ASUHAN KEPERAWATAN KELUARGA DENGAN PENYAKIT TBC

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Keluarga sebagai unit terkecil dalam masyarakat merupakan klien asuhan keperawatan atau si penerima asuhan keperawatan.Keluarga berperan dalam menentukan cara asuhan yang diperlukan anggota keluarga yang sakit. Keberhasilan keperawatan di rumah sakit dapat menjadi sia – sia jika tidak dilanjutkan oleh keluarga di rumah.Keluarga menempati posisi di antara individu dan masyarakat, sehingga dengan memberikan pelayanan kesehatan kepada keluarga, perawat mendapat dua keuntungan sekaligus. Keuntungan pertama adalah memenuhi kebutuhan individu, dan keuntungan kedua adalah memenuhi kebutuhan masyarakat. Dalam pemberian pelayanan kesehatan, perawat harus memperhatikan nilai – nilai dan budaya keluarga, sehingga keluarga dapat menerimanya. Pelayanan keperawatan di rumah merupakan pelayanan keperawatan yang diberikan di tempat tinggal klien dan keluarga sehingga klien tetap memiliki otonomi untuk memutuskan hal – hal yang terkait dengan masalah kesehatannya. Perawat yang melakukan keperawatan di rumah bertanggung jawab untuk meningkatkan kemampuan keluarga untuk mencegah penyakit dan pemeliharaan kesehatan. Namun, di Indonesia belum ada lembaga ataupun organisasi perawat yang mengatur pelayanan keperawatan di rumah secara administratif. 1.2 Tujuan 1.2.1 Tujuan umum Mahasiswa mampu menerapkan asuhan keperawatan pada keluarga yang mempunyai masalah kesehatan sesuai tugas dan perkembangan keluarga. 1.2.2 (1) (2) (3) (4) (5) (6) Tujuan khusus Mengidentifikasi data yang sesuai dengan masalah kesehatan keluarga dengan penyakit TBC Merumuskan diagnosa keperawatan keluarga sesuai dengan masalah kesehatan keluarga dengan penyakit TBC Merencanakan tindakan sesuai dengan diagnosa keperawatan Melaksanakan tindakan sesuai rencana yang telah ditentukan Mengevaluasi pelaksanaan tindakan keperawatan Mendokumentasikan asuhan keperawatan keluarga

1.3 Manfaat (1) Agar mahasiswa mampu menerapkan asuhan keperawatan pada keluarga yang mempunyai masalah kesehatan sesuai tugas dan perkembangan keluarga (2) Agar Mahasiswa mampu mengidentifikasi data yang sesuai dengan masalah kesehatan keluarga dengan penyakit TBC (3) Agar mahasiswa mampu merumuskan diagnosa keperawatan keluarga sesuai dengan masalah kesehatan keluarga dengan penyakit TBC (4) Agar mahasiswa mampu merencanakan tindakan sesuai dengan diagnosa keperawatan (5) Agar mahasiswa mampu melaksanakan tindakan sesuai rencana yang telah ditentukan (6) Agar mahasiswa mampu mengevaluasi pelaksanaan tindakan keperawatan (7) Agar mahasiswa mampu mendokumentasikan asuhan keperawatan keluarga

BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Konsep Anak Usia Sekolah Anak merupakan bagian atau anggota keluarga, sering dikatakan sebagai potret atau gambaran dari orang tuanya saat masih kecil. Namun tidaklah demikian, karena anak merupakan individu tersendiri yang bertumbuh dan berkembang secara unik dan tidak dapat diulang setelah usianya bertambah. Menurut UU No. 4 tahun 1979 tentang Kesejahteraan Anak, yang dimaksud anak adalah seseorang yang belum mencapai umur 21 tahun dan belum pernah menikah. Saat ini yang disebut anak bukan lagi yang berumur 21 tahun, tetapi berumur 18 tahun, seperti yang ditulis Hurlock (1980) masa dewasa dini dimulai umur 18 tahun. Meskipun demikian, anak masih dikelompokkan lagi menjadi tiga sesuai dengan kelompok usia, yaitu: usia 2-5 tahun disebut usia prasekolah; usia 6-12 tahun sisebut usia sekolah; dan usia 13-18 tahun disebut usia remaja. Anak usia sekolah dapat disebut sebagai akhir dari masa kanak-kanak sejak usia 6 tahun atau masuk sekolah dasar kelas satu, ditandai oleh kondisi yang sangat mempengaruhi penyesuaian pribadi dan penyesuaian sosial anak.

rekreasi. Tiga jenis minat. minat situasional dapat diciptakan dengan presentasi “menarik” tentang topik terkait kejuruan atau dengan kesempatan untuk belajar bagaimana menyelesaikan sebuah masalah subjektif yang bermakna. Minat situasional yang bertahan selama tahap pembelajaran tertentu c. misalnya. dasar-dasar untuk peran dewasa dalam pekerjaan. Selama masa ini anak menjadi lebih baiak dalam berbagai hal. 2. Faktor menarik dalam sebuah situasi spesifik membangkitkan minat baik untuk jangka pendek maupun jangka panjang. dan interaksi sosial terbentuk. Saat anak melalui penyesuaian ini. dan bekerja yang terstruktur. Konten sebuah minat dapat diinterpretasikan dari dua perspektif : 1. 1997).4 Teori Minat Objek-Orang (Person-Object Theory of Interest / POI ) Temuan empiris menunjukkan bahwa motivasi belajar berdasarkan minat. minat merujuk pada struktur motivasi individu yang habitual atau disposisional.5 Konsep Minat dari PerspektiKonsep Perspektif Level Analisis Yang Berbeda Pada level pertama. Pada level kedua. konsep minat diniterpretasikan sebagai variabel motivasi konten spesifik yang dapat diselidiki dan secara teori dapat direkonstruksi. Minat umumnya dipahami sebagai sebuah fenomena yang muncul dari interaksi individu dengan lingkungannya. 2. U Schiefele. mereka dapat berlari lebih cepat dan lebih jauh sesuai perkembangan kecakapan dan daya tahannya. anak harus belajar menghadapi peraturan dan harapan yang dituntut oleh sekolah dan teman sebaya. Diasumsikan juga bahwa hubungan berbasis minat yang stabil dan memuaskan pada wilayah objek yang dipilih secara bebas merupakan dasar utama untuk perkembangan manusia dan kesehatan mental (Deci&Ryan. anak dan guru untuk mencapai keberhasilan yang maksimal. . Dalam konteks pendidika.2002. Minat yang terkait dengan kejuruan berkembang selama masa kanakkanak dan remaja dan berkembang semakin stabil. Minat situasional yang dibangkitkan atau didorong oleh stimulus eksternal untuk pertama kali b.= minat individu yang telah ada( minat pribadi). belajar. cenderung memiliki pengaruh positif pada proses dan hasil pembelajaran.2 Konsep Minat Dalam psikologi pendidikan. konten atau objek pola minat seorang individu digunakan untuk menjelaskan kepribadiannya serta untuk membuat perkiraan tentang pilihan masa depan.3 Perkembangan Minat Para ahli teori Pendidikan selalu ingin memelihara perkembangan minat yang bertahan di sekolah (secara pendidikan bernilai) yang dipandang sebagai tujuan pendidikan supraordinat. Secara karakteristik. Namun ada juga minat spesifik konten yang bertahan agak stabil untuk periode waktu yang lebih lama dan sebagiannya merupakan makna utama dalam rangkaian kehidupan pribadi yang berkembang. Pengetahuan seseorang tentang objek tersebut dan penilaian emosionalnya 2.). Pada usia yang sangat muda. Individu memiliki pengaruh yang besar pada perkembangan dirinya sendiri dari mulai masa kanak-kanak dan seterusnya. dan psikososial. Intervensi melibatkan orang tua.Selama “pertengahan tahun” masa kanak-kanak ini. Sekolah atau pengalaman pendidikan memperluas dunia anak dan merupakan transisi dari kehidupan yang secara relatif bebas bermain ke kehidupan dengan bermain. Sebagian besar minat yang relevan untuk pembelajaran dan pekerjaan tersediauntuk beberapa periode waktu yang terbatas saja dan didorong oleh rangsangan eksternal (minat situasional). Pengalaman tertarik dalam situasi pembelajaran selalumerupakan hasil dari sebuah interaksi antara faktor personal dan situasional. Langkah perkembangan selama anak mengembangkan kompetensi dalam ketrampilan fisik. Dinegara-negara industri periode ini dimulai saat anak mulai masuk sekolah dasar sekitar usia 6 tahun. pubertas sekitar usia 12 tahun merupakan tanda akhir masa kanak-kanak menengah. Pengalaman subjektif seseorang 2. Orang tua harus membiarkan anak-anak membuat keputusan menerima tanggung jawab dan belajar dari pengalaman kehidupan. misalnya. perawat membantu meningkatkan kesehatannya. minat diterjemahkan sebagai variabel motivasi spesifik konten yang memiliki pengaruh penting pada pembelajaran dan arah perkembangan manusia. Hal ini dilakukan dengan membantu orang tua dan anak mengidentifikasi stresor potensial dan merancang intervensi untuk meminimalkan stres dan respons stres anak. kognitif.1978). Oleh sebab itu minat manusia pada dasarnya tidak dipandang sebagai ciri-ciri pribadi yang stabil (sifat) namun lebih sebagai komponen sistem motivasi yang rumit pada seseorang yang mengalami perubahan perkembangan yang permanen. (Holland. yang dari perspektif ontogenetic merepresentasikan tiga tahap prototipikal( dasar) perkembangan minat : a. Minat individual yang merepresentasikan predisposisi yang relatif bertahan untuk menunaikan wilayah objek minat tertentu. Sekolah dan rumah mempengaruhi pertumbuhan dan perkembangan membutuhkan penyesuaian dengan orang tua dan anak. minat merujuk kepada hubungan/engagement saat ini= minat situasional yaitu minat yang dipengaruhi faktor eksternal. Dalam pelatihan kejuruan. seseorang telah mulai mempengaruhi “objek” dalam lingkungan fisik dan sosial dalam mendukung kebutuhan aktualnya dan tujuan pribadinya 2.

Schiefele (1991) perasaan senang. c.1995). Data Umum Nama KK : Tn “A” Umur : 45 tahun Pendidikan : SMU Pekerjaan : Pekerja pabrik : Desa Sumberagung.2. Jombang Daftar anggota keluarga No Nama L/P Umur Hub. Ciri-Ciri Emosional Menurut Prenzel (1988) dan U.1998.1998). Ciri-Ciri Yang Terkait Dengan Nilai POI mengasumsikan bahwa minat seorang individu berhubungan erat dengan sistem dirinya (cf. Pekerjaan Genogram .1994.1997. dan komponen struktur berubah dari segi representasi kognitif.Fend.200. Penelitian membuktikan bahwa struktur kognitif seseorang berhubungan dengan wilayah pengetahuan minat individu. nilai dan aspek lain dari sistem diri seseorang BAB III ASUHAN KEPERAWATAN KELUARGA PADA an “r” dengan masalah menurunnya minat terhadap tugas sekolah 3. telah dinyatakan bahwa pengalaman emosional dianggap berkaitan dengan kebutuhan kompetensi dasar.1 Pengkajian Pengkajian (Tanggal. Deci & Ryan. 5 Februari 2010) A. seseorang dapat menginterpretasikan aktifitas berbasis minat sebagai sebuah kombinasi dua proses yang saling berhubungan erat (Krapp.Ryan. Berdasarkan gagasan Piaget (1985Berdasarkan 1985) bahwa minat bertujuan untuk memperluas pengetahuan dan kemampuan (akomodasi) dan mengaplikasikan pengetahuan dan kemampuan yang ada pada situasi yang baru (asimilasi). 2005).2001. Deci&Ryan. Hannover. Aspek Kognitif Dari segi ciri-ciri kognitif. 1985. ekspektasi. 1 2 3 4 Tn “L” Ny “R” Anak “C” Anak “D” L P P L 45 th 40 th 13 th 9 th Status kesehatan Suami D2 Pekerja Sehat Istri SMEA pabrikPenjahit Sehat Anak SMP Sekolah Sehat Anak SD Sekolah Sehat Pend.2002. Kuhl. POI nilai komponen sebuah minat juga dirujuk dengan menggunakan konsep “self intentionality” untuk memperjelas bahwa tujuan dan maksud yang berhubungan dengan wilayah objek sebuah minat sesuai dengan sikap. diasumsikan bahwa sebuah minat berkembang. otonomi dan keterkaitan sosial untuk mensifati pengalaman emosional minat spesifik (Krapp. Merujuk Self Determination Theory (SDT.6 Ciri-Ciri Umum Minat a. stimulasi dan ketegangan dalam arti tingkat optimal pembangkit adalah aspek emosional yang paling tipikal dalam aktifitas berbasis minat. Sheldon&Elliot. keterlibatan. 1985.2003) b.

biasanya hanya batuk pilek atau kecapaian saja. B. Status sosial ekonomi keluarga : Penghasilan keluarga Rp. 3. 3. 1 ruang keluarga. 3 kamar tidur. Lantai rumah terbuat .000. Pada saat ini keluarga Tn “L” sedang berada pada tahap perkembangan keluarga dengan anak usia sekolah.perbulan. Suami bekerja Sbagai buruh pabrik yang gajinya dibayar tepat setiap bulan. 4.200. Keadaan Lingkungan 1. Kadang-kadang kumpulkumpul dengan sanak saudara atau tetangga dekatnya. ibu serta dua anak Kewargaan negara / suku bangsa : Indonesia / Jawa. Karakteristik Rumah Luas rumah yang ditempati sekitar 72 m2 (6 m x 12 m). Dalam memenuhi keperluan sehari-hari dikatakan cukup. : meninggal laki-laki : meninggal perempuan 4. Riwayat kesehatan keluarga sebelumnya (yang lalu) Dari hasil pengkajian didapatkan data bahwa anggota keluarga yang lainya tidak ada yang sakit-sakitan / tidak pernah mempunyai riwayat penyakit menular atau penyakit kronis yang berat. Riwayat kesehatan keluarga Semua anggota keluarga Tn”L” dalam keadaan sehat hanya An”D” yang sedang flu. Tahap perkembangan keluarga yang belum terpenuhi: adalahkeluarga telah memenuhi tahap perkembangannya.. Agama : Islam. terdiri dari 1 ruang tamu.000. 2. Disamping pekerjaan suami.. 2. Bangunan rumah berbentuk persegi panjang. 1. hanyakurangnya perhatian orang tua kepada anak kedua karena An”D” susah diatur dan sering tidak mengerjakan tugas sekolah. karena anak pertama berumur 13 tahun dan anak ke dua berumur 9 tahun keduanya masih belajar di Sekolah Dasar.Keterangan : : laki-laki : Perempuan 1. : anggota keluarga yang sakit/ mempunyai masalah Tipe keluarga : Extended family Yang terdiri dari ayah. C. 1 ruang dapur dan 1 kamar mandi dan didepan ada teras rumah. Aktivitas rekreasi keluarga : Kegiatan yang dilakukan keluarga untuk rekreasi nonton TV dan mendengarkan radio di rumah. istri juga membantu menambah penghasilan melalui menjahit bajubaju pesanan tetangga. Riwayat Perkembangan Keluarga 1. 750.sampai Rp.

U sumur Kios . penerangan dan ventilasi cukup.dari tegel dengan keadaan cukup bersih dan penataan alat / perabot rumah tangga yang cukup rapi. Sumber air minum menggunakan air sumur yang sudah dimasak dan untuk keperluan sehari-hari juga menggunakan air sumur.

tempat tinggalnya berdampingan dengan saudara lainya. D. Fasilitas penunjang kesehatan yang dimiliki keluarga cukup baik. Karakteristik tetangga dan komunitas RW Keluarga Tn “L” hidup dilingkungan tempat tinggal yang padat penghuni dan sebagian besar dari tetangga di lingkungan tempat tinggal keluarga Tn “L” adalah penduduk asli yang merupakan pekerja pabrik. karena kesibukanya bekerja pada siang hari. . dalam menghadapi suatu permasalahan. Struktur Peran Keluarga Tn “L” sebagai kepala keluarga bertanggung jawab dalam membimbing dan mendidik anak-anak serta mengatur rumah maupun orang tuanya.T B kamar Ruang tamu Teras S jahit Dapur Km tidur Km makan kamar tidur Denah Rumah Keluarga Tn ” L” 2. Baik Tn”L” maupun Ny”R” jarang menemani anak belajar karena merasa tidak punya waktu untuk menemani mereka. terdiri dari suami istri. Mobilitas Geografis Keluarga Keluarga Tn “L” sudah menempati rumah yang ditempatinya sejak berumah tangga sampai sekarang. Perkumpulan keluarga dan interaksi dengan masyarakat Keluarga termasuk anggota masyarakat yang kurang aktif dalam mengikuti kegiatan masyarakat. Jika ada anggota keluarga yang sakit biasanya berobat ke Puskesmas Sumberagung. dua anak. 2. komunikasi jarang dilakukan untuk minta pertimbangan dan menyelesaikan masalah yang dihadapi. tetapi dengan keluarga di lingkungannya tampak saling berinteraksi dengan baik. jarang dilakukan musyawarah keluarga untuk memutuskan suatu permasalahan.ada uang simpanan yang bisa digunakan untuk berobat jika ada aanggota keluarga yang sakit. Interaksi antar warga banyak dilakukan pada waktu sore dan malam hari dikarena pada siang hari umumnya pada bekerja. Antar anggota keluarga terbina hubungan yang kurang harmonis. a. 3. 4. 1 perempuan dan 1 laki-laki. Struktur Kekuatan Keluarga: Didalam aktivitas sehari-hari keluarga kurang memperhatiansatu sama lain. Pola komunikasi keluarga Keluarga mengatakan. Keluarga Tn “L” 4 orang. Jika An”C” tidak ada pekerjaan rumah kadang-kadang menemani An”D” balajar. Hal ini temasuk terhadap An”D” meskipun kadang nakal. Struktur Keluarga 1. An”D” juga sering bermain dengan teman sebayanya. Sistem pendukung keluarga. 3. tidak tersedia obat P3K dalam rumah. Jika ada anggota keluarga yang sakit semua saling memperhatikan. 5. ayah dan ibu sibuk dengan pekerjaan masingmasing.

sedangkan Tn”L” menonton TV sedangkan Ny”R” melanjutkan menjahit pakaian. 1) Pemeriksaan fisik umum: Keadaan umum Ny “P” tampak masih kuat (ringas) walau memasuki umur lansia. tidak terdapat adanya benjolan. Nilai dan norma keluarga.b. maka disimpan untuk keadaan yang mendadak bagi keluarga. 3. E. Selama ini keluarga memanfaatkan fasilitas kesehatan yang ada. Keluarga mempunyai kesadaran tentang terciptanya lingkungan yang sehat. Fungsi Afeksi Menurut keterangan keluarga. kalau ada kegiatan kemasyarakatan. Ny “R” selain mengasuh anak juga membantu menambah penghasilan dengan menerima jahitan dari tetangga. 2. 4. Stress dan Koping Keluarga 1.2 0C TB : 145 cm 2) Pemeriksaan fisik khusus:  Kepala dan leher Pada pemeriksaan kepala. Juga tidak teraba / terlihat adanya pembesar kelenjar tiroid (strauma). hanya kalau pekerjaan menjahit belum selesai tampak berserakan dilantai. Stressor yang dimiliki Stressor jangka panjang yang dirasakan oleh keluarga Tn “L”adalah An”D” yang sering masuk BK karena sering tidak mengerjakan tugas. G. makan dan minum masih dalam batas normal. lingkungan sekitar rumah tampak bersih. Untuk Ny “R” sering kurang menjaga aktifitas menjahitnya seperti kalau sudah menjahit lupa akan makan dan istirahat. Tn”L” biasanya meminta An”C” untuk menemani An”D” untuk belajar. . Jika ada sisa keuangan. hal ini di buktikan dengan aktivitas keluarga bila ada waktu luang membersihkan ruangan. Respirasi : 24 x/mnt Suhu : 36. keluarga ikut didalamnya. 4. terkadang sampai larut malam untuk mengejar target pesananjahitannya. c. pangan dan papan setiap hari. nyeri saat dilakukan penekanan pada daerah oksipital. Nilai dan norma yang berlaku dalam keluarga menyesuaikan dengan nilai dalam agama islam yang dianutnya serta norma masyarakat disekitarnya. Kemampuan keluarga berespon terhadap stressor Orang tua kurang kurang memperhatikan masalah An”D” dan menyerahkan permasalahan tersebut ke guru BK. Fungsi Sosial Keluarga selalu mengajarkan dan menanamkan perilaku sosial yang baik. Strategi koping yang digunakan Dalam menghadapi suatu permasalahan. tidak mengalami gangguan yang berarti. An”D” sering tidak mengerjakan tugas sekolah sehingga sering mendapat hukuman. 5. biasanya keluarga Tn “L”jarang mendiskusikannya terlebih dahulu sebelum mengambil suatu keputusan. 2. Pemeriksaan Fisik Melakukan pemeriksaan fisik pada setiap anggota keluarga terutama yang diidentifikasi sebagai klien atau sasaran pelayanan asuhan keperawatan keluarga. F. Seperti memenuhi kebutuhan pendidikan. bentuk kepala normal. Menurut pengakuan keluarga penghasilan tiap bulan cukup untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Fungsi Ekonomi Keluarga Tn “L” menggunakan penghasilannya untuk memenuhi kebutuhan sandang. berupa Puskesmas dan dokter praktek swasta selain juga membeli obat bebas di toko atau mengkonsumsi obat tradisional.  Leher : Pada leher tidak nampak adanya peningkatan tekanan vena jugularis dan arteri carotis. Fungsi Reproduksi Tn “L” saat ini sudah berusia 45 tahun dan Ny “R” 40 tahun menjadi akseptor KB AKDR alasanya sudah tidak menginginkan punya anak lagi. dalam kehidupan sehari-harinya mereka selalu dama dan anggota keluarga saling menyayangi. 3. Fungsi Keluarga 1. Keluarga tidak mampu mengenal masalah kesehatan tentang penyakit. Fungsi Perawatan Kesehatan. tetapi badannya kurus dan kecil. Selama melahirkan mulai anak pertama sampai anak terakhir. Kedua anak Tn “L” melaksanakan perannya sebagai anak sekolah yang masih duduk di bangku sekolah dasar. Tanda-tanda vital : Tekanan darah : 140 / 90 mmHg.

3 Diagnosa Keperawatan Menurunnya minat terhadap tugas sekolah yang dibebankan berhubungan dengan ketidakefektifan peran orang tua 3. penglihatan masih baik. H. Hidung : tidak ada kelaianan yang ditemukan. Anak mampu menyelesaikan tugas dan menjalankan perannnya di sekolah d. Setelah dilakukan tindakan keperawatan keluarga memahami paran masing-masing anggota keluarga terutama peran orang tua. Data Subyektif:  Ny “R” mengatakan sering mendapat surat dari pihak sekolah karena anaknya sering tidak mengerjakan tugas. Sehingga semua bisa berjalan lancar tanpa hambatan. ETIOLOGI Ketidakefektifan peran orang tua MASALAH Menurunnya minat terhadap tugas sekolah 1. 3. wheezing (+). Dada : Pergerakan dada terlihat saat inspirasi. Suara jantung S1 dan S2 tunggal. ada ronchi (+). Abdomen : Pada pemeriksaan abdomen tidak didapatkan adanya pembesaran hepar. tidak ada bekas luka operasi.      Mata : Konjungtiva tidak terlihat anemis. anak juga merasa tugas yang di berikan sangat sulit Data obyektif:  Anak kelihatan malas dan kurang minat menegerjakan tugas  Jarang balajar  Kurang lancar dalam membaca. suara mur – mur. dari ke-4 ektrimitas mampu menggerakan persendian. nafas cuping hidung (-).2 Analisa Data NO DATA 1. Menurunnya minat terhadap tugas sekolah yang dibebankan berhubungan dengan ketidakefektifan peran orang tua Tujuan : a. Mulut : bibir tidak kering dan tidak terlihat tanda – tanda sianosis atau stomatitis. Harapan Keluarga Keluarga Tn “L” berharap anggota keluarga dapat berperan masing-masing tanpa ada yang mengalami gangguan kesehatannya. kornea tampak warna putih. b. tidak terdapat palpitasi. pergerakan peristaltik usus baik. An”D” rajin mengerjakan tugas sekolahnya dan mematuhi peraturan sekolah. tidak terjadi kelumpuhan. tidak kembung. kelopak mata tidak terdapat udema. Ny”R” juga mengatakan tidak punya waktu untuk menemani anak belajar  An “D” mengatakan malas mengerjakan tugas jika tidak ditemani ibu atau ayah. mampu mengangkat dan melipat persendian secara sempurna otot sudah tipis. . 1. Anak mengalami peningkatan belajar. Anggota keluarga akan memahami peran masing-masing c. Ektrimitas :Pada ekstrimitas atas dan bawah tidak terdapat udema. tampak pembuluh darah mengambang dan kulit keriput..4 Intervensi 1.

Kaji kemampuan keluarga yang telah dilakukan pada keluarga Tn“L”. Khusus Anggota keluarga akan memahami peran masingmasing Anak mampu menyelesaik an tugas dan menjalanka n perannnya di sekolah Anak mengalami peningkatan belajar. 3.4 Rencana Asuhan Keperawatan NoDx 1. Evaluasi secara 6. Berikan kesempatan keluarga menanyakan penjelasan yang telah diberikan setiap kali diskusi.3. .  Keluarga dapat mengidentifi kasi gejala tuberculosa. Diskusikan alternatif yang dapat dilakukan untuk mencegah serangan berulang. penyakit tuberculosa. 9. Intervensi Kaji pengetahuan keluarga tentang penyakit tuberculosa. Diskusikan dengan keluarga cara mengiidentifikas i serangan. 7. - Kriteria evaluasi Kriteria Standar Verbal  Keluarga 1.  Keluarga dapat memutuskan 4. Berikan penjelasan ulang bila ada penjelasan yang belum dimengerti. 5. tindakan yang harus dilakukan bila obat habis. pengetahuan dapat menyebutkan tanda-tanda dan gejala 2. Kaji tindakan yang pernah dilakukan terhadap Ny “P”. Tujuan Umum Setelah dilakukan tindakan keperawatan keluargamemahami paran masingmasing anggota keluarga terutama peran orang tua. 8. Diskusikan dengan keluarga tentang tanda dan gejala penyakit tuberculosa.

. . 7.Klien dan 1. Dapat menjelaskan akibat tuberculosa terhadap kondisi pasien sendiri dan keluarganya .Klien dan telah dilakukan keluarga pada Ny “P”. Diskusikan dengan keluarga tentang bagian tubuh yang rawan terjadi tuberculosa.Dapat menyebutka n upaya untuk mencegah terjadinya penularan. Setelah dilakukan tindakan keperawatan pasien tidak mengalami kondisi yang lebih buruk. Kaji keluarga pengetahuan dapat keluarga.Dapat menyebutka n bagian tubuh yang rawan terjadi tuberculosa. Berikan pujian terhadap kemampuan positif yang diungkapkan keluarga setiap kali diskusi. 10. penularan.Klien dan 4. Verbal singkat terhadap topik yang didiskusikan dengan keluarga. 6. . Diskusikan alternatif yang dapat dilakukan untuk mencegah terjadinya Penularan. Kaji tindakan menyebutkan yang pernah bagian tubuh dilakukan yang rawan bila Ny terjadi “P” mengalami tuberculosa rasa tidak enak. 5. Berikan kesempatan keluarga menanyakan penjelasan yang telah diberikan . menjelaskan2. dapat 3. Diskusikan keluarga dengan keluarga dapat tentang akibat menyebutkan penyakit upaya untuk tuberculosa mencegah terhadap diri dan terjadinya keluarganya. Kaji akibat kemampuan tuberculosa keluarga yang .2.

Berikan pujian terhadap kemampuan yang diungkapkan keluarga setiap kali diskusi. Menyebutkan tanda dan gejala tuberculosa . 10. 3. 9. 8. Tanggal 10 Februari 2003 - Implementasi Penyuluhan tentang : pengertian tuberculosa Penyebab tuberculosa Tanda dan gejala tuberculosa Faktor resiko tuberculosaAkibat tuberculosa Upaya pencegahan tuberculosa - Evaluasi - - - S: Mengatakan mengerti maksud dan tujuan kunjungan hari ini.setiap kali diskusi. Menyebutkan faktor resiko yang menyebabkan tuberculosa Menyebutkan akibat tuberculosa bila tidak dirawat Menyebutkan cara mencegah timbulnya tuberculosa O: Keluarga dapat terlihat aktif dalam diskusi Keluarga menunjukkan minat terhadap kegiatan atau tindakan yang dapat dilakukan Keluarga dapat memberikan respon verbal dan non verbal yang baik Keluarga kooperatif selama kegiatan berlangsung Keluarga dapat menyebutkan pengertian tuberculosa A : Masalah teratasi sebagian . Evaluasi secara singkat terhadap topik yang didiskusikan dengan keluarga. Berikan penjelasan ulang bila ada penjelasan yang belum dimengerti.5 Implementasi dan Evaluasi No DK 1 Diagnosa Keperawatan Resiko penularan penyakit tuberculosa berhubungan dengan Ketidak mampuan keluarga merawat anggota keluarga yang menderita penyakit tuberculosa.

P : Lanjutkan intervensi 2 Resiko terjadinya 13 komplikasi penyakit Februari tuberculosa berhubungan 2003 dengan ketidak mampuan keluarga dalam menggunakan fasilitas kesehatan secara optimal. Memeberi penyuluhan tentang akibat tuberculosa terhadap diri dan orang lainnya - - - S: keluarga dapat menjelaskan akibat tuberculosa bagi diri dan keluarga lainya menyebutkan bagian tubuh yang rawan terjadi tuberculosa menyebutkan upaya untuk mencegah terjadinya penularan. O: keluarga dapat menjelaskan akibat tuberculosa bagi diri dan keluarga lainya menyebutkan bagian tubuh yang rawan terjadi tuberculosa menyebutkan upaya untuk mencegah terjadinya penularan. A : Masalah teratasi sebagian P : Lanjutkan intervensi .

BAB IV PENUTUP 4. terdiri dari suami istri dan anaknya atau ayah dan anaknya atau ibu dan anaknya Proses keperawatan merupakan pusat bagi semua tindakan keperawatan. yang dapat diaplikasikan dalam situasi apa saja. teori atau falsafah Asuhan keperawatan keluarga yang diberikan pada klien dengan penyakit TBC harus dilakukan secara menyeluruh dan berkelanjutan 4. dalam kerangka referensi tertentu. .2 Saran Sebagai perawat diharapkan mampu untuk melakukan asuhan keperawatan pada keluarga. konsep tertentu.1 Kesimpulan    Keluarga adalah unit terkecil masyarakat.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful