FITOREMEDIASI I.

Pendahuluan Penggunaan logam berat dan senyawa organik secara intensif di dalam industri telah menimbulkan kontaminasi di tanah dan air. Metode-metode remediasi berbasis fisika dan kimia telah dikembangkan dan diterapkan untuk mengatasi pencemaran. Dalam dua decade terakhir penelitian, pengembangan dan penerapan metode remediasi berbasis tumbuhan mendapat perhatian luas di Amerika, Australia, dan Eropa. Metode remediasi yang dikenal sebagai fitoremediasi ini mengandalkan pada peranan tumbuhan untuk menyerap, mendegradasi, mentransformasi dan mengimobilisasi bahan pencemar, baik itu logam berat maupun senyawa organik. Mengingat akan kekayaan hayati tumbuhan Indonesia yang besar serta ditunjang oleh iklim yang hangat sepanjang tahun, tentunya sumbangan tumbuhan untuk mengendalikan pencemaran perlu dikaji dan akhirnya diterapkan bila teknologinya ternyata menguntungkan. Fitoremediasi merupakan pemanfaatan tumbuhan, mikroorganisme untuk meminimalisasi dan mendetoksifkasi polutan, strategi remediasi ini cukup penting, karena tanaman berperan menyerap logam dan mineral yang tinggi atau sebagai fitoakumulator dan fitochelator. Konsep pemanfaatan tumbuhan untuk meremediasi tanah yang terkontaminasi polutan adalah pengembangan terbaru dalam teknik pengolahan limbah. Berdasarkan pengamatan diketahui bahwa di tanah yang ditanami tumbuhan hijau kandungan senyawa kimia organiknya lebih sedikit dibandingkan di sekitar tanah yang tidak ditanami tumbuhan hijau. Fitoremediasi dapat diaplikasikan pada limbah organik maupun anorganik dalam bentuk padat, cair, dan gas (Salt et al., 1998).
II. . Isi

II.1Apa Yang Disebut Fitoremediasi Istilah fitoremediasi berasal dari kata Inggris phytoremediation; kata ini sendiri tersusun atas dua bagian kata, yaitu phyto yang berasal dari kata Yunani phyton (= "tumbuhan") dan remediation yanmg berasal dari kata Latin remedium ( ="menyembuhkan", dalam hal ini berarti juga "menyelesaikan masalah dengan cara memperbaiki kesalahan atau kekurangan") (Anonimous,
1

yaitu penguraian zat-zat kontaminan oleh aktivitas microba yang berada disekitar akar tumbuhan. a.2Cara Berlangsungnya Proses Fitoremediasi Proses dalam sistim ini berlangsung secara alami dengan enam tahap proses secara serial yang dilakukan tumbuhan terhadap zat kontaminan/ pencemar yang berada disekitarnya. Zat-zat tersebut menempel erat (stabil ) pada akar sehingga tidak akan terbawa oleh aliran air dalam media. Percobaan untuk proses ini dilakukan dengan menanan bunga matahari pada kolam mengandung radio aktif untuk suatu test di Chernobyl. batang. Misalnya ragi. atau menghancurkan bahan pencemar baik itu senyawa organik maupun anorganik. Proses ini dapat berlangsung pada daun . 1996). II. Dengan demikian fitoremediasi dapat didefinisikan sebagai: penggunaan tumbuhan untuk menghilangkan. akar atau diluar sekitar akar dengan bantuan enzyme yang dikeluarkan oleh 2 . Phytoacumulation (phytoextraction) yaitu proses tumbuhan menarik zat kontaminan dari media sehingga berakumulasi disekitar akar tumbuhan. e. fungi dan bacteri. Ukraina. d.1999). menstabilkan. Phytodegradation (phyto transformation) yaitu proses yang dilakukan tumbuhan untuk menguraikan zat kontaminan yang mempunyai rantai molekul yang kompleks menjadi bahan yang tidak berbahaya dengan dengan susunan molekul yang lebih sederhan yang dapat berguna bagi pertumbuhan tumbuhan itu sendiri. c. Phytostabilization yaitu penempelan zat-zat contaminan tertentu pada akar yang tidak mungkin terserap kedalam batang tumbuhan. b. or plentedassisted bioremidiation degradation. Rhizofiltration (rhizo= akar) adalah proses adsorpsi atau pengedapan zat kontaminan oleh akar untuk menempel pada akar. memindahkan. Proses ini disebut juga Hyperacumulation. Rhyzodegradetion disebut juga enhenced rhezosphere biodegradation. Fitoremediasi adalah upaya penggunaan tanaman dan bagian-bagiannya untuk dekontaminasi limbah dan masalah-masalah pencemaran lingkungan baik secara ex-situ menggunakan kolam buatan atau reactor maupun in-situ (langsung di lapangan) pada tanah atau daerah yang terkontaminasi limbah (Subroto.

Beberapa tumbuhan dapat menguapkan air 200 sampai dengan 1000 liter perhari untuk setiap batang. dan melepaskan eksudat dan enzim yang dapat menstimulasi aktivitas mikroba.3Penyerapan Logam Berat Oleh Tumbuhan Menurut Corseuil & Moreno (2000). sebesar 10 mg/kg berat kering (BK) (setara dengan 0. Ekslusi. Tanaman mengabsorpsi ion tersebut.tumbuhan itu sendiri. Tanaman dapat mengenal ion yang bersifat toksik dan mencegah penyerapan sehingga tidak mengalami keracunan..001%). Toleransi. Jenisnya meliputi pembentukkan kelat (chelation). Beberapa tumbuhan mengeluarkan enzyme Berupa bahan kimia yang mempercepat proses proses degradasi. serta menyerap mineral pada daerah rizosfer. tanaman dapat menyelesaikan siklus hidupnya pada musim yang cocok. pengenceran. Tanaman dapat mengembangkan sistem metabolit yang dapat berfungsi pada konsentrasi toksik tertentu dengan bantuan enzim. Apabila pengaruh yang terjadi pada tanaman musiman. II. Kebanyakan tumbuhan mengakumulasi logam. Penanggulangan (ameliorasi). 1995 ). Tanaman meremediasi polutan organik melalui tiga cara.  Tumbuhan hiperakumulator logam Tumbuhan hiperakumulator adalah tumbuhan yang mempunyai kemampuan untuk mengkonsentrasikan logam di dalam biomassanya dalam kadar yang luar biasa tinggi. Phytovolatization yaitu proses menarik dan transpirasi zat contaminan oleh tumbuhan dalam bentuk yang telah larutan terurai sebagai bahan yang tidak berbahaya lagi untuk selanjutnya di uapkan ke admosfir. misalnya nikel. Tetapi 3 tumbuhan hiperakumulator logam mampu . Penguapan ini dapat mengakibatkan migrasi bahan kimia ( Schnoor et al. mekanisme tumbuhan dalam menghadapi toksikan adalah: Penghindaran (escape) fenologis. tetapi berusaha untuk meminimumkan pengaruhnya. Tanaman juga dapat menguapkan sejumlah uap air. mengakumulasi metabolisme non fitotoksik ke sel-sel tanaman. lokalisasi atau bahkan ekskresi. f. yaitu menyerap secara langsung bahan kontaminan.

Mekanisme penyerapan besi lewat pembentukan suatu zat khelat yang disebut fitosiderofor telah diketahui secara mendalam pada jenis rumput-rumputan (Marschner dan Romheld. 70 jenis (terutama dari 6 genera Brassicaceae) di daerah dingin di belahan utara bumi. Zimbabwe. diketahui ada 435 taxa tumbuhan hiperakumulator logam yang tumbuh tersebar di lima benua dan semua wilayah iklim (Baker. kadmium dan tembaga (Gwozdz et al. fitokhelatin.000 mg/kg BK) dan untuk seng dan mangan adalah 1% (10. fitosiderofor dapat mengikat logam lain seperti seng. Batas kadar logam yang terdapat di dalam biomassa agar suatu tumbuhan dapat disebut hiperakumulator berbeda-beda bergantung pada jenis logamnya (Baker. tembaga dan mangan. selanjutnya logam harus diangkut melalui jaringan pengangkut. 1997). misalnya histidin yang meningkatkan penyerapan nikel pada Alyssum sp. Afrika Selatan. Untuk kadmium. Translokasi di dalam tubuh tumbuhan. bahwa agar tumbuhan dapat menyerap logam maka logam harus dibawa ke dalam larutan di sekitar akar (rizosfer) dengan beberapa cara bergantung pada spesies tumbuhannya: Ekskresi zat khelat.2% dalam daun Alyssum bertolonii. Sedangkan batas bagi kobalt. Tumbuhan hiperakumulator nikel diketahui lebih dari 150 spesies.1% (1.. Kuba. bahwa berbagai molekul lain berfungsi serupa. 1992) dan logam lain seperti timbal.000 mg/kg BK). yang menemukan kadar nikel setinggi 1. sekitar 50 jenis ditemukan di Kaledonia Baru. Molekul fitosiderofor yang terbentuk ini akan mengikat (mengkhelat) besi dan membawanya ke dalam sel akar melalui peristiwa transport aktif. yang mengikat selenium pada Brassica juncea (Speiser et al. Brazil dan Filipina (Batianoff et al. ke 4 . Setelah logam dibawa masuk ke dalam sel akar.. 1996) dan suatu senyawa peptida khusus. yaitu xilem dan floem. (Kramer et al.. Selain aktif terhadap besi. Sekarang diketahui. 1990).. tembaga dan timbal adalah 0.mengakumulasi hingga 11% BK. dan sisanya ditemukan di Indonesia. 1999). 1994). 1999).01% (100 mg/kg BK) dianggap sebagai batas hiperakumulator. Sejak itu. Laporan pertama mengenai adanya tumbuhan hiperakumulator muncul pada tahun 1948 oleh Minguzzi dan Vergnano. terutama dengan mengandalkan analisis mikro terhadap spesimen herbarium. kadar setinggi 0.  Penyerapan oleh akar Telah diketahui.

. Ekosistem lahan basah memiliki kemampuan alamiah untuk menghilangkan berbagai jenis limbah pada beberapa tingkat efisiensi (Nichols. Jika sistem ini dapat dibuat sedemikian rupa sebagai pengolah limbah sekunder atau pengolah akhir. Untuk meningkatkan efisiensi pengangkutan. Hal ini dapat membantu proses pertumbuhan dan metabolisme mikroba maupun fungi yang hidup disekitar rizosfer. maka perlu dirancang sistem lahan basah buatan untuk mengolah limbah tertentu. 1996) dan fitokhelatin-glutation yang terikat pada Cd (Zhu et al. Faktor 5 . Berbagai molekul khelat yang berfungsi mengikat logam dihasilkan oleh tumbuhan. Kemampuan ini terutama disebabkan karena adanya vegetasi yang berperan sebagai pengolah limbah. lahan basah adalah habitat peralihan antara lahan darat dan air. asam organik. jadi bukan merupakan habitat darat ataupun habitat air. tanaman mengapung. Beberapa bahan kimia dimineralisasi oleh tanaman dengan bantuan air dan CO2.bagian tumbuhan lain.. Sekret berupa senyawa organik dapat membantu pertumbuhan dan meningkatkan aktivitas mikroba rhizosfer ( Salt et al. 1983). misalnya histidin yang terikat pada Ni (Kramer et al. cekaman lingkungan dan adaptasinya terhadap lingkungan. tanaman dalam air.. Beberapa senyawa organik yang dikeluarkan melalui eksudat akar (misalnya phenolik. Urutan produktivitas dari yang tertinggi adalah sebagai berikut: tanaman timbul. 1998 ). 1999). Tanaman mengeluarkan sekret melalui akar eksudat akar sebesar 10 – 20% dari hasil fotosintesis melalui eksudat akar. protein ) dapat menjadi sumber karbon dan nitrogen sebagai sumber pertumbuhan mikroba yang dapat membantu proses degradasi senyawa organic. operasi dan pemeliharaan yang lebih rendah kualitas air dapat ditingkatkan.4Tumbuhan Lahan Basah Sebagai Pembersih Air  Tumbuhan lahan basah Menurut Hammer dan Bastian (1989).  Fisiologi tumbuhan lahan basah Produktivitas tumbuhan lahan basah bergantung pada ketersediaan sumber daya. logam diikat oleh molekul khelat. maka dengan menggunakan biaya konstruksi. Karena sistem ini belum tentu dapat mengolah seluruh jenis kontaminan. alkohol. II.

Tumbuhan dengan tingkat pertumbuhan yang tinggi dan tajuk yang besar dapat menyimpan bermacam hara mineral. Untuk tanaman tenggelam. Bowmer. 1993). sedimen tersuspensi mempengaruhi kuantitas dan kualitas dari komposisi substrat dan cahaya. laju aliran air yang meningkat juga berpengaruh terhadap penurunan efek toksik dari senyawa-senyawa dalam substrat. Finlayson dan Chick. pertumbuhan tanaman timbul dapat menurunkan konsentrasi hara mineral (Laksham. 1985).. tanah dengan kadar organik tinggi bisa menyebabkan kondisi anaerobik dan menyebabkan logam (seperti besi dan mangan) berubah menjadi senyawa terlarut yang toksik Suhu air dan udara mempengaruhi reaksi biokimia dan dapat menghambat pertumbuhan tanaman bila batas toleransi suhu terlampaui.  Tumbuhan lahan basah sebagai pengolah limbah Tumbuhan timbul dipakai untuk pengolah limbah karena tumbuhan tersebut mengasimilasi senyawa organik dan anorganik dari limbah. 6 . Tingkat konsentrasi logam berat dalam jaringan tanaman-tanaman tersebut adalah sebagai berikut: akar > rizoma > daun (Shutes et al. Komposisi substrat berpengaruh terhadap kedalaman perakaran. berfungsi sebagai filtrasi dan pengendap senyawa hidrokarbon dan logam berat beracun.lingkungan yang mempengaruhi distribusi spesies dan pertumbuhan tumbuhan di lahan basah antara lain: Kedalaman air yang berkorelasi dengan pasokan oksigen dan cahaya Laju aliran air mempengaruhi ketersediaan oksigen dan hara. 1979. 1987). Pada media kerikil. Tumbuhan mengapung seperti eceng gondok juga dapat menghilangkan hara dan logam berat dalam jumlah yang cukup signifikan (Reddy dan DeBusk. Rizoma dan akar Phragmites australis Scirpus spp. 1983.

Kemampuan dalam mengolah limbah meliputi kapasitas filtrasi dan efisiensi serapan nutrisi (Shutes et al. 5. Untuk daerah tropis kira-kira = 40 kg BOD / Ha per hari . Tumbuhan timbul dan tumbuhan mengapung lebih banyak dipilih untuk digunakan dalam studi lahan basah buatan skala pilot. Jenis tumbuhan timbul Scirpus californicus. Unit wet land harus didahului dengan bak pengendap untuk menghidari kloging pada media koral oleh partikel-partikel besar. Kolam disi dengan media koral (batu pecah atau kerikil) diameter 5 mm s/d 10 mm. 6. dengan melubangi lapisan media koral sedalam 40 cm untuk dudukan tumbuhan. Hal yang patut dipertimbangkan dalam pemilihan tanaman adalah toleran terhadap limbah. Sagittaria lancifolia. Setinggi / setebal 80 cm. Kolam dilengkapi pipa inlet dan pipa belubang lubang untuk outlet 4. 7 . Panicum helitomom. 7. Ditanami tumbuhan air dicampur beberapa jenis yang berjarak cukup rapat. 3. Untuk Amerika utara = 32. 1993). karena sistem yang berbeda memiliki tujuan dan standar yang berbeda. Konsep Perencanaan Lahan Basah Beberapa ketentuan yang diperlukan untuk membuat sistim ini yaitu: 1. Untuk mengetahui tingkat toleransi tanaman terhadap limbah maka perlu diketahui konsentrasi nutrisi dalam limbah. 1993). Dialirkan air limbah setebal 70 cm dengan mengatur level (ketinggian) outlet yang memungkinkan media selalu tergenang air 10 cm dibawah permukaan koral. Pontederia cordata. dan Typha latifolia adalah yang terbaik digunakan pada sistem lahan basah buatan untuk mengolah limbah peternakan (Surrency. dan pengaruhnya terhadap lingkungan. Design luas kolam berdasarkan Beban BOD yang masuk per hari dibagi dengan Loading rate pada umumnya. mampu mengolah limbah. Konstruksi berupa bak/ kolam dari pasangan batu kedap air dengan kedalaman ± 1 m.  Pemilihan Jenis Tanaman Kriteria umum untuk menentukan spesies tumbuhan lahan basah yang cocok untuk pengolah limbah belum ada. Zizaniopsis miliaceae. 2.10 kg BOD / Ha per hari..

remediasi dengan secara lahan basah memerlukan biaya sebesar US$450. Spesies tumbuhan mengapung digunakan karena tingkat pertumbuhannya yang tinggi. Di pihak lain.5 juta untuk operasi dan pemeliharaan.000 setahun untuk biaya operasi dan pemeliharaan. Tanaman tenggelam tidak direkomendasikan pada pengolah limbah. sedangkan biaya fitoremediasi hanya sebesar US$0. banyak spesies yang tidak tahan terhadap kondisi eutrofik dan memiliki efek yang merugikan bagi alga dalam kolom air (Hammer dan Bastian. sebuah tim peneliti dari Inggris mengungkapkan bahwa mereka berhasil mengisolasi >120 jenis mikroorganisme dari segumpal tanah yang mereka peroleh dari lantai hutan di Ujung Kulon. Indonesia memiliki keanekaragaman hayati tumbuhan dan mikroorganisme yang besar.05 per m³ (Watanabe.Phalaris. karena produksinya rendah. Spartina. Namun tumbuhan tenggelam mungkin memiliki peran yang penting bila dikombinasikan dengan jenis tanaman lain dalam sistem pengolah limbah. Akarnya menjadi tempat filtrasi dan adsorpsi padatan tersuspensi dan pertumbuhan mikroba yang menghilangkan unsur-unsur hara dari kolom air. Contoh lain adalah biaya remediasi fasilitas militer yang terkontaminasi bahan peledak (Buckley.000 per ha untuk pembangunan fasilitasnya dan US$20. 1989). dan toleran terhadap berbagai macam kondisi lingkungan. Bandung. 1985). Cunningham dari DuPont mengestimasi biaya remediasi situs yang terkontaminasi adalah sebesar US$10-100 per m³ dengan cara in situ hingga US$30-300 per m³ dengan cara ex situ. Remediasi bahan peledak dari air dengan menggunakan carbon treatment dapat mencapai US$8 juta untuk pembangunan fasilitasnya dan US$1. dan kemampuannya untuk langsung menyerap hara langsung dari kolom air (Reddy dan de Busk. 1997). Dan beberapa di antara mikroorganisme tersebut mempunyai kemampuan untuk mendegradasi xenobiotika 8 . Dalam suatu pertemuan yang diadakan di LIPI. Carex dan Juncus memiliki potensi produksi dan daya serap hara yang tinggi. penyebarannya luas. 2000).  Prospek Fitoremediasi Faktor pendorong bagi penerapan fitoremediasi adalah biaya yang relatif murah dibanding dengan teknologi berbasis fisika dan kimia.

Watanabe (1997) mengemukakan prasyarat. BPPT. Karena walaupun telah disebutkan sebelumnya bahwa beberapa tumbuhan bersifat hiperakumulator. Kesimpulan Fitoremediasi adalah upaya penggunaan tanaman dan bagian-bagiannya untuk dekontaminasi limbah dan masalah-masalah pencemaran lingkungan baik secara ex-situ menggunakan kolam buatan atau reactor maupun in-situ (langsung di lapangan) pada tanah atau daerah yang terkontaminasi limbah.seperti senyawa organik aromatik berkhlor. Dalam hubungannya dengan pemanfaatan tumbuhan sebagai agensia pemulihan lingkungan tercemar. dan melepaskan eksudat dan enzim yang dapat menstimulasi aktivitas mikroba. 9 . khususnya yang tercemar logam berat. Sehingga perlu dicari tumbuhan asli yang tentunya sudah beradaptasi baik dengan iklim Indonesia. Tanaman meremediasi polutan organik melalui tiga cara. sedang mengadakan pengkajian penerapan potensi fitoremediasi untuk memulihkan lingkungan tercemar. mengakumulasi metabolisme non fitotoksik ke sel-sel tanaman. yaitu: laju akumulasi harus tinggi. namun kebanyakan tumbuhan tersebut berasal dari wilayah beriklim sedang. mengutip laporan Departemen Energi AS. III. Pada pengkajian ini tahap pemilihan tumbuhan yang mempunyai daya serap dan akumulasi tinggi terhadap logam berat merupakan priorotas yang sangat penting. serta menyerap mineral pada daerah rizosfer. Hal ini menunjukkan potensi alam Indonesia yang perlu dimanfaatkan. yaitu menyerap secara langsung bahan kontaminan. bahkan di lingkungan yang berkadar kontaminan rendah kemampuan mengakumulasi kontaminan dengan kadar tinggi kemampuan mengakumulasi beberapa macam logam tumbuh cepat produksi biomassa tinggi tahan hama dan penyakit Sebuah tim di Direktorat Teknologi Lingkungan.

Water Res. M. Phytoremediation technologies.bppt. Inc. Finlayson. Fitoremediasi diharapkan dapat memberikan sumbangan yang nyata dan praktis bagi usaha mempertahankan dan memperbaiki kualitas lingkungan di Indonesia.unpad. Kemajuan dalam pemahaman berbagai disiplin ilmu.com/sublab/lflora1.undip. http://eprints. 1-5.43). Raskin. R. 1983.43). Gardner. K. C.. Sci.html Baker. Anonimous. Sebagai suatu teknologi yang sedang berkembang.tripod. pukul 19.pdf (Diakses.htm (Diakses.ac. USA : McGraw-Hill. tanggal 13 Juni 2011. 1994. 17:415-422. tanggal 13 Juni 2011. Testing the potential of aquatic plants to treat abbatoir effluents. Bioremediation. 21:591-599. Annual Reviews. S. 1987. Herson. Bowmer.E. Annual Review Plant Physiology and Plant Molecular Biology : Phytoremediation. 501–662.J. URL: http://www. 1998. D.M.H. USA. Technol.D. Referensi http://pustaka.pdf tanggal 13 Juni 2011. dan Chick.43). 12-30.phytotech.com/index. fitoremediasi telah menarik banyak pihak termasuk peneliti dan pengusaha. terutama dalam fisiologi tumbuhan dan genetika akan mendorong perkembangan teknologi ini secara lebih cepat. Watanabe.H & D.id/wpcontent/uploads/2009/04/fitoremediasi_imbah_cair_dengan_eceng_g ondok_dan_limbah_padat_industri. 1998. Environ. Phytoremediation on the brink of commercialization.Fitoremediasi merupakan suatu sistem remediasi yang menarik namun masih merupakan teknologi yang sedang berada dalam tahap awal perkembangannya. 1999a. 211-224. 31:182A-186A 10 (Diakses. 180-181. Salt. K. Di Indonesia masalah pencemaran terus dihadapi sesuai dengan kemajuan industri sehingga usaha remediasi serta pencegahan pencemaran perlu diperhatikan.id/529/1/halaman_28-33__Nurandani__Suparni_S_Rahayu_. Water Res. A. Smith & I.ac. pukul 19. http://ltl. pukul 19. 1997.. Nutrient removal from effluents by an artificial wetland: influence of rhizosphere aeration and preferential flow studied using bromide and dye tracers. .

11 .

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful