You are on page 1of 33

BAB I PENDAHULUAN

a.

Latar Belakang Anak usia sekolah adalah investasi bangsa, karena mereka adalah

generasi penerus bangsa. Kualitas bangsa di masa depan ditentukan oleh kualitas anak-anak saat ini. Upaya peningkatan Kualitas Sumber Daya Manusia harus dilakukan sejak dini, sistematis dan

berkesinambungan (Judarwanto, 2008). Tumbuh kembangnya anak usia sekolah yang optimal tergantung pemberian nutrisi dengan kualitas dan kuantitas yang baik serta benar. Dalam masa tumbuh kembang tersebut pemberian nutrisi atau asupan makanan pada anak tidak selalu dapat dilaksanakan dengan sempurna. Sering timbul masalah terutama dalam pemberian makanan yang tidak benar dan menyimpang. Penyimpangan ini mengakibatkan gangguan pada banyak organ-organ dan sistem tubuh anak. (Judarwanto , 2008). Terkait hal di atas, pada usia sekolah ini, anak banyak mengikuti aktivitas, fisik maupun mental, seperti bermain, belajar, berolah raga. Anak usia sekolah membutuhkan lebih banyak energi dan zat gizi dibanding usia di bawahnya. Diperlukan tambahan energi, protein, kalsium, fluor, zat besi, sebab pertumbuhan sedang pesat dan aktivitas kian bertambah. Sarapan atau makan pagi adalah menu makanan pertama yang dikonsumsi seseorang. Biasanya orang makan malam sekitar pukul 19:00 dan baru makan lagi paginya sekitar pukul 06:00. Berarti selama

sekitar 10-12 jam mereka puasa. Dengan adanya puasa itu, cadangan gula darah (glukosa) dalam tubuh seseorang hanya cukup untuk aktivitas dua sampai tiga jam di pagi hari. Tanpa sarapan seseorang akan mengalami hipoglikemia atau kadar glukosa di bawah normal. Hipoglikemia mengakibatkan tubuh gemetaran, pusing dan sakit berkonsentrasi. Itu semua karena kekurangan glukosa yang merupakan sumber energi bagi otak. (Wiharyanti, 2006). Berdasarkan yang direkomendasikan WHO, sarapan yang baik dan memenuhi kriteria gizi adalah sarapan yang menyuplai karbohidrat (5565 %), protein (12-15 %), lemak (24-30 %), vitamin, dan mineral yang bisa diperoleh dari sayur atau buah (Almatsier, 2004). Sarapan bagi anak usia sekolah seyogyanya sangatlah penting, karena waktu sekolah adalah penuh aktivitas yang membutuhkan energi dan kalori yang cukup besar. Untuk sarapan pagi harus memenuhi sebanyak 1/4 kalori sehari. ( Judarwanto, 2008 ). Makanan untuk anak sekolah pun harus serasi, selaras, dan seimbang. Tidak boleh terlalu kaku, juga harus sesuai dengan jumlah jenis dan jadwal pada umur anak tertentu. Permasalahannya saat ini adalah kebiasaan makan atau sarapan pagi masih saja dianggap kebiasaan yang membosankan. Ada berbagai alasan yang seringkali menyebabkan anak tidak sarapan pagi. Ada yang merasa waktu sangat terbatas karena jarak sekolah cukup jauh, terlambat bangun pagi, atau tidak ada selera untuk sarapan pagi. Kebiasaan tidak sarapan dipandang dari keperluan gizi bagi kesehatan dan prestasi anak merupakan kesalahan yang sangat merugikan hari

depan anak. Dampak negatifnya adalah ketidakseimbangan sistem syaraf pusat yang diikuti dengan rasa pusing, badan gemetar atau rasa lelah. Dalam keadaan demikian anak akan sulit untuk dapat menerima pelajaran dengan baik. Gairah belajar dan kecepatan reaksi juga akan menurun. Melatarbelakangi permasalahan di atas, makalah ini dimaksudkan untuk memberikan informasi kepada masyarakat (baik praktisi

kesehatan, orang tua, maupun anak itu sendiri) betapa pentingnya pengaruh sarapan pagi pada perkembangan anak terutama usia sekolah. Tak hanya itu, juga diberikan kiat-kiat, manfaat ataupun pengetahuan mengenai makan pagi sehingga diharapkan secara perlahan, kebiasaan makan pagi menjadi suatu kegiatan yang amat penting dalam melakukan aktivitas sehari-hari.

b. 1.

Tujuan Memberikan informasi mengenai gizi dan pentingnya sarapan pagi terhadap anak usia sekolah.

2.

Memberikan pengetahuan bagaimana mengelola atau membuat sarapan pagi yang baik dan sehat.

3.

Menjelaskan permasalahan mengenai sarapan pagi pada usia anak sekolah.

4.

Memberikan solusi, kiat-kiat, ataupun manfaat guna mengatasi permasalahan makan pagi pada usia anak sekolah.

5.

Menggalakkan kebiasaan makan pagi sebelum beraktivitas seharihari.

BAB II ISI

a.

Gizi Gizi merupakan salah satu faktor penting yang menentukan

tingkat

kesehatan

dan

kesejahteraan

manusia.

Gizi

seseorang

dikatakan baik apabila terdapat keseimbangan dan keserasian antara perkembangan fisik dan perkembangan mental orang tersebut.

Terdapat kaitan yang sangat erat antara status gizi dengan konsumsi makanan. Tingkat status gizi optimal akan tercapai apabila kebutuhan zat gizi optimal terpenuhi. Namun demikian, perlu diketahui bahwa keadaan gizi seseorang dalam suatu masa bukan saja ditentukan oleh konsumsi zat gizi pada saat itu saja, tetapi lebih banyak ditentukan oleh konsumsi zat gizi pada masa yang telah lampau, bahkan jauh sebelum masa itu. Ini berarti bahwa konsumsi zat gizi masa kanakkanak memberi andil terhadap status gizi setelah dewasa (Wiryo, 2002). Ilmu yang mempelajari atau mengkaji masalah makanan yang dikaitkan dengan kesehatan disebut ilmu gizi. Batasan klasik

mengatakan bahwa ilmu gizi ialah ilmu yang mempelajari nasib makanan sejak ditelan sampai diubah menjadi bagian tubuh dan energi serta dieksresikan sebagai sisa (Achmad Djaeni, 1987). Dalam perkembangan selanjutnya ilmu gizi mulai dari pengadaan, pemilihan, pengolahan, sampai dengan penyajian makanan tersebut. Dari batasan tersebut,

dapat ditarik kesimpulan bahwa ilmu gizi itu mencakup dua komponen penting yaitu makanan dan kesehatan (Notoatmodjo, 2003).

b.

Kebutuhan Gizi Zat-zat gizi (nutrisi) yang diperlukan manusia agar sehat ada 6

golongan : karbohidrat (hidrat arang, yang terdiri dari zat tepung dan zat gula), lemak, protein (zat putih telur), serat makanan, berbagai vitamin, dan mineral. Di samping 6 golongan gizi ini, manusia sangat memerlukan air supaya metabolisme zat-zat gizi tersebut dan proses faali dalam tubuh berlangsung sempurna. Keenam golongan zat gizi ini mutlak perlu dan harus selalu dikonsumsi dalam jumlah optimal (tidak berlebihan dan tidak kekurangan). Karbohidrat, lemak, dan protein disebut zat gizi makro sedangkan serat makanan, vitamin, dan mineral disebut zat gizi mikro. Kecukupan konsumsi zat gizi makro dan mikro mutlak diperlukan agar tercapai keseimbangan gizi yang tidak hanya bermanfaat untuk memelihara kesehatan secara umum, tetapi juga untuk mencegah berbagai gangguan jasmaniah dan mental agar manusia dapat berprestasi dalam kehidupannya, jasmani awet-muda dan sehat-bugar sehingga aktivitasaktivitas jasmaniah dan mental dalam peribadahan kepada Allah dan kehidupan sehari-hari dapat berlangsung normal dan menyenangkan serta sehat, dan dapat terhindar dari berbagai kemungkinan tertimpa penyakit-penyakit degeneratif. Karbohidrat dan lemak adalah zat-zat gizi (nutrisi) penghasil utama bahan bakar, sumber kalori yang menghasilkan energi dan panas

bagi tubuh manusia yang bagaikan sebuah mesin yang amat kompleks, supaya setiap organ tubuh dapat beraktivitas melaksanakan fungsinya masing-masing secara simultan dan harmonis. Protein adalah zat gizi untuk perkembangan (pembangun) tubuh, sumber zat pembangun bagi perkembangan tubuh pada anak-anak, rambut, kuku, serta sebagai sumber bahan-bahan untuk memperbaiki, bagian-bagian tubuh yang aus. Tubuh manusia, sebagai mesin yang tetap bekerja selama manusia hidup, mengakibatkan organ-organ tubuh sebagai onderdilnya mengalami keausan pada sel-selnya (“wear and tear”), sehingga memerlukan perbaikan. Serat makanan, vitamin, dan mineral adalah zat-zat gizi pelindung dan pemelihara kesehatan tubuh, sumber zat pengatur yang melindungi, memelihara dan mengatur fungsi organ-organ tubuh, seperti : organ pencernaan, paru-paru, jantung, ginjal, hati, otak, kelenjar, dan lain-lain agar tetap berfungsi normal, dan memelihara daya tahan tubuh terhadap serangan kuman-kuman dan organisme yang

membahayakannya. Adapun air amat vital untuk berlangsungnya proses faali dalam tubuh dan metabolisme yang sempurna dari zat-zat gizi tersebut di dalam tubuh.

c.

Makanan yang Bergizi Nutrien adalah zat penyusun bahan makanan yang diperlukan oleh

tubuh untuk metabolisme yaitu air, protein, lemak, karbohidrat, vitamin dan mineral. Bahan makanan adalah hasil produksi pertanian, perikanan dan peternakan. Makanan merupakan istilah umum untuk segala sesuatu

yang biasa dimakan. Hidangan ialah satu atau beberapa jenis makanan yang disajikan untuk dimakan (Hasan, 2007). Untuk hampir segala penyakit, makanan adalah obat pertama. Empat fungsi pokok makanan bagi kehidupan manusia adalah untuk : 1. Memelihara proses tubuh dalam pertumbuhan/perkembangan serta mengganti jaringan tubuh yang rusak 2. 3. Memperoleh energi guna melakukan kegiatan sehari-hari Mengatur metabolisme dan mengatur berbagai keseimbangan air, mineral dan cairan tubuh yang lain 4. Berperan di dalam mekanisme pertahanan tubuh terhadap berbagai penyakit (Notoatmodjo, 2003). Bahan-bahan makanan dasar yang bergizi dapat dikelompokkan menjadi 5 golongan, yaitu ; 1. 2. 3. 4. 5. Makanan pokok Lauk pauk Sayur mayor Buah-buahan Susu Makanan pokok adalah bahan makanan dasar yang padat dengan karbohidrat kompleks (utuh, belum terolah, zat tepung), seperti padi, umbi, sereal. Lauk pauk adalah bahan makanan dasar sumber utama lemak dan protein tinggi baik hewani (daging, telur, ikan), maupun nabati (tahu, tempe). Sayur mayor adalah bahan makanan dasar sumber utama serat makanan yang tinggi, vitamin, dan mineral seperti wortel, polong, kubis. Buah-buahan adalah bahan makan dasar berupa segala 4 sehat 5 sempurna

macam buah yang dihasilkan tumbuhan sebgaai sumber utama serta makanan vitamin, dan mineral. Susu adalah bahan makanan dasar berupa minuman yang dihasilkan oleh hewan sebagai sumber gizi tinggi hampir lengkap (lemak, protein, vitamin, dan mineral). Bahan makanan hewani sebagai sumber gizi bagi kesehatan jasmani antara lain daging, hati, ginjal (sapi dan domba), ikan (terutama ikan laut), ikan air tawar segar, ikan teri kering tawar, keju, madu, sarang burung, susu, telur, udang (segar, kering). Sedangkan dari nabati antara lain alpukat, anggur, apel, arbei, asparagus, bengkuang, dll) (Soehardi, 2004). Makanan yang diberikan untuk bayi dan anak haruslah memenuhi hal-hal sebagai berikut. 1. 2. Memenuhi kecukupan energi dan zat gizi sesuai umur. Susunan hidangan disesuaikan dengan menu seimbang, bahan makanan setempat, kebiasaan makan, dan selera makan. 3. Bentuk dan porsi makan disesuaikan dengan daya terima, toleransi, dan keadaan faal si bayi atau anak. 4. Perhatikan kebersihan perseorangan. Pemberian makanan yang baik kepada anak juga mempunyai tujuan sebagai berikut. 1. Memberikan nutrisi yang cukup untuk pertumbuhan dan

perkembangan jasmani serta psikomotorik 2. 3. Memelihara kesehatan dan memulihkannya ketika sakit Memberikan energi untuk melakukan aktivitas

4.

Mendidik kebiasaan yang baik tentang memakan, menyukai, dan menentukan makanan yang diperlukan tubuh. Jika kita hendak menentukan makanan yang tepat untuk seseorang

bayi atau anak, maka perlu dilakukan langkah-langkah sebagai berikut. 1. Menentukan jumlah kebutuhan dari setiap nutrien dengan

menggunakan data tentang kebutuhan nutrien. 2. Menentukan jenis makanan, yang dipilih untuk menterjemahkan nutrien yang diperlukan dengan menggunakan daftar komposisi nutrien dari berbagai macam bahan makanan. 3. Menentukan jenis makanan, yang akan diolah sesuai dengan hidangan (menu) yang dikehendaki. 4. 5. Menentukan jadwal untuk waktu makan dan menentukan hidangan. Memperhatikan intake yang terjadi terhadap hidangan tersebut, (faktor selera atau tidak nafsu makan). Untuk pengaturan makanan yang tepat perlu diperhitungkan faktor-faktor sebagai berikut. 1. 2. 3. 4. 5. 6. Umur Berat badan Diagnosis dari penyakit dan stadium (keadaan) Keadaan mulut sebagai alat penerima makanan Kebiasaan makan Kesukaan dan tidak kesukaan, acceptability daripada jenis makanan dan toleransi daripada anak terhadap makanan yang diberikan (Wiryo, 2002).

d.

Anak Usia Sekolah (6-12 Tahun) Anak sekolah dasar disebut juga masa akhir anak-anak (late

childhood) adalah masa 6-12 tahun, pertumbuhan dan perkembangannya lebih stabil dibandingkan pada masa bayi atau remaja. Pada usia sekolah ini pertumbuhan dan perkembangan tetap terjadi tetapi laju pertumbuhan fisiknya lebih lambat. Kemampuan motorik semakin baik, perkembangan kognitif dan kemampuan sosialnya makin matang dan pada masa ini diakhiri dengan masa pubertas baik laki-laki atau perempaun (Lucas, 1993). Pada golongan ini, gigi susu sudah tanggal dan berganti gigi permanen. Anak sudah lebih aktif memilih makanan yang disukai atau disebut konsumen aktif. Berbeda dengan umur sebelumnya yang masih bergantung kepada orang tua yang menyediakan makanan. Anak sekolah biasanya juga mempunyai kebiasaan jajan makanan berkalori tinggi yang rendah serat, sehingga sangat rentan terjadi kegemukan atau obesitas. Terlebih lagi jika tidak diimbangi aktivitas olahraga dan cenderung banyak duduk bermain game atau menonton TV. Namun, umumnya anak usia ini banyak melakukan aktivitas jasmani sehingga membutuhkan energi tinggi. Kebutuhan energi anak usia 10-12 tahun lebih besar daripada sebelumnya karena pertumbuhan lebih cepat, terutama penambahan tinggi badan. Konsumsi jus sangat baik untuk anak usia ini mengingat aktivitas yang meningkat. Jus buah dan sayuran dapat memenuhi kebutuhan vitamin dan mineral yang sangat mendukung pertumbuhan jasmani. Sebelum ke sekolah, anak perlu makan pagi yang cukup agar anak lebih mudah menerima pelajaran dan

tidak mengalami hipoglikemia (penurunan gula darah). Anak usia ini juga perlu mempersiapkan berbagai perubahan hormonal yang akan terjadi saat menjelang dewasa. Kebutuhan gizi anak laki-laki berbeda dengan kebutuhan gizi anak perempuan. Anak laki-laki lebih banyak melakukan aktivitas fisik sehingga memerlukan energi yang lebih banyak. Selain itu, anak laki-laki akan mengalami perubahan suara, pertumbuhan rambut di beberapa bagian tubuh, dan timbul keinginan untuk tampil lebih dewasa. Peristiwa itu juga membutuhkan nutrisi yang lebih lengkap. Masa ini merupakan persiapan masa akhil balik dari pertumbuhan manusia. Sementara itu, anak perempuan biasanya sudah mulai mengalami menstruasi sehingga membutuhkan protein dan zat besi yang lebih banyak. Anak perempuan yang sudah menstruasi akan mengalami perubahan siklus hormonal yang terjadi setiap bulan. Selain zat besi, zat gizi yang banyak dibutuhkan adalah vitamin C yang juga berperan banyak untuk meningkatkan antibodi. Demikian juga dengan vitamin E yang berfungsi untuk memelihara kulit. Pola hidangan makan sehari-hari yang dianjurkan untuk usia ini adalah makanan seimbang yang terdiri dari bahan berikut ini. 1. Sumber zat tenaga misal nasi, roti, mie, bihun, jagung, ubi, singkong, tepung-tepungan, gula, dan minyak. 2. Sumber zat pembangun misal ikan, telur, ayam, daging, susu, kacang-kacangan, tahu, tempe, dan oncom. 3. Sumber zat pengatur misal sayuran serta buah-buahan berwarna hijau dan kuning.

Hidangan sehari-hari ini juga sudah dianjurkan mulai anak berusia satu tahun, disesuaikan dengan kebutuhan kalori masing-masing tingkatan usia. Jadwal pemberian makanan tiga kali makan utama (pagi, siang, dan malam) dan dua kali makan selingan (di antara 2 kali makan utama) dalam sehari (Utami, 2010). Kebutuhan protein dalam masa anak termasuk tinggi karena pertumbuhan cepat. Selama masa bayi, kebutuhan setiap harinya adalah 2,5-3,5 gm/kg/hari dan pada masa anak lebih lanjut,

kebutuhannya sebesar 2-3 gm/kg/hari (Ebrahim, 1988). Golongan umur 7-12 tahun banyak mempunyai perhatian dan aktivitas di luar rumah, kadang-kadang melupakan waktu makan. Telah dapat jajan makanan di luar yang dapat mengakibatkan gangguan pencernaan. Akan tetapi mereka sudah cukup mempunyai daya tahan terhadap penyakit gizi dan infeksi (Hassan, 2007). Pada umumnya kelompok umur ini mempunyai kesehatan yang lebih baik dibandingkan dengan kesehatan anak balita. Masalah-masalah yang timbul pada kelompok ini antara lain : berat badan rendah, defisiensi Fe (kurang darah), dan defisiensi vitamin E. Masalah ini timbul karena pada umur-umur ini anak sangat aktif bermain dan banyak kegiatan, baik di sekolah maupun di lingkungan rumah tangganya. Di pihak lain anak kelompok ini kadang-kadang nafsu makanan mereka menurun, sehingga konsumsi makanan tidak seimbang dengan kalori yang diperlukan. Indikator status gizi anak yakni berat dan tinggi per umur.

Berat Badan Per Umur Menurut klasifikasi standard Harvard adalah sebagai berikut. Gizi baik, apabila BB bayi/anak menurut umurnya lebih dari 89 % standard Harvard. Gizi kurang, apabila BB bayi/anak menurut umur berada di antara 60,1 %-80 % standard Harvard. Gizi buruk, apabila BB bayi/anak menurut umurnya 60 % atau kurang dari standard Harvard.

Tinggi Badan Menurut Umur Gizi baik, apabila panjang tinggi badan bayi/anak menurut umurnya lebih dari 80 % standard Harvard. Gizi kurang, apabila panjang tinggi badan bayi/anak menurut umur berada di antara 70,1 %-80 % standard Harvard. Gizi buruk, apabila panjang tinggi badan bayi/anak menurut umurnya 70 % atau kurang dari standard Harvard.

Berat Badan Menurut Tinggi Gizi baik, apabila BB bayi/anak menurut panjang/tingginya lebih dari 90 % standard Harvard. Gizi kurang, apabila BB bayi/anak menurut panjang/tingginya berada di antara 70,1 %-90 % standard Harvard. Gizi buruk, apabila BB bayi/anak menurut panjang/tingginya 70 % atau kurang dari standard Harvard.

Lingkar Lengan Atas (ILLA) Menurut Umur (Standard Wolanski) Gizi baik, apabila LLA bayi/anak menurut umurnya lebih dari 85 % standard Wolanski. Gizi kurang, apabila LLA bayi/anak menurut umur berada di antara 70,1 %-85 % standard Wolanski. Gizi buruk, apabila LLA bayi/anak menurut umurnya 70 % atau kurang dari standard Wolanski (Notoatmodjo, 2003).

e.

Sarapan atau Makan Pagi bagi Anak Dari tiga jenis hidangan keluarga yaitu sarapan, makan siang, dan

makan malam, boleh dikata sarapan merupakan hidangan yang paling tidak mendapat perhatian dan perencanaan yang baik. Sarapan biasanya dipersiapkan dalam suasana serba tergesa-gesa, seadanya saja. Sesungguhnya sarapan merupakan bagian hidangan menu sehari-hari yang sangat penting artinya, minimal seperempat dari porsi jatah makanan untuk sehari harus dikonsumsi dalam bentuk sarapan. Jadi bila seseorang harus mengkonsumsi 1800 kal/hari. Maka minimal 410 Kal sebaiknya bersal dari sarapan. Beberapa ahli kesehatan berpendapat bahwa sarapan merupakan hal terpenting dari seluruh jenis hidangan pada hari itu, tentu saja dengan alasan-alasan yang tepat. Pada saat sarapan tiba, sekitar sepuluh jam atau lebih waktu telah berlalu sejak saat terakhir seorang anak mengkonsumsi makanan. Tanpa makanan di pagi hari hampir semua anak-anak tersebut akan menderita kekurangan energi di tengah pagi. Jadi anak-anak tersebut akan

menderita kekurangan energi sekitar jam 10-11 pagi kadar gula dan glukogen dalam darahnya rendah. Kadar gula rendah dalam darah mempengaruhi daya pikir dan daya konsentrat saja. Jadi anak-anak yang tidak mendapat sarapan sama sekali atau sarapan yang kurang cukup akan dapat mempengaruhi prestasi sekolahnya, yang disebabkan oleh kemampuan berkonsentrasi yang rendah, serta rendah daya kemampuan memecahkan persoalan khususnya di saat tengah atau di akhir pagi hari. Salah satu alasan yang kuat akan pentingnya sarapan terletak pada pengaruhnya bagi konsumsi zat-zat gizi. Pada hakekatnya sarapan ditujukan untuk membangunkan kembali seseorang setelah 10 jam atau lebih tidak kemasukan makanan apa-apa, sehingga mereka dapat melewati pagi harinya dengan kondisi badan yang segar dan sehat. Bagi mereka yang hanya mengkonsumsi ”snacks” yang manis rasanya dan kebiasaan diet dengan menghindarkan diri dari sarapan yang tertib biasanya pada jam 10.00 pagi tubuhnya akan terasa lemah dan mulai loyo kurang energetik. Sarapan ditujukan untuk memberikan kepada tubuh gizi cukup, yang menghasilkan daya pikir yang diperlukan bagi tubuh. Sarapan yang dianggap baik seharusnya dapat membantu mengendalikan nafsu makan dan berat badan seseorang. Ketika tubuh kita bangun dari 10-12 jam ”berpuasa” di malam hari, cadangan bahan bakar di dalam tubuh perlu diperbaharui. Karena di saat tidur kadar gula dalam darah turun, sehingga dapat mencapai keadaan yang disebut hypogycemia, yaitu rendah kandungan gulanya

dalam darah,dan otak memerlukan glukosa untuk berpikir (Winarno, 2002). Makan pagi merupakan hal penting bagi seorang anak. Paling tidak ada dua manfaat. Pertama, sarapan pagi dapat menyediakan

karbohidrat yang siap digunakan untuk meningkatkan kadar gula darah. Dengan kadar gula darah yang cukup, gairah dan konsentrasi belajar di sekolah bisa lebih baik sehingga berdampak positif terhadap prestasi akademik di sekolah. Kedua, pada dasarnya sarapan pagi dapat memberikan kontribusi penting akan beberapa zat gizi yang diperlukan oleh tubuh seperti protein, lemak, vitamin, dan mineral. Ketersediaan zat gizi ini bermanfaat untuk berfungsinya proses fisiologis dalam tubuh. Melewatkan makan pagi akan menyebabkan tubuh kekurangan glukosa (gula darah) dan hal ini menyebabkan tubuh lemah karena tiadanya suplai energi. Jika hal ini terjadi, tubuh akan membongkar persediaan tenaga yang ada dari jaringan lemak tubuh. Tidak sarapan pagi menyebabkan kekosongan lambung selama 10-11 jam karena makanan terakhir yang masuk ke tubuh adalah makan malam pukul 19.00. Sarapan pagi akan menyumbangkan gizi sekitar 25%. Ini adalah jumlah yang cukup signifikan. Apabila kecukupan energi adalah sekitar 2000 kalori dan protein 50 g sehari untuk orang dewasa, maka sarapan pagi menyumbangkan 500 kalori dan 12,5 g protein. Sisa kebutuhan energi dan protein lainnya dipenuhi oleh makan siang, makan malam, dan makanan selingan di antara dua waktu makan.

Sepanjang kita bisa sarapan pagi dengan aneka ragam pangan yang terdiri dari nasi, sayur / buah, lauk-pauk, dan susu (orange juice) maka tidak perlu khawatir akan terjadinya kekurangan gizi mikro seperti vitamin dan mineral. Sarapan pagi bisa dilakukan antara pukul 06.00 – 08.00. Namun ini bukan acuan keharusan. Sebagai bagian dari pola makan, maka sarapan pagi tentu harus pula disesuaikan dengan ritme dimulainya aktivitas pagi hari. Yang jelas sarapan pagi adalah penting untuk mengisi lambung yang sudah kosong, sehingga tubuh mempunyai persediaan gula darah untuk energi aktivitas pagi hari. Bagi anak sekolah meninggalkan sarapan membawa dampak yang kurang menguntungkan. Konsentrasi di kelas bisa buyar karena tubuh tidak memperoleh masukan gizi yang cukup. Sebagai gantinya anak jajan di sekolah untuk sekadar mengganjal perut. Tetapi mutu dan keseimbangan gizi jadi tidak seimbang. Oleh karena itu kebiasaan sarapan hendaknya dipertahankan dalam setiap keluarga (Khomsan, 2006). Sarapan pagi akan menyumbangkan gizi sekitar 25 persen. Ini adalah jumlah yang cukup berarti. Sisa kebutuhan energi dan protein lainnya dipenuhi oleh makan siang, makan malam dan makanan selingan di antara dua waktu makan. Sarapan pagi hendaknya memenuhi syarat empat sehat lima sempurna dengan kuantitas dan kualitas yang cukup. Ini merupakan penetapan konsep gizi seimbang. Konsumsi pangan sumber karbohidrat (nasi) perlu disertai makanan lain sumber vitamin/mineral dari sayuran

dan buah sehingga mekanisme proses pencernaan menjadi lancar. Kombinasi aneka makanan akan memberikan efek komplementer. Artinya kekurangan satu gizi dari bahan makanan tertentu akan tertutupi oleh bahan makanan lainnya. Sarapan pagi kadang – kadang merupakan kegiatan yang tidak menggairahkan. Nafsu makan belum ada, menu di meja makan tak menarik, dan waktu yang terbatas menyebabkan anak – anak tidak merasa bersalah meninggalkan sarapan. Makanan ringan seperti pisang goreng, singkong, atau ubi terkadang dikonsumsi pagi hari sebagai pengganti sarapan pagi. Makanan seperti itu hanya menyumbang energi sekitar 5 persen dari kebutuhan, dan proteinnya hanya cukup memenuhi 2 persen dari kebutuhan sehari. Kontribusi protein yang sangat rendah ini karena makanan – makanan tersebut umumnya terbuat dari sumber karbohidrat seperti singkong, ubi, jagung, tepung terigu, dan lain – lain. Peranan ibu dalam pembentukan kebiasaan makan pagi pada anak sangat menentukan karena ibu terlibat langsung dalam penyediaan makanan rumah tangga. Faktor kesibukan ibu, khususnya yang bekerja, sering kali mengakibatkan sarapan. Membiasakan makan pagi pada anak – anak memang tidak mudah. Citra bahwa makan pagi sangat menjengkelkan hendaknya diubah oleh seluruh anggota keluarga. Makan pagi harus menjadikan kegiatan yang menyenangkan (Khomsan, 2006). Anak yang tidak sarapan pagi akan mengalami kekosongan lambung sehingga kadar gula darah akan menurun. Padahal gula darah merupakan sumber energi utama bagi otak. Dampak negatifnya adalah

ketidakseimbangan sistem syaraf pusat yang diikuti dengan rasa

pusing, badan gemetar atau rasa lelah. Dalam keadaan demikian anak akan sulit untuk dapat menerima pelajaran dengan baik. Gairah belajar dan kecepatan reaksi juga akan menurun. Seringkali muncul pertanyaan, banyak anak yang tidak sarapan pagi tetapi masih sehat dan produktif. Mengapa? Keadaan ini dapat terjadi karena masing-masing individu dapat membentuk bioritme sendiri-sendiri. Bila seseorang tidak biasa sarapan pagi, maka saluran cerna dan enzim-enzim di dalam tubuhnya juga tidak akan siap menerima makanan. Bila dipaksakan, justru timbul rasa tidak enak. Karena itu, sebaiknya anak-anak dibiasakan bangun pagi sehingga tersedia waktu untuk sarapan. Orang tua hendaknya juga ikut memberikan contoh untuk makan pagi. Dan saat sarapan sebaiknya anak ditemani. Anak yang tidak biasa sarapan pagi, perlu dibiasakan secara bertahap. Kalau tidak sempat sarapan sebaiknya makanan dibawa ke sekolah (Khomsan, 2003).

f.

Jajanan Jajan bagi anak sekolah merupakan fenomena yang menarik untuk

ditelaah karena berbagai hal ; 1. Merupakan upaya untuk memenuhi kebutuhan energi karena aktivitas fisik di sekolah yang tinggi (apalgi bagi anak yang tidak sarapan pagi). 2. Pengenalan berbagai jenis makanan jajanan akan menumbuhkan kebiasaan penganekaragaman pangan sejak kecil.

3.

Memberikan perasaan meningkatnya gengsi anak di mata temantemannya di sekolah. Namun demikian, ada aspek negatif dari jajan. Jajan yang terlalu

sering dapat mengurangi nafsu makan anak di rumah. Selain itu banyak jajanan yang kurang memenuhi syarat kesehatan sehingga justru mengancam kesehatan anak (Khomsan, 2003). Jajan merupakan hal yang lumrah dilakukan oleh anak – anak. Dalam satu segi jajan merupakan aspek positif dan dalam segi lainnya jajan juga bisa bermakna negatif. Rentang waktu antara makan pagi dan makan siang relatif panjang sehingga anak – anak memerlukan asupan gizi tambahan di antara kedua waktu makan tersebut. Makanan jajan sering kali lebih banyak mengandung unsur karbohidrat dan hanya sedikit mengandung protein, vitamin atau mineral. Karena ketidaklengkapan gizi dalam makanan jajanan, maka pada dasarnya makanan jajanan tidak mengganti sarapan pagi atau makan siang. Anak – anak yang banyak mengkonsumsi makanan jajanan perutnya akan merasa kenyang karena padatnya kalori yang masuk ke dalam tubuhnya. Sementara gizi seperti protein, vitamin dan mineral masih sangat kurang. Makanan sampah (junk food) termasuk ke dalam makanan jajanan. Junk food berwujud makanan snack ringan yang rasanya enak, umumnya disukai anak – anak, dan kandungan gizinya didominasi oleh zat karbohidrat ( tinggi energi ). Sebagian junk food adalah produksi pabrik dengan kemasan yang menarik.

Anak – anak yang terlalu sering makan junk food umumnya menjadi malas makan karena junk food rasanya lebih enak dan juga mengenyangkan. Dengan kandungan kalorinya yang tinggi, konsumsi junk food terlalu sering dapat memunculkan masalah kegemukan. Adalah sangat penting bagi orang tua untuk selalu mengingatkan anak – anaknya tentang makanan jajanan yang sebaiknya dibeli di sekolah. Selain pertimbangan harga dan gizi, anak – anak hendaknya sudah mulai disadarkan tentang aspek keamanan pangan. Bahan tambahan makanan (BTM) sering kali sengaja ditambahkan ke dalam makanan jajanan dengan tujuan untuk memperbaiki tekstur, rasa, penampakan, dan memperpanjang daya simpan makanan.

Penggunaan BTM secara sembarangan dapat memunculkan gangguan kesehatan. Bahan – bahan kimia yang tidak tergolong sebagai BTM dilarang untuk digunakan sebagai tambahan makanan karena dapat

membahayakan kesehatan. Bahan – bahan kimia tersebut misalnya pewarna tekstil, boraks (bleng, cetitet), dan formalin. Pedagang – pedagang yang nakal menggunakan bahan kimia tersebut misalnya pewarna tekstil, borak (Khomsan, 2006). Jajanan, khususnya yang dijual di pinggir jalan, rentan terhadap polusi debu maupun asap knalpot. Seringkali makanan tersebut tidak dipersiapkan secara higienis atau juga mempergunakan bahan-bahan yang berbahaya seperti zat pewarna karena alasan harganya murah. Makanan jajanan yang demikian cepat atau lambat akan mendatangkan gangguan kesehatan.

Pola makan seorang anak pada dasarnya dapat dibentuk oleh keluarganya. Kalau orang tua dapat memperhatikan pola konsumsi anakanaknya, maka mereka bisa mengontrol dan menasihati makanan apa yang seyogyanya dikonsumsi dan makanan apa yang sebaiknya dihindari. Pepatah mengatakan, you are what you eat. Kalau kita biasa makan sampah, maka yang keluar juga sampah. Namun, bila yang kita makan adalah makanan bergizi dengan menu seimbang, niscaya kita pun akan menjadi insane yang berkualitas. (Khomsan, 2006).

g.

Sarapan Yang Sehat Sarapan sehat adalah yang mengandung gizi lengkap. Hanya

masalahnya sering kali sayur tidak bisa tersedia pada saat itu sehingga sarapan pagi yang disediakan umumnya minus sayuran. Namun, hal ini tidak menjadi masalah karena fungsi sayuran sebagai penyumbang vitamin dan mineral bisa digantikan oleh buah. Minum susu pada pagi hari sangat baik karena susu selain sebagai sumber vitamin/mineral juga kaya akan lemak. Apabila kita

mengkonsumsi lemak, kita akan relatif lebih tahan lapar. Di dalam tubuh lemak dicerna lebih lama dibandingkan karbohidrat dan protein. Selain itu lemak adalah kontributor energi yang lebih tinggi, yaitu 9 kalori per gram lemak, sementara karbohidrat dan protein hanya 4 kalori per gramnya (Khomsan, 2006). Pada dasarnya sarapan yang dianggap sehat sebetulnya sederhana saja yaitu sarapan yang terdiri dari makanan, yang mampu menyediakan :

a)

Beberapa jenis protein seperti misalnya, susu, telor, peanut butter, daging dan unggas.

yoghurt, keju,

b)

Jumlah yang cukup akan kompleks karbohidrat (bukan murni) seperti, misalnya biji – bijian, roti, muffins, singkong, ubi jalar dan lain sebagainya.

c)

Mengandung serat, mikronutrien dan rendah kandungan lemak contohnya buah-buahan dan sayuran. Dengan susunan sarapan tersebut anak-anak akan mendapat

kebutuhan gizi untuk tumbuh, kegiatan jasmani serta daya pikirnya. Mikronutrien adalah zat gizi yang tergolong renik atau kecil jumlahnya tetapi penting artinya dalam metabolisme seperti vitamin dan mineral. Serat makanan terdapat pada produk nabati, tidak memiliki nilai gizi, tetapi keberadaannya dalam pencernaan penting sekali artinya, khususnya dalam proses pengeluaran sisa-sisa

metabolisme dan racun yang seharusnya dapat didorong keluar bersama serat melalui tinja. Protein yang dikonsumsi selama sarapan akan berada di lambung serta usus relatif lebih lama, sehingga pencernaan maupun

penyerapannya ke dalam darah berlangsung lebih lambat karena alasan tersebut, bila seseorang mengkonsumsi banyak protein seperti daging, telur, tempe, tahu misalnya akan merasa kenyang dalam waktu cukup lama, tidak cepat timbul rasa lapar serta mampu menjaga kadar gula dalam darah selalu dalam keadaan yang cukup tinggi seperti yang dituntut oleh tubuh yang sehat.

Di samping itu menu sarapan yang baik harus terdiri dari makanan yang putera puterinya menyukai dan gemar menyantap kalau tidak mereka akan menderita karena terpaksa. Para ibu dan bapak, demi putera – puterinya yang masih kecil harus kreatif dan imajinatif dalam merekayasa menu sarapan yang digemari keluarga. Contohnya, sayur dan lauk pauk yang menjadi favorit putera – puteri sandwich yang menarik, “ pancake” dengan buah – buahan dan lain sebagainya. Pendek kata beberapa makanan yang sangat menggelitik lidah putera puteri dapat dijadikan pilihan. Jenis hidangan tersebut dapat di “pre-cooked” dan disimpan dalam keadaan beku di lemari es, dan paginya secara cepat dapat dipanaskan dan hidangan dan disantap bersama. Hidangan sarapan yang disiapkan “with love” akan sangat positif sekali hasilnya bagi keluarga dan masa depan anak. Memang ketertiban keluarga sebagian dapat diamati dari

ketertiban mereka dalam tata karma dalam menyantap bersama di meja makan. Kebiasaan orang tua yang sibuk yang menyepelekan arti sarapan bagi anak – anak dengan mengganti memberi uang jajan, dengan anggapan putera puterinya yang masih kecil memiliki seluruh kebijakan memilihkan apa yang lebih baik, bersih dan sehat ternyata tidak benar. Kasih sayang ibu tidak dapat diganti dengan uang jajan (Winarno, 2002).

h.

Manfaat Sarapan Pagi Bagi anak sekolah, sarapan pagi meningkatkan konsentrasi belajar

dan memudahkan untuk menyerap pelajaran, sehingga prestasi belajar lebih baik. Beberapa manfaat sarapan pagi antara lain: 1. Sarapan memenuhi nutrisi yang dibutuhkan. Menunda sarapan membuat tubuh sulit memperoleh asupan nutrisi dan vitamin yang direkomendasikan. Menu sarapan sereal dengan susu atau yogurt rendah lemak akan memberi cukup kalsium dan serat. Individu yang rutin sarapan pagi kebutuhan Fe, thiamin, dan kalsium tercukupi. Hubungan antara asupan sarapan pagi dengan status biokimia dilaporkan pada penelitian di Perancis dengan 1008 sampel. Level

plasma tiamin, riboflavin, dan β karoten ditemukan lebih tinggi sebagai persentase energi dari konsumsi sarapan pagi. Kebiasaan tidak sarapan pagi yang berlama-lama juga akan mengakibatkan pemasukan zat gizi menjadi berkurang dan tidak seimbang sehingga pertumbuhan anak menjadi terganggu (Ruxton, 1997; Wyatt, 2002). 2. Sarapan meningkatkan kemampuan otak. Bagi seseorang yang tidak sarapan, berarti perutnya kosong

sekitar 14-16 jam sejak makan sebelumnya sampai makan siang nantinya. Dengan berpuasa selama ini, kadar gula darahnya akan Kondisi ini dapat

menurun bahkan bisa sampai di bawah normal.

mempengaruhi kemampuan otak sebagai pusat pengendali tubuh karena tubuh kita dapat berfungsi dengan normal jika tersedia glukosa darah sebagai sumber energi utama bagi sel-sel otak.

Dengan demikian seseorang yang biasa tidak sarapan pagi bertahun-tahun akan berakibat buruk pada penampilan intelektualnya, prestasinya di sekolah menurun, kemampuannya memecahkan suatu masalah menjadi sangat menurun dan kemampuan sosialisasinya menjadi terganggu. Dua penelitian randomized conrolled trials yang dilakukan oleh Powell melaporkan efek positif sarapan pagi dalam prestasi dan tingkat kehadiran di sekolah (Rampersaud, 2005). 3. Sarapan mengontrol berat badan. Sarapan menjadi strategi pengontrolan berat badan. Perilaku yang sering menjadi target dalam program manajemen dan yang

memberikan kontribusi keberhasilan mempertahankan berat badan dalam jangka lama adalah kebiasaan sarapan pagi. Pada umumnya, individu yang makan pagi secara teratur memiliki intake mikronutrien yang cukup dan persentase kalori dari lemak yang lebih rendah (Wyatt, 2002).

i. 1.

Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Intake Makanan pada Anak Peranan keluarga Peranan keluarga sangat penting bagi anak, bahkan dalam

pemilihan bahan makanan sekalipun. Makan bersama keluarga dengan suasana yang akrab akan dapat meningkatkan nafsu makan mereka di rumah dan tidak mencari makanan yang tidak bergizi dari luar rumah (Birch, 1998). Orangtua yang memiliki kebiasaan sarapan pagi di rumah merupakan faktor signifikan terhadap kebiasaan sarapan pada anak (Keski, 2003).

2.

Teman sebaya Anak-anak dengan sosial tinggi, memperlihatkan peran teman

sebaya menjadi tampak jelas. Tidak heran jika asupan makanan akan banyak dipengaruhi oleh kebiasaaan makan teman-teman sebaya atau kelompoknya. Apa yang diterima oleh kelompok juga dengan mudah akan diterimanya, demikian pula halnya dengan pemilihan bahan makanan. 3. Media Masa Media masa lebih banyak berperan adalah media televisi, koran, dan majalah. Di satu sisi banyak sekali iklan makanan yang kurang

memperhatikan perilaku yang baik terhadap pola makan (Birch, 1998). Oleh karena itu informasi tersebut harus juga ditunjang dengan informasi ilmiah yang benar mengenai kesehatan dan gizi. 4. Sosial ekonomi Kemampuan keluarga untuk membeli makanan tergantung pada besar-kecilnya pendapatan keluarga, harga bahan makanan itu sendiri serta tingkat pengolahan sumber daya lahan dan pekarangan.

j.

Masalah yang Sering Timbul pada Masa Kanak-Kanak Masalah yang sering timbul pada masa anak-anak antara lain :

1.

Makan tidak teratur Aktivitas yang tinggi baik kegiatan di sekolah maupun di luar

sekolah menyebabkan makan menjadi tidak teratur (Sayogo, 2006). Selain itu tidak jarang anak sekolah makan di luar dengan komposisi gizi tidak seimbang. 2. Gangguan makan

Terdapat dua jenis gangguan makan yaitu anoreksia/tidak nafsu makan dan bulimea nervosa. 3. Diet restriktif Studi prospektif Growing Up Today Study GUTS) tahun 1996 merekrut anak-anak dan remaja (9-14 tahun) menemukan bahwa 25 % anak putri dan 13,8 % anak putra melakukan diet tidak teratur dan 4.5 % anak putri, 2,2 % anak putra melakukan diet secara teratur. Selama follow-up tiga tahun anak yang diet berat badannya bertambah dibandingkan anak yang tidak diet. Frekuensi diet berasosiasi secara positif dengan peningkatan umur dan peningkatan Indeks Massa Tubuh (Field, 2003). 4. Obesitas Pada manusia, obesitas dipengaruhi oleh beberapa faktor

lingkungan dan faktor-faktor dasar yaitu suatu kombinasi antara kecenderungan herediter yang berinteraksi seimbang dengan kebiasaan makan serta aktivitas fisik (Birch, 1998). Dan tubuh memiliki

kemampuan luar biasa terhadap perubahan-perubahan makanan dan latihan fisik yang disebut adaptasi metabolisme untuk mempertahankan homeostasis (Rosenbaum, 1998). Studi terhadap 66 pasangan kembar dengan estimasi 75%-80% pengaruh genetik terhadap variasi fenotip. Tentu saja, variabilitas dalam berat badan individu juga dipengaruhi faktor lingkungan yaitu pola makan dan tingkat aktivitas. Analisis multivariat menyatakan korelasi genetik (r =0,74) dan lingkungan ( r s= 0,67) terhadap persentase lemak tubuh dan Indeks Massa Tubuh

(Faith, 1999).

Kegemukan menjadi sesuatu yang harus diwaspadai karena kegemukan yang berkelanjutan akan membawa berbagai penyakit penyerta. Pada dasarnya kegemukan pada anak membawa dampak sosial-psikologis. Anak yang mengalami kegemukan akan menarik diri dari pergaulan, kurang leluasa dalam melaksanakan kegiatan fisik di sekolah, dan akan semakin tenggelam dalam kebiasaan makan dengan porsi besar (Khomsan, 2006).

BAB III PENUTUP

a. 1.

Kesimpulan Gizi merupakan salah satu faktor penting yang menentukan tingkat kesehatan dan kesejahteraan manusia.

2.

Zat-zat gizi (nutrisi) yang diperlukan manusia agar sehat ada 6 golongan : karbohidrat (hidrat arang, yang terdiri dari zat tepung dan zat gula), lemak, protein (zat putih telur), serat makanan, berbagai vitamin, dan mineral juga air.

3.

Sarapan atau makan pagi adalah menu makanan pertama yang dikonsumsi seseorang yang biasa dilakukan pada pukul 06.0008.00

4. 5.

Sarapan sehat adalah yang mengandung gizi lengkap. Sarapan pagi dapat meningkatkan konsentrasi belajar,

memudahkan untuk menyerap pelajaran dengan baik, memenuhi nutrisi yang dibutuhkan, meningkatkan kemampuan otak, dan mengotrol berat badan. 6. Faktor yang mempengaruhi intake makanan pada anak yakni keluarga, teman sebaya, media massa, sosial ekonomi. 7. Masalah yang terjadi pada anak terkait kebiasaan makan pagi antara lain aktivitas yang banyak sehingga makan tidak teratur, gangguan makan, diet, obesitas, jajanan yang tidak sehat, tidak disediakan sarapan dll.

8.

Jika

anak

tidak

terbiasa

makan

pagi

maka

mengalami

ketidakseimbangan sistem syaraf pusat yang diikuti rasa pusing, badan gemetar, atau rasa lelah. Anak akan sulit menerima pelajaran dengan baik. Gairah belajar dan kecepatan reaksi juga akan menurun. 9. Solusi bagi anak agar terbiasa makan pagi yakni ciptakan menu sarapan yang baik, sehat, dan unik, dampingi anak di saat sarapan, serta biasakan bangun pagi, dsb. Lakukan mulai saat ini dan dari sendiri.

b.

Saran Perlu perhatian dan tindak lanjut secara berkesinambungan dari

seluruh aspek masyarakat dalam hal membiasakan makan pagi khususnya anak-anak. Selain itu, perlu penelitian lebih seksama untuk mendukung informasi pentingnya saran pagi sehingga harapannya masyarakat bisa menerima dengan baik.

DAFTAR PUSTAKA

Achmad Djaeni Sediaoetama. 2000. Ilmu Gizi untuk Mahasiswa dan

Profesi (Jilid 1). Jakarta : Dian Rakyat.
Ebrahim, G.J. 1988. Ilmu Kesehatan Anak di Daerah Tropis. Yogyakarta : Yayasan Essentia Medica. Hassan, Dr. Rusepno.,et al. 2007. Buku Kuliah 1 Ilmu Kesehatan Anak. Jakarta : Info Medika. Khomsan, Prof. Dr. Ir. Ali. 2003. Pangan dan Gizi Untuk Kesehatan. Jakarta : PT Raja Grafindo Persada. Khomsan, Prof. Dr. Ir. Ali. 2006. Solusi Makanan Sehat. Jakarta : PT Raja Grafindo Persada. Lucas. 1993. Perkembangan Anak Usia Sekolah. Jakarta : PT. Rajawali. Notoatmodjo, Prof. Dr. Soekidjo. 2003. Ilmu Kesehatan Masyarakat

(Prinsip-Prinsip Dasar). Jakarta : PT Asdi Mahasatya.
Soehardi, Soenarso. 2004. Memelihara Kesehatan Jasmani Melalui

Kesehatan. Bandung : ITB.
Utami, dr. Prapti. 2010. Jus Untuk Kecerdasan, Kesehatan, dan Daya

Tahan Tubuh Anak. Jakarta : Agromedia Pustaka.
Winarno. 2002. Kesehatan Pangan Vitalitas. Bogor : M-Brio Press. Wiryo, Sp. A, DR. Dr. Hananto. 2002. Peningkatan Gizi Bayi, Anak, Ibu

Hamil, dan Menyusui dengan Bahan Makanan Lokal. Jakarta : PT.
Sagung Seto.

PENGARUH SARAPAN PAGI PADA ANAK USIA SEKOLAH

Disusun oleh :

Kelompok VIII

Astri Nur Komala Sari Dita Rani Pupitasari Eva Apriliyana Rizki Irmawati Muayanah

Ilmu Kesehatan Masyarakat AKADEMI FARMASI SAMARINDA 2012/2013