PRINSIP DASAR LASER POLIMER HIBRID

i

ii

SAHRUL HIDAYAT PRINSIP DASAR LASER POLIMER HIBRID UNPAD PRESS iii .

Engkus Kuswarno Memed Sueb TIM EDITOR Wilson Nadeak (Koordinator). Tuhpawana P. Kurnani Denie Hariyadi. Cece Sobarna Dian Indira Judul Penulis Layout : Prinsip Dasar Laser Polimer Hibrid : Sahrul Hidayat : Trisatya UNPAD PRESS Copyright © 2009 ISBN : 978-979-3985-73-7 iv .TIM PENGARAH Ganjar Kurnia Mahfud Arifin. Sendjaja Fatimah Djajasudarma. Benito A. Wahya.

PENGANTAR

Polimer hibrid merupakan bahan yang mengandung unsur organik dan anorganik dalam satu molekul. Bahan ini memiliki kombinasi sifat unggul dari bahan organik dan anorganik. Bahan organik memiliki keunggulan dalam proses fabrikasinya karena dapat dilakukan pada suhu ruang dengan menggunakan teknologi yang tidak terlalu mahal. Namun bahan tersebut memiliki kelemahan dalam hal kekuatan mekanik dan kestabilan termal. Sebaliknya bahan anorganik memiliki kelebihan dalam kekuatan mekanik dan kestabilan termal tetapi proses fabrikasinya cukup sulit dan mahal. Kombinasi kedua bahan tersebut memunculkan karaktersitik baru yang unik sehingga sangat menguntungkan untuk kepentingan aplikasi. Divais yang berbasiskan polimer hibrid dapat diproduksi dengan harga murah karena proses pembuatannya tidak membutuhkan teknologi vakum yang mahal, melainkan dengan teknik spin casting yang murah. Selain itu, divais yang dibuat dari polimer hibrid dapat bertahan lebih lama karena pada matriks polimer hibrid terdapat bahan anorganik yang memiliki stabilitas termal baik, resisten terhadap senyawa kimia, dan tahan terhadap pengaruh cuaca.

v

Buku ini menarik untuk dibaca karena mengungkapkan keunikan sifat optik dan fisis polimer hibrid, menguraikan tahap demi tahap proses sintesis polimer hibrid, dan menjelaskan aplikasi polimer hibrid sebagai bahan divais laser. Selain itu dibahas juga prinsip kerja laser, proses fabrikasi laser polimer hibrid, serta karakteristik laser polimer hibrid yang berbasis umpan balik terdistribusi dan berbasis kristal fotonik 2D. Penulisan buku ini merupakan bagian dari Program Hibah Penulisan Disertasi Program Doktor 2009/2010, dan terlaksana atas bimbingan dari Prof. Dr. R.E. Siregar, M.S., sebagai ketua tim promotor, Dr. rer.nat. Ayi Bahtiar, Dr. Fitrilawati selaku anggota tim promotor. Ucapan terima kasih disampaikan pada DP2M DIKTI yang sudah mendanai penulisan buku ini melalui Program Hibah Penulisan Disertasi Program Doktor 2009/2010. Ucapan terima kasih juga disampaikan pada Program Pascasarjana Universitas Padjadjaran Bandung yang sudah mengelola program ini, dan juga tim editor yang sudah mengedit buku ini. Selain itu, ucapan terima kasih disampaikan kepada Dr. Rahmat Hidayat atas diskusi dan masukkannya selama penyusunan buku ini.

Bandung, November 2009 Penulis

vi

DAFTAR ISI

PENGANTAR DAFTAR ISI GLOSARI BAB I. Proses Pembangkitan Laser Prinsip Kerja Laser Konsep Dasar Absorpsi dan Emisi Prinsip Dasar Resonator Optik

Halaman v vii ix 1 3 8 19 39 43 61 67 89 94 103

BAB II. Laser Kristal Fotonik Laser Berbasis RBT Laser Berbasis UBT Laser Berbasis Kristal Fotonik 2D BAB III. Polimer Hibrid Proses Sintesis Polimer Hibrid Karakteristik Polimer Hibrid

BAB IV. Laser Polimer Hibrid Berbasis Kisi 1D 111 Proses Fabrikasi Laser Berbasis Kisi 1D 112 Karakteristik Laser Berbasis Kisi 1D 121 vii

BAB V. Laser Berbasis Kristal Fotonik 2D Proses Fabrikasi Laser Berbasis Kristal Fotonik 2D Karakteristik Laser Berbasis Kristal Fotonik 2D DAFTAR PUSTAKA INDEKS TENTANG PENULIS 137 144 150 159 163 167 viii .

GLOSARI ISTILAH Bahan Organik MAKNA bahan yang mengandung unsur karbon (C) Band edge tepi atas atau bawah dari suatu daerah frekuensi terlarang Bandgap rentang frekuensi di mana berkas gelombang tidak bisa merambat Chamber suatu ruangan tertutup tempat terjadinya reaksi kimia Dip coating teknik pembuatan film tipis dengan cara mencelupkan substrat Doping proses menambahkan pengotor ke dalam suatu bahan Dye laser suatu bahan kimia yang memiliki sifat luminesen Etching proses pembuatan goresan/grating Gelombang Bloch persamaan gelombang yang merambat pada media periodik Inisiator bahan yang berfungsi sebagai pemicu terjadinya reaksi berantai ix .

In-situ Interferometer Irgacure Kavitas optik Kisi Bragg Kristal fotonik Lloyd mirror Magnetic stirrer Polimer Hibrid Propagasi Purifikasi Radikal Reaksi propagasi Shutter Sol-gel Spin casting Spraying pengamatan reaksi kimia yang dilakukan secara langsung alat pengukur optik yang menggunakan prinsip interferensi jenis senyawa kimia yang sensitif terhadap cahaya suatu ruang yang dapat melokalisasi/mengurung berkas cahaya kisi periodik 1D yang dapat merefleksikan cahaya pada panjang gelombang tertentu susunan kisi yang dapat memanipulasi pergerakan foton teknik pembuatan grating dengan cara interferensi menggunakan cermin alat pengaduk yang menggunakan batang magnet polimer yang merupakan campuran bahan organik dan anorganik proses perambatan gelombang teknik pemurnian bahan dari bahanbahan pereaksinya gugus aktif di dalam suatu molekul rekasi perpanjangan rantai polimer katup pembuka dan penutup untuk mengontrol berkas laser proses sintesis yang terdiri dari dua tahapan yaitu solution (hidrolisis) dan gel (kondensasi) teknik pembuatan film tipis dengan cara memutar substrat teknik pembuatan film tipis dengan cara menyemprotkan sampel x .

Stop band Ultrasonic bath frekuensi dimana berkas cahaya tidak bisa lewat alat pembersih substrat dengan cara digetarkan di daerah ultrasonik SINGKATAN AFM DCM DI FTIR IR Nd-YAG PBG PMA PMMA RBT SHG Si TE THG Ti TM TMSPMA UBT UV NAMA Atomic force microscopy 4-dicyanmethylene-2-methyl-6-(pdimethyl-aminostyryl) Deionized water Fourier Transform infra red Infra red Neodymium-doped yttrium aluminium garnet Photonic band gap Photonic multichannel analyser Polymethylmethacrylate Reflektor Bragg terdistribusi Second harmonic generation Silikon Transverse electric Third Harmonic Generation Titanium Transverse magnetic 3-(Trimethoxysilyl)propyl methacrylate Umpan balik terdistribusi Ultra violet xi .

LAMBANG A α a b c ARTI Amplitudo Sudut berkas sinar datang Komponen vektor kisi real Komponen vektor kisi balik Kecepatan cahaya Beda lintasan Jarak antar cermin Frekuensi detunin Energi Medan listrik Konstanta dielektrik Vektor medan yang bergerak ke belakang Vektor medan yang bergerak ke depan Permitivitas vakum Medan listrik pada arah x Daya yang hilang pada cavitas Vektor kisi balik Titik khusus dalam zona Brillouin Penguatan daya Konstanta Planck Medan magnet Konstanta Planck dibagi 2π Intensitas Nomor modus Sudut simpangan Komponen Bilangan imajiner xii δ d ∆β E E ε E− E+ ε0 Ex γ G Γ g(λ) h H ħ I i ϕ j .

k k κ K κ(G) k0 kB kz λ Λ λB LB m M µ0 N n n nef ng νg nsp nx p θ R r Bilangan gelombang Konstanta Boltzman Konstanta kopling Titik khusus dalam zona Brillouin Koefisien ekspansi gelombang bidang Vektor gelombang dalam vakum Vektor Bragg Vektor gelombang dalam arah z Panjang gelombang Perioda kisi Panjang gelombang Bragg Panjang kisi Bragg Massa Titik khusus dalam zona Brillouin Permiabilitas magnetik vakum Jumlah partikel Jumlah zat (mol) Indek bias Indek bias efektif Indeks bias sistem cavitas Kecepatan group Faktor emisi spontan Jumlah atom pada orbilat ke-x Momentum Sudut berkas datang dengan cermin Konstanta reflektansi Reflektansi xiii .

Re Rsp(λ) ℜ S s SSR T t τ T T υ u(v) Vo ω Q-switched x x X Bagian real dari bilangan komplek Emisi spontan Bagian real dari bilangan komplek Jumlah Foton Nilai eigen Perbandingan densitas Foton Suhu/temperatur Waktu Waktu paruh Transmitansi Matrik transfer Frekuensi Densitas energi Volume unit sel Frekuensi sudut Teknik untuk menghasilkan laser pulsa Posisi Pergeseran fasa Titik khusus dalam zona Brillouin xiv .

laser X-ray. spektrum frekuensinya lebar. yang mengandung arti bahwa cahaya yang dipancarkan tidak menyebar dan rentang frekuensinya sempit (monochromatic light). Istilah laser merupakan singkatan dari light amplification by stimulated emission of radiation. laser ultra violet. emisinya tidak koheren.BAB I PROSES PEMBANGKITAN LASER Laser adalah suatu divais yang memancarkan gelombang elektromagnetik melewati suatu proses yang dinamakan emisi terstimulasi. Sebagian besar sumber cahaya. Daerah kerja divais laser tidak terbatas pada spektrum cahaya tampak saja tetapi dapat bekerja pada daerah frekuensi yang luas. Oleh karena itu. Berkas laser umumnya sangat koheren. divais tersebut dapat berupa laser infra red. dan fasenya bervariasi terhadap waktu dan posisi. Laser merupakan bagian khusus dari sumber cahaya. atau laser visible seperti .

2 Sahrul Hidayat tampak pada gambar 1. Rentang panjang gelombang elektromagnetik . Laser u merupakan komponen utama pada sistem komunikasi ko modern saat ini. alat bantu navigasi pada bidang militer. laser juga dimanfaatkan sebagai probe untuk pembacaan data CD atau DVD. dan masih banyak lagi aplikasi lainnya. alat bantu operasi pada bidang kedokteran.1. bagian dari detektor pembaca barcode. Daya laser dapat dibuat bervariasi dari mulai nano watt untuk laser kontinu sampai jutaan watt untuk laser pulsa.1. 1 Laser dikatakan baik jika frekuensi atau panjang gelombang yang dipancarkannya bersifat tunggal. ap Gambar 1. Selain itu.

Dengan demikian cahaya akan mengalami penguatan daya beberapa kali lipat. Salah satu cermin bersifat agak transparan. maka cahaya akan bergerak bolak-balik dan melewati media penguat berkalikali. dan resonator optik (optical resonator). Secara umum suatu divais laser terdiri dari media penguat berkas cahaya (gain medium). Berkas cahaya yang melewati media penguat akan mengalami penguatan daya. Media penguat adalah suatu bahan yang mempunyai sifat dapat meningkatkan intensitas cahaya dengan cara emisi terstimulasi.2. Sedangkan resonator optik. Setelah mengalami penguatan . yaitu jika seberkas cahaya melewati suatu bahan dan menstimulasi atom-atom di dalam bahan tersebut sehingga meradiasikan cahaya.Proses Pembangkitan Laser 3 Prinsip Kerja Laser Radiasi dari emisi terstimulasi merupakan proses yang dapat terjadi secara alami. sehingga dapat berfungsi sebagai jalur keluar berkas laser (output coupler). Jika daerah sekelilingnya merupakan cermin. sumber energi pemompa (pumping source). secara sederhana terdiri dari susunan cermin yang dipasang berhadapan sehingga berkas cahaya dapat bergerak bolakbalik. Secara umum skematik suatu divais laser dapat dilihat pada gambar 1.

dapat digunakan lampu flash atau laser semikonduktor. Proses memasukkan energi sebagai syarat untuk terjadinya penguatan daya dinamakan dengan memompa (pumping). cahaya dapat keluar melewati cermin yang bersifat agak transparan sebagai berkas laser. Komponen dasar divais laser. suatu perangkat laser biasanya dilengkapi dengan beberapa komponen pendukung untuk menghasilkan berkas laser yang tajam. cairan. Selain komponen utama di atas. padatan. Media penguat menyerap energi yang dipompakan dan mengakibatkan sejumlah elektron . Untuk pemompa energi dalam bentuk cahaya.4 Sahrul Hidayat daya. Energi yang dipompakan dapat berupa arus listrik atau berkas cahaya dengan panjang gelombang yang berbeda.2. atau plasma. Gambar 1. Bahan media penguat dapat berupa gas.

Kavitas optik merupakan salah satu bentuk dari resonator. Dengan demikian cahaya mengalami penguatan. maka populasi inversi telah terjadi. maka penguatan cahaya dapat terjadi berkali-kali dan selanjutnya menghasilkan berkas laser. Partikel dapat berinteraksi dengan cahaya melalui cara mengabsorpsi atau mengemisikan foton. Cahaya yang bergerak bolak-balik di dalam kavitas dapat mengalami kehilangan daya (loss) yang disebabkan oleh absorpsi atau difraksi. Ketika jumlah elektron pada suatu tingkat eksitasi melebihi jumlah elektron pada tingkat energi di bawahnya. Pada . Jika penguatan di dalam media tersebut lebih besar dibandingkan dengan kehilangan daya dalam resonator. maka daya laser akan naik secara eksponensial.Proses Pembangkitan Laser 5 tereksitasi ke tingkat energi yang lebih tinggi. Jika media penguat ini ditempatkan di dalam resonator optik. Emisi cahaya dapat terjadi secara spontan atau dengan cara stimulasi. Hal tersebut dapat mengakibatkan terjadinya emisi terstimulasi yang jumlahnya lebih besar daripada yang diabsorpsi. Kavitas mengandung berkas koheren yang dilingkupi oleh permukaan bersifat reflektif yang memungkinkan berkas cahaya tersebut bergerak bolakbalik melewati media penguat.

Besarnya energi yang dipompakan harus mempertimbangkan batas ambang dari media penguat dan kehilangan daya di dalam kavitas. Jika daya yang dipompakan terlalu kecil. maka akan mempercepat degradasi media penguat sehingga memperpendek usia penggunaannya. diperlukan optimasi batas minium energi yang dipompakan (lasing threshold). sejumlah partikel akan berpindah dari tingkat energi tereksitasi ke keadaan dasar. Dalam mode . Laser pulsa dapat dihasilkan dengan teknik Q-switching. harus dipompa kembali dengan energi tertentu. maka emisi yang dihasilkan tidak akan cukup untuk mengimbangi kehilangan daya akibat absorpsi di dalam kavitas. mode terkunci (modelocking) atau gain switching. sehingga berkas laser yang dihasilkan cukup signifikan dengan umur pemakaian yang panjang. hal ini akan mengurangi kapasitas media penguat. Untuk mengembalikannya ke kondisi terstimulasi. Oleh karena itu. Laser dapat beroprasi pada modus kontinu (continuous wave) dengan amplitudo keluaran konstan atau dalam bentuk pulsa.6 Sahrul Hidayat setiap kejadian emisi terstimulasi. Laser dalam bentuk pulsa dapat menghasilkan daya yang sangat besar. Sebaliknya jika energi yang dipompakan terlalu besar.

populasi inversi dihasilkan dengan proses yang sama seperti pada laser kontinu. Ketika energi pemompa masuk ke dalam media penguat. Sedangkan dalam mode operasi pulsa. berkas laser dipancarkan dalam tempo yang sangat singkat kurang dari 10 femto-detik. Laser pulsa biasanya dibuat dengan tujuan untuk menghasilkan power laser yang sangat besar dengan waktu radiasi yang singkat. Di dalam sistem Q-switched. Pada laser pulsa mode terkunci. akan . maka akan terjadi penguatan berkas sampai batas daya tertentu sesuai dengan nilai Q yang diset. Proses tersebut dihasilkan dari populasi inversi yang berlangsung terus-menerus menggunakan sumber pemompa energi yang stabil. Periode pulsa yang dihasilkan. berkas laser yang dihasilkan relatif konstan terhadap waktu. Setelah dayanya mencapai nilai yg ditentukan. maka akan dipancarkan berkas laser dalam bentuk pulsa. berkas laser yang dihasilkan berubah terhadap waktu secara bolak-balik dengan mode on dan off. tetapi dikondisikan dalam kavitas optik yang memiliki batas daya tertentu untuk terjadinya lasing. Daya laser yang dihasilkan merupakan daya rata-rata ketika beroperasi dalam mode gelombang kontinu.Proses Pembangkitan Laser 7 operasi kontinu.

Metode lain untuk memperoleh laser pulsa adalah dengan cara memompa media penguat dengan sumber berbentuk pulsa. Jenis laser pulsa seperti ini biasanya digunakan untuk penelitian. Media pemompa dapat berupa arus listrik atau lampu kilat (flash lamp).8 Sahrul Hidayat sebanding dengan waktu yang diperlukan untuk satu kali bolak-balik berkas laser di dalam resonator. Salah satu contoh bahan yang memiliki sifat tersebut adalah titanium yang didoping dengan sappier (Ti-sappier). dan lain lain. Oleh sebab itu. Berkas pemompa yang digunakan harus memiliki energi yang tinggi dan waktu pancaran yang singkat. Konsep Dasar Absorpsi dan Emisi Cahaya merupakan sumber kehidupan dan telah memberi pesona keindahan yang luar biasa terhadap manusia. seperti untuk penelitian bahan nonlinier optik. Oleh karena itu. Umumnya model laser seperti ini menggunakan dye-laser yang memiliki waktu hidup populasi inversi sangat singkat. teknik ablasi bahan. media penguatnya harus memiliki kemampuan yang cukup besar untuk menguatkan berkas cahaya. merupakan sesuatu yang alami jika manusia senantiasa berusaha mencari tahu tentang .

maka dapat ditentukan sifat-sifat cahaya sebagai gelombang. tetapi merupakan radiasi gelombang elektromagnetik yang karakteristiknya sama seperti gelombang radio. Sedangkan jika pengamatan dilakukan dengan peralatan untuk mendeteksi gelombang. Para filosof Yunani kuno berpikiran bahwa cahaya merupakan sejenis debu yang amat sangat halus dan mereka meyakini bahwa cahaya dapat dihasilkan dari partikel. Pada saat ini.Proses Pembangkitan Laser 9 hakikat dari cahaya sejak dulu. maka dapat ditentukan sifat-sifat partikel dari cahaya. Heisenberg memperkenalkan konsep yang disebut dengan prinsip ketidakpastian. kita mengetahui bahwa karakteristik cahaya dapat berubah tergantung pada pengamatan eksperimen yang dilakukan. Perbedaannya dengan gelombang radio adalah pada besar panjang gelombangnya saja. Seiring dengan kemajuan ilmu pengetahuan. bisa kita rasakan kehangatannya. tetapi tidak bisa kita sentuh. dapat dibuktikan bahwa cahaya bukan terdiri dari partikel. Jika pengamatan dilakukan dengan peralatan untuk mendeteksi partikel. Sifat dualisme cahaya tersebut hanya bisa dijelaskan dengan memahami konsep mekanika kuantum modern. Cahaya merupakan sesuatu yang bisa kita lihat. yang menyatakan secara tegas .

Nilai ∆x yang sangat besar tentu tidak akan memberikan informasi yang berarti mengenai posisi kejadian tersebut.2) Rumusan tersebut menyatakan bahwa perkalian massa partikel dengan kuadrat kecepatan cahaya sebanding dengan energi dan berkorelasi dengan perkalian konstanta Planck dengan frekuensi radian.10 Sahrul Hidayat bahwa tidak mungkin menentukan posisi x dan momentum p dari sebuah partikel pada saat yang bersamaan.1) Sebagai contoh. Dalam hal ini ω = 2π ⋅ υ dan υ merepresentasikan frekuensi radiasi. Radiasi gelombang elektromagnetik untuk cahaya tampak berada . Hal tersebut mengandung arti bahwa cahaya selalu memiliki dualisme tergantung pada sifat mana yang akan diukur.1). ∆x ⋅ ∆p x ≥ 1 h 2 (1. jika pengujian dilakukan untuk menentukan karaktersitik partikel dan dipilih nilai impuls ∆p x yang sangat kecil. Einstein menjelaskan hubungan sifat partikel dan sifat gelombang dari cahaya sebagai berikut : E = m ⋅ c2 = h ⋅ω (1. Secara matematis pernyataan Heisenberg diungkapkan pada persamaan (1. maka nilai ketidakpastian posisi ∆x akan sangat besar.

Panas tubuh manusia merupakan salah satu bentuk radiasi cahaya.3.Proses Pembangkitan Laser 11 pada rentang panjang gelombang antara 0.3.1 µm sampai 1 mm. dan bagian visibel dari radiasi optik dinyatakan dengan satuan Candela (Cd).detik atau watt. Intensitas radiasi dalam rentang optik biasanya dinyatakan dengan watt. Gambar 1. Spektrum sensitivitas mata manusia. Para fisikawan dulu telah memperkirakan bahwa energi yang dipancarkan oleh . walaupun dengan intensitas yang sangat kecil dan kita tidak bisa menangkap kesan cahaya yang dipancarkan olehnya. Rentang panjang gelombang tersebut berkorelasi dengan sensitivitas mata manusia yang spektrumnya dapat dilihat pada gambar 1.

6).4) Selain itu Boltzmann juga melengkapi rumusannya dengan melakukan perhitungan statistik terhadap banyaknya partikel gas yang tersebar keluar pada temperatur T dan interval energi dE.e E − kT .dE (1. Selanjutnya Planck melakukan revisi terhadap rumusan tersebut. sebagai berikut: dn = N 8/π 3 k 2T 2 E .12 Sahrul Hidayat tubuh merupakan fungsi dari panjang gelombang λ dan temperature T.5) Rumusan tersebut dinamakan dengan distribusi MaxwellBoltzmann. E (λ . .3) Hubungan yang jelas mengenai ketiga besaran fisis tersebut masih menjadi tanda tanya sampai StefanBoltzmann menemukan teori atom dan elektrodinamik pada tahun 1879. E (T ) = kT 4 (1. T ) = ? (1.3). yang menyatakan bahwa radiasi energi tidak terdistribusi secara kontinu tetapi terkuantisasi seperti pada persamaan (1. seperti diungkapkan pada persamaan (1. Stefan-Boltzmann mengungkapkan bahwa densitas energi dari resonansi sebuah rongga untuk semua daerah frekuensi sebanding dengan sebuah konstanta dikalikan dengan temperature pangkat empat.

Jika jumlah atom pada orbital pertama adalah n1.4. seperti diperlihatkan pada gambar 1. seperti diperlihatan pada gambar 1. Gambar 1. e h − λh . T ) = 8π .dλ −1 (1.6) Rumusan tersebut mengungkakan energi radiasi termal sebagai fungsi dari temperatur dan panjang gelombang radiasi. Niels Bohr mengungkapkan teori model atom.4.5.. maka perubahan jumlah . Dalam perkembangan selanjutnya.c λ 5 . yang menyatakan bahwa cahaya dipancarkan atau diabsorpsikan oleh atom hanya jika memenuhi energinya E2−E1 = hv.c k T . Distribusi energi radiasi benda hitam.Proses Pembangkitan Laser 13 u (λ .

Gambar 1.14 Sahrul Hidayat elektron pada orbital tersebut terhadap waktu dapat dinyatakan sebagai berikut. Tanda minus pada persamaan (1.u (v ) dt (1.5. Koefisien B12 menyatakan nilai probabilitas transisi dari orbital pertama ke orbital kedua yang disertai dengan proses absorpsi. dn1 = − B12 .7) menyatakan adanya pengurangan jumlah elektron pada orbital pertama sebagai akibat proses absorpsi. Frekuensi yang bersesuaian dengan terjadinya transisi elektron tersebut dinamakan dengan frekuensi resonansi.7) di mana u(v) adalah densitas energi yang bersesuaian dengan frekuensi transisi dari orbital pertama ke orbital kedua. .n1. Model atom Bohr.

u v A .8) mengungkapkan adanya dua tipe emisi dalam proses depopulasi orbital kedua.n .n (1.8) Persamaan (1. . Proses absorpsi dan emisi berhubungan dengan pengurangan atau penambahan populasi elektron pada tingkat energi dari sebuah atom. Sedangkan koefisien A21 menyatakan probabilitas emisi spontan yang mungkin terjadi dalam proses kembalinya elektron dari orbital kedua ke orbital pertama.Proses Pembangkitan Laser 15 Proses sebaliknya dinamakan proses emisi. yaitu pada saat elektron dari orbital kedua kembali ke orbital pertama dengan meradiasikan sejumlah energi. Koefisien B21 menyatakan probabilitas rekombinasi elektron dari orbital kedua ke orbital pertama dan tanda minus menyatakan adanya pengurangan jumlah elektron pada orbital kedua selama proses tersebut. B . yaitu proses induksi dan proses emisi spontan. Secara lebih detail ungkapan proses tersebut dan hubungannya dengan perubahan populasi elektron pada suatu tingkat energi diperlihatkan pada persamaan berikut. Proses berkurangnya jumlah elektron pada orbital kedua terhadap waktu dapat dinyatakan dengan rumusan sebagai berikut.

11). dimana A21 menggambarkan probabilitas peluruhan yang berhubungan dengan waktu paruh (life time).11) Di mana dv adalah lebar tengah dari spektrum emisi. maka akan diperoleh variasi tipe emisi terhadap waktu seperti diungkapkan pada persamaan (1.n .9).n Absorpsi Induksi Emisi spontan B . seperti diungkapkan pada persamaan (1. Berdasarkan prinsip ketidakpastian Heisenberg. 2π · dv A (1.n . .10) Dalam proses emisi.9) Persamaan tersebut analogi dengan proses peluruhan radioaktif.16 Sahrul Hidayat B . n t n t ·e A · (1. life time tersebut bersesuaian dengan lebar bagian tengah dari spektrum emisi (full width half maximum). Jika persamaan untuk emisi spontan diintegralkan. τ A (1.u dengan uph adalah densitas energi foton dari medan luar.u A . dapat ditentukan hubungan antara lebar spektrum dengan life time-nya.

Gambar 1. Spektrum absorpsi.6.Proses Pembangkitan Laser 17 Prinsip tersebut berlaku juga untuk proses absorpsi.7. Oleh sebab itu. Berdasarkan gambar 1. Secara prinsip. Gambar 1. atom memiliki beberapa tingkat energi yang diskrit. Dalam proses transisi atom akan melibatkan sejumlah energi yang diabsorp atau diemisikan yang besarnya adalah Eph=E2-E1.6 dapat diketahui pula bahwa rentang energi yang memenuhi untuk terjadinya proses transisi elektronik dinamakan dE dan nilai energi di mana terjadi absorpsi maksimum dinamakan E0. transisi elektronik dapat terjadi pada beberapa level atau tingkat energi. seperti tampak pada gambar 1. .6 memperlihatkan spektrum absorpsi yang mengungkapkan besarnya energi yang diserap oleh elektron selama proses transisi.

Konsep dasar ini selanjutnya memunculkan ide untuk membuat beragam jenis laser dengan warna emisi yang beragam pula. Emisi yang dipancarkan oleh suatu atom yang telah mengalami eksitasi memiliki karakteristik khas yang berhubungan dengan struktur energi atomik. Konsep dasar absorpsi dan emisi merupakan prinsip penting dalam proses pembangkitan laser. laser hijau (532 nm). dan laser ultra violet .7.18 Sahrul Hidayat Gambar 1. Emisi yang unik dapat dihasilkan dari beragam jenis atom yang memiliki struktur atau tingkat energi berbeda. Spektrum absorpsi dengan tiga level transisi. Sebagai contoh. laser komersial yang dibuat dari bahan Nd-YAG dapat mengemisikan laser pada beberapa panjang gelombang yang berbeda mulai dari laser infra red (λ=1064 nm).

. Pada saat ini.Proses Pembangkitan Laser 19 (355 nm). Prinsip Dasar Resonator Optik Resonator merupakan salah satu komponen dasar dalam pembangkitan berkas laser. Laser Nd-YAG komersial menggunakan sistem pemompa optik atau proses eksitasi dilakukan dengan energi cahaya. hanya sekitar 1%. Skema interferometer Jamin diperlihatkan pada gambar 1. Jamin membuat divais interferensi yang pertama dan berhasil melakukan pengukuran indeks bias relatif dari suatu bahan optik secara akurat. Dalam perkembangan selanjutnya mulai dikaji penggunaan laser dioda dalam proses pemompaannya. Pada tahun 1856. Secara fisis.8. Berkas cahaya laser dioda bersifat koheren. sehingga efisiensi absorpsi dapat mencapai 80%. prinsip dasar dari resonator tersebut adalah superposisi atau interferensi cahaya. Jika efisiensi absorpsi tinggi. maka proses pembangkitan laser dapat dilakukan dengan daya eksternal yang rendah. berkas cahaya untuk proses pemompa laser Nd-YAG berasal dari lampu pijar. Berkas cahaya yang dipancarkan lampu pijar frekuensinya bersifat tidak koheren. sehingga efisiensi yang diserap untuk proses eksitasi tersebut sangat kecil.

8. seperti diperlihatkan pada . Gambar 1. Interferometer Jamin.9. Interferometer Michelson.20 Sahrul Hidayat Gambar 1. Interferometer penting dalam lain yang laser mempunyai peranan oleh teknologi diperkenalkan Michelson pada tahun 1882.

10.11. Berkas cahaya A melewati beam-splitter dan terbagi menjadi dua komponen. Interferometer Mach-Zehnder. Interferometer Michelson disebut juga sebagai two-beam interferometer. yaitu berkas acuan (reference beam) dan berkas pengukuran (measuring beam). pada tahun 1897 Fabry dan Perot mengembangkan interferometer multi-beam.10. Interferometer Mach-Zehnder mempunyai peranan penting dalam teknik pengukuran laser dan sampai sekarang masih digunakan sebagai laser vibrometer. Terinspirasi oleh Michelson.9. Pada tahun 1892 Mach dan Zehnder memperkenalkan interferometer jenis lain yang sekarang dikenal dengan nama interferometer MachZehnder seperti tampak pada gambar 1. Interferometer FabryPerot menjadi dasar dalam pembangkitan laser yang .Proses Pembangkitan Laser 21 gambar 1. Gambar 1. seperti tampak pada gambar 1.

Prinsip dasar dari interferometer Fabry-Perot adalah interferensi dua berkas (two beam interference). berosilasi dengan frekuensi ω dan merambat pada lintasan rA. Gambar 1. dapat .11.12) di mana A0 adalah amplitudo maksimum dan k adalah bilangan gelombang. Pada gambar 1. tampak berkas cahaya dengan medan EA. E A = A0 . dapat dinyatakan dengan persamaan matematis sebagai berikut.22 Sahrul Hidayat berfungsi sebagai resonator optik. Dengan cara yang sama.9. Interferometer multi-beam Fabry-Perot. sin (ωt + krA ) (1. Berkas cahaya datang akan terpecah menjadi beberapa komponen yang masingmasing saling berinterferensi satu sama lain. seperti pada interferometer Michelson.

E E E E AR sin ωt EM A R sin ωt kxR E ER kxR AM sin ωt EM AM sin ωt kxM (1. dan adalah perubahan fase yang terjadi akibat pemantulan oleh permukaan syarat batas. Pergeseran fase tersebut dikenal juga sebagai perbedaan lintasan yang disimbolkan dengan δ.13) (1. . Ketika terjadi pemantulan sempurna.14) gelombang pergeseran pengukuran dengan gelombang acuan.Proses Pembangkitan Laser 23 diungkapkan persamaan medan untuk berkas cahaya yang direfleksikan dan diteruskan berturut-turut sebagai berikut. Intensitas medan pada pertemuan antara berkas pengukuran dengan berkas acuan di dalam beam-splitter dapat diungkapkan sebagai berikut.16) (1. Pergeseran fase dapat terjadi karena lintasan gelombang pengukuran yang melewati sampel dapat lebih panjang atau lebih pendek dari gelombang acuan.17) kxM E1 dan E2 adalah intensitas medan yang terpancar dari keluaran-1 dan keluaran-2. ER EM k(xR-xM) A R · sin ωt adalah AM · sin ωt kxR kxM φR φR fase antara (1. maka fase akan mengalami pergeseran sebesar 180o. Berkas pengukuran melintas dengan pergeseran fase sebesar 180o terhadap berkas acuan.15) (1.

I I sin ωt IR · sin ωt kxM AR sin ωt kxR IM · sin ωt kxR AM sin ωt 2AR AM sin ωt kxM kxM (1. I E Oleh karena itu. yang dapat diukur hanya nilai rata-ratanya saja atau saat sin bernilai 1/2. intensitas luminisensi yang akan terdeteksi pada keluaran-1 dapat diungkapkan dengan rumusan sebagai berikut. maka intensitas medan dapat dirumuskan sebagai berikut.24 Sahrul Hidayat Intensitas luminisensi yang memberikan kesan terhadap mata atau yang dapat ditangkap oleh detektor akan sebanding dengan kuadrat intensitas medan.18) kxR · (1. Hal tersebut mengakibatkan mata atau detektor tidak bisa menangkap intensitas medan secara cermat setiap waktu. Dengan mengasumsikan nilai intensitas yang terukur adalah nilai rata-ratanya.19) Intensitas medan listrik tersebut berosilasi dengan frekuensi yang sangat tinggi. I IR IM 2 IR IM sin ωt kxR · sin ωt kxM Dengan menggunakan teorema (1. dalam orde gigahertz sampai terahertz.20) trigonometri penjumlahan dan mensubstitusikan nilai rata-rata temporal .

21) 2 · .22) dan (1.Proses Pembangkitan Laser 25 untuk cos(ωt)=0. maka I2 sama dengan nol dan I1 sama dengan I0. maka akan diperoleh persamaan berikut. I I I I 1 1 cos δ (1.23) dapat diketahui bahwa jika beda lintasan δ sama dengan nol.22) (1. maka akan didapat hubungan seperti diperlihatkan pada persamaan (1. Jika pembagi berkas (beam-spliter) berfungsi secara eksak membagi dua sama besar berkas yang datang IR = IM =1⁄2 .23) cos δ I1 dan I2 berturut-turut adalah intensitas berkas cahaya yang terpancar dari keluaran-1 dan keluaran-2. I dengan IR IM · IR IM · cos δ (1. maka I1 sama dengan nol dan I2 sama dengan I0. Berdasarkan persamaan (1.12. .21). Sedangkan jika beda lintasan 180o. Hubungan antara intensitas hasil superposisi dengan beda lintasan secara lebih lengkap diperlihatkan pada gambar 1.

11. seperti tampak pada gambar 1. Pada interferometer Fabry-Perot. terdapat dua buah cermin yang berbentuk plat sejajar. interferensi yang terjadi berasal dari banyak berkas cahaya. . seperti tampak pada gambar 1.26 Sahrul Hidayat Gambar 1.13. interferometer tersebut biasa disebut juga interferometer multibeam. oleh sebab itu. Gelombang yang memiliki intensitas I0 dan amplitudo A0 datang pada interferometer dengan membentuk sudut α.12. Grafik intensitas superposisi dua berkas cahaya identik. Pada interferometer Fabry-Perot.

Jika salah satu cermin memiliki reflektivitas kurang dari 100%. maka akan ada sebagian berkas gelombang yang ditransmisikan. maka : (1.13. Diagram perubahan amplitudo pada interferometer Fabry-Perot. Gelombang yang datang pada cermin Fabry-Perot mengalami pemantulan dan saling berinterferensi satu sama lain.24) Ai1 = 1 − R .Proses Pembangkitan Laser 27 Gambar 1. I1 = (1−R).I0 Jika I=E2.I0 = T. Perubahan intensitas atau amplitudo gelombang setelah mengalami refleksi dan interferensi dapat diungkapkan sebagai berikut.

akan muncul pergeseran fase antara berkas gelombang yang ditransmisikan. . maka dapat diturunkan persamaan gelombang setelah mengalami osilasi sebagai berikut.27) Jika persamaan gelombang dinyatakan dalam fungsi kosinus. (1.26) berkas dalam interferometer gelombang mengalami osilasi.28 Sahrul Hidayat A A A A R·A R·A R·A R·A √1 √1 √1 R·R ·A R·R ·A √1 R·R ·A R·R ·A (1. Jika diambil acuan berkas E1. A A A A Di √1 √1 √1 √1 R·A R·A R·A R·A 1 1 1 1 R ·A R ·R A R ·R A R ·R A Fabry-Perot. δ (1.25) Besarnya amplitudo berkas gelombang yang keluar dari salah satu plat cermin adalah sebagai berikut. maka pergeseran fase δ dapat didefinisikan sebagai berikut. Akibat adanya perbedaan panjang lintasan. dan diambil acuan E1.

persamaan medan dapat diubah menjadi bentuk eksponensial. maka nilai Rp mendekati nol. I E·E (1. ∑ R ·e R · R· (1.28) 1 δ Selanjutnya dapat dihitung intensitas yang merupakan kuadrat dari medan.31) Jika refleksi p jumlahnya sangat besar dan nilai reflektansi R<1.30) Berdasarkan teori deret geometri. sebagai berikut. R· (1.Proses Pembangkitan Laser 29 E E E E E A · cos ωt A · cos ωt A · cos ωt 1 A · cos ωt kx kx kx kx kx δ 2δ n cos ωt R ·R ·A · n 1 δ (1.32) Selanjutnya intensitas yang merupakan kuadrat dari medan . dan selanjutnya dapat diturunkan persamaan medan sebagai berikut.29) Untuk menghitung intensitas. E Re e ∑ · 1 R ·A · R ·e (1. penjumlahan suku sampai suku ke-p adalah sebagai berikut. E Re e · 1 R ·A ·e .

sehingga persamaan (1. Jika berkas sudut datang α nilainya sangat kecil dan mendekati nol. I I R ·R· R (1.27).33) Dari persamaan trigonometri dapat diketahui hubungan 2 · sin I I 1 cos δ. R ·R· (1.30 Sahrul Hidayat dapat diturunkan sebagai berikut.34) Berdasarkan persamaan (1. I I I E·E I I R· R R · R R· I R· R· R R R· (1. maka cosα pada persamaan (1.33) dapat R diubah menjadi sebagai berikut. δ · · 2·d·k (1.36) Jika diplot kurva intensitas yang ditransmisikan dari . dapat diketahui bahwa pergeseran fase δ sangat ditentukan oleh berkas sudut datang α.35) Sehingga akan didapat persamaan intensitas yang keluar dari resonator Fabry-Perot adalah sebagai berikut.27) akan bernilai satu. sehingga pergeseran fase menjadi sebagai berikut.

96 dibandingkan. Berdasarkan gambar 1.14.Proses Pembangkitan Laser 31 interferometer Fabry-Perot adalah seperti diperlihatkan pada gambar 1. Gambar 1. . maka intensitas transmisi interferometer Fabry-Perot tampak lebih tajam seperti diperlihatkan pada gambar 1. mengindikasikan interferometer Hal tersebut dapat Fabry-Perot menyimpan energi dan berfungsi sebagai resonator.15 dapat diketahui bahwa meskipun persentase yang ditransmisikan hanya 4%.15. tetapi intensitas transmisi tetap maksimum. Jika interferometer Michelson dan Fabry-Perot untuk koefisien refleksi 0.14. Kurva intensitas transmisi interferometer Fabry-Parot.

Dengan mengasumsikan modus kavitas terdiri dari sistem Fabry-Perot longitudinal seperti tampak pada gambar 1. maka daya yang hilang untuk semua modus kavitas adalah sebagai berikut.37) .16a. interferometer Fabry-Parot banyak dimanfaatkan sebagai resonator untuk memproduksi berkas laser berenergi tinggi. γtot = γm + γi (1. Perbandingan intensitas transmisi interferometer Michelson dan Fabry-Perot.32 Sahrul Hidayat Berdasarkan sifat tersebut.15. Gambar 1.

Kerugian daya pada kedua cermin Fabry-Perot dapat dinyatakan dengan persamaan sebagai berikut. γ γ γ . (1. .40) Di mana i merupakan bilangan bulat sembarang yang menyatakan nomor modus gelombang longitudinal dan n adalah bagian real dari fungsi kompleks indeks kavitas.41) adalah penguatan daya laser. L ln γ (1. Daya dengan dengan L. Nilai n merupakan fungsi dari panjang gelombang λ. panjang gelombang dapat dinyatakan dengan persamaan sebagai berikut. Dalam kondisi akan diimbangi oleh stasioner kehilangan daya total penguatan daya g. pantul . dan kerugian pada cermin cermin jarak modus (reflektivitas) antar-cermin gelombang dilambangkan dinotasikan dan Untuk longitudinal.Proses Pembangkitan Laser 33 Di mana adalah kerugian daya internal kavitas.39) Kerugian daya cermin merupakan penjumlahan dari kerugian pada cermin kiri ( kanan ( . yang dapat dinyatakan sebagai berikut n λ dengan n λ j (1. λ L (1.38) .

34 Sahrul Hidayat Gambar 1. (a) Tampilan skematik kavitas Fabry-Perot (b) Spektrum kerugian daya total (c) Spektrum penguatan daya (d) Spektrum berkas laser. .16.

16(b).16(d). Rentang panjang gelombang yang dihasilkan berasal dari modus penguatan g(λ) dari media aktif yang mengemisikan gelombang pada panjang gelombang tertentu. ∆λ di mana L (1. seperti tampak pada gambar 1. Nilai tersebut dapat diungkapkan dengan persamaan berikut. Nilai SSR dari spektrum dengan modus beragam dapat .Proses Pembangkitan Laser 35 Jarak antar-modus longitudinal adalah sama seperti tampak pada gambar 1. Berkas laser yang dihasilkan dari kavitas Fabry-Pertot terdiri dari beberapa modus (multimode) seperti tampak pada gambar 1.16(c). yaitu rasio antara spektrum dominan dengan modus spektrum di sebelahnya. Nilai SSR menggambarkan ketajaman spektrum yang dihasilkan.42) adalah nilai tengah panjang gelombang dan adalah indeks bias efektif dari kavitas yang diungkapkan seperti pada persamaan (1. n n λ λ (1.43).43) Kavitas Fabry-Perot tidak menyeleksi panjang gelombang tertentu. Untuk menguji kemurnian spektrum yang dihasilkan dapat dilakukan dengan menghitung side mode suppression ratio (SSR).

SSR S S (1.47) Di mana adalah faktor emisi spontan yang berhubungan dengan populasi inversi. seperti diungkapkan pada persamaan (1. Dalam keadaan stasioner.46) Dengan menggunakan hubungan Einstein.44) (1.45) Di mana adalah emisi spontan rata-rata dan adalah kecepatan group.36 Sahrul Hidayat dihitung dari rata-rata daya yang dihasilkan. Misalnya. S S 0 0 R R λ λ S υ Δg λ S υ Δg λ (1. Jika penguatan daya g hampir sebanding dengan kehilangan daya . untuk modus dominan (modus 0) panjang gelombangnya . untuk bahan semikonduktor nilainya ≈2.46). untuk modus kedua terkuat (modus 1) panjang gelombangnya Δ . jumlah foton di dalam kavitas Fabry-Perot untuk modus yang ke-i dapat dinyatakan dengan persamaan berikut. Nilai SSR adalah ⁄ rasio antara densitas foton pada modus 0 dan modus 1. dan seterusnya. maka emisi . R λ n υ g λ (1. emisi spontan rata-rata dapat diungkapkan dengan persamaan sebagai berikut.

Proses Pembangkitan Laser 37 spontan rata-rata dapat juga diungkapkan dalam bentuk lain seperti terlihat pada persamaan (1.51) dan (1.52) ke . R λ R λ n υ γ (1. maka jumlah foton untuk modus pertama (1.52) adalah energi foton dari berkas keluaran. Jika diasumsikan bahwa Δg λ Δg λ δg δg (1.49) Berdasarkan gambar 1. (1.16(c) dapat diambil pendekatan Di mana δg adalah selisih penguatan modus antara dua modus terkuat yang berurutan. Dengan mensubstitusikan persamaan (1.51) dapat diungkapkan seperti pada persamaan (1.48) Dengan mensubstitusikan persamaan (1.48) ke dalam persamaan (1.45).48). S Di mana P (1. S Jika mengambil hubungan antara jumlah foton modus ke-0 dengan daya keluaran untuk tiap cermin P dan mengasumsikan reflektansi kedua cermin sama ( maka dapat diturunkan persamaan berikut. .51). maka akan diperoleh persamaan jumlah foton untuk modus 1 sebagai berikut.50) |Δ |. S persamaan sebagai berikut.

akhirnya dapat diperoleh rumusan SSR seperti diungkapkan pada persamaan (1.53) . SSR P (1.53).46).38 Sahrul Hidayat dalam persamaan (1.

Selain itu. konsep tentang laser telah menginspirasi begitu banyak penemuan baru baik di dalam bidang ilmu dasar ataupun di dalam teknologi terapan.BAB II LASER KRISTAL FOTONIK Sejak akhir tahun 1950. Selama kurang lebih empat dasawarsa. sehingga berkas laser yang keluar dari sistem tersebut kurang tajam. Hal tersebut menyebabkan perangkat laser menjadi besar sehingga memerlukan tempat penyimpanan khusus. divais laser menggunakan sepasang cermin sejajar (Fabry-Perot) untuk sistem kavitasnya. secara teori diprediksi bahwa media dielektrik yang memiliki ketidakteraturan tertentu akan menyebabkan hamburan berkas cahaya dan dapat . Pada tahun 1984. sifat refleksi dari cermin cenderung menghasilkan berkas cahaya yang melebar.

Jika suatu bahan pengemisi ditempatkan di dalam kristal fotonik. PBG). interferensi dari beberapa berkas hamburan dapat memodifikasi sifat pergerakan berkas cahaya dari keadaan difusi menjadi keadaan terlokalisasi. Divais tersebut dinamakan kristal fotonik. Pada kondisi tertentu.40 Sahrul Hidayat mengubah sifat-sifat propagasi foton. Konsep lokalisasi cahaya dapat dianalogikan dengan konsep lokalisasi elektron di dalam kristal zat padat. maka emisi spontannya dapat dikontrol dengan modifikasi frekuensi gap. proses dimanfaatkan Di dalam menghasilkan optik konvensional. Konsep tersebut selanjutnya mendorong pengembangan teori bandgap fotonik (photonic bandgap. Fenomena untuk sistem menarik tersebut berkas dapat laser. Hamburan cahaya dari sistem periodik tersebut dapat mencegah atau meneruskan berkas cahaya pada frekuensi dan arah tertentu. Sedangkan dalam sistem . Divais PBG terdiri dari susunan periodik bahan dielektrik yang periodisitasnya berada pada daerah panjang gelombang cahaya. hamburan akan melemahkan berkas cahaya atau dalam kasus ini berkas laser akan rusak akibat hilangnya sejumlah foton oleh hamburan.

Jika suatu bahan penguat berkas ditempatkan di dalam kristal fotonik. maka akan terjadi penguatan berkas pada frekuensi tertentu yang sesuai dengan bandgap dari kristal tersebut.Laser Kristal Fotonik 41 kristal fotonik. yaitu komposisi bahan. bahkan kavitas laser dapat dibuat dalam skala mikro sehingga divais laser pun dapat dibuat dengan ukuran yang sangat kecil. proses hamburan akan menguatkan berkas cahaya sehingga kerugian daya akibat serapan bahan atau akibat lainnya dapat ditanggulangi. Dengan adanya bandgap fotonik. Di dalam kristal fotonik. Pada kondisi yang tepat. dan simetri kisi tertentu. maka daerah frekuensi terlarang atau bandgap fotonik dapat dihasilkan. berkas cahaya dengan frekuensi tertentu akan terjebak dan bergerak bolak-balik melewati media penguat. Secara fisis. struktur kristal. Konsep ini memungkinkan membuat suatu divais laser tanpa cermin. sehingga berkas cahaya mengalami penguatan daya. selanjutnya dapat mengontrol propagasi gelombang elektromagnetik pada . kristal fotonik adalah susunan material dielektrik yang memberikan efek hamburan Bragg sangat kuat. Kristal fotonik dalam hal ini berfungsi sebagai pengganti cermin dalam sistem laser konvensional.

Divais laser yang menggunakan kristal fotonik. Pertama. yaitu emisi cahaya terjadi pada tepi atas atau tepi bawah pita fotonik. Sifat-sifat menarik kristal fotonik selanjutnya mendorong berbagai usaha eksperimen untuk melakukan fabrikasi divais struktur mikro dielektrik. Pada tepi pita fotonik. divais laser yang berbasis band-edge. yaitu memanfaatkan keadaan terlokalisasi pada modus cacat sebagai kavitas laser. penelitian kristal fotonik diharapkan dapat menghasilkan divais laser dalam ukuran mikro dengan efisiensi yang tinggi dan daya ambang pemompa yang rendah. Dengan demikian. sepanjang tepi pita fotonik akan terjadi penguatan berkas foton yang signifikan.42 Sahrul Hidayat frekuensi dan arah tertentu. Untuk divais laser. secara prinsip terdiri dari dua jenis. Sedangkan tipe kedua berbasis defect-mode. terjadi penggabungan antara berkas cahaya dari pengemisi dan modus gelombang elektromagnetik yang muncul tepat dari pita fotonik tersebut. . Secara umum dapat dikatakan bahwa penguatan berkas cahaya seperti prinsip di atas dihasilkan dari umpan balik terdistribusi di dalam kristal fotonik untuk semua arah propagasi.

maka hamburan raditif tersebut akan terkurung. Laser Berbasis Reflektor Bragg Terdistribusi (RBT) Penelitian untuk pengembangan divais laser terus dilakukan terutama untuk merealisasikan laser modus tunggal dengan berkas cahaya yang tajam. emisi spontan akan terlokalisasi di daerah cacat dan kristal fotonik berfungsi sebagai kavitas mikro dengan faktor kualitas yang tinggi.Laser Kristal Fotonik 43 Sifat yang lain dari kristal fotonik adalah mampu mengurung berkas gelombang elektromagnetik pada rentang frekuensi tertentu. Prinsip tersebut dapat dimanfaatkan untuk menghasilkan berkas laser dengan frekuensi yang tajam dan daya ambang pemompa yang rendah. maka akan muncul modus gelombang terlokalisasi di dalam kristal tersebut. sehingga dapat digunakan untuk mengontrol laju emisi spontan. misalnya dengan menambahkan bahan dielektrik yang berbeda. Di dalam kasus ini. Jika ke dalam kristal fotonik tersebut disubstitusikan suatu cacat. Jika seberkas cahaya diradiasikan oleh suatu atom dan frekuensinya berada pada rentang bandgap fotonik. Laser dengan karakteristik tersebut dibutuhkan untuk meningkatkan .

metode yang mungkin untuk mendapatkan modus tunggal adalah dengan meningkatkan perbedaan penguatan antara modus yang dominan dengan modus di sampingnya. Karakteristik penguatan dan kerugian daya sebagai fungsi panjang gelombang pada suatu divais laser. Pada gambar 2.1 tampak bahwa peningkatan seleksi modus frekuensi dapat dicapai jika kurva karakteristik kerugian daya γtot(λ) lebih lengkung dibandingkan dengan .44 Sahrul Hidayat kapasitas dan jangkauan transmisi di dalam sistem komunikasi fiber optik. Gambar 2. Salah satu caranya adalah dengan membuat kerugian daya total sebagai fungsi dari panjang gelombang.1. Secara prinsip. Secara skematik prinsip tersebut diperlihatkan pada gambar 2.1.

Salah satu cara untuk memanipulasi penguatan tersebut adalah menggunakan sistem interferensi dari cermin multi lapisan yang memiliki indeks bias berbeda secara periodik.Laser Kristal Fotonik 45 kurva penguatan g(λ). seperti diperlihatkan pada gambar 2.2.2(b).2(a). . superposisi dari gelombang pantul akan terjadi pada setiap bidang batas antarlapisan. Di dalam sistem multi lapisan. (a) Skematik sistem multi lapisan (b) Ilustrasi reflektor Bragg 1D. Jika secara skematik diilustrasikan gelombang merambat pada arah z. (a) n1 n2 n1 n2 n1 n2 (b) Gambar 2. maka komponen-komponen gelombang yang mengalami superposisi dapat diuraikan seperti pada gambar 2.

Kisi Bragg akan berfungsi memantulkan secara selektif berkas cahaya yang diemisikan dari bahan aktif. Nilai dari koefisien refleksi (R) mengalami perubahan untuk z kelipatan genap dari Λ⁄2 atau .∆n untuk z kondisi kΛ tanda sesuai dengan perubahan indeks bias. maka akan terjadi saling menguatkan dan mengakibatkan interferensi terjadinya pemantulan maksimum. yaitu bisa ∆n kelipatan ganjil dari Λ⁄2 . Panjang gelombang pada Bragg (λB . seperti tampak pada gambar 2. π dinamakan dengan panjang gelombang Sistem kisi Bragg dapat dibuat di dalam susunan divais laser. yaitu ditempatkan di sisi-sisi luar kavitas. Sedangkan untuk panjang gelombang yang lain. akan terjadi interferensi saling menguatkan dan saling melemahkan yang terjadi secara simultan dengan efek pemantulan yang lebih kecil.3a. sistem reflektor Bragg terdistribusi (RBT) dapat juga digandengkan dan ditempatkan di lapisan paling bawah .46 Sahrul Hidayat Untuk panjang gelombang tertentu. Selain itu. yaitu pada saat nilai Λ kelipatan bulat dari π. Berkas cahaya yang dipantulkan adalah hanya yang panjang gelombangnya sesuai dengan panjang gelombang Bragg.

nef = kz/k0 pada sistem pandu gelombang melemah. (a) (b) Gambar 2. maka pengaruhnya terhadap indeks bias efektif. .3.Laser Kristal Fotonik 47 setelah lapisan aktif.3b. Dengan demikian susunan periodik dengan kontras indeks bias n1 dan n0. seperti tampak pada gambar 2. Kisi dibentuk dari variasi periodik ketebalan bahan dengan indeks bias n0 yang dilapisi dengan bahan lain berindeks bias n1. Susunan tersebut biasa disebut juga sistem umpan balik terdistribusi (UBT). (a) Skematik sistem laser berbasis RBT (b) berbasis UBT. Jika gangguan indeks bias tersebut hanya berlaku untuk modus transversal saja.

Salah satu pendekatan teori yang dapat digunakan adalah teori modus terkopel yang diperkenalkan oleh Kogelnik dan Shank pada tahun 1972. Di dalam sistem RBT. Untuk memahami secara lebih jelas proses tersebut diperlukan penjelasan tentang sistem propagasi gelombang di dalam struktur periodik. Di dalam model tersebut. tetapi terdistribusi di seluruh bagian sistem UBT atau RBT.4. Gangguan propagasi tersebut adalah terjadinya pemantulan berkas cahaya pada setiap bidang batas indeks bias yang berbeda. Panjang model divais RBT dimisalkan LB. struktur periodik berupa pola sinusoida dalam arah z dengan indeks bias efektif nef.48 Sahrul Hidayat Walaupun demikian sistem RBT tersebut cukup efektif untuk menggantikan sistem Fabry-Perot pada suatu divais laser. keberadaan kisi telah mengakibatkan adanya gangguan indeks bias yang selanjutnya mengubah sifat propagasi cahaya pada panjang gelombang tertentu. umpan balik optik tidak terlokalisasi pada suatu kavitas. Akibatnya gelombang akan terpantul bolak-balik di antara kisi. Model matematika untuk sistem RBT diperlihatkan pada gambar 2. yaitu dari 0 . Dalam kasus ini.

Indeks bias efektif bervariasi sepanjang sumbu-z dengan fungsi seperti pada persamaan 2.1. Vektor gelombang di dalam kisi kg merupakan fungsi dari periodisitas kisi yang dapat dinyatakan dengan rumusan sebagai berikut. nef ( z ) = nef + ∆nef 2 sin k g z (2.1) Di mana nef dan ∆nef adalah rata-rata indeks bias efektif dan perbedaan indeks bias efektif (selisih nilai tertinggi dan terrendah).Laser Kristal Fotonik 49 sampai dengan z = LB.2) Gambar 2.4 (a) Model matematika sistem RBT (b) Profil intensitas medan yang bergerak ke arah sumbu ( z + E + ) dan kearah sumbu ( z − E− ) sebagai fungsi z (c) Skematik struktur reflektor. kg = 2π Λ (2. 2 2 .

50

Sahrul Hidayat

Vektor gelombang sebagai fungsi dari z dapat adalah vektor gelombang di dalam vakum (2 ⁄ . diungkapkan seperti pada persamaan (2.3), di mana k0

Jika diasumsikan variasi indeks biasnya kecil ∆ , maka kontribusi dari ∆

k z

k n

z

(2.3)

dapat diabaikan. Dengan

demikian kuadrat vektor gelombang dapat diungkapkan seperti pada persamaan (2.4).

k z
keadaan
E

k

n

n ∆n sin k z
dapat diungkapkan seperti

(2.4)

Selanjutnya persamaan gelombang dalam arah z untuk stationer pada

persamaan (2.5)

k

n

n ∆n sin k z E

0

(2.5)

Dengan prinsip teori modus terkopel, fungsi medan
E dapat dipisahkan antara medan yang bergerak ke depan

(E+) dan ke belakang (E−) seperti pada persamaan (2.6)

E z

E z E z

E z

A z exp B z exp

E z

jk B z

jk B z

(2.6) (2.7) (2.8)

Medan E+(z) merambat dalam arah +z dan E−(z) merambat dalam arah −z. Notasi dan menyatakan panjang

Laser Kristal Fotonik

51

gelombang Bragg dan vektor gelombang Bragg, yang masing-masing diungkapkan pada persamaan (2.9) dan (2.10).

λB

kB

2.

n

.

Λ
B

(2.9) (2.10)

Di mana

menyatakan bagian real dari rata-rata . A(z) dan B(z) merupakan

indeks bias efektif

amplitudo sebagai fungsi z. Perubahan amplitudo tersebut dalam arah z sangat kecil sehingga turunan kedua dari A(z) dan B(z) terhadap z dapat diabaikan. Selanjutnya persamaan gelombang dapat diturunkan sebagai berikut:
E E E E E

(2.11)

2jk B

2jkB

A

B

k B B exp jk B z .

k B A exp

jk B z

(2.12) (2.13) seperti pada

persamaan sin

Dengan

menggunakan

hubungan

, maka suku kedua

pada persamaan (2.5) dapat diubah menjadi bentuk eksponensial seperti diungkapkan pada persamaan (2.14).

k

A exp

n

jk B z

exp 2jk B z

B exp jk B z

exp

2jk B z
(2.14)

52

Sahrul Hidayat

Jika perkalian pada persamaan (2.14) dioperasikan dan mengabaikan suku exp persamaan (2.15)

3

, maka akan didapatkan

k n k n

A B

jk

jk

∆ ∆

A exp

B exp

jk B z

jk B z
(2.15)

Suku pertama merupakan komponen propagasi gelombang yang bergerak ke arah z+, sedangkan suku kedua bergerak ke arah z−. Jika persamaan (2.12), (2.13), dan (2.15) disubstitusikan ke dalam persamaan (2.5), maka akan didapatkan berikut: persamaan gelombang terkopel sebagai

2jk B

jk

k n
∆ B

jk

B exp

kB A

jk B z

2jk B

A

A exp jk B z

k n

0

kB B
(2.16)

Suku pertama merupakan persamaan propagasi gelombang yang bergerak ke arah z+, sedangkan suku kedua bergerak ke arah z−. Berdasarkan persamaan (2.16), ungkapan tersebut akan benar atau sama dengan nol jika kedua sukunya juga sama dengan nol. Jika demikian, maka harus terpenuhi

Bragg) Berdasarkan persamaan (2.17). maka nilai ∆β relatif kecil dibandingkan dengan vektor gelombang Bragg. ∆β biasa disebut juga sebagai frekuensi detuning dinyatakan sebagai fungsi dari simpangan panjang gelombang terhadap panjang gelombang B Bragg sebagai berikut jk k B dimana Δβ 2π n .Laser Kristal Fotonik 53 syarat seperti diungkapkan pada persamaan (2.20) . B B k λB n B . Selanjutnya akan didapat persamaan vektor sebagai berikut k n kB 2k B ∆β. n . n λB λB B (2. (2.17) Di mana ∆β merupakan simpangan dari vektor gelombang terhadap gelombang pada vektor panjang gelombang gelombang Bragg (vektor .10). B (2. |Δ | .18) adalah group indeks bias efektif pada panjang gelombang Bragg.17) dan (2.19) Jika kasus yang dilihat hanya sekitar panjang gelombang Bragg. k n kB ∆β (2.

54 Sahrul Hidayat Jika persamaan (2.27 dapat diungkapkan seperti Selanjutnya vektor eigen pada persamaan (2. E E .24) j∆β κ E κ jΔβ s (2. maka akan didapatkan persamaan gelombang terkopel sebagai berikut ΔβA ΔβB j j A B jκA jκB 0.21) (2.22) dapat diungkapkan dalam bentuk persamaan diferensial vektor sebagai berikut.26) κ Δβ . A B (2. 2. E E E E / / (2.21) dan (2.28) (2. 0 (2.23).25) Nilai eigen s dari matriks dua kali dua tersebut adalah s s (2.29) .29).22) Notasi κ merupakan konstanta kopling yang ungkapannya seperti pada persamaan (2.20) disubstitusikan ke dalam persamaan (2.23) Persamaan (2.16). (2.28) dan (2. κ .

dan (2. E C E exp sz C E exp sz (2. Selanjutnya akan didapat solusi umum dari persamaan (2.30). Nilai T dapat dihitung dengan menggunakan persamaan (2.31).32) Jika pada persamaan (2.21) dan (2.25) yang ungkapannya seperti pada persamaan (2. yaitu pada z = 0 dan z = LB adalah sebagai berikut: E 0 T.28).Laser Kristal Fotonik 55 Notasi E0 merupakan konstanta normalisasi yang secara fisis bermakna kuat medan listrik dengan satuan volt per meter. (2. E LB (2.30).31) dengan T adalah matriks transfer dari model RBT.29). maka diperoleh solusi dari persamaan diferensial terkopel .30) Konstanta C1 dan C2 dapat diperoleh dari aproksimasi syarat batas pada model RBT. Hubungan medan pada syarat batas model RBT. (2. cosh sLB sinh sLB ∆ sinh sLB cosh sLB sinh sLB ∆ sinh sLB (2.22) disubstitusikan syarat batas A(0)=A0 dan B(L)=0.

R r yang B |R| ditransfer A LB LB LB LB LB LB (2. Untuk mempermudah analisis terhadap persamaan (2. Program simulasi yang telah dibuat ditampilkan pada gambar 2. yang berarti daya maksimum dapat diperoleh pada nilai frekuensi detuning kecil.5.36) Notasi r adalah reflektansi yang sebanding dengan daya dalam arah propagasi gelombang.35) (2.56 Sahrul Hidayat tersebut adalah sebagai berikut : A z B z A A LB LB ∆ LB LB ∆ ∆ LB LB LB (2. sebagai berikut.33) (2.34) Koefisien reflektansi dari model divais RBT dapat diperoleh dari rasio gelombang terpantul dan gelombang datang. .36) selanjutnya dilakukan simulasi dengan bantuan software mathlab. Berdasarkan persamaan tersebut tampak bahwa daya berbanding terbalik dengan kuadrat frekuensi detuning (∆β/κ)2.

dan frekuensi detuning 2 µm-1. konstanta kopling 0. . Karakteristik sinyal output dari kisi Bragg tersebut tampak pada gambar 2. Contoh parameter sampel yang diambil adalah panjang kisi Bragg LB =16 µm. Selanjutnya dilakukan pengujian pengaruh panjang kisi Bragg terhadap karakteristik refleksi dan hasil perhitungan tersebut diperlihatkan pada gambar 2.6. Tampilan program simulasi model kisi Bragg. Sebagai bahan kajian. telah dilakukan perhitungan reflektansi model divais RBT dengan bantuan program seperti yang ditampilkan pada gambar 2.7.5.Laser Kristal Fotonik 57 Gambar 2.5.398 µm-1.

Karakteristik tersebut mirip dengan sistem kerja cermin pada divais Febry-Parot. Selain itu. Berdasarkan gambar tersebut tampak bahwa reflektansi maksimum dengan parameter divais seperti di atas dapat diperoleh mulai nilai konstanta kopling 0. Reflektansi tertinggi bernilai 1 yang menunjukkan divais RBT merefleksikan secara total sinyal yang masuk.8. Karakteristik sinyal keluaran dari divais RBT. selanjutnya diperlukan rancangan devais RBT yang menghasilkan kualitas sinyal pantulan terbaik.58 Sahrul Hidayat Gambar 2. .6. Optimasi parameter devais perlu dilakukan untuk menghasilkan reflektansi tertinggi. Salah satu hasil perhitungan untuk mendapatkan nilai konstanta kopling optimum disajikan pada gambar 2.2 µm-1.

7. Hal tersebut akan menyebabkan semakin . Modus tunggal yang optimal dapat diperoleh jika periode kisi sinkron dengan λB.Laser Kristal Fotonik 59 Gambar 2. Karakteristik sinyal keluaran divais RBT dengan panjang kisi 500 µm. Hal tersebut disebabkan oleh tidak sinkronnya panjang gelombang input dengan panjang gelombang Bragg λB.6 tampak bahwa sinyal keluaran dari sistem divais RBT tidak menghasilkan modus tunggal. Berdasarkan gambar 2. seperti tampak pada gambar 2.3a. Tetapi hal tersebut memunculkan masalah dengan membesarnya modus samping (side lobe) yang tidak diinginkan. Masalah lain dari model laser sistem RBT adalah penempatan divais aktif di antara dua sistem pandu gelombang (kisi) yang berbeda.

15 0.8 0. Secara dimensi.6 0. ∆β/κ =1. model laser UBT dapat dibuat lebih kecil daripada divais RBT.05 0. Pengaruh Konstanta Kopling terhadap Reflektansi 1.4 0.1 0.2 1 0.3b.35 Reflektansi Konstanta Kopling (1/um) Gambar 2. seperti tampak pada gambar 2. model divais RBT teknik fabrikasinya cukup sulit karena harus membuat cacat di antara dua sistem pandu gelombang yang sedapat mungkin identik. Karakteristik reflektansi divais RBT terhadap konstanta kopling dengan parameter divais LB=16 µm. karena bahan aktif dapat disisipkan atau dicampur . Selain itu.3 0.2 0. Model divais laser lain yang teknik fabrikasinya lebih sederhana adalah sistem umpan balik terdistribusi (UBT).25 µm-1.2 0 0 0.60 Sahrul Hidayat banyaknya daya yang hilang pada sistem terkopel dan timbulnya refleksi yang tidak dikehendaki pada batas bahan aktif dengan kisi (parasitic reflection).25 0.8.

Dalam sistem UBT. Laser Berbasis Umpan Balik Terdistribusi (UBT) Pada gambar 2.Laser Kristal Fotonik 61 secara langsung dalam kisi. Di dalam model laser UBT. proses distribusi umpan balik akan terjadi di sepanjang area kisi. Hal tersebut akan menghasilkan efisiensi pandu gelombang yang lebih baik.35 dengan mengambil syarat batas LB = L. . kehadiran bahan penguat optik (g) direpresentasikan di dalam bagian imajiner indeks bias . Dengan sistem UBT. Dengan demikian struktur model UBT lebih layak untuk divais laser komersial dibandingkan dengan model RBT. Karakteristik reflektansi dan batas ambang penguatan dari divais tersebut dapat dihitung dengan bantuan persamaan 2. bahan aktif yang berfungsi sebagai penguat berkas optik. model laser yang lebar juga dapat dibuat tanpa memengaruhi efisiensi keluaran dari sistem tersebut. berada secara langsung di dalam struktur kisi. Secara matematika.9 tampak secara skematik model laser umpan balik terdistribusi (UBT) yang terdiri dari kisi Bragg tanpa refleksi di ujung-ujung divais tersebut (R R 0 .

g ≅ 2k 0 (λ B ) ℑ(nef ) (2.35). Skematik model laser UBT.38) Berdasarkan definisi dari refleksi kisi Bragg yang diungkapkan pada persamaan (2.39) .38). sehingga vektor gelombangnya merupakan fungsi dari panjang gelombang Bragg seperti diungkapkan pada persamaan (2. Berdasarkan asumsi tersebut.9. maka dari persamaan (2.35) dapat diturunkan persamaan (2. Di mana ℑ( nef ) adalah bagian imajiner dari indeks bias efektif.39) sebagai berikut. koefisien refleksi R pada model laser UBT dapat diasumsikan tak hingga (R→∞) seperti terlihat pada gambar 2. Dalam kasus ini media penguat berada secara langsung di dalam kisi Bragg. j∆β sinh(sL) + s cosh(sL) = 0 (2.9.62 Sahrul Hidayat g = 2k 0 ℑ( nef ) (2.37) Gambar 2.

.27). Masing-masing solusi untuk sL berhubungan dengan modus propagasi di dalam divais laser UBT. Jika persamaan (2.40) akan didapat solusi kompleks untuk sL. Dengan mensubstitusikan ∆ ke dalam persamaan (2.42).38). B L ΔβL (2.43). . dan sL sebagai fungsi dengan L dan ∆ dieliminasi dengan persamaan (2. yang dapat diungkapkan seperti pada persamaan (2. akan didapat persamaan ambang penguatan ( dan panjang gelombang ( untuk masing-masing modus.39) kedua ruasnya dikalikan maka akan didapat persamaan nilai eigen sebagai fungsi sL jκL sinh sL (2.40) Dari persamaan (2.Laser Kristal Fotonik 63 Persamaan terhadap dapat diubah panjang divais menjadi tidak laser. yaitu tergantung cara menormalisasi ∆ dengan .42) sama seperti Istilah jarak antarmodus propagasi dalam sistem laser Fabry-Perot (persamaan 1. g δλ L L B (2.18) dan menyamakan bagian real dan imajiner dari persamaan tersebut dengan persamaan (2.41) .

jarak antarmodus tampak hampir serupa dengan jarak antarmodus ( Δλ ) pendekatan Fabry-Perot.64 Sahrul Hidayat dengan Δ δλ Δλ L (2. di mana 0 . yang dinamakan dengan stop band. Jarak antara dua modus terendah dilambangkan dengan Δλ .10 memperlihatkan hasil perhitungan modus penguatan berkas di dalam model laser UBT untuk 20 modus terendah dengan beberapa variasi panjang kisi. . Berdasarkan gambar tersebut tampak bahwa modus penguatan terkecil berada pada daerah dekat panjang gelombang Bragg. . tampak bahwa penguatan modus dan stop band sangat dipengaruhi oleh panjang kisi Bragg. Berdasarkan hasil simulasi tersebut. Untuk daerah yang jauh dari panjang gelombang Bragg. Lebar stop band terlihat meningkat seiring dengan bertambahnya panjang kisi Bragg.43) . Gambar 2. Pada nilai panjang gelombang Bragg tampak tidak ada modus propagasi sama sekali.

10. Intensitas berkas gelombang tampak terdistribusi menjadi dua kelompok modus dengan jarak penguatan yang sama dari panjang gelombang Bragg. Untuk dua modus terdekat dengan panjang gelombang Bragg. Karakteristik penguatan berkas sebagai fungsi deviasi panjang gelombang untuk model laser UBT (a) κL=0. yaitu .5 (b) κL=2 (c) κL=3.Laser Kristal Fotonik 65 Gambar 2.

Hal tersebut menunjukkan bahwa untuk model UBT dengan kisi Bragg pendek. Profil distribusi intensitas model laser UBT (a) kisi Bragg pendek (b) kisi Bragg panjang. intensitas distribusi memperlihatkan daya maksimum pada bidang batas kisi terluar. Untuk panjang kisi Bragg yang kecil (κL<1).11a.11.66 Sahrul Hidayat yang akan menjadi modus dominan pada divais laser. distribusi intensitasnya dapat dilihat pada gambar 2. baik sebelah kanan ataupun sebelah kiri. efektivitas pemantulannya . seperti tampak pada gambar 2.11. (a) (b) Gambar 2.

. Proses tersebut disebabkan karena pada posisi tertentu terjadi interferensi yang saling menguatkan dan pada posisi yang lain terjadi interferensi yang saling melemahkan.11b. Pada pusat kavitas.Laser Kristal Fotonik 67 sangat rendah yang berkonsekuensi pada kehilangan daya yang tinggi. distribusi intensitas terkonsentrasi di tengahtengah kavitas seperti tampak pada gambar 2. maka akan mengalami difraksi. pola difraksi tersebut memperlihatkan adanya intensitas gelombang yang kuat pada posisi tertentu dan intensitas gelombang yang lemah atau hilang sama sekali pada posisi yang lain. Secara umum. Berkas-berkas difraksi tersebut akan saling berinterferensi dan dapat mengubah karakteristik propagasi gelombang membentuk pola-pola difraksi. Laser Berbasis Kristal Fotonik 2D Kristal fotonik adalah material dielektrik yang memiliki indeks bias atau permitivitas berbeda secara periodik. efektivitas pemantulan sangat tinggi sehingga kerugian dayanya sangat kecil. Secara fisis. Sedangkan untuk kisi Bragg yang panjang (κL>2). bila ada berkas gelombang yang masuk ke dalam kisi periodik.

Model pertama adalah dengan menambahkan cacat yang akan melokalisasi emisi terstimulasi pada daerah cacat tersebut dan model kedua adalah sistem umpan balik terdistribusi. Untuk model umpan balik terdistribusi.68 Sahrul Hidayat Peristiwa seperti di atas akan terjadi juga bila seberkas cahaya masuk ke dalam kristal fotonik. Seperti pada kristal fotonik satu dimensi (kisi Bragg). mungkin saja akan mengalami peristiwa pemantulan dan mengakibatkan cahaya tidak bisa tembus ke dalam kristal fotonik. Rentang daerah frekuensi di mana berkas cahaya tidak bisa masuk ke dalam kristal fotonik dinamakan dengan photonic bandgap (PBG). Berkas cahaya pada kondisi tertentu. Kristal fotonik dapat digunakan sebagai resonator optik untuk menggantikan fungsi resonator cermin Fabry-Perot. Hal tersebut dapat terjadi bila berkas cahaya yang masuk memiliki frekuensi yang bersesuaian dengan daerah terlarangnya. aplikasi kristal fotonik 2 dimensi (2D) pada divais laser terdiri dari dua model divais. Secara fisis. emisi terstimulasi dikondisikan berada pada daerah frekuensi . suatu divais yang memiliki karakteristik dapat memantulkan berkas cahaya dapat diaplikasikan untuk divais laser.

t ) = 0 (2. t ) ∂t v r ∂ r ∇ × H(r. Persamaan Maxwell menjelaskan interaksi antara medan elektromagnetik dengan bahan.45) ( ) r r ∂ r ∇ × E(r. r r (2. Jika diasumsikan di dalam bahan tidak ada muatan bebas dan bahan tidak bersifat magnetik.Laser Kristal Fotonik 69 tepi pita fotonik (band edge). Dengan demikian cahaya akan terkonsentrasi pada daerah pita fotonik tersebut.47) . maka persamaan Maxwell dalam sistem koordinat silinder dapat diungkapkan seperti pada empat persamaan berikut. t ∂t (2. Berkas cahaya dengan frekuensi tepat pada pita fotonik akan dipantulkan bolakbalik di dalam kristal tersebut sehingga akan mengalami penguatan daya.t) = − µ o H (r .t) = ε oε (r ) E (r . dapat diawali dangan mengetahui hubungan medan listrik dan medan magnet pada persamaan Maxwell. t ) = 0 r r ∇ • H (r . pada daerah tepi pita fotonik tersebut kecepatan grup berkas cahaya sama dengan nol.46) (2. Secara fisis. Untuk mengetahui sifat-sifat perambatan cahaya di dalam kristal fotonik.44) ∇ • ε ( r ) E (r .

12a. ˆ Dielektrik sepanjang sumbu z adalah homogen.70 Sahrul Hidayat Di mana adalah medan listrik. Model kisi silinder yang diuji terdiri dari dua jenis.12. ˆ sehingga modus perambatan gelombang dalam arah z . Model kristal fotonik 2D yang akan disimulasikan adalah berbentuk kisi-kisi silinder. Model kisi kristal fotonik 2D (a) silinder dielektrik (b) rongga silinder. yang pertama berupa susunan silinder-silinder dielektrik dengan latar udara seperti tampak pada gambar 2. (a) (b) Gambar 2. medan magnet. ε(r) permitivitas listrik bahan sebagai fungsi ruang. Model kedua berupa rongga-rongga udara berbentuk silinder yang dikelilingi latar berbahan dielektrik seperti tampak pada gambar 2.12b. dan µ0 permiabilitas magnetik bahan.

52) ∂ r r ∂ r r E z (r// . t ) − E x (r// . t ) dan E y (r// . t ) ∂y ∂t (2.48) (2. Untuk kisi dielektrik 2D.Laser Kristal Fotonik 71 harus dihindari. t ) akan diperoleh persamaan umum gelombang dalam kisi periodik 2D : . t ) = µ o H y (r// . ∂ r r ∂ r r E z (r// . t ) (2. t ) atau r r r r E x (r// .49) (2. t ) dan H y (r// .53) ∂x ∂y ∂t r r r r Dengan mengeliminasi H x (r// . yaitu vektor gelombang yang sejajar bidang xy. yang berarti perambatan r gelombang hanya terjadi pada k // . Secara matematis ungkapan tersebut r dituliskan dalam bentuk k z = 0 . t ) ∂y ∂t r ∂ r r ∂ r r H z (r// .46) dan (2.51) (2. persamaan Maxwell pada persamaan (2. t ) ∂x ∂t ∂ r r ∂ r r ∂ r r E y (r// . t ) ∂x ∂t ∂ r r ∂ r r ∂ r r H y (r// . t ) = ε oε (r// ) E z (r// . t ) = ε oε (r// ) E x (r// . t ) = − µ o H z (r// . t ) − H x (r// . t ) = −ε oε (r// ) E y (r// .50) (2.47) berubah menjadi dua set persamaan yang independen. sebagai berikut. t ) = − µ o H x (r// . t ) ∂t ∂x ∂y r ∂ r r ∂ r r H z (r// .

54) ∂ 1 ∂ ∂ 1 ∂r r 1 ∂2 r r + H z (r// .55) dapat diungkapkan dalam bentuk fungsi gelombang harmonik sebagai berikut.54) dan (2.57) (2. selanjutnya persamaan umum gelombang dapat diungkapkan dalam bentuk persamaan nilai eigen seperti diungkapkan pada persamaan (2. t ) r r   c ∂t  ∂x ε (r// ) ∂x ∂y ε (r// ) ∂y  (2. t ) = 2 2 E z (r// . r r r r E z (r// . − 1  ∂2 ∂2  r r ω2 r r r  2 + 2  E z (r// ) = 2 E z (r// ) ε (r// )  ∂x ∂y  c (2.58) pada persamaan (2.72 Sahrul Hidayat 1  ∂2 1 ∂2 r r ∂2  r r  2 + 2  E z (r// .59) dan (2. t ) = H z (r// )e − jωt Dengan mensubstitusikan fungsi gelombang (2.55) di mana c kecepatan cahaya di dalam fakum yang besarnya sebagai berikut: c µ (2. t ) = 2 2 H z (r// .58) ke dalam persamaan (2. t ) = E z (r// )e − jωt r r r r H z (r// .57) dan (2.56) Solusi persamaan gelombang pada persamaan (2.59) . t ) c ∂t ε (r// )  ∂x ∂y  (2.55).60).54) dan (2.

61) (2. fungsi gelombang yang merambat pada kisi periodik..62) adalah fungsi vektor periodik yang memiliki hubungan sebagai berikut. dengan R u v r r R R n a u v n a r r dengan i = 1.. Jika berkas gelombang masuk ke dalam kisi periodik. .. .64) . dapat diungkapkan dengan persamaan gelombang Boch seperti tampak pada persamaan (2. 3.Laser Kristal Fotonik 73   ∂ 1 ∂r r ω2 r r ∂ 1 ∂ − + r r  H z (r// ) = 2 H z (r// ) c  ∂x ε (r//) ∂x ∂y ε (r//) ∂y    (2.63) (2..66).60) Di dalam kristal fotonik... Dengan demikian. permitivitas bahan ε merupakan fungsi periodik dari posisi r. E r H r Di mana E H r r dan u v r exp ik · r r exp ik · r (2. Hal tersebut sama seperti kasus berkas elektron yang masuk ke dalam kristal biasa yang terdiri dari susunan potensial periodik dari atom-atom. n1. maka berlaku teorema Bloch.65) dan (2.. 2.. Dengan demikian fungsi dan akan terkarakterisasi oleh vektor gelombang k di dalam zona Brillouin pertama dan indeks pita n dengan ungkapan sebagai berikut. n2 = 1.3 (2.2.

68) b1 = 2π r 2 r ˆ a1 × a2 • z r r ˆ z × a1 (2.k// n (G// ) c2 r r r r r r r r ′ ′ ′ κ (G// − G// )(k // + G// ) • (k // + G// ) H z .59) dan (2.k//n (G// ) = r G ′ // { } r E z . (2.60) akan didapatkan persamaan nilai eigen sebagai berikut : r r r r r r r r ′ ′ ′ ∑ κ (G// − G// ) k // + G// k // + G// E z .65) dan (2..69) b2 = 2π r r ˆ a1 × a2 • z r r Dengan a1 dan a2 adalah vektor kisi real.k// n (G// ) = ∑ r // ω k( En) 2 r (2. Vektor kisi balik kristal fotonik 2D didefinisikan sebagai berikut.65) r r r r r r r r r H z (r// ) = H z .k// n (r// ) = ∑ E z . Selanjutnya dengan mensubstitusikan persamaan (2.74 Sahrul Hidayat r r r r r r r r r E z (r// ) = E z .67) G = m1b1 + m2b 2 r r ˆ a ×z (2..71) .3.k// n (r// ) = ∑ H z .k// n (G// ) (2.2.k// n (G// ) exp i (k // + G// ) • r// r { } } G // (2..66) ke dalam persamaan (2.70) G ′ // ω k( Hn) 2 r // c2 r H z .66) r di mana k // merupakan vektor propagasi gelombang dan r G// merupakan vektor kisi balik kristal fotonik 2D..k// n (G// ) exp i (k // + G// ) • r// r { G // (2. r r r m1 = m2 = 1.

72): r κ (G ) = 1 Vo Vo r ∫ dr ε (r ) exp(− jG • r ) r 1 r r (2.Laser Kristal Fotonik 75 r κ (G// ) adalah koefisien ekspansi gelombang bidang yang dapat dihitung dengan menggunakan invers transformasi Fourier dari persamaan (2.72). r r r 1 r = ∑ κ (G ) exp( jG • r ) r ε (r ) G (2. Karena permitivitas bahan kristal fotonik bersifat r r periodik terhadap ruang { ε (r + ai ) = ε (r ) }. maka dapat diungkapkan dalam bentuk deret Fourier sebagai berikut. konstanta dielektrik dalam arah z r homogen. sehingga κ (Gz ) = 0 .73) di mana Vo adalah volume dari unit sel di dalam kristal fotonik. Untuk kristal fotonik 2D berbentuk silinder-silinder ˆ yang periodik. Selanjutnya integral pada . Perhitungan integral tersebut sangat tergantung pada dimensi dan struktur model kristalnya.72) r Selanjutnya koefisien transformasi Fourier κ (G ) dapat dihitung dari invers transformasi Fourier persamaan (2.

dan ra jari-jari rongga.76) disubstitusikan ke dalam persamaan (2.75) dan (2.74) 1 1  1 1 r +  −  S (r// ) r = ε ε (r// ) ε b  a ε b   0 S= 1 (2. ϕ) seperti diungkapan pada persamaan (2. jika persamaan (2. maka akan diperoleh persamaan (2.73) dapat dieliminasi hanya pada bidang xy r r saja.74).77) r r 1 1 1 r r  −  ∫ dr// S (r// ) exp(− jG// • r// ) ε  ε b // Vo  a ε b Vo (2. r κ (G// ) = dengan : 1 Vo ∫ dr Vo r // r r 1 r exp(− jG// • r// ) ε (r// ) (2.76) Di mana ε a adalah permitivitas bahan di dalam rongga. yaitu κ (Gxy ) = κ (G// ) . Selanjutnya. ε b permitivitas latar atau bahan di luar rongga.77) Integral tersebut dapat diselesaikan dalam koordinat polar r κ (G// ) = 1 δG + (r.76 Sahrul Hidayat persamaan (2.75) r r untuk r// ≤ ra r r untuk r// > ra (2.78) .

13. G// ≠ 0 r ε   a ε b  G ra r f 1− f . G// = 0 κ (0) = + εa εb (2.79) (2. Jika didefinisikan fraksi volume untuk kisi silinder r 2 r π ra adalah f = .81) b1 = 2π r 2 r b 2 = 2π r r 1 ˆ ˆ a1 × a 2 ⋅ z a1 × a 2 ⋅ z Struktur kisi kristal fotonik 2D terdiri dari kisi r r segiempat dan kisi segienam. . maka diperoleh persamaan κ (G// ) Vo sebagai berikut : r r 1 1  J 1 (G ra ) r κ (G// ) = 2 f  −  . Vektor a1 dan a2 adalah komponen vektor satuan kisi real seperti ditunjukkan di dalam gambar 2.78) r 2π r  r  π  2πra ∫ d r ∫ dϕ r exp− G r sinϕ − 2  = G J1 (Gra )    0 0 r r Di mana r// = rxy yang di dalam koordinat polar dapat r diungkapkan dengan |r|.80) Vektor kisi balik kristal fotonik 2D adalah sebagai berikut: r r r r ˆ ˆ a ×z z×a (2. G = G // merupakan nilai absolut ra dari vektor kisi balik dan J1 merupakan fungsi Bessel orde pertama.Laser Kristal Fotonik 77 r r r r dr// S (r// ) exp(− jG// • r// ) = ∫ Vo (2.

r r ˆ Untuk kisi segi empat a1 = ai dan a 2 = aˆ .14. Titik-titik khusus pada zona Brillouin berhubungan dengan rotasi simetri unit sel di dalam kristal seperti ditunjukkan pada gambar 2. j r r ˆ 2 ˆ sedangkan kisi segi enam a1 = ai dan a2 = 1 ai + 1 3aˆ .13. . j 2 dengan a adalah konstanta kisi. Struktur kisi kristal fotonik 2D (a) kisi segi empat (b) kisi segi enam.78 Sahrul Hidayat a1 M (a) a2 Γ X a1 M (b) a2 K Γ Gambar 2.

dan X . Daerah tersebut merupakan wilayah terkecil yang secara simetri mewakili daerah lain di dalam zona Brillouin pertama.Laser Kristal Fotonik 79 Gambar 2. dan M. Di dalam zona Brillouin pertama terdapat daerah khusus yang dibatasi titik Γ. X. daerah tersebut dinamakan irreducible Brillouin zone. yaitu Γ merupakan titik pusat kisi. Untuk kisi segi empat terdapat tiga titik khusus. M merupakan titik sudut kisi yang berinteraksi dengan sel tetangga.14. Titik-titik khusus di dalam zona Brillouin untuk kisi segi empat Daerah yang dibatasi oleh segi empat pertama dengan garis tebal adalah zona Brillouin pertama dan daerah yang dibatasi oleh segi emat kedua yang lebih besar adalah zona Brillouin kedua.

k // = π i dan a r ˆ a j k // = π i + π ˆ . sedangkan untuk . k // = π ˆ dan k // = 2aπ i + 23a ˆ .0. profil a medannya bersifat sama untuk setiap unit sel. j a Selanjutnya dilakukan simulasi perhitungan nilai eigen dengan bantuan software Matlab 7.70). Titik-titik tersebut merupakan titik-titik ekstrem dari bidang terkecil yang memenuhi simetri kisi kristal dalam zona Brillouin pertama. Modus gelombang di titik Γ. dan K. Pada titik M medan berinterakasi dengan unit sel tetangga yang berada di titik-titik sudut unit sel.80 Sahrul Hidayat merupakan titik tepi kisi dalam zona Brillouin. M. dan K merupakan titik sudut kisi dalam zona Brillouin pertama. Pada kisi segi empat titik-titik r r ˆ tersebut bersesuaian dengan k // = 0. Sedangkan untuk kisi segi enam terdapat titik khusus Γ merupakan titik pusat kisi. Titik X bersesuaian dengan bagian tepi dari unit sel di mana medan saling berinteraksi dengan unit sel lain sepanjang r vektor gelombang k x . M merupakan titik tepi kisi. masing-masing bersesuaian dengan r r r ˆ π j k // = 0. Sedangkan pada kisi segi enam terdapat titik-titik khusus Γ.4. Persamaan nilai eigen untuk modus TE (transverse-electric) diperlihatkan pada persamaan (2.

(2.79).15.80) dapat dihitung nilai eigen ωk.n. bandgap fotonik untuk kristal fotonik 2 dimensi.75). Gambar 2.Laser Kristal Fotonik 81 modus TM ( (transverse-magnetic) diperlihatkan pada persamaan (2. ). dan (2. Dengan bantuan persamaan (2. Tampilan program simulasi pembentukan 15.71). dimensi Tampilan program yang telah dibuat diperlihatkan pada gambar 2.15. Pada program tersebut terdapat .

jika menginginkan proses editing pada grafik yang ditampilkan. dilakukan dengan membandingkan hasil simulasi tersebut dengan hasil perhitungan dari Joannopoulus J. juga dapat diubah disesuaikan dengan kebutuhan. Joannopoulus melakukan perhitungan lebar bandgap fotonik untuk struktur kristal 2D berbentuk silinder dielektrik dengan susunan kisi segi empat. al. modus perambatan gelombang. dengan a : jarak antarkisi (satuan panjang) Hasil perhitungan dari Joannopoulus tersebut diperlihatkan pada gambar 2. maka mode edit dapat diaktifkan.9 Konstanta dielektrik latar (ε2) : 1 (udara) Jari-jari silinder (R) : 0. konstanta dielektrik rongga. Parameter kisi yang diuji adalah sebagai berikut : • • • Konstanta dielektrik silinder (ε1) : 8. susunan kisi. et.2a . Dengan menggunakan . Sebagai menu tambahan. yaitu jenis kisi 2D.82 Sahrul Hidayat beberapa parameter yang dapat diubah.16.D. dan jari-jari rongga.. Selain itu jumlah pita fotonik yang akan diplot dan frekuensi maksimum yang akan ditampilkan. Untuk menguji keakuratan program simulasi yang telah dibuat. (1995). konstanta dielektrik latar.

Grafik bandgap fotonik hasil simulasi Joannopoulus.Laser Kristal Fotonik 83 parameter kisi yang sama.17. hasil perhitungan menggunakan program yang telah dibuat. Grafik bandgap fotonik hasil simulasi mandiri.16. Gambar 2. Gambar 2. .17. disajikan pada gambar 2.

Karakteristik bandgap kristal fotonik 2D berbentuk rongga silinder.3 0.45 λ .1.2 0. yang bersesuaian dengan nilai vektor propagasi r a ˆ a j k // = π i + π ˆ .17 λ yang berada pada a a a rentang 0. tampak bahwa hasil perhitungan dengan program simulasi yang telah dibuat menunjukkan hasil yang sama dengan hasil perhitungan dari Joannopoulus.84 Sahrul Hidayat Berdasarkan grafik pada gambar 2.28 λ sampai 0. dilakukan pengujian variasi parameter kisi untuk mengetahui pengaruh parameter tersebut terhadap karakteristik bandgap fotonik. Selanjutnya.33 λ sampai 0.23 λ yang berada pada rentang 0.4 0. nilai PBG sekitar a a a a 0.45 Modus/Konstanta dielektrik latar kisi segi empat modus TE modus TM 8 11 14 8 11 14 SM SM SM SM SM SM SD SD SD . Sedangkan di titik M yang r ˆ bersesuaian dengan nilai k // = π i .1 dan tabel 2. Hasil pengujian untuk beberapa parameter kisi yang berbeda disajikan pada tabel 2.16 dan gambar 2. Tabel 2.2.17. Pada titik X. R (a) 0.56 λ . nilai PBG sekitar 0.

SD lebar bandgap fotoniknya antara 5% sampai dengan 10%.4 0.2 0. dan LB untuk lebar bandgap fotonik .2 0.Laser Kristal Fotonik 85 R (a) 0.3 0. Karakteristik bandgap kristal fotonik 2D berbentuk silinder dielektrik R (a) 0.2.45 R (a) 0.3 0.3 0.45 Modus/Konstanta dielektrik latar kisi segi enam modus TE modus TM 8 11 14 8 11 14 SD SD SD LB LB LB SM SM SM LB LB LB SM SD SD Tabel 2.4 0.2 0.45 8 8 Modus/Konstanta dielektrik silinder kisi segi empat modus TE modus TM 11 14 8 11 14 LB LB LB SD SD SD SM SM SM Modus/Konstanta dielektrik silinder kisi segi enam modus TE modus TM 11 14 8 11 14 LB LB LB SM SM SD SD SD SM SM SM SM SM - Simbol SM mengandung arti lebar bandgap fotonik kurang dari 5%.4 0.

86 Sahrul Hidayat lebih dari 10%. Berdasarkan hasil perhitungan pada tabel 2. bandgap yang lebar terjadi pada kisi segi empat ataupun segi enam dengan modus TM. Bandgap tersebut terjadi pada kisi segi enam dengan konstanta dielektrik latar lebih besar dari 11 dan jari-jari rongga 0. Seperti diungkapkan dalam pembahasan sebelumnya bahwa kristal fotonik 2D dapat diaplikasikan sebagai resonator optik dalam divais laser.45a. Prinsip dasar yang digunakan bisa dengan sistem umpan balik terdistribusi atau dengan menambahkan cacat yang berfungsi .2 dapat diketahui bahwa untuk kristal fotonik berbentuk silinder dielektrik. Bandgap sama sekali tidak muncul pada struktur kisi segi empat dengan modus TE. berdasarkan tabel tersebut dapat diketahui juga adanya bandgap komplit (terjadi pada modus TE dan TM) dengan lebar sedang. Lebar bandgap tersebut tampak mengalami penurunan seiring dengan bertambah panjangnya jari-jari rongga silinder. Selain itu.1 dapat diketahui bahwa untuk kristal fotonik berbentuk rongga silinder. bandgap yang lebar hanya ditemukan pada struktur kisi segi enam dengan modus TE. Sedangkan berdasarkan tabel 2.

Sistem umpan balik terdistribusi kisi 2D. Gambar 2.Laser Kristal Fotonik 87 melokalisasi modus propagasi. . secara fisis daerah cacat tersebut berfungsi sebagai kavitas optik. secara prinsip sama dengan sistem UBT kisi Bragg yang telah dibahas pada subbab sebelumnya. Penguatan berkas laser dilakukan pada daerah frekuensi tepi pita (band edge) yang merupakan daerah tempat terkonsentrasinya modus propagasi. kristal Contoh fotonik divais 2D laser yang sistem menggunakan dengan penambahan cacat diperlihatkan pada gambar 2. Kavitas optik akan berfungsi menyeleksi frekuensi modus terpandu dan memperkuat intensitas berkas tersebut sebelum keluar sebagai berkas laser.18 untuk sistem cacat tunggal dan gambar 2. Kavitas optik berbasis kristal fotonik 2D dengan cacat tunggal.18. Untuk divais laser yang menggunakan prinsip penambahan cacat.19 untuk sistem cacat banyak.

19.88 Sahrul Hidayat Gambar 2. . Kavitas optik berbasis kristal fotonik 2D dengan cacat banyak (multi defect).

Pada gambar 3.BAB III POLIMER HIBRID Polimer hibrid merupakan bahan yang mengandung unsur organik dan anorganik dalam satu molekul. Sebaliknya. Namun. Komponen pembentuk polimer hibrid umumnya terbentuk dari tiga jenis bahan yang . bahan tersebut memiliki kelemahan dalam hal kekuatan mekanik dan kestabilan termal. Bahan organik memiliki keunggulan dalam proses fabrikasinya karena dapat dilakukan pada suhu ruang dengan menggunakan teknologi yang tidak terlalu mahal.1 tampak skematik komponen pembentuk polimer hibrid. Bahan ini diharapkan memiliki kombinasi sifat unggul dari bahan organik dan anorganik. bahan anorganik memiliki kelebihan dalam kekuatan termal dan mekanik tetapi proses fabrikasinya cukup sulit dan mahal.

yaitu silikon.90 Sahrul Hidayat sudah banyak dimanfaatkan dalam beragam aplikasi. dan mudah dalam proses fabrikasinya. dari mulai peralatan rumah tangga sampai peralatan teknologi canggih. Selain itu. Aplikasi polimer organik sangat luas. Silikon banyak dipakai di dalam bidang medis. nya itu karena tahan terhadap suhu tinggi. dan keramik. polimer organik. Skematik komponen pembentuk polimer hibrid. Polimer organik memiliki sifat kuat atau tidak mudah patah. resistan terhadap senyawa kimia atau oksidan. on. dan stabil terhadap suhu tinggi. Gambar 3. Selain itu polimer organik memiliki peranan penting dalam teknologi d . Silikon memiliki sifat elastik. silikon banyak juga diaplikasikan sebagai bahan perekat dan gasket pada peralatan yang bekerja pada suhu tinggi. khususnya dalam teknologi bedah plastik.1. sangat s fungsional untuk berbagai jenis aplikasi teknologi.

Aplikasi tersebut bergantung pada modifikasi sifat dan struktur yang dilakukan. Polimer hibrid merupakan gabungan dari ketiga komponen tadi. Polimer hibrid memiliki aplikasi yang menarik.Polimer Hibrid 91 pengemasan khususnya untuk pengemasan berbagai peralatan elektronik. Keramik banyak diaplikasikan untuk peralatan rumah tangga khususnya tempat-tempat makanan. Keramik memiliki sifat yang kuat. Telah dilaporkan bahwa polimer hibrid dapat dimodifikasi dengan senyawa zirconium propoxide sehingga menjadi bahan yang memiliki nilai indeks bias yang cukup tinggi dan dapat diaplikasikan sebagai pandu gelombang. penyekat. Polimer hibrid juga telah dimodifikasi dengan senyawa titanium isopropoxide sehingga dihasilkan bahan yang memiliki absorbansi yang cukup kuat pada daerah ultra violet sehingga dapat diaplikasikan sebagai bahan dasar coating. serta bersifat transparan. kaca jendela. sehingga diharapkan memiliki kombinasi sifat unggul dari komponen penyusunnya. dan banyak lagi aplikasi lainnya. di antaranya melalui penambahan bahan lain yang disebut doping. stabil terhadap pengaruh suhu dan zat kimia. Polimer hibrid dapat juga diaplikasikan sebagai bahan luminesen dengan .

Penelitian tentang bahan luminesen yang didoping dengan bahan dye laser berupa perylene orange. Divais yang berbasiskan polimer hibrid dapat diproduksi dengan harga murah karena proses pembuatannya tidak membutuhkan teknologi vakum yang mahal. Polimer anorganik-organik terdiri dari bagian anorganik pada rantai utama dan bagian organik pada rantai cabang. Jenis polimer hibrid yang dikaji dalam penelitian ini adalah yang berbasis siloksan. resistansi kimia. Rantai . divais yang dibuat dari polimer hibrid dapat diharapkan tahan lama karena pada matriks polimer hibrid yang dipakai terdapat rantai anorganik sehingga memiliki stabilitas termal. Rhodamin 6G telah diteliti dengan menggunakan PMMA sebagai matriks dan menghasilkan emisi cahaya berupa laser dengan panjang gelombamg di sekitar 580 nm. sedangkan polimer organikanorganik sebaliknya. Polimer hibrid dapat berbentuk anorganik-organik atau organik-anorganik. Selain itu. melainkan dengan teknik spincasting yang murah. dan ketahanan terhadap cuaca yang lebih baik. unsur tanah jarang atau logam kompleks.92 Sahrul Hidayat menambahkan kromofor seperti dye laser.

Gambar 3.2. Selanjutnya untuk pembuatan divais dapat dilakukan dengan teknik sederhana seperti spin coating. atau spraying. polimer hibrid diperoleh pol dengan cara sintesis dari methacrylate monomer 3- (Trimethoxysilyl)propyl (TMSPMA). Struktur kimia molekul TMSPMA. Dalam penelitian yang dilakukan. sedangkan rantai cabang mengandung gugus metakrilat. gug Kehadiran gugus metakrilat akan memengaruhi sifat diran mem kelarutan polimer hibrid menjadi lebih mudah melarut h dalam pelarut organik. dip coating. Hal tersebut sangat menguntungkan karena teknik pemrosesannya dapat dilakukan secara kimia melalui proses pelarutan. Struktur kimia molekul TMSPMA ditampilkan pada gambar 3.Polimer Hibrid 93 utama terdiri dari perulangan Si (silikon) dan O (oksigen).2. TMSPMA .

Gambar 3. .3. reaksi kimia hibrid. Hasil proses tersebut merupakan prekursor polimer hibrid Secara skematik.94 Sahrul Hidayat Proses Sintesis Polimer Hibrid Proses sintesis polimer hibrid terdiri dari dua ses tahapan proses yaitu polimerisasi bagian anorganik dan dilanjutkan dengan polimerisasi bagian organik. Proses polimerisasi bagian anorganik dilakukan dengan teknik sol-gel sedangkan polimerisasi bagian organik dilakukan gel dengan teknik foto polimerisasi.3. selama proses sol sol-gel dan proses foto polimerisasi diperlihatkan pada gambar 3. Teknik sol-gel merupakan gan sol proses pembentukan suspensi koloid (sol) dan pembentukan rantai anorganik yang disertai perubahan fasa menjadi gel. Skematik reaksi kimia pada proses sol-gel sol dan foto polimerisasi.

foto inisiator yang digunakan adalah IRGACURE-819 dan IRGACURE-369. Proses tersebut akan memutus ikatan rangkap C=C sehingga gugus metakrilat menjadi reaktif dan akan bereaksi dengan gugus metakrilat yang lain. Dengan bantuan energi cahaya. Proses foto polimerisasi tersebut sangat dipengaruhi oleh konsentrasi inisiator. intensitas cahaya. Proses pembentukan radikal pada inisiator berlangsung dengan bantuan energi cahaya (hν). . dan waktu penyinaran. seperti diperlihatkan pada gambar 3. Proses perpanjangan rantai polimer (propagasi) akan terus berlangsung sampai terjadi terminasi yaitu saat bertemu dengan gugus radikal yang lain.Polimer Hibrid 95 Proses foto polimerisasi berkaitan dengan pembentukan polimer organik pada rantai bagian cabang. Di dalam penelitian ini.4. inisiator akan berubah menjadi radikal dan menyerang gugus metakrilat. Proses foto polimerisasi diawali dengan pembentukan gugus radikal yang dipicu oleh inisiator.

Monomer TMSPMA dilarutkan di dalam etanol dan diaduk menggunakan magnetic stirrer pada suhu ruang selama satu jam.a. Merck). Bahan-bahan lain yang digunakan Bahan dalam eksperimen ini adalah inisiator IRGACURE 819 IRGAC (Ciba). Merck). Aldich). dan HCl (p. pelarut toluen (p. etanol (p. Perbandingan volume antara TMSPMA dan etanol adalah 1:4.96 Sahrul Hidayat Gambar 3. Merck).a. chloroform (p. .4.a.a. Merck). dan dye laser DCM (4-dicyanmethylene-2( methyl-6-(p-dimethyl dimethyl-aminostyryl)-4H -Pyran. IRGACURE 369 (Ciba). inisiator Bahan-bahan yang digunakan dalam proses sintesis bahan prekursor polimer hibrid terdiri dari monomer TMSPMA (Aldrich). Proses pembentukan radikal pada inisiator. Proses sintesis prekursor polimer hibrid terdiri dari empat tahapan sebagai berikut: a.

Tahap terakhir adalah purifikasi untuk menghilangkan zat-zat sisa reaksi menggunakan khloroform. Proses selanjutnya adalah mencampurkan larutan prekursor polimer hibrid dengan fotoinisiator Irgacure-819 atau Irgacure-369 (Ciba Speciality Chemical Inc. d. Hasil dari proses ini adalah prekursor polimer hibrid yang berfasa gel dan masih bercampur dengan zat-zat sisa reaksi. Perbandingan volume antara 0. Selanjutnya campuran diaduk menggunakan magnetic stirrer dengan kecepatan sekitar 200 rpm pada suhu 65oC selama satu malam. Reaksi kondensasi dilakukan dengan menambahkan 0. c.Polimer Hibrid 97 b. Air DI (deionized water) ditambahkan sedikit demi sedikit ke dalam larutan monomer sampai perbandingan volume air dan etanol 2:1. Inisiator Irgacure-819 digunakan apabila proses foto polimerisasi dilakukan dengan sumber cahaya lampu UV biasa atau sumber UV dari laser semikonduktor. Tahapan proses ini dinamakan dengan reaksi hidrolisis.1M HCl ke dalam campuran pada tahap (b).1M HCl dengan TMSPMA adalah 1:8.). .

dan . aseton. Konsentrasi dye laser DCM dalam prekursor dibuat dalam beberapa variasi yaitu 0. Khusus untuk aplikasi divais laser. Campuran tersebut selanjutnya diaduk dengan pengaduk magnetik sampai terbentuk larutan yang homogen.45 µm dan selanjutnya dikentalkan.2% berat. Khusus untuk aplikasi divais laser. Proses doping prekursor polimer hibrid dengan dye laser DCM dilakukan dengan melarutkan prekursor dan DCM di dalam khloroform. Sebelum digunakan. aquades. 0. sebelum penambahan inisiator. prekursor polimer hibrid didoping terlebih dahulu dengan dye laser DCM.1% berat.04%. Larutan yang dihasilkan disaring dengan mikrofilter ukuran 0. substrat kaca dibersihkan berturut-turut dengan tepol.98 Sahrul Hidayat Sedangkan inisiator Irgacure-369 digunakan untuk proses foto polimerisasi menggunakan Third Harmonic Generation (THG) laser Nd:YAG yang memiliki panjang gelombang 355 nm. konsentrasi DCM yang digunakan adalah 0. Proses selanjutnya adalah pembuatan film tipis polimer hibrid di atas substrat kaca dengan teknik spincoating.1% dan 0. Proses pencampuran prekursor polimer hibrid dengan inisiator dibantu dengan pelarut khloroform atau toluen.

film tipis yang dihasilkan diproses prebaking pada suhu 50oC selama 10 menit. Selanjutnya dilakukan proses foto polimerisasi di dalam chamber tertutup. Pertama untuk keperluan karakterisasi optik polimer hibrid. substrat dikeringkan di dalam oven dengan suhu 60oC. Penggunaan gas nitrogen dimaksudkan untuk menghindari kontak antara permukaan film tipis dengan oksigen yang dapat mengganggu proses polimerisasi. Pada tahap akhir pembersihan. Proses foto polimerisasi dilakukan di dalam chamber yang dialiri dengan gas nitrogen. Proses post-baking bertujuan untuk mengeringkan dan memperkuat daya rekat polimer hibrid pada substrat. Proses foto polimerisasi dilakukan dengan menggunakan dua sumber cahaya.Polimer Hibrid 99 isopropanol. Semua tahap pembersihan dilakukan di dalam ultrasonic bath. Proses tersebut bertujuan untuk menghilangkan pelarut yang telah digunakan pada saat penambahan inisiator. masing-masing selama kurang lebih 20 menit. Sebelum proses foto polimerisasi. proses foto polimerisasi dilakukan dengan . Langkah terakhir adalah proses post-baking pada 50oC selama 6 jam.

seperti tampak pada gambar 3. Lampu UV ± 25 cm Gas nitrogen Chamber film tipis Gambar 3. Sedangkan untuk grating. proses foto polimerisasi dilakukan dengan sumber laser THG Nd:YAG.100 Sahrul Hidayat menggunakan sumber lampu UV biasa yang berasal dari laser semikonduktor. Pola berkas cahaya dalam proses pembuatan grating dihasilkan dengan metode interferensi Lloyd Mirror.6. selanjutnya dilakukan karakterisasi kinerjanya sebagai divais laser. Setelah proses foto polimerisasi.5. spektrum absorpsi UV-Vis. seperti tampak pada gambar 3. Proses foto polimerisasi dengan sumber laser semikonduktor (λ=417 nm). foto mikro.5. selanjutnya dilakukan karakterisasi yang terdiri dari pengukuran spektrum infra red. Sedangkan untuk proses pembuatan grating. dan spektrum emisi. .

Sedangkan pengukuran spektrum absorpsi dan . Alat-alat yang digunakan Alat dalam proses karakterisasi tersebut adalah sebagai berikut. homogenitas. da emisi bertujuan untuk mengetahui rentang frekuensi absorpsi dan emisi dari bahan. dan menentukan periodisitas grating. ( Pengukuran spektrum infra red bertujuan untuk mengetahui ahui struktur kimia bahan dan mengamati perubahan struktur kimia selama proses foto polimerisasi. Pengukuran foto mikro bertujuan untuk mengetahui profil permukaan.Polimer Hibrid 101 Gambar 3.6. Proses foto polimerisasi dengan sumber cahaya laser Nd:YAG (λ=355nm). .

. Merek Shimadzu. Atomic force microscopy. nano-hybrid Gambar 3. Spektrofotometer fourier transform infra red.9. Gambar 3. Merek Keyence.102 Sahrul Hidayat Gambar 3. Merek Bruker tipe Tensor 27. tipe UV-Vis-Near 3150. Spektrofotometer absorpsi UV-Vis.8.7.

sedangkan penambahan katalis H+ memicu munculnya radikal pada gugus SiO yang diikuti dengan perpanjangan rantai.3. energi radiasi telah menyebabkan terbentuknya radikal pada gugus inisiator. Penambahan H2O menyebabkan terjadinya reaksi hidrolisis. Merek Hitachi tipe F 4500. antargugus anorganik terjadi reaksi berantai membentuk rangkaian gugus silikat yang berulang (polimer). Selama proses sol-gel.10. . Pada proses foto polimerisasi. proses sol-gel terdiri dari reaksi hidrolisis dan kondensasi yang melibatkan bagian anorganik dari monomer TMSPMA.Polimer Hibrid 103 Gambar 3. Karakteristik Polimer Hibrid Polimer hibrid dihasilkan dengan cara sintesis dari monomer TMSPMA dengan metode sol-gel. Secara kimia. Spektrofotometer emisi. Pada gambar 3. tampak reaksi kimia proses sol-gel berjalan dengan penambahan H2O dan katalis H+.

Tampak sebelum proses foto polimerisasi. Hasil pengukuran spektroskopi IR selama foto polimerisasi terjadi ditampilkan pada gambar 3. Hal tersebut mengindikasikan telah terjadi pengurangan ikatan rangkap C=C.5 menit. Setelah 15 menit proses foto polimerisasi. Reaksi foto polimerisasi ditandai juga dengan perubahan warna film dari buram menjadi bening seperti kaca. absorpsi pada 1638 cm-1 mengalami penurunan yang cukup tajam.104 Sahrul Hidayat Gugus radikal tersebut menyerang ikatan lemah C=C sehingga memicu terjadinya reaksi berantai dengan ikatan C=C pada gugus lainnya.11 tampak penurunan intensitas absorpsi IR pada daerah 1638 cm-1. Setelah proses foto polimerisasi selama 4. Pada gambar 3. tampak penurunan puncak absorpsi tidak terlalu tajam. Reaksi tersebut menghasilkan jaringan ikatan gugus organik yang diikuti dengan perubahan fasa dari gel menjadi padat. absorpsi pada 1638 cm-1 sangat tinggi. Perubahan struktur kimia selama reaksi foto polimerisasi diamati secara in-situ dengan pengukuran spektroskopi IR.11. yang mengindikasikan perubahan ikatan C=C setelah foto . ini mengindikasikan jumlah ikatan rangkap C=C dalam molekul tersebut masih banyak.

Pada gambar tersebut tampak munculnya puncak absorpsi pada 1112 cm-1 dan 779 cm-1 yang mengindikasikan keberadaan gugus –Si–O– .5 menit berlangsung lambat.Polimer Hibrid 105 polimerisasi 4.11. Gambar 3. Perubahan ikatan C=C menjadi C−C tersebut mengindikasikan terjadinya reaksi polimerisasi pada gugus organik seperti diperlihatkan pada gambar 3. Hasil pengukuran spektroskopi FTIR untuk rentang frekuensi yang lebih lebar diperlihatkan pada gambar 3. Selama proses foto polimerisasi ikatan rangkap C=C berubah menjadi ikatan tunggal C−C.3. Spektrum FTIR hasil pengukuran secara insitu selama proses foto polimerisasi.12. Pengukuran dilakukan untuk polimer hibrid sebelum dan sesudah proses foto polimerisasi.

Kandungan gugus organik C=C terlihat pada 1635 cm . Pada spektrum tersebut terlihat puncak-puncak vibrasi pada bilangan gelombang 3465 cm-1 yang menggambarkan kandungan gugus O–H. Spektrum FTIR untuk prekursor polimer hibrid dan polimer hibrid.u] Prekursor Polimer 120 100 80 60 40 4000 3500 3000 2500 2000 -1 1500 1000 500 k [cm ] Gambar 3. 180 160 140 T [a. -1 -1 Vibrasi pada bilangan gelombang 1714 cm menunjukkan adanya gugus C=O. Gugus tersebut berasal dari rantai anorganik polimer hibrid. Hasil pengukuran foto mikro untuk film polimer .106 Sahrul Hidayat Si– simetrik dan asimetrik.12. Adanya ikatan anorganik –Si–O–Si– menunjukkan bahwa proses sol-gel telah berhasil membentuk rantai polimer pada gugus anorganik. Vibrasi pada bilangan gelombang 2954 cm-1 dan 2889 cm-1 berkaitan dengan gugus C–H.

Profil permukaan film polimer hibrid yang didoping dengan DCM. Gambar 3. Pada gambar 3. Gambar 3.Polimer Hibrid 107 hibrid yang tidak didoping dan yang didoping dengan DCM diperlihatkan pada gambar 3.14.14. Dengan skala pembesaran yang sama. Profil permukaan film polimer hibrid.13 dan 3. permukaan polimer hibrid yang didoping dengan DCM tampak lebih halus dibandingkan dengan yang tanpa doping. Hal tersebut diduga gugus DCM telah mengisi rongga-rongga .14 tampak foto permukaan dari film polimer hibrid yang tanpa dan dengan didoping DCM.13.13 dan gambar 3.

Hasil ini mengindikasikan bahwa dye laser DCM dapat bercampur secara homogen dengan polimer hibrid. Puncak absorpsi muncul pada panjang gelombang 470 nm baik untuk pengukuran sebelum ataupun sesudah proses foto polimerisasi. Selain itu. Rentang panjang gelombang tersebut bersesuaian dengan emisi cahaya biru sampai dengan hijau. Berdasarkan kurva tersebut. spektrum absorpsi tersebut memberikan informasi mengenai panjang gelombang pemompa yang harus digunakan apabila akan diaplikasikan sebagai divais laser. sumber pemompa yang dapat digunakan berada pada rentang panjang gelombang 400 sampai dengan 550 nm.15. Hal tersebut mengakibatkan sebaran molekul-molekul pada proses pembuatan film menjadi lebih merata. . Hasil pengukuran spektroskopi absorpsi UV-Vis diperlihatkan pada gambar 3. Hal tersebut ditandai dengan besarnya intensitas absorpsi sesudah proses foto polimerisasi.108 Sahrul Hidayat mikroskopik pada polimer hibrid. Efektivitas penyerapan energi foton terlihat lebih baik ketika sudah menjadi polimer hibrid dibandingkan dalam kondisi prekursornya.

sedangkan sebelum foto polimerisasi warna yang diemisikan cenderung kemerahan.Polimer Hibrid 109 Gambar 3.16 memperlihatkan spektrum emisi dari polimer hibrid yang didoping dengan DCM. . fenomena ini disebabkan oleh adanya perbedaan bandgap optik pada film sebelum dan sesudah foto polimerisasi. Hal tersebut menunjukkan adanya pergeseran frekuensi emisi ke arah yang lebih tinggi. Puncak panjang gelombang emisi untuk kondisi sebelum proses foto polimerisasi adalah 580 nm dan sesudah foto polimerisasi adalah 565 nm.15. Gambar 3. Secara fisis. Spektrum absorpsi UV-Vis polimer hibrid sebelum dan sesudah proses foto polimerisasi. Untuk kondisi sesudah foto polimerisasi warna yang diemisikan adalah oranye.

110 Sahrul Hidayat Gambar 3.16. gugus organik pada rantai polimer banyak mengandung ikatan rangkap C=C. Berdasarkan spektrum IR. . Menurut teori kuantum. Spektrum emisi film polimer hibrid yang didoping dengan DCM. Fenomena tersebut dapat diamati dari warna yang diemisikan akan berubah dari kemerahan menjadi oranye. dapat diketahui bahwa sebelum foto polimerisasi. bandgap optik untuk gugus yang mengandung C=C akan lebih sempit dibandingkan dengan yang mengandung C−C. ikatan C=C berkurang dan berubah menjadi C−C. Sedangkan pada kondisi sesudah foto polimerisasi. Jika lebar bandgap optiknya lebih sempit maka panjang gelombang yang diemisikan akan bergeser ke arah yang lebih besar.

BAB IV LASER POLIMER HIBRID BERBASIS KISI 1D

Kristal fotonik memiliki karakteristik yang sangat menarik untuk aplikasi sebagai divais laser. Kristal fotonik dapat berfungsi sebagai cermin yang memiliki efisiensi refleksi tinggi dan dapat menyeleksi panjang gelombang tertentu dengan prinsip bandgap. Salah satu jenis kristal fotonik yang dapat diaplikasikan sebagai divais laser adalah kristal fotonik satu dimensi (1D) dalam bentuk kisi dengan prinsip umpan balik terdistribusi (UBT). Sebagaimana telah dijelaskan dalam bab

sebelumnya, bahwa difraksi oleh media yang periodik dapat memodifikasi sifat propagasi cahaya. Berkas gelombang yang masuk ke dalam struktur kisi akan mengalami difraksi. Masing-masing modus difraksi akan mengalami modulasi secara periodik dan akan terpandu

112 Sahrul Hidayat

sepanjang lapisan. Keunikan dari sistem kisi ini adalah, hanya berkas gelombang yang memiliki panjang

gelombang tertentu saja yang akan mengalami pemantulan dan terpandu sepanjang lapisan. Berkas gelombang tersebut adalah yang memenuhi kondisi Bragg, yang secara matematis diungkapkan dengan hubungan seperti pada persamaan (4.1). mλ 2n Λ (4.1)

dengan m adalah modus perambatan gelombang, λ adalah panjang gelombang Bragg, nef adalah indeks bias efektif bahan, dan Λ adalah periode kisi. Jika suatu bahan aktif ditambahkan ke dalam sistem kisi Bragg, maka akan dihasilkan divais pandu gelombang dengan sistem umpan balik terdistribusi (UBT). Sistem UBT memiliki pita terlarang di sekitar panjang gelombang Bragg di mana cahaya tidak bisa berpropagasi di dalam media tersebut. Pada tepi pita terlarang, cahaya dapat berpropagasi dan mengalami umpan balik sehingga terjadi penguatan daya. Proses Fabrikasi Divais Laser Berbasis Kisi 1D Fabrikasi divais laser berbasis UBT terdiri dari beberapa tahapan proses. Tahapan pertama adalah

Laser Polimer Hibrid Berbasis Kisi 1D 113

persiapan bahan yaitu sintesis polimer hibrid yang telah dijelaskan sebelumnya pada bab 3. Tahapan selanjutnya berturut-turut adalah persiapan substrat, pembuatan

lapisan tipis, dan pembuatan kisi Bragg. Tahapan persiapan substrat dan pembuatan lapisan tipis juga telah dibahas pada bab 3, yaitu tahapan sebelum dilakukan karakterisasi. Secara prinsip, persiapan substrat dan pembuatan lapisan tipis untuk divais laser adalah sama dengan untuk keperluan karakterisasi. Oleh sebab itu, yang akan menjadi fokus bahasan selanjutnya pada bab ini adalah teknik pembuatan kisi Bragg untuk divais laser. Sebagaimana telah diuraikan pada bab sebelumnya, prekursor polimer hibrid yang telah ditambah inisiator memiliki sensitivitas terhadap cahaya UV. Dengan proses foto polimerisasi, prekursor polimer hibrid akan berubah menjadi polimer hibrid dan fasanya berubah dari gel menjadi padat. Dengan prinsip tersebut, jika proses foto polimerisasi berlangsung dengan berkas cahaya UV yang terpola, maka perubahan polimer hibrid pun akan mengikuti pola cahaya tersebut. Dengan kata lain, bagian yang terpolimerisasi atau yang berubah menjadi fasa padat hanya bagian yang terkena cahaya saja.

dan θ adalah sudut antara berkas datang dengan bidang cermin. Daya maksimum laser tersebut sekitar 1 watt dan dapat diset sesuai dengan kebutuhan.6. Jarak antara garis terang yang satu dengan garis terang yang di sebelahnya sesuai dengan hukum interferensi cahaya yang secara matematis diungkapkan seperti pada persamaan (4. Untuk mendapatkan kisi dengan kualitas bagus harus dilakukan optimasi daya dan lama . λc adalah panjang gelombang laser. dapat dilakukan dengan cara membuat pola cahaya berbentuk kisi di atas lapisan prekursor polimer hibrid.2). Berkas laser melewati pelebar berkas sehingga diameternya membesar dan dalam eksperimen ini diameter laser diset sekitar 1 cm. seperti tampak pada gambar 3.114 Sahrul Hidayat Untuk proses pembuatan kisi. Dalam bahasan di sini. Di dalam metode Lloyd Mirror sampel ditempatkan tegak lurus terhadap cermin. Sumber laser yang digunakan adalah Nd:YAG dengan panjang gelombang 355 nm. teknik pembuatan pola cahaya dilakukan dengan metode interferensi Lloyd Mirror. Interferensi akan terjadi pada sampel dan membentuk pola cahaya gelap terang secara teratur.2) Di mana Λ adalah periode kisi. Λ (4.

Laser Polimer Hibrid Berbasis Kisi 1D 115 penyinaran.1 dan gambar 4. Hasil pengukuran AFM untuk sampel tersebut diperlihatkan pada gambar 4. Sebagai contoh. Dengan pengukuran AFM dapat diketahui profil permukaan kisi dan sekaligus periodisitas kisinya dapat dihitung. telah dilakukan fabrikasi kisi 1D dengan sudut θ=10o. Gambar 4. Waktu penyinaran mengatur waktu bukaan shutter. . power laser diset 320 watt dan waktu penyinaran 1 detik.2.1. Gambar AFM untuk sampel yang dibuat dengan sudut θ=10°. dapat diset dengan Untuk mengecek kualitas kisi yang telah dibuat dilakukan pengukuran AFM (atomic force microscopy).

Gambar 4. Gambar yang besar merupakan foto grating dengan sudut penglihatan tegak lurus terhadap permukaan film. tampak bahwa film polimer hibrid yang dicampur dengan bahan dye laser dapat terfoto-polimerisasi mengikuti pola berkas cahaya yang mengenainya.5 cm2. Proses etching akan .1 tampak pola kisi 1D dengan kualitas permukaan halus.116 Sahrul Hidayat Pada gambar 4.2. Lebar gambar yang diambil sekitar 50x50 µm2 dari total lebar sampel film sekitar 0. Untuk menghilangkan bagian yang tidak terpolimerisasi. Periode grating yang terukur dari foto AFM tersebut adalah 1064 nm. dilakukan proses etching menggunakan khloroform. Hasil pengukuran kedalaman dan periode grating dengan software AFM-analyser. Berdasarkan sampel foto permukaan tersebut.

Hasil akhir yang didapatkan adalah film yang permukaan terpola dengan fasa padat seperti terlihat pada gambar 4. Gambar 4. yaitu sekitar 1064 nm. Gambar 4.3 Spektrum absorpsi dan emisi film polimer hibrid yang dicampur DCM . Selain itu.2 memperlihatkan hasil analisis dari foto AFM menggunakan software VN-analyser. Analisis tersebut bertujuan untuk mengetahui profil 3 dimensi dari permukaan film. berdasarkan analisis ini dapat diketahui juga periode kisi.1.Laser Polimer Hibrid Berbasis Kisi 1D 117 melarutkan sisa-sisa prekursor polimer hibrid yang berfasa gel dari permukaan film. Berdasarkan gambar tersebut dapat diketahui bahwa pada permukaan film terbentuk kisi yang berpola sinusioda dengan kedalaman sekitar 115 nm.

Dalam hal ini. Di dalam eksperimen ini. Panjang gelombang absorpsi memberikan informasi mengenai daerah frekuensi pemompa efektif apabila diaplikasikan sebagai berkas laser. maka perhitungan daya yang diserap oleh bahan sulit dilakukan karena daerah frekuensinya lebar. Sumber cahaya tersebut digunakan dengan alasan memiliki kemudahan dalam perhitungan daya pemompa yang terserap oleh bahan. Berdasarkan gambar tersebut tampak bahwa panjang gelombang absorpsi berada pada rentang ∼420 nm sampai dengan ∼530 nm dan panjang gelombang emisi berada pada rentang ∼530 nm sampai dengan ∼660 nm. Jika demikian.3 memperlihatkan hasil pengukuran spektrum absorpsi dan emisi film polimer hibrid yang mengandung DCM. Rentang panjang gelombang emisi diperlukan untuk menghitung periodisitas kisi yang harus dibuat di dalam divais laser. panjang gelombang Bragg harus berada pada daerah emisi bahan. maka rentang panjang gelombang Bragg adalah 530 nm .118 Sahrul Hidayat Gambar 4. Jika yang digunakan untuk proses pemompaan bukan berkas laser. berkas pemompa yang digunakan adalah laser SHG (second harmonic generation) Nd:YAG dengan panjang gelombang 532 nm.

51.4) dapat diperoleh rentang sudut θ adalah 23° sampai 30°.3) Jika diasumsikan nilai indeks bias adalah 1.4).Laser Polimer Hibrid Berbasis Kisi 1D 119 sampai dengan 660 nm. metode Jika pembuatan kisi interferensi cahaya menggunakan sumber cahaya laser Nd:YAG dengan panjang gelombang 355 nm. dan 27°. Jika nilai indeks bias efektif polimer hibrid diketahui. selanjutnya dilakukan fabrikasi kisi 1D dengan tiga variasi sudut θ. maka dapat dihitung periodisitas kisi yang bersesuaian dengan rentang panjang gelombang Bragg tersebut menggunakan persamaan (4.3). maka dapat dihitung rentang sudut θ menggunakan persamaan (4. Dengan mensubstitusikan rentang periodisitas kisi Λ dan panjang gelombang laser λ ke dalam persamaan (4. 26°. . dapat ditentukan sudut θ sebagai parameter untuk pembuatan kisi dengan rentang dilakukan periodisitas dengan tersebut. Selanjutnya. maka dapat diperoleh periodisitas kisi berada pada rentang 351 nm sampai dengan 437 nm. yaitu 25°.4) Berdasarkan parameter pembuatan kisi yang telah dihitung di atas. mλB 2n Λ (4. Λ (4.

120 Sahrul Hidayat Pemilihan sudut tersebut didasarkan pada intensitas emisi bahan yang besar berada di daerah tengah kurva emisi teng seperti ditunjukkan pada gambar 4.1. Dengan demikian intensitas laser yang diperoleh diharapkan akan tinggi. profil permukaannya tidak semulus permukaan kisi seperti pada gambar 4. Gambar 4.3. power laser sud 320 mWatt. Berdasarkan gambar tersebut dapat diketahui bahwa untuk periode kisi yang lebih kecil.4 Foto permukaan kis yang difabrikasi dengan kisi sudut 26°. Gambar 4.4 memperlihatkan salah satu foto permukaan kisi yang diperoleh dengan pengukuran AFM. Kisi tersebut difabrikasi dengan sudut θ=26°. dan waktu penyinaran ¼ detik. .

Hal tersebut dapat juga disebabkan adanya hamburan oleh permukaan film atau kaca yang akan menyebabkan pola gelapnya kurang tajam.Laser Polimer Hibrid Berbasis Kisi 1D 121 Hal tersebut dapat dipahami karena dalam fabrikasi kisi dengan teknik interferensi. setup optik untuk memfokuskan berkas pemompa. semakin besar sudut θ maka pola gelap terang semakin rapat sehingga daya pisahnya menjadi kurang bagus. pengukuran daya ambang pemompa. filter optik untuk mengatur daya cahaya . untuk menguji kualitas divais laser yang telah dibuat harus meliputi pengujian kedua parameter tersebut. Berdasarkan gambar tersebut dapat diketahui juga periode kisi sekitar 398 nm. Dalam penelitian ini dilakukan karakterisasi divais laser yang meliputi karakteristik emisi laser dan warna yang dipancarkannya. dan perhitungan full wide half maximum (FWHM). Peralatan yang digunakan untuk karakterisasi divais laser terdiri dari sumber cahaya pemompa. Oleh karena itu. Karakteristik Laser Berbasis Kisi 1D Suatu divais laser dikatakan baik apabila memiliki daya pemompa yang rendah dan frekuensinya tunggal atau rentang panjang gelombangnya sempit.

dan detektor optik. Gambar 4. laser .5. Sebagai sumber da cahaya pemompa digunakan laser Nd:YAG dengan panjang gelombang 532 nm.7x0. Setup pengujian karakteristik divais laser diperlihatkan pada 4. Setup optik akan mengubah berkas cahaya pemompa menjadi berkas berbentuk stip dengan luas area 0.5. Setup alat karakterisasi divais laser.15 mm2. Merek Spectra physicsphysics Quanta ray. Untuk mendeteksi berkas cahaya yang dihasilkan oleh divais digunakan photonic multichannel analyser-12 (PMA) merek Hamamatsu.122 Sahrul Hidayat yang diberikan. Alasan digunakannya laser Nd:YAG sebagai sumber pemompa adalah kemudahannya dalam perhitungan daya yang diberikan terh terhadap sampel dan panjang gelombangnya berada pada daerah serapan bahan DCM.

6. (a) .Laser Polimer Hibrid Berbasis Kisi 1D 123 Hasil dari pengukuran ini berupa data intensitas (densitas optik) yang terdeteksi oleh detektor PMA dan selanjutnya diplot menjadi sebuah grafik. Karakteristik emisi masing-masing divais tersebut diperlihatkan pada gambar 4. Pengujian dilakukan terhadap tiga jenis divais yang memiliki periode kisi berbeda. Pengujian pertama adalah menentukan karakteristik emisi dari divais laser. masing-masing 385 nm. dan 411 nm. 398.

124 Sahrul Hidayat (b) (c) Gambar 4.6 Kurva karakteristik emisi laser dengan periode kisi yang berbeda (a) Λ=385 nm (b) Λ=398 nm (c) Λ=411 nm. .

6 dengan mengambil data pada satu nilai daya pemompa. dan divais dengan periode kisi 411 nm emisi laser muncul pada panjang gelombang 622. emisi laser muncul pada panjang gelombang 582 nm.000. divais dengan periode kisi 398 nm emisi lasernya pada panjang gelombang 602 nm.Laser Polimer Hibrid Berbasis Kisi 1D 125 Berdasarkan gambar 4. Pengamatan emisi laser hanya bisa dilakukan sampai densitas optik sekitar 40. yaitu jika lebih dari 40. Untuk divais laser dengan periode kisi 385 nm. maka emisi laser yang dihasilkan bergeser ke arah panjang gelombang yang lebih tinggi.7 menampilkan gabungan dari kurva emisi pada gambar 4. Tampak bahwa semakin besar periodisitas kisi. Hal tersebut disebabkan adanya keterbatasan dari detektor optik yang digunakan. Gambar 4. Tampak semakin besar daya pemompa yang diberikan intensitas laser yang diemisikan juga semakin besar. Tampak perbandingan intensitas emisi laser untuk ketiga jenis divais yang memiliki .000.6 dapat diketahui bahwa ketiga jenis divais mengemisikan berkas laser dengan panjang gelombang emisi yang berbeda yang bergantung pada besarnya periodisitas kisi. sinyal yang ditampilkan akan mengalami saturasi.

cm2. divais dengan periode kisi 411 nm emisi yang dipancarkannya lebih kecil dari divais yang lain. Dengan memberikan daya pemompa 14 mJ/pulse.7 Kurva perbandingan panjang gelombang emisi laser. Gambar 4.8 Foto emisi laser untuk periode kisi yang berbeda (a) Λ=385 nm (b) Λ=398 nm (c) Λ=411 nm. (a) (b) (c) Gambar 4. . Hal tersebut diperkirakan kualitas film kurang baik sehingga proses pemanduan gelombang mengalami banyak kehilangan daya.126 Sahrul Hidayat perioditas kisi berbeda.

8 tampak untuk divais laser dengan periode kisi 385 nm warna yang diemisikan cenderung dekat ke warna kuning dengan panjang gelombang emisi 582 nm.Laser Polimer Hibrid Berbasis Kisi 1D 127 Panjang gelombang laser yang diemisikan berpengaruh pada warna cahaya laser yang dihasilkan. . emisinya berwarna oranye dengan panjang gelombang emisi sekitar 602 nm. Pada gambar 4. Gambar 4. Sedangkan untuk divais laser dengan periode kisi 411 nm warna emisinya merah yang berada pada kisaran panjang gelombang 622 nm.9 Kurva daya ambang untuk divais laser dengan periode kisi 385 nm. Untuk divais laser dengan periode kisi 398 nm.

10 Kurva daya ambang untuk divais laser dengan periode kisi 398 nm. Gambar 4.11 Kurva daya ambang untuk divais laser dengan periode kisi 411 nm Gambar 4.9 sampai dengan gambar 4.11 memperlihatkan hasil pengukuran daya ambang pemompa masing-masing untuk divais laser dengan periode kisi 385 .128 Sahrul Hidayat Gambar 4.

dan kualitas kisi sebagai resonator dalam sistem laser. tampak belum muncul adanya proses lasing. FWHM merupakan lebar titik tengah suatu kurva. dan 411 nm. Besarnya daya ambang dipengaruhi oleh beberapa parameter divais di antaranya adalah jenis bahan dye laser yang digunakan.12 sampai dengan gambar 4. Semakin kecil nilai daya ambang pemompanya.cm2. konsentrasi dye laser di dalam sistem tersebut. Pada daya pemompa di bawah 5 mJ/pulse. Berdasarkan ketiga kurva pada gambar di atas. Bila daya pemompa dinaikkan. yang muncul baru sebatas amplified spontaneous emission (ASE). maka proses lasing mulai muncul. 398 nm. Daya pemompa ini berhubungan dengan daya eksternal yang harus diberikan untuk proses pembangkitan laser. Gambar 4. Nilai tersebut menunjukkan ketajaman kurva. tampak bahwa nilai daya ambang pemompanya hampir sama. yaitu sekitar 6 mJ/pulse.Laser Polimer Hibrid Berbasis Kisi 1D 129 nm. Hal ini menunjukkan bahwa kualitas ketiga divais secara umum hampir sama. kualitas film yang berkaitan dengan proses pemanduan gelombang.13 menunjukkan hasil perhitungan FWHM untuk ketiga jenis divais laser.cm2. yaitu . maka semakin baik pula divais laser tersebut.

Bila dibandingkan dengan laser komersial. Nilai FWHM dalam hal ini berkorelasi dengan ketajaman frekuensi laser. maka divais laser dengan periode kisi 385.130 Sahrul Hidayat semakin rendah nilai FWHM semakin tajam kurva tersebut. Semakin rendah nilai FWHM.12 Kurva FWHM untuk divais laser dengan periode kisi 385 nm. Berdasarkan gambar tersebut lebar frekuensinya sekitar 2 nm. maka nilai tersebut masih terlalu lebar. semakin tajam frekuensi laser yang dihasilkan. Laser komersial umumnya memiliki lebar frekuensi kurang dari 1 nm. Hal ini mengandung arti bahwa berkas laser yang dihasilkannya memiliki rentang frekuensi yang sempit atau lebih koheren. menunjukkan penurunan FWHM yang lebih cepat. . Gambar 4. Jika dibandingkan dari ketiga gambar tersebut.

Seperti telah diuraikan pada bab 3.Laser Polimer Hibrid Berbasis Kisi 1D 131 Gambar 4.14 Kurva FWHM untuk divais laser dengan periode kisi 411 nm. Gambar 4. rantai . Sebelum proses foto polimerisasi.13 Kurva FWHM untuk divais laser dengan periode kisi 398 nm. bahwa pada proses foto polimerisasi terjadi perubahan pada bagian rantai organik.

bagian rantai organik membentuk polimer dan fasanya berubah menjadi padat. divais yang telah difoto polimerisasi akan memiliki indeks bias yang berbeda dengan bagian yang belum terfoto polimerisasi. Pada gambar tersebut terlihat bahwa intensitas laser tidak begitu tinggi. profil indeks bias sudah terbentuk pada permukaan film. maka dilakukan karakterisasi laser sebelum proses etching. sisa prekursor polimer hibrid akan terbuang bersama pelarutnya. Gambar 4. berkas ASE mengalami kenaikan cukup tinggi. Dengan demikian kontras indeks bias pada kisi cukup tinggi . Berbeda halnya dengan divais yang sudah melalui proses etching. Pada saat daya pemompa dinaikkan.132 Sahrul Hidayat organiknya belum membentuk polimer dan fasanya masih dalam bentuk gel. Secara fisis. Oleh karena itu. Untuk menguji hal tersebut. walaupun tanpa proses etching. sementara berkas lasernya tidak mengalami kenaikan yang besar. Sedangkan setelah foto polimerisasi.15 memperlihatkan kurva karakteristik emisi divais laser sebelum proses etching. Hal tersebut disebabkan oleh rendahnya kontras indeks bias pada kisi. sehingga proses refleksi dan pemanduan berkas emisi tidak berlangsung sempurna.

7. puncak panjang gelombang laser muncul pada 582 nm. Untuk divais laser dengan periode kisi 378 nm. .2% masing-masing untuk periode kisi 378 nm dan 400 nm.Laser Polimer Hibrid Berbasis Kisi 1D 133 karena berlangsung antara polimer hibrid dengan udara. Pada gambar 4. Untuk divais yang sama. dalam penelitian ini dilakukan pengujian pengaruh konsentrasi DCM terhadap karakteristik laser.15 Karakteristik emisi sebelum proses etching. karakteristik laser setelah proses etching dapat dilihat pada gambar 4.17 tampak karakteristik emisi divais laser dengan konsentrasi DCM 0. Selain menguji pengaruh proses etching.16 dan gambar 4. Gambar 4.

134 Sahrul Hidayat sedangkan untuk divais dengan periode kisi 400 nm.cm2 menjadi sekitar 1. Berdasarkan gambar tersebut. tampak mulai daya pemompa 1.2%.181 mJ/pulse.2% tidak dapat dilakukan karena batas kelarutan DCM di dalam pilimer hibrid terbatas. . Jika pengamatan emisi laser ingin dilakukan dalam rentang daya yang lebih tinggi. pengujian karakteristik emisi tidak dapat dilakukan untuk rentang daya pemompa yang lebih tinggi. puncak panjang gelombang laser muncul pada 606 nm. Peningkatan konsentrasi DCM lebih dari 0.000 atau mendekati saturasi. Berdasarkan kedua gambar tersebut dapat dilihat bahwa peningkatan konsentrasi DCM menjadi 0.cm2. maka dapat digunakan filter untuk membatasi intensitas cahaya yang masuk ke dalam detektor.5 mJ/pulse.2%. dapat menurunkan daya ambang pemompa dari 6 mJ/pulse.cm2. intensitas emisi sudah mendekati nilai 40. Untuk divais laser dengan konsentrasi DCM 0.

2 %.2 %.16 Kurva emisi divais laser dengan periode kisi 378 nm dan konsentrasi DCM 0.Laser Polimer Hibrid Berbasis Kisi 1D 135 Gambar 4. Gambar 4.17 Kurva emisi divais laser dengan periode kisi 400 nm dan konsentrasi DCM 0. .

136 Sahrul Hidayat .

peningkatan daya dari emisi terstimulasi dapat dilakukan di daerah tepi pita fotonik yang merupakan daerah tempat modus propagasi terkonsentrasi. . sehingga terjadi konsentrasi modus di daerah eigen. Pada daerah tersebut kecepatan group gelombang menurun. Faktor penguatan amplitudo berbanding terbalik dengan kecepatan group. Semakin kecil kecepatan group gelombang maka faktor penguatan akan semakin besar. Oleh karena itu. Tepat pada pita eigen kecepatan group sama dengan nol. Sifat optik seperti di atas dapat dimanfaatkan untuk penguatan amplitudo berkas gelombang di dalam kristal fotonik.BAB V LASER POLIMER HIBRID BERBASIS KRISTAL FOTONIK 2D Karakteristik perambatan gelombang di dalam kristal fotonik mengalami perubahan kecepatan group di sekitar modus eigen.

25a. Struktur bandgap kristal fotonik 2D menggunakan bahan polimer hibrid dengan susunan kisi segi empat diperlihatkan pada gambar 5. maka dapat disimulasikan struktur pita kristal fotonik tersebut. Pada bab kelima ini. Fotonik kristal 2D dibuat dari bahan polimer hibrid yang memiliki indeks bias sekitar 1.138 Sahrul Hidayat Pada bab ketiga telah dijelaskan metode perhitungan untuk mendapatkan kurva hubungan dispersi atau struktur bandgap kristal fotonik 2D. Di dalam bab tersebut telah dijelaskan bagaimana cara menentukan struktur pita kristal fotonik 2D untuk susunan kisi segi empat dan segi enam.1. Jika jari-jari silinder di dalam kristal fotonik 2D adalah 0. .51. Metode perhitungan yang digunakan adalah metode ekspansi gelombang bidang. akan dijelaskan pemanfaatan kristal fotonik 2D tersebut untuk diaplikasikan sebagai resonator di dalam divais laser.

2. Pada daerah pertemuan pita tersebut konsentrasi modus propagasi sangat tinggi. Untuk lebih menyederhanakan analisis. dapat diambil kurva hubungan dispersi untuk modus TM saja di mana terdapat pertemuan modus eigen untuk pita kedua dan ketiga.1 tampak ada pertemuan beberapa pita fotonik di daerah titik M dalam zona Brillouin. . seperti ditunjukkan pada gambar 5. sementara di daerah sekitarnya merupakan gap yang tidak ada modus propagasi.Laser Polimer Hibrid Berbasis Kristal Fotonik 2D 139 Gambar 5. Struktur bandgap kristal fotonik 2D dengan bahan polimer hibrid dan susunan kisi segi empat. Pada gambar 5.1.

. Di dalam kristal fotonik.2 hubungan dispersi kristal fotonik 2D dengan susunan kisi segi empat untuk modus TM. maka berkas gelombang yang beresonansi akan mengalami penguatan intensitas pada frekuensi modus perambatannya. Dengan demikian sistem tersebut dapat menghasilkan berkas laser dengan frekuensi yang tajam.140 Sahrul Hidayat Gambar 5. Jika ke dalam kristal fotonik tersebut ditambahkan bahan penguat berkas (dye laser). Pada gambar 5. gelombang yang merambat pada daerah konsentrasi modus tersebut akan mengalami pemantulan dan beresonansi di sekitar daerah itu.2. Struktur bandgap kristal fotonik 2D dengan susunan kisi segi empat untuk modus TM.

Nilai tepi pita eigen seperti yang ditunjukkan pada gambar 5. periode kisinya harus berada pada rentang daerah tersebut. Jika data emisi tersebut disubstitusikan ke dalam persamaan tepi pita eigen (a/λ=0.25a. maka akan didapat rentang periode kisi kristal fotonik 2D yang sesuai dengan daerah emisi bahan laser. Jika digunakan nilai indeks bias efektif 1.663. Jika dihitung.Laser Polimer Hibrid Berbasis Kristal Fotonik 2D 141 Pada daerah yang diberi tanda melingkar merupakan pertemuan dua pita eigen yang konsentrasi modus propagasinya sangat besar dibanding daerah lainnya. dapat diketahui bahwa rentang panjang gelombang emisi polimer hibrid yang didoping dengan DCM adalah 530 nm sampai 660 nm. Nilai tersebut menunjukkan nilai frekuensi eigen dalam a/λ. maka dapat disimulasikan struktur bandgap kristal fotonik 2D . Dengan demikian fabrikasi divais laser yang berbasis kristal fotonik 2D dari bahan polimer hibrid yang didoping dengan DCM.2 adalah 0.3.5 dan jari-jari silinder 0. Struktur bandgap kristal fotonik 2D untuk kisi segi enam dapat dihitung dengan cara yang sama seperti pada perhitungan untuk kisi segi empat.663). Berdasarkan gambar 4. maka akan didapat rentang periode kisi antara 351 nm sampai dengan 438 nm.

Struktur bandgap kristal fotonik 2D dengan bahan polimer hibrid dan susunan kisi segi enam. Selain itu terdapat titik pertemuan dua pita eigen tempat modus propagasi terkonsentrasi. Gambar 5. .3.3. yaitu pertemuan antara pita kedua dan ketiga pada modus TM. Berdasarkan gambar tersebut tampak muncul bandgap untuk modus TM pada frekuensi sekitar 0.142 Sahrul Hidayat dengan sususan kisi segi enam seperti tampak pada gambar 5.5 (dalam a/λ).

6331. dengan mensubstitusikan rentang panjang gelombang emisi polimer hibrid yang didoping dengan DCM ke dalam persamaan tepi pita eigen akan didapat rentang periode kisi. Titik pertemuan dua pita eigen berada pada koordinat X=0.5774 dan Y=0.633. Seperti pada perhitungan untuk kisi segi empat. Struktur bandgap kristal fotonik 2D dengan susunan kisi segi enam untuk modus TM. Persamaan tepi pita eigen untuk struktur segi enam adalah a/λ=0.Laser Polimer Hibrid Berbasis Kristal Fotonik 2D 143 Gambar 5. maka akan tampak lebih jelas titik pertemuan dua pita eigen tersebut seperti diperlihatkan pada gambar 5.4. Jika panjang .4. Jika simulasi dilakukan hanya untuk modus TM.

144 Sahrul Hidayat gelombang emisi polimer hibrid yang didoping dengan DCM adalah 530 nm sampai 660 nm. maka periode kisi yang dibuat harus berada pada rentang antara 335 nm sampai 418 nm. di mana penembakan kedua dilakukan dalam posisi sampel yang berbeda. maka proses penembakan kedua dilakukan . seperti tampak pada gambar 5. Proses penembakan dilakukan secara berurutan. penembakan kedua dilakukan setelah sampel diputar 90° terhadap posisi penembakan pertama. Jika pada proses fabrikasi kisi 1D penembakan berkas laser hanya dilakukan satu kali. Proses fabrikasi menggunakan prinsip interferensi cahaya dengan metode Lloyd Mirror.5. maka untuk fabrikasi kisi 2D penembakan berkas laser dilakukan dua kali. Sedangkan jika ingin diperoleh susunan kisi segi enam. Untuk menghasilkan susunan kisi segi empat. Proses Fabrikasi Divais Laser Berbasis Kristal Fotonik 2D Proses fabrikasi kristal fotonik 2D hampir sama dengan proses fabrikasi kisi 1D seperti telah diuraikan pada bab keempat.

Fabrikasi struktur kisi 2D agak berbeda dengan teknik yang dilakukan untuk mendapatkan struktur kisi 1D. Pada fabrikasi struktur kisi 2D perlu dilakukan optimasi terlebih dahulu untuk mengetahui daya laser yang tepat. Ilustrasi proses foto polimerisasi kisi segi empat.6. Penembakan ke-2 Penembakan ke-1 Penembakan ke-2 Gambar 5.Laser Polimer Hibrid Berbasis Kristal Fotonik 2D 145 setelah sampel diputar 60° terhadap posisi penembakan pertama.6. Jika daya laser pada proses foto polimerisasi . Untuk mempermudah proses pemutaran. sampel film tipis ditempatkan di atas piringan putar (rotating stage) sehingga penentuan sudut putar menjadi lebih presisi. Ilustrasi proses foto polimerisasi Putar 60° kisi segi enam. Penembakan ke-1 Putar 90° Gambar 5. seperti tampak pada gambar 5.5.

maka pada penembakan pertama akan terjadi proses foto polimerisasi yang kuat dalam waktu singkat. Sebaliknya jika daya laser terlalu tinggi.146 Sahrul Hidayat tidak tepat maka tidak akan dihasilkan struktur kisi 2D. dilakukan pengujian proses pembuatan kisi 2D dengan tiga macam variasi daya. dengan begitu struktur kisi tidak akan terbentuk. Dengan demikian struktur yang akan terbentuk hanya berasal dari penembakan pertama saja. Untuk mengetahui daya laser optimal. 200 mWatt. Hal tersebut menunjukkan bahwa daya 120 mWatt dan waktu tembak ¼ detik. Bahkan film tipis tersebut akan ikut larut pada saat dilakukan proses etching. proses foto polimerisasi belum terjadi. Hal tersebut menyebabkan penembakan kedua tidak akan memberikan dampak berarti pada proses foto polimerisasi. Hasil pengujian tersebut menunjukkan bahwa kisi 2D yang dibuat dengan daya 120 mWatt tidak terbentuk dan film tipisnya ikut larut pada saat proses etching. Daya 120 mWatt diduga masih berada di bawah batas ambang untuk . yaitu 120 mWatt. dan 320 mWatt. Daya laser yang terlalu rendah akan mengakibatkan proses foto polimerisasi tidak terjadi. Waktu penembakan untuk ketiga variasi daya tersebut dibuat sama yaitu seperempat detik.

Sedangkan untuk proses pembuatan kisi dengan daya 320 mWatt dan waktu deng tembak ¼ detik. Hal ini menunjukkan daya 320 mWatt terlalu kuat sehingga pada penembakan pertama telah terjadi proses foto polimerisasi sempurna. mWatt . kisi yang terbentuk hanya merupakan kisi 1D. Gambar 5.7. dibuat dengan daya 320 mWatt. dan penembakan kedua menjadi tidak memberikan me dampak berarti. Hasil pengamatan dengan AFM untuk kisi yang dibuat dengan d kondisi tersebut dapat di dilihat pada gambar 5. Hasil pengamatan AFM untuk kisi yang .7.Laser Polimer Hibrid Berbasis Kristal Fotonik 2D 147 Hib terjadinya proses foto polimerisasi.

menggunakan sudut 26° dan 27° yang berkorelasi dengan 26 periode kisi 405 nm dan 391 nm. Pemilihan sudut tersebut didasarkan pada hasil prediksi teori bahwa lasing polimer . Hasil pengamatan AFM untuk kisi yang . Berdasarkan hasil optimasi tersebut selanjutnya dibuat masing-masing 2 variasi masing periode kisi 2D untuk struktur kisi segi empat dan kisi segi enam. Hasil ini menunjukkan bahwa daya 200 mWatt dengan waktu tembak ¼ detik merupakan nilai yang tepat untuk proses pembuatan struktur kisi 2D. seperti tampak pada gambar 5.8. Kisi 2D dengan struktur segi empat dibuat . dibuat dengan daya 200 mWatt. mWatt Sedangkan untuk pengujian dengan daya 200 mWatt dan waktu tembak ¼ detik. dihasilkan struktur kisi 2D yang cukup baik.148 Sahrul Hidayat Gambar 5.8.

9. Untuk dua variasi sudut fabrikasi seperti disebutkan di atas. Foto AFM untuk kisi segi enam yang dibuat dengan daya 200 mWatt. . periode kisi yang diperoleh adalah 410 nm dan 400 nm yang berkorelasi dengan sudut fabrikasi 25° dan 26°.Laser Polimer Hibrid Berbasis Kristal Fotonik 2D 149 hibrid yang didoping dengan DCM akan terjadi pada rentang periode 351 nm sampai dengan 438 nm. Salah satu hasil pengukuran AFM untuk struktur kisi segi enam diperlihatkan pada gambar 5. Sedangkan untuk kisi 2D dengan struktur segi enam. Gambar 5.9. Berdasarkan hasil pengukuran AFM tersebut selanjutnya dapat dihitung periode kisi. proses fabrikasinya dilakukan menggunakan dua variasi sudut yaitu 25° dan 26°.

cm . yaitu sekitar 3 mJ/pulse. . dan efisiensinya tinggi. Untuk kedua divais laser baik periode kisi 391 nm ataupun 405 nm memiliki daya ambang pemompa 2 yang sama. Pada gambar 5. Berdasarkan gambar tersebut tampak bahwa laser muncul pada panjang gelombang 588 nm untuk periode kisi 391 nm dan 606 nm untuk periode kisi 405 nm.150 Sahrul Hidayat Karakteristik Laser Berbasis Kristal Fotonik 2D Kualitas suatu divais laser sangat ditentukan oleh karakteristik emisinya.10 tampak karakteristik emisi divais laser kristal fotonik 2D dalam arah-X. Suatu laser dikatakan baik jika frekuensi emisinya tunggal. Selanjutnya. bagian (a) untuk periode kisi 391 nm dan (b) untuk periode kisi 405 nm. dari gambar tersebut dapat diperoleh juga kisaran daya ambang pemompa. daya pemompanya rendah.

Laser Polimer Hibrid Berbasis Kristal Fotonik 2D 151

(a)

(b)

Gambar 5.10. Karakteristik emisi laser berbasis kristal fotonik 2D dengan kisi segi empat (a) Λ=391 nm (b) Λ=405 nm.

152 Sahrul Hidayat

(a)

(b)

Gambar 5.11. Karakteristik emisi laser untuk divais dengan periode kisi 405 nm (a) Sebelum etching (b) sesudah etching.

Laser Polimer Hibrid Berbasis Kristal Fotonik 2D 153

Gambar 5.11 menunjukkan karakteristik emisi divais laser sebelum dan sesudah proses etching untuk periode kisi 405 nm. Berdasarkan kedua gambar tersebut tampak bahwa proses etching tidak memberikan dampak yang besar terhadap karakteristik emisi lasernya. Hal ini berbeda sekali dengan divais laser berbasis kisi 1D di mana proses etching sangat memengaruhi ketajaman berkas laser yang dihasilkan. Daya ambang pemompa juga terlihat hampir sama untuk kondisi sebelum dan sesudah proses etching, yaitu sekitar 3 mJ/pulse.cm2. Proses etching tampak hanya berpengaruh pada besarnya

intensitas emisi. Untuk kondisi sebelum proses etching, intensitas emisi sekitar 25.000 (satuan densitas optik), sedangkan sesudah proses etching hampir dua kali lipatnya.
(a)

Gambar 5.12.12 memperlihatkan karakteristik laser pada beberapa arah yang berbeda. Karakteristik emisi laser untuk periode kisi 405 nm (a) intensitas terhadap panjang gelombang laser (b) intensitas terhadap arah emisi laser. Dalam arah antara sudut 6° sampai dengan 82°.154 Sahrul Hidayat (b) Gambar 5. Berkas laser dapat diamati pada rentang sudut 0° sampai 5° dengan intensitas yang semakin menurun. berkas laser tidak muncul. . Berdasarkan gambar tersebut dapat diketahui bahwa berkas laser dapat diamati di sekeliling sampel pada arah tegak lurus terhadap berkas pemompa. sehingga proses penguatan umpan balik tidak berlangsung. Hal tersebut disebabkan jarak antarkisi pada rentang sudut 6° sampai 82° tidak beraturan.

(b) periode kisi 410 nm.13. . (a) (b) Gambar 5.Laser Polimer Hibrid Berbasis Kristal Fotonik 2D 155 Berkas laser muncul kembali pada rentang sudut 83° sampai 90° dengan intensitas yang semakin membesar. Karakteristik emisi laser berbasis kristal fotonik 2D dengan kisi segi enam (a) periode kisi 400 nm.

daya ambang pemompanya sekitar 14 mJ/pulse. Untuk kedua jenis divais tersebut. Untuk divais dengan periode kisi 400 nm. Laser dengan intensitas yang cukup tinggi hanya muncul pada sudut pengamatan 0° dan 65° saja. tampak daya ambang pemompanya berbeda. Hal ini mengindikasikan bahwa kisi segi enam hanya periodik dalam arah sudut pengamatan . Bagian (a) memperlihatkan karakteristik emisi untuk divais dengan periode kisi 400 nm dan bagian (b) untuk periode kisi 410 nm.156 Sahrul Hidayat Seperti telah diuraikan di atas. sedangkan untuk divais dengan periode kisi 410 nm. Gambar 5. sedangkan untuk periode kisi 410 nm. Gambar 5. laser dapat diamati pada panjang gelombang 621 nm. Laser hanya muncul pada sudut pengamatan 0°.cm2. 65° dan 67°.13 memperlihatkan karakteristik emisi laser untuk divais dengan kisi segi enam dalam arah pengamatan sumbu-X. Untuk divais laser dengan periode kisi 400 nm.14 memperlihatkan karakteristik emisi laser dalam beberapa arah berbeda untuk divais dengan kisi segi enam.1°. daya ambang pemompa sekitar 10 mJ/pulse cm2. emisi dari divais laser 2D dapat diamati pada beberapa arah berbeda. berkas laser muncul pada panjang gelombang 606 nm.

sedangkan dalam sudut pengamatan yang lain jarak antarkisinya tidak sama. Gambar 5. Untuk kisi segi enam laser diperkirakan muncul pada arah K (dalam zona Brilouin) yang merupakan pertemuan dua pita eigen.4. laser hanya muncul pada frekuensi dan arah tertentu saja seperti tampak pada gambar 5.Laser Polimer Hibrid Berbasis Kristal Fotonik 2D 157 tersebut. Karakteristik emisi laser dalam arah berbeda untuk divais dengan periode kisi 400 nm. Seperti telah dibahas sebelumnya. .14.

158 Sahrul Hidayat .

Cordoncillo. M. 2002. Houbertz.. 2001. et al. Coherent two-dimensional lasing action in . 2007.K. R. Thesis Graduate Department Physics. et al. Lasing in strongly scattering dielectric microstructures. Optical Material 18: 309-320. et al. Inorganic-organic hybrid polymers as photo patternable dielectrics for multilayer microwave circuits. Defence Science Journal Vol. 2006. M. Forberich. K. 1999..1-4.. Blue emitting hybrid organic-inorganic materials. Imada. Optical Fiber Technology 9: 260-269.. 2004. In-situ method for removing refractive index chirp in fiber Bragg grating photo-written by Lloyd mirror. et al. Florescu. Gadonna. 57 No... Thin Solid Film 442: 194-200. 3: 241-253. Frohlich. L. Inorganic-organic hybrid materials for application in optical devices. 2003. et al. L. et al. N..DAFTAR PUSTAKA Chaudhury. Sol-gel technology for sensor applications.. Lasing mechanisms in organic photonic crystal lasers with two-dimensional distributed feedback..6.. Material Research Society Symposium proceeding Vol 726: 4. 2003. Journal of Applied Physics 100 023110: 1-6. University of Toronto. et al. E.

R... Applied Physics Letters Vol. Science and Technology of Advanced Materials 6: 375-382. 2005. et al. Laser action from two-dimensional distributed feedback in photonic crystals. Applied Physics Letters Vol. Oliveira. 3: 316-318. 78 No.. J. Joannopoulus J. 2006.. et al. Apllied Physics Letters Vol. Advance Material 17: 2807-2811. Physical Review A Vol.. T. 2001. Applied Physics Letters Vol... Applied Physics A 92: 351356.. Directional lasing oscillation of twodimensional organic photonic crystal lasers at several photonic bandgaps. R.160 Sahrul Hidayat surface-emitting laser with triangular-lattice photonic crystal structure. et al. 23: 4023-4025. 2005... Jakubiak.. Characterization and process optimization of photosensitive acrylates for photonics applications. et al. 2004.. 1999. Theory of lasing in a multiple-scattering medium. et al. 75 No.1: 7-9. E. Mekis. Neiss. C. 2008. Notomi. et al.. Dynamic lasing from all-organic twodimensional photonic crystals.. et al. Polymer laser fabricated by a simple micromolding process. 54 No. 2008. et al. Princeton University Press. M. 1999.. Investigation of laser ablation on hybrid sol-gel material applied to kinoform etching. R.. 74 No. 2003. 85 No... Lawrence. et al. Applied Physics A 69: 111-114. Meier. A. S.D.. 18: 3968-3970. Distributed feedback multipeak laser . Okamoto. Lasing mechanism in two -domensional photonic crystal lasers. 82 No. Apllied Physics Letters Vol. M. D. Photonic crystals molding the flow of light. et al. Towards Plasmonic bandgap laser. John. Mohamed. et al. 10: 1325-1327. 1996. 4: 3642-3652..

Pembuatan dan karakterisasi polimer hibrid yang didoping unsur tanah jarang untuk aplikasi luminesensi.. et al. Ubukata..et al. W. Design of photoinduced relief optical devices with hybrid sol-gel materials. 2004. Key Engineering Materials: 264-268. et al. P. Andrews. Applied Surface Science 186: 9194. Richardson.. Journal of Applied Physics Vol. Fabrication of two dimensional gratings using photosensitive gel films and their characterization. 2: 815-823. Colloids and Surfaces. K. V. 2007. University of St. Thesis School of Physics and Astronomy.. Physicochemical and Engineering Aspects . et al. 2002. N. S. Optical properties of Photonic crystals. Susa. University of Central Florida Orlando. Silfvast.Threshold gain and gain enhancement due to distributed-feedback in two-dimensional photonic crystal lasers. Skripsi Jurusan Fisika FMIPA. Optical Sciences Springer. Sakoda. Universitas Padjadjaran. Surface relief grating in hybrid films composed of azobenzene polymer and liquid crystal molecule.. 2003. 89 No. The sol-gel process for realization of optical micro structures in glass. N.. The fabrication and lithography of conjugated polymer distributed feedback lasers and development of there applications. Pitriana. 2001. Parashar.Daftar Pustaka 161 emission in Rhodamine 6G doped organic-inorganic hybrids.. Journal Sol-Gel Science Technology 40: 359-363. Fundamental of photonics. T. 2003. O. Florida Soppera. Journal of Sol-Gel Science and Technology 26: 903-907.K. 2002. T. 2008. Tohge. 2001.

Lasing from slab edge mode of free-standing two-dimensional photonic crystals. Yang. X..K. 140. Optics Express Vol. 2002. J. . 8: 899-904.. et al.5960.. 11 No. 2003.L. et al. Optical Materials 17: 149-154. 2001. Fabrication of refractive microlens in hybrid SiO2/TiO2 sol-gel glass by electron beam lithography. Optical Society of America.. Yurista. Hybrid semiconductor polymer resonant grating waveguide structures.162 Sahrul Hidayat 198-200: 113-117. Yu.. G. et al. W.

16 Foton 36 Optik 120.5.69.3.16.51.112 Fourier 75 Geometri 29 Dip coating 93 Doping 8.14. 137 Defect-mode 42.42.59.123.95. 101 AFM 115-117.90.104 Dye-laser 8.INDEKS A Absorpsi 5.106 Bragg 41-47.89.22.85 Candela 11 Continuous wave 6 Emisi Spontan 15.96.8 .26.87 Bilangan gelombang 22.147 Deret B Bahan anorganik 89 Bahan organik 89 Band-edge 42.14-17. 147.55.6.43.8.36. 148 ASE 129.90.86 Densitas Energi 12.67 D Daya pantul 33.89.94. F Fiber optik 44 Flash lamp 4.105 E C Cacat 42.43 Terstimulasi 1.132 Amplitudo 6.53.67.

57.40 Interferometer Jamin 19.40 Hubungan dispersi 133.66 Kerugian daya 32.134-138 Segi enam 77.95.58.26 Irreducible Brillouin zone 78 K G Gain medium 3 switching 6 Gelombang Bloch 73 Elektromagnetik 1.86 Kecepatan cahaya 10.27.96 Foton 5.7.105 Frekuensi Detuning 52.36.137-144 Koefisien Ekspansi gelombang 75 Reflektansi 29.40.22.41.56.21.71 group 36.9.78.85.111 Konstanta Kopling 53.20 Mach-Zehnder 21 Michelson 20.65 H Hamburan Bragg 41.33.33.53 Cahaya 39.52.79.93.63.133.127.129 Fungsi Bessel 77 Interferensi 19.96.59 Planck 10 Koordinat polar 76 .57.2.55-60 Kondisi stasioner 33 I Indeks pita 73 Infra red 1.93.37.22 Fabry-Perot 22.135 Segi empat 77.128.57 Eigen 79.164 Sahrul Hidayat Foto polimerisasi 92.16.56.26.50.6.42 Radio 9 Kavitas optik 5.34 Ketidakpastian Heisenberg 9 Kisi Bragg 46.94.135 FWHM 119.18 Inisiator 92.37.60.36.67 Kehilangan daya 5.135 Resonansi 12.

109 Kromofor 92 Tunggal 43.7 Konvensional 40 Pulsa 2.28.74 Persamaan Diferensial terkopel 55 Maxwell 68.90.89.8.30 Permitivitas 66.36 .85 Output coupler 3 P Pandu gelombang 47.40 Parasitic reflection 60 Peluruhan radioaktif 16 Pembagi berkas 25 M Magnetic stirrer 96 Matriks transfer 55 Medan Listrik 24.60.135 Gelombang longitudinal 33 Penguatan daya laser 33 Pergeseran fase 23.89 Panjang gelombang 2.68.Indeks 165 Kristal fotonik 39-60.70 Nilai eigen 54.54.41.139 Luminesen 89.6.58 Monochromatic light 1 L Laser Kontinu 2.71.79 Photonic bandgap 40.143 Life time 16 Lloyd Mirror 112.67 Polimer hibrid 87.67.62.110 Populasi Elektron 15 Inversi 5.7.61 Mekanika kuantum 9 Modelocking 6 Modus Eigen 133.8 Semikonduktor 4 Vibrometer 21 Visible 1 Lasing 126.90 N Nonlinier optic 8 O Optical resonator 3.68 Magnet 69 Media penguat 3-8.59.4.7.18.

115 Emisi 16.106 Spin coating 91.101 Refleksi 27.75.19.105 Prinsip ketidakpastian 9.96.96 Spraying 93 Stop band 63 Superposisi 19.50 THG 98.49.115 FTIR 105.44.38 Spektrum Absorpsi 17.143 Pumping 3.131.26.39.25.97.76 W Waktu paruh 16 Z Zona Brillouin 73.46 U Ultra violet 1.79.10.22 R Radikal 92.36.31.45.57 Reflektor Bragg 43.29.139 .76 Kisi real 73.100 Q Q-switching 6 Transverse Electric 80 Magnetic 81 Twobeam interferometer 21.99 Prekursor 94.61 Eigen 54 Kisi balik 73.16 Proses etching 116.166 Sahrul Hidayat Post-baking 98.89 S SHG 118 SSR 35.14 Modus terkopel 48.52.46.93.45 Suspensi koloid 94 V Vektor Gelombang 48.4 T Teknik sol-gel 94 Teori Model atom 13.18.50.78.

ia menjadi dosen (1998) di almamaternya. pelatihan ESQ pada program TPSDP Unpad. Ia melanjutkan pendidikan di Institut Teknologi Bandung dan memperoleh gelar Magister (S-2) dari Jurusan Fisika. Oleh karena keinginannya yang besar untuk masuk di perguruan tinggi. tanggal 30 Juli 1973.TENTANG PENULIS Sahrul Hidayat. dengan fokus penelitian pada kajian Polimer Hibrid dan Aplikasinya sebagai Divais Optik. FMIPA Jurusan Fisika yang diselesaikannya pada tahun 1997. tahun 2001. mulai tahun 2006 ia mengikuti Program Doktor bidang MIPA di Unpad. Usai kuliah. UNPAD PRESS ISBN: 978-979-3985-73-7 . lahir di Ciamis. Penulis pernah menjadi Pembantu Ketua III Program Diploma 3 FMIPA Universitas Padjadjaran (2003-2006). serta magang penelitian di Photonic Center Graduate School of Engineering Osaka University (Oktober 2008-Maret 2009). Sekolah Menengah Atas diselesaikannya tahun 1992 dari SMA Negeri 2. ketua Tim Evaluasi SPMB/SMUP Program Diploma 3 Universitas Padjadjaran (20042006). ia mendaftar di Universitas Padjadjaran. dan kemudian melanjutkan pendidikan menengah di SMP Negeri Panumbangan (1989). pelatihan HAKI yang diselenggarakan DP2M DIKTI. dan PIC bidang sistem informasi TPSDP Unpad (2004-2007). Jawa Barat. Pendidikan dasar ditempuhnya di SD Negeri I Panumbangan (1986). ia merasa perlu mengikuti pendidikan yang lebih tinggi guna mengantisipasi perkembangan itu. Beberapa pelatihan diikutinya. Melihat perkembangan ilmu dan pengetahuan yang semakin pesat. Tasikmalaya. Selain itu. ia sering mengikuti pelbagai seminar baik tingkat nasional maupun internasional dalam bidang fisika material. sehingga ia melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi (S-3). antara lain: pelatihan pengajaran mata kuliah Mekanika dan Fisika Matematika di Jurusan Fisika ITB.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful