A.

PENDAHULUAN

Hukum merupakan disiplin ilmu yang sudah dewasa sangat berkembang dewasa ini. Bahkan kebanyakan penelitian sekarang di Indonesia dilakukan dengan mengunakan metode yang berkaitan dengan sosiologi hukum dalam sejarah tercatat bahwa istilah “Sosiologi hukum pertama sekali digunatkan oleh seorang berkebangsaan Itali yang bernama Anzilloti pada tahun 1822 akan tetapi istilah sosiologi hukum tersebut bersama setelah munculnya tulisan-tulisan Roscoe Pound (1870 – 1964 ), Eugen Ehrlich ( 1862 – 1922 ), Max Weber ( 1864 – 1920 ), Karl Liewellyn (1893 – 1962), dan Emile Durkhim (1858 – 1917). ) Pada prinsipnya sosiologi hukum (Sociologi of Law) merupakan cabang dari Ilmu sosiologi, bukan cabang dari dari Ilmu Hukum. Memang ada studi tentang hukum yang berkenaan dengan masyarakat yang merupakan cabang dari Ilmu hukum tetapi tidak di sebut sebagai sosiologi hukum melainkan disebut sebagai Sociologi Jurispurdence. Disamping itu, pesatnya perkembangan masyarakat , teknologi dan informasi pada abad kedua puluh, dan umumnya sulit di ikuti sektor hukum telah menyebabkan orang berpikir ulang tentang hukum. Dengan mulai memutuskan perhatianya terhadap interaksi antara sektor hukum dan masyarakat dimana hukum tersebut diterapkan. Namun masalah kesadaran hukum masyarakat masih menjadi salah satu faktor terpenting dari efektivitas suatu hukum yang diperlakukan dalam suatu negara.

1

Dalam tulisan yang lain Soerjono Soekanto mengungkapkan bahwa yang dimaksud dengan efektivitas hukum adalah segala upaya yang dilakukan agar hukum yang ada dalam masyarakat benar-benar hidup dalam masysrakat. Adapun secara terminologi para pakar hukum dan sosiologi hukum memberikan pendekatan tentang makna efektivitas sebuah hukum beragam. artinya hukum tersebut benar-benar berlaku secara yuridis. ada suatu aturan sebagai pedoman yang dipatuhi/ditaati yang mengatur hubungan atau pergaulan unsur-unsur sosial yang ada dalam struktur masyrakat dengan bertujuan untuk mencapai ketertiban.B. termasuk para penegak hukumnya. bergantung pada sudut pandang yang diambil. sosialis dan filosofis. Dalam kehidupan masyarakat akan selalu terdapat hubungan atau interaksi sosial. 1966:20). bahwa : “Taraf kepatuhan hukum yang tinggi merupakan suatu indikator berfungsinya suatu sistem hukum. Sehingga dikenal suatu asumsi. dalam hal ini berkenaan dengan keberhasilan pelaksanaan hukum itu sendiri. yaitu berusaha untuk mempertahankan dan melindungi masyarakat dalam pergaulan hidup”. keserasian dan ketentraman hidup. Dalam hubungan tersebut. Dalam ilmu sosial antara lain dalam sosiologi hukum. EFEKTIVITAS HUKUM Secara etimologi kata efektivitas berasal dari kata efektif dalam bahasa Inggris “effective” yang telah mengintervensi kedalam bahasa Indonesia dan memiliki makna “berhasil” dalam bahasa Belanda “effectief” memiliki makna “berhasil guna” (Salma. Soerjono Soekanto (1983:62) berbicara mengenai derajat efektivitas suatu hukum ditentukan antara lain oleh taraf kepatuhan warga masyarakat (umat Islam) terhadap hukum. Dan berfungsinya hukum merupakan pertanda bahwa hukum tersebut telah mencapai tujuan hukum. 1986:31). Sedangkan efektivitas hukum secara tata bahasa dapat diartikan sebagai keberhasil-gunaan hukum. Warga masyarakat tidak akan mungkin hidup teratur tanpa 2 . masalah kepatuhan atau ketaatan hukum atau kepatuahan terhadap kaidah-kaidah hukum pada umumnya telah menjadi faktor yang pokok dalam menakar efektif tidaknya sesuatu yang ditetapkan dalam hal ini hukum (Soerjono Soekanto.

2. berlaku bagi seluruh masyarakat dalam wilayah negara. 3. Prilaku yang terjadi (misalnya perkelahian pelajar) pada suatu kerumunan dan dalam waktu tertentu. kita kenal adanya pola interaksi sosial sebagai berikut : 1. Hal tersebut terutama dalam masyarakat yang mejemuk: berbeda agama. 4. kaedah-kaedah tersebut mempermudah interaksi diantaranya.hukum. Pola crowd : interaksi sosial terjadi apabila warga-warga masyarakat berprilaku atas dasar perasaan yang sama dan keadaan fisik yang sama. Pola public : interaksi sosial terjadi apabila warga-warga masyarakat berprilaku atas dasar pengertian-pengertian yang sama yang diperoleh dari komunikasi langsung. dan lain-lain hal yang menurut mereka patut dijalankan dan dipatuhi. 3 . berlapis-lapis dan sebagainya. Masingmasing kelompok dapat dimungkinkan saling mempengaruhi dan memperjuangkan nilai. Kaedahkaedah yang berlaku dalam suatu golongan politik sosial tertentu. Dalam hubungannya dengan kaedah hukum. oleh karena norma-norma lain tidak akan mungkin memenuhi kebutuhan manusia akan keteraturan dan ketentraman secara tuntas (Soekanto dan Abdullah. yang disebut sebagai “propagandist”. Pola audience : interaksi sosial terjadi apabila warga-warga masyarakat berprilaku atas dasar pengertian-pengertian yang sama yang diajarkan oleh suatu sumber secara individual. aspirasi politik. Pola tradisional integrated group : interaksi soaial terjadi apabila warga-warga masyarakat berprilaku atas dasar kaedah-kaedah dan nilai-nilai yang sama sebagaimana diajarkan oleh warga masyarakat lainnya. Dalam hal ini karena kaedah hukum yang berlaku sudah melembaga dalam masyarakat. berbeda golongan. Peraturan-peraturan yang dikeluarkan oleh penguasa. 1987:91). Interaksi ini tampak (terutama pada masyarakat sederhana) dimana para warga berprilaku menurut adat-istiadatnya. berbeda sukubangsa.

atau bila terbentuk menurut cara yang telah ditentukan/ditetapkan (W. Orang-orang tersebut mengetahui adanya peraturan. Hal berlakunya kaidah hukum biasanya disebut “gelding” (bahasa Belanda) “geltung” (bahasa Jerman). yang begitu keluar langsung dapat bekerja. 4 .Kalsen). baik yang mematuhi atau melanggar hukum. Bahkan lebih radikal lagi. Dalam teori-teori hukum tentang berlakunya hukum sebagai kaidah biasanya dibedakan menjadi tiga macam hal. apabiila penentuannya didasarkan pada kaidah yang lebih tinggi tingkatannya (H. melainkan memerlukan beberapa langkah yang memungkinkan ketentuan (hukum) tersebut dijalankan atau bekerja ” Sekurang kurangnya langkah yang harus dipenuhi untuk mengupayakan hukum atau aturan / ketentuan dapat bekerja dan berfungsi (secara efektif) adalah : 1. Hukum berlaku secara yuridis. Adanya orang (individu/masyarakat) yang melakukan perbuatan hukum.H. Adanya pejabat/aparat penegak hukum sebagaimana ditentukan dalam peraturan hukum tersebut.A. untuk melihat apakah sebuah peraturan/ materi hukum berfungsi tidaknya.Zenberger).Logeman). maka kaidah hukum/peraturan tersebut harus memenuhi tiga unsur sebagai berikut : 1. Tentang hal berlakunya kaidah hukum Soerjono Soekanto (1986:57) menyebutkan bahwa agar kaidah hukum atau sebuah peraturan berfungsi bahkan hidup dalam tatanan kehidupan masyarakat. cukup melihat apakah hukum itu “berlaku tidak”. atau apabila menunjukan hubungan keharusan antara suatu kondisi dan akbatnya (J. 3. Soerjono Soekanto (1989:56-57) menyatakan bahwa. Namun masih menurut Rahardjo bahwa yang menjadi faktor inti/ utama bagi bekerjanya hukum adalah manusia. karena hukum diciptakan dan dilaksanakan manusia. Orang-orang tersebut sebagai subjek maupun objek hukum bersedia untuk berbuat sesuai hukum. 2.Rahardjo menyatakan dengan tegas bahwa bekerjanya hukum dalam masyarakat tidak serta merta dan terjadi begitu saja “… hukum bukanlah hasil karya pabrik. 4.

konsep Law of Life adalah sebagai berikut : HUKUM DIKATAKAN HIDUP(Law of life) HUKUM YANG DICITACITAKAN(Ius Constituendum) Berlaku Secara Sosiologis HUKUM BERLAKU SECARA FILOSOFIS Berlaku Secara Yuridis Bersifat Memaksa (dwangmaatregel) Bersifat Kaku (dode regel) 5 .2. Hukum berlaku secara sosiologis. Jika kita lihat pernyataan Soekanto tersebut di atas. artinya sesuai dengan cita-cita hukum sebagai nilai positif tertinggi. artinya kaidah tersebut dapat dipaksakan berlakunya oleh penguasa (teori kekuasaan). 2. dapat diartikan bahwa agar suatu hukum berfungsi atau agar hukum itu benar-benar hidup dan bekerja dalam masyarakat maka suatu hukum atau kaidah hukum harus memenuhi ketiga macam unsur tersebut diatas. Jika hukum hanya berlaku secara filosofis maka kaidah tersebut merupakan hukum yang dicita-citakan (ius constituendum). 3. hal tersebut dalam ilmu hukum dikenal dengan “Laws of Life”. 3. maka kaidah kaidah tersebut menjadi aturan pemaksa (dwaangmatreegel). Hukum tersebut berlaku secara filosofis. sosiologis dan filosofis. Jika hukum hanya berlaku secara sosiologis dalam arti teori kekuasaan. atau diterima dan diakui oleh masyarakat (teori pengakuan). Jika hukum hanya berlaku secara yuridis maka kaidah itu merupakan kaidah mati (dode regel). Hal tersebut karena : 1. Maka sudah menjadi sebuah asumsi yang pasti bahwa hukum akan berfungsi dan bekerja serta hidup dalam masyarakat jika dalam hukum (baik materi atau kaidahnya) dapat belaku secara yuridis. apabila kaidah tersebut efektif. Jika dituangkan dalam skema.

karena untuk mengejar berfungsinya hukum yang benar-benar merefleksi dalam kehidupan masyarakat sangat bergantung pada usaha-usaha menanamkan hukum. UU. senantiasa dikembalikan pada penegakan hukumnya sedikitnya memperhatikan empat faktor penegakan hukum (law enforcement). yakni berlaku secara yuridis. Inpres. Hukum atau aturan itu sendiri. harus memenuhi tiga unsur law of life.Efektivitas bekerjanya hukum dalam pembahasan di atas telah dijelaskan mengenai definisi efektivitas hukum baik secara etimologi maupun terminologi. Namun dalam realisasinya tidak semudah itu. 3. Adapun standarisasi efektivitas sebuah kaidah hukum atau peraturan adalah: 1. Fasislitas yang mendukung pelaksanaan penegakan hukum. bahwa berfungsinya sebuah hukum merupakan pertanda bahwa hukum tersebut telah mencapai tujuan hukum. proses penegakan hukum sebagai upaya untuk mengefektivkan sebuah hukum benar-benar hidup dalam masyarakat adalah sebagai berikut : a) Kaidah Hukum atau Peraturan Fokus Perhatian proses penegakan hukum (enforcemen of law) pada kaidah hukum atau peraturan yang dalam wujud kongkritnya berupa peraturan. yaitu berusaha untuk mempertahankan dan melindungi masyarakat dalam pergaulan hidup. 2. Untuk lebih jelasnya. 4. Agar hukum dapat berfungsi dalam masyarakat secara benar-benar. sosiologis dan filosofis. reaksi masyarakat dan jangka waktu menanamkan ketentuan hukum tersebut secara efektif. Sebagaimana telah dijabarkan di atas bahwa agar hukum dan peraturan (tertulis) benar-benar berfungsi secara efektif. Kesadaran warga masyarakat. Petugas yang menegakkan. yaitu : 1. perudang-undangan yang berlaku seperti. Apakah peraturan yang ada mengenai bidang kehidupan tertentu sistematiis atau tidak? 6 . Peraturan Pemerintah. Kepres dan produk hukum lainnya.

Sampai sejauh mana petugas terikat oleh peraturan yang ada? 2. ruang kerja para pegawai penegak hukum. c) Fasilitas Fokus perhatian proses penegakan hukum (enforcement of law) pada fasilitas yang kongkritnya adalah seluruh sarana prasarana baik fisik nonfisik yang berfungsi sebagai pendukung proses penegakan hukum (keadilan di pengadilan) diantaranya ruang dan perangkat ruang persidangan. Apakah peraturan yang ada mengenai bidang kehidupan tertentu sinkron atau tidak ? Hal tersebut di atas merupakan matra-matra untuk mengetahui apakah sebuah peraturan efektif atau tidak. dan lain . Apakah sarana prasarana yang ada laik pakai? 2. Sampai sejauh mana derajat sinkonisasi penugasan yang diberikan kepada para petugas sehingga memberikan batasan yang tegas pada wewenangnya? Hal tersebut di atas merupakan matra-matra untuk mengetahui apakah penegak hukum yang ada efektif atau tidak. Apakah yang kurang perlu dilengkapi? 7 .lain. Apakah yang ada dipelihara terus agar setiap saat berfungsi? 3. mesinketik. menengah dan bawah diataranya para hakim. penegak hokum antara lain adalah para pegawai hukum pengadilan dilingkungan Peradilan. b) Penegak Hukum Fokus perhatian proses penegakan hukum (enforcement of law) pada penegak hukum yang kongkritnya adalah seluruh petugas / pegawai penegak hukum.2. Adapun standarisasi efektivitas sebuah penegak hukum adalah : 1. Adapun standarisasi efektivitas fasilitas penegakan hukum adalah: 1. khusus dalam penelitian ini. Teladan macam apakah yang sebaiknya diberikan petugas kepada masyarakat? 4. komputer dan lain sebagainya. Sampi batas mana petugas diperkenankan memberikan “kebijaksanan”? 3. baik pada strata atas.

Pendapat lain yang dilontarkan oleh Wignjosoebroto menegaskan bahwa efektivitas bekerjanya hukum perlu adanya: 1. Struktur organisasi pelaksanan/penegak kaedah yang efektif menjamin terlaksananya sanksi manakala ada yang melanggar. Derajat kepatuhan warga masyarakat tinggi.4. menghargai mengakui dan mentaati hukum. Secara umum proses penegakan hukum (enforcement of law) dikatakan efektif menurut Soerjono Soekanto adalah : 1. Adanya kesadaran dan kerelaan para warga masyarakat yang tengah dikaedahi atau diatur. Fasilitas pendukung penegakan hukum memadai. Apakah yang rusak perlu diperbaiki? 5. 8 . 2. d) Warga Masyarakat Fokus perhatian proses penegakan hukum (enforcement of law) pada warga masyarakat adalah sedikit banyak Adapun menyangkut masalah derajat kepatuhan. 3. Usaha-usaha menanamkan hukum di dalam masyarakat. alat-alat. Hukum atau peraturan sistematis dan sinkron. Apakah yang telah mundur ditiingkatkan? Hal tersebut di atas merupakan matra-matra untuk mengetahui apakah fasilitas yang ada efektif atau tidak. yaitu penggunaan tenaga manusia. dengan bekerjanya organisasi yang efektif itu. Masalah efektivitas hukum menurut Selo Soemarjan (1965:26) berkaitan erat dengan faktor-faktor sebagai berikut : 1. 4. organisasi dan metode agar warga masyarakat mengetahui. kaedah-kaedah hukum dapat dijamin mempunyai kekuatan pengendali warga masyarakat. 2. standarisasi efektivitas warga masyarakat secara sempit bahwa derajat kepatuhan masyarakat terhadap hukum merupakan salah satu indikator berfungsi efektif hukum yang bersangkutan. Penegak hukum/pegawai berwibawa dan handal.

2. Reaksi masyarakat yang didasarkan pada sistem nilai-nilai yang berlaku. Penegakan Hukum Law Enforcement 3. 9 . masyarakat mungkin menolak atau menentang atau mungkin mematuhi hukum karena compliance. internalization. Jika disusun dalam urutan yang sistematis tentang efektivitas hukum berdasarkan postulat dan asumsi diatas adalah sebagai berikut : Efektifitas Hukum 1. Artinya. 4. Perangkat Hukum Sistematis Penegak Hukum Berwibawa Kesadaran Hukum Tinggi Fasilitas Hukum Memadai Kepatuhan Masyarakat C. identification.2. KESIMPULAN Untuk melihat efektif atau tidaknya sebuah peraturan / hukum atau perundangundangan dapat dilihat melalui komponen pendukung Penegakkan Hukum (Enforcement of Law) yaitu : 1. 2. Fasislitas yang mendukung pelaksanaan penegakan hukum. 3. yaitu panjang atau pendeknya jangka waktu yang dipakai dalam usaha penanaman hukum yang diharapkan memberikan hasil. 4. Petugas yang menegakkan. 3. Kesadaran warga masyarakat. Hukum atau aturan itu sendiri. Jangka waktu penanaman hukum.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful