You are on page 1of 9

Ayo Sukseskan Sensus Pajak Nasional

Posted by Annang Mustofa on September 29th, 2011 Pertumbuhan perekonomian Indonesia yang terus berkembang pesat. Serta kondisi politik di Indonesia yang stabil turut menciptakan perekonomian yang stabil pula. Ini didukung pula dengan bertambahnya jumlah sentra-sentra ekonomi seperti kawasan bisnis high rise building (perkantoran) dan permukiman, dan semakin banyaknya pelaku usaha mandiri yang tumbuh serta berkembang. Pertumbuhan ekonomi mampu memberikan pendapatan negara. Sayangnya pertumbuhan ekonomi tidak berbanding lurus dengan penerimaan negara dari sektor pajak. Pasalnya, saat ini rasio penerimaan pajak di Indonesia masih tergolong rendah. Untuk penerimaan pajak ada beberapa hal yang perlu diperhatikan. Misalnya dengan penyuluhan, pelayanan dan kemudian law inforcement. Kita akan selalu memberikan informasi kepada masyarakat setiap kebijakan-kebijakan tentang perpajakan dan selalu akan disosialisasikan. Kita ingin meningkatkan pelayanan kepada masyarakat, kata Direktur Penyuluhan Pelayanan dan Hubungan Masyarakat Direktorat Jenderal Pajak N. E. Fatimah Azzahra, belum lama ini. Untuk meningkatkan peluang pendapatan negara dari sektor pajak dibutuhkan terobosan-terobosan yang dapat menjadi solusi dalam mengoptimalkan penerimaan pajak. Sensus Pajak Nasional merupakan pilihan yang sesuai untuk mentransformasikan pertumbuhan ekonomi ke dalam peningkatan tax rasio. Sensus Pajak Nasional bertujuan untuk menjaring seluruh potensi perpajakan dalam rangka menciptakan Tridharma Perpajakan. Yang mencakup seluruh wajib pajak terdaftar, seluruh wajib pajak dipajaki dan pelaksanaan kewajiban pajak yang tepat waktu dan tepat jumlah. Adapun sasaran Sensus Pajak Nasional, yakni orang pribadi, badan yang berada di lokasi sentra bisnis, perkantoran, dan permukiman. Sensus akan kita lakukan dari 2011. Insya Allah akhir September ini sampai Desember, itu tahap pertama. Untuk yang selanjutnya 2012 kita akan mulai dari Januari sampai akhir Desember. Kami juga ingin memberitahukan kepada masyarakat bahwa Sensus Pajak Nasional ini tidak memungut bayaran dan kalau ada hal-hal yang tidak berkenan mohon dilaporkan kepada kami ke 500200 call center kami atau ke kantor pelayanan pajak setempat, tambah Fatimah. Masyarakat pun harus mempersiapkan dokumen untuk memudahkan pelaksanaan Sensus Pajak, yaitu identitas diri seperti kartu tanda penduduk (KTP), Nomor Pokok Wajib Pajak (NPWP), Pengukuhan PKP, SPPT PBB, nomor pelanggan PLN, dan bagi badan usaha ditambah Akta Pendirian Badan Usaha. Untuk info lebih lanjut dapat menghubungi Kring Pajak 500200 atau di laman resmi www.pajak.go.id

Sensus Pajak Nasional

Posted by Annang Mustofa on September 29th, 2011 Menurut Menteri Keuangan Agus Martowardoyo animo masyarakat untuk membayar pajak sangat rendah. Dari 238 juta penduduk di Indonesia ternyata hanya 7 juta yang taat pajak. Masih menurut Menteri kalau seandainya badan usaha itu dari sebanyak 22 juta hanya 500.000 yang membayar pajak, maka dari total penduduk Indonesia sebanyak 238 juta mungkin hanya 7 juta yang bayar pajak itu harus ditingkatkan kembali. Jumlah angkatan kerja masyarakat Indonesia itu sebanyak 118 juta dari total penduduk 238 juta. Menurutnya sebanyak 40% dari angkatan kerja itu berpenghasilan di atas Penghasilan Tidak Kena Pajak (PTKP). Jadi sebanyak 44 juta sampai 47 juta yang harusnya membayar pajak. Masih rendahnya animo masyarakat untuk membayar pajak, Menteri Keuangan berupaya untuk mengejar para pengemplang pajak ini melalui sebuah program. Program yang dilakukan pada bulan September 2011 ini adalah sensus pajak. Alasan Ditjen Pajak Melakukan Sensus Direktorat Jenderal (Ditjen Pajak) bakal melakukan sensus pajak pada akhir September 2011 ini. Alasan utamanya adalah karena masih banyaknya wajib pajak baik badan maupun orang pribadi yang belum memenuhi kewajiban pajaknya. Demikian disampaikan oleh Dirjen Pajak Fuad Rahmany saat ditemui di Hotel Nikko, Jakarta, Rabu (10/8/2011). Sangat ironis karena banyak wajib pajak yang belum membayar pajak di Indonesia. Karena itu kami Ditjen Pajak sepakat untuk melakukan sensus pajak nasional, tegas Fuad. Fuad memaparkan alasan sensus ini. Menurutnya, Ditjen Pajak di tahun ini ditargetkan untuk mendapatkan setoran Rp 698 triliun atau yang tertinggi pertumbuhannya sepanjang sejarah. Namun kita lihat, ternyata yang menyerahkan SPT Badan di April 2011 lalu hanya 466 ribu. Padahal menurut BPS (Badan Pusat Statistik), jumlah perusahaan di Indonesia ada 22,3 juta. Kalau kita hitung setidaknya ada 12,9 juta yang berpotensi untuk pemasukkan pajak, tutur Fuad. Dari 12,9 juta wajib pajak badan atau perusahaan yang dianggap potensial itu, Fuad mengambil skenario jeleknya, harusnya 6 juta perusahaan taat membayar pajak. Tapi ini ternyata hanya 466 ribu perusahan saja, imbuhnya. Kemudian untuk wajib pajak oran pribadi juga demikian. Fuad mencatat, di Maret 2011 lalu hanya 8,5 juta orang yang menyerahkan SPT pajaknya. Padahal jumlah pekerja di Indonesia berdasarkan data BPS mencapai 110 juta orang. Dari 110 juta pekerja tersebut kalau kita perhitungkan PTKP (pendapatan tidak kena pajak) taruhlah yang potensial untuk pajak ada 50 juta, tapi ternyata yang membayar pajak baru 8,5 juta pekerja, katanya. Jadi, lanjut Fuad, di Indonesia yang besar jumlah penduduknya, ternyata penerimaan negaranya hanya didukung oleh 486 ribu perusahaan dan 8,5 juta orang. Karena itu kami pro aktif untuk mengimbau masyarakat membayar pajak lewat program sensus pajak. Dan ini merupakan salah satu bentuk ekstensifikasi kami, katanya.

Tips Hadapi Sensus Pajak

Sensus pajak yang menyasar para pengusaha UKM mulai digelar hari ini. Pihak Ditjen Pajak sudah memastikan tidak akan meminta sepeserpun uang dari masyarakat untuk sensus ini. Berikut tips untuk menghindari tipu-tipu sensus pajak palsu. "Pokoknya kami tidak meminta uang, jadi masyarakat tidak perlu khawatir," tegas seorang petugas sensus pajak yang ditemui di JITEC Mangga Dua, Jakarta, Jumat (30/9/2011). Sejumlah petugas pajak yang ditemui juga menyatakan hal yang sama. Berdasarkan informasi dari Ditjen Pajak, terdapat beberapa hal yang bisa jadi tips bagi para pelaku UKM terkait sensus pajak. 1. Ada "Surat Tugas" yang resmi dari KPP setempat. 2. Petugas yang mengadakan Sensus itu ada 2 orang : Satu orang dari pihak Dirjen Pajak dan satu orang dari pihak eksternal yang dipilih oleh Dirjen Pajak dari luar PN pajak. 3. Kedua Petugas memakai dan mempunyai " Name Tag " yang menyatakan benar dari pihak Pegawai Negeri dan Petugas Sensus resmi 4. Jika ada yang menyangsikan, maka pihak WP ( Wajib Pajak ) atau warga yang didatangi team Sensus Pajak boleh telp ke KPP setempat untuk memastikan, apakah benar ada team sensus pajak yang diturunkan untuk mengadakan Sensus Pajak. 5. Sensus Pajak berbentuk "wawancara" mengenai : penghasilan, tagihan rek listrik, NPWP ( jika sudah ada, ditunjukin ), tempat tinggal, dll 6. Bila tidak mengerti sebaiknya tidak menjawab. 7. Jangan sekali-kali memberikan dokumen apapun termasuk foto copy annya. 8. Hasil wawancara akan dituangkan dalam formulir hardcopy, jadi sebelum ditandatangani oleh WP atau warga, harap dibaca terlebih dahulu apakah data-data yang diisi oleh team Sensus Pajak sudah sesuai, jika "Ya" baru di tandatangani.

Petugas pajak tersebut juga menyatakan, petugas sensus pajak resmi akan dilengkapi dengan ID dan kelengkapan lainnya. "Jadi petugas sensus ini kelengkapannya, topi, rompi, ID, name tag," ujarnya. Berdasarkan Standard Operating Procedure (SOP), sensus dilakukan sekitar 3-5 menit, tetapi paling lama bisa sekitar 10 menit untuk menyensus satu orang calon wajib pajak. *Y* (sumber : detik.com) Senin, 3 Oktober, 2011 - 13:16 Tiga Oleh persoalan penting Chandra perlu dicermati Budi

Direktorat Jenderal Pajak kemarin secara resmi meluncurkan program Sensus Pajak Nasional (SPN). Dalam beberapa kesempatan, Dirjen Pajak Fuad Rahmany menyatakan bahwa tujuan SPN ini adalah untuk memberikan rasa keadilan kepada semua wajib pajak. Rasa keadilan yang dimaksud adalah setiap warga negara Indonesia mempunyai persamaan hak dan kewajiban di bidang perpajakan. Pasalnya, ditengarai masih banyak mereka yang tidak melaksanakan kewajibannya, padahal kewajiban membayar pajak melekat pada dirinya. Hipotesis ini diperkuat oleh data statistik yang menyebutkan bahwa dari 12,6 juta badan usaha yang aktif saat ini, baru sekitar 466.000 yang melaporkan surat pemberitahuan (SPT) Pajak Tahun 2010. Artinya, masih banyak badan usaha yang belum membayar pajak. Kondisi ini akan melukai rasa keadilan bagi mereka yang selama ini taat membayar pajak. Sensus pajak tersebut diharapkan mampu menjawab permasalahan tersebut. Selain itu, ibarat obat mujarab, SPN memiliki tugas yang sangat berai yaitu mengamankan target penerimaan pajak, li.il ini sangat dimungkinkan karena permasalahan utama dalam menggali potensi pajak adalah ketersediaan data yang valid. Oleh karena itu SPN akan memberikan output berupa data yang berlimpah ruah dan variatif. Persoalannya tinggal bagaimana Ditjen Pajak mengolahnyasehingga siap tersaji matang untuk menjadi penerimaan pajak atau fresh money. Tugas ini tidaklah mudah karena kemungkinan hambatan atau masalah pasti ada. Antisipasi terhadap masalah yang mungkin timbul dalam pelaksanaan SPN akan menyebabkan program nasional ini berhasil dan sesuai harapan. Setidaknya ada tiga masalah penting yang mungkin ada selama pelaksanaan SPN ini. Pertama, respons para responden yang tidak begitu baik. Bentuk dan cara respons negatif ini sangat banyak, mulai dari menghindar dari petugas sensus, menjawab pertanyaan dengan asal-asalan, tidak bersedia menandatangani formulir sampai dengan tindakan konfrontatif terhadap petugas sensus. Kalau kondisi ini terjadi Ditjen Pajak akan sangat dirugikan karena tidak akan memperoleh data yang diperlukan. Kedua, adalah legalitas terhadap data yang diperoleh. Dalam transaksi perdagangan di pusat-pusatperbelanjaan sangat jarang sekali pemiliknya ada di toko atau gerainya. Kebanyakan yang melayani konsumen adalah para karyawannya. Mereka inilah yang kemungkinan besar akan berjumpa dengan petugas sensus. Parahnya lagi, mereka ini juga yang kemungkinan besar akan menjawab pertanyaan yang diajukan petugas sensus. Ditjen Pajak akan sangat dirugikan apabila data yang diperoleh mempunyai tingkat legalitas yang rendah. Ketiga, masalah yang mungkin muncul adalah aspek validitas data yang diperoleh. Untuk mengonversikan data yang diperoleh dari SPN kedalam pundi-pundi penerimaan pajak maka mutlak dibutuhkan data yang valid. Validitas data yang diperoleh sangat menentukan tingkatakurasi perhitungan pajak yang harus dibayar oleh wajib pajak. Titik kritis yang dapat memengaruhi validitas data SPN adalah pada saat proses wawancara oleh petugas SPN yang bukan berasal dari pegawai Ditjen Pajak atau yang menggunakan tenaga pihak ketiga {outsourcing). Walaupun ada standardisasi fonnulir isian sensus sehingga memudahkan petugas di lapangan tetapi tingkat pemahaman yang masih rendah petugas ou; warring membuat proses uji silang setempat menjadi tidak dilakukan. Padahal, proses uji silang setempat tersebut sangat bermanfaat untuk mengujikewajaran jawaban dari responden. Ditjen Pajak dapat belajar banyak dari program sensus penduduk nasional yang sangat dinanti dan dirindukan oleh masyarakat. Keberhasilan program sensus penduduk nasional tidak lepas dari kampanye yang dilakukan secara besar-besaran danterencana. Kampanye arti pentingnya pajak bagi kehidupan berbangsa akan mendorong kesadaran masyarakat yang berakibat kepada kepatuhan suka rela. Dengan demikian untuk mengatasi respons kurang baik dari para responden, selain teknik komunikasi yang baik dari petugas SPN,juga diperlukan dukungan semua pihak terkait untuk menyukseskan kampanye nasional SPN ini. Jangan biarkan Ditjen Pajak bekerja sendiri karena ini untuk kepentingan bangsa yang lebih besar. Ketika para kepala desa atau lurah, camat, bupati atau wali kota serta menteri dan presiden berkomitmen untuk mendukung suksesnya SPN maka masyarakat akan menyadari bahwa SPN ini sangatlah penting bagi negara dan bangsa. Keengganan tentunya akan berbuah menjadi partisipasi aktif. Dua kategori Sebaiknya formulir isian sensus yang telah dijawab oleh responden dikelompokkan menjadi dua, yaitu kategori lengkap dan tidak lengkap. Kategori ini akan sangat mempengaruhi legalitas data yang diperoleh Ditjen Pajak. Data yang mempunyai aspek legalitas tinggi adalah data yang diturunkan dari formulir isian sensus yang telah di Liiul.itang.ini oleh pemilik atau kuasanya. Adapun data yang berasal dairi formulir yang belum atau tidak ditandatangani pemilik atau kuasanya maka aspek legali-tasnya rendah. Untuk menghindari persengketaan yang berujung pada pengadilan maka data dengan aspek legalitas yang tinggi saja yang

dapat diproses lebih lanjut. Antisi pasi ini akan membuat jajaran Ditjen Pajak merasa yakin apabila terjadi persengketaan di muka pengadilan. Data dengan aspek legalitas tinggi belum tentu valid. Padahal, kevalidan data berperan besar dalam menentukan nilai pajak terutang yang harus dibayar wajib pajak. Ditjen Pajak dapat menerbitkan surat ketetapan pajak kurang bayar hanya kepada wajib pajak yang berdasarkan hasil pemeriksaan atau keterangan lain tidak memenuhi kewajiban per-pajakannya. Artinya, kedudukan keterangan lain dan data sama tingginya dengan hasil pemeriksaan. Untuk meyakinkan Ditjen Pajak maka pada kasus tertentu dengan nominal yang besar seyogianya dipastikan dahulu kebenaran data yang diperoleh melalui SPN tersebut yaitu lewat pemeriksaan pajak. Penulis bekerja di Ditjen Pajak, alumnus Pasca Sarjana IPB Bisnis Indonesia - 1 Oktober 2011

JAKARTA, KOMPAS.com Tahun 2012, perpajakan akan menjadi salah satu andalan pemerintah dalam penerimaan negara. Selain dengan Sensus Pajak Nasional, upaya lainnya yang dilakukan untuk menggenjot penerimaan negara tahun depan adalah dengan membenahi sistem elektronik dalam pengajuan surat pemberitahuan tahunan atau e-SPT. Direktur Penyuluhan Pelayanan dan Humas Direktorat Jenderal (Ditjen) Pajak Dedi Rudaedi mengatakan, sistem elektronik tersebut memang sudah digagas sejak tahun ini. Namun, pelaksanaannya akan diefektifkan mulai tahun depan. Dia mengatakan, Pengusaha Kena Pajak (PKP) tidak perlu menyampaikan surat pemberitahuan tahunan (SPT) dengan formulir hard copy. Tinggal bawa CD atau flash disk saja untuk memberikan datanya. Jadi, secara elektronik pun bisa lebih kita pantau, ujar Dedi di Jakarta, Selasa (6/12/2011). Upaya ini juga ditengarai bisa meminimalisasi kebocoran pajak dari Pajak Pertambahan Nilai (PPN). Dengan data base secara elektronik, pengawasan penyetoran pajak akan lebih efektif dan lebih maksimal. Kami gunakan pendekatan dari IT. Ini salah satu kebijakan yang sedang dibenahi, dan 2012 akan efektif, ujarnya. Dedi menjelaskan, jika masih ada pelanggaran dari penggunaan e-SPT ini oleh perusahaan kena pajak, Ditjen Pajak tidak akan segan memberikan sanksi khusus. Dedi juga bilang, untuk memaksimalkan penerimaan pajak, fungsi pengawasan harus lebih diperkuat. Saat ini, Ditjen Pajak juga sedang membahas kerja sama dengan aparat kepolisian dan kejaksaan, serta keimigrasian. Kalau yang sudah diteken itu, kan, kerja sama dengan PPATK dan LKPP. Sementara yang kepolisian masih finalisasi, ujarnya. Selain itu, Ditjen Pajak juga masih melakukan lobi untuk pertukaran data dengan Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) untuk pembenahan data tambang. Selain itu, Ditjen Pajak akan melakukan evaluasi kebijakan yang mengurangi sejumlah penerimaan negara. Menurut dia, sejumlah kebijakan dari instansi kementerian atau lembaga lain yang meminta beberapa insentif memang bisa mengurangi penerimaan perpajakan. Ini salah satu alasan kenapa penerimaan PPN berkurang, karena memang tahun ini banyak kebijakan insentif pajak, tuturnya. Ditjen Pajak juga berencana segera melakukan kerja sama dengan Bank Indonesia untuk mendapatkan data transaksi perbankan. Dedi mengatakan, hingga November ini, penerimaan negara

dari perpajakan memang masih di bawah target, yakni sebesar Rp 681,58 triliun atau 77,6 persen dari pagu APBNP 2011 yang sebesar Rp 878,68 triliun. Namun, dirinya cukup optimistis penerimaan tahun ini bisa mencapai 100 persen. Patut dicatat, dari keseluruhan penerimaan dalam negeri sebesar Rp 1.310,561 triliun di APBN 2012, ternyata yang bersumber dari penerimaan perpajakan Rp 1.032,570 triliun atau sekitar 78,73 persen. Dedi mengatakan, secara umum, target penerimaan perpajakan tersebut akan dicapai antara lain melalui kebijakan pelaksanaan sensus pajak nasional, penyempurnaan peraturan untuk menangani tax avoidance, transfer pricing, dan pengenaan pajak final, serta pembentukan kantor pelayanan pajak (KPP) yang khusus menangani Wajib Pajak (WP) Pertambangan, WP Migas, dan WP BUMN. (Narita Indrastiti/Kontan)

Kesadaran Membayar Pajak Bagi Wajib Pajak Melalui Pemahaman Ketentuan Umum dan Tatacara Perpajakan (KUP) Isro Ani Widayati
August 19, 2008 by lppm Posted in: Penelitian 1 comment ABSTRAKSI Temuan dalam penelitian ini menunjukkan tingkat pemahaman responden terhadap beberapa ketentuan yang tertuang di dalam Ketentuan Umum dan tatacara perpajakan KUP, yang meliputi pemahaman tentang Nomor Pokok Wajib Pajak (NPWP), tatacara menghitung pajak penghasilan, tatacara membayar / menyetor pajak, tatacara pelaporan pajak, pemeriksaan dan penyidikan, ketetapan penetapan dan penagihan pajak, keberatan banding dan peninjauan kembali. Ketidakpahaman wajib pajak terhadap berbagai ketentuan yang ada dalam NPWP menjadikan wajib pajak tersebut memilih untuk tidak ber NPWP dengan berbagai alasan. Dari alasan-alasan yang dikemukakan oleh responden menunjukkan bahwa kesadaran responden untuk membayar pajak masih rendah. Dari penelitian ini diketahui bahwa sebagian besar responden tidak memahami tatacara menghitung pajak penghasilan, terutama tentang besarnya tarip pajak, Jumlah Penghasilan Kena Pajak, Besarnya biaya jabatan yang harus dikurangkan dari penghasilannya serta cara menghitung pajak dengan benar. Membayar / menyetor pajak dengan menggunakan Surat Setoran Pajak (SSP) belum dipahami oleh sebagian besar responden. Demikian juga pemahaman tentang sanksi apabila responden tidak / terlambat membayar pajak. Menurut ketentuan undang-undang wajib pajak harus mengisi SSP rangkap 5 (lima) apabila akan membayar pajak dan pembayaran pajak juga harus sesuai dengan batas waktu yang ditetapkan oleh undang-undang. Sebagian besar responden juga tidak memahami tatacara melapor pajak dengan menggunakan sarana Surat Pemberitahuan (SPT) masa maupun SPT Tahunan. Juga responden kurang memahami batas penyampaian SPT masa dan tahunan tersebut kepada Kantor Pelayanan Pajak. Demikian juga dengan pemahaman tentang berbagai penetapan yang dikeluarkan oleh Direktur Jendral Pajak

seperti Surat Tagihan Pajak (STP), Surat Ketetapan Pajak Kurang Bayar (ISKPKB) dan Surat Ketetapan Pajak Kurang Bayar Tambahan (SKPKBT) dan Surat Ketetapan Pajak Lebih Bayar (SKPLB), responden banyak yang belum memahami. Di dalam penelitian ini juga diketahui bahwa responden hanya memahami hak-haknya namun tidak memahami prosedurnya. Hal ini diketahui dari responden sebagian besar menyatakan bahwa wajib pajak memahami hak-haknya bila dilakukan pemeriksaan, wajib pajak berhak untuk mengajukan keberatan, berhak mengajukan banding dan berhak mengajukan Peninjauan kembali (PK) atas putusan-putusan yang dikeluarkan oleh Direktorat Jendral Pajak serta memahami hakhaknya bila ada pemeriksaan. Namun sebagian besar responden menyatakan tidak memahami tujuan diadakan penyidikan, tidak memahami prosedur mengajukan keberatan, prosedur mengajukan banding dan prosedur mengajukan Peninjauan Kembali dan penagihan pajak. Selain pemahaman terhadap Ketentuan Umum dan Tatacara Perpajakan (KUP), di dalam penelitian ini diperoleh informasi bahwa sebagian responden masih merasa kesulitan jika ingin memperoleh informasi tentang perpajakan dan juga merasa kesulitan jika akan membayar pajak. Hal ini perlu dicermati oleh Fiskus / pemerintah untuk membuka dan menciptakan wadah pemberi informasi yang sebanyak-banyaknya. Pemilihan media untuk memberi informasi pajak perlu dipilih secara cermat. Dalam penelitian ini responden menyarankan media yang paling baik dipakai adalah televisi

Menggugah Kesadaran Wajib Pajak


Ditulis oleh Administrator Friday, 29 April 2011

UNTUK menggugah kesadaran wajib pajak dalam menjalankan kewajiban perpajakan. Kantor Pelayanan Pajak (KPP) Pratama Tegal jauh-jauh hari melakukan berbagai kegiatan. Di antaranya sosialisasi perpajakan melibatkan instansi pemerintah, perusahaan dan sebagainya. Cara ini dilakukan guna meningkatkan kesadaran wajib pajak, baik orang pribadi maupun badan, agar bisa menjalankan kewajibannya tepat waktu. Kepala KPP Pratama Tegal, Drs Suwarno MBA mengatakan, kesadaran wajib pajak di wilayah kerja KPP Pratama meliputi Kota dan Kabupaten Tegal serta Brebes terus ditingkatkan. Hal ini tidak lain demi mendongkrak pendapatan negara melalui sektor pajak, yang dibayarkan oleh wajib pajak baik orang pribadi maupun badan dengan benar dan tepat waktu. "Tanggal 31 Maret 2011 silam, merupakan batas akhir penyerahan SPT PPh tahun pajak 2010 orang pribadi. Tapi masih ada saja wajib pajak yang belum menjalankan kewajibannya tepat waktu. Hari ini, Sabtu (30/4, red) merupakan batas akhir penyerahan SPT PPh badan tahun pajak 2010. Untuk itu, kepada kalangan perusahaan maupun pengusaha, kami berharap supaya di hari terakhir ini dapat memanfaatkan waktu sebaik-baiknya." Apalagi, tandasnya, guna mendukung kelancaran dan pelayanan, pihaknya menambah jam kerja Sabtu (30/4) mulai pukul 08.00 hingga 19.00 WIB. Di era reformasi perpajakan seperti sekarang, tidak hanya pegawai pajak yang harus tahu perpajakan, wajib pajak juga dapat menanyakan berbagai hal yang sekiranya tidak dipahami, dan semuanya akan dijelaskan secara detail tanpa dipungut biaya apapun. "Berbagai upaya selama ini telah kami lakukan secara maksimal, dengan harapan pendapatan dari sektor pajak meningkat dan tepat waktu," tandas Suwarno lagi. Sementara M Khambali, ketika menyerahkan SPT PPh badan di KPP Pratama Tegal mengaku, selama ini selalu menjalankan kewajiban dengan membayar pajak tepat pada waktu. Meski usaha yang dimilikinya masih berkembang, namun dia sadar jika kewajibannya pada negara dengan membayar pajak tepat waktu harus dilakukan. Dengan demikian, dia bisa mengajak atau memberikan contoh pada pihak lain, yang mungkin masih kurang maksimal dalam membayar pajak atau sering terlambat dan sebagainya. "Bagi saya, pemasukan negara melalui sektor pajak yang dibayarkan oleh wajib pajak orang pribadi maupun badan, nantinya pasti kembali lagi pada masyarakat dalam proses pembangunan. Jika kita terlambat atau lalai membayar pajak, darimana pembangunan bisa berjalan lancar?" Di tempat sama, Aditya mengungkapkan jika dia biasanya menyerahkan SPT PPh tahunan pertengahan atau awal penyerahan. Tapi karena ada kesibukan yang tidak bisa ditinggalkan, dia baru dapat menyerahkan di hari terakhir.

"Yang penting sebagai wajib pajak saya tidak lupa kewajiban, sehingga tidak terlambat. Dari segi pelayanan, selama ini saya mendapatkan penjelasan maksimal dari pegawai. Sehingga semua dapat dilakukan dengan benar sesuai kenyataan di lapangan. Lebih baik membayar tepat waktu daripada dikenakan denda karena terlambat," terangnya. (rochman gunawan) Rabu, 7 September, 2011 - 16:52 Kementerian Keuangan telah memperkenalkan program sensus perpajakan nasional dalam rangka meningkatkan penerimaan pajak (1/7/2011). Program tersebut, akan dilaksanakan mulai kuartal III Tahun 2011 dan akan mengandeng Badan Pusat Statistik (BPS). Sementara itu, Kepala BPS Rusman Heryawan- mengemukakan bahwa sensus pajak akan menghitung potensi pajak dari kegiatan ekonomi bawah tanah atau underground economy (4/7/2011). Pertanyaan selanjutnya adalah bagaimana sensus pajak dapat membuahkan penerimaan pajak, terlebih dari dari sektor ekonomi bawah tanah? Sensus Pajak Program sensus pajak tentunya muncul sebagai hasil dari upaya maksimal untuk menghimpun penerimaan pajak. Berbagai studi atau kajian ilmiah menyebutkan bahwa masih adanya potensi pajak yang belum tergali maksimal. Terlebih lagi, kegiatan mapping wajib pajak yang dilakukan oleh Ditjen Pajak memperkuat indikasi masih adanya kesenjangan pajak (tax gap) atau selisih antara potensi pajak dan yang telah dikenakan pajak. Data empiris juga menyebutkan bahwa selama ini sumbangan penerimaan pajak yang setiap tahunnya mencapai Rp 600 triliun lebih, ternyata 98%-nya disumbangkan oleh hanya 500-an ribu Wajib Pajak Badan dan sekitar 500 ribu Wajib Pajak Orang Pribadi. Mirip dengan sensus kependudukan yang selama ini dikenal, maka sensus pajak ini akan mendata seluruh responden, termasuk mereka yang telah menjadi wajib pajak dan bukan wajib pajak. Sehingga Ditjen Pajak akan memperoleh lebih banyak variasi data. Data yang banyak dan tentunya dapat dipertanggungjawabkan inilah yang akan menjadi kunci sukses penggalian potensi pajak kedepan. Diperkirakan setidaknya ada tiga kelompok kombinasi data yang akan diperoleh, yaitu data responden yang belum terdaftar sebagai wajib pajak, data responden yang sudah terdaftar sebagai wajib pajak tetapi belum sepenuhnya melaksanakan kewajiban perpajakan dan data responden yang sudah terdaftar sebagai wajib pajak dan sudah melaksanakan kewajiban pajaknya. Pun, dalam tiap kelompok tersebut dapat diklasifikasikan juga per sektor usahanya. Dengan demikian kombinasi data yang diperoleh akan semakin lengkap dan rinci, misalnya data para respoden yang belum sepenuhnya membayar pajak dari sektor usaha kecil dan menengah. Dengan kombinasi dan variasi data yang lengkap dan rinci tersebut, maka Ditjen Pajak akan dapat melakukan treatment (perlakuan) khusus pada tiap sektornya. Maka, kedepannya, diharapkan bagi pengusaha di sektor usaha kecil atau menengah akan mendapatkan perlakuan pajak berbeda dengan mereka yang berada dalam sektor usaha lainnya. Karena sektor usaha kecil dan menengah, dengan jumlahnya yang paling dominan terhadap struktur Produk Domestik Bruto (PDB) tetapi sumbangan penerimaan pajak masih kecil, perlu dirangsang dengan perlakuan pajak khusus agar berkontribusi maksimal. Underground Economy Seringkali disalahartikan bahwa ekonomi bawah tanah atau dikenal dengan underground economy adalah aktifitas yang bersifat illegal, semacam penyelundupan, perjudian maupun pencurian. Padahal terminologi ekonomi bawah tanah atau dikenal juga dengan ekonomi bayangan meliputi aktifitas ilegal maupun legal. Ilegal berarti bertentangan atau melawan hukum yang berlaku, sedangkan legal dimaksudkan bahwa aktifitas tersebut tidak bertentangan dengan hukum yang ada namun penghasilan yang diperoleh dari aktifitas tersebut tidak dilaporkan kepada institusi Pemerintah (BPS atau Ditjen Pajak). Secara sederhana ekonomi bawah tanah meliputi salah satu kondisi berikut : barang atau jasa yang ilegal atau penghasilan yang ilegal. Lippert dan Walker (1997) lebih detail membagi kelompok ekonomi bawah tanah menjadi moneter dan non moneter. Pada kelompok moneter dipisahkan mana yang ilegal dan legal demikian juga kelompok non moneter dipisahkan juga mana yang ilegal dan legal. Menarik disini bahwa aktifitas legal, baik moneter dan non moneter, dimanifestasikan pada penghindaran pajak (tax avoidance) dan pengelapan pajak (tax evasion). Pengalian potensi pajak melalui aktifitas ekonomi bawah tanah menjadi sangat luas, meliputi ilegal maupun legal. Dan, tentunya Ditjen Pajak akan fokus pada aktifitas legal dan tidak mungkin akan meyentuh aktifitas ilegal, walaupun tidak ada pasal yang melarang dalam Undang Undang Perpajakan. Sensus perpajakan nasional akan memegang peranan penting dalam rangkaian penggalian potensi pajak ekonomi bawah tanah ini. Karena, data yang dihasilkan dalam program tersebut otomatis akan meliputi data aktifitas ekonomi bawah tanah, seperti yang dimaksud dalam terminologi Lippert dan Walker (1997). Perhitungan nilai ekonomi aktifitas ekonomi bawah tanah pernah dilakukan oleh Enste dan Scheneider (2002), tetapi lebih bersifat global. Mereka mengambil data dari 84 Negara, tidak termasuk Indonesia. Hasil studi memperkirakan bahwa untuk Negara Negara berkembang nilai ekonominya dapat mencapai 35% - 44% dari Produk Domestik Bruto (PDB). Dengan asumsi PDB saat ini Rp 6.000 triliun, maka total aktiftas ekonomi bawah tanah dapat mencapai Rp 1.800 triliun lebih. Tetapi angka ini tidak dapat

dijadikan sebagai dasar perhitungan potensi pajak, karena masih mencakup semua aktifitas ilegal maupun legal; sedangkan pajak akan dikenakan hanya pada aktifitas legal saja. Namun setidaknya dapat disimpulkan bahwa potensi pajak yang berasal dari aktifitas ekonomi bawah tanah sangat besar. Sebelumnya, penggalian potensi pajak atas aktifitas ekonomi bawah tanah legal namun tidak dilaporkan telah menjadi program rutin Ditjen Pajak yaitu melalui intensifikasi pemungutan pajak. Dengan adanya program sensus pajak ini, dimana dilakukan secara lebih terencana, fokus dan menyeluruh, maka potensi pajak yang akan tergali, utamanya dari aktifitas ekonomi bawah tanah, dapat terwujud lebih cepat. Chandra Budi Bekerja di Ditjen Pajak, Almunus Pasca Sarjana IPB