You are on page 1of 28

Perbandingan Standar Akuntansi Berbasis Kas Menuju Akrual dengan Standar Akuntansi

Berbasis Akrual

Seminar Akuntansi Pemerintah

Agung Wisnugroho -02Ahmad Cindera Tanio Zulhendrizal Dwi Mahendra Efendi Arianto P -03-10-32-37-

Sekolah Tinggi Akuntansi Negara Tangerang

A. Pengantar Sesuai dengan amanat Undang-Undang Keuangan Negara, Pemerintah

telah menetapkan Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 24 Tahun 2005 tentang Standar Akuntansi Pemerintahan. Standar Akuntansi Pemerintahan tersebut menggunakan basis kas untuk pengakuan transaksi pendapatan, belanja dan pembiayaan, dan basis akrual untuk pengakuan aset, kewajiban, dan ekuitas dana. Namun, penerapan Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 24

Tahun 2005 masih bersifat sementara sebagaimana diamanatkan dalam Pasal 36 ayat (1) Undang - Undang Nomor 17 Tahun 2003 tentang Keuangan Negara yang menyatakan bahwa selama pengakuan dan pengukuran pendapatan dan belanja berbasis akrual belum dilaksanakan, digunakan pengakuan dan pengukuran berbasis kas. Pengakuan dan pengukuran pendapatan dan belanja berbasis akrual menurut Pasal 36 ayat (1) UndangUndang Nomor 17 Tahun 2003 dilaksanakan paling lambat lima tahun. Oleh karena itu, Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 24 Tahun 2005 perlu diganti. Diterbitkannya Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 71 tahun 2010 tentang Standar Akuntansi Pemerintahan, yang selanjutnya akan disebut PP 71 2010, berbuah keputusan penghapusan Standar Akuntansi Pemerintahan Berbasis Kas Menuju Akrual dan penerapan Standar Akuntansi Pemerintahan (SAP) Berbasis Akrual secara penuh mulai tahun 2015.

B. Tujuan Penulisan Paper ini disusun untuk memenuhi tugas pertemuan kedua mata kuliah Seminar Akuntansi Pemerintah. Dalam paper ini kelompok kami hanya akan membahas tentang perbandingan antara standar akuntansi berbasis kas menuju akrual dengan standar akuntansi berbasis akrual, seperti yang terdapat di dalam PP Nomor 71 Tahun 2010 Tentang Standar Akuntansi Pemerintah.

BAB II
LANDASAN TEORI Undang-Undang Nomor 22 Tahun 1999 yang diberlakukan semenjak 1 Januari 2001 telah mengakibatkan terjadinya perubahan yang sangat besar dalam sistem pemerintahan di Indonesia yakni munculnya otonomi daerah. Pemerintah Daerah diberikan wewenang dan peran yang cukup besar untuk mengurus dirinya sendiri. Dalam hal keuangan, sebagaimana diatur dalam Undang-Undang tentang Perimbangan Keuangan Pusat-Daerah yang menetapkan berbagai aturan tentang pengelolaan dan pertanggungjawaban Keuangan Daerah. Peraturan Pemerintah ini secara rinci memuat berbagai ketentuan penggunaan Keuangan Daerah yang diperoleh dari berbagai sumber penerimaan, mulai dari perencanaan sampai pertanggungjawaban dan pengawasan. Dari paparan tersebut jelas bahwa sistem pengawasan dan pertanggungjawaban sangat dititikberatkan, dalam hal ini sistem akuntansi yang kredibel dan akuntabel. Sebagaimana disebutkan dalam PP 71 2010 Pasal 1 ayat (8) bahwa yang dimaksud dengan SAP Berbasis Akrual adalah SAP yang mengakui pendapatan, beban, aset, utang, dan ekuitas dalam pelaporan finansial berbasis akrual, serta mengakui pendapatan, belanja, dan pembiayaan dalam pelaporan pelaksanaan anggaran

berdasarkan basis yang ditetapkan dalam APBN atau APBD. Laporan keuangan yang dihasilkan dari penerapan SAP Berbasis Akrual dimaksudkan untuk memberi manfaat lebih baik bagi para pemangku kepentingan, baik para pengguna maupun pemeriksa laporan keuangan pemerintah, dibandingkan dengan biaya yang dikeluarkan. Hal ini sejalan dengan salah satu prinsip akuntansi yaitu bahwa biaya yang dikeluarkan sebanding dengan manfaat yang diperoleh. Tak hanya itu, peningkatan kualitas informasi pelaporan keuangan pemerintah baik pusat dan daerah akan menjadi semakin baik lewat pelaporan keuangan yang dihasilkan basis akrual. Sedangkan pengukuran kinerja dapat dilihat dengan lebih objektif serta mampu memfasilitasi manajemen keuangan atau aset dengan lebih transparan dan akuntabel sehingga kepercayaan publik akan meningkat. Lewat terobosan baru yang ditawarkan, Pemerintah Daerah sebagai agen pemerintah yang mandiri diharapkan mampu menyelesaikan berbagai masalah yang kerap menghantui seperti misalnya realisasi pemerintah daerah yang seringkali melebihi ataupun lebih rendah dari hak daerah yang bersangkutan, atau sebut saja adanya kewajiban kepada pihak ketiga yang belum dibayar pada akhir tahun akibat tidak sesuainya realisasi

pendapatan

dari

yang direncanakan

sehingga

daerah

yang

bersangkutan

harus

menghadapi defisit dana untuk membiayai belanjanya. Perubahan menuju arah yang lebih baik ini bukan berarti hadir tanpa masalah. Pertanyaan dan pro-kontra soal siap atau tidak siapkah Indonesia

mengimplementasikan SAP Berbasis Akrual ini terus timbul di segala kalangan. Hal yang paling baku muncul di benak masyarakat terlebih pada soal sumber daya manusia. Penerapan SAP Berbasis Kas Menuju Akrual yang telah dilaksanakan sampai dengan saat ini saja belum sepenuhnya dipahami dengan baik oleh sebagian pengelola keuangan di daerah. Lalu, mampukah Pemerintah Daerah ketika dijejali oleh sesuatu yang merupakan modifikasi sistem yang lebih baik? Apakah SDM pengelola keuangan di instansi-instansi dalam negeri kita terbilang sudah memiliki kemampuan yang mumpuni? Selanjutnya seperti yang sudah-sudah terjadi, perubahan sistem diikuti pula dengan pembengkakan pada anggaran belanja daerah. Pemerintah Daerah sendiri mengharapkan bahwa penerapan SAP Berbasis Akrual ini nantinya tidak menjadi senjata makan tuan yang justru mengancam stabilitas keuangan daerah. Dalam PP 71 2010 sendiri disebutkan dalam sebuah poin khusus bahwa apabila sebuah entitas belum siap melaksanakan SAP Berbasis Akrual saat ini, mereka masih diperkenankan menggunakan SAP Berbasis Kas Menuju Akrual selama masa transisi empat tahun. Diharapkan waktu yang cukup panjang ini dapat dimanfaatkan untuk meramu solusi agar masalah-masalah yang sekiranya menghambat mampu diselesaikan dengan segera dan memantapkan langkah agar sistem baru yang cukup baik ini dapat dimanfaatkan dengan efisien.

BAB III PERBANDINGAN STANDAR AKUNTANSI BERBASIS KAS MENUJU AKRUAL DENGAN STANDAR AKUNTANSI BERBASIS AKRUAL
Pada tanggal 22 Oktober 2010, diterbitkan Peraturan Pemerintah Nomor 71 Tahun 2010 tentang Standar Akuntansi Pemerintahan menggantikan Peraturan Pemerintah Nomor 24 Tahun 2005 tentang Standar Akuntasi Pemerintahan. Jika pada PP Nomor 24 Tahun 2005 diatur mengenai Standar Akuntansi Pemerintahan (SAP) Berbasis Kas Menuju Akrual maka pada Peraturan Pemerintah Nomor 71 Tahun 2010 terbagi atas 2 (dua) lampiran yaitu (SAP) berbasis Akrual dan berbasis Kas Menuju Akrual. Di bawah ini disajikan Pokok-Pokok Perbedaan SAP Berbasis Kas Menuju Akrual dengan SAP Berbasis Akrual. A. KERANGKA KONSEPTUAL AKUNTANSI PEMERINTAH Keterangan Penyusutan asset tetap Kas Menuju Akrual Tidak diuraikan dalam kerangka konseptual Akrual Aset yang digunakan pemerintah, kecuali beberapa aset tertentu seperti tanah, mempunyai masa manfaat dan kapasitas yang terbatas. Seiring dengan penurunan kapasitas dan manfaat dari suatu aset (Par 16) Entias pelaporan dan akuntansi Belum ada uraian mengenai Entitas Akuntansi Terdapat uraian mengenai Entitas Akuntansi disamping Entitas Pelaporan (Par 21) Entitas Pelaporan Entitas Pelaporan meliputi: a. Pemerintah Pusat; b. Pemerintah Daerah; dan c. satuan organisasi di lingkungan Pemerintah Pusat/Daerah atau organisasi lainnya yang diwajibkan menyajikan LK menurut peraturan Per-UUan (Par 19) Peranan laporan keuangan Pelaporan diperlukan untuk kepentingan: Pelaporan diperlukan untuk kepentingan: Selain sebagaimana disebutkan pada CTA, ditegaskan pula bahwa entitas pelaporan termasuk kementerian negara atau lembaga di lingkungan pemerintah pusat (Par 22)

a. Akuntabilitas; b. Manajemen; c. Transparansi; dan d. Keseimbangan antar generasi (Par 22)

a. Akuntabilitas; b. Manajemen; c. Transparansi; dan d. Keseimbangan antar generasi e. Evaluasi Kinerja (Par 25)

Komponen laporan keuangan

Lapkeu pokok: a. LRA b. Neraca c. Lap. Arus kas d. CaLK Laporan opsional: a. Lap. Kinerja keuangan b. Lap. Perubahan ekuitas

Lap. Pokok: a. LRA b. Laporan Perubahan SAL c. Neraca d. Laporan Operasional (LO) e. LAK f. Laporan Perubahan Ekuitas (LPE) g. CaLK (Par 28)

Unsur lapkeu

a. LRA: Pendapatan Belanja Transfer Pembiayaan

Laporan Pelaksanaan Anggaran a. LRA: Pendapatan-LRA Belanja Transfer Pembiayaan

b. Neraca Aset Kewajiban Ekuitas dana (lancer, investasi, cadangan) c. Laporan Kinerja Keuangan Laporan realisasi pendapatan dan belanja (basis akrual, opsional) d. Laporan Perubahan Ekuitas Kenaikan dan penurunan ekuitas tahun pelaporan dibandingkan tahun sebelumnya (opsional) e. Laporan Arus Kas

b. Laporan perubahan SAL Laporan Finansial a. Neraca Aset Kewajiban Ekuitas

b. Laporan Operasional Pendapatan-LO Beban Transfer Pos Luar Biasa

c. Kaporan Perubahan Ekuitas Kenaikan dan penurunan ekuitas

f.

Penerimaan kas Pengeluaran kas

tahun pelaporan dibandingkan tahun sebelumnya d. Laporan Arus Kas Penerimaan kas Pengeluaran kas

Catatan atas Laporan Keuangan

e. Catatan atas laporan keuangan Pengakuan Pendapatan Basis Akrual: diakui saat timbulnya hak atas pendapatan tersebut atau ada aliran masuk sumber daya ekonomi. Basis Kas: diakui saat kas diterima di Rekening Kas Umum Negara/Daerah atau oleh entitas pelaporan Pengakuan Belanja dan Beban Basis Akrual: diakui pada saat timbulnya kewajiban atau pada saat diperoleh manfaat. Basis Kas: diakui saat terjadinya pengeluaran dari Rekening Kas Umum Negara/Daerah atau entitas pelaporan Pendapatan-LO: diakui saat timbulnya hak atas pendapatan tersebut atau ada aliran masuk sumber daya ekonomi. Pendapatan_LRA: diakui saat kas diterima di Rekening Kas Umum Negara/Daerah atau oleh entitas pelaporan Belanja: diakui berdasarkan terjadinya pengeluaran dari Rekening KUN/Daerah atau entitas pelaporan. Beban: diakui saat timbulnya kewajiban, terjadi konsumsi aset, atau terjadinya penurunan manfaat ekonomi atau potensi jasa. Pengakuan Aset dan Kewajiban Menggunakan nilai perolehan Historis. Aset: dicatat sebesar pengeluaran kas dan setara kas atau sebesar nilai wajar dari imbalan yang diberikan untuk memperoleh aset tersebut Kewajiban: dicatat sebesar nilai nominal Menggunakan nilai perolehan Historis. Aset: dicatat sebesar pengeluaran/ penggunaan sumber daya ekonomi atau sebesar nilai wajar dari imbalan yang diberikan untuk memperoleh aset tersebut Kewajiban: dicatat sebesar nilai wajar sumber daya ekonomi yang digunakan pemerintah untuk memenuhi kewajiban yang bersangkutan.

B. PSAP 01 - PENYAJIAN LAPORAN KEUANGAN Keterangan Basis Akuntansi Kas Menuu Akrual Akrual

Basis Kas untuk pengakuan pos- Basis akrual penuh pos pendapatan, belanja, dan

pembiayaan; dan Basis Akrual untuk pengakuan pos-pos aset, kewajiban, dan

ekuitas dana. Penggunaan sepenuhnya basis

akrual bersifat optional Definisi Pendapatan adalah semua Pendatapan-LRA: semua

penerimaan Rekening Kas Umum penerimaan Rekening Kas Umum Negara/Daerah yang menambah Negara/Daerah yang menambah ekuitas dana lancar dalam periode Saldo tahun anggaran yang periode Anggaran tahun Lebih anggaran dalam yang

bersangkutan yang menjadi hak bersangkutan yang menjadi hak pemerintah, dan tidak perlu dibayar pemerintah, dan tidak perlu dibayar kembali oleh pemerintah. kembali oleh pemerintah. Pendapatan-LO: hak pemerintah pusat/daerah yang diakui sebagai penambah ekuitas dalam periode tahun anggaran dan tidak yang perlu

bersangkutan dibayar kembali.

Belanja: semua pengeluaran dari Belanja: semua pengeluaran dari Rekening Kas Umum Rekening Kas Umum

Negara/Daerah yang mengurangi Negara/Daerah yang mengurangi ekuitas dana lancar dalam periode SAL tahun yang anggaran tidak dalam periode tahun

bersangkutan anggaran bersangkutan yang tidak diperoleh akan diperoleh pembayarannya manfaat

akan

pembayarannya pemerintah.

kembali

oleh kembali oleh pemerintah. Beban: penurunan

ekonomi atau potensi jasa dalam periode pelaporan yang

menurunkan ekuitas, yang dapat berupa pengeluaran atau konsumsi aset atau timbulnya kewajiban. Surplus/Defisit: lebih/kurang antara selisih Surplus/Defisit-LRA: selisih

pendapatan lebih/kurang antara pendapatan-

dan belanja selama satu periode LRA dan belanja selama satu pelaporan. periode pelaporan. Surplus/Defisit-LO: selisih antara pendapatan-LO dan beban selama satu periode pelaporan, setelah diperhitungkan surplus/ defisit dari kegiatan non operasional dan pos luar biasa. Penyusutan adalah penyesuaian Penyusutan adalah alokasi yang nilai sehubungan dengan sistematis atas nilai yang dapat suatu aset disusutkan

penurunan kapasitas dan manfaat tetap dari suatu asset.

selama masa manfaat aset yang bersangkutan.

---

Pos

luar

biasa:

pendapatan/

beban luar biasa yg terjadi karena kejadian atau transaksi yg bukan merupakan operasi biasa, tidak diharapkan sering atau rutin terjadi, dan berada di luar kendali atau pengaruh entitas bersangkutan. --SAL adalah gunggungan saldo yang berasal dari akumulasi tahun-tahun

SiLPA/SiKPA

anggaran sebelumnya dan tahun berjalan serta penyesuaian lain yang diperkenankan. Informasi Lapkeu Laporan keuangan menyediakan Laporan keuangan menyediakan informasi mengenai entitas informasi mengenai entitas

pelaporan dalam hal: Aset Kewajiban

pelaporan dalam hal: Aset Kewajiban

Ekuitas dana PendapatanBelanja Transfer Pembiayaan, dan Arus kas.

Ekuitas Pendapatan-LRA Belanja Transfer Pembiayaan SAL Pendapatan-LO Beban, dan Arus kas entitas pelaporan

Penyajian Komponen Setiap Lapkeu menyajikan

entitas

pelaporan Setiap

komponen-komponen menyajikan

komponen-komponen

laporan keuangan tersebut kecuali LAK yang hanya disajikan oleh unit yang mempunyai

laporan keuangan tersebut kecuali :

fungsi LAK yang hanya disajikan oleh entitas yang mempunyai fungsi perbendaharaan umum; Laporan Perubahan SAL yang hanya disajikan oleh Bendahara Umum Negara dan entitas

perbendaharaan

pelaporan yang menyusun laporan keuangan konsolidasiannya.

Entitas pusat

pelaporan juga

pemerintah SAL

menyajikan

Pemerintah yang mencakup Saldo Anggaran Lebih tahun

sebelumnya, penggunaan Saldo Anggaran Lebih, SiLPA/SiKPA

tahun berjalan, dan penyesuaian lain yang diperkenankan

Entitas

pelaporan

menyajikan

kekayaan bersih pemerintah yang mencakup surplus/defisit bersangkutan, dan ekuitas awal, periode dampak

kumulatif

akibat

perubahan

kebijakan dan kesalahan mendasar Laporan Realisasi Diperlukan dalam rangka Tetap diperlukan dalam rangka

Anggaran (LRA)

memenuhi kewajiban pemerintah memenuhi kewajiban pemerintah yang diatur dalam peraturan yang diatur dalam peraturan

perundangan (statutory) Laporan SAL Perubahan Tidak ada laporan tersendiri

perundangan (statutory) Laporan menyajikan Perubahan secara SAL

komparatif

dengan periode sebelumnya pospos berikut: a. Saldo awal b. Penggunaan Anggaran Lebih c. Sisa Pembiayaan tahun berjalan d. Koreksi Pembukuan Sebelumnya, dan e. Lain-lain f. Saldo Akhir. Neraca Ekuitas Dana terbagi; Hanya Ekuitas, yaitu kekayaan Anggaran Lebih Kesalahan tahun Lebih/Kurang Anggaran Saldo Anggaran Lebih

ED Lancar: selisih antara aset bersih pemerintah yang merupakan lancar dan kewajiban jangka selisih antara aset dan kewajiban pemerintah pada tanggal laporan.

pendek, termasuk SiLPA/SAL ED Investasi: mencerminkan

kekayaan

pemerintah

yang Saldo ekuitas di Neraca berasal saldo akhir ekuitas pada

tertanam dalam investasi jangka dari

panjang, aset tetap, dan aset Laporan Perubahan Ekuitas lainnya, ED dikurangi dengan

kewajiban jangka panjang Cadangan: mencerminkan yang

kekayaan

pemerintah

dicadangkan untuk tujuan tertentu

sesuai

dengan

peraturan

perundang-undangan. Laporan Arus Kas Disajikan oleh unit yang Disajikan oleh unit yang

mempunyai fungsi perbendaharaan. mempunyai fungsi perbendaharaan umum Arus Kas diklasifikasikan aktivitas operasi, Arus masuk dan keluar kas berdasarkan

investasi aset non keuangan, diklasifikasikan pembiayaan, dan non anggaran. aktivitas operasi,

berdasarkan investasi,

pendanaan, dan transitoris. Laporan Kinerja LKK Bersifat optional, disusun oleh Merupakan Laporan menyajikan Keuangan pos-pos

Keuangan (LKK) dan entitas pelaporan yang menyajikan Pokok,

Laporan Operasional laporan berbasis akrual. Sekurang- sebagai berikut: (LO) kurangnya menyajikan pos-pos: a. Pendapatan dari kegiatan operasional b. Beban berdasarkan a. Pendapatan-LO kegiatan operasional b. Beban dari kegiatan dari

operasional c. Surplus/defisit dari Kegiatan Non Operasional (bila ada) d. Pos luar biasa (bila ada) e. Surplus/defisit-LO.

klasifikasi fungsional dan klasifikasi ekonomi c. Surplus atau defisit.

Laporan Ekuitas

Perubahan Bersifat

optional,

sekurang- Merupakan Pokok

Laporan

Keuangan

kurangnya menyajikan pos-pos: a. SiLPA/SiKPA b. Setiap pos pendapatan dan belanja beserta totalnya

sekurang-kurangnya

menyajikan pos-pos: a. Ekuitas awal b. Surplus/defisit-LO periode bersangkutan c. Koreksi-koreksi langsung menambah/mengurangi atas ekuitas, misalnya: koreksi kesalahan mendasar dari persediaan pada yang terjadi yang pada

seperti diisyaratkan dalam standar-standa yang diakui lainnya, secara

langsung dalam ekuitas c. Efek kumulatif

perubahan akuntansi dan

kebijakan koreksi

kesalahan yang mendasar diatur dalam suatu standar terpisah .

periode-periode

sebelumnya dan perubahan nilai aset tetap karena

revaluasi aset tetap d. Ekuitas akhir. Catatan atas Disajikan secara sistematis. Setiap Disajikan secara sistematis. Setiap pos dalam LRA, Neraca, LAK pos harus mempunyai referensi silang dalam LRA, SAL, Laporan LO, Perubahan Neraca,

Laporan Keuangan

dengan informasi terkait dalam LAK, dan LPE harus mempunyai Catatan atas Laporan Keuangan. referensi silang dengan informasi terkait dalam CaLK. CaLK meliputi penjelasan atau meliputi penjelasan atau

daftar terinci atau analisis atas nilai CaLK

suatu pos yang disajikan dalam daftar terinci atau analisis atas nilai LRA, Neraca, dan LAK suatu pos yang disajikan dalam LRA, Laporan Perubahan SAL, Neraca, LO, LAK, dan LPE.

C. PSAP 02 - LAPORAN REALISASI ANGGARAN BERBASIS KAS Keterangan Basis Akuntansi Definisi Kas Menuju Akrual LRA berbasis kas --Akrual LRA berbasis kas SAL adalah gunggungan saldo yang berasal dari akumulasi tahun-tahun

SiLPA/SiKPA

anggaran sebelumnya dan tahun berjalan serta penyesuaian lain yang diperkenankan Akuntansi Pendapatan Tidak ada pengecualian asas bruto Pengecualian asas bruto: dalam hal besaran pengurang terhadap pendapatan-LRA bersifat bruto (biaya) terhadap

variabel

pendapatan dimaksud dan tidak dapat dianggarkan terlebih dahulu dikarenakan proses belum selesai, maka asas bruto dapat

dikecualikan. Akuntansi SiLPA/SiKPA SILPA/SIKPA pada akhir periode SILPA/SIKPA pada akhir periode pelaporan dipindahkan ke Neraca pelaporan dipindahkan ke Laporan

Ekuitas Dana Lancar Transaksi dalam Mata Penjabaran mata uang asing ke Uang Asing dalam mata uang rupiah

Perubahan SAL a. Dalam hal tersedia dana dalam mata uang asing

menggunakan kurs tengah bank sentral pada tanggal transaksi

yang sama dengan yang digunakan dalam transaksi, maka penjabaran ke dalam mata uang rupiah berdasarkan kurs tengah bank sentral pada tanggal transaksi. b. Dalam hal tidak tersedia dana asing dalam yang mata uang

digunakan

dalam transaksi dan mata uang asing tersebut dibeli dengan asing rupiah, tersebut maka dicatat

transaksi dalam mata uang dalam rupiah berdasarkan kurs sebesar digunakan memperoleh valuta tersebut. c. Dalam hal tidak tersedia dana dalam mata uang transaksi, rupiah yaitu yang untuk asing

asing yang digunakan untuk bertransaksi dan mata uang asing tersebut dibeli dengan mata uang asing lainnya, maka: Transaksi asing ke mata mata uang uang

asing lainnya dijabarkan dengan menggunakan

kurs transaksi;

Transaksi dalam mata uang asing lainnya

tersebut dicatat dalam rupiah kurs sentral berdasarkan tengah pada bank tanggal

transaksi. Transaksi Transaksi pendapatan, belanja, ---

Pendapatan, Belanja, dan pembiayaan dalam bentuk dan Pembiayaa dalam barang dan jasa harus dilaporkan Bentuk Barang dan dalam LRA dengan cara menaksir Jasa nilai barang dan jasa tersebut pada tanggal transaksi. Contoh: hibah dalam wujud

barang, barang rampasan, dan jasa konsultansi

D. PSAP 03 - LAPORAN ARUS KAS

Keterangan LRA

Kas Menuju Akrual Diperlukan, karena merupakan laporan pertanggungjawaban dari unit yang mempunyai fungsi perbendaharaan

Akrual Tetap diperlukan, karena merupakan laporan pertanggungjawaban dari unit yang mempunyai fungsi perbendaharaan umum

Pengklasifikasian aktivitas dalam LAK

Aktivitas operasi, investasi aset non keuangan, pembiayaan dan non anggaran

Aktivitas operasi, investasi, pendanaan dan transitoris

Format LAK

(Pemerintah Pusat) 1. Kenaikan/Penurunan Kas 2. S.Awal Kas di BUN 3. S.Akhir Kas di BUN 4. S.Akhir Kas di B.Pengeluaran 4. S.Akhir Kas di B.Penerimaan 5. S.Akhir Kas

(Pemerintah Pusat) 1. Kenaikan/Penurunan Kas 2. S.Awal Kas di BUN+Kas di B.Pengel 3. S.Akhir Kas di BUN+Kas di B.Pengel 4. S.Akhir Kas di B.Pener

5. S.Akhir Kas

E. PSAP 04 - CATATAN ATAS LAPORAN KEUANGAN Keterangan Ruang Lingkup Kas Menuju Akrual Meliputi terinci/analisis Akrual

penjelasan/daftar Meliputi penjelasan/ atas suatu pos daftar terinci/analisis atas suatu pos dalam LRA, Laporan

dalam LRA, Neraca dan LAK

Perubahan SAL, Neraca, LO, LAK dan Laporan Perubahan Ekuitas Kebijakan-kebijakan akuntansi yang perlu dipertimbangkan untuk disajikan Antara lain: Pengakuan pendapatan Pengakuan belanja Antara lain pengakuan: Pengungkapan informasi utk pos-pos aset yang sehubungan penerapan akrual & kewajiban timbul dg basis atas Ada Tidak ada pendapatan-LRA pendapatan-LO Belanja Beban

pendapatan & belanja dan rekonsiliasinya dg penerapan basis kas

F. PSAP 05 - AKUNTANSI PERSEDIAAN Keterangan Pencatatan Dicatat Kas Menuju Akrual berdasarkan hasil Catatan Akrual persediaan disesuaikan

persediaan pada akhir inventarisasi fisik periode akuntansi Penilaian Persediaan

dengan hasil inventarisasi fisik

Nilai pembelian yang digunakan Metode yg dapat digunakan: adalah biaya perolehan persediaan yang terakhir diperoleh Metode (FIFO atau Sistematis rata-rata

tertimbang)

Harga terakhir

pembelian

Beban Persediaan

Tidak ada

Terdapat bagian yang mengatur mengenai beban persediaan : a. Dicatat sebesar pemakaian Persediaan b. Dalam rangka penyajian LO c. Pengukuran secara periodic persediaan dan

perpetual

G. PSAP 06 - AKUNTANSI INVESTASI Keterangan Isi peraturan Kas Menuju Akrual Tidak Ada Paragraf 34 Diskonto atau premi pada pembelian investasi diamortisasi selama periode dari pembelian sampai saat jatuh tempo sehingga hasil yang konstan diperoleh dari investasi tersebut. Paragraf 35 Diskonto atau premi yang diamortisasi tersebut dikreditkan atau didebetkan pada pendapatan bunga, sehingga merupakan penambahan atau pengurangan dari nilai tercatat investasi (carrying value) tersebut. Isi peraturan Hasil investasi berupa dividen tunai yang diperoleh dari penyertaan modal pemerintah Hasil investasi berupa dividen tunai yang diperoleh dari penyertaan modal pemerintah yang Akrual

yang pencatatannya menggunakan pencatatannya menggunakan metode biaya, dicatat sebagai pendapatan hasil investasi. metode biaya, dicatat sebagai pendapatan hasil investasi.

Sedangkan apabila menggunakan

Sedangkan apabila menggunakan

metode ekuitas, bagian laba yang diperoleh oleh pemerintah akan dicatat mengurangi nilai investasi pemerintah dan tidak dicacat sebagai pendapatan hasil investasi. Kecuali untuk dividen dalam bentuk saham yang diterima akan menambah nilai investasi pemerintah dan ekuitas dana yang diinvestasikan dengan jumlah yang sama. Penyajian keuntungan/rugi atas selisih pelepasan investasi dalam laporan operasional Tidak ada

metode ekuitas, bagian laba berupa dividen tunai yang diperoleh oleh pemerintah dicatat sebagai pendapatan hasil investasi dan mengurangi nilai investasi pemerintah. Dividen dalam bentuk saham yang diterima tidak akan menambah nilai investasi pemerintah.

Penyajian keuntungan/rugi atas selisih pelepasan investasi dalam laporan operasional (par 41 s.d. 42, PP 71/2010)

H. PSAP 07 - AKUNTANSI ASET TETAP

Keterangan Pengakuan perolehan aset tetap melalui donasi

Kas Menuju Akrual Perolehan suatu aset tetap yang memenuhi kriteria perolehan aset donasi, maka perolehan tersebut diakui sebagai pendapatan pemerintah dan belanja modal dalam jumlah yang sama dalam LRA (par 49, PP 24/2005)

Akrual Perolehan suatu aset tetap yang memenuhi kriteria perolehan aset donasi, maka perolehan tersebut diakui sebagai pendapatan operasional (par 48, PP 71/2010)

I.

PSAP 08 - AKUNTANSI KONSTRUKSI DALAM PENGERJAAN

Tidak ada perbedaan substansi akuntansi Konstruksi Dalam Pengerjaan antara PP 24 (Cash Towards Accrual) dan PP 71 (Akrual)

Keterangan Tujuan

Kas Menuju Akrual

Akrual

Tujuan Pernyataan Standar KDP Tujuan Pernyataan Standar KDP adalah mengatur perlakuan adalah mengatur perlakuan

akuntansi untuk konstruksi dalam akuntansi untuk konstruksi dalam pengerjaan dengan metode nilai pengerjaan historis. Ruang Lingkup Masalah utama akuntansi untuk Masalah utama akuntansi untuk KDP adalah jumlah biaya yang KDP adalah jumlah biaya yang diakui sebagai asset yang harus diakui sebagai asset yang harus dicatat sampai dengan konstruksi dicatat sampai dengan konstruksi tersebut selesai dikerjakan Definisi tersebut selesai dikerjakan Aset adalah sumber daya ekonomi yang dikuasai dan/atau dimiliki oleh pemerintah sebagai akibat dari

peristiwa masa lalu dan dari mana manfaat ekonomi dan/atau sosial di masa depan diharapkan dapat

diperoleh, baik oleh pemerintah maupun masyarakat serta dapat diukur termasuk dalam satuan daya uang non

sumber

keuangan yang diperlukan untuk penyediaan jasa bagi masyarakat umum dan sumber-sumber daya yang dipelihara karena alasan

sejarah dan budaya Aset tetap adalah aset berwujud yang mempunyai masa manfaat lebih dari 12 (dua belas) bulan untuk digunakan, untuk atau digunakan,

dimaksudkan

dalam kegiatan pemerintah atau dimanfaatkan umum oleh masyarakat

J. PSAP 09 - AKUNTANSI KEWAJIBAN Keterangan Definisi Kas Menuju Akrual Amortisasi sistematis diskonto adalah dari selama premium umur Akrual alokasi Amortisasi utang adalah alokasi atau sistematis utang diskonto pemerintah dari selama premium umur atau utang

pemerintah.

Nilai

Nominal

adalah

nilai Nilai

Nominal

adalah

nilai

kewajiban pemerintah pada saat kewajiban pemerintah pada saat pertama kali transaksi berlangsung pertama kali transaksi berlangsung seperti nilai yang tertera pada seperti nilai yang tertera pada lembar surat utang pemerintah. lembar surat utang pemerintah. Aliran ekonomi setelahnya, seperti transaksi pembayaran, perubahan penilaian dikarenakan perubahan kurs valuta asing, dan perubahan lainnya pasar, selain perubahan nilai

diperhitungkan nilai

dengan tercatat

menyesuaikan kewajiban tersebut Klasifikasi Kewajiban Setiap

entitas

pelaporan Setiap setiap

entitas

pelaporan setiap pos

mengungkapkan

pos mengungkapkan

kewajiban yang mencakup jumlah- kewajiban yang mencakup jumlahjumlah yang diharapkan akan jumlah yang diharapkan setelah akan tanggal

diselesaikan dalam waktu 12 (dua diselesaikan belas) bulan dan lebih dari 12 (dua pelaporan. belas) bulan setelah tanggal

pelaporan. Pengakuan Kewajiban Kewajiban diakui pada saat dana Kewajiban diakui pada saat dana pinjaman diterima dan/atau pada pinjaman diterima oleh pemerintah saat kewajiban timbul. atau sesuai dan/atau timbul. Pengukuran Kewajiban Belum ada pengukuran untuk Utang Transfer adalah kewajiban suatu entitas pelaporan untuk dikeluarkan dengan pada oleh kreditur

kesepakatan, saat kewajiban

utang transfer

melakukan entitas ketentuan

pembayaran sebagai

kepada akibat

lain

perundang-undangan.

Utang transfer diakui dan dinilai sesuai berlaku Perubahan Asing Valuta Pada setiap tanggal neraca pos Pada setiap tanggal neraca pos kewajiban moneter dalam mata utang pemerintah dalam mata uang uang asing dilaporkan ke dalam asing dilaporkan ke dalam mata mata uang rupiah dengan uang rupiah dengan menggunakan dengan peraturan yang

menggunakan kurs tengah bank kurs tengah bank sentral pada sentral pada tanggal neraca tanggal neraca.

Selisih penjabaran pos kewajiban Selisih

penjabaran

pos

utang

moneter dalam mata uang asing pemerintah dalam mata uang asing antara tanggal transaksi dan antara tanggal neraca transaksi dicatat dan

tanggal neraca dicatat sebagai tanggal

sebagai

kenaikan atau penurunan ekuitas kenaikan atau penurunan ekuitas dana periode berjalan. dana periode berjalan.

Penyelesaian Kewajiban Jatuh Tempo

Untuk sekuritas utang pemerintah Untuk sekuritas utang pemerintah Sebelum yang diselesaikan sebelum jatuh yang diselesaikan sebelum jatuh tempo karena adanya fitur untuk tempo karena adanya fitur untuk ditarik oleh penerbit (call feature) ditarik oleh penerbit (call feature) dari sekuritas tersebut atau karena dari sekuritas tersebut atau karena memenuhi penyelesaian pemegangnya persyaratan oleh maka untuk memenuhi persyaratan oleh untuk

permintaan penyelesaian

permintaan

perbedaan pemegangnya maka selisih antara

antara harga perolehan kembali harga perolehan kembali dan nilai dan nilai tercatat netonya harus tercatat netonya harus disajikan diungkapkan pada Catatan atas pada Laporan Operasional dan Laporan Keuangan sebagai bagian diungkapkan pada Catatan atas dari pos kewajiban yang berkaitan. Laporan Keuangan sebagai bagian dari pos kewajiban yang berkaitan. Apabila harga perolehan kembali Apabila harga perolehan kembali adalah sama dengan nilai tercatat adalah sama dengan nilai tercatat

(carrying

value)

maka (carrying value) maka penyelesaian

penyelesaian kewajiban sebelum kewajiban sebelum jatuh tempo jatuh tempo dianggap sebagai dianggap sebagai penyelesaian

penyelesaian utang secara normal, utang secara normal, yaitu dengan yaitu dengan menyesuaikan menyesuaikan jumlah kewajiban

jumlah kewajiban dan ekuitas dana dan aset yang berhubungan. yang berhubungan. Penyelesaian Kewajiban Jatuh Tempo Apabila harga perolehan kembali Apabila harga perolehan kembali Sebelum tidak sama dengan nilai tercatat tidak sama dengan nilai tercatat (carrying value) maka, selain (carrying value) maka, selain

penyesuaian jumlah kewajiban dan penyesuaian jumlah kewajiban dan ekuitas dana yang terkait, jumlah aset perbedaan yang ada yang terkait, jumlah

juga perbedaan yang ada juga disajikan

diungkapkan pada Catatan atas dalam Laporan Operasional pada Laporan Keuangan. pos Surplus/Defisit dari Kegiatan Non Operasional dan diungkapkan pada Catatan atas Laporan

Keuangan. Restrukturisasi Utang Penjelasan mengenai bentuk Restrukturisasi dapat berupa: (a) Pembiayaan kembali yaitu mengganti termasuk utang lama

restrukturisasi terdapat di bagian definisi

tunggakan

dengan utang baru; atau (b) Penjadwalan modifikasi utang yaitu ulang atau

persyaratan mengubah dan kondisi

persyaratan

kontrak perjanjian yang ada. Biaya-biaya yang Biaya-biaya yang berhubungan Biaya-biaya yang berhubungan

berhubungan dengan dengan utang pemerintah adalah dengan utang pemerintah adalah Utang Pemerintah biaya bunga dan biaya lainnya biaya bunga dan biaya lainnya yang timbul dalam kaitan dengan yang timbul dalam kaitan dengan peminjaman dana. Biaya-biaya peminjaman dana. Biaya-biaya

dimaksud meliputi: (a) Bunga dana atas

dimaksud meliputi: penggunaan (a) Bunga baik dan provisi dana atas

pinjaman,

penggunaan

pinjaman,

pinjaman

jangka

pendek

baik pinjaman jangka pendek maupun jangka panjang; fee atas dana

maupun jangka panjang;

(b) Amortisasi diskonto atau (b) Commitment premium yang terkait

pinjaman yang belum ditarik, (c) Amortisasi diskonto atau

dengan pinjaman, (c) Amortisasi biaya yang

premium yang terkait dengan pinjaman, kapitalisasi biaya

terkait dengan perolehan pinjaman konsultan, commitment sebagainya . (d) Perbedaan nilai tukar pada pinjaman uang dengan sejauh seperti ahli fee,

biaya (d) Amortisasi hukum, dan

yang terkait dengan perolehan pinjaman konsultan, sebagainya nilai tukar pada seperti ahli hukum, biaya dan

mata (e) Perbedaan hal

asing

pinjaman dengan mata uang asing sejauh hal tersebut sebagai

tersebut

diperlakukan

sebagai penyesuaian atas biaya bunga.

diperlakukan

penyesuaian atas biaya bunga.

K. PSAP 10 - KOREKSI KESALAHAN, PERUBAHAN KEBIJAKAN AKUNTANSI, PERUBAHAN ESTIMASI AKUNTANSI DAN OPERASI YANG TIDAK DILANJUTKAN Keterangan Koreksi kesalahan yang: Tidak berulang Terjadi pada periode berjalan Mempengaruhi maupun tidak mempengaruhi posisi kas Koreksi kesalahan yang: Tidak berulang Terjadi pada periode sebelumnya Pembetulan pada akun pendapatan atau akun belanja periode yang bersangkutan Pembetulan pada akun pendapatan-LRA atau akun belanja maupun akun pendapatan-LO atau akun beban periode yang bersangkutan Kas Menuju Akrual Pembetulan pada akun yang bersangkutan dalam periode berjalan Akrual Pembetulan pada akun yang bersangkutan dalam periode berjalan baik akun pendapatan-LRA atau akun belanja maupun akun pendapatan-LO atau akun beban

Mempengaruhi posisi kas Laporan keuangan periode tersebut belum terbit Koreksi kesalahan atas belanja: Tidak berulang Terjadi pada periode sebelumnya Mempengaruhi posisi kas Laporan keuangan periode tersebut sudah terbit Koreksi kesalahan atas perolehan aset selain kas Tidak berulang Terjadi pada periode sebelumnya Mempengaruhi posisi kas Laporan keuangan periode tersebut sudah terbit Koreksi kesalahan atas beban Tidak berulang Terjadi pada periode sebelumnya Mempengaruhi posisi kas Belum diatur Apabila terjadi pengurangan beban dilakukan pembetulan pada akun Pendapatan lain-lain LO, sedangkan apabila terjadi penambahan beban dilakukan pembetulan pada akun Ekuitas Belum diatur Pembetulan pada akun kas dan akun aset yang bersangkutan Pembetulan pada akun pendapatan lain-lain Apabila menambah posisi kas akan dilakuakn pembetulan pada kun pendapatan lain-lain, sedangkan bila mengurangi kas akan dilakukan pembetulan pada akun Saldo Anggaran Lebih

Laporan keuangan periode tersebut sudah terbit Koreksi kesalahan atas pendapatan LRA: Tidak berulang Terjadi pada periode sebelumnya Mempengaruhi posisi kas Laporan keuangan periode tersebut sudah terbit Koreksi kesalahan atas penerimaan pendapatan-LO: Tidak berulang Terjadi pada periode sebelumnya Mempengaruhi posisi kas Laporan keuangan periode tersebut sudah terbit Koreksi kesalahan atas penerimaan dan pengeluaran pembiayaan: Tidak berulang Terjadi pada periode sebelumnya Mempengaruhi posisi kas Belum diatur Pembetulan pada akun kas dan akun Saldo Anggaran Lebih Pembetulan pada akun Ekuitas Dana Lancar Pembetulan pada akun Kas dan akun Ekuitas Pembetulan pada akun Ekuitas Dana Lancar Pembetulan pada akun kas dari akun Saldo Anggaran Lebih

Laporan keuangan periode tersebut belum terbit Koreksi kesalahan atas pencatatan kewajiban: Tidak berulang Terjadi pada periode sebelumnya Mempengaruhi posisi kas Belum diatur Pembetulan pada akun kas dan kewajiban

BAB IV KESIMPULAN
1) Penerapan akuntansi pemerintahan berbasis akrual yang telah digunakan oleh beberapa negara memberikan dampak yang positif, dimana beberapa peneliti yang memberikan bukti bahwa reformasi akuntansi pemerintahan dari yang sebelumnya basis kas dan diubah menjadi basis akrual memberikan banyak manfaat terutama dalam mewujudkan good governance. a. Dari sisi pemerintah penerapan akuntansi berbasis akrual diharapkan mampu meningkatkan kualitas informasi pelaporan keuangan pemerintah serta menghasilkan informasi yang lebih akuntabel dan transparan. b. Penerapan akuntansi berbasis akrual mampu mendukung terlaksananya perhitungan biaya publik dengan lebih wajar, misalnya saja dalam menentukan nilai yang dihasilkan mencakup seluruh beban yang terjadi, tidak hanya jumlah yang telah dibayarkan. c. Dengan memasukkan seluruh beban, baik yang sudah dibayar maupun yang belum dibayar, akuntansi berbasis akrual dapat menyediakan pengukuran yang lebih baik, pengakuan yang tepat waktu, dan pengungkapan kewajiban di masa mendatang. Sedangkan bagi masyarakat dengan semakin akuntabel dan transparan laporan keuangan pemerintah, maka masyarakat dapat menilai kinerja pemerintah dalam melaksanakan pengelolaan keuangan negara, sehingga masyarakat melalui Dewan Perwakilan Rakyat dapat mengawasi kinerja pemerintah. 2) Sistem akuntansi berbasis kas lebih sederhana dikelola dan telah menjadi bagian integral dari sistem pengelolaan dan akuntabilitas keuangan negara kita sejak jaman kolonial. Namun, sistem tradisional tersebut memiliki beberapa kelemahan mendasar, a.l. : a. Tidak mampu menyajikan secara tepat jumlah penggunaan biaya total sumber daya (full cost) yang digunakan. Contoh : Pembelian aset yang bernilai besar akan sangat membebani pembiayaan pada tahun pembelian aset tersebut dibayar, tetapi tidak diakui dalam bentuk biaya atas penggunaan aset tersebut pada tahun-tahun berikutnya. b. TIdak dilakukan pencatatan dan pengakuan terhadap komitmen pembayaran di masa yang akan datang. Suatu Hutang akan diakui sebagai biaya pada saat pembayaran dilakukan.

c. Pengontrolan lebih dititikberatkan pada biaya pembelian dibandingkan hasil yang bisa dicapai atau outcomes yang dihasilkan atas suatu program atau pembelian aset pemerintah. d. Dapat memunculkan sikap pejabat pemerintah untuk selalu membelanjakan semua anggaran tahunan yang tersedia tanpa mengindahkan manfaat / benefit suatu program yang dilakukan. 3) Angka-angka akuntansi berdasarkan sistem akrual dianggap lebih informatif, membawa implikasi yang signifikan untuk pimpinan daerah dalam mengalokasikan sumber daya yang dimiliki. 4) SAP Berbasis Akrual secara umum memiliki 3 perbedaan mendasar bila

dibandingkan dengan pendahulunya, SAP Berbasis Kas Menuju Akrual. Perbedaan tersebut terletak pada tersajinya Laporan Perubahan Saldo Anggaran Lebih (SAL), Laporan Operasional, dan Laporan Perubahan Ekuitas. a. Laporan Perubahan SAL menyajikan informasi perihal kenaikan atau penurunan Saldo Anggaran Lebih tahun pelaporan dibandingkan dengan tahun sebelumnya. Semakin sedikit Saldo Anggaran Lebih suatu tahun dibandingkan tahun sebelumnya, memperlihatkan adanya indikasi pemanfaatan anggaran yang lebih baik. Lagi, ini menunjukkan bahwa informasi yang didapatkan pemangku kepentingan akan semakin luas. b. Laporan Operasional pada dasarnya merupakan laporan keuangan pokok yang menyajikan pos-pos pendapatan dibagi berdasarkan jenis kegiatannya apakah operasional atau non-operasional. Tidak dipungkiri Laporan Operasional menyediakan info lebih mendetail bila dibandingkan dengan Laporan Kinerja Keuangan yang serupa. c. Sedangkan Laporan Perubahan Ekuitas menyajikan informasi kenaikan atau penurunan ekuitas tahun pelaporan dibandingkan dengan tahun sebelumnya. Melalui laporan ini akan diperoleh informasi besaran anggaran yang telah dialokasikan untuk dana lancar, dana cadangan, ataupun yang diinvestasikan pada aktiva tetap.