BISNIS & MANAJEMEN

Jurnal Ilmiah Berkala Empat Bulanan, ISSN 1411 - 9366 Volume 3 No.2, Januari 2007 ANALISIS KINERJA KEUANGAN BANK PADA PT BANK MUAMALAT INDONESIA Tbk. Ahmad Faisol KUALITAS PELAYANAN INSTITUSI PUBLIK: TINGKAT KEPUASAN MASYARAKAT (Analisis Tanggapan Kelompok Pelanggan R2A, R2B dan R1 tentang Mutu Pelayanan Unit Pelayanan Masyarakat dan Unit Tehnik PDAM Way Rilau Kota Bandar Lampung). Novita Tresiana Total Quality Management (TQM) Sebagai Fokus Perbaikan Keseluruhan Kinerja Taman Hutan Raya Wan Abdul Rachman Rinaldi Bursan, Susni Herwanti PENGUJIAN EFISIENSI PASAR MODAL ATAS PERISTIWA PENGUMUMAN STOCK SPLITPERIODE TAHUN 2005-2006 DI BURSA EFEK JAKARTA Ernie Hendrawaty PEMAKAIAN NETWORK DAN KEMATANGAN TEKNOLOGI INFORMASI Agrianti Komalasari Analisis Perbandingan Kemampuan Entrepneurship Antara Pengusaha Wanita dan Pria pada Usaha Kecil dan Menengah di Bandar Lampung Ribhan
JURNAL BISNIS dan MANAJEMEN Bandarlampung Januari 2007 ISSN 1411 - 9366

Jurnal

Vol. 3

No.2

Hal. 129 -257

Volume 3 No. 2, Januari 2007

ISSN 1411 - 9366

JURNAL BISNIS DAN MANAJEMEN
TIM REDAKSI
Penanggung Jawab Pembina : Prof. Dr. Ir. Muhajir Utomo, M.Sc. (Rektor Universitas Lampung) : Prof. Dr. Ir. Tirza Hanum, M.Sc. (Pembantu Rektor I Universitas Lampung) : Dr. John Hendri, M.S. (Ketua Lembaga Penelitian Universitas Lampung) : Toto Gunarto, S.E., M.S. (Dekan Fakultas Ekonomi Universitas Lampung) : Ketua Jurusan Manajemen Fakultas Ekonomi Universitas Lampung : Dr. Satria Bangsawan, S.E., M.Si. : Dr. Irham Lihan, S.E., M.Si. : Dr. Wispandono, S.E.. S.Si. Iban Sofyan, S.E., M.Si. Mahrinasari M.S., S.E., M.P.M. Asep Unik, S.E., M.Si. M. Syatibi Ch., S.E. : : : : : : : Habibullah Djimat, S.E., M.Si. Rinaldi Bursan, S.E., M.Si. Muslimin, S.E. Aida Sari, S.E., M.Si. Nasir Teguh Gedung A Lantai 2, Fakultas Ekonomi Universitas Lampung Jl. Prof. Sumantri Brojonegoro no. 1 Gedungmeneng - Bandarlampung, 35145 Telp. (0721)704622

Pemimpin Umum Dewan Editor Ketua Anggota

Redaksi Pelaksana Ketua Wakil Ketua Sekretaris Bendahara Tata Usaha dan Kearsipan Distribusi dan Sirkulasi Alamat Redaksi

Jumal Bisnis dan Manajemen merupakan media komunikasi ilmiah, diterbitkan tiga kali setahun oleh Jurusan Manajemen Fakultas Ekonomi Universitas Lampung, berisikan ringkasan hasil penelitian, skripsi, tesis, dan disertasi.

Volume 3 No. 2, Januari 2007

ISSN 1411 - 9366

JURNAL BISNIS DAN MANAJEMEN

DAFTAR ISI
ANALISIS KINERJA KEUANGAN BANK PADA PT BANK MUAMALAT INDONESIA Tbk. Ahmad Faisol …………………………………………………………………… KUALITAS PELAYANAN INSTITUSI PUBLIK: TINGKAT KEPUASAN MASYARAKAT (Analisis Tanggapan Kelompok Pelanggan R2A, R2B dan R1 tentang Mutu Pelayanan Unit Pelayanan Masyarakat dan Unit Tehnik PDAM Way Rilau Kota Bandar Lampung). Novita Tresiana ................................................................................................... Total Quality Management (TQM) Sebagai Fokus Perbaikan Keseluruhan Kinerja Taman Hutan Raya Wan Abdul Rachman Rinaldi Bursan, Susni Herwanti ……………………………………………… PENGUJIAN EFISIENSI PASAR MODAL ATAS PERISTIWA PENGUMUMAN STOCK SPLITPERIODE TAHUN 2005-2006 DI BURSA EFEK JAKARTA Ernie Hendrawaty …………………………………………………………….. PEMAKAIAN NETWORK DAN KEMATANGAN TEKNOLOGI INFORMASI Agrianti Komalasari ..........................................................................................

129

171

187

205

225

Analisis Perbandingan Kemampuan Entrepneurship Antara Pengusaha Wanita dan Pria pada Usaha Kecil dan Menengah di Bandar Lampung Ribhan ………………………………………………………………………….

233

Keys word : analisis rasio. sedangkan ROE tahun 2004. sebesar 14.26%.85%.09%. dan 2006. dan 2006.58%. dan 2006 diperoleh hasil 14. Melalui alat analisis rasio liquiditas. Fakultas Ekonomi.93%. dan 2006 sebesar 7. 47. 1. yaitu larangan untuk menggunakan instrumen bunga. diperoleh ROA tahun 2004. dan 40. yang berarti kedua rasio tersebut meningkat setiap tahunnya dan mengalami kecenderungan membaik. diperoleh hasil pada tahun 2004. 16. dan 1. 2005.21%.49%. solvabilitas. Melalui perhitungan di atas dapat dikatakan bahwa hipotesis yang menyatakan kinerja keuangan Bank Muamalat Indonesia (BMI) belum baik adalah tidak terbukti. yang diwakili oleh rasio Liquiditas Wajib Minimum atau Reserve Requirement (RR). 2005. Rasio Solvabilitas diwakili oleh rasio kecukupan modal atau Capital Adquecy Ratio (CAR) memperlihatkan pada tahun 2004. Sebagaimana Bank pada umumnya. Rasio Rentabilitas yang diwakili rasio Return On Asset (ROA) dan Return On Equity (ROE). 2005. dan 20. diperoleh hasil bahwa untuk Rasio Liquiditas. Universitas Lampung . 18. sebesar 0.90%. 2005.93%.86%. sehingga rasio Reserve Requirement dapat dikatakan baik. yang berarti telah memenuhi standar yang ditetapkan Bank Indonesia sebesar 5%. yang berarti telah memenuhi standar Bank Indonesia sebesar 8% sehingga dapat dikatakan baik. memiliki prinsip-prinsip yang harus ditaati. dan 17.58%.ANALISIS KINERJA KEUANGAN BANK PADA PT BANK MUAMALAT INDONESIA Tbk. BMI menjalankan operasionalnya dalam usaha untuk memperoleh laba di bawah perlindungan dan pembinaan Bank Indonesia yang beroperasi secara syariah. Bank Indonesia. Ahmad Faisol 1 ABSTRAK Bank Muamalat Indonesia (BMI) merupakan bank syariah pertama di Indonesia yang tunduk pada peraturan Bank Indonesia (BI). rentabilitas.48%. syariah PENDAHULUAN Latar Belakang 1 Dosen Jurusan Manajemen.

sehingga pada 13 Maret 1999 dunia perbankan harus mengalami kejadian yang menyedihkan dengan dikeluarkannya keputusan pemerintah yang melakukan tindakan membekukan/meliquidasi 38 Bank (BBO). Prinsip utama yang diikuti oleh bank syariah adalah: a. yang menyebabkan beberapa Bank konvensional akhirnya kritis (collapse) dan tidak layak beroperasi. (Zainul Arifin. dan merekapitulasi 9 Bank. c.Perlombaan antar bank dalam menghimpun dana dari masyarakat dan menyalurkannya dalam bentuk kredit oleh bank-bank komersil. mengambil alih manajemen 7 Bank (BTO). Kedua undang-undang tersebut menjadi dasar hukum penerapan dual banking 130 . (Lukman Dendawijaya. 7 tahun 1992 tentang perbankan telah memberi kesempatan luas untuk pengembangan jaringan perbankan Syariah. Larangan riba (bunga) dalam berbagai bentuk tradisi. 23 tahun 1999 tentang Bank Indonesia. Bank syariah didirikan dengan tujuan untuk mempromosikan dan mengembangkan penerapan prinsip-prinsip Islam dan tradisinya ke dalam transaksi keuangan dan perbankan serta bisnis yang terkait. 10 tahun 1998 tentang perubahan UU No. 2001 : 194). 2002 : 3) Pemberlakuan UU No. Penggunaan bunga ini. menegaskan bahwa BI mempersiapkan perangkat peraturan dan fasilitas penunjang yang mendukung operasional bank syariah. namun telah menjadikan perekonomian Indonesia mengalami efek pertumbuhan semu (buble growth effect). Melakukan kegiatan usaha dan perdagangan berdasarkan perolehan pendapatan dan keuntungan yang sah (revenue sharing atau profit sharing). sehingga seringkali merugikan para deposan dan investor serta berdampak pada perekonomian negara. meskipun awalnya mampu mendorong bergeraknya sektor perbankan secara dinamis. Memberikan zakat sebagai salah satu instrumen dalam perhitungan pembagian keuntungan dan laporan keuangan. b. Selanjutnya pemberlakuan UU No. Keberadaan bank syariah di tengah-tengah perbankan konvensional adalah untuk menawarkan system perbankan alternatif bagi masyarakat yang membutuhkan layanan jasa perbankan tanpa harus khawatir atas persoalan bunga (riba). dalam prakteknya banyak yang kurang berhati-hati ataupun menyimpang dari aturanaturan yang berlaku dalam dunia bisnis perbankan seperti tidak mengindahkan prinsip kehati-hatian bank (prudential banking) dengan memberikan kredit tak terbatas pada nasbah satu grup dengan perbankan tersebut. Akibatnya pada pertengahan 1997 industri perbankan akhirnya terpuruk sebagai imbas dari terjadinya krisis ekonomi yang melanda Indonesia. yang diakibatkan kecenderungan meningkatnya kredit bermasalah/ macet.

Untuk itu bank syariah membentuk Dewan Syariah yang berfungsi untuk memberikan masukan (advise) kepada perbankan Syariah guna memastikan bahwa bank tidak terlibat Dallam unsur-unsur yang tidak disetujui oleh Islam. yaitu modal yang disetor secara kolektif oleh pemilik (bisa dalam bentuk kepemilikan saham).system di Indonesia. yang pelaksanaannya diatur dalam berbagai peraturan perundang-undangan yang berlaku. BMI tidak terlepas dari usaha-usaha untuk mencapai keuntungan yang akan dibagi hasilkan kepada para nasabahnya. PT Bank Muamalat (BMI). 131 . BMI juga tetap harus berpegang pada prinsip prudential Banking. maka bank syariah akan membentuk prosedur pengoperasian tersendiri guna menyesuaikan aktivitas perbankan mereka. didirikan pada tahun 1991 dan memulai kegiatan operasionalnya pada bulan Mei 1992. Sebagai suatu bank. BMI tetap melaksanakan operasionalnya sama dengan bank-bank konvensional lainnya selama tidak bertentangan dengan syariah. Zainul Arifin. tetapi oleh para pemegang saham sendiri (melalui rapat umum pemegang saham) diputuskan untuk ditanam kembali pada Bank. Jika terdapat pola pengoperasian yang bertentangan. cadaangan yaitu sebagian laba bank yang tidak dibagi yang disisihkan untuk menutup timbulnya resiko kerugian di kemudian hari. Modal Disetor. Tbk merupakan bank pertama di Indonesia yang mengoperasikan kegiatannya berdasarkan prinsip-prinsip Islam. Modal Inti. Bank syariah dalam memenuhi kecukupan modalnya menghimpun modal dan dana-dana pihak ketiga. sehingga masuk kedalam rekening modalnya. Tbk. dan laba ditahan yaitu sebagian laba yang seharusnya dibagikan kepada para pemegang saham. yaitu prinsip kehati-hatian Bank dalam mengoperasikan usahanya agar tetap dalam kondisi kinerja yang baik dan memenuhi kriteria bank sehat. yaitu modal milik sendiri yang diperoleh dari modal disetor oleh pemegang saham. Bank syariah dalam operasionalnya tetap mengadopsi pola pengoperasian dan prosedur dari bank konvensional selama hal tersebut tidak bertentangan dengan prinsip-prinsip Syariahk. Selain itu. Modal inti ini terdiri atas: 1. Dual Banking system yang dimaksud adalah terselenggaranya dua system perbankan (non syariah dan syariah) secara berdampingan. PT Bank Muamalat Indonesia. Pendirian Bank Muamalat diprakarsai oleh Majelis Ulama Indonesia (MUI) yang kemudian didukung oleh sekelompok pengusaha dan cendekiawan muslim. (2002 : 54-55 dan 162-163) menggolongkan modal bank syariah sebagai berikut: a.

yaitu saldo laba bersih setelah pajak yang RUPS diputuskan untuk tidak dibagikan. 3. Cadangan Tujuan. Bila dalam pembukuan Bank terdapat Goodwill. Laba yang diperhitungkan hanya 50% sebagai modal inti. Kuasi Ekuitas (Mudharabah Account). karena tidak ada hal-hal yang bertentangan dengan prinsip-prinsip syariah. dan juga pemillik rekening bagi hasil dapat menolak menanggung resiko atas aktiva yang dibaiayainya apabila terbukti kerugian yang timbul disebabkan karena salah urus. 9. dana-dana yang dihimpun ke dalam rekening bagi hasil atas dasar prinsip akad bagi hasil (mudharabah). b. maka 132 . 8. apabila terjadi selisih negatif maka selisih tersebut menjadi pengurang. yaitu bagian laba setelah pajak yang disisihkan untuk ttujuan tertentu atas ppersetujuan RUPS Laba ditahan. 5. 10. yaitu laba bersih tahun lalu setelah pajak yang belum ditetapkan penggunaannya oleh RUPS. Apabila terdaapat keruugian maka 100% menjadi pengurang modal inti. termasuk selisih nilai yang tercatat dengan harga apabila saham dijual kembali. 4. Modal Sumbangan. Laba Tahun Lalu. Laba Tahun Berjalan. maka jumlah modal inti harus dikurangkan dengan nilai Goodwill tersebut. yaitu caadangan yang dibentuk dari penyisihan laba yang ditahan. yaitu selisih lebih dari harga saham dengan nilai nominal saham. yaitu modal yang diperoleh kembali dari sumbangan saham atau uang oleh pihak lain. Cadangan Umum. Penggunaannya sebagai modal inti hanya 50% dari saldo yang ada. Bagian kekayaan bersih anak perusahaan yang laporan keuangannya dikonsolidasikan. yaitu laba sebelum pajak yang diperoleh dalam tahun berjalan. Bank syariah dapat mengikuti sepenuhnya pengkatagorian unsur-unsur tersebut di atas sebagai modal inti. 7.2. 6. Akan tetapi karena rekening ini hanya dapat menanggung resiko atas aktiva yang ibiayai dari rekening bagi hasil itu sendiri. Agio Saham. kelalaian dan kecurangan yang dilakukan oleh manajemen bank.

yaitu cadangan yang dibentuk dari selisih penilaian kembali aktiva tetap yang telah mendapatkan persetujuan dari Direktorat Jenderal Pajak. Modal pelengkap terdiri atas cadangancadangan yang dibentuk bukan dari laba setelah pajak serta pinjaman yang sifatnya dipersamakan dengan modal. Tidak dijamin oleh bank yang bersangkutan dan dipersamakan dengan modal dan telah di bayar penuh. 3.sumber dana ini terkadang tidak dapat sepenuhnnya berperan dalam fungsi permodalan Bank. 2. Hal ini dimaksudkan untuk menampung kerugian yang mungkin timbul sebagai akibat tidak diterimanya kembali sebagian atau seluruh aktiva produktif. Cadangan revaluasi aktiva tetap. Pinjaman Subordinasi yang memenuhi syarat-syarat sebagai berikut: Ada perjanjian tertulis antara pemberi pinjaman dengan Bank Mendapat persetujuan dari BI Tidak dijamin oleh Bank yang bersangkutan Minimal berjangka waktu 5 tahun Pelunasan pinjaman harus dengan persetujuan BI Hak tagih dalam hal terjadi liquidasi berlaku paling akhir (kedudukannya sama dengan modal) Bank syariah dalam menghimpun dana selalu berusaha berhati-hati agar tidak tercampur dengan hal-hal yang dianggap terlarang 133 . Modal Pelengkap (jika ada). yaitu cadangan yang dibentuk dengan cara membebani laba rugi tahun berjalan. yang mempunyai ciri-ciri: 4. Tidak dapat dilunasi atas inisiatif pemilik. tanpa persetujuan BI Mempunyai kedudukan yang sama dengan modal dalam hal memikul kerugian Bank Pembayaran bunga dapat ditangguhkan bila Bank dalam keadaan rugi. Secara terinci modal pelengkap dapat berupa: 1. Cadangan penghapusan aktiva yang diklasifikasikan. c. Modal pinjaman.

5 3.677 126.075 Jumlah Modal Inti 309.308 BOBOT RESIKO 0% 0% 0% 0% 20% NILAI ATMR (dalam Jutaan Rupiah) 2004 2005 2006 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 10. 2007.793.277 45.5 50% 100% 3. Perkembangan jumlah modal yang mampu dihimpun oleh Bank Muamalat Indonesia tahun 2004-2006 dapat dilihat pada tabel 1. yang Terdiri Atas ATMR Neraca Tahun 2004-2006 NOMINAL (dalam jutaan Rupiah) 2004 2005 2006 73.339.447 697.338.719 53.769 24.587 6.338. Besarnya ATMR Bank Muamalat Indonesia.399 915. Perkembangan Jumlah Modal Bank Muamalat Indonesia.000 7.905 1.498 14.390.5 126.178 52.616.308 134 . khususnya modal pinjaman dan subordinasi karena menggunakan bunga.255 3. Selain total modal yang mampu dihimpun oleh Bank.5 104. maka penggunaan modal pelengkap. Table 1.4 KETERANGAN Kas Giro Pada BI Tagihan pada Bank lain Surat Berharga (SBI) Kredit kepada pihak terkait Kredit kepada pihak lain* Penyertaan* Aktiva tetap 50% 1.232. pada bank syariah sedapat mungkin dihindari.230 723. Berdasarkan Komponen Pembentukan Modal Inti Tahun 2004-2006 Jumlah Setiap Komponen (Dalam Jutaan Rupiah) 2004 2005 2006 269.072 3.340 263. Tabel 2.399 3.998 287.802 87. dapat dilihat pada tabel 2.905 662.791 806 132.6 0 1.581.122 382.498 132.401 87.781 6.000 7.590 6.678.791 492.108 0 0 0 545. faktor lain yang ikut diperhitungkan dalam memperhitungkan rasio kecukupan modal adalah besarnya Aktiva Tertimbang Menurut Resiko (ATMR) yang dibiayai dari modal yang diihimpun tersebut.560 Keterangan Modal Disetor Agio Saham Cadangan Umum Modal Sumbangan Rugi tahun-tahun lalu (100%) (5.694 492.442 133.924 Sumber: Laporan Keuangan Bank Muamalat yang dipublikasikan lewat internet. Besarnya ATMR yang dimiliki oleh BMI.055) Laba Tahun Berjalan (50%) 24.993.295 1.677 104.996.908 2.026 89.(haram).000 51.414.251 0 1.

dan posisi netto kontrak berjangka pasar uang.122.370.209.804 4. sedangkan Bank Muamalat berusaha sedapat mungkin untuk menghindari penggunaan bunga dan gharar dalam operasionalnya.755 269. Nilai ATMR itu diperoleh dengan cara mengalikan nominal ATMR dengan bobot resiko.859 492.294. karena padaa saat itu masalah L/C masih dalam penilaian oleh Dewan Syariah Bank Muamalat Indonesia.415 2006 8.791 786. Pada dua hal ini. yang terdiri dari: jaminan Letter of Credit (L/C).649.791 763.KETERANGAN Aktiva lainnya NOMINAL (dalam jutaan Rupiah) 2004 2005 2006 24. 2007. Menurut Zainal Arifin (2001:171).299 16.694 339. Selain itu.770.746 22.625 TOTAL ATMR BOBOT RESIKO 100% NILAI ATMR (dalam Jutaan Rupiah) 2004 2005 2006 24.427.299 16.047 2.994.595 2.285. Perkembangan Posisi Keuangan Bank Muamalat Indonesia Tahun 2004-2006 (Dalam Milyar Rupiah) Instrumen Total Aktiva Total Dana Pihak Ketiga Total modal disetor Total Ekuitas 2004 5.625 2.459 492. Penilaian ATMR tersebut di atas merupakan perhitungan ATMR dengan menggunakan metodelogi Basle commite. Tidak digunakannya ATMR administratif dalam perhitungan disebabkan karena sebagian besar ATMR administratif tersebut di atas masih menggunakan instrumen bunga dan untung-untungan (gharar). aktiva yang didanai oleh rekening bagi hasil (rekening mudharabah) dan modal inti.441 135 .076. Diantara penyesuaian itu antara lain pada perhitungan di atas ATMR yang digunakan adalah ATMR neraca ditambah dengan ATMR administratif.465. kredit dan penyertaan dilakukan dengan menggunakan dana dari rekening mudharabah ditambah dengan dana dari modal inti. dengan beberapa penyesuaian sehingga sesuai dengan prinsip dan operasional Bank Muamalat Indonesia.113 2005 7.5 1. maka bobot resikonya 50% dari yang seharusnya 100%. tidak diperhitungkannya instrumen L/C dalam perhitungan ATMR administratif.1 1.360. Tabel 3.746 22. untuk ditentukan boleh atau tidaknya instrumen itu digunakan. fasilitas kredit yang belum digunakan dengan menggunakan jaminan surat berharga. Penyesuaian yang lain adalah dalam hal penyediaan kredit dan penyertaan. kewajiban kembali membeli aktiva bank dengan menggunakan kontrak pembelian kembali (repurchase agreement).4 Ket* = dibiayai oleh rekening mudharabah Sumber : Laporan Bank Muamalat yang dipublikasikan melalui situs internet Bank Indonesia.

771 161.787 4.870 3.693.224 2005 159.269 2. 2007.187.981 2005 70.442 287.361 679.459 380.299 2.978.026 263.445 413.182.994.527.Instrumen Laba Operasional Laba (rugi) bersih Total pembiayaan yang diberikan 2004 74.024 89. dimana giro wajib minimum ini diperoleh Bank dari penyisihan dana simpanan Pihak Ketiga.294.355 4.239.755 31. yang juga digunakan dalam perhitungan kinerja Bank. Tabel 4. 2007 Faktor lain.285.126 3. 2007 Tabel 5.183 138.998 337. yang terdiri kas Bank dan Giro pada Bank Indonesia.631 48.448 Sumber: Laporan keuangan Bank Muamalat Indonesia yang dipublikasikan lewat internet.098 215.267 629 24.757 2. berkaitan dengan kemampuan Bank untuk membayar hutang-hutang jangka pendek dengan alat-alat liquid tersebut.903 514.606. Selain itu perlu juga diperhatikan kemampuan bank dalam membentuk giro wajib minimum yang dipelihara oleh Bank pada Bank Indonesia (Reserve Requirement).108 515.211 2.564 133. adalah seberapa jauh Bank mampu mengelola alat-alat liquid yang dimilikinya.248 1.776 74.721 201. Perkembangan Total Hutang Bank Muamalat Indonesia. dari tahun 2004-2006 dapat dilihat pada Tabel 4.298 654 40. Tahun 2004-2006 (Dalam Jutaan Rupiah) Jenis Hutang Kewajiban Segera Simpanan: Giro Wadiah Tabungan Mudharabah Deposito berjangka Jumlah Simpanan Simpanan dari Bank lain Pinjaman yang diterima Estimasi kerugian komitmen kontinjensi Hutang Pajak Kewajiban lain-lain Jumlah Kewajiban 2004 33. Besarnya alat-alat liquid yang mampu dihimpun oleh Bank Muamalat Indonesia.498 Sumber: Kinerja keuangan Bank Muamalat Indonesia.683 1.480. 136 .102 2.122 376. Tbk yang dipublikasikan melalui internet.447 dan Sumber: Laporan Keuangan Bank Muamalat Indonesia yang dipublikasikan melalui internet.792 2006 60. Jumlah Alat Liquid Bank Muamalat Indonesia.152 2.853 2006 174.859 214.686.581 2. Tahun 2004-2006 Alat-alat Liquid 2004 (dalam Jutaan Rupiah) 2005 (dalam Jutaan Rupiah) 2006 (dalam Jutaan Rupiah) Kas Giro pada BI Jumlah 73.803 4.599.340 382.458 179.

Dasar 137 . menurut teori pemberian bobot resiko ATMR pada rekening-rekening kredit kepada pihak lain dan penyertaan dalam bank syariah adalah sebesar 50%. Tujuan penelitian Berdasarkan pada latar belakang diatas. Dasar tersebut mengharuskan kepatuhan terhadap syariah sebagai dasar bagi semua aspek kehidupan. karena dibiayai oleh rekening simpanan mudhaarabah. Didasarkan pada peraturan tersebut maka langkah untuk menilai performance atau kinerja suatu Bank dapat menggunakan alat-alat anaalisa sebagai berikut: a. yaitu rasio yang digunakan untuk mengukur kemampuan bank dalam memenuhi kewajiban jangka panjangnya atau kemampuan Bank untuk memenuhi kewajiban jika terjadi liquidasi Bank. 26/BPPP/1993 tanggal 29 Mei 1993. Analisa Rasio Liquiditas. Pada Tabel 2 tentang perhitungan ATMR. Analisa Rasio Solvabilitas. Perbedaan perhitungan ini dapat memperkecil angka rasio kecukupan modal yang dimiliki oleh bank syariah. c.Segala kriteria penilaian kinerja Bank pada dasarnya berpegang pada prinsip prudential Banking bagi Bank umum yang dikeluarkan oleh Bank Indonesia selaku pengawas dan pembina bank nasional yang menetapkan ketentuan tentang penilaian tingkat kesehatan Bank dengan surat edaran BI no. terlihat bahwa terdapat perbedaan penetapan ATMR menurut teori dan menurut ketentuan Bank Indonesia. (Lukman Dendawijaya. yang kemudian disempurnakan melalui keputusan Direksi BI No. yaitu analisa yang dilakukan terhadap kemampuan bank dalam memenuhi kewajiban jangka pendeknya atau kewajiban yang sudah jatuh tempo. Dalam menghimpun modal. Akan tetapi dalam kenyataannya Bank Indonesia masih menerapkan bobot resiko 100% pada rekening-rekening tersebut. yang berarti bank akan cenderung tidak baik kinerjanya. sehingga memperbesar tanggungan resiko yang dihitung oleh Bank Muamalat. 2001 : 116 – 124). Bank Muamalat mengusahakan untuk tidak mengimpun dari modal-modal pinjaman atau subordinasi yang menggunakan bunga. TELAAH KEPUSTAKAAN DAN PENGEMBANGAN HIPOTESIS Perbankan syariah dikembangkan atas dasar yang tidak mengijinkan pemisahan antara masalah dunia dan masalah agama. 31/11/Kep/Dir tanggal 30 April 1997. b. Analisa Rasio Rentabilitas adalah alat untuk menganalisis atau mengukur tingkat efisiensi usaha atau profitabilitas yang dicapai oleh Bank yang bersangkutan.

yaitu jenis musyarakah. sehingga besarnya proporsi pembagian keuntungan tergantung pada kesepakatan dan pertanggungan kerugian tergantung pada proporsi modal yang disetor bank. salah satu aspek yang paling menonjol dari prinsip-prinsip syariah adalah pelarangan riba dan persepsi mengenai uang sebagai alat tukar dan sarana untuk membayar kewajiban keuangan. Yang termasuk dalam kontrak ini adalah kontrakkontrak investasi atau Musyarakah (partnership. sesuai dengan syariah. Tingkat return bisa positif. Oleh karena itu bank syariah didirikan berdasarkan konsep Islam mengenai “keuntungan adalah bagi siapa yang menanggung resiko. Adiwarman Karim (“Modul: Warkshop on Islamic banking”. yaitu jenis musyarakah dimana bank memberikan pembiayaan sebesar 50% dari jumlah modal yang dibutuhkan nasabah. Uang berdasarkan prinsip syariah tidak mempunyai sisi time value terlepas dari nilai-nilai barang yang dipertukarkan melalui penggunaan uang. akan tetapi bisa melebihi atau malah kurang tergantung pada kebutuhan nasabah. 138 . Natural incertaintycontracts. bukan komoditas. Syafei Antoni. yaitu kontrak atau akad dalam bisnis perbankan yang tidak memberikan kepastian pendapatan (return). 2001 : 90). Misalnya.” Beradasarkan konsep ini. sehingga setiap kerugian dan keuntungan akan dibagi sama rata. negative. bank syariah menolak (mengusahakan tidak menggunakan) penggunaan bunga dalam setiap transaksinya. baik dari segi jumlah (amount) maupun waktunya (time). tetapi juga meliputi transaksi bisnis yang harus sesuai dengan prinsip syariah. 2003 : 6) menggolongkan transaksi-transaksi yang saat ini biasa dilakukan oleh bank syariah terdiri atas: a. yaitu akad dua pihak atau lebih untuk suatu usaha dimana masing-masing pihak memberikan kontribusi dana dengan kesepakatan bahwa keuntungan dan resiko akan ditanggung bersama sesuai perjanjian (M. Biasanya Bank memberikan pembiayaan kurang dari 50%. Jenis kontrak Musyarakah dalam bank syariah terbagi atas: (1) Musyarakah Mufawadhah. dimana bank memberikan pembiayaan kepada suatu proyek nasabah. dan bank turut serta dalam mengelola (manajemen) usaha. atau nol.itu tidak hanya mencakup ibadah saja. project financing participation). namun besarnya pembiayaan tidak tepat 50% dari kebutuhan dana. (2) Musyarakah Inan.

Yang termasuk dalam kategori ini adalah kontrak-kontrak jual beli. sebenarnya kontrak musyarakah masih terdapat dua jenis lagi yaitu jenis Musyarakah wujuh dan musyarakah ‘abdan. Jenis kontrak inilah yang banyak dilakukan oleh bank syariah. saldo rekening nasabah tidak akan berkurang. Demikian pula halnya dengan pemberian pembiayaan. sehingga apabila bank tidak memperoleh pendapatan sekalipun. sedangkan apabila rugi ditanggung oleh pemilik modal selama kerugian itu bukan akibat kelalaian pengelola (Syafi’I Antoni. mudharabah adalah akad kerjasama usaha antara dua pihak dimana pihak pertama (shohibul maal) menyediakan seluruh (100%) modal. bank memberlakukan kontrak revenue sharing dalam hal perolehan pendapatan bank dan semua biaya proyek ditanggung oleh debitur yang bersangkutan. maka berdasarkan perkembangan terakhir yang dibagi kepada nasabah bukanlah laba (profit) yang diperoleh bank. Secara umum. Namun untuk mengantisipasi kecurangan (moral hazard) dunia perbankan terhadap kontrak i9ni. dan setiap biaya yang dikeluarkan untuk kegiatan operasional tersebut sepenuhnya ditanggung oleh bank. dan waktu penyerahan (time delivery). karena sudah disepakati kedua belah pihak yang bertransaksi di awal akad. 2001 : 95). b. baik dalam hal pembiayaan. untuk mengantisipasi moral hazard nasabah (debitur). baik dalam jumlahnya (quantity). dll. sewa-menyewa. kontrak atau akad dalam bisnis perbankan yang memberikan kepastian pembayaran. sedangkan pihak lainnya sebagai pengelola (mudharib). Dalam hal ini simpanan. upah-mengupah. akan tetapi pendapatan (revenue) bank atas kegiatan operasional. kontrak mudharabah ini berarti pihak nasabah menyediakan dananya dalam bentuk tabungan dan deposito untuk dikelola oleh bank sehingga menghasilkan keuntungan. Objek pertukaran (baik barang) maupun jasa sudah ditetapkan di awal akad dengan pasti. mutunya (quality). harganya (price). Secara teknis. Pada jenis kontrak ini cash flow bank dapat diprediksi relative pasti. Apabila bank memperoleh keuntungan (laba) operasional maka pihak deposan berhak memperoleh bagian laba tersebut (profit sharing). Jenis kontrak ini terbagi atas: 139 . Keuntungan usaha secara mudharabah di bagi menurut kesepakatan yang dituangkan dalam kontrak. Natural Certainty contracts. Akan tetapi yang biasa dilakukan oleh dunia perbankan adalah ketiga jenis musyarakah di atas. sehingga bank tidak mengalami kehilangan dana meskipun proyek yang dijalankan merugi. baik dari segi jumlah maupun waktu.(3) Musyarakah Mudharabah.

(M. rentabilitas. Bank lalu berusaha melalui orang lain untuk membuat atau membeli barang sesuai dengan spesifikasi pesanan dan menjualnya kepada pembeli akhir (nasabah yang memesan). Kedua belah pihak sepakat atas harga dan sistem pembayaran. dalam hal ini. Selanjutnya. adalah akad pemindahan hak guna atas barang atau jasa. pasal 29menyebutkan beberapa ketentuan sebagai berikut: 1. melalui pembayaran sewa. Bank Indonesia menetapkan ketentuan Kesehatan/kinerja bank dengan memperhatikan aspek permodalan. 2. bank menerima pesanan dari pembeli (nsabah). transaksi ini merupakan kontrak antara pembeli dan bank. Syafi’i Antonio. Meskipun secara operasional bank syariah mempunyai sedikit perbedaan dengan bank-bank konvensional lainnya. 140 . adalah jual beli barang pada harga asal dengan tambahan keuntungan yang disepakati. kontrak ini berupa pembiayaan (finance) pada barangbarang modal maupun barang-barang konsumsi. solvabilitas. dan kejelasan waktu penyerahan. yang menjadi syarat terlaksananya salam adalah kejelasan modal.(1) Mudharabah (deferred payment sale). nasabah membeli kembali barang tersebut dari bank (biasanya secara kredit) sesuai dengan harga barang ditambah dengan keuntungan jual-beli bagi bank. kejelasan harga. adalah kontrak jual beli dimana pembayaran dilakuakn dimuka dan barang diserahkan dikemudian hari. kualitas manajemen. Dalam hal ini. 2001 : 113). melalui cicilan atau ditangguhkan sampai suatu waktu pada masa yang akan datang. bank membeli barang-barang yang dibutuhkan nasabah dari supplier secara tunai sesuai dengan harga yang berlaku. Dalam dunia perbankan. namun dalam beberapa hal seperti pengukuran kesehatan dan pengukuran kinerja bank tetap mengacu kepada Undang-undang RI No. kualitas asset. dan aspek lain yang berhubungan dengan usaha bank. (2) Salam (Infront payment sale). likuiditas. Dalam kontrak ini. (4) Ijarah (Operational leas). Pembinaan dan pengawasan Bank dilakukan oleh Bank Indonesia. tanpa diikuti dengan pemindahan kepemilikan atas barang itu sendiri (M. (3) Istishna (purchase by order or manufacture). 7 Tahun 1992 tentang perbankan. kejelasan fisik barang. 2001 : 117). Syafi’I Antonio.

Kredit yang diberikan Surat berharga dan tagihan lainnya Kredit yang diberikan Penyertaan Cadangan aktiva yang diklasifikasikan Rupa-rupa aktiva PASIVA Giro call money Tabungan Deposito berjangka Kewajiban lainnya Surat berharga Pinjaman yang diterima: Bank Indonesia Subordinasi dan lainnya Rupa-rupa passive Modal: a. maka setiap bank wajib memelihara kesehatan dan kinerja Bank berdasarkan prinsip kehati-hatian. a. 3. 7. 7. 5. 9. neraca bank umum dapat dilihat sebagai berikut: Contoh Neraca Bank Umum 1. 6. Untuk mengukur kinerja suatu bank maka pemahaman mengenai latar belakang keuangan sangat diperlukan sebelum seseorang dapat menganalisa kinerja/kesehatan atau melakuakan perubahan dalam portofolio aktiva dan pasiva untuk memperbaiki laba. 4. Berdasarkan ketentuan di atas. Bank wajib memelihara kesehatan Bank sesuai dengan ketentuan sebagaimana dimaksud dalam ayat (2) dan wajib melakukan usaha sesuai dengan prinsip kehati-hatian. AKTIVA Kas Giro di Bank Indonesia Tagihan pada Bank lain a. 2. Agio saham c. 4. Cadangan d. bukanlah satu-satunya metode yang digunakan untuk menampilkan neraca bank umum.” Berdasarkan ketentuan Bank Indonesia. bank mempunyai laporan keuangan pokok yang terdiri atas Neraca dan Laporan Rugi/Laba. Deposito berjangka d. 141 .3. Laba/rugi tahun berjalan Jumlah Pasiva 1. b. 7 tahun 1992 tentang perbankan. 8. Giro b. Jumlah Aktiva Metode di atas meskipun berdasarkan ketentuan Bank Indonesia. Neraca Bank Umum Berdasarkan Undang-Undang RI No. Laba di tahan 10. 8. 3. 6. Secara sederhana. pasal 34 menyebutkan “Setiap bank umum diwajibkan menyampaikan laporan keuangan berupa neraca dan perhitungan rugi/laba berdasarkan waktu dan bentuk yang ditetapkan oleh Bank Indonesia. Modal disetor b. Call money c. 5. 2.

5. 9. di bawah ini ditampilkan bentuk neraca bank syariah (diambil dari bentuk neraca Bank Syariah Mandiri. Pada Bank syariah. 10. neraca suatu bank umum terdiri atas pos-pos yang ada pada sisi aktiva dan pos yang ada pada sisi pasiva. Tahun berjalan Total Pasiva PASIVA 1. Penempatan pada Bank lain 4. pembiayaan. Penyertaan 8. 4. 7.Untuk bank syariah terdapat beberapa perbedaan sedikit instrumen di dalam neraca bank. karena tidak menggunakan instrumen bunga baik dalam hal kredit maupun simpanan nasabah. maka untuk hal-hal tersebut di atas digunakanlah kontrak mudharabah dan musyarakah seperti yang sudah dijelaskan di atas. Piutang penjualan a. 142 . Perbedaan tersebut ditekankan pada perbedaan sistem dalam hal pemberian pinjaman. Investasi aktiva Ijarah 9. Pembiayaan yang diberikan a. Aktiva lain-lain Total Aktiva Giro Tabungan Mudharabah Deposito Mudharabah Kewajiban kepada BI Surat berharga yang diterbitkan Pembiayaan yang diterima Kewajiban lainnya Setoran jaminan Pasiva lain Modal disetor Selisih penilaian kembali aktiva tetap 12. bentuk diatas bukanlah satu-satunya bentuk neraca pada Bank Syariah. 3. pembiayaan lain-lain 7. pembiayaan mudharabah b. Aktiva tetap dan inventaris 10. 2. 8. Piutang mudharabah b. Tahun lalu e. Berdasarkan surat edaran Bank Indonesia No. Investasi dalam surat berharga 6. 11. Untuk lebih jelasnya. 6. Kas 2. 23 / 19 / BPPP tanggal 28 Februari 1991. Perlu diperhatikan. Cadangan 13. piutang Istishna 5. Laba/rugi d. Bentuk-bentuk lain untuk neraca bank syariah dapat ditampilkan sesuai dengan posisi keuangan bank syariah bersangkutan. piutang salam c. pembiayaan musyarakah c. Penempatan di Bank Indonesia 3. dan pengelolaan dana pihak ketiga. tahun 2002) Contoh Neraca Bank Syariah AKTIVA 1.

Aktiva Pos-pos yang terdapat di sisi aktiva secara umum adalah sebagai berikut: 1. Pos ini tidak boleh dikurangi dengan kredit yang diberikan bank lain kepada bank yang bersangkutan dan tidak boleh ditambah dengan fasilitas kredit yang sudah disetujui bank lain yang belum digunakan. Posisi pada pos ini tidak boleh dikurangi dengan kredit yang diberikan oleh Bank Indonesia kepada bank yang bersangkutan dan tidak boleh ditambah dengan fasilitas kredit yang sudah disetujui oleh Bank Indonesia yang belum dipergunakan. baik kepada bank lain di dalam negeri maupun diluar negeri. baik rupiah maupun valuta asing. 3. yang dimiliki oleh bank. Pos ini terdiri atas pos-pos sebagi berikut: a. Pada bank syariah. termasuk kantornya yang ada di luar negeri. 2. Call Money Yang dimasukkan ke pos ini adalah dana dalam rupiah dan valuta asing yang dipinjamkan oleh bank. baik bank dalam negeri maupun bank luar negeri. Tagihan pada bank lain Tagihan pada bank lain adalah semua tagihan bank pelapor dalam rupiah dan valas kepada bank lain. yang menjadi alat pembayaran yang sah di Indonesia maupun uang asing lainnya yang masih berlaku. b. Giro di Bank Indonesia Yang dimasukkan ke dalam pos ini adalah giro dalam rupiah dan valuta asing milik bank pada Bank Indonesia. Giro Yang dimasukkan ke pos ini adalah giro dalam rupiah dan valuta asing milik bank. termasuk kantornya di luar negeri. Pada bank syariah pendapatan bunga dari giro yang tidak menggunakan kontrak mudharabah di bank lain disisihkan ke dalam pos dana-dana tidak hala (tidak dilaporkan) untuk kemudian digunakan untuk kepentingan sosial. Kas Yang dimasukkan ke pos ini adalah uang kas. termasuk kantornya diluar negeri. 143 . baik kepada bank lain di dalam negeri maupun di luar negeri (tidak termasuk Bank Indonesia).

4. Surat berharga dan tagihan lainnya Yang dimasukkan ke pos ini adalah surat berharga yang dimiliki oleh bank. surat-surat berharga. 7. dan simpanan lain yang sejenis. pada bank. Cadangan aktiva yang diklasifikasikan Yang dimasukkan ke pos ini adalah cadangan-cadangan dana dalam rupiah dan valuta asing. termasuk kantornya di luar negeri. lembaga keuangan. 5. Penyertaan Yang dimasukkan ke pos ini adalah semua realisasi kredit dalam rupiah dan valuta asing yang diberikan oleh bank. baik yang diberikan kepada bank lain di dalam negeri maupun di luar negeri. termasuk kantornya di luar negeri. c. seperti surat-surat berhargta pasar uang dan pasar modal dalam rupiah dan valuta asing. Deposito berjangka Yang dimasukkan ke pos ini adalah penanaman dana dalam rupiah dan valuta asing oleh bank. Kredit yang diberikan Yang dimasukkan ke pos ini adalah semua realisasi kredit dalam rupiah dan valuta asing yang diberikan oleh bank. penanaman pada bank lain. sertifikat deposito. serta perusahaan lain. serta penyertaan dan penanaman pada 144 . termasuk kantornya diluar negeri. 6. Kredit yang diberikan Yang dimasukkan ke pos ini adalah semua kredit yang berdasarkan akad dalam rupiah dan valuta asing yang diberikan oleh bank. sehingga terkadang masih menggunakan bunga dalam pelaksanaannya. Aktiva produktif mencakkup kredit. d. kepada pihak ketiga bukan bank. deposito in call. Cadangan ini dibentuk untuk menampung resiko kerugian yang mungkin timbul sebagai akibat bank tidak dapat menarik kembali sebagian atas seluruh aktiva produktifnya. pada bank lain dan atau lembaga keuangan lain dalam bentuk deposito berjangka. termasuk kantornya di luar negeri. baik dalam negeri maupun di luar negeri. termasuk kantornya di luar negeri.pos ini masih digunakan.

aktiva lainnya yang mengandung resiko dari bank. termasuk kantornya di luar negeri. dalam rupiah dan valuta asing. dan perabot milik bank. termasuk kantornya di luar negeri. gedung. 8. Jumlah tersebut telah dikurangi dengan penyusutan nilai aktiva tetap dan inventaris sampai dengan akhir bulan laporan. Call money Yang dimasukkan ke pos ini adalah dana dalam rupiah dan valuta asing yang diterima oleh bank. termasuk kantornya diluar negeri. Rupa-rupa aktiva Yang dimasukkan ke pos ini adalah saldo rekening-rekening aktiva lainnya dalam rupiah dan valuta asing yang tidak dapat dimasukkan ke salah satu pospos di atas. yang penarikannya dapat dilakukan setiap saat dengan menggunakan cek. 9. yang penarikannnya hanya dapat dilakukan menurut syarat-syarat tertentu. Giro Yang dimasukkan ke pos ini adalah giro dalam rupiah dan valuta asing milik pihak ketiga dan bank lain pada bank yang bersangkutan. Dalam pengertian ini termasuk pula simpanan 145 . termasuk kantornya di luar negeri. termasuk kantornya di luar negeri. Pasiva Pos-pos yang ada pada sisi pasiva adalah sebagai berikut: 1. sepanjang hasilnya debet bagi bank yang berbadan hokum Indonesia. Dalam pos ini dimasukkan pula pinjaman yang diberikan dalam rupiah yang bersaldo kredit. Tabungan Yang dimasukkan ke pos ini adalah simpanan-simpanan dalam rupiah dan valuta asing milik pihak ketiga bukan bank pada bank yang bersangkutan. Dalam pos ini dimasukkan pula hasil kompensasi (set off) antara saldo debet dan saldo kredit rekening antar kantor. pemindah bukuan. baik dari bank lain di dalam negeri maupun di luar negeri. Aktiva tetap dan inventaris Yang dimasukkan ke pos ini adalah nilai buku dari tanah. dan surat perintah membayar lainnya. kantor. 3. termasuk kantornya di luar negeri. Pos ini merupakan pengurang aktiva pada neraca. 2. rumah.

baik dalam rupiah maupun valuta asing. kupon yang sudah jatuh tempo. termasuk kantornya di luar negeri. deposts one call. dan Bank Indonesia. 4. baik dalam rupiah maupun valuta asing. milik pihak ketiga dan bank lain yang penarikannya dapat dilakukan tertentu sesuai perjanjian antara bank yang bersangkutan dan penyimpannya. yang tidak dapat dimasukkan atau digolongkan ke dalam salah satu dari pos neraca ini dalam rupiah. dan semua kewajiban yang berjangka waktu kurang dari 15 hari. baik dalam rupiah maupun valuta asing. baik dalam rupiah maupun valuta asing. yang setiap waktu dapat ditagih oleh pemiliknya dan harus segera dibayar oleh bank yang bersangkutan. 7. dari pihak ketiga. misalnya selisih kurs dari rekening-rekening yang diblokir karena suatu perkara. yang menyebabkan kewajiban membayar bagi bank. sertifikat deposito. Dalam pengertian ini termasuk pinjaman kelolaan dan two step loan yang diterima dari pemerintah atau lembaga-lembaga Internasional. Dalam pos ini dimasukkan pula hasil kompensasi (set off) antara saldo debet dan saldo kredit rekening antar kantor. sepanjang hasilnya kredit bagi bank yang berbadan hokum Indonesia. Surat berharga Yang dimasukkan ke pos ini adalah surat berharga yang diterbitkan oleh bank. bank lain. Pada pos ini dimasukkan pula kiriman uang. 146 . termasuk kantornya di luar negeri. termasuk kantornya diluar negeri. 6. 5. 8. baik dalam rupiah maupun valuta asing. Kewajiban lainnya Yang dimasukkan ke pos ini adalah semua kewajiban bank. Deposito berjangka Yang dimasukkan ke pos ini adalah deposito berjangka. termasuk kantornya diluar negeri. Rupa-rupa pasiva Yang dimasukkan ke pos ini adalah saldo rekening pasiva lainnya. termasuk kantornya di luar negeri.yang pengambilannya harus diberitahukan beberapa hari sebelumnya dan hanya dapat dilakukan dengan buku tabungan atau kwitansi. dan deposito sejenis lainnya yang diterima bank. Pinjaman Yang dimasukkan ke pos ini adalah pinjaman yang diterima oleh bank.

9. tapi pada sisi pasiva dengan tanda negative (-/-). Laba/rugi Yang dimasukkan ke kolom ini adalah sisa laba / rugi tahun-tahun buku lalu yang belum dibagikan dan atau dipindah bukukan ke rekening lain dan ditambah laba / rugi dalam tahun buku berjalan. d. Agio saham Yaitu selisih lebih setoran modal yang diterima oleh bank sebagai akibat harga saham yang melebihi nilai nominalnya. Modal kantor cabang bank asing Yang dimasukkan ke pos ini adalah dana bersih kantor pusat dan cabangnya di luar negeri. e. b. Cadangan Yang dimasukkan ke pos ini adalah cadangan-cadangan yang dibentuk dari penyisihan laba bersih setelah atau sebelum dikurangi pajak dan mendapat persetujuan pemilik melalui rapat umum pemegang saham atau rapat anggota sesuai dengan anggaran dasar masing-masing bank. Rugi yang diderita tahuntahun lalu dan tahun berjalan tidak boleh dicantumkan pada sisi aktiva. c. Laporan Laba-Rugi Bank Laporan perhitungan laba rugi (profit and loss statement) atau lebih dikenal juga dengan income statement dari suatu bank umum adalah suatu laporan keuangan bank yang menggambarkan pendapatan dan biaya operasional dan non operasional bank serta keuntungan bersih suatu bank untuk suatu periode tertentu (Lukman Dendawijaya. Modal a. Modal bank yang berbadan hokum Indonesia Yang dimasukkan ke pos ini adalah jumlah modal atau simpanan pokok dan wajib (bagi bank-bank yang berbadan hokum koperasi) yang benarbenar telah di setor atau selisih antara modal dasar dan modal yang belum di setor. 147 . 2001 : 111).

biaya yang akan dibayar di masa yang akan datang sudah diperhitungkan sebagai bagian komponen biaya yangdikeluarkan. 30 Juni. Salam/jual-beli atas pembayaran dimuka d. Sebaliknya. perlakukan akuntansi terhadap biaya operasional dan non operasional dilakukan dengan menggunakan prinsip accrual basis. Konsep ini menekankan bahwa pendapatan yang diperhitungkan adalah pendapata yang benar-benar yang telah diterima secara efektif. ……. Bentuk laporan laba-rugi bank syariah. Lainnya 1. konsep ini disebut cash basis. Istisna/jual-beli atas pesanan c. ……. sedangkan beban atau pendapatan bunga yang terpaksa diterima oleh bank syariah. hanya untuk pendapatan-pendapatan bunga di bankkonvensional.. Bentuk laporan laba-rugi Bank Syariah dapat dilihat dari tabel di bawah ini (contoh bentuk laporan keuangan Bank Syariah Mandiri tahun 2002): Perhitungan Laba/Rugi Periode:……………. Mudharabah/tabungan bagi hasil c. yaitu 31 Maret. 148 . Keterlambatan penyampaian serta bentuk laporan yang tidak mengikuti standarisasi yang telah dikenakan sanksi. Dalam prinsip ini. Murabahah/jual-beli b. ……. (dalam jutaan rupiah) No..2 Pendapatan bagi hasil dari investasi a. dll. secara umum hampir sama dengan bentuk laba-rugi bank konvensional. …….. Penyusunan perhitungan laba rugi bank dilakukan dengan menganut konsep konservatisme. ……. Dalam akuntansi. 30 September.3 Pendapatan Bonus Sertifikat Wadiah Bank Indonesia JUMLAH PENDAPATAN DAN KEUNTUNGAN INVESTASI Jml ……. istisna. 1. Berdasarkan ketentuan Bank Indonesia. Pos-pos PENDAPATAN DAN KEUNTUNGAN INVESTASI 1.1 Pendapatan Margin dari Jual-beli a.Laporan perhitungan laba rugi bank harus disusun berdasarkan ketentuan tentang bentuk yang sudah ditetapkan oleh Bank Indonesia. di masukkan ke dalam pos pendapatan/beban dana-dana tidak halal atau dimasukkan ke adalam pos operasional lain-lain.. dan 31 Desember tahun yang bersangkutan. mudharabah. Musyarakah/penyertaan b.. ……. sedangkan untuk laporan keuangan triwulanan dilakukan untuk posisi akhir bulan. ……. salam. laporan keuangan bulanan harus dilaporkan setiap bulan. Lainnya 1. pada bank syariah merupakan pendapatan murabahah. …….

4 Pengeluaran non operasional JUMLAH PENGELUARAN LAINNYA -/LABA (RUGI) BERSIH SEBELUM ZAKAT DAN PAJAK ZAKAT DAN PAJAK 7. rasio kualitas aktiva produktif. 149 . nasabah. maupun pihak bank sendiri. manajerial bank haruslah mempunyai alat-alat analisa tertentu. profitabilitas selama beberapa periode dan proyeksi profitabilitas di masa datang. seperti pemegang obligasi. …… ……. 6. …….1 Zakat -/7. Para pemegang surat berharga bank. 3. dan para pemberi kredit jangka panjang. serta rasio solvabilitas bank. 7. …….2.. dan rasio-rasio likuiditas bank. Analisa keuangan dilakukan baik oleh pihak luar bank. yaitu rasio yang menunjukkan kemampuan bank dalam memperoleh laba. ……. ……. Sedangkan para pemegang saham dan nasabah deposito. mungkin akan tertarik pada rasio rentabilitas bank. 5. dan Bank Indonesia selaku Pembina dan pengawas perbankan.1 Pengeluaran administrasi dan umum 5. ……. ……. Jenis analisa bervariasi tergantung pada kepentingan pihak-pihak yang melakukan analisa. investor.2 Pajak -/LABA (RUGI) BERSIH ……. ……. ……. seperti kreditur. rasio-rasio rentabilitas bank. Analisis Rasio Keuangan Untuk membuat keputusan rasional yang sesuai dengan tujuan bank.2 Pengeluaran bagi hasil mudharabah JUMLAH PENGELUARAN BONUS DAN BAGI HASIL ATAS INVESTASI -/PENDAPATAN DAN KEUNTUNGAN BERSIH INVESTASI BAGIAN BANK PENDAPATAN LAINNYA 4. ……. akan tertarik pada likuiditas bank.. …….1 Pengeluaran Bonus Wadiah 2.3 Pengeluaran penyusutan/amortisasi/penghapusan aktiva produktif 5. …….3 Pendapatan operasional lainnya 4. PENGELUARAN/DISTRIBUSI BONUS DAN BAGI HASIL INVESTASI 2. 4. ……. Bagi Bank Indonesia selaku Pembina dan pengawas perbankan di Indonesia. ……. Seorang yang memberikan kredit (pinjaman) jangka pendek dan nasabah tabungan.2 Pendapatan jasa-jasa bank 4. yaitu kemampuan bank dalam membayar hutang-hutang jangka panjang atau kemampuan bank dalam melunasi semmua hutangnya apabila dilikuidasi. mungkin akan tertarik pada rasio kecukupan modal bank.2 Pengeluaran personalia 5. mungkin akan tertarik pada struktur modal perusahaan. …….4 Pendapatan non operasional JUMLAH PENDAPATAN LAINNYA JUMLAH PENDAPATAN BANK PENGELUARAN LAINNYA 5. sumbersumber dana dan penggunaan dan. Yaitu kemampuan bank untuk memenuhi kewajiban finansialnya yang harus segera dipenuhi (jangka pendek).1 Pendapatan administrasi pembiayaan 4.

Reserve Requirement (RR). (Drs. Munawir. Beberapa rasio likuiditas yang sering digunakan dalam menilai kinerja suatu bank antara lain sebagai berikut: a. b. maka pengukuran rasio keuangan dapat juga digunakan untuk mengetahui kinerja suatu bank. yaitu Likuiditas minimum yang harus dipelihara oleh Bank dalam membayar kembali pinjaman jangka pendek bank. Rasio Likuiditas. yaitu likuiditas wajib minimum yang wajib dipelihara dalam bentuk Giro pada BI. Akt. namun dalam prakteknya akan dapat mempengaruhi profitabilitas. solvabilitas. Reserve requirement merupakan ketentuan bagi setiap bank umum untuk menyisihkan sebagian dari dana pihak ketiga yang berhasil dihimpunnya dalam bentuk giro wajib minimum yang berupa rekening bank yang bersangkutan pada Bank 150 . S. Cash Ratio. Macam-macam rasio keuangan untuk mengukur kinerja bank Seperti yang sudah dijelaskan dimuka. serta rentabilitas suatu bank. Perhitungan rasio untuk menilai posisi kinerja suatu bank. dan dengan menggunakan alat analisa berupa rasio ini akan dapat menjelaskan atau memberi gambaran kepada penganalisa tentang baik atau buruknya keadaan atau posisi keuangan suatu peusahaan terutama apabila angka rasio tersebut dibandingkan dengan angnka rasio pembanding yang digunakan sebagai standar.Rasio keuangan menggambarkan suatu hubungan atau perimbangan (mathematic relationship) antara suatu jumlah tertentu dengan jumlah yang lain dalam laporan keuangan. yang dilihat dari posisi keuangannya dalam neraca dan laba-rugi. Pengukuran kinerja bank digunakan untuk mengetahui tentang baik-buruknya operasional bank serta seberapa sehatkah bank bersangkutan untuk dapat menjalankan fungsi-fungsi perbankan. Umumnya berbagai rasio yang dihitung untuk menilai kinerja suatu bank dikelompokkan ke dalam tiga (3) tipe dasar: 1. 1990 : 64) Dengan menggunakan analisa rasio dimungkinkan untuk dapat menentukan tingkat kinerja suatu bank dan kesehatannya dengan menggunakan perhitungan rasio likuiditas. akan memberikan gambaran yang jelas tentang baik atau tidaknya operasional suatu bank. Rasio ini merupakan perbandingan antara jumlah alat liquid yang dimiliki bank dengan pinjaman yang harus segera dibayar. Semakin tinggi rasio ini semakin tinggi pula kemampuan likuiditas bank yang bersangkutan. yang mengukur kemampuan bank untuk memenuhi kewajiban finansial jangka pendeknya atau kewajiban yang telah jatuh tempo.

tingkat likuiditasnya semakin kecil karena jumlah asset yang diperlukan untuk membiayai kreditnya menjadi semakin besar. 151 . Sebagian praktisi perbankan menyepakati bahwa batas aman dari LDR suatu bank adalah sekitar 80%. yaitu rasio yang digunakan untuk mengukur tingkat likuiditas bank yang menunjukkan kemampuan bank untuk memenuhi permintaan kredit dengan menggunakan total asset yang dimiliki bank. Return On Asset (ROA). Namun batas toleransi berkisar antara 85%-100%.Indonesia. Semakin tinggi rasio tersebut memberikan indikasi semakin rendahnya kemapuan likuiditas bank yang bersangkutan. Rasio LDR ini merupakan indikator kerawanan dan kemampuan dari suatu bank. besarnya RR minimal 5%. Loan to Asset Ratio (LAR). Selain itu. Rasio Rentabilitas. yaitu rasio antara jumlah seluruh kredit yang diberikan Bank dengan dana yang diterima oleh Bank. Semakin tinggi rasio ini. d. LDR menyatakan seberapa jauh kemampuan bank untuk membayar kembali penarikan dana yang dilakukan deposan dengan mengandalkan kredit yang diberikan sebagai sumber likuiditasnya. Dalam perhitungan rasio-rasio rentabilitas ini biasanya dicari hubungan timbale balik antar pos yang terdapat pada laporan laba-rugi bank dengan pos-pos pada neraca bank guna memperoleh berbagai indikasi yang bermanfaat dalam mengukur tingkat efesiensi dan profitabilitas bank yang bersangkutan. semakin besar pula tingkat keuntungan yang dicapai bank tersebut dan semakin baik pula posisi bank tersebut dalam penggunaan asset. seberapa jauh pemberian kredit kepada nasabah kredit dapat mengimbangi kewajiban bank untuk segera memenuhi permintaan deposan yang ingin menarik kembali uangnya yang telah digunakan oleh bank untuk memberikan kredit. yaitu alat untuk menganalisa atau mengukur tingkat efesiensi usaha dan profitabilitas yang dicapai oleh Bank yang bersangkutan. rasio-rasio dalam kategori ini dapat pula digunakan untuk mengukur tingkat kesehatan bank. Semakin besar ROA suatu bank. yaitu rasio yang digunakan untuk mengukur kemampuan manajemen bank dalam memperoleh keuntungan (laba) secara keseluruhan. 2. Loan to Deposit Ratio (LDR). Rasio-rasio rentabilitas terdiri atas: a. c. Hal ini disebabkan karena jumlah dana yang diperlukan untuk membiayai kredit semakin besar. Dengan kata lain. Menurut surat edaran BI tahun 1997.

Hal ini dikarenakan Bank Indonesia selaku Pembina dan pengawas perbankan lebih mengutamakan nilai profitabilitas suatu bank yang diukur dengan asset yang dananya sebagian besar berasal dari simpanan masyarakat c. fee. Analisa Solvabilitas. d. sedangkan dalam sistem CAMEL laba yang diperhitungkan adalah laba sebelum pajak. Analisis ini digunakan untuk mengukur kemampuan Bank dalam memenuhi kewajiban jangka panjangnya. Bank Indonesia lebih mementingkan penilaian besarnya ROA dan tidak memasukkan unsure ROE. bahwa dalam penentuan tingkat kesehatan bank. keuntungan atas kontrak jual-beli. pendapatan operasional bank terdiri atas pendapatan bagi hasil. Secara teoritis. biaya administrasi. ROE ini merupakan indikator yang amat penting bagi para pemegang saham dan calon investor untuk mengukur kemampuan bank dalam memperoleh laba bersih yang dikaitkan dengan pembagian deviden. Disamping itu. Kenaikan dalam rasio ini berarti terjadi kenaikan laba bersih dari bank yang bersangkutan. yaitu perbandingan antara beban operasional dengan pendapatan operasional. serta Kurs Valas (jika kredit diberikan dalam bentuk valas). dll. laba yang diperhitungkan adalah laba setelah pajak. b. Net Profit Margin (NPM). Rasio ini digunakan untuk mengukur tingkat efisiensi bank dalam melakukan kegiatan operasinya.Dalam rangka mengukur tingkat kesehatan bank ada perbedaan sedikit antara ROA berdasarkan teoritis dan cara perhitungan berdasarkan ketentuan Bank Indonesia. rasio NPM pun mengacu kepada pendapatan operasional bank yang terutama berasal dari kegiatan pemberian kredit yang dalam prakteknya memiliki berbagai resiko seperti resiko kredit (kredit bermasalah dan kredit macet). Return On Equity (ROE). kenaikan tersebut akan menyebabkan kenaikan harga saham. Perlu diperhatikan. Sebagaimana halnya dengan perhitungan rasio sebelumnya. rasio ini digunakan untuk mengetahui perbandingan antara 152 . atau kemampuan bank untuk memenuhi kewajiban-kewajibannya jika terjadi likuiditasi Bank. adalah rasio yang menggambarkan tingkat keuntungan bank. Untuk bank syariah. yaitu perbandingan diantara laba bersih bank dengan modal sendiri. Rasio Beban Operasional (BOPO). Selanjutnya. 3. dibandingkan dengan pendapatan yang diterima dari kegiatan operasionalnya.

Metodologi Penelitian Menurut Lukman Dendawijaya (2001: 116-124) alat analisis yang digunakan dalam mengukur kinerja keuangan bank (secara teori) adalah: 153 . dengan dana yang berasal dari dana bank sendiri. Selain memperoleh hutang (kewajiban) dari deposan (penyimpanan dana). CAR merupakan indicator terhadap kemampuan bank untuk menutupi penurunan aktivanya sebagai akibat dari kerugian-kerugian bank yang disebabkan oleh aktiva beresiko. bank yang dinyatakan termasuk bank sehat (berkinerja baik) apabila memiliki CAR paling sedikit sebesar 8%. Dalam bisnis perbankan. sesuai dengan ketentuan yang ditetapkan oleh Bank for International Settlements (BIS). tabungan ataupun deposito. sebagian besar dana yang ada pada suatu bank berasal dari simpanan masyarakat. Dengan kata lain CAR adalah rasio untuk mengukur kecukupan modal yang dimiliki bank untuk menunjang aktiva yang mengandung atau menghasilkan resiko. b. misalnya kredit yang diberikan. seperti dana masyarakat. pinjaman (hutang). penyertaan. adalah rasio yang memperlihatkan seberapa jauh aktiva bank yang mengandung resiko (kredit. hanya sebagian kecil saja dana yang berasal dari modal sendiri. Dengan demikian. dan fasilitas lainnya). baik berupa simpanan giro. baik jangka panjang maupun jangka pendek. dll. yaitu rasio yang digunakan untuk mengukur kemampuan bank dalam menutup sebagian atau seluruh hutanghutangnnya. Capital Adequacy Ratio (CAR). serta pinjaman dari Bank Indonesia (KLBI. tagihan pada bank lain) ikut dibiayai dari dana modal sendiri bank di samping memperoleh dana-dana dari sumber-sumber di luar bank.volume (jumlah) dana yang diperoleh dari berbagai hutang (jangka pendek dan jangka panjang) serta sumber-sumber lain diluar modal bank sendiri dengan volume penanaman dana tersebut pada berbagai jenis aktiva yang dimiliki bank. pada umumnya bank juga bisa meperoleh pinjaman dari lembaga-lembaga perbankan. BLBI. Dengan kata lain. Berdasarkan Deregulasi BI tertanggal 29 Februari 1993. rasio ini mengukur seberapa besar total pasiva yang terdiri atas persentase modal bank sendiri dibandingkan dengan besarnya hutang. Debt to Equity Ratio (DER). surat berharga. Rasio Solvabilitas ini terdiri atas: a. baik dalam maupun luar negeri.

Deposito berjangka. Rasio ini dirumuskan sebagai berikut: Alat Liquid Cash Ratio = Pinjaman yang harus segera dibayar Alat liquid dalam rasio diatas.1. Semakin tinggi rasio tersebut memberikan indikasi semakin rendahnya kemampuan liquiditas bank yang bersangkutan. Hal ini disebabkan karena jumlah dana yang diperlukan untuk membiayai kredit semakin besar. tabungan. besarnya RR minimal 5%. Rasio LDR ini merupakan indicator kerawanan dan kemampuan dari suatu X 100% X 100% 154 . dan kewajiban jangka pendek lainnya. namun dalam prakteknya akan dapat mempengaruhi profitabilitas. Giro pada Bank Indonesia b. yaitu Liquiditas minimum yang harus dipelihara oleh bank dalam membayar kembali dana pihak ketiga yang dihimpun bank yang harus segera dibayar. yaitu rasio antara jumlah seluruh kredit yang diberikan Bank dengan dana yang diterima oleh bank. Semakin tinggi rasio ini semakin tinggi pula kemampuan liquiditas bank yang bersangkutan. Reserve Requirement (RR). sertifikat deposito. Rasio Liquiditas ini terdiri atas: a. Analisis Rasio Liquiditas Yaitu analisa yang dilakukan terhadap kemampuan bank dalam memenuhi kewajiban jangka pendeknya atau kewajiban yang sudah jatuh tempo. LDR menyatakan seberapa jauh kemampuan bank untuk membayar kembali penarikan dana yang dilakukan deposan dengan mengandalkan kredit yang diterima oleh bank yang bersangkutan. Loan to Deposit Ratio (LDR). Kas 2. Rumus rasio ini adalah: Jumlah alat liquid RR = Jumlah dana simpanan pihak ketiga Komponen dana pihak ketiga pada rasio diatas adalah: Giro. yaitu liquiditas wajib minimum yang wajib dipelihara dalam bentuk Giro pada BI. Menurut surat edaran BI tahun 1997. terdiri dari: 1. Cash Ratio. c.

Rumus untuk rasio ini adalah sebagai berikut: Jumlah pembiayaan yang diberikan LAR = Jumlah Asset X 100% 2. Rasio ini dirumuskan sebagai berikut: Jumlah pembiayaan yang diberikan LDR = Jumlah dana yang diterima oleh bank Yang termasuk jumlah dana yang diterima oleh bank pada kriteria ini adalah. yaitu alat untuk menganalisa atau mengukur tingkat efesiensi usaha dan profitabilitas yang dicapai oleh bank yang bersangkutan. Sebagian praktisi perbankan menyepakati bahwa batas aman dari LDR suatu bank adalah sekitar 80%. 5. yaitu rasio yang digunakan untuk mengukur kemampuan manajemen bank dalam memperoleh keuntungan (laba) secara keseluruhan. Namun batas toleransi berkisar antara 85% . 2. terdiri atas: 1. 4. yaitu rasio yang digunakan untuk mengukur tingkat liquiditas bank yang menunjukkan kemampuan bank untuk memnuhi permintaan kredit dengan menggunakan total asset yang dimiliki bank.100%. Modal pinjaman Modal inti.bank. 6. Return On Asset (ROA). Giro/Deposito dan tabungan masyarakat Deposito dan pinjaman dari bank lain yang berjangka waktu lebih dari 3 bulan. Loan to Asset Ratio (LAR). 3. Rasio Rentabilitas. tingkat liquiditasnya semakin kecil karena asset yang diperlukan untuk membiayai kreditnya menjadi semakin besar. X 100% d. Surat berharga yang diterbitkan oleh bank yang berjangka waktu lebih dari 3 bulan. Rasio ini terdiri atas: a. Semakin besar ROA suatu bank. semakin besar pula tingkat keuntungan yang dicapai bank tersebut dan semakin baik pula 155 . Semakin tinggi rasio ini. Kredit Liquiditas Bank Indonesia (jika ada).

yaitu perbandingan antara beban operasional dengan pendapatan operasional. Rasio ini dirumuskan sebagai berikut: Laba bersih ROE = x 100% Modal sendiri c. Rasio Solvabilitas ini terdiri atas: 156 . Untuk bank syariah. Return On Equity (ROE). yaitu perbandingan diantara laba bersih bank dengan modal sendiri. Rasio Beban Operasional (BOPO). serta fee. adalah rasio yang menggambarkan tingkat keuntungan bank. pendapatan operasional bank terdiri atas pendapatan bagi hasil. dll. Analisis Solvabilitas X 100% X 100% x 100% Analisis ini digunakan untuk mengukur kemampuan bank dalam memenuhi kewajiban jangka panjangnya.posisi bank tersebut dalam penggunaan asset. dibandingkan dengan pendapatan yang diterima dari kegiatan operasionalnya. Rasio ini dirumuskan sebagai berikut: Laba bersih NPM = Pendapatan Operasional 3. Perhitungan rasio ini dirumuskan sebagai berikut: Laba bersih ROA = Total aktiva b. Rasio BOPO dirumuskan sebagai berikut: Beban Operasional BOPO = Pendapatan operasional d. ROE ini merupakan indicator yang amat penting bagi para pemegang saham dan calon investor untuk mengukur kemampuan bank dalam memperoleh laba bersih yang dikaitkan dengan pembagian deviden. atau kemampuan bank untuk memenuhi kewajiban-kewajibannya jika terjadi liquidasi bank. Net Profit Margin (NPM). Rasio ini digunakan untuk mengukur tingkat efesiensi bank dalam melakukan kegiatan operasinya. keuntungan atas kontrak jual-beli. biaya administrasi.

seperti dana masyarakat. sesuai dengan ketentuan yang ditetapkan oleh Bank for International Settlements (BIS). CAR adalah rasio untuk mengukur kecukupan modal yang dimiliki bank untuk menunjang aktiva yang mengandung atau menghasilkan resiko. Perhitungan rasio ini dirumuskan sebagai berikut: Modal Bank CAR = Aktiva Tertimbang Menurut Resiko (ATMR) Berdasarkan ketentuan Bank Indonesia. Ditambah dengan Modal pelengkap yang terdiri antara lain: cadangan revaluasi aktiva tetap. tagihan pada bank lain) ikut dibiayai dari dana modal sendiri bank di samping memperoleh dana-dana dari sumber-sumber di luar bank. yaitu rasio yang digunakan untuk mengukur kemampuan bank dalam menutup sebagian atau seluruh utang-utangnya. surat berharga. rasio ini mengukur seberapa besar total pasiva yang terdiri atas persentase modal bank sendiri dibandingkan dengan besarnya utang. adalah rasio yang memperlihatkan seberapa jauh aktiva bank yang mengandung resiko (kredit. Rasio ini dapat dirumuskan sebagai berikut: Jumlah utang DER = Jumlah modal sendiri HASIL PENELITIAN Analisa Rasio Liquiditas 1. misalnya kredit yang diberikan.a. Modal Bank terdiri dari modal inti. dengan dana yang berasal dari dana bank sendiri. Dengan kata lain. dan laba di tahan. Debt to Equity Ratio (DER). dengan pinjaman yang harus segera di bayar (pinjaman jangka pendek) untuk 157 . cadangan umum. agio saham. Capital Adequacy Ratio (CAR). X 100% b. Sedangkan ATMR terdiri atas ATMR neraca ditambah ATMR rekening administrative (jika ada). Berdasarkan Deregulasi BI tertanggal 29 Februari 1993. 2005 dan 2006 seperti yang terlihat pada tabel 4. yaitu: modal disetor. Cash Ratio X 100% Dengan membagi jumlah alat liquid yang terdiri atas Kas dan Giro pada Bank Indonesia di tahun 2004. Dengan kata lain. bank yang dinyatakan termasuk bank sehat (berkinerja baik) apabila memiliki CAR paling sedikit sebesar 8%. dll. baik jangka panjang maupun jangka pendek. penyertaan. pinjaman (utang).

maka besarnya Reserve Requirement (RR) bank adalah sebagai berikut: 337. kemudian mengalikannya dengan bilangan 100% maka diperoleh besarnya Cash Ratio tahun 2004.448 Cash Ratio2006 = 179.024 RR2004 = 4.775 X 100% = 7. sebesar 156. dan 2006. walaupun manfaat bagi hasil yang biasa dibagikan kepada nasabah mengalami penurunan. Akan tetapi. bank tidak mengalami beban dana (cost of loanable fund) yang tinggi.tahun 2004. Hal ini kemungkinan disebabkan bank kurang melakukan investasi atau memberikan pembiayaan/pinjaman kepada nasabah. sehingga semakin banyak dana yang menganggur. Reserve Requirement (RR) x 100% = 287.56%.07% dan Cash Ratio tahun 2006 sebesar 287. meskipun pendapatan bank menurun.564 Cash Ratio2005 = 201. sebab cost of loanable fund biasanya timbul sebagai beban bunga yang harus dibayarkan bank pada para nasabah penabung. 2005. dan 2006 seperti terlihat di tabel 5.03% x 100% = 187.85% 158 . 2005.267 376. 2005. dan 2006. Ini berari liquiditas bank mengalami kenaikan. 337. dapat dilihat besarnya total alat-alat liquid yang dimiliki bank pada tahun 2004.298 515. sebenarnya dapat merugikan bank sebab pendapatan bank sebagai akibat dari penggunan dana menjadi menurun. maka beban dana BMI juga kecil. dan 2006.581 Berdasarkan perhitungan diperoleh hasil Cash Ratio tahun 2004. sedangkan pada tabel 3.56% Pada tabel 4.294. akan tetapi Karena BMI tidak menanggung beban bunga tabungan nasabah. Besarnya dana yang menganggur ini. 2. Dapat dilihat Cash Ratio Bank Muamalat dari tahun 2004 hingga tahun 2006 mengalami kenaikan. 2005.024 Cash Ratio2004 = 215. Cash Ratio tahun 2005 sebesar 187.03%.07% x 100% = 156. dapat dilihat besarnya total dana pihak ketiga yang mampu dihimpun bank untuk tahun 2004.

982. Jumlah dana yang diterima bank tahun 2004 (dalam jutaan rupiah): Total dana pihak ketiga Modal Inti Total dana yang diterima bank 4.447 Rp4.62% Rp2.182.564 RR2005 = 2.294.21% X 100% = 16. dapat dikatakan bahwa kinerja bank cukup baik.755 Rp 309.85%.604.285.180 Rp2.448 RR2006 = 2.459 Rp 697. dan 2006.224 LDR2004 = 4.202 159 . 3. maka akan diperoleh besarnya LDR tahun 2004.48%.639 X 100% = 108.853 LDR2005 = 2. dan 2006 seperti terlihat pada tabel 3 ke dalam persamaan. kemudian membaginya dengan jumlah dana yang diterima bank yang terdiri dari: Total dana pihak ketiga (Tabel 3). dan Modal Inti Bank (Tabel 1).376.285.21% yang berarti mengalami kenaikan dari tahun ke tahun.83% Rp4. sebesar 7.859 Berdasarkan hasil perhitungan diperoleh rasio RR tahun 2004. dan 2006. 2005. Loan to Deposit Ratio (LDR) X 100% = 17.239. 16.639 X 100% = 90.604.994.982. 2005.202 Jumlah dana yang diterima bank tahun 2005 (Dalam Jutaan Rupiah): Total dana pihak ketiga Modal Inti Total dana yang diterima bank 3.48% Dengan memasukkan jumlah pembiayaan yang diberikan bank untuk tahun 2004.459 515. 2005. dan 17.

498 LDR2006 = 3. diperoleh LDR2004 sebesar 90.859 Rp 723.047 2. dan 2006. kemudian turun kembali di tahun 2006. dan cenderung kritits di tahun 2006.783 Berdasarkan hasil perhitungan.182. Namun apabila digunakan standar para praktisi perbankan yang menetapkan titik aman LDR tidak lebih dari 80% dengan batas toleransi antara 81%-100%.718.28% X 100% = 72.718.427.595 Dari perhitungan LAR diatas. dapat dihitung sebagai berikut: 4.994. Loan to Asset Ratio (LAR) Berdasarkan data pada tabel 3. maka LAR yang dimiliki Bank untuk tahun 2004.804 3. 2005.239.498 LAR2006 = 8. 4.83%.09% X 100% = 43. dapat dilihat bahwa LAR mengalami penurunan dari tahun 2004 ke tahun 2006. maka LDR bank masih berada dalam tahap yang aman/berkinerja baik. LDR2005 sebesar 108. maka LDR Bank Muamalat tampaknya masuk ke dalam tahap yang aman/berkinerja baik.209. Namun berdasarkan ketentuan Bank Indonesia yang menetapkan titik rawan LDR sama dengan 110% atau lebih. tentang jumlah pembiayaan yang diberikan dan tentang total Aktiva yang dimiliki Bank. Meningkatnya persentase LDR ini memberikan indikasi makin rendahnya kemampuan likuiditas Bank Muamalat.62%.853 LAR2005 = 7.Jumlah dana yang diterima bank tahun 2006 (dalam jutaan rupiah): Total dana pihak ketiga Modal Inti Total dana yang diterima bank 2.370. X 100% = 32.686. dan LDR2006 sebesar 72.686. penurunan LAR ini menandakan tingkat liquiditas bank semakin besar.924 Rp3. yang berarti LDR mengalami peningkatan persentase dari tahun 2004 ke tahun 2005.24% Rp2.783 160 .224 LAR2004 = 5.62% X 100% = 80.24%.

dan mengurangi terjadinya dana-dana menganggur dari total aktiva yang dimiliki bank.152 ROA2006 = 8. sebesar 0. Meskipun dalam gambaran umum kemampuan bank untuk menghasilkan laba dengan mengandalkan aktivanya masih terlalu kecil. 2005. sebagai berikut: 48. dan 2006.86% x 100% = 0.804 138. Bertdasarkan data taoatal aktiva pada tabel 3. x 100% = 1.93% x 100% = 1.86% di tahun 2005.355 ROA2004 = 5. terutama dalam hal meningkatkan perolehan laba.370.209. menjadi 1.427. dan data laba bersih pada tabel 3. akan tetapi kecenderungan naiknya ROA dari tahun ke tahun menandakan bahwa bank berusaha untuk memperbaiki kinerjanya. dapat dilihat bahwa ROA bank mengalami peningkatan dari tahun 2004. Perlu dicatat.126 ROA2005 = 7. Perhitungan ROA ini menggambarkan kemampuan Bank Muamalat untuk melakukan bagi hasil (mudharabah) terhadap deposan dengan mengandalkan laba yang diperolehnya. dan meningkat lagi di tahun 2006 hingga mencapai 1.93%. Bank Indonesia biasanya menggunakan perhitungan ROA dengan mengandalkan laba sebelum pajak (laba kotor).93%.93% 161 . bahwa untuk mengukur tingkat kesehatan bank.595 Dari hasil perhitungan di atas.047 161.Analisis Rasio Rentabilitas 1. Return On Asset (ROA) ROA digunakan untuk mengukur kemampuan bank untuk menghasilkan laba dengan menggunakan Asset yang tersedia. akan tetapi berdasarkan teori dan agar tidak terjadi peningkatan laba semu (mark up laba) pada perhitungan ROA ini digunakan laba setelah pajak (laba bersih). Dipeoleh perhitungan ROA tahun 2004.

Return on Equity (ROE) ROE merupakan indikator yang amat penting bagi para pemegang saham dan calon investor untuk mengukur kemampuan bank dalam memperoleh laba bersih dengan mengandalkan Equity (modal sendiri).152 ROE2006 = 786.477 Rp200. 3. dapat kita hitung besarnya beban operasional bank dan pendapatan operasional bank untuk tahun 2004. 2005.295 Pendapatan Operasional tahun 2004 (Dalam Jutaan Rupiah): 162 . yang berarti bahwa mampu memperbaiki kinerja keuangannya dalam hal perolehan laba dari tahun ke tahun. 2005.126 ROE2005 = 763. Beban operasional tahun 2004 (Dalam Jutaan Rupiah): Distribusi Margin Bagi Hasil dan bonus Beban Operasional lainnya Total Beban Operasional tahun 2004 Rp255.26% Rasio beban operasional digunakan untuk mengukur tingkat efisiensi dan kemampuan bank dalam melakukan kegiatan operasinya. Berdasarkan data pada lampiran 2 (laporan rugi laba).415 161.441 Berdasarkan hasil perhitungan ROE 2004. dapat dilihat bahwa bank mampu meningkatkan tingkat ROE nya setiap tahun. maka besarnya ROE dapat dihitung sebagai berikut: 48.355 ROE2004 = 339. Rasio Beban Operasional (BOPO) X 100% = 20. dan 2006. Hal ini mengindikasikan bahwa bank mampu meningkatkan tingkat laba bersihnya dengan mengandalkan Modal Sendiri (Ekuitas) yang dimiliki bank.815 Rp456.09% X 100% = 14.113 138.2. yang dikaitkan dengan pembagian deviden. dan 2006 di atas.49% X 100% = 18. Berdasarkan data pada tabel 3 tentang total laba bersih dan tentang ekuitas.

61%.900 BOPO2006 = 1.480 Berdasarkan hasil perhitungan rasio BOPO tahun 2004.171 Rp1.Pendapatan Margin Bagi Hasil Pendapatan Operasional lainnya Total Pendapatan Operasional tahun 2004 456.960 Rp502. 2005.24% Rp1.61% 864.480 . Hal ini mengindikasikan bahwa bank pada tahun 2005 melakukan inefisiensi dalam hal 163 X 100% = 80.148 Rp 58.295 BOPO2004 = 560.049.900 BOPO2005 = Rp785.960 x 100% = 81. dan 2006.047 Rp345. kemudian di tahun 2005 besarnya rasio menurun hingga mencapai 74.34% Beban operasional tahun 2005 (Dalam Jutaan Rupiah): Distribusi Margin Bagi Hasil dan bonus Beban Operasional lainnya Total Beban Operasional tahun 2005 Rp383.309 Rp 92.812 Rp560.806 Rp645.141.193 X 100% = 74.141.193 Pendapatan Operasional tahun 2005 (Dalam Jutaan Rupiah): Pendapatan Margin Bagi Hasil Pendapatan Operasional lainnya Total Pendapatan Operasional tahun 2005 645.642 Rp864.34%. dapat dilihat bahwa pada tahun 2004 besarnya rasio adalah 81.139 Rp 79.387 Rp261.853 Rp915.781 Beban operasional tahun 2006 (Dalam Jutaan Rupiah): Distribusi Margin Bagi Hasil dan bonus Beban Operasional lainnya Total Beban Operasional tahun 2006 Rp570.781 Pendapatan Operasional tahun 2006 (Dalam Jutaan Rupiah): Pendapatan Margin Bagi Hasil Pendapatan Operasional lainnya Total Pendapatan Operasional tahun 2006 915.

meskipun kenaikannya tidak sesignifikan penurunannya di tahun 2005. 4. dan data laba bersih yang diperoleh pada tabel 3. Karena dalam prakteknya pendapatan operasional banyak mengandung resiko. yang kemungkinan disebabkan menurunnnya pendapatan operasional lainnya pada bank. khususnya disebabkan kerugian investasi bank di valuta asing yang mengalami penurunan. Dalam hal ini dapat dihitung keoptimalan pendapatan operasional bank dalam membentuk laba bersih bank.152 NPM2006 = 1.12% X 100% = 15. dan pembentuk laba bersih terbesar kemungkinan disumbangkan dari pendapatan non operasional bank.480 Dari hasil perhitungan di ketahui.97% 48. Inefisiensi yang dimaksud adalah meningkat pesatnya beban operasional bank.62%.pengelolaan beban operasionalnya. yang berarti kinerja operasional 164 X 100% = 14.960 138.781 161. maka besarnya rasio NPM dapat dihitung. Pada tahun 2006. Berdasarkan hasil perhitungan pendapatan operasional pada perhitungan rasio di atas.24%. tidak diimbang secara proporsional terhadap peningkatan pendapatan operasional bank.126 NPM2005 = 864.141. bank mulai dapat mengoptimalkan pendapatan operasionalnya. NPM2004 = 560. tampaknya bank mampu memperbaiki kondisi rasio Beban Operasional.97%. Net Profit Margin (NPM) Ratio NPM adalah rasio yang menggambarkan tingkat keuntungan yang diperoleh bank dibandingkan dengan pendapatan yang diterima dari kegiatan operasionalnya. . Rasio NPM pada tahun 2005 telah mencapai 10%. sehingga rasio NPM meningkat menjadi 15. Tahun 2005. sehingga rasio BOPO mengalami peningkatan menjadi sebesar 80. Pendapatan operasional bank ini perlu dihitung keoptimalannnya.62% . NPM Bank tahun 2004 tercatat sebesar 8. seperti resiko kredit/pembiayaan macet (bermasalah). kerugian valas. hal ini berarti keoptimalan pendapatan operasional dalam membentuk laba bersih relative rendah. atau kegagalan investasi lainnya.355 X 100% = 8. bank tampak mulai memperbaiki kinerjanya. yang harus ditanggung oleh pendapatan operasional bank.

Capital Adequacy Ratio (CAR) CAR merupakan salah satu rasio yang dianggap cukup penting dalam penentuan Kinerja dan Kesehatan Bank. Analisis Rasio Solvabilitas 1. dan 2006.bank sudah mulai membaik.5 697.58% 309.180 CAR2005 = 1. sehingga sumbangsih pendapatan operasional dalam membentuk laba bersih masih lebih baik dari tahun-tahun sebelumnya. sedangkan tabel 2 memperlihatkan besarnya Aktiva Tertimbang Menurut Resiko (ATMR) Bank Muamalat Indonesia. CAR2004 = 2. Tabel 3 memperlihatkan besarnya modal ekuitas yang dimiliki oleh Bank Muamalat Indonesia. yang berarti bank masih mampu memperbaiki kinerja operasionalnya. Berdasarkan data-data pada kedua tabel di atas.360. CAR juga menjadi indicator untuk melihat tingkat efisiensi dana modal bank yang digunakan untuk investasi.122. CAR minimum yang harus dimiliki oleh sebuah bank adalah sebesar 8%. Menurut ketentuan Bank Indonesia.58% . CAR memperlihatkan kemampuan bank dalam memenuhi kecukupan modalnya. dapat dihitung sebagai berikut: .447 X 100% = 14.076.770. CAR merupakan indicator terhadap kemampuan bank untuk menutupi penurunan aktivanya sebagai akibat dari kerugian-kerugian bank yang disebabkan oleh aktiva beresiko.90% X 100% = 47. rasio NPM tercatat sebesar 14. Apabila persentase CAR terlalu kecil (lebih rendah dari standar BI) maka bank tersebut termasuk ke dalam kategori bank tidak sehat.649. dan masuk ke dalam jajaran Bank yang berkinerja baik dan sehat. 2005. namun tidak signifikan. walaupun mengalami penurunan dari tahun 2005. sehingga rasio kecukupan modal Bank Muamalat telah memenuhi kriteria. Akan tetapi besarnya CAR di tahun 2005 yang 165 X 100% = 40.924 CAR2006 = 1.12%. maka besarnya CAR untuk tahun 2004.4 Secara umum hasil perhitungan CAR di atas telah mampu memenuhi standar minimal yang ditetapkan BI sebesar 8%.1 723.465. Selanjutnya di tahun 2006. namun apabila persentase CAR terlalu besar berarti terlalu besar dana bank yang menganggur (idle fund).

bank berhasil menekan besarnya dana-dana menganggur. maka besarnya DER dapat dihitung sebagai berikut: . khususnya kinerja solvabilitas.26% X 100% = 340. bila mengandalkan Ekuitas bank sebagai alat pembayar hutang. Pada tahun 2006 ini.37% . tingginya rasio DER ini menandakan bahwa kemampuan bank untuk menutupi seluruh hutang-hutangnya dengan mengandalkan Ekuitas yang ia miliki sangat kecil.989 DER2006 = 786. Untuk itu.029 X 100% = 884.90%. Akan tetapi karena Bank Muamalat merupakan bank syariah yang tidak menggunakan instrumen bunga sebagai kompensasi dana nasabah.mencapai 47. karena bank konvensional harus menanggung biaya dana (cost of loanable fund) yang besar yang didominasi oleh biaya bunga kepada nasabah. dan data pada tabel 3 tentang modal ekuitas.999.598.071 DER2005 = 763.312. memperlihatkan dampak positif dari kinerja bank. DER2004 = 339. sehingga rasio cadangan modalnya menurun. kemudian naik di tahun 2006. Debt to Equity Ratio (DER) Berdasrkan data pada tabel 5 tentang total hutang yang dimiliki oleh Bank Muamalat Indonesia.113 2. agar selain dapat 166 X 100% = 421. Tahun 2006. maka besarnya dana menganggur yang dimiliki oleh Bank Muamalat tidak mempengaruhi kinerja keuangan bank.32% 2. maka hanya sebagian kecil saja hutang yang mampu di lunasi. tampaknya bank harus berusaha untuk memperbesar cadangan Ekuitasnnya secara bijak (melakukan manajemen permodalan secara cermat). 2. menandakan bahwa terlalu banyak dana yang menganggur besarnya dana mennganggur ini apabila dimiliki oleh bank-bank konvensional dapat mendatangkan permasalahan tersendiri.415 3. Dengan kata lain.58%. dapat kita ketahui bahwa Debt Equity Ratio (DER) mengalami penurunan dari tahun 2004 ke tahun 2005.441 Berdasarkan hasil perhitungan DER di atas. besarnya CAR mengalami penurunan menjadi sebesar 40. Turunnnya CAR yang masih dalam batas aman CAR minimum (8%). Besarnya dana menganggur yang dimiliki oleh Bank Muamalat sebenarnya berdampak pada perolahan laba bersih yang dihasilkan oleh bank.

Rasio Rentabilitas.93% 14. bahwa rasio liquiditas Bank Muamalat Indonesia cenderung liquid dan berkinerja baik.37% Berdasarkan hasil penilaian diatas. RR c.48% 108.58% 884. pada PT Bank Muamalat Indonesia. LAR 2. maka dapatlah ditarik kesimpulan.memperbesar kemampuannya dalam membayar hutang. Rasio Rentabilitas: a. Cash Ratio b. dan Solvabilitas pada PT Bank Muamalat Indonesia.90% 421. dimana diukur kemampuan bank dalam melakukan efisiensi dan menghasilkan laba. Penilaian rasio Solvabilitas yang mengukur 167 . kecuali untuk rasio BOPO. dan Rasio Solvabilitas.24% 14.34% 8. dimana besarnya rasio cenderung tidak mengalami perubahan yang signifikan dan mendekati 100%. Rentabilitas. NPM 3.12% 40. Ringkasan Hasil Perhitungan Analisis Rasio Liquiditas.03% 17.83% 80.02% 43. DER 2004 Hasil Perhitungan 2005 2006 187. LDR d.49% 80.58% 340.85% 90.62% 1. maupun analisa historisnya.09% 74. Rasio Solvabilitas: a.97% 47.56% 7.21% 72. ROE c. profitabilitas bank yang merupakan konsekuensi penggunaan ekuitas bank tidak akan terganggu secara signifikan. ROA b. berikut penilaiannya dengan menggunakan standar Bank Indonesia. meskipun jika dilihat secara histories untuk rasio Loan to Deposit Ratio pada tahun 2006 menurun dan dibawah standar yang telah di tetapkan Bank Indonesia.62% 14. Analisis Liquiditas: a.28% 0. maka secara histories dapat dilihat bahwa rasio Rentabilitas bank cenderung naik dari tahun ke tahun. tahun 2004 sampai dengan 2006: Tabel 6. terlihat bahwa kinerja keuangan Bank Muamalat Indonesia untuk rasio Liquiditas cenderung baik.93% 20. yang berarti kemampuan bank dalam menghasilkan laba cenderung naik.32% 287. CAR b.24% 32.26% 81. maka hasil penilaian untuk Rasio BOPO adalah cenderung efisien.09% 1. BOPO d.26% Metode Penilaian Historis Standar BI : 5% BI : max 110% Historis Historis Historis Historis Historis Standar BI : 8% Historis Hasil Penilaian Liquiditas meningkat Baik Baik Liquiditas meningkat Membaik Membaik Cenderung efisien Membaik Baik Cenderung Unsolven 156. Pengujian Hipotesis Berikut ini disajikan tabel ringkasan hasil perhitungan analisa rasio Liquiditas.61% 15.86% 18. Tbk Tahun 2004-2006 Alat Analisis 1. Untuk analisis rasio Rentabilitas Bank.07% 16.

Karena alatalat liquid bank kembali naik. Loan to Deposit Ratio (LDR). Loan to Asset Ratio (LAR) memperlihatkan kecenderungan angka rasio yang meningkat. maka terlihat bahwa keadaan Bank Muamalat cenderung memburuk atau tidak Solven (Unsolven).kecukupan modal dan kemampuan bank dalam melunasi hutang-hutangnya. maka LDR Bank Muamalat tampaknya masuk kedalam tahap aman dan cenderung kritis di tahun 2006. Dari hasil analisa di atas yang memperlihatkan sebagian besar kinerja Bank Muamalat Indonesia berkwalitas baik. PENUTUP Kesimpulan Dengan melihat kembali tujuan penelitian ini di awal tulisan. Maka dapat disimpulkan bahwa kinerja Keuangan Bank Muamalat Indonesia untuk rasio Liquiditas cenderung baik. maka LDR bank berada dalam tahap yang aman/berkinerja baik. Maka dilihat dari standar yang digunakan para praktisi perbankan yang menetapkan titik aman LDR tidak lebih dari 80% dengan batas toleransi antara 80%-100%. maka hipotesis yang menyatakan bahwa “Bank Muamalat Indonesia mempunyai kinerja atau performance yang belum baik bila ditinjau dari rasio Liquiditas. Rentabilitas. Namun kemudian turun lagi pada tahun 2006. sehingga jumlah alat-alat liquid bank mengalami peningkatan. Berdasarkan ketentuan Bank Indonesia yang menetapkan titik rawan LDR sama dengan 110% atau lebih. 168 . dapat dilihat bahwa untuk CAR Bank Muamalat telah memenuhi standar Bank Indonesia yang mensyaratkan minimal 8% bagi CAR suatu bank. penulis memberikan kesimpulan hasil penelitian ini sebagai berikut. mengalami peningkatan persentase dari tahun 2004 ke tahun 2005. dan Solvabilitas” ditolak. Akan tetapi jika dilihat kemampuan bank dalam melunasi hutang-hutangnya dengan mengandalkan ekuitasnya yang tergambar dalam perhitungan DER. Analisa rasio Liquiditas Bank Muamalat Indonesia yang terdiri dari Cash Ratio. oleh karena itu CAR Bank Muamalat telah cukup baik. 1. Hasil perhitungan rasio Solvabilitas BMI menunjukkan hasil yang beragam. Reserve Requirement (RR). Pada perhitungan rasio kecukupan modal atau Capital Adequacy Ratio (CAR) kinerja Solvabilitas BMI menunjukkan kinerja yang baik. Hal ini didasarkan pada nilai kas dan giro pada Bank Indonesia yang dimiliki BMI meningkat secara drastic dari tahun 2004 ke tahun 2005. sehingga kinerjanya buruk. memperlihatkan kecenderungan angka rasio yang terus meningkat dari tahun ke tahun. Hal ini ditunjukkan dengan hasil CAR bank yang selalu memenuhi ketentuan 2.

yang merupakan bagian dari rasio Solvabilitas menunjukkan bahwa bank sebaiknya memperbaiki kinerja Solvabilitasnya.minimum yang telah ditetapkan oleh Bank Indonesia sebesar 8%. namun dapatlah ditarik kesimpulan bahwa secara umum bahwa kinerja keuangan Bank Muamalat Indonesia tahun 2004 sampai 2006 cenderung baik. Besarnya Debt Equity Ratio (DER) Bank Muamalat. yang memperlihatkan kemampuan bank untuk melunasi semua hutangnya dengan mengandalkan modal milik sendiri (Ekuitas) bank. Melihat hasil perhitungan rasio-rasio di atas. Untuk memperbesar DER bank dapat dilakukan dengan jalan meningkatkan Ekuitas Bank yang berarti menambah jumlah saham yang beredar atau memperbesar jumlah laba ditahan yang bisa menambah ekuitas bank. Langkah lain yang bisa dilakukan oleh bank adalah 169 . Hasil perhitungan rasio Rentabilitas Bank Muamalat Indonesia (BMI) memperlihatkan kecenderungan yang cukup baik. yang terdiri atas rasio Liquiditas. namun pendapatan operasional bank masih di atas beban operasional yang ada. maka dapatlah kita lihat bahwa kemampuan bank ini buruk. meskipun ada beberapa hasil perhitungan rasio yang memperlihatkan kinerja bank yang buruk (contohnya rasio DER). Akan tetapi. dan Rentabilitas. maka kinerja keuangan bank sudah cukup baik. artinya bank mampu meningkatkan laba dari tahun ke tahun. Hal ini berarti bank cukup baik dalam mengelola operasionalnya sehingga mampu mengoptimalkan pendapatan operasional dalam pembentukan laba bersih. baik dengan mengandalkan aktiva atau modalnya sebagai pembentuk laba (diperlihatkan pada nilai Ratio On Asset dan Rasio On Equity). 4. Saran 1. Solvabilitas. meskipun tidak terlalu besar penghematan (efisiensi) yang mampu dilakukan oleh bank. Rasio-rasio DER yang begitu besar memperlihatkan ketidakmampuan bank untuk melunasi semua hutangnya dengan mengandalkan Ekuitas Bank. juga mengalami peningkatan dari tahun ke tahun. sehingga dapat di tarik kesimpulan bahwa rasio BOPO (Beban Operasional Pendapatan Operasional) bank cenderung baik. Besarnya angka DER ini menunjukkan kelemahan bank apabila Bank Muamalat dituntut untuk segera melunasi hutanghutangnya. Dalam hal melakukan efisiensi pendapatan operasional dibandingkan dengan beban operasional (diperlihatkan pada rasio Beban Operasional Pendapatan Operasional). Selain itu margin keuntungan bersih bank yang dipelihatkan oleh rasio marjin keuntungan bersih (Net profit Margin). 3. Secara keseluruhan dapat dilihat dalam hal pengukuran rasio rentabilitas bank. jika kita melihat Debt to Equity Ratio (DER) bank.

Jakarta Dendawijaya. Ghalia Indonesia. 1998. S. Yogyakarta. Modul: Workshop on Islamic Banking. Yogyakarta. 2006.memperkecil jumlah pinjaman bank dan melakukan efisiensi dana bank dengan melakukan perhitungan ulang terhadap investasi-investasi yang kurang menguntungkan. Adiwarman. UII Press. Gema Insani Press. Lukman. Munawir. Muhammad Syafi’i. Jakarta. Dasar-dasar Manajemen Bank Syariah. Sistem dan Prosedur Operasional Bank Syariah. Jakarta. sehingga laba yang diperoleh bisa dgunakan untuk menambah Ekuitas Bank. Liberty. Universitas Lampung. 2006. Zainul. 2003. Bank Syariah Dari Teori ke Praktik. Analisa Laporan Keuangan. 1990. Universital Lampung. Jakarta. Bandar Lampung. Alvabet. Pedoman Penulisan Karya Ilmiah. Manajemen Perbankan. DAFTAR PUSTAKA Antonio. Karim. 2002. Karim Business Consulting. Muhammad. Arifin. 2006. 170 .

service quality and performance. Keyword: Public satisfaction. In line with the study problem. Novita Tresiana2 ABSTRACT The research is based on the research question.84 that categories C. R2B dan R1 tentang Mutu Pelayanan Unit Pelayanan Masyarakat dan Unit Tehnik PDAM Way Rilau Kota Bandar Lampung). Dalam kondisi perubahan seperti itu. The Survey research method was used on unit of relationship and technical unit as research setting. b) the order of public satisfaction to PDAM Way Rilau relationship unit is 2.10 that indicates C category. especially BUMD’s services is less quality and in business perspective PDAM Way Rilau is low contribution to PAD Kota Bandar Lampung.KUALITAS PELAYANAN INSTITUSI PUBLIK: TINGKAT KEPUASAN MASYARAKAT (Analisis Tanggapan Kelompok Pelanggan R2A. R2B and R1 in which PDAM takes the services. FISIP Unila . how satisfied order of PDAM’s consument in group R2A. This question is worth forwarding considering in some public institutions. this study aimed at knowing the order of public satisfaction as performance of PDAM Way Rilau. It means that public response is not satisfied and PDAM’s services is worse. makin bertambah akselerasinya didukung perkembangan teknologi. PENDAHULUAN Perubahan yang terjadi dewasa ini dirasakan semakin cepat. sistem informasi dan komunikasi yang makin menyebabkan proses globalisasi bergerak semakin cepat. It is concluded that: a) the order of public satisfaction to PDAM Way Rilau technical unit is 1. especially performance services of PDAM Way Rilau relationship and technical unit. It means that public response is worse. the order of public satisfied is 1.58 that indicates D category. institusi publik bila ingin tetap 2 Dosen Jurusan Ilmu Administrasi Negara. c) totally.

b) Semakin tajamnya kritik masyarakat atas semakin rendahnya kualitas pelayanan publik. (Islamy. 2000). Sebagai suatu lembaga usaha-meski tidak dapat dilepaskan dari label milik pemerintah daerah yang berkonotasi memberikan pelayanan kepada masyarakat (public service provider). Mereka menjadi arogan. menuntut agar pemerintah memperhatikan dengan sungguh-sungguh aspirasi mereka sejauh bisa memenuhinya. Alhasil. Monopoli (secara tersembunyi atau terang-terangan) atas penyediaan pelayanan publik ternyata juga menyebabkan perilaku para birokrat mulai dari pimpinan puncak hingga pegawai rendahan berlagak seperti ‘administrator kolonial’. beberapa hasil riset yang telah dilakukan oleh beberapa pakar (dalam Islamy. kiranya juga membelenggu organisasi publik.‘survive’ harus mampu merespon perubahan-perubahan melalui peningkatan kinerja dan kualitas layanannya (Brynson. khususnya garis depan dalam memberikan pelayanan publik di Indonesia menunjukkan adanya patologi dan stigma birokrasi pelayanan publik. Ditinjau dari segi pelayanan. maka yang harus juga dikejar adalah mencari keuntungan (profit). maka kualitas pelayanan yang diberikan 172 . Kondisi di atas. dibutuhkan aparat pelayanan yang mampu ‘to do more with less’. khususnya Badan Usaha Milik Daerah (BUMD) sebagai akibat dari manajemen yang dikembangkan mengarah pada sistem monopolistik dan birokratis-sentralistik ketimbang berorientasi manajemen profesional wirausaha yang lebih bersifat profit oriented. akhirnya mengakibatkan tidak tercapainya tujuan pokok dari PDAM sebagai salah satu bagian dari BUMD. c) Semua aparat pemerintahan dituntut untuk memiliki ‘sense of crisis’. tidak responsif dan tidak akuntabel kepada publik’.. e) Masyarakat sebagai pihak yang harus dipenuhi dan dilindungi kepentingannya (public interest). Senada dengan hal diatas. PDAM Way Rilau Kota Bandarlampung sebagai salah satu BUMD yang memberikan pelayanan publik kiranya juga tidak terlepas dari kondisi-kondisi diatas. sehingga disamping dapat digunakan untuk mengembangkan organisasinya juga dapat memberikan sumbangan yang berarti bagi pendapatan negara. d. 1995). Ada lima hal yang menjadi tuntutan masyarakat terhadap institusi publik dalam pelayanan yang diberikannya. yaitu: a) Derasnya tuntutan agar pemerintah mampu menumbuhkan adanya ‘good governance’.) Aparat pemerintah dituntut agar bekerja lebih profesional. Sebagai perusahaan yang memegang monopoli dalam penyediaan air. bertanggungjawab dan profesional. berupa pemerintahan yang bersih.memiliki ‘public accuntability and responsibility’.menurut Wahab (1999) ‘menyebabkan munculnya pelayanan publik (konsumennya) amat tidak kompetitif dan tidak sensitif pada persoalan perbaikan kualitas secara menyeluruh.2001) tentang peran institusi publik.

juga optimalisasi pelayanan pada masyarakat dapat terwujud. mulai dari Keputusan MENPAN No. Khusus untuk angket. R2A dan R1 tentang Mutu Pelayanan Unit Pelayanan Masyarakat dan Unit Tehnik PDAM Way Rilau Kota Bandar Lampung. R2A dan R1 tentang Mutu Pelayanan Unit Pelayanan Masyarakat dan Unit Tehnik PDAM Way Rilau Kota Bandar Lampung?.25/2004) sebagai kompas kepuasan masyarakat/pelanggan dan kinerja PDAM Way Rilau Kota Bandarlampung. responden terpilih ditetapkan minimal 150 orang pelanggan dari jumlah populasi penerima layanan masing-masing kategori konsumen dengan dasar: (‘jumlah unsur pelayanan’+1) x 10 = Jumlah Responden (14+1) x 10 = 150 Responden Sedangkan tehnik pengumpulan data untuk penelitian ini melalui kuesioner (pengisian angket). Proses pengumpulan data/ informasi dilakukan terhadap sejumlah masyarakat kelompok pelanggan R2A. khususnya kelompok pelanggan R2.81/1993. Sedangkan dari perspektif usaha. Penelitian ini merumuskan permasalahan berupa: Berapa besar tingkat kepuasan masyarakat. wawancara dan observasi. R2A dan R1 terhadap 14 unsur-unsur pelayanan (Kepmenpan No. METODE PENELITIAN Penelitian ini menggunakan Jenis Penelitian Survei. maka akan didapat besarnya kinerja PDAM Way Rilau. PDAM Way Rilau belum mampu memberikan kontribusi yang profit yang cukup signifikan bagi peningkatan pendapatan asli daerah (PAD). R2B dan R1 terhadap 14 unsur-unsur pelayanan (Kepmenpan No.63/2003. khususnya tanggapan kelompok pelanggan R2.oleh PDAM kepada pelanggannya menjadi sangat rendah.26/2004. Untuk mengantisipasi hal di atas. bentuk 173 .25/2004 Tentang Penyusunan Indeks Kepuasan Masyarakat Unit Pelayanan Instansi Pemerintah dan terakhir Keputusan MENPAN No. Kajian dalam riset difokuskan pada tanggapan masyarakat terhadap mutu pelayanan PDAM Way Rilau (utamanya Unit Pelayanan Masyarakat dan Unit Tehnik). Keputusan MENPAN No. Harapannya tentu saja selain dapat mendongkar PAD. dengan mengetahui besar . Keputusan MENPAN No. Untuk memenuhi akurasi hasil penyusunan indeks. khususnya kelompok pelanggan R2. ada beberapa kebijakan yang dikeluarkan.25/2004). Sedangkan tujuan penelitian adalah untuk mengetahui Besarnya Tingkat kepuasan masyarakat. Responden dipilih secara acak (secara sampel).

071 Untuk memperoleh nilai indeks kepuasan masyarakat (IKM) unit pelayanan digunakan pendekatan nilai rata-rata tertimbang dengan rumus sebagai berikut: IKM = Total dari Nilai Persepsi Per Unsur Total Unsur Terisi X Nilai Penimbang Data isian kuesioner dari setiap responden akan dimasukkan dalam formulir mulai dari unsur 1 sampai dengan unsur 14 yang selanjutnya dicari nilai ratarata per unsur pelayanan melalui jumlah nilai rata-rata per unsur pelayanan dikalikan dengan 0. Nilai IKM dihitung dengan menggunakan ‘nilai rata-rata tertimbang’ masingmasing unsur pelayanan. setiap unsur pelayanan memiliki penimbang yang sama dengan rumus sebagai berikut : Bobot nilai rata-rata = Jumlah bobot = 1 Tertimbang Jumlah unsur 14 = 0. sangat baik diberi nilai persepsi 4. pendidikan terakhir dan pekerjaan utama. Data yang dikumpulkan diolah/dianalisis dengan menggunakan Analisis Indeks/Tingkat Kepuasan Masyarakat (IKM). wawancara. baik diberi nilai persepsi 3. Dengan demikian. dilakukan pengujian kualitas data melalui penyusunan dengan mengkompilasikan data responden yang dihimpun berdasarkan kelompok umur.jawaban pertanyaan responden atas masing-masing unsur pelayanan diklasifikasi sesuai jenjang kualitas pelayanan. Lokasi pengumpulan data (Kuesioner. observasi) dilakukan di lokasi masing-masing unit pelayanan pada saat jam sibuk dan dilingkungan perumahan kelompok pelanggan pada saat responden ada di rumah. Ini 174 . data yang dikumpulkan sifatnya bukan hanya kuantifikasi atau pasti tapi juga dalam bentuk naratif deskriptif. Dalam penghitungan indeks kepuasan masyarakat (IKM) terhadap 14 unsur pelayanan yang dikaji. jenis kelamin. jawaban tertulis dan bukti empiris lainnya dari berbagai narasumber terhadap 14 unsur pelayanan. Untuk kategori tidak baik diberi nilai persepsi 1. Selanjutnya. yaitu dari yang sangat baik sampai dengan tidak baik. pendapat.071 sebagai nilai bobot rata-rata tertimbang dan nilai indeks unit pelayanan dengan cara menjumlahkan 14 unsur dari nilai rata-rata tertimbang. informasi (data) yang dikumpulkan adalah berupa pandangan. Kemudian data pendapat masyarakat yang telah dimasukkan kedalam masingmasing kuesioner. kurang baik diberi nilai persepsi 2.

50 2. utamanya kelompok pelanggan R2A. Dari Hasil nilai indeks unit pelayanan disimpulkan sebagai berikut : a) Nilai IKM setelah dikonversi = Nilai Indeks X Nilai Dasar.C. jumlah nilai dari setiap unit pelayanan diperoleh dari jumlah nilai rata-rata setiap unsur pelayanan. merupakan jumlah nilai rata-rata dari setiap unsur pelayanan dikalikan dengan penimbang yang sama.071. Nilai persepsi. b) Hasil nilai IKM setelah konversi disesuaikan dengan angka mutu pelayanan (A. Sehubungan dengan hal ini. R2B dan R1. Nilai indeks komposit (gabungan) untuk setiap unit pelayanan. yang menjadi subyek dalam penelitian ini adalah masyarakat sebagai pelanggan PDAM Way Rilau Kota Bandar Lampung.00-1. Proses penafsiran atau interpretasi terhadap penilaian IKM yaitu antara 25-100.25 3.00 MUTU PELAYANAN D C B A KINERJA UNIT PELAYANAN Tidak baik Kurang baik Baik Sangat baik NILAI PERSEPSI 1 2 3 4 Penyimpulan dilakukan berdasarkan hasil penghitungan indeks kepuasan masyarakat.26-4. yang mendapat pelayanan oleh Unit Pelayanan Masyarakat dan Unit Teknik PDAM Way Rilau. Interval IKM.25 81. IKM UNIT PELAYANAN X 25 Sehingga interpretasi atau penafsirannya akan nampak dalam tabel sebagai berikut : Tabel 1.75 43.D).B.51-81.76-2. dengan rumus sebagai berikut : I. maka hasil penilaian tersebut di atas dikonversikan dengan nilai dasar 25. Interval Konversi IKM.tentunya berguna untuk mengetahui profil responden dan kecenderungan jawaban yang diberikan.00 NILAI INTERVAL KONVERSI IKM 25-43. Mutu Pelayanan dan Kinerja Unit Pelayanan NILAI INTERVAL IKM 1. sebagai bahan analisis objektivitas. maka analisis kepuasan pelanggan dan kinerja 175 .75 1. baik. kurang baik dan tidak baik) HASIL DAN PEMBAHASAN Sebagaimana telah ditetapkan. dan c) Kinerja Unit Pelayanan (Sangat baik.51-3.76-62.26-100. yaitu 0.50 62.

Tingkat Kepuasan Masyarakat Kelompok R1 (RSS) Terhadap Unit Pelayanan PDAM Way Rilau Kota Bandar Lampung Klasifikasi Pelayanan Berdasarkan Unsur Pelayanan Prosedur Pelayanan Persyaratan pelayanan Kejelasan petugas Pelayanan Kedisiplinan Petugas pelayanan Tanggungjawab Petugas Pelayanan Kemampuan Petugas Pelayanan Kecepatan Pelayanan Keadilan Mendapatkan Pelayanan Kesopanan dan Keramahan Petugas Pelayanan Kewajaran Biaya Pelayanan Kepastian Biaya Pelayanan Kepastian Jadual Pelayanan Kenyamanan Lingkungan Keamanan Pelayanan Total Jawaban Pelanggan *Sumber: Klasifikasi Jawaban Pelanggan Unit Pelayanan Jumlah Pelanggan Nilai rataKelompok R1 rata Masyarakat PDAM Way Rilau Pada Saat Observasi perunsur Kota Bandar Lampung 1 2 3 4 125 60 15 200 1.90 2.11 Nilai rata-rata tertimbang per unsur pelayanan 0.13 0.94 2.51 2.20 2.07 2.33 2.14 0.16 0.14 0.13 0.10 Hasil Pengolahan Data Bulan September-Oktober Tahun 2004 176 .16 0.15 0.15 1.45 73 58 37 79 20 125 55 69 83 61 64 101 28 978 81 50 60 49 57 55 83 79 84 41 61 44 33 837 32 61 68 52 95 10 25 37 18 82 57 30 98 680 14 31 35 20 28 10 37 15 15 16 18 25 41 305 200 200 200 200 200 200 200 200 200 200 200 200 200 2.10 0.800 1.15 0.19 0.11 0.83 2.27 2.66 1.PDAM Way Rilau akan dipilah kedalam kategorisasi kelompok pelanggan dan unit PDAM Way Rilau yang dijadikan subyek kajian riset ini.53 2. TINGKAT KEPUASAN MASYARAKAT DAN KINERJA UNIT PELAYANAN MASYARAKAT PDAM WAY RILAU KOTA BANDAR LAMPUNG Kepuasan pelanggan memiliki hubungan yang equivalen dengan kinerja yang ditunjukkan oleh suatu lembaga. Tabel 2.76 2.99 1. karena pada dasarnya kepuasan pelanggan muncul sebagai selisih (perbedaan) antara harapan (kepentingan) pelanggan dengan kinerja PDAM Way Rilau sebagai sesuatu yang dirasakan oleh pelanggannya.17 0.22 1.18 0.

17 0.Dari perhitungan Tabel 2 diatas apabila dikonversikan dengan Tabel IKM. (b) Nilai IKM setelah dikonversi = nilai indeks dikalikan nilai dasar 2.84 2.10 x 25 = 52.21 1.14 37 96 82 77 21 121 47 115 91 55 66 103 45 1.5.64 1. maka didapat suatu kesimpulan tentang tingkat kepuasan masyarakat kelompok R1 (RSS) terhadap Unit Pelayanan PDAM Way Rilau Kota Bandar Lampung sebagai berikut: (a) Nilai dasar IKM yang merupakan responsi masyarakat (pelanggan) adalah sebesar 2.03 Hasil Pengolahan Data Bulan September-Oktober Tahun 2004 Dari perhitungan Tabel 3 diatas apabila dikonversikan dengan Tabel IKM.97 1.29 2.11 0.800 2.16 0.18 2.36 1.14 0.03.54 2.13 0.14 0.74 2. (d) Kinerja Pelayanan Unit pelayanan masyarakat PDAM Way Rilau mengindikasikan kurang baik Tabel 3.15 0..85 1.12 0.12 0.10. (c) Mutu pelayanan unit pelayanan masyarakat PDAM Way Rilau terkategori ‘C’.95 2.19 0.50 2. maka didapat suatu kesimpulan tentang indeks kepuasan pelanggan kelompok R2A (RS) terhadap Unit Pelayanan PDAM Way Rilau Kota Bandar Lampung sebagai berikut: (a) Nilai dasar IKM yang merupakan responsi masyarakat (pelanggan) adalah sebesar 2. (b) Nilai IKM setelah dikonversi = nilai indeks dikalikan 177 .13 0.01 0.045 70 61 60 69 56 63 97 48 84 47 67 47 49 876 77 20 40 41 98 12 24 24 11 83 56 30 60 591 16 23 18 13 25 4 32 13 14 15 11 20 46 288 200 200 200 200 200 200 200 200 200 200 200 200 200 2.04 0.06 1.tertimbang Pelayanan Masyarakat PDAM Way Rilau Pelanggan rata per Kota Bandar Lampung Kelompok R2A perunsur Pada Saat unsur 1 2 3 4 Observasi pelayanan 89 58 15 38 200 2.68 1.16 0. Tingkat Kepuasan Masyarakat Kelompok R2A (RS) Terhadap Unit Pelayanan PDAM Way Rilau Kota Bandar Lampung Klasifikasi Pelayanan Berdasarkan Unsur Pelayanan Prosedur Pelayanan Persyaratan pelayanan Kejelasan petugas Pelayanan Kedisiplinan Petugas pelayanan Tanggungjawab Petugas Pelayanan Kemampuan Petugas Pelayanan Kecepatan Pelayanan Keadilan Mendapatkan Pelayanan Kesopanan dan Keramahan Petugas Pelayanan Kewajaran Biaya Pelayanan Kepastian Biaya Pelayanan Kepastian Jadual Pelayanan Kenyamanan Lingkungan Keamanan Pelayanan Total Jawaban Pelanggan *Sumber: Klasifikasi Jawaban Pelanggan Unit Nilai rata-rata Jumlah Nilai rata.

(d) Kinerja Pelayanan Unit pelayanan masyarakat PDAM Way Rilau mengindikasikan kurang baik Tabel 4. (d) Kinerja Pelayanan Unit pelayanan masyarakat PDAM Way Rilau mengindikasikan kurang baik 178 .16 0.69 1.14 0.90 2. Menengah) terhadap Unit Pelayanan PDAM Way Rilau Kota Bandar Lampung sebagai berikut: (a) Nilai dasar IKM yang merupakan responsi masyarakat (pelanggan) adalah sebesar 2.82 2.14 200 200 200 200 200 200 200 200 200 200 200 200 200 2.19 0.14 0.13 0.76 2.96 2. maka didapat suatu kesimpulan tentang indeks kepuasan pelanggan kelompok R2B (RT.03 1.02 1.16 0.17 0.75. Menengah) Terhadap Unit Pelayanan PDAM Way Rilau Kota Bandar Lampung Klasifikasi Jawaban Pelanggan Unit Pelayanan Masyarakat PDAM Way Rilau Kota Bandar Lampung 1 2 3 4 78 60 59 3 71 59 48 69 19 102 45 66 80 59 76 97 29 898 90 55 55 49 55 54 91 79 81 44 59 43 35 850 27 59 60 57 96 23 29 39 23 78 50 31 91 722 12 27 37 25 30 21 35 16 16 19 15 29 45 330 Jumlah Nilai rata-rata Pelanggan Nilai rata-rata tertimbang per Kelompok R2B perunsur unsur Pada Saat pelayanan Observasi 200 1.27 2.43 2.14 0.13 0. Tingkat Kepuasan Masyarakat Kelompok R2B (RT.16 0.13 0.16 x 25 = 54.nilai dasar 2.19 2.16.16 Klasifikasi Pelayanan Berdasarkan Unsur Pelayanan Prosedur Pelayanan Persyaratan pelayanan Kejelasan petugas Pelayanan Kedisiplinan Petugas pelayanan Tanggungjawab Petugas Pelayanan Kemampuan Petugas Pelayanan Kecepatan Pelayanan Keadilan Mendapatkan Pelayanan Kesopanan dan Keramahan Petugas Pelayanan Kewajaran Biaya Pelayanan Kepastian Biaya Pelayanan Kepastian Jadual Pelayanan Kenyamanan Lingkungan Keamanan Pelayanan Total Jawaban Pelanggan *Sumber: Hasil Pengolahan Data Bulan September-Oktober Tahun 2004 Dari perhitungan Tabel 4 diatas apabila dikonversikan dengan Tabel IKM.20 2.16 0.03 x 25 = 50.27 2.17 0.29 2. (c) Mutu pelayanan unit pelayanan masyarakat PDAM Way rilau terkategori ‘C’.94 0.88 2. (b) Nilai IKM setelah dikonversi = nilai indeks dikalikan nilai dasar 2.800 1. (c) Mutu pelayanan unit pelayanan masyarakat PDAM Way rilau terkategori ‘C’.

400 2.15 0.10 Hasil Pengolahan Data Bulan September-Oktober Tahun 2004 Dari perhitungan Tabel 5 diatas apabila dikonversikan dengan Tabel IKM.15 0.08 1.921 241 166 175 167 168 172 271 206 249 132 187 134 117 2.16 0.66 1.13 600 600 600 600 600 600 600 600 600 600 600 600 600 8.81 2.563 136 140 168 150 289 45 78 100 52 243 163 91 249 1.15 0.13 0. maka didapat suatu kesimpulan tentang keseluruhan tingkat kepuasan masyarakat/pelanggan terhadap Unit Pelayanan PDAM Way Rilau Kota Bandar Lampung sebagai berikut: (a) Nilai dasar IKM yang merupakan responsi masyarakat (pelanggan) adalah sebesar 2.10 x 25 = 52.90 2.30 2.28 2.11 0.69 2.07 2.19 2.61 2.07 2.11 0.15 0.16 0.10.5.19 0.993 42 81 90 58 83 35 104 44 45 50 44 74 132 923 Unit Klasifikasi Pelayanan Berdasarkan Unsur Pelayanan Prosedur Pelayanan Persyaratan pelayanan Kejelasan petugas Pelayanan Kedisiplinan Petugas pelayanan Tanggungjawab Petugas Pelayanan Kemampuan Petugas Pelayanan Kecepatan Pelayanan Keadilan Mendapatkan Pelayanan Kesopanan dan Keramahan Petugas Pelayanan Kewajaran Biaya Pelayanan Kepastian Biaya Pelayanan Kepastian Jadual Pelayanan Kenyamanan Lingkungan Keamanan Pelayanan Total Jawaban Pelanggan *Sumber: Nilai rata-rata Jumlah Nilai ratatertimbang per Pelanggan rata Pada Saat unsur perunsur Observasi pelayanan 600 1.Tabel 5. (d) Kinerja Pelayanan Unit pelayanan masyarakat PDAM Way Rilau mengindikasikan kurang baik 179 . (b) Nilai IKM setelah dikonversi = nilai indeks dikalikan nilai dasar 2.16 0.13 0. (c) Mutu pelayanan unit pelayanan masyarakat PDAM Way rilau terkategori ‘C’. Keseluruhan Tingkat Kepuasan Masyarakat Terhadap Pelayanan PDAM Way Rilau Kota Bandar Lampung Klasifikasi Jawaban Pelanggan Unit Pelayanan Masyarakat PDAM Way Rilau Kota Bandar Lampung 1 2 3 4 292 178 89 41 181 213 167 225 60 348 147 250 254 175 206 301 102 2.23 1.13 0.15 2.90 1.80 0.

12 1.89 1.21 0. 180 .TINGKAT KEPUASAN MASYARAKAT DAN KINERJA UNIT TEHNIK PDAM WAY RILAU KOTA BANDAR LAMPUNG Tabel 6.10 0.16 1.18 0.59 0.03 1.10 0.58.08 0.12 2. (d) Kinerja Pelayanan Unit Teknik PDAM Way Rilau mengindikasikan tidak baik.52 1.706 75 100 88 86 22 72 20 17 1 25 17 9 5 607 409 78 3 81 4 2 115 3 1 3 171 7 3 11 3 5 5 14 1 1 42 4 2 200 200 200 200 200 200 200 200 200 200 200 200 200 2. maka didapat suatu kesimpulan tentang global indeks kepuasan pelanggan kelompok R1 (RSS) terhadap Unit Teknik PDAM Way Rilau Kota Bandar Lampung sebagai berikut: (a) Nilai dasar IKM yang merupakan responsi masyarakat (pelanggan) adalah sebesar 1. (b) Nilai IKM setelah dikonversi = nilai indeks dikalikan nilai dasar 1.58 x 25 = 39.48 2.14 1.27 1.08 0.11 0.07 1.47 2.50 1.5.76 1.09 0.42 1.20 0.45 1. (c) Mutu pelayanan unit teknik PDAM Way rilau terkategori ‘D’.10 0.08 0.58 Klasifikasi Pelayanan Berdasarkan Unsur Pelayanan Prosedur Pelayanan Persyaratan pelayanan Kejelasan petugas Pelayanan Kedisiplinan Petugas pelayanan Tanggungjawab Petugas Pelayanan Kemampuan Petugas Pelayanan Kecepatan Pelayanan Keadilan Mendapatkan Pelayanan Kesopanan dan Keramahan Petugas Pelayanan Kewajaran Biaya Pelayanan Kepastian Biaya Pelayanan Kepastian Jadual Pelayanan Kenyamanan Lingkungan Keamanan Pelayanan Total Jawaban Pelanggan *Sumber: Hasil Pengolahan Data Bulan September-Oktober Tahun 2004 Dari perhitungan Tabel 6 diatas apabila dikonversikan dengan Tabel IKM.08 0.11 0. Tingkat Kepuasan Masyarakat Kelompok R1 (RSS) Terhadap Unit Teknik PDAM Way Rilau Kota Bandar Lampung Klasifikasi Jawaban Jumlah Pelanggan Unit Teknik PDAM Pelanggan Way Rilau Kota Bandar Kelompok Lampung R1 Pada Saat 1 2 3 4 Observasi 124 70 5 1 200 117 5 107 111 21 121 177 180 25 163 180 180 195 1.800 Nilai rata-rata Nilai ratatertimbang per rata unsur perunsur pelayanan 1.

21 1.05 1.11 0.24 1.5p.20 1.17 0.09 0.21 0.94 1.800 1.71 1.10 200 200 200 200 200 200 200 200 200 200 200 200 200 2.08 0.58 x 25 = 39.58.19 0.11 1.10 0.09 0.10 0. Tingkat Kepuasan Masyarakat Kelompok R2A (RS) Terhadap Unit Teknik PDAM Way Rilau Kota Bandar Lampung Klasifikasi Jawaban Pelanggan Unit Teknik PDAM Way Rilau Kota Bandar Lampung 1 Prosedur Pelayanan Persyaratan pelayanan Kejelasan petugas Pelayanan Kedisiplinan Petugas pelayanan Tanggungjawab Petugas Pelayanan Kemampuan Petugas Pelayanan Kecepatan Pelayanan Keadilan Mendapatkan Pelayanan Kesopanan dan Keramahan Petugas Pelayanan Kewajaran Biaya Pelayanan Kepastian Biaya Pelayanan Kepastian Jadual Pelayanan Kenyamanan Lingkungan Keamanan Pelayanan Total Jawaban Pelanggan *Sumber: Klasifikasi Pelayanan Berdasarkan Unsur Pelayanan 2 69 81 101 85 98 21 70 31 15 3 23 15 12 6 630 3 2 1 77 3 3 120 2 3 4 166 6 2 15 4 2 1 11 1 42 3 1 2 2 4 1 1 127 117 11 111 99 17 125 165 179 29 167 182 173 193 1.43 2. (c) Mutu pelayanan unit teknik PDAM Way rilau terkategori ‘D’. (d) Kinerja Pelayanan Unit Teknik PDAM Way Rilau berdasarkan responsi pelanggan kelompok R2A mengindikasikan tidak baik.52 2.42 1. 181 .15 2.59 0.695 Nilai rataJumlah rata Pelanggan Nilai ratatertimbang Kelompok R2A rata per Pada Saat perunsur unsur Observasi pelayanan 200 1. maka didapat suatu kesimpulan tentang global indeks kepuasan pelanggan kelompok R2A (RS) terhadap Unit Teknik PDAM Way Rilau Kota Bandar Lampung sebagai berikut: (a) Nilai dasar IKM yang merupakan responsi masyarakat (pelanggan) adalah sebesar 1.08 0.40 0.07 1.58 404 71 Hasil Pengolahan Data Bulan September-Oktober Tahun 2004 Dari perhitungan Tabel 7 diatas apabila dikonversikan dengan Tabel IKM.47 1.Tabel 7.44 1.09 0. (b) Nilai IKM setelah dikonversi = nilai indeks dikalikan nilai dasar 1.10 0.

34 1.10 0. Tingkat Kepuasan Masyarakat Kelompok R2B (RT.59 Nilai rata-rata tertimbang per unsur pelayanan 0.10 0.42 1.07 1. Menengah) terhadap Unit Teknik PDAM Way Rilau Kota Bandar Lampung sebagai berikut: (a) Nilai dasar IKM yang merupakan responsi masyarakat (pelanggan) adalah sebesar 1. (c) Mutu pelayanan unit teknik PDAM Way rilau terkategori ‘D’.21 0.12 2.58 x 25 = 39.39 1.18 1.10 0.08 0.08 0.04 1.19 0.46 1. (d) Kinerja Pelayanan Unit Teknik PDAM Way Rilau berdasarkan responsi pelanggan kelompok R2B mengindikasikan tidak baik.Tabel 8. 182 .51 2.697 Jumlah Pelanggan Kelompok R2B Pada Saat Observasi 200 200 200 200 200 200 200 200 200 200 200 200 200 200 2.68 1.800 Nilai ratarata perunsur 1.58. Menengah) Terhadap Unit Teknik PDAM Way Rilau Kota Bandar Lampung Klasifikasi Jawaban Pelanggan Unit Teknik PDAM Way Rilau Kota Bandar Lampung 1 Prosedur Pelayanan Persyaratan pelayanan Kejelasan petugas Pelayanan Kedisiplinan Petugas pelayanan Tanggungjawab Petugas Pelayanan Kemampuan Petugas Pelayanan Kecepatan Pelayanan Keadilan Mendapatkan Pelayanan Kesopanan dan Keramahan Petugas Pelayanan Kewajaran Biaya Pelayanan Kepastian Biaya Pelayanan Kepastian Jadual Pelayanan Kenyamanan Lingkungan Keamanan Pelayanan Total Jawaban Pelanggan *Sumber: Klasifikasi Pelayanan Berdasarkan Unsur Pelayanan 2 79 83 99 85 97 23 65 24 8 14 20 16 11 5 629 3 1 3 75 2 2 119 2 4 3 155 12 3 13 1 395 4 1 14 0 43 3 1 3 4 8 2 0 79 119 114 12 113 101 15 130 171 186 27 160 179 176 194 1.08 0.5.45 1.95 1. (b) Nilai IKM setelah dikonversi = nilai indeks dikalikan nilai dasar 1.19 1.10 0.10 0.08 0.58 Hasil Pengolahan Data Bulan September-Oktober Tahun 2004 Dari perhitungan Tabel 8 diatas apabila dikonversikan dengan Tabel IKM.45 2.17 0.14 1.11 0. maka didapat suatu kesimpulan tentang global indeks kepuasan pelanggan kelompok R2B (RT.

11 183 . (b) Nilai IKM setelah dikonversi = nilai indeks dikalikan nilai dasar 1. (d) Kinerja Pelayanan Unit Teknik PDAM Way Rilau berdasarkan responsi pelanggan mengindikasikan tidak baik.45 2.10 0.93 1. maka didapat suatu kesimpulan tentang keseluruhan kepuasan masyarakat/ pelanggan terhadap Unit Teknik PDAM Way Rilau Kota Bandar Lampung sebagai berikut: (a) Nilai dasar IKM yang merupakan responsi masyarakat (pelanggan) adalah sebesar 1.12 1.59 0.09 0.58 1.08 0.10 1.08 0.10 0.58.08 0.58 x 25 = 39.47 1.07 1.Tabel 9. Keseluruhan Tingkat Kepuasan Masyakat/Pelanggan Terhadap Unit Pelayanan dan Unit Teknik PDAM Way Rilau Kota Bandar Lampung Klasifikasi Pelayanan Berdasarkan Unsur Pelayanan Prosedur Pelayanan Klasifikasi Jawaban Pelanggan Jumlah Unit Teknik PDAM Way Rilau Pelanggan Pada Saat Kota Bandar Lampung Observasi 1 2 3 4 662 396 97 45 1200 Nilai ratarata perunsur 1.18 0.17 1.08 0.5.50 2.19 0.10 0.400 Nilai rata-rata Nilai ratatertimbang per rata unsur perunsur pelayanan 1.11 0.60 Nilai rata-rata tertimbang per unsur pelayanan 0.13 2.04 1. (c) Mutu pelayanan unit teknik PDAM Way Rilau terkategori ‘D’.72 1.42 1.098 239 300 258 281 66 207 75 40 18 68 48 32 16 7 233 9 7 354 7 8 10 492 25 8 39 1 6 39 2 1 127 10 4 5 9 17 3 0 1 228 Jumlah Pelanggan Pada Saat Observasi 600 600 600 600 600 600 600 600 600 600 600 600 600 600 8.28 1.866 1. Keseluruhan Tingkat Kepuasan Masyarakat/Pelanggan Terhadap Unit Teknik PDAM Way Rilau Kota Bandar Lampung Klasifikasi Pelayanan Berdasarkan Unsur Pelayanan Prosedur Pelayanan Persyaratan pelayanan Kejelasan petugas Pelayanan Kedisiplinan Petugas pelayanan Tanggungjawab Petugas Pelayanan Kemampuan Petugas Pelayanan Kecepatan Pelayanan Keadilan Mendapatkan Pelayanan Kesopanan dan Keramahan Petugas Pelayanan Kewajaran Biaya Pelayanan Kepastian Biaya Pelayanan Kepastian Jadual Pelayanan Kenyamanan Lingkungan Keamanan Pelayanan Total Jawaban Pelanggan *Sumber: Klasifikasi Jawaban Pelanggan Unit Teknik PDAM Way Rilau Kota Bandar Lampung 1 2 3 4 370 218 8 4 348 28 331 311 53 376 513 545 81 490 541 529 582 5. Tabel 10.41 0.47 1.18 1.21 0.208 Hasil Pengolahan Data Bulan September-Oktober Tahun 2004 Dari perhitungan Tabel 9 diatas apabila dikonversikan dengan Tabel IKM.

019 466 433 448 234 379 346 246 267 200 235 166 133 4.800 Nilai ratarata perunsur 1.11 0.11 0.12 0.84.13 0.13 0.11 0.86 1.51 2.89 1.31 1.26 1.84 Hasil Pengolahan Data Bulan September-Oktober Tahun 2004 Dari perhitungan Tabel 10 diatas apabila dikonversikan dengan Tabel IKM. (d) Kinerja Pelayanan PDAM Way Rilau berdasarkan responsi pelanggan mengindikasikan kurang baik.78 1.13 1.70 1.Klasifikasi Pelayanan Berdasarkan Unsur Pelayanan Persyaratan pelayanan Kejelasan petugas Pelayanan Kedisiplinan Petugas pelayanan Tanggungjawab Petugas Pelayanan Kemampuan Petugas Pelayanan Kecepatan Pelayanan Keadilan Mendapatkan Pelayanan Kesopanan dan Keramahan Petugas Pelayanan Kewajaran Biaya Pelayanan Kepastian Biaya Pelayanan Kepastian Jadual Pelayanan Kenyamanan Lingkungan Keamanan Pelayanan Total Jawaban Pelanggan *Sumber: Klasifikasi Jawaban Pelanggan Jumlah Unit Teknik PDAM Way Rilau Pelanggan Kota Bandar Lampung Pada Saat Observasi 1 2 3 4 529 480 143 48 1200 241 498 536 113 724 660 795 335 665 747 830 684 8.79 1. KESIMPULAN DAN SARAN Kesimpulan a) Tingkat kepuasan masyarakat/pelanggan terhadap Unit Teknik PDAM Way Rilau Kota Bandar Lampung sebesar 1.13 0.58 dengan mutu pelayanan terkategori ‘D’.54 1. (b) Nilai IKM setelah dikonversi = nilai indeks dikalikan nilai dasar 1.84 x 25 = 46.151 1200 1200 1200 1200 1200 1200 1200 1200 1200 1200 1200 1200 16. yang menandakan responsi pelanggan terhadap kinerja Pelayanan Unit Teknik PDAM Way Rilau mengindikasikan tidak baik. b) Tingkat kepuasan masyarakat/pelanggan terhadap Unit Pelayanan PDAM Way Rilau Kota Bandar Lampung sebesar 2.85 Nilai rata-rata tertimbang per unsur pelayanan 0.201 120 92 59 210 45 108 49 54 67 47 74 133 1.16 0.76 2. (c) Mutu pelayanan PDAM Way Rilau terkategori ‘C’.52 1.429 373 177 157 643 52 86 110 544 268 171 130 250 3.16 0.60 1.10 dengan mutu pelayanan terkategori ‘C’ yang menandakan responsi pelanggan terhadap kinerja 184 .11 0.20 0. maka didapat suatu kesimpulan tentang keseluruhan tingkat kepuasan masyarakat/pelanggan terhadap Unit Pelayanan Masyarakat dan Unit Teknik PDAM Way Rilau Kota Bandar Lampung sebagai berikut: (a) Nilai dasar IKM yang merupakan responsi masyarakat (pelanggan) adalah sebesar 1.78 2.12 0.

A. D. yaitu: a) Reformasi manajemen stratejik melalui restrukturisasi dan revitalisasi. maka PDAM Way Rilau harus membenahi sistem manajemen secara keseluruhan ke arah perbaikan kinerja dan kualitas pelayanan agar tidak ditinggalkan pelanggannya. (1994). Seventh Edition. New York: St. Hal ini bisa dimulai dengan langkah-langkah mendasar. akan tetapi lebih pada aspek profit oriented seperti prinsip bisnis yang dijalankan sektor privat.1994.. Martin Press Inc. 185 . B.. Public Sector Management: Theory. New McCallum. Marketing Jersey:Prentice-Hall Inc. DAFTAR PUSTAKA Alam.. 2002. The Public Service Manager.Kinerja Pelayanan Unit pelayanan masyarakat PDAM Way Rilau mengindikasikan kurang baik c) Tingkat kepuasan masyarakat/pelanggan secara keseluruhan terhadap Unit Pelayanan Masyarakat dan Unit Teknik PDAM Way Rilau Kota Bandar Lampung sebesar 1. London: Sage Publication. Potter. Consumerism and The Public Sector: How well does The Coat fit? In McKevitt. Critique and Practice. and Lawton.Arif dan Basirun.Philip. (1984). Pelayanan Publik Pemerintah Lokal: Hak Dasar Warganegara. Melbuorne: Long Man Chesire.84 dengan mutu pelayanan terkategori ‘C’ yang menandakan responsi pelanggan terhadap kinerja Pelayanan PDAM Way Rilau mengindikasikan kurang baik. (1988). J. (eds). Edisi April-Juni 2002 Hughes. Jurnal PSPK. O.. Saran-saran PDAM Way Rilau bukan semata-mata lembaga milik pemerintah yang hanya menjalankan fungsi sosial. Management. b) Peningkatan sarana dan prasarana yang memadai sesuai standar badan usaha.E. Kotler. Public Management and Administration: An Introduction.

. Y. 26/2004 tentang Petunjuk Teknis Transparansi Akuntabilitas Dalam Penyelenggaraan Pelayanan Publik. (1999). S. Kepmenpan No. Kepmenpan No. S. 186 .25/2004 tentang Pedoman Umum Penyusunan Indeks Kepuasan Masyarakat Unit Pelayanan Instansi Pemerintah.Reformasi Pelayanan Publik: Kajian dari Perspektif Teori Governance. Jurnal Kebijakan dan Administrasi Publik. Wahab. Nomor 1. A.. 2. Pebruari 1998. Peningkatan Kualitas Pelayanan Administrasi.Wibawa. 63/2003 tentang Pedoman Umum Penyelenggaraan Pelayanan Publik Kepmenpan No. Vol.. (1998). Disampaikan pada Pidato Pengukuhan Guru Besar dalam Ilmu Kebijakan Publik pada FIA-UNIBRAW. dan Purbokusumo.

Total Quality Management (TQM) Sebagai Fokus Perbaikan Keseluruhan Kinerja Taman Hutan Raya Wan Abdul Rachman
Rinaldi Bursan, S.E., M.Si.3 Susni Herwanti, S.Hut. 4
ABSTRACT Total Quality Management plays an important role in customer to visit Taman Hutan Raya Wan Abdul Rahman (Tahura War). Tahura War has faced competitive with other tourism object e.g Pasir Putih, National Park Way Kambar and others. This paper has objective that how to know to check correlation between top management commitment, customer focus, human resources focus with performance. This paper found that top management commitment, customer focus, human resources focus have positive correlation with performance. Key words: total quality management, correlation, performance, customer focus, and top management commitment. I. Pendahuluan Tahura WAR adalah salah satu kawasan pelestarian di Propinsi Lampung seluas 22.249,31 hektar yang ditetapkan melalui SK Menteri kehutanan No. 804/KPTS-II/1993 tanggal 10 Agustus1993. Sebelumnya kawasan itu merupakan Hutan Lindung Register 19 Gunung Betung, Gunung Pesawaran dan Gunung Ratai. Secara administratif lokasi kawasan Tahura WAR berada di wilayah kabupaten Lampung Selatan dan kotamadya Bandar Lampung, Propinsi Lampung. Bagi masyarakat Lampung, khususnya masyarakat kota Bandar Lampung keberadaan Tahura WAR sungguh amat vital sebagai penyangga kehidupan ekonomi, sosial dan ekologi. Karakteristik bentang alam yang spesifik menjadikan kawasan tersebut sebagai penyedia berbagai jasa lingkungan untuk wilayah sekitarnya. Kejenuhan dari rutinitas kerja, adanya waktu luang, kebutuhan akan rekreasi dan mampu berwisata merupakan aspek-aspek yang
3 4

Dosen Jurusan Manajemen, Fakultas Ekonomi, Universitas Lampung Dosen Jurusan Manajemen Hutan, Fakultas Pertanian, Universitas Lampung.

mendorong untuk melakukan rekreasi. Tahura WAR yang berlokasi di Padang Cermin, Lampung Selatan ini menjadi salah satu pilihan yang tepat untuk dijadikan tempat wisata. Perbaikan produktivitas terus-menerus tidak bisa dihindarkan dari pihak pengelola yang menginginkan kemajuan industri wisatanya. II. Permasalahan Tahura WAR merupakan taman hutan rakyat yang keberadaannya tidak hanya penting untuk mempertahankan keselestarian hutan, tetapi juga dapat menjadi sarana rekreasi dan pariwisata bagi masyarakat Lampung serta hutan pendidikan bagi masyarakat Lampung. Mengingat industri wisata yang semakin beragam di daerah tersebut dan penuh dengan persaingan, maka Tahura WAR perlu mengadakan suatu evaluasi terhadap pengelolaan yang sudah dilakukan selama ini. Tahura WAR dihadapkan pada persaingan tempat rekreasi lainnya seperti wisata pantai Pasir Putih dan wisata-wisata yang sedang marak lainnya seperti water park yang belakangan banyak bermunculan di Lampung. Untuk itu maka dirumuskan permasalahan sebagai berikut: bagaimanakah hubungan antara faktor manajemen, konsumen dan kinerja karyawan terhadap kepuasan pengunjung Tahura WAR. III. Tujuan Penelitian Adapun tujuan penelitian ini adalah : 1. Memeriksa korelasi antara variabel komitmen manajemen puncak, fokus pada pelanggan, fokus pada konsumen, benchmark dan fokus pada karyawan dengan variabel TQM. Memeriksa korelasi antara variabel TQM dengan variabel Kinerja. Memeriksa variabel yang paling berpengaruh terhadap penerapan TQM Di Tahura WAR.

2. 3.

IV. Rerangka Pemikiran Program perbaikan terhadap mutu yang terus menerus dapat dilaksanakan dengan menerapkan Total Quality Management (TQM). (Samson & Terziovski, 1999). TQM merupakan strategi organisasi yang digunakan untuk memperbaiki kepuasan pengunjung di Tahura WAR dengan mengembangkan prosedur dan mengelola kualitas hasil. TQM telah menjadi strategi global dengan beberapa 188

keuntungan yaitu memperbaiki kepuasan pengunjung, fokus dan motivasi pada karyawan, menurunkan sampah/limbah, dan memperbaiki kinerja secara keseluruhan. Pendekatan TQM diharapkan tercapainya kinerja perusahaan secara keseluruhan. Menurut Harvey & Brown (2001) dalam Agus (2004) TQM merupakan sebuah strategi organisasi untuk memperbaiki service performance dan kepuasan konsumen dengan mengembangkan prosedur untuk secara bijak mengelola kulitas. TQM mengacu pada sebuah penekanan kualitas yang meliputi keseluruhan organisasi dari pemasok sampai konsumen. TQM menekankan sebuah komitmen melalui manajemen umtuk keberlangsungan organisasi secara luas dalam menggerakkan secara tepat semua aspek produk dan jasa yang penting bagi konsumen (Render, B., dan Heizer, J.2005). TQM adalah pendekatan berorientasi pelanggan yang memperkenalkan perubahan manajemen yang sistematik dan perbaikan terus-menerus terhadap proses, produk dan pelayanan suatu organisasi. Proses TQM bermula dari pelanggan dan berakhir pada pelanggan pula. Proses TQM memiliki input yang spesifik (keinginan, kebutuhan dan harapan pelanggan), mentransformasi (memproses input dalam organisasi untuk memproduksi barang atau jasa) yang pada gilirannya memberikan kepuasan kepada pelanggan (output). Lima variabel TQM dianalisis dengan menggunakan analisis reliabilitas untuk menentukan analisis item, konsistensi internal dan stabilitas dari pengukuran, uji korelasi antara praktik-praktik TQM dan uji korelasi antara TQM, service performance dan kepuasan pengunjung,. Peneliti berpendapat bahwa keseluruhan model hipotesis mempunyai kesesuaian terhadap performance secara keseluruhan. Asumsi-asumsi yang digunakan adalah: H1 : Komitmen manajemen puncak mempunyai pengaruh positif terhadap penerapan TQM H2 : Fokus pada pengunjung mempunyai pengaruh positif terhadap penerapan TQM. H3 : Benchmarking mempunyai pengaruh positif terhadap penerapan TQM. H4 : Pelatihan mempunyai pengaruh positif terhadap penerapan TQM. H5 : Service performance mempunyai pengaruh positif terhadap penerapan TQM. H6 : Kepuasan pengunjung mempunyai pengaruh positif terhadap penerapan TQM. H7 : Kualitas Pelayanan mempunyai pengaruh positif terhadap keseluruhan kinerja. H8 : Kepuasan pengunjung mempunyai pengaruh positif terhadap keseluruhan kinerja. H9 : Total Quality Management mempunyai pengaruh positif terhadap keseluruhan kinerja

189

Manajemen puncak bertindak sebagai pengendali dalam penerapan TQM. Menggunakan staf untuk konsultasi. Ruang Lingkup Penelitian Ruang lingkup yang akan dibahas pada penelitian ini dibatasi pada lima variabel TQM yang meliputi: 1. menciptakan nilai. Menurut Saraph et al. identifikasi praktik-praktik TQM dalam studi pengukuran dapat dilihat pada Tabel 1. Fokus karyawan : TQM membutuhkan komitmen dari manajemen puncak untuk meyakinkan karyawan dalam hal quality work culture dan menciptakan kesehatan citra organisasi dengan membuat pelayanan kualitas terhadap konsumen. 1989 dalam Kaynak. Benchmarking : melibatkan standar dari suatu produk. Akses department ke manajemen puncak. Pelatihan : Pencapaian kesuksesan dalam budaya kualitas harus dimulai dengan program pendidikan. 5. Komitmen manajemen puncak : Kualitas membutuhkan sepenuhnya komitmen dari manajemen puncak. tujuan dan sistem untuk memuaskan harapan pelanggan dan untuk memperbaiki kinerja organisasi. 2. dan training yang berhubungan dengan kualitas untuk semua karyawan. Partisifasi manjemen puncak dalam usaha perbaikan kualitas. yang dimulai dari manajemen senior. Evaluasi manejemen puncak terhadap kualitas. 3. jasa. Pentingnya mengarahkan kualitas terhadap biaya dan jadwal. 4. Visibility dan otonomi dari department kualitas. Koordinasi antara department kulitas dengan departemen lainnya. Provisi dari pelatihan statistik. Peranan Quality Department Training 190 . Identifikasi praktik-praktik TQM dalam studi pengukuran TQM PRAKTIK-PRAKTIK TQM Management Leadership DESKRIPSI Dukungan dari kualitas yang bertanggung jawab oleh manjemen puncak. trade training. 2003. dan kemudian diikuti oleh seluruh karyawannya. Perencanaan kualitas yang komprehensif. Spesifikasi dari tujuan kualitas. Keefektifan dari department kualitas. biaya atau praktik-praktik lainnya yang mewakili kinerja paling baik. Tabel 1.V. Fokus pada konsumen : Kesuksesan suatu organisasi salah satu indikatornya terdapat pada kepuasan konsumennya.

Pengukuran kulitas tepat waktu. tahap dan langkah. Kejelasan kepemilikan proses. Pembelian kebijakan yang menekankan pada kualitas dari pada harga. Keefektifan supervisi dalam menangani isu-isu kulitas Penggunaan data biaya kualitas. Model struktural menunjukkan hubungan struktural antara TQM dan keseluruhan kinerja (A Null Model) 191 . Penelitian tersebut menggunakan A Null Model yang memperlihatkan hubungan antara lima elemen TQM dengan kinerja perusahaan ( Gambar 1). Agus (2004). Partisipasi karyawan yang terbuka dalam hal pengambilan keputusan terhadap kualitas. Hindari desain ulang. Quality Data and Reporting Supplier Quality Management Product/ServiceDdesign Process Management Studi hubungan antara elemen-elemen TQM terhadap dua indikator kinerja telah dilakukan oleh A. d1 Mdtopm d2 d3 d4 Mdcust Mdperf e1 TQM Perform Mdbench Zeta 1 Mdcsatis Mdtrain e2 d5 Mdemploy Gambar 1. Sedikit tergantung pada pemasok. Kontrol kualitas pemasok Melalui proses scrub-down. Ketersediaan data kulitas. Keterlibatan semua departement yang berpengaruh dalam design review. kulitas bukan jadwal roll out. Kejelasan spesifikasi. Penekanan pada produksi. Ketergantungan yang kuat dari pemasok dan pelanggan. Tanggung jawab karyawan terhadap kualitas. Evaluasi manajer dan karyawan berdasarkan quality performance. Umpan balik dari data kulitas kepada karyawan dan manajer untuk problem solving.PRAKTIK-PRAKTIK TQM EmployeeRrelation DESKRIPSI Implementasi dari keterlibatan karyawan dan lingkaran kualitas.

Mdtopmgt Mdcust TQM Mdperf Mdbench Perform Mdtrain Mdcsatis Gambar 2. Masing-masing sampel sebanyak 35 responden untuk pengunjung dan 60 responden untuk pengelola. Sampel diambil secara acak terhadap para pengunjung di lokasi yang terdapat pengunjung. Model Penelitian Model penelitian yang digunakan diadopsi dari hasil sebuah model struktural pada Gambar 1. sehingga total ada 95 orang responden. Model HUBUNGAN antara TQM dengan keseluruhan kinerja Keterangan: Mdtopmgt Mdbench Mdperf Mdemploy Mdemp1oy = top mangement commitment Mdcust = benchmarking Mdtrain = service performance Mdcsatis = employee wealth focus = customer focus = training =customer satisfaction VII. Metode Penelitian Populasi yang akan diteliti adalah pengunjung pengunjung yang berusia antara 15-60 tahun dengan anggapan usia tersebut merupakan usia yang bisa diandalkan dalam pengisian kuisioner). dan para pengelola Tahura WAR. Masing-masing responden memberikan penilaian terhadap 192 . Alat ukur yang digunakan dalam penelitian ini berupa kuisioner yang terdiri dari dua jenis kuisioner.VI. stakeholder dan masyarakat sekitar. satu untuk pengunjung (terhadap level kepuasan pengunjung) dan satu untuk para pengelola Tahura WAR (terhadap praktikpraktik TQM).

2. artinya menimbulkan minat. Membangun kualitas sebagai suatu isu strategi organisasi 3. Ketersediaan karyawan untuk mengikuti pelatihan kualitas 2. Tabel 2. 5 = agak setuju. Visi. Memperhatikan standar pelayanan dan proses dari industri jasa pesaing yang bergerak dibidang yang sama. Frekuensi diadakannya pelatihan-pelatihan kualitas dalam setahun 3. artinya Tahura WAR tersebut menyediakan obyek wisata yang tepat dan di tempat yang tepat. Akses. Keinginan organisasi terhadap benchmark di masa mendatang 1. 5. Mempertimbangkan keefektifan benchmarking dalam perbaikan kualitas Tahura WAR 3. 3. 1. 2 = tidak setuju.kuisioner dengan tujuh Skala Likert terhadap indikator-indikator variabel (Tabel 2). 6 = setuju dan 7= sangat setuju. Keefektifan dari benchmarking dalam menurunkan biaya pelayanan 4. 1. keyakinan dan kejujuran di hati pengunjung terhadap ekowisata Tahura WAR Kompetensi. 3. Tingkat partisipasi dalam pengambilan keputusan Tingkat kesadaran kualitas ekowisata Tahura WAR. Evaluasi kinerja dari manajer berdasarkan kualitas ekowisata Tahura WAR 1. ketrampilan dan pengetahuan dari pihak pengelola tentang Tahura WAR KET Fokus pengunjung Pelatihan Fokus Kesejahteraan Karyawan Fokus Partisipasi Karyawan Service performance Level Kepuasan Pengunjung Kepuasan pengunjung Praktik TQM Benchmarking (standar) 193 . Menyediakan insentif keuangan kelompok 2. Memanfaatkan informasi dari pengunjung Tahura 1. Keinginan dan kesiapan karyawan (respon) yang cepat terhadap permintaan pengunjung Membangun fasilitas wisata yang dapat memuaskan pengunjung Antisipasi dan tanggung jawab terhadap kebutuhan. 3. 2. 4. dan keramahan dari pihak pengelola Tahura Keamanan dan kebebasan dari bahaya. kedekatan dan kemudahan untuk dijangkau Kesopanan. 2. 6. Jumlah karyawan yang mengikuti pelatihan pada sesi pelatihan yang sama 4. Indikator Praktik-Praktik TQM dan Performance NAMA VARIABEL Komitmen manajemen puncak INDIKATOR 1. komitmen dan suasana yang dibawa pengunjung 2. Keterlibatan dalam pemberian usul dan saran. 4. 5. respek. 3 = agak tidak setuju. keluhan dan keinginan pengunjung Memahami kebutuhan pengunjung Komunikasi. Tersedianya kotak usul dan saran terhadap pihak pengelola Tahura 3. kepuasan karyawan terhadap keseluruhan kegiatan pelatihan 1. mempertahankan pengunjung dalam bahasa yang baik termasuk pada saat memberikan informasi tentang Tahura WAR Reliabilitas. Tingkat umpan balik pengunjung untuk memperbaiki kualitas ekowisata Tahura 4. Mempertimbangkan kualitas ekowisata Tahura WAR sebagai salah satu tujuan organisasi. kepercayaan. 2. Penilaian terhadap praktik-praktik TQM dan level kepuasan pengunjung menggunakan tujuh skala penilaian yaitu :1 = sangat tidak setuju. artinya memiliki keahlian. 4 = netral. 2. Menyediakan program-program profit-sharing 1. gangguan dan risiko serta kenyamanan berwisata Kredibel.

nilai Cronbach Alpha untuk variabel Fokus Karyawan masih dapat ditolerir untuk rentang yang luas. Oleh karenanya. Hasil Uji Reliabilitas dengan Cronbach Alpha Variabel Komitmen Manajemen Fokus Pengunjung Benchmarking Pelatihan Karyawan Fokus Karyawan FinalItems 3 4 4 4 5 Reliability 0.794 dan Fokus Karyawan 0.885. Hasil Uji Korelasi dengan Spearman Corellation 194 .VIII.786.794 0.885 0. Fokus Pengunjung 0. hal ini mungkin disebabkan karena posisi karyawan yang menyebar tidak hanya di lapangan atau lokasi Tahura tetapi juga di kantor pelayanan dan pusat. Berdasarkan hasil pengujian dengan menggunakan Cronbach Alpha diperoleh nilai tertinggi untuk variabel Benchmarking 0. Jika nilai alpha yang diperoleh lebih besar dari 0. Tabel 3.5 maka dapat disimpulkan bahwa indikator yang digunakan reliabel.561.786 0.857. Pelatihan Karyawan 0. Tabel 4. Karena hasil uji semua item adalah realibel berarti instrumen penelitian layak digunakan untuk pengumpulan data dalam penelitian. Keberagaman lokasi menyebabkan semakin heterogennya pengalaman yang telah dialami oleh setiap karyawan. Hasil Analisa Dan Pembahasan 1. Dari tabel 4 terlihat bahwa hubungan antara variabel Benchmarking dan Fokus Pengunjung memiliki keeratan positif yang cukup tinggi. Nilai Cronbach Alpha untuk variabel Fokus Karyawan berada di bawah 0. Dalam hal ini dapat dikatakan bahwa jika pihak manajemen melakukan perbaikan pada benchmark Tahura maka aktivitas fokus pada pengunjung pun harus dilakukan karena keduanya memiliki hubungan yang erat dan positif.7. Untuk menilai reliabilitas dalam penelitian ini digunakan nilai Cronbach Alpha.378 dengan variabel Fokus Pengunjung. Komitmen Manajemen 0. Hasil Uji Reliabilitas Uji reabilitas menurut Simamora (2004) digunakan untuk menguji tingkat kehandalan kuesioner.561 2. Analisa Korelasi Pengujian dengan Korelasi Spearman menunjukkan bahwa variabel Komitmen mempunyai korelasi positif yang cenderung lemah sebesar 0.857 0.

390* Sig. Uji KMO dan Bartlett KMO and Bartlett's Test Kaiser-Meyer-Olkin Measure of Sampling Adequacy. (2-tailed) .042 -. Correlation is significant at the 0.811 .291 Sig.021 1.286 1 .135 N 35 35 35 35 35 35 BENCHMARK Pearson Correlation . 195 .195 .116 -.508 .000 .258 .021 N 35 35 35 35 35 35 SEJAHTERA Pearson Correlation -.524 .261 .096 1.000 1 Sig.135 .291 -.989 .578** 1 .258 Sig.002 . Chi-Square df Sig.05 level (2-tailed).508 .286 -.500 61.002 -. 3.057 .057 .000 N 35 35 35 35 35 35 PARTISIPASI Pearson Correlation -.Correlations KOMITMENPELANGGANBENCHMARK TRAINING SEJAHTERAPARTISIPASI Pearson Correlation 1 .390* .578** .745 . **.000 Dari tabel di atas terlihat angka KMO Measure of Sampling Adequacy (MSA) adalah sebesar 0.190 .096 .090 . (2-tailed) . (2-tailed) .116 .524 . Bartlett's Test of Sphericity Approx. (2-tailed) . Correlation is significant at the 0. Tabel 5.378* 1 .025 .745 .992 .000 Sig.227 . (2-tailed) .000 N 35 35 35 35 35 35 KOMITMEN *.227 Sig.112 .190 N 35 35 35 35 35 35 PELANGGAN Pearson Correlation .5.992 . .112 .261 .378* . Analisa Faktor Pengujian statistika dengan analisa faktor menemukan bahwa variabel fokus pada karyawan dan variabel kepuasan pengunjung terbagi menjadi 2 faktor yang berbeda. Hal in dapat dilihat pada tabel berikut ini.989 .025 . (2-tailed) .002 .195 -.638 10 . Oleh karena angka tersebut lebih besar sama dengan 0.042 1 .811 .000 .090 N 35 35 35 35 35 35 TRAINING Pearson Correlation .002 .01 level (2-tailed).5 maka kumpulan variabel dapat diproses lebih lanjut.

654 3.114 -.097 -.031 .302 39.645 sehingga variabel dapat diproses lebih lanjut.189 1.752 .362 96. Hasil pengujian dengan KMO Measure of Sampling Adequacy (MSA) pada Tabel 8 menunjukkan nilai 0. Employ 4 dan Employ 5 membentuk Faktor 1 sedangkan variabel Employ 2 dan Employ 3 membentuk Faktor 2.901 .000 Rotation Sums of Squared Loadings Total % of Variance Cumulative % 1. 196 . Rotated Component Matrix Rotated Component Matrix Component 1 EMPLOY1 EMPLOY2 EMPLOY3 EMPLOY4 EMPLOY5 .513 -.887 .803 36. Dari tabel di atas terlihat bahwa variabel Employ1.070 75.058 a Extraction Method: Principal Component Analysis.346 100. Rotation converged in 3 iterations. a. Kemudian dari tabel operasionalisasi variabel Faktor 1 dinamakan Faktor Kesejahteraan Karyawan dan Faktor 2 dinamakan Faktor Partisipasi Karyawan. Selanjutnya dari hasil pengujian dengan analisa faktor ditemukan bahwa variabel Kepuasan Pengunjung membentuk dua faktor.869 -.189 39. Tabel 7.948 2 .965 1.956 75.034 90.468 .293 6. dimana faktor 1 dapat menjelaskan variabel Fokus pada Karyawan sebesar 39.302 persen dan faktor 2 dapat menjelaskan variabel Fokus pada Karyawan sebesar 35.258 15.258 Component 1 2 3 4 5 Total 1. Total Variance Explained Total Variance Explained Initial Eigenvalues % of Variance Cumulative % 39.798 .302 35. Dari tabel di atas terlihat bahwa terbentuk dua buah faktor yang menjelaskan variabel Fokus pada Karyawan.Tabel 6. Rotation Method: Varimax with Kaiser Normalization.318 .959 39.956 persen.167 Extraction Method: Principal Component Analysis.

153 15 . .057 80. Uji KMO dan Bartlett 2 Faktor KMO and Bartlett's Test Kaiser-Meyer-Olkin Measure of Sampling Adequacy. Rotation converged in 3 iterations.185 19.750 67.508 4 .163 .450 3 .137 5 .866 . 197 .783 13. Rotated Component Matrix 2 Faktor Rotated Component Matrix Component 1 SERVICE1 SERVICE2 SERVICE3 SERVICE4 SERVICE5 SERVICE6 .851 6 . Rotation Method: Varimax with Kaiser Normalization. Dari tabel operasionalisasi variabel.750 67.898 2 1.714 95.876 -.701 47.750 persen.701 47.000 Extraction Method: Principal Component Analysis.185 19. Tabel 10.002 .065 .573 2 .000 Lalu dari Tabel 9 terlihat bahwa faktor 1 dapat menjelaskan variabel Kepuasan Pengunjung sebesar 47.953 32.862 47. Total Variance Explained 2 Faktor Total Variance Explained Initial Eigenvalues action Sums of Squared Loadiation Sums of Squared Loadin t Compone Total% of Variancumulative %Total% of Variancumulative %Total% of Variancumulative % 1 2. Service5 dan Service6 termasuk dalam Faktor 1 dan variabel Service2.701 persen sedangkan faktor 2 dapat menjelaskan varaiabel Kepuasan Pengunjung sebesar 19.Tabel 8. Dari Tabel 10 terlihat bahwa variabel Service1.496 .578 9.553 67. Service3 dan Service4 termasuk dalam Faktor 2.820 .701 2.645 114.414 a Extraction Method: Principal Component Analysis. Faktor 1 dinamakan Faktor Kualitas Pelayanan dan Faktor 2 disebut Faktor Instrumen Pelayanan.450 1.149 100. a.275 . Tabel 9.862 47.450 1.798 . Bartlett's Test of Sphericity Approx.343 5.629 90.249 4. Chi-Square df Sig.607 .898 34.701 2.094 34.

Oleh karenanya. mdtrain.494 4. mdbench.649 11. mdcust b. pelatihan karyawan dan fokus pada karyawan. kelima variabel dalam penelitian ini dapat digunakan untuk memprediksi TQM pada Tahura WAR.703a . mdtopmgt. mdtopmgt.3 persen TQM dipengaruhi oleh variabel komitmen manajemen.653 .002. mdemploy1.494 .4. yaitu sebesar 0. Dependent Variable: TQM Hasil pengujian statistik dengan menggunakan SPSS 13.549 Sig. Hipotesis H1 yang diujikan ternyata tidak mempunyai data yang cukup untuk mendukung hipotesis tersebut (Tabel 13).951 23. Error of Square R R R SquareR Squarehe EstimateChangeF Change df1 df2 ig.Dependent Variable: TQM Dari Tabel 12 terlihat bahwa F hitung memiliki nilai sebesar 4. mdcust b.00 menemukan bahwa komitmen manajemen puncak mempunyai korelasi positif yang lemah terhadap variabel TQM.549 6 28 .427 F 4.703. mdbench. mdemploy2. fokus pada pengunjung.002 a. Hasil Analisa Regresi b Model Summary Mode 1 Change Statistics AdjustedStd. Selanjutnya.002a Regression Residual Total a. Analisa Regresi Dari Tabel 11 terlihat bahwa nilai R square adalah sebesar 0.600 df 6 28 34 Mean Square 1.385 .942 . mdemploy1. hal ini berarti sekitar 70.549 dengan tingkat signifikansi 0. benchmark. Tabel 11. Hasil Analisa Regresi ANOVAb Model 1 Sum of Squares 11. Predictors: (Constant). mdtrain.Predictors: (Constant). mdemploy2.084 dan pengaruhnya terhadap variabel TQM juga tidak signifikan. Tabel 12. variabel fokus pada pelanggan memiliki hubungan negatif yang lemah dengan variabel TQM Hal ini berarti fokus pada pelanggan ditingkatkan maka komitmen pada manajemen puncak malah menurun dan sebaliknya. F Change . . 198 .

357 .340 .002 . Selanjutnya pada pengujian tentang pengaruh kinerja jasa terhadap kinerja secara keseluruhan diperoleh korelasi positif yang kuat antara kinerja jasa 199 .373 .000 . jika fokus pada karyawan ditingkatkan baik secara kesejahteraan maupun partisipasi dalam pengambikan keputusan maka TQM akan meningkat pula.227 .001 .048 . . Tabel 13.084 1.340 . .024 -.286 1.000 .258 .002 .500 .502 . 35 35 35 35 35 35 35 Sig.064 dengan variabel TQM.000 .496 .195 .500 35 35 35 35 35 35 35 mdemploy2 .064 .000 .233 .262 .258 .023 .067 .390 .446 .340.578 1.067 35 35 35 35 35 35 35 mdbench -. .013 .013 .010 .378 1. Hasil Uji Pearson Correlations Pearson Correlation TQM mdtopmgt mdcust mdbench mdtrain mdemploy1 mdemploy2 TQM mdtopmgt mdcust mdbench mdtrain mdemploy1 mdemploy2 TQM mdtopmgt mdcust mdbench mdtrain mdemploy1 mdemploy2 TQM 1.496 .112 .010 35 35 35 35 35 35 35 mdemploy1 . Pengujian dengan Pearson Correlations antara variabel pelatihan karyawan dengan variabel TQM menemukan adanya korelasi positif yang cukup kuat. Oleh karena itu hipotesis H3 tidak mempunyai data yang mendukung untuk diterima. .095 35 35 35 35 35 35 35 mdcust -.578 .291 .000 .001 .084 -.112 .406 .000 .233 35 35 35 35 35 35 35 mdtopmgt . Dengan kata lain.000 1. yaitu sebesar 0.254 . Hal ini menyebabkan variabel benchmark tidak memiliki pengaruh yang signifikan terhadap variabel TQM. .254 .000 .057 .494 .023 .502 -.002 -. .127 -.116 -.045 .131 . Dari hasil pengujian dengan analisa regresi ditemukan bahwa variabel benchmark mempunyai korelasi negatif sebesar 0.390 . Dalam hal ini hipotesis H5 ternyata memiliki data yang cukup mendukung untuk diterima.494 .357 .378 .042 1.446 .316 .057 .002 .000 .064 .262 .116 .291 -.286 -.000 . hipotesis H2 tidak mempunyai cukup data yang mendukung untuk diterima.024 .095 .316 .406 . Hal ini menyebabkan variabel pelatihan karyawan memiliki pengaruh yang cukup signifikan terhadap variabel TQM. Artinya.045 35 35 35 35 35 35 35 mdtrain .048 .131 .195 -.227 .000 .127 .Korelasi yang lemah ini menyebabkan variabel fokus pelanggan ternyata tidak memiliki pengaruh yang signifikan terhadap variabel TQM.042 -. (1-tailed) N Variabel fokus pada karyawan memiliki korelasi positif yang cukup kuat terhadap variabel TQM.373 .

4.575 dengan tingkat signifikansi lebih kecil dari 0.05. Korelasi yang terjadi antara variabel TQM dan Kinerja secara Keseluruhan ternyata memiliki korelasi negatif. Pengujian hubungan antara variabel Kepuasan Pengunjung dengan kinerja secara keseluruhan memiliki angka korelasi sebesar 0.439 dengan tingkat signifikansi di bawah 0.05 berarti hipotesis H7 diterima. hipotesis H6 ternyata memiliki data yang cukup mendukung untuk diterima. Hal ini berarti hipotesis H8 dapat diterima.05. dengan tingkat sigifikansi yang lebih kecil dari 0. IX. Tingkat signifikansi yang cenderung di atas 0.terhadap kinerja secara keseluruhan sebesar 0. Kesimpulan Dari data yang telah dikumpulkan dan diolah dan dianalisis dapat disimpulkan hal-hal sebagai berikut : 1.617. 2. Korelasi antara variabel komitmen manajemen puncak dengan TQM.05. Terdapat korelasi positif yang cukup kuat antara variabel fokus pada karyawan dengan TQM. variabel fokus pada pengunjung dengan TQM. Karena tingkat signifikansi yang diperoleh lebih kecil dari 0. Dengan perkataan lain.218 dengan tingkat signifikansi di atas 0. Korelasi yang negatif ini menjelaskan bahwa apabila kinerja secara keseluruhan meningkat maka TQM malah menurun dan sebaliknya. 3.05. benchmark dengan TQM dan fokus pada partisipasi karyawan dengan TQM bersifat negatif dan lemah. Sedangkan hubungan yang terjadi antara variabel TQM dan Kinerja secara Keseluruhan ternyata memiliki korelasi negatif sebesar 0. Variabel yang memiliki pengaruh paling besar terhadap variabel TQM adalah variabel fokus pada kesejahteraan karyawan.05 menyebabkan hipotesis H9 tidak mempunyai data yang cukup mendukung untuk dapat diterima. Demikian pula hubungan yang terjadi antara variabel kualitas jasa dan kinerja secara keseluruhan memiliki korelasi positif yang cukup kuat sebesar 0. 200 . variabel pelatihan karyawan dengan TQM dan variabel partisipasi karyawan dengan TQM.

1996. Dari sisi pengunjung ternyata ditemukan bahwa pengunjung belum merasa puas akan kinerja dan pelayanan yang diterima. Dengan adanya standarisasi pada setiap rangkaian pelayanan pada Tahura WAR maka semua kinerja dapat dievaluasi. TQM as a focus for improving overall service performance and customer satisfaction: an empirical study on a public service sector in Malaysia. A. serta komunikasi satu arah yang dialami pengunjung. H. Sehingga untuk kedepannya. evaluasi kinerja dapat dilakukan khususnya pada variabel komitmen manajemen puncak. Proses yang tidak kalah pentingnya adalah benchmarking Tahura WAR itu sendiri. Hal tersebut disebabkan antara lain oleh karena kesiapan dan respon karyawan relatif lambat terhadap permintaan pengunjung. Saran dan Rekomendasi Berdasarkan temuan yang diperoleh peneliti dapat memberikan beberapa saran dan rekomendasi sebagai berikut : 1. Tourism. Masalah komitmen bukan melulu pemikiran manajemen puncak saja akan tetapi akan lebih baik kalau semua pihak pengelola (stakeholders) dari tingkat manajer hingga tukang tukang sapu bersama-sama berkomitmen untuk merawat dan mempertahankan serta meningkatkan kualitas dan kinerja Tahura WAR. Variabel TQM yang telah menunjukkan kinerja cukup baik dalam meningkatkan kinerja pada Tahura WAR adalah Fokus pada karyawan dan pelatihan karyawan. 201 . beragam fasilitas yang kurang memadai seperti minimnya fasilitas MCK. Oleh sebab itu. Gland. 3.15. Switzerland: IUCN. Ceballos-Lascurain. Daftar Pustaka Agus. Taylor &Francis.X. pp. Ecotourism. fokus pengunjung dan benchmarking. Vol. 2004. 4. 2. and Protected Areas. 615-628. sedangkan yang lainnya dapat dikatakan belum memiliki kinerja yang cukup baik. Berdasarkan temuan tersebut hendaknya segenap pengelola Tahura WAR dari semua level pekerjaan harus mau berbenah dan introspeksi diri demi mewujudkan tempat wisata yang berkualitas dan memiliki citra diri yang positif. akan lebih mudah memperbaiki dan meningkatkan kualitas dan kinerja pelayanan pada Tahura WAR.

Simamora. Bogor : Institut Pertanian Bogor. H. Tourism Management 16 (1995) 3-8. Upper Saddle River. S. 2000. 1995.Fandeli. Great Britain : Elsevier Science Ltd. Operation Management : flexible version. 1999. England. Towards a More Desirable form of Ecotourism. Orams M. New Jersey. 2002. A... 2. Yogyakarta : Fakultas Kehutanan UGM.. Ecotourism : towards congruence between theory and practice. 1999. Journal of operation management 17. and T. and Lesson Learned from Ecotourism Planning Projects. 202 . 2003. Wall. 1991. Farrel. Kaynak. 405-435. 2005. Ross. The relation between total quality management practices and operational performance. Fandy. C. A Guide for Planners and Managers.2004. pp.. Edited : Lindberg K. D& Terziovski. Service management and Marketing: a customer relationship management Approach. Riset Pemasaran : Falsafah. Elex Media Komputindo. dan Mukhlison.B. Managing Ecotourism Visitation in Protected Areas. Riset Pemasaran : Konsep dan Aplikasi dengan SPSS. C. Problem. Baffins Lane. 2000. Jonathan. North Bennington : The Ecotourism Society. Sarwono.. Jakarta. Marion. Teori dan Praktik Riset Pemasaran dengan SPSS. Pearson education. C. Andi Yogyakarta. Tourism Management 20 (1999) 123-132.A. Render. Wall. 2005. I.. Singgih & Tjiptono. Groonroos. 393-409. Pengertian dan Konsep Dasar Ekowisata. Di dalam : Fandeli.1999. Tourism Management 20 (1999) 123-132. J. Great Britain : Elsevier Science Ltd. Ecotourism : towards congruence between theory and practice. Issues. Yogyakarta Setiawan. Unit KSDA DIY. Pedersen. Great Britain : Elsevier Science Ltd. Gramedia Pustaka Utama. Chicester. The relationship between total quality management practices and their effect on firm performance.L.Inc. 1996. John Wiley and Sons. Vol. S. Second edition. and Heizer. Editor. ltd. Engeldrum. Bilson. Pustaka Pelajar. J. and G. Seventh edition. Di dalam : Ecotourism.. Nilai Ekonomi Taman Hutan Raya Wan Abdul Rachman Propinsi Lampung. Samson. West Sussex PO19 IUD.. M. Jakarta. Pengusahaan Ekowisata. Di dalam : Ross. Santoso. 2000. and G. Teori dan Aplikasi. Journal of operation management 21. B. pp. Epler Wood and D.

Jakarta : LP3ES. UPTD Tahura WAR. UPTD Tahura WAR. dan S. 2003. Effendi.. Metode Penelitian Survey.Singarimbun.htm 203 . 2000. Bandar Lampung : UPTD Tahura WAR. Bandar Lampung : UPTD Tahura WAR.depdiknas. Rencana Pengelolaan Tahunan Taman Hutan Raya Wan Abdul Rachman Propinsi Lampung T.go. 2002. www.id/jurnal/25/abbas gozali. M. 1989.A. Taman Hutan Raya Wan Abdul Rachman.

.

Stock split. M. Sedangkan manfaat pasar modal bagi dunia usaha adalah membina iklim keterbukaan bagi 5 Dosen Jurusan Manajemen. Latar Belakang Pasar modal sangat bermanfaat bagi para investor dan dunia usaha pada umumnya. fakultas Ekonomi Unila .PENGUJIAN EFISIENSI PASAR MODAL ATAS PERISTIWA PENGUMUMAN STOCK SPLITPERIODE TAHUN 2005-2006 DI BURSA EFEK JAKARTA Ernie Hendrawaty.5 ABSTRACT Stock split is one of corporate action that executed by a public company which aim to increase number of shares. alternatif investasi. PENDAHULUAN 1. Market Efficiency I. It imply that BEJ is weakly efficient. first that stock price change randomly. Keywords : Abnormal Retun. dan merupakan alternatif investasi yang memberikan potensi keuntungan dengan resiko yang bisa diperhitungkan.Si. wahana untuk melakukan restrukturisasi permodalan perusahaan. Number of companies that announce the stock split were 12 companies.. this reasearch will test whether Bursa Efek Jakarta is weakly efficient and and or semi strongly efficient. By using run test and event study. S. Pasar modal berperan sebagai sumber dana yang bersifat jangka panjang. The result of reasearch. This action is s ussually took if stock price is very high. dan media untuk melakukan divestasi. Manfaat pasar modal bagi investor adalah memberikan kesempatan atau hak kepada masyarakat untuk memiliki perusahaan yang sehat dan mempunyai prospek yang baik dimasa depan. t test shows that 30 days before and 30 days after stock split announcement. therefore reduce the marketability. This reasearch will use stock split announcement at Bursa Efek Jakarta during year 2005 until 2006 as the event.E. Second.1. cause the investor find difficulties to predict stock price movement to get an abnormal return. there were not an abnormal return It indicate that BEJ has already efficient semi strongly efficient because investor doesn’t have any strategy to use any available information at the market.

dan merupakan sumber pembiayaan jangka panjang bagi perusahaan. Kondisi pasar modal yang efisien diantaranya berkaitan dengan kesadaran dari para emiten untuk menerbitkan informasi yang berkualitas. Terdapat dua tujuan investor dalam berinvestasi di pasar modal. Efisiensi pasar berdasarkan informasi dibagi menjadi: (1) Efisiensi pasar bentuk lemah (weak form) (2) Efisiensi pasar bentuk setengah kuat (semistrong form) dan (3) Efisiensi pasar bentuk kuat Salah satu informasi yang signifikan terhadap harga sekuritas adalah pengumuman stock split. kebenaran serta ketepatan informasi. informasi merupakan kebutuhan utama para investor dan traders. maka pasar tersebut semakin efisien. Semakin cepat pasar modal melakukan reaksi terhadap informasi baru.dunia usaha serta memberikan akses kontrol sosial bagi perusahaan dalam menjalankan usahanya. Konsekuensi dari pasar modal yang efisien adalah sangat sulit (atau bahkan hampir tidak mungkin) bagi para investor untuk memperoleh tingkat keuntungan abnormal (tingkat keuntungan yang direalisir lebih tinggi dari tingkat keuntungan yang diharapkan) secara konsisten dengan melakukan transaksi perdagangan di bursa efek. Stock split merupakan salah satu bentuk corporate action (tindakan yang dilakukan perusahaan yang berhubungan dengan aktivitas perusahaan) yang dilakukan emiten. Kunci utama untuk mengukur pasar modal adalah hubungan antara harga sekuritas dengan informasi (Jogiyanto. dengan cara memecah sahamnya (split) menjadi lebih banyak dan harga per lembar saham berubah menjadi lebih kecil 206 . wahana untuk melakukan investasi dalam jangka pendek (likuiditas) maupun jangka panjang (growth). 2003:hal 370). karena informasi tersebut digunakan oleh mereka untuk mengambil keputusan invetasi. Pasar dikatakan efisien apabila memenuhi dua kriteria. yaitu dividen dan keuntungan modal (capital gain). baik dari sisi keanekaragaman. frekuensi. mendorong pemanfaatan manajemen profesional dalam pengelolaan perusahaan. kecepatan. Keduanya harus lebih besar atau paling tidak sama dengan tingkat pendapatan yang diharapkan. dibutuhkan suatu kondisi pasar modal yang efisien. yaitu harga saham mencerminkan semua informasi yang relevan saat itu dan karena informasi menyebar secara merata maka reaksi harga terhadap informasi baru terjadi seketika karena semua pemain di pasar telah memiliki antisipasi cukup. Agar harga sahamsaham yang tercatat di pasar modal menunjukkan nilai yang sebenarnya. Tingkat kecepatan pasar modal dalam merespon atau menyerap informasi baru telah lama menjadi perhatian para ahli ekonomi keuangan di seluruh dunia. Mereka sepakat bahwa tingkat kecepatan pasar dalam merefleksikan informasi baru ke dalam perubahan nilai sekuritas merupakan salah satu indikator tingkat efisiensi. Pada pasar modal.

Apakah harga saham bergerak secara random sebelum dan sesudah peristiwa pengumuman pemecahan saham (stock split) di Bursa Efek Jakarta periode 2005-2006 ? Apakah terjadi tingkat pendapatan abnormal saham sebelum dan sesudah peristiwa pengumuman pemecahan saham (stock split) di Bursa Efek Jakarta periode 2005-2006 ? b. c. 1.dari harga sebelum pemecahan. Tujuan Penelitian 1. Untuk memberikan sumbangan pemikiran bagi para investor sebagai pertimbangan sebelum berinvestasi di pasar modal dan pihak yang terkait dengan pasar modal. 1. Sebagai referensi untuk penelitian selanjutnya 207 .3. Rumusan Masalah Berdasarkan uraian yang telah dikemukakan dalam latar belakang diatas. Tujuan dilakukannya stock split antara lain agar saham lebih menarik dimata investor. Pemecahan saham telah menjadi alat yang digunakan untuk membentuk harga pasar saham perusahaan.2. Untuk mengetahui tingkat abnormal return sebelum dan sesudah pengumuman pemecahan saham (stock split) di Bursa Efek Jakarta tahun 2005-2006. 1.3. maka penulis merumuskan permasalahan sebagai berikut: a. Manfaat penelitian a. Tujuan Penulisan a.1. Untuk memberikan melakukan stock split bahan pertimbangan kepada emiten sebelum b.2. Lebih banyaknya investor yang tertarik pada saham tersebut maka kemungkinan harga naik akan lebih besar. Untuk mengetahui pergerakan harga saham sebelum dan sesudah pengumuman pemecahan saham (stock split) di Bursa Efek Jakarta tahun 2005-2006.3. b. karena secara psikologis investor lebih tertarik membeli saham yang murah.

Perubahan nilai nominal tersebut hanya mengakibatkan penambahan jumlah lembar saham.4.1.4. Landasan Teori 1.1. Hasil dari penelitian terdahulu diantaranya dapat dilihat pada Tabel 1 dibawah ini: Tabel 1.4. Landasan Teori Penelitian Terdahulu Penelitian mengenai stock split sudah sering dilakukan. Dengan kata lain.2. aksi pemecahan saham tidak akan mengurangi atau menambah nilai investasi dari pemegang saham/investor.4. tetapi tidak mengubah jumlah modal ditempatkan dan modal disetor (paid in capital). 208 .likuiditas dan spread Mengetahui pengaruh stock split terhadap abnormal return Mengetahui kandungan informasi stock split dan likuiditas saham Pembahasan Stock split berpengaruh terhadap ketiga variabel tersebut Tidak berpengaruh signifikan terhadap abnormal return Terdapat kandungan informasi dan penurunan likuisditas saham Simpulan Pasar modal tidak efisien bentuk setengah kuat Pasar modal efisien bentuk setengah kuat Pasar modal tidak efisien bentuk setengah kuat 2000 Indah Kurniawaty 2003 Dari hasil penelitian disimpulkan bahwa para peneliti menemukan bahwa pasar modal di Indonesia belum efisien bentuk setengah kuat.2. Penelitian-penelitian empiris tentang efisiensi pasar modal di Bursa Efek Jakarta Peneliti Sri Fatmawati dan Marwan Asri Rianty Setyawasih Tahun 1999 Tujuan Mengetahui adakah pengaruh stock split tehadap harga saham. 1. Pengertian pemecahan saham (Stock split) Pemecahan saham (stock split) merupakan aksi emiten yang dilakukan dengan cara memecah nilai nominal saham menjadi nominal yang lebih kecil sesuai dengan rasio stock split yang ditentukan.1. Pemecahan Saham (Stock split) A. 1.

Menurut Blake (1990: 243) istilah pasar modal yang efisien memiliki beberapa konsep yang berbeda yaitu : (1) Efisiensi secara alokasi (allocatively efficient). 1. Meningkatkan jumlah pemegang saham sehingga pasar akan lebih likuid. Walaupun terdapat beberapa konsep pasar efisien. 209 . Meningkatkan daya tarik investor kecil untuk melakukan investasi. Sementara itu ada beberapa pihak yang mempunyai pendapat yang bertentangan dengan hal diatas yaitu: 1.B. istilah pasar efisien pada umumnya hanya dikaitkan dengan salah satu dari tiga konsep tersebut. 2.4. Sinyal yang positif bagi pasar bahwa kinerja perusahaan bagus dan memiliki prospek yang bagus. Motivasi stock split Beberapa pelaku pasar khususnya emiten mempunyai pendapat bahwa stock split mempunyai beberapa manfaat diantaranya adalah: 1. 3.2. meningkatkan biaya 3. Tingkat harga saat ini belum dapat menjamin keberhasilan stock split karena ketidakpastian lingkungan bisnis. (2) Efisiensi secara operasional (operationally efficient) dan (3) Efisiensi secara informasi (informationally efficient) yaitu suatu pasar dikatakan efisien secara informasi jika harga pasar saat ini segera dan sepenuhnya merefleksikan semua informasi yang tersedia.2. Peningkatan jumlah pemegang saham akan pelayanan (servicing cost) bagi pemegang saham. 4. 2. yaitu efisiensi secara informasi (informationally efficient). Tingkat harga sesudah stock split akan mengubah posisi perusahaan pada kelompok yang memiliki nilai saham rendah sehingga mengakibatkan kepercayaan investor terhadap saham tersebut menurun. Konsep Pasar Yang Efisien Konsep pasar modal yang efisien (efficient capital markets) merupakan tema yang dominan di kalangan akademisi sejak tahun 1960an. Harga saham yang lebih rendah setelah stock split akan meningkatkan daya tarik investor untuk membeli sejumlah saham yang lebih besar sehingga mengubah investor odd lot menjadi investor round lot.

A. Hipotesis Pasar Efisien Hipotesis pasar efisien menurut Blake (1991:243) adalah “… that market prices instanteously and fully reflect all relevant available information is known as efficient markets hypothesis”. Dari definisi tersebut terdapat tiga hal yang penting untuk dipahami, yaitu : a. Fully Reflect Investor akan mengolah semua informasi yang relevan kedalam harga saham pada saat akan membuat keputusan menjual atau membeli saham. Harga sekarang yang terjadi mencerminkan semua informasi yang tersedia. b. All Relevant Available Information / All Known Information Informasi yang direfleksikan pada harga saham berasal dari informasi perubahan harga saham di masa lalu (historical price information), informasi yang tersedia di publik (public information) dan semua informasi dan infromasi yang tidak tersedia di publik (inside information). c. Instanteously / Quickly and Accurately Harga keseimbangan yang terbentuk di pasar modal tidak akan berubah selama tidak ada informasi baru yang dapat merubah kekuatan permintaan dan penawaran. Pada saat suatu informasi baru yang relevan masuk ke pasar modal, kekuatan permintaan dan penawaran atas satu atau beberapa saham akan bereaksi, sehingga akan terbentuk harga keseimbangan yang baru. Semakin cepat informasi diserap dan diproses oleh pasar, maka pasar modal tersebut akan semakin efisien. Jika hipotesis pasar efisien tersebut terbukti, maka pasar dalam keadaan continous stochastic equilibrium, yang berarti harga pasar saham akan selalu sama dengan nilai fundamental saham tersebut. Nilai fundamental suatu saham tidak akan berubah selama tidak ada informasi baru mengenai saham tersebut. Informasi baru atau berita pada umumnya tidak dapat diprediksi, Implikasinya adalah harga saham masa lalu tidak dapat dipakai untuk memprediksi harga saham di masa yang akan datang. Dengan kata lain menurut hipotesis pasar efisien, harga pasar suatu asset akan mengikuti langkah acak (random-walk). B. Kondisi dan Mekanisme Pasar Modal Yang Efisien Pasar modal yang efisien merupakan suatu bentuk pasar yang terdiri dari banyak penjual dan pembeli yang saling berinteraksi di dalamnya dan memiliki 210

karakter yang bersifat bebas (free market), di mana cukup mudah bagi para investor baru untuk masuk dan mengadakan transaksi dan sebaliknya, juga cukup mudah bagi lainnya untuk meninggalkan pasar setiap saat. Beberapa aspek tambahan lainnya yang merupakan syarat utama terbentuknya suatu pasar modal yang efisien adalah aspek-aspek : a. Ketersediaan dan penyebaran informasi Informasi tersedia bagi masyarakat secara bebas dan relatif tanpa biaya. Pentingnya ketersediaan dan penyebaran informasi ini disebabkan oleh investor membutuhkan informasi terkait secara cepat dan terus menerus untuk melakukan penilaian harga saham, sehingga informasi tersebut dapat dengan segera tercermin pada harga saham. b. Harga saham berfluktuasi bebas Harga saham tidak dapat dikendalikan oleh penjual dan pembeli di pasar modal. Investor individu tidak cukup kuat untuk mempengaruhi pergerakan harga saham. Ada beberapa investor institusi yang cukup kuat mempengaruhi harga. Investor ini dikendalikan melalui peraturan pasar modal sehingga tidak dapat melakukan manipulasi harga c. Terdapat analis investasi dalam jumlah besar di pasar modal Dikenal adanya dua tipe analis investasi yang membantu terjadinya perubahan harga saham secara acak di pasar modal Pertama, para analis fundamental berusaha mempelajari kondisi perekonomian secara umum. Kedua, para analis teknikal yang berusaha mempelajari pergerakan harga saham di masa lalu dan mencari suatu pola-pola tertentu dari perubahan harga di masa lalu tersebut. Secara singkat dapat dikatakan bahwa semakin banyak analis investasi dan maraknya persaingan antar mereka akan membuat pasar modal setiap saat menunjukkan harga saham yang mencerminkan semua informasi yang relevan. C. Tingkatan Efisiensi Pasar Haugen (1993 : 634) menyatakan bahwa “The market is neither strictly efficient nor strictly inefficient. The question is one of degree. Just how efficient is the market ?”. Bowman dan Buckanan (1995) juga menyatakan “Markets are not simply either efficient or inefficient. Market efficiency can be viewed as a continuum running from the perfect market to the grossly inefficient market where excess earning opportunities abound”. Berdasarkan kedua pernyataan tersebut diperoleh suatu kesimpulan bahwa pada dasarnya pasar tidak ada 211

yang secara sempurna efisien atau sepenuhnya tidak efisien. Semuanya adalah efisien dengan tingkat atau derajat tertentu Kunci utama untuk mengukur pasar yang efisien adalah hubungan antara sekuritas dengan informasi. Tiga bentuk utama dari efisiensi pasar berdasarkan ketiga macam bentuk dari informasi, yaitu efisiensi bentuk lemah (weak form), efisiensi bentuk setengah kuat (semistrong form) dan efisiensi bentuk kuat (strong form). 1. Efisiensi Bentuk Lemah (Weak form) Pasar dikatakan efisien dalam bentuk lemah jika harga-harga saham saat ini telah mencerminkan secara penuh semua informasi harga saham di masa lalu. Jones (1993 : 629) menyatakan bahwa hipotesis efisiensi pasar bentuk lemah berkaitan namun tidak identik dengan hipotesis langkah acak (random walk hypothesis). Jika harga mengikuti langkah acak, perubahan harga sepanjang waktu bersifat acak (independen). Perubahan harga hari ini tidak berkaitan dengan perubahan harga kemarin atau hari-hari lainnya. Dengan kata lain, harga masa lalu tidak berhubungan dengan nilai sekarang dan tidak dapat dipergunakan untuk memprediksi pergerakan harga. Salah satu cara untuk menguji efisiensi pasar bentuk lemah adalah dengan menguji independensi perubahan harga secara statistik, yaitu menggunakan serial correlation test. Serial correlation test mengukur korelasi perubahan harga pada bermacam-macam time lags, seperti satu hari, dua hari dan seterusnya. Pembuktian independensi harga saham secara statistik selama ini pada umumnya menunjukkan suatu korelasi positif yang signifikan dalam jangka pendek, namun tingkat korelasinya rendah, antara 0.1 - 0.2. Secara ekonomis (setelah mempertimbangkan biaya transaksi), adanya dependensi yang rendah tersebut tidak cukup kuat untuk menghasilkan strategi perdagangan yang menguntungkan. Dengan demikian, walaupun pengujian independensi harga secara statistik menyimpang dari teori langkah acak, namun penyimpangannya tidak cukup untuk mendapatkan tingkat pendapatan abnormal, sehingga tidak dianggap berlawanan dengan efisiensi pasar. 2. Efisiensi Bentuk Setengah Kuat (Semi-Strong form) Pasar dikatakan efisien dalam bentuk setengah kuat jika harga-harga saham mencerminkan secara penuh semua informasi yang dipublikasikan termasuk informasi yang berada di laporan-laporan keuangan perusahaan emiten. Jika pasar efisien dalam bentuk setengah kuat, maka tidak ada investor atau grup dari investor yang dapat menggunakan informasi yang dipublikasikan untuk mendapatkan keuntungan abnormal dalam jangka waktu yang lama.

212

maka tidak ada individual investor atau institutional investor yang dapat memperoleh keuntungan abnormal karena mempunyai informasi privat. Efisiensi Bentuk Kuat (Strong form) Pasar dikatakan efisien dalam bentuk kuat jika harga-harga sekuritas secara penuh mencerminkan (fully reflect) semua informasi yang tersedia termasuk informasi privat. Studi ini melakukan pengamatan terhadap perilaku harga saham secara cermat untuk mengetahui bagaimana saham bereaksi. Jika pasar efisien dalam bentuk kuat. Jika kelompok ini terbukti memperoleh tingkat pendapatan di atas rata-rata maka pasar dikatakan tidak efisien dalam bentuk kuat. Jika terdapat penundaan dalam penyesuaian harga dan investor dapat memanfaatkan penundaan ini untuk memperoleh keuntungan abnormal maka pasar modal tersebut tidak efisien dalam bentuk setengah kuat.Pengujian tentang bentuk efisiensi setengah kuat menggunakan event study test. yaitu para corporate insiders dan para portofolio managers. Cara untuk menguji efisiensi bentuk kuat adalah meneliti kinerja kelompok yang diperkirakan memiliki akses informasi yang tidak dipublikasikan. Market Related Data 213 . 4. Hubungan Antar Tiga Tingkat Efisiensi Pasar Hubungan bentuk efisiensi pasar dengan ketersediaan informasi digambarkan pada gambar 1. 3. Event study merupakan metode yang mempelajari reaksi pasar terhadap suatu peristiwa.

Hipotesis Harga saham bergerak secara random sebelum dan sesudah peristiwa pengumuman pemecahan saham (stock split) di Bursa Efek Jakarta periode 2005-2006. Sebaliknya bila pasar efisien dalam bentuk kuat maka pasar pasti dalam bentuk setengah kuat dan bentuk lemah. 1. 1. 1.Sumber : Jones (1993 : 628) Gambar 1 Informasi dan tingkat efisiensi Gambar tersebut menunjukkan bahwa jika ada sangkalan terhadap efisiensi pasar bentuk lemah. Kerangka Penelitian dan Hipotesis Kerangka Penelitian Berdasarkan penelitian terdahulu dan hasil tunjauan pustaka.5. Jika pasar tidak efisien dalam bentuk lemah maka otomatis pasar juga tidak efisien dalam bentuk setengah kuat dan bentuk kuat.5. maka sangkalan berlaku bagi efisiensi pasar bentuk setengah kuat dan kuat.2.1. 214 . maka kerangka dari penelitian ini adalah : Periode sebelum pengumuman stock split (t = -30) Pengumuman stock split t=0 Periode sesudah pengumuman stock split (t = +30) Harga saham bergerak random Harga saham bergerak tidak random Ada tingkat pendapatan abnormal Tidak ada pendapatan abnormal Pasar modal tidak efisien bentuk lemah Pasar modal efisien bentuk lemah Pasar modal tidak efisien bentuk setengah kuat Pasar modal efisien bentuk setengah kuat Gambar 2 : Kerangka Pikir Penelitian 1.5.

Harga saham harian (closing price) perusahaan sampel dalam periode pengamatan ( windows period). dan bonus share) agar tidak dapat menimbulkan compounding effect (faktor pengganggu) yang dapat mempengaruhi reaksi pasar terhadap informasi ini b. A.6. Populasi Populasi penelitian ini diambil emiten di Bursa Efek Jakarta yang melakukan pengumuman stock split pada tahun 2005 sampai dengan Juli 2006. Selanjutnya adalah menyeleksi emiten-emiten tersebut yang memenuhi kriteria sebagai berikut : a. cash dividen. Data-data yang dibutuhkan dalam perhitungan lengkap dan diketahui secara jelas. Daftar sampel penelitian No Kode emiten No Kode emiten 215 . Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada periode pengamatan yang tediri data harga saham harian selama periode pengamatan. Selama periode penelitian perusahaan tidak melakukan corporate action lain yang secara langsung berpengaruh pada volume perdagangan (stock dividen. Data tersebut digunakan untuk menentukan harga saham di sekitar tanggal stock split.2. Data-data meliputi : • Data tanggal pengumuman stock split perusahaan sampel. • • B. Metode Penelitian 1. Tidak terdapat tingkat pendapatan abnormal saham sebelum dan sesudah peristiwa pengumuman pemecahan saham (stock split) di Bursa Efek Jakarta periode 2005-2006. Right issue. Emiten yang melakukan pengumuman stock split pada periode tahun 2005 sampai dengan 2006 tercatat 15 emiten. Berdasarkan kriteria populasi diatas maka diperoleh sampel seperti tersaji pada tabel di bawah ini: Tabel 1. Jenis Dan Sumber Data Data yang digunakan dalam penelitian ini merupakan data sekunder yang diperoleh dengan menlakukan teknik dokumentasi.

t-30 – E (R i. 8.t-30) Keterangan : AR i. yaitu selisih dari tingkat pendapatan pada hari t dengan tingkat pendapatan pasar.t-30 E(R i. dihitung dengan rumus : AR i. CTRS 5. Definisi Operasional Variabel Definisi opersional variabel dapat dijabarkan sebagai berikut: 1. TGKA 3. 9.t-30 = R i. 11. dihitung dengan rumus : AR i.t+30 – E (R i.id 7.t R i. HITS Sumber : www. Tingkat pendapatn abnormal sesudah stock split adalah tingkat pendapatan abnormal 30 hari sesudah peristiwa pengumuman stock split yaitu selisih dari tingkat pendapatan pada hari t dengan tingkat pendapatan pasar.t) = = = Tingkat pendapatan abnormal saham i pada hari t+30 Tingkat pendapatan sesungguhnya saham i pada hari t+30 Tingkat pendapatan yang diharapkan pada saham i hari t+30 216 . 12.t+30) Keterangan : AR i.t+30 = R i. Tingkat pendapatan abnormal sebelum stock split adalah tingkat pendapatan abnormal 30 hari sebelum peristiwa pengumuman stock split.t-30 R i. JRPT TMAS PJAA LPKR BBLD EKAD C. PRAS 6.t E(R i.jsx.1. 10.t-30 = = = Tingkat pendapatan abnormal saham i pada hari t-30 Tingkat pendapatan sesungguhnya saham i pada hari t-30 Tingkat pendapatan yang diharapkan pada saham i hari t-30 2. HEXA 4.co. SMAR 2.

2. Pengujian 217 . Signifikansi abnormal return digunakan untuk melihat secara statistik signifikan tidak sama dengan nol (positif untuk kabar baik dan negatif untuk kabar buruk). Hipotesis : Ha 1 : α ≠ 0. Run Test ( uji runtun ) Run Test digunakan untuk mengetahui pergerakan harga saham secara random atau tidak random yang dapat diformulasikan sebagai berikut: c. Kriteria Penerimaan dan Penolakan Hipotesis Ho diterima atau Ha ditolak apabila –z hitung ≤ z hitung ≤ z tabel. Ditarik kesimpulan berdasarkan uji statistik yang dilakukan dengan tingkat kepercayaan 95 % atau α = 5 %. Menghitung Run Test dengan rumus Z= r−µ τr Keterangan: r = Jumlah runtun µ = Jumlah runtun ekspetasi τr = Standar deviasi jumlah runtun e. Ha diterima atau Ho ditolak apabila –z tabel > z hitung. Uji t ( T –test ) Uji t adalah alat yang digunakan untuk mengetahui signifikansi abnormal return yang ada pada periode jendela. Harga saham bergerak secara random pada periode jendela Ho 1: α = 0. Alat Analisis 1.D. Harga saham bergerak secara tidak random pada periode jendela d.

459 0.345 -1.682 0 -1.96 Hasil Tidak Random Tidak Random Random Random Random Tidak Random Random Random .96 ± 1. 1. c.96 ± 1.96 ± 1.746 Probabilita 0 0 0. Ha diterima atau Ho ditolak apabila –t tabel > t hitung atau t hitung >tabel Ditarik kesimpulan berdasarkan uji statistik yang dilakukan dengan tingkat kepercayaan 95 % atau α = 5 %. Hasil Run Test dengan tingkat keyakinan 95% Kode saham SMAR TGKA HEXA CTRS PRAS HITS JRPT TMAS 218 Z-hitung -3.353 1.7. Tabel 2. Hipotesis : H0 : ARt-30 s. Kriteria penerimaan/penolakan ARt −30 s.668 0 0.081 Z-tabel ± 1. Menghitung t statistik dengan rumus: t statistik = 3.statistik ini dilakukan dengan cara standarisasi dari abnormal return dengan cara membagi abnormal return dengan kesalahan standar estimasinya.96 ± 1.96 ± 1.073 -0.74 -0.dt +30 SD / n Ho diterima atau Ha ditolak apabila –t hitung ≤ t hitung ≤ t tabel.176 0.d t+30 = 0 (tidak terdapat AR) d.283 0. Pengujian Pergerakan Harga Saham Hasil Run Test dapat dilihat pada Tabel 3.429 -4.96 ± 1.96 ± 1.d T+30 ≠ 0 (terdapat AR) Ha : ARt-3 s.1.

201 ± 2.687 -1.000384 -0.004670 0. penelitian ini mendukung hipotesis harga saham bergerak secara random pada sebelum dan setelah stock split.936 0.842 0.201 ± 2.201 ± 2.077 LPKR -2.011059 0.96 ± 1.131 t .033 -1.201 Hasil Tidak Signifikan Tidak Signifikan Tidak Signifikan Tidak Signifikan Tidak Signifikan Tidak Signifikan Tidak Signifikan Tidak Signifikan Tidak Signifikan Tidak Signifikan Tidak Signifikan Tidak Signifikan Tidak Signifikan Tidak Signifikan Tidak Signifikan Tidak Signifikan Tidak Signifikan Signifikan Tidak Signifikan 219 .005504 0.012945 -0.676 Sumber: Data diolah Probabilita 0.tabel ± 2.201 ± 2.005144 0.05.201 ± 2.002115 -0.193 EKAD -0. 1.708 -0. Berdasarkan analisis. HITS.016189 0.922 1.003525 0.028 0.023307 -0. PJAA dan EKAD bergerak random diperkuat dengan nilai probabilita yang lebih besar dari 0.402 0.015021 -0.421 -1.201 ± 2.201 ± 2.002998 -0.283 1.008358 -0.96 ± 1.016574 0.2.276 0.013502 0.019896 -0.009920 -0.647 1.183 0. LPKR dan BBLD bergerak tidak random diperkuat dengan nilai probabilita yang lebih kecil dari 0.418 0.Kode saham Z-hitung PJAA -0.010362 0. Hasil perhitungan uji t secara cross section pada α = 5% dan d.261 -0.010541 0.483 0 Z-tabel ± 1.241 0.007805 -0.002156 thitung 0 0.201 ± 2.022865 0.082 -0.045 0.634 probabilita 0 0. Rata-rata pergerakan saham yang random menyebabkan para investor sulit untuk memprediksi harga saham sehingga abnormal return sulit didapatkan.024932 -0.24 0.010532 0.324 0.d t+30) Hasil uji t dapat dilihat pada Tabel 3 Tabel 3.015686 0.702 BBLD -4.201 ± 2.201 ± 2.201 ± 2.226 0.261 1.201 ± 2.014057 0.96 Hasil Random Tidak Random Random Tidak Random Tabel 2 menunjukan bahwa harga saham HEXA.001552 0.145 1.96 ± 1.075 -0.201 ± 2.819 0.005555 0. CTRS. Sedangkan harga saham SMAR.201 ± 2.396 -1. Pengujian Abnormal Return Pada Periode Pengamatan (t-30 s.234 1.306 0.201 ± 2.494 0.201 ± 2. Pergerakan harga saham yang random membuktikan bahwa pasar modal Indonesia sudah efisien dalam bentuk lemah.376 0.939 0. PRAS. TMAS. JRPT.012475 0.233 0.012697 CAAR 0 0.032370 -0.f = 11 Hari ke -30 -29 -28 -27 -26 -25 -24 -23 -22 -21 -20 -19 -18 -17 -16 -15 -14 -13 -12 AAR 0 0.201 ± 2.12 0.018546 -0.05. TKGA.005555 0.020280 -0.531 0.7.871 2.011914 -0.030460 0.19 0.201 ± 2.

225 0.201 ± 2.239 1.201 ± 2.009180 0.201 ± 2.013236 -0.054 0.007274 CAAR -0.224 -1.201 ± 2.203 0.002543 0.159 -0.194 -1.001197 -0.000402 0.245 -1.384 0.201 ± 2.026375 -0.201 ± 2.000551 0.658 -1.008066 0. AAR berkisar antara 220 .201 ± 2.201 ± 2.201 ± 2.457 0.001378 -0.29 0.201 ± 2.079308 0.002696 0.06 0.531 0.009645 -0.002971 0.022212 0.839 -1.Hari ke -11 -10 -9 -8 -7 -6 -5 -4 -3 -2 -1 0 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 AAR -0.021673 -0.907 0.028 -0.012127 -0.021728 0.725 1.201 ± 2.231 0.341496 0.tabel ± 2.241 0.039120 -0.003 -0.019534 -0.786 1.201 ± 2.448 0.008676 0.931 1.577 0.483 0.201 ± 2.020157 -0.010468 -0.201 ± 2.201 ± 2.201 ± 2.010168 -0.228 0.037 -0.451 0.004810 -0.007047 0.000539 -0.201 ± 2.036916 0.201 ± 2.823 0.002689 -0.978 0.021810 0.011953 -0.381 -0.201 ± 2.026483 -0.002102 0.001537 0.934 0.711 0.079 0.201 ± 2.001037 -0.201 ± 2.126 0.009369 -0.201 ± 2.781 -2.010916 0.256 0.004168 0.936 -0.025905 -0.736 -0.018725 0.010354 -0.354 1.024254 -0.270990 -0.337 0.229 0.016015 0.177 0.551 probabilita 0.192 0.012634 -0.011944 -0.003420 -0.019647 0.024920 0.201 ± 2.663 -0.477 0.028959 0.276 0.372 0.007599 0.201 ± 2.201 ± 2.022639 -0.021565 -0.023041 -0.094 -0.145 1.069140 0.201 ± 2.003266 -0.025157 -0.201 ± 2.000857 -0.201 ± 2.85 0.201 Hasil Tidak Signifikan Tidak Signifikan Tidak Signifikan Tidak Signifikan Tidak Signifikan Tidak Signifikan Tidak Signifikan Tidak Signifikan Tidak Signifikan Tidak Signifikan Tidak Signifikan Tidak Signifikan Tidak Signifikan Tidak Signifikan Tidak Signifikan Tidak Signifikan Tidak Signifikan Tidak Signifikan Tidak Signifikan Tidak Signifikan Tidak Signifikan Tidak Signifikan Tidak Signifikan Tidak Signifikan Tidak Signifikan Tidak Signifikan Tidak Signifikan Tidak Signifikan Tidak Signifikan Tidak Signifikan Tidak Signifikan Tidak Signifikan Tidak Signifikan Tidak Signifikan Tidak Signifikan Tidak Signifikan Tidak Signifikan Tidak Signifikan Tidak Signifikan Tidak Signifikan Tidak Signifikan Tidak Signifikan Sumber: Data diolah dari lampiran 4 dan lampiran 7 Berdasarkan Tabel 3 dapat diketahui bahwa abnormal return pada periode hari sebelum dan sesudah pengumuman cenderung fluktuatif.003091 0.575 0.973 -0.021716 0.350298 -0.010735 -0.811 0.010433 0.085 -2.521 0.016561 -0.008802 0.201 ± 2.964 0.234 -0.246 0.052 0.032410 -0.012733 0.021535 -0.025659 -0.014487 -0.201 ± 2.647 0.827 0.197 0.019 -1.201 ± 2.000180 -0.201 ± 2.593 t .403 -0.173 0.971 0.011089 -0.111 -2.201 ± 2.694 0.201 ± 2.003888 0.201 ± 2.022267 -0.648 -1.201 ± 2.53 0.004508 -0.008787 -0.016481 -0.201 ± 2.201 ± 2.046 1.201 ± 2.054622 0.074 0.201 ± 2.544 0.851 0.267 -0.819 0.33 0.008371 0.201 ± 2.012071 thitung -0.015703 0.010913 0.277 0.626 -1.093 0.004798 0.

Grafik AAR Sumber: Data di olah dari lampiran 4 Dari Gambar 3 dapat dilihat pergerakan AAR 3.1 -0. +26 dan +27namun tidak signifikan. Pergerakan AAR dan terdapat pada 0.4 0.-0. 1.1. Berdasarkan hasil perhitungan nilai probabilita.15 0. 1.05 berarti hipotesis diterima. secara keseluruhan lebih besar dari 0. Rata-rata return tidak signifikan. Bila probabilita lebih kecil dari 0. yaitu tidak terdapat abnormal return positif signifikan pada periode pengamatan.8. Tidak adanya abnormal return yang dapat diperoleh investor pada saat pengumuman stock split membuktikan bahwa pasar modal di Indonesia sudah efsien dalam bentuk setengah kuat.1 0. Hal ini berarti hasil peneltian ini mendukung hipotesis yang menyatakan bahwa tidak terdapatnya abnormal return yang signifikan.8.350298.25 0.15 AAR Gambar 3.079308 sampai 0.05 0 -8 -6 -4 -2 0 2 4 6 -30 -28 -26 -24 -22 -20 -18 -16 -14 -12 -10 8 10 12 14 16 18 20 22 24 26 28 -0. Pergerakan fluktuatif yang ekstrim terjadi sekitar hari +25. SIMPULAN DAN SARAN SIMPULAN Harga saham bergerak secara random sebelum dan sesudah peristiwa pengumuman pemecahan saham (stock split) di Bursa Efek Jakarta periode 30 221 .05 -0.05 berarti hipotesis diterima.3 0.2 0. 1. Hasil tersebut mendukung hasil penelitian Setyawasih (2000) yang tidak menemukan adanya abnormal return positif signifikan pada hari sekitar pengumuman stock split.35 0.

1970.. 2. Pandji dan Piji Pakarti. Jakarta. Marcus. Berdasarkan hasil penelitian yang diperoleh. Bagi emiten yang melakukan stock split hendaklah memperhatikan kondisi pasar modal. 1990. Tidak terjadi tingkat pendapatan abnormal saham sebelum dan sesudah peristiwa pengumuman pemecahan saham (stock split) di Bursa Efek Jakarta periode 2002-2006. David. Eugene F. Pengantar Pasar Modal. 383-417. Salemba Empat Fama. Third Edition. Graw-Hill Companies Inc. SARAN 1.2002-2006. Zvi. 3. Irwin Mc. Jakarta Blake. karena secara teoritis stock split hanya meningkatkan lembar saham yang beredar dan tidak secara langsung mempengaruhi cashflow perusahaan walaupun dalam praktiknya berbeda.2. Tjiptono dan Fakhrudin. 1998. Tidak adanya abnormal return yang dapat diperoleh investor pada saat pengumuman stock split membuktikan bahwa pasar modal di Indonesia sudah efsien dalam bentuk setengah kuat. Graw-Hill Book Company Bodie. Journal of Finance. Pasar Modal di Indonesia. Bagi penelitian selanjutnya agar dapat mengambil periode penelitian yang lebih panjang dan menggunakan metode perhitungan ekspektasi yang lain agar reaksi pasar terhadap pengumuman stock split terlihat lebih jelas. Pergerakan harga saham yang random membuktikan bahwa pasar modal Indonesia sudah efisien dalam bentuk lemah. 25. Mc. 2001. Bagi investor yang akan berinvestasi di pasar modal agar tidak menjadikan informasi pengumuman stock split sebagai satu-satunya tolak ukur untuk mendapatkan return tidak normal. Alex Kane dan Alan J. maka penulis mengajukan beberapa saran sebagai berikut: 1. 222 . Essentials of Invesments. DAFTAR PUSTAKA Anoraga. PT Rineka Cipta. 2. Efficient Capital Markets : A review of theory and empirical work. 2001.8. Darmadji. Financial Market Analysis. Hendy M.

Analisis Kandungan Informasi Stock Split dan Likuiditas Saham :Studi Empiris Pada Non-synchronous trading’.Yahoo. Prentice Hall Hartono. Prentice Hall Inc. Fifth Edition. Fifth Edition.trimegah.ksei.Indah. Yogyakarta Jones. New Jersey. 1996. John Wiley & Sons. Invesments : Analysis and Management. Kurniati. Englewood Cliffs.Pengaruh Stock Split Terhadap Likuiditas dan return Saham di Bursa Efek Jakarta. 2003 . 1991.2000. BPFE.jsx. Second Edition. Jurnal Manajemen dan Kewirausahaan...id/ http://www. dan Ronald J. Financial Statement Analysis.com/ 223 . 1993. Graw-Hill Company. Kinerja Keuangan. Haugen. Jogyanto. Jordan. Mc. Edisi ketiga. Modern Invesments Theory. 1999.co. Robert A. 1992. Fourth Edition. Donald E.Jurnal Riset Akuntansi Indonesia .hal 1. G.id/ http://www.13 http://www. Teori Portofolio dan Analisis Investasi. September. Seminar Nasional Akuntansi.id/ http://Finance.Wang.Francisca Yuniarti dan Soffy Susilowaty. hal 751-770 Sutrisno. Charles P. Jack Clark.Fischer.co. Francis.hal 264-775 Marwata. Foster.co. Security Analysis and Portofolio Management. Invesments Analysis and Management. 1986..2003. Fourth edition. Harga Saham dan Pemecahan Saham.

.

pelanggan merupakan fokus utama dalam virtual organizing. 2001. seseorang akan mendapatkan mobile commerce atau m-commerce yang memudahkan dalam melakukan transaksi antara konsumen. Keywords: Virtual organizing. diperkirakan akan terjadi peningkatan volume bisnis m-commerce di AsiaPasifik dari US$ 2 milliar pada tahun 2001 menjadi US$ 36 milliar pada tahun 2004 (Warta Ekonomi. bila ditambah dengan faktor mobilitas yang ada dalam perangkat bergerak seperti ponsel. peran. Survei yang dilakukan oleh Goslar dan Grover (1993) terhadap 154 buah perusahaan mengenai faktor-faktor yang memungkinkan perusahaan melakukan inisiatif. transaksi jual beli melalui jaringan internet PC. serta implementasi teknologi komunikasi menghasilkan kesimpulan bahwa ketidakpastian lingkungan mempunyai hubungan yang signifikan dengan penggunaan teknologi komunikasi. fungsi PENDAHULUAN Asean free trade area (AFTA) merupakan salah satu pemicu meningkatnya penerapan teknologi informasi di sektor pertelekomunikasian di Indonesia. Teknologi informasi memungkinkan perusahaan yang mengadopsinya memiliki keunggulan kompetitif. penjual dan jasa keuangan hubungan ini merupakan suatu jejaring kerja atau networks yang bersifat virtual. Kemajuan teknologi informasi dan telekomunikasi membuat peran teknologi informasi mempengaruhi cara kerja. Menurut Gartner Data Quest dan International Data Corporation. sampai perubahan transformasi organisasi.PEMAKAIAN NETWORK DAN KEMATANGAN TEKNOLOGI INFORMASI Agrianti Komalasari 6 ABSTRAK Virtual organizing menekankan pada peningkatan nilai dari jaringan antara perusahaan. 2001). perubahan integrasi fungsi organisaasi maupun hubungan dengan pemasok. pemasok dan pelanggan. adopsi. Teknologi komunikasi memungkinkan adanya pertukaran informasi. 6 Dosen Jurusan Akuntansi Fakultas Ekonomi Universitas Lampung .

Teknologi informasi memberikan peluang bagi perusahaan global untuk meningkatkan koordinasi dan pengendalian, atau juga untuk mendapatkan daya saing di pasar dunia (Johnston dan Carrico, 1988, dkk dalam Arifin, 2001). Menurut Wilkinson (2001) fasilitas perusahaan biasanya terletak lebih dari satu lokasi, maka diperlukan suatu sistem komunikasi data antar lokasi tersebut. Suatu jaringan komputer merupakan suatu sistem komunikasi data yang memungkinkan perusahaan untuk menyebarkan informasi dan program dengan menghubungkan komputer dengan fasilitas lain. Networks adalah suatu hubungan personal yang lebih dari sekedar kebutuhan terhadap struktur organisasi, hubungan komersial dan lainnya tetapi lebih berfokus pada bagaimana terjadinya pembagian informasi, dengan tujuan untuk keuntungan bersama (Hastings, Mindel dan Young, 1989). Internal networking pada dasarnya adalah usaha yang sinergi untuk pencapaian tujuan perusahaan. External networking berasal dari pelanggan, pemasok, pemerintah, lembaga penelitian, dan setiap pesaing yang mampu merubah lingkungan yang dapat dimonitor secara efektif Richard Hall, (1992). Suatu organisasi memiliki kebebasan untuk menciptakan kerjasama dengan organisasi lain demi meningkatkan value dan meminimalkan investasi. Virtual organization berbeda dengan bentuk organisasi seperti fungsional, divisional atau matrix, tetapi sesungguhnya merupakan karakteristik strategik yang dapat diterapkan pada setiap organisasi Venkatraman (1998). Karimi dan kawan-kawan (1996) dan Darmawati dan Indriantoro (1999) telah membuat model penelitian mengenai faktor-faktor yang mempengaruhi perusahaan dalam melakukan respon terhadap globalisasi yang dicerminkan dengan adanya penambahan investasi oleh perusahaan dalam teknologi informasi.. Faktor-faktor tersebut adalah tipologi strategi kompetitif, kematangan teknologi informasi, dan ukuran perusahaan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa hanya variabel kematangan teknologi informasi yang mempunyai hubungan dengan respon strategik. Arifin (2001) melakukan penelitian kembali terhadap model penelitian Karmini, et al. (1996). Johan (2001) mencoba menghilangkan kemungkinan adanya efek industri yang dapat mempengaruhi hasil penelitian, dengan subyek satu jenis industri yaitu perbankan di Indonesia.

226

Motivasi penulisan adalah untuk mengetahui faktor-faktor yang berhubungan dengan respon strategik pada perusahaan pertelekomunikasian terhadap globalisasi, dan pengembangan investasi dalam teknologi informasi dan pengaruhnya terhadap desain organisasi khususnya networks sebagai intangible resources perusahaan. PERUMUSAN MASALAH Permasalahan yang diangkat adalah sebagai berikut: apakah tipologi strategi kompetitif, kematangan teknologi, desain organisasi berhubungan dengan keinginan perusahaan telekomunikasi untuk melakukan penambahan investasi dalam teknologi informasi sebagai respon strategik perusahaan telekomunikasi dalam menghadapi globalisasi. Paper ini bertujuan untuk menjelaskan hubungan antara strategi kompetitif, kematangan teknologi, dan desain organisasi dengan keinginan perusahaan untuk melakuakn penambahan investasi dalam teknologi informasi sebagai respon strategik perusahaan telekomunikasi dalam menghadapi globalisasi. Manfaat yang dapat diberikan oleh paper ini adalah didapatnya suatu dasar untuk melakukan penelitian tentang hubungan antara strategi kompetitif, kematangan teknologi, dan desain organisasi dengan keinginan perusahaan untuk melakukan penambahan investasi dalam teknologi informasi sebagai respon strategik perusahaan telekomunikasi dalam menghadapi globalisasi. TINJAUAN LITERATUR 1. Tipologi Strategi Kompetitif Miles dan Snow mengidentifikasikan tiga tipe konfigirasi strategi-struktur yang konsisten dan stabil yaitu: a. Defender, memiliki bagian yang relatif sempit, kestabilan domain domain operasi yang meliputi range yang terbatas dari barang-barang dan jasa. Prospector, mengikuti strategi gerakan yang cepat dalam suatu domain organisasi yang luas. Analyzer, mengikuti suatu strategi menengah yang mengkombinasikan aspek strategi defender dan prospector. Reactor, suatu organisasi dengan konfigurasi strategi struktur yang tidak konsisten dengan mengikuti strategi prospector dan struktur defender. (Bedeian dan Zammuto, 1991). 227

b.

c.

d.

Model tipologi ini didokumentasikan dalam berbagai studi empiris untuk menentukan hubungan antara strategi perusahaan dengan strategi unit bisnis yang lain sebagai respon lingkungan Govindrajan (1988), dan Karimi et. Al (1996), Darmawati dan Indriantoro (1999) dan Arifin, Johan (2001). Miles dan Snow (1978) mengungkapkan bahwa pemilihan tipologi strategi berdasarkan pada adptive cycle, yaitu pemilihan tipologi strategi berdasarkan siklus adaptasi lingkungan. Oleh karenanya stategi organisasional yang dipilih oleh perusahaan dapat saja berubah sesuai dengan perubahan lingkungannya dengan pemilihan tipologi startegi perusahaan yang on going process. Bentuk strategi yang stabil menurut Miles dan Snow adalah tipe defender, prosfector dan analyzer jika manajemen memilihsalah satu diantara tiga tipe tipologi tersebut maka kemungkinan perusahaan akan menjadi pesaing dalam industrinya pada periode tertentu. 2. Kematangan Teknologi Informasi Tingkat kematangan informasi dicerminkan dalam formulasi aspek perencanaan, pengendalian, organisasi, dan integritasnya dalam suatu fungsi sistem informasi perusahaan Karmini et al. (1996). Konsep kematangan teknologi informasi diungkapkan oleh Churchill et al. (1969) untuk menentukan sejauh mana manajer menggunakan sistem informasi berdasarkan komputer. Perbedaan infrastruktur teknologi informasi dapat memperlancar atau menghambat pergerakan strategik perusahaan melalui operasi yang bereaksi cepat, koordinasi interorganisasional, serta fleksibilitas organisasional yang merupakan konsep penting dalam menghadapi kondisi ketidakpastian. Menurut Hill dan Jones (1995) ada empat faktor yang dapat dilakukan untuk aplikasi teknologi informasi seperti efisiensi, kualitas, inovasi, serta daya respon terhadap konsumen. 3. Networks Networks adalah suatu hubungan personal yang lebih dari sekedar kebutuhan terhadap struktur organisasi, hubungan komersial dan lainnya tetapi lebih berfokus pada bagaimana terjadinya pembagian informasi, dengan tujuan untuk keuntungan bersama (Hastings, Mindel dan Young, 1989). Venkatraman (1998) menyajikan suatu bentuk model bisnis abad 21 yang merupakan perluasan dari networks, terdapat tiga vektor yang independen dalam virtual organization yaitu virtual encounter, virtual sourcing dan virtual expertise.

228

yang menghasilkan proses keputusan dan keluarannya. Virtual organization yang merupakan konsep yang berfokus pada pentingnya pemahaman dan kemampuan untuk meningkatkan value. Virtual sourcing adalah perhatian produsen untuk meningkatkan integrasi nyata dari jaringan bisnis ditekankan pada model integrasi vertikal pada ekonomi industri dengan menggunakan internet untuk transaksi bisnisnya. Wide area network (WAN) Suatu sistem komunikasi data yang memungkinkan perusahaan membagi informasi dengan perusahaan lain yang saling berhubungan dan terpisah oleh letak geografis yang jauh. provider ataupun alat komunikasi lain yang tergantung pada lingkungan alam maka hal ini bisa mengganggu kelangsungan komunikasi antar tim.Virtual encounter merupakan gabungan antara tantangan baru dan kesempatan interaksi perusahaan dan pelanggannya. pada saat terjadinya kerusakan satelit. Teknologi informasi mengikuti keinginan pelanggan yangdinamik. Trend sekarang adalah mengarahkan kemampuan tenaga kerja perusahaan untuk memperoleh kemampuan kerja yang lebih baik sehingga meningkatkan kualitas kerja perusahaan. Virtual expertise adalah perhatian kepada kesempatan untuk meningkatkan perbedaan sumber daya baik dari dalam pperusahaan maupun dari luar. hal ini mengakibatkan peningkatan hubungan dengan komunitas pelanggan. Model Struktur adaptif (Desaanctis and Poole 1984) Struktural teknologi sifat dan semangat Tugas dan lingkungan organisasi Struktur internal grup Munculnya sumber daya Pada struktur Perpindahan bantuan dan ketidakpercayaan Proses keputusan Keluaran Keputusan Struktur sosial baru Model ini menjelaskan menjelaskan tiga sumber struktur sebagai kondisi awal keberadaan yang membentuk arti teknologi yang diimplementasi sebagai efek yang tepat. Struktur 229 .

dan budaya. 230 . yang akhirnya mengarahkan kesesuaian sehingga sukses. Misalignment Model (Leonard-Barton 1988) Siklus Teknologi Ketidaksesuaian .Sistem pengiriman . Leonard-Barton’s mengusulkan model yang mengadaptasi ketepatan secara kontinyu dalam merespon ketidaksesuaian.Kriteria Kinerja Kesesuaian Lingkungan pemakai Perbedaan model kontinyu menduga ketepatan dalam proses adaptasi. Virtual team juga diberikan kesempatan untuk menanyakan hal-hal yang berkaitan dengan kegiatannya kepada pimpinan melalui network. informasi perusahaan. Dalam model ini CT (Collaborative Technologies) yang digunakan “internet notebook” ketika anggota mempunyai kesulitan untuk memulai maka disediakan fasilitas untuk mendesain tekhnik kolaborasi yang rumit dengan kecanggihan yang disediakan oleh notebook. Tugas dan lingkungan organisasi merujuk pada sifat dari tugas seperti kelengkapan dan kebebasan dan susunan organisasi seperti hirarki.Teknologi . canggih. Struktur grup termasuk pola interaksi dan proses pengambilan keputusannya. 4.teknologi termasuk tindakan yang membatasi. Mahmood dan Mann (1993) melakukan penelitian tentang hubungan antara investasi dalam teknologi informasi dengan strategik organisasional dan kinerja ekonomi. dan sempurna sebagai sebagai teknologi terkini yang memberi dorongan secara umum untuk mencapai tujuan dan meningkatkan nilai. Respon Strategik Perusahaan terhadap Globalisasi Merupakan keinginan perusahaan untuk melakukan penambahan investasi dalam teknologi informasi.

KESIMPULAN Dari hasil analisis penelitian yang menjadi acuan. Terdapat hubungan antara variabel kematangan teknologi Informasi dengan keinginan perusahaan perbankan untuk melakukan penambahan investasi dalam teknologi informasi. yang diperoleh dengan mengirimkan daftar pertanyaan kepada para pimpinnan dari 291 perusahaan perbankan di Indonesia. (1996) yang menyatakan bahwa tipologi starategi kompetitif berhubungan dengan keinginan untuk penambahan investasi teknologi informasi.4 % dari total kuesioner. Studi ini mendukung penelitian yang dilakukan Karimi et al.Penelitian sejenis pernah dilakukan oleh Arifin (2001). Paper ini mendukung penelitian Karimi et al. Hasil ini juga mendukung pernyataan bahwa kemampuan perusahaan untuk menggunakan teknologi informasi sebagai kekuatan yang terintegrasi berhubungan dengan keinginan perusahaan untuk melakukan investasi dalam teknologi informasi sebagai respon strategik perusahaan dalam menghadapi globalisasi. Arifin (2001) yang membuktikan bahwa kematangan teknologi informasi berhubungan dengan keinginan perusahaan untuk melakukan penambahan investasi teknologi informasi. (1996) yang menyatakan bahwa tipologi starategi kompetitif berhubungan dengan keinginan untuk penambahan investasi teknologi informasi. Kuesioner yang kembali sebanyak 71 buah atau 24. dapat disimpulkan bahwa. karena perusahaan teknologi informasi merupakan perusahaan yang termasuk 231 . terdapat hubungan antara variabel tipologi strategi kompetitif dengan keinginan perusahaan telekomunikasi untuk melakukan tambahan investasi dalam teknologi informasi. Virtual organizing menekankan pada peningkatan nilai dari jaringan antara perusahaan. Hasil penelitian ini berbeda dengan penelitian Karimi et aal. (1996).. Ada hubungan antara variabel kematangan teknologi Informasi dengan keinginan perusahaan perbankan untuk melakukan penambahan investasi dalam teknologi informasi. Berdasarkan penelitian diperoleh hasil sebagai berikut:tidak ada hubungan antara variabel tipologi strategi kompetitif dengan keinginan perusahaan perbankan melakukan tambahan investasi dalam teknologi informasi. pemasok dan pelanggan. pelanggan merupakan fokus utama dalam virtual organizing. Pada perusahaan telekomunikasi ada hubungan antara variabel tipologi strategi kompetitif dengan keinginan perusahaan untuk melakuakn penambahan investasi dalam teknologi informasi. Hasil penelitian Arifin (2001) mendukung penelitian yang dilakukan Karimi et al. (1996) yang membuktikan bahwa kematangan teknologi informasi berhubungan dengan keinginan perusahaan untuk melakukan penambahan investasi teknologi informasi.

. Arthur G. McGraw-Hill Companies. Managerial Accounting. Wilkinson. Edisi ke 2. dan Ukuran Perusahaan Perbankan dengan Respon Strategik dalam Menghadapi Global. Watson. Ray H.. T. MIS Quarterly. 2. Strategic Management Journal. Vol. Garrison.. Iss:2. Irwin McGraw Hill. (2000). Organizational Behavior.. The Dryden Press. Organizations Theory and Design. C.. Venkatraman.isasi. (1995). DAFTAR REFERENSI Arifin. Cerullo. Gareth R. N.. The Strategic Analysis of Intangible Resources. L. No. L. Inc. Thesis S2 UGM. Wong-On-Wing. L. Pitt. F. 232 . (1991). Singapore. dan Brynjolfsson E. Jones. Jhon C. Contemporary Management.. R. Accounting Information System-Essential Concepts and Applications. (1998). (2001). (1997).. and Hill. Inc. Kematangan Teknologi Informasi... Sloan Management Review. Service Quality: A Measure of Information Effectiveness. dan Kavan.. Volume 14. 13.. Jhon Whiley and Sons. Raymond F. Johan. Hall.. Hitt. Luthan F. Noreen. Hubungan Antara Tipologi Stategi Kompetitif. June. B. Charles W. Richard. McGraw Hill Book. Volume 21. Henderson. George. Eric W. (2001).prospector yang memiliki kecenderung untuk menerapkan desain strategi kompetitif yang agresif untuk menghadapi persaingan global. Zammuto. Journal of Management Information System. Jennifer M. Real Strategies For Virtual Organizing. 1992.. (2000). Raval. (1995). 135-144. Bedeian. Information Technology and Internal Firm Organization: An Explatory Analysis. M.

perempuan memiliki ketajaman dalam meramal keadaan dan cenderung sebagai “pemain yang mencari aman” (self player). Pengambilan sampel dilakukan dengan metode strattified sampling dan metode acak sederhana ( random sampling). kemandirian. modal saat ini. Unila . Besarnya sampel dalam penelitian ini sebanyak 150 pengusaha. usia. status. orientasi kemasa depan dan toleransi pada suatu hal yang belum tentu. Selain itu dalam orientasi masa depan (future oriented). didukung. pekerjaan orang tua dan lingkungan dimasa kecil. Responden diminta untuk berpartisipasi untuk merespon dan memberikan identitas mereka mengenai jenis kelamin. berani mengambil resiko. memainkan peran penting dalam menunjang ekonomi nasional.1. Kata Kunci : Entrepreneurship. Hasil Perhitungan dengan menggunakan Program AMOS diperoleh bahwa hipotesis yang menyatakan terdapat berbedaan kemampuan antara wirausaha wanita dan pria mempunyai perbedaan tetapi tidak signifikan antara keduanya. 1. Pendahuluan 1. terutama di bidang Usaha Mikro. Latar Belakang Salah satu ciri negara berkembang adalah masalah tenaga kerja dan mutu sumber daya manusia. Dari 119 kuesioner yang di input terdiri dari 56 kuesioner dari pengusaha pria dan 63 pengusaha wanita.Analisis Perbandingan Kemampuan Entrepneurship Antara Pengusaha Wanita dan Pria pada Usaha Kecil dan Menengah di Bandar Lampung Ribhan7 ABSTRAK Telah disadari bahwa peran perempuan dalam sektor ekonomi. Masalah Tenaga kerja tidak terlepas dari banyaknya 7 Dosen Jurusan Manajemen. Kecil dan Menengah (UMKM) tidaklah kecil. Hofstee (1989) berpendapat bahwa perempuan cenderung lebih berpandangan ke masa depan ketika membuat suatu keputusan dan bertindak ketimbang lakilaki. dan disadari oleh banyak pihak bahwa UMKM. Fakultas Ekonomi. modal awal.

Usaha kecil idealnya memang membutuhkan peran (campur tangan) pemerintah dalam peningkatan kemampuan bersaing dan peningkatan usahanya. mengharuskan kita beralih lebih ke sektor swasta. Wirausaha yang tanguh adalah wirausaha yang menyukai mengambil resiko realistik karena mereka ingin berhasil. ini merupakan 3. tidak ingin bekerja pada orang lain. orientasi kedepan. akan tetapi pemerintah juga harus mengetahui kemampuan wirausaha (entrepreneurship) dari sudut pandang gender. 1998). 1996) seorang wirausahawan memiliki karatreristik: berkeinginan untuk naju. Dengan terbatasnya lapangan kerja disektor pegawai negeri sipil di Indonesia. Banyaknya usaha kecil di Bandar Lampung belum dapat memberdayakan potensi yang ada di wilayah tersebut. berani berkorban dan toleran pada sesuatu yang belum pasti. Untuk itu maka salah satu solusinya adalah dengan membuka lapangan pekerjaan baru atau berwiraswasta. dalam Yusuf. 1988 ). ini di sebabkan mutu sumber daya manusia yang masih rendah dan belum sesuai dengan kualifikasi yang diharapkan.98 % dari jumlah pengusaha kecil di Indonesia ( Kopperindag. Hal ini disebabkan jumlah perempuan pengusaha lebih sedikit dan mayoritas bergerak dalam bisnis skala kecil atau temporer (Drucker. kemampuan menyusun suatu proposal pendanaan ke lembaga-lembaga pemberi modal serta mengeluarkan kebijakan atau peraturan yang lebih memihak pada usaha kecil.35 %. percaya diri.lapangan usaha yang tersedia. Menurut Meredith (2002) pengambilan resiko berkaitan dengan kepercayaan pada diri sendiri. Namun tidak selamanya usaha kecil harus terganung pada pemerintah akan tetapi mereka juga hendaknya mempunyai kemampuan berwirausaha dan keyakinan diri mereka terhadap perkembangan usahanya. Semakin besar keyakinan wirausaha pada kemuampuan sendiri. mengharapkan penghasilan yang besar. karena pertimbangan efisiensi skala usaha. Menurut Hellriegel dan Slocum (1992. Usaha kecil di Lampung yang terbesar adalah disektor pertanian dan sektor perdangan / hotel dan restoran masing-masing adalah 70 % dan 18. semakin besar keyakinan wirausaha akan kesanggupan untuk mempengaruhi hasil keputusan dan semakin besar kemungkinan kebarhasilan. Namun yang terjadi adalah penyerapan tenaga kerja di sektor swasta sangat sedikit sekali. Penelitian kewirausahaan yang dilakukan selama ini banyak terfokus pada pengusaha laki-laki.500 usaha kecil. Pengusaha kecil dan menengah di Bandar Lampung pada tahun 1998 berjumlah ± 1. Pemerintah tidak saja harus membina kemampuan usaha kecil dalam menghitung modal optimum yang diperlukan. Namun semanjak tahun 80-an jumlah wanita karir dan wanita pengusaha 234 .

Penelitian ini. Hofstee (1989) berpendapat bahwa perempuan cenderung lebih berpandangan ke masa depan ketika membuat suatu keputusan dan bertindak ketimbang lakilaki. Disis lain penelitian-penelitian mengenai usaha kecil masih sangat 235 . perempuan memiliki ketajaman dalam meramal keadaan dan cenderung sebagai “pemain yang mencari aman” (self player). II. Hal ini dikarenakan perhatian pemerintah dalam meningkatkan taraf hidup masyarakat lebih banyak pada sektor usaha kecil. pengusaha perempuan cenderung mengutamakan keamanan keluarga dan kontrol diri mereka. Penelitian ini menggunakan personal atribut yang terdapat pada wirausawan dalam kelompok usaha kecil (Usaha Kecil dan Menengah). Tujuan Penelitian Penelitian ini bertujuan: menganalisis perbandingan kemampuan wirausaha (entrepreneursip ) pengusaha wanita dan pria pada kecil dan menengah di Bandar Lampung. Selain itu dalam orientasi masa depan (future oriented). menganalisis perbandingan kemampuan entrepreneurship antara pengusaha wanita dan pria dengan menggunakan teknik analisa jalur dengan bantuan perhitungan regresi pada pengusaha kecil dan mikro di Bandar Lampung. Selain itu. 2. 1. dengan alasan bahwa usaha kecil adalah merupakan usaha kerakyatan yang dapat meningkatkan kondisi ekonomi masyarakat disekitar usaha tersebut. Peneliti merumuskan masalah : bagaimanakah perbandingan kemampuan entrepreneurship pengusaha wanita dan pria pada usaha kecil dan menengah di Bandar Lampung. Tinjauan Pustaka Dan Hipotesis Perkembangan usaha kecil di negara kita berkembang sangat pesat setelah terjadi krisis ekonomi (pasca krisis).3.telah meningkat tajam dan sejak itu perempuan bekerja mulai menjadi topik penelitian menarik. yaitu untuk informasi dan pengetahuan atau masukan bagi pemerintah daerah dalam kebijakan-kebijakan usaha kecil dan mikro berdasarkan aspek gender. Perumusan Masalah Pengalaman dari negara lain menunjukkan bahwa perempuan pengusaha lebih bertanggung jawab dan lebih dapat dipercaya dalam masalah pengelolaan keuangan usaha. dan perempuan cenderung lebih peka terhadap kebutuhan pasar sehingga membuka peluang usaha baru dibanding dengan wirausaha pria. Sealian itu dirumuskan pula manfaat dari penelitian ini.

inovasi. dan entrepreneur. 2. Inventor didefinisikan sebagai seseorang yang bekerja untuk mengkreasikan sesuatu yang baru untuk pertama kalinya. orang yang memiliki kemempuan untuk mengambil resiko dan mempercepat pertumbuhan ekonomi. aktivitas kewirausahaan juga kemampuan managerial yang dibutuhkan seorang entrepreneur. 4. 236 . dan kemajuan di perekonomian kita akan datang dari para wirausaha. dan aturan baru.1 Pengertian Wirausaha (Entrepreneurship) Ada kerancuan istilah antara entrepreneurship. Entrepreneur didefinisikan sebagai seseorang yang membawa sumber daya berupa tenaga kerja.sedikit. dan Entrepreneurship adalah jiwa kewirausahaan yang dibangun untuk enjembatani antara ilmu dengan kemampuan pasar. Wirausaha (entrepreneur) adalah seorang pembuat keputusan yang membangtu terbentuknya sistem ekonomi perusahaan yang bebas. 2. Inventor pada umumnya memiliki pendidikan dan motivasi berprestasi yang tinggi. 1. dan juga dilekatkan pada orang yang membawa perubahan. Intrapreneurship didefinisikan sebagai kewirausahaan yang terjadi di dalam organisasi yang merupakan jembatan kesenjangan antara ilmu dengan keinginan pasar. sehingga pemerintah mengalami kesulitan dalam memahami usaha kecil terutama atribut persolan yang ada pada wirausaha. material. entrepreneurial. Inventor dan Entrepreneur Berikut ini beberapa perbedaan antara inventor dan entrepreneur. 3. ia termotivasi dengan ide dan pekerjaannya. Entrepreneurship meliputi pembentukan perusahaan baru. dan asset lainnya pada suatu kombinasi yang menambahkan nilai yang lebih besar daripada sebelumnya. Menurutnya. Entrepreneurial adalah kegiatan dalam menjalankan usaha atau berwirausaha. standar kesuksesan bukanlah dari moneter semata tetapi dari hak paten yang didapatnya. Sebagian besar pendorong perubahan. intrapreneurship. inovasi.

dan resiko sosial. Semakin besar fokus dan perhatian yang diberikan dalam usaha ini maka akan mendukung proses kreasi yang akan timbul dalam kewirausahaan. fisik. 5. fisik dan resiko sosial. Kewirausahaan mengacu pada perilaku yang meliputi: 1. Ia mengatur dan memastikan agar organisasinya berkembang dan bertahan. 237 2. Kewirausahaan meliputi proses yang dinamis sehingga dengan demikian timbul pengertian baru dalam kewirausahaan yakni sebuah proses mengkreasikan dengan menambahkan nilai sesuatu yang dicapai melalui usaha keras dan waktu yang tepat dengan memperkirakan dana pendukung. dan akan menerima reward yang berupa keuangan dan kepuasan serta kemandirian personal. Memperoleh reward. Dalam hal ini resiko yang mungkin terjadi berkisar pada resiko keuangan. . terdapat empat hal yang dimiliki oleh seorang wirausahawan yakni : 1. 2. Proses berkreasi yakni mengkreasikan sesuatu yang baru dengan menambahkan nilainya. Melalui pengertian tersebut. Entrepreneur berupaya mengimplementasikan penemuannya sehingga disukai publik namun inventor lebih menyukai menemukan atau menciptakan sesuatu. Pertambahan nilai ini tidak hanya diakui oleh wirausahawan semata namun juga audiens yang akan menggunakan hasil kreasi tersebut. Komitmen yang tinggi terhadap penggunaan waktu dan usaha yang diberikan. 3. Mengorganisasi dan mengorganisasi kembali mekanisme sosial dan ekonomi untuk mengubah sumber daya dan situasi pada perhitungan praktis Penerimaan terhadap resiko dan kegagalan. 3. Sedangkan reward berupa uang biasanya dianggap sebagai suatu bentuk derajat kesuksesan usahanya.Sedangkan wirausaha atau entrepreneur lebih menyukai berorganisasi daripada menemukan sesuatu. Memperkirakan resiko yang mungkin timbul. Dalam hal ini reward yang terpenting adalah independensi atau kebebasan yang diikuti dengan kepuasan pribadi. Pengambilan inisiatif.

Selain itu. Wirausaha merupakan istilah yang diterjemahkan dari kata entrepreneur. mengubah gaya hidup atau meninggalkan karir yang telah dirintis. Dalam bahasa Indonesia mempunyai arti berdiri diatas kekuatan sendiri. Dalam hal ini pemerintah dapat berperan sebagai inovator. Hal ini lebih memacu seseorang untuk lebih mengembangkan usaha daripada bekerja untuk orang lain. 2. Selanjutnya adalah peranan dari model yang akan mempengaruhi dan juga memotivasi seorang wirausahawan. Dukungan ini dapat terlihat melalui pembangunan infrastruktur. Adanya keinginan untuk membentuk usaha baru. 2000). Berikut ini beberapa paparan yang menyebabkan seseorang mengambil keputusan untuk berwirausaha: 1. Wirausaha mempunyai arti seorang yang mampu memulai dan atau menjalankan usaha (Longenecker et. Pemerintah akan bergerak sebagi pelindung dalam memasarkan hasil teknologi dan kebutuhan sosial. dukungan pemerintah juga menjadi faktor yang tak kalah penting. Dalam budaya Amerika dimana menjadi bos bagi diri sendiri lebih dihargai daripada bekerja dengan orang lain. 238 . dan entrepnereurship diterjemahkan menjadi kewirausahaan (Kamus Manajemen – LPPM).al. regulasi yang mendukung pembentukan usaha baru. Faktor yang mendukung keinginan ini antara lain adalah budaya juga dukungan dari lingkungan sebaya. Hal ini biasanya dipicu oleh keinginan untuk mengubah keadaan yang statis ataupun mengubah gaya hidupnya karena adanya suatu hal negatif yang menimbulkan gangguan. keluarga. Istilah tersebut kemudian berkembang menjadi wirausaha. dan partner kerja. Peranan Wirausahawan dalam Perkembangan Ekonomi Peranan wirausaha tidak hanya sekedar meningkatkan pendapatan perkapita tapi juga memicu dan mundukung perubahan struktur masyarakat dan bisnis. Faktor yang terakhir adalah ketersediaan finansial yang akan menunjang usaha. Faktor selanjutnya adalah pemahaman terhadap pasar. stabilitas ekonomi dan kelancaran komunikasi. Tentu saja hal ini menjadi penting terutama dalam meluncurkan produk baru ke pasaran.Pengambilan Keputusan untuk Berwirausaha Setiap orang memiliki ide untuk berkreasi namun hanya sedikit orang yang tertarik untuk terus melanjutkan sebagai seorang wirausahawan.

dapat menjadi wirausaha asal mau dan mempunyai kesempatan untuk belajar dan berusaha. dimana orang tersebut juga akan menanggung resiko kegagalan. 1989). mengubah atau mentransfer nilai. Dengan kreatifitasnya. Definisi ini mendukung pendapat Yusuf (1996) yang mengemukakan bahwa wirausaha merupakan pengambilan resiko untuk menjalankan usaha sendiri dengan memanfaatkan peluang-peluang untuk menciptakan bisnis baru atau dengan pendekatan yang berbeda sehingga bisnis yang dikelola berkembang menjadi besar dan mandiri dalam menghadapi tantangan-tantangan persaingan. Seorang wirausaha adalah orang yang memiliki pengetahuan yang luas tentang lingkungan dan membuat keputusan-keputusan tentang lingkungan usaha. Dari berbagai definisi tersebut penulis mendefinisikan wirausaha sebagai seorang yang mampu memulai atau menjalankan usahanya dengan mengkoordinasikan dan mengoperasikan serta memenej sumber-sumber alam serta mampu mentransfer nilai menjadi sesuatu yang baru atau mengubah yang sudah ada dan berani menanggung resiko kegagalan. pengoperasian dan pengambilan resiko yang berhubungan dengan bisnis baru atau pendekatan baru yang berbeda (Luthan dan Hotgetts. mengembangkan dan melembagakan perusahaan miliknya sendiri. Menurut Say yang dikutip Muhandri (2002) wirausaha adalah orang yang mampu melakukan koordinasi. tidak mustahil akan terbukti bahwa ia betul-betul memiliki citra kemandirian yang memukau banyak orang karena mengaguminya dan selanjutnya akan mengikutinya. organisasi dan pengawasan. Wirausaha adalah mereka yang bisa menciptakan kerja bagi orang lain dengan berswadaya. Griffin dan Ebert (1986) mendefinisikan wirausaha/ wirausahawan adalah orang yang mengorganisir dan memenej sumber-sumber daya. mengelola sejumlah modal dan menghadapi ketidakpastian untuk meraih keuntungan. Dunia entrepneur merupakan dunia tersendiri yang unik. Itu sebabnya. 239 . Di lain pihak bisnis (business) diartikan sebagai suatu organisasi yang sifatnya mencari profit dengan mengusahakan barang dan jasa yang diinginkan konsumen. sesuatu yang berbeda. Sedangkan Drucker (1985) mengatakan bahwa untuk dapat dikatakan wirausaha seseorang harus dapat menciptakan sesuatu yang baru. Entrepneurship merupakan suatu proses dari pengorganisasioan.Banyak para ahli mendefinisikan wirausaha dengan versinya masing-masing. Sedangkan Sutrisno (2002) wirausaha (entrepneur) adalah mereka yang mendirikan. mengapa entrepneur atau wirausahawan dituntut untuk selalu kreatif setiap saat. Dari definisi-definisi tersebut mengandung asumsi bahwa setiap orang mempunyai kemampuan normal. mengelola.

dan inisiatif. b. 2002). mempunyai dorongan kuat. Selalu berusaha mencapai dan menghasilkan karya yang lebih baik untuk customers. Adapun ciri dari kriteria tersebut adalah sebagai berikut: a. Kepemimpinan. tidak mudah bosan dan ulet atau pantang menyerah. realistik. bangsa dan negara. dalam Yusuf. dapat bergaul dengan orang lain. Kreatif mencari dan menciptakan peluang pasar dan meningkatkan produktivitas dan efisiensi. Menjadi wirausaha profesional harus memenuhi kriteria keungulan (Sutrisno. ketekunan dan ketabahan. kerja keras.al (1996. et. tekad.Meredith. menerima saran-saran dan kritik.2. dalam Sutrisno. seperti: bertingkah laku sebagai pemimpin. Berani mengambil resiko serta mampu memperhitungkannya. dan bermotivasi tinggi yang mengambil risiko dalam mencapai tujuannya. Berorientasi tugas dan hasil. Sementara itu menurut G. seperti: kemampuan mengambil resiko. Pengambil resiko. seperti : kebutuhan akan prestasi. berorientasi laba.2 Karateristik Wirausawan (Entrepneurship) Wirausawan yang sukses memiliki mutu yang membedakan mereka dari orang lain pada umumnya. c. e. Ciri-ciri tersebut adalah : a. mengumpulkan sumber-sumber daya yang dibutuhkan guna mengambil keuntungan daripadanya dan mengambil tindakan yang tepat guna. Antisipasif terhadap perubahan dan akomodatif terhadap lingkungan. Para wirausaha adalah individu-individu yang berorientasi kepada tindakan. 1996) mutu tersebut meliputi suka mencari peluang. berorientasi ke depan. Selalu berusaha meningkatkan keunggulan dan citra perusahaan melalui inovasi diberbagai bidang. marker-driven dan berorientasi konsumen. masyarakat. d. energik. Menurut Harper (1991. suka pada tantangan. c. 2002) mengemukakan bahwa para wirausaha adalah orang-orang yang mempunyai kemampuan melihat dan menilai kesempatan-kesempatan yang ada. b. 240 .

Sedangkan menurut Hellriegel dan Slocum (1992. tapi mempercayai kemampuan dirinya untuk mengatasi masalah tersebut. yang mengakui adanya masalah didalam pembauatan usaha baru. resiko yang diambil oleh entrepneur didalam memulai dan atau menjalankan usahanya berbeda-beda. e. orientasi ke masa depan. d. McClelland (dalam Longenecker et. seorang wirausaha mempeerhatikan tingkat keingintahuannya atau keinginan yang kuat untu berusaha dengan tujuan apapun. Kebutuhan akan keberhasilan. Keorisinilan. Tantanagan dan waktu yang dibutuhkan untuk memulai dan menjalankan usahanya juga mendatangkan resiko bagi keluarganya. karateristik entrepneur adalah: a. Keinginan yang kuat untuk berusaha.d. orang yang percaya pada dirinya sendiri. menerima resiko fisik sebagaimana mereka menghadapi kemungkinan terjadinya kegagalan. Berorientasi ke masa depan.al (2000). fleksibel. menciptakan ketabahan dan kemauan untuk bekerja keras. Wirausaha adalah peraih keberhasilan tingkat tinggi. Para ahli menemukan bahwa para wirausaha terdapat keinginan yang lebih besar mengambil resiko dari pada manajer profesional c. meninggalkan pekerjaannya. Menurut Longenecker et.al . ingin independen. berani berkorban dan toleran pada sesuatu yang belum menentu. 2000) menemukan bahwa orang cenderung dengan kebutuhan yang tinggi akan keberhasilan juga memiliki kecenderungan untuk mengambil resiko yang moderat. seperti: inovatif dan kretif. percaya diri (self eficacy). b. Percaya diri. Keinginan untuk mengambil resiko. Misalnya resiko berinvestasi uang miliknya. dan mempertaruhkan karirnya. seperti: perspektif dan mempunyai pandangan kedepan. tidak ingin bekerja pada orang lain. orang yang memiliki tingkat kebutuhan keberhasilan yang tinggi senang bersaing dengan standar keunggulan dan memiliki untuk bertanggung jawab secara pribadi atas tugas yang dibebankan kepadanya. 1996) seorang wirausaha yang sukses juga memiliki karateristik (personal atribut) seperti: keinginan untuk maju. dalam Yusuf. mengharapkan penghasilan yang besar. Wirausaha yang mengidentifikasikan secara teliti kegiatan usahanya . 241 . Dorongan untuk keberhasilan tersebut tampak dalam pribadi yang ambisius yang memulai usaha barunya dan kemudian mengemabangkan usaha tersebut pada orang-orang tertentu.

Ciri-ciri Intrapreneurship (menurut Moko. Memiliki kemampuan untuk menyelesaikan pekerjaan i. Memiliki intuisi bisnis yang tinggi m. Menginginkan adanya akses ke seluruh resource perusahaan. Sensitif terhadap situasi dan kondisi internal dan eksternal perusahaan. Sabar dan cukup Kompromis Penelitian kewirausahaan yang dilakukan selama ini banyak terfokus pada pengusaha laki-laki. e. Berorientasi pada pencapaian Tujuan c. 2005) a. Bahwa dibanding laki-laki . Bahwa eksekutip perempuan memiliki hubungan interpersonal yang lebih intens dengan mitra kerja atau karyawan dibanding dengan laki-laki. perempuan cenderung lebih menonjol dalam pergaulan (people oriented). Berpikir jauh ke depan Bekerja secara terencana. Berkemampuan bersosialisasi pada stakeholders o. n. Bersedia bekerja susah h. 1988 ). Perempuan lebih 242 . Motivasi kerja yang Tinggi d. dan sistematik g.terstruktur. f. Sebagaimana pendapat Stain (1989 :240). l. Memiliki self-esteem dan self eficacy yang tinggi Berani Mengambil resiko k. Namun semanjak tahun 80-an jumlah wanita karir dan wanita pengusaha telah meningkat tajam dan sejak itu perempuan bekerja mulai menjadi topik penelitian menarik. Hal ini disebabkan jumlah perempuan pengusaha lebih sedikit dan mayoritas bergerak dalam bisnis skala kecil atau temporer (Drucker. b. Responsif terhadap reward yang diberikan. Cermat. Berkemampuan menjual ide atau gagasan pada pihak lain. j.

swasta. Pengalaman dari negara lain menunjukkan bahwa perempuan pengusaha lebih bertanggung jawab dan lebih dapat dipercaya dalam masalah pengelolaan keuangan usaha. Perbedaan jenis kelamin bukanlah hal yang unik. Wirausaha Perempuan Banyak pihak memahami bahwa kesempatan berkarya bagi perempuan lebih terbatas dibandingkan dengan laki-laki. organisasi perempuan dan institusi terkait lainnya. namun memiliki bakat alam yang memotivasi mereka menekuni MLM dan berjuang melawan arus perbedaan gender. pengusaha perempuan cenderung mengutamakan keamanan keluarga dan kontrol diri mereka. Menurut Langan-Fox (1991) pengusaha perempuan cenderung memperlakukan orang lain lebih liberal. terutama melalui iptek. masih merupakan tantangan yang besar. perempuan sangat berpotensi untuk mengembangkan usaha.Teknologi dapat membuka kesempatan bagi perempuan untuk meningkatkan peranannya di bidang usaha.Upaya untuk meningkatkan peranan perempuan dalam pengembangan wirausaha. Data sejak tahun 2004 memperlihatkan bahwa jumlah perempuan yang aktif dalam bidang usaha masih jauh lebih sedikit dibandingkan laki-laki. akses pemasaran.3. perempuan memiliki ketajaman dalam meramal keadaan dan cenderung sebagai “pemain yang mencari aman” (self player). Hofstee (1989) berpendapat bahwa perempuan cenderung lebih berpandangan ke masa depan ketika membuat suatu keputusan dan bertindak ketimbang lakilaki. Di satu sisi. Selain itu. sebenarnya telah dilakukan oleh pemerintah. Namun disadari bahwa pemakaian teknologi juga terkendala oleh berbagai faktor. berbagai hal seperti kemudahan pembiayaan dan perijinan. Selain itu dalam orientasi masa depan (future oriented). perlindungan HKI. lebih mudah memaafkan dan bersikap fleksibel terhadap masalah di kantor dibanding laki-laki. selain sebagai salah satu faktor penentu dalam persaingan juga memungkinkan perempuan untuk bekerja dan berusaha di rumah. Berbagai kebijakan dan tindakan telah dicanangkan namun kesemuanya masih belum menghasilkan dampak yang diharapkan. dan perempuan cenderung lebih peka terhadap kebutuhan pasar sehingga membuka peluang usaha baru. memperluas jaringan usaha atau meringankan beban kerjanya. Di sisi lain. 243 . 2.lunak di dalam menghadapi kesalahan atau masalah pribadi mitra kerja atau karyawan.

4. Pengaruh kemandirian. Sedangkan entrepreneurship seseorang wirausaha (entrepreneur) mempunyai sifat-sifat. III. berani mengambil resiko. Hipotesis Hipotesisi dalam penelitian ini adalah: Terdapat perbedaan kemampuan antara wirausaha wanita dan wirausaha pria di Kota Bandar Lampung. Metodologi Penelitian Bab ini membahas tentang metode penelitian yang meliputi populasi dan sampel. Ingin Independen / kemandirian Entrepneurship Pengambilan resiko Orientasi ke masa depan Toleran pada sesuatu yang belum menentu. Seorang wirausaha yang sukses memiliki karateristik (personal atribut) seperti: keinginan untuk maju. Disamping itu dibahas pengukuran variabel penelitian. orientasi ke masa depan dan toleransi pada sesuatu yang belum menentu antara wirausaha wanita dan pria berbada secara signifikan. uji validitas dan reliabilitas serta teknik analisis data. mengharapkan penghasilan yang besar. tidak ingin bekerja pada orang lain.2. Kemampuan seorang wirausaha yang sukses adalah orang yang mempunyai kemampuan diri terhadap usahanya seperti ketidak ketergantungan. berani mengambil resiko. berani berkorban dan toleran pada sesuatu yang belum menentu. orientasi ke masa depan. metode pengumpulan data dan pengukuran dan definisi operasional variabel. Identifikasi Kemampuan Entrepreneurship 244 . berpandangan ke depan dan toleransi pada sesuatu hal yang belum menentu. Gambar 1. ingin independen. individualitas dan optimisme. seperti : ketidak ketergantungan.

Karateristik entrepneurship adalah keinginan untuk independen dan mandiri. Kuesioner penelitian diberikan langsung pada perusahaan yang terpilih. usia. dilakukan guna memperoleh data skunder yang berkaitan dengan tinjauan pustaka. 3. Ide dasar pengambilan sampel adalah bahwa dengan menyeleksi bagian dari elemen-elemen populasi. Data primer ini meliputi data-data tentang variabel penelitian yaitu : kewirausahaan (entrepneurship). Jumlah populasi yang ada di Bandar Lampung diperkirakan sebanyak 15 ribu usaha kecil (Kopperindag. populasi yang dipilih mempunyai hubungan yang erat dengan masalah yang diteliti. 1995). 3.3 Definisi Operasionel Dan Pengukuran Variabel Kewirausahaan (Entrepneurship). Responden diminta untuk berpartisipasi untuk merespon dan memberikan identitas mereka mengenai jenis kelamin. keinginan untuk mengambil resiko.1 Populasi Dan Sempel Dalam suatu penelitian. dilakukan guna memperoleh data primer melalui pemberian kuesioner kepada responden. modal awal. Sampel merupakan bagian dari elemen-elemen populasi yang hendak diteliti.2 Metode Pengumpulan Data Penelitian ini menggunakan data primer dan skunder yang diperoleh melalui: a.3. b.al. Survey. Populasi merupakan jumlah keseluruhan unit analisis yang ciri-cirinya akan diperkirakan (Cooper & Emory. Pengambilan sampel dilakukan dengan metode acak sederhana (random sampling). Dalam penelitian ini populasinya adalah seluruh pengusaha kecil (usaha yang memiliki omset kurang dari Rp 200 juta dan jumlah tenaga kerja kurang dari 25 orang) yang berada di Bandar Lampung. Metode pengambilan sampel yang dilakukan adalah dengan menggunakan metode strattified sampling dan random sampling. hasil-hasil penelitian dan data-data tentang pengusaha kecil dan mikro di Bandar Lampung. seorang yang mampu memulai dan atau menjalankan usaha (Longenecker et. lingkungan diwaktu kecil dan pengalaman berwirausaha. modal saat ini. Studi pustaka. pekerjaan orang tua. Besarnya sampel dalam penelitian ini sebanyak 150 pengusaha. 2003). status perkawinan. 1995). Agar kuesioner terisi dengan lengkap dan dapat kembali kepada peneliti sebanyak mungkin maka diberikan waktu khusus untuk pengisian keasioner tersebut. 2000). berorientasi kemasa depan dan toleransi terhadap sesuatu yang belum 245 . kesimpulan tentang keseluruhan populasi diharapkan dapat diperoleh (Cooper & Emory.

Analysis of Moment Structure (AMOS) merupakan salah satu program untuk mengolah model-model yang multidimensi dan berjenjang. 1992). 1986). tujuan dan cita-cita. Pengukuran variabel diukur dengan menggunakan skala likert 5 – point (sangat tidak setuju sampai dengan sangat setuju). Dalam penelitian ini. Uji Reliabilitas. pengambilan resiko.6 3. hasil penelitian mampu menjelaskan masalah penelitiannya sesuai dengan keadaan atau kejadian yang sebenarnya. item-item pertanyaan yang digunakan sudah standardized dalam artian sudah digunakan dalam peneliti-peneliti sebelumnya (ribhan. Pengujian reliabilitas ditunjukkan oleh koefisien cronbach alpha.4 Uji Validitas dan Reliabilitas. 3. 0.8 adalah baik (Sekaran.5 Teknik Pengujian Hipotesis Untuk menguji hipotesis serta menghasilkan suatu model yang fit. metode analisis data yang digunakan adalah Structural Equation Modelling (SEM) dengan dibantu program aplikasi AMOS yang merupakan teknik multivariate dengan mengkombinasikan aspek-aspek multiple regression.7 dapat diterima dan diatas 0. Instrumen yang valid berarti instrumen tersebut dapat digunakan untuk mengukur apa yang hendak diukurnya secara tepat dan benar. kerja keras. Anderson. dan Black 246 . Menurut Hair. sedangkan uji reliabilitas menggunakan cronbach alpha pada α = 0. item-item pertanyaan yang digunakan diuji validitasnya.sangat setuju (5) ). Tatham. Semakin mendekati 1. Uji Validitas Uji validitas dimaksudkan untuk memastikan seberapa baik suatu instrumen mengukur konsep yang seharusnya diukur.00 maka semakin tinggi konsistensi jawaban skor butir-butir pertanyaan atau makin dapat dipercaya.tentu serta berani berkorban.6 adalah kurang baik. Kuesioner entrepneurship ini terdiri dari 16 item yang menilai kemandirian. Uji reliabilitas dilakukan untuk mengetahui konsistensi dan ketepatan pengukuran. Reliabilitas instrumen adalah kejituan atau ketepatan instrumen pengukur (Kerlinger. dan berorientasi ke masa depan. toleransi pada sesuatu yang belum tentu seperti: bagi saya. reliabilitas yang kurang dari 0. Dengan mempergunakan instrumen penelitian yang memiliki validitas tinggi. 2006). bila pengukuran dilakukan pada objek yang sama berulang kali dengan instrumen yang sama. sehingga tidak perlu melakukan lagi uji validitas. Dalam penelitian ini. apa yang saya capai atau peroleh saat ini sudah cukup (sangat tidak setuju (1) -----------------.

kemudian mengembangkan model tersebut kedalam bentuk yang lebih formal yaitu dengan cara: (a) structural model. Chi-square – Significance Probability yang disyaratkan adalah lebih besar atau sama dengan 0. Memasukan diagram path kedalam serangkaian struktur model dan pengukuruan model. Hal ini sangat penting untuk membenarkan hubungan antara dua variabel. (b) hubungan causal haruslah atau diasumsikan sebagai hubungan yang linier. Mengembangkan teori-teori yang mendasari model penelitian yang akan digunakan. 2. c. Asumsi yang mendasari dalam penyusunan diagram path adalah (a) semua hubungan causal ditunjukkan dengan didasari oleh teori-teori yang ada. dengan mentransfer diagram path kedalam serangkaian structural equations yang jelas. Tucker-Lewis Index (TLI) lebih besar atau sama dengan 0. Membuat diagram path. Langkahlangkah dalam Structural Equation Modelling (SEM) adalah: a.05 ( ≥ 0. (b) measurement model. dan (c) mengkorelasikan antara konstruk-konstruk dan indikator-indikator yang ada. Model persamaam struktural yang baik dengan menggunakan analysis of moment structure (AMOS) adalah ditandai dengan pertimbangan kriteria-kriteria (Arbuckle. 247 .05 ). pada Ferdinand. 3.(1998) Structural Equation Modelling (SEM) atau Analysis of Moment Structure (AMOS) digunakan untuk mengestimasi serangkaian persamaan regresi berganda yang berpisah.90 ( ≥ 0. b. yaitu dengan menetapkan variabel exogenous dan variabel endogenous yang dikembangkan dalam sebuah diagram path. Incremental fit untuk GFI (Goodness of Fit Index). tapi saling berhubungan secara bersamaan (simultaneously). AGFI (Ajusted Goodness of Fit Index) lebih besar atau sama dengan 0. 2000): 1. Degree of freedom (DF) harus positif. 1997. Structural Equation Modelling (SEM) bias terdapat beberapa variabel endogenous (dependen) dan variabel endogenous ini bias menjadi variabel exogenous (independen) bagi varaibel endogenous yang lain.90 ).94.95 dan Normed Fit Index (NFI) lebih besar atau sama dengan 0. Setelah mengembangkan model yang didasari teoriteori atau penelitian sebelumnya.

serta hasil pengujian hipotesis dan pembahasannya. uji validitas.08 ). lebih kecil atau sama dengan 0. Nilai Root Mean Square Residual (RMR) dan Root Mean Square Error of Approximation ( RMSEA) yang rendah. Jumlah populasi yang ada di Bandar Lampung diperkirakan sebanyak 15 ribu usaha kecil (Kopperindag. 4. usia. 2003). status.4. pekerjaan orang tua dan lingkungan dimasa kecil. uji reliabilitas dan korelasi antara variabel. Dari hasil pengumpulan kuesioner diskripsi responden secara rinci dapat terlihat dalam tabel 1 berikut: Tabel 1. Dari 119 kuesioner yang di input terdiri dari 56 kuesioner dari pengusaha pria dan 63 pengusaha wanita. Kuesioner penelitian diberikan langsung pada perusahaan yang terpilih. Pembahasan mencakup deskripsi responden. Agar kuesioner terisi dengan lengkap dan dapat kembali kepada peneliti sebanyak mungkin maka diberikan waktu khusus untuk pengisian keasioner tersebut. Besarnya sampel dalam penelitian ini sebanyak 150 pengusaha. Deskripsi Responden Keterangan Jenis Kelamin Laki-laki Perempuan 248 Jumlah 56 63 Persentase (%) 47% 53% . Pengambilan sampel dilakukan dengan metode strattified sampling dan metode acak sederhana ( random sampling). Analisis Deskripsi Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh pengusaha kecil (usaha yang memiliki omset kurang dari Rp 200 juta dan jumlah tenaga kerja kurang dari 25 orang) yang berada di Bandar Lampung. modal awal. Dari 150 kuesioner yang diisi responden yang dikembalikan adalah sebanyak 119 kuesioener (respon rate 79%).1. Responden diminta untuk berpartisipasi untuk merespon dan memberikan identitas mereka mengenai jenis kelamin. IV.08 ( ≤ 0. Pengujian Hipotesis dan Pembahasan Bab ini membahas analisis data dan hasil perhitungan serta pembahasan tentang perbandingan kemampuan entrepneurship antara pengusaha wanita dan pria. modal saat ini.

Pada uji reliabilitas ini dapat terjadi penghapusan beberapa item-item pertanyaan. Uji reliabilitas ini dilakukan dengan maksud untuk mengetahui seberapa jauh sebenarnya item-item pertanyaan tersebut memiliki konsistensi. 249 . dengan kata lain peneliti berasumsi bahwa item-item pada kuesioner penelitian ini telah dilakukan validitas item . hasil pengujian reliabilitas masing-masing variabel dalam penelitian ini dapat dilihat pada tabel berikut. Sehingga item-item yang reliabel adalah: 3. 2006). Uji Validitas dan Reliabilitas Uji Validitas Kuesioner yang digunakan dalam penelitian ini merupakan kuesioner yang pernah digunakan oleh peneliti-peneliti terdahulu (ribhan. Uji Reliabilitas Uji reliabilitas dilakukan terhadap data yang sudah terkumpul. Secara rinci. dengan membandingkan antara cronbach alpha total dan alpha if item deleted sehingga dapat meningkatkan nilai cronbach alpha.5105 (standardized item alpha sebasar 0. Pengujian Reliabilitas item-item Entrepneurship Pengujian reliabilitas untuk item-item variabel entrepreneurship menghasilkan nilai cronbach alpha tertinggi sebesar 0.5.5105) dengan empat kali pengujian.14.2.11. Sehingga dalam penelitian ini tidak dilakukan uji validitas terhadap item-item kuesioner penelitian.Keterangan Usia 20 – 30 tahun 31 -40 tahun lebih dari 40 tahun Status Perkawinan Kawin Belum Kawin Jumlah 18 56 45 Persentase (%) 15% 47% 38% 99 20 83% 17% 4.13.

067 -1. 1998).000 18.000 16.Tebel 2. SEM bila diestimasi dengan menggunakan maximum likelihood estimation technique.000 12.446 1. Analisis Data Evaluasi atas Dipenuhinya Ukuran Sampel Jumlah sampel total yang digunakan dalam pengujian ini adalah 119 sampel. Ringkasan Hasil Pengujian Reliabilitas Variabel Penelitian No 2 Nama Variabel Entrepneurship Awal Cronbach Jumlah Alpha item 16 -0. 250 ..000 max 18..r. mensyaratkan pengujian asumsi normalitas.065 2. Jumlah sampel ini telah lebih dari jumlah sampel minimum yang diperlukan dalam pengujian structural equation model.000 skew -.294 .556 c.378 .899 .604 c.0694 Jumlah item 5 Akhir Cronbach Alpha 0.000 11.681 1. Assessment of normality Wirausaha Pria Assessment of normality (Group number 1) Variable tol md res dep Multivariate min 12.099 1.r. Tabel 3. Menurut Hair et al.845 kurtosis -.000 17. Hasil uji normalitas untuk sampel wirausaha pria disajikan dalam tabel 3.047 . -. (1998).000 9.3.144 1.5105 4. Untuk menguji normalitas distribusi data yang digunakan dalam analisis bisa digunakan dengan mengamati mulitivativariate kurtosis value.(1998) ukuran sampel yang sesuai adalah antara 100 – 200. Apabila nilai kritisnya (CR) lebih besar dari ± 2.734 -.380 Sedangkan hasil uji normalitas untuk sampel wirausaha Wanita disajikan dalam tabel 4 berikut. Oleh karena itu pengujian model keseluruhan dengan SEM dapat dilakukan.124 .01 (Hair et al. -. Evaluasi atas Dipenuhinya Asumsi Normalitas Menurut Hair et al.58 berarti kita dapat menolak asumsi mengenai normalitas pada probability level 0.135 -.630 -1.

000 max 20. nilai tersebut lebih kecil dari nilai batas ± 2.177 -.574 -1.r.290 -.000 17.888 c. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa pada pengujian data SEM. baik secara multivariate tidak ada bukti bahwa data yang digunakan berdistribusi tidak normal. .579 -.r.230 c.296 -. . Assessment of normality (Group number 1) Variable tol md res dep Multivariate min 10.47 .000 10.400 -.26 .38 .938 -.000 17.022 -. Assessment of normality Wirausaha Perempuan. sehingga asumsi normalitas terpenuhi.61 wirausaha md e4 .000 skew .000 19.10 dep e2 .51 tol 251 . 4.745 kurtosis .655.000 11.382 1.4.018 .006 .179 -. Perbandingan Model Path antara Wirausaha Pria dan Wanita Hasil Perhitungan dengan menggunakan Program AMOS diperoleh gambar analisa jalur antara pria dan wanita sebagai berikut: e1 .035 -.655 Dari tabel 3 dan 4 dapat dilihat bahwa nilai CR untuk multivariete menunjukkan angka 1.32 res e3 .380 dan 1.58.Tabel 4.000 9.236 2.22 -.

613 -.119 .467 . Wirausaha – Laki-laki (Pria) Sedangkan untuk gambar path atau analisa jalur diperoleh sebagai berikut: Gambar 3.54 wirausaha md .Gambar 2. Pengujian Hipotesis dan Pembahsan Nilai-nilai koefisien path dan critical ratio (CR) hasil analisis hubungan kausalitas antara variabel-variabvel penelitian dengan menggunakan program AMOS 5 dapat dilihat pada tabel 5 Tabel 5.020 1.02 res e3 .512 Wanita -.014 .37 -.004 tol 4.12 1. Nilai Koefisien Path Wirausaha Pria dan Wanita Path wirausaha wirausaha wirausaha wirausaha Pria .00 dep e2 2.4.06 e4 .538 . Model Path Wirausaha – Perempuan (Wanita) e1 .063 dep res md tol <--<--<--<--- 252 .322 .

Penilaian terhadap pengaruh dari masing-masing indikator. Wirausaha pria lebih memiliki citra kemandirian dalam menjalankan usahanya. Temuan ini menandakan bahwa wirausaha wanita lebih berani mengambil resiko dan suka pada tantangan atas usahanya dibandingkan dengan wirausaha pria. meninggalkan pekerjaannya. Temuan ini berbeda dengan pendapat para ahli (Longenecker et.05 (p<0. Pengaruh kemandirian pria (0. Ingin Independen atau Kemandirian.al.613). didukung. dibandingkan dengan wirausaha wanita. Misalnya resiko berinvestasi uang miliknya. Berani mengambil resiko. menurut Hair. et al.. Berdasarkan pengujian tersebut bahwa hipotesis yang menyatakan terdapat berbedaan kemampuan antara wirausaha wanita dan pria mempunyai perbedaan tetapi tidak signifikan antara keduanya. Sedangakan untuk wirausaha wanita memiliki pengaruh yang negatif dan tidak signifikan yaitu -0.467. Dorongan untuk keberhasilan tersebut tampak dalam pribadi yang ambisius yang memulai usaha barunya dan kemudian mengemabangkan usaha tersebut pada orang-orang tertentu. hasil temuan dalam peneltian ini menunjukkan bahwa wirausaha wanita (1. Hal ini berkemungkinan disebabkan masalah-masalah permodalan dan pengembangan pasar produk mereka. hal ini menandakan bahwa wirausaha pria di Bandar Lampung mempunyai kemampuan mengembangkan kemajuan usahanya masih sangat rendah. temuan ini menunjukkan bahwa wirausaha wanita di 253 .538) lebih baik dalam pengambilan resiko dalam menjalankan usahanya dibandingkan dengan wirausaha pria (0. (1998) dilihat dari nilai koefisien path-nya dan nilai critical ratio (CR) yang lebih besar atau sama dengan 1.322) lebih besar dibandingkan dengan indikator kemandirian pada wirausaha perempuan yaitu sebesar -0. Hal ini menunjukkan bahwa wirausaha pria lebih mandiri dalam menghadapi tantangan-tantangan persaingan.05). dan mempertaruhkan karirnya. hasil perhitungan dengan AMOS menunjukkan bahwa besarnya pengaruh indikator kemandirian antara wirausaha wanita dan pria berbeda. Wirausaha adalah peraih keberhasilan tingkat tinggi. Orientasi kemasa depan. 020. diinterpretasikan signifikan secara statistik pada tingkat 0. temuan dalam penelitian menunjukkan bahwa pengaruh indikator orientasi kemasa depan wirausaha pria mempunyai pengaruh yang relatif kecil (0. 2000) yang mengatakan bahwa orang yang memiliki tingkat kebutuhan keberhasilan yang tinggi senang bersaing dengan standar keunggulan dan memiliki untuk bertanggung jawab secara pribadi atas tugas yang dibebankan kepadanya.96.119) dan tidak signifikan.

Perbedaan kemampuan orientasi kemasa depan antara wirausaha pria lebih tinggi dibanding dengan wirausaha wanita. menciptakan ketabahan dan kemauan untuk bekerja keras. didukung. Hasil pengolahan dengan menggunakan AMOS pengaruh indikator-indikator kemampuan wirausaha wanita dan pria semuanya tidak signifikan. sehingga dapat diprediksi bahwa kreatifitas wirausaha pria lebih baik dibanding dengan wirausaha wanita. Implikasi. Hasil temuan menunjukkan bawa wirausaha pria lebih fleksibel dan antisipasi terhadap perubahan-perubahan lingkungan (0. seorang wirausaha memperhatikan tingkat keingintahuannya atau keinginan yang kuat untu berusaha dengan tujuan apapun. Penelitian ini menguji perbandingan pengaruh kemampuan entrepneurship Wanita dan Pria pengusaha kecil dan mikro di Bandar Lampung. Hal ini mengindikasikan bahwa wirausaha wanita berkemungkinan. Seorang wirausaha mempunyai kemampuan antisipasif terhadap perubahan dan akomodatif terhadap lingkungan. Toleransi ambiguitas yakni kemampuan untuk berhubungan dengan yang tidak tersetruktur dan tidak bisa diprediksi sehingga menuntut kreatifitas seseorang. serta fleksibel. Simpulan. Kesimpulan Seratus sembilan belas data yang diperoleh dari para wirausaha UKM dan UMKM di Bandar Lampung dianalisis dengan menggunakan analisis model persamaan structural (structural equation modeling) dan program apliklasi AMOS. V. orientasi mereka dalam menjalan usahanya hanya sekedar membantu pasangan mereka dalam memenuhi kebutuhan rumahtangganya.063). Hasil pengujian menunjukkan bahwa hipotesis yang menyatakan bahwa terdapat perbedaan kemampuan wirausaha antara wanita dan pria di Bandar Lampung serta terdapat perbedaan pengaruh antara indikator-indikator kemampuan wirausaha wanita dan pria pengusaha kecil dan mikro di Bandar Lampung.512). Hal ini dikarenakan setelah pengolahan dipisahkan antara wanita dan pria maka 254 . Keterbatasan Dan Saran Penelitian Mendatang 5. Toleransi pada sesuatu yang belum menentu. Sedangkan wirausaha wanita indikator ini memiliki pengaruh yang sangat kecil (0.1. hal ini menandakan bawa wirausaha wanita hapir tidak memiliki toleransi terhadap perubahan-perubahan lingkungan yang terjadi dan akan terjadi dan kurang kreatifitasnya.Bandar Lampung tidak memiliki kemampuan untuk mengembangkan usahanya kemasa depan.

Berani mengambil resiko. perbedaan kemampuan orientasi kemasa depan antara wirausaha pria lebih tinggi dibanding dengan wirausaha wanita. yaitu antara 100 -200 responden. 255 . Implikasi Hasil Penelitian Temuan-temuan hasil penelitian ini menunjukkan bahwa kemampuan indikator-indikator wirausaha para wirausaha UKM dan UMKM di Bandar Lampung berbeda antara wanita dan pria dalam hal ingin independent (kemandirian) atau kemandirian. terutama dalam wirausaha wanita. Untuk itu diperlukan peranan berbagai pihak (pemerintah. professional. berorientasi kemasa depan. serta toleransi terhadap sesuatu yang belum menentu. Wirausaha pria lebih mandiri. menunjukkan bahwa wirausaha pria lebih mandiri dalam menghadapi tantangan-tantangan persaingan. Toleransi pada sesuatu yang belum menentu. dan kreatifitas dibandingkan dengan wirausaha wanita.2. Berdasarkan pengolahan data dengan menggunakan analisa menghasilkan temuan yang mendukung hipotesis yang diajukan peneliti. 5. pengambilan resiko. jalur Ingin Independen atau Kemandirian. Misalnya resiko berinvestasi uang miliknya. akademisi serta masyarakat) dalam memberikan bimbigan terhadap usaha entrepneurship terutama dalam wirausaha wanita. berorientasi kemasa depan dan kreatifitas. Temuan ini juga diharapkan dapat memberikan masukan bagi stakeholder dalam memberdayakan kemampuan wirausaha. sehingga mereka akan lebih mandiri. Hasil temuan ini menunjukkan terdapat perbedaan kemampuan entrepneurship dari persepteif gender di Bandar Lampung. wirausaha wanita lebih berani dibanding dengan wirausaha pria. meninggalkan pekerjaannya. Orientasi kemasa depan. Sedangkan dalam hal keberanian mengambil resiko. Dengan demikian wirausaha wanita dalam menjalankan usahanya tidak semata-mata usaha sambilan atau sementara. sehingga dapat diprediksi bahwa kreatifitas wirausaha pria lebih baik dibanding dengan wirausaha wanita. orientasi ke masa depan. hasil temuan menunjukkan bawa wirausaha pria lebih fleksibel dan antisipasi terhadap perubahanperubahan lingkungan. Wirausaha pria lebih memiliki citra kemandirian dalam menjalankan usahanya.sampel masing-masing gender tidak memenuhi standar pengolahan. dibandingkan dengan wirausaha wanita. dan mempertaruhkan karirnya. wirausaha wanita lebih berani mengambil resiko dan suka pada tantangan atas usahanya dibandingkan dengan wirausaha pria.

Entrepreneurship (dalam Perspektif Kondisi Bangsa Indonesia). & Emory. London: Richard D. DAFTAR PUSTAKA Astamoen. 256 . Penelitian yang akan datang diharapkan mengikutsertakan faktor-faktor yang lebih kompleks dalam penelitian. karena besarnya pengambilan responden setelah dibedakan antara pria dan wanita besarnya tidak mengikuti aturan yang ditetapkan dalam pengolahan data dengan menggunakan AMOS. Dimana perbandingan antara besarnya responden (sample) dan populasi tidak sesuai. Model yang di tunjukkan belum menunjukkan suatu model yang fit (sesuai).D. 1995.3. 2. Inc. Bandung: Alfabeta Cooper. orientasi kemasa depan dan toleransi terhadap sesuatu yang belum menentu.C. Oleh karenanya peneliti menyarankan bagi penelitian yang akan datang sebagai berikut: 1. Hal ini berkemungkinan karena seluruh item-item pertanyaan yang diajukan. diisi responden dalam satu paket kuesioner. Kemungkinan dapat menyebabkan terjadinya bias respon akibat adanya kecenderungan para responden mengukur lebih tinggi dari kondisi sesungguhnya.Dengan demikian bantuan yang bersifat materi dan non materi masih terus ditingkatkan untuk memotivasi dan kepercayaan diri mereka dalam menjalankan usahanya. seperti kemadirian. pengambilan resiko. 2005.. hal ini disebabkan terdapatnya bias atau halo efek dalam kuesioner. hal ini karena keterbatasan dana yang dimiliki oleh peneliti. Variabel-variabel yang digunakan dalam penelitian ini terbatas pada pengaruh indikator-indikator entrepneurship.W. Diharapkan menggunakan sampel yang terspesifikasi dan berbeda dengan penelitian ini dengan maksud untuk lebih menguatkan temuan peneliti. Keterbatasan lainnya besarnya responden masih sangat kurang dari yang seharusnya. Kuesioner yang digunakan peneliti bersifat self-report atau self rating scale. Moko P.Irwin. 5. Business Research Methods (5th edition). Keterbatasan dan Saran Penelitian Mendatang Penelitian ini masih banyak kekurangan-kekurangan yang dialami. R.

Kerlinger. 2000. Hair. JustinG.com. 2003. Second Edition. Asas-asas Penelitian Behavioral (edisi Indonesia). Inc. Business. Muhandri. Longenecker. N. Purdi E. 1998.Don Hellriegel dan John W. New York: John Wiley & Son. William. Ronald. Anderson.2002. Research Methods for Business. 2002. Augusty.. Harper & Row . Ferdinan. Edisi V bulan Juni. Thomson Learning. Management. Strategi Penciptaan Wirausaha (Pengusaha) Kecil Menengah yang Tangguh. Isu Dan Kecenderungan Ekonomi. 2006. Media Informasi BPR. Prentice-Hall International Inc.1992.Drucker.Slocum. Small Business Management.C. Entrepneur Kreatif. Massacussets. Yuni Pristiawati. Badan Penerbit Universitas Diponegoro.Hotgetts. U. Jr. Joseph F.1985. Pengembangan Usaha Kecil Untuk Penguatan Perempuan. Tjahya. 2005. Business.. Ricky E. Wirausaha dan Bisnis Kecil.topcities. Rolph E. Tatham.Ebert. 257 . Multivariate Data Analysis (Fifth Edition). An Entrepneurial Emphasis 11th Ed. 1989. Nasrullah Yusuf.. Fred Luthan dan Richard M. Fred. Addison-Wesley Publishing Co. JR.. The Dryden Pres Chicago. 1992. New York. 2000. Peter F. (Penerjemah: Simatupang Ladung R) 1998. Gadjah Mada University Press. Pemikiran dalam Rangka Lustrum ke 6 FE UNILA.L. Structural Equation Modeling Dalam Penelitian Manajemen. J.1996. New Jersey. Prentice Hall. Entrepneur Indonesia Edisi 2 / Tahun I / Agsutus. http://rudict. Pranctise and Principles.CarlosW. Joko Sutrisno. Chandra.com.William Petty.Moore. Pengembangan pendidikan Berwawasan Kewirausahaan Sejak Usia Dini. Pengaruh Keyakinan Diri (Self Eficacay) dalam Kemampuan Entrepreneurship Pengusaha Kecil dan Mikro di Propinsi Lampung. http://rudict.Griffin dan Ronald J. Ribhan. Innovation and Entrepreneurship. Sekaran. & Black.tripod.1989.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful