TUGAS PERKEMBANGAN PSIKOSOSIAL PADA MASA DEWASA AWAL MATA KULIAH : PSIKOLOGI PERKEMBANGAN II

Disusun Oleh Siti Muniroh, NIM 1024090138 KELOMPOK IV

Fakultas Psikologi Universitas Persada Indonesia 2010
1/9

PERKEMBANGAN PSIKOSOSIAL PADA MASA DEWASA AWAL Menurut Referensi Human Development, Ed 10th (Diane E. Papalia, Sally Wendkos Olds, Ruth Duskin Feldman) A. Perkembangan Kepribadian : Empat Pandangan :  Model Tahap Normatif : Model teoritis yang mendeskripsikan perkembangan psikososial

berdasarkan urutan pasti perubahan-perubahan terkait usia.  Model Waktu Peristiwa : Model teoritis yang mendeskripsikan perkembangan kepribadian dewasa sebagai respons terhadap terjadinya dan waktu terjadinya peristiwa penting kehidupan yang terduga atau tidak terduga.  Model Trait :
Model teoritis perkembangan kepribadian yang berfokus pada sifat, atau

atribut, mental,

emosional, tempramental, dan tingkah laku.  Model Tipologis : Model teoritis perkembangan kepribadian yang mengidentifikasi jenis, atau gaya, kepribadian yang lebih luas. B. Mengubah Jalur Menuju Kedewasan :  Jalur individual menuju kedewasaan dipengaruhi oleh berbagai faktor antara lain :  gender kemampuan akademis sikap dini terhadap pendidikan harapan ketika remaja akhir kelas sosial

ukuran seberapa berhasil orang dewasa mengatasi tugas perkembangan dalam meninggalkan rumah masa kecil merupakan kemampuan mereka untuk mempertahankan hubungan dekat tapi otonomis dengan orang tua mereka.

2/9

Pengalaman kelekatan yang dimulai sejak masa bayi dapat mempengaruhi adaptasi menuju kedewasaan.

C. Dasar-Dasar Hubungan yang Intim :  Menurut Erikson, unsur penting dari keintiman adalah pengungkapan diri (self-disclosure) yaitu membuka informasi penting tentang diri sendiri kepada orang lain. Keintiman dan tetap intim dapat tercipta melalui sikap saling terbuka, responsif terhadap kebutuhan orang lain, serta adanya rasa menerima dan hormat yang timbal balik.  Hubungan intim menuntut keterampilan tertentu, seperti kepekaan,

empati, dan kemampuan mengomunikasikan emosi, menyelesaikan konflik, mempertahankan komitmen, dan bila hubungan tersebut potensial secara seksual, mengambil keputusan seksual.  Tiga ekspresi keintiman pada dewasa awal : a. Persahabatan : Persahabatan sangat penting bagi dewasa awal, bersahabat cenderung memiliki rasa kesejahteraan antara memiliki teman membuat orang merasa baik tentang diri mereka dan lebih muda berteman.

Persahabatan di antara perempuan cenderung lebih intim dibandingkan dengan laki-laki. b. Cinta : Menurut subteori Sternberg yaitu Subteori Segitiga Cinta (triangular subthery of love) mengatakan bahwa pola cinta berkisar pada

keseimbangan antara 3 aspek yaitu : KEINTIMAN dimana unsur emosional melibatkan pengungkapan diri yang mengarah ke keterikatan, kehangatan dan rasa percaya. GAIRAH dimana unsur motivasional didasari oleh dorongan yang mentranslasi rangsangan fisiologis menjadi hasrat seksual. KOMITMEN dimana unsur kognitif merupakan keputusan untuk mencintai dan bertahan dengan sang kekasih.

3/9

Kombinasi dari ketiga aspek teori Segitiga Cinta Sternberg tersebut membentuk delapan jenis hubungan cinta yaitu : 1. Non cinta yaitu hubungan interpersonal dengan interaksi yang sangat biasa; 2. Menyukai yaitu hanya memiliki aspek keintiman, tanpa aspek gairah maupun komitmen; 3. Gairah yaitu hanya memiliki aspek gairah saja, tanpa aspek keintiman dan komitmen; 4. Cinta Kosong yaitu hanya memiliki aspek komitmen yang telah kehilangan aspek keintiman dan gairah karena telah terlalu lama berhubungan; 5. Cinta Romantis yaitu terdapat aspek keintiman dan gairah, namun tidak saling berkomitmen; 6. Cinta Persahabatan yaitu terdapat aspek keintiman dan komitmen; 7. Cinta Bodoh yaitu terdapat aspek gairah dan komitmen tanpa keintiman; 8. Cinta yang sempurna yaitu terdapat ketiga aspek keintiman, gairah dan komitmen.

D. Gaya Hidup Menikah dan Tidak Menikah :  Kini banyak orang dewasa yang menuda pernikahan atau tidak pernah menikah, dikarenakan untuk tetap melajang mencakup peluang karier, melancong, kebebasan seksuan dan gaya hidup, hasrat pemenuhan diri, perempuan yang kemampuan mencukupi dirinya lebih besar, berkurangnya tekanan sosial untuk menikah, ketakutan akan perceraian, kesulitan menemukan pasangan yang cocok dan kurangnya kesempatan berkencan atau pasangan yang tersedia.  Sifat hubungan homoseks dan lesbian, baik homoseks dan lesbian

membentuk hubungan seksual dan romantis yang bertahan lebih lama dari heteroseksual. Kepuasan jangka panjang serupa pada hubungan

4/9

homoseksual dan heteroseksual. Namun karena kurangnya norma sosial yang mendukung, pasangan sesama jenis mengalami kesulitan

mendefinisikan hubungan mereka. Mereka berjuang demi hak pernikahan seperti layaknya heteroseksual.  Kohabitasi yaitu tinggal bersama tanpa ikatan pernikahan, dimana

pasangan yang tidak menikah yang terlibat dalam suatu hubungan seksual hidup bersama. Pasangan yang melakukan kohabitasi mengalami sedikit tekanan sosial untuk menikah, hubungan ini cenderung kurang memuaskan dan kurang stabil daripada pernikahan. Lebih cenderung mengalami pernikahan yang tidak bahagia dan lebih besar kemungkinan bercerai daripada mereka yang menunggu untuk hidup bersama setelah menikah. Seorang yang melakukan kohabitasi cenderung memiliki sikap yang tidak konvensional tentang pengaturan keluarga atau mengalami banyak transisi keluarga ketika anak, dan bersikap liberal terhadap perceraian.  Pernikahan bersifat universal dan memenuhi kebutuhan dasar ekonomi, emosional, seksual, sosial dan membesarkan anak;  Pemilihan pasangan dan usia menikah bervariasi di berbagai budaya. Individu di negara-negara industri makin banyak yang menunda untuk menikah dibanding generasi sebelumnya;  Frekuensi hubungan seksual dalam pernikahan berkurang seirin

berjalannya usia dan hilangnya kebaruan. Tampaknya, makin seidikit orangg yang melakukan hubungan seksual diluar menikah dibandingkan dimasa lalu;  Keberhasilan dalam pernikahan bergantung pada kebahagiaan salah satu pasangan dengan hubungan mereka, sensitivitas mereka satu sama lain, validasi mereka terhadap perasaan satu sama lain, serta keterampilan komunikasi dan manajemen konflik mereka. Usia menikah merupakan prediktor utama apakah suatu pernikahan akan bertahan. Keuletan, kecocokan, dukungan emosional, dan ekspektasi yang berbeda antara lakilaki dan perempuan dapat menjadi faktor penting.

5/9

E. Menjadi Orang Tua sebagai Pengalaman Perkembangan :  Pola keluarga bervariasi di seluruh dunia dan telah berubah banyak di masyarakat barat. Saat ini, perempuan melahirkan lebih sedikit anak dan menunda memiliki anak, dan jumlah yang memutuskan untuk tidak punya anak sama sekali pun bertambah.  Ayah biasanya lebih sedikit terlibat dalam membesarkan anak daripada ibu, tetapi beberapa melakukan pembagian tugas mengasuh dan beberapa menjadi pengasuh utama.  Kepuasan pernikahan biasanya berkurang selama tahun-tahun

membesarkan anak. Harapan dan pembagian tugas dapat memberikan kontribusi terhadap turun atau naiknya kualitas pernikahan.  Keluarga pencari nafkah ganda merupakan beberapa pola mengatasi tuntutan kerja dan keluarga. Gaya hidup ini memberikan keuntungan dan kerugian.  Pada kebanyakan kasus, gaya hidup pencari nafkah ganda jatuh lebih membebankan perempuan. Tidak setaranya pembagian tugas dalam

memberikan kontribusi terhadap distres pernikahan bergantung pada bagaimana pasangan suami-istri mempersepsi peran mereka.  Kebijakan tempat kerja yang ramah keluarga dapat menghilangkan stres.

PERKEMBANGAN PSIKOSOSIAL PADA MASA DEWASA AWAL Menurut Referensi Life Span Development (John W. Santrock)

A. Daya Tarik, Cinta dan Hubungan Dekat :  Kemiripan mendahului hubungan dekat. Kita suka berhubungan dengan individu yang memiliki kesamaa dengan kita.  Berscheid percaya bahwa cinta memiliki 4 bentuk: altruisme,

persahabatn, cinta yang romantis atau bergairah, dan cinta yang penuh afeksi dn kebersamaan. Teman dan kekasih memliki karakteristik yang

6/9

sama

dan

juga

berbeda.

Cinta

yang

romantis

terjadi

saat

kita

mengatakan kita “Jatuh Cinta”; ini mencakup gairah, seksualitas, dan campran emosi, beberapa diantaranya mungkin bersifat negatif. Cinta yang penuh afeksi adalah lebih penting pada waktu hubungan semakin lama. Dalam teori segitiga cinta dari Stenberg, cinta memiliki 3 bentuk: gairah, keintiman, dan komitmen. Tinggi atau rendahnya campuran dari unsur tersebut dapat menghasilkan cinta penuh nafsu, cinta dengan kebersamaan, cinta yang konyol, atau cintayang sempurna.  Gender individu, sejarah attachment, harga diri, dan keterampilan sosial dikaitkan dengan kesepian. Transisi menuju perguruan tinggi adlah waktu ketika seseorang mengalami kesepian.

B. Pernikahan dan Keluarga :  Terdapat 6 fase siklus kehidupan keluarga mencakup meninggalkan rumah dan menjadi orang dewasa yang hidup sendiri, bergabungnya keluarga melalui pernikahan (pasangan baru), menjadi orang tua dan keluarga dengan anak, keluarga dengan remaja, keluarga pada kehiduan usia tengah baya, dan keluarga pada kehidupan usia lanjut.  Meskipun orang dewasa yang tetap hidup sendiri lebih lama dan tingkat perceraian tinggi, kita masih menunjukkan keinginan yang tinggi untuk menikah. Usia di mana seseorang menikah, harapan tentang bagaimana seharusnya pernikahan itu, dan perjalanan perkembangan pernikahan mungkin berbeda-beda tidak hanya di antara berbagai waktu dan sejarah dalam satu kebudayaan tertentu, tetapi juga di antara kebudayaankebudayaan.  Harapan yang tidak realistik dan mitos tentang pernikahan berkontribusi pada ketidakpuasan dan perceraian.  Secara umum, perempuan lebih ekspresif dan berperasaan dalam

pernikahan, dn perbedaan ini mengganggu banyak perempuan. Perempuan lebih banyak mengerjakan pekerjaan rumah tangga daipada laki-laki, dan

7/9

mereka menghayati pekerjaan rumah tangga secara berbeda degan yang dihayati laki-laki  Untuk sebagian orang, peran menjadi orang tua telah direncanakan dan diatur. Bagi sebagian yang lain, hal itu adalah kejutan dan kadang sebuah kekacauan. Terdapat banyak mitos tentang peran menjadi orang tua, diantaranya adalah mitos bahwa dengan melahirkan seorang anak akan menyelamatka pernikahan yang gagal. Keluarga menjadi semakin kecil, dan sebagian perempuan menunda memiliki anak sampai mereka mapan dalam karir. Ada beberapa keuntungan memiliki anak lebih awal, dan juga keuntungan memiliki anak terlambat.

C. Keragaman Gaya Hidup Orang Dewasa :  Hidup sendiri telah menjadi gaya hidup yang sangat menonjol. Mitos dan stereotip tentang hidup sendiri sangat banyak, mulai dari “hidup sendiri mengikuti arus” sampai “hidup sendirian yang terpisah dan kesepian dan cenderung bunuh diri”. Terdapat keuntungan dan kerugian dari hidup sendiri, otonomi adalah salah satu keuntungan. Keintiman, kesepian, dan menemukan identitas yang positif dalam masyarakat yag berorientasi pernikahan adala keprihatinan orang dewasa yang hidup sendiri.  Perceraian telah meningkat secara dramatis, meskipun tingkat

kenaikannya mulai melambat. Perceraian adalah hal yang komplek dan emosianal. Dalam tahun pertama stelah perceraian ketidakseimbangan dalam erilaku orang dewasa yang bercerai terjadi, tetapi setelh beberpa tahun bercerai stabilitas yag leih dapat tercapai. Ibu rumah tangga yang tergantian perannya karena becera mungkin mengalami stres yang

berlebihan. Laki-laki juga merasa sakt mengalami perceraian.

D. Keintiman, Kemandirian dan Gender :  Erikson berpendapat bahwa keintiman versus isolasi, fase ke 6 dalam 8 fase teorinya tentang silus kehidupan terjdi bersamaan dengan masa

8/9

dewasa awal. 5 gaya hubungan yang intim adalah gaya intim, gaya pre intim, dan gaya menyendiri. white mengajukan 1 model kematangan hubungan dimana inividu elalui 3 tingkat: berpusat pada diri, erpusat pada peran, dan terindividuasi terhubung.  Terdapa keseimbangan yang sensitif antara keintiman dan komitmen, disatu sisi dn kemandirian dan kebebasan, disisi lain tem-tema ini berhbungan erat dengan pemahaman masa dewasa awal, tetapi iasanya hal itu terjadi dan terjadi lagi sepanjang masa dewasa.  Pemikir feminis membangun perspektif baru yang memusatkan diri pada pengalaman dan perkembangan perempuan. Kekuatan perempuan khususnya pentng dalam ubungan dan keterkaitan dengan orang lain. Penekanan yan penting nadalah bahwa sementara secara eosionl terkait denga orang lain yang signifikan, perempuan dapat meningkatkan kesejahteraan mereka dengan mebangu penentuan diri sendiri yang lebih kuat.  Gerakan laki-laki melibatkan beberapa tema yang berbeda, diantarana adalah, kepercayaan bahwa laki-laki masa kini terlalu lembut. Corak lain dari gerakan itu berpedaat bahwa laki-laki perlu menjadai lebih sensitif dan menhindari kekerasan.

E. Konstinuitas dan Diskonstinuitas :  Semakin pendek waktu interval dimana kita akan mengukur kepribadian, semkin besar kontinuitas hasil yang kuta temukan. 20 than pertamaaalah penting untuk meramalkan kepribadian orang dewasa, tetapi begtu juga pengalaman yang harus berlangsun pada masa-masa dewasa. 5 tahun eprtma adalah tidak sekuat yang dipercayai freud dalam menentukan kepribadian orang dewasa.

9/9

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful