You are on page 1of 14

MAKALAH ILMU KEDOKTERAN JIWA I DEPRESI DAN PENATALAKSANAANYA

DISUSUN OLEH: Diki Alwi W. Istiono Aris 07310067 07310127

Karna Purbayana 07310133 Metty Zainunah Ali Jahidin Rohadi N Tedy Pratama 07310156 07310013 07310241 07310274

FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS MALAHAYATI BANDAR LAMPUNG 2011

KATA PENGANTAR Puji syukur penulis haturkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa, yang telah memberikan rahmat, hidayah dan karunia-Nya kepada penulis sehingga dapat menyelesaikan pembuatan makalah ini dengan lancar dan tepat pada waktunya. Walaupun dengan waktu yang relatif singkat, tetapi penulis menyadari bahwa makalah ini dapat terselesaikan dengan baik berkat izin Alloh SWT serta bantuan dan kerja sama yang baik dari berbagai pihak. Kepada semua yang telah banyak membantu pembuatan makalah ini, baik berupa dorongan moril maupun penyediaan bahan bacaan. Untuk itu penulis haturkan terima kasih. Demikianlah, semoga makalah ini dapat bermanfaat sebagai informasi dalam kehidupan seharihari dan digunakan sebagaimana mestinya. Penulis menyadari bahwa sebagai manusia yang memiliki keterbatasan, tentu makalah yang penulis buat ini tidak luput dari kekurangan dan jauh dari kesempurnaan. Baik dalam segi materi maupun cara penulisan. Hal ini karena keterbatasan bahan-bahan yang dapat penulis pelajari. Oleh karena itu, penulis mohon maaf apabila ada kekurangan dan kesalahan pada makalah ini. Dan pada Alloh SWT penulis mohon ampun. Akhirnya, penulis mengucapkan selamat membaca, semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi penulis khususnya dan pambaca pada umumnya.

Penulis

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Depresi telah dicatat dan diketahui sudah sejak jaman masa lampau, diskripsi tentang apa yang dinamakan gangguan mood dapat ditemukan pada dokumen purbakala. Kira-kira tahun 400 SM. Hipokrates menggunakan istilah mania dan melankolis untuk menggambarkan gangguan mental ini. Di tahun 1854 Gules Folret menggambarkan suatu keadaan yang disebut falic circulaine, dimana pasien mengalami perubahan mood. Depresi merupakan salah satu gangguan psikiatrik yang sering ditemukan dengan prevalensi seumur hidup adalah kira kira 15%. Pada pengamatan yang universal terlepas dari kultur atau negara prevalensi gangguan depresi berat pada wanita dua kali lebih besar dari pria. Pada umumnya onset untuk gangguan depresi berat adalah pada usia 20 sampai 50 tahun, namun yang paling sering adalah pada usia 40 tahun. Depresi berat juga sering terjadi pada orang yang tidak menikah Patogenesis depresi kenyataannya sampai saat ini masih membingungkan dan belumlah pasti sehingga banyak teori-teori semuanya timbul dan berkembang seiring dengan kemajuan bidang psikofarmakologi. 1.2 Perumusan Masalah Berdasarkan latar belakang diatas, maka penulis merumuskan masalah sebagai berikut : 1. Apa yang dimaksud dengan depresi? 2. Bagaimana penanganannya di kehidupan?

BAB II PEMBAHASAN

2.1 Pengertian Depresi Menurut Nasional Insitute of Mental Health (dalam Siswanto, 2002), gangguan depresi dipahami sebagai suatu penyakit tubuh yang menyeluruh (whole-body), yang meliputi tubuh, suasana perasaan dan pikiran. Ini berpengaruh terhadap cara makan dan tidur, cara seseorang merasa mengenai dirinya sendiri dan cara orang berpikir mengenai sesuatu. Gangguan depresi tidak sama dengan suasana murung (blue mood). Ini juga tidak sama dengan kelemahan pribadi atau suatu kondisi yang dapat dikehendaki atau diharapkan berlaku. Orang dengan penyakit depresi tidak dapat begitu saja memaksa diri mereka sendiri dan menjadi lebih baik. Harrington (1995) membedakan antara kesedihan dan depresi. Perasaan sedih adalah bagian pengalaman yang normal. Konsep depresi berbeda dengan kesedihan atau ketidakgembiraan. Ketidakgembiraan adalah komponen yang umum pada suasana perasaan depresif yang berkaitan dengan depresi, suasana depresif pada depresi direpresentasikan oleh gambaran seperti kekosongan emosi atau suatu perasaan datar atau tumpul. Perasaan ini mungkin bervariasi dalam tingkat keparahan dan menunjukkan variasi harian, memburuk pada suatu waktu pada hari itu atau pada waktu yang lainnya. Gejala lain yang berkaitan dengan suasana perasaan depresi adalah gejala anhedonia yaitu suatu ketidakmampuan untuk mendapatkan kenikmatan dari sesuatu yang sebelumnya telah disenangi. Hawari (1997) memberikan definisi depresi sebagai sebuah gangguan pada alam perasaan (mood) yang ditandai dengan kemurungan, sedih, kelesuan, ketiadaan gairah hidup, perasaan tidak berguna, putus asa, hilangnya rasa senang, merasa tidak berdaya, dan lemah. Sue dkk (1986) mendefinisikan depresi sebagai suatu keadaan emosi yang mempunyai karakteristik seperti perasaan sedih, perasaan gagal dan tidak berharga, dan menarik diri dari orang lain ataupun lingkungan. Depresi menganggu suasana hati atau semangat, cara berpikir, fungsi tubuh dan menganggu perilaku. Davison & Neale (2002) menjelaskan depresi adalah suatu keadaan emosi yang ditandai dengan kesedihan yang sangat, perasaan tidak berharga dan

perasaan bersalah, menarik diri dari orang lain, susah tidur, kehilangan nafsu makan dan kesenangan terhadap aktivitas sehari-hari. Leitenberg & Wilson (1986) menyatakan bahwa mereka yang depresi menunjukkan kontrol diri rendah, yaitu evaluasi diri yang negatif, harapan terhadap performance rendah, suka menghukum diri dan sedikit memberikan hadiah terhadap diri sendiri. Hal ini sesuai dengan pendapat Beck (1985) yang menyatakan bahwa individu yang mengalami depresi karena pada awal perkembangannya ia memperoleh skema kognitif dengan karakteristik berupa rendahnya penilaian terhadap diri sendiri dan tidak adanya keyakinan mengenai masa depannya. Burns (1988) lebih lanjut membedakan antara kesedihan dan depresi. Kesedihan adalah suatu emosi normal yang diciptakan oleh persepsi realistik yang menggambarkan suatu peristiwa negatif yang berhubungan dengan kehilangan atau kekecewaan, dengan cara yang tidak terdistorsi. Depresi adalah suatu penyakit yang selalu merupakan akibat dari pemikiran yang terdistorsi. Kesedihan melibatkan suatu luapan perasan dan oleh karenanya mempunyai batas waktu tertentu. Kesedihan juga tidak berhubungan dengan menurunnya harga diri. Depresi membeku, cenderung bertahan atau terjadi berulangkali dan selalu melibatkan kehilangan harga diri.

2.2 Kriteria Diagnosis Akhir-akhir ini depresi dimasukkan ke dalam gangguan suasana perasaan (gangguan afektif/mood). Kerlainan fundamental dari kelompok gangguan ini adalah perubahan suasana perasaan ( mood ) atau afek dan biasanya ke arah depresi dengan atau tanpa ansietas yang menyertai atau dapat juga sebaliknya yaitu ke arah elasi (suasana pertasaan yang meningkat). Perubahan afek ini biasanya disertai dengn suatu perubahan pada keseluruhan tingkat aktifitas dan kebanyakan gejala lainnya adalah sekunder terhadap perubahan itu atau mudah dipahami hubungannya dengan perubahan tersebut.

GANGGUAN AFEKTIF EPISODE DEPRESI

Gejala utama : Baik pada derajat ringan, sedang dan beraat adalah : afek depresi kehilangn minat dan kegembiraan, berkurangnya energi yang menuju meningkatnya keadaan mudah lelah (rasa lelah yang nyata sesudah kerja sedikit saja) dan menurunnya aktivitas Gejala lainnya: Konsentrasi dan perhatian kurang, harga diri dan kepercayaan diri kurang, gagasan tentang rasa bersalah dan tidak berguna, pandangan masa depan yang suram dan pesimistis, gagasan atau perbuatan membahayakan diri atau bunuh diri, tidur terganggu, nafsu makan berkurang atau berlebihan. 1. Episode depresi ringan Sekurang-kurangnya harus ada 2 dari 3 gejala utama depresi seperti tersebut diatas , ditambah sekurang-kurangnya dua dari gejala lainnya, tidak boleh ada gejala yang berat diantaranya, lamanya seluruh episod berlangsung sekurang-kurangnya sekitar dua m,inggu, hanya sedikit kesulitan dalam pekerjaan dan kegiatan sosial yang biasanya dilakukannya, dengan atau tanpa gejala somatik. 2. Episod depresi sedang Sekurang-kurangnya harus ada dua atau tiga gejela utama depresi seperti pada episod depresi ringan, ditambah sekurang-kurangnya tiga (dan sebaiknya empat) dari gejala lainnya, lamanya seluruh episode berlangsung minimem sekitar dua minggu, menghadapi kesulitan nyata untuk meneruskan kegiatan sosial, pekerjaan dan urusan rumah tangga, dengan atau tanpa gejala somatik. 3. Episode depresi berat tanpa gejala psikotik Semua 3 gejala utama depresi harus ada ditambah sekurang kurangnya 4 dari gejala lainnya dan beberapa diantaranya harus berintensitas berat, bila ada gejala penting (misalnya agitasi atau retardasi psiko motor) yang mencolok, maka pasien mungkin tiudak mau atau tidak mampu untuk melaporkan banyak gejalanya secara rinci.

Dalam hal demikian, penilaian secara menyeluruh terhadap episode depresi berat masih dapat dibenarkan. - Episode depresi biasanya harus berlangsung sekurang kurangnya 2 minggu, akan tetapi jika gejala amat berat dan beronset sangat cepat, maka masih dibenarkan untuk menegakkan diagnosis dalam kurun waktu kurang dari 2 minggu. - Sangat tidak mungkin pasien akan mampu meneruskan kegiatan sosial, pekerjaan atau urusan rumah tangga kecuali pada tarap yang sangat terbatas. 4. Episode depresi berat dengan gejala psikotik - Episode depresi berat yang memenuhi kriteria depresi berat. - Dengan disertai waham, halusinasi atau stupor depresif, waham biasanya melibatkan ide tentang dosa, kemiskinan atau malapetaka yang mengancam diri pasien, merasa bertanggung jawab atas hal tersebut. Halusinasi auditorik atau olfaktorik biasanya berupa suara menghina atau menuduh atau bau kotoran atau daging membusuk. Retardasi psikomotor yang berat dapat menuju pada stupor. - Jika diperlukan, waham atau halusinasi dapat ditentukan sebagai serasi atau tidak serasi dengan afek 5. Distimia Adalah suatu keadaan depresi kronis dari suasana perasaan dengan ciri utama adanya depresi suasana perasaan yang berlangsung sangat lama tetapi tidak pernah atau jarang sekali mengalami ke tingkat yang parah. Biasanya terjadi dalam masa kehidupan dewasa dini dan berlangsung sekurang-kurangnya beberapa tahun, kadang-kadang untuk jangka waktu yang tidak terbatas. 2.3 Depresi Dan Aktifitas Aksis HPA Sampai saat ini hubungan antara etiologi, gejala, proses biokimia yang mendasarinya, respon terhadap terapi masih belum cukup dipahami dengan baik dan bahkan masih membingungkan. Banyak teori-teori yang mencoba mengungkapkan masalah gangguan suasana perasaan ini diantaranya adalah teori aktifitas aksis HPA.

Dalam kehidupan sehari hari orang tidak pernah bebas dari stres baik pisik maupun piskis. Persepsi orang terhadap stres yang sama bisa berbeda, hal ini dipengharuhi faktor bawaan dan lingkungan serta pengalaman hidup setiap individu. Oleh karena itu respon terhadap suatu stres juga beda. Dengan mekanisme aktifitas aksis HPA (Hipotalamus-Pituitari-Adrenal) keadaan stres sampai keadaan depresi dapat dipaparkan. Dengan adanya stres akan merangsang timbulnya respon aksis HPA. Respon aksis HPA ini akan segera hilang dan normal berkat adanya mekanisme umpan balik negatif lewat kortisol yang mencapai reseptornya di hipotalamus dan atau hipokampus. Bagaimanapun besarnya atau lamanya stres berlangsung tidak akan mengganggu homeostatis apabila mekanisme umpan balik tersebut masih berfungsi normal. Peningkatan sekresi CRF sebagai respon terhadap stres akan memacu kegiatan neuron LC yang selanjutnya akan mengaktifkan sistem adrenergik ini akan memberikan umpan balik negatif dari reaksi aksis HPA sehingga akibatnya kegiatan aksis ini akan menurun kembali. Disamping itu peningkatan sistem adrenergik akan meningkatkan reflek simpati adrenal untuk melepaskan adrenalin dan non adrenalin yang akan membangkitkan orang untuk bersiaga menghadapi segala kemungkinan-kemungkinan yang mengancam homeostatisnya. Pada tingkat ini gejala pskiatri yang muncul adalah reaksi cemas atau anxietas dan ditandai dengan penurunan kegiatan sistem saraf GABANERGIK dan sebaliknya peningkatan sistem saraf adrenergik dan sertonergik daan aksis HPA. Stres yang berlangsung terus menerus dan berkepanjangan pada suatu ketika tidak lagi mampu di kompensasi oleh mekanisme umpan balik negatif dari aksis HPA ini dan akibatnya degenerasi neuron-neuron yang rentan terhadap peningkatan kadar korsitol secara berlebihan. Neuron-neuron yang rentan terhadap kortisol justru neuron yang mengandung reseptor kortisol, serabut serotin dan noradrenalin dengan sendirinya akan mengakibatkan rusaknya mekanisme umpan balik aksis HPA ini.

2.4 Sejarah Anti Depresan Dengan ditemukannya sifat anti depresan dari imipramin pada tahun 1957 merupakan sejarah baru awal berkembangnya psikofarmaka. Untuk depresi imipramin, amitriptilin dan clompramin kemudian di masukkan kedalam golongan antidepresan trisiklik. Kemudian tidak beberapa lama sesudah itu ditemukan anti depresan Mono Amine Oxidase Inhibitors (MAOIs). Kedua golongan ini adalah anti depresan yang sangat efektif tetapi memiliki efek samping yang tidak menguntungkan. Antidepresan trisiklik memiliki insiden kordiotoksis dan efek samping

kolinergik dan dosis letal yang rendah. Sedangkan MAOIs dapat menyebabkan krisis hipertensi jika dikombinasi dengan agen-agen simpatomimetik baik dari obat-obatan lain ataupun makanan yang mengandung tiramin. Pada dekade 80 an ditemukan antidepresan golongan selektif Serotonin Reuptake Inhibitors (SSRIs) dan Reversible Inhibitors Of Monoamine Oksidase tipe A (RIMAs) yang memberikan efek samping anti kolinergik dan toksisitas yang lebih minimal di bandingkan anti depresan terdahulu. Meskipun begitu masih ditemukan adanya efek samping lain pada golongan SSRIs ini seperti terganggunya libido, akumulasi pada paru-paru dan interaksi dengan Cytocromer P450. Sekarang ini ditemukan tianeptin antidepresan baru yang mekanisme kerjanya mempercepat reuptake dari serotonin (SSREs). Golongan ini mekanisme kerjanya mempercepat pengembalian kembali serotonin celah sinap. Dengan demikian akan memacu umpan balik aksis HPA dan pada akhirnya meningkatkan serotonin baru pada celah sinap. Disamping itu tianeptin tidak di metabolisme melalui sitokrom P450 dan tidak memberi efek akumulasi pada paru-paru.

2.5 Pemilihan Obat Anti Depresan TCAS atau trisikilk mempunyai efek samping dan kardiologik yang besar. Oleh karena itu sebaiknya di berikan pada pasien usia muda yang lebih dapat mentolerir efek samping tersebut. Sampai sekarang golongan ini masih banyak dipakai psikiater untuk mengatasi depresi yang disertai agitasi. Tetrasiklik mempunyai efek samping otonomik dan kardiologik yang relatif kecil tetapi memiliki efek sedasi yang kuat. Oleh karena itu obat golongan ini dapat diberikan pada pasien yang kondisinya kurang tahan terhadap efek otonomik dan kardiologik atau pasienpasien usia lanjut dan sindrome depresi dengan disertai anxietas dan insomnia. MAOIs memiliki efek samping hipotensis ortostatik yang relatif sering. Oleh karena itu jika diberikan pada pasien usia lanjut yang sering terbangun pada malam hari, kemungkinanan resiko jatuh yang menyebabkan trauma sangat besar sangat besar demikian juga kemungkinan jatuh pada perubahan posisi tubuh yang mendadak. Pemberian MAOIs sebaiknya dihindari pada usia lanjut.

SSRIs memiliki efek samping sedasi, otonomik dan hipotensi ortostatik yang minimal. Oleh karena itu dapat di anjurkan penggunaannya untuk semua pasien dari semua golongan umur dan untuk bermacam-macam tipe depresi, dapat dikatakan tidak ada kontra indikasi untuk pemberian SSRIs. Disamping itu obat ini mempunyai waktu paruh yang panjang sehingga pemberiannya cukup sehari sekali. SSREs (Tioneptine) golongan ini tekah terbukti bebas dari efek samping kolinergik dibanding dengan antidepresan trisiklik lainnya dan bersifat non sedatif karena lemahnya ikatan dengan reseptor alfa adrenergik dan histaminilo. Kesemuanya itu membuat obat golongan ini mempunyai kepatuhan lebih baik. Oleh karena Tianeptin tidak di metabolisme melalui sitokrom P450 sehingga dapat memberikan keamanan yang tinggi bila dikombinasi dengan obat-obatan lainnya dan dapat diberikan pada pasien dengan serosi hepatis ataupun dengan insufisiensi fungsi hepar lainnya.

OBAT-OBATAN ANTI DEPRESAN Golongan Zat Aktif dan Dosis Anjuran

Trisiklik (TCAs)

Amitriptilin 75-150 mg / hari Imipramin 75-150 mg / hari Clomipramin 75-150 mg / hari Amineptin 100- 200 mg / hari Opipramol 50-150 mg / hari Tetrasiklik

Maprotilin 75-150 mg / hari Amoxopin 200-300 mg / hari Mainserin 30-60 mg / hari

Penghambat Mono Amine Okside (MAOIs)

Maclobemid 200-600 mg / hari

Selektive Serotonin Reuptake Inhibitors (SSRIs)


Elvatelin 20-40 mg / hari Protetin 20-40 mg / hari Setralin 50-100 mg / hari Fluvotamin 50-100 mg / hari Fluoxetin 10-20 mg/hari Selektive Serotonin Reuptake Enhancer (SSREs) Tianeptine 20-40 mg / hari

2.6 Terapi Depresi Penderita depresi perlu melakukan terapi secara tepat. Hal ini untuk

menghindari konsekuensi bila tidak mencapai kesembuhan. Konsekuensi yang dimaksud yaitu: kendala psikososial berkepanjangan, memperburuk prognosis, menambah beban pelayanan medis, meningkatnya risiko bunuh diri dan penyalahgunaan zat, serta meningkatnya risiko kekambuhan. Adapun tujuan terapi depresi adalah meningkatkan kualitas hidup, mengurangi atau menghilangkan gejala, mengembalikan peran dan fungsi, mengurangi risiko kekambuhan, serta mengurangi risiko kecacatan atau kematian. Namun, ada faktor yang memengaruhi hasil terapi, yakni pasien, masyarakat, dokter, dan obat. Pada pasien biasanya berupa ketidakpatuhan karena berbagai sebab satunya tidak peduli. Pada masyarakat atau lingkungan adalah karena mitos, kepercayaan, dan stigma. Dokter juga bisa memberi pengaruh yang tidak baik pada hasil terapi, misalnya jika dokter kurang mengenali gejala depresi. Sedangkan pada obat, biasanya menyangkut efektivitas, efek samping, kemudahan, dan harga. Khusus mengenai obat, penderita depresi sebaiknya menggunakan obat antidepresan yang sesuai dengan kondisi. Antidepresan pada umumnya diberikan selama hingga 6 bulan. Pada beberapa kasus pasien dan dokternya memutuskan untuk menggunakan antidepresan lebih lama. Pemberian anti depresan pada minggu pertama dan ke dua pengobatan kadang tampak bertambah parah atau tampak memburuk yaitu timbul kecemasan atau bahkan sampai insomnia. Untuk mengatasi hal ini dapat ditambahkan obat golongan benzodiazepin misalnya alprazolam. Bila gejala-gejala psikotik muncul pemberian antipsikotik perlu dipertimbangkan misalnya haloperidol,olonzapine,dll.

BAB III PENUTUP

3.1 Kesimpulan Dari pembahasan diatas penulis menyimpulkan : 1. Depresi adalah suatu kondisi yang lebih dari suatu keadaan sedih, bila kondisi depresi seseorang sampai menyebabkan terganggunya aktivitas sosial sehari-harinya maka hal itu disebut sebagai suatu Gangguan Depresi. Beberapa gejala Gangguan Depresi adalah perasaan sedih, rasa lelah yang berlebihan setelah aktivitas rutin yang biasa, hilang minat dan semangat, malas beraktivitas, dan gangguan pola tidur. Parahnya, depresi merupakan salah satu penyebab utama kejadian bunuh diri. 2. Cara menanggulangi depresi berbeda-beda sesuai dengan keadaan pasien, namun biasanya merupakan gabungan dari farmakoterapi dan psikoterapi atau konseling. Dukungan dari orangorang terdekat serta dukungan spiritual juga sangat membantu dalam penyembuhan.

DAFTAR PUSTAKA

http://pojokperawatanjiwa.blogspot.com/2009/06/depresi-dan-penanganannya.html http://mediaanakindonesia.wordpress.com/2011/08/16/gepresi-gejala-dan-cara-penanganannya/ http://www.google.co.id/search?q=DEPRESI+DAN+PENANGANANNYA&ie=utf-8&oe=utf8&aq=t&rls=org.mozilla:en-US:official&client=firefox-a