PEMANFAATAN CITRA LANDSAT TM UNTUK UNTUK INVENTARISASI SUMBERDAYA LAHAN

Disusun untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah Tata Guna Tanah Dosen Pengampu: Rahning Utomowati, S.Si., M.Sc.

Oleh : Marizha Ayu Jatmaningtyas K5409037

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN GEOGRAFI FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN UNIVERSITAS SEBELAS MARET SURAKARTA 2012

PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Bentuk penggunaan lahan suatu wilayah terkait dengan pertumbuhan penduduk dan aktivitas penduduk. Semakin meningkat jumlah penduduk akan berdampak pada semakin tinggi aktivitas penduduk di suatu daerah. Inilah yang pada akhirnya menimbulkan tingginya permintaan terhadap lahan untuk memenuhi kebutuhan manusia, terutama pemanfaatannya sebagai permukiman maupun penunjang kegiatan ekonomi. Konversi lahan menjadi sesuatu yang tidak dapat dihindari. Departemen Pertanian Amerika Serikat pada tahun 1972 melaporkan bahwa selama dekade tahun 60an, sekitar 296.000 hektar lahan telah berubah menjadi kota, lahan untuk kegiatan transportasi meningkat seluas 53.000 hektar per tahun, dan lahan untuk kepentingan rekreasi meningkat sekitar 409.000 hektar per tahun. Adanya perubahan penggunaan lahan tersebut dilihat dari aspek ekonomi pertanian merupakan ancaman terhadap ketahanan pangan penduduk dan dilihat dari aspek lingkungan hal itu merupakan ancaman terhadap daya dukung lingkungan. Pengetahuan mengenai sebaran penggunaan lahan terkini dan perubahannya sangat dibutuhkan oleh pemerintah pusat dan daerah, legislator, serta perencana (planners) dalam penyusunan tata ruang dan rencana pembangunan wilayah yang efektif dan berkelanjutan. Dalam hal ini maka sangat penting dilakukan pengelolaan sumber daya lahan agar pemanfaatannya dapat tepat guna dan bereklanjutan. Pengelolaan sumberdaya lahan sendiri memiliki empat tahapan yang meliputi tahap inventarisasi, tahap monitoring, tahap evaluasi, dan tahap perencanaan. Selama ini data penggunaan lahan di Indonesia telah dikumpulkan oleh berbagai instansi yang berwenang namun pengelolaannya hampir dipastikan belum terintegrasi sehingga pemanfaatannya belum optimal. Sandy (1977) mengungkapkan bahwa inventarisasi data penggunaan lahan tanpa diketahui

letak dari setap penggunaan lahan tersebut bukanlah sesuatu yang efektif. Untuk itu, data penggunaan lahan sudah seharusnya disajikan dalam sebuah peta agar dapat diketahui letak dan hubungan antar penggunaan lahan. Inventarisasi data merupakan tahap pertama dalam pengelolaan sumberdaya lahan dan merupakan tahap yang krusial karena output dari tahapan ini dapat dijadikan sebagai alat analisis dalam tahapan – tahapan selanjutnya yaitu tahap monitoring, tahap evaluasi, dan tahap perencanaan. Perkembangan teknologi informasi utamanya dalam teknologi informasi geografis memberikan keuntungan dalam penyediaan dan pengolahan data penginderaan jauh baik berupa foto udara maupun citra satelit sehingga dihasilkan berbagai output yang dapat digunakan untuk memenuhi kebutuhan penggunanya. Semakin tinggi resolusi spasial dan temporal yang ditawarkan memberikan kemudahan pagi penggunanya untuk memilih spesifikasi data yang sesuai dengan kebutuhan dan tujuan pengguna. Dalam hal inventarisasi data penggunaan lahan, keberadaan data penginderaan jauh sangat membentu karena resolusi spasial yang beragam memberikan berbagai pilihan kerincian output peta serta semakin baik resolusi temporal yang ditawarkan memberikan kemudahan analisis dan monitoring untuk rekomendasi perencanaan wilayah. Landsat (Land Satelite) merupakan satelit sumberdaya bumi yang paling lama beroperasi. Hingga kini LANDSAT telah mencapai seri ke-7. Kemajuan perekaman data pada satelit ini tidak terlepas dari peningkatan kemampuan sensor bawaannya dalam merekam informasi. Berawal dari sensor Return Beam Vidicon (RBV), Multi Spectral Scanner (MSS), Thematic Mapper (TM), hingga Enhanced Thematic Mapper (TM) kemampuan perekaman data Landsat semakin berkembang dari waktu ke waktu. Pada makalah ini penulis akan membahas mengenai pemanfaatan citra Landsat TM dalam pemetaan penggunaan lahan.

B. Rumusan Masalah 1. Apakah yang dimaksud dengan inventarisasi data penggunaan lahan dengan memanfaatkan data penginderaan jauh? 2. Apa sajakah spesifikasi citra Landsat sehingga cocok untuk penggunaan lahan? 3. Bagaimana prosedur pemetaan penggunaan lahan dengan memanfaatkan citra Landsat TM? C. Tujuan Penulisan Makalah 1. Mendeskripsikan inventarisasi data penggunaan lahan dengan memanfaatkan data penginderaan jauh 2. Menjekaskan spesifikasi citra Landsat TM 3. Menjelaskan prosedur pemetaan penggunaan lahan dengan memanfaatkan citra Landsat TM

PEMBAHASAN

A. Inventarisasi data penggunaan lahan dengan memanfaatkan data penginderaan jauh Malingreau (1977:6) mendefinisikan penggunaan lahan sebagai segala campur tangan manusia baik secara siklis ataupun secara permanen terhadap suatu kumpulan sumberdaya alam dan sumberdaya buatan yang secara keseluruhan dapat disebut lahan, dengan tujuan untuk mencukupi kebutuhan baik kebendaan ataupun spiritual ataupun kebudayaan. Arsyad (1989:207) menyatakan bahwa “Penggunaan lahan merupakan suatu bentuk campur tangan manusia terhadap lahan dalam rangka memenuhi kebutuhan hidup baik material maupun spiritual”. Dari definisi kedua pakar tersebut, maka dapat disimpulkan bahwa penggunaan lahan merupakan suatu bentuk upaya pemenuhan kebutuhan hidup manusia (baik kebutuhan spiritual maupun kebudayaan) melalui campur tangan terhadap keberadaan suatu lahan (baik secara siklis maupun permanen). Inventarisasi data penggunaan lahan sangat penting sebagai langkah awal dalam proses pengelolaan sumberdaya lahan. Ketersediaan data tersebut akan menunjang proses selanjutnya yang meliputi monitoring, evaluasi dan perencanaan. Semakin tinggi tingkat pertumbuhan penduduk mengakibatkan semakin tingginya jumlah kebutuhan penduduk akan sumberdaya, dan lahan merupakan sumberdaya alam yang sangat krusial. Pemanfaatan lahan yang semula diutamakan untuk sector agraris telah berubah peruntukan sebagai lahan permukiman serta penunjang aktivitas manusia lainnya seperti misalnya industri dan perdagangan. Pemanfaatan lahan pun sudah tidak lagi memperhatikan daya dukungnya sehingga berpotensi terjadinya degradasi lahan. Pengelolaan sumberdaya lahan sangat penting agar berbagai kebijakan pemanfaatan lahan sesuai dengan tujuan pembangunan berkelanjutan. Selama ini data penggunaan lahan di Indonesia telah dikumpulkan oleh berbagai instansi yang berwenang namun pengelolaannya hampir dipastikan

belum terintegrasi sehingga pemanfaatannya belum optimal. Sandy (1977) mengungkapkan bahwa inventarisasi data penggunaan lahan tanpa diketahui letak dari setap penggunaan lahan tersebut bukanlah sesuatu yang efektif. Untuk itu, data penggunaan lahan sudah seharusnya disajikan dalam sebuah peta agar dapat diketahui letak dan hubungan antar penggunaan lahan. Ketersediaan data penginderaan jauh dan software SIG sangat membantu proses inventarisasi data penggunaan lahan kaitannya dengan pembuatan peta yang representative sesuai dengan tujuan pemetaan. Perkembangan penggunaan data penginderaan jauh tidak terlepas dari berbagai keuntungan yang diperoleh oleh penggunanya. Hal ini semakin ditunjang dengan kehadiran Sistem Informasi Geografis yang memiliki peran vital dalam proses pengolahan, analisis dan penyimpanan data penginderaan jauh. Sutanto (1987) mengemukakan enam alasan utama peningkatan penggunaan data penginderaan jauh, yaitu: 1. Citra menggambarkan obyek, daerah, dan gejala di permukaan bumi dengan wujud dan letak yang sama dengan letaknya dan wujudnya di permukaan bumi, relative lengkap, meliput daerah yang luas serta permanent. 2. Melalui citra dapat dilakukan analisis tiga dimensional 3. Karakteristik obyek yang tidak nampak dapat diwujudkan melalui citra sehingga dimungkinkan pengenalan obyeknya 4. Perekaman data lapangan dapat dilakukan dengan cepat meskipun pada daerah yang sulit dijelajahi secara terrestrial 5. Merupakan alat yang efektif untuk pemetaan daerah bencana 6. Data penginderaan jauh dapat diperoleh dalam waktu ulang yang pendek. Kemajuan teknologi penginderaan jauh telah meningkatkan resolusi temporal citra. Dalam melakukan inventarisasi data penggunaan lahan dengan pendekatan penginderaan jauh ada beberapa hal yang perlu diperhatikan, yaitu: 1. Penetapan Permasalahan

Penetapan permasalahan merupakan langkah awal yang harus dilakukan sebelum pengolahan data. Dalam hal ini masalah yang dicari solusinya adalah inventarisasi data penggunaan lahan. 2. Penetapan Tujuan Penetapan tujuan diperlukan untk kepentingan penentuan skala peta. Inventarisasi merupakan langkah awal dalam proses pengelolaan sumberdaya sehingga tingkat kedetilan informasi yang akan ditampilkan harus sesuai dengan kebutuhan pada tahap selanjutya. Misalnya tujuan inventarisasi data adalah untuk melakukan monitoring perubahan penggunaan lahan pada suatu wilayah pesisir, maka skala peta harus disesuaikan dengan tujuan tersebut. 3. Pemilihan Data Pemilihan data meliputi tahap penentuan citra penginderaan jauh yang diperlukan, peta topografi sebagai peta dasar, dan data sekunder lain misalnya data statistik (jika diperlukan). 4. Klasifikasi Pada dasarnya, setiap data yang dihasilkan oleh penginderaan jauh memiliki kemampuan yang berbeda dalam penyediaan informasi. Pengetahuan mengenai spesifikasi citra sangat penting kaitannya dengan tujuan pemetaan penggunaan lahan yang akan dilakukan. Ukuran luasan minimum yang dapat dipetakan tergantung dari skala dan resolusi yang dimiliki oleh sebuah data penginderaan jauh atau data lainnya yang diinterpretasi. Hal tersebut juga bergantung pada skala data kompilasi serta skala peta output yang diharapkan. Perbedaan skala ini akan menentukan informasi apa saja yang akan termuat dalam sebuah peta. Peta dengan skala kecil tentu akan memuat informasi yang tidak serinci peta dengan skala besar. Agar informasi yang disajikan dalam sebuah peta penggunaan lahan representative, maka disusun system klasifikasi baku cakupan informasi dalam sebuah peta penggunaan lahan. Terkait dengan kemampuan sensor dalam merekam informasi, maka Anderson (2001) mengemukakan tingkat klasifikasi penggunaan lahan berdasarkan kemampuan perekaman data pada sensor yang diasumsikan menggunakan kamera dengan panjang focus 6 inchi .

Tabel 1. Tingkat Klasifikasi Citra berdasarkan Karakteristik Tipe Data

Tingkat Klasifikasi I II

Karakteristik Tipe Data Tipe Data LANDSAT Data yang diambil pada ketinggian 40.000 kaki (12.400 meter) atau di bawahnya, (menghasilkan peta dengan skala di bawah 1:80.000) Data yang diambil pada ketinggian sedang (10.000 – 40.000 kaki atau sekitar 3.100 – 12.400 meter), menghasilkan peta dengan skala antara 1:80.000 hingga 1:20.000 Data yang diambil pada ketinggian rendah di bawah 10.000 kaki atau sekitar 3.100 meter, menghasilkan peta dengan skala di atas 1:20.000

III

IV

Informasi pada tingkat klasifikasi I dan II memungkinkan pengguna data untuk melakukan pemetaan penggunaan lahan pada luasan Negara, propinsi maupun kabupaten/kota. Pemetaan penggunaan lahan yang lebih detail mensyaratkan tingkat klasifikasi III dan IV untuk pemetaan kabupaten/kota hingga kecamatan. Berikut ini klasifikasi penggunaan lahan manurut Anderson dalam Utomowati (2011).
Tabel 2. Klasifikasi Penggunaan Lahan menurut Anderson

Level I 1.Perkotaan/lahan terbangun 1. Hunian

Level II 2. Penggunaan umum 3. Kompleks industri dan komersial 4. Lahan sedang dibangun

2.Lahan pertanian

1. Lahan pertanian dan peternakan 2. Lahan kebun buah, persemaian dan lahan holtikultura hias 3. Lahan pertanian lainnya

3.Lahan peternakan 4. Lahan hutan

1. Lahan peternakan rumput 2. Lahan peternakan semak dan belukar 1. Lahan hutan menggugurkan daunnya

2. Lahan hutan selalu hijau 3. Lahan hutan campur 5. Perairan 1. Sungai dan saluran 2. Danau 3. Reservoir 4. Tanggul dan muara 6. Lahan basah 7. Lahan kosong 1. Lahan basah berhutan 2. Lahan basah tidak berhutan 1. Pantai 3. Area berpasir lain selain pantai 4. Bidang tambang 5. Lahan gundul 8. Salju / es tahunan 1. Padang salju tahunan 2. Gletser Sebagai Negara yang sangat luas, jenis penggunaan lahan di Indonesia sangat berbeda dengan yang diungkapkan oleh Anderson di atas. Perbedaan ini sangat erat kaitannya dengan kondisi fisik wilayah maupun sosial budaya masyarakat. Klasifikasi penggunaan lahan di Indonesia berdasarkan data penginderaan jauh sendiri disusun oleh Malingreau (1977:15)
Tabel 3. Klasifikasi Penggunaan Lahan Menurut Anderson

Tingkat I 1. Daerah perkotaan dan terbangun

a. b. c. d. e. f.

Tingkat II Permukiman perkotaan Perdagangan, Indus tri Kelembagaan Transportasi,

Tingkat III Permukiman perkotaan jasa, Perdagangan, jasa, industri Kelembagaan Transportasi, komunikasi

komunikasi Lahan terbangun Lahan terbangun lainnya lainnya Bukan terbangun lahan Bukan lahan terbangun

7. Daerah pedesaan

a. b.

g.

l.

q.

v. 5.

Permukiman pedesaan Permukiman pedesaan Lahan bervegetasi Sawah irigasi Sawah tadah hujan diusa- hakan Sawah pasang surut Tegalan Perkebunan Lahan bervegetasi Hutan lahan kering Hutan lahan basah tidak diusahakan Belukar Semak Rumput Lahan tidak Lahan terbuka bervegetasi (lahan Lahar dan lava Beting pantai kosong ) Gosong pantai Gumuk pasir Tubuh perairan Danau Waduk Tambak Rawa Sungai Kelurusan Kelurusan

Field Check

Akurasi pemetaan melalui data penginderaan jauh sangat bergantung pada pengguna data dalam melakukan interpretasi citra. Setelah dihasilkan peta tentatif penggunaan lahan, surveyor harus melakukan uji lapangan dengan cara sampling. Hasil sampling kemudian diuji ketelitian interpretasinya. Data dianggap valid jika hasil uji katelitian interpretasi di atas 80%. Jika tidak mencapai jumlah tersebut, maka surveyor harus melakukan interpretasi ulang. 6. Penyajian Kartografis

Penyajian kartografis meliputi penyusunan peta penggunaan lahan yang sesuai dengan kaidah kartografis melalui software SIG. C. Spesifikasi citra Landsat TM

Sensor TM (Thematic Mapper) merupakan sensor yang dipasang pada satelit Landsat 4 dan Landsat 5. Lebar sapuan (scanning) dari sistem Landsat TM sebesar 185 km, yang direkam pada tujuh saluran panjang gelombang dengan rincian; 3 saluran panjang gelombang tampak, 3 saluran panjang gelombang inframerah dekat, dan 1 saluran panjang gelombang termal (panas). Sensor TM memiliki kemampuan untuk menghasilkan citra multispektral dengan resolusi spasial, spektral dan radiometrik yang lebih tinggi daripada sensor MSS.
Tabel 4. Nama dan Panjang Gelombang pada Landsat TM

1 2 3 4 5 6 7

Saluran Nama Gelombang Biru Hijau Merah Inframerah Dekat Inframerah Tengah Inframerah Termal Inframerah Tengah

Panjang Gelombang (µm) 0,45 – 0,52 0,52 – 0,60 0,63 – 0,69 0,76 – 0,90 1,55 – 1,75 10,40 – 12,50 2,08 – 2,35

Tabel 5. Karakteristik Saluran pada Landsat TM

Saluran

Panjang Gelombang (µm) 0,45 – 0,52

Resolusi Spasial (meter) 30 x 30

Aplikasi Penetrasi tubuh air, analisis penggunaan lahan, tanah, dan vegetasi. Pembedaan vegetasi dan lahan. Pengamatan puncak pantulan vegetasi pada saluran hijau yang terletak di antara dua saluran penyerapan. Pengamatan ini dimaksudkan untuk membedakan tanaman sehat terhadap tanaman yang tidak sehat. Saluran terpenting untuk membedakan jenis vegetasi. Saluran ini terletak pada salah satu daerah penyerapan klorofil dan memudahkan pembedaan antara lahan terbuka terhadap lahan bervegetasi. Saluran yang peka terhadap

1

2

0,52 – 0,60

30 x 30

3

0,63 – 0,69

30 x 30

4

0,76 – 0,90

30 x 30

biomasa vegetasi. Juga untuk identifikasi jenis tanaman, memudahkan pembedaan tanah dan tanaman serta lahan dan air. Saluran penting untuk pembedaan jenis tanaman, kandungan air pada 5 1,55 – 1,75 30 x 30 tanaman, kondisi kelembaban tanah. Untuk membedakan formasi batuan 6 2,08 – 2,35 120 x 120 dan untuk pemetaan hidrotermal. Klasifikasi vegetasi, analisis gangguan vegetasi, pembedaan 7 10,40 – 12,50 30 x 30 kelembaban tanah, dan keperluan lain yang berhubungan deengan gejala termal. Sumber : Lillesand dan Kiefer (1979) dalam Sutanto (1987). Pemanfaatan citra landsat telah banyak digunakan untuk beberapa kegiatan survey maupun penelitian antara lain geologi, pertambangan, geomorfologi, hidrologi, dan kehutanan. Dalam setiap perekaman, citra Landsat mempunyai cakupan area 185 x 185 km, sehingga aspek dari objek tertentu yang cukup luas dapat diidentifikasi tanpa menjelajah seluruh daerah yang disurvei atau yang diteliti. Dengan demikian, pemanfaatan citra Landsat TM dapat menghemat waktu dan biaya dalam pelaksanaannya dibandingkan dengan cara konvensional atau survey terrestrial (Wahyunto dalam Saripin , 2003). D. Prosedur pemetaan penggunaan lahan dengan memanfaatkan citra Landsat TM Menurut Saripin (2003), citra Landsat TM sangat membantu dalam identifikasi penggunaan lahan di suatu daerah terutama untuk lahan perkebunan (perkebunan karet, tebu, kakao). Demikian pula untuk penggunaan lahan lain yang mempunyai kenampakan obyek dan ciri-ciri yang spesifik seperti sawah dan waduk/danau. Namun, untuk obyek-obyek yang tidak spesifik sulit dibatasi dan dibedakan dengan penggunaan lahan yang lain. Sehingga citra Landsat TM sangat cocok digunakan untuk pemetaan penggunaan lahan pada wilayah yang relative luas.

Berikut ini disajikan diagram alir tahapan pemetaan dengan citra Landsat TM.

Gambar 1. Diagram Alir Pemetaan Landuse dari citra Landsat (Saripin ,2003)

Dari diagram alir tersebut, maka dapat disimpulkan tiga tahapan utama dalam pemetaan landuse menggunakan citra Landsat ( studi kasus Kabupaten Jombang, Jatim), meliputi: 1. Intepretasi citra Landsat TM Langkah yang perlu dilakukan dalam tahap ini adalah melakukan identifikasi penggunaan lahan yang sesuai dengan unsur-unsur yang ditampilkan citra, meliputi:

a. Ukuran, meliputi panjang, lebar, luas sehingga antara obyek yang satu dan obyek lainnya dapat dibedakan dan dibuat batasan. b. Rona, menunjukkan perbedaan gelap terangnya suatu obyek yang dipengaruhi tingkat kelembaban (biasanya disebabkan genangan atau keadaan vegetasi penutup tanah) c. Warna, sangat dipengaruhi oleh reflektansi obyek terhadap tenaga yang berbeda d. Tekstur, merupakan gabungan antara rona dengan ukuran serta jarak yang satu dengan yang lain e. Pola, merupakan susunan suatu obyek yang terjadi secara alami maupun buatan Dalam tahapan ini juga diperlukan data penunjang lain misalnya peta topografi, peta tata guna tanah, dan data sekunder lain. Dari hasil analisis tersebut akan dihasilkan peta interpretasi/ peta penggunaan lahan tentatif. Hal yang sangat diperhatikan dalam tahapan ini adalah klasifikasi penggunaan lahan yang digunakan harus sesuai dengan skala dan tujuan pemetaan citra.

Gambar 2. Citra Landsat TM (kiri), peta penggunaan lahan tentatif Kab. Jombang

2. Pengecekan Lapangan Pengecekan lapangan sangat penting kaitannya dengan validitas data hasil interpretsi. Semakin valid data yang tersaji dalam sebuah peta, maka semakin

baik peta tersebut untuk dijadikan sumber acuan berbagai tujuan penggunaan selanjutnya. Pengecekan lapangan meliputi uji kesesuaian hasil interpretasi, melalui sample yang telah ditetapkan. Jika ketelitian interpretasi mencapai 80% dari total sample yang diuji maka tahap pemetaan selanjutnya dapat terus berjalan. Namun, jika ketelitiannya kurang dari 80%, maka surveyor harus melakukan interpretasi ulang. 3. Perbaikan Peta Setelah dilakukan cek lapangan dan dinyatakan data hasil interpretsi tersebut valid, maka peta tentatif dapat dilakukan penyempurnaan menjadi peta penggunaan lahan final.

Gambar 3. Peta Penggunaan Lahan Final Kabupaten Jombang

KESIMPULAN Dari pembahasan di atas maka dapat disimpulkan hal – hal sebagai berikut:

1. Inventarisasi data penggunaan lahan sangat penting kaitannya dengan keberlanjutan proses pengelolaan sumberdaya lahan yang berkelanjutan. Penyajian data dalam bentuk peta memudahkan pengguna dalam mengetahui posisi lahan tersebut, memungkinkan analisis lebih jauh. 2. Inventarisasi data adalah tahapan sangat krusial sehingga sumber data dan pengolahan datanya harus dilakukan secara cermat dan teliti sehingga peta yang dihasilkan representatif. 3. Landsat TM merupakan satelit dengan spesifikasi citra yang memedai untuk pemetaan penggunaan lahan dalam tingkat klasifikasi I sampai II. pola yang terbentuk sehingga

DAFTAR PUSTAKA .

Anderson, James.R, dkk.2001.A Land Use and Land Cover Classification System For Use With Remote Sensor Data.PDF Download Arsyad, Sitanala.1989.Konservasi Tanah dan Air.Bogor: Instititut Petanian Bogor. Malingreau, Jean-Paul.1977.A Proposed Land Cover/ Land Use Classification And Its Use With Remote Sensing Data In Indonesia (The International Journal of Geography, Vol.7, No.33, pp. 5- 27). Yogyakarta: Fak. Geografi UGM Sandy, I Made.1977.Penggunaan Tanah (Land Use) di Indonesia.Jakarta Saripin, Ipin.2003.Identifkasi Penggunaan Lahan dengan Menggunakan Citra Landsat Thematic Mapper.Buletin Teknik Pertanian Vol.8 Nomor 2, 2003 Sutanto.1987.Penginderaan Jauh Jilid 2. Yogyakarta: Fak. Geografi UGM. Ukur, Muhammad Tenang, dkk.2007.Pemetaan Batas Wilayah Darat Penggunaan Lahan Dari Citra Landsat (Studi Kasus Kabupaten Jombang).Surabaya: Institut Teknologi Sepuluh November Utomowati, Rahning.2011.Materi Kuliah Tata Guna Tanah.Pendidikan Geografi FKIP UNS

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful