You are on page 1of 4

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

IV-1

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1 Hasil Pengamatan  60 ml minyak jelantah Lapisan 1 2  Densitas 0,79 0,98

60 ml minyak goreng Lapisan 1 Densitas 0,86

30 ml minyak jelantah dan 30 ml minyak goreng Lapisan 1 2 Densitas 0,87 1,08 ~ 1,1

4. 2 Pembahasan Pada praktikum kali ini, reaksi transesterifikasi bertujuan untuk pembuatan biodiesel dari suatu minyak goreng. Reaksi transesterifikasi adalah pertukaran gugus alkil antara suatu ester dengan alkohol sehingga menghasilkan produk ester baru dan produk sampingan berupa alkohol baru. Ester dalam minyak goreng berupa trigliserida dan alkohol yang digunakan pada praktikum berupa etanol sehingga menghasilkan etil ester sebagai bahan biodiesel dan gliserol. Adapun reaksi kimia yang terjadi dalam transesterifikasi pembentukan biodiesel, antara lain:

Pengaruh Minyak Nabati terhadap Biodiesel Institut Teknologi Indonesia

Suhu tersebut dilakukan karena reaksi bersifat endoterm (memerlukan panas) dan dipengaruhi oleh titik didih etanol 78 oC. Oleh karena itu. Pada proses refluks. Angka setana adalah tolak ukur kemudahan menyala/ terbakar dari suatu bahan bakar di dalam mesin diesel. uap yang dihasilkan akibat pemanasan didinginkan dengan media pendingin air dalam kondensor. Karena dipanaskan di bawah titik didih etanol. reaksi dilakukan dengan labu leher tiga yang tertutup rapat dan dipanaskan secara konstan pada suhu 65oC. Oleh sebab itu. Terlebih lagi. Hal ini dapat menyebabkan pompa penginjeksi bahan bakar di dalam mesin diesel tak mampu menghasilkan atomisasi yang baik ketika minyak nabati disemprotkan ke dalam kamar pembakaran. (Destianna. etanol cenderung tidak akan menguap. molekul minyak nabati relatif lebih bercabang dibanding ester metil asam-asam lemak. Kondensat yang terbentuk Pengaruh Minyak Nabati terhadap Biodiesel Institut Teknologi Indonesia .) Pada praktikum ini. (Hambali. kesetimbangan akan bergerak menuju reaktan dan kemungkinan terbentuknya etil ester semakin mengecil.BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN IV-2 H2C HC H2C OCOR’ OCOR’’ + 3 C2H5OH OCOR’’’ etanol ↔ H2 C HC H2 C OH OH OH + C2H5OCOR’ C2H5OCOR’’ C2H5OCOR’’’ biodiesel Trigliserida gliserol Trigliserida yang terkandung dalam minyak nabati perlu melalui tahap transesterifikasi karena minyak nabati memiliki kekentalan (viskositas) yang jauh lebih besar dari minyak diesel atau biodiesel. minyak nabati perlu diproses melalui reaksi transesterifikasi untuk memperoleh biodiesel. seperti etil ester jika terpanaskan tanpa kontak udara (oksigen). 2007.) Selain itu. 2007. Apabila komposisi reaktan berkurang. Akibatnya. digunakan refluks untuk menjaga kestabilan komposisi reaktan menuju arah kesetimbangan produk. minyak goreng digunakan karena mengandung trigliserida yang berberat molekul besar dan mudah mengalami perengkahan (cracking) menjadi berbagai molekul kecil. angka setana minyak nabati lebih rendah daripada angka setana ester metil.

Asam lemak bebas perlu dikonversikan menjadi alkil esternya karena dapat mengakibatkan terbentuknya suasana asam yang dapat menyebabkan korosi. Meskipun keduanya dapat bereaksi secara kimiawi melalui transesterifikasi. Banyak peneliti menyarankan agar kandungan asam lemak bebas lebih kecil dari 0. monogliserida. didapati bahwa biodiesel berbahan baku minyak goreng baru lebih mendekati massa jenis biodiesel murni dibandingkan dengan minyak jelantah. digliserida. (Destianna. Katalis asam tidak menyebabkan penyabunan tetapi reaksi berjalan lebih lambat. pada pengunaan 60 ml minyak jelantah diperoleh densitas lapisan atas Pengaruh Minyak Nabati terhadap Biodiesel Institut Teknologi Indonesia . Pencampuran antara alkohol dan minyak dilakukan dengan perbandingan 3:1 karena dipengaruhi oleh koefisien stoikiometri reaksi transesterifikasi. diasumsikan kadar FFA-nya 2% dan digunakan katalis basa kuat atau NaOH. diperoleh densitas 0. ditunjukan bahwa semakin banyak jumlah alkohol yang digunakan maka konversi yang diperoleh juga semakin bertambah . Dari hasil pengamatan. 2007. Secara umum. Pengadukan menggunakan magnetic stirer bertujuan untuk memperbesar frekuensi tumbukan antara trigliserida dan etanol. Apabila kadar kurang dari 0. Karena digunakan minyak goreng baru. terutama etanol yang bersifat volatil untuk bereaksi secara optimal. dengan adanya pengadukan selama 1 jam akan memperluas kemungkinan bertumbukan dan terjadinya reaksi. dan gliserin bebas akibat adanya pemanasan dan oksidasi. sifat keduanya berbeda kepolaran. Katalis NaOH sendiri dapat meningkatkan ion OH.5% dapat digunakan katalis asam. Asam lemak bebas adalah asam lemak yang terpisahkan dari trigliserida.) Kadar FFA dalam bahan mentah minyak goreng menentukan penggunaan katalis dalam reaksi transesterifkasi. Trigliserida berupa ester cenderung bersifat non polar sedangkan etanol bersifat polar sehingga menimbulkan pemisahan dan memperkecil luas permukaan kontak antarmolekul.BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN IV-3 dikembalikan kembali sehingga menjaga komposisi reaktan. Pada penggunaan 60 ml minyak goreng.dan mendorong kesetimbangan ke arah pembentukan etil ester. Oleh karena itu.86 g/ml.5%.

Pengaruh Minyak Nabati terhadap Biodiesel Institut Teknologi Indonesia .) Pada penggunaan campuran antara 30 ml minyak jelantah dan 30 ml minyak goreng diperoleh densitas lapisan biodiesel 0. Sementara itu. 2007. diperkirakan lebih dari 5%. 0. Dengan mencampurkan minyak jelantah dan minyak goreng dapat menurunkan kadar FFA yang terdapat pada minyak jelantah sehingga memperbesar kemungkinan bereaksi pada transesterifikasi. biodiesel memiliki densitas 0.BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN IV-4 sebagai biodiesel. (Hambali. Hal tersebut menunjukan bahwa minyak jelantah dapat digunakan sebagai bahan baku biodiesel melalui reaksi transesterifikasi apabila kadar FFA-nya memenuhi kriteria. Hal ini dikarenakan minyak jelantah mengandung asam lemak bebas yang tinggi.88 g/ml. sehingga perlu melalui tahap esterifikasi terlebih dahulu untuk menurunkan kadar FFA-nya. untuk hasil yang lebih optimal disarankan untuk memberlakukan pre-treatment esterifikasi terlebih dahulu bagi minyak jelantah.87 g/ml. Tentu saja.79 g/ml.