maserasi tumbuhan

Filed under: tgs gw — Leave a comment February 28, 2011 Maserasi merupakan salah satu teknik pembuatan preparat yang digunakan untuk melihat kenampakan sel secara utuh. Prinsip kerja dari teknik pembuatan ini adalah dengan cara memutuskan lamella tengah dari sel tumbuhan. Pemutusan lamella tengah bertujuan memisahkan bagian sel dengan sel lainnya sehingga sel bisa dilihat secara satuan utuh. Teknik ini sangat bermanfaat. Banyak penelitian melakukan teknik ini untuk mengekstraksi suatu zat atau bagian tertentu dari sel tumbuhan (Rachman, A.N. dan R.M. Siagian 1976). Praktikum ini dilakukan untuk mengamati perbedaan struktur pembuluh batang pada Pinus sp. (gimnosperma) dan Bauhinia sp. (dikotil). Pinus sp. termasuk kayu daun jarum dan terdapat noktah dalam trakeid. Trakeid yang merupakan bagian terbesar kayu dari spesies kayu daun jarum, adalah pipa-pipa memanjang dan berongga, meruncing pada kedua ujungnya, dengan bagian–bagian tipis (noktah) pada dinding selnya. Di dalam batas noktah terdapat satu lubang sempit yang menghubungkan rongga noktah dengan rongga sel yang disebut saluran noktah. Selaput noktah berfungsi sebagai sekat yang Glass tube Termite permeable, sehingga mudah dilalui bahan pengawet dari trakeid ke trakeid lainnya (Hunt dan Garrat 1986). Angiospermae merupakan tumbuh berbiji tertutup. Ada dua jenis tumbuhan angiospermae yaitu dikotil dan monokotil. Batang angiospermae pada praktikum ini diwakili oleh batang Bauhinia sp.. Batang angiospermae memiliki silinder pembuluh primer yang terputusputus pada tiap ruas, karena keluarnya satu atau lebih berkas pengangkut yang masuk ke dalam daun. Pada Bauhinia sp. penyusun xylem terdiri dari trakea dan trakeid. Pada trakea terdapat butiran kecil hanya pada ujungnya. Berbeda dengan trakeid yang sepanjang trakeid terdapat butiran-butiran kecil (Mandang, Y.I dan I.K.N. Pandit. 1997) Kesimpulan Pada Pinus sp. terdapat trakeid dalam penyusun xilem, sedangkan pada Bauhinia sp. terdapat trakea dan trakeid dalam penyusun xilemnya. Dengan metode maserasi struktur xilem dapat diamati dengan baik karena lamella tengah yang merekatkan antar xilem tereduksi. Daftar Pustaka [Anonim]. Terhubung berkala.http://platanuswood.blogfa.com/8809.aspx(8 November 2010). Hunt, G.M. and G.A Garrat. 1986. Pengawetan Kayu. Jakarta: Akademika Pressindo. Rachman, A.N. dan R.M. Siagian. 1976. Dimensi Serat Jenis Kayu Indonesia, Bagian III. Laporan No. 75. Bogor: Lembaga Penelitian Hasil Hutan. Mandang, Y.I dan I.K.N. Pandit. 1997. Seri Manual: Pedoman Identifikasi Jenis Kayu di Lapangan. Bogor: Yayasan Prosea.

Maserasi merupakan cara penyarian yang sederhana.N. Banyak penelitian melakukan teknik ini untuk mengekstraksi suatu zat atau bagian tertentu dari sel tumbuhan (Rachman. A. Beberapa contoh ekstraksi dengan menggunakan teknik maserasi adalah mengekstrak artermisin yang terdapat pada tumbuhan Artemisia annua L. Peristiwa tersebut berulang sehingga terjadi keseimbangan konsentrasi antara larutan di luar sel dan di dalam sel. Zat aktif akan larut dan karena adanya perbedaan konsentrasi antara larutan zat aktif di dalam sel dengan yang di luar sel. Ekstrak metanol ditambahkan air suling. maka larutan yang terpekat akan didesak keluar. Secara teknologi termasuk ekstraksi dengan prinsip metode pencapaian konsentrasi pada keseimbangan. Teknik ini sangat bermanfaat. Tujuan Tujuan praktikum ini adalah untuk membuat sediaan dengan cara menghancurkan lamela tengah yang menghubungkan antara satu sel dengan sel lainnya sehingga diperoleh gambaran bentuk utuh dari sel-sel tersebut. dengan alat soxhlet menggunakan pelarut n-heksana. dan maserasi-perkolasi dengan pelarut metanol. Ekstraksi secara maserasi dengan pelarut n-heksana.M. 0. Maserasi merupakan proses dimana simplisia yang sudah halus memungkinkan untuk direndam dalam menstrum sampai meresap dan melunakkan susunan sel. Maserasi digunakan untuk penyarian simplisia yang mengandung zat aktif mudah larut dalam cairan penyarian. Cairan penyarian akan menembus dinding sel dan masuk ke dalam rongga sel yang mengandung zat aktif. sehingga zat-zat mudah larut akan melarut. dan R. tidak mengandung benzoin. Alat dan Bahan . Maserasi adalah proses pengekstrakan simplisia dengan menggunakan pelarut dengan beberapa kali pengocokan atau pengadukan pada temperatur ruangan (kamar). Ekstrak n-heksana difraksinasi dengan metanol 60%. Kerugian cara Maserasi adalah pengerjaannya lama dan penyariannya kurang sempurna (Fathiyawati 2008). dan 0. stirak dan lain-lain.29% b/b dari ekstrak n-heksana menggunakan soxhlet. dan disentrifuga. 2007). Maserasi dilakukan dengan cara merendam serbuk simplisia dalam cairan penyarian. Prinsip kerja dari teknik pembuatan ini adalah dengan cara memutuskan lamella tengah dari sel tumbuhan. Artemisinin 0. tidak mengandung zat mudah mengembang dalam cairan penyari. Pemutusan lamella tengah bertujuan memisahkan bagian sel dengan sel lainnya sehingga sel bisa dilihat secara satuan utuh. Supernatan yang diperoleh difraksinasi dengan nheksana. Pemekatan fraksi n-heksana atau n-heksana-etil asetat menghasilkan kristal yang direkristalisasi dengan metanol. fraksi metanol difraksinasi dengan n-heksana-etil asetat (9:1).4% b/b dari ekstrak metanol secara maserasi (cahaya et al.22 % b/b dari ekstrak n-heksana secara maserasi pengadukan. Keuntungan cara penyarian dengan Maserasi adalah cara pengerjaan dan peralatan yang digunakan sederhana dan mudah diusahakan.Maserasi Tumbuhan Pendahuluan Maserasi merupakan salah satu teknik pembuatan preparat yang digunakan untuk melihat kenampakan sel secara utuh. Siagian 1976).

Pengukuran dilakukan sebanyak 30 kali ulangan dalam preparat sayatan dengan bantuan mikroskop yang telah dilengkapi dengan mikrometer dan mikrometer gelas yang diletakkan di atas preparat sayatan. sentrifugasi dengan air selama 10 menit. 95%. 95%. 1:1. mikroskop. larutan xilol murni dan entellan. 1:3 dan larutan xilol murni masing-masing selama lima menit. untuk pengamatan struktur anatomi sampel setiap sub seksi direndam dengan air selama 24 jam sampai agak lunak. sayatan yang baik direndam dalam safranin selama kurang lebih 5 menit. alat-alat dalam percobaan ini antara lain pisau/silet/cutter. Ciri anatomi rotan diamati pada penampang lintang potongan batang yang telah dihaluskan dan dari preparat sayatan dengan pisau mikrotom yang telah diwarnai dengan safranin-O menurut petunjuk Sass (1961). Metode Metode yang digunakan yaitu metode Schultze dengan cara kerja sebagai berikut. 50%. radial dan tangensial. . yaitu 50%. 50%. Pemisahan Serat: Dari setiap sub seksi. ambil endapannya dan buang cairannya. lalu ditutup dengan kaca penutup dan diamati dibawah mikroskop.masing dengan waktu kurang lebih 15 menit. Dalam pembuatan sayatan kayu. 95% dan 100% masing. Kemudian tabung segera didinginkan dan serat dicuci dengan aquades lalu serat dimasukkan ke dalam tabung yang berisi alkohol 50%. tetesi entellan lalu ditutup dengan gelas penutup. Kemudian ambil endapan dan letakkan di atas gelas objek. gelas pengaduk. alat sentrifugasi. safranin 1%. Selanjutnya serat diambil dan diletakkan di kaca objek dan diberi kaca penutup lalu diukur dimensi seratnya. yaitu ke dalam tabung reaksi yang berisi potongan kayu dimasukkan asam nitrat (HNO3) konsentrasi 65% hingga kayu terendam dan potasium klorat (KClO3). dibuat pula contoh uji berbentuk batangan-batangan berukuran 1 x 1. Untuk pencucian terakhir menggunakan alkohol 100% yang dilakukan sebanyak dua kali. Pengukuran dimensi serat dilakukan terhadap preparat maserasi yang telah disiapkan dengan metode Schultz (Sass 1961) Pengamatan susunan dan ciri kuantitas anatomi rotan yang diamati meliputi tebal lapisan epidermis endodermis. Potongan kayu dipotong kecil sebesar korek api. etanol 30%. Tabung beserta isinya dipanaskan hingga terjadi gelembunggelembung udara berwarna putih kekuningan.. Pinus sp. Untuk preparat awetan. kaca objek. Material dihancurkan dengan gelas pengaduk hingga sel-sel terlepas atau lunak. campuran etanol dan xilol bertingkat. . Dealkoholisasi menggunakan campuran etanol dan xilol bertingkat dengan perbandingan 3:1. 70%. Sayatan yang baik (tidak robek) ditempatkan di atas kaca objek. kemudian dicuci dengan alkohol secara bertingkat. masingmasing bidang transversal. sebagai tanda proses maserasi sedang berlangsung dan serat mulai terpisah. Sementara itu. dan 100%. Maserasi dilakukan dengan metode Schultze. larutan asam nitrat pekat (HNO3). gelas piala. potongan-potongan tersebut direbus dalam larutan asam nitrat pekat (HNO3) yang ditambah sedikit kristal kalium klorat (KClO3) sampai bahan berwarna putih dan lunak. 70%.Bahan yang digunakan dalam praktikum ini adalah batang kayu Bauhinia sp. kortek dan diameter komponen anatomi lainnya. dan gelas penutup. Dehidrasi dengan etanol bertingkat berturut-turut etanol 30%. Material dicuci dengan air mengalir. dan 100% disentrifugasi masing-masing selama 10 menit. kristal kalium klorat (KClO3). Setelah dua minggu. Agar sayatan benar-benar bersih dari air sayatan selanjutnya direndam dengan xylol. kemudian warnai dengan safranin 1% selama dua minggu. 70%..

terutama parenkim dengan susunan longgar. sebagai organ pembentuk dan penyangga tubuh tumbuhan. empulur terdiri atas sel berdinding tebal berwarna lebih tua karena banyak mengandung tanin. Pinus termasuk ke dalam tumbuhan Conifer. jaringan korteks (terdiri dari beberapa lapis sel.Pembahasan Tumbuhan berbiji dibedakan menjadi dua. bervakuola besar. Hal ini mengakibatkan tidak terlihatnya organel-organel khusus seperti pembuluh resin pada batang pinus. Ada dua jenis tumbuhan angiospermae yaitu dikotil dan monokotil. Konsentris amfikribal artinya adalah perbuluh terbentuk dengan susunan xylem dikelilingi floem. Tumbuhan berkayu baik gymnospermae maupun angiospermae mengalami perkembangan sekunder akibat aktifitas kambium. pembuluh resin juga menjadi lebih besar. korteks. stele (terdiri dari xylem dan floem). Fungsi batang antara lain adalah sebagai organ perlintasan air dan makanan (xylem sebagai jaringan yang mengangkut air dan garam mineral. Hasil prartikum ini terlihat kurang jelas. Floem sekunder banyak dibentuk serabut yang terdiri atas pembuluh pengangkut sel parenkim. empulur terdiri dari parenkim berisi getah yang juga terdapat pada bagian korteks. letak jaringan pengangkut (xylem dan floem) pada tumbuhan dikotil lebih teratur daripada tumbuhan monokotil. yang disebabkan kurang baiknya proses penyayatan ataupun pewarnaan. Selama pertumbuhan sekunder batas dari floem dapat dikenali dngan adanya jari-jari empulur. dan stele. Batang angiospermae memiliki silinder pembuluh primer yang terputus-putus pada tiap ruas. Sejak pertumbuhan awal.. Pada tumbuhan gymnospermae terdapat pembuluh resin. Terdapat empulur pada batang gymnospermae. Pada floem primer tidak terbentuk pada bagian tepid an tidak ditemukan adanya endodermis.. dilindungi oleh kutikula). karena keluarnya satu atau lebih berkas pengangkut yang masuk ke dalam daun. batang mengandung pembuluh resin pada korteks. Batang angiospermae pada praktikum ini diwakili oleh batang Bauhinia sp. Sistem pembuluh gymnospermae adalah silinder bercelah. Jika batang besar. dan di bagian tengahnya terdapat empulur. Secara umum struktur anatomi batang dari lapisan luar ke dalam yaitu jaringan epidermis (terdiri dari selapis sel. Pada dikotil yang berjenis pohon. Batang gymnospermae diwakili oleh Pinus sp. Pada batang gymnospermae di luar floem terdiri tannin. dan memiliki berkas pengangkut konsentris amfikribal. yaitu tumbuhan berbiji terbuka (gymnospermae) dan tumbuhan berbiji tertutup (angiospermae). Selya terdiri dari sel hidup yang mengandung tepung. dinding sel menebal. sebagai alat perkembangbiakan vegetatif. berongga-rongga. Pertumbuhan sekunder merupakan hasil dari keaktifan kambium pembuluh yang membelah terus menerus sehingga jumlahnya meningkat. Empulur terdiri dari jaringan agak seragam. Pada tumbuhan berkayu terdapat pertumbuhan sekunder. Daftar Pustaka . berfungsi sebagai tempat menyimpan cadangan makanan). Praktikum ini dilakukan untuk mengamati perbedaan struktur batang dari keduanya. Simpulan Anatomi batang terdiri dari epidermis. sebagai tempat penyimpan cadangan makanan. Pada angiospermae. daerah antar pembuluhnya sempit . Tipe berkas pembuluh konsentris amfikribal. Pada batang yang sudah tua. sedangkan floem sebagai jaringan yang mengangkut hasil fotosintesis). Angiospermae merupakan tumbuh berbiji tertutup.

Siagian. 2008. http://bahanalam. 1976. et al.N. Cahaya Rohni. Bogor: Lembaga Penelitian Hasil Hutan. Laporan No. Bagian III. A. Surakarta: Universitas Muhammadiyah press.itb.ac.Fathiyawati.M. Rachman. dan R. Isolasi Artemisinin dari Daun Artemisia annua L. Uji Toksisitas Ekstrak Daun Ficus racemosa terhadap Artemia salina Leach dan Profil Kromatografi Lapis Tipis. . Dimensi Serat Jenis Kayu Indonesia. 75.id (12 okt 2009).fa. 2007.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful