Latar Belakang Keberadaan BUMN

Konsepsi dan Sejarah BUMN
Paling tidak, ada lima faktor yang melatarbelakangi BUMN, yaitu: 1. 2. 3. 4. 5. Pelopor, karena swasta tidak tertarik untuk menggelutinya; Pengelola bidang-bidang yang “strategis” dan pelaksana pelayanan publik; Penyeimbang kekuatan-kekuatan swasta besar; Sumber pendapatan negara; dan Hasil dari nasionalisasi perusahaan-perusahaan Belanda.

Jika dikaji lebih lanjut, faktor keempat kian tak relevan, sedangkan faktor kelima agaknya kian bisa diabaikan. Tiga faktor pertama bisa dijadikan sebagai justifikasi keberadaan BUMN. Ketiga faktor tersebut bersifat kondisional. Yang utama, optimalnya mekanisme pasar dengan perangkat pengamannya, seperti pengaturan tentang praktik monopoli dan oligopoli; peraturan tentang praktik kolusi; penegakan kaidah-kaidah bisnis yang sehat; perlindungan terhadap usaha kecil; serta perlindungan kepada konsumen. Permasalahan di Indonesia, bagaimana menciptakan struktur pasar yang tidak distorsif serta menjunjung tinggi persaingan yang sehat. Selama ini sudah terbukti bahwa praktik-praktik monopoli, baik yang dilakukan BUMN, swasta maupun koperasi praktis selalu merugikan masyarakat khususnya dan perekonomian pada umumnya.

Penanganan BUMN
Di samping melego dan membentuk holding company, berbagai alternatif yang perlu dikembangkan untuk menangani BUMN, seperti merger, akuisisi dan bahkan pemailitan. Ada 2 faktor yang menjadi kriteria pedoman restrukturisasi BUMN, yaitu eksternalitas dan efisiensi. Eksternalitas adalah manfaat ekonomi dari keberadaan BUMN yang dinikmati oleh pihak-pihak di luar BUMN, meliputi perusahaan-perusahaan laindan masyarakat pada umumnya. Sedang efisiensi dititikberatkan pada efisiensi teknis internal perusahaan.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful