A.

KONSEP DASAR PENYAKIT

1. Definisi Kanker Hepar

Kanker hepar atau kanker hati (hepatocellular carcinoma) adalah suatu kanker yang timbul dari hati. Ia juga dikenal sebagai kanker hati primer atau hepatoma. Hati terbentuk dari tipe-tipe sel yang berbeda (contohnya, pembuluh-pembuluh empedu, pembuluh-pembuluh darah, dan sel-sel penyimpan lemak). Bagaimanapun, sel-sel hati (hepatocytes) membentuk sampai 80% dari jaringan hati. Jadi, mayoritas dari kanker-kanker hati primer (lebih dari 90 sampai 95%) timbul dari sel-sel hati dan disebut kanker hepatoselular (hepatocellular cancer) atau Karsinoma (carcinoma). Kanker hati adalah kanker yang muncul dari hati, dan bukan akibat keganasan dari organ lain yang menyebar ke hati atau metastasis ke hati. Tanda dan gejala klinis yang dapat ditemukan antara lain hepatomegali atau pembesaran hati, sakit perut, ikterus, atau gangguan hati lainnya.

2. Etiologi

Penyebab dari Ca. Hepar yaitu

1. Cerosis Hepatis 2. Virus Hepatitis B dan Hepatitis C 3. Kontak dengan racun kimia tertentu (misalnya : ninil klorida, arsen) 4. Kebiasaan merokok 5. Kebiasaan minum minuman keras (pengguna alkohol) 6. Aftatoksik atau karsinogen dalam preparat herbal 7. Nitrosamin

3. Patofisiologi

Berdasarkan etiologi dapat dijelaskan bahwa Virus Hepatitis B dan Hepatitis C, Kontak dengan racun kimia tertentu (misalnya : ninil klorida, arsen), Kebiasaan merokok, Kebiasaan minum minuman keras (pengguna alkohol), Aftatoksik atau karsinogen dalam preparat herbal, dan Nitrosamin dapat menyebabkan terjadinya peradangan sel hepar.

Beberapa sel tumbuh kembali dan membentuk nodul yang menyebabkan percabangan pembuluh hepatik dan aliran darah pada porta yang dapat menimbulkan hipertensi portal. Hipertensi portal terjadi akibat meningkatnya resistensi portal dan aliran darah portal karena tranmisi dari tekanan arteri hepatik ke sistem portal. Dapat menimbulkan pemekaran pembuluh vena esofagus, vena rektum superior dan vena kolateral dinding perut. Keadaan ini dapat menimbulkan perdarahan (hematemesis melena). Perdarahan yang bersifat masif dapat menyebabkan anemia, perubahan arsitektur vaskuler hati menyebabkan kongesti vena mesentrika sehingga terjadi penimbunan cairan abnormal dalam perut (acites) menimbulkan masalah kelebihan volume cairan .

Pada waktu yang bersamaan peradangan sel hepar memacu proses regenerasi sel-sel hepar secara terus menerus (fibrogenesis) yang mengakibatkan gangguan kemampuan fungsi hepar yaitu gangguan metabolik protein, yang menyebabkan produksi albumin menurun (hipoalbuminenia), sehingga tidak dapat mempertahankan tekanan osmotik koloid. Tekanan osmotik koloid yang rendah mengakibatkan terjadinya acites dan oedema. Kedua keadaan ini dapat menyebabkan masalah kelebihan volume cairan. Metabolisme protein menghasilkan produk sampingan berupa amonia bila kadarnya meningkat dalam darah dapat menimbulkan kerusakan saraf pusat (SSP) yang dapat menimbulkan rangsangan mual dan ensefalopati hepatik.

Kerusakan sel hepar juga mempengaruhi terganggunya metabolisme karbohidrat. Sel hati tidak mampu menyimpan glikogen sedangkan pemakaian tetap bahkan meningkat akibat proses radang, menyebabkan depot glikogen di hati menurun. Kurangnya asupan (perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan) akibat anoreksia menyebabkan turunnya produksi energi sehingga timbul gejala lemas, perasaan sepat lelah yang dapat mengganggu aktivitas. Peradangan hati menyebabkan pembesaran pada hati yang menimbulkan nyari. Nyeri yang tidak dapat ditoleransi menimbulkan penurunan nafsu makan, asupan berkurang menyebabkan kebutuhan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh.

Berdasarkan sumber lain fatofisiologi Ca. Hepar ada yang menjelaskan bahwa :

1. Hepatoma 75 % berasal dari Sirosis hati yang lama / menahun. Khususnya yang disebabkan oleh alkoholik dan post nekrotik.

3. tetapi banyak tumor lain juga memperlihatkan kecenderungan untuk bermestatase ke hati. Type masif – tumor tunggal di lobus kanan. misalnya kanker payudara. Hal ini benar. khususnya untuk keganasan pada saluran pencernaan. 5. b. Penyebarannya : 1.2. sehingga tidak dapat dilakukan reseksi lokal lagi. Pada penderita sirosis hati yang disertai pembesaran hati mendadak. Patologi a. Intrahepatal. 2. Pedoman diagnostik yang paling penting adalah terjadinya kerusakan yang tidak dapat dijelaskan sebabnya. 3. Ekstrahepatal. 4. Manifestasi Klinik . dan pankreas. sebab tumor biasanya tidak diketahui sampai penyebaran tumor yang sangat luas. Tumor hati yang paling sering adalah metastase tumor ganas dari tempat lain. paru-paru. Diagnosa sulit ditentukan. Type difus – secara makroskpis sukar ditentukan daerah massa tumor. 4. Type Nodule – tumor multiple kecil-kecil dalam ukuran yang tidak sama. uterus. Ada 3 type : 1. 2. Matastase ke hati dapat terdeteksi pada lebih dari 50 % kematian akibat kanker.

palpasi teraba permukaan hati yang ireguler 1.Manifestasi dini penyakit keganasan pada hati mencakup tanda-tanda dan gejala seperti : 1. dan anemia. 1. Laboratorium: 1) Darah Lengkap : Hb/Ht dan sel darah merah (SDM) mungkin menurun karena perdarahan kerusakan SDM dan anemia terlihat dengan hipersplenisme dan defisit besi leukopenia mungkin ada sebagai akibat hipersplenisme. 2. Nyeri abdomen 3. ketidak mampuan hati untuk menkonjugasi atau obstruksi bilier. 2. Gejala ikterus. Radiologi : . 4. Pembesaran hati yang cepat 4. Pemeriksaan 1. kehilangan kekuatan. 2) Bilirubin serum : meningkat karena gangguan seluler. LDH : meningkat karena kerusakan seluler dan mengeluarkan enzim. 4) Alkali fosfatase : meningkat karena penurunan ekskresi. anoreksia. Gangguan nutrisi : penurunan berat badan yang baru saja terjadi. Acites timbul setelah nodul tersumbat vena porta atau bila jaringan tumor tertanam dalam rongga peritoneal. Pada pemeriksaan fisik. 3) AST (SGOT) / ALT (SGPT). terjadi jika saluran empedu yang besar tersumbat oleh tekanan nodul malignan dalam hilus hati.

Dan proses ini berlangsung antara 5-6 bulan atau beberapa tahun . CT-Scan. Penatalaksanaan non bedah ini seperti : 1) Terapi Radiasi 2) Kemoterapi b. 6. Biopsi jaringan hati. namun efek utamanya masih bersifat paliatif. Arteriography.Ultrasonografi (USG). MRI. Penatalaksanaan a. Penatalaksanaan Bedah 1) Lobektomi hati 2) Transplantasi hati 7. Dan Laparoskopi 1. Thorak foto. Penatalaksanaan Non Bedah Penatalaksanaan atau terapi ini hanya dapat memperpanjang kelangsungan hidup pasien dan memperbaiki kualitas hidupnya dengan cara mengurangi rasa nyeri serta gangguan rasa nyaman. Prognosa Tumor ganas liver memiliki prognosa yang jelek dapat terjadi perdarahan dan akhirnya kematian.

1996. 2001 : 17). Hepar adalah : penurunan tonus otot. kulit kering. et.B. takipnea. ensefalopati hepatik. 2001 : 19). ikterik. peningkatan suhu tubuh. MANAJEMEN KEPERAWATAN 1. Dalam pengumpulan data ada 2 tipe data yang ada pada pengkajian yaitu data subyektif dan data obyektif (Nursalam. kelemahan dan penurunan berat badan. hipoksia. .al.al.. penurunan BB atau peningkatan (cairan). Data Subyektif yang biasanya muncul pada pengkajian dengan Ca. Data Obyektif yang dapat dikaji pada pasien dengan Ca. Data subyektif sering didapatkan dari riwayat keperawatan termasuk persepsi pasien. rasa penuh setelah makan terkadang disertai muntah dan mual. Bila ada metastasis ke tulang penderita mengeluh nyeri tulang. 1996 dalam Nursalam. 1. Splenomegali. PENGKAJIAN Pengkajian adalah tahap awal dari proses keperawatan dan merupakan suatu prosesyang sistematis dalam pengumpulan data untuk mengevaluasi dan mengidentifikasi status kesehatan pasien (Iyer et. Hepar adalah Keluhan berupa nyeri abdomen. dan sebagainya. pernapasan dangkal. perubahan mental. Data Obyektif adalah dan diukurata yang dapat diobservasi dan diukur (Iyer.. anoreksia. distensi abdomen (hepatomegali. dalam Nursalam. Data Subyektif Data Subyektif adalah data yang didapatkan dari pasien sebagai suatu pendapat terhadap suatu situasi dan kejadian. 1. 2001 : 19). asites). 2001 : 19). perasaan dan ide tentang status kesehatan (Nursalam. edema. ekspansi paru terbatas. demam.

Komplikasi endokrin . Perdarahan 3. Edema 5. Splenomegali. Eritoma palmaris. Hipoalbuminemia 4. Secara umum pengkajian Keperawatan pada klien dengan kasus kanker hati. Gangguan metabolisme 2. Ascites 2. Edema.Pada pemeriksaan fisik bisa didapatkan : 1. Hipoproteinemia 6. meliputi : 1. Spider nevi. Asites 4. Jaundice/icterus 7. Ikterus 3.

metabolisme vitamin di hati.8. Nyeri berhubungan dengan tegangnya dinding perut ( asites ). gangguan absorbsi. Tidak seimbangan nutrisi berhubungan dengan anoreksia. mual. Resiko terjadinya gangguan integritas kulit berhubungan dengan pruritus. Intoleransi aktivitas b.d ketidak seimbangan antara suplai O2 dengan kebutuhan 3. 1. Hepar yaitu : 1. DIAGNOSA KEPERAWATAN Diagnosa yang dapat muncul pada pasien dengan Ca. RENCANAAN KEPERAWATAN Rencana keperawatan merupakan langkah ketiga dalam proses keperawatan yang terdiri dari tiga tahap yaitu menetapkan prioritas diagnosa keperawatan. Tidak seimbangan nutrisi berhubungan dengan anoreksia. gangguan absorbsi. mual. 2. a. Adapun rencana keperawatan pada pasien dengan Ca.edema dan asites III. metabolisme vitamin di hati. Aktivitas terganggu akibat pengobatan II. menentukan tujuan dan merumuskan intervensi keperawatan. 1. Tujuan : . Hepar adalah.

Berikan antiemetik pada jadwal reguler sebelum / selama dan setelah pemberian agent antineoplastik yang sesuai . Mendemontrasikan BB stabil.1. Dorong pasien utk makan deit tinggi kalori kaya protein dg masukan cairan sesuai Indikasi adekuat. Keefektifan penilaian diet individual dalam penghilangan mual pascaterapi. 3. beri pasein buku harian tentang makanan 2. Suplemen dapat memainkan peranan penting dlm mempertahankan masukan kalori dan protein adekuat. Rasional : 1. Mual/muntah paling menurunkan kemampuan dan efek samping psikologis kemoterapi yang menimbulkan stess. penembahan BB progresif kearah tujuan dgn normalisasi nilai laboratorium dan batas tanda-tanda malnutrisi 2. Intervensi : 1. 2. 3. Dorong penggunaan suplemen dan makanan sering / lebih sedikit yg dibagi bagi selama sehari. Pasien harus mencoba untuk menemukan solusi/kombinasi terbaik. . Kebutuhan jaringan metabolek ditingkatkan begitu juga cairan ( untuk menghilangkan produksi sisa ). Pantau masukan makanan setiap hari. Penanggulangan pemahaman pengaruh individual pd masukan adekuat .

3. meningkatkan relaksasi dan membantu memfokuskan kembali perhatian 3. sesuai indikasi 2. . Nyeri berhubungan dengan tegangnya dinding perut ( asites ) Tujuan : 1. Mendemontrasikan penggunaan keterampilan relaksasi dan aktivitas hiburan nyeri. Berikan tindakan kenyamanan dasar misalnya reposisi. kaji tingkat nyeri / kontrol nilai Rasional : 1. kontrol nyeri maksimum dengan pengaruh minimum pada AKS. memberikan data dasar untuk mengevaluasi kebutuhan / keefektifan intervensi 2. durasi dan intensitas ( 0-10 ) dan tindakan penghilang rasa nyeri misalkan berikan posisi yang duduk tengkurap dengan dialas bantal pada daerah antara perut dan dada. Tentukan riwayat nyeri misalnya lokasi . Melaporkan penghilangan nyeri maksimal / kontrol dengan pengaruh minimal pada AKS Intervensi : 1. frekwensi. 2. gosok punggung.b.

bangun dari kursi/ tempat tidur. perubahan pada TD/ frekuensi jantung / pernapasan. Tingkatkan aktivitas sesuai kemampuan.d ketidak seimbangan antara suplai O2 dengan kebutuhan Tujuan : 1. berjalan. status nutrisi. Dorong pasein untuk melakukan apa saja bila mungkin. . Dapat melakukan aktivitas sesuai kemampuan tubuh.c. Teloransi sangat tergantung pada tahap proses penyakit. Pantau respon fisiologi terhadap aktivitas misalnya. 3. Intoleransi aktivitas b. Beri oksigen sesuai indikasi Rasional : 1. keseimbnagan cairan dan reaksi terhadap aturan terapeutik. Meningkatkan kekuatan / stamina dan memampukan pasein menjadi lebih aktif tanpa kelelahan yang berarti. 2. 2. misalnya mandi. Intervensi : 1.

Anjurkan pasein untuk menghindari krim kulit apapun . . Untuk meningkatkan sirkulasi dan mencegah tekanan pada kulit/ jaringan yang tidak perlu. 4.edema dan asites Tujuan : 1. Membantu mencegah friksi atau trauma fisik.salep dan bedak kecuali seijin dokter Rasional : 1. 2. 4.ulserasi. 2. Efek kemerahan atau reaksi radiasi dapat terjadi dalam area radiasi dapat terjadi dalam area radiasi. d. Mengedentifikasi fiksi intervensi yang tepat untuk kondisi kusus. Resiko terjadinya gangguan integritas kulit berhubungan dengan pruritus. Perhatikan kerusakan atau perlambatan penyembuhan 2.3. Dorong pasien untuk menghindari menggaruk dan menepuk kulit yang kering dari pada menggaruk. Adanya hifoksia menurunkan kesediaan O2 untuk ambilan seluler dan memperberat keletihan. 3. Mempertahankan kebersihan tanpa mengiritasi kulit. Balikkan / ubah posisi dengan sering 5. Berpartisipasi dalam tehnik untuk mencegah komplikasi / meningkatkan penyembuhan Intervensi : 1. Mandikan dengan air hangat dan sabun 3. Deskuamasi kering dan deskuamasi kering. Kaji kulit terhadap efek samping terapi kanker.

jika dalam analisis ditentukan bahwa masalah atau diagnosa yang telah teratasi terjadi kembali. IV. Berdasarkan analisis. 2.5. 3. 4. jika tujuan belum tercapai maka dilakukan perencanaan selanjutnya (P) sebagai berikut : 1. Direvisi yang artinya diagnosa tetap berlaku. Marilynn E. DAFTAR PUSTAKA Doenges. Rencana dilanjutkan yang artinya diagnosa tetap berlaku. Rencana Asuhan Keperawatan Pedoman Untuk Perencanaan dan Pendokumentasian Perawatan Pasien. Edisi 3. Rencana semula dipakai lagi. Pelaksanaan keperawatan sebagai data untuk rencana keperawatan. Tujuan tercapai maka perencanaan selanjutnya tidak perludilanjutkan. Diagnosa keperawatan atau kemungkinan menjadi aktual atau bahkan disingkirkan (untuk diagnosa kemungkinan). tidak perlu direvisi dan tidak perlu perencanaan baru. Jika diagnosa menjadi aktual maka dibutuhkan perencanaan baru sehinggadalam planning (P) diuraikan perencanaan yang dimaksud. V. tujuan atau intervensi perlu direvisi. EVALUASI Evaluasi merupakan langkah terakhir dalam keperawatan untuk menilai pencapaian tujuan. tujuan atau intervensi masih memadai. 5. PELAKSANAAN Pelaksanaan merupakan langkah keempat dari proses keperawatan dan merupaka wujud nyata dari rencana keperawatan yang bertujuan memenuhi kebutuhan pasien akan keperawatan dengan melaksanakan kegiatan – kegiatan sesuai dengan alternatif tindakan yang telah direncanakan. EGC : Jakarta . Dapat meningkatkan iritasi atau reaksi secara nyata.. 1999.

Inayah. Tumor ganas primer pada hati yang berasal dari sel parenkim atau epitel saluran empedu atau metastase dari tumor jaringan lainnya. Hepatoma 75 % berasal dari sirosis hati yang lama / menahun. Umur tergantung dari lokasi geografis. Hal ini benar. KONSEP DASAR 1. 2001. b. Merupakan tomur ganas nomor 2 diseluruh dunia . Tumor hati yang paling sering adalah metastase tumor ganas dari tempat lain. Salemba Medika : Jakarta Nursalam. Khususnya yang disebabkan oleh alkoholik dan postnekrotik. Di Indonesia banyak dijumpai pada usia kurang dari 40 tahun bahkan dapat mengenai anak-anak. b.laki :wanita 4-6: 1. dan pankreas. EGC : Jakarta Askep Kanker Hati Label: Perkuliahan A. Pada penderita sirosis hati yang disertai pembesaran hati mendadak. Asuhan Keperawatan Pada Klien Dengan Gangguan Sistem Pencernaan. paru-paru. 2. . Edisi 1. 2001. 2004. Proses dan Dokumentasi Keperawatan : Konsep dan Praktek. Iin. Matastase ke hati dapat terdeteksi pada lebih dari 50 % kematian akibat kanker. Pedoman diagnostik yang paling penting adalah terjadinya kerusakan yang tidak dapat dijelaskan sebabnya. Edisi 1. PENGERTIAN a. Edisi 8. Salemba Medika : Jakarta Smeltzer. uterus. d.hepatoma menduduki tempat tertinggi dari tomur-tomur ganas lainnya. Terbanyak mengenai usia 50 tahun. Suzanne C. Sinonim dari hepatoma adalah carcinoma hepatoselluler. diasia pasifik terutama Taiwan . khususnya untuk keganasan pada saluran pencernaan. misalnya kanker payudara. PATOFISIOLOGI a. c. Buku Ajar Keperawatan Medikal – Bedah Brunner dan Suddarth.. tetapi banyak tumor lain juga memperlihatkan kecenderungan untuk bermestatase ke hati. c.

Laboratorium: .d. Virus Hepatitis B dan Virus Hepatitis C b. b.tumor tunggal di lobus kanan. Intrahepatal. PEMERIKSAAN DIAGNOSTIK 1. ETIOLOGI a. Penyebarannya : 1. Type masif . Type Nodule . Type difus . Ada 3 type : 1. 3. 2. Diagnosa sulit ditentukan. PATOLOGI a.secara makroskpis sukar ditentukan daerah massa tumor. Ekstrahepatal. 2. 4. Bahan-bahan Hepatokarsinogenik : (Hemochromatosis) 5. sehingga tidak dapat dilakukan reseksi lokal lagi. 3.tumor multiple kecil-kecil dalam ukuran yang tidak sama. sebab tumor biasanya tidak diketahui sampai penyebaran tumor yang luas.

KONSEP DASAR 1. PROGNOSA Tumor ganas liver memiliki prognosa yang jelek dapat terjadi perdarahan dan akhirnya kematian. PENGOBATAN Pengobatan tergantung dari saat diagnosa ditegakkan. PENGKAJIAN Fase dini : Asimtomatik. 2. Pemberian kemoterapi secara infus 3. Fase dini Dimana pembedahan adalah pilihan utama yaitu reseksi segmen atau lobus hati 2. Arteriography. 3. 1.Kalsium. 6. Biopsi jaringan liver. 7. Radiologi : -Scan. Thorak foto. Dan proses ini berlangsung antara 5-6 bulan atau beberapa tahun ASUHAN KEPERAWATAN B. Penyinaran . .

Asites 4. Ikterus 3. Hipoproteinemia 6.DIAGNOSA KEPERAWATAN 1. Keluhan berupa nyeri abdomen. mual. metabolisme vitamin di hati. Ascites 2. Secara umum pengkajian Keperawatan pada klien dengan kasus kanker hati. Aktivitas terganggu akibat pengobatan II. Komplikasi endokrin 8. Jaundice/icterus 7. TUJUAN : . Edema 5. Bila ada metastasis ke tulang penderita mengeluh nyeri tulang. kelemahan dan penurunan berat badan. Spider nevi. Eritoma palmaris. Edema. gangguan absorbsi. anoreksia.Fase lanjut :Tidak dikenal simtom yang patognomonik.tidak seimbangan nutrisi berhubungan dengan anoreksia. meliputi : 1. Splenomegali. Gangguan metabolisme 2. Hipoalbuminemia 4. Perdarahan 3. Pada pemeriksaan fisik bisa didapatkan 1. rasa penuh setelah makan terkadang disertai muntah dan mual.

Nyeri berhubungan dengan tegangnya dinding perut ( asites ) TUJUAN : 1. INTERVENSI : 1. Mual/muntah paling menurunkan kemampuan dan efek samping psikologis kemoterapi yang menimbulkan stess. beri pasein buku harian tentang makanan sesuai indikasi 2. Suplemen dapat memainkan peranan penting dlm mempertahankan masukan kalori dan protein adekuat. 2. 2. Kebutuhan jaringan metabolek ditingkatkan begitu juga cairan ( untuk menghilangkan produksi sisa ). 3. Berikan antiemetik pada jadwal reguler sebelum / selama dan setelah pemberian agent antineoplastik yang sesuai . Melaporkan penghilangan nyeri maksimal / kontrol dengan pengaruh minimal pada AKS INTERVENSI : . Pantau masukan makanan setiap hari. Dorong penggunaan suplemen dan makanan sering / lebih sedikit yg dibagi bagi selama sehari. Mendemontrasikan BB stabil. Pasien harus mencoba untuk menemukan solusi/kombinasi terbaik. 3. B. Keefektifan penilaian diet individual dalam penghilangan mual pascaterapi. penembahan BB progresif kearah tujuan dgn normalisasi nilai laboratorium dan batas tanda-tanda malnutrisi 2. Mendemontrasikan penggunaan keterampilan relaksasi dan aktivitas hiburan sesuai indikasi nyeri.1. Dorong pasien utk makan deit tinggi kalori kaya protein dg masukan cairan adekuat. RASIONAL : 1. Penanggulangan pemahaman pengaruh individual pd masukan adekuat .

durasi dan intensitas ( 0-10 ) dan tindakan penghilang rasa nyeri misalkan berikan posisi yang duduk tengkurap dengan dialas bantal pada daerah antara perut dan dada. meningkatkan kekuatan / stamina dan memampukan pasein menjadi lebih aktif tanpa kelelahan yang berarti. gosok punggung. 3. A. beri oksigen sesuai indikasi RASIONAL : 1. memberikan data dasar untuk mengevaluasi kebutuhan / keefektifan intervensi misalnya : nyeri adalahindividual yang digabungkan baik respons fisik dan emesional 2. pantau respon fisiologi terhadap aktivitas misalnya. 2. berjalan. perubahan pada TD/ frekuensi jantung / pernapasan. Berikan tindakan kenyamanan dasar misalnya reposisi. bangun dari kursi/ tempat tidur. kaji tingkat nyeri / kontrol nilai RASIOANAL : 1. kontrol nyeri maksimum dengan pengaruh minimum pada AKS.d ketidak seimbangan antara suplai O2 dengan kebutuhan TUJUAN : 1. Tentukan riwayat nyeri misalnya lokasi . Tingkatkan aktivitas sesuai kemampuan. INTERVENSI : 1. frekwensi.1. . misalnya mandi. Intoleransi aktivitas b. dorong pasein untuk melakukan apa saja bila mungkin. 3. dapat melakukan aktivitas sesuai kemampuan tubuh. meningkatkan relaksasi dan membantu memfokuskan kembali perhatian 3. 2.

D. Berpartisipasi dalam tehnik untuk mencegah komplikasi / meningkatkan penyembuhan INTERVENSI : 1. 2. http://khaidirmuhaj.edema dan asites TUJUAN : 1. Perhatikan kerusakan atau perlambatan penyembuhan . 4. keseimbnagan cairan dan reaksi terhadap aturan terapeutik.2.salep dan bedak kecuali seijin dokter RASIONAL : 1. Deskuamasi kering dan deskuamasi kering. Efek kemerahan atau reaksi radiasi dapat terjadi dalam area radiasi dapat terjadi dalam area radiasi.com/2008/06/kanker-hati. 2. 4. Kaji kulit terhadap efek samping terapi kanker. 5. Resiko terjadinya gangguan integritas kulit berhubungan dengan pruritus. Membantu mencegah friksi atau trauma fisik. 2. Anjurkan pasein untuk menghindari krim kulit apapun . Balikkan / ubah posisi dengan sering 5. Mengedentifikasi fiksi intervensi yang tepat untuk kondisi kusus.blogspot.ulserasi. adanya hifoksia menurunkan kesediaan O2 untuk ambilan seluler dan memperberat keletihan.html . Dorong pasien untuk menghindari menggaruk dan menepuk kulit yang kering dari pada menggaruk. status nutrisi. 3. 3. Untuk meningkatkan sirkulasi dan mencegah tekanan pada kulit/ jaringan yang tidak perlu. teloransi sangat tergantung pada tahap proses penyakit. Dapat meningkatkan iritasi atau reaksi secara nyata. Mempertahankan kebersihan tanpa mengiritasi kulit. Mandikan dengan air hangat dan sabun 3.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful