Booster Oleh Andy Omega, 0906639650 Booster merupakan administrasi atau pemberian ekstra dari vaksin setelah diberikan

dosis awal yang dibutuhkan secara periodik untuk meningkatkan sistem imun. Alasan pemberian booster ini antara lain: 1. Untuk memastikan respon imun yang diinduksi oleh vaksinasi yang setidaknya berhasil secara parsial, dinaikkan efeknya menjadi respon imun yang cukup besar untuk melindungi dari penyakit secara efektif. 2. Untuk memastikan semua penerima vaksin menunjukkan setidaknya beberapa respon imun. Misalnya vaksin oral polio tidak selalu berhasil, tetapi jika diberikan tiga kali dalam jangka waktu yang relatif lama, setidaknya satu vaksinasi berhasil. 3. Untuk melengkapi respon imun setelah periode yang lama.

membutuhkan kapasitas untuk bermigrasi ke tempat yang dapat bertahan lebih lama di sumsum tulang. Dari sana, sel tersebut dapat memproduksi vaksin antibodi selama periode lebih lama. Beberapa sel plasma terinduksi sel germinal ditarik ke arah kompartemen sumsum tulang oleh sel stromal sumsum tulang spesifik yang mengirimkan sinyal yang dibutuhkan untuk bertahan dalam jangka waktu lama. Di tempat sumsum tulang tersebut, sel plasma bertahan dan produksi antibodi dapat bertahan tahunan. Mekanisme yang menyebabkan persistensi sel plasma yang diinduksi vaksin ini masih belum jelas yang lebih dominan. Mekanisme apa pun yang mendukung keberlangsungan sel plasma ini, durasi respon antibodi proporsional dengan jumlah sel plasma terinduksi imunisasi yang bertahan lama. Dengan tidak adanya pajanan antigen berikutnya, keberadaan antibodi yang diprediksi dengan titer antibodi dapat mencapai 6-12 bulan setelah imunisasi. Penentu lama persistensi respon vaksin antibodi telah teridentifikasi. Sifat dari vaksin berperan penting. Hanya vaksin dari virus hidup yang dilemahkan yang mampu bertahan selama beberapa dekade. Jadwal vaksin juga mengontrol besarnya dan persistennya antibodi. Umur saat imunisasi juga memodulasi keberadaan antibodi vaksin, dengan persistensi lebih pendek pada usia terbawah dan teratas. Beberapa kondisi penyakit juga membatasi persistensi respon vaksin antibodi karena meningkatkan katabolisme atau kehilangan antibodi melalui saluran urin atau pencernaan. Identifikasi mekanisme yang mendukung atau membatasi persistensi respon antibodi vaksin merupakan tantangan utama untuk vaksinologis, sebagai penyebab kurang efektifnya kebanyakan program imunisasi termasuk dosis booster yang dibutuhkan untuk menjaga efikasi vaksin.

Grafik 1. Korelasi antara titer antibodi dengan berbagai fase dari respon vaksin. Pengontrol Persistensi Respon Antibodi Vaksin Sel plasma spesifik antigen yang muncul di limpa atau nodus limfa setelah imunisasi hanya memiliki rentang waktu hidup singkat. Fraksi sel plasma yang berdiferensiasi menjadi sel germinal

1

Proses ini jauh lebih cepat daripada respon primer. Passador S. Ini seperti induksi yang lebih besar pada kumpulan sel B memori antigen spesifik. Romano L. kecuali jika pajanan antigen ulang mereaktivasi memori imun. 3. Sel ini tidak menghasilkan antibodi. Dengan demikian. proliferasi. Daftar Pustaka 1. et al. Dengan demikian. Oleh karena itu. Dengan kemungkinan pengecualian pada respon terhadap vaksin virus hidup. Kecepatan kemunculan antibodi antigen spesifik di dalam serum merupakan penanda dari respon sekunder. terhadap mikroorganisme yang bereaksi silang. Long term immunogenicity of hepatitis B vaccination and policy for booster an Italian multicentre study. seperti respon booster yang dikarakteristikkan oleh peningkatan cepat ke titer antibodi yang lebih tinggi yang memiliki afinitas yang lebih tinggi terhadap antigen daripada antibodi yang terbentuk selama respon primer. Pada saat memberikan booster. penanda respon sel B memori adalah untuk menghasilkan kadar antibodi lebih banyak secara signifikan daripada imunisasi primer. 2005. Reaktivasi ini merupakan proses yang cepat. Reaktivasi ini dapat terjadi pada respon terhadap patogen endemik. p. Lancet 366:1379-1384. oleh karena itu tidak melindungi. antibodi vaksin dengan aviditas terhadap antigen lebih tinggi dari nilai dasar hanya terinduksi saat cukup waktu setelah saat primer. Oleh karena itu. Vaccine Immunology. imunisasi booster dapat diberikan 4-6 bulan setelah pemberian pertama. 2. sehingga terjadi diferensiasi menjadi antibodi penghasil sel plasma. Faktor yang meningkatkan diferensiasi sel plasma dan respon antibodi primer juga mendukung induksi sel B memori. Siegrist CA. 23-33. 2 .Penanda respon sel B memori Sel B memori dihasilkan selama respon primer terhadap vaksin yang bergantung sel T. Pichichero ME. 2009. Penentu Respon Sel B Memori Faktor yang menentukan diferensiasi sel B sel germinal spesifik antigen menjadi sel plasma atau sel B memori hingga kini belum dimengerti. menyebabkan proliferasi dengan cepat dan berdiferensiasi menjadi sel plasma yang menghasilkan sejumlah besar antibodi afinitas tinggi. Reaktivasi. konten antigen yang lebih tinggi meningkatkan respon booster dengan merekrut lebih sel B memori untuk berespon. dan diferensiasi sel B memori terjadi tanpa membutuhkan induksi dan perkembangan respon sel germinal. kecuali jika terjadi pajanan kembali terhadap antigen. Konsekuensinya. sebagai hasil dari hipermutasi somatik dan seleksi. Proses pematangan afinitas terjadi selama beberapa bulan setelah berakhirnya reaksi sel germinal. New York: Elsevier Saunders. 1999. kebutuhan untuk reaktivasi lebih rendah daripada untuk sel B naif. Antigen menyebabkan aktivasi sel B memori. respon vaksin antibodi dianggap menurun dan dengan cepat menurun di bawah ambang batas protektif. Dengan meningkatkan afinitas permukaan Ig dari sel B memori. Zanetti AR. atau terhadap imunisasi booster. Penanda sel B memori lainnya adalah untuk mensekresikan antibodi dengan afinitas yang lebih tinggi daripada yang diproduksi oleh sel B primer. Kinetics of booster responses to Haemophilus influenzae type B conjugate after combined diphteria-tetanus-acellular pertussis-Haemophilus influenzae type B vaccination in infants. sel B memori dapat dipanggil kembali dengan sejumlah kecil antigen tanpa bantuan sel T helper CD4. antibodi setelah booster lebih tinggi pada individual dengan respon yang lebih kuat. Mariano A. Volshen T. Pediatr Infect Dis J 18:1106-1108.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful