BAB I

PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG

Dimensi perubahan masyarakat dapat dimaknai sebagai perubahan dalam hubungan antara desa dan kota. Desa senantiasa berfungsi sebagai sarana penyedia bahan primer untuk kepentingan kegiatan industri kota, sebaliknya kota menjadi kekuatan perubahan sebuah desa melalui penyediaan industri untuk mendorong pembangunan di desa. Menurut Chenery, peranan sektor pertanian secara presentase terhadap pembentukan produk nasional memang akan cenderung menurun (Nuhung, 2007). Fenomena tersebut muncul karena adanya serangkaian perubahan yang saling berkaitan dalam struktur perekonomian, sehingga menyebabkan terjadinya transformasi struktural dari ekonomi tradisional ke sistem ekonomi modern (Todaro, 2006). Hubungan desa-kota secara fungsional menjadi dasar terciptanya penyediaan lapangan kerja di desa dan kota secara seimbang. Hubungan desa-kota lebih lanjut akan mengalami perubahan ketika kekuatan pertumbuhan industri di kota mengalami peningkatan dan memberikan peluang lapangan kerja yang tinggi. Proses tersebut ditandai dengan meningkatnya arus urbanisasi penduduk desa ke kota untuk memenuhi permintaan tenaga kerja di kota tersebut. Akan tetapi

konsep hubungan tersebut tidak selamanya terjadi di beberapa negara berkembang termasuk Indonesia atau pada beberapa kota di Indonesia.

1

Tekanan terhadap sektor primer (pertanian) di desa semakin lama semakin terdegredasi, baik sebagai akibat semakin mengikisnya lahan-lahan pertanian maupun akibat sarana dan prasarana desa-kota yang semakin meningkat akhirnya terjadi dorongan mobilitas penduduk desa kota semakin meningkat pula. Sebagaimana dikatakan Goldthorpe (1992) bahwa banyak tenaga buruh berdatangan, seringkali karena terdesak dari tanah garapannya oleh kemajuan pertanian sedangkan di tempat yang baru, mereka hidup dalam keadaan melarat dan jorok, karena tidak memiliki modal maupun pengetahuan untuk mendapatkan tempat tinggal yang layak dan sehat. Jadi bukannya karena faktor pertumbuhan industri di kota yang menyebabkan dorongan penduduk desa ke kota. Sehubungan dengan hal tersebut, Kate Young dalam satu penelitiannya di Meksiko menunjukkan bahwa hancurnya pertanian tradisional sebagai akibat komersialisasi menyebabkan kaum perepmuan, yang sebelumnya banyak bekerja di pertanian, bermigrasi keluar ke kota Meksiko (Saptari dan Holzner. 1997:266). Gejala perubahan demikian umumnya merupakan fenomena yang terjadi hubungan antara desa-kota di Indonesia. Akibat lanjut dari fenomena tersebut menimbulkan apa yang disebut gejala involusi perkotaan. Tekanan arus penduduk dari desa ke kota setiap tahun semakin meningkat, dilain pihak kota tidak mampu menyediakan tenaga kerja. Hal tersebut disebabkan pula karena umumnya orangorang yang masuk ke kota tidak dipersiapkan dengan pendidikan dan keterampilan yang memadai, akibatnya pengangguran tidak terdidik dan tidak terampil tidak bisa dihindari dan menjadi beban hidup pemerintah kota.

2

Di lain pihak hubungan desa-kota melalui arus urbanisasi terus mengalami peningkatan, sementara itu sektor industri kota semakin terdesak dengan arus perdagangan global. Banyak sektor industri tidak mampu bertahan dengan persaingan sistem perdagangan global, akibatnya mendorong terjadinya pemutusan hubungan kerja (PHK). Kelompok masyarakat yang paling banyak mengalami kehilangan pekerjaan adalah kelompok perempuan dengan tingkat pendidikan menengah ke bawah dan keterampilan seadanya. Akan tetapi desakan yang dialami oleh sektor industri tersebut di lain pihak terjadi peningkatan di sekor perdagangan dan jasa. Hampir semua kota-kota di Indonesia mengalami pertumbuhan ekonomi melalui peranan sektor ini. Tidak kalah pentingnya adalah semakin pentingnya peranan sektor perdagangan dan jasa tersebut dalam menyediakan lapangan kerja level pendidikan menengah ke bawah dan kemampuan keterampilan yang rendah. Gejala umum yang terjadi dari aspek ketenagakerjaan adalah semakin besarnya peluang bagi tenaga kerja perempuan. Keterlibatan wanita dalam pasar tenaga kerja ditinjau dari perspektif Karl Marx erat kaitannya dengan perkembangan sistem kapitalis. Pada dasarnya perkembangan kapitalis sangat tergantung pada akumulasi modal dengan demikian kedudukan buruh dalam sistem ini hanya merupakan komoditi yang dinilai dengan nilai tukar di pasar bebas (Dalam Sudarwati, 2003) Perkembangan sektor perdagangan dan jasa pada umunya membutuhkan tenaga kerja keterampilan menengah akan tetapi membutuhkan ketelitian dan kelincahan yang tinggi. Karakteristik tenaga kerja demikian yang dianggap sesuai

3

adalah tenaga kerja perempuan. Mall Ramayana termasuk salah satu perusahaan yang berpusat di Jakarta dan mengembangkan usahanya di Kota Makassar dan bahkan mampu menyaingi mall yang telah ada sebelumnya. termasuk diantaranya mall Ramayana. Mall Ramayana turut menghiasi beberapa pusat perbelanjaan di Kota Makassar seperti kawasan perdagangan Panakkukang. Perkembangan tersebut selain disebabkan oleh berkembangnya arus mobilitas penduduk baik berasal dari daerah-daerah disekitar Sulawesi Selatan maupun dari luar Sulawesi selatan. Fenomena pekerja perempuan yang membanjiri dunia perkotaan melalui berbagai lapangan pekerjaan khususnya sektor perdagangan dan jasa dari aspek ketenagakerjaan menarik untuk diteliti. juga tidak lepas dari semakin berperannya Kota Makassar sebagai pusat pertumbuhan perekonomian di kawasan Indonesia Timur. Mall Ramayana kini telah dikenal oleh masyarakat Kota Makassar mulai lapisan masyarakat bawah sampai lapisan masyarakat atas. Gejala perkembangan Kota Makassar turut mendorong terjadinya pertumbuhan permintaan tenaga kerja termasuk tenaga kerja perempuan. Permintaan terhadap tenaga kerja perempuan terus bertambah seiring dengan terjadinya pertumbuhan di sektor jasa perdagangan dan pusat-pusat perbelanjaan berskala besar dan membutuhkan tenaga kerja massal seperti supermarket dan mall. Relevan dengan hal tersebut Kota Makassar sebagai salah satu kota besar di Indonesia khususnya di kawasan Indonesia Timur telah memperlihatkan perkembangannya dalam kurun waktu kurang lebih sepuluh tahun terakhir yaitu sekitar tahun 2000. dan kawasan perdagangan Tamalanrea. hal tersebut disebabkan sistem 4 .

manajemen yang diterapkan yang mampu menjangkau seluruh lapisan masyarakat. SKEMA KERANGKA PIKIR Salah satu sektor perdagangan yang memiliki prospek perkembangan yang cukup pesat diperkotaan adalah apa yang disebut pasar modern (mall). 5 . Sektor ini termasuk sektor perdagangan yang secara ekonomi memiliki nilai peredaran uang dan barang yang cukup tinggi dalam skala harian. Karakteristik pekerjaan pada sektor ini diantaranya dibangun berdasarkan pengerahan tenaga kerja secara massal dengan tujuan memberikan pelayanan kepada konsumen secara efektif atau dengan pelayanan prima. B. Faktor lain adalah para pekerja diharuskan memiliki keterampilan dalam penguasaan tugas pekerjaan mereka serta menjaga kepercayaan baik terhadap sesama pekerja serta terhadap majikan. Dengan demikian keberhasilan sektor perdagangan (mall) diantaranya ditentukan sejauhmana para pekerja tersebut memiliki kemampuan berkomunikasi dalam memperkenalkan perusahaan yang mereka perkenalkan. RUMUSAN MASALAH Dari latar belakang sebagaimana dikemukakan sebelumnya maka sebagai permasalahan dalam penelitian ini dapat dikemukakan dalam bentuk pertanyaan penelitian sebagai berikut : “Bagaimana struktur hubungan kerja yang terdapat dalam perdagangan (Mall) Ramayana?” C.

Selanjutnya keberadaan para pekerja khususnya pekerja perempuan dengan berbagai karakteristik sosial yang dimiliki senantiasa berupaya membangun strategi-strategi tertentu dalam mempertahankan keberaadaan mereka sebagai pekerja. Hal tersebut dikarenakan secara ekonomi. Sehingga dengan pihak pekerja senantiasa berupaya melakukan strategi-strategi tertentu untuk bisa tetap eksis bekerja ditempatnya.akan tetapi memiliki dimensi-dimensi hubungan sosial melalui mana terbangun seperangkat norma atau aturan-aturan yang harus disepakati sehingga pada dasarnya terbentuk apa yang disebut stuktur hubungan kerja. Bahwa hubungan-hubungan sosial yang terjadi di dalamnya memiliki dimensi-dimensi hubungan yang bisa bersifat atau memiliki pola ketergantungan yang seimbang ataukan tidak seimbang. Dengan demikian.Dalam membangun saling kepercayaan antara tugas yang diberikan kepada para pekerja dengan majikan menimbulkan tidak saja dapat dilihat sebagai sebuah hubungan kerja secara ekonomi semata. bahwa tingginya permintaah terhadap tenaga kerjaa disektor perdagangan mall memungkinkan pihak perusahaan sewaktu-waktu dapat memutuskan hubungan kerja terhadap mereka. sektor perdagangan (mall) sebagai sebuah lembaga ekonomi memiliki karakteristik sosial yang menarik untuk dikaji dari aspek struktur dan dinamikanya. Atas dasar tersebut maka dalam kaitan dengan rumusan permasalahan yang dikemukakan sebelumnya. peneliti mencoba membingkai dalam sebuah skema kerangka pikir sebagai berikut: 6 .

maka sebagai tujuan dari penelitian ini ialah : 1. TUJUAN PENELITIAN Sebagaimana dijelaskan pada latar belakang dan rumusan permasalahan serta kerangka pikir di atas. Mendeskripsikan struktur hubungan sosial formal pekerja perempuan yang terjadi dalam sistem perdagangan (mall) di Kota Makassar. 2. 13/2003 Hubungan dengan atasan/ bawahan Hubungan tidak seimbang/ketergantungan tinggi Hubungan Sosial Informal: Sesama pekerja pada saat jam kerja dan diluar jam kerja Ketergantungan atasan/bawahan Serikat pekerja Indonesia - Gambar Skema Kerangka Pikir D.Struktur Sosial Hubungan Kerja Perdagangan Mall Pekerja Perempuan Hubungan Sosial Formal: Hubungan kerja didasarkan UU No. Mendeskripsikan struktur hubungan sosial informal pekerja yang terjadi dalam sistem perdagangan (mall) di Kota Makassar. 7 .

F. Penyerapan tenaga kerja khususnya perempuan secara tidak langsung 8 . maka hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi pertimbangan rumusan kebijakan terkait dengaan pengembangan sumber daya manusia ketenagakerjaan pada umumnya serta khususnya pemibinaan pekerja perempuan pada sektor perdagangan mall. Secara akademis hasil penelitian ini diharapkan dapat memperluas/mengambangkan wawasan pemahaman konsep dalam bidang ilmu-ilmu sosial terutama sosiologi. 2. Sedangkan pemilihan lokasi penelitian berdasarkan pertimbangan bahwa salah satu sektor yang cukup berkembang dalam penyerapan tenaga kerja perkotaan adalah sektor perdagangan mall. Pemilihan perdagangan mall dengan pertimbangan bahwa sektor ini cukup memiliki prospek kerja bagi kaum perempuan dilihat dari aspek jenis pekerjaan atau kegiatan. KEGUNAAN PENELITIAN Adapun kegunaan dari penelitian yaitu : 1. Secara praktis yaitu dari aspek kebijakan. Lokasi penelitian Penelitian ini dilakukan di Kota Makassar dengan mengambil lokasi pada sektor perdagangan mall khususnya Mall Ramayana. sehubungan dengan konsep struktur hubungan sosial formal dan struktur hubungan sosial informal pekerjadalam sistem perdagangan khususnya mall.E. METODOLOGI PENELITIAN 1.

mereka itu bekerja baik sebagai pekerja tetap dan tidak tetap (kontrak) dan berasal dari daerah diluar Makassar. Tipe dan Dasar Penelitian Penelitian ini adalah deskriptif-kualitatif. 3. Pemilihan Informan Informan terdiri dari pekerja perempuan yang dipilih secara purposive. Pemilihan informan di lakukan secara purposive yaitu pemilihan secara sengaja dengan maksud menggali informasi tentang hubungan sosial yang ada di Mall Ramayana khususnya yang dialami oleh pekerja. 9 . Sedangkan dasar penelitian ialah studi kasus yaitu mencoba menggambarkan secara utuh tentang keberadaan pekerja perempuan dalam suatu jaringan hubungan sosial pada perusahaan perdagangan Mall Ramayana.diharapkan menjadi alternatif pemecahan masalah ketenagakerjaan khususnya perempuan yang diasumsikan merupakan arus tenaga kerja dari pedesaan. yaitu penelitian yang menggambarkan karakteristik dari fenomena yang terdapat pada keberadaan pekerja perempuan dalam konteks hubungan-hubungan kerja yang terjadi dalam sektor perdagangan mall. 2. Adapun kriteria dari informan adalah para pekerja perempuan yang telah bekerja di sektor ini kurang lebih selama 2-3 tahun. serta informan yaitu unsur pimpinan yang memiliki hubungan langsung dengan pekerjaan pekerja perempuan bersangkutan.

yaitu dengan melakukan pengamatan langsung terhadap beberapa aktivitas yang berkaitan dengan karakteristik pekerjaan. Pekerja perempuan 3 (tiga) orang. Setiap fenomena yang menjadi fokus perhatian dicatat pada dokumen catatan yang telah dipersiapkan.Para informan ini terdiri dari: Supervesor 2 (dua) orang. Analisis data Seluruh data yang telah diperoleh dianalisis melalui beberapa tahapan yaitu dimulai tahap pemeriksaan catatan-catatan/dokumen. 6. Tujuannya adalah terutama digunakan dalam rangka klarifikasi dan konfirmasi informasi atau data dari responden pekerja perempuan. Teknik pengumpulan data - Wawancara. yaitu dengan melakukan wawancara langsung kepada responden dan informan dengan menggunakan depth interview (pedoman yang berisi pokok-pokok wawancara). 4. 5. kemudian tahapan 10 . Di samping data sekunder yaitu data yang bersumber dari dokumen-dokumen yang terkait dengan kebutuhan penelitian. - Observasi langsung. Sumber dan jenis data Data yang akan dijaring dalam penelitian ini ialah data yang bersumber langsung dari responden dan informan atau yang disebut data primer.

11 .pengklasifikasian data. selanjutnya tahapan deskripsi yang berupaya menggambarkan fenomena struktur dan dinamika hubungan kerja pada sektor perdagangan mall.

situasi. 12 . kadang-kadang dengan tekanan pada statistik. isinya adalah keadaan statis dari sistem sosial yang bersangkutan (Brown dalam Soekanto. yang memberikan batas-batas pada aksi-aksi yang mungkin dilakukan secara organisatoris seperti lembagalembaga. Dalam perkembangannya konsep struktur sosial lebih banyak dipergunakan dalam sosiologi. lembaga politik dan lembaga hukum dari masyarakat sederhana. 1983:109). Sementara itu Redeliffe Brown mengartikan struktur sosial mencakup semua hubungan sosial antara individu-individu pada saat tertentu. 1983:108). menggunakan konsep struktur sosial untuk menggambarkan keteraturan elemenelemen atau unit-unit masyarakat.C. untuk menunjuk pada perilaku yang diulang-ulang dengan bentuk atau cara yang sama. Marsh dalam Soekanto. Sebagaiman D. dan terutama dipergunakan dalam analisa terhadap masalah kekerabatan. Struktur sosial kadang dipergunakan untuk menggambarkan keteraturan sosial. Suatu struktur sosial merupakan aspek non-prosessual dari sistem sosial. proses dan posisi sosial (Brown dalam Soekanto. KONSEP DAN TEORI STRUKTUR SOSIAL Istilah struktur sosial bermula diperkenalkan dalam studi antropologi sosial yang seringkali dipergunakan sebagai sinonim dari organisasi sosial. Seperti dikemukakan Firth bahwa struktur sosial mengacu pada hubungan-hubungan sosial yang lebih fundamental yang memberikan bentuk dasar pada masyarakat.BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. kelompok.

Dimensi pertama. Dimensi kedua. 1983:115). mencakup kelompok-kelompok sosial (Soekanto. Dimensi keempat. Lebih lanjut dikatakan bahwa dalam konsep struktur sosial dalam sosiologi dianggap sebagai inti pendekatan struktural fungsional. Dengan kata lain dalam sistem sosial. agama. 13 . konsep struktur sosial secara terperinci menjabarkan manusia yang menempati posisi-posisi dan melaksanakan peranannya (Soekanto. 1983:112). Dimensi ketiga. ekonomi. Bahwa struktur sosial diartikan sebagai hubungan timbal balik antara posisi-posisi sosial dan antara peranan-peranan. mencakup derajat konformitas terhadap perilaku yang pantas atau yang dikehendaki oleh masyarakat.kadang-kadang konsep tersebut diartikan sama dengan konsep psikologi tentang struktur kelompok yang diterapkan terhadap kelompok-kelompok kecil yang artifisial (Soekanto. kekayaan. merupakan kedudukan sosial (“social status”) yang didasarkan pada usia dalam keluarga. 1983:111-112). derajat pengaruh atau tradisi. Konformitas mencakup titik paling patut sampai pada penyimpangan serta penyelewengan. yang mencakup lembagalembaga (sosial). Dari beberapa konsep tersebut di atas maka struktur sosial dapat diklasifikasikan atas empat dimensi struktur sosial. pendidikan. keluarga dan juga kelompok-kelompok formal dan informal. di mana tercakup pola perilaku yang terorganisasikan ke dalam lembaga-lembaga politik.

atau posisi suatu kelompok dalam hubungannya dengan kelompok lainnya. Sedangkan kedudukan diartikan sebagai tempat atau posisi seseorang dalam suatu kelompok sosial. DAN PERAN Konsep yang terkait dengan struktur sosial ialah kedudukan. Peran (role) merupakan aspek yang dinamis dari kedudukan (status). atau tempat suatu kelompok sehubungan dengan kelompok-kelompok lain di dalam kelompok yang lebih besar lagi (Sutinah & Siti Norma dalam Narwoko dan Suyanto. status dan peran. KEDUDUKAN (STATUS). dalam arti lingkungan pergaulannya. Konsep kedudukan dalam penelitian ini dibedakan dengan konsep kedudukan sosial yang senantiasa diartikan sebagai tempat seseorang secara umum dalam masyarakat sehubungan dengan orang lain. Dalam konteks penelitian ini maka yang dimaksudkan kedudukan ialah posisi kelompok pekerja perempuan sehubungan dengan orang lain seperti kelompok pengawas pekerja(supervisor) dan kelompok majikan atau sehubungan dengan perusahaan mall lebih luas. 14 .2010:159). Peran mengatur perikelakuan seseorang (Sutinah & Siti Norma dalam Narwoko dan Suyanto.B. sehubungan dengan orang lain dalam kelompok tersebut. bahwa kedudukan (status) yaitu sebagai suatu peringkat atau posisi seorang dalam suatu kelompok. dan kewajiban. hak-hak.2010:156). Pengertian serupa sebagaimana dikemukakan oleh Horton dan Hunt (1993:118). Artinya. seseorang telah menjalankan hak-hak dan kewajiban-kewajiban sesuai dengan kedudukannya. prestisenya. maka orang tersebut telah melaksanakan sesuatu peran.

Sedangkan Horton dan Hunt (1993:118) mengartikan peran sebagai perilaku yang diharapkan dari seseorang yang mempunyai suatu status.2010:159). apa yang harus dilakukan para pekerja perempuan dalam perusahaan mall. individu dengan kelompok atau antar kelompok yang secara langsung ataupun tidak langsung dapat menciptakan rasa saling pengertian dan kerja sama yang cukup tinggi. HUBUNGAN SOSIAL PEKERJA Hubungan Sosial adalah suatu kegiatan yang menghubungkan kepentingan antar individu. Bilamana dikaitkan dengan penelitian ini maka konsep peran yang dimaksudkan disini adalah bagaimana peran pekerja perempuan telah menjalankan hak-hak dan kewajiban-kewajiban sesuai dengan kedudukannya sebagai pekerja dalam perusahaan/perdagangan mall meliputi aturan-aturan perusahaan yang diterapkan kepadanya. serta perilaku pekerja perempuan sehubungan dengan stuktur hubungan dalam perusahaan tersebut. dan 3) peran dapat dikatakan sebagai perilaku individu yang penting bagi struktur sosial masyarakat (Sutinah & Siti Norma dalam Narwoko dan Suyanto. C. keramahan. 15 . keakraban. 2) peran adalah suatu konsep ikhwal apa yang dapat dilakukan oleh individu dalam masyarakat. serta menunjang tinggi persatuan dan kesatuan bangsa.Selanjutnya dikatakan bahwa. peran paling sedikit mencakup 3 (tiga) hal yaitu: 1) peran meliputi norma-norma yang dihubungan dengan posisi atau tempat seseorang dalam masyarakat.

16 . Bentuk hubungan sosial berdasarkan kelompok mayoritas dan minoritas. Bentuk hubungan sosial berdasarkan kelompok sosial : Prasangka & Institusi. 4. Bentuk hubungan sosial berdasarkan kelompok etnik. 3. 2. Dalam hal konsep hubungan sosial pekerja selama ini baru dikenal dalam kajian-kajian tentang hubungan kerja di sektor industri sebagai bagian dari analisis terkait dengan sosiologi industri. Bentuk hubungan sosial berdasarkan klasifikasi Antar kelompok : Fisiologis dan kebudayaan. dan rasialisme : ras & rasisme. Bentuk hubungan sosial berdasarkan pola hubungan sosial antar kelompok : Akulturasi. akan diadopsi konsep yang terdapat dalam sosiologi industri. Bentuk hubungan sosial berdasarkan kelompok dimensi sejarah : Etnosentrisme & persaingan 8. 5. Bentuk-bentuk hubungan sosial berdasarkan ras. 7. Relevan dengan hal tersebut maka dalam mengamati hubungan sosial pekerja pada perusahaan perdagangan mall. Bentuk hubungan sosial berdasarkan kelompok sosial : Paguyuban.Bentuk-Bentuk Hubungan Sosial menurut Soekanto (1983:33) dapat berupa : 1. Bentuk hubungan sosial berdasarkan dimensi antar kelompok : demografi dan sikap. 6. sedangkan dalam kajian-kajian di sektor perusahaan perdagangan mall hampir belum ditemukan. rasisme. Patembayan. 9.

Sebagai akibatnya secara sosial buruh itu berhubungan dengan para atasan dan sesama rekannya dalam pola-pola tertentu. yaitu melalui mandor atau asietennya yang langsung membawahi buruh (Schneider. 1986:219). dan pekerja. yang memungkinkannya untuk mendapatkan kebutuhan hidup (hubungan sosial antara manajemen dan buruh diikat dengan ikatan uang). Apakah yang menjadi 17 . Secara umum pada perusahaan perdagangan mall terdiri atas pimpinan perusahaan. Dengan demikian hal yang penting dipahami adalah bagaimana pola hubungan diantara unsur tersebut lalu kemudian menimbulkan hirarki kerja dengan tanggung jawab serta pendapatan yang berbeda.Sebagaimana halnya pada sektor industri hubungan kerja diistilahkan dengan hubungan buruh dengan majikan sehingga ditemukan dua jenis hubungan yaitu hubungan sosial formal dan hubungan sosial informal (Schneider. dengan kata lain kontak dengan atasannya sangat dibatasi. 1986:217). ia menyediakan satu unsur yang penting bagi produksi yaitu tenaga kerjanya. di mana buruh diperintah atau dikelola oleh hierarki birokratis artinya fungsinya ialah melaksanakan perintah (yang datang dari atas) dalam lingkungan terbatas. maka hubungan formal yang dimaksudkan ialah hubungan antara pekerja perempuan terkait dengan birokratis yang terdapat dalam perusahaan tersebut. Hubungan sosial formal dimaksudkan sebagai hubungan sosial yang khusus dengan majikan. Relevan dengan penelitian pada perusahaan perdagangan mall. supervisor. buruh menerima sebagai imbalannya sejumlah uang. Hubungan sosial para buruh juga secara langsung dibentuk oleh sifat birokrasi industri. buruh adalah suatu komoditi dalam proses produksi.

pertama-tama. 1986:232). Hubungan informal ini timbul. maka tidak mengherankan jika sikap buruh terhadap mandor itu bersifat agresif sera bermusuhan (Schneider. Ada dua situasi utama yang biasanya timbul dalam hubungan sosial informal yaitu pertama.dasar atas perbedaan tersebut. bila hubungan formal sangat kurang dan dibatasi misalnya. proyeksi dan sebagainya bisa timbul dalam jangwa waktu tertentu. rasa permusuhan. saling bertukarpekerjaan. atau dari kecenderungan untuk tidak taat. Selanjutnya yang dimaksudkan hubungan sosial informal di tempat kerja ialah merupakan sebuah penyimpangan dari situasi formal seperti berbicara sewaktu bekerja. Akan tetapi hubungan sosial informal harus dijelaskan dari segi situasi peran dan kepribadian dasar buruh. serta apakah memiliki dasar kontrak kerja yang jelas terkait dengan masa kerja dan jaminan pendapatan. Dalam suasana seperti ini hubungan persahabatan. bila hubungan formal terlalu sedikit. Jika sikap mandor terhadap buruh misalnya bersifat impersonal. istirahat tradisional pada waktu-waktu tertentu. dingin dan kasar. atau pergantian tenaga kerja terlalu tinggi. Hubungan sosial informal lainnya timbul dalam industri seluruhnya merupakan hubungan baru yang mempunyai sedikit saja hubungan atau tidak mempunyai hubungan sama sekali dengan struktur formal dalam industri. Hubungan-hubungan informal ini bukan timbul hanya dari ketidakaturan buruh. hubungan informal cenderung terbentuk berdasarkan hubungan ideal misalnya. senda gurau. antipati. berkaitan dengan kemampuan keterampilan ataukan jenis pekerjaan. identifikasi. atau para buruh saling tidak cocok. hubungan “berkelakar”. perasaa “informal” tertentu seperti tertarik. atau jenis interaksi sosial 18 . berjudi. prasangka.

yang diikuti dengan krisis neraca pembayaran dan instabilitas politik di banyak negara berkembang. Sebelum tahun 1960 teori ekonomi pembangunan pada umumnya memandang inferior peranan sektor pertanian. serta terjadi hubungan pengawasan atau pengendalian secara hierarki. di samping terjadi perbedaan tanggung jawab yang dapat menimbulkan kecumburuan di antara sesama pekerja. Sebagaimana hubungannya dengan pekerjaan pada perusahaan perdagangan mall. dan keadaan seperti ini mengakibatkan adanya kekurangan produksi pangan domestik yang tiada hentinya. Pandangan inferior terhadap sector ini membuat sektor pertanian tidak berkembang sebagaimana mestinya. Sejalan dengan debat peranan sektor pertanian dalam pembangunan ekonomi. model peranan perkotaan diawali dengan model pembangunan ekonomi Lewis yang meyakini bahwa pertumbuhan ekonomi dan modernisasi bisa mentrasfer 19 .lainnya. terdapat pula jenis kegiatan yang sifatnya monoton. D. tedapat pola kegiatan atau sistem kerja yang mengatur tentang pembagian waktu tugas dalam satuan waktu tertentu. Pemahaman seperti ini akan menjadi pertimbangan dalam sebuah perusahaan untuk melakukan pembinaan-pembinaan terhadap para pekerja. HUBUNGAN PERDESAAN DAN PERKOTAAN Perdebatan mengenai hubungan antara perdesaan dan perkotaan (pertanian dan industri) menjadi hal yang mengemuka dalam teori ekonomi pembangunan. bisa timbul antara orang-orang yang tidak mempunyai hubungan langsung dalam sistem sosial formal dalam industri.

Pertumbuhan ekonomi yang sangat cepat ditandai dengan tumbuhnya industri-industri baru yang menimbulkan peluang bagi angkatan kerja pria maupun wanita. Sebagian besar lapangan kerja di perusahaan pada tingkat organisasi yang rendah yang tidak membutuhkan ketrampilan yang khusus lebih banyak memberi peluang bagi tenaga kerja wanita.surplus dari sector pertanian ke sektor industri perkotaan. dan berkurangnya peluang serta penghasilan di bidang pertanian yang tidak memberikan suatu hasil yang tepat dan rutin. E. Dalam perkembangannya pertentangan antar pro dan kontra perdesaan dan perkotaan. tenaga kerja dan modal perkotaan dalam pembangunan nasional jangka panjang. merupakan salah satu modal dasar pembangunan yang harus didayagunakan semaksimal mungkin. Tuntutan ekonomi yang mendesak. PEKERJA PEREMPUAN DALAM EKONOMI PERKOTAAN Jalur usaha yang turut menentukan keberhasilan permbangunan ekonomi pada umunya adalah pemanfaatan sumber daya manusia. yang sekaligus pula akan terjadi transfer alokasi sumber-sumber perdesaan. maka berkembang pemikiran baru bahwa dalam hubungan antara perdesaan dan perkotaan harus memperhatikan aspek fungsi dan peranan perkotaan terhadap perdesaan yang akan menghasilkan hubungan saling ketergantungan. Jumlah penduduk Indonesia lebih kurang 200 juta dengan separoh diantaranya adalah kaum wanita. dan adanya kesempatan untuk bekerja di bidang industri telah memberikan daya tarik yang kuat bagi tenaga 20 . Dengan kata lain hubungan antara perdesaan dan perkotaan harus dilihat sebagai one-way urban-to-rural.

Tetapi sering juga wanita yang belum dewasa yang selayaknya masih harus belajar di bangku sekolah. Bilamana pertanyaan ini dikembangkan lagi maka dalam penelitian ini suatu kecenderungan pekerja perempuan yang belum dipertanyakan selama ini dan belum terjawab ialah bagaimana realitas hubungan sosial pekerja perempuan dalam sebuah perusahaan perdagangan mall yang memiliki perkembangan pesat dalam arus perekonomian perkotaan saat ini. 1997:348). Tidak hanya pada tenaga kerja wanita yang sudah dewasa yang sudah dapat di golongkan pada angkatan kerja. Bagi tenaga kerja wanita yang belum berkeluarga masalah yang timbul berbeda dengan yang sudah berkeluarga yang sifatnya lebih subyektif. Beberapa pertanyaan mendasar terkait dengan keberadaan perempuan dalam kegiatan ekonomi perkotaan ialah faktor-faktor apa saja yang mempengaruhi jenis dan kondisi kerja perempuan di perkotaan? Apakah faktor tersebut lebih ditentukan oleh keadaan di tempat kerja. atau posisi dalam rumahtangga? Apakah bekerjanya perempuan di kota merupakan perbaikan hidup terhadap posisinya baik secara ekonomis maupun politisnya? (Saptari dan Holzner. Pertama bahwa untuk separuh atau seluruh hidupnya. Dalam hubungan ini maka secara teori dikatakan bahwa ada dua pebedaan dasar antara tenaga kerja laki-laki dan tenaga kerja perempuan berkaitan dengan derajat keterlibatan di pasar tenaga kerja.kerja wanita. Kedua ialah bahwa pada saat 21 . meski secara umum dari kondisi objektif tidak ada perbedaan-perbedaan. kum perempuan sering dikategorikan sebagai “pekerja rumah tangga yang tidak aktif secara ekonomis”. posisi rumah tangga perempuan di daerah asalnya.

Dalam konteks ini maka menurut Barron dan Norris mengapa kaum buruh perempuan dapat diposisikan pada sektor tenga kerja sekunder karena menurutnya mereka memiliki lima atribut yaitu: a) mereka mudah di “lepas”-kan dari pekerjaannya. Secara sosiologis bahwa salah satu untuk menjelaskan mengapa terjadi segmentasi pasar tenaga kerja (labour market segmentation) sebagaimana dikatakan Barron dan Norris dalam teorinya tentang Teori pasar tenaga kerja dualistis. berupah relatif lebih rendah daripada kaum laki-laki. b) mereka bisa dibedakan dari pekerja sektor primer atas dasar 22 .memasuki pasar tenaga kerja. Mereka pun membutuhkan suatu kelompok pekerja yang sewaktu-waktu bisa diberhentikan pada saat produksi atau pekerjaan sedang menyusut. Sektor sekunder memberi penghasilan yang relatif rendah. dan kemungkinan naik jenjang kecil (Saptari dan Holzner. Menurut barron dan Norris. jaminan sosial dan kondisi kerja yang rendah. dan kemungkinan untuk naik pangkat. jaminan sosial dan kondisi kerja cukup baik. kestabilan kerja yang lebih besar. dan diangkat kembali pada saat produksi atau pekerjaan sedang meningkat (Holzner. kurang stabil (mudah mengalami penusutan tenaga kerja). 1997:352). dan ketidakmungkinan untuk naik dalam jenjaang hierarki yang ada. Bahwa pasar tenaga kerja pada dasarnya terbagi dalam dua segmen atau sektor. dualisme ini terjadi karena pengusaha atau majikan membutuhkan suatu kelompok pekerja inti yang stabil dan mempunyai keterampilan yang tinggi. 1997:351-352). biasanya mereka terlibat dalam pekerjaan-pekerjaan yang dianggap kurang terampil. yaitu sektor primer yang memberi penghasilan yang relatif besar.

Perkerja perempuan dan pekerja di pedesaan menerima pendapatan 70% lebih rendah dibanding pekerja laki-laki dan pekerja di perkotaan. Temuan Deni Friawan & Carlos manyongsong dalam Tindaon dan Yusuf. bahwa kelompok pekerja perempuan dan kelompok pekerja di pedesaan secara terus menerus mendapatakan pendapatan yang lebih kecil dibanding pendapatan kelompok pekerja laki-laki dan pekerja di perkotaan. dan pekerja perempuan terus-menerus mendapatkan tingkat pendapatan yang paling rendah pada periode 1982-2000. ketiga. c) mereka tidak mempunyai kemauan untuk memperoleh latihan dan pengalaman yang berharga. e) mereka tidak akan mengembangkan hubungan solidaritas dengan rekan kerja mereka (Saptari dan Holzner. tingkat pendapatan pekerja perempuan relative terhadap pekerja laki-laki meningkat dari 51% menjadi 56% pada sektor pertanian dan dari 47% menjadi 63% pada sektor manufaktur. tingkat pendapatan riil pekerja perempuan meningkat lebih besar dibandingkan pekerja laki-laki dan pekerja dipedesaan menerima peningkatan pendapatan yang lebih tinggi dibanding pekerja diperkotaan. 1997:352353).ukuran-ukuran sosial yang konvensional. sehingga menurunkan gap pendapatan pekerja laki-laki dan perempuan dan gap pendapatan pekerja di perkotaan dan di pedesaan. d) mereka tidak menilai tinggi imbalan-imbalan ekonomi. 23 . Meskipun demikian. Selama periode 1990 dan 2000.

Pengaturan Jam Kerja / Kerja Lembur Didalam Undang – Undang nomor 1 tahun 1951 tentang pernyataan berlakunya Undang – Undang Nomor 12 tahun 1948 pasal 10 ayat 1 mengatakan : “ Buruh tidak boleh menjalankan pekerjaan lebih dari 7 jam sehari dan 40 jam seminggu “. jaminan sosial. seperti halnya: a. bagi 24 . pengaturan jam kerja / lembur b. Kenyataannya banyak perusahaan yang memperkerjakan pekerjaannya melebihi ketentuan tersebut diatas. Secara umum hak dan kewajiban bagi tenaga kerja laki – laki maupun wanita adalah sama. waktu kerja dan istirahat c. pengupahan dan sebagainya. Ini berarti bahwa waktu kerja dibatasi hanya dalam jangka waktu 7 jam sehari dan 40 jam seminggu.F. Hal tersebut diperbolehkan asal ada izin dari Departemen Tenaga Kerja sebagaimana diatur dalam pasal 12 ayat 1 peraturan pemerintah No 4 tahun 1951 pasal II sub pasal 2 yang berbunyi sebagai berikut : Dengan izin dari kepala jawatan perburuhan atau yang ditunjuk olehnya. 1. PEKERJA PEREMPUAN DAN PERLINDUNGAN TENAGA KERJA Oleh karena dalam perusahaan mall seperti Ramayana umumnya ditemukan para pekerja perempuan maka perlu dikemukakan sejauhmana pekerja perempuan diatur dalam sebuah peraturan perundang-undangan terkait dengan perlindungan selaku tenaga kerja di Indoensia. peraturan tentang istirahat / cuti tahunan serta d.

“Untuk tiap-tiap minggu harus diadakan sedikitnya satu hari istirahat. pasal 10 ayat dan ayat 3 : . Pengaturan tentang kerja lembur tersebut diatur dalam keputusan Menteri Tenaga Kerja No.KEP. Waktu Kerja dan Waktu Istirahat Pengaturan jam kerja diatur dalam Undang . kalimat pertama ayat dua dan tiga Undang – Undang kerja tahun 1948. 608/MEN/1989 tentang : “ Pemberian izin penyimpangan waktu kerja dan waktu istirahat bagi perusahaan – perusahaan yang memperkerjakan pekerjaan 9 jam sehatri dan 54 jam seminggu “. Didalam surat keputusan izin penyimpangan waktu kerja dan waktu istirahat dicantumkan syarat – syarat yang harus dipenuhi oleh pihak pengusaha.perusahaan yang penting untuk penbangunan negara. dan diharapkan produktivitas kerja akan naik dengan terjaminnya keselamatan dan kesehatan kerja. 2. 25 . 1 tahun 1951.” Hal ini dimaksudkan agar para pekerja setelah menjalankan pekerjaan didalam batas waktu tertentu setelah mendapat istirahat agar dapat segera menghadapi pekerjaan selanjutnya.” . majikan dapat mengadukan aturan waktu kerja yang menyompang dari pasal 10 ayat 1.“Setelah buruh menjalankan pekerjaan selama 4 jam terus menerus diadakan waktu istirahat yang sedikit–dikitnya ½ jam lamanya diadakan waktu istirahat tidak termasuk waktu jam bekerja.Undang No.

masalah jaminan sosial dan pengupahan perlu diperlukan oleh perusahaan. Pengaturan Istirahat / Cuti Tahunan Bagi tenaga kerja yang sudah memiliki masa kerja 12 bulan berturut– turut berhak untuk mendapat istirahat / cuti tahunan. 1 tahun 1951 pasal 14 peraturan pemerintah No.hari tua. Dalam pasal 14 disebutkan bahwa: . 4. Jaminan sosial yang dimaksud antara lain jaminan sakit . Perihal perlindungan upah diatur dalam peraturan pemerintah No. Jaminan Sosial dan Pangupahan Agar para pekerja dapat menjalankan pekerjaanya dengan semangat dan bergairah.Pemberian waktu istirahat tersebut disesuakan dengan jumlah hari masuk kerja selama 1 tahun. 69/MEN/80 tentang perluasan lingkungan istirahat tahunan bagi buruh. Mengenai jaminan sosial ini sudah diatur secara normatip didalam perundangan.3. 21/54 dan diperluas dengan surat keputusan menteri tenaga kerja dan Tranmigrasi No. Hal ini diatur dalam Undang–Undang No. 8 tahun 1981. antara lain 26 . sehingga bagi perusahaan yang belum atau tidak memenuhi standard yang sudah ditetapkan dapat dikenakan sangsi. jaminan perumahan. jaminan kaesehatan.Setelah waktu istirahat seperti tersebut dalam pasal 10 dan 13 buruh menjalankan pekerjaan untuk satu atau beberapa majikan dari suatu organisasi harus diberi izin untuk beristirahat sedikit-dikitnya dua minggu tiap-tiap tahun . jaminan kematian dan sebangainya.

tempat.04/MEN/1989 yang terdiri dari lima pasal. alasan sosial. halangan atau kesusahan. Tata cara mempekerjakan tenaga kerja wanita pada malam hari telah dikeluarkan dengan peraturan Menteri Tenaga Kerja R. pengusaha harus menjaga keselamatan. Kerja malam Kebutuhan dari beberapa sektor industri menuntut tegara kerja wanita bekerja malam hari. Berdasarkan peraturan perundangan pada prinsipnya tenaga kerja wanita dilarang untuk bekerja pada malam hari. 12 tahun 1984 yang menetapkan : “ Orang wanita tidak boleh menjalankan pekerjaan pada malam hari. alasan teknis. harus ada izin dari Depnaker setempat dengan dengan syarat yang harus dipenuhi. misalnya : mutu produksi harus lebih baik bila memepekerjakan wanita. ada angkutan antar jemput dan sebagainya). c. Ketentuan yang mengatur kerja malam tenaga kerja wanita pada pasal 7 ayat 1 UU No. Per. Disamping itu diatur pula tentang larangan diskriminasi antara tenaga kerja laki-laki dan tenaga kerja wanita didalam hal menetapkan upah untuk pekerjaan yang sama nilainya. Sedangkan perlindungan yang sifatnya khusus untuk tenaga kerja wanita: 1.I. maka tenaga kerja wanita diizinkan untuk bekerja pada malam hari antara lain : a. akan tetapi mengingat berbagai alasan. kecuali jikalau pekerjaan itu menurut sifat .mengatur tentang upah yang diterima oleh para pekerja apabila pekerja sakit./ No. dan keadaan seharusnya dijalanka oleh wanita”. antara lain. alasan ekonomis. 27 . kesehatan dan kesusilaan (tidak boleh mempekerjakan wanita dalam keadaan hamil. b.

4 tahun 1951 pasal 1 sub pasal 1 yang berbunyi : bagi tenaga kerja yang akan menggunakan hak cutinya diwajibkan : . 28 . . Cuti sebelum saatnya melahirkan dimungkinkan untuk diperpanjang apabila ada keterangan dokter perlu yang menerangkan istirahat istirahat bahwa yang bersangkutan mendapatkan waktu untuk menjaga melahirkan kehamilannya. dapat dari pegawai pamong praja atau sederajatnya camat.penyediaan makanan ringan.Perpanjangan sebelum memungkinkan sampai selama – lamanya tiga bulan. Cuti hamil.Buruh wanita harus diberi istirahat selama saru setengah bulan sebelum saatnya ia melahirkan menurut perhitungan dan satu setengah bulan setelah melahirkan anak atau gugur kandungan. melahirkan dan gugur kandungan Bagi tenaga kerja wanita yang hamil.Permohonan diajukan selambatnya 10 hari sebelum waktu cuti mulai. Namun Kenyataan masih banyak perusahaan yang belum melaksanakan peraturan tersebut misalnya tenaga kerja wanita tidak disediakan angkutan antar jemput malainkan datang sendiri ke tempat kerja. dilindungi oleh UU dalam pasal 13 ayat 2 dan ayat 3 yang menyatakan : . ada izin dari orang tua / suami dan lain–lain. bidan atau keduanya tidak ada.Mengajukan permohonan yang dilampiri surat keterangna dokter. 2. Ketentuan tersebut dinyatakan berlaku dengan peraturan pemerintahan No.

Kesempatan menyusukan anak Bagi tenaga kerja wanita yang masih menyusukan anak.3.  Peraturan pemerintah No.Harus diberi kesempatan sepatutnya untuk menyusukan anak. dapat dilihat pula dengan adanya beberapa ketentuan yang menghapuskan adanya pebedaan perlakuan terhadap tenaga kerja wanita. misalnya : a. Adapun ketentuan tersebut adalah :  UU No. 29 . 4. 8 tahun 1981 tentang perlindungan upah yang menyatakan adanya pemberian sanksi terhadap pelanggaran ketentuan yang telah ditetapkan tersebut. 100 tahun 1954 mengenai upah yang sama antara laki–laki dan wanita untuk pekerjaan yang sama nilainya. Penghapusan perbedaan perlakuan terhadap tenaga kerja wanita Peningkatan perlindungan bagi tenaga kerja wanita. 80 tahun 1957 tentang retifikasi konvensi ILO No. Adanya distriminasi atas pengupahan yang sama untuk masa kerja yang sama dan oekerjaan yang sama nilainya. Tidak diberi kesempatan untuk mendapatkan pendidikan tambahan atas beban perusahaan b. Dalam prakteknya benyak sekali keluhan dari para pekerja wanita tersebut.Didalam penjelaskan pasal 13 ayat 4 tersebut ditentukan bahwa dipikirkan oleh pemerintah kemungkinan mengadakan tempat penitipan anak. dan sebagainya.

Evolusi Dari Konsep Bazaar Terbuka Hingga Konsep Indoor Mall Konsep modern shopping mall’ atau banyak disingkat dengan ’mall’ yang mencirikan bangunan tertutup multilantai yang diisi oleh berbagai jenis unit retail dalam satu struktur yang kompak. Artinya walaupun pekerja tersebut cuti dan tugasnya dialihkan kepada orang lain. Peraturan menteri tenaga kerja No. per. Apabila perusahaan tidak memungkinkan untuk melaksakan peraturan tersebut. Peraturan menteri ini memuat bahwa pengusaha tidak boleh mengurangi hak–hak tenaga kerja wanita yang karena hamil dan karena fisik dan jenis pekerjaan tersebut tidak memungkin dikerjakan olehnya. 1 tahun 1951. KONSEP. Apabila perusahaan melanggar ketentuan yang telah disebutkan diatas pengusaha dapat diancam atua didenda setinggi-tingginya seratus ribu rupiah sesuai dengan pasal 17 UU No. namun haknya untuk mendapatkan upah tetapa tiap bulan dan jika ia sudah dapat bekerja lagi maka upah tersebut harus diterima kembali. Untuk alasan sustainability. SEJARAH DAN PERKEMBANGAN DI INDONESIA 1. sehingga para pengunjung mudah mengakses dari satu unit ke unit retail yang lain. 03/MEN/1989. F. MALL. pengusaha wajib memberikan cuti diluar tanggungan perusahaan sampai timbul hak cuti hamil seperti yang telah ditatapkan oleh pasal 13 UU No. 30 . 14 tahun 1969 tentang ketentuan-ketentuan pokok mengenai tenaga kerja pada pasal 6 peraturan mentei No. 04/MEN/1989 tentang larangan PHK bagi tenaga kerja wanita karena hamil atau melahirkan.

Berbeda dengan konsep sebelumnya. dan Tunjungan Plaza di Surabaya. multiplikasi pembangunan mall cukup 31 . Singkatnya. para pedagang membangun kios-kiosnya di plaza terbuka atau koridor jalan yang saling berdekatan. Malaysia dan Indonesia.Dalam perkembangan selanjutnya konsep mall dengan struktur tertutup ini lebih diterima di negara-negara tropis seperti Singapura. maka mall sebagai kompleks retail dengan struktur tertutup pertama kali diperkenalkan di Amerika Utara pada tahun 1915-an di Minnesota. Kala itu. misalnya Northgate Mall di Seattle dan Southdale Center di Minnesota. seperti Ratu Plaza dan Aldiron Plaza di Jakarta. Kota-kota Indonesia sendiri mulai mengadopsi konsep indoormall sejak akhir tahun 1970-an. Pada era otonomi daerah dewasa ini. Konsep penyatuan tempat berjualan di satu kompleks sendiri sesungguhnya telah dipraktekkan jauh sebelumnya di Teheran. dan terus berlanjut hingga kini. Lalu pada abad ke-18 berkembang konsep ’shopping center’ dan ’shopping arcade’ dengan bentuk kompleks retail yang terbuka (openair retailcomplex) yang mulai menawarkan kenyamanan bagi para pengunjung. konsep yang digunakan adalah ’one-stop shopping’. Turki (abad ke-15) yang disebut dengan „grand bazaar’. Konsep ini banyak digunakan di Australia dan Eropa (misal Galleria Vittorio Emmanuelle di Milan yang dibangun pada 1860-an).maka sebuah mall biasanya memiliki penghuni utama yang disebut anchor stores yakni took serba-ada (department store) serta pusat jajanan/makanan (food court). Konsep indoor mall semakin populer pasca perang dunia ke-2 (1950-an). Medan Plaza di Medan. Iran (sejak abad ke-10) dan Istanbul.

investor diberikan keleluasaan besar untuk menguasai lahan-lahan perkotaan dan mengalihkannya menjadi lahan-lahan industri dan real estate (khususnya mall. Semarang (6). dimana hampir setiap kota menengah dan besar di tanah air memiliki plaza. Upaya ini tampak semakin jelas setelah dikeluarkannya berbagai kebijakan deregulasi ekonomi antara 1980 hingga pertengahan 1990-an dimana. Namun pada era otonomi daerah. Surabaya (16). termasuk didalamnya mall. 2005). seperti Jakarta yang memiliki 39 mall. Hingga kini. 2. Manado (8). seperti Depok (8 mall).mencengangkan. bahkan di Jatinangor – Kab. pada masa keemasan tersebut. Cowherd. 2007 . mall. dan Denpasar (5). Bandung (1). Medan (8). Bandung (28). dan perkantoran di kawasan Jabodetabek) (Santoso. jumlah mall telah bertambah pesat di kota-kota yang secara tradisional merupakan tulang punggung perekonomian nasional. Cimahi (2). Mall di Indonesia : Antara Kebutuhan Nyata Masyarakat dan Kritik Para Urbanis Sejak awal era 1970-an. Krisis moneter 1997/1998 hanya menghentikan sementara laju pertumbuhan real estate (short stagnation). townsquare dan sejenisnya sebagai simbol modernisme sebuah kota. Bekasi (9). fenomena menjamurnya pembangunan mall pun menjadi trend di berbagai kawasan perkotaan ‟baru‟. secara perlahan Indonesia mentransformasi sistem perekonomiannya menjadi neo-liberalis sehingga sangat ramah terhadap investasi asing. apartemen. 32 .

kepraktisan dan efisiensi (mengurangi pergerakan didalam kota). keamanan (memenuhi kebutuhan psikologis untuk rasa aman) serta kepastian (menghindari praktek penipuan produk sebagaimana lazim terjadi pada pasar tradisional).Bagi masyarakat perkotaan Indonesia.Keputusan miskin yang hanya bisa menikmati mall dari luar (outdoor) saja. Tidak heran keberadaan banyak mall merupakan ciri-ciri kota “sakit” . Keberadaan mall sebagai kompleks retail yang mendorong konsumsi masyarakat semenjak krisis ekonomi 1998 dianggap banyak membantu pertumbuhan sektor ekonomi riil. dimana mall di 33 . Kritik ketiga adalah penyeragaman terhadap bentuk arsitektur kota-kota Indonesia. menjadikannya sebagai landmark alias simbol dari kemajuan wilayah dan keberhasilan dalam mandat elektoralnya. kritik kerap dikemukakan olehpara urbanis kepada para pengambil keputusan mengenai pembangunan mall tersebut. Akibat semakin terbatasnya ruang-ruang publik. para pedagang kecil sulit untuk mampu bersaingdengan pedagang menengah ke atas dalam membeli/ menyewa unit retail di dalam mall (indoor unit) seperti kios/ toko dan lain lain. sebagai bagian dari gaya hidup modern. Pertama. mall merupakan ruang publik artifi sial yang bersifat ekslusif. Kedua. maka mall menjadi pilihan yang logis untuk beberapa alasan seperti kenyamanan (menghindari sengatan udara tropis dan guyuran hujan).karena sebagai ruang publicia tidak memenuhi tujuansocial dan lingkungandan bupati berlombalomba untuk membangun mall.Namun demikian. disisi lain. mall di satu sisi mencerminkan adanya kebutuhan nyata masyarakat perkotaan atas ruang-ruang publik (public space) untuk kegiatan rekreatif maupun kegiatan sosial.

Dampak Keberadaan Mall Mall memberikan peningkatan pendapatan negara dalam bentuk pajak. penerangan gedung dan seringkali kemacetan yang ditimbulkan di sekitar mall. karena sebagai ruang publik ia tidak memenuhi tujuan sosial dan lingkungan.Berbelanja hal-hal yang mungkin tidak terlalu mereka butuhkan.Ini adalah hal yang sangat menggiurkan terutama untuk pemerintah kita sebagai pendapatan negara. karena adanya aktivitas ekonomi disitu. Penyeragaman bentuk arsitektur kota tentunya sangat bertolakbelakang dengan keragaman budaya yang dimiliki Indonesia. 3. atau kegiatan lain seperti nonton bioskop). belanja. makan dan minum. Aktivitas ekonomi yang terjadi juga bukanlah main-main karena faktor penggerak transaksi kaum urban yang datang ke mall sudah tentu didominasi kalangan menengah ke atas. Kritik terakhir berkaitan dengan pemborosan energi yang dilepaskan dari pendingin udara. Sejatinya mereka bisa mengeluarkan lebih dari seratus ribu rupiah untuk setiap kedatangan mereka ke pusat perbelanjaan (akumulasi dari parkir. Setiap pendirian mall berarti penyerapan tenaga kerja baru. Setiap pertumbuhan ekonomi sebesar 1% hanya mampu menyerap tenaga kerja sebanyak 34 .Meningkatnya jumlah orang kaya di tahun 2010 ini dan memboomingnya industri kreatif dapat turut mendongkrak psikologis manusia untuk berbelanja. Keberadaan banyak mall merupakan ciri-ciri kota ”sakit”.beberapa saat ini telah menjelma menjadi landmark kota yang baru yang benderang. sementara kawasan kota tua dibiarkan redup.

tenaga kerja manakah yang akan diserap oleh Mall? Tenaga kerja penduduk dengan KTP DKI Jakarta? Ataukah tenaga kerja Bodetabek yang notabene akan menambah jumlah komuter ke Ibukota?Mall adalah sebuah lambang pengakuan. negara ini memiliki fundamental ekonomi yang kuat.Masih belum bisa menutupi angka jumlah pengangguran sebanyak 10 juta orang lebih di Indonesia.mall juga memberikan fasilitas dan menampung seluruh kebutuhan masyarakat kota pada umumnya sehingga mall menjadi bangunan wajib yang ada di hampir seluruh pusat kota di Indonesia Pembangunan mall akhir-akhir ini semakin meningkat. seperti daerah resapan air atau taman sehingga pada gilirannya akan menyebabkan banjir.000 orang tenaga kerja.Menyusul kenaikan harga IHSG yang nyaris menembus angka 3000.250.Menurut indeks investasi dunia. Indonesia masuk dalam peringkat 17 negara yang dapat dijadikan tempat berinvestati. adalah indikasi-indikasi lain yang menunjukkan bahwa secara makro. Dampak sosial dari pembangunan mall adalah warga akan terbius menjadi warga yang konsumtif dan menghabiskan 35 . Sehingga si miskin makin tidak akan merasa nyaman.300. ada dampak positif tapi lebih banyak negatifnya dari pertumbuhan mall tersebut.000 . seiring pertumbuhan pembangunan di kotaJakarta. Pertanyaannya adalah.Banyaknya mall akan juga melahirkan jurang perbedaan yang tinggi antara si kaya dan si miskin. terutama tenant (terlebih jika tenant berasal dari luar negeri) bahwa iklim investasi di Indonesia baik. Selain itu dampak lain pembangunan mall adalah warga akan semakin sulit mendapatkan ruang terbuka.Pengakuan dari pihak-pihak.

Seperti pencopetan. namun karena keterbatasan dana dari pemerintah daerah untuk membangun taman baru dan perawatan taman yang telah ada maka mereka sulit mendapatkan taman atau lahan yang enak dikunjungi. jauh dibawah perkiraan tahun 2007 yang masih sekitar 13000 pedagang yang 36 . Menurut survei yang dilakukan di kota Bandung. penjambretan. yang seharusnya menjadi tempat berkumpul warga kota adalah taman atau area terbuka. kumuh.Jumlah pedagang tradisional semakin hari semakin berkurang akibat kalah bersaing dengan pasar modern yang memberi kenyamanan yang lebih. maka yang akan terjadi adalah angka kriminalitas yang akan semakin tinggi. saat ini jumlah pedagang tradisional yang masih giat beraktifitas adalah sekitar 9800 pedagang. Satu lagi dampak negatif dari pertumbuhan mall adalah tersingkirnya satu persatu pasar tradisional yang pada gilirannya mematikan aktifitas pedagang tradisional pribumi.waktunya dimall. kotor. perampokan dan lainlain. Ada hal menarik di balik pertumbuhan mall yang meningkat yaitu karena warga kota kehilangan tempat untuk sekedar berkumpul maka mal-mall jadi satusatunya tempat untuk ajang berkumpul dan interaksi antar warga kota. Dalam konsep teori pembangunan perkotaan. Sebagai catatan dari 37 pasar tradisional yang ada di kota bandung hanya ada dua pasar yang tingkat huniannya diatas 75%. kalau sang warga punya kemampuan finansial yang baik untuk belanja di mall mungkin tidak terlalu masalah. Warga kota merasakan taman yang tidak terawat. sisanya hanya mempunyai tingkat hunian dibawah 50%. akan tetapi jika sang warga tak punya uang yang cukup.

masih aktif, berbanding terbalik dengan pertumbuhan mall. Sepanjang tahun 2009 berdasarkan survei, jumlah pertumbuhan mall di kota bandung sekitar 31,4% . Perkembangan jumlah mall yang tak terkendali menyebabkan penurunan jumlah pasar tradisional. Perbandingan setiap satu mall berdiri maka 100 pedagang dan warung akan gulung tikar. Hasil penelusuran pada beberapa wilayah pusat perdagangan di Kota Makassar tidak berbeda dengan kota-kota lainnya di Indonesia.Perkembangan pusat perdagangan retail seperti mall di dalam sepuluh tahun terakhir tumbuh pesat dan hampir tidak ada ruang peruntukan yang jelas antara kawasan perumahan, perkantoran dan perdagangan, semua bercampur baur dalam sebuah kawasan.Mulai dari tingkatan jalan menengah (jalan daerah) sampai jalan besar (jalan propinsi) telah ditumbuhi pusat perdagangan. Di lain sisi pertumbuhan tersebut oleh pengamat perkotaan dianggap sudah jauh menyimpang dari tata ruang perkotaan sehingga mengacaukan pola interaksi antara berbagai kepentingan sosial ekonomi seperti kebutuhan persekolahan, perkantoran dan perbelanjaan. Akan tetapi dari sisi lain pertumbuhan pusat-pusat pedagangan atau perbelanjaan seperti mall memiliki dampak positif terhadap kebutuhan warga kota akan lapangan pekerjaan terutama bagi kaum berpendidikan rendah yang cenderung semakin meningkat selama sepuluh terakhir tersebut.

37

BAB III DESKRIPSI LOKASI PENELITIAN

A.

GAMBARAN UMUM KOTA MAKASSAR

A. Geografis Kota Makassar terletak di bagian selatan Sulawesi Selatan dengan posisi 119024‟17‟38” Bujur Timur dan 508‟6‟19” Lintang Selatan. Sebelah utara berbatasan dengan Kabupaten Maros, sebelah timur berbatasan dengan Kabupaten Maros, sebelah selatan berbatasan dengan Kabupaten Gowa dan sebelah barat berbatasan dengan selat Makassar. Dalam perkembangannya, kota Makassar bagian utara mengalami perluasan yang sebelumnya sebagian merupakan wilayah Kabupaten Maros. Sebagai pintu utama trans Sulawesi menjadikan Kota Makassar mengalami pertumbuhan yang sangat pesat dan bahkan sebagian besar wilayah kabupaten di Sulawesi Selatan berada pada sebelah utara sehingga menjadikan arus perkembangan penduduk dan arus perdagangan cukup tinggi. Berbeda dengan wilayah sebelah selatan yang relative sedikit menghubungkan dengan kebupaten lain di Sulawesi Selatan sehingga pengaruh terhadap perkembangan penduduk dan ekonomi juga relative rendah. Luas wilayah Kota Makassar adalah sekitar 175.77 km2 yang terdiri dari 14 kecamatan dengan 143 desa/kelurahan, 943 RW dan 4.544 RT (BPS, 2009). Untuk lebih jelasnya dapat dilihat tabel 1 sebagai berikut :

38

Tabel 1 Luas Wilayah Kota Makassar Menurut Kecamatan Kecamatan Mariso Mamajang Tamalate Rappocini Makassar Ujung Pandang Wajo Bontoala Ujung Tanah Tallo Panakkukang Manggala Biringkanaya Luas Area (Km2) 1,82 2,25 20,21 9,23 2,52 2,63 1,99 2,10 5,94 5,83 17,05 24,14 48,22 Persentase Terhadap Luas Kota Makassar 1,04 1,28 12,07 5,25 1,43 1,50 1,13 1,19 3,38 3,32 9,70 13,73 27,43 18,11

Tamalanrea 31,84 Sumber BPS: Makassar Dalam Angka, Tahun 2009

Dari tabel 1 tersebut dapat dikemukakan bahwa terdapat lima wilayah kecamatan terluas, yaitu masing-masing kecamatan Biringkanaya, Tamalanrea, Panakkukang, Manggala dan Tamalate. Secara historis ke lima kecamatan tersebut merupakan wilayah-wilayah hinterland bagi Kota Makassar untuk bagian utara seperti Biringkanaya, Tamalanrea dan Manggala, sedangkan kecamatan Tamalate merupakan wilayah hinterland bagi Kota Makassar terutama bagian selatan. Ke lima wilayah kecamatan tersebut selama sepuluh tahun taerakhir menunjukkan perkembangan yang semakin pesat baik sebagai wilayah perubahan serta wilayah perdagangan dan bahkan perkantoran.

39

Penduduk dan Tenaga Kerja Masalah kependudukan yang dihadapi oleh Negara sedang brkembang senantiasa diperhadapkan pada pertumbuhan penduduk yang terlalu tinggi sehingga secara langsung bermasalah terhadap upaya yang peningkatan cepat kesejahteraannya. Masalah kependudukan yang mempengaruhi pelaksanaan dan pencapaian tujuan pembangunan seperti di Indoensia adalah pola penyebaran penduduk dan mobilitas tenaga kerja yang kurang seimbang. karena sebagian pendapatan yang diperoleh yang sebenarnya harus ditabung yang kemudian diinvestasikan untuk pembangunan ekonomi. serta antar sektor.253.304 laki-laki dan 652. maupun antara daerah perdesaan dan daerah perkotaan. terpaksa harus dikeluarkan untuk keperluan sandang dan pangan bagi mereka yang merupakan beban tanggungan penduduk ini. Di samping itu besarnya golongan umur anak-anak merupakan factor penghambat pembangunan ekonomi.Tingkat pertumbuhan penduduk semakin menyebabkan proporsi penduduk yang belum dewasa menjadi bertambah tinggi dan jumlah anggota keluarga bertambah besar. Sementara itu. Sementara itu jumlah penduduk Kota 40 . B.656 jiwa yang terdiri dari 601. Dalam hubungan ini.352 perempuan. maka penduduk Kota Makassar tahun 2008 tercatat sebanyak 1. baik dilihat dari sisi antar daerah.Sedangkan wilayah kecamatan lainnya merupakan wilayah perkotaan lama dari Kota Makassar. bilamana pertumbuhan penduduk tersebut disertai pula pertambahan penduduk struktur usia muda akan merupakan beban tanggungan penduduk yang bekerja. kaitannya dengan Kota Makassar.

Kondisi tersebut sebagai akibat wilayah ketiga kecamatan ini merupakan wilayah pemekaran pertama Kota Makassar sejak tahun 1970-an disamping pengaruh dari terkonsentrasinya beberapa perguruan tinggi utama.304 652. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat tabel 2 sebagai berikut : Tabel 2 Penduduk Kota Makassar Tahun 2008 Tahun Laki-laki Perempuan Total 1. yaitu sebanyak 152.197 atau sekitar 12.958 jiwa (11.352 Sumber BPS: Makassar Dalam Angka. disusul kecamatan Rappocini sebanyak 142.656 2008 601.235. Dengan demikian dari aspek kependudukan menggambarkan.40persen). Kecamatan Panakkukang sebanyak 134. Tahun 2008 Sedangkan dari aspek penyebaran penduduk dirinci menurut kecamatan.637 jiwa (2. yang berarti setiap 100 penduduk wanita terdapat 92 penduduk laki-laki.28 persen).239 jiwa. menunjukkan bahwa penduduk masih terkonsentrasi diwilayah kecamatan Tamalate. bahwa Kota Makassar dilihat dari komposisi penduduk menurut jenis kelamin memiliki rasio jenis kelamin penduduk yaitu sekitar 92. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat tabel 3 sebagai berikut.72 persen).253.Makassar tahun 2007 tercatat sebanyak 1.548 jiwa (10. 41 .17 persen. dan yang terendah adalah kecamatan Ujungpandang sebanyak 28.14 persen dari total penduduk.

27 7. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat tabel 4 sebagai berikut : 42 . kecamatan Ujung Tanah (8.197 142.79 10.809 48. Tahun 2009 Ditinjau dari kepadatan penduduk ternyata bahwa.800 jiwa per km persegi.394 152.548 99.79 4.Tabel 3 Distribusi Penduduk Kota Makassar Menurut Kecamatan Kecamatan Mariso Mamajang Tamalate Rappocini Makassar Ujung Pandang Wajo Bontoala Ujung Tanah Tallo Panakkukang Manggala Biringkanaya Tamalanrea Jumlah 54.907 28.253.73 7. Manggala (4. kemudian kecamatan Tamalanrea 2.433 jiwa per km persegi).40 6.900 jiwa per km persegi.101 jiwa per km persegi).670 jiwa per km persegi.008 128.45 4.11 100 Total 1.61 2.637 35.93 3. Sedang kecamatan Biringkanaya merupakan kecamatan dengan kepadatan penduduk terendah yaitu sekitar 2. kecamatan Makassar adalah terpadat yaitu 32. kecamatan Bontoala (29.009 jiwa per km persegi).82 12.731 89.656 Sumber BPS: Makassar Dalam Angka.86 10.958 82. disusul kecamatan Mariso (30.90 10.616 60.28 2.14 11.011 61. kecamatan Panakkukang 7.382 135.143 % 0.315 134.145 jiwa per km persegi).891 jiwa per km persegi.

Dampak lanjut dari perkembangan ini mendorong terjadinya arah pergerakan pemukiman penduduk terutama bagi golongan penduduk pekerja menengah ke bawah. Manggala.145 Panakkukang 7.009 Bontoala 29.670 Tamalanrea 2. Tamalanrea. 43 .433 Biringkanaya 2. Namun demikian dalam perkembangannya sekitar tahun 1980-an kecamatan ini menjadi pusat pertumbuhan industri dengan berdirinya Kawasan Industri Makassar (KIMA). Tahun 2009 Wilayah-wilayah yang kepadatan penduduknya masih rendah tersebut masih memungkinkan untuk pengembangan daerah pemukiman terutama di 3 (tiga) kecamatan yaitu Biringkanaya.800 Manggala 4.891 Sumber BPS: Makassar Dalam Angka.Memasuki tahun 1990-an.Tabel 4 Distribusi Penduduk Kota Makassar Menurut Tingkat Kepadatan Kecamatan Penduduk/km2 Makassar 32. kedua kecamatan yaitu Kecamatan Biringjanaya dan Tamalanrea semakin mengarah ke perkembangan perdagangan dan pusatpusat perkantoran dan jasa.101 Ujung Tanah 8.900 Mariso 30.

55 1.907 28.235.253.05 1. Dari jumlah tersebut dapat dilihat bahwa pencari kerja menurut tingkat pendidikan SMA yang menempati peringkat pertama yaitu sekitar 50.533 150.839 87.239 1.850 47.958 82.197 142.86 0.45 1.273 orang.315 134.637 35.645 28.43 0.382 135.39 0.616 60.825 59.206 34. 44 .822 81.479 97.817 2008 54.548 99.809 48.18 2.999 orang yang terdiri dari laki-laki sebanyak 5.65 Total 1.556 126. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat tabel 6.504 60.32 2.011 61.64 0.731 89.21 2.00 1.16 1.723 133.014 140.426 132.87 persen disusul tingkat pendidikan Sarjana sekitar 30.394 152.91 3.008 128.32 1.Tabel 5 Distribusi Penduduk Menurut Kecamatan Di Kota Makassar Tahun 2007 dan 2008 Penduduk Kecamatan Mariso Mamajang Tamalate Rappocini Makassar Ujung Pandang Wajo Bontoala Ujung Tanah Tallo Panakkukang Manggala Biringkanaya Tamalanrea 2007 53.656 Sumber BPS: Makassar Dalam Angka.143 Laju Pertumbuhan Penduduk 0.51 persen.Pada tahun 2008 pencari kerja yang tercatat sebanyak 10.726 orang dan perempuan 5. Tahun 2009 Menarik pula dilihat adalah tentang pencari kerja di Kota Makassar.

273 2007 31.00 100. Sekilas Sejarah Singkat Mall Ramayana PT. Ramayana Lestari Sentosa telah memiliki 92 gerai yang terbesar di 41 kota di Indonesia. Ramayana Lestari Sentosa melakukan penawaran saham perdana pada tahun 1996 untuk menjadikan sebagai peritel terbesar untuk kelas bawah dan menengah bawah dan menyediakan beragam produk fasion.079 36.188 1.00 100.290 56. PT.999 67.081 144 1.00 Jumlah 2008 5.356 10. Ramayana Lestari Sentosa mempunyai visi untuk menetapkan posisinya sebagai perusahaan ritel terbesar dan paling menguntungkan di sektor 45 . berdiri pada tahun 1978 yang di dirikan oleh Bapak Paulus dan Paulus Tumewu.209 26. Ramayana Lestari Sentosa.accessories dan barang-barang kebutuhan sehari-hari. Tahun 2009 C.87 2.319 Persentase 0.73 30. Di akhir tahun 2006 PT.495 Sumber BPS: Makassar Dalam Angka.211 2006 25.535 2005 10.824 15. Toko pertama yang didirikan adalah “ R 01” Jl.51 100.620 3.726 5.674 30.09 14. Agus Salim (SABANG) “Ramayana Fasion Store”.Tabel 6 Distribusi Jumlah Pencari Kerja Yang Terdaftar Menurut Tingkat Pendidikan Dan Jenis Kelamin Di Kota Makassar Tingkat Pendidikan SD SLTP SLTA D1.526 Perempuan 1 29 2. H.514 86 432 1.00 100.830 Jumlah 32 166 5.595 230 1. D2 Sarjana Muda Sarjana Laki-laki 31 137 3.mainan. PT.51 50.29 1.

2.ritel dengan mengandalkan biaya. di sertai layanan konsumen yang baik. Ramayana Lestari Sentosa adalah sebagai berikut:  Mencari alternatif produk-produk yang berkualitas dengan harga yang murah. PT. Ramayana Lestari Sentosa mempunyai 3 prinsip dasar. Strategi-strategi yang di lakukan PT. Ramayana Lestari Sentosa adalah sebagai perusahaan ritel yang memiliki komitmen untuk melayani kebutuhan kelompok menengah ke bawah dengan menyediakan serangkaian barang-barang berkualitas dan bernilai. Tujuan akhir kami adalah untuk memaksimalkan nilai saham perseroan bagi para pemegang saham sedangkan misi PT. Kita bersama-sama meningkatkan kualitas sumber daya manusia. Kita selalu menyediakan produk berkualitas tinggi dengan harga terjangkau. serta memelihara hubungan yang saling menguntungkan dengan para pemasok dan rekan bisnis. yaitu sebagai berikut: 1.mengembangkan sumber daya manusia. 46 . 3.meningkatkan pelayanan konsumen. sehingga Ramayana berpartisipasi dalam membangun Negara kita dan menciptakan kesejahteraan seluruh karyawan. Kita selalu mengutamakan pelayanan yang terbaik kepada pelanggan dan membina baik dengan mitra usaha.

Prospek usaha PT.Kalimantan dan Sulawesi. Selain itu juga melakukan ekspansi ke daerah-daerah berpotensi di luar jawa.  Pengembangan untuk ekspansi toko di masa mendatang. seperti: Sumatra. Ramayana Lestari Sentosa adalah utuk mencapai target pasar yang luas lebih kurang 70% dari populasi adalah kelas bawah dan menengah bawah. 47 . Menekan biaya operasional sehingga tidak melebihi 16% dari penjualan   Mengadakan evaluasi kinerja gerai secara berkala. Menutup took yang kurang menguntungkan untuk mengurangi kerugikan.

Profil Informan 1. termasuk struktur hubungan sosial pekerja di perdagangan Mall Ramayana serta kendala-kendala yang mereka hadapi selama berkerja di Mall Ramayana tersebut. Tetapi harapan itu sirna karena keterbatasan biaya.BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN Pembahasan bab ini di dasarkan pada seluruh data yang berhasil dihimpun pada saat penulis melakukan penelitian di perdagangan Mall Ramayana. Dari data ini diperoleh beberapa jawaban menyangkut kehidupan para pekerja di Mall Ramayana. setamatnya 48 . sebagai berikut: A. Data yang di maksud dalam hal ini merupakan data primer yang bersumber dari jawaban para responden dengan menggunakan pedoman wawancara atau wawancara secara langsung sebagai media pengumpulan data atau instrumen yang dipakai untuk keperluan tersebut. Adapun profil informan. Sejak sekolah di bangku SLTA sudah memiliki cita-cita untuk menjadi wanita karier sebagaimana temanteman yang dikenalnya. FRH (22 tahun) FRH seorang gadis yang berasal dari Maros dengan status belum menikah merupakan anak pertama dari lima bersaudara. walaupun ia merasa ketinggalan mata pelajaran dibanding teman sekelasnya tetapi keinginan orang tua adalah agar bisa meraih pendidikan setinggi-tingginya.

kecuali keuletan dan kejujuran. diapun mendapat tawaran dari temannya untuk bekerja di sebuah Mall (Ramayana) Makassar. Keputusan yang diambilnya sendiri ternyata tidak mendapat halangan dari orangtuanya. 1. Tertarik untuk bekerja setelah menamatkan bangku sekolah. serta memiliki pendapatan sedikit lebih dari pekerjaan lainnya. 2.dia dari SLTA.000 perbulan. Keterampilan menghitung uang dan kepercayaan yang dapat diperlihatkan. Dilihat dari latar belakang orangtua IM berasal dari keluarga mampu karena memiliki latar belakang pendidikan sarjana dan bekerja sebagai guru. tetap masih memiliki cita-cita untuk mendapatkan pekerjaan yang lebih baik dari pekerjaannya sekarang. Bidang pekerjaan yang ditekuni sekarang adalah pelayanan kasir. FRH dengan jabatan sebagai kasir mendapatkan gaji sekaligus tunjangan kurang lebih Rp.200. Akan tetapi 49 . Bekerja di Mall dianggap sebagai pekerjaan yang tidak terlalu membutuhkan keterampilan sebagaimana informasi awal yang diperoleh dari teman-temannya. IM (24 tahun) Pekerja IM berasal dari Gowa telah berkeluarga dan dikaruniai dua orang anak. Di Makassar ia pun menggeluti wiraswasta kecil-kecilan. ia meninggalkan kampung halaman dan orangtuanya. Oleh karena itu. Pekerjaan ini cukup bergengsi dibanding bekerja sebagai penjaga stan pakaian. Hal itu merupakan modal yang tinggi untuk tetap dipercaya di perusahaan. Akan tetapi selama dua tahun bekerja sebagai penjaga kasir serta pendapatan yang relatif cukup menghidupi kebutuhan peribadinya. membuat dia dapat bertahan selama dua tahun di tempat ia bekerja. karena mengandung resiko yang lebih tinggi.

Sebenarnya cita-cita TN adalah menjadi pegawai Bank. IM merasa terpanggil untuk bekerja. 50 . Informasi yang diperolehnya melalui koran dimanfaatkan untuk mengajukan lamaran pekerjaan. ia dipersunting oleh seorang lelaki sebaya sesama tamatan SLTA.000 perbulan. Memiliki suami yang juga hanya tamat SMA dan bekerja sebagai wiraswasta. IM telah menggeluti pekerjaan ini selama 4 tahun dengan penghasilan Rp. Pendidikan TN hanya sampai tingkat SLTA dan dia terpaksa tidak mampu melanjutkan ke jenjang perguruan tinggi karena keterbatasan biaya orang tua yang hanya sebagai wiraswasta (jual-jualan). memaksanya hanya bisa melamar pekerjaan sebagai pekerja Mall Ramayana. Setelah beberapa tahun mengarungi kehidupan rumah tangga dan telah dikaruniai dua orang anak. Walaupun belum memiliki anak. Setelah menyelesaikan pendidikannya di SLTA. yaitu sebagai pengawas kasir.keinginan untuk melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi tidak dapat diwujudkan karena panggilan untuk berkeluarga tidak dapat dielakkan. 3. Pengalaman IM selama bekerja mampu memberikan kepercayaan kepada pimpinan sehingga saat ini IM menempati posisi sebagai pengawas kasir. Berbekal ijazah SLTA dan tidak dibekali keterampilan khusus. akan tetapi semua sirna oleh karena tidak dibekali dengan latar belakang pendidikan dan keterampilan teknis pembukuan sehingga TN mengurungkan niatnya untuk mengajukan lamaran pekerjaan. Dia termasuk agak beruntung dibanding lainnya karena telah memiliki status sebagai karyawan tetap. rupanya dianggap kurang mampu menopang ekonomi rumah tangga. TN (25 tahun) Karyawan TN berasal dari Kabupaten Sidrap.400. 1.

menantangnya untuk mencari pekerjaan tambahan untuk menambah penghasilan ekonomi keluarga dan TN mendapat dukungan dari suami. Tetapi AL masih memiliki cita-cita untuk mendapatkan pekerjaan yang lebih baik dari pekerjaannya sekarang.000 perbulan.400.akan tetapi status pekerjaan suami sebagai wiraswasta. Akan tetapi. Selama tiga tahun bekerja sebagai pengawas kasir dengan pendapatan yang relatif. Keinginannya sejak dibangku kuliah ialah menjadi seorang wiraswasta yang sukses. Selain itu informasi diperoleh dari berbagai media yang selalu memberitakan seputar lowongan pekerjaan dan TN pun melamar sebagai karyawan Mall Ramayana dengan posisi sebagai SPG.000 perbulan. Informasi pekerjaan ini diperoleh dari temanteman TN yang telah bekerja sebelumnya. Melalui informasi yang diperoleh dari teman-teman yang telah bekerja sebelumnya serta melalui berbagai media yang didapatkan.000. Oleh karena kejujuran dan keuletan dalam bekerja AL mendapat tunjangan sebagai jabatan pengawas kasir sehingga mendapat gaji kurang lebih Rp.1. 1. Hingga saat ini TN telah bekerja selama 2 tahun dengan penghasilan kurang lebih Rp. AL (25 tahun) Karyawan AL dengan latar belakang pendidikan sarjana berasal dari Barru. 51 . Walaupun latar belakang ayah AL adalah seorang pegawai negeri sipil ia tidak pernah bercita-cita mengikuti jejak profesi ayahnya. sudah cukup menghidupi kebutuhannya. merintis usaha yang dicita-citakan tidaklah mudah baginya karena memerlukan biaya dan koneksi yang luas. 4. akhirnya AL bekerja sebagai karyawan Mall Ramayana.

Sampai sekarang LY telah bekerja selama kurang lebih satu tahun.000 per bulan serta sistem kontrak bulanan. LY (20 tahun) Karyawan LY dengan latar belakang pendidikan SLTA berasal dari Sungguminasa. Relevan dengan hal tersebut. serta menunjang tinggi persatuan dan kesatuan bangsa. mendorong LY untuk mencari pekerjaan dengan harapan dapat meringankan beban orangtua. Jenjang pendidikan lebih tinggi tidak bisa diperoleh akibat ketidakmampuan orangtua LY yang hanya sebagai wiraswasta (jual-jualan) dengan tanggungan enam orang anak. Dalam pandangan LY. keakraban. Hubungan Sosial Perempuan Pekerja di Ramayana Departement Store 1. Ketidak mampuan melanjutkan ke perguruan tinggi. maka LY mencoba melamar dan akhirnya diterima. B. keramahan. individu dengan kelompok atau antarkelompok yang secara langsung ataupun tidak langsung dapat menciptakan rasa saling pengertian dan kerja sama yang cukup tinggi. dengan honor Rp.5. maka yang dimaksudkan dengan hubungan sosial formal dalam penelitian ini dimaksudkan sebagai hubungan yang dibangun 52 . Dengan bantuan teman-teman yang sudah lebih awal bekerja di Mall Ramayana. 900. Hubungan Sosial Formal Hubungan sosial sebagaimana di Bab II dikemukakan sebelumnya adalah suatu kegiatan yang menghubungkan kepentingan antar individu. hanya pekerjaan sebagai Sales Promotion Girl (selanjutnya disingkat SPG) yang sesuai dengan pendidikan yang ia punya.

Perusahaan ini memiliki manajemen dengan pengendalian utama di pusat manajemen Jakarta dan memiliki prinsip aturan yang berlaku secara umum. yaitu berupa jam kerja.berdasarkan struktur hubungan yang ada dalam perusahaan Ramayana. Dari penuturan informan IM dapat disimpulkan bahwa Ramayana sangat memperhatikan struktur dalam mengembangkan perusahaan untuk tetap eksis di masa yang akan datang. cuti. 13 Tahun 2003. Struktur menggambarkan adanya seperangkat aturan yang mengatur tatanan hubungan antara karyawan dengan pemilik perusahaan dan antarkaryawan sesama pekerja di Ramayana. honor. serta sanksi kerja yang tertuang dalam bentuk kontrak kerja. perjanjian kerja bersama adalah perjanjian yang merupakan hasil perundingan antara serikat pekerja/serikat buruh atau beberapa serikat pekerja/serikat buruh yang tercatat pada instansi yang bertanggung jawab di bidang ketenagakerjaan dengan pengusaha atau beberapa pengusaha atau perkumpulan pengusaha yang memuat syarat-syarat kerja. baik berhubungan dengan bidang penjualan serta aturan-aturan berkaitan dengan ketenagakerjaan (karyawan)…” (Wawancara 21 maret 2011). “…Mall Ramayana merupakan sebuah perusahaan multinasional yang terdapat di beberapa kota besar di Indonesia termasuk salah satunya di Kota Makassar. Sebagaimana yang dituangkan dalam UU No. khususnya Pasal 1 (14) mengatakan bahwa. rotasi kerja. Hubungan formal yang digambarkan dalam Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 13 Tahun 2003 Tentang Ketenagakerjaan. Dilihat dari aturan-aturan ketenagakerjaan yang selalu diperhatikan dan diikuti oleh pihak Ramayana sebagaimana dikatakan oleh informan. Sebagaimana dikatakan oleh seorang supervisor IM (24 tahun) mangatakan bahwa. tunjangan. 53 .

Undang-undang No. Perjanjian kerja tersebut umumnya memuat kesepakatan antara pekerja dengan perusahaan. FRH (21 tahun) adalah seorang kasir yang berasal dari Gowa. dan 3) adanya upah. selanjutnya ke tempat melayani costumer. selesai. Perjanjian kerja yang dibuat antara pekerja dengan pemilik modal Ramayana. 2) Penuaian kerja. pemberi kerja yang memuat syarat-syarat kerja hak dan kewajiban para pihak. Perjanjian kerja harus dipenuhi 3 unsur. Setelah masa tugas selesai. Jumlahnya sama dengan yang dia hilangkan…”(Wawancara 20 Maret 2011) Sesuai dengan penuturan informan di atas bahwa jika terjadi kesalahan seperti ketidaksesuaian nilai uang dan jumlah barang maka sanksi yang diperolehnya 54 . 13 Tahun 2003 memberikan panduan mengenai perjanjian kerja tentang hak dan kewajiban kedua belah pihak. Sebagai penjaga kasir yang bertanggung jawab melayani customer dalam bertransaksi dia harus dibawa kendali ofiice cassa dalam hal ini kepala kasir. diganti dengan gajinya yang dipotong. ia menuturkan bahwa: “…Kalau ada kasir yang salah kasih kembali uang. diapun kembali ke office cassa melaporkan dan menghitung jumlah uang yang diperolehnya hari itu. Sebagai suatu UU yang tujuannya antara lain untuk memberikan perlindungan kepada pekerja dalam mewujudkan kesejahteraan pekerja dan keluarga. Seorang penjaga kasir Mall Ramayana yang keberadaannya juga diatur sesuai dengan struktur organisasi yang berlaku. yaitu 1) ada orang diperintah orang lain.Dalam hubungan dengan hubungan ketenagakerjaan. salah satu perjanjian yang mungkin ada adalah perjanjian kerja. Pertama kali masuk ditempat kerja harus melapor ke office cassa untuk mengambil uang.

Kejujuran selalu di tanamkan kepada para kasir sehingga semua costumer mendapatkan pelayanan yang baik. maka suatu waktu ditemukannya sebuah perusahaan Mall membutuhkan karyawan yaitu Mall Ramayana. ia sudah bekerja cukup lama. 55 . bilamana nilai uang sangat jauh perbedaan nilainya akan dinilai kelalaian besar sehingga seseorang bisa dikeluarkan atau dipecat. cuma itu keterampilanku yang dinilai. Seperti yang diungkapkan oleh informan FRH (21 tahun) yang mengatakan bahwa: “…Saya termasuk cukup lamami bekerja sebagai kasir sudah dua tahun. Berbagai informasi yang dilacak untuk menemukan tempat kerja yang bisa mendukung keinginannya nanti. sehingga pengeluaran tidak terlalu besar. Sehingga pemberian sanksi tetap sesuai dengan ketentuan kerja. Dengan bekerja di mall. Dari pernyataan informan di atas. Semuanya ini telah diketahuinya dengan baik karena telah dicntumkan dalam kontrak kerja. Kecepatan dalam menghitung uang sudah tidak diragukan lagi sehingga di tempatkan di kasir untuk memberikan pelayanan yang lebih maksimal agar costumer mendapatkan pelayanan yang prima. Perhatian terhadap berapa gaji yang diperolehnya tidak terlalu menjadi masalah baginya.adalah pemotongan gaji. karena masih menumpang bersama orangtuanya serta belum mempunyai tanggung jawab istri. maka akan menjadi pengalaman pertama baginya untuk menemukan kiat-kiat menjadi pengusaha. Sebelum bertugas sebagai penjaga kasir saya di uji keterampilan menghitung uang dengan cepat dan tepat. Dengan kemampuan yang dimiliki maka FRH (21 tahun) berusaha mencari pengalaman di bidang bisnis. disamping saya berusaha memperlihatkan kejujuran…” (Wawancara tgl 20 maret 2011).

Seorang informan yang bekerja sebagai supervisor berinisial IM (24 tahun) juga menjelaskan tentang pekerjaannya yang ia lakoni setiap hari. Sebagai pegawai kontrak.000 perbulan ditambah dengan tunjangan jabatan dengan pekerjaan sebagai SPG. maka individu tersebut yang mendapatkan sanksi seperti dalam hal pemotongan gaji. Apabila terjadi kesalahan yang dilakukan oleh penjaga kassa. Dari pendapatan yang diperolehnya sebenarnya dianggap turut membantu ekonomi rumahtangga. sebagaimana dikatakan TN bahwa : “…Saya selama bekerja kurang lebih dua tahunmi di Mall Ramayana ini sebenarnya cukup membantu kebutuhan keluargaku apalagi belum 56 . dia juga harus bertangung jawab dan harus mendapat sanksi yang biasa di terima seperti pemotongan gaji…” (Wawancara 21 Maret 2011). sehingga tidak terjadi adanya kesalahan-kesalahan yang dilakukan oleh staf pegawai yang ada dibawahnya. Hal ini demi kelancaran dan pemberian pelayanan yang lebih maksimal.500. Kesalahan yang terjadi pada petugas kasir di bawahku. Pemberian pelayanan dalam hal ini interaksi serta kerjasama antara supervisor dengan pelayanan kasir terjalin sangat baik sehingga para pelayanan dibagian kassa menjalankan fungsi dan kewajibannya sebagaimana yang diharapkan para costumer. TN (25 tahun) memperoleh pendapatan kurang lebih Rp. Dari penuturan informan bisa dilihat bahwa kepercayaan dan tanggungjawab dalam membina pegawai kasir harus terjalin dengan baik. melakukan kontrol secara berkala dan harus cepat bila terjadi kesalahan di kassa. Saya selalu membina pegawai kassa. akan tetapi keinginan untuk beralih ke pekerjaan lain senantiasa terpikirkan juga. berikut penuturannya: “… Saya berusaha menjaga kepercayaan dan tangungjawab yang di bebankan pada saya dapat di lakukan dengan baik.1.

akan tetapi dicoba dipertahankan. sebagaimana dituturkan LY (20 tahun) bahwa: 57 . Tidak ada latihan khusus kecuali bahwa sebelum menempati pekerjaan didahului dengan penyampaian teknis dan cara memberikan pelayanan kepada costumer dengan ramah dan sabar. Setiap hari secara rutin masuk ke office dengan sistem shift dua kali sehari (pagi dan malam). Setiap kelalaian yang dilakukan oleh karyawan senantiasa diberikan sanksi dalam bentuk pemotongan gaji sampai diberhentikan. hal itu disampaikan oleh bagian Sumber Daya Manusia (selanjutnya disebut SDM). Besarnya gaji dan sistem kontrak demikian menurutnya sebenarnya tidak terlalu memuaskan. Jadi kalau ada pekerjaan lain yang lebih baik apalagi sebagai pegawai negeri tentunya masih lebih lagi…” (Wawancara 20 Maret 2011).punya anak. Informan TN mengutarakan bahwa pekerjaan yang Ia jalankan selama dua tahun sebagai karyawan di mall Ramayana sangat mendukung terutama dalam hal untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari. Sebagaimana pekerjaan yang menjadi tanggungjawab TN ialah melayani pertanyaan-pertanyaan costumer tentang produk-produk yang dijual dengan penuh kesabaran dan ketelatenan. Senada dengan yang dikatakan oleh informan TN (25 tahun). Tetapi pekerjaan yang informan jalankan tidak menutupi kemungkinan akan menjadi jaminan di akhir hidupnya. lain halnya pegawai negeri yang mempunyai kedudukan tetap dan penghasilan yang lebih memadai untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari. barang-barang naik harganya apalagi kenaikan gaji disini sangat susah. tetapi itukan suatu waktu kebutuhan kita juga bertambah. informan LY (20 tahun) sesama SPG juga mengeluhkan tentang gaji yang didapat.

900.000. tapi ada juga yang digaji lebih tinggi dari saya dan kontraknya setiap tahun.000 perbulan. Informan LY sudah satu tahun bekerja di Ramayana tapi sampai sekarang dia hanya dikontrak perbulan dan setiap bulannya memperpanjang kontrak. lebih sedikit dibanding gaji informan TN karena yang LY kerjakan hanya menjaga stan pakaian. walaupun diantara mereka senantiasa merasakan terjadi ketidakpuasan dari upah yang diperolehnya. hanya dengan harapan masih bisa bekerja selama belum memperoleh pekerjaan lain. tapi sampai sekarang saya hanya dikontrak setiap bulan. Lingkungan kerja yang dihadapi LY sebagaimana dituturkan membuatnya kelak berkeinginan untuk memperoleh pekerjaan yang lebih baik. Kemampuan merubah nasib melalui Mall Ramayana tidak pernah terpikirkan akan terjadi. akan tetapi pengakuan mereka bahwa tidak pernah terorganisir untuk melakukan protes terhadap pihak perusahaan. Dalam perusahan Mall seperti Ramayana sebagaimana dialami oleh para karyawan. 900. Gaji yang LY peroleh hanya Rp. lagi pula gajiku termasuk sedikit hanya Rp. tapi tetap saya lakukan karena tugas dan tanggung jawab saya sebagai 58 . kecuali bahwa mereka terus menjaga kepercayaan serta menjalin hubungan yang baik sesama karyawan dan kepada pengawas. LY tidak pernah memperhatikan bagaimana struktur dan hubungan-hubungan yang ada di Mall Ramayana kecuali sebatas kepada bidang supervisor dan pimpinan SDM itupun sebatas hubungan pekerjaan. informan LY (20 tahun) juga menambahkan: “… Biarpun upah yang saya dapatkan tidak sesuai dengan harapan. Maklum karena hanya menjaga stan pakaian. Saya juga diam-diami ji saja daripada protes tapi nantinya dikeluarkan…” (Wawancara 20 Maret 2011).“…Saya ini sudah satu tahunmi bekerja di Ramayana.

tapi teman-teman kami tidak pernah menuntut terlalu banyak kepada atasan…”(Wawancara 21 Maret 2011) Dari pernyataan diatas LY harapan dan keinginannya sebagai karyawan swasta tetap dia jalankan semaksimal mungkin karena merupakan tanggung jawab dan tugas untuk menjalankan semuanya sebagai karyawan di Mall Ramayana. yaitu antara enam bulan sampai satu tahun. Pihak perusahaan menerapkan batasan hubungan langsung dengan pimpinan perusahaan kecuali hanya terbatas pada pimpinan unit masing-masing. maka pihak perusahaan memberikan penekanan kepada setiap karyawan untuk bekerja secara profesional melalui aturan-aturan tentang mekanisme waktu kerja. kenyamanan dan keamanan terhadap konsumen. batasan tanggung jawab sesuai posisi tertentu. Sebagaimana yang diatur dalam mekanisme perusahaan bahwa tuntutan pesangon 59 . serta mekanisme sanksi terhadap pelanggaran yang terjadi. Hubungan ini mengindikasikan bahwa pihak perusahaan tidak memberikan kemungkinan terjadinya tuntutan langsung kepada pimpinan utama dalam hal terjadinya permasalahan atau keluhan-keluhan pada karyawan. Nilai yang menjadi patokan bersama dalam perusahaan Mall Ramayana ialah memberikan rasa kepuasan. Mekanisme kontrak seperti yang dijalankan oleh pihak Ramayana akan memberi keuntungan pihak perusahaan dalam tuntutan pesangon bila karena sesuatu hal terjadi pemutusan hubungan kerja (PHK) terhadap karyawan. Dalam menjaga nilai semacam itu. Pembatasan terhadap kemungkinan terjadinya tuntutan yang kuat dari pihak karyawan. maka pihak perusahaan Ramayana melakukan kontrak kerja kepada setiap karyawan dalam bentuk jangka pendek.karyawan di Mall tersebut.

Sebagai SPG. Konflik tersebut dipicu oleh dominasi-dominasi yang ada antara atasan dan bawahan.dan sejenisnya akan diperoleh pihak karyawan bagi karyawan yang telah bekerja sekurang-kurangnya dua tahun. Teman-temanku juga begituji semua karena sering ka juga cerita-cerita sama mereka…”(Wawancara. tapi daripada dipecat karena terlalu banyak ka bertanya lebih baik diam-diam saja. Yang penting jawab saja pertanyaannya costumer terus dapat gaji akhir bulan buat makan dan lain-lain. 20 Maret 2011) TN tidak terlalu mengerti mekanisme secara luas. sudahmi. dia hanya senantiasa berhubungan sesama SPG baik hal-hal yang bersifat teknis dan pengalaman lapangan serta keluh-kesah yang tidak terlalu prinsipil. Seperti yang pernah Marx kemukakan bahwa keterasingan yang dialami oleh para pekerja dalam masyarakat yang di dominasi oleh hak pilih pribadi. dari proses-proses produksi dan dirinya sendiri dan komunitasnya. yang menghadirkannya sebagai sesuatu yang asing bagi dirinya. kecuali bahwa dia hanya senantiasa harus berhubungan dengan pimpinan bagian SDM. Singkatnya manusia terasing dan objek yang dia hasilkan. Dalam A Contribution to the Critique of Political 60 . Dalam hal mekanisme kontrak dan struktur kerja yang ada pada mall Ramayana.  Hubungan atasan dan bawahan Hubungan atasan dan bawahan pada dasarnya harmonis jika mereka mampu menjaga hubungan tersebut tetapi tidak bisa di pungkiri bahwa konflik akan datang sewaktu-waktu. Keterasingan dapat dijelaskan sebagai suatu kondisi dimana manusia didominasi oleh kekuatan yang dia ciptakan sendiri. Seperti yang dikemukakan oleh TN (25 tahun) bahwa: “…Saya juga kurang mengerti bagaimana. umumnya tidak terlalu dimengerti oleh para karyawan.

saling ketergantungan direfleksikan pada moralitas dan mentalitas kemanusiaan serta dalam kenyataan solidaritas organis itu sendiri. Kontrak dalam masyarakat seperti ini menjadi lebih penting. Berdasarkan hubungan antara karyawan dengan pemilik perusahaan. Dalam masyarakat modern. bukan pertukaran atau juga bukan struktur pasar yang mengikat masyarakat. kebebasan. Tingginya tingkat pembagian kerja dan peranan yang berbeda pada setiap orang menyebabkan orang menggantikan basis ikatan (penyatuan) atas dasar kesamaan (solidaritas mekanis) dengan dasar ketidaksamaan (solidaritas organis). dan hukum. Emile Durkheim berpandangan bahwa pembagian kerja mempunyai fungsi yang lebih luas. 2009:21). Masyarakat yang berlandaskan solidaritas organis menjunjung tinggi nilai-nilai kesamaan. Hak dan kewajiban inilah. hak dan kewajiban berkembang di sekitar saling ketergantungan yang di hasilkan oleh pembagian kerja. berbeda dengan karakteristik yang terdapat dalam sebuah perusahaan. Perusahan industri memiliki ketergantungan terhadap sumber bahan baku dan sistem pasar bebas sehingga hubungan antara karyawan dan pemilik perusahaan sangat tergantung pada efektifitas dan efisiensi nilai produksi dan upah karyawan. Mereka tergantung satu sama lain karena mereka mempunyai tugas yang berbeda. dan oleh sebab itu mereka saling membutuhkan untuk kesejahteraan mereka sendiri. Bilamana nilai produksi mengalami peningkatan maka akan berpengaruh 61 .Economy (Dalam Damsar. Pembagian kerja merupakan sarana utama bagi penciptaan kohesi dan solidaritas dalam masyarakat modern. Seorang Sosiolog Jerman. Dalam masyarakat modern.

Dengan kata lain maju mundurnya sebuah perusahaan seperti Mall Ramayana adalah merupakan tanggung jawab bersama antara pemilik perusahaan dan karyawan. Dalam perusahaan perdagangan (mall) seperti Ramayana. efektivitas dan efisiensi perusahaan tidak terlalu dipengaruhi oleh sumber bahan baku dan nilai produksi karena tidak dalam posisi mengolah bahan baku menjadi barang jadi. Secara sosiologis dikatakan bahwa tingkat kohesivitas dalam sebuah masyarakat ditentukan sejauh mana anggota tersebut memiliki komitmen bersama untuk senantiasa taat dan patuh terhadap aturan yang dibangun bersama. Seorang informan TN (25 tahun) mengatakan bahwa: “…saya dapat informasi tentang pekerjaan ini di Koran. Dalam kondisi demikian maka bisa mengganggu hubungan antara karyawan dengan pemilik produksi dalam bentuk protes sampai mogok kerja. Alhamdulillah saya diterima disini dan sampe saat ini masih 62 . kebetulan waktu itu mau ka cari kerja juga jadi kasih masuk lamaran ma’ juga di Ramayana. Selanjutnya di lain pihak keberadaan Mall Ramayana dapat memanfaatkan hukum permintaan dalam sistem ketenagakerjaan. Standar penerimaan karyawan tidak mengharuskan level keterampilan tertentu sebagaimana umumnya terjadi pada perusahaan.terhadap upah karyawan sehingga rentan mengalami penurunan upah karyawan bahkan biasa terjadi pemutusan hubungan kerja. Dengan demikian tingkat kohesivitas atau kestabilan dalam perusahaan (Mall) seperti Ramayana lebih dapat terjamin. hal tersebut tercermin ketika karyawan Ramayana selama ini dapat dikatakan tidak pernah terjadi aktivitas yang mengarah kepada bentuk-bentuk protes atau pemogokan kerja.

jujur dan mau bekerja keras. rapih dan bersih. bertanggung jawab. wanita usia maximal 25 tahun. Seperti yang biasa dilihat dalam beberapa Koran terdapat beberapa persyaratan yang senantiasa ditemukan dalam pengumuman penerimaan karyawan mall seperti : “Dibutuhkan untuk tenaga Chieft Engineering dengan kualifikasi lakilaki. memiliki sikap disiplin yang tinggi. dapat disimpulkan bahwa Ramayana menjaring pekerja melalui berbagai media cetak. mampu bekerja secara individu maupun tim Kami membutuhkan Supervisor Counter untuk ditempatkan di Mall dengan syarat: pria atau wanita. memiliki komunikasi yang baik. pendidikan min SMA / SMK. berpenampilan menarik. menyukai bidang marketing dan sales. fasilitas: gaji. bernegoisasi dengan daik. Segera!! dicari spg / sales assistant untuk produk baju2 wanita di mall2 terkemuka syarat: pendidikan minimal sma / sederajat. rajin. tunjangan harian dan komisi penjualan. pendidikan minimal D3 / S1 Segala jurusan Mampu berkomunikasi. berpengalaman lebih diutamakan”. mampu bekerja sebagai tim dan bekerja keras. Membutuhkan banyak tenaga muda yang penuh dengan semangat dan agresif untuk mencapai kesuksesan bersama: pria dan wanita. pendidikan DIII-S1. bisa memimpin kelompok kecil (3-4 orang).kerja disini. berpenampilan menarik. usia maximum 30 tahun. berjwa dinamis dan menyukai tantangan. bisa memberi semangat kerja bagi 63 . Mungkin gajinya kecil tapi saya syukuri saja…” (Wawancara 23 Maret 2011) Dari keterangan TN.

Sambil menunggu pekerjaan yang baik dan pekerjaan tetap AL tetap bertahan untuk bekerja di Mall Ramayana untuk terhindar dari tuntutan-tuntutan ekonomi yang semakin lama semakin banyak. Informan AL adalah seorang pengawas kasir di Ramayana yang berlatar pendidikan sarjana. Kecenderungan semakin meningkatnya ketersediaan tenaga kerja yang membanjiri daerah perkotaan menjadi keuntungan bagi sebuah perusahaan yang tidak terlalu membutuhkan keterampilan khusus. Sebaliknya para pencari kerja yang kurang terampil dapat memanfaatkan peluang kerja tersebut. AL masih mengharapkan mendapatkan pekerjaan yang lebih baik dari pekerjaannya saat ini. rajin dan jujur.kelompoknya.24 tahun . yaitu bahwa mereka tertarik bekerja karena tidak terlalu dibutuhkan keterampilan khusus disamping karena alasan-alasan seperti sekedar membantu ekonomi rumah tangga. usia 18 . mengarahkan kelompoknya untuk bekerja dengan benar. Dalam hal ini maka dapat dikatakan bahwa hubungan yang terjadi dalam Mall Ramayana tidak semata ditentukaan oleh kepatuhan atau ketaatan bersama terhadap aturan akan tetapi juga adanya ketergantungan yang cukup tinggi antara karyawan terhadap perusahaan. Seperti petikan wawancara dengan AL (25 tahun) di bawah ini: “…Saya sebenarnya punya cita-cita jadi wirausahawan tetapi karena tidak punya modal dan diterima di Ramayana. Walaupun sudah menjadi seorang pengawas kasir. bisa. Tapi masih mau lagi cari pekerjaan yang lebih baik. target oriented. ahirnya saya kerja dsinimi. Berkacamata. apalagi saya pernahji kuliah…” (Wawancara 22 Maret 2011). tinggi minimal 159 dan 160 ke atas tidak. sebagaimana dikemukakan oleh para karyawan. 64 .

Fenomena hubungan pemilik modal dan karyawan sebagaimana digambarkan. Bidang SDM memiliki kekuatan sebagai penggerak utama perusahaan terutama berkaitan perekrutan karyawan. banyaknya tenaga kerja yang tersedia tidak sebanding dengan jumlah lapangan kerja yang tersedia. pembinaan karyawan. diatas tidak menutup kemungkinan akan terjadi ketergantungan yang tinggi buruh terhadap pemilik perusahaan seringkali berada pada posisi yang lebih lemah daripada sang buruh. Buruh sering diperas majikan dengan upah yang relatif kecil karena. Secara sosiologis buruh itu tidak bebas sebagai orang yang tidak mempunyai bekal hidup yang lain kecuali tenaganya dan kadang-kadang terpaksa untuk menerima hubungan kerja dengan majikan meskipun memberatkan bagi buruh itu sendiri. hal tersebut disebabkan bahwa untuk konteks Indonesia. Hubungan fungsional yang terjadi sebagaimana digambarkan dari kelima kasus tersebut menunjukkan pula bahwa. yaitu sebuah hubungan yang didasarkan atas perbedaan posisi seseorang dalam sebuah masyarakat maju akan tetapi memiliki tujuan 65 . Buruh hanyalah sebuah obyek bagi majikan untuk melaksanakan kepentingan mereka. Dengan demikian karyawan yang memiliki posisi sebagai bawahan memiliki ketergantungan cukup tinggi terhadap pengendalian yang dijalankan oleh bidang SDM. dan penetapan sanksi karyawan. Buruh dianggap bukanlah mitra yang sejajar bagi majikan. Hubungan semacam ini dikatakaan pula sebagai hubungan yang bersifat organik. pengendalian ke bawah dilakukan berdasarkan bidang teknis dengan tanggungjawab utama terdapat pada bidang SDM.

Tidak cukup setengah bulan habismi.000. Informan TN (25 tahun) adalah seorang SPG yang berasal dari Gowa menuturkan bahwa: “…gaji saya cuma Rp 1. Tapi hidup di kota kayak Makassar uang Rp 1. Pintar-pintar saja atur uang…” (Wawancara 21 Maret 2011) Dari penjelasan informan TN dapat disimpulkan bahwa kehidupan sebagai SPG dengan gaji Rp 1. sehingga hasil akhir bukan dilihat dalam bagian itu sendiri saja. Informan AL (25 tahun) adalah seorang pengawas kasir yang telah bekerja di Ramayana selama 3 tahun mengemukakan bahwa: 66 . yaitu perbedaan dalam bidang tanggungjawab atas bagiannya sendiri. Berdasarkan penjelasan diatas. yaitu karyawan tetap dan karyawan kontrak. kontrak kerja TN di perpanjang dengan begitu dapat sewaktu-waktu di putuskan. melainkan karena mereka berbeda.000.000 sangat memprihatinkan. untung suami saya kerja juga walaupun tidak pasti pendapatan perbulannya.bersama. Setiap bulannya. Belumpi juga punya anak jadi kebutuhan masih sedikit. dalam suatu hubungan dengan keseluruhan. Hal ini sangat membuat risau TN tapi ia yakin bahwa rejeki tidak akan kemana jika masih berusaha. tetapi keseluruhan.000 dan tiap bulannya di perpanjang kontrakku.000 apaji artinya. bukan karena mereka sama. pekerja di Mall Ramayana yang diikat oleh aturan perusahaan terbagi atas 2.000. Jika tidak mampu mengelola keuangan dengan cerdas dapat jatuh dalam lubang hutang sana-sini. Kehidupan karyawan tetap setidaknya lebih baik dibanding karyawan kontrak seperti TN. Dalam hal ini Lawang (1985:68-69) mengatakan bahwa solidaritas yang muncul dalam soilidaritas organik adalah karena adanya taanggungjawab bersama dan kepentingan bersama di antara para anggotanya. yang jelas bisa meringankan beban dalam rumah.

tanggung jawab pekerjaan yah beginimi…” (Wawancara 22 Maret 2011) Dari penjelasan informan TN (25 tahun) dan AL (25 tahun) dapatlah disimpulkan bahwa kehidupan karyawan kontrak dan karyawan tetap sangat jauh berbeda. Dalam hal ini Durkheim mengatakan sebagai sebuah solidaritas karena adanya saling percaya. Bukan hanya dilihat dari segi pendapatan saja tetapi dari kekhawatiran akan hubungan kerja dengan pihak Ramayana dimana karyawan kontrak sewaktuwaktu bisa diputuskan hubungan kerjanya. atau hubungan persahabatan yang ada antara para anggota masyarakat muncul karena adanya persamaan dalam semua hal yang berhubungan pikiran. Tidak enaknya karena tanggung jawab dari beberapa kasir yang saya awasi juga berat. Tapi di bawa enjoy saja karena maumi di apa. bilamana diantara anggota masyarakat muncul perasaan ketidaknyamanan dan merasa akan mengganggu kelangsungan hidup maka akan mudah muncul permufakatan diantara para anggota untuk melakukan bentuk-bentuk perlawanan. kesatuan. Hubungan Sosial Informal Hubungan sosial informal ialah hubungan yang terjadi di luar struktur organisasi atau tidak resmi. 1985: 65). yaitu suatu hubungan yang diikat melalui prinsip-prinsip kebersamaan dan berlangsung secara sukarela yang didasarkan pada nilai-nilai moral tradisional. Dalam masyarakat pedesaan atau masyarakat tradisional diidentikkan sebagai sebuah hubungan yang bersifat mekanik. tindakan dalam (dalam Lawang.“…bekerja sebagai pengawas kasir ada enaknya ada tidak enaknya. Hubungan yang bersifat mekanik tersebut. Enaknya kalo biasanya dapat tunjangan lebih jadi bisa beli barang yang disuka. 2. 67 . perasaan.

Seperti penuturan IM yang mengatakan bahwa : “… Saya bekerja kurang lebih 4 tahun dan barusan diangkat jadi pengawas kasir.  Aktifitas Sebelum Dan Sesudah Bekerja Ketentuan yang menjadi perhatian IM (24 tahun) sebagai pengawas kasir di tempat kerja ialah menjaga shift yaitu. Alhamdulillah 68 . demikian terhadap pegawai kasir. Pada awalnya diantara karyawan sering melakukan pertukaran informasi terkait pengalaman-pengalaman kerja. keluhan-keluhan yang diperoleh sebagai akibat adanya rasa ketidakpuasan antara pekerjaan yang dihadapi dengan upah yang diperoleh seperti jam kerja yang berlebihan. akhirnya diantara karyawan membentuk persekutuan dan diorganisir oleh seseorang diantara mereka. Hal tersebut karena adanya ketakutan untuk melakukan tuntutan yang berlebihan terhadap pihak perusahaan karena resiko pemecatan (PHK) sewaktu-waktu dapat terjadi. Hampir dikatakan tidak terjadi konflik dengan sesama teman sekerja di tempat kasir karena masing-masing memiliki tanggung jawab. Persekutuan tersebut kemudian berkembang menjadi sebuah perkumpulan yang lebih terorganisir yaitu yang disebut organisasi buruh. Mereka baik dan selama saya kerja disini. dengan sistem shift per minggu pagi dan malam. Mencermati mekanisme kerja pada perusahaan Ramayana tersebut maka keberadaan pihak karyawan berada pada posisi yang lemah dan ketergantungan yang cukup tinggi. sebuah hubungan yang bersifat tidak formal ialah hubungan yang berlangsung dalam sebuah ikatan organisasi karyawan (perburuhan).Dalam organisasi industri. perlindungan/jaminan kerja. 8 jam kerja dan 1 jam istirahat. Ketika kondisi seperti ini berlangsung lama.

tidak ada konflik yang terjadi. Sedangkan terhadap penanggung jawab Mall Ramayana tidak memiliki hubungan tanggung jawab langsung sehingga kendali diberikan kepada supervisor masing-masing. Kalo ada juga masih bisa diselesaikan karena para karyawan masih mauji berdamai. demikian pula pada pekerja perempuan di Mall Ramayana. Kalaupun ada yang tidak disuka masalah pekerjaan akan langsung dibicarakan dengan supervisor dan selama saya bekerja tidak adaji yang dibawa masalahnya keluar…” (Wawancara 21 Maret 2011) Pada dasarnya. Sesuai dengan penuturan TN (24 tahun) : “…Tidak pernahji ada yang bertengkar karena semuanya sibuk dengan pekerjaan masing-masing. 69 . Belum ada konflik yang berarti selama IM bekerja di Ramayana. Hampir dikatakan tidak terjadi konflik dengan teman sesama SPG maupun kasir karena masing-masing memiliki tanggung jawab untuk menjaga stan-stan yang dipercayakan kepada mereka. Ungkapan informan diatas menunjukkan bahwa hubungan IM dengan temanteman karyawan Ramayana sangat baik sehingga hal ini membuat IM nyaman bekerja di sana. Konflik merupakan hal yang tidak bisa dihilangkan dari struktur yang ada. TN lebih banyak menghabiskan waktunya untuk melayani para costumer dan mengambil barang yang diinginkan oleh para costumernya. telaten dan bisa dipertanggung jawabkan bila terjadi kesalahan yang tanpa disengaja oleh karyawan. Ini membuktikan bahwa peran karyawan dalam menjalankan fungsi dan perannya didalam hubungan kerja antarkaryawan sangat intensif dalam hal pembagian kerja yang terorganisir dan tertata. (Wawancara 20 Maret 2011).

Kalo ada gaji lebih. sekali-sekali juga saya makan di foodcourt. Misalnya. Sesuai penuturan IM berikut ini: 70 . pinjam sama temanku saja…”(Wawancara 22 Maret 2011). maka disini terlihat solidaritas mereka dengan menghadiri acara tersebut. para karyawan biasanya makan siang di warung dekat Ramayana. rekreasi. tidak hanya mereka berdua saja tetapi seperti halnya dengan teman-teman mereka yang lain. Misalnya saja FRH (22 tahun) dan AL (25 tahun) yang menempati tempat tinggal yang sama. Pada saat jam istirahat. masa hanya bisa liat orang makan di sana tapi kita yang kerja tidak pernah rasa masakan disana…”(Wawancara 23 Maret 2011). Tapi kalo mau lebih hemat biasanya juga saya bawa makan siang dari rumah. Pada saat adanya acara-acara seperti syukuran. Moment makan siang ini dimanfaatkan oleh para karyawan untuk bertukar informasi atau sekedar bersenda gurau. Hal ini biasanya terjadi dan akhirnya membuat para karyawan semakin akrab. aqikah dari salah satu karyawan. Karena satu tempat tinggal makanya kita kayak keluargami. Seperti yang dikemukakan oleh informan LY (20 tahun) : “…selalu ka makan siang sama yang lain di warung belakang karena murah dan lumayan enak. Apalagi kalo tidak punya uang. Nilai-nilai kekeluargaan juga tercermin dari hubungan antarkaryawan perempuan Ramayana. Suka duka ditanggung sama-sama. pada saat informan IM (24 tahun) melahirkan anak keduanya. para karyawan Ramayana juga menghadiri acara tersebut. Berdasarkan penuturan informan FRH (22 tahun) bahwa: “…saya tinggal sama teman-temanku yang kerja juga di Ramayana. ulang tahun.Umumnya tempat tinggal para karyawan perempuan Ramayana di tempat yang sama. pernikahan.

Semua itu karena kita semua kayak keluargami. datangji teman-teman dari Ramayana. Hubungan formal dan informal telah terjadi antara pekerja wanita di Ramayana Department Store.“…Waktu aqikahnya anak keduaku. Hubungan mereka bukan hanya di tempat bekerja tetapi di luar pekerjaan mereka tetap memelihara tali silaturahmi yang telah terjalin di tempat bekerja. 71 . yahhh…namanya juga balas budi…”(Wawancara 23 Maret 2011). Kalo ada juga acaranya yang lain pasti saya usahakan datang.

BAB V PENUTUP A. KESIMPULAN Berdasarkan uraian yang telah dikemukakan berupa hasil pembahasan dari data dan informasi yang diperoleh dliokasi penelitian. Hubungan sosial demikian secara sosiologis bahwa: hubungan karyawan dengan karyawan. di mana karyawan dalam melakukan hubungan dengan sesama karyawan. maka disimpulkan hal-hal sebagai berikut: 1. Pekerja perempuan di Mall Ramayana dalam menjalankan tugasnya memiliki struktur hubungan oleh UU ketenagakerjaan peraturan kerja di Mall. 2. cenderung tidak pernah mempermasalahkan persoalan-persoalan terkait dengan posisi sebagai karyawan. Seperti halnya dalam hubungan yang bersifat tidak formal. 72 . serta karyawan dengan supervisor dibatasi berdasarkan fungsi dan peranan masing-masing melalui aturan kedisiplinan dan sanksi. Hubungan-hubungan yang bersifat formal cenderung karyawan diorganisir terbatas dalam hubungan berdasarkan spesifikasi sebagai upaya efektifitas mengontrol karyawan melalui supervisor. Individu (karyawan) dalam hal ini tidak memiliki kekuatan dalam melakukan protes langsung terhadap perusahaan. Hal tersebut secara sosiologis dapat dikatakan bahwa kemungkinan terjadinya kegiatan-kegiatan terorganisir dalam melakukan tuntutan terhadap perusahaan Ramayana relatif tidak akan terjadi.

serta sanksi-sanksi jika melanggar peraturan tersebut. perlu diikuti kontrol kelembagaan yang berfungsi mengontrol struktur hubungan kerja seperti kontrak kerja yang kemungkinan merugikan secara sepihak para karyawan.13 Tahun 2003 yang diterapkan dalam peraturan-peraturan di Mall Ramayana. Struktur hubungan pekerja perempuan dalam hubungan formal telah diatur UU No.Oleh karena itu mengapa hubungan karyawan dengan perusahaan Mall Ramayana selama ini dapat dikatakan tidak pernah terlihat suatu gerakan yang mengarah pada upaya protes atau mogok kerja dan sejenisnya. Peraturan-peraturan tersebut mengatur tentang hubungan antara atasan dan bawahan. B. SARAN-SARAN Sebagai tindak lanjut dari hasil penelitian maka dibawah ini penulis memberikan saran pada semua pekerja ialah sebagai berikut: 1. Kontrak jangka pendek yang mungkin bentuk eksploitatif yang tidak disadari oleh karyawan. hari libur/cuti. 3. sebagaimana umumnya terjadi pada sektor industri. Pertumbuhan perdagangan seperti berbagai mall termasuk Ramayana. 73 . mengatur tentang struktur kerja karyawan Ramayana. seperti jaminan kesehatan. Sedangkan hubungan pekerja perempuan dalam hubungan informal berasaskan kekeluargaan yang sangat akrab dan dekat. cuti hamil dan cuti nikah yang belum diabaikan. Walaupun demikian bahwa kemungkinan terjadinya bentuk eksploitasi pada mall Ramayana dapat saja terjadi.

Bila hubungan informal sudah bagus maka bisa dijamin hubungan formal juga akan terjaga dengan baik selain itu hubungan tersebut akan menciptakan lingkungan kerja yang sehat. Hubungan antar karyawan dalam hubungan informal harus diperkuat. 74 . hal ini untuk memaksimalkan manfaat dan meminimalisir konflik.2.

Jakarta: Gramedia Pustaka Utama. Cetakan kedelapan. Jakarta: Rineka Cipta. Jakarta: CV Rajawali. Faisal. 1989. Edisi Pertama. MA. Sosiologi Industri.DAFTAR PUSTAKA Arikunto. Beberapa Teori Sosiologi tentang Struktur Masyarakat. Jakarta : Kencana Prenada Media Group. J Dwi. Sanapiah.Z. Saptari. Sosiologi Teks Pengantar Dan Terapan. 1986. 1985. (editor).1983. Lawang. Dr.Sosiologi. Damsar. Edisi Ketiga. Eugene V. Soekanto. SH. Jakarta: Erlangga. Format-format Penelitian Sosial. Paul B. Sistem Sosial Indonesia.Jilid 1. Kesenjangan Dan Pembangunan. 1992. Modul 1 – 5. Jakarta: Kencana Prenada Media Group. Dasar-dasar dan Aplikasi. 75 . Horton. Perempuan Kerja Dan Perubahan Sosial. Schneider. Suatu Pendekatan Praktik. Brigitte.1997. Siti. “Stratifikasi Sosial: Unsur. Bagong. Suharsini. Cetakan pertama.Edisi keenam. Sifat. 1992. Pengantar Sosiologi Ekonomi. Suyanto. 1993. Ratna dan Holzner. Cetakan pertama. & Perspektif”. Sutinah & Norma.E. Goldthorpe. Jakarta: CV Rajawali. Dalam Narwoko. Sosiologi Dunia Ketiga. Edisi Kedua. Prosedur Penelitian.Cetakan ketiga.Cetakan pertama. Jakarta: Grafiti. 2010. J. Jakarta: Karunika Universitas Terbuka. Robert M. 2009. Jakarta: Aksara Persada. Hunt. 2010. Cherter L. Soerjono.

org Anonim.wikipedia. Ostinasia dan Yusuf.id/up_prod_uu/UU%20No 13 Ketenagakerjaan.hukor.ac. Teori Hubungan Industrial. http://elearning.Sumber dari internet Anonim. Undang-undang Nomor 13 tahun 2003 tentang ketenagakerjaan.pdf 76 . Sejarah Mall Indonesia.depkes.go. H. Diakses tanggal15Juli2011 http://www.Edy AG.ac.id/. http//epriants. Diakses tanggal 18 April 2011. Tanpa Tahun.Diakses tanggal 12 Maret 2011. Analisis Penyerapan Tenaga Kerja Sektoral Di Jawa Tengah (Pendekatan Demometrik). http//id.id/26351/2/jurnal ostinasia tindaon c2b006048 Anonim. Diakses tanggal 25 April 2011.undip. Tindaon.gunadarma.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful