BAB I PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG Jaringan periodontal adalah jaringan yang mengelilingi gigi dan berfungsi sebagai penyangga gigi, terdiri dari gingiva, sementum, ligamen periodontal dan tulang alveolar. Sebelum memahami kerusakan jaringan periodontal, sebaiknya dimulai dengan gingival yang sehat dan tulang pendukung yang normal. Gingiva yang sehat dapat menyesuaikan diri dengan keadaan gigi. Penyakit periodontal merupakan penyebab utama tanggalnya gigi pada orang dewasa yang disebabkan infeksi bakteri dan menimbulkan kerusakan pada gingival, tulang alveolar, ligament periodontal, dan sementum. Penyebab utamanya adalah bakteri plak. Umumnya tidak menimbulkan rasa sakit. Kunjungan berkala ke dokter gigi sangat berarti untuk mendapatkan diagnosa dinidan perawatan penyakit periodontal. Kira-kira 15% orang dewasa usia 21 ± 50tahun dan 30% usia di atas 50 tahun mengalami penyakit ini. Pada jaringan normal dari penyokong gigi seperti gingival umunya berwarna merah muda, lembut dan kenyal, bertekstur seperti kulit jeruk, bentuknya mengikuti kontur gigi dan tepinya berbentuk seperti kulit kerang sertatidak ada perdarahan pada saat penyikatan gigi. Pada gingival yang mengalami peradangan disebut juga gingivit is yang umumnya ditandai dengan penumpukan plak di sepanjang tepi gusi, gusi yang terasa sakit, mudah berdarah, dan lunak. Masalah mengenai jaringan periodontal merupakan salah satu masalah mengenai kesehatan gigi dan mulut yang banyak di alami masyarakat, khususnya masyarakat Indonesia. Terlebih apabila susunan gigi pasien berpotensi menjadi retensi makanan yang bisa menimbulkan plak penyebab gingivitis. Permulaan terjadinya kerusakan biasanya timbul pada saat plak bacterial terbentuk pada mahkota gigi, meluas disekitarnya dan menerobos sulkus gingiva yang nantinya akan merusak gingiva disekitarnya. Plak

1

Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Hasanuddin

menghasilkan sejumlah zat yang secara langsung atau tidak langsung terlibat dalam perkembangan penyakit periodontal. Untuk itulah, penyebab penyakit periodontal harus segera di musnahkan. Gusi berdarah bisa diakibatkan oleh berbagai macam hal. Salah satunya sebagai tanda awal dari terjadinya gingivitis. Apabila terus diabaikan , pengaruh dari penyakit mulut ini bisa meluas menjadi periodontitis dan lain-lain. Untuk itulah, makalah ini dibuat. Agar pembaca bisa mengerti dan memahami aspek-aspek seputar penyakit periodontal, terutama gingivitis dan cara menanggulanginya.

B. RUMUSAN MASALAH 1. Bagaimanakah gambaran anatomis dari jaringan periodontal yang sehat? 2. Sebutkan dan jelaskan klasifikasi dari penyakit periodontal! 3. Jelaskan cara menegakkan diagnosis berdasarkan anamneses, pemeriksaan klinik, dan rontgen foto dan bagaimana diagnosanya! 4. Bagaimana mekanisme terjadinya gusi berdarah? 5. Bagaimana reaksi system imun terhadap scenario? 6. Perawatan apa yang cocok pada kasus di scenario dan keuntungan dan kerugian perawatan serta prosedur perawatannya? 7. Instrumen apa saja yang akan kita lakukan dalam melakukan perawatan? 8. Apa dampak yang ditimbulkan apabila kasus yang dialami pasien tidak ditangani? 9. Untuk mengetahui cara menyikat gigi yang benar.

2

Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Hasanuddin

C. TUJUAN PENULISAN 1. Untuk mengetahui bagaimanakah gambaran anatomis dari jaringan periodontal yang sehat. 2. Untuk mengetahui klasifikasi dari penyakit periodontal. 3. Untuk mengetahui cara menegakkan diagnosis berdasarkan anamneses, pemeriksaan klinik, dan rontgen foto dan bagaimana diagnosanya. 4. Untuk mengetahui mekanisme terjadinya gusi berdarah. 5. Untuk mengetahui respon imun terhadap kasus. 6. Untuk mengetahui perawatan apa yang cocok pada kasus di scenario. 7. Untuk mengetahui instrumen apa saja yang akan kita lakukan dalam melakukan perawatan 8. Untuk mengetahui dampak yang ditimbulkan apabila kasus yang dialami pasien tidak ditangani. 9. Untuk mengetahui cara menyikat gigi yang benar.

3

Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Hasanuddin

BAB II PEMBAHASAN SKENARIO : Seorang wanita, berumur 14 tahun, datang ke praktek dokter gigi untuk merapikan susunan giginya, pasien juga mengeluh gusi sering berdarah pada gigi depan atas apabila menyikat gigi, keadaan ini terlihat berlangsung selama 6 bulan terakhir. Selain berdarah mulut juga terlihat kotor dan berbau.

a. JARINGAN PERIODONTAL

Warna Ginggiva Warna ginggiva normal umumnya merah jambu (coral pink). Hal ini disebabkan oleh adanya pasokan darah, tebal dan derajat lapisan keratin epithelium serta selsel pigmen. Warna ini bervariasi untuk setiap orang erat hubungannya dengan pigmentasi kutaneous. Pigmentasi pada ginggiva biasanya terjadi pada individu berkulit gelap. Pigmentasi pada gingiva cekat berkisar dari cokelat sampai hitam. Warna pigmentasi pada mukosa alveolar lebih merah, karena mukosa alveolar tidak mempunyai lapisan keratin dan epitelnya tipis.

4

Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Hasanuddin

5 Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Hasanuddin . lokalisasi dan luas area kotak proksimal. KLASIFIKASI PENYAKIT PERIODONTAL Penyakit periodontal dapat dibagi menjadi dua golongan yaitu gingivitis dan periodontitis. Stipling akan lebih jelas terlihat pada permukaan vestibular dibandingkan dengan permukaan oral. Keadaan ini dipengaruhi oleh bentuk dan susunan gigi-geligi pada lengkungnya.Makalah Gusi Berdarah Besar Ginggiva Besar ginggiva ditentukan oleh jumlah elemen seluler. Konsep patogenesis penyakit periodontal yang diperkenalkan oleh Page dan Schroeder terdiri dari 4 (empat) tahap yaitu : Permulaan. Menetap dan Parah Tiga tahap pertama yaitu permulaan. Dini. Stipling akan terlihat jelas jika permukaan ginggiva dikeringkan. dini dan menetap merupakan tahap pada diagnosa gingivitis dan tahap parah merupakan diagnosa periodontitis. a. Kontur Ginggiva Kontur dan besar ginggiva sangat bervariasi. Stipling ini bervariasi dari individu ke individu yang lain dan pada permukaan yang berbeda pada mulut yang sama. Papilla interdental menutupi bagian interdenterdental sehingga tampak lancip. dan dimensi embrasure (interdental) gingival oral maupun vestibular. Bintik-bintik ini disebut stipling. Pada permukaan marginal gingival tidak terdapat stipling. Konsistensi Gingival melekat erat ke struktur di bawahnya dan tidak mempunyai lapisan submukosa sehingga ginggiva tidak dapat digerakkan dan kenyal. Perubahan besar ginggiva merupakan gambaran yang paling sering dijumpai pada penyakit periodontal. Tekstur Permukaan ginggiva cekat berbintik-bintik seperti kulit jeruk. interseluler dan pasokan darah.

pemeriksaan klinis dan rontgen foto : a. kelainan darah. b. defisiensi nutrisi. 6 Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Hasanuddin .Makalah Gusi Berdarah Klasifikasi penyakit periodontal secara klinik dan histopatologi pada anak-anak dan remaja dapat dibedakan atas 6 (enam) tipe : 1. Periodontitis kronis 5. gangguan hormonal dll. Periodontitis Juvenile Generalisata (GJP) 4. Akut Necrotizing Ulcerative Gingivitis (ANUG) 6. Untuk memastikan adanya kondisi sistemik seperti kehamilan. c. Alasan penting riwayat menis adalah: a. apa yang tertulis sebaiknya dibahas kembali dengan pasien sehingga dapat diberikan penjelasan yang menyeluruh untuk bidang-bidang yang penting. Inilah waktu yang paling tepat untuk merujuk pasien guna menjalani konsultasi medis jika ada kondisi yang dapat mempengaruhi perkembangan penyakit periodontal dan/atau penatalaksanaan pasien. DIAGNOSIS PENYAKIT PERIODONTAL Diagnosis berdasarkan anamnesis. dan penyakit kardiovaskuler-hipertensi yang dapat mengubah hormon hospes terhadap bakteri. Gingivitis kronis 2. Periodontitis Prepubertas b. Setelah kuisioner ini dilengkapi. Untuk menemukan manifestasi oral dari kondisi sistemik tertentu seperti diabetes melitus. diabetes melitus. baik pada terapi periodontal primer maupun suportif. Periodontitis Juvenile Lokalisata (LPJ) 3. Pemeriksaan Kesehatan Pemeriksaan kesehatanmeliputi riwayat medis dan kesehatan gigi. Riwayat medis Riwayat medis sebaiknya didapat pertama kali melalui kuesioner tertulis. Untuk menentukan ada atau tidaknya kondisi sitemik tertentu yang membutuhkan modifikasi.

Karena dengan melakukannya. Meliputi pemeriksaan lokasi. Misalnya kebiasaan meroko. praktisi mendapatkan kesempatan untuk menilai perilaku pasien. menjulurkan lidah. bruksisme (mengerot). Meliputi kesesuaian lengkung rahang.Makalah Gusi Berdarah Riwayat Kesehatan Gigi Sebelum pemeriksaan intraoral dilakukan. 6. Sebaiknya diperiksaan apakah protesa dan restorasi yang telah dibuat cukup baik atau tidak. kesulitan membersihkan plak. 7 Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Hasanuddin . ada baiknya praktisi mencari riwayat kesehatan gigi secara lengkap. Kebiasaan. dan luas karies. Juga penting untuk mengetahui cara pemeliharaan kebersihan mulut yang selama ini dilakukan oleh pasien di rumah yang mencerminkan pengetahuan pasien tentang kesehatan gigi. dan kebiasaan yang disengaja serta tidak wajar. Perawatan restoratif. membangun hubungan. terutama apabila tidak terdeteksi pada tahap awal atau terabaikan. Pemeriksaan Gigi Menyeluruh Kesan keseluruhan yang diperoleh dari survai ini menentukan besarnya lingkup permasalahan. Pemeriksaan jaringan lunak. Posisi gigi. dapat mengakibatkan cedera iatrogenik yang serius pada jaringan periodontal. tetapi hanya sedikit yang berlanjut menjadi parah. Hubungan antara penyakit pulpa dan jaringan periodontal telah semakin penting dan dapat mengubah rencana perawatan. Lesi-lesi lain juga harus diperhatikan. khususnya yang mengalami kehilanmgan tulang yang hebat (terutama gigi yang mengalami restorasi dalam dan/atau kerusakan furkasi. oklusi traumatik. Pemeriksaan ini adalah penelusuran adanya kanker rongga mulut. dan migrasi gigi-gigi. Karies. jenis. dan mempelajari penyakit gigi yang telah lalu serta responnya terhadap perawatan. karena apabila batas ini dilanggar. 3. Aspek-aspek di bawah ini harus diamati dan dicatat: 1. maloklusi morfologi. Sindrom gigi retak dapat mirip atau menyebabkan kelaina pulpa. keadaan ini dihubungkan dengan retensi plak. 5. Kemudian. khususnya pada gigi posterior dan harus selalu dipertimbangkan apabila disertai dengan poket yang dalam dan sempit. Fraktur gigi relatif umum terjadi. 2. cleching (menggeletukan gigi). 4. Kondisi pulpa gigi. Juga penting untuk melihat adanya kemungkinan tepi restorasi yang melebihi µlebar biologis¶ epitel jungsional dan perlekatan jaringan ikat. dan ungkitan berlebihan karena daya toksi protesa.

Pengukuran poket dilakukan dari tepi gingiva seluruh gigi dengan menggunakan prob berkalibrasi. Kedalaman resesi dicatat sebagai garis kontinu pada rekam medik. 3. dan pengaruh letak frenulum serta perlekatan otot terhadap tepi gingival.bentuk dan konsistensi gingival. Ini adalah aspek pertimbangan diagnostik yang sangat penting dan mempengaruhi prognosis. Jaringan Periodontal. tetapi dapat berarti adanya ulserasi dinding epitel poket. eksplorer furkasi. 2. Warna. kaca mulut. dan pencahayaan yang baik. Probe periodontal berkalibrasi. Lebar keseluruhan gingival berkreatin. tetapi tidak dapat menentukan tingkat keparahan penyakit. Lokasi dasar poket terhadap pertautan sementoemail berpengaruh lebih besar terhadap prognosis individual gigi-gigi dibandingkan kedalaman poket. Perdarahan dan eksudasi bukan indikator keparahan penyakit. Perubahan yang terjadi pada aspek ini menunjukkan adanya penyakit periodontal.Makalah Gusi Berdarah 7. Perdarahan dan eksudasi purulen.semua ini harus digunakan dengan optimal untuk memperjelas pemeriksaan visual dari jaringan periodontal. Kehilangan tingkat perlekatan dapat merupakan tanda aktifnya penyakit. Jarak antara tepi gingiva ke pertautan sementoemail (resesi). Pemeriksaan ini merupakan bagian terpenting dalam proses diagnostic. Aspek-aspek yang harus diamati adalah : 1. 7. Perluasan patologis dari daerah furkasi. hubungan antara kedalaman probing dan pertemuan muko-gingiva. 5. 4. 8 Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Hasanuddin . pelpasi dan semprotan udara. Kedalaman poket (kedalama probing). 6. Eksudasi dapat terjadi spontan atau hanya pada saat dilakukan probing atau palpasi. Kegoyangan gigi. Hubungan antara pertautan sementoemail dan dasar poket (tingkat perlekatan). Merupakan indicator klinis dari aktifnya penyakit dan perlu dicatat. Probing yang teliti menggunakan probe furkasi berbentuk kurva dapat membantu menentukan keterlibatan furkasi.

Kontur Restorasi yang buruk Kontur restorasi yang buruk. dapat meningkatkan kadar asam dalam rongga mulut sehingga bakteri berkembang biak dan jumlahnya bertambah.Makalah Gusi Berdarah D. Setiap tahap diagnostik berfungsi untuk mengawasi keakuratan tahap diagnostik yang lain. Pemeriksaan Radiografi Radiografi merupakan pemeriksaan penunjang yang sangat penting dalam menegakkan diagnosa penyakit periodontal. 4. konsumsi gula dan makanan yang dapat meningkatkan keasaman dalam rongga mulut dalam jumlah yang berlebih. menyebabkan debris terjebak pada gigi dengan restorasi yang buruk sehingga terjadi pembentukan plak. Gula dan asam Bakteri yang menyebabkan penyakit periodontal dapat berkembang biak dalam lingkungan yang asam. tetapi radiografi semata tidak dapat menentukan diagnosa. yaitu : 1. Oral Hygiene yang buruk Oral hygiene yang buruk dapat menyebabkan adanya penumpukan bakteri dan pembentukan plak sehingga dapat menyebabkan resiko terjadinya penyakit periodontal. Dibawah ini merupakan keadaan lingkungan rongga mulut yang abnormal yang dapat memicu terjadinya penyakit periodontal. Anatomi Gigi yang abnormal Anatomi gigi yang abnormal dapat meningkatan resiko penyakit periodontal 9 Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Hasanuddin . 2. DIAGNOSIS PENYAKIT : GINGIVITIS MARGINALIS KRONIS c. 3. FAKTOR PENYEBAB Risk Factor Penyakit Periodontal Lingkungan rongga mulut yang abnormal merupakan salah satu risk factor bagi penyakit periodontal. Oleh karena itu. Interpretasi radiografi sebaiknya disertakan bersama data-data klinis untuk mendapatkan diagnosa akhir yang tepat.

penyakit periodontal kebanyakan terjadi disekitar gigi molar ketiga. untuk berkembang biak. Plak gigi adalah suatu lapisan lunak yang terdiri atas kumpulan mikroorganisme yang berkembang biak dan melekat erat pada permukaan gigi yang tidak dibersihkan. Sejalan dengan waktu. Seperti karies gigi. bakteri dalam plak gigi akan menyebar dan berkembang kemudian toksin yang dihasilkan bakteri akan mengiritasi gingiva sehingga merusak jaringan pendukungnya. sehingga mereka menganggap penyakit ini sebagai sesuatu yang tidak terhindari. membengkak dan mudah berdarah. Bila penyakit ini berlanjut terus dan tidak segera dirawat maka lama kelamaan gigi akan longgar dan lepas dengan sendirinya. Penyakit periodontal merupakan salah satu penyakit yang sangat meluas dalam kehidupan masyarakat. dapat menjadi tempat yang baik bagi bakteri yang menyebabkan penyakit periodontal. Diperkirakan bahwa 1mm plak gigi 10 Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Hasanuddin . Penyakit periodontal juga dapat terjadi pada pada pasien yang sedang mengalami erupsi gigi molar ketiga tanpa adanya impaksi(Kinane dkk. Gingivitis yang tidak dirawat akan menyebabkan kerusakan tulang pendukung gigi atau disebut periodontitis. Faktanya. dengan tanda klinis gingiva berwarna merah. atau yang disebut dengan gigi molar ketiga. Penyakit periodontal merupakan salah satu penyakit gigi dan mulut yang mempunyai prevalensi yang tinggi di Indonesia.Makalah Gusi Berdarah 5. Gingiva menjadi tidak melekat lagi pada gigi dan membentuk saku (poket) yang akan bertambah dalam sehingga makin banyak tulang dan jaringan pendukung yang rusak. Bahkan di Amerika dan Jepang. Namun studi epidemiologi menunjukkan bahwa penyakit ini dapat dicegah dengan pembersihan plak dengan sikat gigi teratur serta menyingkirkan karang gigi apabila ada. Gingivitis adalah bentuk penyakit periodontal yang ringan. penyakit periodontal juga lambat perkembangannya dan apabila tidak dirawat dapat menyebabkan kehilangan gigi. Penyebab utama penyakit periodontal adalah plak sehingga penyakit periodontal sering juga disebut penyakit plak. perhatian dokter gigi mulai beralih lebih kepada penegakan diagnosis penyakit periodontal daripada karies. Periodontitis dapat terjadi pada gigi molar tiga yang impaksi. pada pasien dengan umur 20an. 2006). Ada dua tipe penyakit periodontal yang biasa dijumpai yaitu gingivitis dan periodontitis. Wisdom Teeth Wisdom teeth.

3. ada yang mengatakan bahwa kondisi periodontal wanita lebih baik daripada pria dan sebaliknya. Selain plak gigi sebagai penyebab utama penyakit periodontal. jenis kelamin. Sebaliknya.Makalah Gusi Berdarah dengan berat 1mg mengandung 200 juta sel mikroorganisme. penyakit sistemik. taraf pendidikan dan penghasilan. walaupun keadaan ini lebih sering dikaitkan sebagai akibat kerusakan jaringan yang kumulatif selama hidup (proses aging). umur. Umur Banyak penelitian yang menyatakan bahwa keparahan penyakit periodontal akan meningkat sejalan dengan bertambahnya umur. Loe. 11 Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Hasanuddin . Jenis Kelamin Faktor jenis kelamin masih diragukan. Semua penelitian yang dilakukan menunjukkan pentingnya melakukan kontrol plak bila tidak ingin terjadi kerusakan pada jaringan periodontal. 2. Penyakit periodontal lebih banyak dijumpai pada orang tua daripada kelompok yang muda. bila dilakukan pemeliharaan kebersihan mulut maka keradangan akan hilang dalam waktu 1 minggu. Higiene oral (oral hygiene) Beberapa ahli menyatakan bahwa penyakit periodontal dihubungkan dengan kondisi oral hygiene yang buruk. Secara umum faktor resiko penyakit periodontal adalah oral hygiene yang buruk. et al. Faktor yang mempengaruhi laju pembentukan plak adalah oral hygiene. dan komposisi serta laju aliran saliva. 1. Faktor ini bisa berada di dalam mulut atau lebih sebagai faktor sistemik terhadap host. Lokasi dan laju pembentukan plak adalah bervariasi di antara individu. serta faktor-faktor pejamu seperti diet. melaporkan bahwa pada individu yang mempunyai gingiva sehat akan segera mengalami gingivitis bila tidak melakukan pembersihan rongga mulut selama 2-3 minggu. ada beberapa faktor yang menjadi faktor resiko penyakit periodontal.

Sampai dengan 30% dari populasi mungkin memiliki beberapa kerentanan genetik terhadap penyakit periodontal. Faktor genetik Faktor genetik berbeda pada setiap individu. Beberapa penelitian menunjukkan bahwa faktor genetik mempengaruhi keparahan kondisi klinis gingivitis.Makalah Gusi Berdarah 4. sebuah sitokin yang terlibat dalam 12 Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Hasanuddin . faktor genetik mungkin memainkan peran penting dalam setengah kasus penyakit periodontal. Penyakit sistemik Penyakit periodontal juga berhubungan dengan Diabetes melitus (DM) dan penyakit sistemik lainnya. (Brian BA. genetik 2. 2006) A. usia 3. stress (Carranza. 2006). 1998) Risk determinant mencakup berbagai hal antara lain : 1. Risk Determinant Penyakit Periodontal Risk determinant disebut juga dengan background characteristic yaitu faktor2 resiko yang tidak dapat dimodifikasi yang dapat meningkatkan kemungkinan terjadinya penyakit. kedalaman probe poket. loss of attachment. Sebagai contoh. Jumlah total keluarga yang menderita localized atau generalized aggressive periodontitis juga mengindikasikan bahwa factor genetik juga terlibat dalam penyakit (Carranza. dan tinggi tulang interproksimal. Penderita DM lebih rentan terhadap infeksi terutama pada penderita diabetes yang tidak terkontrol. Insiden DM dilaporkan cukup tinggi di beberapanegara yang artinya berdampak negatif bagi kesehatan rongga mulut. jenis kelamin 4. Bila dilakukan skeling pada penderita diabetes tanpa tindakan profilaksis dapat menyebabkan timbulnya abses periodontal (Fehrenbach. status sosial ekonomi 5.2008). Menurut sebuah penelitian tahun 2000. beberapa orang dengan penyakit periodontal yang memiliki faktor genetik yang mempengaruhi faktor kekebalan interleukin-1 (IL-1).

13 Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Hasanuddin . walaupun keadaan ini lebih sering dikaitkan sebagai akibat kerusakan jaringan yang kumulatif selama hidup (proses aging). penurunan kemampuan pengunyahan dan berbicara yang dapat memperburuk kualitas hidup pasien. Pasien laki-laki dan perempuan menunjukkan karakteristik usia. Oleh karena itu. Keadaan ini tidak hanya mempercepat perkembangan penyakit periodontal. Usia Penyakit periodontal pada umumnya dapat menurunkan kualitas hidup pada orang tua. Persentase yang lebih tinggi dari pasien laki-laki memiliki pocket periodontal dibandingkan dengan pasien perempuan dalam setiap kelompok usia. Sehingga menyebabkan bakteri rongga mulut dengan mudah melekatkan diri pada permukaan dan tepi gingiva yang tidak memiliki sistem pertahanan. sama halnya dengan kehilangan gigi yang akan menghasilkan defisiensi asupan nutrisi.Makalah Gusi Berdarah respon inflamasi. Penyakit periodontal lebih banyak dijumpai pada orang tua dari pada kelompok yang muda. Pada umumnya. Banyak penilitian yang menyatakan bahawa keparahan periodontal akan meningkat sejalan dengan bertambahnya umur. pada orang tua dengan sejumlah gigi dapat dihubungkan dengan prevalensi bakteri periodontal dalam rongga mulut. dengan perbedaan lebih menonjol di antara pasien yang lebih muda dan tua. B. persentase pasien dengan kantong-kantong periodontal melalui peningkatan kelompok usia yang lebih tua sampai usia 65. Status periodontal dengan usia dan jenis kelamin Gambar 2 menunjukkan status periodontal dengan usia dan jenis kelamin. Tingginya prevalensi penyakit periodontal pada orang tua mendapat perhatian karena penyakit periodontal pada pasien secara langsung dapat meningkatkan risiko terbentuknya karies akar. orang-orang yang mengalami permasalahan yang berhubungan dengan pernapasan kronis memiliki imunitas rendah. Perubahan pada gen IL ± 1 mungkin merupakan penanda yang valid untuk periodontitis. tetapi penggunaan IL-1 sebagai penanda genetik pada populasi yang lebih besar masih jarang (Carranza.2006).

dan 22.S. Jenis Kelamin Jenis kelamin berperan dalam penyakit periodontal.0% selama 45-64 tahun.3% antara 18-24 tahun sampai dengan 15. 14 Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Hasanuddin .37 kali lebih rendah selama 18-24-year-olds dan 0.67 kali lebih rendah selama 25-44 tahun dibandingkan dengan 65 + tahun. Karenanya. dan 13. Pria memiliki kemungkinan lebih tinggi dari pocket 6 + mm (1. oral hygeni pria lebih rendah daripada wanita.9% untuk +65 tahun.3% di antara +65 tahun. pocket periodontal 6 + mm peningkatan kelompok usia yang lebih tua dari 5. Survei National U. Pasien yang lebih muda memiliki kemungkinan lebih rendah memiliki pocket 6 + mm. 0. 2002).6% selama 18-24 tahun sampai dengan 24. tahun 1996 menunjukkan bahwa laki-laki lebih banyak kehilangan perlekatan daripada wanita. C. Kenyataannya. 2011). perbedaan jenis kelamin dalam prevalensi dan keparahan periodontitis menunjukkan hubungan pencegahan daripada faktor genetik lain (Onya Andinisari.5% antara 45-64 tahun-usia.39 kali) dibandingkan dengan pasien perempuan (AIHW.Makalah Gusi Berdarah Pada penelitian yang telah dilakukan di universitas Adelaide di Australia telah menyatakan bahawa persentase pasien dengan kantong mm 4-5 meningkat dalam kelompok usia lebih tua dari 6. terkait keberadaan plak dan kalkulus.

Stress emosional akan memodifikasi ph dari saliva dan komposisi kimianya seperti adanya sekresi dari IgA (ReenersM. Selain itu juga dental plak merupakan pangkalan dari bakteri. Pengaruh stress terhadap penyakit periodontal Pada rongga mulut stress akan menekan aliran saliva dan meningkatkan pembentukan dental plak. Sekarang stress didefinisikan sebagai kebingungan secara fisiologi danmetabolis yang diakibatkan oleh berbagai agent yang progresive danmerupakan psiko-fisiologi dari organisme yang menghadapi situasi persepsi menantang atau yang menakutkan. Stress didefinisikan sebagaiproses dinamis dan interaksi dari suatu system dengan formulasi dan operasionalisasi komponen komponen pada berbagai tingkat ( Lazarus . Hal ini juga diperparah oleh keadaan seseorang yang mengalami stress yang melupakan kebersihan rongga mulutnya. 2007 ). sehingga bakteri pathogen yang seharusnya bisa ditekan oleh imunolglobulin ini akan meningkat patogenitasnya oleh karena tidak ada yang menekan efek dari toksin yang dikeluarkan oleh bakteri tersebut.Stress dihubungkan juga oleh suatu hormon yang dihasilkan oleh korteks adrenal yaitu kortisol.2006). Stress berasal dari kata latin Stringere yang berarti ketat atau tegang. Berbagai stressor ini misalnya timbul dari suatu yang diadaptasi setiap hari sampai menciptakan suatu accident (Carranza. Ig A mempunyai peranan salah satunya sebagai imunitas mukosa. 2006).Makalah Gusi Berdarah D. hormon kortisolini bermanfaat untuk memobilisasi cadangan energy sehingga efek dari stress yang merusak jaringan bisa diminimalkan. Cannon menggambarkan stress sebagai hasil darisuatu proses homeostasis dan menunjukkan system simpatis (Carranza. Definisi dari stress ini sangat penting untuk dijabarkan karena penggunaankalimat ini sering disalahgunakan. Yang merupakan stressor adalah segala situasi yang memberikan sumbangsih suatu keadaan yang aggresive. toksin dari bakteri akan bermuara disini danakan semakin mengiritasi jaringan periodontal. 2000 ).Hormone kortisol diatur oleh 15 Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Hasanuddin .Bila sekresi dari IgA ini terganggu atau adanya suatu kelainan maka imunitas dari mukosa akan terganggu. Kortek adrenal juga menghasilkan glukokortikoid dan mineralokortikoid.Dalam jangka pendek. Stress Stress adalah respon tubuh normal terhadap sesuatu peristiwa yangmemicu seseorang untuk menjadi terancam.dengan adanya pangkalan ini .

Axtelius pada tahun 1998 menunjukkan adanya peranan kortisol padacairan crevicular gingival yang menunjukkan bahwa konsentrasi kortisol padacairan crevicular adalah lebih tinggi pada seseorang yang menunjukkan depresi. Kalkulus 3. sedangkan faktor sistemik dihubungkan dengan metabolisme dan kesehatan umum. Faktor penyebab penyakit periodontal dapat dibagi menjadi dua bagian yaitu faktor lokal (ekstrinsik) dan faktor sistemik (intrinsik). Trauma dari oklusi 16 Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Hasanuddin . Hubungan penyakit periodontal terhadap stress dikemukakan oleh Page et all (1983) yang menggambarkan periodontitis aggressive sebagaipenyakit yang mempunyai hubungan dengan psiko sosial dan hilangnya nafsumakan. Kerusakan yang disebabkan oleh inflamasi gingiva mengakibatkan pengurangan ketinggian tulang alveolar sedangkan trauma dari oklusi menyebabkan hilangnya tulang alveolar pada sisi permukaan akar. Plak bakteri 2. Sifat fisik makanan 6.Peningkatatan hormone kortisol dalam jangka panjang mempunyai efek yang merugikan (ReenersM. Pernafasan mulut 5. pada tahap ini coping yang tidakadaptive menguatkan stimulasi otak dan coping adaptive akan menghambatnya. monteira da silva menunjukkan bahwa seseorangdengan Agresive periodontitis lebih tertekan dan secara sosial terisolasidibandingkan dengan orang yang normal. Faktor Lokal : 1. Impaksi makanan 4. Iatrogenik Dentistry 7. 2007 ). Kerusakan tulang dalam penyakit periodontal terutama disebabkan oleh factor lokal yaitu inflamasi gingiva dan trauma dari oklusi atau gabungan keduanya. Faktor lokal merupakan penyebab yang berada pada lingkungan disekitar gigi.Stress psikologi merangsang juga pada otak.Makalah Gusi Berdarah hypothalamus dan glandula ptiutary. Pada tahun 1996.

Meskipun penumpukan plak bakteri merupakan penyebab utama terjadinya gingivitis. Lebih dari 500 spesies bakteri ditemukan di dalam plak dental. Mikroorganisme ini berada pada matriks interseluler yang juga mengandung sedikit sel-sel dari jaringan pejamu seperti sel epitel. makrofag dan leukosit. Matriks interseluler plak yang merupakan 20%-30% massa plak terdiri dari komponen organic dan anorganik yang berasal dari saliva. Meniadakan mekanisme pertahanan tubuh. cairan sulkus dan 17 Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Hasanuddin . Hampir semua penyakit periodontal berhubungan dengan plak bakteri dan telah terbukti bahwa plak bakteri bersifat toksik. Komposisi plak dental adalah mikroorganisme. Awal pembentukan plak. Streptokokus mitis. Streptokokus sanguis. akan tetapi masih banyak faktor lain sebagai penyebabnya yang merupakan multifaktor. Mengurangi pertahanan jaringan tubuh 3. plak dibagi atas supra gingival yang berada disekitar tepi gingival dan plak sub-gingiva yang berada apikal dari dasar gingival. Bakteri dapat menyebabkan penyakit periodontal secara tidak langsung dengan jalan : 1. KOMPOSISI PLAK Ada tiga komposisi plak dental yaitu mikroorganisme. Protozoa dan Virus. Streptokokus salivarius. Ragi. Actinomyces viscosus dan beberapa strain lainnya.Makalah Gusi Berdarah 1. kokus gram positif merupakan jenis yang paling banyak dijumpai seperti Streptokokus mutans. 2. matriks interseluler yang terdiri dari komponen organik dan anorganik. Plak Bakteri Plak bakteri merupakan suatu massa hasil pertumbuhan mikroba yang melekat erat pada permukaan gigi dan gingiva bila seseorang mengabaikan kebersihan mulut. Mikroorganisme non bakteri juga ditemukan pada plak antara lain spesies Mycoplasma. meliputi interaksi antara mikroorganisme pada jaringan periodontal dan kapasitas daya tahan tubuh. Berdasarkan letak huniannya. Bakteri yang terkandung dalam plak di daerah sulkus gingiva mempermudah kerusakan jaringan. Menggerakkan proses immuno patologi.

Ketiga proses pembentukan plak ini akan dibahas dalam subbab berikut. glikoprotein dan lemak sedangkan komponen anorganik terdiri dari kalsium. Pelikel berfungsi sebagai penghalang protektif yang akan bertindak sebagai pelumas permukaan dan mencegah desikasi (pengeringan) jaringan.Makalah Gusi Berdarah produk bakteri. Kolonisasi Awal pada Permukaan Gigi Kolonisasi awal pada pemukaan gigi di permukaan enamel dalam 3-4 jam didominasi oleh mikroorganisme fakultatif gram positif. Actinomyces viscosus dan Actinomyces naeslundii. yaitu peralihan dari lingkungan awal yang bersifat aerob dengan spesies bakteri fakultatif gram-positif menjadi lingkungan yang sangat miskin oksigen dengan adanya spesies bakteri anaerob gram-negatif setelah 24 jam. Pembentukan Pelikel Pembentukan pelikel pada dasarnya merupakan proses perlekatan protein dan glikoprotein saliva pada permukaan gigi. sedangkan permukaan lainnya merupakan sisi yang melekatkan bakteri pada permukaan gigi. Proses Pembentukan Plak Proses pembentukan plak tersebut dapat dibagi menjadi tiga fase. satu sisi melekat ke permukaan gigi. yaitu pembentukan pelikel. protein. dan sejumlah mineral lain seperti natrium. 18 Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Hasanuddin . Pelikel merupakan suatu lapisan organik bebas bakteri dan terbentuk dalam beberapa menit setelah permukaan gigi yang bersih berkontak dengan saliva dan pada permukaan gigi berupa material stein yang terang apabila gigi diwarnai dengan bahan pewarna plak. Pengkoloni awal tersebut melekat ke pelikel dengan bantuan adhesion. pelikel bekerja seperti perekat bersisi dua. kalium dan fluor. posfor. Bahan organik yang mencakup polisakarida. Pada fase awal permukaan gigi atau restorasi akan dibalut oleh pelikel glikoprotein. Dalam perkembangannya terjadi perubahan ekologis pada biofilm. Selain itu. Streptokokus mitis. yaitu : molekul spesifik yang berada pada permukaan bakteri. Streptokokus mutans. Streptokokus salivarius. kolonisasi awal pada permukaan gigi serta kolonisasi sekunder dan pematangan plak. Pelikel tersebut berasal dari saliva dan cairan sulkular. seperti Streptokokus sanguins.

3. Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Hasanuddin 19 . Fusobakterium nucleatum dan Prophyromonas gingivalis. Prevotella loesheii. spesies Capnocytophaga. Multiplikasi serta perlekatan lanjut bakteri yang ada dengan bakteri baru Dalam tiga hari. Impaksi makanan Impaksi makanan (tekanan akibat penumpukan sisa makanan) merupakan keadaan awal yang dapat menyebabkan terjadinya penyakit periodontal. Bakteri pengkoloni sekunder akan melekat ke bakteri yang sudah melekat ke pelikel. Interaksi yang menimbulkan perlekatan bakteri pengkoloni sekunder ke bakteri pengkoloni awal dinamakan koagregasi. Faktor penyebab timbulnya gingivitis adalah plak bakteri yang tidak bermineral. yaitu: a. mempengaruhi gingiva secara tidak langsung. Multiplikasi dari bakteri yang telah melekat pada permukaan gigi. pengkoloni sekunder yang tidak turut sebagai pengkoloni awal ke permukaan gigi yang bersih meningkat. 2. Kalkulus Kalkulus terdiri dari plak bakteri dan merupakan suatu massa yang mengalami pengapuran. kalkulus bukan penyebab utama terjadinya penyakit periodontal. Fase akhir pematangan plak pada hari ke-7 ditandai dengan menurunnya jumlah bakteri gram positif dan meningkatnya bakteri gram negatif. terbentuk pada permukaan gigi secara alamiah. sedangkan gigi dengan oklusi yang baik mempunyai daya self cleansing yang tinggi. b. Kalkulus merupakan pendukung penyebab terjadinya gingivitis (dapat dilihat bahwa inflamasi terjadi karena penumpukan sisa makanan yang berlebihan) dan lebih banyak terjadi pada orang dewasa. melekat pada permukaan kalkulus. Gigi yang berjejal atau miring merupakan tempat penumpukan sisa makanan dan juga tempat terbentuknya plak.Makalah Gusi Berdarah Kolonisasi Sekunder dan Pematangan Plak Plak akan meningkat jumlahnya setelah kolonisasi awal permukaan gigi melalui dua mekanisme terpisah. seperti Prevotella intermedia.

Pernafasan Mulut Kebiasaan bernafas melalui mulut merupakan salah satu kebiasaan buruk. Makanan yang demikian tidak dikunyah secara biasa tetapi dikulum di dalam mulut sampai lunak bercampur dengan ludah atau makanan cair. 20 Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Hasanuddin . bibir maupun rahang. Hal ini sering dijumpai secara permanen atau sementara. Makanan yang mempunyai sifat fisik keras dan kaku dapat juga menjadi massa yang sangat lengket bila bercampur dengan ludah. juga karena kebiasaan membuka mulut terlalu lama. rasa sakit yang sangat dan tidak menentu c. penumpukan makanan ini akan memudahkan terjadinya penyakit. pembentukan abses periodontal menyebabkan gigi dapat bergerak dari soketnya. f. kerusakan tulang alveolar dan karies pada akar 4. sehingga terjadinya kontak prematur saat berfungsi dan sensitif terhadap perkusi. menyebabkan debris lebih mudah melekat disekitar gigi dan bisa berfungsi sebagai sarang bakteri serta memudahkan pembentukan karang gigi.Makalah Gusi Berdarah Tanda-tanda yang berhubungan dengan terjadinya impaksi makanan yaitu a. aliran saliva berkurang. perasaan tertekan pada daerah proksimal b. Keadaan ini menyebabkan viskositas (kekentalan) saliva akan bertambah pada permukaan gingiva maupun permukaan gigi. Permanen misalnya pada anak dengan kelainan saluran pernafasan. Sementara misal pasien penderita pilek dan pada beberapa anak yang gigi depan atas protrusi sehingga mengalami kesulitan menutup bibir. inflamasi gingiva dengan perdarahan dan daerah yang terlibat sering berbau. 5. lidah dan palatum menjadi kering dan akhirnya memudahkan terjadinya penyakit periodontal. Sifat fisik makanan Sifat fisik makanan merupakan hal yang penting karena makanan yang bersifat lunak seperti bubur atau campuran semiliquid membutuhkan sedikit pengunyahan. populasi bakteri bertambah banyak. resesi gingiva e. d.

Iatrogenik Dentistry Iatrogenik Dentistry merupakan iritasi yang ditimbulkan karena pekerjaan dokter gigi yang tidak hati-hati dan adekuat sewaktu melakukan perawatan pada gigi dan jaringan sekitarnya sehingga mengakibatkan kerusakan pada jaringan sekitar gigi. buahbuahan dan ikan yang sifatnya tidak melekat pada permukaan gigi. Sewaktu melakukan pencabutan. Trauma dari oklusi dapat disebabkan oleh : Perubahan-perubahan tekanan oklusal Misal adanya gigi yang elongasi. clenching. 7. tekanan oklusal yang menyebabkan kerusakan jaringan disebut traumatik oklusi.Makalah Gusi Berdarah Makanan yang baik untuk gigi dan mulut adalah yang mempunyai sifat self cleansing dan berserat yaitu makanan yang dapat membersihkan gigi dan jaringan mulut secara lebih efektif. Trauma dari oklusi Trauma dari oklusi menyebabkan kerusakan jaringan periodonsium. karena dapat menimbulkan kerusakan jaringan gingiva. misalnya : Waktu melakukan penambalan pada permukaan proksimal (penggunaan matriks) atau servikal. Penyingkiran karang gigi (manual atau ultra skeler) juga harus berhati ± hati. Berkurangnya kapasitas periodonsium untuk menahan tekanan oklusal Kombinasi keduanya. kebiasaan buruk seperti bruksim. karena hal ini menyebabkan mudahnya terjadi penyakit periodontal. 21 Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Hasanuddin . Dokter gigi harus memperhatikan masa depan kesehatan jaringan periodontal pasien. pencabutan gigi yang tidak diganti. harus dihindarkan tepi tambalan yang menggantung (kelas IIamalgam). misalnya sayuran mentah yang segar. 6. dimulai dari saat penyuntikan. penggunaan bein sampai tang pencabutan dapat menimbulkan rusaknya gingiva karena tidak hati ± hati. tidak baik adaptasinya atau kontak yang salah.

vitamin C sangat berpengaruh pada jaringan periodontal. Defisiensi vitamin Di antara banyak vitamin. Gangguan keseimbangan tersebut dapat berupa kurangnya materi yang dibutuhkan oleh sel-sel untuk penyembuhan. Untuk metabolisme jaringan dibutuhkan materialmaterial seperti hormon. karena fungsinya dalam pembentukan serat jaringan ikat. Drugs atau pemakaian obat-obatan 4. (misal disebabkan pilek. Drugs atau obat-obatan Obat-obatan dapat menyebabkan hiperplasia. Defisiensi vitamin 3. tetapi hyperplasia gingiva memudahkan terjadinya penyakit. Defisiensi vitamin C sendiri sebenarnya tidak menyebabkan penyakit periodontal. tetapi adanya iritasi local menyebabkan jaringan kurang dapat mempertahankan kesehatan jaringan tersebut sehingga terjadi reaksi inflamasi (defisiensi memperlemah jaringan). Hormonal 1. Dilantin bukan penyebab langsung penyakit jaringan periodontal. batuk yang parah). Demam yang tinggi 2. Bila keseimbangan material ini terganggu dapat mengakibatkan gangguan lokal yang berat. sehingga iritasi lokal yang seharusnya dapat ditahan atau hanya menyebabkan inflamasi ringan saja. 2.Makalah Gusi Berdarah FAKTOR SISTEMIK Respon jaringan terhadap bakteri. 3. nutrisi dan oksigen. Demam yang tinggi Pada anak-anak sering terjadi penyakit periodontal selama menderita demam yang tinggi. Pada keadaan ini saliva dan debris berkumpul pada mulut menyebabkan mudahnya terbentuk plak dan terjadi penyakit periodontal. Hal ini disebabkan anak yang sakit tidak dapat melakukan pembersihan mulutnya secara optimal dan makanan yang diberikan biasanya berbentuk cair. yaitu phenytoin (dilantin). Penyebab utama adalah plak bakteri. rangsangan kimia serta fisik dapat diperberat oleh keadaan sistemik. Faktor-faktor sistemik ini meliputi : 1. dengan adanya gangguan keseimbangan tersebut maka dapat memperberat atau menyebabkan kerusakan jaringan periodontal. vitamin. hal ini sering terjadi pada anak-anak penderita epilepsi yang mengkomsumsi obat anti kejang. 22 Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Hasanuddin .

RESPON IMUN Respon imun pada beberapa kelainan periodontal Pada individu sehat tampak adanya pengaturan respons imunologik spesifik yang baik. Peningkatan hormone estrogen dan progesteron selama masa remaja dapat memperhebat inflamasi margin gingiva bila ada faktor lokal penyebab penyakit periodontal. Pada gingivitis dan periodontitism respons imun ini akan menimbulkan efek protektif dan destruktif. Hormonal Penyakit periodontal dipengaruhi oleh hormon steroid. MEKANISME TERJADINYA GUSI BERDARAH Di akibatkan berkumpulnya pelikel yang berkolonisasi jadi plaque berkolonisasi Dengan Bakteri dan bermineralisasi menjadi calculus sehinga terjadi perdangan pada jaringan periodontal (gingva) yang merupakan aksi dari system kekebalan tubuh sehingga terjadi pembesaran (banyaknya pasokan pembulu drah pada daerah yang terinfeksi ) sehingga sedikit saja terdapat rangsangan dan stimulus menyebabkan mudahnya terjadi inflamasi e. Bakteri subgingival yang berasal dari plak gigi akan memapar daerah gusi. efek protektif respons imun boleh katakana tidak Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Hasanuddin 23 .Makalah Gusi Berdarah 4. Bila terjadi akumulasi plak bacterial. yang dapat berupa endotoksin. sebagai pertahanan infiltrasi antigen plak. d. akan mempenetrasi ke dalam jaringan gingival dan menimbulkan respons pejamu sistemik dan local. Antigen bakteri ini.

Aktivasi komplemen yang menghasilkan C3a dan C5a. Respons subkelas IgG yang tidak proporsional ini. mengindikasikan adanya tingkat aktivasi limfosit B yang tidak spesifik pada daerah yang meradang. yang akan memproduksi antibody. Gingivitis da[at terjadi sebagai akibat respons yang berlebihan terhadap plak bacterial. terus-menerus akan mencuci daerah tersebut dam bereaksi dengan bakteri subgingiva. juga ikut mengaktivasi system ini. baik melalui jalur klasik maupun alternative. Hal ini disebabkan berbagai stimulant termasuk mitogen dan protease bakteri. enzim-enzim proteolitik.Makalah Gusi Berdarah bermakna sebab terjadinya gingivitis karena plak ini sulit dihindari. Mekanisme kerusakan pada jaringan periodontal dapat dbabkan efek langsung oleh bakteri plak. Komplemen di dalam cairan celah gusi akan diaktivasi dengan cepat melalui kombinasi jalur klasik dan alternative. Pada gingivitis ringan merupakan kelanjutan infiltrasi PMN karena gingival diinfiltrasi oleh beberapa limfosit-T. proporsinya rendah bila dibandingkan dengan IgG lainnya. dank arena respons seluler. mengandung komponen komplemen fungsional dengan antibody spesifik terhadap berbagai antigen plak yang kadarnya rendah. Serbuan aliran celah gusi merupakan stadium yang penting pada perkembangan kelainan periodontal. baik dari pejamu maupun bakteri. Kadar serum IgG2 pada kelainan periodontal yang berat. dipercaya merusak jaringan dan menambah aktivasi komplemen disertai penglepasan prostaglandin E . Di pihak lain. Bakteri juga mengaktivasi komplemen melalui jalur alternative. Penglepasan enzim proteolitik seperti kolagenase dan enzim yang aktivitasnya mirip tripsin oleh sel pejamu. kerusakan yang diinduksi oleh PMN leukosit. jaringan periodontal sudah banyak mengandung limfosit B dan sel plasma. Hal ini akan memodulasi atau mengubah komposisi mikroflora subgingiva. cairan celah gusi yang mengandung antibody dan komplemen. akan menambah edema yang meningkatkan aliran cairan celah gusi dan mengakibatkan atraksi kemotaktit PMN leukosit. Aktivasi jalur klasik distimulasi oleh IgG dan IgM terhadap antigen plak subgingiva. neutrofil yang dimediatori oleh aktivasi komplemen. sedangkan aktivasi komplemen jalur alternative oleh endotoksin dan peptidoglikan yang dihasilkan oleh mikroorganisme negative dan positif Gram. Eksudat dari serum yang diekskresikan melalui cairan celah gusi. 24 Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Hasanuddin . aedangkan pada gingivitis atau periodontitis yang berat. Namun. Faktor kemotaktit lainnya juga dihasilkan langsung oleh bakteri plak.

pada gingivitis dan periodontitis berat. Kejadian selanjutnya adalah dibangkitkannya respons seluler dan humoral untuk menghancurkan antigen dengan efek samping kerusakan jaringan. sehingga tidak mungkin menghambat penyakit tersebut. Aktivasi komplemen yang mempunyai efek kemotaksis akan menarik PMN neutrofil yang memfagositosis antigen bakteri. Peran respons seluler pada perkembangan kelainan periodontal da[at dilihat berdasarkan hasil beberapa penelitian yang menunjukkan bahwa limfosit di dalam darah tepi umumnya meningkat reaktivitasnya terhadap antigen plak pada kelainan periodontal. dengan kasus yang dialami telah lanjut. PMN neutrofil ini berasal dari jaringan gingival yang sudah disusupin antigen. dan mediator ini akan mengaktivasi. Keadaan ini merupakan 25 Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Hasanuddin . Peran penting PMN netrofil dalam mengkontrol periodontopatogen terlihat pada saat kelainan periodontal yang berat. PMN neutrofil juga akan menghancurkan antigen melalui enzim lisosom. Namun sebagian antigen bacterial akan menelusup ke jaringan gingival. Hal ini juga terjadi sebagai akibat limfokin yang disekresikan oleh sel B yang juga tersensitisasi antigen. Respons imun local di daerah celah gusi mungkin dapat mengeleminasi antigen kuman. Antigen akan dihadapi oleh sel T yang akan memproduksi limfokin karena sudah disensitisasai antigen.dengan alasan yang belum diketahui. f. PERAWATAN Sering dijumpai pasien datang ke dokter gigi.Makalah Gusi Berdarah Masa bakteri juga dapat direduksi melalui reaksi antibody antigen (Ab-Ag) yang dilanjutkan dengan aktivasi komplemen sehingga terjadi sitolisis. menarik dan menghambat migrasi makrofag. fungsi neutrofil ini menurun. respons local sel T terhadap antigen plak sangat kecil. Namun.

Makalah Gusi Berdarah pengalaman yang menyebabkan trauma bagi pasien usia remaja bila mereka dihadapkan dengan kenyataan bahwa mereka mempunyai penyakit periodontal dan akan kehilangan satu atau semua gigi-giginya bila tidak segera dirawat. tahap jaringan lunak 2. Tujuan dari perawatan ini adalah untuk mencegah kerusakan jaringan yang lebih parah dan kehilangan gigi. Tahap jaringan lunak Pada tahap ini dilakukan tindakan untuk meredakan inflamasi gingiva. pembuatan gigi palsu. masih banyak usaha yang dapat dilakukan untuk mempertahankan gigi selama bertahun-tahun. koreksi tepi tambalan proksimal yang cacat dan memelihara jalur ekskursi makanan yang baik. Tahap fungsional Hubungan oklusal yang optimal adalah hubungan oklusal yang memberikan stimulasi fungsional yang baik untuk memelihara kesehatan jaringan periodontal. 3. pasien harus ditenangkan dari keputusasaan dan diyakinkan bahwa walaupun penyakit tidak dapat dirawat. tahap sistemik 4. menghilangkan saku periodontal dan faktor-faktor penyebabnya. Tahap sistemik 26 Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Hasanuddin . Disamping itu juga untuk mempertahankan kontur gingiva dan hubungan mukogingiva yang baik. tahap fungsional 3. Menurut Glickman ada empat tahap yang dilakukan dalam merawat penyakit periodontal yaitu : 1. Pada kasus ini. usaha yang perlu dan dapat dilakukan adalah : occlusal adjustment. perawatan ortodonti. splinting (bila terdapat gigi yang mobiliti) dan koreksi kebiasaan jelek (misal bruksim atau clenching). 2. Untuk mencapai hubungan oklusal yang optimal. Penyakit periodontal harus ditemukan secepatnya dan dirawat sesegera mungkin setelah penyebab penyakit itu ditemukan. tahap pemeliharaan 1. Pemeliharaan kesehatan jaringan periodontal dapat dilakukan dengan penambalan lesi karies. Dengan perawatan banyak gigi dapat dipertahankan sampai pasien mencapai dewasa.

karies baru atau faktor penyebab penyakit lainnya. Skeling adalah suatu proses membuang plak dan kalkulus dari permukaan gigi. kunjungan berkala ke dokter gigi untuk memeriksa tambalan. endotoksin) dari permukaan gigi. Masalah sistemik memerlukan kerja sama dengan dokter yang biasa merawat pasien atau merujuk ke dokter spesialis. dari plak yang tinggi jumlah bakteri Gram negative anaerob menjadi plak yang dihuni oleh bakteri Gram positif yang fakultatif anaerob. Root planning adalah proses membuang sisa-sia kalkulus yang terpendam dan jaringan nekrotik pada sementum untuk menghasilkan permukaan akar gigi yang licin dank eras. Tujuan utama skeling dan root planning adalah untuk mengembalikan kesehatan gusi dengan cara membuang semua elemen yang menyebabkan radang gusi (plak. yaitu flora normal yang terdapat pada gusi sehat. plak. Instrumentasi telah terbukti sangat mengurangi jumlah mikroorganisme di subgingival dan menyebabkan pergeseran komposisi bakteri disubgingival. akumulasi materi dan stain dari mahkota gigi dan permukaan akar. Beberapa hal yang perlu diketahui agar teknik skeling dan root planning memberikan hasil yang baik adalah : 27 Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Hasanuddin . Skeling adalah prosedur awal pembuangan kalkulus. Tahap pemeliharaan Prosedur yang diperlukan untuk pemeliharaan kesehatan periodontal yang telah sembuh yaitu dengan memberikan instruksi higine mulut (kontrol plak). Jadi perawatan yang diberikan pada pasien ialah skeling karang gigi dan root planning jika di perlukan.Makalah Gusi Berdarah Kondisi sistemik memerlukan perhatian khusus pada pelaksanaan perawatan penyakit periodontal. 4. Sedangkan root planning adalah teknik untuk menghilangkan sementum atau dentin permukaan yang berubah karena adanya penyakit.kalkulus. karena kondisi sistemik dapat mempengaruhi respon jaringan terhadap perawatan atau mengganggu pemeliharaan kesehatan jaringan setelah perawatan selesai. baik supragingiva maupun subgingiva.

dan melakukan gerakan skeling dengan tepat. Setiap kunjungan dilakukan skeling pada seperempat bagian lengkung gigi atau pada sekelompok gigi tertentu. y Mengatur posisi pasien-operator. mengkuretase gingival. shank (leher) dan working end (sisi aktif alat) Probe Periodontal 28 Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Hasanuddin . walaupun beberapa ada juga yang terbuat dari baja yang mengandung kadar karbon yang tinggi. y Melakukan skeling dalam system bertahap. misalnya pada region kanan atas atau kiri atas. melakukan retraksi bibir. melakukan tumpuan. Seringkali alat-alat ini terbuat dari bahan baja tahan karat (stainless steel ). menghaluskan permukaan akar. maupun sifatnya. y Melihat keadaan jaringan gusi di sekeliling kalkulus.Makalah Gusi Berdarah y Melakukan pemeriksaan secara teliti pada kalkulus baik letaknya. yang sangat disukai oleh beberapa klinisi karena bahan tersebut dinilai sangat berkualitas dan memudahkan pekerjaan skaling. karena dari keluhan sakit pasien dapat ditentukan apakah pasien menderita penyakit periodontal yang ringan atau berat. Dapat juga region gigi depan atau gigi belakang pada keadaan gigi yang tidak lengkap. misalnya dalamnya saku gusi. dan untuk membuang jaringan yang nekrotik. warna gusi dan bentuk gusi. maupun lidah pasien. region kanan bawah atau kiri bawah. ‡ Tiap alat periodontal yang dipakai secara manual biasanya terdiri dari 3 bagian yaitu : handle (pegangan). y Menanyakan keluhan sakit kepada pasien. banyaknya. ‡ Alat-alat kecil (mikro skaler) direkomendasikan untuk digunakan kedalamsaku gusi tanpa melukai dinding saku atau jaringan lunaknya. INSTRUMENT YANG DIGUNAKAN Alat-alat periodontal didesain untuk tujuan tertentu. pipi. memegang alat dengan benar. visibilitas ke daerah kerja dengan mengatur pencahayaan. seperti untuk mengambil kalkulus. g.

2). Eksplorer Eksplorer disebut juga sonde. Skaler Manual: 29 Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Hasanuddin . Desainnya dapat bermacam-macam dengan berbagai kalibrasi millimeter. Berdasarkan cara penggunaannya. (2) Scaler yang berukuran kecil (mikro skaler) digunakan untuk mengambil kalkulus subgingival yaitu kalkulus yang terletak di bawah permukaan gusi dan jaringan-jaringan mati disekitar kalkulus yaitu semen atau gusi yang nekrotik. skaler dibedakan menjadi skaler manual dan skaler elektrik.Makalah Gusi Berdarah Probe periodontal digunakan untuk mengukur kedalaman saku gusi dan untuk menentukan konfigurasinya. Skaler manual digerakkan dengan tangan biasa sedangkan skaler elektrik dalam penggunaannya memerlukan tenaga listrik. yaitu alat untuk mengetahui luas/batas kalkulus sub gingival dan karies serta mengecek keadaan akar gigi setelah dilakukan root planning. yaitu kalkulus yang terletak di atas permukaan gusi . Beberapa titik pengukuran dipilih untuk menentukan dalamnya perlekatan sepanjang permukaan gigi. Ketika mengukur kedalaman saku. Gambaran umum probe adalah suatu alat yang ujungnya mengerucut atau membulat yang mempunyai batas-batas berukuran millimeter dan ujungnya dapat tumpul atau terdapat bulatan (Gambar 7. Idealnya. probe dimasukkan dengan tekanan yang ringan dan hati-hati hingga mencapai dasar saku gusi. Probe WHO mempunyai petanda millimeter dan bola kecil pada ujungnya. Eksplorer didesain dengan bermacam-macam bentuk dan lekukan Jenis-jenis Skaler Skaler adalah alat untuk melakukan pembersihan karang gigi dan untuk melakukan root planning Scaler mempunyai 2 ukuran yaitu : (1) Scaler yang berukuran besar (makro skaler) digunakan untuk mengambil kalkulus supragingiva . suatu probe bentuknya tipis dan lehernya bersudut untuk memudahkan memasukan kedalam saku gusi. Leher probe diarahkan hingga sejajar dengan sumbu panjang gigi.

Curet mempunyai dua sisi potong yang bertemu pada ujung alat dengan bentuk membulat. Dibanding dengan sickle skaler. sehingga curet dapat mencapai poket yang lebih dalam. menghaluskan permukaan akar dari jaringan semen yang nekrotik. kedua sisi potongnya berbentuk setengah lingkaran sehingga dapat beradaptasi lebih baik dengan permukaan akar dibandingkan dengan sickle scaler.Ada dua jenis dasar curet yaitu: Curet universal dan curet area spesifik. Curet tersedia dalam bentuk single ended atau double ended. dan trauma yang ditimbulkan pada jaringan lunak bersifat minimal. tergantung pada kesenangan operator. Sickle skaler digunakan untuk mengambil supra/subgingival kalkulus pada permukaan proksimal gigi anterior dan posterior. fulcrum dan posisi tangan operator. sedangkan bentuk leher yang bersudut digunakan untuk gigi-gigi posterior.Makalah Gusi Berdarah 1. Curet Curet adalah alat yang mempunyai bentuk seperti sendok dan digunakan untuk mengambil subgingival kalkulus.Sickle scaler Sickle skaler yang mempunyai bentuk seperti bulan sabit. Ukuran sisi potong. Working endnya mempunyai permukaan yang datar dan dua sisi potong yang mengerucut dan membentuk sudut lancip pada ujungnya. Alat ini dan modifikasinya mungkin merupakan alat yang paling tepat untuk melakukan skeling subgingival maupun rootplaning karena mampu beradaptasi secara 30 Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Hasanuddin . Curet Universal memiliki sisi potong yang dapat dimasukkan pada sebagian besar area gigi-geligi dengan cara mengubah dan mengadaptasikan jari-jari. Curet Area Spesifik misalnya serangkaian Curet Gracey adalah satu set curet yang terdiri dari beberapa instrument yang didesain dan diberi lekukan untuk dapat beradaptasi pada area anatomis tertentu pada gigi-geligi. 2. Sickle skaler yang berleher lurus didesain untuk gigi-gigi anterior dan premolar. Pada potongan melintang. panjang maupun lekukan lehernya dapat bervariasi. curet lebih tipis dan tidak mempunyai ujung yang tajam. dan mengkuret jaringan lunak nekrotik pada dinding pocket. tapi permukaan diantara kedua sisi potongnya membentuk sudut 90 (tegak lurus) dengan leher yang paling bawah jika dilihat dari ujungnya. Bentuknya sedemikian rupa sehingga alat ini tidak akan patah ketika digunakan.

Alat scaler harus tajam. File scaler ‡ Skaler yang mempunyai bentuk seperti kikir ‡ Alat ini jarang digunakan karena dapat menyebabkan permukaan akar gigi menjadi kasar. Hoe scaler ‡ Skaler yang mempunyai bentuk seperti cangkul. Tumpuan Pada waktu memegang alat.Makalah Gusi Berdarah maksimal pada berbagai anatomi akar yang beragam. ‡ Digunakan pada permukaan proksimal dari gigi-gigi anterior ‡ Terutama untuk memecah jembatan kalkulus pada gigi anterior 5. Curet Gracey yang berujung ganda (double-ended) tersedia dengan nomor yang berpasangan seperti berikut : ‡ Gracey # 1-2 dan 3-4 : gigi anterior ‡ Gracey # 5-6 : gigi anterior dan premolar ‡ Gracey #7-8 dan 9-10 : gigi posterior bagian labial dan lingual ‡ Gracey #11-12 : gigi posterior bagian mesial ‡ Gracey #13-14 : gigi posterior bagian distal. Cara pegang alat scaler ada 2 macam yaitu : ‡ pen graph (seperti memegang pensil) ‡ palm graph (seperti menggenggam) b. Prinsip penggunaan skaler adalah ‡ Alat scaler harus steril. Penggunaan alat harus sesuai dengan kebutuhan ‡ Teknik penggunaan harus tepat Cara Pegang Alat : a. Chisel scaler ‡ Scaler yang mempunyai bentuk seperti pahat. diperlukan suatu tumpuan waktu menggunakannya 31 Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Hasanuddin . ‡ Digunakan untuk meratakan dan menghaluskan permukaan akar sehingga bebas dari sisa-sisa 4. kalkulus dan semen Prinsip Umum Instrumentasi 1. 3.

Pada waktu memulai sesuatu gerakan. region kanan bawah atau bawah kiri.Makalah Gusi Berdarah agar ada support pada alat tersebut dan supaya alat tersebut tidak melukai jaringan lunak sekitar gigi. Selanjutnya setelah kalkulus pecah. kemudian dengan gerakan tarikan alat digerakkan keatas. (Tumpuan diwaktu skaling) Aktivasi Instrumen (Gerakan Skaling) Melakukan skaling dengan gerakan-gerakan tertentu pada waktu membersihkan karang gigi yaitu gerakan menarik dan mendorong atau menggosok. Disamping itu ada pula gerakan tangan yang berpangkal pada jari tangan atau pergelangan tangan. kita dapat melindungi daerah yang sedang dibersihkan daripada kecelakaan.l : ‡ Posisi Dapat berdiri atau duduk tergantung dari keadaan dan bentuk kursi pemeriksa ‡ Melakukan skaling dalam system bertahap Setiap kunjungan dilakukan skaling pada ¼ bagian lengkung gigi atau ada sekelompok gigi tertentu. Setelah melakukan skaling dan root planing sebaiknya dilakukan penyemprotan dengan air biasa atau air hangat agar kotoran yang tertinggal dapat dikeluarkan Dalam melakukan skaling dan root planning terdapat beberapa ketentuan a. sisanya dapat dibersihkan dengan gerakan drong atau gosok sehingga permukaan gigi menjadi halus. Maksud dilakukan skaling dengan system bertahap adalah supaya dapat membandingkan antara daerah yang belum dibersihkan dengan daerah yang sudah dibersihkan. Dengan mempergunakan jari-jari tangan sebelah kiri seperti ibu jari atau telunjuk/jari tengah. Selanjutnya setelah kalkulus pecah. selalu harus diperhatikan bahwa alatnya berada di bawah batas terbawah daripada kalkulus. misalnya pada region kanan atas atau kiri atas. sisanya dapat dibersihkan dengan gerakan drong atau gosok sehingga permukaan gigi menjadi halus. Hal ini penting untuk menyadarkan/memberi pengertian pada pasien akan pentingnya dilakukan skaling. 32 Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Hasanuddin . Disamping itu ada pula gerakan tangan yang berpangkal pada jari tangan atau pergelangan tangan.

PENCEGAHAN 33 Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Hasanuddin . c.Makalah Gusi Berdarah ‡ Cara memegang alat ‡ Teknik Skaling Supragingiva ‡ Alat dipegang dengan modifikasi memegang pena ‡ Sandaran jari dilakukan pada gigi tetangga atau tempat tumpuan lainnya ‡ Sisi pemotong mata skaler ditempatkan pada tepi apical dari kalkulus. diselipkan dengan hati-hati ke epihtel penyatu ‡ Setelah sisi pemotong mencapai dasar saku dibentuk angulasi 45 . ‡ Tekanan lateral berangsur-angsur dikurangi sampai shingga diperoleh permukaan gigi yang terbebas dari kalkulus ‡ Teknik Skaling Subgingiva & Root planning ‡ Alat dipegang dengan modifikasi memegang pena ‡ Sandaran jari dilakukan pada gigi tetangga atau tempat bertumpu lain. ‡ Pilih sisi pemotong yang sesuai ‡ Sisi pemotong diadaptasi kepermukaan gigi dengan angulasi 0 . ‡ Instrumentasi pada permukaan proksimal di bawah daerah kontak harus tercapai dengan cara mengatur bagian bawah tangkai kuret sejajar dengan sumbu panjang gigi. ‡ Mata skaler diadaptasikan kepermukaan gigi membentuk amulasi 45 ± 90 ‡ Dengan tekanan lateral yang kuat dilakukan serangkaian sapuan skaleran yang pendek bertumpang tindih ke koronal dalam arah vertical dan oblique. ‡ Instrumentasi dianjurkan dengan serangkaian sapuan penyerutan akar yang panjang bertumpang tindah dimulai dengan tekanan lateral sedang dan diakhiri dengan tekanan lateral ringan.90 ‡ Dengan tekanan lateral yang kuat dilakukan serangkaian sapuan skaleran yang pendek secara terkontrol bertumpang tindih dalam arah vertical dan oblique.

Pencegahan dilakukan dengan memelihara gigi-gigi dan mencegah serangan serta kambuhnya penyakit. Pencegahan dengan pendidikan kesehatan gigi masyarakat 7. Sasaran yang ingin dicapai adalah mengontrol penyakit gigi untuk mencegah perawatan yang lebih parah. Pencegahan penyakit periodontal meliputi beberapa prosedur yang saling berhubungan satu sama lain yaitu : 1. Umumnya penyakit periodontal dan kehilangan gigi dapat dicegah karena penyakit ini disebabkan faktor-faktor lokal yang dapat ditemukan. kontrol plak berarti penyembuhan. Profilaksis mulut 3. pasien dan personal pendukung. Kontrol Plak Kontrol plak merupakan cara yang paling efektif dalam mencegah pembentukan kalkulus dan merupakan dasar pokok pencegahan penyakit periodontal . Bagi pasien dengan jaringan periodonsium yang sehat.Makalah Gusi Berdarah Pencegahan penyakit periodontal merupakan kerja sama yang dilakukan oleh dokter gigi. Pencegahan trauma dari oklusi 4. Kontrol Plak 2. kontrol plak berarti pemeliharaan kesehatan. kontrol plak berarti mencegah kambuhnya penyakit ini. Bagi penderita penyakit periodontal. Bagi pasien pasca perawatan penyakit periodontal. Pencegahan kambuhnya penyakit 1. dikoreksi dan dikontrol. Setiap pasien dalam praktek dokter gigi sebaiknya diberi program kontrol plak. tanpa control plak kesehatan mulut tidak dapat dicapai atau dipelihara. Pencegahan dengan tindakan sistemik 5. Pencegahan dengan prosedur ortodontik 6. Pencegahan dimulai pada jaringan periodontal yang sehat yang bertujuan untuk memelihara dan mempertahankan kesehatan jaringan periodontal dengan mempergunakan teknik sederhana dan dapat dipakai di seluruh dunia. Metode kontrol plak dibagi atas dua yaitu secara mekanis dan kimia 34 Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Hasanuddin .

Gincu kue warna ros dapat dipakai untuk mendeteksi plak pada anak-anak. terdiri dari penyingkiran materi alba. Agen pencedera seperti plak bakteri dapat dinetralkan aksinya bila jaringan sehat. Memeriksa tanda dan gejala impaksi makanan. tusuk gigi dan kumur-kumur dengan air. meliputi penggunaan alat-alat fisik dengan memakai sikat gigi. Membersihkan dan memolis gigi. - Kontrol plak secara kimia adalah memakai bahan kumur . memperbaiki tepi tambalan yang menggantung . alat pembersih proksimal seperti dental floss. Memeriksa tambalan gigi. kalkulus. menggunakan pasta pemolis/pasta gigi Memakai zat pencegah yang ada dalam pasta pemolis/pasta gigi.Makalah Gusi Berdarah - Secara mekanis merupakan cara yang paling dapat dipercaya. 3. Hubungan tonjol gigi asli dengan tambalan gigi yang tidak tepat dapat menimbulkan kebiasaan oklusi yang tidak baik seperti bruxim atau clenching. 5. 2. kalkulus (supra dan sub gingiva) pada seluruh permukaan.kumur seperti chlorhexidine (Betadine. profilaksis mulut harus lebih luas dan meliputi hal-hal berikut : - Memakai larutan pewarna (disclosing solution) untuk mendeteksi plak. Isodine). 4. Profilaksis mulut Profilaksis mulut merupakan pembersihan gigi di klinik. Pencegahan dengan tindakan sistemik Cara lain untuk mencegah penyakit periodontal adalah dengan tindakan sistemik sehingga daya tahan tubuh meningkat yang juga mempengaruhi kesehatan jaringan periodontal. Pencegahan trauma dari oklusi Menyesuaikan hubungan gigi-gigi yang mengalami perubahan secara perlahanlahan (akibat pemakaian yang lama). Pencegahan dengan prosedur ortodontik 35 Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Hasanuddin . Untuk memberikan manfaat yang maksimum bagi pasien. stain dan pemolisan gigi. Penyingkiran plak.

Menghilangkan dugaan bahwa pyorrhea (gusi berdarah) tidak dapat dielakkan dan disembuhkan. Pendidikan kesehatan gigi masyarakat Agar pencegahan penyakit periodontal menjadi efektif. Disamping itu waktu yang digunakan lebih sedikit dan merupakan cara yang paling ekonomis daripada menanggulangi penyakit. Pemeriksaan gigi dan mulut secara teratur diperlukan untuk mengetahui adanya karies gigi dan penyakit periodontal secepatnya kemudian segera merawatnya bila ditemukan adanya penyakit Memberi penjelasan bahwa perawatan periodontal yang efektif adalah bila segera dirawat sehingga lebih besar kemungkinan berhasil disembuhkan. perkumpulan remaja. Hal yang penting diketahui masyarakat ialah bukti bahwa penyakit periodontal dapat dicegah dengan metode yang sama atau lebih efektif dari metode pencegahan karies gigi Pendidikan kesehatan gigi masyarakat adalah tanggung jawab dokter gigi. Juga menghilangkan pendapat masyarakat bahwa kehilangan gigi selalu terjadi bila mereka sudah tua. seperti : Menerangkan bahwa kerusakan yang disebabkan penyakit periodontal pada orang dewasa dimulai pada masa anak-anak. letak gigi dan panjang lengkung rahang. media cetak maupun elektronik. Menegaskan bukti bahwa seperti karies gigi. Sedangkan untuk masyarakat dapat diberikan melalui kontak pribadi. tindakan pencegahan harus diperluas dari klinik gigi kepada masyarakat. aktivitas dalam kelompok masyarakat. Pengajaran yang efektif dapat diberikan di klinik. penyakit periodontal biasanya tidak menimbulkan rasa sakit pada awalnya sehingga masyarakat tidak menyadarinya. Menegaskan manfaat pencegahan dengan higine mulut yang baik dan perawatan gigi yang teratur . Perlu diluruskan adanya pertentangan psikologis pada masyarakat. Tujuan koreksi secara ortodontik ini adalah untuk pemeliharaan tempat gigi tetap pengganti. 36 Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Hasanuddin . organisasi kedokteran gigi dan Departemen Kesehatan.Makalah Gusi Berdarah Prosedur ortodontik sangat penting dalam pencegahan penyakit periodontal. sekolah dan wadah lainnya. 6.

Pencegahan kambuhnya penyakit Setelah kesehatan jaringan tercapai. METODE MENYIKAT GIGI Menggosok gigi. DAMPAK APABILA TIDAK DITANGANI Jika kasus tidak ditangani maka radang gusi bisa maju ke periodontitis di mana plak dapat menyebar dan tumbuh di bawah gusi. Seiring dengan berkembangnya penyakit. Pasien harus mentaati pengaturan untuk menjaga higine mulut dan kunjungan berkala. kantong periodontal (ruang antara gigi dan gusi) menjadi terinfeksi. Tujuannya untuk memperoleh kesehatan gigi/mulut dan napas menjadi segar. Terakhir. e. Racun yang diproduksi oleh bakteri dalam plak mengiritasi gusi. dokter gigi harus membuat kunjungan berkala sebagai pelayanan pencegahan yang bermanfaat. gigi dapat menjadi longgar dan akhirnya lepas. kantong memperdalam dan semakin banyak jaringan gusi dan tulang rusak. Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Hasanuddin 37 . diperlukan program yang positif untuk mencegah kambuhnya penyakit periodontal. Ini merupakan tanggung jawab bersama antara dokter gigi dan pasien (untuk pasien anak peran orang tua juga dibutuhkan). yang perlu diperhatikan ketika menggosok gigi adalah: (1) Cara menyikat harus dapat membersihkan semua deposit pada permukaan gigi dan gusi secara baik. (2) Gerakan sikat gigi tidak merusak jaringan gusi dan mengabrasi lapisan gigi dengan tidak memberikan tekanan berlebih. dan akhirnya tulang dan jaringan pendukung gigi menjadi rusak dan hancur. setelah makan dan sebelum tidur adalah kegiatan rutin seharihari. terutama saku gusi dan ruang interdental (ruang antar gigi).Makalah Gusi Berdarah - Menerangkan bahwa tindakan pencegahan penyakit gigi dan mulut harus merupakan inti dari perencanaan kesehatan gigi masyarakat. (3) Cara menyikat harus tepat dan efisien. Terdapat beberapa cara yang berbeda-beda dalam menggosok gigi. Gusi terpisah dari gigi. Racun merangsang inflamasi kronis di mana tubuh pada gilirannya esensi dirinya sendiri. d.

yaitu: (a) Gerakan vertikal. Telah kita ketahui bahwa frekuensi menggosok gigi adalah sehari 3 X. Arah gerakan menggosok gigi ke atas ke bawah dalam keadaan rahang atas dan bawah tertutup. bila dilakukan harus sangat hati-hati karena dapat menyebabkan resesi gusi/abrasi lapisan gigi. gerakan menggosok gigi ke atas ke bawah dalam keadaan mulut terbuka. 38 Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Hasanuddin .Makalah Gusi Berdarah (4) Frekuensi menyikat gigi maksimal 3 X sehari (setelah makan pagi. sedangkan untuk permukaan gigi yang menghadap lidah/langitlangit (lingual/palatal) . setiap sehabis makan dan sebelum tidur. Kenyataannya menggosok gigi 3 X sehari tidak selalu dapat dilakukan. kantor atau tempat lain. atau minimal 2 X sehari (setelah makan pagi dan sebelum tidur malam). Dengan disclosing solution. lapisan-lapisan yang melekat pada permukaan gigi dapat terlihat jelas. tidak ada sisa makanan tertinggal. (b) Gerakan horizontal. Manson (1971) berpendapat bahwa menggosok gigi sehari cukup 2 X. Cara ini terdapat kekurangan. makan siang dan sebelum tidur malam). Gerakan ini untuk permukaan gigi yang menghadap ke pipi (bukal/labial) . Caranya mudah dilakukan dan sesuai dengan bentuk anatomi permukaan kunyah. Caranya menggosok mulai dari gigi belakang kanan/kiri digerakan ke arah depan dan berakhir pada gigi belakang kanan/kiri dari sisi lainnya. Menyikat gigi harus dilakukan secara sistematis. terutama ketika seseorang berada di sekolah. Arah gerakan menggosok gigi ke depan ke belakang dari permukaan bukal dan lingual. Hasil penyikatan akan lebih baik bila menggunakan disclosing solution atau disclosing tablet sebelum dan sesudah penyikatan gigi. yaitu bila menggosok gigi tidak benar dapat menimbulkan resesi gingival/penurunan gusi sehingga akar gigi terlihat. Gerakan menggosok pada bidang kunyah dikenal sebagai scrub brush. setelah makan pagi dan sebelum tidur malam. Dikenal beberapa macam cara menggosok gigi. Kombinasi gerakan vertikal-horizontal .

39 Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Hasanuddin . gerakan perlahan melalui permukaan gigi sehingga bagian belakang kepala sikat bergerak dalam lengkungan. paling dianjurkan. Bulu sikat ditempatkan pada permukaan gusi. jauh dari permukaan oklusal/bidang kunyah. Cara ini. gerakannya sederhana.Makalah Gusi Berdarah (c) Gerakan roll teknik/modifikasi Stillman. ujung bulu sikat mengarah keapex/ujung akar. efisien dan menjangkau semua bagian mulut.

usia 3. stress (Carranza. KLASIFIKASI PENYAKIT PERIODONTAL : Klasifikasi penyakit periodontal secara klinik dan histopatologi pada anak-anak dan remaja dapat dibedakan atas 6 (enam) tipe : 1. Periodontitis Juvenile Generalisata (GJP) 4. Tekstur yang dimiliki oleh jaringan periodontal tersebut. Impaksi makanan Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Hasanuddin 40 . genetik 2. Kontur Ginggiva. Periodontitis Juvenile Lokalisata (LPJ) 3. Periodontitis Prepubertas DIAGNOSIS PENYAKIT PERIODONTAL : gingivitis FAKTOR PENYEBAB : Secara umum faktor resiko penyakit periodontal adalah oral hygiene yang buruk. Periodontitis kronis 5. Akut Necrotizing Ulcerative Gingivitis (ANUG) 6. 2006) Faktor penyebabnya terbagi menjadi dua : Faktor Lokal : o 1. taraf pendidikan dan penghasilan dan Risk determinant mencakup berbagai hal antara lain : 1. Kalkulus o 3. jenis kelamin. Besar Ginggiva. jenis kelamin 4. umur. Gingivitis kronis 2.Makalah Gusi Berdarah BAB III PENUTUP KESIMPULAN JARINGAN PERIODONTAL yang sehat dinilai dari Warna Ginggiva. Konsistensi. penyakit sistemik. Plak bakteri o 2. status sosial ekonomi 5.

setelah beberapa hari berlalu.peristiwa ini menyebabkan terjadinya µkemerahan¶ awal pada gingivitasi.selektin dan ICAM teraktifkan. Trauma dari oklusi - Faktor Sistemik : o 1.dan IL8. Proses diapedesis terus bertambah dan migrasi PMN di ikuti oleh makrofag. mengawali proses diapedesis (pergerakan melintasi dinding pembulu darah). sel B ini menghasilkan antibody spesifik untuk antigen. Hormonal MEKANISME GUSI BERDARAH : Di akibatkan berkumpulnya pelikel yang berkolonisasijadi plaque berkolonisasi dengan Bakteri dan bermineralisasi menjadi calculus sehinga terjadi perdangan pada jaringan periodontal (gingva) yang merupakan aksi dari system kekebalan tubuh sehingga terjadi pembesaran (banyaknya pasokan pembulu drah pada daerah yang terinfeksi ) sehingga sedikit saja terdapat rangsangan dan stimulus menyebabkan mudahnya terjadi inflamasi RESPON IMUN : Bila plak bakteri dibiarkan menumpuk disulkus gingival.makrofag.tubuh memberikan tanggapan atas hadirnya bakteri dan produk sampingannya. Iatrogenik Dentistry o 7. Demam yang tinggi o 2.migras.dan limfosit melepaskan IL-1.Makalah Gusi Berdarah o 4. Antigen di bawa ke sel B dan monosif dengan perantara sel T penolong. IL-2-IL6.monosit melepaskan sitokin yang menimbulkan produksi sel B. dalam beberapa hari tidak ditemukan adanya antibody. Drugs atau pemakaian obat-obatan o 4.antigen kemudian diselubungi (opsonisasi)dan 41 Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Hasanuddin . Sifat fisik makanan o 6. Pernafasan mulut o 5. Fibroblast.kedua sel ini teraktifkan dan ditingkatkan oleh sitokin. Defisiensi vitamin o 3.dan kemotaksis PMN.

Pencegahan kambuhnya penyakit DAMPAK APABILA TIDAK DITANGANI Jika kasus tidak ditangani maka radang gusi bisa maju ke periodontitis di mana plak dapat menyebar dan tumbuh di bawah gusi.dan memudahkan masuknya antigen bakteri dengan cepat.dalam proses ini. Pencegahan dengan prosedur ortodontik 6.berdarah dan memungkinkan terus sedikit sakit. Kontrol Plak 2. plak. yang meningkatkan vasodilatasi dan memperbanyak jumlah sel pelindung yang bermigrasi ke daerah sasaran. akumulasi materi dan stain dari mahkota gigi dan permukaan akar. INSTRUMEN YANG DIGUNAKAN : Eksplorer. Pencegahan trauma dari oklusi 4. Skeling adalah prosedur awal pembuangan kalkulus.pada keadaan ini gingival membengkak. Pencegahan dengan pendidikan kesehatan gigi masyarakat 7.epitel sulkus mengalami ulserasi. PERAWATAN YANG DIBERIKAN : Jadi perawatan yang diberikan pada pasien ialah skeling karang gigi dan root planning jika di perlukan. Profilaksis mulut 3. Gerakan Horizontal 42 Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Hasanuddin . alat oral diagnostic dan skeler dengan berbagai macam jenisnya. Pencegahan dengan tindakan sistemik 5. PENCEGAHAN PENYAKIT PERIODONTAL meliputi beberapa prosedur yang saling berhubungan satu sama lain yaitu : 1. Sedangkan root planning adalah teknik untuk menghilangkan sementum atau dentin permukaan yang berubah karena adanya penyakit.Makalah Gusi Berdarah dicaplok (difagositosis).akhirnya. METODE MENYIKAT GIGI : 1.dilepaskan substansi yang berbahaya bagi kolagen dan substansi dasar (3a dan (5a menyebabkan pelepasan histamine oleh sel mast.

Modifikasi Stillman 43 Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Hasanuddin . Gerakan Vertikal 3.Makalah Gusi Berdarah 2.

com/document_downloads/direct/76948411?extension=docx&ft= 1329658805&lt=1329662415&uahk=kUVAwXeFiWys8qsokGBzsKNWN2I http://www.indofamily.lipi.scribd. Carranza¶s Clinical Periodontology. Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia:Jakarta Oetomo Roeslan.pdf http://ocw.usu.ac. Boedi.id/admin/jurnal/15208105110.pdf http://www. Ilmu Pencegahan Penyakit Jaringan Keras dan Jaringan Pendukung Gigi. Peter.pdii.go. Megananda.id/course/download/611-PEDODONSIA-DASAR/kgm427_slide_penyakit_periodontal. 2009.php?option=com_content&do_pdf=1&id= 971 http://isjd.pdf http://repository.ac.scribd. Imunologi Oral.Makalah Gusi Berdarah DAFTAR PUSTAKA : F.usu. EGC:Jakarta Newman.10 ed. Fedi.id/bitstream/123456789/16868/4/Chapter%20II. Silabus Periodonti Hiranya Putri. kelainan di dalam rongga mulut. dkk. Michael G.2006.net/health/index2. dkk. 2002. http://www.com/doc/76948411/presentasi-08# 44 Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Hasanuddin .

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful