Bioetika Islam Dalam Transplantasi Organ & Eutanasia Oleh ARDA DINATA Judul Buku : Kloning, Eutanasia, Transfusi Darah

, Transplantasi Organ, dan Eksperimen pada Hewan: Telaah Fikih dan Bioetika Islam Penulis : Abul Fadl Mohsin Ebrahim Penerjemah : Mujiburohman Penerbit : PT. Serambi Ilmu Semesta 2004 Tebal : 200 halaman SERING kali, orang itu berhasil mengatasi sakit ringan dengan beristirahat, melakukan proses pengobatan, menjalani diet, dan lainnya. Namun, kita tidak dapat menampik kemungkinan bahwa suatu saat, salah satu organ tubuhnya tidak berfungsi lagi dengan baik. Pada saat inilah, tergantung pada sifat kerusakan organ. Orang itu harus menjalani pembedahan atau mengganti sama sekali organ tubuhnya yang rusak melalui transplantasi. Mengganti organ tubuh yang sakit atau rusak sebenarnya sama sekali bukanlah inovasi abad modern. Jeff E. Zhorne menyatakan bahwa sejak awal abad ke-8 SM, para ahli bedah Hindu telah melakukan transplantasi kulit untuk mengganti hidung yang hilang karena penyakit sipilis, perang fisik, atau hukuman atas suatu kejahatan. Dalam literatur hadis juga dituturkan peristiwa „Ufrajah, seorang sahabat Nabi saw. yang kehilangan hidung dalam suatu pertempuran dan diganti dengan hidung palsu dari perak. Hidung peraknya beberapa waktu kemudian menimbulkan bau yang tidak sedap, sehingga ia meminta nasihat Nabi saw. Nabi kemudian menganjurkan agar ia mengganti hidung perak itu dengan hidung palsu lain dari emas. Dalam buku yang ditulis oleh Abul Fadl Mohsin Ebrahim, Guru Besar Studi pada Universitas Durban-Westville, Afrika Selatan ini, diungkapkan setidaknya ada tiga tipe transplantasi organ. Pertama, autotransplantasi. Tipe ini meliputi praktik-praktik transplantasi yang menggunakan bagian-bagian tubuh atau organ dari, dan pada, tubuh si pasien itu sendiri. Dalam hal ini, transplantasi kulit, tulang rawan, otot, dan tulang merupakan praktik-praktik yang sering dilakukan dalam bedah ortopedis. Kedua, homotransplantasi (allotransplantasi). Tipe ini meliputi transplantasi organ pada spesies yang sama, seperti sesama manusia atau sesama binatang dari spesies yang sama. Ketiga, heterotransplantasi. Tipe ini merupakan transplantasi dari hewan kepada manusia atau antara hewan satu dengan hewan lain dari spesies yang berbeda. Terlepas dari fakta bahwa berbagai tipe transplantasi organ ditujukan untuk mengurangi penderitaan dan meningkatkan kualitas hidup pasien. Namun, transplantasi organ juga memunculkan banyak persoalan etis-hukum Islam. Autotransplantasi tidak menimbulkan masalah karena transplantasi ini dilakukan dengan menggunakan bagian-bagian tubuh atau organ dari si pasien itu sendiri. Tetapi, dua tipe transplantasi lainnya menimbulkan sejumlah persoalan. Misalnya, transplantasi ginjal babi, yang ukurannya hampir sama dengan ginjal manusia, kemungkinan berhasil dilakukan dalam waktu dekat, sehingga akan menjadi salah satu pilihan

dibahas seputar masalah waktu kematian. dan bagaimana prinsip-prinsip hukum Islam dalam eksperimen pada hewan. hukum Islam melarang pemanfaatan bagian tubuh hewan mati serta bagian apa pun dari babi. (b) Pertimbangan ruangan. perlindungan hewan dalam Islam. Bagian satu. Pada bagian ini diungkap tentang hakhak hewan. dalam buku ini diungkapkan bahwa eutanasia pada hakikatnya adalah pencabutan nyawa seseorang yang menderita penyakit parah atas dasar permintaan atau kepentingan orang itu sendiri. dan bagaimana ketentuan-ketentuan fikih berkait masalah transfusi darah. Lalu dapatkah kaum Muslim menerima ginjal babi ketika ginjal mereka tidak berfungsi? Jika jawabannya ya. bila fakta bahwa transplantasi organ tidak dapat menanggulangi problem penyakit parah. akankah eutanasia diizinkan sebagai jalan untuk mengakhiri penderitaan pasien? Jawabannya ada dalam buku ini. kita bisa menemukannya di dalam buku yang memiliki tebal 200 halaman ini. Bagian dua. Pada bagian akhir ini kita diajak untuk melihat tentang penentuan kematian dari sudut ilmu kedokteran. menyangkut motivasi melakukan eutanasia. pertimbangan ulama tentang akhir hidup manusia. atau lumpuh yang tidak memiliki harapan sembuh. Terkait masalah eutanasia. membahas masalah eksperimen pada hewan. 155). bagaimana resolusi fikih tentang kematian otak. buku ini menjadi titik tolak bagi studi lebih lanjut. Atau sebagai “pembunuhan dengan belas kasih” terhadap orang sakit. Dengan kata lain. Namun kita tahu. dan masalah eutanasia. tapi kita yang . dan didefinsikan pula sebagai pencabutan nyawa -dengan sebisa mungkin tidak menimbulkan rasa sakit-seorang pasien yang menderita penyakit parah dan mengalami kesakitan yang sangat menyiksa (hal. Pertanyaannya. luka-luka. Pada bagian tiga. Untuk mencari tahu jawaban seputar permasalahan transplantasi organ ditinjau dari segi keilmuan kedokteran (medis) maupun telaah fikih dan bioetika Islam tersebut. pandangan ulama kontemporer tentang transplantasi organ. Pada bagian empat. secara garis besar dibagi menjadi empat bagian yang terdiri dari 17 bab. resolusi fikih tentang transplantasi organ. Buku ini. Masalah yang dibahas meliputi. konsep kematian dalam Alquran. eutanasia artinya membiarkan seseorang mati dengan “mudah dan baik”.realistis bagi banyak orang. membahas masalah transplantasi organ manusia. bagaimana menyikapi pencantuman donor organ dalam wasiat dan seputar masalah kloning manusia. dan (c) Mati dengan layak (hal. praktik para ahli pengobatan muslim. tetapi insya Allah. Walaupun diakui oleh penulisnya. Apalagi meski buku ini hasil terjemahan. 148). tempat tidur. buku ini bukanlah jawaban final untuk problem-problem seputar masalah di atas. maka timbul keharusan untuk meneliti keabsahan eksperimen pada binatang dari sudut pandang Islam. dan peralatan medis di rumah sakit yang justru dapat dimanfaatkan oleh pasien-pasien yang lain. Sementara itu. membahas seputar transfusi darah yang meliputi bebarapa konsep tentang darah. para pendukung eutanasia menjustifikasi pendirian mereka berdasarkan hal-hal berikut: (a) Faktor ekonomi. realitas transfusi darah saat ini. petugas. bagaimana pemanfaatan bagian tubuh manusia menurut fikih.

Lebih-lebih topik ini masih jarang ada di pasaran. mengalir.*** Penulis pencinta buku. Wallahu a‟lam. Pokoknya.membacanya terasa nyaman. dan mudah dipahami. praktisi kesehatan dan pendiri Majelis Inspirasi Alquran & Realitas Alam (MIQRA). tidak rugi mengoleksi buku ini. .

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful