusunan dan pengesahan DIPA-HPD.

proses penyusunan dan pengesahan DIPA–HPD dapat dilihat pada gambar 3.31 Proses Penyusunan DIPA Hibah kepada Pemerintah Daerah yang paralel dengan penyusunan DIPA-HPD oleh Direktorat Jenderal Perimbangan Keuangan.31.secara ringkas. III-194 SistemPendanaandiDaerah . gambar 3.

Pelengkap Buku Pegangan 2011 setelah penyusunan DIPA-HPD dan DPA–sKPD selesai dan disahkan. Rencana penggunaan hibah. bank serta copy bukti pembukaan rekening kepada Direktur Jenderal Penyaluran Hibah yang dilampiri surat Pernyataan Tanggung Jawab tersebut antara lain: 1) Tahap pertama:    Berdasarkan DPA-sKPD. Dokumen terkait Copy DPA-sKPD dan dokumen pendukung terkait. Pemanfaatan Hibah di Daerah proses selanjutnya adalah sebagai berikut: a. maka 4. Kepala daerah membuka rekening tersendiri/khusus sebagai bagian dari Kepala daerah menyampaikan nomor rekening. b. kepala daerah menyampaikan surat Permintaan Mutlak (sPTJM) dan dokumen-dokumen terkait yang telah mendapatkan Rencana penggunaan hibah. Copy sPM dan copy rekening koran serta dokumen terkait. RKuD yang digunakan untuk menampung dana hibah. pelaksanaan kegiatan dan 2) Tahap berikutnya:     Copy surat Perintah Pencairan Dana (sP2D) yang disahkan oleh Bendahara umum Daerah (BuD) tahap sebelumnya dan dokumen dokumen PeningkatanKualitasHubunganKeuanganPusatdanDaerah DalamMendorongPertumbuhanEkonomi III-195 . nama rekening dan nama Perimbangan Keuangan yang akan digunakan sebagai bukti telah dibukanya rekening dimaksud. kemajuan pertimbangan dari kementerian/lembaga terkait. Copy sPM dan Dokumen terkait. laporan terkait. c. pendukung terkait.

Berdasarkan sP2D tersebut.  d.32. Rekening Khusus ke RKuD. dilakukan pemindahbukuan dari RKuN atau III-196 SistemPendanaandiDaerah . proses penyusunan dan pengesahan DIPA–HPD dapat dilihat pada gambar 3. daerah tersebut disampaikan kepada Direktur Jenderal Perimbangan Keuangan. sPM untuk disampaikan kepada Dirjen Perbendaharaan sebagai dasar penerbitan sP2D. Direktur Jenderal Perimbangan Keuangan sebagai KPA-HPD menerbitkan surat Permintaan Penyaluran Hibah yang telah ditandatangani kepala laporan penggunaan hibah dan laporan penggunaan dana secara ringkas. laporan penggunaan hibah dan laporan penggunaan dana pendamping serta dokumen terkait. f. e. Copy sP2D yang disahkan oleh BuD dan dokumen pendukung pendamping secara keseluruhan yang ditetapkan sKPD terkait. 3) Tahap terakhir:  terkait.

5.32 Proses Penyaluran Hibah Kepada Pemerintah Daerah 3.3. Penerimaan hibah oleh pemerintah daerah dikelola dan dilaksanakan secara transparan dan akuntabel melalui mekanisme APBD sesuai peraturan perundang-undangan. Hal ini berarti bahwa hibah dan dana pendampingnya PeningkatanKualitasHubunganKeuanganPusatdanDaerah DalamMendorongPertumbuhanEkonomi Pengelolaan hibah oleh daerah III-197 .Pelengkap Buku Pegangan 2011 gambar 3.3.

tujuan. Dokumen Pelaksanaan Anggaran (DPA) satuan Kerja Perangkat Daerah maksud. berdasarkan harga perolehan atau taksiran nilai wajar barang dan/atau daerah pada saat diterima. Pemerintah pengeluaran yang ineligible (pengeluaran yang tidak sesuai dengan maksud Perimbangan Keuangan dan instansi terkait. Direktur Jenderal Pencatatan hibah oleh pemerintah daerah adalah sebagai berikut: kelompok lain-lain Pendapatan yang sah pada APBD. 2.3.(apabila dipersyaratkan) dianggarkan dalam APBD dan dituangkan dalam (sKPD). 3. Penerimaan hibah dalam bentuk barang dan/atau jasa dicatat Barang yang diterima dari hibah diakui dan dicatat sebagai barang milik III-198 SistemPendanaandiDaerah .6. PenCatatan 1. dan ketentuan yang dipersyaratkan untuk menghindari dan tujuan penggunaan dana hibah). 3.3. Penerimaan hibah oleh daerah dicatat sebagai pendapatan hibah dalam Penerimaan hibah dalam bentuk barang dan/atau jasa selain dicatat sebagai pendapatan hibah dalam kelompok lain-lain Pendapatan yang sah pada saat yang sama dicatat juga sebagai belanja dengan nilai yang jasa tersebut. Hibah wajib digunakan sesuai ketentuan dalam NPPH atau NPHD. 4. daerah juga wajib menjaga agar penggunaan dana hibah sesuai dengan Penerimaan hibah dari pihak lain dalam negeri dituangkan dalam NPHD dan salinannya disampaikan kepada Menteri Keuangan c.q. sama.

3.7. 4.3.Pelengkap Buku Pegangan 2011 3. 5. 1.7 Pencatatan dan Pelaporan Hibah Hibah Uang √ √ √ √ √ √ secara ringkas pencatatan dan pelaporan hibah dapat digambarkan dalam Tabel 3.7 berikut: Tata cara akuntansi dan pelaporan keuangan yang terkait dengan hibah laporan Realisasi Anggaran laporan Arus Kas Neraca Keterangan Laporan Hibah Barang Hibah Jasa Catatan atas laporan Keuangan √ √ Dicatat sebesar nilai nominal Dicatat sebesar nilai wajar Dicatat sebesar nilai wajar PeningkatanKualitasHubunganKeuanganPusatdanDaerah DalamMendorongPertumbuhanEkonomi III-199 . PelaPoran Penerimaan hibah dalam bentuk uang disajikan dalam laporan Realisasi Penerimaan hibah dalam bentuk barang dan/atau jasa dilaporkan dalam Transaksi penerimaan hibah diungkapkan dalam Catatan atas laporan Dalam hal hibah tidak termasuk dalam perencanaan hibah pada tahun anggaran berjalan. lRA. dilaksanakan sesuai dengan peraturan perundang-undangan. hibah harus dilaporkan dalam laporan Pertanggungjawaban Keuangan. Tabel 3. 2. Hibah dalam laporan keuangan daerah adalah sebagai berikut: Anggaran (lRA) dan laporan Arus Kas. 3. Keuangan.

Direktur penyelesaian Kontrak Pengadaan Barang dan/atau Jasa kepada Menteri Pembangunan Nasional/Kepala Keuangan. daerah penerima hibah setiap perkembangan Direktur Perencanaan 3. triwulan wajib menyampaikan laporan perkembangan pelaksanaan negara/pimpinan lembaga terkait. Dalam rangka monitoring dan evaluasi. Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional/Kepala Bappenas dan menteri seluruh kegiatan penyaluran hibah dapat dihentikan. dari ketentuan sebagaimana ditetapkan dalam NPHD atau NPPH. permasalahan Perencanaan terkait.3. penyerapan dana. III-200 SistemPendanaandiDaerah . Jenderal Perimbangan Keuangan dan menteri negara/pimpinan lembaga Pembangunan Nasional/Kepala Bappenas dan menteri negara/pimpinan lembaga terkait melakukan pemantauan atas kinerja pelaksanaan kegiatan dan penggunaan hibah dalam rangka pencapaian target dan sasaran yang ditetapkan dalam NPHD dan NPPH. Bappenas.3. dan dalam pelaksanaan kegiatan serta Pemantauan 2.3. kegiatan kepada Direktur Jenderal Perimbangan Keuangan. maka Dalam hal daerah melakukan pengelolaan hibah yang menyimpang 4. Jenderal Perimbangan Menteri Daerah melaporkan kemajuan realisasi fisik.8. 1.

4. sebagai bagian dari trilogi sistem penyelenggaran Pemerintahan Dekonsentrasi dan Tugas Pembantuan pada hakekatnya dapat dimaknai sebagai bentuk kepedulian/intervensi Indonesia. atau kota dan/atau desa. serta dari pemerintah kabupaten. sedangkan Tugas Pembantuan diartikan sebagai penugasan dari pemerintah pusat kepada daerah dan/atau desa. terwujudnya kesejahteraan masyarakat di daerah. tertentu. Dekonsentrasi dan Tugas Pembantuan) di Indonesia. DANA DEKoNSENTRASI DAN TUGAS PEMBANTUAN SERTA PENDANAAN URUSAN BERSAMA PUSAT DAN DAERAH 3. dari pemerintah provinsi kepada kabupaten.Pelengkap Buku Pegangan 2011 4. sebagaimana dimaksud tahun 2008 tentang Dekonsentrasi dan Tugas Pembantuan.3. Secara normatif Dekonsentrasi didefinisikan sebagai pelimpahan wewenang/ urusan pemerintahan dari pemerintah pusat kepada gubernur selaku wakil pemerintah pusat di daerah dan/atau kepada instansi vertikal di wilayah atau kota kepada desa untuk melaksanakan tugas tertentu dengan kewajiban menugaskan. serta Penjelasan Peraturan Pemerintah Nomor 7 Hal ini dapat dilihat pada tujuan utama penyelenggaraan Pemerintah terhadap daerah mempercepat PeningkatanKualitasHubunganKeuanganPusatdanDaerah DalamMendorongPertumbuhanEkonomi III-201 . Dekonsentrasi dan Tugas melalui kewenangan yang dimiliki dalam rangka mengurangi kesenjangan pembangunan antar daerah dalam kerangka Negara Kesatuan Republik Pembantuan adalah untuk (Desentralisasi.1. dalam konsideran undang-undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah. melaporkan dan mempertanggungjawabkan pelaksanaannya kepada yang PENDAHULUAN Disisi lain.

Kementerian Keuangan mempunyai tugas dan wewenang dalam hal pengelolaan pendanaan sejalan dengan Pemerintah Pusat dan Pemerintahan Daerah. perencanaan. dan Kementerian Teknis yang berkoordinasi dalam perumusan kebijakan. Bappenas mempunyai Kementerian Keuangan. Hal ini Pendanaan Dekonsentrasi dan Tugas Pembantuan. undang-undang Nomor 17 Tahun 2003 tentang Keuangan Negara. dan aturan pelaksanaannya. program/kegiatan. pelimpahan dan penugasan dengan ketentuan undang-undang Nomor 25 Tahun 2004 tentang sistem urusan pemerintahan dimaksud didanai dari Anggaran Pendapatan dan berarti dekonsentrasi dan tugas pembantuan merupakan penyelenggaraan aparat pemerintah daerah. sedangkan pertanggungjawabannya kepada sebagian urusan pemerintah pusat di daerah yang dilaksanakan oleh III-202 SistemPendanaandiDaerah . hubungan penyelenggaraan tugas dan wewenang. Bappenas. Pada tingkat pemerintah mempunyai tugas dan wewenang dalam hal penataan urusan pemerintahan Pemerintahan Daerah dan aturan pelaksanaannya.Pelaksanaan dan pendanaan dekonsentrasi dan tugas pembantuan melibatkan beberapa instansi pemerintah di pusat dan daerah dalam suatu pola pusat. undangundang Nomor 33 Tahun 2004 tentang Perimbangan Keuangan antara sementara kementerian teknis mempunyai tugas dan wewenang dalam hal pelimpahan/penugasan urusan kepada Daerah yang berkaitan dengan Belanja Negara melalui bagian anggaran kementerian/lembaga. Kementerian Dalam Negeri sejalan dengan ketentuan undang-undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang tugas dan wewenang dalam hal penetapan dan sinkronisasi program sejalan Perencanaan Pembangunan Nasional. undangundang Nomor 1 tahun 2004 tentang Perbendaharaan Negara. instansi yang terlibat terdiri dari Kementerian Dalam Negeri. dan evaluasi.

Direktorat Jenderal Kekayaan Negara mempunyai tugas III-203 . Peraturan Pemerintah dan pelaporan keuangan sejalan dengan Peraturan Pemerintah Nomor 24 sistem Akuntansi dan Pelaporan Keuangan pemerintah Pusat. pembinaan dan koordinasi sistem akuntansi instansi (sAI) Pemerintah. Peraturan Menteri Keuangan Nomor 171/PMK. penerbitan surat Rincian Alokasi Anggaran (sRAA). serta aturan dalam bidang pengelolaan barang milik negara/daerah sejalan dengan PeningkatanKualitasHubunganKeuanganPusatdanDaerah DalamMendorongPertumbuhanEkonomi tentang Rencana Kerja dan Anggaran Kementerian Negara/lembaga (DIPA). Nomor 8 Tahun 2006 tentang Pelaporan Keuangan dan Kinerja Instansi pengenaan sanksi. Direktorat Jenderal Perimbangan Keuangan mempunyai tugas dalam pengelolaan informasi. pencairan dana. Pengelolaan pendanaan dana Dekonsentrasi dan Tugas Pembantuan di Kementerian Keuangan dilaksanakan oleh beberapa unit eselon I yang mempunyai peranan dalam siklus pendanaan. Direktorat Jenderal Anggaran dan aturan pelaksanaannya termasuk Peraturan Menteri Keuangan yang Menteri Keuangan Nomor 248/PMK.06/2007 tentang pelaksanaannya. dan perumusan rekomendasi Dana Dekonsentrasi dan Tugas Pembantuan sejalan dengan Peraturan Pemerintah Nomor 7 tahun 2008 Keuangan Nomor 156/PMK. penerbitan RABPP dan RKA-satker sejalan dengan Peraturan Pemerintah Nomor 21 Tahun 2004 mengatur mengenai standar biaya.07/2008 sebagaimana diubah dengan Peraturan Dana Dekonsentrasi dan Tugas Pembantuan. tentang Dekonsentrasi dan Tugas Pembantuan dan Peraturan Menteri evaluasi.07/2010 tentang Pedoman Pengelolaan mempunyai tugas dalam penelaahan RKA-Kl.Pelengkap Buku Pegangan 2011 kementerian/lembaga yang memberikan Dana Dekonsentrasi dan/atau Dana Tugas Pembantuan. Direktorat Jenderal Perbendaharaan mempunyai tugas dalam pengesahan Daftar Isian Pelaksanaan Anggaran Tahun 2005 tentang standar Akuntansi Pemerintahan.

33 Pola Hubungan Antar Instansi Terkait dalam Penyelengaraan dan Pendanaan Dekonsentrasi dan Tugas Pembantuan III-204 SistemPendanaandiDaerah . gambar 3.Peraturan Pemerintah Nomor 6 Tahun 2006 tentang pengelolaan Barang Milik Negara/Daerah dan aturan pelaksanaannya.

tersedia bagi penyelenggaraan Dekonsentrasi dan Tugas Pembantuan. Dalam 2) Penyelenggaraan urusan Pemerintah yang dilaksanakan oleh gubernur 3) Penyelenggaraan urusan Pemerintah yang dilaksanakan oleh gubernur/ bupati/walikota selaku kepala daerah otonom dalam rangka Tugas PrinsiP Pendanaan dekonsentrasi dan tugas Pembantuan 3.2.4. kondisi dan kebutuhan daerah serta besaran pendanaan yang 1) Penyelenggaraan urusan pemerintahan daerah dalam rangka pelaksanaan selaku wakil Pemerintah di daerah dalam rangka pelaksanaan Dekonsentrasi didanai dari APBN. PENGELoLAAN DANA DEKoNSENTRASI DAN TUGAS PEMBANTUAN 3.2.2. demokratis. Tugas Pembantuan dalam tataran implementasi harus mempertimbangkan Pemerintah dan Daerah yang bertujuan untuk mewujudkan suatu sistem potensi. Pembantuan didanai dari APBN. dan Peraturan Menteri Keuangan Nomor 156/ III-205 .Pelengkap Buku Pegangan 2011 3. maka penyelenggaraan pendanaan Dekonsentrasi dan sistem perimbangan keuangan antara Pemerintah dan daerah sebagaimana diatur dalam undang-undang Nomor 33 Tahun 2004 ditegaskan bahwa: Desentralisasi didanai dari APBD.07/2008 sebagaimana diubah dengan Peraturan Menteri Keuangan PeningkatanKualitasHubunganKeuanganPusatdanDaerah DalamMendorongPertumbuhanEkonomi Nomor 7 tahun 2008. sesuai dengan undang-undang Nomor 33 Tahun 2004.4. Peraturan Pemerintah PMK.2. transparan. Pengertian dana dekonsentrasi dan tugas Pembantuan sebagai salah satu unsur dalam sistem perimbangan keuangan antara pembagian keuangan yang adil. dan bertanggung jawab.4.1. proporsional.

h. c. SistemPendanaandiDaerah III-206 . fasilitasi. f. antara lain sinkronisasi dan koordinasi perencanaan. gubernur (sebagai wakil Pemerintah Pusat di daerah). penyuluhan. Pendanaan Dekonsentrasi dilaksanakan setelah adanya pelimpahan Pendanaan Tugas Pembantuan dilaksanakan setelah adanya penugasan bupati/walikota (sebagai kepala daerah). anggaran/barang (KPA/B). yaitu kegiatan yang menghasilkan keluaran yang tidak menambah aset tetap. bimbingan teknis. b. wewenang dari Pemerintah melalui kementerian negara/lembaga kepada dari Pemerintah melalui kementerian negara/lembaga kepada gubernur/ d. tupoksi kementerian/lembaga. program dan kegiatan kementerian/lembaga. e. pelatihan. pendanaan Dekonsentrasi dan Tugas Pembantuan dilakukan sesuai dengan prinsip-prinsip sebagai berikut: a. Tugas Pembantuan adalah lingkup kewenangan yang sudah menjadi Kegiatan yang didanai dalam rangka pelaksanaan Dekonsentrasi dan Kegiatan Dekonsentrasi dan Tugas Pembantuan di daerah dilaksanakan Pendanaan dalam rangka Dekonsentrasi dialokasikan untuk kegiatan oleh satuan Kerja Perangkat Daerah (sKPD) selaku kuasa pengguna bersifat non-fisik. Pelimpahan/penugasan wewenang dimaksud dijabarkan dalam bentuk Pendanaan kegiatan Dekonsentrasi dan Tugas Pembantuan oleh Dana Dekonsentrasi dan Tugas Pembantuan merupakan bagian anggaran Pemerintah disesuaikan dengan beban dan besar/kecilnya wewenang kementerian/lembaga yang dialokasikan di dalam Rencana Kerja dan Anggaran Kementerian/lembaga (RKA-K/l). g.Nomor 248/PMK.07/2010. yang dilimpahkan/ ditugaskan.

pengadaan bibit dan pupuk yang peruntukannya. yaitu kegiatan yang menghasilkan keluaran yang menambah Pendanaan dalam rangka Tugas Pembantuan dialokasikan untuk kegiatan kegiatan Dekonsentrasi. Dalam rangka mendukung pelaksanaan kegiatan Tugas Dana penunjang tersebut yang menghasilkan aset tetap menggunakan kode akun 521321. sebagian kecil Dana Tugas Pembantuan dapat dialokasikan sebagai dana penunjang untuk pelaksanaan tugas administratif dan/atau pengadaan input berupa pengadaan barang/jasa dan penunjang lainnya. nilai aset Pemerintah. Dana penunjang tersebut menggunakan akun Belanja Barang Penunjang Kegiatan Dekonsentrasi dengan kode akun 521311. jalan. Dalam rangka mendukung pelaksanaan atau aset tetap. peralatan administratif dan/atau pengadaan input berupa barang habis pakai dan/ i. Pembantuan. pembinaan dan pengawasan. Kegiatan tersebut menggunakan akun belanja barang sesuai dengan peruntukannya. serta pengendalian. antara lain pengadaan tanah. akun Belanja Barang Penunjang Kegiatan Tugas Pembantuan dengan akan diserahkan kepada daerah). irigasi dan jaringan. sebagian kecil Dana Dekonsentrasi dapat dialokasikan sebagai dana penunjang untuk pelaksanaan tugas dan mesin. Pengadaan kegiatan yang bersifat fisik seperti tersebut di atas menggunakan akun belanja modal sesuai dengan akun Belanja Barang Fisik lainnya Tugas Pembantuan dengan kode PeningkatanKualitasHubunganKeuanganPusatdanDaerah DalamMendorongPertumbuhanEkonomi III-207 . vaksin. sedangkan pengadaan kegiatan fisik lain menggunakan akun 521411. bangunan.Pelengkap Buku Pegangan 2011 supervisi. penelitian dan survei. bersifat fisik. serta kegiatan fisik lain yang menambah nilai aset Pemerintah (antara lain pengadaan barang habis pakai. seperti obat-obatan.

k.4. proses perencanaan parameter penyusunan perencanaan dan penganggaran tersebut mengandung disesuaikan dengan kemampuan APBN dalam mendanai urusan pemerintah kemampuan keuangan daerah. dan kebutuhan pembangunan di daerah.2. keseimbangan makna bahwa pengalokasian Dana Dekonsentrasi dan Tugas Pembantuan dan penganggaran Dana Dekonsentrasi dan Tugas Pembantuan disusun pendanaan di daerah.3. efisien. Dalam tiga pusat serta mempertimbangkan besarnya alokasi Transfer ke Daerah dan tugas Pembantuan dan kegiatan yang merupakan urusan Pemerintah di daerah dan disusun Berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 7 tahun 2008.j. Penganggaran dana dekonsentrasi dan kementerian/lembaga kepada DPRD pada saat pembahasan RAPBD berkaitan dengan kegiatan Dekonsentrasi di daerahnya. dan tidak terkonsentrasi di suatu III-208 SistemPendanaandiDaerah . gubernur/bupati/walikota memberitahukan RKA-Kl yang telah diterima dari kementerian/lembaga kepada DPRD setempat pada saat pembahasan RAPBD berkaitan dengan rencana kegiatan Tugas Pembantuan di daerah provinsi/kabupaten/kota. Sesuai definisi dan prinsip pendanaan Dekonsentrasi dan Tugas Pembantuan. Dengan demikian mekanisme pengganggaran Dana Dekonsentrasi dan Tugas Pembantuan tersebut dilakukan sesuai dengan dengan memperhatikan kemampuan keuangan negara. agar alokasi dana dekonsentrasi dan tugas pembantuan menjadi lebih efektif. Dana Dekonsentrasi dan Dana Tugas Pembantuan merupakan bagian anggaran kementerian/lembaga yang dialokasikan untuk mendanai program ketentuan yang berlaku bagi APBN. berdasarkan RKA-Kl. gubernur memberitahukan RKA-K/l yang telah diterima dari 3.

248/PMK.07/2008 sebagaimana dirubah dengan PMK No.07/2010 sebagai berikut: • • • • • pada daerah tertentu. dan Tugas Pembantuan 1. besarnya Transfer ke Daerah dan kemampuan keuangan daerah. Keseimbangan Pendanaan di Daerah dalam Rangka Perencanaan Lokasi dan Alokasi Dana Dekonsentrasi Dekonsentrasi dan Tugas Pembantuan juga seyogyanya disesuaikan dengan Keseimbangan pendanaan di daerah dalam rangka perencanaan lokasi dan alokasi Dana Dekonsentrasi dan Tugas Pembantuan telah diatur dalam dengan PMK No. bulan Maret sebelum penyusunan Renja-Kl. selain itu. Keseimbangan pendanaan dilakukan secara proporsional agar sebaran Pengalokasian Dana Dekonsentrasi dan/atau Tugas Pembantuan Hasil rumusan keseimbangan pendanaan di daerah dimaksud dituangkan Rekomendasi dalam Rekomendasi Menteri Keuangan.Pelengkap Buku Pegangan 2011 daerah tertentu. Menteri kegiatan dekonsentrasi dan tugas pembantuan.248/PMK. penyusunan perencanaan dan penganggaran prioritas pembangunan nasional dan prioritas pembangunan daerah. alokasi Dana Dekonsentrasi dan Tugas Pembantuan tidak terkonsentrasi Peraturan Menteri Keuangan Nomor 156/PMK.07/2008 sebagaimana diubah mempertimbangkan Kemampuan Fiskal Daerah yang terdiri dari Keuangan menjadi dasar pertimbangan bagi Rekomendasi Menteri Keuangan disampaikan kepada kementerian/ lembaga dengan tembusan kepada Kepala Bappenas selambat-lambatnya kementerian/lembaga dalam rangka perencanaan lokasi dan anggaran Ketentuan dalam Peraturan Menteri Keuangan Nomor 156/PMK.07/2010 tersebut di atas PeningkatanKualitasHubunganKeuanganPusatdanDaerah DalamMendorongPertumbuhanEkonomi III-209 .

sejalan dengan ketentuan dalam Pasal 3 ayat (1) undang-undang Nomor 17 Tahun 2003 tentang Keuangan Negara yang mengamanatkan bahwa keuangan negara dikelola secara tertib. dan bertanggung jawab harus dikelola sesuai dengan prinsip-prinsip tersebut. Dana selanjutnya dalam Penjelasan umum poin (5) kekuasaan atas pengelolaan bahwa Menteri Keuangan sebagai pembantu Presiden dalam bidang Dekonsenstrasi dan Tugas Pembantuan sebagai bagian dari keuangan negara keuangan negara dalam undang-undang Nomor 17 Tahun 2003 dikatakan keuangan (pengelola fiskal) pada hakekatnya adalah Chief Financial untuk suatu bidang tertentu pemerintahan. efisien. efektif. oleh karena itu. Prinsip ini perlu dilaksanakan secara konsisten agar terdapat kejelasan dalam pembagian wewenang dan tugas pemerintahan. mendorong upaya peningkatan profesionalisme dalam penyelenggaraan Officer (CFo) Pemerintah Republik Indonesia. transparan. taat pada peraturan perundangundangan. ekonomis. sementara setiap menteri/ tanggung jawab. terlaksananya mekanisme checks and balances serta untuk pimpinan lembaga pada hakekatnya adalah Chief Operational Officer (Coo) III-210 SistemPendanaandiDaerah . dengan memperhatikan rasa keadilan dan kepatutan.

Hal ini dilakukan melalui indikator mengarahkan umum berupa peta keseimbangan pendanaan di daerah yang disampaikan berwenang merencanakan lokasi dan besaran alokasi Dana Dekonsentrasi dalam bentuk rekomendasi. dan pengawasan keuangan. sedangkan kementerian/lembaga teknis dana dan Tugas Pembantuan berdasarkan indikator teknis yang dimiliki setelah mempertimbangkan rekomendasi Menteri Keuangan. penganggaran. Maksud dan tujuan PeningkatanKualitasHubunganKeuanganPusatdanDaerah DalamMendorongPertumbuhanEkonomi III-211 . administrasi perpajakan. administrasi kepabeanan.Pelengkap Buku Pegangan 2011 gambar 3. Terkait dengan fungsi pengelolaan kebijakan fiskal dekonsentrasi dan tugas pembantuan.34 Pola Hubungan Kementerian Keuangan dengan Kementerian dalam Pendanaan Dekonsentrasi dan Tugas Pembantuan Secara umum aspek pengelolaan fiskal meliputi beberapa fungsi yaitu dan penganggaran dalam rangka Dekonsentrasi dan Tugas Pembantuan. Menteri kementerian/lembaga Keuangan mempunyai dalam perencanaan kewenangan lokasi untuk dan alokasi pengelolaan kebijakan fiskal dan kerangka ekonomi makro. perbendaharaan.

serta proporsional dalam pengalokasian Dana Dekonsentrasi dan Tugas bagi kementerian/lembaga dalam merencanakan lokasi dan alokasi terkonsentrasi di daerah tertentu. berikut: i. meningkatkan efisiensi dan efektivitas dalam pengelolaan Dana Dekonsentrasi dan Tugas Pembantuan. Variabel KFD diukur berdasarkan besaran: Pendapatan Asli tingkat pendidikan. Dana Dekonsentrasi dan Tugas Pembantuan agar tepat sasaran dan tidak Variabel yang digunakan dalam formulasi keseimbangan pendanaan di daerah Pembantuan. lain Pendapatan yang sah dikurangi Belanja PNsD). dan Belanja PNsD (sebagai pengurang). DBH Pajak. angka harapan hidup. Dana Bagi Hasil. sementara IPM merupakan cerminan dari 4 (empat) indikator. kesehatan dan kesejahteraan masyarakat yang dibentuk Bruto (PDRB) per kapita. Dana Penyesuaian. Dana otonomi Khusus. dan memberikan masukan adalah Variabel Kemampuan Fiskal Daerah (KFD) dan Indeks Pembangunan Manusia (IPM). Daerah. dan Dana otsus). DBH sDA. Dana Alokasi Khusus. serta Produk Domestik Regional Menentukan Indeks Kemampuan Fiskal Daerah: langkah-langkah formulasi keseimbangan pendanaan adalah sebagai Menghitung besaran transfer daerah (jumlah dana perimbangan: DAu. lain-lain Pendapatan yang sah. Menghitung kemampuan keuangan daerah (jumlah PAD dan lain- III-212 SistemPendanaandiDaerah . Dana Alokasi umum. ratarata lama sekolah. yaitu: angka melek huruf penduduk dewasa. b. DAK. a.rekomendasi ini adalah untuk mewujudkan transparansi dan akuntabilitas.

sehingga menghasilkan daerah yang berada di atas dan di bawah Hasil kedua perbandingan KFD dan IPM tersebut di atas tersusun Cluster 1: Kelompok daerah yang mempunyai KFD dan IPM di atas Cluster 2: Kelompok daerah yang mempunyai KFD di bawah rata-rata Cluster 3: Kelompok daerah yang mempunyai KFD dan IPM di bawah nasional namun IPM di atas rata-rata nasional.Pelengkap Buku Pegangan 2011 c. Mengkaitkan KFD dengan IPM: Membandingkan indeks KFD daerah dengan rata-rata KFD Nasional Membandingkan IPM daerah dengan rata-rata IPM Nasional sehingga dalam 4 cluster daerah sebagai berikut: rata-rata nasional rata-rata nasional menghasilkan daerah yang berada di atas dan di bawah rata-rata b. e. nasional. ii. rata-rata nasional. a. f. d. jumlah penduduk. PeningkatanKualitasHubunganKeuanganPusatdanDaerah DalamMendorongPertumbuhanEkonomi III-213 . Menghitung KFD per kapita yang didapat dari KFD dibagi dengan Menghitung KFD Riil yang didapat dari KFD per kapita dibagi Indeks Menentukan Indeks KFD sebagai hasil dari pembagian KFD Riil Menentukan Kemampuan Fiskal Daerah (KFD) yang merupakan Kemahalan Konstruksi (IKK) sebagai proxy perbedaan tingkat harga terhadap rata-rata KFD Riil nasional sehingga diperoleh Peta KFD. c. antar daerah. hasil penjumlahan dana transfer daerah dan kemampuan keuangan daerah.

prioritas daerah yang akan direkomendasikan sebagai penerima dana dekonsentrasi dan tugas pembantuan sebagai berikut: a. RKA-satker dimaksud kemudian disampaikan kepada Dekonsentrasi. Pembantuan 2. penyampaian RKA-satker dilakukan bersamaan dengan penyampaian Peraturan Menteri/Pimpinan lembaga tentang pelimpahan menetapkan pejabat pengelola keuangan Dana Dekonsentrasi. gubernur Pejabat pengelola keuangan Dana Dekonsentrasi dan Tugas Pembantuan III-214 SistemPendanaandiDaerah . setelah menerima pelimpahan wewenang tersebut. nasional namun IPM di bawah rata-rata nasional. Prioritas I: Daerah pada Cluster 3. setelah menerima RKAsatker. Cluster 4: Kelompok daerah yang mempunyai KFD di atas rata-rata selanjutnya untuk menentukan besaran alokasi Dana Dekonsentrasi dan yang disusun oleh kementerian/lembaga terkait. Dalam mekanisme penganggaran Dana Tugas Pembantuan ke masing-masing daerah digunakan indikator teknis dalam penyusunan RKA-Kl yang setelah melalui proses pembahasan dan kementerian/lembaga terkait kemudian ditetapkan menjadi RKA-satker. Dalam mekanisme penganggaran Dana Tugas Pembantuan.Berdasarkan hasil formulasi tersebut. gubernur/bupati/walikota menyampaikan usulan pejabat pengelola keuangan dana tugas pembantuan kepada menteri/pimpinan lembaga. b. Prioritas II: Daerah pada Cluster 2. wewenang. Proses Penganggaran Dana Dekonsentrasi dan Tugas Penganggaran Dana Dekonsentrasi dan Tugas Pembantuan dituangkan penelaahan dengan gubernur dalam hal Dekonsentrasi dan kepada gubernur/bupati/walikota dalam hal Tugas Pembantuan.

kendala yang dihadapi.4. Dana Dekonsentrasi dan Dana Tugas Pembantuan disalurkan oleh Kantor Pelayanan Perbendaharaan Negara (KPPN) melalui Rekening Kas umum Negara. dan saran tindak lanjut sejalan dengan Peraturan Pemerintah Nomor 39 Tahun 2007 tentang Tata Cara Pengendalian dan Evaluasi Pelaksanaan Rencana PeningkatanKualitasHubunganKeuanganPusatdanDaerah DalamMendorongPertumbuhanEkonomi dan aspek akuntabilitas. sedangkan mekanisme penyaluran Dana Dekonsentrasi dan Dana Tugas Pembantuan dilaksanakan Pendapatan dan Belanja Negara. pencapaian target keluaran.2. Tata cara penyusunan RKA-Kl dan penetapan/pengesahan Penyaluran dana dekonsentrasi dan Membayar. PMK. RKA-satker tersebut juga RKA-Kl yang telah ditetapkan menjadi RKA-satker sebagai dasar dalam penyusunan DIPA.Pelengkap Buku Pegangan 2011 terdiri dari Kuasa Pengguna Anggaran/Barang. 3.2. Aspek manajerial terdiri dari perkembangan realisasi III-215 .5. walikota dalam hal Tugas Pembantuan.06/2005 tentang Pedoman Pembayaran Dalam Pelaksanaan Anggaran Pertanggungjawaban dan PelaPoran sesuai ketentuan dalam Peraturan Menteri Keuangan Nomor 134/ Di dalam Peraturan Pemerintah Nomor 7 Tahun 2008 tentang Dekonsentrasi dan Tugas Pembantuan disebutkan bahwa pertanggungjawaban dan pelaporan Dekonsentrasi dan Tugas Pembantuan mencakup aspek manajerial penyerapan dana. tugas Pembantuan Penguji Tagihan/Penandatangan surat Perintah Pejabat Akuntansi dan Bendahara Pengeluaran.4.4. 3. Pejabat Pembuat Komitmen. kepada DPRD pada saat pembahasan DIPA mengacu pada ketentuan peraturan perundang-undangan. Berdasarkan undang-undang Nomor 33 Tahun 2004. Pejabat diberitahukan oleh gubernur dalam hal Dekonsentrasi dan gubernur/bupati/ RAPBD sebagai bahan sinkronisasi program dan kegiatan.

kepala sKPD provinsi atas nama gubernur menyusun dan menyampaikan laporan pertanggungjawaban keuangan dan barang kepada menteri/pimpinan yang membidangi pengelolaan keuangan daerah. sementara aspek akuntabilitas terdiri dari laporan realisasi anggaran. catatan atas laporan keuangan. dan laporan barang sejalan tentang Pelaporan Keuangan dan Kinerja Instansi Pemerintah.07/2008 sebagaimana diubah dengan PMK Nomor 248/PMK.07/2010 yang secara garis besar dapat disajikan sebagai a) setiap triwulan dan setiap berakhirnya tahun anggaran. berikut: Barang Milik Negara/Daerah dan Peraturan Pemerintah Nomor 8 Tahun 2006 Dalam Peraturan Pemerintah Nomor 7 Tahun 2008 dijelaskan bahwa Kepala menyelenggarakan akuntansi dan bertanggung jawab terhadap penyusunan Penyusunan dan penyampaian laporan dimaksud dalam Peraturan Menteri Keuangan Nomor 156/PMK. Tugas Pembantuan adalah sebagai berikut : 1. untuk melaksanakan penggabungan b) gubernur menggabungkan laporan pertanggungjawaban dimaksud laporan tersebut. lembaga pemberi dana dekonsentrasi dengan tembusan kepada sKPD dan menyampaikannya kepada Menteri Keuangan setiap triwulan dan setiap berakhirnya tahun anggaran.Pembangunan. neraca. gubernur menugaskan/ menetapkan sKPD yang membidangi pengelolaan keuangan daerah sebagai Koordinator unit akuntansi Pembantu Pengguna Anggaran Wilayah (Koordinator uAPPAIII-216 SistemPendanaandiDaerah . Dana Dekonsentrasi dengan Peraturan Pemerintah Nomor 6 Tahun 2006 tentang Pengelolaan secara rinci pertanggungjawaban dan pelaporan Dana Dekonsentrasi dan sKPD provinsi selaku Kuasa Pengguna Anggaran/Barang dekonsentrasi wajib dan penyampaian laporan pertanggungjawaban keuangan dan barang.

Kepala lembaga pemberi dana tugas pembantuan. dengan tembusan kepada sKPD kabupaten/kota atas nama bupati/walikota menyusun dan menyampaikan laporan pertanggungjawaban keuangan dan barang daerah. b) setiap triwulan dan setiap berakhirnya kepada menteri/pimpinan lembaga pemberi dana tugas pembantuan. dengan tembusan kepada sKPD yang membidangi pengelolaan keuangan dan menyampaikannya kepada Menteri Keuangan setiap triwulan dan PeningkatanKualitasHubunganKeuanganPusatdanDaerah DalamMendorongPertumbuhanEkonomi III-217 c) gubernur menggabungkan laporan pertanggungjawaban dimaksud . Dana Tugas Pembantuan diuraikan sebagai berikut : dan barang atas pelaksanaan Tugas Pembantuan secara garis besar dapat a) setiap triwulan dan setiap berakhirnya tahun anggaran. menyampaikan laporan pertanggungjawaban dimaksud kepada Presiden pelaksanaan dekonsentrasi oleh gubernur dilampirkan dalam laporan Penyusunan dan penyampaian laporan pertanggungjawaban keuangan 2. Pertanggungjawaban Pelaksanaan APBD kepada DPRD. Kepala sKPD provinsi atas nama gubernur menyusun dan menyampaikan laporan pertanggungjawaban keuangan dan barang kepada menteri/pimpinan sKPD yang membidangi pengelolaan keuangan daerah. tahun anggaran.Pelengkap Buku Pegangan 2011 W) dan sKPD yang membidangi pengelolaan barang/ kekayaan daerah c) Menteri/ pimpinan lembaga yang mengalokasikan Dana Dekonsentrasi d) laporan melalui Menteri Keuangan setiap berakhirnya tahun anggaran. pertanggungjawaban keuangan secara tahunan atas sebagai Koordinator unit Akuntansi Pembantu Pengguna Barang Wilayah (Koordinator uAPPB-W).

setiap berakhirnya tahun anggaran. untuk melaksanakan penggabungan laporan tersebut. anggaran. dan jasa Dana Dekonsentrasi dan Tugas Pembantuan tetap mengacu pada ketentuan yang berlaku. bupati/walikota pengelolaan barang/kekayaan daerah sebagai Koordinator uAPPB-W. lembaga yang mengalokasikan Dana laporan tersebut. Adapun bentuk dan isi laporan pertanggungjawaban keuangan atas barang Pusat. khususnya Peraturan Menteri Keuangan yang mengatur mengenai sistem Akuntansi dan Pelaporan Keuangan Pemerintah III-218 SistemPendanaandiDaerah . gubernur menugaskan/menetapkan sKPD yang mebidangi pengelolaan keuangan daerah sebagai Koordinator uAPPAd) Bupati/walikota menggabungkan laporan pertanggungjawaban dimaksud dan menyampaikannya kepada Menteri Keuangan setiap triwulan dan menugaskan/menetapkan sKPD yang membidangi pengelolaan keuangan e) Menteri/pimpinan f) Pembantuan menyampaikan laporan pertanggungjawaban dimaksud laporan pertanggungjawaban keuangan secara tahunan atas pelaksanaan Tugas daerah sebagai Koordinator uAPPA-W dan sKPD yang membidangi kepada presiden melalui Menteri Keuangan setiap berakhirnya tahun tugas pembantuan setiap berakhirnya tahun anggaran dilampirkan dalam laporan Pertanggungjawaban Pelaksanaan APBD kepada DPRD. dengan tembusan kepada gubernur. untuk melaksanakan penggabungan W dan sKPD yang membidangi pengelolaan barang/kekayaan daerah sebagai Koordinator uAPPB-W. setiap berakhirnya tahun anggaran.

sKPD penerima wajib ii.4.07/2008 Pembantuan pasal 37A mengatur bahwa barang yang diperoleh dari Dana Dekonsentrasi merupakan Barang Milik Negara (BMN) yang diperoleh dari Dana Dekonsentrasi tersebut adalah sebagai berikut: i. dan Peraturan Menteri Keuangan Nomor 248/PMK. Dalam hal kementerian/lembaga tidak menyerahkan dalam jangka kementerian/lembaga. Pengelolaan barang milik negara 1. Direktorat Jenderal Kekayaan Negara dengan melampirkan Berita Acara serah Terima.07/2010 tentang dicatat sebagai persediaan (eks Dekonsentrasi). barang. Berdasarkan berita acara serah terima.q. iii. BMN tersebut harus Barang Milik Negara.q. Keuangan selaku Pengelola Barang c.6. Status Barang Hasil Pelaksanaan Dekonsentrasi tentang Pedoman Pengelolaan Dana Dekonsentrasi Perubahan atas Peraturan Menteri Keuangan Nomor 156/PMK. Tata cara Hibah BMN berupa persediaan yang Persediaan diserahkan oleh Pengguna Barang kepada daerah c. Tugas ditatausahakan dalam sistem Informasi Manajemen dan Akuntansi sKPD pelaksana tugas Dekonsentrasi dengan Berita Acara serah Terima selambat-lambatnya 6 bulan setelah realisasi pengadaan menatausahakan dan melaporkan pada neraca daerah. waktu 6 bulan sejak pengadaan atau sKPD tidak bersedia menerima BMN maka BMN dimaksud direklasifikasi menjadi aset tetap pada PeningkatanKualitasHubunganKeuanganPusatdanDaerah DalamMendorongPertumbuhanEkonomi III-219 .Pelengkap Buku Pegangan 2011 3.2. Pengguna Barang melaporkan serah terima barang kepada Menteri iv.

07/2008 tentang Pedoman Pengelolaan Dana Dekonsentrasi dan Tugas Pembantuan pasal 37B mengatur bahwa barang yang diperoleh dari Dana Tugas Pembantuan berasal dari dana penunjang dicatat sebagai persediaan. Permohonan persetujuan hibah kepada Menteri Keuangan c. Direktorat Jenderal Kekayaan Negara harus diajukan oleh menteri/pimpinan lembaga selambat-lambatnya 6 bulan setelah realisasi pengadaan Keuangan selaku Pengelola Barang c.07/2010 tentang Perubahan 2. barang. BMN yang dihasilkan dari kegiatan fisik lain dan yang selain yang berasal dari kegiatan fisik lain dicatat sebagai aset tetap. Direktorat Jenderal Kekayaan SistemPendanaandiDaerah keputusan Menteri Kementerian/lembaga tentang penugasan atas surat Pernyataan Kesediaan Menghibahkan dan surat Pernyataan iv. Status Barang dalam Pelaksanaan Tugas Pembantuan atas Peraturan Menteri Keuangan Nomor 156/PMK.q. iii. sedangkan BMN Akuntansi Barang Milik Negara. sKPD ii. Kesediaan Menerima Hibah diterbitkan sebelum disampaikannya surat program dan kegiatan yang akan dilaksanakan di daerah. Pengguna Barang melaporkan pelaksanaan hibah kepada Menteri III-220 . Tata cara hibah BMN berupa aset tetap yang diperoleh dari Dana Tugas Pembantuan adalah sebagai berikut: i.q. pelaksana Tugas Pembantuan sepanjang pihak kementerian/lembaga Kesediaan Menerima Hibah. merupakan BMN.Peraturan Menteri Keuangan Nomor 248/PMK.q. BMN tersebut harus ditatausahakan dalam sistem Informasi Manajemen dan bermaksud menyerahkan yang dituangkan dalam surat Pernyataan Kesediaan Menghibahkan dan daerah menyatakan kesediaannya untuk menerima aset tetap dimaksud yang dituangkan dalam surat Pernyataan Aset tetap dihibahkan oleh Pengguna Barang kepada daerah c.

menatausahakan dan melaporkan pada neraca daerah Berita Acara serah Terima. Dalam hal sKPD tidak bersedia menerima BMN maka BMN dimaksud BMN dihibahkan oleh Pengguna Barang kepada daerah c.Pelengkap Buku Pegangan 2011 Negara.q. sKPD Tata cara Hibah BMN yang dihasilkan dari kegiatan fisik lain dan yang berasal dari dana penunjang yang dicatat sebagai persediaan adalah sebagai berikut: ii. Dalam hal kementerian/lembaga tidak menyerahkan maka BMN Berdasarkan Berita Acara serah Terima. i. pelaksana Tugas Pembantuan dengan Berita Acara serah Terima iii. dan Direktorat Jenderal Anggaran dengan melampirkan Berita Acara serah Terima. untuk pengadaan aset tetap dalam rangka Tugas Pembantuan untuk tahun berikutnya.q. Direktorat Jenderal Pengelolaan utang. Pengguna Barang melaporkan serah terima barang kepada Menteri iv. lembaga. Dalam hal kementerian/lembaga tidak melaksanakan ketentuan tersebut maka kementerian/lembaga tidak diperkenankan mengalokasikan anggaran v. tetap dicatat sebagai aset tetap pada kementerian/lembaga. selambat-lambatnya 6 bulan setelah realisasi pengadaan barang. Direktorat Jenderal Kekayaan Negara dengan melampirkan dimaksud direklasifikasikan menjadi aset tetap pada kementerian/ PeningkatanKualitasHubunganKeuanganPusatdanDaerah DalamMendorongPertumbuhanEkonomi III-221 . sKPD penerima wajib Keuangan c.

fasilitasi dan dan efektivitas pengelolaan Dana Dekonsentrasi dan Tugas Pembantuan serta mengikuti ketentuan yang berlaku bagi APBN. PEMBINAAN.1. dan akuntabilitas pelaksanaan kegiatan Dekonsentrasi dan Tugas Pembantuan yang meliputi pemberian pedoman. pemeriksaan kinerja.2.4.3. pembinaan dan sesuai ketentuan sebagai berikut: a) Menteri pengawasan dilimpahkan negara/pimpinan dalam kepada penyelenggaraan gubernur lembaga melakukan urusan pemerintah pembinaan pengawasan Dekonsentrasi dan Tugas Pembantuan dapat dilaksanakan terhadap pelaksanaan b) Menteri Keuangan melakukan pembinaan dan pengawasan terhadap c) Pembinaan tersebut dilakukan dalam rangka peningkatan kinerja.4.3. Pemeriksaan atas Dana Dekonsentrasi dan Tugas Pembantuan meliputi tujuan tertentu: III-222 pemeriksaan keuangan. dan pemeriksaan dengan SistemPendanaandiDaerah . serta pemantauan dan evaluasi.3. PENGAwASAN DAN PEMERIKSAAN 3. bimbingan teknis. penggunaan Dana Dekonsentrasi dan Dana Tugas Pembantuan transparansi.3. dana tugas Pembantuan Pemeriksaan dana dekonsentrasi dan Dekonsentrasi dan Tugas Pembantuan kegiatan yang dan d) Pengawasan tersebut dilaksanakan dalam rangka pencapaian efisiensi 3.4. Pembinaan dan Pengawasan dekonsentrasi/tugas Pembantuan Dalam Peraturan Pemerintah Nomor 7 tahun 2008.

pemeriksaan investigatif dan pemeriksaan atas Pemeriksaan Dana Dekonsentrasi dan Tugas Pembantuan dilakukan oleh unit pemeriksaan internal kementerian/lembaga dan/atau unit pemeriksaan keuangan. dan lain dibidang keuangan.4. eksternal Pemerintah. pelaksanaan dana dimaksud kepada kementerian/lembaga dikenakan sanksi laporan keuangan dengan Kantor Pelayanan Perbendaharaan Negara setempat sesuai ketentuan Peraturan Menteri Keuangan yang mengatur SANKSI mengenai sistem akuntansi dan pelaporan keuangan Pemerintah Pusat. Dalam Peraturan Menteri Keuangan Nomor 156/PMK. Pengenaan sanksi penundaan pencairan dimaksud tidak membebaskan PeningkatanKualitasHubunganKeuanganPusatdanDaerah DalamMendorongPertumbuhanEkonomi sanksi penundaan pencairan.07/2010 diatur bahwa sKPD penerima Dana Dekonsentrasi dan Tugas Pembantuan yang secara sengaja atau lalai tidak menyampaikan laporan pertanggungjawaban berupa: 1. Ketentuan lebih lanjut mengenai pemeriksaan 3. apabila sKPD tidak melakukan rekonsiliasi III-223 . negara yang terdiri dari pemeriksaan atas aspek ekonomi. kinerja dan tujuan tertentu berpedoman pada peraturan perundangan-undangan. efisiensi.4.Pelengkap Buku Pegangan 2011 • • • Pemeriksaan keuangan yang dapat berupa pemeriksaan atas laporan keuangan. Pemeriksaan kinerja berupa pemeriksaan atas pengelolaan keuangan Pemeriksaan dengan tujuan tertentu meliputi pemeriksaan atas hal-hal sistem pengendalian intern Pemerintah.07/2008 sebagaimana diubah dengan Peraturan Menteri Keuangan Nomor 248/PMK. efektivitas atas pelaksanaan kegiatan.

dan/atau diterima selanjutnya dalam surat Edaran Bersama Menteri PPN/Kepala Bappenas. Dekonsentrasi dan/atau Dana Tugas Pembantuan untuk tahun berikutnya apabila sKPD penerima dana dimaksud: a. b. sebelumnya yang telah ditetapkan. aparat pemeriksa fungsional lainnya. BPKP. ditemukan adanya penyimpangan dari hasil pemeriksaan BPK. sKPD tidak menyampaikan laporan keuangan triwulanan kepada atau Dana Tugas Pembantuan secara berturut-turut 2 (dua) kali kementerian/lembaga yang memberikan Dana Dekonsentrasi dan/ Inspektorat Jenderal Kementerian/lembaga yang bersangkutan. BPKP. dapat dilakukan apabila: dalam tahun anggaran berjalan. c.2. 3. Kementerian/lembaga tidak diperkenankan mengalokasikan Dana tidak memenuhi target kinerja pelaksanaan kegiatan tahun tidak pernah menyampaikan laporan keuangan dan barang sesuai ketentuan yang berlaku pada tahun anggaran sebelumnya. a. Inspektorat Jenderal Kementerian/lembaga yang bersangkutan atau melakukan penyimpangan sesuai hasil pemeriksaan BPK. sKPD dari kewajiban menyampaikan laporan Dana Dekonsentrasi dan Tugas Pembantuan. dan Menteri Dalam Negeri tentang Peningkatan di Daerah serta Peningkatan Peran Aktif gubernur selaku Wakil Pemerintah III-224 SistemPendanaandiDaerah Efektivitas Penyelenggaraan Program dan Kegiatan Kementerian/lembaga . b. Tidak bersedia menerima hibah terhadap BMN yang disetujui untuk Menteri Keuangan. d. dan/atau atau aparat pemeriksa fungsional lainnya. Penghentian pembayaran dalam tahun berjalan.

penganggaran maupun pembinaan dan pengawasan.5. walikota) Renja K/l dan pelaksanaan Musrenbangnas. pada tahap penganggaran.Pelengkap Buku Pegangan 2011 Pusat. untuk mengenakan sanksi berupa tidak mengalokasikan Dana Tugas Pembantuan kepada kabupaten/kota yang tidak melaksanakan koordinasi penyelenggaraan Tugas Pembantuan. dapat kita garis bawahi bahwa kepala daerah (gubernur/bupati/walikota) mempunyai peran yang sangat besar dalam Tugas Pembantuan antara kepala daerah (gubernur. Pada TUGAS PEMBANTUAN aspek perencanaan. bupati. setelah menerima RKAPeningkatanKualitasHubunganKeuanganPusatdanDaerah DalamMendorongPertumbuhanEkonomi dengan surat Keputusan/Penetapan Menteri/Pimpinan lembaga berkenaan Pemerintah Pusat (RABPP). selanjutnya. Pemberitahuan definitif tentang kegiatan Dekonsentrasi dan Tugas Pembantuan yang akan dilaksanakan oleh daerah tentang indikasi kegiatan Dekonsentrasi atau Tugas Pembantuan setelah daerah disampaikan oleh kementerian/lembaga kepada pemerintah daerah setelah ditetapkannya Keputusan Presiden tentang Rincian Anggaran Belanja Pemerintah tersebut. selanjutnya sesuai dengan pasal 22 Peraturan III-225 . penyelenggaraan Dekonsentrasi dan Tugas Pembantuan baik pada tataran dengan kementerian/lembaga sebagaimana diatur dalam Pasal 12 Peraturan perencanaan. PERAN KEPALA DAERAH DALAM PENyELENGGARAAN DEKoNSENTRASI DAN Berdasarkan butir-butir penjelasan mengenai Dana Dekonsentrasi dan Tugas Pembantuan di atas.4. gubernur dapat mengusulkan kepada kementerian/lembaga 3. sinkronisasi pengalokasian Dana Dekonsentrasi dan Pemerintah Nomor 7 Tahun 2008 dilaksanakan sejak tahap penyusunan kementerian/lembaga menerima pagu sementara dan menyusun RKA-Kl maka kementerian/lembaga berkewajiban untuk menyampaikan kepada yang akan dilaksanakan oleh daerah.

Tahun 2008. pembinaan. pengawasan dan pelaporan walikota) melakukan penyiapan perangkat daerah yang akan melaksanakan pelaksanaan program dan kegiatan Dekonsentrasi dan Tugas Pembantuan. yang menyatakan bahwa gubernur sebagai Pemerintah Nomor 19 Tahun 2010 dimaksud juga menggaris-bawahi bahwa salah satu peran dan tugas utama gubernur adalah melakukan koordinasi dan penyelenggaran pemerintahan dapat tercapai secara efektif dan efisien. bupati. sinkronisasi dalam setiap tahap dan dengan seluruh stakeholders agar tujuan 3. pengendalian. seperti diatur dalam Pasal 72 dan Pasal 73 Peraturan Pemerintah Nomor 7 2008 tersebut telah sejalan dengan ketentuan dalam pasal 3 ayat (1) huruf i Dekonsentrasi dan Tugas Pembantuan dengan kementerian/lembaga terkait Ketentuan dalam Pasal 72 dan Pasal 73 Peraturan Pemerintah Nomor 7 Tahun Peraturan Pemerintah Nomor 19 Tahun 2010 tentang Tata Cara Pelaksanaan wakil pemerintah memiliki tugas melaksanakan urusan pemerintah yang antara lain meliputi koordinasi pembinaan dan pengawasan penyelenggaraan Tugas Pembantuan di daerah provinsi dan kabupaten/kota.4.6. PENDANAAN URUSAN BERSAMA PUSAT DAN DAERAH Pendanaan urusan Bersama Pusat dan Daerah merupakan suatu pola baru dalam pelaksanaan program penanggulangan kemiskinan khususnya dalam pelaksanaan Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat (PNPM) Mandiri sebagaimana diatur dalam Peraturan Presiden Nomor 13 Tahun 2009 III-226 SistemPendanaandiDaerah . selain itu kepala daerah (gubernur/bupati/walikota) juga melakukan koordinasi. Peraturan Tugas dan Wewenang serta Kedudukan Keuangan gubernur sebagai Wakil Pemerintah di Wilayah Provinsi. kepala daerah (gubernur.Kl yang ditetapkan menjadi RKA-satker.

yang berdimensi kewilayahan. program PNPM Mandiri ditetapkan sebagai urusan bersama pusat dan oleh karenanya dapat didanai bersama dari APBN dan APBD. menjangkau wilayah nusantara.Pelengkap Buku Pegangan 2011 sebagaimana telah diubah dengan Peraturan Presiden Nomor 15 Tahun 2010 dan Tugas Pembantuan. pembangunan yang pada hakikatnya Pemerintah urusan pusat sehingga tidak diperlukan dana pendamping dari daerah. namun lebih merata dan menyebar serta tidak terfokus pada wilayah tertentu saja. yaitu strategi Pemerintah dan daerah dalam mendukung kesinambungan pembangunan nasional daerah/wilayah tertentu saja. Program PNPM Mandiri merupakan salah satu bagian dari proses dan mengangkat derajat seluruh lapisan masyarakat Indonesia. salah satu cara untuk mengantisipasi tantangan pembangunan keseimbangan. Pemerintah telah menetapkan triple track strategy. diseluruh adanya keserasian dan keseimbangan antara pertumbuhan dan pemerataan. Dengan sinergi tersebut. secara umum. Pendanaan program PNPM Mandiri pada mulanya dialokasikan melalui mekanisme Dekonsentrasi lain. Hal tersebut tentu tidak tepat karena Dana Dekonsentrasi dan Tugas Pembantuan hanya digunakan untuk mendanai tentang Percepatan Penanggulangan Kemiskinan. adalah dengan meningkatkan sinergi antara atau sering disebut juga sebagai growth with equity. untuk mewujudkan hal yang inklusif yang merupakan harmonisasi antara keserasian dan tersebut. Pembangunan yang bersifat inklusif ini mensyaratkan pembangunan yang pro growth. pro job dan pro poor. proses dan hasil pembangunan tidak hanya terjadi pada sekelompok orang atau pada sedikit PeningkatanKualitasHubunganKeuanganPusatdanDaerah DalamMendorongPertumbuhanEkonomi III-227 . Di sisi daerah sebagaimana ditegaskan dalam Peraturan Presiden 13 Tahun 2009 meyakini bahwa sebagaimana diubah dengan Peraturan Presiden Nomor 15 Tahun 2010 dan pembangunan suatu bangsa seyogyanya bersifat inklusif.

Pemerintah mencantumkan salah satu agenda program pembangunan dalam Rencana kelembagaan dan pelaksanaan masih terbatas. III-228 SistemPendanaandiDaerah . seperti issue terkait penciptaan lapangan kerja yang lebih merupakan salah satu agenda capaian kinerja Pemerintah. maka diperlukan strategi kebijakan yang tepat dengan menempatkan prioritas pada sektor-sektor yang mempunyai efek pengganda Kerja Pemerintah (RKP) tahun 2010 yaitu pemeliharaan kesejahteraan perlindungan sosial.0-13. Namun tinggi terhadap penciptaan kesempatan kerja. pembangunan pedesaan. Kegiatan yang diprioritaskan untuk menjalankan agenda penanggulangan program kemiskinan tersebut.Issue yang sifatnya crosscutting baik karena sifatnya yang memerlukan pemerintahan. dan PNPM Mandiri merupakan salah satu program penanggulangan kemiskinan yang berbasis pemberdayaan masyarakat. masyarakat. Harmonisasi dan konsolidasi program-program penanggulangan kemiskinan yang tersebar di beberapa kementerian/lembaga ke dalam satu program PNPM Mandiri tersebut telah dimulai pada tahun 2007.15 persen dengan melalui sistem merupakan harmonisasi dan konsolidasi program-program pemberdayaan kemiskinan dan mempercepat penciptaan lapangan kerja. yaitu suatu program yang diperlukan untuk mempercepat penanggulangan persentase penduduk miskin menjadi 12. yaitu penurunan jumlah program-program pro rakyat.5 persen pada tahun 2010 dibandingkan pada tahun 2009 yang sebesar 14. serta penataan luas dalam rangka menurunkan tingkat pengangguran dan kemiskinan koordinasi dan sinkronisasi antar kementerian dan juga tiap tingkatan mengingat kemampuan ekonomi untuk menciptakan lapangan kerja selanjutnya untuk memenuhi capaian kinerja tersebut. masyarakat yang upaya peningkatan pembangunan pertanian.

c. Namun demikian.31 triliun (data Tim Perkotaan dan PNPM Mandiri Perdesaan memiliki karakteristik tertentu Mensyaratkan cost-sharing atau dana pendamping dari daerah dalam Mendanai kegiatan yang bersifat Bantuan langsung kepada Masyarakat.Pelengkap Buku Pegangan 2011 Berdasarkan data dari Kementerian Koordinator Bidang Kesejahteraan Rakyat dan Bappenas. meningkat menjadi Rp6. khususnya PNPM Mandiri yaitu: a. pada tahun 2007 adalah sebesar Rp3. Alokasi anggaran Bantuan langsung Masyarakat (BlM) PNPM Mandiri Perkotaan dan PNPM Mandiri Perdesaan.01 triliun. sementara itu fund chanelling yang digunakan saat itu adalah mekanisme Dana Dekonsentrasi dan Tugas Pembantuan. e. selanjutnya pada Koordinasi Penanggulangan Kemiskinan . utamanya dalam aspek pendanaan.69 triliun dan Rp11. urusan yang ditangani merupakan urusan bersama pemerintah pusat dan pemerintah daerah. Bantuan sosial. kemudian pada tahun 2008 dan tahun 2009 berturut-turut kembali mengalami peningkatan menjadi Rp11. pelaksanaan program PNPM Mandiri tersebut hingga tahun sebagaimana diketahui. b.83 triliun. Dana cost-sharing tersebut diikat dalam naskah kesepahaman. program PNPM Mandiri. alokasi anggaran untuk program PNPM Mandiri terus ditingkatkan dalam beberapa tahun terakhir. PeningkatanKualitasHubunganKeuanganPusatdanDaerah DalamMendorongPertumbuhanEkonomi III-229 . baik yang bersumber dari APBN maupun APBD.84 triliun.TNP2K). 2009 masih menemui beberapa kendala. dalam rangka percepatan penanggulangan kemiskinan. bentuk sebutan apapun yang bersumber APBD. Pada tahun 2010 tahun 2011 ini mengalami penurunan menjadi 10. Jenis belanja yang dialokasikan lebih dominan dipenuhi dengan Belanja d.

Dengan demikian. b. urusan Bersama kemiskinan (PNPM Mandiri) menyalahi aturan karena tidak sesuai terhadap program disempurnakan. Dana Dekonsentrasi dan Dana Tugas Pembantuan disebutkan bahwa kegiatan Pemerintah. Hal tersebut didasarkan atas pemikiran bahwa apabila penanggulangan Dekonsentrasi dan surat penugasan sebagai dasar pelaksanaan Tugas Pendanaan urusan Bersama dinyatakan tidak transparan dan akuntabel.07/2008 tentang Pedoman Pengelolaan yang didanai melalui mekanisme Dekonsentrasi dan Tugas Pembantuan Kegiatan yang merupakan urusan yang ditangani merupakan urusan Kegiatan dilaksanakan oleh gubernur selaku wakil Pemerintah untuk Dekonsentrasi dan gubernur/bupati/walikota untuk Tugas Pembantuan. Pembantuan. karena sesuai Peraturan Pemerintah Nomor 7 tahun 2008 tentang Dekonsentrasi dan Tugas Pembantuan dan Peraturan adalah: a. Menteri Keuangan Nomor 156/PMK. yang membebani APBD. Pendanaan b.Hal ini tentu saja belum tepat. c. aspek legalitas dalam penyediaan sharing pendanaan dari pemerintah daerah dalam pendanaan PNPM Mandiri pun perlu untuk terus PNPM Mandiri tetap meneruskan pola pendanaan melalui mekanisme Dekonsentrasi dan Tugas Pembantuan maka: a. SistemPendanaandiDaerah III-230 . Pembantuan. Menggunakan surat Kegiatan bersifat Non Fisik untuk Dekonsentrasi dan Fisik untuk Tugas Tidak diperkenankan mensyaratkan dana pendamping atau sebutan lain pelimpahan sebagai dasar pelaksanaan d. e. dengan ketentuan Pendanaan yang ada.

Pemerintah telah Dalam Pasal 34 dan Pasal 36 Peraturan Presiden Nomor 13 Tahun 2009 Keuangan selaku Pengelola Fiskal dan Bendahara umum Negara perlu Peraturan Menteri Keuangan Nomor 168/PMK. Dalam mengeluarkan Peraturan Presiden Nomor 13 Tahun 2009 tentang Koordinasi Penanggulangan Kemiskinan yang kemudian diubah dengan Peraturan bersama antara Pemerintah dan daerah dalam penanggulangan kemiskinan. maka dengan ditetapkan Perkotaan dan PNPM Mandiri Perdesaan. Pemerintah telah memberikan dasar hukum bagi daerah untuk menyediakan dana pendamping dari APBD untuk program PNPM Mandiri atau yang disebut Dana Daerah untuk urusan PeningkatanKualitasHubunganKeuanganPusatdanDaerah DalamMendorongPertumbuhanEkonomi III-231 . penanggulangan kemiskinan khususnya mengenai Dana urusan Bersama pusat dan daerah. Menteri mengatur penyediaan dan tata cara pengelolaan dana program nasional dilakukan pemeriksaaan oleh BPK. Presiden Nomor 15 Tahun 2010 tentang Percepatan Penanggulangan Kemiskinan yang merupakan payung hukum bagi penanganan urusan tersebut diatur sistem pendanaan urusan bersama yang bersumber dari Dalam rangka melaksanakan Peraturan Presiden tersebut diatas. sesuai dengan hal tersebut. yang hanya diperuntukkan bagi pendanaan PNPM Mandiri Bersama (DDuB). APBN dan APBD.Pelengkap Buku Pegangan 2011 c.07/2009 tentang Pedoman Pendanaan urusan Bersama Pusat dan Daerah untuk Penanggulangan Kemiskinan. Disamping itu Peraturan Menteri Keuangan dimaksud juga merupakan upaya untuk menyempurnakan mekanisme pendanaan yang digunakan untuk program PNPM Mandiri selama ini. upaya mengatasi laporan Keuangan Pemerintah Pusat menjadi disclaimer pada saat permasalahan tersebut.

yang diselenggarakan bersama oleh Pemerintah.6.1. pemerintahan di luar urusan pemerintahan yang menjadi kewenangan pemerintah daerah provinsi. yaitu dana singkat mengenai hal tersebut. serta Dana III-232 SistemPendanaandiDaerah . dan pemerintah daerah kabupaten/kota. dapat ditarik kesimpulan bahwa dan APBD yang digunakan untuk mendanai program/kegiatan bersama Pendanaan urusan Bersama adalah pendanaan yang bersumber dari APBN Pemerintah dan daerah untuk penanggulangan kemiskinan. yang bersumber dari APBD. dan bersinergi dengan dunia usaha dan masyarakat Lebih spesifik pada aspek pendanaan. seperti sistematis. dibedakan menjadi Dana urusan Bersama yang Daerah untuk urusan Bersama yang selanjutnya disebut DDuB. terencana. gambar dibawah ini memberikan penjelasan selanjutnya disebut DuB.3. urusan bersama pusat dan daerah difokuskan untuk penanggulangan kemiskinan yang merupakan kebijakan dan program Pemerintah dan daerah yang dilakukan secara untuk mengurangi jumlah penduduk miskin dalam rangka meningkatkan derajat kesejahteraan rakyat. telah dijelaskan pada paragraf-paragraf sebelumnya. Berdasarkan sumber pendanaannya. yaitu dana yang bersumber dari APBN.4. Pengertian Pendanaan urusan bersama Pusat dan daerah Urusan Bersama Pusat dan Daerah dapat didefinisikan sebagai urusan sepenuhnya Pemerintah.

PrinsiP-PrinsiP Pendanaan urusan bersama Pusat dan daerah sesuai dengan ketentuan dalam Peraturan Menteri Keuangan Nomor 168/ Penanggulangan Kemiskinan. b. PeningkatanKualitasHubunganKeuanganPusatdanDaerah DalamMendorongPertumbuhanEkonomi PMK. APBD. Dalam hal Program Penanggulangan Kemiskinan didanai bersama bersumber dari APBD dialokasikan melalui sKPD dalam bentuk DDuB. dilakukan sesuai dengan prinsip-prinsip sebagai berikut: a.2.4.07/2009 tentang Pendanaan urusan Bersama Pusat dan Daerah untuk Pendanaan urusan Bersama untuk Penanggulangan Kemiskinan dapat didanai dari APBN.Pelengkap Buku Pegangan 2011 gambar 3. dan/atau didanai bersama APBN dan APBD.6.35 sumber Pendanaan urusan bersama 3. pendanaan yang bersumber dari APBN dialokasikan melalui bagian anggaran kementerian/lembaga dalam bentuk DuB dan pendanaan yang III-233 .

d. sesuai ketentuan dalam Peraturan Menteri Keuangan Nomor 168/ III-234 SistemPendanaandiDaerah . ekonomis. Pendanaan dilakukan setelah adanya kesepakatan kedua belah pihak Pengelolaan DuB dan DDuB dilakukan dengan prinsip tertib. 3. transparan.4. definisi dan PerenCanaan dan Penganggaran dana prinsip pendanaan Dekonsentrasi dan Tugas urusan bersama Pusat dan daerah Kelompok Program Penanggulangan Kemiskinan dirinci dalam bentuk f. efektif. taat pada peraturan perundang-undangan. Terkait dengan hal tersebut. Kemiskinan ditujukan untuk kelompok Program Penanggulangan Kemiskinan berbasis pemberdayaan masyarakat yang terdiri atas memperkuat kapasitas kelompok masyarakat miskin untuk terlibat dalam pembangunan yang didasarkan pada prinsip-prinsip pemberdayaan kegiatan yang komponen bantuan langsung masyarakatnya adalah belanja bantuan sosial.6. Sesuai Pembantuan. Pendanaan urusan Bersama Pusat dan Daerah untuk Penanggulangan program-program yang bertujuan untuk mengembangkan potensi dan masyarakat. dapat dikemukakan bahwa Dana urusan Bersama Pusat dan Daerah merupakan bagian anggaran kementerian/lembaga dan anggaran pemerintah daerah yang dialokasikan untuk mendanai program dan kegiatan yang berkaitan dengan penanggulangan kemiskinan. dan bertanggung jawab dengan memperhatikan rasa keadilan dan kepatutan.c. efisien.3. e. yang dituangkan dalam naskah perjanjian antara Pemerintah dan daerah.

b. Kebijakan dan Program Penanggulangan Kemiskinan dikoordinasikan APBN wajib mengacu pada RKP dan dituangkan dalam Renja-Kl Program/Kegiatan Penanggulangan Kemiskinan yang akan didanai dari oleh Tim Penanggulangan Kemiskinan Nasional/ Provinsi/ Kabupaten/ Kementerian/lembaga memberitahukan indikasi Program/Kegiatan d. subyek kerja sama. Perencanaan Program Penanggulangan Kemiskinan merupakan bagian dari sistem perencanaan pembangunan nasional. terhadap proses perencanaan dan penganggaran berlaku ketentuan sebagai berikut: a.07/2009. e. Pemerintah dan daerah kepada kepala daerah paling lambat pertengahan informasi mengenai ketentuan/persyaratan penyelenggaraan urusan program penanggulangan kemiskinan paling lambat minggu pertama Rincian Anggaran Belanja Pemerintah Pusat. f. bersama yang akan dituangkan dalam naskah perjanjian. Kota. disertai dengan Menteri/pimpinan lembaga dan kepala daerah menandatangani naskah perjanjian penyelenggaraan urusan bersama pusat dan daerah untuk bulan Desember atau setelah ditetapkannya Peraturan Presiden tentang Naskah perjanjian penyelenggaraan urusan bersama sekurang-kurangnya memuat: a. Pemberitahuan tentang indikasi program tersebut. Penanggulangan Kemiskinan yang akan diselenggarakan bersama antara bulan Juni atau setelah ditetapkannya pagu sementara dengan tembusan kepada Ketua Tim terkait Penanggulangan Kemiskinan Tingkat Nasional.Pelengkap Buku Pegangan 2011 PMK. PeningkatanKualitasHubunganKeuanganPusatdanDaerah DalamMendorongPertumbuhanEkonomi III-235 . c.

kepala daerah meneruskan indikasi program/ DPRD. penetapan penanggungjawab dalam pengelolaan DuB. Program/Kegiatan pemberitahuan Penangulangan Kemiskinan • • • Kepala Daerah menyampaikan usulan nama sKPD yang akan Dalam indikasi penanggulangan kemiskinan tersebut di atas tidak sesuai dengan kebijakan daerah. program/kegiatan daerah kepada kementerian/ lembaga. program/kegiatan dimaksud. rincian alokasi dan lokasi dana program/ kegiatan yang diselenggarakan bersama. e. kepala daerah dapat menolak pelaksanaan untuk Penanggulangan Kemiskinan dan alokasi anggaran DuB SistemPendanaandiDaerah Program/Kegiatan Rencana daerah penyelenggara urusan Bersama Pusat dan Daerah III-236 . f. hal pemberitahuan indikasi dari APBD wajib mengacu pada Rencana Kerja Pembangunan Daerah (RKPD) dan dituangkan dalam Rencana Kerja satuan Kerja Perangkat penanggulangan kemiskinan tersebut sesuai dengan kebijakan pemerintah daerah. jangka waktu kerja sama. dan • • kegiatan dimaksud kepada sKPD sebagai bahan penyusunan RenjasKPD dan rencana penyediaan DDuB. c. d.b. serta pembahasan dengan melaksanakan hal kepada kementerian/lembaga. sumber dan besaran pendanaan. klausul komitmen daerah untuk tertib pelaporan keuangan DuB oleh Program/Kegiatan Penanggulangan Kemiskinan yang akan didanai Dalam Daerah (Renja-sKPD).

Pelengkap Buku Pegangan 2011 • Kemampuan keuangan negara dimaksudkan bahwa pengalokasian DuB disesuaikan dengan kemampuan APBN melalui bagian anggaran kementerian/lembaga. PeningkatanKualitasHubunganKeuanganPusatdanDaerah DalamMendorongPertumbuhanEkonomi III-237 . proses tersebut di atas dapat dijelaskan dalam gambar siklus dibawah ini. indeks fiskal dan kemiskinan daerah. secara umum.36 Proses Perencanaan dan Penganggaran urusan Bersama untuk Program/Kegiatan Penanggulangan Kemiskinan disusun dengan mempertimbangkan kemampuan keuangan negara. serta indikator teknis. gambar 3.

4.6.3. adalah dengan Daerah dalam Rangka Perencanaan Pendanaan urusan Bersama Pusat dan merencanakan pendanaan urusan bersama agar tepat sasaran dan tujuan yang nantinya diharapkan akan bermuara pada peningkatan efisiensi dan Formulasi indeks fiskal dan kemiskinan daerah dilakukan melalui 4 (empat) 1. yaitu: 1.4.07/2011 tanggal 31 Maret 2011 tentang Indeks Fiskal dan Kemiskinan transparansi dan akuntabilitas. tahap. secara umum Peraturan Menteri Keuangan ini bertujuan untuk mewujudkan PMK. b. Formulasi Indeks Fiskal dan Kemiskinan Daerah Penghitungan Ruang Fiskal Daerah Penghitungan ruang fiskal daerah dilakukan dengan menghitung dikurangi dengan belanja wajib. indeks Fiskal dan kemiskinan daerah dalam rangka PerenCanaan Pendanaan urusan bersama Pusat dan daerah untuk Penanggulangan kemiskinan salah satu perwujudan dari upaya yang telah dilakukan Pemerintah dalam disusun dan ditetapkannya Peraturan Menteri Keuangan Nomor 66/ Daerah untuk Penanggulangan Kemiskinan Tahun Anggaran 2012. a. serta proporsional dalam pendanaan urusan bersama. Besaran kemampuan keuangan daerah meliputi Pendapatan Asli besaran kemampuan keuangan daerah dan Transfer ke Daerah III-238 SistemPendanaandiDaerah . penguatan sinergi antar kementerian/lembaga dan daerah. serta mendukung kementerian/lembaga penyelenggara dalam efektivitas dalam pengelolaan DuB. Daerah dan lain-lain Pendapatan Daerah yang sah.

dan 2008. Penghitungan Indeks Kemiskinan Daerah. PeningkatanKualitasHubunganKeuanganPusatdanDaerah DalamMendorongPertumbuhanEkonomi III-239 . kemampuan fiskal daerah riil per kapita. 4. Penghitungan seluruh daerah (nasional). e. 3. dengan mengkaitkan hasil penghitungan Indeks Fiskal Daerah dan Indeks Kemiskinan Daerah masing-masing sebagai sumbu tegak dan Pengkaitan Indeks Fiskal dengan Indeks Kemiskinan Daerah. a. dan pada tahun terakhir. Dana Penyesuaian. a. Hasil. Persentase jumlah penduduk miskin tersebut adalah persentase Pengkaitan Indeks Fiskal dengan Indeks Kemiskinan Daerah dilakukan sumbu mendatar dalam peta kuadran. Besaran Transfer ke Daerah meliputi Dana Alokasi umum. Indeks Kemiskinan Daerah dilakukan Penghitungan Indeks Fiskal Daerah Penghitungan Indeks Fiskal Daerah dilakukan dengan menghitung ruang dengan menghitung persentase jumlah penduduk miskin masing-masing daerah dibagi dengan rata-rata persentase jumlah penduduk miskin jumlah penduduk miskin berdasarkan data dari Badan Pusat statistik b.Pelengkap Buku Pegangan 2011 c. Dana Bagi Hasil penghitungan ruang fiskal daerah tersebut dibagi dengan Penghitungan ruang fiskal daerah didasarkan data anggaran Tahun jumlah penduduk dan Indeks Kemahalan Konstruksi agar tercermin 2. fiskal masing-masing daerah dibagi dengan rata-rata ruang fiskal seluruh daerah. dan Dana otonomi Khusus. d.

sebagai berikut: i. namun indeks persentase penduduk miskinnya di atas persentase penduduk miskinnya di bawah rata-rata nasional (IRFD < 1. dengan rincian tingkatan: 1. namun indeks persentase penduduk miskinnya di atas ratapenduduk miskinnya di bawah rata-rata nasional.b. rata-rata nasional (IRFD < 1. Berdasarkan hasil pengkaitan tersebut. 2. dan rata-rata nasional. menyediakan DDuB Rendah. 3. menyediakan DDuB sangat Tinggi. namun indeks persentase penduduk miskinnya di bawah Kelompok 1 adalah daerah yang Indeks Ruang Fiskal Daerah (IRFD) dan Kelompok 2 adalah daerah yang indeks ruang fiskalnya di bawah rata- rata nasional. rata nasional. ii. IPPMD < 1). Formulasi Penghitungan Persentase Besaran DDUB yang harus disediakan oleh daerah disesuaikan dengan indeks fiskal Penyediaan DDUB Per Kelompok dan Per Daerah dan kemiskinan daerah. dan SistemPendanaandiDaerah nasional. menyediakan DDuB sedang. Indeks Persentase Penduduk Miskin Daerah (IPPMD)-nya di atas ratarata nasional (IRFD dan IPPMD > 1). daerah sasaran dikelompokkan ke dalam 4 (empat) kelompok. Kelompok 4 adalah daerah yang indeks fiskalnya di atas rata-rata 2. Kelompok 3 adalah daerah yang indeks fiskal dan indeks persentase iv. IPPMD > 1). penduduk miskinnya di atas rata-rata nasional. nasional. Kelompok 3 adalah daerah yang indeks ruang fiskal dan indeks III-240 . Kelompok 2 adalah daerah yang indeks fiskalnya di bawah rata-rata Kelompok 1 adalah daerah yang indeks fiskal dan indeks persentase iii.

Persentase untuk menentukan besaran penyediaan DDuB untuk masingmasing tingkatan tersebut ditetapkan lebih lanjut melalui Keputusan Ketua TKPK Nasional berdasarkan pertimbangan Menteri Keuangan.5. fiskal dan kemiskinan daerah. namun indeks persentase penduduk miskinnya di bawah ratarata nasional (IRFD> 1. sesuai dengan ketentuan dalam Pasal 15 Peraturan Menteri Keuangan ketentuan sebagai berikut : PenCairan dan Penyaluran Nomor 168 tahun 2009.Pelengkap Buku Pegangan 2011 4. Kelompok 4 adalah daerah yang indeks ruang fiskalnya di atas rata-rata 3.6. menyediakan DDuB Tinggi. skema berikut memberikan gambaran mengenai alur pikir formulasi indeks gambar 3. IPPMD < 1). pencairan dan penyaluran DuB dan DDuB mengikuti PeningkatanKualitasHubunganKeuanganPusatdanDaerah DalamMendorongPertumbuhanEkonomi III-241 .4.37 Alur Pikir Formulasi Indeks Fiskal dan Kemiskinan Daerah nasional.

c. dan Catatan atas laporan Keuangan. Dalam Peraturan Menteri Keuangan Nomor 168 tahun 2009 Bab VI Pasal Pertanggungjawaban DuB dan DDuB yaitu : 1. 3. laporan Realisasi Anggaran.1. (DuB dan DDuB) wajib menyusun laporan keuangan berupa: 16 sampai dengan Pasal 18 diuraikan ketentuan mengenai Pelaporan dan sKPD yang menjadi pelaksana kegiatan penanggulangan kemiskinan III-242 SistemPendanaandiDaerah . masyarakat dan/atau lembaga partisipatif masyarakat dalam bentuk Pencairan DuB secara umum dilakukan sesuai dengan mekanisme yang DuB disalurkan secara langsung kepada masyarakat. kelompok DuB yang telah ditransfer ke rekening masyarakat. 2.6. b.4. uang. sedangkan ketentuan lebih lanjut diatur dengan Peraturan Direktur Jenderal Perbendaharaan. 4. dana tersebut 3. Kas umum Negara.6. 5. kelompok masyarakat dan/atau lembaga partisipatif masyarakat harus telah dimanfaatkan sesuai dengan rencana selambat-lambatnya 3 bulan setelah tahun anggaran bersangkutan berakhir. Mekanisme pencairan dan penyaluran DDuB berpedoman pada peraturan PelaPoran dan Pertanggungjawaban Apabila dalam jangka waktu sebagaimana tersebut di atas. berlaku dalam pembayaran atas beban APBN. a. dan belum dimanfaatkan maka dana tersebut harus disetorkan ke Rekening yang mengatur mengenai pengelolaan keuangan daerah. Neraca.

Keuangan tersebut menyebutkan bahwa pembinaan DuB dan DDuB adalah pelaksanaan urusan bersama pusat dan daerah untuk penanggulangan kemiskinan sekurang-kurangnya setiap 3 (tiga) bulan sekali. TKPK Nasional melakukan koordinasi pembinaan terhadap efektivitas Bappenas melakukan pembinaan terhadap efektivitas perencanaan dan Menteri/pimpinan lembaga dan kepala daerah melakukan pembinaan terhadap efektivitas pengelolaan kegiatan urusan bersama untuk penanggulangan kemiskinan. pada Peraturan Menteri Keuangan tentang sistem Akuntansi dan Pelaporan Keuangan Pemerintah Pusat. dalam hal: efisiensi dan efektivitas alokasi anggaran. Pembinaan Kepala daerah melampirkan laporan keuangan tahunan atas pelaksanaan Tata cara penyusunan dan penyampaian laporan keuangan DDuB Tata cara penyusunan dan penyampaian laporan keuangan DuB mengacu DuB dalam laporan Pertanggungjawaban APBD kepada DPRD sebagai 3. selanjutnya dalam Bab VIII Pasal 22 dan Pasal 23 Peraturan Menteri meliputi : 1.6. 3. dan wujud transparansi dan akuntabilitas DuB dan DDuB. 4. 3.4. pengelolaan informasi. pelaksanaan anggaran.Pelengkap Buku Pegangan 2011 2.7. 2. pelaksanaan program. dan penyusunan indeks fiskal dan kemiskinan di daerah dan Menteri Keuangan melakukan pembinaan terhadap pengelolaan DuB PeningkatanKualitasHubunganKeuanganPusatdanDaerah DalamMendorongPertumbuhanEkonomi III-243 . mengacu ketentuan peraturan mengenai pengelolaan keuangan daerah dan sistem Akuntansi Pemerintah Daerah. 4.

2. 1. pelaporan keuangan DDuB. pelaporan keuangan DuB. 5. III-244 SistemPendanaandiDaerah . untuk penanggulangan kemiskinan. sedangkan pengawasan DuB dan DDuB adalah sebagai berikut : pengelolaan DDuB.6.8.5. 3. 4. dan TKPK Nasional melakukan koordinasi pengawasan dan pengendalian Menteri/pimpinan lembaga dan kepala daerah melakukan pengawasan Menteri Keuangan melakukan pengawasan dan pengendalian terhadap Kepala daerah melakukan pengawasan dan pengendalian terhadap Pengawasan dilaksanakan dalam rangka peningkatan efisiensi dan dan pengendalian atas efektivitas pengelolaan kegiatan urusan bersama efektivitas pengelolaan DuB dan DDuB. 3. Kepala daerah melakukan pembinaan terhadap efisiensi dan efektivitas Pengawasan terhadap efektivitas pelaksanaan urusan bersama untuk penanggulangan kemiskinan sekurang-kurangnya setiap 3 (tiga) bulan sekali.4.

BAB IV PENINGKATAN KUALITAS BELANJA DAERAH DAN PERTUMBUHAN EKoNoMI DAERAH PeningkatanKualitasHubunganKeuanganPusatdanDaerah DalamMendorongPertumbuhanEkonomi IV-245 .

IV-246 PeningkatanKualitasBelanjaDaerahdanPertumbuhanEkonomiDaerah .

Pelengkap Buku Pegangan 2011

BAB IV PENINGKATAN KUALITAS BELANJA DAERAH DAN PERTUMBUHAN EKoNoMI DAERAH
Kebijakan otonomi daerah dan desentralisasi fiskal yang diatur dalam

undang-undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah dan undang-undang Nomor 33 Tahun 2004 tentang Perimbangan Keuangan Pusat dan Daerah telah menunjukkan secara tegas kesepakatan politis yang menetapkan bahwa desentralisasi fiskal di Indonesia lebih menitikberatkan membelanjakan dana yang dikelolanya. Hal ini ditunjukkan dengan fakta desentralisasi pada sisi belanja. Kewenangan yang didelegasikan kepada daerah untuk mendapatkan penerimaan masih relatif terbatas. sementara di sisi lain, daerah diberikan kewenangan yang cukup besar untuk untuk mendukung kebutuhan pendanaan daerah, Pemerintah memberikan digunakan oleh daerah sesuai prioritas dan kebutuhannya. transfer yang cukup besar (lebih dari 80 persen dari total pendapatan daerah akan sangat ditentukan oleh pilihan-pilihan yang diambil oleh daerah daerah dituntut untuk mempunyai strategi yang jitu dalam mengelola dan bahwa porsi PAD hanya berkisar 18 persen dari total pendapatan. sementara, daerah) dan sebagian besar bersifat block grant yang dapat secara bebas itu sendiri. Dengan input dana publik yang selalu bersifat terbatas, maka mengalokasikannya secara efisien, sehingga mampu memberikan output
PeningkatanKualitasHubunganKeuanganPusatdanDaerah DalamMendorongPertumbuhanEkonomi

Dengan diskresi belanja daerah yang luas tersebut, maka kualitas belanja

IV-247

layanan publik yang optimal. selanjutnya diharapkan pilihan atas prioritas peningkatan kesejahteraan masyarakat yang antara lain dapat dilihat melalui tingkat pengangguran. pertumbuhan ekonomi, penurunan tingkat kemiskinan atau penurunan

output tersebut akan menghasilkan outcome yang signifikan, yang berupa

4.1. GAMBARAN UMUM BELANJA PEMERINTAH DAERAH DAN KoNDISI EKoNoMI/KESEJAHTERAAN DAERAH
4.1.1.
Total Belanja Daerah pada APBD tahun 2010 secara nasional mencapai

BELANJA PEMERINTAH DAERAH

Rp443,6 triliun, yang terdiri dari Rp 113,1 triliun Belanja Pemerintah Provinsi (25,6 persen) dan Rp330,4 triliun Belanja Pemerintah Kabupaten/Kota (74,4 persen). Komposisi belanja antara Provinsi dengan Kabupaten/Kota berbeda sementara, untuk Kabupaten/Kota, dominasi belanja pegawai sangat tinggi hingga mencapai lebih dari 51 persen dari total belanja. Diikuti oleh belanja modal sebesar 21 persen dan barang dan jasa sebesar 17 persen. secara signifikan. Untuk Provinsi, porsi belanja pegawai, barang & jasa, dan modal relatif hampir berimbang di kisaran 23 persen-26 persen, diikuti oleh belanja bagi hasil dan bantuan keuangan yang mencapai 20 persen.

IV-248

PeningkatanKualitasBelanjaDaerahdanPertumbuhanEkonomiDaerah

Pelengkap Buku Pegangan 2011

gambar 4.1 Trend Belanja APBD secara Nasional

secara nasional porsi belanja pegawai terus meningkat. Porsi belanja pegawai

pada tahun 2007 sebesar 38 persen, tahun 2008 sebesar 39 persen, tahun pegawai tidak langsung (gaji) dan belanja pegawai langsung (honorarium/ semakin turun dari tahun ke tahun.

2009 sebesar 42 persen dan tahun 2010 sebesar 45 persen. Pada tabel 4.1 dapat dilihat bahwa belanja pegawai terdiri dari dua komponen, yaitu belanja nominal maupun porsinya, namun belanja pegawai langsung (honor-honor) upah). Dalam tabel tersebut terlihat bahwa gaji PNs terus meningkat, baik Dengan semakin tingginya porsi belanja pegawai, maka porsi belanja modal persen. Bahkan secara nominal, belanja modal pada tahun 2010 adalah yang paling rendah dibandingkan tiga tahun sebelumnya. semakin tergerus dari tahun ke tahun. Pada gambar 4.1 dapat dilihat jika pada dari tahun ke tahun semakin turun dan pada tahun 2010 hanya mencapai 22

tahun 2007 persentase belanja modal di APBD mencapai 31 persen, maka

PeningkatanKualitasHubunganKeuanganPusatdanDaerah DalamMendorongPertumbuhanEkonomi

IV-249

Tabel 4.1 Potret Belanja Pegawai APBD 2007-2010
Tahun 2007 2008 2009 2010 TOTAL BELANJA 317.041 390.392 429.580 443.561 Total Belanja pegawai 121.879 153.823 180.439 198.562 Tidak langsung 128.071 155.959 174.763 99.506 langsung 22.373 25.752 24.480 23.799

% thd Total belanja Tidak langsung 31,39% 32,81% 36,30% 39,40% 7,06% 6,60% 5,70% 5,37%

(dalam miliar)

langsung

selanjutnya apabila dilihat dari realisasi belanja daerah secara nasional pada 94,3 persen). secara persentase, komponen belanja daerah yang tingkat penyerapannya paling kecil adalah belanja modal dengan tingkat penyerapan hanya mencapai 89,5 persen. Berkebalikan dengan realisasi tahun sebelumnya, maka realisasi terendah

tahun 2009 maka realisasi Belanja Daerah adalah Rp405,2 triliun, lebih kecil

dibandingkan dari pagu anggaran sebesar Rp429,6 triliun (hanya mencapai penyerapannya diatas 100 persen adalah belanja hibah. sedangkan realisasi

jenis belanja lainnya berkisar 93 persen, dan jenis belanja yang tingkat pada tahun 2010 adalah justru belanja hibah. sedangkan untuk belanja modal menurun dari tahun ke tahun.

sampai dengan triwulan III masih berkisar 35 persen, dan pada akhir tahun masih dibawah 90 persen. Penyerapan yang kurang optimal ini menyebabkan silPA masih cenderung tinggi meskipun mempunyai tren yang semakin

IV-250

PeningkatanKualitasBelanjaDaerahdanPertumbuhanEkonomiDaerah

Pelengkap Buku Pegangan 2011

Realisasi Belanja Tw I – IV 2010

Tren silPA 2007-2009

Dari segi kualitas administratif pengelolaan keuangan daerah, dapat

dikemukakan bahwa sesuai opini BPK atas laporan Keuangan Pemerintah Daerah tahun 2009, sebanyak 15 daerah yang memperoleh opini Wajar Pendapat) dan sebanyak 47 daerah memperoleh opini TW (Tidak Wajar). Pengelolaan Keuangan Daerah, Pasal 53), APBD seharusnya ditetapkan paling ternyata masih banyak daerah yang terlambat menetapkan APBD, meskipun daerah dari 524 daerah.

Tanpa Pengecualian (WTP), 331 daerah memperoleh opini Wajar Dengan Pengecualian (WDP), 103 daerah memperoleh opini TMP (Tidak Memberikan lambat tanggal 31 Desember tahun anggaran sebelumnya. Namun demikian, Disamping itu, sesuai peraturan perundangan (PP 58/2005 tentang terdapat kecenderungan perbaikan dari tahun ke tahun. Pada tahun 2008

terdapat 110 daerah menetapkan APBD tepat waktu, tahun 2009 menjadi selain mekanisme desentralisasi, mekanisme lain yang digunakan Pemerintah Pusat dalam mendorong upaya peningkatan kesejahteraan masyarakat di daerah adalah mekanisme Dekonsentrasi dan Tugas Pembantuan serta mekanisme urusan Bersama. Keterlibatan Pemerintah Pusat melalui ketiga mekanisme tersebut bersifat langsung, dimana proses perencanaan program
PeningkatanKualitasHubunganKeuanganPusatdanDaerah DalamMendorongPertumbuhanEkonomi

118 daerah, tahun 2010 menjadi 214 daerah, dan tahun 2011 sebanyak 211

IV-251

dan kegiatan berikut pendanaanya berada langsung dibawah kendali pelaksanaannya di daerah dilimpahkan atau ditugaskan kepada Pemerintah Daerah.

Pemerintah Pusat melalui anggaran Kementerian/lembaga, sementara

Total Pagu Anggaran Dana Dekon dan Dana TP T.A 2008 2011
60,000 50,000 40,000 30,000 20,000 10,000

Miliyar Rp

DEKON 2008
DANA DEKON TP TOTAL 2008 24,814 11,935 36,749

TP DANA 2009 2010 2011

TOTAL

Perkembangan pagu anggaran Dana Dekonsentrasi dan Dana Tugas berikut : Rata-rata pagu anggaran dana dekonsentrasi selama Tahun Anggaran 2008pembantuan sebesar Rp. 11,997 triliun.
IV-252

ALOKASI TAHUN (Miliyar Rp) 2009 2010 2011 36,497 28,946 15,380 16,328 7,720 12,004 52,825 36,666 27,384

RATA2 26,409 11,997 38,406

PERTUMBUHAN 2010 2011 46.9% 55.5% 25.3%

Pembantuan dalam kurun waktu 2008-2011 menunjukan kondisi sebagai 2011 sebesar Rp. 26,409 triliun, sedangkan rata-rata pagu anggaran tugas

PeningkatanKualitasBelanjaDaerahdanPertumbuhanEkonomiDaerah

Pelengkap Buku Pegangan 2011 Pada Tahun Anggaran 2011 mengalami kenaikan pagu anggaran dana tugas pembantuan dibandingkan dengan Tahun Anggaran 2010 sebesar 55. dan alokasi tertinggi berada di Jawa menunjukan bahwa pendanaan dekonsentrasi dan tugas pembantuan masih diarahkan kepada daerah yang padat penduduknya yang sudah barang tentu PeningkatanKualitasHubunganKeuanganPusatdanDaerah DalamMendorongPertumbuhanEkonomi IV-253 .3 (sebaran alokasi dana tugas pembantuan). pengadaan barang habis pakai. sebaran alokasi Berdasarkan data alokasi anggaran dana dekonsentrasi dan tugas pembantuan selama kurun waktu 2008-2011. sedangkan alokasi terendah berada di Bangka Belitung (Babel). Kondisi ini 2011 dapat dilihat pada gambar 4. mayoritas dananya masih Barat sedangkan alokasi terendah berada di Kepulauan Riau. Kegiatan fisik lain dimaksud antara lain sebaran alokasi dana dekonsentrasi dan dana tugas pembantuan tahun 2008dana tersebut merupakan data konsolidasi pada Provinsi dan Kabupaten/ Kota se-provinsi yang bersangkutan.5 persen. menunjukkan bahwa telah terjadi menambah nilai aset pemerintah seperti pengadaan tanah. vaksin. peralatan dan mesin. jalan. pergeseran pola alokasi pendanaan yang semula diarahkan kepada kegiatan yang bersifat fisik. irigasi dan jaringan. yaitu kegiatan yang menghasilkan keluaran yang dekonsentrasi yang bersifat non fisik menjadi kegiatan tugas pembantuan Dengan perkembangan seperti itu. bangunan. pengadaan bibit dan pupuk yang akan diserahkan kepada pemerintah daerah. serta kegiatan fisik lain yang menambah nilai aset pemerintah. Begitu juga dengan sebaran alokasi dana tugas pembantuan.2 (sebaran alokasi dana dekonsentrasi) dan gambar 4. seperti obat-obatan. diperoleh gambaran bahwa tersebar di Pulau Jawa dan sumatera. sebaran alokasi Dana Dekonsentrasi sebagian besar masih terpusat di pulau Jawa dan sumatera dengan alokasi tertinggi berada di Jawa Barat.

0% 15.0% 30.0% 5.0% 45.0% 0.A 2008 2011 (Konsolidasi Provinsi dan Kabupaten/Kota se Provinsi yang bersangkutan) 50.0% 15.0% 30.0% 35.0% 20.0% 35. gambar 4.0% 10.0% 5.0% 20.0% % Proporsi Total Konsolidasi 40.0% PABAR NAD NTB BALI DKI SULTENG SUMUT JATENG KALTENG SUMBAR MALUT SULUT JABAR SULBAR KEPRI NTT DIY KALTIM KALBAR SUMSEL PAPUA SULTRA SULSEL KALSEL BANTEN LAMPUNG JAMBI BENGKULU MALUKU GORONTALO BABEL JATIM RIAU 2008 2009 2010 Sebaran Alokasi Dana Tugas Pembantuan T.0% SULTENG SUMUT MALUT NTT JATENG SULUT DIY KALTENG PABAR NAD NTB BALI SULTRA SULSEL BABEL DKI SUMBAR SUMSEL KALSEL JABAR SULBAR KALBAR LAMPUNG BANTEN KALTIM JATIM PAPUA BENGKULU MALUKU JAMBI GORONTALO RIAU KEPRI gambar 4.0% 45.membutuhkan lebih banyak penyediaan sarana dan prasarana pelayanan dan pembangunan dibanding dengan daerah lainnya.3 sebaran Alokasi Dana Tugas Pembantuan Tahun Anggaran 2008-2011 2011 Se Provinsi 2008 2009 2010 2011 Se Provinsi IV-254 PeningkatanKualitasBelanjaDaerahdanPertumbuhanEkonomiDaerah .A 2008 2011 (Konsolidasi Provinsi dan Kabupaten/Kota se Provinsi yang bersangkutan) 50.0% 10.0% 0.0% 25.0% % Proporsi Total Konsolidasi 40.0% 25.2 sebaran Alokasi Dana Dekonsentrasi Tahun Anggaran 2008-2011 Sebaran Alokasi Dana Dekonsentrasi T.

sementara itu. Hal ini berarti peningkatan dengan tahun 2007 ternyata selaras dengan penurunan baik jumlah pengangguran maupun jumlah kemiskinan meskipun penurunan jumlah pengangguran lebih tajam dibandingkan penurunan jumlah kemiskinan.Pelengkap Buku Pegangan 2011 4.1. kebijakan ekonomi nasional. grafik di bawah menunjukkan pola hubungan yang relatif sama. Pertumbuhan ekonomi juga merupakan indikator yang dapat dipengaruhi oleh belanja daerah. PeningkatanKualitasHubunganKeuanganPusatdanDaerah DalamMendorongPertumbuhanEkonomi kemiskinan dari tahun 2008 ke tahun 2009 sebesar masing-masing 168. belanja daerah diikuti dengan penurunan pengangguran dan kemiskinan di tahun berikutnya. dan lain-lain. relatif kecil. masih banyak sosial politik. belanja pemerintah daerah tentunya bukan merupakan faktor lain seperti investasi swasta.79 persen).3 Triliun (17. Namun demikian. Kenaikan realisasi belanja daerah tahun 2008 dibandingkan Kenaikan realisasi belanja dari tahun 2007 ke tahun 2008 sebesar Rp56.43 juta orang (-1.630 IV-255 . namun mengingat bahwa kontribusi belanja pemerintah daerah dalam pembentukan PDRB satu-satunya faktor yang mempengaruhi indikator ekonomi.2. maka signifikansi secara langsung mungkin tidak terlalu besar. kondisi Mengenai hubungan antara realisasi belanja daerah dengan jumlah pengangguran dan jumlah kemiskinan.95 persen) dan 2.9 persen) diikuti penurunan jumlah pengangguran dan jumlah orang (-6. BELANJA DAERAH DALAM KAITANNyA DENGAN KoNDISI EKoNoMI/ KESEJAHTERAAN DAERAH secara teoritis. indikator ekonomi dan kesejahteraan masyarakat yang dapat dipengaruhi oleh pemerintah daerah melalui kebijakan belanjanya adalah pengangguran dan kemiskinan. yaitu hubungan negatif keduanya dengan realisasi belanja daerah (grafik menunjukkan hubungan belanja tahun t-1 dengan pengangguran dan kemiskinan tahun t).

gambar 4.3 Triliun (9.4 Perbandingan Realisasi Belanja Daerah dengan Jumlah Pengangguran dan Jumlah Penduduk Miskin pada tahun 2010 sebesar masing-masing 63 ribu orang (7.6 persen).24 persen) dan diikuti penurunan baik jumlah pengangguran dan kemiskinan juta orang (4.untuk tahun 2009 belanja mengalami kenaikan sebesar Rp30.5 IV-256 PeningkatanKualitasBelanjaDaerahdanPertumbuhanEkonomiDaerah .0 persen) dan 1.

Kenaikan realisasi belanja daerah dari tahun 2007 ke tahun 2008 diikuti pola penurunan persentase tingkat pengangguran dan tingkat kemiskinan pada tahun 2009 masing-masing sebesar 0. berarti lebih tinggi 10 kali lipat apabila dibandingkan dengan Jawa Barat mempunyai belanja APBD per kapita sekitar Rp 11 juta per kapita. Perbedaan PeningkatanKualitasHubunganKeuanganPusatdanDaerah DalamMendorongPertumbuhanEkonomi Apabila dilihat dari besarnya belanja APBD di setiap daerah di Indonesia.2 persen. maka akan terlihat variasi yang sangat lebar. Papua dan Papua Barat atau Banten yang hanya berada di kisaran Rp 1 juta per kapita.9 persen.5 persen dan 1. yang IV-257 . sementara untuk 2009.5 Perbandingan Realisasi Belanja Daerah dengan Tingkat Pengangguran dan Tingkat Kemiskinan Pola yang sama juga terjadi untuk perbandingan antara belanja daerah dengan tingkat pengangguran dan tingkat kemiskinan sebagaimana dapat dilihat pada Grafik di atas.5 persen dan 0. kenaikan realisasi belanja daerah diikuti oleh penurunan tingkat pengangguran dan tingkat kemiskinan pada tahun 2010 masing-masing sebesar 0.Pelengkap Buku Pegangan 2011 gambar 4.

yang besar tersebut disebabkan oleh besarnya transfer ke daerah-daerah yang masih tertinggal.6 Belanja APBD Per Kapita Tahun 2008-2010 IV-258 PeningkatanKualitasBelanjaDaerahdanPertumbuhanEkonomiDaerah . Dengan kebijakan tersebut. gambar 4. Hal ini disamping dikarenakan oleh adanya perbedaan harga antar-daerah. juga terutama karena Pemerintah menyadari bahwa untuk mengejar ketertinggalan dengan daerah-daerah lain yang sudah lebih maju diperlukan dana yang cukup besar terutama untuk pembangunan infrastruktur dasar. tentunya diharapkan agar seluruh daerah di Indonesia dapat maju bersama-sama dan daerah yang belum maju mampu mengejar ketertinggalannya.

7 6.3 18.6 7.0 6.8 7.4 4.0 2.2 7.3 11.3 5.2 Indikator Ekonomi Per Daerah 2008 – 2010 No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 Daerah Pertumbuhan Ekonomi (%) 2009 5.8 10.6 10.1 4.9 7.3 23.2 7.7 8.6 2009 11.4 6.4 27.5 8.7 3.5 9.3 16.7 3.6 6.6 4.5 9.6 -0.9 11.2 7.2 5.5 3.8 4.6 8.8 4.1 19.2 12.8 3.1 7.7 8.3 6.2 8.5 12. Jambi Prov.2 4.6 4.9 5.1 7.3 6.7 8.4 4.2 34.1 5.0 4.0 5. gorontalo 16 Prov.5 20.5 15.6 6.3 15.5 9.1 4.0 7.1 5.Pelengkap Buku Pegangan 2011 Tabel 4.9 8.4 15.1 6.2 5.9 Tingkat Kemiskinan (%) 2008 12.3 10.2 4.8 6.3 6. Papua Barat 33 Prov.9 13.8 10.8 17.4 7.0 9. sumatera selatan Prov.4 8.7 6.7 10.2 9.7 6.1 9.5 4.2 9.1 20.9 5.8 23.1 4. Bengkulu Prov.5 23 Prov.7 18.6 10.9 3.4 8.8 9.1 3.7 3.6 5.4 7.0 6.4 7.5 11.6 4.2 8.9 2010 10.9 3.0 5.9 7.4 6.9 23.6 4.0 Tingkat Pengangguran (%) 2008 9.6 5.0 5.9 12.3 2. Maluku utara 28 Prov.7 9.8 5.5 33.4 18.8 7.1 6.6 Prov.8 7.7 36.1 9.4 8.3 9.4 6.6 11. Kalimantan selatan 21 Prov.6 13. Bali 15 Prov. Kalimantan Timur 19 Prov.6 21.7 19.7 7.1 7.6 5.9 3.7 29.3 6.4 4.1 11.2 1.9 4.2 7. Maluku 26 Prov.0 27.8 5.9 16.6 17.0 4.0 18.7 15.8 7. DI Yogyakarta 14 Prov.1 7.5 6.3 31.0 7.7 3.0 4. Banten 30 Prov.1 8.8 7.0 7.9 5.5 5. Aceh Darussalam Prov. Jawa Tengah 13 Prov.1 10.9 8.1 4.1 21.5 7.4 7.7 2010 8.5 14. sulawesi selatan 24 Prov.2 5.9 6.8 6.5 4.3 4.3 4. Jawa Barat 11 Prov.4 6.0 7.4 5. Kepulauan Riau 32 Prov.0 8. Nusa Tenggara Timur 25 Prov.6 4.0 7.1 11.2 6.5 8.1 6.0 5.2 14. Papua 27 Prov.1 6.9 9.3 5.9 4.5 11.2 5. sulawesi Tenggara 20.2 6.9 18.3 9.1 7.5 PeningkatanKualitasHubunganKeuanganPusatdanDaerah DalamMendorongPertumbuhanEkonomi IV-259 .0 4.4 23.5 16.3 6.3 6.5 6.0 20.2 10.0 6.0 5.3 5.2 5.4 6. sulawesi utara 22 Prov.1 10.3 10.8 6.1 4.2 6.8 3.7 8.6 23.8 15.6 6.6 5. sulawesi Tengah 20 Prov.6 14.4 6.3 18.0 6.6 16.8 8.8 6. sumatera Barat Prov. sumatera utara Prov.0 8. Bangka Belitung 31 Prov.6 7. Kalimantan Tengah 17 Prov.9 5.5 10. Nusa Tenggara Barat 29 Prov.8 5.3 15.4 3.4 7.9 9.5 3.3 -7.4 6.2 5.3 21.8 7.9 Prov.0 8.4 6.6 17.2 5. Jawa Timur 12 Prov.6 2009 8.0 1.9 8.7 7.2 8.5 10.4 25.4 6.4 6.4 19.6 2010 11.0 5.6 8.5 18. Riau Prov.7 19.2 35.6 8.3 34.4 9.0 7.9 5.4 5.9 4.6 7.0 8.9 17.6 15.5 11. sulawesi Barat sumber: BPs 30.0 4.2 6.2 6.4 5. DKI Jakarta 10 Prov. lampung 2008 6.0 4.2 5.4 5.4 21. Kalimantan Barat 18 Prov.3 8.0 18.1 6.1 12.3 4.0 5.0 5.5 5.0 6.8 4.

ekonomi secara lebih baik.selanjutnya. lainnya.2 di atas terlihat juga bahwa untuk kemiskinan dan pengangguran yang mengalami peningkatan kemiskinan dan pengangguran. dan Yogyakarta. Bengkulu. NTT. pertumbuhan ekonominya berada di bawah pertumbuhan ekonomi nasional. yang secara konsisten selama tiga tahun berturut turut Tentu saja hal ini perlu menjadi perhatian yang mendalam bagi Pemerintah Dari tabel 4. terdapat 16 Propinsi yang pertumbuhan ekonominya di bawah pertumbuhan ekonomi nasional. yang berarti penurunan kinerja daerah dalam melakukan kontrol terhadap kedua IV-260 PeningkatanKualitasBelanjaDaerahdanPertumbuhanEkonomiDaerah 2009 dan 2010 secara berurut ada 8 dan 21 propinsi (data pertumbuhan diambil di daerah-daerah tersebut harus mampu mendorong pertumbuhan secara umum menunjukkan tren penurunan hampir di seluruh daerah. Pada tahun 2008. Aceh. untuk indikator pertumbuhan ditekan dan terus menunjukan penurunan. Hal ini wajar. dimana kemiskinan dan pengangguran dinilai berhasil apabila dapat pertumbuhan ekonomi adalah apabila menunjukkan pertumbuhan yang pertumbuhan ekonomi daerah lainnya ataupun jauh di bawah pertumbuhan indikatornya selama 3 tahun berturut-turut. sementara pada tahun ekonomi tahun 2010 menggunakan data y-on-y Triwulan IV). untuk daerah-daerah tertentu ternyata terdapat juga . sementara fokus keberhasilan positif (tidak harus progresif) dan pertumbuhannya tidak jauh di bawah karena sifat pertumbuhan ekonomi memang berbeda dengan dua indikator ekonomi nasional. maka pada tabel di atas dapat dilihat mempunyai keterkaitan dengan outcome yang berupa pertumbuhan ekonomi ekonomi relatif sangat fluktuatif hampir di seluruh daerah. Pusat maupun daerah yang bersangkutan agar kebijakan ekonomi yang enam propinsi. Terdapat yakni Bangka Belitung. Jawa Barat. untuk melihat apakah besarnya belanja APBD tersebut dan kesejahteraan masyarakat. Meskipun demikian.

1. KEBIJAKAN DI BIDANG PERPAJAKAN DAN RETRIBUSI DAERAH Pajak daerah dan retribusi daerah merupakan salah satu bentuk peran serta untuk mendanai penyelenggaraan pemerintahan dan pembangunan daerah. yang signifikan terhadap penerimaan daerah secara keseluruhan. UPAyA PEMERINTAH DALAM MENINGKATKAN KUALITAS BELANJA DAERAH DAN MENDoRoNG PERTUMBUHAN EKoNoMI SERTA KESEJAHTERAAN MASyARAKAT DI DAERAH 4. sedangkan pada tahun 2010 daerah-daerah yang mengalami peningkatan kemiskinan secara cukup signifikan.Pelengkap Buku Pegangan 2011 variable tersebut. Pada tahun 2009 daerah yang mengalami peningkatan pengangguran yang signifikan adalah Provinsi DI Yogyakarta.2. masyarakat dalam penyelenggaraan otonomi daerah. Desain kebijakan tingkat kemiskinan dan pengangguran.2. adalah belum memberikan kontribusi PeningkatanKualitasHubunganKeuanganPusatdanDaerah DalamMendorongPertumbuhanEkonomi Permasalahan yang umumnya dihadapi oleh daerah terkait dengan penggalian IV-261 . Hal ini perlu suatu pemerintahan tentunya akan dinilai dari keberhasilannya dalam meningkatkan ekonomi dan kesejahteraan masyarakatnya. antara lain peningkatan pengangguran yaitu Provinsi Bali dan Papua Barat. anggaran dan kebijakan ekonomi lainnya harus lebih fokus untuk mengurangi menjadi catatan khusus bagi daerah-daerah tersebut. Papua Barat dan gorontalo dan daerah yang mengalami 4. Provinsi Jambi dan Provinsi Riau. karena keberhasilan Provinsi Papua. Pajak daerah dan sumber-sumber pajak daerah dan retribusi daerah yang merupakan bagian retribusi daerah merupakan sumber pendapatan daerah yang sangat penting dari Pendapatan Asli Daerah (PAD).

Undang-Undang ini sangat strategis dan mendasar di bidang desentralisasi fiskal. memberikan kewenangan yang lebih besar kepada daerah dalam jawab daerah dalam penyelenggaraan pemerintahan dan pelayanan perpajakan dan retribusi sejalan dengan semakin besarnya tanggung penyelenggaraan pemerintahan dan sekaligus memperkuat otonomi daerah dan sekaligus memperkuat dasar hukum pemungutan pajak dan retribusi daerah. karena terdapat perubahan kebijakan yang cukup fundamental dalam penataan kembali hubungan keuangan antar pusat dan daerah. Pemerintah bersama dengan DPR-RI telah menyetujui undang-undang Nomor 28 Tahun 2009 tentang Pajak Daerah dan Retribusi Daerah (uu PDRD). bahwa prinsip utama pemberian kewenangan pemungutan pajak dan retribusi daerah tidak terlalu membebani masyarakat. daerah. c. dalam rangka memberikan kewenangan perpajakan dan retribusi yang lebih luas kepada daerah. meningkatkan akuntabilitas daerah dalam penyediaan layanan dan selain 3 tujuan pokok diatas. memberikan kepastian bagi dunia usaha mengenai jenis-jenis pungutan b. Reformulasi uu PDRD tersebut sebagai konsekuensi dari penerapan desentralisasi fiskal. kepada masyarakat. yaitu: a. yang perlu mendapat perhatian daerah adalah penerimaan PAD dengan cara menaikkan atau menetapkan tarif pajak dan retribusi maksimal sebagaimana diatur dalam uu PDRD. Daerah tidak boleh terjebak dengan kepentingan jangka pendek untuk semata-mata mengejar IV-262 PeningkatanKualitasBelanjaDaerahdanPertumbuhanEkonomiDaerah .sebagaimana telah diutarakan sebelumnya. uu PDRD memuat setidaknya 3 tujuan pokok.

pemberian kewenangan perpajakan dan retribusi sebagaimana diatur dalam uu PDRD. Pemda tidak boleh melihat hal tersebut sebagai daerah serta harus bisa mengukur kapasitas perekonomian di daerahnya. merupakan alat bagi daerah untuk pertumbuhan domestik (daerah) dari sektor industri jasa. Pemda seharusnya punya kajian komprehensif mengenai kebijakan penetapan tarif pajak dan retribusi ini perlu benar-benar menjadi concern daerah. Artinya. konteks kemandirian tersebut seharusnya Pemda lebih berkonsentrasi pada ekonomi daripada sekedar mengeluarkan produk perundangan terkait sektor-sektor industri. daerah perlu secara tingkat pelayanan publik (the benefit-tax link). karena pada kenyataannya diatur dalam uu PDRD. ada kesempatan bagi mereka untuk menjadikannya sebagai instrumen insentif jelas mendesain kaitan antara kewenangan penetapan tarif pajak dengan guna menarik minat investor melalui penetapan tarif yang rendah (tarif kompetitif) dibanding daerah-daerah lain. diterima daerah. Hal setiap daerah memiliki kapasitas penerimaan (revenue) yang berbeda PeningkatanKualitasHubunganKeuanganPusatdanDaerah DalamMendorongPertumbuhanEkonomi IV-263 . Dengan kata lain. baik secara langsung ataupun tidak. secara linear akan Terkait dengan diskresi penetapan tarif. Daerah yang pertumbuhan ekonominya positif tentunya akan mendapatkan kenaikan PAD. baik pajak maupun retribusi. yang peluang bagi tambahan PAD semata. Artinya. khususnya jasa. Dalam pemberdayaan kekuatan ekonomi lokal untuk menciptakan pertumbuhan dengan pajak maupun retribusi daerah.Pelengkap Buku Pegangan 2011 Peningkatan ekonomi. selain itu. tetapi seyogyanya juga dijadikan sebagai instrumen kebijakan bagi peningkatan investasi di daerah. perlu dioptimalkan. PAD sebenarnya merupakan ekses dari pertumbuhan retribusi terkait erat dengan kegiatan sektor industri jasa. Pajak dan memberikan dampak yang signifikan terhadap besarnya PAD yang akan meningkatkan daya saing dan pertumbuhan ekonomi.

2. Dana Pembangunan Infrastruktur Daerah. tidak terlalu membebani atau memberatkan masyarakat dan dunia akan menarik investor sehingga pertumbuhan ekonomi lokal meningkat yang usaha. setiap jenis transfer Hasil Tembakau dan DBH Dana Reboisasi) dan DAu bersifat block grant. serta ditambah lagi dengan berbagai jenis transfer lainnya. strategi dan prioritas daerah masing-masing. diharapkan kebijakan yang diambil. Dana spesifik inilah yang diharapkan dana tersebut dapat digunakan oleh daerah sesuai dengan peruntukkan dapat menjadi alat bagi Pemerintah untuk mempengaruhi belanja daerah IV-264 PeningkatanKualitasBelanjaDaerahdanPertumbuhanEkonomiDaerah . maka kebijakan anggaran yang diambil oleh daerah guna meningkatkan Sementara jenis transfer lainnya relatif bersifat spesifik.sehingga treatment-nya seharusnya didesain sesuai dengan ciri dan lokalitas daerah masing-masing. Transfer tersebut terutama dilakukan dalam bentuk mempunyai tujuan masing-masing. Dengan adanya kajian yang jelas dan komprehensif oleh pemerintah daerah.2. daerah. Dana Pembangunan Infrastruktur Daerah dan Dana Insentif Daerah. Khusus untuk DBH (kecuali DBH Cukai Dana Perimbangan yang terdiri dari DBH. antara lain DAK. sumber pendapatan utama bagi daerah sampai saat ini adalah transfer dari KEBIJAKAN TRANSFER KE DAERAH Pemerintah Pusat. Dalam konteks perekonomian daerah dan kesejahteraan masyarakat akan sangat tergantung pada kejelian. Danayang telah ditetapkan oleh Pemerintah. DAu dan DAK. yang berarti daerah dapat menggunakannya untuk apa saja. dan lain-lain. seperti Dana Insentif Daerah. Dengan iklim ekonomi yang cenderung kondusif tersebut tentunya 4. terkait dengan pajak dan retribusi pada akhirnya memberikan dampak positif terhadap PAD. ini.

baik dari segi pengelolaan Pemerintah juga menetapkan satu jenis transfer baru yaitu Dana Insentif Daerah (DID). antara lain pertumbuhan ekonomi yang tinggi dan peningkatan kesejahteraan masyarakat. Dalam prekteknya. Ini berarti bahwa untuk masing-masing daerah dilakukan berdasarkan kriteria umum. Mengingat mekanisme DAK bidang infrastruktur. pertumbuhan ekonomi. Pemerintah juga mengalokasikan dana Dana Pembangunan Infrastruktur Daerah (DPID) yang cara maupun tujuan pengalokasiannya hampir sama dengan DAK. maka sejak tahun 2010. yang baik dari BPK. untuk mengapresiasi kinerja daerah. misalnya infrastruktur jalan ataupun bidang-bidang ekonomi dan pembangunan ekonomi yang berkelanjutan. Infrastruktur dibutuhkan untuk mendukung tercapainya pertumbuhan kualitas pelayanan publik di berbagai bidang. Dana ini dialokasikan sebagai reward kepada daerah-daerah lain. terutama daerah yang lKPD-nya mendapatkan opini outcome daerah yang di atas rata-rata nasional. dan kriteria teknis. Beberapa bidang yang didanai ekonomi di daerah. adalah outcome pendidikan. kriteria teknis memberikan perhitungan alokasi DAK lebih ditujukan untuk mendorong peningkatan dari DAK mempunyai kontribusi positif dalam menunjang pertumbuhan lainnya yang menyediakan sarana dan prasarana untuk mendukung kegiatan ekonomi di daerah. menetapkan APBD secara tepat waktu dan pencapaian bahwa ketersediaan infrastruktur akan memberikan pengaruh positif dan signifikan terhadap produktivitas dan pertumbuhan ekonomi. Outcome tersebut antara IV-265 . maka selain Di sisi lain. pengurangan PeningkatanKualitasHubunganKeuanganPusatdanDaerah DalamMendorongPertumbuhanEkonomi yang berprestasi baik. sebagaimana telah dijelaskan sebelumnya bahwa perhitungan alokasi DAK bobot yang sangat besar yaitu mencapai 80 persen. kriteria khusus. keuangan maupun kinerja ekonomi daerah.Pelengkap Buku Pegangan 2011 dalam mencapai tujuan-tujuan tertentu.

diharapkan daerah akan berlomba-lomba untuk mendesain kebijakannya 4.2 miliar. melaksanakan prinsip kinerja dalam penyaluran dananya (performance-based disbursement). Hibah ini diberikan pertanggungjawaban anggaran sekolah berbasis teknologi informasi. dan Hibah Air limbah. Hibah dilaksanakan sampai dengan tanggal 30 April 2012. Penerapan prinsip ini merupakan suatu upaya pendorong Pada tahun 2010 telah dialokasikan dalam APBN pemberian hibah kepada daerah sebesar Rp243. Hibah kepada daerah merupakan salah satu instrumen transfer Pemerintah KEBIJAKAN HIBAH KE DAERAH guna mendorong peningkatan kualitas belanja di daerah dengan menerapkan syarat tertentu yang memungkinkan dilaksanakannya transfer dana kepada pemerintah daerah (conditional cash transfer).2. sebagaimana diatur dalam PMK Nomor 168/2008 tentang Hibah Daerah dan PMK Nomor 169/2008 tentang Tata Cara Penyaluran Hibah Kepada Pemerintah Daerah. pengelolaan dan efektif telah disalurkan dananya pada tahun 2010 melalui Local Basic Education Capacity (l-BEC). hibah daerah pemerintah daerah agar melaksanakan kegiatannya dengan berorientasi pada hasil yang telah direncanakan. Jenis kegiatan dalam hibah ini meliputi berbagai model pengembangan kapasitas IV-266 PeningkatanKualitasBelanjaDaerahdanPertumbuhanEkonomiDaerah . Hibah Air Minum. baik yang berasal dari penerusan pinjaman maupun penerusan hibah. Dengan adanya insentif ini sebaik mungkin agar dapat memicu pertumbuhan ekonomi yang maksimal.3.kemiskinan dan pengurangan pengangguran. Terdapat tiga kegiatan hibah daerah yang secara l-BEC merupakan penerusan hibah yang bersumber dari hibah Pemerintah Kerajaan Belanda dan uni Eropa dengan perwalian Bank Dunia dan akan kepada 50 pemerintah kabupaten/kota dengan tujuan meningkatkan kapasitas penyelenggara pendidikan dalam hal perencanaan.

Program ini dilaksanakan dengan menggunakan pendekatan output-based baru. Di sisi perencanaan. sedangkan Hibah Air limbah bertujuan untuk meningkatkan akses sistem air limbah perpipaan bagi masyarakat khusus untuk kota-kota yang Program Hibah Air Minum dan Hibah Air limbah memiliki karakteristik yang PeningkatanKualitasHubunganKeuanganPusatdanDaerah DalamMendorongPertumbuhanEkonomi berbeda dengan program l-BEC. guru maupun staf tata usaha. hibah ini diarahkan IV-267 . selain menerbitkan Panduan operasional Manual. Penyaluran Perjanjian Penerusan Hibah (NPPH). dana untuk hibah ini menggunakan basis kinerja (performance-based) dan dilaksanakan secara bertahap sejalan dengan kinerja yang ditunjukkan oleh untuk menjamin pelaksanaan kegiatan sesuai dengan amanat yang tertera dalam NPPH.Pelengkap Buku Pegangan 2011 dengan peserta kepala sekolah. tim Central Project Implementation Unit juga secara akif melakukan dilaksanakannya program hibah lBEC. kegiatan untuk mencegah terjadinya pengeluaran yang ineligible. tim Nasional juga melakukan monitoring dan evaluasi atas pelaksanaan kegiatan. koordinasi dengan pemerintah daerah dalam hal pengelolaan administratif perpipaan secara berkesinambungan dalam upaya mencapai target MDgs. pemerintah daerah dalam melaksanakan kegiatan yang sesuai dengan Naskah Pemerintah yang dalam hal ini dikoordinir oleh Kementerian Pendidikan selain itu. diharapkan penyelenggara pendidikan menggunakan teknologi informasi dan melaporkannya kepada para pemangku kepentingan sehingga tercapai pola penyelenggaraan pendidikan Hibah Air Minum bertujuan untuk meningkatkan akses penyediaan air minum bagi masyarakat yang belum memiliki akses sambungan air minum dalam mengupayakan percepatan penambahan jumlah sambungan rumah sudah memiliki sistem pengelolaan air limbah terpusat. Dengan dapat merencanakan dan mengelola anggaran sekolah secara transparan yang ideal secara holistik.

441 sambungan baru air berjalan selama 2 bulan. dana hibah yang disampaikan oleh tim verifikator. Jenis kegiatan yang dilaksanakan untuk kedua program ini adalah pembangunan miliar yang disalurkan untuk pembangunan 15. Hibah ini akan disalurkan setelah pemerintah daerah terlebih dahulu menginvestasikan dana APBD melalui PDAM/PDAl sampai .untuk daerah-daerah yang telah memenuhi syarat dalam hal kondisi keuangan yang sehat dan kapasitas yang memadai untuk memenuhi target pelaksanaan terhadap kegiatan yang telah dilakukan.400 sambungan baru air limbah yang telah terpasang dan telah telah ditandatangani dengan 35 kabupaten/kota yang berkomitmen untuk mencapai target yang telah ditentukan. Penandatanganan NPPH untuk hibah ini dilaksanakan dalam 3 tahap. NPPH program Hibah Air Minum melibatkan 5 kota yang memenuhi syarat dan mendukung pencapaian target kegiatan. kegiatan. Dalam aspek penyaluran. telah disalurkan dana hibah dari APBN sebesar Rp 45. Dalam aspek pelaksanaan.473 Hibah ini juga dimaksudkan sebagai stimulus untuk mendorong pemerintah daerah selaku penanggung jawab penyediaan prasarana pelayanan air minum dan sanitasi yang pada akhirnya dapat meningkatkan kualitas dengan telah tersedianya layanan air minum/pengelolaan air limbah kepada IV-268 PeningkatanKualitasBelanjaDaerahdanPertumbuhanEkonomiDaerah kesehatan masyarakat. dilaksanakan survei dasar dan verifikasi untuk kegiatan ini akan ditransfer setelah kegiatan yang disepakati dalam Hibah Air Minum dan Hibah Air limbah yang saat ini berjalan merupakan NPPH telah dilaksanakan oleh pemerintah daerah berdasarkan rekomendasi penerusan hibah yang bersumber dari hibah AusAID dan direncanakan akan berakhir pada tanggal 30 Juni 2011. minum dan 2. dengan tahap pertama ditandatangani pada tanggal 11 Juni 2010. sedangkan program Hibah Air limbah sambungan rumah baru untuk air minum dan air limbah. sampai dengan akhir tahun 2010.

kepada lapisan masyarakat yang berbeda. pemerintah daerah untuk menjamin ketersediaan layanan air minum dan/ wujud komitmen peningkatan kinerja pelayanan publik.4. KEBIJAKAN PENINGKATAN KUALITAS salah satu faktor penting dalam peningkatan kualitas pengelolaan PENGELoLAAN KEUANGAN DAERAH keuangan daerah adalah sumber daya manusia yang mengelolanya. Pada sebagian daerah. secara tidak langsung.Pelengkap Buku Pegangan 2011 masyarakat. DPRD. untuk mengembangkan kapasitas sumber Daya Manusia (sDM) pengelola keuangan daerah. Artinya. tidak dapat 4. pemerintah daerah berinisiatif untuk dan air limbah.2. hibah ini telah mendorong peningkatan masyarakat. mekanisme ini selain menuntut adanya transparansi pelaksana pelayanan air minum dan air limbah. dan meningkatkan penyertaan modalnya pada BuMD penyedia air minum membantu meningkatkan kapasitas BuMD terkait. BuMD. Di sisi lain. tanggung jawab pemerintah daerah kepada masyarakat juga kepada BuMD Pada tataran implementasinya. Tambahan penyertaan modal ini menunjukkan adanya perhatian yang lebih baik dari pemerintah daerah yang secara langsung akan tambahan penyertaan ini juga menunjukkan peningkatan pengawasan pola hubungan positif antara pemerintah daerah. strategi ini pada jangka panjang atau pengelolaan air limbah kepada masyarakat secara lebih baik. Pemerintah mengadakan berbagai kegiatan pelatihan PeningkatanKualitasHubunganKeuanganPusatdanDaerah DalamMendorongPertumbuhanEkonomi IV-269 . PDAM pada beberapa daerah mencoba menerapkan strategi diferensiasi harga produk dipungkiri juga peran DPRD dalam mendukung kebijakan alokasi anggaran dan pengawasan yang memadai bagi keberlangsungan program hibah ini. sebagai diharapkan dapat menjaga kesinambungan akses sambungan air minum khususnya bagi masyarakat berpenghasilan rendah.

selain itu. Pemerintah akan tetap melanjutkan dan mengembangkan pelaksanaan kegiatan pelatihan keuangan daerah di masa mendatang. langsung dan berpartisipasi dalam transfer pengetahuan dan sosialisasi serta ikut mendorong penyempurnaan kebijakan Pemerintah di bidang keuangan negara dan daerah. program KKD/lKD secara khusus didesain untuk mengembangkan kapasitas sDM pemerintah daerah dalam melaksanakan itu. maupun KKD Khusus Penatausahaan/Akuntansi Keuangan Daerah (KKDK) dengan fokus Kursus Keuangan Daerah (KKD) untuk level staf pemerintah daerah. kebijakan desentralisasi fiskal yang berpedoman pada peraturan perundangundangan di bidang keuangan negara dan daerah terkini dalam rangka mewujudkan tata kelola pemerintahan yang baik (good governance).keuangan daerah dengan melibatkan beberapa perguruan tinggi sebagai pusat kegiatan pelatihan (center). Pelatihan tersebut dilakukan baik melalui pelatihan akuntansi keuangan pemerintah daerah. Perguruan tinggi penyelenggara KKD/lKD sebagai center of excellencies dapat berperan menjadi media untuk terlibat bagi penyelenggara dalam hal updating pengetahuan tentang kebijakan lembaga/pusat studi keuangan daerah di masing-masing center. untuk IV-270 PeningkatanKualitasBelanjaDaerahdanPertumbuhanEkonomiDaerah . penyelenggaraan KKD/lKD bermanfaat untuk meningkatkan kualitas aparatur pengelola keuangan daerah. kegiatan KKD/lKD juga bermanfaat desentralisasi fiskal terkini serta menjadi embrio bagi terbentuknya Dengan kata lain. baik pada tingkat pengambil kebijakan maupun pelaksana teknis operasional pengelolaan keuangan daerah. latihan Bagi pemerintah daerah. Keuangan Daerah (lKD) untuk level pengambil keputusan.

dimana program dan kegiatan yang disusun berorientasi Rencana Kerja Pemerintah (RKP) dan Rencana Pembangunan Jangka Pusat telah melakukan berbagai upaya pendekatan kebijakan dalam rangka mendorong percepatan terwujudnya peningkatan kesejahteraan masyarakat. TUGAS PEMBANTUAN DAN URUSAN BERSAMA Program dan kegiatan pembangunan yang dikelola Pemerintah Pusat Cq. Pemerintah 1) Peningkatan proporsi alokasi pendanaan atas program dan kegiatan yang kemiskinan. melalui : a. KEBIJAKAN MELALUI PENDANAAN DEKoNSENTRASI. dan dalam penyelenggaraanya.5. pengawasan pada pengelolaan ekonomi dan peningkatan kesejahteraan rakyat dengan menerapkan kebijakan Triple Track Strategy sebagaimana tertuang dalam Menengah Nasional (RPJMN). pelayanan umum.2. Kementerian/lembaga melalui ketiga mekanisme tersebut mengacu pada Prioritas Nasional. b. daerah. perekonomian. seperti pendidikan.Pelengkap Buku Pegangan 2011 4. 2) Melakukan upaya sinergi pusat dan daerah dalam rangka efektifitas dan perumahan dan faslitas umum serta Program Nasional Pemberdayaan efisiensi penyelenggaraan program dan kegiatan Pemerinta Pusat di Penguatan peran gubernur selaku wakil Pemerintah Pusat di Pemberitahuan lebih awal kepada Pemerintah Daerah atas indikasi program dan kegiatan yang akan dilimpahkan dan/atau ditugaskan PeningkatanKualitasHubunganKeuanganPusatdanDaerah DalamMendorongPertumbuhanEkonomi Daerah dalam menjalankan fungsi koordinasi serta pembinaan dan IV-271 . yang antara lain sebagai berikut : bersentuhan langsung dengan kebutuhan masyarakat dan pengentasan Masyarakat (PNPM) Mandiri.

c. pengelolaan dana urusan bersama pola perencanaan yang memperhatikan dan kegiatan daerah dengan program dan kegiatan Pemerintah Pusat Pelibatan DPRD dalam proses sinkronisasi dan harmonisasi program dana dengan menerbitkan beberapa pedoman pengelolaan dana. IV-272 PeningkatanKualitasBelanjaDaerahdanPertumbuhanEkonomiDaerah . melalui : b. baik kesejahteraan masyarakat di daerah. Pembantuan untuk pengelolaan dana dekonsentrasi dan tugas pembantuan maupun Penggunaan indikator keseimbangan pendanaan di daerah dalam dalam perencanaan lokasi dan anggaran serta penentuan besaran indikator Penggunaan Indikator Kemampuan Fiskal dan Kemiskinan Daerah program dan kegiatan urusan Bersama perencanaan alokasi dan anggaran Dekonsentrasi dan Tugas dana pendamping (cost sharing) daerah dalam penyelenggaraan 5) Memprioritaskan daerah yang tertinggal atau daerah yang berkinerja baik dana Tugas Pembantuan. dan dana urusan bersama. untuk mendapatkan perhatian dalam pengalokasian dana Dekonsentrasi. 3) Meningkatkan transparansi dan akuntabilitas dalam pengelolaan 4) Memperbaiki a.

BAB V PENUTUP PeningkatanKualitasHubunganKeuanganPusatdanDaerah DalamMendorongPertumbuhanEkonomi V-273 .

V-274 Penutup .

local taxing power tetap harus dijaga. pembangunan suatu bangsa. Mekanisme hubungan keuangan yang lebih baik akan menciptakan berbagai kemudahan dalam pelaksanaan pembangunan baik yang tujuan akhirnya adalah kesejahteraan masyarakat. Meskipun Daerah tidak dimaksudkan untuk menjadikan Pendapatan Asli Daerah (PAD) Belanja pemerintah yang efisien dan efektif akan menjadi kunci keberhasilan pemborosan dan tidak berorientasi pada kepentingan masyarakat. Di samping itu. bagi negara yang masih berkembang seperti Indonesia. PeningkatanKualitasHubunganKeuanganPusatdanDaerah DalamMendorongPertumbuhanEkonomi desain desentralisasi fiskal di Indonesia bertumpu pada desentralisasi sebagai pendapatan yang dominan di Daerah. Namun demikian. penguatan sumber pendapatan meningkatkan fungsi akuntabilitas fiskal Daerah. Desentralisasi Pemerintah dalam mengelola pembangunan guna mendorong perekonomian di Daerah. karena ada pungutanpungutan yang akan langsung dilakukan oleh Pemerintah Daerah. sehingga akan berimbas kepada kondisi perekonomian yang lebih fiskal Indonesia adalah desentralisasi fiskal di sisi pengeluaran yang utamanya daerah dititikberatkan pada diskresi (kebebasan) untuk membelanjakan didanai melalui transfer ke Daerah. PAD lebih dimaksudkan untuk V-275 .Pelengkap Buku Pegangan 2011 BAB V PENUTUP Desentralisasi fiskal adalah salah satu instrumen yang digunakan oleh Daerah maupun Nasional. Esensi otonomi pengelolaan fiskal di sisi pengeluaran yang didanai melalui transfer ke Daerah. Berapapun besarnya pendapatan akan menjadi kurang bermakna apabila pola belanjanya masih melakukan pemborosan- dana sesuai kebutuhan dan prioritas masing-masing Daerah.

Perbaikan sistem perencanaan belanja pemerintah diperlukan untuk mendapatkan efek positif yang optimal bagi perekonomian. sinkronisasi dan koordinasi antar unit dan antar tingkatan. Masih terjadi belanja Pemerintah melalui mekanisme dekonsentrasi dan tugas pembantuan. sistem tersebut Adanya harmonisasi belanja Pusat dan Daerah demi mencapai pelayanan publik yang optimal merupakan hal yang krusial. antar unit maupun antar tingkatan. satu hal yang perlu dicermati dalam harmonisasi ini adalah bahwa semua bentuk belanja tersebut harus berangkat dari kejelasan tugas dan kewenangan masing-masing level V-276 Penutup pemerintahan. digunakan untuk untuk itulah Pemerintah terus berupaya untuk memperbaiki kualitas desentralisasi.belanja pemerintah mempunyai peranan yang cukup krusial sebagai stimulus pembangunan ekonomi. dekonsentrasi. tugas pembantuan ataupun skema pendanaan urusan bersama. melalui sistem perencanaan nasional yang mendukungnya. sehingga tidak lagi terjadi tumpang tindih belanja antar unit dan antar tingkatan. harus menjadi alat atau regulasi untuk menjamin kepastian dan kejelasan hubungan keuangan pusat dan daerah. baik dalam konteks pendanaan diperoleh. haruslah diwujudkan pembagian urusan di antara berbagai tingkatan. Harus diakui bahwa sampai saat ini masih terjadi tumpang tindih belanja melalui anggaran kementerian. Desentralisasi fiskal dan otonomi daerah harus mampu . baik secara langsung ke Daerah maupun mendanai kegiatan-kegiatan yang seharusnya menjadi urusan Daerah yang telah didesentralisasikan. satu hal yang pasti diharapkan akan terjadi dalam masa yang akan datang adalah sinkronisasi dan koordinasi antar unit dan antar tingkatan pemerintahan tidak lagi menjadi ‘barang mewah’ yang sulit untuk terutama dalam program-program dan kegiatannya.

pertumbuhan ekonomi serta peningkatan kualitas pelayanan publik. maka desentralisasi harus diukur dari kemampuan Pemerintah Daerah dalam ekonomi PeningkatanKualitasHubunganKeuanganPusatdanDaerah DalamMendorongPertumbuhanEkonomi V-277 . upaya penerapan good governance haruslah dijadikan dasar bagi pengeluaran APBD yang menciptakan lapangan kerja dan memperbaiki pendapatan masyarakat. Jika ekonomi Daerah lemah.Pelengkap Buku Pegangan 2011 menjawab isu-isu penting seperti kemiskinan. lebih tepat sasaran. Inisiatif lokal atau kebijakan ekonomi lokal harus dapat menjadi awal penggerak pertumbuhan ekonomi lokal. karena sumber daya fiskal mencukupi untuk Daerah dan Pusat. sehingga diharapkan belanja daerah dapat memberikan Pada akhirnya. Ekonomi Daerah yang kuat akan mempermudah proses dan perebutan sumber daya. tetapi justru tujuan besarnya adalah mendukung pembangunan ekonomi yang berkelanjutan. Keberhasilan yang cukup tinggi dan kemudian mentransformasikannya dalam bentuk penciptaan lapangan kerja baru dan perbaikan pendapatan masyarakat. pengangguran. mendorong pertumbuhan ekonomi nasional. desentralisasi fiskal tidak akan berhenti pada aspek fiskal saja. bukan pada tujuan untuk menyediakan layanan menyejahterakan masyarakat lokal. yang secara bersama-sama akan dampak signifikan bagi pertumbuhan ekonomi daerah yang kemudian dapat desentralisasi fiskal yang bersih dan sehat. melalui pertumbuhan problem desentralisasi fiskal akan didominasi oleh permasalahan kekurangan publik yang memadai dan meningkatkan kesejahteraan rakyat.

V-278 Penutup .

laporan Panitia Kerja Belanja Daerah dalam Rangka Pembicaraan Tingkat I/Pembahasan Ruu tentang RAPBN TA. (2009).bappenas.go. (2004). draft hasil Focus group Discussion (FgD) sinergi Pembangunan antara Pusat dan Daerah. 20032004. Pedoman Penyusunan APBD Berbasis Kinerja. Kementerian Keuangan. (2010). Ikatan sarjana Ekonomi Indonesia (IsEI) Pusat. Jakarta: Kemenkeu RI (www. Japan Bank for International Cooperation (JBIC) and Institute for Economics and social Research-Faculty of Economics university of Indonesia (lPEMFEuI). Building Institutions for good governance (BIgg). (2005). Kementerian Keuangan.go. Reformulasi Dana Alokasi umum: laporan Penelitian.2006. (2005). “Nota Keuangan APBN 2011”. “Produk Hukum dan Perundang-undangan”. PeningkatanKualitasHubunganKeuanganPusatdanDaerah DalamMendorongPertumbuhanEkonomi V-279 . Juli 2005.indonesia. (2010). Perencanaan. Kuncoro. simanjuntak. Jakarta.id) Ikatan sarjana Ekonomi Indonesia (IsEI) Pusat. PP No. Buku Pelengkap Buku Pegangan Tahun 2010. 2004. “otonomi Daerah: Reformasi. “sistem Perencanaan Pembangunan Nasional”. 25 Tahun 2000 tentang Kewenangan Pemerintah dan Kewenangan Provinsi sebagai Daerah otonom. Bambang Ps dan Robert A. (2004).id). Brodjonegoro.go. depkeu. Pemerintah Republik Indonesia. BPKP. laporan Akhir. lPEM FEuI dan PsE-KP FEugM. “Pedoman Acuan Anggaran Kinerja”. Jakarta: Pemerintah RI (www.Pelengkap Buku Pegangan 2011 DAFTAR PUSTAKA Asian Development Bank (ADB) TA 3967-INo: local government Provision of Minimum Basic service for the Poor. “sinergi Pembangunan antara Pusat dan Daerah”. M.id). Jakarta: lPEM-FEuI.. 2005. Jakarta: Bappenas (www. Bappenas. “study on Decentralization Framework and Fiscal and Administrative Capacity of local governments in Indonesia”. Jakarta: Penerbit Erlangga. strategi dan Peluang”. 2005.

PP No.39 Tahun 2007 tentang Pengelolaan uang Negara/Daerah. PP No. 56 Tahun 2001 tentang laporan Penyelenggaraan Pemerintah Daerah. 55 Tahun 2005 tentang Dana Perimbangan. laporan Keterangan Pertanggungjawaban Daerah Kepada Dewan Perwakilan Rakyat Daerah. 32 Tahun 1969 tentang Pelaksanaan uu No. 2 Tahun 2006 tentang Tata Cara Pengadaan Pinjaman dan/atau Penerimaan Hibah serta Penerusan Pinjaman dan/atau Hibah luar Negeri PP No. PP No. PP No. 57 Tahun 2005 tentang Hibah Kepada Daerah. PP No. PP No. 65 Tahun 2010 tentang sistem Informasi Keuangan Daerah. 58 Tahun 2005 tentang Pengelolaan Keuangan Daerah. 79 Tahun 2005 tentang Pedoman Pembinaan dan Pengawasan Penyelenggaraan Pemerintah Daerah. PP No. 8 Tahun 2006 tentang Pelaporan Keuangan dan Kinerja Instansi Pemerintah. PP No. 3 Tahun 2007 tentang laporan Penyelenggaraan Pemerintahan Daerah Kepada Pemerintah. PP No. 75 Tahun 2001 tentang Perubahan Kedua Atas PP No.1 Tahun 2008 tentang Investasi Pemerintah V-280 Penutup . 106 Tahun 2000 tentang Pengelolaan dan Pertanggungjawaban Keuangan dalam Pelaksanaan Dekonsentrasi dan Tugas Pembantuan. PP No. serta Jumlah Kumulatif Pinjaman Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah. PP No.PP No. 6 Tahun 2006 tentang Pengelolaan Barang Milik Kekayaan Negara/ Daerah. dan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah. dan Informasi laporan Penyelenggaraan Pemerintahan Daerah Kepada Masyarakat. 23 Tahun 2003 tentang Pengendalian Jumlah Kumulatif Defisit Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara. 11 Tahun 1967 tentang Ketentuan-Ketentuan Pokok Pertambangan. 21 Tahun 2004 tentang Penyusunan Rencana Kerja dan Anggaran Kementerian Negara/ lembaga. PP no. PP No. 54 Tahun 2005 tentang Pinjaman Daerah. PP No. 24 Tahun 2005 tentang standar Akuntansi Pemerintahan. PP No. PP No.

129/PMK. 69 Tahun 2010 tentang Tata Cara Pemberian dan Pemanfaatan Insentif Pemungutan Pajak Daerah dan Retribusi Daerah PP No.07/2008 tentang Tata Cara Pelaksanaan sanksi Pemotongan Dana Alokasi umum dan/atau Dana Bagi Hasil Dalam Kaitannya Dengan Pinjaman Daerah Dari Pemerintah Pusat. 91 Tahun 2010 tentang Jenis Pajak Daerah yang Dipungut Berdasarkan Penetapan Kepala Daerah (Official Assessment) atau Dibayar Sendiri Oleh Wajib Pajak (Self Assessment) PMK No. serta aturan pelaksanaanya PMK No. PMK No. Rekening Dana Investasi. Pertanggungjawaban dan Publikasi Informasi obligasi Daerah. PeningkatanKualitasHubunganKeuanganPusatdanDaerah DalamMendorongPertumbuhanEkonomi V-281 . 171/PMK.06/2007 tentang sistem Akuntansi dan Pelaporan Keuangan pemerintah Pusat. diatur lebih lanjut tentang perencanaan. 53/2006 tentang Tatacara Pemberian Pinjaman Daerah dari Pemerintah yang Dananya Bersumber dari Pinjaman luar Negeri yang mengatur proses lebih lanjut penerusan Pinjaman luar Negeri Pemerintah kepada pemerintah daerah dalam bentuk pinjaman. PMK No.07/2008 tentang Pedoman Pengelolaan Dana Dekonsentrasi dan Dana Tugas Pembantuan. 005/2006 tentang Tatacara Perencanaan dan Pengajuan usulan serta Penilaian Kegiatan yang Dibiayai dari Pinjaman dan/atau Hibah luar Negeri yang mengatur perencanan dan proses lebih lanjut pengadaan Pinjaman/ Hibah luar Negeri oleh Pemerintah Pusat. 7 Tahun 2008 tentang Dekonsentrasi dan Tugas Pembantuan PP No. PMK No. 10 Tahun 2011 tentang Tata Cara Pengadaan Pinjaman luar Negeri dan Penerimaan Hibah PMK No.05/2008 Tentang Penyelesaian Piutang Negara Yang Bersumber Dari Penerusan Pinjaman luar Negeri. 147/PMK.Pelengkap Buku Pegangan 2011 PP No. Permendagri No.07/2011 tentang tentang Tata Cara Penyampaian Informasi Keuangan Daerah. Peraturan Menteri PPN/Kepala Bappenas No. 13 Tahun 2006 tentang Pedoman Pengelolaan Keuangan Daerah. Dan Rekening Pembangunan Daerah pada Pemerintahan Daerah. PP No. 156/PMK.07/2006 tentang Tatacara Penerbitan. PMK No. pengajuan usulan dan persetujuan serta pernyataan pendaftaran umum. 04/PMK. 153/PMK.

dan Prospek di Era otonomi Daerah.PMK No. PMK No.all. Peraturan Bersama Menteri Keuangan dan Menteri Dalam Negeri No. Machfud et. sidik. 47/PMK.07/2011 tentang Tata Cara Penyelesaian Tunggakan Pinjaman Pemerintah Daerah Kepada Pemerintah Melalui sanksi Pemotongan Dana Alokasi umum (DAu) dan/atau Dana Bagi Hasil (DBH). PMK No.07/2009 tentang Pelaksanaan dan Pertanggungjawaban Anggaran Transfer ke Daerah. 147/PMK.07/2010 tentang Tata Cara Pengenaan sanksi Terhadap Pelanggaran Ketentuan di Bidang Pajak Daerah dan Retribusi Daerah. dan Batas Maksimal Kumulatif Pinjaman Daerah Tahun Anggaran 2011. Hambatan. 21/PMK. PMK No. 213/PMK. PMK No. 197 Tahun 2009 tentang Dasar Pembagian Bagi Hasil Cukai Hasil Tembakau Kepada Provinsi Penghasil Cukai dan/atau Provinsi Penghasil Tembakau. 174 Tahun 2009 tentang Peta Kapasitas Fiskal Daerah. V-282 Penutup . 2002). Dana Alokasi umum: Konsep. 186/PMK. PMK No.07/2010 tentang Badan atau Perwakilan Internasional yang Dikecualikan sebagai subjek PBB Perdesaan dan Perkotaan.07/2011 tentang Indeks Fiskal dan Kemiskinan Daerah dalam rangka Perencanaan Pendanaan urusan Bersama Pusat dan Daerah untuk Penanggulangan Kemiskinan Tahun Anggaran 2012. Kabupaten dan Kota Tahun Anggaran 2009. (Jakarta: Kompas. PMK No. Peraturan Bersama Menteri Keuangan dan Menteri Dalam Negeri No. 245/PMK. 168 Tahun 2009 tentang Pedoman Pendanaan urusan Bersama Pusat dan Daerah untuk Penanggulangan Kemiskinan. PMK No.07/2010 dan 58 Tahun 2010 tentang Tahapan Pengalihan PBB Perdesaan dan Perkotaan menjadi Pajak Daerah. PMK No. 223 Tahun 2009 tentang Alokasi dan Pedoman umum Dana Tambahan Penghasilan Bagi guru PNsD Kepada Daerah Provinsi. PMK No. 66/PMK. 11/PMK.07/2010 tentang Batas Maksimal Defisit Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah.07/2010 tentang Peta Kapasitas Fiskal Daerah.07/2010 dan 53 Tahun 2010 tentang Tahapan Pengalihan BPHTB menjadi Pajak Daerah. PMK No. 148/PMK. 149/PMK. PMK No.07/2010 tentang Badan atau Perwakilan Internasional yang Dikecualikan sebagai subjek BPHTB.

“Can Desentralization Help Rebuild Indonesia”. uu No. uu No. 20 Tahun 1997 tentang Penerimaan Negara Bukan Pajak. Andrew Young school of Policy studies. 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah. May 2002. uu No. uu No. 17 Tahun 2003 tentang Keuangan Negara. World Bank Report of Dutch Trust Fund Package 8 on “Reformulasi Dana Alokasi umum”. November 2002. georgia state university. 11 Tahun 1967 tentang Ketentuan-Ketentuan Pokok Pertambangan. PeningkatanKualitasHubunganKeuanganPusatdanDaerah DalamMendorongPertumbuhanEkonomi V-283 . 28 Tahun 2009 tentang Pajak Daerah dan Retribusi Daerah. sponsored by the International studies Program. paper for Conference Expenditure Assignment under Indonesia’s Emerging Decentralization: A Review of Progress and Issues for the Future. Support to the Ministry of Home Affairs. uu No. uu No. 2004. uu No. uu No. Atlanta. 33 Tahun 2004 tentang Perimbangan Keuangan antara Pemerintah Pusat dan Pemerintahan Daerah.Pelengkap Buku Pegangan 2011 smoke. 1 Tahun 2004 tentang Perbendaharaan Negara. uu No. 9 Tahun 1985 tentang Perikanan. Paul. uu No. World Bank Dutch Trust Fund. “strengthening Indonesia’s Framework for Decentralization”. 15 Tahun 2004 tentang Pemeriksaan Pengelolaan dan Tanggung Jawab Keuangan Negara. 39 Tahun 2007 tentang Cukai Perubahan Atas undang-undang Nomor 11 Tahun 1995 tentang Cukai.

V-284 Penutup .

III-105. III-216. IV-262. I-6. IV-247. H Hibah Hibah luar negeri x. III-190. I-5. II-14. II-14. III-212. III-152. III-215. xvii. III-41. xii. III-187. IV-264. xv. xv. III-185. III-243. III-25. III-51. I-8. III-104. III-48. IV-250. III-67 100. III-69. III- 153. B belanja daerah v. III-155. V-279 IV-272.Pelengkap Buku Pegangan 2011 Index A akuntabilitas iv. V-284 272 dana bagi hasil pajak I-5 dana bagi hasil sDA viii. III-138. IIIIII-184. III-132. III-186. III-137. III-53. III-52. III-214. IV-264. III-188. III-183. xiv. III-189. III-192. III-238. III-151. III-97. x. III-139. III-184. III-65. III-212. V-277 D dana bagi hasil dana dekonsentrasi dan tugas pembantuan I-4. vi. xi. III-146. IV-257. III-103. IV-253. I-3. xvi. III-59. III-109. I-7. III-211. III-222. IV-255. IVDAu Dana Alokasi umum ix. III-208. PeningkatanKualitasHubunganKeuanganPusatdanDaerah DalamMendorongPertumbuhanEkonomi V-285 . III-99. III-54. III-98.

III-143. III-148. III-178. III-226. III- K kriteria khusus 221. III-160. III-21. III-196. III-98. III-177. III-172. III-167. III-23. II-12. II-14. III-173. III-55. O obligasi Daerah xi. V-277 Penutup Pendapatan Asli Daerah I-5. IV-261 233. III-193. III-48. III-193. III-170. III-199. IV-267. III-238. III-231. IV-261. III-100. IIIIII-139. III-166. III-109. V-286 . III-197. III-181. III-219. III-25. III-176. III-126. V-282. III-201. III-127. III-171. P Pajak Bumi dan Bangunan viii. III-180. III-103. V-284 Pendanaan urusan Bersama Pusat dan Daerah xii. V-283 169. III-147. III-23. IVIV-267 Naskah Perjanjian Pinjaman luar Negeri III-159. III-194. III-186.III-193. xv. III-142. III-36. xiii. III-174. III-57. III-21. IV-266. III-212. III-100 pajak penghasilan III-41 pajak daerah dan retribusi daerah iv. IIIIII-179. III-195. III-186. III-22. III-185. III-175. III-168. IV-265 Naskah Perjanjian Penerusan Pinjaman III-159. III-238. V-283 N Naskah Perjanjian 267 Kriteria teknis III-108. III-220. III-160. III-146. IV-268. III-29. III-198. III-234. III-182. III-185.

III-143. III-149. II-14. III-151. III-156. III-141. III-164. III-148. V-282. V-283 III-182. V-283.Pelengkap Buku Pegangan 2011 Pinjaman Daerah v. III-159. xii. III-158. V-284 147. III-156. III-158. III-161. III-152. xi. III185. III-166. III-140. III-183. III-144. IIIPinjaman luar Negeri xi. PeningkatanKualitasHubunganKeuanganPusatdanDaerah DalamMendorongPertumbuhanEkonomi V-287 . III-142. II-15. III-152. III-149. III-151. xv. III-143.

V-288 Penutup .

ME. Dhani setyawan. Ahmad Yani.sc. sE.. Imaduddin. Drs. Hesti Budi utomo.s. MM. MPA.soc.. Berlin tentang MA. Rukijo. Pelengkap Buku Pegangan Tahun 2011 Hubungan Keuangan Pusat dan Daerah Dalam Mendorong Pertumbuhan untuk menyumbangkan bahan.. serta semua PeningkatanKualitasHubunganKeuanganPusatdanDaerah DalamMendorongPertumbuhanEkonomi V-289 Tidak lupa disampaikan terima kasih kepada Ichwan setyarno.sc. Budi sitepu. penyusunan materi. Jackwin Simbolon.. Ph. Drs.. Prof. Putut Hari satyaka. Panjaitan. Anwar syahdat. Endang Ah. Masagus Zenaidi. Wahyudi sulestyanto. Adriansyah. MM. Yusrizal Ilyas. sE.sos. MM.. MPP. serta masukannya sehingga terselesaikannya buku ini... sE.M. Drs.. MFM. dan Agus Nugroho yang telah subiyantoro.. MM. Dra. Bambang P..D. sE..sc. Ricka Yunita Prasetya. MA. sE. lily Kuntratih..soc. atas kontribusinya membantu Iskandar. Pramudjo. dan kepada semua ucapan terima kasih disampaikan kepada Dr.. M. Radityo Putumayor. SE. Muhammad Zainuddin. Edison sihombing... Kurnia. MM. sugiyarto. setio Budi. Ria sartika A. M. MM.Pelengkap Buku Pegangan 2011 UCAPAN TERIMA KASIH Terima kasih kepada para kontributor yang telah meluangkan waktunya pendukung yang telah membantu terbitnya Buku “Peningkatan Kualitas Ekonomi”sebagai Penyelenggaraan Pemerintahan dan Pembangunan Daerah. sH. MT. MM. MM. Jamiat Aries Calfat.. Erny Murniasih. MA. sE.. Anny Ratnawati. menyusun materi. Ak. Dr.. sH..sc. Drs. Drs. sE.Ak. MA. sH... Heru sE. Wendy Julianti. SE. Agung .. sE. Prof. Marwanto Harjowiryono. Ahmad membantu proses pengumpulan naskah editing sampai setting. Matheus Agus Kristianto. MFM. Zainatun. Dr. Nafi. MA. SE. Mu’Am.D. Brodjonegoro. Drs. Ph. s. sH. Ak. Helmy Rukmana. ubaidi socheh Hamidi. Ak... SE. M...

pihak yang tidak bisa disebut satu-persatu. V-290 Penutup . Kepada semuanya sekali lagi kami ucapkan terima kasih atas kerja kerasnya.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful