BAB I PENDAHULUAN Pemilihan ketua daerah yang biasa disebut dengan Pilkada.

Pilkada tahun ini akan dilaksanakan kembali dan Pilkada tahun ini diharapkan berjalan dengan lancar. Pemilihan ketua daerah DKI ini adalah untuk menentukan siapa pemimpin daerah DKI tahun ini atau untuk menentukan siapa gubernur DKI tahun ini. Calon gubernur harus bisa menjadi pemimpin yang baik untuk masyarakatnya. Calon-calon gubernur DKI ini berlomba-lomba atau berjanji-janji untuk membenahi dan menjadikan kota Jakarta sebagai Ibu Kota yang bersih dan aman. Dalam pemilihan calon gubernur juga terbentuk badan yang disebut KPU. KPU ini bertugas untuk melancarkan jalannya Pilkada, khususnya Pilkada DKI. Calon gubernur yang akan terpilih harus bisa membuktikan dan menunjukan janjinya yang pernah diucapkan. Sebuah janji yang diucapkan dan yang bisa dibuktikan tidak akan mengecewakan hati masyarakat yang telah memilih, karena masyarakat menginginkan kedamaian pada daerahnya, khususnya daerah DKI Jakarta. Dalam pemilihan calon gubernur seharusnya tidak terdapat kecurangan didalamnya. Dan seharusnya pemilihan calon gubernur bersifat adil, karena dari bentuk pemilihan yang bersifat adil itulah awal dari sebuah kepemimpinan yang bersifat adil pula. Dengan adanya pemimpin yang adil maka masyarakat pun akan mecontoh seorang pemimpin yang akan memimpin daerahnya. Khususnya wilayah DKI Jakarta akan terbenahi, karena adanya kepemimpinan yang bersifat adil. Calon gubernur yang adil dalam pemilihannya tidak dalam bentuk kecurangan. Kecurangan yang terjadi saat ini seharusnya sudah bisa ditindaklanjuti agar calon gubernur atau calon pemimpin bisa memimpin dengan baik dan tidak mengecewakan para masyarakatnya. Karena bentuk kecurangan itu adalah awal dari sebuah kepemimpinan yang tidak bersifat demokratis. Pemimpin atau calon pemimpin yang baik adalah bersifat adil, demokratis dan bijaksana dalam menentukan segala hal dan menentukan tujuan yang akan di capai.

1.1. Latar Belakang Dalam pemilihan daerah, calon gubernur wilayah DKI Jakarta terdapat KPU yang bertugas melancarkan jalannya Pilkada. Dalam makalah ini KPU DKI Jakarta membatasi rekening calon gubernur. KPU DKI melakukan terobosan aturan untuk mengantisipasi kecurangan dalam Pilkada DKI Jakarta. Disebabkan para peserta Pilkada DKI Jakarta berpotensi menerima dana kampanye illegal yang sulit dideteksi. Ini adalah sebuah bentuk kecurangan dan ini adalah awal dari sebuah ketidakadilan. Demi sebuah kemenangan terjadilah sebuah kecurangan dan ketidakadilan. Ini akan berakibat buruk bagi masa depan, karena masyarakat juga menginginkan keadilan untuk daerahnya. Dengan adanya kecurangan tersebut, maka tidak heran ada dikalangan masyarakat berdemo untuk menuntut hak pilih Pilkada DKI. Kecurangan tersebut membuat hati masyarakat kecewa akan calon pemimpinnya. Dibalik kecurangan tersebut ada kalangan atau simpatisan yang memilih calon gubernurnya menerima kecurangan tersebut. Masyarakat yang diberi uang dari calon gubernurnya yang akan dipilih adalah uang untuk memilih calon gubernur tersebut dengan cara kecurangan dan dengan cara yang tidak adil, agar calon gubernur tersebut bisa terpilih menjadi gubernur/wakil gubernur DKI Jakarta. Masyarakat memilih calon gubernur/wakil gubernur tersebut karena uang yang diberikan kepada mereka. Masyarakat

Calon gubernur/wakil gubernur yang adil akan menciptakan masyarakat bersifat adil pula. bahkan mereka membayar sampai bermiliyaran rupiah. agar tercipta pemilu yang damai dan agar tidak ada masayarakat yang menuntu hak pilihnya. Apakah dua pasang calon gubernur/wakil gubernur DKI Jakarta benar-benar bersih dari politik “dagang sapi” saat mereka . apakah benar-benar dua pasang calon gubernur/wakil gubernur. kolusi dan nepotisme. Hal ini merusak citra pemilu langsung. bahkan bersih dari korupsi. sesuai dengan harapan masyarakat dan juga calon pemimpin ynag bisa menciptakan suasana aman dan damai. Kalau memang benar KPU lah yang bertugas menanganinya agar gubernur/wakil gubernur DKI Jakarta yang terpilih bersih dari korupsi. Pilkada harus bersih dari politik “dagang sapi” tersebut. Politik “dagang sapi” tersebut diartikan sebagai mereka (calon gubernur/wakil gubernur) membayar kepada partai politik. dan nepotisme serta anggota-anggotanya yang bersih dari ketidakadilan dan bersih dari anggota-anggota pemimpin DKI yang berkorupsi. Itulah sebabnya disebut dengan politik “dagang sapi”. Calon gubernur/wakil gubernur DKI Jakarta harus benar-benar bersih dari politik “dagang sapi” saat mereka dicalonkan oleh partai politik. 1. Tidak hanya partai politik yang memintai uang bermiliyaran rupiah. Hal ini tidak seharusnya terjadi. begitu juga sebaliknya para masyarakat yang memilih calon gubernur/wakil gubernur harus bisa menyadari bahwa mereka harus bisa memilih calon gubernur/wakil gubernur yang bisa bertanggung jawab dan bisa memimpin dengan baik. serta menciptakan DKI Jakarta yang bersih dan aman. karena itu adalah awal dari ketidakadilan sebuah kepemimpinan.2. kolusi. bahkan calon gubernur pun mau memberikan uang kepada partai politik. Pada makalah ini politik “dagang sapi” dilakukan baik oleh calon gubernur/wakil gubernur maupun oleh partai politik sendiri. yaitu terdiri dari terjadinya politik “dagang sapi” yang diperiksa oleh KPUD DKI Jakarta. 1. maka seluruh wilayah DKI Jakarta telah dipimpin oleh pemimpin yang baru. Dengan adanya pemimpin daerah DKI atau gubernur/wakil gubernur daerah DKI. Karena pemimpin itu harus bersifat adil.3. Perumusan Masalah Dalam pemilihan caloh gubernur/wakil gubernur terdapat masalah yang terjadi. Politik “dagang sapi” tersebut dilakukan oleh partai politik yang mencalonkan calon gubernur/wakil gubernur untuk membayar sampai bermiliyaran rupiah. Gubernur/wakil gubernur yang telah dipilih berdasarkan dengan hati nurani rakyat bukan atas kecurangan. karena seharusnya para calon pemimpin menyadari bahwa perbuatan tersebut tidak patut untuk dijadikan contoh yang baik. Tujuan Pilkada DKI Jakarta bertujuan untuk memilih pemimpin yang memimpin daerah DKI dengan adil dan bijaksana serta konsekuen pada janji-janji yang telah diucapkan. kolusi dan nepotisme. Karena semuanya berawal dari seorang pemimpin daerah atau gubernur/wakil gubernur yang memimpin daerahnya secara adil. seharusnya calon gubernur tersebut tidak akan mau untuk membayarnya. bahkan calon gubernur/wakil gubernur mau untuk membayarnya. Dengan ini KPU dan KPUD bertugas untuk menuntaskan siapa yang melakukan politik “dagang sapi” tersebut.memilih bukan dari hati nurani masyarakat daerah DKI Jakarta. agar bisa memimpin daerahnya. Dikarenakan partai politik memintai kepada calon gubernur/wakil gubernur untuk memberikan uang sampai bermiliyaran rupiah. khususnya daerah DKI Jakarta dengan adil dan bijaksana.

5 miliyar dan Mayjen (Purn) Djasri Marin mengaku memberikan Rp 2 miliyar. Saat kasus itu terjadi.000 orang tidak masuk di daftar pemilih sementara Pilkada DKI Jakarta. Mereka meminta Gubernur Sutiyoso dan KPUD mengubdurkan batas pendaftaran pemilih. praktik “dagang sapi” yang dilakukan partai politik adalah symbol dari proses rekrutmen yang buruk dan merusak citra pemilu langsung. yang mengaku telah memberi uang miliaran rupiah ke partai politik. Itu yang membuat para simpatisan Partai Keadilan Sejahtera menutut hak pilih Pilkada DKI. Karena koalisi juga meminta para bakal calon wakil gubernur yang memberikan uang atau dana ke partai politik harus melaporkan siapa yang menerima uang kepada polisi. BAB II PEMBAHASAN Pemilihan calon gubernur/wakil gubernur akan segera diadakan di daerah DKI Jakarta. Calon-calon gubernur/wakil gubernur yang masuk dalam partai politik dimintai uang sampai bermiliyaran rupiah. Saat kasus itu terjadi para kader PKS DKI Jakarta dan Forum Betawi Rempug mengadakan unjuk rasa di kantor Gubernur DKI Jakarta. sebab kecurangan tersebut seharusnya tidak terjadi. Hal ini perlu dilakukan terkait munculnya pernyataan bakal calon gubernur/wakil gubernur DKI. Hal ini sudah terjadi kecurang dan ketidakadilan. Koalisi menyatakan. Dan bahkan calon-calon gubernur/wakil gubernur tersebut mau untuk membayar sampai miliyaran rupiah kepada partai politik. karena banyak yang belum terdaftar. Seperti Komisi Pemilihan Umum Daerah DKI Jakarta didesak membentuk tim investigasi untuk memeriksa apakah dua pasang calon gubernur/wakil gubernur DKI Jakarta benar-benar bersih dari politik “dagang sapi” saat mereka dicalaonkan oleh partai politik. Dalam hal ini yang harus bertindak adalah KPU dan KPUD yang harus menindaklanjuti kasus tersebut. KPU dan KPUD. seperti Djasri Marin dan Slamet Kirbiantoro yang mengakui telah memberi uang miliyaran rupiah ke partai politik. KPU akan . KPU dan KPUD harus meminta klarifikasi kepada partai-partai politik yang diduga menerima aliran dana tersebut. Politik “dagang sapi” tersebut terkait munculnya pernyataan bakal calon gubernur/wakil gubernur DKI. Konstituen PKS tidak masuk dikarenakan banyak partai politik yang melakukan praktik politik “dagang sapi” kepada calon-calon gubernur/wakil gubernur yang masuk dalam partai politik. salah satunya terjadinya politik “dagang sapi” saat mereka dicalonkan oleh partai politik. Politik “dagang sapi” tersebut berarti mereka (calon gubernu/wakil gubernur) membayar kepada partai politik. Bahkan Sarwono Kusumaatmadja juga mengaku pernah dimintai uang hingga Rp 400 miliyar. maka para simpatisan Partai Keadilan Sejahtera mendatangi Balaikota DKI Jakarta. bahkan mereka membayar sampai bermiliyaran rupiah. seperti Djasri Marin dan Slamet Kirbiantoro.dicalonkan oleh partai politik. Mayor Jenderal (Purn) Slamet Kirbiantoro mengaku memberikan Rp 1. Mereka menemukan sepertiga konstituen PKS atau sekitar 330. Yang harus dilakukan KPU DKI salah satunya adalah membatasi rekening calon gubernur. Kecurangan tersebut akan mengecewakan berbagai kalangan yang akan memilih calon gubernur/wakil gubernurnya.000 orang tidak masuk di daftar pemilih sementara Pilkada DKI Jakarta. dehingga ada konstituen PKS atau sekitar 330. mereka menuntut hak pilih Pilkada DKI. Tetapi terdapat kecurangan di dalamnya.

KPU harus tahu apa saja yang ada di sana dan agar lebih mengetahui secara lebih transparan aliran dan sumber dana setiap pasangan. Perlunya KPU DKI melakukan terobosan aturan untuk mengantisipasi kecurangan dalam Pilkada DKI. tidak dengan cara kecurangan. Dikarenakan para peserta Pilkada berpotensi menerima dana kampanye illegal yang sulit dideteksi. bentuk . agar tebentuk daerah yang didampingi dengan keadilan. Kalau bukti dan laporan itu ada. Pemilihan calon gubernur/wakil gubernur sebaiknya berjalan secara demokratis. Oleh karena itu masyarakat perlu mendesak kepada para kandidat gubernur/wakil gubernur untuk membuka akses tentang dana kampanye dan sumbernya. Keadilan itu bisa membentuk suasana damai dan aman. bahkan lembaga-lembaga lain seperti KPK.bekerjasama dengan asosiasi akuntan publik untuk menentukan standar pelaporan dana kampanye. Pilkada seharusnya berjalan tidak dengan kecurangan. yang memiliki kewenangan lebih besar dalam masalah penggunaan dana public seharusnya dapat memberi bantuan. kepolisian dan kejaksaan. Dana illegal yang masuk sebaiknya tidak terjadi dan juga praktik politik “dagang sapi” sebaiknya tidak terjadi. karena dengan keadilan masyarakat tidak akan berdemo untuk menuntut haknya. BAB III PENUTUP Kesimpulan Pilkada seharusnya berjalan secara demokratis. itulah yang harus dilakukan oleh KPU. Masyarakat sebaiknya harus bisa memilih siapa yang pantas untuk dijadikan pemimpin daerah. Hal itu merupakan upaya maksimal yang bisa dilakukan KPU DKI ditengah lemahnya ketentuan Undang-undang seputar pengawasan dana kampanye peserta Pilkada. sebab dapat merusak citra pemilu. Tidak hanya KPU yang bertugas mengatasi kasus ini. KPU hanya bisa bergerak berdasarkan laporan dan bukti. baru KPU bisa membuat keputusan diskualifikasi atau pembatalan hasil pemilu.

Karena ini adalah sebuah ketidak adilan. KPU bisa membuat keputusan diskualifikasi atau pembatalan hasil pemilu. agar dana illegal itu tidak dipakai untuk dana kampanye. KPU dan KPUD harus menindaklanjuti masalah ini. Dalam hal ini yang harus bertindak adalah KPU dan KPUD. karena dana illegal tersebut untuk dana kampanye. Dengan adanya kecurangan politik “dagang sapi” tersebut. Dengan terjadinya masalah ini maka masyarakat perlu mendesak kepada para kandidat gubernur untuk membuka akses tentang dana kampanye dan sumbernya. Sebaiknya pemerintah mengawasi pemilihan calon gubernur/wakil gubernur. agar tidak terjadi kecurangan dalam pemilihan calon gubernur/wakil gubernur dan juga tidak terjadi pemasukan dana illegal.kecurangan tersebut dapat memicu berbagai kalangan untuk menuntuk hak pilihnya. Dalam Pilkada DKI Jakarta ini terjadinya masukan dana illegal untuk dana kampanye. Sebaiknya pemerintah dapat mengawasi agar tidak terjadi kecurangan dalam Pilkada juga tidak terjadi pemasukan dana illegal serta kericuhan yang dilakukan simpatisan dari Partai Keadilan Sejahtera yaqng menuntut hak pilihnya. kepolisian dan kejaksaan agar bisa menindaklanjuti masalah politik “dagang sapi” dan pemasukan dana illegal. maka banyak calon gubernur/wakil gubernur yang tidak masuk dalam pemilihan Pilkada DKI Jakarta. karena akibat dari kecurangan politik “dagang sapi” tersebut banyak calon gubernur/wakil gubernur tidak masuk dalam pemilihan Pilkada. Sebab para peserta Pilkada menerima dana illegal yang sulit dideteksi. . karena aka merusak citra pemilu. Calon yang tidak masuk dalm Pilkada salah satunya adalah dari Partai Keadilan Sejahtera. KPU perlu adanya melakukan antisipasi kecurangan dalam Pilkada DKI. KPU bekerja sama dengan asosiasi akuntan publik untuk menentukan standard pelaporan dana kampanye. KPU mengantisipasi dana illegal yang masuk dengan cara membatasi rekening calon gubernur. Maka simpatisan PKS berdemo untuk menuntut hak pilih. Saran Pilkada seharusnya berjalan berdasarkan demokrasi tidak dalam bentuk kecurangan. maka bukan hanya KPU dan KPUD yang bertindak bahkan lembaga-lembaga seperti KPK. Dan juga KPU harus mengetahui secara lebih transparan aliran dan sumber dana setiap pasangan. KPU bertindak berdasarkan laporan dan bukti. Jika laporan dan bukti itu ada.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful