Pandangan Islam tentang Asuransi

Muhammad Rosyidi Aziz (Praktisi Ekonomi Syariah dan Bisnis Islam)

Sektor keuangan dan jasa di dalam perekonomian dewasa ini memiliki share yang makin besar. Diantara
bisnis di sektor ini yang mengalami booming adalah asuransi. Di dalam negeri hal itu bisa dilihat dari banyaknya perusahaan asuransi yang ada. Data Dewan Asuransi Indonesia Per akhir Juli 2000, terdapat 178 perusahaan asuransi dan reasuransi yang terdiri dari 62 perusahaan asuransi jiwa, 107 perusahaan asuransi kerugian, 4 perusahaan reasuransi, 2 perusahaan penyelenggara program asuransi sosial & Jamsostek, dan 3 perusahaan penyelenggara asuransi untuk PNS dan TNI & Polri yang memiliki izin usaha untuk beroperasi di Indonesia. Sementara itu juga terdapat 124 perusahaan penunjang asuransi yang terdiri dari 69 perusaaan pialang asuransi, 14 perusahaan pialang reasuransi, 23 perusahaan adjuster asuransi dan 18 konsultan aktuaria. Selama tahun 1999 sampai dengan akhir Juli 2000 terdapat 6 (enam) perusahaan pialang asuransi baru, dan 1 (satu) perusahaan adjuster. Begitu pula bisnis asuransi syariah mengalami kenaikan pesat. Secara industri, asset asuransi jiwa syariah mengalami kenaikan lebih dari 100% dari tahun 2006 ke tahun 2007. Data KARIM Business Consulting menunjukkan bahwa asset asuransi jiwa syariah meningkat pesat dari 620 milyar pada Desember 2006 menjadi lebih dari 1,5 trilliun pada akhir 2007. Demikian juga dari sisi produksi premi mengalami peningkatan fantastis dari 300 an milyar di akhir tahun 2006 menjadi lebih dari 1 trilliun pada akhir 2007 atau mengalami peningkatan tiga kali lipat. Walaupun jika dicermati kenaikan tersebut disumbang 30% nya oleh Prudential life Assurance yang baru membuka cabang syariah dan menawarkan produk unit link syariah nya pada kuartal ke 4 tahun 2007. Asset Prudential cabang syariah mencapai 496 Milliar dan premi bruto sebesar 410 milliar (laporan publikasi tahun 2007). Namun secara rata-rata perusahaan maupun cabang asuransi syariah mengalami peningkatan asset maupun premi antara 50% - 100% di tahun 2007. Sebut saja seperti AJB Bumiputera 1912, Allianz Life Cabang Syariah, AIA Cabang Syariah ataupun BNI Life Syariah yang di tahun 2007 assetnya mengalami peningkatan diatas 100%. Demikian juga Asuransi Syariah Mubarakah yang kembali bergairah ditandai dengan produksi premi brutonya yang mengalami peningkatan lebih dari 500% dari tahun sebelumnya. Sedangkan asuransi kerugian di tahun 2007 mengalami peningkatan asset secara industri berkisar 70% dengan pertumbuhan tahun 2006 - 2007 berkisar 50%. Rata-rata perusahaan/cabang asuransi kerugian syariah mengalami peningkatan asset sebesar 30 - 50% dari tahun 2006 kecuali MAA General yang assetnya meningkat tajam dari 3 milyar menjadi 36 milyar di tahun 2007. Demikian juga peningkatan premi rata-rata industri sebesar 50% di tahun 2007 dimana ada beberapa cabang syariah mengalami peningkatan premi diatas 100% seperti Bumida, Adira ataupun Staco, namun beberapa asurani lain pertumbuhan preminya di level 50 - 100% bahkan ada juga yang dibawah 10%.

tentang Asuransi Maritim (Pelayaran). Karena konon akad ini memfasilitasi timbulnya aktivitas riba. Hanya saja kemudian tampak bahwa asuransi itu dalam pandangan syariah bermasalah. Lalu menyusul Romawi di abad 6-7 SM dan Yunani di abad 4 SM. Dokumen asuransi pertama pasca amandemen Akad Pinjam-Meninjam yang bisa didapatkan adalah Dokumen Italia tertanggal: 23 Oktober 1347 M. Yakni saat terjadi kebakaran besar selama empat hari di London tahun 1666 M yang membumihanguskan lebih dari tiga belas ribu tempat tinggal dan seratusan gereja. . Perancis dan negara-negara lainnya. riba dan sebagainya. Kemudian konsep Asuransi Jiwa mulai dirumuskan di Inggris pada awal abad ke-19. Akhirnya dibentuk jasa asuransi kebakaran dan disusul beberapa jenis lainnya. Kemudian asuransi ini mulai menggaung di beberapa kota di Italia dan negara-negara sekitar Laut Tengah. Tapi Akad Pinjam-Meminjam ini kemudian ditentang oleh Pihak Gereja Roma. Asuransi Darat baru muncul paruh kedua abad ke tujuh Masehi di Inggris. Karenanya penting disampaikan kepada masyarakat bagaimana pandangan syariah tentang asuransi yang ada dan berjalan saat ini. muncul jenis asuransi baru. termasuk dalam transaksi asuransi. Karenanya pada sekitar tahun 1960-an banyak cendekiawan muslim mulai melakukan pengkajian ulang atas penerapan sistem hukum Eropa ke dalam industri keuangan dan sekaligus memperkenalkan penerapan prinsip syariah islam dalam industri keuangannya. Pelaku dan pengguna asuransi itu tentu saja kebanyakan adalah dari kaum muslim. Bahkan beberapa pengamat berpendapat bahwa Akad Pinjam-Meminjam ini telah disinggung sebelumnya oleh Hukum Hamurabi Tahun 250 SM. Lalu konsep asuransi ini menyebar di beberapa negara semisal Jerman. Besar dan banyaknya transaksi asuransi itu sayangnya belum diiringi oleh pengetahuan kaum muslim tentang pandangan syariah atas asuransi itu. Asuransi dengan berbagai jenisnya itu kemudian menyebar di negeri-negeri Islam.Gambaran di atas menunjukkan bahwa transaksi asuransi baik konvensional maupun yang syariah sangat besar dari sisi jumlah maupun nilai nominalnya. terutama karena adanya unsur gharar. tidak pada asuransi atas kapal itu sendiri ataupun awak kapalnya. Pasca Revolusi Industri di Eropa. Sementara. yang saat itu dipergunakan oleh Kaum Babilonia dengan nama Akad Pinjam-Meminjam di atas Kapal. Padahal setiap muslim berkewajiban terikat dan patuh kepada syariah dalam semua aktivitas dan transaksi yang dilakukan. Sekilas Sejarah Asuransi Banyak dari para ahli berpendapat bahwa jenis asuransi yang pertama muncul adalah asuransi maritim (pelayaran). Penentangan inilah yang selanjutnya menyebabkan Akad PinjamMeminjam ini diamandemen menjadi Akad Asuransi. yakni asuransi mas'uliah (asuransi tanggung jawab). gambling. Baru kemudian Akad ini tersampaikan kepada Kaum Babilonia melalui Kaum Phoenisia dan Hunud kuno. Tetapi konsep asuransi kala itu hanya terbatas pada barang dagangan yang dibawa oleh kapal.

Global Islamic Insurance co. mengandung unsur judi. Dari asset $550 juta pada tahun 2000. mencapai 75%. al-Aman coOperative Insurance (ar-Rajhi tahun 1985). dan Inggris. Dan. Di Bahrain pertama kali berdiri Asuransi Takaful Internasional pada tahun 1989. yang dikelola oleh Dar al-Mal al-Islami (DMI) Group. Asuransi keluarga syariah mendominasi perkembangan asuransi dunia. Qatar. yang berpusat di Geneva. gharar. Islamic Insurance Company Ltd. Luxemburg. Di Arab Saudi berkembang perusahaan asuransi syariah diantaranya: Islamic Arab Insurance Company (alBaraka Group tahun 1980). Perkembangan asuransi dibilang cukup pesat. Investment dan Export Credit (1995). di Ghana . di mana 60%nya berasal dari asuransi jiwa syariah. Sejak saat itu asuransi syariah berkembang bukan hanya ke negeri-negeri islam tetapi juga ke seluruh dunia. Asuransi Haji dan Umrah sejak Januari 2004. Cairo merupakan negara yang pertamakali mendirikan bank Islam sekitar tahun 1971 dengan nama “Nasser Social Bank” yang operasionalnya berdasarkan sistem bagi hasil. perkembangan takaful lebih didasarkan atas kreasi dan kebutuhan umat muslim. Majma’ al-Fiqh al-Islâmy. Pangsa pasar asuransi di Bahrain diperkirakan mencapai 65 juta dinar ($172 juta). asuransi kesehatan (The Best Doctors Takaful Health Care) sejak September 2004. Yaitu asuransi yang bersifat tolong menolong (ta’âwunî) dan saling menanggung (takâfulî) diantara peserta asuransi. pada kongresnya tanggal 10 Sya’ban 1398 H telah bersepakat mengharamkan asuransi konvensional (asuransi komersial/at-ta’mîn at-tijârî) dengan sejumlah alasan. Produk yang diluncurkan oleh asuransi Bahrain antara lain. Pada tahun ini. Karenanya kemudian dikembangkan asuransi dengan prosedur dan tata cara yang dinilai sesuai dengan prinsip syariah berbeda dengan asuransi komersial dan menghilangkan unsur riba. ketimbang didorong oleh fatwa. Pada tahun 2004 asetnya sudah mencapai $2 milyar.7 milyar. Dar al-Mal melebarkan sayap bisnisnya ke negara-negara Eropa dan Asia lainnya. Faisal Islamic Bank of Egypt. mempraktikkan riba. jahalah. meningkat menjadi $1. (1986). Artinya.. Islamic Takaful and Retakaful Company (Dar al-Mal al-Islami (DMI) Group tahun 1986). Bahamas. Faisal Islamic Bank of Sudan dan Kuwait Finance House tahun 1977. yaitu: Asuransi mengandung gharar. Asuransi yang pertama kali didirikan adalah Asuransi Takaful di Sudan pada tahun 1979. dan takaful pendidikan. Setidaknya ada empat asuransi takaful dan retakaful pada tahun 1983. Majma al-Fiqhî al-Islâmî mengadopsi dan mengesahkan takaful sebagai sistem asuransi yang sesuai dengan syariah. qimar dan kezaliman. Kemudian diikuti dengan berdirinya beberapa bank Islam lainnya seperti Islamic Development Bank (IDB) dan the Dubai Islamic pada tahun 1975. Angka-angka di atas merupakan kumulasi untuk asuransi jiwa dan selain jiwa. $193 juta diantaranya berada di Asia Pasifik. Sementara di Afrika. Dari sisi legalitas. Kuwait dan Bahrain. Perkembangan asuransi syariah yang cukup progressif terjadi di negara-negara Arab. Sistem asuransi diadopsi sebagai sistem saling menolong dan membantu di antara para pesertanya. terutama Arab Saudi. sistem asuransi syariah baru diakui dan diadopsi oleh ulama dunia pada tahun 1985. Islamic Insurance and Reinsurance Company (1985). Islamic Corporation for the Insurance.Pada awalnya prinsip syariah islam diterapkan pada industri perbankan. dan mengakibatkan memakan harta orang lain secara tidak sah.

berbagai perusahaan asuransi pun menyadari cukup besarnya potensi bisnis asuransi syariah di Indonesia. Di Amerika. yang konsen pada bidang pendidikan dan pengembangan sumber daya manusia. asuransi syariah pertama berdiri pada Desember 1996 yaitu Takaful USA Insurance Company untuk menampung sedikitnya 12 juta penduduk muslim di sana. Syarikat Takaful Malaysia Berhad. Arab Saudi. African Alliance Insurance Company Limited mendirikan Islamic Life Insurance System (Takaful) pada oktober 2003. Konsep takaful (asuransi Islami) pertama sekali diperkenalkan di Malaysia pada tahun 1985. Sedangkan kebanyakannya dilakukan dengan membuka divisi atau cabang asuransi syariah seperti yang dilakukan . HSBC Amanah Takaful (Malaysia) Berhad. Di Trinidad and Tobago didirikan Takaful Trinidad and Tobago Friendly Society pada tahun 1999. diantaranya : CIMB Aviva Takaful Berhad. PT Asuransi Jiwa Tugu Mandiri. Lembaga ini bertujuan untuk memajukan dan memperkenalkan sistem asuransi syariah ke berbagai negara. Bangladesh. Di Senegal didirikan Islamic Takaful and Retakaful Co. Sementara di Indonesia. Di Australia berdiri Australia Takaful Assosiation Inc. Hal tersebut kemudian mendorong berbagai perusahaan ramai-ramai masuk bisnis asuransi syariah.pertama kali berdiri perusahaan Metropolitan Insurance Company Limited (MIT) tahun 1994 dan menjadi satu-satunya asuransi syariah di Ghana dengan sistem mudharabah dan takafuli. asuransi syariah mulai berkembang sejak tahun 1994. Bank Muamalat Indonesia. dan Algeria. Lembaga ini telah memberi andil dalam pengembangan industri syariah di belahan asia. didirikan lagi The Asean Retakaful International Labuan Ltd (ARILL). MAA Takaful Berhad. Di Nigeria. Inggris bercita-cita menjadi leading sector bagi pengembangan asuransi syariah di Eropa dan negara lainnya. serta beberapa pengusaha Muslim Indonesia. Selanjutnya. BIRTI juga memberikan dukungan teknis di Lebanon. Takaful Ikhlas Sdn Berhad. Dengan dukungan BIRTI. Melalui HSBS’s Amanah. Sementara di Eropa. dan pernah pula memberikan dukungan teknis (technical assistance) untuk operasionalisasi Takaful Australia. Takaful Nasional Sdn Berhad. STI mendirikan dua anak perusahaan: perusahaan asuransi jiwa syariah yaitu PT Asuransi Takaful Keluarga (ATK) pada 4 Agustus 1994 dan perusahaan asuransi kerugian syariah bernama PT Asuransi Takaful Umum (ATU) pada 2 Juni 1995. Diantaranya dilakukan dengan langsung mendirikan perusahaan asuransi syariah penuh seperti yang dilakukan oleh Asuransi Syariah Mubarakah yang bergerak pada asuransi jiwa syariah. Saat ini. Takaful Malaysia menjalin kerjasama dengan Sri Lanka. Selain itu juga berdiri International Co-operative and Mutual Insurance Federation (ICMIF) yang menghimpun 150 orang dari 82 anggota organisasi dari 52 negara di dunia. Setelah Asuransi Takaful dibuka. Inggris merupakan pelopor pengembangan asuransi syariah. Kemudian pada tahun 1997. Malaysia memiliki beberapa industri asuransi syariah. Departemen Keuangan RI. Hong Leong Tokio Marine Takaful Berhad. dan Sonar al-Amane (al-Baraka Group). Malaysia mendirikan Lembaga Penelitian dan Pelatihan Bank Syariah (BIRTI). Prudential BSN Takaful Berhad. Diawali dengan berdirinya perusahaan asuransi syariah pertama di Indonesia yaitu PT Syarikat Takaful Indonesia (STI) pada 24 Februari 1994 yang dimotori oleh Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia (ICMI) melalui Yayasan Abdi Bangsa.

Secara sepintas tidak ada kesamaan antara definisi yang satu dengan yang lainnya. Tentang asuransi konvensional terdapat banyak definisi yang telah diberikan. Saat ini sesuai data Dewan Syariah Nasional (DSN) terdapat 42 asuransi syariah. kerusakan. karena perbedaan sudut pandang dalam mendefinisikan asuransi. Sementara itu UU tentang Usaha Perasuransian yaitu UU No. Hal ini bisa dimaklumi. yaitu asuransi konvensional dan asuransi syariah. Asuransi Konvensional Dengan perkembangan seperti diatas. untuk memberikan penggantian kepadanya karena suatu kerugian. PT MAA General Assurance. 2 tahun 1992 pasal 1 menyebutkan. Mark R. Mehr dan Emerson Cammack. Robert I. PT Great Eastern Life Indonesia. atau kehilangan keuntungan yang diharapkan. dengan mana seorang penanggung mengikatkan diri pada tertanggung dengan menerima suatu premi. “Asuransi adalah suatu lembaga ekonomi yang bertujuan mengurangi risiko. tiga reasuransi syariah dan enam broker asuransi dan reasuransi. dan PT Asuransi Jiwa Bringin Life Sejahtera. dengan jalan mengkombinasikan dalam suatu pengelolaan sejumlah obyek yang cukup besar jumlahnya. dengan cara pengumpulan unit-unit exposure dalam jumlah yang memadai. Sedangkan asuransi syariah merupakan asuransi yang dipercaya diselenggarakan berdasarkan prinsip syariah.oleh PT MAA Life Assurance. atau tanggung jawab hukum kepada pihak ketiga yang mungkin akan diderita tertanggung. dengan menerima premi asuransi untuk memberikan penggantian kepada tertanggung karena kerugian. dalam bukunya Principles of Insurance menyatakan bahwa suatu pengalihan risiko (transfer of risk) disebut asuransi. “Asuransi merupakan suatu alat untuk mengurangi resiko keuangan. Kemudian kerugian yang dapat diramalkan itu dipikul merata oleh mereka yang tergabung”. kerusakan atau kehilangan keuntungan yang diharapkan. untuk membuat agar kerugian individu dapat diperkirakan. Pasal 246 Kitab Undang-Undang Hukum Dagang (KUHD) Republik Indonesia –dulunya diambil dari KUHD Belanda yang dipengaruhi oleh KUHD Perancis hasil kodifikasi Napoleon Bonaparte– mendefinisikan. Prof. PT AJB Bumiputera 1912. Green. dimana pihak penanggung mengikat diri kepada tertanggung. dan lainnya. sehingga kerugian tersebut secara menyeluruh dapat diramalkan dalam batas-batas . “Asuransi atau pertanggungan adalah suatu perjanjian. yang mungkin akan dideritanya karena suatu peristiwa yang tak tertentu”. “Asuransi atau pertanggungan adalah perjanjian antara dua pihak atau lebih. Menurut Prof. atau memberikan suatu peristiwa pembayaran yang didasarkan atas meninggalnya atau hidupnya seseorang yang dipertanggungkan. Asuransi konvensional sering juga disebut asuransi komersial (at-ta’mîn at-tijârî). PT Asuransi Tri Pakarta. saat ini dikenal dua macam asuransi. yang timbul dari suatu peristiwa yang tidak pasti. Ia menyatakan. Asuransi syariah juga sering disebut asuransi yang bersifat tolong menolong dan saling menanggung (atta’mîn at-ta’âwunî wa at-takâfulî). Asuransi konvensional merupakan asuransi yang mengikuti model asuransi dari barat.

Dari proses diatas dapat disimpulkan bahwa terjadi perpindahan risiko financial yang dalam istilah asuransi disebut dengan transfer of risk dari Tertanggung kepada Penanggung. ketika seseorang membeli polis asuransi kebakaran untuk rumah tinggal dia akan membayar uang (premi) yang telah ditentukan oleh perusahaan asuransi. Sebaliknya jika selama masa pertanggungan itu tidak terjadi kebakaran atau kejadian yang tertuang di dalam klausul perjanjian. Tertanggung atau Pemegang Polis membayar sejumlah uang yang disebut premi kepada perusahaan asuransi sebagai kompensasi atas kesediaan Penanggung menanggung resiko yang mungkin dihadapi oleh tertanggung itu. disaat yang sama perusahaan asuransi akan menanggung risiko finansial bila terjadi kebakaran atas rumah tinggal tersebut.S. maka dia harus membayar premi yang telah ditentukan oleh perusahaan asuransi (misal satu juta rupiah) per tahun. Tujuan asuransi konvensional ini adalah pengalihan resiko (transfer of risk) yang mungkin diderita oleh pihak tertanggung yang muncul dari suatu peristiwa tak tertentu dari pihak tertanggung kepada penanggung. Sebaliknya bila sampai akhir masa kontrak Tertanggung tidak mengalami risiko yang diperjanjikan maka kontrak Asuransi berakhir dan semua hak dan kewajiban kedua belah pihak juga berakhir. sedangkan pihak tertanggung adalah orang yang membeli produk asuransi dan disebut juga pemegang Polis. maka perusahaan asuransi harus membayar uang pertanggungan sesuai klausul perjanjian. Sedangkan D. Dimana untuk itu penanggung memperoleh sejumlah uang sebagai kompensasinya. Bila Tertanggung mengalami risiko sesuai dengan yang tertuang dalam kontrak asuransi. Dalam asuransi konvensional ini. Pihak penanggung sebagai perusahaan dengan model statistik dan probabilitas jelas lebih bisa menghitung berapa besar resiko yang dihadapi oleh tertanggung dan kemungkinan klaim yang akan dibayarkan. Sebaliknya bila tertanggung masih hidup sampai akhir masa perjanjian maka dia. Premi asuransi yang dibayarkan oleh Tertanggung menjadi pendapatan perusahaan Asuransi. maka Perusahaan Asuransi harus membayar sejumlah dana yang disebut Uang Pertanggungan kepada Tertangggung atau yang berhak menerimanya. Contoh lain dalam asuransi jiwa. Hansell. pihak Penanggung adalah perusahaan asuransi. Perusahaan pun juga bisa menghitung besarnya nilai . Artinya terjadi perpindahan kepemilikan dana premi dari Tertanggung kepada Perusahaan Asuransi. Jika selama masa pertanggungan terjadi kebakaran rumah itu. Maka bila tertanggung meninggal dunia dalam masa perjanjian diatas (10 tahun).tertentu”. Untuk itu pihak tertanggung harus membayarkan sejumlah uang yang disebut premi kepada pihak penanggung. Contoh. ketika seseorang membeli asuransi kematian (term insuransce) dengan jangka waktu perjanjian 10 (sepuluh) tahun dengan uang pertanggungan 100 juta rupiah. Motiv dalam asuransi ini bagi penanggung bukan motiv kemanusiaan. keluarga atau orang yang ditunjuk tidak akan memperoleh apapun. dalam bukunya Elements of Insurance menyatakan bahwa asuransi selalu berkaitan dengan risiko (Insurance is to do with risk). tetapi motiv bisnis yaitu untuk mendapatkan keuntungan. maka uang premi yang dibayarkan tertanggung akan menjadi hak perusahaan asuransi dan tertanggung tidak akan mendapatkan pembayaran apapun. ahli waris atau orang yang ditunjuk akan memperoleh uang dari perusahaan asuransi sebesar 100 juta.

atau benda yang dialami oleh sebagian peserta yang lain. Maksud dari Akad yang sesuai dengan syariah adalah yang tidak mengandung gharar (penipuan). Sedangkan AAOIFI menyebutkan bahwa asuransi syariah adalah sistem menyeluruh yang pesertanya mendonasikan (derma) sebagian atau seluruh kontribusinya yang digunakan untuk membayar klaim atas kerugian akibat musibah pada jiwa. Kecuali dalam kondisi terjadi bencana sehingga perusahaan harus membayar pertanggungan dalam jumlah banyak sekaligus. Namun sekali lagi kejadian seperti itu kemungkinannya kecil. Namun pada kebanyakan kondisi dan dalam situasi normal. yaitu akad tabarru’. perhitungan itu tidak meleset. Maka setiap peserta menyetorkan sejumlah uang (premi) yang telah disepakati (ditentukan). menurut Dewan Syariah Nasional (DSN-MUI) adalah usaha saling melindungi dan tolong-menolong di antara sejumlah orang/pihak melalui investasi dalam bentuk aset dan/atau tabarru’ yang memberikan pola pengembalian untuk menghadapi risiko tertentu melalui akad (perikatan) yang sesuai dengan syariah. dan disebut sebagai tabarru’ (derma/sumbangan). Asuransi Syariah Asuransi Syariah (Ta’min. non saving dan yang disertai saving. Mudahnya adalah bahwa seluruh peserta sepakat untuk saling menolong dan saling menanggung diantara mereka. Secara garis besar asuransi syariah ada dua jenis. badan. Kemudian perusahaan pun masih memasukkan biaya operasional dan nisbah keuntungan yang diinginkan. penganiayaan/kezaliman. Dan pada umumnya perusahaan asuransi berupaya mengalihkan resiko itu agar juga ditanggung oleh pihak lain dengan jalan mereasuransikan ke perusahaan reasuransi. Karena akad tabarru’ inilah yang menjadi konsep dasar dari takaful. Jika terjadi sesuatu yang telah disepakati pada salah seorang peserta maka ia akan diberi uang pertanggungan yang diambil dari dana tabarru’. Dalam asuransi syariah transaksi atau akad yang ada di dalamnya ada tiga macam akad. barang haram dan maksiat. Penggunaan ketiga akad tersebut bergantung pada model pengelolaan asuransi syariahnya. perjudian. riba. Seluruh uang premi dari seluruh peserta itu dihimpun menjadi satu dan dimasukkan dalam satu akun yang disebut dana tabarru’.penggantian yang harus dibayarkan. Jika akad ini tidak ada maka dengan sendirinya takâful yang dirumuskan itu menjadi tidak ada. Dalam asuransi syariah (takaful) akad tabarru’ ini harus ada. Konsep dasar asuransi syariah atau takaful adalah pembagian resiko (sharing of risk) kepada seluruh peserta asuransi. . akad mudharabah dan akad wakalah bil ujrah. Dengan itu perusahaan bisa menentukan besaran premi yang harus dibayar oleh tertanggung. Memang bisa saja perhitungan itu meleset. Semakin banyak nasabah yang bisa direkrut oleh perusahaan maka lebih mudah memperhitungkan itu dan keuntungan yang bisa diraih oleh perusahaan pun bisa lebih besar. suap. Takaful atau Tadhamun).

akad yang digunakan adalah akad tabarru’. maka keluarganya akan menerima: (a) savingnya selama lima tahun sebesar Rp. muamalah asuransi itu harus dibedah secara rinci untuk mengetahui fakta muamalahnya dengan baik. Jadi A akan menerima pengembalian dana sebesar Rp. Jadi A akan menerima pengembalian dana sebesar Rp.000..000.800.-.x 10 tahun = Rp. 1. Contoh prakteknya: A menjadi peserta asuransi jiwa syariah untuk masa pertanggungan 10 tahun. Bagi seorang muslim yang berkeinginan taat pada hukum syariah agamanya.-) ditambah bagi hasil yang A peroleh selama sepuluh tahun itu. Pengelolaan dana saving ini dilakukan oleh perusahaan asuransi syariah sebagai pengelola. maka premi yang dibayarkan peserta sejak awal dibagi dua bagian. Misal premi yang ia bayarkan sebesar seratus ribu per bulan (1.. Setelah diketahui fakta . Hasil pengelolaan dana saving ini dibagi diantara nasabah dengan perusahaan degan nisbah tertentu misalnya 40:60. 5. 2.000. Akad yang digunakan dengan perusahaan dalam hal ini adalah akad wakalah bil ujrah. maka A akan mendapat pengembalian dana sebesar total saving dia selama sepuluh tahun (Rp. Sebagian diakadkan sebagai tabarru’ dan dikelola seperti pengelolaan dana tabarru’ diatas.400.dan (c) sisa premi yang belum A bayar sebesar Rp.000.-. Sedangkan dalam asuransi yang disertai saving.000. Maka seandainya A meninggal setelah lima tahun. misalnya sebesar Rp.800.2 juta/tahun). Pada saat yang sama. Sehingga total keluarganya akan mendapatkan: a + b + c = Rp.000. menjadi penting mengetahui status hukum dari muamalah asuransi.000.000.yaitu besaran sisa premi yang belum A bayar itu diambilkan dari dana tabarru’.000.000.000. 5. Model kedua inilah yang kebanyakan dipakai oleh perusahaan asuransi syariah.-. Keuntungan dari pengelolaan mudharabah ini dibagi diantara perusahaan sebagai pengelola dengan nasabah sebagai pemilik modal. 5. maka untuk pengelolaan dana tabarru’.-.000. Maka A akan menerima pengembalian dana sebesar: total saving lima tahun (Rp.900. 12. perusahaan juga berposisi sebagai pengelola dalam syarikah mudharabah dimana nasabah berposisi sebagai pemilik modal (shâhib al-mâl).000.000). 10. 6.080. Akad yang digunakan dalam hal ini adalah mudharabah. perusahaan berstatus sebagai pihak yang mengelola. 500. 6.Dalam asuransi yang non saving. Uang sebesar Rp. Sedangkan jika sampai akhir masa pertangungan A masih hidup. 500.400. Misalnya A mengundurkan diri setelah lima tahun. Pengelolaan atau menejemen dana tabarru’ dan saling menanggung diantara peserta diamanahkan kepada perusahaan asuransi syariah. Sedangkan sebagian lagi dan bisanya bagian yang lebih besar. 11.-. memenej dan melakukan kegiatan administrasi termasuk pemasaran dengan mendapatkan kompensasi. Perusahaan asuransi syariah berhak mendapat konpensasi atas administrasi dan menejemen yang dilakukan. Dari jumlah itu sepuluh ribu/bulan ditetapkan sebagai tabarru’. ditambah (b) yaitu bagi hasil selama lima tahun itu misalnya sebesar Rp.000) ditambah bagi hasil (misalnya Rp. Dalam konteks ini..900. Akad yang digunakan adalah wakalah bil ujrah. diakadkan sebagai penyertaan modal. Untuk mengetahuinya.

Disamping itu. yaitu aspek akad secara umum dan dari aspek akad pertanggungan (adh-dhamân). Kemudian pendapatnya itu diungkapkan kembali oleh Ali alKhafif. akad ijaratul ajir. Mu’tamar al-’Alami li al-Iqtishâd alIslâmî dan lainnya. Abdul Karim Zaydan. . Mayoritas cendekiawan muslim dan para ulama mengharamkannya. Shadiq adh-Dharir. sebagian pihak juga menyatakan bahwa di dalam asuransi konvensional yang terjadi adalah transaksi pertukaran (tabâduli) sehingga untuk menilainya juga sering digunakan ketentuan fikih tentang pertukaran. Sementara itu muamalah asuransi syariah (takaful). Mereka yang mengharamkannya diantaranya: Ibn Abidin ulama hanafiyah abad ke-13 H. Akad wakalah bil ujrah ini termasuk di dalam akad ijâratul ajîr. Majma’ al-Fiqhî al-Islâmî dibawah Rabithah al-’Alam al-Islami. unsur yang harus ada di dalamnya adalah akad tabarru’ yang merupakan hibah dan akad takâfuli (saling menanggung). Dr. dalam beberapa literatur termasuk di dalam fatwa DSN disebut akad mudharabah musytarakah–. Maka untuk mengetahui pandangan syariah tentangnya dapat dilihat dari dua aspek. Muhammad Bakhit alMuthi’i mufti Mesir. Abdul Wahab Khalaf dan Abdurrahman Isa. syaikh Muhamamd bin Ibrahim Ali asy-Syaikh. Muhammad Abu Zahrah. Terdapat perbedaan pendapat tentang hukum asuransi konvensional. Dengan demikian instrument fikih yang bisa digunakan untuk menilai muamalah asuransi adalah ketentuan tentang akad secara umum dan tentang pertanggungan (adh-dhamân) secara khusus. Untuk memenej akad dan dana tabarru’ ini diserahkan kepada perusahaan asuransi dengan akad wakalah bil ujrah. Diantara yang memperbolehkan adalah Mushthafa Zarqa. Pandangan Syariah Tentang Asuransi Konvensional Dari deskripsi di atas tampak jelas bahwa akad asuransi merupakan akad yang berkaitan dengan pertanggungan (adh-dhamân). Abdullah al-Qalqili mufti Yordania. Akad syarikah yang secara luas digunakan adalah mudharabah –karena biasanya perusahaan asuransi juga ikut andil modal. juga ketentuan fikih tentang akad tabarru’ (hibah). Menilik pengertian dan deskripsi asuransi diatas tampak bahwa asuransi itu baik asuransi konvensional maupun asuransi syariah (takaful) merupakan akad yang berkaitan dengan pertanggungan (adhdhamân). pengelolaan dana saving/investasi nasabah dilakukan oleh perusahaan asuransi dengan pola syarikah. Sayid Sabiq dan lainnya. Muhammad Yusuf Musa. Majma’ al-Fiqhî ad-Dawlî di bawah OKI. dan akad syarikah terutama mudharabah. Rasyid Ridha.muamalahnya akan bisa diukur dengan ketentuan syariah tentang muamalah tersebut dan ditentukan status hukumnya menurut kaca mata syariah islam. Keharamannya juga difatwakan oleh Hai’ah Kibâr al-’Ulamâ’ di Saudi. Dengan demikian untuk melihat asuransi syariah instrumen yang digunakan selain ketentuan fikih tentang akad secara umum dan tentang adh-dhamân. Muhammad Abu al-Yaser Abidin mufti Suria. Disamping itu di dalam jenis asuransi syariah yang disertai saving. syaikh Jad al-Haq syaikh al-Azhar. Hanya sebagian kecil yang memperbolehkannya.

Sementara obyek akad (al-ma’qûd ‘alayh) menurut syara’ wajib berupa harta atau manfaat (jasa). Janji atau jaminan itu sendiri bukanlah harta karena tidak bisa dikonsumsi. baik disertai kompensasi atau tidak. maka tampak jelas bahwa akad itu wajib terjadi atas barang atau manfaat. Rukun akad secara umum adalah: 1) dua pihak yang berakad (al-‘âqidân).Pertama. Dan jika kita telaah semua akad yang dijelaskan syariah. Jadi akad bisa terjadi atas barang disertai kompensasi contohnya jual beli. karena janji atau jaminan itu sendiri tidak bisa diambil manfaatnya baik dalam bentuk sewa (upah) ataupun dipinjamkan. memang ada dua pihak yang berakad. atau tidak disertai kompensasi contohnya hibah. Di dalam akad asuransi konvensional. Karenanya agar sah secara syar’i harus memenuhi ketentuan akad adh-dhamân menurut syara’. Di dalam asuransi konvensional perusahaan (penanggung) memberikan janji atau jaminan untuk membayar uang pertanggungan sesuai syaratsyarat yang tertentu. . Di dalam asuransi konvensional. Yang menjadi obyek akad dalam akad asuransi itu adalah jaminan atau janji untuk membayar sejumlah uang pertanggungan kepada tertanggung (insured/al-muamman ‘anhu/al-madhmûn ‘anhu) atau orang yang ditunjuk oleh tertanggung (al-muamman lahu/al-madhmûn lahu). yang terjadi adalah nasabah berakad dengan perusahaan asuransi dimana nasabah bersedia membayar sejumlah uang sebagai premi kepada perusahaan dan perusahaan berjanji atau menjamin akan membayar sejumlah uang pertanggungan jika terjadi peristiwa yang disebutkan di dalam klausul kontrak. syarikah. Begitu juga terdapat ijab dan qabul yang tercermin dalam klausul asuransi yang disepakati. salam. Suatu akad agar bisa dinilai sah secara syar’i harus memenuhi rukun dan syaratnya. Obyek akad (al-ma’qûd ‘alayh) sendiri merupakan salah satu rukun akad yang wajib dipenuhi sehingga akad itu bisa dinilai sah secara syar’i. yaitu perusahaan sebagai penanggung (insurer/al-muammin/adh-dhâmin) dan nasabah sebagai tertanggung (insured/almuamman ‘anhu/al-madhmûn ‘anhu). hadiah dan sebagainya. 2) ijab dan qabul (shighât). Jika akad itu tidak terjadi atas benda atau manfaat. Janji atau jaminan itu juga tidak bisa diambil manfaatnya dan tidak bisa dipandang sebagai manfaat atau jasa. dan kadang tidak disertai kompensasi seperti ‘âriyah (pinjaman). Dengan demikian akad asuransi konvensional itu tidak memenuhi ketentuan syara’ tentang obyek akad (al-ma’qûd ‘alayh). Bisa juga akad terjadi atas manfaat disertai dengan kompensasi contohnya ijaratul ajîr (kontrak kerja) dan sewa menyewa (ijârah/kirâ’). Akad seperti itu termasuk akad pertanggungan (adh-dhamân). shadaqah. dari sisi akad pertanggungan (adh-dhamân). Karena yang tidak terpenuhi adalah salah satu rukun akad maka status akad asuransi konvensional itu adalah akad yang batil. Jadi akad asuransi itu terjadi atas janji (ta’ahud) atau jaminan (dhamânah). Kedua. Jika salah satu dari rukun akad itu tidak terpenuhi. dari sisi akad secara umum. maka akad menjadi batil. dan 3) obyek yang diakadkan (al-ma’qûd ‘alayh). dan sebagainya. maka akad seperti itu secara syar’i merupakan akad yang batil. Tetapi jika kita perhatikan di dalam akad asuransi itu tidak terpenuhi ketentuan tentang obyek akad (al-ma’qûd ‘alayh). karena tidak terjadi atas sesuatu yang bisa menjadikannya sebagai akad dalam pandangan syara’.

Sedangkan di dalam riwayat al-Hakim tentang riwayat Jabir di atas terdapat tambahan sesudahnya: َ َ َ ْٔ َ ‫للا َ للا‬ " ‫فَقَبهَُّ َُٕب عيٍَْل ٗفًِ ٍبىِل ٗاىٍَج ٍَُْٖب بَريء ؟ قَبهَُّ َّعٌُّْ ، فَصيَّى عيٍَ ُّ ، فَجعوَُّ رسُ٘ه َُّّ صيَّى َُّّ عيٍَ ُّ ٗسيٌََُّّ إِذا ىَقًَُِّ أَبَب قَخَبد َُّ ٌَقُ٘ه : ٍب‬ ‫َة‬ َ َ َ َ َ ْٔ َ َ َ ِ ِ َ َ َْ َ َ ِ َ ِْ ْ َ ِ َ َ ٓ‫" صَْعجُّْ اىدٌَْبراُُِّ ؟ حخَّى مبَُُّ آخر ذىِلَُّ إُُِّْ قَبهَُّ : قَدُّْ قَضٍْخَٖب ٌَب رسُ٘ه َُّّ ، قَبهَُّ : اَُ حٍِ بَردث عيٍَ ُّ ج ْيد‬ ْٔ َ ْ َّ ‫للا‬ َ َ َ َ ِ ِ ِ َ َ Nabi bersabda kepada Abu Qatadah: “keduanya menjadi kewajibanmu dan di dalam hartamu sedangkan mayit tersebut terbebas?” Abu Qatadah menjawab: “benar”. dan pihak yang menerima tanggungan (al-madhmûn lahu). an-Nasai dan al-Hakim) Kisah tersebut juga diriwayatkan oleh imam Bukhari dari Salamah bin al-Akwa’ secara panjang lebar dan disebutkan bahwa utangnya tiga dinar. Adh-dhamân (pertanggungan) merupakan komitmen untuk menunaikan hak yang berada di dalam tanggungan tanpa disertai kompensasi. Maka Rasul saw jika bertemu Abu Qatadah beliau bertanya: “apa yang telah dilakukan oleh dua dinar?” Hingga akhirnya jika Abu Qatadah berkata: “aku telah membayar keduanya ya Rasulullah” Nabi saw bersabda: “sekarang kulitnya telah dingin” Abu Sa’id al-Khudzri juga menuturkan: َ َ َ ْٔ َ ‫للا َ للا‬ َ َ ْٔ َ َّ َُّ‫مبَُُّ رسُ٘ه َُّّ صيَّى َُّّ عيٍَ ُّ ٗسيٌََُّّ إِذا أُحًَُِّ بِجَْبز ُّ ىٌَُّْ ٌَسْأَه عَُِّْ شًَء ٍُِّْ عَو اىرجُو ، ٌَٗسْأَه عَُِّْ دٌْْٔ ، فَإُُِّْ قٍِوَُّ عيٍَ ُّ دٌِْ مفُّّ ، ٗإُُِّْ قٍِو‬ ‫ِ َة‬ َ َ َ ِ ِ َ َ ََ ِ ْ َ ًُِّّ‫َُٕب عيًَُّّ ٌَب رسُ٘ه َُّّ َُُّٕٗ٘ : ىٍَْسَُّ عيٍَ ُّ دٌِْ صيَّى . Di dalam riwayat Ibn Majah dari Abu Qatadah. ia ketika itu berkata: “wa anâ attakaffalu bihi –aku menjadi penanggungnya-“. Maka Nabi bertanya: “apakah ia mempunyai utang?” Para sahabat berkata: “benar. tertanggung (al-madhmûn ’anhu). Adh-dhamân sama dengan kafâlah dan za’âmah. Lalu Nabi bersabda: “shalatkan teman kalian!” Maka Abu Qatadah berkata: “keduanya (dua dinar) menjadi kewajibanku ya Rasulullah”.: ْ َ َُّ‫أََُُّّ اىَّْبًَُِّّ صيَّى ُُّ عيٍَ ُّ ٗسيٌََُّّ أُحًَُِّ بِجَْبز ُّ ىٍُِصيًَُّ عيٍََٖب فَقَبهَُّ َٕوُّْ عيَى صبحبِنٌُّْ ٍُِّْ دٌِْ؟ فَقَبىُْ٘ ا: َّعٌُّْ دٌَْبراُ، فَقَبهَُّ: صيْ٘ ا عيَى صبحبِنٌ، فَقَبه‬ َ َ ِ ُ ِ َ َ ُْ ِ َ َ َ ‫َ َة‬ َ َ ْٔ َ ‫َ للا‬ ِ ِ َ ِْ َ َّ‫أَبُُّْ٘ قَخَبد َُّ: َُٕب عيًََُّّ ٌَب رسُْ٘ هَُّ للاِ، قَبهَُّ فَصيَّى عيٍَ ُّ صيَّى ُُّ عيٍَ ُّ ٗسي‬ ٌَُّ َ َ ْٔ َ ‫َ ْٔ َ للا‬ َ َ ‫َة‬ َ َ ِ ِ Bahwa Nabi saw. Abu Dawud. penanggung (adh-dhâmin). Hal itu dijelaskan di dalam hadis dari jalur Jabir bin Abdullah ra. Secara syar’i. ثٌَُُّّ قَبهَُّ ىِعيِ ُّ جسَاك َُّّ خٍرًا ٗفَلَُّّ َُّّ رَٕبَّلَُّ مَب فَننجَُّ رَٕبَُُّ أَخٍل‬ ‫للا َ ْ َ للا‬ ًَ ْٔ َ َ َ ِ َ ِ ِ ِ . Lalu Nabi saw menshalatkannya. di datangkan sesosok jenazah agar Beliau menshalatkannya.Ad-Dhamân secara bahasa artinya al-iltizâm (keharusan/komitmen). dua dinar”. adh-dhamân (pertanggungan) adalah: ‫ْ َق‬ ُّ ‫ض ُّ ذٍ ُّ اىضَّبٍُِِّ إِىَى ذٍ ُّ اىَضَُّْْ٘ ُُِّ عْ ُُّ فًُِّْ اِ ْىخِسَاًُِّ اىح‬ ْٔ َ ‫َ ٌ ِ َّ ت‬ ِ ِ ِ ُ َ ْ ‫ِ َّ ت‬ Penggabungan tanggungjawab (tanggungan) penanggung kepada tanggungjwab tertanggung dalam kewajiban menunaikan hak Di dalam adh-dhamân harus ada: penggabungan tanggungjawab kepada tanggungjawab pihak lain (dhammu dzimmah ilâ dzimmah). فَأُحًَُِّ بِجَْبز ُّ ، فَيََب قَبًَُّ ىٍُِنبر سأَهَُّ َٕوُّْ عيٍَ ُّ دٌِْ فَقَبىُ٘ا : دٌَْبراُُِّ ، فَعدهَُّ عْ ُّ ُ فَقَبهَُّ عي‬ ْٔ َ َ َ ْٔ َ ‫ِ َة‬ ْٔ َ ‫للا‬ َ َ ِ َ ِ َ َ َ ِ َ َ َ َّ َ َْ ََ ِْ ِْ َُّ‫بَريء ٍَُْٖب ، فَصيَّى عيٍَ ُّ . Maka Nabi saw pun menshalatkannya (HR. Ahmad.

kewajiban mahar itu belum ada. dan ada sesuatu yang ditanggung (al-madhmûn bihi) yaitu kewajiban membayar utang itu. . Artinya adh-dhamân itu ada jika ada hak atau tanggungan finansial yang wajib ditunaikan dan terbukti sudah ada (haqq[un] wâjib[un] tsâbit[un] fî adz-dzimmah). Para sahabat mernjawab: “dua dinar”. melainkan keduanya boleh majhul (tidak jelas). jelas Rasul menyetujui adh-dhamân yang dilakukan oleh Abu Qatadah dan Ali bin Abiy Thalib. “menikahlah Anda dan mahar anda saya jamin”. Maka Ali bin Abi Thalib berkata: “keduanya menjadi kewajibanku ya Rasulullah dan jenazah itu bebas dari keduanya”. Disamping juga tampak jelas di dalam adhdhamân itu ada penanggung (adh-dhâmin) yaitu Abu Qatadah dan Ali bin Abiy Thalib. Jika tertanggung tidak memiliki tanggungan maka jelas tidak ada penggabungan tanggungan sehingga tidak akan ada adh-dhamân (pertanggungan). Kemudian Beliau bersabda kepada Ali: “semoga Allah membalasmu dengan yang lebih baik. tertanggung (al-madhmûn ‘anhu) dan yang menerima tanggungan (al-madhmûn lahu) harus jelas. pihak yang menerima tanggungan (al-madhmûn lahu) yaitu pihak yang memberikan utang kepada si mayit. Sementara Rasul tidak menanyakan siapa jati diri jenazah itu dan siapa yang menghutanginya.Bahwa Rasulullah saw jika didatangkan sesosok jenazah. Juga jelas bahwa penggabungan tanggung jawab itu dilakukan oleh Abu Qatadah dan Ali bin Abiy Thalib tanpa ada kompensasi. Beliau tidak bertanya tentang amalnya. dan semoga Allah membebaskan tanggunganmu sebagaimana engkau telah membebaskan tanggungan temanmu” (HR. Maka didatangkan sesosok jenazah. Tetapi. Beliau bertanya tentang utangnya. Dalam konteks ini penanggung adalah si A. ad-Daraquthni) Di dalam hadis diatas jelas bahwa Abu Qatadah dan Ali bin Abi Thalib telah menggabungkan tanggung jawabnya kepada tanggung jawab si mayit dalam hal kewajiban menunaikan hak finansial kepada pihak yang memberikan utang. Contohnya. jika A berkata kepada seorang wanita. Ketika Beliau berdiri dan hendak bertakbir. Beliau pun menshalatkannya. Pada saat A mengatakannya. tetapi Beliau bertanya tentang utangnya. Beliau pun urung menshalatkannya. tertanggung adalah mempelai pria dan yang mendapat tanggungan adalah si wanita itu. Dari hadis ini para ulama kemudian mengistinbath bahwa di dalam akad adh-dhamân itu harus ada dhammu dzimmah ilâ dzimmah (penggabungan tanggungan kepada tanggungan pihak lain). tertanggung (almadhmûn ‘anhu) yaitu si mayit. nanti jika wanita itu menikah maka jelas mahar bagi si wanita itu akan menjadi hak atau tanggungan yang wajib ditunaikan dan menjadi tanggungan mempelai pria. Sebaliknya jika dikatakan jenazah itu tidak mempunyai utang. Contohnya adalah utang si mayit itu adalah jelas merupakan hak atau tanggungan finansial yang wajib ditunaikan dan terbukti ada di dalam tanggungan si mayit. Adanya tanggungan (adz-dzimmah) itu akan tampak pada hak atau tanggungan yang wajib ditunaikan. Hal itu karena di dalam hadis diatas. Jika dikatakan jenazah itu memiliki utang. Adh-dhamân juga bisa ada jika ada hak atau tanggungan yang nantinya wajib ditunaikan dan terbukti berada di dalam tanggungan (haqq[un] yuawalu ilâ al-wâjib wa tsâbit fî adz-dzimmah). Maka Beliau menshalatkannya. Meski dalam adh-dhamân itu tidak disyaratkan. Beliau menahan diri.

Dengan demikian dalam asuransi tersebut tidak ada yang menjadi pihak tertanggung karena tidak adanya tanggungjawab (dzimmah) atau hak finansial yang wajib atau nantinya wajib ditunaikan. Ketika mobil itu rusak karena sesuatu atau hilang atau dicuri. Pihak yang menerima pertanggungan juga tidak memiliki hak finansial yang wajib ditunaikan oleh nasabah yang dikatakan sebagai tertanggung. tenggelam. Jadi jelas di dalam asuransi konvensional tidak ada hak finansial yang menjadi kewajiban atau nantinya menjadi kewajiban bagi tertanggung (insured/al-muamman ‘anhu). Jika kita terapkan ketentuan tersebut terhadap akad asuransi konvensional. Jika terjadi kerusakan apapun atas harta di kapal itu baik karena terbakar. Dan jika harta para pedagang itu rusak di laut manapun. Di dalam asuransi itu tidak ada penggabungan tanggung jawab (dhammu dzimmah ilâ dzimmah) sama sekali. maka orang musta’man itu (wakil orang kafir harbi) akan menyerahkan pengganti harta tersebut secara sempurna kepada para pedagang itu. Dengan demikian akad asuransi konvensional itu telah kosong dari unsur-unsur adh-dhamân (pertanggungan) sehingga bisa dinilai sebagai adh-dhamân. Wakil itulah yang menerima uang sawkarah dari para pedagang tersebut. jelas bahwa nasabah yaitu pemilik mobil itu tidak memiliki hak finansial yang menjadi kewajiban pihak lain untuk memperbaiki kerusakan atau mengganti mobil itu. tidak memiliki hak finansial yang menjadi kewajiban si nasabah yang meninggal itu. semisal asuransi mobil. Di dalamnya juga tidak ada penggabungan tanggung jawab (dhammu dzimmah ilâ dzimmah). 1252 H/1836 M) di dalam Hasyiyah Radd al-Mukhtâr (4/170) menyatakan: “telah berlangsung kebiasaan bahwa para pedagang jika mereka menyewa kapal dari seorang kafir harbi. Begitu pula dalam asuransi kerugian. Orang kafir harbi itu memiliki wakil seorang musta’man –orang kafir yang masuk ke negeri muslim karena mendapat izin– di negeri kita yang tinggal di negeri-negeri pantai bagian dari negeri Islam atas izin dari penguasa. maka orang kafir harbi itu menjadi penjaminnya dengan kompensasi berupa harta yang ia terima dari para pedagang itu. dalam asuransi jiwa. maka tampak bahwa ketentuan syariah tentang pertanggungan itu tidak terpenuhi. maka secara syar’i akad asuransi konvensional itu merupakan akad yang batil. Yaitu tidak ada tertanggung (insured/almadhmûn ‘anhu). Harta yang dibayarkan itu disebut sawkarah. Jika hak finansial yang wajib ditunaikan itu tidak ada maka tidak akan ada pihak yang menjadi tertanggung (insured/al-madhmûn ‘anhu). Karena semua alasan itu. dirampok atau lainnya. Pihak penerima pertanggungan (al-muamman lahu) tidak memiliki hak finansial yang menjadi kewajiban atau yang nanti menjadi kewajiban si nasabah sebagai tertanggung (insured/al-muamman ‘anhu). Misalnya. ketika nasabah meninggal jelas pihak yang menerima pertanggungan yaitu keluarganya atau orang yang ditunjuk. sementara adh-dhamân itu adalah dhammu dzimmah ilâ dzimmah. Ibn Abidin (w. Yang tampak jelas bagiku adalah bahwa para pedagang itu tidak halal mengambil uang pengganti hartanya yang rusak itu . mereka selain menyerahkan uang sewanya juga menyerahkan sejumlah uang kepada orang kafir harbi yang tinggal di negerinya itu.Inilah ketentuan syariah tentang pertanggungan (adh-dhamân). Perusahaan asuransi tidak menggabungkan tanggung jawabnya kepada tanggung jawab seseorang pun dalam menunaikan kewajiban finansial. Sementara adanya tertanggung itu ditentukan oleh adanya hak finansial yang wajib atau nantinya wajib ia tunaikan.

Begitu pula perusahaan asuransi pada saat akad/kontrak tidak mengetahui berapa jumlah uang premi yang akan ia peroleh dan juga tidak bisa memastikan apakah harus membayar uang pertanggungan atau tidak. Nasabah dan perusahaan asuransi juga mendasarkan kewajiban dan apa yang akan diperoleh pada unsur gambling (untung-untungan) karena mendasarkan pada peristiwa tak tertentu. Dengan demikian akad asuransi itu batil karena salah satu rukunnya tidak terpenuhi. Yang demikian secara syar’i tidak sah.karena itu artinya iltizâm mâ lâ yalzam (mewajibkan sesuatu yang tidak wajib). Peristiwa itu bisa terjadi kapan saja. Jadi unsur jahalah (ketidakjelasan) sangat menonjol dalam akad asuransi. ketika perusahaan asuransi berjanji atau menjamin akan membayar sejumlah uang pertanggungan jika terjadi peristiwa tak tertentu yang disebutkan di dalam klausul kontrak. Gharar yang ada terjadi pada obyek yang diakadkan. Penilaian demikian menjadi penilaian kebanyakan orang ketika menganalisis akad asuransi. Maka itu merupakan iltizâm (komitment) dengan mendapat imbalan. Karena syarat sah adh-dhamân adalah harus tanpa imbalan. Jika akad asuransi itu dipandang sebagai tabâdulî. Pendapat lain dalam masalah asuransi ini menilai akad asuransi sebagai akad yang bersifat pertukaran (tabâdulî). Nasabah (tertanggung) asuransi pada saat akad/kontrak tidak mengetahui secara jelas/pasti berapa jumlah uang yang harus ia bayar dan sampai kapan. Jahalah yang besar itu terjadi pada obyek akad yang merupakan salah satu rukun akad.” Pernyataan ini agaknya merupakan jawaban Ibn Abidin tentang status hukum asuransi maritim yang marak pada masa itu dan masuk ke negeri Islam berasal dari Eropa. perusahaan asuransi itu berkomitmen atas hal itu dengan mendapat kompensasi. Jika peristiwa itu terjadi maka nasabah akan mendapat uang pertanggungan meski misalnya baru dua kali membayar uang premi. Dari sini jelas bahwa menurut Ibn Abidin. peroleh ketika terjadi peristiwa tak tertentu yang disebutkan di dalam klausul kontrak. Yaitu bahwa di dalamnya tampak terdapat unsur gharar. Jika sampai . Kata sawkarah itu sendiri menurut Muhthafa Zarqa berasal dari bahasa perancis “sekurity” yang artinya aman dan menjadi aman. Ia juga tidak tahu apakah akan bisa mendapatkan uang pertanggungan atau tidak. keluarganya atau orang yang ia tunjuk. Meski yang lebih tepat adalah memandang akad asuransi itu sebagai akad adh-dhamân (pertanggungan) yang disertai kompensasi. riba dan kezaliman. asuransi seperti itu hukumnya haram. maka juga tampak jelas hal-hal yang menjadikannya sebagai akad yang batil dan haram hukumnya. jahalah. dan sebaliknya bisa juga tidak terjadi. Dimana jahalah ini ada pada harta yang dipertukarkan dari kedua pihak. akad asuransi karena adanya imbalan itu juga merupakan akad adh-dhamân yang batil. maisir (perjudian/gambling). Di Eropa sendiri asuransi maritim itu sudah berkembang sejak abad ke-14. Yaitu terjadi pertukaran dimana nasabah mempertukarkan uang premi yang ia bayarkan secara berangsur dengan sejumlah uang pertanggungan yang akan ia. Seakan nasabah mempertaruhkan sedikit uang untuk mendapatkan uang yang banyak. Sebaliknya perusahaan asuransi seakan mempertaruhkan uang pertanggungan untuk mendapatkan kumulasi uang premi. Disamping semua itu.

sebab tambahan itu terjadi karena adanya tempo. Disamping itu. Karenanya harta yang diperoleh dari akad asuransi itu adalah harta yang haram. . Dilihat dari sisi ini tampak jelas adanya riba fadhl. Disamping tampak jelas di dalamnya terdapat riba. Konsekuensinya. al-Mâidah [5]: 90). zhulm (penganiayaan). barang haram dan maksiat. Artinya ia mendapat uang pertanggungan setelah jangka waktu tertentu dari waktu ia menyerahkan uang premi. Sebaliknya perusahaan asuransi akan mendapatkan kumulasi uang premi itu tanpa mengeluarkan kompensasi. maka harus dikembalikan kepada keadaan awal sebelum terjadinya akad asuransi tersebut. nasabah akan mendapatkan uang pertanggungan itu sebagai kompensasi dari uang premi yang ia bayarkan secara berangsur. takâful atau tadhâmun. Dimana uang pertanggungan lebih besar dari kumulasi uang premi. Karena obyek akadnya (al-ma’qûd ’alayh) tidak jelas atau majhûl. Dilihat dari sisi ini tampak jelas adanya riba nasiah. sebagai akad yang batil maka haram bagi seorang muslim siapapun dia melangsungkan akad asuransi. Karena jumlah uang pertanggungan biasanya jauh lebih besar dari kumulasi premi yang dibayar.akhir masa pertanggungan tidak terjadi peristiwa yang disepakati maka nasabah tidak akan mendapatkan uang pertanggungan. seakan tidak pernah terjadi akad itu. rupiah dengan rupiah) dengan jumlah yang tidak sama. Sesuai dengan fatwa DSN (Dewan Syariah Nasional) tentang Pedoman Umum tentang Asuransi Syariah disebutkan bahwa asuransi syariah adalah usaha saling melindungi dan tolong-menolong di antara sejumlah orang/pihak melalui investasi dalam bentuk aset dan / atau tabarru’ yang memberikan pola pengembalian untuk menghadapi resiko tertentu melalui akad (perikatan) yang sesuai dengan syariah. riba. semua harta yang diperoleh dengan akad yang batil statusnya adalah harta yang diperoleh dengan tata cara yang tidak sesuai dengan syariah. Disamping itu di dalam akad asuransi itu jika dipandang sebagai pertukaran. Sementara maysîr sangat tegas dilarang (diharamkan) di dalam al-Quran (QS. risywah (suap). Konsep dasarnya adalah adanya saling menanggung diantara peserta asuransi. Nasabah mempertukarkan sejumlah uang dengan mendapat uang yang lebih banyak. tampak jelas kebatilan dan keharamannya. atau diperoleh dengan cara yang tidak haq. Dengan demikian jelas bahwa asuransi syariah itu juga merupakan adh-dhamân (pertanggungan). Akad yang sesuai dengan syariah yang dimaksud tersebut adalah yang tidak mengandung gharar (penipuan). Beberapa Catatan Asuransi syariah dikampanyekan sebagai alternatif bagi kaum muslim untuk menjalankan akad asuransi. Di dalam obyek akad itu terdapat gharar. karena mempertukarkan uang jenis yang sama (misalnya. sebagai akad yang batil. Dengan demikian jika akad asuransi itu dipandang sebagai pertukaran sekalipun. Asuransi syariah itu disebut ta’mîn. Asuransi Syariah. Juga bahwa akad asuransi itu merupakan bentuk gambling. Selain itu. maysir (perjudian). Jika sudah terlanjur. tampak di dalamnya ada riba. Akad yang batil dalam pandangan syariah dinilai gugur sejak awal. Dari deskripsi ini tampak jelas adanya unsur maysîr (gambling/judi).

Yaitu di dalamnya harus ada: penanggung (adh-dhâmin). Yang berbeda hanya prosedur dan mekanismenya saja. Sementara dari berbagai analisis yang ada. Tabarru’ secara syar’i adalah hibah. Kedua. tertanggung (al-madhmûn ‘anhu). Padahal suatu akad adh-dhamân sehingga bisa dinilai sebagai akad adh-dhamân yang sah secara syar’i harus ada penggabungan tanggungjawab (harus ada dhammu dzimmah ilâ dzimmah). jelas tidak ada hak finansial yang wajib atau nantinya wajib ditunaikan oleh nasabah kepada pihak yang mendapat pertanggungan (keluarganya atau pihak yang dia tunjuk).Dipercaya oleh banyak kalangan bahwa asuransi syariah dijalankan sesuai dengan prinsip syariah. ia berharap akan mendapat uang pertanggungan ketika terjadi peristiwa yang disebutkan di dalam . artinya akad yang ada adalah akad tabarru’ yang diniatkan untuk saling menanggung (takâfulî). Di dalam akad asuransi syariah tampak bahwa di dalamnya tidak terdapat hak finansial yang wajib atau nantinya wajib ditunaikan oleh nasabah. Hibah adalah pemindahan kepemilikan tanpa kompensasi apapun. asuransi jiwa syariah. tampak bahwa dari sisi jenis asuransinya tidak berbeda dengan asuransi konvensional. riba. Dalam tataran konsep dan aplikasi masih ada beberapa pertanyaan dan catatan. itu artinya tidak ada tanggung jawab (dzimmah) bagi nasabah. maysîr (gambling). Begitu juga dalam asuransi kerugian syariah seperti dalam asuransi kebakaran syariah. Tidak adanya hak finansial yang wajib atau nantinya wajib ditunaikan oleh nasabah sebagai tertanggung (al-madhmûn ‘anhu) agaknya merupakan konsekuensi yang terlihat sejak awal dirumuskannya asuransi syariah. Hal itu karena asuransi syariah disodorkan sebagai alternatif untuk menghilangkan aspek-aspek bermasalah yang ada pada asuransi konvensional. Hal itu karena akad asuransi konvensional dipandang sebagai akad tabâdulî. akad asuransi konvensional itu pertama-tama harus dipandang dan dianalisis sebagai akad adh-dhamân (pertanggungan). Karena tidak ada hak finansial yang wajib atau nantinya wajib (haqq wâjib aw yuawwal ilâ al-wâjib) ditunaikan oleh tertanggung (nasabah) kepada pihak yang mendapat pertanggungan. Misalnya. Didalamnya tidak ada hak finansial yang wajib atau nantinya wajib ditunaikan oleh nasabah sebagai tertanggung kepada pihak yang mendapat pertanggungan. jahalah. Agar ada dhammu dzimmah adhdhâmin ilâ dzimmah al-madhmûn ‘anhu. yang mendapat pertanggungan (almadhmûn lahu) dan penggabungan tanggung jawab penanggung kepada tanggungan jawab tertanggung (dhammu dzimmah adh-dhâmin ilâ dzimmah al-madhmûn ‘anhu). Karena itu tidak mungkin akan ada penggabungan dzimmah (tidak akan ada dhammu dzimmah ilâ dzimmah). hal-hal bermasalah dalam asuransi konvensional itu adalah gharar. Pertama. Jika kita telaah akad asuransi syariah. Padahal semestinya. kezaliman. Nah apakah hal itu benar-benar terpenuhi? Bagaimanapun juga setiap nasabah ketika ikut serta menjadi peserta asuransi. Hanya saja dari perkembangan berjalannya asuransi syariah. harus ada hak finansial yang wajib atau nantinya wajib ditunaikan oleh tertanggung. Agar sah maka akad asuransi syariah itu harus memenuhi syarat dan ketentuan syariah tentang adh-dhamân. Jika asuransi syariah itu menggunakan model tabarru’ murni atau model non saving. bahwa asuransi syariah jelas termasuk adh-dhamân. tampak ada kesenjangan antara tataran konsep dengan tataran aplikasi. Hal yang sama dapat dilihat pada semua bentuk asuransi syariah yang ada.

dan sebagian besarnya dijadikan penyertaan modal dalam syarikah mudharabah dimana perusahaan asuransi dikatakan sebagai pengelola dan nasabah sebagai pemilik modal. Pada asuransi yang disertai saving. tidak halal keuntungan selama (barang) belum didalam tanggungan dan tidak halal menjual apa yang bukan milikmu (HR. Dalam hadis tersebut Nabi saw menyatakan “la yahillu (tidak halal)”. sewa. Ibn Majah dan Ahmad) Pada sebagian praktek asuransi syariah yang menggunakan model tabarru’ murni (non saving) terdapat pengembalian dana kepada nasabah yang disebut pengembalian kelebihan pengelolaan dana tabarru’ atau pengembalian surplus underwriting. anNasai. Dalam hal ini Ibn Mas’ud menuturkan bahwa Nabi saw pernah bersabda: ْ َْ « ُّ‫» ََّٖى رسُ٘هُُّ َُِّّ عَُِّْ صفقَخٍَُِِّ فًِ صفقَ ُّ ٗاحد‬ ‫َ ْ ت َ ِ َة‬ ‫للا‬ َ Rasulullah saw melarang dua transaksi dalam satu akad (HR. Disamping itu Rasulullah saw juga pernah bersabda: ُ ‫ل ِ و َ ف َ ْع َ ل‬ « َُّ‫» َُّ ٌَح ُّ سيَ ُّ ٗبٍَ ُّ ٗ َُّ شرْ طَبُُُّ فًُِّْ بٍَْع، ٗ َُّ رب ُّ ٍب ىٌَُّْ ٌُضْ َِ، ٗ َُّ بٍَ ُّ ٍب ىٍَْسَُّ عْدك‬ َِْ َ ‫َ ْ َ ل ْع‬ َ ‫َ ل ِ ْح‬ Tidak halal salaf dan jual beli. Pertanyaannya adalah bisakah nasabah ikut salah satu saja. tidak halal dua syarat dalam satu jual beli. atau yang lain. Disamping itu hibah tidak dibenarkan ditarik kembali. maka jelas terjadi dua transaksi dalam satu akad. larangan hadis ini diantaranya mencakup adanya bay’ wa syarth yaitu salah satu pihak dalam akad bay’-nya mensyaratkan kepada pihak lain akad/transaksi lain baik utang. sebagian kecil dijadikan dana tabarru’. adanya dua transaksi dalam satu akad.kontrak. Ini adalah qarinah jazim yang menunjukkan bahwa apa yang dilarang itu adalah haram. premi nasabah dipisahkan menjadi dua. misalnya ikut akad tabarru’ saja atau ikut akad mudharabah saja? Jika jawabannya tidak. an-Nasa’i. atTirmidzi dan ad-Daruquthni) Menurut para fukaha. merupakan akad/transaksi yang batil. apalagi dengan pengembalian yang lebih besar. artinya nasabah harus ikut dua-duanya sekaligus dan kedua transaksi itu diakadkan dalam satu akad sekaligus. karena lafal “tidak halal” maknanya adalah haram. Bukhari. Atau melangsungkan satu akad dengan mempersyaratkan akad lain. Dari Ibn Abbas bahwa Rasul saw pernah bersabda: ُ ُ ْٔ ُّ ِ‫اىعبئِ ُّ فًِ ٕبَخِ ُّ مبىن ْي ُّ ٌَعُ٘ ُّ فًِ قٍَئ‬ ‫ِ ٔ َ ْ َب د‬ ‫َْ د‬ ِ ِ ِ Orang yang menarik hibahnya seperti anjing yang menjilati ludahnya (HR. . Tirmidzi. Muslim. Dengan demikian akad yang di dalamnya terjadi dua transaksi atau disyaratkan akad/transaksi lain. al-Bazar dan ath-Thabrani) Makna shafqatayn fî shafqatin wâhidah adalah wujûd ‘aqdayn fî ‘aqdin wâhidin (adanya dua akad dalam satu akad). kontrak kerja. Ahmad. Apakah yang demikian tidak menyalahi ketentuan hibah tersebut? Ketiga. bay’ lainnya.

dana itu akan disalurkan lagi oleh bank syariah itu kepada pengusaha. Artinya. Pihak pengelola sendiri juga boleh ikut andil modal. Sedangkan dalam asuransi yang disertai saving. tentang kedudukan perusahaan asuransi syariah. perusahaan juga melangsungkan akad mudharabah dengan peserta (nasabah) baik perusahaan ikut andil modal ataupun tidak. maka perusahaan berstatus sebagai wakil para peserta dengan mendapat fee. tidak mengelola langsung dana itu. maka pada saat itu bank lah yang bertindak sebagai pengelola atas dana yang sama. Tentu saja hal ini haram. tetapi justru menyalurkannya ke bank. ternyata bank syariah juga tidak mengelola/memutar modal yang diterimanya dalam kegiatan usaha riil. Perusahaan tidak berhak mendapat bagi hasil dari pengelolaan dana tabarru’. tenaga dan pikirannya. Ketentuan syariah tentang mudharabah. Masalahnya terjadi di sini. Karenanya pengelola harus mengelola langsung usaha syarikah itu dengan badan. Selanjutnya bank sebagai pengelola dana yang diterima dari perusahaan asuransi itu juga tidak mengelola langsung dana itu. tidak mengelola atau memutar langsung modal syarikah itu. di sini perusahaan asuransi sebagai pengelola syarikah mudharabah dana premi nasabah. jelas bahwa pendapatannya berasal dari riba. Untuk itu perusahaan berhak mendapat kompensasi berupa upah. Artinya harus ada pihak pemilik modal dan pihak pengelola. maka pada saat itu pengelola itu tidak lagi bertindak sebagai pengelola tetapi bertindak sebagai pemilik modal terhadap pengelola lain itu. Jika disalurkan ke bank konvensional. Dalam asuransi jenis ini. Artinya perusahaan asuransi bertindak sebagai pemilik modal dalam syarikah dengan bank. Jika tidak dikelola/diputar sendiri lalu dana/modal nasabah itu diapakan? Jawabannya adalah disalurkan ke bank. sedangkan perusahaan asuransi bertindak sebagai pemilik modal.Keempat. tetapi kembali menyalurkan kepada pengusaha dan bertindak sebagai pemilik modal. pihak pengelola dalam syarikah mudharabah. perusahaan asuransi berfungsi sebagai wakil para peserta takaful untuk mengelola takaful dan memenejnya termasuk memasarkannya. Artinya yang . Jika kemudian dana syarikah itu disalurkan dalam syarikah lainnya kepada pengelola lainnya. bahwa mudharabah merupakan syarikah antara modal dengan badan. tenaga dan pikirannya. lembaga keuangan berupa bank hanya boleh menghimpun dan menyalurkan dana tetapi tidak boleh melakukan kegiatan usaha riil. Jika disalurkan ke Bank syariah. Masalahnya di dalam asuransi. dan hanya menyalurkannya kepada pihak lain yang kemudian mengelolanya? Secara syar’i apakah dibenarkan. lembaga keuangan non bank hanya boleh menghimpun dan tidak boleh menyalurkannya apalagi memutarnya sendiri dalam kegiatan usaha riil. Bolehkah secara syar’i. Menurut UU. Karena pengelola ikut serta dalam syarikah itu dengan badan. Hal itu karena perusahaan asuransi termasuk lembaga keuangan non bank. Akad yang digunakan adalah wakalah bil ujrah. pengelola syarikah mudharabah itu lalu menyalurkan modal syarikah itu dan bertindak sebagai pemilik modal? Jawabnya adalah tidak boleh. Di dalam asuransi syariah non saving murni. Hal itu karena sesuai UU. Jika perusahaan asuransi sebagai pengelola menyalurkan lagi dana mudharabah itu kepada bank. maka selain akad wakalah bil ujrah. Dengan demikian. Pihak pengelola merupakan pihak yang mengelola kegiatan bisnis syarikah itu. jika disalurkan ke bank syariah. benarkah perusahaan asuransi berfungsi dan menjalankan peran sebagai pengelola? Benarkah perusahaan asuransi mengelola langsung dana/modal yang disetor nasabah? Jawabannya adalah tidak.

Solusi Akhir Masalah asuransi ini muncul dalam konteks sistem kapitalisme dimana peran negara harus seminimal mungkin. dan menjamin pemberian kemungkinan kepada tiap orang untuk bisa memenuhi kebutuhan sekunder dan tersiernya sesuai kemampuannya. peluang berusaha menjadi terbuka bagi setiap orang. Negara juga wajib menjamin langsung pemenuhan kebutuhan akan kesehatan. Wallâh a’lam wa ahkam.bertindak sebagai pengelola langsung atas modal itu adalah bank. Lalu jalan keluarnya bagaimana? Jalan keluarnya. tidak akan menyelesaikan permasalahan yang ada secara tuntas. perusahaan asuransi bisa mendapat komisi. negara berkewajiban memelihara segala urusan rakyat. sandang dan tempat tinggal. Hal yang sama terjadi lagi ketika bank menyalurkan kembali dana itu kepada pengusaha. pendidikan dan keamanan. Diantara pemeliharaan uruasan rakyat itu. Begitu pula dengan diterapkan sistem islam. negara berkewajiban menjamin terpenuhinya kebutuhan pokok tiap-tiap individu rakyat. Perusahaan asuransi dalam hal ini bisa menerima fee (upah). perusahaan asuransi bisa bertindak sebagai perantara antara nasabah dan pengusaha. Hak pengelolaan dana itu sepenuhnya menjadi wewenang pengelola yaitu bank. maka asuransi dengan berbagai jenisnya tidak menjadi sesuatu yang penting di tengah-tengah masyarakat. Tambal sulam atau modifikasi asuransi yang ada agar islami. Itu artinya perusahaan asuransi tersebut tidak lagi mengelola dana mudharabah dari nasabah. Kebutuhan pokok yang wajib dijamin pemenuhannya oleh nagara untuk tiap individu rakyat itu adalah pangan. Atau perusahaan asuransi bisa juga bertindak sebagai wakil dari nasabah dalam berhubungan dengan pengusaha. negara memberi bantuan yang diperlukan oleh rakyat dalam menjalankan usaha baik modal. Padahal perusahaan asuransi dan bank berstatus sebagai pengelola. Dengan demikian hal itu tidak memenuhi ketentuan syariah tentang syarikah. Sebagai perantara. Dengan demikian tentu tidak akan diperlukan adanya asuransi pendidikan dan kesehatan karena pemenuhan pendidikan dan pelayanan kesehatan diberikan oleh negara secara gratis dan memadai kepada setiap individu rakyat. informasi atau lainnya. bukan perusahaan asuransi dan bukan pula bank. Jadi untuk mensolusi masalah asuransi secara tuntas tidak lain adalah dengan menerapkan syariah islam dalam bingkai sistem islam yaitu Khilafah Islamiyah. namun faktanya tidak mengelola langsung modal syarikahnya. Jika hal demikian diterapkan. padahal ia berstatus sebagai pengelola. . sarana. Hal itu karena dalam sistem islam. Dalam ketentuan islam. Maka yang mengelola dana itu secara langsung adalah pengusaha itu. Masalah asuransi ini tidak akan marak dalam kerangka sistem islam.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful